BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
|
|
|
- Susanti Kusnadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi dan paratyphiditandai dengan keluhan dan gejala penyakit yang tidak khas, berupa demam yang berlangsung lama, sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, sembelit (biasanya pada dewasa), penurunan nafsu makan, nyeri perut, terkadang nyeri saat buang air kecil dan batuk yang disertai darah dari hidung, serta bintik-bintik kecil merah muda di dada dan perut pada minggu kedua selama 2-5 hari (hanya terjadi pada sekitar 10%).Masa inkubasi penyakit tergantung pada besarnya jumlah bakteri yang menginfeksi, biasanya berlangsung 3 hari sampai dengan 1 bulan, rata-rata berlangsung 8-14 hari (WHO, 2003). Gambaran klinis tifoid sangat bervariasi, dari gejala yang ringan sekali (sehingga tidak terdiagnosis) dan dengan gejala yang khas (sindrom demam tifoid) sampai dengan gejala klinis berat yang disertai komplikasi. Gambaran klinis juga bervariasi berdasarkan daerah atau negara dan waktu kejadian. Gambaran klinis di negara berkembang bisa jadi berbeda dengan negara maju, dan gambaran klinis pada tahun 2000 di daerah atau negara yang sama bisa berbeda dengan kejadian pada tahun 1960 (Menkes, 2006). Pada tahun 2000 diperkirakan demam tifoid menyebabkan lebih dari 21,6 juta kesakitan dan kematian, dan paratifoid menyebabkan lebih dari lima juta kesakitan. Insidensi lebih dari 100/ penduduk per tahun terjadi di wilayah Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Tenggara dan wilayah bagian selatan Afrika. Dari jumlah tersebut, 70-80% kasus dan kematian terjadi di Asia, dimana penyakit ini menjadi endemik (WHO, 2003). Berdasarkan penelitian Buckle yang melakukan sistematik review pada beberapa negara, angka kejadian demam tifoid dari tahun 1980 sampai dengan tahun 2009 bahwa rata-rata angka kejadian demam tifoid dari 0,1/ penduduk di Negara Eropa Timur dan Eropa Tengah serta Asia sampai dengan 724,6/ penduduk di Wilayah sub Afrika Selatan. Sedangkan rata-rata 1
2 Attack Rate 2 angka kejadian paratifoid dari 0,8/ penduduk di sub Afrika dan Asia Selatan. Berdasarkan review tersebut, diperkirakan pada tahun 2010 angka kejadian demam tifoid sebesar 13,5 juta atau antara 9,1-17,8 juta (Buckle et al., 2012). Di Indonesiademam tifoid masih sangat endemis dan terjadi sepanjang tahun di seluruh wilayah. Angka kejadian masih tinggi, berkisar antara / penduduk. Demikian juga dari telaah kasus demam tifoid di rumah sakit besar di Indonesia, menunjukkan angka kesakitan cenderung meningkat setiap tahun dengan rata-rata 500/ penduduk. Angka kematian diperkirakan sebesar 0,6-5% (Menkes, 2006). Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 bahwa prevalensi demam tifoid klinis nasional adalah 1,6%, tersebar diseluruh kelompok umur dan merata pada umur dewasa. Prevalensi tifoid klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah (5-14 tahun) yaitu 1,9%, terendah pada bayi (0,8%) dan relatif lebih tinggi di wilayah pedesaan (1,8%) dibandingkan perkotaan (1,2%). Prevalensi tifoid cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah (6,6%) dibandingkan kelompok berpendidikan tinggi (2,1%) (Balitbangkes, 2008). Demam tifoid juga masih menjadi masalah kesehatan utama di Kabupaten Kebumen. Hal ini bisa dilihat pada kasus KLB Kabupaten Kebumen, data 10 besar penyakit dan peningkatan kasus demam tifoid dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari profil Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen, Kejadian Luar Biasa (KLB) demam tifoid terjadi pada tahun 2007 sampai dengan 2010 sebagaimana tersaji pada gambar 2 berikut : 2 1,8 1,6 1,4 1, AR 1,42 1,65 1,21 1,36 0 Gambar 1. Attack Rate KLB Demam Tifoid Kabupaten Kebumen Tahun
3 3 Berdasarkan 10 besar penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen, penyakit Demam Tifoid senantiasa termasuk dalam 10 besar pola penyakit rawat jalan maupun rawat inap puskesmas dan rumah sakit. Data kunjungan pasien puskesmas dan rumah sakit padatahun 2009 sampai dengan tahun 2011 berdasarkan kelompok umur tersaji pada tabel 1, tabel 2, dan tabel 3: Tabel 1. Data Penyakit Demam Tifoid Rawat Jalan Berdasarkan Kelompok Umur Yang Diamati di Puskesmas Kabupaten Kebumen Tahun Tahun Golongan Umur (Tahun) < Jumlah Urutan ke Sumber : Laporan Sistem Surveilan Terpadu Puskesmas Tabel 2. Data Penyakit Demam Tifoid Rawat Jalan Berdasarkan Kelompok Umur di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen Tahun Tahun Golongan Umur (Tahun) < Jumlah Urutan ke Sumber : Laporan Bulanan RL2b1 Tabel 3. Data Penyakit Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Kelompok Umur di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen Tahun Tahun Golongan Umur (Tahun) < Jumlah Urutan ke Sumber : Laporan Bulanan RL2a1 Hasil survey pendahuluan di Kabupaten Kebumen pada 3 rumah sakit swasta terbesar yang mendiagnosis demam tifoid sebagai diagnosis utama dengan uji widal sebagai penunjang diagnosa, menunjukkan bahwa demam tifoid lebih banyak pada kelompok umur 15 tahun. Data selengkapnya sebagaimana terlihat pada tabel 4 berikut :
4 4 Tabel 4. Jumlah Kasus Demam Tifoid RawatInapBerdasarkan Uji Widal Positif Titer O 1/160di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen Tahun 2012 Rumah Sakit Jumlah Kasus Jumlah BOR Umur < 15 Umur 15 TT tahun tahun Total RS PKU Muhammadiyah Sruweng RS PKU Muhammadiyah Gombong RS Palang Biru Gombong Total Sumber : Data Primer Angka tersebut diperkirakan barulah permukaan gunung es, belum menggambarkan keberadaan kasus tifoid yang sebenarnya. Karena berdasarkan keberadaan pelayanan kesehatandi wilayah Kabupaten Kebumen, masih terdapat 7 rumah sakit (satu diantaranya adalah Rumah Sakit Umum Daerah) dan 7 puskesmas rawat inap yang mampu melaksanakan uji widal dan tidak dilakukan survey pendahuluan. Demam tifoid merupakan penyakit yang ditularkan melalui air (water borne disease), dan melalui makanan (food borne disease) (Dainur, 1995). Basil Salmonella masuk ke manusia melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh feces dan urin pengidap tifoid. Penyebaran penyakit ini erat kaitannya dengan penyediaan air rumah tangga dan cara pembuangan kotoran yang tidak baik (Entjang, 2000). Demam tifoid juga berhubungan erat dengan kondisi sanitasi lingkungan yang tidak sehat dan praktek higiene perorangan yang jelek. Penularan demam tifoid berkaitan dengan penerapan prinsip hidup bersih yakni ditularkan secara faecal-oral melalui tangan, makanan/minuman, air dan tanah yang merupakan sumber antar penyebab (CDC, 2003). Penularan demam tifoid melalui makanan dan air yang terkontaminasi oleh tinja dan urin penderita atau karier. Di beberapa negara penularan terjadi karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang berasal dari air yang tercemar, buahbuahan, sayur-sayuran mentah yang dipupuk dengan kotoran manusia, susu dan
5 5 produk susu yang terkontaminasi oleh karier atau penderita yang tidak teridentifikasi. Lalat dapat juga berperan sebagai perantara penularan memindahkan mikroorganisme dari tinja ke makanan. Di dalam makanan mikroorganisme berkembang biak memperbanyak diri mencapai dosis infektif (Kandun, 2000). Peranan air dalam penularan demam tifoid tidak dapat diabaikan, karena air adalah unsur yang ada dalam makanan dan minuman, dan juga digunakan untuk mencuci tangan, bahan makanan, peralatan untuk masak atau makan. Jika air terkontaminasi dan higiene yang baik tidak dapat dipraktekkan, maka kemungkinan makanan yang dihasilkan juga akan terkontaminasi (WHO, 2005). Pemutusan rantai transmisinya berkaitan dengan penyediaan fasilitas dan kebiasaan yang baik dari perorangan untuk menghalangi pencemaran oleh tinja atau menghindari masuknya sumber antara ke mulut.oleh karena itu perilaku perorangan yang mencakup kebiasaan mencuci tangan, buang air besar, pemakaian air, pengolahan cara makan serta kebersihan perorangan dan rumah tangga sangat berperan (CDC, 2003). Beberapa penelitian tentang faktor risiko kejadian demam tifoid juga mendukung pernyataan tersebut. Saluran pembuangan air kotor yang tidak memenuhi syarat kesehatan, sumber air bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan tidak cuci tangan dengan menggunakan sabun sebelum makan berhubungan secara bermakna dengan kejadian demam tifoid di Semarang (Gasem et al., 2001). Hal ini diperkuat dengan penelitian pada pasien rawat inap RSUD dr. H. Soemarmo Sosroatmodjo Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur bahwa orang yang cuci tangan tidak pakai sabun sebelum makan mempunyai peluang terkena demam tifoid sebesar 2,625 (Rakhmanet al., 2009). Pada penelitian di Kabupaten Purworejo orang yang tidak pernah cuci tangan pakai sabun sebelum makan mempunyai risiko 22,05 kali terkena demam tifoid. Sementara kebiasaan kadang-kadang cuci tangan pakai sabun sebelum makan mempunyai peluang 7,04 kali lebih besar terkena demam tifoid dibanding orang yang selalu menggunakan sabun saat cuci tangan sebelum makan. Kebiasaan kadang-kadang dan sering makan/jajan di warung pinggir jalan mempunyai risiko
6 6 4,16 dan 5,80 kali terkena demam tifoid (Santoso, 2006). Selain dari faktor perilaku, kepemilikan dan kualitas sarana sanitasi juga merupakan faktor risiko kejadian demam tifoid. Berdasarkan penelitian di Jatinegara, Jakarta, masyarakat yang tidak memiliki jamban mempunyai peluang terkena demam tifoid sebesar 2,90 kali lebih besar dibanding masyarakat yang mempunyai jamban (Vollaard et al., 2004). Berdasarkan penelitian di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali bahwa pada masyarakat dengan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan meningkatkan risiko terkena demam tifoid sebesar 3,274 dibanding pada masyarakat dengan jamban yang memenuhi syarat kesehatan (Zulfikar, 2011).Pada negara berkembang penjaja makanan kaki lima menjadi sumber penting penularan penyakit bersumber makanan. Faktor penting lain sebagai penyebab prevalensi penyakit yang ditularkan melalui makanan adalah kurangnya pengetahuan penjamah makanan atau konsumen (WHO, 2005). Data profil Kabupaten Kebumen pada tahun 2011disebutkan bahwa masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat sebesar 80,4%, masih dibawah standar yang ditetapkan yaitu 85%. Keberadaan rumah dan kondisi sanitasi serta kesehatan lingkungan Kabupaten Kebumen sebagian besar juga belum sesuai dengan indikator yang ditetapkan. Diantaranya adalah cakupan rumah sehat, kepemilikian jamban sehat, pengelolaan air limbah rumah tangga, akses air bersih, dan Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM) (Dinas Kesehatan, 2011). Data program kesehatan lingkungan selengkapnya disajikan pada tabel 5 berikut : Tabel 5. Target dan Pencapaian Target Program Kesehatan LingkunganKabupaten Kebumen Tahun 2011 Program Kesehatan Lingkungan Target (%) Pencapaian (%) Rumah Sehat 85 65,76 Jamban 75 75,2 Pengelolaan Air Limbah 85 58,1 Tempat-tempat umum 80 70,13 Akses Air Bersih 80 75,7 Sumber: Profil DKK Kebumen 2011
7 7 Berdasarkan uraian di atas menunjukan bahwa faktor risiko untuk terjadinya demam tifoid di Kabupaten Kebumen sangat mendukung, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian faktor risiko kejadian demam tifoid pada pasien rawat inap di rumah sakit Kabupaten Kebumen. B. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu apakah sumber air bersih, kualitas jamban, kebiasaan Buang Air Besar (BAB),kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, kebiasaan jajan makanan diluar rumah,dan riwayat penyakit demam tifoid dalam keluarga merupakan faktor risiko kejadian demam tifoid pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen tahun 2013? C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum Menganalisis faktor risiko kejadian pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen tahun Tujuan Khusus a. Menganalisis hubungan sumber air bersih dengan kejadian demam tifoid pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen tahun b. Menganalisis hubungan kualitas jamban dengan kejadian demam tifoid pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen tahun c. Menganalisis hubungan kebiasaan BAB dengan kejadian demam tifoid pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen tahun d. Menganalisis hubungan kebiasaan cuci tangan dengan sabun sebelum makan dengan kejadian demam tifoid pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen tahun e. Menganalisis hubungan kebiasaan jajan makanan di luar rumah dengan kejadian demam tifoid pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen tahun 2013.
8 8 f. Menganalisis hubungan riwayat demam tifoid dalam keluarga dengan kejadian demam tifoid pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Kebumen tahun D. MANFAAT PENELITIAN 1. Sebagai bahan masukan dan evaluasi bagi Dinas Kesehatan dalam menetapkan dan menentukan kebijakan dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat makanan dan minuman (Food and Water Borne Disease) khususnya penyakit demam tifoid serta pengelolaan program kesehatan lingkungan. 2. Sebagai bahan masukan kepada keluarga dan penderita terhadap perbaikan kondisi sanitasi lingkungan dan hygiene perorangan khususnyaberkaitan dengan penularan penyakit demam tifoid. 3. Untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan penelitian tentang penyakit demam tifoid. E. KEASLIAN PENELITIAN Penelitian-penelitian lain yang hampir sama dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti berdasarkan penelusuran kepustakaan diantaranya adalah : No Judul penelitian Publikasi Peneliti Perbedaan Persamaan 1. Poor Food Hygiene and housing as risk factors typhoid fever in Semarang 2001 Gasem, MH, et al 2 Risk factors for transmision of food borne illness in restaurants and street venors in Jakarta 2004 Vollaard, et al - Lokasi penelitian : Semarang - Subyek penelitian : semua kelompok umur - Menggunakan community based control - Variabel bebas : pekerjaan, saluran air kotor, kondisi dapur, lantai rumah, dan sumber air bersih dilakukan uji bakteriologi - Lokasi penelitian di Jatinegara Jakarta. - Subyek penelitian : semua kelompok umur - Variabel terikat : kejadian demam tifoid dan paratifoid - Sumber data : Puskesmas dan rumah sakit, dengan pemeriksaan kultur darah - Variabel bebas : alat makan, kebiasaan makan, kepemilikan jamban penderita - Variabel bebas penelitian : cuci tangan sebelum makan, kebiasaan makan diluar rumah. - Variabel bebas : kebiasaan cuci tangan sebelum makan menggunakan sabun, kontak dengan penderita.
9 9 No Judul penelitian Publikasi Peneliti Perbedaan Persamaan 3. Faktor risiko kejadian demam tifoid di Kabupaten Purworejo 2006 Santoso - Tujuan penelitian - Lokasi Penelitian : Kabupaten Purworejo - Subyek penelitian : semua kelompok umur - Variabel bebas : makan/jajan di warung pinggir jalan - Variabel bebas : tidak menggunakan sabun untuk cuci tangan, riwayat anggotakeluarga 4. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anak yang dirawat di rumah sakit di Kota Bengkulu tahun Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian orang dewasa 6 Sanitasi lingkungan dan higiene perorangan dengan kejadian demam tifoid di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali 2009 Laksono - Tujuan penelitian - Lokasi Penelitian : Kota Bengkulu - Subyek penelitian : pasien anak - Variabel bebas : kebiasaan jajan, kebiasaan merebus air minum, kebiasaan mencuci tangan sebelum mengolah makanan, pengetahuan ibu 2009 Rakhman - Lokasi Penelitian : Kota Bengkulu - Subyek penelitian : pasien dewasa ( 16 th) - Cara mendapatkan data : tidak melakukan observasi terhadap sarana sanitasi. - Variabel bebas : kategori sumber air bersih berasal dari PDAM dan non PDAM 2011 Zulfikar - Kerangka konsep - Lokasi Penelitian : Kecamatan Ngemplak Kab. Boyolali - Sumber data : Puskesmas Ngemplak - Subyek penelitian : semua kelompok umur - Analisis data pada univariat dan bivariat - Variabel bebas : kebiasaan makan diluar penyediaan rumah - Variabel bebas : tidak menggunakan sabun untuk cuci tangan, riwayat anggta keluarga - Variabel bebas penelitian : kepemilikan jamban, cuci tangan pakai sabun sebelum makan, kebiasaan jajan makanan diluar rumah, riwayat keluarga - Variabel bebas : suber air bersih, kualitas jamban, kebiasaan BAB, tidak menggunakan sabun untuk cuci tangan, riwayat penyakit pada anggota keluarga.
BAB I PENDAHULUAN. WHO memperkirakan jumlah kasus demam thypoid di seluruh dunia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang WHO memperkirakan jumlah kasus demam thypoid di seluruh dunia mencapai 17 juta jiwa per tahun, angka kematian akibat demam typhoid mencapai 600.000 dan 70% nya terjadi
BAB 1 PENDAHULUAN. dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pembangunan nasional dapat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yang pada hakekatnya merupakan upaya penyelenggaraan kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk
BAB 1 PENDAHULUAN. adalah masalah kejadian demam tifoid (Ma rufi, 2015). Demam Tifoid atau
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan merupakan masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah lain diluar kesehatan itu sendiri. Demikian pula untuk mengatasi masalah
BAB I PENDAHULUAN. adalah masalah kejadian penyakit Tifoid (Thypus) di masyarakat.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan merupakan masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula untuk mengatasi masalah
BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar tidak saja di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Selain virus sebagai penyebabnya,
BAB I PENDAHULUAN. Salmonella typhi, suatu bakteri gram-negative. Demam tifoid (typhoid fever atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Penyakit menular masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama di negara berkembang termasuk di Indonesia. Penyakit menular ini terkait erat dengan
Organization (WHO) memperkirakan jumlah kasus demam thypoid diseluruh dunia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit demam thypoid adalah salah satu penyakit endemik di Indonesia dan masih merupakan masalah kesehatan yang serius di dunia. Penyakit ini termasuk penyakit
BAB I PENDAHULUAN. dari spesimen-spesimen yang diperiksa. Petugas laboratorium merupakan orang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laboratorium kesehatan sangat potensial untuk dapat menularkan penyakit dari spesimen-spesimen yang diperiksa. Petugas laboratorium merupakan orang yang rentan terpajan
BAB 1 PENDAHULUAN. kesadaran (Rampengan, 2007). Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid atau tifus abdominalis banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat kita, baik diperkotaan maupun di pedesaan. Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut
BAB 1 PENDAHULUAN. kuman Salmonella Typhi (Zulkoni, 2011). Demam tifoid banyak ditemukan. mendukung untuk hidup sehat (Nani dan Muzakir, 2014).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi (Zulkoni, 2011). Demam tifoid banyak ditemukan dikalangan masyarakat, penyakit
BAB I PENDAHULUAN ). Penyakit Typhoid Abdominalis juga merupakan masalah kesehatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Typhoid Abdominalis merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella Typhi yang ditandai dengan gangguan pada sistem pencernaan dan terkadang
BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada bayi dan balita. United Nations Children's Fund (UNICEF) dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diare hingga menjadi salah satu penyebab timbulnya kesakitan dan kematian yang terjadi hampir di seluruh dunia serta pada semua kelompok usia dapat diserang oleh diare,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ancaman penyakit yang berkaitan dengan higiene dan sanitasi khususnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ancaman penyakit yang berkaitan dengan higiene dan sanitasi khususnya yang berkaitan dengan makanan dan minuman masih menjadi masalah yang paling sering ditemukan di
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Demam typhoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut pada usus halus yang disebabkan oleh Salmonella enterica serotype typhi (Salmonella typhi) (Kidgell
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia untuk dapat melangsungkan kehidupan selain kebutuhan sandang dan papan. Makanan mengandung nilai gizi yang dibutuhkan
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella sp. Demam tifoid merupakan masalah yang serius di negara berkembang,
BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) dalam Buletin. penyebab utama kematian pada balita adalah diare (post neonatal) 14%,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan di negara berkembang terutama di Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit diare bersifat endemis
BAB I PENDAHULUAN. Pengembangan keberhasilan program sanitasi makanan dan minuman
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Pengembangan keberhasilan program sanitasi makanan dan minuman diperlukan peraturan dalam memproses makanan dan pencegahan terjadinya food borne disease. Selain itu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan infeksi bakteri sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang dijumpai di berbagai negara berkembang terutama di daerah tropis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit diare hingga saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia, dimana setiap tahunnya kejadian kasus diare sekitar 4 miliar, dengan jumlah kematian
BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang
BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Penyakit menular masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dinegara berkembang. Salah satu penyakit menular tersebut adalah demam tifoid. Penyakit ini merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penyakit diare masih merupakan masalah global dengan morbiditas dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit diare masih merupakan masalah global dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di berbagai negara terutama di negara berkembang, dan sebagai salah satu
BAB 1 : PENDAHULUAN. disebut penyakit bawaan makanan (foodborned diseases). WHO (2006)
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Paradigma kesehatan lingkungan mengatakan, kontaminasi yang terjadi pada makanan dan minuman dapat menyebakan makanan tersebut menjadi media bagi suatu penyakit.
BAB I PENDAHULUAN. sebesar 3,5% (kisaran menurut provinsi 1,6%-6,3%) dan insiden diare pada anak balita
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia yang terus terjadi di suatu tempat tertentu biasanya daerah pemukiman padat penduduk, termasuk penyakit
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. S DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN DEMAM TIFOID DI BANGSAL ANGGREK RSUD SUKOHARJO
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. S DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN DEMAM TIFOID DI BANGSAL ANGGREK RSUD SUKOHARJO KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Ahli Madya Keperawatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah kesehatan di masyarakat sangat dipengaruhi oleh faktor perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan dan keturunan. Salah satu penyakit yang berbasis pada
Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat. Disusun Oleh: ERIN AFRIANI J.
HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN SUMBER AIR DAN KEBIASAAN PHBS (PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT) DENGAN KEJADIAN DIARE DI DESA SAWAHAN KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2008 Skripsi ini Disusun untuk
BAB I PENDAHULUAN. Sumber penularan penyakit demam typhoid adalah penderita yang aktif,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam typhoid pada masyarakat dengan standar hidup dan kebersihan rendah, cenderung meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya angka kejadian tinggi pada daerah
BAB 1 PENDAHULUAN. saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan beban global. terutama di negara berkembang seperti Indonesia adalah diare.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak umur bawah lima tahun (balita) merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit, terutama penyakit infeksi (Notoatmodjo, 2011). Gangguan kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. Transmitted Helminths. Jenis cacing yang sering ditemukan adalah Ascaris
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kecacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh masuknya parasit berupa cacing kedalam tubuh manusia karena menelan telur cacing. Penyakit ini paling umum tersebar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A.
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan manusia untuk pertumbuhan dan perkembangan badan. Makanan yang dikonsumsi harus aman dan
STUDI KASUS KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAYANAN TAHUN 2015
STUDI KASUS KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAYANAN TAHUN 2015 Mahmudah FKM Uniska, Banjarmasin, Kalimantan Selatan E-mail: [email protected] Abstrak Latar belakang: Diare
BAB I PENDAHULUAN. bersih. 4 Penyakit yang menonjol terkait dengan penyediaan makanan yang tidak
bersih. 4 Penyakit yang menonjol terkait dengan penyediaan makanan yang tidak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Makanan merupakan hal yang penting bagi kesehatan manusia. Saat ini banyak terjadi penyakit
BAB I PENDAHULUAN. Kerugian akibat water-borne diseaseterjadi pada manusia dan juga berdampak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Water-borne diseases merupakan penyakit yang ditularkan ke manusia akibat adanya cemaran baik berupa mikroorganisme ataupun zat pada air. Kerugian akibat water-borne
HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 922-933 Online di http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN
BAB 1 : PENDAHULUAN. aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan lain yang
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, sebab makanan yang kita makan bukan saja harus memenuhi gizi tetapi harus juga aman dalam
BAB I PENDAHULUAN. rendah, cenderung meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya angka
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid pada masyarakat dengan standar hidup dan kebersihan rendah, cenderung meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya angka kejadian tinggi pada daerah
Ririh Citra Kumalasari 1. Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip *)Penulis korespondensi:
HUBUNGAN SANITASI DENGAN STATUS BAKTERIOLOGI (STATUS Koliform DAN KEBERADAAN Salmonella sp) PADA JAJANAN DI SEKOLAH DASAR WILAYAH KECAMATAN TEMBALANG, SEMARANG Ririh Citra Kumalasari 1 1) Bagian Epidemiologi
I. PENDAHULUAN. besar di Indonesia, kasus tersangka tifoid menunjukkan kecenderungan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan salah satu penyakit yang masih mengancam kesehatan masyarakat di Indonesia. Di Indonesia, penyakit ini bersifat endemik dan merupakan masalah kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Typhoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella paratyphi B, salmonella typhi C. Penyakit
FAKTOR FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN DEMAM TIFOID PADA ORANG DEWASA
FAKTOR FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN DEMAM TIFOID PADA ORANG DEWASA RISK FACTORS AFFECTING THE INCIDENCE OF TYPHOID FEVER IN ADULTS Arief Rakhman 1, Rizka Humardewayanti 2, Dibyo Pramono
BAB I PENDAHULUAN. Makanan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan hak
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Makanan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan hak asasi setiap orang untuk keberlangsungan hidupnya. Makanan adalah unsur terpenting dalam menentukan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesehatan lingkungan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan lingkungan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, menurut WHO (World Health Organization), kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yangharus
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia, terutama di negara berkembang, termasuk Indonesia. Penyakit diare adalah penyebab utama kedua kematian
BAB I PENDAHULUAN. penyakit yang menyerang seperti typhoid fever. Typhoid fever ( typhus abdominalis, enteric fever ) adalah infeksi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Kesehatan merupakan suatu hal yang paling penting. Dengan hidup sehat kita dapat melakukan segala hal, sehat tidak hanya sehat jasmani saja namun juga sehat
BAB I PENDAHULUAN. seluruh daerah geografis di dunia. Menurut data World Health Organization
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan dan terjadi hampir di seluruh daerah geografis di dunia. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2013,
BAB I PENDAHULUAN. WHO (World Health Organization) mendefinisikan Diare merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang WHO (World Health Organization) mendefinisikan Diare merupakan penyakit dimana buang air besar dalam bentuk cair sebanyak 3 kali sehari atau lebih dari normal, terkadang
I. PENDAHULUAN. A. Latar belakang. disebabkan oleh protozoa, seperti Entamoeba histolytica, Giardia lamblia dan
I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Infeksi protozoa usus adalah salah satu bentuk infeksi parasit usus yang disebabkan oleh protozoa, seperti Entamoeba histolytica, Giardia lamblia dan Cryptosporidium parvum
HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG
Volume, Nomor, Tahun 0, Halaman 535-54 Online di http://ejournals.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN
BAB 1 PENDAHULUAN. Usia anak dibawah lima tahun (balita) merupakan usia dalam masa emas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usia anak dibawah lima tahun (balita) merupakan usia dalam masa emas periode pertumbuhan (Golden Age Periode) dimana pada usia ini sangat baik untuk pertumbuhan otak
BAB I. Leptospirosis adalah penyakit zoonosis, disebabkan oleh
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Leptospirosis adalah penyakit zoonosis, disebabkan oleh mikroorganisme Leptospira interogans yang mempengaruhi baik manusia maupun hewan. Manusia terinfeksi melalui
BAB 1 PENDAHULUAN. tinggi. Diare adalah penyebab kematian yang kedua pada anak balita setelah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Diare
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Penyakit diare merupakan salah satu penyebab. mortalitas dan morbiditas anak di dunia.
7 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penyakit diare merupakan salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas anak di dunia. Diare menjadi penyebab kedua kematian pada anak di bawah lima tahun, sekitar
ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2
ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 Lintang Sekar Langit [email protected] Peminatan Kesehatan Lingkungan,
HUBUNGANRESPON IMUN DAN STRES DENGAN TINGKAT KEKAMBUHAN DEMAM TIFOID PADA MASYARAKAT DIWILAYAH PUSKESMAS COLOMADU KARANGANYAR
HUBUNGANRESPON IMUN DAN STRES DENGAN TINGKAT KEKAMBUHAN DEMAM TIFOID PADA MASYARAKAT DIWILAYAH PUSKESMAS COLOMADU KARANGANYAR SKRIPSI Untuk MemenuhiSalah Satu Persyaratan MencapaiDerajat Sarjana S-1 Keperawatan
BAB 1 : PENDAHULUAN. dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. (1) Selain
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Air dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. (1) Selain
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyakit Diare Penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Selain penyakit ini masih endemis di hampir semua daerah, juga sering muncul
BAB I PENDAHULUAN juta kematian/tahun. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diare sampai saat ini merupakan penyebab kematian di dunia, terhitung 5-10 juta kematian/tahun. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam thypoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi dan Salmonella para thypi. Demam thypoid biasanya mengenai saluran
BAB I PENDAHULUAN. yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang Undang No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan mengamanatkan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan
BAB 1 PENDAHULUAN. penyebarannya melalui media tanah masih menjadi masalah di dalam dunia kesehatan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Soil Transmitted Helminth (STH) atau penyakit kecacingan yang penyebarannya melalui media tanah masih menjadi masalah di dalam dunia kesehatan masyarakat khususnya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia demam tifoid sering disebut dengan penyakit tifus. Penyakit ini biasa dijumpai di daerah sub tropis terutama di daerah dengan sumber mata air yang tidak
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Demam Typhoid (typhoid fever) merupakan salah satu penyakit
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Demam Typhoid (typhoid fever) merupakan salah satu penyakit menular yang erat hubungannya dengan lingkungan, terutama lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. penduduk tiap tahunnya. Insiden tertinggi demam thypoid terdapat pada anakanak. kelompok umur 5 tahun (Handini, 2009).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam thypoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik. Demam thypoid dijumpai secara luas di berbagai Negara berkembang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis.
FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBERADAAN BAKTERI Escherichia coli PADA JAJANAN ES BUAH YANG DIJUAL DI SEKITAR PUSAT KOTA TEMANGGUNG
Volume 1, Nomor 2, Tahun 212, Halaman 147-153 FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBERADAAN BAKTERI Escherichia coli PADA JAJANAN ES BUAH YANG DIJUAL DI SEKITAR PUSAT KOTA TEMANGGUNG * ) Alumnus FKM
ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU SISWA TERHADAP PHBS DAN PENYAKIT DEMAM TIFOID DI SMP X KOTA CIMAHI TAHUN 2011.
ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU SISWA TERHADAP PHBS DAN PENYAKIT DEMAM TIFOID DI SMP X KOTA CIMAHI TAHUN 2011. Rika Prastiwi Maulani,2012. Pembimbing I : Dani, dr., M.kes Pembimbing II
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini orang ingin melakukan segala sesuatu dengan cepat dan praktis, termasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan makan. Hal ini sangat menunjang keberadaan berbagai
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepar merupakan organ atau kelenjar terbesar dari tubuh yang berfungsi sebagai pusat metabolisme, hal ini menjadikan fungsi hepar sebagai organ vital. Sel hepar rentan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini masalah keamanan pangan sudah merupakan masalah global, sehingga mendapat perhatian utama dalam penetapan kebijakan kesehatan masyarakat. Letusan penyakit
FAKTOR RISIKO KEJADIAN DEMAM TYPOID PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TMC TASIKMALAYA TAHUN Heti Damayanti 1) Nur Lina dan Sri Maywati 2)
FAKTOR RISIKO KEJADIAN DEMAM TYPOID PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TMC TASIKMALAYA TAHUN 2016 Heti Damayanti 1) Nur Lina dan Sri Maywati 2) Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Peminatan Epidemiologi
BAB I PENDAHULUAN. yaitu: faktor keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu: faktor keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan. Keempat faktor tersebut saling
ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID
ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID Definisi: Typhoid fever ( Demam Tifoid ) adalah suatu penyakit umum yang menimbulkan gejala gejala sistemik berupa kenaikan suhu dan kemungkinan penurunan kesadaran. Etiologi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh Salmonella thypi (S thypi). Pada masa inkubasi gejala awal penyakit tidak tampak, kemudian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam tifoid (enteric fever) merupakan penyakit infeksi akut pada saluran cerna yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella enterica serotipe Typhi. Bila
BAB 1 PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang harus diperhatikan untuk
1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang harus diperhatikan untuk kemajuan suatu bangsa selain pendidikan dan ekonomi sekaligus merupakan investasi sumber daya manusia,
BAB I PENDAHULUAN. Giardia intestinalis. Penyakit ini menjadi salah satu penyakit diare akibat infeksi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Giardiasis adalah penyakit diare yang disebabkan oleh protozoa patogen Giardia intestinalis. Penyakit ini menjadi salah satu penyakit diare akibat infeksi protozoa
BAB 1 PENDAHULUAN. bila dikonsumsi akan menyebabkan penyakit bawaan makanan atau foodborne
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebersihan makanan dan minuman sangatlah penting karena berkaitan dengan kondisi tubuh manusia. Apabila makanan dan minuman yang dikonsumsi tidak terjaga kebersihannya
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Makanan merupakan salah satu dari tiga unsur kebutuhan pokok manusia,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Makanan merupakan salah satu dari tiga unsur kebutuhan pokok manusia, selain kebutuhan sandang dan papan. Sandang dan papan menjadi kebutuhan pokok manusia karena
BAB 1 : PENDAHULUAN. Keadaan higiene dan sanitasi rumah makan yang memenuhi syarat adalah merupakan faktor
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Upaya higiene dan sanitasi rumah makan merupakan kebutuhan utama terhadap terwujudnya makanan dan minuman aman, oleh karena itu keadaan higiene dan sanitasi rumah
BAB I PENDAHULUAN. masalah ganda (Double Burden). Disamping masalah penyakit menular dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesian saat ini dihadapkan pada dua masalah ganda (Double Burden). Disamping masalah penyakit menular dan kekurangan gizi terjadi pula
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TIFUS ABDOMINALIS DI KOTA SIBOLGA TAHUN 2015
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TIFUS ABDOMINALIS DI KOTA SIBOLGA TAHUN 2015 Oleh MANOTAR SINAGA, S.KEP, M.KES. Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Nauli Husada Sibolga
Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Lerep Kabupaten Semarang
Artikel Penelitian Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Lerep Kabupaten Semarang Dwi Febriana *), Yuliaji Siswanto **), Puji Pranowowati **) *) Mahasiswa
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kualitas lingkungan dapat mempengaruhi kondisi individu dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kualitas lingkungan dapat mempengaruhi kondisi individu dan masyarakat, dimana kualitas kondisi lingkungan yang buruk akan menimbulkan berbagai gangguan pada kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. dalam kesehatan dan kesejahteraan manusia (Sumantri, 2010).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan zat yang memiliki peranan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.tanpa air, berbagai proses kehidupan tidak dapat berlangsung. Oleh karena itu,
BAB I PENDAHULUAN. prasarana kesehatan saja, namun juga dipengaruhi faktor ekonomi,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Derajat kesehatan masyarakat Indonesia ditentukan oleh banyak faktor, tidak hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana prasarana kesehatan saja,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara berkembang kini sedang menghadapi masalah kebersihan dan kesehatan. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan gaya hidup yang tidak
PENDAHULUAN. zoonoses (host to host transmission) karena penularannya hanya memerlukan
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Leptospirosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri patogen Leptospira, yang ditularkan secara langsung maupun tidak langsung dari hewan ke manusia,
sebagai vector/ agen penyakit yang ditularkan melalui makanan (food and milk
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 ISPA
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian / lebih dari saluran nafas mulai hidung alveoli termasuk adneksanya
