E d I b l e VI -1: 51-58, Juli 2017 ISSN
|
|
|
- Benny Susman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENGARUH KONSENTRASI DAN BAGIAN TEPUNG BATANG, DAUN DAN BUNGA KECOMBRANG (Nicolaia spesiosa Horan) TERHADAP JUMLAH MIKROBA CUKO PEMPEK SELAMA PENYIMPANAN Riki Andriansyah, Mukhtarudin Muchsiri, Alhanannasir Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang Jln Jendral Ahmad Yani 13 Ulu Tlp.( 0711) Palembang ABSTRACT The aims of research to determined the total microbial of cuko pempek by preservatives such as flour stems, leaves and flowers kecombrang and to determine the organoleptic properties of the color, flavor and aroma cuko pempek before and after 12 days of storage. This research has been conducted in labaratorium Faculty of Agriculture, University of Muhammadiyah Palembang and the laboratory of Research and Industry Standards Palembang in July until August This study uses a randomized block design (RAK) arranged as factorial with the addition of flour treatment factor stems, leaves and flowers kecombrang on making cuko pempek which consists of three groups and consists of nine treatment factors were repeated three times. The parameters were observed in the study include chemical analysis (ph), microbiological (TPC and Gram Strain) and organoleptic (color, taste and aroma) cuko pempek based preference level using hedonic scale. Concentration flour stems, leaves and flowers kecombrang very significant effect on the number of microbes and organoleptic cuko pempek after storage. Treatment K 3 C 3 (flour interest kecombrang 3%) had the lowest total microbes after 12 days of storage with the value of the average 1,10x 10² sel/g. best value preference level of the color, flavor and aroma cuko pempek after 12 days of storage are in treatment K 3 C 3 (flour flower kecombrang 3%) with the average value color 3,55, flavor 4,00 dan aroma 3,75. Keywords: cuko pempek, flour stems, leaves and flowers, total microbial I. PENDAHULUAN Pempek adalah makanan khas dari kota Palembang yang terkenal enak dan bisa membuat ketagihan. Pempek terasa enak dan lezat bukan hanya dari adonan pembuatan pempek, tetapi cukonya juga yang menjadi pendamping dalam mengkonsumsi pempek ikut berperan dalam menentukan enak tidaknya rasa pempek. Pembuatan dan pengolahan cuko pempek dengan formulasi yang tepat akan diperoleh cuko pempek yang enak. Cuko terbuat dari gula merah, cuka (asam asetat), bawang putih, kecap, garam, cabai, udang kering (ebi), tongcai (sayuran kering), dan sedikit penyedap rasa (MSG). Semua bahan tersebut dimasak hingga mendidih, kemudian disaring (Abdie, 2012). Cuko yang dibuat oleh masyarakat Palembang mempunyai daya awet hanya tiga hari pada suhu kamar karena adanya mikroorganisme yang berkembang biak di dalamnya (Astawan, 2011). Makanan yang telah dihinggapi mikroorganisme akan mengalami penguraian sehingga dapat berkurang nilai gizi dan kelezatannya, mengakibatkan sakit bahkan sampai matinya seseorang yang mengonsumsinya. Beberapa mikroorganisme dapat mengubah rasa dan aroma dari makanan sehingga dianggap merupakan mikroorganisme perusak. Mikroorganisme perusak seperti bakteri, khamir (yeast) dan kapang (mould) menyebabkan perubahan yang tidak dikehendaki pada penampakan visual, bau, tekstur atau rasa suatu makanan. Jenis bakteri perusak yang ditemukan didalam makanan tradisional termasuk cuko pempek adalah Pseudomonas sp. 51 Batang, daun dan bunga tanaman kecombrang memiliki banyak kandungan senyawa kimia yang bermanfaat dalam kehidupan sehari hari. Beberapa senyawa kimia yang terdapat pada tanaman kecombrang termasuk pada bunga, daun dan batangnya antara lain alkaloid, saponin, tannin, fenolik, flavonoid, triterpenoid dan steroid. Selain itu tanaman kecombrang juga memiliki glikosida yang berperan sebagai antimikroba dan antioksidan. Antimikroba adalah bahan yang bisa mencegah pertumbuhan bakteri, kapang dan khamir pada makanan. Kandungan bahan alami lainnya dalam kecombrang antara lain karbohidrat, air/mineral, lemak, protein, magnesuim, zat besi, fosfor, kalsium, kalium dan seng (Naufalin et al., 2005). Istianto (2008) menyatakan, bunga tanaman kecombrang mempunyai aktivitas antibakteri tertinggi terhadap E. coli dan B. cereus dibandingkan bagian batang dalam, daun, rimpang kecombrang. Chan et al., (2007) menyatakan, bagian tumbuhan yang memiliki kandungan antioksidan terbanyak dari tanaman kecombrang adalah bagian daun. Kecombrang juga mengandung senyawa fenol, flavonoid, terpenoid, steroid, saponin, dan minyak esensial. Senyawa tersebut berperan aktif sebagai agen antimikrobia dan dapat diekstrak menggunakan pelarut. Jumlah kadar dari tiap senyawa mungkin berbeda dari tiap bagian tumbuhan kecombrang. Hasil penelitian Putra (2014), penambahan bubuk bunga kecombrang setelah pemanasan 30 menit sebanyak 3% menghasilkan cuko pempek dengan daya simpan selama 12 hari pada suhu kamar dengan karakteristik warna, aroma dan rasa sama dengan cuko pempek sebelum penyimpanan. Sedangkan kekentalannya lebih kental dari cuko pempek sebelum penyimpanan, namun dalam
2 penelitian tersebut belum dijelaskan mikroba yang menyebabkan kerusakan pada cuko pempek. Berdasarkan hal diatas, maka penulis akan melakukan penelitian mengenai pengaruh konsentrasi tepung batang, daun dan bunga Kecombrang (Nicolaia spesiosa Horan) terhadap jumlah mikroba cuko pempek selama penyimpanan. B. Tujuan Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh konsentrasi tepung batang, daun dan bunga kecombrang (Nicolaia spesiosa Horan) terhadap jumlah mikrobia dan organoleptik cuko pempek selama penyimpanan. II. PELAKSANAAN PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini Alhamdulillah telah dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang dan Balai Riset dan Standarisasi Industri Palembang pada bulan April 2016 sampai dengan November B. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah gula merah, garam, bawang putih, cabai rawit, tongcai dan air bersih yang diperoleh dari Pasar Induk Jakabaring Palembang, sedangkan tanaman kecombrang diambil dari Desa Bedegung Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau, blender, baskom, kompor gas, oven pengering tipe rak dengan kapasitas 1 kg, timbangan analitik, labu ukur, kertas label, beaker glass, ph meter, erlenmeyer, corong gelas dan alat alat untuk uji organoleptik. C. Metode Penelitian Penelitian dengan topik Pengaruh Konsentrasi Tepung Batang, Daun dan Bunga Kecombrang (Nicolaia Spesiosa Horan) Terhadap Jumlah Mikroba Cuko Pempek Selama Penyimpanan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Masing-masing mempunyai tiga perlakuan, sehingga membentuk sembilan kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali. D. Cara Kerja 1.Tepung Bunga Kecombrang Bunga kecombrang segar di sortasi dengan memisahkan bunga yang segar dan busuk kemudian dilakukan pengambilan kelopak bunga. Selanjutnya dilakukan pengecilan ukuran dengan cara kelopak bunga di potong kecil kecil. Pengeringan kelopak bunga kecombrang dalam oven dengan suhu 40ºC selama 2 jam dan di lanjutkan dengan suhu 60ºC selama 5 jam. Bunga kecombrang kering kemudian di lakukan penepungan dengan menggunakan blender. Dilakukan pengayakan 100 mesh. Di peroleh Tepung bunga kecombrang. 2. Tepung Batang Kecombrang Batang kecombrang di sortasi yang masih muda kira-kira panjang cm dari batang bagian bawah. Di lakukan pengupasan kulit luar batang kecombrang. Batang yang di gunakan untuk membuat tepung batang kecombrang adalah 1/3 batang bagian tengah. Di lakukan pengecilan ukuran dengan cara batang kecombrang di potong tipis-tipis. Pengeringan batang kecombrang dalam oven dengan suhu awal 40ºC selama 2 jam di lanjutkan dengan suhu 60ºC selama 7 jam. Batang kecombrang kering kemudian di lakukan penepungan dengan blender. Di lakukan pengayakan 100 mesh. Di peroleh tepung batang kecombrang. 3. Tepung Daun Kecombrang Daun kecombrang di sortasi dari daun yang muda, tua dan kering. Daun yang di gunakan untuk pembuatan tepung daun kecombrang adalah daun muda, kemudian di bersihkan dari kotoran yang menempel. Di lakukan pengecilan ukuran dengan cara daun kecombrang di potong mengikuti alur daun dengan ukuran kecil- kecil. Pengeringan daun kecombrang dalam oven dengan suhu awal 40ºC selama 2 jam di lanjutkan dengan suhu 60ºC selama 3 jam. Daun kecombrang kering di lakukan penepungan dengan menggunakan blender. Di lakukan pengayakan 100 mesh. Di peroleh tepung daun kecombrang. 4. Pembuatan Cuko Pempek Gula aren dihaluskan dan ditimbang sebanyak 250g. Gula aren ditambah air dengan perbandingan 1: 2 (bahan: air) atau penambahan air sebanyak 500 ml. Campuran gula aren dan air dimasak sampai seluruh gula larut dan mendidih. Selanjutnya dilakukan penyaringan larutan gula aren untuk memisahkan kotoran dari gula aren. Masukkan bawang putih sebanyak 5%, cabe rawit 5%, garam 1% dan tongcai 0,5% kedalam larutan gula aren. Setelah bumbu tercampur secara homogen, kemudian dilakukan pemasakan kembali sampai mendidih. Di lakukan pendinginan sampai suhu 40ºC. Ditambahkan tepung bunga, batang dan daun kecombrang sesuai perlakuan (1%, 2% dan 3%). Di lakukan pengemasan dalam botol kaca untuk dilakukan penyimpanan selama 12 hari. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kimia 1. ph Cuko Pempek, sangat nyata terhadap ph cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0). Sedangkan interaksi kedua faktor perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap ph cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0). tanaman kecombrang, diperoleh bahwa sebelum penyimpanan (0 hari) cuko pempek pada perlakuan K 2 berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 1 dan K 3 dan perlakuan K 1 berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 3. Cuko pempek sebelum penyimpanan 52
3 dengan ph tertinggi terdapat pada perlakuan K 2 (daun kecombrang) dengan nilai rata-rata 5,02 dan ph terendah pada perlakuan K 3 (bunga kecombrang) dengan nilai rata-rata 4,52. Perlakuan K 2 yang menggunakan daun kecombrang) mempunyai ph tertinggi dikarenakan tepung daun kecombrang mengandung total asam terendah dibanding tepung batang dan bunga yang dihasilkan. Rendahnya total asam dari tepung daun kecombrang dapat menaikkan ph cuko pempek pada penyimpanan 0 hari. Berdasarkan data uji BNJ pada perlakuan konsenrasi, diperoleh bahwa sebelum penyimpanan (0 perlakuan C 3. Cuko pempek sebelum penyimpanan dengan ph tertinggi terdapat pada perlakuan C 1 (konsentrasi tepung 1%) dengan nilai rata-rata 4,92 dan ph terendah pada perlakuan C 3 (konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 4,59. Perlakuan C 1 dengan konsentrasi kecombrang terendah (1%) mempunyai ph tertinggi. Peningkatan nilai ph disebabkan rendahnya asupan ion H + yang berasal dari asam organik dari tepung kecombrang. Makin rendahkonsenrasi pada perlakuan C 1, maka asupan ion H + semakin sedikit dan hal ini akan menaikkan nilai ph cuko pempek pada penyimpanan 0 hari. b. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 3), sangat nyata terhadap ph cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 3). Sedangkan interaksi kedua faktor perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap ph cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 3). penyimpanan (3 hari) cuko pempek pada perlakuan K 2 berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 1 dan K 3 dan perlakuan K 1 berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (3 hari) dengan ph tertinggi terdapat pada perlakuan K 2 (daun kecombrang) dengan nilai rata-rata 4,74 dan ph terendah pada perlakuan K 3 (bunga kecombrang) dengan nilai rata-rata 4,44. Selain berasal dari tingginya total asam pada tepung bunga kecombrang, rendahnya ph pada perlakuan K 3 disebabkan adanya proses penyimpanan. Selama proses penyimpanan karbohidrat berupa glukosa dari gula aren pada cuko pempek akan mengalami fermentasi yang menghasilkanasam-asam organik (asam laktat, asam asetat dan lain-lain). Asam-asam organik tersebut dapat menurunkan ph dari cuko pempek yang disimpan selama 3 hari. tepung, diperoleh bahwa setelah penyimpanan (3 perlakuan C 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (3 hari) dengan ph tertinggi terdapat pada perlakuan C 1 (konsentrasi tepung 1%) dengan nilai rata-rata 4,78 53 dan ph terendah pada perlakuan C 3 (konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 4,40. Selain berasal dari tingginya konsentrasi tepung kecombrang yang digunakan, lamanya proses penyimpanan juga mempengaruhi ph cuko pempek. Selama penyimpanan 3 hari, secara alami cuko pempek mengalami fermentasi yang menghasilkan asam organik dan asam organik inilah yang akan menurunkan ph cuko pempek pada perlakuan C 3. c. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 6), sangat nyata terhadap ph cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 6). Sedangkan interaksi kedua faktor perlakuan berpengaruh nyata terhadap ph cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 6). penyimpanan (6 hari) cuko pempek pada perlakuan K 2 berbeda tidak nyata dengan perlakuan K 1, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 3 dan perlakuan K 1 berbeda nyata dengan perlakuan K 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (6 hari) dengan ph tertinggi terdapat pada perlakuan K 2 (daun kecombrang) dengan nilai rata-rata 4,51 dan ph terendah pada perlakuan K 3 (bunga kecombrang) dengan nilai rata-rata 4,40. Proses penyimpanan yang semakin lama menyebabkan semakin banyak glukosa dari gula aren pada cuko pempek yang mengalami fermentasi dan menghasilkan lebih banyak asam-asam organik. Hal tersebut akan menurunkan ph cuko pempek yang disimpan dengan nilai ph yang lebih rendah dibanding nilai ph selama penyimpanan 6 hari. tepung, diperoleh bahwa setelah penyimpanan (6 perlakuan C 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (6 hari) dengan ph tertinggi terdapat pada perlakuan C 1 (konsentrasi tepung 1%) dengan nilai rata-rata 4,64 dan ph terendah pada perlakuan C 3 (konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 4,28. Astawan (2008) menyatakan, semakin lama fermentasi maka semakin banyak glukosa yang terpecah dan menghasilkan metabolit primer berupa senyawa asam laktat dan alcohol. Meningkatnya asam laktat pada bahan akan menurunkan nilai ph produk yang disimpan. d. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 9), kecombrang berpengaruh nyata, konsentrasi tepung berpengaruh sangat nyata dan interaksi kedua faktor perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap ph cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 9). penyimpanan (9 hari) cuko pempek pada perlakuan K 3 berbeda tidak nyata dengan perlakuan K 1, tetapi
4 berbeda nyata dengan perlakuan K 2 dan perlakuan K 1 berbeda tidak nyata dengan perlakuan K 2. Cuko pempek setelah penyimpanan (9 hari) dengan ph tertinggi terdapat pada perlakuan K 3 (bunga kecombrang) dengan nilai rata-rata 4,36 dan ph terendah pada perlakuan K 2 (daun kecombrang) dengan nilai rata-rata 4,27. Perlakuan K 2 (daun kecombrang) menghasilkan ph terendah, artinya antimikroba dari daun kecombrang tersebut mengalami penurunan kemampuan untuk merusak dinding sel mikroba pada penyimpanan hari ke 9, sehingga aktifitas metabolisme mikroba pada cuko pempek akan meningkat dan semakin banyak glukosa dari gula aren yang diubah oleh mikroba menjadi asam organik dan hal ini hanya dapat menurunkan ph cuko pempek dalam jumlah besar. tepung, diperoleh bahwa setelah penyimpanan (9 perlakuan C 2 berbeda tidak nyata dengan perlakuan C 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (9 hari) dengan ph tertinggi terdapat pada perlakuan C 1 (konsentrasi tepung 1%) dengan nilai rata-rata 4,50 dan ph terendah pada perlakuan C 3 (konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 4,21. Selama penyimpanan 9 hari, cuko pempek masih terus mengalami fermentasi yang menghasilkan asamasam organik dan asam-asam organik inilah yang akan menurunkan ph cuko pempek pada perlakuan C 3. e. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 12), kecombrang, konsentrasi tepung dan interaksi kedua faktor perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap ph cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12). tanaman kecombrang, setelah penyimpanan 12 hari, cuko pempek pada perlakuan K 3 berbeda tidak nyata dengan perlakuan K 1, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 2 dan perlakuan K 1 berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 2. Perlakuan K 3 (bunga kecombrang) mempunyai ph tertinggi dengan nilai rata-rata 4,29 dan ph terendah pada perlakuan K 2 (daun kecombrang) dengan nilai rata-rata 4,00. Perlakuan K 2 (daun kecombrang) menghasilkan ph terendah, dikarenakan semakin lama penyimpanan maka kemampuan senyawa antimikroba dari daun kecombrang akan semakin menurun untuk merusak dinding sel mikroba pada penyimpanan hari ke 12, Berdasarkan data uji BNJ pada konsenrasi tepung, diperoleh bahwa setelah penyimpanan (12 tidak nyata dengan perlakuan C 2, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan C 3 dan perlakuan C 2 berbeda tidak nyata dengan perlakuan C 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (12 hari) dengan ph tertinggi terdapat pada perlakuan C 1 (konsentrasi tepung 1%) dengan nilai rata-rata 4,24 dan ph terendah pada perlakuan C 3 (konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 4,10. Semakin lama 54 penyimpanan senyawa antimikroba pada bahan semakin berkurang. Hal ini memberi peluang yang lebih baik bagi mikroba untuk berkembangbiak dan menghasilkan metabolit berupa asam organik yang semakin banyak selama proses penyimpanan. Selain itu nilai ph yang semakin menurun, dikarenakan glukosa dari gula aren pada cuko pempek mengalami fermentasi yang menghasilkan asam organik (asam laktat dan asam asetat) yang juga akan menurunkan ph cuko pempek. B. Analisis Mikrobiologis (TPC) 1. Total Mikroba Cuko Pempek pada, kecombrang, konsentrasi tepung dan interaksi kedua faktor perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap total mikroba cuko pempek penyimpanan (hari ke 0). Total mikroba yang dihasilkan pada cuko pempek sebelum penyimpanan mempunyai nilai rata-rata 0,79x10 2 sel/g pada masing-masing perlakuan. Sebelum penyimpanan mikroba dalam cuko pempek yang terdapat secara alami masih berada pada fase adaptasi, sehingga jumlah mikroba setiap perlakuan dan interaksi perlakuan relatif sama. b. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 3) pada, perlakuan bagian tanaman kecombrang berpengaruh nyata dan konsentrasi tepung berpengaruh sangat nyata terhadap total mikroba cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 3). Sedangkan interaksi kedua faktor perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap total mikroba cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 3). tanaman, diperoleh bahwa setelah penyimpanan (3 hari) cuko pempek pada perlakuan K 2 berbeda nyata dengan perlakuan K 1, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan K 3 dan perlakuan K 1 berbeda tidak nyata dengan perlakuan K 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (1 hari) dengan total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan K 2 (daun kecombrang) dengan nilai rata-rata 0,90x10 2 sel/g dan total mikroba terendah pada perlakuan K 3 (bunga kecombrang) dengan nilai rata-rata 0,83x10 2 sel/g. Perlakuan K 3 yang menggunakan tepung bunga kecombrang mempunyai total mikroba tertinggi dibanding tepung batang dan daun yang dihasilkan. Adanya kandungan total asam yang tinggi mengindikasikan tingginya kandungan antimikroba pada tepung bunga kecombrang dan hal ini dapat meningkatkan kemampuannya untuk merusak dinding sel mikroba. Dengan demikian perlakuan K 3 mempunyai jumlah total mikroba lebih rendah dibanding perlakuan K 1 dan K 2. tepung, diperoleh bahwa setelah penyimpanan (3 nyata dengan perlakuan C 2, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan C 3 dan perlakuan C 2 berbeda tidak nyata dengan perlakuan C 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (1 hari) dengan total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan C 1 (konsentrasi tepung 1%)
5 dengan nilai rata-rata 0,93x10 2 sel/g dan total mikroba terendah pada perlakuan C 3 (konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 0,82x10 2 sel/g. Penggunaan tepung kecombrang pada perlakuan C 3 dengan konsentrasi tertinggi dapat menurunkan pertumbuhan dan perkembangan mikroba selama penyimpanan dikarenakan adanya senyawa antimikroba seperti minyak atsiri dalam jumlah yang lebih tinggi dari perlakuan C 1 dan C 2. Hal tersebut ditandai dengan nilai rata-rata total mikroba terendah yang terdapat pada perlakuan C 3. c. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 6) pada, kecombrang berpengaruh sangat nyata dan konsentrasi tepung berpengaruh nyata terhadap total mikroba cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 6). Sedangkan interaksi kedua faktor perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap total mikroba cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 6). penyimpanan (6 hari) cuko pempek pada perlakuan K 2 berbeda tidak nyata dengan perlakuan K 1, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 3 dan perlakuan K 1 berbeda nyata dengan perlakuan K 3. Total mikroba tertinggi cuko pempek setelah penyimpanan (6 hari) terdapat pada perlakuan K (daun kecombrang) dengan nilai rata-rata 1,19x10 2 sel/g dan total mikroba terendah pada perlakuan K 3 (bunga kecombrang) dengan nilai rata-rata 0,97x10 2 sel/g. Kandungan senyawa antimikroba pada perlakuan K 2 kadarnya lebih rendah dari perlakuan K 1 dan K 3. Semakin lama penyimpanan maka semakin banyak antimikroba yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroba, sehingga kadar antimikroba akan berkurang. Hal tersebut akan memberikan kesempatan bagi mikroba yang belum mengalami kerusakan untuk berkembangbiak, sehingga total mikroba perlakuan K 2 pada penyimpanan hari ke 6 jumlahnya lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya. kecombrang, diperoleh bahwa setelah penyimpanan (6 tidak nyata dengan perlakuan C 2, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan C 3 dan perlakuan C 2 berbeda tidak nyata dengan perlakuan C 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (6 hari) dengan total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan C 1 (konsentrasi tepung 1%) dengan nilai rata-rata 1,14x10 2 sel/g dan total mikroba terendah pada perlakuan C 3 (konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 1,03x10 2 sel/g. Proses penyimpanan yang lebih lama dengan konsentrasi tepung kecombrang yang rendah pada perlakuan C 1 dapat menurunkan total mikroba cuko pempek. Selama penyimpanan 6 hari, keaktifan senyawa antimikroba akan menurun, sehingga mikroba yang belum mengalami kerusakan akan melakukan metabolisme dengan lebih aktif yang menghasilkan lebih banyak mikroba. Hal ini dapat meningkatkan jumlah total mikroba pada perlakuan C d. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 9 pada, sangat nyata terhadap total mikroba cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 9). Sedangkan interaksi kedua faktor perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap total mikroba cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 9). penyimpanan (9 hari) cuko pempek pada perlakuan K 2 berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 1 dan K 3 dan perlakuan K 1 berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (9 hari) dengan total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan K 2 (daun kecombrang) dengan nilai ratarata 1,50x10 2 sel/g dan total mikroba terendah pada perlakuan K 3 (bunga kecombrang) dengan nilai ratarata 1,09x10 2 sel/g. Perlakuan K 2 (daun kecombrang) mempunyai total asam terendah dibanding perlakuan K 1 dan K 3. Rendahnya total asam dalam tepung daun kecombrang mengindikasikan antimikroba yang ada pada bahan kadarnya juga rendah. Dengan waktu penyimpanan yang lebih lama maka antimikroba dari daun kecombrang semakin menurun kemampuannya untuk merusak dinding sel mikroba, sehingga aktifitas metabolisme mikroba yang belum mengalami kerusakan pada cuko pempek akan meningkat sedikit dan masih berada pada fase pertumbuhan (accelarated growth phase). tepung, diperoleh bahwa setelah penyimpanan (9 perlakuan C 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (9 hari) dengan total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan C 1 (konsentrasi tepung 1%) dengan nilai rata-rata 1,45x10 2 sel/g dan total mikroba terendah pada perlakuan C 3 (konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 1,13x10 2 sel/g. Selama penyimpanan 9 hari, keaktifan senyawa antimikroba akan semakin menurun dan cuko pempek masih terus mengalami fermentasi yang menghasilkan, sehingga mikroba semakin aktif melakukan pembelahan sel yang akan meningkatkan jumlah mikroba pada perlakuan C 3. e. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 12) pada, sangat nyata terhadap total mikroba cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12). Sedangkan interaksi kedua faktor perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap total mikroba cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12). penyimpanan (12 hari) cuko pempek pada perlakuan K 2 berbeda sangat nyata dengan perlakuan K 1 dan K 3 dan perlakuan K 1 berbeda sangat nyata dengan
6 perlakuan K 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (12 hari) dengan total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan K 2 (daun kecombrang) dengan nilai ratarata 2,12x10 2 sel/g dan total mikroba terendah pada perlakuan K 3 (bunga kecombrang) dengan nilai ratarata 1,38x10 2 sel/g. Selama penyimpanan 12 hari pola peningkatan jumlah total mikroba yang mengalami peningkatan tertinggi dari penyimpanan 3 hari, 6 hari dan 9 hari. Senyawa antimikroba pada perlakuan K 2 selama penyimpanan 12 hari semakin menurun kemampuannya untuk merusak dinding sel mikroba, sehingga aktifitas metabolisme mikroba berada pada fase tumbuh cepat (log phase). tepung, diperoleh bahwa setelah penyimpanan (9 perlakuan C 3. Cuko pempek setelah penyimpanan (9 hari) dengan total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan C 1 (konsentrasi tepung 1%) dengan nilai rata-rata 2,00x10 2 sel/g dan total mikroba terendah pada perlakuan C 3 (konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 1,44x10 2 sel/g. Penggunaan konsentrasi tepung kecombrang yang rendah mempunyai kandungan senyawa antimikroba yang rendah juga dalam bahan. Rendahnya kandungan antimikroba pada tepung kecombrang akan meningkatkan aktifitas metabolisme mikroba yang berakibat dengan bertambahnya total mikroba pada perlakuan C 1. Perlakuan C 3 dengan konsentrasi tepung sebanyak 3% menghasilkan total mikroba yang lebih rendah pada cuko pempek setelah penyimpanan dibanding total mikroba pada perlakuan C 1 dan C 2. Hal ini diduga karena semakin tinggi penambahan tepung kecombrang maka akansemakin banyak antimikrobadi dalam bahan yang dapat berdifusi dan merusak dinding sel bakteri. Hal ini dapat menurunkan laju aktifitas metabolism mikroba selama penyimpanan, sehingga total mikroba perlakuan C 3 jumlahnya lebih rendah dari perlakuan C 1 dan C Gram Strain Mikroba Cuko Pempek Berdasarkandata hasil pengamatan gram strain cuko pempek pada Lampiran 38 yang dihasilkan dari masing-masing interaksi perlakuan selama penyimpanan (0 hari, 1 hari, 3 hari, 6 hari, 9 hari dan 12 hari), diperoleh bahwa semua interaksi perlakuan hanya mengandung bakteri gram negatif dan tidak ada bakteri gram positif selama proses penyimpanan dalam cuko pempek tersebut. Hal ini disebabkan bakteri gram positif lebih sensitive terhadap antimikroba yang berasal dari tumbuhan kecombrang, sehingga adanya pemberian tepung kecombrang yang berasal dari batang, daun dan bunga kecombrang mengakibatkan rusaknya sel-sel bakteri gram positif. Hal tersebut diuktikan dengan tidak terindikasi adanya bakteri gram positif pada cuko pempek selama penyimpanan 12 hari. Uji Organoleptik 1. Warna Cuko Pempek 56 terhadap warna cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0) Berdasarkan data hasil perhitungan pada Lampiran 55 diperoleh nilai T-Kritik (0,56) yang lebih kecil (<) nilainya dari nilai F-Tabel 0,05 pada derajat bebas (8,152) sebesar 2,00, sehingga menghasilkan pengaruh yang tidak nyata terhadap warna cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0). Nilai tingkat kesukaan terhadap warna cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0) tertinggi pada interaksi perlakuan K 3 C 3 (bunga kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 3,75 dan terendah pada interaksi perlakuan K 1 C 1 (batang kecombrang dan konsentrasi tepung 1%) dengan nilai rata-rata 3,45 dan termasuk kriteria agak disukai para panelis. b. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 12) terhadap warna cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12) Berdasarkan data hasil perhitungan pada Lampiran 55 diperoleh nilai T-Kritik (0,57) yang lebih kecil (<) nilainya dari nilai F-Tabel 0,05 pada derajat bebas (8,152) sebesar 2,00, sehingga menghasilkan pengaruh yang tidak nyata terhadap warna cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12). Nilai tingkat kesukaan terhadap warna cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0) tertinggi pada interaksi perlakuan K 3 C 3 (bunga kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 3,55 dan terendah pada interaksi perlakuan K 2 C 3 (daun kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 2,85 dan termasuk kriteria agak disukai hingga criteria tidak disukai para panelis. 2. Rasa Cuko Pempek terhadap rasa cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0) Berdasarkan data hasil perhitungan pada Lampiran 55 diperoleh nilai T-Kritik (2,82) yang lebih besar (>) nilainya dari nilai F-Tabel 0,05 pada derajat bebas (8,152) sebesar 2,00, sehingga menghasilkan pengaruh yang nyata terhadap rasa cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0). Berdasarkan data uji BNJ Conover, diperoleh bahwa interaksi perlakuan K 3 C 3 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 3 C 2, K 2 C 2, K 2 C 1, K 1 C 3 dan K 1 C 1, tetapi berbeda nyata dengan interaksi perlakuan K 3 C 1, K 1 C 2 dan interaksi perlakuan K 2 C 3. Interaksi perlakuan K 3 C 2 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 2 C 2, K 2 C 1, K 1 C 3, K 1 C 1, K 3 C 1 dan K 1 C 2, tetapi berbeda nyata dengan interaksi perlakuan K 2 C 3 dan interaksi perlakuan K 1 C 1 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 3 C 1, K 1 C 2 dan K 2 C 3. Nilai tingkat kesukaan terhadap rasa cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0) tertinggi pada interaksi perlakuan K 3 C 3 (bunga kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 3,65 dan terendah pada interaksi perlakuan K 2 C 3
7 (daun kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 2,65 dan termasuk kriteria agak disukai hingga tidak disukai para panelis. Perlakuan penambahan bagian tanaman kecombrang dan konsentrasi tepung berpengaruh terhadap rasa cuko pempek. Penambahan tepung bunga kecombrang dengan konsentrasi 3% (interaksi perlakuan K 3 C 3 ) menghasilkan cuko pempek dengan rasa manis, pedas dan sedikit rasa asam yang disukai oleh panelis. Tepung bunga kecombrang mempunyai tingkat keasaman tertinggi dibanding tepung batang dan tepung daun kecombrang. b. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 12) Hasil pemangkatan uji Friedman pengaruh bagian tanaman kecombrang dan konsentrasi tepung terhadap rasa cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12) dapat dilihat pada Lampiran 51. Berdasarkan data hasil perhitungan diperoleh nilai T-Kritik (3,77) yang lebih besar (>) nilainya dari nilai F-Tabel 0,05 pada derajat bebas (8,152) sebesar 2,00, sehingga menghasilkan pengaruh yang nyata terhadap rasa cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12). Berdasarkan data uji BNJ Conover (Tabel 26), diperoleh bahwa interaksi perlakuan K 3 C 3 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 2 C 1, tetapi berbeda nyata dengan interaksi perlakuan K 1 C 3, K 3 C 2, K 2 C 2, K 3 C 1, K 1 C 2, K 1 C 1 dan interaksi perlakuan K 2 C 3. Interaksi perlakuan K 2 C 1 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 1 C 3, K 3 C 2, K 2 C 2, K 3 C 1 dank 1 C 2, tetapi berbeda nyata dengan interaksi perlakuank 1 C 1 dan K 2 C 3. Interaksi perlakuan K 1 C 3 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 3 C 2, K 2 C 2, K 3 C 1 dan K 1 C 2 dan K 1 C 1 tetapi berbeda nyata dengan interaksi perlakuan K 2 C 3 dan interaksi perlakuan K 3 C 1 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuank 1 C 2, K 1 C 1 dan K 2 C 3. Nilai tingkat kesukaan terhadap rasa cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12) tertinggi pada interaksi perlakuan K 3 C 3 (bunga kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 4,00 dan terendah pada interaksi perlakuan K 2 C 3 (daun kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 2,80 dan termasuk kriteria disukai hingga tidak disukai para panelis. Interaksi perlakuan K 3 C 3 (bunga kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai tingkat kesukaan tertinggi terhadap rasa cuko pempek setelah penyimpanan 12 hari mempunyai selisih nilai ph terendah dibanding perlakuan lainnya. Artinya penambahan rasa asam yang berasal dari hasil pemecahan karbohidrat menjadi asam organik oleh mikroba pada interaksi perlakuan K 3 C 3 lebih rendah dari interaksi perlakuan lainnya. Selisih tersebut menyebabkan rasa cuko pempek sebelum dan setelah penyimpanan 12 hari berbeda tidak nyata, sehingga walaupun cuko pempek sudah disimpan rasanya masih disukai oleh panelis. 3. Aroma Cuko Pempek terhadap aroma cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0). Berdasarkan data hasil perhitungan diperoleh nilai T-Kritik (0,68) yang lebih kecil (<) nilainya dari nilai F-Tabel 0,05 pada derajat bebas (8,152) sebesar 2,00, sehingga menghasilkan pengaruh yang tidak nyata terhadap aroma cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0). Nilai tingkat kesukaan aroma cuko pempek sebelum penyimpanan (hari ke 0) tertinggi pada interaksi perlakuan K 3 C 3 (bunga kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 3,80 dan terendah pada interaksi perlakuan K 1 C 2 (batang kecombrang dan konsentrasi tepung 2%) dengan nilai rata-rata 3,45 dan termasuk kriteria agak disukai para panelis. Interaksi perlakuan K 3 C 3 (bunga kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) mempunyai nilai tingkat kesukaan tertinggi dibanding interaksi perlakuan lainnya terhadap aroma cuko pempek sebelum penyimpanan 12 hari. Aroma harum pada bunga kecombrang berasal dari senyawa minyak atsiri dan flavonoid. Adanya penambahan tepung bunga kecombrang tertinggi menghasilkan intensitas aroma kecombrang yang lebih dominan pada perlakuan K3C 3, sehingga aroma cuko pempek pada perlakuan K 3 C 3 lebih disukai panelis dibanding perlakuan lainnya. b. Setelah Penyimpanan (Hari Ke 12) terhadap aroma cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12). Berdasarkan data hasil perhitungan pada diperoleh nilai T-Kritik (4,69) yang lebih besar (>) nilainya dari nilai F-Tabel 0,05 pada derajat bebas (8,152) sebesar 2,00, sehingga menghasilkan pengaruh yang nyata terhadap aroma cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12). Berdasarkan data uji BNJ Conover diperoleh bahwa interaksi perlakuan K 3 C 3 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 3 C 2 dan K 1 C 1, tetapi berbeda nyata dengan interaksi perlakuan K 1 C 2, K 3 C 1, K 2 C 1, K 2 C 2, K 1 C 3 dan interaksi perlakuan K 2 C 3. Interaksi perlakuan K 3 C 2 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 1 C 1, K 1 C 2 dank 3 C 1, tetapi berbeda nyata dengan interaksi perlakuan K 2 C 1, K 2 C 2, K 1 C 3 dan interaksi perlakuan K 2 C 3. Interaksi perlakuan K 1 C 1 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 1 C 2, K 3 C 1, K 2 C 1 dan K 2 C 2, tetapi berbeda nyata dengan interaksi perlakuan K 1 C 3 dan interaksi perlakuan K 2 C 3. Interaksi perlakuan K 1 C 2 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 3 C 1, K 2 C 1, K 2 C 2 dan K 1 C 3, tetapi berbeda nyata dengan interaksi perlakuan K 2 C 3 dan interaksi perlakuan K 2 C 2 berbeda tidak nyata dengan interaksi perlakuan K 1 C 3 dan K 2 C 3. Nilai tingkat kesukaan terhadap aroma cuko pempek setelah penyimpanan (hari ke 12) tertinggi pada interaksi perlakuan K 3 C 3 (bunga kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 3,75 dan terendah pada interaksi perlakuan K 2 C 3 (daun kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai rata-rata 2,60 dan termasuk kriteria disukai hingga tidak disukai para panelis. 57
8 Interaksi perlakuan K 3 C 3 (bunga kecombrang dan konsentrasi tepung 3%) dengan nilai tingkat kesukaan tertinggi terhadap aroma cuko pempek setelah penyimpanan 12 hari mempunyai selisih nilai ph terendah dibanding perlakuan lainnya. Artinya penambahan aroma asam yang berasal dari hasil pemecahan karbohidrat menjadi asam organik oleh mikroba pada interaksi perlakuan K 3 C 3 lebih rendah dari interaksi perlakuan lainnya. IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Konsentrasi dan bagian tepung batang, daun dan bunga kecombrang berpengaruh nyata terhadap jumlah mikrobia dan organoleptik cuko pempek selama penyimpanan. Cuko pempek yang masih dalam keadaan baik dan masih aman untuk di konsumsi setelah penyimpanan 12 hari terdapat pada perlakuan K 3 C 3 yaitu (Tepung bunga kecombrang dengan konsentrasi sebanyak 3%) dengan total mikroba rata-rata 1,10 10² sel/g dan nilai tingkat kesukaan panelis terhadap cuko pempek setelah penyimpanan 12 hari yang meliputi warna rata-rata 3,55, rasa rata-rata 4,00 dan aroma rata-rata 3,75 dan termasuk kriteria agak disukai dan disukai. 2. Nilai ph pada perlakuan terbaik (K 3 C 3 ) setelah penyimpanan 12 hari rata-rata 4, Cuko pempek dengan penambahan tepung bunga kecombrang sebanyak 3% dapat bertahan selama 12 hari. B. Saran Penambahan tepung bunga kecombrang padacuko pempek mampu memperpanjang umur simpan cuko pempek. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan senyawa bioaktif pada daun, batang dan bunga kecombrang. DAFTAR PUSTAKA Alhanannasir Penambahan Asam dan Jenis Asam terhadap Cita rasa dan Vitamin C Cuka Pempek. Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang. Jurnal Edible. 1(1). Arabidi Pengaruh Berbagai Perbandingan Tepung Rosela dan Gula Semut terhadap Cuka Pempek Bubuk. Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang. Palembang. (Tidak dipublikasikan). Astawan, M Pempek, Nilai Gizi Kapal Selam Paling Tinggi. de/pubde_tknprcss_pempek. php. (Online). Diakses tanggal 23 Desember Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bharata Karya Aksara, Jakarta. Chendhawati Pempek Favorit. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Effendi, M. S Teknologi Pengolahan dan Pengawetan Pangan. Penerbit Alfabeta, Bandung. Hanafiah, K.A Rancangan Percobaan, Teori dan Aplikasinya. Unsri. Rajawali Pers. Jakarta. Hardiman, I Resep Favorit Untuk Usaha Pempek. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Haryadi Teknologi Pengolahan Beras. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. ID Wawancara tentang cara pembuatan cuko pempek, di jalan Radial Palembang. (Pers.Comm). Istianto, T Efektivitas Anti Mikroba Kecombrang (Nicolalaia spesioca Horan): Pengaruh Bagian-bagian Tanaman Kecombrang Terhadap Bakteri Patogen Pangandan Kapang Salak. Skripsi. Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Muchtadi, TR, Sugiyono F, Ayustaningwarno Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Alfabeta, Bandung. Muchsiri, Enkapsulasi Probiotik Cuko Pempek. Desertasi, Program Studi Doktor Ilmu- ilmu Pertanian (Tidak dipublikasikan). 58
I. PENDAHULUAN. penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi, karena memiliki protein yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Daging ayam merupakan salah satu bahan pangan yang memegang peranan cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi, karena memiliki protein yang berkualitas tinggi
I. PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5)
I. PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1.1) Latar Belakang Penelitian, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian
EDIBLE III - 1 : 12 16, Juli 2014 ISSN
KARAKTERISTIK KIMIA, FISIKA DAN ORGANOLEPTIK CUKO PEMPEK BUBUK DARI BERBAGAI FORMULASI GULA SEMUT DAN SUKROSA CHEMICAL, PHYSICAL, AND ORGANOLEPTIC OF CUKO PEMPEK POWDER FROM SUGAR ANTS AND SUCROSE FORMULATION
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Muhammadiyah Semarang Jl. Wonodri Sendang Raya No. 2A Semarang.
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilakukan di laboratorium kimia Universitas Muhammadiyah
PENDAHULUAN. segar mudah busuk atau rusak karena perubahan komiawi dan kontaminasi
PENDAHULUAN Latar Belakang Daging merupakan salah satu komoditi pertanian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan protein, karena daging mengandung protein yang bermutu tinggi, yang mampu menyumbangkan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Prosedur pelaksanaan dilakukan dalam 2 (dua) tahap yaitu tahap preparasi dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Prosedur pelaksanaan dilakukan dalam 2 (dua) tahap yaitu tahap preparasi dan tahap pengolahan. 4.1 Tahap preparasi 4.1.1 Tahap Preparasi untuk Tempe Ada beberapa hal yang harus
TEKNOLOGI PEMBUATAN SAUS TOMAT Oleh: Masnun Balai Pelatihan Pertanian Jambi I. PENDAHULUAN
Page1 TEKNOLOGI PEMBUATAN SAUS TOMAT Oleh: Masnun Balai Pelatihan Pertanian Jambi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) merupakan salah satu komoditi sayuran buah yang sangat
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE A. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah kulit buah manggis, ethanol, air, kelopak bunga rosella segar, madu dan flavor blackcurrant. Bahan kimia yang digunakan untuk keperluan
Metode penelitian Rancangan penelitian (reseach Design) Rancangan Percobaan
Abstrak Wedang cor merupakan minuman khas jember yang biasanya di jual dipenggiran jalan. Minuman ini sangat diminati oleh kalangan Mahasiswa maupun mayarakat. Wedang cor ini terdiri dari jahe, ketan dan
BAB I PENDAHULUAN. Kandungan gizi pada ikan adalah protein, lemak, vitamin-vitamin, mineral,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan merupakan pangan yang memiliki kandungan zat gizi yang tinggi. Kandungan gizi pada ikan adalah protein, lemak, vitamin-vitamin, mineral, karbohidrat, serta kadar
BAB I PENDAHULUAN. sebagai salah satu sumber protein hewani. Ikan juga merupakan bahan makanan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat sebagai salah satu sumber protein hewani. Ikan juga merupakan bahan makanan yang cepat mengalami proses
KANDUNGAN VITAMIN C DAN UJI ORGANOLEPTIK FRUITHGURT KULIT BUAH SEMANGKA DENGAN PENAMBAHAN GULA AREN DAN KAYU SECANG NASKAH PUBLIKASI
KANDUNGAN VITAMIN C DAN UJI ORGANOLEPTIK FRUITHGURT KULIT BUAH SEMANGKA DENGAN PENAMBAHAN GULA AREN DAN KAYU SECANG NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh: WIDYA AGUSTINA A 420 100 076 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
3.1. Tempat dan Waktu Bahan dan Aiat Metode Penelitian
in. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian, Laboratorium Analisis Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Riau, Laboratorium Kimia
TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Nugget Ayam Bahan pangan sumber protein hewani berupa daging ayam mudah diolah, dicerna dan mempunyai citarasa yang enak sehingga disukai banyak orang. Daging ayam juga merupakan
PENDAHULUAN. Kondisi ini akan lebih diperparah lagi akibat penjualan. pengawetan untuk menekan pertumbuhan bakteri.
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging ayam broiler merupakan bahan makanan bergizi tinggi, memiliki rasa dan aroma enak, tekstur lunak serta harga yang relatif murah dibandingkan dengan daging dari
BAB III METODE PENELITIAN. (treatment) terhadap objek penelitian serta adanya kontrol penelitian.
36 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimen murni (Pure Eksperimen) pada skala laboratorium, dengan memberikan perlakuan (treatment) terhadap
BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan September Desember 2016 di
13 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2016 - Desember 2016 di Laboratorium Kimia dan Gizi Pangan Fakultas Peternakan dan Pertanian. Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan
BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN
BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktek Produksi Kopi Biji Salak dengan Penambahan Jahe Merah dilaksanakan pada bulan Maret-April 2016 di Laboratorium Rekayasa Proses dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saus cabai atau yang biasa juga disebut saus sambal adalah saus yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Saus Cabai Saus cabai atau yang biasa juga disebut saus sambal adalah saus yang diperoleh dari bahan utama cabai (Capsicum sp) yang matang dan baik, dengan atau tanpa penambahan
Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan
PROSES PEMBUATAN TELUR ASIN SEBAGAI PELUANG USAHA Oleh : Andi Mulia, Staff Pengajar di UIN Alauddin Makassar Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan
E d I b l e VI -1: 46-50, Juli 2017 ISSN
STUDI PEMBUATAN KUAH LAKSAN INSTAN DENGAN PERBANDINGAN BUBUK SANTAN DAN UDANG REBON SUNGAI Dwi Oktarini, Suyatno, Ade Vera Yani Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke wilayah Asia Tenggara dan Cina. Ikan tersebut termasuk komoditas yang
BAB I PENDAHULUAN. makanan yang halal dan baik, seperti makan daging, ikan, tumbuh-tumbuhan, dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia memiliki luas wilayah perairan yang lebih besar dari pada luas daratan. Besarnya luas wilayah perairan yang dimiliki Indonesia, membuat negara ini kaya akan
UJI KUALITAS YOGHURT SUSU SAPI DENGAN PENAMBAHAN MADU dan Lactobacillus bulgaricus PADA KONSENTRASI YANG BERBEDA NASKAH PUBLIKASI
1 UJI KUALITAS YOGHURT SUSU SAPI DENGAN PENAMBAHAN MADU dan Lactobacillus bulgaricus PADA KONSENTRASI YANG BERBEDA NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh: FITA FINARSIH A 420 100 067 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
I PENDAHULUAN. maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, hipotesis
I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai: latar belakang, identifikasi masalah, maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, hipotesis penelitian, tempat dan waktu penelitian.
NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh : PUJI ASTUTI A
PEMANFAATAN LIMBAH AIR LERI BERAS IR 64 SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN SIRUP HASIL FERMENTASI RAGI TEMPE DENGAN PENAMBAHAN KELOPAK BUNGA ROSELLA SEBAGAI PEWARNA ALAMI NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh : PUJI
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE A. Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah rempah basah (bawang putih, bawang merah, lengkuas, kunyit, dan jahe) serta rempah kering (kemiri, merica,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu komoditas sumber daya laut yang memiliki nilai ekonomis. Kerang ini tergolong dalam filum Mollusca makanan laut yang
BAB V RANCANGAN PENELITIAN
BAB V RANCANGAN PENELITIAN 5.1 Alat dan Bahan yang digunakan 5.1.1 Alat yang digunakan Alat yang digunakan pada penelitian meliputi autoklaf 50X Electric Model 24 Liter, neraca digital, erlenmeyer 500
I. PENDAHULUAN. negara dengan ciri khas masing-masing. Makanan fermentasi tersebut diolah
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Makanan hasil fermentasi sudah dikenal sejak lama dan terdapat di berbagai negara dengan ciri khas masing-masing. Makanan fermentasi tersebut diolah berdasarkan
Prinsip-prinsip Penanganan dan Pengolahan Bahan Agroindustri
Prinsip-prinsip Penanganan dan Pengolahan Bahan Agroindustri PENANGANAN Jenis Kerusakan Bahan Pangan Kerusakan mikrobiologis Kerusakan mekanis Kerusakan fisik Kerusakan biologis Kerusakan kimia Kerusakan
OPTIMASI PEMBUATAN KOPI BIJI PEPAYA (Carica papaya)
JURNAL TEKNOLOGI AGRO-INDUSTRI Vol. 2 No.2 ; November 2015 OPTIMASI PEMBUATAN KOPI BIJI PEPAYA (Carica papaya) MARIATI Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Politeknik Negeri Tanah Laut, Jl. A. Yani, Km
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental di bidang teknologi pangan. B. TEMPAT DAN WAKTU Tempat pembuatan chips tempe dan tempat uji organoleptik
BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan pengawet berbahaya dalam bahan makanan seperti ikan dan daging menjadi permasalahan serius yang dihadapi oleh pemerintah. Penggunaan bahan pengawet
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan Pengeringan yang dilakukan dua kali dalam penelitian ini bertujuan agar pengeringan pati berlangsung secara merata. Setelah dikeringkan dan dihaluskan
PENDAHULUAN. Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian
PENDAHULUAN Latar Belakang Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian besar diolah menjadi berbagai bentuk dan jenis makanan. Pengolahan buahbuahan bertujuan selain untuk memperpanjang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya
2.1 Komposisi Kimia Udang BAB II TINJAUAN PUSTAKA Udang merupakan salah satu produk perikanan yang istimewa, memiliki aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya lebih
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan merupakan sumber protein hewani dan juga memiliki kandungan gizi yang tinggi diantaranya mengandung mineral, vitamin dan lemak tak jenuh. Protein dibutuhkan tubuh
UJI ORGANOLEPTIK DAN KANDUNGAN VITAMIN C PADA PEMBUATAN SELAI BELIMBING WULUH DENGAN PENAMBAHAN BUAH KERSEN DAN BUNGA ROSELA
UJI ORGANOLEPTIK DAN KANDUNGAN VITAMIN C PADA PEMBUATAN SELAI BELIMBING WULUH DENGAN PENAMBAHAN BUAH KERSEN DAN BUNGA ROSELA NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana
Menerapkan Teknik Pengolahan Menggunakan Media Penghantar Panas. KD 1. Melakukan Proses Pengolahan Abon Ikan
1 Menerapkan Teknik Pengolahan Menggunakan Media Penghantar Panas KD 1. Melakukan Proses Pengolahan Abon Ikan Pengertian Abon Abon merupakan salah satu jenis makanan awetan berasal dari daging (sapi, kerbau,
SKRIPSI OLEH : LUCIANA HENDRIKA SUWARNO NRP
PENGARUH JENIS KEMASAN DAN KONDISI PENYIMPANAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, SIFAT FISIKOKIMIA, MIKROBIOLOGIS, DAN ORGANOLEPTIK MINUMAN BERAS KENCUR DARI BERAS PUTIH VARIETAS JASMINE SKRIPSI OLEH : LUCIANA
3. METODOLOGI PENELITIAN
3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. BAHAN DAN ALAT Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain talas bentul, gula pasir, gula merah, santan, garam, mentega, tepung ketan putih. Sementara itu, alat yang
TEKNOLOGI FERMENTASI PANGAN. Agroindustrial Departement, Faculty of Agricultural Technology, Brawijaya University
TEKNOLOGI FERMENTASI PANGAN Agroindustrial Departement, Faculty of Agricultural Technology, Brawijaya University SEJARAH FERMENTASI Berasal dr bahasa latin fervere artinya adalah merebus (to boil) Terkait
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan selama bulan Mei hingga Agustus 2015 dan
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan selama bulan Mei hingga Agustus 2015 dan dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian dan Laboratorium Kimia,
KAJIAN PROPORSI SARI NANAS DAN KONSENTRASI STARTER TERHADAP SIFAT KIMIA DAN MIKROBIOLOGIS KEFIR NANAS SKRIPSI
KAJIAN PROPORSI SARI NANAS DAN KONSENTRASI STARTER TERHADAP SIFAT KIMIA DAN MIKROBIOLOGIS KEFIR NANAS SKRIPSI OLEH: SENDY VIOLITA NRP 6103012121 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan sayuran yang
TEKNIK PELAKSANAAN PERCOBAAN PENGARUH KONSENTRASI GARAM DAN BLANCHING TERHADAP MUTU ACAR BUNCIS Sri Mulia Astuti 1 Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan sayuran yang berpotensi ekonomi tinggi karena
BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian melalui eksperimen di bidang Ilmu Teknologi Pangan.
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian melalui eksperimen di bidang Ilmu Teknologi Pangan. B. Waktu dan Tempat Penelitian a. Waktu Penelitian dilakukan mulai
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan selama 5-6 bulan di Laboratorium Ilmu dan
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 5-6 bulan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan dan Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi Proksimat Komposisi rumput laut Padina australis yang diuji meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, dan kadar abu tidak larut asam dilakukan
BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah eksperimen di bidang Ilmu Teknologi Pangan.
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah eksperimen di bidang Ilmu Teknologi Pangan. B. Tempat dan Waktu Tempat pembuatan produk mie basah dan pengujian sifat fisik mie
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian tentang pengaruh variasi konsentrasi penambahan tepung tapioka dan tepung beras terhadap kadar protein, lemak, kadar air dan sifat organoleptik
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan budidaya air tawar yang mempunyai prospek cukup baik untuk dikembangkan. Ikan nila banyak digemari oleh masyarakat karena dagingnya
I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis, dan (7)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tempe merupakan produk pangan khas Indonesia berbahan kedelai yang diolah melalui fermentasi kapang Rhizopus oligosporus. Tempe sangat familiar dikalangan masyarakat
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan Laboratorium Analisis Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Biologi A
PERBANDINGAN KADAR VITAMIN C, ORGANOLEPTIK, DAN DAYA SIMPAN SELAI BUAH TOMAT (Lycopersicum esculentum) DAN PEPAYA (Carica papaya) YANG DITAMBAHKAN GULA PASIR NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
M. Yogie Nugraha 1), Edison 2), and Syahrul 2) Abstract
The Effect of Addition of Tempe Powder on Consumer Acceptance, Protein, and NPN Composition of fish Protein Concentrate Prepared from Pangasius Catfish (Pangasiushypopthalmus) By M. Yogie Nugraha 1), Edison
UJI VITAMIN C DAN ORGANOLEPTIK TEH KOMBINASI DAUN KELOR DAN KULIT JERUK RASA JAHE DENGAN VARIASI SUHU PENGERINGAN
UJI VITAMIN C DAN ORGANOLEPTIK TEH KOMBINASI DAUN KELOR DAN KULIT JERUK RASA JAHE DENGAN VARIASI SUHU PENGERINGAN Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Biologi
BAB III METODE A. Tempat dan Waktu Penelitian B. Bahan dan Alat
BAB III METODE A. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laboratorium Kimia Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang untuk analisis
III BAHAN, ALAT, DAN METODE PENELITIAN
III BAHAN, ALAT, DAN METODE PENELITIAN Bab ini menguraikan mengenai : (3.1) Bahan Penelitian, (3.2) Alat Penelitian, dan (3.3) Metode Penelitian. 3.1. Bahan Penelitian Bahan baku penelitian pada proses
Proses Pembuatan Madu
MADU PBA_MNH Madu cairan alami, umumnya berasa manis, dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nektar); atau bagian lain dari tanaman (ekstra floral nektar); atau ekskresi serangga cairan
TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN
TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat
BAB III METODOLOGI A. Alat dan Bahan A.1Alat yang digunakan : - Timbangan - Blender - Panci perebus - Baskom - Gelas takar plastik - Pengaduk -
digilib.uns.ac.id BAB III METODOLOGI A. Alat dan Bahan A.1Alat yang digunakan : - Timbangan - Blender - Panci perebus - Baskom - Gelas takar plastik - Pengaduk - Kompor gas - Sendok - Cetakan plastik A.2Bahan
PENGERINGAN PENDAHULUAN PRINSIP DAN TUJUAN PENGOLAHAN SECARA PENGERINGAN FAKTOR-FAKTOR PENGERINGAN PERLAKUAN SEBELUM DAN SETELAH PENGERINGAN
PENGERINGAN PENDAHULUAN PRINSIP DAN TUJUAN PENGOLAHAN SECARA PENGERINGAN FAKTOR-FAKTOR PENGERINGAN PERLAKUAN SEBELUM DAN SETELAH PENGERINGAN EFEK PENGERINGAN TERHADAP PANGAN HASIL TERNAK PERLAKUAN SEBELUM
I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas mengenai: (1.1) Latar Belakang Penelitian, (1.2)
I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai: (1.1) Latar Belakang Penelitian, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian
I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Nira yang dihasilkan oleh setiap tanaman tersebut memiliki ciri fisik serta
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gula Kelapa Gula merupakan bentuk hasil dari pengolahan nira tanaman yang dihasilkan melalui proses pemanasan pada nira dan diubah menjadi bentuk kristal maupun padat. Tanaman
Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN
BAB VI PEMBAHASAN Dalam praktikum ini membahas mengenai inokulum tape. Tape adalah sejenis panganan yang dihasilkan dari proses peragian ( fermentasi). Tape bisa dibuat dari singkong (ubi kayu) dan hasilnya
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. menghasilkan bau, sebagai zat harus bersifat menguap. Dua zat atau. atau saling menutupi (Setyaningsih, dkk., 2010).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Uji Organoleptik 1. Aroma Bau atau aroma merupakan sifat sensori yang paling sulit untuk diklasifikasikan dan dijelaskan karena ragamnya yang begitu besar, agar menghasilkan
II. TINJAUAN PUSTAKA Nugget Ayam Menurut SNI (2002) nugget merupakan salah satu produk olahan daging
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Nugget Ayam Menurut SNI (2002) nugget merupakan salah satu produk olahan daging yang dicetak, dimasak dan dibekukan serta terbuat dari campuran daging giling yang diberi bahan
NASKAH PUBLIKASI RISA DHALIA A
ORGANOLEPTIK DAN KADAR VITAMIN C CINCAU DENGAN PENAMBAHAN SARI JERUK DAN GULA PASIR NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh : RISA DHALIA A 420 100 192 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
BAB I PENDAHULUAN. occidentale L.) seluas ha, tersebar di propinsi Sulawesi. Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki areal perkebunan jambu mete (Anacardium occidentale L.) seluas 560.813 ha, tersebar di propinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan,
C. Prosedur Penelitian 1. Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan dimaksudkan untuk mendapatkan yield nata de cassava yang optimal.
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini adalah penelitan eksperimental. Tempat penelitian adalah Laboratorium Kimia Universitas Katolik Soegijapranoto Semarang dan Laboratorium
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Bahan dan Alat Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah permen jelly pepaya yang terbuat dari pepaya varietas IPB 1 dengan bahan tambahan sukrosa, ekstrak rumput
BAB I PENDAHULUAN. berupa pengawet yang berbahaya (Ismail & Harahap, 2014). Melihat dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Makanan merupakan salah satu kebutuhan primer bagi manusia, di Indonesia banyak sekali makanan siap saji yang dijual di pasaran utamanya adalah makanan olahan daging.
KADAR PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK NUGGET FORMULAS IKAN TONGKOL DAN JAMUR TIRAM PUTIH YANG BERBEDA NASKAH PUBLIKASI. Program studi pendidikan biologi
KADAR PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK NUGGET FORMULAS IKAN TONGKOL DAN JAMUR TIRAM PUTIH YANG BERBEDA NASKAH PUBLIKASI Program studi pendidikan biologi Disusun oleh: Arif Rachmad Hakim A420100085 PENDIDIKAN BIOLOGI
Meningkatkan Nilai Tambah Bawang Merah Oleh: Farid R. Abadi
Meningkatkan Nilai Tambah Bawang Merah Oleh: Farid R. Abadi Bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang memiliki permintaan yang cukup tinggi dalam bentuk segar. Meskipun demikian, bawang merah
III. METODE PENELITIAN
22 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang, Kegiatan penelitian ini dimulai pada bulan
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 sampai dengan bulan April 2015
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 sampai dengan bulan April 2015 di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan Analisis Hasil Pertanian Jurusan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tepung Tulang Ikan Rendemen tepung tulang ikan yang dihasilkan sebesar 8,85% dari tulang ikan. Tepung tulang ikan patin (Pangasius hypopthalmus) yang dihasilkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jamur merupakan sumber makanan yang bergizi tinggi. Jamur juga termasuk bahan pangan alternatif yang disukai oleh
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jamur merupakan sumber makanan yang bergizi tinggi. Jamur juga termasuk bahan pangan alternatif yang disukai oleh semua lapisan masyarakat. Salah satu jamur yang banyak
I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.
I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah jambu biji (Psidium guajava) memiliki rasa yang enak dan segar serta memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan juga kecantikan manusia. Buah jambu biji telah lama
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2012.
26 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Riset Makanan dan Material Jurusan Pendidikan Kimia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Penelitian
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengolahan Cookies Tepung Beras 4.1.1 Penyangraian Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan pada wajan dan disangrai menggunakan kompor,
BAB I PENDAHULUAN. dikembangkan, mulai dari teh, kopi, karet, kakao, kelapa, rempah-rempah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia mempunyai sumber daya perkebunan yang berpotensi untuk dikembangkan, mulai dari teh, kopi, karet, kakao, kelapa, rempah-rempah sampai dengan produk pertanian
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang diambil termasuk jenis eksperimen dalam ruang lingkup teknologi pangan yang ditunjang dengan studi literatur. B. Tempat dan Waktu Tempat
III. METODOLOGI PENELITIAN. Universitas Muhammadiyah Malang mulai bulan April 2014 sampai Januari 2015.
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang mulai bulan April 2014 sampai Januari 2015. 3.2 Alat Alat
KERUPUK UDANG ATAU IKAN
KERUPUK UDANG ATAU IKAN 1. PENDAHULUAN Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan bahan makanan
YUWIDA KUSUMAWATI A
PEMANFAATAN BIJI KECIPIR (Psophocarpus tetragonolobus) SEBAGAI PENGGANTI KEDELAI DALAM PEMBUATAN KECAP DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK NANAS DAN EKSTRAK PEPAYA SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna
METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang. Waktu penelitian yakni pada bulan Desember
BAB I PENDAHULUAN. bahan dalam pembuatan selai adalah buah yang belum cukup matang dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan teknologi pangan semakin maju seiring dengan perkembangan zaman. Berbagai inovasi pangan dilakukan oleh beberapa industry pengolahan pangan dalam menciptakan
PEMBUATAN BUBUK CABE MERAH MENGGUNAKAN VARIASI JENIS CABE DAN METODE PENGERINGAN
Pembuatan Bubuk Merah..( Sudaryati, Latifah, Donny Eko Hermawan) 74 PEMBUATAN BUBUK CABE MERAH MENGGUNAKAN VARIASI JENIS CABE DAN METODE PENGERINGAN (The Making Red Chili Powder Using Variation of Chili
PENDAHULUAN. sumber protein hewani selain daging. Telur tidak hanya dijual dalam keadaan. sekarang banyak olahan telur yang menggunakan telur puyuh.
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Telur adalah bahan pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat dunia. Telur yang dikonsumsi dapat berasal dari berbagai unggas, umumnya yaitu ayam, itik dan puyuh. Telur
PENGARUH PERENDAMAN DALAM BERBAGAI KONSENTRASI EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELLA
PENGARUH PERENDAMAN DALAM BERBAGAI KONSENTRASI EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn) TERHADAP JUMLAH TOTAL BAKTERI, DAYA AWET DAN WARNA DAGING SAPI Rizka Zahrarianti, Kusmajadi Suradi,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Pembuatan minuman instan daun binahong dilakukan di Laboratorium Pangan dan Gizi, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Uji aktivitas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Ikan tongkol (Euthynnus affinis) segar diperoleh dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan) kota Gorontalo. Bahan bakar yang digunakan dalam pengasapan ikan adalah batok sabut kelapa
PEMANFAATAN BIJI TURI SEBAGAI PENGGANTI KEDELAI DALAM BAHAN BAKU PEMBUATAN KECAP SECARA HIDROLISIS DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK PEPAYA DAN NANAS
PEMANFAATAN BIJI TURI SEBAGAI PENGGANTI KEDELAI DALAM BAHAN BAKU PEMBUATAN KECAP SECARA HIDROLISIS DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK PEPAYA DAN NANAS NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh: VANDA FIKOERITRINA WIDYA PRIMERIKA
BAB I PENDAHULUAN. Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.
BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian
Tabel 9. Rata-rata kadar air mi sagu MOCAL
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kadar Air Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting pada
