V. GAMBARAN UMUM PASAR BUNGA RAWABELONG
|
|
|
- Shinta Hermawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 V. GAMBARAN UMUM PASAR BUNGA RAWABELONG 5.1. Pasar Bunga Rawabelong Sejarah Pasar Bunga Rawabelong Pasar Bunga Rawabelong merupakan salah satu pasar yang dijadikan Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura. Pada awalnya, para pedagang di Pusat Promosi Hortikultura ini merupakan pedagang kaki lima bunga dan tanaman hias yang berusaha di sepanjang jalan Rawabelong, Palmerah Selatan. Namun kemudian, Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 25 Juli 1989 meresmikan keberadaan Pasar Bunga Rawabelong ini dengan nama Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawabelong. Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawabelong ini merupakan instalasi teknis dari Dinas Pertanian DKI Jakarta. Seiring dengan perkembangannya, instalasi Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawabelong ditetapkan menjadi salah satu UPT (Unit Pelaksana Teknis) Dinas Kelautan dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta melalui Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 113 Tahun 2002 dengan nama Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura. Sebagai UPT Dinas Kelautan dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta maka Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H) mempunyai visi, yaitu Mempertahankan dan Meningkatkan Eksistensinya sebagai Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura yang Unggul dan Prima dalam Memberikan Pelayanan Agribisnis. Dalam upaya untuk mewujudkan dan mendukung visi tersebut, maka misi yang dilakukan oleh UPT Dinas Kelautan dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta adalah : a. Meningkatkan penampilan secara menyeluruh agar layak sebagai daerah tujuan wisata agro yang dapat diandalkan b. Memberikan pelayanan dalam hal sarana dan prasarana serta informasi kepada para pelaku agribisnis baik produsen, konsumen, maupun masyarakat umum dalam menjalankan usahanya c. Menciptakan kondisi usaha bisnis dalam bidang pertanian dan kehutanan yang lebih baik serta dalam suasana yang kondusif dengan 38
2 mengembangkan dan meningkatkan pola kemitraan, permodalan, pemasaran, serta promosi d. Meningkatkan kesejahteraan petani dan pedagang hortikultura dengan jalan memotivasi dalam berusaha serta berupaya menjembatani pola kemitraan sehingga mampu mengembangkan usahanya yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kesejahteraan taraf hidupnya Fungsi dan Tugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rawabelong Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No.113 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Dinas Kelautan dan Propinsi DKI Jakarta, maka UPT Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H) mempunyai tugas pokok Melaksanakan Usaha Promosi dan pemasaran Hortikultura, Menyediakan dan Memberikan Fasilitas Layanan serta Mengelola Prasarana dan Sarana Promosi dan Pemasaran. Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, UPT Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura berusaha menyediakan berbagai jenis komoditas hortikultura dan jasa terkait hal tersebut Fasilitas Pasar Bunga Rawabelong Untuk melakukan kegiatan pemasaran tersebut, UPT P3H didukung oleh para pedagang yang terdapat di Pasar Bunga Rawabelong. Para pedagang tersebut menempati kios-kios yang telah disediakan UPT P3H. Sampai saat ini jumlah pedagang yang terdapat di Pasar Bunga Rawabelong tersebut terdapat 137 pedagang. Tidak semua pedagang menjual jenis komoditas, terdapat beberapa pedagang yang menjual jasa yang terkait dengan hortikultura. Pasar Bunga Rawabelong memiliki berbagai macam fasilitas layanan umum yang mendukung semua aktivitas di Rawabelong. Pada awal berdirinya, fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawa belong hanya diperuntukkan untuk bunga potong. Kemudian dalam perkembangannya, mulai tahun 2005 hingga 2008 telah dibangun sarana dan prasarana usaha dan perlengkapan pendukung. Sarana dan prasarana usaha serta perlengkapan pendukung itu sendiri terbagi menjadi dua 39
3 wilayah, yaitu wilayah selatan dan wilayah utara. Di wilayah selatan, luas lahan yang ada seluas m 2 yang terdiri atas bangunan kios dan los, bangunan kantor dan laboratorium kultur jaringan, bangunan workshop, dan bangunan jembatan penghubung kios-kios dengan laboratorium kultur jaringan. Sedangkan di wilayah utara, luas lahan yang dimiliki sebesar m 2 yang digunakan untuk bangunan kios dan los bunga, bangunan parkir, dan bangunan gardu listrik PLN. Kios atau tempat usaha yang tersedia di Pasar Bunga Rawabelong merupakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh pemerintah. Namun, kios-kios tersebut memiliki status kepemakaian. Status kios yang ada di Rawabelong terdiri dari dua status, yaitu hak pakai dan menyewa. Kios yang berstatus hak pakai merupakas fasilitas sarana dan prasarana yang diberikan oleh pemerintah dengan pengawasan dan bimbingan Dinas Pertanian DKI Jakarta. Sedangkan kios dengan status sewa adalah tempat usaha yang disewakan dengan biaya retribusi yang harus dibayarkan setiap bulannya. Walaupun demikian, kios-kios tersebut harus mengikuti persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah dengan memperpanjang izin dalam penggunaan lahan dan bangunan tempat usaha di UPT Rawabelong setiap dua tahun sekali pada Dinas Pertanian DKI Jakarta Kegiatan di Pasar Bunga Rawabelong Kegiatan jual-beli di Pasar Bunga Rawabelong berlangsung setiap hari selama 24 jam, mulai Senin hingga Minggu. Kegiatan jual-beli secara grosir terjadi pada pukul hingga pukul pagi. Setiap pagi sejumlah pemasok bunga dan tanaman hias datang ke Pasar Bunga Rawabelong untuk memasok bunganya ke beberapa pedagang. Walaupun pemasok datang setiap hari, namun para pedagang tidak setiap hari membeli bunga dari para pemasok tersebut. Para pedagang memiliki hari-hari tertentu untuk memasok. Biasanya, para pedagang mengambil pasokan bunga setiap seminggu tiga kali, namun ada pula yang seminggu dua kali. Jumlah pasokan yang dipasok ke para pedagang memiliki jumlah yang tetap setiap saat sesuai dengan perjanjian dengan para pemasok masing-masing. Semua pasokan bunga dan tanaman hias yang diperoleh pedagang berasal dari berbagai macam daerah. Daerah yang banyak memasok ke Pasar 40
4 Bunga Rawabelong adalah Cipanas, Cisarua, Sukabumi, Garut, Lembang (Jawa Barat), Magelang, Tegal (Jawa Tengah), Pasuruan dan Malang (Jawa Timur). Setiap hari pihak UPT Rawabelong melakukan pencatatan data tentang harga dan volume pemasaran berbagai jenis bunga potong. Selain melakukan pencatatan, UPT Rawabelong juga melakukan penarikan retribusi untuk bunga potong yang masuk setiap harinya. Biaya retribusi juga ditetapkan untuk sewa lahan atau kios yang digunakan para pedagang. Namun, biaya retribusi sewa lahan atau kios tersebut ditarik setiap bulan. Jenis-jenis komoditas yang tersedia untuk diperdagangkan di Pasar Bunga Rawabelong yaitu Bunga Potong, Bunga Rampai/ Tabur, Daun Potong, Bunga Kering, dan Tanaman Hias. Bunga potong yang ditawarkan terdiri dari dua jenis, Anggrek dan aneka Bunga Gunung seperti mawar, melati, krisan, gladiol, dan lain-lain. Sedangkan jenis tanaman hias yang ditawarkan pun beraneka ragam dimana tanaman hias tersebut terklasifikasi menjadi dua jenis, yaitu Tanaman Hias Berbunga dan Tanaman Hias Berdaun Indah. Selain menyediakan beraneka ragam bunga dan tanaman hias, di Pasar Bunga Rawabelong juga menyediakan beraneka ragam jasa terkait. Beberapa jasa yang dapat ditemukan seperti aneka rangkaian bunga, aneka sarana penunjang rangkaian, jasa pembuatan roncean melati, jasa pembuatan bunga papan dan kran duka cita. Jenis pedagang di Pasar Bunga Rawabelong terdiri dari dua jenis. Pedagang jenis pertama adalah pedagang yang memiliki toko bunga (florist). Pedagang florist ini biasanya mendapatkan sumber pasokan dari perusahaan bunga dan tanaman hias. Sedangkan untuk permintaan, para pedagang florist memiliki permintaan yang cukup pasti karena pedagang florist rata-rata memiliki jalinan kerjasama dengan beberapa perusahaan yang telah melakukan kesepakatan bersama. Kegiatan jual-beli para pedagang florist tidak hanya sekedar menjual bunga potong atau tanaman hias. Para pedagang florist juga menjual jasa yaitu jasa bunga rangkai untuk dalam dan luar kota Jakarta, bahkan wilayah pelayanan mencakup seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan pedagang jenis kedua adalah pedagang individu. Para pedagang individu ini merupakan pedagang yang menjual bunga potong. Tidak ada pedagang individu yang menjual tanaman hias. Sumber pasokan pedagang ini 41
5 rata-rata berasal dar para petani, karena harga yang ditawarkan lebih murah. Sedangkan permintaan pedagang individu lebih berfluktuasi daripada pedagang florist karena pedagang individu tidak memiliki hubungan kerjasama kontrak dengan konsumen. Sehingga, permintaan dan persediaan bunga potong disesuaikan dengan kondisi sehari-hari. Bunga potong yang ditawarkan dijual secara grosiran maupun per-ikat. Para pedagang individu juga tidak menyediakan jasa bunga rangkai, sehingga aktivitas mereka hanya jual-beli bunga potong. Lokasi para pedagang individu tidak seperti pedagang florist yang tertata rapi dan memiliki kios sendiri. Para pedagang individu di Pasar Bunga Rawabelong berlokasi di gedung bagian belakang pasar dan tidak memiliki kios. Pada Pasar Bunga Rawabelong, konsumen juga dapat diklasifikasikan. Pengklasifikasian konsumen terdiri dari tiga macam konsumen. Konsumen pertama adalah florist lain yang membeli bunga potong segar. Konsumen pertama ini rata-rata berlokasi di Jakarta, tetapi di luar Pasar Bunga Rawabelong. Konsumen kedua merupakan konsumen yang berasal dari perusahaan, kantor atau katering. Konsumen kedua biasanya membeli bunga dalam bentuk bunga segar maupun memesan dalam bentuk bunga rangkai. Dan konsumen ketiga adalah konsumen individu, baik dari kalangan-kalangan menengah ke atas atau kalangan menengah ke bawah. Jangka waktu pembelian yang dilakukan berbeda-beda. Konsumen pertama membeli bunga dengan jangka waktu mingguan, konsumen kedua seperti perusahaan dan kantor jangka waktunya mingguan dan bulanan. Sedangkan katering dan konsumen ketiga (individu) membeli dengan jangka waktu yang tidak teratur. Namun, katering dan konsumen individu merupakan konsumen yang membeli dalam jumlah paling banyak dari segi volume pembelian. Kegiatan jual-beli di Pasar Bunga Rawabelong memiliki hari-hari tertentu yang ramai ataupun yang tidak. Hari-hari dimana permintaan ramai oleh permintaan konsumen merupakan hari-hari pasaran yang berlangsung pada waktuwaktu tertentu. Hari-hari pasaran tersebut terdiri dari : a. Hari-hari pasaran Mingguan Hari pasaran mingguan dimana merupakan hari terjadinya peningkatan transaksi, dalam satu minggu jatuh pada hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan 42
6 Minggu. Waktu transaksi selama 24 jam, dengan puncak kegiatan transaksi terjadi dari pukul sampai dengan yang melibatkan rata-rata sebanyak 800 orang per hari. Sementara itu, hari-hari sepi dalam satu minggu jatuh pada hari Senin, Selasa, dan Rabu yang hanya melibatkan rata-rata sebanyak 200 orang per hari. b. Hari-hari pasaran Keagamaan Hari-hari pasaran keagamaan merupakan hari besar keagamaan yang secara langsung berpengaruh terhadap meningkatnya transaksi volume bunga dan jenis bunga yang diperdagangkan. Hari besar keagamaan tersebut adalah Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Natal, dan Hari raya Imlek. c. Hari-hari pasaran Lainnya adalah Tahun Baru dan Valentine Day (hari kasih sayang) Bunga Krisan di Pasar Bunga Rawabelong Bunga krisan merupakan salah satu bunga yang dipasarkan di Pasar Bunga Rawabelong. Bunga krisan termasuk salah satu bunga favorit konsumen. Namun, bunga krisan yang tersedia di Pasar Bunga Rawabelong terdiri dari dua jenis bunga krisan. UPT Rawabelong mengklasifikasikannya menjadi krisan cipanas dan krisan pt. Sedangkan, para pedagang di Pasar Bunga Rawabelong sendiri lebih banyak menyebut krisan cipanas sebagai krisan petani, dan krisan pt sebagai krisan perusahaan. Krisan cipanas atau krisan petani merupakan jenis krisan yang diproduksi oleh petani. Sehingga krisan cipanas adalah krisan yang sumber pemasoknya adalah petani. Petani-petani yang menjadi pemasok tersebut berasal dari Cipanas, Sukabumi, dan Bandung. Biasanya krisan cipanas memiliki harga dari pemasok (petani) yang lebih rendah, sehingga harga jual krisan cipanas pun lebih rendah dibandingkan krisan pt. Para pedagang individu juga lebih banyak yang menjual krisan cipanas dengan alasan harganya yang lebih rendah. Namun, memang kualitas dan daya tahan krisan cipanas tidak cukup lama. Walaupun demikian, ada juga beberapa pedagang florist yang juga menjual krisan cipanas. Jenis krisan yang kedua adalah krisan pt atau lebih sering disebut pedagang dengan krisan perusahaan. Krisan perusahaan ini merupakan krisan 43
7 dengan sumber pemasok berasal dari perusahaan-perusahaan bunga potong dan tanaman hias. Perusahaan tersebut berasal dari dua daerah, yaitu Cipanas dan Bandung. Terkadang ada pula beberapa perusahaan dari daerah lain yang memasok krisan Pt, seperti Sukabumi. Harga bunga krisan pt memang lebih mahal dibandingkan dengan krisan cipanas, hal tersebut karena kualitas daya tahannya yang lebih bagus dibandingkan dengan krisan cipanas. Krisan pt ini lebih banyak disediakan oleh para pedagang florist, karena para pedagang florist lebih mengutamakan kualitas dibandingkan harga. Namun, walaupun demikian harga bunga krisan pt yang ditawarkan pedagang florist memang mahal Perkembangan Harga Bunga Krisan di Pasar Bunga Rawabelong Perkembangan Harga Bunga Krisan Cipanas Perkembangan harga bunga krisan cenderung mengalami fluktuasi setiap tahunnya sehingga hal ini menyebabkan ketidakpastian atas harga yang diperoleh pihak-pihak terkait terutama petani dan pedagang. Berdasarkan plot data deret waktu harga bunga krisan cipanas, maka diperoleh plot data harga harian sebagai gambaran bagaimana fluktuasi dari harga bunga krisan cipanas. Plot data harga tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Rata-rata harga harian krisan cipanas di Pasar Bunga Rawabelong sebesar Rp Permintaan krisan cipanas memiliki jumlah permintaan yang lebih tinggi dibanding permintaan krisan pt. Rata-rata permintaan harian krisan cipanas sekitar 400 ikat setiap harinya. Rata-rata jumlah pasokannya pun cukup tinggi sekitar 700 ikat setiap harinya. Dengan kondisi rataan tersebut, para pedagang seharusnya dapat memenuhi permintaan konsumen. Namun, tidak setiap hari jumlah pasokan krisan cipanas lebih tinggi dibandingkan jumlah permintaanya. Sering terjadi kondisi permintaan yang tidak diduga yang menyebabkan permintaan krisan cipanas sangat tinggi sedangkan pasokan yang dimiliki pedagang tidak mencukupi atau sedang rendah. Berdasarkan analisis plot deret waktu, terlihat bahwa harga bunga krisan memiliki harga yang berfluktuatif. Hal tersebut dapat terlihat dari harga jual bunga krisan cipanas yang tertinggi sebesar Rp per ikat, namun harga jual bunga krisan cipanas juga dapat menurun hingga Rp Harga jual bunga 44
8 krisan cipanas tertinggi di tahun 2010 terjadi pada tanggal 7, 13, 20, 22, dan 23 Juli, dan hal tersebut terjadi lagi di tahun 2011 pada tanggal yang sama. Harga jual tertinggi dikedua tahun tersebut terjadi pada bulan dan tanggal yang sama. Hal tersebut dikarenakan bulan Juli merupakan bulan yang ramai dilakukannya pernikahan. Permintaan konsumen pada waktu-waktu tersebut mencapai 1000 ikat krisan cipanas, namun pasokan yang ada setiap harinya hanya sekitar 500 ikat. Permintaan yang sangat tinggi dengan jumlah pasokan yang rendah tersebut yang membuat pedagang menaikkan harga harga jualnya. Harga Tanggal Bulan 2011 Tahun Gambar 6. Plot Harga Bunga Krisan Cipanas Periode Januari Desember 2011 Sumber : Pasar Bunga Rawabelong 2012 Kondisi harga jual krisan cipanas terendah terjadi di tahun 2010 pada tanggal 17 Agustus yaitu sebesar Rp yang kemudian pada seminggu setelah tanggal 17 tersebut harga jual krisan cipanas stabil di harga Rp Begitu pula di tahun 2011, harga jual krisan cipanas terendah terjadi pada tanggal 16 Agustus, satu hari lebih cepat dari hari sebelumnya, namun pola yang sama terjadi yaitu harga jual krisan cipanas stabil di harga Rp pada seminggu setelah tanggal tersebut. Kondisi tersebut dikarenakan terjadinya jumlah permintaan yang rendah dari konsumen dimana menurut para pedagang bunga krisan, pada bulan Agustus konsumen jarang yang mengadakan kegiatan atau hajatan sehingga jumlah 45
9 permintaan hanya sekitar 50 hingga 200 ikat per hari. Sedangkan jumlah pasokan krisan cipanas cukup banyak yaitu 500 ikat setiap harinya Oleh karena jumlah permintaan yang sedikit, sedangkan pasokan krisan cipanas tinggi, maka para pedagang pun menaikkan harga jualnya Perkembangan Harga Bunga Krisan Pt Perkembangan harga bunga krisan jenis pt juga cenderung mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Namun, tingkat fluktuasi harga krisan pt cenderung lebih kecil dibandingkan dengan krisan cipanas. Hal tersebut dapat terlihat dari hasil analisis plot data deret waktu harga krisan pt Gambar 7. Rata-rata harga harian krisan pt di Pasar Bunga Rawabelong sebesar Rp Permintaan krisan pt memang memiliki jumlah permintaan yang lebih sedikit dibanding permintaan krisan cipanas. Secara umum, hal tersebut dikarenakan harga dari krisan pt yang lebih mahal dibanding krisan cipanas. Ratarata permintaan harian krisan pt hanya sekitar 90 ikat setiap harinya. Rata-rata jumlah pasokannya pun tidak setinggi permintaan krisan cipanas, yaitu sekitar 400 ikat setiap harinya. Meskipun jumlah permintaan dan pasokan krisan pt tidak setinggi krisan cipanas, namun dengan kondisi rataan dimana jumlah pasokan krisan cipanas lebih tinggi dibandingkan jumlah permintaannya, para pedagang seharusnya juga dapat memenuhi permintaan konsumen. Tetapi ternyata tidak setiap hari jumlah pasokan krisan pt lebih tinggi dibandingkan jumlah permintaanya. Sering terjadi kondisi permintaan yang tidak diduga yang menyebabkan permintaan krisan pt sangat tinggi sedangkan pasokan yang dimiliki pedagang tidak mencukupi atau sedang rendah. Berdasarkan analisis plot deret waktu, harga krisan pt juga memiliki harga yang berfluktuatif. Hal tersebut terlihat dari harga jual bunga krisan yang tertinggi sebesar Rp per ikat dan harga jual bunga krisan pt terendah sebesar Rp per ikat. Hal tersebut dikarenakan karena adanya ketidakseimbangan pasar antara permintaan dan penawaran di Pasar Bunga Rawabelong, serta jumlah pasokan bunga krisan yang masuk ke Pasar Bunga Rawabelong yang tidak pasti. Penjualan bunga krisan pt memiliki sifat yang cenderung musiman. Hal tersebut terlihat pada harga di dua tahun terakhir yaitu tahun 2010 dan 2011, dimana harga 46
10 jual tertinggi krisan pt selalu terjadi pada tanggal 9 dan 22 Juli, sedangkan harga jual terendah krisan pt selalu terjadi di tanggal 16 Agustus hingga 24 Agustus. Kondisi harga jual tertinggi dan terendah pada krisan pt juga dipengaruhi oleh kondisi permintaan dan penawaran krisan pt di Pasar Bunga Rawabelong. Harga jual tertinggi pada krisan pt yang terjadi di bulan Juli juga dipengaruhi oleh adanya kegiatan pernikahan. Kegiatan pernikahan yang ramai terjadi pada bulan Juli mempengaruhi meningkatnya permintaan krisan pt, yang berdampak pada meningkatnya harga jual krisan pt. Dan sebaliknya, harga jual terendah krisan pt terjadi karena pada bulan Agustus merupakan bulan yang sepi permintaan dimana pada bulan tersebut tidak banyak konsumen yang mengadakan perayaan. Sehingga permintaan krisan pt pun sedikit dan pedagang pun menurunkan harga jualnya agar bunga krisan laku terjual. Harga Tanggal Bulan 2011 Tahun Gambar 7. Plot Harga Bunga Krisan Pt Periode Januari 2010-Desember 2011 Sumber : Pasar Bunga Rawabelong
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu subsektor unggulan dalam sektor pertanian di Indonesia. Perkembangan hortikultura di Indonesia dapat dilihat dari perkembangan produksi
V. GAMBARAN UMUM 5.1 Pasar Bunga Wastukencana 5.2 Karakteristik Florist
V. GAMBARAN UMUM 5.1 Pasar Wastukencana Pasar Wastukencana (PBW) sudah berada lebih dari 60 tahun dalam memasarkan produk-produk bunga. Awalnya terdapat lebih dari 50-60 kios bunga (florist) yang berukuran
Usaha Merangkai Bunga
Usaha Merangkai Bunga Seorang anak muda baru turun dan mobil bermerk dan langsung ke toko bunga dan lalu membisikkan sesuatu kepada penjaga toko bunga. Penjaga toko mengambil sebuah bunga mawar cukup bagus
I. PENDAHULUAN. yang sangat beragam dan mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang mempunyai kekayaan hayati yang sangat beragam dan mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian dibidang pertanian. Sektor
Lapangan Usaha. Sumber : Badan Pusat Statistik (2012) 1
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor strategis yang memberikan kontribusi dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Indonesia
I. PENDAHULUAN. Tanaman hortikultura merupakan komoditas yang memiliki masa depan cerah. dalam pemulihan perekonomian Indonesia di waktu mendatang.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman hortikultura merupakan komoditas yang memiliki masa depan cerah dalam pemulihan perekonomian Indonesia di waktu mendatang. Salah satu tanaman hortikultura yang
I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Sebaran Struktur PDB Indonesia Menurut Lapangan Usahanya Tahun
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia terutama dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto). Distribusi PDB menurut sektor ekonomi atau
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 112 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 112 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu basis ekonomi kerakyatan di Indonesia.
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu basis ekonomi kerakyatan di Indonesia. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang selama ini masih diandalkan karena sektor pertanian
BAB I PENDAHULUAN. karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat, harga yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia maka semakin meningkat pula kebutuhan bahan makanan, termasuk bahan makanan yang berasal dari
V GAMBARAN UMUM PASAR INDUK KRAMAT JATI
V GAMBARAN UMUM PASAR INDUK KRAMAT JATI 5.1 Manajemen Pasar Induk Kramat Jati Pasar Induk Kramat Jati dengan dasar hukum menurut Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 3 tahun 2009 tanggal 28 Juli
I. PENDAHULUAN. akan tetapi juga berperan bagi pembangunan sektor agrowisata di Indonesia.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Usaha agribisnis tanaman hias saat ini sedang berkembang cukup pesat. Tanaman hias tidak hanya berperan dalam pembangunan sektor pertanian, akan tetapi juga
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 112 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 112 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sub sektor dalam sektor pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Indonesia memiliki
I. PENDAHULUAN. Tanaman hortikultura meliputi tanaman sayuran, buah-buahan, dan tanaman
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Tanaman hortikultura meliputi tanaman sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias (bunga). Sayuran merupakan salah satu bahan makanan yang dibutuhkan oleh tubuh,
TINJAUAN PUSTAKA. 4 Pengertian Manajemen Risiko [26 Juli 2011]
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumber-sumber Risiko Risiko dapat dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Risiko dapat terjadi pada pelayanan,
V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
45 V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 5.1 Sentra Penanaman Anggrek Dendrobium Bunga Potong di Indonesia Dendrobium merupakan salah satu genus dalam famili Orchidaceae yang dapat tumbuh di dataran rendah
I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Komoditas hortikultura merupakan komoditas potensial yang mempunyai nilai ekonomi dan permintaan pasar yang tinggi. Komoditas hortikultura dapat menjadi sumber pendapatan
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 Daftar Hasil Wawancara Informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah informan kunci (pemilik usaha) dan informan utama (karyawan). Wawancara terhadap
VII ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU DAN KERAGAAN PASAR
VII ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU DAN KERAGAAN PASAR 7.1. Analisis Struktur Pasar Struktur pasar nenas diketahui dengan melihat jumlah penjual dan pembeli, sifat produk, hambatan masuk dan keluar pasar,
BAB I PENDAHULUAN. Cabai merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Cabai merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia yang dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk tanpa memperhatikan tingkat sosial. Komoditas ini berprospek
HARGA SEMBAKO DAN PRODUKSI KEDELAI NASIONAL Kamis, 27 Agustus 2009
HARGA SEMBAKO DAN PRODUKSI KEDELAI NASIONAL Kamis, 27 Agustus 2009 Pangan merupakan kebutuhan dasar dari manusia dan merupakan kebutuhan pertama yang harus diprioritaskan pemenuhannya. Apabila harga pangan
BAB I PENDAHULUAN. Energi minyak bumi telah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi manusia saat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Energi minyak bumi telah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi manusia saat ini karena dapat menghasilkan berbagai macam bahan bakar, mulai dari bensin, minyak tanah,
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia yang merupakan negara agraris, memiliki wilayah yang luas untuk usaha pertanian. Selain diperuntukkan sebagai budidaya dan produksi komoditi pertanian serta perkebunan,
BAB I PENDAHULUAN. adalah tempat terjadinya transaksi jual beli yang dilakukan oleh penjual dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasar merupakan suatu tempat dimana penjual dan pembeli dapat bertemu untuk melakukan transaksi jual beli barang. Penjual menawarkan barang dagangannya dengan harapan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor Pertanian memegang peranan penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang berperan dalam pembentukan
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan bisnis bidang jasa saat ini menunjukkan peningkatan dan kemajuan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan bisnis bidang jasa saat ini menunjukkan peningkatan dan kemajuan yang sangat baik. Bisnis yang dahulu identik dengan produk barang yang nyata,
SALURAN DISTRIBUSI JAMUR TIRAM PUTIH DI P4S CIJULANG ASRI DALAM MENINGKATKAN KEUNTUNGAN. Annisa Mulyani 1 Sri Nofianti 2 RINGKASAN
SALURAN DISTRIBUSI JAMUR TIRAM PUTIH DI P4S CIJULANG ASRI DALAM MENINGKATKAN KEUNTUNGAN Annisa Mulyani 1 Sri Nofianti 2 RINGKASAN Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam memasarkan sebuah
Kondisi Eksisting Lokasi Budidaya Tanaman Hias Kelurahan Srengseng
Kondisi Eksisting Lokasi Budidaya Tanaman Hias Kelurahan Srengseng Land Mark Hutan Kota Srengseng Kantor Pemasaran Pedagang/Pembudidaya Embrio/jenis Tanaman i Kondisi Eksisting Lokasi Budidaya Tanaman
VI ANALISIS RISIKO HARGA
VI ANALISIS RISIKO HARGA 6.1 Analisis Risiko Harga Apel PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembudidayaan tanaman hortikultura
1 PENDAHULUAN. Tahun Manggis Pepaya Salak Nanas Mangga Jeruk Pisang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki sumber daya buah tropis yang melimpah yang bisa diandalkan sebagai kekuatan daya saing nasional secara global dan sangat menjanjikan. Buah tropis adalah
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data strategis Kabupaten Semarang tahun 2013, produk sayuran yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kabupaten Semarang memiliki potensi yang besar dari sektor pertanian untuk komoditas sayuran. Keadaan topografi daerah yang berbukit dan bergunung membuat Kabupaten
BAB I PENDAHULUAN. Mawar merupakan salah satu tanaman kebanggaan Indonesia dan sangat
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Mawar merupakan salah satu tanaman kebanggaan Indonesia dan sangat populer di mata dunia karena memiliki bunga yang cantik, indah dan menarik. Selain itu
II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN
7 II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Tinjauan Pustaka Bunga krisan dengan nama latin Chrysanthemum sp berasal dari dataran Cina. Bunga potong ini cukup populer dan menduduki
I. PENDAHULUAN. (b) Mewujudkan suatu keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara tradisional Indonesia adalah negara agraris yang banyak bergantung pada aktivitas dan hasil pertanian, dapat diartikan juga sebagai negara yang mengandalkan sektor
ANALISIS KELAYAKAN PENGUSAHAAN BUNGA POTONG KRISAN LOKA FARM KECAMATAN CISARUA KABUPATEN BOGOR. Afnita Widya Sari A
ANALISIS KELAYAKAN PENGUSAHAAN BUNGA POTONG KRISAN LOKA FARM KECAMATAN CISARUA KABUPATEN BOGOR Afnita Widya Sari A14105504 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN
II. TINJAUAN PUSTAKA Agribisnis Cabai Merah
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Agribisnis Cabai Merah Cabai merah (Capsicum annuum) merupakan tanaman hortikultura sayursayuran buah semusim untuk rempah-rempah, yang di perlukan oleh seluruh lapisan masyarakat
I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB.
I. PENDAHULUAN 1.1. Latarbelakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan perkembangan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan sektor pertanian adalah
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Potensi kepariwisataan di Indonesia sangat besar. Sebagai negara tropis dengan sumberdaya alam hayati terbesar ketiga di dunia, sangat wajar bila pemerintah Indonesia memberikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Indonesia sebagai negara beriklim tropis dengan wilayah geografi dataran tinggi dan dataran rendah yang didalamnya mencakup keragaman iklim, memiiki peluang yang besar
BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma
DAFTAR PERTANYAAN DAN JAWABAN WAWANCARA
Lampiran. DAFTAR PERTANYAAN DAN JAWABAN WAWANCARA Berikut ini adalah daftar pertanyaan dan hasil wawancara antara pihak peneliti dengan pihak internal perusahaan, pada: Hari, tanggal : Senin, 28 Agustus
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki potensi untuk mengusahakan dan mengembangkan berbagai
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki potensi untuk mengusahakan dan mengembangkan berbagai jenis tanaman hortikultura. Salah satu tanaman hortikultura
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masyarakat Ekonomi ASEAN yang telah diberlakukan pada akhir 2015 lalu tidak hanya menghadirkan peluang yang sangat luas untuk memperbesar cakupan bisnis bagi para pelaku dunia
I. PENDAHULUAN. peran yang sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional. Di sisi lain
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan produksi dan distribusi komoditi pertanian khususnya komoditi pertanian segar seperti sayur mayur, buah, ikan dan daging memiliki peran yang sangat strategis
I. PENDAHULUAN. Persentase Produk Domestik Bruto Pertanian (%) * 2009** Lapangan Usaha
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumber pertumbuhan ekonomi yang sangat potensial dalam pembangunan sektor pertanian adalah hortikultura. Seperti yang tersaji pada Tabel 1, dimana hortikultura yang termasuk
WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 51 TAHUN 2014 TENTANG
WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 51 TAHUN 2014 TENTANG TARIF PEMANFAATAN FASILITAS DI PUSAT PERBELANJAAN BERINGHARJO PADA DINAS PENGELOLAAN PASAR
PENERAPAN SISTEM GRADING PADA TANAMAN BUNGA MAWAR DI LIEBE DESA CIHIDEUNG KECAMATAN PARONGPONG KABUPATEN BANDUNG BARAT
PENERAPAN SISTEM GRADING PADA TANAMAN BUNGA MAWAR DI LIEBE DESA CIHIDEUNG KECAMATAN PARONGPONG KABUPATEN BANDUNG BARAT Medi Mera Jingga 1 Hasan Ibrahim 2 ABSTRAK Perusahaan Liebe adalah perusahaan yang
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman hias mempunyai peran sangat penting dalam perdagangan komoditas pertanian dan akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Menurut Sari (2008), komoditas agribisnis
Laporan Kinerja Direktorat Budidaya dan Pascapanen Florikultura T.A 2015
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tanaman florikultura merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi, bahkan memberikan kontribusi yang besar dalam perdagangan dunia sekitar US $ 125 milyar. Beberapa
I. PENDAHULUAN. Sumber: Badan Pusat Statistik (2009)
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang memiliki peranan penting bagi perekonomian Negara Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia menggantungkan kehidupan mereka pada sektor
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Subsektor hortikultura merupakan salah satu subsektor pertanian yang memberikan kontribusi strategis dalam menyumbang nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan berperan
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN Tinjauan Pustaka Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Florist
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Florist Florist adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan perdagangan bunga profesional. Meliputi perawatan bunga dan penanganan, desain bunga atau merangkai bunga,
gizi mayarakat sebagai sumber vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat. Produksi hortikultura yaitu sayuran dan buah-buahan menyumbang pertumbuhan
PENDAHULUAN Latar belakang Tanaman hortikultura merupakan salah satu tanaman yang menunjang pemenuhan gizi mayarakat sebagai sumber vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat. Produksi hortikultura yaitu
DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN KOPERASI UMKM DAN PENANAMAN MODAL KABUPATEN KAIMANA PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2016
PROPOSAL PEMBANGUNAN PASAR RAKYAT AIR TIBA II DISTRIK KAIMANA KABUPATEN KAIMANA MELALUI DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) SUB BIDANG SARANA PERDAGANGAN TAHUN ANGGARAN 2017 DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN KOPERASI
V. GAMBARAN UMUM PT. FLORIBUNDA
V. GAMBARAN UMUM PT. FLORIBUNDA 5.1 Sejarah Perkembangan PT. Floribunda Semula PT. Floribunda merupakan sebuah rumah peristirahatan bagi pemiliknya, Reane Tambayong pada tahun 1984. Lokasi PT. Floribunda
BERITA DAERAH KOTA BEKASI
BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 13 2012 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Komoditas hortikultura merupakan komoditas yang sangat penting dan strategis karena jenis komoditas ini merupakan kebutuhan pokok manusia yang hakiki, yang setiap
PENDAHULUAN. budaya masyarakat sudah mulai bergeser dan beralih ke pasar modern ritel
PENDAHULUAN Latar Belakang Pasar tradisional merupakan ciri bagi negara berkembang dengan tingkat pendapatan dan perekonomian masyarakat yang relatif rendah sehingga lebih sering berbelanja ke pasar tradisional.
BUPATI MADIUN BUPATI MADIUN,
BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN DI KABUPATEN MADIUN BUPATI MADIUN, Menimbang : a.
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Promosi dan Pemasaran Holtikultura
BAB I PENDAHULUAN. adalah jamur konsumsi (edible mushroom). Jamur konsumsi saat ini menjadi salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu komoditas sayuran yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah jamur konsumsi (edible mushroom). Jamur konsumsi saat ini menjadi salah satu sayuran yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pasar memegang peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pasar memegang peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat Indonesia selain sebagai muara dari produk-produk rakyat, pasar juga berfungsi sebagai tempat
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
digilib.uns.ac.id I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkebunan sebagai bagian dari sektor pertanian memiliki peranan yang cukup besar pada perekonomian negara Indonesia. Salah satu andalan perkebunan Indonesia
VII. PROSES KEPUTUSAN KONSUMEN BERKUNJUNG KE OBJEK WISATA AGRO GUNUNG MAS
VII. PROSES KEPUTUSAN KONSUMEN BERKUNJUNG KE OBJEK WISATA AGRO GUNUNG MAS Keputusan pengunjung untuk melakukan pembelian jasa dilakukan dengan mempertimbangkan terlebih dahulu kemudian memutuskan untuk
HASIL DAN PEMBAHASAN
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Sistem dan Pola Saluran Pemasaran Bawang Merah Pola saluran pemasaran bawang merah di Kelurahan Brebes terbentuk dari beberapa komponen lembaga pemasaran, yaitu pedagang pengumpul,
III KERANGKA PEMIKIRAN
III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Pengertian dan Pola Kemitraan Usaha Kemitraan usaha adalah jalinan kerjasama usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha
ANALISIS RISIKO PRODUKSI DAUN POTONG Di PT PESONA DAUN MAS ASRI, CIAWI KABUPATEN BOGOR, JAWABARAT
ANALISIS RISIKO PRODUKSI DAUN POTONG Di PT PESONA DAUN MAS ASRI, CIAWI KABUPATEN BOGOR, JAWABARAT SKRIPSI NUR AMALIA SAFITRI H 34066094 PROGRAM SARJANA PENYELENGGARAAN KHUSUS DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS
BAB IV. RENCANA OPERASIONAL. 3V Moslem Style menjual busana muslim wanita yang berlokasi di pasar
BAB IV. RENCANA OPERASIONAL 4.1 Rencana Operasional 3V Moslem Style menjual busana muslim wanita yang berlokasi di pasar Grosir Tanah Abang Blok B Lantai SLG Los A no. 48-49 Tanah Abang, Jakarta Pusat.
BAB I PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia dan salah satu sumber pendapatan bagi para petani. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era sekarang ini masyarakat semakin sadar akan keindahan. Hal ini dapat kita lihat dari setiap acara yang diadakan oleh masyarakat seperti ulang tahun, pernikahan,
Peraturan...
- 1 - BUPATI BOGOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOGOR,
BUSINESS PLAN RUMAH PRODUKSI KEPITING SOKA
BUSINESS PLAN RUMAH PRODUKSI KEPITING SOKA PIU KABUPATEN KUBU RAYA TAHUN 2014 BUSINESS PLAN INFRASTRUKTUR KOMPONEN 2 RUMAH PRODUKSI KEPITING SOKA A. LATAR BELAKANG Business Plan (Rencana Bisnis) adalah
V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi 5.2. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Tani dan Status Penguasaan Lahan di Kelurahan Situmekar
V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49 29 Lintang Selatan dan
BAB I PENDAHULUAN. besar dari pemerintah dikarenakan peranannya yang sangat penting dalam rangka
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang mendapatkan perhatian cukup besar dari pemerintah dikarenakan peranannya yang sangat penting dalam rangka pembangunan ekonomi
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai iklim tropis, berpeluang besar bagi pengembangan budidaya tanaman buah-buahan, terutama buah-buahan tropika.
PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG
67 VI. PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG Harga komoditas pertanian pada umumnya sangat mudah berubah karena perubahan penawaran dan permintaan dari waktu ke waktu. Demikian pula yang terjadi pada
PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 115 TAHUN 2017 TENTANG TARIF PEMANFAATAN FASILITAS DI PUSAT PERBELANJAAN BERINGHARJO
PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 115 TAHUN 2017 TENTANG TARIF PEMANFAATAN FASILITAS DI PUSAT PERBELANJAAN BERINGHARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang : a. bahwa seiring
terealisasi sebesar Rp atau 97,36%. Adapun program dan alokasi anggaran dapat dilihat pada tabel berikut :
7. URUSAN PERDAGANGAN Urusan perdagangan merupakan salah satu pembangunan ekonomi yang mempunyai peran strategis, terutama dalam mendukung kelancaran penyaluran arus barang dan jasa, memenuhi kebutuhan
BAB V PEMBAHASAN A. Analisa Data Sekunder B. Analisis Data Primer dan Pembahasan
BAB V PEMBAHASAN A. Analisa Data Sekunder Dari interview yang dilakukan pada beberapa hari sebelum survei pada tanggal 14-17 April 2016 di Empire XXI Yogyakarta yang dilakukan oleh peneliti pihak Empire
PEMBENTUKAN HARGA CABAI MERAH KERITING
PEMBENTUKAN HARGA CABAI MERAH KERITING (Capsicum annum L) DENGAN ANALISIS HARGA KOMODITAS DI SENTRA PRODUKSI DAN PASAR INDUK (Suatu Kasus pada Sentra produksi Cabai Merah Keriting di Kecamatan Cikajang,
Pertanian dan Kehutanan yang Maju serta Berkelanjutan, yang selanjutnya
UPAYA PENGEMBANGAN PEMASARAN PRODUK HORTIKULTURA DI KABUPATEN BOGOR Ir. Siti Nurianty, MM Kadistanhut Kab.Bogor Dalam rangka mencapai visi dan misi Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor dalam RPJMD
III KERANGKA PEMIKIRAN
III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Kerangkan pemikiran konseptual dalam penelitian ini terbagi menjadi empat bagian, yaitu konsep kemitraan, pola kemitraan agribisnis, pengaruh penerapan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bunga potong dapat diartikan sebagai bunga yang dipotong dari tanamannya dengan tujuan sebagai penghias ruangan atau karangan bunga. Menurut Widyawan dan Prahastuti
BAB I PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang diakibatkan krisis moneter serta bencana alam yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Krisis ekonomi yang diakibatkan krisis moneter serta bencana alam yang terus menerus telah ikut mempengaruhi perekonomian Indonesia baik secara makro maupun
I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Tanaman hortikultura merupakan salah satu tanaman yang menunjang pemenuhan gizi masyarakat sebagai sumber vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat (Sugiarti, 2003).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang dikaruniai potensi alam yang sangat indah dan sangat memukau. Kesuburan tanahnya, keragaman flora dan faunanya, bahkan hingga
BAB I PENDAHUALAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kemajuan dibidang perekonomian selama ini telah banyak
1 BAB I PENDAHUALAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan dibidang perekonomian selama ini telah banyak membawa akibat perkembangan yang pesat dalam bidang usaha. Sejalan dengan itu banyak bermunculan perusahaan
LAMPIRAN 1 DAFTAR TABEL
LAMPIRAN 77 78 LAMPIRAN 1 DAFTAR TABEL Tabel 1. Analisis ekonomi sampel 1 Jenis Produk Kuantitas Harga / potong Tahu 1. Mentah (4 kotak) 6600 potong Rp. 1000 2. Goreng Bahan (8 kotak) Baku Kuantitas 26400
BAB I PENDAHULUAN. transaksi penjualan tiap gerai senilai Rp ,00 per hari, maka perputaran
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pujasera adalah sebuah tempat makan yang terdiri dari gerai-gerai (counters) makanan yang menawarkan aneka menu makanan dan minuman yang variatif. Pujasera Enam Belas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki pasar baik pasar tradisional maupun pasar modern. Berbagai jenis pasar di Indonesia diantaranya pasar
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BPS. 2012
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dibutuhkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2008) 1 komoditi
I. PENDAHULUAN. potensi besar dalam pengembangan di sektor pertanian. Sektor pertanian di
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dengan ribuan pulau yang mempunyai potensi besar dalam pengembangan di sektor pertanian. Sektor pertanian di Indonesia telah memberikan
ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BUNGA MAWAR POTONG DI DESA KERTAWANGI, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BANDUNG BARAT. Abstrak
DI DESA KERTAWANGI, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BANDUNG BARAT Armenia Ridhawardani 1, Pandi Pardian 2 *, Gema Wibawa Mukti 2 1 Alumni Prodi Agribisnis Universitas Padjadjaran 2 Dosen Dept. Sosial Ekonomi
