KONSELING KELUARGA DENGAN MENGGUNAKAN TERAPI GESTALT
|
|
|
- Ari Gunawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KONSELING KELUARGA DENGAN MENGGUNAKAN TERAPI GESTALT MAKALAH Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Bimbingan Konseling Keluarga Andri Arif (055034) Rika Mardiana ( ) Lingga Wanhar ( ) Sandy Swardi ( ) Oleh Taofiq Septiawan ( ) Riris Pertiwi ( ) Rai Pamungkas ( ) JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010
2 KATA PENGANTAR Alhamdulillahi rabbil alamin, kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Konseling Keluarga Dengan Menggunakan Terapi Gestalt. Selama penyusunan makalah ini diperlukan kesabaran dan usaha yang keras dengan harapan dapat memberikan sesuatu yang terbaik. Kami menyadari bahwa isi dari makalah Konseling Keluarga Dengan Menggunakan Terapi Gestalt ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kemampuan, pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki oleh kami. Oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah yang kami buat. Pada kesempatan ini dengan rasa syukur dan kerendahan hati, kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung baik itu secara moril maupun materil hingga makalah Konseling Keluarga Dengan Menggunakan Terapi Gestalt ini bisa selesai tepat pada waktunya. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih dan do a semoga budi baik dari semua pihak yang telah membantu kami mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Kami mengharapkan semoga makalah Konseling Keluarga Dengan Menggunakan Terapi Gestalt.ini dapat memberikan manfaat untuk semua pihak yang membutuhkannya. Bandung, April 2008 Penulis
3 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Tujuan Manfaat Sistematika Penulisan... BAB II TINJAUAN KONSEPTUAL Tujuan konseling terapi Gestalt Proses konseling Proses perubahan perilaku konseli Proses dan fase konseling... BAB III INTERVENSI BIMBINGAN DAN KONSELING... BAB IV KESIMPULAN... DAFTAR ISI...
4 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Kemajuan di segala bidang, terutama ilmu dan teknologi terasa dampaknya terhadap keluarga di Indonesia, khususnya dikota-kota. Kehidupan kota yang penuh persaingan terutama dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan kemajuan jaman, membawa perubahan pada kehidupan keluarga. Kehidupan keluarga yang akrab dan damai mulai berubah menjadi kurang perhatian, renggang, tegang dan cemas. Selain itu interaksi antara ibu, ayah dan anak yang tadinya akrab dengan penuh kesih sayang sekarang menjadi bertolak belakang hal ini disebabkan karena orang tua terlalu sibuk di luar rumah untuk mencari nafkah demi tuntutan ekonomi yang terus meningkat. Keadaan orang tua yang demikian menyebabkan hilangnya perhatian dan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Hal ini dapat berpengaruh negatif terhadap perilaku anak. Keadaaan psikis anak semaikn parah karena orang tua mengalami gangguan emosional karena persaingan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Akibat lainnya pada anak dapat mengalami gangguan emosional atau neurotic. Keadaan anak-anak yang seperti itu akan berakibat terhadap perilaku yang menyimpang seperti kenakalan, kejahatan, menghisap ganja, dan kecanduan narkotika. Sedangkan pengembangan potensi anak kurang mendapat perhatian dari orang tua. Berdasarkan fenomena tersebut maka dibutuhkan suatu upaya untuk mengurangi masalah yang terkait dengan keluarga. Adapun upaya untuk mengurangi hal tersebut dilakukan dengan konseling keluarga. Konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui sistem keluarga agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga. Tujuan konseling keuarga diantaranya yaitu untuk memberi bekal filsafat tentang manusia dan keluarganya, pengetahuan tentan keluarga, dan keterampilan dalam menggunakan
5 teknik konsleing terhadap setiap pengembangan potensi anggota keluarga, dan untuk membantu mengantisipasi masalah yang dihadapi oleh individu. Adapun salah satu pendekatan yang digunakan dalam konseling keluarga yaitu pendekatan Gestalt, pendekatan ini memberikan perhatian kepada apa yang dikatakan anggota keluarga, bagaimana mereka mengatakannya, apa yang terjadi ketika mereka berkata itu, bagaimana ucapan-ucapannya jika dihubungakan dengan perbuatannya, dan apakah mereka berusaha untuk melesaikan perbuatannya. B. Tujuan Adapun tujuan dalam penulisan ini yaitu: 1. dapat mengetahui tentang konseling keluarga, 2. dapat mengetahui tentang terapi Gestalt, 3. dapat mengetahui intervensi terapi Gestal terhadap konseling keluarga. C. Manfaat 1. Sebagai bahan informasi bagi kita untuk memahami lebih luas mengenai konseling keluarga, 2. Sebagai bahan informasi bagi kita untuk memahami lebih luas mengenai terapi Gestalt, dan 3. Sebagai bahan informasi bagi calon-calon konselor untuk dapat lebih memahami intervensi terapi Gestalt terhadap konseling keluarga. D. Sistematika Penulisan BAB I, berisi latar belakang, tujuan, manfaat dan sistematika penulisan. BAB II, berisi konseptual mengenai terapi Gestalt. BAB III, berisi intervensi bimbimbingan dan konseling. BAB IV, berisi kesimpulan.
6 BAB II TINJAUAN KONSEPTUAL Terapi ini dikembangkan oleh Frederick S. Pearl ( ) yang didasari oleh empat aliran yaitu psikoanalisis, fenomenologis, dan eksistensialisme serta psikologi Gestalt. Menurut Pearls individu itu selalu aktif sebagai keseluruhan. Individu bukanlah jumlah dari bagian-bagian atau organ semata. Individu yang sehat adalah yang seimbang antara ikatan organisme dengan lingkungan. Karena itu pertentangan antara keberadaan sosial dengan biologis merupakan konsep dasar terapi Gestalt. Menurut Pearls banyak sekali manusia yang mencoba menyatakan apa yang seharusnya daripada menyatakan apa yang sebenarnya. Perbedaan aktualisasi gambaran diri dan aktualisasi diri benar-benar merupakan kritis pada manusia itu sendiri. Perls menyatakan bahwa individu, dalam hal ini manusia, selalu aktif sebagai keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata penjumlahan bagianbagian atau organ-organ seperti hati, jantung, otak dan sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Kesehatan merupakan keseimbangan yang layak dari dunia yang mengandung kepentingan bersama. saya dan engkau berubah menjadi kami dalam satu ikatan yang baru terbentuk. Pertemuan ini akan menghasilkan perubahan-perubahan baru bila timbul ketikpuasan diantara mereka. Perls mengatakan bahwa konsep kepribadian yang disusun oleh Freud tidak sempurna, sebab Freud tidak merumuskan lawan superego atau kata hati dengan jelas dan nyata. Perls menyebut superego itu top dog sebagai lawan dari under dog. Superego menyangkut kekuasaan, kebenaran dan kesempurnaan top dog menghukum individu dengan keharusan, keinginan dan ketakutan akan ancaman (bahaya). Sedangkan under dog menguasai individu dengan penekanan yang baik dan keadaan mempertahankan diri. Menurut Perls, individu tersiksa oleh kedua kekuatan dari dalam tersebut, yaitu top dog dan under dog yang selalu berlomba ingin mengontrolnya. Konflik ini tidak pernah sempurna dan merupakan suatu bentuk penyikasaan diri (self-torture). Pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis
7 merupakan konsep dasar terapi Gestalt.banyak sekali manusia yang mencoba menyatakan apa yang seharusnya darupada menyatakan apa yang sebenarnya. Perbedaan aktualisasi gambaran diri merupakan penghukum terhadap ide-ide, mengarahkan manusia utnuk berpandangan bahwa seseorang tidak usah seperti apa adanya.perls menyatakan bahwa setiap individu berada pada dua tingkatan, yaitu tingkatan umum (berbuat), yang dapat diamati atau diditeksi. Tingkat kedua bersifat pribadi (berpikir), pada saat individu mempersiapkan diri untuk melaksanakan peranannya simasa mendatang. Kegiatan individu harus dikontrol oleh situasi. Individu yang kehilangan kepercayaan terhadap dirinya atau yang tidak berhubungan dengan dirinya atau dunianya, akan memberikan reaksi terhadap suatu keseluruhan dilakukan tidak dengan spontan melainkan dengan keinginan mengawasi keseluruhan. Dalam hubungan ini Perls memberikan penjelasan bahwa end-gain ditentukan oleh organisme sedangkan means-whereby menyangkut masalah pilihan. Pada suatu saat organisme diintegrasikan, akan merupakan kontrol means-whereby yang menghasilkan kepuasan bagi dirinya. Karena perkembangan individu dihadapkan pada dua pilihan yaitu belajar mengatasi frustrasi atau diruksakan oleh orang tuanya. Bila terdapat pertentangan yang sangat kuat antara keberadaan sosial dan biologis yang tidak dapat diatasi maka diatasi maka individu mengalami frustrasi. Perls menganggap frsustrasi sebagai elemen positif, sebab mendorong individu mengembangkan perlindungannya, menemukan potensinya dan menguasai lingkungannya. Perls menyatakan bahwa anak yang tidak cukup mengalami frustrasi akan mempergunakan potensinya untuk mengontrol orang dewasa dan menciptakan kebebasan. Menurut perls karakter menunjukan kepada aturan-aturan atau larangan-larangan yang dapat menghambat individu dalam pencapaian potensinya. Menururt perls, perkembangan karakter mengarahkan indivdidu pada kekakuan merespon, hilangnya kecakapan mengatasi sesuatu kesulitan secara spontan, bebas dan menghasilkan peilaku tertentu. Karakter menuntut bantuan pengarahan dari orang tua, guru, dan orang dewasa. Juga mendorong individu untuk bertindak bodoh serta membentuk ketergantungan. Sebenarnya individu
8 lebih banyak membuang-buang energinya untuk memanipulasi dunia dibandingkan dengan penggunaan energi untuk mengembangkan dirinya sendiri. Menurut perls sebagai akibatnya ialah makin banyak seseorang memilki karakter, makin kurang potensi yang ia miliki. Patologi terjadi apabila seseorang tidak dapat menerima perasaaanperasaan dan pikiran-pikirannya sendiri. Dinilai dari usaha meninggalkan kesempurnaan, melalui meningakaran terhadap bagian-bagian seseorang, pengalaman-penalamannya, ciri-cirinya, menjadi tinggi apabila kemampuan, energi. Dan abilitas menguasai dunia atau lingkungan makin lemah. Individu yang bersangkutan menjadi lebih terpecah, kaku dan terikat. Perls mengemukakan bahwa aturan diri dicapai sebagai akibat menjadi sadarnya seseorang bahwa ia dapat mempercayai dirinya. Pengawasan lingkungan dan manupulasi diri yang merintangi diri atau mengganggu organisme-selfcontrol mengarah kepada patologi. Menurut perls, kecemasan merupakan kesenjangan antara sekarang dan kemudian. Kecemasan timbul karena individu meninggalkan jaminan masa sekarang dan disibukan oleh pemikiran-pemikiran tentang masa datang dan peranannya. Kesibukan ditimbulkan oleh gambaran tingkat ketakutan, bukan hanya gambaran kecemasan eksistensial. Tingkat ketakutan timbul akibat adanya banyangan akan terjadinya hal-hal yang buruk dalam peranan dan tingkah laku tertentu. Kesadaran bahwa kecemasan hanya merupakan suatu ketidak senangan dan bukan suatu bencana merupakan awal dari penyadaran akan dirinya. 1. Tujuan konseling terapi Gestalt Menurut teori ini tujuan konseling yaitu untuk membantu klien menjadi individu yang merdeka, berdiri sendiri. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan: a. Usaha membantu penyadaran klien-klien tentang apa yang dilakukan b. Membantu penyadaran tentang siapa-hambatan dirinya c. Membantu klien untuk menghilangkan hambatan dalam pengembangan peyadaran
9 2. Proses konseling Proses konsleing dalam terapi ini mengikuti lima hal yang penting sebagai berikut: a. Pemolaan (patterning). Pemolaan terjadi pada awal konseling yaitu situasi yang tercipta setelah konselor memperoleh fakta atau penjelasan mengenai sesuatu gejala, atau suatu permohonan bantuan, dan konselor segera memberi jawaban. Situasi wal ini diwarnai dengan emosisonal dan intuitif. Pola bantuan/teknik selalu sisesuaikan dengan keadaan masalah klien. b. Pengawasan (control). Control adalah tindakan konselorsetelah pemolaan. Control merupakan kemampuan konselor untuk meyakinkan atau memaksa konseli untuk mengikuti prosedur konseling yang telah disiapkan konselor yang meungkin mencakup variasi kondisi. Ada dua aspek penting dalam control yaitu: (1). Motivasi, (2) rapport. c. Potensi. Yaitu usaha konselor untuk mempercepat terjadinya peubahan perilaku dan sikap serta kepribadian. Hal ini bias bias terjadi dalam hubungan konseling yang bersifat terapeutik. Salah satu cara adalah mengintegrasikan penyadaran konseli secara keseluruhan. d. Kemanusiaan. Kemanusiaan mencakup hal-hal sebagai berikut: (1) Perhatian dan pengenalan konselor terhadap konseli secara pribadi dan emonisional. (2) Keinginan konselor untuk mendampingi dan mendorong konseli pada respon emosional dan menjelaskan pengalamannya. (3) Kemampuan konselor untuk memikirkan perkiraan ke arah kepercayaan konseli dan membutuhjan dorongan dan pengakuan, (4) Keterbukaan konselor yang kontinu sehingga merupakan modala bagi konseli untuk perubahan perilaku. e. Kepercayaan. Dalam konseling diperlukan kepercayaan, terrmasuk; (1) Perhatian dan pengenalan konselor terhadap diri sendiri dalam hal jabatan; (2) Kepercayaan konselor terhadap diri sendiri untuk menangani konseli secara individual;
10 (3) Kepercayaan diri untuk mengadakan penelitian dan pengembangan. Dalam hal ini dituntut kreativitas konselor dalam usaha membantu konsli dengan cara pengembangan teori yang ada. 3. Proses perubahan perilaku konseli a. Transisi. Yaitu keadaan konseli dari selalu ingin dibantu oleh lingkungan kepada keadaan berdiri sendiri. Artinya kepribadian tak sempurna, ada bagian yang hilang bagian yang hilang itu disebut pusat. Tanpa pusat berarti terapi berlangsung pada bagian-bagian yang pariferal sehingga tak suatu titik awal yang baik. b. Avoidance dan unfinished business. Yang termasuk kedalam unfinished business ialah emosi-emosi, peristiwa-peristiwa, pemikiran-pemikiran yang terlambat dikemukakan konslei. Avoidance adalah segala sesuatu yang digunakan konseli utnuk lari dari unfinished business. Bentuk unfinished business. Anatara lain phobia, escape, ingion mengganti konselor. c. Impasse.yaitu individu atau konseling yang bingung, kecewa, terlambat. d. Here and now. Yaitu penanganan kasus adalah disini dan masa kini. Konselor tidak menanyakan why karena hal itu akan menyebabkan konseli melakukan rasionalisasi dan tak akan menghasilkan pemahaman diri. 4. Proses dan fase konseling a. Fase I. Membentuk pola pertemuan terapeutik agar terjadi situasi yang memungkinkan perubahan perilaku konsli b. Fase II. Pengawasan, yaitu usaha konselor untuk meyakinkan konseli untuk mengikuti prosedur konsleing. c. Fase III. Mendorong konseli untuk mengungkapkan perasaan-perasaan dan kecemasanya. Di dalam fase ini diusahan untuk menemukan aspek-aspek kepribadian konseli yang hilang. d. Fase IV.(terakhir). Setelah terjadi pemahaman diri maka pada fase ini konseli harus sudah memilki kepribadian yang integral sebagai manusia individu yang unik.
11 BAB III INTERVENSI BIMBINGAN DAN KONSELING Kompler (1982) mendefinikan konseling keluarga dengan pendekatan Gestalt sebagai suatu model difokuskan pada saat sekarang ini (present moment) dan pada pengalaman keluarga yang dilakukannya didalam sesi-sesi konseling Gestalt memberikan perhatian kepada apa yang dikatakan anggota keluarga, bagaimana mereka mengatakannya, apa yang terjadi ketika mereka berkata itu, bagaimana ucapan-ucapannya jika dihubungkan dengan perbuatannya, dan apakah mereka berusaha untuk menyelesaikan perbuatannya. Melaui kehidupan atau perilaku yang sedang terjadi dalam konseling keluarga dijadikan ajang untuk berpartisipasi oleh anggota keluarga secara aktif ketimbang mereka hanya sebagai penonton dan komentator situasi keluarganya belaka. Maka seharusnya peduli terhadap apa dan bagaimana perilaku yang harus dilakukan terhadap situasi yang ada sekarang yang ada di keluarga mereka. Yang lebih ditekankan lagi ialah keterlibatan konselor dalam keluarga. Kempler bahkan beranggapan bahwa konseling keluarga eksperiensial sebenarnya adalah persoalan pribadi sebagai manusia bagi konselor itu, dan masalah teknik cenderung tak menjadi yang terpenting dalam sesi-sesi itu. Tidak ada alat atau skill, yang ada hanyalah hubungan orang dengan orang, manusia dengan manusia, karena hal itu yang penting bagi konselor adalah mendengarkan suara dan emosi mereka. Koselor melakukan perjumpaan dalam konseling keluarga sebagai partisipan penuh, sebagai sahabat, sebagai orang yang dipercaya dalam perjumpaan antar sesama. Karena itu kadang-kadang Kempler senang dengan style direktif dan konfrontatifnya, sebab hubungan mereka akrab. Konselor membawa kepribadian, reaksi dan pengalaman hidupnya kedalam perjumpaan konseling keluarga. Konselor akrab dengan mereka dan berusaha memahami dan merasakan isi hati mereka. Konseling yang jujur, asli (genuin) akan terjadi jika individu-individu yang terlibat di dalamnya giat berusaha untuk menempatkan diri sebagaimana adanya dan memehami orang lain sebagai mana adanya pula.
12 BAB IV KESIMPULAN Keluarga merupakan aset yang sangat penting, individu tidak bisa hidup sendirian, tanpa ada ikatan-ikatan dengan keluarga. Begitu menurut fitrahnya, menurut budayanya, dan begitulah perinntah Allah Swt. Keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap seluruh anggotanya, sebab selalu terjadi interaksi yang paling bermakna, paling berkenan dengan nilai yang sangat mendasar dna sangat intim (Djawad Dahlan Dahlan, dalam Jalaludin Rahmat dan Muhtar Gandaatmaja, dalam Syamsu Yusuf). Keluarga memiliki peranan ynag sangat penting dalam upaya mengembangkan kepribadian anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang, dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya, merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki,rasa anggota keluarga. Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek dan keinginan untuk menumbuhkembangkan anak yang dicintainya. Adakalanya perjalanan suatu keluarga tidak selalu berjalan dengan mulus, berbagai masalah dan gangguan silih berganti muncul. Maka untuk menciptakan keluarga sebagai lingkungan yang kondusif dan suasana sosiopsikologis keluarga yang bahagia diperlukan suatu upaya untuk membantu dan memfasilitasi keluarga dalam memecahakan berbagai masalah-masalah yang muncul. Bimbingan konseling keluarga merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalm membantu dan memfasilitasi keluarga dalam memecahkan masalah keluarga. Salah satu pendekatan yang dilakukan dlam bimbingan konseling keluarga adalah Terapi Gestalt, tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu klien menjadi individu yang merdeka, berdiri sendiri.
13 DAFTAR PUSTAKA Mohamad, Surya. (2003). Teor-Teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Willis, Sofyan. (1994). Konseling Keluarga. Bandung:IKIP. Willis, Sofyan. (2004). Konseling Individual Teori dan Parktek. Bandung :Alfabeta. Yusuf, Syamsu. (2004). Mental Hygiene. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konseling merupakan bagian dari bimbingan baik sebagai pelayanan maupun sebagai teknik. Konseling merupakan inti dari bagian bimbingan secara keseluruhan dan lebih
KONSEP DASAR. Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan.
KONSEP DASAR Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagianbagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya,
BAB II TEKNIK KONSELING DALAM TEORI GESTALT
BAB I PENDAHULUAN Konseling atau Terapi Gestalt dikembangkan dari sumber dan pengaruh tiga disiplin ilmu yang sangat berbeda, yaitu Psikoanalisis yang dikembangkan oleh Wilhelm Reih, Fenomenologi Eksistensialisme
Fenomenologi Intuitif Carl Rogers: Psikolog (Aliran Humanisme) D. Tiala (pengampu kuliah Psikoterapi dan Konseling Lintas Budaya)
Fenomenologi Intuitif Carl Rogers: Psikolog (Aliran Humanisme) D. Tiala (pengampu kuliah Psikoterapi dan Konseling Lintas Budaya) Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinios,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan yang bermutu adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
BAB I PENDAHULUAN. Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi masalah kesehatan mental. Jika sudah menjadi masalah kesehatan mental, stres begitu mengganggu
MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri)
MODUL PERKULIAHAN Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri) Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 03 MK61112 Aulia Kirana,
BAB II KAJIAN TEORITIS
5 2.1 Pengertian Perilaku BAB II KAJIAN TEORITIS Perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus dari luar oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya interaksi antara individu
DIPLOMA PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING. WPK1313 Psikolgi Pembelajaran
DIPLOMA PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING WPK1313 Psikolgi Pembelajaran Minggu 3 Pensyarah: Ustazah Dr Nek Mah Bte Batri PhD Pendidikan Agama Islam (UMM) PhD Fiqh Sains & Teknologi (UTM) Aplikasi dan penerapan
BAB I PENDAHULUAN. Seorang Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seorang Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di jalur pendidikan formal maupun informal. Oleh sebab itu, dalam setiap upaya peningkatan
APLIKASI KONSEP-KONSEP PSIKOANALAISIS DALAM KONSELING KELUARGA
APLIKASI KONSEP-KONSEP PSIKOANALAISIS DALAM KONSELING KELUARGA A. Pendekatan Psikoanalisis Aliran psikoanalisis dipelopori oleh Sigmund Freud pada tahun 1896. Dia mengemukakan bahwa struktur kejiwaan manusia
BAB V PENUTUP. Dalam pembahasan tentang pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Siswa Pelaku Bullying di Sekolah Al-Asyhar Sungonlegowo Bungah Gresik.
103 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Dalam pembahasan tentang pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam dengan Menggunakan Terapi Realitas untuk Menangani Pelaku Seorang Siswa Pelaku Bullying di Sekolah Al-Asyhar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Departemen Kesehatan (1988, dalam Effendy 1998)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dukungan Keluarga 1. Pengertian Keluarga Menurut Departemen Kesehatan (1988, dalam Effendy 1998) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
BAB I PENDAHULUAN. awal yaitu berkisar antara tahun. Santrock (2005) (dalam
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Usia sekolah menengah pertama pada umumnya berada pada usia remaja awal yaitu berkisar antara 12-15 tahun. Santrock (2005) (dalam http:// renika.bolgspot.com/perkembangan-remaja.html,
BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat tertentu, dan dengan tingkat yang berbeda-beda. Kecemasan merupakan salah satu bentuk emosi
BAB I PENDAHULUAN. anak-anak terus bekerja, dan daya serap anak-anak tentang dunia makin meningkat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia kognitif anak-anak ialah kreatif, bebas dan penuh imajinasi. Imajinasi anak-anak terus bekerja, dan daya serap anak-anak tentang dunia makin meningkat.
A. Identitas : Nissa (Nama Samaran)
A. Identitas Nama Umur Jenis kelamin Agama Pekerjaan Asal Sekolah Kelas : Nissa (Nama Samaran) : 18 tahun : Perempuan : Islam : Siswa : SMA Negeri 1 Sanden : XII Semester : 1 Alamat B. Deskripsi Kasus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Wangi Citrawargi, 2014
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Masa kanak-kanak, remaja, dewasa dan berlanjut menjadi orang tua merupakan proses yang dilalui oleh setiap manusia secara berkesinambungan dalam hidupnya.
Reality Therapy. William Glasser
Reality Therapy William Glasser 1. Latar Belakang Sejarah William Glasser lahir tahun 1925, mendapatkan pendidikan di Cleveland dan menyelesaikan sekolah dokter di Case Western Reserve University pada
BAB I PENDAHULUAN. lainnya khususnya di lingkungannya sendiri. Manusia dalam beraktivitas selalu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak terlepas dari manusia lainnya khususnya di lingkungannya sendiri. Manusia dalam beraktivitas selalu melibatkan orang
Rita Eka Izzaty Staf Pengajar FIP-BK-UNY
Rita Eka Izzaty Staf Pengajar FIP-BK-UNY 1. Definisi Permasalahan Perkembangan Perilaku Permasalahan perilaku anak adalah perilaku anak yang tidak adaptif, mengganggu, bersifat stabil yang menunjukkan
Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, identifikasi dan
BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, identifikasi dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, definisi operasional dan metode penelitian. A. Latar Belakang
BK KELOMPOK Diana Septi Purnama HUBUNGAN INTERPERSONAL
BK KELOMPOK Diana Septi Purnama Email: [email protected] HUBUNGAN INTERPERSONAL Pembelajaran intereprsonal adalah faktor terapeutik yang luas dan kompleks dalam analog konseling kelompok seperti
BAB I PENDAHULUAN. Ridwan, Penanganan Efektif Bimbingan Dan Konseling di Sekolah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998, hlm.9.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bidang pendidikan telah mengawali masuknya konseling untuk pertama kalinya ke Indonesia. Adaptasi konseling dengan ilmu pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kualitas
`BAB I PENDAHULUAN. mengalami kebingungan atau kekacauan (confusion). Suasana kebingunan ini
1 `BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Siswa sekolah menengah umumnya berusia antara 12 sampai 18/19 tahun, yang dilihat dari periode perkembangannya sedang mengalami masa remaja. Salzman (dalam
MODEL PEMBELAJARAN PBL ( PROBLEM BASED LEARNING)
MODEL PEMBELAJARAN PBL ( PROBLEM BASED LEARNING) MAKALAH INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS SEMINAR PENDIDIKAN DISUSUN OLEH KALAM SIDIK PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS
Psikologi Konseling Psychoanalysis Therapy and Person Center Therapy
Modul ke: Fakultas Psikologi Psikologi Konseling Psychoanalysis Therapy and Person Center Therapy Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Psychoanalysis Therapy
PRIBADI CARL ROGERS. Setelah mendapat gelar doktor dalam psikologi Rogers menjadi staf pada Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi
9 PRIBADI CARL ROGERS Carl Rogers adalah seorang psikolog yang terkenal dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered). Rogers kemudian menyusun teorinya dengan pengalamannya
BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya. Kehidupan menjadi lebih bermakna dan berarti dengan kehadiran
BAB I PENDAHULUAN. yakni tingginya angka korupsi, semakin bertambahnya jumlah pemakai narkoba,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini bukan hanya mengenai ekonomi, keamanan dan kesehatan, tetapi juga menurunnya kualitas sumber daya
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal
BAB I PENDAHULUAN. manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. tersebut dikaitkan dengan kedudukannya sebagai makhluk individu dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada hakikatnya manusia di ciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan di kodratkan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individual memiliki unsur
BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia lain dan senantiasa berusaha untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Hubungan antara individu
Siti Zahara Nasution, S.Kp, MNS 22/04/09
Siti Zahara Nasution, S.Kp, MNS 22/04/09 landasan filosofis landasan psikologis landasan sosial-budaya landasan ilmu pengetahuan dan teknologi Landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya
PROFIL PENYESUAIAN DIRI REMAJA YANG PUTUS SEKOLAH DENGAN TEMAN SEBAYA DI KAMPUNG KAYU GADANG KECAMATAN SUTERA KABUPATEN PESISIR SELATAN JURNAL
PROFIL PENYESUAIAN DIRI REMAJA YANG PUTUS SEKOLAH DENGAN TEMAN SEBAYA DI KAMPUNG KAYU GADANG KECAMATAN SUTERA KABUPATEN PESISIR SELATAN JURNAL Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
BAB II KAJIAN TEORI Pengertian Kecemasan Komunikasi Interpersonal. individu maupun kelompok. (Diah, 2010).
BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Kecemasan Komunikasi Interpersonal 2.1.1. Pengertian Kecemasan Komunikasi Interpersonal Burgoon dan Ruffner (1978) kecemasan komunikasi interpersonal adalah kondisi ketika individu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemudian dilanjutkan ke tahapan selanjutnya. Salah satu tahapan individu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan hidup manusia dialami dalam berbagai tahapan, yang dimulai dari masa kanak-kanak, remaja dan dewasa. Dalam setiap tahapan perkembangan terdapat
BAB I PENDAHULUAN. Keperawatan sebagai bagian intergral dari pelayanan kesehatan, ikut menentukan mutu dari pelayanan kesehatan.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ilmu keperawatan adalah suatu ilmu yang mempelajari pemenuhan kebutuhan dasar manusia mulai dari biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pemenuhan dasar tersebut
BAB II LANDASAN TEORI. dalam mengekspresikan perasaan, sikap, keinginan, hak, pendapat secara langsung,
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Perilaku Asertif Alberti & Emmons (1990) mendefinisikan bahwa perilaku asertif merupakan perilaku kompleks yang ditunjukan oleh seseorang dalam hubungan antar pribadi, dalam mengekspresikan
BABI PENDAHULUAN. Di negara maju, penyakit stroke pada umumnya merupakan penyebab
BAE~ I PENDAHULUAN BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakaog Masalah Di negara maju, penyakit stroke pada umumnya merupakan penyebab kematian nomor tiga pada kelompok usia lanjut, setelah penyakit jantung dan
BAB I PENDAHULUAN. hlm Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung : 2005, hlm.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Semakin baik pendidikan suatu bangsa, semakin baik pula kualitas bangsa, itulah asumsi secara umum terhadap program pendidikan suatu bangsa. Pendidikan menggambarkan
MODEL TERAPI KONSELING. Teori dan Praktek
MODEL TERAPI KONSELING Teori dan Praktek Ragam model terapi konseling Terapi Psikoanalitik / Freud, Jung, Adler Terapi Eksistensial humanistik / May, Maslow, Frank Jourard Terapi Client-Centered / Carl
BAB II TAHAP PERTENGAHAN KONSELING
BAB II TAHAP PERTENGAHAN KONSELING A. Keterampilan Konseling Kegiatan konseling tidak berjalan tanpa keterampilan. Untuk menguasai beragam keterampilan konseling diperlukan praktek yang terus menerus.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kasus penggunaan narkoba pada remaja sudah sering dijumpai di berbagai media. Maraknya remaja yang terlibat dalam masalah ini menunjukkan bahwa pada fase ini
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai aspek kehidupan terutama dalam bidang pendidikan. Terselenggaranya pendidikan yang efektif
Intervensi Kelompok (pengantar II) Danang Setyo Budi Baskoro, M.Psi
Intervensi Kelompok (pengantar II) Danang Setyo Budi Baskoro, M.Psi Konseling Kelompok Salah satu bentuk konseling dengan memanfaatkan kelompok untuk membantu, memberi umpan balik dan pengalaman belajar
BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia akan mengalami perkembangan sepanjang hidupnya, mulai dari masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal, dewasa menengah,
BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah masyarakat. Manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lain untuk memenuhi berbagai
Konseling merupakan inti kegiatan bimbingan secara keseluruhan yang berkenaan dengan pengentasan masalah dan fasilitasi perkembangan individu
Konsep Dasar Konseling Dr. Suherman, M.Pd. Universitas Pendidikan Indonesia Konseling merupakan inti kegiatan bimbingan secara keseluruhan yang berkenaan dengan pengentasan masalah dan fasilitasi perkembangan
Disusun Oleh : SARI INDAH ASTUTI F
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KESTABILAN EMOSI PADA PENDERITA PASCA STROKE DI RSUD UNDATA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak yang memberi dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah satunya adalah
PENGANIAYAAN TERHADAP ANAK DALAM KELUARGA
PENGANIAYAAN TERHADAP ANAK DALAM KELUARGA Oleh: Alva Nadia Makalah ini disampaikan pada Seminar Online Kharisma ke-3, dengan Tema: Kekerasan Pada Anak: Efek Psikis, Fisik, dan Tinjauan Agama Dunia Maya,
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dipandang mampu menjadi jembatan menuju kemajuan, dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan dipandang mampu menjadi jembatan menuju kemajuan, dan setiap anak di dunia ini berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak hanya anak normal saja
PENERAPAN MODEL KONSELING BEHAVIORISTIK UNTUK MENGATASI SISWA SERING TIDAK MASUK SEKOLAH KELAS X SMK NU LASEM REMBANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012
PENERAPAN MODEL KONSELING BEHAVIORISTIK UNTUK MENGATASI SISWA SERING TIDAK MASUK SEKOLAH KELAS X SMK NU LASEM REMBANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh NUR HANDAYANI NIM. 200831045 PROGRAM STUDI BIMBINGAN
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terutama karena berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi, terutama karena berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru. Emosi remaja sering
BAB I PENDAHULUAN. pembeda. Berguna untuk mengatur, mengurus dan memakmurkan bumi. sebagai pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik lagi.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Diciptakan dengan istimewa serta sempurna. Dengan memiliki akal pikiran dan hati yang dapat
Psikologi Konseling MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh 10
MODUL PERKULIAHAN Psikologi Konseling Problem Solving Counseling Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 10 MK 61033 Muhammad Ramadhan, M.Psi, Psikolog Abstract Modul
BAB I PENDAHULUAN. langsung, baik secara face to face maupun melalui media (telepon atau
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Konseling merupakan pelayanan terpenting dalam program bimbingan. Layanan ini memfasilitasi siswa untuk memperoleh bantuan pribadi secara langsung, baik secara
BAB I PENDAHULUAN. Konflik terjadi acap kali dimulai dari persoalan kejiwaan. Persoalan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Konflik terjadi acap kali dimulai dari persoalan kejiwaan. Persoalan kejiwaan itu terjadi karena tidak terkendalinya emosi dan perasaan dalam diri. Tidak
BAB I PENDAHULUAN. Ketrampilan sosial merupakan kemampuan individu untuk bergaul dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ketrampilan sosial merupakan kemampuan individu untuk bergaul dan menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku serta mampu mengatasi segala
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa teori akan dipaparkan dalam bab ini sebagai pendukung dari dasar
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Beberapa teori akan dipaparkan dalam bab ini sebagai pendukung dari dasar pelitian. Berikut adalah beberapa teori yang terkait sesuai dengan penelitian ini. 2.1 Anxiety (Kecemasan)
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan merupakan dasar bagi kemajuan dan kelangsungan hidup
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan dasar bagi kemajuan dan kelangsungan hidup individu. Melalui pendidikan, individu memperoleh informasi dan pengetahuan yang dapat dipergunakan
1. Bab II Landasan Teori
1. Bab II Landasan Teori 1.1. Teori Terkait 1.1.1. Definisi kecemasan Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.
5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
149 5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN Pada bab pendahuluan telah dijelaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran psychological well-being pada wanita dewasa muda yang menjadi istri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pola Asuh Orangtua Pola asuh orangtua merupakan interaksi antara anak dan orangtua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pengasuhan ini berarti orangtua mendidik, membimbing,
BAB I PENDAHULUAN. semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan jaman yang semakin maju menuntut masyarakat untuk semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah satu tujuan seseorang
2.1.2 Tipe-Tipe Kepemimpinan Menurut Hasibuan (2009: ) ada tiga tipe kepemimpinan masing-masing dengan ciri-cirinya, yaitu:
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepemimpinan 2.1.1 Pengertian Kepemimpinan Menurut Wukir (2013:134), kepemimpinan merupakan seni memotivasi dan mempengaruhi sekelompok orang untuk bertindak mencapai tujuan
BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Wanita merupakan individu yang memiliki keterbukaan dalam membagi permasalahan kehidupan maupun penilaian mereka mengenai sesuatu ataupun tentang orang lain.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan yang lainnya pasti membutuhkan kerjasama. Ketergantungan manusia satu dengan yang lain merupakan
PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Sub disiplin Psikologi Bidang terapan Psikologi
PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Pendekatan Biologi-saraf Pendekatan Perilaku Pendekatan Kognitif Pendekatan Psikoanalitik Pendekatan Phenomenologi Sub disiplin Psikologi
Teori dan Teknik Konseling. Nanang Erma Gunawan
Teori dan Teknik Konseling Nanang Erma Gunawan [email protected] Konselor memiliki daya terapeutik Diri konselor adalah sebagai instrumen Memiliki pengetahuan mengenai: - teori kepribadian dan psikoterapi
BAB I PENDAHULUAN. Keterlibatan Belajar Siswa, (Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011), 2
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sikap pasif siswa sering ditunjukan dalam sebuah proses belajar, hal ini terlihat dari perilaku siswa dalam sebuah proses belajar yang cenderung hanya berperan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berinteraksi dengan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Ketika seorang anak masuk dalam lingkungan sekolah, maka anak berperan sebagai
BAB I PENDAHULUAN. meninggal karena melahirkan bayinya (Nolan, 2010, hal. 135).
14 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan dan persalinan bukanlah suatu penyakit. Mempunyai bayi adalah kodrat wanita, dan selalu menjadi bagian hidup perempuan. Kebanyakan wanita menginginkan hal
I. PENDAHULUAN. luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Fenomena remaja yang terjadi di Indonesia khususnya belakangan ini terjadi penurunan atau degredasi moral. Dalam segala aspek moral, mulai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
BAB I PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi ini, kita sedang memasuki suatu abad baru yang banyak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi ini, kita sedang memasuki suatu abad baru yang banyak menimbulkan perubahan dan perkembangan, sekaligus menjadi tantangan. Tantangan akibat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan tidak dapat hidup sendiri tanpa pertolongan orang lain. Manusia membutuhkan kerjasama antara
BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Karyawan PT. INALUM. capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai
1 BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Karyawan PT. INALUM 1. Pengertian Karyawan Karyawan adalah sumber daya yang sangat penting dan sangat menentukan suksesnya perusahaan. Karyawan juga selalu disebut sebagai
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi. langsung oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perceraian merupakan kata yang umum dan tidak asing lagi di telinga masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi trend, karena untuk menemukan informasi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang yang menikah biasanya mempunyai rencana untuk memiliki keturunan atau anak. Selain dianggap sebagai pelengkap kebahagiaan dari suatu pernikahan, anak dianggap
BAB IX DEFINISI, LANDASAN, DAN PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING. bimbingan dan konseling, landasan-landasan bimbingan dan konseling, serta
Profesi Keguruan Rulam Ahmadi BAB IX DEFINISI, LANDASAN, DAN PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING A. Kompetensi Dasar Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan memahami definisi bimbingan dan konseling,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep koping 1.1. Pengertian mekanisme koping Koping adalah upaya yang dilakukan oleh individu untuk mengatasi situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan, ancaman, luka, dan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Organisasi merupakan sebuah wadah berkumpulnya orang-orang yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Organisasi merupakan sebuah wadah berkumpulnya orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengan harapan dapat mewujudkan tujuan tersebut. Tercapai atau tidaknya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa anak dan masa ke dewasa, dimulai dari pubertas yang ditandai dengan perubahan yang pesat dalam berbagai
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai dari usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN Bagian pendahuluan merupakan pemaparan mengenai dasar dilakukannya penelitian, yaitu terdiri dari latar belakang penelitian, identifikasi dan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari, dan lain-lain. Setiap tugas dipelajari secara optimal pada waktu-waktu tertentu
Pengertian Bimbingan dan Konseling? Bimbingan dan Konseling adalah bantuan yang diberikan oleh guru pembimbing kepada semua siswa baik secara perorang
Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dr. Suherman, M.Pd. Universitas Pendidikan Indonesia Pengertian Bimbingan dan Konseling? Bimbingan dan Konseling adalah bantuan yang diberikan oleh guru pembimbing kepada
PERSPEKTIF DAN MAKNA PENDEKATAN KONSELING
PERSPEKTIF DAN MAKNA PENDEKATAN KONSELING Esensi Konseling Suatu proses hubungan untuk membantu orang lain, yang terbangun dalam suatu hubungan tatap muka antara dua orang individu (klien yang menghadapi
BAB 1 PENDAHULUAN. dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing anak didik. Untuk
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Balakang Masalah Tujuan dari pendidikan adalah perkembangan kepribadian secara optimal dari anak didik. Dengan demikian setiap proses pendidikan harus diarahkan pada tercapainya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan dapat bertahan hidup sendiri.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan dapat bertahan hidup sendiri. Interaksi dengan lingkungan senantiasa dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN. Konseling merupakan salah satu aktivitas layanan yang penting dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Konseling merupakan salah satu aktivitas layanan yang penting dalam keseluruhan pemberian layanan bimbingan dan konseling di sekolah.counseling is the heart
BAB IV ANALISIS DATA
116 BAB IV ANALISIS DATA A. Analisis Proses Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam dengan Teknik Permainan Dialog untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa MI Ma arif NU Pucang Sidoarjo Dalam bahasan
