5. HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Hadi Hermawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 67 5. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pemilihan Kawasan Agrowisata Unggulan Kabupaten Pasuruan Agrowisata merupakan bagian dari obyek kepariwisataan yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai obyek utama. Agrowisata dapat diartikan suatu kegiatan yang secara sadar ingin menempatkan sektor primer (pertanian) di kawasan sektor tersier (pariwisata), agar perkembangan sektor primer itu dapat lebih dipercepat, dan petani mendapatkan peningkatan pendapatan dari kegiatan pariwisata yang memanfaatkan sektor pertanian tersebut. Model seperti ini akan lebih mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bekerja di sektor primer, sehingga sektor pertanian tidak semakin terpinggirkan dengan perkembangan kegiatan di sektor pariwisata. Kegiatan agrowisata dapat disebutkan sebagai kegiatan yang memihak pada rakyat miskin (Goodwin, 2000). Pada prinsipnya, agrowisata merupakan kegiatan industri yang mengharapkan kedatangan konsumen secara langsung di tempat pariwisata yang diselenggarakan. Aset utama untuk menarik kunjungan wisatawan adalah keaslian, keunikan, kenyamanan dan keindahan alam. Oleh karena itu faktor kualitas lingkungan menjadi modal penting yang harus disediakan, terutama wilayah yang dimanfaatkan untuk dijelajahi oleh wisatawan. Agrowisata merupakan kegiatan yang berupaya mengembangkan sumberdaya alam suatu daerah yang memiliki potensi di bidang pertanian untuk dijadikan kawasan wisata. Daerah perkebunan, sentra penghasil sayuran tertentu dan wilayah perdesaan berpotensi besar menjadi objek agrowisata. Potensi yang terkandung tersebut harus dilihat dari segi lingkungan alam, letak geografis, jenis produk, atau komoditas pertanian yang dihasilkan, serta sarana dan prasarananya (Sumarwoto, 1990). Berdasarkan pertimbangan diatas, Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu dari kabupaten yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan agrowisata. Di Kabupaten Pasuruan terdapat 24 kecamatan yang dapat
2 68 dikembangkan menjadi kawasan agrowisata. Pemilihan kawasan agrowisata dilakukan berdasarkan metode Bayes dengan membandingkan beberapa alternatif kecamatan pada sejumlah kriteria. Kriteria-kriteria tersebut meliputi: 1. Potensi pasar dan pertumbuhannya, 2. Potensi sumber daya alam dan lingkungan 3. Potensi sumber daya manusia 4. Potensi pengembangan agroindustri yang mendukung agrowisata 5. Dukungan kelembagaaan 6. Tingkat kompetisi dengan wisata lain 7. Ketersediaan infrastruktur 8. Selera konsumen dan kecenderungannya. Masing-masing kriteria diberi bobot untuk mengetahui kriteria yang paling menentukan dalam pemilihan kawasan yang akan dijadikan kawasan agrowisata. Pembobotan tersebut dilakukan oleh pakar yang sudah dipilih. Bobot masingmasing kriteria dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Parameter pemilihan kawasan agrowisata unggulan No Parameter Bobot 1 Potensi pasar dan pertumbuhannya, Potensi sumberdaya alam dan lingkungan, Potensi sumber daya manusia, Potensi pengembangan agroindustri mendukung utama agrowisata, Dukungan kelembagaan, Tingkat kompetisi dengan wisata lain, Ketersediaan infrastruktur, Selera konsumen dan kecenderungannya Dalam pemilihan menggunakan metode Bayes, kawasan yang mampu mengumpulkan nilai tinggi pada kriteria dengan bobot yang besar memiliki kemungkinan semakin besar untuk terpilih. Hasil dari penilaian pakar pada masing-masing kawasan dengan kriteria tersebut diperoleh nilai seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 15.
3 69 Tabel 15. Pemilihan prioritas pengembangan berdasarkan metode bayes No Kecamatan Nilai Bayes Prioritas 1 Purwodadi Tutur Puspo Tosari Lumbang Pasrepan Kejayan Wonorejo Purwosari Prigen Sukorejo Pandaan Gempol Beji Bangil Rembang Kraton Pohjentrek Gondangwetan Rejoso Winongan Grati Lekok Nguling Berdasarkan hasil di Tabel 15, terdapat tiga kecamatan prioritas yang layak dikembangkan untuk menjadi kawasan agrowisata, yaitu Kecamatan Tutur, Kecamatan Pandaan, dan Kecamatan Tosari. Akan tetapi, kawasan yang memiliki prioritas tertinggi untuk dikembangkan adalah Kecamatan Tutur. Beberapa hal yang mendukung Kecamatan Tutur sebagai pusat pengembangan agrowisata berdasarkan kriteria penilaiannya adalah sebagai berikut:
4 70 1. Potensi pasar dan pertumbuhannya World Tourism Organization (WTO) meramalkan bahwa kedatangan turis internasional akan meningkat dari tahun ke tahun, dan pada 2010 terdapat 1 juta wisatawan dan 1,6 juta. Secara general, pertumbuhan kunjungan wisatawan rutin setiap tahunnya meningkat 6% dan 2% secara keseluruhan (WTO 2002; European Commission, 2003). Berdasarkan potensi pasar dan pertumbuhannya, Kecamatan Tutur sangat strategis dalam membidik wisatawan yang akan berkunjung ke Gunung Bromo. Wisatawan yang berkunjung ke Gunung Bromo lewat jalur Nongkojajar merupakan pasar potensial karena para wisatawan biasanya berhenti dan mempersiapkan bekal terakhir mereka di Kecamatan Tutur sebelum naik ke Gunung Bromo. Selain itu, pertumbuhan wisatawan banyak disebabkan karena meningkatnya jumlah lokasi tujuan agrowisata di kecamatan Tutur dan sekitarnya, misalnya Bhakti Alam, Bukit Flora dan Kresna, dengan semakin banyaknya lokasi tujuan agrowisata maka pertumbuhan pasar bergerak ke arah yang positif. 2. Potensi sumberdaya alam dan lingkungan Potensi sumber daya alam dan lingkungan khususnya di bidang agrowisata di Kabupaten Pasuruan dapat dilihat pada Tabel 16. Data tersebut menunjukkan bahwa di Kecamatan Tutur terdapat empat agrowisata yang menjadi potensi, Kecamatan Grati juga memiliki wisata potensi agrowisata terbanyak setelah Tutur. Kecamatan Tutur memiliki banyak potensi sumberdaya alam untuk agrowisata karena didukung oleh kondisi geografis kecamatan terabut. Dari segi geografis, Kecamatan Tutur berada di lereng Gunung Bromo dengan potensi dasar perkebunan. Potensi perkebunan ini kemudian berkembang menjadi agrowisata yang dikelola oleh swasta dengan tambahan investasi. Potensi agrowisata didukung dengan tersedianya komoditas hasil pertanian dan perkebunan yang diusahakan petani maupun perusahaan yang lebih besar. Komoditas ini merupakan bagian penting pembangunan agrowisata karena merupakan komoditas yang dapat dijual langsung ataupun sebagai bahan baku untuk produk hilir. Tabel 17 menunjukkan potensi komoditas pertanian.
5 71 Tabel 16. Potensi SDA Kabupaten Pasuruan No Nama Objek Lokasi Jenis Objek Wisata 1 Kebun Mangga Sedap Kec. Bangil Perkebunan Malam 2 Agro Aneka Mangga Kec. Grati Perkebunan 3 Agro KGA Kec. Grati Kebun Mangga 4 Agro Wisata PG.Kedawung Kec. Grati Panorama Alam Perkebunan Tebu, Nostalgia Wisatawan Belanda 5 Taman Anggrek Sien Kec. Prigen Taman Anggrek 6 Agro Bunga Krisan Kec. Purwodadi Perkebunan 7 Agro Wisata Petik Kec. Tutur Petik Apel, Panorama Alam Apel 8 Agri Friga Kec. Tutur Perkebunan, Penginapan, Restaurant 9 Agro Durian Kec. Tutur Perkebunan Montong 10 Agro Paprika Kec. Tutur Perkebunan Sumber: BPS (Kabupaten Pasuruan dalam angka), Pada Bab Gambaran Umum Wilayah Tutur pada Bab IV telah ditunjukkan bahwa di Kecamatan Tutur banyak terdapat potensi hasil pertanian, mulai dari kopi, apel, kentang, kubis, wortel, cengkeh, dsb. Hasil-hasil pertanian tersebut memberikan nilai tambah bagi Kecamatan Tutur sehingga berpotensi untuk dikembangkan agrowisata. Pengolahan produk pertanian sebagai suvenir untuk wisatawan banyak diusahakan di Kecamatan Tutur dengan apel sebagai basis bahan baku. Dibandingkan dengan hasil pertanian lainnya seperti mangga, nangka dan pisang yang produksinya lebih besar, apel lebih diminati sebagai buah-buahan yang memiliki karakteristik yang khas. Oleh karena itu, komoditas apel sangat berperan dalam menarik wisatawan baik dalam bentuk segar maupun olahan. 3. Potensi sumber daya manusia Sumberdaya manusia yang tersedia di Kabupaten Pasuruan cukup besar dengan total penduduk mencapai 1,5 juta jiwa. Sebagian besar pekerjaan yang ditekuni adalah sebagai petani (sekitar 30%). Di Kecamatan Tutur sendiri, jumlah
6 72 penduduk yang bermatapencaharian sebagai petani mencapai jiwa. Hal tersebut semakin mendukung Kecamatan Tutur sebagai kawasan yang sesuai untuk dikembangkan agrowisata. Kecamatan Tutur sebagai prioritas tertinggi pengembangan agrowisata didukung potensi sumberdaya manusia yang besar. Tenaga kerja sektor pertanian di Kecamatan Tutur didominasi oleh petani apel maupun buruh taninya. 4. Potensi pengembangan agroindustri mendukung utama agrowisata Potensi pengembangan agroindustri di Kecamatan Tutur didasari potensi komoditas apel. Industri pengolahan berbahan dasar apel banyak tumbuh di Kecamatan Tutur seperti produk Apel Mia. Olahan berbasis apel memiliki variansi yang banyak seperti sari apel, jenang apel, keripik apel. Selain bahan dasar apel, agroindustri di Kecamatan Tutur juga banyak mengolah produk lainnya sebagai paket suvenir untuk wisata. 5. Dukungan kelembagaan Kelembagaan yang dapat mendukung pengembangan Kecamatan Tutur sebagai kawasan agrowisata adalah keberadaan pemerintah dan banyaknya lembaga kredit yang terdapat di Kecamatan Tutur seperti Koperasi dan Lembaga Pembiayaan yang lain. 6. Tingkat kompetisi dengan wisata lain Kecamatan Tutur terletak di Kecamatan Tosari yang merupakan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kompetisi agrowisata di Kecamatan Tutur dengan objek wisata lain sangat kecil, karena potensi agrowisata Kecamatan Tutur saling mendukung dengan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. 7. Ketersediaan Infrastruktur Infrastruktur untuk pengembangan agrowisata merupakan hal yang penting diperhatikan. Hal ini karena akan mempengaruhi minat wisatawan sekaligus mempengaruhi kenyamanan dan kepuasannya. Ketersediaan prasarana jalan yang memadai, sarana transportasi dan fasilitas lainnya akan mendukung dan perlu diperhatikan dalam pengembangan agrowisata. Infrastruktur di Kecamatan Tutur yang dapat mendukung pengembangan agrowisata ini antara lain, system transportasi yang meliputi jaringan jalan dengan jalan utama yang sudah hampir menyeluruh beraspal. Kecamatan Tutur memiliki
7 73 jalan nasional sepanjang 94,517 km dan jalan provinsi sepanjang 88,374 km. Sedangkan orbitrasi Kecamatan Tutur meliputi jarak dengan Pemerintahan kecamatan 2 km, dari pusat pemerintahan kabupaten 7 km, dan dari pemerintahan provinsi 132 km. 8. Selera Konsumen dan Kecenderungannya Pemilihan lokasi wisata harus juga memperhatikan selera konsumen dan kecenderungannya, sehingga dapat memberikan daya tarik optimal. Wisatawan yang mengunjungi agrowisata memiliki beberapa minat yang patut dipertimbangkan terutama keasrian dan kealamian, fasilitas umum dan fasilitas wisata penunjang Strategi Pengembangan Kawasan Agrowisata Kecamatan Tutur Kawasan agrowisata yang sudah berkembang memiliki kriteria-kriteria, karakter dan ciri-ciri yang dapat dikenali. Menurut Bappenas (2004), Kawasan agrowisata merupakan suatu kawasan yang memiliki kriteria sebagai berikut: 1. Memiliki potensi atau basis kawasan di sektor agro baik pertanian, hortikultura, perikanan maupun peternakan, misalnya: a. Sub sistem usaha pertanian primer (on farm) yang antara lain terdiri dari pertanian tanaman pangan dan holtikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan. b. Sub sistem industri pertanian yang antara lain terdiri industri pengolahan, kerajinan, pengemasan, dan pemasaran baik lokal maupun ekspor. Sub sistem pelayanan yang menunjang kesinambungan dan daya dukung kawasan baik terhadap industri & layanan wisata maupun sektor agro, misalnya transportasi dan akomodasi, penelitian dan pengembangan, perbankan dan asuransi, fasilitas telekomunikasi dan infrastruktur. 2. Adanya kegiatan masyarakat yang didominasi oleh kegiatan pertanian dan wisata dengan keterkaitan dan ketergantungan yang cukup tinggi. Kegiatan pertanian yang mendorong tumbuhnya industri pariwisata, dan sebaliknya kegiatan pariwisata yang memacu berkembangnya sektor agro.
8 74 3. Adanya interaksi yang intensif dan saling mendukung bagi kegiatan agro dengan kegiatan pariwisata dalam kesatuan kawasan. Berbagai kegiatan dan produk wisata dapat dikembangkan secara berkelanjutan Kecamatan Tutur mempunyai dua belas desa dan rencana pengembangan agrowisata ditetapkan pada lima desa sebagai kawasan prioritas yaitu Desa Ngembal, Desa Tutur, Desa Wonosari, Desa Tlogosari dan Desa Andonosari dan tujuh desa lainnya sebagai desa pendukung dalam paket wisata Identifikasi Permasalahan Penting Pendukung Terbentuknya Kawasan Agrowisata Pengembangan agrowisata banyak menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan tiga hal pokok yaitu pertanian, wisata dan masyarakat. Permasalahan yang dihadapi pelaku pengembangan agrowisata disajikan pada Tabel 6 di halaman 49. Selanjutnya bobot masing-masing permasalahan tersebut ditentukan untuk dibuat prioritas dan dicari alternatif penyelesaiannya. Hasil pembobotan terhadap permasalahan dalam pengembangan agrowisata dapat dilihat pada Tabel 17. Berdasarkan hasil pembobotan pada Tabel 17 dapat diketahui bahwa pada masing-masing komponen pelaku memiliki prioritas masalah dalam pengembangan agrowisata, untuk itu dalam penyelesaiannya dapat diutamakan manakah dari masalah tersebut yang diperlukan penanganan terlebih dahulu. Bagi pemerintah daerah sebagai pelaku sistem ternyata rendahnya jaminan berusaha di daerah pedesaan membuat mereka cenderung pesimis dalam mengupayakan pengembangan daerah seperti agrowisata. Karena pada kenyataannya memang pola fikir masyarakat daerah terutama di Kecamatan Tutur masih sangat primitif atau sempit dalam menerima penerapan adanya rencana pengembangan agrowisata yang menurut mereka terkesan lama (jangka panjang). Masyarakat lebih memilih berusaha sendiri dengan menjual hasil pertanian langsung kepada kelompok pedagang dengan alasan hasil bisa terjual dengan cepat, keuntungan cepat kembali dan seterusnya tanpa terpikir untuk menciptakan produk (hasil) komoditas dengan ciri khas daerah. Hal ini menimbulkan usaha
9 75 pengembangan jadi macet dan perlu penanganan lebih dini sebelum melaksanakan tindakan selanjutnya, penanganan masalah ini dapat dilakukan melalui cara cara berikut : a). Memberikan penyuluhan secara berkelanjutan. Sebenarnya, untuk program penyuluhan hingga saat ini sudah sering dilakukan, namun kembali seperti sebelumnya, apa yang diperoleh masyarakat dalam penyuluhan tidak diimbangi dengan fasilitas fasilias pendukung dengan alasan keterbatasan biaya atau modal. Perlu bagi pemerintah untuk lebih memberikan pandangan yang lebih jelas mengenai bagaimana cara memperoleh modal bagi masyarakat; baik melalui anggaran pemerintah untuk pembangunan pedesaan maupun membentuk sistem pinjaman terstruktur dengan syarat-syarat tertentu dan terarah, sehingga petani menjadi termotivasi. b). Melakukan riset-riset atau penelitian yang mampu ditindaklanjuti. Untuk kegiatan riset-riset terhadap potensi daerah di kabupaten kecamatan sebenarnya sudah sering dilakukan (tapi hingga saat ini hanya dijadikan wacana saja tanpa implikasi yang terprogram) sehingga pemerintah seharusnya bisa memanfaatkan riset-riset yang ada untuk dijadikan rujukan dalam membuat program pengembangan daerah yang lebih baik. c). Membuat percontohan paket pengelolaan agrowisata. Paket program pengelolaan agrowisata dimaksudkan utuk mengelola potensi wisata dari hulu sampai ke hilir (pengolahan). Paket agrowisata milik pemerintah sudah diawali oleh Dinas Pertanian yang didirikan di Kecamatan Tutur, akan tetapi pengelolaanya masih belum serius. Hal ini disebabkan investasi yang tidak memadai sehingga produk, sarana dan prasarana yang ada masih relatif sederhana dan tidak didukung perencanaan yang maksimal.
10 76 Tabel 17. Rekapitulasi hasil pembobotan terhadap permasalahan dalam pengembangan agrowisata No Komponen Pelaku Sistem Formulasi Permasalahan Bobot 1. Pemerintah daerah dan Dinas terkait (Dinas pariwisata, Deptan, Dinas KUKM, Dinas Indag dan Dinas yang terkait lainnya) 2. Petani produsen (kelompok pekebun dan koperasi pekebun) Rendahnya dukungan pemerintah baik langsung maupun tidak langsung Lemahnya birokrasi untuk pendirian usaha di bidang agrowisata Belum terkoordinasi baik lembaga terkait Rendahnya jaminan berusaha di daerah pedesaan Lemahnya dukungan pemerintah perdesaan atas sarana infrastruktur Biaya produksi yang cukup besar Tingginya suku bunga perbankan dan sulit mengakses permodalan Kemampuan keterampilan dan manajerial masih rendah 3. Pengelola industri Persaingan ketat dalam mendapatkan paket agrowisata wisata Belum ada formulasi yang saling menguntungkan semua pihak Lemahnya usaha kecil/pengrajin dalam akses peluang wisata 4. Lembaga Risiko pengembalian kredit tinggi keuangan dan Waktu pengembalian kredit yang relatif lama donor serta Tidak berfungsinya fasilitasi pemerintah sebagai departemen mediator dalam permodalan terkait lainnya 5. Wisatawan Daya beli rendah 6. Masyarakat sekitar kawasan agrowisata Fasilitas dan Keamanan kurang memadai di tempat wisata Biaya wisata yang tidak terjangkau Rendahnya skill tenaga kerja Belum kuatnya budaya industri wisata Dampak kerusakan lingkungan dan sosial budaya yang tidak terkontrol
11 77 Pada petani produsen, masalah utama yang dihadapi adalah dalam hal biaya produksi yang cukup besar untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian. Selama ini, untuk pembiayaan dilakukan oleh individu petani pemilik sendiri. Dengan kondisi yang demikian, petani merasa terbebani dan tidak mampu jika harus mengeluarkan biaya lebih untuk pembelian peralatan dan bahan bahan pertanian seperti pupuk, pestisida dan sebagainya sedangkan selama ini penjualan hasil saja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Rencana penanggulangan permasalahan ini dapat dilakukan dengan : a). Adanya pembentukan lembaga bantuan seperti koperasi usaha tani yang khusus untuk memberikan kemudahan dalam bantuan modal dengan bunga rendah. b). Untuk penjualan hasil tani yang selama ini dilakukan secara langsung dengan harga rendah bisa diubah dengan memberian sarana penjualan hasil pertanian yang lebih terkoordinasi melalui koperasi-koperasi tertentu sehingga, disamping bisa meningkatkan harga penjualan, namun juga bisa menciptakan brand image produk hasil pertanian Kecamatan Tutur. c). Merevitalisasi fungsi pasar sayur sebagai pusat perkembangan agroindustri sekaligus objek agrowisata. Pasar sayur di Kecamatan Tutur selama ini hanya sebagai tempat transaksi antara produsen dengan tengkulak. Pasar sayur dengan lingkungan yang tidak representatif membuat konsumen lebih memilih membeli tidak dari petani produsen langsung. Dengan adanya revitalisasi pasar sebagai objek agrowisata diharapkan petani produsen dapat menjual hasil panen langsung ke konsumen tanpa harus melalui perantara. Bagi pengelola industri dan agrowisata, permasalahan terpenting saat ini adalah belum ada formulasi yang saling menguntungkan semua pihak. Secara umum memang koordinasi antar pihak pelaku industri dan produsen penghasil sumber bahan baku belum terintergasi dengan baik. Semua masih bersifat
12 78 individu, dan saling ingin menguntungkan diri sendiri, sehingga untuk permasalahan ini perlu penyelesaian dari pihak pemerintah atau peranan tokoh masyarakat sekitar dalam bentuk pendekatan internal kepada para pelaku industri. Lembaga keuangan dan donor serta departemen terkait lainnya dirasakan kurang menciptakan fungsi fasilitasi pemerintah sebagai mediator dalam permodalan secara maksimal. Hal ini bisa terjadi karena pada kenyataannya kurang adanya respon yang maksimal. Hal ini disebabkan oleh jalannya sistem permodalan yang kurang baik sehingga perlu adanya evaluasi dan perbaikan sistem yang lebih efektif dan efisien. Bagi pelaku yang menjadi target agrowisata yaitu wisatawan, masalah utama yang dihadapi adalah fasilitas dan keamanan kurang memadai di tempat wisata. Hal ini wajar terjadi, karena memang secara terstruktur pun kawasan ini belum sepenuhnya terbentuk sebagai kawasan wisata. Hal itulah yang menjadi alasan tentang perlunya untuk menyusun konsep pengembangan agrowisata secara bertahap untuk menuju pengembangan kawasan agrowisata yang kompleks. Perencanaan yang terstruktur dan runtut akan menjadi dasar atau acuan dalam pengembangan berkelanjutan. Terkait dengan hal tersebut, aspek pembiayaan telah dianggap sebagai faktor utama dalam implementasinya. Masyarakat sekitar kawasan agrowisata yang merupakan pelaku utama kegiatan agrowisata ini memiliki permasalahan-permasalahan yang paling penting untuk ditanggulangi terlebih dahulu. Berdasarkan hasil pembobotan, ternyata masih kembali pada topik rendahnya keterampilan tenaga kerja, yang meliputi pengetahuan mengenai pengelolaan pertanian mulai dari pembibitan hingga penanganan hasilnya, upaya pencegahan kerusakan tanaman secara maksimal, penerimaan masyarakat dalam penggunaan alat-alat teknologi juga masih sedikit. Upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain : a). Memberikan penyuluhan mengenai pengetahuan tentang panca usaha tani. Menghimbau dan memotivasi para petani untuk berupaya menghasilkan panen yang unggul. b). Pemerintah perlu membuat balai-balai penelitian pertanian. Dalam hal ini, peran Dinas Pertanian kabupaten yang menjadi pendorong terciptanya sarana tersebut. Karena dengan adanya fasilitas yang
13 79 mendukung kegiatan bertani seperti balai penelitian atau laboratorium dengan pengadaan teknologi-teknologi dapat menambah pengetahuan para petani untuk mampu meningkakan hasil panen. c). Perlu juga diadakan studi lapang ke daerah-daerah lain untuk memberikan gambaran cara bertani yang baik. Sehingga bisa menyadarkan pada para produsen tani bahwa daerah mereka memiliki potensi yang baik untuk menuju pada hasil yang baik pula. d). Masyarakat di sekitar zona pengembangan area agrowisata diupayakan untuk membentuk kawasan wisata berupa unit-unit wisata sesuai dengan komoditas unggulan tiap-tiap desa, sehingga mempermudah dalam membuat paket wisata. Misalnya kawasan wisata petik apel, kawasan wisata petik sayur hingga kawasan khusus hasil pertanian, dan oleh-oleh khas daerah Pemetaan Komoditas Berdasarkan Zona Agrowisata Kunci keberhasilan pembangunan agrowisata adalah memberlakukan setiap daerah agrowisata sebagai satu unit tunggal otonom mandiri tetapi terintegrasi secara sinergik dengan keseluruhan sistem pengembangan wilayahnya. Pemetaan kawasan agrowisata berdasar komoditas, dapat ditetapkan menjadi dua zona jalur agrowisata. Identifikasi zona menurut Gunn (1994) didasarkan pada kriteria berikut : 1. Sekumpulan obyek wisata, termasuk yang telah ada maupun yang baru, semua didasarkan pada aset sumberdaya yang ada. 2. Paling tidak ada satu pusat pelayanan masyarakat, lebih banyak lebih baik. 3. Hubungan dengan jalan darat, jalan laut, jalan udara diantara dan dengan semua sistem sirkulasi regional. 4. Suatu kesatuan subregional yang didapatkan dari pengaruh masyarakat, basis sumber daya alam dan manusia, serta suatu kesatuan tema obyek wisata.
14 80 Perencanaan kawasan wisata penting untuk semua jenis program pariwisata. Pembagian zona-zona wilayah sebagai perwujudan pembagian kawasan, dapat mencegah duplikasi antara program pariwisata yang berbeda disuatu daerah, mengkombinasikan sumber daya berbagai kelompok yang terlibat untuk perkembangan, dan mempromosikan keragaman atraksi bagi pengunjung. Pembagian zonasi wisata dapat mempermudah pelaku agrowisata untuk mengeksplorasi potensi wisata yang dimilikinya. Menurut Ryan dan Heyes (2009), pembagian zonasi agrowisata dapat mempermudah untuk: Memahami konsep tiap zona dan yang akan diterapkan. Memahami dengan baik hubungan antara pembagian zona dan bisnis/usaha yang cocok. Mengidentifikasi sumber-sumber tambahan berdasarkan zona yang terbentuk. Dari dua belas desa tersebut berdasarkan potensi komoditas pertanian andalan dan letak geografisnya, pemetaan wilayah berdasar komoditasnya dapat dilihat pada Gambar 10. Pemetaan kawasan agrowisata berdasar komoditas di Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan dibagi sebagai berikut : 1. Kawasan Agrowisata Zona I Kawasan Agrowisata Zona I meliputi wilayah 7 desa yaitu : 1) Desa Ngembal (potensi komoditas Durian) 2) Desa Tutur (potensi komoditas Pisang) 3) Desa Tlogosari (potensi komoditas Paprika) 4) Desa Gendro (potensi komoditas Paprika dan Bunga Krisan) 5) Desa Blarang (potensi komoditas Bunga Krisan dan Apel) 6) Desa Kayukebek (potensi komoditas Apel) 7) Desa Ngadirejo (potensi komoditas Sayur sayuran) 2. Kawasan Agrowisata Zona II Kawasan Agrowisatan Zona II ini meliputi wilayah 6 desa yaitu : 1) Desa Ngembal (potensi komoditas durian) 2) Desa Kalipucang (potensi komoditas pisang dan durian) 3) Desa Tutur (potensi komoditas pisang)
15 81 4) Desa Gendro (potensi komoditas paprika dan bunga krisan) 5) Desa Wonosari (pusat keramaian kota dan penghasil apel) 6) Desa Andonosari (potensi komoditas apel sebagai wisata petik) 7) Desa Ngadirejo (potensi komoditas sayur-sayuran) KEC. PASREPAN PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA KABUPATEN PASURUAN Ke Kejayan FOTO MAPPING KECAMATAN TUTUR KOMODITAS PERTANIAN NGEMBAL Ke Pasrepan KEC. PURWODADI SUMBERPITU KEC. PUSPO LEGENDA Ke Purwodadi KALIPUCANG komoditi apel Ke Puspo komoditi durian TUTUR komoditi bunga krisan TLOGOSARI PUNGGING (Luas 266 Ha) komoditi sayuran komoditi pisang komoditi paprika Ke Malang GENDRO ANDONOSARI (Luas 560,7 Ha) (Luas 360,6 Ha) WONOSARI (Luas 318,7 Ha) BLARANG (Luas 717,6 Ha) Sumber : Hasil Survei Lapangan Tahun 2009 KAYUKEBEK KAB. MALANG (Luas 1240 Ha) NGADIREJO Ke Tosari No. Peta :... SKALA U Ke Bromo 2,1 0 0,7 2,8Km Gambar 11. Peta pengembangan Kawasan Agrowisata Kecamatan Tutur berdasarkan komoditas pertanian unggulan
16 82 Berdasarkan penentuan jalur wisata desa dari hasil potensi, zonasi kawasan dan rencana pengembangan kawasan agrowisata Kecamatan Tutur diintegrasikan yang bertujuan untuk: 1. Menghindari tumbuhnya desa-desa di luar kendali sistem pengembangan wilayah agrowisata. Dalam pengembangan Kawasan Agrowisata Kecamatan Tutur ini selain mempunyai fungsi di atas juga diharapkan dapat menghindari adanya kesenjangan pertumbuhan wilayah antara bagian barat Kabupaten Pasuruan yang relatif maju dengan bagian timur yang tampaknya agak tertinggal dibandingkan bagian barat. 2. Untuk mengintegrasikan penduduk lokal dalam skema pengembangan wilayah agrowisata serta sekaligus merupakan upaya meningkatkan fungsi desa dalam suatu kecamatan yang ada menjadi suatu area tani yang tertata. 3. Sistem jaringan transportasi wilayah yang menghubungkan satu desa dengan desa lainnya harus menunjang sesuai dengan ketentuan hirarki jalan. Karena itu pula sistem transportasi, jaringan jalan, moda transportasi, serta interkoneksi sistem jaringan jalan secara regional harus dirancang secara terpadu dengan sistem desa-desa yang berpotensi dalam kawasan agrowisata dan akan menjadi pertimbangan utama dalam rencana penetapan hirarki fungsi kawasan. Pengembangan kawasan agrowisata adalah untuk mengembangkan kawasan pertanian yang berpotensi menjadi kawasan agrowisata, melalui : 1) Pemberdayaan masyarakat pelaku agribisnis agar mampu meningkatkan produksi dan produktifitas komoditas pertanian serta produk-produk olahan pertanian, yang dilakukan dengan pengembangan sistem dan usaha agribisnis secara efisien dan menguntungkan serta berwawasan lingkungan. 2) Penguatan kelembagaan petani. 3) Pengembangan kelembagaan sistem agribisnis (penyedia input pertanian, pengolahan hasil, pemasaran dan penyediaan jasa).
17 83 4) Pengembangan Kelembagaan Penyuluhan Pembangunan Terpadu. 5) Pengembangan iklim yang kondusif bagi usaha dan investasi. 6) Peningkatan sarana prasarana wilayah penunjang Pengembangan Kawasan Agrowisata Zona I Secara lebih jelas mengenai pembagian zonasi kawasan agrowisata zona I dapat dilihat pada Gambar 12. Ke Kejayan KEC. PASREPAN PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA KABUPATEN PASURUAN FOTO MAPPING KECAMATAN TUTUR AGROWISATA ZONA I NGEMBAL Ke Pasrepan KEC. PURWODADI SUMBERPITU KEC. PUSPO LEGENDA Ke Purwodadi KALIPUCANG komoditi apel Ke Puspo komoditi durian TUTUR komoditi bunga krisan TLOGOSARI PUNGGING (Luas 266 Ha) komoditi sayuran komoditi pisang komoditi paprika Jalur Transportasi Ke Malang GENDRO (Luas 360,6 Ha) ANDONOSARI (Luas 560,7 Ha) WONOSARI (Luas 318,7 Ha) KAB. MALANG BLARANG (Luas 717,6 Ha) KAYUKEBEK (Luas 1240 Ha) NGADIREJO Ke Tosari Ke Bromo Sumber : Hasil Survei Lapangan Tahun 2009 No. Peta :... SKALA 2,1 0 0,7 2,8Km U Gambar 12. Peta pengembangan kawaan agrowisata zona I Kegiatan ekonomi yang dapat dikembangkan di Kawasan Agrowisata Zona I Kecamatan Tutur adalah sebagai berikut : Kegiatan pertanian, dimana pada masa mendatang akan lebih banyak dikembangkan di wilayah desa-desa dalam kawasan ini, meliputi : Pertanian tanaman pangan. Pertanian hortikultura komoditas unggulan (buah, bunga, sayuran). Agro-industri, dapat berlokasi di kawasan agrowisata ini, khususnya pada kawasan-kawasan yang memungkinkan adanya aglomerasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan ruang serta
18 84 pelayanan sarana dan prasarana kota. Salah satu alasan dikembangkannya agro-industri di dalam kawasan ini adalah pertimbangan rantai pemasaran menuju ke pusat-pusat pemasaran, pusat-pusat perdagangan seperti pada Desa Tutur yang dilalui Jalan Kolektor yang menghubungkan Kecamatan Tutur dengan Kecamatan Purwodadi, Jalan ini merupakan jalur pemasaran potensi/produk yang terdapat di Kecamatan Tutur Agro-bisnis, dimana kegiatan ini seharusnya juga berlokasi di dalam kawasan dan sentra pemasaran komoditas kawasan dengan pertimbangan efisiensi dan efektivitas dalam kaitan dengan forward linkage dan backward linkage seperti di daerah Wonosari yang merupakan kawasan paling ramai terletak di jantung Kecamatan Tutur. Prasarana dan sarana yang harus dikembangkan secara umum adalah pasar agribis, pusat informasi, balai penelitian dan pengembangan produk unggulan pertanian hortikultura dan tanaman pangan, serta pergudangan sementara. Agro-wisata sendiri dengan karakter fisik sebagian wilayah Kawasan Agrowisata Zona I dapat dioptimalkan sebagai kawasan agrowisata yang secara menyeluruh seperti perkebunan apel dan komoditas sayuran unggulan. Pusat-pusat kegiatan agro-bisnis dapat juga dikembangkan sebagai bagian dari agro-wisata. Arahan unit produksi pada ketujuh desa secara rinci dapat dilihat pada Tabel 18.
19 85 Tabel 18. Arahan unit-unit komoditas kawasan agrowisata zona I Kecamatan Tutur No. Kecamatan Arahan Sub-sektor Utama Penghasil buah durian terbesar dengan varietas 1. Desa Ngembal terbaik, hasil tahun 2009 mencapai ton/th (produktivitas ton/ha, luas panen 159 Ha) Penghasil buah pisang mencapai ton/th 2. Desa Tutur (produktivitas ton/ha, luas panen Ha).Selain itu desa Tutur merupakan penghasil cengkeh kualitas terbaik. Kini menjadi penghasil bunga chrysanterum terbesar, yaitu menghasilkan ton/th (produktivitas ton/ha dengan luas lahan 2 3. Desa Tlogomas Ha) dan penghasil paprika dengan jumlah produksi 120 ton/th (produktivitas 40 ton/ha, luas panen 3 Ha), pembudidayaan dengan memanfaatkan metode greenhouse. Merupakan desa penghasil bunga chrysanterum pertama (Trend Center Florist). Tahun 2009 ini, 4. Desa Gendro menghasilkan ton/th (produktivitas ton/ha dengan luas lahan 1,5 Ha) dan pengembangan Paprika dengan metode Green House. Merupakan penghasil buah apel dengan varietas dan kualitas terbaik di kec.tutur. Dengan jumlah 5. Desa Blarang produksi ton/th (produktivitas ton/ha, luas panen 208 Ha) dan menghasilkan bunga krisan ton/th (produktivitas ton/ha dengan luas lahan 1,5 Ha)
20 86 Tabel 18. (Lanjutan) No. Kecamatan Arahan Sub-sektor Utama Penghasil apel yang cukup berpengaruh dalam 6. Desa Kayukebek industri di kec.tutur. Dengan jumlah produksi ton/th (produktivitas 350 ton/ha, luas panen 229 Ha) Merupakan induk penghasil berbagai jenis sayuran 7. Desa Ngadirejo (kol, kentang, ercis, wortel, lobak, sawi, dan cabai), yang masih dalam lingkup suku Tengger Sumber : Data primer dan sekunder, diolah, tahun Penetapan Hirarki dan Fungsi Kawasan Agrowisata a. Penetapan Hirarki Kawasan Secara umum karakteristik hirarki kawasan agrowisata berdasarkan fungsi kotanya dapat dibagi menjadi 3 kawasan sebagai berikut : a) Kawasan Agrowisata Utama, berfungsi sebagai : Kawasan tujuan wisata utama yang merupakan satu paket wisata yang akan dilalui, bila akses tranportasi masih kurang memadai maka bisa dibuat terminal-terminal wisata di tiap-tiap desa, kemudian dibuat angkutan khusus untuk menjelajahi kawasan. b) Pusat Kawasan Agrowisata, berfungsi sebagai : Pusat perdagangan wilayah, ditandai adanya pasar grosir dan pergudangan komoditas sejenis bisa ditempatkan di tiap desa yang memiliki komoditas unggulan tertentu atau dibuat terpusat yang dialokasikan di pusat keramaian. Pusat kegiatan agro-industri berupa pengolahan barang jadi dan setengah jadi serta kegiatan agro-bisnis. Pusat pelayanan agro-industri khusus, pendidikan, pelatihan, dan pemuliaan tanaman unggulan.
21 87 c) Unit Wilayah Produksi Pertanian, berfungsi sebagai : Pusat perdagangan lokal yang ditandai dengan adanya pasar harian. Pusat koleksi komoditas pertanian yang dihasilkan sebagai bahan mentah industri. Pusat penelitian, pembibitan, dan percontohan komoditas. Pusat pemenuhan pelayanan kebutuhan permukiman pertanian. Koperasi dan informasi pasar barang perdagangan. Dengan mengacu pada dasar penetapan hirarki kota tersebut maka pengembangan Kawasan Agrowisata Zona I Kecamatan Tutur tidak bisa mengesampingkan keterkaitannya dengan sistem jaringan distribusi dan pemasaran komoditas unggulan kawasan. Konsep penetapan hirarki fungsi dalam Kawasan Agrowisata Zona I direncanakan sebagai berikut : 1) Pusat Kawasan Agrowisata Dari tujuh desa yang direncanakan termasuk dalam daerah utama Kawasan Agrowisata Zona I Kecamatan Tutur ditetapkan sebagai jalur kawasan dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : Ketujuh desa ini dilalui jalan kabupaten dan jalan desa yang sangat mendukung aksesibilitas kawasan agrowisata. Dukungan prasarana dan sarana yang ada cukup memadai dengan adanya pasar, dan jaringan utilitas pendukung seperti air bersih, dan listrik. Letak geografis dilalui jalan kolektor yang menghubungkan kecamatan Tutur dengan kecamatan Purwodadi yang merupakan jalur utama Malang Surabaya yang berada di Desa Tutur, sehingga akan memberikan kemudahan dalam pengembangan sistem jaringan agrowisata yang seimbang antara bagian utara kawasan agrowisata yang meliputi Desa Ngembal dan Desa Kalipucung dengan bagian timur kawasan yang meliputi Desa Desa Gendro, Desa Blarang, Desa Kayukebek dan Desa Ngadirejo.
22 88 2) Daerah Pendukung Kawasan Agrowisata Zona I Daerah pendukung Kawasan Agrowisata Zona I merupakan wilayah desa-desa di Kecamatan Tutur yang tidak termasuk bagian utama Kawasan Agrowisata Zona I namun memiliki karakteristik sektor pertanian khususnya yang berbasis pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang khas dan bisa dikategorikan produk unggulan seperti tanaman kopi dan cengkeh serta peternakan sapi perah. Dalam konsep pengembangan agrowisata, kawasan-kawasan tersebut direncanakan sebagai kawasan pendukung yang berfungsi sebagai unit khusus kegiatan produksi produk pertanian unggulan dan unit pemasaran lokal untuk mendukung pengembangan konsep agrowisata di Kecamatan Tutur secara menyeluruh. Daerah-daerah yang ditetapkan sebagai daerah pendukung untuk Kawasan Agrowisata Zona I adalah : Unit produksi penghasil ayam petelor terbesar di Desa Sumberpitu. Unit produksi penghasil biji kopi arabica dan torabica terbaik di kawasan kecamatan Tutur di Desa Kalipucung. Unit produksi penghasil cengkeh kualitas terbaik di Kecamatan Tutur Pengembangan Kawasan Agrowisata Zona II Secara lebih jelas mengenai pembagian zonasi kawasan agrowisata zona II dapat dilihat pada Gambar 13.
23 89 KEC. PASREPAN PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA KABUPATEN PASURUAN Ke Kejayan FOTO MAPPING KECAMATAN TUTUR KOMODITAS PERTANIAN NGEMBAL Ke Pasrepan KEC. PURWODADI SUMBERPITU KEC. PUSPO LEGENDA Ke Purwodadi KALIPUCANG komoditi apel Ke Puspo komoditi durian TUTUR komoditi bunga krisan TLOGOSARI PUNGGING (Luas 266 Ha) komoditi sayuran komoditi pisang komoditi paprika julur transportasi Ke Malang GENDRO ANDONOSARI (Luas 560,7 Ha) (Luas 360,6 Ha) WONOSARI (Luas 318,7 Ha) BLARANG (Luas 717,6 Ha) Sumber : Hasil Survei Lapangan Tahun 2009 KAYUKEBEK KAB. MALANG (Luas 1240 Ha) NGADIREJO Ke Tosari No. Peta :... SKALA U Ke Bromo 2,1 0 0,7 2,8Km Gambar 13. Peta pengembangan kawasan agrowisata zona II 1. Penetapan Hirarki Kawasan Berdasarkan Konsep penetapan hirarki fungsi dalam Kawasan Agrowisata Zona II di Kecamatan Tutur direncanakan sebagai berikut : 1) Pusat Kawasan Agrowisata Penetapan Desa Wonosari sebagai pusat kawasan agrowisata di Kecamatan Tutur adapun pertimbangan-pertimbangannya adalah : Desa dilalui jaringan jalan arteri primer (jalan kabutapen) dengan perkerasan jalan sebagian besar sudah beraspal serta termasuk jalan lintas Pasuruan dengan tempat wisata Gunung Bromo.
24 90 Dukungan prasarana dan sarana yang ada cukup memadai dengan adanya pasar daerah serta jaringan utilitas pendukung seperti air bersih, listrik, dan telekomunikasi dimana cakupan pelayanan utilitas paling tinggi jika dibandingkan dengan desa lain dalam kawasan agrowisata. Letak geografis Desa Wonosari yang berada sepanjang jalur arteri dari segi pemasaran sehingga akan memberikan kemudahan dalam pengembangan sistem jaringan agrowisata. 2) Unit-unit Wilayah Produksi Komoditas Pertanian Berdasarkan perbedaan komoditas antara 7 desa yang ada maka karakteristik komoditas masing-masing desa dalam Kawasan Agrowisata Zona II dapat digambarkan bahwa potensi terbesarnya terletak pada sub-sektor perkebunan serta sub-sektor sayuran. Arahan unit produksi pada ketujuh desa secara rinci dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19. Arahan unit-unit komoditas kawasan agrowisata zona II Kecamatan Tutur No. Kecamatan Arahan Sub-sektor Utama 1. Desa Ngembal 2. Desa Kalipucang 3. Desa Tutur Penghasil buah durian terbesar dengan varietas terbaik, hasil tahun 2009 mencapai ton/th (produktivitas ton/ha, luas panen 159 Ha) Penghasil pisang dengan jumlah produksi ton/th (produktivitas ton/ha, luas panen Ha). Dan kini menjadi desa penghasil kopi dan cengkeh terbesar di kec.tutur. Penghasil buah pisang mencapai ton/th (produktivitas ton/ha, luas panen Ha).Selain itu desa Tutur merupakan penghasil cengkeh kualitas terbaik.
25 91 Tabel 19 (Lanjutan) 4. Desa Gendro 5. Desa Wonosari 6. Desa Andonosari Merupakan desa penghasil bunga chrysanterum pertama (Trend Center Florist). Tahun 2009 ini, menghasilkan ton/th (produktivitas ton/ha dengan luas lahan 1,5 Ha) dan pengembangan Paprika dengan metode Green House. Sebagai pusat karamaian yang berada di jantung Kecamatan Tutur. Penghasil apel dengan jumlah produksi ton/th (produktivitas ton/ha, luas panen 57 Ha) Selain sebagai penghasil apel terbesar yaitu dengan jumlah produksi ton/th (produktivitas ton/ha, luas panen 325 Ha), sekaligus menjadi daerah pendistribusi hasil apel ke kota - kota. Terdapat KUD Setia Kawan yang memfasilitasi penyuluhan serta pemasaran berbagai produk. 7. Desa Ngadirejo Merupakan induk penghasil berbagai jenis sayuran (kol, kentang, ercis, wortel, lobak, sawi, dan cabai), yang masih dalam lingkup suku Tengger Sumber : Data primer dan sekunder, diolah, tahun ) Sentra Pemasaran Komoditas Pertanian Penentuan wilayah desa yang akan dijadikan sentra pemasaran komoditas Kawasan Agrowisata Zona II dilakukan dengan pertimbangan aspek geografis yang strategis, fasilitas pendukung kegiatan pemasaran, dan adanya agro-industri. Kemungkinan tetap dipusatkan di jantung kota yaitu Desa Wonosari atau beberapa komoditas seperti durian dapat tetap dipusatkan di Desa ngembal
26 92 karena menurut rencana Bappeda Kabupaten Pasuruan Tahun 2003 di Kecamatan Pasrepan akan dikembangkan menjadi pasar wisata yang nantinya juga akan menampung produk-produk pertanian hortikultura. 4) Daerah Pendukung Kawasan Agrowisata II Daerah pendukung Kawasan Agrowiasta Zona II merupakan wilayah desa - desa di Kecamatan Tutur yang tidak termasuk bagian utama Kawasan Agrowisata Zona II namun memiliki karakteristik sektor pertanian khususnya yang berbasis peternakan dan pertanian hortikultura. Dalam konsep pengembangan agrowisata, kawasan-kawasan tersebut direncanakan sebagai kawasan pendukung yang berfungsi sebagai unit khusus kegiatan produksi produk pertanian unggulan dan unit pemasaran lokal untuk mendukung pengembangan konsep agrowisata di Kabupaten Pasuruan secara menyeluruh. Daerah-daerah yang ditetapkan sebagai daerah pendukung untuk Kawasan Agrowisata Zona II adalah : Unit produksi penghasil ayam petelor terbesar di Desa Sumberpitu. Unit produksi penghasil biji kopi arabica dan torabica terbaik di kawasan Kecamatan Tutur di Desa Kalipucung. Unit produksi penghasil cengkeh kualitas terbaik di Kecamatan Tutur. Desa Pungging, yaitu desa Penghasil susu sapi segar yang layak untuk di konsumsi setiap oleh masyarakat dan di proses sebagai susu bubuk instan oleh korporat ternama di Indonesia. 2. Penetapan Fungsi Kawasan Penetapan fungsi Kawasan Agrowisata Zona II Kecamatan Tutur direncanakan dengan memperhatikan potensi, masalah, serta tingkat hirarki wilayah dari masing-masing desa yang direncanakan, dengan fungsi kawasan yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
27 93 Kegiatan produksi pertanian yang dititikberatkan kepada pertanian hortikultura sebagai komoditas pertanian unggulan kecamatan. Kegiatan agro-bisnis dengan dukungan prasarana dan sarana yang harus dikembangkan secara umum adalah pusat pengumpulan hasil peternakan sapi perah di Desa Pungging, pusat informasi, serta pergudangan sementara. Kegiatan pengembangan penelitian tanaman perkebunan dan sapi perah dengan dukungan sarana balai penelitian dan pengembangan. Khusus untuk produk susu sapi maka kegiatan agrobisnis dapat dilakukan dengan pengolahan lanjutan yang menghasilkan kerupuk susu, permen susu, serta susu pasteurisasi. Kegiatan pengembangan sistem bantuan perkreditan (modal). Bisa berupa modal dan saprodi (sarana penunjang produksi, seperti bibit, pupuk, alat-alat pertanian dan obat-obatan). Pengembangan SDM dimana bisa mendukung pembentukan kawasan agrowisataserta pemberdayaan dan pengembangan wawasan mengenai agribis. Kegiatan pengembangan penelitian pertanian hortikultura dengan dukungan sarana balai penelitian dan pengembangan hortikultura untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya Startegi Pengembangan Prasarana dan Sarana Dalam menunjang pengembangan kawasan dalam konteks agrowisata maka penyediaan infrastruktur akan menjadi sangat penting artinya. Konsep pengembangan prasarana dan sarana yang harus disediakan di wilayah adalah sebagai berikut : a. Sarana penunjang produksi, untuk meningkatkan efektifitas kinerja kegiatan di sektor agro-produksi dan agro-industri yang akan diarahkan dalam Kawasan Agrowisata Zona I dan II dengan fungsi utama:
28 94 Memfasilitasi dan memudahkan penyediaan kebutuhan bahan baku pertanian. Memberikan kemudahan transfer informasi dan teknologi pertanian untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. b. Sarana penunjang produksi, untuk memperluas dan meningkatkan efektifitas sistem jaringan pemasaran produk di dalam Kawasan Agrowisata secara khusus. c. Air bersih, untuk melayani kebutuhan masyarakat (basic need) dan untuk melayani kebutuhan yang terkait dengan agrowisata. Disini air bersih tidak hanya disediakan untuk kebutuhan domestik dan area perkotaan saja, tetapi juga harus dipersiapkan untuk melayani kebutuhan air bagi kegiatan pertanian dan perkebunan melalui jaringan irigasi. Diperlukan estimasi kebutuhan air bersih baik utamanya untuk wilayah perdesaan. d. Sanitasi, untuk melayani kebutuhan permukiman tani agro-wisata. Penanganan limbah juga perlu dipikirkan sejak dini. Mencakup limbah yang diproduksi oleh kegiatan pertanian, khususnya dari bahan-bahan input produksi yang dipakai (obat-obatan, pupuk, dan sebagainya). e. Persampahan, untuk melayani kebutuhan permukiman tani serta agrowisata. Sistem penanganan sampah juga perlu disediakan. Hal ini mencakup penanganan sampah yang diproduksi oleh kegiatan pertanian dan perkebunan. f. Sistem kelistrikan, untuk menunjang proses produksi, industri, bisnis dan pengembangan agro-wisata. g. Jaringan jalan dengan fungsi utama : Memperlancar arus pergerakan barang dan jasa, khususnya pemasaran, dari kawasan agrowisata (unit produksi di masingmasing desa) ke kawasan di Kecamatan Purwodadi, dan selanjutnya menuju ke kawasan kota besar seperti Malang dan Surabaya. Memperlancar kegiatan distribusi sarana produksi.
29 95 h. Jaringan irigasi dengan fungsi utama : Menyediakan input air baku bagi proses produksi baik pada sentra produksi primer (irigasi pertanian) maupun sentra industri (air baku industri). Melindungi sentra produksi dan permukiman tani dari bahaya kerusakan akibat kekeringan dan bencana alam lainnya. Di wilayah Kawasan Agrowisata Kecamatan Tutur, sistem jaringan irigasi dikembangkan untuk melayani kegiatan agro-produksi hortikultura di Desa Ngadirejo dan kegiatan agro-produksi tanaman pangan di desa lainnya. Mengacu pada konsep pengembangan sarana dan prasarana kawasan agrowisata Kecamatan Tutur di atas serta memperhatikan hirarki dan fungsi masing-masing kecamatan yang menjadi bagian Kawasan Agrowisata Kecamatan Tutur yang berbasis pada pertanian tanaman pangan dan hortikultura, maka pengembangan sarana dan prasarana untuk direncanakan sebagai berikut : 1. Strategi Pengembangan Prasarana Rencana pengembangan Kawasan Agrowisata juga tidak lepas dari perlunya pengembangan sistem jaringan utilitas guna mendukung perkembangan wilayah serta mempermudah berbagai akses seperti pelayanan telekomunikasi, distribusi listrik, air bersih, drainase, irigasi serta peningkatan jaringan jalan yang melalui tiap-tiap desa. Rencana sistem jaringan utilitas akan dibahas didasarkan pada potensi dan permasalahan jaringan utilitas sebagai berikut : a) Jaringan Listrik Berdasarkan data PT. PLN tahun 1999, secara garis besar untuk cakupan pelayanan jaringan listrik dari ke desa-desa yang termasuk dalam kawasan agrowisata, sudah terlayani 100%. Melihat kondisi tersebut untuk perencanaannya maka di desa yang sudah terlayani penuh perlu pengoptimalan dari jaringan yang ada, selain itu perlu peningkatan daya listrik terpasang seluruh wilayah desa terutama yang diarahkan sebagai lokasi pengembangan agro-wisata.
30 96 b) Jaringan Telepon Kondisi perekonomian masyarakat sebagian besar wilayah kecamatan tidak bisa disamakan dengan standar masyarakat kota apalagi untuk kawasan pedesaan di Kecamatan Tutur. Berdasarkan data dan kondisi temuan di lapangan dapat dianalisis bahwa secara umum pelayanan jaringan telepon di Kecamatan Tutur belum mencakup seluruh wilayah dan hanya menjangkau di sekitar jalan regional dan jalan utama di Kecamatan Tutur. Sehingga perluasan jaringan telekomunikasi direncanakan untuk sambungan telepon agar mencapai prosentase minimal 50% dari seluruh wilayah desa, mengingat kegiatan-kegiatan yang berkaitan langsung dengan kegiatan pertanian (proses produksi dan pemasaran serta pengolahan lebih lanjut) dapat lebih berkembang dengan didukung jaringan telepon. c) Jaringan Air Bersih Jaringan air bersih yang selama ini digunakan oleh sebagian besar masyarakat tersebut adalah penggunaan sumur untuk kebutuhan air bersih, sedangkan prosentase penggunaan PDAM kurang dari 50%. Namun demikian kondisi ini tidak mengalami masalah dalam penggunaan air sumur atau air dari sumber, sehingga dalam sistem jaringan air bersih direncanakan sebagai berikut : Peningkatan jangkauan pelayanan air bersih PDAM. Pengoptimalan kualitas air sumur dengan kedalaman tanah tertentu, serta penggunaan kaporit atau tawas sebagai filter bagi air tersebut. d) Jaringan Drainase Jaringan drainase yang ada di sebagian besar wilayah desa-desa tersebut selain merupakan jaringan drainase dengan perkerasan tanah sehingga air dalam saluran dapat langsung meresap ke dalam tanah, juga adanya self cleansing velocity untuk saluran-saluran yang mempunyai kelerengan kurang dari 30%. Dalam perencanaannya
31 97 diperlukan peningkatan perkerasan drainase dari tanah menjadi plester untuk drainase di pinggir jalan serta lokasi yang mempunyai kelerengan yang berpotensi untuk terjadinya erosi. e) Jaringan Irigasi Jaringan irigasi untuk pertanian dikembangkan di setiap desa di Kecamatan Tutur pada kawasan agrowisata dengan arahan : Menyediakan input air baku bagi proses produksi baik pada sentra produksi primer (irigasi pertanian) maupun sentra industri (air baku industri). Memenuhi kebutuhan fasilitas pelayanan umum permukiman. Melindungi sentra produksi dan permukiman tani dari bahaya kerusakan akibat kekeringan dan bencana alam lainnya. Sistem jaringan irigasi dikembangkan untuk melayani daerahdaerah kegiatan agro-produksi terutama tanaman pangan. f) Jaringan jalan Tingkat pelayanan jalan pada masing-masing kecamatan akan sangat mendukung kemudahan aksesibilitas antar wilayah dan percepatan pertumbuhan kawasan agrowisata. Jika melihat sejumlah kendala dan kondisi jalan di masing-masing desa, maka arahan pengembangan jaringan jalan dalam mendukung pengembangan Kawasan Agrowisata adalah sebagai berikut : Perbaikan dan pelebaran jalan yang menghubungkan desa satu dengan desa lain dimana sekarang ini perkerasan aspal masi belum menyeluruh serta dalam kondisi sempit untuk dilalui kendaraan besar (bis). Rencana ini merupakan salah satu prioritas utama mengingat jalan tersebut akan berperan penting dalam jalur hubungan pertanian (wisata, produksi, distribusi, dan informasi antar wilayah). Peningkatan kinerja jalan baik perkerasan maupun kondisi prasarana jalan khususnya jalan dengan kemiringan lebih dari 10% yaitu :
32 98 - Perbaikan perkerasan jalan lingkungan di Kecamatan Tutur yang diprioritaskan pada daerah-daerah yang menghubungkan daerah-daerah penghasil apel, paprika, dan lahan pertanian hortikultura unggulan lainnya. - Perbaikan dan pelebaran jalan lingkungan di Kecamatan Tutur, yang menghubungkan desa-desa penghasil hortikultura buah-buahan. 2. Strategi Pengembangan Sarana a) Balai Penelitian Kondisi sektor pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang ada di Kawasan Agrowisata Zona I dan II yang memiliki karakteristik potensi dan masalah yang beragam tentunya harus ditunjang dengan adanya balai penelitian yang fungsinya diarahkan untuk : Pengembangan varietas bibit dan benih komoditas unggulan. Pengembangan sistem pengendalian ancaman serangan hama dan penyakit yang tepat. Uji pengembangan dan penerapan teknik pertanian komoditas pertanian unggulan kecamatan. Direncanakan pada Kawasan Agrowisata Kecamatan Tutur ini dilakukan langkah-langkah pengembangan balai penelitian pertanian dengan mengoptimalisasi balai penelitian tanaman pangan dan hortikultura yang ada di Desa Tutur, Kecamatan Tutur sebagai pusat penelitian tanaman hortikultura unggulan seperti apel dan paprika. b) Balai Penyuluhan Pertanian Saat ini terdapat empat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Kabupaten Pasuruan terdiri dari BPP Pandaan, BPP Wonorejo, BPP Beji, dan BPP Grati. Fungsi BPP tidak lain adalah sebagai tempat pendidikan PPL Pertanian, Pusat Informasi, serta penyusunan program kerja untuk masing-masing wilayah BPP yang dibawahinya. Berdasarkan pentingnya peranan BPP ini maka perlu direncanakan BPP baru yang
33 99 diarahkan di sepanjang jalan arteri primer Surabaya Malang (Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi) sebagai pusat BPP untuk wilayah Kawasan Agrowisata Zona I Kecamatan Tutur. c) Pasar Komoditas Agribis Salah satu permasalahan utama pengembangan sektor pertanian berdasarkan temuan di lapangan adalah masih lemahnya jaringan pemasaran produk pertanian yang dihasilkan baik dalam masalah skala pemasaran yang masih terbatas maupun sistem pemasaran produknya sendiri (pengemasan dan penentuan harga) sehingga posisi petani disini sangat rentan terhadap tekanan dari pihak luar yang bisa memainkan harga komoditas pertanian. Keberadaan pasar khusus dalam menunjang pemasaran produkproduk pertanian di Kawasan Agrowisata Kecamatan Tutur, yang bisa menampung hasil pertanian kawasan dan mewadahi aktivitas agribisnis yang berkembang adalah salah satu arahan pengembangan yang akan dilakukan untuk membangun jaringan pemasaran yang kuat dan rapi dalam kawasan ini. Pasar Komoditas Agribis direncanakan berada di Desa Wonosari, mengingat lokasinya yang strategis baik dalam lingkup kawasan dimana Desa Wonosari berada di sentral kawasan agrowisata baik zona I maupun zona II. Fungsi pasar ini diarahkan sebagai berikut : Pusat perdagangan produk pertanian hortikultura dan tanaman pangan untuk kawasan secara khusus dan kabupaten secara umum. Sentra pengembangan kegiatan agribisnis kawasan agrowisata. Pasar wisata yang dilengkapi dengan sarana rekreasi didukung dengan arahan letak disepanjang jalur menuju wisata Gunung Bromo. Lokasi bongkar-muat komoditas pertanian. d) Terminal Keberadaan terminal sangat penting dalam kaitannya dengan proses bongkar muat dan kepentingan ekspor-impor hasil pertanian dari dalam kawasan agrowisata. Berdasarkan hal tersebut maka dalam pengembangan Kawasan agrowisata orientasi terminal agro diarahkan ke
34 100 Surabaya sebagai dan Malang sebagai tujuan distribusi sedangkan rencana pengembangan terminal dalam kawasan adalah dengan : Optimalisasi terminal lokal yang ada di Kecamatan Tutur untuk melayani bagian timur kawasan. Pengembangan terminal bongkar-muat yang diintegrasikan dengan pengembangan pasar agribisnis yang akan dikembangkan di Kecamatan Purwodadi (utamanya di jalur kolektor) untuk melayani bongkar-muat komoditas dari seluruh kecamatan yang menjadi bagian kawasan agrowisata. e) Koperasi Selama ini sebagian besar keberadaan koperasi di masing-masing kecamatan di Kabupaten Pasuruan terutama di Kecamatan Tutur belum optimal dan hanya berfungsi dalam distribusi produk susu sapi segar. Kendala yang ditemui memang sebagian besar koperasi tidak cukup mampu berperan dalam produk pertanian lainnya seperti hortikultura dan tanaman pangan karena lemahnya jaringan bisnis yang dimiliki koperasikoperasi yang ada sehingga petani cenderung tidak memiliki hubungan dengan koperasi dalam kegiatannya. Rencana pengembangan sarana koperasi diarahkan untuk membangun jaringan yang bisa menghubungkan petani dengan pihak luar baik konsumen produk, pemasok peralatan pendukung proses produksi, serta pengembangan SDM Pertanian yang dapat dijelaskan sebagai berikut : Peningkatan kualitas SDM untuk Koperasi-Koperasi Susu Sapi yang ada di Kecamatan Tutur sebagai penghasil utama susu sapi di kawasan agrowisata ini sehingga koperasi bisa berperan lebih aktif dalam menjaga stabilitas harga, memperluas pemasaran, dan memperkuat posisi peternak dalam hubungannya dengan PT Nestle yang merupakan konsumen utama produk susu sapi segar ini.
35 101 Pengadaan koperasi agribis hortikultura di Kecamatan Tutur dan sebagai sentra penghasil hortikultura unggulan seperti apel, paprika, kentang, tomat, dan kubis untuk membantu pemasaran dan penyediaan bahan baku produksi untuk petani. f) Lembaga Keuangan dan Perbankan Pengembangan sarana keuangan dan perbankan ditujukan untuk memperkuat pemodalan petani yang seringkali menjadi hambatan dalam ekstensifikasi dan diversifikasi produk sehingga dalam rencana sarana ini diarahkan untuk dikembangkan di tiap kecamatan dalam kawasan agrowisata dengan pusat kegiatan perbankan diarahkan di Kecamatan Tutur tepatnya di Desa Wonosari. g) Signage (Rambu dan Penandaan Kawasan) Dalam pengembangan kawasan, signage atau penandaan kawasan merupakan salah satu media yang akan berperan terutama dalam memberikan informasi dan promosi kawasan baik ke luar daerah maupun ke dalam kawasan. Rencana signage untuk kawasan agrowisata direncanakan dengan pembangunan papan petunjuk kawasan yang bisa memberikan informasi yang jelas mengenai daerah-daerah produksi hasil pertanian unggulan, daerah-daerah agro-industri, serta daerah agro-wisata yang akan dikembangkan. Arahan lokasi rambu atau papan petunjuk ini ditempatkan di lokasi-lokasi strategis yang menjadi entry-point menuju kawasan-kawasan unggulan tersebut diantaranya direncanakan di ruas-ruas persimpangan jalan antar kecamatan dan di ujung ruas-ruas jalan menuju kawasan unggulan yang ada seperti jalan menuju kawasan agrowisata apel, durian, bunga krisan, paprika, pisang, dan sayuran di Kecamatan Tutur.
36 102 h) Alat-Alat Pertanian Alat-alat pertanian disini dimaksudkan sebagai sarana penunjang usaha tani, untuk mempermudah proses perolehan alat-alat yang diperlukan dalam proses usaha tani dan. Secara garis besar untuk perencanaannya berupa pengoptimalan koperasi atau pihak kecamatan dalam penyediaan alat-alat usaha tani serta kerjasama dengan YANMAR di Kecamatan Pandaan sebagai produsen dan penyalur alatalat pertanian. 5.3 Penentuan Prioritas Komoditas Unggulan Pengembangan kawasan wisata perlu didukung oleh satu atau beberapa komoditas unggulan yang memiliki keunikan atau kekhasan dan daya tarik bagi wisatawan. Dalam pengembangan kawasan, dapat saja lebih dari satu komoditas agrowisata yang ditonjolkan dan hal tersebut akan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Menurut Mangiri (2003) agrowisata harus dapat menyeimbangkan antara tuntutan atau kebutuhan wisatawan dengan kemampuan untuk menyediakan obyek agrowisata yang unik dan berdaya jual. Dengan demikian diperlukan upaya untuk menentukan prioritas pengembangan komoditas unggulan yang dapat mendukung pengelolaan agrowisata secara profesional. Penentuan prioritas komoditas unggulan perlu dilakukan dengan memperhatikan sejumlah kriteria penting. Kriteria yang umumnya digunakan antara lain potensi pasar, nilai komersial komoditas, kesesuaian lahan dan agroklimat, potensi produksi dikaji dari luas areal dan produktivitas, dukungan dan kebijakan pemerintah daerah, kemampuan dan keterampilan produksi masyarakat setempat. 1. Zonasi Komoditas Pertanian Berdasarkan data dari 12 desa di Kecamatan Tutur, persebaran komoditas pertanian yang bisa dikatakan unggulan dalam mendukung pengembangan konsep agrowisata seperti tampak pada Tabel 20 menunjukkan persebaran yang kurang merata sehingga untuk mengaitkannya perlu dilakukan upaya pembuatan jaringan distribusi dan transportasi.
37 Potensi pasar komoditas unggulan Kriteria ini memiliki makna strategis dalam menentukan prioritas komoditas unggulan agrowisata karena akan menentukan tingkat minat wisatawan berkunjung yang akan berimplikasi terhadap kinerja perusahaan agrowisata. Kotler (2002) menyatakan, kemampuan perusahan harus mampu mengidentifikasi peluang, memanfaatkan dan sekaligus memelihara peluang pemasaran yang ada. Hal ini karena kondisi pemasaran pada saat sekarang bersifat sangat dinamis sehingga akan dengan mudah menyebabkan perpindahan pelanggan. Dalam konteks agrowisata, komoditas yang dikembangkan harus dapat memenuhi selera dan permintaan wisatawan. Tabel 20. Zonasi komoditas sektor pertanian Kecamatan Tutur tahun 2009 No. Jenis Potensi Desa Unggulan Hortikultura (Buah-Buahan) : 1. Apel 2. Durian 3. Pisang Hortikultura (Sayur-Sayuran) : 1. Kubis 2. Cabe 3. Kentang 4. Paprika 5. Wortel 6. Bunga Krisan Perkebunan : 1. Kopi 2. Kelapa 3. Cengkeh 1. Ngadirejo, Blarang, Kayukebek, Andonosari, Wonosari, Gendro, Tlogosari, Tutur, Pungging, Kalipucung, 2. Kalipucung, Sumberpitu, Ngembal 3. Tutur dan Kalipucung 1. Ngadirejo Kayukebek, Wonosari, Tutur, Pungging 2. Blarang Gendro 3. Ngadirejo 4. Wonosari, Gendro, Tlogosari, 5. Ngadirejo, Blarang, Kayukebek, Andonosari, Wonosari, 6. Blarang, Wonosari, Gendro, Tlogosari, 1. Seluruh desa di Kecamatan Tutur 2. Ngembal dan Sumberpitu 3. Ngadirejo, Blarang, Kayukebek, Andonosari, Wonosari, Gendro, Tlogosari, Tutur, Pungging, Kalipucung, Ngembal Sumber : BPS Pertanian Kecamatan Tutur Tahun 2009
38 Nilai Komersial komoditas Selain potensi pasar yang merujuk pada aspek seberapa banyak jumlah konsumen yang menyukai komoditas, maka kriteria nilai komersial ini sangat penting dalam pengembangan komoditas unggulan. Hal ini karena kriteria tersebut akan menunjukkan citra komoditas yang direspon dengan baik oleh wisatawan. Selain itu juga akan memberikan implikasi sangat besar jika pengembangan komoditas tersebut meningkatkan nilai tambah bagi pengembangan kawasan agrowisata dan masyarakat setempat. Beberapa potensi komoditas dan wilayahnya adalah : 1. Desa Wonosari, yaitu sebagai pusat keramaian yang berada tepat di jantung Nongkojajar dan merupakan salah satu kawasan Nongkojajar yang paling penting. 2. Desa Kayu Kebek, yaitu salah satu desa penghasil apel untuk bahan baku industri pertanian Nongkojajar. 3. Desa Andonosari, yaitu salah satu desa yang mendistribusikan hasil pertanian apel di daerah Nongkojajar untuk di salurkan ke kota - kota di seluruh Indonesia. 4. Desa Ngadirejo, yaitu adalah desa yang masih dalam lingkup suku Tengger, sebagai induk penghasil berbagai jenis sayuran, antara lain: kol, kentang, ercis, wortel, lobak, sawi, cabai. 5. Desa Gendro, yaitu desa penghasil Bunga chrysanthemum, yang menjadi Trend center diantara para florist. Terdapat ratusan pohon pinus untuk diambil getahnya sebagai bahan baku pembuat karet. 6. Desa Tlogosari, yaitu desa yang menghasilkan Paprika dan satu - satunya didaerah Nongkojajar. 7. Desa Pungging, yaitu desa Penghasil susu sapi segar yang layak untuk di konsumsi setiap oleh masyarakat dan di proses sebagai susu bubuk instan oleh korporat ternama di Indonesia. 8. Desa Ngembal, yaitu jika anda ingin berburu buah durian, nah disinilah tempatnya. karena kawasan ini sebagai tempat pembudidayaan Pohon durian dengan varietas terbaik.
39 Desa Kalipucang, merupakan penghasil biji kopi arabica dan torabica terbaik di kawasan Nongkojajar. 10. Desa Tutur, yaitu salah satu desa penghasil cengkeh dengan mutu yang tidak kalah dengan cengkeh kualitas import. 11. Desa Sumberpitu, yaitu Desa Ternak yang menghasilkan ayam petelor dan ayam potong. 12. Desa Blarang, yaitu penghasil buah apel dengan varietas yang terbaik seperti, rome beauty, manalagi, anna, dan wanglee dengan kualitas terbaik di wilayah Nongkojajar. Berdasarkan atas beberapa komoditi buah-buahan dan kesesuaian dengan agro-climate nya maka komoditas yang berpeluang untuk terus dikembangkan diantaranya adalah apel dan durian, untuk nilai komersial tiap komoditas dapat dilhat pada Lampiran Potensi produksi Komoditas Potensi produksi perlu dipertimbangkan dalam penentuan komoditas unggulan karena terkait dengan ketersediaan komoditas dalam pengembangan agrowisata. Produksi komoditas buah-buahan secara umum di Pasuruan meliputi: apel sebesar ton/tahun, salak sebesar 1.154,95 ton/tahun, durian sebesar , 55 ton/tahun dan pisang sebesar ,15 ton/tahun (Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan, 2004) 5. Kemampuan dan keterampilan teknologi produksi Kriteria ini perlu diperhatikan agar dalam pengembangannya, selain didasarkan pada potensi komoditas dan nilai komersialnya, juga kemampuan dasar sumberdaya manusia setempat dalam pengelolaan produksi. Hal ini akan dapat menunjang secara komprehensif pengembangan agrowisata. 6. Dukungan dan kebijakan pemerintah daerah Pengembangan agrowisata perlu memperoleh dukungan dari pemerintah daerah khususnya dalam pengembangan infrastruktur, promosi dan fasilitas lainnya yang terkait dengan kenyamanan dan keamanan wisatawan. Pemerintah Kabupaten Pasuruan sedang mengembangkan sejumlah kawasan wisata meliputi
40 106 Taman Candrawirwatirta, Taman Vina Golf, kawasan Wisata Tretes, ke Taman Dayu, Taman Safari, Kebun Raya Purwodadi, Agrowisata di Kawasan Tutur dan Puncak Bromo. Secara umum, akomodasi wisata yang ada di Kecamatan Tutur sendiri adalah terdapat 2 buah pondok wisata, 1 buah restoran, 12 buah warung (Pariwisata dalam Angka, 2007). Jenis-jenis wisata lokalnya antara lain Air Terjun Coban Waru, yang dikelola oleh PT. PERHUTANI terkenal sebagai tempat ibadah dengan daya tarik berupa pemandian alam dan udara sejuk khas pegunungan. Kemudian Agro Bunga Krisan dan Paprika yang terletak di Desa Tlogosari, serta Agrowisata Apel di Desa Andonosari yang dikelola oleh dinas pertanian yang didalamnya disediakan Homestay dengan daya tarik utama berupa perkebunan, kebun apel dan udara sejuk pegunungan. Untuk Agro Petik Apel, diketahui berdasar data jumlah pengunjung pada tahun 2007, terdapat sebanyak orang pengunjung (Pariwisata dalam Angka, 2007). Selain itu, di Kecamatan Tutur ini terdapat peternakan sapi perah yang cukup besar terletak di Desa Wonosari, lalu Agro Jamur di Desa Ngadirejo, Agro Durian Montong di Desa Ngembal yang juga memiliki fasilitas homestay, dimana pengelolanya adalah pihak swasta. 7. Prioritas Pengembangan Komoditas Unggulan Hasil analisis menunjukkan bahwa prioritas pengembangan komoditas unggulan adalah apel dengan kategori tinggi, bunga dan tanaman obat terkategori sedang, mangga dan durian terkategori rendah. Austin (1993) menunjukkan pengembangan komoditas unggulan harus memperhatikan sejumlah faktor utama antara lain potensi pasar, ketersediaan dan kontinuitas bahan baku, dan peluang pengembangan produk olahannya. Apel merupakan buah yang relatif cukup disenangi berbagai kalangan sehingga potensi pasarnya sangat baik. Di Indonesia daerah penghasil sangat terbatas, sehingga Kawasan Tutur yang memiliki potensi apel ini sangat prospektif dikembangkan lebih lanjut.
41 107 Apel merupakan tanaman buah yang dapat berproduksi sepanjang tahun sehingga dari segi kontinuitas bahan baku relatif lebih baik dibandingkan dengan buah musiman. Hal ini akan mendukung pengembangan produk agroindustri apel yang sangat dibutuhkan dalam menunjang pengembangan agrowisata. Eksistensi dan keunikan produk olahan suatu komoditas akan menjadi salah satu daya tarik dari suatu kawasan agrowisata. Apalagi jika dalam kawasan tersebut juga dikembangkan fasilitas study tour bagi kalangan pelajar dan mahasiswa untuk memperoleh informasi ilmiah yang berkaitan dengan komoditas dan produk olahannya secara langsung dan sekaligus menyaksikan praktek pengolahannya. Tanaman bunga dan tanaman obat seperti yang terdapat pada data Lampiran 1, terkategori sedang dalam prioritas pengembangannya. Tanaman bunga memiliki potensi pasar yang cukup baik mulai dari masyarakat dengan ekonomi kelas bawah sampai menengah dan tinggi. Demikian juga tanaman obat yang pada saat sekarang makin banyak peminatnya khususnya untuk mendukung program back to nature dalam memelihara kesehatan dan mengobati penyakit. Pengembangan kawasan agrowisata dapat saja diintegrasikan dengan sejumlah komoditas yang tumbuh di kawasan tersebut melalui suatu pola pengelolaan agrowisata berbasis masyarakat. Hal ini berarti suatu kawasan agrowisata tidak perlu seluruhnya dikelola oleh hanya satu perusahaan saja, tetapi dapat terdiri dari beberapa unit usaha dan bahkan melibatkan unit-unit usaha kecil yang dikelola secara terpadu. Pengelolaan agrowisata secara terpadu justru akan meningkatkan daya tarik wisatawan sekaligus dapat secara terus menerus melakukan pengembangan obyek dan daya tarik wisata baru. Dalam rangka mendukung keterpaduan dalam suatu kawasan, dibutuhkan dukungan seluruh masyarakat setempat. Pentingnya pengembangan agrowisata berbasis masyarakat sejalan dengan pendapat Nasikun (2003), yang menyatakan bahwa partisipasi masyarakat di dalam pengelolaan merupakan jaminan keberlanjutan (ekonomi, sosial, kultural, bahkan politik) dari pengembangan agrowisata berbasis masyarakat.
42 108 William dan Gill (1998) mengatakan faktor yang berpengaruh dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat meliputi sejumlah aspek yakni ekonomi, kebijakan pemerintah, pengalaman pengelola wisata, ketersediaan sarana prasarana, pengalaman wisatawan dan sistem ekologi wilayah. Faktor faktor tersebut saling terkait dan saling mempengaruhi sehingga diperlukan suatu koordinasi dan kepemimpinan yang dapat mengarahkan pada tercapainya tujuan bersama yakni peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di sekitar`daerah wisata. Pigram (1990) menyatakan, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat ditujukan untuk : (1) meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup dari masyarakat lokal, (2) mengembangkan karakter dan perilaku masyarakat lokal yang mendukung bagi pengelolaan potensi sosial budaya dan sumberdaya alam dan lingkungan, (3) mengembangkan pelayanan terhadap wisatawan tanpa merusak atak menggangu kelestarian sumberdaya lokal Penentuan Komoditas Unggulan Agroindustri Pendukung Kawasan Agrowisata Penentuan produk unggulan agroindustri maupun agrowisata didasarkan pada sejumlah kriteria penting yakni potensi pasar dari produk, ketersediaan bahan baku dan bahan pembantu, kemampuan sumberdaya manusia, ketersediaan teknologi pengolahan yang memadai, tingkat persaingan produk, biaya produksi, kelestarian lingkungan, dukungan dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Berikut uraian penentuan produk unggulan agrowisata di Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan : 1. Potensi Pasar Kriteria ini sangat penting dalam menentukan jenis produk unggulan agroindustri dan agrowisata. Adanya potensi pasar produk olahan yang baik akan menjadi salah satu daya tarik. Implikasi berikutnya adalah meningkatnya jumlah wisatawan. Kotler (2002) menyatakan, berkaitan dengan potensi pasar perusahan harus mampu mengidentifikasi peluang, memanfaatkan dan sekaligus memelihara peluang pemasaran yang ada. Hal ini karena kondisi pemasaran pada saat
43 109 sekarang bersifat sangat dinamis sehingga akan dengan mudah terjadinya perpindahan pelanggan. Dengan demikian sangat penting memperhatikan potensi pasar dari produk agroindustri penunjang agrowisata. 2. Ketersediaan Bahan Baku Kriteria ini sangat penting dalam menentukan produk unggulan suatu agroindustri karena sangat mempengaruhi keberlanjutan agrowisata yang akan dikembangkan. Pemenuhan persyaratan ketujuh produk agroindustri bervariasi mulai dari yang cukup ketat seperti kripik, terkategori sedang adalah produk sari buah. Pemenuhan kebutuhan bahan baku agroindustri dan agrowisata merupakan faktor kritis yang harus diperhatikan tidak saja dari aspek jumlah, kualitas dan kontinuitas, namun juga terkait dengan pemilihan cara pengadaannya (Brown, 1994). Selain itu, ketersediaan komoditas yang tersebar secara geografis dengan jaringan kerja yang kompleks tidak dapat diabaikan dan perlu dipertimbangkan dalam menentukan cara pengadaan bahan baku (Austin, 1992). Dalam pengembangan agrowisata, aspek pengadaan bahan baku sangat berperan dalam penting (Soekartawi, 2000), namun juga perlu diperhatikan sejumlah risiko yang dihadapi (Santoso, 2005). Faktor utama yang berpengaruh terhadap pengadaan bahan baku agroindustri dan agrowisata yaitu waktu ketersediaan, jumlah, kualitas, dan biaya (Brown, 1994). Waktu Ketersediaan Bahan Baku. Waktu ketersediaan bahan baku sangat dipengaruhi oleh sejumlah variabel agronomis yang mempengaruhi waktu panen bahan baku seperti cuaca atau musim, jenis varietas, lokasi geografis, teknologi budidaya dan input produksi (Austin, 1992). Teknologi budidaya jumlah, kualitas dan waktu ketersediaan yang lebih baik. Faktor waktu ketersediaan menjadi sangat penting diperhatikan karena akan berkontribusi secara siginifikan terhadap keberhasilan pengadaan bahan baku.
44 110 Jumlah bahan baku. Terpenuhinya jumlah kebutuhan bahan baku menjadi faktor yang harus diperhatikan agar perusahaan dapat berproduksi sesuai dengan yang diharapkan. Variabel yang mempengaruhi jumlah bahan baku adalah cuaca/musim, adanya serangan hama dan penyakit, teknologi budidaya dan input produksi. Faktor jumlah bahan baku yang tersedia juga penting diperhatikan setelah faktor waktu ketersediaan dari aspek pengadaan bahan baku agroindustri seperti sari buah. Hal ini sesuai dengan pendapat Brown (1994) yang menyatakan, perencanaan pemasaran dan kapasitas pengolahan akan mempengaruhi jumlah kebutuhan bahan baku. Demikian juga sebaliknya, ketersediaan bahan baku dari sisi waktu dan jumlah akan mempengaruhi juga kapasitas produksi dan perencanaan pemasaran. Kualitas. Kualitas bahan baku dipengaruhi oleh sejumlah variabel yaitu : teknologi budidaya, cuaca/musim, teknologi penanganan panen dan pascapanen. Menurut Santoso (2006), sejumlah variabel ini akan mempengaruhi atribut kualitas bahan baku dalam pengolahan agroindustri dan agrowisata mencakup keseragaman tingkat kematangan, tekstur, kemurnian dan komposisi kimia. Atribut kualitas ini menjadi dasar dalam penentuan standar bahan baku dan menjadi pertimbangan dalam penetapan harga bahan baku. Faktor kualitas bahan baku akan sangat mempengaruhi kualitas produk agroindustri dalam kawasan agrowisata. Bahan baku yang rusak atau cacat harus disortasi secara baik karena tidak dapat diperbaiki selama proses pengolahan. Biaya. Biaya pengadaan bahan baku ditentukan oleh (1) jumlah ketersediaan bahan baku, (2) kualitas bahan baku yang diharapkan dan (3) tingkat persaingan dalam pengadaan bahan baku (Brown, 1994). Selain itu harga bahan baku harus dapat menjamin adanya tingkat pendapatan bagi petani produsen yang layak sehingga dapat menarik minatnya untuk terus memproduksi bahan baku.
45 111 Faktor biaya terkait dengan faktor-faktor lainnya dari pengadaan bahan baku. Faktor biaya pengadaan bahan baku harus diperhatikan karena akan berpengaruh langsung terhadap kelayakan usaha dan sekaligus menentukan minat petani terus memproduksi bahan baku yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan agroindustri. Brown (1994) menyatakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam sistem pengadaan bahan baku adalah harga yang layak bagi petani sehingga dapat memberikan rangsangan untuk terus berproduksi. Hal ini penting karena terkait dengan keberlanjutan pasokan bahan baku yang mutlak perlu disediakan dalam menunjang proses produksi. Menurut Santoso (2006) perlu ada upaya dan strategi khusus yang bersifat kompromi antara harga jual bahan baku yang diinginkan petani dan harga beli yang diinginkan oleh perusahaan. Penentuan harga yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak akan menjadi dasar bagi keberlanjutan pengembangan agrowisata. 3. Ketersediaan teknologi yang dapat diterapkan Kriteria ini sangat mendukung pengembangan agroindustri dalam suatu kawasan agrowisata karena berpengaruh terhadap produktivitas, pencapaian target produksi, terpenuhinya permintaan pasar secara kualitas dan kuantitas serta dapat memberikan jaminan mutu dan keamanan produk. Kriteria ini memberikan penilaian tingkat ketersediaan teknologi pengolahan yang aplikatif dan operasional dengan kondisi sumberdaya manusia yang ada. Umumnya telah tersedia teknologi pengolahan yang memadai baik dalam skala kecil maupun dalam skala menengah untuk menunjang pengembangan agroindustri yang menunjang pengembangan agrowisata. Santoso (2006) menyatakan ketersediaan teknologi pengolahan harus memperhatikan persyaratan kualitas produk yang dihasilkan, efesiensi proses dan konsekuensi nutrisi dan keamanan produk. Kolarik (1995) menyatakan, dalam pengembangan kualitas yang memenuhi selera dan permintaan konsumen diperlukan sejumlah strategi yang relevan, setidaknya melalui penerapan bauran pemasaran yang efektif.
46 112 Dalam pengembangan agroindustri terutama produk olahan pangan, walaupun aspek pengolahan lebih dapat dikontrol dibandingkan dengan aspek pengadaan bahan baku, namun juga penting diperhatikan karena terkait dengan efisiensi produksi, kualitas dan keamanan produk serta kepuasan konsumen (Austin, 1992). Faktor pengolahan dipengaruhi sejumlah faktor yaitu kualitas dan keamanan, biaya proses, kinerja mesin dan peralatan (Forrest, 2001). Kualitas dan Keamanan Produk. Faktor kualitas dan keamanan produk dalam proses pengolahan agroindustri dipengaruhi oleh sejumlah variabel. Variabel yang berpengaruh tersebut adalah kualitas bahan baku, teknologi pengolahan, sanitasi pengolahan, kualitas SDM dan manajemen pengendalian proses. Kualitas bahan baku akan mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan. Hal ini karena mutu bahan baku akan berdampak terhadap nilai gizi, keamanan dan penampilan produk. Demikian juga teknologi pengolahan yang digunakan akan berimplikasi terhadap kualitas dan keamanan produk. Faktor lain yang juga perlu diperhatikan adalah sanitasi pengoolahan baik yang terkait dengan mesin dan peralatan, ruangan produksi dan tenaga kerja. Mesin dan Peralatan Produksi. Kemampuan mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan agroindustri dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Faktor utama yang berpengaruh adalah keandalam mesin dan peralatan yang digunakan, umur ekonomis dan tingkat perawatan yang dilakukan. Menurut Santoso (2006), kerusakan atau gangguan pada mesin dan peralatan tidak saja menyebabkan pelaksanaan proses pengolahan terganggu, namun juga dapat menyebabkan kegagalan dalam pencapaian mutu dan jaminan keamanan produk yang dihasilkan. Selain itu, kerusakan mesin dan peralatan yang mempengaruhi jumlah produk yang tidak memenuhi syarat berdampak terhadap peningkatan biaya produksi.
47 113 Biaya Proses pengolahan. Menurut Feigenbaum (1996) terdapat empat jenis biaya pencapaian kualitas yakni biaya pencegahan, biaya penilaian, biaya kerusakan internal dan biaya kerusakan eksternal. Biaya pengendalian yaitu pencegahan dan penilaian akan meningkat seiring dengan upaya peningkatan kualitas, sedangkan biaya kegagalan seperti internal dan eksternal menurun seiring dengan peningkatan kualitas. Tjiptono (2000) menyatakan, biaya kegagalan dapat diminimasi melalui penerapan manajemen mutu total. Selain itu, juga dapat menjamin dihasilkannya produk berkualitas dalam memberikan kepuasan konsumen dan meningkatkan citra perusahaan. 4. Tingkat Persaingan Kriteria ini memberikan implikasi bahwa dalam melakukan pengembangan agroindustri dan agrowisata harus melakukan analisis kondisi persaingan untuk menentukan jenis agrowisata yang masih memiliki peluang dalam pengembangannya. Aziz (1993) menyatakan, produk agroindustri maupun agrowisata seperti buah-buahan sangat dikenal dan banyak diperdagangkan di dalam maupun di luar negeri. 5. Biaya Produksi Kriteria ini memberikan implikasi bahwa faktor biaya produksi harus diperhatikan secara cermat dari sisi efisiensi karena akan berpengaruh terhadap harga jual dan daya saing produk. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan inefesiensi harus dihindari. Menurut Aziz (1993), salah satu faktor penting dari pengembangan agrowisata buahbuahan adalah biaya produksi harus dapat memberikan peningkatan nilai tambah yang cukup tinggi dari nilai komoditas primernya. Dengan demikian, peningkatan nilai tambah produk agroindustri ini merupakan manfaat yang dapat menunjang keberhasilan pengembangan agrowisata.
48 Kelestarian Lingkungan Pengembangan produk agroindustri sebagai upaya peningkatan nilai tambah komoditas primer, dan diversifikasi produk untuk mendukung agrowisata harus seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Berdasarkan hasil verifikasi menunjukkan terdapat tiga kriteria utama yang memiliki bobot relatif tinggi yaitu potensi pasar, tingkat persaingan dan pemenuhan kebutuhan bahan baku. Hasil analisis tingkat kepentingan kriteria dalam pengembangan agrowisata disajikan dalam Gambar 14. Ketiga faktor yang memiliki nilai tingkat kepentingan relatif tinggi berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan agroindustri penunjang agrowisata. Menurut Austin (1992) sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan agrowisata antara lain :(1) terpenuhinya kebutuhan bahan baku dari aspek jumlah, kualitas dan kontinyuitas, (2) adanya peluang pemasaran produk yang tinggi, (3) kondisi perusahaan agroindustri yang sedang tumbuh dan berkembang selama ini. Gambar 14. Nilai tingkat kepentingan kriteria penentuan produk unggulan
49 115 Santoso (2006) menyatakan dalam mendukung pengembangan agroindustri diperlukan sejumlah strategi yang harus dilakukan antara lain (1) pengembangan kawasan sentra produksi bahan baku sehingga mendukung pengembangan agrowisata secara terpadu dan berkelanjutan, (2) melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan bidang pembibitan, budidaya dan teknologi pengolahan sehingga dapat mendukung pengembangan agribisnis dan agroindustri, dan (3) merumuskan dan mengembangkan sistem kelembagaan agrowisata yang efektif mendukung penyediaan bahan baku, permodalan dan pemasaran produk agroindustri. Hasil analisis menunjukkan, prioritas produk agrowisata apel yang dapat dikembangkan adalah produk sari buah, diikuti cuka apel dan kripik apel. Hasil analisis penentuan produk unggulan agroindustri apel disajikan pada Gambar 15. Tingginya skor prioritas sari buah disebabkan semua pakar memberikan nilai cukup tinggi pada produk sari buah terutama pada beberapa kriteria dengan bobot tinggi seperti peluang pasar, ketersediaan bahan baku dan kondisi agroindustri dan agrowisata dan agrowisata saat ini. Hal ini sejalan dengan kondisi pemasaran produk buah saat ini yang didominasi sari buah. Gambar 15. Bobot prioritas penentuan produk agroindustri apel Produk sari buah relatif memiliki pangsa pasar yang paling baik di bandingkan produk agroindustri olahan apel lainnya. Hasil penelitian Santoso dan Marimin (2001), menunjukkan sari buah apel merupakan jenis produk agroindustri dan agrowisata dan agrowisata yang cukup
50 116 prospektif dikembangkan. Hal ini karena sari buah apel memiliki karakteristik produk yang dapat diterima oleh konsumen dari aspek cita rasa maupun pemenuhan kebutuhan gizi. 5.5 Teknologi Agroindustri Buah Apel Buah apel seperti halnya buah lainnya dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi antara menjadi sari buah, kripik, selai, cuka, dan sebagainya. Menurut Widaningrum dan Nurdi Setyawan (2009) pengolahan hasil pertanian selain ditujukan untuk memberikan nilai tambah bagi komoditas primer, juga dapat mengatasi permasalahan melimpahnya buah pada saat panen raya. Hal ini karena umumnya, pada saat panen raya tersedia buah secara melimpah, sedangkan harga jualnya rendah. Khairani dan Dalapati (2007) perlakuan pengolahan buah-buahan dapat dilakukan dengan berbagai proses antara lain pengeringan, perebusan, fermentasi dan pengalengan. Teknologi dan peralatan yang digunakan dapat diterapkan di tingkat agroindustri pedesaan yang memiliki potensi sentra produksi buah. Sari Buah. Sari buah merupakan hasil pengepresan atau perebusan buah segar berwarna jernih atau agak jernih dan tidak difermentasi. Pembuatan sari buah terutama ditujukan untuk meningkatkan daya simpan dan sebagai upaya diversifikasi penyediaan buah-buahan selain dikonsumsi dalam bentuk segar. Pada dasarnya sari buah dibuat dengan cara penghancuran daging buah ditambah air dan sejumlah food additive seperti gula, pewarna, penguat citarasa dan bahan pengawet. Gula ditambahkan untuk mendapatkan rasa manis sekaligus meningkatkan daya simpan. Selain itu, untuk memperpanjang daya simpan produk sampai beberapa bulan hingga 1-2 tahun, umumnya ditambahkan bahan pengawet. Bahan pengawet makanan atau minuman ini harus sesuai dengan standar yang diijinkan dari segi jenis dan jumlahnya. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam proses pengolahan sari apel adalah diterapkannya sistem produksi menggunakan GMP (good manufacturing practices). Secara garis besar tahapan pengolahan sari buah dapat dilihat pada Gambar 16. Secara lebih detil dapat diuraikan sebagai berikut :
51 117 Buah Apel Sortasi Air Air Dicuci dan Dibelah Direbus selama +1 jam Buah rusak/busuk Air sisa Disaring hingga diperoleh ekstrak Pencampuran sari apel : air: gula, pewarna karamel, pengawet ampas Perebusan Air Pengemasan Pendinginan dan Pengepakan Sari Buah Gambar 16. Proses pengolahan sari apel a). Sortasi. Sortasi adalah tahapan untuk menyeleksi buah yang layak diolah lebih lanjut menjadi sari apel. Sortasi ini ditujukan agar buah yang rusak atau busuk tidak menjadi bagian dari bahan baku yang akan diproses. Sortasi dapat dilakukan secara manual ataupun menggunakan mesin mekanis. Kontaminasi awal, selain dari buah yang berasal dari kebun atau transportasi menuju lokasi pengolahan, dapat juga berasal dari pekerja atau operator yang kurang higienis. Karenanya, selama sortasi diharapkan dalam menyeleksi hanya bahan baku yang memenuhi syarat saja yang diproses lebih lanjut. b). Pencucian. Pencucian ditujukan untuk menghilangkan kotoran atau mikroba yang menempel di buah. Pencucian sebaiknya menggunakan air bersih yang mengalir, jika di tingkat industri dapat menggunakan
52 118 pencucian dengan penyemprotan yang bertekanan tinggi. Aspek penting yang harus diperhatikan dalam pencucian adalah buah apel bersih, dan tidak rusak atau lecet akibat proses pencucian. Walaupun apel terlihat bersih, masih dimungkinkan adanya faktor mikrobiologi yang dapat mengganggu diperolenya sari apel yang hieginis. c). Pembelahan buah. Buah apel yang telah dicuci selanjutnya dibelah untuk dibuang bijinya. Pembelahan harus dilakukan dengan menggunakan pisau yang bersih/tidak karat. Kontaminasi silang dapat berasal dari tangan pekerja, pisau atau tempat pembelahan. Dalam rangka memudahkan proses perebusan, selain dibelah, apel juga dapat di potong menjadi beberapa bagian. d). Perebusan. Perebusan ditujukan untuk memperoleh ekstrak sari apel dengan pemanasan o C selama sekitar 1 jam. Proses perebusan ini merupakan tahapan yang penting karena selain ditujukan untuk memperoleh ekstrak sari apel, juga untuk menonaktifkan enzim dan mikroba. Tahapan ini agak berbeda dengan produksi sari buah lainnya yang umumnya proses ekstraksi melalui penggilingan atau penghancuran dan penyaringan. e). Penyaringan. Kegiatan ini dilakukan untuk memisahkan sari apel dari ampas. Faktor penting yang harus diperhatikan adalah alat penyaring harus bersih dan berfungsi dengan baik sesuai dengan ukuran filter yang diharapkan. Kontaminasi dari alat penyaring ini dapat dihindari dengan secara rutin melakukan sanitasi alat atau mesin pengolahan. f). Pencampuran. Sari buah hasil penyaringan selanjutnya dicampur dengan sejumlah bahan lain berfungsi sebagai food additive seperti gula, pewarna, dan pengawet dengan proporsi yang tepat. Penggunaan food additive ditujukan untuk menghasilkan produk dengan penampilan, cita rasa dan daya simpan yang baik. Penggunaannya ditoleransi sepanjang masih dalam ambang batas yang
53 119 telah diijinkan sesuai ketentuan atau standar SNI. Penggunaan bahan pengawet seyogyanya membantu meningkatkan daya simpan, namun harus dalam batas yang diijinkan. g). Sterilisasi. Hasil campuran selanjutnya disterilisasi sehingga diharapkan dapat membunuh mikroba patogen. Faktor kondisi pemasakan terutama suhu dan lama pemanasa harus dikontrol dengan baik sesuai dengan standar yang ditentukan. Suhu sterilisasi umumnya o C. Kesalahan atau kekurang sesuaian dalam proses sterilisasi ini akan menyebabkan sari buah yang dihasilkan tidak tahan lama dan bahkan terkontaminasi, sehingga menjadi kurang layak dikonsumsi. h). Pengemasan. Sari buah yang telah disteril selanjutnya dikemas. Pengemasan ditujukan untuk melindungi produk dari kontaminasi berupa kotoran dari luar serta agar produk dapat lebih tahan lama. Kemasan yang baik selain akan memberikan penampilan dan citra produk yang memuaskan, juga berperan sebagai sarana promosi dan memudahkan dalam transportasi dan penyimpanan. Beberapa bahan pengemas antara lain cup atau botol plastik. Beberapa produk sari buah penggunaan kemasan karton yang dikemas dengan mesin tetrapack. Selai Apel. Selai merupakan produk awetan yang dibuat dengan memasak hancuran buah yang dicampur gula. Faktor penting dalam pembuatan selai adalah komposisi campuran dan lama pemasakan optimal. Secara umum proses pembuatan selain disajikan dalam Gambar 17.
54 120 Buah Apel Sortasi Air Dicuci dan Dibelah Dihancurkan Buah rusak/busuk Air sisa Gula Gelatin yang dicairkan Dimasak dan Diaduk Pencampuran ditambahkan asam sitrat : natrium bernzoat ampas Dimasak + 30 menit Air Pengemasan Pendinginan dan Pengepakan Selai Apel Gambar 17. Diagram alir proses pembuatan selai buah Apel Dodol buah Apel. Jenang merupakan makanan semi basah yang dibuat dari bubur ataupun ampas buah dengan campuran utamanya adalah tepung beras ketan dan santan. Secara garis besar proses pembuatan Jenang buah disajikan dalam Gambar 18.
55 121 Buah Apel Sortasi Air Dicuci dan Dibelah Dihancurkan Buah rusak/busuk Air sisa Dibagi 2 bagian Bagian I : Tambahkan tepung ketan, tepung beras dan santan yang telah dimasak Bagian II : Dipanaskan, ditambahkan gula pasir dan gula merah Dicampur dan dimasak sampai kalis Dituang dalam loyang/ cetakan Didinginkan dan dikemas Dodol buah Gambar 18. Proses pembuatan dodol buah apel Kripik apel. Kripik buah adalah salah satu jenis makanan ringan yang bersifat kering dan renyah. Karena kandungan gula dan air yang relatif tinggi, maka penggorengannya menggunakan vacuum frying, dengan suhu dan tekanan yang perlu dikendalikan secara baik (Khairani dan Dalapati, 2007). Vacuum frying dipergunakan untuk menggoreng/mengolah berbagai bahan (aneka buah) menjadi keripik secara vaccum (tekanan tinggi) sehingga hasil olahan matang merata. Alat ini dilengkapi dengan penirisan minyak secara sentrifuse yang berfungsi untuk mengurangi kadar minyak hasil gorengan.
56 122 Penggorengan vakum umumnya digunakan untuk mengeringkan buah yang berkadar air tinggi dan beraroma khas. Penggorengan ini dilakukan dengan menggunakan suhu 85 0 C selama 1-2 jam. Bahan pangan atau sayuran yang digoreng dengan metode vaccum frying akan dihasilkan produk dengan kandungan zat gizi seperti protein, lemak dan vitamin yang tetap terjaga. Sistim penggorengan vaccum frying menggunakan tekanan minimum sehingga suhu pemanasan menjadi rendah. Perlakuan suhu rendah ini tidak akan merusak struktur kimia dan sifat bahan. Selain itu, penggunaan vaccum frying menghasilkan keripik yang renyah dan tahan lama, aroma khas, serta warna yang menarik. Proses pengolahan kripik Apel disajikan dalam Gambar 19. Buah Apel Sortasi Buah rusak/busuk Air Dicuci dan Dibelah Diiris melintang + tebal 3 mm Air sisa Gula Gelatin yang dicairkan Digoreng dalam vacuum frying Disentrifuse selama + 5 menit ampas Dikemas Kripik apel Gambar 19. Proses pengolahan kripik apel
57 Strategi Pengembangan Agrowisata Pada pembuatan strategi pengembangan agrowisata dilakukan dengan memperhatikan sejumlah aspek yang terkait meliputi faktor-faktor yang perlu diperhatikan, tujuan pengembangan dan strategi yang diperlukan. Secara holistik, hasil analisis strategi pengembangan agrowisata dengan menggunakan AHP disajikan pada Gambar 20. STRATEGI : Penyediaan infrastruktur Gambar 20. Hasil analisis hirarki proses untuk pengembangan agrowisata di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan Pada strategi pengembangan agrowisata di lokasi penelitian maka hal-hal yang perlu diperharikan dalam hal faktor, tujuan serta strategi yang perlu diperhatikan dalam pengembangan agrowisata adalah sebagai berikut:
58 Faktor yang perlu Diperhatikan Faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan agrowisata adalah : potensi pasar dan pertumbuhannya, potensi sumberdaya alam dan lingkungan, potensi sumber daya manusia, potensi pengembangan agroindustri mendukung utama agrowisata, dukungan kelembagaan, tingkat kompetisi dengan wisata lain, ketersediaan infrastruktur, selera konsumen dan kecenderungannya. Misra (2007) menyatakan, komponen utama yang mempengaruhi pengembangan agroindustri antara lain: kapital fisik, infrastruktur, sumberdaya manusia, penelitian dan pengembangan, ketersediaan dan perkembangan teknologi. Hasil analisis prioritas faktor yang perlu diperhatikan disajikan dalam Gambar 21. Grafik 21. Tingkat prioritas faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan agrowisata Hasil analisis menunjukkan bahwa aspek pasar merupakan faktor dominan yang perlu diperhatikan (51,1%). Kemampuan pemasaran merupakan salah satu aspek yang sangat mempengaruhi keberhasilan pengembangan agrowisata. Hal ini disebabkan oleh adanya
59 125 dua peran penting pemasaran yakni (1) memberikan informasi selera dan permintaan pasar yang harus dapat diterjemahkan menjadi produk agrowisata dan komponen penunjangnya bagi kepuasan pelanggan, dan (2) menentukan kinerja keuangan perusahaan agrowisata. Menurut Kotler and Keller (2009), pihak manajemen harus mampu mengelola keseimbangan secara baik antara pemantauan terhadap kepuasan pelanggan dengan pengamatan terhadap posisi pesaing di pasar. Faktor kedua yang perlu diperhatikan adalah kemampuan agroindustri dalam mendukung pengembangan agrowisata (13,1%), selain faktor ketersediaan dan keberlanjutan pengembangan potensi sumberdaya alam dan lingkungan (12,3 %). Misra (2007) menyatakan kemampuan dalam melakukan diferensiasi produk sangat mendukung pengembangan agroindustri. Diferensiasi meliputi sejumlah variabel atau karakteristik yaitu cita rasa, bentuk, kemasan, keamanan, dan sebagainya. Oleh karena itu maka keberhasilan pengembangan agroindustri akan sangat berpengaruh terhadap upaya mengembangkan agrowisata. Faktor berikutnya yang perlu diperhatikan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (11,8%) dan kelembagaan penunjang (11,8%) untuk pengembangan agrowisata. Peranan sumberdaya manusia sangat penting dan menempati posisi kunci dalam melakukan perbaikan dan pembenahan struktur, kinerja dan strategi organisasi untuk merespon permintaan pelanggan yang cenderung berubah dengan cepat. Santoso (2006) menyatakan, peran sumberdaya manusia sangat vital dalam pengembangan usaha karena terkait dengan kemampuan inovasi. Hal yang sama juga terjadi pada peranan kelembagaan penunjang seperti biro perjalanan, media promosi, lembaga keuangan, dan sebagainya. 2. Tujuan Pengembangan Agrowisata Tujuan pengembangan agrowisata yaitu : mengembangkan potensi agrowisata secara profesional, meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan jumlah wisatawan, dan
60 126 meningkatkan pendapatan daerah. Tingkat Prioritas tujuan pengembangan agrowisata disajikan dalam Gambar 22. Grafik 22. Bobot prioritas tujuan yang ingin dicapai Hasil analisis menunjukkan bahwa tujuan mengembangkan potensi wisata sebagai aset daerah dan masyarakat setempat memperoleh prioritas utama ( 44,56%) yang perlu dicapai. Tujuan ini memberikan implikasi bahwa jika potensi wisata dapat digali dan dikembangkan dengan baik, maka akan memberikan manfaat yang cukup besar bagi pengembangan kawasan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Susilowati et al, (2007) menyatakan, pengembangan sektor pertanian dan agroindustri secara terpadu akan meningkatkan produktivitas pertanian, meningkatkan pendapatan masyarakat dan berperan dalam menurunkan tingkat kemiskinan. Kuswidiati (2008) menyatakan, pengembangan komoditi pertanian dan agroindustri dalam kerangka pengembangan agrowisata mempercepat penumbuhan sektor usaha baru di perdesaan. Yoeti (2006) menyatakan pariwisata bukanlah industri yang berdiri sendiri, tetapi terdiri dari serangkaian perusahaan yang menghasilkan jasa atau produk yang berbeda. Perbedaan itu tidak hanya
61 127 dalam jasa yang dihasilkan, tetapi juga dalam besarnya perusahaan, lokasi tempat kedudukan, letak geografis, fungsi, bentuk organisasi yang mengelola dan metode atau cara pemasarannya. Tujuan kedua yang memperoleh prioritas adalah meningkatkan jumlah wisatawan (24,03%). Pengembangan agrowisata harus dapat mendorong jumlah wisatawan yang berkunjung sehingga berdampak positif bagi kinerja keuangan agrowisata sekaligus dapat memberikan multiplier effect yang lebih besar. Tujuan ketiga adalah meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat (18,59%). Salah satu tujuan dari pengembangan agrowisata adalah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar berupa penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan tambahan, peningkatan nilai tambah komoditas primer, dan sebagainya. Yoeti (2008) menyatakan, pengembangan agrowisata memberikan manfaat ekonomi yang tinggi tidak saja bagi pelaku langsung, tetapi juga masyarakat sekitar. Tujuan berikutnya adalah meningkatkan pendapatan daerah (13,0%). Hal ini juga penting karena terkait dengan kebijakan dan dukungan pemerintah daerah bagi pengembangan agrowisata melalui penyediaan infrastruktur yang memadai, keberpihakan dalam alokasi anggaran untuk pengembangan agrowisata, promosi daerah dan sebagainya. Misra (2007) pembangunan agrondustri dalam upaya mendorong berkembangnya agrowisata akan berimplikasi terhadap pertumbuhan ekonomi secara agregat dan selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Wilkilson and Rocha (2009) menyatakan bahwa agroindustri mendukung pengembangan agrowisata dalam peningkatan nilai tambah komoditi pertanian dan penyerapan tenaga kerja; yang diindikasikan oleh makin turunnya pengangguran terbuka ataupun pengangguran terselubung. Susilawati (2007) menyatakan, kebijakan pengembangan agroindustri dalam konteks pembangunan wilayah yang terintegrasi akan lebih tinggi manfaatnya dibandingkan hanya semata-mata
62 128 agroindustri pangan. Dengan demikian, pengembangan agrowisata memberikan manfaat yang signifikan bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. 3. Strategi Yang Diperlukan Strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan agrowisata adalah meningkatkan jumlah dan kualitas infrastruktur penunjang, peningkatan jumlah dan kualitas layanan obyek wisata, peningkatan hubungan dengan pihak mitra terkait, peningkatan kerjasama dan promosi wisata, peningkatan daya saing, peningkatan sumberdaya manusia pengelola, peningkatan komitmen dan orientasi bisnis pengelola. Hasil analisis prioritas alternatif strategi pengembangan agrowisata disajikan dalam Gambar 23. Gambar 23. Tingkat prioritas alternatif strategi pengembangan agrowisata Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi menggalakkan promosi (19,3%) memperoleh prioritas tertinggi dalam pengembangan agrowisata. Hal ini karena dengan promosi yang memadai melalui media yang efektif akan dapat meningkatkan jumlah wisatawan dan selanjutnya akan dapat meningkatkan kinerja perusahaan agrowisata. Ismail (2004) menyatakan, promosi sangat penting perannya dalam pengembangan wisata. Selama ini, faktor promosi belum sepenuhnya dilakukan secara maksimal, sehingga hasilnya belum terlihat signifikan. Hal ini dapat dilakukan diantaranya dengan menggalakan lembaga promosi yang saling bersinergi antara daerah.
63 129 Strategi berikutnya yang memperoleh prioritas adalah peningkatan kualitas SDM (19,2%). Agrowisata sebagai usaha jasa perlu memperhatikan kemampuan SDM dalam memberikan layanan bagi konsumen. Pengembangan untuk mendukung promosi dan pengembangan kualitas SDM perlu dilakukan strategi peningkatan hubungan yang harmonis dengan stakeholder. Kotler (2009) menyatakan, peningkatan hubungan baik dengan mitra usaha dan pihak terkait lainnya adalah salah satu kunci keberhasilan pemasaran jasa. Strategi peningkatan infrastruktur (16,8%) dan kualitas obyek wisata (16,8%) akan sangat menunjang pengembangan agrowisata. Peningkatan infrastruktur menjadi salah satu strategi penting dalam menunjang pengembangan agrowisata. Hal ini karena terkait dengan kemudahan, kenyamanan dan lama waktu tempuh menuju lokasi. Demikian juga pengembangan obyek wisata yang memadai dan menyenangkan akan sangat mendukung dan meningkatkan daya tarik bagi wisatawan. Strategi lainnya yang juga tidak dapat diabaikan adalah adanya dukungan pihak pemerintah daerah (9,7%) terhadap pengembangan agrowisata sebagai salah satu andalan perekonomian daerah. Komitmen pemerintah daerah dalam bentuk keberpihakan kebijakan, fasilitasi dan dukungan dana untuk pengembangan agrowisata sangat bermanfaat. Pemerintah daerah melalui sejumlah kebijakan telah menetapkan sejumlah kawasan wisata yang perlu dikembangkan termasuk Wilayah Tutur sebagai kawasan agrowisata. 5.7 Sistem Pengembangan Agrowisata Berbasis Masyarakat Sistem pengembangan merupakan kebutuhan dasar dalam upaya meningkatkan kinerja agrowisata berbasis masyarakat. Metode Interpretative Structural Modeling (ISM) digunakan untuk menganalisis hubungan struktural dan keterkaitan elemen sistem pengembangan agrowisata. Hasil analisis sistem pengembangan agrowisata dari aspek pelaku terkait dan kebutuhan program dapat diuraikan sebagai berikut:
64 130 a) Kendala Pengembangan Agrowisata Berdasarkan hasil analisis, terdapat 10 kendala utama dalam pengembangan agrowisata. Hubungan dan keterkaitan antar kendala dalam pengembangan agrowisata dapat digambarkan dalam bentuk model struktural yang disajikan pada Gambar 24. Gambar 24 menunjukkan bahwa kendala utama dalam pengembangan agrowisata adalah minimnya kualitas SDM pengelola terkait pengembangan agrowisata. Kuswidiati (2008) pengembangan agrowisata membutuhkan dukungan kualitas sumberdaya manusia yang memadai dari seluruh pihak terkait. Pertama, SDM dari dinas terkait pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan teknis terkait dengan budidaya, aktivitas kebun, penanganan panen dan agroindustri dalam mendukung pengembangan agrowisata. Kedua, petani sebagai pelaku utama dalam pengembangan sistem pertanian terutama tanaman apel dan hortikultura yang mendukung agrowisata, sekaligus juga berperan dalam penumbuhan agroindustri dan produk sovenir. Ketiga, pelaku usaha swasta yang berperan dalam pengembangan agrowisata terutama dalam pengembangan fasilitas seperti hotel dan pengelolaan agrowisata secara keseluruhan. Minimnya kualitas SDM menjadi elemen kunci kendala pengembangan yang mengandung makna bahwa SDM menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kinerja usaha agrowisata.
65 131 Minimnya dukungan Kelembagaan Jumlah dan kualitas obyek agrowisata rendah Lemahnya Orientasi Bisnis Pengelolaan agrowisata Lemahnya kualitas SDM Gambar 24. Model struktural dari kendala utama dalam pengembangan agrowisata Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan Selain kualitas SDM, kendala lainnya yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah lemahnya orientasi bisnis pengelola juga merupakan kendala kunci dalam pengembangan agrowisata. Beberapa usaha agrowisata belum dikelola profesional karena kurang kuatnya kemampuan pengelola serta kurang kuatnya motivasi dan orientasi bisnis pengelolanya. Faktor motivasi dan orientasi bisnis pengelola akan menjadi pemacu dan penggerak roda bisnis secara lebih progresif. Lemahnya orientasi bisnis pengelola usaha agrowisata menjadi salah satu kendala dalam pengembangan agrowisata. Kuswidiati (2008) menyatakan promosi sebagai aspek penting dalam pengelolaan agrowisata belum dikelola secara baik, dan bahkan belum terlihat adanya koordinasi antara pengelola dengan pemerintah daerah dalam hal promosi.
66 132 Selain kendala minimnya kualitas SDM dan lemahnya orientasi bisnis pengelola, kendala lainnya seperti daya beli masyarakat, dukungan kelembagaan, jumlah dan kualitas fasilitas obyek wisata, dan infrstruktur perlu diperhatikan. Hal ini ditunjukkan dengan kurang dikenalnya produk lokal di kalangan masyarakat luar. Dukungan kelembagaan terutama dari instansi terkait sangat dibutuhkan sehingga perlu ada upaya khusus yang dapat meningkatkan sinergi program dalam pengembangan agrowisata. Selama ini pengembangan agrowisata masih sebatas tanggung jawab Dinas Pariwisata atau Dinas Pertanian semata. Regnier (2006) menyatakan pengembangan agrowisata membutuhkan figur wirausaha yang handal sebagai agen penggerak pembangunan di perdesaan untuk menumbuhkan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan. Selanjutnya, yang tidak kalah pentingnya adalah upaya mengatasi kendala minimnya kerjasama, minimnya minat investor dan lemahnya promosi. Menurut dampaknya adalah lemahnya daya saing usaha agrowisata dalam mendukung perekonomian daerah. Gambar 25 menunjukkan bahwa kendala minimnya kualitas SDM dan lemahnya orientasi bisnis dalam pengelolaan agrowisata berada di sektor IV yakni memiliki kemampuan mempengaruhi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ketergantungannya pada kendala sistem secara keseluruhan. Dengan demikian kendala tersebut harus diusahakan dapat diatasi sesegera mungkin, karena dapat berpengaruh terhadap upaya menyelesaikan kendala lainnya.
67 133 7 Gambar 25. Matriks dependence power driver kendala utama dalam pengembangan agrowisata Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan b). Analisis Kelembagaan dan Pelaku Terkait Berdasarkan hasil analisis terhadap pelaku yang terlibat, terdapat sebelas pelaku yang terkait dalam pengembangan agrowisata. Hubungan dan keterkaitan antar pelaku pengembangan agroindustri dapat digambarkan dalam bentuk model struktural disajikan pada Gambar 26 dan Gambar 27. Gambar 26 menunjukkan bahwa pelaku kunci dalam pengembangan agrowisata adalah pengusaha agrowisata. Peranan pengusaha agrowisata sangat dominan karena terkait dengan kejelian dalam
68 134 merumuskan peluang dan memanfaatkan peluang, kemampuan mengendalikan dan mengelola risiko usaha serta membangun jaringan pemasaran yang kuat. Menurut Santoso (2006), dalam era persaingan usaha yang makin ketat, kemampuan dan kecermatan pengusaha dalam memperhatikan dan memanfaatkan peluang menjadi faktor penting. Termasuk juga dalam kemampuan mengelola risiko dan ketidakpastian usaha yang cukup besar. Masyarakat Setempat Pengusaha wisata non agro Biro Perjalanan Dinas Perindustrian/ Perdagangan Dinas Kimpraswil Dinas Koperasi dan PM Pengusaha hotel dan restoran Dinas Pariwisata Dinas Pertanian Pengusaha Agrowisata Konsumen Gambar 26. Model struktural dari lembaga terkait dalam pengembangan agrowisata Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan Dalam melakukan aktivitas yang terkait dengan pengembangan agrowisata, peranan konsumen sangat besar. Berbagai perusahaan agrowisata berupaya untuk dapat menarik perhatian konsumen melalui berbagai upaya terkait dengan fasilitas, layanan, dan pengembangan
69 135 obyek-obyek agrowisata yang sehat. Menurut Yoeti (1997) perkembangan selera dan permintaan konsumen yang demikian cepat termasuk juga dalam bidang jasa wisata harus diperhatikan. LBG_8, LBG_9 11 LBG_1, LBG_10 Sektor IV Independent Sektor III Linkage LBG_3, LBG_4, LBG_6, LBG_7, LBG_11 DEPENDENCE Sektor I Autonomous 4 3 LBG_5 Sektor II Dependent 2 1 LBG_2 DRIVER POWER Gambar 27. Matriks dependence power driver lembaga terkait dalam pengembangan agrowisata Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan Gambar 27 menunjukkan Dinas Pertanian dan Dinas Pariwisata, termasuk dalam sektor independent yang berarti bahwa sejumlah lembaga ini mempunyai kekuatan penggerak yang besar terhadap keberhasilan pengembangan agrowisata. Dengan demikian lembaga inilah yang seyogyanya berperan penting dalam mendorong dan memfasilitasi berkembangan usaha agrowisata.
70 136 Lembaga lainnya yang juga berperan penting adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Kimpraswil dan Dinas Koperasi ditunjang oleh pengusaha penunjang seperti Biro Perjalanan dan pengusaha hotel dan restoran. Seperti terlihat pada Gambar 26, lembaga-lembaga tersebut merupakan peubah linkages dalam pengembangan agrowisata. Artinya, setiap kegiatan yang dikelola oleh lembaga tersebut harus ditelaah secara hati-hati karena akan berpengaruh besar terhadap upaya pengembangan agrowisata. Eriyatno (1999) menyatakan, peubah linkage dalam kajian menggunakan metode ISM menunjukkan bahwa elemen tersebut harus dikelola secara hati-hati karena berperan cukup penting dalam mendorong bekerjanya sistem secara keseluruhan. Sementara itu, sejalan dengan pengembangan kawasan agrowisata melalui konsep pendekatan wilayah maka konsep pendekatan pemberdayaan sumber daya manusia/masyarakat juga harus seiring dan sejalan. Pemberdayaan sumber daya manusia merupakan hal yang sangat penting, karena tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas maka pengembangan kawasan agrowisata dengan pendekatan wilayah akan kurang bisa mencapai hasil yang optimal. Pengembangan sumber daya manusia dapat terlaksana dan sesuai dengan harapan, jika setiap komponen dan fungsi organisasi baik di pusat maupun di daerah memandang upaya pengembangan sumber daya manusia bukan sebagai unsur penunjang, melainkan merupakan bagian integral dari masing-masing fungsi organisasi (integrative linkages). Sumber daya manusia pertanian menyangkut tenaga kerja pertanian terdiri dari petani, petugas serta jutaan stakeholders pembangunan pertanian dengan segenap kompleksitas permasalahan pada setiap segmen sumber daya manusia pertanian. Masalah utama sumber daya manusia pertanian yaitu tingkat pendidikan rendah, produktivitas rendah dan sebaran yang tidak merata. Oleh karena itu, diperlukan acuan yang menjadi kebijakanaan makro pengembangan sumber daya manusia pertanian baik di pusat maupun di daerah, salah satunya melalui program pemberdayaan masyarakat atau
71 137 pemberdayaan sumber daya manusia. Menurut Bryant dan White (1982) pemberdayaan adalah pemberian kesempatan untuk secara bebas memilih berbagai alternatif dan mengambil keputusan sesuai dengan tingkat kesadaran, kemampuan dan keinginan mereka serta memberi kesempatan kepada mereka belajar dari keberhasilan serta kegagalan dalam merespon terhadap perubahan sehingga mampu mengendalikan masa depannya. Sebagai pembanding Scott dan Jaffe (1994) mencirikan pemberdayaan sebagai upaya : 1) Meningkatkan kepuasan kerja. 2) Memperluas pengetahuan dan ketrampilan meningkatkan kualitas kerja. 3) Memberikan kebebasan berkreasi serta mengembangkan hal-hal baru. 4) Pengawasan dilakukan melalui keputusan bersama. 5) Pemberian tugas lengkap tidak parsial. 6) Berorientasi pada kepuasan orang yang dilayani. 7) Memenuhi kebutuhan pasar. Mengacu pada konsep-konsep tersebut, pemberdayaan masyarakat atau sumber daya manusia ke arah kemandirian dalam berusaha tani merupakan kondisi yang dapat ditumbuhkan melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan dalam bentuk perubahan perilaku, yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat untuk dapat menentukan sendiri pilihannya, dan memberikan respon yang tepat terhadap berbagai perubahan sehingga mampu mengendalikan masa depannya dan dorongan untuk lebih mandiri. Pemberdayaan ini penting karena sumber daya manusia berperan sebagai pelaku utama dalam keberhasilan pengembangan kawasan agrowisata. Secara umum strategi pengembangan SDM dalam Konsep Agrowisata Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan dititikberatkan pada usaha-usaha : 1) Meningkatkan peran serta aktif masyarakat di kawasan agrowisata mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pengendalian. Perencanaan disusun secara partisipatif dan hasilnya digunakan untuk
72 138 bahan master plan atau program pengembangan kawasan agrowisata. Dengan melibatkan masyarakat, mereka akan merasa memiliki program-program yang akan dikembangkan pada kawasan agrowisata. Peran pemerintah di sini hanya sebatas memfasilitasi apa yang sebenarnya diperlukan masyarakat. 2) Meningkatkan kemampuan masyarakat pada kawasan agrowisata dalam pengelolaan usaha pertanian yang tidak hanya terbatas pada aspek produksi (budidaya) tetapi juga pada aspek agribisnis secara keseluruhan. Peningkatan kemampuan masyarakat ini dilakukan salah satunya melalui pendidikan dan pelatihan (diklat) secara berjenjang dari pusat, propinsi, kabupaten/kota dan kawasan agrowisata. Tujuan dari diklat tersebut adalah untuk menciptakan : a) Manajer profesional skala usaha kecil dan menengah yang mempunyai wawasan global, b) Tenaga terampil di bidang teknis untuk mengoperasionalkan alat dan mesin pertanian, finansial, pembukuan, pengolahan hasil, pemasaran dan promosi dan c) Tenaga ahli hukum (corporate lawyer) sebagai konsultan dalam mengembangkan mitra antara perusahaan nasional dengan perusahaan asing. 3) Mengembangkan kelembagaan agribisnis dalam upaya meningkatkan posisi tawar pelaku agribisnis, menunjang pengembangan dan keberlanjutan usaha, dan meningkatkan daya saing produk dalam kaitanya dalam pengembangan kawasan agrowisata. Kelembagaan yang perlu ditingkatkan keberadaannya diantaranya kelembagaan petani seperti kelompok tani, kelembagaan kemitraan antara petani dengan pengusaha penyedia sarana produksi, pemasaran dan pengolahan, kelembagaan pendanaan perdesaaan seperti lembaga keuangan perdesaan seperti bank, lembaga perkreditan desa, dan bahkan kemitraan dengan lembaga pemodalan yang lebih besar. 4) Meningkatkan kemampuan analisis pasar dan pemasaran sumberdaya manusia di kawasan agrowisata dengan mengembangkan sarana dan prasarana pemasaran terutama :
73 139 Penataan struktur pasar dalam negeri untuk meningkatkan efisiensi pasar, menjamin perdagangan yang transparan dan distribusi nilai tambah yang lebih proporsional. Prasarana angkutan dan jalan perdesaan untuk menjamin akses produk pertanian ke pusat konsumen dan perdagangan. Fasilitas pergudangan (storage) yang memadai terutama bagi komoditas yang mudah rusak seperti produk hortikultura dan peternakan. Dalam aplikasinya arahan rencana pengembangan SDM pertanian hortikultura andalan Kawasan Agrowisata Kecamatan Tutur dapat dijelaskan sebagai berikut : Peningkatan pengetahuan para petani mengenai pemilihan bibit unggul, proses produksi (ramah lingkungan), serta pemasaran hasil pertanian hortikultura. Pengenalan varietas unggul dari produk hortikultura (buah dan sayur). Peningkatan wawasan agribisnis berupa pengenalan metode pengolahan lanjutan dari produk hortikultur unggulan (apel, kentang, tomat, paprika, dan kubis) sehingga memiliki daya jual yang tinggi sekaligus merangsang tumbuhnya agro-industri berbasis hortikultur. Pengembangan teknologi tepat guna (TTG) yang sesuai dengan ciri teknologi yang berwawasan lingkungan. c) Aktivitas yang Diperlukan Berdasarkan hasil analisis, terdapat 12 aktivitas utama yang dibutuhkan dalam pengembangan agrowisata. Hubungan dan keterkaitan antar aktivitas yang dibutuhkan dalam pengembangan agrowisata dapat digambarkan dalam bentuk model struktural disajikan pada Gambar 28 dan Gambar 29.
74 140 Peningkatan Gambar 28. Model struktural dari aktivitas yang dibutuhkan dalam pengembangan agrowisata Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan Gambar 28 menunjukkan bahwa aktivitas kunci yang dibutuhkan dalam pengembangan agrowisata adalah pengembangan SDM dan peningkatan kebijakan yang mendukung iklim usaha yang kondusif. Peningkatan kualitas SDM menjadi syarat mutlak dalam upaya pengembangan agrowisata. Hal ini disebabkan SDM merupakan modal utama untuk melakukan berbagai kebijakan lain terkait dengan pengembangan agrowisata. Selain aktivitas pengembangan SDM, yang juga perlu dilakukan adalah adanya kebijakan pemerintah dalam mendorong dan membangun suatu iklim usaha yang kondusif bagi pengembangan agrowisata. Pemerintah Daerah sebagai fasilitator dapat berkontribusi positif dalam hal berbagai kebijakan iklim usaha, penyediaan infrastruktur, promosi daerah wisata, dan sebagainya.
75 141 7 Gambar 29. Matriks dependence power driver aktivitas yang dibutuhkan dalam pengembangan agrowisata Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan Gambar 29 menunjukkan bahwa aktivitas pengembangan teknologi budidaya, pengembangan teknologi pengolahan, peningkatan jumlah dan kualitas obyek wisata dan peningkatan kualitas produk primer maupun olahan sebagai salah satu andalan kawasan agrowisata sebagai elemen yang bersifat linkage. Aktivitas aktivitas sehingga perlu diperhatikan secara seksama karena akan berpengaruh terhadap kinerja sistem pengembangan agrowisata secara keseluruhan. Pengembangan dan penerapan teknologi budidaya sangat dibutuhkan dalam mendukung tersedianya bahan baku dari aspek harga, kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Santoso (2006) menyatakan, untuk
76 142 mengembangkan suatu produk agroindustri yang berkelanjutan dibutuhkan dukungan produksi bahan baku yang juga berkualitas. Salah satu faktor penting dalam produksi bahan baku adalah tersedianya teknologi budidaya yang efektif dan efisien dalam mendukung pengelolaan produksi. Pengembangan dan penerapan teknologi pengolahan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan produksi sangat diperlukan untuk mendukung pencapaian mutu dan keamanan produk. Teknologi pengemasan sebagai bagian dari teknologi proses produksi akan sangat berpengaruh terhadap penampilan produk, keamanan dan daya simpannya. Peningkatan jenis dan kualitas obyek wisata sangat penting dalam mengembangan agrowisata. Menurut Puslitbangtan (2002) selain memberikan nilai kenyamanan, keindahan ataupun pengetahuan, atraksi yang disajikan dalam agrowisata juga dapat mendatangkan pendapatan bagi petani serta masyarakat di sekitarnya. Wisatawan yang berkunjung akan menjadi konsumen produk pertanian yang dihasilkan, sehingga pemasaran hasil menjadi lebih efisien. Selain itu, dengan adanya kesadaran petani akan arti petingnya kelestarian sumber daya, maka kelanggengan produksi menjadi lebih terjaga yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani. Bagi masyarakat sekitar, dengan banyaknya kunjungan wisatawan, mereka dapat memperoleh kesempatan berusaha dengan menyediakan jasa dan menjual produk yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Atraksi wisata pertanian juga dapat menarik pihak lain untuk belajar atau magang dalam pelaksanaan kegiatan budi daya ataupun atraksiatraksi lainnya, sehingga dapat menambah pendapatan petani, sekaligus sebagai wahana alih teknologi kepada pihak lain. Peningkatan efektifitas program dapat dilakukan dengan pengembangan promosi dan kerjasama yang mendukung pengembangan agrowisata. Sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan sumber daya alam berlimpah, pengembangan industri agrowisata akan memberikan dampak positif dan memegang peranan penting dalam pembangunan Indonesia di masa depan. Hal ini karena pengembangan industri ini memberikan
77 143 manfaat sangat luas dan signifikan dalam pengembangan ekonomi daerah dan upaya-upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Melalui perencanaan dan pengembangan yang tepat, agrowisata dapat menjadi salah satu sektor penting dalam ekonomi daerah. Namun demikian, pengembangan industri pariwisata khususnya agrowisata memerlukan kreativitas dan inovasi usaha secara terus menerus, melakukan kerjasama dan koordinasi serta promosi dan pemasaran dengan berbagai pihak yang terkait. Pengembangan agrowisata berbasis kawasan berarti juga adanya keterlibatan unsur-unsur wilayah dan masyarakat secara intensif.
4. GAMBARAN UMUM WILAYAH
55 4. GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Fisik Dasar Letak Geografis. Secara geografis Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan berada di ketinggian sekitar 700-1200 meter di atas permukaan laut, luas total
6. MODEL PENGEMBANGAN DAN RANCANGAN IMPLEMENTASI
6. MODEL PENGEMBANGAN DAN RANCANGAN IMPLEMENTASI 6.1 Model Pengembangan Agrowisata Mempertimbangkan berbagai hasil yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu, maka model pengembangan agrowisata berbasis
I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan
I. PENDAHULUAN. pelestarian keseimbangan lingkungan. Namun pada masa yang akan datang,
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sub sektor pertanian tanaman pangan, merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian dan telah terbukti memberikan peranan penting bagi pembangunan nasional,
RANCANGAN: PENDEKATAN SINERGI PERENCANAAN BERBASIS PRIORITAS PEMBANGUNAN PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017
RANCANGAN: PENDEKATAN SINERGI PERENCANAAN BERBASIS PRIORITAS PEMBANGUNAN PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017 PRIORITAS PEMBANGUNAN 2017 Meningkatkan kualitas infrastruktur untuk mendukung pengembangan wilayah
I. PENDAHULUAN. Program pembangunan nasional yang dilaksanakan pada berbagai sektor
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program pembangunan nasional yang dilaksanakan pada berbagai sektor selama ini telah menunjukkan keberhasilan. Salah satu keberhasilan pembangunan yang dapat dirasakan
AGRIBISNIS. Sessi 3 MK PIP. Prof. Rudi Febriamansyah
AGRIBISNIS Sessi 3 MK PIP Prof. Rudi Febriamansyah AGRIBISNIS Agribisnis dalam arti sempit (tradisional) hanya merujuk pada produsen dan pembuat bahan masukan untuk produksi pertanian Agribisnis dalam
PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PERMEN/M/2006 TENTANG
PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KAWASAN INDUSTRI MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT,
5Kebijakan Terpadu. Perkembangan perekonomian Indonesia secara sektoral menunjukkan. Pengembangan Agribisnis. Pengertian Agribisnis
5Kebijakan Terpadu Pengembangan Agribisnis Perkembangan perekonomian Indonesia secara sektoral menunjukkan kondisi yang makin seimbang. Persentase sumbangan sektor pertanian yang pada awal Pelita I sangat
PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar
PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Sains dan Teknologi ABSTRAK Penelitian
PENDAHULUAN. memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
PENDAHULUAN Latar Belakang Sejarah menunjukkan bahwa sektor pertanian di Indonesia telah memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Beberapa peran penting sektor pertanian antara
I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
1 I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Sektor pariwisata merupakan salah satu sumber penghasil devisa potensial selain sektor migas. Indonesia sebagai suatu negara kepulauan memiliki potensi alam dan budaya
I. PENDAHULUAN. tinggi secara langsung dalam pemasaran barang dan jasa, baik di pasar domestik
I. PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan daerah dalam era globalisasi saat ini memiliki konsekuensi seluruh daerah di wilayah nasional menghadapi tingkat persaingan yang semakin tinggi secara langsung
BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN. roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan,
BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN 10.1. Program Transisii P roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan, berlangsung secara terus menerus. RPJMD Kabupaten Kotabaru
RINGKASAN EKSEKUTIF HENNY NURLIANI SETIADI DJOHAR IDQAN FAHMI
RINGKASAN EKSEKUTIF HENNY NURLIANI, 2005. Strategi Pengembangan Agribisnis dalam Pembangunan Daerah Kota Bogor. Di bawah bimbingan SETIADI DJOHAR dan IDQAN FAHMI. Sektor pertanian bukan merupakan sektor
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian dan sektor basis baik tingkat Provinsi Sulawsi Selatan maupun Kabupaten Bulukumba. Kontribusi sektor
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wirausaha memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi suatu negara, salah satu contohnya adalah negara adidaya Amerika. Penyumbang terbesar perekonomian Amerika
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah
Bab V POTENSI, MASALAH, DAN PROSPEK PENGEMBANGAN WILAYAH. 5.1 Potensi dan Kendala Wilayah Perencanaan
Bab V POTENSI, MASALAH, DAN PROSPEK PENGEMBANGAN WILAYAH 5.1 Potensi dan Kendala Wilayah Perencanaan Dalam memahami karakter sebuah wilayah, pemahaman akan potensi dan masalah yang ada merupakan hal yang
BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan regional memiliki peran utama dalam menangani secara langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional. Peranan perencanaan
3.1 Penilaian Terhadap Sistem Perekonomian / Agribisnis
3.1 Penilaian Terhadap Sistem Perekonomian / Agribisnis 3.1.1 Kelembagaan Agro Ekonomi Kelembagaan agro ekonomi yang dimaksud adalah lembaga-lembaga yang berfungsi sebagai penunjang berlangsungnya kegiatan
4.2 Strategi dan Kebijakan Pembangunan Daerah
4.2 Strategi dan Kebijakan Pembangunan Daerah Mencermati isu-isu strategis diatas maka strategi dan kebijakan pembangunan Tahun 2014 per masing-masing isu strategis adalah sebagaimana tersebut pada Tabel
BUPATI PASURUAN PERATURAN BUPATI PASURUAN NOMOR 32 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT KABUPATEN PASURUAN
BUPATI PASURUAN PERATURAN BUPATI PASURUAN NOMOR 32 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang : a. bahwa sehubungan
BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI PASURUAN NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG
BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI PASURUAN NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PEKERJAAN UMUM SUMBER DAYA AIR DAN TATA
I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor agribisnis merupakan sektor ekonomi terbesar dan terpenting dalam perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah kemampuannya dalam menyerap
ARAH KEBIJAKAN PERSUSUAN
ARAH KEBIJAKAN PERSUSUAN Agar pangsa pasar susu yang dihasilkan peternak domestik dapat ditingkatkan maka masalah-masalah di atas perlu ditanggulangi dengan baik. Revolusi putih harus dilaksanakan sejak
BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR : 14 TAHUN 2012 TENTANG AGRIBISNIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO,
SALINAN BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR : 14 TAHUN 2012 TENTANG AGRIBISNIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang : a. bahwa agribisnis memberikan kontribusi
agrowisata ini juga terdapat pada penelitian Ernaldi (2010), Zunia (2012), Machrodji (2004), dan Masang (2006). Masang (2006) yang dikutip dari
II TINJAUAN PUSTAKA Pariwisata didefinisikan sebagai kegiatan rekreasi di luar domisili untuk melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau mencari suasana lain. Sebagai suatu aktivitas manusia, pariwisata
BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN PERANGKAT DAERAH
BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang
I. PENDAHULUAN. rangka teoritis untuk menjelaskan kepuasan pelanggan. pelanggan memang berkaitan dengan penilaian kualitas jasa yang dirasakan oleh
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada dasarnya tujuan sebuah bisnis adalah menciptakan para pelanggan yang puas. Sejalan dengan itu berbagai upaya telah dilakukan untuk menyusun rangka teoritis untuk
VI. RANCANGAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PENGEMBANGAN PETERNAKAN
VI. RANCANGAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PENGEMBANGAN PETERNAKAN Paradigma pembangunan saat ini lebih mengedepankan proses partisipatif dan terdesentralisasi, oleh karena itu dalam menyusun
I. PENDAHULUAN. Sumber: Badan Pusat Statistik (2009)
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang memiliki peranan penting bagi perekonomian Negara Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia menggantungkan kehidupan mereka pada sektor
No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah)
E. PAGU ANGGARAN BERDASARKAN PROGRAM No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah) Sub Bidang Sumber Daya Air 1. Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau, dan
PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN
PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2011-2031 I. UMUM 1. Faktor yang melatarbelakangi disusunnya Rencana Tata Ruang
BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN Visi dan Misi Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Tasikmalaya
BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1. Visi dan Misi Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Tasikmalaya A. Visi Perumusan visi dan misi jangka menengah Dinas Pertanian,
Arahan Pengembangan Kawasan Sumbing Kabupaten Magelang sebagai Agropolitan
C12 Arahan Pengembangan Kawasan Sumbing Kabupaten Magelang sebagai Agropolitan Ellen Deviana Arisadi dan Ema Umilia Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut
BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN
BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1 Visi dan Misi Dinas Pertanian Daerah Kabupaten Nganjuk Visi merupakan pandangan jauh ke depan, ke mana dan bagaimana Pembangunan Pertanian
I PENDAHULUAN. Tabel 1. Statistik Kunjungan Wisatawan ke Indonesia Tahun Tahun
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi. Hal ini berdasarkan pada pengakuan berbagai organisasi
Pusat Wisata Kopi Sidikalang BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas penting yang diperdagangkan secara luas di dunia. Bagi bangsa Indonesia, kopi merupakan salah satu komoditi perdagangan yang memiliki
MENDORONG KEDAULATAN PANGAN MELALUI PEMANFAATAN SUMBERDAYA UNGGUL LOKAL. OLEH : GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Dr.
MENDORONG KEDAULATAN PANGAN MELALUI PEMANFAATAN SUMBERDAYA UNGGUL LOKAL OLEH : GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Dr. ERZALDI ROSMAN V I S I 2017-2022 MISI PROVINSI TERKAIT PERTANIAN MISI 1 : MENGEMBANGKAN
Konsep, Sistem, dan Mata Rantai Agribisnis
Konsep, Sistem, dan Mata Rantai Agribisnis Contents 1. Pertanian berwawasan agribisnis 2. Konsep Agribisnis 3. Unsur Sistem 4. Mata Rantai Agribisnis 5. Contoh Agribisnis Pertanian Moderen berwawasan Agribisnis
VIII. REKOMENDASI KEBIJAKAN
VIII. REKOMENDASI KEBIJAKAN 8.1. Rekomendasi Kebijakan Umum Rekomendasi kebijakan dalam rangka memperkuat pembangunan perdesaan di Kabupaten Bogor adalah: 1. Pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat, adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor Pertanian memegang peranan penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang berperan dalam pembentukan
POLA PENGEMBANGAN KOMODITI JAGUNG HIBRIDA. di KAB. SUMBA TIMUR
POLA PENGEMBANGAN KOMODITI JAGUNG HIBRIDA di KAB. SUMBA TIMUR Perekonomian Provinsi NTT secara sektoral, masih didominasi oleh aktivitas sektor pertanian. Apabila dilihat secara lebih khusus lagi, penggerak
I. PENDAHULUAN. penghidupan bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Secara umum, pengertian
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sangat luas dan sebagian besar masyarakatnya bergerak dalam bidang pertanian. Sektor pertanian tidak saja sebagai penyedia kebutuhan
Tahap II. Penilaian/ pembobotan Kriteria Penilaian Daya Dukung Lingkungan dalam Rangka Pengembangan Kawasan Wisata Alam
Tahap II. Penilaian/ pembobotan Kriteria Penilaian Daya Dukung Lingkungan dalam Rangka Pengembangan Kawasan Wisata Alam Untuk penentuan prioritas kriteria dilakukan dengan memberikan penilaian atau bobot
Tahun Bawang
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Komoditas hortikultura merupakan komoditas yang sangat prospektif untuk dikembangkan melalui usaha agribisnis, mengingat potensi serapan pasar di dalam negeri dan pasar
3 KERANGKA PEMIKIRAN
12 ketersediaan dan kesesuaian lahan untuk komoditas basis tanaman pangan. Tahap ketiga adalah penentuan prioritas komoditas unggulan tanaman pangan oleh para stakeholder dengan metode Analytical Hierarchy
RUMUSAN RAPAT KOORDINASI PANGAN TERPADU SE KALTIM TAHUN 2015
RUMUSAN RAPAT KOORDINASI PANGAN TERPADU SE KALTIM TAHUN 2015 Pada Kamis dan Jumat, Tanggal Lima dan Enam Bulan Maret Tahun Dua Ribu Lima Belas bertempat di Samarinda, telah diselenggarakan Rapat Koordinasi
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1. Visi dan Misi Penetapan visi sebagai bagian dari perencanaan strategi, merupakan satu langkah penting dalam perjalanan suatu organisasi karena
ANALISIS PERUMUSAN ARAHAN PENGEMBANGAN
ANALISIS PERUMUSAN ARAHAN PENGEMBANGAN Variabel bahan baku Variabel lsdm/tenaga kerja Variabel ketersediaan Infrastruktur Pendukung Variabel kelembagaan Analisis Triangulasi ARAHAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI
Analisis Kebijakan Pembiayaan Sektor Pertanian
LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2007 Analisis Kebijakan Pembiayaan Sektor Pertanian Oleh : Sahat M. Pasaribu Bambang Sayaza Jefferson Situmorang Wahyuning K. Sejati Adi Setyanto Juni Hestina PUSAT ANALISIS
IKHTISAR EKSEKUTIF. Hasil Rekapitulasi Pencapain kinerja sasaran pada Tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut :
IKHTISAR EKSEKUTIF Sistem AKIP/LAKIP Kabupaten Sukabumi adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja Pemerintah Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban yang baik, transparan
KOMPONEN AGRIBISNIS. Rikky Herdiyansyah SP., MSc
KOMPONEN AGRIBISNIS Rikky Herdiyansyah SP., MSc KOMPONEN AGRIBISNIS Tujuan Instruksional Umum: Mahasiswa mengetahui tentang komponen agribisnis Tujuan Instruksional Khusus: Setelah menyelesaikan pembahasan
Mendukung terciptanya kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Meningkatnya jumlah minat investor untuk melakukan investasi di Indonesia
E. PAGU ANGGARAN BERDASARKAN PROGRAM No. Program Sasaran Program Pengembangan Kelembagaan Ekonomi dan Iklim Usaha Kondusif 1. Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi Mendukung terciptanya kesempatan
PROPOSAL POTENSI, Tim Peneliti:
PROPOSAL PENELITIAN TA. 2015 POTENSI, KENDALA DAN PELUANG PENINGKATAN PRODUKSI PADI PADA LAHAN BUKAN SAWAH Tim Peneliti: Bambang Irawan PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN
PEMERINTAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TEMA RKPD PROV KALTIM 2018 PENGUATAN EKONOMI MASYRAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN YANG ADIL DAN MERATA
PEMERINTAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TEMA RKPD PROV KALTIM 2018 PENGUATAN EKONOMI MASYRAKAT MENUJU KESEJAHTERAAN YANG ADIL DAN MERATA Strategi dan Program Prioritas Penguatan Ekonomi Masyarakat Kabupaten Mahulu
PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN JOMBANG
I. UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN JOMBANG Sesuai dengan amanat Pasal 20 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Krisis ekonomi yang melanda lndonesia sejak pertengahan bulan. Sektor pertanian di lndonesia dalam masa krisis ekonomi tumbuh positif,
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda lndonesia sejak pertengahan bulan Juli 1997 mempunyai dampak yang besar terhadap perekonomian negara. Sektor pertanian di lndonesia dalam
PENDAHULUAN. Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan
REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005
BOKS REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005 I. PENDAHULUAN Dinamika daerah yang semakin kompleks tercermin dari adanya perubahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia dikenal sebagai negara yang penuh dengan keberagaman budaya dan pariwisata. Negara yang memiliki banyak kekayaan alam dengan segala potensi didalamnya, baik
MATRIKS RANCANGAN PRIORITAS RKPD PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017
MATRIKS RANCANGAN PRIORITAS RKPD PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017 Prioritas Misi Prioritas Meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan wilayah 2 1 jalan dan jembatan Kondisi jalan provinsi mantap
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: Upaya Peningkatan Produksi Komoditas Pertanian Strategis
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: Upaya Peningkatan Produksi Komoditas Pertanian Strategis 1 Pendahuluan (1) Permintaan terhadap berbagai komoditas pangan akan terus meningkat: Inovasi teknologi dan penerapan
BAB III ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Identifikasi Permasalahan berdasarkan tugas dan Fungsi
BAB III ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. Identifikasi Permasalahan berdasarkan tugas dan Fungsi Identifikasi permasalahan berdasarkan tugas dan Fungsi pelayanan SKPD Badan Pelaksana
BAB I PENDAHULUAN. tambah (value added) dari proses pengolahan tersebut. Suryana (2005: 6)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian dewasa ini tidak lagi bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana sebuah komoditi mampu diolah sehingga diperoleh nilai tambah (value added)
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin
2.1 Tujuan Penataan Ruang Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arahan perwujudan ruang wilayah kabupaten yang ingin dicapai pada masa yang akan datang (20 tahun). Dengan mempertimbangkan visi
Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Pasuruan Tahun 2013 sebanyak rumah tangga
Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Pasuruan Tahun 2013 sebanyak 183.031 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Kabupaten Pasuruan Tahun 2013 sebanyak 26 Perusahaan Jumlah
V. PENDEKATAN SISTEM 5.1. Analisis Kebutuhan Pengguna 1.) Petani
V. PENDEKATAN SISTEM Sistem merupakan kumpulan gugus atau elemen yang saling berinteraksi dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan atau serangkaian tujuan. Pendekatan sistem merupakan metode pemecahan
BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS
BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu, perhatian kepada mandat
Tabel 14 Kebutuhan aktor dalam agroindustri biodiesel
54 ANALISIS SISTEM Sistem pengembangan agroindustri biodiesel berbasis kelapa seperti halnya agroindustri lainnya memiliki hubungan antar elemen yang relatif kompleks dan saling ketergantungan dalam pengelolaannya.
I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu basis ekonomi kerakyatan di Indonesia.
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu basis ekonomi kerakyatan di Indonesia. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang selama ini masih diandalkan karena sektor pertanian
LAMPIRAN III PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TANGGAL.. INDIKASI PROGRAM UTAMA LIMA TAHUNAN (KONSEPSI) ARAHAN PEMANFAATAN RUANG KAPET SERAM
LAMPIRAN III PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TANGGAL.. LIMA TAHUNAN (KONSEPSI) ARAHAN PEMANFAATAN RUANG KAPET SERAM - 1 - LIMA TAHUNAN (KONSEPSI) ARAHAN PEMANFAATAN RUANG KAPET SERAM
Pengarahan KISI-KISI PROGRAM PEMBANGUNAN KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2014
Pengarahan KISI-KISI PROGRAM PEMBANGUNAN KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2014 PEMERINTAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2013 ISU STRATEGIS, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2014 A. Isu Strategis
I. PENDAHULUAN. dalam pembangunan ekonomi nasional di Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor yang memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi nasional di Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia sebagai negara agraris
BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN
BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN 2.1 Tujuan Penataan Ruang Dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, khususnya Pasal 3,
PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENGEMBANGAN WILAYAH JAWA BARAT BAGIAN SELATAN TAHUN
PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENGEMBANGAN WILAYAH JAWA BARAT BAGIAN SELATAN TAHUN 2010-2029 I. UMUM Jawa Barat bagian Selatan telah sejak lama dianggap
BAB I P E N D A H U L U A N. 1. Latar Belakang
BAB I P E N D A H U L U A N 1. Latar Belakang Sesuai amanat Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional, dan undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, setiap
BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan, pencemaran, dan pemulihan kualitas lingkungan. Hal tersebut telah menuntut dikembangkannya berbagai
VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar 6.2. Konsep Pengembangan Fungsi Pendidikan
116 VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar Konsep dasar perencanaan adalah mengembangkan laboratorium lapang PPDF sebagai tempat praktikum santri sesuai dengan mata pelajaran yang diberikan dan juga dikembangkan
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber matapencaharian dari mayoritas penduduknya, sehingga sebagian besar penduduknya menggantungkan
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, kami yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Ir. Bambang
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pariwisata dan Potensi Obyek Wisata
9 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pariwisata dan Potensi Obyek Wisata Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang kepariwisataan, pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang beriklim tropis dan relatif subur. Atas alasan demikian Indonesia memiliki kekayaan flora yang melimpah juga beraneka ragam.
Hermanto (1993 ; 4), menyebutkan bahwa pembangunan pertanian termasuk didalamnya tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan,
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembagunan pertanian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional, yang memiliki warna sentral karena berperan dalam meletakkan dasar yang kokoh
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN 3.1 Telaahan Terhadap Kebijakan Nasional Berdasarkan Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2010 2014 (Edisi Revisi Tahun 2011), Kementerian Pertanian mencanangkan
agribisnis untuk mencapai kesejahteraan wilayah pedesaan (prospherity oriented) (Bappeda Kabupaten Lampung Barat, 2002). Lebih lanjut Bappeda
16 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era otonomi daerah, pembangunan ekonomi menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam daerah maupun faktor eksternal, seperti masalah kesenjangan dan isu
I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara agraris memiliki hasil pertanian yang sangat berlimpah. Pertanian merupakan sektor ekonomi yang memiliki posisi penting di Indonesia. Data Product
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pariwisata merupakan industri yang sifatnya sudah berkembang dan sudah mendunia. Indonesia sendiri merupakan negara dengan potensi pariwisata yang sangat tinggi. Pemerintah
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara agraris terbesar di dunia. Sebagian besar penduduk Indonesia hidup dari sektor agribisnis. Agribisnis merupakan suatu sistem yang
I. PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembangunan pertanian di Indonesia adalah
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan pertanian di Indonesia adalah pengembangan hortikultura untuk meningkatkan pendapatan petani kecil. Petani kecil yang dimaksud dalam pengembangan
METODOLOGI. Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur 37
Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur 37 Penyusunan Master Plan Kawasan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Timur meliputi beberapa tahapan kegiatan utama, yaitu : 1) Pengumpulan, Pengolahan dan Analisis
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memerlukan pertumbuhan ekonomi yang kokoh dan pesat. Pertanian
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian sebagai penunjang utama kehidupan masyarakat Indonesia memerlukan pertumbuhan ekonomi yang kokoh dan pesat. Pertanian untuk pembangunan (agriculture
V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN
V BAB V PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN Visi dan misi merupakan gambaran apa yang ingin dicapai Kota Surabaya pada akhir periode kepemimpinan walikota dan wakil walikota terpilih, yaitu: V.1
TUJUAN 1. TERWUJUDNYA KOTA BOGOR SEBAGAI KOTA YANG CERDAS, BERDAYA SAING DAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI MELALUI SMART GOVERMENT DAN SMART PEOPLE
C. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PENCAPAIAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2015-2019 MISI 1. MEWUJUDKAN BOGOR KOTA YANG CERDAS DAN BERWAWASAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI TUJUAN 1. TERWUJUDNYA KOTA
Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi. Jambi, 31 Mei 2016
Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi Jambi, 31 Mei 2016 SUMBER PERTUMBUHAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA 1. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Jambi pada Februari 2015 sebesar 4,66
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun
