BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA"

Transkripsi

1 BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Penggantian Komponen Dies dan Mesin Dengan adanya beberapa perubahan desain menjadi dies monoblok, maka besarnya biaya biaya komponen dibagi menjadi empat bagian : 1. Pembuatan short sleeve Biaya pembuatan short sleeve diambil dari biaya pembuatan di subcont sesuai pesanan. Ada 3 model yang dibuat untuk dies Cylinder comp, L crank case, dan R crank case. 2. Pembuatan plunger sleeve Biaya pembuatan plunger sleeve diambil dari biaya pembuatan di subcont sesuai pesanan. Ada dua macam plunger sleeve yang dibuat yaitu untuk mesin 350 ton ( dia 65 ) dan mesin 650 ton ( dia 75 ). 3. Modifikasi body dies Modifikasi body dies dilakukan di workshop DMD. Biaya manufaktur dihitung dari lamanya proses pekerjaan ( jam ) dikalikan dengan biaya permesinan per jam ( sudah ada standar biaya mesin per jam ). 4. Modifikasi cavity

2 38 Dengan perubahan model menjadi monoblok, maka cavity juga mengalami perubahan. Biaya manufaktur dihitung dari lamanya proses pekerjaan ( jam ) dikalikan dengan biaya permesinan per jam ( sudah ada standar biaya mesin per jam ). Untuk itu biaya yang harus dikeluarkan untuk memodifikasi dies tipe KWB/KWW untuk empat tipe komponen / part sebanyak 16 dies per tipe part untuk menunjang kebutuhan produksi tahun 2009 dijabarkan sebagai berikut : 1. Lama proses pengerjaan machining body dan cavity (di mesin OKK 600) : - L crank case KFM selama 23 jam. - R crank case KFM/ KEV selama 23 jam ( diasumsikan sama dengan L crank case KFM, karena secara dimensi sama ). - Cylinder comp KFM selama 12.5 jam. 2. Biaya permesinan per jam sebesar Rp ,00. ( berdasarkan data cost machining DMD ). Tabel 4.1 Biaya Modifikasi Monoblok pada Dies Tipe KWB / KWW Mesin Jml No Dies Tipe Kebutuhan Harga /pce Injeksi Dies Total 1 L crank case - Short sleeve 650 ton 16 Rp ,00 Rp ,00 KWB/KWW - Modif dies 16 Rp ,00 Rp ,00 2 R crank case - Short sleeve 650 ton 16 Rp ,00 Rp ,00 KWB/KWW - Modif dies 16 Rp ,00 Rp ,00 3 Cyl Comp - Short sleeve 350 ton 16 Rp ,00 Rp ,00 KWB/KWW - Modif dies 16 Rp ,00 Rp ,00 Total biaya modifikasi dies dan penggantian short sleeve Rp ,00

3 39 Data di atas menunjukkan modifikasi pada dies yang meliputi penggantian die sleeve menjadi short sleeve, modifikasi body, modifikasi cavity. Sedangkan penggantian komponen plunger sleeve terdapat pada mesin yang akan ditunjukkan pada tabel berikut ini. Tabel 4.2 Biaya Penggantian Komponen Mesin No Kebutuhan Mesin Jml Mesin Harga /pce Total Harga 1 - Plunger 650 ton 12 Rp ,00 Rp ,00 Sleeve 350 ton 6 Rp ,00 Rp ,00 Total biaya penggantian komponen mesin Rp ,00 Jadi biaya total yang harus dikeluarkan untuk memodifikasi dies L crank case KWB/KWW, R crank case KWB/KWW, dan Cylinder Comp KWB/KWW supaya bisa digunakan untuk produksi adalah sebesar Rp ,00. Biaya investasi di atas dibuat untuk mengurangi waktu yang terbuang pada saat penggantian dies di mesin injeksi. Dengan adanya improvement dari konstruksi dies tersebut diharapkan diperoleh penghematan Data Produksi KWB/KWW Berdasarkan data forecast produksi tahun 2009, maka bisa diambil data penggantian dies model KWB/KWW dari 3 plant dalam kondisi ideal selama periode Januari 2009 sampai dengan Desember Data produksi untuk L crank case KWB/KWW, R crank case KWB/KWW, Cylinder comp KWB/KWW.

4 40 Tabel 4.3 Produksi KWB/KWW PLANT Bulan NF110TD NF110TC KWW KWW Plant 1 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Sub total NF110DX KWW NF110SP KWB Plant 2 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Sub total Plant 3 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Sub total Total Produksi

5 Aplikasi Sistem Monoblok Percobaan aplikasi sistem monoblok dilakukan pada dies tipe L crank case KFM, R crank case KFM, dan Cylinder Comp KFM selama periode Januari 2008 Desember Dimana untuk engine tipe KFM pada akhir 2008 sudah off model, namun konstruksi dies tipe KFM dengan KWB/KWW hampir sama. Berikut ini data hasil pengamatan penyetingan dies di mesin injeksi antara dies tipe Die Sleeve dengan dies tipe Monoblok. Tabel 4.4 Pengamatan Waktu Bongkar Pasang Dies ke Mesin Injeksi TIPE DIES KFM KFM KEVF L R No Activitas CYL CRANK CRANK COMP CASE CASE Current Condition ( Tipe Die Sleeve ) Pasang Dies 1 Transfer dies fix ke mesin Pasang dies fix ke mesin Tighening clamp dies fix + baut pengikat plate Transfer hoist ke area HPDCM Transfer dies Move ke mesin Pasang dies move ke mesin Tighening clamp dies move + baut pengikat Pasang selang core + Limit Switch System Sub total (detik) Lepas Dies 1 Lepas selang core + Limit Switch System Buka clamp dies fix Angkat die fix dari mesin + transfer dies fix ke Buka clamp dies Move Angkat die move dari mesin + transfer dies Sub total (detik) Total (Detik) Monoblok sistem Pasang Dies 1 Transfer dies fix+ move ke mesin

6 42 2 Pasang dies fix+ move ke mesin Tighening clamp diesfix + move + baut Pasang selang core + Limit Switch System Transfer dies fix ke mesin Pasang dies fix ke mesin Tighening clamp dies fix + baut pengikat plate Transfer hoist ke area HPDCM Transfer dies move ke mesin Pasang dies move ke mesin Tighening clamp dies move + baut pengikat Pasang selang core + Limit Switch System 378 Sub total (detik) Lepas Dies 1 Lepas selang core + Limit Switch System Buka clamp dies fix + move Angkat die fix + move dari mesin + transfer Sub total (detik) Total (Detik) Pengolahan Data Perkiraan Penggantian Dies Dengan diketahuinya jumlah produksi selama tahun 2009, maka dapat diambil perhitungan penggantian dies. Adapun penggantian dies dari atas mesin dalam kondisi normal untuk semua tipe berdasarkan dari dua kondisi, yaitu : 1. Perventive dies, dilakukan setiap dies mencapai shoots. 2. Penggantian dies, dilakukan apabila dies sudah mencapai life time produksi yaitu sebanyak shoots ( standar yang ditentukan perusahaan ). Total ganti dies dari 3 plant dengan asumsi kondisi ideal :

7 43 Tabel 4.5 Tabel Penggantian Dies KWB / KWW per Part ( Kondisi Ideal ) No Bulan Plant I Plant II Plant III Total / bln 1 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Perhitungan Pendapatan Selama Setahun dengan Sistem Monoblok Perhitungan besarnya pendapatan yang diperoleh kembali dengan sistem monoblok yang diakibatkan efisiensi waktu seting ( bongkar pasang ) dies dengan asumsi kondisi ideal. Di bawah ini ditunjukkan perhitungan pendapatan yang bisa diperoleh dengan menggunakan sistem monoblok. Benefit diperoleh dari banyaknya part yang bisa diproduksi di dalam selisih waktu bongkar pasang dies di mesin injeksi antara dies tipe die sleeve dengan dies tipe monoblok.

8 Tabel 4.6 Perbandingan Produksi Dies Tipe Die Sleeve dan Monoblok No Bulan Dies Tipe KWB / KWW Cyl Comp L crank case R crank case 1 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Grand Total Ganti Dies DETAIL PRODUKSI 1 Price Part IDR ,00 IDR ,00 IDR ,00 2 Cycle time (detik ) Waktu setting Non Monoblok (detik) 4,169 4,015 4,015 4 Waktu setting Monoblok (detik) 3,737 2,671 2,671 Selisih Waktu Setting 432 1,344 1,344 TOTAL NILAI PRODUK 1 Non Monoblok IDR ,38 IDR ,75 IDR ,00 2 Monoblok IDR ,09 IDR ,15 IDR ,53 EFISIENSI / ADDED VALUE 1 Penghematan 1 tahun IDR ,30 IDR ,60 IDR , Prosentase Rata rata Penghematan 10 % 26 % 33 % 33 % 44 4 Total Penghematan IDR ,37

9 Konsep Dies Tipe Monoblok pada Dies Tipe KWB / KWW Penggantian / modifikasi dies dari tipe die sleeve menjadi tipe monoblok memerlukan beberapa perubahan pada dies itu sendiri maupun pada mesin injeksi die casting. Dies yang dimodifikasi yaitu tipe KWB / KWW dengan 3 jenis dies yaitu : L crank case, R crank case, dan Cylinder comp. Berikut ini dilampirkan point perubahan pada dies dies tersebut. Berikut ini gambaran perubahan desain untuk dies dari tipe die sleeve menjadi tipe monoblok. 1. Dies tipe L crank case KWB / KWW : Gambar 4.1 Perubahan Dies L crank case KWB/KWW

10 46 2. Dies tipe R crank case KWB / KWW : Gambar 4.2 Perubahan Dies R crank case KWB/KWW 3. Dies tipe Cyl Comp KWB / KWW : Gambar 4.3 Perubahan Dies Cylinder Comp KWB/KWW

11 Arsitektur Dies Tipe Monoblok pada Dies Tipe KWB / KWW 1. L crank case KWB/KWW : No Komponen Current Type ( Die Sleeve ) Monoblok 1 Body Fix 2 Cavity Fix 3 Sleeve

12 48 2. R crank case KWB/KWW No Komponen Current Type ( Die Sleeve ) Monoblok 1 Body Fix 2 Cavity Fix 3 Sleeve

13 49 3. Cylinder Comp KWB/KWW No Komponen Current Type ( Die Sleeve ) Monoblok 1 Body Fix 2 Cavity Fix 3 Sleeve

14 50 4. Perubahan Plunger sleeve sebagai komponen mesin : No Komponen Current Type ( Die Sleeve ) Monoblok 1 Plunger sleeve (konstruksi general untuk mesin 650 tons dan 350 tons) 4.3 Analisa Data Analisa DFM ( Design For Manufacture ) Memperkirakan Biaya Perakitan Untuk mengetahui waktu setting dies di mesin, dilakukan pengamatan pemasangan dies. Ini dilakukan untuk membandingkan waktu setting dies di mesin sekaligus menghitung banyak langkah pemasangan dan penurunan dies dari mesin injeksi. Sebagai bahan analisa, dilakukan trial pada dies model KFM yang sedang berjalan untuk produksi. Secara konstruksi keseluruhan dari 3 tipe tersebut sama dengan model KWB/KWW. Secara teknis bisa mewakili sebagai bahan study untuk kelayakan dies monoblok model KWB/KWW saat digunakan produksi nantinya.

15 51 Pada dies tipe monoblok pemasangan dies ke mesin injeksi bisa dilakukan sekaligus dimana dies dalam kondisi terasembilng. Hal ini yang menyebabkan waktu setting menjadi lebih cepat. Pada dies konstruksi lama ( tipe die sleeve ), dies dipasang ke mesin injeksi fix dies terlebih dahulu kemudian move die. Hal ini disebabkan memerlukan penempatan posisi yang agak sulit antara lubang die sleeve di dies dengan plunger sleeve di mesin. Selain itu suaian antara lubang die sleeve dengan step di plunger sleeve mempunyai suaian presisi. Sehingga diperlukan posisi pemasangan yang tidak bisa sembarangan. Berikut ini ditunjukkan perbandingan urutan pemasangan dies ke mesin injeksi secara garis besar : LUBANG DIE SLEEVE dipasangkan LUBANG PLUNGER Gambar 4.4 Pemasangan Die Sleeve ke Plunger Sleeve

16 52 Tabel 4.7 Urutan Pemasangan Dies di Mesin Injeksi Urutan Pemasangan Dies di Mesin No Tipe Die Sleeve Tipe Monoblok 1 Transfer fix die ke mesin dengan craine Transfer die yang terassy ke mesin. 2 Posisikan arah fix die vertikal. Posisikan langsung vertikal. 3 Setelah kira kira sesumbu dengan plunger sleeve, dorong. 4 5 Kencangkan baut klamping fix die. Transfer move die ke mesin dengan craine. 6 Posisikan move die ke fix die dengan acuan satu sumbukan guide pin dan guide bush. 7 Dorong posisi move sampai posisi move rapat dengan fix. 8 Kencangkan baut klampiing move. 9 Lepas craine, cek dengan maju mundurkan platen mesin. Kencangkan baut klamping fix Dorong platen move dan kencangkan baut klamping move Lepas craine, cek dengan maju mundurkan platen mesin. Berikut ini ditunjukkan perbandingan pemasangan dies di mesin antara tipe die sleeve dengan tipe monoblok. FIX MOVE DIE MESIN DIE MESIN Dies Tipe Die Sleeve Dies Tipe Monoblok

17 53 Gambar 4.5 Pemasangan Dies ke Mesin Injeksi Dari gambar di atas terlihat bahwa penyetingan dies tipe monoblok di mesin injeksi memerlukan langkah yang lebih sedikit ( 10 langkah ) dan waktu bongkar pasang yang lebih cepat dibandingkan tipe Die Sleeve ( 13 langkah ). Berikut ini efisiensi yang didapat dari waktu bongkar pasang dies di mesin injeksi berdasarkan tabel 4.4 : Tabel 4.8 Efisiensi Waktu Setting dies No Dies Waktu Setting ( detik ) Die Sleeve Monoblok Efisiensi 1 Cyl Comp % 2 L crank case % 3 R crank case % WAKTU SETTING 5000 Waktu ( detik ) Die Sleeve Monoblok Tipe Dies Grafik 4.1 Efisiensi Waktu Setting Dies Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan, waktu penyetingan dies di mesin dapat dipersingkat. Efisiensi proses yang didapat sebesar : - L crack case adalah sebesar 33 %. - R crank case adalah sebesar 33 %.

18 54 - Cylinder comp adalah sebesar 10 %. Dengan adanya penghematan waktu setting, maka produktivitas pun dapat meningkat yaitu berbanding lurus dengan jumlah produksi part per satuan waktu. Besarnya biaya mesin per jam untuk mesin injeksi die casting adalah : - Mesin 350 Ton untuk Cyilinder comp = Rp ,00 / jam. - Mesin 650 Ton untuk L dan R crank case = Rp ,00 / jam. Dari biaya mesin per jam di atas, besarnya biaya pemasangan ke mesin untuk dies tipe monoblok adalah : - Cyl Comp : (2868 detik/3600) x Rp ,00 = Rp ,00 - L crank case : (1802 detik/3600) x Rp ,00 = Rp ,00 - R crank case : (1802 detik/3600) x Rp ,00 = Rp , Analisis Penggantian Komponen Terhadap Life Time yang Mempengaruhi Cost per Shoot. Perubahan / modifikasi dies dari tipe die sleeve menjadi tipe monoblok bertujuan sebagai suatu improvement dimana dapat mengurangi biaya, baik biaya produksi maupun waktu yang menimbulkan biaya. Untuk itu kita harus lakukan analisa secara teknis bagaimana konstrusi die sleeve diubah menjadi monoblok. 1. Perubahan Plunger Sleeve Plunger sleeve merupakan komponen yang terpasang pada mesin injeksi die casting tipe cold chamber. Dalam pembahasan ini plunger sleeve dibuat untuk dua ukuran yaitu mesin 350 ton dan mesin 650 ton.

19 55 Untuk pembuatan plunger sleeve yang baru memerlukan biaya yang lebih besar. Hal ini dikarenakan adanya penambahan panjang dan profil serta ring untuk pendingin. Tapi plunger sleeve hanya dibuat satu untuk satu mesin dan bisa diaplikasi untuk semua tipe dies yang menggunakan mesin tersebut dan sudah diubah menjadi tipe monoblok. Berikut ini data trial dies tipe monoblok di mesin 350 ton dan 650 ton dalam periode 1 semester : Tabel 4.9 Perbandingan Life Time Plunger Sleeve Lifetime plunger Harga plungersleeve IDR/shots No Machine Ø Die Monoblok Die Sleeve Monoblok Die Sleeve Sleeve Monoblok 1 T350C Rp Rp T650C RP Rp COST PER SHOOT Cost IDR IDR IDR IDR IDR IDR IDR IDR Tipe Die Sleeve Monoblok Grafik 4.2 Perbandingan Cost per Shoot Plunger Sleeve

20 56 Dari data hasil percobaan yang ditunjukkan di atas diambil data rata rata penggunaan plunger sleeve, terlihat jelas bahwa life time dari plunger sleeve tipe monoblok lebih lama dibanding tipe die sleeve ( current type ). Efisiensi life time yang didapat adalah sebagai berikut : - Plunger Sleeve Ø 65 didapat sebesar 47,5 % - Plunger Sleeve Ø 75 didapat sebesar 47,5 % Meskipun secara harga pembelian lebih mahal, namun harga per part menjadi lebih murah dengan tipe monoblok. Life time short sleeve yang lebih lama disebabkan karena tidak adanya step sepanjang pergerakan plunger tip yang cepat menyebabkan baret. 2. Plunger Tip Untuk mesin 350 ton menggunakan plunger tip ukuran Ø 65 sedangkan mesin 650 ton menggunakan plunger tip ukuran Ø 75. Plunger tip bentuknya common bisa diaplikasi pada plunger sleeve untuk tipe die sleeve maupun untuk tipe monoblok. Berikut ini data penggunaan plunger tip untuk tipe die sleeve maupun monoblok dalam periode satu semester : Tabel 4.10 Perbandingan Life Time Plunger Tip Lifetime plunger tip Harga plunger tip IDR/shots No Machine Ø Die Die Sleeve Monoblok Die Sleeve Monoblok Sleeve Monoblok 1 T350C Rp Rp T650C Rp Rp

21 57 COST PER SHOOT Cost Die Sleeve Monoblok Tipe Grafik 4.3 Perbandingan Cost per Shoot Plunger Tip Dari data hasil percobaan yang ditunjukkan di atas diambil data rata rata penggunaan plunger tip, terlihat bahwa life time dari plunger tip yang dipakai pada plunger sleeve untuk tipe monoblok lebih lama dibanding yang dipakai pada plunger sleeve tipe die sleeve ( current type ). Efisiensi life time yang didapat adalah sebagai berikut : - Plunger Sleeve Ø 65 didapat sebesar 40 % - Plunger Sleeve Ø 75 didapat sebesar 40 % Life time plunger tip yang lebih lama berdasarkan analisa disebabkan karena tidak adanya step sepanjang pergerakan plunger tip yang cepat berpotensi menyebabkan baret. 3. Perubahan Die Sleeve Die sleeve merupakan komponen yang merupakan pintu masuknya alumunium cair yang diinjeksikan oleh mesin injeksi ke dalam dies.

22 58 Modifikasi sistem monoblok merubah sebagian die sleeve menjadi berada pada plunger sleeve. Bentuk dari short sleeve ini menjadi lebih sederhana dan pembuatannya lebih murah. Dari model short sleeve ini tidak terjadi gesekan dari plunger tip sehingga tidak terjadi baret. Berikut gambar yang menjelaskan perubahan tersebut : Dari hasil percobaan selama satu semester, kemudian diambil rata rata jumlah shoot yang diperoleh dari setiap tipe dies, diperoleh data sebagai berikut : Tabel 4.11 Perbandingan Life Time Sleeve Average Lifetime short sleeve Harga short sleeve IDR/Shots No Nama Die Mono Die Mono Dies Type Sleeve blok Die Sleeve Mono blok Sleeve blok 1 L CC KFM Rp Rp R CC KFM Rp Rp Cyl Comp KFM Rp Rp COST PER SHOOT Cost Die Sleeve Monoblok Tipe Grafik 4.4 Perbandingan Cost per Shoot Sleeve

23 59 Dari data hasil percobaan yang ditunjukkan di atas, dapat dilihat adanya penggunaan short sleeve lebih lama, bisa memenuhi life time dari dies tersebut ( Life time dies yang ditentukan perusahaan untuk dies adalah selama shoot ). Efisiensi life time yang didapat adalah sebagai berikut : - Short sleeve tipe L crank case sebesar 150 %. - Short sleeve tipe R crank case sebesar 150 %. - Short sleeve tipe Cylinder comp sebesar 150 %. Berdasarkan analisa, life time menjadi lebih lama dikarenakan tidak terjadinya gesekan antara short sleeve dengan plunger tip Analisis Kelayakan Finansial Dari data biaya untuk modifikasi dies tipe monoblok, dapat dilakukan perhitungan Present Worth (PW) atau Net Present Value (NPV), Payback Period, dan Internal Rate of Return (IRR) dalam memutuskan apakah tingkat pengembalian internal yang dihitung cukup atau tidak untuk membenarkan investasi yang ditujukan untuk pengurangan biaya akibat waktu setting. Berikut ini ditentukan batasan batasan untuk menghitung analisa kelayakan ekonomis : - MARR ( Minimum Atractive Rate of Return ) : 12% (sebelum pajak) - N ( Periode ) : 2 tahun - Investasi : Rp ,00 - Nilai sisa : 0 - Didapat kembali (Berdasarkan table 4.6) : Rp ,37

24 60 - Biaya perawatan per tahun 5% dari investasi : Rp , Perhitungan Net Present Value ( NPV) Investasi untuk modifikasi dies menjadi tipe monoblok adalah Rp ,00. Sedangkan kas masuk bersih setiap tahun sebesar Rp ,37. Periode n : 2 tahun, dengan arus pengembalian i : 12 %. Perhitungan Net Present Value dengan menggunakan rumus NPV disajikan pada Tabel 4.12 NPV T Ct = t (1+ i t =1 ) Co Tabel 4.12 Perhitungan Net Present Value Akhir dari tahun, n ( C )t ( Co )t (1+i) t A ( C) t (1 + i) t B ( Co) t t (1 + i) NPV=A-B , , ,37 1, , ,37 1, ,70 Total , , ,28 Dari perhitungan pada tabel 4.12 di atas, diperoleh besarnya NPV yaitu sebesar Rp ,28. Diketahui bahwa nilai sekarang penerimaan penerimaan kas bersih di masa yang akan datang lebih besar daripada nilai sekarang investasi atau NPV-nya positif (NPV>0), maka investasi tersebut menguntungkan sehingga bisa diterima.

25 Analisis Internal Rate of Return Perhitungan Internal Rate of Return dilakukan dengan menggunakan rumus dengan menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan penerimaan kas bersih di masa mendatang, sebagai berikut : n t 0 ( C) t (1 + i) t ( Cf ) = 0 Rp ,37 Rp ,37 + Rp ,00 = (1 + i) (1 + i) Rp ,37 Rp ,37 + = Rp , (1 + i) (1 + i) Untuk menghitung perhitungan menggunakan table Pemajemukan Diskrit, dengan membagi pengeluaran kas awal dengan aliran kas masuk setiap tahun yaitu : Rp ,00 : Rp ,37 = 1,49. Berdasarkan table bunga diskret, nilai yang paling mendekati adalah i = 20% dan i = 25%. Tabel 4.13 Perhitungan Internal Rate of Return Tingkat Bunga Discount Aliran Kas PV factor 20% RP ,37 Rp ,39 25% RP ,37 Rp ,21 Selisih 5% Rp ,18 Untuk menghitung tingkat suku bunga ( i ) digunakan interpolasi sebagai berikut :

26 62 Rp ,39 Rp ,00 X 5% = Rp ,18 Rp ,39 X 5% = 2, Rp ,18 IRR ( i ) = 20% + 2, % = 22, % Analisis Payback Period Analisis ini mencoba mengukur seberapa cepat titik impas atau investasi bisa kembali. Satuan yang dipakai satuan waktu. Kalau periode payback lebih pendek dari yang ditentukan, maka investasi dikatakan menguntungkan, sedangkan kalau lebih lama maka investasi tidak menguntungkan. Karena metode ini mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali, maka dasar yang dipergunakan adalah aliran kas, perhitungan analisis untuk investasi modifikasi dies monoblok adalah sebagai berikut : Tabel 4.14 Perhitungan Payback Period Tahun Cash Flow (P/F12%n) PV Komulatif (PV) ,00 1, , , ,37 0, , , ,37 0, , ,65 Present Value akan mencapai ,00 pada sekitar tahun ke-2 Present Value pada tahun ke , ,41 = ,59 Proporsi dari present value = ,59 : ,24 = 0, Maka Payback period-nya selama : 1,64 tahun

27 Perhitungan dan Analisis Profitability Index Dari data data dan analisis yang sudah dilakukan di atas bisa dihitung indeks profitabilitasnya. Berikut ini perhitungan indeks profitabilitas : Tabel 4.15 Perhitungan Profitability Index Tahun Cash Flow (P/F12%n) PV ,00 1, , ,37 0, , ,37 0, ,24 Total nilai sekarang dari penerimaan di masa datang (PV tahun ke-1 + PV tahun ke-2) = Rp ,41 + Rp ,24 = Rp ,65 Pr ofitabilityindex n t= 0 = n t= 0 ( C) (1 + i) ( Co) (1 + i) PV cash inflow ,65 PV cash outflow (investasi) ,00 t t ,65 Profitability Index = = 1, ,00 Pada perhitungan di atas diperoleh nilai indeks profitabilitasnya sebesar 1,13 lebih besar dari satu, maka investasi untuk modifikasi dies monoblok tipe L crank case KWB/KWW, R crank case KWB/KWW, Cyilinder Comp KWB/KWW dikatakan menguntungkan.

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Metode Pemecahan Masalah Mulai Identifikasi Masalah Studi Pustaka Pengumpulan Data Pengolahan Data Analisa Data - Analisis DFM ( Design for Manufacture ) - Analisis

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI A. Metode Kelayakan Investasi Evaluasi terhadap kelayakan ekonomi proyek didasarkan pada 2 (dua) konsep analisa, yaitu analisa ekonomi dan analisa finansial. Analisa ekomoni bertujuan

Lebih terperinci

Metode Penilaian Investasi Pada Aset Riil. Manajemen Investasi

Metode Penilaian Investasi Pada Aset Riil. Manajemen Investasi Metode Penilaian Investasi Pada Aset Riil Manajemen Investasi Pendahuluan Dalam menentukan usulan proyek investasi mana yang akan diterima atau ditolak Maka usulan proyek investasi tersebut harus dinilai

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut:

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut: BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan permasalahan serta maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut: 1. Estimasi incremental

Lebih terperinci

DAN ANALISIS TEKNO EKONOMI

DAN ANALISIS TEKNO EKONOMI 4 BAB DAN ANALISIS TEKNO EKONOMI 4 PERHITUNGAN PERHITUNGAN DAN ANALISIS TEKNO EKONOMI 4.1 Analisis Perbandingan Investasi Softswitch terhadap Circuit Switch Untuk membandingkan antara Investasi dengan

Lebih terperinci

ASPEK KEUANGAN. Disiapkan oleh: Bambang Sutrisno, S.E., M.S.M.

ASPEK KEUANGAN. Disiapkan oleh: Bambang Sutrisno, S.E., M.S.M. ASPEK KEUANGAN Disiapkan oleh: Bambang Sutrisno, S.E., M.S.M. PENDAHULUAN Aspek keuangan merupakan aspek yang digunakan untuk menilai keuangan perusahaan secara keseluruhan. Aspek keuangan memberikan gambaran

Lebih terperinci

ANALISIS INVESTASI BUDI SULISTYO

ANALISIS INVESTASI BUDI SULISTYO ANALISIS INVESTASI BUDI SULISTYO ASPEK INVESTASI UU & PERATURAN BIDANG USAHA STRATEGI BISNIS KEBIJAKAN PASAR LINGKUNGAN INVESTASI KEUANGAN TEKNIK & OPERASI ALASAN INVESTASI EKONOMIS Penambahan Kapasitas

Lebih terperinci

Materi 7 Metode Penilaian Investasi

Materi 7 Metode Penilaian Investasi Pendahuluan Materi 7 Metode Penilaian Investasi Dalam menentukan usulan proyek investasi mana yang akan diterima atau ditolak Maka usulan proyek investasi tersebut harus dinilai 1 2 Metode Penilaian 1.

Lebih terperinci

Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11

Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11 Aspek Ekonomi dan Keuangan Pertemuan 11 Aspek Ekonomi dan Keuangan Aspek ekonomi dan keuangan membahas tentang kebutuhan modal dan investasi yang diperlukan dalam pendirian dan pengembangan usaha yang

Lebih terperinci

METODE ACCOUNTING RATE OF RETURN (ARR)

METODE ACCOUNTING RATE OF RETURN (ARR) METODE ACCOUNTING RATE OF RETURN (ARR) ARR dapat dihitung dengan dua cara : 1. ARR atas dasar Initial Invesment NI ARR = ----------- x 100 % Io dimana : NI = Net Income (keuntungan netto rata-rata tahunan)

Lebih terperinci

Investasi dalam aktiva tetap

Investasi dalam aktiva tetap Investasi dalam aktiva tetap Investasi dalam aktiva tetap Secara konsep Investasi dalam aktiva tetap tidak ada perbedaan dengan Investasi dalam aktiva lancar Perbedaannya terletak pada waktu dan cara perputaran

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pada akhirnya setelah penulis melakukan penelitian langsung ke perusahaan serta melakukan perhitungan untuk masing-masing rumus dan mencari serta mengumpulkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi suatu pasar yang dapat menjanjikan tingkat profitabilitas yang cukup

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi suatu pasar yang dapat menjanjikan tingkat profitabilitas yang cukup 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kondisi suatu pasar yang dapat menjanjikan tingkat profitabilitas yang cukup menarik dan menguntungkan tentu saja akan mendorong para pengusaha untuk masuk

Lebih terperinci

ANALISA STUDY KELAYAKAN KELANGSUNGAN USAHA JASA FOTO COPY CAHAYA GIRI

ANALISA STUDY KELAYAKAN KELANGSUNGAN USAHA JASA FOTO COPY CAHAYA GIRI ANALISA STUDY KELAYAKAN KELANGSUNGAN USAHA JASA FOTO COPY CAHAYA GIRI Latar Belakang Masalah Kemajuan dalam bidang tekhnologi juga sudah berkembang pesat. Dimana - mana terdapat usaha - usaha jasa yang

Lebih terperinci

Metode Penilaian Investasi

Metode Penilaian Investasi Metode Penilaian Investasi Pendahuluan Dalam menentukan usulan proyek investasi mana yang akan diterima atau ditolak Maka usulan proyek investasi tersebut harus dinilai Metode Penilaian Metode periode

Lebih terperinci

METODE PENILAIAN INVESTASI. Jakarta, 20 Oktober 2005

METODE PENILAIAN INVESTASI. Jakarta, 20 Oktober 2005 METODE PENILAIAN INVESTASI Jakarta, 20 Oktober 2005 Outline Accounting/Average Rate of Return Payback Period Net Present Value Profitability Index Internal Rate of Return 2 Pendahuluan Penilaian investasi:

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Menurut Surakhmad, (1994: ), metode deskriptif analisis, yaitu metode

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Menurut Surakhmad, (1994: ), metode deskriptif analisis, yaitu metode BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Metodelogi Penelitian Menurut Surakhmad, (1994:140-143), metode deskriptif analisis, yaitu metode yang memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa

Lebih terperinci

Studi Kelayakan Investasi Proyek Perumahan pada Proyek Pembangunan Perumahan Aura Tirta Graha Banjarnegara

Studi Kelayakan Investasi Proyek Perumahan pada Proyek Pembangunan Perumahan Aura Tirta Graha Banjarnegara 120 JURNAL ILMIAH SEMESTA TEKNIKA Vol. 15, No. 2, 120-132, November 2012 Studi Kelayakan Investasi Proyek Perumahan pada Proyek Pembangunan Perumahan Aura Tirta Graha Banjarnegara (Feasibility Study of

Lebih terperinci

MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN ANDRI HELMI M, S.E., M.M

MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN ANDRI HELMI M, S.E., M.M MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN ANDRI HELMI M, S.E., M.M TIME VALUE OF MONEY Nilai uang saat ini lebih berharga dari pada nanti. Individu akan memilih menerima uang yang sama sekarang daripada nanti, dan lebih

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN INVESTASI PERUMAHAN GREEN SEMANGGI MANGROVE SURABAYA DITINJAU DARI ASPEK FINANSIAL

STUDI KELAYAKAN INVESTASI PERUMAHAN GREEN SEMANGGI MANGROVE SURABAYA DITINJAU DARI ASPEK FINANSIAL STUDI KELAYAKAN INVESTASI PERUMAHAN GREEN SEMANGGI MANGROVE SURABAYA DITINJAU DARI ASPEK FINANSIAL Disusun oleh: ANDINI PRASTIWI NRP : 3111105038 Dosen Pembimbing: Christiono Utomo, ST., MT., PhD. Program

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA RUMAH MAKAN AYAM BAKAR TERASSAMBEL

STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA RUMAH MAKAN AYAM BAKAR TERASSAMBEL STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA RUMAH MAKAN AYAM BAKAR TERASSAMBEL Nama : Marlina Fitri Annisa Npm : 15213303 Kelas : 4EA33 Fakultas : Ekonomi Jurusan : Manajemen Pembimbing : Christera Kuswahyu Indira,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 17 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Usaha Kecil Menengah (UKM) pengolahan pupuk kompos padat di Jatikuwung Innovation Center, Kecamatan Gondangrejo Kabupaten

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang.

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang. 42 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Dalam upaya mengembangkan usaha bisnisnya, manajemen PT Estika Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang. Langkah pertama

Lebih terperinci

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6.1 Pendahuluan Industri surimi merupakan suatu industri pengolahan yang memiliki peluang besar untuk dibangun dan dikembangkan. Hal ini didukung oleh adanya

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 16 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Usaha pengembangan kerupuk Ichtiar merupakan suatu usaha yang didirikan dengan tujuan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Melihat dari adanya peluang

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Analisis Aspek Teknis Bagan alur kerja di Dies Manufacturing Division, PT. Astra Honda Motor adalah sebagai berikut, dijelaskan pula pada tahap mana

Lebih terperinci

Oleh : Ani Hidayati. Penggunaan Informasi Akuntansi Diferensial Dalam Pengambilan Keputusan Investasi

Oleh : Ani Hidayati. Penggunaan Informasi Akuntansi Diferensial Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Oleh : Ani Hidayati Penggunaan Informasi Akuntansi Diferensial Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Keputusan Investasi (capital investment decisions) Berkaitan dengan proses perencanaan, penentuan tujuan

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Pada bab ini dijelaskan mengenai pengumpulan dan pengolahan data untuk menganalisa kelayakan investasi yang dilakukan oleh CV. Utama Karya Mandiri. Data ini digunakan

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA RIADY AQUARIUM BEKASI. Nama : Aji Tri Sambodo NPM : Kelas : 3EA18

STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA RIADY AQUARIUM BEKASI. Nama : Aji Tri Sambodo NPM : Kelas : 3EA18 STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA RIADY AQUARIUM BEKASI Nama : Aji Tri Sambodo NPM : 10210466 Kelas : 3EA18 Pendahuluan Penilaian investasi / studi kelayakan sangat diperlukan oleh orang atau badan yang

Lebih terperinci

Makalah Analisis Bisnis dan Studi Kelayakan Usaha

Makalah Analisis Bisnis dan Studi Kelayakan Usaha Makalah Analisis Bisnis dan Studi Kelayakan Usaha ANALISIS BISNIS DAN STUDI KELAYAKAN USAHA MAKALAH ARTI PENTING DAN ANALISIS DALAM STUDI KELAYAKAN BISNIS OLEH ALI SUDIRMAN KELAS REGULER 3 SEMESTER 5 KATA

Lebih terperinci

METODE PERBANDINGAN EKONOMI. Pusat Pengembangan Pendidikan - Universitas Gadjah Mada

METODE PERBANDINGAN EKONOMI. Pusat Pengembangan Pendidikan - Universitas Gadjah Mada METODE PERBANDINGAN EKONOMI METODE BIAYA TAHUNAN EKIVALEN Untuk tujuan perbandingan, digunakan perubahan nilai menjadi biaya tahunan seragam ekivalen. Perhitungan secara pendekatan : Perlu diperhitungkan

Lebih terperinci

ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU PADA USAHA JASA FOTOKOPI DAULAY JAYA

ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU PADA USAHA JASA FOTOKOPI DAULAY JAYA ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU PADA USAHA JASA FOTOKOPI DAULAY JAYA Nama : Rani Eva Dewi NPM : 16212024 Jurusan : Manajemen Pembimbing : Nenik Diah Hartanti, SE.,MM Latar Belakang

Lebih terperinci

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Industri Skripsi Sarjana Semester Genap tahun 2007 / 2008 ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI KONVEYOR DI STRIPPING AREA PT ASTRA HONDA MOTOR ALFI NIM : 1000835152 Abstrak

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis aspek finansial bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan.

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata Kunci: Capital Budgeting, Payback Period, Net Present Value, dan Internal Rate of Return. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata Kunci: Capital Budgeting, Payback Period, Net Present Value, dan Internal Rate of Return. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT. Citra Jaya Putra Utama merupakan salah satu perusahaan jasa yang bergerak di bidang distribusi farmasi. Perusahaan saat ini ingin melakukan investasi modal dalam bentuk cabang baru di Surabaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menerus setiap bulannya. Produksi unit tungku kompor dengan harga

BAB I PENDAHULUAN. menerus setiap bulannya. Produksi unit tungku kompor dengan harga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT Elang Jagad adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur logam yang memproduksi tungku kompor. Dalam pembuatan tungku kompor dilakukan melalui

Lebih terperinci

PERBANDINGAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI

PERBANDINGAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI PERBANDINGAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI MATERI KULIAH 4 PERTEMUAN 6 FTIP - UNPAD METODE MEMBANDINGKAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI Ekivalensi Nilai dari Suatu Alternatif Investasi Untuk menganalisis

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab empat, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sebelum melakukan analisis

Lebih terperinci

Bab 5 Penganggaran Modal

Bab 5 Penganggaran Modal M a n a j e m e n K e u a n g a n 90 Bab 5 Penganggaran Modal Mahasiswa diharapkan dapat memahami dan menjelaskan mengenai teori dan perhitungan dalam investasi penganggaran modal dalam penentuan keputusan

Lebih terperinci

ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PROYEK INVESTASI

ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PROYEK INVESTASI ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PROYEK INVESTASI I. PENDAHULUAN Sebuah perusahaan pengembang real eastate di surabaya berkeinginan untuk mengembangkan usaha, jika selama ini perusahaan berbisnis di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha dewasa ini ditandai dengan semakin. meningkatnya persaingan yang ketat di berbagai bidang usaha, hal ini

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha dewasa ini ditandai dengan semakin. meningkatnya persaingan yang ketat di berbagai bidang usaha, hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan dunia usaha dewasa ini ditandai dengan semakin meningkatnya persaingan yang ketat di berbagai bidang usaha, hal ini menyebabkan banyak perusahaan

Lebih terperinci

ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA AYAM GORENG SABANA CABANG PERUMAHAN ANGKASA PURI JATI ASIH - BEKASI

ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA AYAM GORENG SABANA CABANG PERUMAHAN ANGKASA PURI JATI ASIH - BEKASI ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA AYAM GORENG SABANA CABANG PERUMAHAN ANGKASA PURI JATI ASIH - BEKASI Nama NPM : 12210810 Jurusan Pembimbing : Firman Rengga Adi Nugroho : Manajemen : Dessy Hutajulu, SE., MM

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Proyek dan Investasi Yang dimaksud dengan proyek adalah suatu keseluruhan kegiatan yang menggunakan sumber-sumber untuk memperoleh manfaat (benefit), atau suatu kegiatan

Lebih terperinci

Mata Kuliah - Kewirausahaan II-

Mata Kuliah - Kewirausahaan II- Mata Kuliah - Kewirausahaan II- Modul ke: Analisa Investasi dalam Berwirausaha Fakultas FIKOM Ardhariksa Z, M.Med.Kom Program Studi Marketing Communication and Advertising www.mercubuana.ac.id Evaluasi

Lebih terperinci

TEKNIK ANALISA BIAYA/MANFAAT TEKNIK ANALISA BIAYA/MANFAAT

TEKNIK ANALISA BIAYA/MANFAAT TEKNIK ANALISA BIAYA/MANFAAT ANALISA INVESTASI SETIAP INVESTASI TERDAPAT 2 KOMPONEN : KAS MASUK PROCEEDS : KEUNTUNGAN SETELAH PAJAK DAN DEPRESIASI SETIAP TAHUN. KAS KELUAR BIAYA INVESTASI. PENILAIAN SUATU PROYEK SISTEM DAPAT DIUKUR

Lebih terperinci

Pertemuan 12 Investasi dan Penganggaran Modal

Pertemuan 12 Investasi dan Penganggaran Modal Pertemuan 12 Investasi dan Penganggaran Modal Disarikan Gitman dan Sumber lain yang relevan Pendahuluan Investasi merupakan penanaman kembali dana yang dimiliki oleh perusahaan ke dalam suatu aset dengan

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA TOKO BIN AGIL DI JALAN RAYA CONDET, JAKARTA TIMUR : MUAMMAL IRZAD NPM :

STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA TOKO BIN AGIL DI JALAN RAYA CONDET, JAKARTA TIMUR : MUAMMAL IRZAD NPM : STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA TOKO BIN AGIL DI JALAN RAYA CONDET, JAKARTA TIMUR NAMA : MUAMMAL IRZAD NPM : 14212737 JURUSAN : MANAJEMEN DOSEN PEMBIMBING : BUDI UTAMI, SE., MM Latar Belakang Perdagangan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 32 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Proses penelitian ini dilakukan selama periode Agustus Desember 2012 dan bertempat di PT Panarub Industry. 3.2 Materi Penelitian Subyek

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN NECIS LAUNDRY

STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN NECIS LAUNDRY STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA NECIS LAUNDRY LATAR BELAKANG Saat ini perubahan ekonomi mempengaruhi gerak laju kegiatan kegiatan perekonomian yang berlangsung. Persaingan yang ketat, perkembangan ilmu

Lebih terperinci

CHAPTER 7 PENILAIAN USUL INVESTASI

CHAPTER 7 PENILAIAN USUL INVESTASI CHAPTER 7 PENILAIAN USUL INVESTASI Menilai Usul Investasi Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam usul investasi 1. Faktor Kecukupan Dana 2. Faktor Keuntungan yang akan dicapai 3. Faktor Bunga 4.

Lebih terperinci

Aspek Keuangan. Dosen: ROSWATY,SE.M.Si

Aspek Keuangan. Dosen: ROSWATY,SE.M.Si Aspek Keuangan Dosen: ROSWATY,SE.M.Si PENGERTIAN ASPEK KEUANGAN Aspek keuangan merupakan aspek yang digunakan untuk menilai keuangan perusahaan secara keseluruhan. Aspek keuangan memberikan gambaran yang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian dan tujuan rancang fasilitas Wignjosoebroto (2009; p. 67) menjelaskan, Tata letak pabrik adalah suatu landasan utama dalam dunia industri. Perancangan tata letak pabrik

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: net present value, penganggaran modal, pengambilan keputusan. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci: net present value, penganggaran modal, pengambilan keputusan. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Dalam penyusunan skripsi ini, penulis melakukan penelitian pada PT. X yang merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri textile dengan produk utamanya kain polyester. Seperti perusahaan

Lebih terperinci

12/23/2016. Studi Kelayakan Bisnis/ RZ / UNIRA

12/23/2016. Studi Kelayakan Bisnis/ RZ / UNIRA Studi Kelayakan Bisnis/ RZ / UNIRA Bagaimana kesiapan permodalan yang akan digunakan untuk menjalankan bisnis dan apakah bisnis yang akan dijalankan dapat memberikan tingkat pengembalian yang menguntungkan?

Lebih terperinci

Bab 6 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 1)

Bab 6 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 1) M a n a j e m e n K e u a n g a n 96 Bab 6 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 1) Mahasiswa diharapkan dapat memahami, menghitung, dan menjelaskan mengenai penggunaan teknik penganggaran modal yaitu Payback

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU EDIE SHOES. : Bayu Aji Prasetyo NPM : Jurusan : Manajemen Fakultas : Ekonomi

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU EDIE SHOES. : Bayu Aji Prasetyo NPM : Jurusan : Manajemen Fakultas : Ekonomi ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU EDIE SHOES Nama : Bayu Aji Prasetyo NPM : 11208350 Jurusan : Manajemen Fakultas : Ekonomi UNIVERSITAS GUNADARMA DEPOK 2011 Latar Belakang Masalah Kondisi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. KERANGKA TEORI 2.1.1. Pengertian Studi Kelayakan Bisnis Studi Kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang kegiatan atau usaha atau bisnis

Lebih terperinci

Magister Manajemen Univ. Muhammadiyah Yogyakarta

Magister Manajemen Univ. Muhammadiyah Yogyakarta XII. Penganggaran Modal (Capita l Budgeting) i 1. Pengantar Investasi aktiva tetap merupakan salah satu investasi yang mendapat perhatian karena jangka waktu pengembalian biasanya lebih dari satu tahun,

Lebih terperinci

Manajemen Investasi. Febriyanto, SE, MM. LOGO

Manajemen Investasi. Febriyanto, SE, MM.  LOGO Manajemen Investasi Febriyanto, SE, MM. www.febriyanto79.wordpress.com LOGO 2 Manajemen Investasi Aspek Keuangan Aspek keuangan merupakan aspek yang digunakan untuk menilai keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Lebih terperinci

Penganggaran Modal. Gambaran Umum Penganggaran Modal, Payback Period, Net Present Value, Internal Rate of Return. Nurahasan Wiradjegha, S.E.,M.

Penganggaran Modal. Gambaran Umum Penganggaran Modal, Payback Period, Net Present Value, Internal Rate of Return. Nurahasan Wiradjegha, S.E.,M. Modul ke: Penganggaran Modal Fakultas EKONOMI Gambaran Umum Penganggaran Modal, Payback Period, Net Present Value, Internal Rate of Return Program Studi Manajemen 84008 www.mercubuana.ac.id Nurahasan Wiradjegha,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Studi Kelayakan Proyek Dalam menilai suatu proyek, perlu diadakannya studi kelayakan untuk mengetahui apakah proyek tersebut layak untuk dijalankan atau tidak. Dan penilaian tersebut

Lebih terperinci

ANALISIS INVESTASI USAHA KONSTRUKSI. Nama : Renaldi Prakoso Soekarno NPM : Jurusan : Manajemen Pembimbing : Elvia Fardiana,SE.

ANALISIS INVESTASI USAHA KONSTRUKSI. Nama : Renaldi Prakoso Soekarno NPM : Jurusan : Manajemen Pembimbing : Elvia Fardiana,SE. ANALISIS INVESTASI USAHA PADA CV.CD LAS KONSTRUKSI Nama : Renaldi Prakoso Soekarno NPM : 15210722 Jurusan : Manajemen Pembimbing : Elvia Fardiana,SE.,MM Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pembentukan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis uraikan dalam bab sebelumnya, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sampai

Lebih terperinci

EVALUASI KELAYAKAN INVESTASI PEMBANGUNAN PERUMAHAN (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Perumahan Griya Pekerja Sejahtera, Sorong, Papua Barat)

EVALUASI KELAYAKAN INVESTASI PEMBANGUNAN PERUMAHAN (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Perumahan Griya Pekerja Sejahtera, Sorong, Papua Barat) EVALUASI KELAYAKAN INVESTASI PEMBANGUNAN PERUMAHAN (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Perumahan Griya Pekerja Sejahtera, Sorong, Papua Barat) Pandu Arioko Putra, Mandiyo Priyo Jurusan Teknik Sipil, Fakultas

Lebih terperinci

ABSTRACT. Keywords: capital budgeting, expansion, cash flow, auto parts store. vii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT. Keywords: capital budgeting, expansion, cash flow, auto parts store. vii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT This study discusses about the usage of capital budgeting methods in calculating the feasibility of an investment. The researcher intends to analyze an auto parts store called Toko GM. Toko GM

Lebih terperinci

BAB IX Analisis Keputusan Investasi Modal

BAB IX Analisis Keputusan Investasi Modal BAB IX Analisis Keputusan Investasi Modal A. Tujuan Instruksional : 1. Umum : Mahasiswa bisa menganalisis untuk keputusan investasi modal 2. Khusus : Mahasiswa memahami dan dapat melakukan analisis keputusan

Lebih terperinci

ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU PADA USAHA JASA FOTOKOPI PRIMA JAYA

ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU PADA USAHA JASA FOTOKOPI PRIMA JAYA ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU PADA USAHA JASA FOTOKOPI PRIMA JAYA Nama : Alif Ammar Nugraha NPM : 10212632 Jurusan : Manajemen Pembimbing : Budi Sulistyo, SE.,MM Latar Belakang

Lebih terperinci

Pertemuan 4 Manajemen Keuangan

Pertemuan 4 Manajemen Keuangan MK MANAJEMEN BISNIS & KEWIRAUSAHAAN Pertemuan 4 Manajemen Keuangan Tujuan Memahami mengenai manajemen keuangan, manfaat nilai waktu uang dan dapat membuat analisis laporan keuangan Manajemen Keuangan adalah

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xii ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai perusahaan yang bergerak di bidang makloon konveksi. Karena kapasitas produksi yang tidak mencukupi, maka perusahaan bermaksud untuk melakukan ekspansi berupa penambahan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Usaha warnet sebetulnya tidak terlalu sulit untuk didirikan dan dikelola. Cukup membeli beberapa buah komputer kemudian menginstalnya dengan software,

Lebih terperinci

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data 19 3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian di lapangan dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat. Pengambilan data di lapangan dilakukan selama 1 bulan,

Lebih terperinci

Studi Kelayakan Bisnis Pembukaan Cabang Baru Pada Usaha Ayam Bakar dan Madu Sumber Jaya NINDYA KLARASINTA STEVIANUS, SE.

Studi Kelayakan Bisnis Pembukaan Cabang Baru Pada Usaha Ayam Bakar dan Madu Sumber Jaya NINDYA KLARASINTA STEVIANUS, SE. Studi Kelayakan Bisnis Pembukaan Cabang Baru Pada Usaha Ayam Bakar dan Madu Sumber Jaya NINDYA KLARASINTA 15212337 STEVIANUS, SE., MM PENDAHULUAN Latar Belakang Persaingan Bisnis Strategi Pemasaran Studi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Kerangka pemikiran penelitian ini diawali dengan melihat potensi usaha yang sedang dijalankan oleh Warung Surabi yang memiliki banyak konsumen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. baik agar penambangan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik. dari segi materi maupun waktu. Maka dari itu, dengan adanya

BAB I PENDAHULUAN. baik agar penambangan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik. dari segi materi maupun waktu. Maka dari itu, dengan adanya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri pertambangan membutuhkan suatu perencanaan yang baik agar penambangan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik dari segi materi maupun waktu. Maka dari

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... Halaman ABSTRAKSI.. KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR Latar Belakang Penelitian 1

DAFTAR ISI... Halaman ABSTRAKSI.. KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR Latar Belakang Penelitian 1 ABSTRAKSI Dalam menghadapi persaingan dunia usaha yang semakin ketat, maka perusahaan memerlukan strategi yang tepat untuk selalu dapat unggul dalam persaingan. Karena bila salah dalam menerapkan strategi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia usaha yang semakin berkembang saat ini, di mana ditunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia usaha yang semakin berkembang saat ini, di mana ditunjukkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia usaha yang semakin berkembang saat ini, di mana ditunjukkan dengan meningkatnya persaingan yang ketat di berbagai sektor industri baik dalam industri yang

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PADA USAHA KECIL WARNET WANGI JAYA

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PADA USAHA KECIL WARNET WANGI JAYA ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PADA USAHA KECIL WARNET WANGI JAYA Nama : Revika Rusviana Arafi NPM : 27213465 Kelas : 3EB22 Fakultas : Ekonomi Jenjang/Jurusan : S1/Akuntansi LATAR BELAKANG 1. Perkembangan

Lebih terperinci

BAB V ANALISA. kuantitas terhadap jumlah barang yang diproduksi khususnya dimesin extruder

BAB V ANALISA. kuantitas terhadap jumlah barang yang diproduksi khususnya dimesin extruder BAB V ANALISA 5.1. Analisa Kapasitas Dari kondisi forecast di tahun 2012 menunjukan adanya peningkatan kuantitas terhadap jumlah barang yang diproduksi khususnya dimesin extruder double layer. Dengan adanya

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS METODE PEMIILIHAN INVESTASI IRR, PI, NPV, DISCOUNT PI

STUDI KELAYAKAN BISNIS METODE PEMIILIHAN INVESTASI IRR, PI, NPV, DISCOUNT PI STUDI KELAYAKAN BISNIS METODE PEMIILIHAN INVESTASI IRR, PI, NPV, DISCOUNT PI Putri Irene Kanny [email protected] POKOK BAHASAN Konsep nilai waktu uang Kriteria investasi IRR, PI, NPV, discount

Lebih terperinci

PENGANGGARAN MODAL (CAPITAL BUDGETING)

PENGANGGARAN MODAL (CAPITAL BUDGETING) Modul ke: PENGANGGARAN MODAL (CAPITAL BUDGETING) Fakultas FEB MEILIYAH ARIANI, SE., M.Ak Program Studi Akuntansi http://www.mercubuana.ac.id Penganggaran Modal ( Capital Budgeting) Istilah penganggaran

Lebih terperinci

BAB VI ASPEK KEUANGAN. melakukan penghitungan net present value serta payback period. Proyeksi keuangan ini dibuat. Tabel 6.

BAB VI ASPEK KEUANGAN. melakukan penghitungan net present value serta payback period. Proyeksi keuangan ini dibuat. Tabel 6. 76 BAB VI ASPEK KEUANGAN 6.1 Penjelasan Umum Bagian ini menjelaskan mengenai kebutuhan dana, sumber dana, proyeksi neraca, proyeksi laba-rugi, proyeksi arus kas, dan penilaian kelayakan investasi yang

Lebih terperinci

ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI

ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI Dalam pengambilan keputusan investasi, opportunity cost memegang peranan yang penting. Opportunity cost merupakan pendapatan atau penghematan biaya yang dikorbankan sebagai

Lebih terperinci

KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI

KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI 4.1. KONSEP INVESTASI Penganggaran modal adalah merupakan keputusan investasi jangka panjang, yang pada umumnya menyangkut pengeluaran yang besar yang akan memberikan

Lebih terperinci

BAB V KEPUTUSAN INVESTASI

BAB V KEPUTUSAN INVESTASI BAB V KEPUTUSAN INVESTASI A. Tujuan Kompetensi Khusus Setelah mengikuti perkuliahan, diharapkan mahasiswa mampu: Memahami Pentingnya Keputusan Investasi Mampu Menghitung Cash Flow Proyek Investasi Memahami

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Studi Kelayakan Bisnis 2.1.1 Pengertian Studi Kelayakan Bisnis Kata bisnis berasal dari bahasa Inggris busy yang artinya sibuk, sedangkan business artinya kesibukan. Bisnis dalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. AsiA Day Madiun-Malang, penelitian menggunakan metode-metode penilaian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. AsiA Day Madiun-Malang, penelitian menggunakan metode-metode penilaian BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu Penelitian oleh Dwi Susianto pada tahun 2012 dengan judul Travel AsiA Day Madiun-Malang, penelitian menggunakan metode-metode penilaian

Lebih terperinci

Aspek Keuangan. Studi Kelayakan (Feasibility Study) Sumber Dana. Alam Santosa

Aspek Keuangan. Studi Kelayakan (Feasibility Study) Sumber Dana. Alam Santosa Alam Santosa Aspek Keuangan Studi Kelayakan (Feasibility Study) Analisis Aspek Keuangan Menentukan sumber dana Menghitung kebutuhan dana untuk aktiva tetap dan modal kerja Aliran Kas Penilaian Investasi

Lebih terperinci

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 41 BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Pilihan Analisis Untuk menganalisis kelayakan usaha untuk dapat melakukan investasi dalam rangka melakukan ekspansi adalah dengan melakukan penerapan terhadap

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1 ABSTRAK Seorang investor pemilik PT X menilai permintaan dan pangsa pasar di kota Bandung terlihat masih menjanjikan untuk bisnis Depot air Minum isi ulang AMIRA. Tetapi sebelum investor menanamkan modalnya

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Saat ini Indonesia sedang memasuki era globalisasi, sehingga Indonesia dituntut untuk selalu mengembangkan teknologi di segala bidang agar tidak tertinggal oleh teknologi negara lain. Hal ini juga

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini dapat dilihat pada diagram alir dibawah ini : Gambar 3.1 Tahapan Penelitian III-1 3.1 Penelitian Pendahuluan

Lebih terperinci

ANALISIS INVESTASI USAHA PADA WARNET KHARISMA DOT NET. Nama : SUKMIATI NPM : Kelas : 3 EB 18

ANALISIS INVESTASI USAHA PADA WARNET KHARISMA DOT NET. Nama : SUKMIATI NPM : Kelas : 3 EB 18 ANALISIS INVESTASI USAHA PADA WARNET KHARISMA DOT NET Nama : SUKMIATI NPM : 26210727 Kelas : 3 EB 18 LATAR BELAKANG Seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi telah menempatkan internet menjadi

Lebih terperinci

BAB V HASIL ANALISA. dan keekonomian. Analisis ini dilakukan untuk 10 (sepuluh) tahun. batubara merupakan faktor lain yang juga menunjang.

BAB V HASIL ANALISA. dan keekonomian. Analisis ini dilakukan untuk 10 (sepuluh) tahun. batubara merupakan faktor lain yang juga menunjang. BAB V HASIL ANALISA 5.1 ANALISIS FINANSIAL Untuk melihat prospek cadangan batubara PT. XYZ, selain dilakukan tinjauan dari segi teknis, dilakukan juga kajian berdasarkan aspek keuangan dan keekonomian.

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di perusahaan peternakan sapi perah di CV. Cisarua Integrated Farming, yang berlokasi di Kampung Barusireum, Desa Cibeureum, Kecamatan

Lebih terperinci

Minggu-15. Budget Modal (capital budgetting) Penganggaran Perusahaan. By : Ai Lili Yuliati, Dra, MM

Minggu-15. Budget Modal (capital budgetting) Penganggaran Perusahaan. By : Ai Lili Yuliati, Dra, MM Penganggaran Perusahaan Minggu-15 Budget Modal (capital budgetting) By : Ai Lili Yuliati, Dra, MM Further Information : Mobile : 08122035131 Email: [email protected] 1 Pokok Bahasan Pengertian Penganggaran

Lebih terperinci

ANALISA BIAYA Dan MANFAAT

ANALISA BIAYA Dan MANFAAT Pertemuan 6 ANALISA BIAYA Dan MANFAAT ANALISA BIAYA Dan MANFAAT Pendahuluan Di dalam mengembangkan suatu sistem informasi perlu dipertimbangkan investasi yang dikeluarkan sebab menyangkut kepada dana perusahaan.

Lebih terperinci

PENILAIAN INVESTASI. Bentuk investasi dibedakan 1. Berdasarkan asset yang dimiliki 2. Berdasarkan lamanya waktu investasi

PENILAIAN INVESTASI. Bentuk investasi dibedakan 1. Berdasarkan asset yang dimiliki 2. Berdasarkan lamanya waktu investasi PENILAIAN INVESTASI I. Pengertian Investasi Investasi adalah penanaman (pengeluaran) modal (uang) waktu sekarang yang hasilnya baru diketahui diwaktu kemudian. Bentuk investasi dibedakan. Berdasarkan asset

Lebih terperinci

ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI DIE MAKING PT ASTRA DAIHATSU MOTOR

ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI DIE MAKING PT ASTRA DAIHATSU MOTOR L 1 ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI DIE MAKING PT ASTRA DAIHATSU MOTOR Dicky Fransdelly Binus University, Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia Abstrak Making merupakan salah

Lebih terperinci

Proudly present. Penganggaran Modal. Budi W. Mahardhika Dosen Pengampu MK.

Proudly present. Penganggaran Modal. Budi W. Mahardhika Dosen Pengampu MK. Proudly present Penganggaran Modal Budi W. Mahardhika Dosen Pengampu MK 081-331-529-764 www.bwmahardhika.com PENGANGGARANMODAL (CapitalBudgeting) ANALISIS PENGANGGARAN MODAL (ANALISIS USULAN INVESTASI)

Lebih terperinci