tingkat Lanjutan Pertama. Asumsi pengembangan program bimbingan yang
|
|
|
- Suharto Halim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BABV KESfMPULAN REKOMENDASI DAN PENUTUP A. Kesimpulan Penelitian ini merumuskan program hipotetik bimbingan yang memfokuskan pada upaya program bimbingan pengembangan konsep diri untuk siswa tunanetra di tingkat Lanjutan Pertama. Asumsi pengembangan program bimbingan yang dimunculkan didasarkan pada analisis empiris dan konseptual tentang prinsip-prinsip BK. Analisis tersebut, didasarkan pada beberapa pertimbangan, sebagai berikut: (1) penyelenggaraan program bimbingan di SLBN A Bandung, sementara ini belum memiliki kurikulum tersendiri, tetapi didasarkan pada kurikulum pembelajaran secara umum, (2) ketunanetraan dipandang memiliki potensi ke arah terhambatnya pencapaian tugas-tugas perkembangan, termasuk perkembangan konsep diri. Analisis empiris tersebut dimaksudkan supaya substansi program bimbingan yang dimunculkan mampu menyentuh kebuituhan siswa secara aktual. Analisis empiris difokuskan pada aspekaspek: (1) karakteristik konsep diri siswa tunanetra, (2) pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan di tingkat Lanjutan Pertama SLBN A Bandung, dan (3) harapan siswa tunanetra terhadap program bimbingan dan penyuluhan. Sedangkan analisis konseptual prinsip-prinsip BP dimaksudkan untuk memformulasikan temuan empiris dalam konteks intervensi layanan bimbingan secara sistematik, terkoordinatif, ilmiah dan memiliki prinsip-prinsip keprofesionalan Kesimpulan penelitian ini adalah: 107
2 108 I. Berkenaan dengan karakteristik konsep diri siswa tunanetra, sebagai berikut: a. Karakteristik pada aspek fisik menunjukkan katagori sangat positif 3 siswa (10,71%), positif 5 siswa (17,86%), sedang 6 siswa (21,43%), negatif 9 siswa (32,14%), sangat negatif 5 siswa (17,86%). Karateristik pada aspek psikologis menunjukkan katagori sangat positif3 siswa (10,71%), positif2 siswa (7,14%), sedang 6 siswa (21,43%), negatif 12 siswa ( 43,86%), sangat negatif 5 siswa (17,86%). Karateristik pada aspek fisik menunjukkan katagori sangat positif 2 siswa (7,14%), positif 5 siswa (17,86%), sedang 6 siswa (21,43%), negatif 15 siswa(53,57%) dan sangat negatif 10 siswa(35,71%). b. Karakteristik konsep diri siswa Lanjutan Tingkat Pertama SLBN A Bandung menunjukkan katagori sangat positif2 siswa (17,14%), positif3 siswa (10,71%), sedang 13 siswa (46,43%), rendah 5 siswa (17,86%), sangat rendah 5 siswa (17,86%). c. Berdasarkan pada aspek-aspek perkembangan konsep diri, karakteristik konsep diri dipengaruhi oleh penilaian siswa tunanetra mengenai fisik, kondisi psikologis dalam merespon ketunanetraan, penerimaan dan perlakuan diri dalam melakukan interaksi sosial atau adaptasi di lingkungarmya. Dengan demikian perkembangan karateristik konsep diri siswa tunanetra merupakan akumulasi antara penilaian diri tunanetra dalam mmandang keberadaan fisik, piskologis dan sosial.
3 109 d. perkembangan karakteristik konsep diri siswa tunanetra dipengaruhi oleh kurang berfungsinya indera penglihatan. Mengingat bahwa perkembangan karakteristik konsep diri merupakan akumulasi penilaian intern dan ekstern. Penilaian intern yaitu pola penilaian siswa tunanetra dalam mengetahui, memahami dan menerima keberadaan dirinya sebagai seorang tunanetra. Penilaian ekstern ialah penilaian yang diberikan oleh lingkungan dalam interaksi, adaptasi di lingkungannya. Penilaian intern dan ekstern tersebut pada siswa tunanetra diwarnai oleh kondisi ketunanetraan serta akibat/kecenderungan prilaku fisik, psikologis, sosialyangmuncul. 2. Pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan di SLBN ABandung: a. Dilihat dari substansi program bimbingan dan penyuluhan, program bimbingan yang dirumuskan, dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) perencanaan dan penyusunan program bimbingan kurang didasarkan pada kegiatan analisis kebutuhan siswa Hal tersebut diperoleh dari indikator-indikator, guru pembimbing tidak melakukan assessment sebelum merumuskan program bimbingan, data yang digunakan tidak menggunakan data aktual tetapi lebih didasarkan pada data historis yang diperoleh dari data siswa saat pada ssat memasuki sekolah, (b) program bimbingan yang disusun tidak didasarkan pada kurikulum secara umum. Implikasinya, program bimbingan yang dirumuskan belum mempunyai misi secara spesifik yang menyangkut permasalahanpermasalahan yang dihadapi tunanetra, ( c ) materi program bimbingan yang
4 110 disusun masih bersifat parsial lebih mengorientasikan pada pemecahan dan pengembangankemampuan akademik siswa. b. Sedangkan pada penyelenggaraan program bimbingan dan penyuluhan, disimpulkan sebagai berikut: (a) program bimbingan yang dilaksanakan lebih bersifat sebagai kegiatan pendamping untuk mendukung keberhasilan program pembelajaran sekolah, (b) fasilitas penyelenggaraan program bimbingan belum memiliki ruangan tersendiri, belum memiliki ruangan tersendiri, belum memiliki format pelaksanaan bimbingan seperti alat pengumpul data guna mendiagnosis permasalahan siswa, inventarisir grafik perkembangan hasil pelaksanaan program bimbingan serta inventarisir data tentang kasus-kasus yang dihadapi siswa, ( c) guru pembimbing belum memanfaatkan potensi lingkungan perkembangan siswa, seperti lingkungan rumah dan lingkungan asrama atau lingkungan dimana siswa berada. 3. Analisis empiris tentang harapan siswa tunanetra mengenal layanan program bimbingan dan penyuluhan, sebagai berikut: a. Pada materi program bimbingan, siswa tunanetra tidak hanya mengharapkan program bimbingan yang mengorientasikan pada upaya pemecahan, pengembanganpermasalahan akademik, tetapi menyangkut aspek pengenalan dan pemahaman fisik, psikologis serta pengembangan kemampuan bersosialisasi. b. Dalam penyelenggaraan program bimbingan, siswa tunanetra mengharapkan: (a) program bimbingan yang dilaksanakan tidak hanya dalam setting sekolah saja,
5 Ill tetapi dilaksanakan juga di lingkungan luar sekolah dengan memanfaatkan suasana asrama dan rumah, (b) program bimbingan yang dilaksanakan sebagian besar belum memenuhi harapan siswa, baik menyangkut substansi program maupu dalam penyelenggaraannya. 4. Program hipotetik yang dimunculkan, dideskripsikan sebagai berikut: a. Pertimbangan substansi program bimbingan yang dimunculkan tidak hanya didasarkan pada kajian kurikulum BP di SLBN A Bandung, tetapi lebih didasarkan pada analisis kebutuhan siswa tunanetra dalam mengembangkan konsep diri. Perumusan substansi program bimbingan dilakukan melalui pendekatan analisis aspek-aspek perkembangan konsep diri, yang meliputi pengembangan aspek fisik, psikologis dan sosial. Sedangkan muatan materi yang digunakan dalam mengembangkan ketiga aspek tersebut, yaitu dengan cara mentransformasikan nilai diri (self-values), nilai pendidikan (educational), dan nilai sosial (social-values). Transformasi nilai-nilai tersebut difokuskan pada upaya pengembangan konsep diri siswa tunanetra. b. Sistem penyelenggaraan program bimbingan, dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan lingkungan perkembangan siswa. Artinya penyelenggaraan program bimbingan tidak hanya memanfaatkan setting pembelajaran di sekolah, tetapi juga memberdayakan lingkungan perkembangan siswa di luar sekolah, yakni settingrumah dan asrama. Dengan pendekatan tersebut, maka guru pembimbing dalam melaksanakan program bimbingannya tidak berjalan sendiri, tetapi dengan cara kerja sama yang melibatkan guru kelas, orang tua siswa dan
6 112 pimpinan/petugas asrama. Untuk memfasilitasi potensi lingkungan perkembangan siswa tersebut, peranan guru pembimbing tidak hanya mengadakan tatap muka dengan siswa secara langsung, tetapi berfungsi sebagai koordinator dalam memberdayakan keterlibatan komponen-komponen lingkungan perkembangan siswa, guru kelas, orang tua siswa, dan pimpinan/petugas asrama. Peranan lingkungan perkembangan siswa lebih diarahkan sebagai informan mengenai kecenderungan perilaku siswa dilengkapi dengan pedoman observasi yang dapat membantu proses pengamaran perilaku siswa tunanetra dalam setting rumah dan asrama. Laporan yang diperoleh dari perkembangan lingkungan siswa, kemudian dijadikan dasar dalam menentukan program bimbinganberikutnya. Pengembangan program bimbingan yang dimunculkan secara spesifik didasarkan pada upaya pemenuhan kebutuhan siswa tunanetra dalam hal pengembangan konsep dirinya, sedangkan secara umum bertujuan untuk mengoptimaikan layanan program bimbingan yang telah berjalan di SLBN A Bandung. Oleh karena itu, untuk memenuhi harapan tersebut, proses pengembangannya didasarkan pada analisis empiris dan analisis konseptual. 5. Prosedur implementasi program bimbingan yang dideskripsikan sebagai berikut: a. Program bimbingan yang dilaksanakan berorientasi pada pendekatan kepribadian anak. Hal itu didasari oleh pemikiran bahwa pengembangan konsep diri siswa tunanetra merupakan salah satu implementasi program bimbingan di SLB
7 113 merupakan modifikasi dari, yang secara operasional meliputi tiga tahapan bimbingan, yaitu tahap eksplorasi, pengertian dan tindakan. b. Sebelum proses implementasi program bimbingan, dilakukan terlebih dahulu kegiatan yang bertujuan untuk mengkomunikasikan, mensosialisasikan esensi program bimbingan kepada personel sekolah, terutama terhadap guru pembimbing. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk "lokakarya", sebagai peserta guru, wali kelas, orang/wali dan pengasuh asrama serta kepala sekolah sebagai pengawas. B. Rekomendasi I. Rekomendasi Penyusunan Program Penyelenggaraan program bimbingan yang memanfaatkan potensi lingkungan perkembangan siswa, merupakan format baru dalam penyelenggaraan pendidikan siswa tunanetra. Oleh karena itu, proses perumusan program tersebut merupakan langkah baru yang perlu dikaji ulang terutama menyangkut aspek relevansi program secara empiris dan berkelanjutan. Keterbatasan waktu kegiatan penelitian, program bimbingan yang dimunculkan belum diujicobakan terhadap beberapa SLB bagian tunanetra, sehingga program bimbingan hipotetik dan berorientasi hanya pada satu tempat. Untuk memperoleh kualitas program bimbingan, maka perlu diadakan kegiatan-kagiatan berikut: a. Perlu diadakan kegiatan uji coba terhadap program bimbingan hipotetik ini pada beberapa SLB Bagian Tunanetra. Orientasi kegiatan uji coba tersebut difokuskan
8 114 pada upaya untuk memperoleh gambaran/bukti tentang relevansi program yang dirumuskan dengan permasalahan yang dihadapi siswa tunanetra dan menyangkut efektivitas pemberdayaan lingkungan perkembangan siswa dalam sistem penyelenggaraan pendidikan siswa tunanetra. b. Fokus penelitian ini terbatas pada kajian intervensi layanan bimbingan pengembangan konsep diri siswa tunanetra, belum memperhatikan aspek-aspek lain dan dipandang perlu diadakan penelitian mengenai analisis sistem lingkungan perkembangan siswa yang meliputi derajat keberfungsian orang tua siswa, pimpinan/petugas asrama (pekerja sosial) yang menangani pendidikan anak tunanetra. Hal tersebut didasari asumsi, bahwa pemaksimalan sumber daya manusia secara optimal merupakan potensi utama untuk mengaplikasikan inovasi pendidikan, termasuk penyelenggaraan bimbingan yangmenyeluruh. 2. Rekomendasi Isi Satuan Program Bimbingan Program bimbingan yang tersusun merupakan penggabungan dari temuan empirik (siswa, guru pembimbing, wali kelas/guru, kepala sekolah, dan orang tua/wali atau pembimbing asrama) dan melalui proses kolaborasi dengan fihak terkait (interdisipliner) yang telah dibahas dalam lokakarya yang merupakan rangkaian kegiatan penelitian. Sebagai hasil final, maka inti program layanan bimbingan dalam mengembangkan konsep diri bagi siswa tunanetra disarankan mengacu pada pengembangan aspek fisik, psikologi dan sosial, yaitu: fisik, rjenerirn^ea^utl perilaku, moral-etika, persepsi, kekritisan diri, pengendalian diri, Sedangkan satuan program disusun berdasarkan intensitas
9 115 objektif di lapangan dalam satuan program bimbingan tatap muka di kelas, secara kelompok, atau di luar kelas secara individu. Satuan program tersebut memiliki tujuan umum, tujuan khusus, materi metode/pendekatan dan evaluasi yang memuat tentang aspek pengembangan konsep diri baik karakteristik fisik, psikologis dan sosial serta intensitas pertemuan disesuaikan dengan gradasi masing-masing karakteristik dalam tatap muka berkisar satu atau dua kali empatpuluh lima menit satu minggu. Sedangkan metode layanan bimbingan didasari oleh teori humanistik melalui pendekatan kepribadian dengan langkah: eksplorasi, pengertian (empati, penghargaan positif tanpa syarat, ketulusan hati, kekonkritan rasional) dan tindakan. Dan hal ini sesuai dengan karakteristik dan pengembangan aspek konsep diri siswa tunanetra. 3. Rekomendasi untuk SLB Hasil penelitian menunjukkan adanya temuan permasalahan yang dihadapi siswa tunanetra dalam hal perkembangan konsep diri, hal tersebut dapat dijadikan salah satu dasar betapa pentingnya intervensi program bimbingan dan penyuluhan. Meskipun program bimbinganyang dimunculkan hanya terbatas pada pengembangan aspek konsep diri, tetapi dipandang perlu untuk mengimplementasikan program bimbingan ini. Untuk keperluan tersebut beberapa kegiatan yang perlu dilaksanakan, yaitu: a. Program bimbingan yang dimunculkan pef.u dilaksanakan: secara sistematis dan berkelanjutan sesuai dengan substansi program bimbingan yang tersusun. b. Guna mendukung pelaksanaan program bimbingan secara maksimal, perlu mensosialisasikan prinsip-prinsip penyelenggaraan program bimbingan terhadap
10 116 lingkungan perkembangan siswa. Melalui pendekatan tersebut, program bimbingan yang telahdirumuskan harus dipahami dandiaplikasikan secara profesional. 4. Rekomendasi Validasi Hasil Lokakarya Rangkaian penelitian yang dilangsungkan di SLBN A Bandung merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh tim bagian dari URGE. Diakhir kegiatan penelitian tersebut kami bersama sekolah, guru/wali kelas, gurupembimbing, pengasuh asrama, dan orang tua/wali menyelenggarakan lokakarya untuk mendalami hasil-hasil penelitian, pada tanggal 11 Januari 1999, dengan jumlah peserta 39 orang. Acara dalam lokakarya tersebut mempresentasikan hasil-hasil temuan penelitian, membahas/mendiskusikannya dan menerima saran dari peserta sebagai bahan masukan untuk melengkapi atau merevisi demi kesempurnaannya. Oleh karena itu penulis memandang perlu dan penting untuk disajikan sebagai berikut: 1. Kurikulum a. Disarankan perlu menyusun kurikulum yang membahas tentang BP secara khusus di SLB-SLB, khususnya di SLBN A Bandung b. Kurikulum BP harus berangkat dari kondisi objektifdi lapangan c. Perlu penyusunan secara spesifik untuk masing-masing jenjang (SD, SMPT, dan SKMVl) 2. Materi program BP, hendaknya mencakup berbagai aspek misalnya: a. Karir
11 117 b. Bimbingan Belajar tiap jenjang c. Bimbingan Studi Lanjut d. Bimbingan Tugas-Tugas Perkembangan e. Bimbingan Sosial 3. Strategi pelaksanaan bimbingan, hendaknya menggunakan; a. Bimbingan Individual b. Bimbingan Kelompok 4. Follow up dari Collaborative Action Research perlu ditindak lanjuti dari berbagai pihak (interdisipliner), lembaga terkait atau team ahli 5. Pihak-pihak yang terlibat dalam kolaboratif perlu lebih melibatkan (I) orang tua/pembimbingasrama, (2) pihak terkait 6. Sosialisasi program hendaknya berdasarkan perangkat nilai yang ada dan perlu adanya komitmen dari berbagai komponen sistem sekolah. 7. Sasaran Layanan Perlu mempertimbangkan: (a) perbedaanjenis kelamin, (b) tingkat usia di berbagai latar belakang kehidupan 8. Pelaksanaan program layanan BK, hendaknya mampu menghilangkan kesan, bahwa setiap siswa yang diberikan layanan "siswa yang bermasalah". Contohnya siswa yang dipanggil ke ruang BP belum tentu ada masalah. 9. Materi program BP hendaknya dapat disiapkan dalam setiap bidang studi (mata pelajaran). 10. Untuk penyelenggaraan BP perlu sarana penunjang (ruang khusus atau buku-buku penunjang)
12 118 Tanggapan guru SLB dalam lokakarya: 1. Keberadaan BP di SLB; 99% menyatakan setuju 2. Penyelenggaraan BP oleh guru pembimbing yang beriatar belakang pendidikan BP PLB; 98% setuju 3. Guru SLB (PLB) harus mendapatkan pengetahuan tentang BP; 95% mengatakan setuju 4. Untuk pengembangan kemampuan siswa, guru SLB yang tidak memiliki latar belakang BP perlu mengikuti pelatihan; 93% menyatakan setuju diadakan pelatihan BP Latar belakang pendidikan guru SLB: 1. SI PLB =25% 2. SI Umum =20% 3. SI BP =5% 4. D2(SGPLB) =45% 5. Lain-lain = 5% Oleh karena itu gurupembimbing (konselor) perluditambah. Pengalaman/masa kerja guru SLB 1. Antara tahun =20% 2. Antara tahun = 25% 3. Antara tahun =35% 4. Antara 7-14 tahun = 10% 5. Kurang dari 7 tahun = 10%
13 119 C. Penutup Akhirnya dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada berbagai pihak atas tersusunnya tesis ini. Penulis menyadari sebagai manusia, memiliki kekurangan dan kekhilafan untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan permohonan maaf. Mudah-mudahan hasil penelitian ini bisa menambah wawasan, pengetahuan dan bermanfaat bagi pengembangan layanan bimbingan secara umum khususnya di Sekolah Luar Biasa yang menangani siswa tunanetra.
14
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab V ini dipaparkan hal-hal yang berkenaan dengan simpulan dan rekomendasi penelitian. Simpulan penelitian dikemukakan secara sistematis sesuai dengan pertanyaan penelitian,
KISI KISI UKG 2015 GURU BK/KONSELOR
KISI KISI UKG 2015 GURU BK/KONSELOR No 1. Pedagogik 1 Menguasai teori dan praksis pendidikan 1.1 Menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya 1.1.1 Guru BK atau konselor dapat mengaplikasikan ilmu
Model Hipotetik Bimbingan dan konseling Kemandirian Remaja Tunarungu di SLB-B Oleh: Imas Diana Aprilia 1. Dasar Pemikiran
Model Hipotetik Bimbingan dan konseling Kemandirian Remaja Tunarungu di SLB-B Oleh: Imas Diana Aprilia 1. Dasar Pemikiran Pendidikan bertanggungjawab mengembangkan kepribadian siswa sebagai upaya menghasilkan
BIMBINGAN DAN KONSELING KOMPREHENSIF
BIMBINGAN DAN KONSELING KOMPREHENSIF Program bimbingan dan konseling sekolah yang komprehensif disusun untuk merefleksikan pendekatan yang menyeluruh bagi dasar penyusunan program, pelaksanaan program,
Penelitian penting bagi upaya perbaikan pembelajaran dan pengembangan ilmu. Guru bertanggung jawab dalam mengembangkan keterampilan pembelajaran.
Penelitian penting bagi upaya perbaikan pembelajaran dan pengembangan ilmu. Guru bertanggung jawab dalam mengembangkan keterampilan pembelajaran. Penelitian pada umumnya dilakukan oleh pakar pendidikan,
KURIKULUM PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN JENJANG MAGISTER (S2) SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KURIKULUM PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN JENJANG MAGISTER (S2) SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA OLEH TIM PENYUSUN KURIKULUM PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Kesimpulan dari penelitian ini, adalah sebagai berikut :
350 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini, adalah sebagai berikut : 1. Penyusunan program supervisi akademik pengawas SMK di Kabupaten Bandung khususnya program
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Pada dasarnya penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menemukan model kecakapan hidup terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dalam meningkatkan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Penelitian tentang program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Penelitian tentang program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik dilakukan melalui pendekatan kuantitatif
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. humanistik untuk meningkatkan kemandirian belajar peserta didik yang dilakukan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Penelitian tentang program bimbingan belajar berbasis pendekatan humanistik untuk meningkatkan kemandirian belajar peserta didik yang dilakukan di SMP Negeri
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Penelitian tentang program bimbingan pribadi sosial dalam
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Penelitian tentang program bimbingan pribadi sosial dalam mengembangkan cinta altruis peserta didik dengan menggunakan eksperimen kuasi, menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Iding Tarsidi, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang mandiri... (UURI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bagian ini diuraikan sejumlah kesimpulan penelitian sebagai hasil
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Pada bagian ini diuraikan sejumlah kesimpulan penelitian sebagai hasil akhir dari rangkaian proses penelitian yang telah dilakukan sekaligus merupakan finalisasi
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Penelitian tentang bimbingan belajar berbasis teknik mind map untuk
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Penelitian tentang bimbingan belajar berbasis teknik mind map untuk meningkatkan daya ingat peserta didik underachiever dengan menggunakan eksperimen kuasi menghasilkan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Kesimpulan hasil studi dan pengembangan model konseling aktualisasi diri
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Kesimpulan hasil studi dan pengembangan model konseling aktualisasi diri untuk mengembangkan kecakapan pribadi mahasiswa dipaparkan sebagai berikut. 1. Model
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI 5.1 Simpulan Simpulan merupakan integrasi dari temuan empiris, hasil kajian teoritis, dan perbandingan dengan riset lain yang sejenis. Dari keseluruhan rangkaian
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK/CAR)
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK/CAR) Saefudin STKIP Garut Juni 2006 Penelitian Tindakan (Action Research)? Penelitian tentang, untuk, dan oleh masyarakat/kelompok sasaran, dengan memanfaatkan interaksi,
PENDEKATAN PERKEMBANGAN DALAM BIMBINGAN DI TAMAN KANAK-KANAK
Pendekatan Perkembangan dalam Bimbingan di Taman Kanak-kanak 47 PENDEKATAN PERKEMBANGAN DALAM BIMBINGAN DI TAMAN KANAK-KANAK Penata Awal Bimbingan perkembangan merupakan suatu bentuk layanan bantuan yang
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN GURU
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN GURU A. Rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan Program Sarjana
Oleh: Ilfiandra, M.Pd. Mubiar Agustin, M.Pd. Ipah Saripah, M.Pd.
LAPORAN PENELITIAN PENINGKATAN TATA KELOLA, AKUNTABILITAS DAN PENCITRAAN PUBLIK PENINGKATAN MUTU TATA KELOLA LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI PROVINSI JAWA BARAT Oleh: Ilfiandra,
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
161 BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan Penelitian program bimbingan pribadi untuk mengembangkan identitas diri mahasiswa dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Profil identitas diri mahasiswa berada
PEDOMAN BIMBINGAN DAN KONSELING MAHASISWA
PEDOMAN BIMBINGAN DAN KONSELING MAHASISWA AKADEMI KEBIDANAN HARAPAN MULYA PONOROGO Jl. Batoro Katong No. 30 Ponorogo Jawa Timur. Telp/Fax: (0352) 489171 Web: akbidharapanmulya.ac Email : [email protected]
PERTEMUAN 13 PENYELENGGARAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA JALUR PENDIDIKAN
PERTEMUAN 13 PENYELENGGARAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA JALUR PENDIDIKAN FORMAL RAMBU-RAMBU PENYELENGGARAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM JALUR PENDIDIKAN FORMAL DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN
PENGEMBANGAN INSTRUMEN UJI KOMPETENSI GURU
PENGEMBANGAN INSTRUMEN UJI KOMPETENSI GURU HO - 7 A. Tujuan Penyusunan Instrumen Tes Uji Kompetensi Guru Penyusunan instrumen tes Uji Kompetensi Guru bertujuan untuk menghasilkan seperangkat alat ukur
2015 PENGEMBANGAN PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI GURU D ALAM MENYUSUN PROGRAM PEMBELAJARAN IND IVIDUAL DI SLB AD ITYA GRAHITA KOTA BAND UNG
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Setiap peserta didik yang mengikuti proses belajar dan proses pendidikan, memiliki keadaan yang beragam. Seperti yang terjadi pada peserta didik berkebutuhan
KOMPETENSI KONSELOR. Kompetensi Konselor Sub Kompetensi Konselor A. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani
KOMPETENSI KONSELOR Kompetensi Konselor Sub Kompetensi Konselor A. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. Menghargai dan menjunjung tinggi 1.1. Mengaplikasikan pandangan positif nilai-nilai
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN Bab I membahas mengenai latar belakang masalah; tujuan penelitian dan pengembangan; spesifikasi produk; pentingnya penelitian dan pengembangan; asumsi dan keterbatasan penelitian dan
KISI-KISI SOAL UJI KOMPETENSI AWAL (UKA) GURU BIMBINGAN DAN KONSELING TAHUN 2015
KISI-KISI SOAL UJI KOMPETENSI AWAL (UKA) GURU BIMBINGAN DAN KONSELING TAHUN 2015 Standar Inti Pedagogik 1. Menguasai teori dan praksis pendidikan 1.1 Menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya
MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd
MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd A. PENDAHULUAN Banyak pertanyaan dari mahasiswa tentang, bagaimana menjadi konselor professional? Apa yang harus disiapkan
LAYANAN KONSELING DI SEKOLAH (KONSEP & PRAKTIK)
LAYANAN KONSELING DI SEKOLAH (KONSEP & PRAKTIK) Pelayanan Pendidikan di Sekolah Administratif / Manajemen Pembelajaran Perkembangan individu yang optimal dan mandiri Konseling (Naskah Akademik ABKIN, 2007)
DAFTAR ISI. Abstrak... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Bagan... Daftar Gambar... Daftar Lampiran... BAB I PENDAHULUAN... 1
DAFTAR ISI Abstrak... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Bagan... Daftar Gambar... Daftar Lampiran... v vii xii xiii xiv xv BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian... 1 1.2 Identifikasi
TUGAS PERKEMBANGAN SISWA VISI DAN MISI BIMBINGAN KONSELING
TUGAS PERKEMBANGAN SISWA 1. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmani dan rohani yang sehat 3. Mencapai kematangan dalam hubungan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Sementara rekomendasi hasil penelitian difokuskan pada upaya sosialisasi hasil
244 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab ini dipaparkan kesimpulan dan rekomendasi penelitian. Kesimpulan merupakan inferensi dari temuan empiris dan kajian pustaka. Sementara rekomendasi hasil penelitian
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang dan Masalah. 1. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah suatu kebutuhan yang sangat penting bagi manusia.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu kebutuhan yang sangat penting bagi manusia. Pendidikan adalah suatu proses sadar tujuan, artinya bahwa kegiatan
ARAH PENGEMBANGAN MATERI KURIKULUM : Program Pendidikan Sarjana (S-1) BK Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK)
ARAH PENGEMBANGAN MATERI KURIKULUM : Program Pendidikan Sarjana (S-1) BK Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) PENGANTAR Perkembangan dunia di tanah air mendapat momentum yang amat menentukan, yaitu
PEMETAAN KOMPETENSI GURU BIMBINGAN KONSELING DI PROVINSI BENGKULU. Oleh: Rita Sinthia, Anni Suprapti dan Mona Ardina.
PEMETAAN KOMPETENSI GURU BIMBINGAN KONSELING DI PROVINSI BENGKULU Oleh: Rita Sinthia, Anni Suprapti dan Mona Ardina Email:[email protected] Dosen Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ihsan Mursalin, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bimbingan dan konseling di Indonesia, secara legal tercantum dalam undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 ayat 6 yang
Manual Mutu Penelitian Universitas Sanata Dharma MM.LPM-USD.04. M a n u a l M u t u P e n e l i t i a n 2
Manual Mutu Penelitian Universitas Sanata Dharma MM.LPM-USD.04 M a n u a l M u t u P e n e l i t i a n 2 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI 2 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 3 1.2 Tujuan 3 BAB 2 PENGERTIAN
Kemandirian sebagai tujuan Bimbingan dan Konseling Kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling adalah k
FOKUS LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING Dr. Suherman, M.Pd. Kemandirian sebagai tujuan Bimbingan dan Konseling Kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling adalah
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
170 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Setelah melalui kajian konsep, proses penelitian, temuan objektif di lapangan, dan pengujian kelayakan penerapannya di lapangan, secara umum dapat disimpulkan
PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING DI ERA DISRUPSI: PELUANG DAN TANTANGAN
PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING DI ERA DISRUPSI: PELUANG DAN TANTANGAN Oleh Dr. Hartono, M.Si. Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Adi Buana Surabaya E-mail: [email protected]
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. sekolah dengan keefektifan sekolah di MTs Kabupaten Labuhanbatu Utara.
95 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis data, temuan dan pembahasan penelitian maka dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut: 1. Terdapat hubungan yang signifikan
INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA GURU BK/KONSELOR
INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA GURU BK/KONSELOR NO TUGAS UTAMA DAN INDIKATOR KINERJA GURU BK/KONSELOR HASIL ANALISIS KAJIAN ATAU KESIMPULAN DARI DATA/BUKTI-BUKTI/DOKUMEN DAN/ATAU CATATAN HASIL PENGAMATAN
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI Peneliti menjelaskan mengenai simpulan, implikasi dan rekomendasi. Simpulan merupakan kombinasi dari temuan empiris dan kajian pustaka. Implikasi penelitian merupakan
panduan dasar dalam melaksanakan program kerja, a. Isi program kerja PGRI dalam meningkatkan profesionalisme guruguru,
154 BABV KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan pada analisis data penelitian yang dipaparkan dalam Bab IV, berikut disajikan kesimpulan penelitian yang sekaligus merupakan jawaban atas
RAMBU-RAMBU PENULISAN MAKALAH
RAMBU-RAMBU PENULISAN MAKALAH Mata Kuliah Seminar Bimbingan dan Konseling RAMBU-RAMBU PENULISAN MAKALAH Tujuan Penulisan Makalah Kriteria Permasalahan Strategi dan Langkah-langkah Penulisan Makalah Format
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. kelompok dengan pendekatan mentoring halaqah dalam meningkatkan
172 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab ini dijelaskan kesimpulan dan rekomendasi penelitian bimbingan kelompok dengan pendekatan mentoring halaqah dalam meningkatkan kecerdasan moral siswa di SMAN
RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI WASANTANNAS
RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI WASANTANNAS 2010-2015 I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kegiatan pembangunan telah menghantarkan bangsa Indonesia mencapai kemakmuran dan kesejahteraan yang lebih baik,
I. PROGRAM STUDI : BIMBINGAN DAN KONSELING. A. Identitas Program Studi
I. PROGRAM STUDI : BIMBINGAN DAN KONSELING A. Identitas Program Studi 1. NamaProgram Studi : Bimbingan dan Konseling 2. Izin Pendirian : 423/DIKTI/Kep/1998 3. Status Akreditasi : B 4. Visi : Menjadi Program
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI. Bab ini dimulai dengan sajian simpulan hasil penelitian. Selanjutnya, berdasarkan
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI Bab ini dimulai dengan sajian simpulan hasil penelitian. Selanjutnya, berdasarkan simpulan penelitian disajikan beberapa sumbangan teoretis sebagai implikasi
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
128 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Penelitian tentang Program Bimbingan Karir untuk Meningkatkan Kompetensi Komunikasi Interpersonal Sales dengan menggunakan metode eksperimen kuasi pada
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan dilakukan berdasarkan rancangan yang terencana dan terarah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan dilakukan berdasarkan rancangan yang terencana dan terarah berdasarkan kurikulum yang disusun oleh lembaga pendidikan. Menurut undang-undang sistem pendidikan
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
262 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan Merujuk pada tujuan dan tahapan pengembangan penelitian disimpulkan BK Komprehensif anak berbakat melalui model struktur keberbakatan Milgram dalam
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan mengembangkan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan mengajar model pembelajaran terpadu pada mahasiswa
BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan dan tanggung jawab yang diemban seorang guru bimbingan dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuntutan dan tanggung jawab yang diemban seorang guru bimbingan dan konseling dalam kegiatan konseling cenderung mengantarkannya pada keadaan stres. Bahkan ironisnya,
: Evaluasi Diri untuk Rencana Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (diisi oleh Guru BK/Konselor) Alamat: Kecamatan: Kabupaten/Kota:
Format 1 : Evaluasi Diri untuk Rencana Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (diisi oleh Guru BK/Konselor) Nama Sekolah: Nomor Statistik Sekolah: Alamat: Kecamatan: Kabupaten/Kota: Nama Guru: Tahun Ajaran:
PENILAIAN DAN STRATEGI PENINGKATAN MATURITAS SPIP. Per 13 Februari 2018
PENILAIAN DAN STRATEGI PENINGKATAN MATURITAS SPIP Per 13 Februari 2018 A. STRUKTUR MATURITAS SPIP Definisi Maturitas SPIP Tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP adalah tingkat kematangan/kesempurnaan penyelenggaraan
BAB III PROSEDUR PENELITIAN. kolaboratif realistis terhadap permasalahan-permasalahan dari penerapan suatu
BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji, merefleksi secara kritis dan kolaboratif realistis terhadap permasalahan-permasalahan dari penerapan suatu tindakan
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH) Yoyo Mulyana. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH) Yoyo Mulyana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa JENIS PENELITIAN TERAPAN 1) Penelitian Tindakan Kelas 2) Penelitian Eksperimen Semu 3) Penelitian Pengembangan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kelahiran seorang anak di dunia ini adalah kebanggaan tersendiri bagi keluarga, manusia tidak dapat meminta anaknya berwajah cantik atau tampan sesuai dengan
BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stres kerja adalah respon psikologis individu terhadap tuntutan di tempat kerja yang menuntut seseorang untuk beradaptasi dalam mengatasi tuntutan tersebut.
BAB I PENDAHULUAN. Dalam melaksanakan fungsinya, pengawas sekolah sering berhadapan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam melaksanakan fungsinya, pengawas sekolah sering berhadapan dengan berbagai masalah, terutama untuk membantu guru-guru mencapai hasil belajar siswa
PEDOMAN STRUKTUR DAN SUBSTANSI SISTEMATIKA USULAN DAN LAPORAN PTK PRODI PGSD JURUSAN PEDAGOGIK FIP UPI
1 PEDOMAN STRUKTUR DAN SUBSTANSI SISTEMATIKA USULAN DAN LAPORAN PTK PRODI PGSD JURUSAN PEDAGOGIK FIP UPI A. DEFINISI Penelitian Tindakan pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan
63 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk memungkinkannya pencatatan dan analisis
Penelitian Tindakan Kelas. Oleh : Diana Rahmawati, M.Si
Penelitian Tindakan Kelas Oleh : Diana Rahmawati, M.Si A. Pentingnya Penelitian Tindakan kelas Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan didalam
ISIAN PENILAIAN KINERJA GURU (PKG) BP/BK TAHUN 2014 (Diisi Oleh Kepala Sekolah)
ISIAN PENILAIAN KINERJA GURU (PKG) BP/BK TAHUN 2014 (Diisi Oleh Kepala Sekolah) Petunjuk Pengisian : 1. Setiap Pertanyaan hanya bisa diisi satu pilihan 2. Pilihan ditandai dengan Membubuhkan tanda centang
-2- Pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah terdiri atas pembinaan dan pengawasan umum serta pembinaan dan pengawasan te
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I PEMERINTAH DAERAH. Penyelenggaraan. Pembinaan. Pengawasan. Pencabutan. (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 73) PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab ini disajikan kesimpulan dan rekomendasi hasil penelitian. Kesimpulan merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian, sedangkan rekomendasi berkenaan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah pengembangan model bimbingan kelompok berbasis islami yang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini adalah pengembangan model bimbingan kelompok berbasis islami yang dilaksanakan di SMA 2 Bae Kudus. 3.2 Subjek Penelitian Subjek dalam
PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MELALUI PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MELALUI PENELITIAN TINDAKAN KELAS MAKALAH Disampaikan pada kegiatan Seminar Internasional di Bandung tanggal 25 Mei 2009 Oleh EPON NINGRUM JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
DEFINSI MODEL PERANGKAT ASUMSI, PROPORSI, ATAU PRINSIP YANG TERVERIFIKASI SECARA
DEFINSI MODEL PERANGKAT ASUMSI, PROPORSI, ATAU PRINSIP YANG TERVERIFIKASI SECARA EMPIRIK, DIORGANISASIKAN KEDALAM SEBUAH STRUKTUR (KERJA) UNTUK MENJELASKAN, MEMPREDIKASI DAN MENGENDALIKAN PERILAKU ATAU
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil analisis yang telah dipaparkan pada Bab IV maka dapat
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang telah dipaparkan pada Bab IV maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan konseling pada konselor di SMP/Mts Negeri se- Kota
BAB II KAJIAN TEORETIS. 2.1 Pengertian Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling
BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Pengertian Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Sesuai dengan hakikat pekerjaan bimbingan dan konseling yang berbeda dari pekerjaan pengajaran, maka sasaran pelayanan bimbingan
Kebijakan Mutu Akademik FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM MALANG
Kebijakan Mutu Akademik FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM MALANG KEBIJAKAN MUTU AKADEMIK FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM MALANG Universitas Islam Malang, 2015 All Rights Reserved 2 Kebijakan Mutu Akademik
PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DAN PERSIAPAN PEMINATAN DIREKTORAT P2TK DIKDAS 2014
PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DAN PERSIAPAN PEMINATAN DIREKTORAT P2TK DIKDAS 2014 PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DAN PERSIAPAN PEMINATAN 3.JB (135Menit) 10 Menit PENDAHULUAN Petunjuk
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk paling unik di dunia. Sifat individualitas manusia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk paling unik di dunia. Sifat individualitas manusia memunculkan perbedaan karakter antara satu dengan yang lainnya. Tidak hanya seseorang
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Penelitian tentang kebiasaan belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Penelitian tentang kebiasaan belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Lembang tahun ajaran 2010/2011, memperoleh kesimpulan sebagai berikut. 1. Sebagian besar
Oleh : Sugiyatno, M.Pd
Oleh : Sugiyatno, M.Pd Dosen PPB/BK- FIP- UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA [email protected] Sugiyatno. MPd Jln. Kaliurang 17 Ds. Balong, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta Hp. 08156009227 Beriman
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI
300 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI Bab V ini merupakan penutup dari keseluruhan bab. Dalam bagian ini akan dikemukakan 3 (tiga) hal, yakni simpulan hasil penelitian, implikasi, dan rekomendasi.
BIMBINGAN DAN KONSELING. Dr. Suherman, M.Pd. Universitas Pendidikan Indonesia
BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN Dr. Suherman, M.Pd. Universitas Pendidikan Indonesia UNSUR PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN DI SEKOLAH DASAR PEMIKIRAN: FILOSOFIS, MISI, DOMAIN PERKEMBANGAN,
Standard Guru Penjas Nasional (Rumusan BSNP)
Standar Guru Penjas Standard Guru Penjas Nasional (Rumusan BSNP) 1. Kompetensi Pedagogik 2. Kompetensi Kepribadian 3. Kompetensi Sosial 4. Kompetensi Profesional Kompetensi Pedagogik Menguasai karakteristik
BAB III METODE PENELITIAN. Dalam bab ini disajikan uraian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
70 BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini disajikan uraian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan metode penelitian. Metode yang dimaksud adalah berkaitan dengan pendekatan lokasi dan subjek penelitian,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah pendidikan merupakan masalah yang menarik untuk dibicarakan. Hal ini disebabkan karena masalah pendidikan memuat hal mendasar menyangkut semua aspek
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
PEDOMAN PELAKSANAAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) PENDIDIKAN PROFESI GURU SM3T FKIP UNS TAHUN 2017 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan
MASALAH & TANTANGAN. 6. Pendidikan tinggi masih menghadapi kendala dalam mengembangkan dan menciptakan IPTEK.
MASALAH & TANTANGAN 1. Tingkat pendidikan masyarakat relatif masih rendah. 2. Dinamika perubahan struktur penduduk belum sepenuhnya terakomodasi dalam pembangunan pendidikan. 3. Kesenjangan tingkat pendidikan.
