BAB VII PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
|
|
|
- Yandi Irawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB VII PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 7.1 Site Plan Taman Terapi Berdasarkan konsep tata ruang yang dibuat, ruang pada tapak dibagi ke dalam dua ruang, yaitu ruang terapi dan ruang non terapi. Ruang terapi tersebut terbagi atas ruang terapi indoor dan outdoor, dimana ruang terapi outdoor terdiri atas empat sub ruang yaitu ruang terapi sensorik, motorik, kognitif, dan sosial. Pada ruang non terapi terdapat welcome area yang berfungsi sebagai penerimaan. Jenis ruang, fungsi, aktivitas, fasilitas, serta persentase ruang yang direncanakan akan dijabarkan pada Tabel 12, sedangkan site plan taman terapi akan disajikan pada Gambar 40. Tabel 12. Jenis Ruang, Fungsi, Aktivitas, dan Fasilitas yang Direncanakan Zona Ruang Sub Ruang Fungsi Aktivitas Fasilitas Ruang (%) Luas (m 2 ) Terapi Indoor - Terapi Terapi dalam Gedung terapi (Okupasi, Sensori Integrasi, Fisioterapi, Wicara) ruang, konsultasi indoor Outdoor Sensorik Terapi Sensorik 17,26 44,18 Non Terapi Welcome area Motorik Kognitif Sosial Terapi Motorik Terapi Kognitif Terapi Sosial Stimulasi indera penglihatan, pendengaran penciuman, dan perabaan, berjalan diatas jalur refleksi, duduk-duduk, bermain Berjalan, merangkak, mendaki bukit berumput, bermain, dudukduduk Duduk-duduk, belajar bersama, menanam, bermain Duduk-duduk, bercengkrama, mengobrol, bermain, relaksasi - Penerimaan Masuk ke dalam taman Sensory garden, texture table, jalur refleksi, arbor, wind chimes Undulating grassy slope, stepping log, balok keseimbangan, jembatan lengkung, alat permainan anak Outdoor stage, potting area Plaza, pergola, bangku taman 38 97,2 11,20 28,6 15,12 38,7 Pintu gerbang 0,43 1,1
2 91
3 Ruang Terapi Ruang terapi merupakan ruang utama yang direncanakan pada tapak. Hal ini dikarenakan ruang terapi merupakan ruang yang diperuntukkan bagi kegiatan terapi dimana fungsi terapi tersebut merupakan fungsi utama yang akan dikembangkan pada tapak. Ruang terapi terbagi menjadi dua, yaitu: a. Ruang Terapi Indoor Ruang terapi indor merupakan ruang yang diperuntukkan bagi aktivitas terapi anak-anak berkebutuhan khusus di dalam ruangan. Aktivitas terapi dalam ruangan yang dilakukan terdiri dari terapi okupasi dan sensori integrasi, terapi wicara, terapi PPI (Program Pengembangan Individu), fisioterapi, dan terapi okupresure yang merupakan program dari sekolah. Ruang ini menempati 18 % dari keseluruhan total luas area tapak dimana pada ruang ini terdapat fasilitas berupa gedung terapi yang terletak di selatan tapak berbatasan langsung dengan tembok pembatas tapak. b. Ruang Terapi Outdoor Ruang terapi outdoor merupakan ruang yang diperuntukkan bagi aktivitas terapi anak-anak berkebutuhan khusus di luar ruangan. Ruang ini memiliki proporsi ruang sebesar 81,58 % dari keseluruhan luas area tapak dimana dari proporsi tersebut terbagi lagi menjadi sub-sub ruang terapi outdoor. Berikut adalah penjelasan dari keempat sub ruang tersebut: 1. Sub ruang terapi sensorik Ruang terapi sensorik merupakan ruang terapi yang didesain untuk melakukan kegiatan terapi sensori indera anak yang meliputi penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perabaan. Ruang terapi sensorik ini memiliki proporsi ruang sebesar 17,26 % dari luas keseluruhan tapak. Pada ruang ini aktivitas terapi diarahkan pada stimulasi semua indera anak berkebutuhan khusus yang meliputi indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perabaan. Stimulasi indera-indera anak berkebutuhan khusus tersebut dapat diperolah melalui fasilitas dan elemen-elemen baik keras ataupun lunak yang terdapat di ruang tersebut. Fasilitas yang terdapat di ruang terapi sensorik ini
4 93 adalah sensory garden, texture table, jalur refleksi, arbor, dan wind chimes. Elemen-elemen taman baik keras maupun lunak seperti batu-batuan, air, dan tanaman yang ditata pada ruang terapi sensorik ini juga berfungsi untuk menstimulasi indera anak berkebutuhan khusus baik penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perabaan. 2. Sub ruang terapi motorik Ruang terapi motorik merupakan ruang terapi yang didesain untuk melakukan kegiatan terapi yang menstimulasi kemampuan motorik, pergerakan, dan keseimbangan anak berkebutuhan khusus. Ruang terapi motorik ini memiliki proporsi ruang sebesar 38 % dari luas keseluruhan tapak. Aktivitas terapi pada ruang terapi motorik ini diarahkan pada aktivitas yang merangsang pergerakan anak. Fasilitas-fasilitas seperti undulating grassy slope, stepping log, jembatan lengkung, dan balok keseimbangan menstimulasi dan melatih kemampuan motorik kasar dan keseimbangan anak. Selain itu terdapat pula fasilitas berupa alat permainan anak yang merupakan penggabungan antara tangga horizontal, tangga, dan panjatan tali (rope). 3. Sub ruang terapi kognitif Ruang terapi kognitif merupakan ruang terapi yang didesain untuk menstimulasi kemampuan berpikir anak. Ruang ini memiliki proporsi ruang sebesar 11,20 % dari luas keseluruhan tapak dengan fasilitas-fasilitas seperti outdoor stage dan potting area berupa planter box. Aktivitas pada ruang ini diarahkan pada kegiatan bermain sambil belajar melalui fasilitas-fasilitas yang tersedia. 4. Sub ruang terapi sosial Ruang terapi sosial merupakan ruang yang didesain untuk memfasilitasi adanya interaksi dan sosialisasi anak baik dengan teman sebayanya, terapis, shadow teacher, maupun orang tua. Ruang terapi ini memiliki proporsi ruang sebesar 15,12 % dari keseluruhan luas tapak. Fasilitas-fasilitas yang terdapat pada ruang terapi sosial ini seperti plaza, pergola, dan bangku taman dimana aktivitas yang terdapat di dalamnya lebih diarahkan pada aktivitas yang bersifat pasif, seperti duduk-duduk, bercakap-cakap, atau istirahat.
5 Ruang Non Terapi Ruang non terapi merupakan ruang yang diperuntukkan bagi kegiatan selain terapi. Pada ruang ini terdapat welcome area yang berfungsi sebagai penerimaan. Ruang penerimaan ini terletak di bagian depan tapak, berhadapan langsung dengan jalan. Ruang penerimaan ini memiliki tingkat penggunaan yang tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan ruang terapi. Pada ruang ini terdapat fasilitas berupa pintu gerbang taman dengan aktivitas terbatas yaitu memasuki area taman terapi. 7.2 Rancangan Taman Terapi Taman terapi dirancang pada lahan seluas 256 m 2 dimana di dalamnya terdapat ruang terapi indoor dan ruang terapi outdoor. Ruang terapi luar (outdoor) merupakan fokus utama dalam rancangan taman terapi ini. Pada ruang terapi indoor terdapat gedung terapi yang merupakan tempat kegiatan terapi anak berkebutuhan khusus yang dilakukan di dalam ruangan. Sedangkan ruang terapi luar (outdoor) terbagi ke dalam empat ruang, yaitu ruang terapi sensorik, motorik, kognitif, dan sosial dimana pada ruang-ruang terapi ini anak berkebutuhan khusus dapat melakukan kegiatan terapi sekaligus bermain di alam terbuka. Taman terapi anak berkebutuhan khusus tersebut dapat diakses melalui satu pintu masuk yang terdapat di sebelah barat taman. Pintu masuk tersebut berupa trellis yang dirambati tanaman yang berbatasan langsung dengan jalan di luar tapak. Setelah memasuki taman, pengguna dapat mengakses ruang-ruang terapi yang ada di dalam tapak. Pengguna dapat mengakses ruang terapi sensorik yang berada di sebelah utara tapak, ruang terapi motorik yang berada di sebelah timur tapak, maupun ruang terapi kognitif dan sosial yang berada di sebelah selatan tapak. Sirkulasi di dalam taman menghubungkan semua ruang. Sirkulasi di dalam taman berupa jalan yang hanya diperuntukkan bagi manusia. Sirkulasi dibuat organik dan bercabang sehingga pengguna dapat dengan bebas memilih untuk mengakses ruang-ruang di dalam taman tersebut. Gambar 41 dan 42 menyajikan gambar rancangan taman terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus secara keseluruhan.
6 95
7 96
8 97 Ruang terapi sensorik berada di bagian utara tapak dekat dengan pintu masuk taman. Pada ruang terapi sensorik ini pengguna yaitu anak berkebutuhan khusus dapat menstimulasi inderanya yang berupa penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perabaan dengan faslitas yang ada. Fasilitas yang terdapat pada ruang terapi sensorik ini diantaranya adalah jalur refleksi, texture table, sensory garden, serta wind chimes yang digantung pada pergola. Gambar 43 Blow Up Ruang Terapi Sensorik Gambar 44 Ilustrasi Perspektif Ruang Terapi Sensorik
9 98 Jalur refleksi dirancang dengan lintasan yang berbentuk melingkar dengan susunan berupa sekuens dari batu kerikil dan balok kayu. Selain itu, jalur refleksi ini dilengkapi pula dengan pegangan atau hand rails yang memudahkan pengguna dalam menggunakan fasilitas tersebut. Lintasan jalur refleksi dibuat melingkar untuk mengoptimalkan fungsi terapi yang dapat diberikan di area yang relatif sempit. Selain jalur refleksi, pada ruang terapi sensorik ini terdapat texture table yang terletak di bawah pergola dengan bentuk melengkung mengikuti lintasan jalur refleksi dan pergola. Texture table ini merupakan fasilitas yang berfungsi untuk menstimulasi indera peraba anak berkebutuhan khusus. Fasilitas ini berbentuk meja yang terbagi menjadi lima kotak dimana setiap kotaknya dapat diisi dengan beragam material yang berbeda tekstur. Letaknya yang berada di bawah naungan pergola membuat anak berkebutuhan khusus yang menggunakan fasilitas ini merasa nyaman karena terlindungi dari panas sinar matahari. Selain itu, terdapat pula wind chimes yang digantung pada pergola. Wind chimes ini dapat mengeluarkan bunyi-bunyian apabila tertiup angin sehingga dapat menstimulasi indera pendengaran anak berkebutuhan khusus. Ruang terapi sensorik ini juga dilengkapi dengan sensory garden yang tersusun dari vegetasi dengan variasi jenis, warna, tekstur, serta aroma. Sensory garden ini berfungsi untuk menstimulasi indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perabaan anak berkebutuhan khusus. Blow up dan ilustrasi perspektif dari ruang terapi sensorik dapat dilihat pada Gambar 43 dan 44. Ruang terapi motorik terdapat di bagian timur tapak berhadapan dengan ruang terapi sensorik. Pada ruang terapi motorik ini anak berkebutuhan khusus dapat menstimulasi kemampuan motorik, pergerakan, dan keseimbangannya. Pada ruang terapi ini tersedia fasilitas-fasilitas yang membantu anak berkebutuhan khusus dalam menstimulasi dan melatih kemampuan motorik kasarnya. Fasilitasfasilitas tersebut diantaranya adalah undulating grassy slope, tangga, ramp, stepping log, balok keseimbangan, serta permainan anak. Terdapat pula jembatan lengkung yang selain sebagai penghubung antar ruang juga memiliki fungsi terapi, yaitu untuk menstimulasi orientasi anak terhadap posisi juga untuk melatih keseimbangan.
10 99 Gambar 45 Blow Up Ruang Terapi Motorik Undulating grassy slope merupakan bukit berumput yang dapat digunakan untuk melatih pergerakan anak berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus dapat melatih pergerakan dan kemampuan otot motorik kasarnya dengan berjalan atau mendaki bukit berumput ini. Undulating grassy slope ini dibuat dengan ketinggian dan kemiringan yang telah disesuaikan dengan anak berkebutuhan khusus. Kemiringan dan ketinggiannya tidak terlalu besar namun cukup untuk memberikan tantangan bagi anak berkebutuhan khusus. Selain itu, tangga dan ramp yang terdapat di salah satu sisi undulating grassy slope dapat digunakan untuk melatih pergerakan dan kemampuan motorik anak berkebutuhan khusus. Antara tangga dan ramp terdapat perkerasan yang dilengkapi dengan arbor yang dapat berfungsi sebagai tempat untuk beristirahat setelah menaiki tangga. Pada ruang terapi motorik terdapat pula stepping log dan balok keseimbangan. Stepping log terbuat dari potongan balok kayu dengan ketinggian bervariasi yang disusun memanjang dengan pola tertentu. Balok keseimbangan yang terbuat dari kayu terletak di antara stepping log. Kedua fasilitas tersebut dapat melatih kemampuan otot motorik kasar dan keseimbangan. Anak
11 100 berkebutuhan khusus dapat pula bermain sambil melatih otot motoriknya dengan alat permainan anak yang merupakan penggabungan antara tangga horizontal dan panjatan tali (rope). Blow up dan ilustrasi perspektif dari ruang terapi motorik dapat dilihat pada Gambar 45 dan 46. Gambar 46 Ilustrasi Perspektif Ruang Terapi Motorik Ruang terapi berikutnya dalah ruang terapi kognitif dan ruang terapi sosial. Kedua ruang terapi ini terletak di bagian selatan tapak.. Pada ruang terapi kognitif terdapat outdoor stage dan planter box sedangkan pada ruang terapi sosial terdapat tempat duduk dan plaza dengan motif kupu-kupu yang dilengkapi dengan pergola sebagai penaung. Blow up dari ruang terapi kognitif dan sosial dapat dilihat pada Gambar 47 berikut. Gambar 47 Blow Up Ruang Terapi Kognitif dan Sosial
12 101 Outdoor stage merupakan fasilitas yang dirancang sebagai tempat untuk berkumpul atau belajar bersama di luar ruangan. Outdoor stage dirancang bertingkat dan berbentuk menyerupai lingkaran terpotong. Di bagian belakang outdoor stage terdapat trellis yang dirambati tanaman Mandevillae sp. sebagai latar belakang (background). Pada ruang terapi kognitif terdapat pula planter box yang dapat digunakan sebagai tempat untuk menanam atau melakukan kegiatan hortikultur. Ilustrasi perspektif dari ruang terapi kognitif dapat dilihat pada Gambar 48 berikut. Gambar 48 Ilustrasi Perspektif Ruang Terapi Kognitif Pada ruang terapi sosial terdapat fasilitas berupa bangku taman yang terletak di pinggir plaza yang bermotif kupu-kupu. Bangku taman ini dilengkapi dengan pergola sebagai penaung untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna. Plaza dengan motif kupu-kupu terletak di tengah. Motif kupu-kupu pada plaza terbuat dari batu-batuan dengan warna yang disusun membentuk motif kupukupu. Pola kupu-kupu tersebut dapat memberikan nilai terapi yakni menstimulasi indera penglihatan anak berkebutuhan khusus. Ilustrasi perspektif dari ruang terapi kognitif dapat dilihat pada Gambar 49 berikut. Gambar 49 Ilustrasi Perspektif Ruang Terapi Sosial
13 102 Taman terapi bagi anak-anak berkebutuhuan khusus di Sekolah Alam dan Sains Al-Jannah secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 50 berikut. Pada gambar tersebut terlihat pagar dibuat mengelilingi taman terapi yang berfungsi sebagai pembatas dan melindungi pengguna terutama anak-anak dari gangguan aktivitas yang berasal dari luar tapak. Gambar 50 Ilustrasi Perspektif Keseluruhan Selain ilustrasi perspektif taman terapi secara keseluruhan, beberapa gambar potongan pada taman dapat dilihat pada gambar-gambar berikut. Gambar 51 Potongan A-A
14 103 Gambar 52 Potongan B-B Gambar 53 Potongan C-C
15 104 Gambar 54 Potongan D-D Rancangan Sirkulasi Sirkulasi di dalam tapak merupakan sirkulasi yang hanya diperuntukkan bagi manusia. Sirkulasi tersebut menghubungkan setiap ruang yang terdapat di dalam tapak. Pola sirkulasi berbentuk organik dengan garis lengkung dengan ukuran yang bervariasi, yaitu 1 m 1,2 m. Jalur sirkulasi terbuat dari material berupa perkerasan (concrete), kayu, dan batu kerikil. Selain itu pada jalur sirkulasi tersebut akan dibentuk motif kupu-kupu sesuai dengan konsep taman terapi. Kombinasi material dan motif kupu-kupu tersebut selain memberikan penampakan visual yang baik juga memiliki nilai terapi yang dapat dimanfaatkan. Gambar 55 Referensi Motif Kupu-Kupu pada Jalur Sirkulasi (Sumber: Google, 2010)
16 Rancangan Vegetasi Vegetasi yang direncanakan pada tapak terdiri dari vegetasi terapi dan vegetasi non terapi. Vegetasi terapi merupakan vegetasi yang dapat berfungsi atau memiliki nilai terapeutik berupa tekstur, warna, dan aroma yang dapat menstimulasi indera anak. Sedangkan vegetasi non terapi terdiri dari vegetasi estetis dan vegetasi penyangga. Vegetasi estetis merupakan vegetasi yang digunakan untuk memberi nilai estetika pada tapak. Sedangkan vegetasi penyangga merupakan vegetasi yang berfungsi untuk melindungi aktivitas dari gangguan luar dan memberikan kenyamanan pada pengguna tapak. Vegetasi penyangga ini terdiri dari vegetasi pembatas dan vegetasi peneduh. Vegetasi yang direncanakan pada tapak terdiri dari pohon, perdu, semak, dan groundcover Vegetasi Zona Terapi Pada zona terapi ini vegetasi lebih diarahkan kepada vegetasi yang dapat memberikan fungsi terapi, yaitu vegetasi yang memiliki nilai terapeutik berupa tekstur, warna, dan aroma yang dapat menstimulasi indera anak. Jenis vegetasi terapi dan nilai terapeutik yang dapat dimanfaatkan dapat dilihat pada Tabel 13. Vegetasi yang digunakan pada zona terapi ini terdiri dari vegetasi dari strata groundcover, semak, dan perdu. Secara fisik, vegetasi yang digunakan merupakan vegetasi dengan penampakan menarik, memiliki bunga atau daun dengan variasi bentuk; warna; dan tekstur, beraroma, tidak berduri atau bergetah. Jenis vegetasi yang digunakan diantaranya adalah melati (Jasminum sambac), kacapiring (Gardenia jasminoides), pandan (Pandanus amaryllifolius), taiwan beauty (Cuphea hyssopifolia), irish (Neomarica longifolia), dan lain-lain. Pada zona terapi ini terdapat pula vegetasi non terapi, yaitu vegetasi peneduh, vegetasi pembatas, dan vegetasi estetis yang berfungsi untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna tapak dan memberi nilai estetika pada tapak. Vegetasi peneduh yang digunakan berupa pohon, dengan jenis pohon bunga kupu-kupu (Bauhinia blakeana) yang memiliki ketinggian sekitar 6 m dan memiliki lebar tajuk yang dapat mencapai 6 m pula. Sedangkan vegetasi estetis dan pembatas yang digunakan merupakan tanaman berbunga seperti pohon kamboja (Plumeria
17 106 rubra). Jenis-jenis vegetasi baik vegetasi terapi maupun vegetasi non terapi yang direncanakan di dalam tapak dapat dilihat pada Tabel 13. Gambar 56 Jenis Vegetasi yang Digunakan pada Ruang Terapi (Sumber: Google, 2010) Tabel 13. Vegetasi Terapi dan Nilai Terapeutik yang Dapat Dimanfaatkan Terapi Jenis No. Nama Lokal Nama Latin Tekstur Warna Aroma Groundcover 1 Kacang-kacangan Arachis pintoii Axonopus compressuss 2 Rumput gajah mini dwarf 3 Taiwan beauty Cuphea hyssopifolia 4 Iris Neomarica longifolia 5 Anggrek tanah Spathoglotis plicata 6 Bawang brojol Zephyranthes sp. Semak 7 Kacapiring Gardenia jasminoides 8 Soka Ixora sp. 9 Melati Jasminum sambac 10 Pentas Pentas lanceolata 11 Pandan Pandanus amaryllifolius 12 Walisongo Schefflera sp. Tanaman 13 Mandevilla Mandevillae sp. Rambat 14 Sirih Piper betle 15 Ceguk Quisqualis indica
18 Vegetasi Zona Non Terapi Pada zona non terapi ini vegetasi yang digunakan merupakan vegetasi estetis yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas estetika tapak. Vegetasi estetis yang digunakan pada zona ini berupa tanaman merambat berbunga yaitu alamanda (Alamanda cathartica) yang dirambatkan pada trellis dipintu masuk taman. Selain untuk meningkatkan kualitas estetika tapak, vegetasi ini juga berfungsi sebagai penarik pengguna untuk mengunjungi taman. Gambar 57 Jenis Vegetasi yang Digunakan pada Ruang Non Terapi (Sumber: Google, 2010) Tabel 14. Vegetasi yang Direncanakan pada Tapak Fungsi Jenis No Nama Lokal Nama Latin Terapi Peneduh Pembatas Estetik Grounccover 1 Kacang-kacangan Arachis pintoii 2 Rumput gajah mini Axonopus compressus dwarf 3 Lili paris Chlorophytum sp. 4 Ctenante Ctenanthe oppenheimiana 5 Taiwan beauty Cuphea hyssopifolia 6 Iris Neomarica longifolia 7 Kucai mini Ophiopoghon sp. 8 Anggrek tanah Spathoglotis plicata 9 Bawang brojol Zephyranthes sp. Semak 10 Kacapiring Gardenia jasminoides 11 Soka Ixora sp. 12 Melati Jasminum sambac 13 Pentas Pentas lanceolata 14 Pandan Pandanus amaryllifolius 15 Walisongo Schefflera sp.
19 108 Tabel 14. (lanjutan) Fungsi Jenis No Nama Lokal Nama Latin Terapi Peneduh Pembatas Estetik Pohon 16 Bunga kupu-kupu Bauhinia blakeana 17 Kamboja Plumeria rubra Tanaman 18 Alamanda Alamanda cathartica Rambat 19 Mandevilla Mandevillae sp. 20 Sirih Piper betle 21 Ceguk Quisqualis indica Berikut ini adalah gambar rencana penanaman (planting plan) serta detail penanaman pohon dan ground cover pada taman terapi yang disajikan pada Gambar 58, 59, dan 60. Gambar 58 Detail Penanaman Pohon Gambar 59 Detail Penanaman Ground Cover
20 109 60
21 Rancangan Fasilitas Untuk menunjang seluruh aktivitas yang direncanakan, pada taman dirancang fasilitas-fasiitas yang dapat mengakomodasi kegiatan dan memberikan kenyamanan bagi pengguna. Berikut ini adalah fasilitas-fasilitas yang direncanakan dan dirancang pada taman terapi tersebut yang digambarkan dalan hardscape plan yang disajikan pada Gambar 61.
22 111
23 112 Fasilitas yang direncanakan pada tapak merupakan fasilitas yang dapat mengakomodasi seluruh aktivitas yang direncanakan pada tapak dan dapat memberikan kenyamanan pada pengguna. Spesifiksi dari fasilitas-fasilitas yang direncanakan terdapat di dalam tapak akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Pintu Gerbang Pintu gerbang taman terletak di bagian depan tapak, yakni di sebelah barat dan berbatasan langsung dengan jalan yang merupakan sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki. Pintu gerbang berhubungan langsung dengan jalur sirkulasi dalam taman berupa perkerasan yang menghubungkan setiap ruang dalam taman. Pintu gerbang taman memiliki lebar 2 m dengan tinggi 2,5 m. Pintu gerbang tersebut berbentuk trellis dengan bagian atas melengkung dan terbuat dari material berupa besi. Detail pintu gerbang dapat dilihat pada Gambar 62. Gambar 62 Detail Pintu Gerbang 2. Pagar Pagar terletak mengelilingi ketiga sisi tapak. Pagar terbuat dari material kayu dengan ketinggian 1,7 m. Panel kayu sepanjang 3m dihubungkan dengan balok kayu 10 cm x 10 cm dengan ketinggian 1,8 m. Fasilitas pagar ini berfungsi sebagai pembatas (barier) yang membatasi pandangan dan kebisingan dari luar tapak ke dalam tapak. Selain berfugsi sebagai pembatas, pagar ini berfungsi untuk memberikan kemanan bagi pengguna tapak
24 113 terutama anak-anak berkebutuhan khusus. Detail pagar dapat dilihat pada Gambar 63. Gambar 63 Detail Pagar 3. Jalur Refleksi Jalur refleksi merupakan salah satu fasilitas yang terdapat di ruang terapi sensorik. Jalur refleksi ini memiliki lebar 1 m dengan lintasan berbentuk setengah lingkaran sepanjang + 8,5 m. Gambar 64 Detail Jalur Refleksi
25 114 Jalur refleksi ini disusun dari material berupa kombinasi batu dan kayu yang dapat menstimulasi indera peraba anak dan berfungsi untuk memperlancar peredaran darah. Lintasan jalur refleksi tersusun dari sekuens batu kerikil dan balok kayu. Selain itu, di pinggir jalur refleksi terdapat pegangan atau hand rails untuk memudahkan pengguna menggunakan jalur refleksi tersebut. Detail jalur refleksi dapat dilihat pada Gambar Jalur Sirkulasi (Pathway) Jalur sirkulasi pada taman memiliki lebar 1 m hingga 1,2 m dan terbuat kombinasi material berupa batu tempel, kayu, concrete, dan batu kerikil. Penggunaan material batu tempel paling dominan pada jalur sirkulasi. Detail jalur sirkulasi dapat dilihat pada Gambar 65. Gambar 65 Detail Jalur Sirkulasi 5. Pergola Pergola merupakan fasilitas yang digunakan untuk mengakomodasi aktivitas yang cenderung bersifat pasif seperti duduk-duduk. Pada taman terapi ini, pergola terdapat di ruang terapi sensorik dan ruang terapi sosial. Pergola tersebut merupakan fasilitas pendukung yang berfungsi untuk memberikan keteduhan dan kenyamanan bagi pengguna. Pergola terbuat dari material kayu dengan ketinggian 2 m pada ruang terapi sensorik (pergola 1) dan 2,4 m pada ruang terapi sosial (pergola 2). Detail pergola dapat dilihat pada Gambar 66.
26 115 Gambar 66 Detail Pergola 6. Texture Table Texture table merupakan fasilitas yang terdapat pada ruang terapi sensorik. Fasilitas ini berupa meja yang terbuat dari perkerasan dengan tinggi 0,8 m. Gambar 67 Detail Texture Table Meja tersebut terbagi menjadi lima kotak dimana pada setiap kotak diisi dengan bahan-bahan atau material yang dapat menstimulasi indera peraba
27 116 anak. Bahan-bahan yang dapat diisikan pada texture table ini contohnya adalah batu-batuan, biji-bijian, dan lain-lain. Detail texture table dapat dilihat pada Gambar Undulating Grassy Slope Undulating grassy slope merupakan fasilitas yang terdapat pada ruang terapi motorik. Fasilitas ini berupa bukit berumput dengan ketinggian 0,6 m yang melandai. Bukit berumput ini terletak pada salah satu sudut tapak yang dibatasi dengan tangga, arbor, dan ramp. Detail undulating grassy slope dapat dilihat pada Gambar 68. Gambar 68 Detail Undulating Grassy Slope 8. Arbor Arbor merupakan salah satu fasilitas yang terdapat pada ruang terapi motorik, tepatnya terletak di puncak bukit berumput. Arbor memiliki ketinggian 2,3 m dengan bagian atap berbentuk kubah berdiameter 2 m. Arbor terbuat dari material berupa besi. Tiang penyangga besi berdiameter 5 cm terdapat pada empat sisi arbor. Tiang tersebut ditanam pada pondasi berukuran 10 cm x 10 cm dengan ketinggian 30 cm. Bagian kubah juga terbuat dari besi dengan diameter 3 cm. Detail arbor dapat dilihat pada Gambar 69.
28 117 Gambar 69 Detail Arbor 9. Tangga dan Ramp Tangga dan ramp merupakan fasilitas yang terdapat pada ruang terapi motorik. Fasilitas ini terletak pada salah satu sisi bukit berumput dan terletak berdekatan dengan arbor. Tangga terbuat dari material berupa perkerasan yang dilapisi dengan kayu. Terdapat enam anak tangga dengan bentuk melingkar dengan ketinggian setiap anak tangga 10 cm dengan lebar landasan + 30 cm. Ramp sepanjang 3,5 m dengan ketinggian 0,6 m terbuat dari concrete dengan lapisan batu kerikil di atasnya. Detail tangga dan ramp dapat dilihat pada Gambar 70. Gambar 70 Detail Tangga dan Ramp
29 Jembatan Lengkung Jembatan merupakan fasilitas yang terdapat di ruang terapi motorik, tepatnya terletak di atas sebuah kolam. Jembatan ini memiliki lebar 0,8 m dan panjang 2 m dan terbuat dari material berupa kayu. Bentuk jembatan yang melengkung akan menstimulasi kemampuan perspektif anak terhadap posisi, keseimbangan, dan kemampuan geraknya. Detail jembatan tersebut dapat dilihat pada Gambar 71. Gambar 71 Detail Jembatan Lengkung 11. Kolam Kolam merupakan salah satu fasilitas yang berfungsi sebagai sensory garden. Kolam tersebut berbentuk alami atau organik dengan luas + 4 m 2. Pinggiran kolam tersusun dari batu-batuan dengan ukuran yang bervariasi dan memiliki kedalaman 30 cm. Detail kolam dapat dilihat pada Gambar 72. Gambar 72 Detail Kolam
30 Stepping Log dan Balok Keseimbangan Stepping log dan balok keseimbangan merupakan fasilitas yang terdapat pada ruang terapi motorik. Fasilitas tersebut merupakan fasilitas permainan anak yang dapat memberikan nilai dan fungsi-fungsi terapi, yaitu melatih kemampuan motorik, gerak dan otot, serat keseimbangan. Stepping log terbuat dari material berupa potongan balok-balok kayu dengan lebar dan ketinggian yang bervariasi dan disusun memanjang dengan pola tertentu. Lebar dan ketinggian balok-balok kayu tersebut yaitu 20 cm, 30 cm, 40 cm, dan 50 cm. Balok keseimbangan terbuat dari kayu dan terletak di antara stepping log dengan ketinggian 20 cm di atas permukaan tanah. Balok keseimbangan dilengkapi dengan tali pegangan yang dikaitkan pada tiang penyangga setinggi 1,2 m. Detail stepping log dan balok keseimbangan dapat dilihat pada Gambar 73. Gambar 73 Detail Stepping Log dan Balok Keseimbangan 13. Alat Permainan (Play Equipment) Fasilitas ini merupakan salah satu fasilitas yang terdapat pada ruang terapi motorik yang berfungsi untuk mengakomodasi kegiatan bermain anak. Fasilitas permainan ini terbuat dari material kayu dan merupakan gabungan antara tangga, tangga horizontal, dan panjatan tali. Detail alat permainan anak dapat dilihat pada Gambar 74.
31 120 Gambar 74 Detail Alat Permainan (Play Equipment) 14. Outdoor Stage Outdoor stage merupakan salah satu fasilitas yang terdapat pada ruang terapi kognitif yang berfungsi sebagai tempat belajar atau berkumpul bersama di luar ruangan. Outdoor stage ini berbentuk lingkaran terpotong dengan jarijari 1,5 m dan terbuat dari concrete yang difinishing dengan menggunakan keramik. Detail outdoor stage dapat dilihat pada Gambar 75. Gambar 75 Detail Outdoor Stage 15. Plaza Kupu-Kupu Plaza kupu-kupu merupakan salah satu fasilitas yang terdapat pada ruang terapi sosial. Plaza ini berbentuk lingkaran dengan diameter 4 m dan terbuat
32 121 dari concrete dimana pada plaza tersebut terdapat motif kupu-kupu yang tersusun dari batu-batuan. Detail plaza dapat dilihat pada Gambar 76. Gambar 76 Detail Plaza 16. Bangku Taman Bangku taman juga merupakan fasilitas yang terdapat pada ruang terapi sosial. Gambar 77 Detail Bangku Taman Fasilitas ini direncanakan untuk mengakomodasi aktivitas yang bersifat pasif seperti duduk-duduk, istirahat, dan mengobrol atau bercakap-cakap. Bangku
33 122 taman terbuat dari material concrete dengan finishing. Bangku taman ini didesain memiliki sandaran dengan ukuran lebar 40 cm, tinggi sandaran 40 cm, dan dan ketinggian dari lantai 40 cm. Detail bangku taman dapat dilihat pada Gambar Planter Box Planter box ini merupakan fasilitas yang terdapat pada ruang terapi kognitif. Planter box ini terbuat dari pasangan batu bata yang difinishing dengan batu tempel. Planter box tersebut memiliki ketinggian 50 cm. Detail planter box dapat dilihat pada Gambar 78. Gambar 78 Detail Potting Area (Planter Box) 7.3 Daya Dukung Taman Terapi Taman terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) memiliki luas keseluruhan m 2. Dijelaskan dalam Said, 2006 bahwa dalam masa perkembangan anak-anak disarankan ukuran ruang luar sebesar 7,4-9,3 m 2 atau ft 2 setiap anak (Frost, 1985) dan 9,3 m 2 atau 100 ft 2 setiap anak (Greenham, 1988; Striniste dan Moore, 1989). Berdasarkan asumsi bahwa kebutuhan ruang tiap anak adalah 9,3 m 2, maka taman terapi tersebut dapat mengakomodasi + 27 orang anak.
BAB V ANALISIS SINTESIS
BAB V ANALISIS SINTESIS 5.1 Aspek Fisik dan Biofisik 5.1.1 Letak, Luas, dan Batas Tapak Tapak terletak di bagian Timur kompleks sekolah dan berdekatan dengan pintu keluar sekolah, bangunan kolam renang,
VIII. RANCANGAN TAPAK
VIII. RANCANGAN TAPAK Perancangan adalah tahapan terakhir dari proses studi penelitian ini. Perancangan merupakan pengembangan dari konsep dan perencanaan dari tahapan sebelumnya. Perancangan pada tapak
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam konsep dasar pada perancangan Fashion Design & Modeling Center di Jakarta ini, yang digunakan sebagai konsep dasar adalah EKSPRESI BENTUK dengan
Gambar 26. Material Bangunan dan Pelengkap Jalan.
KONSEP Konsep Dasar Street furniture berfungsi sebagai pemberi informasi tentang fasilitas kampus, rambu-rambu jalan, dan pelayanan kepada pengguna kampus. Bentuk street furniture ditampilkan memberikan
BAB V KONSEP RANCANGAN
BAB V KONSEP RANCANGAN 5.1 Ide Awal Pertimbangan awal saat hendak merancang proyek ini adalah : Bangunan ini mewadahi keegiatan/aktivitas anak yang bias merangsang sensorik dan motorik anak sehingga direpresentasikan
BAB V DATA DAN ANALISIS
37 BAB V DATA DAN ANALISIS 5.1 Kondisi Umum Pine Forest Pine Forest merupakan salah satu kluster di Sentul City yang lokasinya di bagian barat Sentul City. Salah satu konsep pembangunan kluster ini adalah
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP TAPAK DAN RUANG LUAR IV.1.1 Pengolahan Tapak dan Ruang Luar Mempertahankan daerah tapak sebagai daerah resapan air. Mempertahankan pohon-pohon besar yang ada disekitar
B A B 4 A N A L I S I S
B A B 4 A N A L I S I S Pada bab ini saya ingin melakukan analisis terhadap data yang sudah didapat dari studi kasus berdasarkan tiga teori pada bab sebelumnya. Pertama, saya ingin melihat hubungan keempat
BAB V. Sport Hall/Ekspresi Struktur KONSEP PERANCANGAN V.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN Sport Hall pada dasarnya merupakan sebuah tempat untuk melakukan kegiatan olahraga tertentu dalam ruangan tertutup dimana di dalamnya terdapat sarana
BAB VI HASIL RANCANGAN. tema Sustainable Architecture yang menerapkan tiga prinsip yaitu Environmental,
BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Dasar perancangan Hasil perancangan sentra industri batu marmer adalah penerapan dari tema Sustainable Architecture yang menerapkan tiga prinsip yaitu Environmental, Social dan
II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya
9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Lingkup Arsitektur Lansekap Lansekap sebagai gabungan antara seni dan ilmu yang berhubungan dengan desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya merupakan
BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik,
BAB VI HASIL RANCANGAN Perancangan Museum Anak-Anak di Kota Malang ini merupakan suatu wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik, serta film untuk anak-anak. Selain sebagai
VI. PERENCANAAN HUTAN KOTA
VI. PERENCANAAN HUTAN KOTA 6.1. Konsep Hutan Kota Perencanaan hutan kota ini didasarkan pada konsep hutan kota yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat kota Banjarmasin terhadap ruang publik. Hal ini sejalan
Subdivisi Arsitektur Lanskap. Redinuka Ashil Karamah. Sempervivum tectorum
Subdivisi Arsitektur Lanskap Redinuka Ashil Karamah Sempervivum tectorum Review: Love Your Garden Season 6 Episode 2 TUJUAN Mempelajari perancangan taman Mempelajari konsep taman dengan salah satu gaya/tema
ANALISIS DAN SINTESIS
55 ANALISIS DAN SINTESIS Lokasi Lokasi PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills yang terlalu dekat dengan pemukiman penduduk dikhawatirkan dapat berakibat buruk bagi masyarakat di sekitar kawasan industri PT
VII. RENCANA TAPAK. Tabel 15. Matriks Rencana Pembagian Ruang, Jenis Aktivitas dan Fasilitas (Chiara dan Koppelman, 1990 dan Akmal, 2004)
VII. RENCANA TAPAK Tahap perencanaan ini adalah pengembangan dari konsep menjadi rencana yang dapat mengakomodasi aktivitas, fungsi, dan fasilitas bagi pengguna dan juga makhluk hidup yang lain (vegetasi
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo di Kabupaten Trenggalek menggunakan tema Organik yang merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
60 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Analisis GIS dengan CITYgreen 5.4 Proses analisis dibagi menjadi analisis enam belas rumah sampel. Keenam belas rumah ini berasal dari dua kecamatan dengan kondisi
BAB 4 KONSEP PERANCANGAN
BAB 4 KONSEP PERANCANGAN 4.1 Ide Awal Ide awal rancangan bangunan perpustakaan ini adalah bangunan sebagai fitur taman. Masyarakat yang menggunakan ruang terbuka kota/taman Maluku ini dapat sekaligus menggunakan
BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Kembali Citra Muslim Fashion Center di Kota Malang ini
BAB VI HASIL RANCANGAN Perancangan Kembali Citra Muslim Fashion Center di Kota Malang ini memiliki sebuah konsep berasal dari obyek yang dihubungkan dengan baju muslim yaitu Libasuttaqwa (pakaian taqwa)
Gambar 23. Ilustrasi Konsep (Image reference) Sumber : (1) ; (2) (3)
48 PERENCANAAN LANSKAP Konsep dan Pengembangannya Konsep dasar pada perencanaan lanskap bantaran KBT ini adalah menjadikan bantaran yang memiliki fungsi untuk : (1) upaya perlindungan fungsi kanal dan
PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT
PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT DESKRIPSI OBJEK RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) Definisi : Konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. adalah High-Tech Of Wood. Konsep High-Tech Of Wood ini memiliki pengertian
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar Perancangan Pusat Pemasaran Mebel di Kota Pasuruan ini adalah High-Tech Of Wood. Konsep High-Tech Of Wood ini memiliki pengertian konsep perancangan
BAB V KONSEP. marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum
BAB V KONSEP 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan sentra industri batu marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum dalam Three Dimension Sustainability:
BAB III METODOLOGI. Gambar 6 Peta Lokasi Studi (Sumber: dan
BAB III METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Studi Studi ini dilakukan di Sekolah Alam dan Sains Al-Jannah yang terletak di jalan Jambore No.4 Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur. Peta lokasi studi dapat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN 4.1. Deskripsi Lokasi Perumahan Taman Nirwana terletak di pinggir kota Klaten. Untuk mencapai lokasi dapat dilalui dengan kendaraan bermotor sedang,
V. KONSEP Konsep Dasar Pengembangan Konsep
37 V. KONSEP Konsep Dasar Konsep dasar dalam perencanaan ini adalah merencanakan suatu lanskap pedestrian shopping streets yang dapat mengakomodasi segala aktivitas yang terjadi di dalamnya, khususnya
REDESAIN RUMAH SAKIT SLAMET RIYADI DI SURAKARTA
REDESAIN RUMAH SAKIT SLAMET RIYADI DI SURAKARTA ZONIFIKASI Dasar pertimbngan Potensi site Kemungkinan pengelohan Tuntutan kegiatan UTILITAS Konsep utilitas pada kawasan perencanaan meliputi : 1. Terjadinya
sekitarnya serta ketersediaannya yang belum optimal (pada perbatasan tertentu tidak terdapat elemen gate). d. Elemen nodes dan landmark yang
BAB 5 KESIMPULAN 1. Berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian secara subyektif (oleh peneliti) dan obyektif (pendapat responden) maka elemen identitas fisik yang membentuk dan memperkuat karakter (ciri
BAB VI R E K O M E N D A S I
BAB VI R E K O M E N D A S I 6.1. Rekomendasi Umum Kerangka pemikiran rekomendasi dalam perencanaan untuk mengoptimalkan fungsi jalur hijau jalan Tol Jagorawi sebagai pereduksi polusi, peredam kebisingan
BABV LAPORAN PERANCANGAN. D C o H, B. Gb.79 Zoning Site plan. Ruang tapak mempertahankan bentuk kontur yang dipadukan dengan
iro konsultan.'..isitektur i antar antan ogyakatta BABV LAPORAN PERANCANGAN 5.1 Site plan Tapak dibagi kedalam beberapa Zona bangunan, yaitu : a. Zona kantor b. Zona terapi c. Zona resto dan cafe d. Zona
BAB VI KONSEP PERENCANAAN
BAB VI KONSEP PERENCANAAN VI.1 KONSEP BANGUNAN VI.1.1 Konsep Massa Bangunan Pada konsep terminal dan stasiun kereta api senen ditetapkan memakai masa gubahan tunggal memanjang atau linier. Hal ini dengan
Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2)
Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Gambar simulasi rancangan 5.30 : Area makan lantai satu bangunan komersial di boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan 5.6.3 Jalur Pedestrian Jalur
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar yang diterapkan pada perancangan pusat industri pengalengan ikan layang di Brondong lamongan adalah arsitektur hemat energi. Pada perancangan pusat
Lampiran 7: Pertanyaan Kuesioner dan Wawancara
Lampiran 7: Pertanyaan Kuesioner dan Wawancara Kuisioner Responden yang terhormat, Agrowisata Salatiga merupakan salah satu agrowisata yang banyak diminati oleh pengunjung. Welcome area yang ada di agrowisata
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 konsep Dasar 5.1.1 Tata Letak Bangunan Gate entrance menuju Fasilitas Wisata Agro terletak di jalan akses masuk wisata Kawah Putih, dengan pertimbangan aksesibilitas jalan
BAB VI HASIL RANCANGAN.
BAB VI HASIL RANCANGAN. Konsep yang digunakan dalam perancangan museum olah raga ini adalah Metafora dari Gerakan Shalat, dimana konsep ini merupakan hasil penggabungan antara: Nilai gerakan shalat, yaitu:
BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Rumusan konsep ini merupakan dasar yang digunakan sebagai acuan pada desain studio akhir. Konsep ini disusun dari hasil analisis penulis dari tinjauan pustaka
BAB V Konsep. 5.1 Konsep Ide dasar
5.1 Konsep Ide dasar BAB V Konsep Konsep ide dasar rancangan Pusat Rehabilitasi Tuna Daksa di Surabaya meliputi poin-poin arsitektur perilaku, nilai-nilai keislaman, dan objek rancangan sendiri. Hal ini
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP DASAR Konsep dasar dalam perancangan hotel ini adalah menghadirkan suasana alam ke dalam bangunan sehingga tercipta suasana alami dan nyaman, selain itu juga menciptakan
BAB V KONSEP PERANCANGAN BANGUNAN
Sekolah Negeri Terpadu (SD-SMP) 46 BAB V KONSEP PERANCANGAN BANGUNAN 5.1 Konsep Bentuk dan Massa Bangunan Perletakan massa pada tapak. Bangunan proyek sekolah ini memiliki dua Entrance, yaitu dari depan
VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar Konsep dasar pada perencanaan kebun agrowisata Sindang Barang adalah kebun produksi tanaman budidaya IPB untuk
VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar Konsep dasar pada perencanaan kebun agrowisata Sindang Barang adalah kebun produksi tanaman budidaya IPB untuk ditunjukkan pada pengunjung sekaligus sebagai pusat produksi
BAB V KONSEP PERANCANGAN
PRINSIP TEMA Keindahan Keselarasan Hablumminal alam QS. Al-Hijr [15]: 19-20 ISLAM BLEND WITH NATURE RESORT HOTEL BAB V KONSEP PERANCANGAN KONSEP DASAR KONSEP TAPAK KONSEP RUANG KONSEP BENTUK KONSEP STRUKTUR
DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR DIAGRAM...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR DIAGRAM... i ii iv v viii xiv xix xx BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...
INTERIOR PERPUSTAKAAN TK DESIGNED BY. HOLME scompany
INTERIOR PERPUSTAKAAN TK DESIGNED BY HOLME scompany R U A N G STANDAR D P ERANCANGAN... Ruang yang baik untuk perkembangan anak-anak TK, yaitu ruangan yang menyediakan area-area aktivitas tersendiri yang
BAB III: DATA DAN ANALISA
Perancangan Kawasan Stasiun Terpadu Manggarai BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik Gambar 29 Stasiun Manggarai Sumber : Google Image, diunduh 20 Februari 2015 3.1.1. Data Kawasan 1.
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. kendaraan dan manusia akan direncanakan seperti pada gambar dibawah ini.
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Perancangan Tapak 5.1.1 Pintu Masuk Kendaraan dan Manusia Dari analisa yang telah dibahas pada bab sebelumnya pintu masuk kendaraan dan manusia akan
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1. Letak Geografis Site Site yang akan dibangun berlokasi di sebelah timur Jalan Taman Siswa dengan koordinat 07 o 48 41.8 LS 110 o 22 36.8 LB. Bentuk site adalah persegi panjang
5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Konsep perancangan mengacu pada karakteristik arsitektur organik, yaitu 1. Bukan meniru bentuk dari alam tapi mengembangkan prinsip yang ada di alam Mengembangkan
PENGANTAR VEGETASI LANDSCAPE PENGELOMPOKAN VEGETASI BERDASAR PEMBENTU DAN ORNAMENTAL SPACE
2011 PENGANTAR VEGETASI LANDSCAPE PENGELOMPOKAN VEGETASI BERDASAR PEMBENTU DAN ORNAMENTAL SPACE JURUSAN ARSITEKTUR ITATS Ririn Dina Mutfianti, ST.,MT 10/30/2011 Materi 1 Pengelompokan Berdasarkan Pembentuk
BAB V I APLIKASI KONSEP PADA RANCANGAN. karena itu, dalam perkembangan pariwisata ini juga erat kaitannya dengan
BAB V I APLIKASI KONSEP PADA RANCANGAN Perancangan Taman Rekreasi dan Wisata Kuliner di Madiun berangkat dari semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap sarana rekreasi baik yang bersifat rekreatif
Lampiran 1. Daftar Pekerjaan yang Dikerjakan oleh Mahasiswa Magang pada Proyek Discovery Hotel
LAMPIRAN 126 127 Lampiran 1. Daftar Pekerjaan yang Dikerjakan oleh Mahasiswa Magang pada Proyek Discovery Hotel No Judul Gambar Keterangan 1 Guard House Gambar 41 2 Desain pada Gazebo Gambar 54 3 Desain
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1. KONSEP MAKRO Secara makro, konsep perencanaan dan perancangan Museum Tekstil Indonesia ini merupakan sebuah alat untuk mendekatkan masyarakat Indonesia agar
II. TINJAUAN PUSTAKA. bagi warga kota. Selain sebagai sarana tersebut, kehadiran lapangan golf
9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Lingkup Arsitektur Lansekap Lapangan golf merupakan salah satu fasilitas umum kota yang dapat digunakan sebagai sarana olah raga dan rekreasi melalui permainan golf yang
MENGKOMUNIKASIKAN GAMBAR RANCANGAN TAPAK BANGUNAN
MENGKOMUNIKASIKAN GAMBAR RANCANGAN TAPAK BANGUNAN RANCANGAN TAPAK Gambar ini menunjukkan hubungan antara letak obyek bangunan dengan letak site pada lingkungan di sekitarnya. Acapkali dijumpai istilah
REKOMENDASI KONSEP TATA HIJAU
85 REKOMENDASI KONSEP TATA HIJAU Penanaman lanskap harus dapat memberikan fungsi yang dapat mendukung keberlanjutan aktivitas yang ada dalam lanskap tersebut. Fungsi arsitektural penting dalam penataan
Bab IV Simulasi IV.1 Kerangka Simulasi
Bab IV Simulasi IV.1 Kerangka Simulasi Untuk menjawab pertanyaan penelitian, maka diperlukan adanya saran atau rekomendasi yang dibuat sebagai masukan dalam menyusun pedoman penataan fasade bangunan-bangunan
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN Konsep dasar perancangan penulis sebelumnya melihat peruntukan lahannya, sebelum merancang sebuah bangunan rancangan apa yang pantas pada tapak dengan
V. KONSEP Konsep Dasar Perencanaan Tapak
V. KONSEP 5.1. Konsep Dasar Perencanaan Tapak Konsep perencanaan pada tapak merupakan Konsep Wisata Sejarah Perkampungan Portugis di Kampung Tugu. Konsep ini dimaksudkan untuk membantu aktivitas interpretasi
DAFTAR ISI.. HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN HALAMAN CATATAN PEMBIMBING... HALAMAN PERNYATAAN. PRAKATA.. LEMBAR PERSEMBAHAN ABSTRAK...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN HALAMAN CATATAN PEMBIMBING... HALAMAN PERNYATAAN. PRAKATA.. LEMBAR PERSEMBAHAN ABSTRAK... DAFTAR ISI.. DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR TABLE i ii iii iv v vi vii viii
BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan
BAB 6 HASIL RANCANGAN 6.1 Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan 6.1.1 Bentuk Tata Massa Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo pada uraian bab sebelumnya didasarkan pada sebuah
BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA)
BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA) 5.1 Sirkulasi Kendaraan Pribadi Pembuatan akses baru menuju jalan yang selama ini belum berfungsi secara optimal, bertujuan untuk mengurangi kepadatan
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i DAFTAR ISI vii DAFTAR GAMBAR xiii DAFTAR TABEL xvii BAB I PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Pentingnya Pengadaan Kantor Sewa di Yogyakarta 1 A. Pertumbuhan Ekonomi dan
BAB V KONSEP DASAR. Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan Kepanjen Educaion. Prinsip-prinsip tema Arsitektur Perilaku
BAB V KONSEP DASAR 5.1 Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan Kepanjen Educaion Park ini mencangkup tiga aspek yaitu: Prinsip-prinsip tema Arsitektur Perilaku Kriteria dalam behaviour
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan 7.1.1 Kondisi Fasilitas Fisik di Tempat Produksi Dilihat dari kondisi aktual dari fasilitas fisik di tempat produksi mochi kacang, jika ditinjau dari segi antropometri
Konsep Penataan Massa
5.2.1. Konsep Penataan Massa Pembagian Zona dan perletakan massa Vegetasi dan dinding masif berfungsi untuk menghalangi kebisingan dari jalan raya. Mebatasi antara rumah warga dan komplek pesantren Memberikan
DENAH LT. 2 DENAH TOP FLOOR DENAH LT. 1
0.15 8.60 2.88 Pada area lantai,1 ruang parkir di perluas dari yang sebelumnya karena faktor jumlah kendaraan pada asrama yang cukup banyak. Terdapat selasar yang difungsikan sebagai ruang tangga umum
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Building form Bentuk dasar yang akan digunakan dalam Kostel ini adalah bentuk persegi yang akan dikembangkan lebih lanjut.
BAB V KONSEP PERANCANGAN. konsep dasar yang digunakan dalam Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Boom Di
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Dasar konsep dasar yang digunakan dalam Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Boom Di Kabupaten Tuban ini adalah Sequence (pergerakan dari satu tempat ketempat lain sepanjang
VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET
42 VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET Pengembangan konsep dalam studi perencanaan kawasan ini akan terbagi ke dalam empat sub konsep, yaitu perencanaan lanskap pedestrian shopping street,
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PUSAT PERAGAAN IPTEK BIOLOGI MEDAN (ARSITEKTUR METAFORA) LAPORAN PERANCANGAN TKA 490-STUDIO TUGAS AKHIR SEMESTER B TAHUN AJARAN 2011/2012 Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur
VI. KONSEP PERANCANGAN TAMAN TEPIAN SUNGAI MARTAPURA KOTA BANJARMASIN
VI. KONSEP PERANCANGAN TAMAN TEPIAN SUNGAI MARTAPURA KOTA BANJARMASIN VI.1. Konsep Desain Lanskap Tepian Sungai Martapura Kota Banjarmasin menitikberatkan kepada sungai sebagai pusat perhatian dan pemandangan
masyarakat dan dipandang sebagai kesatuan antara fisik geografis dan lingkungannya dalam arti karakteristrik. Lansekap ditinjau dari segi
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perencanaan Lansekap (Landscape Planning) Lansekap merupakan refleksi dari dinamika sistem alamiah dan sistem sosial masyarakat dan dipandang sebagai kesatuan antara fisik geografis
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bagian ini akan dijabarkan kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan berisi rangkuman dari hasil penelitian dan pembahasan sekaligus menjawab tujuan penelitian di bab
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan Gedung pusat kebugaran ini direncanakan untuk menjadi suatu sarana yang mewadahi kegiatan olahraga, kebugaran, dan relaksasi. Dimana kebutuhan masyarakat
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Beberapa hal yang menjadi dasar perencanaan dan perancangan Asrama Mahasiwa Bina Nusantara: a. Mahasiswa yang berasal dari
KONSEP RANCANGAN. Latar Belakang. Konteks. Tema Rancangan Surabaya Youth Center
KONSEP RANCANGAN Latar Belakang Surabaya semakin banyak berdiri gedung gedung pencakar langit dengan style bangunan bergaya modern minimalis. Dengan semakin banyaknya bangunan dengan style modern minimalis
BAB VII DESAIN TAMAN VERTIKAL
68 BAB VII DESAIN TAMAN VERTIKAL 7.1 Tema Desain Desain merupakan tahap setelah perencanaan yang menghasilkan gambar lebih detil. Desain taman vertikal di kluster Pine Forest, Sentul City merupakan implementasi
Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA. Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD.
Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD. Tujuan Memahami makna dan manfaat hutan kota pada penerapannya untuk Lanskap Kota. Memiliki
Gambar 5.1. Zoning Ruang (sumber:konsep perancangan.2012)
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Dasar Konsep dasar mengambil dari prinsip tema yang telah dipertajam sehingga mendapatkan sebuah konsep dasar yaitu save the land surface. Save the land surface mempunyai
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan meliputi pembahasan mengenai pemanfaatan penghawaan dan pencahayaan alami pada City Hotel yang bertujuan untuk
BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya
165 BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1. Dasar Rancangan Hasil perancangan diambil dari dasar penggambaran konsep dan analisa yang terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya sebagai
BAB V KONSEP PERANCANGAN
V.1 Konsep Tapak dan Ruang Luar BAB V KONSEP PERANCANGAN mengaplikasikan konsep rumah panggung pada bangunan pengembangan, agar bagian bawah bangunan dapat dimanfaatkan untuk aktifitas mahasiswa, selain
HOTEL RESORT DI DAGO GIRI, BANDUNG
KONSEP PERANCANGAN V.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam perancangaan Hotel Resort ini saya menggunakan kosep dasar adalah Arsitektur Hijau dimana bangunan ini hemat energi, minim menimbulkan dampak negatif
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1. KONSEP LINGKUNGAN SEKITAR DAN DALAM TAPAK 5.1.1. Konsep Ruang Luar Jalan bulungan adalah daerah yang selalu ramai karena adanya area komersil seperti Blok M Plaza, maka dari
BAB III: DATA DAN ANALISA
BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 3.1.1. Data Fisik Lokasi Luas Lahan Kategori Proyek Pemilik : Jl. Stasiun Lama No. 1 Kelurahan Senen, Jakarta Pusat : ± 48.000/ 4,8 Ha : Fasilitas
BAB VI HASIL PERANCANGAN
1 BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Site Plan Akses masuk ke site ini melalui jalan utama. Jalan utama tersebut berasal dari arah Cicaheum Bandung. Jalur mobil/ kendaraan di dalam bangunan dibuat satu arah
BAB VI HASIL PERANCANGAN. terdapat pada konsep perancangan Bab V yaitu, sesuai dengan tema Behaviour
BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Dasar Perancangan Hasil perancangan Sekolah Dasar Islam Khusus Anak Cacat Fisik di Malang memiliki dasar konsep dari beberapa penggambaran atau abstraksi yang terdapat pada
ANALISIS SITE LAHAN/TAPAK RELATIF DATAR
ANALISIS SITE LAHAN/TAPAK RELATIF DATAR Oleh : Ririn Dina Mutfianti, MT Desain Arsitektur Jurusan Arsitektur-Universitas Widya Kartika Kenapa harus menganalisis Site? Karena : 1. Sebagian besar bangunan
BAB VI HASIL RANCANGAN. Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan
BAB VI HASIL RANCANGAN Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan perancangan. Batasan-batasan perancangan tersebut seperti: sirkulasi kedaraan dan manusia, Ruang Terbuka Hijau (RTH),
BAB VI DESAIN PERANCANGAN
BAB VI DESAIN PERANCANGAN 6.1 Identitas Proyek Desain perancangan Redesain Saung Angklung Udjo merupakan aset bagi wilayah kota Bandung pada umumnya dan khususnya bagi pemilik Objek wisata Saung Angklung
LINGKUNGAN DAN UKURAN JL. YOS SUDARSO SITUASI LOKASI SITE. 173,5 m. 180 m. 165 m. 173 m
JL. YOS SUDARSO LINGKUNGAN DAN UKURAN 173,5 m 180 m 165 m LOKASI SITE 173 m JL. YOS SUDARSO VIEW View Baik View Cukup Baik View Tidak Baik Arah Orientasi bangunan Orientasi bangunan Orientasi fasade gedung
BAB VI HASIL RANCANGAN. Hasil Rancangan menggunakan konsep Serenity in Fluidity yang dijelaskan
BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1. Hasil Rancangan Kawasan Hasil Rancangan menggunakan konsep Serenity in Fluidity yang dijelaskan dalam bab sebelumnya, yaitu dengan menggunakan lingkungan yang tenang dengan
BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar yang digunakan dalam Perancangan Kembali Terminal Bus. Tamanan Kota Kediri mencangkup tiga aspek yaitu:
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam Perancangan Kembali Terminal Bus Tamanan Kota Kediri mencangkup tiga aspek yaitu: Standar Perancangan Objek Prinsip-prinsip
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. lingkungan maupun keadaan lingkungan saat ini menjadi penting untuk
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Konsep Lingkungan Setelah melakukan analisis lingkungan, maka konsep lingkungan yang diterapkan adalah Konsep Interaksi. Konsep Interaksi merupakan konsep
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. keberadaan elemen-elemen fisik atau yang disebut juga setting fisik seiring
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, diketahui bahwa keberadaan elemen-elemen fisik atau yang disebut juga setting fisik seiring dengan pergantian
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1 TEMA PENGEMBANGAN DESAIN Proses merancang bangunan untuk mengurangi dampak lingkungan yang kurang baik, meningkatkan kenyamanan manusia dengan peningkatan efisiensi, mengurangi
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 KONSEP DASAR DESAIN Konsep dasar dari Area Olahraga Saparua Bandung ini adalah gedung dengan memanfaantkan bentang lebar untuk memperoleh ruang yang luas. Sesuai dengan fungsinya
