MAKALAH SEMINAR UMUM
|
|
|
- Ratna Hermawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 MAKALAH SEMINAR UMUM KETAHANAN KAKAO (Theobroma cacao L) TERHADAP PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora) Disusun oleh : Nama : Adi Cahya Kurniawan NIM : 10/299997/PN/11957 Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Taryono, M.Sc. Hari dan Tanggal Presentasi : Rabu, 27 November 2013 PROGRAM STUDI PEMULIAAN TANAMAN JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013 Seminar umum Page 1
2 LEMBAR PENGESAHAN KETAHANAN KAKAO (Theobroma cacao L) TERHADAP PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophtora palmivora) DISUSUN OLEH : ADI CAHYA KURNIAWAN 10/299997/PN/11957 Usulan ini telah disetujui dan disahkan untuk dilaksanakan sebagai kelengkapan Mata Kuliah Seminar Umum Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Dosen Pembimbing Tanda tangan Tanggal Dr. Ir. Taryono, M.Sc. Koordinator Seminar Umum Tanda tangan Tanggal Dr. Rudi Hari Murti, S.P.,M.P. Ketua Jurusan Budidaya Pertanian Tanda tangan Tanggal Dr. Ir. Taryono, M.Sc. Seminar umum Page 2
3 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR... 4 INTISARI I. PENDAHULUAN Latar Belakang II. MEKANISME INFEKSI JAMUR DAN MEKANISME KETAHANAN TANAMAN A. Mekanisme Infeksi Jamur... 7 B. Mekanisme Ketahanan Tanaman... 8 B.1.Mekanisme Ketahanan Pasif Tanaman B.2.Mekanisme Ketahanan Aktif Tanaman III. PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Seminar umum Page 3
4 DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 1. Penetrasi jamur melalui lubang alami (stomata)... 7 Gambar 2. Penetrasi jamur melalui luka pada tanaman inang... 7 Gambar 3. Penetrasi jamur dengan mendegradasi dinding sel tanaman... 8 Gambar 4. Degradsi kutikula oleh enzim kutinase patogen... 9 Gambar 5. Lokasi isyarat pengenal tanaman terhadap patogen Gambar 6. Pembentukan papilla (lignituber) Gambar 7. Pembentukan lapisan suberin Gambar 8. Tilosis Gambar 9. Pembentukan lapisan absisi Gambar 10. Deposisi gum Gambar 11. Perubahan jalur biosintesis Gambar 12. Jalur reaksi Shikimic Gambar 13. Ilustrasi ketahanan kimia tanaman terhadap serangan patogen Seminar umum Page 4
5 KETAHANAN KAKAO (Theobroma cacao L) TERHADAP PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophtora palmivora) INTISARI Penyakit busuk buah kakao (Phytophtora palmivora) merupakan penyakit utama pada tanaman kakao yang dapat menurunkan produksi hingga 60%. Penyakit busuk buah kakao akan merebak pada musim hujan atau kemarau basah. Hal tersebut dikarenakan jamur Phytophtora palmivora menyukai iklim miro yang lembab. Kegiatan sanitasi lahan seperti pemangkasan dapat menurunkan resiko serangan busuk buah kakao. Tanaman kakao memiliki mekanisme ketahanan terhadap serangan jamur Phytophtora palmivora yang berupa ketahanan pasif dan ketahanan aktif dalam bentuk ketahanan struktural dan ketahanan biokimia. Ketahanan pasif meliputi lapisan lilin, kutikula, lapisan epidermis, zat anti-mikrobia, dan zat penghambat (inhibitor). Ketahanan aktif yang berperan dalam ketahanan terhadap serangan patogen dapat berupa pembentukan papilla (lignituber), adanya lapisan suberin, lapisan absisat, tilosis, deposisi gum, pembentukan senyawa fenol, phytoaleksin, sintesis protein baru, inaktif enzim dan racun, perubahan mekanisme biosintesis dan produksi seyawa meracun. Kata kunci: ketahanan kakao, Phytophtora palmivora, ketahanan pasif, ketahanan aktif I. PENDAHULUAN Latar Belakang Kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan dan merupakan komoditas ekspor penting di Indonesia, namun pengembangannya secara luas masih menghadapi hambatan antara lain oleh adanya serangan hama dan penyakit yang dapat menurunkan kuantitas dan kualitas produksi kakao. Busuk buah (black pod atau pod rot) merupakan penyakit yang paling merugikan di banyak negara produsen kakao. Penyakit busuk buah atau pod rot disebabkan oleh Phytophtora palmivora dan dapat menginfeksi seluruh bagian tanaman kakao mulai dari akar, batang, bunga, buah dan daun. Namun kerugian yang sangat tinggi disebabkan oleh serangan pada buah (Darmono et al., 2006). Secara umum, besarnya kerugian antara 20-30% per tahun dapat terjadi akibat infeksi penyakit busuk buah pada pertanaman kakao di lapangan (Wood & Lass, 1985). Pengendalian penyakit busuk buah relatif sulit dilakukan akibat keberadaan inokulum Phytophtora palmivora di lapangan sepanjang tahun, kondisi lingkungan di pertanaman kakao yang mendukung perkembangan dan penyebaran Phytophtora palmivora, dan kemampuan Phytophtora palmivora untuk menyerang serta bertahan hidup di semua bagian Seminar umum Page 5
6 tanaman kakao. Meskipun secara preventif Phytophtora palmivora dapat dikendalikan, biaya yang diperlukan untuk pembelian fungisida dapat mencapai hingga 40% dari total biaya pemeliharaan tanaman kakao di lapangan. Dengan demikian, pengembangan klon kakao yang lebih tahan terhadap infeksi Phytophtora palmivora perlu dilakukan untuk mengatasi salah satu kendala utama budidaya kakao di Indonesia. Kemajuan dalam pemuliaan tanaman untuk ketahanan terhadap busuk buah kakao sering kali kurang berhasil salah satunya karena terbatasnya informasi tentang mekanisme ketahanan tanaman kakao terhadap infeksi Phytophtora palmivora. Simmonds (1994) menyatakan bahwa ketahanan buah kakao terhadap Phytophtora palmivora diperkirakan lebih bersifat horizontal dari pada vertikal. Menurut Agrios (1997) ketahanan tanaman dapat bersifat pasif (terbentuk tanpa rangsangan dari patogen) atau aktif (ekspresinya diimbas oleh serangan patogen), melibatkan mekanisme struktural dan biokimia. Duniway (1983) menyatakan bahwa ketahanan tanaman terhadap Phytophthora spp. meliputi ketahanan struktural, penghalang struktural terimbas, reaksi hipersensitif, dan produksi senyawa antimikrobia. Dalam makalah ini akan membahas tentang mekanisme infeksi jamur pada tanaman inang, mekanisme ketahanan pasif meliputi lapisan lilin, kutikula, lapisan epidermis, zat antimikrobia, dan zat penghambat (inhibitor). Mekanisme ketahanan aktif tanaman meliputi pembentukan papilla (lignituber), adanya lapisan suberin, lapisan absisat, tilosis, deposisi gum, pembentukan senyawa fenol, phytoaleksin, sintesis protein baru, inaktif enzim dan racun, perubahan mekanisme biosintesis dan produksi seyawa meracun. Seminar umum Page 6
7 II. KETAHANAN KAKAO (Theobroma cacao L) TERHADAP PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora) A. Mekanisme Infeksi Jamur Jamur Phytophtora palmivora merupakan jamur yang dapat menginfeksi semua bagian tanaman kakao. Untuk dapat mengetahui mekanisme ketahanan tanaman kakao terhadap infeksi jamur ini maka perlu diketahui terlebih dahulu mekanisme infeksi yang dilakukan oleh jamur. Terdapat beberapa mekanisme penetrasi yang dilakukan jamuruntuk dapat menginfeksi inangnya, yaitu ppenetrasi jamur melalui lubang alami, luka atau langsung dengan merusak dinding sel. Gambar 1. Penetrasi jamur melalui lubang alami (stomata) Gambar 1 merupakan contoh penetrasi yang dilakukan oleh jamur melalui lubang alami yang ada pada inang yaitu melalui lubang stomata yang terdapat pada daun atau buah. Selain itu, jamur juga dapat melakukan penetrasi melalui lentisel dan lubang alami lainnya yang ada pada tanaman inang. Gambar 2. Penetrasi jamur melalui luka pada tanaman inang Gambar 2 merupakan contoh penetrasi yang dilakukan oleh jamur melalui luka yang ada pada tanaman. Luka pada tanaman dapat disebabkan oleh faktor abiotik (lingkungan) maupun faktor biotik (serangan hama). Gambar diatas merupakan contoh luka yang Seminar umum Page 7
8 disebabkan oleh faktor abiotik, terlihat bahwa jamur melakukan penetrasi melalui garis yang terbentuk dari rekahan jaringan luar pada tanaman. Cell wall Hifa penetrasi Gambar 3. Penetrasi jamur dengan mendegradasi dinding sel tanaman Gambar 3 merupakan contoh penetrasi yang dilakukan secara langsung oleh jamur dengan cara mensintesis enzim pendegrasi dinding sel tanaman. Dengan enzim tersebut, jamur mendegradasi dindng sel tanaman sehingga kecambah dari jamur dapat melakukan penetrasi kedalam inang. Enzim degradsi yang dapat disintesis oleh jamur seperti kutinase, pektinase, selulase, dan lain sebagainya. B. Mekanisme Ketahanan Tanaman Menurut Agrios (1997) ketahanan tanaman dapat bersifat pasif yang terbentuk tanpa rangsangan dari patogen atau aktif yang yang penyandinya diimbas oleh serangan patogen, melibatkan mekanisme struktural dan biokimia. Fry (1982) menyatakan bahwa walaupun patogen berhasil melakukan penetrasi jaringan inang, sering kali perkembangan selanjutnya terhambat. Berdasarkan epidemilogi, ketahanan tanaman dapat bekerja dengan cara mereduksi jumlah infeksi, mereduksi laju perluasan bercak, mereduksi sporulasi patogen, memperpanjang masa inkubasi, dan mereduksi deposisi spora. Ketahanan buah kakao terhadap P. palmivora merupakan sistem multikomponen yang terdiri atas ketahanan prapenetrasi dan pasca penetrasi. Ketahanan prapenetrasi berhubungan dengan faktor morfologi yang mempengaruhi perkembangan prapenetrasi dan penetrasi patogen, dan menentukan jumlah bercak yang terjadi. Ketahanan pasca penetrasi berhubungan dengan mekanisme biokimia yang dapat mempengaruhi luasnya jaringan yang diserang patogen (Iwaro et al., 1995). Tumbuhan memiliki berbagai mekanisme untuk melindungi diri dari berbagai infeksi patogen tanaman yang berpotensi merusak, antara lain dengan mensintesis berbagai protein yang menghambat perkembangan patogen. Seminar umum Page 8
9 B.1. Mekanisme ketahanan pasif pada tanaman Ketahanan pasif merupakan bentuk ketahanan tanaman yang telah ada sebelum patogen melakukan penetrasi. Bentuk ketahanan pasif dapat berupa ketahanan struktural maupun ketahanan biokimia. Bentuk ketahanan pasif struktural dapat berupa lapisan lilin dan kutikula serta lapisan epidermis sedangkan bentuk ketahanan pasif biokimia dapat berupa sintesis senyawa anti-mikroba maupun penghambat (inhibitor) yang dihasilkan tanaman. a. Ketahanan pasif struktural Lapisan lilin merupakan salah satu mekanisme ketahanan struktural pada tanaman terhadap infeksi patogen. Lapisan lilin merupakan lapisan yang bersifat hidrofobik. Lapisan ini tidak menyukai air sehingga dengan adanya lapisan lilin maka dapat mengurangi tingkat kelembaban pada permukaan daun dan buah. Kondisi yang lembab merupakan syarat utama perkecambahan pada spora jamur. Dengan adanya lapisan lilin maka tingkat kelembaban pada permukaan daun dan buah menjadi rendah sehingga dapat menghambat perkecambahan spora jamur. Selain itu, lapisan lilin membuat permukaan daun dan buah menjadi lebih kering sehingga akan menyulitkan beberapa jenis patogen untuk dapat menempel. Selain sifat lapisan lilin, tingkat ketebalan lapisan lilin juga mempengaruhi tingkat ketahanan tanaman terhadap infeksi patogen. Lapisan lilin yang tebal akan menyulitkan patogen untuk melakukan penetrasi karena tidak terdapat enzim pengurai lapisan lilin sehingga harus dihancurkan secara fisik. Kutikula merupakan lapisan kedua yang berperan dalam menghambat penetrasi patogen. Patogen akan melakukan penetrasi dengan cara mengurai lapisan kutikula dengan enzim pendegradasi yaitu kutinase. Enzim ini akan disintesis oleh jamur ketika jamur melakukan kontak dengan tanaman inang dan jamur mengenali adanya lapisan kutikula yang harus dihancurkan untuk melakukan penetrasi. Gambar 4. Degradsi kutikula oleh enzim kutinase patogen Seminar umum Page 9
10 Lapisan epidermis tanaman memiliki peranan yang sangat penting pada ketahanan pasif tanaman terhadap infeksi patogen. Pada lapisan epidermis terdiri dari polimer selulosa, pektat, hemiselulase, polimer senyawa organik, suberin dan lignin. Lapisan-lapisan yang terdapat pada lapisan epidermis menjadi penghambat bagi penetrasi patogen. Salah satu contoh struktur pada epidermis adalah lignin. Lignin membentuk ketahanan struktural bagi tanaman. Struktur lignin yang kompak membuat patogen kesulitan melakukan penetrasi. Semakin tebal lapisan lignin yang ada pada tanaman maka akan semakin efektif dalam menghambat penetrasi patogen. Selain bersifat pasif, lapisan lignin juga dapat terbentuk dari adanya induksi oleh enzim atau protein sebagai respons terhadap penetrasi patogen dan dikenal dengan lignituber atau pembentukan papilla. Pada lapisan epidermis terdapat lubang-lubang alami pada tanaman seperti hidatoda, lentisel dan stomata. Lubang-lubang alami tersebut dapat menjadi tempat masuk patogen. Telah diketahui bahwa tingkat kerapatan stomata tidak berpengaruh terhadap tingkat ketahanan tanaman kakao terhadap infeksi Phytopthtora palmivora. Namun, ukuran lubang stomata menjadi indikator tingkat ketahanan tanaman kakao terhadap infeksi Phytopthtora palmivora. Tanaman kakao dengan ukuran lubang stomata besar lebih rentan terhadap infeksi jamur Phytophtora palmivora daripada tanaman kakao dengan ukuran stomata lebih kecil. b. Ketahanan pasif biokimia Ketahanan pasif biokimia dapat berupa sintesis senyawa anti-mikrobia dan penghambat (inhibitor) yang dihasilkan oleh tanaman. Tanaman selama tumbuh dan perkembangannya menghasilkan senyawa organik, eksudat akar, senyawa gula, asam amino, asam organik, dan enzim. Senyawa-senyawa tersebut merupakan nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan beberapa organisme saprofit dan bersifat sebagai senyawa penghambat bagi beberapa organisme parasit seperti senyawa eksudat yang dihasilkan oleh tanaman. Pada banyak interaksi antara tanaman inang dan parasit menghasilkan senyawa toksik dari tanaman sebagai bentuk ketahanan. Beberapa senyawa fenol, tanin dan beberapa asam lemak dalam dalam konsentrasi tinggi dapat membentuk ketahanan terhadap jamur parasit. Banyak senyawa yang dihasilkan memiliki potensi sebagai penghambat patogen seperti enzim hidrolitik. Beberapa senyawa seperti saponin bersifat sebagai senyawa anti jamur. Lactin dapat menyebabkan lisis dan sebagai zat penghambat pada banyak jenis jamur. Sel tanaman menghasilkan enzim hydrolitik seperti glucanases dan kitin yang dapat merusak dinding sel patogen. Seminar umum Page 10
11 B.2. Mekanisme ketahanan aktif pada tanaman Ketahanan aktif merupakan ketahanan tanaman yang terbentuk ketika terjadi invasi patogen dan ditandai dengan adanya interaksi antara gen patogen dan gen tanaman inang. Tanaman akan menunjukkan gejala sakit apabila terdapat kecocokan antara patogen dan tanaman inang. Pengenalan patogen oleh tanaman dan pengenalan tanaman oleh patogen melalui isyarat pengenal yang dikeluarkan oleh tanaman dan patogen. Isyarat pengenal pada tumbuhan dapat berupa asam lemak pada kutikula pengimbas kutinase patogen, molekul galakturonan pada pektin pengimbas enzim pektinnase pathogen, strigol (senyawa fenol) pemacu aktivasi & perkecambahan propagul pathogen, fenol & gula yang keluar dari luka pengaktif sejumlah gen patogen tertentu dan lektin Gambar 5. Lokasi isyarat pengenal tanaman terhadap patogen Isyarat pengenal untuk jamur terdapat pada bagian membran sel. Jamur akan dikenali oleh tanaman apabila telah melakukan penetrasi hingga ke membran sel. Apabila patogen mengenali tanaman inang maka akan terjadi penetrasi sedangkan apabila patogen tidak mengenal tanaman inang maka tidak akan terjadi penetrasi. Ketika tanaman mengenali adanya serangan patogen sebagai ancaman maka tanaman akan menginduksi ketahanan aktif sebagai bentuk ketahanan terhadap serangan patogen. Ketahanan aktif tanaman dapat berupa ketahanan sruktural maupun ketahanan biokimia. Ketahanan aktif struktural dapat berupa pembentukan papilla (lignituber), pembentukan suberin, tilosis, pembentukan lapisan absisat, deposisi gum. Ketahanan aktif biokimia dapat berupa pembentukan senyawa racun, pembentukan senyawa fenol, Seminar umum Page 11
12 pembentukan senyawa phytoaleksin, sintesis protein baru, inaktivasi enzim dan racun, perubahan jalur biosintesis. a. Mekanisme ketahanan aktif struktural 1. Pembentukan papilla (lignituber) Pembentukan papilla merupakan suatu bentuk ketahanan tanaman terhadap penetrasi patogen. Pada dinding sel, lignin terdapat dalam lamela tengah, dinding sel primer dan sekunder (Akai & Fukutomi, 1980). Penggabungan lignin ke dalam dinding sel tanaman memberikan kekuatan mekanik dan memungkinkan dinding sel lebih tahan terhadap degradasi enzim patogen (Goodwin & Mercer, 1990). Dinding sel yang terlignifikasi merupakan penghalang yang dapat mencegah pergerakan hara sehingga patogen dapat mengalami kelaparan (starvation). Prekursor lignin berpengaruh toksik pada patogen. Semua perubahan dinding sel setelah infeksi dapat meningkatkan ketahanan, dengan menghentikan patogen secara langsung atau dengan memperlambat proses penetrasi sehingga tanaman dapat mengaktifkan mekanisme pertahanan. Deposisi lignin Hifa Gambar 6. Pembentukan papilla (lignituber) Jaringan lignin akan terbentuk mengikuti bentuk pertumbuhan kecambah patogen dengan tujuan untuk mengisolasi jaringan sakit dengan jaringan yang sehat. Lignin juga berfungsi sebagai pemutus sumber nutrisi bagi patogen sehingga patogen tidak dapat tumbuh dan berkembang lebih lanjut. Namun demikian, beberapa patogen tetap dapat menembus jaringan lignin yang telah terbentuk. Tingkat keberhasilan patogen menembus jaringan lignin yang terbentuk dipengaruhi oleh kecepatan pembentukan jaringan lignin dan kecepatan pertumbuhan patogen. Apabila kecepatan pembentukan jaringan lignin lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan pertumbuhan patogen maka akan efektif dalam menghambat penetrasi patogen. Namun apabila kecepatan pembentukan jaringan lignin lebih lambat daripada pertumbuhan patogen maka ketahanan ini kurang efektif. Seminar umum Page 12
13 2. Pembentukan suberin Pembentukan suberin memiliki fungsi seperti pembentukan jaringan lignin yaitu untuk mengisolasi patogen pada jaringan sakit sehingga tidak menyebar ke jaringan yang sehat. Jaringan suberin sangat kompak sehingga dapat menghambat penetrasi patogen secara struktural. Gambar 6. Pembentukan lapisan suberin 3. Tilosis Tilosis merupakan pembesaran sel-sel pada jaringan xilem. Sel-sel pada xilem yang membesar akan menutupi pembuluh sehingga menghambat distribusi inokulum. Pada prinsipnya sama seperti bentuk ketahanan struktural yang lain yaitu untuk mengisolasi inokulum sehingga tidak menyebar ke jaringan yang sehat. Gambar 8. Tilosis 4. Pembentukan lapisan absisat Lapisan absisat merupakan lapisan yang terbentuk pada daun atau buah yang telah matang. Lapisan absisat ini juga merupakan mekanisme ketahanan. Daun atau buah yang telah tua akan gugur dan akan meninggalkan luka, namun lapisan absisat akan melindungi luka yang terbentuk sehingga tidak menjadi jalur penetrasi bagi patogen. Seminar umum Page 13
14 Gambar 9. Pembentukan lapisan absisat 5. Deposisi Gum Gum akan terbentuk dengan cepat dan mengisi ruang-ruang yang ada antar sel sehingga menghambat patogen untuk tumbuh dan berkembang. patogen yang tidak dapat tumbuh dan perkembang akan mati. Gambar 10. Deposisi gum b. Mekanisme Ketahanan Aktif Biokimia Ketahanan aktif biokimia merupakan mekanisme ketahanan terakhir tanaman terhadap serangan patogen. Ketahanan biokimia bekerja dengan cara menghambat atau merusak patogen secara enzimatis. Mekanisme ketahanan aktif biokimia dapat berupa pembentukan senyawa racun, fenol, phytoaleksin, sintesis protein baru, inaktif enzim dan racun, perubahan mekanisme biosintesis. 1. Pembentukan senyawa racun Pembentukan senyawa racun oleh tanaman merupakan strategi tanaman untuk melindungi diri dari serangan patogen. Senyawa racun akan efektif untuk membunuh patogen bila konsentrasi yang dihasilkan tanaman mencapai konsentrasi yang tepat atau sesuai. Oleh karena itu, kecepatan tanaman untuk menghasilkan senyawa beracun dengan jumlah dan konsentasi yang tinggi akan menentukan tingkat ketahanan tanaman tersebut terhadap infeksi Seminar umum Page 14
15 patogen. Tanaman dengan kecepatan menghasilkan senyawa racun dalam jumlah dan konsentrasi yang tinggi dengan cepat merupakan tanaman yang lebih tahan terhadap infeksi patogen dibandingkan dengan tanaman dengan kemampuan memproduksi senyawa beracun yang lebih lambat. 2. Pembentukan senyawa fenol Senyawa fenol seperti asam klorogenik, asam kafein, dan produk oksidasi seperti floretin, hydroquinon dan phytoaleksin merupakan senyawa penghambat patogen dan aktivitasnya. Senyawa toxic yang dihasilkan dapat berasal dari hasil sintesis atau merupakan dari perubahan senyawa racun yang lain. 3. Pembentukan phytoaleksin Phytoaleksin merupakan senyawa antibiotik yang dihasilkan dari interaksi antara tanaman inang dan patogen atau merupakan respons dari kerusakan bagian tanaman. Reaksi hipersensitif merupakan bentuk ketahanan tanaman dengan cara mematikan sel-sel yang terindikasi terinfeksi oleh patogen. 4. Sintesis protein baru Mekanisme ketahanan pada tanaman baik ketahanan struktural maupun ketahanan biokimia melibatkan enzim sebagai pengaktif. Enzim memiliki peranan yang sangat penting baik pada mekanisme biokimia secara normal maupun peran enzim ketika merespons infeksi patogen. Dalam mekanisme ketahanan kimia, enzim pengoksidasi senyawa fenol memiliki peranan yang sangat penting. Peningkatan sintesis dan aktivitas phenyl ammonia lyase (PAL) merupakan bentuk reaksi ketahanan terhadap beberapa bakteri dan patogen yang lain. PAL merupakan kunci dalam sintesis fenol, phytoaleksin, dan lignin. Keefektifan ketahanan bergantung pada kecepatan dan jumlah produk sintesis yang dihasilkan serta kemampuan perpindahan ke bagian jaringan sehat untuk membentuk pembatas atau penghalang. 5. Inaktivasi enzim dan racun Patogen akan menghasilkan racun bagi tanaman dan mensintesis enzim pendegradsi dinding sel selama proses patogenesis berlangsung. Senyawa-senyawa tersebut akan membuat kerusakan pada tanaman. Sebagai bentuk strategi pertahanan pada tanaman resisten, tanaman akan memproduksi fenol, tanin dan protein-protein sebagai enzim penghambat. Terdapat senyawa fenolik yang tidak berfungsi sebagai anti jamur namun dapat Seminar umum Page 15
16 membuat patogen inaktif dengan menetralkan aktivitas enzim perusak yang dihasilkan patogen. Toxin dihasilkan oleh patogen. Mekanisme ketahanan yang ditunjukkan tanaman terhadap toxin patogen berupa reaksi detoksifikasi atau pemiskinan reseptor untuk produksi toxin sehingga patogen tidak dapat memproduksi toxin atau toxin yang diproduksi hanya sedikit. 6. Perubahan jalur biosintesis Infeksi patogen akan membuat tanaman mengalami stress fisiologi. Hal tersebut akan menstimulat tanaman untuk mensintesis enzim (protein) baru sebagai bentuk usaha pertahanan tanaman untuk bertahan hidup. Respirasi pada bagian tanaman yang sakit akan meningkat, hal ini disebabkan terjadi peningkatan aktifitas di sel tanaman yang sakit. Sebagian dari glikolisis akan di ubah menjadi jalur pentosa sebagai bentuk pertahanan tanaman. Gambar 11. Perubahan jalur biosintesis Beberapa senyawa dari glikolisis dan jalur pentosa akan dimanfaatkan dalam jalur reaksi shikmat. Jalur reaksi shikmat akan menghasilkan senyawa fenol dan fitoaleksin dan lignifikasi. Senyawa-senyawa tersebut digunakan sebagai mekanisme ketahanan oleh tanaman dari serangan patogen. Seminar umum Page 16
17 Gambar 12. Jalur reaksi Shikimic Perubahan jalur biosintesis merupakan salah satu bentuk ketahanan aktif tanaman Hasil dari reaksi glikolisis dan pentosa phospate akan masuk ke dalam jalur reaksi asam shikimat. Pada jalur reaksi shikmat akan dihasilkan senyawa-senyawa yang berperan dalam mekanisme ketahanan tanaman seperti flavonoids, coumarins, lignin. Perubahan jalur biosintesis merupakan bentuk mekanisme ketahanan yang memiliki peranan yang sangat penting, baik dalam mekanisme ketahanan aktif struktural aktif maupun ketahanan biokimia. Gambar 13. Ilustrasi ketahanan kimia tanaman terhadap serangan patogen Mekanisme ketahanan tanaman terhadap serangan patogen merupakan tahapan yang kompleks. Pada ilustrasi gambar 13 dapat dilihat bahwa elisitor yang dilepas oleh jamur akan ditangkap oleh reseptor. Bila reseptor mengenali itu sebagai ancaman maka reseptor Seminar umum Page 17
18 akan mengirim isyarat ke nukleus untuk segera mensintesis senyawa penghambat (inhibitor) dan senyawa perusak sel jamur tersebut. Dari gambar 13 dapat dilihat, terjadi sintesis senyawa phytoaleksin yang berperan dalam menghambat pertumbuhan jamur dan enzim kitinase yang berperan menghancurkan dinding sel jamur yang tersusun oleh senyawa kitin. Sebagian besar cendawan filamentus mengandung senyawa kitin pada dinding sel hifanya. Kitinase dapat mendegradasi senyawa kitin yang merupakan komponen utama penyusun dinding sel cendawan. Kitinase adalah enzim yang umum diproduksi oleh sel bakteri, cendawan, hewan dan tumbuhan. Hidrolisis polimer kitin sebagai salah satu komponen dinding hifa cendawan dapat menghambat pertumbuhan hifa. Oleh karena itu, kitinase dikenal sebagai salah satu protein anti cendawan (Wang et al., 2005). Menurut Oku (1994), kitinase berperan menghambat pertumbuhan cendawan dengan secara langsung menghidrolisis dinding miselia cendawan, dan melepaskan elisitor endogen oleh aktivitas kitinase yang kemudian meningkatkan reaksi ketahanan sistemik (systemic acquired resistance/sar) pada inang. Terdapat beberapa penelitian tentang ketahanan tanaman kakao terhadap infeksi Phytophtora palmivora. Informasi mengenai ketahanan kakao terhadap infeksi Phytophtora palmivora sangat penting bagi pemulian tanaman kakao. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa contoh klon yang tahan atau agak tahan terhadap penyakit busuk buah adalah klon ICS 13, ICCRI 3, dan Sca 6. Bebebrpa klon yang tahan terhadap penyakit busuk buah kakao (Phytophtora palmivora) memiliki ciri kandungan enzim kitinase dan peroksidase cukup tinggi (Rubiyo et al., 2010) dan kandungan tanin tinggi (Iwaro et al., 1999 cit. Hendro et al., 2002). Seminar umum Page 18
19 III. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Penetrasi jamur dapat dilakukan melalui lubang alami (seperti stomata, lentisel, dan lain sebagainya), luka abiotik atau luka biotik dan mendegradsi dinding sel tanaman. 2. Bentuk ketahanan pasif pada tanaman seperti adanya lapisan lilin, kutikula, lapisan epidermis, zat anti-mikrobia, dan zat penghambat (inhibitor). 3. Ketahanan aktif yang berperan dalam ketahanan terhadap serangan patogen dapat berupa pembentukan papilla (lignituber), adanya lapisan suberin, lapisan absisat, tilosis, deposisi gum, pembentukan senyawa fenol, phytoaleksin, sintesis protein baru, inaktif enzim dan racun, perubahan mekanisme biosintesis dan produksi seyawa meracun. B. Saran Perlu penelitian lebih lanjut untuk dapat merakit tanaman kakao toleran/tahan penyakit busuk buah (Phytophtora palmivora) dengan memperhatikan mekanisme ketahanan tanaman kakao terhadap infeksi Phytophtora palmivora. Seminar umum Page 19
20 DAFTAR PUSTAKA Agrios, GN Plant Pathology. Academic Press. New York.4 th Ed. 803.p. Akai S & Fukutomi M Preformed internal Physical Defenses. In J.A Bailey & B.J. Deverall (Eds). Dynamic of Host Defence : Academic Press. Sydney. Darmono TW, I.Jamil & Santoso DA Pengembangan penanda molekuler untuk deteksi Phytophthora palmivora pada tanaman kakao. Menara Perkebunan, 74: Duniway JM Role of Physical Factors in Development of Phytophthora Diseases. In D.C.Erwin SB Gracia, PH Tsao (eds) Phytophtora Its Biology, Taxonomy, Ecology and Pathology APS. St. Paul, Minnesota. Fry WE Principles of Plant disease Management. Academic Press, New York Berger RD Application of epidemiological principles to achieve plant disease control. Annu. Rev.Phytopatol. 15: p. Goodwin TW & Mercer EI Introduction to Plant Biochemistry. Pergamon Press, Oxford. 677p. Iwaro DA, Sreenivasan TN & Umaharan Differential reaction of cocoa clones to Phytophthora palmivora infection. CRU, Univ.West Indies, Trinidad: Oku H Plants Pathogenesis and Disease Control. Lewis Pub. CRC Press. Tokyo. 119p Rubiyo. Agus,P. dan Sudarsono Aktivitas kitinase dan peroksidase, kerapatan stomata serta ketahanan kakao terhadap penyakit busuk buah. Pelita perkebunan 26(2), Simmonds NW Horizontal resistance to cocoa disease. Cocoa Growers Bul 47: Suara Merdeka Busuk Buah Penyakit Utama Tanaman Kakao. < Diakses 20 November Wang S, Wu J, Rao P, Ng TB & Ye X A chitinase with antifungal activity from the mung bean. Protein Expr. Purif. 40: Winarno, H. Woerjono, M. dan Hari, H Kajian Ketahanan beberapa klon kakao terhadap penyakit busuk buah Phytophtora palmivora. Agrosains, 15 (2). Wood GAR Establisment. In G.A.R. Wood & R.A. Lass (Eds.) Cocoa: Longman, London. Seminar umum Page 20
21 LAMPIRAN Daftar Pertanyaan : 1. Bagaimana mekanisme ketahanan aktif dapat terinduksi? (Agustinus Wahyu) Jawab : Mekanisme ketahanan aktif dapat terinduksi apabila ada pengenalan patogen oleh tanaman. Patogen akan melepas elisitor, elisitor tersebut akan ditangkap oleh reseptor. Setelah itu, reseptor akan mengirim sinyal ke nukleus untuk mengaktifkan mekanisme ketahanan. Untuk jamur, isyarat pengenal ada pada membran sel. 2. Bagaimana mekanisme ketahanan tanaman dengan memproduksi fenol, dan contoh senyawa fenol yang berperan dalam mekanisme ketahanan apa saja? (Muhammad Habib) Jawab : Senyawa fenol berperan dalam ketahan pasif dan ketahan aktof tanaman. Senyawa fenol dapat dihasilkan dari jalur reaksi shikimic. Efektifitas senyawa fenol berkaitan dengan kecepatan memproduksi senyawa fenol dalam jumlah banyak dan konsentrasi yang tinggi. Semakin cepat produksi senyawa fenol maka akan semakin efektif dalam menghambat pertumbuhan dan perkembangan patogen. Contoh senyawa fenol seperti tanin, asam klorogenik, asam kafein, dan produk oksidasi seperti floretin, hydroquinon dan phytoaleksin merupakan senyawa penghambat patogen dan aktivitasnya. Seminar umum Page 21
CARA TUMBUHAN MEMPERTAHANKAN DIRI DARI SERANGAN PATOGEN. Mofit Eko Poerwanto
CARA TUMBUHAN MEMPERTAHANKAN DIRI DARI SERANGAN PATOGEN Mofit Eko Poerwanto [email protected] Pertahanan tumbuhan Komponen pertahanan: 1. Sifat-sifat struktural yang berfungsi sebagai penghalang fisik
CARA PATOGEN MENIMBULKAN PENYAKIT
CARA PATOGEN MENIMBULKAN PENYAKIT MENGKONSUMSI KANDUNGAN SEL INANG SECARA TERUS MENERUS MEMBUNUH SEL ATAU MERUSAK AKTIVITAS METABOLISME KARENA ENZIM, TOKSIN ATAU ZAT TUMBUH MENGGANGGU TRANSPORTASI AIR
BAB V. PATOLOGI DAN PATOGENESIS PENDAHULUAN
BAB V. PATOLOGI DAN PATOGENESIS PENDAHULUAN Sebagai salah satu faktor yang menentukan dalam terjadinya penyakit tumbuhan adalah adanya interaksi antara patogen dengan tanaman inangnya, yang ditunjukkan
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Kondisi Umum Tanaman Phalaenopsis pada setiap botol tidak digunakan seluruhnya, hanya 3-7 tanaman (disesuaikan dengan keadaan tanaman). Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan tanaman
Cara Menyerang Patogen (1) Mofit Eko Poerwanto
Cara Menyerang Patogen (1) Mofit Eko Poerwanto [email protected] Deskripsi Kuliah ini menjelaskan tentang perkembangan penyakit tanaman dan penyebaran patogen Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Mahasiswa
PROSES PENYAKIT TUMBUHAN
PROSES PENYAKIT TUMBUHAN Perkembangan Penyakit pada Tumbuhan Patogen: Jamur Bakteri Virus Nematoda Inang: Tingkat ketahanan Lingkungan: Suhu Kelembapan Angin Light intensity, light quality, soil ph, fertility
PEMBAHASAN UMUM Karakterisasi Genotipe Cabai
77 PEMBAHASAN UMUM Karakterisasi Genotipe Cabai Varietas cabai yang tahan terhadap infeksi Begomovirus, penyebab penyakit daun keriting kuning, merupakan komponen utama yang diandalkan dalam upaya pengendalian
Ketahan Tumbuhan. Mofit Eko Poerwanto
Ketahan Tumbuhan Mofit Eko Poerwanto [email protected] KETAHANAN TUMBUHAN Deskripsi Kuliah ini menjelaskan mekanisme ketahanan tanaman terhadap patogen 02/09/2017 18:00 IPT - Mofit 2 Tujuan Instruksional
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Penyakit Busuk Buah Kakao Oleh Phytophthorapalmivora Serangan Phytophthora palmivora pada tanaman kakao dapat terjadi pada daun, tunas, batang, akar dan bunga, tetapi infeksi
BAB IV. EKOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN PENDAHULUAN
BAB IV. EKOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN PENDAHULUAN Materi ini menguraikan tentang pengaruh lingkungan terhadap perkembangan penyakit tumbuhan. Patogen penyebab penyakit tumbuhan merupakan jasad yang berukuran
Cara patogen menyerang tumbuhan
Cara patogen menyerang tumbuhan CARA PATOGEN MENIMBULKAN PENYAKIT MENGKONSUMSI KANDUNGAN SEL INANG SECARA TERUS MENERUS MEMBUNUH SEL ATAU MERUSAK AKTIVITAS METABOLISME KARENA ENZIM, TOKSIN ATAU ZAT TUMBUH
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
17 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Isolasi dan Seleksi Mikrob pada A. malaccensis Populasi bakteri dan fungi diketahui dari hasil isolasi dari pohon yang sudah menghasilkan gaharu. Sampel yang diambil merupakan
Trichoderma spp. ENDOFIT AMPUH SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI (APH)
Trichoderma spp. ENDOFIT AMPUH SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI (APH) I. Latar Belakang Kebijakan penggunaan pestisida tidak selamanya menguntungkan. Hasil evaluasi memperlihatkan, timbul kerugian yang
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan Pengaruh Aplikasi Getah Pepaya Betina Secara in-vitro Aplikasi getah pepaya betina pada media tumbuh PDA dengan berbagai konsentrasi mempengaruhi secara signifikan
I. PENDAHULUAN. Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) termasuk sayuran buah yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) termasuk sayuran buah yang tergolong tanaman semusim, tanaman ini biasanya berupa semak atau perdu dan termasuk kedalam
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kacang Tanah Kacang tanah berasal dari Amerika Selatan, namun saat ini telah menyebar ke seluruh dunia yang beriklim tropis atau subtropis. Cina dan India merupakan penghasil
BAB I PENDAHULUAN. Colletotrichum capsici dan Fusarium oxysporum merupakan fungi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Colletotrichum capsici dan Fusarium oxysporum merupakan fungi patogen tular tanah (Yulipriyanto, 2010) penyebab penyakit pada beberapa tanaman family Solanaceae
PENYAKIT VASCULAR STREAK DIEBACK (VSD) PADA TANAMAN KAKAO (THEOBROMA CACAO L) DAN. Oleh Administrator Kamis, 09 Februari :51
Kakao (Theobroma cacao L) merupakan satu-satunya diantara 22 spesies yang masuk marga Theobroma, Suku sterculiacecae yang diusahakan secara komersial. Kakao merupakan tanaman tahunan yang memerlukan lingkungan
BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan pangan penduduk selalu meningkat dari tahun ke tahun. Terdapat. yaitu beras merah dan beras hitam (Lee, 2010).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan penting dan utama di Indonesia dan beberapa negara lainnya. Kebutuhan akan beras untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk
I. PENDAHULUAN. serius karena peranannya cukup penting dalam perekonomian nasional. Hal ini
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mendapatkan perhatian serius karena peranannya cukup penting dalam perekonomian nasional. Hal ini terlihat
PENGARUH PATOGEN THD FUNGSI FISIOLOGIS TUMBUHAN. Mofit Eko Poerwanto
PENGARUH PATOGEN THD FUNGSI FISIOLOGIS TUMBUHAN Mofit Eko Poerwanto [email protected] Deskripsi Kuliah ini menjelaskan pengaruh patogen dalam mengganggu fungsi fisiologis tanaman 02/09/2017 16:53 IPT
II. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit antraknosa pada tanaman cabai disebabkan oleh tiga spesies cendawan
5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Antraknosa Cabai Penyakit antraknosa pada tanaman cabai disebabkan oleh tiga spesies cendawan Colletotrichum yaitu C. acutatum, C. gloeosporioides, dan C. capsici (Direktorat
Seed Coating untuk Meningkatkan Daya Simpan Benih Kakao. Sulistyani Pancaningtyas 1)
Seed Coating untuk Meningkatkan Daya Simpan Benih Kakao Sulistyani Pancaningtyas 1) 1) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Penerapan teknologi seed coating sudah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kitin dan Bakteri Kitinolitik Kitin adalah polimer kedua terbanyak di alam setelah selulosa. Kitin merupakan komponen penyusun tubuh serangga, udang, kepiting, cumi-cumi, dan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. SUSUT BOBOT Susut bobot merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan mutu tomat. Perubahan terjadi bersamaan dengan lamanya waktu simpan dimana semakin lama tomat disimpan
BAB I PENDAHULUAN. (Mukarlina et al., 2010). Cabai merah (Capsicum annuum L.) menjadi komoditas
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cabai merupakan tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan diusahakan secara komersial baik dalam skala besar maupun skala kecil (Mukarlina et
PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO
PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO Jalan Raya Dringu Nomor 81 Telp. (0335) 420517 Fax. (4238210) PROBOLINGGO 67271 POTENSI JAMUR ANTAGONIS Trichoderma spp PENGENDALI HAYATI PENYAKIT LANAS DI PEMBIBITAN TEMBAKAU
I. PENDAHULUAN. penting di antara rempah-rempah lainnya (king of spices), baik ditinjau dari segi
I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu jenis rempah yang paling penting di antara rempah-rempah lainnya (king of spices), baik ditinjau dari segi perannya dalam menyumbangkan
TINJAUAN PUSTAKA. Adapun klasifikasi Colletotrichum gloeosporioides Penz. Sacc. menurut. : Colletotrichum gloeosporioides Penz. Sacc.
TINJAUAN PUSTAKA Biologi Penyakit Adapun klasifikasi Colletotrichum gloeosporioides Penz. Sacc. menurut Dwidjoseputro (1978) sebagai berikut : Divisio Subdivisio Kelas Ordo Family Genus Spesies : Mycota
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Antraknosa pada Tanaman Kakao Di Indonesia penyakit kakao yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sudah lama dikenal, penyakit ini tersebar di semua negara penghasil
TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Alexopoulus dan Mims (1979), klasifikasi jamur C. cassiicola. : Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) Wei.
19 TINJAUAN PUSTAKA Biologi Penyakit Menurut Alexopoulus dan Mims (1979), klasifikasi jamur C. cassiicola adalah sebagai berikut : Divisio Sub Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Eumycophyta : Eumycotina
Hama Patogen Gulma (tumbuhan pengganggu)
KOMPONEN OPT Hama adalah binatang yang merusak tanaman sehingga mengakibatkan kerugian secara ekonomi. Patogen adalah jasad renik (mikroorganisme) yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman Gulma (tumbuhan
BAB I PENDAHULUAN. dari daerah Brasilia (Amerika Selatan). Sejak awal abad ke-17 kacang tanah telah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman kacang tanah (Arachis hypogea. L) merupakan tanaman yang berasal dari daerah Brasilia (Amerika Selatan). Sejak awal abad ke-17 kacang tanah telah dibudidayakan
PENGARUH Trichoderma viride dan Pseudomonas fluorescens TERHADAP PERTUMBUHAN Phytophthora palmivora Butl. PADA BERBAGAI MEDIA TUMBUH.
0 PENGARUH Trichoderma viride dan Pseudomonas fluorescens TERHADAP PERTUMBUHAN Phytophthora palmivora Butl. PADA BERBAGAI MEDIA TUMBUH (Skripsi) Oleh YANI KURNIAWATI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
I. PENDAHULUAN. Nanas (Ananas comosus [L.] Merr.) merupakan komoditas andalan yang sangat
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang dan Masalah Nanas (Ananas comosus [L.] Merr.) merupakan komoditas andalan yang sangat berpotensi dalam perdagangan buah tropik yang menempati urutan kedua terbesar setelah
II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman kakao menurut Tjitrosoepomo (1988) dalam Bajeng, 2012
6 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kakao (Theobroma cacao) Klasifikasi tanaman kakao menurut Tjitrosoepomo (1988) dalam Bajeng, 2012 dapat diuraikan sebagai berikut: Divisi Sub divisi Class Sub class Ordo Family
FISIOLOGI TUMBUHAN MKK 414/3 SKS (2-1)
FISIOLOGI TUMBUHAN MKK 414/3 SKS (2-1) OLEH : PIENYANI ROSAWANTI PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN DAN KEHUTANAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA 2017 METABOLISME Metabolisme adalah proses-proses
Tugas Kelompok. Bentuk tersedia bagi tumbuhan Fungsi Gejala Kahat. Kelompok: N, P, K, Ca, Mg, S, B, Cu, Cl, Fe, Mn, Mo, Zn
Unsur Hara Tugas Kelompok Bentuk tersedia bagi tumbuhan Fungsi Gejala Kahat Kelompok: N, P, K, Ca, Mg, S, B, Cu, Cl, Fe, Mn, Mo, Zn Unsur hara Esensial Non esensial Mako Mikro Unsur Hara esensial Syarat
TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kedelai berbentuk perdu dengan tinggi lebih kurang cm.
TINJAUAN PUSTAKA Sistematika dan Biologi Tanaman Kedelai berikut: Menurut Sharma (2002), kacang kedelai diklasifikasikan sebagai Kingdom Divisio Subdivisio Class Family Genus Species : Plantae : Spermatophyta
WASPADA PENYAKIT Rhizoctonia!!
WASPADA PENYAKIT Rhizoctonia!! I. Latar Belakang Luas areal kebun kopi di Indonesia sekarang, lebih kurang 1,3 juta ha, sedangkan produksi kopi Indonesia sekarang, lebih kurang 740.000 ton dengan produksi
I. PENDAHULUAN. Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu hasil pertanian
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu hasil pertanian yang penting dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Buah cabai memiliki aroma, rasa
LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PENELITIAN
LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PENELITIAN PEMANFAATAN BAKTERI KITINOLITIK DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT ANTRAKNOSA (Colletotrichum gloeosporioides) SEBAGAI PENYAKIT PENTING PASCAPANEN PADA BUAH
BUDIDAYA TANAMAN DURIAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA BUDIDAYA TANAMAN DURIAN Dosen Pengampu: Rohlan Rogomulyo Dhea Yolanda Maya Septavia S. Aura Dhamira Disusun Oleh: Marina Nurmalitasari Umi Hani Retno
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Ditinjau dari aspek pertanaman maupun nilai produksi, cabai (Capsicum annuum L. ) merupakan salah satu komoditas hortikultura andalan di Indonesia. Tanaman cabai mempunyai luas
BAB I PENDAHULUAN. pangan yang terus meningkat. Segala upaya untuk meningkatkan produksi selalu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman padi (Oryza sativa) merupakan tanaman yang memegang peranan penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia sebagai bahan utama pangan. Peningkatan produksi padi
Online Jurnal of Natural Science, Vol.3(2): ISSN: Agustus 2014
Terhadap Infeksi Penyakit Busuk Buah Berdasarkan Uji Detached Pod (Resistance Of Several Cacao Clones Against Pod Rot Disease Infection Based On Detached Pod Assay) Nurul Aisyah 1*, Rahmansyah 1, Muslimin
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah 1. 2.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat pada umumnya banyak beranggapan bahwa di sekitar pohon jati sulit ditumbuhi jenis tanaman lainnya terutama tanaman palawija. Sehingga petani jarang memanfaatkan
II. TINJAUAN PUSTAKA
5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cabai Klasifikasi ilmiah cabai adalah Kingdom : Plantae Divisi : Magnolyophyta Kelas : Magnolyopsida Ordo : Solanales Famili : Solanaceae Genus : Capsicum Spesies : Capsicum
BAB III. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN PENDAHULUAN
BAB III. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN PENDAHULUAN Dalam bab ini akan diuraikan tentang penyebaran penyakit tumbuhan, serta tipe siklus (daur) hidup patogen. Selanjutnya juga akan disampaikan mengenai
BAB I PENDAHULUAN. Keragaman bakteri dapat dilihat dari berbagai macam aspek, seperti
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keragaman bakteri dapat dilihat dari berbagai macam aspek, seperti morfologi, fisiologi, dan genetik. Setiap habitat yang berbeda memberikan keragaman yang berbeda
TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Dwidjoseputro (1978), Cylindrocladium sp. masuk ke dalam
TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Cylindrocladium sp. Menurut Dwidjoseputro (1978), Cylindrocladium sp. masuk ke dalam subdivisi Eumycotina, kelas Deuteromycetes (fungi imperfect/fungi tidak sempurna), Ordo Moniliales,
I. PENDAHULUAN. Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri patogen serangga yang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri patogen serangga yang telah dikembangkan menjadi salah satu bioinseksitisida yang patogenik terhadap larva nyamuk
TINJAUAN PUSTAKA Padi Gogo
3 TINJAUAN PUSTAKA Padi Gogo Padi gogo adalah budidaya padi di lahan kering. Lahan kering yang digunakan untuk tanaman padi gogo rata-rata lahan marjinal yang kurang sesuai untuk tanaman. Tanaman padi
TINJAUAN PUSTAKA. endomikoriza atau FMA (Fungi Mikoriza Arbuskula) pada jenis tanaman. (Harley and Smith, 1983 dalam Dewi, 2007).
TINJAUAN PUSTAKA Mikoriza merupakan suatu bentuk simbiosis mutualistik antara jamur dan akar tanaman (Brundrett, 1991). Hampir pada semua jenis tanaman terdapat bentuk simbiosis ini. Umumya mikoriza dibedakan
LAPORAN PRAKTIKUM HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN TAHUNAN PENYAKIT PADA KOMODITAS PEPAYA. disusun oleh: Vishora Satyani A Listika Minarti A
LAPORAN PRAKTIKUM HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN TAHUNAN PENYAKIT PADA KOMODITAS PEPAYA disusun oleh: Lutfi Afifah A34070039 Vishora Satyani A34070024 Johan A34070034 Listika Minarti A34070071 Dosen Pengajar:
I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha peternakan,
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha peternakan, lebih dari separuh biaya produksi digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan, oleh karena itu penyediaan
MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS
MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS KD 3.8. Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda
IV. Hasil dan Pembahasan
IV. Hasil dan Pembahasan 4.1. Keasaman Total, ph. Ketebalan Koloni Jamur dan Berat Kering Sel pada Beberapa Perlakuan. Pada beberapa perlakuan seri pengenceran kopi yang digunakan, diperoleh data ph dan
KONSEP, DIAGNOSIS, DAN KLASIFIKASI PENYAKIT TANAMAN
KONSEP, DIAGNOSIS, DAN KLASIFIKASI PENYAKIT TANAMAN DEFINISI PENYAKIT TANAMAN Whetzel (1929), penyakit adalah suatu proses fisiologi tumbuhan yang abnormal dan merugikan yang disebabkan oleh faktor primer
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Singkong (Manihot utilissima) adalah komoditas tanaman pangan yang
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Tanaman Singkong Tanaman Singkong (Manihot utilissima) adalah komoditas tanaman pangan yang cukup potensial di Indonesia selain padi dan jagung. Tanaman singkong termasuk
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Populasi Bakteri Penambat N 2 Populasi Azotobacter pada perakaran tebu transgenik IPB 1 menunjukkan jumlah populasi tertinggi pada perakaran IPB1-51 sebesar 87,8 x 10 4 CFU/gram
PENGANTAR VIROLOGI TUMBUHAN (PNH 3284, SKS 1/1) A. SILABUS
PENGANTAR VIROLOGI TUMBUHAN (PNH 3284, SKS 1/1) Pembahasan tentang sifat-sifat fisik dan biokimia sebagai patogen tumbuhan. Berbagai metode deteksi dan diagnosis. Cara penularan dan penyebaran. Multiplikasi
TINJAUAN PUSTAKA Padi Sawah
4 TINJAUAN PUSTAKA Padi Sawah Tanaman padi (Oryza sativa L.) termasuk famili Graminae dan subfamili Oryzae.Berdasarkan morfologinya, padi dapat digolongkan menjadi tiga subspecies yaitu Indica, Japonica,
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kadar Air Kulit Manggis Kadar air merupakan salah satu parameter penting yang menentukan mutu dari suatu produk hortikultura. Buah manggis merupakan salah satu buah yang mempunyai
HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Penelitian. Tabel 3. Pertumbuhan Aspergillus niger pada substrat wheat bran selama fermentasi Hari Fermentasi
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Selama fermentasi berlangsung terjadi perubahan terhadap komposisi kimia substrat yaitu asam amino, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral, selain itu juga
I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan salah satu faktor penentu utama yang mempengaruhi produksi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pakan merupakan salah satu faktor penentu utama yang mempengaruhi produksi ternak ruminansia. Pakan ruminansia sebagian besar berupa hijauan, namun persediaan hijauan semakin
I. PENDAHULUAN. penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi, karena memiliki protein yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Daging ayam merupakan salah satu bahan pangan yang memegang peranan cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi, karena memiliki protein yang berkualitas tinggi
I. PENDAHULUAN. Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah tanaman pangan utama keempat dunia setelah
18 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah tanaman pangan utama keempat dunia setelah gandum, jagung dan padi. Di Indonesia kentang merupakan komoditas hortikultura yang
Kuliah VII HORMON TUMBUHAN (AUKSIN) OLEH: Dra. Isnaini Nurwahyuni, M.Sc Riyanto Sinaga, S.Si, M.Si Dra. Elimasni, M.Si
Kuliah VII HORMON TUMBUHAN (AUKSIN) OLEH: Dra. Isnaini Nurwahyuni, M.Sc Riyanto Sinaga, S.Si, M.Si Dra. Elimasni, M.Si senyawa organik yang disintesis di salah satu bagian tumbuhan dan dipindahkan ke bagian
I. PENDAHULUAN. zat kimia lain seperti etanol, aseton, dan asam-asam organik sehingga. memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi (Gunam et al., 2004).
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enzim merupakan senyawa protein yang disintesis di dalam sel secara biokimiawi. Salah satu jenis enzim yang memiliki peranan penting adalah enzim selulase. Enzim selulase
KETAHANAN TANAMAN KAKAO TERHADAP PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora Butl.)
Perspektif Vol. 12 No. 1/Juni 2013. Hlm 23-36 ISSN: 1412-8004 KETAHANAN TANAMAN KAKAO TERHADAP PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora Butl.) Resistance of Cocoa to Black Pod Disease (Phytophthora
PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN HUTAN
PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN HUTAN Konsep pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Konsep ini berpangkal dari upaya manusia mengelola populasi hama-penyakit melalui teknik-teknik pengendalian yang
KULIAH 1. ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR. Definisi Penyakit Tumbuhan Konsep Penyakit Tumbuhan Arti Penting Penyakit Tumbuhan
KULIAH 1. ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR Definisi Penyakit Tumbuhan Konsep Penyakit Tumbuhan Arti Penting Penyakit Tumbuhan What is plant pathology? Ilmu penyakit tumbuhan (FITOPATOLOGI) adalah hilmu yang
I. PENDAHULUAN. Mikoriza merupakan sebuah istilah yang mendeskripsikan adanya hubungan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Mikoriza merupakan sebuah istilah yang mendeskripsikan adanya hubungan simbiosis yang saling menguntungkan antara akar tanaman dengan fungi tertentu. Melalui
TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai Cabai (Capsicum annuum L.) termasuk dalam genus Capsicum yang spesiesnya telah dibudidayakan, keempat spesies lainnya yaitu Capsicum baccatum, Capsicum pubescens,
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium
IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium dan vitamin B1 yang efektif bila dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada proses perbanyakan tanaman
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) Daun Belimbing Wuluh mengandung flavonoid, saponin dan tanin yang
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) Daun Belimbing Wuluh mengandung flavonoid, saponin dan tanin yang diduga memiliki khasiat sebagai antioksidan, antibakteri dan
KULIAH 2. ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR
KULIAH 2. ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR Gejaladan Tanda Penyakit Definisi Penyakit Tumbuhan Kondisi dimana sel & jaringan tanaman tidak berfungsi secara normal, yang ditimbulkan karena gangguan secara terus
TINJAUAN PUSTAKA. Biologi penyakit busuk pangkal batang (Ganodermaspp.) Spesies : Ganoderma spp. (Alexopolus and Mims, 1996).
5 TINJAUAN PUSTAKA Biologi penyakit busuk pangkal batang (Ganodermaspp.) Kingdom Divisio Class Ordo Famili Genus : Myceteae : Eumycophyta : Basidiomycetes : Aphyllophorales : Ganodermataceae : Ganoderma
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Tanaman Bawang merah (Allium ascalonicum L) merupakan tanaman semusim yang membentuk rumpun, tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 15-50 cm (Rahayu, 1999). Menurut
TINJAUAN PUSTAKA. Siklus hidup lalat buah mengalami 4 stadia yaitu telur, larva, pupa dan
15 TINJAUAN PUSTAKA Biologi Bactrocera sp. (Diptera : Tephtritidae) Siklus hidup lalat buah mengalami 4 stadia yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Lalat buah betina memasukkan telur ke dalam kulit buah
disukai masyarakat luas karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi dalam kondisi aseptik secara in vitro (Yusnita, 2010). Pengembangan anggrek
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan dengan keragaman varietas dan jenis tanaman hortikultura, misalnya tanaman anggrek. Anggrek merupakan tanaman
PENDAHULUAN. Sebagian besar produk perkebunan utama diekspor ke negara-negara lain. Ekspor. teh dan kakao (Kementerian Pertanian, 2015).
12 PENDAHULUAN Latar Belakang Sub-sektor perkebunan merupakan penyumbang ekspor terbesar di sektor pertanian dengan nilai ekspor yang jauh lebih besar dibandingkan nilai impornya. Sebagian besar produk
TINJAUAN PUSTAKA. enam instar dan berlangsung selama hari (Prayogo et al., 2005). Gambar 1 : telur Spodoptera litura
S. litura (Lepidoptera: Noctuidae) Biologi TINJAUAN PUSTAKA Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadangkadang tersusun 2 lapis), berwarna coklat kekuning-kuningan diletakkan
BAB I PENDAHULUAN. industri masakan dan industri obat-obatan atau jamu. Pada tahun 2004, produktivitas
2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas unggulan hortikultura Indonesia, selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, saat ini cabai juga
POTENSI PEMANFAATAN MIKORISA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PENGELOLAAN KESUBURAN LAHAN KERING MASAM
POTENSI PEMANFAATAN MIKORISA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PENGELOLAAN KESUBURAN LAHAN KERING MASAM Lahan kering masam merupakan salah satu jenis lahan marginal dengan produktivitas rendah, mempunyai nilai
I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Era perdagangan bebas diawali di tahun 2003 Asean Free Trade Area (AFTA), dilanjutkan tahun 2010 Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), tahun 2015 Masyarakat Ekonomi
BAB IV RESPONS MIKROBIA TERHADAP SUHU TINGGI
BAB IV RESPONS MIKROBIA TERHADAP SUHU TINGGI FAKTOR YANG HARUS DIPERHATIKAN: 1. Mikrobia penyebab kerusakan dan mikrobia patogen yang dimatikan. 2. Panas tidak boleh menurunkan nilai gizi / merusak komponen
II. TINJAUAN PUSTAKA. Kakao merupakan tanaman yang bunganya tumbuh dari batang atau cabang
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Kakao Kakao merupakan tanaman yang bunganya tumbuh dari batang atau cabang sehingga tanaman ini digolongkan ke dalam kelompok caulifloris. Adapun sistematikanya menurut
TINJAUAN PUSTAKA Rizobakteri Pemacu Pertumbuhan Tanaman (PGPR) Enzim ACC Deaminase dan Etilen
TINJAUAN PUSTAKA Rizobakteri Pemacu Pertumbuhan Tanaman (PGPR) Rizobakteri pemacu tumbuh tanaman yang populer disebut plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) diperkenalkan pertama kali oleh Kloepper
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia sebagai sumber utama
Orchid Mycorrhiza, Peran dan Manfaatnya dalam Bidang Perlindungan Tanaman Perkebunan
Orchid Mycorrhiza, Peran dan Manfaatnya dalam Bidang Perlindungan Tanaman Perkebunan Roosmarrani Setiawati, SP. POPT Ahli Muda Di alam, mikoriza dijumpai berasosiasi dengan hampir 90% perakaran tanaman
TOLERANSI BEBERAPA KLON KAKAO (Theobroma cacao L.) TERHADAP INFEKSI Phytophthora palmivora Butl. Oleh
TOLERANSI BEBERAPA KLON KAKAO (Theobroma cacao L.) TERHADAP INFEKSI Phytophthora palmivora Butl. Oleh Ruli Alhadi *) Di bawah bimbingan Fatimah dan Ediwirman *) Program Studi Agroteknologi Universitas
I. PENDAHULUAN. Pisang Cavendish merupakan komoditas pisang segar (edible banana) yang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pisang Cavendish merupakan komoditas pisang segar (edible banana) yang mendominasi 95% perdagangan pisang di dunia dan produsen pisang Cavendish banyak berasal dari
TUGAS TERSTRUKTUR PENGELOLAAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN TERPADU
TUGAS TERSTRUKTUR PENGELOLAAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN TERPADU PROSES INFEKSI DAN GEJALA SERANGAN TOBACCO MOZAIC VIRUS PADA TANAMAN TEMBAKAU Oleh: Gregorius Widodo Adhi Prasetyo A2A015009 KEMENTERIAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Isolat M. anisopliae pada Berbagai Konsentrasi terhadap
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Isolat M. anisopliae pada Berbagai Konsentrasi terhadap Mortalitas H. armigera Mortalitas larva H. armigera merupakan parameter pengukuran terhadap banyaknya jumlah
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
33 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Pertumbuhan tanaman buncis Setelah dilakukan penyiraman dengan volume penyiraman 121 ml (setengah kapasitas lapang), 242 ml (satu kapasitas lapang), dan 363 ml
