MEMBERDAYAKAN PENGAWAS MADRASAH

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MEMBERDAYAKAN PENGAWAS MADRASAH"

Transkripsi

1 MEMBERDAYAKAN PENGAWAS MADRASAH MEMBERDAYAKAN PENGAWAS MADRASAH BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Guru dalam mengemban tugas mulianya senantiasa membutuhkan motivator yang mampu memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi problema pembelajaran di kelas. Untuk itu diperlukan figur supervisor yang kapabel dalam bidang pendidikan. Pentingnya adalah peranan pengawas madrasah dalam meningkatkan kinerja guru agar mewujudkan pengajaran yang efektif. Ada tiga strategi utama yang dapat ditempuh yaitu :[1] Mengupayakan agar guru lebih bersungguh-sungguh dan bekerja lebih keras serta bersemangat dalam mengajar. Mengupayakan agar sistem pengajaran ditata sedemikian rupa sehingga berlaku prinsip belajar tuntas, yaitu guru harus berupaya agar murid benar-benar menguasai apa yang telah diajarkan dan tidak begitu saja melanjutkan pengajaran ketingkat yang lebih tinggi jika murid belum tuntas penguasaannya. Berkaitan dengan butir (1) di atas, perlu diupayakan agar terdapat pessure terhadap guru untuk mencapai tujuan pengajarannya, yang disertai dengan support yang memadai bagi keberhasilan tugasnya. Kinerja guru adalah kemampuan yang ditunjukkan oleh guru dalam

2 melaksanakan tugas atau pekerjaannya. Kinerja dikatakan baik dan memuaskan apabila tujuan yang dicapai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.[2]keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas kinerja guru sebagai tolok ukur dalam pengelolaan peserta didik di madrasah. Peran kepala Madrasah dan pengawas sangat strategis dalam memberikan motivasi dan suport dalam meningkatkan kualitas kinerja guru. BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Supervisi Supervisi secara etimologi berasal dari kata super dan visi yang mengandung arti melihat dan meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas yang dilakukan oleh pihak atasan terhadap aktivitas, kreativitas dan kinerja bawahan. [3] Menurut M. Ngalim Purwanto, supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegewai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.[4] Sedangkan menurut Wiles yang dikutip oleh Soekarto Indrafachrudi bahwa arti supervisi sebagai berikut: Supervision is a service activity that exists to help teachers do their job better. [5] Menurut Suharsimi Arikunto, supervisi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pengawas dan kepala sekolah sebagai pejabat yang berkedudukan di atas atau lebih tinggi dari guru untuk melihat atau mengawasi pekerjaan guru.[6] Supervisi merupakan aktivitas pengawas dan kepala sekolah untuk memberikan bantuan berupa bimbimngan dan dorongan kepada guru-guru dan personil sekolah lainnya dalam

3 mencapai tujuan pendidikan. 2. Pengertian Pengawas Madrasah Definisi pengawas sekolah menurut Permendiknas No.12 Tahun 2007 berbeda sedikit dengan Kepmenpan No.118 Tahun Menurut Permendiknas tersebut, pengawas sekolah adalah guru yang diangkat dan diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah, sekolah dasar dan sekolah menengah.[7] Sedangkan menurut PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) juga menegaskan kriteria pengawas satuan pendidikan adalah berstatus sebagai guru sekurang-kurangnya delapan tahun atau kepala sekolah sekurang-kurangnya empet tahun pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan satuan pendidikan yang diawasi, memiliki sertifikat pendidikan fungsional sebagai pengawas satuan pendidikan, serta telah lulus seleksi pengawas satuan pendidikan.[8] 1. Orientasi Supervisi Salah satu faktor penting dalam mempengaruhi kesuksesan pembinaan guru adalah orientasi supervisi yang tepat. Glickman mengemukakan tiga orientasi supervisi yang diterapkan oleh supervisor dalam melakukan supervisi yakni pendekatan direktif, pendekatan kolaboratif, dan pendekatan nondirektif.[9] 1. Orientasi Supervisi Direktif Supervisi ini yang menonjol dari supervisor adalah

4 demonstrating, directing, standizing, dan reinforcing. Tanggungjawab lebih banyak pada supervisor. 2. Orientasi Supervisi Kolaboratif Perilaku yang menonjol dari supervisor adalah presenting, problem solving, dan negotiating. Tugas supervisor mendengarkan dan memperhatikan dengan cermat keprihatinan guru terhadap perbaikan mengajarnya dan gagasan guru untuk mengatasi masalah. Supervisor minta penjelasan guru apabila ada hal kurang dipahami, kemudian mendorong guru untuk mengaktualisasikan inisiatif pemikirannya untuk memecahkan masalah untuk meningkatkan pembelajaran. Pendekatan kolaboratif ini merupakan salah satu pendekatan yang paling disukai guru.[10] 3. Orientasi Supervisi Nondirektif Supervisor berperan mendengarkan, mendorong, atau membangkitkan kesadaran sendiri dan pengalamanpengalaman guru diklasifikasikan. Tanggungjawab supervisi lebih banyak di pihak guru. H.M Sulthon mengutip Glickman berpendapat bahwa 3 orientasi supervisi pendidikan dapat dikaji melalui 10 indikator perilaku supervisor yaitu : meliputi : (1) memberikan pengutan terhadap perilaku guru, (2) memberikan standar untuk pengembangan prilaku guru, (3) memberikan pengarahan tindakan kepada guru, (4) mendemonstrasikan keterampilan mengajar tertentu kepada guru, (5) melakukan negoisasi kepada guru dalam pelaksanaan supervisi, (6) memecahkan masalah yang dihadapi guru, (7) menunjukkan ide tentang apa dan bagaimana informasi akan dapat dikumpulkan, (8) membesarkan hati guru, (9) mengklarifikasi permasalahan yang dihadapi guru, dan (10) mendengarkan keluhan permasalahan guru.[11]

5 2. Fungsi Supervisi Perkembangan mutakhir tentang supervisi dikemukakan oleh Segiovanni yang menyatakan bahwa supervisi bukan hanya dilakukan oleh pejabat yang sudah ditunjuk tetapi oleh seluruh personel yang ada di sekolah ( by the entire school staffs ).[12] Berpijak pengertian di atas, ada tiga fungsi supevisi yaitu :[13] Fungsi meningkatkan mutu pembelajaran Fungsi memicu unsur yang terkait dengan pembelajaran Fungsi membina dan memimpin Dengan demikian supervisi pendidikan merupakan suatu keharusan untuk diaplikasikan pada sebuah lembaga pendidikan termasuk madrasah sebagai realisasi pencerahan dan perbaikan secara kontinue dalam mensukseskan program pendidikan madrasah. 5. Tipe-tipe Supervisi Jika dikaitkan dengan dengan paradigma lama bahwa supervisi merupakan aktivitas yang dilaksanakan oleh atasan yang berperan sebagai pemimpin dan pembimbing, maka tipe-tipe kepengawasan tidak lepas dari tipe-tipe kepemimpinan. Menurut Suharsimi Arikunto ada 5 tipe supervisi yaitu :[14] 1. Tipe Inspeksi Dalam bentuk inspeksi supervisi merupakan ativitas menginspeksi guru atau bawahan yang menjadi kewenangan inspektur. Inspeksi dilaksanakan bukan menolong guru, tetapi untuk meneliti/mengawasi apakah guru atau bawahan menjalan instruksi atasan atau tidak. 2. Tipe Laisses Faire

6 Pengawasan tipe ini tidak konstruktif, membiarkan guru-guru atau bawahan bekerja tanpa diberi petunjuk atau bimbingan, mereka bekerja menurut kehendak sendiri. 3. Tipe Coersive Dalam kepengawasan ini pengawas bersifat memaksakan segala sesuatu yang dianggap benar dan baik menurut pendapat sendiri. Guru harus mengikuti petunjuk yang dianggap benar menurut supervisor. 4. Tipe Training and Guidance Tipe supervisi ini berpandangan bahwa pendidikan itu merupakan suatu proses pertumbuhan dan bimbingan. Dan orang-orang yang diangkat guru pada umumnya telah mendapat pendidikan pre-service di sekolah guru. Karena itu supervisi dilaksanakan untuk melatih dan memberi bimbingan kepada guru dalam tugas pekerjaannya. 5. Tipe Demokratis Supervisi merupakan kepemimpinan pendidikan secara kooperatif, supervisi bukan dipegang oleh seorang petugas, tetapi merupakan pekerjaan yang dikoordinasikan. Tanggungjawab dibagikan kepada para anggota sesuai tingkat keahlian dan kecakapan masing-masing. 6. Prinsip-prinsip Supervisi Program supervisi berprinsip kepada proses pembinaan guru yang menyediakan motivasi yang kaya bagi pertumbuhan kemampuan profesionalnya dalam mengajar.[15] Menurut Jerry H. Makawimbang, secara sederhana prinsip-prinsip supervisi sebagai berikut :[16] 1. Supervisi hendaknya memberikan rasa aman kepada pihak yang disupervisi

7 2. Supervisi hendaknya bersifat konstruktif dan kreatif 3. Supervisi hendaknya realistis didasarkan pada keadaan dan kenyataan sebenarnya 4. Kegiatan supervisi hendaknya terlaksana dengan sederhana 5. Dalam pelaksanaan supervisi hendaknya terjalin hubungan profesional, bukan didasarkan atas hubungan pribadi 6. Supevisi hendaknya didasarkan pada kemampuan, kesanggupan, kondisi dan sikap pihak yang disupervisi 7. Supervisi harus menolong guru agar senantiasa tumbuh sendiri tidak tergantung pada kepala sekolah. Menurut Suharsimi Arikunto, prinsipprinsip supervisi sebagai berikut:[17] 1. supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada guru dan staf sekolah untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan, dan bukan mencari-cari kesalahan. 2. Pemberian bantuan dan bimbingan secara langsung, artinya bahwa bimbingan dan bantuan tersebut tidak diberikan secara langsung tetapi harus diupayakan agar pihak yang bersangkutan tanpa dipaksa atau dibukakan hatinya dapat merasa sendiri serta sepadan dengan kemampuan untuk dapat mengatasi sendiri. 3. Apabila pengawas atau kepala sekolah merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik, sebaiknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. 4. Kegiatan supervisi sebaiknya dilaksanakan secara berkala misalnya 3 bulan sekali, bukan menurut minat atau kesempatan yang dimiliki oleh pengawas atau kepala sekolah. 5. Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan adanya hubungan yang baik antara supervisor dengan yang disupervisi. 6. Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau terlupakan, sebaiknya supervisor membuat catatan singkat berisi hal-hal

8 penting yang diperlukan untuk membuat laporan. Menurut Soekarto Indrafachrudi, bahwa prinsip supervisi ada prinsip negatif dan prinsip positif. Prinsip positif adalah prinsip yang patut diikuti, yaitu:[18] Supervisi dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif Supervisi bersifat kreatif dan konstruktif Supervisi harus scientific dan efektif Supervisi harus dapat memberi rasa aman pada guru Supervisi harus berdasarkan kenyataan Supervisi harus memberi kesempatan kepada supervisor dan guru untuk mengadakan self evaluation. Tujuan Supervisi Supervisi pendidikan bertujuan menghimpun informasi atau kondisi nyata pelaksanaan tugas pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan tugas pokoknya sebagai dasar untuk melakukan pembinaan dan tindak lanjut perbaikan kinerja belajar siswa.[19] Secara operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari supervisi pendidikan yaitu:[20] 1. Meningkatkan mutu kinerja guru 1.1 membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut. 1.2 Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya. 1.3 Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif, bekerja sama secara akrab dan bersahabat saling menghargai satu dengan lainnya. 1.4 Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa.

9 1.5 Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat pengajaran. 1.6 Menyedikan sebuah sistem yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru dalam pengajaran. 1.7 Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik. Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan. Dengan demikian, tujuan umum supervisi pembelajaran adalah untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang lebih baik melalui pembinaan dan peningkatan profesi mengajar; melalui supervisi pembelajaran diharapkan kualitas pengajaran guru semakin meningkat baik dalam mengembangkan kemampuan, yang selain ditentukan oleh tingkat pengetahuan dan ketrampilan mengajar seorang guru, juga peningkatan komitmen, kemauan dan motivasi guru.[21] Supervisi bertujuan mengembangkan situasi kegiatan pembelajaran yang lebih baik ditujukan pada pencapaian tujuan pendidikan sekolah, membimbing pengalaman mengajar guru, menggunakan alat pembelajaran modern, dan membantu guru dalam menilai kemajuan peserta didik.[22] 8. Teknik-teknik Supervisi Pendidikan Supervisi merupakan aktivitas yang bersifat membina dan membantu guru sehingga tercipta situasi dan kondisi yang mendukung tercapainya tujuan

10 itu. Usaha membantu meningkatkan dan mengembangkan potensi sumberdaya guru dapat dilaksanakan dengan berbagai macam alat (device) dan teknik supervisi.[23] Alat dan teknik supervisi dapat digolongkan menjadi dua macam alat/teknik, yaitu teknik yang bersifat individual, yaitu teknik yang dilaksanakan untuk seorang guru, dan teknik yang bersifat kelompok yaitu teknik yang dilaksanakan untuk melayani lebih dari satu orang.[24] Teknik supervisi yang dimaksud adalah cara-cara yang digunakan dalam kegiatan supervisi.[25] Penulis akan memaparkan secara ringkas teknik-teknik supervisi sebagai berikut : 1. Teknik yang bersifat individual 1.1 Perkunjungan kelas Kunjungan kelas adalah kunjungan yang dilakukan oleh pengawas atau kepala sekolah ke sebuah kelas, baik ketika kegiatan sedang berlangsung untuk melihat guru yang sedang mengajar, ataupun ketika kelas sedang kosong, atau berisi siswa tetapi guru sedang tidak mengajar. 1.2 Observasi kelas Observasi kelas adalah kunjungan supervisor baik pengawas maupun kepala sekolah ke sebuah kelas dengan maksud untuk mencermati suatu peristiwa atau situasi yang berlangsung di kelas. 1.3 Percakapan pribadi Adam dan Dickey mengatakan bahwa salah satu alat penting dalam supervisi adalah individual conference, sebab soerang

11 supervisor dapat bekerja secara individual dengan guru dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan mengajar misalnya penggunaan alat-alat pelajaran, penentuan dan penggunaan metode mengajar dan sebagainya.[26] 1.4 Inter-visitasi 1.5 Penyeleksi berbagai sumber materi untuk mengajar 1.6 Menilai diri sendiri.[27] 2. Teknik-teknik yang Bersifat Kelompok.[28] 2.1 Pertemuan Orientasi bagi Guru Baru 2.2 Panitia Penyelenggara 2.3 Rapat Guru 2.4 Studi Kelompok Antarguru 2.5 Diskusi Sebagai Proses Kelompok 2.6 Tukar Menukar Pengalaman 2.7 Lokakarya (Workshop) 2.8 Diskusi Panel 2.9 Seminar 2.10 Simposium 2.11 Demonstrasi Mengajar 2.12 Perpustakaan Jabatan 2.13 Buletin Supervisi 2.14 Membaca Langsung 2.15 Mengikuti Kursus

12 2.16 Organisasi Jabatan 2.17 Laboratorium Kurikulum B. Konsep Kinerja Guru 1. Pengertian Kinerja Guru Kinerja berarti cara, prilaku dan kemampuan kerja.[29] Kinerja adalah performance atau unjuk kerja. Kinerja dapat pula diartikan prestasi kerja atau pelaksanaan kerja atau hasil unjuk kerja.[30] Menurut Payamman J. Simanjuntak, kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu.[31] Menurut Abdullah Munir mendefinisikan kinerja sebagai gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi lembaga.[32] Kinerja guru adalah kemampuan yang ditunjukkan oleh guru dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya.[33] Berkaitan dengan kinerja guru, wujud prilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran, yaitu bagaimana seorang guru merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.[34] Dalam institusi pendidikan, kinerja guru merupakan titik puncak dari tiga bagian penting yang saling berhubungan yaitu ketrampilan, upaya sifat keadaan, dan kadaan eksternal, tidak terlepas dari penilaian pihak internal maupun eksternal dalam mengukur keberhasilan madrasah dalam mencapai tujuan pendidikan. Kriteria kinerja guru, menurut Castetter, sebagaimana dikutip E. Mulyasa, ada empat yitu 1). karakteristik individu, 2). Proses, 3). Hasil, dan 4). Kombinasi antara karakter individu, proses dan hasil.[35]

13 Kinerja atau unjuk kerja dalam konteks profesi guru adalah kegiatan yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran/kbm, dan melakukan penilaian hasil belajar.[36] 1. Indikator-indikator Kinerja Guru Menurut Abd. Wahab H.S. dan Umiarso dalam buku, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual, bahwa indikator kinerja guru meliputi antara lain :[37] Kemampuan membuat perencanaan dan persiapan mengajar. Penguasaan materi yang akan diajarkan kepada siswa. Penguasaan metode dan strategi mengajar. tiga hal penting bagi seorang guru yaitu:[38] Menurut Asep Saefullah ada pribadi. Pertama, berusaha mengesampingkan egoisme dari pada hukuman (punishment). Kedua, mempriotaskan penghargaan (reward) menyenangkan. Ketiga, menciptakan situasi belajar yang Pemberian tugas-tugas kepada siswa. Kemampuan mengelola kelas. Kemampuan melakukan penilaian dan evaluasi. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru Guru merupakan ujung tombak dalam pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya tidak lepas dari pengaruh faktor internal maupun faktor eksternal yang membawa perubahan kinerja guru.

14 kinerja guru antara lain :[39] Beberapa faktor yang mempengaruhi 1. Kepribadian dan dedikasi Kepribadian adalah suatu yang abstrak yang dapat dilihat dari gejala lahir yang tampak seperti penampilan, tindakan, ucapan cara berpakaian, dan dalam menghadapi persoalan. Kepribadian merupakan citra seorang guru yang sangat berpengaruh terhadap interaksi dengan siswa. Hakekat guru sebagaimana dikemukakan oleh Dikti yang dikutip oleh H. M. Sulthon, sebagai berikut :[40] (1) guru adalah pendidik, (2) guru berperan sebagai pemimpin dan pendukung nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, (3) guru berperan sebagai fasilitator belajar bagi peserta didik, (4) guru turut bertanggungjawab atas tercapainya hasil belajar peserta didik, (5) guru menjadi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya, (6) guru bertanggung jawab secara profesional untuk terus menerus meningkatkan kemampuannya, dan (7) guru merupakan agen pembaharuan. 2. Pengembangan Profesi Pengembangan profesi guru merupakan hal yang harus diperhatikan guna mengantisipasi perubahan dan tuntutan profesional. Profesinalisme guru harus sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Profesi memerlukan persyaratan khusus antara lain :[41] 1) Menuntut adanya ketrampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam. 2) Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.

15 3) Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai. 4) Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya. 5) Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan. Beberapa prinsip yang dapat dijadiakan landasan pengembaangan kecerdasan emosional dan sosial dalam pembinaan profesi guru dan pengembangan semangat guru agar mencapai pembinaan yang optimal. Prinsip-prinsip tersebut sebagai berikut :[42] Bekerjalah dengan niat yang baik. Berpeganglah pada keyakinan, bahwa semua orang termasuk diri kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Bangunlah integritas dan kepercayaan dalam diri anda. Teladan adalah kepemimpinan yang baik. Utamakan kebersamaan dalam berbagai hal. Bersikaplah terbuka terhadap kritik dan perubahan. Mengalah bukan berarti kalah. Tunjukkan tanggungjawab anda. Segalanya berbicara dan memberikan pengaruh. Akuilah setiap usaha guru. Jagalah kumunitas tetap berjalan ( dan tumbuh ). Tumbuhkan keyakinan yang kuat terhadap guru mengenai pekerjaan mereka. Jika layak dikerjakan maka layak pula dirayakan. Jadilah pemimpin yang adil bijaksana dan lillahi taala. Pastikan bahwa kondisi diri anda lebih baik dari pada kemarin. Kemampuan Mengajar Kompetensi guru merupakan kesanggupan dalam mengelola proses pembelajaran, yang meliputi kemampuan dalam perencanaa, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, menganalisis, menyusun program perbaikan dan

16 pengayaan, serta program bimbingan dan konseling. Menurut Crow and Crow yang dikutip oleh Hamzah B. Uno, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran meliputi :[43] Penguasaan subject matter yang akan diajarkan Keadaan fisik dan kesehatannya Sifat-sifat pribadi dan kontrol emosinya Memahami sifat hakikat dan perkembangan manusia Pengetahuan dan kemampuannya untuk menerapkan prinsipprinsip belajar. Kepekaan dan aspirasinya terhadap perbedaan-perbedaan kebudayaan, agama dan etnis. Minatnya terhadap perbaikan profesional dan pengayaan kultural yang terus-menerus dilakukan. Hubungan dengan Masyarakat Kemampuan guru membawa diri yang positif akan mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap guru. Guru harus bertindak sesuai norma masyarakat responsif, komunikatif, toleran dan menghargai pendapat mereka. Hal dapat dilakukan guru dalam mendukung hubungan sekolah dengan masyarakat antara lain : (1) membantu sekolah dalam melaksanakan teknik-teknik hubungan sekolah dengan masyarakat melalui : (a) guru hendaknya selalu berpartisipasi dalam lembaga dan organisasi di masyarakat. (b) guru hendaknya membantu memecahkan masalah yang timbul dalam masyarakat. (2) Membuat dirinya lebih baik lagi dalam masyarakat melalui penyesuaian diri dengan adat istiadat masyarakat karena guru adalah tokoh milik masyarakat. Tingkah laku guru di sekolah dan di masyarakat menjadi panutan masyarakat. Pada posisi tersebut guru menjaga prilaku yang prima. Apabila masyarakat mengetahui bahwa guru-guru sekolah tertentu dapat dijadikan teladan di masyarakat, masyarakat akan percaya pada sekolah dan pada akhirnya masyarakat

17 memberikan dukungan pada sekolah. (3) Guru harus melaksanakan kode etiknya, karena kode etik merupakan seperangkat aturan atau pedoman dalam melaksanakan tugas profesinya.[44] Menurut Syafri Mangkuprawira dan Aida Vitayala yang dikutip oleh Martinis Yamin dan Maisah dalam bukunya Standarisasi Kinerja Guru bahwa kinerja merupakan suatu konstruksi multidimensi yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut terdiri atas faktor instrinsik guru(personal/individual) atau SDM dan ekstrinsik, yaitu kepemimpinan, sistem, tim, dan situasional. Faktorfaktor tersebut adalah sebagai berikut:[45] Faktor personal/individual, meliputi unsur pengetahuan, ketrampilan (skill), kemampuan, kepercayaan diri, motivasi dan komitmen yang dimiliki oleh tiap individu guru. Faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas manajer dan leader dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan kerja pada guru. Faktor tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan, dan keeratan anggota tim. Faktor sistem, meliputi sistem kerja fasilitas kerja yang diberikan oleh pimpinan sekolah, proses organisasi sekolah dan kultur kerja dalam organisasi sekolah. Faktor kontekstual(situasional) meliputi tekanan dan perubahan lingkungan ekstrenal dan internal. BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan

18 Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Supervisis Pengawas sangat berperan terhadap peningkatan kinerja guru. Kinerja guru merupakan suatu yang senantisa ditingkatkan untuk mencapai keberhasilan tujuan pendidikan. 1. Penutup Demikianlah makalah ini, sumbang saran yang konstruktif d.ari pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini penulis terima dengan tangan terbuka. Sekian tiada gading yang tak retak, semoga bermanfaat. [1] Yusuf A. Hasan dkk., Pedoman Pengawasan untuk Madrasah dan sekolah Umum, Cet., 1,(Jakarta : CV. Mekar Jaya, 2002), hal [2] Abd. Wahab dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual, Cet., 1, (Jogjakarta ; Ar Ruzz Media, 2011), hal [3] Ibid., hal [4] M. Ngalim Purwanto, Op. Cit., hal. 76. [5] Soekarto Indrafachrudi, Mengantar Bagaimana Memimpin Sekolah Yang Baik, Cet.,1, ( Jakarta : Ghalia indonesia, 1994), hal. 69. [6] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar

19 Supervisi, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2006), hal. 4. [7] Pupuh Fathurrohman dan AA Suryana, Supervisi Pendidikan, ( Bandung : PT Refika Aditama, 2011), hal [8] Ibid. [9] H.M. Sulthon, Membangun Semangat Kerja guru, ( Yogyakarta : Laksbang Pessindo, 2009 ), hal [10] Ibid. hal [11] HM. Sulthon, Ibid., hal [12] Op.Cit., hal. 13. [13] Loc. Cit. [14] Suharsimi Arikunto, Ibid., hal [15] Dadang Suhardan, Supervisi Profesional, ( Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 52. [16] Jerry H. Makawimbang, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan, ( Bandung : Alfabeta, 2011), hal [17] Suharsimi Arikunto, Op. Cit., hal. [18] Soekarto Indrafachrudi, Mengantar Bagaimana memimpin sekolah Yang Baik, (Jakarta : Ghalia Indonesia,1993), hal [19] Jerry H. Makawimbang, Op. Cit., hal. [20] Loc. Cit.

20 [21] Mukhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan, ( Jakarta : Gaung Persada Press, 2009), hal. 53. [22] Ibid. hal. 52. [23] Piet A.Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2008 ), hal. 52. [24] Ibid. hal. 54. hal [25] Suharsimi Arikunto, Op. Cit., [26] Piet A.Sahertian, Op. Cit., [27] Piet A.Sahertian, Ibid., hal. [28] Ibid., hal [29] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2005), hal [30] Rusman, Model-model Pembelajaran : Mengembangkan Profesionalisme Guru, Cet., 4,( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 50. [31] Payaman J. Simanjuntak, Manajemen dan Evaluasi Kinerja, ( Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2005), hal. 1. [32] Abd. Wahab H.S. dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual, Cet.,1 ( Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2011), hal [33] Ibid. [34] Rusman, Loc.. Cit.

21 Cit., hal [35] Abd. Wahab H.S. dan Umiarso, Op. [36] Rusman, Op. Cit., hal. 95. [37] Op.,Cit. hal [38] D. Deni Koswara dan Halimah, Seluk-Beluk Profesi Guru, ( Bandung : PT Pribumi Mekar, 2008), hal [39] Ibid., hal [40] H.M. Sulthon, Membangun Semangat Kerja Guru, (Yogyakarta : Laks bank Pressindo, 2009), hal. 15. [41] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1996 ), hal. 15. [42] H.M. Sulthon, Op. Cit. Hal [43] Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2007), hal.81. hal [44]Abd. Wahab H.S. dan Umiarso, Op. Cit., [45] Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru, ( Jakarta : Gaung Persada Press, 2010), hal Cara Syekh Yasin Mengader Kiai Sahal Tidak banyak kiai pesantren yang telaten menuangkan gagasannya secara rinci menjadi satu kitab berbahasa Arab. KH Sahal

22 Mahfudh, Rois Aam PBNU adalah salah satu diantara yang tidak banyak itu. Syekh Yasin Al-Fadani adalah seorang gurunya yang tidak hanya mengajar dan menemaninya menulis, tetapi juga memberikan motivasi. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh adalah santri kelana biasa yang berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain, berdiskusi dengan banyak kiai. Saat mondok di Pesantren Bendo, Pare, ia seringkali bermalam di Kedunglo Kediri dan berdiskusi secara intensif dengan seorang kiai di sana. Ia juga sering menghabiskan waktu dengan Kiai Bisri Syansuri di Jombang. Perkelanaannya dilanjutkan ke Pesantren Sarang, berguru kepada Kiai Zubair. Salah satu kitab yang didiskusikan adalah Ghoyatul Wushul karya Syekh Zakariya Al-Anshori ulama syafiiyah abad 9 Hijriyah. Diskusi berlangsung secara intensif. Di sela menerima tamu ia diajak berdiskusi. Saat bepergian keluar kota, mereka mengendarai dokar dan diskusi pun berlanjut. Kiai Zubair juga senang membuat pancingan. Terjadilah perbincangan dan Kiai Sahal pun rajin membuat catatan (ta liqat) dalam bahasa Arab. Hobi menulis dilanjutkan dengan mengirimkan surat (murosalah) kepada Syekh Muhammad Yasin Padang, seorang kiai pesohor dari Indonesia yang menjadi ulama besar dan menetap di Tanah Suci. Kiai Sahal mengomentari tulisan Syekh Yasin dalam satu kitab, membantahnya dengan argumentasi berdasarkan kitab yang beredar di Jawa. Satu surat berisi sekitar 3-4 lembar, berbahasa Arab. Kiai Sahal terkejut, ternyata Syekh Yasin membalas surat secara serius. Saya ini santri, berkirim surat, mengomentari pendapat beliau. Tidak dimarahi saja sudah untung, katanya. Namun nyatanya surat Kiai Sahal dibalas oleh Syeh Yasin, dan Kiai Sahal pun mengirim surat lagi. Syekh Yasin membalas lagi. Terjadi dialog intensif jarak jauh. Surat-surat yang dikirimkan cukup panjang dan serius. Sepertinya ada perdebatan menarik dalam surat-surat itu. Dan saling kirim surat itu berlangsung sampai sekitar satu setengah tahun.

23 Syahdan, ketika turun dari kapal, saat Kiai Sahal menginjakkan kaki di Mekkah, seseorang tak dikenal langsung memeluknya dan menariknya ke sebuah warung. Seseorang itu tidak lain adalah Syekh Yasin sendiri. Mungkin dalam surat terakhir Kiai Sahal menuliskan bahwa dirinya akan menunaikan ibadah haji. Dan dalam pertemuan pertama itu pun mereka langsung akrab. Kiai Sahal diminta tinggal di rumah Syekh Yasin. Setiap pagi ia bertugas berbelanja ke pasar membeli kebutuhan Syekh Yasin. Dan setelah itu Kiai Sahal berkesempatan belajar dengan seorang ulama besar yang diseganinya itu selama dua bulanan. Dalam diskusi dan perdebatan, Syekh Yasin mendudukkan Kiai Sahal seperti teman diskusi. Barangkali ini tidak seperti kebiasaan kiai-santri di Jawa. Syekh Yasin sangat otoritatif tetapi pada satu sisi cukup egaliter. Dua bulan pertemuan, Syekh Yasin mengijazahkan banyak kitab yang menginspirasi Kiai Sahal menulis banyak kitab. Dan ta liqot yang ditulisnya saat belajar bersama Syekh Zubair dirapikan kembali. Terkumpul 500-an halaman dan belakangan dibukukan menjadi satu kitab bertajuk Thoriqatul Husul. Kitab ini sudah sampai ke Al-Azhar Mesir, menjadi rujukan para pengkaji ushul fiqih. A. Khoirul Anam Disarikan dari Gus Rozin, putra Kiai Sahal dalam satu sesi kajian kitab ulama Nusantara di ruang redaksi NU Online, Kamis 21 November 2013

24 Kurikulum PAI Khusus SMA/SMK di Pesantren Jakarta, Ma arif Online Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI), atau yang disingkat dengan Kurikulum PAI dinilai menjadi satu-satunya konten pendidikan agama Islam bagi siswa di sekolah. Melalui Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, pemerintah merumuskan bahwa penyelenggaraan PAI di sekolah diberikan hanya 2 jam per minggu. Dengan alokasi yang sangat terbatas itu, Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma arif Nahdlatul Ulama (PP LP Ma arif NU) menilai guru akan mengalami kesulitan jika dituntut untuk bisa mengembangkan sikap, keterampilan, serta nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan kepada peserta didik. Terlebih untuk sekolah yang berada di lingkungan pesantren, tentu saja konsep 2 jam perminggu pembelajaran PAI tersebut dinilai sangat kurang untuk memenuhi karakteristik khas lulusan pesantren yang memiliki kedalaman ilmu agama sebagaimana lulusan pesantren pada umumnya. Atas dasar pemikiran di atas, kemudian PP LP Ma arif NU bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Agama Islam, Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI melakukan penyusunan Disain dan Model Pengembangan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah di Pesantren, yang hasilnya diekspos pada tanggal 23 Juli 2013 di Treva Jakarta. Beberapa pakar dihadirkan untuk memberi catatan draft, yaitu Direktur Pascasarjana UIN Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Pengasuh Pondok Pesantren API Magelang, KH. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan Direktur PAIS, Dr. Amin Haedari. Sejauh ini, kurikulum PAI yang dihasilkan baru sebatas untuk jenjang pendidikan menengah, yaitu SMA/SMK. Dalam catatannya, Azyumardi Azra meyakini bahwa apa yang disusun PP LP Ma arif NU ini akan mampu menjawab kegelisahan kalangan pesantren. Buku yang disusun sangat bagus dan

25 komprehensif. Dan memang ini yang dibutuhkan agar lulusan sekolah di pesantren berbeda dengan lulusan sekolah di luar pesantren, terutama dalam hal kedalaman ilmu keagamaannya, ujarnya. Menurutnya, salah satu poin penting dalam pendidikan PAI adalah pembiasaan. Saya sudah baca draft ini dari awal sampai akhir. Meskipun ada beberapa catatan sebagai masukan dari saya, namun penekanan buku ini yang memberikan porsi banyak pada terjadinya proses pembiasaan bagi peserta didik sangat penting dan tepat, tekannya. Melalui kegiatan pembiasaan tersebut, lanjut dia, segala kekayaannya pesantren bisa diwariskan dan dilestarikan kepada generasi muda. Terlebih ancaman dari faham yang bertentangan dengan tradisi pesantren sangat nyata di negeri ini. Sejalan dengan itu, KH. Yusuf Chudlori menambahkan pentingnya tradisi riyadha yang selama ini dipratekkan di pesantrenpesantren salaf bisa diakomodir dalam buku yang disusun. Melalui tradisi riyadha inilah maka ilmu yang dimiliki santri (siswa) tidak hanya berhenti di kepala (kognitif) saja, namun juga akan turun ke hati mereka, ujar kiai yang familiar disebut Gus Yusuf tersebut. Sebelumnya, Direktur PAIS, Dr. Amin Haedari menyampaikan bahwa salah satu visinya adalah mewujudkan kurikulum PAI yang sesuai dengan karakteristik pesantren, sehingga siswa-siswa di sekolah, terutama yang berada di lingkungan pesantren, memiliki kedalaman ilmu keagamaan dan sikap yang ideal sebagai orang Islam. Saya melihat ini menjadi salah satu tugas strategis LP Ma arif NU, di samping pendataan dan pemetaan satuan pendidikan yang selama ini dilakukan, ujar Amin Haedari yang juga sebagai Ketua Lembaga Rabithah Ma had Islamiyah (RMI) di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Rencananya, sebelum buku tersebut diterbitkan, PP LP Ma arif NU akan melakukan ujicoba penerapan disain dan model yang dirumuskan pada SMA/SMK di pesantren yang mewakili beberapa

26 karakteristik pesantren di Indonesia. Baru kemudian jika dinilai berhasil dan tidak menimbulkan kendala berarti di lapangan, buku akan dicetak dan disebarkan secara terbatas untuk SMA/SMK di lingkungan LP Ma arif NU Beasiswa untuk Aktivis Nusantara JAKARTA Meski sibuk sebagai aktivis, kuliah enggak boleh ditinggalkan, dong. Apalagi jika mendapat beasiswa. Salah satu program beasiswa yang dikhususkan bagi aktivis adalah Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) dari Dompet Dhuafa. Program ini tidak hanya menyokong kebutuhan biaya studi, tetapi juga mendukung pengembangan diri peserta program yang berbasis kompetensi agar peran mereka optimal dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap bulan, penerima beasiswa akan mendapatkan dana bantuan Rp800 ribu. Selain itu, penerima beasiswa juga akan mendapatkan berbagai pelatihan seperti pelatihan kepemimpinan dan nilai-nilai relawan sosial berbasis agama dan manajerial. Melalui program ini, para aktivis penerima beasiswa juga dapat saling berbagi cerita, mengunjungi dan berdiskusi dengan tokoh nasional sebagai sarana memperkaya wawasan dan gagasan bagi peserta program. Pembinaan lain dilakukan melalui penugasan, baik perorangan maupun kelompok. Biasanya penugasan ini dilakukan dalam bentuk

27 penulisan artikel, Focus Group Disscussion (FGD) dan menyelenggarakan kegiatan bersama penerima beasiswa. Hanya 67 mahasiswa dari enam perguruan tinggi yang dapat mengikuti program ini. Keenam kampus itu adalah Universitas Sriwijaya (Unsri), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Sebelas Maret (UNS). Aktivis yang bisa mendaftar adalah mahasiswa program sarjana (S-1) reguler minimal semester V. Pelamar harus memiliki nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) lebih besar dari 2,75. Persyaratan lain, pelamar harus aktif pada lembaga kemahasiswaan minimal tingkat fakultas sekurang-kurangnya satu tahun. Formulir pendaftaran dapat diunduh melalui laman Beastudi Indonesia. Selain mengisi formulir pendaftaran, lengkapi juga berkas berikut: 1. Fotokopi Kartu Tanda Mahasiswa; 2. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk; 3. Transkrip nilai akademik sampai dengan semester terakhir; 4. Curriculum vitae (CV) yang juga memuat daftar riwayat aktivitas; 5. Pas foto ukuran 4 x 6 sebanyak 2 lembar 6. Surat keterangan dari organisasi/lembaga yang diikuti 7. Proposal hidup berisi rencana studi, karier dan sebagainya, sekurang-kurangnya untuk lima tahun ke depan; 8. Esai bertema Save Our Children (Unsri), Green Lifestyle (UI), Thisable Creative (ITB, Unpad), Gerakan Cinta Anak Tani (IPB), Aku Cinta Budaya Indonesia (Pasar Tradisional) untuk mahasiswa UNS dan Negarawan Muda Indonesia (UGM). Format penulisan : Font Calibri 12, spasi 1.5, margin A-B-Ki-Ka , kertas A4 maksimal delapan halaman; 9. Surat referensi dari dua orang tokoh

28 kampus/dosen/organisasi/kemasyarakatan. Format surat dapat diunduh melalui lamanbeastudi Indonesia. Seleksi akan dilakukan melalui kelengkapan administrasi, lalu FGD dan presentasi serta wawancara. Kirimkan berkas lamaran ke alamat Panitia Seleksi Bakti Nusa Dompet Dhuafa: Jl. Raya Parung-Bogor km. 42 Desa Jampang, Kec. Kemang, Kab.Bogor Simak informasi lengkap di laman Beastudi Indonesia. Ingat ya, deadlinependaftaran 31 Januari (rfa) Ma arif Dorong Guru Kuasai TIK YOGYA (KRjogja.com) Media pembelajaran memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Apalagi di era informasi yang serba cepat saat ini, pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mutlak dikuasai para guru. Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Prof Dr Ainun Na im MBA mengatakan, begitu pentingnya TIK, sehingga sangat perlu dimasukkan disetiap topik pembelajaran. Guru disemua jenjang pendidikan harus menguasai TIK, katanya kepada KR seusai pembukaan Workshop Pembelajaran Berbasis TIK Bagi Guru-guru SMA dan SMK Ma arif DIY di Kantor Pengurus Wilayah Nadlatul Ulama (PWNU) DIY, Jalan MT Haryono Yogyakarta, Sabtu (7/12). Menurut Ainun Na im, kemampuan guru mengakses sumber informasi

29 dengan cepat akan sangat membantu dalam mengembangkan kreatifitas disetiap kegiatan belajar mengajar. Banyak sekali informasi terkini disediakan portal, web, blog yang bisa digali oleh guru sebagai bahan mengajar, katanya. Ketua Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan (PWLP) Ma arif NU DIY, Drs H Masharun Ghozalie MM menambahkan, Maarif sebagai salah satu organisasi yang menopang pendidikan di negeri ini turut berperan serta mendukung program dan langkah Kemendikbud meningkatkan kualitas pendidikan. Peningkatan meliputi kualitas guru, buku pegangan serta perangkat kurikulumnya, katanya. Maka dari itu, Maarif terus melakukan upaya peningkatan kemampuan guru-guru dilembaganya sehingga siap menerapkan kurikulum Workshop ini sengaja diselenggarakan untuk meningkatan kualitas guru melalui penguasaan teknologi informasi (TI), katanya. Workshop diikuti tak kurang 50 guru disemua jenjang pendidikan Maarif. Peserta terbanyak dari SMK, pungkasnya.(*-5) HASIL RAPAT TIM ASWAJA 2014 Panitia Porsema Tahun 2014 mengadakan rapat pada hari jum at tanggal 27 Desember 2013 di sekretariat kantor PC.LP Ma arif NU Cilacap jalan Masjid No I/36 Cilacap. Rapat langsung dipimpin oleh Ketua Panitia Porsema Tahun 2014 AID MUSTAQIM, M.Ag rapat dihadiri oleh 12 orang. HASIL RAPAT TIM ASWAJA 2014 Agenda awal pembahasan Porsema adalah : 1. Pemantapan pendanaan

30 Pendanaan Porsema telah dibahas dengan kepala Madrasah/ Sekolah dan Pihak-pihak 2. Target PORSEMA Kita bisa mengikutkan siswa didik kita yang berprestasi dan paling tidak mempertahankan kejuaran seperti Porsema tahun lalu 3. Pemantapan kepanitiaan Porsema Masing -masing Panitia bisa bertanggung jawab sesuai dengan tugas-tugasnya. 4. Konsolidasi pendanaan dengan Madrasah/ Sekolah. Dari rancana anggaran yang ditetapkan bisa tercapai dan sesuai daengan alokasi peruntukanya. Panitia Porsema Tahun 2014 menghendaki agar pihak-pihak terkait bisa membantu secara penuh kesuksesan diajang PORSEMA Tahun 2014 yang sangat bergengsi karena membawa nama baik Nahdlatul Ulama dan Kabupaten Cilacap pada umumnya. Cilacap, 30 Desember 2013 Drs. Ghofir Rahman Mendikbud Optimistis Kurikulum Baru Diterapkan

31 2013 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh optimistis dengan implementasi Kurikulum 2013 pada tahun 2014 dengan segala keterbatasannya, karena siswa, guru, kepala sekolah, komite, dan orang tua sudah disensus tentang kurikulum itu. Dari hasil sensus monitoring dan evaluasi pelaksanaan kurikulum sebelum pendampingan dan sesudah pendampingan, kami optimistis dengan rencana implementasi di 2014, katanya di Gedung Pascasarjana Terapan PENS-Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Rabu. Menurut dia, hasil sensus tersebut diperoleh dari sekolah di seluruh provinsi yang sudah menerapkan Kurikulum 2013, kemudian disensus mulai dari kepala sekolah, guru, pengawas, komite sekolah, orang tua, serta murid. Ia menjelaskan pemberlakuan Kurikulum 2013 ini dijadwalkan pada awal Februari 2014 dengan pengunggahan buku-buku semester I yang sebelumnya masih pendampingan serta di bulan berikutnya dimulainya pelatihan terhadap guru, kepala sekolah, maupun pengawas. Mulainya Februari minggu pertama buku-buku sudah selesai diunggah menjadi publik domain, sehingga siapa saja diperbolehkan untuk cetak, tetapi untuk dijual atau diterbitkan kita patok dengan Hit-nya sekian, ujarnya. Dalam hal ini, ia menambahkan pihak dari sekolah yang membeli buku tersebut dengan hit yang sudah ditetapkan, namun hingga saat ini Hit belum ditetapkan bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Dari data sensus tersebut, ada sekitar 206 ribu sekolah yang terdaftar, sehingga pemerintah bekerja sama dalam hal pelatihan dengan lembaga-lembaga yang mengelola pendidikan,

32 mulai dari pendidikan formal maupun informal. Mulai dari PGRI, LP Ma arif NU, Muhammadiyah, sekolah-sekolah Nasrani, LPTK pada sejumlah Perguruan Tinggi, organisasiorganisasi kita ajak semua untuk ikut serta melatih peserta yang jumlahnya sekitar 1,4 juta orang, ungkapnya. Ia mengatakan biaya pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh beberapa lembaga pendidikan formal maupun informal tersebut dari pemerintah dengan standar dan aturan kualitas dari pemerintah. Sebelumnya, sensus monitoring dan evaluasi 2013 berisi tentang pendapat-pendapat dari murid, guru, kepala sekolah, orang tua, komite sekolah serta pengawas dengan jumlah total 78 ribu responden. Kurikulum baru yang dilaksanakan sejak tahun ajaran 2012/2013 itu bertujuan mencetak siswa dengan tiga kompetensi yakni kompetensi pengetahuan, kompetensi ketrampilan, da kompetensi sikap. Pada kurikulum sebelumnya, kompetensi lebih dititikberatkan pada pengetahuan

Ma arif Dorong Guru Kuasai TIK

Ma arif Dorong Guru Kuasai TIK Ma arif Dorong Guru Kuasai TIK YOGYA (KRjogja.com) Media pembelajaran memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Apalagi di era informasi yang serba cepat saat ini, pembelajaran berbasis Teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melalui pendidikan, baik secara pendidikan formal, non formal maupun

BAB I PENDAHULUAN. melalui pendidikan, baik secara pendidikan formal, non formal maupun 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Upaya peningkatan Sumber daya Manusia salah satunya dilakukan melalui pendidikan, baik secara pendidikan formal, non formal maupun informal. Pendidikan yang

Lebih terperinci

II. KAJIAN PUSTAKA. Salah satu unsur penting yang paling menentukan dalam meningkatkan kualitas

II. KAJIAN PUSTAKA. Salah satu unsur penting yang paling menentukan dalam meningkatkan kualitas II. KAJIAN PUSTAKA A. Supervisi Salah satu unsur penting yang paling menentukan dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah tenaga pendidik. Tenaga pendidik (guru) dituntut untuk mampu melaksanakan tugas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nasional adalah pembangunan di bidang pendidikan yang bertujuan untuk

BAB I PENDAHULUAN. nasional adalah pembangunan di bidang pendidikan yang bertujuan untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu agenda utama pemerintah Indonesia dalam pembangunan nasional adalah pembangunan di bidang pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tugasnya melalui manajemen pendidikan yang diterapkan. Sebagai pelaksana

BAB I PENDAHULUAN. tugasnya melalui manajemen pendidikan yang diterapkan. Sebagai pelaksana BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekolah sebagai organisasi yang menjalankan proses pendidikan dengan segala fungsi dan hasilnya, mempunyai perangkat yang mewujudkan fungsi dan tugasnya melalui manajemen

Lebih terperinci

MENINGKATKAN PERAN GURU MELALUI SUPERVISI

MENINGKATKAN PERAN GURU MELALUI SUPERVISI MENINGKATKAN PERAN GURU MELALUI SUPERVISI Oleh Anang Nazaruddin, S.Pd.I. ABSTRAK Guru yang merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu guru dituntut berkerja secara profesional,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Terdahulu, (g) Kerangka Pemikiran, dan (h) Sistematika Pembahasan.

BAB I PENDAHULUAN. Terdahulu, (g) Kerangka Pemikiran, dan (h) Sistematika Pembahasan. BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi (a) Latar Belakang Masalah, (b) Fokus Penelitian, (c) Tujuan Penelitian, (d) Kegunaan Penelitian, (e) Definisi Operasional, (f) Penelitian Terdahulu, (g) Kerangka Pemikiran,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Diantara elemen tersebut adalah instruktur atau pendidik, materi ajar, metode, tujuan

BAB I PENDAHULUAN. Diantara elemen tersebut adalah instruktur atau pendidik, materi ajar, metode, tujuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta

Lebih terperinci

BAB II KEPALA MADRASAH DAN KINERJA GURU. madrasah. Kata kepala dapat diartikan ketua atau pemimpin dalam suatu

BAB II KEPALA MADRASAH DAN KINERJA GURU. madrasah. Kata kepala dapat diartikan ketua atau pemimpin dalam suatu BAB II KEPALA MADRASAH DAN KINERJA GURU A. Pengertian dan tugas-tugas Kepala Madrasah 1. Pengertian kepala madrasah Kata kepala madrasah berasal dari dua kata yaitu kepala dan madrasah. Kata kepala dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah pendidikan bangsa. Menurut Mulyasa Setidaknya terdapat tiga syarat

BAB I PENDAHULUAN. masalah pendidikan bangsa. Menurut Mulyasa Setidaknya terdapat tiga syarat BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera. Upaya peningkatan kualitas

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN. tiga sub bab pokok bahasa, yaitu kesimpulan, Implikasi dan saran.

BAB VI KESIMPULAN. tiga sub bab pokok bahasa, yaitu kesimpulan, Implikasi dan saran. 175 BAB VI KESIMPULAN Bab ini merupakan bab terakhir atau bab penutup. Pada bab ini memuat tiga sub bab pokok bahasa, yaitu kesimpulan, Implikasi dan saran. A. Kesimpulan Berdasarkan fokus penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional.

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan masalah mendasar yang dapat menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional. Penataan sumber daya manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kependidikan sebagai unsur yang mempunyai posisi sentral dan strategis

BAB I PENDAHULUAN. kependidikan sebagai unsur yang mempunyai posisi sentral dan strategis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi yang ditandai dengan persaingan yang ketat dalam semua aspek kehidupan, memberi pengaruh terhadap tuntutan akan kualitas sumber daya manusia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemakmuran atau kemajuan suatu bangsa. Pendidikan yang ada di sekitar kita. tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. kemakmuran atau kemajuan suatu bangsa. Pendidikan yang ada di sekitar kita. tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa: 1 BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Dewasa ini pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting demi kelangsungan kehidupan. Baik kelangsungan kehidupan seseorang hingga kelangsungan suatu bangsa.

Lebih terperinci

Supervisi Administrasi Untuk Meningkatkan Kinerja Guru Dalam Menyusun Perangkat Pembelajaran. Sri Winarni

Supervisi Administrasi Untuk Meningkatkan Kinerja Guru Dalam Menyusun Perangkat Pembelajaran. Sri Winarni Supervisi Administrasi Untuk Meningkatkan Kinerja Guru Dalam Menyusun Perangkat Pembelajaran Sri Winarni Guru SDN 1 Pandean Email: [email protected] Tersedia Online di http://www.jurnal.unublitar.ac.id/

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan eksistensi pendidikan. Jika pendidikan memiliki kualitas tinggi, maka

BAB I PENDAHULUAN. dengan eksistensi pendidikan. Jika pendidikan memiliki kualitas tinggi, maka BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Perkembangan dan kemajuan suatu bangsa salah satunya ditentukan dengan eksistensi pendidikan. Jika pendidikan memiliki kualitas tinggi, maka akan memberikan output

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Permasalahan pendidikan nasional adalah bagaimana meningkatkan mutu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Permasalahan pendidikan nasional adalah bagaimana meningkatkan mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan pendidikan nasional adalah bagaimana meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan pada setiap jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. Upaya yang telah dilakukan

Lebih terperinci

PERAN KEPALA MADRASAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI MAN PURWODADI TAHUN AJARAN NASKAH PUBLIKASI

PERAN KEPALA MADRASAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI MAN PURWODADI TAHUN AJARAN NASKAH PUBLIKASI PERAN KEPALA MADRASAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI MAN PURWODADI TAHUN AJARAN 2014-2015 NASKAH PUBLIKASI Dibuat untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Lebih terperinci

Pelaksanaan Supervisi Akademik Untuk. Menerapkan Metode Pembelajaran di SD Negeri Neuhen Kabupaten Aceh Besar Tahun Pelajaran 2014/2015

Pelaksanaan Supervisi Akademik Untuk. Menerapkan Metode Pembelajaran di SD Negeri Neuhen Kabupaten Aceh Besar Tahun Pelajaran 2014/2015 Pelaksanaan Supervisi Akademik Untuk Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menerapkan Metode Pembelajaran di SD Negeri Neuhen Kabupaten Aceh Besar Tahun Pelajaran 2014/2015 Oleh: Drs. Amiruddin. A 9 Abstrak

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DI SD YAYASAN MUTIARA GAMBUT

MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DI SD YAYASAN MUTIARA GAMBUT MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DI SD YAYASAN MUTIARA GAMBUT Anifa Alfia Nur Jurusan Administrasi Pendidikan FIP UNP Abstract Tugas akhir ini bertujuan untuk mendapat gambaran tentang tingkat kompetensi

Lebih terperinci

RESPON GURU TERHADAP VISI SUPERVISI

RESPON GURU TERHADAP VISI SUPERVISI RESPON GURU TERHADAP VISI SUPERVISI A. PENTINGNYA MASALAH Pendidikan dimasa desentralisasi berbeda dengan sentralisasi. Pada masa sentralisasi segala sesuatu seperti bangunan sekolah, kurikulum, jumlah

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Keterampilan Teknikal Pimpinan Pondok Pesantren dalam Pengelolaan. Pendidikan Pesantren di Kota Banjarbaru

BAB V PEMBAHASAN. A. Keterampilan Teknikal Pimpinan Pondok Pesantren dalam Pengelolaan. Pendidikan Pesantren di Kota Banjarbaru BAB V PEMBAHASAN A. Keterampilan Teknikal Pimpinan Pondok Pesantren dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren di Kota Banjarbaru Keterampilan teknikal adalah kemampuan untuk menggunakan alat-alat, prosedur

Lebih terperinci

PEDOMAN UMUM. KA PRODI IT IDOL APTIKOMFest KE-1 JAWA BARAT

PEDOMAN UMUM. KA PRODI IT IDOL APTIKOMFest KE-1 JAWA BARAT PEDOMAN UMUM KA PRODI IT IDOL APTIKOMFest KE-1 JAWA BARAT APTIKOM PROVINSI JAWA BARAT 2017 KATA PENGANTAR Pelaksanaan Ka Prodi IT Idol AptikomFest Ke-1 Jawa Barat untuk pertama kali dilaksanakan tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perguruan tinggi. Azzra (Ambarita, 2010:37) mengatakan seorang guru yang

BAB I PENDAHULUAN. perguruan tinggi. Azzra (Ambarita, 2010:37) mengatakan seorang guru yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru adalah salah satu unsur terpenting pada komponen pendidikan. Sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa. Keberhasilan pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam kegiatan proses belajar mengajar. 1. kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh guru.

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam kegiatan proses belajar mengajar. 1. kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh guru. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sebuah sistem, sehingga keberhasilan dari proses pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pendidik atau guru. Guru

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. ikhtiar untuk mencapai sesuatu yang diinginkan 8.Upaya

BAB II KAJIAN TEORI. ikhtiar untuk mencapai sesuatu yang diinginkan 8.Upaya BAB II KAJIAN TEORI A. Konsep Teoritis 1. Upaya Kepala Sekolah Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) upaya ialah ikhtiar untuk mencapai sesuatu yang diinginkan 8.Upaya yang dimaksud penulis di sini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kinerja seorang guru merupakan komponen yang sangat menentukan

BAB I PENDAHULUAN. Kinerja seorang guru merupakan komponen yang sangat menentukan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan faktor penting dalam proses kemajuan suatu bangsa. Pendidikan diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dirasakan manfaatnya menurut para pengelola pendidikan membuat suatu

BAB I PENDAHULUAN. dirasakan manfaatnya menurut para pengelola pendidikan membuat suatu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan dan merupakan wahana untuk memanusiakan manusia untuk mencapai tingkat kehidupan yang sempurna.

Lebih terperinci

PERSEPSI GURU TENTANG PELAKSANAAN SUPERVISI OLEH KEPALA SEKOLAH DI SMK NEGERI SE-KECAMATAN LUBUK BEGALUNG PADANG ARTIKEL ILMIAH.

PERSEPSI GURU TENTANG PELAKSANAAN SUPERVISI OLEH KEPALA SEKOLAH DI SMK NEGERI SE-KECAMATAN LUBUK BEGALUNG PADANG ARTIKEL ILMIAH. PERSEPSI GURU TENTANG PELAKSANAAN SUPERVISI OLEH KEPALA SEKOLAH DI SMK NEGERI SE-KECAMATAN LUBUK BEGALUNG PADANG ARTIKEL ILMIAH Oleh: INTAN SUCI UTAMA 53913 ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

APLIKASI PROGRAM SELEKSI MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH PERCONTOHAN (UNGGULAN) TAHUN 2014

APLIKASI PROGRAM SELEKSI MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH PERCONTOHAN (UNGGULAN) TAHUN 2014 SUBDIT MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH DIREKTORAT PENDIDIKAN DINIYAH DAN PONDOK PESANTREN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA APLIKASI PROGRAM SELEKSI MADRASAH DINIYAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. siswa. Di dalam penilaian tersebut guru merancang jenis penilaian yang seperti

BAB I PENDAHULUAN. siswa. Di dalam penilaian tersebut guru merancang jenis penilaian yang seperti 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru profesional merupakan guru yang mempunyai kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan dan mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai pendidik.

Lebih terperinci

SAMBUTAN KETUA DPR RI BAPAK H. MARZUKI ALIE, SE, MM. PADA ACARA PERESMIAN KANTOR BARU PWNU SUMATERA UTARA Medan, 06 Januari 2010

SAMBUTAN KETUA DPR RI BAPAK H. MARZUKI ALIE, SE, MM. PADA ACARA PERESMIAN KANTOR BARU PWNU SUMATERA UTARA Medan, 06 Januari 2010 KETUA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN KETUA DPR RI BAPAK H. MARZUKI ALIE, SE, MM. PADA ACARA PERESMIAN KANTOR BARU PWNU SUMATERA UTARA Medan, 06 Januari 2010 Assalamu alaikum Warahmatullahiwabarakatuh.

Lebih terperinci

PROFESIONALITAS KEPALA SEKOLAH DALAM KEBERHASILAN KURIKULUM 2013

PROFESIONALITAS KEPALA SEKOLAH DALAM KEBERHASILAN KURIKULUM 2013 PROFESIONALITAS KEPALA SEKOLAH DALAM KEBERHASILAN KURIKULUM 2013 Muklisin 1 Abstrak Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SMP ISLAM SULTAN AGUNG 1 SEMARANG

BAB IV ANALISIS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SMP ISLAM SULTAN AGUNG 1 SEMARANG 69 BAB IV ANALISIS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SMP ISLAM SULTAN AGUNG 1 SEMARANG A. Kepemimpinan kepala sekolah di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang Kepala sekolah merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Departemen Pendidikan Nasional RI, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor

BAB I PENDAHULUAN. 1 Departemen Pendidikan Nasional RI, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kasus-kasus pembelajaran di kelas mata pelajaran Agama Islam lebih dekat dengan pembentukan perilaku daripada pengetahuan. Seorang muslim tidak dilihat dari ilmunya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Hal ini bersentuhan dengan Undang - undang Nomor 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Hal ini bersentuhan dengan Undang - undang Nomor 20 Tahun 2003 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan faktor penting dalam proses kemajuan suatu bangsa. Hal ini bersentuhan dengan Undang - undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun informal. Keberhasilan pendidikan akan terjadi bila ada interaksi antara

BAB I PENDAHULUAN. maupun informal. Keberhasilan pendidikan akan terjadi bila ada interaksi antara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peran guru sangat strategis pada kegiatan pendidikan formal, non formal maupun informal. Keberhasilan pendidikan akan terjadi bila ada interaksi antara pendidik dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, Indonesia berhak menentukan nasib bangsanya sendiri, hal ini diwujudkan dalam bentuk pembangunan. Pembangunan merupakan

Lebih terperinci

BUKU PEDOMAN SELEKSI MAHASISWA BERPRESTASI ASRAMA TPB IPB TAHUN 2015

BUKU PEDOMAN SELEKSI MAHASISWA BERPRESTASI ASRAMA TPB IPB TAHUN 2015 BUKU PEDOMAN SELEKSI MAHASISWA BERPRESTASI ASRAMA TPB IPB TAHUN 2015 Pedoman Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Asrama Halaman 0 PENDAHULUAN Perguruan tinggi merupakan institusi pendidikan yang memiliki jenjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hlm Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003,

BAB I PENDAHULUAN. hlm Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Kepemimpinan sebagai salah satu fungsi manajemen yang sangat penting untuk mencapai suatu tujuan organisasi. Penguasaan teori pengetahuan tentang kepemimpinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan faktor utama dalam membentuk pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif.

Lebih terperinci

Research and Development Journal of Education Vol. 3 No.1 Oktober 2016 ISSN

Research and Development Journal of Education Vol. 3 No.1 Oktober 2016 ISSN PENGARUH SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI SMP K 1 PENABUR PASAR BARU JAKARTA PUSAT 1 Mohammad Ramadona dan 2 Rian Wibowo 1 Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Indraprasta

Lebih terperinci

PENGARUH PROFESIONALISME GURU DAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU SMK BATIK 1 SURAKARTA 2013/2014

PENGARUH PROFESIONALISME GURU DAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU SMK BATIK 1 SURAKARTA 2013/2014 PENGARUH PROFESIONALISME GURU DAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU SMK BATIK 1 SURAKARTA 2013/2014 NASKAH PUBLIKASI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

NASKAH PUBLIKASI. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan KOMPETENSI PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DITINJAU DARI LATAR BELAKANG PENDIDIKAN (Studi Kasus Guru PKn Di SMP Muhammadiyah 1 Surakarta) NASKAH PUBLIKASI Disusun untuk memenuhi sebagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepala sekolah sebagai administrator memegang kunci bagi perbaikan dai kemajuan sekolah. Ia harus mampu memimpin dan menjalankan peranannya agar segala kegiatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Definisi Pengawas Pengawas sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang bertugas untuk membantu kinerja guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. manusia yang lebih utama untuk dibina dan dikembangkan secara

BAB I PENDAHULUAN. keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. manusia yang lebih utama untuk dibina dan dikembangkan secara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah salah satu sarana penting dan strategis yang mudah diterapkan dalam upaya peningkatan sumber daya manusia (SDM), yang mempunyai tujuan menuntun

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan Pada uraian ini, peneliti akan menyajikan uraian pembahasan sesuai

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan Pada uraian ini, peneliti akan menyajikan uraian pembahasan sesuai 75 BAB V PEMBAHASAN A. Pembahasan Pada uraian ini, peneliti akan menyajikan uraian pembahasan sesuai dengan hasil penelitian. Sehingga pembahasan ini akan mengintegrasikan hasil penelitian yang ada sekaligus

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Metode Diskusi 1. Pengertian Diskusi Dalam kegiatan pembejaran dengan metode diskusi merupakan cara mengajar dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problema atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas peyelenggaraan pendidikan selalu terkait dengan masalah sumber daya manusia yang terdapat dalam institusi pendidikan tersebut. Masalah sumber daya manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu unsur penting dalam kegiatan pendidikan di madrasah adalah guru.

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu unsur penting dalam kegiatan pendidikan di madrasah adalah guru. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu unsur penting dalam kegiatan pendidikan di madrasah adalah guru. Dimana peranan guru sangatlah besar dalam menyiapkan generasi bangsa yang unggul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Profesi guru merupakan pekerjaan yang mulia, sebab dari gurulah segala peradaban dimulai dan mengalami perkembangan yang sangat mengagumkan hingga detik ini. Namun,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah pilihan tepat untuk menciptakan sumber daya manusia yang lebih baik. Terlebih dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut

Lebih terperinci

PENGARUH KOMITE, PENGAWAS DAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI SMAN 7 PURWOREJO TESIS

PENGARUH KOMITE, PENGAWAS DAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI SMAN 7 PURWOREJO TESIS PENGARUH KOMITE, PENGAWAS DAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI SMAN 7 PURWOREJO TESIS Diajukan Kepada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervisi.

BAB I PENDAHULUAN. Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervisi. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervisi. Supervisi sebagai fungsi administrasi pendidikan berarti aktivitas-aktivitas

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA

RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014-2018 Kata Pengantar RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sudarwan Danim dan Yunan Danim, Administrasi Sekolah dan Manajemen Kelas, (Bandung : Pustaka Setia, 2010), hlm. 6.

BAB I PENDAHULUAN. Sudarwan Danim dan Yunan Danim, Administrasi Sekolah dan Manajemen Kelas, (Bandung : Pustaka Setia, 2010), hlm. 6. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah guru. Guru dalam konteks pendidikan mempunyai peranan yang besar dan strategis. Hal ini disebabkan gurulah

Lebih terperinci

PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA TAHUN 2011 NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA TAHUN 2011 NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA TAHUN 2011 NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Pendidikan Agama Islam

Lebih terperinci

PENGELOLAAN SUPERVISI PEMBELAJARAN DI SD NEGERI 2 MRANGGEN DEMAK TESIS

PENGELOLAAN SUPERVISI PEMBELAJARAN DI SD NEGERI 2 MRANGGEN DEMAK TESIS PENGELOLAAN SUPERVISI PEMBELAJARAN DI SD NEGERI 2 MRANGGEN DEMAK TESIS Diajukan Kepada Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai pegangan untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas :

BAB I PENDAHULUAN. sebagai pegangan untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keinginan terwujudnya pendidikan nasional yang berkualitas tertuang di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

STUDI TENTANG PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMA NEGERI 11 MAKASSAR

STUDI TENTANG PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMA NEGERI 11 MAKASSAR 9 STUDI TENTANG PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMA NEGERI 11 MAKASSAR Oleh: HUSNIA ARFAN Mahasiswa Jurusan PPKn FIS Universitas Negeri Makassar MUSTARI Mahasiswa Jurusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. profesional harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran

BAB I PENDAHULUAN. profesional harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu komponen terpenting dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan adalah guru. Guru merupakan suatu profesi atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus. Jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah Pendidikan dianggap sebagai suatu investasi yang paling berharga dalam bentuk peningkatan kualitas sumber daya insani untuk pembangunan suatu bangsa. Sering

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bandung, Hlm E. Mulyasa, Pengembangan Dan Implementasi Kurikulum 2013, Remaja Rosdakarya,

BAB I PENDAHULUAN. Bandung, Hlm E. Mulyasa, Pengembangan Dan Implementasi Kurikulum 2013, Remaja Rosdakarya, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam konteks nasional, kebijakan perubahan kurikulum merupakan politik pendidikan yang berkaitan dengan kepentingan berbagai pihak, bahkan dalam pelaksanaannya seringkali

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. sebagai suatu susunan, pendekatan, atau kaidah-kaidah untuk mencapai

BAB II KAJIAN TEORI. sebagai suatu susunan, pendekatan, atau kaidah-kaidah untuk mencapai BAB II KAJIAN TEORI A. Kerangka Teoretis 1. Tinjauan Tentang Teknik Cek Kosong a. Pengertian Teknik Pembelajaran Hamdani menjelaskan bahwa teknik pembelajaran diartikan sebagai suatu susunan, pendekatan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mungkin proses belajar mengajar akan berhasil dengan lancar dan baik.

BAB I PENDAHULUAN. mungkin proses belajar mengajar akan berhasil dengan lancar dan baik. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3, Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN ATAU TELAAH HASIL PENELITIAN TERDAHULU

BAB II KAJIAN TEORI DAN ATAU TELAAH HASIL PENELITIAN TERDAHULU BAB II KAJIAN TEORI DAN ATAU TELAAH HASIL PENELITIAN TERDAHULU A. Kajian Teori 1. Prodistik a. Pengertian Prodistik Berdasarkan REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA. Rabu (14/5) Prodistik adalah Program Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salis Edward, Total quality Manajement in Educational, Terj. Ali Riyadi dan Fahrurrazi, IRCiSoD, Yogyakarta, 2012, hlm.

BAB I PENDAHULUAN. Salis Edward, Total quality Manajement in Educational, Terj. Ali Riyadi dan Fahrurrazi, IRCiSoD, Yogyakarta, 2012, hlm. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas menjadi tanggung jawab pendidikan nasional, terutama dalam mempersiapkan peserta didik untuk menjadi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Gambaran Umum Tentang SMP N 2 Dukuhwaru 1. Sejarah singkat SMP N 2 Dukuhwaru SMP N 2 Dukuhwaru tidak terlepas dari dukungan masyarakat yang dirintis oleh para tokoh masyarakat

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS BANTUAN PENDIDIKAN BAGI MAHASISWA MISKIN UNTUK PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM SWASTA (PTKIS) TAHUN 2015

PETUNJUK TEKNIS BANTUAN PENDIDIKAN BAGI MAHASISWA MISKIN UNTUK PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM SWASTA (PTKIS) TAHUN 2015 PETUNJUK TEKNIS BANTUAN PENDIDIKAN BAGI MAHASISWA MISKIN UNTUK PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM SWASTA (PTKIS) TAHUN 2015 KEMENTERIAN AGAMA RI DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM DIREKTORAT PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 SISDIKNAS adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu memberi kondisi mendidik yang

BAB I PENDAHULUAN. yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu memberi kondisi mendidik yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah investasi masa depan bangsa. Baik buruknya suatu peradaban kelak, sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan saat ini. Pendidikan yang berkualitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pengawas PAI sebagai seorang supervisor harus memiliki keterampilan. meningkatkan kinerja guru PAI.

BAB I PENDAHULUAN. Pengawas PAI sebagai seorang supervisor harus memiliki keterampilan. meningkatkan kinerja guru PAI. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Supervisi akademik pendidikan agama Islam sangat penting dilakukan untuk menjamin berjalannya proses pembelajaran pendidikan agama Islam sesuai dengan standar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Fungsi sekolah erat hubungannya dengan masyarakat. dan didukung oleh lingkungan masyarakat. 1

BAB I PENDAHULUAN. Fungsi sekolah erat hubungannya dengan masyarakat. dan didukung oleh lingkungan masyarakat. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer masyarakat sejak dulu. Setiap orang memerlukan pendidikan untuk kelangsungan hidupnya. Tujuan pendidikan sering

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu wadah yang sangat penting agar warga negara Indonesia dapat

BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu wadah yang sangat penting agar warga negara Indonesia dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Madrasah Tsanawiyah selaku lembaga pendidikan formal yang bertujuan menyiapkan para peserta didik (siswa), untuk dapat menjadi anggota masyarakat yang mempunyai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya

Lebih terperinci

PENGURUS YAYASAN SLAMET RIJADI

PENGURUS YAYASAN SLAMET RIJADI PERATURAN YAYASAN SLAMET RIJADI NOMOR 01/YSR/2007 Tentang SISTEM DAN TATACARA PEMILIHAN CALON REKTOR UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA PERIODE TAHUN 2007-2011 PENGURUS YAYASAN SLAMET RIJADI Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DI SEKOLAH DASAR

PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DI SEKOLAH DASAR PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DI SEKOLAH DASAR PENDAHULUAN Nur aeni Asmarani Jurusan Administrasi Pendidikan FIP UNP Perkembangan zaman dan era globalisasi yang sangat pesat menuntut adanya peningkatan

Lebih terperinci

02/PP/DITDIKTENDIK/2014 PEDOMAN UMUM PEMILIHAN KETUA PROGRAM STUDI BERPRESTASI

02/PP/DITDIKTENDIK/2014 PEDOMAN UMUM PEMILIHAN KETUA PROGRAM STUDI BERPRESTASI 02/PP/DITDIKTENDIK/2014 PEDOMAN UMUM PEMILIHAN KETUA PROGRAM STUDI BERPRESTASI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DIREKTORAT PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN 2014

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aspek, termasuk dalam struktur sosial, kultur, sistem pendidikan, dan tidak

BAB I PENDAHULUAN. aspek, termasuk dalam struktur sosial, kultur, sistem pendidikan, dan tidak 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan dunia telah melahirkan suatu perubahan dalam semua aspek, termasuk dalam struktur sosial, kultur, sistem pendidikan, dan tidak tertutup kemungkinan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG, Menimbang : a. bahwa bidang pendidikan merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011, hlm. 293.

BAB I PENDAHULUAN. dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011, hlm. 293. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dalam sejarah peradaban manusia merupakan salah satu komponen yang paling urgen. Aktivitas ini telah dimulai sejak manusia pertama ada di dunia sampai

Lebih terperinci

Penerapan MBS, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm Nanang Fattah, Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan dalam Konteks

Penerapan MBS, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm Nanang Fattah, Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan dalam Konteks BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas sumber. Pada kenyataannya, pendidikan bukanlah suatu upaya yang sederhana, melainkan suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Kemudian dalam

BAB I PENDAHULUAN. setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Kemudian dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hak asasi setiap individu anak bangsa yang telah diakui dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas sangat erat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas sangat erat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas sangat erat kaitannya dengan keberhasilan peningkatan kompetensi dan profesionalisme pendidik dan tenaga

Lebih terperinci

Evektifitas Pelaksanaan Tugas Pengawas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan pada Sekolah Dasar Lingkungan UPTD Suku I Disdikpora Kota Banda Aceh

Evektifitas Pelaksanaan Tugas Pengawas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan pada Sekolah Dasar Lingkungan UPTD Suku I Disdikpora Kota Banda Aceh Evektifitas Pelaksanaan Tugas Pengawas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan pada Sekolah Dasar Lingkungan UPTD Suku I Disdikpora Kota Banda Aceh 1* Maisyarah S, 2 Nasir Usman, 1 Niswanto 1 Prodi Magister

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 1. dasarnya mengantarkan para siswa menuju pada perubahan-perubahan tingkah

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 1. dasarnya mengantarkan para siswa menuju pada perubahan-perubahan tingkah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancang dan direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Arus globalisasi akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern. Globalisasi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi. sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran.

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi. sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran. 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran. Pendidikan merupakan masalah yang menarik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan guru, kepala madrasah dan komite madrasah dalam mengelola. satuan pendidikan. Guru merupakan ujung tombak dalam mendidik

BAB I PENDAHULUAN. peranan guru, kepala madrasah dan komite madrasah dalam mengelola. satuan pendidikan. Guru merupakan ujung tombak dalam mendidik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tidak terlepas dari peranan guru, kepala madrasah dan komite madrasah dalam mengelola satuan pendidikan. Guru merupakan ujung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada kemampuan bangsa itu sendiri dalam meningkatkan kualitas sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. pada kemampuan bangsa itu sendiri dalam meningkatkan kualitas sumber daya 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan aspek yang paling utama dalam menghadapi era globalisasi dimana keberhasilan suatu bangsa dalam melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan pemerintah. mengeluarkan berbagai kebijakan. Salah satu kebijakannya adalah mengganti

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan pemerintah. mengeluarkan berbagai kebijakan. Salah satu kebijakannya adalah mengganti BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan. Salah satu kebijakannya adalah mengganti kurikulum KTSP dengan kurikulum 2013 dengan

Lebih terperinci