IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Surya Setiabudi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 49 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pembangunan Model Perumusan Kriteria Kawasan Hutan Konservasi yang Perlu Segera Direstorasi Rumusan kriteria kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi meliputi 2 (dua) aspek yang dipertimbangkan, yaitu: aspek tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi dan aspek tingkat kemendesakan (urgency) suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan 7 (tujuh) kriteria hipotetik kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi berdasarkan aspek tingkat kepentingan diperoleh 17 kriteria dari rekapitulasi kriteria hasil wawancara pakar yang selanjutnya dirumuskan menjadi 8 (delapan) kriteria (Lampiran 5). Adapun berdasarkan hasil pembobotan terhadap 8 (delapan) kriteria tersebut oleh pengambil kebijakan dapat diketahui bahwa bobot kriteria untuk menentukan prioritas kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi berdasarkan aspek tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi (Gambar 10) terdiri atas: keberadaan jenis langka dan dilindungi (bobot: 0,310), keanekaragaman tipe ekosistem (bobot: 0,181), potensi keanekaragaman jenis (bobot: 0,142), ekosistem penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir (bobot: 0,127), pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari oleh stakeholders (bobot: 0,122), lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam (bobot: 0,050), tempat peninggalan budaya (bobot: 0,035), dan logistik bagi penelitian dan pendidikan (bobot: 0,033). Gambar 10 Bobot kriteria dalam menentukan proritas kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi berdasarkan aspek tingkat kepentingan suatu kawasan hutan konservasi
2 50 Berdasarkan uraian tersebut, nampak jelas bahwa kriteria kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi berdasarkan aspek tingkat kepentingan yang memiliki bobot dominan adalah sebanyak 5 (lima) kriteria, yaitu: keberadaan jenis langka dan dilindungi, keanekaragaman tipe ekosistem, potensi keanekaragaman jenis, ekosistem penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir, dan pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari oleh stakeholders. Kriteria yang digunakan untuk menentukan prioritas kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi berdasarkan aspek tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi secara lebih detail dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Keanekaragaman tipe ekosistem Deskripsi kriteria: Keberadaan beberapa tipe ekosistem dalam suatu kawasan hutan konservasi, seperti: ekosistem hutan mangrove, ekosistem hutan pantai, ekosistem hutan rawa, ekosistem hutan gambut, ekosistem hutan musim, ekosistem hutan kerangas, ekosistem padang rumput/savana, ekosistem danau, ekosistem hutan hujan dataran rendah, ekosistem hutan hujan dataran tinggi ( mdpl), ekosistem hutan hujan pegunungan bawah (submontana) ( mdpl), ekosistem hutan hujan pegunungan (montana) (> mdpl), ekosistem hutan hujan subalpin (> mdpl), ekosistem hutan hujan alpin (> mdpl). Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,181 Persyaratan yang harus dipenuhi: Jumlah tipe ekosistem yang terdapat di suatu kawasan hutan konservasi 2. Potensi keanekaragaman jenis Deskripsi kriteria: Keberadaan berbagai jenis tumbuhan dan satwaliar di suatu kawasan hutan konservasi Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,142
3 51 Persyaratan yang harus dipenuhi: Jumlah tumbuhan dan satwaliar yang terdapat di suatu kawasan hutan konservasi 3. Keberadaan jenis langka dan dilindungi Deskripsi kriteria: Keberadaan jenis-jenis tumbuhan dan satwaliar yang tergolong jenis langka dan dilindungi di suatu kawasan hutan konservasi Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,310 Persyaratan yang harus dipenuhi: Terdapatnya jenis tumbuhan dan satwaliar langka dan dilindungi di suatu kawasan hutan konservasi 4. Ekosistem penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir Deskripsi kriteria: Ekosistem yang mempunyai peran dan fungsi penting dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat dan sebagai pengendali banjir bagi daerah-daerah di sekitar suatu kawasan hutan konservasi Ekosistem yang termasuk ke dalam ekosistem penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir adalah sebagai berikut: hutan berawan; hutan pada punggung gunung (ridge forest); ekosistem riparian; hutan karst/batu kapur; berbagai ekosistem lahan basah, termasuk lahan gambut (terutama yang masih berhutan), hutan rawa air tawar, hutan bakau, danau, dan rawa padang rumput. Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,127 Persyaratan yang harus dipenuhi: Jumlah ekosistem penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir yang terdapat di suatu kawasan hutan konservasi 5. Lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam Deskripsi kriteria: Keberadaan lansekap atau ciri geofisik yang dapat menjadi obyek wisata alam di suatu kawasan hutan konservasi, seperti: gua, air terjun, danau, mata air panas, puncak gunung, kawah.
4 52 Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar = 0,050 Persyaratan yang harus dipenuhi: Jumlah lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam yang terdapat di suatu kawasan hutan konservasi 6. Tempat peninggalan budaya Deskripsi kriteria: Keberadaan situs/tempat peninggalan budaya di suatu kawasan hutan konservasi. Situs/tempat peninggalan budaya tersebut dapat berupa: makam keramat, hutan yang dikeramatkan, situs keramat/bersejarah (candi, kuil, galian purbakala), tempat ritual upacara/pemujaan. Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar = 0,035 Persyaratan yang harus dipenuhi: Keaktifan/pemanfaatan tempat peninggalan budaya di suatu kawasan hutan konservasi dan keberadaan masyarakat adat yang memanfaatkan tempat peninggalan budaya tersebut 7. Logistik bagi penelitian dan pendidikan Deskripsi kriteria: Ketersediaan logistik bagi kegiatan penelitian dan pendidikan di suatu kawasan hutan konservasi. Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar = 0,033 Persyaratan yang harus dipenuhi: Tersedianya logistik bagi kegiatan penelitian dan pendidikan di suatu kawasan hutan konservasi yang meliputi: tersedianya sarana dan prasarana penelitian, obyek penelitian mudah dijumpai/ditemukan, terdapatnya sistem pengelolaan data base penelitian, tersedianya pendamping lapangan yang profesional, tersedianya peralatan penelitian yang memadai
5 53 8. Pemanfaatan SDA secara lestari oleh stakeholders Deskripsi kriteria: Kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) secara lestari oleh stakeholders di suatu kawasan hutan konservasi, seperti: pemanfaatan air, jasa wisata alam, panas bumi, penelitian, pendidikan. Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,122 Persyaratan yang harus dipenuhi: Terdapatnya beberapa persyaratan agar kegiatan pemanfaatan SDA di suatu kawasan hutan konservasi oleh stakeholders dapat lestari, yaitu: - Adanya MoU (nota kesepakatan) antara stakeholders pemanfaat SDA dengan pihak pengelola suatu kawasan hutan konservasi - Adanya rencana pemanfaatan SDA di suatu kawasan hutan konservasi - Adanya rencana pemulihan SDA di suatu kawasan hutan konservasi apabila terjadi kerusakan SDA akibat kegiatan pemanfaatan SDA tersebut Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan 4 (empat) kriteria hipotetik kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi berdasarkan aspek tingkat kemendesakan diperoleh 9 (sembilan) kriteria dari rekapitulasi kriteria hasil wawancara pakar yang selanjutnya dirumuskan menjadi 7 (tujuh) kriteria (Lampiran 5). Adapun berdasarkan hasil pembobotan terhadap 7 (tujuh) kriteria tersebut oleh pengambil kebijakan dapat diketahui bahwa bobot kriteria untuk menentukan prioritas kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi berdasarkan aspek tingkat kemendesakan (urgency) suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi (Gambar 11) terdiri atas: akibat yang ditimbulkan dari kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi (bobot: 0,287), besarnya kepedulian stakeholders sebagai penerima manfaat kawasan hutan konservasi (bobot: 0,182), bentuk dan sebaran kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi (bobot: 0,162), persentase kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi (bobot: 0,132), macam aktivitas masyarakat sekitar di suatu kawasan hutan konservasi (bobot: 0,106), luasan suatu kawasan hutan konservasi (bobot: 0,069), dan keberadaan hutan miskin jenis (hutan tanaman) di suatu kawasan hutan konservasi (bobot: 0,062). Secara detail, perhitungan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) kriteria kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi disajikan pada Lampiran 17.
6 54 Gambar 11 Bobot kriteria dalam menentukan proritas kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi berdasarkan aspek tingkat kemendesakan suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi Berdasarkan uraian tersebut, nampak jelas bahwa kriteria kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi berdasarkan aspek tingkat kemendesakan yang memiliki bobot dominan adalah sebanyak 4 (empat) kriteria, yaitu: akibat yang ditimbulkan dari kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi, besarnya kepedulian stakeholders sebagai penerima manfaat, bentuk dan sebaran kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi, dan persentase kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi. Kriteria yang digunakan untuk menentukan prioritas kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi berdasarkan aspek tingkat kemendesakan (urgency) suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi secara lebih detail dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Persentase kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi Deskripsi kriteria: Persentase kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi apabila dibandingkan dengan luas suatu kawasan hutan konservasi tersebut. Kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi didekati dari konsep deforestasi hutan. Deforestasi berarti terjadinya perubahan dari kondisi berhutan menjadi kondisi tidak berhutan. Kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi tersebut dapat terjadi karena beberapa hal, seperti: terjadinya penebangan liar, perambahan hutan, kebakaran hutan, pertambangan, dan bencana alam. Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar = 0,132
7 55 Persyaratan yang harus dipenuhi: Besarnya persentase kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi 2. Bentuk dan sebaran kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi Deskripsi kriteria: Bentuk dan sebaran kerusakan hutan yang terjadi di suatu kawasan hutan konservasi. Bentuk kerusakannya dapat membulat, memanjang, tidak beraturan. Sedangkan sebaran kerusakannya dapat menyebar, mengumpul, tidak beraturan. Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,162 Persyaratan yang harus dipenuhi: Jenis bentuk dan sebaran kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi 3. Akibat yang ditimbulkan dari kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi Deskripsi kriteria: Akibat yang ditimbulkan dari kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi dapat berupa terjadinya banjir, erosi, tanah longsor, kekeringan, penurunan kualitas air, maupun bencana alam lainnya. Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,287 Persyaratan yang harus dipenuhi: Frekuensi terjadinya bencana alam sebagai akibat yang ditimbulkan dari kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi. 4. Luasan suatu kawasan hutan konservasi Deskripsi kriteria: Luas wilayah suatu kawasan hutan konservasi Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,069 Persyaratan yang harus dipenuhi: Ukuran/luas wilayah suatu kawasan hutan konservasi
8 56 5. Keberadaan hutan miskin jenis (hutan tanaman) di suatu kawasan hutan konservasi Deskripsi kriteria: Keberadaan hutan dengan jenis-jenis tumbuhan yang sedikit/cenderung homogen di suatu kawasan hutan konservasi yang tidak alami, misalya berupa hutan eks hutan tanaman yang kemudian beralih fungsi menjadi hutan konservasi. Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,062 Persyaratan yang harus dipenuhi: Besarnya persentase hutan miskin jenis (hutan tanaman) di suatu kawasan hutan konservasi apabila dibandingkan dengan luas seluruh kawasan hutan konservasi tersebut. 6. Macam aktivitas masyarakat sekitar di suatu kawasan hutan konservasi Deskripsi kriteria: Macam aktivitas yang dilakukan masyarakat sekitar di suatu kawasan hutan konservasi. Macam aktivitas masyarakat tersebut dapat berupa aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan lahan kawasan hutan (berladang, berkebun, menambang mineral) maupun aktivitas yang berkaitan dengan pemanfaatan hasil hutan (hasil hutan kayu: mengambil kayu, maupun hasil hutan nonkayu: menyadap getah, mengambil buah, daun, madu, berburu) Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,106 Persyaratan yang harus dipenuhi: Terdapatnya macam aktivitas yang dilakukan masyarakat sekitar di suatu kawasan hutan konservasi 7. Besarnya kepedulian stakeholders sebagai penerima manfaat kawasan hutan konservasi Deskripsi kriteria: Besarnya kepedulian stakeholders sebagai penerima manfaat kawasan hutan konservasi.
9 57 Bobot kriteria: Berdasarkan hasil pembobotan melalui teknik perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) diperoleh nilai bobot untuk kriteria ini sebesar=0,182 Persyaratan yang harus dipenuhi: Terdapatnya kontribusi stakeholders sebagai penerima manfaat kawasan hutan konservasi terhadap pelestarian kawasan hutan konservasi dan pembangunan masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing kriteria kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi seperti yang telah dijelaskan dalam uraian sebelumnya memiliki variabel penilaian dan skala intensitas seperti terlihat pada Tabel 3 berikut ini. Tabel 3 Kriteria dalam merumuskan kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi No. Kriteria Bobot Persyaratan yang Harus Dipenuhi Variabel Penilaian Skala Intensitas I. Aspek tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi 1. Keberadaan jenis langka dan dilindungi *) 0,310 Terdapatnya jenis tumbuhan dan satwaliar langka dan dilindungi di suatu kawasan hutan konservasi Tidak terdapat tumbuhan langka dan dilindungi serta tidak terdapat satwaliar langka dan dilindungi Terdapat tumbuhan langka atau dilindungi serta terdapat satwaliar langka atau dilindungi Terdapat tumbuhan langka dan dilindungi serta terdapat satwaliar langka atau dilindungi Terdapat tumbuhan langka atau dilindungi serta terdapat satwaliar langka dan dilindungi Terdapat tumbuhan langka dan dilindungi serta terdapat satwaliar langka dan dilindungi Keanekaragaman tipe ekosistem *) 0,181 Jumlah tipe ekosistem yang terdapat di suatu kawasan hutan konservasi < 3 tipe ekosistem 1
10 58 No. Kriteria Bobot Persyaratan yang Harus Dipenuhi Variabel Penilaian Skala Intensitas 3 4 tipe 2 ekosistem 5 6 tipe 3 ekosistem 7 8 tipe 4 ekosistem > 8 tipe ekosistem 5 3. Potensi keanekaragaman jenis 0,142 Jumlah tumbuhan dan satwaliar yang terdapat di suatu kawasan hutan konservasi Tidak terdapat tumbuhan dan tidak terdapat satwaliar < 500 jenis tumbuhan dan < 100 jenis satwaliar 500 jenis tumbuhan dan < 100 jenis satwaliar < 500 jenis tumbuhan dan 100 jenis satwaliar 500 jenis tumbuhan dan 100 jenis satwaliar Ekosistem penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir *) 0,127 Jumlah ekosistem penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir yang terdapat di suatu kawasan hutan konservasi 1 ekosistem penting 2 ekosistem penting 3 ekosistem penting 4 ekosistem penting > 4 ekosistem penting Pemanfaatan SDA secara lestari oleh stakeholders 0,122 Terdapatnya beberapa persyaratan agar kegiatan pemanfaatan SDA di suatu kawasan hutan konservasi oleh stakeholders dapat lestari, yaitu: - Adanya MoU (nota kesepakatan) antara stakeholders pemanfaat SDA dengan pihak pengelola suatu kawasan hutan konservasi - Adanya rencana pemanfaatan SDA di suatu kawasan hutan konservasi - Adanya rencana pemulihan SDA di suatu kawasan hutan konservasi apabila 0% (tidak ada) stakeholders memenuhi persyaratan < 25% stakeholders memenuhi persyaratan 25% - 50% stakeholders memenuhi persyaratan > 50% - 75% stakeholders memenuhi persyaratan > 75% stakeholders memenuhi persyaratan
11 59 No. Kriteria Bobot Persyaratan yang Harus Dipenuhi terjadi kerusakan SDA akibat kegiatan pemanfaatan SDA tersebut Variabel Penilaian Skala Intensitas 6. Lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam *) 0,050 Jumlah lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam yang terdapat di suatu kawasan hutan konservasi 1 lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam 2 lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam 3 lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam 4 lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam > 4 lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam Tempat peninggalan budaya *) 0,035 Keaktifan/pemanfaatan tempat peninggalan budaya di suatu kawasan hutan konservasi dan keberadaan masyarakat adat yang memanfaatkan tempat peninggalan budaya tersebut Tidak pernah dikunjungi lagi Kadang-kadang dikunjungi dan tidak terdapat masyarakat adat Kadang-kadang dikunjungi dan masih terdapat masyarakat adat Rutin dikunjungi dan tidak terdapat masyarakat adat Rutin dikunjungi dan masih terdapat masyarakat adat Logistik bagi penelitian dan pendidikan 0,033 Tersedianya logistik bagi kegiatan penelitian dan pendidikan di suatu kawasan hutan konservasi yang meliputi: - Tersedianya sarana dan prasarana penelitian - Obyek penelitian mudah dijumpai/ditemukan - Terdapatnya sistem pengelolaan data 1 persyaratan terpenuhi 2 persyaratan terpenuhi 3 persyaratan terpenuhi 4 persyaratan terpenuhi 5 persyaratan terpenuhi
12 60 No. Kriteria Bobot Persyaratan yang Harus Dipenuhi base penelitian - Tersedianya pendamping lapangan yang profesional - Tersedianya peralatan penelitian yang memadai Variabel Penilaian Skala Intensitas II. Aspek tingkat kemendesakan (urgency) suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi: 1. Akibat yang 0,287 Frekuensi terjadinya Bencana alam 1 ditimbulkan dari bencana alam sebagai terjadi 1 kerusakan hutan di akibat yang kali/tahun suatu kawasan ditimbulkan dari Bencana alam 2 hutan konservasi kerusakan hutan di terjadi 2 kali/tahun suatu kawasan hutan Bencana alam 3 konservasi terjadi 3 kali/tahun Bencana alam 4 terjadi 4 kali/tahun Bencana alam terjadi > 4 kali/tahun 5 2. Besarnya kepedulian stakeholders sebagai penerima manfaat kawasan hutan konservasi 0,182 Terdapatnya kontribusi stakeholders sebagai penerima manfaat kawasan hutan konservasi terhadap pelestarian kawasan hutan konservasi dan pembangunan masyarakat sekitar 0% (tidak ada) stakeholders berkontribusi terhadap pelestarian kawasan hutan konservasi dan pembangunan masyarakat sekitar < 25% stakeholders berkontribusi terhadap pelestarian kawasan hutan konservasi dan pembangunan masyarakat sekitar 25% - 50% stakeholders berkontribusi terhadap pelestarian kawasan hutan konservasi dan pembangunan masyarakat sekitar > 50% - 75% stakeholders berkontribusi terhadap pelestarian
13 61 No. Kriteria Bobot Persyaratan yang Harus Dipenuhi Variabel Penilaian kawasan hutan konservasi dan pembangunan masyarakat sekitar > 75% stakeholders berkontribusi terhadap pelestarian kawasan hutan konservasi dan pembangunan masyarakat sekitar Skala Intensitas 5 3. Bentuk dan sebaran kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi 0,162 Jenis bentuk dan sebaran kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi Bentuk kerusakan dan sebaran kerusakan tidak beraturan Bentuk kerusakan memanjang dan sebaran kerusakan menyebar Bentuk kerusakan membulat dan sebaran kerusakan menyebar Bentuk kerusakan memanjang dan sebaran kerusakan mengumpul Bentuk kerusakan membulat dan sebaran kerusakan mengumpul Persentase kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi 0,132 Besarnya persentase kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi 0% (tidak ada) mengalami kerusakan hutan < 25% mengalami kerusakan hutan 25% - 50% mengalami kerusakan hutan > 50% - 75% mengalami kerusakan hutan > 75% mengalami kerusakan hutan Macam aktivitas masyarakat sekitar di suatu kawasan hutan konservasi 0,106 Terdapatnya macam aktivitas yang dilakukan masyarakat sekitar di suatu Tidak ada aktivitas pengelolaan lahan dan tidak ada aktivitas 1
14 62 No. Kriteria Bobot Persyaratan yang Harus Dipenuhi kawasan hutan konservasi Variabel Penilaian pemanfaatan hasil hutan Hanya ada aktivitas pemanfaatan hasil hutan nonkayu Tidak ada aktivitas pengelolaan lahan dan ada aktivitas pemanfaatan hasil hutan kayu Ada aktivitas pengelolaan lahan dan tidak ada aktivitas pemanfaatan hasil hutan kayu Ada aktivitas pengelolaan lahan dan ada aktivitas pemanfaatan hasil hutan kayu Skala Intensitas Luasan suatu kawasan hutan konservasi 0,069 Ukuran/luas wilayah suatu kawasan hutan konservasi ha ha - < ha ha - < ha ha - < ha < ha 5 7. Keberadaan hutan miskin jenis (hutan tanaman) di suatu kawasan hutan konservasi 0,062 Besarnya persentase hutan miskin jenis (hutan tanaman) di suatu kawasan hutan konservasi apabila dibandingkan dengan luas seluruh kawasan hutan konservasi tersebut 0% (tidak ada) kawasan hutan konservasi berupa hutan miskin jenis (hutan tanaman) < 25% kawasan hutan konservasi berupa hutan miskin jenis (hutan tanaman) 25% - 50% kawasan hutan konservasi berupa hutan miskin jenis (hutan tanaman) > 50% - 75% kawasan hutan konservasi berupa hutan miskin jenis (hutan tanaman) > 75% kawasan hutan konservasi berupa hutan miskin jenis (hutan tanaman) Keterangan: *) Modifikasi dari Pengelolaan Kawasan yang Dilindungi di Daerah Tropika (MacKinnon, 1993)
15 Perumusan Kriteria Lokasi/Bagian Kawasan Hutan Konservasi Tertentu yang Perlu Segera Direstorasi Berdasarkan hasil studi literatur dapat diketahui bahwa kawasan hutan konservasi berupa taman nasional saat ini berjumlah 50 unit, yang terbagi menjadi 24 unit (48%) tergolong taman nasional yang memiliki ekosistem hutan dataran rendah dan 26 unit (52%) tergolong taman nasional yang memiliki ekosistem hutan pegunungan. Secara umum, ke-50 taman nasional tersebut memiliki kondisi umum yang sama, yaitu berupa: penutupan lahan, kekayaan jenis tumbuhan, sebaran satwaliar langka atau dilindungi, lereng, elevasi, jenis tanah, intensitas hujan, luas kerusakan kawasan hutan konservasi, kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi, dan luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi. Secara lebih detail kondisi umum ke-50 taman nasional tersebut disajikan pada Lampiran 3 Lampiran 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan 9 (sembilan) kriteria hipotetik lokasi/bagian kawasan hutan konservasi tertentu yang perlu segera direstorasi diperoleh 15 kriteria dari rekapitulasi kriteria hasil wawancara pakar yang selanjutnya dirumuskan menjadi 10 kriteria (Lampiran 6). Adapun berdasarkan hasil pembobotan terhadap 10 kriteria tersebut oleh pengambil kebijakan dapat diketahui bahwa bobot kriteria untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi (Gambar 12) terdiri atas: luas kerusakan kawasan hutan konservasi (bobot: 0,219), kekayaan jenis tumbuhan (bobot: 0,151), sebaran satwaliar langka atau dilindungi (bobot: 0,128), penutupan lahan (bobot: 0,117), lereng (slope) (bobot: 0,110), intensitas hujan (curah hujan tahunan rata-rata/hari hujan total dalam satu tahun) (bobot: 0,065), kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi (bobot: 0,063), jenis tanah (kepekaan terhadap erosi) (bobot: 0,054), elevasi/ketinggian (bobot: 0,051), dan luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi (bobot: 0,041). Dengan demikian kriteria lokasi/bagian kawasan hutan konservasi tertentu yang perlu segera direstorasi yang terpenting adalah luas kerusakan kawasan hutan konservasi, kekayaan jenis tumbuhan, sebaran satwaliar langka dan dilindungi, penutupan lahan, dan lereng. Secara detail, perhitungan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) kriteria lokasi/bagian kawasan hutan konservasi tertentu yang perlu segera direstorasi disajikan pada Lampiran 18.
16 64 Gambar 12 Bobot kriteria dalam menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi seperti yang telah disebutkan dalam uraian sebelumnya memiliki variabel penilaian dan skala intensitas seperti terlihat pada Tabel 4 berikut ini. Tabel 4 Kriteria dalam merumuskan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi No. Kriteria Bobot Persyaratan yang Harus Dipenuhi Variabel Penilaian Skala Intensitas 1. Luas kerusakan kawasan hutan konservasi 2. Kekayaan jenis tumbuhan 0,219 Besarnya/luasnya kerusakan kawasan hutan konservasi 0,151 Jumlah jenis tumbuhan di kawasan hutan konservasi < 0,25 ha 1 0,25 0,5 ha 2 > 0,5 0,75 ha 3 > 0,75 1 ha 4 > 1 ha 5 < > Sebaran satwaliar langka atau dilindungi 0,128 Jumlah beserta sebaran (wilayah jelajah) satwaliar langka atau dilindungi di kawasan hutan konservasi 4. Penutupan lahan 0,117 Tipe penutupan lahan di kawasan hutan konservasi 5. Lereng (slope) *) 0,110 Tipe kelas lereng (slope) di kawasan < 2 jenis 5 2 jenis 4 3 jenis 3 4 jenis 2 > 4 jenis 1 Hutan primer 1 Hutan sekunder 2 Hutan tanaman 3 Semak/belukar 4 Lahan terbuka % 1 > 8 15 % 2
17 65 No. Kriteria Bobot Persyaratan yang Harus Dipenuhi Variabel Penilaian Skala Intensitas hutan konservasi > % 3 > % 4 > 45 % 5 6. Intensitas hujan *) 0,065 Curah hujan tahunan rata-rata/hari hujan total dalam satu tahun di kawasan hutan konservasi < 13,6 mm/hari 1 13,6 20,7 2 mm/hari > 20,7 27,7 3 mm/hari > 27,7 34,8 4 mm/hari > 34,8 mm/hari 5 7. Kepadatan penduduk di desadesa sekitar kawasan hutan konservasi 0,063 Jumlah kepadatan penduduk di desadesa sekitar kawasan hutan konservasi < 125 jiwa/km jiwa/km jiwa/km jiwa/km 2 4 > 499 jiwa/km Jenis tanah *) **) 0,054 Tipe kelas jenis tanah berdasarkan kepekaan terhadap erosi di kawasan hutan konservasi 9. Elevasi/ketinggian 0,051 Tipe kelas elevasi/ketinggian di kawasan hutan konservasi Entisol, aquic, 1 alfisol/aqualf, aquult Ultisol 2 Inceptisol, alfisol 3 Andisol, oxisol, 4 vertisol, spodosol Entisol, histosol, 5 rendoll < mdpl mdpl 2 > mdpl > mdpl > mdpl Luas pemilikan/ penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi 0,041 Ukuran/luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desadesa sekitar kawasan hutan konservasi < 0,25 ha 5 0,25 0,5 ha 4 > 0,5 0,75 ha 3 > 0,75 1 ha 2 > 1 ha 1 Keterangan: *) Diadopsi dari SK Mentan No. 837/Kpts/Um/11/1980 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Lindung. **) Nama tanah menurut USDA Soil Taxonomy 1975 (Hardjowigeno, 2003). Secara lebih detail, kriteria yang digunakan untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Penutupan lahan Penutupan lahan merupakan istilah yang berkaitan dengan jenis kenampakan yang ada di permukaan bumi (Lillesand et al., 1990).
18 66 Penilaian skala intensitas variabel penilaian pada kriteria penutupan lahan untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi adalah sebagai berikut: semakin buruk kondisi penutupan lahan di suatu lokasi, maka semakin tinggi prioritas restorasi di lokasi tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin baik kondisi penutupan lahan di suatu lokasi, maka semakin rendah prioritas restorasi di lokasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan semakin buruknya/tidak adanya tutupan lahan di suatu lokasi dapat mengakibatkan semakin besarnya kerusakan hutan dan lahan yang terjadi di lokasi tersebut. 2. Kekayaan jenis tumbuhan Kekayaan jenis tumbuhan merupakan jumlah jenis tumbuhan yang terdapat pada suatu ekosistem. Penilaian skala intensitas variabel penilaian pada kriteria kekayaan jenis tumbuhan untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi adalah sebagai berikut: semakin rendah kekayaan jenis tumbuhan di suatu lokasi, maka semakin tinggi prioritas restorasi di lokasi tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin tinggi kekayaan jenis tumbuhan di suatu lokasi, maka semakin rendah prioritas restorasi di lokasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan pada lokasi-lokasi yang memiliki kekayaan jenis tumbuhan yang rendah cenderung memiliki kondisi ekosistem yang kurang stabil apabila dibandingkan dengan lokasi-lokasi yang memiliki kekayaan jenis tumbuhan yang tinggi. 3. Sebaran satwaliar langka atau dilindungi Sebaran satwaliar langka atau dilindungi merupakan distribusi/penyebaran jenis-jenis satwaliar yang tergolong langka atau dilindungi pada suatu ekosistem berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, baik secara global maupun nasional. Penilaian skala intensitas variabel penilaian pada kriteria sebaran satwaliar langka atau dilindungi untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan TNGGP adalah sebagai berikut: semakin sedikit sebaran satwaliar langka atau dilindungi di suatu lokasi, maka semakin tinggi prioritas restorasi di lokasi tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin banyak sebaran satwaliar langka atau dilindungi di suatu lokasi, maka semakin rendah prioritas restorasi di lokasi tersebut. Hal tersebut didasarkan pada penjelasan berikut ini. Kawasan hutan konservasi pada dasarnya merupakan
19 67 habitat bagi berbagai jenis satwaliar yang berada di kawasan tersebut, sehingga apabila di suatu lokasi di kawasan hutan konservasi tidak ditemukan satwaliar, maka di lokasi tersebut perlu upaya restorasi hutan agar kondisi habitat satwaliar dapat menjadi lebih baik dan menunjang kehidupan satwaliar di lokasi tersebut. 4. Lereng (slope) Penilaian skala intensitas variabel penilaian pada kriteria lereng (slope) untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi adalah sebagai berikut: semakin curam lereng di suatu lokasi, maka semakin tinggi prioritas restorasi di lokasi tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin landai lereng di suatu lokasi, maka semakin rendah prioritas restorasi di lokasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan pada lokasi yang memiliki kelerengan yang curam memiliki resiko yang sangat tinggi terhadap terjadinya erosi dan tanah longsor. 5. Elevasi/ketinggian Penilaian skala intensitas variabel penilaian pada kriteria elevasi/ketinggian untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi adalah sebagai berikut: semakin tinggi elevasi/ketinggian di suatu lokasi, maka semakin tinggi prioritas restorasi di lokasi tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah elevasi/ketinggian di suatu lokasi, maka semakin rendah prioritas restorasi di lokasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan pada ekosistem yang memiliki elevasi/ketinggian yang tinggi secara ekologis lebih rentan apabila mengalami gangguan. Sedikit saja terjadi gangguan pada ekosistem tersebut, maka dapat mengakibatkan dampak yang cukup besar terhadap ekosistem tersebut maupun ekosistem di bawahnya. 6. Jenis tanah Jenis tanah sangat berkaitan erat dengan kepekaan terhadap erosi di suatu lokasi. Penilaian skala intensitas variabel penilaian pada kriteria jenis tanah untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi adalah sebagai berikut: semakin peka jenis tanah di suatu lokasi, maka semakin tinggi prioritas restorasi di lokasi tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin kurang peka jenis tanah di suatu lokasi, maka semakin rendah prioritas restorasi di lokasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan jenis-jenis
20 68 tanah yang peka memiliki resiko yang sangat tinggi terhadap terjadinya erosi dan longsor di suatu lokasi. 7. Intensitas hujan Intensitas hujan merupakan curah hujan tahunan rata-rata dibagi dengan hari hujan total dalam satu tahun. Penilaian skala intensitas variabel penilaian pada kriteria intensitas hujan untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi adalah sebagai berikut: semakin tinggi intensitas hujan, maka semakin tinggi prioritas restorasi di lokasi tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah intensitas hujan, maka semakin rendah prioritas restorasi di lokasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan intensitas hujan yang tinggi di suatu lokasi dapat mengakibatkan terjadinya erosi, longsor, dan banjir yang lebih besar apabila dibandingkan dengan lokasi yang memiliki intensitas hujan yang lebih rendah. 8. Luas kerusakan kawasan hutan konservasi Kerusakan kawasan hutan konservasi yang terjadi di kawasan konservasi didekati dari konsep deforestasi. Deforestasi berarti terjadinya perubahan dari kondisi berhutan menjadi kondisi tidak berhutan. Penilaian skala intensitas variabel penilaian pada kriteria luas kerusakan kawasan hutan konservasi untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi adalah sebagai berikut: semakin besar luas kerusakan kawasan hutan di suatu lokasi, maka semakin tinggi prioritas restorasi di lokasi tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil luas kerusakan kawasan hutan di suatu lokasi, maka semakin rendah prioritas restorasi di lokasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan pada lokasi yang memiliki luas kerusakan kawasan hutan yang besar, maka memiliki dampak yang besar terhadap terganggunya fungsi-fungsi suatu ekosistem. Selain itu, pada lokasi yang memiliki luas kerusakan kawasan hutan yang besar akan lebih sulit untuk memulihkan kondisi hutan tersebut melalui proses suksesi alami, sehingga untuk membantu mempercepat proses suksesi pada kawasan hutan tersebut diperlukan adanya upaya restorasi kawasan hutan. 9. Kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi Kepadatan penduduk adalah banyaknya penduduk per km persegi (BPS, 2011).
21 69 Penilaian skala intensitas variabel penilaian pada kriteria kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi adalah sebagai berikut: semakin tinggi kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi, maka semakin tinggi prioritas restorasi di lokasi tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah kepadatan penduduk di desadesa sekitar kawasan hutan konservasi, maka semakin rendah prioritas restorasi di lokasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan pada lokasi yang memiliki kepadatan penduduk tinggi, jumlah penduduk yang besar tersebut merupakan potensi yang dapat dikelola untuk meningkatkan partisipasi penduduk sekitar dalam kegiatan restorasi kawasan hutan. Keberadaan penduduk sekitar jangan dianggap sebagai penghambat kegiatan restorasi, tetapi justru sebaliknya keberadaan penduduk sekitar harus dianggap sebagai suatu hal yang positif dalam menunjang keberhasilan kegiatan restorasi kawasan hutan. Kegiatan restorasi tidak akan berhasil apabila tidak mendapatkan dukungan dari penduduk sekitar. Selain itu, kegiatan restorasi kawasan hutan konservasi harus mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk sekitar. 10. Luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi Luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi merupakan luas lahan yang dimiliki/dikuasai oleh masyarakat sekitar yang terdapat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi. Rumahtangga di pedesaan menurut Sajogyo (1978) dalam Kartasubrata (1986) dapat digolongkan menjadi: rumahtangga yang menguasai kurang dari 0,25 ha atau tak bertanah, rumahtangga yang menguasai lahan antara 0,25 ha 0,5 ha, dan rumahtangga yang menguasai lahan lebih dari 0,5 ha. Penilaian skala intensitas variabel penilaian pada kriteria luas pemilikan/ penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi untuk menentukan prioritas lokasi restorasi di kawasan hutan konservasi adalah sebagai berikut: semakin kecil luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi, maka semakin tinggi prioritas restorasi lokasi tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin besar luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi, maka semakin
22 70 rendah prioritas restorasi lokasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan luas pemilikan/penguasaan lahan berkaitan dengan pendapatan yang diperoleh dari hasil pengelolaan lahan yang dikuasai/dimilikinya tersebut. Masyarakat yang menguasai/memiliki lahan yang sempit cenderung memiliki pendapatan yang lebih rendah dari kegiatannya mengelola lahan tersebut. Kondisi demikian dapat mengakibatkan masyarakat tersebut harus mencari tambahan pendapatan melalui pemanfaatan sumberdaya alam yang terdapat di sekitarnya, dalam hal ini kawasan hutan konservasi. Oleh karena itu, maka pada lokasi tersebut perlu mendapatkan prioritas yang tinggi untuk dilakukan restorasi hutan. Restorasi kawasan hutan bukan berarti hanya menanam pohon saja, tetapi juga harus sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kegiatan restorasi kawasan hutan harus dilakukan satu paket dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar (community development) Penentuan Acuan Restorasi Penentuan acuan restorasi dapat didekati melalui kajian komposisi dan struktur jenis vegetasi pada hutan alam yang belum mengalami gangguan di suatu kawasan hutan tertentu. Komposisi dan struktur vegetasi merupakan salah satu parameter yang harus diperhatikan dalam kegiatan restorasi hutan. Whitmore dalam (Lugo dan Lowe, 1995), lebih jauh mengemukakan bahwa perubahan komposisi dan struktur hutan sangat dipengaruhi oleh adanya gangguan baik yang bersifat alami maupun antropogenik. Restorasi hutan yang mengalami kerusakan harus dilakukan dengan tujuan utama untuk mengembalikan komposisi dan struktur vegetasi mendekati kondisi semula sebelum terjadi kerusakan, sehingga ekosistem hutan tersebut dapat kembali menjalankan fungsinya sebagai kawasan hutan konservasi. Secara lebih praktis, dimensi-dimensi acuan restorasi terdiri atas kekayaan jenis flora asli dan parameter struktur horizontal vegetasi yang didapat dari ekosistem atau bioregion yang sama dengan ekosistem yang akan direstorasi. Kekayaan jenis flora asli dapat berupa daftar jumlah jenis (species list) flora. Adapun parameter struktur horizontal vegetasi dapat berupa sebaran individu dan kelimpahan tiap jenis tumbuhan yang ada. Kelimpahan (abundance) tumbuhan yang ada dapat dinyatakan secara kuantitatif dengan nilai kerapatan
23 71 (density) atau berat kering bahan atau bagian tumbuhan yang dihasilkan per satuan luas (Fachrul, 2007) Penentuan Prioritas Jenis Terpilih Untuk dapat menentukan prioritas jenis terpilih dalam kegiatan restorasi kawasan hutan konservasi dapat dilakukan melalui pendekatan terhadap jenisjenis tumbuhan yang termasuk jenis acuan yang mampu hidup dan berkembang pada lokasi-lokasi yang perlu segera direstorasi. Oleh karena itu, maka selain dilakukan analisis vegetasi pada hutan alam sebagai ekosistem/tipe vegetasi hutan acuan restorasi, juga perlu dilakukan analisis vegetasi pada berbagai tipe vegetasi hutan yang ada pada suatu kawasan hutan konservasi. Hasil dari kegiatan analisis vegetasi pada berbagai tipe vegetasi hutan tersebut dapat menghasilkan matriks yang berisikan jenis-jenis tumbuhan yang mampu hidup dan berkembang di seluruh lokasi pada suatu kawasan hutan konservasi. Jenisjenis ini diharapkan mampu menjadi vegetasi awal dalam kegiatan restorasi pada suatu kawasan hutan konservasi Uji Coba Model Lokasi Uji Coba Model di TNGGP Letak dan Aksesibilitas Secara administratif pemerintahan lokasi uji coba model terletak di wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Secara administratif pengelolaan hutan, lokasi uji coba model termasuk ke dalam wilayah kerja Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sedangkan secara geografis lokasi penelitian terletak pada koordinat BT dan LS. Untuk mencapai lokasi uji coba model dapat ditempuh melalui enam pintu masuk utama, yaitu: pintu masuk Cibodas dan pintu masuk Gunung Putri (Kabupaten Cianjur), pintu masuk Selabintana dan pintu masuk Situ Gunung (Kabupaten Sukabumi), pintu masuk Bodogol dan pintu masuk Cisarua (Kabupaten Bogor). Secara lebih detail, jalur yang ditempuh untuk mencapai lokasi uji coba model melalui masing-masing pintu masuk utama beserta informasi jarak dan waktu tempuhnya disajikan pada Tabel 5 berikut ini.
24 72 Tabel 5 Jalur, jarak, dan waktu tempuh untuk mencapai lokasi uji coba model Pintu Masuk Jalur Jarak (km) Cibodas Jakarta-Ciawi/Bogor-Puncak-Cibodas 103 Bandung-Cianjur-Cipanas-Cibodas 90 Gunung Putri Jakarta-Ciawi/Bogor-Puncak-Cipanas-Gn. Putri 115 Bandung-Cianjur-Cipanas-Gn. Putri 93 Selabintana Jakarta-Ciawi/Bogor-Sukabumi-Selabintana 156 Bandung-Cianjur-Sukabumi-Selabintana 92 Situ Gunung Jakarta-Ciawi/Bogor-Cisaat-Situgunung 135 Bandung-Cianjur-Sukabumi-Cisaat-Situ Gunung 161 Bodogol Jakarta-Ciawi/Bogor-Cicurug-Bodogol 61 Bandung-Cianjur-Puncak-Ciawi/Bogor-Cicurug-Bodogol 125 Cisarua Jakarta-Ciawi/Bogor-Cisarua 57 Bandung-Cianjur-Puncak-Cisarua 91 Waktu (jam) 2,5 3 2,5 3,5 3,5 3,5 3, ,5 2 3, Kondisi Fisik Topografi dan Kelerengan Berdasarkan peta yang diolah dari data BB TNGGP dan Shuttle Radar Topography Mission, USGS dapat diketahui bahwa topografi di kawasan hutan TNGGP bervariasi mulai dari landai hingga bergunung dengan kisaran ketinggian antara 700 m dpl sampai m dpl. Ketinggian yang dominan di kawasan hutan TNGGP terdapat pada kisaran < mdpl dan kisaran mdpl mdpl, yaitu masing-masing sebesar 29,9% dan 32% dari luas total kawasan hutan TNGGP. Adapun kawasan TNGGP yang memiliki ketinggian >1.500 mdpl mdpl, >2.000 mdpl mdpl, dan >2.500 mdpl masingmasing memiliki persentase sebesar 21,4%; 12%; dan 4,7% (Gambar 13). Berdasarkan peta yang diolah dari data BB TNGGP dan Shuttle Radar Topography Mission, USGS juga dapat diketahui bahwa kelerengan di kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki kelerengan yang curam dengan kelerengan >45%, yaitu sebesar 64,9% dari luas total kawasan hutan TNGGP. Adapun kawasan TNGGP dengan kelerengan 0-8%, 9-15%, 16-25%, dan 26-45% masing-masing memiliki persentase sebesar 3,1%; 2,8%; 7,1%; dan 22,1% (Gambar 14) Tanah Berdasarkan peta yang diolah dari data BB TNGGP dan Balai Penelitian Tanah Bogor dapat diketahui jenis-jenis tanah yang mendominasi kawasan hutan TNGGP adalah andisol sebesar 43,8%; ultisol sebesar 37,2%; dan entisol sebesar 19%. Peta jenis tanah di kawasan hutan TNGGP dapat dilihat pada Gambar 15.
25 73 Gambar 13 Peta elevasi/ketinggian di kawasan hutan TNGGP Gambar 14 Peta lereng (slope) di kawasan hutan TNGGP
26 74 Gambar 15 Peta jenis tanah di kawasan hutan TNGGP Curah Hujan dan Iklim Berdasarkan peta yang diolah dari data BB TNGGP dan Badan Meteorologi dan Geofisika dapat diketahui bahwa kawasan hutan TNGGP berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson termasuk ke dalam tipe iklim A dengan curah hujan yang tinggi. Curah hujan rata-rata di kawasan ini berkisar antara mm sebesar 23,8% dan mm sebesar 76,2% (BTNGGP, 2007). Adapun intensitas hujan (curah hujan tahunan rata-rata/hari hujan total dalam satu tahun) di kawasan hutan TNGGP ini berkisar antara mm/hari (Gambar 16) Hidrologi Secara hidrologi, kawasan hutan TNGGP dibagi menjadi 4 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdiri atas: DAS Citarum (Kabupaten Cianjur), DAS Ciliwung (Kabupaten Bogor), DAS Cisadane (Kabupaten Bogor), dan DAS Cimandiri (Kabupaten Sukabumi), yang terdiri atas 58 sungai, baik sungai besar maupun sungai kecil (BTNGGP, 2007).
27 75 Gambar 16 Peta intensitas hujan di kawasan hutan TNGGP Kondisi Biotik Vegetasi Kawasan hutan TNGGP memiliki potensi kekayaan flora yang tinggi. Kawasan ini memiliki sekitar jenis flora dengan 57 famili, yang tergolong tumbuhan berbunga (Spermatophyta) 925 jenis, tumbuhan paku 250 jenis, lumut 123 jenis, dan jenis ganggang, spagnum, jamur dan jenis-jenis Thalophyta lainnya (BTNGGP, 2007). Kekayaan jenis tumbuhan tertinggi di kawasan hutan TNGGP ini dapat dijumpai pada tipe vegetasi hutan/ekosistem hutan alam, sedangkan kekayaan jenis tumbuhan terendah di kawasan hutan TNGGP ini dapat dijumpai pada tipe vegetasi hutan/ekosistem hutan miskin jenis (hutan tanaman) dengan jenis eksotik (Gambar 17) Satwaliar Kawasan hutan TNGGP merupakan habitat bagi beraneka ragam jenis satwaliar, antara lain mamalia, reptilia, amphibia, aves, insect dan kelompok satwa tidak bertulang belakang. Pada kawasan hutan TNGGP tersebut terdapat burung (aves) sebanyak 251 jenis atau lebih dari 50% dari jenis burung yang
28 76 hidup di Jawa. Beberapa jenis satwaliar yang hidup di kawasan hutan tersebut adalah elang jawa (Spizaetus bartelsi), elang hitam (Ictinaetus malayensis), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), anjing hutan (Cuon alpinus), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera pardus) (BTNGGP, 2007). Sebaran beberapa jenis satwaliar langka atau dilindungi yang terdapat di kawasan hutan TNGGP dapat dilihat pada Gambar 18. Gambar 17 Peta kekayaan jenis tumbuhan di kawasan hutan TNGGP Ekosistem Berdasarkan ketinggiannya tipe-tipe ekosistem yang terdapat di kawasan hutan TNGGP terdiri atas: ekosistem hutan dataran tinggi (500 < mdpl), ekosistem submontana ( mdpl), ekosistem montana (> mdpl), dan ekosistem subalpin (> mdpl). Ekosistem submontana dan montana memiliki keanekaragaman hayati vegetasi yang tinggi dengan pohon-pohon besar, tinggi, dan memiliki 3 strata tajuk. Strata paling tinggi (30 40 m) didominasi oleh jenis Litsea spp. Selain empat tipe ekosistem tersebut, di kawasan hutan TNGGP ditemukan pula beberapa tipe ekosistem khas lainnya yang tidak dipengaruhi oleh ketinggian tempat, yang terdiri atas:
29 77 ekosistem rawa, ekosistem kawah, ekosistem alun-alun, ekosistem danau, dan ekosistem hutan tanaman (BTNGGP, 2007). Gambar 18 Peta sebaran satwaliar langka atau dilindungi di kawasan hutan TNGGP Kondisi Sosial Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk merupakan banyaknya penduduk per km persegi. Berdasarkan peta yang diolah dari data BB TNGGP dan Potensi Desa 2009 dapat diketahui bahwa kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan TNGGP pada umumnya tergolong tinggi, yaitu mencapai > 499 jiwa/km 2. Kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan TNGGP yang tergolong tinggi tersebut pada umumnya termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur. Peta kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan TNGGP disajikan pada Gambar 19 berikut ini.
30 78 Gambar 19 Peta kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan TNGGP Luas Pemilikan/Penguasaan Lahan Rata-rata Berdasarkan peta yang diolah dari data BB TNGGP dan Potensi Desa 2009 dapat diketahui bahwa luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan TNGGP pada umumnya tergolong rendah, yaitu berkisar antara < 0,25 ha dan 0,25 ha 0,5 ha. Luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan TNGGP yang tergolong rendah tersebut pada umumnya termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur. Peta luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan TNGGP disajikan pada Gambar Kawasan Perluasan TNGGP Sejarah TNGGP mempunyai posisi yang penting dalam sejarah konservasi Indonesia. Sejarah konservasi kawasan TNGGP diawali dengan Cagar Biosfer Cibodas oleh UNESCO melalui Program Man and Biosphere tahun 1977 dan
31 79 TNGGP sebagai zona inti Cagar Biosfer. Dilanjutkan dengan deklarasi Menteri Pertanian pada tanggal 6 Maret 1980 bahwa kawasan TNGGP ditetapkan sebagai kawasan Pelestarian Alam TNGGP dengan luas hektar. Kemudian pada tahun 1995 ditetapkan sebagai Sister Park. Melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 174/Kpts-II/2003, tanggal 10 Juni 2003, luas kawasan TNGGP diperluas menjadi kurang lebih hektar yang merupakan perluasan area eks Perum Perhutani. Kemudian atas dasar Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Nomor002/BAST-HUKAMAS/III/2009 Nomor 1237/II-TU/2//2009 tanggal 6 Agustus 2009 dari Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan banten Kepada BB TNGGP, luas kawasan yang diserahkan adalah seluas 7.655,030 hektar. Dengan Demikian total luas TNGGP adalah ,030 hektar. Gambar 20 Peta luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desadesa sekitar kawasan hutan TNGGP Permasalahan yang terjadi di kawasan perluasan TNGGP berkaitan erat dengan perubahan status dan fungsi kawasan hutan dari kawasan hutan produksi dan hutan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani menjadi kawasan
32 80 hutan konservasi (taman nasional) yang dikelola oleh Dephut, c.q. Ditjen PHKA. Perubahan status dan fungsi kawasan hutan tersebut juga secara langsung menyebabkan perubahan prinsip-prinsip pengelolaan hutan di kawasan perluasan TNGGP tersebut. Adapun beberapa permasalahan yang terjadi di kawasan perluasan TNGGP, yaitu berupa gangguan terhadap kawasan perluasan TNGGP, seperti terjadinya pengambilan kayu bakar, pengambilan kayu pertukangan (terutama di Resort Nagrak), pengambilan hasil hutan nonkayu, dan perambahan lahan oleh penggarap, Permasalahan berupa gangguan hutan di kawasan perluasan TNGGP dapat menyebabkan terjadinya kerusakan hutan di kawasan hutan tersebut. Peta kerusakan hutan di kawasan hutan TNGGP, terutama kawasan perluasan TNGGP, disajikan pada Gambar 21 berikut ini. Secara keseluruhan, persentase luas kerusakan hutan di kawasan hutan TNGGP adalah sebesar 8,9%. Gambar 21 Peta luas kerusakan hutan di kawasan hutan TNGGP Permasalahan lainnya yang terjadi di kawasan perluasan TNGGP adalah terdapatnya hutan tanaman terutama jenis pohon eksotik. Keberadaan hutan tanaman dengan jenis pohon eksotik di kawasan hutan konservasi tersebut tidaklah sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi. Adapun peta sebaran jenis
33 81 pohon eksotik dan asli di kawasan perluasan TNGGP berdasarkan data yang diolah dari BB TNGGP dan citra landsat TM 7 disajikan pada Gambar 22. Gambar 22 Peta sebaran jenis tumbuhan eksotik dan asli di kawasan perluasan TNGGP Hutan tanaman dengan jenis pohon eksotik di kawasan perluasan TNGGP terdiri atas jenis pinus, damar, dan eucalyptus. Sebaran hutan tanaman dengan jenis pohon eksotik, sebagian besar terdapat di wilayah Sukabumi. Sedangkan hutan tanaman dengan jenis pohon asli di kawasan perluasan TNGGP terdiri atas jenis puspa dan rasamala Kategori Prioritas Restorasi TNGGP Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian terhadap kondisi nilai variabel penilaian yang dimiliki oleh kawasan TNGGP sesuai dengan model yang telah dirumuskan dapat diketahui bahwa kawasan TNGGP memiliki nilai aspek tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi sebesar 4,427 dan aspek tingkat kemendesakan (urgency) suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi sebesar 2,546 (Tabel 6). Secara detail, variabel penilaian kategori prioritas restorasi TNGGP disajikan pada Lampiran 14.
34 82 Tabel 6 Penilaian kategori prioritas restorasi TNGGP No. Uraian kriteria kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi Bobot Skala Intensitas Skor I Aspek tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi 1 Keberadaan jenis langka dan dilindungi 0, ,550 2 Keanekaragaman tipe ekosistem 0, ,724 3 Potensi keanekaragaman jenis 0, ,710 4 Ekosistem penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir 0, ,381 5 Pemanfaatan SDA secara lestari oleh stakeholders 0, ,610 6 Lansekap atau ciri geofisik sebagai obyek wisata alam 0, ,250 7 Tempat peninggalan budaya 0, ,070 8 Logistik bagi penelitian dan pendidikan 0, ,132 Total skor aspek tingkat kepentingan: 1 4,427 II Aspek tingkat kemendesakan (urgency) suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi Akibat yang ditimbulkan dari kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi 0, ,287 Besarnya kepedulian stakeholders sebagai penerima manfaat kawasan hutan konservasi 0, ,910 Bentuk dan sebaran kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi 0, ,162 Persentase kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi 0, ,264 5 Macam aktivitas masyarakat sekitar di suatu kawasan hutan konservasi 0, ,530 6 Luasan suatu kawasan hutan konservasi 0, ,207 7 Keberadaan hutan miskin jenis di suatu kawasan hutan konservasi 0, ,186 Total skor aspek tingkat kemendesakan: 1 2,546 Titik koordinat (4,427; 2,546) yang merupakan hasil penilaian prioritas kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi yang diterapkan/ diujicobakan pada kawasan hutan TNGGP terletak pada kuadran III (Gambar 23). Posisi kategori prioritas restorasi yang terletak pada kuadran III tersebut tergolong ke dalam Prioritas III. Hal tersebut memberikan arti bahwa kawasan TNGGP memiliki tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi yang tergolong tinggi, namun memiliki tingkat kemendesakan (urgency) suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi yang tergolong rendah.
35 83 Tinggi Posisi prioritas restorasi (4,427; 2,546) 5 T i n g k a t Kuadran III (Prioritas III) 4 Kuadran I (Prioritas I) k e p e n t i n g a n Rendah Kuadran IV (Prioritas IV) 2 1 Kuadran II (Prioritas II) Rendah Tingkat kemendesakan Tinggi Gambar 23 Posisi kuadran kategori prioritas kawasan TNGGP untuk direstorasi Kawasan TNGGP memiliki tingkat kepentingan (importance) suatu kawasan hutan konservasi yang cenderung tinggi dikarenakan kawasan tersebut memang memiliki peranan yang cukup penting bagi lingkungan di sekitarnya, terutama dalam mengatur fungsi hidroorologi, menjaga keanekaragaman hayati, dan menghasilkan jasa-jasa lingkungan lainnya. Sedangkan tingkat kemendesakan suatu kawasan hutan konservasi untuk direstorasi yang dimiliki kawasan TNGGP yang cenderung rendah dapat disebabkan oleh karena kawasan TNGGP dijaga dengan baik ataupun gangguan alam yang terjadi sedikit Penentuan Lokasi/Bagian TNGGP yang Perlu Segera Direstorasi Penentuan lokasi/bagian TNGGP yang perlu segera direstorasi memerlukan beberapa data berupa penutupan lahan, kekayaan jenis tumbuhan, sebaran satwaliar langka atau dilindungi, lereng (slope), elevasi/ketinggian, jenis tanah, intensitas hujan, luas kerusakan kawasan hutan konservasi, kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi, dan luas pemilikan/ penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi. Untuk memperoleh data penutupan lahan dilakukan melalui
36 84 interpretasi citra landsat, sedangkan untuk memperoleh data lainnya dilakukan melalui pengumpulan data sekunder/studi literatur Penutupan Lahan di Kawasan TNGGP Penutupan lahan merupakan kenampakan yang ada di permukaan bumi (Lillesand et al., 1990). Adapun penutupan lahan di kawasan TNGGP pada tahun 2010 berdasarkan citra landsat TM 7 dan hasil interpretasi citra landsat tersebut dapat dilihat pada Gambar 24 Gambar 25 berikut ini. Gambar 24 Citra landsat kawasan TNGGP tahun 2010 Hasil penelitian (Tabel 7) menunjukkan bahwa penutupan lahan yang dominan di kawasan TNGGP pada tahun 2010 adalah berupa hutan sekunder, yaitu seluas ha atau 40%. Tipe ini merupakan tipe penutupan yang dominan di kawasan ini. Kawasan TNGGP memiliki penutupan hutan primer dengan kondisi yang cukup baik. Hutan primer di kawasan ini memiliki luasan sekitar 25% dari total luas kawasan TNGGP. Hutan primer di TNGGP menempati wilayah pegunungan ( m dpl) hingga wilayah sub-alpin ( m dpl).
37 85 Gambar 25 Penutupan lahan hasil interpretasi citra landsat di kawasan hutan TNGGP tahun 2010 Tabel 7 Luas penutupan lahan kawasan TNGGP tahun 2010 (dalam ha) Penutupan Lahan Tahun 2010 Belukar Hutan primer Hutan sekunder Hutan tanaman Pertanian campur semak 503 Perkebunan Pemukiman 116 Pertanian lahan kering 272 Sawah 734 Lahan terbuka 24 Badan air 12 Awan 465 Total Sumber: Citra satelit Landsat 7 tahun 2010 Di sekitar bagian terluar kawasan TNGGP tersebar hutan tanaman eks Perum Perhutani yang terdiri dari jenis pinus dan damar. Kedua jenis tumbuhan
38 86 ini merupakan tumbuhan jenis eksotik yang ditanam pada saat kawasan tersebut masih dikelola oleh Perum Perhutani sebagai hutan produksi. Persentase hutan tanaman di kawasan TNGGP pada tahun 2010 mencapai 16,6% dari total wilayah dengan sebaran meliputi bagian barat, tenggara, dan timur kawasan TNGGP. Belukar menempati posisi tipe penutupan lahan keempat terluas di kawasan TNGGP. Belukar di kawasan ini memiliki luasan hingga 4,5% dari total luas kawasan TNGGP. Karena struktur vegetasi yang hampir sama, vegetasi eidelweis di TNGGP diidentifikasi oleh citra landsat sebagai belukar, lokasi vegetasi khas ini dijumpai di bagian puncak kawasan TNGGP. Di luar tipe vegetasi alami, belukar merupakan indikator yang menunjukkan terganggunya suatu kawasan hutan. Pada kawasan TNGGP ini tipe belukar banyak bersanding dengan tipe pertanian lahan kering dan pertanian campur semak. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebaran belukar dipengaruhi oleh tekanan penduduk dan kebutuhan akan lahan pertanian. Peningkatan kepadatan penduduk di sekitar kawasan hutan TNGGP, memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan kebutuhan lahan-lahan pertanian masyarakat sekitar. Hal tersebut dikarenakan matapencaharian utama masyarakat sekitar kawasan hutan TNGGP pada umumnya masih didominasi jenis matapencaharian berupa pertanian dan perkebunan. Peningkatan kebutuhan lahan pertanian memberikan tekanan tersendiri bagi kawasan hutan TNGGP dan perlahan tapi pasti perluasan lahan pertanian di luar kawasan hutan TNGGP terus terjadi seiring dengan peningkatan jumlah pemukiman di daerah tersebut. Untuk mengukur keakuratan hasil interpretasi citra landsat tersebut telah dilakukan uji akurasi klasifikasi dengan nilai akurasi sebesar 88,71%. Nilai uji akurasi klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa hasil interpretasi citra landsat cukup akurat karena memiliki nilai 85%. Secara lengkap hasil uji akurasi klasifikasi tersebut dapat dilihat pada Lampiran 15. Hasil penelitian menunjukkan (Gambar 26) bahwa berdasarkan pemberian skala intensitas sesuai kondisi variabel penilaian pada kriteria penutupan lahan dalam menentukan lokasi/bagian kawasan TNGGP yang perlu segera direstorasi, maka dapat diketahui bahwa kawasan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria penutupan lahan yang
39 87 cenderung rendah di bagian terdalam/tengah kawasan hutan dan cenderung tinggi di bagian terluar/tepi kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi penutupan lahan di bagian terdalam/tengah kawasan TNGGP cenderung lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi penutupan lahan di bagian terluar/tepi kawasan TNGGP. Pada bagian terluar/tepi kawasan TNGGP, terutama pada kawasan perluasan TNGGP eks kawasan hutan produksi Perum Perhutani, pada umumnya banyak mengalami gangguan sebagai akibat dari berbagai aktivitas masyarakat sekitar yang memanfaatkan sumberdaya alam yang terdapat di sekitarnya. Gambar 26 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria penutupan lahan di kawasan TNGGP Kondisi Kriteria Lainnya di Kawasan TNGGP Selain kriteria berupa penutupan lahan, terdapat 9 (sembilan) kriteria lainnya dalam menentukan lokasi/bagian kawasan TNGGP yang perlu segera direstorasi, yaitu: kekayaan jenis tumbuhan, sebaran satwaliar langka atau dilindungi, lereng (slope), elevasi/ketinggian, jenis tanah, intensitas hujan, luas kerusakan kawasan hutan konservasi, kepadatan penduduk di desa-desa sekitar
40 88 kawasan hutan konservasi, dan luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pemberian skala intensitas sesuai kondisi variabel penilaian pada 9 (sembilan) kriteria tersebut, maka dapat diketahui bahwa peta skala intensitas variabel penilaian pada 9 (sembilan) kriteria tersebut dalam menentukan lokasi/bagian kawasan TNGGP yang perlu segera direstorasi adalah sebagai berikut: 1. Kekayaan jenis tumbuhan Hasil penelitian (Gambar 27) menunjukkan bahwa kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria kekayaan jenis tumbuhan yang cenderung rendah di bagian terdalam/tengah kawasan hutan dan cenderung tinggi di bagian terluar/tepi kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi kekayaan jenis tumbuhan di bagian terdalam/tengah kawasan hutan TNGGP cenderung lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kekayaan jenis tumbuhan di bagian terluar/tepi kawasan hutan TNGGP. Secara umum, pada bagian terluar/tepi kawasan hutan TNGGP kekayaan jenis tumbuhannya lebih rendah dikarenakan kawasan tersebut sebelumnya merupakan kawasan hutan produksi eks Perum Perhutani yang memiliki jenis-jenis tumbuhan yang sedikit. 2. Sebaran satwaliar langka atau dilindungi Hasil penelitian (Gambar 28) menunjukkan bahwa kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria sebaran satwaliar langka atau dilindungi yang cenderung rendah di bagian terdalam/tengah kawasan hutan, kecuali di bagian puncak gunung skala intensitas variabel penilaiannya cenderung tinggi. Sedangkan skala intensitas variabel penilaian pada kriteria sebaran satwaliar langka atau dilindungi di bagian terluar/tepi kawasan hutan TNGGP cenderung tinggi. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi sebaran satwaliar langka atau dilindungi di bagian terdalam/tengah kawasan hutan TNGGP, kecuali di bagian puncak gunung, cenderung lebih tinggi apabila dibandingkan dengan sebaran satwaliar langka atau dilindungi di bagian terluar/tepi kawasan hutan TNGGP.
41 89 Gambar 27 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria kekayaan jenis tumbuhan di kawasan TNGGP Gambar 28 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria sebaran satwaliar langka atau dilindungi di kawasan TNGGP
42 90 3. Lereng (slope) Hasil penelitian (Gambar 29) menunjukkan bahwa kawasan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria lereng (slope) yang cenderung tinggi di semua bagian kawasan hutan dan hanya sedikit bagian kawasan hutan yang memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria lereng (slope) yang rendah, yaitu pada umumnya terdapat di bagian terluar/tepi kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi lereng (slope) di semua bagian kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki lereng yang curam dan hanya sedikit saja bagian kawasan hutan TNGGP yang memiliki lereng yang landai, yaitu pada umumnya terdapat di bagian terluar/tepi kawasan hutan. Gambar 29 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria lereng (slope) di kawasan TNGGP 4. Elevasi/ketinggian Hasil penelitian (Gambar 30) menunjukkan bahwa kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria elevasi/ ketinggian yang cenderung tinggi di bagian utara dan timur kawasan hutan yang mendekati puncak gunung dan cenderung rendah di bagian barat
43 91 dan selatan kawasan hutan yang menjauhi puncak gunung. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi elevasi/ketinggian di bagian utara dan timur kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki elevasi/ketinggian yang tinggi dan kondisi elevasi/ketinggian di bagian barat dan selatan kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki elevasi/ketinggian yang rendah. Gambar 30 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria elevasi/ ketinggian di kawasan TNGGP 5. Jenis tanah Hasil penelitian (Gambar 31) menunjukkan bahwa kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria jenis tanah yang cenderung tinggi di bagian timur kawasan hutan, terutama yang mendekati puncak gunung dan cenderung rendah di bagian barat kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi jenis tanah di bagian timur kawasan hutan TNGGP, terutama yang mendekati puncak gunung cenderung memiliki jenis tanah yang peka dan jenis tanah di bagian barat kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki jenis tanah yang kurang peka.
44 92 Gambar 31 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria jenis tanah di kawasan TNGGP 6. Intensitas hujan Hasil penelitian (Gambar 32) menunjukkan bahwa kawasan hutan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria intensitas hujan yang cenderung tinggi di bagian timur dan selatan kawasan hutan dan cenderung rendah di bagian utara kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi intensitas hujan di bagian timur dan selatan kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki intensitas hujan yang tinggi dan intensitas hujan di bagian utara kawasan hutan TNGGP cenderung memiliki intensitas hujan yang lebih rendah. 7. Luas kerusakan kawasan hutan konservasi Hasil penelitian (Gambar 33) menunjukkan bahwa kawasan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria luas kerusakan kawasan hutan konservasi yang cenderung tinggi di bagian terluar/tepi kawasan hutan dan cenderung rendah di bagian terdalam/tengah kawasan hutan. Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi luas kerusakan kawasan hutan konservasi di bagian terluar/tepi kawasan TNGGP cenderung
45 93 memiliki luas kerusakan kawasan hutan yang lebih besar apabila dibandingkan dengan kondisi luas kerusakan kawasan hutan di bagian terdalam/tengah kawasan TNGGP. Gambar 32 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria intensitas hujan di kawasan TNGGP 8. Kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi Hasil penelitian (Gambar 34) menunjukkan bahwa kawasan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi yang cenderung tinggi di bagian utara, timur, dan selatan kawasan hutan (wilayah Bogor dan Cianjur) dan cenderung lebih rendah di bagian barat kawasan hutan (wilayah Sukabumi). Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi di bagian utara, timur, dan selatan kawasan TNGGP (wilayah Bogor dan Cianjur) cenderung memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kondisi kepadatan penduduk di bagian barat kawasan TNGGP (wilayah Sukabumi).
46 94 Gambar 33 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria luas kerusakan hutan di kawasan TNGGP Gambar 34 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria kepadatan penduduk di desa-desa sekitar kawasan TNGGP
47 95 9. Luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi Hasil penelitian (Gambar 35) menunjukkan bahwa kawasan TNGGP pada umumnya memiliki skala intensitas variabel penilaian pada kriteria luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi yang cenderung tinggi di bagian utara, timur, dan selatan kawasan hutan (wilayah Bogor dan Cianjur) dan cenderung lebih rendah di bagian barat kawasan hutan (wilayah Sukabumi). Hal tersebut memberikan arti bahwa kondisi luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan konservasi di bagian utara, timur, dan selatan kawasan hutan TNGGP (wilayah Bogor dan Cianjur) cenderung memiliki luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan kondisi luas pemilikan/penguasaan lahan rata-rata di bagian barat kawasan hutan TNGGP (wilayah Sukabumi). Gambar 35 Peta skala intensitas variabel penilaian pada kriteria luas pemilikan/ penguasaan lahan rata-rata masyarakat di desa-desa sekitar kawasan TNGGP
48 Lokasi/Bagian TNGGP yang Perlu Segera Direstorasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pembobotan dan overlay terhadap peta-peta kriteria untuk menentukan lokasi/bagian TNGGP yang perlu segera direstorasi, maka dapat diketahui prioritas lokasi restorasi di kawasan TNGGP (Prioritas I, Prioritas II, Prioritas III, dan Prioritas IV) seperti terlihat pada Gambar 36. Rumus yang digunakan dalam menentukan lokasi/bagian TNGGP yang perlu segera direstorasi adalah sebagai berikut: Y = n i= 1 BixSi dimana: Y = Nilai prioritas lokasi/bagian kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi B i = Bobot kriteria ke-i S i = Skala intensitas kriteria ke-i Adapun penentuan panjang selang interval untuk tiap kategori penilaian ditentukan dengan rumus: P = Ymax - Ymin n Dimana: P = Panjang selang interval tiap kategori penilaian Ymax = Nilai maksimum Ymin = Nilai minimum n = Jumlah kategori penilaian Kategori penilaian untuk merumuskan lokasi/bagian kawasan hutan konservasi yang perlu segera direstorasi adalah sebagai berikut: (5) Prioritas I (Prioritas Sangat Tinggi), nilai selang interval: >4 5 (6) Prioritas II (Prioritas Tinggi), nilai selang interval: >3 4 (7) Prioritas III (Prioritas Sedang), nilai selang interval: >2 3 (8) Prioritas IV (Prioritas Rendah), nilai selang interval: 1 2 Untuk kawasan hutan konservasi yang berupa hutan tanaman dengan tegakan penyusunnya jenis eksotik secara otomatis dimasukkan ke dalam kategori Prioritas I, karena menurut kaidah konservasi terdapatnya keaslian di suatu kawasan hutan konservasi merupakan hal yang mutlak.
49 97 Gambar 36 Peta prioritas lokasi restorasi di kawasan TNGGP Berdasarkan peta prioritas lokasi restorasi di kawasan TNGGP tersebut dapat diketahui bahwa Prioritas I dan Prioritas II lokasi restorasi banyak terdapat di bagian terluar/tepi kawasan hutan TNGGP, sedangkan Prioritas III dan Prioritas IV lokasi restorasi banyak terdapat di bagian terdalam/tengah kawasan TNGGP. Sesuai dengan urutan prioritasnya, maka Prioritas I dan Prioritas II lokasi restorasi ini merupakan prioritas lokasi yang perlu diutamakan/didahulukan upaya restorasinya apabila dibandingkan dengan prioritas lokasi lainnya, yaitu Prioritas III dan Prioritas IV lokasi restorasi. Prioritas I dan Prioritas II lokasi restorasi kawasan TNGGP ini pada umumnya terdapat di kawasan perluasan TNGGP, yaitu kawasan yang mengalami alih fungsi dari kawasan hutan produksi eks Perum Perhutani menjadi kawasan hutan konservasi yang kini dikelola sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kawasan TNGGP. Pada lokasi kawasan perluasan TNGGP ini memang banyak mengalami gangguan akibat berbagai aktivitas yang terjadi di kawasan tersebut, seperti: penebangan liar, pengambilan hasil hutan nonkayu, pengambilan kayu bakar, perambahan lahan, dan aktivitas penyadapan getah damar dan pinus serta kegiatan tumpangsari yang masih belum berhenti setelah
50 98 terjadinya alih fungsi kawasan hutan tersebut. Berbagai gangguan yang terjadi di kawasan hutan tersebut dapat menyebabkan kerusakan kawasan hutan. Selain itu, pada lokasi kawasan perluasan TNGGP ini juga dapat dijumpai jenis-jenis tumbuhan yang tergolong eksotik berupa hutan tanaman miskin jenis. Keberadaan jenis-jenis tumbuhan eksotik di suatu kawasan hutan konservasi tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi yang mensyaratkan terjaganya keaslian jenis tumbuhan di kawasan hutan konservasi tersebut, sehingga untuk mengatasi keberadaan hutan miskin jenis dengan jenis-jenis tumbuhan eksotik di dalamnya tersebut harus direstorasi dengan menggunakan jenis-jenis tumbuhan asli agar dapat kembali seperti kondisi hutan/ekosistem awal yang diketahui. Berbeda dengan Prioritas I dan Prioritas II lokasi restorasi, Prioritas III dan Prioritas IV lokasi restorasi pada umumnya terdapat di bagian terdalam/tengah kawasan TNGGP, yang merupakan kawasan TNGGP awal sebelum adanya perluasan kawasan TNGGP. Adapun luas prioritas lokasi restorasi di kawasan TNGGP adalah sebagai berikut: Prioritas I lokasi restorasi memiliki luas sebesar ha, Prioritas II lokasi restorasi memiliki luas sebesar ha, Prioritas III lokasi restorasi memiliki luas sebesar ha, dan Prioritas IV lokasi restorasi memiliki luas sebesar 14 ha. Luas prioritas lokasi restorasi di kawasan TNGGP dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini. Tabel 8 Luas prioritas lokasi restorasi di kawasan TNGGP (dalam ha) Resort Prioritas I Prioritas II Luas (ha) Prioritas III Prioritas IV Grand Total Bodogol Cimande Cisarua Gn. Putri Goalpara Mandalawangi Nagrak Pasir Hantap Sarongge Selabintana Situgunung
51 99 Luas (ha) Grand Resort Prioritas Prioritas Prioritas Prioritas Total I II III IV Tapos Tegallega Grand Total Adapun luas prioritas lokasi restorasi di kawasan TNGGP berdasarkan pembagian resort dan penutupan lahan disajikan secara detail pada Lampiran 16. Secara umum, penutupan lahan yang termasuk prioritas I dan prioritas II adalah berupa belukar dan hutan tanaman jenis eksotik, sedangkan penutupan lahan yang termasuk prioritas III dan prioritas IV adalah berupa hutan sekunder dan hutan primer. Prioritas lokasi restorasi ini juga dapat menjadi indikasi mengenai sensitifitas suatu lokasi untuk direstorasi, artinya jika suatu lokasi kawasan hutan konservasi tertentu mengalami kerusakan hutan, maka restorasi dilakukan berdasarkan urutan prioritas yang dimiliki oleh lokasi tersebut Penentuan Acuan Restorasi TNGGP Bentuk struktur tegakan horizontal suatu tegakan hutan alam pada umumnya cenderung mendekati bentuk sebaran huruf J-terbalik (eksponensial negatif) seperti terlihat pada Gambar 37. Struktur horizontal tegakan tersebut menunjukkan bahwa pohon berukuran kecil yang menyusun ekosistem tersebut cenderung lebih rapat dibandingkan dengan pohon berukuran besar. Gambar 37 Grafik hubungan kerapatan dengan tingkat pertumbuhan pada hutan alam
52 100 Berdasarkan hasil analisis vegetasi pada plot pengamatan seluas 3 ha di Hutan Alam pada kawasan hutan TNGGP ditemukan 78 jenis asli yang tergolong ke dalam 37 famili. Daftar jenis tumbuhan yang ditemukan di kawasan TNGGP disajikan dalam Lampiran 8. Sedangkan hasil analisis vegetasi pada tipe vegetasi Hutan Alam di kawasan TNGGP secara detail dapat dijelaskan dalam uraian berikut ini Vegetasi Tingkat Pohon di Hutan Alam TNGGP Hasil perhitungan kerapatan relatif, frekuensi relatif, dominansi relatif, dan indeks nilai penting tertinggi vegetasi tingkat pohon pada tipe vegetasi hutan alam di kawasan TNGGP disajikan pada Tabel 9, sedangkan perhitungan analisis vegetasi secara lengkap disajikan pada Lampiran 9. Tabel 9 Indeks Nilai Penting tertinggi vegetasi tingkat pohon pada tipe vegetasi Hutan Alam di kawasan TNGGP No. Nama Latin Nama Lokal KR (%) FR (%) DR (%) INP (%) 1 Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 19, , , , Macropanax dispermum (Bl.) Ki racun 8,7291 7,9392 5, , Glochidion rubrum Bl. Ki pare 6,9320 6,5878 4, , Manglietia glauca Bl Manglid 6,2901 5,5743 5, , Castanopsis argentea (Bl.) DC. Saninten 3,0809 3,5473 7, ,5873 Keterangan: KR = Kerapatan Relatif, FR = Frekuensi Relatif, DR = Dominansi Relatif, INP = Indeks Nilai Penting Jumlah individu atau pohon dari 78 jenis tumbuhan yang ditemukan pada tipe vegetasi Hutan Alam adalah 260 individu/ha dengan nilai kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Schima wallichii (DC.) Korth sebesar 50 individu/ha atau 19,2555% dari jumlah individu yang menyusun tegakan tersebut. Nilai kerapatan suatu jenis tumbuhan menunjukkan jumlah individu jenis tumbuhan bersangkutan pada satuan luas tertentu, maka nilai kerapatan merupakan gambaran mengenai jumlah jenis tumbuhan tersebut pada suatu ekosistem/tipe vegetasi hutan. Namun demikian, nilai kerapatan belum dapat memberikan gambaran distribusi dan pola penyebaran tumbuhan yang bersangkutan pada lokasi penelitian. Gambaran mengenai distribusi individu pada suatu jenis tumbuhan tertentu dapat dilihat pada nilai frekuensinya. Nilai frekuensi tertinggi pada Hutan Alam ditemukan pada jenis Schima wallichii (DC.) Korth, yaitu sebesar 0,88 atau 11,1486%. Nilai frekuensi tersebut menunjukkan kehadiran jenis pohon tersebut pada 66 plot dari 75 plot yang terdapat di lokasi penelitian. Secara umum, jenis
53 101 tumbuhan yang memiliki nilai kerapatan tinggi juga memiliki nilai frekuensi yang tinggi, sehingga jenis tumbuhan tersebut selain jumlahnya banyak juga tersebar pada lokasi tersebut. Jenis tumbuhan yang memiliki jumlah banyak dan tersebar pada lokasi penelitian akan memiliki nilai kerapatan dan frekuensi tertinggi. Jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam jenis ini biasanya memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungannya. Distribusi tumbuhan pada suatu komunitas tertentu dibatasi oleh kondisi lingkungannya. Beberapa jenis tumbuhan di hutan tropika teradaptasi dengan kondisi di bawah kanopi, pertengahan, dan di atas kanopi yang intensitas cahayanya berbeda-beda (Balakrishnan et al., 1994). Keberhasilan setiap jenis tumbuhan untuk mengokupasi suatu area dipengaruhi oleh kemampuannya beradaptasi secara optimal terhadap seluruh faktor lingkungan fisik (temperatur, cahaya, struktur tanah, kelembaban), faktor biotik (interaksi antar jenis, kompetisi, parasitisme), dan faktor kimia yang meliputi ketersediaan air, oksigen, ph, nutrisi dalam tanah yang saling berinteraksi (Krebs, 1994). Nilai dominansi masing-masing jenis tumbuhan juga bervariasi pada masing-masing tipe vegetasi hutan. Hutan Alam di kawasan TNGGP memiliki nilai dominansi jenis tumbuhan sebesar 22,0735 m 2 /ha. Nilai dominansi masingmasing jenis tumbuhan tersebut dihitung berdasarkan besarnya diameter batang setinggi dada, sehingga besarnya nilai dominansi juga dipengaruhi oleh kerapatan jenis dan ukuran rata-rata diameter batang masing-masing pohon pada jenis yang sama. Jenis pohon tertentu memiliki nilai dominansi tertinggi karena rata-rata ukuran diameter batang masing-masing pohon tersebut lebih tinggi dari jenis pohon lainnya serta jumlahnya banyak. Indeks nilai penting (INP) merupakan hasil penjumlahan nilai relatif ketiga parameter (kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominansi relatif) yang telah diukur sebelumnya, sehingga nilainya juga bervariasi pada setiap jenis tumbuhan. Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 11) dapat diketahui bahwa nilai INP tertinggi tingkat pohon pada tipe vegetasi Hutan Alam dimiliki oleh jenis Schima wallichii (DC.) Korth. (66,3090%), Macropanax dispermum (Bl.) (21,9176%), Glochidion rubrum Bl. (17,8128%), Manglietia glauca Bl (17,2636%), dan Castanopsis argentea (Bl.) DC (14,5873%). Menurut Sundarapandian dan Swamy (2000), indeks nilai penting merupakan salah satu parameter yang dapat memberikan gambaran tentang peranan jenis yang bersangkutan dalam komunitasnya atau pada lokasi
54 102 penelitian. Jenis Schima wallichii (DC.) Korth. (puspa) secara umum merupakan jenis yang mendominasi pada ekosistem Hutan Alam karena memiliki nilai INP tertinggi. Kehadiran suatu jenis pohon pada daerah tertentu menunjukkan kemampuan pohon tersebut untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat, sehingga jenis yang mendominasi suatu areal dapat dinyatakan sebagai jenis yang memiliki kemampuan adaptasi dan toleransi yang lebar terhadap kondisi lingkungan. Laporan penelitian terdahulu mengemukakan kondisi pohon pada lokasi Kebun Raya Cibodas dengan ketinggian m dpl bervariasi dengan kerapatan tinggi. Hasil penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa pohonpohon yang dominan di lokasi tersebut adalah Altingia excelsa yang merupakan jenis emergen dengan tinggi mencapai m, Castanopsis javanica dengan tinggi mencapai 58 m, Schima wallichii dengan tinggi mencapai 45 m, Villebrunea rubescens, dan beberapa jenis yang tergolong dalam famili Fagaceae pada strata yang lebih rendah di bawahnya (Jacobs, 1981). Yamada yang melakukan penelitian pada tahun 1975 di lokasi Cibodas juga mencatat bahwa jenis Schima wallichii dan Castanopsis javanica merupakan jenis yang mendominasi pada lokasi tersebut dan ditemukan pada lapisan tajuk pertama dengan tinggi > 26 m. Sedangkan Meijer (1959) dan Seifriz (1923) mencatat bahwa Altingia excelsa adalah jenis yang mendominasi hutan di daerah Cibodas pada ketinggian m dpl. INP seluruh jenis selanjutnya menjadi dasar untuk menghitung indeks keanekaragaman (H ) Shannon, sedangkan nilai kemerataan jenis dalam komunitas tersebut ditentukan berdasarkan nilai indeks keanekaragaman jenisnya. Nilai-nilai parameter tersebut dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini. Tabel 10 Jumlah jenis, indeks keanekaragaman jenis, dan indeks kemerataan jenis tingkat pohon pada tipe vegetasi Hutan Alam di TNGGP Tingkat pertumbuhan Jumlah Jenis ( ) Indeks Keanekaragaman Jenis (H ) Indeks Kemerataan Jenis (J ) Pohon 54 3,2917 0,8252 Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 6) dapat diketahui bahwa pada tipe vegetasi Hutan Alam di kawasan TNGGP memiliki jumlah jenis tumbuhan tingkat pohon sebanyak 54 jenis, nilai indeks keanekaragaman jenis (H ) sebesar
55 103 3,2917, dan nilai indeks kemerataan jenis (J ) sebesar 0,8252. Jika menggunakan kriteria Barbour et al. (1987) maka indeks keanekaragaman jenis sebesar 3,2917 tersebut termasuk dalam kategori tinggi. Nilai indeks diversitas tersebut menggambarkan keanekaragaman jenis pohon yang berada pada tipe vegetasi Hutan Alam TNGGP. Nilai kemerataan suatu jenis ditentukan oleh distribusi setiap jenis pada masing-masing plot secara merata. Semakin merata suatu jenis dalam suatu ekosistem/tipe vegetasi hutan, maka semakin tinggi nilai kemerataannya. Demikian juga sebaliknya, semakin tidak merata suatu jenis dalam suatu ekosistem/tipe vegetasi hutan, maka semakin rendah nilai kemerataannya Vegetasi Tingkat Permudaan di Hutan Alam TNGGP Ketersediaan tingkat permudaan yang mencukupi merupakan salah satu prasyarat keberlangsungan regenerasi alami suatu ekosistem. Hasil analisis vegetasi permudaan (semai, pancang, dan tiang) pada tipe vegetasi Hutan Alam disajikan pada Tabel 11 berikut ini. Tabel 11 Indeks Nilai Penting tertinggi vegetasi tingkat semai, pancang, dan tiang pada tipe vegetasi Hutan Alam di kawasan TNGGP No. Nama Latin Nama Lokal KR (%) FR (%) DR (%) INP (%) Tingkat Semai: 1 Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 18, , , Symplocos cochinchinensis (Lour.) S. Moore Jirak 14,7754 9, , Plectronia didyma Kurz Ki kopi 6,9740 5, , Acronychia laurifolia Bl. Ki jeruk 4,6099 5, , Beilschrriedia wightii Benth. Huru 3,9007 4, ,2843 Tingkat Pancang: 1 Plectronia didyma Kurz Ki kopi 15,6627 9,2199 5, , Antidesma tetandrum Bl. Ki seueur 7,6923 5,1418 9, , Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 5,2827 5,8511 9, , Symplocos cochinchinensis (Lour.) S. Moore Jirak 8,9898 5,6738 4, , Macropanax dispermum (Bl.) Ki racun 3,8925 3,9007 8, ,7663 Tingkat Tiang: 1 Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 15, , , , Macropanax dispermum (Bl.) Ki racun 10,0402 8,8372 9, , Polyosma integrifolia Bl. Ki Jebug 7,2289 6,5116 6, , Antidesma tetandrum Bl. Ki seueur 6,0241 6,0465 5, , Manglietia glauca Bl Manglid 5,6225 5,5814 5, ,8684 Keterangan: KR = Kerapatan Relatif, FR = Frekuensi Relatif, DR = Dominansi Relatif, INP = Indeks Nilai Penting
56 104 Nilai kerapatan tingkat semai pada tipe vegetasi Hutan Alam adalah sebesar individu/ha. Adapun nilai kerapatan tertinggi suatu jenis tumbuhan tingkat semai pada tipe vegetasi Hutan Alam dimiliki oleh Schima wallichii (DC.) Korth. sebesar individu/ha. Perbedaan nilai kerapatan masing-masing jenis disebabkan karena adanya perbedaan ketersediaan pohon sumber benih, kemampuan reproduksi, penyebaran, dan daya adaptasi terhadap lingkungan. Secara umum, jenis-jenis tumbuhan yang jumlahnya banyak juga tersebar pada masing-masing tipe vegetasi hutan, hal ini ditunjukkan dengan nilai frekuensi yang berkorelasi dengan nilai kerapatan. Pada masing-masing tipe vegetasi hutan dijumpai jenis tumbuhan dengan kerapatan tertinggi juga mempunyai nilai frekuensi yang tertinggi. Distribusi jenis tumbuhan pada suatu ekosistem tersebut dibatasi oleh kondisi lingkungan, sehingga keberhasilan setiap jenis tumbuhan untuk mengokupasi suatu area menggambarkan kemampuannya beradaptasi secara optimal terhadap seluruh faktor biotik dan abiotik pada ekosistem tersebut. Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 11) dapat diketahui bahwa INP tertinggi vegetasi tingkat semai pada tipe vegetasi Hutan Alam di kawasan TNGGP dimiliki oleh jenis Schima wallichii (DC.) Korth. (32,4123%), Symplocos cochinchinensis (Lour.) S. Moore (24,3645%), Plectronia didyma Kurz (12,7274%), Acronychia laurifolia Bl. (9,8154%), dan Beilschrriedia wightii Benth. (8,2843%). Indeks nilai penting pada tingkat semai merupakan hasil penjumlahan nilai relatif dua parameter (kerapatan relatif dan frekuensi relatif) yang telah diukur sebelumnya, sehingga nilainya sangat tergantung pada kedua parameter tersebut. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa secara umum jenis yang mempunyai kerapatan tertinggi juga mempunyai nilai frekuensi tertinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis tersebutlah yang mempunyai INP tertinggi, yaitu Schima wallichii (DC.) Korth. pada tipe vegetasi Hutan Alam. Besarnya INP jenis tersebut menunjukkan tingkat peranan jenis yang bersangkutan pada ekosistem tersebut. Keberlanjutan pertumbuhan vegetasi dari tingkat semai ke tingkat pertumbuhan berikutnya yaitu pancang, tiang, dan selanjutnya hingga tumbuh menjadi pohon besar sangat dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi jenis tumbuhan tersebut. Secara umum, jenis-jenis tumbuhan pada tingkat semai
57 105 yang mempunyai INP tertinggi akan tumbuh menjadi tumbuhan pada tingkat pancang. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan dijumpainya jenis-jenis tumbuhan tersebut pada tingkat pancang meskipun terjadi perbedaan tingkat INP pada tingkat semai dan tingkat pancang. Jenis-jenis tumbuhan yang mempunyai INP tertinggi pada tingkat semai belum tentu mempunyai INP tertinggi pada tingkat pancang. Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 11) juga dapat diketahui bahwa INP tertinggi vegetasi tingkat pancang pada tipe vegetasi Hutan Alam terdiri atas jenis Plectronia didyma Kurz (30,6786%), Antidesma tetandrum Bl. (22,7277%), Schima wallichii (DC.) Korth. (20,4079%), Symplocos cochinchinensis (Lour.) S. Moore (19,1948%), dan Macropanax dispermum (Bl.) (16,7663%). Jenis tumbuhan yang mempunyai INP tinggi tidak selamanya mempunyai tingkat dominansi yang tinggi. Tingkat dominansi menggambarkan tingkat penutupan areal oleh jenis-jenis tumbuhan tersebut, nilai dominansi diperoleh dari fungsi kerapatan jenis dan diameter batang. Pada suatu jenis tumbuhan yang mempunyai kerapatan tinggi tetapi mempunyai tingkat dominansi yang rendah menunjukkan bahwa rata-rata diameter jenis tersebut kecil tetapi jumlahnya banyak. Sedangkan pada jenis tumbuhan tertentu seperti Antidesma tetandrum Bl. dijumpai mempunyai kerapatan lebih rendah tetapi mempunyai tingkat dominansi yang lebih tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis-jenis tumbuhan tersebut mempunyai rata-rata diameter yang lebih besar tetapi jumlahnya lebih sedikit pada lokasi tersebut. Tingkat pertumbuhan berikutnya setelah tingkat pancang adalah tingkat tiang. Beberapa peneliti juga sudah mengklasifikasikan tingkat ini sebagai pohon tetapi berupa pohon kecil. Kemampuan jenis tumbuhan tertentu hingga dapat tumbuh mencapai tingkat tiang menggambarkan semakin tingginya daya adaptabiliti jenis tumbuhan tersebut pada suatu tipe vegetasi hutan. Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 11) juga dapat diketahui bahwa INP tertinggi vegetasi tingkat tiang pada tipe vegetasi Hutan Alam di kawasan TNGGP terdiri atas jenis Schima wallichii (DC.) Korth. (44,6420%), Macropanax dispermum (Bl.) (28,1916%), Polyosma integrifolia Bl. (20,2633%), Antidesma tetandrum Bl. (17,5544%), dan Manglietia glauca Bl (16,8684%). Jenis Schima wallichii (DC.) Korth. secara konsisten mempunyai INP tertinggi pada tingkat pertumbuhan semai, pancang, tiang, dan pohon pada tipe vegetasi Hutan Alam di kawasan TNGGP.
58 106 Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 12) dapat diketahui mengenai gambaran keanekaragaman jenis tumbuhan dan kemerataan jenis tumbuhan untuk tingkat permudaan pada tipe vegetasi Hutan Alam di kawasan TNGGP. Keanekaragaman jenis tumbuhan pada tipe vegetasi Hutan Alam memiliki nilai sebesar 3,3084 pada tingkat semai, 3,5350 pada tingkat pancang, dan 3,2984 pada tingkat tiang. Adapun kemerataan jenis tumbuhan pada tipe vegetasi Hutan Alam memiliki nilai sebesar 0,8294 pada tingkat semai, 0,8321 pada tingkat pancang, dan 0,8665 pada tingkat tiang. Tabel 12 Jumlah jenis, indeks keanekaragaman jenis, dan indeks kemerataan jenis tingkat permudaan pada tipe vegetasi Hutan Alam TNGGP Tingkat Parameter Pertumbuhan Jumlah Jenis ( ) Keanekaragaman Jenis (H ) Kemerataan Jenis (J ) Semai 54 3,3084 0,8294 Pancang 70 3,5350 0,8321 Tiang 45 3,2984 0, Penentuan Prioritas Jenis Terpilih di TNGGP Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa secara umum bentuk grafik struktur horisontal tegakan hutan pada ekosistem hutan yang mengalami kerusakan ataupun hutan tanaman eks hutan produksi Perum Perhutani (Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus) berada di bawah grafik struktur horisontal tegakan Hutan Alam yang menjadi ekosistem acuan (Gambar 38). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kerapatan vegetasi pada ekosistem hutan yang rusak ataupun hutan tanaman eks hutan produksi Perum Perhutani telah mengalami penurunan sehingga diperlukan tindakan pengayaan dengan teknik silvikultur yang tepat untuk meningkatan kerapatan mendekati ekosistem hutan alam yang belum mengalami kerusakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum ekosistem hutan yang mengalami kerusakan ataupun hutan tanaman eks hutan produksi Perum Perhutani di kawasan hutan TNGGP mengalami penurunan jumlah jenis dan sangat memungkinkan mengalami perubahan komposisi jenis yang secara jelas dapat dilihat pada ekosistem Hutan Pinus. Ekosistem Hutan Pinus di kawasan hutan TNGGP pada tingkat pohon hanya terdapat satu jenis pohon, yaitu pinus (Pinus merkusii). Ekosistem Hutan Rasamala Campuran memiliki jumlah jenis tertinggi diantara ekosistem hutan lain yang mengalami kerusakan ataupun hutan
59 107 tanaman lainnya. Namun demikian, upaya pengayaan jenis dengan penanaman jenis-jenis yang hilang mutlak untuk dilakukan. Gambar 38 Grafik hubungan kerapatan dengan tingkat pertumbuhan pada Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus Berdasarkan hasil analisis vegetasi pada ekosistem hutan yang telah mengalami gangguan ataupun hutan tanaman, yaitu 3 ha di Hutan Rasamala Campuran, 2,4 ha di Hutan Puspa Campuran, 2,8 ha di Hutan Damar, dan 2 ha di Hutan Pinus pada kawasan hutan TNGGP masing-masing ditemukan 63 jenis yang tergolong ke dalam 34 famili pada Hutan Rasamala Campuran, 47 jenis yang tergolong ke dalam 25 famili pada Hutan Puspa Campuran, 56 jenis yang tergolong ke dalam 26 famili pada Hutan Damar, serta 26 jenis yang tergolong ke dalam 18 famili pada Hutan Pinus. Hutan Pinus merupakan ekosistem yang memiliki jumlah jenis paling rendah terutama pada tingkat pohon, hal ini dikarenakan kawasan hutan tersebut sebelumnya merupakan hutan produksi eks Perum Perhutani berupa hutan tanaman monokultur jenis pinus (Pinus merkusii), sehingga tindakan pemeliharaan dilakukan secara intensif. Selain itu, terdapatnya pengaruh allelopati (pengaruh yang bersifat meracun) yang dihasilkan oleh serasah pinus dapat berdampak pada terhambatnya regenerasi yang dihasilkan. Terdapatnya jenis lain selain pinus pada tingkat permudaan dimungkinkan terjadi setelah alih fungsi hutan dari hutan produksi menjadi hutan konservasi. Setelah beralih menjadi hutan konservasi, maka kegiatan
60 108 pemeliharaan di Hutan Pinus tidak dilakukan lagi, sehingga berdampak pada tumbuhnya jenis-jenis lain yang dapat beradaptasi dengan kondisi tegakan pinus. Secara lebih detail, hasil analisis vegetasi pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus di kawasan TNGGP dapat dijelaskan dalam uraian berikut ini Vegetasi Tingkat Pohon di Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus TNGGP Hasil perhitungan kerapatan relatif, frekuensi relatif, dominansi relatif, dan indeks nilai penting tertinggi vegetasi tingkat pohon pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus di kawasan hutan TNGGP disajikan pada Tabel 13, sedangkan perhitungan analisis vegetasi secara lengkap disajikan pada Lampiran 10 Lampiran 13. Tabel 13 Indeks Nilai Penting tertinggi vegetasi tingkat pohon pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus No. Nama Latin Nama Lokal KR (%) FR (%) DR (%) INP (%) Hutan Rasamala Campuran: 1 Altingia excelsa Noronha Rasamala 77, , , , Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 5, ,9535 2, , Maesopsis eminii Engl. Kayu afrika 2,5822 6,3953 1,0164 9, Beilschrriedia wightii Benth. Huru 2,3474 5,8140 0,7777 8, Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. Nangsi 2,1127 5,2326 1,4120 8,7572 Hutan Puspa Campuran: 1 Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 25, , , , Altingia excelsa Noronha Rasamala 24, , , , Manglietia glauca Bl Manglid 24, ,5932 4, , Castanopsis tunggurrut (Bl.) A.DC. Tunggeureuk 2,8302 3, , , Castanopsis argentea (Bl.) DC. Saninten 4,5283 7,2034 6, ,7627 Hutan Damar: 1 Agathis dammara Damar 93, , , , Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 0, ,8614 0, , Altingia excelsa Noronha Rasamala 1,2739 3,9604 0,1073 5, Beilschrriedia wightii Benth. Huru 0,9554 2,9703 0,0383 3, Artocarpus elasticus (Bl.) DC Teureup 0,6369 1,9802 0,0387 2,6559 Hutan Pinus: 1 Pinus merkusii Pinus Keterangan: KR = Kerapatan Relatif, FR = Frekuensi Relatif, DR = Dominansi Relatif, INP = Indeks Nilai Penting
61 109 Jenis Schima wallichii (DC.) Korth tercatat memiliki kerapatan tertinggi pada Hutan Puspa Campuran, yaitu sebesar 25,0943 % dari 221 individu/ha yang menyusun tegakan Hutan Puspa Campuran. Pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus ditemukan lebih dari 75% individu yang menyusun tegakan tersebut adalah satu jenis tumbuhan tertentu. Altingia excelsa Noronha menyusun 77,2300% individu yang ada pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Agathis dammara menyusun 93,6306% individu yang ada pada tipe vegetasi Hutan Damar, bahkan pada tipe vegetasi Hutan Pinus 100% individu pohon penyusun tegakan tersebut adalah jenis Pinus merkusii. Hal ini bersesuaian dengan fungsi kawasan hutan sebelumnya sebagai kawasan hutan produksi yang dikelola sebagai hutan tanaman dimana pohonpohon tersebut merupakan tanaman pokok pada masing-masing tipe vegetasi hutan. Hutan Damar memiliki luas bidang dasar tertutupi oleh tegakan pohon paling tinggi diantara tipe vegetasi hutan lainnya, yaitu 100,2814 m 2 /ha. Sedangkan nilai dominansi jenis tumbuhan pada tipe vegetasi hutan lainnya adalah sebagai berikut: Hutan Rasamala Campuran memiliki nilai dominansi jenis tumbuhan sebesar 21,2743 m 2 /ha, Hutan Puspa Campuran memiliki nilai dominansi jenis tumbuhan sebesar 12,5991 m 2 /ha, dan Hutan Pinus memiliki nilai dominansi jenis tumbuhan sebesar 33,8115 m 2 /ha. Pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran nilai INP tertinggi vegetasi tingkat pohon diperoleh dari jenis Altingia excelsa Noronha (210,3517%), Schima wallichii (DC.) Korth. (22,5392%), Maesopsis eminii Engl. (9,9939%), Beilschrriedia wightii Benth. (8,9391%), dan Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. (8,7572%). Pada tipe vegetasi Hutan Puspa Campuran nilai INP tertinggi vegetasi tingkat pohon diperoleh dari jenis Schima wallichii (DC.) Korth. (70,8447%), Altingia excelsa Noronha (69,4172%), Manglietia glauca Bl (40,1817%), Castanopsis tunggurrut (Bl.) A.DC. (30,1276%), dan Castanopsis argentea (Bl.) DC. (17,7627%). Pada tipe vegetasi Hutan Damar nilai INP tertinggi vegetasi tingkat pohon diperoleh dari jenis Agathis dammara (262,1178%), Schima wallichii (DC.) Korth. (14,9767%), Altingia excelsa Noronha (5,3416%), Beilschrriedia wightii Benth. (3,9640%), Artocarpus elasticus (Bl.) DC (2,6559%). Pada tipe vegetasi Hutan Pinus nilai INP tertinggi diperoleh dari jenis Pinus merkusii, yaitu sebesar 300%.
62 110 Secara umum, pada tipe vegetasi hutan yang telah mengalami gangguan ataupun hutan tanaman terjadi penurunan keanekaragaman jenis tumbuhan. Hal tersebut dapat ditunjukkan dari nilai indeks keanekaragaman jenis tumbuhan pada Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus TNGGP (Tabel 14). Tabel 14 Jumlah jenis, indeks keanekaragaman jenis, dan indeks kemerataan jenis tingkat pohon pada Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus TNGGP Tipe Hutan Jumlah Jenis ( ) Indeks Keanekaragaman Jenis (H ) Indeks Kemerataan Jenis (J ) Hutan Rasamala Campuran 17 1,3218 0,4665 Hutan Puspa Campuran 23 2,3056 0,7353 Hutan Damar 13 0,6349 0,2475 Hutan Pinus Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 14) dapat diketahui bahwa pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran dan Hutan Damar terjadi penurunan hampir 50% dari tingkat keanekaragaman jenis dan kemerataan jenis dibandingkan pada Hutan Alam, bahkan mencapai 100% pada ekosistem/tipe vegetasi Hutan Pinus Vegetasi Tingkat Permudaan di Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus TNGGP Hasil analisis vegetasi permudaan (semai, pancang, dan tiang) secara berturut-turut disajikan pada Tabel 15, Tabel 16, dan Tabel 17. Pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus setelah alih fungsi kawasan dari hutan produksi menjadi hutan konservasi yang berdampak pada perubahan teknik silvikultur yang dilakukan, mulai ditemukan permudaan jenis-jenis pioner yang pada umumnya ditemukan pada ekosistem yang mengalami gangguan seperti Macaranga sp., Vernonia arborea, Trema sp. serta jenis-jenis tumbuhan sekunder lainnya, seperti: Villebrunea rubescens, Ficus fistulosa, Ficus ribes, bahkan beberapa permudaan komunitas hutan primer seperti Schima wallichii (DC.) Korth., Macropanax dispermum (Bl.), Glochidion rubrum Bl., Manglietia glauca Bl., dan Castanopsis argentea (Bl.) DC mulai ditemukan pada beberapa tipe ekosistem/tipe vegetasi hutan yang mengalami gangguan ataupun hutan tanaman sehingga proses regenerasi secara alami sebenarnya mulai terjadi. Namun demikian, upaya untuk mempercepat proses suksesi yang terjadi secara alami mutlak diperlukan
63 111 terlebih pada tipe vegetasi Hutan Pinus yang hanya didominasi oleh Pinus merkusii pada tingkat pohon dimana ketersediaan pohon lain sebagai sumber benih tidak ada. Proses regenerasi alami ini sangat tergantung dengan jarak dan ketersediaan pohon sumber benih dari ekosistem/tipe vegetasi hutan alam yang ada di dekatnya. Tabel 15 Indeks Nilai Penting tertinggi vegetasi tingkat semai pada Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus TNGGP No. Nama Latin Nama Lokal KR (%) FR (%) INP (%) Hutan Rasamala Campuran: 1 Macaranga rhizinoides (Bl.) Muell. Arg. (Bl.) M.A. Manggong 9,2511 9, , Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. Nangsi 7,4890 7, , Beilschrriedia wightii Benth. Huru 6,1674 6, , Macropanax dispermum (Bl.) Ki racun 4,8458 4,8673 9, Polyosma integrifolia Bl. Ki jebug 4,4053 4,4248 8,8301 Hutan Puspa Campuran: 1 Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 21, ,25 42, Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume Walen 9, , Ficus lepicarpa Bl. Bisoro 9,3168 9,375 18, Symplocos cochinchinensis (Lour.) S. Moore Jirak 6,8323 6,875 13, Macropanax dispermum (Bl.) Ki racun 4, ,9689 Hutan Damar: 1 Beilschrriedia wightii Benth. Huru 15, , , Ficus fistulosa Reiwn. Kondang beunying 10, , , Macaranga rhizinoides (Bl.) Muell. Arg. (Bl.) M.A. Manggong 7, , , Litsea monopetala Pers. Huru manuk 13,0435 4, , Camelia sinensis (L.) O.K. Ki enteh 4,5652 7, ,9336 Hutan Pinus: 1 Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume Walen 28, , , Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. Nangsi 15, , , Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 7,5758 7, , Ficus fistulosa Reiwn. Kondang beunying 6,0606 6, , Glycyrrhiza glabra L. var. glandulifera (Waldst. & kit) Regel & Herder Ki amis 6,0606 6, ,1212 Keterangan: KR = Kerapatan Relatif, FR = Frekuensi Relatif, INP = Indeks Nilai Penting Nilai kerapatan tingkat semai pada berbagai tipe vegetasi hutan tersebut adalah sebagai berikut: individu/ha pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, individu/ha pada tipe vegetasi Hutan Puspa Campuran, individu/ha pada tipe vegetasi Hutan Damar, dan individu/ha pada tipe vegetasi Hutan Pinus. Nilai kerapatan merupakan gambaran jumlah jenis pada
64 112 masing-masing tipe tipe vegetasi hutan. Tipe vegetasi Hutan Pinus mempunyai jumlah individu suatu jenis yang paling sedikit, sedangkan tipe vegetasi hutan lainnya mempunyai jumlah individu suatu jenis > 5000 individu/ha. Hal yang menarik dapat dilihat pada tipe vegetasi Hutan Pinus dan Hutan Damar dimana tidak dijumpai permudaan tingkat semai tumbuhan pokok pada masing-masing tipe hutan tersebut, tetapi mulai dijumpai jenis-jenis permudaan yang terdapat pada Hutan Alam. Nilai kerapatan tertinggi suatu jenis tumbuhan pada masing-masing tipe vegetasi hutan adalah sebagai berikut: Macaranga rhizinoides (Bl.) Muell. Arg. (Bl.) M.A. (700 individu/ha) pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Schima wallichii (DC.) Korth. (1.417 individu/ha) pada tipe vegetasi Hutan Puspa Campuran, Beilschrriedia wightii Benth. (2.571 individu/ha) pada tipe vegetasi Hutan Damar, dan Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume (950 individu/ha) pada tipe vegetasi Hutan Pinus. Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 15) dapat diketahui INP tertinggi vegetasi tingkat semai pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran dimiliki oleh jenis Macaranga rhizinoides (Bl.) Muell. Arg. (Bl.) M.A. (18,5431%), Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. (15,0111%), Beilschrriedia wightii Benth. (12,3621%), Macropanax dispermum (Bl.) (9,7131%), dan Polyosma integrifolia Bl. (8,8301%). INP tertinggi vegetasi tingkat semai pada tipe vegetasi Hutan Puspa Campuran dimiliki oleh jenis Schima wallichii (DC.) Korth. (42,3680%), Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume (19,9379%), Ficus lepicarpa Bl. (18,6918%), Symplocos cochinchinensis (Lour.) S. Moore (13,7073%), dan Macropanax dispermum (Bl.) (9,9689%). INP tertinggi vegetasi tingkat semai pada tipe vegetasi Hutan Damar dimiliki oleh jenis Beilschrriedia wightii Benth. (28,2838%), Ficus fistulosa Reiwn. (21,2700%), Macaranga rhizinoides (Bl.) Muell. Arg. (Bl.) M.A. (17,3913%), Litsea monopetala Pers. (17,2540%), dan Camelia sinensis (L.) O.K. (11,9336%). INP tertinggi vegetasi tingkat semai pada tipe vegetasi Hutan Pinus berasal jenis Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume (57,5758%), Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. (30,3030%), Schima wallichii (DC.) Korth. (15,1515%), Ficus fistulosa Reiwn. (12,1212%), Glycyrrhiza glabra L. var. glandulifera (Waldst. & kit) Regel & Herder (12,1212%). Hasil perhitungan kerapatan relatif, frekuensi relatif, dominansi relatif, dan indeks nilai penting tertinggi vegetasi tingkat pancang pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus di kawasan hutan TNGGP disajikan pada Tabel 16 berikut ini.
65 113 Tabel 16 Indeks Nilai Penting tertinggi vegetasi tingkat pancang pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus TNGGP No. Nama Latin Nama Lokal KR (%) FR (%) DR (%) INP (%) Hutan Rasamala Campuran: 1 Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. Nangsi 8,6826 8, , , Macaranga rhizinoides (Bl.) Muell. Arg. (Bl.) M.A. Manggong 9,5808 6,2500 3, , Cryptocarya tomentosa Huru tangkil 6,8862 6,6406 5, , Turpinia obtusa Ki bangkong 3,5928 4,6875 9, , Pygeum latifolium Miq Bl. Salam banen 6,5868 5,0781 3, ,3719 Hutan Puspa Campuran: 1 Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. Nangsi 12,6984 7, , , Glochidion rubrum Bl. Ki pare 8,7302 8,3969 4, , Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 3,9683 6, , , Manglietia glauca Bl Manglid 3,9683 3, , , Macropanax dispermum (Bl.) Ki racun 4,7619 5,3435 6, ,9813 Hutan Damar: 1 Camelia sinensis (L.) O.K. Ki enteh 15, , , , Macaranga rhizinoides (Bl.) Muell. Arg. (Bl.) M.A. Manggong 13, ,2500 7, , Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume Walen 5,1095 6, , , Eugenia densiflora (Bl.) Duthie Kopo 11,6788 7,5000 6, , Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 3,6496 4,3750 5, ,8952 Hutan Pinus: 1 Cinnamomum parthenoxylon Meissn. Ki sereh 20,625 18, , , Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. Nangsi 9,375 10, , , Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume Walen 13,75 6, , , Ficus fistulosa Reiwn. Kondang beunying 7,5 13,9535 4, , Macaranga semiglobosa J.J.S Mara 10 10,4651 3, ,6209 Keterangan: KR = Kerapatan Relatif, FR = Frekuensi Relatif, DR = Dominansi Relatif, INP = Indeks Nilai Penting Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 16) dapat diketahui bahwa INP tertinggi vegetasi tingkat pancang pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran terdiri atas jenis Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. (29,3772%), Macaranga rhizinoides (Bl.) Muell. Arg. (Bl.) M.A. (19,8028%), Cryptocarya tomentosa (19,0744%), Turpinia obtusa (17,3657%), dan Pygeum latifolium Miq Bl (15,3719%). INP tertinggi vegetasi tingkat pancang pada tipe vegetasi Hutan Puspa Campuran terdiri atas jenis Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. (35,2482%), Glochidion rubrum Bl. (21,8506%), Schima wallichii (DC.) Korth. (20,4852%), Manglietia glauca Bl (18,5095%), dan Macropanax dispermum (Bl.) (16,9813%). INP tertinggi vegetasi tingkat pancang pada tipe vegetasi Hutan Damar terdiri atas jenis Camelia sinensis (L.) O.K. (41,5904%), Macaranga rhizinoides (Bl.) Muell. Arg.
66 114 (Bl.) M.A. (33,0028%), Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume (27,2222%), Eugenia densiflora (Bl.) Duthie (26,0865%), dan Schima wallichii (DC.) Korth. (13,8952%). INP tertinggi vegetasi tingkat pancang pada tipe vegetasi Hutan Pinus terdiri atas jenis Cinnamomum parthenoxylon Meissn. (65,2360%), Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. (34,0542%), Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume (31,5854%), Ficus fistulosa Reiwn. (26,0618%), dan Macaranga semiglobosa J.J.S (23,6209%). Hasil analisis vegetasi tingkat tiang pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus di kawasan TNGGP dapat dilihat pada Tabel 17 berikut ini. Tabel 17 Indeks Nilai Penting tertinggi vegetasi tingkat tiang pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus No. Nama Latin Nama Lokal KR (%) FR (%) DR (%) INP (%) Hutan Rasamala Campuran: 1 Turpinia obtusa Ki bangkong 8,0645 8,3333 8, , Evodia latifola DC Ki sampang 8,0645 8,3333 7, , Dysoxylum excelsum Bl. Pingku tanglar 8,0645 8,3333 5, , Abarema clypearia (Jack) Kosterm. Haruman 6,4516 6,6667 8, , Altingia excelsa Noronha Rasamala 6,4516 5,0000 8, ,5157 Hutan Puspa Campuran: 1 Altingia excelsa Noronha Rasamala 21, , , , Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 1, , , , Ficus alba Burm.f. Hamerang 9,2984 9,7345 8, , Manglietia glauca Bl Manglid 10,1437 8,8496 7, , Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume Walen 6,7625 5,3097 5, ,0660 Hutan Damar: 1 Altingia excelsa Noronha Rasamala 13, , , , Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa 13, , , , Evodia latifola DC Ki sampang 6,6667 6,6667 7, , Ficus alba Burm.f. Hamerang 6,6667 6,6667 7, , Laportea stimulans (L.f.) Miq. Pulus 6,6667 6,6667 5, ,6787 Hutan Pinus: 1 Cinnamomum parthenoxylon Meissn. Ki sereh , , Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume Walen , ,0859 Keterangan: KR = Kerapatan Relatif, FR = Frekuensi Relatif, DR = Dominansi Relatif, INP = Indeks Nilai Penting Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 17) dapat diketahui bahwa INP tertinggi vegetasi tingkat tiang pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran terdiri atas jenis Turpinia obtusa (24,9527%), Evodia latifola DC (23,7947%), Dysoxylum
67 115 excelsum Bl. (22,1665%), Abarema clypearia (Jack) Kosterm. (21,1896%), Altingia excelsa Noronha (19,5157%). INP tertinggi vegetasi tingkat tiang pada tipe vegetasi Hutan Puspa Campuran terdiri atas jenis Altingia excelsa Noronha (56,0476%), Schima wallichii (DC.) Korth. (32,7897%), Ficus alba Burm.f. (27,1730%), Manglietia glauca Bl (26,7507%), dan Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume (18,0660%). INP tertinggi vegetasi tingkat tiang pada tipe vegetasi Hutan Damar terdiri atas jenis Altingia excelsa Noronha (42,1792%), Schima wallichii (DC.) Korth. (41,6765%), Evodia latifola DC (20,7902%), Ficus alba Burm.f. (20,6866%), dan Laportea stimulans (L.f.) Miq. (18,6787%). INP tertinggi vegetasi tingkat tiang pada tipe vegetasi Hutan Pinus terdiri atas jenis Cinnamomum parthenoxylon Meissn. (228,9141%) dan Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume (71,0859%). Jenis Schima wallichii (DC.) Korth. secara konsisten mempunyai INP tertinggi pada tingkat pertumbuhan semai, pancang, tiang, dan pohon pada tipe vegetasi Hutan Puspa Campuran. Pada tipe vegetasi Hutan Pinus dijumpai bahwa Pinus merkusii tidak ditemukan pada tingkat semai, pancang, dan tiang. Pinus merkusii hanya ditemukan pada tingkat pohon. Hal tersebut menunjukkan kemungkinan akan terjadinya perubahan komposisi jenis tumbuhan penyusun tipe vegetasi hutan tersebut. Jenis tumbuhan Cinnamomum parthenoxylon Meissn. dan Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume merupakan jenis tumbuhan yang berpotensi menggantikan dominansi Pinus merkusii pada tingkat pohon karena jenis-jenis tumbuhan tersebut mempunyai permudaan yang mencukupi dan secara konsisten mempunyai INP tinggi pada tingkat semai dan tingkat pancang. Bahkan pada tingkat tiang 100% individu penyusun tipe vegetasi Hutan Pinus adalah kedua jenis tumbuhan tersebut meskipun dengan kerapatan rendah, yaitu hanya 8 individu/ha. Hal yang berbeda terjadi pada tipe vegetasi Hutan Damar, proses regenerasi tumbuhan pokok penyusun tipe vegetasi hutan tersebut, yaitu Agathis dammara, akan tetap berlangsung karena masih tersedianya permudaan pada tingkat pancang dan tingkat tiang meskipun dengan tingkat kerapatan yang rendah, yaitu sebesar 11 individu/ha pada tingkat pancang dan hanya 3 individu/ha pada tingkat tiang. Jenis Altingia excelsa Noronha dan Schima wallichii (DC.) Korth. merupakan jenis tumbuhan yang berpotensi menggantikan dominansi Agathis dammara, dimana jenis-jenis tumbuhan tersebut merupakan
68 116 jenis yang mendominasi pada tingkat tiang, yaitu dengan jumlah individu paling banyak, tersebar, dan luas bidang dasar yang paling besar. Pada tingkat pohon kedua jenis tumbuhan tersebut juga menduduki peringkat kedua dan ketiga jenis tumbuhan yang mempunyai INP tertinggi setelah Agathis dammara. Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 18) dapat diketahui mengenai gambaran keanekaragaman jenis tumbuhan dan kemerataan jenis tumbuhan untuk tingkat permudaan pada masing-masing tipe vegetasi hutan di kawasan hutan TNGGP. Secara umum, keanekaragaman jenis tumbuhan untuk tingkat permudaan pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, dan Hutan Damar mendekati keanekaragaman jenis tumbuhan pada Hutan Alam. Hutan Pinus merupakan tipe vegetasi hutan yang memiliki nilai keanekaragaman jenis tumbuhan untuk tingkat permudaan yang paling rendah diantara tipe vegetasi hutan lainnya, yaitu sebesar 2,4063 pada tingkat semai, 2,6087 pada tingkat pancang, dan hanya 0,5475 pada tingkat tiang. Berdasarkan hasil penelitian juga dapat diketahui mengenai gambaran kemerataan jenis atau distribusi jenis pada masing-masing tipe vegetasi hutan untuk tingkat permudaan. Nilai kemerataan jenis tumbuhan pada tipe vegetasi Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, dan Hutan Damar mendekati nilai kemerataan jenis tumbuhan pada tipe vegetasi Hutan Alam dan bahkan cenderung lebih tinggi. Tabel 18 Jumlah jenis, indeks keanekaragaman jenis, dan indeks kemerataan jenis tingkat permudaan pada Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus Tipe Hutan Tingkat Pertumbuhan Semai Pancang Tiang H J H J H J Hutan Rasamala 48 3,5221 0, ,5226 0, ,0831 0,9578 Campuran Hutan Puspa 30 2,9401 0, ,2104 0, ,7692 0,8832 Campuran Hutan Damar 40 3,1361 0, ,2377 0, ,8279 0,9440 Hutan Pinus 17 2,4063 0, ,6087 0, ,5475 0,7899 Keterangan: = Jumlah jenis, H = Keanekaragaman Jenis, J = Kemerataan Jenis Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa vegetasi pada tingkat pertumbuhan pancang mempunyai tingkat keanekaragaman jenis paling tinggi diantara tingkat pertumbuhan lainnya pada tingkat permudaan bahkan tingkat pohon. Nilai keanekaragaman jenis tumbuhan juga ditemukan semakin menurun pada tingkat pertumbuhan pancang hingga pohon. Hal tersebut menunjukkan
69 117 bahwa semakin berkurangnya jenis-jenis tumbuhan yang mampu beradaptasi dan memenangkan kompetisi untuk dapat tumbuh hingga tingkat pertumbuhan pohon. No Komposisi Jenis Tumbuhan pada Kelima Lokasi Analisis Vegetasi di Kawasan TNGGP Hasil penelitian (Tabel 19) menunjukkan bahwa komposisi jenis yang tercatat dari hasil analisis vegetasi pada plot pengamatan Hutan Alam, Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus di kawasan TNGGP dapat dilihat pada matriks komposisi jenis berikut ini. Tabel 19. Matrik komposisi jenis hasil analisis vegetasi pada plot pengamatan Hutan Alam (HA), Hutan Rasamala Campuran (HRC), Hutan Puspa Campuran (HPC), Hutan Damar (HD), dan Hutan Pinus (HP) Jenis Tipe Vegetasi HA HRC HPC HD HP 1 Abarema clypearia (Jack) Kosterm. S T Ph S P T - S P - 2 Acer laurinum Hassk. S P T Ph Acronychia laurifolia Bl. S P T Ph S P - S P - 4 Agathis dammara P T Ph - 5 Alangium chinense (Lour.) Rehder. S Alangium villosum Wang P T Ph P T S P Alseodaphne elmeri - P - S P T - 8 Altingia excelsa Noronha S P T Ph S P T Ph S P T Ph S P T Ph P 9 Antidesma tetandrum Bl. S P T Ph S P T S P T S P T - 10 Artocarpus elasticus (Bl.) DC - S P - T Ph - 11 Astronia macrophylla Bl. P P T Ph Beilschrriedia wightii Benth. S P T Ph S P T Ph S P T Ph S P Ph - 13 Brassaiopsis glomerulata (BI.) Regel S P Bridelia glauca Bl. - P Bruismia styracoides Boerl. & Koord. Ph - - T - 16 Buchanania arborescens Bl. S P T Ph S P S P S P S P 17 Camelia sinensis (L.) O.K. S P T S P - S P T Ph - 18 Canarium hirsutum Willd var. hirsutum S P S P - P - 19 Carallia brachiata Merr. S P - - S P - 20 Castanopsis argentea (Bl.) DC. S P T Ph S T Ph S P - 21 Castanopsis javanica (Bl.) A.DC. S P T Ph S P S P T Ph S S P 22 Castanopsis tunggurrut (Bl.) A.DC. S P T Ph - S Ph Chrysophyllum cainito L. - P Cinnamomum parthenoxylon Meissn. - - P T Ph P P T 25 Claoxylon polot Merr. S P Cryptocarya tomentosa P S P T Daphniphyllum glaucescens Bl. P
70 118 No. Jenis Tipe Vegetasi HA HRC HPC HD HP 28 Decaspermum fruticosum J.R.& G. S P Ph S P T S P S P - 29 Dysoxylum alliaceum Bl. S P T Ph S P Dysoxylum excelsum Bl. - S P T S P P - 31 Dysoxylum parasiticum (osb.) Kosterm. P Elaeocarpus pierrei Kds. & Val. P T Ph - Ph Engelhardia spicata Lech. Ex. Bl. T Ph S T Eounymus javanicus Bl. P T Ph - P Eugenia cuprea K.et V. Ph Eugenia densiflora (Bl.) Duthie S P T Ph S P T S P S P - 37 Evodia latifola DC P T Ph S P T Ph - P T Ph - 38 Ficus alba Burm.f. S P T Ph P T Ph P T Ph S P T S P 39 Ficus ampelas Burm.f. - S P - S P - 40 Ficus fistulosa Reiwn. S P T Ph - S P T S P T S P 41 Ficus hispida P 42 Ficus lepicarpa Bl. S - S S P - 43 Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume S P T Ph S P T S P T Ph S P T S P T 44 Ficus septica Burm.f. P S Ficus variegata Bl. T Ph - Ph P Ph - 46 Flacourtia rukam Zoll. & Mor S P Ph S P T - - S P 47 Ganiothalamus macrophyllus (Bl.) Hook.f. & Thoms S P S P Gironniera subaequalis Planch P Glochidion lucidum S P Ph P P P S 50 Glochidion rubrum Bl. S P T Ph Ph S P T T Ph - 51 Glycyrrhiza glabra L. var. glandulifera (Waldst. & kit) Regel & Herder S P 52 Gynotroches axillaris Bl. S P Laportea stimulans (L.f.) Miq. - S P T - S P T - 54 Lithocarpus indutus (Bl.) Rehd. S P T P S P Ph - 55 Lithocarpus teysmanii (Bl.) Rehd S P Ph S P Ph S Ph Ph P 56 Litsea cubeba Pers. P Litsea javanica Bl. S P Ph Litsea monopetala Pers. S P Ph S P T Ph P S P S P 59 Litsea resinosa Bl S - 60 Macaranga rhizinoides (Bl.) Muell. Arg. (Bl.) M.A. S P T Ph S P T Ph S T Ph S P T - 61 Macaranga semiglobosa J.J.S S P 62 Macropanax dispermum (Bl.) S P T Ph S P S P T Ph S S P 63 Maesopsis eminii Engl. - P T Ph - - S 64 Magnolia candollii (Bl.) H.Keng P Manglietia glauca Bl S P T Ph S S P T Ph P Ph S P 66 Michellia montana Bl. P T Neonauclea lanceolata Merr. - P S P S P - 68 Neonauclea obtusa (Bl.) Meer P - 69 Omalanthus populneus (Geisel.) Pax Ph S - S P -
71 119 Tipe Vegetasi No. Jenis HA HRC HPC HD HP 70 Ostodes paniculata Bl. P T Ph S P T - S P - 71 Pavetta indica L. P P 72 Peronema canescens Jack. - P Persea excelsa (Bl.) Kost. S P T Ph S P S Ph S P 74 Pinus merkusii Ph 75 Plectronia didyma Kurz S P T Ph S P P S P - 76 Polyosma integrifolia Bl. S P T Ph S P T Ph - S - 77 Pygeum latifolium Miq Bl. - S P T Quercus tyesmannii Bl. S P T Ph S P Ph S P Ph S P T - 79 Rauwolfia javanica K. et V. S P S P S P Saurauia blumiana Benn. S P T Ph S P S P T Ph S P T S P 81 Saurauia cauliflora DC. S P T Ph P S P T S P T - 82 Saurauia nudiflora P - 83 Sauraunia reinwardtiana Bl S - 84 Schima sp1. P Ph - P Schima wallichii (DC.) Korth. S P T Ph S P Ph S P T Ph S P T Ph S P 86 Sloanea sigun (Bl.) K. Schum S P T Ph P P T - S P 87 Symplocos cochinchinensis (Lour.) S. Moore S P T Ph P Ph S Ph S - 88 Symplocos fasciculata Zoll. S P S Ph S Syzigium antisepticum (Bl.) Merr. & Perry P Ph Syzygium polyanthum Wight. S P T Ph S P T Ph Timonius sp. S P T Ph Toona sureni (Bl.) Merr. - - Ph Trema orientalis (L.) Bl. Ph - Ph S P - 94 Turpinia obtusa S P T Ph S P T Ph P T S P P 95 Turpinia sphaerocarpa Hassk P P Urophyllum arboreum Korth. S P T Ph S P T - P P 97 Vernonia arborea Ham. S P T Ph S T T Ph Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. S P T Ph S P T Ph S P T S P T S P 99 Weinmannia blumei Planch. S P T Ph S P S P T S P T Ph Xanthophylum excelsum miq S P S P - S P - Keterangan : S=Semai, P=Pancang, T=Tiang, Ph=Pohon, = jenis vegetasi ditemukan pada kelima lokasi Berdasarkan Tabel 19 dapat diketahui bahwa terdapat 15 jenis tumbuhan yang tergolong ke dalam 12 famili dapat ditemukan pada ekosistem Hutan Alam maupun ekosistem hutan lainnya di kawasan hutan TNGGP yang menjadi plot pengamatan atau sekitar 19,23% dari total jenis tumbuhan pada ekosistem Hutan Alam masih dapat ditemukan pada ekosistem hutan yang telah mengalami gangguan ataupun ekosistem hutan tanaman (Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus). Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat pada kelima lokasi analisis vegetasi tersebut, yaitu: Altingia
72 120 excelsa Noronha (rasamala), Buchanania arborescens Bl. (ki tanjung), Castanopsis javanica (Bl.) A.DC. (riung anak), Ficus alba Burm.f. (hamerang), Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume (walen), Glochidion lucidum (mareme), Lithocarpus teysmanii (Bl.) Rehd (pasang kayang), Litsea monopetala Pers.(huru manuk), Macropanax dispermum (Bl.) (ki racun), Manglietia glauca Bl (manglid), Persea excelsa (Bl.) Kost. (huru leueur), Saurauia blumiana Benn. (ki leho), Schima wallichii (DC.) Korth. (puspa), Turpinia obtusa (ki bangkong), dan Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. (nangsi). Keberadaan 15 jenis tumbuhan yang ditemukan pada kelima tipe vegetasi hutan di kawasan TNGGP tersebut dapat dijadikan sebagai acuan untuk pemilihan jenis tumbuhan awal yang dapat digunakan dalam kegiatan restorasi kawasan TNGGP. Hal tersebut dikarenakan ke-15 jenis tumbuhan tersebut mampu tumbuh pada semua kondisi tipe vegetasi hutan di kawasan TNGGP. Setelah jenis-jenis tumbuhan awal tersebut tumbuh, barulah dapat dimasukkan jenis-jenis tumbuhan lainnya seperti yang terdapat pada tipe vegetasi Hutan Alam sebagai ekosistem acuan di kawasan TNGGP Ekologi 15 Jenis Tumbuhan yang Ditemukan pada Kelima Lokasi Analisis Vegetasi di Kawasan Hutan TNGGP Berdasarkan hasil penelitian seperti yang telah diuraikan sebelumnya dapat diketahui bahwa terdapat 15 jenis tumbuhan yang mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuhnya (Tabel 20). Hal tersebut dikarenakan ke-15 jenis tumbuhan tersebut dapat ditemukan pada seluruh lokasi analisis vegetasi di kawasan hutan TNGGP, baik pada tipe vegetasi Hutan Alam maupun pada tipe vegetasi hutan yang mengalami gangguan ataupun tipe vegetasi hutan tanaman, yaitu Hutan Rasamala Campuran, Hutan Puspa Campuran, Hutan Damar, dan Hutan Pinus yang tentu saja mempunyai kondisi ingkungan baik biotik maupun abiotik yang berbedabeda. Tabel 20 Daftar jenis tumbuhan yang ditemukan pada kelima lokasi analisis vegetasi di kawasan TNGGP No. Nama Ilmiah Nama Lokal Famili 1 Altingia excelsa Noronha Rasamala Hamamelidaceae 2 Buchanania arborescens Bl. Ki tanjung Anacardiaceae 3 Castanopsis javanica (Bl.) A.DC. Riung anak Fagaceae 4 Ficus alba Burm.f. Hamerang Moraceae
73 121 No. Nama Ilmiah Nama Lokal Famili 5 Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume Walen Moraceae 6 Glochidion lucidum Mareme Euphorbiaceae 7 Lithocarpus teysmanii (Bl.) Rehd Pasang kayang Fagaceae 8 Litsea monopetala Pers. Huru manuk Lauraceae 9 Macropanax dispermum (Bl.) Ki racun Araliaceae 10 Manglietia glauca Bl. Manglid Magnoliaceae 11 Persea excelsa (Bl.) Kost. Huru leueur Lauraceae 12 Saurauia blumiana Benn. Ki leho Saurauiaceae 13 Schima wallichii (DC.) Korth. Puspa Theaceae 14 Turpinia obtusa Ki bangkong Staphyleacea 15 Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. Nangsi Urticaceae Adapun ekologi ke-15 jenis tumbuhan yang ditemukan pada kelima lokasi analisis vegetasi di kawasan hutan TNGGP adalah sebagai berikut: 1) Altingia excelsa Noronha (Rasamala) Altingia excelsa Noronha menyebar mulai dari Himalaya menuju wilayah lembab di Myanmar hingga Semenanjung Malaysia, ke Sumatera dan Jawa. Di Jawa, jenis ini hanya tumbuh di wilayah barat dengan ketinggian m dpl, di hutan bukit dan pegunungan lembab. Jenis ini tumbuh alami terutama pada tapak lembab dengan curah hujan lebih 100 mm per bulan dan tanah vulkanik. Pada ekosistem hutan pegunungan TNGGP, jenis ini merupakan salah satu jenis yang mendominasi tegakan dan secara umum tumbuh mengelompok. Di Jawa, jenis ini berbunga dan berbuah sepanjang tahun, tetapi puncak pembungaannya terjadi pada bulan April Mei. Puncak pembuahan terjadi pada bulan Agustus Oktober. Jenis Altingia excelsa Noronha saat ini banyak digunakan untuk penanaman terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan teknik silvikultur ditanam pada jarak rapat, karena pohon muda cenderung bercabang jika mendapat banyak sinar matahari. 2) Buchanania arborescens Bl. (Ki tanjung) Buchanania arborescens Bl. atau yang dikenal dengan Ki tanjung di wilayah Jawa Barat merupakan pohon kecil hingga besar dengan tinggi hingga m dan diameter hingga 100 cm, pada umumya terdapat banir dengan ketinggian 1 4 m. Jenis ini tumbuh di hutan primer dan hutan sekunder hutan hujan dataran rendah dengan ketinggian mdpl. Selain itu, jenis ini juga ditemukan di hutan kerangas, daerah pantai berpasir dan berbatu, dan kadang juga di hutan gambut, serta di tepi sungai.
74 122 3) Castanopsis javanica (Bl.) A.DC. (Riung anak) Sebaran Castanopsis javanica (Bl.) A.DC. meliputi Peninsular Malaysia, Sumatra, Borneo, dan Jawa Barat. Jenis tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian hingga 40 m dengan diameter dapat mencapai cm. Castanopsis javanica (Bl.) A.DC. tumbuh di hutan dataran rendah hingga pegunungan, ditemukan tumbuh mengelompok pada ekosistem hutan pegunungan TNGGP, pada umumnya ditemukan pada ketinggian m, tetapi juga dapat ditemukan pada ketinggian 2500 m. Jenis tumbuhan ini dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah tetapi tidak berbatu (limestone). Jenis tumbuhan ini berbunga pada bulan Januari - Agustus dan berbuah pada bulan April Nopember. 4) Ficus alba Burm.f. (Hamerang) Ficus alba Burm.f. merupakan tumbuhan kecil, tumbuh pada ketinggian di bawah 1700 m. 5) Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume (Walen) Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume merupakan tumbuhan pohon dengan tinggi 15 m dan diameter 30 cm, tumbuh pada ketinggian m dpl di hutan pegunungan. 6) Glochidion lucidum (Mareme) Glochidion lucidum tersebar di Peninsular Malaysia, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Morotai dan Papua New Guinea. Pohon ini memiliki tinggi hingga 25 m dan diameter 45 cm, tumbuh pada ketinggian kurang dari 900 mdpl. 7) Lithocarpus teysmanii (Bl.) Rehd (Pasang kayang) Lithocarpus teysmanii (Bl.) Rehd merupakan pohon besar yang pada umumnya memiliki akar papan, tinggi pohon dapat mencapai hingga 44 m dan diameter 1,5 m, tumbuh pada ketinggian m dpl dalam keadaan lembab. Jenis tumbuhan ini merupakan salah satu karakter jenis tumbuhan pada hutan pegunungan bawah (submontana) sampai hutan pegunungan (montana). Secara umum, Lithocarpus teysmanii (Bl.) Rehd ditemukan pada daerah beriklim lembab serta tumbuh pada berbagai tipe tanah (limestone, peat, podsolik). Namun demikian, jenis tumbuhan ini tergolong jenis tumbuhan tidak tahan api. 8) Litsea monopetala Pers. (Huru manuk) Litsea monopetala Pers. tersebar di India, Burma, Indo-china, Thailand, Peninsular Malaysia, dan Jawa. Jenis tumbuhan ini merupakan pohon kecil, tinggi sampai 18 m, dan diameter 60 cm, serta terdapat pada ketinggian m
75 123 dpl. Jenis tumbuhan ini ditemukan pada berbagai tipe habitat, sebagian besar ditemukan di hutan primer dan hutan sekunder dengan drainase yang baik. 9) Macropanax dispermum (Bl.) (Ki racun) Macropanax dispermum (Bl.) ditemukan tumbuh pada hutan primer pegunungan pada ketinggian m dpl dan tumbuh secara mengelompok. 10) Manglietia glauca Bl. (Manglid) Manglietia glauca Bl. tersebar di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan sedikit di Jawa Barat. Pohon ini berukuran besar, tingginya dapat mencapai hingga 40 m dengan tinggi bebas cabang mencapai 25 m dan diameter hingga 150 cm. Manglietia glauca Bl. berbunga dan berbuah hampir setiap tahun. Secara umum, jenis tumbuhan ini ditemukan di hutan primer dataran rendah dan pegunungan dengan ketinggan m dpl. 11) Persea excelsa (Bl.) Kost. (Huru leueur) Persea excelsa (Bl.) Kost. tersebar di Thailand, Peninsular Malaysia, Jawa, dan Bali. Jenis tumbuhan ini merupakan pohon evergreen, memiliki tinggi hingga mencapai m dan diameter cm. Jenis tumbuhan ini ditemukan pada hutan dataran rendah dan pegunungan dengan ketinggian kurang dari m dpl. 12) Saurauia blumiana Benn. (Ki leho) Saurauia blumiana Benn. merupakan jenis pohon yang ditemukan tumbuh pada hutan pengunungan bawah (submontana) ( m dpl) dengan pola sebaran berkelompok dan berasosiasi dengan Antidesma tetrandrum. 13) Schima wallichii (DC.) Korth. (Puspa) Schima wallichii (DC.) Korth.merupakan pohon sangat tinggi hingga mencapai 30 m, memiliki batang besar (80 cm) dan tegap seperti tiang, bertajuk lebat, tumbuh di hutan dengan ketinggian m dpl, tetapi lebih banyak ditemukan pada ketinggian m dpl. Jenis tumbuhan pohon ini merupakan salah satu jenis yang mendominasi pada ekosistem hutan TNGGP. Jenis tumbuhan ini memiliki musim berbuah pada bulan Agustus Nopember. 14) Turpinia obtusa (Ki bangkong) Turpinia obtusa merupakan pohon dengan tinggi mencapai hingga 20 m dan memiliki besar batang hingga 60 cm, tumbuh tersebar di Asia Tenggara pada hutan dataran rendah dan hutan pegunungan. Jenis tumbuhan ini terdapat pada ketinggian m dpl.
76 124 15) Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. (Nangsi) Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. merupakan pohon kecil/perdu yang cepat tumbuh dengan tinggi 3 8 m, tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian m dpl, kecuali di daerah musim kering jenis tumbuhan ini tumbuh di area yang mendapat naungan pada lereng-lereng jurang Prioritas Kegiatan/Tindakan Restorasi TNGGP Kawasan TNGGP sejak tahun 2003 mengalami perluasan kawasan hutan yang berasal dari alih fungsi kawasan hutan produksi dan hutan lindung eks Perum Perhutani menjadi kawasan hutan konservasi seluas 7.655,030 ha, sehingga secara legal kini kawasan TNGGP memiliki luas kawasan hutan sebesar ,030 ha. Perluasan kawasan TNGGP tersebut telah menambah kompleksitas kondisi kawasan TNGGP baik secara ekologi, ekonomi, maupun sosial. Secara ekologi, kawasan TNGGP kini memiliki beberapa tipe vegetasi hutan selain hutan alam yang berasal dari eks kawasan hutan produksi Perum Perhutani, yaitu: hutan tanaman dengan jenis tumbuhan eksotik (pinus, damar, eucalyptus), hutan tanaman dengan jenis tumbuhan asli (rasamala, puspa), dan hutan tanaman dengan jenis tumbuhan campuran (eksotik dan asli). Secara ekonomi, kawasan TNGGP yang berasal dari eks kawasan hutan produksi Perum Perhutani hingga kini masih dimanfaatkan oleh masyarakat yang biasanya menggarap lahan di kawasan tersebut melalui pola tumpangsari, yaitu masyarakat penggarap menanami lahan tersebut dengan tanaman-tanaman semusim, seperti sayuran dan palawija di antara tanaman/pohon pokok kehutanan. Secara sosial, masyarakat sekitar yang biasanya memanfaatkan/ menggarap lahan di kawasan TNGGP eks kawasan hutan produksi Perum Perhutani tersebut telah memiliki nilai-nilai tersendiri yang tumbuh dari aktivitasnya mengelola lahan di kawasan hutan tersebut, seperti: tumbuhnya semangat kebersamaan dalam mengolah lahan, terbentuknya kelembagaan kelompok tani, dan tumbuhnya nilai sosial lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Keberadaan hutan tanaman di kawasan TNGGP dengan jenis eksotik tentunya tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi yang mensyaratkan keaslian jenis di suatu kawasan hutan konservasi. Oleh karena itu, maka upaya restorasi hutan selain dilakukan di kawasan-kawasan hutan yang mengalami kerusakan ataupun tidak bervegetasi (kawasan hutan yang gundul) juga perlu
77 125 dilakukan di kawasan-kawasan hutan tanaman yang terdiri atas jenis eksotik. Melalui upaya restorasi hutan diharapkan agar kondisi kawasan hutan tersebut dapat kembali seperti/mendekati kondisi semula (kondisi awal yang diketahui). Mengingat kompleksnya kondisi kawasan TNGGP setelah perluasan kawasan, maka kegiatan restorasi di kawasan TNGGP perlu dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai hal. Menghadapi kondisi/keadaan tersebut, seringkali pengelola kawasan hutan konservasi merasa ragu-ragu untuk bertindak dalam melaksanakan kegiatan/tindakan restorasi di kawasan hutan konservasi karena di satu sisi kegiatan/tindakan restorasi hutan perlu dilakukan untuk memenuhi kaidah-kaidah konservasi yang berlaku, namun di sisi lain kegiatan/tindakan restorasi hutan tersebut dapat menimbulkan preseden buruk atau salah pengertian dari masyarakat sekitar maupun institusi lainnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka diharapkan kajian ini dapat bermanfaat sebagai salah satu acuan yang dapat digunakan bagi pengelola kawasan hutan konservasi dalam melakukan kegiatan/tindakan restorasi di kawasan hutan konservasi yang memiliki kondisi/keadaan sama dengan kasus kawasan hutan konservasi yang akan dikaji dalam penelitian ini. Melalui kajian ini dapat diketahui prioritas alternatif kegiatan/tindakan restorasi kawasan hutan konservasi dengan mempertimbangkan berbagai kriteria yang dihasilkan melalui survey pakar dan pengambil kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan perumusan yang telah dilakukan oleh pakar/ahli dapat diketahui bahwa kriteria, subkriteria, dan alternatif kegiatan/tindakan yang digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP dapat dilihat pada uraian berikut ini. Kriteria yang digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP adalah sebagai berikut: 1. Ekologi Kegiatan/tindakan restorasi secara ekologi diharapkan dapat meningkatkan peran dan fungsi ekologi suatu kawasan hutan konservasi, terutama keanekaragaman hayati dan hidroorologi. 2. Ekonomi Kegiatan/tindakan restorasi secara ekonomi diharapkan dapat memberikan nilai tambah/meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.
78 Sosial-Budaya Kegiatan/tindakan restorasi secara sosial-budaya diharapkan dapat meningkatkan nilai-nilai sosial budaya di masyarakat Subkriteria yang digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP adalah sebagai berikut: 1. Hutan tanaman jenis eksotik Merupakan hutan tanaman yang didominasi oleh pohon-pohon jenis eksotik (hutan jenis pinus eks Perum Perhutani di kawasan TNGGP, hutan jenis damar eks Perum Perhutani di kawasan TNGGP). 2. Hutan tanaman jenis asli Merupakan hutan tanaman yang didominasi oleh pohon-pohon jenis asli (hutan jenis rasamala dan puspa eks Perum Perhutani di kawasan TNGGP). 3. Hutan tanaman jenis asli dan jenis eksotik Merupakan hutan tanaman yang didominasi oleh pohon-pohon jenis asli yang di dalamnya terdapat beberapa pohon jenis eksotik yang letaknya terpencar (hutan jenis asli eks Perum Perhutani di kawasan TNGGP yang memiliki beberapa pohon jenis eksotik). 4. Hutan alam ada jenis eksotik Merupakan hutan alam yang didominasi oleh pohon-pohon jenis asli yang di dalamnya terdapat beberapa pohon jenis eksotik yang letaknya terpencar (hutan primer di kawasan TNGGP yang memiliki beberapa pohon jenis eksotik, hutan sekunder di kawasan TNGGP yang memiliki beberapa pohon jenis eksotik). 5. Tidak bervegetasi pohon Merupakan kawasan hutan yang tidak memiliki pohon (lahan terbuka di kawasan TNGGP, semak/belukar di kawasan TNGGP). Adapun alternatif kegiatan/tindakan yang digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP adalah sebagai berikut: 1. Restorasi Alami/Dibiarkan Secara Alami/Tanpa Tindakan (RA) Merupakan kondisi hutan yang dibiarkan tanpa ada tindakan/pengelolaan hingga tercapai suksesi secara alami 2. Tebang Pilih Restorasi Alami Melibatkan Masyarakat (TPRA-MM) Merupakan kegiatan/tindakan restorasi yang dilakukan dengan cara menebang/menghilangkan pohon jenis eksotik ataupun pohon pada hutan tanaman secara selektif/terbatas, selanjutnya dibiarkan tanpa ada
79 127 pengelolaan hingga tercapai suksesi secara alami (restorasi alami). Kegiatan/tindakan restorasi tersebut dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. 3. Tebang Pilih Restorasi Alami Tanpa Melibatkan Masyarakat (TPRA-TMM) Merupakan kegiatan/tindakan restorasi yang dilakukan dengan cara menebang/menghilangkan pohon jenis eksotik ataupun pohon pada hutan tanaman secara selektif/terbatas, selanjutnya dibiarkan tanpa ada pengelolaan hingga tercapai suksesi secara alami (restorasi alami). Kegiatan/tindakan restorasi tersebut dilakukan tanpa melibatkan masyarakat sekitar. 4. Tebang Pilih Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (TPRB-MM) Merupakan kegiatan/tindakan restorasi yang dilakukan dengan cara menebang/menghilangkan pohon jenis eksotik ataupun pohon pada hutan tanaman secara selektif/terbatas, selanjutnya dilakukan penanaman pohon jenis asli (restorasi buatan). Kegiatan/tindakan restorasi tersebut dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. 5. Tebang Pilih Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (TPRB-TMM) Merupakan kegiatan/tindakan restorasi yang dilakukan dengan cara menebang/menghilangkan pohon jenis eksotik ataupun pohon pada hutan tanaman secara selektif/terbatas, selanjutnya dilakukan penanaman pohon jenis asli (restorasi buatan). Kegiatan/tindakan restorasi tersebut dilakukan tanpa melibatkan masyarakat sekitar. 6. Tebang Habis Skala Kecil Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (THSKRB-MM) Merupakan kegiatan/tindakan restorasi yang dilakukan dengan cara menebang/menghilangkan pohon jenis eksotik ataupun pohon pada hutan tanaman yang telah dibagi ke dalam blok-blok tebangan skala kecil, selanjutnya dilakukan penanaman pohon jenis asli (restorasi buatan) pada bekas blok-blok tebangan skala kecil tersebut. Kegiatan/tindakan restorasi tersebut dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. 7. Tebang Habis Skala Kecil Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (THSKRB-TMM) Merupakan kegiatan/tindakan restorasi yang dilakukan dengan cara menebang/menghilangkan pohon jenis eksotik ataupun pohon pada hutan tanaman yang telah dibagi ke dalam blok-blok tebangan skala kecil, selanjutnya dilakukan penanaman pohon jenis asli (restorasi buatan) pada
80 128 bekas blok-blok tebangan skala kecil tersebut. Kegiatan/tindakan restorasi tersebut dilakukan tanpa melibatkan masyarakat sekitar. 8. Tebang Habis Skala Besar Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (THSBRB-MM) Merupakan kegiatan/tindakan restorasi yang dilakukan dengan cara menebang/menghilangkan pohon jenis eksotik ataupun pohon pada hutan tanaman yang telah dibagi ke dalam blok-blok tebangan skala besar, selanjutnya dilakukan penanaman pohon jenis asli (restorasi buatan) pada bekas blok-blok tebangan skala besar tersebut. Kegiatan/tindakan restorasi tersebut dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. 9. Tebang Habis Skala Besar Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (THSBRB-TMM) Merupakan kegiatan/tindakan restorasi yang dilakukan dengan cara menebang/menghilangkan pohon jenis eksotik ataupun pohon pada hutan tanaman yang telah dibagi ke dalam blok-blok tebangan skala besar, selanjutnya dilakukan penanaman pohon jenis asli (restorasi buatan) pada bekas blok-blok tebangan skala besar tersebut. Kegiatan/tindakan restorasi tersebut dilakukan tanpa melibatkan masyarakat sekitar. 10. Enrichment Planting Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (EPRB-MM) Merupakan kegiatan/tindakan restorasi yang dilakukan dengan cara melakukan penanaman pengayaan jenis (enrichment planting) menggunakan pohon jenis asli (restorasi buatan). Kegiatan/tindakan restorasi tersebut dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. 11. Enrichment Planting Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (EPRB- TMM) Merupakan kegiatan/tindakan restorasi yang dilakukan dengan cara melakukan penanaman pengayaan jenis (enrichment planting) menggunakan pohon jenis asli (restorasi buatan). Kegiatan/tindakan restorasi tersebut dilakukan tanpa melibatkan masyarakat sekitar. Adapun struktur hirarki/struktur AHP yang digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP dapat dilihat pada Gambar 39 berikut ini.
81 129 Tujuan Menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan hutan TNGGP Kriteria Ekologi Ekonomi Sosial-Budaya Sub Kriteria Hutan tanaman jenis eksotik Hutan tanaman jenis asli Hutan tanaman jenis asli dan jenis eksotik Hutan alam ada jenis eksotik Tidak bervegetasi pohon Alternatif Kegiatan/ Tindakan Restorasi Alami/ Dibiarkan Secara Alami/ Tanpa Tindakan (RA) Tebang Pilih Restorasi Alami Melibatkan Masyarakat (TPRA-MM) Tebang Pilih Restorasi Alami Tanpa Melibatkan Masyarakat (TPRA- TMM) Tebang Pilih Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (TPRB-MM) Tebang Pilih Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (TPRB- TMM) Tebang Habis Skala Kecil Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (THSKRB- MM) Tebang Habis Skala Kecil Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (THSKRB- TMM) Tebang Habis Skala Besar Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (THSBRB- MM) Tebang Habis Skala Besar Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (THSBRB- TMM) Enrichment Planting Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (EPRB-MM) Enrichment Planting Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (EPRB-TMM) Gambar 39 Struktur AHP prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP
82 130 Hasil penelitian (Gambar 40) menunjukkan bahwa pembobotan kriteria dan subkriteria yang telah dilakukan oleh pengambil kebijakan untuk menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi kawasan TNGGP dapat dijelaskan dalam uraian berikut ini. Nilai bobot kriteria yang digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP adalah sebagai berikut: ekologi (bobot: 0,600), ekonomi (bobot: 0,200), sosial-budaya (bobot: 0,200). Nilai bobot subkriteria pada kriteria ekologi yang digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan hutan TNGGP adalah sebagai berikut: hutan tanaman jenis eksotik (bobot: 0,211), hutan tanaman jenis asli (bobot: 0,092), hutan tanaman jenis asli dan jenis eksotik (bobot: 0,160), hutan alam ada jenis eksotik (bobot: 0,121), tidak bervegetasi pohon (bobot: 0,417). Adapun nilai bobot subkriteria pada kriteria ekonomi yang digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan hutan TNGGP adalah sebagai berikut: hutan tanaman jenis eksotik (bobot: 0,123), hutan tanaman jenis asli (bobot: 0,107), hutan tanaman jenis asli dan jenis eksotik (bobot: 0,162), hutan alam ada jenis eksotik (bobot: 0,186), tidak bervegetasi pohon (bobot: 0,423). Sedangkan nilai bobot subkriteria pada kriteria sosial-budaya yang digunakan untuk menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan hutan TNGGP adalah sebagai berikut: hutan tanaman jenis eksotik (bobot: 0,216), hutan tanaman jenis asli (bobot: 0,056), hutan tanaman jenis asli dan jenis eksotik (bobot: 0,132), hutan alam ada jenis eksotik (bobot: 0,056), tidak bervegetasi pohon (bobot: 0,540). Berdasarkan pemilihan kriteria tersebut dapat dijelaskan bahwa dalam kegiatan/tindakan restorasi di suatu kawasan hutan konservasi (kasus kawasan TNGGP) perlu dilakukan secara holistik dengan memperhatikan berbagai aspek, meliputi aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya agar kegiatan/tindakan restorasi hutan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan di sekitarnya. Pemilihan subkriteria dengan memperhatikan kondisi penutupan hutan beserta kondisi vegetasi yang terdapat di dalamnya dapat menjelaskan bahwa kegiatan/tindakan restorasi di suatu kawasan hutan konservasi (kasus kawasan TNGGP) dilakukan untuk mengatasi permasalahan terkait kondisi hutan beserta vegetasi penyusunnya yang saat ini pada umumnya banyak dialami oleh beberapa kawasan hutan konservasi yang mengalami perluasan kawasan. Sebagai akibat terjadinya perluasan kawasan hutan konservasi tersebut, pada umumnya kawasan perluasan tersebut memiliki
83 131 penutupan hutan beserta tipe vegetasi yang bervariasi bahkan berbeda dengan kawasan hutan konservasi yang ada sebelumnya/awalnya. Gambar 40 Bobot kriteria dan subkriteria dalam menentukan prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP Hasil penelitian (Gambar 41) juga menunjukkan bahwa prioritas alternatif kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP yang telah diurutkan berdasarkan ranking-nya adalah sebagai berikut: 1. Enrichment Planting Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (EPRB-MM) (nilai: 0,225) 2. Enrichment Planting Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (EPRB- TMM) (nilai: 0,158) 3. Tebang Pilih Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (TPRB-MM) (nilai: 0,117) 4. Tebang Pilih Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (TPRB-TMM) (nilai: 0,087) 5. Tebang Pilih Restorasi Alami Melibatkan Masyarakat (TPRA-MM) (nilai: 0,076) 6. Tebang Habis Skala Kecil Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (THSKRB-MM) (nilai: 0,066) 7. Restorasi Alami/Dibiarkan Secara Alami/Tanpa Tindakan (RA) (nilai: 0,061) 8. Tebang Pilih Restorasi Alami Tanpa Melibatkan Masyarakat (TPRA-TMM) (nilai: 0,056)
84 Tebang Habis Skala Besar Restorasi Buatan Melibatkan Masyarakat (THSBRB-MM) (nilai: 0,055) 10. Tebang Habis Skala Kecil Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (THSKRB-TMM) (nilai: 0,049) 11. Tebang Habis Skala Besar Restorasi Buatan Tanpa Melibatkan Masyarakat (THSBRB-TMM) (nilai: 0,049) Gambar 41 Prioritas kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP Secara lebih detail, nilai-nilai prioritas alternatif kegiatan/tindakan restorasi di kawasan TNGGP disajikan pada Lampiran 19 Lampiran 20. Berdasarkan prioritas alternatif kegiatan/tindakan restorasi di kawasan hutan TNGGP dapat dijelaskan bahwa prioritas alternatif kegiatan/tindakan restorasi secara garis besar sesuai urutannya adalah sebagai berikut: enrichment planting restorasi buatan, tebang pilih restorasi buatan, tebang pilih restorasi alami, tebang habis skala kecil restorasi buatan, restorasi alami, dan tebang habis skala besar restorasi buatan. Restorasi buatan mendapatkan prioritas lebih tinggi daripada restorasi alami dikarenakan saat ini pada umumnya kerusakan hutan di suatu kawasan hutan konservasi jauh lebih cepat apabila dibandingkan dengan kemampuan hutan tersebut dalam memulihkan sendiri kondisinya akibat gangguan yang terjadi. Oleh karena itu, maka diperlukan adanya bantuan dari luar untuk mempercepat proses pemulihan kondisi hutan yang mengalami kerusakan/gangguan tersebut melalui restorasi buatan. Enrichment planting (penanaman pengayaan) restorasi buatan ataupun penanaman memiliki prioritas tertinggi karena merupakan kegiatan/tindakan teraman/beresiko kecil dalam melakukan kegiatan restorasi di kawasan hutan konservasi. Hal tersebut dikarenakan setiap kegiatan yang dilakukan di suatu
85 133 kawasan hutan konservasi harus sesuai/tidak boleh bertentangan dengan kaidah-kaidah/prinsip-prinsip konservasi, termasuk dalam pelaksanaan kegiatan restorasi kawasan hutan konservasi. Urutan prioritas berikutnya adalah tebang pilih restorasi buatan. Alternatif kegiatan/tindakan restorasi tersebut pada umumnya dilakukan terhadap kawasan hutan miskin jenis terutama yang terdiri dari jenis-jenis tumbuhan eksotik. Urutan prioritas terakhir adalah tebang habis skala besar restorasi buatan. Alternatif kegiatan/tindakan restorasi tersebut memiliki prioritas terendah dikarenakan beresiko besar dalam kegiatan restorasi kawasan hutan konservasi dan berpotensi menimbulkan preseden buruk bagi kondisi lingkungan di sekitarnya. Berkaitan dengan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan restorasi kawasan hutan konservasi, alternatif kegiatan/tindakan restorasi yang melibatkan masyarakat lebih mendapatkan prioritas apabila dibandingkan dengan alternatif kegiatan/tindakan restorasi yang tidak melibatkan masyarakat. Hal tersebut dapat dimengerti karena keberhasilan suatu kegiatan di kawasan hutan konservasi sangat tergantung dari dukungan dan partisipasi aktif masyarakat yang terdapat di sekitar kawasan hutan konservasi tersebut, termasuk juga kegiatan restorasi kawasan hutan konservasi pada kawasan hutan TNGGP Persepsi Masyarakat Sekitar terhadap Kegiatan Restorasi Kawasan TNGGP Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa masyarakat sekitar di kedua desa yang menjadi lokasi sampel penelitian, yaitu Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar pada umumnya telah mengetahui tentang beralih fungsinya kawasan hutan eks Perum Perhutani menjadi bagian dari kawasan TNGGP (kawasan perluasan TNGGP) (Tabel 21). Tabel 21 Pengetahuan beralih fungsinya kawasan hutan eks Perum Perhutani menjadi bagian dari kawasan TNGGP (kawasan perluasan TNGGP) Desa Jawaban Ciputri Cihanyawar Total Jumlah % Jumlah % Jumlah % Tahu 27 90, , ,00 Tidak Tahu 3 10,00 0 0,00 3 5,00 Informasi tentang telah beralih fungsinya kawasan hutan eks Perum Perhutani menjadi bagian dari kawasan TNGGP pada umumnya diperoleh masyarakat sekitar dari petugas Balai Besar TNGGP ataupun petugas Perum Perhutani dan dari media massa. Namun demikian, pengetahuan masyarakat
86 134 tentang telah terjadinya alih fungsi kawasan hutan tersebut tidak serta merta menghentikan aktivitas yang biasa masyarakat sekitar lakukan di kawasan hutan tersebut. Kondisi demikian dikarenakan masyarakat sekitar masih memiliki ketergantungan terhadap keberadaan kawasan hutan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sebagian besar masyarakat sekitar yang biasa menggarap kawasan hutan tersebut hingga saat ini masih belum memiliki matapencaharian lain sebagai pengganti matapencaharian yang biasa mereka lakukan di kawasan hutan tersebut. Berkaitan dengan kondisi kawasan TNGGP, terutama di kawasan perluasan TNGGP apabila dibandingkan kondisinya pada saat 8 tahun yang lalu ketika kawasan tersebut baru beralih fungsi dari kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung menjadi kawasan hutan konservasi, masyarakat yang menjadi responden di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar menyatakan bahwa kondisinya lebih baik saat ini, yaitu masing-masing sebanyak 76,67% dan 63,33%; kondisinya sama saja, yaitu masing-masing sebanyak 6,67% dan 20%; dan kondisinya lebih buruk saat ini, yaitu masing-masing sebanyak 16,67% dan 16,67% (Gambar 42). Gambar 42 Histogram perbandingan kondisi kawasan TNGGP, terutama di kawasan perluasan TNGGP, 8 tahun yang lalu Masyarakat yang menjadi responden di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar yang berpendapat bahwa kondisi kawasan hutan TNGGP, terutama kawasan perluasan TNGGP lebih baik kondisinya saat ini memiliki alasan bahwa kondisi tersebut dapat tercapai karena adanya program penanaman pohon yang dilakukan oleh pihak Balai Besar TNGGP (masing-masing sebanyak 76,67% dan 46,67%) dan hutan terlihat lebih hijau (masing-masing sebanyak 0% dan 16,67%). Masyarakat yang menjadi responden di Desa Ciputri dan Desa
87 135 Cihanyawar yang berpendapat bahwa kondisi kawasan hutan TNGGP, terutama kawasan perluasan TNGGP sama saja kondisinya memiliki alasan bahwa hingga saat ini kondisi di kawasan hutan tersebut belum terlihat adanya perubahan (masing-masing sebanyak 13,33% dan 26,67%). Sedangkan masyarakat yang menjadi responden di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar yang berpendapat bahwa kondisi kawasan TNGGP, terutama kawasan perluasan TNGGP lebih buruk kondisinya saat ini memiliki alasan bahwa kondisi tersebut dapat terjadi karena banyak tanaman yang rusak (masing-masing sebanyak 10,00% dan 6,67%) dan kawasan hutan tersebut lebih terbuka (masing-masing sebanyak 0% dan 3,33%) (Tabel 22). Tabel 22 Alasan perbandingan kondisi hutan TNGGP 8 tahun yang lalu Desa Jawaban Ciputri Cihanyawar Total Jumlah % Jumlah % Jumlah % Adanya program penanaman 23 76, , ,67 Belum terlihat perubahan 4 13, , ,00 Hutan lebih hijau 0 0, ,67 5 8,33 Banyak tanaman yang rusak 3 10,00 2 6,67 5 8,33 Kawasan lebih terbuka 0 0,00 1 3,33 1 1,67 Masyarakat yang menjadi responden di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar sebagian besar berpendapat bahwa kegiatan restorasi (pemulihan) kawasan hutan TNGGP dapat bermanfaat untuk memperbaiki kondisi hutan (masingmasing sebanyak 86,67% dan 56,67%), menjaga ketersediaan air bersih (masing-masing sebanyak 76,67% dan 70%), dan mencegah terjadinya erosi dan tanah longsor (masing-masing sebanyak 60% dan 30%) (Tabel 23). Tabel 23 Manfaat restorasi (pemulihan) kawasan hutan TNGGP Jawaban Desa Ciputri Desa Cihanyawar Total Jumlah % Jumlah % Jumlah % Menjaga ketersediaan air bersih 23 76, , ,33 Memperbaiki kondisi hutan 26 86, , ,67 Mencegah terjadinya erosi dan tanah longsor 18 60, , ,00 Menyediakan udara yang bersih dan lingkungan yang asri 5 16, , ,33 Mencegah terjadinya banjir 4 13,33 2 6, ,00 Manfaat lainnya 2 6,67 2 6,67 4 6,67 Tidak ada manfaat 1 3,33 0 0,00 1 1,67 Adapun karakteristik pohon yang cocok dalam kegiatan restorasi kawasan hutan TNGGP menurut pendapat sebagian besar masyarakat yang menjadi responden di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar adalah jenis pohon yang cepat tumbuh (masing-masing sebanyak 73,33% dan 66,67%), jenis pohon yang
88 136 mampu beradaptasi (masing-masing sebanyak 46,67% dan 63,33%), dan jenis pohon asli/lokal (masing-masing sebanyak 36,67% dan 20%) (Tabel 24). Tabel 24 Karakteristik pohon yang cocok dalam kegiatan restorasi Jawaban Desa Ciputri Desa Cihanyawar Total Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jenis pohon yang cepat tumbuh 22 73, , ,00 Jenis pohon yang mampu beradaptasi 14 46, , ,00 Jenis pohon asli/lokal 11 36, , ,33 Jenis pohon yang membutuhkan sedikit nutrisi 2 6, ,00 5 8,33 Jenis pohon yang mudah diperbanyak dan dipelihara 1 3, ,33 5 8,33 Jenis pohon yang membutuhkan biaya rendah dalam penanaman dan pemeliharaan 0 0,00 1 3,33 1 1,67 Selain itu, masyarakat di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar yang menjadi responden juga berpendapat bahwa agar kegiatan restorasi kawasan TNGGP dapat berjalan baik dan lancar, maka diperlukan adanya aturan-aturan yang mengatur mengenai pemilihan jenis tumbuhan, penanaman (pola tanam), pemeliharaan, penentuan lokasi restorasi, pemberdayaan masyarakat, serta pembagian hak dan tanggung jawab para pihak yang terlibat kegiatan restorasi kawasan TNGGP Partisipasi Masyarakat Sekitar terhadap Kegiatan Restorasi Kawasan TNGGP Hasil penelitian (Tabel 25) menunjukkan bahwa masyarakat di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar yang menjadi responden, masing-masing sebanyak 80% dan 83,33% pernah ikut serta dalam kegiatan restorasi (pemulihan) kawasan hutan TNGGP. Tabel 25 Keikutsertaan dalam upaya restorasi (pemulihan) kawasan TNGGP Desa Jawaban Ciputri Cihanyawar Total Jumlah % Jumlah % Jumlah % Ya 24 80, , ,67 Tidak 6 20, , ,33 Bentuk-bentuk kegiatan yang pernah diikuti/dilakukan dalam rangka restorasi (pemulihan) kawasan hutan TNGGP oleh masyarakat Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar pada umumnya adalah kegiatan adopsi pohon (masing-masing sebanyak 76,67% dan 66,67%) dan kegiatan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan (Gerhan) (masing-masing sebanyak 3,33% dan 30%). Kegiatan adopsi pohon merupakan kegiatan yang disponsori/diselenggarakan oleh Balai Besar
89 137 TNGGP, CI-Indonesia Program, dan Green Radio. Sedangkan kegiatan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan (Gerhan) disponsori/diselenggarakan oleh Balai Besar TNGGP dan BPDAS. Jenis-jenis tumbuhan yang ditanam melalui kegiatan ini adalah rasamala, puspa, saninten, pasang, jamuju, huru, suren, manglid, dan ki sireum. Hasil penelitian (Tabel 26) menunjukkan bahwa masyarakat di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar pada umumnya menginginkan agar sistem pengelolaan dalam kegiatan restorasi kawasan TNGGP dilaksanakan secara bersama/kolaborasi antara pihak Balai Besar TNGGP dengan masyarakat sekitar, yaitu masing-masing sebesar 90% dan 86,67%. Tabel 26 Sistem pengelolaan dalam kegiatan restorasi kawasan hutan TNGGP Jawaban Desa Ciputri Desa Cihanyawar Total Jumlah % Jumlah % Jumlah % Dilaksanakan secara bersama/kolaborasi antara pihak Balai Besar TNGGP dan masyarakat 27 90, , ,33 Dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat 0 0, ,00 3 5,00 Tidak menjawab/tidak tahu 3 10,00 0 0,00 3 5,00 Dilaksanakan sepenuhnya oleh Balai Besar TNGGP 0 0,00 1 3,33 1 1,67 Adanya keinginan masyarakat sekitar agar sistem pengelolaan dalam kegiatan restorasi kawasan hutan TNGGP dilaksanakan secara bersama/ kolaborasi antara pihak Balai Besar TNGGP dengan masyarakat sekitar menunjukkan bahwa telah terdapat kesadaran masyarakat sekitar untuk turut berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan restorasi kawasan hutan TNGGP. Terdapatnya partisipasi masyarakat sekitar dalam kegiatan restorasi kawasan hutan TNGGP sangat penting dalam menjamin keberhasilan kegiatan restorasi di kawasan hutan tersebut. ITTO (2002) dan Kobayashi (2004) menyatakan bahwa keberhasilan kegiatan restorasi ekologi dan rehabilitasi hutan yang terdegradasi hanya akan tercapai apabila masyarakat lokal berperan serta dalam kegiatan tersebut dan masyarakat pengguna hutan memperoleh keuntungan ekonomi jangka pendek, serta manfaat lain di masa datang. Keberhasilan restorasi menurut Walters (1997) antara lain ditandai dengan indikator sebagai berikut: 6) Restorasi dipandang oleh masyarakat lokal dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi mereka. 7) Restorasi disusun sesuai dengan pola pemanfaatan sumberdaya dan lahan oleh masyarakat.
90 138 8) Pengetahuan lokal dan keahlian yang terkait dengan restorasi berhasil didokumentasikan oleh proyek. 9) Kelompok masyarakat/organisasi lokal secara efektif dimobilisasi untuk mendukung dan mengimplementasikan kegiatan restorasi. 10) Kebijakan yang terkait dan faktor politik mendukung upaya restorasi. Berkaitan dengan kegiatan perekonomian ataupun pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, sebagian besar masyarakat yang menjadi responden di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar berkeinginan jika memungkinkan dalam kegiatan restorasi ataupun penanaman pohon di kawasan hutan TNGGP masih diperbolehkan menanam tanaman semusim di sela-sela pohon tersebut dengan jenis sayur-mayur maupun jenis palawija. Keinginan masyarakat tersebut dapat dimengerti karena sebelumnya masyarakat yang menjadi responden di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar tersebut memanfaatkan lahan di kawasan hutan TNGGP yang merupakan eks hutan produksi Perum Perhutani melalui pola tumpang sari, yaitu masing-masing sebanyak 90% dan 66,67% responden. Hasil penelitian (Tabel 27) menunjukkan bahwa masyarakat yang menjadi responden di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar sebenarnya mau meninggalkan lahan garapannya atau tidak memanfaatkan sumberdaya alam di kawasan hutan TNGGP yang biasa digarapnya/dimanfaatkannya asalkan diberikan kompensasi untuk menggantikan/mengalihkan matapencahariannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, yaitu berupa: diberikannya ganti rugi berupa uang (masing-masing sebanyak 3,33% dan 0%), disediakannya matapencaharian baru (masing-masing sebanyak 0% dan 20%), diberikannya lahan garapan baru di luar kawasan hutan TNGGP (masing-masing sebanyak 63,33% dan 30%), diberikannya bantuan modal usaha (masing-masing sebanyak 3,33% dan 13,33%), diberikannya bantuan sarana produksi pertanian (peralatan, pupuk, bibit), pemasaran, dan bimbingan teknis pertanian (masing-masing sebanyak 26,67% dan 26,67%), dan kompensasi lainnya yang diberikan pemerintah (masing-masing 20% dan 20%). Melalui kegiatan restorasi kawasan TNGGP ini, masyarakat di Desa Ciputri dan Desa Cihanyawar yang menjadi responden berharap agar kawasan hutan TNGGP kembali hijau (masing-masing sebanyak 90% dan 76,67%), masyarakat menjadi sejahtera (masing-masing sebanyak 60% dan 56,67%), dan air bersih tetap berlimpah (masing-masing sebanyak 23,33% dan 20%).
91 139 Tabel 27 Kompensasi untuk tidak menggarap/memanfaatkan SDA di kawasan hutan TNGGP Desa Jawaban Ciputri Cihanyawar Total Jumlah % Jumlah % Jumlah % Diberikan lahan garapan baru di luar kawasan TNGGP 19 63, , ,67 Diberikan bantuan sarana produksi pertanian (peralatan, pupuk, bibit), pemasaran dan bimbingan teknis pertanian 8 26, , ,67 Kompensasi lainnya 6 20, , ,00 Disediakan matapencaharian baru 0 0, , ,00 Diberikan bantuan modal usaha 1 3, ,33 5 8,33 Diberikan ganti rugi berupa uang 1 3,33 0 0,00 1 1, Rekomendasi Kegiatan Restorasi Kawasan TNGGP Keberadaan kawasan hutan konservasi, termasuk kawasan TNGGP, memiliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat sekitar, terutama dalam perlindungan fungsi hidroorologis dan keanekaragaman hayati. Namun demikian, kawasan hutan konservasi di Indonesia pada umumnya mengalami gangguan yang mengakibatkan terjadinya kerusakan di kawasan hutan konservasi tersebut. Seringkali laju kerusakan hutan konservasi yang terjadi lebih cepat daripada kemampuan hutan tersebut untuk memulihkan kondisinya secara alami. Adapun kerusakan hutan konservasi yang terjadi di kawasan TNGGP berdasarkan hasil interpretasi citra landsat tahun 2010 adalah sebesar ha atau 9,47% dari luas seluruh kawasan hutan TNGGP. Selain itu, kawasan TNGGP juga memiliki hutan tanaman yang terdiri atas jenis eksotik maupun jenis asli. Terdapatnya hutan tanaman tersebut berasal dari eks hutan produksi Perum Perhutani yang sejak tahun 2003 dialihfungsikan menjadi hutan konservasi sebagai bagian dari kawasan hutan TNGGP. Keberadaan hutan tanaman di suatu kawasan hutan konservasi terutama dengan jenis-jenis eksotik tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi yang mensyaratkan bahwa suatu kawasan hutan konservasi memiliki ciri keaslian jenis yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka kegiatan restorasi kawasan TNGGP sebagai salah satu kawasan hutan konservasi di Indonesia perlu dilakukan mengingat pentingnya peranan kawasan hutan konservasi tersebut bagi lingkungan di sekitarnya. Kegiatan restorasi hutan konservasi ini pada hakekatnya adalah untuk membantu percepatan proses suksesi/pemulihan
92 140 kondisi hutan di suatu kawasan hutan konservasi. Dalam kegiatan restorasi kawasan hutan konservasi, tidak hanya kondisi hutannya saja yang perlu dipulihkan seperti kondisi semula (kondisi awal yang diketahui), melainkan juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terdapat di sekitar kawasan hutan konservasi tersebut. Oleh karena itu, agar kegiatan restorasi kawasan TNGGP dapat berhasil, maka kegiatan restorasi kawasan hutan tersebut perlu meliputi 2 hal berikut ini: (1) restorasi (pemulihan) kondisi hutan di kawasan TNGGP, (2) pemberdayaan/ peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan TNGGP Upaya Restorasi (Pemulihan) Kondisi Hutan di Kawasan TNGGP Upaya restorasi (pemulihan) kondisi hutan di kawasan TNGGP perlu dilakukan sesuai dengan prioritas lokasi restorasi kawasan TNGGP agar kegiatan restorasi dapat lebih efektif dan efisien. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa prioritas lokasi restorasi kawasan TNGGP yang mendapatkan prioritas tinggi pada umumnya terletak di bagian terluar/tepi kawasan TNGGP yang merupakan eks hutan produksi Perum Perhutani. Upaya restorasi kawasan TNGGP juga perlu dilakukan dengan memperhatikan tipe vegetasi hutan/ekosistem dan kondisi vegetasi penyusun tegakan hutan tersebut untuk menentukan jenis kegiatan/tindakan restorasi hutan yang perlu dilakukan serta menentukan jumlah dan jenis tumbuhan yang digunakan dalam kegiatan restorasi berdasarkan komposisi dan struktur vegetasi pada ekosistem acuan (reference ecosystem). Ekosistem acuan yang dapat digunakan dalam rangka restorasi kawasan TNGGP adalah berupa ekosistem hutan alam di kawasan TNGGP yang kondisinya masih alami/belum mengalami gangguan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat 15 jenis tumbuhan yang mampu tumbuh dan berkembang pada berbagai tipe vegetasi hutan/ekosistem sebagai jenis awal, yaitu: Altingia excelsa Noronha (rasamala), Buchanania arborescens Bl. (ki tanjung), Castanopsis javanica (Bl.) A.DC. (riung anak), Ficus alba Burm.f. (hamerang), Ficus ribes Reinw. Ex. Bl. Reinw. Ex Blume (walen), Glochidion lucidum (mareme), Lithocarpus teysmanii (Bl.) Rehd (pasang kayang), Litsea monopetala Pers.(huru manuk), Macropanax dispermum (Bl.) (ki racun), Manglietia glauca Bl (manglid), Persea excelsa (Bl.) Kost. (huru leueur), Saurauia blumiana Benn. (ki leho), Schima wallichii (DC.) Korth. (puspa),
93 141 Turpinia obtusa (ki bangkong), dan Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. (nangsi). Ke- 15 jenis tumbuhan tersebut berpotensi tinggi untuk dapat digunakan dalam kegiatan restorasi kawasan hutan TNGGP dan perlu dikembangkan teknik perbanyakannya. Dalam upaya restorasi kawasan TNGGP ini, kegiatan pemeliharaan dan pengamanan hasil restorasi hutan merupakan hal yang penting dilakukan untuk menjamin keberhasilan kegiatan restorasi di kawasan TNGGP. Selain itu, pendekatan yang digunakan dalam melihat keberhasilan kegiatan restorasi hutan ini adalah bukan pada jumlah yang berhasil ditanam melainkan jumlah tumbuhan yang berhasil hidup, sehingga apabila terdapat tumbuhan hasil penanaman kegiatan restorasi hutan yang mati, maka tumbuhan yang mati tersebut harus segera disulam/ditanam ulang Upaya Pemberdayaan/Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Sekitar Kawasan TNGGP Masyarakat sekitar kawasan TNGGP pada umumnya memiliki kondisi sosial ekonomi yang berpotensi tinggi dalam memanfaatkan sumberdaya alam ataupun menggarap lahan kawasan TNGGP untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Potensi tersebut perlu diarahkan atau diubah agar menjadi potensi yang bersifat positif dalam upaya restorasi kawasan TNGGP. Berdasarkan uraian tersebut, masyarakat sekitar kawasan TNGGP perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan restorasi kawasan TNGGP mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, hingga pengamanan hasil restorasi hutan. Berkaitan dengan upaya pemberdayaan/peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan TNGGP, kegiatan restorasi kawasan TNGGP harus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Melalui kegiatan restorasi hutan tersebut, masyarakat sekitar dapat memperoleh pendapatan dari penyediaan bibit untuk kegiatan restorasi dan tenaga kerja dalam kegiatan restorasi, misalnya: tenaga kerja penanaman, tenaga kerja pemeliharaan, dan tenaga kerja pengamanan hasil restorasi. Selain peningkatan kesejahteraan melalui pendapatan secara langsung dari keikutsertaan dalam kegiatan restorasi kawasan TNGGP, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dalam jangka panjang perlu pula dilakukan pemberdayaan/peningkatan perekonomian masyarakat sekitar melalui pengembangan berbagai kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan
94 142 masyarakat sekitar sekaligus sebagai upaya untuk memberikan alternatif matapencaharian pengganti agar tidak lagi memanfaatkan/menggarap kawasan TNGGP. Namun demikian, dalam mencari alternatif matapencaharian pengganti bagi masyarakat sekitar, sebaiknya tidak terlalu jauh atau tidak terlalu bertolak belakang dengan keahlian/keterampilan masyarakat sekitar yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Selain itu, dalam mencari alternatif matapencaharian pengganti bagi masyarakat sekitar, juga perlu memperhatikan kondisi dan potensi yang terdapat di lingkungan sekitar masyarakat tersebut berada dan cukup realistis untuk dapat dilaksanakan saat ini. Beberapa kegiatan yang dapat dijadikan sebagai alternatif matapencaharian pengganti masyarakat sekitar kawasan TNGGP adalah sebagai berikut: 1. Pengembangan kebun bibit di lahan desa Desa-desa yang terdapat di sekitar kawasan TNGGP pada umumnya memiliki lahan desa yang dikelola oleh desa tersebut. Keberadaan lahan desa di sekitar kawasan TNGGP dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kebun bibit bagi jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam kegiatan restorasi kawasan TNGGP maupun kegiatan restorasi di kawasan hutan lainnya. Pihak BB TNGGP dapat berperan untuk membina kegiatan usaha pengembangan kebun bibit tersebut melalui pendampingan dan memberikan pelatihan teknik-teknik perbanyakan bibit untuk memperoleh bibit yang berkualitas. 2. Intensifikasi lahan pekarangan untuk kegiatan pertanian Masyarakat sekitar kawasan TNGGP, meskipun tidak memiliki lahan pertanian pada umumnya masih memiliki lahan pekarangan di sekitar rumahnya. Lahan pekarangan tersebut, meskipun sempit, seringkali tidak digunakan oleh masyarakat secara intensif. Untuk mengoptimalkan lahan pekarangan tersebut bagi kegiatan pertanian perlu adanya suatu bimbingan dari pihak-pihak terkait agar lahan-lahan pekarangan yang dimiliki masyarakat sekitar dapat dimanfaatkan secara intensif bagi kegiatan pertanian. Masyarakat sekitar dapat membentuk koperasi untuk membantu pengumpulan dan pemasaran hasil-hasil pertanian yang dihasilkan dari pemanfaatan lahan pekarangan mereka secara intensif. Dengan adanya intensifikasi lahan pekarangan masyarakat sekitar untuk kegiatan pertanian, maka diharapkan lahan-lahan garapan masyarakat di kawasan hutan
95 143 TNGGP secara perlahan-lahan dapat ditinggalkan dan direstorasi menjadi hutan kembali sesuai kondisi semula. 3. Pengembangan usaha bunga hias/bunga potong Pengembangan usaha bunga hias/bunga potong juga dapat dilakukan di lahan pekarangan masyarakat yang terletak di daerah yang dingin. Untuk pengembangan usaha bunga hias/bunga potong oleh masyarakat sekitar kawasan TNGGP ini, pihak BB TNGGP perlu membuat kesepakatan (MoU) dengan perusahaan bunga potong/bunga hias yang berusaha di sekitar kawasan hutan TNGGP agar perusahaan tersebut mau menampung bunga hias/bunga potong yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar sebagai wujud kepedulian perusahaan tersebut dalam pengembangan perekonomian masyarakat sekitarnya sekaligus sebagai wujud kepedulian perusahaan tersebut dalam menjaga kelestarian kawasan TNGGP. Untuk menjaga kualitas bunga potong/bunga hias yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar, perusahaan bunga potong/bunga hias tersebut perlu memberikan pelatihan dan pembinaan kepada masyarakat sekitar Implikasi Model Model kebijakan restorasi kawasan hutan konservasi yang dihasilkan melalui penelitian ini memiliki beberapa implikasi sebagai berikut: 1). Karena variabel penilaian yang dipakai untuk seluruh kriteria bersifat umum, maka model kebijakan restorasi kawasan hutan konservasi hasil penelitian ini berlaku untuk seluruh kawasan hutan konservasi. 2). Model prioritas kegiatan/tindakan restorasi kawasan hutan konservasi yang dikembangkan/dibangun untuk kawasan TNGGP dapat diterapkan untuk kawasan hutan konservasi lainnya yang memiliki atau akan melakukan perluasan kawasan, terutama bagi 2 taman nasional yang saat ini memiliki kawasan perluasan, yaitu: Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, termasuk 3 kawasan taman nasional yang baru dibentuk yang memiliki permasalahan sosial ekonomi yang sama dengan kawasan perluasan TNGGP, yaitu: Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Merapi, dan Taman Nasional Gunung Merbabu.
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia. Luas kawasan hutan di Indonesia saat ini mencapai 120,35 juta ha. Tujuh belas persen
III. KONDISI UMUM LOKASI
III. KONDISI UMUM LOKASI 3.1. Sejarah Kawasan Kawasan TNGGP, oleh pemerintah Hindia Belanda pada awalnya diperuntukkan bagi penanaman beberapa jenis teh (1728). Kemudian pada tahun 1830 pemerintah kolonial
V. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
V. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 5.1. Letak Geografis dan Wilayah Administrasi Kawasan Perluasan TNGGP Kawasan perluasan TNGGP berada disebelah luar mengelilingi kawasan TNGGP lama sehingga secara keseluruhan
III. KONDISI UMUM LOKASI
III. KONDISI UMUM LOKASI 3.1. Sejarah Kawasan Berawal dari Cagar Alam Gunung Halimun (CAGH) seluas 40.000 ha, kawasan ini pertama kali ditetapkan menjadi salah satu taman nasional di Indonesia pada tahun
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
26 III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak dan Luas Lokasi kawasan Gunung Endut secara administratif terletak pada wilayah Kecamatan Lebakgedong, Kecamatan Sajira, Kecamatan Sobang dan Kecamatan Muncang,
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur
BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Berdasarkan beberapa literatur yang diperoleh, antara lain: Rencana Aksi Koridor Halimun Salak (2009-2013) (BTNGHS 2009) dan Ekologi Koridor Halimun Salak (BTNGHS
GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU
75 GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu propinsi yang masih memiliki tutupan hutan yang baik dan kaya akan sumberdaya air serta memiliki banyak sungai. Untuk kemudahan dalam
BAB I. PENDAHULUAN. sebagai sebuah pulau yang mungil, cantik dan penuh pesona. Namun demikian, perlu
BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pulau Lombok memiliki luas 467.200 ha. dan secara geografis terletak antara 115 o 45-116 o 40 BT dan 8 o 10-9 o 10 LS. Pulau Lombok seringkali digambarkan sebagai
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumberdaya alam seperti air, udara, lahan, minyak, ikan, hutan dan lain - lain merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Penurunan
BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan jumlah spesies burung endemik (Sujatnika, 1995). Setidaknya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara yang memiliki kekayaan spesies burung dan menduduki peringkat pertama di dunia berdasarkan jumlah spesies burung
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kawasan konservasi merupakan kawasan yang dilindungi dengan fungsi pokok konservasi biodiversitas dalam lingkungan alaminya, atau sebagai konservasi in situ, yaitu konservasi
Kata kunci: Fungsi hutan, opini masyarakat, DAS Kelara
Opini Masyarakat Terhadap Fungsi Hutan di Hulu DAS Kelara OPINI MASYARAKAT TERHADAP FUNGSI HUTAN DI HULU DAS KELARA Oleh: Balai Penelitian Kehutanan Makassar, Jl. Perintis Kemerdekaan Km.16 Makassar, 90243,
BAB I PENDAHULUAN. merupakan modal dasar bagi pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan merupakan salah satu aset penting bagi negara, yang juga merupakan modal dasar bagi pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Hutan sebagai sumberdaya
IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Karakteristik Biofisik 4.1.1 Letak Geografis Lokasi penelitian terdiri dari Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Cisarua, Kabupaten Bogor yang terletak antara 6⁰37 10
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Habitat merupakan lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang biak secara alami. Kondisi kualitas dan kuantitas habitat akan menentukan komposisi,
BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Menurut Suhartini (2009, h.1)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia terletak di daerah beriklim tropis sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Menurut Suhartini (2009, h.1) Indonesia menjadi salah
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Tentang Struktur Vegetasi Struktur vegetasi merupakan komponen penyusun vegetasi itu sendiri. Struktur vegetasi disusun oleh tumbuh-tumbuhan baik berupa pohon, pancang,
BAB I PENDAHULUAN. Cagar lam merupakan sebuah kawasan suaka alam yang berarti terdapat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Peraturan Pemerintah Nomer 28 tahun 2011 pasal 1 nomer 1 tentang pengolaan kawasan suaka alam dan kawasan pelestaian alam yang berbunyi Kawsasan Suaka Alam
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS)
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Kawasan lindung Bukit Barisan Selatan ditetapkan pada tahun 1935 sebagai Suaka Marga Satwa melalui Besluit Van
BAB I PENDAHULUAN. tahun 2010 (https://id.wikipedia.org/wiki/indonesia, 5 April 2016).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dunia pariwisata saat ini semakin menjadi sorotan bagi masyarakat di dunia, tak terkecuali Indonesia. Sektor pariwisata berpeluang menjadi andalan Indonesia untuk mendulang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang menyandang predikat mega biodiversity didukung oleh kondisi fisik wilayah yang beragam mulai dari pegunungan hingga dataran rendah serta
Modul 1. Hutan Tropis dan Faktor Lingkungannya Modul 2. Biodiversitas Hutan Tropis
ix H Tinjauan Mata Kuliah utan tropis yang menjadi pusat biodiversitas dunia merupakan warisan tak ternilai untuk kehidupan manusia, namun sangat disayangkan terjadi kerusakan dengan kecepatan yang sangat
INVENTARISASI DAN ANALISIS HABITAT TUMBUHAN LANGKA SALO
1 INVENTARISASI DAN ANALISIS HABITAT TUMBUHAN LANGKA SALO (Johannes teijsmania altifrons) DI DUSUN METAH, RESORT LAHAI, TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH PROVINSI RIAU- JAMBI Yusi Indriani, Cory Wulan, Panji
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Fisik Lokasi Penelitian 4.1.1 Letak dan Luas Secara geografis Kabupaten Cianjur terletak antara 6 0 21-7 0 25 Lintang Selatan dan 106 0 42-107 0 33 Bujur
BAB I PENDAHULUAN. plasma nutfah serta fungsi sosial budaya bagi masyarakat di sekitarnya dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan lindung sebagai kawasan yang mempunyai manfaat untuk mengatur tata air, pengendalian iklim mikro, habitat kehidupan liar, sumber plasma nutfah serta fungsi
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keberadaan burung pemangsa (raptor) memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu ekosistem. Posisinya sebagai pemangsa tingkat puncak (top predator) dalam ekosistem
I. PENDAHULUAN. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli
` I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli dan dikelola dengan sistem zonasi. Kawasan ini dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, hutan adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan Sekipan merupakan hutan pinus yang memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan hutan yang lainnya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan Sekipan merupakan hutan pinus yang memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan hutan yang lainnya. Adapun yang membedakannya dengan hutan yang lainnya yaitu
BAB I PENDAHULUAN. endangered berdasarkan IUCN 2013, dengan ancaman utama kerusakan habitat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rekrekan (Presbytis comata fredericae Sody, 1930) merupakan salah satu primata endemik Pulau Jawa yang keberadaannya kian terancam. Primata yang terdistribusi di bagian
PETA SUNGAI PADA DAS BEKASI HULU
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Sub DAS pada DAS Bekasi Hulu Berdasarkan pola aliran sungai, DAS Bekasi Hulu terdiri dari dua Sub-DAS yaitu DAS Cikeas dan DAS Cileungsi. Penentuan batas hilir dari DAS Bekasi
DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii
DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah... 3 C. Tujuan... 4 D. Manfaat...
BAB I PENDAHULUAN. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tentang. sumber daya alam. Pasal 2 TAP MPR No.IX Tahun 2001 menjelaskan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan salah satu sumber daya alam hayati yang memiliki banyak potensi yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat, Pasal 33 ayat (3) Undang- Undang Dasar 1945 menyebutkan
KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI. Administrasi
KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI Administrasi Secara administrasi pemerintahan Kabupaten Sukabumi dibagi ke dalam 45 kecamatan, 345 desa dan tiga kelurahan. Ibukota Kabupaten terletak di Kecamatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keanekaragaman hayati (biological diversity atau biodiversity) adalah istilah yang digunakan untuk menerangkan keragaman ekosistem dan berbagai bentuk serta variabilitas
Konservasi Lingkungan. Lely Riawati
1 Konservasi Lingkungan Lely Riawati 2 Dasar Hukum Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Letak dan Luas. Komponen fisik
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Letak dan Luas Daerah penelitian mencakup wilayah Sub DAS Kapuas Tengah yang terletak antara 1º10 LU 0 o 35 LS dan 109 o 45 111 o 11 BT, dengan luas daerah sekitar 1 640
3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis
3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Penelitian dilakukan di dua kabupaten di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Batanghari dan Muaro Jambi. Fokus area penelitian adalah ekosistem transisi meliputi
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian ini meliputi wilayah Kota Palangkaraya, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Katingan, Kabupaten
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, baik flora maupun fauna yang penyebarannya sangat luas. Hutan
2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah
2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda berdiri pada tanggal 7 Desember 1956, dengan dasar hukum Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, setelah Brazil (Anonimus, 2009). Brazil merupakan salah satu negara dengan
IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota
IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Pembentukan Taman Kupu-Kupu Gita Persada Taman Kupu-Kupu Gita Persada berlokasi di kaki Gunung Betung yang secara administratif berada di wilayah Kelurahan
PENDAHULUAN. daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam
11 PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan, termasuk hutan tanaman, bukan hanya sekumpulan individu pohon, namun merupakan suatu komunitas (masyarakat) tumbuhan (vegetasi) yang kompleks yang terdiri dari pohon,
i:.l'11, SAMBUTAN PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR KOTAK... GLOSARI viii xii DAFTAR SINGKATAN ...
itj). tt'ii;,i)ifir.l flni:l l,*:rr:tililiiii; i:.l'11, l,.,it: I lrl : SAMBUTAN PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR KOTAK... GLOSARI DAFTAR SINGKATAN viii tx xt xii... xviii BAB
IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas
42 IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas Secara geografis, perumahan Bukit Cimanggu City (BCC) terletak pada 06.53 LS-06.56 LS dan 106.78 BT sedangkan perumahan Taman Yasmin terletak pada
KAWASAN KONSERVASI UNTUK PELESTARIAN PRIMATA JURUSAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
KAWASAN KONSERVASI UNTUK PELESTARIAN PRIMATA ANI MARDIASTUTI JURUSAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR Kawasan Konservasi Indonesia UURI No 5 Tahun 1990 Konservasi
Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang
No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan
Lampiran 3. Interpretasi dari Korelasi Peraturan Perundangan dengan Nilai Konservasi Tinggi
I. Keanekaragaman hayati UU No. 5, 1990 Pasal 21 PP No. 68, 1998 UU No. 41, 1999 Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pengawetan keanekaragaman hayati serta ekosistemnya melalui Cagar Alam
Konservasi Tingkat Komunitas OLEH V. B. SILAHOOY, S.SI., M.SI
Konservasi Tingkat Komunitas OLEH V. B. SILAHOOY, S.SI., M.SI Indikator Perkuliahan Menjelaskan kawasan yang dilindungi Menjelaskan klasifikasi kawasan yang dilindungi Menjelaskan pendekatan spesies Menjelaskan
BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA
PERENCANAAN WILAYAH 1 TPL 314-3 SKS DR. Ir. Ken Martina Kasikoen, MT. Kuliah 10 BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA Dalam KEPPRES NO. 57 TAHUN 1989 dan Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang PEDOMAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Pemanfaatan Hutan Areal konsesi hutan PT. Salaki Summa Sejahtera merupakan areal bekas tebangan dari PT. Tjirebon Agung yang berdasarkan SK IUPHHK Nomor
STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR
STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR Oleh: HERIASMAN L2D300363 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK
I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sumber daya alam merupakan titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya alam merupakan titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya bagi kesejahteraan manusia. Keberadaan sumber daya alam dan manusia memiliki kaitan yang sangat
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gunung Salak merupakan salah satu ekosistem pegunungan tropis di Jawa Barat dengan kisaran ketinggian antara 400 m dpl sampai 2210 m dpl. Menurut (Van Steenis, 1972) kisaran
IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Sejarah dan Status Kawasan Pemeritah Hindia Belanda pada tahun 1889 menetapkan Kebun Raya Cibodas dan areal hutan diatasnya seluas 240 ha sebagai contoh flora pegunungan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN NOMOR P.12/MENLHK-II/2015
DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) WALANAE, SULAWESI SELATAN. Oleh Yudo Asmoro, Abstrak
DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) WALANAE, SULAWESI SELATAN Oleh Yudo Asmoro, 0606071922 Abstrak Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melihat pengaruh fisik dan sosial dalam mempengaruhi suatu daerah aliran sungai.
INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN
INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi, ekologi dan sosial yang tinggi. Hutan alam tropika
BAB I PENDAHULUAN. menutupi banyak lahan yang terletak pada 10 LU dan 10 LS dan memiliki curah
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Hutan hujan tropis merupakan salah satu tipe vegetasi hutan tertua yang menutupi banyak lahan yang terletak pada 10 LU dan 10 LS dan memiliki curah hujan sekitar 2000-4000
TINJAUAN PUSTAKA. Defenisi lahan kritis atau tanah kritis, adalah : fungsi hidrologis, sosial ekonomi, produksi pertanian ataupun bagi
TINJAUAN PUSTAKA Defenisi Lahan Kritis Defenisi lahan kritis atau tanah kritis, adalah : a. Lahan yang tidak mampu secara efektif sebagai unsur produksi pertanian, sebagai media pengatur tata air, maupun
3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi
3.2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis dan kamera digital. Dalam pengolahan data menggunakan software AutoCAD, Adobe Photoshop, dan ArcView 3.2 serta menggunakan hardware
I. PENDAHULUAN. lebih dari jenis tumbuhan terdistribusi di Indonesia, sehingga Indonesia
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki kekayaan flora dan fauna serta kehidupan liar lain yang mengundang perhatian berbagai pihak baik di dalam maupun di luar negeri. Tercatat lebih dari
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Luas HPGW secara geografis terletak diantara 6 54'23'' LS sampai -6 55'35'' LS dan 106 48'27'' BT sampai 106 50'29'' BT. Secara administrasi pemerintahan HPGW
BAB III GAMBARAN LOKASI STUDI
BAB III GAMBARAN LOKASI STUDI 3.1. Umum Danau Cisanti atau Situ Cisanti atau Waduk Cisanti terletak di kaki Gunung Wayang, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Secara geografis Waduk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk rawan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. : Wilayah Kabupaten Cianjur. : Wilayah Kabupaten Sukabumi
35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian 1. Lokasi Penelitian Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol merupakan suatu kawasan yang terletak di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.67/Menhut-II/2006 TENTANG KRITERIA DAN STANDAR INVENTARISASI HUTAN MENTERI KEHUTANAN,
MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.67/Menhut-II/2006 TENTANG KRITERIA DAN STANDAR INVENTARISASI HUTAN MENTERI KEHUTANAN, Menimbang: a. bahwa untuk terselenggaranya
KEADAAN UMUM WILAYAH
40 IV. KEADAAN UMUM WILAYAH 4.1 Biofisik Kawasan 4.1.1 Letak dan Luas Kabupaten Murung Raya memiliki luas 23.700 Km 2, secara geografis terletak di koordinat 113 o 20 115 o 55 BT dan antara 0 o 53 48 0
DISAMPAIKAN PADA ACARA PELATIHAN BUDIDAYA KANTONG SEMAR DAN ANGGREK ALAM OLEH KEPALA DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI
PERAN EKOSISTEM HUTAN BAGI IKLIM, LOKAL, GLOBAL DAN KEHIDUPAN MANUSIA DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI DISAMPAIKAN PADA ACARA PELATIHAN BUDIDAYA KANTONG SEMAR DAN ANGGREK ALAM OLEH KEPALA DINAS KEHUTANAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia
Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian
Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gunung Lawu adalah gunung yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung ini mempunyai ketinggian 3265 m.dpl. Gunung Lawu termasuk gunung dengan
TINJAUAN PUSTAKA. fisik lingkungan yang hampir sama dimana keragaman tanaman dan hewan dapat
4 TINJAUAN PUSTAKA Pendekatan Agroekologi Agroekologi adalah pengelompokan suatu wilayah berdasarkan keadaan fisik lingkungan yang hampir sama dimana keragaman tanaman dan hewan dapat diharapkan tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap negara mempunyai kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alamnya untuk pembangunan. Pada negara berkembang pembangunan untuk mengejar ketertinggalan dari
KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum wr.wb.
KATA PENGANTAR Assalamu alaikum wr.wb. Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan buku Penghitungan Deforestasi Indonesia Periode Tahun 2009-2011
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sedangkan kegiatan koleksi dan penangkaran satwa liar di daerah diatur dalam PP
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki banyak potensi objek wisata yang tersebar di seluruh pulau yang ada. Salah satu objek wisata yang berpotensi dikembangkan adalah kawasan konservasi hutan
II. TINJAUAN PUSTAKA. fungsi pokok sebagai hutan konservasi yaitu kawasan pelestarian alam untuk
5 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Taman Hutan Raya (Tahura) adalah hutan yang ditetapkan pemerintah dengan fungsi pokok sebagai hutan konservasi yaitu kawasan pelestarian alam
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya bagi
I. PENDAHULUAN. Berkurangnya luas hutan (sekitar 2 (dua) juta hektar per tahun) berkaitan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berkurangnya luas hutan (sekitar 2 (dua) juta hektar per tahun) berkaitan erat dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan devisa negara, yang pada masa lalu didominasi
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Administrasi Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6º56'49'' - 7 º45'00'' Lintang Selatan dan 107º25'8'' - 108º7'30'' Bujur Timur
Kondisi koridor TNGHS sekarang diduga sudah kurang mendukung untuk kehidupan owa jawa. Indikasi sudah tidak mendukungnya koridor TNGHS untuk
122 VI. PEMBAHASAN UMUM Perluasan TNGH (40.000 ha) menjadi TNGHS (113.357 ha) terjadi atas dasar perkembangan kondisi kawasan disekitar TNGH, terutama kawasan hutan lindung Gunung Salak dan Gunung Endut
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa kekayaan sumber daya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa kekayaan sumber daya alam hayati yang melimpah. Sumber daya alam hayati di Indonesia dan ekosistemnya mempunyai
DATA MINIMAL YANG WAJIB DITUANGKAN DALAM DOKUMEN INFORMASI KINERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH
Lampiran II. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : Tanggal : DATA MINIMAL YANG WAJIB DITUANGKAN DALAM DOKUMEN INFORMASI KINERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH Tabel-1. Lindung Berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN. Sokokembang bagian dari Hutan Lindung Petungkriyono yang relatif masih
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Habitat merupakan kawasan yang terdiri atas komponen biotik maupun abiotik yang dipergunakan sebagai tempat hidup dan berkembangbiak satwa liar. Setiap jenis satwa
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banteng (Bos javanicus) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa
Oleh : Ardi Andono, STP, MSc
Oleh : Ardi Andono, STP, MSc Outline Sejarah Potensi TNGGP Permasalahan Contoh pengelolaan di Korea Upaya LOKASI TNGGP Bogor Cianjur TNGGP 22.851 ha Sukabumi Sejarah TNGGP 1. Pengumuman 1980, 15.196 ha
Tabel 7. Luas wilayah tiap-tiap kabupaten di Provinsi Jawa Barat. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Kondisi Geografis Wilayah Provinsi Jawa Barat Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak antara 5 54' - 7 45' LS dan 106 22' - 108 50 BT dengan areal seluas 37.034,95
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hutan Berdasarkan pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967, arti hutan dirumuskan sebagai Suatu lapangan tetumbuhan pohon-pohonan yang secara keseluruhan merupakan
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN Wilayah Bodetabek Sumber Daya Lahan Sumber Daya Manusia Jenis tanah Slope Curah Hujan Ketinggian Penggunaan lahan yang telah ada (Land Use Existing) Identifikasi Fisik Identifikasi
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni - Agustus 2007, bertempat di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMB). Taman Nasional Gunung Merbabu
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
20 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Profil Singkat Perum Perhutani dan KPH Banyumas Barat Perum Perhutani adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berbasis sumberdaya hutan yang diberi tugas dan
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kawasan hutan di Sumatera Utara memiliki luas sekitar 3.742.120 ha atau sekitar 52,20% dari seluruh luas provinsi, luasan kawasan hutan ini sesuai dengan yang termaktub
