BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Vera Agusalim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keawetan Kayu Keawetan kayu adalah daya tahan kayu terhadap gangguan organisme perusak kayu secara biologis (rayap, jamur, dan cacing laut) (Darmawan et al. 2011). Sedangkan keawetan alami kayu adalah tingkat ketahanan kayu secara alamiah dari unsur-unsur biotik dan abiotik perusak kayu. Keawetan alami kayu disebabkan oleh adanya suatu zat kimia di dalam kayu (zat ekstraktif) yang merupakan unsur beracun bagi faktor perusak kayu. Umumnya semakin tinggi kandungan ekstraktif dalam kayu, maka keawetan alami kayu cenderung meningkat (Wistara et al. 2002). Keawetan kayu selain dipengaruhi faktor kandungan zat ekstraktif, juga dipengaruhi faktor lain seperti, umur pohon, bagian kayu dalam batang, kecepatan tumbuh dan tempat kayu tersebut dipergunakan (Pandit & Kurniawan 2008). Keawetan kayu menjadi faktor utama penentu penggunaan kayu, bagaimanapun kuatnya suatu jenis kayu, penggunaannya tidak akan berarti bila kayu tersebut mempunyai tingkat keawetan yang rendah. Meskipun suatu jenis kayu memiliki kelas kuat yang tinggi, umur pakainya akan tetap rendah jika kelas awetnya rendah. Indonesia mempunyai jenis kayu, dan jenis di antaranya telah diklasifikasikan keawetannya. Diketahui hanya sebagian kecil saja yang mempunyai keawetan tinggi, yaitu 14,3% termasuk kelas awet I-II, sisanya, yaitu 85,7% termasuk kelas awet III, IV, dan V (Martawijaya 1996). Oleh karena itu perlu dilakukan perlakuan pengawetan terhadap kayu agar kayu menjadi lebih tahan terhadap faktor perusak kayu. Pengawetan kayu merupakan proses memasukkan bahan kimia yang bersifat racun bagi organisme perusak ke dalam kayu untuk meningkatkan umur pakai kayu (Darmawan et al. 2011). Pengawetan kayu pada dasarnya merupakan tindakan pencegahan (preventive) yang berperan untuk meminimalkan atau meniadakan kemungkinan terjadi cacat yang disebabkan organisme perusak kayu, bukan pengobatan (curative) yang diilakukan dalam rangka pengendalian mutu atau kualitas (Barly & Subarudi 2010). Terdapat empat faktor utama yang
2 5 mempengaruhi hasil pengawetan kayu (Hunt & Garrat 1986), yaitu jenis kayu (struktur anatomi, permeabilitas, kerapatan), kondisi kayu saat dilakukan pengawetan (kadar air, bentuk kayu, komposisi kayu gubal dan teras), metode pengawetan yang digunakan, dan sifat bahan pengawet yang dipakai. Tabel 1 Keawetan alami dan keterawetan beberapa jenis kayu rakyat Kabupaten Bogor No. Jenis Kayu Kelas Awet Keterawetan 1 Agathis (Agathis sp) IV Sedang 2 Akasia (Acacia auriculiformis) III IV Sukar 3 Balsa (Ochroma bicolor) V Mudah 4 Durian (Durio sp) IV V Sukar 5 Gmelina (Gmelina arborea) IV V Sukar 6 Jabon (Anthocephalus cadamba) V Sedang 7 Jati (Tectona grandis) II Sedang 8 Jengkol (Pithecelobium jiringa) IV Sedang 9 Jeungjing (Paraserianthes falcataria) IV V Sedang 10 Kapuk (Ceiba pentandra) IV V Sedang 11 Karet (Hevea brasiliensis) IV V Sedang 12 Kecapi (Sandoricum koetjape) IV Sedang 13 Kelapa (Cocos nucifera) IV Mudah 14 Kemiri (Aleurites moluccana) V Mudah 15 Kenari (Canarium odoratum) III Mudah 16 Lamtoro (Leucaena leucocephala) V Sedang 17 Leda (Eucalyptus deglupta) IV Sukar 18 Mangium (Acacia mangium) III Sukar 19 Manii (Maesopsis eminii) IV Sedang 20 Menteng (Baccauera racemosa) IV Mudah 21 Mindi (Melia azedarach) IV V Sukar 22 Nangka (Artocarpus integra) II Sangat Sukar 23 Petai (Parkia speciosa) IV Mudah 24 Puspa(Schima walichii) III Mudah 25 Tusam (Pinus merkusii) IV Mudah Sumber: Wahyudi et al. (2007) Salah satu sifat kayu yang terkait dengan proses pengawetan adalah keterawetan (treatability). Keterawetan merupakan suatu sifat mudah tidaknya kayu ditembus oleh bahan pengawet kayu. Kayu yang mempunyai derajat
3 6 keterawetan tinggi berarti kayu itu mudah diawetkan meskipun dengan metode sederhana atau pengawetan tanpa tekan. Sebaliknya, kayu yang mempunyai keterawetan rendah, maka kayu tersebut sangat sukar untuk diawetkan dengan proses pengawetan sederhana. Setiap jenis kayu mempunyai struktur anatomi dan kerapatan yang berbeda, sehingga akan mempengaruhi keterawetannya. Pada Tabel 1 dapat dilihat kelas awet dan tingkat keterawetan dari beberapa jenis kayu hutan rakyat dari Kabupaten Bogor. Bahan pengawet kayu adalah unsur atau senyawa kimia beracun yang apabila dimasukkan ke dalam kayu dapat melindungi kayu dari gangguan / serangan organisme perusak kayu seperti jamur (fungi), serangga, dan cacing laut (marine borrer) (Darmawan et al. 2011). Tingat keefektifan bahan pengawet tergantung pada (i) daya racun, (ii) kelarutan dalam tubuh serangga baik sebagian atau seluruhnya, (iii) rekasi bahan pengawet terhadap kayu atau tubuh organisme perusak kayu, dan (iv) sifat lain yang dapat mencegah kerusakan kayu (mencegah perkembangan organisme perusak kayu tanpa membunuhnya). Sifat-sifat bahan pengawet yang baik adalah: a. Berdaya racun tinggi terhadap faktor perusak kayu. b. Memiliki daya penetrasi tinggi dan tidak mudah menguap atau tercuci. c. Bahan kimia yang dipakai harus merupakan persenyawaan yang mantap dan tidak kehilangan daya racunnya. d. Tidak membahayakan manusia dan hewan peliharaan. e. Tidak boleh bereaksi dengan bahan yang diawetkannya. f. Tidak menyebabkan pengembangan kayu. g. Tidak meningkatkan daya bakar kayu. Secara umum bahan pengawet kayu dapat dikelompokan menjadi 3 (tiga), yaitu (i) bahan pengawet berupa minyak, (ii) bahan pengawet larut minyak, dan (iii) bahan pengawet larut air. Bahan pengawet yang digunakan dalam penelitian ini yaitu boraks termasuk dalam kategori bahan pengawet yang larut air (ATSDR 2010), begitu juga dengan amonia yang mempunyai sifat larut air (ATSDR 2004). Secara umum sifat positif bahan pengawet yang larut air adalah sebagai berikut (Darmawan et al. 2011):
4 7 a. Dapat diangkut dalam bentuk kristal atau dalam konsentrat tertentu ke tempat penggunaannya, sehingga pengangkutan lebih mudah. b. Formulasainya dapat diatur agar bersifat racun terhadap berbagai serangga dan atau terhadap cendawan. c. Kayu awetan tetap bersih dan dapat dicat. d. Pada umumnya tidak berbau. e. Tidak meningkatkan sifat bakar kayu dan dapat dikombinasikan dengan bahan penghambat api. Namun terdapat beberapa kekurangan ketika memakai bahan pengawet larut air yaitu pada umumnya mudah tercuci (luntur) atau menguap apabila kondisi lingkungan sekitar terlalu lembap atau terlalu panas. Kekurangan lainnya adalah bahan pengawet larut air dapat menyebabkan kayu mengembang setelah diawetkan. 2.2 Metode Pengawetan Fumigasi berbahan aktif amonia Fumigasi adalah suatu metode pengendalian terhadap faktor perusak dengan cara melepaskan gas beracun (fumigan) pada ruang kedap udara pada waktu, temperatur, dan konsentrasi yang telah ditentukan. Teknik fumigasi ini memiliki tingkat penetrasi yang tinggi dan mampu membunuh semua stadia kehidupan hama tanpa mengotori bahan yang difumigasi (Hendrawan 2007). Fumigan yang menguap akan masuk ke dalam kayu melalui pori-pori sehingga mengisi celah-celah di dalam sel kayu. fumigan yang digunakan adalah zat yang pada temperatur dan tekanan tertentu dapat berubah menjadi gas dan dalam konsentrasi serta waktu tertentu dapat membunuh hama / faktor perusak. Fumigan yang ideal memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Memiliki tingkat racun yang tinggi terhadap hama yang menjadi target. 2. Toksisitas yang rendah terhadap tumbuhan, manusia dan organisme lain yang bukan menjadi sasaran. 3. Tersedia di pasaran dan hemat dalam penggunaan. 4. Tidak memberikan bahaya kepada komoditas.
5 8 5. Tidak terbakar, tidak merusak, dan tidak meledak dalam keadaan penggunaan normal. 6. Mudah menguap dengan penetrasi yang baik. 7. Tidak berakibat buruk terhadap lingkungan. Amonia sebagai alternatif fumigan, merupakan senyawa kimia dengan rumus kimia NH 3 yang biasa didapati berbentuk gas dengan bau tajam yang khas. Amonia memiliki titik didih pada suhu (-33 C) dan titik leleh (-77,7 C), sehingga cairan amonia harus disimpan dalam suhu yang sangat rendah atau dalam tekanan yang tinggi. Pada suhu dan tekanan normal, amonia adalah gas yang tidak mempunyai warna dan lebih ringan daripada udara (0,589 kepadatan udara). Amonia memiliki berat molekul 17,03, tekanan uap 400 mmhg (-45.4 C), kelarutan dalam air 31g/100g (25 C), berat jenis 0,682 (-33,4 C), berat jenis uap 0,6 dan memilik suhu kritis 133 C. Amonia dapat diubah menjadi nitrit dan nitrat, oleh bakteri yang terdapat dalam tanah sehingga amonia bertindak sebagai penyubur tanah. Amonia juga dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk urea, sebagai bahan peledak, dan digunakan pula dalam bidang farmasi (Harwood et al. 2007). Sifat fisik amonia adalah gas tidak berwarna, berbau khas, bersifat iritan dan mudah larut dalam air. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa fumigasi amonia dapat berfungsi ganda sebagai pengawetan kayu. Azhim (2011) dan Nurmawan (2011) menyatakan bahwa fumigasi dengan menggunakan amonia berpengaruh secara nyata terhadap persentase mortalitas rayap tanah. Bahkan perlakuan fumigasi amonia menghasilkan nilai persentase mortalitas yang lebih besar dibandingkan kontrol. Berdasarkan penelitian Taqiyudin (2011), fumigasi amonia meninggalkan residu pada contoh uji. Pengujian kayu hasil fumigasi (setelah 24 jam diberi perlakuan fumigasi) menghasilkan nilai persentase mortalitas rayap hingga 100% pada semua jenis kayu dan pada setiap taraf perlakuan jarak serta volume amonia Rendaman dingin berbahan aktif boron Metode rendaman dingin merupakan salah satu cara untuk mengawetkan kayu dengan bahan pengawet yang larut dengan air. Prosesnya relatif sederhana
6 9 yaitu dengan merendam kayu yang akan diawetkan dengan campuran bahan pengawet dan air. Perendaman dilakukan pada kisaran suhu 10 C - 25 C atau dalam ruangan ber AC selama beberapa hari atau beberapa minggu. Menurut Barly (1988) absorpsi bahan pengawet akan berlangsung cepat pada waktu 2 (dua) sampai 3 (tiga) hari pertama rendaman yang kemudian akan berlangsung secara lambat setelah hari-hari berikutnya. Makin lama kayu terendam dalam bahan pengawet semakin besar penetrasi yang diperoleh sehingga hasilnya akan sama dengan yang diperoleh dengan metode tekanan. Cara ini sangat cocok untuk mengawetkan kayu yang memiliki kelas keterawetan mudah dan sedikit sukar diawetkan dengan cara tekanan. Lama waktu perendaman bergantung kepada jenis kayu dan ukuran tebal sortimen atau perendaman dihentikan apabila berat contoh uji sebelum dan sesudah diawetkan telah menunjukkan nilai retensi yang dikehendaki. Tingkat keefektifan tergantung pada jenis bahan pengawet, karakteristik kayu (struktur anatomi, kerapatan, kadar air, dan kekasaran permukaan), serta lamanya perendaman. Menurut Dumanauw (2001) ada beberapa kelebihan metode perendaman yaitu pada umumnya penetrasi dan retensi bahan pengawet lebih tinggi, kayu dalam jumlah banyak dapat diawetkan, dan larutan dapat digunakan berulang kali (dengan menambah konsentrasi bila berkurang). Boraks (borax) merupakan suatu senyawa garam natrium dengan nama kimia natrium tetrabonat (Na 2 B 4 O 7.10H 2 O) yang berbentuk kristal, warna putih, tidak berbau, larut dalam air dan stabil pada suhu dan tekanan normal. Boraks merupakan nama dagang dari senyawa boron. Larutan boraks sangat bersifat basa dengan ph antara 9 dan 10 (ph 7 adalah netral). Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya. Boraks banyak digunakan dalam berbagai industri non pangan khususnya industri kertas, gelas, pengawetan kayu, dan keramik. Boraks dipilih sebagai bahan pengawet kayu karena mempunyai toksisitas yang rendah (Yamauchi et al. 2007). Bahan pengawet ini mempunyai sifat racun terhadap jamur dan serangga perusak kayu, tidak korosif terhadap logam, tidak berbau dan tidak menimbulkan warna, serta relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan (Singer & German 1962).
7 Uji Efikasi dengan Graveyard Test Graveyard test (uji kubur) adalah pengujian ketahanan kayu terhadap organisme perusak yang dilakukan dengan menanam kayu ke dalam tanah selama periode waktu tertentu. Uji kubur dilakukan untuk mengetahui tingkat keawetan kayu pada kondisi lingkungan yang sebenarnya. Kelebihan dari uji kubur adalah dapat mengetahui kerusakan kayu yang terjadi akibat akumulasi dari semua faktor perusak kayu (biotik dan abiotik). Namun terdapat kelemahan dari uji kubur yaitu diperlukan waktu pengujian yang cukup lama (± 3 bulan) sehingga menyulitkan pengamatan, lapangan pengujian harus selalu di kontrol agar tidak menjadi semak belukar, dan sulit untuk menganalisis kerusakan kayu yang ditimbulkan oleh salah satu faktor perusak. Pada penelitian ini uji kubur dilakukan di dua tempat yaitu di perkebunan kelapa sawit dan industri pengerjaan kayu. Perkebunan kelapa sawit dipilih mewakili daerah dengan serangan intensitas tinggi namun oleh faktor perusak yang terbatas. Perkebunan kelapa sawit yang dipilih berada di PTPN VIII Cikasungka, Bogor. Menurut Arinana et al. (2012), rayap yang menyerang tanaman kelapa sawit di PTPN VIII unit Cikasungka adalah rayap jenis Macrotermes gilvus, Coptotermes curvignathus, Nasutitermes javanicus, dan Capritermes mohri. Persentase serangan didominasi oleh rayap jenis M. gilvus dengan 86,67%, diikuti rayap C. curvignathus dengan 6,67%, rayap N. javanicus dengan 4,44%, dan yang paling sedikit adalah rayap jenis C. mohri dengan 2,22%. Penelitian juga dilakukan di industri pengerjaan kayu mewakili daerah yang mempunyai potensi tinggi terhadap serangan rayap tanah akibat adanya tumpukan kayu baik yang berupa limbah maupun bahan baku pengerjaan kayu. Dalam penelitian ini juga akan diidentifikasi jenis-jenis rayap yang menyerang kayu di lokasi industri pengerjaan kayu PD Wijaya Kayu, Cibanteng, Bogor. 2.4 Faktor Perusak Kayu Faktor perusak kayu adalah segala jenis faktor biotik maupun abiotik yang dapat menurunkan kualitas ataupun kekuatan kayu. Secara umum faktor perusak kayu dapat dikelompokan menjadi faktor abiotik dan biotik.
8 Faktor Abiotik Faktor perusak kayu abiotik adalah faktor yang disebabkan oleh unsur alam yang tidak ada campur tangan dari makhluk hidup. Faktor abiotik secara umum dapat dibedakan menjadi faktor iklim, faktor mekanis, dan faktor kimia. Namun pada graveyard test faktor abiotik yang paling berpengaruh adalah faktor iklim. Faktor iklim merupakan salah satu faktor alam yang tidak dapat di kontrol yang dapat mempengaruhi kualitas kayu sehingga umur pakainya menjadi singkat. Faktor iklim terdiri dari suhu, kelembaban udara, panas matahari, api, udara, dan air (Muin et al. 2010) Kerusakan yang terjadi akibat faktor ini biasanya berupa perubahan dari dimensi kayu. Faktor iklim juga dapat menjadi katalis bagi timbulnya faktor biotik, seperti contohnya kadar air yang meningkat pada kayu akibat faktor air akan mengundang jamur untuk tumbuh dan merusak kayu Faktor Biotik Faktor biotik merupakan faktor penyebab kerusakan kayu terbesar dibandingkan faktor lainnya. Faktor biotik perusak kayu yang menyebabkan kerusakan terbesar pada uji kubur pada umumnya adalah rayap. Rayap merusak kayu karena mereka menjadikan kayu sebagai tempat tinggal dan sumber makanannya. Secara biologi, rayap memiliki kesamaan dengan semut yaitu sama-sama ada dalam kelas Insekta dengan cirinya adalah memiliki tagmata (pembagian) tubuh menjadi kepala, thoraks, dan abdomen. Serangga sosial ini kemudian terpisah menjadi ordo sendiri yaitu Isoptera (berdasarkan morfologi), dan sekarang sebagian peneliti merevisi tingkat takson tersebut karena adanya mutasi DNA rayap sehingga dimasukkan ke dalam Ordo Blatodea (Inward et al. 2007). Rayap hidup di daerah yang bersuhu agak hangat dengan kelembaban 60-70% (Nandika et al. 2003). Hingga saat ini di dunia terdapat lebih dari 2300 spesies rayap yang dapat diidentifikasi. Sekitar 15% dari keragaman spesies rayap tersebut berada pada tata ruang yang dikelola oleh manusia, dan sekitar 150 spesies diketahui menyerang struktur berbahan baku kayu. Sekitar 10% atau 200 spesies ditemukan di Indonesia, dan sekitar 20 spesies berperan sebagai hama
9 12 perusak kayu dan tanaman (Tarumingkeng 2001). Famili rayap yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara (kawasan oriental) khususnya Indonesia adalah Rhinotermitidae, Kalotermitidae, dan Termitidae. Rayap memiliki tubuh yang lunak, berwarna terang, dan hidup berkoloni. Dalam setiap koloni terdapat dua kasta menurut fungsinya masing-masing, yaitu kasta non reproduktif (pekerja dan prajurit) dan kasta reproduktif (reproduktif primer dan reproduktif sekunder). Kasta reproduktif terdiri dari sepasang ratu dan raja yang bertugas untuk menghasilkan telur (Triplehorn & Johnson 2005). Ratu dapat hidup selama 6 20 tahun bahkan berpuluh-puluh tahun. Apabila reproduktif mati atau koloni membutuhkan penambahan reproduktif baru untuk perluasan koloninya maka dibentuk reproduktif sekunder (neotenic). Rayap kasta non reproduktif (steril) terdiri dari kasta prajurit dan kasta pekerja yang umumnya terdiri dari individu-individu jantan dan betina, tidak bersayap, pada kebanyakan spesies umumnya buta. Rayap kasta pekerja merupakan individu terbanyak dalam koloni rayap. Satu koloni rayap dapat terdiri dari ratusan sampai dengan jutaan individu rayap pekerja. Fungsi kasta ini adalah mencari makan, merawat telur, serta membuat dan memelihara sarang. Selain itu, juga mengatur aktivitas dari koloni dengan jalan membunuh dan memakan individu-individu yang lemah atau mati untuk menghemat energi dalam koloninya. Kasta prajurit memiliki ciri warna tubuh lebih pucat dan lunak karena kurang tersklerotisasi. Kasta prajurit mudah dikenali karena bentuk kepalanya yang besar dengan sklerotisasi yang nyata. Anggota-anggota dari kasta ini mempunyai mandible atau rostrum yang besar dan kuat. Fungsi kasta prajurit adalah melindungi koloni terhadap gangguan dari luar (Muin et al. 2010). Selain mempunyai kasta dalam koloninya, rayap juga mempunyai sifat yang berbeda dengan serangga pada umumnya, Menurut Nandika et al. (2003), rayap memiliki sifat-sifat cryptobiotik, thropalaxis, kanibalistik, dan neurophagy. Cryptobiotik merupakan sifat rayap yang tidak tahan terhadap cahaya. Thropalaxis merupakan perilaku rayap yang saling menjilati dan tukar menukar makanan antar individu. Kanibalistik merupakan perilaku rayap untuk memakan individu lain yang sakit atau lemas. Sedangkan neurophagy merupakan perilaku rayap yang memakan bangkai individu lainnya.
10 13 Harris 1971 mengatakan bahwa rayap tanah termasuk serangga sosial yang senang berkelompok dan membentuk koloni dalam jumlah sangat besar. Mereka umumnya tinggal di bawah permukaan tanah dan merusak struktur bangunan tanpa terdeteksi melalui jalan tersembunyi yang hampir tidak terlihat di fondasi dinding atau lantai. Golongan rayap ini meliputi anggota Family Rhinotermitidae (Coptotermes, Reticulitermes, Schedorhinotermes), Family Mastotermitidae (Mastotermes darwinensis), dan sebagian dari Family Termitidae (Macrotermes, Microtermes, Nasutitermes). 2.5 Sifat Beberapa Jenis Kayu Rakyat Petai (Parkia speciosa) Petai (Parkia speciosa) merupakan pohon tahunan tropika dari suku polongpolongan (Fabaceae), anak-suku petai-petaian (Mimosoidae). Tumbuhan ini tersebar luas di Nusantara bagian barat. Petai tumbuh baik di hutan hujan dataran rendah dan kadang-kadang juga di hutan sekunder dataran tinggi, tanah lempung berpasir dan podsolik. Tumbuh baik pada ketinggian mdpl dengan curah hujan mm/tahun dan musim kering sampai 4 bulan (Joker 2002). Tanaman petai menyukai jenis tanah liat dan kadang ditemukan pada tanah yang tergenang air. Kayu petai digunakan secara lokal untuk kontruksi ringan, pertukangan, furnitur dan pembuatan lemari, cetakan, interior, kelongsong, penyangga beton, kotak dan peti, korek api, sandal bakiak dan sumpit. Pohon petai dapat mencapai tinggi 20 meter, mempunyai sedikit cabang, daun majemuk, dan tersusun sejajar. Kayu petai biasanya ringan dan kadang keras menengah-berat dengan kepadatan kg/m 3. Kayu petai memiliki berat jenis minimum sebesar 0,35 dan maksimum sebesar 0,53 dengan rata-rata sebesar 0,45 serta termasuk ke dalam kelas awet V dan kelas kuat III V (Oey 1990) Karet (Hevea brasiliensis) Kayu karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) termasuk tumbuhan dalam famili Euphorbiaceae. Secara alami pohon ini memiliki daerah persebaran dari Brasil hingga Venezuela, dan dari Kolombia hingga Peru dan Bolivia. Dibawa ke Indonesia pada tahun 1876, dan saat ini pohon karet telah ditanam di berbagai
11 14 wilayah di Indonesia baik dalam bentuk hutan rakyat, perkebunan swasta maupun perkebunan negara (Damayanti 2006). Tanaman karet termasuk tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30 tahun. Habitus tanaman ini merupakan pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai meter. Karet memiliki jari-jari agak sempit (30-50 μ), jarang sampai agak lebar ( μ), dan tingginya sekitar 1,8 mm. Pembuluhnya bersifat baur, soliter dan berganda radial yang terdiri atas 2-4 pori (terkadang mencapai 5-8 pori) dengan diameter agak kecil ( μ) sampai agak besar ( μ), dan jumlah pori sekitar 3-4/mm 2. Kayu karet mempunyai ciri fisis dan mekanis yaitu kerapatan 0,61 (0,55-0,70), termasuk dalm kelas awet V, kelas kuat II-III, dengan keterawetan sedang (Pandit & Kurniawan 2008). Kayu dapat bertahan hingga 2 tahun untuk yang kontak langsung dengan tanah. Kayu karet mudah diserang oleh jamur dan penggerek, sehingga harus diawetkan sebelum digunakan. Kayu ini mudah diawetkan dengan teknik perendaman maupun vakum tekan (Damayanti 2006) Sengon (Paraserianthes falcataria) Kayu Sengon (Falcataria moluccana) termasuk tumbuhan dalam Famili Fabaceae. Sengon tumbuh baik pada daerah bercurah hujan mm/th dengan ketinggian tempat m dpl. Pada tanah yang kurang subur pun jenis ini masih dapat tumbuh dengan baik. Jenis ini menghendaki iklim basah sampai agak kering, pada dataran rendah hingga ke pegunungan sampai ketinggian 1500 m dari permukaan laut, dengan ketinggian optimum m dari permukaan laut (Siregar et al. 2010). Sengon tumbuh pada suhu sekitar 20 C 33 C dengan kelembaban sekitar 50 75%. Sengon dapat dipanen pada umur yang relatif singkat, yaitu 5 7 tahun setelah di tanam. Tinggi pohon sengon dapat mencapai 40 m dan diameter bisa mencapai 100 cm. Sifat Kayunya lunak, sangat ringan, dan mudah menyerap bahan pengawet. Menurut sifat anatominya, sengon mempunyai pori berbentuk oval, tersebar, dan jumlahnya 4-7 mm 2. Kayu sengon mempunyai berat jenis rata-rata 0,33 (0,24 0,49), dan tergolong dalam kelas kuat IV-V dan kelas awet IV-V (Pandit & Kurniawan 2008). Daya tahan sengon terhadap rayap kayu kering termasuk kelas
12 15 III, sedangkan terhadap jamur pelapuk kayu termasuk kelas II-IV. Tingkat ketahanan kayu Sengon termasuk kelas awet IV-V pada uji lapang. (Martawijaya et al. 2005). Kayu sengon mengandung selulosa tinggi, lignin rendah, pentosan rendah dan ekstraktif tinggi. Persentase lignin rendah menunjukkan kayu tidak terlalu kuat dan tidak terlalu kaku. Persentase pentosan yang rendah akan mengurangi kekuatan kayu karena selain sebagai cadangan makanan bagi sel, pentosan juga berfungsi sebagai penguat dinding sel kayu (Atmosuseno 1998) Manii (Maesopsis eminii) Kayu manii (Maesopsis eminii) adalah salah satu jenis tanaman yang banyak di tanam di hutan rakyat dari famili Rhamnaceae. Pada sebaran alami, jenis ini tumbuh di dataran rendah sampai hutan sub pegunungan sampai ketinggian 1800 mdpl. Pohon manii biasanya ditanam di dataran rendah dan tumbuh baik pada ketinggian mdpl. Tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan mm/tahun dengan musim kering sampai 4 bulan. Pohon meranggas, tinggi mencapai 45 m dengan bebas cabang 2/3 tinggi total (Joker 2002). Kayu manii merupakan jenis pohon cepat tumbuh dan berkekuatan sedang sampai kuat, biasa digunakan untuk pembuatan konstruksi, kotak, dan tiang. Kayu ini memiliki kadar selulosa 47,19%, kadar lignin 20,45%, kadar abu 0,28-1,94%, dan kelarutan ekstraktif dalam air panas 2,75%. Menurut Martawijaya et al. (2005), kayu manii mempunyai kerapatan 0,4 dengan sifat mekanis dan fisis dari kayu manii tergolong ke dalam kelas kuat III, dan kelas awet III-IV Pinus (Pinus merkusii) Pinus atau sering disebut tusam merupakan salah satu jenis pohon industri yang mempunyai nilai produksi tinggi dan merupakan salah satu prioritas jenis untuk reboisasi terutama di luar pulau Jawa. Tumbuh pada ketinggian m dpl, pada berbagai tipe tanah dan iklim (Hidayat & Hansen 2001). Kayu tusam dapat dipergunakan untuk bangunan perumahan, lantai, mebel, kotak dan tangkai korek api, pensil (dengan pengolahan khusus), pulp, tiang listrik (diawetkan), papan wol kayu dan kayu lapis (Damayanti 2006). Jenis ini tergolong jenis cepat
13 16 tumbuh dan tidak membutuhkan persyaratan khusus. Keistimewaan jenis ini antara lain merupakan satu-satunya jenis pinus yang menyebar secara alami ke selatan khatulistiwa sampai melewati 2 0 LS (Harahap 1995). Tinggi pohon pinus dapat mencapai m, dengan diameter 100 cm dan batang bebas cabang 2-23 m. Pinus tidak berbanir, kulit luar kasar berwarna coklat kelabu sampai coklat tua, tidak mengelupas dan beralur lebar serta dalam. Kayu pinus berwarna coklat-kuning muda, berat jenis rata-rata 0,55, termasuk kelas kuat III dan kelas awet IV (Pandit & Kurniawan 2008), serta mempunyai kelas keterawetan mudah (Damayanti 2006). Sjostrom (1981) menambahkan bahwa kayu teras pada pinus mengandung ekstraktif yang khas jauh lebih banyak daripada kayu gubal. Senyawa fenol yang terkandung mempunyai sifat-sifat fungisida dan melindungi kayu terhadap serangan mikrobiologi. Kandungan zat ekstraktif ini berguna untuk melindungi kayu dari kerusakan secara mikrobiologi atau serangan serangga. Zat ektraktif pada kayu pinus juga ada yang bersifat attractant terhadap organisme perusak kayu. Sehingga kayu ini banyak digunakan sebagai kontrol pada berbagai penelitian karena dapat menarik organisme ke tempat pengujian kayu di lapangan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keawetan Kayu Keawetan kayu adalah daya tahan suatu jenis kayu terhadap organisme biologis perusak kayu, lingkungan yang berhubungan dengan kayu dan faktor eksternal lainnya.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keawetan Kayu Keawetan alami kayu adalah suatu ketahanan kayu secara alamiah terhadap serangan organisme perusak yang datang dari luar, seperti misalnya jamur, serangga, marine
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Kehilangan Berat (%) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keawetan Alami Hasil perhitungan kehilangan berat ke empat jenis kayu yang diteliti disajikan pada Gambar 4. Data hasil pengukuran disajikan pada Lampiran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengawetan Kayu Pengawetan kayu tidak lain adalah proses memasukkan bahan pengawet ke dalam kayu untuk melindungi diri dari serangan organisme perusak seperti serangga, jamur
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Mahoni Mahoni merupakan famili Meliaceae yang meliputi dua jenis yaitu Swietenia macrophylla King (mahoni daun besar) dan Swietenia mahagoni Jacq (mahoni daun kecil). Daerah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Rakyat Hutan rakyat adalah suatu lapangan yang berada di luar kawasan hutan negara yang bertumbuhan pohon-pohonan sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan merupakan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
17 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Retensi Retensi adalah banyak atau jumlah bahan pengawet yang terdapat dalam kayu. Rata-rata retensi dalam metode pengawetan rendaman dingin selama 10 hari dan metode
TINJAUAN PUSTAKA. terhadap serangan jamur dan serangga dalam lingkungan yang serasi bagi
TINJAUAN PUSTAKA Keawetan Alami Kayu Keawetan alami kayu adalah suatu ketahanan kayu secara alamiah terhadap serangan jamur dan serangga dalam lingkungan yang serasi bagi organisme yang bersangkutan (Duljapar,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sebaran rayap tanah di berbagai vegetasi Hutan Pendidikan Gunung Walat memiliki luas wilayah 359 ha, dari penelitian ini diperoleh dua puluh enam contoh rayap dari lima
BAB I PENDAHULUAN. Untuk memenuhi kebutuhan industri perkayuan yang sekarang ini semakin
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Untuk memenuhi kebutuhan industri perkayuan yang sekarang ini semakin berkurang pasokan kayunya dari hutan alam, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melaksanakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. penggunaan baik sebagai bahan konstruksi maupun sebagai bahan non-konstruksi.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kayu merupakan hasil hutan yang dibutuhkan manusia untuk berbagai penggunaan baik sebagai bahan konstruksi maupun sebagai bahan non-konstruksi. Namun pada kenyataannya,
METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan November 2011 di Bagian Teknologi Peningkatan Mutu Kayu Departemen Hasil Hutan Fakultas
TASIKMALAYA 14 DESEMBER 2015
TASIKMALAYA 14 DESEMBER 2015 SIDIK CEPAT PEMILIHAN JENIS POHON HUTAN RAKYAT BAGI PETANI PRODUKTIFITAS TANAMAN SANGAT DIPENGARUHI OLEH FAKTOR KESESUAIAN JENIS DENGAN TEMPAT TUMBUHNYA, BANYAK PETANI YANG
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hasil hutan tidak hanya sekadar kayu tetapi juga menghasilkan buahbuahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil hutan tidak hanya sekadar kayu tetapi juga menghasilkan buahbuahan dan obat-obatan.namun demikian, hasil hutan yang banyak dikenal penduduk adalah sebagai sumber
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Papan partikel Papan partikel adalah papan yang dibuat dari partikel kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya yang diikat dengan perekat organik ataupun sintesis kemudian
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kayu saat ini merupakan komponen yang dibutuhkan dalam kehidupan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kayu saat ini merupakan komponen yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia, dalam kehidupan sehari-hari kayu digunakan untuk kebutuhan konstruksi, meubel dan perabotan
I. PENDAHULUAN. tiap tahunnya (Rachmawati, 1996), sedangkan menurut Wahyuni (2000), di Kabupaten
1 I. PENDAHULUAN Indonesia mengalami kerugian ekonomi akibat serangan rayap pada kayu bangunan rumah penduduk mencapai 12,5% dari total biaya pembangunan perumahan tiap tahunnya (Rachmawati, 1996), sedangkan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
11 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2012 sampai dengan Mei 2012, bertempat di Laboratorium Pengelohan Hasil Hutan, Pusat Penelitian dan Pengembangan
BAB I PENDAHULUAN. Identifikasi Rayap Pada Kayu Umpan Di Kampung Babakan Cimareme Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam, berasal dari bahan mentah yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai kemajuan teknologi. Kayu merupakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bioekologi Rayap Rayap adalah serangga sosial yang termasuk ke dalam ordo Blatodea, kelas heksapoda yang dicirikan dengan metamorfosis sederhana, bagian-bagian mulut mandibula.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kehilangan Berat Kehilangan berat dapat menjadi indikasi respon serangan rayap terhadap contoh uji yang diberi perlakuan dalam hal ini berupa balok laminasi. Perhitungan
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengujian Empat Jenis Kayu Rakyat berdasarkan Persentase Kehilangan Bobot Kayu Nilai rata-rata kehilangan bobot (weight loss) pada contoh uji kayu sengon, karet, tusam,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kehilangan Berat (Weight Loss) Contoh Uji Kehilangan berat (WL) merupakan salah satu respon yang diamati karena berkurangnya berat contoh uji akibat aktifitas makan rayap
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jati Tectona grandis Linn. f. atau jati merupakan salah satu tumbuhan yang masuk dalam anggota famili Verbenaceae. Di Indonesia dikenal juga dengan nama deleg, dodolan, jate,
BAB I PENDAHULUAN. dengan target luas lahan yang ditanam sebesar hektar (Atmosuseno,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sengon merupakan salah satu tanaman cepat tumbuh yang dipilih dalam program pembangunan hutan tanaman industri (HTI) karena memiliki produktivitas yang tinggi dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifat Beberapa Jenis Kayu Rakyat Pengertian hutan rakyat sebagaimana tercantum dalam UU Pokok Kehutanan No. 41 Tahun 1999 dan SK Menteri Kehutanan No. 49/Kpts-II/1997 adalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kelapa Sawit dan Tandan Kosong Sawit Kelapa sawit (Elaeis quineensis, Jacq) dari family Araceae merupakan salah satu tanaman perkebunan sebagai sumber minyak nabati, dan merupakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. kayu jati sebagai bahan bangunan seperti kuda-kuda dan kusen, perabot rumah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kayu jati merupakan salah satu jenis kayu yang diminati dan paling banyak dipakai oleh masyarakat, khususnya di Indonesia. Selain memiliki sifat yang awet dan kuat,
Toleransi di bidang kehutanan berbeda dengan toleransi secara umum. Toleransi secara umum mengacu khusus pada ketahanan terhadap stres lingkungan
TOLERANSI POHON Toleransi di bidang kehutanan berbeda dengan toleransi secara umum. Toleransi secara umum mengacu khusus pada ketahanan terhadap stres lingkungan Air, keasaman, salinitas, dingin, panas
BAB III METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Tempat
12 BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli Desember 2011 di Laboratorium Biomaterial dan Biodeteriorasi Kayu Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saninten (Castanopsis argentea Blume A.DC) Sifat Botani Pohon saninten memiliki tinggi hingga 35 40 m, kulit batang pohon berwarna hitam, kasar dan pecah-pecah dengan permukaan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Hutan menurut Undang-undang RI No. 41 Tahun 1999 adalah suatu kesatuan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hutan Rakyat 1. Pengertian Hutan Rakyat Hutan menurut Undang-undang RI No. 41 Tahun 1999 adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang
TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Badan Standardisasi Nasional (2010) papan partikel merupakan
TINJAUAN PUSTAKA Papan Partikel Menurut Badan Standardisasi Nasional (2010) papan partikel merupakan papan yang terbuat dari bahan berlignoselulosa yang dibuat dalam bentuk partikel dengan menggunakan
TINJAUAN PUSTAKA. Adapun taksonomi tanaman kelapa sawit menurut Syakir et al. (2010) Nama Elaeis guineensis diberikan oleh Jacquin pada tahun 1763
16 TINJAUAN PUSTAKA A. Kelapa sawit Adapun taksonomi tanaman kelapa sawit menurut Syakir et al. (2010) adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Sub famili Genus Spesies : Plantae
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian ini, baik proses fumigasi maupun pengolahan data penelitian dilakukan di Bagian Teknologi Peningkatan Mutu Kayu, Departemen Hasil
TINJAUAN PUSTAKA. setiap kecamatan di Kota Medan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Data jumlah sekolah menengah pertama di setiap kecamatan
TINJAUAN PUSTAKA Bangunan Sekolah Menengah Pertama Kota Medan memiliki 350 sekolah menengah pertama dengan perincian 45 buah milik pemerintah dan 305 buah milik pihak swasta. Rincian sebaran SMP di setiap
SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO
SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,
SIDIK CEPAT PEMILIHAN JENIS HUTAN RAKYAT UNTUK PETANI
LEMPUNG 20/05/2013 SIDIK CEPAT PEMILIHAN JENIS HUTAN RAKYAT UNTUK PETANI JOGYAKARTA SIDIK CEPAT PEMILIHAN JENIS POHON HUTAN RAKYAT BAGI PETANI Produktifitas tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor kesesuaian
HASIL DAN PEMBAHASAN
17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini berlangsung di kebun manggis daerah Cicantayan Kabupaten Sukabumi dengan ketinggian 500 700 meter di atas permukaan laut (m dpl). Area penanaman manggis
TINJAUAN PUSTAKA. Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat
TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Dephut, 1998): Kingdom : Plantae Divisio : Spematophyta
II. TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol (Gladiolus hybridus) berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani dan Morfologi Tanaman Gladiol Gladiol (Gladiolus hybridus) berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang sesuai dengan bentuk daunnya yang meruncing dan memanjang.
TINJAUAN PUSTAKA. Keawetan alami kayu adalah suatu ketahanan kayu secara alamiah
TINJAUAN PUSTAKA Keawetan Alami Kayu Keawetan alami kayu adalah suatu ketahanan kayu secara alamiah terhadap serangan jamur dan serangga dalam lingkungan yang serasi bagi organisme yang bersangkutan (Duljapar,
LIMBAH. Pengertian Baku Mutu Lingkungan Contoh Baku Mutu Pengelompokkan Limbah Berdasarkan: 1. Jenis Senyawa 2. Wujud 3. Sumber 4.
LIMBAH Pengertian Baku Mutu Lingkungan Contoh Baku Mutu Pengelompokkan Limbah Berdasarkan: 1. Jenis Senyawa 2. Wujud 3. Sumber 4.B3 PENGERTIAN Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 18/1999 Jo.PP 85/1999
I. PENDAHULUAN. Telur merupakan sumber protein hewani yang baik, murah dan mudah
1 A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Telur merupakan sumber protein hewani yang baik, murah dan mudah didapat. Dilihat dan nilai gizinya, sumber protein telur juga mudah diserap tubuh (Nuraini, 2010). Telur
TINJAUAN PUSTAKA. A. Biologi dan Morfologi Rayap (Coptotermes curvignatus) Menurut (Nandika et, al.dalam Pratama 2013) C. curvignatus merupakan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Biologi dan Morfologi Rayap (Coptotermes curvignatus) Menurut (Nandika et, al.dalam Pratama 2013) C. curvignatus merupakan rayap yang paling luas serangannya di Indonesia. Klasifikasi
BAB I PENDAHULUAN. Industri pengolahan kayu yang semakin berkembang menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri pengolahan kayu yang semakin berkembang menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan bahan baku kayu. Menurut Kementriaan Kehutanan (2014), data
II. TINJAUAN PUSTAKA A.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Durian 1. Karakteristik tanaman durian Durian (Durio zibethinus Murr.) merupakan salah satu tanaman hasil perkebunan yang telah lama dikenal oleh masyarakat yang pada umumnya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum tentang Pinus 2.1.1. Habitat dan Penyebaran Pinus di Indonesia Menurut Martawijaya et al. (2005), pinus dapat tumbuh pada tanah jelek dan kurang subur, pada tanah
TINJAUAN PUSTAKA. Kota Medan mempunyai 805 sekolah dasar dengan perincian 401 buah
TINJAUAN PUSTAKA Bangunan Sekolah Dasar Kota Medan mempunyai 805 sekolah dasar dengan perincian 401 buah milik pemerintah dan 404 buah milik pihak swasta. Rincian sebaran SD di Kota Medan disajikan pada
BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Prosedur Penelitian Persiapan Bahan Baku
BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan bulan November 2011 di Laboratorium Kimia Hasil Hutan dan Laboratorium Teknologi Peningkatan Mutu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Balok Laminasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Balok Laminasi Balok laminasi atau glulam pertama kali digunakan di Eropa pada konstruksi auditorium di Basel, Switzerland tahun 1893. Balok laminasi dipatenkan sebagai Sistem
TINJAUAN PUSTAKA. Ubi kayu merupakan bahan pangan yang mudah rusak (perishable) dan
TINJAUAN PUSTAKA Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz.) Ubi kayu merupakan bahan pangan yang mudah rusak (perishable) dan akan menjadi busuk dalam 2-5 hari apabila tanpa mendapat perlakuan pasca panen yang
Jenis-jenis kayu untuk konstruksi Bangunan
Jenis-jenis kayu untuk konstruksi Bangunan Jenis-jenis kayu untuk konstruksi di proyek- Pada kesempatan ini saya akan berbagi informasi tentang Jenis-jenis kayu untuk konstruksi Bangunan Kayu adalah material
TINJAUAN PUSTAKA. Ordo : Liliales ; Famili : Liliaceae ; Genus : Allium dan Spesies : Allium
14 TINJAUAN PUSTAKA Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Dalam dunia tumbuhan, tanaman bawang merah diklasifikasikan dalam Divisi : Spermatophyta ; Sub Divisi : Angiospermae ; Class : Monocotylodenae ;
II. TINJAUAN PUSTAKA Biomassa
3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Biomassa Biomassa merupakan bahan organik dalam vegetasi yang masih hidup maupun yang sudah mati, misalnya pada pohon (daun, ranting, cabang, dan batang utama) dan biomassa
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani tanaman karet Menurut Sianturi (2002), sistematika tanaman karet adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae
Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala
Geografi Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala TANAH Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang
TINJAUAN PUSTAKA Botani
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman mentimun berasal dari kaki pegunungan Himalaya. Domestikasi dari tanaman liar ini berasal dari India utara dan mencapai Mediterania pada 600 SM. Tanaman ini dapat tumbuh
TINJAUAN PUSTAKA. : Cinnamomum burmanii. Panjangnya sekitar 9-12 cm dan lebar 3,4-5,4 cm, tergantung jenisnya. Warna
TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Kayu Manis berikut : Sistematika kayu manis menurut Rismunandar dan Paimin (2001), sebagai Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Sub kelas Ordo Family Genus Spesies : Plantae : Gymnospermae
TINJAUAN PUSTAKA. (waferboard) yang terbuat dari limbah kayu yang ditemukan oleh ilmuwan Amerika
TINJAUAN PUSTAKA Oriented Strand Board (OSB) Awalnya produk OSB merupakan pengembangan dari papan wafer (waferboard) yang terbuat dari limbah kayu yang ditemukan oleh ilmuwan Amerika pada tahun 1954. Limbah-limbah
MORFOLOGI DAN POTENSI. Bagian-Bagian Kayu - Kulit kayu - Kambium - Kayu gubal - Kayu teras - Hati - Lingkaran tahun - Jari-jari
Kayu Definisi Suatu bahan yang diperoleh dari hasil pemungutan pohon-pohon di hutan, yang merupakan bagian dari pohon tersebut setelah diperhitungkan bagian-bagian mana yang lebih banyak dimanfaatkan untuk
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biomassa BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Biomassa meliputi semua bahan yang bersifat organik ( semua makhluk yang hidup atau mengalami pertumbuhan dan juga residunya ) (Elbassan dan Megard, 2004). Biomassa
TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit
4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Taksonomi kelapa sawit yang dikutip dari Pahan (2008) adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Embryophyta Siphonagama Kelas : Angiospermeae Ordo : Monocotyledonae
BAB II STUDI PUSTAKA
BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Kayu Kayu adalah suatu bahan konstruksi yang didapat dari alam dan sudah lama dikenal oleh manusia. Sebagai bahan dari alam, kayu dapat terurai secara sempurna sehingga tidak ada
PENGETAHUAN DASAR KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN
PENGETAHUAN DASAR KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN Pilihan suatu bahan bangunan tergantung dari sifat-sifat teknis, ekonomis, dan dari keindahan. Perlu suatu bahan diketahui sifat-sifat sepenuhnya. Sifat Utama
II. TINJAUAN PUSTAKA. Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) banyak ditanam di daerah beriklim panas
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi Tanaman Sorgum Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) banyak ditanam di daerah beriklim panas dan daerah beriklim sedang. Sorgum dibudidayakan pada ketinggian 0-700 m di
II. TINJAUAN PUSTAKA. Karet alam dihasilkan dari tanaman karet (Hevea brasiliensis). Tanaman karet
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karet Alam Karet alam dihasilkan dari tanaman karet (Hevea brasiliensis). Tanaman karet termasuk tanaman tahunan yang tergolong dalam famili Euphorbiaceae, tumbuh baik di dataran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mentimun Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : Divisi :
PEMBUATAN CUKA KAYU DAN APLIKASINYA PADA TANAMAN. Oleh : Sri Komarayati
PEMBUATAN CUKA KAYU DAN APLIKASINYA PADA TANAMAN Oleh : Sri Komarayati PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN BOGOR 2014 PENDAHULUAN CUKA KAYU ADALAH CAIRAN ORGANIK
TINJAUAN PUSTAKA. bekas tambang, dan pohon peneduh. Beberapa kelebihan tanaman jabon
TINJAUAN PUSTAKA Jabon (Anthocephalus cadamba) merupakan salah satu jenis tumbuhan lokal Indonesia yang berpotensi baik untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman maupun untuk tujuan lainnya, seperti
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang
17 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) memiliki sistem perakaran yang terdiri dari akar tunggang, akar sekunder yang tumbuh dari akar tunggang, serta akar cabang yang
TINJAUAN PUSTAKA. tanaman. Tipe asosiasi biologis antara mikroorganisme endofit dengan tanaman
TINJAUAN PUSTAKA Mikroorganisme Endofit Endofit merupakan asosiasi antara mikroorganisme dengan jaringan tanaman. Tipe asosiasi biologis antara mikroorganisme endofit dengan tanaman inang bervariasi mulai
I. PENDAHULUAN. pemanasan global antara lain naiknya suhu permukaan bumi, meningkatnya
1 I. PENDAHULUAN Pemanasan global yang terjadi saat ini merupakan fenomena alam meningkatnya suhu permukaan bumi. Dampak yang dapat ditimbulkan dari pemanasan global antara lain naiknya suhu permukaan
SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 8. Penggunaan Alat Dan Bahan Laboratorium Latihan Soal 8.4
1. Cara aman membawa alat gelas adalah dengan... SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 8. Penggunaan Alat Dan Bahan Laboratorium Latihan Soal 8.4 Satu tangan Dua tangan Dua jari Lima jari Kunci Jawaban : B Alat-alat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. organisme hidup yaitu tumbuhan (Praptoyo, 2010). Kayu termasuk salah satu hasil
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kayu adalah suatu material yang merupakan produk hasil metabolisme organisme hidup yaitu tumbuhan (Praptoyo, 2010). Kayu termasuk salah satu hasil sumber daya alam
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. akar-akar cabang banyak terdapat bintil akar berisi bakteri Rhizobium japonicum
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Susunan akar kedelai pada umumnya sangat baik, pertumbuhan akar tunggang lurus masuk kedalam tanah dan mempunyai banyak akar cabang. Pada akar-akar cabang banyak terdapat
HASIL DAN PEMBAHASAN
17 HASIL DAN PEMBAHASAN Efektifitas Fumigasi Amonia Fumigasi amonia bertujuan mereaksikan amonia dengan tanin dalam kayu agar terjadi perubahan warna secara permanen. Fumigasi amonia akan menhasilkan perubahan
TINJAUAN PUSTAKA Pemadatan Tanah
TINJAUAN PUSTAKA Pemadatan Tanah Pemadatan tanah adalah penyusunan partikel-partikel padatan di dalam tanah karena ada gaya tekan pada permukaan tanah sehingga ruang pori tanah menjadi sempit. Pemadatan
PROSES PENGAWETAN KAYU. 1. Persiapan Kayu untuk Diawetkan
PROSES PENGAWETAN KAYU 1. Persiapan Kayu untuk Diawetkan Tujuan dari persiapan kayu sebelum proses pengawetan adalah agar 1 ebih banyak atau lebih mudah bahan pengawet atau larutannya meresap ke dalam
BAB I PENDAHULUAN. Hasil hutan non kayu sebagai hasil hutan yang berupa produk di luar kayu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil hutan non kayu sebagai hasil hutan yang berupa produk di luar kayu yang dihasilkan dari pengolahan hutan, contohnya produk ekstraktif. Produk ekstraktif merupakan
I. PENDAHULUAN. hutan dapat dipandang sebagai suatu sistem ekologi atau ekosistem yang sangat. berguna bagi manusia (Soerianegara dan Indrawan. 2005).
I. PENDAHULUAN Hutan adalah masyarakat tetumbuhan dan hewan yang hidup di lapisan permukaan tanah yang terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan
I. PENDAHULUAN. Nenas adalah komoditas hortikultura yang sangat potensial dan penting di dunia.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nenas adalah komoditas hortikultura yang sangat potensial dan penting di dunia. Buah nenas merupakan produk terpenting kedua setelah pisang. Produksi nenas mencapai 20%
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Parameter pertumbuhan yang diamati pada penelitian ini adalah diameter batang setinggi dada ( DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang (TBC), dan diameter tajuk.
PENGENALAN RAYAP PERUSAK KAYU YANG PENTING DI INDONESIA
PENGENALAN RAYAP PERUSAK KAYU YANG PENTING DI INDONESIA 4 Pengantar Jenis-jenis rayap (Ordo Isoptera) merupakan satu golongan serangga yang paling banyak menyebabkan kerusakan pada kayu yang digunakan
HASIL. lorong kembara di batang tanaman (b) Data ukuran sarang rayap yang ditemukan.
2 lorong kembara di batang tanaman (b) Data ukuran sarang rayap yang ditemukan. Identifikasi rayap Identifikasi rayap menggunakan rayap kasta prajurit. Rayap kasta prajurit mayor digunakan untuk mengidentifikasi
IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota
IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Pembentukan Taman Kupu-Kupu Gita Persada Taman Kupu-Kupu Gita Persada berlokasi di kaki Gunung Betung yang secara administratif berada di wilayah Kelurahan
Tim Dosen Biologi FTP Universitas Brawijaya
Tim Dosen Biologi FTP Universitas Brawijaya 1. Faktor Genetik : Faktor dalam yang sifatnya turun temurun + 2. Faktor lingkungan: - Tanah - Air - Lingkungan - udara (iklim) Iklim-------- sifat/peradaban
5/4/2015. Tim Dosen Biologi FTP Universitas Brawijaya
Tim Dosen Biologi FTP Universitas Brawijaya 1. Faktor Genetik : Faktor dalam yang sifatnya turun temurun + 2. Faktor lingkungan: - Tanah - Air - Lingkungan - udara (iklim) Iklim-------- sifat/peradaban
TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman pepaya (Carica papaya L.) termasuk ke dalam family
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tanaman pepaya (Carica papaya L.) termasuk ke dalam family Caricaceae dan merupakan tanaman herba (Barus dan Syukri, 2008). Sampai saat ini, Caricaceae itu diperkirakan
ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL
ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL Syahrizal & Johny Custer Teknik Perkapalan Politeknik Bengkalis Jl. Bathin Alam, Sei-Alam, Bengkalis-Riau [email protected]
TINJAUAN PUSTAKA. Sistematika hama rayap (Coptotermes curvinagthus Holmgren) menurut
TINJAUAN PUSTAKA Biologi Coptotermes curvignathus Holmgren Sistematika hama rayap (Coptotermes curvinagthus Holmgren) menurut Nandika, dkk (2003) adalah sebagai berikut : Kingdom Filum Kelas Ordo Famili
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian Tanaman salak yang digunakan pada penelitian ini adalah salak pondoh yang ditanam di Desa Tapansari Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman Yogyakarta.
TINJAUAN PUSTAKA. Keberadaan sekolah-sekolah sekarang ini dianggap masih kurang
TINJAUAN PUSTAKA Bangunan Sekolah Dasar Keberadaan sekolah-sekolah sekarang ini dianggap masih kurang memadai baik dari segi jumlah maupun kelengkapan fasilitas di dalamnya. Saat ini terdapat hampir lebih
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pupuk dibedakan menjadi 2 macam yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pupuk Pupuk merupakan bahan alami atau buatan yang ditambahkan ke tanah dan dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan menambah satu atau lebih hara esensial. Pupuk dibedakan menjadi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
9 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan bulan Juli 2011, bertempat di Laboratorium Biomaterial dan Biodeteriorasi Kayu, Pusat Penelitian
Sidang Tugas Akhir. Penyaji: Afif Rizqi Fattah ( ) Dosen Pembimbing: Dr. Eng. Hosta Ardyananta ST, M.Sc.
Sidang Tugas Akhir Penyaji: Afif Rizqi Fattah (2709 100 057) Dosen Pembimbing: Dr. Eng. Hosta Ardyananta ST, M.Sc. Judul: Pengaruh Bahan Kimia dan Waktu Perendaman terhadap Kekuatan Tarik Bambu Betung
PENGARUH KONSENTRASI BAHAN PENGAWET BORON TERHADAP RETENSI DAN PENETRASI PADA KAYU RAKYAT DJAYUS DJAUHARI
PENGARUH KONSENTRASI BAHAN PENGAWET BORON TERHADAP RETENSI DAN PENETRASI PADA KAYU RAKYAT DJAYUS DJAUHARI DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 DHH BORON CONCENTRATION
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Jati (Tectona grandis Linn. f) Jati (Tectona grandis Linn. f) termasuk kelompok tumbuhan yang dapat menggugurkan daunnya sebagaimana mekanisme pengendalian diri terhadap
