PROSIDING SEMINAR NASIONAL DAN FOLKLOR DAN
|
|
|
- Bambang Muljana
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1
2 PROSIDING SEMINAR NASIONAL DAN FOLKLOR DAN KEARIFAN Diterbitkan bersama oleh Jurusan Sastra Indonesia-Fakultas Sastra Universitas Jember Dengan Penerbit Buku Pustaka Radja, Desember 2015 Jl. Tales II No. 1 Surabaya Telp. (Lini Penerbitan CV. Salsabila ANGGOTA IKAPI NO. Editor: Agustina Dewi S., S.S., M.Hum. Layout dan Design Sampul: Salsabila Creative Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
3 PROSIDING SEMINAR NASIONAL FOLKLOR DAN KEARIFAN LOKAL
4 DAFTAR ISI 1. FOLKLOR INDONESIA: DUA MANFAAT YANG TERABAIKAN - Ayu Sutarto-1 2. REKONSTRUKSI/ DEKOSNTRUKSI KEARIFAN LOKAL DALAM BEBERAPA NOVEL INDONESIA - Pujiharto-9 3. RITUAL DAN SENI TRADISI USING, MEMBACA IDENTITAS SUARA-SUARA LOKAL - Novi Anoegrajekti RAGAM BAHASA FOLKLOR NUSANTARA SEBAGAI WADAH KEARIFAN MASYARAKAT - Tri Mastoyo Jati Kesuma SEBLANG, MANTRA DAN RITUAL DALAM KONTEKS STRUKTUR SOSIAL - Heru S.P. Saputra dan Edy Hariyadi HATI SINDEN, DARI REKONSTRUKSI KE REFLEKSI: APRESIASI DENGAN KAJIAN HERMENEUTIK - Sri Mariati BAHASA REGISTER DOA DALAM RITUS KARO DAN KASADA (COLLECTIVE MIND MASYARAKAT TENGGER JAWA TIMUR) - Sri Ningsih CERITA DARI KARANGSOGA: GENETIKA, IDEOLOGI, DAN LIMINALITAS - Teguh Supriyanto dan Esti Sudi Utami REPRESENTASI TOKOH DRAMA MANGIR KARYA PRAMUDYA ANANTA TOER - Titik Maslikatin-121
5 10. KEKERASAN DAN PENDERITAAN DALAM NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWAL EL SAADAWI DALAM PERSPEKTIF HUMANIORA - Sunarti Mustamar LINGUISTIK LINTAS SUKU BANGSA - Sudartomo Macaryus TOKOH KRESNA DALAM WIRACARITA MAHABHARATA SEBAGAI TOKOH IDENTIFIKASI ETIK MORAL - Asri Sundari KONSEPSI (COLLECTIVE MIND) WONG JAWA YANG TERCERMIN DALAM PITUDUH JAWA - Sri Ningsih dan Ali Badrudin LITERASI HISTORI: ADAPTASI TEKS DALAM REKONSTRUKSI FILM BIOPIK - Bambang Aris Kartika BAHASA IBU DAN IBU BERBAHASA, PUNAHNYA SATU KEARIFAN LOKAL INDONESIA - Agustina Dewi S.-249
6 KATA PENGANTAR Indonesia merupakan satu wilayah yang terdiri atas ribuan suku. Berdasarkan data dari Sensus Penduduk terakhir yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia, diketahui jumlah suku di Indonesia yang berhasil terdata sebanyak suku bangsa. Dengan adanya ribuan suku tersebut tentu membuat budaya di Indonesia juga sangat beragam. Keberagaman budaya itu tentu merupakan satu kekayaan yang luar biasa. Sebuah kekayaan yang harus dijaga keberadaanya. Berdasarkan kekayaan budaya itu kita dapat melihat bagaimana pola pikir suatu masyarakat. Dalam kekayaan budaya inilah kita dapat melihat kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Suku yang berbeda menyebabkan kearifan lokal yang dimiliki satu suku berbeda dengan kearifan lokal yang dimiliki oleh suku yang lain. Dengan ribuan suku yang ada, membuat Indonesia menjadi kaya dengan folklor dan kearifan lokal yang beraneka ragam. Namun, sangat disayangkan karena folklor dan kearifan lokal tersebut belum semuanya digali oleh para peneliti. Hal ini nampak dari sedikitnya publikasi tentang folklor dan kearifan lokal yang ada di Indonesia. Hasil penelitian tentang folklor dan kearifan lokal di berbagai daerah memang sudah sangat banyak tetapi publikasi ilmiahnya masih sangat minim. Penelitian tentang folklor dan kearifan lokal yang dipublikasikan masih terbatas pada suku-suku yang jumlah penduduknya besar. Sementara suku-suku yang jumlah penduduknya sedikit masih belum banyak diteliti. Hal ini salah satunya disebabkan oleh faktor
7 minimnya media publikasi yang bertemakan folklor dan kearifan lokal. Seminar merupakan salah satu upaya untuk mempublikasikan karya-karya ilmiah yang ada. Publikasi melalui seminar penting untuk memotivasi para dosen agar dapat mempresentasikan hasil penelitiannya dan memperkenalkan foklor dan kearifan lokal daerah masing-masing. Hal inilah yang membuat Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Jember melaksanakan Seminar Nasional Folklor dan Kearifan Lokal. Kegiatan akademik yang berupa seminar ini diharapkan dapat mempublikasikan hasil penelitian yang terkait dengan folklor dan kearifan lokal khususnya yang ada di wilayah Tapal Kuda. Folklor dan kearifan lokal yang ada di wilayah Tapal Kuda memang masih belum banyak yang digali oleh para peneliti. Harapan semacam ini juga dilandasi dengan kebutuhan peningkatan atmosfer akademik bagi seluruh mahasiswa dan dosen di Fakultas Sastra Universitas Jember, khususnya Jurusan Sastra Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Folklor dan Kearifan Lokal ini memuat enam belas artikel ilmiah. Jember, 2 Desember 2015 Ketua Jurusan Sastra Indonesia Ketua Pelaksana, Dra. Sri Ningsih, M.S. Dra. Titik Maslikatin, M.Hum.
8 61 SEBLANG MANTRA DAN RITUAL DALAM KONTEKS STRUKTUR SOSIAL 9 Heru S.P. Saputra Edy Hariyadi Fakultas Sastra Universitas Jember Abstract This article aims to discuss the ritual Seblang institutions in the context of the social structure Using community, Banyuwangi. The method used is the study of literature, participation observation, and in-depth interviews, with functional-structural analysis method. The results showed that the institution Seblang ritual is a social institution that is enabled by the Using as an integral part of their social structure. Seblang sacred values will also be a convergence between alam alus and alam kasar, between man and dhanyang, between microcosm and macrocosm. The existence of institutions capable of passing rituals Seblang-limit so always preserved by the Using up to now, because supported by the cultural and social conditions. Conditions associated with the culture of the religious system and system knowledge, while social conditions related to social structures and rural geographical environment. Cultural conditions and the social conditions become public confidence Using on socio-cultural functions Seblang for agricultural fertility and the welfare of their lives. Denial of the will of the ancestors believed would lead to disharmony, both socially and psychologically, which at once will cause disharmony in the social structure Using. Keywords: formula, magic, function, social structure, Using community 9 Artikel ini disarikan dari sebagian hasil penelitian berjudul Ritual Kejiman: Manunggaling Alam Kasar dan Alam Alus untuk Menuju Harmoni Sosial dalam Persepsi Orang Using, Banyuwangi (2016). Kami mengucapkan terima kasih kepada Ditlitabmas Ditjen Dikti atas fasilitas yang telah diberikan untuk penelitian tersebut.
9 62 1. Pendahuluan Orang Using dikenal sebagai indigenous people pewaris Kerajaan Blambangan yang menghuni wilayah ujung timur Pulau Jawa. Sebagai masyarakat agraris, mereka lekat dengan pranata tradisional yang menjadi weluri atau wasiat nenek-moyang, baik yang terkait dengan siklus hidup yang bersifat individual, maupun yang berhubungan dengan ranah sosial, seperti pranata ritual-sakral beresih desa, yang pada umumnya berorientasi pada kesuburan dan tolak bala. Pranata ritual (lengkap dengan mantra) Seblang, Kebo-keboan, dan Barong Ider Bumi, merupakan contoh wasiat leluhur orang Using yang hingga zaman modern ini masih tetap eksis dan senantiasa dilaksanakan sesuai adatistiadat Using. Mereka bukan tidak bisa menolak, melainkan jika wasiat itu tidak dirawat, dengan cara dilakoni lebih dikarenakan perasaan khawatir dan was-was, dan itu cenderung bersifat kolektif. Was-was, jika tidak diangkatke ( dilaksanakan ), jangan-jangan akan terjadi sesuatu, yakni sesuatu yang disharmoni, atau bahkan pageblug ( musibah ). Atmosfer seperti itulah yang membayangi pikiran dan perasaan orang Using, sehingga pranata Seblang, Kebo-keboan, dan Barong Ider Bumi tetap jalan. Meskipun ketiganya paralel dalam lingkup ritual kesuburan dan tolak bala, masing-masing memiliki kekhasan dan wilayah hunian yang berbeda. Seblang merupakan ritual dengan inti pada tarian trance yang ritmismagis, hanya dilaksanakan di Desa Olehsari dan Bakungan. Kebo-keboan merupakan ritual dengan inti pada prosesi simbolik membajak sawah yang dilakoni oleh kerbau berupa manusia,
10 63 hanya berlaku di Desa Aliyan dan Alasmalang. Barong Ider Bumi merupakan ritual dengan inti pada tari dengan topeng barong, hanya ada di Desa Kemiren. Masing-masing pranata ritual memiliki tatacara dan waktu pelaksanaan yang berbeda, dan tidak dapat saling dipertukarkan. Hal tersebut bisa terjadi karena masing-masing memiliki riwayat yang berbeda-beda. Dalam konteks tulisan ini, kajian hanya akan difokuskan pada Seblang (dan mantranya), khususnya Seblang Olehsari. Mengapa Seblang (Olehsari)? Ada tiga pertimbangan. Pertama, Seblang merupakan semacam representasi dari wacana upacara ritual bagi orang Using. Ia merupakan pranata ritual paling awal sehingga menjadi tonggak bagi upacara-upacara ritual lainnya. Ia juga menjadi tanda simbolis yang merepresentasikan anganangan kolektif masyarakat Using, terutama yang terkait dengan keyakinan mistis, sebagai bentuk wasiat leluhur. Menurut orang Using, leluhur merupakan cikal-bakal ( roh pembuka/pembabat wilayah ) dan dhanyang ( roh penjaga wilayah ) yang harus dijunjung tinggi; mereka di antaranya adalah Buyut Cili dan Buyut Ketut. Kedua, Seblang diyakini oleh orang Using sebagai embrio seni tari Gandrung (tahapan terakhir dari tiga tahap yang ada dalam pemetasan tari Gandrung disebut Seblang-seblang). Gandrung merupakan tari pergaulan yang menjadi identitas sekaligus merepresentasikan seni populer masyarakat Banyuwangi. Popularitas tari Gandrung pada akhirnya mampu membetot kesadaran kolektif masyarakat Banyuwangi hingga menjadikannya sebagai maskot Banyuwangi: kota Gandrung.
11 64 Ketiga, pranata ritual Seblang merefleksikan adanya berbagai relasi, baik mikrokosmos dengan makrokosmos, alam alus ( dunia halus/ gaib ) dengan alam kasar ( dunia kasar/ nyata ), makhluk manusia dengan makhuk lain (tumbuhan, hewan), maupun hamba dengan Sang Khalik. Relasi tersebut menjadi semacam oposisi biner yang membentuk suatu struktur tertentu. Pada tataran yang lebih konkret, relasi pranata ritual Seblang dengan eksistensi masyarakat membentuk relasi yang bersifat struktur sosial. Dengan demikian, munculnya disharmoni pada pranata Seblang akan berakibat pada munculnya disharmoni pada struktur sosial. Bertolak dari tiga hal tersebut, menjadi menarik untuk membahas pranata ritual Seblang dalam relasinya dengan struktur sosial. Beberapa studi yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya cenderung menggunakan paradigma fungsionalisme, tafsir kebudayaan, dan feminisme, 10 sedangkan kajian ini menggunakan paradigma fungsionalisme-struktural Radcliffe- Brown (1952). Hal ini dilandasi oleh asumsi dasar bahwa segala 10 Paradigma fungsionalisme, khususnya fungsionalisme Malinowksi, digunakan untuk mengkaji Seblang oleh Murgiyanto & Munardi (1990), Subagyo (1999), Tabalong (2004), dan Singodimayan (2006; 2009). Meskipun memiliki ragam detail yang berbeda, kajian-kajian tersebut memiliki orientasi akhir yang paralel, yakni aspek fungsional Seblang dalam konteks kehidupan kultural orang Using. Eksistensi Seblang tidak dapat dilepaskan dari implikasi fungsional tradisi yang menjadi karakteristik masyarakat agraris tersebut bagi masyarakat pemiliknya. Sementara itu, paradigma tafsir kebudayaan digunakan Wessing (1999) dan Anoegrajekti (2010) untuk memaknai ritual beresih desa. Wessing sampai pada kesimpualn bahwa Seblang merupakan simbol gerak kehidupan lokal, sedangkan Anoegrajekti lebih memaknainya sebagai simbol kehidupan masyarakat agraris. Adapun paradigma feminisme digunakan oleh Effendi dan Anoegrajekti (2004) untuk mengkaji peran perempuan dalam konteks tradisi Using. Kajiannya sampai pada kesimpulan bahwa dalam konteks tradisi, perempuan memiliki peran yang dominan.
12 65 sesuatu memiliki fungsi, tetapi fungsi tersebut selalu berimplikasi pada struktur sosial. Perubahan fungsi pranata ritual Seblang akan berpengaruh terhadap struktur sosial masyarakat Using, Banyuwangi. Dalam konteks ini, struktur sosial yang dimaksud bukan hanya merupakan hubungan sosial antar-makhluk hidup, melainkan juga hubungan antara makhluk hidup dengan institusi sosial (Saputra, 2013). Atas dasar latar belakang tersebut, tulisan berikut lebih menyelami mantra dan pranata ritual Seblang sebagai bagian integral dari struktur sosial. Oleh karena itu, masalah penting yang kemudian muncul dalam penelitian ini meliputi dua hal. Pertama, apa fungsi mantra dan nilai-nilai magi dalam upacara ritual Seblang? Kedua, bagaimana fungsi pranata ritual Seblang dalam konteks struktur sosial masyarakat Using, Banyuwangi? Kerangka teoretis yang digunakan untuk menganalisis data dan kemudian menjawab pertanyaan tersebut adalah teori formula Lord (1981), teori magi Frazer (2009), dan teori fungsionalisme-struktural Radcliffe-Brown (1952). Pada prinsipnya, teori formula menekankan pada analisis terhadap perulangan-perulangan, baik frasa, klausa, maupun kalimat, yang tersusun secara formulaik. Formula adalah kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan satu ide hakiki, dan membentuk wacana ritmis serta mensugesti daya magis. Sementara itu, teori magi Frazer menekankan pada sympathetic magic ( magi simpatetik ), yang mengasumsikan adanya hubungan erat antara benda-benda yang sebenarnya,
13 66 secara langsung, tidak berhubungan. Sympathetic magic dapat dipilah menjadi dua, yaitu: (1) homeopathic magic ( magi homeopatik ) yang disebut juga imitative magic ( magi meniru ), dan (2) contagion/contagious magic ( magi yang menular ) yang disebut juga magic of touch ( magi sentuhan ). Homeopathic magic mengasumsikan bahwa objek-objek yang mirip akan saling mempengaruhi, sedangkan contagious magic atau magic of touch mengasumsikan bahwa objek yang pernah bersentuhan akan terus mempunyai hubungan. Adapun teori fungsionalisme-struktural Radcliffe-Brown memandang bahwa segala sesuatu memiliki fungsi, tetapi fungsi tersebut selalu berimplikasi pada struktur-sosial. Fungsi unsurunsur kebudayaan dipergunakan untuk memelihara keutuhan dan sistematika struktur sosial. Perubahan fungsi akan berpengaruh terhadap struktur sosial. 2. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan untuk mengeksplorasi fungsi pranata ritual Seblang dalam implikasinya dengan struktur sosial masyarakat Using adalah gabungan dari metode kajian pustaka, observasi partisipasi, dan wawancara mendalam. Kajian pustaka digunakan untuk mendapatkan data dan informasi pendukung, terutama terkait penelitian-penelitian sebelumnya. Observasi partisipasi dilakukan di Desa Olehsari, selama prosesi ritual Seblang berlangsung, untuk mendapatkan gambaran empiris pelaksanaan prosesi Seblang secara langsung di lapangan.
14 67 Sementara itu, wawancara mendalam dilakukan terhadap para pelaku ritual Seblang dan budayawan Using, untuk mendapatkan data terkait dengan mantra, dhanyang, magi, dan fungsi pranata ritual Seblang dalam konteks struktur sosial masyarakat Using. Penelitian dilakukan di Desa Olehsari, Banyuwangi. Meskipun demikian, data-data dalam penelitian yang telah dilakukan pada periode-periode sebelumnya juga dimanfaatkan, dalam rangka untuk memperkaya hasil penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis fungsional-struktural. Analisis ini ditujukan untuk menghasilkan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan relasi fungsional antara fenomena pranata ritual Seblang dengan struktur sosial masyarakat Using, Banyuwangi. Dalam konteks ini, pranata ritual Seblang dipahami sebagai institusi sosial, yang tidak lepas implikasinya dengan struktur sosial masyarakat. 3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Mantra dan Dhanyang dalam Ritual Seblang Seblang, menurut masyarakat di Desa Olehsari, merupakan pranata ritual paling awal yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Dalam beberapa referensi atau kajian terdahulu (Murgiyanto & Munardi, 1990; Singodimayan, 2006; 2009) dan juga atas informasi yang diperoleh di lapangan, diketahui bahwa menurut orang Using, Seblang muncul sekitar tahun 1770-an. Ritual tersebut diperkirakan ada pengaruh budaya Bali, yang berada di seberang dengan batasan sebuah selat, yakni Selat Bali. Setidaknya mengingatkan tari shangyang dari Bali.
15 68 Pranata ritual Seblang merupakan seperangkat upacara adat yang berintikan pada pentas tari Seblang. Momen pentas tari itu sendiri hanyalah salah satu tahapan dari sepuluh tahapan yang ada dalam rangkaian pranta ritual Seblang. Secara lengkap, kesepuluh tahapan tersebut adalah: (1) kejiman, (2) rapat desa, (3) pasang tarub dan genjot, (4) menyiapkan sajen dan bersaji, (5) slametan, (6) pembuatan omprok dan rias busana, (7) sajian tari, (8) ider bumi dan rebutan, (9) siraman/lungsuran, dan (10) syukuran. Orang Using sangat meyakini bahwa pranata ritual Seblang merupakan ritus kesuburan dan tolak bala yang besifat sakral, sehingga mereka tidak ada keberanian untuk tidak melaksanakannya. Melanggar weluri atau wasiat leluhur diyakini akan berdampak pada kehidupan sosial mereka, yakni berakibat pada disharmoni sosial, entah dalam bentuk pageblug atau kondisi kekacauan sosial lainnya. Sebagai sebuah upacara adat yang sakral, pranata ritual Seblang tidak dapat dilepaskan dari relasinya dengan hal-hal yang gaib, di antaranya terkait dengan mantra dan dhanyang. Dukun/ pawanglah yang memiliki otoritas dalam hal mantra dan dhanyang tersebut. Dalam konteks ini, dukun pun bukan sembarang dukun, tetapi khusus dukun Seblang. Peran dukun dalam matek aji untuk memfungsikan mantra dalam rangkaian pranata ritual Seblang diawali sejak prosesi kejiman, ngundang roh, hingga siraman atau lungsuran. Prosesi kejiman biasanya terjadi sekitar satu sampai dua minggu sebelum waktu pelaksanaan ritual Seblang.
16 69 Kejiman itu sendiri dapat diartikan sebagai masuknya jim alias jin ke dalam raga seseorang dalam rangkaian proses penentuan penari Seblang. Meskipun demikian, menurut tetua adat di Olehsari, yang merasuk dalam prosesi kejiman adalah roh leluhur. Sebagai ilustrasi, siapa yang akan menjadi penari Seblang untuk periode sekarang (dilaksanakan setahun sekali), maka untuk menunjuknya bukan wewenang Pak Kades atau Pak RT atau bahkan dukun, melainkan wewenang roh leluhur yang mbahureksa wilayah Olehsari dan sekitarnya, dengan melalui mediator seseorang. Seseorang tersebut bisa istri dukun atau tetua adat yang lain. Ketika roh leluhur telah masuk ke dalam raga seorang mediator, maka dukun akan menanyai atau berdialog dengan si mediator yang telah memasuki kondisi trance tersebut. Dengan demikian, ucapan dan jawaban yang dilontarkan si mediator sebenarnya merupakan ucapan dan jawaban dari roh leluhur yang merasukinya. Dalam dialog gaib inilah akan diketahui siapa sebenarnya yang akan menjadi penari Seblang pada periode tersebut. Selain nama penari Seblang, juga akan diketahui hari dimulainya ritual Seblang. Dalam konvensinya, hanya ada dua hari yang memungkinkan dimulainya ritual Seblang, yakni Senin atau Jumat. Menurut dukun Seblang Olehsari, Pak Akwan (wawancara, 16 Agustus 2014), kedatangan roh leluhur dalam prosesi kejiman tidak diundang, tetapi datang dengan sendirinya. Kedatangannya juga tidak bisa diprediksi atau dipastikan waktunya. Namun, berdasarkan kebiasaan selama ini, kedatangan roh leluhur biasanya pada malam hari. Orang yang menjadi
17 70 mediator (kerasukan) tiba-tiba akan mengalami kondisi trance. Artinya, kondisi trance tidak direncanakan oleh dukun. Hal tersebut berbeda dari prosesi pelaksanaan ritual Seblang. Sebagaimana diketahui, selama tujuh hari pelaksanaan ritual Seblang Olehsari, penari Seblang dalam kondisi trance. Ketika kondisi penari tidak mengalami trance atau tidak ndadi, pelaksanaan ritual tidak bisa dilanjutkan alias gagal. Untuk bisa mencapai kondisi ndadi pada diri penari Seblang, dukun harus mengundang roh leluhur untuk masuk ke dalam raga penari Seblang dengan bantuan pendukung berupa aroma sekul arum ( kemenyan ), lantunan gendhing Seblang, dan alunan gamelan Seblang. Jika roh leluhur telah masuk, yang ditandai dengan jatuhnya nyiru dari kedua tangan Seblang, penari Seblang akan ndadi dan prosesi ritual telah berhasil dimulai. Jadi, kedatangan roh leluhur yang merasuk ke dalam diri penari Seblang hingga ndadi lantaran diundang oleh dukun (ngundang), sedangkan kedatangan roh leluhur yang merasuk ke dalam diri mediator kejiman tidak diundang. Untuk mengundang roh leluhur dalam pelaksanaan ritual Seblang, mantra yang digunakan oleh dukun disebutnya sebagai Mantra Ngundang. Berikut kutipan mantranya. Mantra Ngundang Bismillahir rahmaanir rahiim Salam likum salam Isun duwe pamundhutan Marang para leluhur Bapa Adam ibu Kawa Turun turun tumurun Mantra Mengundang/Mendatangkan Bismillahir rahmaanir rahiim Salam likum salam Saya punya permintaan Kepada para leluhur Bapa Adam Ibu Hawa Turun-temurun
18 71 Ring paseban agung Sira metua Cikal bakal para leluhur Kaki dhanyang nini dhanyang Kaki wenang nini wenang Kaki kumolo nini kumolo Hang nguasani jagad leluhur Hang nguasani desa mriki Buyut Cili Mbah Bisu Mbah Jalil Aji Anggring Mas Brata SaridinSaridin Sayu Sarinah Sedulur papat lima badan Enem panutan pitu sampurna Roh ira roh isun Sukmanira sukmanisun Cahyanira cahyanisun Tumuruna marang isun Lumebu marang jabang bayine. 11 Sidhep sirep Sidhep sirep Sidhep sirep Jabang bayine. Di tempat terhormat Engkau datanglah Asal-usul para leluhur Kakek danyang nenek danyang Kakek wenang nenek wenang Kakek kumolo nenek kumolo Yang menguasai alam leluhur Yang menguasai desa sini Buyut Cili Mbah Bisu Mbah Jalil Aji Anggring Mas Brata Sayu Sarinah Saudara empat, lima badan Enam panutan, tujuh sampurna Roh kamu roh saya Sukman kamu sukma saya Cahaya kamu cahaya saya Turunlah kepada saya Masuk ke dalam bayinya. Sidep sirep Sidep sirep Sidep sirep Bayinya. Wacana dalam mantra tersebut tampak bahwa ada permohonan untuk kehadiran roh leluhur, dalam konteks ini leluhur yang menjadi dhanyang atau pun cikal-bakal, yang secara eksplisit disebut adalah Buyut Cili, Mbah Bisu, Mbah Jalil, Aji Anggring, Mas Brata, Saridin, dan Sayu Sarinah. Dari para arwah atau roh leluhur yang mbahureksa wilayah setempat tersebut, roh mana 11 Pada tanda titik-titik tersebut disebutkan nama orang yang dituju atau yang menjadi objek/sasaran, yakni penari Seblang.
19 72 yang hadir atau masuk ke raga penari Seblang, hanya dukun yang tahu. Berikutnya adalah pembuatan tarub dan pemasangan genjot. Tarub adalah bangunan kecil (selalu menghadap ke Timur) yang berukuran sekitar 3 x 4 meter, atapnya terbuat dari anyaman daun kelapa dan ditumpangi dengan atap seng. Pada bagian sisi kanan, kiri, dan depan dihiasi janur. Di dalam tarub ditata kuresi atau digelari tikar untuk tempat duduk pesinden dan keluarga Seblang. Pada bagian depan-atas tarub dihiasi para bungkil yang sekaligus sebagai sesaji upacara. Para bungkil meliputi buah-buahan, sayur-sayuran, umbi-umbian, biji-bijian, daun-daunan, dan bunga-bungaan. Para bungkil tersebut digantung di atap tarub. Pada bagian atas-belakang tarub juga disediakan tempat khusus untuk sajen. Sementara itu, genjot adalah tempat pertujukan tari Seblang yang berupa panggung berukuran sekitar 6x6 meter. Pada bagian tengah panggung dipasang sebuah payung besar (payung agung) yang berwarna putih, yang berdiameter sekitar lima meter. Di bawah payung digunakan untuk tempat orkestrasi atau gamelan, yang terdiri atas kendang (dua buah), kempul, gong, demung, ricikan dan saron (dua buah). Dalam kedua kegiatan tersebut, secara berturut-turut diucapkan Mantra Gawe Tarub dan Mantra Pasang Genjot. Sebagaimana mantra-mantra lain, pada umumnya mantra Using diawali dengan ucapan Bismillahir rahmaanir rahiim. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh Islam.
20 73 Dalam pembuatan sajen, ada dua kelompok sajen, yakni sajen buangan dan sajen cawisan. Sajen buangan berupa tulangtulang ayam, jeroan ayam, dan kembang telon (kanthil, kenanga, dan mawar), yang disajikan untuk leluhur. Sajen cawisan terdiri atas dua jenis, yakni sajen pras dan sajen rujakan. Kedua sajen tersebut diletakkan di dalam bokor yang disajikan ketika upacara berlangsung. Sajen pras diletakkan di atas tempat duduk pesinden, sedangkan sajen rujakan diletakkan di dekat gamelan (gong), pada saat tari Seblang berlangsung. Mantra yang dibaca adalah Mantra Gawe Sajen. Tahap-tahap berikutnya, baik bersesaji di mata air, bersesaji di kuburan, pembuatan omprok, maesi Seblang, mengundang roh, ider bumi atau mubeng desa, maupun siraman/lungsuran, pada prinsipnya merupakan tahapan yang melibatkan dukun dengan kelengkapan mantra dan kekuatan gaibnya. Sementara itu, omprok adalah sejenis mahkota yang harus dikenakan penari Seblang, yang dibuat dari bahan-bahan yang cukup sederhana, yakni daun pisang muda (pupus) dan aneka bunga. Semua bahan tersebut dapat diperoleh secara mudah di lingkungan Desa Olehsari, dengan cara meminta kepada tetangga yang memilikinya. Selain dukun beserta mantranya, dalam pranata ritual Seblang juga erat kaitannya dengan dhanyang. Dhanyang dipahami oleh masyarakat Olehsari sebagai roh leluhur yang mbahureksa wilayah setempat. Dalam pranata ritual Seblang, ada saat-saat terjadinya pertemuan atau komunikasi antara manusia dan roh atau dhanyang. Pertemuan tersebut bisa terjadi secara
21 74 langsung dan juga secara tidak langsung. Pejumpaan secara langsung, selain dialami oleh dukun dan pawang, juga dialami oleh mediator kejiman dan si penari Seblang. Dukun dan pawang ketika ngundang atau memanggil roh dengan mantranya, pada prinsipnya merupakan komunikasi dan perjumpaan antara dukun dan pawang dengan roh leluhur. Sementara itu, mediator kejiman yang biasanya dilakukan oleh istri dukun atau tetua adat ketika kerawuhan ( kedatangan ) tamu juga mengalami perjumpaan. Raga atau badan si mediator menjadi tempat untuk berdiamnya roh leluhur, meskipun hanya bersifat sementara. Bentuk fisiknya adalah si mediator, tetapi isi -nya yang notabene bersuara dan memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan sang dukun, merupakan roh yang telah merasuk ke dalam diri si mediator. Mengingat bahwa isi yang ada di dalam bentuk merupakan sesuatu yang berbeda dari apa yang seharusnya ada, maka karakteristik jawaban-jawaban yang keluar dari bentuk tersebut juga tidak menunjukkan kebiasaan yang dimiliki oleh bentuk tersebut. Dengan demikian, bentuk dan isi merupakan dua hal yang berbeda, tetapi kemudian menyatu, dan isi mempengaruhi serta menggerakkan bentuk. Selain pada saat prosesi kejiman, perjumpaan yang dialami oleh si mediator juga terjadi ketika si penari Seblang melakukan prosesi ider bumi. Ider bumi dalam pranata ritual Seblang Olehsari merupakan prosesi terakhir dari rangkaian pranata Seblang selama tujuh hari. Dalam prosesi yang intinya adalah kirab keliling desa dengan menghampiri tempat-tempat
22 75 keramat di lingkungan Olehsari tersebut, juga mendatangi rumah si mediator kejiman. Ketika dalam posisi siap menerima kedatangan Seblang, dan saat Seblang telah mendekat, tiba-tiba si mediator seperti kelojotan kemasukan roh leluhur, dan segera dibantu oleh beberapa orang di sekitarnya untuk dipapah dan dibawa ke dalam rumah. Momen tersebut merupakan momen perjumpaan dan momen berkomunikasi antara alam alus dan alam kasar, manusia dan roh leluhur. Perjumpaan semacam itu juga dialami oleh penari Seblang. Ketika dalam kondisi trance, penari Seblang merasa diajak jalan-jalan oleh roh leluhur ke tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi. Pengalaman semacam itu hampir dialami oleh semua penari Seblang di Olehsari. Tutik (tahun 1995), Yuni (tahun 2007), dan Idah (tahun 2012) yang terekam dalam observasi partisipasi di lapangan dan mengisahkan pengalamannya, menunjukkan hal semacam itu. Ketika dalam situasi hilang kesadaran, mereka tidak merasakan bahwa dirinya sedang menari di atas panggung dan di bawah payung agung. Mereka juga tidak merasa ditonton oleh banyak orang. Yang mereka rasakan adalah pergi diajak jalan-jalan. Seseorang atau sesuatu yang mengajak inilah yang bukan manusia biasa, melainkan dhanyang atau roh leluhur. Wujud dhanyang tersebut bisa berbeda antara yang dialami oleh satu orang dengan orang lain, oleh penari Seblang yang satu dengan yang lain. Perjumpaan-perjumpaan antara alam alus dan alam kasar, baik secara individual (perjumpaan langsung) maupun kolektif (perjumpaan tak langsung) tersebut, sebenarnya dapat dipahami
23 76 sebagai proses pemfungsian masing-masing peran dalam konfigurasi dan struktur yang membentuk harmoni sosial. Hal tersebut sekaligus menjadi pengejawantahan relasi simbolis antara mikrokosmos dan makrokosmos, yang berorientasi pada kondisi yang slamet. Kondisi slamet merupakan spirit dan gambaran dunia dalam yang merepresentasikan dunia luar, yakni dunia sosial di lingkungan masyarakat sekitar. Hal ini menunjukkan berfungsinya masing-masing elemen sehingga membentuk keharmonisan struktur sosial. 3.2 Magi dan Formula dalam Mantra Ritual Seblang Magi (magic) atau spirit/ nilai-nilai/ roh yang ada dalam mantra dan berbagai momen sakral, secara umum dibedakan menjadi dua macam, yakni magi putih dan magi hitam. Magi putih atau ngelmu putih (white magic) digunakan untuk kebaikan, sedangkan magi hitam atau ngelmu hitam (black magic) digunakan untuk kejahatan. Fenomena yang terjadi di berbagai kelompok masyarakat seperti itu. Namun, tidak demikian dengan Using. Dalam budaya Using, selain kedua jenis tersebut, dikenal juga dua jenis lainnya, yakni magi kuning dan magi merah (Saputra, 2001; 2007). Kedua jenis magi tersebut termasuk dalam kategori ngelmu pengasihan, atau orang Using mennyebutnya sebagai santet. Dalam konteks budaya Using, santet harus dibedakan dari sihir. Santet adalah ngelmu pengasihan, paralel dengan istilah pelet dalam budaya Jawa; sedangkan sihir merepresentasikan ngelmu hitam, yang digunakan untuk mencelakakan, bahkan untuk membunuh.
24 77 Pembicaran tentang empat magi magi hitam, merah, kuning, dan putih tersebut lebih sesuai dalam konteks kepentingan ritual individual, sedangkan dalam konteks sosial atau komunal seperti dalam pranata Seblang dan berbagai upacara adat lainnya memang hanya terbatas pada magi putih saja. Artinya, dalam konteks ritual adat, magi dalam mantramantra yang dimanfaatkan dan berlaku selama prosesi ritual, hanya magi putih. Fungsi dari nilai-nilai magi putih adalah untuk kegiatan positif, dengan tujuan kebaikan. Dalam konteks mitos kesuburan, nilai-nilai magi tersebut juga berimplikasi pada sugesti produktivitas. Nilai-nilai positif ini sekaligus memberi gambaran bahwa perjumpaan antara masyarakat lokal yang merepresentasikan alam kasar dengan para roh leluhur sebagai dhanyang yang mbahureksa wilayah lokal yang merepresentasikan alam alus merupakan perjumpaan yang putih (suci/ positif/ baik). Dalam konteks teori magi Frazer, khususnya yang terkait dengan konsep homeopathic magic dan contagious magic, magi dalam pranata ritual Seblang dapat dipahami sebagai perpaduan homeopathic magic dan contagious magic, meskipun tidak dalam arti yang sangat harafiah. Artinya, sebagai homeopathic magic yang mekanisme kerjanya didasarkan atas kemiripan, maka katakata yang diucapkan dukun atau pawang dengan menyebut namanama leluhur masyakat Olehsari Buyut Cili, Mbah Bisu, Mbah Jalil, Aji Anggring, Mas Brata, Saridin, dan Sayu Sarinah merupakan tanda simbolis yang merepresentasikan sosok dari
25 78 roh-roh mereka. Dengan demikian, kemiripan ini bersifat simbolis. Sebaliknya, perlengkapan ritual yang difungsikan untuk mengundang roh leluhur misalnya jenang abang, jenang putih, kembang telon, kemenyan, dan beberapa kelengkapan lainnnya merupakan pengejawantahan yang bersifat fisik dari roh-roh tersebut. Dalam wujudnya yang besifat fisik tersebut termasuk kemenyan yang dibakar sehingga kepulan asapnya hingga menyentuh setiap hidung yang menghirupnya maka mekanisme contagious magic yang didasarkan atas sentuhan menjadi bisa bekerja secara efektif. Dengan demikian, dalam pranata ritual Seblang, mekanisme kultural homeopathic magic dan contagious magic bisa saling mendukung untuk menghadirkan roh leluhur di tengah-tengah prosesi ritual Seblang. Dengan demikian, mekanisme kimiripan dan mekanisme sentuhan bukan dimaknai sebagai materi, tetapi secara simbolis, yakni melalui bahasa mantra dan perlengkapan ritualnya. Fungsi mantra dalam upacara ritual Seblang adalah sebagai sarana komunikasi antara pawang/dukun/pengundang dan roh leluhur, sekaligus untuk mengundangnya agar hadir dalam rangkaian upacara adat Seblang. Selain magi, berikut dibahas tentang formula yang ada dalam mantra-mantra ritual Seblang. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa formula merupakan perulangan kata atau kelompok kata. Dalam konteks mantra, perulangan tersebut merupakan penguat sekaligus wujud wacana ritmis yang
26 79 berfungsi untuk mensugesti daya magis. Mantra-mantra yang memiliki formula yang kuat dikategorikan sebagai mantra yang formulaik. Dalam konteks tulisan ini, hanya dianalisis dua mantra saja, yakni Mantra Gawe Tarub dan Mantra Ider Bumi. Mantra Gawe Tarub Bismillahir rahmaanir rahiim Niat isun gawe tarub Kanggo upacara Gandrungan 12 Mantra Membuat Tarub Bismillahir rahmaanirrahiim Niat saya membuat tarub Untuk upacara Gandrungan Lamuna ana mendhung saka wetan Apabila ada awan dari timur Balekna ngetan Kembalikan ke timur Lamuna ana mendhung saka kidul Apabila ada awan dari selatan Balekna ngidul Lamuna ana mendhung saka kulon Balekna ngulon Lamuna ana mendhung saka elor Balekna ngalor Tolak dalan bali ndalan Tolak dalan bali ndalan Tolak dalan bali ndalan Slamet slamet slamet Kaki wenang nini wenang Wenang wenang wenang Kembalikan ke selatan Apabila ada awan dari barat Kembalikan ke barat Apabila ada awan dari utara Kembalikan ke utara Tolak jalan kembali ke jalan Tolak jalan kembali ke jalan Tolak jalan kembali ke jalan Slamet slamet slamet Kakek wenang nenek wenang Wenang wenang wenang 12 Dalam perspektif alam alus, istilah yang digunakan adalah Gandrung atau Gandrungan, sedangkan dalam perspektif alam kasar, yang digunakan adalah istilah Seblang atau Seblangan. Hal tersebut bukan hanya terekam dalam mantra, melainkan juga ucapan-ucapan yang disampaikan oleh dukun atau pawang Seblang.
27 80 Dalam mantra tersebut tampak dominan formulanya, yakni pola-pola perulangan kata dan frasa yang ritmis dan sugestif. Frasa lamuna ana mendhung dengan pola diulang-ulang dan kemudian diikuti dengan kata balekna menandakan bahwa mantra ini difungsikan untuk menolak hadirnya hujan selama proses pembuatan tarub. Arah empat mata angin, yakni etan, kidul, lor, dan kulon, yang kemudian menghasilkan kata turunan yang menunjukkan arah, yakni ngetan, ngidul, ngalor, dan ngulon, menunjukkan empat sisi batas bumi. Artinya, ada wilayah tertentu dengan batas-batas yang jelas yang kemudian diminta oleh masyarakat lokal melalui dukun dan mantranya, untuk dilindungi dari hujan, sehingga diharapkan kemeriahan prosesi pembuatan tarub dan fungsinya selama pranata ritual Seblang berlangsung dapat terjaga dengan baik. Dalam menyebutkan arah empat mata angin dengan dimulai dari arah etan ( timur ), bukanlah asal menyebut. Etan merupakan idiom yang paralel dengan wiwitan, yakni permulaan atau awal dimulainya proses kehidupan. Dengan demikian, ketika menyebut arah, yang menunjukkan dimulainya suatu proses kehidupan, maka Timur menjadi pangkalnya, dan terbitnya matahari dari Timur juga sering dimaknai sebagai awal kehidupan. Pola perulangan frasa tolak dalan bali ndalan dan kata slamet serta kata wenang yang dilakukan hingga tiga kali merupakan pola kelisanan yang telah menjadi kebiasaan dan sekaligus pada hitungan ketiga tersebut keberhasilan akan didapatkan. Pola perulangan tiga kali dapat dipersepsi sebagai
28 81 tiga langkah dalam meraih kesuksesan, yakni melalui langkah percobaan, ujian, dan kemudian keberhasilan. Pola perulangan tiga kali untuk meraih keberhasilan ini banyak diekspresikan dalam beragam cerita rakyat. Jadi, berbagai konflik atau kegagalan atau apa pun yang dianggap sebagai masalah, maka hal tersebut akan terselesaikan dengan logika yang terasa wajar ketika telah melangkah pada hitungan ketiga. Pola ini kemudian menjadi inspirasi bagi kehidupan modern, di antaranya ketika ada momentum acara peresmian tertentu, dalam pemukulan gong sebagai tanda mulai, biasanya dilakukan tiga kali pukulan. Mantra Ider Bumi Mantra Ider Bumi Bismillahir rahmaanir rahiim Bismillahir rahmaanir rahiim Para dhanyang Para danyang Kaki dhanyang nini dhanyang Kakek danyang nenek danyang Dhanyang-dhanyang Danyang-danyang Hang mbahureksa makam Yang menunggu kuburan Dhanyang-dhanyang Danyang-danyang Hang mbahureksa prapatan Yang menunggu perempatan jalan Dhanyang-dhanyang Danyang-danyang Hang mbahureksa sumber Yang menunggu mata air Dhanyang-dhanyang Danyang-danyang Hang mbahureksa Dusun Ulih-ulihan Yang menunggu Desa Ulih-ulihan Dengen aja nyethut aja njawil Hendaknya jangan mencubit jangan mencolek Ana Gandrung lewat ring kene Ada Gandrung lewat sini
29 82 Makam, prapatan, dan sumber ( sumber air ) merupakan sebagian wilayah yang menjadi habitat roh halus, sedangkan Dusun Ulih-ulihan (atau Lulian) merupakan nama versi lama dari Desa Olehsari. Dengan demikian, penyebutan tempat-tempat tersebut sebenarnya telah merepresentasikan wilayah hunian makhluk halus di Olehsari. Perulangan dhanyang-dhanyang yang dilanjutkan dengan hang mbahureksa menunjukkan penyebutan klasifikasi roh yang menjadi leluhur masyarakat lokal Olehsari. Perulangan-perulangan tersebut diawali dengan menyebut pihak yang lebih tua atau lebih tinggi tingkatannya, yakni kaki dan nini. Perulangan dengan pola semacam itu juga muncul pada mantra sebelumnya, tetapi dengan variasi kata-sertaan yang beragam. Mantra Ider Bumi menggunakan istilah kaki dhanyang kemudian disambung dengan nini dhanyang, sedangkan Mantra Gawe Tarub menggunakan kaki wenang dilanjutkan dengan nini wenang. Pola perulangannya sama, yakni perulangan yang bersifat repetisi tautotes, yakni perulangan dalam satu konstruksi larik. Perulangan semacam itu, jika diterapkan dalam konteks bahasa keseharian, idealnya menggunakan kata penghubung, misalnya kata dan. Akan tetapi, dalam larik mantra tersebut tidak menggunakan kata penghubung, karena memang begitulah salah satu karakteristik bahasa dalam tradisi lisan. Hal tersebut sesuai dengan konsep tata bahasa parataksis yang dilontarkan Lord (1981), yang menunjukkan frasa koordinatif. Selain itu, pola pernyataan semacam itu, juga memiliki kesejajaran yang bersifat aditif dan tidak subordinatif, sebagaimana tesis Ong (1982) yang juga diamini oleh Lord
30 83 (1987). Dengan demikian kaki dhanyang nini dhanyang dan kaki wenang nini wenang merupakan formula yang bersifat aditif dan tidak subordinatif. Sebagaimana formula yang telah disinggung sebelumnya, formula ini juga berfungsi untuk memperkuat daya magis melalui bahasa sugestif. Dengan kuatnya pola formula, maka mantra merupakan produk kelisanan yang formulaik. 3.3 Fungsi Pranata Ritual Seblang dalam Struktur Sosial Masyarakat Using Eksistensi pranata ritual Seblang bagi masyarakat Using merupakan upacara adat yang paling tua, yang merepresentasikan kondisi harmoni sosial dalam relasi mikrokosmos dan makrokosmos serta alam alus dan alam kasar. Pranata tersebut juga menjadi simbol eksistensi peradaban masyarakat Olehsari dan sekitarnya yang notabene mayoritas berprofesi sebagai petani, sehingga mitos Dewi Sri yang mengejawantah dalam prosesi ritual tersebut menjadi bagian integral dari produk peradaban mereka. Eksistensi suatu produk budaya, termasuk pranata ritual Seblang, tidak dapat dilepaskan dari kondisikondisi yang mendukungnya. Hal tersebut sebenarnya mengindikasikan bahwa produk budaya tersebut memiliki fungsi, baik dalam konteks individu maupun sosial. Kondisi-kondisi yang mendukung kehadiran pranata ritual Seblang dengan seperangkat sistem budaya dan berbagai keunikannya, dalam konteks masyarakat Using, dapat diidentifikasi, yakni kondisi budaya dan kondisi sosial. Kondisi budaya yang mendukung kehadiran dan eksistensi pranata ritual
31 84 Seblang terkait dengan sistem religi dan sistem pengetahuan, sedangkan kondisi sosial terkait dengan struktur sosial dan lingkungan geografis pedesaan atau pinggiran. Kondisi-kondisi pendukung tersebut dipaparkan dalam uraian berikut. Dalam konteks budaya, ritual Seblang merupakan bagian dari sistem religi. Sistem religi yang dianut dan diyakini oleh sebagian masyarakat yang tinggal di bagian Utara dan Barat tlatah Blambangan tersebut cukup akomodatif terhadap muncul dan eksisnya Seblang, karena dalam habitat yang paralel, yakni animistis. Kehadiran Seblang yang relatif sederhana tampilannya, mampu memberi tanda simbolis bagi masyarakat sekitarnya, bahwa mereka memiliki format untuk menyampaikan ucapan terima kasih atas limpahan rezeki dari hasil panen, kondisi harmoni dalam relasinya dengan berbagai makhluk hidup, serta sekaligus sebagai penghormatan atas roh-roh nenek moyang yang telah mendahului menghadap Sanghyang Widi. Tradisi Seblang merupakan layaknya berbagai tradisi slametan lainnya yang memiliki fungsi utama untuk mencapai kondisi slamet atau selamat, baik dari gangguan yang berasal dari dalam maupun dari luar, termasuk dari kekuatan-kekuatan supranatural. Kondisi slamet adalah kondisi yang mengindikasikan terciptanya hubungan harmonis antara mikrokosmos dan makrokosmos. Harmoni merupakan wujud dari puncak politik-rasa bagi masyarakat tradisional. Dengan demikian, kondisi slamet merupakan simbol kesatuan mistis dan sosial bagi masyarakat lokal-tradisional.
32 85 Dalam perkembangannya kini, meskipun orang Using (masyarakat adat) banyak memeluk Islam, tetapi mereka cenderung berorientasi pada Islam yang bersifat tradisional, dan bahkan sebagian cenderung abangan, sehingga tetap saja akomodatif terhadap berbagai ritual-sakral dan fenomena supranatural. Dalam konteks ini, kepercayaan atas kesatuan antara kekuatan mistis dan kekuatan sosial masih berlanjut hingga kini. Simbol kesatuan mistis dan sosial ini perlu mendapat penekanan lebih, karena dari sinilah embrio sekaligus pengembangbiakan pranata ritual Seblang itu dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sebagaimana telah dibahas pada bagian sebelumnya, bahwa salah satu momen penting yang menjadi bekal dalam mempertebal keyakinan bagi masyarakat Using, khususnya Olehsari dan sekitarnya, bahwa ada perjumpaan-perjumpaan mistis yang terjadi selama prosesi ritual Seblang, baik yang dilakukan secara individual atau secara langsung maupun secara kolektif atau secara tidak langsung. Momen-momen semacam itu bisa jadi merupakan akibat, tetapi bisa juga sebagai sebab. Sebagai akibat, artinya dengan landasan kepercayaan dan keyakinan dalam religi animistis, kemudian kepercayaan tersebut mewujud dalam realitas sosial dalam bentuk perjumpaan mistis dalam format ritual Seblang. Di sisi lain, sebagai sebab, artinya bahwa momen perjumpaan mistis telah menjadi ajang untuk melangkah ke ranah realitas sosial bahwa keyakinan mereka selama ini bukan sekadar imajinasi. Dengan demikian, relasi antara kesatuan mistis dan kesatuan
33 86 sosial sebenarnya merupakan format yang membentuk struktur sosial. Artinya, ada relasi struktural dan sosiologis antara pranatapranata kultural yang menjadi sistem budaya dengan berbasis pada kepercayaan yang dilakoni oleh masyarakat pemiliknya dengan realitas-realitas sosial yang berbasis pada nalar-aktual. Dalam konteks yang demikian, sistem pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat tradisional, termasuk masyarakat Olehsari dan sekitarnya, bukan lebih menekankan pada pengetahuan dalam arti ilmu modern yang hanya didasarkan atas logika dan hitungan matematis. Melainkan sebaliknya, yakni pengetahuan kultural yang berbasis religi sehingga hal-hal gaib dipahami sebagai suatu keniscayaan realitas. Oposisi biner antara alam alus dan alam kasar dipahami dan dipersepsi sebagai dua wilayah yang memiliki kualifikasi dan tingkat realitas yang sejajar sehingga keduanya berpotensi untuk melakukan dialog. Dalam konteks yang demikian, kepercayaan dan nglakoni terhadap wasiat leluhur atau dhanyang tidak berani untuk diingkari. Pengingkaran terhadap wasiat leluhur diyakini akan berdampak pada disharmoni, baik secara individu maupun sosial, baik kini maupun nanti. Pengingkaran untuk tidak melaksanakan pranata ritual Seblang sempat menimbulkan fenomena yang tidak wajar. Waktu itu, kata Sri Hidayati (wawancara, 18 Agustus 2014) aktivis budaya yang turut nguri-uri Seblang, yang tinggal di Olehsari, dan bekerja sebagai perangkat desa di Kantor Kepala Desa Olehsari, sekitar akhir tahun 1960-an, upacara adat Seblang sempat tidak diselenggarakan. Masih sambil
34 87 mengingat-ingat, Mbok 13 Sri panggilan akrab Sri Hidayati melanjutkan, memang waktu itu di masyarakat sudah muncul selisih pendapat. Ada yang setuju. Ada yang tidak setuju. Setelah tidak dilaksanakan, akhirnya muncul musibah! tandas Mbok Sri. Dalam tuturan Mbok Sri lebih lanjut, dapat diketahui bahwa sehari kadang tiga orang mengalami sakit, ada yang meninggal, anggota masyarakat yang berada di tempat yang biasa digunakan untuk pentas Seblang mengalami trance, dan sawah-sawah mulai diserang tikus. Menurut Mbok Sri, hal-hal semacam itu tidak biasa terjadi di Olehsari, sehingga warga mempercayai bahwa peristiwa itu merupakan akibat dari tidak diselenggarakannya upacara adat Seblang. Penjelasan Mbok Sri tersebut tentu bisa ditafsir dan dimaknai secara berbeda oleh orang yang tidak handarbeni ( memiliki ) terhadap tradisi Seblang. Namun, bagi masyarakat lokal Olehsari dan sekitarnya, atau masyarakat Using pada umumnya, pengingkaran atas wasiat leluhur berdampak nyata pada kehidupan sosial mereka. Kehidupan yang biasanya slamet menjadi muncul disharmoni. Disharmoni tersebut bukan saja menyangkut fisik, melainkan juga berimplikasi pada psikis. Fenomena tidak wajar semacam itu, bagi orang Using, menjadi legitimasi bahwa kekuatan supranatural atau roh leluhur yang menjadi dhanyang harus tetap dihormati dan dirawat, di 13 Panggilan mbok dalam masyarakat Using sama artinya dengan panggilan mbak dalam masyarakat Jawa, sedangkan panggilan mbok dalam masyarakat Jawa sama dengan panggilan mak dalam masyarakat Using. Panggilan untuk anak kecil atau remaja, laki-laki dan perempuan, menggunakan istilah thole dan jebeng, sedangkan untuk kakek dan nenek menggunakan panggilan anang atau nang dan adon atau don.
35 88 antaranya dengan tetap melaksanakan wasiat-wasiatnya, yakni menyelenggarakan upacara adat Seblang. Fungsi ritual Seblang menjadi begitu nyata, khususnya dalam konteks relasi kekuatan mistis dan kekuatan sosial. Munculnya musibah akibat kekuatan mistis berdampak langsung pada tatanan dan struktur sosial. Selain kondisi budaya yakni sistem religi dan sistem pengatahuan, kondisi sosial yang juga menjadi faktor pendukung eksisnya pranata ritual Seblang adalah struktur sosial dan lingkungan geografis pedesaan atau pinggiran. Struktur sosial merupakan jaringan hubungan sosial, yang menghubungkan antar-makhluk atau makhluk dengan institusi sosial. Struktur sosial masyarakat Using bersifat egaliter, karena relasi antarmakhluk sosial bersifat setara. Orang biasa dan orang bukan biasa (pejabat), oleh orang Using dipersepsi sebagai orang-orang yang secara struktur sosial memiliki kesetaraan. Jabatan dan kekayaan serta tingkat kesalehan dalam masyarakat Using, dipahami oleh mereka sebagai kelebihan seseorang yang tidak mempengaruhi posisinya dalam struktur sosial, sehingga mereka mempersepsikan bahwa hal tersebut masih tetap dalam kesetaraan struktur sosial. Demikian juga hubungan antara makhluk dan institusi sosial, dipandang sebagai hubungan yang egaliter. Struktur sosial yang egaliter tersebut didukung oleh bahasa yang mereka fungsikan sebagai alat komunikasi, yakni bahasa Using, yang notabene juga besifat egaliter lantaran tidak memiliki tingkatan bahasa. Sikap akomodatif terhadap kekuatan supranatural atau kekuatan gaib yang bersifat magis merupakan dimensi dari sifat
36 89 sinkretis budaya Using. Sebagaimana diketahui, Banyuwangi merupakan salah satu wilayah yang penduduk asli -nya berbasis kekuatan supranatural dengan ditopang tradisi bermantra. Bahkan, tidak sedikit orang Using yang merasa bahwa ngelmu orang Using lebih tinggi atau lebih tua dibandingkan dengan ngelmu orang Banten. Dengan mentradisinya atmosfer kengelmu-an yang berbasis kekuatan supranatural, tidak mengherankan apabila kekuatan-kekuatan yang bersifat magis tersebut pada akhirnya dijadikan sebagai alternatif pranata sosial tradisional. Hal itu biasanya dilakukan apabila pranata-pranata formal kemasyarakatan sudah tidak mampu lagi mengakomodasi kepentingan mereka. Atas dasar struktur sosial dan karakteristik orang Using, eksistensi pranata-pranata ritual-sakral termasuk pranata ritual Seblang menjadi bagian integral dalam kehidupan kultural orang Using. Mengingat bahwa pranata ritual Seblang telah menjadi bagian integral dari kehidupan kultural orang Using, maka kemudian menjadi kewajiban bagi mereka untuk melaksanakan upacara ritual tersebut sesuai adat-istiadat Using. Pengingkaran untuk tidak melaksanakan pranata ritual Seblang, sebagaimana telah disampaikan oleh Sri Hidayati, yang berakibat disharmoni sosial, menjadi legitimasi kultural yang tidak terbantahkan bagi orang Using. Di sisi lain, ketika pelaksanaan pranata ritual Seblang tidak sesuai dengan adat-istiadat Using (cara adat), maka disharmoni sosial juga muncul. Hal ini menjadi bukti atau legitimasi keanehan berikutnya, yang mau-
37 90 tidak-mau harus dipahami dan diterima oleh orang Using sebagai realitas sosial. Sebagaimana disampaikan oleh Hasnan Singodimayan budayawan terkemuka Using (wawancara, 22 agustus 2014) dan Sri Hidayati (wawancara, 23 Agustus 2014), jika pelaksanaan upacara adat Seblang tidak sesuai dengan adat Using (cara adat), akan muncul kekacauan. Seakan serentak, kemudian Pak Hasnan dan Mbok Sri menuturkan dua kasus yang menurut kedua tokoh Using itu merupakan peristiwa yang dikategorikan sebagai kacau. Pertama, kasus tahun 1980-an, yakni pementasan Seblang yang difungsikan sebagai suguhan bagi wisatawan. Kedua, kasus tahun 2007, yakni pementasan Seblang yang terkooptasi oleh partai politik. Seblang itu kan tidak boleh dipentaskan sembarangan, tutur Pak Hasnan, mulai berkisah. Tapi yang namanya pejabat, kadang-kadang nggak mau tahu. Apalagi ini untuk kepentingan pariwisata. Mbok Sri pun menyambung, ya karena anjuran pejabat, siapa yang berani menolak? Kalau sudah kacau begitu, baru menyadari bahwa Seblang itu nggak boleh untuk mainmain. Dalam konteks ini, pejabat yang dimaksud Pak Hasnan dan Mbok Sri adalah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata beserta Stafnya, yang menurut mereka kemungkinan diperintah oleh Bupati. Dengan demikian, dalam konteks itu, yang terjadi adalah adanya campur tangan negara terhadap sakralitas kearifan lokal Using. Di tangan negara, khazanah tradisi yang sakral pun ditangani dan diperlakukan sebagaimana layaknya barang yang
38 91 profan, bahkan hendak dikonstruksi dalam kemasan industri kreatif. Kasus tahun 1980-an itu merupakan kasus yang sempat membuat bingung banyak orang, terutama orang-orang yang terlibat atau terkait langsung dengan pementasan Seblang tersebut. Sebagaimana diketahui, Seblang merupakan pranata ritual-sakral yang hanya dilaksanakan pada tempat dan waktu yang telah disesuaikan dengan adat. Seblang Olehsari hanya boleh dilaksanakan di Desa Olehsari dalam waktu setelah hari raya Idul Fitri, sedangkan Seblang Bakungan hanya dilaksanakan di Desa Bakungan dalam waktu setelah hari raya Idul Adha. Namun, karena ada kepentingan kekuasaan dalam rangka membangun image, yakni berupaya melestarikan dan menghargai seni-seni tradisi, maka kehendak kekuasaan itu pun tidak dapat ditolak, meskipun masyarakat di tingkat desa banyak yang kasakkusuk tidak menyetujuinya. Sebenarnya maksudnya baik, tetapi tidak tepat, alias bukan pada tempatnya. Akhirnya, ya begitulah, semua jadi kacau, tandas Pak Hasnan mengekspresikan kekesalannya. Bagaimana tidak kacau? Wong tiga hari Seblangnya nggak bisa disembuhkan. Itulah kalau dipaksakan. Yaaa, namanya Seblang itu kan bukan tontonan. Bukan hiburan. Itu upacara adat. Itu sakral. Ada dukun. Ada kemenyan. Seblangnya trance! Papar Pak Hasnan dengan nada tinggi. Pak Hasnan memang bukan hanya budayawan, melainkan juga sastrawan Using yang sudah punya nama di tingkat lokal, sehingga ketika menjawab atau bercerita dalam suatu wawancara, termasuk dengan peneliti, tuturannya sangat
39 92 ekspresif, sehingga orang yang mendengarkan seringkali larut dibuatnya. Seblang yang pelaksanaannya dilakukan di Kantor dengan memfungsikannya sebagai tontonan atau hiburan bagi kalangan menengah ke atas dalam rangka meningkatkan image produk budaya lokal sebagai aset pariwisata tersebut, memang menyalahi adat. Pentas upacara adat Seblang seharusnya mengikuti konvensi adat. Seblang tidak boleh dan tidak bisa dipengaruhi oleh kekuasaan. Seblang juga tidak boleh dan tidak bisa dipengaruhi oleh industri hiburan. Seblang adalah urusan orang dalam, bukan urusan orang luar. Hanya kekuatan supranatural dari roh leluhur saja yang berhak mengatur serta membuat begini dan begitu -nya ritual Seblang. Oleh karena itu, dalam konteks kisah Pak Hasnan tersebut, penari Seblang yang seharusnya bisa langsung di-sadarkan dari kondisi trance ketika pentas telah usai, ternyata tidak demikian. Kondisi penari Seblang yang susah untuk disembuhkan inilah yang dikatakan oleh Pak Hasnan dan Mbok Sri sebagai kondisi kacau. Kabar yang kemudian sampai ke telinga masyarakat termasuk orang-orang yang sempat menikmati pentas Seblang tersebut, bagi mereka, bisa jadi, bukanlah kabar yang biasa, bahkan mencengangkan. Meskipun kemungkinan respons masyarakat beragam, tetapi dapat diduga bahwa semua itu mengalir pada muara yang sama, yakni disharmoni. Kacau yang dilontarkan Pak Hasnan dan Mbok Sri, tidak lain adalah disharmoni itu.
40 93 Dengan demikian, sebenarnya hal tersebut merupakan wujud tidak-idealnya lagi relasi kosmis antara makhluk sosial dengan institusi sosial, antara masyarakat dengan seperangkat pranata ritual Seblang. Jadi, simbol kesatuan mistis dan sosial menjadi hilang. Dalam konteks seperti inilah, struktur sosial menjadi tidak mantab, dan bahkan goyah. Relasi-relasi sosial, baik antarindividu maupun antara individu dengan kelompok sosial, menjadi goyah dan menimbulkan suasana sosial yang disharmoni. Meskipun hal ini tidak terjadi secara terbuka dan frontal, kondisi disharmoni sosial menjadi indikasi yang kuat bahwa struktur sosial telah terkoyak. Oleh karena itu, fungsi sosial kultural sebuah pranata ritual Seblang dalam menyokong struktur sosial dalam konteks budaya Using, tidak bisa dinafikan lagi. Setelah kasus 1980-an, kasus berikutnya adalah kasus tahun Meskipun berbeda dari kasus sebelumnya, tetapi keduanya memiliki kemiripan pola, yakni adanya pengaruh dari luar, atau adanya kooptasi dari pihak tertentu. Artinya, kuasa yang mengatur pranata ritual Seblang bukan dari dalam tetapi dari luar. Jika dalam kasus pertama pihak luar itu adalah negara, maka dalam kasus kedua pihak luar itu adalah partai politik. Dengan demikian, kasus tahun 2007 adalah kasus pementasan Seblang yang terkooptasi oleh partai politik. Pak Hasnan dan Mbok Sri berkisah, bahwa sebenarnya sejak awal di antaranya dalam kegiatan rapat panitia perayaan Seblang telah tercium adanya tanda-tanda ketidakberesan. Pak Hasnan dan Mbok Sri sendiri bukanlah panitia. Ketidakberesan
41 94 itu di antaranya terkait dengan sponsor dari partai politik. Di tingkat panitia sendiri sebenarnya sudah terjadi pro dan kontra. Meskipun demikian, akhirnya muncul juga berbagai atribut partai politik, terutama bendera-bendera dalam bentuk umbul-umbul, dan dipasang di sekeliling genjot serta di beberapa sudut desa, khususnya titik-titik yang strategis. Sponsor atau iklan itu terutama dari partai politik Pelopor. Gebyar umbul-umbul yang marak menjadi simbol betapa politisasi atas tradisi-sakral telah terjadi. Bagi penonton yang hanya memfungsikan ritual Seblang sebagai tontonan atau hiburan, barangkali maraknya suasana dengan ditingkah hingarbingarnya umbul-umbul menjadi spirit bagi mereka untuk senantiasa setia mengunjungi ritual di Desa Olehsari itu. Namun, bagi yang memahami sakralitas Seblang, barangkali akan turut prihatin atas perlakuan oleh insan-insan politis, yang bukan saja melakukan politisasi, melainkan juga sekaligus komodifikasi tersebut. Dengan cara pandang yang demikian, maka tiada lagi sakralitas itu, dan yang muncul kemudian hanyalah profanitas yang siap untuk dijual. Setelah kena batunya, baru disadari betapa kekuatan partai politik tidak mampu untuk menyuruh atau menyetir atau bahkan membelokkan dhanyang yang mbahureksa desa. Kena batunya, karena dengan adanya pengaruh atau bahkan kooptasi dari luar yakni partai politik Pelopor tersebut, akhirnya pementasan gagal lantaran Seblangnya maksudnya penarinya tidak mengalami trance. Jadi, kata Pak Hasnan, kalau tidak trance, ya bukan Seblang namanya. Tidak trance-nya
42 95 Seblang berarti pula tidak nyambung-nya relasi antara alam alus dan alam kasar. Hal itu merupakan peristiwa yang tidak wajar, tidak biasa, sehingga menjadi aneh. Situasi sosial dan psikologis yang aneh inilah yang oleh Pak Hasnan dan Mbok Sri dikatakan sebagai situasi kacau. Pola kacau ini mirip dengan pola kacau pada kasus sebelumnya. Dengan kacau - nya situasi sosial dan psikologis masyarakat Using, berarti pula telah terjadi disharmoni, yang sekaligus mengganggu ralasi-relasi dalam struktur sosial. Tidak trance-nya Seblang tersebut terjadi hingga tiga hari merupakan rentang waktu yang sama dengan kasus pertama, yakni tidak dapat disembuhkan dari trance, juga selama tiga hari. Dengan demikian, setidak-tidaknya, selama tiga hari tersebut kondisi sosial-psikologis masyarakat Using mengalami disharmoni. Hal itu berimplikasi juga pada disharmoninya struktur sosial. Dengan tiga hari berturut-turut tidak berhasil trace, maka kemudian seluruh prosesi ritual Seblang dievaluasi dan ditinjau kembali, hingga diputuskan untuk diulangi dari awal. Akhirnya, kata sepakat pun didapat, bahwa seluruh proses diulangi, dengan disertai menyingkirkan segala atribut partai politik dan berbagai hasrat serta spirit yang menyertainya. Diciptakanlah suasana kultural yang natural, sebagaimana biasanya, tanpa adanya polusi sedikit pun dari asap partai politik. Akhirnya, hari keempat yang kemudian dianggap sebagai hari pertama lagi pun berhasil dilalui dengan keteguhan hati. Seblang mengalami trance. Pawang, dukun, dan pengundang merasa lega. Panjak, sinden, dan seluruh unsur
43 96 pendukung juga turut lega. Penonton pun tak lagi kecewa. Harihari berikutnya pun dilalui dengan keteguhan hati. Akhirnya, hari ketujuh pun dipungkasi dengan ritual ider bumi. Selain struktur sosial, kondisi lain yang juga mendukung keberadaan dan keberlangsungan pranata ritual Seblang adalah kondisi lingkungan geografis pedesaan atau pinggiran. Sebagaimana diketahui, Seblang memiliki habitat lingkungan pedesaan, khususnya dalam konteks masyarakat pertanian. Habitat pedesaan terlihat dari tempat diselenggerakannya Seblang, yang satu hanya di Desa Olehsari, sedangkan yang lain hanya di Desa Bakungan. Kedua wilayah tersebut, dan juga lingkungan di sekitarnya, merupakan lahan pertanian yang secara umum menjadi ladang kehidupan utama bagi masyarakat. Sebagian di antara masyarakat setempat masih menggunakan pola-pola tradisional dalam menggarap sawah dan ladang. Di satu sisi, mereka adalah manusia-manusia rasional, yang berupaya mengeksplorasi kekayaan alam melalui sawan dan ladang dengan cara-cara yang rasional. Namun, di sisi lain, mereka juga merupakan makhluk-makhluk teologis, yang mempercayai dan bahkan meyakini bahwa tidak semua elemen kehidupan cukup hanya dihadapi dengan rasio, tetapi ada kekuatan-kekuatan tertentu yang di luar rasio. Konteks seperti inilah yang kemudian menggiring kepercayaan orang Using atas kekuatan sakral dari pranata ritual Seblang dalam hal kesuburan. Mitos Dewi Sri atau Dewi Padi berfungsi sebagai legitimasi kultural atas angan-angan kolektif masyarakat agraris-tradisional dalam mengkonstruksi dimensi
44 97 kesuburan pertanian. Bagi mereka, kesuburan pertanian tidak hanya berurusan dengan pupuk, atau zat-zat kimia lainnya yang tekandung di dalam tanah, atau pola tanam, musim, dan kecukupan air, tetapi juga urusan keyakinan bahwa ada kekuatan adikodrati yang menggerakkannya. Pada sisi inilah angan-angan kolektif itu terpenuhi melalui media ritual Seblang. Meskipun secara umum ritual Seblang itu menjadi simbol kesuburan bagi orang Using, tetapi ada bagian-bagian khusus dari sarana-sarana sesaji yang digunakan dalam pranata ritual Seblang yang kemudian difungsikan oleh masyarakat sebagai simbol kesuburan sekaligus memiliki relasi faktual dengan materialsawah atau material-ladang. Sarana tersebut adalah parabungkil dan omprok. Parabungkil yang terdiri atas berbagai jenis tanaman yakni jenis sayuran, jenis buah-buahan, dan jenis bunga yang hidup dan berkembang di Desa Olehsari yang kemudian digunakan sebagai sarana sesaji dengan cara digantungkan di berbagai sisi di tarub, diyakini sebagai simbol kesuburan. Oleh karena itu, ketika upacara adat Seblang berakhir, maka parabungkil menjadi rebutan, baik oleh para pelaku Seblang, penonton, maupun masyarakat umum. Hal yang sama juga terjadi pada omprok. Mahkota Seblang yang dironce dari pupus dan berbagai macam bunga lokal itu, juga menjadi rebutan ketika usai siraman pada hari kedelapan. Baik parabungkil maupun omprok diyakini mampu menolak hama tanaman dan mampu menyuburkan tanaman, baik di ladang maupun di sawah. Dengan fungsi tersebut, diharapkan panen mendatang bisa melimpah dan mampu mencukupi
45 98 kebutuhan hidup mereka, sehingga kesejahteraan hidup mereka menjadi lebih baik. Benda-benda tersebut biasanya ditaruh di sudut-sudut pada bidang ladang dan sawah. Selain itu, untuk di sawah, sering juga diletakkan di pintu air yang masuk ke sawah, dengan tujuan bahwa fungsi kesuburan tersebut akan dibawa air hingga mengalir ke seluruh bidang sawah secara merata. Keyakinan orang Using atas fungsi parabungkil dan omprok sebagai sarana kesuburan bagi pertanian mereka, menjadi faktor pendukung terhadap eksistesi pranata ritual Seblang. Kasus akhir tahun 1960-an yang berimplikasi pada memburuknya kondisi pertanian masyarakat lantaran diyakini sebagai dampak dari tidak diselenggarakannya upacara adat Seblang, menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Dengan kasus itu, mereka tidak mau ambil risiko untuk tidak menyelenggarakan upacara adat Seblang. Karena, jika itu yang terjadi yakni tidak menyelenggarakan ritual Seblang maka diyakini akan muncul lagi disharmoni, sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya. 4. Simpulan Dari paparan tersebut dapat diketahui bahwa pranata ritual Seblang merupakan institusi sosial yang difungsikan oleh orang Using sebagai bagian integral dari struktur sosial mereka. Ritual Seblang merupakan upacara adat tertua dalam budaya Using, Banyuwangi. Sakralitas Seblang didukung oleh penggunaan mantra beserta kekuatan gaib dengan nilai-nilai magi yang positif. Formula mantra yang bersifat formulaik menambah sugesti atas kekuatan gaib. Upacara adat Seblang juga menjadi
46 99 ajang bertemunya antara alam alus dan alam kasar, antara manusia dan dhanyang, antara mikrokosmos dan makrokosmos. Eksistensi pranata ritual Seblang yang mampu melintasbatas hingga tetap diuri-uri oleh orang Using hingga kini, lantaran adannya kondisi-kondisi yang mendukungnya. Kondisikondisi yang mendukung kehadiran pranata ritual Seblang dengan seperangkat sistem budaya dan berbagai keunikannya itu, yakni kondisi budaya dan kondisi sosial. Kondisi budaya yang mendukung kehadiran dan eksistensi pranata ritual Seblang terkait dengan sistem religi dan sistem pengetahuan, sedangkan kondisi sosial terkait dengan struktur sosial dan lingkungan geografis pedesaan atau pinggiran. Kondisi budaya dan kondisi sosial tersebut menjadi keyakinan orang Using atas fungsi sosialkultural Seblang bagi kesuburan pertanian dan kesejahteraan hidup mereka. Pengingkaran atas wasiat leluhur untuk senantiasa melaksanakan upacara ritual Seblang sebagaimana adat Using (cara adat) misalnya tidak melaksanakan, atau melaksanakan tetapi tidak sesuai adat Using, diyakini akan menimbulkan disharmoni, baik secara sosial maupun psikologis. Disharmoni tersebut sekaligus berimplikasi pada terkoyaknya struktur sosial. Daftar Pustaka Anoegrajekti, N Estetika Sastra dan Budaya: Membaca Tanda-tanda. Jember: Jember University Press. Effendi, B. & Anoegrajekti, N Mengangan Dewi Sri, Membayang Perempuan, dalam Srtinthil: Media Perempuan Multikultural, Vol 7, Oktober 2004.
47 100 Frazer, J.G The Golden Bough: A Study of Magic and Religion. (First Published in 1890). The Floating Press. Lord, A.B The Singers of Tales. Cambridge: Harvard University Press. Lord, A.B Characteristics of Orality, dalam Oral Tradition, 2/1, 1987, p Murgiyanto, S.M. dan A.M. Munardi Seblang dan Gandrung: Dua Bentuk Tari Tradisi di Banyuwangi. Jakarta: Proyek Pembinaan Media Kebudayaan. Ong, W.J Orality and Literacy: the Technologizing of the Word. London: Methuen. Radcliffe-Brown, A.R Structure and Function in Primitive Society. London: The Free Press. Saputra, H.S.P Tradisi Mantra Kelopok Etnik Using di Banyuwangi, dalam Humaniora (Jurnal FIB UGM). Vol. XIII, No. 3 Tahun Yogyakarta: UGM. Saputra, H.S.P Memuja Mantra: Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi. Yogyakarta: LkIS. Saputra, H.S.P Inspirasi dari Banyuwangi: Mengkreasi Tradisi Lisan Menjadi Industri Kreatif, dalam Jurnal ATL, edisi VI, Mei, 2012, hlm Saputra, H.S.P Menghayati Ritual, Mengangan Struktur Sosial: Fenomena Seblang, Kebo-keboan, dan Barong dalam Masyarakat Using Banyuwangi dalam Endraswara, S., Pujiharto, Taum, Y.Y., Widayat, A., dan Santoso, E. (ed). Folklor dan Folklife dalam Kehidupan Modern: Kesatuan dan keberagaman (Proseding Kongres Internasional Folklor Asia III). Yogyakarta: Ombak. Singodimayan, H Ritual Adat Seblang Banyuwangi. Banyuwangi: Dewan Kesenian Blambangan.
48 101 Singodimayan, H Ritual Adat Seblang: Sebuah Seni Perdamaian Masyarakat Using Banyuwangi. Banyuwangi: Dewan Kesenian Blambangan. Subagyo, H Fungsi Ritual Seblang pada Masyarakat Olehsari Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, Tesis S-2. Yogyakarta: UGM. Tabalong, R.B Seblang: Dunia yang Mempesona, dalam Jurnal Srinthil: Media Perempuan Multikultural. Edisi 7, 2004, hlm Wessing, R A Dance of Life: the Seblang of Banyuwangi, Indonesia, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 155, No. 4, hlm
ABSTRACT & EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN FUNDAMENTAL. Ritual Kejiman:
Kode/Nama Rumpun Ilmu: 613/Humaniora ABSTRACT & EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN FUNDAMENTAL Ritual Kejiman: Manunggaling Alam Kasar dan Alam Alus untuk Menuju Harmoni Sosial dalam Persepsi Orang Using, Banyuwangi
Wasiat Leluhur: Respons Orang Using terhadap Sakralitas dan Fungsi Sosial Ritual Seblang
Wasiat Leluhur: Respons Orang Using terhadap Sakralitas dan Fungsi Sosial Ritual Seblang Heru S.P. Saputra Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Jember, Jember 68121, Indonesia E-mail:
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP UPACARA MERTI DESA DI DESA CANGKREP LOR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP UPACARA MERTI DESA DI DESA CANGKREP LOR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO Oleh: Wahyu Duhito Sari program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa [email protected]
I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat.
I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah Negara kepulauan, yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang kaya akan kebudayaan serta adat istiadat, bahasa, kepercayaan, keyakinan dan kebiasaan
BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang beragam yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Kekayaan budaya dan tradisi
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia terdapat berbagai macam suku bangsa. Hal itu menjadikan Indonesia negara yang kaya akan kebudayaan. Kesenian adalah salah satu bagian dari kebudayaan
2016 PANDANGAN MASYARAKAT SUNDA TERHADAP ORANG BANGSA ASING
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mantra merupakan puisi lisan yang bersifat magis. Magis berarti sesuatu yang dipakai manusia untuk mencapai tujuannya dengan cara-cara yang istimewa. Perilaku magis
ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HIBAH BERSAING
ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HIBAH BERSAING MODEL PENGEMBANGAN PERAN LEMBAGA SOSIAL DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT SUKU USING BERBASIS KEARIFAN LOKAL Ketua/Anggota Peneliti: Dra.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebudayaan suatu bangsa tidak hanya merupakan suatu aset, namun juga jati diri. Itu semua muncul dari khasanah kehidupan yang sangat panjang, yang merupakan
BAB I PENDAHULUAN. nenek moyang untuk memberikan salah satu rasa syukur kepada sang kuasa atas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Upacara adat merupakan salah satu kebudayaan yang di turunkan oleh nenek moyang untuk memberikan salah satu rasa syukur kepada sang kuasa atas apa yang telah di berikan.
Pandangan Masyarakat Islam di Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang terhadap Kesenian Sintren
Pandangan Masyarakat Islam di Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang terhadap Kesenian Sintren Oleh : Zuliatun Ni mah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia di era globalisasi sekarang ini sudah mengarah pada krisis multidimensi. Permasalahan yang terjadi tidak saja
BAB 1 PENDAHULUAN. diwariskan secara turun temurun di kalangan masyarakat pendukungnya secara
digilib.uns.ac.id 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Upacara tradisional merupakan salah satu wujud peninggalan kebudayaan dan pada dasarnya upacara tradisional disebarkan secara lisan. Upacara
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Masyarakat Jember merupakan percampuran dari berbagai suku. Pada umumnya masyarakat Jember disebut dengan masyarakat Pandhalungan. 1 Wilayah kebudayaan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang Masalah. Bagi ahli antropologi, religi merupakan satu fenomena budaya. Ia merupakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Bagi ahli antropologi, religi merupakan satu fenomena budaya. Ia merupakan satu ekspresi mengenai apa yang sekelompok manusia pahami, hayati, dan yakini baik
BAB I PENDAHULUAN. satu budaya penting bagi masyarakat Islam Jawa, baik yang masih berdomisili di
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tradisi menyambut bulan Suro merupakan hal yang sudah menjadi salah satu budaya penting bagi masyarakat Islam Jawa, baik yang masih berdomisili di Jawa maupun yang
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Suzanne K. Langer (1998:2) menyatakan bahwa Kesenian adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian merupakan induk dari beberapa bentuk cabang seni yang ada di Indonesia, diantaranya seni tari, seni musik, seni rupa, seni drama dan seni sastra. Menurut
BAB I PENDAHULUAN. Kampung Naga merupakan salah satu perkampungan masyarakat yang. kampung adat yang secara khusus menjadi tempat tinggal masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kampung Naga merupakan salah satu perkampungan masyarakat yang ada di Indonesia dan masih terjaga kelestariannya. Kampung ini merupakan kampung adat yang secara
BAB I PENDAHULUAN. ke dalam tiga kelompok berdasarkan tipenya, yaitu folklor lisan, sebagian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu ragam kebudayaan di Indonesia yang dapat menunjukan identitas budaya pemiliknya ialah folklor. Menurut Danandjaja (1984:2), folklor didefinisikan
B A B V P E N U T U P. Fakta-fakta dan analisis dalam tulisan ini, menuntun pada kesimpulan
5.1. Kesimpulan B A B V P E N U T U P Fakta-fakta dan analisis dalam tulisan ini, menuntun pada kesimpulan umum bahwa integrasi sosial dalam masyarakat Sumba di Kampung Waiwunga, merupakan konstruksi makna
BAB I PENDAHULUAN. batas formal namun semua itu tidak begitu subtansial. Mitos tidak jauh dengan
1 BAB I PENDAHULUAN E. Latar Belakang Mitos adalah tipe wicara, segala sesuatu bisa menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana. Mitos tidak ditentukan oleh objek pesannya, namun oleh bagaimana
KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENGARAH
41 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENGARAH Kerangka Berpikir Kebudayaan adalah sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah. Kebudayaan adalah sebuah
BENTUK DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM TRADISI GUYUBAN BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA PASIR AYAH KEBUMEN
BENTUK DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM TRADISI GUYUBAN BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA PASIR AYAH KEBUMEN Oleh : Ade Reza Palevi program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa [email protected] ABSTRAK
BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI. A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi
BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi Bersyukur kepada sang pencipta tentang apa yang telah di anugerahkan kepada seluruh umat manusia,
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS. persaudaraan antar keluarga/gandong sangat diprioritaskan. Bagaimana melalui meja
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS Salah satu adat perkawinan di Paperu adalah adat meja gandong. Gandong menjadi penekanan utama. Artinya bahwa nilai kebersamaan atau persekutuan atau persaudaraan antar keluarga/gandong
I. PENDAHULUAN. Budaya pada dasarnya merupakan cara hidup yang berkembang, dimiliki dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Budaya pada dasarnya merupakan cara hidup yang berkembang, dimiliki dan diwariskan manusia dari generasi ke generasi. Setiap bangsa memiliki kebudayaan, meskipun
JURNAL SKRIPSI. MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo)
JURNAL SKRIPSI MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo) SKRIPSI Oleh: DESI WIDYASTUTI K8409015 FAKULTAS KEGURUAN DAN
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk, memiliki berbagai suku, ras, bahasa dan kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Adanya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Tinjauan Pustaka 1. Definisi Kebudayaan Kata kebudayaan berasal dari kata Sansekerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. untuk menunjukkan tingkat peradaban masyarakat itu sendiri. Semakin maju dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebudayaan merupakan bagian yang melingkupi kehidupan manusia. Kebudayaan yang diiringi dengan kemampuan berpikir secara metaforik atau perubahan berpikir dengan
BAB I PENDAHULUAN. Struktur karya sastra dibedakan menjadi dua jenis yaitu struktur dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Struktur karya sastra dibedakan menjadi dua jenis yaitu struktur dalam (intrinsik) dan luar (ekstrinsik). Pada gilirannya analisis pun tidak terlepas dari kedua
BAB V KESIMPULAN. 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual. Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah
BAB V KESIMPULAN 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual Kuningan Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah merupakan seni pertunjukan yang biasa tetapi merupakan pertunjukan
BAB I PENDAHULUAN. terutama sekali terdiri dari pesta keupacaraan yang disebut slametan, kepercayaan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut James Danandjaja (1997:52), terdapat fakta dan data yang ditemukan dalam masyarakat Indonesia yang masih memiliki kepercayaan terdapat mitos-mitos yang berkaitan
2015 PENGAKUAN KEESAAN TUHAN DALAM MANTRA SAHADAT SUNDA DI KECAMATAN CIKARANG TIMUR KABUPATEN BEKASI
1 A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pengakuan keesaan Tuhan dalam mantra Sahadat Sunda pengakuan keislaman sebagai mana dari kata Sahadat itu sendiri. Sahadat diucapkan dengan lisan dan di yakini dengan
BAB I PENDAHULUAN. peraturan perundang-undangan, hukum adat dan hukum agama. Berdasarkan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam perkawinan di Indonesia dapat berlaku hukum menurut peraturan perundang-undangan, hukum adat dan hukum agama. Berdasarkan Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1974
BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan nasional dan kebudayaan. daerah. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan puncak puncak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Nusantara terdiri atas aneka warna kebudayaan dan bahasa. Keaneka ragaman kebudayaan dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kemajuan komunikasi dan pola pikir pada zaman sekarang ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemajuan komunikasi dan pola pikir pada zaman sekarang ini semakin mendukung terkikisnya nilai-nilai tradisional sebuah bangsa. Lunturnya kesadaran akan nilai budaya
BAB I PENDAHULUAN. dari beragamnya kebudayaan yang ada di Indonesia. Menurut ilmu. antropologi, (dalam Koentjaraningrat, 2000: 180) kebudayaan adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki keanekaragaman di segala aspek kehidupan. Keanekaragaman tersebut terlihat dari beragamnya kebudayaan
BAB I PENDAHULUAN. sampai merauke, menyebabkan Indonesia memiliki banyak pulau. dijadikan modal bagi pengembang budaya secara keseluruhan.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara geografis, letak Indonesia yang terbentang dari sabang sampai merauke, menyebabkan Indonesia memiliki banyak pulau. Indonesia yang terkenal dengan banyak pulau
1. PENDAHULUAN. bangsa yang kaya akan kebudayaan dan Adat Istiadat yang berbeda satu sama lain
1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang kaya akan kebudayaan dan Adat Istiadat yang berbeda satu sama lain dikarenakan
BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Upacara adat Belian merupakan suatu bentuk kebudayaan asli Indonesia yang sampai saat ini masih ada dan terlaksana di masyarakat Dayak Paser, Kalimantan Timur. Sebagai salah
BAB I PENDAHULUAN. yang terdapat pada tujuh unsur kebudayaan universal. Salah satu hal yang dialami
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberagaman suku bangsa di Indonesia telah melahirkan ragamnya adat - istiadat dan kepercayaan pada setiap suku bangsa. Tentunya dengan adanya adatistiadat tersebut,
BAB I PENDAHULUAN. Keberagaman budaya di Indonesia telah melahirkan ragamnya adat istiadat. beragam keyakinan dan kepercayaan yang dianutnya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Keberagaman budaya di Indonesia telah melahirkan ragamnya adat istiadat dan kepercayaan pada setiap etnik bangsa yang menjadikan sebuah daya tarik tersendiri
BAB I PENDAHULUAN. Papua seperti seekor burung raksasa, Kabupaten Teluk Wondama ini terletak di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Teluk Wondama merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat, yang baru berdiri pada 12 April 2003. Jika dilihat di peta pulau Papua seperti seekor
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kesatuan dari berbagai pulau dan daerah yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara kesatuan dari berbagai pulau dan daerah yang memiliki kekayaan budaya, bahasa, cara hidup, dan tradisi. Tradisi di Indonesia terdiri
2014 KONSEP KESEJAHTERAAN HIDUP DALAM MANTRA
BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan uraian pembahasan ketiga teks MT di Desa Karangnunggal Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur didapati simpulan bahwa kesejahteraan hidup bagi manusia yang diwakili oleh
BAB I PENDAHULUAN. tradisi di dalam masyarakat. Sebuah siklus kehidupan yang tidak akan pernah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peninggalan kebudayaan tidak sama halnya dengan warisan, yang secara sengaja diwariskan dan jelas pula kepada siapa diwariskan. Kebudayaan merupakan suatu rekaman kehidupan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. pelestarian budaya lokal oleh pemprov Bangka dan proses pewarisan nilai
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh tentang upaya pelestarian budaya lokal oleh pemprov Bangka dan proses pewarisan nilai Sembahyang Rebut kepada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Tinjauan Pustaka 1. Definisi Kebudayaan Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan nasional (national pride) bangsa Indonesia adalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu kebanggaan nasional (national pride) bangsa Indonesia adalah memiliki keanekaragaman budaya yang tak terhitung banyaknya. Kebudayaan lokal dari seluruh
BAB I PENDAHULUAN. menarik. Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan keindahan, manusia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian merupakan salah satu jenis kebutuhan manusia yang berkaitan dengan pengungkapan rasa keindahan. Menurut kodratnya manusia adalah makhluk yang sepanjang
BAB I PENDAHULUAN. (kurang lebih ) yang ditandai dengan adanya beberapa situs-situs
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berlatar belakang sejarah Kota Sumedang dan wilayah Sumedang, yang berawal dari kerajaan Sumedang Larang yang didirikan oleh Praburesi Tajimalela (kurang lebih
Kajian Folklor dalam Tradisi Guyang Jaran di Desa Karangrejo Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo
Kajian Folklor dalam Tradisi Guyang Jaran di Desa Karangrejo Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo Oleh: Ade Ayu Mawarni Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak: Penelitian
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang terdiri dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang terdiri dari berbagai suku yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Setiap suku memiliki kebudayaan, tradisi
BAB I PENDAHULUAN. kearifan nenek moyang yang menciptakan folklor (cerita rakyat, puisi rakyat, dll.)
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ada peribahasa yang menyebutkan di mana ada asap, di sana ada api, artinya tidak ada kejadian yang tak beralasan. Hal tersebut merupakan salah satu kearifan nenek
BAB I PENDAHULUAN. keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan strukturstruktur
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebudayaan merupakan sesuatu yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian,
Prosesi Dan Makna Simbolik Upacara Tradisi Wiwit Padi di Desa Silendung Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo
Prosesi Dan Makna Simbolik Upacara Tradisi Wiwit Padi di Desa Silendung Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo Oleh: Murti Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak:
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kemajuan teknologi komunikasi menyebabkan generasi mudah kita terjebak dalam koptasi budaya luar. Salah kapra dalam memanfaatkan teknologi membuat generasi
BAB I PENDAHULUAN. turun temurun. Kebiasaan tersebut terkait dengan kebudayaan yang terdapat dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tradisi merupakan kebiasaan dalam suatu masyarakat yang diwariskan secara turun temurun. Kebiasaan tersebut terkait dengan kebudayaan yang terdapat dalam suatu masyarakat.
PROSIDING SEMINAR NASIONAL DAN FOLKLOR DAN
PROSIDING SEMINAR NASIONAL DAN FOLKLOR DAN KEARIFAN LOKAL@2015 Diterbitkan bersama oleh Jurusan Sastra Indonesia-Fakultas Sastra Universitas Jember Dengan Penerbit Buku Pustaka Radja, Desember 2015 Jl.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebudayaan merupakan warisan nenek moyang yang mengandung nilainilai kearifan lokal. Usaha masyarakat untuk menjaga kebudayaan melalui pendidikan formal maupun nonformal
BAB I PENDAHULUAN. ditinggalkan, karena merupakan kepercayaan atau citra suatu kelompok dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki aneka ragam budaya. Budaya pada dasarnya tidak bisa ditinggalkan, karena merupakan kepercayaan atau citra suatu kelompok dan individu yang ada dari
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Kemajemukan itu dapat dikenali dari keanekaragaman budaya, adat, suku, ras, bahasa, maupun agama. Kemajemukan budaya menjadi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, kebudayaan ini tersebar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan budaya. Hal ini menyebabkan daerah yang satu dengan daerah yang lain memiliki kebudayaan
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TRADISI SURAN DI MAKAM GEDIBRAH DESA TAMBAK AGUNG KECAMATAN KLIRONG KABUPATEN KEBUMEN
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TRADISI SURAN DI MAKAM GEDIBRAH DESA TAMBAK AGUNG KECAMATAN KLIRONG KABUPATEN KEBUMEN Oleh: Tanti Wahyuningsih program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat sudah dilanda dengan modernitas. Hal ini menyebabkan kebudayaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kajian mengenai partisipasi masyarakat dalam perayaan tradisi masih menjadi topik yang menarik untuk dikaji, mengingat saat ini kehidupan masyarakat sudah dilanda
2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk menjadikan bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat, budaya, suku, ras, bahasa dan agama. Kemajemukan tersebut
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Folklor merupakan sebuah elemen penting yang ada dalam suatu sistem tatanan budaya dan sosial suatu masyarakat. Folklor merupakan sebuah refleksi sosial akan suatu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tradisi merupakan aktivitas yang diturunkan secara terus-menerus dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tradisi merupakan aktivitas yang diturunkan secara terus-menerus dan mengandung nilai-nilai luhur. Aktivitas yang terdapat dalam tradisi secara turuntemurun
Model-model dari mitos asal usul orang Sasak dalam tembang Doyan Neda tersebut menggambarkan bahwa di dalam mitos terdapat suatu keteraturan tentang
BAB V KESIMPULAN Permasalahan pertama yang berusaha diungkap melalui penelitian ini adalah membuktikan dan sekaligus mempertegas pernyataan Levi-Strauss, yang mengatakan bahwa mitos asal usul orang Sasak
BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang memiliki keanekaragaman di dalam berbagai aspek kehidupan. Bukti nyata adanya kemajemukan di dalam
BAB IV ANALISIS DATA TRADISI PENGGUNAAN GARAM. A. Makna Tradisi Penggunaan Garam Perspektif Strukturalisme Claude
70 BAB IV ANALISIS DATA TRADISI PENGGUNAAN GARAM A. Makna Tradisi Penggunaan Garam Perspektif Strukturalisme Claude Levi Strauss Penggunaan garam dalam tradisi yasinan merupakan prosesi atau cara yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara kita adalah Negara yang memiliki beragam kebudayaan daerah dengan ciri khas masing-masing. Bangsa Indonesia telah memiliki semboyan Bhineka Tunggal
BAB IV RESEPSI MASYARAKAT DESA ASEMDOYONG TERHADAP TRADISI BARITAN. Secara definitif resepsi sastra berasal dari kata recipere (Latin), reception
88 BAB IV RESEPSI MASYARAKAT DESA ASEMDOYONG TERHADAP TRADISI BARITAN A. Analisis Resepsi 1. Pengertian Resepsi Secara definitif resepsi sastra berasal dari kata recipere (Latin), reception (Inggris),
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masyarakat dan kebudayaan merupakan hubungan yang sangat sulit dipisahkan. Sebab masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Semua bangsa di dunia memiliki cerita rakyat. Cerita rakyat adalah jenis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semua bangsa di dunia memiliki cerita rakyat. Cerita rakyat adalah jenis sastra oral, berbentuk kisah-kisah yang mengandalkan kerja ingatan, dan diwariskan.
BAB I PENDAHULUAN. dinamakan mampu berbuat hamemayu hayuning bawana (Suwardi Endraswara,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah bagian dari suatu ekosistem yang harus diperhatikan eksistensinya. Manusia harus menciptakan lingkungan budayanya menjadi enak dan nyaman. Orang yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia, mitos dan ritual saling berkaitan. Penghadiran kembali pengalaman
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ritual merupakan suatu proses pelaksanaan tradisi. Meskipun sudah ada ritual tanpa mitos-mitos dalam beberapa periode jaman kuno. Dalam tingkah laku manusia,
BAB 1 PENDAHULUAN. Membicarakan mantra dalam ranah linguistik antopologi tidak akan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Membicarakan mantra dalam ranah linguistik antopologi tidak akan terlepas dari gambaran akan bahasa dan budaya penuturnya. Peran bahasa sangatlah penting dalam kehidupan
BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Riau adalah rumpun budaya melayu yang memiliki beragam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Provinsi Riau adalah rumpun budaya melayu yang memiliki beragam suku, yang dapat di jumpai bermacam-macam adat istiadat, tradisi, dan kesenian yang ada dan
Kajian Folklor Tradisi Nglamar Mayit di Desa Sawangan, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen
Kajian Folklor Tradisi Nglamar Mayit di Desa Sawangan, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen Oleh: Heira Febriana Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak: Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Budi Utomo, 2014
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pulau Bangka merupakan pulau kecil di sebelah selatan Sumatra. Pulau ini sudah terkenal sejak abad ke-6. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan prasasti
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang merupakan daerah yang memiliki potensi budaya yang masih berkembang secara optimal. Keanekaragaman budaya mencerminkan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat setempat
BAB I PENDAHULUAN. majemuk. Sebagai masyarakat majemuk (plural society) yang terdiri dari aneka
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah sebuah negara yang mempunyai masyarakat yang majemuk. Sebagai masyarakat majemuk (plural society) yang terdiri dari aneka ragam suku bangsa dengan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Manusia adalah mahkluk sosial yang dilahirkan dalam suatu pangkuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia adalah mahkluk sosial yang dilahirkan dalam suatu pangkuan budaya yang pada awalnya merupakan unsur pembentukan kepribadiannya. Umumnya manusia sangat peka
BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan bermasyarakat, kebudayaan pada umumnya tumbuh dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam kehidupan bermasyarakat, kebudayaan pada umumnya tumbuh dan berkembang sebagai suatu hal yang diterima oleh setiap anggota masyarakat bersangkutan, yang dipegang
BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
Nilai-nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Saparan di Kaliwungu Kendal BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Analisis Pelaksanaan Tradisi Saparan di Kaliwungu Kabupaten Kendal Pelaksanaan tradisi Saparan
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kesatuan yang dibangun di atas keheterogenan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan negara kesatuan yang dibangun di atas keheterogenan bangsanya. Sebagai bangsa yang heterogen, Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa,
BAB I PENDAHULUAN. mengalami perubahan sesuai dengan dinamika peradaban yang terjadi. Misalnya,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Kebudayaan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan dan masyarakat akan selalu berkembang dan akan mengalami perubahan
BAB I PENDAHULUAN. yang biasanya diperoleh dari orang tuanya. Nama tersebut merupakan pertanda
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap orang yang hidup ditengah-tengah masyarakat pasti mempunyai nama, yang biasanya diperoleh dari orang tuanya. Nama tersebut merupakan pertanda eksistensi
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. sebanyak 17 Mantra Pengasih dari 13 narasumber yang berbeda.
89 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Mantra Pengasih merupakan rapalan doa yang bertujuan memikat hati dan mendatangkan belas kasih serta kepatuhan objek yang ditujukan. Penelitian Mantra Pengasih
BAB I PENDAHULUAN. memiliki adat istiadat (kebiasaan hidup) dan kebudayaan masing-masing,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehidupan bangsa di dunia yang mendiami suatu daerah tertentu memiliki adat istiadat (kebiasaan hidup) dan kebudayaan masing-masing, setiap bangsa memiliki
BAB I PENDAHULUAN. dari kata majemuk bahasa Inggris folklore, yang terdiri atas kata folk dan lore.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dananjaya (dalam Purwadi 2009:1) menyatakan bahwa kata folklor berasal dari kata majemuk bahasa Inggris folklore, yang terdiri atas kata folk dan lore. Kata folk berarti
BAB I PENDAHULUAN. Keberagaman budaya tersebut mempunyai ciri khas yang berbeda-beda sesuai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap negara mempunyai kebudayaan yang beraneka ragam. Keberagaman budaya tersebut mempunyai ciri khas yang berbeda-beda sesuai adat dan kebiasaan masing-masing.
Pendidikan pada hakekatnya merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan
Latar Belakang Pendidikan pada hakekatnya merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan manusia yang sedang berkembang menuju pribadi yang mandiri untuk membangun dirinya sendiri maupun masyarakatnya.
BAB I PENDAHULUAN. Manusia dan lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosialbudaya,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dan lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosialbudaya, merupakan sebuah sistem yang saling terkait satu sama lain. Manusia dalam menjalani kehidupannya
BAB I PENDAHULUAN. pelaksanaan yang biasanya dilakukan setiap tanggal 6 April (Hari Nelayan)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Upacara Adat Labuh Saji berlokasi di Kelurahan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, pada tahun ini upacara dilaksanakan pada tanggal 13 Juni hal tersebut dikarenakan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar belakang Masalah. Kehidupan kelompok masyarakat tidak terlepas dari kebudayaannya sebab kebudayaan ada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang Masalah Kehidupan kelompok masyarakat tidak terlepas dari kebudayaannya sebab kebudayaan ada karena ada masyarakat pendukungnya. Salah satu wujud kebudayaan adalah
