PENDEKATAN PROBLEM POSING DENGAN LATAR PEMBELAJARAN KOOPERATIF
|
|
|
- Hengki Susanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENDEKATAN PROBLEM POSING DENGAN LATAR PEMBELAJARAN KOOPERATIF Dian Septi Nur Afifah STKIP PGRI Sidoarjo Abstrak Rasa ingin tahu siswa semakin menurun dan berdampak pada rendahnya motivasi belajar. Agar siswa termotivasi untuk belajar secara mandiri, maka rasa ingin tahu siswa perlu dibangkitkan dan dikembangkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan problem posing dalam pembelajaran di kelas. Pendekatan problem solving dapat melatih siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Siswa dituntun untuk mengajukan masalah atau pertanyaan sesuai minat mereka dan memikirkan cara penyelesaiannya. Soal yang diajukan secara berpasangan dapat lebih baik dibanding soal yang diajukan secara individu, dengan syarat terjadi kolaborasi di antara kedua siswa yang berpasangan tersebut. Kerjasama di antara siswa dapat memacu kreativitas serta saling melengkapi kekurangan mereka. Sehingga, dipilih pembelajaran kooperatif sebagai latar pendekatan problem posing. Kata Kunci: problem posing, pembelajaran kooperatif Abstract Curiosity of students getting lower and lower impact on motivation to learn. So that students are motivated to learn on their own, then the curiosity of students need to be raised and developed. One way to do is to use problem posing approach to learning in the classroom. Problem solving approach to train students to ask questions or problems related to the material being studied. Students are led to pose problems or questions fit their interests and think about the solution. Questions can be submitted in pairs is better than the proposed question individually, the condition occurs collaboration between the two student pairs. Cooperation among students can spur creativity and their complementary deficiencies. Thus, the selected cooperative learning approach to problem posing as a background. Keywords: problem posing, cooperative learning. Pendahuluan Sikap kritis dan rasa ingin tahu merupakan sifat alamiah yang dimiliki manusia. Sifat ini sangat bermanfaat sebagai motivator bagi seseorang untuk terus menambah pengetahuan yang dimilikinya. Pada anak usia balita sifat ini terlihat sangat jelas, mereka selalu ingin meraih benda-benda di sekitarnya. Benda-benda itu diamati dengan cara dipandangi, diputar-putar, dimasukkan ke mulut, atau Gamatika Vol. II No.2 Mei
2 dilemparkan kemudian berusaha diraih kembali. Anak yang sudah dapat berbicara akan terus mengajukan pertanyaan kepada orang dewasa. Akan tetapi seringkali orang dewasa tidak mengacuhkan pertanyaan anak, bahkan menganggap anak lancang sehingga membuat anak takut bertanya. Hal ini juga terjadi di sekolah. Menurut Arikunto (990:8), anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar biasanya dipandang merepotkan guru, karena selalu mengajukan pertanyaan yang menyebabkan:. waktu untuk melakukan sesuatu atau untuk melanjutkan pelajaran tersita 2. guru merasa takut tidak mampu menjawab pertanyaan itu sehingga dapat menurunkan martabat guru tersebut. Akibatnya dalam mengikuti pembelajaran, anak enggan atau malas bertanya, meskipun belum mengerti materi yang diberikan. Rasa ingin tahu siswa semakin menurun dan berdampak pada rendahnya motivasi belajar. Agar siswa termotivasi untuk belajar secara mandiri dan sepanjang hayat, maka rasa ingin tahu siswa perlu dibangkitkan dan dikembangkan. Pendekatan problem posing dalam pembelajaran dapat melatih siswa untuk mengajukan pertanyaanpertanyaan atau soal-soal yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Pada pembelajaran yang menerapkan problem solving, siswa hanya diminta menyelesaikan soal yang disediakan. Kondisi ini, siswa merasa takut salah atau menganggap idenya tidak cukup bagus. Sebaliknya, dalam pembelajaran yang menerapkan problem posing, perasaan tersebut dapat direduksi. Siswa dituntun untuk mengajukan masalah atau pertanyaan sesuai minat mereka dan memikirkan cara penyelesaiannya. Perhatian dan komunikasi matematika siswa melalui pendekatan problem posing akan lebih baik, karena pertanyaan atau soal yang berkualitas hanya mungkin dapat diajukan dan diselesaikan oleh siswa yang mempunyai perhatian sungguh-sungguh terhadap pelajaran matematika (Hamzah,2002). Menurut Upu (2003:0) problem posing dapat dilakukan secara individu atau klasikal (classical), berpasangan (in pairs), atau secara berkelompok (groups). Masalah atau soal yang diajukan oleh siswa secara individu tidak memuat intervensi dari siswa lain. Soal diajukan tanpa terlebih dahulu ditanggapi oleh siswa lain. Hal ini dapat mengakibatkan soal kurang berkembang atau kandungan informasinya kurang lengkap. Soal yang diajukan secara berpasangan dapat lebih berbobot dibanding soal yang diajukan secara individu, dengan syarat terjadi kolaborasi di antara kedua siswa yang berpasangan tersebut. Jika soal dirumuskan oleh suatu kelompok kecil (tim), maka kualitasnya akan lebih tinggi baik dari aspek tingkat keterselesaian maupun kandungan informasinya. Kerjasama di antara siswa dapat memacu kreativitas serta saling melengkapi kekurangan mereka. Sehingga, dipilih pembahasan pembelajaran kooperatif sebagai latar pendekatan problem posing. 2. Tinjauan Pustaka 2. Pengertian Problem Posing Secara harfiah, problem posing bermakna mengajukan soal atau masalah. Silver (996:294) mengemukakan batasan problem posing sebagai berikut The term problem posing has been used to refer both to the generation of new problems and to the reformulation of given problems. Suryanto (dalam Siswono,999:26-27) membagi definisi problem posing menjadi tiga, yaitu: a. Problem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat Gamatika Vol. II No.2 Mei
3 dikuasai. Hal ini terjadi dalam pemecahan soal-soal yang rumit, dengan pengertian bahwa problem posing merupakan salah satu langkah dalam menyusun rencana pemecahan masalah. b. Problem posing adalah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah dipecahkan dalam rangka pencarian alternatif pemecahan atau alternatif soal yang relevan. c. Problem posing adalah perumusan soal atau pembentukan soal dari suatu situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika atau setelah pemecahan soal atau masalah. Silver (996:523) mengemukakan istilah problem posing yang diaplikasikan pada tiga bentuk aktivitas kognitif matematika yang berbeda, yaitu: a. Presolution posing, yaitu seorang siswa menghasilkan soal yang berasal dari situasi atau stimulus yang disajikan atau diberikan. b. Within-solution posing, yaitu seorang siswa merumuskan kembali soal seperti yang sedang diselesaikan. c. Postsolution posing, yaitu seorang siswa memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah dipecahkan untuk menghasilkan soal baru. Dalam proses pembelajaran matematika, problem posing dapat dipandang sebagai pendekatan atau tujuan (Upu,2003:5). Sebagai suatu pendekatan, problem posing berkaitan dengan kemampuan guru memotivasi siswa melalui perumusan situasi yang menantang sehingga siswa dapat mengajukan pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan dan berakibat pada kemampuan mereka untuk memecahkan masalah. Sebagai suatu tujuan, problem posing berhubungan dengan kompleksitas dan kualitas masalah matematika yang diajukan siswa. Problem posing yang dimaksud dalam tulisan ini adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan cara pemberian tugas kepada siswa untuk menyusun atau membuat soal berdasarkan situasi yang tersedia dan menyelesaikan soal itu. Situasi dapat berupa gambar, cerita, atau informasi lain yang berkaitan dengan materi pelajaran. 2.2 Klasifikasi Jawaban Problem Posing Siswa Jawaban yang diharapkan dari siswa pada pembelajaran yang menerapkan problem solving adalah berupa penyelesaian untuk soal yang diberikan oleh guru, sedangkan pada pembelajaran yang menerapkan problem posing, jawaban yang diharapkan dari siswa terdiri atas soal yang dibuat oleh siswa berdasarkan situasi yang disediakan dan penyelesaian untuk soal tersebut. Ditinjau dari aspek soal, Silver (996) mengklasifikasikan soal yang dibuat siswa menjadi 3 jenis, yaitu pertanyaan matematika, pertanyaan non-matematika, dan pernyataan. Pertanyaan matematika adalah pertanyaan yang mengandung masalah matematika dan mempunyai kaitan dengan informasi yang diberikan. Selanjutnya pertanyaan matematika dapat diklasifikasikan atas pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan dan pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan. Pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan adalah pertanyaan yang kekurangan informasi tertentu untuk menyelesaikannya atau pertanyaan yang tidak mempunyai kaitan atau hubungan dengan informasi yang diberikan. Suatu pertanyaan digolongkan sebagai pertanyaan yang dapat diselesaikan jika pertanyaan tersebut memuat informasi yang cukup sehingga dapat diselesaikan. Pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan ini diklasifikasikan lagi oleh Upu (2003:27) menjadi pertanyaan matematika yang memuat informasi baru dan pertanyaan matematika yang tidak memuat informasi baru. Gamatika Vol. II No.2 Mei
4 Pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan ditinjau pula sintaksis dan semantiknya. Sintaksis berhubungan dengan tata bahasa, sedangkan semantik berhubungan dengan makna kata/kalimat. Berkaitan dengan sintaksis dan semantik, Siswono (999:86) mengklasifikasikan soal siswa sebagai berikut:. Susunan kalimat dalam soal yang dibuat siswa sesuai dengan tata bahasa Indonesia dan maknanya jelas. Contoh: Situasi : Harga 3 kilogram gula pasir adalah Rp ,- Soal : Tentukan harga 6 kilogram gula pasir! 2. Susunan kalimat dalam soal yang dibuat siswa sedikit tidak sesuai dengan tata bahasa Indonesia, tetapi maknanya jelas. Contoh: Situasi : Harga 3 kilogram gula pasir adalah Rp ,- Soal : Berapa harga jika saya membeli 5 kilogram gula pasir? 3. Susunan kalimat dalam soal yang dibuat siswa tidak sesuai dengan tata bahasa Indonesia dan maknanya tidak jelas (tidak dapat ditangkap maksudnya). Contoh: Situasi : Seorang peternak menyediakan rumput cukup untuk 5 ekor ternaknya selama 6 hari Soal : Berapa banyak ikat rumput bila mempunyai 20 ekor sapi untuk dimakan selama 5 hari? Pertanyaan non-matematika adalah pertanyaan yang tidak mengandung masalah matematika. Pernyataan adalah respon siswa yang hanya berupa konjektur (Upu,2003:28), tidak mengandung kalimat pertanyaan maupun perintah yang mengarah kepada matematika atau non-matematika. Klasifikasi soal yang dibuat siswa dapat digambarkan pada gambar 2. berikut. Responses Nonmath questions Math questions Statements Solvable Nonsolvable Semantic analysis Linguistic syntactic analysis Gambar 2. Klasifikasi Soal yang Dibuat Siswa Sumber: Silver (996:526) Untuk menganalisis jawaban siswa, Siswono (999:4) mengajukan 5 kriteria, yaitu:. Dapat tidaknya soal dipecahkan. 2. Kaitan soal dengan materi yang diajarkan. Gamatika Vol. II No.2 Mei
5 3. Penyelesaian soal yang dibuat siswa. 4. Struktur bahasa kalimat soal. 5. Tingkat kesulitan soal. Berdasarkan kriteria tersebut Siswono (999:86-87) membuat pedoman penskoran pengajuan soal (problem posing) sebagaimana disajikan pada Tabel 2. berikut: Tabel 2. Pedoman Penskoran Pengajuan Soal Tahap Kriteria Jawaban Skor. Soal: a. Struktur bahasa soal *) 2 b. Dapat diselesaikan dengan informasi yang ada c. Soal matematika berkaitan materi pelajaran d. Tingkat kesulitan soal **) Pembuatan model (rencana penyelesaian) 3. Penyelesaian model (pelaksanaan perencanaan) 4. Mengembalikan ke masalah/soal yang dicari Skor maksimum 7 Aturan penskoran:. Bila jawaban tidak sesuai kriteria/salah, skornya *) Struktur bahasa soal menggunakan kriteria: a. bila susunan kalimat dalam soal yang dibuat siswa sesuai dengan tata bahasa Indonesia dan maknanya jelas, skornya b. bila susunan kalimat dalam soal yang dibuat siswa tidak sesuai dengan tata bahasa Indonesia, tetapi maknanya masih dapat ditangkap, skornya 2 c. bila susunan kalimat dalam soal yang dibuat siswa tidak sesuai dengan tata bahasa Indonesia dan maknanya tidak jelas (tidak dapat ditangkap maksudnya), skornya lihat butir **) Kriteria tingkat kesulitan soal. Soal dikatakan: a. mudah, bila untuk menyelesaikannya hanya langsung menggunakan data yang ada tanpa mengolah dulu, langsung diterapkan, skornya 3 b. sedang, bila untuk menyelesaikannya tidak hanya langsung menggunakan data yang ada, tetapi diolah terlebih dahulu atau ditambah data lain dan untuk menyelesaikannya menggunakan satu prosedur penyelesaian saja, 2 skornya 3 c. sulit, bila untuk menyelesaikannya tidak hanya menggunakan data yang ada, tetapi diolah lebih dahulu atau ditambah data/syarat lain dan untuk menyelesaikannya memerlukan beberapa prosedur penyelesaian, skornya. Gamatika Vol. II No.2 Mei 202 6
6 4. Bila siswa tidak melalui tahap 2, tetapi langsung pada tahap 3 dan benar, tahap 2 diberi skor. 5. Untuk soal yang tidak jelas, hanya pernyataan saja, atau tidak sesuai dengan situasi yang ada, aturan penskorannya: a. bila ada penyelesaian, skornya b. bila tidak ada penyelesaian, skornya 2 6. Bila tugas tidak dikerjakan/diselesaikan, skornya Kelebihan dan Kelemahan Problem Posing Menurut Patahuddin (dalam Siswono,999:24) problem posing mempunyai beberapa kelebihan, antara lain: a. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencapai pemahaman yang lebih luas dan menganalisis secara lebih mendalam tentang suatu topik. b. Memotivasi siswa untuk belajar lebih lanjut. c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan sikap kreatif, bertanggung jawab, dan berdiri sendiri. d. Pengetahuan akan lebih lama diingat siswa karena diperoleh dari hasil belajar atau hasil eksperimen yang berhubungan dengan minat mereka dan lebih terasa berguna untuk kehidupan mereka. Sedangkan menurut Suharta (2000), problem posing merupakan salah satu cara untuk memperoleh kemajuan dalam pembaharuan konsep atau pemecahan masalah. Selain itu problem posing menjadi awal usaha intelektual yang berfungsi untuk merangsang pikiran, mendobrak wawasan yang kaku dan sempit, membuka cakrawala dan mencerdaskan. Selain kelebihan-kelebihan tersebut, problem posing mempunyai kelemahan sebagaimana diungkapkan Amerlin (999:9), yaitu: 2.3. Membutuhkan lebih banyak waktu bagi siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan Menyita lebih banyak waktu bagi pengajar, khususnya untuk mengoreksi tugas siswa Siswa berkemampuan rendah tidak dapat menyelesaikan semua soal yang dibuatnya atau soal-soal yang dibuat oleh temannya yang memiliki kemampuan problem posing lebih tinggi. 2.4 Pembelajaran Kooperatif Dalam pembelajaran kooperatif siswa akan terlatih untuk mendengarkan pendapat-pendapat orang lain dan merangkum pendapat-pendapat tersebut dalam bentuk tulisan. Tugas-tugas kelompok akan memacu siswa untuk bekerja sama, saling membantu dalam mengintegrasikan pengetahuan-pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Menurut Arends (997) ada tiga tujuan utama yang diharapkan dapat dicapai dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: Prestasi akademik 2 Penerimaan terhadap keanekaragaman 3 Pengembangan keterampilan sosial Ada enam fase utama dalam pembelajaran kooperatif. Tabel 2.2 menyajikan fase pembelajaran kooperatif menurut Arends (997:3). Gamatika Vol. II No.2 Mei
7 Fase Fase Menyajikan tujuan dan perlengkapan pembelajaran Fase 2 Menyajikan informasi Fase 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompokkelompok belajar Fase 4 Membimbing kelompok dalam bekerja dan belajar Fase 5 Tes hasil belajar Fase 6 Pemberian penghargaan *) Tugas diberikan pada awal fase 4 (pen.) Tabel 2.2 Sintaks Pembelajaran Kooperatif Perilaku Guru Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memperlihatkan perlengkapan pembelajaran Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasi atau menggunakan buku teks Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok menjalani masa peralihan dari individu ke kelompok secara efisien Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas *) Guru melakukan tes tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka Guru mencari cara untuk menghargai usaha dan prestasi siswa baik secara individu maupun kelompok 3. Pembahasan Pendekatan Problem Posing dengan Latar Pembelajaran Kooperatif Pendekatan problem posing dengan latar pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran menggunakan sintaks pembelajaran kooperatif yang disisipi problem posing. Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil agar dapat saling membantu memahami materi pelajaran dan menyelesaikan tugas. Problem posing disisipkan pada fase 4 dan 5 dari sintaks pembelajaran kooperatif, yaitu setelah siswa mempelajari materi. Problem posing belum diberikan pada fase 2, karena pada fase tersebut siswa hanya menerima informasi yang bersifat umum dari guru mengenai materi pelajaran. Informasi ini belum cukup memadai untuk mengkonstruk soal. Pada fase 4 siswa diberi tugas membuat soal berdasarkan situasi yang disediakan dan menyelesaikan soal itu. Tugas ini dikerjakan secara berkelompok. Pada fase 5, hasil kerja kelompok dipresentasikan dan ditanggapi oleh kelompok lain. Selanjutnya siswa menjalani tes individual. Setiap siswa diminta membuat satu soal berdasarkan situasi yang diberikan dan menyelesaikan soal itu. Gamatika Vol. II No.2 Mei
8 Hasil tes individual diberi skor oleh guru. Pedoman penskoran yang digunakan adalah konversi dari pedoman penskoran pengajuan soal yang dikemukakan oleh Siswono, sebagaimana dideskripsikan pada Tabel 2.. Setiap skor dalam tabel itu dikalikan 6 sehingga skor yang diperoleh berupa bilangan bulat. Tujuan penulis melakukan konversi agar skor siswa dapat digunakan untuk menentukan nilai perkembangan siswa, sesuai dengan sistem penskoran yang digunakan dalam pembelajaran kooperatif. Tabel 2.3 berikut menyajikan pedoman penskoran problem posing hasil konversi dari pedoman penskoran pengajuan soal yang dikemukakan oleh Siswono. Tabel 2.3 Pedoman Penskoran Problem Posing Tahap Kriteria Jawaban Skor. Soal yang diajukan: a. Struktur bahasa soal makna soal jelas makna soal tidak jelas b. Soal berkaitan dengan materi 0 2. Pemisalan Kalimat matematika dari informasi yang diberikan 3. Penyelesaian model ½ ½ 4. Mengembalikan ke pertanyaan yang dicari (kesimpulan) 4. Penutup Sintaks pembelajaran menggunakan pendekatan problem posing dengan latar pembelajaran kooperatif adalah sintaks pembelajaran kooperatif yang disisipi problem posing pada fase 4 dan fase 5. Daftar Pustaka Amerlin. (999). Analisis Problem Posing Siswa Sekolah Dasar Negeri II Kecamatan Tomohon Kabupaten Minahasa pada Konsep Operasi Hitung Bilangan Cacah. Malang: IKIP Malang. Arends, Richard I. (997). Classroom Instruction and Management. New York: McGraw-Hill Companies, Inc. Arikunto, Suharsimi. (990). Manajemen Pengajaran secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta. Hamzah. (2002). Pengembangan Model Pembelajaran Matematika di SLTP melalui Pendekatan Mathematical Problem Posing. Majalah Ilmiah Himpunan Matematika Indonesia (MIHMI). Vol. 8 No. 3 Th Moses, B., Bjork, E., dan Goldenberg, E. P. (993). Beyond Problem Solving: Problem Posing. Stephen I. Brown dan Marion I. Oregan (Ed). Problem Posing: Reflections and Applications New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers. Silver, E., A, Mamona-Down., J, Leung S dan Kenney, P. A. (996). Posing Mathematical Problem. Journal for Research in Mathematics Education. Vol. 27 No. 3, Mei Gamatika Vol. II No.2 Mei
9 Silver, E., dan Cai, J. (996). An Analysis of Arithmetic Problem Posing by Middle School Students. Journal for Research in Mathematics Education. Vol. 27 No. 5, November Siswono, T. Y. E. (999). Analisis Hasil Tugas Pengajuan Soal oleh Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Rungkut Surabaya. Makalah Komprehensif. PPs Unesa Surabaya. Siswono, T. Y. E. (999). Metode Pemberian Tugas Pengajuan Soal (Problem Posing) dalam Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Perbandingan di MTs Negeri Rungkut Surabaya. Tesis. PPs Unesa Surabaya. Slavin, Robert E. (995). Cooperative Learning: Theori, Research, and Practice 2 nd Edition. Massachusetts: Allyn and Bacon. Soedjadi. (2000). Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia: Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas. Suharta, I Gusti Putu. (2000). Pengembangan Strategi Problem Posing dalam Pembelajaran Kalkulus untuk Memperbaiki Kesalahan Konsepsi. Matematika: Jurnal Matematika atau Pembelajarannya. Th. VI No. 2, Agustus Malang: Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA Universitas Negeri Malang. Upu, Hamzah. (2003). Problem Posing dan Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika. Bandung: Pustaka Ramadhan. Gamatika Vol. II No.2 Mei
PENERAPAN PENDEKATAN PROBLEM POSING BERLATAR PEMBELAJARAN KOOPERATIF DI SEKOLAH DASAR
PENERAPAN PENDEKATAN PROBLEM POSING BERLATAR PEMBELAJARAN KOOPERATIF DI SEKOLAH DASAR Baharullah Dosen Jurusan Pend. Matematika Universitas Muhammadiyah Makassar ABSTRAK: Penelitian ini merupakan penelitian
PROFIL KREATIVITAS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 PLOSO BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGGI DALAM PENGAJUAN SOAL MATEMATIKA DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER
PROFIL KREATIVITAS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 PLOSO BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGGI DALAM PENGAJUAN SOAL MATEMATIKA DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER Syarifatul Maf ulah Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu
PENDEKATAN PROBLEM POSING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR
PENDEKATAN PROBLEM POSING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Saleh Haji Dosen Program Studi Pascasarjana (S2) Pendidikan Matematika FKIP Universitas Bengkulu Abstrak:Permasalahan penelitian
Pembelajaran Matematika dengan Problem Posing
Pembelajaran Matematika dengan Problem Posing Abdussakir 13 Februari 2009 A. Belajar Matematika dengan Pemahaman Menurut Hudojo (1990:5), dalam proses belajar matematika terjadi juga proses berpikir, sebab
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS PROBLEM POSING DENGAN SCAFFOLDING METAKOGNITIF PADA SMPN KOTA PALOPO 1
Prosiding Seminar Nasional Volume 01, Nomor 1 PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS PROBLEM POSING DENGAN SCAFFOLDING METAKOGNITIF PADA SMPN KOTA PALOPO 1 Oleh: Ma rufi 2, Muhammad Ilyas 3, Fitriani
BAB II KAJIAN PUSTAKA. bahasa Inggris yang artinya merumuskan masalah atau membuat masalah.
13 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengajuan Masalah (Problem Posing) Suyatno menjelaskan bahwa problem posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang artinya merumuskan masalah atau membuat masalah. Problem
JURNAL. APPLICATION PROBLEM POSING LERNING MODEL TO IMPROVE MATHEMATICAL UNDERSTANDING OF 8 th GRADE UPTD SMPN 1 MOJO IN THE ACADEMIC YEAR 2016/2017
JURNAL PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS SISWA KELAS VIII UPTD SMPN 1 MOJO TAHUN PELAJARAN 2016/2017 APPLICATION PROBLEM POSING LERNING MODEL
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATERI INTERAKSI ANTAR FAKTOR-FAKTOR FISIK DENGAN MEDIA PEMBELAJARAN MOTOR LISTRIK
PENSA E Jurnal 67 PENINGKATAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATERI INTERAKSI ANTAR FAKTOR-FAKTOR FISIK DENGAN MEDIA PEMBELAJARAN MOTOR LISTRIK Mohammad Budiyanto dan Beni Setiawan Dosen Program Studi S1
Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.
Proses Berpikir Siswa dalam Pengajuan Soal Tatag Yuli Eko Siswono Universitas Negeri Surabaya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses berpikir siswa dalam mengajukan soal-soal pokok
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN TUTOR SEBAYA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP BUNDA PADANG. Endah 1, Susi Herawati 1
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN TUTOR SEBAYA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP BUNDA PADANG Endah 1, Susi Herawati 1 1 Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu
PROFIL PENGAJUAN SOAL MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP PADA MATERI PERBANDINGAN DITINJAU DARI PERBEDAAN KEMAMPUAN MATEMATIKA DAN PERBEDAAN JENIS KELAMIN
PROFIL PENGAJUAN SOAL MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP PADA MATERI PERBANDINGAN DITINJAU DARI PERBEDAAN KEMAMPUAN MATEMATIKA DAN PERBEDAAN JENIS KELAMIN Ika Wahyuni Agustina 1, Siti Maghfirotun Amin 1 Jurusan
PENEREPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT (NUMBERED HEAD TOGETHER) DENGAN TUGAS PENGAJUAN SOAL PADA MATERI KESEBANGUNAN DAN KEKONGRUENAN SEGITIGA
PENEREPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT (NUMBERED HEAD TOGETHER) DENGAN TUGAS PENGAJUAN SOAL PADA MATERI KESEBANGUNAN DAN KEKONGRUENAN SEGITIGA Mutsabitatin Ilmah 1, Abdul Haris Rosyidi 2 Jurusan Matematika,
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING PADA MATERI RELASI DAN FUNGSI UNTUK SISWA KELAS VIII B SMPN 2 KECAMATAN
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING PADA MATERI RELASI DAN FUNGSI UNTUK SISWA KELAS VIII B SMPN 2 KECAMATAN BALONG PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2013/2014 DISUSUN
PEMANFAATAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH SEBAGAI KONSEKUENSI LOGIS OTONOMI DAERAH BIDANG PENDIDIKAN
JURNAL MATEMATIKA DAN KOMPUTER Vol. 5. No. 3, 146-155, Desember 2002, ISSN : 1410-8518 PEMANFAATAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH SEBAGAI KONSEKUENSI LOGIS OTONOMI DAERAH BIDANG PENDIDIKAN
KEMAMPUAN BELAJAR KONSEP DAUR BIOGEOKIMIA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROBLEM POSING PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 BANJARBARU
1 KEMAMPUAN BELAJAR KONSEP DAUR BIOGEOKIMIA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROBLEM POSING PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 BANJARBARU H. Muhammad Zaini 1 Lisa Herlina 2 ABSTRAK Penelitian tindakan kelas
PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT & STAD DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA
PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT & STAD DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA Pascalian Hadi Pradana IKIP PGRI JEMBER [email protected] Abstrak Penelitian ini berawal dari
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT (STAD) PADA SUB MATERI POKOK LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG DI KELAS VI SD NEGERI KALIDAWIR 03 Oleh: Ratri Candra Hastari Dosen STKIP
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA PADA PEMBELAJARAN PROBLEM POSING BERKELOMPOK
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA PADA PEMBELAJARAN PROBLEM POSING BERKELOMPOK Ana Ari Wahyu Suci 1, Abdul Haris Rosyidi 2 Jurusan Matematika, FMIPA, Unesa 1 Jurusan Matematika, FMIPA, Unesa
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENERAPKAN PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA SMPN 4 PALOPO
Jurnal Dinamika, April 2012, halaman 32-39 ISSN 2087-7889 Vol. 03. No. 1 EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENERAPKAN PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA SMPN 4 PALOPO Fitriani Program Studi Pendidikan
Penerapan Problem Based Instruction (PBI) dalam Pembelajaran Persamaan Kuadrat
Vol. 2 No. 1 Hal. 215-220 ISSN (Print) : 2337-6198 Januari Juni 2014 ISSN (Online) : 2337-618X Penerapan Problem Based Instruction (PBI) dalam Pembelajaran Persamaan Kuadrat Suprapto Manurung Pendidikan
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KONEKSI MATEMATIS SISWA
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KONEKSI MATEMATIS SISWA Oleh Sendi Ramdhani Universitas Suryakancana Cianjur e-mail:[email protected]
PROFIL PENGAJUAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP BERDASARKAN GAYA KOGNITIF
PROFIL PENGAJUAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP BERDASARKAN GAYA KOGNITIF Dian Septi Nur Afifah STKIP PGRI Tulungagung email: [email protected] Abstrak: Penelitian bertujuan mendeskripisikan profil
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE LEARNING STARTS WITH A QUESTION (LSQ)
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE LEARNING STARTS WITH A QUESTION (LSQ) DISERTAI PERMAINAN SUCKER BALL TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMPN 4 KOTO XI TARUSAN Heru Syah
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KALKULUS 1
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KALKULUS 1 Sofia Edriati Prodi Pendidikan Matematika, STKIP PGRI SUMBAR, Padang, Indonesia [email protected]
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP NEGERI 1 IDI RAYEUK
312 PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP NEGERI 1 IDI RAYEUK Khairul Asri Prodi Pendidikan Matematika, FKIP, Universitas Serambi Mekkah email: [email protected]
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)
50 MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) Yunie Nurhazannah SMP Negeri 21 Pontianak E-mail: [email protected]
Diniatul Hidayani Sipahutar 1, Dinda Kartika Prodi Pendidikan Matematika Unimed Medan.
ISBN:98-602-1980-9-6 Perbedaan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa yang Diberi Pendekatan Problem Posing dengan Siswa yang Diberi Pendekatan Creative Problem Solving Diniatul Hidayani Sipahutar
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSSING BERBANTUAN SMARTPHONE
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSSING BERBANTUAN SMARTPHONE Arlin Astriyani Universitas Muhammadiyah Jakarta Email: [email protected] Abstrak
Proses Metakognitif Siswa SMA dalam Pengajuan Masalah Geometri YULI SUHANDONO
Proses Metakognitif Siswa SMA dalam Pengajuan Masalah Geometri YULI SUHANDONO Email : [email protected] Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses metakognitif siswa dalam pengajuan
PROFIL PENGAJUAN SOAL MAHASISWA CALON GURU BERKEMAMPUAN RENDAH
ISSN: 2088-678X 1 PROFIL PENGAJUAN SOAL MAHASISWA CALON GURU BERKEMAMPUAN RENDAH Erfan Yudianto SMA Unggulan BPPT Darus Sholah Jember Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sulitnya siswa untuk
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
43 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH ( EFFORTS TO IMPROVE THE ABILITY TO SOLVE MATHEMATICAL PROBLEMS THROUGH PROBLEM-BASED LEARNING
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 28 PADANG Oleh: Sri Widiawati * ), Delsi K ** ), Yulyanti Harisman
MENINGKATKAN KEMAMPUAN
MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGAJUAN MASALAH DAN PENYELESAIAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PADA MAHASISWA PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UPI KAMPUS TASIKMALAYA Yusuf Suryana Abstrak
ABSTRACK. > then reject H 0 so it can be concluded understanding of mathematical concepts by
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMPN 1 SIMPANG ALAHAN MATI KABUPATEN PASAMAN TAHUN PELAJARAN
KEEFEKTIFAN METODE SILIH TANYA MODEL KOMPETISI BIASA JENIS 1 ANTAR MAHASISWA PADA MATERI RUANG VEKTOR MATAKULIAH ALJABAR LINEAR ELEMENTER SEMESTER V
KEEFEKTIFAN METODE SILIH TANYA MODEL KOMPETISI BIASA JENIS 1 ANTAR MAHASISWA PADA MATERI RUANG VEKTOR MATAKULIAH ALJABAR LINEAR ELEMENTER SEMESTER V Dwi Ivayana Sari Program Studi Pendidikan Matematika,
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS Dara Pusfita 1), Harina Fitriyani 2) 1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan email: [email protected]
PENGARUH PENDEKATAN PROBLEM POSING TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA BERDASARKAN GAYA KOGNITIF. Muhammad Muzaini 1
βeta p-issn: 2085-5893 e-issn: 2541-0458 Vol. 9 No. 2 (Nopember) 2016, Hal. 161-179 βeta 2016 DOI: http://dx.doi.org/10.20414/betajtm.v9i2.13 PENGARUH PENDEKATAN PROBLEM POSING TERHADAP PRESTASI BELAJAR
Volume 2 Nomer 1 Juli 2016
Volume 2 Nomer 1 Juli 2016 PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PESERTA DIDIK DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSSING Arlin Astriyani Universitas Muhammadiyah Jakarta [email protected]
Asmaul Husna. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNRIKA Batam Korespondensi: ABSTRAK
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI KECAMATAN LEMBAH GUMANTI Asmaul Husna Program Studi Pendidikan Matematika
LEMMA VOL I NO. 1, NOV 2014
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR MAHASISWA MATA KULIAH TELAAH KURIKULUM MATEMATIKA SD MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA UMMY SOLOK Rita Oktavinora
Abstract. Keywords: Statistical Learning, Cooperatif Learning, Snowball Throwing. Abstrak
Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Maret 2017, Vol.5, No.1, hal.55-64 ISSN(P): 2527-3744; ISSN(E):2541-6499 2017 Tadris Matematika IAIN Palopo. http://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/khwarizmi
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENENTUKAN NILAI TEMPAT (RATUSAN, PULUHAN, DAN SATUAN) DENGAN COOPERATIVE LEARNING
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENENTUKAN NILAI TEMPAT (RATUSAN, PULUHAN, DAN SATUAN) DENGAN COOPERATIVE LEARNING Achmad Zainullah FKIP Universitas Terbuka UPBJJ Surabaya [email protected] Abstrak Proses pembelajaran
SKRIPSI OLEH: ROFININGRUM FATIMAH NPM:
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN BERFIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI BILANGAN BULAT MATEMATIKA KELAS VII SMP NEGERI 1 PAPAR KEDIRI
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING
Pedagogy Volume 1 Nomor 2 ISSN 2502-3802 EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING Karmila 1, Darma Ekawati 2 Program Studi Pendidikan Matematika
PENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TERBALIK (RECIPROCAL TEACHING) PADA POKOK BAHASAN TEOREMA PYTHAGORAS
Prosiding Seminar Nasional Volume 02, Nomor 1 ISSN 2443-1109 PENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TERBALIK (RECIPROCAL TEACHING) PADA POKOK BAHASAN TEOREMA PYTHAGORAS Murniati
STRATEGI FORMULATE SHARE LISTEN CREATE UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MATHEMATICAL PROBLEM POSING SISWA SMP
VOLUME 8, NOMOR 1, MARET 2014 ISSN 1978-5089 STRATEGI FORMULATE SHARE LISTEN CREATE UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MATHEMATICAL PROBLEM POSING SISWA SMP M. Afrilianto STKIP Siliwangi Bandung [email protected]
ABSTRAK. Kata kunci: pohon matematika, kreativitas mahasiswa
MUST: Journal of Mathematics Education, Science and Technology Vol. 2, No. 2, Desember 2017. Hal. 25 31 ALTERNATIF PENINGKATAN KREATIVITAS MAHASISWA UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI MELALUI MEDIA POHON
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING
MUTMAINNAH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR TRIGONOMETRI PADA MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
KOLABORASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING TYPE JIGSAW DAN PROBLEM BASED LEARNING ( PBL ) Nawir R MTs Negeri Model Palopo
KOLABORASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING TYPE JIGSAW DAN PROBLEM BASED LEARNING ( PBL ) Nawir R MTs Negeri Model Palopo Abstrak: Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat Kelompok
MATHEdunesa Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Volume 3 No 3 Tahun 2014
PROFIL BERPIKIR SISWA KELAS VIII DALAM PROBLEM POSING PADA MATERI LINGKARAN DITINJAU BERDASARKAN KEMAMPUAN MATEMATIA Siti Yuliyati S1 Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas
PROSIDING ISSN:
PM-33 PROSES BERPIKIR KREATIF DALAM PENGAJUAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI-AP4 SMK NEGERI 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Maya Kristina Ningsih 1), Imam Sujadi 2),
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING
JURNAL PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING TIPE PRE SOLUTION POSING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMPN 1 PRAMBON KELAS VIII PADA POKOK BAHASAN OPERASI ALJABAR THE
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika 2 Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Potensi Utama
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika 2 Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Potensi Utama Suci Dahlya Narpila Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik,
Oleh. I Putu Budhi Sentosa, NIM
Penerapan Model Pembelajaran Metakognitif untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar TIK Siswa Kelas VII SMP Negeri 6 Singaraja Tahun Pelajaran 2011/2012 Oleh I Putu Budhi Sentosa, NIM 1015057117 Jurusan
Oleh: Gunawan Guru SMP Negeri 1 Raha Kabupaten Muna
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII. 2 SMP NEGERI 1 RAHA TENTANG KONSEP SISTEM GERAK PADA MANUSIA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) Oleh: Gunawan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan 1. Problem-Based Learning a. Pengertian Problem-Based Learning Problem-Based Learning merupakan model pembelajaran yang menjadikan
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA (MATHEMATICS LEARNING WITH
Berpikir Siswa PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA (MATHEMATICS LEARNING WITH PROBLEM POSING APPROACH TO IMPROVE CREATIVE THINKING
PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING BERBANTUAN ALAT PERAGA
PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING BERBANTUAN ALAT PERAGA Arlin Astriyani Universitas Muhammadiyah Jakarta [email protected] Abstrak Penelitian
Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Membuat Model Matematika dari Soal Cerita di Kelas VI SDN Inpres 1 Tatura
Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Membuat Model Matematika dari Soal Cerita di Kelas VI SDN Inpres 1 Tatura Norma Dahlan Akantu SDN Inpres 1 Tatura, Palu, Sulawesi Tengah ABSTRAK Penelitian Tindakan
KEMAMPUAN BERPIKIR SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA (THE THINKING ABILITY OF STUDENTS IN SOLVING MATHEMATICS STORY PROBLEMS)
KEMAMPUAN BERPIKIR SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA (THE THINKING ABILITY OF STUDENTS IN SOLVING MATHEMATICS STORY PROBLEMS) Siti Machmurotun Chilmiyah ([email protected]) Aunillah
Nur Cholisah Matematika, FMIPA, UNESA Kampus Ketintang Surabaya 60231, telp (031) , Ps. 304,
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE SILIH TANYA PADA MATERI POKOK LINGKARAN Nur Cholisah Matematika, FMIPA, UNESA Kampus Ketintang Surabaya 60231, telp (031) 8296427, 8290009 Ps. 304, 0318297677 email
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING PADA PERKALIAN BILANGAN BULAT (APPLICATION OF LEARNING MODELS STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING THE INTEGER MULTIPLICATION) Dewik Irlinawati
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE QUESTION STUDENTS HAVE
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE QUESTION STUDENTS HAVE TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMPN 4 BATANG ANAI KABUPATEN PADANG PARIAMAN,, Mahasiswa Program Studi Pendidikan
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PENGAJUAN DAN PEMECAHAN MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PENGAJUAN DAN PEMECAHAN MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA Dian Novita Rohmatin Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang [email protected]
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Vol. 1 No. 1 (212) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 3 : Hal. 14-21 PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA Sony Rahadian 1),Yerizon 2),Arnellis 3) 1) FMIPA UNP,
KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN LANGSUNG DENGAN LABORATORIUM MINI UNTUK MATERI JAJARGENJANG DI KELAS IV SDN BANCARAN 1
68 ISSN : 2303-307X KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN LANGSUNG DENGAN LABORATORIUM MINI UNTUK MATERI JAJARGENJANG DI KELAS IV SDN BANCARAN 1 Mohammad Edy Nurtamam 1, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas
ABSTRAK. Keywords: Cooperative Learning, understanding of mathematical concepts, TAI PENDAHULUAN
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS XI IPS SMAN 12 SIJUNJUNG Melia Sari Hermawan *), Sefna Rismen
PENERAPAN MODEL WALLAS UNTUK MENGIDENTIFIKASI PROSES BERPIKIR KREATIF SISWA DALAM PENGAJUAN MASALAH MATEMATIKA DENGAN INFORMASI BERUPA GAMBAR 1
PENERAPAN MODEL WALLAS UNTUK MENGIDENTIFIKASI PROSES BERPIKIR KREATIF SISWA DALAM PENGAJUAN MASALAH MATEMATIKA DENGAN INFORMASI BERUPA GAMBAR 1 Tatag Yuli Eko Siswono Yeva Kurniawati ABSTRAK Abstract:
BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Cara mengatasi permasalahan aktivitas belajar peserta didik
KEEFEKTIVAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA POHON MATEMATIKA PADA MATERI PECAHAN DI KELAS V SD NEGERI PEJAGAN 5 BANGKALAN
KEEFEKTIVAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA POHON MATEMATIKA PADA MATERI PECAHAN DI KELAS V SD NEGERI PEJAGAN 5 BANGKALAN Dwi Ivayana Sari STKIP PGRI Bangkalan, Jl. Soekarno Hatta,
II. TINJAUAN PUSTAKA. Problem posing adalah istilah dalam bahasa Inggris yaitu problem dan pose,
8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Problem Posing Problem posing adalah istilah dalam bahasa Inggris yaitu problem dan pose, sehingga dapat diartikan sebagai pengajuan masalah, dalam artian ini
Penerapan Pendekatan Auditory Intellectually Repetition (AIR) pada Materi Pertidaksamaan Di Kelas X-C SMAN 1 Kauman Tulungagung Anisa Fatmawati
Penerapan Pendekatan Auditory Intellectually Repetition (AIR) pada Materi Pertidaksamaan Di Kelas X-C SMAN 1 Kauman Tulungagung Anisa Fatmawati Program Studi Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri
PENERAPAN MODEL LEARNING CYCLE 7-E UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI SMA PADA MATERI LAJU REAKSI
Vol. 4, No. 2, pp.456-461, May 2015 PENERAPAN MODEL LEARNING CYCLE 7-E UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI SMA PADA MATERI LAJU REAKSI APPLICATION LEARNING CYCLE 7-E MODEL TO IMPROVE LEARNING
DENGAN METODE BERMAIN ULARTANGGA DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
Jurnal Euclid, vol.3, No.2, p.491 DENGAN METODE BERMAIN ULARTANGGA DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA Syafi i SMAN 1 Sumber, Jl.Sunan Malik Ibrahim 04 Sumber, kab. Cirebon [email protected] Abstrak
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA SEKOLAH DASAR
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA SEKOLAH DASAR Dudung Priatna Abstrak Pembelajaran matematika perlu memperhatikan beberapa hal berikut diantaranya
EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING DAN RECIPROCAL TEACHING PADA MATERI BANGUN DATAR SISWA SMP
EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING DAN RECIPROCAL TEACHING PADA MATERI BANGUN DATAR SISWA SMP Eti Nuryanti Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Purworejo e-mail: [email protected]
Sariyani, Purwati Kuswarini, Diana Hernawati ABSTRACT
PERBEDAAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK YANG PROSES PEMBELAJARANNYA MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM SOLVING DAN MODEL PROBLEM POSING PADA MATERI PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA DI KELAS VIII SMP NEGERI 12 KOTA
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 15 BULUKUMBA
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 15 BULUKUMBA Hari Aningrawati Bahri* ABSTRACT This research is Classroom Action
Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2, No. 2, pp May 2013
HASIL BELAJAR SISWA KELAS X-2 MAN KOTA KEDIRI 3 PADA MATERI REAKSI REDUKSI OKSIDASI DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN MODEL PENGAJARAN LANGSUNG LEARNING OUTCOMES OF STUDENTS OF CLASS X-2
BAB II LANDASAN TEORI. a. Pengertian Pembelajaran Langsung
58 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori 1. Model Pembelajaran Langsung a. Pengertian Pembelajaran Langsung Model pembelajaran langsung menurut Arends (Trianto, 2009) adalah salah satu model pendekatan
InfinityJurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung, Vol 1, No.2, September 2012
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MELALUI PEMBELAJARAN THINK-TALK-WRITE (TTW) Oleh: Nunun Elida Guru Bidang Studi Matematika SMA Negeri 2 Cimahi [email protected]
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI POKOK HIMPUNAN SEMESTER 1 KELAS VII MTsN
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI POKOK HIMPUNAN SEMESTER 1 KELAS VII MTsN (THE APPLICATION OF COOPERATIVE LEARNING TYPE JIGSAW TO
P - 55 MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN PROBLEM POSING
P - 55 MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN PROBLEM POSING Mukti Sintawati 1, Ginanjar Abdurrahman 2 1 [email protected], 2 [email protected]
