BLOK EMERGENCY MEDICINE
|
|
|
- Farida Sanjaya
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 MODUL KETERAMPILAN KLINIK BLOK EMERGENCY MEDICINE PENYUSUN : Adril Arsyad Hakim Emir Taris Pasaribu Ronald Sitohang Soejat Harto M. Rusda Cut Aria Arina M.Fidel Ganis Siregar Hasanul Arifin Halomoan H Almaycano Ginting Hidayat S Yoan Carolina P Achsanuddin Hanafie Munar Lubis Bugis Mardina FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2 MODUL KETERAMPILAN KLINIK BLOK EMERGENCY MEDICINE I. PENDAHULUAN Sesuai dengan pemetaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi FK USU, kegiatan keterampilan klinik untuk mahasiswa semester VI dilaksanakan pada blok Brain and Mind System dan Emergency Medicine. Salah satu keterampilan klinik yang menjadi kompetensi seorang dokter sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) adalah keterampilan klinik yang akan diajarkan pada blok Emergency Medicine ini. Kepada mahasiswa semester 6 akan diajarkan 13 jenis ketrampilan klinik pada blok Emergency Medicine ini. Keterampilan klinik yang akan diajarkan pada mahasiswa adalah keterampilan untuk melakukan : 1. Aplikasi Sistem ABCD pada Primary Survey penderita trauma 2. Airway Management 3. Asuhan bayi baru lahir normal + APGAR Score 4. Glasgow Coma Scale (GCS) 5. Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO) I 6. Perawatan dan penanganan neonatus dan asfiksia 7. Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO) II 8. Resusitasi Cairan Dewasa 9. Resusitasi Jantung paru pada anak 10. Transport pasien dan pemasangan Collar Brace (CB) 11. Resusitasi Cairan pada anak 12. Anafilaktik shock dan Cricothyroidotomi 13. Heimlich Maneuver pada bayi, anak dan dewasa II. TUJUAN II.1 TUJUAN UMUM Setelah mengikuti keterampilan klinik pada blok Emergency Medicine ini, mahasiswa dapat terampil melakukan penilaian aplikasi system Primary Survey ABCD pada pasien trauma, airway management, perawatan dan penanganan neonatus asfiksia, Glasgow Coma Scale (GCS), Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO), resusitasi cairan pada anak dan dewasa, asuhan bayi baru lahir normal dan APGAR Score, resusitasi jantung paru pada anak, trasnportasi pasien dan pemasangan Collar Brace, Anafilaktik Shock dan Cricotyrotomy, heimlich maneuver pada bayi, anak dan dewasa. 2
3 II.2. TUJUAN KHUSUS 2.1. Mahasiswa mampu melakukan aplikasi primeary survey ABCD pada pasien trauma 2.2. Mahasiswa mampu melakukan airway management 2.3. Mahasiswa mampu melakukan asuhan bayi baru lahir normal + APGAR Score 2.4. Mahasiswa mampu melakukan penilaian Glasgow Coma Scale (GCS) 2.5. Mahasiswa mampu melakukan resusitasi jantung paru otak I 2.6. Mahasiswa mampu melakukan perawatan dan penanganan neonatus asfiksia 2.7 Mahasiswa mampu melakukan resusitasi cairan pada orang dewasa 2.8. Mahasiswa mampu melakukan resusitasi jantung paru pada anak 2.9. Mahasiswa mampu melakukan resusitasi cairan pada anak Mahasiswa mampu melakukan trasnportasi pasien dan pemasangan collar brace (CB) Mahasiswa mampu melakukan penanganan anafilaktik shock dan cricotirodotomy Mahasiswa mampu melakukan heimlich maneuver pada bayi, anak dan dewasa 3
4 SL. EM. VI. 1 KETERAMPILAN KLINIK APLIKASI SYSTEM PRIMARY SURVEY ABCD PADA PASIEN TRAUMA Ronald sitohang I. PENDAHULUAN Primary Survey adalah tindakan penilaian pertama yang dilakukan secara cepat dan sistematis pada penderita trauma berat. Penilaian ini dimaksudkan untuk dapat dengan segera mengenal keadaan-keadaan yang mengancam nyawa (life threatening) dan sekaligus mengatasi / meresusitasinya pada saat itu juga. Penilaian selalu berpedoman pada tanda-tanda vital, jenis trauma dan mekanisme cedera. Untuk itu diperkenalkan sistem ABCD trauma yang disusun berdasarkan urutan hal-hal yang paling mungkin menyebabkan kematian dalam waktu yang lebih cepat sebagai berikut : A : Airway dengan proteksi servikal B : Breathing dan ventilasi C : Circulation dengan kontrol perdarahan D : Disability : status neurologi E : Exposure dengan pencegahan hipotermia Di dalam pelaksanaannya, survey dan resusitasi dilaksanakan secara serentak (simultan) tergantung pada jumlah tenaga medis yang tersedia. Misalnya, kontrol perdarahan eksternal dapat dilakukan secara langsung tanpa harus menunggu survey sampai ke tahap C. Urutan ABCDE ini hanya untuk memudahkan mengingat agar tidak ada hal yang terlupakan. Pada skills lab ini diperlukan aplikasi secara holistik dan terintegrasi dari beberapa keterampilan yang telah diajarkan pada skills lab sebelumnya seperti pencucian tangan, pemasangan IV line, bandaging, spilinting, pemasangan kateter, air way management, pemasangan kollar servikal, dll di samping beberapa keterampilan baru yang akan diajarkan pada skills lab ini dalam satu kesatuan yang utuh. II. TUJUAN KEGIATAN II.1 TUJUAN UMUM Dengan mengikuti kegiatan skills lab pada Blok Emergensi Medicine ini mahasiswa diharapkan dapat mengenal dan mampu menatalaksana keadaan gawat darurat secara baik dan benar. II.2 TUJUAN KHUSUS Mahasiswa mampu melakukan tindakan primary survey dan resusitasi pada penderita trauma/ cedera berat dengan penerapan sistem ABCD. a. Mampu melakukan penilaian & penanganan gangguan airway b. Mampu melakukan penilaian & penanganan gangguan breathing. c. Mampu melakukan penilaian & penanganan gangguan circulation d. Mampu melakukan penilaian disability e. Mampu melakukan penilaian exposure 4
5 III. RANCANGAN ACARA PEMBELAJARAN Waktu Aktivitas belajar mengajar (menit) 20 menit Introduksi pada kelas besar (terdiri dari 45 mahasiswa) 10 menit Narasumber mendemonstrasikan aplikasi system ABCD pada primary survey pasien trauma. 10 menit Mahasiswa dibagi menjadi 5 kelompok kecil (1 kelompok terdiri dari 9 mahasiswa). Tiap kelompok kecil memiliki 1 instruktur. Keterangan Nara sumber Nara sumber Instruktur Instruktur mendemonstrasikan aplikasi system ABCD pada primary survey pasien trauma 20 menit Coaching : mahasiswa melakukan secara bergantian (2-3 orang) tindakan sesuai kasus dengan dibimbing oleh instruktur 90 menit Self practice : mahasiswa melakukan sendiri tindakan sesuai kasus secara bergantian, sehingga total waktu yang dibutuhkan ± 90 menit (tergantung jumlah mahasiswa) Instruktur dan mahasiswa Instruktur dan mahasiswa IV. PEDOMAN INSTRUKTUR IV.1.PELAKSANAAN 1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok besar 45 mahasiswa dan kecil 9 orang.kelompok besar dipimpin nara sumber dan kelompok kecil dipimpin instruktur. 2. Cara pelaksanaan kegiatan: Instruktur melakukan choacing selama menit, beberapa mahasiswa melakukan pemeriksaan simulasi dibimbing instruktur dan peserta lain dapat melakukan pengamatan. Menggunakan manikin Ditunjuk seorang mahasiswa untuk melakukan airway management. Mahasiswa lainnya bertugas sebagai pengamat. Setiap mahasiswa harus mendapat kesempatan melakukan. 3. Waktu pelaksanaan - Setiap kegiatan skills lab dilaksanakan selama 150 menit. - Disesuaikan dengan jadwal mahasiswa semester VI. 4. Tempat pelaksanaan Ruang skills lab lantai 3 V. SARANA DAN ALAT YANG DIPERLUKAN 1. Alat-alat proteksi diri ( sarung tangan, masker, topi, dll) 2. Manikin dan Skenario 3. Tempat tidur pasien 4. Orofaringeal Tube (Guedel/Mayo) 5. Nasofaringeal Tube 6. Infus set 7. IV Cath No Masker Oksigen (Face Mask) 9. Oksigen 5
6 10. Kain kassa 11. Plester 1 inchi 12. Suction / spuit 50 cc 13. Cairan Ringer lactated (RL) 14. Stetoskop 15. Tensimeter 16. Senter 17. Perban elastis 4 inchi 18. Kollar servikal VI. RUJUKAN 1. ATLS for Doctors (ACS Committee on Trauma) 2. TRAUMA ( David V. Feliciano) 3. Buku Ajar Ilmu Bedah (R. Syamsuhidayat & Wim de Jong) VII. APLIKASI SISTEM ABCD PADA PRIMARY SURVEY PASIEN TRAUMA Skenario Pasien : Laki-laki 25 tahun terjatuh dari ketinggian 4 meter (lantai 2) dengan posisi dada kanan tertusuk besi pagar setentang ICR-IV. Paha kanan luka berdarah dengan tulang yang menonjol keluar Kesadaran menurun, TD 60/40 mmhg, RR 40 x/menit, Pols 110 x/menit. (Data-data lainnya yang dianggap perlu dapat ditanyakan pada instruktur). Data-data tambahan : Ujung-ujung jari dingin dan pucat, Haemotoma (+) di daerah oksipitalis, Pupil anisokor dengan refleks cahaya positif. Pada toraks kanan : Inspeksi : pernafasan tertinggal, luka (+), Palpasi : stem fremitus menurun, Perkusi : hipersonor, Auskultasi : suara pernafasan melemah. Respon terhadap verbal dan pain tidak ada A : Airway dengan proteksi servikal (Memerlukan bantuan seorang asisten) 1. Penilaian : a. Menilai patensi jalan nafas (dapat mengeluarkan suara berarti jalan nafas clear). b. Mengenal tanda-tanda obstruksi jalan nafas : benda asing di mulut, fraktur wajah, mandibula atau trakea. 2. Penanganan / Resusitasi : a. Proteksi servikal dengan in- line immobilization / kollar servikal : Cara in-line immobilization : asisten berdiri di arah puncak kepala penderita sambil menjepit kepala penderita dengan kedua lengan bawahnya sedangkan masing-masing tangan memegang bahu penderita dengan ibu jari mengarah ke atas. b. Pada penderita dengan gangguan kesadaran, jalan nafas dipertahankan dengan : Chin lift /Jaw thrust. c. Benda asing dan cairan di mulut dikeluarkan dengan suction. d. Melakukan pemasangan orofaringeal tube. e. Mengalihkan In-line immobilization ke kollar servikal : penderita dalam posisi in-line immobilization lalu ujung kollar servikal dimasukkan ke bawah leher dari sisi kiri lalu kedua tangan asisten dipindahkan ke lateral kepala kemudian kollar servikal dibelitkan hingga menopang dagu dan dikancingkan. 6
7 B : Breathing dan Ventilasi 1. Penilaian : a. Melakukan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi toraks b. Mengenal Tension Pneumotoraks, Massive Haemotoraks dan Open Pneumotoraks. Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi 1. Tension ICR flat Stem fremitus Hipersonor Suara pernafasan Pneumotoraks 2. Massive Haemotoraks ICR flat Stem fremitus Beda Suara pernafasan 3.Open Pneumo toraks Normal Stem fremitus Hipersonor Suara pernafasan 2. Penanganan / Resusitasi a. Memberi oksigen dengan kecepatan liter / menit b. Tension Pneumotoraks : Needle Insertion (IV Cath No. 14) di ICR II- Linea midclavicularis. c. Massive Haemotoraks :Pemasangan Chest Tube (tidak termasuk dalam kompetensi) d. Open Pneumotorak : Luka ditutup dengan kain kasa yang diplester pada tiga sisi ( flutter-type valveefect). C. Circulation dengan Kontrol Perdarahan. 1. Penilaian : a. Mengenal adanya perdarahan eksternal b. Menilai status haemodinamik : tingkat kesadaran, warna kulit dan pols. 2. Penanganan/ Resusitasi : a. Bila ada perdarahan eksternal lakukan penekanan pada sumber perdarahan secara manual atau dengan perban elastis. b. Memasang 2 IV line untuk pemberian larutan RL hangat sebanyak 2 L sesegera mungkin. c. Memasang indwelling kateter untuk monitoring produksi urine bila tidak ada kontraindikasi. D : Disability : Status Neurologis Penilaian : a. Memeriksa diameter dan refleks cahaya pupil b. Menilai tingkat kesadaran dengan metode AVPU A : Alert V : Respon to Verbal P : Respon to Pain (dengan penekanan pada nail bed) U : Unrespon E : Exposure dengan pencegahan Hipotermia Penilaian a. Membuka semua pakaian penderita b. Melihat kelainan pada semua bagian tubuh c. Memasang selimut dan mematikan AC 7
8 VIII. LEMBAR PENGAMATAN LANGKAH/TUGAS PENGAMATAN 1. Mempersiapkan sarana dan alat 2. Melakukan proteksi diri A : Airway dengan proteksi servikal Ya Tidak 3. Menilai patensi jalan nafas 4. Mencari tanda-tanda obstruksi jalan nafas 5. Melakukan in-line immobilization 6. Melakukan Chin Lift/ Jaw thrust 7. Melakukan suction rongga mulut 8. Memasang orofaringeal tube 9. Memasang kolar servikal dan akhiri in-line immob. B : Breathing dan Ventilasi 10. Melakukan inspeksi toraks 11. Melakukan palpasi toraks 12. Melakukan perkusi toraks 13. Melakukan auskultasi toraks 14. Menentukan kelainan pada toraks/diagnosa 15. Menutup luka dengan kain kasa plester 3 sisi C. Circulation dengan Kontrol Perdarahan 16. Mengenal adanya perdarahan eksternal 17. Menilai warna kulit dan pols 18. Memasang perban elastis pada sumber perdarahan 19. Memasang IV line 20. Memberi cairan RL hangat 21. Memasang kateter urine D : Disability : Status Neurologis 22. Memeriksa diameter dan reflek cahaya pupil 23. Menilai tingkat kesadaran (AVPU) E : Exposure dengan pencegahan Hipotermia 24. Membuka semua pakaian penderita 25. Melihat kelainan pada semua bagian tubuh 26. Memasang selimut dan mematikan AC Note : Ya = Mahasiswa melakukan Tidak = Mahasiswa tidak melakukan 8
9 I. PENDAHULUAN SL. EM. VI. 2 KETERAMPILAN KLINIK AIRWAY MANAGEMENT Hasanul Arifin Tindakan keterampilan airway management merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap calon dokter.. Kegawatan nafas berupa obstuksi jalan nafas total atau henti nafas, bila tidak dilakukan pertolongan dalam waktu 3-5 menit akan mengakibatkan kematian. Pada kasus cedera kepala dengan menurunnya kesadaran, jatuhnya pangkal lidah akan menyebabkan obstruksi jalan nafas berupa gangguan pengambilan oksigen dan pembuangan gas CO2 yang dapat menyebabkan perburukan pada otak yang sudah cedera Pertolongan dapat dilakukan dengan tindakan airway management yang benar. Tindakan airway management dapat dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat bantu. II. TUJUAN KEGIATAN II.1 TUJUAN UMUM Dengan mengikuti kegiatan skill lab ini,diharapkan mahasiswa dapat melakukan tindakan airway management dengan benar. II.2 TUJUAN KHUSUS Dengan mengikuti kegiatan skill lab ini, diharapkan mahasiswa mampu : 1. Melakukan airway management tanpa alat 2. Melakukan airway management dengan alat : Oropharyng airway, Nasopharyng airway Face Mask III. RANCANGAN ACARA PEMBELAJARAN Waktu Aktifitas Belajar Mengajar Keterangan 20 menit Introduksi pada kelas besar oleh narasumber Penjelasan narasumber tentang air way management (10 menit) Tanya jawab singkat hal yang belum jelas dari penjelasan yang diputar (10 menit) Narasumber 10 menit Demonstrasi pada kelas besar oleh narasumber Narasumber memperlihatkan cara melakukan airway management secara bertahap dengan baik dan benar. 10 menit Mahasiswa dibagi menjadi 5 kelompok kecil (1 kelompok terdiri dari 9 mahasiswa). Instruktur memperlihatkan cara melakukan airway management secara bertahap dengan baik dan benar. Narasumber Instruktur 9
10 20 menit Coaching - Mahasiswa melakukan simulasi secara bergantian (2 orang mahasiswa) dengan dibimbing oleh instruktur. Instruktur Mahasiswa 90 menit Self practice : Mahasiswa melakukan airway management dengan baik dan benar Instruktur memberikan penilaian pada lembar pengamatan. Mahasiswa Instruktur IV.PEDOMAN INSTRUKTUR IV.1 PELAKSANAAN 1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil yang terdiri 9 orang 2. Diskusi dipimpin oleh seorang instruktur yang telah ditetapkan 3. Cara pelaksanaan kegiatan : Instruktur melakukan coaching selama 10 menit dan mahasiswa memperhatikan dan diberikan kesempatan bertanya Coaching : Mahasiswa melakukan tindakan airway management dengan bimbingan Mahasiswa lain sebagai pengamat Self practice : setiap mahasiswa harus mampu mendapat kesempatan melakukan airway management. 4. Tempat Pelaksanaan Ruang skill lab FK USU V. ALAT DAN SARANA 1. Orofaringeal tube / Goedel 2. Nasofaringeal tube 3. Ambu bag + face mask 4. Laryngoscope 5. ETT 6. Sumber O2 + kateter (slang oksigen) VI. TEKNIK AIRWAY MANAGEMENT 1. AIRWAY MANAGEMENT TANPA ALAT Head tilt Chin-lift Jaw thrust 10
11 HEAD TILT Pengertian : Membebaskan jalan nafas dari obstruksi pangkal lidah yang terjatuh dengan cara mendorong kening pasien kebelakang dengan tangan kiri penolong, sehingga posisi kepala sekidit ekstensi. Posisi : Penolong berada disamping kanan pasien Tehnik : Telapak tangan menekan kening pasien ke arah belakang (ekstensi) CHIN LIFT Pengertian : membebaskan jalan nafas dari obstruksi pangkal lidah yang terjatuh dengan mengangkat dagu (chin-lift) Posisi : Penolong berada disamping kanan pasien Tehnik : Jari telunjuk dan tengah penolong mengangkat dagu pasien keatas tegak lurus Pada saat melakukan pembebasan jalan nafas akibat obstruksi, kedua tindakan diatas biasanya dilakukan bersama (serentak) head tilt chin lift. JAW THRUST : Pengertian : Membebaskan jalan nafas dari obstruksi pangkal lidah yang terjatuh dengan mengangkat mandibula (corpus dan angulus mandibula) Posisi : Penolong berada di atas kepala pasien Tehnik : Dengan dua tangan pada mandibula, 2 jari pada angulus mandibula (jari kelingking dan manis), 2 jari pada ramus mandibula (jari tengah dan telunjuk ). Ibu jari pada mentum mandibula. Kemudian mandibula diangkat ke atas melewati molar pada maxilla. Head Tilt tidak boleh dilakukan pada pasien-pasien dengan maupun yang dicurigai adanya cedera tulang leher. 11
12 CHIN LIFT JAW THRUST HEAD TILT Pastikan bahwa manuver pembebasan jalan nafas berhasil dengan melakukan pemeriksaan Look, Listen & Feel. Look : Melihat pergerakan dada pasien. Apakah ada gerakan dada naik turun. Listen : Mendengar suara pernafasan pasien Feel : Merasakan hembusan nafas pasien pada pipi penolong 12
13 2. AIRWAY MANAGEMENT DENGAN ALAT OROPHARYNG AIRWAY 1. Posisikan kepala pasien lurus dengan tubuh. 2. Pilihlah ukuran pipa oro-faring yang sesuai dengan pasien. Hal ini dilakukan dengan cara menyesuaikan ukuran pipa oro-faring dari tragus (anak-telinga) sampai ke sudut bibir. 3. Masukkan pipa oro-faring dengan cara dibawah ini. a. Pegang pangkal pipa oro-faring dengan tangan kanan, lengkungannya menghadap keatas ( arah terbalik), lalu masukkan kedalam rongga mulut. b. Setelah ujung pipa mengenai palatum durum, putar pipa kearah kanan c. Kemudian dorong pipa dengan cara melakukan jaw-thrust dan kedua ibu jari tangan menekan sambil mendorong pangkal pipa oro-faring dengan hati hati sampai bagian yang keras berada diantara gigi atas dan bawah. NB. Jika terjadi reflek cegukan atau batuk, berarti ukuran pipa kebesaran, cabut pipa segera dan dan ganti pipa dengan ukuran yang tepat ( ukur kembali), lakukan prosedur ulang. 4. Periksa dan pastikan jalan nafas bebas ( lihat, rasa, dengar). 5. Fiksasi pipa oro-faring dengan cara memplester pinggir atas dan bawah pangkal pipa, rekatkan plester sampai ke pipi pasien. NASOPHARYNG AIRWAY 1. Posisikan kepala pasien lurus dengan tubuh. 2. Pipa nasofaryng diberi pelicin dengan KY jelly (gunakan kasa yang sdh diberi KY jelly) 3. Pilihlah ukuran pipa naso-faring yang sesuai dengan pasien. Hal ini dilakukan dengan cara menyesuaikan ukuran pipa oro-faring dari lobang hidung sampai tragus (anak-telinga). 4. Masukkan pipa naso-faring dengan cara dibawah ini : a. Pegang pangkal pipa naso-faring dengan tangan kanan, lengkungannya menghadap kearah mulut ( kebawah). b. Masukkan kedalam rongga hidung dengan perlahan sampai batas pangkal pipa. 5. Pastikan jalan nafas sudah bebas ( lihat, dengar, rasa) Oropharyng airway Nasopharyng airway 13
14 FACE-MASK ( Sungkup Muka) 1. Posisikan kepala lurus dengan tubuh. 2. Pilihlah ukuran sungkup-muka yang sesuai ( ukuran yang sesuai bila sungkup muka dapat menutup hidung dan mulut pasien, tidak ada kebocoran) 3. Letakkan sungkup muka ( bagian yang lebar dibagian mulut) 4. Jari kelingking tangan kiri penolong diposisikan pada angulus mandibula, jari manis dan tengah memegang ramus mandibula, ibu jari dan telunjuk memegang dan memfiksasi sungkup muka. 5. Gerakkan tangan kiri penolong untuk mengekstensikan sedikit kepala pasien 6. Pastikan tidak ada kebocoran dari sungkup muka yang sudah dipasangkan. 7. Bila kesulitan, gunakan dengan kedua tangan bersama sama. (tangan kanan dan kiri memegang mandibula dan sungkup muka bersama sama) 8. Pastikan jalan nafas bebas ( lihat, dengar, rasa) 9. Bila yang digunakan AMBU-BAG, maka tangan kiri memfiksasi sungkup muka, sementara tangan kanan digunakan untuk memegang bag (kantong) reservoir sekaligus pompa nafas bantu (squeeze-bag) INTUBASI OROTRAKHEAL 1. Posisikan kepala pasien lurus dengan tubuh 2. Pilih laringoskop dengan dengan blade bengkok 3. Pegang handle laringoskop dengan tangan kiri. 4. Pastikan cahaya lampu laringosokop cukup terang 5. Buka mulut pasien dan masukkan blade dari sudut kanan mulut 6. Geser lidah kearah kiri sambil meneruskan masuk blade ke dalam rongga mulut menelusuri pinggir kanan lidah menuju laring, perhatikan sampai tampak epiglotis. 7. Tempatkan ujung blade pada valeculla 8. Angkat epiglottis dengan ujung blade kedepan (tidak diungkit). 9. Bila epiglottis terangkat dengan baik akan tampak rima glottis, dan tampak pita suara warna putih, bentuk V terbalik 10. Masukkan dengan hati hati pipa endotrakeal ke dalam trakea melalui rima glottis dengan tangan kanan. 11. Tempatkan ujung pipa endotrakeal kira kira 3cm diatas carina (tidak masuk bronkus). 12. Tarik keluar laryngoskop perlahan dengan mengikuti lengkung blade. 13. Isi cuff pipa oro trakhea secukupnya ( sampai tidak ada kebocoran waktu dilakukan pompaan kantong (bag) reservoir) 14. Beri nafas bantu dengan bag (squeeze-bag), sambil auskultasi suara napas paru kanan dan kiri. Posisikan pipa orotrakhea sampai suara nafas paru kanan dan kiri sama. 15. Lakukan fiksasi dengan plester menyilang. 16. Kendala saat insersi pipa endotrakeal adalah, kesulitan mengekspose rima glottis dengan jelas dan lengkung pipa endotrakeal yang tidak selalu sesuai. 14
15 VII. RUJUKAN Clinical Anesthesiology GE Morgan, Jr. 4 th ed 2006 Modul Anestesiologi dan Reanimasi 2008 VIII. LEMBAR PENGAMATAN AIRWAY MANAGEMENT No LANGKAH/TUGAS 1. Melakukan Head tilt Penolong berada pada samping kanan kepala pasien Telapak tangan menekan kening pasien ke arah belakang (ekstensi) PENGAMATAN YA TIDAK 2. Melakukan angkat dagu (chin lift) Penolong berada pada samping kanan kepala pasien Jari telunjuk dan jari tengah mengangkat dagu pasien keatas tegak lurus 3. Melakukan Jaw Thrust Penolong berada disebelah atas kepala pasien dua tangan pada mandibula, jari kelingking dan manis kanan dan kiri pada angulus mandibula jari tengah dan telunjuk kanan dan kiri pada ramus mandibula. Ibu jari kanan dan kiri pada mentum mandibula Mandibula diangkat ke atas melewati molar pada maxilla. 4. Melakukan pemasangan pipa oro-faring Posisikan kepala pasien lurus dengan tubuh. Pilihlah ukuran pipa oro-faring yang sesuai dengan pasien. Hal ini dilakukan dengan cara menyesuaikan ukuran pipa oro-faring dari tragus (anak-telinga) sampai ke sudut bibir. Masukkan pipa oro-faring dengan cara dibawah ini. o Pegang pangkal pipa oro-faring dengan tangan kanan, lengkungannya menghadap keatas ( arah terbalik), lalu masukkan kedalam rongga mulut. o Setelah ujung pipa mengenai palatum durum, putar pipa kearah kanan o Kemudian dorong pipa dengan cara melakukan jaw-thrust dan kedua ibu jari tangan menekan sambil mendorong pangkal pipa oro-faring dengan hati hati sampai bagian yang keras dari pipa orofaring berada diantara gigi atas dan bawah. Periksa dan pastikan jalan nafas bebas ( lihat, rasa, dengar). Fiksasi pipa oro-faring dengan cara memplester pinggir atas dan bawah pangkal pipa, rekatkan plester sampai ke pipi pasien. 15
16 5. Melakukan pemasangan pipa naso-faring Posisikan kepala pasien lurus dengan tubuh. Pipa nasofaryng diberi pelicin dengan KY jelly (gunakan kasa yang sdh diberi KY jelly) Pilihlah ukuran pipa naso-faring yang sesuai dengan pasien. Hal ini dilakukan dengan cara menyesuaikan ukuran pipa oro-faring dari lobang hidung sampai tragus (anak-telinga). Masukkan pipa naso-faring dengan cara dibawah ini : Pegang pangkal pipa naso-faring dengan tangan kanan, lengkungannya menghadap kearah mulut ( kebawah). Masukkan kedalam rongga hidung dengan perlahan sampai batas pangkal pipa. Pastikan jalan nafas sudah bebas ( lihat, dengar, rasa) 6. Melakukan pemasangan Face Mask Posisikan kepala lurus dengan tubuh. Pilihlah ukuran sungkup-muka yang sesuai ( ukuran yang sesuai bila sungkup muka dapat menutup hidung dan mulut pasien, tidak ada kebocoran) Letakkan sungkup muka ( bagian yang lebar dibagian mulut) Jari kelingking tangan kiri penolong diposisikan pada angulus mandibula, jari manis dan tengah memegang ramus mandibula, ibu jari dan telunjuk memegang dan memfiksasi sungkup muka. Gerakkan tangan kiri penolong untuk mengekstensikan sedikit kepala pasien Pastikan tidak ada kebocoran dari sungkup muka yang sudah dipasangkan. Bila kesulitan, gunakan dengan kedua tangan bersama sama. (tangan kanan dan kiri memegang mandibula dan sungkup muka bersama sama) Pastikan jalan nafas bebas ( lihat, dengar, rasa) Bila yang digunakan AMBU-BAG, maka tangan kiri memfiksasi sungkup muka, sementara tangan kanan digunakan untuk memegang bag (kantong) reservoir sekaligus pompa nafas bantu (squeeze-bag) 16
17 SL. EM. VI. 3 KETERAMPILAN KLINIK ASUHAN BAYI BARU LAHIR NORMAL + APGAR SCORE I. PENDAHULUAN Awal kehidupan bayi baru lahir merupakan saat yang kritis dimana bayi perlu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan hidupnya yang baru. Tenaga kesehatan perlu kompeten dalam melakukan asuhan segera setelah lahir, sejak menit-menit pertama dilahirkan dan dalam 1 jam pertama kelahiran untuk memberikan dukungan kepada ibu agar dapat menyusui secara dini. A. Penilaian bayi baru lahir 1,2 Penilaian bayi baru lahir (BBL) sudah dimulai sejak awal kelahirannya. Bila bayi cukup bulan, air ketuban jernih, segera menangis, bernapas spontan dan teratur, serta tonus otot baik maka keputusan adalah bayi diberikan Asuhan Bayi Baru Lahir Normal. Lakukan penilaian dengan menghadapkan bayi kepada penolong di atas perut ibu yang sudah dilapisi kain/handuk dengan posisi kepala lebih rendah dari badan (bila tali pusat terlalu pendek, letakkan bayi di tempat yang memungkinkan) Apabila bayi baru lahir segera dapat bernapas spontan dan teratur, menangis kuat, cukup mengusap muka bayi dari lendir dan darah dengan kain/kasa yang bersih. Tidak dilakukan pengisapan lendir secara rutin pada jalan napasnya. Bila bayi lahir kurang bulan atau air ketuban bercampur mekonium, atau tidak bernapas atau megap-megap, atau tonus otot buruk, bersiaplah untuk melakukan resusitasi BBL dengan cepat. B. Mencegah kehilangan panas 1,2 Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya sebagai berikut: 1. Menutup tubuh bayi dengan kain/handuk yang kering dan hangat kemudian mulai mengeringkan dengan mengusap kepala, wajah, dada, dan perut dengan lembut (tanpa membersihkan lemak kulit/verniks). Gosok punggung bayi dengan gerakan ke atas dan ke bawah kemudian ke tangan dan kaki kecuali telapak tangan 2. Mengganti kain/handuk yang basah dengan kain yang bersih, kering, dan hangat. 3. Membungkus bayi mulai dari kepala dan badan kecuali bagian tali pusat dengan selimut atau kain bersih dan hangat C. Penilaian dan Pemantauan Bayi Lihat gerakan pernapasan, warna kulit, gerakan/tonus otot dan refleks (menangis). Raba denyut jantung bayi melalui tali pusat Lakukan penilaian APGAR berdasarkan pengamatan pada 1 menit dan 5 menit pertama NILAI Napas Tidak Ada Tidak teratur Teratur Denyut Jantung Tidak Ada <100 >100 Warna Kulit Biru atau pucat Tubuh merah jambu, Merah jambu tangan dan kaki biru Gerakan atau tonus otot Tidak Ada Sedikit fleksi Fleksi Refleks (menangis) Tidak Ada Lemah atau lamban Kuat Jumlahkan seluruh nilai, itulah nilai APGAR bayi baru lahir Nilai APGAR 0-3 yang menetap pada >5 menit merupakan salah satu karakteristik yang menunjukkan telah terjadi asfiksia perinatal (AAP dan ACOG) 17
18 D. Pemotongan dan Perawatan Tali Pusat (Blok Reproductive System) 1,2 Setelah bayi dikeringkan, lalu dilakukan pemotongan tali pusat. Pemotongan tali pusat dilakukan tidak dalam keadaan bayi telanjang melainkan dalam keadaan terbungkus untuk mencegah hipotermi, buka hanya bagian perutnya. Cara pemotongan tali pusat: Dengan mengunakan klem, lakukan penjepitan tali pusat dengan klem pada sekitar 3 cm dari dinding perut (pangkal pusat) bayi. Dari titik jepitan, tekan tali pusat dengan dua jari kemudian dorong isi tali pusat ke arah ibu (agar darah tidak terpancar pada saat dilakukan pemotongan tali pusat). Lakukan penjepitan kedua dengan jarak 2 cm dari tempat jepitan pertama pada sisi atau mengarah ke ibu. Pegang tali pusat diantara kedua klem tersebut, satu tangan menjadi landasan tali pusat sambil melindungi bayi, tangan yang lain memotong tali pusat antara kedua klem tersebut dengan menggunakan gunting steril. Mengikat tali pusat dan merawat tali pusat Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai sudah stabil maka lakukan pengikatan puntung tali pusat atau jepit dengan klem plastik tali pusat. Bersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan handuk atau kain bersih dan kering kemudian memakai sarung tangan steril Ikat puntung tali pusat dengan jarak sekitar 1 cm dinding perut bayi (pusat). Gunakan benang atau klem plastik penjepit tali pusat steril. Kunci ikatan tali pusat dengan simpul mati atau kuncikan penjepit plastik tali pusat. Jika pengikatan dilakukan dengan benang tali pusat, lingkarkan benang di sekeliling puntung tali pusat dan ikat untuk kedua kalinya dengan simpul mati di bagian yang berlawanan. Lepaskan klem logam penjepit tali pusat Jangan membungkus puntung tali pusat atau perut bayi atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat. Nasehati hal yang sama bagi ibu dan keluarganya E. Kontak kulit dengan kulit (skin to skin contact) antara ibu dan bayi dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) 2,3 1. Bayi di ditengkurapkan di dada-perut ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu dan mata bayi setinggi puting susu. Keduanya diselimuti dan bayi dapat diberi topi 2. Anjurkan ibu menyentuh bayi untuk merangsang bayi. Biarkan bayi mencari puting sendiri 3. Biarkan kulit kedua bayi bersentuhan dengan kulit ibu selama paling tidak satu jam; bila menyusu awal terjadi sebelum 1 jam, tetap biarkan kulit ibu bayi bersentuhan sampai setidaknya 1 jam 4. Bila dlm 1 jam menyusu awal belum terjadi, bantu ibu dengan mendekatkan bayi ke puting tapi jangan memasukkan puting ke mulut bayi. Beri waktu kulit melekat pada kulit 30 menit atau 1 jam lagi 5. Tunda memandikan bayi sedikitnya 6 jam setelah lahir, lebih baik setelah 24 jam, bayi baru boleh mandi kalau suhu stabil F. Pemberian vitamin K 1 1,2 Semua bayi baru lahir harus diberikan vitamin K 1 injeksi 1 mg intramuskular di paha kiri sesegera mungkin (setelah proses IMD dan sebelum penyuntikan imunisasi Hepatitis B) untuk mencegah perdarahan yang sering pada bayi baru lahir (hemorrhagic disease of newborn) akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir. Beri vitamin K 1 injeksi intra muskular dengan dosis tunggal 1 mg di paha kiri (karena paha kanan untuk imunisasi Hepatitis B) 18
19 G. Pencegahan Infeksi Mata 1,2 Segera setelah lahir, bersihkan mata bayi dengan kain kasa steril. Jika keadaan bayi sudah stabil lakukan tindakan pencegahan infeksi mata pada BBL dengan jalan meneteskan obat tetes mata antibiotik profilaksis atau mengoleskan salep mata antibiotik. Diberikan dalam waktu satu jam pertama setelah kelahiran, lebih dari waktu itu tidak efektif. Cara pemberian tetes mata: Cuci tangan terlebih dahulu (gunakan sabun dan air bersih mengalir) Gunakan salah satu: Salep mata/tetes mata antibiotik pada kedua mata Buka kelopak mata dan teteskan satu tetes sehingga jatuh pada mata. Jika memakai salep, berikan salep mata dalam satu garis lurus mulai dari bagian mata yang paling dekat dengan hidung bayi menuju ke bagian luar mata. Pastikan tidak membiarkan pipet tetesan mata atau ujung tempat salep kena mata bayi atau lainnya Ulangi untuk mata yang sebelah lain H. Pemberian Imunisasi Hepatitis B pertama (HB 0) (Blok Growth and Development System) BAGAN ALUR: ASUHAN SEGERA BAYI BARU LAHIR PENILAIAN: Sebelum bayi lahir: 1. Apakah kehamilan cukup bulan? 2. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium? Segera setelah bayi lahir: 3. Apakah bayi menangis atau berapas/tidak megap-megap? 4. Apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif? Bayi cukup bulan Ketuban kernih Bayi menangis atau bernapas Tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif Asuhan Bayi Baru Lahir 1. Jaga bayi tetap hangat 2. Isap lendir dari mulut dan hidung (hanya jika perlu) 3. Keringkan 4. Pemantauan tanda bahaya 5. Klem, potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira-kira 2 menit setelah lahir 6. Lakukan Inisiasi Menyusu Dini 7. Beri suntikan vitamin K1 1 mg intramuskular, di paha kiri anterolateral setelah Menyusu Dini 8. Berikan salep mata antibiotik pada kedua mata 9. Pemeriksaan fisis 10. Beri imunisasi Hepatitis B 0,5 ml intramuskular, di paha kanan anterolateral, kira-kira 1-2 jam setelah pemberian vitamin K1 19
20 II. TUJUAN KEGIATAN II.1. TUJUAN UMUM Setelah mengikuti kegiatan skills lab asuhan neonatus normal pada blok emergensi diharapkan mahasiswa terampil dan mampu melakukan setiap langkah asuhan bayi baru lahir normal secara benar dan sistematis. II.2. TUJUAN KHUSUS Mahasiswa mampu melakukan setiap langkah asuhan bayi baru lahir normal yaitu : 1. Menjaga bayi tetap hangat 2. Mengisap lendir dari mulut dan hidung (hanya jika perlu) 3. Mengeringkan 4. Menilai Skor 5. Klem, potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun, kira-kira 2 menit setelah lahir (Blok Reproductive System) 6. Lakukan Inisiasi Menyusu Dini 7. Beri suntikan vitamin K1 1 mg intramuskular, di paha kiri anterolateral setelah Menyusu Dini 8. Berikan salep mata antibiotik pada kedua mata Beri imunisasi Hepatitis B 0,5 ml intramuskular, di paha kanan anterolateral, kira-kira 1-2 jam setelah pemberian vitamin K1 (Blok Growth and Development System) III. RANCANGAN ACARA PEMBELAJARAN Waktu Aktivitas belajar mengajar Keterangan 20 Menit Introduksi pada kelas besar (terdiri dari 45 mahasiswa) oleh narasumber 10 Menit Nara sumber melakukan peragaan langkahlangkah asuhan bayi baru lahir normal (kasus). 10 menit Mahasiswa dibagi menjadi 5 kelompok kecil (1 kelompok terdiri dari 9 mahasiswa). Tiap kelompok kecil memiliki 1 instruktur dan tindakan dilakukan berdasarkan kasus yang diberikan Instruktur melakukan peragaan langkahlangkah asuhan bayi baru lahir normal Instruktur melakukan peragaan langkahlangkah asuhan bayi baru lahir normal (kasus) 20 Menit Coaching : mahasiswa melakukan tindakan secara bergantian (2-3 orang) sesuai kasus dengan dibimbing oleh instruktur 90 Menit Self practice : mahasiswa melakukan sendiri tindakan sesuai kasus secara bergantian, sehingga total waktu yang dibutuhkan ± 90 menit (tergantung jumlah mahasiswa) Nara sumber Nara sumber Instruktur Instruktur dan mahasiswa Instruktur dan mahasiswa 20
21 IV. PEDOMAN INSTRUKTUR IV.1. PELAKSANAAN 1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok besar 45 mahasiswa dan kecil 9 orang.kelompok besar dipimpin nara sumber dan kelompok kecil dipimpin instruktur. 2. Cara pelaksanaan kegiatan: Instruktur melakukan choacing selama menit, beberapa mahasiswa melakukan pemeriksaan simulasi dibimbing instruktur dan peserta lain dapat melakukan pengamatan. Menggunakan pasien simulasi, mahasiswa. Ditunjuk seorang mahasiswa untuk melakukan pemeriksaan. Mahasiswa lainnya bertugas sebagai pengamat. Setiap mahasiswa harus mendapat kesempatan melakukan. 3. Waktu pelaksanaan - Setiap kegiatan skills lab dilaksanakan selama 150 menit. - Disesuaikan dengan jadwal mahasiswa semester VI. 4. Tempat pelaksanaan Ruang skills lab lantai 3 V. SARANA DAN ALAT YANG DIPERLUKAN 1. Meja 1 buah + alat tulis, kertas checklist 2. Sarung tangan steril 3. Boneka bayi 4. Kain bedong bayi 2 helai 5. Tetes / salep mata antibiotik 6. Vitamin K 1 ampul 7. Spuit 1 cc 8. Kapas dan alkohol VI. RUJUKAN Buku Saku Pelayanan kesehatan Neonatal Esensial, Kementerian Kesehatan RI, 2010 Pelatihan Asuhan Persalinan Normal. JNPK-KR/POGI-IBI-IDAI-DEPKES. Revisi 2007 Baby-Friendly Hospital Initiative: Updated and Expanded for Integrated Care. A 20 hours course for maternity staff. UNICEF-WHO. Revisi 2006 VII. Kasus: Seorang bayi lahir di ruang bersalin secara spontan, cukup bulan, segera menangis dan gerakan juga aktif. Berat badan lahir adalah 3200 gram dengan panjang badan 49 cm. Dokter telah berada di ruang bersalin dan telah siap untuk melakukan asuhan bayi baru lahir VIII. LEMBAR PENGAMATAN ASUHAN BAYI BARU LAHIR NORMAL LANGKAH/TUGAS PENGAMATAN PERSIAPAN SEBELUM BAYI LAHIR Ya Tidak 1. Mempersiapkan peralatan: sarung tangan steril, kain bedong 2 helai, tetes/salep mata antibiotik, vitamin K1 ampul, spuit 1 CC, kapas dan alkohol 2. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, memakai sarung tangan steril PENILAIAN BAYI SAAT LAHIR 1. Melakukan penilaian dengan menghadapkan bayi kepada penolong di atas perut ibu yang sudah dilapisi kain/handuk dengan posisi 21
22 kepala lebih rendah dari badan 2. Bila segera dapat bernapas spontan dan teratur, menangis kuat, cukup mengusap muka bayi dari lendir dan darah dengan kain/kasa yang bersih. Tidak dilakukan pengisapan lendir secara rutin pada jalan napasnya. 3. Bila bayi lahir kurang bulan atau air ketuban bercampur mekonium, atau tidak bernapas/megap-megap, atau tonus otot buruk, bersiaplah untuk melakukan resusitasi BBL dengan cepat MENGERINGKAN DAN RANGSANG TAKTIL 1. Menutup tubuh bayi dengan kain/handuk yang kering dan hangat. 2. Mulai mengeringkan dengan mengusap kepala, wajah, dada, dan perut dengan lembut. Gosok punggung bayi dengan gerakan ke atas dan ke bawah kemudian ke tangan dan kaki kecuali telapak tangan 3. Mengganti kain/handuk yang basah dengan kain yang bersih, kering, dan hangat. 4. Membungkus bayi mulai dari kepala dan badan kecuali bagian tali pusat dengan selimut atau kain bersih dan hangat MENILAI SKOR APGAR 1. Menilai Apgar menit ke-1 dan ke-5: napas, denyut jantung, warna kulit, tonus otot, dan refleks. 2. Menghitung nilai APGAR MEMOTONG DAN MERAWAT TALI PUSAT KONTAK KULIT DENGAN KULIT DAN INISIASI MENYUSUI DINI 1. Bayi ditengkurapkan di dada-perut ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu dan mata bayi setinggi puting susu. Keduanya diselimuti. Bayi dapat diberi topi 2. Anjurkan ibu menyentuh bayi untuk merangsang bayi. Biarkan bayi mencari puting sendiri 3. Biarkan kulit kedua bayi bersentuhan dengan kulit ibu selama paling tidak satu jam; bila menyusu awal terjadi sebelum 1 jam, tetap biarkan kulit ibu bayi bersentuhan sampai setidaknya 1 jam 4. Bila dlm 1 jam menyusu awal belum terjadi, bantu ibu dengan mendekatkan bayi ke puting tapi jangan memasukkan puting ke mulut bayi. Beri waktu kulit melekat pada kulit 30 menit atau 1 jam lagi MEMBERIKAN VITAMIN K 1 1. Memberi vitamin K 1 injeksi intra muskular dengan dosis tunggal 1 mg di paha kiri PENCEGAHAN INFEKSI MATA 1. Mencuci tangan terlebih dahulu 2. Buka kelopak mata dan teteskan satu tetes sehingga jatuh pada mata. Jika memakai salep, berikan salep mata dalam satu garis lurus mulai 22
23 dari bagian mata yang paling dekat dengan hidung bayi menuju ke bagian luar mata 3. Mengulangi untuk mata yang sebelah lagi PENCATATAN DAN RAWAT GABUNG 1. Menimbang, mengukur serta melakukan pencatatan dan pelaporan 2. Memasang gelang pengenal pada ibu dan bayi 3. Ibu bayi dirawat dalam satu kamar, bayi dalam jangkauan ibu selama 24 jam IMUNISASI HEPATITIS B PERTAMA Note : Ya = Mahasiswa melakukan Tidak = Mahasiswa tidak melakuk 23
24 SL. EM. VI. 4 KETERAMPILAN KLINIK PENILAIAN SENSORIUM (KESADARAN) DENGAN MENGGUNAKAN GLASGOW COMA SCALE I. PENDAHULUAN Pada minggu ini mahasiswa dilatih untuk melakukan keterampilan penilaian terhadap sensorium (kesadaran) penderita. Seorang dokter harus mampu menilai kesadaran penderita oleh karena sangat banyak keadaan yang dapat menyebabkan seseorang mengalami penurunan kesadaran, misalnya craniocerebral trauma, inflamasi otak dan meningennya, stroke dan berbagai gangguan metabolik. Tingkat keparahan dari penurunan kesadaran itu berbeda- beda. Penetapan tingkat keparahan tersebut berguna untuk penentuan terapi dan yang paling penting adalah untuk mentukan prognosa. Umumnya skala atau skor yang digunakan untuk menilai penurunan kesadaran pada awalnya hanya digunakan untuk keadaan penurunan kesadaran yang tertentu saja. Ada beberapa skala yang digunakan untuk menilai penurunan kesadaran, diantaranya: - Glasgow Coma Scale - Edinburgh-2 Coma Scale - Ommaya s Scale - Brussels Coma Grades - Reaction Level Scale - Comprehensive Level of Consciousness - Near-Drowning Score according to Conn et al. Pada skills lab ini, yang dipelajari hanya Glasgow Coma Scale. Glasgow Coma Scale merupakan skala yang paling penting dan paling banyak digunakan di seluruh dunia karena validitas dan realibilitasnya baik serta cara penilaiannya sederhana. Pada dasarnya skala ini diaplikasikan untuk penderita craniocerebral trauma, tetapi dapat juga digunakan pada penderita penurunan kesadaran oleh karena penyebab yang lain. Glasgow Coma Scale Eye-opening Spontaneous 4 To speech 3 To pain 2 None 1 Best verbal response Oriented 5 Confused 4 Inappropiate 3 Incomprehensible 2 None 1 Best motor response Obeying 6 Localizing 5 Withdrawal Flexion 4 Abnormal Flexion 3 Extending 2 None 1 Menilai eye opening penderita (range skor 4-1) 24
25 Perhatikan apakah penderita : - Buka mata spontan - Buka mata jika dipanggil, disuruh atau dibangunkan - Buka mata jika diberi rangsang nyeri (dengan menekan ujung kuku jari tangan) - Tidak ada respon Menilai best verbal response penderita (range skor 5-1) Perhatikan apakah penderita : - Orientasi baik - Bingung (dijumpai disorientasi) - Dapat mengucapkan kata2 namun tidak berupa kalimat - Mengerang (mengucapkan kata yang tidak jelas artinya). - Tidak ada reaksi Menilai best motor response penderita(range skor 6-1) Perhatikan apakah penderita : - Melakukan gerakan sesuai perintah 6 - Dapat mengetahui lokasi rangsang nyeri 5 - Menghindar terhadap rangsang nyeri 4 - Fleksi Abnormal (decorticated) 3 - Ekstensi abnormal (decerebrated) 2 - Tidak ada reaksi 1 Range skor : 3-15 (semakin rendah skor yang diperoleh, semakin jelek kesadarannya) Head injury severity scale : Mild 14 Moderate 9-13 Severe 5-8 II. TUJUANKEGIATAN II.1 TUJUAN UMUM Setelah mahasiwa mengikuti skills lab ini diharapakan dapat melakukan pemeriksaan penilaian kesadaran (sensorium) dengan menggunakan Glasgow Coma Scale yang merupakan pemeriksaan dasar yang sangat berguna untuk kepentingan terapi dan prognosa. II.2 TUJUAN KHUSUS 1. Mahasiswa mampu menilai tingkat kesadaran 2. Mahasiswa mampu memperkirakan prognosa. 3. Mahasiswa mampu memperkirakan tindakan selanjutnya. III. RANCANGAN ACARA PEMBELAJARAN Waktu Aktifitas Belajar mengajar Keterangan 20 menit Introduksi pada kelas besar - Penjelasan narasumber tentang penilaian kesadaran (sensorium) dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (10 menit) - Tanya jawab singkat hal yang belum jelas dari penjelasan yang diputar (10 menit) Narasumber 25
26 10 menit Demonstrasi pada kelas besar oleh narasumber Narasumber memperlihatkan cara penilaian kesadaran (sensorium) dengan menggunakan Glasgow Coma Scale secara bertahap 10 menit Mahasiswa dibagi menjadi 5 kelompok kecil (1 kelompok tdd 9 mahasiswa). Narasumber Instruktur Instruktur memperlihatkan cara penilaian kesadaran (sensorium) dengan menggunakan Glasgow Coma Scale secara bertahap 20 menit Coaching mahasiswa melakukan simulasi secara bergantian (2 orang mahasiswa) dengan dibimbing oleh instruktur. Pasien simulasi akan diperankan oleh sesama mahasiswa 90 menit Self practice : Mahasiswa melakukan pemeriksan penilaian kesadaran (sensorium) dengan menggunakan Glasgow Coma Scale secara bergantian masing-masing selama 10 menit. Instruktur memberikan penilaian pada lembar pengamatan. Instruktur Mahasiswa Mahasiswa Instruktur IV. PEDOMAN INSTRUKTUR IV.1. PELAKSANAAN 1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil yang terdiri dari 9 orang 2. Diskusi dipimpin oleh seorang narasumber yang telah ditetapkan oleh koordinator. 3. Cara pelaksanaan kegiatan: 3.1 Inroduksi: Narasumber memberikan penjelasan mengenai penilaian kesadaran (sensorium) dengan menggunakan Glasgow Coma Scale. 3.2 Demonstrasi: Narasumber melakukan demonstrasi pemeriksaaan penilaian kesadaran (sensorium) dengan menggunakan Glasgow Coma Scale, mahasiswa mengamati dan diberi kesempatan bertanya. 3.3 Coaching: Selanjutnya mahasiswa melakukan secara bergantian sambil dibimbing oleh instruktur. 3.4 Mahasiswa lainnya bertugas sebagai pengamat. 3.5 Self practice: setiap mahasiswa harus mendapat kesempatan melakukan pemeriksaan penilaian kesadaran (sensorium) dengan menggunakan Glasgow Coma Scale secara mandiri. 4. Waktu pelaksanaan 4.1.Setiap kegiatan skills lab dilaksanakan selam 150 menit 4.2.Disesuaikan dengan jadwal mahasiswa semester Tempat pelaksanaan Ruang skills lab lantai 3. V. SARANA DAN ALAT : 1. Pasien simulasi/mahasiswa 2. Tempat tidur 3. Perkusi hammer VI. RUJUKAN 1. DeJONG S, The Neurologic Examination, 5th edition, Philadelphia: JB. Lippincott; Masur H, Scales and Scores in Neurology, New York: Thieme; Sjahrir H. Neurologi khusus. Cetakan Pertama. Medan; USU press; Fuller G, Neurological Examination Made Easy, London: Churchill Livingstone;
27 5. Gilman S, Clinical Examination of The Nervous System, Philadelphia: McGraw Hill; Ford MJ, Clinical Examination, 8th edition, Philadelphia: Elsevier; Lumbantobing SM, Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental, Jakarta: FK UI; 2000 VII. LEMBAR PENGAMATAN LANGKAH / TUGAS PENGAMATAN Pemeriksaan kesadaran dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) 1. Pasien berbaring dan pemeriksa berada disebelah kanan. 2. Menilai eye opening penderita (range skor 4-1) Perhatikan apakah penderita : - Buka mata spontan - Buka mata jika dipanggil, disuruh atau dibangunkan - Buka mata jika diberi rangsang nyeri (dengan menekan ujung kuku jari tangan) - Tidak ada respon 3. Menilai verbal response penderita (range skor 5-1) Perhatikan apakah penderita : - Orientasi baik - Bingung (dijumpai disorientasi) - Dapat mengucapkan kata2 namun tidak berupa kalimat - Mengerang (mengucapkan kata yang tidak jelas artinya). - Tidak ada reaksi YA TIDAK 4. Menilai motor response penderita(range skor 6-1) Perhatikan apakah penderita : - Melakukan gerakan sesuai perintah 6 - Dapat mengetahui lokasi rangsang nyeri 5 - Menghindar terhadap rangsang nyeri 4 - Fleksi Abnormal (decorticated) 3 - Ekstensi abnormal (decerebrated) 2 - Tidak ada reaksi 1 5.Tentukan skor GCS penderita (3-15) 6.Menginformasikan: - Tingkat kesadaran - Prognosa - Tindakan Note : Ya Tidak : Mahasiswa melakukan : Mahasiswa tidak melakukan 27
PERAWATAN NEONATAL ESENSIAL PADA SAAT LAHIR
PERAWATAN NEONATAL ESENSIAL PADA SAAT LAHIR 1. Penilaian Awal Untuk semua bayi baru lahir (BBL), dilakukan penilaian awal dengan menjawab 4 pertanyaan: Sebelum bayi lahir: Apakah kehamilan cukup bulan?
NEONATUS BERESIKO TINGGI
NEONATUS BERESIKO TINGGI Asfiksia dan Resusitasi BBL Mengenali dan mengatasi penyebab utama kematian pada bayi baru lahir Asfiksia Asfiksia adalah kesulitan atau kegagalan untuk memulai dan melanjutkan
SOP RESUSITASI BAYI BARU LAHIR
Status Revisi : 00 Halaman : 1 dari 6 Disiapkan Oleh: Diperiksa Oleh: Disetujui Oleh: Ka. Laboratorium Gugus Kendali Mutu Ka. Prodi Pengertian : Usaha dalam memberikan ventilasi yang adekuat, pemberian
BTCLS BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)
BTCLS BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) Tahapan-tahapan BHD tindakan BHD dilakukan secara berurutan dimulai dengan penilaian dan dilanjutkan dengan tindakan. urutan tahapan BHD adalah
Seorang laki-laki umur 30 tahun dibawa ke UGD RSAL. Kesadaran menurun, tekanan darah 70/50, denyut nadi 132 kali/menit kurang kuat, repirasi rate 32
KELOMPOK 9 Seorang laki-laki umur 30 tahun dibawa ke UGD RSAL. Kesadaran menurun, tekanan darah 70/50, denyut nadi 132 kali/menit kurang kuat, repirasi rate 32 kali/menit suara ngorok dan seperti ada cairan
ASUHAN BAYI BARU LAHIR DAN NEONATUS
ASUHAN BAYI BARU LAHIR DAN NEONATUS Asuhan segera pada bayi baru lahir Adalah asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah persalinan. Aspek-aspek penting yang harus dilakukan pada
BUKU PANDUAN INSTRUKTUR SKILLS LEARNING SISTEM EMERGENSI DAN TRAUMATOLOGI RESUSITASI ANAK
BUKU PANDUAN INSTRUKTUR SKILLS LEARNING SISTEM EMERGENSI DAN TRAUMATOLOGI RESUSITASI ANAK KOORDINATOR SKILLS LAB SISTEM EMERGENSI DAN TRAUMATAOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2016
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca
PANDUANTRIASE RUMAH SAKIT
PANDUANTRIASE RUMAH SAKIT BAB I PENDAHULUAN... Definisi Triase adalah cara pemilahan penderita untuk menentukan prioritas penanganan pasien berdasarkan tingkat kegawatanya dan masalah yang terjadi pada
Asfiksia. Keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur
Asfiksia Keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur 1 Tujuan Menjelaskan pengertian asfiksia bayi baru lahir dan gawat janin Menjelaskan persiapan resusitasi bayi baru
Membantu Bayi Bernapas. Buku Kerja Peserta
Membantu Bayi Bernapas Buku Kerja Peserta 1 2 Untuk mereka yang merawat bayi pada saat kelahiran Membantu Bayi Bernapas mengajarkan kepada penolong persalinan untuk merawat bayi pada saat kelahiran. -
Membantu Bayi Bernapas Lembar Balik Fasilitator
Membantu Bayi Bernapas Lembar Balik Fasilitator Mulai dengan sebuah cerita Sebelum memperlihatkan lembar balik, setiap peserta meletakkan satu tangannya di atas simulator atau boneka peraga. Katakan pada
BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) DAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)
BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) DAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP) Artikel ini merupakan sebuah pengetahuan praktis yang dilengkapi dengan gambar-gambar sehingga memudahkan anda dalam memberikan pertolongan untuk
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pengumpulan/ Penyajian Data Dasar Secara Lengkap. Pengkajian kasus By Ny A dengan asfiksia sedang di RSUD
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Pengumpulan/ Penyajian Data Dasar Secara Lengkap Pengkajian kasus By Ny A dengan asfiksia sedang di RSUD Karanganyar dilakukan dengan manajemen 7 langkah
JARINGAN NASIONAL PELATIHAN KLINIK KESEHATAN REPRODUKSI PUSAT PELATIHAN KLINIK PRIMER (P2KP) KABUPATEN POLEWALI MANDAR. ( Revisi )
JARINGAN NASIONAL PELATIHAN KLINIK KESEHATAN REPRODUKSI PUSAT PELATIHAN KLINIK PRIMER (P2KP) KABUPATEN POLEWALI MANDAR ( Revisi ) PENUNTUN BELAJAR KETERAMPILAN MENGGUNAKAN PENUNTUN BELAJAR. Perubahan Buku
Aspirasi Vakum Manual (AVM)
Aspirasi Vakum Manual (AVM) Aspirasi Vakum Manual (AVM) merupakan salah satu cara efektif evakuasi sisa konsepsi pada abortus inkomplit. Evakuasi dilakukan dengan mengisap sisa konsepsi dari kavum uteri
ETT. Ns. Tahan Adrianus Manalu, M.Kep.,Sp.MB. SATU dalam MEDISTRA membentuk tenaga keperawatan yang Profesional dan Kompeten
ETT. Ns. Tahan Adrianus Manalu, M.Kep.,Sp.MB SATU dalam MEDISTRA membentuk tenaga keperawatan yang Profesional dan Kompeten Pendahuluan Endotracheal Tube (ETT) adalah sejenis alat yang digunakan di dunia
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR Asuhan Persalinan Normal (APN)
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR Asuhan Persalinan Normal (APN) Aspek Yang Dinilai Nilai MENGENALI GEJALA DAN TANDA KALA DUA 1 2 3 4 1. Mendengar, melihat dan memeriksa gejala dan tanda kala dua Ibu merasa
Primary Survey a) General Impressions b) Pengkajian Airway
Primary Survey Primary survey menyediakan evaluasi yang sistematis, pendeteksian dan manajemen segera terhadap komplikasi akibat trauma parah yang mengancam kehidupan. Tujuan dari Primary survey adalah
Judul: Resusitasi Bayi Baru Lahir (BBL) Sistem Lain - Lain Semester VI Penyusun: Departemen Ilmu Kesehatan Anak Tingkat Keterampilan: 4A
Judul: Resusitasi Bayi Baru Lahir (BBL) Sistem Lain - Lain Semester VI Penyusun: Departemen Ilmu Kesehatan Anak Tingkat Keterampilan: 4A Deskripsi Umum 1. Setiap Bayi Baru Lahir (BBL) senantiasa mengalami
BASIC LIFE SUPPORT A. INDIKASI 1. Henti napas
BASIC LIFE SUPPORT Resusitasi jantung paru adalah suatu tindakan pertolongan yang dilakukan kepada korban yang mengalami henti napas dan henti jantung. Keadaan ini bisa disebabkan karena korban mengalami
SOP RESISUTASI PADA ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR
SOP RESISUTASI PADA ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR PUSKESMAS WAEHAONG KOTA AMBON SPO No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit : 1 April 2016 Halaman : 1/4 DR. ADRIYATI ARIEF Nip. 19640111 200604 2 002 1. Pengertian
TEKNIK PERAWATAN METODE KANGURU. Tim Penyusun
MANUAL KETERAMPILAN KLINIK TEKNIK PERAWATAN METODE KANGURU Tim Penyusun Prof. Dr. Djauhariah A. Madjid, SpA K Dr. dr. Ema Alasiry, Sp.A. IBCLC dr. A. Dwi Bahagia Febriani, PhD, SpA(K) CSL SIKLUS HIDUP
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. Universitas Muhammadiyah Ponorogo, bermaksud
Lampiran 1 LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada : Yth. Calon Responden Di tempat Dengan hormat, Saya sebagai mahasiswa Prodi D. III Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo,
DAFTAR TILIK KETERAMPILAN PERTOLONGAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
DAFTAR TILIK KETERAMPILAN PERTOLONGAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN) Nama : NPM : Tanggal Ujian : Penguji : a) Nilai 2 : Memuaskan :Memperagakan langkah-langkah atau tugas sesuai dengan prosedur standar
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengetahuan Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan pengalaman seseorang dalam melakukan penginderaan terhadap suatu rangsangan tertentu. Pengetahuan tau kognitif
SOP PERTOLONGAN PERSALINAN NORMAL
Status Revisi : 00 Halaman : 1 dari 11 Disiapkan Oleh: Diperiksa Oleh: Disetujui Oleh: Ka. Laboratorium Gugus Kendali Mutu Ka. Prodi Pengertian : Suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri)
DAFTAR TILIK UJIAN LABORATORIUM KEPERAWATAN MATERNITAS
DAFTAR TILIK UJIAN LABORATORIUM KEPERAWATAN MATERNITAS I. PEMERIKSAAN KEHAMILAN 1. Melakukan validasi klien 2. Melakukan kontrak 3. Menyiapkan alat 4. Mencuci tangan 5. Mengkaji keadaan umum klien 6. Melakukan
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. Universitas Muhammadiyah Ponorogo, bermaksud. Kebidanan pada Masa Hamil sampai Masa Nifas. Asuhan Kebidanan ini
Lampiran 1 289 Lampiran 2 290 Lampiran 3 291 292 Lampiran 4 LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada : Yth. Calon Responden Di tempat Dengan hormat, Saya sebagai mahasiswa Prodi D. III Kebidanan Fakultas
PEMINDAHAN PASIEN. Halaman. Nomor Dokumen Revisi RS ASTRINI KABUPATEN WONOGIRI 1/1. Ditetapkan, DIREKTUR RS ASTRINI WONOGIRI.
PEMINDAHAN PASIEN Adalah pemindahan pasien dari IGD ke ruang rawat inap yang dilaksanakan atas perintah dokter jaga di IGD, yang ditulis dalam surat perintah mondok/ dirawat, setelah mendapatkan persetujuan
Persalinan Normal. 60 Langkah. Asuhan Persalinan Kala dua tiga empat. Dikutip dari Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal
Persalinan Normal 60 Langkah Asuhan Persalinan Kala dua tiga empat Dikutip dari Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal PERSALINAN NORMAL 60 Langkah Asuhan Persalinan Kala dua tiga empat KEGIATAN I. MELIHAT
PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT. Klinik Pratama 24 Jam Firdaus
PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT Klinik Pratama 24 Jam Firdaus Pendahuluan serangkaian usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam rangka menyelamatkan seseorang dari kematian
Keterangan : P1,2,3,...P15 : Pertanyaan Kuesioner. : Jawaban Tidak Setuju. No. Urut Resp
No. Urut Sikap Total Skor Kategori Umur Pendidikan Lama Kerja 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 3 3 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 41 Positif 25 BIDAN 5 Tahun 2 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 2 2 22 Negatif
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Inisiasi Menyusui Dini 1. Pengertian Inisiasi menyusui dini (early initation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri setelah lahir. Cara bayi melakukan
60 Langkah Asuhan Persalinan Normal
60 Langkah Asuhan Persalinan Normal I. MELIHAT TANDA DAN GEJALA KALA DUA 1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua. Ibu mempunyai keinginan untuk meneran. Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat
Lampiran 1 LEMBAR PERMINTAAN MENJADI RESPONDEN
Lampiran 1 LEMBAR PERMINTAAN MENJADI RESPONDEN Judul penelitian : Perilaku Ibu Primipara dalam Merawat Bayi Baru Lahir di Kelurahan Sukaraja Kecamatan Medan Maimun. Peneliti : Erpinaria Saragih Saya telah
Buku Panduan Pendidikan Keterampilan Klinik 1 Keterampilan Sanitasi Tangan dan Penggunaan Sarung tangan
Buku Panduan Pendidikan Keterampilan Klinik 1 Keterampilan Sanitasi Tangan dan Penggunaan Sarung tangan Rahmawati Minhajat Dimas Bayu Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin 2014 KETERAMPILAN SANITASI
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PERSALINAN NORMAL. Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PERSALINAN NORMAL Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan seharusnya
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN JENAZAH
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN JENAZAH 1. Pengertian Perawatan jenazah adalah perawatan pasien setelah meninggal, perawatan termasuk menyiapkan jenazah untuk diperlihatkan pada keluarga, transportasi
LUKA BAKAR Halaman 1
LUKA BAKAR Halaman 1 1. LEPASKAN: Lepaskan pakaian/ perhiasan dari daerah yang terbakar. Pakaian yang masih panas dapat memperburuk luka bakar 2. BASUH: Letakkan daerah yang terbakar di bawah aliran air
Lampiran 2
Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 58 ANGKAH PERSALINAN NORMAL 1. Melihat adanya tanda persalinan kala II: a. Ibu
TEKNIK PERAWATAN METODE KANGURU. Tim Penyusun
MANUAL KETERAMPILAN KLINIK TEKNIK PERAWATAN METODE KANGURU Tim Penyusun Prof. Dr. Djauhariah A. Madjid, SpA K Dr. dr. Ema Alasiry, Sp.A. IBCLC dr. A. Dwi Bahagia Febriani, PhD, SpA(K) CSL SIKLUS HIDUP
PANDUAN TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR
PANDUAN TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR Apa yang akan Anda lakukan jika Anda menemukan seseorang yang mengalami kecelakaan atau seseorang yang terbaring di suatu tempat tanpa bernafas spontan? Apakah Anda
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PELAYANAN KEBIDANAN PERSALINAN NORMAL. No. Dokumen : No. Revisi : Hal.:1/5. Tgl. Terbit :
SOP Program Kesehatan Ibu dan Anak STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PELAYANAN KEBIDANAN LOGO BPS / RB / PKM PERSALINAN NORMAL No. Dokumen : No. Revisi : Hal.:1/5 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ASUHAN PERSALINAN
PRAKTIKUM 10 AUSKULTASI PARU, SUCTION OROFARINGEAL, PEMBERIAN NEBULIZER DAN PERAWATAN WSD
PRAKTIKUM 10 AUSKULTASI PARU, SUCTION OROFARINGEAL, PEMBERIAN NEBULIZER DAN PERAWATAN WSD Sebelum melakukan percobaan, praktikan menonton video tentang suction orofaringeal dan perawatan WSD. Station 1:
DAFTAR TILIK ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN) PETUNJUK
PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) MITRA RIA HUSADA Komplek Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan Jl. Karya Bhakti No.3 Cibubur Jakarta Timur Telp (021) 873 0818, 8775
PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita
Saat menemukan penderita ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya, baik itu untuk mengatasi situasi maupun untuk mengatasi korbannya. Langkah langkah penilaian pada penderita
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perhatian dan persepsi terhadap objek (Notoatmodjo, 2003)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PENGETAHUAN 1. Defenisi Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya).
1 PEMBERIAN NEBULIZER 1.1 Pengertian
Pengertian Suction adalah : Tindakan menghisap lendir melalui hidung dan atau mulut. Kebijakan : Sebagai acuan penatalaksanaan tindakan penghisapan lendir, mengeluarkan lendir, melonggarkan jalan nafas.
ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR. Dosen Pengasuh : Dr. Kartin A, Sp.A.
ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR Dosen Pengasuh : Dr. Kartin A, Sp.A. BATASAN Asfiksia pada bayi baru lahir (BBL) adalah kegagalan napas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah
PROSES KELAHIRAN DAN PERAWATAN BAYI BARU LAHIR YANG KAMI INGINKAN
PROSES KELAHIRAN DAN PERAWATAN BAYI BARU LAHIR YANG KAMI INGINKAN PROSES KELAHIRAN NORMAL Proses Kelahiran bayi kami harap dapat dilakukan sealami mungkin. Apabila dibutuhkan Induksi, Pengguntingan, Vakum,
AKADEMI KEBIDANAN BAKTI INDONESIA BOGOR
YAYASAN PENDIDIKAN KESEHATAN BAKTI INDONESIA AKADEMI KEBIDANAN BAKTI INDONESIA BOGOR No. Izin : 50/D/O/2007 Akreditasi BAN-PT No : 021/BAN-PT/Ak-XII/DpI-III/VIII/2012 Kampus : Jl. Raya Bojong Kulur No.32,
1. ASUHAN IBU SELAMA MASA NIFAS
1. ASUHAN IBU SELAMA MASA NIFAS Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, berlangsung kirakira 6 minggu. Anjurkan
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PERAWATAN JENASAH
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PERAWATAN JENASAH Oleh: MEITY MASITHA ANGGRAINI KESUMA PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PERAWATAN
LAMPIRAN FORMULIR PERSETUJUN MENJADI RESPONDEN
LAMPIRAN FORMULIR PERSETUJUN MENJADI RESPONDEN HUBUNGN PENGETAHUAN TENTANG TRAUMA KEPALA DENGAN PERAN PERAWAT (PELAKSANA) DALAM PENANGANAN PASIEN TRAUMA KEPALA DI UNIT GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT QADR TANGERANG
Carolina M Simanjuntak, S.Kep, Ns AKPER HKBP BALIGE
Carolina M Simanjuntak, S.Kep, Ns Kala I Bantu ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan dan kesakitan Jika ibu tampak kesakitan, dukungan yg dapat dierikan : Perubahan posisi, tetapi jika
DAFTAR RIWAYAT HIDUP. : Jl Dame No.59 SM Raja Km 10 Medan-Amplas : TK Panglima Angkasturi, Medan : SD Negeri , Medan
LAMPIRAN 1 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama Lengkap : Chintya Pratiwi Putri Tempat/ Tanggal Lahir : Medan/ 23 Juli 1992 Jenis Kelamin Agama Alamat : Perempuan : Islam : Jl Dame No.59 SM Raja Km 10 Medan-Amplas
PANDUAN SKRINING PASIEN RSU BUNDA JEMBRANA
PANDUAN SKRINING PASIEN RSU BUNDA JEMBRANA 2015 BAB I DEFINISI Skrining merupakan pemeriksaan sekelompok orang untuk memisahkan orang yang sehat dari orang yang memiliki keadaan fatologis yang tidak terdiagnosis
BANTUAN NAFAS DENGAN AMBUBAG
BANTUAN NAFAS DENGAN AMBUBAG 14.41 No comments BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Oksigen memegang peranan penting dalam semua proses tubuh secara fungsional. Tidak adanya oksigen akan menyebabkan tubuh
PEMASANGAN NASO GASTRIC TUBE
PEMASANGAN NASO GASTRIC TUBE TUJUAN: Setelah menyelesaikan topik ini, mahasiswa mampu melakukan pemasangan pipa lambung/ngt. Tujuan pemasangan pipa lambung adalah Dekompresi lambung Mengambil sekret lambung
Pusat Hiperked dan KK
Pusat Hiperked dan KK 1. Gangguan pernafasan (sumbatan jalan nafas, menghisap asap/gas beracun, kelemahan atau kekejangan otot pernafasan). 2. Gangguan kesadaran (gegar/memar otak, sengatan matahari langsung,
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PURI BETIK HATI. Jl. Pajajaran No. 109 Jagabaya II Bandar Lampung Telp. (0721) , Fax (0721)
PANDUAN CUCI TANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PURI BETIK HATI Jl. Pajajaran No. 109 Jagabaya II Bandar Lampung Telp. (0721) 787799, Fax (0721) 787799 Email : [email protected] BAB I DEFINISI Kebersihan
LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) (INFORMED CONSENT)
LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) (INFORMED CONSENT) Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Umur : Alamat : Telp/HP: Setelah mendapat penjelasan dari penelitian tentang Tingkat Tingkat
Dilakukan. Komponen STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TEKNIK PEMIJATAN BAYI
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TEKNIK PEMIJATAN BAYI Komponen Ya Dilakukan Tidak Pengertian Gerakan/sentuhan yang diberikan pada bayi setiap hari selama 15 menit, untuk memacu sistem sirkulasi bayi dan denyut
TOKSIKOLOGI BEBERAPA ISTILAH. Toksikologi Toksisitas Toksin / racun Dosis toksik. Alfi Yasmina. Sola dosis facit venenum
TOKSIKOLOGI Alfi Yasmina BEBERAPA ISTILAH Toksikologi Toksisitas Toksin / racun Dosis toksik Sola dosis facit venenum 1 KLASIFIKASI Berdasarkan cara: Self-poisoning Attempted poisoning Accidental poisoning
PEMBERLAKUAN PEDOMAN PELAYANAN ASI EKSKLUSIF DAN INISIASI MENYUSUI DINI (IMD) DI RUMAH SAKIT BERSALIN (RSB) ASIH DIREKTUR RUMAH SAKIT BERSALIN ASIH,
PEDOMAN ASI EKSKLUSIF DAN INISIASI MENYUSUI DINI (IMD) RUMAH SAKIT BERSALIN KOTA METRO TAHUN 2014 KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BERSALIN ASIH NOMOR : TENTANG : PEMBERLAKUAN PEDOMAN PELAYANAN ASI EKSKLUSIF
Penanggulangan Gawat Darurat PreHospital & Hospital *
Penanggulangan Gawat Darurat PreHospital & Hospital * PENILAIAN AWAL (PRIMARY SURVEY) HARTONO** *dibacakan pada acara workshop "Penanggulangan Gawat Darurat PreHospital & Hospital IndoHCF, Bidakara Hotel,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan 1. Pengertian pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan
PERTOLONGAN GAWAT DARURAT
PERTOLONGAN GAWAT DARURAT I. DESKRIPSI SINGKAT Keadaan gawatdarurat sering terjadi pada jemaah haji di Arab Saudi. Keterlambatan untuk mengidentifikasi dan memberikan pertolongan yang tepat dan benar dapat
RESUSITASI JANTUNG PARU ( RJP ) CARDIO PULMONARY RESUSCITATION ( CPR )
RESUSITASI JANTUNG PARU ( RJP ) CARDIO PULMONARY RESUSCITATION ( CPR ) 1 MINI SIMPOSIUM EMERGENCY IN FIELD ACTIVITIES HIPPOCRATES EMERGENCY TEAM PADANG, SUMATRA BARAT MINGGU, 7 APRIL 2013 Curiculum vitae
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengetahuan 2.1.1. Definisi Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari Tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
GANGGUAN NAPAS PADA BAYI
GANGGUAN NAPAS PADA BAYI Dr R Soerjo Hadijono SpOG(K), DTRM&B(Ch) Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi BATASAN Frekuensi napas bayi lebih 60 kali/menit, mungkin menunjukkan satu atau
Aspirasi Vakum Manual (AVM) Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi
Aspirasi Vakum Manual (AVM) Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi No. Langkah/Kegiatan 1. Persiapan Lakukan konseling dan lengkapi persetujuan tindakan medis. 2. Persiapkan alat,
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN NEONATAL ESENSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN NEONATAL ESENSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa
SOAL-SOAL PELATIHAN BLS RS PUSURA SURABAYA
SOAL-SOAL PELATIHAN BLS RS PUSURA SURABAYA Pilih jawaban yang paling benar 1. Pada cardiac arrest yang bukan karena asphiksia dilakukan tindakan: a. Pijat jantung b. DC shock c. Pijat jantung nafas buatan
SATUAN ACARA PENYULUHAN
SATUAN ACARA PENYULUHAN PERAWATAN METODE KANGURU DI RUANG NEONATUS RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA Oleh: Kelompok C Program Profesi B13 1. Jehan Eka Prana S 131131174 2. Devi Hairina L 131131175 3. Silvia Risti
RJPO. Definisi. Indikasi
Algoritma ACLS RJPO Definisi Resusitasi atau reanimasi mengandung arti harfiah menghidupkankembali, dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatue pisode henti jantung berlanjut menjadi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Sebenarnya bayi manusia
18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Inisiasi Menyusu Dini 1. Definisi Inisiasi Menyusu Dini Inisiasi menyusu dini (early initiation/ the best crawl) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri
LEMBAR PERSETUJUAN PENELITIAN
LEMBAR PERSETUJUAN PENELITIAN Judul : Hubungan Pengetahuan Bidan Praktek Swasta Dengan Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kecamatan Tanjung Morawa Medan tahun 2011.
RESUSITASI. By : Basyariah Lubis, SST, MKes
RESUSITASI By : Basyariah Lubis, SST, MKes Resusitasi ( respirasi artifisialis) adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen
OTC (OVER THE COUNTER DRUGS)
OTC (OVER THE COUNTER DRUGS) Obat adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis,
PROTAP DAN SOP TRIASE DI UNIT GAWAT DARURAT/UGD RUMAH SAKIT
PROTAP DAN SOP TRIASE DI UNIT GAWAT DARURAT/UGD RUMAH SAKIT I. PENGERTIAN Triase (Triage) adalah tindakan untuk memilah/mengelompokkan korban berdasar beratnya cidera, kemungkinan untuk hidup, dan keberhasilan
Tindakan keperawatan (Implementasi)
LAMPIRAN CATATAN PERKEMBANGAN No. Dx Implementasi dan Evaluasi Keperawatan Hari/ Pukul tanggal 1 Senin / 02-06- 14.45 15.00 15.25 15.55 16.00 17.00 Tindakan keperawatan (Implementasi) Mengkaji kemampuan
KEDARURATAN LAIN DIABETES HIPOGLIKEMIA
DIABETES HIPOGLIKEMIA GEJALA TANDA : Pusing Lemah dan gemetar Lapar Jari dan bibir kebas Pucat Berkeringat Nadi cepat Mental bingung Tak sadar DIABETES HIPOGLIKEMIA PERTOLONGAN PERTAMA ; Bila tak sadar
MANUAL KETERAMPILAN KLINIK RESUSITASI NEONATUS. Tim Penyusun
MANUAL KETERAMPILAN KLINIK RESUSITASI NEONATUS Tim Penyusun Dr. dr. Ema Alasiry, Sp(K) dr. A. Dwi Bahagia Febriani, PhD, SpA(K) Prof. dr. Djauhariah A. Madjid, SpA(K) CSL REPRODUKSI FAKULTAS KEDOKTERAN
Asuhan Persalinan Normal. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi
Asuhan Persalinan Normal Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi 1 Mendengar, melihat dan memeriksa gejala dan tanda Kala Dua Ibu merasa ada dorongan kuat menekan Ibu merasa regangan
Pelatihan Internal RSCM Bantuan Hidup Dasar 2015 BANTUAN HIDUP DASAR. Bagian Diklat RSCM
Pelatihan Internal RSCM Bantuan Hidup Dasar 2015 BANTUAN HIDUP DASAR APA YANG HARUS DILAKUKAN? 2 Kategori penolong (TMRC) (dokter/perawat) (penolong awam) BANTUAN HIDUP DASAR Bantuan hidup dasar (BHD)
PROTAP DAN SOP TRIASE DI UNIT GAWAT DARURAT/UGD PUSKESMAS / RUMAH SAKIT
PROTAP DAN SOP TRIASE DI UNIT GAWAT DARURAT/UGD PUSKESMAS / RUMAH SAKIT I. PENGERTIAN Triase (Triage) adalah tindakan untuk memilah/mengelompokkan korban berdasar beratnya cidera, kemungkinan untuk hidup,
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Pengertian Persalinan Dan APN Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui janin lahir atau
MANAJEMEN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR
618.920 1 Ind m MANAJEMEN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR UNTUK BIDAN ACUAN Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI 2011 i Katalog Dalam Terbitan. Departemen Kesehatan
PENILAIAN PERTOLONGAN PERSALINAN NORMAL
PENILAIAN PERTOLONGAN PERSALINAN NORMAL Nilai 1 : langkah tidak dilakukan atau tidak dikerjakan dengan benar dan tidak urut (untuk yang berurutan) Nilai 2 : langkah dikerjakan dengan benar dan berurutan
Universita Sumatera Utara
PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada Yth, Bapak/Ibu.. Dengan hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini adalah mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Langkah I : Pengumpulan/penyajian data dasar secara lengkap
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. Langkah I : Pengumpulan/penyajian data dasar secara lengkap Pada pemeriksaan didapatkan hasil data subjektif berupa identitas pasien yaitu
LAMPIRAN. Lampiran 1
LAMPIRAN Lampiran 1 407 408 Lampiran 2 408 409 Lampiran 3 409 410 Lampiran 4 BUKU KIA 410 411 412 413 414 Lampiran 5 KSPR 414 415 416 Lampiran 6 416 LEAFLET PERSIAPAN PERSALINAN 417 418 LEAFLET TANDA-TANDA
ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN NY. S DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) DI IGD RS HAJI JAKARTA
ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN NY. S DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) DI IGD RS HAJI JAKARTA A. PENGKAJIAN 1. IDENTITAS No. Rekam Medis : 55-13-XX Diagnosa Medis : Congestive Heart Failure
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
13 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bantuan Hidup Dasar (Basic life support) 2.1.1. Definisi Istilah basic life support mengacu pada mempertahankan jalan nafas dan sirkulasi. Basic life support ini terdiri
KUESIONER PENELITIAN
162 KUESIONER PENELITIAN PENGARUH KOMPETENSI TERHADAP KINERJA PERAWAT DALAM KESIAPSIAGAAN TRIASE DAN KEGAWATDARURATAN PADA KORBAN BENCANA MASSAL DI PUSKESMAS LANGSA BARO TAHUN 2013 NO. RESPONDEN : I. PETUNJUK
Laporan Kasus. Water Sealed Drainage Mini dengan Catheter Intravena dan Modifikasi Fiksasi pada kasus Hidropneumotoraks Spontan Sekunder
Laporan Kasus Water Sealed Drainage Mini dengan Catheter Intravena dan Modifikasi Fiksasi pada kasus Hidropneumotoraks Spontan Sekunder Martin Leman, Zubaedah Thabrany, Yulino Amrie RS Paru Dr. M. Goenawan
LANGKAH-LANGKAH PERAWATAN KULIT WAJAH
LANGKAH-LANGKAH PERAWATAN KULIT WAJAH PERAWATAN MINGGUAN Selain perawatan harian, lakukan juga perawatan seminggu sekali untuk kulit wajah kita agar kulit terawat dengan maksimal. Langkah I Membersihkan
