DAFTAR ISI KONSILI VATIKAN II : SIDANG III (4 Desember 1965) KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM TENTANG LITURGI SUCI PENDAHULUAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DAFTAR ISI KONSILI VATIKAN II : SIDANG III (4 Desember 1965) KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM TENTANG LITURGI SUCI PENDAHULUAN"

Transkripsi

1 DAFTAR ISI KONSILI VATIKAN II : SIDANG III (4 Desember 1965) KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM TENTANG LITURGI SUCI PENDAHULUAN BAB I : ASAS-ASAS UMUM UNTUK MEMBAHARUI DAN MENGEMBANGKAN LITURGI I. Hakekat dan Makna Liturgi Suci Dalam Kehidupan Gereja 5. Karya keselamatan dilaksanakan oleh Kristus 6. Karya keselamatan, yang dilestarikan oleh Gereja, terlaksana dalam liturgi 7. Kehadiran Kristus dalam Liturgi 8. Liturgi di dunia ini dan Liturgi di sorga 9. Liturgi bukan satu-satunya kegiatan Gereja 10. Liturgi puncak dan sumber kehidupan Gereja 11. Perlunya persiapan pribadi Liturgi dan ulah kesalehan II. Pendidikan Liturgi dan Keikut-sertaan aktif 14. Pendahuluan 15. Pembinaan para dosen Liturgi Pendidikan Liturgi kaum Rohaniwan 19. Pembinaan Liturgis kaum beriman 20. Sarana-sarana audio-visual dan perayaan Liturgi III. Pembaharuan Liturgi 21. Pendahuluan A. Kaidah-kaidah umum 22. Pengaturan Liturgi 23. Tradisi dan perkembangan 24. Kitab suci dan Liturgi 25. Peninjauan kembali buku-buku Liturgi B. Kaidah-kaidah berdasarkan hakekat Liturgi sebagai tindakan Hirarki dan jemaat 26. Liturgi sebagai perayaan Gereja 27. Perayaan bersama Martabat perayaan Keikut-sertaan aktif umat beriman 32. Liturgi dan kelompok-kelompok sosial C. Kaidah-kaidah berdasarkan sifat pembinaan dan pastoral Liturgi 33. Pendahuluan 34. Keserasian upacara-upacara 35. Kitab suci, pewartaan dan katekese dalam Liturgi 36. Bahasa Liturgi D. Kaidah-kaidah untuk menyesuaikan Liturgi dengan tabiat perangai dan tradisi bangsa-bangsa 37. Gereja memelihara kekayaan bangsa-bangsa 38. Penyesuaian dan tuntutan masa dan tempat 39. Batas-batas penyesuaian 40. Penyesuaian Liturgi, terutama di daerah misi IV. Pembinaan kehidupan Liturgi dalam keuskupan dan paroki 41. Kehidupan Liturgi dalam keuskupan

2 42. Kehidupan Liturgi dalam paroki V. Pengembangan pastoral Liturgi 43. Pembaharuan Liturgi, rahmat Roh Kudus 44. Komisi Liturgi nasional 45. Komisi Liturgi keuskupan 46. Komisi-komisi musik dan kesenian Liturgi BAB II : MISTERI EKARISTI SUCI 47. Ekaristi suci dan misteri Paska Keikut-sertaan aktif kaum beriman 50. Peninjauan kembali Tata Perayaan Ekaristi 51. Supaya Ekaristi diperkaya dengan sabda Kitab suci 52. Homili 53. Doa umat 54. Bahasa Latin dan bahasa pribumi dalam perayaan Ekaristi 55. Komuni suci, puncak keikut-sertaan dalam Misa suci, Komuni dua rupa 56. Kesatuan Misa Konselebrasi BAB III : SAKRAMEN-SAKRAMEN LAINNYA DAN SAKRAMENTALI 59. Hakekat sakramen 60. Sakramentali 61. Nilai pastoral Liturgi, hubungannya dengan misteri Paska 62. Perlunya meninjau kembali upacara Sakramen-Sakramen 63. Bahasa; rituale Romawi dan rituale khusus 64. Katekumenat 65. Inkulturasi inisiasi 66. Peninjauan kembali upacara babtis 67. Peninjauan kembali upacara pembabtisan kanak-kanak 68. Upacara pembabtisan yang singkat 69. Upacara pelengkap 70. Pemberkatan air babtis 71. Peninjauan kembali Sakramen Krisma 72. Peninjauan kembali upacara tobat 73. Peninjauan kembali upacara Pengurapan Orang Sakit 74. Upacara berkesinambungan untuk orang sakit 75. Upacara pengurapan Orang Sakit 76. Peninjauan kembali Sakramen Tahbisan 77. Peninjauan kembali Sakramen Perkawinan 78. Perayaan perkawinan 79. Peninjauan kembali sakramentali 80. Pengikraran kaul religius 81. Peninjauan kembali upacara pemakaman 82. Upacara penguburan anak-anak BAB IV : IBADAT HARIAN Ibadat harian, karya Kristus dan Gereja Nilai pastoral Ibadat Harian Peninjauan kembali pembagian waktu Ibadat menurut tradisi 90. Ibadat harian, sumber kesalehan 91. Pembagian mazmur-mazmur 92. Penyusunan bacaan-bacaan 93. Peninjauan kembali madah-madah 94. Saat mendoakan Ibadat Harian Kewajiban mendoakan Ibadat harian

3 98. Pujian kepada Allah dalam tarekat-tarekat religius 99. Ibadat Harian bersama 100. Keikut-sertaan umat beriman 101. Bahasa BAB V : TAHUN LITURGI Makna tahun Liturgi 106. Makna hari Minggu ditekankan lagi Peninajauan kembali tahun Liturgi Masa Prapaska 111. Pesta para kudus BAB VI : MUSIK LITURGI 112. Matabat musik Liturgi 113. Liturgi meriah 114. Umat beriman diharapkan berperan serta 115. Pendidikan musik 116. Nyanyian Gregorian dan Polifoni 117. Penerbitan buku-buku nyanyian Gregorian 118. Nyanyian rohani umat 119. Musik Liturgi di daerah-daerah Misi 120. Orgel dan alat-alat musik lainnya 121. Panggilan para pengarang musik BAB VII : KESENIAN RELIGIUS DAN PERLENGKAPAN IBADAT 122. Martabat kesenian religius 123. Corak-corak artistik 124. Karya-karya seni yang menyinggung cita rasa keagamaan 125. Gambar-gambar dan patung-patung 126. Panitia keuskupan untuk Kesenian Liturgi 127. Pembinaan para seniman 128. Peninjauan kembali peraturan tentang kesenian ibadat 129. Pembinaan kesenian bagi kaum rohaniwan 130. Penggunaan lambang-lambang jabatan Uskup LAMPIRAN : Pernyataan Konsili Ekumenis Vatikan II tentang Peninjauan Kembali Penanggalan Liturgi DEKRIT INTER MIRIFICA TENTANG UPAYA-UPAYA KOMUNIKASI SOSIAL PENDAHULUAN 1. Makna suatu ungkapan 2. Mengapa Konsili membahas masalah komunikasi sosial BAB I: AJARAN GEREJA 3. Tugas-kewajiban Gereja 4. Hukum moral 5. Hak dan informasi 6. Kesenian dan moral 7. Pemberitaan kejahatan moral 8. Pendapat umum 9. Kewajiban-kewajiban para pemakai media komunikasi sosial

4 10. Kewajiban-kewajiban kaum muda dan para orang tua 11. Kewajiban-kewajiban para penyelenggara 12. Kewajiban-kewajiban pemerintah BAB II: KEGIATAN PASTORAL GEREJA 13. Kegiatan para gembala dan umat beriman 14. Prakarsa-prakarsa umat katolik 15. Pembinaan para produsen 16. Pembinaan para pemakai jasa 17. Upaya-upaya teknis dan ekonomis 18. Sekali setahun : hari komunikasi nasional 19. Sekretariat pada Takhta suci 20. Wewenang para Uskup 21. Biro Nasional 22. Organisasi-organisasi internasional PENUTUP 23. Instruksi pastoral 24. Anjuran akhir S I D A N G V (21 November 1964) KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM TENTANG GEREJA BAB I: MISTERI GEREJA 1. Pendahuluan 2. Rencana Bapa yang bermaksud menyelamatkan semua orang 3. Perutusan Putera 3. Roh Kudus yang menguduskan Gereja 4. Kerajaan Allah 5. Aneka gambaran Gereja 6. Gereja, Tubuh mistik Kristus 7. Gereja yang kelihatan dan sekaligus rohani BAB II: UMAT ALLAH 9. Perjanjian Baru dan Umat Baru 10. Imamat umum 11. Pelaksanaan imamat umum dalam Sakramen-Sakramen 12. Perasaan iman dan karisma-karisma umat kristiani 13. Sifat umum dan katolik Umat Allah yang Satu 14. Umat beriman katolik 15. Hubungan Gereja dengan orang kristen bukan katolik 16. Umat bukan kristen 17. Sifat misioner Gereja BAB III: SUSUNAN HIRARKIS GEREJA, KHUSUSNYA EPISKOPAT 18. Pendahuluan 19. Dewan para Rasul didirikan oleh Kristus 20. Para Uskup pengganti para Rasul 21. Sakramentalitas episkopat 22. Dewan para Uskup dan Ketuanya 23. Uskup setempat dan Gereja universal 24. Tugas para Uskup pada umumnya 25. Tugas mengajar

5 26. Tugas menguduskan 27. Tugas menggembalakan 28. Para imam biasa 29. Para diakon BAB IV: PARA AWAM 30. Prakata 31. Apa yang dimaksud dengan istilah awam 32. Martabat kaum awam sebagai anggota umat Allah 33. Hidup kaum awam berhubungan dengan keselamatan dan kerasulan 34. Keikut-sertaan kaum awam dalam imamat umum dan ibadat 35. Keikut-sertaan kaum awam dalam tugas kenabian Kristus 36. Keikut-sertaan kaum awam dalam pengabdian rajawi Kristus 37. Hubungan kaum awam dengan Hirarki 38. Penutup BAB V : PANGGILAN UMUM UNTUK KESUCIAN DALAM GEREJA 39. Prakata 40. Panggilan umum untuk kesucian 41. Bentuk pelaksanaan kesucian 42. Jalan dan upaya kesucian BAB VI : PARA RELIGIUS 43. Pengikraran nasehat-nasehat Injil dalam Gereja 44. Makna dan arti hidup religius 45. Hubungan para religius dengan Hirarki 46. Penghargaan terhadap hidup religius 47. Penutup BAB VII : SIFAT ESKATOLOGIS GEREJA MUSAFIR DAN PERSATUANNYA DENGAN GEREJA DI SORGA 48. Pendahuluan 49. Persekutuan antara Gereja di sorga dan Gereja di dunia 50. Hubungan antara Gereja didunia dan Gereja di sorga 51. Beberapa pedoman pastoral BAB VIII : SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH DALAM MISTERI KRISTUS DAN GEREJA I. Pendahuluan 52. Santa Perawan dalam misteri Kristus 53. Santa Perawan dan Gereja 54. Maksud Konsili II. Peran Santa Perawan dalam tata keselamatan 55. Bunda Almasih dalam Perjanjian Lama 56. Maria menerima warta gembira 57. Santa Perawan dan kanak-kanak Yesus 58. Santa Perawan dan hidup Yesus dimuka umum 59. Santa Perawan sesudah Yesus naik ke sorga III. Santa Perawan dan Gereja Maria hamba Tuhan Maria pola Gereja 65. Keutamaan-keutamaan Maria, pola bagi Gereja

6 IV. Kebaktian kepada Santa Perawan dalam Gereja 66. Makna dan dasar bakti kepada Santa Perawan 67. Semangat mewartakan sabda dan kebaktian kepada Santa Perawan V. Maria, tanda harapan yang pasti dan penghiburan bagi umat Allah PENGUMUMAN OLEH SEKRETARIS JENDRAL KONSILI 1. Kadar teologis Konstitusi De Ecclesia 2. Arti kolegialitas CATATAN PENJELASAN PENDAHULUAN DEKRIT ORIENTALIUM ECCLESIARUM TENTANG GEREJA-GEREJA KATOLIK 1. Pendahuluan Gereja-gereja khusus atau ritus-ritus 2. Kemacam-ragaman dalam persekutuan Gereja katolik 3. Kesamaan martabat, hak-hak dan kewajiban-kewajiban 4. Kelestarian Ritus-Ritus dalam suatu persekutuan Melestarikan pusaka rohani Gereja-Gereja Timur 5. Hak serta kewajiban Gereja-Gereja untuk melestarikan tata-laksana masing-masing 6. Melestarikan upacara-upacara Liturgis Ritus Timur Para Patriark Timur 7. Siapa Patriark Timur itu? 8. Semua Patriark sederajat martabatnya 9. Wewenang Patriark dan sinode 10. Uskup Agung Utama 11. Didirikan patriarkat-patriarkat baru sejauh perlu Tata-laksana Sakramen-Sakramen 12. Konsili mengukuhkan tata-laksana Sakramen-Sakramen 13. Pelayanan Sakramen Krisma 14. Penerimaan Sakramen Krisma 15. Ekaristi suci 16. Pelayanan Sakramen Tobat 17. Diakonat dan tahbian-tahbisan tingkat rendah 18. Pernikahan campur Liturgi 19. Hari-hari raya 20. Hari raya Paska 21. Penyesuaian diri dengan Ritus setempat

7 22. Pujian Ilahi (ibadat harian) 23. Penggunaan bahasa daerah Pergaulan dengan para anggota Gereja-Gereja yang terpisah 24. Memelihara persekutuan menurut Dekrit tentang Ekumenisme 25. Syarat untuk kesatuan; kewenangan menjalankan kuasa Tahbisan Communicatio in sacris 29. Bimbingan para Hirark setempat 30. Penutup DEKRIT UNITATIS REDINTEGRATIO TENTANG EKUMENISME PENDAHULUAN BAB I : PRINSIP-PRINSIP KATOLIK UNTUK EKUMENISME. 2. Gereja yang satu dan tunggal 3. Hubungan antara saudara-saudari yang terpisah dan Gereja katolik 4. Ekumenisme BAB II : PELAKSANAAN EKUMENISME 5. Ekumenisme : tanggung jawab segenap umat beriman 6. Pembaharuan Gereja 7. Pertobatan hati 8. Doa bersama 9. Saling mengenal sebagai saudara 10. Pembinaan ekumenis 11. Cara mengungkapkan dan menguraikan ajaran iman 12. Kerja sama dengan saudara-saudari yang terpisah BAB II : GEREJA-GEREJA DAN JEMAAT GEREJAWI YANG TERPISAHKAN DARI TAKHTA APOSTOLIK DI ROMA 13. Pendahuluan I. Tinjauan khusus tentang Gereja-Gereja Timur 14. Semangat dan sejarah Gereja-Gereja Timur 15. Tradisi Liturgi dan hidup rohani dalam Gereja-Gereja Timur 16. Ciri khas Gereja-Gereja Timur berkenaan dengan soal-soal ajaran 17. Penutup II. Gereja-Gereja dan jemaat-jemaat gerejawi yang terpisah di dunia Barat 19. Situasi khusus Gereja-Gereja dan jemaat-jemaat 20. Iman akan Kristus 21. Pendalaman Kitab suci 22. Hidup sakramental 23. Kehidupan dalam Kristus 24. Penutup

8 S I D A N G VII ( 28 Oktober 1965) DEKRIT CHRISTUS DOMINUS TENTANG TUGAS PASTORAL PARA USKUP DALAM GEREJA PENDAHULUAN BAB I : PARA USKUP DAN GEREJA SEMESTA I. Peranan para Uskup terhadap Gereja semesta 4. Pelaksanaan kekuasaan oleh Dewan para Uskup 5. Majelis atau sinode para Uskup 6. Para Uskup ikut serta memperhatikan semua Gereja-Gereja 7. Cinta kasih yang nyata terhadap para Uskup yang dianiaya II. Para Uskup dan Takhta suci 8. Kuasa para Uskup dalam keuskupan mereka sendiri 9. Konggregasi-konggregasi dalam Kuria Romawi 10. Para anggota dan para pejabat konggregasi-konggregasi BAB II : PARA USKUP DAN GEREJA-GEREJA KHUSUS ATAU KEUSKUPAN- KEUSKUPAN I. Para Uskup diosesan 11. Faham diosis atau keuskupan, dan peranan para Uskup dalam keuskupan mereka 12. Tugas mengajar 13. Cara menyajikan ajaran Kristen 14. Pendidikan kateketis 15. Tugas para Uskup untuk menguduskan 16. Tugas penggembalaan Uskup 17. Bentuk-bentuk khusus kerasulan 18. Keprihatinan khusus terhadap kelompok-kelompok umat tertentu 19. Kebebasan para Uskup, hubungan mereka dengan Pemerintah 20. Kebebasan dalam pengangkatan para Uskup 21. Pengunduran diri Uskup dari jabatannya II. Penentuan batas-batas keuskupan 22. Perlunya meninjau kemabali batas-batas keuskupan 23. Peraturan-peraturan yang harus dipatuhi 24. Diperlukan pendapat Konferensi Uskup III. Para rekan sekerja Uskup diosesan dalam reksa pastoral 1. Para Uskup Koajutor dan Auksilier 25. Peraturan-peraturan untuk mengangkat Uskup koajutor dan Auksilier 26. Wewenang Uskup Auksilier dan Koajutor 2. Kuria dan Panitia-Panitia Keuskupan 27. Organisasi Kuria Keuskupan dan pembentukan Panitia Pastoral 3. Klerus Diosesan 28. Para imam disesan 29. Para imam yang menjalankan karya antar paroki 30. Para pastor paroki

9 31. Penunjukan, pemindahan, pemberhentian dan pengunduran diri pastor paroki 32. Pembubaran dan pengubahan paroki 4. Para Religius 33. Para religius dan karya-karya kerasulan 34. Para religius rekan sekerja Uskup dalam karya kerasulan 35. Asas-asas kerasulan para religius dalam keuskupan BAB III : KERJASAMA PARA USKUP DEMI KESEJAHTERAAN UMUM BERBAGAI GEREJA I. Sinode, Konsili, dan Khususnya Konferensi Uskup 36. Sinode dan Konsili khusus 37. Pentingnya Konferensi Uskup 38. Hakekat, wewenang dan kerjasama Konferensi-Konferensi II. Penentuan batas-batas Provinsi-Provinsi gerejawi dan penetapan kawasan-kawasan gerejawi 39. Prinsip untuki meninjau kembali batas-batas yang telah ditetapkan 40. Beberapa pedoman yang harus yang harus dipatuhi 41. Perlu dimintakan pandangan Konferensi-Konferensi Uskup III. Para Uskup yang menjalankan tugas antar keuskupan 42. Pembentukan biro-biro khusus dan kerjasama dengan para Uskup 43. Vikariat Angkatan Bersenjata 44. KETETAPAN UMUM DEKRIT PERFECTAE CARITATIS TENTANG PEMBAHARUAN DAN PENYESUAIAN HIDUP RELIGIUS 1. Pendahuluan 2. Asas-asas umum untuk mengadakan pembaharuan yang sesuai 3. Norma-norma praktis pembaharuan yang disesuaikan 4. Mereka yang harus melaksanakan pembaharuan 5. Unsur-unsur yang umum pada pelbagai bentuk hidup religius 6. Hidup rohani harus diutamakan 7. Tarekat-tarekat yang seutuhnya terarah kepada kontemplasi 8. Tarekat-tarekat yang bertujuan kerasulan 9. Kelestarian hidup monastik konventual 10. Hidup religius kaum awam 11. Serikat-serikat sekular 12. Kemurnian 13. Kemiskinan 14. Ketaatan 15. Hidup bersama 16. Pingitan / klausura para rubiah 17. Busana religius 18. Pembinaan para anggota 19. Pendirian tarekat-tarekat baru 20. Bagaimana melestarikan, menyesuaiakan atau meninggalkan karya khusus tarekat

10 21. Tarekat-tarekat dan biara-biara yang mengalami kemerosotan 22. Perserikatan antara tarekat-tarekat religius 23. Konferensi para Pemimpin tinggi 24. Panggilan religius 25. Penutup DEKRIT OPTATAM TOTIUS TENTANG PEMBINAAN IMAN PENDAHULUAN 1. I. Penyusunan metode pembinaan imam disetiap negara II. Pengembangan panggilan imam secara lebih intensif III. Tata-laksana Seminari-seminari tinggi 4. Seluruh pembinaan harus berhubungan erat dengan tujuan pastoral 5. Para pembimbing seminari hendaknya dipilih dengan saksama dan dibina secara efektif 6. Penyaringan dan pengujian para seminaris 7. Seminari hendaknya diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan para seminaris IV. Pembinaan rohani yang lebih intensif 8. Belajar hidup dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal 9. Belajar membaktikan diri dalam Gereja 10. Belajar menghayati selibat imam 11. Menuju kedewasaan kepribadian 12. Waktu untuk pembinaan rohani yang lebih intensif; masa pembinaan pastoral V. Peninjauan kembali studi gerejawi 13. Studi persiapan untuk studi gerejawi 14. Studi gerejawi hendaknya lebih diserasikan 15. Peninjauan kembali studi filsafat 16. Peningkatan studi teologi 17. Metode pendidikan yang cocok dalam pelbagai vak 18. Studi khusus bagi mereka yang berbakat tinggi VI. Pembinaan pastoral 19. Pembinaan dalam pelbagai bentuk reksa pastoral 20. Pembinaan untuk pengembangan kerasulan 21. Melatih diri melalui praktek pastoral 22. VII. Pembinaan seusai studi PENUTUP

11 PERNYATAAN GRAVISSIMUM EDUCATIONIS TENTANG PENDIDIKAN KRISTEN Pendahuluan 1. Hak semua orang atas pendidikan 2. Pendidikan kristen 3. Mereka yang bertanggung jawab atas pendidikan 4. Aneka upaya untuk melayani pendidikan kristen 5. Pentingnya sekolah 6. Kewajiban dan hak-hak orang tua 7. Pendidikan moral dan keagamaan disekolah 8. Sekolah-sekolah katolik 9. Berbagai macam sekolah katolik 10. Fakultas dan universitas katolik 11. Fakultas teologi 12. Koordinasi di bidang persekolahan Penutup PERNYATAAN NOSTRA AETATE TENTANG HUBUNGAN GEREJA DENGAN AGAMA-AGAMA BUKAN KRISTEN 1. Pendahuluan 2. Berbagai agama bukan kristen 3. Agama Islam 4. Agama Yahudi 5. Persaudaraan semesta tanpa diskriminasi S I D A N G VIII (18 November 1965) KONSTITUSI DOGMATIS DEI VERBUM TENTANG WAHYU ILAHI PENDAHULUAN BAB I : TENTANG WAHYU SENDIRI 2. Hakekat wahyu 3. Persiapan wahyu Injili 4. Kristus kepenuhan wahyu 5. Menerima wahyu dalam iman 6. Kebenaran-kebenaran yang diwahyukan BAB II : MENERUSKAN WAHYU ILAHI 7. Para Rasul dan pengganti mereka sebagai pewarta Injil 8. Tradisi suci 9. Hubungan antara Tradisi dan Kitab suci 10. Hubungan keduanya dengan seluruh Gereja dan Magisterium

12 BAB III : ILHAM ILAHI KITAB SUCI DAN PENAFSIRAN 11. Fakta ilham dan kebenaran Kitab suci 12. Bagaimana Kitab suci harus ditafsirkan 13. Turunnya Allah BAB IV : PERJANJIAN LAMA 14. Sejarah keselamatan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama 15. Arti Perjanjian Lama untuk umat kristen 16. Kesatuan antara kedua perjanjian BAB V : PERJANJIAN BARU 17. Keluhuran Perjanjian Baru 18. Asal-usul Injil dari para Rasul 19. Sifat historis Injil 20. Kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya BAB VI : KITAB SUCI DALAM KEHIDUPAN GEREJA 21. Gereja menghormati kitab-kitab suci 22. Dianjurkan terjemahan-terjemahan yang tepat 23. Tugas kerasulan para ahli katolik 24. Pentingnya Kitab suci bagi teologi 25. Dianjurkan pembacaan Kitab suci 26. Akhir kata DEKRIT APOSTOLICAM ACTUOSITATEM TENTANG KERASULAN AWAM PENDAHULUAN BAB I : PANGGILAN KAUM AWAM UNTUK MERASUL 2. Keikut-sertaan awam dalam perutusan Gereja 3. Asas-asas kerasulan awam 4. Spiritualitas awam dalam tata kerasulan BAB II : TUJUAN-TUJUAN YANG HARUS DICAPAI 5. Pendahuluan 6. Kerasulan dimaksudkan untuk mewartakan Injil dan menyucikan umat manusia 7. Pembaharuan tata dunia secara kristen 8. Amal kasih, meterai kerasulan kristen BAB III : PELBAGAI BIDANG KERASULAN 9. Pendahuluan 10. Jemaat-jemaat gerejawi 11. Keluarga 12. Kaum muda 13. Lingkungan sosial 14. Bidang-bidang nasional dan internasional BAB IV : BERBAGAI CARA MERASUL

13 15. Pendahuluan 16. Pentingnya aneka bentuk kerasulan perorangan 17. Kerasulan awam dalam situasi-situasi tertentu 18. Pentingnya kerasulan yang terpadu 19. Aneka bentuk kerasulan terpadu 20. Aksi Katolik 21. Pengharapan terhadap organisasi-organisasi 22. Kaum awam yang secara istimewa berbakti kepada gereja BAB V : TATA-TERTIB YANG HARUS DIINDAHKAN 23. Pendahuluan 24. Hubungan-hubungan dengan hirarki 25. Bantuan para imam bagi kerasulan awam 26. Upaya-upaya yang berguna bagi kerja sama 27. Kerja sama dengan umat kristen dan umat beragama lain BAB VI : PEMBINAAN UNTUK MERASUL 28. Perlunya pembinaan untuk merasul 29. Dasar-dasar pembinaan awam untuk kerasulan 30. Mereka yang wajib membina sesama untuk kerasulan 31. Upaya-upaya yang digunakan AJAKAN S I D A N G I X (7 Desember 1965) PERNYATAAN DIGNITATIS HUMANAE TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA PENDAHULUAN I : AJARAN UMUM TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA 2. Objek dan dasar kebebasan beragama 3. Kebebasan beragama dan hubungan manusia dengan Allah 4. Kebebasan jemaat-jemaat keagamaan 5. Kebebasan beragama dan keluarga 6. Tanggung jawab atas kebebasan beragama 7. Batas-batas kebebasan beragama 8. Pembinaan penggunaan kebebasan II : KEBEBASAN BERAGAMA DALAM TERANG WAHYU 9. Ajaran tentang kebebasan beragama berakar dalam Wahyu 10. Kebebasan dan Faal iman 11. Cara bertindak Kristus dan para Rasul 12. Gereja menempuh jalan Kristus dan para rasul 13. Kebebasan Gereja 14. Peranan Gereja 15. Penutup

14 DEKRIT AD GENTES TENTANG KEGIATAN MISIONER GERAJA PENDAHULUAN BAB I: ASAS-ASAS AJARAN 2. Rencana Bapa 3. Perutusan Putera 4. Perutusan Roh Kudus 5. Gereja diutus oleh Kristus 6. Kegiatan misioner 7. Alasan dan perlunya kegiatan misioner 8. Kegiatan misioner dalam hidup dan sejarah umat manusia 9. Sifat eskatologis kegiatan misioner BAB II : KARYA MISIONER SENDIRI 10. Pendahuluan Art I. Kesaksian kristen 11. Kesaksian hidup dan dialog 12. Kehadiran cinta kasih Art II. Pewartaan Injil dan penghimpunan umat Allah 13. Pewartaan Injil dan pertobatan 14. Katekumenat dan inisiasi kristen Art III. Pembinaan jemaat kristen 15. Pembinaan jemaat kristen 16. Pengadaan klerus setempat 17. Pendidikan para katekis 18. Pengembangan hidup religius BAB III : GEREJA-GEREJA KHUSUS 19. Kemajuan Gereja-Gereja muda 20. Kegiatan misioner Gereja-Gereja khusus 21. Pengembangan kerasulan awam Kemacam-ragaman dalam kesatuan BAB IV : PARA MISIONARIS 23. Panggilan misioner 24. Spiritualitas misioner 25. Pembinaan rohani dan moral 26. Pembinaan dalam ajaran dan kerasulan 27. Lembaga-lembaga yang berkarya di daerah-daerah misi BAB V : PENGATURAN KARYA MISIONER 28. Pendahuluan 29. Organisasi umum 30. Organisasi setempat di daerah Misi 31. Koordinasi pada tingkat Regio 32. Organisasi kegiatan Lembaga-Lembaga 33. Koordinasi antara Lembaga-Lembaga 34. Koordinasi antara Lembaga-Lembaga ilmiah

15 BAB VI : KERJA SAMA 35. Pendahuluan 36. Kewajiban misioner segenap umat Allah 37. Kewajiban misioner jemaat-jemaat kristen 38. Kewajiban misioner para imam 39. Kewajiban misioner tarekat-tarekat religius 40. Kewajiban misioner kaum awam PENUTUP DEKRIT PRESBYTERORUM ORDINIS TENTANG PELAYANAN DAN KEHIDUPAN PARA IMAM PENDAHULUAN BAB I : IMAMAT DALAM PERUTUSAN GEREJA 2. Hakekat imam 3. Situasi para imam di dunia BAB II : PELAYANAN PARA IMAM I. Fungsi para imam 4. Para imam, pelayan sabda Allah 5. Para imam, pelayan Sakramen-Sakramen dan Ekaristi 6. Para imam, pemimpin umat Allah II. Hubungan para imam dengan sesama 7. Hubungan para Uskup dengan para imam 8. Persatuan persaudaraan dan kerja sama antara para imam 9. Hubungan para imam dengan kaum awam III. Penyebaran para imam dan panggilan-panggilan imam 10. Penyebaran para imam 11. Usaha para imam untuk mendapat panggilan-panggilan imam BAB III : KEHIDUPAN PARA IMAM I. Panggilan para imam untuk kesempurnaan 12. Panggilan para imam untuk kesucian 13. Pelaksanaan ketiga fungsi imamat menuntut dan sekaligus mendukung kesucian 14. Keutuhan dan keselarasan kehidupan para imam II. Tuntutan-tuntutan rohani yang khas dalam kehidupan imam 15. Kerendahan hati dan ketaatan 16. Selibat : diterima dan dihargai sebagai kurnia 17. Sikap terhadap dunia dan harta duniawi. Kemiskinan sukarela III. Upaya-upaya yang mendukung kehidupan para imam 18. Upaya-upaya untuk mengembangkan hidup rohani 19. Studi dan ilmu pastoral 21. Balas jasa yang wajar bagi para imam 22. Pembentukan kas umu, dan pengadaan jaminan sosial bagi para imam KATA PENUTUP DAN AJAKAN

16 KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES TENTANG GEREJA DALAM DUNIA MODERN PENDAHULUAN 1. Hubungan erat antara Gereja dan segenap keluarga bangsa-bangsa 2. Kepada siapa amanat Konsili ditujukan? 3. Pengabdian kepada manusia PENJELASAN PENDAHULUAN : KENYATAAN MANUSIA DI DUNIA MASA KINI 4. Harapan dan kegelisahan 5. Perubahan situasi yang mendalam 6. Perubahan-perubahan dalam tata masyarakat 7. Perubahan-perubahan psikologis, moral dan keagamaan 8. Berbagai ketidak-seimbangan dalam dunia sekarang 9. Aspirasi-aspirasi umat manusia yang makin universal 10. Pertanyaan-pertanyaan mendalam umat manusia BAGIAN I : GEREJA DAN PANGGILAN MANUSIA 11. Menanggapi dorongan Roh Kudus BAB I : MARTABAT PRIBADI MANUSIA 12. Manusia diciptakan menurut gambar Allah 13. Dosa manusia 14. Kodrat manusia 15. Martabat akalbudi, kebenaran dan kebijaksanaan 16. Martabat hati nurani 17. Keluhuran kebebasan 18. Rahasia maut 19. Bentuk-bentuk dan akar-akar ateisme 20. Ateisme sistematis 21. Sikap Gereja menghadapi ateisme 22. Kristus Manusia Baru BAB II : MASYARAKAT MANUSIA 23. Maksud Konsili 24. Sifat kebersamaan panggilan manusia dalam rencana Allah 25. Pribadi manusia dan masyarakat manusia saling tergantung 26. Memajukan kesejahteraan umum 27. Sikap hormat terhadap pribadi 28. Sikap hormat dan cinta kasih terhadap lawan 29. Kesamaan hakiki antara semua orang dan keadilan sosial 30. Etika individualis harus diatasi 31. Tanggung jawab dan keikut-sertaan 32. Sabda yang menjelma dan solidaritas manusia BAB III : KEGIATAN MANUSIA DISELURUH DUNIA 33. Masalah-persoalannya 34. Nilai kegiatan manusiawi 35. Norma kegiatan manusia 36. Otonomi hal-hal duniawi yang sewajarnya 37. Kegiatan manusia dirusak karena dosa 38. Dalam misteri Paska kegiatan manusia mencapai kesempurnaannya 39. Bumi baru dan langit baru

17 BAB IV: PERANAN GEREJA DALAM DUNIA JAMAN SEKARANG 40. Hubungan timbal balik antara Gereja dan dunia 41. Bantuan yang oleh Gereja mau diberikan kepada setiap orang 42. Bantuan yang diusahakan oleh Gereja untuk diberikan kepada masyarakat manusia 43. Bantuan yang diusahakan oleh Gereja melalui umat Kristen bagi kegiatan manusiawi 44. Bantuan yang diperoleh Gereja dari dunia jaman sekarang 45. Kristus, Alfa dan Omega BAGIAN II : BEBERAPA MASALAH YANG AMAT MENDESAK PENDAHULUAN BAB I : MARTABAT PERKAWINAN DALAM KELUARGA 47. Perkawinan dan keluarga dalam dunia jaman sekarang 48. Kesucian perkawinan dalam keluarga 49. Cinta kasih suami-istri 50. Kesuburan perkawinan 51. Penyelarasan cinta kasih suami-istri dengan sikap hormat terhadap hidup manusiawi 52. Pengembangan perkawinan dan keluarga merupakan tugas semua orang BAB II: PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN Pendahuluan Art I Situasi kebudayaan pada jaman sekarang 54. Pola-pola hidup yang baru 55. Manusia pencipta kebudayaan 56. Kesukaran-kesukaran dan tugas-tugas Art II Berbagai kaidah untuk dengan tepat mengembangkan kebudayaan 57. Iman dan kebudayaan 58. Hubungan antara Warta Gembira tentang Kristus dan kebudayaan manusia 59. Mewujudkan keserasian berbagai nilai dalam pola-pola kebudayaan Art III Beberapa tugas umat kristen yang cukup mendesak tentang kebudayaan 60. Hak atas buah-hasil kebudayaan hendaknya diakui oleh semua dan diwujudkan secara nyata 61. Pendidikan untuk kebudayaan manusia seutuhnya 62. Menyelaraskan kebudayaan manusia dan masyarakat dengan pendidikan kristen BAB III: KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI 63. Beberapa segi kehidupan ekonomi Art I Perkembangan ekonomi 64. Perkembangan ekonomi melayani manusia 65. Kemajuan ekonomi dikendalikan oleh manusia 66. Perbedaan-perbedaan besar dibidang sosial ekonomi perlu disingkirkan Art II Beberapa prinsip yang mengatur seluruh kehidupan sosial ekonomi 67. Kerja, Persyaratan kerja, istirahat 68. Peran-serta dalam tanggung jawab atas perusahaan dan seluruh pengaturan perekonomian; konflik-konflik mengenai kerja 69. Harta-benda bumi diperuntukkan bagi semua orang 70. Penanaman modal dan masalah moneter

18 71. Soal memperoleh harta-milik dan milik perorangan; masalah tuan tanah 72. Kegiatan sosial ekonomi dan Kerajaan Kristus BAB IV: HIDUP BERNEGARA 73. Kehidupan umum jaman sekarang 74. Hakekat dan tujuan negara 75. Kerja sama semua orang dalam kehidupan umum 76. Negara dan gereja BAB V: USAHA DEMI PERDAIAN DAN PEMBENTUKAN PERSEKUTUAN BANGSA-BANGSA Pendahuluan 78. Hakekat perdamaian Art I Menghindari perang 79. Keganasan perang harus dikendalikan 80. Perang total 81. Perlombaan senjata 82. Larangan mutlak terhadap perang, dan kegiatan internasional untuk mencegah perang Art II Pembangunan masyarakat internasional 83. Sebab-musabab perpecahan dan cara mengatasinya 84. Persekutuan bangsa-bangsa dan lembaga-lembaga internasional 85. Kerja sama internasional dibidang ekonomi 86. Beberapa pedoman yang sesuai untuk jaman sekarang 87. Kerja sama internasional sehubungan dengan pertambahan penduduk 88. Peranan umat kristen dalam pemberian bantuan 89. Kehadiran Gereja yang efektif dalam masyarakat internasional 90. Peranan orang-orang kristen dalam lembaga-lembaga internasional PENUTUP 91. Tugas setiap orang beriman dan Gereja-Gereja khusus 92. Dialog antara semua orang 93. Membangun dunia dan mengarahkannya kepada tujuannya INDEKS ANALITIS LAMPIRAN 1. BEBERAPA PERISTIWA PENTING SELAMA KONSILI VATIKAN II 2. KONSILI-KONSILI EKUMENIS

19 KATA PENGANTAR Ketua Presidium KWI Ketika persediaan buku Tonggak Sejarah Pedoman Arah, dokumen Konsili Vatikan II terbitan Departemen Dokumentasi dan Penerangan MAWI tahun 1983 mulai menipis jumlahnya, telah dipikirkan masak-masak oleh KaDokPen KWI, apakah akan mencetak ulang ataukah justru mengusahakan sekaligus adanya suatu terjemahan baru. Mengingat buku tersebut disana-sini dirasa perlu disempurnakan terjemahannya, baik yang menyangkut judul, ungkapan maupun isi, maka dianggap mendesak adanya terjemahan baru. Semula dipikirkan oleh KaDokPen KWI, dokumen tersebut akan diterjemahkan oleh sebuah team yang terdiri dari beberapa teolog dosen STFT dan STFKAT dari berbagai daerah diseluruh Indonesia. Namun cita-cita tersebut ternyata sulit dilaksanakan, karena tidak mudah menemukan dikalangan mereka seseoarang yang mempunyai waktu dan bersedia menterjemahkan dokumen tersebut. Presidium bersyukur bahwa Pater R. Hardawiryana SJ yang semula diharapkan menjadi koordinator para penterjemah akhirnya bersedia menjadi penterjemah tunggal. Pada rapat tanggal 18 s/d 20 April 1990, Presidium menyetujui usulan KaDokPen agar Pater R. Hardawiryana SJ, akan menterjemahkan seluruh dokumen Vatikan II, sedikit demi sedikit. Untuk tahap pertama, setiap kali satu dokumen selesai diterjemahkan, langsung diterbitkan oleh DOKPEN KWI sebagai Seri Dokumen Gerejani, kemudian disebar, sambil mohon agar mereka yang telah membaca, dan memakai untuk sarana perkuliahan, seminar dls., berkenan menyampaikan koreksi dan usulan penyempurnaan. Setelah semua dokumen selesai diterjemahkan, sertakoreksi telah masuk pula, seluruh dokumen akan dicetak ulang menjadi satu kesatuan, setelah diperiksa ulang oleh para ahli yang berkompeten. Kami bergembira bahwa akhirnya dapat diterbitkan seluruh dokumen Konsili Vatikan II dalam satu buku. Semoga buku baru ini dapat melayani kebutuhan Gereja Indonesia, karena buku lama telah habis. Dengan semakin sempurna diterjemahkan, inspirasi semangat dan ajaran Konsili Vatikan II yang kita hargai bersama itu dapat semakin baik dibaca, ditangkap, direnungkan, dan diresapkan. Dalam kesempatan ini, tak lupa kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Pater R. Hardawiryana SJ yang telah begitu banyak menyisihkan waktu karena berkenan menjadi penerjemah tunggal. Demikian pula kepada DOKPEN KWI serta semua pihak yang turut serta dalam usaha penerbitan buku baru ini, kami ucapkan banyak terima kasih. Setiap saran, koreksi dan usulan perbaikan tidak hanya kami terima dengan senang hati, melainkan juga sangat kami harapkan. Jakarta, 2 Februari 1993 Mgr. J. Darmaatmadja. SJ Ketua Presidium KWI

20 KATA PENGANTAR DOKPEN KWI Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II telah diterjemahkan secara lengkap atas mandat dari MAWI (KWI) oleh Bapak Dr. J. Riberu yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Dokpen MAWI. Terjemahan ini terbit menjadi satu buku pada permulaan tahun 1984 dan sampai dengan tahun 1992 telah mengalami cetak ulang beberapa kali. Dalam cetakan ulang judul buku diubah dengan judul yang lebih tepat : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. Tonggak Sejarah, Pedoman Arah. Tak dapat disangkal bahwa buku ini dipakai secara luas diseluruh Indonesia, tidak hanya dikalangan umat Katolik tetapi juga yang bukan Katolik. Sementara itu, dirasakan oleh para pemakai bahwa dalam terjemahan ini terdapat pelbagai kelemahan dan ketidaktepatan: judul buku, bahasa, kosakata dan sebagainya. Presidium KWI akhirnya dalam rapatnya tanggal 18 s/d 20 April 1990 memutuskan supaya seluruh dokumen itu diterjemahkan sekali lagi dengan melibatkan sebanyak mungkin ahli, sehingga terjemahan baru tersebut dapat lebih sempurna dan diterima oleh seluas mungkin pemakai. Tugas ini diserahkan kepada Departemen Dokumentasi dan Penerangan (DOKPEN) KWI. Setelah semua teolog dari STFT dan STF yang ada di Indonesia di Hubungi, ternyata hampir tak ada yang sanggup untuk membantu menterjemahkannya. Syukur kepada Tuhan, bahwa Rama R. Hardawiryana, SJ menyanggupkan diri untuk melakukannya sedikit demi sedikit. Sekarang pekerjaan besar dan berat itu sudah selesai dan sementara itu sudah diterbitkan secara periodik dalam Dokumen Gerejawi yang diterbitkan oleh DOKPEN KWI. Dan sekarang buku yang ada di tangan Anda ini menjadi bukti kerja keras tadi. Kita patut berterimakasih yang sebesar-besarnya kepadanya. Bahaya dari penerjemahan tunggal ini ialah bahwa kemungkinan untuk berbuat salah menjadi cukup besar. Hal ini kami coba imbangi dengan mengundang para pemakai, khususnya para ahli, untuk menyampaikan penyempurnaannya kepada penerjemah atau kepada kami selaku koordinator. Keuntungan dari penerjemahan tunggal ialah bahwa mutu dan gaya bahasa serta kadar ketelitian dapat dipertanggungjawabkan dalam seluruh dokumen; sesuatu yang agak sulit dipertahankan bila dokumen yang sama diterjemahkan oleh banyak orang. Akhirnya kami berharap bahwa para pemakai dapat merasakan bahwa terjemahan baru ini sungguh lebih baik dari yang lama dan buku ini dapat lebih berguna bagi keberadaan Gereja Katolik di Indonesia dalam, bersama dengan umat lain, bergereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tercinta ini. Jakarta, 17 Februari 1993 Alfons S. Suhardi, OFM KADOKPEN KWI

21 KONSILI VATIKAN II : Konsili Vatikan II merupakan Konsili Ekumenis ke-21 dalam sejarah Gereja. Antara tgl. 11 Oktober 1962 dan tgl. 8 Desember 1965 diadakan empat periode sidang. Jumlah Uskup yang hadir lebih banyak dan berasal dari lebih banyak negara daripada yang menghadiri Konsili-Konsili sebelumnya( 1 ). Jumlah dokumen yang dihasilkannyapun lebih banyak, dan dampak-pengaruhnya atas kehidupan Gereja katolik lebih besar dari peristiwa manapun sesudah jaman reformasi pada abad XVI. PERSIAPAN Baik Paus Pis XI ( ) maupun Paus Pius XII ( ) pernah berfikir tentang membuka kembali Konsili Vatikan I ( ), yang karena pecahnya perang antara Perancis dan Prusia (Jerman) terpaksa dihentikan secara mendadak ( 2 ). Tetapi Paus Yohanes XXIII-lah yang mengejutkan umat katolik sedunia dengan maklumat beliau yang penuh optimisme pada tgl. 25 Januari 1959, bahwa beliau bermaksud mengundang suatu Konsili ( 3 ). Yang beliau maksudkan bukan sekedar melanjutkan Konsili Vatikan I, melainkan menyelenggarakan Konsili yang baru sama sekali ( 4 ). Beliau mengharapkan Konsili akan mengajak Gereja semesta mengevaluasi kehidupan serta pelaksanaan misinya. Ada tiga sasaran yang mau dicapai, yakni : pembaharuan rohani dalam terang injil, penyesuaian dengan masa sekarang ( aggiornamento ) untuk menanggapi tantangantantangan zaman modern( 5 ), dan pemulihan persekutuan penuh antara segenap umat kristen ( 6 ). Persiapan Konsili dimulai dengan undangan yang ditujukan kepada semua Uskup diseluruh dunia, para pemimpin tarekat-tarekat imam religius, universitas-universitas serta fakultas-fakultas katolik, dan para anggota Kuria Romawi, untuk mengemukakan saransaran mereka bagi permusyawarahan dan penyusuanan acar Konsili. Disepanjang sejarah Gereja belumpernah diadakan konsultasi seluas itu ( 7 ). Hasilnya ialah lebih dari 9300 saran. Seluruh bahan itu dipilah-pilah, didaftar, dan dibagi-bagikan kepada sepuluh komisi persiapan, yang oleh Paus Yohanes diangkat pada tgl. 5 Juni 1960 untuk menyiapkan konsep-konsep naskah ( schemata ) untuk dibahas dalam Konsili. Komisi-komisi mengadakan rapat-rapat kerja antara bulan November 1960 dan bulan Juni 1962, dan menghasilkan lebih dari 70 naskah yang kemudian dirangkum menjadi sekitar 20 naskah. Setiap naskah diperiksa oleh Komisi Persiapan Pusat, 1 Pada Pembukaan Konsili hadirlah 2540 Bapa Konsili. Baiklah dikenangkan pula dampak relatif cukup besar 29 pengamat dari 17 Gereja lain dan undangan yang bukan katolik, para pendengar pria maupun wanita, perhatian besar media cetak, dan makin banyak tersedianya informasi tentang Konsili. 2 Tentang Konsili Vatikan I, lihat : H. Jedin, Sejarah Konsili, Yogyakarta: Kanisius 1973, hlm ; T. Jacobs, Latar Belakang dekat Konsili Vatikan II, khususnya hlm Paus Yohanes XXIII, Konstitusi apostolik Humanae Salutis, tgl. 25 Desember 1961, memandang sebagai suatu motivasi untuk mengundang Konsili; membuka kemungkinan bagi Gereja untuk memberi sumbangan efektif demi pemecahan soal-soal zaman modern. 4 Dalam konstitusi apostolik Humanae Salutis, tgl. 25 Desember 1961Paus Yohanes XXIII mencetuskan harapan beliau: semoga Konsili Vatikan II merupakan ulangan Pentekosta bagi umat kristen. Juga dogmadogma Tradisi Gereja ditempatkan dalam konteks baru dan ditafsirkan secara baru. 5 Paus Paulus VI pada sidang terakhir Konsili mengartikan aggiornamento sebagai usaha untuk makin mendalami semangat Konsili dan penerapan setia norma-norma yang digariskan. 6 Amanat Paus Yohanes XXIII pada pembukaan Konsili, tgl. 11 Oktober 1962, antara lain menekankan perlunya meningkatkan persatuan kristen, bahkan seluruh keluarga manusia. Maksud itu terungkap dengan jelas misalnya ketika pada tgl.5 Januari 1964 Paus Paulus VI dalam kunjungan beliau ke Tanah Suci merangkul Atenagoras, Patriark Ortodoks utama dari Gereja Timur. Peristiwa lain: pernyataan bersama, yang diumumkan di Istanbul dan di Vatikan pada tgl. 7 Desember 1965, tentang peristiwa-peristiwa pada tahun 1054, yang menimbulkan perpecahan antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks di Istanbul. Pernyataan Katolik-Ortodoks itu mengungkapkan kerinduan akan persekutuan makin penuh antara Gereja di Istanbul dan Gereja katolik. 7 Konstitusi apostolik Paus Yohanes XXIII Humanae Salutis, tgl. 25 Desember 1961, menampilkan pentingnya konsultasi seluas itu dalam proses persiapan Konsili.

22 diperbaiki dengan memperhatikan catatan-catatan yang dilampirkan, dan akhirnya dimohonkan persetujuan Paus. Pada musim panas tahun 1962 sejumlah naskah diedarkan diantara para Uskup sedunia sebagai bahan untuk periode Sidang yang akan dimulai pada musim gugur. SIDANG PERTAMA Konsili Vatikan II menyelenggarakan empat periode sidang, yakni: 11 Oktober 8 Desember 1962, 29 September 4 Desember 1963, 14 September 21 November 1964, dan 14 September 8 Desember Dalam uraian pengantar ini tidak mungkin memaparkan ikhtisar sejarah Konsili( 8 ). Tetapi baiklah disajikan catatan tentang periode Sidang Pertama, yang paling dramatis dan paling penting. Suasana dan keputusan-keputusan yang diambil ketika itu menggariskan haluan dasar seluruh Konsili. Ada empat moment yang mempunyai relevansi khas. Momen relevan yang pertama ialah Amanat Pembukaan yang disampaikan oleh Paus Yohanes XXIII pada tgl.11 Oktober Beliau mendesak supaya Konsili menempuh arah pastoral ( 9 ). Menghadapi dunia yang memerlukan uluran belaskasihan( 10 ). Bukan maksud utamanya untuk mengulang-ulangi saja apa yang jelas sudah merupakan ajaran katolik, atau melontarkan kecaman-kecaman ( anathema ) terhadap kesesatan-kesesatan. Kendati mendesaknya tantangan-tantangan zaman, para Uskup diundang untuk menjauhkan sikap murung terhadap dunia modern, dan untuk merenungkan : mungkinkah Allah justru hendak memulai suatu era baru dalam sejarah manusia? Mereka diharapkan membedakan antara pokok-pokok iman disatu pihak, dan dipihak lain cara-cara mengungkapkannya yang tergantung juga dari situasi dan kondisi yang silih berganti, serta bagaimanapun juga harus menanggapinya. Jadi soal utama ialah : bagaimana pusaka iman diungkapkan dalam konteks situasi masa kini, untuk sungguh menyentuh hati manusia zaman sekarang dan memecahkan masalah-masalahnya yang aktual. Momen kedua yang relevan ialah : ketika pada sidang kerja pertama para Uskup menyatakan tidak bersedia untuk begitu saja menerima para anggota komisi-komisi Konsili, yang disodorkan dalam daftar yang sudah siap, melainkan memutuskan untuk memilih sendiripara anggota komisi-komisi. Ketika itu peristiwa itu dianggap mengungkapkan, bahwa cukup banyak Uskup tidak setuju dengan nada dan isi pokok banyak naskah yang telah disiapkan. Mereka menginginkan waktu secukupnya untuk saling mengenal, dan memilih para anggota komisi-komisi, sehingga tidak begitu saja diulangi tekanan-tekanan naskah-naskah persiapan. Momen ketiga yang sinyifikatif ialah perdebatan Konsili tentang Skema mengenai Liturgi. Diskusi itu mencerminkan, bahwa mayoritas para Uskup mendukung ajakan Paus untuk membaharui kehidupan Gereja. Maksud mereka makin jelas, ketika dimulai perdebatan tentang Skema Tentang Sumber-Sumber Pewahyuan. Teks itu oleh banyak Uskup dikritik dengan tajam sekali, dan pada pemungutan suara menjelang akhir diskusi lebih dari 60% menghendaki agar Skema dibatalkan. Meskipun jumlah suara itu tidak mencukupi untuk mengembalikan Skema, Paus Yohanes memerintahkan perombakannya sama sekali. Momen keempat yang dramatis itu menampilkan maksud mayoritas para Uskup untuk menempuh haluan, yang dalam berbagai aspek menyimpang dari sikap-sikap dan strategi-strategi, yang menandai Katolisisme Romawi selama 150 tahun sebelumnya. Paus Yohanes XXIII meninggal pada bulan Juli 1963, dan digantikan oleh Paus Paulus VI. Salah satu tindakan Paus baru yakni : mengumumnkan bahwa Konsili akan dilanjutkan, dan harus tetap mengikuti haluan yang telah digariskan oleh Paus Yohanes dan dikukukhkan selama periode Sidang I. Selama tiga periode Sidang berikut yang diketuai oleh Paus Paulus VI terlaksanalah karya pokok Konsili. 8 Lihat : Daftar Beberapa Peristiwa Penting Selama Konsili Vatikan II. 9 Menurut Presbyterorum Ordinis 12, tujuan pastoral Konsili ialah : 1) Pembaharuan Gereja, 2) pewartaan Injil diseluruh dunia, dan 3) dialog dengan dunia modern. 10 Amanat Paus Paulus VI pada hari raya Natal 1965 menggarisbawahi, bahwa suasana dominan selama Konsili diilhami oleh gambaran Injili tentang Gembala Baik, yang tidak berhenti mencari sebelum menemukan domba yang sesat.

23 DOKUMEN-DOKUMEN KONSILI Konsili Vatikan II menghasilkan enam belas dokumen, yakni empat Konstitusi (tentanag Liturgi, tenteng Gereja, tentang Wahyu Ilahi, dan tentang Gereja dalam Dunia Modern), sembilan Dekrit (tentang Upaya-Upaya komunikasi sosial, tentang Gereja-Gereja Timur Katolik, tentang Ekumenisme, tentang Tugas Pastoral para Uskup dalam Gereja, tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius, tentang Pembinaan Imam, tentang Kerasulan Awam, tentang Kegiatan Misioner Gereja, dan tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam), dan tiga Pernyataan (tentang Pendidikan Kristen, tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama Bukan Kristen, dan tentang Kebebasan Beragama). Judul-judul itu sudah menampakkan, betapa luaslah jangkauan Konsili. Dokumen utama Konsili ialah Konstitusi dogmatis tentang Gereja ( Lumen Gentium ) ( 11 ). Titik tolaknya ialah Eklesiologi resmi yang dominan menjelang Konsili, dan ditandai dengan tekanan pada dimensi-dimensi kelembagaan Gereja ( 12 ). Konstitusi mulai dengan pandangan tentang Gereja sebagai Misteri, sebagai persekutuan beriman, yang dipanggil untuk ikut menghayati hidup Tritunggal maha kudus. Persekutuan dalam Allah itu memperbuahkan persekutuan antara para anggota Gereja, yang menjadikan mereka umat Allah, Tubuh Kristus dan Kenisah Roh Kudus. Dalam satu Gereja dimensi Ilahi dan manusiawi menciptakan suatu gejala sosial tersendiri, Gereja Kristus yang berada dalam Gereja Katolik Romawi, kendati banyak unsur-unsurnya yang baku terdapat juga diluar batas-batasnya yang kelihatan ( 13 ). Selanjutnya Lumen Gentium menguraikan, bahwa dalam Gereja sebagai umat Allah terwujudlah Misteri dalam kurun sejarah antara Kenaikan Kristus ke Sorga dan Kedatangan-Nya pada akhir zaman ( 14 ). Ditekankan kesejahteraan fundamental martabat para anggota, yang mendasari pembedaan-pembedaan antara hirarki, kaum awam dan para religius. Orang menjadi warga penuh dalam Gereja, bila ia memiliki Roh Kristus, dan berada dalam persekutuan iman, Sakramen Sakramen, dan tata-laksana serta struktur Gerejawi. Gereja itu bersifat katolik, artinya : menjangkau semua bangsa dan kebudayaan, dipanggil untuk menghimpunnya dibawah Kristus Tuhan, dan untuk memperkaya Gereja semesta melalui pertukaran timbal balik sumber-sumber budaya pelbagai bangsa. Dalam Konstitusi ini dan dalam dokumen-dokumen Konsili kuat-kuat menekankan teologi Gereja setempat; dengan kata lain : prinsip, bahwa misteri Gereja selalu diwujudkan dalam jemaat-jemaat setempat, paroki-paroki, keuskupan-keuskupan, wilayah-wilayah geografis dan budaya yang lebih luas. Perspektif itu khususnya nampak dengan jelas dalam Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja ( Ad Gentes ). Perspektif teologis dan rohani dua bab pertama Lumen Gentium dijabarkan dalam Konstitusi dogmatis tentang Wahyu Ilahi ( Dei Verbum ) dan Konstitusi tentang Liturgi ( Sacrosanctum Consilium ) ( 15 ). Dei Verbum memandang perwahyuan sebagai komunikasi diri Allah melalui sabda dan karya-nya, yang mencapai kesempurnaannya dalam Yesus Kristus. Perwahyuan pembawa penebusan itu disalurkan melalui Kitab Suci dan Tradisi. Dalam uraiannya tentang kedua pengantara perwahyuan itu Konsili menekankan peranan sentral Kitab suci, dan mendukung sahnya penelitian modern secara kritis ilmiah. Digarisbawahi pula peranan Tradisi, yang dimengerti sebagai proses hidup menerima serta menafsirkan Kitab suci dalam kenyataan hidup Gereja sehari-hari. 11 Lih. T. Jacobs, Gagasan-gagasan pokok, hlm Suatu Skematisasi dokumen-dokumen Konsili Vatikan II dalam tiga bagian (pemahaman diri Gereja, pendalaman tentang hidup Gereja sendiri, dan pendalaman tentang misi Gereja): lih. Martadiatmaja, Gagasan-gagasan Dogmatik, hlm Lumen Gentium, dan karena itu seluruh Eklesiologi Vatikan II, dikembangkan berpangkal pada pandangan Mystici Corporis, seperti dirumuskan dalam skema I tentang Gereja. Vatikan II memang membuka pandangan baru terhadap Gereja, tetapi tidak menolak yang lama, bdk. T. Jacobs, Gagasan-gagasan Pokok, hlm Lih. LG.8; bdk. UR Seperti terungkap dalam Bab I dan II, pandangan baru tentang Gereja berarti, Suatu sentralisasi vertikal pada Kristus dan suatu desentralisasi horisontal pada umat Allah, Y. Congar, L Eglise : De saint Augustin a I epoque modernr:, Paris : Cerf 1970, hlm Tentang bagaimana Sacrosanctum Concilium melengkapi Lumen Gentium, lihat T. Jacobs, Gagasangagasan Pokok, hlm. 28.

24 Sesudah pengantar teologis tentang peranan Liturgi dan khususnya Ekaristi suci yang bagi Gereja penting sekali, Konstitusi Sacrosanctum Concilium menggariskan prinsip-prinsip pembaharuan hidup liturgis Gereja secara mendalam. Upacara-upacar perlu diperbaharui sedemikian rupa, sehingga lebih jelas melambangkan misteri penyelamatan dan memungkinkan partisipasi aktif yang lebih penuh oleh semua warga Gereja. Seusai pembahasan Gereja sebagai Misteri dan Umat Allah, Lumen Gentium mengarahkan perhatian kepada penggolongan anggota Gereja. Bab III menguraikan peranan hirarki ( 16 ), khususnya episkopat, dengan maksud mengimbangi tekanan Konsili Vatikan I pada wewenang dan tidak dapat sesatnya ( infallibilitas ) Paus, dengan menempatkan pelayanan kesatuan dalam konteks lebih luas Dewan para Uskup. Diajarkan sifat sakramental episkopat, begitu pula tanggung jawab Uskup atas Gereja setempat dan atas kesejahteraan Gereja semesta. Ajaran Konsili Vatikan I tentang Wewenang Mengajar ( Magisterium ) diulangi, tetapi sekaligus ditafsirkan secara lebih penuh dari yang mungkin tercapai pada tahun Dua artikel terakhir menguraikan imamat, dan mencantumkan keputusan untuki memulihkan diakonat sebagai pelayanan tetap. Bahan Bab III itu dilengkapi dengan Dekrit-Dekrit tentang Tugas Pastoral para Uskup ( Christus Dominus ), tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam ( Presbyterorum Ordinis ), dan tentang Pembinaan Imam ( Optatam Totius ). Bab IV Lumen Gentium menguraikan peranan kaum awam ( 17 ). Disajikan gambaran tipologis awam sebagai orang kristen, yang berhak penuh untuk ikut menghayati hidup dan menunaikan misi Gereja, dengan hidup secara kristen dalam dunia sekular. Awam menghadirkan Gereja didunia, dan dipanggil untuk menghadapi masalahpersoalan sehari-hari dengan sabda serta rahmat Kristus. Sekaligus ia menyumbangkan pandangan maupun pengalamannya tentang hidup sekular demi pembangunan Gereja. Prinsip-prinsip yang digariskan dalam Bab ini secara lebih penuh dijabarkan dalam Dekrit tentang Kerasulan Awam ( Apostolicam Actuositatem ). Bab VI tentang para religius dalam Gereja menjelaskan makna tiga kaul, yang diikrarkan oleh para religius untuk menerima tangtangan nasehat-nasehat Injili. Bab ini mendorong mereka untuk menunaikan tanggung jawab mereka sendiri demi kehidupan dan misi Gereja. Dekrit Perfectae Caritatis menyajikan prinsip-prinsip tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius ( 18 ), yang sekaligus mencerminkan cita-cita aggiornamento untuk seluruh Gereja. 1) kembali kepada Injil sebagai pedoman hidup yang utama; 2) kembali kepada sumber-sumber karisma dan spiritualitas masing-masing tarekat; 3) integrasi dalam Gereja seluruhnya; 4) menanggapi kebutuhan jaman dalam perihidup maupun kerasulan; 5) penghapusan deskriminasi antara para anggota ( 19 ). Dalam Bab V dan VII Lumen Gentium kembali memandang Gereja semesta, sambil menekankan panggilan semua orang untuk kesucian dan persekutuan Gereja di dunia dengan Gereja yang jaya dalam Kerajaan Allah. Bab terakhir Konstitusi dipersembahkan kepada Santa Perawan Maria, dan menjadikan peranannya sebagai anggota maupun lambang Gereja kunci untuk menafsirkan teologi tentang Maria. Eklesiologi Lumen Gentium yang lebih mendalam dan lebih kaya besar sekali dampaknya atas hubungan-hubungan ekumenis antara Gereja katolik dengan Gereja- Gereja serta jemaat-jemaat kristen lainnya. Hubungan-hubungan itu oleh Konsili dijajagi baik dalam Lumen Gentium maupun dalam Dekrit tentang Ekumenisme ( Unitaris redintegratio ), Dekrit tentang Gereja-Gereja Timur Katolik ( Orientalium Redintegratio ), dan Dekrit tentang hubungan Gereja dengan Agama-agama bukan kristen ( Nostra Aetate ). Dokumen-dokumen itu mencetuskan kesanggupan Gereja yang antusias untuk menggantikan sikap curiga dan bermusuhan antar Gereja dan antar Agama dengan sikap dialog dan kerjasama ( 20 ). 16 Lih. T. Jacobs, Gagasan-gagasan Pokok, hlm Lih. T. Jacobs, Gagasan-gagasan Pokok, hlm J. A. Komonchak membuat kesalahan dengan menukarkan bab V (tentang panggilan untuk kesempurnaan) dengan bab VI (para religius), cf. hlm Bdk. T. Jacobs, Gagasan-gagasan Pokok, hlm Sebelas hari sesudah Konstitusi tentang Gereja resmi diumumkan pada tgl.21 November 1964, Paus Paulus VI untuk pertama kalinya mengunjungi India, sesudah pada awal tahun itu juga beliau mengunjungi Yordania dan Israel.

DOKUMEN KONSILI VATIKAN II

DOKUMEN KONSILI VATIKAN II DOKUMEN KONSILI VATIKAN II KATA PENGANTAR Ketua Presidium KWI Ketika persediaan buku Tonggak Sejarah Pedoman Arah, dokumen Konsili Vatikan II terbitan Departemen Dokumentasi dan Penerangan MAWI tahun 1983

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KONSILI VATIKAN II : SIDANG III (4 Desember 1965) KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM TENTANG LITURGI SUCI PENDAHULUAN

DAFTAR ISI KONSILI VATIKAN II : SIDANG III (4 Desember 1965) KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM TENTANG LITURGI SUCI PENDAHULUAN DAFTAR ISI KONSILI VATIKAN II : 1662-1965 SIDANG III (4 Desember 1965) KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM TENTANG LITURGI SUCI BAB I : ASAS-ASAS UMUM UNTUK MEMBAHARUI DAN MENGEMBANGKAN LITURGI I. Hakekat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan Gereja adalah persekutuan umat beriman yang percaya kepada Kristus. Sebagai sebuah persekutuan iman, umat beriman senantiasa mengungkapkan dan mengekspresikan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR Ketua Presidium KWI

KATA PENGANTAR Ketua Presidium KWI KATA PENGANTAR Ketua Presidium KWI Ketika persediaan buku Tonggak Sejarah Pedoman Arah, dokumen Konsili Vatikan II terbitan Departemen Dokumentasi dan Penerangan MAWI tahun 1983 mulai menipis jumlahnya,

Lebih terperinci

Pendidikan Agama. Katolik IMAN DAN GLOBALISASI ( PEMBAHARUAN KONSILI VATIKAN II ) Modul ke: 12Fakultas Psikologi

Pendidikan Agama. Katolik IMAN DAN GLOBALISASI ( PEMBAHARUAN KONSILI VATIKAN II ) Modul ke: 12Fakultas Psikologi Pendidikan Agama Modul ke: 12Fakultas Psikologi Katolik IMAN DAN GLOBALISASI ( PEMBAHARUAN KONSILI VATIKAN II ) Program Studi Psikologi Oleh : Drs. Sugeng Baskoro, M.M Sejarah Konsili Vatikan II Konsili

Lebih terperinci

KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN

KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN DALAM KONSTITUSI KITA Kita mengembangkan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah-masalah keadilan, damai dan keutuhan ciptaan.para suster didorong untuk aktif

Lebih terperinci

KAMIS DALAM PEKAN SUCI. Misa Krisma

KAMIS DALAM PEKAN SUCI. Misa Krisma KAMIS DALAM PEKAN SUCI 1. Seturut tradisi Gereja yang sangat tua, pada hari ini dilarang merayakan misa tanpa umat. Misa Krisma 2. Pemberkatan minyak orang sakit dan minyak katekumen serta konsekrasi minyak

Lebih terperinci

KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1

KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1 1 KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1 Pontianak, 16 Januari 2016 Paul Suparno, S.J 2. Abstrak Keluarga mempunyai peran penting dalam menumbuhkan bibit panggilan, mengembangkan, dan menyertai dalam perjalanan

Lebih terperinci

BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA

BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA A. KOMPETENSI 1. Standar Kompetensi Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR SINGKATAN 2

DAFTAR ISI DAFTAR SINGKATAN 2 !!! DAFTAR ISI DAFTAR SINGKATAN 2 I. HAKEKAT, TUJUAN, DAN SPIRITUALITAS 3 II. ALASAN DAN DASAR 4 III. MANFAAT 5 IV. KEGIATAN-KEGIATAN POKOK 5 V. KEGIATAN-KEGIATAN LAIN 6 VI. ORGANISASI 6 VII. PENDAFTARAN

Lebih terperinci

PASTORAL DIALOGAL. Erik Wahju Tjahjana

PASTORAL DIALOGAL. Erik Wahju Tjahjana PASTORAL DIALOGAL Erik Wahju Tjahjana Pendahuluan Konsili Vatikan II yang dijiwai oleh semangat aggiornamento 1 merupakan momentum yang telah menghantar Gereja Katolik memasuki Abad Pencerahan di mana

Lebih terperinci

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Warta 22 November 2015 Tahun VI - No.47 KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV (sambungan minggu lalu) Tantangan Keluarga dalam Memperjuangkan Sukacita Anglia 9.

Lebih terperinci

BAB IV HIERARKI DAN AWAM

BAB IV HIERARKI DAN AWAM 1 BAB IV HIERARKI DAN AWAM STANDAR KOMPETENSI Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan ber-gereja sesuai

Lebih terperinci

Selama ini selain bulan Mei, kita mengenal bulan Oktober adalah bulan Maria yang diperingati setiap

Selama ini selain bulan Mei, kita mengenal bulan Oktober adalah bulan Maria yang diperingati setiap Pengantar Selama ini selain bulan Mei, kita mengenal bulan Oktober adalah bulan Maria yang diperingati setiap tahunnya oleh seluruh umat katolik sedunia untuk menghormati Santa Perawan Maria. Bapa Suci

Lebih terperinci

DEKRIT TENTANG PEMBAHARUAN DAN PENYESUAIAN HIDUP RELIGIUS

DEKRIT TENTANG PEMBAHARUAN DAN PENYESUAIAN HIDUP RELIGIUS PAULUS USKUP HAMBA PARA HAMBA ALLAH BERSAMA BAPA-BAPA KONSILI SUCI DEMI KENANGAN ABADI DEKRIT TENTANG PEMBAHARUAN DAN PENYESUAIAN HIDUP RELIGIUS 1. (Pendahuluan) Dalam Konstitusi yang diawali dengan kata-kata

Lebih terperinci

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK 1 MODUL PERKULIAHAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK IMAN KATOLIK Fakultas Program Studi Tatap Muka Reguler Kode MK Disusun Oleh MKCU PSIKOLOGI 02 MK900022 Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Abstract Pada Bab

Lebih terperinci

TANDA SALIB DAN SALAM Umat berdiri

TANDA SALIB DAN SALAM Umat berdiri 1 RITUS PEMBUKA PERARAKAN MASUK LAGU PEMBUKA TANDA SALIB DAN SALAM Umat berdiri Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Umat : Amin. Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan

Lebih terperinci

KISI-KISI PENULISAN SOAL. kemampuan

KISI-KISI PENULISAN SOAL. kemampuan KISI-KISI PENULISAN SOAL Jenis Sekolah : SMP Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kurikulum : 2006 Alokasi Waktu : 120 Menit Jumlah soal : 40 + 5 Bentuk Soal : Pilihan Ganda dan Uraian

Lebih terperinci

BAB III HIERARKI DAN AWAM A. KOMPETENSI

BAB III HIERARKI DAN AWAM A. KOMPETENSI BAB III HIERARKI DAN AWAM A. KOMPETENSI 1. Standar Kompetensi Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan bergereja

Lebih terperinci

5. Pengantar : Imam mengarahkan umat kepada inti bacaan, liturgi yang akan dirayakan saat itu.

5. Pengantar : Imam mengarahkan umat kepada inti bacaan, liturgi yang akan dirayakan saat itu. TATA CARA dan URUTAN PERAYAAN EKARISTI: Bagian 1 : RITUS PEMBUKA Bertujuan mempersatukan umat yang berkumpul dan mempersiapkan umat untuk mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak. Ritus

Lebih terperinci

TAHUN SUCI LUAR BIASA KERAHIMAN ALLAH

TAHUN SUCI LUAR BIASA KERAHIMAN ALLAH TAHUN SUCI LUAR BIASA KERAHIMAN ALLAH SOSIALISASI DALAM ARDAS KAJ UNTUK TIM PENGGERAK PAROKI KOMUNITAS DAN TAREKAT DIBAWAKAN OLEH TIM KERJA DKP GERAKAN ROHANI TAHUN KERAHIMAN DALAM ARDAS KAJ tantangan

Lebih terperinci

12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tanda nyata dari cinta Tuhan kepada manusia dinyatakan melalui sakramen-sakramen

BAB I PENDAHULUAN. Tanda nyata dari cinta Tuhan kepada manusia dinyatakan melalui sakramen-sakramen BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanda nyata dari cinta Tuhan kepada manusia dinyatakan melalui sakramen-sakramen dalam Gereja. Melalui sakramen-sakramen dalam Gereja Tuhan hendak mencurahkan daya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk menjadi seorang murid Kristus memiliki jalan yang berbeda-beda. Panggilan itu ada dua

BAB I PENDAHULUAN. untuk menjadi seorang murid Kristus memiliki jalan yang berbeda-beda. Panggilan itu ada dua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang dipanggil untuk mencapai kesempurnaan hidup seperti Kristus. Panggilan untuk menjadi seorang murid Kristus memiliki jalan yang berbeda-beda. Panggilan

Lebih terperinci

SPIRITUALITAS EKARISTI

SPIRITUALITAS EKARISTI SPIRITUALITAS EKARISTI SUSUNAN PERAYAAN EKARISTI RITUS PEMBUKA LITURGI SABDA LITURGI EKARISTI RITUS PENUTUP RITUS PEMBUKA Tanda Salib Salam Doa Tobat Madah Kemuliaan Doa Pembuka LITURGI SABDA Bacaan I

Lebih terperinci

Spiritualitas Organis, Pengiring Lagu Liturgi dalam dokumen Gereja

Spiritualitas Organis, Pengiring Lagu Liturgi dalam dokumen Gereja Spiritualitas Organis, Pengiring Lagu Liturgi dalam dokumen Gereja RD.Sridanto Aribowo, MA.Lit Temu paguyuban organis Gereja Keuskupan Agung Jakarta Rawamangun, 20 Juli 2013 AJARAN GEREJA TENTANG MUSIK

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Katolik

Pendidikan Agama Katolik Pendidikan Agama Katolik Modul ke: 03 EKARISTI SEBAGAI SUMBER DAN PUNCAK HIDUP KRISTIANI Fakultas Psikologi Program Studi Psikologi Drs. Sugeng Baskoro, M.M Pendahuluan Dalam suatu adegan yang mengharukan

Lebih terperinci

Suster-suster Notre Dame

Suster-suster Notre Dame Suster-suster Notre Dame Diutus untuk menjelmakan kasih Allah kita yang mahabaik dan penyelenggara Para suster yang terkasih, Generalat/Rumah Induk Roma Paskah, 5 April 2015 Kisah sesudah kebangkitan dalam

Lebih terperinci

Tahun C Hari Minggu Biasa III LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Neh. 8 : 3-5a

Tahun C Hari Minggu Biasa III LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Neh. 8 : 3-5a 1 Tahun C Hari Minggu Biasa III LITURGI SABDA Bacaan Pertama Neh. 8 : 3-5a. 6-7. 9-11 Bagian-bagian Kitab Taurat Allah dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan sehingga pembacaan dimengerti.

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD)

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

I N D E K S A N A L I T I S

I N D E K S A N A L I T I S I N D E K S A N A L I T I S DAFTAR SINGKATAN: AA = Apostolicam Actuositatem: Dekrit tentang Kerasulan Awam AG = Ad Gentes: Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja CD = Christus Dominus: Dekrit tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan Dunia dalam berbagai bidang kehidupan mempengaruhi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan Dunia dalam berbagai bidang kehidupan mempengaruhi kehidupan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kemajuan Dunia dalam berbagai bidang kehidupan mempengaruhi kehidupan dan nilai-nilai rohani masyarakat. Kehidupan rohani menjadi semakin terdesak dari perhatian umat

Lebih terperinci

TATA GEREJA PEMBUKAAN

TATA GEREJA PEMBUKAAN TATA GEREJA PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya gereja adalah penyataan Tubuh Kristus di dunia, yang terbentuk dan hidup dari dan oleh Firman Tuhan, sebagai persekutuan orang-orang percaya dan dibaptiskan ke

Lebih terperinci

HOME. Written by Sr. Maria Rufina, P.Karm Published Date. A. Pembentukan Intelektual dan Spiritual Para Imam

HOME. Written by Sr. Maria Rufina, P.Karm Published Date. A. Pembentukan Intelektual dan Spiritual Para Imam A. Pembentukan Intelektual dan Spiritual Para Imam Di masa sekarang ini banyak para novis dan seminaris yang mengabaikan satu atau lebih aspek dari latihan pembentukan mereka untuk menjadi imam. Beberapa

Lebih terperinci

UNISITAS DAN UNIVERSALITAS KESELAMATAN YESUS DALAM KONTEKS PLURALITAS AGAMA DI INDONESIA. Fabianus Selatang 1

UNISITAS DAN UNIVERSALITAS KESELAMATAN YESUS DALAM KONTEKS PLURALITAS AGAMA DI INDONESIA. Fabianus Selatang 1 UNISITAS DAN UNIVERSALITAS KESELAMATAN YESUS DALAM KONTEKS PLURALITAS AGAMA DI INDONESIA Fabianus Selatang 1 Abstrak Konsep keselamatan dalam Katolik jelas berbeda dengan pengertian keselamatan dalam agama-agama

Lebih terperinci

GEREJA KRISTEN NAZARENE PASAL-PASAL TENTANG IMAN

GEREJA KRISTEN NAZARENE PASAL-PASAL TENTANG IMAN GEREJA KRISTEN NAZARENE PASAL-PASAL TENTANG IMAN I Allah Tritunggal Kami percaya kepada satu Allah yang tidak terbatas, yang keberadaan-nya kekal, Pencipta dan Penopang alam semesta yang berdaulat; bahwa

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Kristen Protestan

Pendidikan Agama Kristen Protestan Pendidikan Agama Kristen Protestan Modul ke: 01Fakultas Psikologi GEREJA DAN HAKIKATNYA Drs. Sugeng Baskoro,M.M. Program Studi Psikologi HAKEKAT GEREJA A.pengertian Gereja Kata Gereja berasal dari bahasa

Lebih terperinci

(Disampaikan sebagai pengganti Homili, pada Misa Sabtu/Minggu, 28/29 September 2013)

(Disampaikan sebagai pengganti Homili, pada Misa Sabtu/Minggu, 28/29 September 2013) (Disampaikan sebagai pengganti Homili, pada Misa Sabtu/Minggu, 28/29 September 2013) Makin Beriman, Makin Bersaudara, Makin Berbela Rasa Melalui Pangan Sehat Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater,

Lebih terperinci

BAB 3 LANDASAN TEORI

BAB 3 LANDASAN TEORI BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1. Sistem Ada berbagai macam pengertian tentang sistem. Menurut Eka Iswandy, sistem merupakan kumpulan unsur yang saling melengkapi dalam mencapai suatu tujuan dan sasaran (Iswandy,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia dapat menghasilkan keindahan melalui kegiatan bernyanyi. Bernyanyi adalah

BAB I PENDAHULUAN. manusia dapat menghasilkan keindahan melalui kegiatan bernyanyi. Bernyanyi adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Musik adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia merupakan bagian dari kesenian atau keindahan yang dihasilkan melalui media bunyi atau suara. Suara

Lebih terperinci

B. RINGKASAN MATERI 1. Gereja yang satu 2. Gereja yang kudus 3. Gereja yang katolik 4. Gereja yang apostolic

B. RINGKASAN MATERI 1. Gereja yang satu 2. Gereja yang kudus 3. Gereja yang katolik 4. Gereja yang apostolic BAB II SIFAT SIFAT GEREJA A. KOMPTENTSI 1. Standar Kompetensi Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan bergereja

Lebih terperinci

Liturgi Anak yang Hidup

Liturgi Anak yang Hidup Liturgi Anak yang Hidup 50 Tahun Sacrosanctum Concilium Makasar, 16 Oktober 2013 RD.Sridanto Aribowo, MA.Lit Gereja yang Peduli kepada Anak Sejarah Gereja menunjukkan anak kerap menjadi subyek maupun obyek

Lebih terperinci

ARAH DASAR PASTORAL KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA

ARAH DASAR PASTORAL KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA ARAH DASAR PASTORAL KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA Tahun 2011 2015 1 Latar Belakang Ecclesia Semper Reformanda >> gerak pastoral di KAJ >> perlunya pelayanan pastoral yg semakin baik. 1989 1990: Sinode I KAJ

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR PERSEKUTUAN PEMUDA KRISTIYASA GKPB BAB I NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN

ANGGARAN DASAR PERSEKUTUAN PEMUDA KRISTIYASA GKPB BAB I NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN ANGGARAN DASAR PERSEKUTUAN PEMUDA KRISTIYASA GKPB PEMBUKAAN Sesungguhnya Allah didalam Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia. Ia adalah sumber kasih, kebenaran, dan hidup, yang dengan kuat kuasa

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

Kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi (Luk 24:49)

Kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi (Luk 24:49) HR KENAIKAN TUHAN : Kis 1:1-11; Ef 1:17-23; Luk 24:46-53 Kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi (Luk 24:49) Sebelum menerima tahbisan imamat,

Lebih terperinci

MUSIK LITURGI BERNUANSA ETNIS

MUSIK LITURGI BERNUANSA ETNIS MUSIK LITURGI BERNUANSA ETNIS Musik Gereja Inkulturasi Adalah musik gereja yang bernuansa musik tradisi setempat atau lokal. Di Indonesia, musik gereja yang digunakan dalam peribadatan sudah berkembang

Lebih terperinci

MENDENGARKAN HATI NURANI

MENDENGARKAN HATI NURANI Mengejawantahkan Keputusan Kongres Nomor Kep-IX / Kongres XIX /2013 tentang Partisipasi Dalam Partai Politik dan Pemilu Wanita Katolik Republik Indonesia MENDENGARKAN HATI NURANI Ibu-ibu segenap Anggota

Lebih terperinci

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018 KELUARGA KATOLIK YANG BERKESADARAN HUKUM DAN MORAL, MENGHARGAI SESAMA ALAM CIPTAAN

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018 KELUARGA KATOLIK YANG BERKESADARAN HUKUM DAN MORAL, MENGHARGAI SESAMA ALAM CIPTAAN SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018 KELUARGA KATOLIK YANG BERKESADARAN HUKUM DAN MORAL, MENGHARGAI SESAMA ALAM CIPTAAN Disampaikan sebagai pengganti khotbah dalam Perayaan Ekaristi Minggu Biasa VI tanggal 10-11

Lebih terperinci

Th A Hari Minggu Biasa VIII 26 Februari 2017

Th A Hari Minggu Biasa VIII 26 Februari 2017 1 Th A Hari Minggu Biasa V 26 Februari 2017 Antifon Pembuka Mzm. 18 : 19-20 Tuhan menjadi sandaranku. a membawa aku keluar ke tempat lapang. a menyelamatkan aku karena a berkenan kepadaku. Pengantar Rasa-rasanya

Lebih terperinci

STUDI PERBANDINGAN ALIRAN KRISTEN: "KATOLIK ROMA"

STUDI PERBANDINGAN ALIRAN KRISTEN: KATOLIK ROMA STUDI PERBANDINGAN ALIRAN KRISTEN: "KATOLIK ROMA" Istilah Katolik Istilah 'Katolik' bukan monopoli golongan Katolik, karena istilah 'Katolik' berarti universal atau umum / am [bandingkan dengan Pengakuan

Lebih terperinci

KISI-KISI UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL (USBN) TAHUN PELAJARAN 2017/2018

KISI-KISI UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL (USBN) TAHUN PELAJARAN 2017/2018 Jenjang Pendidikan : SMP Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Katolik Kurikulum : 2006 Jumlah Kisi-Kisi : 60 KISI-KISI UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL (USBN) TAHUN PELAJARAN 2017/2018 NO KOMPETENSI DASAR

Lebih terperinci

LATAR BELAKANG KEGIATAN

LATAR BELAKANG KEGIATAN PENDAHULUAN Kegiatan Lomba dalam rangka Perayaan Bulan Kitab Suci Nasional 2015 Berikut kami sadur sejarah BKSN sebagai pendahuluan. Saudara saudari terkasih dalam Kristus, bagi umat Katolik di Indonesia,

Lebih terperinci

MENGORGANISASI, MENGGABUNGKAN, MEMBUBARKAN JEMAAT DAN PERKUMPULAN MENGORGANISASI JEMAAT PELAJARAN 10

MENGORGANISASI, MENGGABUNGKAN, MEMBUBARKAN JEMAAT DAN PERKUMPULAN MENGORGANISASI JEMAAT PELAJARAN 10 MENGORGANISASI, MENGGABUNGKAN, MEMBUBARKAN JEMAAT DAN PERKUMPULAN MENGORGANISASI JEMAAT PELAJARAN 10 Satu jemaat diorganisasi oleh seorang pendeta yang diurapi atas rekomendasi komite eksekutif konferens.

Lebih terperinci

Perayaan Ekaristi Hari Minggu Adven ke-1

Perayaan Ekaristi Hari Minggu Adven ke-1 Perayaan Ekaristi Hari Minggu Adven ke-1 1. Lagu Pembukaan: HAI, ANGKATLAH KEPALAMU (PS 445 / MB 326) http://www.lagumisa.web.id/lagu.php?&f=ps-445 Pengantar Seruan Tobat Saudara-saudari, marilah mengakui

Lebih terperinci

dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014

dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014 SURAT GEMBALA PRAPASKA 2014 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014 Allah Peduli dan kita menjadi perpanjangan Tangan Kasih-Nya untuk Melayani Saudari-saudaraku yang terkasih,

Lebih terperinci

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014)

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014) (Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014) Para Ibu/Bapak, Suster/Bruder/Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang yang terkasih dalam Kristus, 1. Bersama dengan

Lebih terperinci

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan subyek yang ikut berperan 14 1 7. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI Menurut Anda pribadi, manakah rencana Allah bagi keluarga Anda? Dengan kata lain, apa yang menjadi harapan Allah dari keluarga Anda? Menurut Anda

Lebih terperinci

Tahun C Pesta Pembaptisan Tuhan LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Yes. 40 :

Tahun C Pesta Pembaptisan Tuhan LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Yes. 40 : 1 Tahun C Pesta Pembaptisan Tuhan LITURGI SABDA Bacaan Pertama Yes. 40 : 1-5. 9-11 Kemuliaan Tuhan akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya. Bacaan diambil dari Kitab Nabi Yesaya: Beginilah

Lebih terperinci

RESEPSI GAUDIUM ET SPES OLEH GEREJA INDONESIA

RESEPSI GAUDIUM ET SPES OLEH GEREJA INDONESIA RESEPSI GAUDIUM ET SPES OLEH GEREJA INDONESIA Laurentius Sutadi ABSTRACT: The 50 th anniversary of The Second Vatican Council opening is an important moment to research the Catolic followers reception

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Kristus. Sakramen-sakramen merupakan tahap paling konkret di mana

BAB V PENUTUP. Kristus. Sakramen-sakramen merupakan tahap paling konkret di mana BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Panggilan hidup manusia merupakan anugerah Allah. Manusia dipanggil untuk hidup bersama Allah. Konsekuensi praktis dari pandangan demikian mau melegitimasi karunia Allah sebagai

Lebih terperinci

UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran

UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran 2008 2009 L E M B A R S O A L Mata pelajaran : Pendidikan Agama Katolik Kelas : 8 Hari / tanggal : Waktu : 60 menit PETUNJUK UMUM : 1. Tulislah nama

Lebih terperinci

Suster-suster Notre Dame

Suster-suster Notre Dame Suster-suster Notre Dame Diutus untuk menjelmakan kasih Allah kita yang mahabaik dan penyelenggara Para Suster yang terkasih, Generalat/Rumah Induk Roma Natal, 2013 Natal adalah saat penuh misteri dan

Lebih terperinci

Kumpulan Soal Olimpiade Pengetahuan Iman Bidang Pembinaan Iman Keuskupan Bogor

Kumpulan Soal Olimpiade Pengetahuan Iman Bidang Pembinaan Iman Keuskupan Bogor Kumpulan Soal Olimpiade Pengetahuan Iman 2014 Bidang Pembinaan Iman Keuskupan Bogor Dalam rangka merayakan syukur atas penyelenggaraan Ilahi kepada Keuskupan Bogor maka Bidang Pembinaan Iman Keuskupan

Lebih terperinci

RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal Paul Suparno, S.J.

RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal Paul Suparno, S.J. 1 RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal 25-28 Paul Suparno, S.J. Suster Mistika dikenal oleh orang sekitar sebagai seorang yang suci, orang yang dekat dengan Tuhan,

Lebih terperinci

Written by Tim carmelia.net Published Date

Written by Tim carmelia.net Published Date Pada masa akhir hidupnya, Paus Yohanes Paulus II menetapkan tahun Ekaristi yang dimulai pada bulan Oktober tahun 2004 sampai bulan Oktober tahun 2005. Hal ini menunjukkan suatu kecintaan yang luar biasa

Lebih terperinci

TANTANGAN RELIGIUS DALAM MEWARTAKAN KABAR GEMBIRA DI ZAMAN GADGET

TANTANGAN RELIGIUS DALAM MEWARTAKAN KABAR GEMBIRA DI ZAMAN GADGET 1 TANTANGAN RELIGIUS DALAM MEWARTAKAN KABAR GEMBIRA DI ZAMAN GADGET Seminar Religius di BKS 2016 Kanisius, 8 September 2016 Paul Suparno, SJ Pendahuluan Tema BKS tahun 2016 ini adalah agar keluarga mewartakan

Lebih terperinci

Surat Roma ini merupakan surat Paulus yang paling panjang, paling teologis, dan paling berpengaruh. Mungkin karena alasan-alasan itulah surat ini

Surat Roma ini merupakan surat Paulus yang paling panjang, paling teologis, dan paling berpengaruh. Mungkin karena alasan-alasan itulah surat ini Catatan: Bahan ini diambil dari http://www.sabda.org/sabdaweb/biblical/intro/?b=47, diakses tanggal 3 Desember 2012. Selanjutnya mahasiswa dapat melihat situs www.sabda.org yang begitu kaya bahan-bahan

Lebih terperinci

MATERI V BERTUMBUH DALAM CINTA AKAN KRISTUS MELALUI DOA

MATERI V BERTUMBUH DALAM CINTA AKAN KRISTUS MELALUI DOA BERTUMBUH DALAM CINTA AKAN KRISTUS MELALUI DOA 1. PENGANTAR Keluarga Kristiani dipanggil untuk menjadi rasul kehidupan Setiap pasangan suami-istri dipanggil oleh Tuhan untuk bertumbuh dan berkembang dalam

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. budaya Jawa terhadap liturgi GKJ adalah ada kesulitan besar pada tata

BAB V PENUTUP. budaya Jawa terhadap liturgi GKJ adalah ada kesulitan besar pada tata BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Kesimpulan akhir dari penelitian tentang teologi kontekstual berbasis budaya Jawa terhadap liturgi GKJ adalah ada kesulitan besar pada tata peribadahan GKJ di dalam menanamkan

Lebih terperinci

PANDUAN PENGURUS LINGKUNGAN PAROKI SANTO YUSUP - GEDANGAN STASI SANTO IGNATIUS - BANJARDAWA SEMARANG

PANDUAN PENGURUS LINGKUNGAN PAROKI SANTO YUSUP - GEDANGAN STASI SANTO IGNATIUS - BANJARDAWA SEMARANG PANDUAN PENGURUS LINGKUNGAN PAROKI SANTO YUSUP - GEDANGAN STASI SANTO IGNATIUS - BANJARDAWA SEMARANG PANDUAN Pengurus Lingkungan Paroki Santo Yusup - Gedangan Stasi Santo Ignatius - Banjardawa Semarang

Lebih terperinci

BAB I MENGENAL GEREJA

BAB I MENGENAL GEREJA BAB I MENGENAL GEREJA 1 STANDAR KOMPETENSI Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan ber-gereja sesuai dengan

Lebih terperinci

Tugas Agama. Mengapa Ekarisi menjadi pusat dan sumber liturgi Gereja Katolik?

Tugas Agama. Mengapa Ekarisi menjadi pusat dan sumber liturgi Gereja Katolik? Nama : Phoa, Wily Angpujana NIM : 4101412151 Fak/Jur: MIPA/Matemaika Tugas Agama Mengapa Ekarisi menjadi pusat dan sumber liturgi Gereja Katolik? Dalam Sacrosanctum Concilium (SC) (Konsitusi Tentang Liturgi

Lebih terperinci

KESEJATIAN IMAM YANG BERTINDAK IN PERSONA CHRISTI MELALUI PELAYANAN SAKRAMEN EKARISTI DALAM TERANG ENSIKLIK ECCLESIA DE EUCHARISTIA NO.

KESEJATIAN IMAM YANG BERTINDAK IN PERSONA CHRISTI MELALUI PELAYANAN SAKRAMEN EKARISTI DALAM TERANG ENSIKLIK ECCLESIA DE EUCHARISTIA NO. KESEJATIAN IMAM YANG BERTINDAK IN PERSONA CHRISTI MELALUI PELAYANAN SAKRAMEN EKARISTI DALAM TERANG ENSIKLIK ECCLESIA DE EUCHARISTIA NO. 29 (Sebuah Tinjauan Teologis) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Filsafat

Lebih terperinci

IBADAT PEMBERKATAN PERTUNANGAN

IBADAT PEMBERKATAN PERTUNANGAN IBADAT PEMBERKATAN PERTUNANGAN Orang tua Kristiani mempunyai tanggung jawab, yang dipandang juga sebagai bentuk kerasulan khusus, untuk mendidik anak-anak dan membantu anak-anak dapat mempersiapkan diri

Lebih terperinci

BAB V : KEPEMIMPINAN GEREJAWI

BAB V : KEPEMIMPINAN GEREJAWI BAB V : KEPEMIMPINAN GEREJAWI PASAL 13 : BADAN PENGURUS SINODE Badan Pengurus Sinode adalah pimpinan dalam lingkungan Sinode yang terdiri dari wakil-wakil jemaat anggota yang bertugas menjalankan fungsi

Lebih terperinci

Sukacita kita dalam doa

Sukacita kita dalam doa Sukacita kita dalam doa Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. (John 16:24) Sukacita dalam melayani Allah dan sesama merupakan suatu perwujudan nyata: sesuatu yang spontan, bahkan

Lebih terperinci

(mempelai wanita) & (mempelai pria) MISA KUDUS SAKRAMEN PERKAWINAN. Dipimpin oleh

(mempelai wanita) & (mempelai pria) MISA KUDUS SAKRAMEN PERKAWINAN. Dipimpin oleh MISA KUDUS SAKRAMEN PERKAWINAN (mempelai wanita) & (mempelai pria) Hari...,, Tanggal... Pukul ------- WIB Di... Paroko..., Kota... Dipimpin oleh ------------------------ PERSIAPAN Iringan mempelai bersiap

Lebih terperinci

Pdt. Gerry CJ Takaria

Pdt. Gerry CJ Takaria ANUGERAH ALLAH YANG MENYELAMATKAN Alkitab menyatakan Allah yang menaruh perhatian atas keselamatan manusia. Anggota Keallahan bersatu dalam upaya membawa kembali manusia ke dalam persatuan dengan Pencipta

Lebih terperinci

Pertumbuhan Iman Menuju Kesempurnaan

Pertumbuhan Iman Menuju Kesempurnaan Pertumbuhan Iman Menuju Kesempurnaan Kolose 2 : 18-19 2:18 Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada

Lebih terperinci

03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia.

03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. 03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna,

Lebih terperinci

BAB II PROSES LITURGI SAKRAMEN REKONSILIASI DI GEREJA KATOLIK KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA

BAB II PROSES LITURGI SAKRAMEN REKONSILIASI DI GEREJA KATOLIK KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA BAB II PROSES LITURGI SAKRAMEN REKONSILIASI DI GEREJA KATOLIK KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA Bab ini membahas konsep dan proses liturgi dalam sakramen rekonsiliasi. Tata cara sakramen rekonsiliasi telah

Lebih terperinci

1/14/2018 RUANG SAKRA. Paroki St. Odilia Citra Raya 14 Januari 2018 M.F. Dinar Ari Wijayanti. Dasar Biblis

1/14/2018 RUANG SAKRA. Paroki St. Odilia Citra Raya 14 Januari 2018 M.F. Dinar Ari Wijayanti. Dasar Biblis RUANG SAKRA Paroki St. Odilia Citra Raya 14 Januari 2018 M.F. Dinar Ari Wijayanti Dasar Biblis 1 Kitab Nabi Yehezkiel 40:48 47:12 Bait Suci yang Baru Yesus Menyucikan Bait Allah RumahKu adalah Rumah Doa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. SEKAMI adalah gerakan Internasional anak-anak yang tertua di seluruh dunia. Serikat

BAB I PENDAHULUAN. SEKAMI adalah gerakan Internasional anak-anak yang tertua di seluruh dunia. Serikat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner atau yang lebih dikenal dengan SEKAMI adalah gerakan Internasional anak-anak yang tertua di seluruh dunia. Serikat ini didirikan

Lebih terperinci

Rencana Allah untuk Gereja Tuhan

Rencana Allah untuk Gereja Tuhan Rencana Allah untuk Gereja Tuhan Yesus berkata, "Aku akan mendirikan jemaatku dan alam maut tidak akan menguasainya" (Matius 16:18). Inilah janji yang indah! Ayat ini memberitahukan beberapa hal yang penting

Lebih terperinci

Tahun A-B-C : Hari Raya Paskah LITURGI SABDA

Tahun A-B-C : Hari Raya Paskah LITURGI SABDA 1 Tahun A-B-C : Hari Raya Paskah LITURGI SABDA Bacaan Pertama Kis. 10 : 34a. 37-43 Kami telah makan dan minum bersama dengan Yesus setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Bacaan diambil dari Kisah Para

Lebih terperinci

Biar Kanak-kanak datang kepada-ku : Evaluasi dan Refleksi Perayaan Ekaristi bersama Anak-anak (missis cum pueris)

Biar Kanak-kanak datang kepada-ku : Evaluasi dan Refleksi Perayaan Ekaristi bersama Anak-anak (missis cum pueris) Biar Kanak-kanak datang kepada-ku : Evaluasi dan Refleksi Perayaan Ekaristi bersama Anak-anak (missis cum pueris) oleh Bonifacius Hendar Putranto Ketua Sie Liturgi HSPMTB (2013 2016) Landasan dari Kitab

Lebih terperinci

RANGKUMAN PELAJARAN AGAMA KATOLIK KELAS 3 SEMESTER

RANGKUMAN PELAJARAN AGAMA KATOLIK KELAS 3 SEMESTER RANGKUMAN PELAJARAN AGAMA KATOLIK KELAS 3 SEMESTER 2 Pelajaran 12. Sakramen Bapis 1) Ada 7 sakramen yang diakui oleh Gereja, yaitu: a) Sakramen Bapis b) Sakramen Ekarisi c) Sakramen Krisma d) Sakramen

Lebih terperinci

PILIHLAH JAWABAN YANG BENAR!

PILIHLAH JAWABAN YANG BENAR! PILIHLAH JAWABAN YANG BENAR! 1. Simbol perkawinan bahtera yang sedang berlayar mempunyai makna bahwa perkawinan... A. merupakan perjalanan yang menyenangkan B. ibarat mengarungi samudra luas yang penuh

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Kristen Protestan

Pendidikan Agama Kristen Protestan Modul ke: 04Fakultas Psikologi Pendidikan Agama Kristen Protestan GEREJA SESUDAH ZAMAN PARA RASUL (2) Program Studi Psikologi Drs. Sugeng Baskoro,M.M. A. Latar Belakang Dalam kepercayaan Iman Kristen,

Lebih terperinci

Sapientia Cordis (Kebijaksaan Hati)

Sapientia Cordis (Kebijaksaan Hati) Sapientia Cordis (Kebijaksaan Hati) Saya adalah mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh (Ayb 29:15) Saudara-saudari terkasih, Pada Hari Orang Sakit Sedunia ke-32 ini, yang dimulai oleh St. Yohanes

Lebih terperinci

PERAYAAN HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA Rohani, Maret 2012, hal Paul Suparno, S.J.

PERAYAAN HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA Rohani, Maret 2012, hal Paul Suparno, S.J. 1 PERAYAAN HARI HIDUP BAKTI SEDUNIA Rohani, Maret 2012, hal 28-32 Paul Suparno, S.J. Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 6 Januari 1997 telah menetapkan bahwa tanggal 2 Februari, pada pesta Kanak-kanak

Lebih terperinci

LITURGI SABDA. Tahun C Minggu Paskah III. Bacaan Pertama Kis. 5:27b b-41. Kami adalah saksi dari segala sesuatu: kami dan Roh Kudus.

LITURGI SABDA. Tahun C Minggu Paskah III. Bacaan Pertama Kis. 5:27b b-41. Kami adalah saksi dari segala sesuatu: kami dan Roh Kudus. 1 Tahun C Minggu Paskah III LITURGI SABDA Bacaan Pertama Kis. 5:27b-32. 40b-41 Kami adalah saksi dari segala sesuatu: kami dan Roh Kudus. Bacaan diambil dari Kisah Para Rasul: Setelah ditangkap oleh pengawal

Lebih terperinci

ARAH DASAR KEUSKUPAN SURABAYA

ARAH DASAR KEUSKUPAN SURABAYA ARAH DASAR KEUSKUPAN SURABAYA 2010-2019 1. HAKIKAT ARAH DASAR Arah Dasar Keuskupan Surabaya merupakan panduan hidup menggereja yang diterima, dihayati dan diperjuangkan bersama oleh segenap umat Keuskupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keuskupan Surabaya. Menurut pernyataannya, jaman sekarang umat di

BAB I PENDAHULUAN. Keuskupan Surabaya. Menurut pernyataannya, jaman sekarang umat di BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Salah satu keprihatinan gereja pada jaman sekarang ini adalah pragmatisme. 1 Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono 2 pun juga beberapa kali menyatakan keprihatinan ini.

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan Bdk. Pranata Tentang Sakramen dalam Tata dan Pranata GKJW, (Malang: Majelis Agung GKJW, 1996), hlm.

Bab I Pendahuluan Bdk. Pranata Tentang Sakramen dalam Tata dan Pranata GKJW, (Malang: Majelis Agung GKJW, 1996), hlm. Bab I Pendahuluan 1. 1 Latar Belakang Masalah Selama ini di Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dilakukan Perjamuan Kudus sebanyak empat kali dalam satu tahun. Pelayanan sebanyak empat kali ini dihubungkan

Lebih terperinci

PELAJARAN 11 GEREJA DAN DUNIA

PELAJARAN 11 GEREJA DAN DUNIA PELAJARAN 11 GEREJA DAN DUNIA TUJUAN KHUSUS PEMBELAJARAN Pada akhir pelajaran, saya dapat: 1. menjelaskan arti dunia; 2. menjelaskan pandangan Gereja tentang dunia; 3. menjelaskan arti dari Konstitusi

Lebih terperinci

Gereja Menyediakan Persekutuan

Gereja Menyediakan Persekutuan Gereja Menyediakan Persekutuan Pada suatu Minggu pagi sebelum kebaktian Perjamuan Tuhan, lima orang yang akan diterima sebagaianggota gereja berdiri di depan pendeta dan sekelompok diaken. Salah seorang

Lebih terperinci

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E)

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) 10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi

Lebih terperinci

PELAYANAN ANAK. PELAYANAN ANAK Sesi 1: Menjangkau Anak-anak

PELAYANAN ANAK. PELAYANAN ANAK Sesi 1: Menjangkau Anak-anak PELAYANAN ANAK Sesi 1: Menjangkau Anak-anak PENDAHULUAN Allah tertarik pada anak-anak. Haruskah gereja berusaha untuk menjangkau anak-anak? Apakah Allah menyuruh kita bertanggung jawab terhadap anak-anak?

Lebih terperinci