UNIVERSITAS INDONESIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UNIVERSITAS INDONESIA"

Transkripsi

1 UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT LAYANG- LAYANG DI PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA BARAT DAN BANTEN AREA GARUT RAYON GARUT KOTA SKRIPSI ISTI NURUL SHOFYAH DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK Desember 2014

2 UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT LAYANG- LAYANG DI PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA BARAT DAN BANTEN AREA GARUT RAYON GARUT KOTA SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik ISTI NURUL SHOFYAH DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK Desember 2014

3 HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya nyatakan benar Nama : Isti Nurul Shofyah NPM: Tanda tangan :... Tanggal :... ii

4 HALAMAN PENGESAHAN Skripsi ini diajukan oleh: Nama : Isti Nurul Shofyah NPM : Program Studi : Teknik Elektro Judul Skripsi : Analisis Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik,. DEWAN PENGUJI Pembimbing : Ir. Amien Rahardjo, M.T. (...) Penguji : Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K. M.T. (...) Penguji : Ir. I Made Ardita Y, M.T. (...) Ditetapkan di : Depok Tanggal : iii

5 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah, Tuhan Penguasa Alam, Yang menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna, Yang melengkapinya dengan segala fasilitas hidup sebagai jaminan secara adil dan bijaksana. Rahmat tadzim dan salam sejahtera teruntuk Nabi Muhammad SAW, dan teruntuk pula kaum kerabatnya, seluruh sahabat setianya, dan seluruh umatnya. Atas selesainya skripsi ini, dengan penuh rasa syukur saya megucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Ir. Amien Rahardjo, MT. selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini. 2. Bapak H. Dion, Bapak Apipudin, Bapak Solihin, Bapak Zuansyah, dan rekan-rekan sebagai mentor di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut dan Rayon Garut Kota yang selalu meluangkan waktu dalam memberikan arahan selama proses pengambilan data dalam pembuatan skripsi ini. 3. Kedua Orang Tua yang tiada hentinya membimbing dan mendukung dengan penuh kasih sayang sampai saat ini. 4. Kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam proses pembuatan skripsi ini. Menjadi sempurna adalah tidak mungkin, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Yang bisa kita lakukan sebagai mahluk-nya hanya berupaya untuk menyempurnakan kemungkinan itu. Kebenaran pasti berasal dari Allah SWT dan segala kesalahan semata-mata datang dari diri kita sendiri. Maka, saya sebagai penulis memohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat saya harapkan demi kemajuan dan perbaikan penulis di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Depok, Desember 2014 iv Penulis

6 HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Isti Nurul Shofyah NPM : Program Studi : Teknik Elektro Departemen : Teknik Elektro Fakultas : Teknik Jenis Karya : Skripsi demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non Exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul : Analisis Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota dengan Hak Bebas Royalti Non-Ekslusif ini, berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan memublikasikan skripsi saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Depok Pada tanggal : Desember 2014 Yang Menyatakan (Isti Nurul Shofyah) v

7 ABSTRAK Nama : Isti Nurul Shofyah Program Studi : Teknik Elektro Judul : Analisis Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota Suatu sistem tenaga listrik tidak bisa lepas dari berbagai macam gangguan listrik yang dapat mengganggu kualitas dan kontinuitas pelayanan pasokan listrik. Salah satu gangguan penyulang yang paling banyak menyebabkan terjadinya pemadaman listrik tak terencana di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota adalah gangguan layang-layang. Pada tahun 2012 sebesar 36% pemadaman yang disebabkan gangguan penyulang terjadi karena layang-layang, dan meningkat menjadi 52% pada tahun Gangguan layang-layang ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan hubung singkat 3 fasa, 2 fasa, 2 fasa ke tanah, ataupun 1 fasa ke tanah. Bahkan, dapat merusak dan membuat penghantar SUTM putus. Dampak dari gangguan penyulang oleh layang-layang ini berbahaya bagi manusia, baik pemain layang-layang itu sendiri maupun masyarakat yang berada di sekitar jaringan PLN yang mengalami gangguan karena dapat terkena sengatan listrik. Selain itu, terhentinya pasokan listrik membuat pihak PLN merasakan kerugian yang cukup besar dan membuat keandalan sistem (SAIFI dan SAIDI) menurun. Oleh karena itu, pada skripsi ini akan dilakukan analisis terhadap gangguan penyulang oleh layang-layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota agar dapat ditentukan strategi untuk menekan frekuensi terjadinya gangguan tersebut. Kata kunci: sistem tenaga listrik, gangguan, penyulang, layang-layang, hubung singkat, penghantar putus, keandalan sistem, SAIDI, SAIFI vi

8 ABSTRACT Name : Isti Nurul Shofyah Study Program: Electrical Engineering Title : Feeder Fault Analysis Due To Kites in PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota An electric power system can not be separated from a variety of electric fault that can interfere the quality and continuity of electricity supply services. One of the most feeders fault that causing unplanned power outages in PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota is the kites disruption. In 2012, 36% outage caused by feeder faults occured because the kites disruption, and increased to 52% in Kite disruption can lead to 3 phase, 2- phase, 2-phase to ground, or 1 phase to ground short circuit. In fact, it can destroy and create SUTM broken conductor. The impact of feeders faults due to kites is harmful to humans, both the kites players itself and the people who are around the grid which is harmed can get an electrical shock. In addition, the interruption of electricity supply makes PLN get some substantial losses and make the system reliability (SAIFI and SAIDI) decreases. Therefore, in this thesis will carried out an analysis of the feeders fault due to kites in PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota to determined some strategies to suppress the occurrence frequency of that fault. Key words: electric power system, fault, feeder, kites, sort circuit, broken conductor, sistem reability, SAIDI, SAIFI vii

9 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...i HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii KATA PENGANTAR... iv HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS... v ABSTRAK... vi ABSTRACT... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR TABEL... xiv DAFTAR LAMPIRAN... xv BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Tujuan Penulisan Batasan Masalah Metodologi Penelitian Sistematika Penulisan... 3 BAB 2 SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Sistem Tenaga Listrik Sistem Distribusi Klasifikasi Sistem Distribusi Klasifikasi Berdasarkan Ukuran Tegangan Sistem Distribusi Primer... 7 viii

10 Sistem Distribusi Sekunder Klasifikasi Berdasarkan Sistem Penyaluran Saluran Udara (Overhead Lines) Saluran Bawah Tanah (Underground Lines) Klasifikasi Berdasarkan Bentuk Jaringan Sistem Radial Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit) Sistem Mesh Sistem Spindel Gangguan Pada Sistem Distribusi Gangguan Beban Lebih Gangguan Tegangan Lebih Gangguan Ketakstabilan (Instability) Gangguan Hubung Singkat Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa Upaya Mengatasi Gangguan Pemadaman Listrik Sistem Pengaman Pada Sistem Distribusi Peralatan Pemisah atau Penghubung Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer) ix

11 2.6.2 Peralatan Pengaman Arus Lebih Pelebur (Fuse Cut Out) Pemutus Balik Otomatis (Automatic Recloser) Relai Peralatan Pengaman Tegangan Lebih Kawat Tanah (Overhead Groundwire) Penangkap Petir (Lightning Arrester) Keandalan Sistem Distribusi SAIFI (System Average Interruption Frequency Index) SAIDI (System Average Interruption Duration Index) BAB 3 SISTEM DISTRIBUSI RAYON GARUT KOTA Target Kerja Distribusi Rayon Garut Kota Data Aset Rayon Garut Kota Penyulang Desa Kolot (DSKT) Penyulang Cilawu (CLWU) Penyulang Margawati (MGWT) Penyulang Cigasong (CGSO) Penyulang Intan Tiga (INTI) Penyulang Intan Satu (INTU) Penyulang Talaga Bodas (TLBS) Penyulang Suci BAB 4 ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT LAYANG-LAYANG Padam Akibat Gangguan Penyulang Oleh Layang-Layang Pengaruh Faktor Konstruksi Sistem Pengaruh Faktor Cuaca dan Iklim x

12 4.4 Dampak Dari Gangguan Layang-Layang Kerusakan Peralatan Ancaman Keselamatan Bagi Manusia Kerugian PLN Keandalan Sistem Distribusi PLN Indeks Rata-Rata Frekuensi Pemadaman (SAIFI) Rayon Garut Kota Indeks Rata-Rata Lama Pemadaman (SAIDI) Rayon Garut Kota Upaya Penekanan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Evaluasi Hasil Penekanan Gangguan Layang-Layang Perencanaan Optimasi Penyulang Dari Gangguan Layang-Layang BAB 5 KESIMPULAN DAFTAR ACUAN DAFTAR PUSTAKA xi

13 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Sistem Tenaga Listrik... 6 Gambar 2.2. Skema Penyaluran Daya Hingga Ke Konsumen... 7 Gambar 2.3. Saluran Udara (Overhead Lines)... 9 Gambar 2.4. Saluran Bawah Tanah (Underground Lines) Gambar 2.5. Sistem Radial Gambar 2.6. Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit) Gambar 2.7. Sistem Mesh Gambar 2.8. Sistem Spindel Gambar 2.9. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah Gambar Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa Gambar Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah Gambar Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa Gambar Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) Gambar Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) Gambar Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) Gambar Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer) Gambar Pelebur (Fuse Cut Out) Gambar Penutup Balik Otomatis (AutomaticRecloser) Gambar Penangkap Petir (Lightning Arrester) Gambar 3.1. Wilayah Kerja Area Garut...35 Gambar 4.1. Grafik Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 dan Gambar 4.2. Grafik Penyebab Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun Gambar 4.3. Grafik Penyebab Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun Gambar 4.4. Grafik Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Rayon Garut Kota Tahun 2012 dan Gambar 4.5. Kawat Layang-Layang Menghubungkan 2 Kawat SUTM xii

14 Gambar 4.6. Kawat SUTM Putus (Broken Conductor) Akibat Layang-Layang.. 44 Gambar 4.7. Grafik Gangguan per Penyulang Tahun Gambar 4.8. Grafik Gangguan Per Penyulang Tahun Gambar 4.9. Akibat Layang-Layang Pada Penyulang Gambar Terjadinya Arus Balik Saat Konduktor di Sisi Hilir Menyentuh Tanah Gambar Ilustrasi Pemain Layang-Layang Terkena Tegangan Sentuh Gambar Sosialisasi Bahaya Bermain Layang-Layang Di Dekat Jaringan PLN Gambar Grafik Perbandingan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Tahun xiii

15 DAFTAR TABEL Tabel 3.1. Target Kerja Distribusi PT. PLN Area Garut Rayon Garut Kota Tabe 4.1. Data Wilayah Rawan Gangguan Layang-Layang...45 Tabel 4.2. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Positif dan Negatif Tabel 4.3. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Nol Tabel 4.4. Impedansi Ekivalen Jaringan dan Tabel 4.5. Impedansi Ekivalen Jaringan Tabel 4.6. Arus Gangguan Hubung Singkat Pada Penyulang Di Rayon Garut Kota Tabel 4.7. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun Tabel 4.8. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun Tabel 4.9. SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun Tabel SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun Tabel Data Panjang Penggantian Kawat A3C Tabel Estimasi Kerugian PLN Setelah Optimasi Jaringan xiv

16 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Data Aset Gardu Rayon Garut Kota Lampiran 2. Data Aset SUTM Rayon Garut Kota Lampiran 3. Data Aset Tiang Rayon Garut Kota Lampiran 4. Impedansi Penghantar Lampiran 5. Kerugian PLN Rayon Garut Kota Akibat Layang-Layang Th Lampiran 6. Kerugian PLN Rayon Garut Kota Akibat Layang-Layang Th Lampiran 7. Rincian Nilai SAIFI dan SAIDI Rayon Garut Kota Tahun Lampiran 8. Rincian Nilai SAIFI dan SAIDI Rayon Garut Kota Tahun Lampiran 9. Diagram Garis Tunggal Penyulang Desa Kolot (DSKT) Lampiran 10. Diagram Garis Tunggal Penyulang Cilawu (CLWU) Lampiran 11. Diagram Garis Tunggal Penyulang Margawati (MGWT) Lampiran 12. Diagram Garis Tunggal Penyulang Cigasong (CGSO) Lampiran 13. Diagram Garis Tunggal Penyulang Intan Tiga (INTI) Lampiran 14. Diagram Garis Tunggal Penyulang Intan Satu (INTU) Lampiran 15. Diagram Garis Tunggal Penyulang Talaga Bodas (TLBS) Lampiran 16. Diagram Garis Tunggal Penyulang Talaga Bodas (TLBS) Lampiran 17. Konstruksi Pemasangan Ground Steel Wire (GSW) Lampiran 18. Data Padam Akibat Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun Lampiran 19. Data Padam Akibat Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun Lampiran 20. Peta Wilayah Rawan Gangguan Layang-Layang di Rayon Garut Kota xv

17 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tenaga listrik saat ini telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat, sehingga pasokan energi listrik harus dijaga kontinuitasnya agar dapat menyediakan pelayanan secara terus menerus dan merata dengan mutu dan keandalan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu sistem tenaga listrik yang handal dan mumpuni. Tetapi, dalam pelaksanaannya suatu sistem tenaga listrik tidak lepas dari berbagai macam gangguan yang dapat menyebabkan menurunnya keandalan sistem. Berbagai permasalahan dalam hal menjaga kontinuitas pasokan listrik juga terjadi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota. Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya mutu dan ketersediaan pelayanan daya listrik pada sistem distribusi rayon garut kota adalah gangguan pada penyulang, dimana penyebabnya didonimasi oleh layang-layang. Di beberapa wilayah Rayon Garut Kota, permainan layang-layang menjadi hal favorit untuk dilakukan, jenis layangan yang digunakan pun beraneka ragam. Kondisi dimana terdapat suatu daerah yang mayoritas warganya gemar melakukan kegiatan bermain layang-layang maka kemungkinan Jaringan Tegangan Menengah dihinggapi sampah berupa kerangka layangan serta benang pun semakin besar. Untuk layangan dengan dimensi yang besar serta menggunakan bahan berupa benang yang dapat menghantarkan aliran listrik, bila mengenai jaringan PLN 20 KV bukan tidak mungkin akan langsung mengakibatkan gangguan pada penyulang tersebut. Sedangkan untuk layang-layang biasa pun tetap berpotensi menyebabkan terjadinya gangguan penyulang dimana pada saat kondisi hujan maka sampah berupa kerangka layangan atau benang tersebut dapat membuat jalur konduktif antara fasa atau antara fasa dan tanah. Oleh karena dilatarbelakangi permasalahan di atas, pada skripsi ini akan dilakukan analisis mengenai gangguan penyulang yang disebabkan oleh layang- 1

18 2 layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota agar dapat dihasilkan beberapa strategi untuk meminimalkan jumlah gangguan yang disebabkan oleh layang-layang. 1.2 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk analisis gangguan pada penyulang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota akibat layang-layang untuk mengetahui karakteristik gangguan tersebut hingga dapat menyebabkan terjadinya pemadaman tak terencana, kerugian yang ditimbulkannya, dan langkah-langkah penekanan gangguan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan angka terjadinya pemadaman akibat gangguan layang-layang. 1.3 Batasan Masalah Batasan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut: 1. Analisis dilakukan terhadap gangguan penyulang SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah) yang diakibatkan oleh layang-layang. 2. Data yang diamati adalah data gangguan penyulang tahun 2012 dan Sistem distribusi yang dijadikan bahan penelitian adalah sistem distribusi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota. 4. Evaluasi keandalan sistem distribusi menggunakan dua parameter, yaitu SAIDI dan SAIFI. 5. Data yang digunakan sebagai perbandingan untuk evaluasi hasil penekanan gangguan adalah data gangguan penyulang oleh layang-layang pada bulan Juni-September tahun Metodologi Penelitian Penulisan skripsi ini dilakukan dengan menggunakan metode studi skasus yang dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu studi literatur dengan melakukan pencarian materi yang berkaitan dengan topik yang dibahas, pengambilan data

19 3 yang diperoleh dari hasil data rekap gangguan penyulang dan laporan pemadaman di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota, pengolahan data, analisis dan evaluasi hasil pengolahan data. 1.5 Sistematika Penulisan Skripsi ini terdiri dari lima bab. Bab satu merupakan pendahuluan dimana pada bab ini dijelaskan permasalahan yang melatarbelakangi penulisan skripsi, termasuk juga tujuan, batasan, metodologi, dan sistematika penulisan. Bab dua berisi teori-teori yang mendasari analisis gangguan penyulang, diantaranya mengenai fungsi dan peran jaringan distribusi dalam sistem tenaga listrik, klasifikasi sistem distribusi, gangguan pada sistem distribusi, sistem proteksi, dan parameter keandalan sistem. Bab tiga membahas data aset dan konstruksi sistem distribusi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota. Bab empat merupakan analisis gangguan penyulang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota akibat layang-layang yang menyebabkan pemadaman tak terencana, meliputi karakteristik gangguan layang-layang sehingga dapat menyebabkan pemadaman, dampak dari terjadinya gangguan layang-layang, langkah-langkah penekanan gangguan layang-layang, dan evaluasi hasil penekanan gangguan layang-layang. Bab lima merupakan bagian penutup yang berisi kesimpulan dari keseluruhan penulisan skripsi.

20 BAB 2 SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 2.1 Sistem Tenaga Listrik Sistem tenaga listrik adalah sekumpulan Pusat-Pusat Tenaga Listrik yang di interkoneksi satu dengan yang lainnya, melalui transmisi atau distribusi untuk memasok ke beban atau satu Pusat Listrik dimana mempunyai beberapa unit generator yang diparalel [1]. Pada umumnya suatu sistem tenaga listrik yang lengkap memiliki empat unsur [2]. Pertama, adanya suatu unsur pembangkit tenaga listrik. Tegangan yang dihasilkan oleh pusat tenaga listrik itu biasanya merupakan tegangan menengah (TM). Kedua, suatu sistem transmisi lengkap dengan gardu induk. Karena Pusat- Pusat Listrik berada jauh di di luar pusat beban, maka dibutuhkan tegangan tinggi (TT) atau tegangan extra tinggi (TET) agar pasokan tenaga listrik, terutama tegangan dan frekuensi, tetap stabil. Ketiga, adanya saluran distribusi, yang biasanya terdiri atas saluran distribusi primer dengan tegangan menengah (TM) dan saluran distribusi sekunder dengan tegangan rendah (TR). Keempat, adanya unsur pemakaian atas utilisasi yang terdiri atas instalasi pemakaian tenaga listrik. Instalasi rumah tangga biasanya memakai tegangan rendah, sedangkan pemakai besar seperti industri mempergunakan tegangan menengah atau tegangan tinggi. Gambar 2.1 memperlihatkan skema suatu sistem tenaga listrik. Dari penjelasan di atas juga dapat diketahui bahwa sistem tenaga listrik terdiri dari tiga komponen utama, yaitu pusat pembangkit tenaga listrik atau sistem pembangkitan, saluran transmisi tenaga listrik atau sistem transmisi, dan sistem distribusi. Fungsi dan peran ketiga komponen tersebut di dalam sistem tenaga listrik adalah sebagai berikut. 1. Sistem Pembangkitan Pusat pembangkit listrik adalah tempat energi listrik pertama kali dibangkitkan, dimana pada pembangkit tenaga listrik ini sumber-sumber energi alam diubah oleh turbin sebagai penggerak mula (prime mover) 4

21 5 menjadi energi mekanis yang berupa kecepatan atau putaran dan selanjutnya energi mekanis tersebut akan diubah menjadi energi listrik oleh generator. Jenis pusat pembangkit yang umum antara lain PLTA (pembangkit Listrik Tenaga Air), PLTU (Pusat Listrik Tenaga Uap), PLTG (Pusat Listrik Tenaga Gas), dan PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir). 2. Sistem Transmisi Merupakan proses penyaluran tenaga listrik dari tempat pembangkit tenaga listrik (power plant) sampai ke saluran distribusi listrik (substation distribution), sehingga dapat disalurkan sampai pada pelanggan pengguna listrik. 3. Sistem Distribusi Sistem distribusi berfungsi mendistribusikan tenaga listrik ke konsumen yang berupa pabrik, industri, perumahan, dan sebagainya. Transmisi tenaga dengan tegangan tinggi maupun tegangan ekstra tinggi pada saluran transmisi dirubah pada gardu induk menjadi tegangan menengah atau tegangan distribusi primer, yang selanjutnya tegangannya diturunkan lagi menjadi tegangan untuk konsumen yang menghasilkan tegangan kerja/tegangan jala-jala untuk konsumen [3]. 2.2 Sistem Distribusi Sistem distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik yang berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya besar (bulk power source) sampai ke konsumen [4]. Pada umumnya sistem distribusi tenaga listrik di Indonesia terdiri atas beberapa bagian, sebagai berikut : 1. Gardu Induk (GI) 2. Saluran Tegangan Menengah (TM)/ Distribusi Primer 3. Gardu Distribusi (GD) 4. Saluran Tegangan Rendah (TR)/ Distribusi Sekunder Gardu induk akan menerima daya dari saluran transmisi kemudian menyalurkannya melalui saluran distribusi primer menuju gardu distribusi. Sistem

22 6 jaringan distribusi terdiri dari dua buah bagian yaitu jaringan distribusi primer dan jaringan distribusi sekunder. Jaringan distribusi primer umumnya bertegangan tinggi (20 kv atau 6 kv). Tegangan tersebut kemudian diturunkan oleh transformator distribusi pada gardu distribusi menjadi tegangan rendah (220 atau 380 Volt) untuk selanjutnya disalurkan ke konsumen melalui saluran distribusi sekunder [2]. Pada Gambar 2.2 ditunjukkan bagaimana skema penyaluran daya hingga ke konsumen melalui jaringan distribusi. Dari penjelasan di atas dapat diketahui fungsi sistem distribusi tenaga listrik, yaitu sebagai berikut [4]: 1. Untuk pembagian atau penyaluran tenaga listrik ke pelanggan. 2. Merupakan subsistem tenaga listrik yang yang langsung berhubungan dengan pelanggan karena catu daya pada pusat-pusat beban (pelanggan) dilayani langsung melalui jaringan distribusi. Gambar 2.1. Sistem Tenaga Listrik [5]

23 7 Gambar 2.2. Skema Penyaluran Daya Hingga Ke Konsumen [1] 2.3 Klasifikasi Sistem Distribusi Sistem atau saluran distribusi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kategori, diantaranya sebagai berikut: 1. Berdasarkan ukuran tegangan 2. Berdasarkan sistem penyaluran 3. Berdasarkan bentuk jaringan Klasifikasi Berdasarkan Ukuran Tegangan Berdasarkan ukuran tegangan, sistem distribusi diklasifikasikan menjadi dua sistem, yaitu sistem distribusi primer dan sistem distribusi sekunder Sistem Distribusi Primer Sistem distribusi primer atau sering disebut juga jaringan distribusi tegangan tinggi (JDTT) merupakan bagian dari sistem distribusi yang berfungsi untuk menyalurkan dan mendistribusikan tenaga listrik dari pusat suplai daya besar (bulk power source) atau disebut gardu induk ke pusat-pusat beban. Terletak pada sisi primer trafo distribusi, antara gardu induk dengan gardu pembagi, yang memiliki tegangan sistem lebih tinggi dari tegangan terpakai untuk konsumen. Sistem distribusi primer atau sistem distribusi tegangan menengah tersusun oleh penyulang utama (main feeder) dan penyulang percabangan (lateral). Standar tegangan distribusi primer ini adalah 6 kv, 10 kv, dan 20 kv (sesuai standar PLN).

24 Sistem Distribusi Sekunder Sistem distribusi sekunder atau sering disebut jaringan distribusi tegangan rendah (JDTR) merupakan bagian dari sistem distribusi yang bertugas mendistribusikan tenaga listrik secara langsung dari gardu-gardu pembagi (gardu distribusi) ke konsumen tenaga listrik. Terletak pada sisi sekunder trafo distribusi, yaitu antara titik sekunder dengan titik cabang menuju beban. Standar tegangan untuk sistem distribusi sekunder ini adalah 127/220 V untuk sistem lama, dan 220/380 V untuk sistem baru, serta 440/550 V untuk keperluan industri Klasifikasi Berdasarkan Sistem Penyaluran Menurut sistem penyalurannya, sistem distribusi dapat dilakukan dengan saluran udara (overhead lines) maupun saluran bawah tanah (underground lines) Saluran Udara (Overhead Lines) Saluran udara, disebut juga saluran udara tegangan menengah (SUTM) adalah saluran distribusi yang menyalurkan energi listrik melalui kawat-kawat yang digantung pada isolator antar menara atau tiang distribusi seperti terlihat pada Gambar 2.3. Beberapa pertimbangan untuk saluran udara diantaranya sebagai berikut. Keuntungan saluran udara: 1. Tiang-tiang jaringan distribusi primer dapat pula digunakan untuk jaringan distribusi sekunder dan keperluan pemasangan trafo atau gardu distribusi tiang, sehingga secara keseluruhan harga instalasi menjadi lebih murah. 2. Lebih mudah dalam pemasangannya. 3. Lebih fleksibel dan leluasa dalam upaya untuk perluasan beban. 4. Pemeliharaan lebih mudah. 5. Apabila terjadi gangguan mudah diatasi dan dideteksi. Adapun kerugian atau kekurangan pada saluran udara berupa: 1. Lebih mudah terganggu dan terpengaruh oleh cuaca buruk, angin ribut, petir, badai, tertimpa pohon, layang-layang, dsb.

25 9 2. Untuk wilayah yang penuh dengan bangunan yang tinggi, sukar untuk menempatkan saluran. 3. Masalah efek kulit, induktansi, dan kapasitansi yang terjadi, akan mengakibatkan tegangan drop lebih tinggi. 4. Menganggu pemandangan dikarenakan oleh banyaknya tiang-tiang dan kabel-kabel hantaran udara yang digunakan sehubungan dengan banyaknya konsumen yang harus dilayani. 5. Ongkos pemeliharaan lebih mahal, karena perlu jadwal pengecatan dan penggantian material listrik bila terjadi kerusakan. Gambar 2.3. Saluran Udara (Overhead Lines) [6] Saluran Bawah Tanah (Underground Lines) Saluran bawah tanah atau disebut juga saluran kabel tegangan menengah (SKTM) adalah saluran distribusi yang menyalurkan energi listrik melalui kabel yang ditanam didalam tanah, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4. Terdapat keuntungan dan kerugian dalam penggunaan saluran bawah tanah, antara lain adalah sebagai berikut. Keuntungan saluran bawah tanah: 1. Tidak terpengaruh oleh cuaca buruk, bahaya petir, badai, tertimpa pohon, layang-layang, dsb.

26 10 2. Tidak mengganggu pandangan, bila adanya bangunan yang tinggi. 3. Saluran bawah tanah lebih sempurna dan lebih indah dipandang. 4. Mempunyai batas umur pakai dua kali lipat dari saluran udara. 5. Ongkos pemeliharaan lebih murah, karena tidak perlu adanya pengecatan. 6. Jatuh tegangan lebih rendah karena masalah induktansi bisa diabaikan. 7. Keandalan lebih baik. 8. Tidak ada korona. 9. Rugi-rugi daya lebih kecil. Gambar 2.4. Saluran Bawah Tanah (Underground Lines) [7] Sedangkan kerugian dari saluran bawah tanah adalah: 1. Biaya investasi pembangunan lebih mahal dibandingkan dengan saluran udara. 2. Saat terjadi gangguan hubung singkat, usaha pencarian titik gangguan sulit dilakukan. 3. Perlu pertimbangan-pertimbangan teknis yang lebih mendalam didalam perencanaan, khususnya untuk kondisi tanah yang dilalui.

27 11 4. Tidak dapat menghindari bila terjadi bencana banjir, desakan akar pohon, dan ketidakstabilan tanah. 5. Gangguan yang terjadi bersifat permanen. 6. Tidak fleksibel terhadap perubahan jaringan. 7. Waktu dan biaya untuk menanggulangi bila terjadi gangguan lebih lama dan lebih mahal Klasifikasi Berdasarkan Bentuk Jaringan Konfigurasi jaringan distribusi primer pada suatu sistem jaringan distribusi sangat menentukan mutu pelayanan yang akan diperoleh khususnya mengenai kontinuitas pelayanan. Berdasarkan bentuk jaringannya, sistem distribusi dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis dasar, yaitu sistem radial, sistem rangkaian tertutup (loop circuit), sistem mesh dan sistem spindel Sistem Radial Sistem radial pada jaringan distribusi merupakan sistem terbuka, dimana tenaga listrik yang disalurkan secara radial melalui gardu induk ke konsumenkonsumen dilakukan secara terpisah satu sama lainnya. Bentuk jaringan dengan sistem radial diperlihatkan pada Gambar 2.5. Sistem ini merupakan sistem yang paling sederhana diantara sistem yang lain dan paling murah, sebab sesuai konstruksinya sistem ini menghendaki sedikit sekali penggunaan material listrik, apalagi jika jarak penyaluran antara gardu induk ke konsumen tidak terlalu jauh. Gambar 2.5. Sistem Radial [9]

28 12 Sistem radial terbuka ini paling tidak dapat diandalkan dibandingkan dengan bentuk sistem lain, karena penyaluran tenaga listrik hanya dilakukan dengan menggunakan satu saluran saja. Jaringan model ini sewaktu mendapat gangguan akan menghentikan penyaluran tenaga listrik cukup lama sebelum gangguan tersebut diperbaiki kembali. Keuntungan dari sistem radial terbuka diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Konstruksinya lebih sederhana. 2. Material yang digunakan lebih sedikit, sehingga lebih murah. 3. Sistem pemeliharaannya lebih murah. 4. Untuk penyaluran jarak pendek akan lebih murah. Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut: 1. Keandalan sistem ini lebih rendah. 2. Makin panjang jaringan (dari Gardu Induk atau Gardu Hubung), kondisi tegangan tidak dapat diandalkan. 3. Rugi-rugi tegangan lebih besar. 4. Kapasitas pelayanan terbatas. 5. Bila terjadi gangguan penyaluran daya terhenti Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit) Sistem rangkaian tertutup pada jaringan distribusi merupakan suatu sistem penyaluran melalui dua atau lebih penyulang yang saling berhubungan membentuk rangkaian berbentuk cincin. Gambar 2.6 menunjukkan bentuk jaringan dengan sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Keuntungan sistem dengan konfigurasi rangkaian tertutup (loop), diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Dapat menyalurkan daya listrik melalui satu atau dua penyulang yang saling berhubungan. 2. Menguntungkan dari segi ekonomis. 3. Bila terjadi gangguan pada penyulang, maka penyulang lain dapat menggantikan untuk menyalurkan daya listrik. 4. Kontinuitas penyaluran daya listrik lebih terjamin.

29 13 5. Bila digunakan dua sumber pembangkit, kapasitas tegangan lebih baik dan regulasi tegangan cenderung kecil. 6. Dalam kondisi beroperasi normal, pemutus beban dalam keadaan terbuka. 7. Biaya konstruksi lebih murah. 8. Faktor penggunaan konduktor lebih rendah, yaitu 50%. Gambar 2.6. Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit) [9] Pada konfigurasi loop ini juga terdapat beberapa kelemahan, yaitu sebagai berikut. 1. Drop tegangan makin besar. 2. Bila beban yang dilayani bertambah, maka kapasitas pelayanan akan lebih jelek Sistem Mesh Sistem mesh ini merupakan sistem penyaluran tenaga listrik yang dilakukan secara terus-menerus oleh dua atau lebih penyulang pada gardu-gardu induk dari beberapa pusat pembangkit tenaga listrik yang bekerja secara paralel. Pola jaringan ini terlihat pada Gambar 2.7, memiliki beberapa rel daya dan antara rel tersebut dihubungkan oleh saluran penghubung yang disebut tie feeder. Dengan demikian setiap gardu distribusi dapat menerima atau mengirim daya dari atau ke rel lain.

30 14 Gambar 2.7. Sistem Mesh Sistem ini merupakan pengembangan dari sistem-sistem yang terdahulu dan merupakan sistem yang dapat diandalkan, mengingat sistem ini dilayani oleh dua atau lebih sumber tenaga listrik. Selain itu, jumlah cabang lebih banyak dari jumlah titik penyulang. Sistem ini dapat digunakan pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan tinggi dan membutuhkan kapasitas dan kontinuitas pelayanan yang sangat baik. Gangguan yang terjadi pada salah satu saluran tidakakan mengganggu kontinuitas pelayanan. Sebab semua titik beban terhubung paralel dengan beberapa sumber tenaga listrik. Keuntungan yang diperoleh dari sistem mesh diantaranya sebagai berikut: 1. Penyaluran tenaga listrik dapat dilakukan secara terus-menerus (selama 24 jam) dengan menggunakan dua atau lebih penyulang. 2. Memiliki kapasitas dan kontinuitas pelayanan sangat baik, sehingga tingkat keandalannya tinggi. 3. Dapat digunakan pada daerah-daerah yang memiliki tingkat kepadatan yang tinggi. 4. Gangguan yang terjadi pada salah satu saluran tidak akan mengganggu kontinuitas pelayanan.

31 15 Adapun kerugian dari sistem mesh ini adalah sebagai berikut. 1. Biaya konstruksi dan pembangunan lebih tinggi. 2. Pengaturan alat proteksi lebih sulit Sistem Spindel Jaringan ini merupakan gabungan dari struktur radial dan rangkaian tertutup (loop circuit). Pada sebuah sistem spindel biasanya terdiri dari beberapa penyulang aktif dan sebuah penyulang cadangan (penyulang express) yang akan dihubungkan melalui gardu hubung. Pola spindel biasanya digunakan pada jaringan tegangan menengah yang menggunakan saluran kabel tanah tegangan menengah (SKTM). Dalam keadaan normal, tipe ini beroperasi secara radial dan dalam keadaan darurat bekerja secara rangkaian tertutup (loop circuit) melalui penyulang cadangan dan gardu hubung. Gardu distribusi pada sistem mesh ini terdapat disepanjang saluran kerja dan terhubung secara seri. Saluran kerja yang masuk ke gardu dihubungkan oleh saklar pemisah, sedangkan saluran yang keluar dari gardu dihubungkan oleh sebuah saklar beban. Untuk lebih jelas, bentuk jaringan dengan sistem spindel ditunjukkan pada Gambar 2.8. Gambar 2.8. Sistem Spindel

32 16 Keuntungan dari sistem spindel ini diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Sederhana dalam hal teknis pengoperasiannya, seperti pola radial. 2. Kontinuitas pelayanan lebih baik dari pada pola radial maupun loop. 3. Pengecekan beban masing-masing saluran lebih mudah dibandingkan dengan pola mesh. 4. Penentuan bagian jaringan yang teganggu akan lebih mudah dibandingkan dengan pola mesh. 5. Baik untuk dipakai di daerah perkotaan dengan kerapatan beban yang tinggi. Tetapi, terdapat juga kelemahan dari sistem ini, yaitu sistem ini relatif mahal karena sudah memperhitungkan perkembangan beban atau penambahan jumlah konsumen sampai beberapa tahun ke depan, sehingga dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama. 2.4 Gangguan Pada Sistem Distribusi Gangguan pada sistem distribusi adalah terganggunya sistem tenaga listrik yang menyebabkan bekerjanya relai pengaman penyulang untuk membuka pemutus tenaga (circuit breaker) di gardu induk yang menyebabkan terputusnya suplai tenaga listrik. Gangguan pada jaringan distribusi lebih banyak terjadi pada saluran udara (SUTM) yang umumnya tidak memakai isolasi dibanding dengan saluran distribusi yang ditanam dalam tanah (SKTM) dengan menggunakan isolasi pembungkus. Sumber gangguan pada jaringan distribusi dapat berasal dari dalam sistem (internal) maupun dari luar sistem distribusi (eksternal). 1. Gangguan dari dalam sistem antara lain: a. Tegangan lebih atau arus lebih b. Beban lebih c. Kegagalan kerja peralatan pengaman d. Pemasangan yang kurang tepat e. Usia pemakaian 2. Gangguan dari luar sistem antara lain: a. Dahan/ranting pepohonan yang mengenai SUTM

33 17 b. Sambaran petir c. Hujan atau cuaca d. Kerusakan pada peralatan e. Binatang ataupun layang-layang f. Penggalian tanah g. Gagalnya isolasi karena kenaikan temperatur h. Kerusakan sambungan Adapun jenis-jenis gangguan yang sering terjadi pada sistem distribusi diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Gangguan Beban Lebih 2. Gangguan Tegangan Lebih 3. Gangguan Ketakstabilan 4. Gangguan Hubung Singkat Gangguan Beban Lebih Gangguan ini sebenarnya bukan gangguan murni, tetapi bila dibiarkan terus-menerus berlangsung dapat merusak peralatan listrik yang dialiri oleh arus tersebut. Karena arus yang mengalir melebihi kapasitas peralatan listrik dan kapasitas pengaman yang terpasang melebihi kapasitas peralatan, sehingga saat beban lebih, pengaman tidak trip [1]. Misalnya, kapasitas penghantar 350 A dan pengaman di setting 400 A tetapi beban mencapai 380 A, sehingga pengaman tidak trip dan penghantar akan terbakar Gangguan Tegangan Lebih Gangguan tegangan lebih yang diakibatkan adanya kelainan pada sistem, dimana tegangan lebih dibedakan atas: 1. Tegangan Lebih Dengan Frekuensi Kerja (Power Frequency) Tegangan lebih dengan frekuensi kerja (power frequency) adalah tegangan lebih yang terjadi, misalnya dikarenakan pembangkit kehilangan beban yang diakibatkan adanya gangguan pada sisi jaringan, sehingga terjadi putaran lebih (over speed) pada generator. Tegangan lebih ini juga dapat

34 18 terjadi karena adanya gangguan pada pengatur tegangan secara otomatis (Automatic Voltage Regulator) [1]. 2. Tegangan Lebih Transien Tegangan lebih transien merupakan tegangan lebih karena adanya surja petir yang mengenai peralatan listrik atau saat pemutus tenaga yang menimbulkan kenaikan tegangan yang disebut surja hubung [1] Gangguan Ketakstabilan (Instability) Lepasnya pembangkit dapat menimbulkan ayunan daya (power swing) atau menyebabkan unit-unit pembangkit lepas sinkron. Ayunan juga dapat menyebabkan salah kerja relai. Lepas sinkron dapat menyebabkan berkurangnya pembangkit, karena pembangkit yang besar jatuh (trip) dari cadangan putar (spinning reserve), maka frekuensi akan terus turun atau bisa terjadi terpisahnya sistem yang dapat menyebabkan gangguan yang lebih luas, bahkan terjadi keruntuhan sistem (collapse) [1] Gangguan Hubung Singkat Gangguan yang sering terjadi dan berbahaya bagi sistem tenaga listrik adalah gangguan hubung singkat. Adanya hubung singkat menimbulkan arus lebih yang pada umumnya jauh lebih besar daripada arus pengenal peralatan dan terjadi penurunan tegangan pada sistem tenaga listrik. Dimana besarnya arus hubung singkat tergantung dari sumber yang memasok, luas penampang jaringan, dan lokasi dimana gangguan hubung singkat tersebut terjadi. Akibat dari adanya arus gangguan ini adalah dapat merusak peralatan-peralatan listrik dan terganggunya penyaluran listrik pada konsumen. Berdasarkan lama terjadinya gangguan hubung singkat pada sistem distribusi dibagi menjadi dua jenis, yaitu: 1. Gangguan Temporer Gangguan yang bersifat sementara karena dapat hilang dengan sendirinya dengan cara memutuskan bagian yang terganggu sesaat, kemudian menutup balik kembali, baik secara otomatis (autorecloser) maupun secara

35 19 manual oleh operator. Bila gangguan sementara terjadi berulang-ulang maka dapat menyebabkan gangguan permanen dan merusak peralatan. 2. Gangguan Permanen Gangguan bersifat tetap, sehingga untuk membebaskannya perlu tindakan perbaikan atau penghilangan penyebab gangguan. Hal ini ditandai dengan jatuhnya (trip) kembali pemutus tenaga setelah operator memasukkan sistem kembali setelah terjadi gangguan. Berdasarkan kesimetrisannya, gangguan hubung singkat yang mungkin terjadi pada jaringan distribusi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut: 1. Gangguan Asimetris Gangguan asimetris merupakan gangguan yang mengakibatkan tegangan dan arus yang mengalir pada setiap fasanya menjadi tidak seimbang. Gangguan ini terdiri dari: a. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah b. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa c. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah 2. Gangguan Simetris Gangguan simetris merupakan gangguan yang terjadi pada semua fasanya (3 fasa) sehingga arus maupun tegangan setiap fasanya tetap seimbang setelah gangguan terjadi Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah Munculnya arus gangguan disebabkan karena adanya gangguan pada salah satu fasa, dalam hal ini dimisalkan gangguan pada fasa A (sebagai referensi). Pada Gambar 2.9 gangguan terjadi karena salah satu kawat terhubung ke tanah akibat pohon atau penyebab lainnya. Nilai arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1]. (2.1)

36 20 Dimana: - Gambar 2.9. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa Gangguan hubung singkat terjadi antara fasa B dan fasa C, seperti ditunjukkan pada Gambar Gangguan fasa-fasa yang terjadi pada sistem tenaga listrik ini biasanya karena pohon atau kawat layang-layang. Gambar Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa Nilai arus gangguan hubung singkat dua fasa dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1]. (2.2) Dimana: -

37 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah Gangguan hubung singkat ini terjadi antara fasa B dan fasa C yang terhubung ke tanah, seperti ditunjukkan pada Gambar Biasanya hubungan ini terjadi karena ranting pohon terkena dua fasa. Gambar Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah Nilai arus gangguan hubung singkat dua fasa ke tanah dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1]. (2.3) Dimana: Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa Gangguan tiga fasa pada Gambar 2.12 dapat terjadi pada jaringan tenaga listrik karena ketiga fasanya terhubung oleh pohon atau kawat dari benang layanglayang.

38 22 Gambar Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa Nilai arus gangguan hubung singkat dua fasa dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1]. (2.4) Dimana: Upaya Mengatasi Gangguan Upaya mengatasi gangguan pada sistem distribusi tenaga listrik bertujuan untuk mengurangi terjadinya gangguan dan akibat gangguan. Berikut adalah beberapa upaya mengatasi gangguan yang dapat dilakukan [10]. 1. Mengurangi terjadinya gangguan a. Memakai peralatan yang dapat diandalkan (memenuhi persyaratan standar). b. Penentuan spesifikasi yang tepat dan desain yang baik (tahan terhadap kondisi kerja normal ataupun gangguan). c. Pemasangan yang benar sesuai dengan desain. d. Penggunaan kawat tanah pada saluran udara tegangan menengah. e. Penebangan/pemangkasan pohon-pohon yang dekat dengan saluran udara tegangan menengah. f. Penggunaan kawat udara/kabel secara selektif. 2. Mengurangi akibat gangguan a. Mengurangi besarnya arus gangguan. b. Menghindari konsentrasi pembangkit di satu lokasi.

39 23 c. Menggunakan tahanan pentanahan netral. d. Penggunaan penangkap petir (lightning arrester) dan koordinasi isolasi. e. Melepas bagian terganggu dengan mempergunakan relai dan pemutus tenaga. f. Pola pemutusan arus (load shedding/splitting), untuk sistem di distribusi pemasangan peralatannya di penyulang keluar (outgoing feeder). g. Pelepasan bagian sistem yang terganggu, antara lain penggunaan jenis dan kordinasi relai yang tepat, penggunaan saluran ganda (double), penggunaan sistem rangkaian tertutup (loop), penggunaan pemutus balik otomatis (recloser) atau saklar seksi otomatis (automatic line sectionalizer), penggunaan sistem spindel pada JTM. h. Penggunaan peralatan cadangan. 2.5 Pemadaman Listrik Definisi pemadaman listrik adalah saat terhentinya pasokan aliran listrik ke pelanggan.secara umum listrik padam dapat disebabkan karena hal-hal sebagai berikut : 1. Pemadaman Terencana Pemadaman terencana adalah pemadaman yang diakibatkan adanya kegiatan yang telah direncanakan oleh PLN yang mengharuskan terhentinya aliran listrik PLN ke pelanggan [11], seperti penambahan peralatan jaringan, pemeliharaan preventif (preventive maintenance) pembangkit, penggantian kabel konduktor (reconductoring) transmisi 150 kv, pemeliharaan jaringan dan gardu yang sudah dijadwalkan sebelumnya dengan tujuan untuk menjaga keandalan agar tidak terjadi kerusakan yang lebih fatal. 2. Pemadaman Tidak Terencana (Gangguan) Adalah pemadaman akibat terjadinya gangguan yang tidak direncanakan. Contohnya sebagai berikut:

40 24 a. Terganggunya suatu unit pembangkit: gangguan pada sistem pelumasan, sistem pendingin, generator, ketel (boiler) pemanas air menjadi uap. b. Terganggunya jaringan/transmisi listrik: Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kv tersambar petir, terkena pohon roboh, tanah longsor, trafo meledak, dan lain-lain. c. Terganggunya instalasi pelanggan karena hubung singkat, kerusakan alat-alat listrik yang dipakai atau beban lebih besar dari daya tersambung. 2.6 Sistem Pengaman Pada Sistem Distribusi Agar suatu sistem distribusi dapat berfungsi dengan baik,gangguangangguan yang terjadi pada tiap bagian harus dapat dideteksi dan dipisahkan dari sistem lainnya dalam waktu secepat mungkin. Beberapa fungsi sistem pengaman adalah sebagai berikut: 1. Melokalisir gangguan untuk membebaskan perlatan dari gangguan. 2. Membebaskan bagian yang tidak bekerja normal, untuk mencegah kerusakan. 3. Memberi petunjuk atau indikasi atas lokasi serta jenis kegagalan yang terjadi. 4. Untuk dapat memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada konsumen. 5. Untuk mengamankan keselamatan manusia terutama terhadap bahaya yang ditimbulkan listrik. Adapun peralatan proteksi yang digunakan pada jaringan tegangan menengah terbagi menjadi tiga kelompok [2]: 1. Peralatan pemisah atau penghubung 2. Peralatan pengaman arus lebih 3. Peralatan pengaman tegangan lebih

41 Peralatan Pemisah atau Penghubung Fungsi dari pemutus beban atau pemutus tenaga (PMT) adalah untuk mempermudah dalam membuka dan menutup suatu saluran yang menghubungkan sumber dengan beban, baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan gangguan. Jenis pemutus yang digunakan pada gardu adalah: 1. Pemutus Tenaga(Circuit Breaker) 2. Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) Sedangkan pemutus pada jaringan adalah: 1. Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) 2. Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer) Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) Dalam keadaan tidak normal (terjadi gangguan) pemutus tenaga (PMT) berperan sebagai saklar otomatis yang dapat memutuskan arus gangguan hubung singkat, menghilangkan gangguan permanen dengan cara memisahkan dari bagian yang terganggu secara otomatis, dimana pada umumnya untuk mengoperasikan PMT tersebut digunakan suatu rangkaian trip yang mendapat sinyal dari suatu rangkaian relai pengaman. Contoh bentuk pemutus tenaga (circuit breaker) diberikan pada Gambar Gambar Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) [12]

42 Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) Saklar pemisah, seperti terlihat pada Gambar 2.14, merupakan alat pemutus rangkaian listrik pada kondisi tanpa beban yang dioperasikan secara manual karena waktu pemutusan yang terjadi bersifat sangat subjektif, yaitu tergantung pada subjek operatornya. Tugas utama saklar pemisah adalah memisahkan suatu bagian beban dari sumbernya pada keadaan tidak berarus (saat pemeliharaan atau perbaikan), sehingga dapat dilihat atau dipisahkan antara bagian yang aktif dan bagian yang tidak aktif. Gambar Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) [13] Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) Saklar pemisah beban (load break switch) yang ditunjukkan pada Gambar 2.15 merupakan saklar yang didesain untuk memutus rangkaian listrik dengan kondisi beban nominal dan bekerja secara manual. Saklar ini tidak dapat bekerja secara otomatis pada waktu terjadi gangguan, dibuka atau ditutup hanya untuk memanipulasi beban.

43 27 Gambar Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) [14] Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer) Saklar seksi otomatis (SSO) merupakan pengaman cadangan dari PMT, dimana peralatan ini dipasang pada jaringan udara tegangan menengah. SSO adalah suatu peralatan pemutus yang bekerja secara otomatis untuk membebaskan seksi-seksi yang terganggu dari suatu sistem distribusi, atau dengan kata lain, membebaskan/melokalisir daerah yang teganggu agar tetap mendapatkan suplai tenaga listrik. Pemasangannya pada jaringan distribusi tenaga listrik 20 kv dilengkapi dengan pemasangan pemutus balik otomatis (recloser) dan indikator seksi gangguan (fault section indicator) penyulang. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan kerja dari SSO. Gambar 2.16 menunjukkan contoh bentuk saklar seksi otomatis (SSO) Peralatan Pengaman Arus Lebih Fungsi dari peralatan pengaman arus lebih adalah untuk mengatasi gangguan arus lebih pada sistem distribusi sebelum gangguan tersebut meluas keseluruh sistem yang ada. Peralatan yang banyak digunakan pada jaringan distribusi diantaranya adalah: 1. Pelebur (Fuse Cut Out)

44 28 2. Pemutus Balik Otomatis (Automatic Recloser) 3. Relai Gambar Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer)[15] Pelebur (Fuse Cut Out) Pelebur (fuse) yang ditunjukkan pada Gambar 2.17 merupakan kombinasi alat pelindung dan pemutus rangkaian yang mempunyai prinsip melebur (expulsion). Pengaman lebur ini ditempatkan pada sisi tegangan menengah (TM) untuk mengamankan jaringan TM dan peralatan ke arah GI terhadap gangguan hubung singkat di trafo, atau sisi TM sebelum trafo, dan gangguan permanen antara fasa ke tanah. Karakteristik waktu/arus dari sebuah pelebur (fuse) adalah sekitar. Untuk semua jenis pelebur, batas arus pelebur biasanya lebih tinggi daripada arus normalnya. Pelebur yang melewatkan arus melampaui batas arus untuk waktu yang lebih lama daripada waktu untuk melewatkan arus pemutus minimum, dapat mengalami kerusakan yang dapat mempengaruhi karakteristiknya, terutama kemampuannya untuk memutus.

45 29 Gambar Pelebur (Fuse Cut Out) [16] Pemutus Balik Otomatis (Automatic Recloser) Penutup balik adalah alat pengaman arus lebih dimana waktu untuk memutus dan menutup kembali dapat diatur dan bekerja secara otomatis. Pemutus balik otomatis dilengkapi dengan sarana indikasi arus lebih, pengatur waktu operasi, serta penutupan kembali secara otomatis. Desain dari penutup balik otomatis memungkinkan untuk dapat membuka kontak-kontaknya secara tetap dan terkunci (lock out), sesuai pemrogramannya setelah melalui beberapa kali operasi buka-tutup. Contoh bentuk dari pemutus balik otomatis diberikan pada Gambar Pada gangguan yang bersifat sementara, penutup balik otomatis akan membuka dan menutup kembali bila gangguan telah hilang. Jika gangguannya bersifat tetap/permanen, maka penutup balik otomatis akan membuka kontakkontaknya secara tetap dan terkunci. Apabila gangguan telah dihilangkan, maka kontak dapat ditutup kembali.

46 30 Gambar Penutup Balik Otomatis (AutomaticRecloser)[17] Relai Relaia dalah peralatan pengaman yang dipasang pada perangkat yang berfungsi untuk melindungi peralatan listrik dari gangguan yang mungkin terjadi. Relai bersifat peka terhadap perubahan pada rangkaian yang dapat mempengaruhi kinerja alat lain. Tujuan dipasang relai pengaman adalah: 1. Menghindari atau mengurangi kerusakan yang terjadi akibat gangguan pada alat yang dilalui arus gangguan. 2. Menyelamatkan sistem atau bagian sistem lainnya yang tidak terganggu supaya tetap dapat bekerja terus, dengan cara melepaskan bagian sistem yang terganggu sedemikian rupa sehingga penyimpangan atau kesalahan akibat gangguan tersebut tidak memberikan akibat negatif yang lebih luas terhadap keseluruhan sistem yang ada. Adapun relai yang terpasang terdiri dari: 1. Relai Arus Lebih (Over Current Relay) Relai arus lebih (OCR) merupakan pengaman sistem distribusi dari gangguan antar fasa, baik hubung singkat 2 fasa maupun 3 fasa. Pemasangannya dapat dilakukan di penyulang masuk (incoming feeder), penyulang keluar (outgoing feeder), atau di gardu hubung. Relai ini

47 31 memberikan reaksi terhadap besarnya arus masukan,dan bekerja untuk memutuskan rangkaian listrik (trip) apabila besarnya arus melebihi nilai tertentu yang dapat diatur. 2. Relai Gangguan Tanah (Ground Fault Relay) Relai ini merupakan pengaman sistem distribusi dari gangguan fasa ke tanah. Pada dasarnya, relai ini memiliki prinsip kerja yang sama dengan relai arus lebih. Pemasangannya dapat dilakukan di penyulang masuk (incoming feeder), penyulang keluar (outgoing feeder), atau di gardu hubung. 3. Relai Momen (Instant) Relai momen (instant) berperan sebagai pengaman untuk arus yang besar dengan pengaturan kerja cepat. Waktu minimm yang dibutuhkan adalah 40 milidetik. Biasanya pengaturan relai momen di atur dengan arus gangguan 2 fasa atau 3 fasa dekat dengan sumber (30-50%) panjang jaringan. 4. Relai Penghantar Putus (Broken Conductor) Relai penghantar putus (broken conductor) sebagai kelengkapan pengaman yang terpasang di relai. Dipergunakan untuk pengaturan bila beban tidak seimbang yang disebabkan adanya penghantar yang putus arah beban, sehingga beban tidak seimbang tiap fasanya Peralatan Pengaman Tegangan Lebih Pada sistem distribusi, gangguan dapat terjadi akibat adanya tegangan lebih. Gangguan ini bisa terjadi akibat proses switching pada saluran dan akibat sambaran petir. Bila gangguan ini dibiarkan maka dapat merusak peralatan listrik. Oleh karena itu, peralatan listrik itu harus dilindungi dari gangguan tegangan lebih dengan memasang peralatan pengaman tegangan lebih, seperti : 1. Kawat Tanah (Overhead Groundwire) 2. Penangkap Petir (Lightning Arrester)

48 Kawat Tanah (Overhead Groundwire) Dalam hal melindungi saluran tenaga listrik, ada beberapa cara yang dapat diterapkan. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan kawat tanah (overhead groundwire) pada saluran. Prinsip dari pemakaian kawat tanah ini adalah bahwa kawat tanah akan menjadi sasaran sambaran petir sehingga melindungi kawat fasa dengan daerah/zona tertentu Penangkap Petir (Lightning Arrester) Penangkap petir berfungsi untuk melindungi peralatan sistem tenaga listrik terhadap tegangan surja dengan membatasi surja tegangan lebih yang datang dan mengalirkan ke tanah. Alat ini berlaku sebagai jalan pintas (bypass) sekitar isolasi. Penangkap petir membentuk jalan yang mudah dilalui oleh arus petir, sehingga tidak timbul tegangan lebih yang tinggi pada peralatan. Pada keadaan normal penangkap petir berlaku sebagai isolator dan bila timbul surja berlaku sebagai konduktor yang melewatkan aliran arus yang tinggi. Setelah surja hilang, penangkap petir harus dengan cepat kembali menjadi isolator, sehingga pemutus daya tidak sempat membuka. Gambar 2.19 memperlihatkan dimensi dari ligthning arrester. Gambar Penangkap Petir (Lightning Arrester) [18]

49 Keandalan Sistem Distribusi Keandalan tenaga listrik adalah kontinuitas penyaluran tenaga listrik kepada pelanggan, terutama pelanggan daya besar yang membutuhkan kontinuitas penyaluran tenaga listrik secara mutlak. Struktur jaringan tegangan menengah memegang peranan penting dalam menentukan keandalan penyaluran tenaga listrik karena jaringan yang baik memungkinkan dapat melakukan manuver tegangan dengan mengalokasikan tempat gangguan dan beban dapat dipindahkan melalui jaringan lainnya. Kontinuitas pelayanan yang merupakan salah satu unsur dari kualitas pelayanan tergantung kepada jenis penghantar dan peralatan pengaman. Jaringan distribusi sebagai sarana penghantar tenaga listrik mempunyai tingkat kontinuitas tergantung kepada susunan saluran dan cara pengaturan operasinya. Parameter-parameter keandalan yang biasa digunakan untuk mengevaluasi sistem distribusi adalah frekuensi kegagalan tahunan rata-rata ( ), lama terputusnya pasokan listrik rata-rata ( ) lama/durasi terputusnya pasokan listrik tahunan rata-rata ( ). Parameter-parameter tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut: (2.5) (2.6) (2.7) Dimana: Berdasarkan parameter-parameter keandalan dasar ini, didapat sejumlah indeks keandalan untuk sistem secara keseluruhan yang dapat dievaluasi, yaitu SAIFI (System Average Interruption Frequency Index) dan SAIDI (System Average Interruption Duration Index).

50 SAIFI (System Average Interruption Frequency Index) SAIFI (system average interruption frequency index) adalah indeks frekuensi pemadaman rata-rata tiap tahun yang merupakan jumlah dari perkalian frekuensi padam dan pelanggan padam dibagi dengan jumlah pelanggan yang dilayani. Menginformasikan tentang frekuensi pemadaman rata-rata tiap konsumen dalam suatu area yang dievaluasi. Satuannya adalah pemadaman per pelanggan per tahun. Didefinisikan sebagai berikut: (2.8) (2.9) dengan: adalah frekuensi padam adalah jumlah pelanggan pada titik beban i SAIDI (System Average Interruption Duration Index) SAIDI (system average interruption durasi index) adalah indeks durasi atau lama pemadaman rata-rata tiap tahun yang merupakan jumlah dari perkalian lama padam dan pelanggan padam dibagi dengan jumlah pelanggan yang dilayani. Menginformasikan tentang lama pemadaman rata-rata tiap konsumen dalam suatu area yang dievaluasi. Dituliskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut: (2.10) (2.11) dengan: adalah durasi pemadaman/gangguan tahanan untuk beban i adalah jumlah pelanggan pada titik beban i

51 BAB 3 SISTEM DISTRIBUSI RAYON GARUT KOTA Wilayah kerja PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut dengan luas wilayah km 2 yang ditunjukkan pada Gambar 3.1, dibagi kedalam lima rayon, yaitu Rayon Garut Kota, Rayon Leles, Rayon Cibatu, Rayon Cikajang, dan Rayon Pameungpeuk. Sistem distribusi yang diamati pada skripsi ini adalah sistem distribusi Area Garut Rayon Garut Kota. Gambar 3.1. Wilayah Kerja Area Garut 35

52 Target Kerja Distribusi Rayon Garut Kota Visi dan misi dari PT. PLN (Persero) Area Garut adalah sebagai berikut: 1. Visi Diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang. Unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani. 2. Misi a. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham. b. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. c. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi. d. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan. Dalam rangka memenuhi visi dan misi tersebut, PT. PLN (Persero) Area Garut, khususnya dalam hal ini Rayon Garut Kota, selalu berusaha menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan listrik terhadap pelanggan. Oleh karena itu, dibuat suatu target kerja sebagai acuan dan bahan evaluasi keberhasilan kinerja PLN dalam meningkatkan keandalan sistem. Berikut pada Tabel 3.1 diberikan target kerja distribusi Rayon Garut Kota. Tabel 3.1. Target Kerja Distribusi PT. PLN Area Garut Rayon Garut Kota Parameter Satuan Tahun 2012 Tahun 2013 Gangguan Penyulang kali/tahun SAIFI kali/pelanggan/tahun 4,2 5,2 SAIDI jam/pelanggan/tahun 0,98 2, Data Aset Rayon Garut Kota Area Garut Rayon Garut Kota memiliki jumlah pelanggan sebanyak pada tahun Jumlah ini meningkat pada tahun 2013 menjadi pelanggan. Terdapat1 Gardu Induk, yaitu GI Garut, 2 buah trafo 150 kv dengan daya masing-masing 60 MVA, dan 8 buah penyulang dengan panjang

53 37 total 288,070 kms menggunakan material utama A3C (All Alloy Alumunium Conductor) yang merupakan saluran penghantar terbuka (tanpa isolasi). Adapun data lengkap aset Rayon Garut Kota diberikan pada Lampiran 1 (Data Aset Gardu), Lampiran 2 (Data Aset SUTM), dan Lampiran 3 (Data Aset Tiang). Pada tahun pengamatan, yaitu tahun 2012 dan 2013, terdapat delapan penyulang yang berada di Area Garut Rayon Garut Kota. Penyulang tersebut terdiri dari Penyulang Desa Kolot (DSKT), Penyulang Cilawu (CLWU), Penyulang Margawati (MGWT), Penyulang Cigasong (CGSO), Penyulang Intan Tiga (INTI), Penyulang Intan Satu (INTU), Penyulang Talaga Bodas (TLBS), dan Penyulang Suci. Semua penyulang tersebut memiliki konstruksi horizontal Penyulang Desa Kolot (DSKT) Berdasarkan bentuk jaringannya, Penyulang Desa Kolot (DSKT) ini termasuk ke dalam sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Terdapat 17 gardu dengan jumlah kva terpasang 1555 kva. Penyulang ini memiliki panjang total 14,309 kms. Material utama penyulang SUTM yang digunakan adalah A3C 150 mm 2 dengan panjang 5,846 kms. Diagram garis tunggal (single-line diagram) penyulang DSKT ditunjukkan pada Lampiran Penyulang Cilawu (CLWU) Bentuk jaringan pada Penyulang Cilawu (CLWU) merupakan sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Data aset yang dimiliki Penyulang CLWU diantaranya adalah terdapat 39 gardu dengan total daya trafo kva, panjang penyulang total adalah 24,120 kms dengan material utama yang digunakan, yaitu A3C 150 mm 2 sepanjang 10,865 kms. Diagram garis tunggal (single line diagram) penyulang CLWU dilampirkan pada Lampiran Penyulang Margawati (MGWT) Sama halnya dengan Penyulang DSKT dan CLWU, Penyulang Margawati (MGWT) memiliki sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Penyulang MGWT ini memiliki panjang 93,711 kms, dengan material yang paling banyak digunakan

54 38 adalah A3C 70 mm 2 sepanjang 27,647 kms. Selain itu, terdapat 108 gardu dengan jumlah kva terpasang sebesar kva. Diagram garis tunggal (single-line diagram) penyulang MGWT ditunjukkan pada Lampiran Penyulang Cigasong (CGSO) Berbeda dengan penyulang lainnya, dilihat dari bentuk jaringan, Penyulang Cigasong (CGSO) ini menggunakan sistem radial. Penyulang CGSO memiliki aset 44 gardu dengan jumlah daya trafo terpasang sebesar kva. Total panjang penyulang adalah 31,753 kms. Material penghantar yang paling banyak digunakan adalah material A3C 70 mm 2 dengan panjang 22,469 kms. Diagram garis tunggal (single line diagram) penyulang CGSO diberikan pada Lampiran Penyulang Intan Tiga (INTI) Jaringan pada Penyulang Intan Tiga (INTI) membentuk sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Berbeda dengan penyulang lain, material utama yang digunakan pada penyulang INTI adalah A3CS 150 mm 2 yang merupakan saluran penghantar berisolasi sepanjang 22,453 dari total panjang penyulang 39,988 kms. Pada Penyulang INTI terdapat 74 gardu dengan total daya trafo terpasang sebesar kva. Diagram garis tunggal (single-line diagram) penyulang MGWT ditunjukkan pada Lampiran Penyulang Intan Satu (INTU) Dilihat dari bentuk jaringannya, sistem ini merupakan sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Data aset yang dimiliki diantaranya adalah 26 gardu dengan jumlah kva terpasang sebesar kva. Material utama yang digunakan adalah kabel tanah XLPE 240 mm 2 sepanjang 28,280 kms dari total penyulang terpasang 31,282 kms. Diagram garis tunggal (single line diagram) penyulang CGSO diberikan pada Lampiran 14.

55 Penyulang Talaga Bodas (TLBS) Penyulang Talaga Bodas (TLBS) ini memiliki panjang 14,482 kms dengan material utamanya adalah XLPE 240 mm 2 sepanjang 13,858 kms. Terdapat juga 20 gardu dengan daya trafo terpasang sebesar kva. Bentuk jaringan pada Penyulang TLBS membentuk suatu rangkaian tertutup (loop circuit). Diagram garis tunggal (single-line diagram) penyulang MGWT ditunjukkan pada Lampiran Penyulang Suci Penyulang Suci membentuk jaringan dengan sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Aset yang dimiliki Penyulang Suci diantaranya adalah 80 gardu, daya trafo terpasang sebesar kva, panjang penyulang terpasang adalah 38,365 kms dengan material utama A3C 150 mm 2 sepanjang 19,563 kms. Diagram garis tunggal (single line diagram) penyulang CLWU dilampirkan pada Lampiran 16.

56 BAB 4 ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT LAYANG-LAYANG Dari hasil rekap data gangguan penyulang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota tahun 2012 dan 2013 diketahui bahwa terjadi 72 gangguan penyulang di tahun 2012 dan 128 gangguan penyulang di tahun 2013 yang mengakibatkan terjadinya pemadaman. Berikut diberikan grafik gangguan penyulang tahun 2012 dan 2013 pada Gambar Jumlah Gangguan Tahun 2012 Tahun Bulan Gambar 4.1. Grafik Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 dan 2013 Jumlah gangguan tersebut jauh melebihi target kerja Rayon Garut Kota yang diberikan pada Tabel 3.1. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab gangguan pada penyulang, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Komponen Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 2. Alam 3. Pohon 4. Layang-layang 5. Binatang 40

57 41 Pada Gambar 4.2 ditunjukkan grafik persentase penyebab gangguan penyulang pada tahun 2012 dan pada Gambar 4.3 ditunjukkan grafik persentase gangguan penyulang tahun Dari kelima faktor penyebab yang terlihat di dalam tersebut diketahui bahwa penyebab gangguan pada penyulang yang paling dominan adalah layang-layang. Oleh karena itu, pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai gangguan penyulang yang disebabkan oleh layang-layang. POHON 3% ALAM 19% LAYANG-LAYANG 36% BINATANG 3% KOMP. JTM 39% Gambar 4.2. Grafik Penyebab Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 POHON 7% ALAM 13% BINATANG 2% LAYANG-LAYANG 52% KOMPONEN JTM 26% Gambar 4.3. Grafik Penyebab Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2013

58 Padam Akibat Gangguan Penyulang Oleh Layang-Layang Pemadaman akibat gangguan penyulang oleh layang-layang sering terjadi dan mengalami peningkatan pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2012 memiliki persentase sebesar 36% dan meningkat menjadi 52% pada tahun Pada Gambar 4.4 ditunjukkan grafik gangguan penyulang yang diakibatkan oleh layang-layang pada tahun 2012 dan Jumlah Gangguan Tahun 2012 Tahun Bulan Gambar 4.4. Grafik Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Rayon Garut Kota Tahun 2012 dan 2013 Permainan layang-layang yang menggunakan kawat bermaterial logam dapat menyebabkan gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah, 2 fasa atau 3 fasa. Saat warga setempat bermain layang-layang di sekitar SUTM, kawat layanglayang bermaterial logam menempel atau tersangkut di 2 fasa atau 3 fasa kawat penghantar terbuka (tanpa isolasi), seperti terlihat pada Gambar 4.5. Kawat layang-layang tersebut dapat menjadi penghantar dan bersifat sebagai impedansi gangguan yang memiliki nilai sangat kecil, sehingga akan menghasilkan arus gangguan hubung singkat yang sangat besar melebihi kapasitas saluran penghantar. Arus gangguan yang besar dan melebihi kapasitas penghantar tersebut akan membuat sistem pengaman relai arus lebih momen (over current moment) bekerja dan penyulang jatuh (trip) yang mengakibatkan terjadinya pemadaman tak terencana.

59 43 Pada saat terjadi hubung-singkat antar fasa, akan timbul lompatan api (flash over) yang mengakibatkan isolasi udara tembus (breakdown). Karena yang tembus (breakdown) adalah isolasi udaranya, maka tidak ada kerusakan yang permanen. Setelah arus gangguan terputus karena pemutus tenaga (circuit breaker) atau pemutus balik (recloser) terbuka oleh relai pengamannya, peralatan atau saluran tersebut dapat beroperasi kembali. Selain gangguan antar fasa, apabila kawat atau benang dan rangka layanglayang melilit isolator dan mengenai tiang atau traves maka dapat menyebabkan gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah dan menimbulkan arus gangguan hubung singkat yang besar. Sehingga sistem pengaman relai arus lebih gangguan tanah (over current ground fault) akan bekerja dan membuat penyulang jatuh (trip) sehingga listrik padam. Gambar 4.5. Kawat Layang-Layang Menghubungkan 2 Kawat SUTM Gangguan penyulang oleh layang-layang juga dapat menyebabkan gangguan yang bersifat permanen dimana sistem baru bisa dioperasikan kembali apabila bagian yang terkena layang-layang dibersihkan dan bagian yang rusak diperbaiki atau diganti. Gangguan layang-layang sampai mengakibatkan

60 44 gangguan permanen ini memang jarang terjadi, tetapi perlu diwaspadai karena dampak yang ditimbulkannya sangat berbahaya, yaitu dapat mengakibatkan kawat SUTM putus yang berpotensi mengenai pemain layang-layang atau masyarakat sekitar. Hubung singkat yang terjadi karena kawat dan rangka layang-layang melilit di SUTM akan menimbulkan lompatan-lompatan api yang membuat saluran penghantar rapuh dan mempercepat penuaan penghantar. Ditambah lagi panas yang timbul akibat arus gangguan yang besar juga dapat merusak isolasi dan mengikis lapisan penghantar. Akibatnya, lama-kelamaan luas penampang penghantar semakin kecil dan kemampuan hantar arus yang dimilikinya menurun. Sehingga, ketika dalam kondisi tersebut penghantar tetap dialiri arus normal, penghantar atau kawat SUTM akan putus (broken conductor), seperti ditunjukkan pada Gambar 4.6. Adanya penghantar yang putus arah beban akan mengakibatkan beban tidak seimbang pada setiap fasanya. Hal ini membuat sistem pengaman relai broken conductor bekerja dan penyulang jatuh (trip). Gambar 4.6. Kawat SUTM Putus (Broken Conductor) Akibat Layang-Layang

61 Pengaruh Faktor Konstruksi Sistem Konstruksi sistem distribusi juga mempengaruhi kualitas dan kontinuitas pelayanan listrik terhadap pelanggan. Melihat jenis sistem penyalurannya, gangguan layang-layang hanya terjadi pada saluran udara (SUTM), sehingga pada jaringan distribusi yang banyak menggunakan saluran bawah tanah (SKTM) seperti, Penyulang Intan Satu (INTU) dan Talaga Bodas (TLBS) tidak sering terjadi gangguan penyulang oleh layang-layang. Sedangkan pada penyulang lainnya yang didominasi SUTM, seperti Penyulang Desa Kolot (DSKT), Cilawu (CLWU), Margawati (MGWT), Intan Tiga (INTI), Cogasong (CGSO), dan Suci, sering terjadi gangguan layang-layang. Hal ini juga didukung oleh peta wilayah rawan gangguan layang-layang pada Lampiran 20 yang menunjukkan bahwa wilayah-wilayah yang termasuk ke dalam daftar wilayah rawan gangguan layanglayang merupakan wilayah yang dicakup oleh penyulang dengan saluran udara (SUTM) saja. Data wilayah tersebut diberikan pada Tabel 4.1. Tabe 4.1. Data Wilayah Rawan Gangguan Layang-Layang No. Kecamatan Desa/Kelurahan Kampung Penyulang 1 Cilawu Kersamaju Cihideung, Cigasong Cikoneng, Cigasong 2 Cilawu Dayeuhmanggung Dayeuhmanggung Cigasong 3 Cilawu Karya Mekar Karya Mekar Cigasong 4 Cilawu Sukamukti Sukamukti Cigasong 5 Bayongbong Ciburuy Ciburuy DSKT 6 Bayongbong Sukarame Cibuntu, Cilimus DSKT 7 Bayongbong Sukasenang Radug DSKT 8 Bayongbong Cinisti Cinisti DSKT 9 Bayongbong Pamalayan Bebedahan, Cicayur, DSKT Caringin 10 Bayongbong Pangauban Situsari, Cipaganti, DSKT Pangauban 11 Bayongbong Cikedokan Cikedokan, DSKT Bunisakit 12 Sukaresmi Sukaresmi Sukaresmi DSKT

62 46 (Sambungan) Tabel 4.1. No. Kecamatan Desa/Kelurahan Kampung Penyulang 13 Tarogong Kidul Sukakarya Patrol INTI 14 Tarogong Kidul Cibunar Cibunar INTI 15 Tarogong Kidul Kersamenak Kersamenak INTI 16 Tarogong Kaler Cintakarya Pasir INTI 17 Tarogong Kaler Jayawaras Panawuan INTI 18 Tarogong Kaler Pananjung Pasawahan INTI 19 Tarogong Kaler Tanjungkemuning Tanjungkemuning INTI 20 Tarogong kaler Cintarasa Genteng, Cintarasa Suci 21 Cilawu Ngamplang Cimaragas Suci 22 Garut kota Kotakulon Galumpit, Wanasari, Suci 23 Garut kota Kotawetan Sukaregangkidul, Suci Bentar 24 Garut kota Sucikaler Sucipermai Suci 25 Garut kota Haurpanggung Ciawitali Suci 26 Garut kota Jayaraga Jayaragakaler Suci 27 Garutkota Sukagalih Cirengit Suci 28 Garut kota Sirnajaya Malayu Suci 29 Banyuresmi Sukasenang Bojongsalam Suci 30 Sucinaraja Lengkongjaya Lengkongjaya Cilawu 31 Karangpawitan Karangsari Cibolerang Cilawu 32 Karangpawitan Karangpawitan Timang Ayu Cilawu 33 Wanaraja Cikole Panyawenyan Cilawu 34 Wanaraja Tegalpanjang Tegalpanjang Cilawu 35 Sukawening Sukawening Sukawening Margawati 36 Sukawening Cihuni Cihuni Margawati 37 Sukawening Maripari Mariuk Margawati Dari hasil pengolahan data pemadaman listrik akibat gangguan penyulang diketahui bahwa jika diakumulasikan, penyulang dengan tingkat pemadaman akibat gangguan layang-layang paling tinggi tahun adalah Penyulang Cigasong (CGSO). Berikut pada Gambar 4.7 dan Gambar 4.8 diberikan grafik gangguan per penyulang tahun 2012 dan 2013.

63 Jumlah Gangguan Komponen JTM Alam Layang-layang Pohon Binatang 0 CGSO CLWU DSKT INTI INTU MGWT SUCI TLBS Penyulang Gambar 4.7. Grafik Gangguan Per Penyulang Tahun 2012 Jumlah Gangguan CGSO CLWU DSKT INTI INTU MGWT SUCI TLBS Penyulang Komponen JTM Alam Layang-Layang Pohon Binatang Gambar 4.8. Grafik Gangguan Per Penyulang Tahun 2013 Jika dilihat dari bentuk jaringannya, Penyulang Cigasong (CGSO) memang memiliki kekurangan dibanding penyulang lainnya yang berbentuk rangkaian tertutup (loop), dimana jaringan Penyulang CGSO berbentuk radial. Hal ini membuat keandalan sistem rendah dan kondisi penyulang kurang dapat diandalkan apabila terdapat gangguan karena penyaluran tenaga listrik hanya dilakukan dengan menggunakan satusaluran saja. Jaringan dengan bentuk radial ketika mendapat gangguan, dalam hal ini yang disebabkan oleh layang-layang, akan menghentikan penyaluran tenaga listrik cukup lama sebelum gangguan tersebut diperbaiki kembali. Berbeda halnya dengan sistem rangkaian tertutup

64 48 (loop) yang apabila terjadi gangguan pada penyulang, maka penyulang yang lain dapat menggantikan untuk menyalurkan daya listrik. Material penyulang yang digunakan juga berperan besar dalam terjadinya pemadaman listrik akibat layang-layang. Secara keseluruhan, jenis material yang banyak digunakan pada penyulang saluran udara (SUTM) di Rayon Garut Kota adalah A3C yang merupakan kawat penghantar terbuka (tanpa isolasi). Kawat penghantar terbuka (tanpa isolasi) sangat rawan terhadap gangguan layang-layang. Hal ini karena kawat layang-layang yang menempel di penyulang akan bersifat sebagai konduktor/penghantar dan membuat hubung singkat pada sistem. Selain itu, kawat penghantar terbuka akan lebih cepat rapuh dibandingkan dengan kawat berisolasi. Terbukti dengan hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa pada beberapa penyulang SUTM dengan material utama A3C, seperti Penyulang CGSO, SUCI, dan MGWT, sering terjadi padam akibat gangguan penyulang oleh layang-layang. Berbeda dengan penyulang SUTM yang menggunakan A3CS (kawat berisolasi) sebagai material utamanya, seperti Penyulang INTI, dimana frekuensi padam akibat gangguan penyulang oleh layang-layang lebih sedikit dibandingkan dengan penyulang lainnya. Jenis dan luas penampang material penghantar yang digunakan pada penyulang juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya arus gangguan hubung singkat. Untuk mengetahui besarnya arus gangguan hubung singkat yang dapat terjadi ketika layang-layang menempel atau membelit penyulang di Rayon Garut Kota, dilakukan perhitungan besarnya arus gangguan hubung singkat berdasarkan panjang penyulang, yaitu diasumsikan terjadi di 25%, 50%, 75%, dan 100% panjang penyulang. Berikut adalah langkah-langkah perhitungan arus gangguan hubung singkat pada penyulang Cigasong (CGSO): a. Menghitung Impedansi Sumber Data Hubung Singkat di bus sisi primer (150 kv) Gardu Induk Garut adalah sebesar MVA. Maka impedansi sumber (Xs) adalah:

65 49 maka: Untuk mengetahui impedansi di ssi sekunder, yaitu di bus sisi 20 kv b. Menghitung Reaktansi Trafo Besarnya nilai Ohm pada 100 %, yaitu: Nilai reaktansi trafo tenaga: Reaktansi urutan positif dan negatif Reaktansi urutan nol Trafo mempunyai belitan delta, maka: c. Menghitung Impedansi Penyulang Berdasarkan data aset Rayon Garut Kota, total panjang penyulang CGSO adalah 31,753 kms. Jenis penghantar yang digunakan pada penyulang CGSO terdiri dari 4,718 kms tipe A3C 150 mm 2, 22,469 kms tipe A3C 70 mm 2, 0,860 kms tipe A3C 35 mm 2, 3,582 kms tipe A3CS 150 mm 2, dan 0,124 kms XLPE 240 mm 2. Impedansi A3C 150 mm 2 Impedansi A3C 70 mm 2

66 50 Impedansi A3C 35 mm 2 Impedansi A3CS 150 mm 2 Impedansi XLPE 240 mm 2 Impedansi Penyulang Total Hasil perhitungan impedansi penyulang dengan jarak 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% panjang penyulang diberikan pada Tabel 4.2 untuk urutan positif dan negatif, sedangkan Tabel 4.3 untuk urutan nol. Tabel 4.2. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Positif dan Negatif % Panjang Penyulang Impedansi Penyulang ( d. Menghitung Impedansi Ekivalen Jaringan Perhitungan dan

67 51 Hasil perhitungan dan diberikan pada Tabel 4.4. Tabel 4.3. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Nol % Panjang Penyulang Impedansi Penyulang ( Tabel 4.4. Impedansi Ekivalen Jaringan dan % Panjang Penyulang Impedansi Ekivalen ( dan Perhitungan Hasil perhitungan diberikan pada Tabel 4.5. Tabel 4.5. Impedansi Ekivalen Jaringan % Panjang Penyulang Impedansi Ekivalen (

68 52 e. Menghitung Arus Gangguan Hubung Singkat Jenis gangguan hubung singkat yang dapat terjadi karena menempelnya layang-layang pada SUTM adalah gangguan 1 fasa ke tanah, 2 fasa, 2 fasa ke tanah, dan 3 fasa. Dengan memasukkan nilai-nilai yang telah didapat sebelumnya ke dalam persamaan 2.1, 2.2, 2.3, dan 2.4, diperoleh besarnya arus gangguan hubung singkat yang dapat terjadi pada penyulang CGSO di titik 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% panjang penyulang. Dengan menggunakan langkah perhitungan yang sama, maka dapat diketahui pula berapa besar arus gangguan hubung singkat yang terjadi pada penyulang lainnya. Adapun hasil perhitungan diberikan pada Tabel 4.6. Dari hasil perhitungan terlihat bahwa selain jenis material penghantar yang digunakan, jarak atau lokasi terjadinya gangguan, dalam hal ini titik menempelnya layang-layang pada SUTM, juga mempengaruhi besarnya arus gangguan yang terjadi. Semakin dekat dengan sumber, arus gangguan hubung singkat yang dihasilkan semakin besar. Tabel 4.6. Arus Gangguan Hubung Singkat Pada Penyulang Di Rayon Garut Kota Panjang Penyulang Jarak Arus Hubung Singkat 2 fasa ke 3 fasa (A) 2 fasa (A) tanah (A) 1 fasa ke tanah (A) CGSO 0% , , % 7, , , , , % 15, , , , , % 23, , , , , % 31, , , , , DSKT 0% , , % 3, , , , , % 7, , , , , % 10, , , , , % 14, , , , ,

69 53 (Sambungan) Tabel 4.6. Panjang Penyulang CLWU Jarak 3 fasa (A) 2 fasa (A) Arus Hubung Singkat 2 fasa ke tanah (A) 1 fasa ke tanah (A) 0% , , % 6, , , , , % 12, , , , , % 18, , , , , % 24,12 907, , , , INTI 0% , , % 9, , , , , % 19, , , , , % 29, , , , , % 39, , , , , SUCI 0% , , % 9, , , , , % 19, , , , , % 28, , , , , % 38, , , , , MGWT 0% , , % 23, , , , , % 46, , , , , % 70, , , , , % 93, , , , , INTU 0% , , , , % 7, , , , , % 15, , , , , % 23, , , , , % 31, , , , ,326063

70 54 (Sambungan) Tabel 4.6. Panjang Arus Hubung Singkat Penyulang Jarak 3 fasa (A) 2 fasa (A) 2 fasa ke tanah (A) 1 fasa ke tanah (A) TLBS 0% , , , , % 3, , , , , % 7, , , , , % 10, , , , , % 14, , , , , Pengaruh Faktor Cuaca dan Iklim Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Garut dapat dikatagorikan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi iklim Koppen. Berdasarkan studi data sekunder, iklim dan cuaca di daerah Kabupaten Garut dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu pola sirkulasi angin musiman (monsoonal circulation pattern), topografi regional yang bergunung-gunung di bagian tengah Jawa Barat; dan elevasi topografi di Bandung. Curah hujan rata-rata tahunan di sekitar Garut berkisar antara mm dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di sekeliling daerah pegunungan mencapai mm. Variasi temperatur bulanan berkisar antara 24 C - 27 C. Besaran angka penguap keringatan (evapotranspirasi) menurut Iwaco-Waseco (1991) adalah 1572 mm/tahun. Selama musim hujan, secara tetap bertiup angin dari Barat Laut yang membawa udara basah dari Laut Cina Selatan dan bagian barat Laut Jawa. Pada musim kemarau, bertiup angin kering bertemperatur relatif tinggi dari arah Australia yang terletak di tenggara. [20] Pada Gambar 4.4, grafik gangguan penyulang akibat layang-layang rayon garut kota tahun 2012 dan 2013, menunjukkan bahwa selama bulan Januari hingga April jarang terjadi padam akibat gangguan layang-layang. Pada bulan Mei-Desember, padam akibat gangguan layang-layang mengalami peningkatan. Pemadaman akibat gangguan layang-layang paling sering terjadi selama bulan

71 55 Agustus sampai dengan Oktober. Hal ini berarti selama 4 bulan, dari Januari sampai April merupakan bulan kering (musim kemarau) dan selama 8 bulan, dari Mei sampai Desember termasuk bulan basah (musim hujan). Bagaimana faktor cuaca dan iklim dapat mempengaruhi pemadaman yang terjadi akibat layang-layang? Permainan layang-layang banyak dilakukan di musim kemarau. Jumlah layang-layang di udara semakin bertambah dan semakin besar pula ukurannya. Hal ini menjadi sangat merugikan, karena banyak layanglayang yang tersangkut di SUTM dan menyebabkan listrik padam. Pada musim ini, padam yang terjadi hanya disebabkan oleh kawat layang-layang yang menempel di SUTM saja. Benang dan rangka layang-layang yang ikut menempel atau melilit di SUTM tidak turut menjadi penyebab pemadaman. Sedangkan pada musim hujan permainan layang-layang berkurang. Tetapi, tidak sama halnya dengan gangguan penyulang yang diakibatkan oleh layanglayang. Hal ini dikarenakan kawat, bahkan benang dan rangka layang-layang yang bukan terbuat dari bahan logam, jika dalam keadaan basah (akibat hujan atau embun) dapat berubah sifat sebagai konduktor yang mengalirkan arus listrik dan dapat membuat terjadinya hubung singkat fasa ke tanah ataupun antar fasa yang mengakibatkan terjadinya pemadaman. Oleh karena itu, padam akibat gangguan layang-layang lebih banyak terjadi di musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau. Sehingga, untuk mencegah hal ini perlu dilakukan operasi rutin pembersihan SUTM dari sampah layang-layang selama musim kemarau berlangsung, agar saat menghadapi musim hujan tidak ada lagi kawat, rangka, dan benang layang-layang yang menempel di SUTM yang berpotensi menyebakan gangguan pada penyulang dan mengakibatkan pemadaman. 4.4 Dampak Dari Gangguan Layang-Layang Pemadaman yang terjadi akibat adanya gangguan penyulang oleh layanglayang dapat menimbulkan beberapa kerugian, seperti kerugian pihak PLN, terhentinya pasokan listrik, kerusakan pada peralatan sistem, dan dapat mengancam keselamatan manusia, baik pemain layang-layang maupun masyarakat di sekitar SUTM.

72 Kerusakan Peralatan Kawat layang-layang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada peralatan. Kerusakan akibat arus gangguan ini tergantung pada besar dan lamanya arus gangguan. Contoh kerusakan tersebut diberikan pada Gambar 4.9. Gambar 4.9. Akibat Layang-Layang Pada Penyulang Gangguan hubung singkat yang diakibatkan oleh layang-layang dapat menimbulkan panas pada penghantar. Saat penghantar dialiri arus, ada dua titik dengan media udara yang bersifat sebagai penghantar yang mempunyai tahanan besar, sehingga penghantar tersebut panas sesuai dengan persamaan 4.1 dan 4.2. (4.1) (4.2) dimana: I = arus gangguan (Amp) R = tahanan penghantar/konduktor (Ohm) t = waktu lamanya arus ganggan (detik)

73 57 Pemanasan berlebih akan menaikkan suhu penghantar yang dialiri arus gangguan. Jika terlalu lama, suhu penghantar akan terlalu tinggi sehingga dapat merusak isolasi juga penghantar tersebut atau mempercepat penuaannya. Tidak hanya merusak penghantar, tetapi gangguan layang-layang ini juga dapat membuat penghantar putus. Hubung singkat yang terjadi karena kawat dan rangka layang-layang melilit di SUTM akan menimbulkan lompatan-lompatan api dan panas atau termal akibat arus gangguan yang besar. Hal ini akan merusak isolasi dan mengikis lapisan penghantar. Semakin lama luas penampang penghantar menjadi semakin kecil dan kemampuan hantar arus yang dimilikinya menurun. Apabila dalam kondisi tersebut penghantar tetap dialiri arus normal yang melebihi kapasitas hantar arusnya sekarang, maka kawat SUTM akan putus, seperti ditunjukkan pada Gambar Ancaman Keselamatan Bagi Manusia Akibat dari layang-layang ini tidak hanya merusak peralatan, tetapi juga sangat berbahaya bagi manusia. Panasnya penghantar yang diakibatkan oleh terjadinya gangguan hubung singkat dapat melepas uliran dari penghantar dan membuatnya terurai. Uraian dari penghantar (bundle conductor) ini akan menggantung, dan akan sangat berbahaya apabila terjangkau oleh manusia atau pohon karena bisa menyebabkan terkena sengatan listrik. Apabila kawat SUTM putus, pada sisi hilir (downstream), ketika kawat menyentuh tanah akan mengalir arus balik (feedback) dari fasa lain yang bernilai sangat besar dan berbahaya bagi manusia. Ilustrasi peristiwa ini diberikan pada Gambar Selain itu, saat layang-layang tersangkut ke SUTM, para pemainnya berusaha untuk menarik kembali layang-layang tersebut supaya terlepas dari SUTM. Hal ini sangat berbahaya, karena orang yang menarik layang-layang tersebut dapat terkena tegangan sentuh sebesar 20 kv, seperti ilustrasi yang diberikan pada Gambar Padahal tubuh manusia dengan tahanan Ω hanya mampu menerima tegangan maksimum AC sebesar 50 V, arus terasa sebesar 0,9 ma, dan arus yang dapat menyebabkan kematian > ma.

74 58 Gambar Terjadinya Arus Balik Saat Konduktor di Sisi Hilir Menyentuh Tanah [19] Gambar Ilustrasi Pemain Layang-Layang Terkena Tegangan Sentuh

75 Kerugian PLN Akibat dari sering terjadinya pemadaman yang disebabkan gangguan penyulang oleh layang-layang di Rayon Garut Kota, jumlah kwh listrik yang tidak terjual pun semakin tinggi dan merugikan pihak PLN. Besar kwh tidak terjual dan kerugian yang dirasakan PLN dapat dihitung dengan cara berikut. dimana: I = Arus (Ampere) t = Lama terjadinya gangguan (jam) = Faktor daya (0,85) Sebagai contoh perhitungan, pada tanggal 1 Januari 2012 terjadi gangguan penyulang akibat layang-layang yang mengakibatkan pemadaman listrik pada pukul 14:02-14:05 dengan nilai arus 32 A. Besar kerugian PLN adalah sebagai berikut: ( ) Setelah dilakukan perhitungan, diketahui bahwa akibat dari gangguan layang-layang di Rayon Garut Kota pada tahun 2012, ,3 kwh tidak tersalurkan dengan nilai jual per kwh adalah Rp 685,00 yang mengakibatkan PLN merugi sebesar Rp ,00. Sedangkan pada tahun 2013, seiring dengan bertambahnya frekuensi gangguan layang-layang yang terjadi, bertambah besar pula kerugian yang dialami PLN. Sebesar ,7 kwh tidak tersalurkan dengan nilai jual per kwh adalah Rp 715,00. Akibatnya, PLN merugi sebesar Rp ,00. Rincian perhitungan kerugian PLN tahun 2012 dan 2013 diberikan pada Lampiran 5 dan Lampiran 6.

76 Keandalan Sistem Distribusi PLN Tingginya persentase pemadaman yang terjadi akibat gangguan penyulang oleh layang-layang mempengaruhi keandalan sistem distribusi yang diukur dengan menggunakan indeks keandalan SAIFI dan SAIDI. SAIFI menunjukkan rata-rata frekuensi padam pada setiap pelanggan, sedangkan SAIDI menunjukkan rata-rata lama pemadaman pada sistem. Oleh karena itu, semakin kecil nilai SAIFI dan SAIDI maka akan semakin bagus keandalan suatu sistem distribusi Indeks Rata-Rata Frekuensi Pemadaman (SAIFI) Rayon Garut Kota Berdasarkan data pemadaman di Area Garut Rayon Garut Kota tahun 2012, dapat dihitung nilai SAIFI per penyebab pemadaman dengan menggunakan persamaan 2.8. Berikut pada Tabel 4.7 diberikan rincian nilai SAIFI per penyebab pemadaman tahun Tabel 4.7. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2012 No. Penyebab Pemadaman Total SAIFI Rata-rata 1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 2, , Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 0, , Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 2, , Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) 0, , Jumlah Total 5, , Nilai SAIFI tahun 2012 menunjukkan bahwa setiap pelanggan mengalami 5, kali pemadaman/tahun, dimana nilai ini melebihi target kinerja Rayon Garut Kota, yaitu sebesar 4,2 pemadaman/pelanggan/tahun. Dari hasil rekap data pemadaman di Area Garut Rayon Garut Kota tahun 2012 diketahui pula bahwa telah terjadi 121 kali pemadaman yang disebabkan SUTM dengan jumlah pelanggan padam sebanyak pelanggan. Dan dari 121 kali pemadaman tersebut, 26 pemadaman (21%) diantaranya disebabkan oleh gangguan penyulang akibat layang-layang. Maka, nilai SAIFI akibat gangguan penyulang oleh layang-layang adalah sebagai berikut:

77 61 pemadaman/pelanggan /tahun. Adapun nilai SAIFI per penyebab pemadaman tahun 2013 diberikan pada Tabel 4.8. Hasilnya menunjukkan bahwa pada tahun 2013 setiap pelanggan mengalami 6, kali pemadaman/tahun. Nilai ini lebih besar dari tahun sebelumnya dan melebihi target kerja yang ditetapkan, yaitu sebesar 5,2 pemadaman/pelanggan/tahun. Hal ini berarti tingkat keandalan SAIFI tahun 2013 lebih buruk daripada tahun Tabel 4.8. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2013 No. Penyebab Pemadaman Total SAIFI Rata-rata 1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 3, , Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 1, , Kelompok Transformator Gardu Distribusi 0, , Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 1, , Jumlah Total 6, , Dari total 150 pemadaman yang terjadi oleh karena disebabkan masalah pada SUTM, 66 gangguan (44%) diantaranya disebabkan oleh gangguan penyulang akibat layang-layang. Total jumlah pelanggan padam akibat masalah SUTM adalah sebanyak pelanggan. Maka, nilai SAIFI gangguan penyulang akibat layang-layang pada tahun 2013 dapat dihitung dengan cara berikut. pemadaman/pelanggan /tahun. Walaupun angka gangguan penyulang akibat layang-layang pada tahun 2013 lebih banyak dari tahun 2012, tetapi nilai SAIFI per penyebab layang-layang tahun 2013 lebih kecil dari tahun Hal ini karena dipengaruhi oleh jumlah pelanggan padam pada tahun 2012 yang lebih besar dari tahun 2013.

78 Indeks Rata-Rata Lama Pemadaman (SAIDI) Rayon Garut Kota Pada Tabel 4.9 diberikan nilai SAIDI per penyebab pemadaman di Rayon Garut Kota tahun 2012 yang dihitung menggunakan persamaan Jumlah total keseluruhan data menunjukkan nilai SAIDI Rayon Garut Kota pada tahun 2012 adalah 1, jam padam/pelanggan/tahun, dimana nilai tersebut melebihi target yang ditetapkan yaitu 0,98 jam padam/pelanggan/tahun. Dari semua penyebab pemadaman nilai SAIDI pemadaman akibat SUTM merupakan yang paling besar. Lama pemadaman total akibat masalah SUTM pada tahun 2012 adalah 57,27 jam dengan jumlah pelanggan padam sebanyak pelanggan. Dari total lama padam tersebut, 182 menit (5,3%) pemadaman tersebut diakibatkan gangguan penyulang oleh layang-layang. Sehingga nilai SAIDI gangguan penyulang oleh layang-layang tahun 2012 dapat dihitung sebagai berikut. jam padam/pelanggan /tahun. Tabel 4.9. SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2012 No. Penyebab Pemadaman Total SAIDI Rata-rata 1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 0, , Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 0, , Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 1, , Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) 0, , Jumlah Total 1, , Sedangkan, pada tahun 2013 diperoleh hasil perhitungan nilai SAIDI sebesar 3, jam padam/pelanggan/tahun. Nilai ini melebihi target kerja SAIDI tahun 2013 yang ditetapkan sebesar 2,34 jam padam/pelanggan/tahun. Nilai SAIDI per penyebab pemadaman tahun 2013 diberikan pada Tabel Lama pemadaman total akibat masalah SUTM sepanjang tahun 2013 adalah 49,18 jam dengan jumlah pelanggan padam sebanyak pelanggan. Dari total lama padam tersebut, 1336 menit (45,3%) diakibatkan gangguan

79 63 penyulang oleh layang-layang. Maka nilai SAIDI gangguan penyulang oleh layang-layang adalah sebagai berikut: jam padam/pelanggan /tahun. Tabel SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2013 No. Penyebab Pemadaman Total SAIDI Rata-rata 1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 2, , Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 0, , Kelompok Transformator Gardu Distribusi 0, , Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 0, , Jumlah Total 3, , Upaya Penekanan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Melihat frekuensi gangguan layang-layang yang semakin meningkat dan besarnya kerugian yang dihasilkan, maka perlu dilakukan upaya penekanan gangguan seoptimal mungkin agar keandalan sistem dan kualitas serta kontinuitas pelayanan pasokan listrik terhadap pelanggan dapat ditingkatkan. Dengan mempertimbangkan hasil analisis terhadap karakteristik penyebab pemadaman akibat gangguan layang-layang, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan dampak yang ditimbulkan, upaya untuk menekan gangguan penyulang akibat layang-layang dapat dilakukan secara teknis maupun non-teknis. Upaya teknis untuk menekan gangguan layang-layang adalah sebagai berikut: 1. Mengganti kawat penghantar terbuka (tak berisolasi) A3C dengan kawat penghantar berisolasi A3CS. Dengan demikian dapat mengurangi resiko terhubungnya antar fasa penghantar yang disebabkan karena menempelnya layang-layang pada penyulang.

80 64 2. Menggunakan Grounding Steel Wire (GSW) untuk mencegah kawat layang-layang langsung menempel ke saluran penghantar. Konstruksi pemasangan GSW diberikan pada Lampiran Operasi pembersihan layang-layang yang menempel di penyulang secara rutin di daerah-daerah yang berpotensi gangguan. Upaya non-teknis untuk mengatasi gangguan layang-layang, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Sosialisasi di daerah potensi bermain layangan yang tinggi untuk menghindari bermain layangan di dekat jaringan PLN. 2. Pemasangan/penyebaran spanduk mengenai bahaya bermain layangan di dekat jaringan PLN. 3. Mensosialisasikan langsung kepada pengguna dan produsen layangan mengenai kerugian yang akan timbul bila bermain layangan tidak pada tempatnya serta penggunaan bahan layangan yang tidak seharusnya. 4. Berkordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk menjadikan perhatian khusus terhadap penggunaan layangan yang tidak sewajarnya (dari segi dimensi dan bahan benang yang digunakan). Beberapa contoh sosialisasi bahaya bermain layangan di dekat jaringan PLN ditunjukkan pada Gambar Gambar Sosialisasi Bahaya Bermain Layang-Layang Di Dekat Jaringan PLN

81 Evaluasi Hasil Penekanan Gangguan Layang-Layang Hasil dari upaya penekanan gangguan penyulang akibat layang-layang dapat dilihat dari angka gangguan layang-layang yang terjadi pada tahun 2014, apakah jumlah gangguan tersebut mengalami penurunan atau tidak. Berikut pada Gambar 4.13 diberikan perbandingan gangguan penyulang akibat layang-layang dari tahun 2012 sampai bulan September tahun 2014 di Rayon Garut Kota. Jumlah Gangguan Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Bulan Gambar Grafik Perbandingan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Tahun Total gangguan penyulang akibat layang-layang pada tahun 2012 adalah 26 gangguan, meningkat pada tahun 2013 menjadi sebanyak 66 gangguan, dan pada tahun 2014 terhitung ada 34 gangguan penyulang akibat layang-layang yang terjadi sampai bulan September Angka tersebut menunjukkan telah terjadi penurunan tingkat gangguan yang terjadi dibandingkan dengan tahun Beberapa gangguan penyulang akibat layang-layang yang masih terjadi dapat disebabkan beberapa faktor, seperti penggantian kawat terbuka A3C ke kawat berisolasi A3CS dan pemasangan grounding steel wire (GSW) yang belum menyeluruh, masih terdapatnya layang-layang di beberapa titik SUTM yang menyebabkan gangguan penyulang, serta sosialisasi mengenai bahaya bermain layang-layang di sekitar SUTM terhadap masyarakat yang masih kurang efektif, sehingga masih banyak permainan layang-layang yang dilakukan di sekitar jaringan PLN.

82 Perencanaan Optimasi Penyulang Dari Gangguan Layang-Layang Untuk meningkatkan hasil penekanan gangguan layang-layang, pada subbab ini akan dibuat perencanaan optimasi penyulang dengan mengganti kawat terbuka (tanpa isolasi) A3C menjadi kawat berisolasi A3CS. Solusi ini merupakan solusi terbaik untuk mencegah agar layang-layang yang menempel atau melilit di SUTM tidak akan langsung menyebabkan gangguan pada penyulang, sehingga angka pemadaman dapat menurun. Rencana penggantian kawat A3C ke A3CS dilakukan pada penyulang dengan angka gangguan layang-layang tinggi, yaitu penyulang CGSO, MGWT, dan SUCI. Berikut pada Tabel 4.11 diberikan data panjang kawat A3C pada ketiga penyulang tersebut. Tabel Data Panjang Penggantian Kawat A3C No. Penyulang Panjang Kawat A3C 1 CGSO 28,047 kms 2 MGWT 63,574 kms 3 SUCI 23,585 kms Dengan melakukan penggantian kawat A3C, seluruh jenis material yang menyusun ketiga penyulang tersebut akan berubah menjadi kawat berisolasi A3CS. Sehingga, angka kerugian pihak PLN dapat diturunkan. Kerugian pihak PLN setelah dilakukan penggantian kawat A3C menjadi A3CS diberikan pada Tabel Dengan optimasi jaringan pada penyulang CGSO, MGWT, dan SUCI, kerugian yang dialami PLN akibat gangguan layang-layang adalah sebesar Rp ,00 dengan ,1 kwh tak terjual. Ini berarti kerugian PLN telah berkurang sebanyak Rp ,00 dari kerugian akibat gangguan layanglayang pada tahun Selain itu, dampak positif lain dari penggantian kawat A3C menjadi A3CS ini juga dapat meningkatkan keandalan sistem distribusi, dimana pada tahun 2013 nilai SAIFI dan SAIDI belum memenuhi target kerja yang telah ditetapkan Rayon Garut Kota.

83 67 Tabel Estimasi Kerugian PLN Setelah Optimasi Jaringan No. Penyulang Amp Durasi (mnt) kwh tak tersalurkan Rupiah 1 INTI , INTU , INTU , INTI , INTI , DSKT , DSKT , INTI , TLBS , DSKT , INTI , TOTAL , Dengan melihat grafik gangguan per penyulang tahun 2013 pada Gambar 4.8 diketahui jumlah padam akibat gangguan layang-layang pada ketiga penyulang yang dioptimasi adalah sebanyak 55 kali padam. Ini berarti, dari total 150 kali pemadaman yang terjadi oleh karena disebabkan masalah pada SUTM, 55 kali padam atau sebesar 37% telah berkurang. Sehingga SAIFI sistem setelah optimasi dapat dihitung dengan cara sebagai berikut. pemadaman/pelanggan/tahun Nilai SAIFI setelah dioptimasi tersebut menunjukkan peningkatan dari nilai sebelumnya di tahun Walaupun masih belum memenuhi target kerja yang ditetapkan sebesar 5,2 kali pemadaman/pelanggan/tahun, nilai SAIFI setelah optimasi ini sudah mendekati target kerja. Sedangkan untuk melihat dampak optimasi jaringan pada parameter SAIDI, dilihat dari durasi pemadaman pada penyulang yang diakibatkan layanglayang pada tahun Lama pemadaman total akibat layang-layang pada ketiga

84 68 penyulang yang dioptimasi adalah sebesar 1132 menit, yang berarti mengurangi 38% dari SAIDI SUTM. Nilai SAIDI sistem setelah dioptimasi dapat dihitung dengan menggunakan cara berikut. jam padam/pelanggan/tahun Dari hasil perhitungan di atas, terlihat bahwa nilai SAIDI setelah dioptimasi lebih kecil dari sebelum optimasi. Hal tersebut menunjukkan peningkatan pada parameter SAIDI yang semakin mendekati target kerja Rayon Garut Kota. Secara keseluruhan, perencanaan hasil optimasi jaringan dengan mengganti kawat terbuka A3C menjadi kawat berisolasi A3CS menunjukkan penurunan kerugian pada pihak PLN dan peningkatan keandalan sistem distribusi. Tetapi kendala di dalam optimasi ini adalah dari segi biaya penggantian yang mahal. Sebagai solusi alternatif yang lebih ekonomis, optimasi jaringan dapat dilakukan dengan memasang GSW (Grounding Steel Wire) pada jaringan.

85 BAB 5 KESIMPULAN Dari hasil analisis yang dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Jenis gangguan yang disebabkan oleh menempel atau membelitnya layang-layang pada SUTM dapat berupa gangguan hubung singkat 3 fasa, 2 fasa, 2 fasa ke tanah, 1 fasa ke tanah, dan putusnya kawat penghantar. 2. Dampak dari gangguan penyulang akibat layang-layang dapat merugikan pihak PLN dan konsumen dikarenakan terhentinya pasokan listrik, menurunnya keandalan sistem distribusi, kerusakan pada peralatan sistem, dan berbahaya bagi manusia karena bisa terkena sengatan listrik apabila mengenai bagian peralatan (kawat penghantar) yang rusak atau putus. 3. Solusi secara teknis yang dapat dilakukan untuk menekan gangguan penyulang oleh layang-layang adalah penggantian kawat terbuka dengan penghantar berisolasi, penggunaan GSW (Grounding Steel Wire), dan operasi rutin pembersihan SUTM dari sampah layang-layang. 4. Solusi non-teknis dalam upaya menekan terjadinya pemadaman akibat gangguan layang-layang adalah dengan sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya bermain layang-layang di dekat jaringan PLN melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik. 69

86 70 DAFTAR ACUAN [1] Sarimun, Wahyudi. (2011). Buku Saku Pelayanan Teknik. Kota Depok: Garamond. [2] Rendra, Prambudhi Setyo. (2010). Analisa Penentuan Lokasi Dan Jumlah Sectionalizer Untuk Peningkatan Keandalan Sistem Distribusi. Tesis. 11 November Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. [3] Buku AST (Yusreni Warmi). (t.d.). 30 September [4] (t.p.). (2008). Sistem Distribusi Tenaga Listrik. 14 Oktober [5] Kadir, Abdul. (2000). Distribusi dan Utilisasi Tenaga Listrik. Jakarta: (UI-Press). [6] Courtney, Martin. (15 Oktober 2013). Whatever Happened To Broadband Over Power Line?. Engineering and Technology Magazine. 4 November [7] Edvard. (22 Oktober 2010). Types of Underground Lines. Electrical Engineering Portal. 4 November [8] Suswanto, Daman. (25 November 2010). Bab 2 Klasifikasi Jaringan Distribusi.Sistem Distribusi Tenaga Listrik. [9] Hammer, Cutler. (1999). Learning Module 3: Fundamentals Of Electrical Distribution. Fundamentals Of Electrical Distribution. 15 November [10] Sarimun, Wahyudi. (2012). Proteksi Sistem Distribusi Tenaga Listrik. Kota Depok: Garamond. [11] (t.p.). (2011). Memahami Pemadaman Listrik. PT PLN (Persero) Distribusi Lampung. 11 November

87 71 [12] (t.d.). Vacuum Circuit Breaker/Outdoor. Direct Industry: The Online Industrial Exhibition. 25 November [13] Newton, Gerald. (2008) NEC Change Test November [14] (t.d.). Outdoor Indoor Load Break Switch. Power Protection. 25 November [15] (t.p.). (11 November 2013). Energy Management: Disconnect Switch For Line Sectionalizing, Isolation Of Distribution Circuits. Utility Products. 25 November [16] (t.p.) (2010). Buku 5: Standar Konstruksi Jaringan Tegangan Menengah Tenaga Listrik. PT. PLN (Persero). [17] Edvard. (15 Juli 2012). Autoreclosing in Transmission and Distribution Systems. Electrical Engineering Portal. 25 November [18] (t.d.). Distribution Systems: Protective Equipment. United States Department Of Labor. 25 November tribution_system/protective_equipment.html [19] (t.p.). (29 Juni 2009). Kesalahan Setting Relay Pembatas Beban F November [20] (t.p.). (2014). Profil Daerah Kabupaten Garut. 11 Januari

88 72 DAFTAR PUSTAKA Coffer, Walter. Faulkenberry, Luces M Electrical Power Distribution and Transmission. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Sarimun, Wahyudi Proteksi Sistem Distribusi Tenaga Listrik. Depok: Garamond. Sarimun, Wahyudi Buku Saku Pelayanan Teknik. Depok: Garamond. SPLN41-10: Penghantar Aluminium Paduan Berselubung Polietilen Ikat Silang (AAAC-S). Affandi, Irfan Analisa Setting Relai Arus Lebih Dan Relai Gangguan Tanah Pada Penyulang Sadewa Di GI Cawang. Depok: Universitas Indonesia. Kelompok Kerja Standar Kontruksi Jaringan Disribusi Tenaga Listrik dan Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Buku 1 Kriteria Desain Enjinering Kontruksi Jaringan Disribusi Tenaga Listrik. Jakarta: PT. PLN (Persero). Kelompok Kerja Standar Kontruksi Disribusi Jaringan Tenaga Listrik dan Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Buku 5 Standar Kontruksi Jaringan Tegangan Menengah Tenaga Listrik. Jakarta: PT. PLN (Persero).

89 73 Lampiran 1. Data Aset Gardu Rayon Garut Kota URAIAN TIPE CGSO CLWU DSKT INTI INTU SUCI MGWT TLBS JUMLAH TIPE GARDU CANTOL PORTAL TEMBOK LAMA R ST JUMLAH GARDU KVA TRAFO JUMLAH KVA TERPASANG

90 74 Lampiran 2. Data Aset SUTM Rayon Garut Kota URAIAN UKURAN CGSO CLWU DSKT INTI INTU SUCI MGWT TLBS JUMLAH Panjang SUTM A3C 150 4,718 10,865 5, ,563 25,227 0, ,267 A3C 70 22,469-5,566 0,488-2,648 27,647-58,818 A3C 35 0,860 4,144 2, ,374 10,700-19,361 A3CS 150 3,582 8,968 0,533 22,453 1,050 12,947 27,161 0,576 77,270 A3CS ,501-0,778 2,922-20,201 XLPE ,452 1,952 0, ,426 TOTAL (Kms) 31,753 24,120 14,309 39,988 31,282 38,365 93,771 14, ,070

91 75 Lampiran 3. Data Aset Tiang Rayon Garut Kota URAIAN UKURAN CGSO CLWU DSKT INTI INTU SUCI MGWT TLBS JUMLAH JENIS TIANG BETON BETON BULAT BETON PERSEGI BESI BETON JUMLAH TIANG 11/350 DAN /200 DAN /200 DAN /350 DAN TOTAL ACC SUTM TRVERS TUMPU TRVERS D. TUMPU TRVERS AFSPAN TRVERS AFSPAN TRVERS AFSPAN TRAVERS V ISOLATOR AFSPAN ISOLATOR TUMPU

92 76 (Sambungan) Lampiran 3 URAIAN UKURAN CGSO CLWU DSKT INTI INTU SUCI MGWT TLBS JUMLAH ACC SUTM CUT OUT ARRESTER PENTANAHAN TM KABEL NAIK/TURUN LBS/PTS RECLOSER

93 77 Lampiran 4. Impedansi Penghantar Tahanan (R) dan Reaktansi (X L ) Penghantar AAAC Tegangan 20 kv (Dikutip dari SPLN: 1985) Luas Penampang (mm 2) Jari-jari (mm) U (rat) GMR (mm) Impedansi Urutan Positif (Ohm/km) Impedansi Urutan Nol (Ohm/km) 16 2, ,6380 2, j 0,4036 2, j 1, , ,0475 1,2903+ j 0,3895 1, j 1, , ,4227 0, j 0,3790 1, j 1, , ,8957 0, j 0,3678 0, j 1, , ,4262 0, j 0,3572 0, j 1, , ,1674 0, j 0,3449 0,4876+ j 1, , ,6837 0, j 0,3376 0, j 1, , ,2365 0, j 0,3305 0, j 1, , ,8155 0, j 0,3239 0,3224+ j 1, , ,6238 0, j 0,3158 0, j 1,6034 Impedansi Kabel Tanah Dengan Penghantar Aluminium Luas Penampang (mm 2) R (Ohm/km) L (mh/km) C (pf/km) Impedansi Urutan Positif (Ohm/km) Impedansi Urutan Nol (Ohm/km) 150 0,206 0,33 0,26 0,206 + j 0,104 0,356 + j 0, ,125 0,31 0,31 0,125 + j 0,097 0,275 + j 0, ,100 0,30 0,34 0,100 + j 0,094 0,250 + j 0,282

94 78 Lampiran 5. Kerugian PLN Rayon Garut Kota Akibat Layang-Layang Th No. Tanggal Penyulang Amp Durasi (mnt) kwh Tak tersalurkan Rupiah 1 01/01/2012 CGSO , /04/2012 CGSO , /05/2012 TLBS , /06/2012 CGSO , /06/2012 TLBS , /06/2012 CGSO , /06/2012 DSKT , /07/2012 INTU , /07/2012 CGSO , /08/2012 DSKT , /08/2012 DSKT , /08/2012 DSKT , /08/2012 CGSO , /08/2012 CGSO , /08/2012 CGSO , /08/2012 DSKT , /08/2012 CGSO , /08/2012 CGSO , /08/2012 CGSO , /08/2012 CGSO , /09/2012 CGSO , /09/2012 DSKT , /10/2012 CGSO , /11/2012 DSKT , /11/2012 CGSO , /11/2012 TLBS , TOTAL ,

95 79 Lampiran 6. Kerugian PLN Rayon Garut Kota Akibat Layang-Layang Th No. Tanggal Penyulang Amp Durasi (mnt) kwh tak tersalurkan Rupiah 1 19/02/2013 CGSO , /04/2013 CGSO , /05/2013 INTI , /05/2013 INTU , /05/2013 INTU , /05/2013 SUCI , /05/2013 SUCI , /06/2013 MGWT , /06/2013 SUCI , /06/2013 SUCI , /06/2013 INTI , /06/2013 SUCI , /06/2013 MGWT , /06/2013 MGWT , /06/2013 MGWT , /07/2013 SUCI , /07/2013 INTI , /07/2013 MGWT , /07/2013 DSKT , /07/2013 MGWT , /07/2013 MGWT , /07/2013 MGWT , /08/2013 CGSO , /08/2013 MGWT , /08/2013 SUCI , /08/2013 MGWT , /08/2013 CGSO , /08/2013 CGSO ,

96 80 (Sambungan) Lampiran 6 No. Tanggal Penyulang Amp Durasi kwh tak (mnt) tersalurkan Rupiah 29 11/08/2013 DSKT , /08/2013 SUCI , /08/2013 SUCI , /08/2013 MGWT , /08/2013 MGWT , /08/2013 MGWT , /08/2013 CGSO , /08/2013 INTI , /09/2013 MGWT , /09/2013 MGWT , /09/2013 MGWT , /09/2013 TLBS , /09/2013 CGSO , /09/2013 CGSO , /09/2013 CGSO , /09/2013 SUCI , /09/2013 CGSO , /09/2013 MGWT , /09/2013 CGSO , /09/2013 SUCI , /09/2013 CGSO , /09/2013 SUCI , /09/2013 CGSO , /10/2013 CGSO , /10/2013 CGSO , /10/2013 CGSO , /10/2013 SUCI , /10/2013 SUCI , /10/2013 SUCI ,

97 81 (Sambungan) Lampiran 6 No. Tanggal Penyulang Amp Durasi kwh tak (mnt) tersalurkan Rupiah 58 19/10/2013 DSKT , /10/2013 INTI , /10/2013 CGSO , /10/2013 SUCI , /10/2013 MGWT , /11/2013 CGSO , /11/2013 SUCI , /11/2013 MGWT , /11/2013 CGSO , TOTAL ,

98 Lampiran 7. Rincian Nilai SAIFI dan SAIDI Rayon Garut Kota Tahun Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan (Kali) Padam (Jam) Pelanggan Padam Total Rata-rata Total Rata-rata Januari SR & APP , , , , , SUTR 2 0,42 6 0, ,8E-06 2,46865E-05 2,05721E-06 SUTM 16 3, , , , , Februari SR & APP , , , , , SUTR 8 1,9 23 0, , , ,56746E-05 SUTM 3 0, , , , ,9488E-05 Maret SR & APP , , , , , SUTR 36 6, , , , , SUTM 4 1, , , , , April SR & APP , , , , , SUTR 36 6, , , , , SUTM 3 0, , , , , Mei SR & APP , , , , , SUTR 10 2, , , , ,66889E-05 SUTM 12 26, , , , ,

99 83 (Sambungan) Lampiran 7 Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan Padam Pelanggan (Kali) (Jam) Padam Total Rata-rata Total Rata-rata Juni SR & APP , , , , , SUTR 9 2, , , , ,06142E-05 SUTM 18 3, , , , , SKTM 1 0,8 1 9,8E-06 8,16E-07 7,83699E-06 6,53083E-07 Juli SR & APP , , , , , SUTR 13 4, , , , , SUTM 23 10, , , , , Agustus SR & APP , , , , , SUTR 36 6, , , , , SUTM 17 2, , , , , September SR & APP , , , , , SUTR 36 6, , , , , SUTM 6 1, , , , , Oktober SR & APP , ,1428 0,0119 0, , SUTR 49 7,5 49 0, , , , SUTM 8 3, , , , ,

100 84 (Sambungan) Lampiran 7 Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan Padam Pelanggan (Kali) (Jam) Padam Total Rata-rata Total Rata-rata November SR & APP , , , , , SUTR 36 6, , , , , SUTM 8 2, , , , , Desember SR & APP , , , , , SUTR 36 6, , , , , SUTM 3 0, , , , , TOTAL , , , , ,

101 Lampiran 8. Rincian Nilai SAIFI dan SAIDI Rayon Garut Kota Tahun Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan (Kali) Padam (Jam) Pelanggan Padam Total Rata-rata Total Rata-rata Januari SR & APP , , , , , SUTR 14 3, , , , , SUTM 7 1, , , , , Februari SR & APP , , , , , SUTR 8 2, , , , ,88481e-05 SUTM 9 2, , , , , Maret SR & APP , , , , , SUTR 18 4, , , , , SUTM 9 2, , , , , April SR & APP , , , , , SUTR 12 3, , , , , SUTM 16 4, , , , , Mei SR & APP , , , , , SUTR 10 3, , , , , SUTM 9 2, , , , ,

102 86 (Sambungan) Lampiran 8 Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan Padam Pelanggan (Kali) (Jam) Padam Total Rata-rata Total Rata-rata Juni SR & APP , , , , , SUTR 10 2, , , , , SUTM 11 2, , , , , Juli SR & APP , , , , , SUTR , , , , , SUTM 9 1, , , , , Agustus SR & APP , , , , , SUTR 38 6, , ,001 0, , TRAFO 34 5, , , , , SUTM 20 9, , , , , September SR & APP , , , , , SUTR 36 6, , , , , SUTM 18 7, , , , , Oktober SR & APP , , , , , SUTR 18 4, , , , , SUTM 17 4, , , , ,

103 87 (Sambungan) Lampiran 8 Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan Padam Pelanggan (Kali) (Jam) Padam Total Rata-rata Total Rata-rata November SR & APP , , , , , SUTR 12 3, , , , , SUTM 16 4, , , , , Desember SR & APP , , , , , SUTR 10 3, , , , , SUTM 9 4, , , , , TOTAL , , , , ,

104 Lampiran 9. Diagram Garis Tunggal Penyulang Desa Kolot (DSKT) 88

105 Lampiran 10. Diagram Garis Tunggal Penyulang Cilawu (CLWU) 89

106 90 Lampiran 11. Diagram Garis Tunggal Penyulang Margawati (MGWT)

107 Lampiran 12. Diagram Garis Tunggal Penyulang Cigasong (CGSO) 91

108 Lampiran 13. Diagram Garis Tunggal Penyulang Intan Tiga (INTI) 92

109 Lampiran 14. Diagram Garis Tunggal Penyulang Intan Satu (INTU) 93

110 94 Lampiran 15. Diagram Garis Tunggal Penyulang Talaga Bodas (TLBS)

111 95 Lampiran 16. Diagram Garis Tunggal Penyulang Talaga Bodas (TLBS)

112 96 Lampiran 17. Konstruksi Pemasangan Ground Steel Wire (GSW)

113 Lampiran 18. Data Padam Akibat Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 1 01/01/2012 CGSO OCRM 14:02 14: , LAYANG2/UMBUL2 2 08/01/2012 INTU GFTD 4:55 5: , ,4 628,5 ALAM 3 24/01/2012 CGSO BC 13:58 14: ,1 32,5 288,3 8,97 288,3 ALAM 4 24/01/2012 CGSO 62 0 OCRM 23:44 23: ,12 91, ALAM 5 25/01/2012 CGSO OCRM 9:03 9: ,62 0, ALAM 6 26/01/2012 CGSO OCRM 12:24 12: , , ALAM 7 26/01/2012 DSKT 80 0 OCRM 12:32 12: ,5 4, ALAM 8 26/01/2012 DSKT OCRM 13:14 13: , ALAM 9 25/02/2012 CGSO OCRM 18:20 18: , , ,7 ALAM 10 26/02/2012 DSKT OCRM 10:53 11: , ALAM 11 28/02/2012 CGSO OCTD 14:48 14: PH 3/BINATANG 12 01/03/2012 CGSO 28 0 OCRM 14:50 14: , ALAM 13 21/03/2012 TLBS GFTD 17:43 18: ,5 427 KOMP_JTM 14 23/03/2012 TLBS 72 BC 17:08 17: , ALAM 15 26/03/2012 TLBS 250 GFTD 20:02 20: , ,7 744,5 KOMP_JTM 16 13/04/2012 CGSO OCRM 15:57 16: , LAYANG2/UMBUL /04/2012 CGSO 58 0 OCRM 3:00 3: , ALAM 18 07/05/2012 TLBS OCRM 13:36 13: , KOMP_JTM 19 18/05/2012 TLBS OCRM 16:11 16: , LAYANG2/UMBUL /05/2012 TLBS GFTD 18:05 18: , PH 3/BINATANG 21 02/06/2012 CGSO 36 0 OCRM 12:14 12: LAYANG2/UMBUL /06/2012 TLBS OCTD 8:10 9: , KOMP_JTM 97

114 (Sambungan) Lampiran 18 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 23 07/06/2012 INTI OCRM 8:10 8: , KOMP_JTM 24 19/06/2012 TLBS GFTD 20:12 21: ,5 817 LAYANG2/UMBUL /06/2012 CGSO BC 16:58 17: ,37 159,7 151,5 0,73 159,7 LAYANG2/UMBUL /06/2012 DSKT OCRM 16:54 16: , LAYANG2/UMBUL /07/2012 INTU GFTD 17:34 18: ,5 189, ,4 850 LAYANG2/UMBUL /07/2012 CGSO OCRM 10:20 10: ,75 5, LAYANG2/UMBUL /07/2012 CGSO OCRM 17:03 17: ,75 195, POHON 30 29/07/2012 CGSO 54 0 OCRM 16:43 16: ,26 11,46 53,25 37,43 53,25 KOMP_JTM 31 08/08/2012 DSKT OCRM 16:08 16: LAYANG2/UMBUL /08/2012 DSKT OCRM 16:53 16: ,5 63,8 63, ,5 LAYANG2/UMBUL /08/2012 DSKT OCRM 8:56 9: LAYANG2/UMBUL /08/2012 CGSO 33 0 OCRM 12:55 12: PERALATAN_JTM 35 14/08/2012 CGSO 51 0 OCRM 17:05 17: ,5 70, PERALATAN_JTM 36 18/08/2012 TLBS GFTD 22:04 22: KOMP_JTM 37 20/08/2012 TLBS BC 10:20 10: ,5 119,5 74 0,73 129,5 PERALATAN_JTM 38 21/08/2012 CGSO 67 0 OCRM 6:12 6: , LAYANG2/UMBUL /08/2012 CGSO 30 0 OCRM 10:32 10: , LAYANG2/UMBUL /08/2012 INTU GFTD 20:24 21: ,5 663, ,1 663,5 PERALATAN_JTM 41 24/08/2012 TLBS BC 21:22 21: , PERALATAN_JTM 42 25/08/2012 CGSO 38 0 OCRM 13:12 13: ,5 0, LAYANG2/UMBUL /08/2012 DSKT OCRM 17:00 17: LAYANG2/UMBUL /08/2012 CGSO 46 0 OCRM 17:45 17: , LAYANG2/UMBUL2 98

115 (Sambungan) Lampiran 18 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 45 31/08/2012 CGSO 38 0 OCRM 13:07 13: , LAYANG2/UMBUL /08/2012 CGSO BC 15:31 15: ,2 29,62 1,87 0,91 31,2 LAYANG2/UMBUL /08/2012 CGSO BC 15:53 15: ,12 30,75 1,87 0,91 31,12 LAYANG2/UMBUL /09/2012 CLWU GFTD 22:11 22: , KOMP_JTM 49 06/09/2012 CLWU GFTD 22:15 23: KOMP_JTM 50 06/09/2012 INTI GFTD 22:41 22: KOMP_JTM 51 08/09/2012 CGSO 40 0 OCRM 16:30 16: ,87 10, LAYANG2/UMBUL /09/2012 CGSO 32 0 OCRM 17:23 17: , , PERALATAN_JTM 53 24/09/2012 DSKT OCRM 17:16 17: , LAYANG2/UMBUL /10/2012 DSKT 0 OCRM 8:18 8: KOMP_JTM 55 08/10/2012 INTU GFTD 18:55 20: ,2 217, ,5 509 PERALATAN_JTM 56 13/10/2012 DSKT OCRM 10:14 10: , PERALATAN_JTM 57 15/10/2012 DSKT OCRM 9:02 9: , , POHON 58 18/10/2012 CLWU GFTD 21:50 22: ,5 224, ,2 994 KOMP_JTM 59 18/10/2012 INTU GFTD 23:28 23: ,5 403,7 526 PERALATAN_JTM 60 22/10/2012 INTU OCRM 17:55 18: , PERALATAN_JTM 61 28/10/2012 CGSO 42 0 OCRM 14:13 14: ,2 1, LAYANG2/UMBUL /11/2012 DSKT OCRM 17:28 17: , LAYANG2/UMBUL /11/2012 DSKT 0 OCRM 16:13 16: , ALAM 64 09/11/2012 CGSO 43 2 OCRM 10:43 10: LAYANG2/UMBUL /11/2012 TLBS OCRM 15:50 15: ,2 218, , LAYANG2/UMBUL /11/2012 DSKT OCRM 14:46 14: , , KOMP_JTM 99

116 (Sambungan) Lampiran 18 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 67 19/11/2012 TLBS 104 OCGFM 8:55 9: PERALATAN_JTM 68 26/11/2012 CGSO OCRM 20:23 22: ,75 601, PERALATAN_JTM 69 30/11/2012 CLWU OCRM 16:47 17: , KOMP_JTM 70 08/12/2012 CGSO OCRM 14:20 14: , KOMP_JTM 71 16/12/2012 CGSO 47 0 OCRM 14:57 15: ,3 705,3 900, ALAM 72 28/12/2012 TLBS OCRM 18:55 19: , KOMP_JTM 100

117 Lampiran 19. Data Padam Akibat Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 1 07/01/2013 CGSO 43 0 OCRM 14:09 14: ALAM 2 09/01/2013 TLBS 227 OCRM 19:50 19: , ALAM 3 09/01/2013 CGSO OCRM 23:14 23: ,2 0, ALAM 4 10/01/2013 DSKT GFM 12:35 13: POHON 5 26/01/2013 INTI BC 15:21 16: ,5 168,5 6,5 2,31 168,5 KOMP_JTM 6 03/02/2013 DSKT OCTD 17:21 17: , KOMP_JTM 7 03/02/2013 INTI 87 GFTD 17:52 18: ,5 255 POHON 8 03/02/2013 MGWT GFTD 17:27 18: ALAM 9 09/02/2013 DSKT 119 OCRM 13:31 13: ALAM 10 10/02/2013 CGSO BC 12:22 12: , KOMP_JTM 11 19/02/2013 CGSO 38 OCRM 14:05 15: LAYANG2/UMBUL /03/2013 SUCI GFTD 15:21 17: , , ,9 ALAM 13 13/03/2013 CGSO 29 0 OCRM 13:29 13: ALAM 14 14/03/2013 SUCI GFTD 18:18 18: ,1 733 PH3/BINATANG 15 15/03/2013 SUCI GFTD 19:21 20: ,6 621 KOMP_JTM 16 21/03/2013 MGWT 10 OCTD 13:57 14: ALAM 17 26/03/2013 CLWU GFTD 12:14 12: ,5 223, ,1 678,5 KOMP_JTM 18 29/03/2013 MGWT 11 9 OCTD 15:40 15: , PH3/BINATANG 19 29/03/2013 MGWT 11 GFTD 16:40 16: POHON 20 31/03/2013 SUCI OCTD 15:42 15: ALAM 21 31/03/2013 MGWT 15 OCTD 2:49 2: ALAM

118 102 (Sambungan) Lampiran 19 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 22 07/04/2013 CLWU OCTD 15:36 16: , POHON 23 11/04/2013 SUCI GFTD 0:43 0: ALAM 24 11/04/2013 SUCI GFTD 3:23 3: ALAM 25 20/04/2013 MGWT GFTD 18:10 18: POHON 26 23/04/2013 MGWT GFTD 19:05 20: ,4 606 KOMP_JTM 27 26/04/2013 CGSO 38 OCRM 15:30 15: LAYANG2/UMBUL /05/2013 INTI 142 OCRM 17:31 17: LAYANG2/UMBUL /05/2013 INTU 82 0 GFTD 8:45 9: ,5 595,5 438,5 595,5 LAYANG2/UMBUL /05/2013 INTU GFTD 15:15 15: LAYANG2/UMBUL /05/2013 SUCI GFTD 22:15 22: LAYANG2/UMBUL /05/2013 SUCI GFTD 22:41 22: KOMP_JTM 33 23/05/2013 SUCI GFTD 6:35 6: KOMP_JTM 34 26/05/2013 MGWT 30 0 OCRM 18:45 18: ALAM 35 29/05/2013 SUCI GFTD 12:18 12: ,5 3,95 86,5 5,12 86,5 LAYANG2/UMBUL /06/2013 MGWT OCTD 11:39 11: LAYANG2/UMBUL /06/2013 SUCI BC 19:10 20: , ALAM 38 03/06/2013 SUCI OCTD 9:00 9: , ALAM 39 09/06/2013 SUCI OCTD 11:35 11: , LAYANG2/UMBUL /06/2013 SUCI OCTD 14:55 15: , LAYANG2/UMBUL /06/2013 INTI GFM 17:07 17: , LAYANG2/UMBUL /06/2013 MGWT 10 9 GFTD 14:45 14: ,3 337 POHON 43 19/06/2013 SUCI GFTD 5:49 5: LAYANG2/UMBUL2

119 103 (Sambungan) Lampiran 19 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 44 21/06/2013 MGWT 9 9 OCTD 15:22 15: LAYANG2/UMBUL /06/2013 MGWT OCRM 16:32 16: LAYANG2/UMBUL /06/2013 MGWT OCTD 16:11 16: LAYANG2/UMBUL /06/2013 CGSO OCRM 11:26 11: , , KOMP_JTM 48 01/07/2013 SUCI OCTD 16:50 16: LAYANG2/UMBUL /07/2013 SUCI 166 OCTD 10:15 10: KOMP_JTM 50 07/07/2013 INTI 0 OCRM 17:26 17: LAYANG2/UMBUL /07/2013 MGWT OCTD 7:15 7: LAYANG2/UMBUL /07/2013 DSKT OCRM 10:45 10: , LAYANG2/UMBUL /07/2013 SUCI GFTD 7:03 7: POHON 54 19/07/2013 MGWT OCTD 16:16 16: LAYANG2/UMBUL /07/2013 SUCI GFTD 13:56 14: KOMP_JTM 56 20/07/2013 MGWT OCTD 15:04 15: LAYANG2/UMBUL /07/2013 CGSO 35 2 OCRM 7:31 7: , KOMP_JTM 58 21/07/2013 SUCI GFTD 11:33 11: ,5 259 POHON 59 23/07/2013 CGSO OCRM 14:48 14: KOMP_JTM 60 27/07/2013 MGWT 124 GFTD 16:53 16: ,2 526,5 118,5 433,7 526,5 LAYANG2/UMBUL /07/2013 SUCI OCTD 8:32 8: ,6 941, ,6 ALAM 62 03/08/2013 CGSO 31 2 OCRM 14:16 14: LAYANG2/UMBUL /08/2013 MGWT 10 OCTD 14:04 14: LAYANG2/UMBUL /08/2013 SUCI OCTD 16:17 16: , LAYANG2/UMBUL /08/2013 MGWT 10 OCTD 16:18 16: LAYANG2/UMBUL2

120 104 (Sambungan) Lampiran 19 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 66 09/08/2013 CGSO 33 OCRM 16:55 17: , , LAYANG2/UMBUL /08/2013 CGSO 36 0 OCRM 16:21 16: , LAYANG2/UMBUL /08/2013 DSKT OCRM 16:42 16: ,3 4,5 3,56 3,57 40,3 LAYANG2/UMBUL /08/2013 SUCI OCTD 15:28 15: , LAYANG2/UMBUL /08/2013 SUCI GFTD 9:10 9: ,6 562 LAYANG2/UMBUL /08/2013 CLWU GFTD 10:14 12: ,5 164,5 515, KOMP_JTM 72 25/08/2013 SUCI OCTD 12:40 13: , KOMP_JTM 73 25/08/2013 SUCI 42 GFTD 13:50 13: ,3 559 KOMP_JTM 74 26/08/2013 MGWT 63 0 OCTD 13:40 14: LAYANG2/UMBUL /08/2013 MGWT GFTD 14:10 14: LAYANG2/UMBUL /08/2013 MGWT GFTD 16:28 17: ,2 417 LAYANG2/UMBUL /08/2013 CLWU 217 BC 17:55 18: ,5 311,5 304,5 2,53 311,5 KOMP_JTM 78 29/08/2013 CLWU 18:58 19: KOMP_JTM 79 29/08/2013 CLWU 19:22 19: KOMP_JTM 80 30/08/2013 CGSO 38 0 OCRM 16:35 16: , LAYANG2/UMBUL /08/2013 INTI :35 15: , LAYANG2/UMBUL /09/2013 MGWT GFTD 15:10 15: ,8 745 LAYANG2/UMBUL /09/2013 MGWT OCTD 16:45 17: , LAYANG2/UMBUL /09/2013 MGWT GFTD 15:09 15: LAYANG2/UMBUL /09/2013 TLBS 26 8 GFTD 10:09 10: LAYANG2/UMBUL /09/2013 CGSO 40 3 OCRM 17:28 18: ,1 704, LAYANG2/UMBUL /09/2013 CGSO 38 0 OCRM 9:34 9: ,62 452, LAYANG2/UMBUL2

121 105 (Sambungan) Lampiran 19 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 88 09/09/2013 CGSO OCRM 17:29 17: ,62 2, LAYANG2/UMBUL /09/2013 SUCI GFTD 2:15 3: LAYANG2/UMBUL /09/2013 SUCI GFTD 3:35 3: KOMP_JTM 91 15/09/2013 SUCI GFTD 5:08 5: ,8 642 KOMP_JTM 92 15/09/2013 CGSO 30 0 OCRM 15:25 15: , , LAYANG2/UMBUL /09/2013 SUCI GFTD 12:44 12: KOMP_JTM 94 20/09/2013 MGWT 9 OCTD 15:51 16: , LAYANG2/UMBUL /09/2013 CGSO OCRM 16:56 17: ,62 2, LAYANG2/UMBUL /09/2013 SUCI OCTD 14:45 15: , LAYANG2/UMBUL /09/2013 CGSO 37 OCRM 16:32 16: , , LAYANG2/UMBUL /09/2013 SUCI GFTD 0:29 0: ,9 719 LAYANG2/UMBUL /09/2013 CGSO OCRM 12:06 12: ,25 998, LAYANG2/UMBUL /10/2013 CGSO 36 2 OCRM 12:45 12: , KOMP_JTM /10/2013 CGSO OCRM 14:41 14: , LAYANG2/UMBUL /10/2013 SUCI GFTD 2:35 3: ,1 528 KOMP_JTM /10/2013 SUCI GFTD 14:15 14: ,2 605 KOMP_JTM /10/2013 SUCI GFTD 14:30 15: , KOMP_JTM /10/2013 SUCI OCTD 11:24 11: KOMP_JTM /10/2013 CGSO OCRM 15:00 15: , , LAYANG2/UMBUL /10/2013 CGSO 35 0 OCRM 14:32 14: ,75 30, LAYANG2/UMBUL /10/2013 SUCI OCTD 9:30 9: , LAYANG2/UMBUL /10/2013 SUCI OCTD 17:22 17: KOMP_JTM

122 106 (Sambungan) Lampiran 19 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan /10/2013 SUCI 179 OCTD 17:29 17: LAYANG2/UMBUL /10/2013 SUCI OCTD 14:30 14: , LAYANG2/UMBUL /10/2013 DSKT 139 OCTD 16:29 16: , LAYANG2/UMBUL /10/2013 INTI GFTD 5:44 5: ,5 101, ,6 701 LAYANG2/UMBUL /10/2013 CGSO OCRM 13:53 14: , LAYANG2/UMBUL /10/2013 SUCI GFTD 3:07 3: LAYANG2/UMBUL /10/2013 MGWT 24 3 GFTD 21:00 21: ,9 262 LAYANG2/UMBUL /11/2013 CGSO 32 0 OCRM 15:30 15: , , LAYANG2/UMBUL /11/2013 SUCI OCTD 17:01 17: LAYANG2/UMBUL /11/2013 MGWT 22 4 GFTD 18:16 19: ,7 250 LAYANG2/UMBUL /11/2013 SUCI GFTD 6:51 7: , PH3/BINATANG /11/2013 SUCI BC 15:34 15: , KOMP_JTM /11/2013 CGSO 0 4 OCRM 17:39 18: ,78 12, , LAYANG2/UMBUL /11/2013 CGSO 0 4 OCRM 18:14 18: ,03 78,37 581, KOMP_JTM /12/2013 SUCI OCGFM 13:44 15: KOMP_JTM /12/2013 CGSO 45 0 OCRM 16:13 16: ,62 4, KOMP_JTM /12/2013 DSKT OCRM 8:34 9: , , POHON /12/2013 MGWT 24 0 GFTD 20:30 21: ,8 333 ALAM /12/2013 CGSO 41 3 OCRM 7:36 8: , KOMP_JTM

123 Lampiran 20. Peta Wilayah Rawan Ganggua

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Jaringan Distribusi Sistem Tenaga listrik di Indonesia tersebar dibeberapa tempat, maka dalam penyaluran tenaga listrik dari tempat yang dibangkitkan sampai ke tempat

Lebih terperinci

BAB 2 KLASIFIKASI JARINGAN DISTRIBUSI

BAB 2 KLASIFIKASI JARINGAN DISTRIBUSI KLASIFIKASI JARINGAN DISTRIBUSI 11 BAB 2 KLASIFIKASI JARINGAN DISTRIBUSI A. Pendahuluan Sistem jaringan distribusi tenaga listrik dapat diklasifikasikan dari berbagai segi, antara lain adalah : 1. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distributed Generation Distributed Generation adalah sebuah pembangkit tenaga listrik yang bertujuan menyediakan sebuah sumber daya aktif yang terhubung langsung dengan jaringan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Proses Penyaluran Tenaga Listrik Ke Konsumen Didalam dunia kelistrikan sering timbul persoalan teknis, dimana tenaga listrik dibangkitkan pada tempat-tempat tertentu, sedangkan

Lebih terperinci

BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Awalnya energi listrik dibangkitkan di pusat-pusat pembangkit listrik seperti PLTA, PLTU, PLTG, PLTGU, PLTP dan PLTD dengan tegangan menengah 13-20 kv. Umumnya pusat

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Kinerja Distribusi PT. PLN (Persero) Area Jaringan Tangerang Secara umum kinerja distribusi di PT. PLN (Persero) Area Jaringan Tangerang mengalami penurunan yang baik

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Proses Penyaluran Tenaga Listrik Gambar 2.1. Proses Tenaga Listrik Energi listrik dihasilkan dari pusat pembangkitan yang menggunakan energi potensi mekanik (air, uap, gas, panas

Lebih terperinci

Pengelompokan Sistem Tenaga Listrik

Pengelompokan Sistem Tenaga Listrik SISTEM DISTRIBUSI Sistem Distribusi Sistem distribusi ini berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik besar (Bulk Power Source) sampai ke konsumen. Jadi fungsi distribusi tenaga listrik

Lebih terperinci

BAB II STRUKTUR JARINGAN DAN PERALATAN GARDU INDUK SISI 20 KV

BAB II STRUKTUR JARINGAN DAN PERALATAN GARDU INDUK SISI 20 KV BAB II STRUKTUR JARINGAN DAN PERALATAN GARDU INDUK SISI 20 KV 2.1. UMUM Gardu Induk adalah suatu instalasi tempat peralatan peralatan listrik saling berhubungan antara peralatan yang satu dengan peralatan

Lebih terperinci

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 2.1. Umum Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik yang dihasilkan pusat pembangkitan disalurkan melalui jaringan transmisi.

Lebih terperinci

JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Pengertian dan fungsi distribusi tenaga listrik : Pembagian /pengiriman/pendistribusian/pengiriman energi listrik dari instalasi penyediaan (pemasok) ke instalasi pemanfaatan

Lebih terperinci

Bab V JARINGAN DISTRIBUSI

Bab V JARINGAN DISTRIBUSI Bab V JARINGAN DISTRIBUSI JARINGAN DISTRIBUSI Pengertian: bagian dari sistem tenaga listrik yang berupa jaringan penghantar yang menghubungkan antara gardu induk pusat beban dengan pelanggan. Fungsi: mendistribusikan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam menyalurkan daya listrik dari pusat pembangkit kepada konsumen

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam menyalurkan daya listrik dari pusat pembangkit kepada konsumen TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Distribusi Sistem distribusi merupakan keseluruhan komponen dari sistem tenaga listrik yang menghubungkan secara langsung antara sumber daya yang besar (seperti gardu transmisi)

Lebih terperinci

SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) DAN GARDU DISTRIBUSI Oleh : Rusiyanto, SPd. MPd.

SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) DAN GARDU DISTRIBUSI Oleh : Rusiyanto, SPd. MPd. SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) DAN GARDU DISTRIBUSI Oleh : Rusiyanto, SPd. MPd. Artikel Elektronika I. Sistem Distribusi Merupakan system listrik tenaga yang diawali dari sisi tegangan menengah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. PENDAHULUAN Energi listrik pada umumnya dibangkitkan oleh pusat pembangkit tenaga listrik yang letaknya jauh dari tempat para pelanggan listrik. Untuk menyalurkan tanaga listik

Lebih terperinci

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik seperti generator,

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik seperti generator, BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK II.1. Sistem Tenaga Listrik Struktur tenaga listrik atau sistem tenaga listrik sangat besar dan kompleks karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik besar sampai ke konsumen.

BAB I PENDAHULUAN. menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik besar sampai ke konsumen. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dalam penggunaan daya listrik, mutlak dibutuhkan sistem distribusi. Sistem distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik yang berguna untuk menyalurkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Monte Carlo, nilai yang didapat telah mencapai standar yang sudah diterapkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Monte Carlo, nilai yang didapat telah mencapai standar yang sudah diterapkan BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Menurut Agung Arief Wibowo dalam penelitiannya yang berjudul Analisa Keandalan Transformator Gardu Induk Wilayah Surabaya Menggunakan Metode

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Saluran Transmisi Sistem transmisi adalah suatu sistem penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat lain, seperti dari stasiun pembangkit ke substation ( gardu

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI MEDAN

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI MEDAN PENGARUH PENGATURAN RECLOSER UNTUK MENANGGULANGI GANGGUAN ARUS LEBIH DAN GANGGUAN TANAH (STUDI KASUS PADA KINERJA RECLOSER SESI NR1 DI PT PLN RAYON PANCUR BATU) LAPORAN TUGAS AKHIR Disusun Sebagai Salah

Lebih terperinci

A. SALURAN TRANSMISI. Kategori saluran transmisi berdasarkan pemasangan

A. SALURAN TRANSMISI. Kategori saluran transmisi berdasarkan pemasangan A. SALURAN TRANSMISI Kategori saluran transmisi berdasarkan pemasangan Berdasarkan pemasangannya, saluran transmisi dibagi menjadi dua kategori, yaitu: 1. saluran udara (overhead lines); saluran transmisi

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sistem Tenaga Listrik adalah sistem penyediaan tenaga listrik yang terdiri dari beberapa pembangkit atau pusat listrik terhubung satu dengan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Kenyamanan dan keamanan pada konsumen perusahaan maupun rumah tangga sangat ditentukan oleh keandalan sistem distribusi tenaga listrik. Indeks keandalan merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Berdasarkan topik skripsi yang diambil, terdapat beberapa referensi dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya guna menentukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. batasan-batasan masalah yang berkaitan erat dengan topik yang sedang diambil.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. batasan-batasan masalah yang berkaitan erat dengan topik yang sedang diambil. BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Berdasarkan topik skripsi yang diambil, terdapat beberapa refrensi dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya guna menentukan

Lebih terperinci

ANTISIPASI GANGGUAN DAN PEMELIHARAAN JARINGAN TEGANGAN MENENGAH

ANTISIPASI GANGGUAN DAN PEMELIHARAAN JARINGAN TEGANGAN MENENGAH Makalah Seminar Kerja Praktek ANTISIPASI GANGGUAN DAN PEMELIHARAAN JARINGAN TEGANGAN MENENGAH 20kV DI PT. PLN (PERSERO) UNIT PELAYANAN JARINGAN SEMARANG TENGAH Brecia Nurastu (L2F006022) Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB 1 KONSEP DASAR JARINGAN DISTRIBUSI

BAB 1 KONSEP DASAR JARINGAN DISTRIBUSI KONSEP DASAR JARINGAN DISTRIBUSI 1 BAB 1 KONSEP DASAR JARINGAN DISTRIBUSI A. Pendahuluan Sistem penyaluran tenaga listrik dari pembangkit tenaga listrik ke konsumen (beban), merupakan hal penting untuk

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik Energi listrik disalurkan melalui penyulang-penyulang yang berupa saluran udara atau saluran kabel tanah. Pada penyulang distribusi ini terdapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyalurkan energi listrik dengan gangguan pemadaman yang minimal.

BAB I PENDAHULUAN. menyalurkan energi listrik dengan gangguan pemadaman yang minimal. BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kebutuhan energi listrik terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini tentu saja menuntut PLN guna meningkatkan pasokan tenaga listrik. Di dalam penyaluran energi listrik,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya guna menentukan batasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya guna menentukan batasan BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka Berdasarkan topik skripsi yang diambil, terdapat beberapa referensi dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya guna menentukan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kualitas dan kehandalan yang tinggi. Akan tetapi pada kenyataanya terdapat

BAB 1 PENDAHULUAN. kualitas dan kehandalan yang tinggi. Akan tetapi pada kenyataanya terdapat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di masa sekarang kebutuhan energi listrik semakin meningkat sejalan dengan berkembangnya teknologi. Perkembangan yang pesat ini harus diikuti dengan perbaikan mutu

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS KEGAGALAN PROSES PEMINDAHAN PASOKAN LISTRIK PADA SUATU SISTEM DISTRIBUSI 13,8 KV DENGAN MENGGUNAKAN ETAP SKRIPSI

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS KEGAGALAN PROSES PEMINDAHAN PASOKAN LISTRIK PADA SUATU SISTEM DISTRIBUSI 13,8 KV DENGAN MENGGUNAKAN ETAP SKRIPSI UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS KEGAGALAN PROSES PEMINDAHAN PASOKAN LISTRIK PADA SUATU SISTEM DISTRIBUSI 13,8 KV DENGAN MENGGUNAKAN ETAP (STUDI KASUS KEGAGALAN DI PT. CHEVRON PACIFIC INDONESIA) SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adanya daya listrik, hampir semua peralatan kebutuhan sehari-hari membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. adanya daya listrik, hampir semua peralatan kebutuhan sehari-hari membutuhkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin berkembangnya dunia teknologi baik di bidang industri, usaha, maupun rumah tangga yang mana semua kebutuhan tersebut membutuhkan adanya daya listrik, hampir

Lebih terperinci

SKRIPSI ANALISIS KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK ( STUDI KASUS DI PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK 150 KV GEJAYAN ) TUGAS AKHIR

SKRIPSI ANALISIS KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK ( STUDI KASUS DI PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK 150 KV GEJAYAN ) TUGAS AKHIR SKRIPSI ANALISIS KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK ( STUDI KASUS DI PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK 150 KV GEJAYAN ) TUGAS AKHIR Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Mencapai Derajat Strata-1

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Distribusi 1 Bagian dari sistem tenaga listrik yang paling dekat dengan pelanggan adalah sistem distribusi. Sistem distribusi adalah bagian sistem tenaga listrik yang

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI 15 BAB III LANDASAN TEORI Tenaga listrik dibangkitkan dalam Pusat-pusat Listrik seperti PLTA, PLTU, PLTG, PLTP dan PLTD kemudian disalurkan melalui saluran transmisi yang sebelumnya terlebih dahulu dinaikkan

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR ANALISA DAN SOLUSI KEGAGALAN SISTEM PROTEKSI ARUS LEBIH PADA GARDU DISTRIBUSI JTU5 FEEDER ARSITEK

TUGAS AKHIR ANALISA DAN SOLUSI KEGAGALAN SISTEM PROTEKSI ARUS LEBIH PADA GARDU DISTRIBUSI JTU5 FEEDER ARSITEK TUGAS AKHIR ANALISA DAN SOLUSI KEGAGALAN SISTEM PROTEKSI ARUS LEBIH PADA GARDU DISTRIBUSI JTU5 FEEDER ARSITEK Diajukan guna melengkapi sebagian syarat dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) Disusun

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. c. Memperkecil bahaya bagi manusia yang ditimbulkan oleh listrik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. c. Memperkecil bahaya bagi manusia yang ditimbulkan oleh listrik. 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Proteksi Sistem proteksi merupakan sistem pengaman yang terpasang pada sistem distribusi tenaga listrik, trafo tenaga transmisi tenaga listrik dan generator listrik.

Lebih terperinci

ANALISA JATUH TEGANGAN PADA JARINGAN DISTRIBUSI 20 kv DI FEEDER PENYU DI PT. PLN (PERSERO) RAYON BINJAI TIMUR AREA BINJAI LAPORAN TUGAS AKHIR

ANALISA JATUH TEGANGAN PADA JARINGAN DISTRIBUSI 20 kv DI FEEDER PENYU DI PT. PLN (PERSERO) RAYON BINJAI TIMUR AREA BINJAI LAPORAN TUGAS AKHIR ANALISA JATUH TEGANGAN PADA JARINGAN DISTRIBUSI 20 kv DI FEEDER PENYU DI PT. PLN (PERSERO) RAYON BINJAI TIMUR AREA BINJAI LAPORAN TUGAS AKHIR Disusun Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Menyelesaikan Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada sistem penyaluran tenaga listrik, kita menginginkan agar pemadaman tidak

BAB I PENDAHULUAN. Pada sistem penyaluran tenaga listrik, kita menginginkan agar pemadaman tidak BAB I PENDAHULUAN 1-1. Latar Belakang Masalah Pada sistem penyaluran tenaga listrik, kita menginginkan agar pemadaman tidak sering terjadi, karena hal ini akan mengganggu suatu proses produksi yang terjadi

Lebih terperinci

ANALISIS KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK PADA PENYULANG NUSANTARA II DI PT.PLN (PERSERO) RAYON KROYA MENGGUNAKAN METODE SECTION TECHNIQUE

ANALISIS KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK PADA PENYULANG NUSANTARA II DI PT.PLN (PERSERO) RAYON KROYA MENGGUNAKAN METODE SECTION TECHNIQUE ANALISIS KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK PADA PENYULANG NUSANTARA II DI PT.PLN (PERSERO) RAYON KROYA MENGGUNAKAN METODE SECTION TECHNIQUE SKRIPSI JATMIKO AZIZ 1203030020 PROGRAM STUDI TEKNIK

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 DESKRIPSI SISTEM TENAGA LISTRIK Energi listrik dari tempat dibangkitkan hingga sampai kepada pelanggan memerlukan jaringan penghubung yang biasa disebut jaringan transmisi atau

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. a. Pusat pusat pembangkit tenaga listrik, merupakan tempat dimana. ke gardu induk yang lain dengan jarak yang jauh.

BAB II DASAR TEORI. a. Pusat pusat pembangkit tenaga listrik, merupakan tempat dimana. ke gardu induk yang lain dengan jarak yang jauh. BAB II DASAR TEORI 2.1. Sistem Jaringan Distribusi Pada dasarnya dalam sistem tenaga listrik, dikenal 3 (tiga) bagian utama seperti pada gambar 2.1 yaitu : a. Pusat pusat pembangkit tenaga listrik, merupakan

Lebih terperinci

BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK. Gambar 2.1 Gardu Induk

BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK. Gambar 2.1 Gardu Induk BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK Gardu Induk merupakan suatu instalasi listrik yang terdiri atas beberapa perlengkapan dan peralatan listrik dan menjadi penghubung listrik

Lebih terperinci

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 2.1 Umum BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Kehidupan moderen salah satu cirinya adalah pemakaian energi listrik yang besar. Besarnya pemakaian energi listrik itu disebabkan karena banyak dan beraneka

Lebih terperinci

SISTEM TENAGA LISTRIK

SISTEM TENAGA LISTRIK SISTEM TENAGA LISTRIK SISTEM TENAGA LISTRIK Sistem Tenaga Listrik : Sekumpulan Pusat Listrik dan Gardu Induk (Pusat Beban) yang satu sama lain dihubungkan oleh Jaringan Transmisi sehingga merupakan sebuah

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil proses penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil proses penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil proses penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dengan merujuk pada pertanyaan penelitian. Penulis menemukan kesimpulan

Lebih terperinci

BAB II SALURAN DISTRIBUSI

BAB II SALURAN DISTRIBUSI BAB II SALURAN DISTRIBUSI 2.1 Umum Jaringan distribusi adalah salah satu bagian dari sistem penyaluran tenaga listrik dari pembangkit listrik ke konsumen. Secara umum, sistem penyaluran tenaga listrik

Lebih terperinci

Sistem Listrik Idustri

Sistem Listrik Idustri Skema Penyaluran Tenaga Listrik Sistem Listrik Idustri Oleh: Tugino, ST, MT Jurusan Teknik Elektro STTNAS Yogyakarta Tugino, ST MT STTNAS Yogyakarta 2 Sistem Listrik Industri Meliputi Generator Pembangkit

Lebih terperinci

BAB III GANGGUAN PADA JARINGAN LISTRIK TEGANGAN MENENGAH DAN SISTEM PROTEKSINYA

BAB III GANGGUAN PADA JARINGAN LISTRIK TEGANGAN MENENGAH DAN SISTEM PROTEKSINYA BAB GANGGUAN PADA JARNGAN LSTRK TEGANGAN MENENGAH DAN SSTEM PROTEKSNYA 3.1 Gangguan Pada Jaringan Distribusi Penyebab utama terjadinya pemutusan saluran distribusi tenaga listrik adalah gangguan pada sistem

Lebih terperinci

KONSEP DASAR JARINGAN DISTRIBUSI. Nama kelompok 1 : Ridho ilham Romi eprisal Yuri ramado Rawindra

KONSEP DASAR JARINGAN DISTRIBUSI. Nama kelompok 1 : Ridho ilham Romi eprisal Yuri ramado Rawindra KONSEP DASAR JARINGAN DISTRIBUSI Nama kelompok 1 : Ridho ilham 2016330024 Romi eprisal 2015330008 Yuri ramado 2015330005 Rawindra 2015330007 A. KONSEP DASAR JARINGAN DISTRIBUSI Sistem penyaluran tenaga

Lebih terperinci

Analisa Keandalan Jaringan Sistem Distribusi Tegangan Menengah 20kV di PT. Astra Daihatsu Motor

Analisa Keandalan Jaringan Sistem Distribusi Tegangan Menengah 20kV di PT. Astra Daihatsu Motor Analisa Keandalan Jaringan Sistem Distribusi Tegangan Menengah 20kV di PT. Astra Daihatsu Motor Okki Dwi Bagus A. 1), Sulistyono, ST, MM 2) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Mercubuana

Lebih terperinci

ANALISIS KOORDINASI KERJA PMT

ANALISIS KOORDINASI KERJA PMT ANALISIS KOORDINASI KERJA PMT (Pemutus Tenaga) DENGAN RECLOSER AKIBAT GANGGUAN ARUS HUBUNG SINGKAT PADA PENYULANG KALIBAKAL-09 PT. PLN (Persero) AREA PURWOKERTO SKRIPSI diajukan untuk memenuhi salah satu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar-Dasar Sistem Proteksi 1 Sistem proteksi adalah pengaman listrik pada sistem tenaga listrik yang terpasang pada : sistem distribusi tenaga listrik, trafo tenaga, transmisi

Lebih terperinci

BAB III OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN DISTRIBUSI

BAB III OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN DISTRIBUSI BAB III OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN DISTRIBUSI 3.1 Sistem Tenaga Listrik Sistem tenaga listrik sangatlah besar dan kompleks karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik seperti generator,

Lebih terperinci

BAB III SISTEM PROTEKSI JARINGAN DISTRIBUSI

BAB III SISTEM PROTEKSI JARINGAN DISTRIBUSI BAB III SISTEM PROTEKSI JARINGAN DISTRIBUSI 3.1 Umum Sebaik apapun suatu sistem tenaga dirancang, gangguan pasti akan terjadi pada sistem tenaga tersebut. Gangguan ini dapat merusak peralatan sistem tenaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam sebuah kehidupan. Energi listrik merupakan energi yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam sebuah kehidupan. Energi listrik merupakan energi yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Didalam dunia yang sedang berkembang, energi listrik merupakan aspek sangat penting dalam sebuah kehidupan. Energi listrik merupakan energi yang sangat berperan penting

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian tentang keandalan sistem distribusi telah banyak dilakukan di berbagai daerah baik itu di Indonesia maupun luar negri banyak metode

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sistem tenaga listrik adalah kumpulan atau gabungan dari komponenkomponen atau alat-alat listrik seperti generator, transformator, saluran transmisi,

Lebih terperinci

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO Jalan MT Haryono 167 Telp& Fax. 0341 554166 Malang 65145 KODE PJ-01 PENGESAHAN PUBLIKASI HASIL PENELITIAN

Lebih terperinci

ANALISA GANGGUAN PENYULANG KELINGI PADA GARDU INDUK SUNGAI JUARO DI PT PLN RAYON RIVAI PALEMBANG

ANALISA GANGGUAN PENYULANG KELINGI PADA GARDU INDUK SUNGAI JUARO DI PT PLN RAYON RIVAI PALEMBANG ANALISA GANGGUAN PENYULANG KELINGI PADA GARDU INDUK SUNGAI JUARO DI PT PLN RAYON RIVAI PALEMBANG LAPORAN AKHIR Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Pada Jurusan Teknik

Lebih terperinci

EVALUASI KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK BERDASARKAN SAIDI DAN SAIFI PADA PT. PLN (PERSERO) RAYON KAKAP

EVALUASI KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK BERDASARKAN SAIDI DAN SAIFI PADA PT. PLN (PERSERO) RAYON KAKAP EVALUASI KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK BERDASARKAN SAIDI DAN SAIFI PADA PT. PLN (PERSERO) RAYON KAKAP Drajad Wahyudi Program Studi Teknik Elektro Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

ANALISIS RUGI RUGI ENERGI LISTRIK PADA JARINGAN DISTRIBUSI

ANALISIS RUGI RUGI ENERGI LISTRIK PADA JARINGAN DISTRIBUSI TUGAS AKHIR ANALISIS RUGI RUGI ENERGI LISTRIK PADA JARINGAN DISTRIBUSI Oleh Senando Rangga Pitoy NIM : 12 023 030 Dosen Pembimbing Deitje Pongoh, ST. M.pd NIP. 19641216 199103 2 001 KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI

Lebih terperinci

BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK. terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga

BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK. terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK 3.1. Umum Tenaga listrik merupakan suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia, terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. parameter keandalan suatu peralatan distribusi tenaga listrik terhadap

BAB II LANDASAN TEORI. parameter keandalan suatu peralatan distribusi tenaga listrik terhadap BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Keandalan sistem distribusi tenaga listrik sangat berperan penting terhadap kenyamanan dan keamanan bagi konsumen perusahaan maupun rumah tangga. Indeks keandalan

Lebih terperinci

BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 2.1 Sistem Distibusi Tenaga Listrik Saluran distribusi adalah saluran yang berfungsi untuk menyalurkan tegangan dari gardu distribusi ke trafo distribusi ataupun

Lebih terperinci

ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB

ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB 252 Oleh Vigor Zius Muarayadi (41413110039) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana Sistem proteksi jaringan tenaga

Lebih terperinci

BAB III PENGUKURAN DAN PENGUMPULAN DATA

BAB III PENGUKURAN DAN PENGUMPULAN DATA BAB III PENGUKURAN DAN PENGUMPULAN DATA Distribusi sistem tenaga listrik memiliki peranan penting dalam penyaluran daya ke beban atau konsumen, terutama kualitas energi listrik yang diterima konsumen sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi standar. Sistem distribusi yang dikelola oleh PT. PLN (Persero)

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi standar. Sistem distribusi yang dikelola oleh PT. PLN (Persero) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi listrik selama ini selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Perkembangan

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR GANGGUAN OVERLOAD PADA GARDU DISTRBUSI ASRAMA KIWAL

LAPORAN AKHIR GANGGUAN OVERLOAD PADA GARDU DISTRBUSI ASRAMA KIWAL LAPORAN AKHIR GANGGUAN OVERLOAD PADA GARDU DISTRBUSI ASRAMA KIWAL Oleh : SEMUEL MASRI PONGKORUNG NIM : 13021003 Dosen Pembimbing Reiner Ruben Philipus Soenpiet, SST NIP. 1961019 199103 2 001 KEMENTERIAN

Lebih terperinci

STUDI ANALISA PERENCANAAN INSTALASI DISTRIBUSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) 20 KV. Badaruddin 1, Heri Kiswanto 2

STUDI ANALISA PERENCANAAN INSTALASI DISTRIBUSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) 20 KV. Badaruddin 1, Heri Kiswanto 2 ISSN : 286 9479 STUDI ANALISA PERENCANAAN INSTALASI DISTRIBUSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) 2 KV Badaruddin 1, Heri Kiswanto 2 1,2 Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Mercu

Lebih terperinci

LANDASAN TEORI Sistem Tenaga Listrik Tegangan Menengah. adalah jaringan distribusi primer yang dipasok dari Gardu Induk

LANDASAN TEORI Sistem Tenaga Listrik Tegangan Menengah. adalah jaringan distribusi primer yang dipasok dari Gardu Induk II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Tenaga Listrik Tegangan Menengah Sistem Distribusi Tenaga Listrik adalah kelistrikan tenaga listrik mulai dari Gardu Induk / pusat listrik yang memasok ke beban menggunakan

Lebih terperinci

STUDI ANALISA PERENCANAAN INSTALASI DISTRIBUSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) 20 KV. Badaruddin 1, Heri Kiswanto 2

STUDI ANALISA PERENCANAAN INSTALASI DISTRIBUSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) 20 KV. Badaruddin 1, Heri Kiswanto 2 Jurnal Teknik Elektro, Universitas Mercu Buana ISSN : 286 9479 STUDI ANALISA PERENCANAAN INSTALASI DISTRIBUSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) 2 KV Badaruddin 1, Heri Kiswanto 2 1,2 Program Studi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Trafo Distribusi merupakan suatu komponen yang sangat penting dalam penyaluran tenaga listrik dari gardu distribusi ke konsumen. Trafo Distribusi dapat dipasang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Mutakhir (state of the art) Berdasarkan topik usulan tugas akhir yang diambil, terdapat beberapa referensi dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sistem distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem distribusi ini berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata Kunci : Sistem radial, Loop scheme, SAIFI/SAIDI, Energy not save. vii

ABSTRAK. Kata Kunci : Sistem radial, Loop scheme, SAIFI/SAIDI, Energy not save. vii ABSTRAK Penyulang Blahkiuh dan penyulang Panglan termasuk jaringan terpanjang di Unit Jaringan Mengwi, yang melayani daerah-daerah pedesaan disekitar kabupaten Badung bagian utara. Kedua penyulang tersebut

Lebih terperinci

ANALISA SETTING RELAI PENGAMAN AKIBAT REKONFIGURASI PADA PENYULANG BLAHBATUH

ANALISA SETTING RELAI PENGAMAN AKIBAT REKONFIGURASI PADA PENYULANG BLAHBATUH ANALISA SETTING RELAI PENGAMAN AKIBAT REKONFIGURASI PADA PENYULANG BLAHBATUH I K.Windu Iswara 1, G. Dyana Arjana 2, W. Arta Wijaya 3 1,2,3 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Udayana, Denpasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sehingga penyaluran energi listrik ke konsumen berjalan lancar dengan kualitas

BAB I PENDAHULUAN. sehingga penyaluran energi listrik ke konsumen berjalan lancar dengan kualitas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan akan energi listrik selama ini selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Perkembangan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Tenaga Listrik Sistem tenaga listrik dapat dibagi menjadi menjadi tiga bagian utama, yaitu sistem pembangkitan, sistem transimisi dan sistem distribusi. Sistem pembangkitan

Lebih terperinci

STUDI KEADAAN PERALATAN PROTEKSI ARUS LEBIH PADA JARINGAN DISTRIBUSI DI PT PLN(PERSERO)RAYON KUALA

STUDI KEADAAN PERALATAN PROTEKSI ARUS LEBIH PADA JARINGAN DISTRIBUSI DI PT PLN(PERSERO)RAYON KUALA STUDI KEADAAN PERALATAN PROTEKSI ARUS LEBIH PADA JARINGAN DISTRIBUSI DI PT PLN(PERSERO)RAYON KUALA LAPORAN TUGAS AKHIR Disusunsebagai syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma 3 oleh SENTRA DIAKOGINTING

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan energi listrik selama ini selalu meningkat dari tahun ke

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan energi listrik selama ini selalu meningkat dari tahun ke BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi listrik selama ini selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Perkembangan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. SAIDI, SAIFI, CAIDI dan ASAI, berikut diantaranya: 1. Skripsi Ahmad Fajar Sayidul Yaom (2015) yang berjudul Analisis Keandalan

BAB II LANDASAN TEORI. SAIDI, SAIFI, CAIDI dan ASAI, berikut diantaranya: 1. Skripsi Ahmad Fajar Sayidul Yaom (2015) yang berjudul Analisis Keandalan BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Indeks keandalan SAIDI, SAIFI, CAIDI dan ASAI adalah beberapa indeks keandalan yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keandalan pada suatu sistem. Sudah

Lebih terperinci

ANALISIS KOORDINASI PROTEKSI PADA PT.PLN (PERSERO) GARDU INDUK WONOSOBO MENGGUNAKAN SOFTWARE APLIKASI ETAP TUGAS AKHIR

ANALISIS KOORDINASI PROTEKSI PADA PT.PLN (PERSERO) GARDU INDUK WONOSOBO MENGGUNAKAN SOFTWARE APLIKASI ETAP TUGAS AKHIR ANALISIS KOORDINASI PROTEKSI PADA PT.PLN (PERSERO) GARDU INDUK WONOSOBO MENGGUNAKAN SOFTWARE APLIKASI ETAP TUGAS AKHIR Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Mencapai Derajat Strata-1 Program Studi Teknik

Lebih terperinci

ANALISA PENYETELAN RELAI GANGGUAN TANAH (GFR) PADA PENYULANG TRAFO 2 30 MVA 70/20 KV DI PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK BOOM BARU PALEMBANG

ANALISA PENYETELAN RELAI GANGGUAN TANAH (GFR) PADA PENYULANG TRAFO 2 30 MVA 70/20 KV DI PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK BOOM BARU PALEMBANG ANALISA PENYETELAN RELAI GANGGUAN TANAH (GFR) PADA PENYULANG TRAFO 2 30 MVA 70/20 KV DI PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK BOOM BARU PALEMBANG LAPORAN AKHIR Dibuat Untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan

Lebih terperinci

ANALISA KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI 20 KV DI PT. PLN RAYON BLORA DENGAN METODE FMEA

ANALISA KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI 20 KV DI PT. PLN RAYON BLORA DENGAN METODE FMEA TUGAS AKHIR TE 141599 ANALISA KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI 20 KV DI PT. PLN RAYON BLORA DENGAN METODE FMEA M. Umar Khusni NM NRP 2215 105 050 Dosen Pembimbing Dr. Rony Seto Wibowo, ST., MT. Dr. Eng. I Made

Lebih terperinci

ABSTRAK Kata Kunci :

ABSTRAK Kata Kunci : ABSTRAK Transformator 3 pada GI Pesanggaran mendapat penambahan 4 blok pembangkit dengan daya maksimum sebesar 60 MW daya dari keempat blok pembangkit tersebut digunakan untuk mensuplai beban penyulang

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Pengertian Gardu Distribusi Pengertian umum Gardu Distribusi tenaga listrik yang paling dikenal adalah suatu bangunan gardu listrik berisi atau terdiri dari instalasi Perlengkapan

Lebih terperinci

BAB III PROTEKSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) TERHADAP SAMBARAN PETIR

BAB III PROTEKSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) TERHADAP SAMBARAN PETIR BAB III PROTEKSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) TERHADAP SAMBARAN PETIR 3.1 Konsep Dasar Sistem Tenaga Listrik Suatu system tenaga listrik secara sederhana terdiri atas : - Sistem pembangkit -

Lebih terperinci

MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN DISTRIBUSI TENGANGAN MENENGAH 20 KV

MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN DISTRIBUSI TENGANGAN MENENGAH 20 KV MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN DISTRIBUSI TENGANGAN MENENGAH 20 KV Muhamad Rifqi¹, Karnoto, ST, MT.² ¹Mahasiswa dan ²Dosen Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Transmisi, dan Distribusi. Tenaga listrik disalurkan ke masyarakat melalui jaringan

BAB I PENDAHULUAN. Transmisi, dan Distribusi. Tenaga listrik disalurkan ke masyarakat melalui jaringan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenaga Listrik disalurkan ke konsumen melalui Sistem Tenaga Listrik. Sistem Tenaga Listrik terdiri dari beberapa subsistem, yaitu Pembangkitan, Transmisi, dan Distribusi.

Lebih terperinci

Penentuan Kapasitas CB Dengan Analisa Hubung Singkat Pada Jaringan 70 kv Sistem Minahasa

Penentuan Kapasitas CB Dengan Analisa Hubung Singkat Pada Jaringan 70 kv Sistem Minahasa 1 Penentuan Kapasitas CB Dengan Analisa Hubung Singkat Pada Jaringan 70 kv Sistem Minahasa Filia Majesty Posundu, Lily S. Patras, ST., MT., Ir. Fielman Lisi, MT., dan Maickel Tuegeh, ST., MT. Jurusan Teknik

Lebih terperinci

ANALISIS KEDIP TEGANGAN AKIBAT GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA PENYULANG ABANG DI KARANGASEM

ANALISIS KEDIP TEGANGAN AKIBAT GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA PENYULANG ABANG DI KARANGASEM SKRIPSI ANALISIS KEDIP TEGANGAN AKIBAT GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA PENYULANG ABANG DI KARANGASEM I MADE YOGA DWIPAYANA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO DAN KOMPUTER FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA BUKIT JIMBARAN

Lebih terperinci

SIMULASI PROTEKSI DAERAH TERBATAS DENGAN MENGGUNAKAN RELAI OMRON MY4N-J12V DC SEBAGAI PENGAMAN TEGANGAN EKSTRA TINGGI DI GARDU INDUK

SIMULASI PROTEKSI DAERAH TERBATAS DENGAN MENGGUNAKAN RELAI OMRON MY4N-J12V DC SEBAGAI PENGAMAN TEGANGAN EKSTRA TINGGI DI GARDU INDUK Simulasi Proteksi Daerah Terbatas... (Setiono dan Arum) SIMULASI PROTEKSI DAERAH TERBATAS DENGAN MENGGUNAKAN RELAI OMRON MY4N-J12V DC SEBAGAI PENGAMAN TEGANGAN EKSTRA TINGGI DI GARDU INDUK Iman Setiono

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem transmisi memegang peranan yang sangat penting dalam proses penyaluran daya. Oleh karena itu pengaman pada saluran transmisi perlu mendapat perhatian

Lebih terperinci

PUSPA LITA DESTIANI,2014

PUSPA LITA DESTIANI,2014 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sistem yang digunakan di PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan yaitu sistem pembangkit tenaga listrik terisolir. Sistem Pembangkit Terisolir merupakan

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN JARINGAN TERHADAP DROP TEGANGAN PADA SUTM 20 KV FEEDER KERSIK TUO RAYON KERSIK TUO KABUPATEN KERINCI

PENGARUH PENAMBAHAN JARINGAN TERHADAP DROP TEGANGAN PADA SUTM 20 KV FEEDER KERSIK TUO RAYON KERSIK TUO KABUPATEN KERINCI PENGARUH PENAMBAHAN JARINGAN TERHADAP DROP TEGANGAN PADA SUTM 0 KV FEEDER KERSIK TUO RAYON KERSIK TUO KABUPATEN KERINCI Erhaneli (1), Aldi Riski () (1) Dosen Jurusan Teknik Elektro () Mahasiswa Jurusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia dan juga dapat berpengaruh pada peningkatan pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia dan juga dapat berpengaruh pada peningkatan pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Didalam dunia yang berkembang saat ini, energi listrik merupakan aspek yang sangat penting dalam sebuah kehidupan. Energi listrik merupakan energi yang sangat berperan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan Listrik Negara ( PLN ) mempunyai sistem transmisi listrik di Pulau Jawa yang terhubung dengan Pulau Bali dan Pulau Madura yang disebut dengan sistem interkoneksi

Lebih terperinci