V. HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Sucianty Tanudjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 99 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kondisi eksisting perairan Teluk Youtefa Evaluasi terhadap kondisi eksisting di perairan laut Teluk Youtefa dilakukan dengan cara membandingkan hasil analisis parameter fisik dan kimia air dari sampel air laut yang diambil dengan kriteria mutu kualitas air yang berlaku yaitu mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 004 tentang baku mutu air laut, maka berdasarkan keputusan tersebut dalam penelitian ini sebagai pembanding digunakan kriteria mutu air untuk biota laut. Nilai yang dipergunakan merupakan hasil tabulasi dari nilai rata-rata pada kondisi pasang dan surut. Baku mutu acuan yang digunakan mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 004 tentang baku mutu air laut untuk biota laut. Data lengkap nilai rata-rata kualitas air perairan Teluk Youtefa pada saat pasang (P) dan surut (S) dapat dilihat pada gambar 6 33 dan lampiran Suhu air Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh penutupan awan, suhu udara, sirkulasi udara, dan kedalaman air. Suhu air memiliki efek langsung dan tidak langsung dihampir semua aspek ekologi perairan serta mempunyai kaitan erat dengan kualitas perairan. Peningkatan suhu menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (Haslam, 1995 diacu dalam Effendy, 003). Suhu perairan yang tinggi akan meningkatkan kelarutan senyawa senyawa kimia dan mempengaruhi dampak polutan pada kehidupan akuatik. Suhu perairan juga dapat berpengaruh terhadap kecepatan reaksi reaksi kimia yang berlangsung dalam air, tutupan vegetasi dan kekeruhan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai suhu perairan Teluk Youtefa pada saat pasang berkisar antara 5,4 8 0 C. Nilai suhu tertinggi ditemukan di stasiun 5 dan 6, nilai terendah di stasiun 3. Pada saat surut nilai suhu hampir sama disemua lokasi sampling yaitu 3 0 C (gambar 6). Hal tersebut terjadi diduga pada saat sampling kondisi cuaca sangat cerah antara pukul Nilai rata-rata suhu pada saat pasang dan surut berkisar antara 8,5 0 C C, dengan nilai rata-rata keseluruhan 6,18 0 C (lampiran 1). Hasil pengukuran suhu ini sesuai dengan hasil
2 100 penelitian kerjasama antara Universitas Negeri Papua dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua (006) bahwa rentang suhu perairan Teluk Youtefa 9 0 C 3, 8 0 C atau rata-rata 31,1 0 C dengan 10 titik pengamatan Hal ini sesuai dengan pendapat Romimohtarto dan Juwana (011) yang menyatakan bahwa suhu air laut bisa mencapai suhu 33 0 C. Perbedaan suhu pada setiap stasiun pengamatan dipengaruhi oleh suhu udara, tutupan vegetasi, intensitas cahaya matahari, dan cuaca pada saat pengukuran. 0 C Lokasi pengamatan Gambar 6 Kualitas air Teluk Youtefa berdasarkan parameter suhu pasang surut Secara umum suhu air perairan Teluk Youtefa memenuhi kriteria mutu air (KMA) yang dapat digunakan untuk perikanan laut Total padatan tersuspensi (TSS) Padatan tersuspensi total (total suspended solid atau TSS) adalah bahan bahan tersuspensi (diameter >1µm). TSS terdiri atas lumpur, bahan organik dan anorganik, pasir halus serta jasad jasad renik, yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai total padatan tersuspensi air di perairan Teluk Youtefa pada saat pasang berkisar antara mg/l (gambar 7) dengan nilai rata-rata keseluruhan adalah 14,11 mg/l. Nilai TSS tertinggi ditemukan di stasiun pantai abe 36 mg/l dan nilai terendah di stasiun entrop 45 mg/l. Kemudian nilai padatan tersuspensi pada saat surut berkisar antara dengan nilai rata-rata keseluruhaan adalah 41,56 mg/l. Nilai tertinggi ditemukan di stasiun 4 pantai abe, nilai terendah ditemukan di stasiun entrop. Nilai TSS pada saat
3 101 pasang dan surut berkisar antara 45 mg/l-348 mg/l dengan rata-rata 191,7 mg/l. Nilai tersebut telah melampaui baku mutu air laut untuk biota laut. Hal ini berarti dapat menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton, sehingga bisa menyebabkan produksi primer perairan menurun. Menurut Whardhana. (001) bahwa air yang mengandung bahan buangan disertai dengan warna gelap, akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air. Kemudian menurut Adedokun et al. (008) diacu dalam Suwari. (010), bahwa padatan tersuspensi yang tinggi akan mempengaruhi biota diperairan dan mengurangi pasokan oksigen terlarut dalam badan air. Abel (1989) mengemukakan bahwa peningkatan kekeruhan perairan akan mengurangi atau mencegah potosintesis maupun produktifitas tanaman. Banyaknya kadar TSS di Teluk Youtefa disebabkan banyaknya partikel-partikel tersuspensi yang terdiri dari pasir, lumpur, pasir halus maupun jasad renik terutama akibat adanya kikisan tanah atau akibat erosi yang terbawa ke badan air melalui beberapa sungai yang bermuara ke Teluk Youtefa. Hal ini sesusi dengan pendapat Effendi (003) bahwa TSS terdiri dari lumpur dan pasir halus. Hal yang sama juga dikemukakan Saeni (1989) bahwa tingginya kadar padatan tersuspensi disebabkan buangan industri yang belum mengalami pengolahan. Untuk mengurangi kadar TSS diperairan dapat dilakukan dengan memanfaatkan biomassa yang ada. Seperti yang dilakukan Cossellu M, (010), bahwa pemanfaatan serat alga dapat mengurangi sedimen dan bahan organik di beberapa teluk. Hasil pengukuran TSS perairan Teluk Youtefa ditunjukkan pada gambar 7 mg/l BM = 0 Lokasi pengamatan Gambar 7 Kualitas air Teluk Youtefa berdasarkan parameter TSS pasang surut
4 Derajat keasaman (ph) Derajat keasaman (ph) merupakan salah satu parameter penting dalam penentuan kualitas air. ph mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia. Senyawa amonium yang dapat terionisasi banyak ditemukan pada perairan yang memiliki ph rendah. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan ph dan menyukai nilai ph sekitar 7-8,5. Nilai ph sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya nitrifikasi akan berakhir jika ph rendah. Toksisitas logam memperlihatkan peningkatan pada ph rendah. Nilai ph menunjukkan tingkat keasaman atau kekuatan asam dan basa dalam air. Besarnya ph mempengaruhi kelarutan dan bentuk senyawa kimia dalam badan air serta ph juga mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia. Perubahan ph dalam air akan mempengaruhi perubahan dan aktivitas biologis. Menurut Adeyemo et al (008) diacu dalam Suwari, (010), bahwa pertumbuhan organisme perairan dapat berlangsung dengan baik pada kisaran ph 6,5-8,. Kategori ph dikatakan buruk jika hasil uji laboratorium mendekati nilai 6 (bersifat asam) atau mendekati nilai 9 (bersifat basa) Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ph air pada saat pasang di perairan Teluk Youtefa berfluktuasi disetiap stasiun. Nilai terendah 7, di stasiun 4 dan 7 abe pantai dan pantai abe, nilai tertinggi 7,5 di stasiun,3,8,9, dan nilai ph rata-rata adalah 7,4. Kemudian nilai ph pada saat surut berkisar antara 7,1-7,6. Nilai tertinggi di stasiun 3 entrop adalah 7,6, nilai terendah di stasiun 4 pantai abe adalah 7,. Nilai tersebut masih sesuai dengan baku mutu air laut untuk biota laut yaitu 7 8,5. Nilai ph perairan Teluk Youtefa pada sembilan stasiun pada saat pasang dan surut berkisar antara 7,1 7,6 (gambar 8). Nilai rata-rata pada saat pasang dan surut adalah 7,4. Hal ini menunjukkan bahwa perairan Teluk Youtefa masih berada dalam kisaran yang dapat ditolerir untuk organisme akuatik.
5 103 BM = 7,5-8,5 Lokasi pengamatan Gambar 8 Kualitas air Teluk Youtefa berdasarkan parameter ph pasang surut Fluktuasi nilai ph dapat dipengaruhi beberapa hal antara lain akibat limbah organik yang dapat membebaskan karbon dioksida jika mengalami proses penguraian. Kemudian juga dapat disebabkan pengaruh masukan pencemar yang bersifat fluktuatif Kandungan oksigen terlarut (DO) Oksigen terlarut merupakan parameter penting yang dibutuhkan oleh semua organisme, seperti ikan. Penurunan oksigen dalam perairan akan sangat berbahaya bagi kehidupan organisme akuatik. Kebanyakan ikan pada beberapa perairan tercemar mati bukan karena daya racun bahan buangan secara langsung, akan tetapi karena kekurangan oksigen dalam perairan akibat digunakan untuk proses degradasi bahan organik oleh mikroorganisme. Connel dan Miller. (1995) diacu dalam Selanno (009), mengemukakan bahwa sebagian besar dari zat pencemar yang menyebabkan oksigen terlarut berkurang adalah limbah organik. Lee et al. (1978) mengemukakan bahwa kandungan oksigen terlarut pada suatu perairan dapat digunakan sebagai indikator kualitas perairan.
6 104 BM>5 mg/l Lokasi pengamatan Gambar 9. Kualitas air Teluk Youtefa berdasarkan parameter DO Pasang surut Hasil penelitian menunjukkan bahwa oksigen terlarut pada sembilan stasiun di perairan Teluk Youtefa pada saat pasang berkisar antara,60 mg/l 6,00 mg/l (gambar 9) dengan nilai rata-rata 5,17 mg/l atau sesuai dengan baku mutu. Nilai kandungan oksigen terlarut di perairan Teluk Youtefa pada sembilan stasiun lebih tinggi di stasiun delapan (5,80 mg/l), sedangkan nilai terendah terdapat di stasiun empat (,60 mg/l). Nilai rata-rata pada saat pasang dan surut adalah 4,89 mg/l (lampiran 1). Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian UNIPA (006) yaitu,0 mg/l pada stasiun yang sama (stasiun 4). Kemudian nilai DO pada saat surut berkisar antara 1,67 mg/l - 5,75 mg/l dengan rata-rata 4,61 mg/l. Nilai tertinggi terdapat di stasiun 7 (5,75 mg/l, nilai terendah terdapat di stasiun 4 (1,67 mg/l). Rendahnya nilai oksigen terlarut diduga akibat pengaruh limbah (effluent) organik yang berasal dari limbah domestik yang masuk ke dalam perairan teluk melalui dua sungai (sungai acai dan sungai siborghoni) yang secara geografis sangat berdekatan muaranya (± 50 m). Hal ini sesuai dengan pendapat Saeni (1989) bahwa oksigen terlarut berkurang akibat digunakan dalam penghancuran bahan organik. Kemudian penurunan kadar oksigen terlarut dapat terjadi karena adanya penambahan beban pencemaran organik dalam jumlah besar, yang disebabkan oleh buangan limbah cair yang melebihi kemampuan self purification teluk dan adanya bahan kimia yang dapat teroksidasi oleh oksigen. Kandungan oksigen terlarut yang rendah menunjukkan bahwa kondisi sungai secara umum telah tercemar oleh bahan organik. Limbah domestik, pertanian, sampah yang dibuang ke sungai dan menuju
7 105 teluk menjadi penyebab utama tingginya tingkat pencemaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Emily et al (010) bahwa kadar oksigen terlarut, 0 mg/l di Teluk Greenwich Rhode Island USA sangat rendah akibat limbah, pellet dan peningkatan sedimen. Kemudian menurut Lee et al, (1978) bahwa tingkat pencemaran perairan akibat bahan buangan organik dapat dievaluasi berdasarkan konsentrasi oksigen terlarut dan BOD 5. Sedangkan menurut Clark (003) bahwa konsentrasi bahan organik yang tinggi di perairan akan menyebabkan tingginya pemakaian oksigen terlarut diperairan menurun Kandungan oksigen biokimia (BOD) BOD merupakan gambaran kadar bahan organik, yaitu jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air. BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikroba aerob yang terdapat dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu 0 0 C selama lima hari dalam keadaan tanpa cahaya. BOD digunakan sebagai cara untuk mengindikasikan pencemaran organik di perairan. Semakin banyak bahan organik yang terdapat dalam perairan, maka semakin besar nilai oksigen yang dibutuhkan, sehingga nilai BOD semakin besar yang mengindikasikan tingginya tingkat pencemaran. mg/l BM 0 Lokasi pengamatan Gambar 30. Kualitas air Teluk Youtefa berdasarkan parameter BOD pasang surut Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai BOD pada saat pasang berkisar antara 7,9 mg/l - 1,0 mg/l (gambar 30) dengan nilai rata-rata keseluruhan 9,7 mg/l. Nilai tertinggi terdapat di stasiun 4 (1,0 mg/l), nilai terendah terdapat di stasiun 7
8 106 (7,9 mg/l). Kemudian pada saat surut berkisar antara 8,1 mg/l 8 mg/l. Nilai tertinggi terdapat di stasiun 4, terendah di stasiun 7. Nilai rata-rata pada saat pasang dan surut adalah 10,33 mg/l (lampiran 1). Berdasarkan baku mutu kualitas air nilai ambang batas BOD untuk biota laut adalah 0 mg/l (Keputusan Mennteri Lingkungan Hidup RI nomor 51 tahun 004) masih berada dibawah ambang batas atau baku mutu. Hal ini sesuai dengan pendapat Effendi (003) bahwa perairan yang memiliki nilai BOD lebih dari 0 mg/l dianggap telah mengalami pencemaran. Nilai BOD yang tinggi secara tidak langsung memberikan petunjuk tentang kandungan bahan-bahan organik yang tersuspensikan. Nilai BOD yang rendah mencerminkan rendahnya kegiatan mikroorganisme di dalam air. Kandungan nilai BOD di perairan Teluk Youtefa diduga dipengaruhi bahan buangan organik dan aktivitas organisme pengurai, dipengaruhi oleh suhu, keberadaan mikroba, serta jenis dan kandungan bahan organik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Yetti et al, (011) bahwa peningkatan kadar BOD di perairan dapat disebabkan banyaknya sampah organik yang mencemari perairan. Kemudian menurut Lee et al (1978) bahwa indikator BOD merupakan indikator penting dalam menentukan tingkat pencemaran perairan Nitrat dan amonia Nitrat adalah bentuk utama nitrogen diperairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman. Nitrat dihasilkan dari proses oksidasi senyawa nitrogen di perairan. Pembuangan kotoran biasanya mengandung nitrat dalam jumlah yang besar. Unsur ini merupakan nutrien bagi tanaman, sehingga meningkatkan kelimpahan fitoplankton di perairan. Pengkayaan ini akan menguntungkan zooplankton dan memperbanyak jumlah rantai-rantai makanan lainnya (Clark, 1986). Dijelaskan bahwa jika bahan buangan organik dirombak oleh bakteri tidak hanya karbondioksida dan air, tetapi juga nitrogen dilepaskan sebagai bahan anorganik yang secara alami terkandung dalam komponen protein hewan dan tanaman.
9 107 mg/l Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar nitrat di perairan Teluk Youtefa pada saat pasang 0,004 mg/l 0, 06 mg/l (gambar 31). Nilai nitrat tertinggi terdapat pada stasiun empat (0,06 mg/l) dan terendah pada stasiun satu (0,004) dengan nilai rata-rata keseluruh an 0,7 mg/l. Kemudian kadar nitrat pada saat surut berkisar antara 0,004 mg/l-0,34 mg/l. Nilai tertinggi terdapat di stasiun 4 (0,34 mg/l), nilai terendah terdapat di stasiun 6 (0,004 mg/l dengan nilai rata-rata 0,05 mg/l. Nilai rata-rata pada saat pasang dan surut adalah 0,01 mg/l (lampiran 1). Nilai tersebut telah melampaui baku mutu air laut untuk biota laut. Kelimpahan nutrien di suatu perairan, akan menimbulkan masalah terjadinya blooming populasi mikroorganisme yang dapat mengurangi kadar oksigen dalam perairan. Aktifitas masyarakat dan tekanan penduduk dalam memanfaatkan teluk sebagai tempat penampungan limbah berpotensi meningkatkan nilai nitrat di perairan. BM 0,008 Lokasi pengamatan Gambar 31. Kualitas air Teluk Youtefa berdasarkan parameter NO 3 pasang surut mg/l BM 0,3 Lokasi pengamatan Gambar 3. Kualitas air Teluk Youtefa berdasarkan parameter NH 3 pasang surut
10 108 Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar amonia perairan Teluk Youtefa pada saat pasang berkisar antara 0,03 mg/l - 0,4 mg/l dengan nilai rata-rata 0,08 mg/l. Nilai tertnggi terdapat di lokasi 4 (0,4 mg/l), nilai terendah terdapat di lokasi 7 (0,03 mg/l). Kemudian pada saat surut nilai amoniak berkisar antara 0,05 0,6 mg/l (gambar 3). Nilai tertinggi terdapat di lokasi 4 (0,6 mg/l), nilai terendah terdapat di lokasi 7 (0,05 mg/l). Nilai rata-rata antara pasang dan surut adalah 0,087 mg/l (lampiran 1). Amonia bebas yang tidak terionisasi bersifat toksik bagi organisme akuatik. Menururt Effendi (003), toksisitas amonia terhadap organisme akuatik dipengaruhi oleh ph, kadar oksigen terlarut, dan suhu. Pada ph rendah amonia bersifat racun jika jumlahnya banyak, sedangkan pada kondisi ph tinggi amonia akan bersifat racun meskipun kadarnya rendah. Abel (1989) mengemukakan bahwa amonia sangat beracun bagi organisme. Secara umum, kadar amonia di perairan Teluk Youtefa belum melampaui nilai baku mutu yang mensyaratkan nilai amonia maksimum 0,3 mg/l. Maka dapat disimpulkan bahwa perairan Teluk Youtefa mengindikasikan tidak terjadi pencemaran air oleh amonia Kadar fospat Senyawa fosfat merupakan anion yang tidak dikehendaki dalam suatu perairan karena bisa menjadi faktor pembatas eutrofikasi dan dapat mengakibatkan efek negatif bagi proses kehidupan akuatik. Kandungan fosfat yang tinggi dalam perairan dapat menyebabkan eutrofikasi yakni meningkatnya pertumbuhan alga dan menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air. Senyawa fosfor di perairan dapat bersumber dari buangan hewan, pelapukan tumbuhan, erosi tanah, limbah industri, limbah domestik, dan limbah pertanian. mg/l Lokasi pengamatan Gambar 33 Kualitas air Teluk Youtefa berdasarkan parameter PO 4 pasang surut
11 109 Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fosfat (P-PO 4 ) di perairan Teluk Youtefa pada saat pasang berkisar 0,001 mg/l 0,3 mg/l (gambar 33), nilai tertinggi terdapat di lokasi 4 (0,3 mg/l), nilai terendah terdapat di lokasi (0,001 mg/l), dengan nilai rata-rata keseluruhan 0,1 mg/l. Kemudian nilai fosfat pada saat surut berkisar antara 0,03 mg/l 0,5 mg/l. Nilai tertinggi terdapat di stasiun 4 (0,5 mg/l), nilai terendah terdapat di stasiun,7,dan 8 masing-masing 0,03 mg/l. Nilai rata-rata antara pasang dan surut adalah 0,08 mg/l (lampiran 1). Berdasarkan KMA baku mutu air laut untuk biota laut yang mempersyaratkan kadar fosfat maksimum 0,015, maka dapat disimpulkan bahwa dari 9 stasiun pengamatan perairan Teluk Youtefa pada saat pasang dan surut tidak memenuhi baku mutu. Sumber P-PO 4 di perairan Teluk Youtefa diduga bersumber dari limbah domestik terutama detergen dan kotoran manusia, dan limbah pertanian. Hal ini sesuai dengan pendapat Garcia, (010) bahwa di teluk Lorenzo Spayol Utara terjadi proses eutrofikasi sehingga menghasilkan ganggang akibat peningkatan fosfat. Fosfat dapat masuk ke perairan Teluk Youtefa melalui saluran sungai. Gambar 34. Muara Sungai Sibhorgoni Gambar 35. Muara Sungai Acai Gambar 36. Tumpukan sampah di Sungai Acai Gambar 37. WC penduduk yang bermukim di atas perairan Teluk Youtefa
12 110 Gambar 34 memperlihatkan kondisi air berwarna kemerah-merahan akibat banyaknya sedimen dari hulu. Kemudian gambar 35 memperlihatkan kondisi air berwarna hitam akibat tingginya pasokan limbah domestik dari hulu. Mukhtasor. (007) mengemukakan bahwa pencemaran dapat membahayakan ekosistem laut karena ekosistem dan biota perairan sangat rentan terhadap bahan pencemar. 5.. Status mutu air dan indeks pencemaran perairan Teluk Youtefa Metode indeks storet Pendekatan menggunakan metode indeks storet digunakan untuk menganalisis status pencemaran yang sebenarnya telah terjadi di Teluk Youtefa. Nilai maksimum, minimum, dan rata-rata yang dipergunakan merupakan hasil tabulasi dari nilai rata-rata setiap lokasi/stasiun pada saat pasang dan surut. Menentukan status kualitas air atau indeks mutu lingkungan perairan Teluk Youtefa adalah menggunakan metode STORET. Indeks kualitas air STORET (IKA-STORET) adalah suatu nilai yang dapat menggambarkan tentang kondisi kualitas air dari data mentah tentang kualitas air yang kemudian ditransformasikan menjadi suatu indeks. Metode indeks STORET dapat menggambarkan secara menyeluruh tentang kondisi umum kualitas air Teluk Youtefa. Data parameter fisika dan kimia air berdasarkan hasil pengamatan dibandingkan dengan nilai baku mutu air laut untuk biota laut yang mencakup nilai minimum, rata-rata, dan maksimum setiap parameter yang kemudian diberi skor penilaian dan disesuaikan dengan tingkat pencemarannya. Baik buruknya kualitas perairan dapat diketahui dengan melihat parameter-parameter yang tidak memenuhi baku mutu sesuai dengan yang ditetapkan. Hasil evaluasi kualitas air Teluk Youtefa berdasarkan indeks Storet disajikan pada lampiran, sedangkan status mutu perairan Teluk Youtefa menururt sistem STORET disajikan pada tabel 16 dan gambar 38. Tabel 16. Status mutu kualitas air menururt sistem nilai STORET Teluk Youtefa. No Lokasi/Stasiun Skor Klasifikasi 1 Entrop -6 Tercemar sedang Pantai abe -33 Tercemar berat 3 Abepantai/Nafri -17 Tercemar sedang
13 111 Berdasarkan representasi masing-masing parameter pada tabel 16 memperlihatkan kondisi status mutu perairan Teluk Youtefa menurut sistem nilai storet tidak dapat ditolerir lagi oleh biota laut atau perairan ini dalam status tercemar. Kondisi tersebut bagi kegiatan perikanan dan budidaya yang sering dilakukan pada perairan ini adalah sangat beresiko. Oleh karena itu, kondisi ini akan menjadi perhatian semua pihak pengguna teluk untuk lebih berhati-hati memanfaatkan sumberdaya laut di dalamnya. Tingginya pemanfaatan ruang perairan teluk seperti saat ini, tentu mengindikasikan adanya pencemaran di Teluk Youtefa. Kondisi dan kenyataan seperti ini, memacu semua pihak untuk berupaya melakukan penanganan secara serius pendekatan kelembagaan dan teknologi yang tepat untuk penanganan masalah pencemaran harus dilakukan dengan komitmen yang jelas dan tegas. Abepantai Entro p Pantai abe Gambar 38. Skor indeks STORET perairan Teluk Youtefa Kondisi mutu air untuk pantai abe cendrung menururn dibanding mutu air di entrop dan abepantai (gambar 38), dengan status mutu air bervariasi mulai dari tercemar ringan hingga tercemar berat. Nilai indeks STORET di lokasi entrop adalah -6 (lampiran ), lokasi pantai abe adalah -33 (lampiran -a), dan lokasi abepantai adalah -17 (lampiran -b). Parameter yang memberikan kontribusi rendahnya nilai indeks STORET di lokasi abepantai adalah fosfat, TSS, dan nitrat. Kemudian di lokasi pantai abe yang memberikan kontribusi rendahnya nilai indeks STORET adalah fosfat, nitrat, TSS, DO, dan BOD. Sedangkan yang memberikan
14 11 kontribusi bagi rendahnya nilai indeks STORET di lokasi entrop adalah fosfat, nitrat, DO, dan TSS. Berdasarkan nilai indeks STORET, jika parameter yang digunakan untuk mengevaluasi tingkat pencemaran kurang dari 10 parameter, maka sudah cukup untuk menyatakan bahwa perairan Teluk Youtefa dalam kondisi buruk jika terdapat tiga parameter kimia yang nilai konsentrasi minimum, maksimum dan rataratanya telah melampauai baku mutu Indeks pencemaran Teluk Youtefa Pada penelitian ini tingkat pencemaran air Teluk Youtefa relatif terhadap parameter kualitas air yang diijinkan sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 004 didasarkan pada hasil analisis parameter fisik dan kimia yakni total padatan tersuspensi, derajat keasaman, amoniak total, kandungan oksigen biokimia, kandungan oksigen terlarut, nitrat, dan fospat. Hasil analisis kualias air kemudian dibandingkan dengan baku mutu air sesuai dengan peruntukannya menggunakan langkah-langkah penentuan indeks pencemaran. Perairan akan semakin tercemar untuk suatu peruntukan (j) jika nilai (Ci/Lij) R dan atau (C i/ L ij ) M lebih besar dari 1,0. Tingkat pencemaran suatu badan air akan semakin besar jika nilai maksimum C i /L ij dan atau nilai rata-rata C i /L ij makin besar. Perhitungan indeks pencemaran air Teluk Youtefa dapat dilihat pada lampiran 3 dan rangkuman hasil perhitungan indeks pencemaran disajikan pada tabel 17. Tabel 17. Indeks pencemaran Teluk Youtefa pada sembilan titik pengamatan No Stasiun C i /L ij IP Kategori Rerata Maks 1 Entrop 1,91 6,5 4,87 Cemar ringan Entrop 1,67 3,15,51 Cemar ringan 3 Entrop 3,4 6,09 4,58 Cemar ringan 4 Pantai Abe 1 3,84 7,7 5,81 Cemar sedang 5 Pantai abe 1,99 5,15 3,90 Cemar ringan 6 Pantai abe 3,11 6,33 48,8 Cemar ringan 7 Abepantai 1 1,9 6,63 4,88 Cemar ringan 8 Abepantai 1,73 5,76 4,5 Cemar ringan 9 Abepantai 3 3,05 6,1 4,89 Cemar ringan
15 113 Berdasarkan hasil perhitungan indeks pencemaran pada tabel 17 di atas dan nilai indek pencemaran Sumitomo dan Nemerow, menunjukkan bahwa perairan Teluk Youtefa telah mengalami pencemaran pada tingkat ringan hingga sedang oleh beberapa parameter fisika dan kimia. Kondisi ini berbeda dengan status mutu air berdasarkan indeks STORET. Parairan Teluk Youtefa berdasarkan indeks STORET berada dalam tercemar sedang dan tercemar berat. Perbedaan ini menunjukkan bahwa indeks pencemaran Sumitomo dan Nemerow memiliki toleransi yang cukup besar terhadap pencemaran. Tabel 17 juga menunjukkan bahwa untuk zona entrop tingkat pencemaran paling rendah dengan nilai indeks pencemaran,51. Nilai indeks pencemaran tertinggi berada pada zona pantai abe 1 dengan nilai indeks pencemaran 5,81 (tercemar sedang). Tingkat pencemaran air di perairan Teluk Youtefa kategori cemar ringan dan cemar sedang. Tingkat pencemaran tertinggi berada pada stasiun 4 yaitu pantai abe. Hal tersebut terjadi diduga disebabkan pada stasiun 4 ada dua muara sungai yang bermuara (Sibhorgoni dan Acai) ke perairan Teluk Youtefa jaraknya relatif berdekatan yaitu ± 50 meter, dan pada daerah aliran sungai tersebut banyak menerima masukan limbah domestik, pertanian, dan dampak galian C Beban pencemaran, kapasitas asimilasi, flushing time perairan Teluk Youtefa Beban pencemaran muara sungai di sekitar Teluk Youtefa Beban pencemaran menggambarkan suatu unsur pencemar yang terkandung dalam air atau air limbah. Sumber pencemar di Teluk youtefa adalah air limbah domestik, dan air limbah pertanian. Bahan pencemar tersebut masuk ke Teluk Youtefa melalui beberapa cara pengalirannya seperti saluran drainase kemudian ke sungai dan selanjutnya terbawa ke Teluk Youtefa. Beban pencemaran dihitung untuk mengetahui dan mengidentifikasi sumber pencemar, jenis pencemar dan besarnya nilai beban pencemar yang masuk ke perairan Teluk Youtefa. Kemudian dilanjutkan dengan menghitung debit air sungai dengan konsentrasi parameter kualitas air yang diteliti. Beban pencemaran
16 114 yang diamati adalah beban pencemaran mulai tahun pada masing masing sungai (Tabel 18 dan Lampiran 4-7.) Tabel 18. Beban pencemaran sungai tahun 008 sampai tahun 011 (ton/bulan Parameter TSS 44,61 959,71 139,77 166,17 BOD 61,41 104,84 11,7 144,40 COD 150,93 79,49 501,7 700,36 NH 3 3,03 5,3 6,45 8,53 NO 3 5,64 10,14 15,87 3,33 PO 4 3,89 8,9 9,1 16, Kapasitas asimilasi perairan Teluk Youtefa Gambaran umum kondisi perairan sungai dan perairan Teluk Youtefa dengan pendekatan beberapa parameter, baik parameter pendukung maupun parameter indikator, ternyata belum dapat memastikan bagaimana kondisi kualitas lingkungan perairan Teluk Youtefa yang sebenarnya. Oleh karena itu analisis beban pencemaran dan analisis kapasitas asimilasi diharapkan dapat menjawab permasalahan lingkungan yang telah terjadi selama ini, khususnya di perairan Teluk Youtefa. Analisis kapasitas asimilasi didasarkan pada analisis hubungan antara kualitas air dengan beban limbahnya. Nilai kapasitas asimilasi diperoleh berdasarkan grafik hubungan antara konsentrasi masing-masing parameter bahan pencemar di perairan pesisir Teluk Youtefa dengan beban pencemaran tersebut di muara sungai yang bermuara ke Teluk Youtefa. Kemudian nilai hasil perhitungan dari beban limbah dan konsentrasi masing-masing parameter dibandingkan dengan nilai baku mutu untuk biota laut dan budidaya laut. Tabel 19. Kapasitas asimilasi perairan Teluk Youtefa Tahun 011 No Parameter Fungsi y R Beban Kapasitas Pencemaran Asimilasi (ton/bln) (ton/bln) 1. PO 4 y = 0, ,103x 0, BOD y = 0, x 0, NH 3 y = 0, ,013x 0, COD y = 0, x 0, NO 3 y = 0, ,0034x 0, TSS y = 0, ,98x 0,
17 115 Hasil analisis perhitungan regresi menggunakan minitab 14 dapat dilihat pada lampiran Kandungan oksigen biokimia (BOD). Penyebab utama tingginya konsentrasi BOD di dalam perairan adalah bahan-bahan buangan seperti kotoran hewan, kotoran manusia, tanaman-tanaman yang mati, limbah domestik, dan pemotongan daging. Hasil analisis beban pencemaran BOD atau kebutuhan oksigen biologi dari sungai bervariasi masing masing sungai. Beban pencemaran terbanyak bersumber dari sungai Acai dibanding sungai Siborgoni, sungai PTC entrop dan sungai Hanyaan Y 0,0481x+0,668 = 0,0481X + 0,668 R = 0,935 0,935 Gambar 39. Grafik pendugaan beban pencemaran dan kapasitas asimilasi di Teluk Youtefa dengan indikator BOD Tahun Hasil perpotongan garis regresi (gambar 39) dengan garis baku mutu menghasilkan perpotongan nilai kapasitas asimilasi sebesar 7 ton/bulan. Hasil analisis hubungan konsentrasi BOD di laut dengan beban pencemaran organik indikator BOD di sungai menunjukkan adanya hubungan yang signifikan. Hubungan tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi model regresi R = 0,935 atau 93 % variasi sampel konsentrasi BOD dijelaskan oleh beban BOD. Persamaan regresinya adalah Y = 0, x (dimana P-value = 0,033 < α = 0,05, mean square error (MSE) atau varian residual (S sebesar 0,99 dan standart deviasi (s) = 0,546, yang berarti ada kesesuaian model regresi dengan data yang ada (signifikan). Variasi sampel konsentrasi BOD dijelaskan oleh beban BOD, artinya bahwa besarnya akumulasi beban BOD di laut merupakan kontribusi dari sungaisungai yang bermuara ke perairan Teluk Youtefa. Akan tetapi bila analisis
18 116 dilanjutkan dengan grafik pendugaan beban pencemaran dengan kapasitas asimilasi ternyata dari indikator BOD, perairan Teluk Youtefa belum tercemar karena nilai kapasitas asimilasinya belum terlampaui Total padatan tersuspensi (TSS) Berbagai aktivitas manusia di darat dapat memberikan masukan partikel ke laut yang kemudian larut dalam kolom air dan akan terukur sebagai total suspended solid. Hasil analisis beban pencemaran total suspended solid atau padatan tersuspensi total dari sungai bervariasi masing masing sungai. Beban pencemaran terbanyak bersumber dari sungai Acai dibanding sungai Sibhorgoni, sungai PTC dan sungai Hanyaan. Hasil analisis hubungan konsentrasi padatan tersuspensi total di laut dengan beban pencemaran organik indikator padatan tersuspensi total di sungai menunjukkan adanya hubungan yang signifikan. Hubungan tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi model regresi R = 0,94 atau atau 9,4 % variasi sampel konsentrasi TSS dijelaskan oleh beban TSS. Persamaan regresinya adalah Y = 0, ,98x (dimana P-value = 0,039 < α = 0,05, mean square error (MSE) atau varian residual (S sebesar 37,97 dan standart deviasi (s) = 6,16, yang berarti ada kesesuaian model regresi dengan data yang ada (signifikan). Y = 0,0344X+130,98 R = 0,94 Gambar 40. Grafik pendugaan beban pencemaran dan kapasitas asimilasi di Teluk Youtefa dengan indikator TSS tahun
19 117 Variasi sampel konsentrasi TSS dijelaskan oleh beban TSS, artinya bahwa beban pencemaran di perairan Teluk Youtefa merupakan implementasi dari masukan beban pencemaran organik TSS dari sungai. Hal ini memperkuat simpulan dari Kartahadimadja dan Pariwono (1994) bahwa padatan tersuspensi perairan Teluk Pelabuhan ratu diduga karena semakin banyaknya padatan tersuspensi yang dibawa oleh air sungai ke muara yang kemudian disebarkan oleh gerakan aliran di muara dan arus arus laut ke perairan pantai serta daerah laut yang lebih jauh. Berdasarkan perhitungan (gambar 40) diperoleh perpotongan garis regresi dengan garis baku mutu menghasilkan perpotongan kapasitas asimilasi sebesar.354 ton/bulan. Selanjutnya analisis pendugaan kapasitas asimilasi ternyata berada di atas baku mutu, sehingga pendekatan parameter TSS untuk menduga pencemaran organik dapat menjelaskan bahwa pengaruh masukan dari darat konsentrasi bahan-bahan pencemar di laut sudah terlihat menunjukkan hubungan yang signifikan. Berdasarkan grafik pendugaan beban pencemaran dengan kapasitas asimilasi ternyata dari indikator TSS, perairan Teluk Youtefa telah tercemar karena nilai kapasitas asimilasinya telah terlampaui Amonia (NH 3 ) Amonia bersifat mudah larut dalam air, banyak digunakan dalam proses produksi urea, industri bahan kimia, serta industri bubur kertas. Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air yang berasal dari dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Tinja dari biota akuatik yang merupakan limbah aktivitas metabolisme juga banyak mengeluarkan amonia. Amonia yang terdapat dalam mineral masuk ke badan air melalui erosi tanah.
20 118 Y = 0,009 x + 0,013 R = 0,95 Gambar 41. Grafik pendugaan beban pencemaran dan kapasitas asimilasi di Teluk Youtefa dengan indikator NH 3 Tahun Hasil analisis hubungan konsentrasi amoniak di laut dengan beban pencemaran organik indikator amoniak di sungai menunjukkan adanya hubungan yang signifikan. Hubungan tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi model regresi R = 0,954 atau 95,4 % variasi sampel konsentrasi amoniak dijelaskan oleh beban amoniak. Penentuan nilai kapasitas asimilasi digunakan persamaan regresi Y= 0, ,013x (dimana P-value = 0,04 < α = 0,05, mean square error (MSE) atau varian residual (S sebesar 0,00003 dan standart deviasi (s) = 0,005, yang berarti ada kesesuaian model regresi dengan data yang ada (signifikan). Nilai koefisien determinasi model regresi (R = 95,4) artinya 95,4 % variasi sampel konsentrasi NH 3 dijelaskan oleh beban NH 3 Grafik pendugaan nilai kapasitas asimilasi (gambar 41) memperlihatkan bahwa kondisi perairan Teluk Youtefa belum tercemar dengan indikator amoniak karena nilai kapasitas asimilasinya belum terlampaui (54). Kondisi ini memperlihatkan bahwa perairan Teluk Youtefa belum tercemar bahan organik amoniak karena nilai kapasitas asimilasinya belum terlampaui Nitrat (NO 3 ) Untuk mengetahui berapa besar beban pencemaran organik dengan indikator NO 3 yang masuk ke perairan Teluk Youtefa melalui perairan sungai yang bermuara ke teluk dilakukan analisis beban pencemaran. Hasil analisis beban pencemaran nitrat dari sungai bervariasi masing masing sungai. Beban pencemaran terbanyak bersumber dari sungai Acai dibanding sungai Sibhorgoni, sungai PTC dan sungai Hanyaan
21 119 Y = 0,0011 x + 0,0034 R = 0,99 Gambar 4. Grafik pendugaan beban pencemaran dan kapasitas asimilasi di Teluk Youtefa dengan indikator NO 3 tahun Hasil analisis hubungan konsentrasi nitrat di laut dengan beban pencemaran organik indikator nitrat di sungai menunjukkan adanya hubungan yang signifikan. Hubungan tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi model regresi R = 0,99 atau 99 % variasi sampel konsentrasi nitrat dijelaskan oleh beban nitrat. persamaan regresi Y = 0, ,0034x (dimana P-value = 0,004< α = 0,05, mean square error (MSE) atau varian residual (S sebesar 0, dan standart deviasi (s) = 0,00093, yang berarti ada kesesuaian model regresi dengan data yang ada (signifikan). Grafik pendugaan nilai kapasitas asimilasi (gambar 4) memperlihatkan bahwa kondisi perairan Teluk Youtefa telah tercemar dengan indikator Nitrat karena nilai kapasitas asimilasinya telah terlampaui. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perairan Teluk Youtefa telah tercemar bahan organik. Kondisi seperti ini kemungkinan bisa mengakibatkan terakumulasinya limbah domestik di perairan Teluk Youtefa. Aktifitas penggunaan pupuk untuk kegiatan pertanian oleh penduduk sekitar bantaran sungai juga berpotensi dalam menyumbangkan nitrat di perairan. Ketersediaan nitrogen yang diperlukan untuk mensintesa protein tumbuhan diketahui berasal dari senyawa organik maupun dari anorganik termasuk nitrat Fosfat (PO 4 ) Posfat merupakan anion yang tidak diinginkan dalam air, karena keberadaannya menjadi faktor pembatas eutrofikasi dan menimbulkan efek negatif
22 10 bagi kehidupan ekosistem akuatik. Effendi (003) mengemukakan bahwa posfat merupakan fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuh-tumbuhan Y = 0,008 x + 0,103 R = 0,9 Gambar 43. Grafik pendugaan beban pencemaran dan kapasitas asimilasi di Teluk Youtefa dengan indikator PO 4 tahun Hasil analisis hubungan konsentrasi posfat di laut dengan beban pencemaran organik indikator posfat di sungai menunjukkan adanya hubungan yang signifikan. Hubungan tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi model regresi R = 0,9 atau 9 % variasi sampel konsentrasi posfat dijelaskan oleh beban posfat. Persamaan regresinya adalah Y = 0, ,103x (dimana P-value = 0,039 < α = 0,05, mean square error (MSE) atau varian residual (S sebesar 0,0006 dan standart deviasi (s) = 0,016, yang berarti ada kesesuaian model regresi dengan data yang ada (signifikan). Nilai koefisien determinasi model regresi (R = 9,4) artinya 9,4 % variasi sampel konsentrasi PO 4 dijelaskan oleh beban PO 4. Dari gambar 43 terlihat bahwa kondisi perairan Teluk Youtefa telah tercemar dengan parameter fosfat karena kapasitas asimilasinya telah terlampaui (1) Kebutuhan oksigen kimiawi COD Kebutuhan oksigen kimiawi (COD) menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sukar didegradasi secara biologis (non biodegradable) menjadi CO dan H O.
23 11 Y = 0,093+53,06 R = 0,93 Gambar 44. Grafik pendugaan beban pencemaran dan kapasitas asimilasi di Teluk Youtefa dengan indikator COD tahun Hasil analisis hubungan konsentrasi COD di laut dengan beban pencemaran organik indikator COD di sungai menunjukkan adanya hubungan yang signifikan. Hubungan tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi model regresi R = 0,93 atau 93 % variasi sampel konsentrasi COD dijelaskan oleh beban COD. Persamaan regresinya adalah Y = 0, ,06x (dimana P-value = 0,03 < α = 0,05, mean square error (MSE) atau varian residual (S sebesar 5, dan standart deviasi (s) = 7, yang berarti ada kesesuaian model regresi dengan data yang ada (signifikan). Nilai koefisien determinasi model regresi (R = 93) artinya 93 % variasi sampel konsentrasi COD dijelaskan oleh beban COD. Dari gambar 44 terlihat bahwa kondisi perairan Teluk Youtefa telah tercemar dengan parameter COD karena kapasitas asimilasinya telah terlampaui (86) flushing time (Waktu dirus) Waktu dirus atau flushing time adalah waktu pembilasan dari massa air tawar oleh air laut, merupakan sala satu aspek dari proses pencampuran yang penting untuk mengetahui penyebaran dari suatu bahan yang dibuang atau ditimbun diperairan pantai atau perairan laut, dengan asumsi laju air tawar yang didirus sama dengan limpasan sungai. Maka untuk kasus tertentu, seperti perairan teluk atau perairan semi tertutup lainnya, perairan tersebut dapat dianggap sebagai baskom yang sederhana, dimana pada bagian hulunya limpasan air tawar dari sungai yang masuk, sedangkan pada bagian hilirnya terjadi aliran dua lapis yaitu massa air dari perairan teluk mengalir ke laut lepas dilapisan permukaan dan massa air laut mengalir masuk ke teluk dilapisan bawah permukaan (Dahuri, 008).
24 1 Laut memiliki luas dan volume air yang sangat besar, sehingga biasanya dijadikan sebagai tempat pembuangan bahan-bahan yang tidak berguna. Begitu juga dengan daerah estuari selalu digunakan untuk tempat penampungan berbagai jenis limbah khsusnya limbah cair dari daerah hulu maupun sekitarnya. Oleh karena itu selama perkembangan penduduk serta industri yang semakin bertambah, bisa menimbulkan masalah serius terhadap badan perairan. Oleh karena itu untuk pengelolaan ekosistem estuari sangat diperlukan dengan pendekatan konsep flushing time, (Tomezak, 000 diacu dalam Selanno, 009). Konsep flushing time digunakan untuk mengevaluasi dimana, bagaimana dan berapa kuantitas substansi yang dapat terbuang ke laut lepas. Kemudian dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menangani kecelakaan tumpahan minyak atau bahan racun. Berdasarkan hasil analisis, bahwa nilai flushing time total ke empat sungai yang ada di Teluk Youtefa adalah 7,69 jam, sedangkan rata-ratanya adalah 1,9 jam (tabel 0). Maka dengan demikian dalam waktu 7,69 jam massa air laut dapat membilas massa air tawar dari sungai-sungai tersebut. Demikian halnya dengan nilai flushing time sungai PTC sangat kecil (0,58 jam) dibanding dengan sungai lainnya. Oleh karena itu dengan nilai waktu dirus yang kecil tersebut, maka penyebaran bahan-bahan buangan yang berasal dari setiap muara sungai ke laut akan relatif cepat. Hal ini dapat dilihat pada penyebaran nilai tertinggi maupun terendah parameter yang diukur ternyata menyebar pada beberapa tempat yang berbeda-beda. Tabel 0. Nilai flushing time menggunakan pendekatan Dahuri, et al (008) Nama Sungai t t t V(S-S1)/SR V(S-S1)/SR V(S-S1)/SR (detik) (jam) (jam) S. Acai 3074,6 0, ,85 S. Sibhorgoni ,6 5, ,13 S. PTC.118,15 0, ,58 S. Hanyaan 4.07,50 1, ,11 Total FT 7.689,89 7, ,69 Rerata 6.9,47 1,9 1,9
25 13 Keterangan: S = Rata-rata salinitas air laut tiap musim S1 = Rerata salinitas air sungai tiap musim R atau Q = debit rerata tiap musim untuk tiap sungai V (m 3 ) = Vol air DAS dari perkalian luas penampang (m ) x kedalaman segmen DAS (m) Pengaruh flushing time (waktu dirus) terhadap sedimentasi Sedimen yang masuk ke dalam kolom air penyebarannya dipengaruhi oleh faktor-faktor oseanografi perairan misalnya kecepatan arus. Apabila kecepatan arus dalam teluk besar, maka akan membantu membawa atau memindahkan partikel sedimen menjauhi sumber. Partikel-partikel sedimen akan tersebar secara horizontal dan vertikal pada kolom air, tergantung pada kecepatan arus yang mengatur proses pencampuran massa air. Kemudian sebaliknya jika kecepatan arusnya rendah, maka partikel sedimen tersebut cendrung mengendap pada muara-muara sungai atau pada pantai. Pendekatan lain untuk melihat seberapa cepat kemungkinan partikelpartikel sedimen yang masuk ke laut itu menyebar, dapat dijelaskan menggunakan perhitungan waktu dirus (flushing time). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa makin kecil nilai waktu dirus maka semakin cepat bahan partikel halus akan terbawa ketempat lain. Faktor lain yang cukup berpengaruh juga adalah karakteristik sungai. Secara umum sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Youtefa merupakan sungai-sungai kecil, sehingga volume air yang masuk ke laut dengan cepat dapat terbilas, khususnya untuk bahan sedimen melayang akan mudah ketempat lain, tetapi bahan sedimen besar secara gravitasi akan tenggelam dan mengendap pada dasar badan air Pengaruh flushing time (waktu dirus) terhadap kapasitas asimilasi Nilai flushing time dapat digunakan sebagai petunjuk bagaimana bahan yang masuk dari sungai dapat dengan cepat terbilas dan terbawa menjauh dari sumbernya. Dalam hubungannya dengan kemampuan suatu ekosistem untuk menerima limbah, maka nilai waktu dirus ini juga sangat mempengaruhi. Makin kecil nilai waktu dirus, maka makin cepat juga bahan atau bahan pencemar tercanpur di perairan. Maka dengan demikian kapasitas asimilasi suatu perairan juga makin besar.
26 14 Kemudian kemungkinan terakumulasi bahan pencemar dalam kolom air juga akan terus bertambah karena peningkatan kegiatan di perairan Teluk Youtefa. Oleh karena itu, semakin besar kemampuan teluk untuk mengasimilasi bahan-bahan pencemar yang masuk bukan berarti memberikan kesempatan untuk membuang bahan pencemar ke dalam teluk, tetapi informasi ini menjadi masukan bagi pengembangan wilayah perairan Teluk Youtefa dengan kegiatan pengelolaan limbah sehingga memenuhi baku mutu suatu peruntukan, sehingga beban masukan dapat dikendalikan dan tidak melebihi kapasitas asimilasinya. Tinggi (cm) Waktu (jam) : Waktu pengambilan sampel. : Pasang dan surut Gambar 45. Kondisi pasang surut dan waktu pengembilan sampel air laut Kondisi pasang surut (gambar 45) memperlihatkan bahwa pada waktu pengambilan sampel pagi hari (antara jam ) menunjukkan pasang tertinggi (amplitudo) antara cm, dan surut terendah terjadi antara jam Strategi pengendalian pencemaran Teluk Youtefa Hasil analisis menggunakan metode Storet dan metode Indeks Pencemaran, bahwa status perairan Teluk Youtefa telah tercemar ringan sampai berat. Hal ini menandakan bahwa kapasitas asimilasi ekosistem Teluk Youtefa telah terlampaui oleh sebagian beban pencemaran (pollution lood) yang masuk ke dalam teluk. Strategi pengurangan terhadap bertambahnya beban pencemaran menjadi alternatif pilihan yang harus dilakukan.
27 Pendekatan kelembagaan Kelembagaan adalah wadah kerjasama antar stakeholder untuk pengendalian pencemaran perairan Teluk Youtefa. Kelembagaan pengendalian pencemaran perairan bertujuan untuk mempersiapkan bentuk kelembagaan yang lebih tepat dalam kaitannya dengan implementasi otonomi daerah, meningkatkan koordinasi antar sektor/dinas Kota Jayapura dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pengendalian pencemaran tidak bersifat parsial dan sektoral. Pengurangan beban pencemaran memiliki peran yang cukup penting secara kelembagaan. Pendekatan ini lebih pada koordinasi lintas instansi terkait dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dalam pengawasan lingkungan. Tugas pengelolaan lingkungan perairan dari setiap instansi terkait meliputi penyusunan dan perencanaan kebijakan, kesamaan visi dan kordinasi lintas sektoral, pembangunan prasarana pengolahan limbah, pemantauan dan evaluasi, pengaturan perizinan, dan pengaturan denda. Pengawasan terhadap lingkungan hidup di wilayah Kota dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung oleh pejabat pengawas lingkungan hidup untuk mengetahui tingkat ketaatan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap ketentuan peraturan perundangan dibidang lingkungan hidup Pendekatan hukum Mengatasi permasalahan degradasi lingkungan hidup akibat pencemaran dapat dilakukan melalui pendekatan hukum. Status perairan Teluk Youtefa yang tercemar ringan sampai berat membutuhkan instrumen-instrumen untuk mengurangi beban pencemaran. Instrumen yang bisa digunakan dalam pendekatanm hukum yaitu 1) Menggunakan baku mutu air laut, sehingga mutu air limbah yang dibuang ke badan perairan tidak melebihi baku mutu peruntukannya; ) Penerapan penggunaan baku butu air limbah (buangan) untuk menilai kualitas parameter fisik, parameter kimia, dan parameter biologi air sebelum dibuang ke badan perairan sehingga tidak menyebabkan pencemaran lingkungan Komitmen dan dukungan pemerintah daerah dalam penegakan hukum. Komitmen pemerintah daerah untuk penegakan hukum merupakan salah satu aspek utama dalam peningkatan pentaatan selain pemanfaatan instrumen-
28 16 instrumen lainnya. Hal ini dapat dilakukan melalui sistem pengawasan pembuangan limbah cair/padat yang lebih ketat dan penegakan hukum. Pemerintah daerah perlu melakukan pengawasan pembuangan air limbah ke badan perairan, dan melakukan pemantauan secara berkala Pendekatan sosial budaya Pendekatan sosial budaya penting diperhatikan untuk mengurangi beban pencemaran yang masuk kedalam perairna Teluk Youtefa. Metode pendekatan ini dilakukan berdasarkan pada pemikiran bahwa hubungan manusia dan lingkungan salah satu kunci untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Persepsi masyarakat terhadap peningkatan kualitas lingkungan hidup sangat membantu memulihkan kondisi lingkungan hidup dari degradasi dan penanggulangan pencemaran. Pendekatan sosial budaya untuk mengurangi beban pencemaran dapat dilakukan dengan menyadarkan masyarakat tentang bahaya pencemaran bagi manusia, organisme, serta kerugian ekonomi yang bisa terjadi, dan penurunan nilai estetika, melakukan gerakan bersih pantai secara berkelanjutan Pendekatan ekonomi Mengurangi beban pencemaran dapat dilakukan dengan metode pendekatan ekonomi yaitu 1) insentif positif berupa subsidi, keringanan pajak, kemudahan untuk mengakses bank sehingga bisa memacu aktifitas ekonomi berwawasan lingkungan. Insentif dapat diberikan untuk mencegah aktivitas yang merusak lingkungan hidup, ) Disinsentif yaitu kebijakan yang menghasilkan pendapatan atau pajak dan pungutan untuk mencegah aktivitas yang tidak berwawasan lingkungan. Kemudian penetapan pajak dan pungutan sebagai harga atas terjadinya pencemaran lingkungan sebagai cerminan pelayanan masyarakat terhadap kerusakan lingkungan hidup Pendekatan penataan ruang wilayah Teluk Youtefa secara terpadu Metode pengendalian bahan pencemar/mengurangi beban pencemaran di perairan Teluk Youtefa dapat dilakukan melalui pendekatan penataan ruang terpadu serta arah pengembangan wilayah yang sesuai termasuk langkah-langkah pengendalian terhadap pencemaran lingkungan hidup. Brackhahu (001) mengemukakan bahwa rencana tata ruang merupakan alat yang dapat digunakan
29 17 untuk koordinasi antar pemerintah lokal, provinsi, serta sektor, dan para pemangku kepentingan. Dalam rangka pengembangan Kota Jayapura khsusnya perairan Teluk Youtefa, dan untuk menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang teluk, maka pemerintah daerah menyusun rencana tata ruang wilayah yang lebih menekankan pada sektor perikanan dan pariwisata sehingga arahannya lebih mengarah pada perlindungan ekosistem perairan Pembuatan zonasi Teluk Youtefa Pengendalian pencemaran perairan Teluk Youtefa dapat dilakukan dengan pendekatan penetapan kawasan yaitu: 1) memberikan perlindungan bagi kawasan bagian bawah, ) kawasan pelindung sempadan pantai yang proporsional dengan bentuk dan kondisi pantai, minimal 100 meter dari pasang tertinggi ke arah darat, kemudian kawasan sumber air atau daerah aliran sungai, kawasan bencana alam, dan kawasan lindung. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 00 menyebutkan 3 kriteria khusus penetapan kawasan lindung yaitu: 1. Aspek sosial terdiri dari unsur; a) tingkat dukungan masyarakat terhadap kawasan lindung yang direncanakan; b) kesehatan masyarakat, sejauh mana kawasan lindung mengatasi dampak pencemaran; c) rekreasi; d) estetika; e) konflik kepentingan; f) keamanan; g) aksesibilitas; h) kesadaran publik. Aspek ekologis terdiri dari: a) keragaman hayati; b) kealamian; c) ketergantungan spesies terhadap lokasi; d) keterwakilan; e) keunikan; f) integritas; g) produktivitas; h) kerentanan. 3. Aspek ekonomi terdiri dari: a) spesies penting; b) kepentingan perikanan; c) manfaat ekonomi dan pariwisata; d) ancaman. Berdasarkan hasil penelitian bahwa kualitas perairan Teluk Youtefa dapat menurun bukan hanya berdampak pada penurunan kualitas air saja, tetapi dapat berdampak pada ekosistem teluk secara umum. Kriteria lain yang bisa digunakan adalah penetapan kawasan budidaya perikanan misalnya KJA untuk budidaya jenis biota tertentu dengan beberapa pertimbangan seperti arus pantai, faktor keamanan, pasang surut, salinitas, suhu,
30 18 kandungan oksigen terlarut, kandungan logam berat, substrat, kecerahan, dan batimetri, mudah akses ke pasaran mudah dijangkau dengan transportasi Pengendalian limbah rumah tangga Pengendalian pencemaran tidak tuntas apabila hanya menerapkan satu metode saja, tetapi harus menggunakan berbagai metode. Pengendalian pencemaran yang bersumber dari aktivitas rumah tangga dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dikenal dengan sistem pengelolaan sampah terpadu. Sistem ini mengkombinasikan pendekatan pengurangan sampah (reduce), daur ulang (recycle) dan penggunaan kembali (reuse), pembakaran (inceneration), pengkomposan, dan pembuangan akhir (landfilling) Pengelolaan ssampah terpadu dapat dilakukan pada sumbernya yaitu pemilahan (sorting) dengan cara memilah sampah organik, anorganik, dan sampah B3. Sampah dapat dimanfaatkan kembali, didaur ulang, sampah organik dapat memilki nilai ekonomis dijadikan kompos maupun pakan ternak. Sedangkan sampah berbahaya harus ditangani secara khusus. Selain pengendalian sampah, limbah cair merupakan limbah pemicu pencemaran. Limbah ini dapat ditangani melalui instalasi pengolah limbah untuk permukiman, restoran, dan hotel Pengendalian limbah industri Supaya air buangan dari industri memenuhi baku mutu, dapat menggunakan teknologi bersih (clean technology) diantaranya: 1) melakukan penghematan terhadap bahan baku, ) minimalisasi limbah, 3) pencegahan melalui kelayakan lingkungan, 4) daur ulang (recycle), 4) Penggunaan (reuse), 5 Recovery, pemungutan bahan-bahan buangan yang masih mempunyai nilai ekonomnis lalu diproses kembali untuk tujuan tertentu, 6) Instalasi pengolahan air limbah Pengendalian limbah pertanian Limbah pertanian yang tidak terkendali dapat menurunkan kualitas lingkungan akibat tingginya konsentrasi nitrat dan fosfat. Supaya tidak terjadi peningkatan bahan pencemar dari limbah pertanian maka dapat dilakukan strategi pengurangan pemanfaatan pupuk N dan P. Kemudian menjadikan limbah ternak
31 19 menjadi pupuk sebagai pengganti pupuk kimia, serta mendaur ulang sisa atau limbah hayati 5.5. Elemen kunci model kelembagaan pengelolaan Teluk Youtefa Pengembangan model kelembagaan pengelolaan Teluk Youtefa didasarkan atas hasil analisis kelembagaan dengan menggunakan metode Interpretative structural modelling. Analisis terhadap model kelembagaan ini pada dasarnya untuk menyusun hierarki setiap sub elemen pada elemen yang dikaji. Elemen elemen dan sub elemen yang dipilih dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa ini adalah berdasarkan hasil diskusi dari beberapa ahli seperti dari pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Adapun elemen dan sub elemen yang teridentifikasi dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa adalah sebagai berikut Elemen kendala dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Pengelolaan Teluk Youtefa perlu memperhatikan secara menyeluruh dari berbagai aspek, yaitu aspek ekologi, ekonomi, dan aspek sosial budaya. Pengelolaan aspek tersebut diperlukan secara terpadu dengan pendekatan sistem yang melibatkan masyarakat umum, lembaga masyarakat adat, ondoapi, kepala suku, pemerintah, pengusaha, dan nelayan. Pemahaman mengenai Teluk Youtefa tidak hanya sebagai tempat eksploitasi saja karena memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pengguna, atau hanya sebagai tempat penampungan bahan buangan dari teluk maupun dari hulu, serta hanya menampung limpahan air melalui media sungai, tetapi harus dilestarikan, dilindungi, dan diberikan sanksi yang tegas terhadap pelanggaran hukum. Elemen kendala dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa baik langsung maupun tidak langsung diidentifikasi 10 sub elemen seperti disajikan pada tabel 1. Kemudian analisis hirarki disajikan pada gambar 46, dan gambar 47 dikelompokkan 4 sektor yaitu autonomous, dependent, linkage, dan independent. Hasil olahan Interpretative Structural Modelling (ISM) disajikan pada lampiran 9.
32 130 Tabel 1. Elemen kendala dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Sub Elemen: 1. Kurangnya komitmen stakeholder mengenai pengelolaan lingkungan (KKSPL). Perbedaan tujuan antar stakeholder (PTS) 3. Program kerja yang tidak terpadu (PKTT) 4. Kualitas sumberdaya manusia yang terbatas (KSMT) 5. Kurang kordinasi dengan baik mengenai program kerja antara stakeholder (KKMPKS) 6. Lemahnya kerjasama dalam penanganan limbah (LKPL) 7. Penegakan hukum lingkungan yang lemah (PHLL) 8 Konflik kepentingan (KK) 9. Dukungan masyarakat kurang (DMK) 10. Kurangnya dukungan LMA, Ondoapi, Kepala suku Elemen kunci kendala utama dalam pengembangan model pengelolaan Teluluk Youtefa (gambar 46) adalah Kurangnya komitmen stakeholder mengenai pengelolaan lingkungan (1), Adanya perbedaan visi antar stakeholder (), Program kerja yang tidak terpadu (3), Konflik kepentingan (8), Kurangnya dukungan LMA, ondoapi, kepala suku pada program pembangunan (10), Level (DMK) Level - 5 (KKMPKS) Level- 3 4 (KSMT) 7 (PHLL) Level (LKPL) Level (KKSPL) (PTS) 3 (PKTT) 8 (KK) 10 (KPLMAOKS) Gambar 46. Diagram hirarki subelemen kendala utama dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Diagram hirarki gambar 46 menggambarkan bahwa sesuai dengan pendapat pakar, yang menjadi kendala utama dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa dimulai dari Kurangnya komitmen stakeholder mengenai pengelolaan lingkungan (1), adanya perbedaan visi antar stakeholder (), Dukungan masyarakat kurang (3), Konflik kepentingan (8), Kurangnya dukungan LMA,
33 131 ondoapi, kepala suku pada program pembangunan (10). Sub elemen level tersebut (level 5) menjadi elemen penggerak utama dan mempengaruhi sub elemen berikutnya. Menurut Dahuri, (005) bahwa permasalahan yang terjadi di pesisir tidak hanya disebabkan aktifitas di pesisir saja, tetapi juga disebabkan aktifitas di hulu. Oleh sebab itu, untuk pengelolaan pesisir harus dilakukan secara terpadu dan bersama-sama dari berbagai aspek dengan pendekatan perencanaan, satu sistem manajemen, artinya bahwa diperlukan persamaan visi, komitmen pengelolaan, dukungan masyarakat untuk menghindari konflik, serta dukungan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. Elemen kendala lainnya yang menjadi elemen kunci dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa adalah lemahnya kerjasama dalam penanganan limbah pada level ke-4. Bentuk pelanggaran hukum atau lemahnya penegakan peraturan di sekitar Teluk Youtefa adalah adanya pembuangan limbah padat dan limbah cair ke teluk melalui 4 sungai yang bermuara ke Teluk Youtefa tanpa diolah. Hal tersebut sangat bertentangan dengan Undang Undang nomor 3 tahun 009 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan Hidup (UPPLH). Berdasarkan wawancara pakar dan fakta dilapangan, bahwa Teluk Youtefa dibagian timur semakin berkembang permukiman ke arah laut yang didahului melalui penimbunan. Kemudian banyak permukiman di kawasan teluk yang tidak sesuai dengan tata ruang Kota Jayapura. Gambar 47 dikelompokkan sub elemen berdasarkan Driver power (DP) dan Dependent (D) terdiri dari 10 sub elemen dan dikelompokkan kedalam 4 sektor. Dari gambar tersebut terlihat bahwa yang masuk dalam sektor dependent adalah kualitas sumberdaya manusia yang terbatas, kurang Kordinasi dengan baik mengenai program kerja antara stakeholder, lemahnya kerjasama dalam penanganan limbah, penegakan hukum lingkungan yang lemah, dukungan masyarakat kurang. Hal ini memberikan makna bahwa kelima sub elemen dependent tersebut sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar atau kekuatan penggeraknya lemah, atau kelima sub elemen tersebut merupakan variabel tak bebas yang akan dipengaruhi sub elemen lainnya dalam sistem.
34 13 Kurangnya komitmen stakeholder mengenai pengelolaan lingkungan, Perbedaan tujuan antar stakeholder, program kerja yang tidak terpadu, konflik kepentingan, kurangnya dukungan LMA, ondoapi, kepala suku berada pada sektor independent, sub elemen ini memiliki kekuatan penggerak yang besar dalam mengkaji kendala pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa. Sektor ini tidak dipengaruhi oleh sistem tetapi mempengaruhi. Sub elemen ini hampir mendekati garis batas sektor independent dan linkage. Oleh sebab itu selain memiliki penggerak yang besar dalam mengkaji kendala pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa, ada indikasi bisa masuk dalam sektor linkage. Driver Power KKSPL PTS PKTT KK KPLMAOKS Dependenc Gambar 47. Matriks diver power e dan dependence elemen kendala utama dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Elemen tujuan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa 11 Elemen tujuan dibutuhkan oleh pemerintah sebagai arah kebijakan dibidang pengelolaan Teluk Youtefa supaya pengelolaannya sesuai dengan tujuan. Adapun tujuan pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa terdiri dari 1 sub elemen seperti terlihat pada tabel. Hasil olahan Interpretative Structural Modelling (ISM) disajikan pada lampiran 9-A. 101,, 3, 8, , 7 KKMPKS 3 LKPL 1 0 KSMT PHLL DM 5 9
35 133 Tabel. Elemen tujuan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa. Sub Elemen 1. Komitmen yang tegas pengelolaan Teluk Youtefa dan anti pencemaran (KPTYAP). Kesamaan tujuan pengendalian pencemaran Teluk Youtefa (KTPPTY) 3. Meningkatkan dukungan masyarakat berbasis LMA, Ondoapi, Kepala suku (MDLMAOKS) 4. Meningkatkan kerjasama dalam penanganan limbah (MKPL) 5. Membangun kordinasi yang baik dengan masyarakat (MKDM) 6. Semua elemen masyarakat dan Pemerintah mentaati aturan (SEMPMA) 7. Konservasi di hulu dan di teluk (KHTY) 8. Pengendalian bahan pencemar dari kegiatan antropogenik (PBPKA) 9. Memperluas wilayah perbaikan lingkungan (MWPL) 10. Terbentuknya desa percontohan pelestari teluk (TDPPT) 11. Memperpendek jalur bahan pencemar (MJBP) 1. Pengembangan sistem informasi (PSI) Struktur hierarki disajikan dalam gambar 48 terdiri dari 4 level. Sebagai elemen kunci dari tujuan pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa adalah komitmen yang tegas pengelolaan Teluk Youtefa dan anti pencemaran (1), kesamaan persepsi pengelolaan Teluk Youtefa (), meningkatkan dukungan masyarakat berbasis LMA, Ondoapi, Kepala suku (3), meningkatkan kerjasama dalam penanganan limbah (4), membangun kordinasi yang baik dengan masyarakat (5) pada level ke-4. Hal ini berarti bahwa perlu diawali oleh komitmen yang tegas. Sub elemen level ke-4 ini menjadi penggerak utama dan mempengaruhi sub elemen level berikutnya. Isnugroho, (001) yang diacu dalam Walukow AF, (009) mengemukakan bahwa untuk pengendalian air supaya tidak tercemar dapat dilakukan melalui penanggulangan pencemaran untuk menghindari meluasnya pencemaran, dan pencegahan kerusakan sumberdaya yang dilakukan melalui penetapan perijinan pembuangan air limbah cair berdasarkan suatu rencana induk kualitas air menuju kualitas air sesuai baku mutu. Berbagi keahlian maupun pengalaman ditujukan untuk memperoleh partisipasi masyarakat dalam pengembangan sumberdaya air. Kemudian menurut Swanson RL, (010), bahwa pengurangan bahan pencemaran supaya tidak meluas dapat dilakukan mulai dari titik peralihan secara agresif. Metode lain yang dapat digunakan adalah Instrumen regulasi (pengaturan) sebagai salah satu metode yang dapat digunakan untuk waktu yang akan datang
36 134 Level (PSI) Level - 7 (KHTY) 8 (PBPKA) 9 (MWPL) 10 TDPPT) 11 (MJBP) Level (SEMPMA) 1 (KPTYAP) (KTPPTY) 3 (MDMLMAOKS) 4 (MKPL) 5 (MKDM) Level -4 Gambar 48. Diagram hirarki subelemen tujuan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Pengembangan Model Pengelolaan Teluk Youtefa sebagai kontrol terhadap pencemaran dan dapat digunakan/mencari petunjuk yang sama dari bagian lain (Takahiro Hosono T, et al. 010) Savanije (1997) dalam Walukouw (009) mengemukakan bahwa aspek keberlanjutan dalam pengelolaan sumberdaya air dapat meliputi keberlanjutan aspek sosial yakni masyarakat memiliki rasa tanggung jawab. Kemudian sub elemen kunci berikutnya adalah semua elemen masyarakat dan pemerintah menaati aturan. Driver Power KPTYAP KTPPTY MDMLMAOKS MKPL MKDM SEMPMA 13 1,, 13, 4, , 8, 9, 10, KHTY PBPKA MWPL PSI TDPPT MJBP 1 Dependence Gambar 49. Matriks driver power dan dependence elemen tujuan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Pengembangan Model Pengelolaan Teluk Youtefa
37 135 Gambar 49 memperlihatkan bahwa sub elemen tujuan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa berdasarkan driver power dan dependence ke 1 sub elemen yang masuk kedalam sektor dependent adalah konservasi di hulu dan di teluk (7), pengendalian bahan pencemar dari kegiatan antropogenik (8), memperluas wilayah perbaikan lingkungan (9), terbentuknya desa percontohan pelestari teluk (10), memperpendek jalur bahan pencemar (11), dan pengembangan sistem informasi (1). Hal ini memberikan makna bahwa ke enam sub elemen tujuan pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar, atau ke enam sub elemen tersebut merupakan variable tak bebas yang akan dipengaruhi sub elemen lainnya dalam sistem. Sub elemen komitmen yang tegas pengelolaan Teluk Youtefa dan anti pencemaran (1), kesamaan persepsi pengelolaan Teluk Youtefa (), meningkatkan dukungan masyarakat berbasis LMA, Ondoapi, Kepala suku (3), meningkatkan kerjasama dalam penanganan limbah (4), membangun kordinasi yang baik dengan masyarakat (5), semua elemen masyarakat mentaati aturan (6) berada di sektor independent, berarti sub elemen ini memiliki kekuatan penggerak yang besar dalam mendukung tujuan pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa (tabel ). Malone (1994), mengemukakan suatu tujuan dapat tercapai apabila ada interaksi berbagai aktor (pemerintah dan masyarakat) yang terlibat selalu ada kordinasi Elemen tolok ukur keberhasilan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Tolok ukur diperlukan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa agar dapat diketahui perkembangan pembangunan dan permasalahan dalam meningkatkan pembangunan secara berkelanjutan. Perkembangan dan permasalahan pembangunan diharapkan dapat diinformasikan secara berkala dan terbuka kepada masyarakat khususnya masyarakat Kota Jayapura. Sub elemen tolok ukur keberhasilan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa terdiri dari 16 sub elemen, struktur hierarki dijabarkan pada gambar 50. Pada gambar terlihat bahwa yang menjadi elemen kunci dalam
38 136 tolok ukur keberhasilan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa adalah peningkatan pola pikir masyarakat (6), Dukungan yang kuat dari LMA, ondoapi, kepala suku (8), managemen transfortasi teluk yang baik (11), terlaksananya kesamaan tujuan di lapangan (14), stabilitas politik lokal yang kondusif (15), managemen pengolahan limbah (16). Sub elemen level ke-5 ini menjadi sub elemen kunci dan mempengaruhi sub elemen pada level berikutnya. Hasil olahan Interpretative Structural Modelling (ISM) disajikan pada Lampiran 9-B Tabel 3. Elemen tolok ukur keberhasilan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Elemen: 1. Keragaman biota dan tumbuhan laut (KBTL). Menurunnya jumlah bahan pencemar cair yang melebihi baku mutu (MJBPMBM) 3. Menurunnya laju erosi dan sedimen teluk (MLEST) 4. Managemen wisata yang baik (MWB) 5. Menurunnya komplik kepentingan (MKK) 6. Peningkatan pola pikir masyarakat (PPPM) 7. Peningkatan pendapatan masyarakat (PPM) 8. Dukungan yang kuat dari LMA, ondoapi, dan kepala suku (DKLMAOKS) 9. Fasilitas TPA yang memadai (FTPAM) 10. Pengaturan terhadap penyebaran dan kepadatan penduduk (PTPKP) 11. Manajemen transportasi teluk yang baik (MTTB) 1. Pengolahan limbah cair pemukiman (PLCP) 13. Adanya pengolahan limbah padat dari sumber (APLPS) 14. Terlaksananya kesamaan tujuan di lapangan (TKTL) 15. Stabilitas politik lokal yang kondusif (APLK) 16. Manajemen pengolahan limbah (MPL) Sub elemen level berikutnya sebagai elemen kunci tolok ukur keberhasilan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa adalah keragaman biota dan tumbuhan laut (1), menurunnya jumlah bahan pencemar cair yang melebihi baku mutu (), menurunnya laju erosi dan sedimen teluk (3), Manajemen wisata yang baik (4), menurunnya konflik kepentingan (5).
39 137 Level -1 7 (PPM) Level - 9 (FTPAM) 10 (PTPKP) Level -3 1 (PLCP) 13 (APLPS) Level -4 1 (KBTL) (MJBPMBM) 3 (MLEST) 4 (MWB) 5 (MKK) 6 (PPPM) 8 (DKLMAOKS) 11 (MTJB) 14 (TKTL) 15 (SPLK) 16 (MPL) Level -5 Gambar 50. Diagram hirarki subelemen tolok ukur keberhasilan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Pengembangan Model Pengelolaan Teluk Youtefa Sub elemen dikelompokkan kedalam 4 sektor yaitu autonomous, dependent, independent, dan linkage. Berdasarkan nilai driver porwer dan dependence, pada gambar 51 bahwa sub elemen yang masuk dalam sektor dependence adalah sub elemen peningkatan pendapatan masyarakat (7), Fasilitas TPA yang memadai (9), Pengaturan terhadap penyebaran dan kepadatan penduduk (10), pengolahan limbah cair pemukiman (1), adanya pengolahan limbah padat dari sumber (13). Hal ini memberikan makna bahwa ke lima sub elemen pada sektor dependence ini lebih banyak dipengaruhi oleh sistem kekuatan penggeraknya lemah. Sub elemen yang masuk dalam sektor linkage adalah keragaman biota dan tumbuhan laut (1), menurunnya jumlah bahan pencemar cair yang melebihi baku mutu (), menurunnya laju erosi dan sedimen teluk (3), manajemen wisata yang baik (4), menurunnya konflik kepentingan (5). Sub elemen ini sangat dipengaruhi elemen-elemen lain, sifatnya labil, harus dikaji secara hati-hati dalam mengkaji tolok ukur keberhasilan dalam pengembangan model pengeloklaan Teluk Youtefa karena akan memberikan dampak terhadap lainnya dan umpan balik pengaruhnya bisa memperbesar dampak tersebut. Sub elemen yang masuk dalam sektor independent adalah perubahan pola pikir masyarakat, dukungan yang kuat dari LMA, ondoapi, kepala suku, kemudian
40 138 mengurangi vahan pencemar yang melebihi baku mutu, terlaksananya kesamaan tujuan di lapangan, dan pengolahan limbah cair permukiman. Sub elemen ini memiliki kekuatan penggerak yang besar dalam sistem, tidak dipengaruhi tapi mempengaruhi sistem dalam mencapai tolok ukur yang kuat dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa. Driver Power 17 6, 8, 11, 14, 15, 16 PPP DKLMA KBTL MJBPMBM MLEST MWB 14 MKK 13 MTJB 1 TKTL SPLK MPL ,, 3, 4, PLCP 5 1, 13 4 APLPS 3 9, 10 FTPAM PTPKP 1 PPM 7 0 Dependence Gambar 51. Matriks driver power dan dependence elemen tolok ukur keberhasilan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Pengembangan Model Pengelolaan Teluk Youtefa Elemen lembaga yang terlibat dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Kartodiharjo, et al (1999) diacu dalam Walukow AF, (009) mengemukakan bahwa kelembagaan adalah seperti organisasi atau wadah, yang mengandung pengertian tentang norma-norma, tata cara, aturan, atau prosedur yang mengatur hubungan antar manusia, bahkan kelembagaan merupakan sistem yang kompleks, rumit, dan abstrak. Sehingga perlu dianalisis mengenai lembaga yang terlibat dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Elemen lembaga yang terlibat dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa terdiri dari 19 sub elemen seperti terlihat pada Tabel 4. Kemudian diagram hirarki disajikan pada gambar 5. Hasil olahan Interpretative Structural Modelling (ISM) disajikan pada Lampiran 9-C.
41 139 Tabel 4. Elemen lembaga yang terlibat dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa. Sub Elemen: 1. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Dinas Pariwisata (DP) 3. Dinas pekerjaan umum (DPU) 4. Balai konservasi sumber daya alam (BKSDA) 5. Masyarakat umum (MU) 6. Dinas Perindustrian (DIP) 7. Pengusaha (hotel, keramba, restauran, budidaya, dll) (P) 8. Tokoh agama (TA) 9. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) 10 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) 11 Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) 1 Perguruan Tinggi (PT) 13 Dinas Kebersihan (DK) 14 Dinas Kesehatan (DKES) 15 Lembaga masyarakat adat, ondoapi, kepala suku (LMAOKS) 16 Dinas Pertanian (DEPTAN) 17 Pengusaha (P) 18 Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Mamberamo (BPDASM) 19 Camat/Lurah/RT (CLRT) Lembaga yang terlibat dan menjadi elemen kunci dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa adalah Dinas kelautan dan perikanan, Badan perencanaan pembangunan daerah, Badan lingkungan hidup daerah, Dinas pekerjaan umum, dan Balai konservasi sumberdaya alam. Menurut Mochtar, (001) diacu dalam Walukow AF, (009) bahwa pengelolaan air maupun sumber-sumber air belum ada suatu bentuk badan pengelolaan yang baku. Dalam Undang-Undang Sumberdaya Air nomor 7 tahun 004, bahwa Pengelolaan sumber daya air diperlukan penetapan setiap wilayah sungai yang menjadi acuan dalam perencanaan tata ruang meliputi perlindungan dan pelestarian sumber air, pengawetan air, pengelolaan kualitas air, dan pengendalian pencemaran. Pengelolaan sumber daya air agar dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik, maka diperlukan suatu kelembagaan dan peraturan dibidang pengelolaan air dan sumber air. Kemudian memerlukan data dan informasi air dan sumber air yang lengkap dan akurat. Upaya pengaturan kuantitas dan kualitas air diperlukan aspek non fisik yaitu aspek kelembagaan, karena aspek kelembagaan memiliki wewenang
42 140 dalam pengaturan dan kebijakan. Sistem pengelolaan air dan sumber air pada masa yang akan datang, selain menyangkut masalah fisik, pendanaan, juga masalah kelembagaan seperti peraturan, sumber daya manusia, pelatihan akan semakin berperan dan diperlukan guna pemanfaatan air dan sumber air secara benar, dan efisien. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi diperlukan persiapan untuk menanggulangi permasalahan sumber air yaitu mengembangkan perangkat hukum dan keterpaduan pengelolaan secara berkelanjutan. 6 (DIP) 7 (P) 8 (TA) 1 (PT) 13 (DK) 19 (CLRT) Level -1 Level - 10 (LSM)) 14 (DKES) Level -3 (DP) 3 (DPU) 4 (BKSDA) 5 (MU) 16 (DEPTAN) 18 (BPDASM) Level -4 1 (DKP) 9 (BAPPEDA) 11 (BLHD) 15 (LMAOKAS) 17 (P) Gambar 5. Diagram hirarki subelemen lembaga yang terlibat dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Pengembangan Model Pengelolaan Teluk Youtefa Hasil penelitian menunjukkan (Gambar 5) bahwa sub elemen dari lembaga yang terlibat dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa dimulai dari Dinas kelautan dan perikanan (1), Badan perencanaan pembangunan daerah (9), Badan lingkungan hidup daerah (11), LMA, ondoapi, kepala suku (15), dan pengusaha (17). Sub elemen (level ke-4) menjadi elemen kunci dan mempengaruhi sub elemen pada level berikutnya. Kemudian sub elemen yang terlibat lainnya juga merupakan elemen kunci dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa adalah Dinas pariwisata (), DPU (3), Balai konservasi sumberdaya alam (4), masyarakat umum (5), Dinas pertanian (16), dan Balai pengelolaan daerah aliran sungai mamberamo (level ke-3) Pengelolaan Teluk Youtefa oleh masyarakat yang bermukim di teluk dapat dilakukan dalam bentuk partisipasi masyarakat adat, Ondoapi, dan Kepala suku, dimana kelompok konservasi dapat berada dalam pengawasan adat. Tujuannya adalah untuk menghindari teluk dari pencemaran dan kerusakan. Hal ini diperkuat
43 141 oleh Maragos, (1995) diacu dalam Dahuri, (008) mengemukakan bahwa program pengelolaan wilayah pesisir di Hawai Amerika Serikat melibatkan partisipasi masyarakat dengan proyek-proyek husus seperti Community based management planning diutamakan yang dibiayai oleh Negara bagian Hawai. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat dan survey lapang, bahwa di pesisir Teluk Youtefa banyak ditemukan sampah plastik di dasar perairan dan terapung. Sampah sampah tersebut sangat mengganggu transportasi karena sering melilit di ujung mesin terutama pada saat air surut. Oleh karena itu, masyarakat merasa sangat dirugikan dengan peristiwa peristiwa tersebut. Driver Power DKP BAPPEDA DKP DKP BLHD LMAOKS P 0 1, 9, 11, 15, Dependence Gambar 53. Matriks diver power dan dependence elemen lembaga yang terlibat dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Pengembangan Model Pengelolaan Teluk Youtefa Pada Gambar 53 di atas dikelompokkan berdasarkan Driver Power (DP) dan Dependence (D) yang terdiri dari 19 sub elemen, dikelompokkan kedalam 4 sektor. Dari gambar tersebut menunjukkan bahwa yang masuk dalam Dependence adalah delapan sub elemen yaitu Dinas perindustrian, Pengusaha, Tokoh agama, Lembaga swadaya masyarakat, Perguruan tinggi, Dinas kebersihan, Dinas kesehatan, dan camat/lurah/rt. Sub elemen tersebut memberikan makna sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar, lebih banyak dipengaruhi perilaku sistem (driver power relatif rendah atau lemah) dibanding sektor Independent dan sektor linkage. DP DPU BKSDA MU DP, 3, 4, 5, 16, 18 DEPTAN CLRT , 14 6, 7, 8, 1, 13, LSM DP DPU BKSDA MU DEPTAN BPDASM Sub elemen pada sektor linkage terdiri dari 6 sub elemen yaitu Dinas pariwisata, DPU, Balai konservasi sumberdaya alam, masyarakat umum, Dinas pertanian, dan Balai pengelolaan daerah aliran sungai. Sub sub elemen linkage ini harus dikaji secara hati hati dalam mengkaji lembaga yang terlibat dalam DKES DIP P TA PT DK CLRT
44 14 pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa, karena rentan dipengaruhi yang lain, sifatnya labil, sangat dipengaruhi elemen-elemen lain, tingkat dependence di atas rata-rata (tinggi) tapi juga mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap sistem. Sub elemen dinas kelautan dan perikanan, badan perencanaan pembangunan daerah, Badan lingkungan hidup daerah, LMA, ondoapi, kepala suku, dan pengusaha berada pada sektor Independent. Sub elemen ini memiliki kekuatan penggerak yang besar, tidak dipengaruhi, tapi mempengaruhi sistem dalam mencapai pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Elemen kebutuhan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Pengelolaan Teluk youtefa memerlukan dukungan berbagai elemen agar pengelolaan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah. Sub elemen kebutuhan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa terdiri dari delapan sub elemen seperti terlihat pada tabel 5. Hasil analisis interpretative stuctural modelling disajikan pada Lampiran 9-D. Tabel 5. Elemen kebutuhan program dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Sub Elemen: 1 Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (MKSDM) Stabilitas politik lokal yang kondusif (SPLK) 3 Manajemen usaha perikanan yang pro rakyat (MUPPR) 4 Pendanaan dari pemerintah dan swasta (PPS) 5 Dukungan kuat dari LMA, ondoapi, kepala suku (DLMAOKS) 6 Obyek wisata yang baik dan transfortasi teluk (OWBTT) 7 Ketegasan pengendalian pencemaranteluk Youtefa (KPPT 8 Kebutuhan keterpaduan program (KKP) Gambar 54 menunjukkan bahwa sub elemen kebutuhan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa diawali dari aspek stabilitas politik lokal yang kondusif pada level ke-4. Sub elemen ini merupakan sub elemn kunci dan mempengaruhi sub elemen level berikutnya. Kemudian yang menjadi sub elemen kunci berikutnya adalah dukungan kuat LMA, ondoapi, kepala suku. Obyek wisata serta transportasi teluk yang tersedia. Membutuhkan ketegasan pengendalian pencemaran teluk dan kebutuhan keterpaduan program. Menurut wawancara
45 143 langsung dengan dinas perikanan dan kelautan, bahwa selain sebagai transportasi dan obyek wisata juga sebagai daerah pengembangan perikanan. Level -1 3 (MUPPR) Level - 1 (MKSDM) 4 (PPS) Level -3 5 (DLMAOKS) 6 (OWBTT) 7 (KPPTY) 8 (KKP) Level -4 (SPLK) Gambar 54 Diagram hirarki sub elemen kebutuhan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Menurut dinas kelautan dan perikanan Kota Jayapura (0110), bahwa jumlah keramba jaring apung mengalami pertambahan secara signifikan tahun 009 sebanyak 08, dan tahun 010 sebanyak 90. Peningkatan tersebut karena adanya sumbangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) untuk para petani nelayan di Teluk Youtefa. Berdasarkan driver power dan dependence pada gambar 55 bahwa sub elemen meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, manajemen usaha perikanan yang pro rakyat, dan pendanaan dari pemerintah dan swasta masuk dalam sektor dependent. Hal ini memberikan makna bahwa sub elemen pada sektor dependent ini sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar (kekuatan penggeraknya lemah) atau sub elemen tersebut merupakan variabel tak bebas yang akan dipengaruhi sub elemen lainnya dalam sistem DLMAOKS OWBTT 7 6 Driver Power 5, 6 7, 8 5 SPLK KPPT KKP , MKSDM Dependence Gambar 55. Matriks driver power dan dependence elemen kebutuhan dalam pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Pengembangan Model Pengelolaan Teluk Youtefa PPS MUPPR 3
46 144 Sub elemen stabilitas politik lokal yang kondusif, butuh dukungan kuat dari LMA, ondoapi, kepala suku, obyek wisata yang baik dan transportasi teluk, membutuhkan ketegasan pengendalian pencemaran teluk, serta kebutuhan keterpaduan program berada pada sektor independent. Hal ini berarti bahwa sub elemen tersebut memiliki kekuatan penggerak yang besar dalam sistem, tidak dipengaruhi tapi mempengaruhi sistem dalam kebutuhan pengembangan model pengelolaan Teluk Youtefa Pemodelan sistem pengelolaan Teluk Youtefa Pemodelan sistem merupakan penyederhanaan dari sebuah obyek atau situasi untuk menemukan peubah-peubah penting dan tepat serta hubungan antar peubah dalam sistem berdasarkan hasil pendekatan kotak gelap (black box). Pada diagram kotak gelap sistem pengelolaan Teluk Youtefa (Gambar 6) tampak bahwa dalam sistem tersebut masukan/input yang mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan Teluk Youtefa adalah input lingkungan, input terkontrol, dan input tak terkontrol. Input lingkungan mencakup peraturan perundangan. Input terkontrol merupakan input yang dapat dikendalikan pelaksanaan manajemennya dalam sistem untuk menghsilkan output yang dikehendaki, sedangkan input tidak terkontrol merupakan masukan yang tidak dapat dikontrol. Output yang dikehendaki dari pelaksanaan sistem yaitu teluk lestari, kualitas air memenuhi baku mutu, beban pencemaran menurun. Kemudian output yang tidak dikehendaki adalah kualitas air terus menururn, jumlah beban limbah meningkat, kesehatan masyarakat menururn kualitas dan kuantitas tangkapan ikan menurun. Model pengelolaan Teluk Youtefa disusun oleh beberapa sub model yaitu 1) Su model dinamik sumber pencemar, ) Sub model dinamik beban pencemaran, dan 3) Sub model dinamik kualitas air. Simulasi dilakukan selama periode 30 tahun mulai tahun dan terdiri dari skenario medel sebagai berikut; Melakukan suatu kebijakan untuk penurunan fraksi pertambahan jumlah penduduk yang berdampak pada berkurangnya limbah KJA, limbah ternam babi, limbah ternak sapi, limbah fases manusia, jumlah limbah padat, jumlah beban limbah cair BCOD. Kemudian menurunkan fraksi total beban pencemaran untuk menurunkan limbah.
47 145 Tujuan utama penelitian ini adalah membangun model dinamik pengelolaan Teluk Youtefa secara terpadu. Model ini disusun merdasarkan tiga sub model yaitu 1) Model sumber pencemar yaitu bersumber dari kegiatan di hulu yang masuk ke Teluk Youtefa melalui empat sungai dan kegiatan di atas teluk, ) sub model beban pencemar, dan 3) Sub model kualitas air Teluk Youtefa. Gambaran hubungan umum ketiga sub model tersebut disajikan pada Gambar 56 sebagai berikut: Sub Model Sumber Pencemar (SMSP) 1. Penduduk & sampah. Penduduk & beban BCOD 3. Limbah ternak babi 4. Limbah ternak Sapi 5. Limbah KJA 6. Limbah fases manusia Sub Model Beban Pencemar (SMBP) BOD, COD, TSS, NH 3 -N, NO 3 - N, PO 4 -P Kapasitas Asimilasi TY Sub Model Kualitas Air TY (SMKA-TY BOD, COD, TSS, NH 3 -N, NO 3 - N, PO 4 -P Model Gambar 56. Model sumber pencemar, beban pencemar, dan kualitas air Teluk Youtefa Model sumber pencemar perairan Teluk Youtefa terdiri dari sub model limbah ternak sapi, sub model limbah ternak babi, sub model limbah padat, sub model limbah cair (beban BCOD), sub model KJA, dan sub model limbah faeses manusia. Sub sub model tersebut dibuat secara parsial, kemudian diintegrasikan menjadi satu model pencemar perairan Teluk Youtefa yang merupakan sebagai total akumulasi sumber pencemar yang masuk ke Teluk Youtefa. Sub model dalam sistem pengelolaan Teluk Youtefa merupakan bagian pemodelan untuk mengetahui variabel-variabel lingkungan seperti jumlah populasi, permasalahan limbah dan pencemaran Teluk Youtefa terhadap keberlanjutan sistem.
48 146 Hubungan variabel-variabel lingkungan tersebut kemudian disajikan dalam diagram sub model seperti ditunjukan pada gambar 57. FR_BABI LBH_TIAP_BABI LBH_BABI_EX LAJU_4 JM_PDD_EX_39 FR_SAPI LBH_TIAP_SAPI INDEKS_BABI FAK_KR_3 LBH_SAPI_EX INDEK_SAPI FRAK_PDD_3 INDEKSW_3 LUAS_LHN_TIPA_RMH_3 KEB_BANGUNAN_4 FR_LBH_PADAT_4 LAHAN_TERP_4 LBH_PADAT_4 FPENG_LAHAN_3 LUAS_LAHAN_4 FRAK_LBHCAIR_3 FR_TINJAA FRAK_PENC_4 FR_KJA LBH_TINJA_EX INJA_ORG PENC_4 LBH_CAIR_4 LBH_KJA_EX LBH_EKOR INDEKS_PDTY INDEK_KJA Gambar 57 Diagram sub model pengelolaan Teluk Youtefa Berdasarkan diagram sub model pengelolaan Teluk Youtefa (Gambar 57) diketahui bahwa total beban pencemaran Teluk Youtefa merupakan akumulasi dari beban pencemaran limbah padat penduduk, limbah cair penduduk, limbah ternak sapi, limbah ternak babi, limbah KJA, dan limbah faeses manusia yang bermukim di atas teluk. Peningkatan beban pencemaran limbah domestik sangat dipengaruhi oleh peningkatan volume limbah yang besarnya sangat dipengaruhi tingkat pemakaian air dan aktivitas membuang limbah domestik oleh masyarakat yang bermukim disekitar Teluk Youtefa. Kemudian beban pencemaran ternak sangat dipengaruhi oleh jumlah ternak sapi dan ternak babi. Sedangkan limbah KJA sangat dipengauhi oleh jumlah ikan dan pakan yang diberikan pada ikan. Secara keseluruhan total beban pencemaran Teluk Youtefa akan sangat mempengaruhi kapasitas asimilasi Teluk Youtefa atau kemampuan Teluk Youtefa mereduksi beban pencemaran akibat pembuangan limbah domestik, limbah ternak
49 JM_PDD_EX 147 sapi dan ternak babi, limbah KJA, maupun limbah faeses manusia yang bermukim di atas perairan Teluk Youtefa Analisis trend sistem Tahap analisis trend sistem dilakukan untuk mengeksplorasi perilaku sistem dalam jangka panjang ke depan ( ) melalui simulasi model. Perilaku simulasi ditetapkan selama 30 tahun, dalam kurun waktu simulasi disajikan perkembangan yang mungkin terjadi pada variabel-variabel yang akan dikaji. Variabel-variabel yang akan disimulasikan adalah trend penduduk. Jumah penduduk dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk secara alami diantaranya adanya kelahiran 100,000 90,000 80,000 70,000,006,01,018,04,030,036 TAHUN Gambar 58. Trend populasi penduduk Pada Gambar 58 kurva pertumbuhan penduduk memperlihatkan trend pertumbuhan positif (positive growth) naik mengikuti kurva sigmoid pada tahun simulasi 006 sampai tahun 036 (30 tahun yang akan datang). Hal ini disebabkan laju tingkat kelahiran lebih besar dibanding dengan laju tingkat kematian. Namun demikian, laju pertambahan penduduk ini akan diimbangi oleh adanya kematian dan migrasi sehingga dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan negative (negative growth). Pada tahun 006, penduduk abepura dan sekitarnya berjumlah jiwa dan meningkat menjadi 10.6,57 jiwa pada tahun 019 (Tabel 6). Pada tahun 00 sampai akhir simulasi tahun 036 pertumbuhan penduduk mulai mencapai keseimbangan tertentu. Laju pertumbuhan penduduk ini sangat mempengaruhi kebutuhan lahan untuk penggunaan tertentu seperti lahan untuk pemukiman, lahan pertanian, lahan fasilitas dan penggunaan lainnya. Melihat laju pertumbuhan penduduk dan tingkat ketersediaan lahan yang semakin berkurang (gambar 59), serta kebutuhan lahan yang semakin meningkat (Gambar 60) setiap tahun,
50 LHN_TSD 148 mengindikasikan bahwa pada suatu saat, laju pertumbuhan penduduk tersebut akan menuju pada suatu titik keseimbangan tertentu (stable equilibrium) dan selanjutnya mengalami penurunan. Fenomena model ini dapat disebut mengikuti pola dasar (archetype) limit to growth dalam sistem dinamik (Meadon, 1897 diacu dalam Thamrin, 009). Pertumbuhan jumlah penduduk menyebabkan pertumbuhan kebutuhan penggunaan lahan, dalam hal ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feetback) antara pertumbuhan penduduk dan kebutuhan lahan melalui proses reinforcing. Namun karena keterbatasan luas lahan menyebabkan pertambahan luas lahan pada suatu waktu tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan penduduk, sehingga ketersediaan lahan untuk suatu penggunaan tertentu dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk, namun ketersediaan lahan untuk penggunaan lainnya mengalami penurunan sebagai akibat terjadinya konversi lahan. Ini terlihat pada hasil simulasi model dimana pertumbuhan luas lahan untuk kebutuhan pemukiman terjadi penurunan ketersediaan. Fenomena ini memperlihatkan adanya hubungan timbal balik negatif (negative feetback) melalui proses balancing. Dalam hal ini komponen daya dukung lingkungan akan menjadi faktor pembatas yang dapat menekan laju peningkatan kebutuhan lahan. Hasil simulasi disajikan pada gambar 59 berikut Jan Jan Jan Jan 036 Time 01 Jan Jan Jan Jan 036 LHN_TSD 1.344,08 804,75 481,83 88,49 Gambar 59. Trend lahan tersedia Peningkatan jumlah penduduk akan memberikan tekanan terhadap lingkungan yaitu terjadinya peningkatan kebutuhan lahan untuk tujuan penggunaan lahan untuk pemukiman, lahan fasilitas, dan pemanfaatan lainnya. Hal ini akan berdampak terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan peningkatan kerusakan lingkungan. Hubungan ini merupakan hubungan timbal balik (negative feetback
51 LHNMUKIMTHN 149 melalui proses balancing. Terjadinya kerusakan lingkungan akan berpengaruh terhadap keberlanjutan perairan Teluk Youtefa Jan Jan Jan Jan 036 Time 01 Jan Jan Jan Jan 036 LHNMUKIMTHN 13,44,10 36,35 59,77 Gambar 60. Trend pengunaan lahan Tabel 6. Populasi penduduk dan jumlah sumber pencemar tahun Time,006,007,008,009,010,011,01,013,014,015,016,017,018,019,00,01,0,03,04,05,06,07,08,09,030,031,03,033,034,035,036 JM_PDD_EX LBH_PADAT_EX LBH_CAIR_EX LBH_BABI_EX LBH_SAPI_EX LBH_KJA_EX LBH_TINJA_EX 65, , , , ,169.89, , , ,798.0, , , ,67.99, , , ,664.46, , , ,777.37, , , ,934.8, , , ,13.17, , , ,346.76, , , ,571.36, , , ,589.60, , , ,373.00, , , , , , , ,6.57 3, , , , , , , , , , , , , , ,66.5 3, , , , , ,136.97, , , ,8.87 3,144.69, , , , ,151.13, , , , ,157.60, , , , ,164.07, , , , ,170.56,0.7 1, , , ,177.06, , , , ,183.57, , , , ,190.10, , , , ,196.64, , , , ,03.0, , , ,99. 3,09.77, , , , ,16.35, , , , ,.94,053. 1, , Validasi Validasi struktur Menurut Muhammadi, (001) bahwa pengujian validasi dilakukan untuk memperoleh kenyakinan sejauh mana keserupaan struktur model mendekati strukur nyata. Secara empirik bahwa pertambahan total sumber pencemar dipengaruhi beberapa sumber pencemar yang bersumber dari limbah timbulan sampah, limbah
52 150 faeses manusia yang bermukim di teluk, limbah ternak babi, limbah ternak sapi, limbah KJA, dan limbah cair BCOD penduduk. Peningkatan jumlah sumber pencemar akan meningkatkan total beban pencemar pada perairan Teluk Youtefa. Berdasarkan hasil simulasi terhadap sub model dinamik sumber pencemar memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah penduduk diikuti oleh peningkatan total beban pencemar secara eksponensial (Tabel 6). Penelitian ini memperkuat simpulan dari Cornwel, (1998) bahwa sumber titik pencemar dapat bersumber dari limbah domestik, limbah industri, limbah pertanian, dan limpasan limbah perkotaan Validasi kinerja/(output model) Validasi kinerja/output model adalah aspek pelengkap dalam metode berpikir sistem yang bertujuan untuk memperoleh kenyakinan sampai sejauh mana kinerja model sesuai dengan kinerja sistem nyata sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta atau bisa diterima secara akademik. Validasi kinerja dilakukan dengan membandingkan data hasil keluaran model yang dibangun dengan data empiris untuk melihat sejauh mana perilaku kinerja model sesuai dengan data empiris. Barlas (1996) mengemukakan bahwa validasi kinerja atau output model bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta. Metode pengujian validasi kinerja dapat dilakukan menggunakan uji statistik antara lain absolute mean error (AME), absolute variation error (AVE) dengan batas penyimpangan < 10 % (Muhammadi et al, 001). AME adalah penyimpangan nilai rata-rata hasil simulasi terhadap nilai aktual, sedangkan AVE adalah penyimpangan nilai variasi simulasi terhadap aktual. Validasi kinerja dilakukan terhadap model sumber pencemar (co model) yaitu total sumber pencemar dan jumlah penduduk yang menjadi sumber utama terjadinya pencemaran, serta model beban pencemaran (main model) yaitu total beban pencemar. Hasil simulasi terhadap ketiga model menunjukkan adanya kemiripan antara hasil simulasi dengan data empiris (aktual).
53 151 Hasil validasi kinerja/output model sumber pencemar untuk variabel jumlah penduduk dengan menggunakan rumus AME, AVE, masing-masing adalah 0,0188 (1,88 %), 0,0185 (1,85 %), dengan demikian nilai-nilai tersebut berada pada batas kriteria pengujian <10 % (Gambar 61) TAHUN Gambar 61. Grafik perbandingan perkembangan jumlah penduduk hasil simulasi dengan kondisi eksisting Gambar 61 menunjukkan bahwa trend pertumbuhan penduduk sejak tahun 006 hingga tahun 011 antara data simulasi dengan data faktual relatif sama. Jika dilihat dari nilai AME dan AVE yang sangat rendah, maka dapat dikatakan bahwa dinamika pertumbuhan jumlah penduduk dalam model telah dapat menggambarkan dinamika pertumbuhan penduduk secara aktual di lapangan. Validasi kinerja pada model total sumber pencemar untuk variable total sumber pencemar dengan menggunakan rumus AME adalah 0,035 (3,5 %) dan AVE adalah 0,01 (,1 %), dengan demikian nilai-nilai tersebut berada pada batas kriteria pengujian Hasil simulasi dan aktual untuk variabel total sumber pencemar disajikan pada Gambar 6.
54 15 8, ,000 7, , Nilai_Faktuali Nilai_Simulas Gambar 6 simulasi perbandingan total sumber pencemar periode tahun 006 hingga periode tahun 011 perilaku kurva relatif sama antara nilai faktual dengan nilai simulasi, serta nilai AME dan AVE yang rendah. Hal tersebut menggambarkan dinamikan sumber pencemar dalam model telah dapat menggambarkan dinamika pertumbuhan sumber limbah di lapangan dan model total sumber pencemar berdasarkan validasi kinerja dikatakan valid. Kemudian hasil validasi kinerja model beban pencemar khususnya variabel total beban pencemar dengan menggunakan rumus AME adalah 0,06 (6,0 %), AVE adalah 0,07 (7 %), dengan demikian nilai-nilai tersebut berada pada batas kriteria pengujian. Hasil simulasi dan aktual untuk variabel total beban pencemar ditujukan pada gambar 63,006,007,008,009,010,011 TAHUN Gambar 6 Grafik perbandingan total sumber pencemar hasil simulasi dan aktual 1, , , ,600 1,006,007,008,009,010,011 TAHUN 1 Nilai_Faktuali Nilai_s imulas Gambar 63. Grafik perbandingan total beban pencemar hasil simulasi dan aktual Gambar 63 menunjukkan bahwa trend perbandingan total beban pencemaran pada awal tahun 006 dan tahun 007 relatif sama antara data faktual dan data simulasi. Pada tahun 007 hingga tahun 010 menunjukkan perilaku kurva
55 153 yang cukup berbeda antara simulai dan dan data faktual, dimana data simulasi cendrung lebih rendah dibandingkan dengan data faktual. Namun demikian pada tahun 011 jumlah total beban pencemaran hasil simulasi relatif sama dengan total beban pencemaran faktual, walaupun pada beberapa titik ada perbedaan, akan tetapi jika dilihat pada nilai AME dan AVE yang rendah, dinamika total beban pencemar dalam model telah dapat menggambarkan dinamika pertumbuhan beban pencemar faktual dilapangan Verifikasi model Verifikasi model total sumber beban pencemar Pada total sumber pencemar dilakukan verifikasi model dengan tujuan untuk mengetahui perilaku sistem model sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan kebijakan (policy) sehingga bisa melakukan langkah-langkah strategis berkaitan dengan pengelolaan pesisir Teluk Youtefa. Hasil simulasi (gambar 64 dan lampiran 10) selama periode 30 tahun mendatang ( ) terjadi peningkatan jumlah penduduk. Hal tersebut akan menyebabkan peningkatan jumlah limbah. Fraksi pertumbuhan jumlah penduduk selama ini adalah 4,1 %. Penurunan fraksi pertumbuhan jumlah penduduk dari 4,1 % menjadi 3,5 % memberikan pengaruh penurunan yang nyata terhadap level (stock) dan laju (rate). Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan menurunkan fraksi pertumbuhan jumlah penduduk ternyata dapat menurunkan jumlah penduduk dari ,45 jiwa menjadi 95.45,38 jiwa pada tahun 036 gambar 64.a). Jika tidak ada intervensi kebijakan terhadap pembatasan pertambahan penduduk maka hasil simulasi menunjukkan pertumbuhan yang pesat selama periode simulasi. Jika tidak ada upaya untuk menurunkan jumlah penduduk, maka pertambahan penduduk akan terus meningkat maka bisa menyebabkan overshoot. Peningkatan jumlah penduduk tersebut akan menemui masalah dalam penanganan limbah, hal ini memberikan petunjuk bahwa masalah limbah memiliki bentuk struktur archetype tragedy of the commons yaitu banyak pelaku yang berlomba tapi akhirnya menemui masalah
56 LBH_KJA_EX LBH_TINJA_EX LBH_BABI_EX LBH_SAPI_EX LBH_PADAT_EX LBH_CAIR_EX , , , ,000 1,006,01,018,04,030,036 Peningkatan jumlah limbah padat diakibatkan peningkatan jumlah penduduk TAHUN JM_PDD_AKTUAL Peningkatan jumlah limbah padat diakibatkan peningkatan jumlah penduduk periode Hasil simulasi menunjukkan bahwa jumlah limbah padat meningkat dari.143,0,10 ton menjadi 3.4,15 ton pada akhir simulasi, namun karena adanya penurunan fraksi penduduk maka jumlah limbah padat berkurang dari 3.,94 ton menjadi 3.054,48 ton pada akhir simulasi artinya limbah padat berkurang sebanyak 167,9 ton (gambar 64.b) 1 JM_PDD_SIMULASI a Trend total sumber pencemar disajikan pada gambar 65 dan lampiran 11 3,000, , ,006,01,018,04,030,036 TAHUN Gambar 64 Trend penduduk dan limbah padat berdasarkan fraksi 1 LBH_PADAT_EX LBH_PADAT31 b 3,000,500,000,006,01,018,04,030,036 TAHUN a,000 1,800 1,600 1,400,006,01,018,04,030,036 TAHUN b 1, ,006,01,018,04,030,036 TAHUN c 5,000 4,500 4,000 3,500,006,01,018,04,030,036 TAHUN d ,006,01,018,04,030,036 TAHUN e ,006,01,018,04,030,036 TAHUN f Gambar 65. Trend total sumber pencemar 1. Trend total sumber pencemar limbah padat Limbah padat yang semakin meningkat disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk. Hasil simulasi menunjukkan bahwa jumlah limbah padat
57 155 mengalami peningkatan dari 1.973,07 ton menjadi 3.,94 ton pada akhir simulasi (gambar 65.a / lampiran 11). Semakin meningkat jumlah limbah padat, akan berdampak buruk pada ekosistem Teluk Youtefa. Berdasarkan fakta di lapangan, bahwa banyak sampah padat yang terapung maupun tenggelam di perairan Teluk Youtefa. Hal ini menjadi keluhan-keluhan dari para nelayan maupun pengguna teluk. Berdasarkan fakta juga pada saat peneliti melakukan pengambilan sampel air menggunakan jasa transportasi perahu tempel, sering berhenti karena limbah terutama limbah plastik terlilit di putaran mesin perahu.. Trend total sumber pencemar limbah cair Ditjen Cipta Karya, (006) dalam (Suwari (009) mengemukakan bahwa kebutuhan air setiap orang per hari adalah 144 liter. Sedangkan air buangan adalah 80 % pemakaian air atau 115, liter/orang/hari. Sehingga total debit air buangan penduduk di wilayah kali acai, sibhorgoni, hanyaan dan PTC Kota Jayapura adalah 9.19,95 m 3 /hari. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada periode beban pencemaran limbah cair BCOD meningkat dari 1.30,3 ton menjadi 1.89,67 ton. Nilai pencemaran limbah cair BCOD terus mengalami peningkatan sampai ahir simulasi yaitu.17,14 ton (gambar 65.b / lampiran 11) 3. Trend total sumber pencemar limbah ternak babi Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan meningkatnya jumlah peternak babi, jumlah babi, maupun limbah tinja babi. Menurut Setiawan (007) bahwa kotoran dari seekor ternak babi dewasa terdiri dari 1,59 kg/hari, dan,7 kg/hari kotoran padat. Hasil simulasi menunjukkan limbah babi meningkat dari 646,65 ton menjadi 1.056,9 ton (gambar 65.c / lampiran 11) 4. Trend total sumber pencemar limbah ternak sapi Setiawan (007) mengemukakan bahwa jumlah kotoran dari seekor ternak sapi dewasa terdiri dari 3,59 kg/hari kotoran padat dan sebanyak 9,07 kg/hari kotoran cair. Berdasarkan hasil simulasi diperoleh bahwa jumlah limbah sapi meningkat dari 3.136,10 ton menjadi 5.1,7 ton pada akhir simulasi (gambar 65.d / lampiran 11)
58 Trend total sumber pencemar limbah KJA Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan meningkatnya KJA dan limbah KJA. Hasil simulasi menunjukkan bahwa jumlah limbah KJA meningkat dari 6,91 ton menjadi 11,8 ton. (gambar 65.e / lampiran 11). Limbah tersebut dapat dikurangi dari pakan ikan yang mengandung nutrien. Hongguang M, et al mengemukakan bahwa untuk mengurangi limbah di perairan dapat diatasi dengan mengurangi masukan nutrient, atau menggunakan model jaringan penggabungan bagian sistem fisik dan biologi sehingga kualitas air tetap terkelola dengan baik. 6. Trend total sumber pencemar limbah tinja manusia Peningkatan jumlah penduduk disekitar Teluk Youtefa disertai juga peningkatan jumlah limbah faeses di Teluk Youtefa. Menurut Sasimartoyo (001) diacu dalam Walukow (009) bahwa rata-rata massa limbah faeses manusia setiap hari gram atau sebanding dengan 0,4164 ton/tahun. Limbah tersebut terdiri dari 85 gram tinja, dan gram urine. Hasil simulasi menunjukkan bahwa jumlah limbah faeses meningkat dari 5,00 ton menjadi 8,17 ton pada akhir simulasi pada tahun 036 (gambar 65.f /lampiran 11). Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat yang bermukim di teluk, bahwa semua membuang limbah tinja ke teluk. Kondisi ini bisa meningkatkan limbah tinja dan menurunkan nilai estetika teluk.
59 157 FR_SAPI JM_PDD_EX_39 LBH_TIAP_SAPI LAJU_4 FAK_KR_3 LBH_SAPI_EX INDEK_SAPI FRAK_PDD_3 INDEKSW_3 LUAS_LHN_TIPA_RMH_3 KEB_BANGUNAN_4 FR_LBH_PADAT_4 LAHAN_TERP_4 FR_BABI LBH_BABI_EX LBH_TIAP_BABI LBH_PADAT_4 FPENG_LAHAN_3 FRAK_LBHCAIR_3 FR_KJA INDEKS_BABI LUAS_LAHAN_4 FRAK_PENC_4 LBH_KJA_EX LBH_EKOR PENC_4 LBH_CAIR_4 FR_TINJAA INDEK_KJA LBH_TINJA_EX INJA_ORG TBSP LBH_PADAT_EX LBH_TINJA_EX INDEKS_PDTY LBH_CAIR_EX LBH_SAPI_EX LBH_BABI_EX LBH_KJA_EX Gambar 66 Sub model penduduk dan total sumber pencemar Verifikasi model beban pencemar Semakin meningkat total beban sumber pencemar, akan meningkatkan beban pencemaran BOD. Hasil simulasi pada periode menunjukkan bahwa beban pencemaran BOD meningkat dari 54,16 ton menjadi 964,75 ton. Nilai ini berada di atas nilai kapasitas asimilasi BOD 7, artinya bahwa pada periode tersebut air di perairan Teluk Youtefa tidak mampu menerima beban pencemaran BOD dan telah menurunkan kualitas air sesuai dengan peruntukannya. Kondisi ini tentu sangat mengganggu keseimbangan ekologi perairan Teluk Youtefa, sehingga dibutuhkan penanganan terhadap sumber pencemar BOD melalui intervensi kebijakan dan penguatan kelembagaan (gambar 67 lampiran 1). Supriharyono (000) mengemukakan bahwa tingkat kerusakan akibat pencemaran dapat dipengaruhi oleh konsentrasi bahan pencemar, jenis dan sifat kimia, serta kepekaan suatu ekosistem terhadap pencemar
60 Jan Jan Jan Jan 036 BP_BOD_1 KONKAPAASIMi_3 a Jan Jan Jan Jan 036 BP_NO3_1 KONKAPAASI_5 b Gambar 67. Nilai kapasitas asimilasi dan perkembangan beban pencemaran BOD, dan NO 3 Nitrat adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman maupun alga (Effendi 003). Semakin meningkat total sumber pencemaran, maka akan mempengaruhi peningkatan beban pencemaran nitrat. Hasil simulasi menunjukkan bahwa beban pencemaran nitrat pada periode meningkat dari,96 ton menjadi 380, ton (gambar 67.b/lampiran 1). Nilai ini masih di bawah nilai kapasitas asimilasi nitrat yaitu 9087 ton. Hal tersebut menandakan bahwa pada periode tersebut air di perairan Teluk Youtefa masih mampu menerima pencemaran limbah yang masuk tanpa terjadi penurunan kualitas air yang ditetapkan sesuai peruntukannya. Posfat merupakan anion yang tidak diinginkan dalam air, karena keberadaannya menjadi faktor pembatas eutrofikasi dan menimbulkan efek negatif bagi kehidupan ekosistem akuatik. Effendi (003) mengemukakan bahwa posfat merupakan fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuh-tumbuhan. Fosfor banyak terdapat sebagai pupuk, sabun atau detergen, bahan industri keramik, minyak pelumas, produk minuman dan makanan dan sebagainya. Keberadaan fosfor secara berlebihan yang disertai dengan keberadaan nitrogen dapat menimbulkan perkembangan algae di perairan. Total beban sumber pencemar dapat mempengaruhi peningkatan beban pencemaran PO 4. Hasil simulasi menunjukkan bahwa beban pencemaran PO 4 pada periode meningkat dari 9,40 ton menjadi 1,03 ton. Nilai ini belum terlampaui nilai kapasitas asimilasi, artinya bahwa pada periode tersebut perairan Teluk Youtefa masih mampu menerima beban pencemaran fosfat. Tetapi pada periode 010 sampai akhir simulasi beban pencemaran meningkat menjadi 110,0
61 159 ton. Artinya bahwa pada periode tersebut perairan Teluk Youtefa tidak mampu lagi menerima beban pencemaran posfat. (gambar 68.a/lampiran 1) Jan Jan Jan Jan 036 BP_PO4_1 KONKAPAASIM 100 KA= 1 KA= 54 a Jan Jan Jan Jan 036 BP_NH3_1 KONKAPAASIM1 b Gambar 68 Nilai kapasitas asimilasi dan perkembangan beban pencemaran PO 4 dan NH 3 Senyawa amoniak banyak digunakan dalam proses industri kimia, proses produksi urea. Sumber amonia di perairan adalah hasil pemecahan nitrogen organik dan nitrogen anorganik, dan hasil limbah tinja dari biota akuatik. Kemudian sumber lain adalah reduksi gas nitrogen yang bersumber dari proses difusi udara atmosfer, dan limbah domestik masuk ke dalam air melalui erosi tanah (Effendi 003). Peningkatan total sumber pencemar akan mempengaruhi peningkatan beban pencemar amonik. Hasil simulasi menunjukkan bahwa beban pencemaran amoniak pada periode meningkat dari,58 ton menjadi 48,17 ton. Nilai tersebut masih berada di bawah nilai kapasitas asimilasi. Artinya bahwa perairan Teluk Youtefa masih mampu menerima beban limbah amoniak. Tetapi pada periode 031 hingga akhir simulasi menjadi 100,17 ton (gambar 68.b/lampiran 1). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perairan Teluk Youtefa tidak mampu menerima beban pencemaran limbah hingga akhir simulasi, sehingga menurunkan kualitas air yang ditetapkan sesuai dengan peruntukannya. COD merupakan komponen kimia yang memiliki sumbangan beban pencemaran ke dalam perairan Teluk Youtefa. COD atau kebutuhan oksigen kimiawi menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimia, baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi menjadi karbon dioksida dan air. Peningkatan total beban sumber pencemar akan mempengaruhi peningkatan beban pencemar COD. Hasil simulasi menunjukkan bahwa beban pencemaran COD periode meningkat dari 471,3 ton menjadi 1465,04 ton. Nilai tersebut
62 160 berada di atas nilai kapasitas asimilasi, artinya bahwa perairan Teluk Youtefa tidak mampu menerima beban pencemaran COD pada periode tersebut. (gambar 69.a/lampiran 1). sehingga terjadi penurunan kualitas air yang ditetapkan sesuai dengan peruntukannya. Hal tersebut berdampak pada penurunan daya dukung perairan Teluk Youtefa, sehingga dibutuhkan intervensi kebijakan KA = 86 KA = BP_COD_1 KONKAPAASIM_ BP_TSS_ KONKAPAASI Jan Jan Jan Jan 036 a 01 Jan Jan Jan Jan 036 b Gambar 69 Nilai kapasitas asimilasi dan perkembangan beban pencemaran COD, dan TSS Padatan tersuspensi terdiri atas partikel partikel tersuspensi berupa pasir, lumpur halus serta jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan dari tanah yang terangkut ke dalam air. Peningkatan total sumber pencemar akan mempengaruhi peningkatan beban pencemar padatan tersuspensi. Hasil simulasi menunjukkan (gambar 69.b/lampiran 1) bahwa beban pencemaran padatan tersuspensi pada periode meningkat dari 1.089,55 ton menjadi 1.783,3 ton. Nilai tersebut masih berada di bawah nilai kapasitas asimilasi, artinya bahwa perairan Teluk Youtefa masih mampu menerima beban pencemar TSS pada periode tersebut tanpa menurunkan kualitas air sesuai dengan peruntukannya.
63 161 JMTSS_vs_TOTSP_ TBSPENCEX LJTSSS FRTSS_VS_TOSP BP_TSS_ KAPAASIM KONKAPAASI TSS TBSPENCEX JMCOD_vs_TOTSP_1 BP_COD_1 KAPAASIM_1 LJCOD KONKAPAASIM_1 COD FRCOD_vs_TOTSP_ 1 TBSPENCEX JMBOD_vs_TOTSP_1 LJBOD BP_BOD_1 FRBOD_vs_TOTSP_1 KAPAASIM_ TB_Penc TBSPENCEX JMNO3_vs_TOTSP_1 NO3 LJNO3 BP_NO3_1 FRNO3_vs_TOTSP_1 KONKAPAASIMi_3 BOD KAPAASIM_4 KONKAPAASI_5 TBSPENCEX JMPO4_vs_TSP_1 LJPO4 FRPO4_vs_TSP_1 BP_PO4_1 KAPAASIM_6 KONKAPAASIM PO4 PO4 TBSPENCEX JMNH3_vs_TOTSP_1 BP_NH3_1 KAPAASIM1 LJNH3 KONKAPAASIM1 NH3 Fr_NH3_vs_TOTSP_ 1 Gambar 70 Sub model beban pencemaran Verifikasi model kualitas air Teluk Youtefa Total beban sumber pencemar mempengaruhi peningkatan beban pencemaran posfor di perairan Teluk Youtefa. Hasil simulasi menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi posfor pada periode terjadi peningkatan posfor dari 0,7 mg/l menjadi 8,44 mg/l. (gambar 71.a/lampiran 13). Nilai konsentrasi posfor mulai dari awal simulasi sampai akhir simulasi berada diatas baku mutu yaitu 0, Jan Jan Jan Jan 036 BM = 0, BM = KUA_PO4 KONBAMU_PO4 a Jan Jan 06 KUA_TSS KONBAMU_TSS Gambar 71. Trend konsentrasi dan nilai baku mutu PO 4, dan TSS b
64 16 Pertambahan total beban pencemaran akan mempengaruhi peningkatan konsentrasi TSS di Teluk Youtefa. Hasil simulasi menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi TSS pada periode meningkat dari 140 mg/l menjadi 1.44,95 mg/l, telah melampaui baku mutu TSS (gambar 71.b/lampiran 13). Kondisi ini menurunkan kualitas perairan Teluk Youtefa. Semakin meningkat konsentrasi beban pencemaran TSS akan memperburuk kondisi perairan Teluk Youtefa. Peningkatan konsentrasi beban pencemaran COD dipengaruhi oleh total sumber pencemar yang masuk ke perairan Teluk Youtefa. Hasil simulasi menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi COD pada periode meningkat dari 1,30 mg/l menjadi 65,18 mg/l (gambar 7.a/lampiran 13). Nilai ini berada di bawah nilai baku mutu COD yaitu 80 mg/l. Tetapi pada periode tahun 06 sampai akhir simulasi meningkat dari 80,11 mg/l menjadi 69,88 mg/l. Nilai ini berada di atas nilai baku mutu. Peningkatan total sumber pencemar mempengaruhi semakin meingkatnya total beban pencemar amoniak di perairan Teluk Youtefa. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada periode konsentrasi amoniak meningkat dari 0,0051 mg/l menjadi 0,03 mg/l (gambar 7.b/lampiran 13). Nilai ini masih dibawah nilai baku mutu amoniak yaitu 0,3 mg/l. Konsentrasi amoniak terus mengalami peningkatan pada periode 019 sampai akhir simulasi dari 0,04 menjadi 0,58 mg/l Jan Jan Jan Jan 036 BM = 80 KUA_COD KONBAMU_COD a 0,5 0,4 0,3 0, 0,1 0,0 01 Jan Jan Jan Jan 036 BM = 0,3 KUA_NH3 KONBAMUNH3 b Gambar 7. Trend konsentrasi dan nilai baku mutu COD dan NH 3 Total sumber pencemar yang semakin meningkat mempengaruhi peningkatan total beban pencemar Teluk Youtefa. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada periode konsentrasi BOD meningkat dari 4,89 mg/l menjadi 18,47 mg/l. Nilai ini masih dibawah nilai baku mutu BOD yaitu 0 mg/l. Nilai konsentrasi
65 163 BOD terus meningkat melebihi baku mutu pada periode akhir simulasi yaitu menjadi 135,61mg/l (gambar 73.a/lampiran 13). Semakin meningkat total sumber pencemar akan mempengaruhi peningkatan konsentrasi total beban pencemar nitrat di teluk. Hasil simulasi menunjukkan pada periode rata-rata konsentrasi nitrat meningkat dari 0,00 mg/l menjadi 0,0075 mg/l (gambar 73.b/lampiran 13). Nilai ini berada di bawah nilai baku mutu nitrat yaitu 0,008 mg/l, artinya bahwa Teluk Youtefa masih mampu menerima beban pencemar nitrat. Tetapi pada periode sampai akhir simulasi konsentrasi nitrat meningkat menjadi 3,08 mg/l. Nilai ini berada di atas baku mutu nitrat yaitu 0,008 mg/l, artinya bahwa Teluk Youtefa tidak mampu lagi menerima beban pencemaran nitrat, sehingga kualitas air akan terus memburuk sehingga tidak sesuai dengan peruntukannya BM = 0 BM = 0,008 KUA_BOD KONBAMU_BOD 1 KUA_NO3 KONBAMUNO Jan Jan Jan Jan 036 a 0 01 Jan Jan Jan Jan 036 b Gambar 73 Trend konsentrasi dan nilai baku mutu BOD dan NO 3 Hasil simulasi pada gambar 73 di atas menunjukkan bahwa rata-rata nilai konsentrasi kualitas air perairan Teluk Youtefa pada periode 006 sampai akhir simulasi cendrung berada di atas nilai baku mutu air laut untuk biota laut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 004. Hal tersebut membuktikan bahwa kondisi total sumber pencemar harus selalu dikontrol melalui intervensi kebijakan, penguatan kelembagaan, sehingga tidak menurunkan kondisi perairan Teluk Youtefa. Brush MJ (010) mengemukakan bahwa model dinamik yang digunakan dapat berhasil untuk memprediksi kualitas air di Teluk Narragansett, RI (USA) berdasarkan kontribusi makroalga, dan menguji sensivitas individu.
66 DAYA_D TY 164 LJTSS_TOTSP TSS COD LJCOD_TOTSP JMTSS_vs_TOTSP_3 JMCOD_vs_TOTSP_ FRTSS_vs_TOTSP_3 KUA_TSS BAMU_TSS KONBAMU_TSS BP_TSS_ BP_COD_1 KUA_COD KONBAMU_COD FRCOD_vs_TOTSP_ BAMU_COD LJBOD_TOTSP BOD LJNO3_TSP JMBOD_vs_TOTSP_ TB_Penc BP_NO3_1 JMNO3_vs_TOTSP_ FRBOD_vs_TOTSP_ KUA_BOD KUA_NO3 FRNO3_vs_TOTSP_ KONBAMU_BOD BAMUBOD BP_BOD_1 BAMUNO3 KONBAMUNO3 NO3 LJPO4_TOTSP PO4 LJNH3_TOTSP NH3 JMNH3_vs_TOTSP_ JMPO4_vs_TOTSP_ KUA_PO4 KUA_NH3 FRPO4_vs_TOTSP_ FRNH3_vs_TOTSP_ BaAMU_NH3 KONBAMU_PO4 BP_PO4_1 BAMU_PO4 KONBAMUNH3 BP_NH3_1 Gambar 74 Sub model kualitas air Pertambahan penduduk mempengaruhi peningkatan total sumber pencemar dan total beban pencemar. Hal ini akan berdampak buruk bagi keberlanjutan perairan Teluk Youtefa atau daya dukung teluk ( gambar 75). 1,0 0,8 0,6 0,4 0, 01 Jan Jan Jan Jan 036 Gambar 75 Hubungan populasi penduduk dengan daya dukung lingkungan Penyusunan skenario pengelolaan Teluk Youtefa. Hasil identifikasi dan pembagian sumber pencemar berdasarkan pengaruhnya dalam pembentukan sistem dianalisis lebih lanjut dengan bantuan pakar untuk mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam
67 165 pengelolaan Teluk Youtefa dalam bentuk skenario. Pembentukan skenario didasarkan pada kondisi atau keadaan pada identifikasi pakar dan stakeholders. Berdasarkan total sumber pencemar yang teridentifikasi dalam pengelolaan Teluk Youtefa dapat diidentifikasi beberapa skenario yang mungkin bisa terjadi pada masa yang akan datang. Diperoleh tiga skenario dalam pengelolaan Teluk Youtefa yaitu (1). skenario pesimis/sp, (). skenario moderat/sm, (3). skenario optimis/so. Skenario yang disusun dihubungkan dengan model, dilakukan interpretasi kondisi faktor kedalam variabel model. Dalam hal ini dilakukan beberapa perubahan pada variabel tertentu dalam model sehingga skenario dapat disimulasikan. Tabel 7 Skenario intervensi parameter model Sub model Kondisi eksisting Skenario pesimis Skenario moderat Skenario optimis Penduduk Laju pertumbuhan Laju pertumbuhan Laju pertumbuhan Laju pertumbuhan Penduduk penduduk penduduk penduduk 4,1 % 4,6 % 3,8% 3,3 % Limbah cair Kondisi eksisting Laju peningkatan Laju pengurangan Laju pengurangan 5 % 10 % 50 % Limbah padat Kondisi eksisting Laju peningkatan Laju pengurangan Laju pengurangan 5 % 10 % 60 % Limbah babi Kondisi eksisting Laju peningkatan Laju pengurangan Laju pengurangan 5 % 15 % 50 % Limbah sapi Kondisi eksisting Laju peningkatan Laju pengurangan Laju pengurangan 5 % 10 % 60 % Berdasarkan tabel 7 di atas, bahwa skenario optimis merupakan keadaan yang mungkin baik dan terjadi pada masa depan yang perlu diperhitungkan dengan penuh pertimbangan sesuai dengan keadaan dan sumber daya yang ada, serta didukung dengan kenyakinan, komitmen, dukungan semua pihak dalam pengelolaan Teluk Youtefa dapat seimbang antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Skenario optimis dibangun berdasarkan keadaan (state) sumber pencemar kunci tersebut sudah berjalan dengan skala baik untuk skenario optimis. Skenario moderat dengan skala cukup baik. Kemudian skenario pesimis dibangun atas dasar kondisi saat ini (existing condition), dengan pengertian bahwa walaupun sudah melakukan usaha pengelolaan tetapi belum mengutamakan faktor-faktor penting yang seharusnya terlebih dahulu dilaksanakan sehingga tidak memiliki arah pengelolaan Teluk Youtefa yang memiliki visi jauh kemasa yang akan datang.
68 Skenario intervensi model Analisis kebijakan dilakukan dengan cara melakukan perubahan-perubahan terhadap parameter sistem dalam model. Analisis kebijakan merupakan bagian dari uji sensivitas model yaitu refleksi atau respon kinerja model terhadap suatu stimulus kebijakan. Stimulus kebijakan diberikan dengan memberikan perlakuan tertentu pada unsur atau struktur model. Jika trend kinerja model masih terkendali dan mantap, bukan berarti tidak diperlukan intervensi, karena lingkungan sistem masa datang terus berubah. Dampak perubahan intervensi kebijakan bersifat dinamis dan bersifat non linier. Analisis kebijakan juga dimaksudkan untuk memahami pola kebijakan ataupun perubahan faktor eksternal yang menjadi masukan sistem. Dalam analisis kebijakan ini, akan dilihat bagaimana pengaruh perubahan-perubahan parameter atau kebijakan terhadap perkembangan variabel-variabel yang dikaji Uji sensivitas model yaitu dengan membuat skenario-skenario model untuk pengembangan perencanaan dan agenda kebijakan kedepan. Semua skenario tersebut disimulasikan, kemudia dilakukan penajaman untuk mendapatkan hal-hal yang diinginkan. Hasil analisis simulasi tiap skenario akan dipakai untuk membuat peringkat skenario yang mencerminkan urutan skenario yang lebih tepat dan menjadi pilihan dalam menyusun suatu kebijakan. Penyusunan skenario bertujuan untuk memprediksi kemungkinan yang akan terjadi pada masa yang akan datang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Skenario dikembangkan dengan melakukan simulasi intervensi terhadap variabel penduduk, limbah cair, limbah padat, dan limbah ternak babi, serta limbah sapi. Skenario yang dikaji adalah berbagai alternatif intervensi yang dapat dikategorikan sebagai skenario pesimis, moderat, dan optimis Intervensi fungsional Beban limbah cair BCOD Simulasi model dilakukan terhadap skenario di atas (tabel 7), untuk mengetahui perilakunya masing-masing. Kajian dilakukan terhadap peubah yang dianggap menentukan arah kebijakan pengelolaan Teluk Youtefa pada masa yang akan datang yaitu hasil simulasi beban limbah cair BCOD Teluk Youtefa dari tiga skenario. Ke tiga skenario memberikan hasil yang berbeda pada peubah yang
69 167 dikaji, secara umum perbedaan antar skenario mulai tampak berbeda sampai ahir simulasi. Hasil simulasi skenario beban limbah cair BCOD Teluk Youtefa disajikan pada gambar 76 dan lampiran 14.,00,000 1,800 1, , ,006,01,018,04,030,036 TAHUN LBH_CAIR_EXI LBHCAIRSP46 LBHCAIRSM38 LBHCAIRSO33 Gambar 76. Prediksi jumlah limbah cair BCOD di Teluk Youtefa hasil simulasi skenario sampai tahun 036 Berdasarkan simulasi model total sumber pencemaran limbah cair BCOD Teluk Youtefa untuk setiap skenario bahwa terjadi perbedaan diantara ke tiga skenario yang digunakan. Skenario pesimis dan skenario moderat memberikan tingkat pencemaran yang tinggi dibandingkan dengan skenario optimis. Skenario optimis memiliki proyeksi tingkat pencemaran yang rendah dan berada dibawah tingkat pencemaran kondisi eksisting. Gambaran umum proyeksi beban pencemaran masing-masing skenario adalah sebagai berikut: 1. Skenario Pesimis (SP) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah cair BCOD Teluk Youtefa adalah 1.30,3 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah.095,95 ton, tahun 04 adalah.194,54 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu.55,90 ton. Peningkatan total sumber pencemar limbah cair BCOD di Teluk Youtefa skenario pesimis berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya.. Skenario Moderat (SM) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah cair BCOD Teluk Youtefa adalah 1.30,3 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 1.93,10
70 168 ton, tahun 04 adalah.006,97 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu.053, ton. Peningkatan total sumber pencemar limbah cair BCOD di Teluk Youtefa skenario moderat berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan skenario optimis. 3. Skenario Optimis (SO) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah cair BCOD Teluk Youtefa adalah 1.30,3 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 1.835,74 ton, tahun 04 adalah 1.897,40 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 1.935,3 ton. Peningkatan total sumber pencemar limbah cair BCOD di Teluk Youtefa skenario optimis berdasarkan skenario model adalah rendah jika dibandingkan dengan skenario moderat Limbah KJA Berdasarkan simulasi model total sumber pencemaran limbah KJA Teluk Youtefa untuk setiap skenario bahwa tidak terjadi perbedaan yang mencolok diantara ke tiga skenario yang digunakan mulai simulasi sampai tahun 036. Skenario pesimis dan skenario moderat memberikan tingkat pencemaran yang tinggi dibandingkan dengan skenario optimis. Skenario optimis memiliki proyeksi tingkat pencemaran yang rendah dan berada dibawah tingkat pencemaran kondisi eksisting (gambar 77 dan lampiran 15) ,006,01,018,04,030,036 TAHUN LBH_KJA_EX LBHKJASP46 LBHKJASM38 LBHKJASO33 Gambar 77. Prediksi jumlah beban limbah KJA di Teluk Youtefa hasil simulasi skenario sampai tahun 036
71 169 Gambaran umum proyeksi beban pencemaran masing-masing skenario adalah sebagai berikut: 1. Skenario pesimis (SP) Pada tahun 006 total sumber pencemaran KJA Teluk Youtefa adalah 6,91 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 11,11 ton, tahun 04 adalah 11,64 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 11,96 ton. Peningkatan total sumber pencemar KJA di Teluk Youtefa skenario pesimis berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya.. Skenario moderat (SM) Pada tahun 006 total sumber pencemaran KJA Teluk Youtefa adalah 6,91 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 10,5 ton, tahun 04 adalah 10,64 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 10,89 ton. Peningkatan total sumber pencemar KJA di Teluk Youtefa skenario moderat berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan skenario pesimis 3. Skenario optimis (SO) Pada tahun 006 total sumber pencemaran KJA Teluk Youtefa adalah 6,91 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 9,74 ton, tahun 04 adalah 10,06 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 10,6 ton. Pengurangan total sumber pencemar KJA di Teluk Youtefa skenario optimis berdasarkan skenario model adalah tinggi jika dibandingkan dengan skenario lainnya Limbah ternak babi Berdasarkan simulasi model total sumber pencemaran limbah ternak babi Teluk Youtefa untuk setiap skenario bahwa tidak terjadi perbedaan yang mencolok diantara ke tiga skenario yang digunakan mulai simulasi sampai ahir simulasi tahun 036. Skenario pesimis dan skenario moderat memberikan tingkat pencemaran yang tinggi dibandingkan dengan skenario optimis. Skenario optimis memiliki proyeksi tingkat pencemaran yang rendah dan berada dibawah tingkat pencemaran kondisi eksisting (78 dan lampiran 16).
72 170 1,100 1, TAHUN ,006,01,018,04,030, LBH_BABI_EX LBHBABISP46 LBHBABISM38 LBHBABIS033 Gambar 78 Prediksi jumlah beban limbah babi di Teluk Youtefa hasil simulasi skenario sampai tahun 036 Gambaran umum proyeksi beban pencemaran masing-masing skenario adalah sebagai berikut: 1. Skenario pesimis (SP) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah ternak babi Teluk Youtefa adalah 646,65 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 1.040,79 ton, tahun 04 adalah 1.089,76 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 1.10, ton. Peningkatan total sumber pencemar limbah ternak babi di Teluk Youtefa skenario pesimis berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan keduga skenario lainnya.. Skenario moderat (SM) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah ternak babi Teluk Youtefa adalah 646,65 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 959,44 ton, tahun 04 adalah 996,61 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 1.019,58 ton. Peningkatan total sumber pencemar limbah ternak babi di Teluk Youtefa skenario moderat berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan skenario optimis. 3. Skenario optimis (SO) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah ternak babi Teluk Youtefa adalah 646,65 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 93,6 ton, tahun 04 adalah 94,0 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 961,03 ton.
73 171 Pengurangan total sumber pencemar limbah babi di Teluk Youtefa skenario optimis berdasarkan skenario model adalah tinggi jika dibandingkan dengan skenario pesimis dan moderat Limbah ternak sapi Berdasarkan simulasi model total sumber pencemaran limbah ternak sapi Teluk Youtefa untuk setiap skenario bahwa tidak terjadi perbedaan yang mencolok diantara ke tiga skenario yang digunakan mulai simulasi sampai akhir simulasi tahun 036. Skenario pesimis dan skenario moderat memberikan tingkat pencemaran yang tinggi dibandingkan dengan skenario optimis. Skenario optimis memiliki proyeksi tingkat pencemaran yang rendah dan berada dibawah tingkat pencemaran kondisi eksisting (79 dan lampiran 17). 5,500 5,000 4,500 4,000 3, ,006,01,018,04,030,036 TAHUN LBH_SAPI_EX LBHSAPISP46 LBHSAPISM LBHSAPISO33 Gambar 79 Prediksi jumlah beban limbah sapi di Teluk Youtefa hasil simulasi skenario sampai tahun 036 Gambaran umum proyeksi beban pencemaran masing-masing skenario adalah sebagai berikut: 1. Skenario pesimis (SP) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah sapi Teluk Youtefa adalah 3.136,10 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 5.047,59 ton, tahun 04 adalah 5.85,04 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 5.43,80 ton. Peningkatan total sumber pencemar limbah sapi di Teluk Youtefa skenario pesimis berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya.. Skenario moderat (SM)
74 17 Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah ternak sapi Teluk Youtefa adalah 3.136,10 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 4.653,01 ton, tahun 04 adalah 4.833,30 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 4.944,69 ton. Peningkatan total sumber pencemar limbah ternak sapi di Teluk Youtefa skenario moderat berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan skenario optimis 3. Skenario optimis (SO) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah sapi Teluk Youtefa adalah 3.136,10 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 4.40,95 ton, tahun 04 adalah 4.569,43 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 4.660,76 ton. Pengurangan total sumber pencemar limbah ternak sapi di Teluk Youtefa skenario optimis berdasarkan skenario model adalah tinggi jika dibandingkan dengan skenario pesimis dan moderat Limbah padat Berdasarkan simulasi model total sumber pencemaran limbah padat Teluk Youtefa untuk setiap skenario bahwa tidak terjadi perbedaan yang mencolok diantara ke tiga skenario yang digunakan mulai simulasi sampai akhir simulasi tahun 036. Skenario pesimis dan skenario moderat memberikan tingkat pencemaran yang tinggi dibandingkan dengan skenario optimis. Skenario optimis memiliki proyeksi tingkat pencemaran yang rendah dan berada dibawah tingkat pencemaran kondisi eksisting (gambar 80 dan lampiran 18). 3,500 3, ,500 1, ,006,01,018,04,030,036 TAHUN LBH_PADAT_EX LBHPADATS46 LBHPADATSM38 LBHPADATSO33 Gambar 80 Prediksi jumlah beban limbah padat di Teluk Youtefa hasil simulasi skenario sampai tahun 036 Gambaran umum proyeksi beban pencemaran masing-masing skenario adalah sebagai berikut:
75 Skenario pesimis (SP) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah padat Teluk Youtefa adalah 1.973,07 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 3.175,67 ton, tahun 04 adalah 3.35,07 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 3.418,03 ton. Peningkatan total sumber pencemar limbah padat di Teluk Youtefa skenario pesimis berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya.. Skenario moderat (SM) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah padat Teluk Youtefa adalah 1.973,07 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah.97,43 ton, tahun 04 adalah 3.040,86 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 3.110,94. Peningkatan total sumber pencemar limbah padat di Teluk Youtefa skenario moderat berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan skenario optimis 3. Skenario optimis (SO). Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah padat Teluk Youtefa adalah 1.973,07 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah.818,16 ton, tahun 04 adalah.874,85 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu.93,30 ton. Pengurangan total sumber pencemar limbah padat di Teluk Youtefa skenario optimis berdasarkan skenario model adalah tinggi jika dibandingkan dengan skenario pesimis dan moderat Tinja Penduduk Berdasarkan simulasi model total sumber pencemaran limbah tinja penduduk Teluk Youtefa untuk setiap skenario bahwa tidak terjadi perbedaan yang mencolok diantara ke tiga skenario yang digunakan mulai simulasi sampai akhir simulasi tahun 036. Skenario pesimis dan skenario moderat memberikan tingkat pencemaran yang tinggi dibandingkan dengan skenario optimis. Skenario optimis memiliki proyeksi tingkat pencemaran yang rendah dan berada dibawah tingkat pencemaran kondisi eksisting (gambar 81 dan lampiran 19).
76 ,006,01,018,04,030,036 TAHUN LBH_TINJA_EX LBHTINJASP46 LBHTINJASM38 LBHTINJASO33 Gambar 81. Prediksi jumlah beban limbah tinja penduduk di Teluk Youtefa hasil simulasi skenario sampai tahun 036 Gambaran umum proyeksi beban pencemaran masing-masing skenario adalah sebagai berikut: 1. Skenario pesimis (SP) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah tinja penduduk di Teluk Youtefa adalah 5,00 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 8,05 ton, tahun 04 adalah 8,43 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 8,67 ton. Peningkatan total sumber pencemar limbah tinja di Teluk Youtefa skenario pesimis berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya.. Skenario moderat (SM) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah tinja penduduk di Teluk Youtefa adalah 5,00 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 7,4 ton, tahun 04 adalah 7,71 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 7,89 ton. Peningkatan total sumber pencemar limbah tinja penduduk di Teluk Youtefa skenario moderat berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan skenario optimis. 3. Skenario optimis (SO) Pada tahun 006 total sumber pencemaran limbah tinja penduduk di Teluk Youtefa adalah 5,00 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 7,05 ton, tahun 04 adalah 7,9 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 7,44 ton. Peningkatan total
77 175 sumber pencemar limbah tinja di Teluk Youtefa skenario optimis berdasarkan skenario model adalah rendah jika dibandingkan dengan skenario pesimis dan moderat. Hasil simulasi model total sumber beban pencemar menunjukkan bahwa skenario optimis berdampak terhadap penurunan limbah cair BCOD pada kondisi eksisting dari.17,14 ton menjadi 1.935,3 ton, limbah KJA pada kondisi eksisting berkurang dari 11,8 ton menjadi 10,89 ton, limbah ternak babi pada kondisi eksisting berkurang dari 5.1,7 ton menjadi 4.660,76 ton, dan limbah sapi pada kondisi eksisting berkurang dari 5.1,7 ton menjadi 4.660,76 ton, limbah padat pada kondisi eksisting berkurang dari 3.,94 ton menjadi.93,30 ton, limbah tinja penduduk pada kondisi eksisting berkurang dari 8,17 ton menjadi 7,74 ton Intervensi struktural Limbah cair BCOD Berdasarkan simulasi model beban pencemaran limbah BCOD Teluk Youtefa untuk setiap skenario bahwa terjadi perbedaan yang mencolok antara skenario moderat dengan skenario optimis yang digunakan mulai simulasi sampai tahun 036. Skenario optimis dan skenario moderat memberikan tingkat pencemaran yang rendah dibandingkan dengan skenario pesimis. Skenario optimis berada dibawah tingkat pencemaran kondisi eksisting (gambar 8 dan lampiran 0)., , , ,006,01,018,04,030,036 TAHUN LBH_CAIR_EXI INTSTRUKSP5_1 INTERSTRUKSM10_1 INSTRCAIR50 Gambar 8 Prediksi jumlah beban limbah BCOD di Teluk Youtefa hasil simulasi skenario sampai tahun 036 Gambaran umum proyeksi beban pencemaran masing-masing skenario adalah sebagai berikut:
78 Skenario pesimis (SP) Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah cair BCOD di Teluk Youtefa adalah 1.367,34 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah.057,3 ton, tahun 04 adalah.140,60 ton. Total beban pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu.19,5 ton. Peningkatan total beban pencemar limbah cair BCOD di Teluk Youtefa skenario pesimis berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya.. Skenario moderat (SM) Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah cair BCOD di Teluk Youtefa adalah 1.17,01 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 1.861,90 ton, tahun 04 adalah 1.945,7 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 1.996,9 ton. Peningkatan total beban pencemar limbah cair BCOD di Teluk Youtefa skenario moderat berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan skenario optimis. 3. Skenario optimis (SO) Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah cair BCOD di Teluk Youtefa adalah 651,1 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 1.341,01 ton, tahun 04 adalah 1.44,38 ton. Total beban pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 1.476,03 ton. Pengurangan total beban pencemar limbah cair BCOD di Teluk Youtefa skenario optimis berdasarkan skenario model adalah tinggi jika dibandingkan dengan pesimis Limbah padat Berdasarkan simulasi model beban pencemaran limbah padat untuk setiap skenario bahwa terjadi perbedaan yang mencolok antara skenario moderat dan skenario optimis yang digunakan mulai simulasi sampai tahun 036. Skenario optimis memberikan tingkat pencemaran yang rendah dibandingkan dengan kedua skenario lainnya. Skenario optimis memiliki proyeksi tingkat pencemaran yang rendah dan berada dibawah tingkat pencemaran kondisi eksisting (gambar 83 dan lampiran 1).
79 177 Gambaran umum proyeksi beban pencemaran masing-masing skenario adalah sebagai berikut: 1. Skenario pesimis (SP) Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah padat adalah.071,7 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 3.117,01 ton, tahun 04 adalah 3.43,34 ton. Total beban pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 3.31 ton (gambar 83/lampiran 1). Peningkatan total beban pencemar limbah sampah skenario pesimis berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya.. Skenario moderat (SM) Pada tahun 006 tot98al beban pencemaran limbah padat di Teluk Youtefa adalah 1.65,75 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah.698,04 ton, tahun 04 adalah.84,37 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu.90,6 ton (gambar 83/lampiran 1). Peningkatan total beban pencemar limbah padat skenario moderat berdasarkan skenario model adalah yang paling tinggi jika dibandingkan dengan skenario optimis. 3. Skenario optimis (SO) 3,000,500, , , ,006,01,018,04,030,036 TAHUN LBH_PADAT_EX Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah padat adalah 789,3 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 1.834,5 ton, tahun 04 adalah 1.960,85 ton. Total beban pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu.039,10 ton (gambar 83/lampiran 1). Pengurangan INTERSTRUKSP5 INTERSTRUKSM10 INTERSTRUKSO60 Gambar 83 Prediksi jumlah beban limbah padat di Teluk Youtefa hasil simulasi skenario sampai tahun 036
80 178 total beban pencemar limbah padat skenario optimis berdasarkan skenario model adalah tinggi jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya Limbah ternak babi Berdasarkan simulasi model beban pencemaran limbah babi untuk setiap skenario bahwa terjadi perbedaan yang mencolok antara skenario moderat dan skenario optimis yang digunakan mulai simulasi sampai tahun 036. Skenario optimis memberikan tingkat pencemaran yang rendah dibandingkan dengan kedua skenario lainnya. Skenario optimis memiliki proyeksi tingkat pencemaran yang rendah dan berada dibawah tingkat pencemaran kondisi eksisting (gambar 84/lampiran ). Gambaran umum proyeksi beban pencemaran masing-masing skenario adalah sebagai berikut: 1. Skenario pesimis (SP) 1, ,006,01,018,04,030,036 Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah babi adalah 678,65 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 1.01,4 ton, tahun 04 adalah 1.06,6 ton. Total beban pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 1.088,9 ton. Pengurangan total beban pencemar limbah babi skenario pesimis berdasarkan skenario model adalah yang paling rendah jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya.. Skenario moderat (SM) TAHUN LBH_BABI_EX_ Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah babi di Teluk Youtefa adalah 549,65 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 89,4 ton, tahun 04 adalah ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 959,9 ton. Pengurangan total INTERSRUK_SP5 INTSTRUKSM15_1 INSTRUKSO_50 Gambar 84 Prediksi jumlah beban limbah babi di Teluk Youtefa hasil simulasi skenario sampai tahun 036
81 179 beban pencemar limbah babi skenario moderat berdasarkan skenario model adalah yang paling rendah jika dibandingkan dengan skenario optimis. 3. Skenario optimis (SO) Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah babi adalah 33,3 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 665,91 ton, tahun 04 adalah 707,31 ton. Total beban pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 731,96 ton. Pengurangan total beban pencemar limbah babi skenario optimis berdasarkan skenario model adalah tinggi jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya. Untuk mengurangi limbah dari ternak babi dapat dilakukan mulai dari sumbernya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Swanson RL, et al. (010) bahwa untuk pengelolaan limbah dapat dilakukan mulai titik peralihan (seperti sungai) dan pemerintah harus secara agresif mengurangi atau membatasi bahan pencemar dari ternak. Lebih lanjut disebutkan bahwa pemerintah akan mengalami kegagalan membatasi bahan pencemar apabila tidak dilakukan pengurangan mulai dari titiktitik peralihan. Pemerintah mempunyai tanggung jawab melakukan pengelolaan secara berkesinambungan, harus mampu melakukan tindakan secara spontan, dan Secara sosial tidak diperlukan perdebatan, pertengkaran untuk melakukan pengelolaan Limbah ternak sapi Berdasarkan simulasi model beban pencemaran limbah sapi untuk setiap skenario bahwa terjadi perbedaan yang mencolok antara skenario moderat dan skenario optimis yang digunakan mulai simulasi sampai tahun 036. Skenario optimis memberikan pengurangan tingkat pencemaran yang tinggi dibandingkan dengan kedua skenario lainnya. Skenario optimis memiliki proyeksi penurunan tingkat pencemaran yang tinggi dan berada dibawah tingkat pencemaran kondisi eksisting (gambar 85/lampiran 3). 5,000 4,000 3, , ,006,01,018,04,030,036 TAHUN LBH_SAPI_EX_ INSTRSP5 INSTRSM10 INSTRKSO60 Gambar 85 Prediksi jumlah beban limbah sapi di Teluk Youtefa hasil simulasi skenario sampai tahun 036
82 180 Gambaran umum proyeksi beban pencemaran masing-masing skenario adalah sebagai berikut: 1. Skenario pesimis (SP) Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah sapi adalah 3.9,91 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 4.954,36 ton, tahun 04 adalah 5.155,14 ton. Total beban pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 5.79,53 ton. Pengurangan total beban pencemar limbah sapi skenario pesimis berdasarkan skenario model adalah yang paling sedikit jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya.. Skenario moderat (SM) Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah sapi adalah.8,49 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah 4.483,94 ton, tahun 04 adalah 4.684,7 ton. Total sumber pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 4.809,11 ton. Pengurangan total beban pencemar limbah sapi skenario moderat berdasarkan skenario model adalah yang paling sedikit jika dibandingkan dengan skenario optimis. 3. Skenario optimis (SO) Pada tahun 006 total beban pencemaran limbah sapi adalah 1.54,44 ton, dan mengalami peningkatan pada tahun 018 adalah.915,89 ton, tahun 04 adalah 3.116,87 ton. Total beban pencemaran terus mengalami peningkatan hingga akhir simulasi tahun 036 yaitu 3.41,06 ton. Pengurangan total beban pencemar limbah sapi skenario optimis berdasarkan skenario model adalah tinggi jika dibandingkan dengan kedua skenario lainnya. Jika dibandingkan antara intervensi fungsional terhadap pertumbuhan penduduk dan intervensi struktural terhadap beban pencemaran memberikan hasil yang sangat berbeda terhadap pengurangan beban pencemaran dari kondisi eksisting ke skenario optimis yaitu 1. Limbah cair BCOD dengan melakukan intervensi fungsional hingga ahir simulasi berkurang dari.17,14 ton menjadi 1.935,3 ton, sedangkan intervensi struktural berkurang dari.17 ton menjadi 1.476,03 ton.
83 181. Limbah babi dengan melakukan intervensi fungsional hingga ahir simulasi berkurang dari 1.056,9 ton menjadi 961,03 ton, sedangkan intervensi struktural berkurang dari 1.056,9 ton menjadi 73,96 ton. 3. Limbah sapi dengan melakukan intervensi fungsional hingga ahir simulasi berkurang dari 5.1,7 ton menjadi 4.660,76 ton, sedangkan intervensi struktural berkurang dari 5.1,7 ton menjadi 3.41,06 ton. 4. Limbah padat dengan melakukan intervensi fungsional hingga ahir simulasi berkurang dari 3.,94 ton menjadi.93,30 ton, sedangkan intervensi struktural berkurang dari 3.,94 ton menjadi.039,10 ton Analisis kebijakan alternatif pengelolaan Teluk Youtefa Berdasarkan hasil analisis kondisi eksisting terhadap parameter fisikkimia perairan Teluk Youtefa menunjukkan bahwa beberapa parameter seperti TSS, NO 3 telah melampaui ambang batas KMA untuk biota air laut. Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa pencemaran bahan organik dari limbah domestik menjadi sumber pencemar utama yang perlu mendapat prioritas penanganan dalam upaya pengelolaan Teluk Youtefa. Hasil analisis status kualitas perairan juga menunjukkan bahwa perairan Teluk Youtefa berada dalam kondisi tercemar sedang sampai tercemar berat, maka memerlukan upaya penurunan total sumber pencemar dan total beban pencemara. Oleh sebab itu untuk mengurangi total sumber pencemaran dan beban pencemaran serta pemulihan perairan Teluk Youtefa perlu dirumuskan beberapa strategi kebijakan dalam upaya pengelolaan Teluk Youtefa. Ada beberapa strategi kebijakan pengelolaan Teluk Youtefa, namun yang penting adalah mengurangi atau mereduksi total sumber pencemar dari sumbernya, cara pengumpulan, maupun pembersihan limbah domestik. Strategi kebijakan pengelolaan Teluk Youtefa disesuaikan dengan hasil skenario berdasarkan expert judgment dan disesuaikan dengan hasil simulasi model yang ada. Oleh sebab itu kebijakan yang diambil adalah diprioritaskan skenario optimis, karena skenario tersebut dapat menggambarkan keberlanjutan perairan Teluk Youtefa pada masa yang akan datang. Adapun strategi kebijakan pengelolaan Teluk Youtefa berdasarkan prioritas pada masing-masing faktor pengungkit (leverage factor) sebagai berikut. 1. Kebijakan penyebaran penduduk
84 18 Distribusi penduduk antar wilayah kecamatan seyogyanya diatur dalam Perda RTRW Kota Jayapura. Untuk mewujudkan optimalisasi rencana pemanfaatan ruang sesuai daya dukung lingkungan, maka model strategi penyebaran penduduk di Kota Jayapura sampai tahun 036 syogyanya dibatasi. Asumsi pertumbuhan penduduk 4,1 % pada skenario pesimis diprediksi pada tahun 036 berjumlah jiwa atau sekitar jiwa pertahun.. Kebijakan pengendalian laju pertumbuhan penduduk Kebijakan pengendalian laju pertumbuhan penduduk bisa dilaksanakan seperti metode di RRC dengan cara paksa bahwa satu anak cukup dan wajib sterilisasi, tetapi di Indonesia kebijakan keluarga berencana masih bersifat persuasif. Melakukan pemberian layanan keluarga berencana dan jaminan persalinan secara gratis untuk anak, menunda masa perkawinan, program yustisi kependudukan dan mengaktifkan kembali program transmigrasi. Kebijakan lain adalah dukungan program penciptaan lapangan kerja baru di daerah pedesaan dan antar pemerintah di daerah. Kemudian diperlukan program terpadu sehingga pertumbuhan ekonomi antar wilayah tidak timpang sehingga distribusi migrasi penduduk lebih proporsional, program tersebut dilakukan pada 30 tahun kedepan. Mendukung kebijakan nasional untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk. Kebijakan ini layak atau dapat dilaksanakan karena secara teoritis dan historis, terbukti Indonesia telah berhasil menurunkan laju pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1,5% pertahun pada periode ; kemudian,1% per tahun periode dan,3% per tahun periode , serta 1,3% periode 1980 sampai sekarang. (Soerjani et al 008). Menurut Menteri kordinator kesehatan keseharan rakyat dengan adanya revitalisasi program keluarga nasional, angka itu diharapkan bisa ditekan menjadi 1,1% per tahun. Program keluarga berencana pada era pemerintahan Presiden Soeharto mengalami kesuksesan dan diakui dunia Internasional. Hal tersebut dibuktikan, program keluarga berencana Indonesia mendapat penghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kemudian Indonesia sebagai tempat belajar delegasi Internasional dalam pengelolaan program keluarga berencana, seperti delegasi dari Vietnam, Kamboja, Yaman, Kenya dan Etiopia. Tahun 1988 hingga 008 sedikitnya
85 peserta dari negara asing pernah belajar pengelolaan program keluarga berencana di Indonesia. 3. Kebijakan minimasi limbah Kebijakan minimasi limbah dapat dilakukan dengan cara implementasi peraturan mengenai pencemaran. Pengurangan total sumber pencemar dan total beban pencemaran dari sumbernya dapat dilakukan melalui penerapan peraturan pencemaran air oleh para stakeholders. Upaya yang bisa dilakukan adalah reduksi beban pencemaran melalui penetapan daya tampung beban pencemaran, membuat peraturan daerah agar penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran dapat ditegakkan dengan konsisten; mewajibkan penegakan hukum terhadap usaha-usaha yang terbukti nyata menimbulkan pencemaran terhadap Teluk Youtefa; mewajibkan usaha yang membuang air limbah ke Teluk Youtefa untuk memiliki kelayakan lingkungan; dan rencana tata ruang wilayah kota untuk bangunan disesuaikan dengan kesesuaian lahan. Kemudian adanya komitmen yang tegas dari pemerintah daerah. Berdasarkan hasil analisis bahwa status kualitas air perairan Teluk Youtefa kategori tercemar sedang dan berat, artinya bahwa membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah untuk melaksanakan upaya pengendalian pencemaran perairan Teluk Youtefa secara baik, dan konsisten. Dukungan pemerintah daerah dapat berupa: memperketat sistem perijinan pembuangan limbah; penegakan hukum yang dapat dilakukan melalui sistem pengawasan pembuangan limbah cair domestik ke badan air/saluran dengan cara memasang meteran air untuk menghindari pembuangan air limbah yang berlebihan serta memberi sanksi secara tegas kepada pengusaha yang mencemari perairan. Pengetatan baku mutu limbah cair untuk kegiatan komersial. Dalam hal ini dukungan pemerintah daerah dapat berupa bantuan teknologi pengolahan limbah, pengadaan sarana dan prasarana kerja operasional dalam sistem informasi pengendalian pencemaran air, fasilitas pengolahan limbah cair, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal, MCK umum, dan fasilitas sanitasi lainnya. Kemudian melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala perubahan mutu air Teluk Youtefa. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menetapkan kualitas parameter fisik, kimia dan biologi pencemar air melalui
86 184 monitoring terhadap konsentrasi pencemar. Selanjutnya melakukan program kerja pengendalian pencemaran air jangka pendek, menegah, dan jangka panjang. Kebijakan lain adalah sistem dan kapasitas kelembagaan, diperlukan koordinasi yang efektif agar setiap sektor dalam menyusun program yang dibuat tidak bersifat parsial dan sektoral, sehingga menghindari terjadi tumpang tindih bahkan yang saling tidak mendukung (dalam pemberian ijin antara perindusrian pemberi ijin dan badan lingkungan hidup daerah pemberi ijin pembuangan limbah cair). Strategi kebijakan terkait sistem dan kapasitas kelembagaan adalah meningkatkan keterpaduan pengelolaan melalui peningkatan koordinasi antar sektor yang terkait yaitu: memperbaiki kualitas kinerja badan lingkungan hidup Kota Jayapura dan instansi terkait dalam kegiatan pemantauan kualitas limbah industri/domestik dan sumber air. Pembentukan forum koordinasi yang melibatkan seluruh dinas terkait kegiatan pengelolaan perairan Teluk Youtefa untuk menyusun kerangka keberlanjutan kelembagaan meliputi visi, misi, tujuan, sasaran, serta strategi pengelolaan, termasuk didalamnya program implementasi kebijakan dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang; Pemberdayaan masyarakat melalui kerjasama dengan lembaga adat, ondoapi, perguruan tinggi, dan dunia usaha; Pengembangan sistem monitoring dan evaluasi penncemaran air yang diintegrasikan dengan sistem informasi lingkungan Teluk Youtefa dari aspek biofisik dan sosial ekonomi masyarakat untuk acuan dalam pengambilan keputusan pengelolaan Teluk Youtefa. Kebijakan lain agar dimensi pembangunan berkelanjutan Teluk Youtefa dapat terlaksana diperlukan perhatian pada dimensi ekologis, bahwa sumberdaya yang ada dikelola agar total dampaknya tidak melebihi kapasitas. Teluk Youtefa yang berfungsi juga sebagai penerima limbah dari berbagai ekosistem memerlukan peningkatan kemampuan dalam menyerap limbah dari kegiatan manusia sehingga menjadi suatu kondisi yang aman. Salah satu syarat yang dapat menjamin tercapainya keberlanjutan Teluk Youtefa adalah keharmonisan spasial, kapasitas asimilasi, dan pemanfaatan berkelanjutan. Kemudian dimensi sosial ekonomi, menyajikan informasi tentang daya dukung Teluk Youtefa bahwa pembangunan harus dikelola sehingga total permintaan (demand) terhadap sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan tidak
87 185 melampaui kemampuan suplai. Oleh karena itu, selain mengendalian jumlah penduduk, kebijakan yang mendesak dilakukan adalah mengurangi kesenjangan kesejahteraan masyarakat, artinya bahwa secara sosial ekonomi konsep pembangunan berkelanjutan mensyaratkan bahwa manfaat yang diperoleh dari pemanfaatan suatu wilayah diprioritaskan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain dimensi ekologi dan sosial ekonomi, diperlukan dimensi sosial politik, hukum dan kelembagaan. Pada umumnya pihak yang menderita akibat kerusakan bukanlah pembuat kerusakan melainkan pihak lain atau masyarakat miskin dan lemah dan dampak dari suatu kerusakan atau pencemaran biasanya muncul setelah beberapa waktu. Oleh karena itu, kondisi politik yang demokratis dan transparan mutlak diperlukan. Pada akhirnya pelaksanaan pembangunan berkelanjutan mensyaratkan pengendalian diri setiap warga Kota Jayapura untuk tidak merusak Teluk Youtefa. Persyaratan yang bersifat personal ini dapat dipenuhi melalui penerapan sistem peraturan dan perundang-undangan yang berwibawa dan konsisten, serta diikuti dengan penanaman etika pembangunan berkelanjutan pada setiap warga masyarakat.
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
186 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan 1. Secara umum suhu air perairan Teluk Youtefa berkisar antara 28.5 30.0, dengan rata-rata keseluruhan 26,18 0 C. Nilai total padatan tersuspensi air di
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pencemaran Organik di Muara S. Acai, S. Thomas, S. Anyaan dan Daerah Laut yang Merupakan Perairan Pesisir Pantai dan Laut, Teluk Youtefa. Bahan organik yang masuk ke perairan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produktivitas Primer Fitoplankton Berdasarkan hasil penelitian di Situ Cileunca didapatkan nilai rata-rata produktivitas primer (PP) fitoplankton pada Tabel 6. Nilai PP
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini, data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Penyajian grafik dilakukan berdasarkan variabel konsentrasi terhadap kedalaman dan disajikan untuk
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton. Ima Yudha Perwira, SPi, Mp
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton Ima Yudha Perwira, SPi, Mp Suhu Tinggi rendahnya suhu suatu badan perairan sangat mempengaruhi kehidupan plankton. Semakin tinggi suhu meningkatkan kebutuhan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
27 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Lokasi penelitian terletak di belakang Perumahan Nirwana Estate, Cibinong yang merupakan perairan sungai kecil bermuara ke Situ Cikaret sedangkan yang terletak di belakang Perumahan,
Bab V Hasil dan Pembahasan
biodegradable) menjadi CO 2 dan H 2 O. Pada prosedur penentuan COD, oksigen yang dikonsumsi setara dengan jumlah dikromat yang digunakan untuk mengoksidasi air sampel (Boyd, 1988 dalam Effendi, 2003).
PEMANTAUAN KUALITAS AIR SUNGAI CIBANTEN TAHUN 2017
PEMANTAUAN KUALITAS AIR SUNGAI CIBANTEN TAHUN 2017 1. Latar belakang Air merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia. Air diperlukan untuk minum, mandi, mencuci pakaian, pengairan dalam bidang pertanian
BAB. II TINJAUAN PUSTAKA
BAB. II TINJAUAN PUSTAKA A. Keadaan Teluk Youtefa Teluk Youtefa adalah salah satu teluk di Kota Jayapura yang merupakan perairan tertutup. Tanjung Engros dan Tanjung Hamadi serta terdapat pulau Metu Debi
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Sumber oksigen terlarut dalam perairan
4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme, atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Kadar Oksigen Terlarut Hasil pengukuran konsentrasi oksigen terlarut pada kolam pemeliharaan ikan nila Oreochromis sp dapat dilihat pada Gambar 2. Dari gambar
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kawasan pesisir dikenal sebagai ekosistem perairan yang memiliki potensi sumberdaya yang sangat besar. Wilayah tersebut telah banyak dimanfaatkan dan memberikan sumbangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air laut merupakan suatu medium yang unik. Sebagai suatu sistem, terdapat hubungan erat antara faktor biotik dan faktor abiotik, karena satu komponen dapat
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pertumbuhan Mikroalga Laut Scenedesmus sp. Hasil pengamatan pengaruh kelimpahan sel Scenedesmus sp. terhadap limbah industri dengan dua pelakuan yang berbeda yaitu menggunakan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pencemaran Air
8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pencemaran Air Air merupakan materi yang paling berlimpah, sekitar 71 % komposisi bumi terdiri dari air, selain itu 50 % hingga 97 % dari seluruh berat tanaman dan hewan terdiri
PERANAN MIKROORGANISME DALAM SIKLUS UNSUR DI LINGKUNGAN AKUATIK
PERANAN MIKROORGANISME DALAM SIKLUS UNSUR DI LINGKUNGAN AKUATIK 1. Siklus Nitrogen Nitrogen merupakan limiting factor yang harus diperhatikan dalam suatu ekosistem perairan. Nitrgen di perairan terdapat
TINJAUAN PUSTAKA. Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Sungai Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh karena itu, sumber air sangat dibutuhkan untuk dapat menyediakan air yang baik dari segi kuantitas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan yang merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi. Manusia menggunakan air untuk memenuhi
PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015
PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015 A. PEMANTAUAN KUALITAS AIR DANAU LIMBOTO Pemantauan kualitas air ditujukan untuk mengetahui pengaruh kegiatan yang dilaksanakan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perairan Laut Belawan Perairan Laut Belawan yang berada di Kecamatan Medan Belawan Provinsi Sumatera Utara banyak digunakan oleh masyarakat setempat untuk berbagai aktivitas.
BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya pertumbuhan dan aktivitas masyarakat Bali di berbagai sektor
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya pertumbuhan dan aktivitas masyarakat Bali di berbagai sektor seperti pariwisata, industri, kegiatan rumah tangga (domestik) dan sebagainya akan meningkatkan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan pada penelitian ini secara garis besar terbagi atas 6 bagian, yaitu : 1. Analisa karakteristik air limbah yang diolah. 2.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pencemaran Perairan
8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pencemaran Perairan Menurut Odum (1971), pencemaran adalah perubahan sifat fisik, kimia dan biologi yang tidak dikehendaki pada udara, tanah dan air. Sedangkan menurut Saeni
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PENELITIAN PENDAHULUAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.1 PENELITIAN PENDAHULUAN Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menentukan titik kritis pengenceran limbah dan kondisi mulai mampu beradaptasi hidup pada limbah cair tahu. Limbah
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Berdasarkan hasil yang diperoleh dari kepadatan 5 kijing, persentase penurunan total nitrogen air di akhir perlakuan sebesar 57%, sedangkan untuk kepadatan 10 kijing
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2005 - Agustus 2006 dengan lokasi penelitian di Pelabuhan Sunda Kelapa, DKI Jakarta. Pengambilan contoh air dan
1. PENDAHULUAN. masih merupakan tulang pungung pembangunan nasional. Salah satu fungsi lingkungan
1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia, termasuk untuk menunjang pembangunan ekonomi yang hingga saat ini
: Baku mutu air kelas I menurut Peraturan Pemerintah RI no. 82 tahun 2001 (hanya untuk Stasiun 1)
LAMPIRAN 48 Lampiran 1. Hasil rata-rata pengukuran parameter fisika dan kimia perairan Way Perigi Parameter Satuan Baku Mutu Kelas I 1) Baku Mutu Sampling 1 Sampling 2 Sampling 3 Kelas III 2) Stasiun 1
IDENTIFIKASI KUALITAS PERAIRAN DI SUNGAI KAHAYAN DARI KEBERADAAN SISTEM KERAMBA STUDI KASUS SUNGAI KAHAYAN KECAMATAN PAHANDUT KALIMANTAN TENGAH
IDENTIFIKASI KUALITAS PERAIRAN DI SUNGAI KAHAYAN DARI KEBERADAAN SISTEM KERAMBA STUDI KASUS SUNGAI KAHAYAN KECAMATAN PAHANDUT KALIMANTAN TENGAH Rezha Setyawan 1, Dr. Ir. Achmad Rusdiansyah, MT 2, dan Hafiizh
HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Amonia Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data berupa nilai dari parameter amonia yang disajikan dalam bentuk grafik. Dari grafik dapat diketahui
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. Deskripsi Data 1. Kondisi saluran sekunder sungai Sawojajar Saluran sekunder sungai Sawojajar merupakan aliran sungai yang mengalir ke induk sungai Sawojajar. Letak
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laut Indonesia sudah sejak lama didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia terutama pemanfaatan sumberdaya hayati seperti ikan maupun sumberdaya non hayati
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Danau Maninjau merupakan danau yang terdapat di Sumatera Barat, Kabupaten Agam. Secara geografis wilayah ini terletak pada ketinggian 461,5 m di atas permukaan laut
VI. EVALUASI TINGKAT PENCEMARAN MINYAK DI PERAIRAN SELAT RUPAT
77 VI. EVALUASI TINGKAT PENCEMARAN MINYAK DI PERAIRAN SELAT RUPAT Abstrak Selat Rupat merupakan salah satu selat kecil di Selat Malaka yang terletak di antara pesisir Kota Dumai dangan Pulau Rupat. Berbagai
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Waduk adalah genangan air besar yang sengaja dibuat dengan membendung aliran sungai, sehingga dasar sungai tersebut yang menjadi bagian terdalam dari sebuah waduk. Waduk
Bab V Hasil dan Pembahasan. Gambar V.10 Konsentrasi Nitrat Pada Setiap Kedalaman
Gambar V.10 Konsentrasi Nitrat Pada Setiap Kedalaman Dekomposisi material organik akan menyerap oksigen sehingga proses nitrifikasi akan berlangsung lambat atau bahkan terhenti. Hal ini ditunjukkan dari
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Tipe Estuari dan Debit Sungai. Tipe estuari biasanya dipengaruhi oleh kondisi pasang surut. Pada saat pasang, salinitas perairan akan didominasi oleh salinitas air laut karena
TINJAUAN PUSTAKA. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air
TINJAUAN PUSTAKA Sungai Sungai merupakan suatu bentuk ekositem aquatik yang mempunyai peran penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi daerah di sekitarnya,
TINJAUAN PUSTAKA. adanya aliran yang cukup kuat, sehingga digolongkan ke dalam perairan mengalir
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Sungai Perairan sungai adalah suatu perairan yang di dalamnya dicirikan dengan adanya aliran yang cukup kuat, sehingga digolongkan ke dalam perairan mengalir (perairan lotik).
BAB VI PEMBAHASAN. 6.1 Ketaatan Terhadap Kewajiban Mengolahan Limbah Cair Rumah Sakit dengan IPAL
BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Ketaatan Terhadap Kewajiban Mengolahan Limbah Cair Rumah Sakit dengan IPAL Berdasarkan hasil pengamatan sarana pengolahan limbah cair pada 19 rumah sakit di Kota Denpasar bahwa terdapat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
20 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Oseanografi Pesisir Kalimantan Barat Parameter oseanografi sangat berperan penting dalam kajian distribusi kontaminan yang masuk ke laut karena komponen fisik
Polusi. Suatu zat dapat disebut polutan apabila: 1. jumlahnya melebihi jumlah normal 2. berada pada waktu yang tidak tepat
Polusi Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komunitas Fitoplankton Di Pantai Balongan Hasil penelitian di perairan Pantai Balongan, diperoleh data fitoplankton selama empat kali sampling yang terdiri dari kelas Bacillariophyceae,
2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2. Zonasi pada perairan tergenang (Sumber: Goldman dan Horne 1983)
4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Waduk Waduk merupakan badan air tergenang yang dibuat dengan cara membendung sungai, umumnya berbentuk memanjang mengikuti bentuk dasar sungai sebelum dijadikan waduk. Terdapat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. produksi, baik industri maupun domestik, yang kehadirannya pada suatu saat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Limbah Limbah adalah zat atau bahan buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi, baik industri maupun domestik, yang kehadirannya pada suatu saat tertentu tidak dikehendaki
BAB I PENGANTAR. laju pembangunan telah membawa perubahan dalam beberapa aspek kehidupan
BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Manusia memiliki hubungan timbal balik dengan lingkungannya. Secara alamiah, hubungan timbal balik tersebut terdapat antara manusia sebagai individu dan manusia sebagai
KAJIAN SPASIAL FISIKA KIMIA PERAIRAN ULUJAMI KAB. PEMALANG
KAJIAN SPASIAL FISIKA KIMIA PERAIRAN ULUJAMI KAB. PEMALANG F1 05 1), Sigit Febrianto, Nurul Latifah 1) Muhammad Zainuri 2), Jusup Suprijanto 3) 1) Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UNDIP
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Waduk Cengklik merupakan salah satu waduk di Kabupaten Boyolali yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Waduk Cengklik merupakan salah satu waduk di Kabupaten Boyolali yang memiliki luas 240 ha. Pemanfaatan lahan di sekitar Waduk Cengklik sebagian besar adalah
ANALISA PENCEMARAN LIMBAH ORGANIK TERHADAP PENENTUAN TATA RUANG BUDIDAYA IKAN KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN TELUK AMBON
ANALISA PENCEMARAN LIMBAH ORGANIK TERHADAP PENENTUAN TATA RUANG BUDIDAYA IKAN KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN TELUK AMBON OLEH : CAROLUS NIRAHUA NRP : 000 PROGRAM PASCASARJANA BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MANAJEMEN
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pencemaran Perairan 2.2. Ekosistem Mengalir
4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pencemaran Perairan Pencemaran lingkungan adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
I. PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
88 I. PENDAHULUAN Kawasan pesisir memerlukan perlindungan dan pengelolaan yang tepat dan terarah. Keseimbangan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan hidup menjadi tujuan akhir yang berkelanjutan. Telah
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
19 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Pertumbuhan beberapa tanaman air Pertumbuhan adalah perubahan dimensi (panjang, berat, volume, jumlah, dan ukuran) dalam satuan waktu baik individu maupun komunitas.
II. TINJAUAN PUSTAKA Sungai.. ' Sungai merupakan Perairan Umum yang airnya mengalir secara terus
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sungai.. ' Sungai merupakan Perairan Umum yang airnya mengalir secara terus menerus pada arah tertentu, berasal dari air tanah, air hujan dan air permukaan yang akhirnya bermuara
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekosistem Sungai Batang Toru Sungai Batang Toru merupakan salah satu sungai terbesar di Tapanuli Selatan. Dari sisi hidrologi, pola aliran sungai di ekosistem Sungai Batang
TINJAUAN PUSTAKA. bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis
TINJAUAN PUSTAKA Perairan Sungai Perairan adalah suatu kumpulan massa air pada suatu wilayah tertentu, baik yang bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis (tergenang)
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK LIMBAH CAIR Limbah cair tepung agar-agar yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah cair pada pabrik pengolahan rumput laut menjadi tepung agaragar di PT.
ANALISIS KUALITAS AIR SUNGAI KONAWEHA PROVINSI SULAWESI TENGGARA
ANALISIS KUALITAS AIR SUNGAI KONAWEHA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Umar Ode Hasani Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan UHO Email : [email protected] Ecogreen Vol. 2 No. 2, Oktober
TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Air Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat di daratan, perairan lepas pantai (off shore water) dan perairan laut. Ekosistem air yang terdapat
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
27 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Distribusi Vertikal Oksigen Terlarut Oksigen terlarut merupakan salah satu faktor pembatas bagi sumberdaya suatu perairan karena akan berpengaruh secara langsung pada kehidupan
BAB I PENDAHULUAN. tambah kecuali sekedar mempermudah sistem pembuangan. adalah mengolah masukan (input) menjadi keluaran (ouput).
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi. Limbah tersebut dapat
4. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Sebaran Nutrien dan Oksigen Terlarut (DO) di Teluk Jakarta
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pola Sebaran Nutrien dan Oksigen Terlarut (DO) di Teluk Jakarta Hasil pengamatan lapangan nitrat, amonium, fosfat, dan DO bulan Maret 2010 masing-masing disajikan pada Gambar
KANDUNGAN ZAT PADAT TERSUSPENSI (TOTAL SUSPENDED SOLID) DI PERAIRAN KABUPATEN BANGKA
KANDUNGAN ZAT PADAT TERSUSPENSI (TOTAL SUSPENDED SOLID) DI PERAIRAN KABUPATEN BANGKA Umroh 1, Aries Dwi Siswanto 2, Ary Giri Dwi Kartika 2 1 Dosen Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian,Perikanan
Sungai berdasarkan keberadaan airnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu (Reid, 1961):
44 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekologi Sungai Aspek ekologi adalah aspek yang merupakan kondisi seimbang yang unik dan memegang peranan penting dalam konservasi dan tata guna lahan serta pengembangan untuk
V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN
49 V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN 5.1 Distribusi Parameter Kualitas Perairan Karakteristik suatu perairan dan kualitasnya ditentukan oleh distribusi parameter fisik dan kimia perairan yang berlangsung
ANALISIS PARAMETER FISIKA KIMIA PERAIRAN MUARA SUNGAI SALO TELLUE UNTUK KEPENTINGAN BUDIDAYA PERIKANAN ABSTRAK
ANALISIS PARAMETER FISIKA KIMIA PERAIRAN MUARA SUNGAI SALO TELLUE UNTUK KEPENTINGAN BUDIDAYA PERIKANAN Jalil 1, Jurniati 2 1 FMIPA Universitas Terbuka, Makassar 2 Fakultas Perikanan Universitas Andi Djemma,
STUDI DAN HUBUNGAN ARUS TERHADAP SEBARAN DAN FLUKTUASI NUTRIEN (N DAN P) DI PERAIRAN KALIANGET KABUPATEN SUMENEP
STUDI DAN HUBUNGAN ARUS TERHADAP SEBARAN DAN FLUKTUASI NUTRIEN (N DAN P) DI PERAIRAN KALIANGET KABUPATEN SUMENEP Wiwid Prahara Agustin 1, Agus Romadhon 2, Aries Dwi Siswanto 2 1 Mahasiswa Jurusan Ilmu
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
. HASIL DAN PEMBAHASAN.. Hasil Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pola distribusi vertikal oksigen terlarut, fluktuasi harian oksigen terlarut, produksi primer, rincian oksigen terlarut, produksi
BY: Ai Setiadi FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA
BY: Ai Setiadi 021202503125002 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA Dalam budidaya ikan ada 3 faktor yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan budidaya, karena hasil
PENDAHULUAN. yang sering diamati antara lain suhu, kecerahan, ph, DO, CO 2, alkalinitas, kesadahan,
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kualitas air memegang peranan penting dalam bidang perikanan terutama untuk kegiatan budidaya serta dalam produktifitas hewan akuatik. Parameter kualitas air yang sering
II. TINJAUAN PUSTAKA. dan kimia. Secara biologi, carrying capacity dalam lingkungan dikaitkan dengan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daya Dukung Penentuan carrying capacity dalam lingkungan dapat didekati secara biologi dan kimia. Secara biologi, carrying capacity dalam lingkungan dikaitkan dengan konsep ekologi
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kelompok Umur Pertumbuhan populasi tiram dapat dilihat berdasarkan sebaran kelompok umur. Analisis sebaran kelompok umur dilakukan dengan menggunakan FISAT II metode NORMSEP.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Analisis Deskriptif Fisika Kimia Air dan Sedimen
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Deskriptif Fisika Kimia Air dan Sedimen Kualitas air merupakan salah satu sub sistem yang berperan dalam budidaya, karena akan mempengaruhi kehidupan komunitas biota
PENENTUAN KUALITAS AIR
PENENTUAN KUALITAS AIR Analisis air Mengetahui sifat fisik dan Kimia air Air minum Rumah tangga pertanian industri Jenis zat yang dianalisis berlainan (pemilihan parameter yang tepat) Kendala analisis
Gambar 12 Peta Teluk Youtefa
65 III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan tempat penelitian Penelitian dilaksanakan di Teluk Youtefa yang menerima beban limbah domestik, pertanian, dan peternakan melalui 4 sungai yang bermuara ke Teluk
TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif,
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Estuari Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif, karena area ini merupakan area ekoton daerah pertemuan dua ekosistem berbeda (tawar dan laut)
II. TINJAUAN PUSTAKA. Waduk didefinisikan sebagai perairan menggenang atau badan air yang memiliki
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Waduk Waduk didefinisikan sebagai perairan menggenang atau badan air yang memiliki ceruk, saluran masuk (inlet), saluran pengeluaran (outlet) dan berhubungan langsung dengan sungai
BAB I PENDAHULUAN. tetapi limbah cair memiliki tingkat pencemaran lebih besar dari pada limbah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri tahu merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah organik. Limbah industri tahu yang dihasilkan dapat berupa limbah padat dan cair, tetapi limbah
Konsentrasi (mg/l) Titik Sampling 1 (4 April 2007) Sampling 2 (3 Mei 2007) Sampling
Tabel V.9 Konsentrasi Seng Pada Setiap Titik Sampling dan Kedalaman Konsentrasi (mg/l) Titik Sampling 1 (4 April 2007) Sampling 2 (3 Mei 2007) Sampling A B C A B C 1 0,062 0,062 0,051 0,076 0,030 0,048
BAB I PENDAHULUAN. Pada era industrialisasi, semakin banyak orang yang menikmati waktu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era industrialisasi, semakin banyak orang yang menikmati waktu senggangnya (leisure time), dengan melakukan aktifitas wisata (Mulyaningrum, 2005). Lebih
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Variasi Konsentrasi Limbah Terhadap Kualitas Fisik dan Kimia Air Limbah Tahu
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Variasi Konsentrasi Limbah Terhadap Kualitas Fisik dan Kimia Air Limbah Tahu Berdasarkan analisis ANAVA (α=0.05) terhadap Hubungan antara kualitas fisik dan kimia
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki lebih dari 500 danau dengan luas keseluruhan lebih dari 5.000 km 2 atau sekitar 0,25% dari luas daratan Indonesia (Davies et al.,1995), namun status
TINJAUAN PUSTAKA. Pantai Sei Nypah adalah salah satu pantai yang berada di wilayah Desa
TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Lokasi Pantai Sei Nypah adalah salah satu pantai yang berada di wilayah Desa Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Propinsi Sumatera Utara dan merupakan
5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir
BAB V ANALISIS Bab ini berisi analisis terhadap bahasan-bahasan pada bab-bab sebelumnya, yaitu analisis mengenai komponen-komponen utama dalam pembangunan wilayah pesisir, analisis mengenai pemetaan entitas-entitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Aktivitas pencemaran lingkungan yang dihasilkan dari suatu kegiatan industri merupakan suatu masalah yang sangat umum dan sulit untuk dipecahkan pada saat
BAB I PENDAHULUAN. Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia sehingga kualitas airnya harus tetap terjaga. Menurut Widianto
4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kultur Chaetoceros sp. dilakukan skala laboratorium dengan kondisi
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pertumbuhan Chaetoceros sp. Kultur Chaetoceros sp. dilakukan skala laboratorium dengan kondisi parameter kualitas air terkontrol (Lampiran 4). Selama kultur berlangsung suhu
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia, dan manusia selama hidupnya selalu membutuhkan air. Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian
III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Keteguhan, yang
III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Keteguhan, yang merupakan salah satu DAS pada DAS di Kota Bandar Lampung. Lokasi penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora, fauna maupun makhluk hidup yang lain. Makhluk hidup memerlukan air tidak hanya sebagai
TINJAUAN PUSTAKA. kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan
17 TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Danau Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponenkomponen biotik dan abiotik yang saling berintegrasi sehingga membentuk satu kesatuan. Di dalam ekosistem
Kombinasi pengolahan fisika, kimia dan biologi
Metode Analisis Untuk Air Limbah Pengambilan sample air limbah meliputi beberapa aspek: 1. Lokasi sampling 2. waktu dan frekuensi sampling 3. Cara Pengambilan sample 4. Peralatan yang diperlukan 5. Penyimpanan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Fisika Kimia Perairan Lokasi budidaya rumput laut diketahui memiliki dasar perairan berupa substrat pasir dengan serpihan karang mati. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang dialami ekosistem perairan saat ini adalah penurunan kualitas air akibat pembuangan limbah ke
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang dialami ekosistem perairan saat ini adalah penurunan kualitas air akibat pembuangan limbah ke perairan yang menyebabkan pencemaran. Limbah tersebut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Air Kualitas air secara biologis ditentukan oleh banyak parameter, yaitu parameter mikroba pencemar, patogen dan penghasil toksin. Banyak mikroba yang sering bercampur
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengelolaan Lingkungan Hidup Dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang disempurnakan dan diganti dengan Undang Undang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mikroorganisme banyak ditemukan di lingkungan perairan, di antaranya di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mikroorganisme banyak ditemukan di lingkungan perairan, di antaranya di ekosistem perairan rawa. Perairan rawa merupakan perairan tawar yang menggenang (lentik)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Sibolga yang terletak di pantai barat Pulau Sumatera, membujur sepanjang pantai dari utara ke selatan dan berada pada kawasan teluk yang bernama Teluk Tapian Nauli,
1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos Odum (1993) menyatakan bahwa benthos adalah organisme yang hidup pada permukaan atau di dalam substrat dasar perairan yang meliputi organisme
BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya aktivitas industri akan memberikan dampak terhadap kondisi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kualitas air sungai dipengaruhi oleh kualitas pasokan air yang berasal dari daerah tangkapannya sedangkan kualitas pasokan air dari daerah tangkapan berkaitan dengan
