PROGRAM STRATEGIS DEWAN KOPERASI INDONESIA
|
|
|
- Hartono Budiman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Member of : PROGRAM STRATEGIS DEWAN KOPERASI INDONESIA H. A.M. NURDIN HALID Ketua Umum DEKOPIN Materi : Rapat Koordinasi Kementerian Koperasi dan UKM RI, Bali Maret 2017
2 Program Strategis 1 Koperasi Pilar Negara
3 Dasar Pemikiran : Membangun Pemerataan dan Keadilan Ekonomi Bangsa Dasar Fundamental Kemerdekaan Bangsa Membangun manusia yang berkeadilan Pembukaan UUD 45 Alenia 4 Ekonomi konstitusi Pancasila 1. Pancasila Sila 2 : Batang Tubuh UUD 2. Tujuan Nasional 45 Pasal 33 : Kemanusiaan 1. Sistem Sila 5 : Perekonomian Keadilan Sosial 2. Asas Kekeluargaan Tujuan Nasional Masyarakat Adil & Makmur Kondisi Ekonomi: Pelaku ekonomi Kategori Ekonomi Kondisi Ekonomi : Usaha Negara, Koperasi dan Swasta : Mikro, Kecil, Menengah dan Besar : Ketimpangan antar pelaku ekonomi, sektor ekonomi, pendapatan dan penguasaan sumber daya ekonomi Indikator Ekonomi : Pertumbuhan ekonomi, kontribusi PDB, persentase penguasaan aset nasional, tax rasio, persentase penyerapan tenaga kerja
4 Tujuan Nasional dan Visi Kebangsaan No Tujuan Nasional Visi Kebangsaan 1 Melindungi seluruh tumpah darah Indonesia 2 Memajukan kesejahateraan umum 3 Mencerdaskan kehidupan bangsa 4 Ikut menjaga perdamaian dunia Visi Nasionalisme / Kebangsaan Visi Ekonomi Visi Pendidikan Visi Politik Luar Negeri Implementasi dalam Pembangunan Sistem Hankamrata Sistem Perekonomian Nasional (???) Sistem Pendidikan Nasional Sistem Politik Nasional dan Luar Negeri 1. Dasar politik perekonomian Republik Indonesia adalah BAB KESEJAHTERAAN SOSIAL pasal 33 UUD Perekonomian suatu negeri pada umumnya ditentukan oleh tiga hal (1) kekayaan tanahnya, (2) kedudukannya terhadap negeri lain dalam hubungan internasional, dan (3) sifat dan kecakapan rakyatnya serta cita-citanya. 3. Terhadap Indonesia harus ditambah satu pasal lagi yaitu sejarahnya sebagai tanah jajahan. (pidato Bung Hatta pada Konferensi Ekonomi di Yogyakarta pada tanggal 3 Februari 1946).
5 Koperasi Bangun Usaha Yang Tepat Membangun Ekonomi Rakyat 1. Koperasi kumpulan orang yang mempunyai kepentingan dan aspirasi yang sama dibidang ekonomi, sosial dan budaya; 2. Koperasi wadah ekonomi berwatak sosial (tidak serakah mengeruk kekayaan); 3. Koperasi mendorong pemerataan penguasaan sumber daya ekonomi yang berkeadilan; 4. Koperasi berusaha mewujudkan kesejahteran bersama; 5. Koperasi membangun kekeluargaan, kebersamaan, kegotong-royongan untuk mewujudkan kesatuan ekonomi anggotanya; 6. Koperasi membangun jiwa kemandirian (self help) dan kersama untuk saling menolong (mutual help) dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi anggota; 7. Koperasi membangun jiwa kemandirian dan kepedulian antar sesama serta lingkungan alam.
6 Koreksi Total Pembangunan Perkoperasian Indonesia Internal 1. Rendahnya idiologisasi koperasi pada anggota 2. Lemahnya kelembagaan koperasi (instabilisasi kepemimpinan) 3. Lemahnya modal internal koperasi 4. Lemahnya penguasaan pasar 5. Kurangnya inovasi & kreatifitas dalam bisnis koperasi 6. Lemahnya kualitas SDM dan kurangnya profesionalisme di Koperasi 7. Lambannya implementasi & pemanfaatan IT pada bisnis koperasi 8. Rendahnya nilai (value) bisnis pada koperasi Eksternal 1. Instabilisasi kebijakan & kondisi ekonomi, politik dan keamanan 2. Ketidakberpihakan pemerintah pada koperasi 3. Perundangan yang kurang memberikan ruang gerak pada bisnis koperasi 4. Penguasaan sumber daya ekonomi yang tidak adil 5. Infrastruktur penunjang bisnis yang tidak mendukung 6. Kemiskinan dan kesenjangan yang tinggi antar strata sosial ekonomi masyarakat 7. Ketimpangan kemampuan ekonomi yang lebar antar pelaku ekonomi (BUMN, Swasta, dan Koperasi) dan sektor usaha (Pertanian, Pertambangan, dll)
7 Peran Pemerintah dan DEKOPIN : Meningkatkan Daya Saing dan Produktivitas Koperasi Institusi Koperasi 1. Memperkuat idiologisasi koperasi pada anggota 2. Penguatan kelembagaan koperasi sebagai entitas bisnis modern 3. Membangun kultur kreatif, inovatif dan nilai tambah dalam kerangka meningkatkan daya saing koperasi 4. Menerapkan nilai-nilai dan prinsip koperasi sejati 5. Memberikan nilai tambah yang luar biasa pada anggota sehingga membangun loyalitas, komitmen anggota terhadap koperasi 6. Memperkuat jaringan kemitraan koperasi dengan stake holder Bisnis Koperasi 1. Peningkatan modal sendiri berdasarkan skala ekonomi yg layak 2. Pengembangan bisnis yang inovatif, kreatif dan mempunyai nilai tambah 3. Penerapan manajemen modern pengelolaan koperasi 4. Penerapan IT 5. Kemitraan dengan pelaku bisnis lain SDM 1. Peningkatan kualitas SDM koperasi 2. Pengembangan sistem kompensasi yang menarik bagi insan koperasi 3. Profesionalisasi manajemen 4. Pengukuran kinerja SDM yang unggul
8 Konstruksi : Koperasi Pilar Negara Visi Koperasi Pancasila & UUD 1945 Mewujudkan Negara Kesejaheraan dan Lestarinya Ekosistem NKRI Target 2045 Inisiatif Strategis 1. Pengembangan koperasi berbasis kearifan lokal dan SDA 2. Koperasi berperan dominan dalam seluruh sektor kehidupan 3. Kerjasama koperasi dan usaha lain serta kemitraan strategis Aliansi Strategis Pilar Strategis Sosiocultural Capital Human Capital Koperasi mengatasi kemiskinan dankesenjangan Koperasi membangun karakter nilai dannorma Koperasi melestarikan gotong royong dan kearifan lokal Koperasi menjamin ketahanan pangan dan energi Koperasi sebagai sabuk pengaman kedaulatan RI Pendidikan karakter: nilai dan prinsip koperasi, gotong royong, kebersamaan, kekeluargaan, solidaritas, kesetaraan, keterbukaan Konsolidasi Koperasi Human Investmen Natural Capital Indonesia sebagai negara agraris : pertanian, perkebunan, kehutanan, peladangan, pertambangan dll dan sebagai negara maritim: perikanan, kelautan serta kaya budaya pariwisata, keberagaman budaya dll Natural Capital
9 Konsepsi Koperasi Pilar Negara 1 No Bagian Uraian 1 Pengertian Merupakan dasar dan arah strategi, kebijakan dan program DEKOPIN serta blueprint ICA dalam rangka pembangunan koperasi Indonesia, yang diselaraskan dengan dinamika sosial-ekonomi dan lingkungan lokal, nasional, regional, dan global untuk meraih cita-cita kesejahteraan rakyat dan lestarinya ekosistem NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD Maksud Merumuskan agenda strategis koperasi sebagai pilar negara dalam rangka mewujudkan masyarakat NKRI yang maju, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dalam tata perekonomian nasional yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi serta diselaraskan dengan dinamika lingkungan strategis nasional dan global. 3 Tujuan 1. Koperasi mendukung dan memperkuat NKRI 2. Koperasi mendukung dan memperkuat demokrasi ekonomi dan politik 3. Koperasi mendukung dan memperkuat pelaksanaan Kedaulatan Rakyat menurut UUD Koperasi memperkuat Negara-Hukum NKRI 5. Koperasi mendukung terwujudnya tujuan nasional cita-cita pembentukan Negara dan Pemerintah RI sesuai amanat Alinea IV Pembukaan UUD Visi Kuatnya karakter bangsa, penyehatan ekonomi negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan, dan lestarinya ekosistem NKRI berbasis nilai-nilai koperasi
10 Konsepsi Koperasi Pilar Negara 2 No Bagian Uraian 5 Misi 1. Koperasi untuk kesejahteraan rakyat NKRI (Welfare State) 2. Koperasi untuk lestarinya ekosistem NKRI 6 Sasaran / Target 7 Indikator Pencapaian 1. Membentuk karakter bangsa dan kegotongroyongan 2. Merawat bumi dan menghemat sumber daya alam 3. Menjamin kedaulatan/ketahanan pangan dan energi 4. Melestarikan budaya dan kearifan lokal 5. Menjaga kedaulatan NKRI di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar 1. Jumlah anggota koperasi, Mayoritas masyarakat Indonesia berkoperasi 2. Penetrasi Koperasi, Koperasi masuk ke semua sektor kehidupan masyarakat bangsa (sosial, ekonomi, budaya, dan ekologi) 3. Daya Saing Koperasi, Koperasi-koperasi bertumbuh dan berdaya saing karena manajemen sehat (good cooperative governance) 4. Membumikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi, koperasi-koperasi berjalan di atas nilai dan prinsip-prinsip koperasi (sesuai prinsip-prinsip ICA dan UU Perkoperasian) 5. Koperasi menjadi pelaku utama ekonomi rakyat yang menyejahterakan, berkeadilan serta berkelanjutan 6. Koperasi mampu memenuhi kebutuhan pangan dan energi masyarakat di daerah terpencil, daerah pesisir, dan pulau-pulau kecil
11 Strategi Pokok Koperasi Pilar Negara 1. Pemetaan dan pengembangan koperasi berbasis sumber daya dan kearifan lokal 2. Perintisan, pengembangan dan penguatan koperasi produsen dan konsumen 3. Penyehatan dan modernisasi manajemen koperasi berbasis nilai-nilai dan prinsip koperasi 4. Kemitraan lintas kementerian/lembaga dan sektor bisnis skala kecil dan besar 5. Peningkatan daya saing koperasi 6. Penguatan modal sendiri koperasi dari anggota dengan sistem keuangan yang terbuka, transparan dan berbasis IT 7. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam tata kelola organisasi dan usaha koperasi
12 Arah Kebijakan dan Strategi Implementasi 1. Pengembangan Koperasi Pertanian 2. Pengembangan Koperasi Maritim 3. Pengembangan Koperasi Konsumen 4. Pengembangan Koperasi Produsen 5. Pengembangan Koperasi Pemuda (siswa dan mahasiswa) dan Koperasi Wanita 6. Pengembangan Koperasi Pekerja
13 Program Strategis 2 Kongres Koperasi lll
14 Kongres Koperasi III 1. KBBI (2016) menegaskan bahwa kongres adalah pertemuan besar para wakil organisasi (politik, sosial, profesi) untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan mengenai pelbagai masalah; 2. KONGRES KOPERASI adalah ajang pertemuan besar yang dihadiri para wakil pemangku kepentingan koperasi (pemerintah, DPR/D, DEKOPIN, pelaku/praktisi koperasi, akademisi, peminat dan pengamat koperasi, BUMS, BUMN), untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan strategis dalam rangka memecahkan dan/atau mengantisipasi permasalahan dalam penumbuh kembangan perkoperasian di Indonesia. 3. Kongres merupakan acara puncak dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya, yang memungkinkan seluruh pemangku kepentingan menyampaikan aspirasi dan kesiapannya untuk berperan aktif dalam penumbuh kembangan koperasi Indonesia sebagai PILAR NEGARA.
15 Kongres Koperasi III KONGRES KOPERASI ADALAH : 1. Ajang nasional untuk menetapkan arah pengembangan koperasi Indonesia. 2. Diselenggarakan secara rutin dan kontinu, dengan rentang waktu 5 tahun. 3. Melibatkan seluruh pemangku kepentingan perkoperasian, mencakup gerakan koperasi, pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat peminat koperasi. 4. Memperhatikan dan mempertimbangkan perkembangan kondisi dan perubahan kondisi makro nasional untuk diantisipasi dalam menyusun strategi pengembangan koperasi secara mikro. 5. Memperhatikan dan mempertimbangkan perkembangan kondisi dan arah kebijakan internasional yang diperkirakan akan mempengaruhi pengembangan perkoperasian indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung.
16 Dasar Pemikiran Kongres Koperasi III (1) 1. Pembangunan Koperasi Indonesia selama 70 tahun setelah merdeka belum memiliki fungsi dan peran sebagai soko guru perekonomian. 2. Selama 15 tahun terakhir ini kesenjangan pendapatan antar golongan penduduk, antar sektor ekonomi, Jawa luar Jawa, dan desa kota semakin melebar. 3. Perkembangan ekonomi domestik akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan. 4. Kemiskinan yang merupakan blind spot perekonomian kita akan semakin mengkhawatirkan karena adanya tambahan penganggur yang cukup banyak dan potensi inflasi yang lebih tinggi karena adanya imported inflation sehubungan dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang kelihatannya sulit dicegah.
17 Dasar Pemikiran Kongres Koperasi III (2) 5. Dalam beberapa tahun terakhir ini, sebagian dari kebutuhan pangan kita diimpor dengan jumlah yang cukup besar. 6. Persaingan yang semakin ketat dengan negara-negara pesaing tetangga kita dan keterbukaan ekonomi yang semakin meningkat karena integrasi ekonomi secara regional dan global. 7. Dalam 30 tahun mendatang, komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh usia produktif. 8. Sejak Kongres Koperasi II tahun 1953 hingga saat ini belum ada Kongres lagi.
18 Tujuan Kongres III 1. Memfasilitasi berbagai pihak yang berkepentingan dengan pembangunan koperasi Indonesia, untuk menyepakati berbagai sasaran dan tindakan yang harus dicapai setiap lima tahun ke depan. 2. Merumuskan dan menyepakati langkah-langkah strategis untuk membangun masyarakat berbasis kerjasama dengan memanfaatkan roadmap pembangunan koperasi Indonesia. 3. Mengevaluasi secara rutin pencapaian pembangunan koperasi yang telah dilaksanakan sebelumnya. 4. Melakukan penyesuaian roadmap pembangunan koperasi Indonesia dengan perkembangan ekonomi global.
19 Output Kongres Koperasi III 1. Deklarasi untuk reafirmasi komitmen membangun perekonomian Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945; 2. Menyepakati usulan yang akan diajukan kepada Pemerintah untuk menyelenggarakan Sensus Koperasi Nasional (SUSKOPNAS) sekali dalam 10 tahun sebagai dasar penguatan implementasi Roadmap Pembangunan Koperasi; 3. Menyepakati dan meluncurkan Roadmap 30 Tahun Pembangunan Koperasi 4. Menyepakati strategi dan sistem pendidikan perkoperasian 30 tahun mendatang; 5. Menyepakati penyelenggaraan Kongres Koperasi secara regular 5 tahun sekali untuk mengkaji ulang pelaksanaan, melakukan penguatan implementasi, dan menyusun prospek perkembangan koperasi 5 tahunan.
20 Outcome Kongres Koperasi III 1. Dicantumkannya kembali penjelasan Pasal 33 dalam batang tubuh UUD Diusulkannya Undang-undang Tentang Perekonomian nasional. 3. Terciptanya koperasi sebagai soko guru perekonomian, yang didukung oleh berbagai Kebijakan dan mengacu pada roadmap pembangunan koperasi Indonesia. 4. Terciptanya SDM koperasi handal yang merupakan produk dari sistem pendidikan nasional, yang memenuhi standar kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan penumbuhkembangan koperasi Indonesia yang berorientasi global. 6. Terciptanya sinergi dari berbagai pihak terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penumbuhkembangan perkoperasian nasional berdasarkan guideline praksis perkoperasian di Indonesia. 7. Terciptanya sistem pemantauan dan evaluasi kinerja koperasi Indonesia yang terukur dan rutin setiap 5 tahun satu kali. 8. Tersedianya data dan informasi perkoperasian Indonesia yang akurat dan lengkap sebagai dasar penetapan berbagai kebijakan yang dibutuhkan dalam rangka penumbuhkembangan koperasi Indonesia.
21 Peserta Kongres Koperasi III Untuk mendapatkan pengakuan dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan perkoperasian, maka berbagai pihak yang akan dilibatkan dalam kongres ini adalah : 1. WATIMPRES 2. PEMERINTAH PUSAT (KEMENKOP, BAPENAS, MENKO PEREKONOMIAN, KEMENRISTEKDIKTI, KEMDIKBUD, KOMINFO) 3. NON-DEPARTEMEN (BI, OJK, KPPU, BKPM) 4. PIMPINAN DPR-RI DAN ANGGOTA KOMISI IV, V, VI, XI DPR-RI 5. KOMITE DAN PIMPINAN DPD 6. PERWAKILAN PEMERINTAH DAERAH (PEMBUKAAN SELURUH GUBERNUR DAN BUPATI/WALIKOTA BANTAENG, WALIKOTA PADANG, BLITAR, SOLO, KULON PROGO DAN BUPATI KLUNGKUNG, MAUMERE, LAINNYA) 7. TOKOH NASIONAL PERKOPERASIAN (SUBIYAKTO, DAWAM RAHARJO, SOELARSO, SRI EDI SWASONO, LAINNYA) 8. DEKOPIN, DEKOPINDA DAN DEKOPINWIL 6. AKADEMISI PEMINAT DAN/ATAU PENGAMAT KOPERASI (ADOPKOP, PERWAKILAN PTN DAN PTS, IKOPIN, UI, GAMA, UNS, UNAIR, ITB, ITS, UNDIP, UNSRI, USU, IPB, UNIVERSITAS MUHAMADIYAH MALANG DAN ACEH) 7. LSM YANG BERKOMITMEN PADA PENGEMBANGAN KOPERASI (LSP2I, PAKARTI, AMKI, AKSES) 8. PENGUSAHA (MOCHTAR RYADI, FRANKIE WELIRANG) 9. WORLD BANK (AHMAD SUBAGYO), ADB, IDB. 10. ICA GLOBAL DAN ICA ASIA PASIFIC (PRESIDEN + ROBBY TULUS, BALLU IYER) 11. EURICSE 12. GERAKAN KOPERASI INTERNASIONAL (ANGKASA, CCA, ACO, MAKTAB KERJASAMA MALAYSIA, GERAKAN KOPERASI ASEAN, ACEDAC, FAIRPRICE, JENOCH) 15. KEIN (SUTRISNO BACHIR, HENDRI SAPARINI,..) 16. INDUK DAN SEKUNDER KOPERASI (INKOPDIT, INKOPPOL, INKOPPAU, IKPN, ) 17. KOPERASI BESAR (KODANUA, KOSPINJASA, KPSBU, KSBW, PUSKOWAN JATI, KOP.BATU,.) 18. PERWAKILAN MAHASISWA
22 Terima Kasih Dewan Koperasi Indonesia Jl. Raya Pasar Minggu No. 97B Jakarta Selatan Hp:
Visi DEKOPIN 2045: Koperasi Pilar Negara
Member of : Visi DEKOPIN 2045: Koperasi Pilar Negara H.A.M Nurdin Halid Ketua Umum Dekopin Kondisi Objektif Kondisi Objektif Gerakan Koperasi Internal 1. Rendahnya idiologisasi koperasi pada anggota 2.
Kebijakan Pemerataan dan Keadilan Pelaku Ekonomi Dengan Memperkuat Koperasi Sebagai Soko Guru Perekonomian
Kebijakan Pemerataan dan Keadilan Pelaku Ekonomi Dengan Memperkuat Koperasi Sebagai Soko Guru Perekonomian Dr. Arif Budimanta Wakil Ketua KEIN Makassar, 14 Juli 2017 Negeri belumlah makmur dan belum menjalankan
BAB V VISI, MISI,TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI,TUJUAN DAN SASARAN Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapantahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan, guna pemanfaatan dan pengalokasian
Menteri Perindustrian Republik Indonesia NARASI PADA ACARA KONGRES GERAKAN ANGKATAN MUDA KRISTEN INDONESIA (GAMKI) TAHUN 2015
Menteri Perindustrian Republik Indonesia NARASI PADA ACARA KONGRES GERAKAN ANGKATAN MUDA KRISTEN INDONESIA (GAMKI) TAHUN 2015 Memajukan Industri Kawasan Timur Indonesia Manado, 30 April 2015 Yth.: 1. Gubernur
BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA SEMARANG
BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA SEMARANG Untuk memberikan arahan pada pelaksanaan pembangunan daerah, maka daerah memiliki visi, misi serta prioritas yang terjabarkan dalam dokumen perencanaannya. Bagi
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional POKOK-POKOK PENJELASAN PERS MENTERI NEGARA PPN/ KEPALA BAPPENAS TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG
KEPPRES 24/1999, PENGESAHAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DEWAN KOPERASI INDONESIA
Copyright (C) 2000 BPHN KEPPRES 24/1999, PENGESAHAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DEWAN KOPERASI INDONESIA *48766 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (KEPPRES) NOMOR 24 TAHUN 1999 (24/1999) TENTANG PENGESAHAN
PROGRAM PRIORITAS PEMBANGUNAN PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN
PROGRAM PRIORITAS PEMBANGUNAN PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN Disampaikan pada Rapat Koordinasi Teknis Tahun 2017 Makassar, 28 Februari 2017 PENGUATAN PERAN GUBERNUR SEBAGAI WAKIL PEMERINTAH DI WILAYAH
I. PENDAHULUAN. Perkembangan perekonomian di Indonesia tidak dapat terlepas dari tiga kelompok
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perekonomian di Indonesia tidak dapat terlepas dari tiga kelompok usaha yang menjadi pilar ekonomi nasional. Pilar ekonomi yang dimaksudkan adalah Badan Usaha
ARAH KEBIJAKAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG UMKM DAN KOPERASI
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL ARAH KEBIJAKAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG UMKM DAN KOPERASI Direktur Pengembangan UKM dan Koperasi Disampaikan
BAB IV LANDASAN PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM
BAB IV LANDASAN PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM Pancasila dan Undang-undang Dasar Tahun 1945 merupakan landasan ideologi dan konstitusional pembangunan nasional termasuk pemberdayaan koperasi dan usaha
PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KOORDINASI PENYULUHAN
- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KOORDINASI PENYULUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,
- 1 - BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI
- 1 - LAMPIRAN PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SOSIAL TAHUN 2015-2019. BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI
KERANGKA PELAKSANAAN TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (TPB)
KERANGKA PELAKSANAAN TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (TPB) Deputi Kemaritiman dan SDA Kementerian PPN/Bappenas Disampaikan pada Rapat Pedoman Teknis Perumusan RAN TPB Jakarta, 23 Juni 2016 OUTLINE 1.
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi
RENCANA KERJA (RENJA) DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR RENCANA KERJA (RENJA) DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016 DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR JL. GAYUNG KEBONSARI NO. 167 SURABAYA
ADHI PUTRA ALFIAN DIREKTUR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UKM BATAM, 18 JUNI 2014
ADHI PUTRA ALFIAN DIREKTUR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UKM BATAM, 18 JUNI 2014 OUTLINE 1. LINGKUNGAN STRATEGIS 2. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI 2 1. LINGKUNGAN STRATEGIS 3 PELUANG BONUS DEMOGRAFI Bonus Demografi
PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN
PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN 2010 2014 A. PENDAHULUAN Program Legislasi Nasional (Prolegnas) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA
PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU UTARA NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN LUWU UTARA TAHUN 2010-2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN
V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN Visi dan misi merupakan gambaran apa yang ingin dicapai Kota Surabaya pada akhir periode kepemimpinan walikota dan wakil walikota terpilih, yaitu: V.1
RINGKASAN DOKUMEN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) KABUPATEN PASURUAN TAHUN
RINGKASAN DOKUMEN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) KABUPATEN PASURUAN TAHUN 2005-2025 VISI : Kabupaten Pasuruan yang Agamis, Berdaya Saing, Mandiri, dan Sejahtera MISI : 1. Penerapan nilai-nilai
BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS
BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS IIV.1 Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Ngawi saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi lima tahun ke depan perlu mendapat
SAMBUTAN GUBERNUR SULAWESI TENGAH SELAKU KETUA BKPRS PADA: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL SULAWESI TAHUN 2018
SAMBUTAN GUBERNUR SULAWESI TENGAH SELAKU KETUA BKPRS PADA: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL SULAWESI TAHUN 2018 Gorontalo, 3-4 April 2018 S U L AW E S I B A R AT MELLETE DIATONGANAN
RPJMN dan RENSTRA BPOM
RPJMN 2015-2019 dan RENSTRA BPOM 2015-2019 Kepala Bagian Renstra dan Organisasi Biro Perencanaan dan Keuangan Jakarta, 18 Juli 2017 1 SISTEMATIKA PENYAJIAN RPJMN 2015-2019 RENCANA STRATEGIS BPOM 2015-2019
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN Melalui Buku Pegangan yang diterbitkan setiap tahun ini, semua pihak yang berkepentingan diharapkan dapat memperoleh gambaran umum tentang proses penyelenggaraan pemerintahan
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, khususnya dalam Pasal 1, angka 12 disebutkankan
REVITALISASI KOPERASI DI TENGAH MEA. Bowo Sidik Pangarso, SE Anggota DPR/MPR RI A-272
REVITALISASI KOPERASI DI TENGAH MEA Bowo Sidik Pangarso, SE Anggota DPR/MPR RI A-272 Apa itu Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) MEA adalah agenda integrasi ekonomi negara-negara ASEAN yang bertujuan untuk meminimalisasi
PEMERINTAH KABUPATEN BANGKALAN
PEMERINTAH KABUPATEN BANGKALAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKALAN NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH KABUPATEN BANGKALAN TAHUN 2005 2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
BAB IV VISI, MISI DAN STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN
-62- BAB IV VISI, MISI DAN STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2005-2025 4.1. Visi Pembangunan Daerah Berdasarkan kondisi Kabupaten Bangkalan sampai saat ini, isuisu strategis dan dengan memperhitungkan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi,
BAB VI. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien.
SISTEM EKONOMI INDONESIA Penafsiran Pancasila dan UUD 45. Pusat Kajian Ekonomi Kerakyatan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
SISTEM EKONOMI INDONESIA Penafsiran Pancasila dan UUD 45 Pusat Kajian Ekonomi Kerakyatan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Mengapa Sistem Ekonomi Indonesia? Semua rejim masa lalu memiliki
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi dalam RPJMD Kabupaten Cilacap 2012 2017 dirumuskan dengan mengacu kepada visi Bupati terpilih Kabupaten Cilacap periode 2012 2017 yakni Bekerja dan Berkarya
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.4, 2014 EKONOMI. Pembangunan. Perindustrian. Perencanaan. Penyelenggaraan. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5492) UNDANG-UNDANG
UU Nomor 16 Tahun 2006 Tentang SISTEM PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN (SP3K)
UU Nomor 16 Tahun 2006 Tentang SISTEM PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN (SP3K) PUSAT PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEWIRAUSAHAAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEWIRAUSAHAAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan
Disampaikan oleh: MENTERI DALAM NEGERI TJAHJO KUMOLO KEMENTERIAN DALAM NEGERI. Yogyakarta, 7 Maret 2016
Disampaikan oleh: MENTERI DALAM NEGERI TJAHJO KUMOLO KEMENTERIAN DALAM NEGERI Yogyakarta, 7 Maret 2016 ARTI PENTING FORUM MUSRENBANG RKPD TAHUN 2017 Partisipasi seluruh pemangku kepentingan Kesejahteraan
KESIAPAN KABUPATEN MAROS MELAKSANAKAN SDGs. Ir. H. M. HATTA RAHMAN, MM (BUPATI MAROS)
KESIAPAN KABUPATEN MAROS MELAKSANAKAN Ir. H. M. HATTA RAHMAN, MM (BUPATI MAROS) LATAR BELAKANG KONDISI KABUPATEN MAROS PASCA MDGs (RPJMD PERIODE 2010 2015) DATA CAPAIAN INDIKATOR MDGs TAHUN 2010 2015 MENUNJUKAN
Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruh isi paparan ini dengan mencantumkan sumber kutipan atas nama Komite Ekonomi dan Industri Nasional
EKONOMI PANCASILA 1 2 Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruh isi paparan ini dengan mencantumkan sumber kutipan atas nama Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) 2018 Pendiri Bangsa Membangun
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. VISI PEMBANGUNAN Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2008 tentang
MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,
SALINAN KEPUTUSAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR KEP.55/M.PPN/HK/04/2015 TENTANG RENCANA PEMANFAATAN PINJAMAN LUAR NEGERI TAHUN 2015-2019
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG KEBIJAKAN PERCEPATAN PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL
PERATURAN PRESIDEN NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG KEBIJAKAN PERCEPATAN PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang Mengingat : a. bahwa
PERAN STRATEGIS KEMENTERIAN DALAM NEGERI DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH MENUJU PENCAPAIAN GOOD GOVERNANCE
PERAN STRATEGIS KEMENTERIAN DALAM NEGERI DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH MENUJU PENCAPAIAN GOOD GOVERNANCE 1 INTRO GAGASAN UNTUK MEREKONSTRUKSI FORMAT KEPEMERINTAHAN TELAH MENGKRISTALISASI
Pokok-Pokok Pikiran DPRD Provinsi Jawa Tengah Untuk Pembangunan Jawa Tengah Tahun
Pokok-Pokok Pikiran DPRD Provinsi Jawa Tengah Untuk Pembangunan Jawa Tengah Tahun 2013-2018 Yth. Bp. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas ; Ysh. Menteri Dalam Negeri yang diwakili
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka memperbaiki dan membangun karakter bangsa Indonesia dengan melaksanakan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur
BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)
Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah BAB II RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) A. Visi dan Misi 1. Visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sleman 2010-2015 menetapkan
Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional STRATEGI NASIONAL PENANGGULANGAN KEMISKINAN, RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2004 2009,
- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG
- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN 3.1 Telaahan terhadap Kebijakan Nasional Rencana program dan kegiatan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pemalang mendasarkan pada pencapaian Prioritas
MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,
SALINAN KEPUTUSAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR KEP.56/M.PPN/HK/03/2015 TENTANG RENCANA PEMANFAATAN HIBAH TAHUN 2015-2019 MENTERI PERENCANAAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN NOMOR 7 TAHUN 2013
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KATINGAN, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan peningkatan
Mendukung terciptanya kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Meningkatnya jumlah minat investor untuk melakukan investasi di Indonesia
E. PAGU ANGGARAN BERDASARKAN PROGRAM No. Program Sasaran Program Pengembangan Kelembagaan Ekonomi dan Iklim Usaha Kondusif 1. Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi Mendukung terciptanya kesempatan
PEMIKIRAN EKONOMI PANCASILA
PEMIKIRAN EKONOMI PANCASILA Disusun oleh NAMA : HAMDANI DHARMA YUNA RIMOSAN NIM : 11.11.4844 Kelompok : c JURUSAN : S1-teknik informatika DOSEN : drs. Tahajudin soedibyo STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011/2012
BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA
BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Development is not a static concept. It is continuously changing. Atau bisa
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 VISI Dalam periode Tahun 2013-2018, Visi Pembangunan adalah Terwujudnya yang Sejahtera, Berkeadilan, Mandiri, Berwawasan Lingkungan dan Berakhlak Mulia. Sehingga
UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DAN LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PERATURAN PELAKSANAANNYA
UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DAN LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PERATURAN PELAKSANAANNYA Disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Dalam acara Rapat Kerja Kementerian Perindustrian tahun
BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH
BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH 3.1. Visi Berdasarkan kondisi masyarakat dan modal dasar Kabupaten Solok saat ini, serta tantangan yang dihadapi dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang, maka
LD NO.14 PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL I. UMUM
I. UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL 1. Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, sebagai upaya terus menerus
BAB I PENDAHULUAN. yang paling berperan dalam menentukan proses demokratisasi di berbagai daerah.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di negara Indonesia salah satu institusi yang menunjukkan pelaksanaan sistem demokrasi tidak langsung adalah DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah.
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:a.bahwa setiap warga negara berhak untuk
LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2012
[Type text] LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2012 BUKU I: Prioritas Pembangunan, serta Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan
PEMBINAAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH MELALUI PENERAPAN STANDAR NASIONAL INDONESIA. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan
2014 PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA SELATAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PEMBINAAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH MELALUI PENERAPAN STANDAR NASIONAL INDONESIA Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, disebutkan bahwa setiap Provinsi, Kabupaten/Kota wajib menyusun RPJPD
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BINA PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN PERHUTANAN SOSIAL NOMOR: P. 1 /V-SET/2014 TENTANG
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BINA PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN PERHUTANAN SOSIAL NOMOR: P. 1 /V-SET/2014 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PEMBENTUKAN SENTRA HASIL HUTAN BUKAN KAYU UNGGULAN DIREKTUR JENDERAL
PPN/Bappenas: KNKS Untuk Percepatan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Indonesia Kamis, 27 Juli 2017
PPN/Bappenas: KNKS Untuk Percepatan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Indonesia Kamis, 27 Juli 2017 Pada 2016, penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 258,7 juta jiwa dan sekitar 85 persen
Disampaikan pada acara : Rapat Koordinasi Nasional Pemberdayaan KUMKM Tahun 2014
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Disampaikan pada acara : Rapat Koordinasi Nasional Pemberdayaan KUMKM Tahun 2014 Deputi Menteri Bidang Produksi Jakarta, Desember 2014
Kebijakan Pemerataan Ekonomi Dalam Rangka Menurunkan Kemiskinan. Lukita Dinarsyah Tuwo
Kebijakan Pemerataan Ekonomi Dalam Rangka Menurunkan Kemiskinan Lukita Dinarsyah Tuwo Solo, 26 Agustus 2017 DAFTAR ISI 1. LATAR BELAKANG 2. KEBIJAKAN PEMERATAAN EKONOMI 3. PRIORITAS QUICK WIN Arah Kebijakan
BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Tapin tahun 2013-2017 selaras dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN
SALINAN BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang : bahwa untuk
SAMBUTAN MENTERI PPN/KEPALA BAPPENAS
SAMBUTAN MENTERI PPN/KEPALA BAPPENAS GIZI: Magnitude dalam Membanguan Manusia dan Masyarakat Permasalahan gizi merupakan permasalahan sangat mendasar bagi manusia Bagi Indonesia, permasalahan ini sangat
Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.
Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. 1. Atas undangan Organisasi Kesehatan Dunia, kami, Kepala Pemerintahan, Menteri dan perwakilan pemerintah datang
Siaran Pers KemenkopUKM: Koperasi jadi Institusi Ekonomi Rakyat di Masa Depan Jumat, 14 Juli 2017
Siaran Pers KemenkopUKM: Koperasi jadi Institusi Ekonomi Rakyat di Masa Depan Jumat, 14 Juli 2017 Presiden Jokowi akan menempatkan Koperasi sebagai salah satu instusi ekonomi rakyat yang penting dalam
BAB I PENDAHULUAN I-1
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT NOMOR : TAHUN 2016 TANGGAL : 2016 TENTANG : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH KABUPATEN SUMBA BARAT TAHUN 2016 2021 BAB I PENDAHULUAN
MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,
SALINAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR KEP.99/M.PPN/HK/11/2011 TENTANG RENCANA PEMANFAATAN HIBAH TAHUN 2011-2014 MENTERI
BABV VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN
BABV VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN 5.1. Visi Memajukan Kesejahteraan Umum merupakan amanat Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945, alinea IV, yang harus diupayakan secara optimal terwujud dalam pelaksanaan
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak
KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN PADA PERINGATAN HARI ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Sambutan KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN PADA PERINGATAN HARI ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA Ke-69 Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945 Kita Dukung Suksesi Kepemimpinan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH NOMOR : 5 TAHUN 2016 TENTANG : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2016-2021. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA
BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA Ekonomi rakyat merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan
RAPAT KOORDINASI PERENCANAAN
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KABUPATEN TANGGAMUS RAPAT KOORDINASI PERENCANAAN KOTA AGUNG, 15 FEBRUARI 2018 PEMERINTAH KABUPATEN TANGGAMUS PROVINSI LAMPUNG Created by Bidang Pendanaan
BAHAN TAYANG MODUL 5
Modul ke: PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN HUBUNGAN PANCASILA DENGAN PEMBUKAAN UUD 1945 SERTA PENJABARAN PADA PASAL- PASAL UUD 1945 DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBUATAN KEBIJAKAN NEGARA SEMESTER GASAL
PELAYANAN INFORMASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA UNIT PELAYANAN INFORMASI PUBLIK PPID RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) PELAYANAN INFORMASI PUBLIK BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Salah satu prasyarat penting
BAPPEDA KAB. LAMONGAN
BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1 Sasaran Pokok dan Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Untuk Masing masing Misi Arah pembangunan jangka panjang Kabupaten Lamongan tahun
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih yang disampaikan pada waktu pemilihan kepala daerah (pilkada). Visi Kepala
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia
=============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan
Yang Terhormat: Sulawesi Tengah
SAMBUTAN PIMPINAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DALAM KEGIATAN RAPAT MONEV KOORDINASI DAN SUPERVISI GERAKAN NASIONAL PENYELAMATAN SUMBERDAYA ALAM SEKTOR KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN MAKASSAR, 26 AGUSTUS 2015
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Sesuai dengan amanat Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Kubu Raya Tahun 2009-2029, bahwa RPJMD
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO
PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SITUBONDO NOMOR 06 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEPELOPORAN PEMUDA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEPELOPORAN PEMUDA, SERTA PENYEDIAAN PRASARANA DAN SARANA KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
