Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah"

Transkripsi

1 Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah Widyarini Jurusan Keuangan Islam, Fakultas Syari ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta [email protected] Abstrak Manajemen periklanan diperlukan, guna dicapainya persaingan perusahaan yang sehat, pemberian informasi yang jujur, bertanggungjawab dan beretika yang semuanya bermuara pada moral pelaku bisnis. Jika hal ini dilakukan, maka konsumen akan merasa senang dan rizki yang diperoleh perusahaanpun mendapatkan barokah. Guna tercapainya manajemen periklanan yang baik, campur tangan Dewan Pengawas Iklan, pihak pemerintah (Kementrian Komunikasi) dan peran serta konsumen (masyarakat) sebagai pengawas sangat diperlukan. Kata Kunci: iklan, jujur, bertanggungjawab, beretika,bermoral. A. Pendahuluan Ajaran Islam melingkupi semua aspek kehidupan manusia, yang semuanya bermuara pada aspek moral, sebagai hakekat dari diutusnya Rasulullah ke dunia. Al-Qur an dan Hadis merupakan sumber tuntunan dalam berbagai hal yang harus dilakukan oleh manusia dalam perilaku, sikap maupun tutur kata, sehingga akhlak manusia menjadi indah. Dalam berbagai profesi manusia harus menerapkan keindaha akhlak ini, termasuk di dalamnya profesi berbisnis. Kesempurnaan agama seseorang tergantung pada bagaimana kualitas akhlaknya, yang tercermin dari perilaku. Di dalam melakukan kegiatan bisnis, akhlak mulia sangatlah penting karena akan menentukan barokah tidaknya rizki yang diterima dari penghasilannya tersebut. Di sisi lain, bila manusia mengacu pada QS. Fussilat 46, serta menggunakannya sebagai dasar pola berpikir maka tingkat keimanan tersebut akan mampu mengubah perilakunya untuk menjadi lebih baik.

2 3 ( 96 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah Ï Î7yèù=Ïj9 5Ο =sàî/ y7 /u $tβuρ $yγøšn=yèsù u!$y r& ô tβuρ ÏμÅ ø uζî=sù $[sî= ¹ Ÿ ÏΗxå ô Β Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambanya (QS. Fussilat:46) Mengacu pada ayat tersebut, maka pebisnis hendaknya mengelola bisnisnya dengan cara yang dibenarkan oleh tuntunan Agama Islam, termasuk berbagai kegiatan yang melingkupinya. Perbuatan baik yang ditanamkan, akan dituai kemudian. Sebaliknya perbuatan yang kurang baik, juga akan dituai suatu waktu kelak. Intinya adalah apa yang kita tanam, pasti akan kita unduh hasilnya. Salah satu kegiatan penting dalam bisnis adalah pemasaran produk. Pemasaran merupakan kunci keberhasilan perusahaan, karena berhubungan secara langsung dengan calon konsumennya. Berbagai bentuk kegiatan dilakukan oleh manajemen pemasaran dalam rangka tercapainya tujuan pemasaran maupun tujuan perusahaan secara keseluruhan. Kesalahan pengambilan keputusan di dalam memasarkan produk, akan berdampak terjadinya kerugian yang sangat besar. Walaupun perusahaan mampu membuat produk dengan kualitas baik, namun bila tidak bisa memasarkan produk tersebut dengan tepat, maka produk tidak dapat terjual seperti harapan. Secara umum manajemen pemasaran berisi empat inti pokok kegiatan yang disebut dengan Bauran Pemasaran, yaitu Produk, Harga, Kegiatan Saluran Pemasaran, dan Promosi. Ketepatan kombinasi terbaik dari keempat variabel ini akan mampu memberikan hasil yang terbaik. Pilihan kombinasi sangat tergantung pada jenis, macam ataupun berbagai hal yang terkait secara langsung (antara lain: segmen pasar, lokasi, jumlah) dari produk yang ditawarkan. B. Kajian Teoritik Berbagai kegiatan promosi dilakukan oleh penjual dengan tujuan mengenalkan produk, memberitahukan, meyakinkan, membujuk ataupun mengingatkan keberadaan suatu produk perusahaan. Kegiatan Promosi merupakan bagian dari komunikasi antara penjual dengan pembeli. Banyak cara yang

3 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah 97 dapat dilakukan di dalam kegiatan promosi yang biasa disebut dengan istilah bauran promosi. Pada awalnya Kotler mendefinisikan bahwa Bauran promosi adalah kombinasi dari lima kegiatan yaitu periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, personal selling, dan pemasaran langsung 1. Namun perkembangannya sampai dengan saat ini Kotler dan Keller mendefinisikan komunikasi pemasaran adalah kombinasi dari tujuh kegiatan yaitu periklanan; personal selling; promosi penjualan; acara dan pengalaman; hubungan masyarakat dan publisitas; pemasaran langsung dan pemasaran interaktif serta pemasaran dari mulut ke mulut 2. Kombinasi terbaik dari kegiatan ini sangat tergantung pada jenis produk dan sasaran pasar yang dituju. Penentuan kegiatan juga harus mempertimbangkan jumlah dana yang tersedia dan efek yang ditimbulkan dengan adanya kegiatan tersebut. Kegiatan promosi dikatakan efektif jika mampu memenuhi beberapa persyaratan yaitu: tepat sasaran, isi pesan, waktu, tempat atau lokasi pemasangan serta ketepatan di dalam pemilihan media. Kegiatan Pomosi dapat dikatakan sebagai salah satu kunci keberhasilan di dalam proses penjualan. Tanpa kegiatan promosi yang efektif serta gencar, masyarakat menjadi kurang mengenal produk tersebut. Sebagai akibatnya tidak terjadinya penjualan seperti harapan penjual. Tentu saja untuk menarik perhatian calon pembeli, promosi harus dikemas dengan tema yang menarik, agar mendapat perhatian dari pasar yang dituju serta mampu memotivasi untuk mencobanya dengan melakukan pembelian. Pada prinsipnya Islam tidak melarang kegiatan promosi, asalkan tidak bertentangan dengan syari at Islam. Jadi informasi yang disampaikan haruslah benar, jujur serta menjauhi penipuan. Manajemen Pemasaran yang islami pada dasarnya adalah melakukan kegiatan memasarkan produk yang dijiwai oleh nilainilai spiritual. Maksudnya adalah dalam pelaksanaannya dilakukan atas dasar kebenaran yang terpancar dari Al Qur an dan Sunnah Nabi. Jadi di dalam bertindak ataupun di dalam 1 Kotler, Philip, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: PT Prehallindo, 1997), hlm Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: Indeks, 2009), hlm. 175.

4 4 98 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah menentukan kebijakan mengandung nilai-nilai ibadah serta meyakini akan mendapat ridlo Allah SWT. QS. An-Nahl dan QS. Al-Ahzab menyatakan: n?tã (#ρç tiø tgïj9 Π#t ym #x yδuρ n=ym #x yδ z>é s3ø9$# ãνà6çgoψå ø9r& ß#ÅÁs? $yϑï9 (#θä9θà)s? Ÿωuρ tβθßsî=ø ムŸω z>é s3ø9$# «!$# n?tã tβρç tiø tƒ t Ï%!$# βî) z>é s3ø9$# «!$# Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebutsebut oleh lidahmu secara Dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl: 116). #Y ƒï y Zωöθs% (#θä9θè%uρ!$# (#θà)?$# (#θãζtβ#u t Ï%!$# $pκš r' tƒ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar. (QS. Al-Ahzab: 70) Kedua ayat ini menunjukkan bahwa suatu pernyataan harusnya dilandasi kejujuran, barang haram jangan dikatakan halal, demikian juga sebaliknya. Konsekuensi logis dari suatu kebohongan adalah ketidak berkahan rizki yang didapat serta kebohongan tersebut dalam jangka waktu panjang akan terungkap dan akan ditinggalkan oleh pembelinya. Di dalam melakukan kegiatan promosi, seorang pemasar selain menyampaikan kelebihan (kualitas) produk, juga harus menggunakan kata-kata yang tepat dan benar (jujur). Hal ini ditunjukkan dalam Hadis berikut: Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi bisnis, sebab dapat menghasilkan sesuatu penjualan yang cepat tapi menghapuskan berkah. (HR Al-Bukhari dan Muslim). Menjadi manusia terkendali dan seimbang (tawazun), bukan manusia serakah yang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan. Dan bukan menjadi manusia yang bahagia

5 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah 99 di atas penderitaan orang lain, adalah dambaan setiap insan sholeh/sholehah. Dengan bekal tersebut, maka manusia akan berusaha untuk tidak menghalalkan segala cara di dalam menawarkan produk. Di dalam melakukan komunikasi, manajemen perlu memilih strategi yang tepat, agar menghasilkan volume penjualan seperti harapan perusahaan. Bersumpah di dalam ayat tersebut dapat diartikan sebagai janji yang diucapkan oleh pemasar, atas penawaran produknya. Misalnya: dalam iklan dikatakan produk merk X adalah yang terbaik, termurah. Kebenaran dari pernyataan tersebut belum tentu, artinya pernyataan dibuat hanya untuk memunculkan daya tarik, sementara kebenarannya tidak dapat dipertanggung jawabkan karena tanpa dukungan data. Peran komunikasi pemasaran dikatakan sangat penting, jika menghadapi beberapa situasi antara lain: perusahaan mengeluarkan produk baru, melakukan perubahan harga (penurunan harga) dan melakukan kebijakan baru lainnya (yang perlu diketahui oleh calon konsumen). Dengan adanya komunikasi tersebut (dalam bentuk pemberian informasi yang menggembirakan bagi calon pembeli) diharapkan mampu meningkatkan volume penjualan secara signifikan. Banyak cara untuk mengkomunikasikan produk, namun iklan merupakan cara yang paling efektif, karena bisa memberikan informasi secara massal dengan menggunakan media massa. Selain itu, iklan dapat dikemas dalam bentuk gambar, tulisan, maupun cerita pendek serta bisa berdiri sendiri tanpa dikombinasikan dengan kegiatan promosi lainnya. Sedangkan komunikasi dengan cara lain, cenderung memerlukan kombinasi. Sebagai contoh melakukan kegiatan promosi penjualan, dalam bentuk pameran batik di suatu gedung pertemuan yang cukup terkenal di kota tertentu. Maka kegiatan promosi penjualan ini perlu didukung dengan kegiatan periklanan, guna pemberitahuan kepada masyarakat umum. Tanpa iklan, masyarakat ataupun sasaran pasar yang dituju tidak mengetahui adanya kegiatan pameran tersebut. Periklanan yang dilakukan dapat berupa iklan di surat kabar, brosur, spanduk, baliho, radio, hand phone, internet maupun iklan melalui televisi.

6 100 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah Setiap jenis media memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga dengan melakukan kombinasi yang tepat, akan membuat perusahaan (merk produk) semakin dikenal oleh masyarakat umum. Contoh media cetak yang bisa digunakan antara lain: surat kabar, tabloid, majalah, baliho, booklet maupun brosur. Sedangkan media elektronik antara lain radio, internet, hand phone dan televisi. Ketatnya persaingan antar produk mengharuskan pengusaha untuk melakukan perang iklan dalam media yang sama dan bila memungkinkan ditambah media lain dengan segmen pasar yang sama. Ketepatan isi pesan iklan sangat penting, karena berdampak pada penangkapan persepsi isi pesan bagi segmen pasarnya. Iklan dikatakan menarik, jika mampu menampilkan daya tarik dalam memunculkan kata, gambar, warna ataupun cerita pendek. Iklan dalam bentuk cerita pendek perlu mempertimbangkan beberapa hal antara lain: ketepatan di dalam pemilihan isi pesan, bintang iklan, ide cerita, alur cerita, maupun dialog. Daya tarik iklan melalui media cetak ataupun elektronik menuntut kreativitas dan ide yang berbeda. Dalam penyampaian isi pesan melalui media iklan ada beberapa tujuan, yaitu: mengenalkan produk baru, sekedar memberitahu, meyakinkan produknya terbaik maupun untuk mengingatkan bahwa produk tersebut masih ada. Perbedaan tujuan tersebut berhubungan dengan tahapan di dalam siklus hidup produk, sehingga akan berdampak pada perbedaan isi pesan. Pada tahap perkenalan, maka pesan iklan berisi tentang informasi bahwa produknya baru, yang lebih menekankan pada keistimewaan atau keunikan produk. Pada tahap pertumbuhan pesan iklan berisi penekanan bahwa produknya adalah yang terbaik dibandingkan pesaingnya. Sehingga kalimatnya cenderung bombastis bahkan kadang menyerang produk pesaing (misal: meniru slogan, warna produk/logo perusahaan dibuat sama). Pada tahap kedewasaan, volume penjualan relatif stabil, perusahaan memasang iklan dengan pesan yang lebih menekankan bahwa produknya masih ada, serta dimungkinkan penggunaan lain dari produk tersebut. Sedangkan pada tahap terakhir yaitu penurunan volume penjualan produk, isi pesan lebih low profile artinya bahasa pesan lebih banyak sekedar pemberitahuan yang cenderung berhubungan dengan informasi diskon harga. Diskon harga tidak selalu bermakna turunnya

7 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah 101 harga, namun dapat berupa pemberian hadiah pada saat melakukan pembelian (misal: beli pasta gigi dapat hadiah sikat gigi), atau bonus (misal: beli satu dapat dua), ataupun taktik pemasaran lainnya. Iklan dapat dikatakan efektif jika memenuhi beberapa ketepatan yaitu: tepat pesan, sasaran, media, tempat/lokasi maupun waktu. Tepat pesan artinya pesan yang disampaikan oleh si pengirim pesan, akan diterima dengan makna sama oleh si penerima pesan. Jika sasaran iklan adalah remaja, tentunya dengan menggunakan bahasa yang tidak baku (misal: loe gue end) lebih mudah diterima oleh mereka. Tepat sasaran adalah penyampaian pesan oleh si pengirim pesan bisa diterima oleh target pasarnya. Untuk bisa tepat sasaran, manajemen harus mengetahui media apa yang biasa dibaca, didengar, ataupun dilihat oleh target pasarnya termasuk di dalamnya ketepatan waktu pemasangan iklan. Sebagai contoh: target pasar iklan adalah mahasiswa dan iklan akan dipasang di media televisi. Maka si pemasang iklan harus mencari tahu mayoritas mahasiswa biasanya menonton di stasiun televisi mana dan acara apa yang mereka senangi, serta pada jam berapa ditayangkan. Dengan mengetahui informasi tersebut, maka pemasangan iklan diusahakan untuk ditayangkan sesuai dengan informasi yang didapat, dengan harapan disaksikan oleh banyak orang yang menjadi sasaran pasarnya. Apabila dananya memungkinkan berbagai alternatif kesempatan yang dianggap disukai oleh masyarakat, sebaiknya dipilih sebagai media penayangan iklan. Semakin banyak frekuensi penayangan, semakin besar kemungkinan untuk dilihat oleh sasaran. Ditinjau dari segi negatifnya, iklan melalui televisi memerlukan dana besar untuk penayangan dan pengemasan pesan yang menarik. Jika kurang menarik tidak akan dilihat oleh pemirsa, mereka lebih senang memindahkan saluran televisinya ke acara lain. Pada dasarnya media cetak dan elektronik memiliki pendekatan berbeda, media cetak mengharuskan calon konsumen untuk membacanya, sehingga diperlukan pemilihan kata (dalam bentuk tulisan maupun pemilihan macam huruf) dan atau gambar (warna), dibuat menarik serta mudah diingat. Contoh pemilihan kata yang cukup menarik: Kutahu yang kau mau. Sedangkan untuk media elektronik, lebih memberikan

8 102 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah daya tarik karena tulisan, gambar, suara dan gerakan yang bisa menyatu untuk menguatkan isi pesan. Iklan melalui media elektronik yang mungkin dilakukan oleh manajemen, harus mampu mendeteksi kelebihan dan kekurangan media tersebut. Untuk produk dengan sasaran masyarakat kelas sosial (kondisi ekonomi) dan pendidikan beragam, maka televisi merupakan media yang paling tepat. Selain mayoritas masyarakat memiliki televisi, di tempat-tempat tertentu (misal: di kelurahan) dipasang televisi untuk umum, sehingga setiap orang bisa menyaksikan secara gratis. Menarik untuk dicermati persaingan iklan melalui media televisi, selain sebagai sarana komunikasi, kadang di dalam penyampaian pesannya menjadi sebuah hiburan (ceritanya lucu), mampu memunculkan ide-ide baru (kreativitasnya bisa ditiru), membuat gemas (bintang iklan dengan ekspresi bayi yang lucu), bahkan membuat jengkel bagi para pemirsanya (suaranya parau). Sebuah iklan dikatakan berhasil, apabila pemirsanya menyukai penayangan iklan ataupun selalu ingat isi pesannya (meskipun tidak disukai-ingat karena aneh). Sehingga pada saat iklan ditayangkan pemirsa tidak mengubah saluran ke stasiun televisi lain, namun dengan senang hati menyaksikannya. Keberhasilan iklan dapat diketahui pula dari atensi pemirsa yang ditunjukkan dengan menggunakan bahasa iklan dalam percakapan sehari-hari aku ga punya pulsa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemirsa sering memperhatikan bahasa/slogan iklan suatu produk, sehingga hapal dan menggunakannya pada saat dipandang tepat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Konsekuensi logis dari kemampuan mengingat bahasa/slogan tersebut, maka pemirsa akan selalu mengingat produk yang diiklankan. Kondisi inilah yang diharapkan oleh manajer pemasaran. Suatu iklan dapat dikatakan memiliki daya tarik untuk dilihat harus memenuhi beberapa kriteria antara lain: ide cerita, isi pesan, bintang iklan, alur cerita maupun lingkungan pendukung. Cerita iklan harus dibuat cukup menarik untuk dilihat serta tidak membosankan. Untuk menyiasati kebosanan pemirsa dalam melihat tayangan iklan, perusahaan dapat memunculkan beberapa versi cerita, baik dengan tema sama, berbeda ataupun bersambung. Jika tema (cerita) iklan menarik, iklan bersambung akan ditunggu penayangan berikutnya karena

9 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah 103 pemirsa ingin tahu kelanjutan dari cerita dalam iklan tersebut. Di dalam cerita iklan, pemeran bintang iklan biasanya menjadi pusat perhatian pemirsa, terutama jika menggunakan artis terkenal (public figure). Bintang iklan terkenal yang digemari dan menjadi idola masyarakat, merupakan salah satu alternatif pilihan agar masyarakat mau mengikuti jejaknya. Secara umum yang dimaksud dengan Bintang iklan adalah sosok manusia atau binatang ataupun tokoh kartun sebagai pemeran utama dalam suatu cerita, yang akan membawa iklan tersebut menjadi menarik atau tidak. Penggunaan artis idola atau tokoh masyarakat atau ulama terkenal akan menjadi panutan, sehingga memiliki nilai plus bagi pemirsanya. Namun bintang iklan yang belum terkenal tidak berarti tidak layak untuk dilihat, jika bintang iklan tersebut mampu melakukan perannya dengan baik. Pemeran pendukung atau pemeran pembantu adalah orang-orang yang dilibatkan di dalam cerita iklan yang akan ditayangkan. Pemeran pendukung bisa menggunakan artis maupun masyarakat awam yang memiliki karakter seperti yang dibutuhkan di dalam cerita iklan. Jika iklan dibuat animasi, tentunya bintang iklan maupun pemeran pendukung hanya berupa ilustrasi dari tokoh cerita khayal. Dengan adanya pemeran pembantu ini, diharapkan cerita iklan mampu menggambarkan suasana seperti senyatanya. Ide cerita iklan adalah inspirasi yang dimunculkan di dalam pembuatan cerita iklan, yang dipandang kreatif, untuk menarik perhatian pemirsa. Ide cerita yang mampu tampil beda, tanpa meninggalkan isi pesan yang disampaikan, akan memiliki daya tarik lebih tinggi bagi pemirsa untuk menyaksikannya. Harapan selanjutnya adalah akan selalu diingat oleh pemirsa dalam jangka panjang. Alur cerita adalah rangkaian atau tahapan cerita untuk sampai pada suatu akhir cerita, dengan mengusung tema tertentu. Alur cerita yang runtut akan memudahkan pemirsa untuk bisa menerima isi pesan yang akan disampaikan. Alur cerita yang tidak runtut akan membingungkan pemirsa, bahkan mungkin pemirsa tidak akan mampu menangkap isi pesan yang disampaikan. Dalam penyampaian sebuah tema cerita, dimungkinkan antar sub cerita tidak berhubungan secara

10 104 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah langsung, namun harus ada benang merah penyambung agar pemirsa masih bisa menangkap maksud dari tayangan iklan tersebut. Benang merah yang dimaksudkan adalah memiliki tema atau isi pesan sama, namun dibawakan dalam versi berbeda. Dialog adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk menguatkan cerita, dalam rangka penyampaian pesan ke pemirsa televisi. Dialog pada umumnya dilakukan dengan menggunakan bahasa lisan, bahasa tubuh yang kadang didukung dengan pemanfaatan warna atau simbol. Dialog akan disebut baik bila isi pesan yang disampaikan dapat ditangkap sama maknanya oleh si penerima pesan. Sehingga di dalam cerita iklan yang menggunakan dialog, lebih menekankan pada isi pesan iklan agar maksudnya dapat diterima oleh pemirsa dengan persepsi sama. Variabel-variabel daya tarik iklan tidak semua harus digunakan, kombinasi dapat dilakukan seminimal mungkin, tanpa mengubah isi pesan, merupakan alternatif pilihan terbaik bagi pemasang iklan. Hal ini akan menekan biaya produksi pembuatan iklan serta mempercepat waktu tayang. Jika keduanya dapat dilakukan berarti mampu melakukan penghematan biaya. Suatu iklan yang penting bukan lamanya waktu tayang (durasi), namun lebih pada penyampaian ide cerita yang unik, mudah ditangkap maksudnya serta isi pesan iklan dapat diterima sama dengan keinginan si pengirim pesan. Iklan yang mampu tampil beda ataupun memunculkan slogan bagus dengan menggunakan kata sederhana dan mudah diingat, akan memiliki daya tarik tersendiri bagi pemirsanya. Iklan yang menarik di televisi tidak berarti mampu meningkatkan volume penjualan secara langsung. Iklan yang menarik, mampu membuat pemirsa bersedia untuk menyaksikan, bahkan senang menyaksikan. Jika hal ini dapat dicapai bisa dikatakan iklan tersebut berhasil. Jika pemirsa bersedia melihat, tahapan berikutnya adalah mampu menangkap isi pesan iklan serta mengingat isi pesan tersebut. Jika tahapan kedua sudah dilalui, maka tahapan terakhirnya adalah bersedia melakukan pembelian produk tersebut, pada saat membutuhkan.

11 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah 105 Perkembangan dan persaingan iklan di televisi dewasa ini sangat cepat dan penuh dengan kreativitas, meskipun kadang melanggar etika, norma agama ataupun pemirsanya tidak mampu menangkap apa maksud pesan iklan tersebut. Ketidak mampuan pemirsa menangkap iklan disebabkan oleh penyampaian isi pesan dalam ceritanya kurang jelas (misal: iklan rokok), sehingga pada saat menyaksikan iklan hanya sekedar untuk hiburan (melihat kelucuan maupun keunikan cerita dalam penyampaian isi pesan iklan). Harapan bersaing secara sehat di dalam usahanya memenangkan persaingan bisnis adalah dambaan setiap pengusaha. Namun di dalam praktik, persaingan yang sehat, tidak selalu dilakukan. Tindakan melanggar etika, etika pariwara maupun norma agama, banyak ditayangkan di media televisi. Persaingan tidak sehat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: isi pesan disampaikan untuk menyerang, menjatuhkan, mengolok-olok, menyindir produk pesaing. Tindakannya adalah memunculkan warna, simbol ataupun penggunaan kata yang cenderung memojokkan pesaing. Etika merupakan studi sistematis tentang tabiat, konsep nilai, baik, buruk, harus, benar, salah dan sebagainya, serta prinsip-prinsip umum yang berfungsi sebagai pembenar dalam pengaplikasian atas apa saja. Sedangkan pengertian Etika dalam fungsi promosi menurut Muslich adalah: kebenaran dan kejujuran obyektifitas pesan faktual yang disampaikan 3. Kata kuncinya adalah etis, guna membangun image kepercayaan pada konsumen melalui obyektifitas sesuai dengan kualifikasi dari barang atau jasa yang diiklankan. Image tidak akan terbangun pada masyarakat tanpa didasari adanya kebenaran dan kejujuran. Jika digambarkan konsep Etika Promosi yang Islami adalah sebagai berikut 4 : 3 Muslich, Etika Bisnis Islami, (Yogyakarta: Penerbit Ekonisia, 2004) hlm Ibid.

12 106 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah Misi Informasi Promosi Kegunaan Produk Kualifikasi Produk Karakteristik Produk Fakta/riil Jujur Dari gambar tersebut, terlihat bahwa berbagai hal yang berhubungan secara langsung atas produk yang ditawarkan, mulai dari kegunaan, kualifikasi dan karakteristik harus disampaikan secara jujur, agar konsumen bisa melakukan pemikiran pilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginan. Dampak dari pengambilan keputusan konsumen adalah tingkatan kepuasan. Dampak terjadinya kepuasan (puas ataupun sangat puas) adalah doa yang sangat manfaat bagi perusahaan pembuat produk, untuk bisa berkelangsungan dalam jangka panjang. Iklan merupakan salah satu kegiatan bisnis dalam usahanya untuk meningkatkan volume penjualannya dengan cara memperkenalkan, menginformasikan usahanya melalui media tertentu. Dengan demikian, iklan tidak bisa lepas dari etika yang berlaku. Etika tersebut bisa ditinjau dari beberapa sisi, antara lain: Etika Pariwara Indonesia (EPI) yang disusun oleh Dewan Periklanan Indonesia dan juga norma umum maupun norma agama. Etika Pariwara Indonesia menggunakan azas:

13 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah 107 a. Jujur, benar dan bertanggung jawab b. Bersaing secara sehat c. Melindungi dan menghargai khalayak, tidak merendahkan agama, budaya, negara, dan golongan, serta tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. 5 Pengertian iklan menurut pendapat para pakar ada beberapa versi. Dalam pembahasan ini, pengertian iklan adalah pesan komunikasi pemasaran atau komunikasi publik tentang sesuatu produk yang disampaikan melalui media, dibiayai oleh pemrakasa yang dikenal, serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat. 6 Tata krama yang harus diikuti menurut DPI adalah: Poin 1. Isi Iklan Poin 1.1. Hak Cipta Penggunaan, penyebaran, penggandaan, penyiaran atau pemanfaatan lain materi atau bagian dari materi periklanan yang bukan milik sendiri, harus atas ijin tertulis dari pemilik atau pemegang merk yang sah. Poin 1.2. Bahasa: Bahasa tidak menggunakan persandian (enkripsi) yang dapat menimbulkan penafsiran selain dari yang dimaksud oleh perancang pesan iklan tersebut Iklan tidak boleh menggunakan kata-kata superlatif seperti paling, nomor satu, top, atau kata-kata berawalan ter dan atau yang bermakna sama, tanpa secara khas menjelaskan keunggulan tersebut yang harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari otoritas terkait atau sumber yang otentik. Poin 1.4. Penggunaan Kata Satu-satunya Iklan tidak boleh menggunakan kata satu-satunya atau yang bermakna sama, tanpa secara khas menyebutkan dalam hal apa produk tersebut menjadi satu-satunya dan hal apa produk 5 Dewan Periklanan Indonesia, Etika Pariwara Indonesia, (Jakarta: 2007), hlm Ibid.

14 108 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah tersebut menjadi satu-satunya dan hal tersebut harus dapat dibuktikan dan dipertanggung jawabkan. Poin 1.5. Pemakaian Kata Gratis Kata gratis atau kata lain yang bermakna sama tidak boleh dicantumkan dalam iklan, bila ternyata konsumen harus membayar biaya lain. Biaya pengiriman yang dikenakan kepada konsumen juga harus dicantumkan dengan jelas. Poin 1.6. Pencantuman Harga Jika harga suatu produk dicantumkan dalam iklan, maka ia harus ditampakkan dengan jelas, sehingga konsumen mengetahui apa yang akan diperolehnya dengan harga tersebut. Poin Merendahkan Iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung maupun tidak langsung. Poin Peniruan Iklan tidak boleh dengan sengaja meniru iklan produk pesaing, sedemikian rupa sehingga dapat merendahkan produk pesaing ataupun menyesatkan atau membingungkan khalayak. Peniruan tersebut meliputi baik ide dasar, konsep atau alur cerita, setting, komposisi musik maupun eksekusi. Dalam pengertian eksekusi termasuk model, kemasan, bentuk merek, logo, judul atau subjudul, slogan, komposisi huruf dan gambar, komposisi musik baik melodi maupun lirik, ikon atau atribut khas lain, dan properti Iklan tidak boleh meniru ikon atau atribut khas yang telah lebih dulu digunakan oleh sesuatu iklan produk pesaing dan masih digunakan hingga kurun dua tahun terakhir. Poin 3. Pemeran Iklan Anak-anak tidak boleh digunakan untuk mengiklankan produk yang tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak, tanpa didampingi oleh orang dewasa. (Catatan: yang dimaksud anak-anak di bawah usia 12 tahun).

15 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah Iklan tidak boleh menampilkan anak-anak sebagai penganjur bagi penggunaan suatu produk yang bukan untuk anak-anak Iklan tidak boleh menampilkan adegan yang mengeksploitasi daya rengek (pester power) anak-anak dengan maksud memaksa para orang tua untuk mengabulkan permintaan anak-anak mereka akan produk terkait. 7 Persaingan Iklan di Handphone Perkembangan kegiatan periklanan dewasa ini sangat pesat, baik melalui media cetak (contoh: surat kabar, majalah, tabloid, leaflet, spanduk, baliho) dan media elektronik (contoh: televisi, radio, hand phone, internet). Kecanggihan teknologi telah mampu menghilangkan batas jarak dan waktu antara penjual dengan pembeli. Menarik untuk dicermati perkembangan periklanan melalui handphone dan internet yang mampu mengalahkan media televisi terutama yang berhubungan dengan waktu. Handphone mampu menembus calon pembeli setiap saat selagi dalam posisi aktif. Sementara televisi tidak selalu dilihat oleh pemirsanya (calon pembeli/ segmen pasar). Informasi/pesan melalui handphone sangat sulit dipantau maupun dilakukan pembatasan oleh pemerintah, karena bersifat pribadi. Dengan demikian, semua iklan akan mengalir tanpa batas. Kondisi ini perlu perhatian dari masyarakat maupun pemerintah untuk mengantisipasi dan mencarikan solusi penanganannya. Iklan pada pembungkusan (kemasan) barang Penjelasan dalam bungkus barang, harus benar-benar sesuai dengan isi barang yang dibungkusnya dan harus sesuai juga dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti akan lebih baik. Misal: pada bungkus kain sarung tertulis DITANGGUNG TIDAK LUNTUR maka sarung di dalam bungkus tersebut harus benar-benar warnanya tidak luntur. 7 Ibid., hlm. 20.

16 110 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah Contoh lain yang cukup menarik adalah informasi tentang jumlah isi tisue dalam satu dos, yang tertulis pada kardusnya. Jarang konsumen melakukan pembuktian jumlah lembar tisue yang ada di dalam dos dengan tulisan yang tertera pada dos tersebut. Selain perlu waktu lama, tisue tersebut menjadi kotor, sehingga orang lain tidak bersedia untuk menggunakannya. Informasi ini rawan terhadap kebohongan, pembeli hanya percaya dan tidak tertarik untuk membuktikan. Meskipun nilai rupiah dari kebohongan yang dilakukan sangat rendah, namun tanggung jawab moral perusahaan sangat diperlukan. Untuk itu, perlu adanya kejujuran dari manajemen ataupun tingkat kehati-hatian atas penggunaan mesin pengepak tisue. Mesin pengepakan yang jarang di tera, sangat mungkin melakukan kesalahan karena terjadinya pergeseren ukuran. Kasus ini menunjukkan adanya kemungkinan ketidak sengajaan dari perusahaan dalam ketidak cocokan antara isi dengan informasi. Namun demikian, manajemen tetap harus bertanggungjawab atas kecerobohan yang dilakukannya. Bukanlah pekerjaan yang mudah untuk mendapatkan predikat manusia yang berakhlak mulia. Kejujuran dalam menyampaikan informasi adalah penting, agar pembeli tidak merasa tertipu. Dalam Hadis disebutkan: Kalian harus jujur karena jujur akan menunjukkan (jalan) ke surga. Dan seseorang yang senantiasa jujur dan memang bermaksud jujur, sehingga ia dituliskan di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (shiddiq). (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Al-Tirmidzi). Persaingan Iklan di Media Televisi Berbagai jenis produk ditawarkan di media televisi, yang kadang terlalu bombastis. Misalnya: a. iklan obat-obatan, yang menawarkan produk dengan iming-iming kesembuhan dari penyakit dalam waktu singkat. b. Iklan provider seluller menayangkan isi pesan iklan tidak dilakukan secara lengkap, memberi tekanan pada pesan murah, dalam kenyataannya bersyarat. Syarat tersebut

17 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah 111 tidak diinformasikan dengan jelas di dalam penayangan iklan. c. Iklan dengan tema cerita yang tidak mendidik (mengambil barang orang lain, tanpa minta ijin, alias mencuri). d. Iklan untuk orang dewasa, ditayangkan sore hari, pada saat anak-anak belum tidur sehingga mereka menyaksikannya. e. Menggunakan bintang iklan anak-anak pada hal segmennya bukan anak-anak. Dari berbagai contoh di atas, iklan perlu mendapat perhatian dari pemerintah khususnya menteri komunikasi. Pesan iklan di televisi harus sudah ditinjau dan ditindak lanjuti, agar tidak memberikan contoh kurang baik bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan. Keterbatasan wawasan dan intelegensi akan berdampak menerima secara mentah apa yang dilihat, terutama pada penayangan iklan di media televisi. Penyerapan iklan melalui media ini sangat sensitif namun juga kadang sangat teledor. Rambu-rambu larangan telah dilanggar, demi keberhasilan penjualan. Suatu kondisi yang harus menjadi perhatian kita bersama untuk menghindari melihat iklan-iklan yang tidak beretika. Manajer pemasaran beserta jajarannya, mestinya memiliki tanggungjawab serta akhlak mulia di dalam mengelola kegiatan periklanannya. Tidak hanya sekedar mengejar keberhasilan penjualan melalui media iklan, namun juga mempertontonkan iklan menarik, yang beretika serta mendidik bangsa dengan isi pesan yang baik. Dewan Pengawas Iklan mestinya bisa berfungsi secara lebih baik, serta perlu adanya pengawasan dari pemerintah untuk menindak secara tegas atas penyimpangan iklan yang tidak beretika (khususnya iklan melalui media televisi), atas dasar undang-undang yang berlaku. Peran serta konsumen (masyarakat) diperlukan, bila mengetahui penyimpangan yang ada untuk segera melaporkan pada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, polisi, ataupun pihak-pihak terkait. Tindakan ini diperlukan, agar tidak semakin banyak konsumen yang dirugikan.

18 112 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah C. Penutup Periklanan merupakan tanggung jawab bersama antara pemasang iklan, pihak perusahaan yang akan menayangkan iklan produknya dan pengawasan pemerintah. Perhatian ditekankan pada pesan iklan harus jujur, benar (tidak menyesatkan) dan bertanggungjawab, bersaing secara sehat dan beretika/bermoral. Adalah tanggung jawab moral semua pihak, agar iklan tidak mengandung unsur penipuan, kebohongan dan pemberian contoh perilaku yang kurang baik, agar tidak ditiru oleh anggota masyarakat. Manajemen periklanan merupakan tanggung jawab berbagai pihak yaitu perusahaan produk, media, pemerintah dan peran serta konsumen. Tanpa kepedulian semua pihak, pendidikan akhlak tidak akan terbangun dengan baik.

19 Widyarini: Manajemen Periklanan dengan Pendekatan Syariah 113 Daftar Pustaka Swastha Dh., Basu, dan Hani Handoko, Manajemen Pemasaran Modern, Yogyakarta: Liberty, Bertens, K., Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta: Kanisius, Dewan Periklanan Indonesia, Etika Pariwara Indonesia, Jakarta: al-haddar, Habib Muhammad, 361 Hadis (terjemahan), Bandung: Pustaka Hidayah, Hasan, Aedy, Teori dan Aplikasi Etika Bisnis Islam, Bandung: Alfa Beta, James F., Engel dkk, Perilaku Konsumen, Jakarta: Binarupa Aksara, Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller, Manajemen Pemasaran, Jakarta: Indeks, Kotler, Philip, Manajemen Pemasaran (terjemahan), jilid 2, Jakarta: PT Prehallindo, Muslich, Etika Bisnis Islami, Yogyakarta: Penerbit Ekonisia, Stanton, J. William, Prinsip Pemasaran (terjemahan), jilid 1, Jakarta: Penerbit Erlangga, Widyarini, Manajemen Pemasaran, Yogyakarta: Fakultas Syari ah dan Hukum Press, 2012.

PERSYARATAN IKLAN ALAT KESEHATAN DAN

PERSYARATAN IKLAN ALAT KESEHATAN DAN 2014, No.192 10 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2013 TENTANG IKLAN ALAT KESEHATAN DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA PERSYARATAN IKLAN ALAT KESEHATAN DAN PERBEKALAN

Lebih terperinci

Modul ke: ETIKA PERIKLANAN. Overview. Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Kartika, SIP, M.Ikom. Program Studi Advertising & Marketing Communication

Modul ke: ETIKA PERIKLANAN. Overview. Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Kartika, SIP, M.Ikom. Program Studi Advertising & Marketing Communication Modul ke: 04 Fakultas Cherry ILMU KOMUNIKASI ETIKA PERIKLANAN Overview Kartika, SIP, M.Ikom Program Studi Advertising & Marketing Communication Agenda EPI Bab III.A. butir 1.1 s/d 1.9 Diskusi kasus-kasus

Lebih terperinci

ETIKA PARIWARA INDONESIA. Rama kertamukti

ETIKA PARIWARA INDONESIA. Rama kertamukti ETIKA PARIWARA INDONESIA Rama kertamukti Swakrama (Self regulation) Pembuat EPI : AMLI, APPI, ASPINDO (pemrakarsa-penyantun iklan), ATVLI, ATVSI, GPBSI, PPPI, PRSSNI, SPS, Yayasan TVRI : 26 Agustus 2005

Lebih terperinci

Mata Kuliah - Etika Periklanan-

Mata Kuliah - Etika Periklanan- Mata Kuliah - Etika Periklanan- Modul ke: Asas-Asas, Tata Cara dan Penerapan Umum Etika Periklanan Fakultas FIKOM Ardhariksa Z, M.Med.Kom Program Studi Marketing Communication and Advertising www.mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Promosi 2.1.1 Pengertian Promosi Promosi merupakan kegiatan terpenting, yang berperan aktif dalam memperkenalkan,memberitahukan dan mengingatkan kembali manfaat suatu produk

Lebih terperinci

KASUS IKLAN CAT TEMBOK AVIAN DAN POMPA AIR SHIMIZU

KASUS IKLAN CAT TEMBOK AVIAN DAN POMPA AIR SHIMIZU KASUS IKLAN CAT TEMBOK AVIAN DAN POMPA AIR SHIMIZU Saat ini industri periklanan di Indonesia sedang mengalami masa yang besar, seiring dengan bertambahnya jumlah produk yang mulai sadar bahwa iklan menjadi

Lebih terperinci

ETIKA PERIKLANAN. Pokok Bahasan : Penjabaran EPI Bab III.A. Butir Yogi Prima Muda, S.Pd, M.Ikom. Modul ke:

ETIKA PERIKLANAN. Pokok Bahasan : Penjabaran EPI Bab III.A. Butir Yogi Prima Muda, S.Pd, M.Ikom. Modul ke: ETIKA PERIKLANAN Modul ke: Pokok Bahasan : Penjabaran EPI Bab III.A. Butir 1.21. 1.28. Fakultas Fakultas Ilmu Komunikasi Yogi Prima Muda, S.Pd, M.Ikom Program Studi Periklanan (Marcomm) www.mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

tahun 2007 menjadi 6,9% pada tahun Adapun sekitar 6,3 juta wanita Indonesia

tahun 2007 menjadi 6,9% pada tahun Adapun sekitar 6,3 juta wanita Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Merokok merupakan sebuah kebiasaan yang sangat lazim dilakukan orang dan sudah meluas di masyarakat. Meskipun hampir semua orang telah paham mengenai resiko

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu

BAB I PENDAHULUAN. mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. Budi Berlian Motor Natar Lampung Selatan sebagai berikut : A. Analisis Strategi Bisnis Terhadap Keunggulan Bersaing pada PT Budi

BAB IV ANALISIS DATA. Budi Berlian Motor Natar Lampung Selatan sebagai berikut : A. Analisis Strategi Bisnis Terhadap Keunggulan Bersaing pada PT Budi BAB IV ANALISIS DATA Setelah penulis mengumpulkan data dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, dapat diketahui praktek strategi bisnis yang diterapkan di PT Budi Berlian Motor Natar Lampung Selatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membawa pengaruh terhadap munculnya berbagai macam produk sejenis, disertai

BAB I PENDAHULUAN. membawa pengaruh terhadap munculnya berbagai macam produk sejenis, disertai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kehidupan dunia bisnis yang mengalami perkembangan dan perubahan membawa pengaruh terhadap munculnya berbagai macam produk sejenis, disertai dengan isu globalisasi.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Manajemen Manajemen adalah bekerja untuk orang lain untuk menyelesaikan tugas tugas yang membantu pencapaian sasaran organisasi seefisien mungkin

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Landasan Teori 1. Pengertian Bauran Pemasaran Bauran pemasaran menurut Kotler, (2002 :18) adalah Seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah digilib.uns.ac.id 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa digunakan manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Manusia mengungkapkan pikirannya melalui bahasa sehingga mitra tuturnya dapat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Iklan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Iklan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Iklan Kleppner (1986) menyatakan bahwa iklan (advertisement) berasal dari bahasa latin ad-vere berarti menyampaikan pikiran dan gagasan pada pihak lain. Pengertian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini, perekonomian di Indonesia semakin berkembang dan penuh dengan

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini, perekonomian di Indonesia semakin berkembang dan penuh dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada saat ini, perekonomian di Indonesia semakin berkembang dan penuh dengan persaingan. Sebuah perusahaan yang dapat bertahan dalam kompetisi seperti ini

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Bauran Pemasaran Marketing Mix merupakan kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran, variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkembangnya perekonomian. Keadaan inilah yang mendorong perusahaanperusahaan

BAB I PENDAHULUAN. berkembangnya perekonomian. Keadaan inilah yang mendorong perusahaanperusahaan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persaingan dalam dunia usaha kian gencar seiring dengan tumbuh dan berkembangnya perekonomian. Keadaan inilah yang mendorong perusahaanperusahaan harus memperhatikan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI Pengertian Pemasaran

BAB II LANDASAN TEORI Pengertian Pemasaran 6 BAB II LANDASAN TEORI 2. 2 2.1 Pemasaran 2.1.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilakukan perusahaan dalam rangka mencapai tujuan yaitu mempertahankan kelangsungan

Lebih terperinci

PEMILIHAN MEDIA IKLAN BAGI ORGANISASI BISNIS. Retno Djohar Juliani Dosen Administrasi Bisnis

PEMILIHAN MEDIA IKLAN BAGI ORGANISASI BISNIS. Retno Djohar Juliani Dosen Administrasi Bisnis PEMILIHAN MEDIA IKLAN BAGI ORGANISASI BISNIS Retno Djohar Juliani Dosen Administrasi Bisnis [email protected] ABSTRAKSI Organisasi bisnis adalah organisasi yang bergerak dengan tujuan utama adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (produsen atau pengiklan), pesan, media massa, komunikan (audiens), dan efek

BAB I PENDAHULUAN. (produsen atau pengiklan), pesan, media massa, komunikan (audiens), dan efek BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Iklan merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan mempengaruhi setiap lapisan atau anggota masyarakat. Melihat hal ini, banyak produsen maupun biro iklan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. segala bidang, salah satunya adalah bidang pemasaran. Semakin tinggi tingkat

BAB I PENDAHULUAN. segala bidang, salah satunya adalah bidang pemasaran. Semakin tinggi tingkat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Era globalisasi telah menuntut adanya perubahan paradigma lama dalam segala bidang, salah satunya adalah bidang pemasaran. Semakin tinggi tingkat persaingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu media komunikasi massa yaitu televisi memiliki peran yang cukup besar dalam menyebarkan informasi dan memberikan hiburan kepada masyarakat. Sebagai media

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan industri otomotif di Indonesia sangat pesat, tingkat

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan industri otomotif di Indonesia sangat pesat, tingkat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan industri otomotif di Indonesia sangat pesat, tingkat persaingannya saat ini cukup ketat. Setiap perusahaan senantiasa berusaha untuk dapat meningkatkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya era globalisasi saat ini, persaingan di dalam dunia bisnis semakin lama semakin ketat, karena itu diperlukan upaya-upaya dari perusahaan

Lebih terperinci

Pengaruh Iklan Televisi Terhadap Perilaku Konsumen Dalam Pengambilan Keputusan Pembelian Sabun Mandi Lifebuoy

Pengaruh Iklan Televisi Terhadap Perilaku Konsumen Dalam Pengambilan Keputusan Pembelian Sabun Mandi Lifebuoy Pengaruh Iklan Televisi Terhadap Perilaku Konsumen Dalam Pengambilan Keputusan Pembelian Sabun Mandi Lifebuoy Esti Margiyanti Utami & Sri Kusmaryati Universitas Muhammadiyah Purworejo Abstrak Penelitian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Salah satu strategi pemasaran yang efektif yaitu melalui promosi. Promosi merupakan

I. PENDAHULUAN. Salah satu strategi pemasaran yang efektif yaitu melalui promosi. Promosi merupakan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berkembangnya perdagangan bebas menimbulkan persaingan bisnis yang semakin ketat. Hal ini menuntut perusahaan untuk semakin kreatif dalam menjalankan kegiatan

Lebih terperinci

BAB II PEMBERIAN HADIAH DAN LOYALITAS NASABAH

BAB II PEMBERIAN HADIAH DAN LOYALITAS NASABAH BAB II PEMBERIAN HADIAH DAN LOYALITAS NASABAH A. Pemberian Hadiah 1. Pengertian Hadiah Hadiah menurut kamus umum Bahasa Indonesia berarti pemberian penghormatan atau disebut juga ganjaran yang diberikan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. barang, dan jasa. Pengusaha tidak hanya menerapkan strategi positioning sebuah

I PENDAHULUAN. barang, dan jasa. Pengusaha tidak hanya menerapkan strategi positioning sebuah I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lahirnya media cetak dan media elektronik tidak saja memunculkan sikap serius dari pengusaha lokal, tetapi juga memaksa mereka untuk memperbaiki kualitas produk, barang,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemikiran yang berorientasi pasar merupakan kebutuhan yang tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. Pemikiran yang berorientasi pasar merupakan kebutuhan yang tidak dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pemikiran yang berorientasi pasar merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari lagi menjelang era millennium tiga ini. Era tersebut diyakini pula sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dihasilkan dapat memenuhi keinginan konsumen dan juga keberadaan. produk tersebut harus dikomunikasikan pada konsumen serta

BAB I PENDAHULUAN. yang dihasilkan dapat memenuhi keinginan konsumen dan juga keberadaan. produk tersebut harus dikomunikasikan pada konsumen serta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan selalu berusaha agar melalui produk yang dihasilkan (diproduksi) dapat mencapai tujuan (penjualan) yang telah diharapkan. Salah satu tujuan

Lebih terperinci

Berikut ini pengertian dari bauran pemasaran (Marketing Mix) menuru para

Berikut ini pengertian dari bauran pemasaran (Marketing Mix) menuru para BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran merupakan salah satu elemen pokok yang wajib dimiliki oleh setiap perusahaan. Pemasaran berkaitan erat dengan bagaimana cara perusahaan dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Iklan secara komprehensif merupakan semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan

BAB I PENDAHULUAN. Iklan secara komprehensif merupakan semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Iklan secara komprehensif merupakan semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang, atau jasa secara nonpersonal yang dibayar oleh sponsor

Lebih terperinci

BAHASA IKLAN DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN: SEBUAH KAJIAN KOMUNIKASI DAN BAHASA TERHADAP IKLAN TV PRODUK CITRA

BAHASA IKLAN DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN: SEBUAH KAJIAN KOMUNIKASI DAN BAHASA TERHADAP IKLAN TV PRODUK CITRA BAHASA IKLAN DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN: SEBUAH KAJIAN KOMUNIKASI DAN BAHASA TERHADAP IKLAN TV PRODUK CITRA Unika Atma Jaya, Jakarta Memasarkan sebuah produk di media massa bertujuan untuk mencapai target

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Dengan. berkomunikasi, manusia dapat berhubungan dengan sesamanya.

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Dengan. berkomunikasi, manusia dapat berhubungan dengan sesamanya. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial dan memerlukan hubungan dengan orang lain. Manusia ingin mendapatkan perhatian diantara sesama dan kelompok. Diperlukan serba

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Siaran televisi saat ini telah menjadi suatu kekuatan yang sudah masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Televisi sebagai media massa memiliki karakteristik tersendiri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Promosi 2.1.1 Pengertian Promosi Menurut Hasan (2009:10), promosi adalah fungsi pemasaran yang fokus untuk mengkomunikasikan program-program pemasaran secara persuasive kepada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. produk-produk dalam negeri harus bersaing dengan produk-produk dari luar

BAB I PENDAHULUAN. produk-produk dalam negeri harus bersaing dengan produk-produk dari luar BAB I PENDAHULUAN Bangsa Indonesia dalam memasuki pasar bebas, dimana produk-produk dari luar negeri akan dengan mudah keluar masuk ke Indonesia hal ini tentu akan berdampak terhadap barang-barang produksi

Lebih terperinci

Mata Kuliah - Etika Periklanan-

Mata Kuliah - Etika Periklanan- Mata Kuliah - Etika Periklanan- Modul ke: Kajian Tentang Kasus-Kasus Iklan yang Berpotensi Melanggar EPI Fakultas FIKOM Ardhariksa Z, M.Med.Kom Program Studi Marketing Communication and Advertising www.mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu bagian dari bauran komunikasi pemasaran atau bauran

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu bagian dari bauran komunikasi pemasaran atau bauran BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Salah satu bagian dari bauran komunikasi pemasaran atau bauran promosi adalah periklanan. Periklanan merupakan suatu bentuk presentasi non personal dan promosi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS KARAKTERISTIK WIRAUSAHAWAN MUSLIM DALAM UPAYA MENCAPAI KESUKSESAN USAHA. A. Analisis Karakteristik Wirausahawan Muslim

BAB IV ANALISIS KARAKTERISTIK WIRAUSAHAWAN MUSLIM DALAM UPAYA MENCAPAI KESUKSESAN USAHA. A. Analisis Karakteristik Wirausahawan Muslim BAB IV ANALISIS KARAKTERISTIK WIRAUSAHAWAN MUSLIM DALAM UPAYA MENCAPAI KESUKSESAN USAHA A. Analisis Karakteristik Wirausahawan Muslim Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dengan 6 wirausahawan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang yang satu dengan orang yang lain untuk saling mengisi. Manusia juga

BAB I PENDAHULUAN. orang yang satu dengan orang yang lain untuk saling mengisi. Manusia juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari suatu komunikasi. Karena manusia juga membutuhkan suatu komunikasi antara orang yang satu dengan orang yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. faktor penentu keberhasilan program pemasaran. Betapapun berkualitasnya suatu

BAB I PENDAHULUAN. faktor penentu keberhasilan program pemasaran. Betapapun berkualitasnya suatu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perusahaan mengembangkan strategi promosi yang merupakan salah faktor penentu keberhasilan program pemasaran. Betapapun berkualitasnya suatu produk, bila konsumen

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran adalah usaha untuk menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa yang tepat kepada orang-orang yang tepat pada tempat dan waktu serta harga yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. konsumen makin kritis dalam memilih produk. Agar dapat unggul dalam

BAB I PENDAHULUAN. konsumen makin kritis dalam memilih produk. Agar dapat unggul dalam Bab I Pendahuluan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam era teknologi dan persaingan pasar yang makin ketat sekarang ini, berbagai informasi dan terbukanya peluang untuk mengakses informasi

Lebih terperinci

1. Marketing Communication 2. Pentingnya Marketing Communication 3. Periklanan Personal Selling

1. Marketing Communication 2. Pentingnya Marketing Communication 3. Periklanan Personal Selling 1. Marketing Communication Komunikasi pemasaran (marketing communication) adalah sarana di mana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada era globalisasi saat ini, tingkat persaingan bisnis sangat ketat sehingga

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada era globalisasi saat ini, tingkat persaingan bisnis sangat ketat sehingga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalisasi saat ini, tingkat persaingan bisnis sangat ketat sehingga membuat pelaku bisnis berlomba-lomba dalam memasarkan produk mereka dengan harapan agar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bauran Promosi Ada beberapa pengertian bauran promosi menurut para ahli. Menurut Kotler (2002:77), bauran promosi adalah ramuan khusus dari iklan, penjualan, pribadi, promosi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini bisnis telekomunikasi di bidang layanan operator telpon seluler telah

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini bisnis telekomunikasi di bidang layanan operator telpon seluler telah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini bisnis telekomunikasi di bidang layanan operator telpon seluler telah menciptakan peluang dan tantangan bagi penyedia layanan operator telpon seluler.

Lebih terperinci

ETIKA PERIKLANAN. Pokok Bahasan : Penjabaran EPI Bab III.A. Butir Yogi Prima Muda, S.Pd, M.Ikom. Modul ke:

ETIKA PERIKLANAN. Pokok Bahasan : Penjabaran EPI Bab III.A. Butir Yogi Prima Muda, S.Pd, M.Ikom. Modul ke: ETIKA PERIKLANAN Modul ke: Pokok Bahasan : Penjabaran EPI Bab III.A. Butir 3.1. 3.12. Fakultas Fakultas Ilmu Komunikasi Yogi Prima Muda, S.Pd, M.Ikom Program Studi Periklanan (Marcomm) www.mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan saat ini telah menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan saat ini telah menyebabkan Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan saat ini telah menyebabkan perkembangan yang sangat pesat dalam berbagai bidang dan menyebabkan tingginya kompetisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Islam merupakan agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga disebagian besar Afrika dan Asia. Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi umat Islam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menghadapi era persaingan baik secara nasional maupun

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menghadapi era persaingan baik secara nasional maupun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam menghadapi era persaingan baik secara nasional maupun internasional yang semakin ketat, pihak pesaing akan selalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bidang, baik jumlah maupun waktunya. 1. berkaitan dengan industri. Dalam aktivitas bisnis berusaha menggunakan

BAB I PENDAHULUAN. bidang, baik jumlah maupun waktunya. 1. berkaitan dengan industri. Dalam aktivitas bisnis berusaha menggunakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bisnis adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk memperoleh keuntungan sesuai dengan tujuan dan target yang diinginkan dalam berbagai bidang, baik jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seseorang. Komunikasi tidak saja dilakukan antar personal, tetapi dapat pula

BAB I PENDAHULUAN. seseorang. Komunikasi tidak saja dilakukan antar personal, tetapi dapat pula BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan hal terpenting dalam menunjukkan keberadaan seseorang. Komunikasi tidak saja dilakukan antar personal, tetapi dapat pula melibatkan sekian banyak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dan komunikasi yang pesat saat ini menjadikan masyarakat mudah untuk mendapatkan informasi yang ingin di ketahui dengan berbagai media

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sorotan sebagai salah satu pemutar roda ekonomi di Indonesia. MLM

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sorotan sebagai salah satu pemutar roda ekonomi di Indonesia. MLM BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sistem pemasaran berjenjang atau Multi Level Marketing (MLM) sedang menjadi sorotan sebagai salah satu pemutar roda ekonomi di Indonesia. MLM adalah salah satu

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan)

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari sutu pihak ke pihak lain. Pada umumnya komunikasi dilakukaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam bahasanya. Bahasa setiap daerah memiliki style atau gaya tersendiri dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam bahasanya. Bahasa setiap daerah memiliki style atau gaya tersendiri dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan alat penting dalam kehidupan individu untuk berinteraksi dengan orang lain. Bahasa dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan yang lain, juga untuk

Lebih terperinci

PERSEPSI MAHASIWA TERHADAP IKLAN LUX VERSI BANDAR UDARA ATIQAH HASIHOLAN. Ayu Maiza Faradiba. Universitas Paramadina

PERSEPSI MAHASIWA TERHADAP IKLAN LUX VERSI BANDAR UDARA ATIQAH HASIHOLAN. Ayu Maiza Faradiba. Universitas Paramadina PERSEPSI MAHASIWA TERHADAP IKLAN LUX VERSI BANDAR UDARA ATIQAH HASIHOLAN Ayu Maiza Faradiba Universitas Paramadina ABSTRAK Tujuan Penelitian: untuk mengetahui sejauh mana persepsi mahasiswa Universitas

Lebih terperinci

2008, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-Undang tentang Porno

2008, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-Undang tentang Porno LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.181, 2008 PORNOGRAFI. Kesusilaan Anak. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4928) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2008

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu saluran transmisi, yang disebut orang sebagai support iklan itu. 1

BAB I PENDAHULUAN. suatu saluran transmisi, yang disebut orang sebagai support iklan itu. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penelitian Iklan dikenal berperan sebagai salah satu sarana komunikasi untuk mengomunikasikan produk yang ditawarkan kepada masyarakat luas melalui berbagai jenis media.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenis kelamin, pendidikan, maupun status sosial seseorang. Untuk mendukung

BAB I PENDAHULUAN. jenis kelamin, pendidikan, maupun status sosial seseorang. Untuk mendukung BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia, siaran televisi dipandang sebagai salah satu media informasi dan hiburan yang memiliki banyak sekali penonton, tanpa mengenal batas usia, jenis kelamin,

Lebih terperinci

PENGERTIAN KOMUNIKASI PEMASARAN/PROMOSI Kegiatan promosi pada organisasi pelayanan kesehatan sangat dibatasi oleh etika, sehingga pemilihan mengenai

PENGERTIAN KOMUNIKASI PEMASARAN/PROMOSI Kegiatan promosi pada organisasi pelayanan kesehatan sangat dibatasi oleh etika, sehingga pemilihan mengenai PENGERTIAN KOMUNIKASI PEMASARAN/PROMOSI Kegiatan promosi pada organisasi pelayanan kesehatan sangat dibatasi oleh etika, sehingga pemilihan mengenai keputusan promosi harus dipertimbangkan dengan benar.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang penting yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan umat

BAB I PENDAHULUAN. yang penting yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan umat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi adalah penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Komunikasi merupakan bagian yang penting yang tidak

Lebih terperinci

S A L I N A N KEPUTUSAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA NOMOR 007/SK/KPI/5/2004 TENTANG

S A L I N A N KEPUTUSAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA NOMOR 007/SK/KPI/5/2004 TENTANG S A L I N A N KEPUTUSAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA NOMOR 007/SK/KPI/5/2004 TENTANG PEDOMAN SIARAN KAMPANYE DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN DI LEMBAGA PENYIARAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA,

Lebih terperinci

Adapun rumus yang digunakan (Sugiyono, 2001:19) adalah : harus sama dengan jumlah

Adapun rumus yang digunakan (Sugiyono, 2001:19) adalah : harus sama dengan jumlah Adapun rumus yang digunakan (Sugiyono, 2001:19) adalah : Χ 2 = Κ i= 1 ( f f ) o f h h 2 Dimana : 2 Χ = Chi Kuadrad f 0 = Frekuensi yang diobservasi f h = Frekuensi yang diharapkan Jumlah f 0 harus sama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yaitu : Indomie, Mie Sedap, Sarimi dan Supermi 2. Pasar makanan mi instan

BAB I PENDAHULUAN. yaitu : Indomie, Mie Sedap, Sarimi dan Supermi 2. Pasar makanan mi instan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pertumbuhan yang pesat dalam perkembangan industri makanan sekarang ini, membuat persaingan antar perusahaan semakin ketat. Setiap perusahaan harus memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepada peraturan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. kepada peraturan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dalam kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan selalu ingin berkomunikasi dengan manusia lain untuk mencapai tujuannya. Sebagai makhluk sosial, manusia harus taat

Lebih terperinci

BAB I. komunikasi massa berasal dari pengembangan kata media of mass. communication (media komunikasi massa).

BAB I. komunikasi massa berasal dari pengembangan kata media of mass. communication (media komunikasi massa). 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Terdapat banyak definisi tentang komunikasi massa yang telah dikemukakan oleh para ahli. Komunikasi massa adalah komunikasi yang terdiri dari media cetak dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mudah untuk dicerna. Televisi secara universal juga mampu untuk menjangkau audiens

BAB I PENDAHULUAN. yang mudah untuk dicerna. Televisi secara universal juga mampu untuk menjangkau audiens 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Televisi merupakan salah satu jenis media massa yang paling diminati oleh masyarakat karena keunggulannya dalam memanjakan masyarakat melalui kemampuan audio

Lebih terperinci

Mata Kuliah - Etika Periklanan-

Mata Kuliah - Etika Periklanan- Mata Kuliah - Etika Periklanan- Modul ke: Ketentuan Tata Cara Periklanan dan Penegakkan Etika Iklan Fakultas FIKOM Ardhariksa Z, M.Med.Kom Program Studi Marketing Communication and Advertising www.mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan proses menyampaikan informasi kepada orang lain. Proses komunikasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : komunikasi langsung dan tidak langsung.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Konsumen dapat mengenal suatu produk atau jasa melalui merek. Melalui merek konsumen dapat membedakan antara produk dan jasa yang satu dengan yang lainnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hlm. viii. 1 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: Lkis, 2001),

BAB I PENDAHULUAN. hlm. viii. 1 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: Lkis, 2001), BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fenomena modern yang terjadi di awal millennium ketiga ini yang lebih popular dengan sebutan globalisasi memberikan perubahan yang cukup signifikan dalam kehidupan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Persaingan yang ketat dalam dunia bisnis saat ini membuat perusahaan harus

I. PENDAHULUAN. Persaingan yang ketat dalam dunia bisnis saat ini membuat perusahaan harus I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persaingan yang ketat dalam dunia bisnis saat ini membuat perusahaan harus mengeluarkan ide-ide baru untuk memasarkan produknya. Tingginya tingkat persaingan di dunia bisnis

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran merupakan suatu kegiatan pokok yang dilakukan oleh pengusaha dalam rangka mempertahankan kelangsungan usahanya untuk dapat berkembang dan memperoleh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Periklanan sesungguhnya sama tuanya dengan peradaban manusia itu

BAB 1 PENDAHULUAN. Periklanan sesungguhnya sama tuanya dengan peradaban manusia itu 1 BAB 1 PENDAHULUAN A Latar Belakang Masalah Periklanan sesungguhnya sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri dan sudah lama digunakan sebagai wahana untuk mengkomunikasikan kebutuhan membeli atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cepat berkembang dan mendorong seleksi alamiah dimana suatu perusahaan yang

BAB I PENDAHULUAN. cepat berkembang dan mendorong seleksi alamiah dimana suatu perusahaan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seperti yang kita ketahui, semakin hari dunia perekonomian semakin cepat berkembang dan mendorong seleksi alamiah dimana suatu perusahaan yang dapat bertahan dan selalu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup, komunikasi sangat penting dimana komunikasi itu sendiri

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup, komunikasi sangat penting dimana komunikasi itu sendiri BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan oleh semua makhluk hidup, komunikasi sangat penting dimana komunikasi itu sendiri berfungsi untuk berinteraksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Penelitian. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari iklan yang beredar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Penelitian. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari iklan yang beredar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari iklan yang beredar di berbagai media, baik media elektronik maupun media cetak. Iklan dapat dilukis kan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari makna pada hakikatnya berarti mempelajari bagaimana setiap

BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari makna pada hakikatnya berarti mempelajari bagaimana setiap BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mempelajari makna pada hakikatnya berarti mempelajari bagaimana setiap pemakai bahasa dalam suatu masyarakat bahasa saling mengerti. Bahasa dan masyarakat adalah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mulai bergeser dari pengobatan modern menuju ke pengobatan tradisional.

I. PENDAHULUAN. mulai bergeser dari pengobatan modern menuju ke pengobatan tradisional. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kecendrungan hidup masyarakat dalam bidang pengobatan sepertinya sudah mulai bergeser dari pengobatan modern menuju ke pengobatan tradisional. Masyarakat mulai menyukai

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Pengertian Retail menurut Hendri Ma ruf (2005:7) yaitu, kegiatan usaha

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Pengertian Retail menurut Hendri Ma ruf (2005:7) yaitu, kegiatan usaha BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pengertian Retail (Eceran) Pengertian Retail menurut Hendri Ma ruf (2005:7) yaitu, kegiatan usaha menjual barang atau jasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Periklanan merupakan salah satu kegiatan promosi yang banyak dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. Periklanan merupakan salah satu kegiatan promosi yang banyak dilakukan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Periklanan merupakan salah satu kegiatan promosi yang banyak dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan diferensiasi produknya kepada konsumen melalui suatu media.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Promosi Pada kegiatan pemasaran terdapat suatu kegiatan yang mempunyai peran penting dalam mengkomunikasikan produk yang dihasilkan oleh perusahaan, kegiatan tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang tua berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang

BAB I PENDAHULUAN. orang tua berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak dalam Perspektif Islam adalah amanah dari Allah SWT. Semua orang tua berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang soleh, berilmu dan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi telah menyentuh ke setiap lini kehidupan seiring dengan perkembangan media massa sebagai salah satu sarana penyebaran informasi. Komunikasi melalui

Lebih terperinci

Kata istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal. dari bahasa Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti

Kata istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal. dari bahasa Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kata istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari bahasa Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persaingan dalam dunia usaha semakin hari terasa semakin kuat, kondisi ini berdampak kepada prinsip-prinsip yang dilakukan oleh kalangan pengusaha khususnya strategi

Lebih terperinci

Pengaruh Penggunaan Humor pada Iklan Televisi AXIS versi Cak Norris terhadap Brand Awareness

Pengaruh Penggunaan Humor pada Iklan Televisi AXIS versi Cak Norris terhadap Brand Awareness Pengaruh Penggunaan Humor pada Iklan Televisi AXIS versi Cak Norris terhadap Brand Awareness (survei pada Mahasiswa Aktif Semester Genap 2012-2013 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina).

Lebih terperinci