PERANAN EKSPOR DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA. Nursiah Chalid
|
|
|
- Verawati Kusumo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PERANAN EKSPOR DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Nursiah Chalid Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Simpang Baru Pekanbaru ABSTRAKSI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan ekspor dalam perekonomian Indonesia. Data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik, Jakarta- Indonesia. Kontribusi ekspor non migas terhadap total ekspor relative besar berkisar antara 73,53%-83,88% selama periode Besarnya kontribusi ini ditunjang oleh ekspor hasil industri. Peranan ekspor dalam perekonomian dilihat dari besarnya angka multiplier ekspor dan elastisitas ekspor. Angka multiplier ekspor untuk variabel total nilai ekspor, migas, non migas, masing-masing 47,423, 229,284, dan 52,605. Sedangkan untuk variabel nilai ekspor minyak mentah, hasil minyak dan gas alam masing-masing 566,044, 1579,168 dan 477,136. Angka multiplier ekspor untuk variabel nilai ekspor hasil pertanian, hasil industri dan hasil tambang diluar migas masing-masing 1299,844, 65,406 dan 290,930. Angka elastisitas ekspor variabel nilai total ekspor, migas dan non migas masing-masing 1,79, 1,86, dan 1,74. Angka elastisitas ekspor variabel nilai ekspor minyak mentah, hasil minyak dangas alam masing-masing 2,02, 1,46, dan1,75. Angka elastisitas ekspor variabel nilai ekspor hasil pertanian, hasil industry, dan hasil tambang masing-masing 2,48, 1,82, dan 0,94. Kata kunci : Multiplier ekspor, elastisitas ekspor PENDAHULUAN Ekspor merupakan salah satu variable injeksi dalam perekonomian suatu negara, artinya jika ekspor suatu negara meningkat maka perekonomian negara tersebut akan lebih meningkat lagi, karena adanya proses multipler dalam perekonomian tersebut. Ekspor adalah barang dan jasa yang diproduksi didalam negara dan dijual diluar negeri. (Mankiw, 2004 : 240). Jika suatu negara membuka perdagangan internasional dan menjadi pengekspor suatu barang, maka produsen domestic barang tersebut akan diuntungkan dan konsumen domestic barang tersebut akan dirugikan. Pembukaan perdagangan internasional akan menguntungkan negara yang bersangkutan secara keseluruhan karena keuntungan yang diperoleh melebihi kerugian nya (Mankiw, 2006 : 221). Dalam analisis keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian terbuka diandaikan Ekspor merupakan pengeluaran otonomi, yaitu ia tidak ditentukan oleh pendapatan nasional. Ekspor terutama ditentukkan oleh harga relative barang dalam negeri dipasaran luar negeri, kemampuan barang dalam negeri untuk bersaing dipasaran dunia, dan citarasa penduduk di negara-negara lain terhadap barang yang diproduksikan suatu Negara (Sukirno, 2004 : 222). Dari studi pertumbuhan ekonomi selama periode yang dilakukan oleh Bela Balassa (1986) terhadap sekelompok luar negara-negara yang sedang berkembang yang dibedakan antara negaranegara yang berorientasi keluar (Outward Oriented Countries) dan Negara-negara yang berorientasi
2 kedalam ( Inward- oriental countries) menemukan bahwa negara-negara yang menerapkan strategi pembangunan yang berorientasi keluar memiliki kinerja pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih baik dari pada negara-negara yang menerapkan strategi pembangunan yang berorientasi kedalam atau substitusi impor. Studi yang dilakukan Anne Krueger (1978) mengemukakan bahwa kenaikan 0.1 persen didalam laju pertumbuhan pendapatan ekspor mampu meningkatkan laju pertumbuhan Gross National Product (GNP) dengan kira-kira 0,11 persen. Anne Krueger dalam Nanga (2005 : 301) juga menyatakan bahwa orientasi keluar akan mendorong kebijakan makro ekonomi yang lebih baik, misalnya para pembuat kebijakan harus menjaga nilai tukar pada tingkat yang realistik, sehingga ekspor negara tersebut dapat bersaing dipasar luar negeri. Berdasarkan studi dilakukan Hollis Chemery terhadap 20 negara yang sedang berkembang menemukan bahwa total input productivity total meningkat diatas 3 persen pertahun di negara-negara yang menerapkan Outward oriented atau export- led strategies, sedangkan negara-negara yang menerapkan inward oriented pertumbuhannya hanya 1 persen (Nanga, 2005 : 302). Perumusan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut : 1. Berapa besar luar peranan total ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia 2. Berapa besar peranan ekspor migas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia 3. Berapa besar peranan ekspor non migas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia Tujuan Penelitian ini ingin mengetahui peranan ekspor terhadap perekonomian (PDB) di Indonesia METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah telaah pustaka yang ditunjang dengan analisis deskriptif kuantitatif terhadap data-data sekunder. Data sekunder yang digunakan adalah data perkembangan ekspor dan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang bersumber dari Badan Pusat Statistik Jakarta. Untuk mengetahui peranan ekspor tersebut digunakan persamaan Regresi Linear sederhana. Y = a + b xi Y = Produk Domestik Bruto (PDB) (miliar rupiah) Xi = Nilai ekspor I =1,2,3. X1 = Nilai Total ekspor (juta US $) X2 = Nilai total ekspor migas (juta US $) X3 = Nilai total ekspor non migas (juta US $) a = Konstanta b = Koefisien Regresi (multiplier ekspor) Dari persamaan regresi tersebut dihitung multiplier ekspor yang diperoleh dari angka koefesien regresi tersebut. Karena multiplier ekspor adalah angka yang menunjukkan berapa besar perubahan PDB akibat adanya perubahan nilai ekspor. Multiplier ekspor adalah perbandingan nilai pertambahan PDB dengan nilai pertambahan ekspor (Δ PDB / Δ ekspor atau dy) dx
3 Dari persamaan regresi tersebut juga dihitung elastisitas ekspor terhadap PDB dengan rumus sebagai berikut : E = dy. xi dxi y E = elastisitas ekspor xi = nilai rata-rata variabel ekspor y = nilai rata-rata PDB HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Peranan ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut : 1. Peranan total ekspor terhadap PDB 2. Peranan total ekspor migas terhadap PDB 3. Peranan total ekspor non migas terhadap PDB Perkembangan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia selama periode dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini : Tabel 1 : Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun (miliar rupiah). Tahun PDB Dengan MIGAS PDB non MIGAS Harga berlaku Harga Konstan Harga berlaku Harga Konstan Sumber : Badan Pusat Statistik Jakarta Data PDB tahun berdasarkan harga konstan tahun 1993 dan data PDB tahun berdasarkan harga konstan Rata-rata laju pertumbuhan PDB dengan Migas selama periode 2000-
4 2008 adalah 6,43% per tahun. Rata-rata laju pertumbuhan PDB tanpa migas selama periode adalah 7,57 % per tahun. Perkembangan nilai ekspor migas, non migas dan total ekspor dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini : Tabel 2 : Nilai ekspor migas, non migas dan total ekspor tahun (juta, US $) Tahun Migas Non Migas total Migas (%) nilai (%) ekspor , , , , , , , , , , , , , , ,3 26,47 24,20 23,04 23,53 21,75 16,12 20,12 21,12 22,49 21,19 22,36 21,86 22,45 21, , , , , , , , , , , , , , , , , ,2 73,53 75,79 76,96 76,47 78,25 83,88 79,88 78,88 77,56 78,81 77,64 78,14 77,55 78,90 80,64 78, , , , , , , , , , , , , , , , ,4 Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta Dari tabel 2 tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar nilai total ekspor berasal dari ekspor non migas yaitu berkisar antara 73,53%-83,88% selama periode Sedangkan nilai ekspor migas berkisar antara 16,12%-26,47% dari total ekspor.
5 Perkembangan ekspor migas menurut kelompok produk yang dihasilkan yaitu : minyak mentah, hasil minyak dan gas alam selama periode dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini : Tabel 3 : Perkembangan ekspor migas menurut kelompok produk yang (juta US $). dihasilkan tahun Tahun Minyak Hasil minyak Gas alam Total migas mentah , , , , , , , , , , , , , , , ,7 914,3 932, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,3 Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta Dari tabel 3 tersebut dapat diketahui kontribusi nilai ekspor minyak mentah terhadap total ekspor migas pada tahun 1993 sebesar 4.778,4 juta US $ (49.03%) dan pada tahun 2008 sebesar ,7 juta US $ (42,64%). Kontribusi nilai ekspor hasil minyak terhadap total ekspor migas pada tahun 1993 sebesar 914,3 juta US $ (9,38%) dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 3.547,0 juta US $ (12,18%). Kontribusi nilai ekspor gas alam terhadap total migas sebesar 4.052,7 juta US $ (41,58%) dan pada tahun 2008 meningkat menjadi Juta US $ (45,18%). Perkembangan niali ekspor non migas menurut kelompok produk yang dihasilkan yaitu hasil pertanian, hasil industry, hasil tambang dan produk lainnya tambah pasir alam dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini :
6 Tabel 4 : Perkembangan ekspor non migas menurut kelompok produk yang dihasilkan tahun (juta US $). Tahun Hasil pertanian Hasil industri Hasil tambang , ,0 1463, , ,2 1800, , ,8 2690, , ,8 3019, , ,8 3107, , ,2 2704, , ,4 2611, , ,0 3009, , , , ,6 3716, , ,9 3985, , ,3 4754, , ,6 7937, , , , , , , , , ,1 Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta Lainnya + pasir alam 25,2 38,5 45,9 35,7 596,1 24,5 28,0 35,6 66,0 31,5 15,1 11,1 17,2 36,3 13,5 10,0 Total non migas 27077, , , , , , , , , , , , , , , ,2 Dari tabel 4 tersebut dapat diketahui kontribusi nilai ekspor hasil pertanian terhadap total nilai ekspor non migas pada tahun 1993 sebesar 2644,2 juta US $ (9,64%) dan pada tahun 2008 sebesar 4584,6 juta US $ (4,25%). Kontribusi nilai ekspor hasil industri terhadap total nilai ekspor non migas pada tahun 1993 sebesar 23292,0 juta US $ (84,93%) dan pada tahun 2008 sebesar 88393,5 US $ (81,93%). Kontribusi nilai ekspor hasil tambang total nilai ekspor non migas pada tahun 1993 sebesar 1463,9 juta US $ (5,34%) dan pada tahun 2008 sebesar 14906,1 juta US $ (13,82%). Kontribusi nilai ekspor lainnya + pasir alam terhadap total nilai ekspor non migas pada tahun 1993 sebesar 25,2 juta US $ (0,09%) dan paa tahun 2008 menjadi 10,0 juta US $ ( 0,009%). Kebijaksanaan pengembangan ekspor non migas dilakukan untuk mengurangi ketergantungan perdagangan luar negeri Indonesia dari ekspor migas kepada ekspor non migas. Ekspor hasil industri memberikan kontribusi terbesar, hal ini terlihat pada peningkatan ekspor komiditi hasil industry melalui peningkatan kualitas dan penganekaragaman produksi, sehingga mampu bersaing dipasar international. Dengan menggunakan data PDB dengan migas dan data nilai total ekspor tahun diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :
7 Y = X i (16,358) Koefisien korelasi r = 0,975 Koefisien Determinasi R² = 0,95 Angka dalam kurung nilai t hitung Koefisien regresi bernilai 47,423 berarti setiap kenaikan nilai ekspor satu juta US $, maka nilai PDB akan meningkat sebesar 47,423 miliar rupiah. Angka koefisien regresi juga merupakan angka multiplier ekspor. Dari persamaan tersebut dapat diperkirakan angka elastisitas ekspor terhadap PDB. E = dy. x = 47, = 1,79 dx y angka elastisitas total ekspor 1,79 berarti setiap kenaikan nilai total ekspor 1%, maka PDB akan naik sebesar 1,79%. Dengan menggunakan data PDB dengan migas dan nilai total ekspor migas tahun diperoleh persamaan regresi liniar sederhana sebagai berikut : Y = ,284 x (11,446) Koefisien korelasi r = 0,95 Koefisien determinasi R² = 0,903 Koefisien regresi variable total ekspor migas yang juga merupakan multiplier ekspor migas bernilai 229,284 berarti setiap kenaikan nilai ekspor migas satu juta US $, maka nilai PDB akan naik sebesar 229,284 miliar rupiah. Angka elastisitas ekspor migas terhadap PDB. E = dy. x = 229, = 1,86 dx y angka elastisitas ekspor migas 1,86 berarti setiap kenaikan nilai ekspor migas 1%, maka PDB akan naik sebesar 1,86%. Dengan menggunakan data PDB tanpa migas dan nilai total ekspor non migas tahun diperoleh persamaan regresi liniar sederhana sebagai berikut : Y = ,605 x (16,065) Koefisien korelasi r = 0,974 Koefisien determinasi R² = 0,949 Koefisien regresi variable total ekspor non migas yang juga merupakan multiplier ekspor nnon migas bernilai 52,605 berarti setiap kenaikan nilai ekspor migas satu juta US $, maka nilai PDB akan naik sebesar 52,605 miliar rupiah. Angka elastisitas ekspor migas terhadap PDB non migas. E= dy. u = 52, = 1,74 dx y angka elastisitas ekspor non migas 1,74 berarti setiap kenaikan nilai ekspor non migas 1%, maka PDB akan naik sebesar 1,74%. Dengan menggunakan data PDB dengan migas dan nilai total ekspor minyak mentah tahun diperoleh persamaan regresi liniar sederhana sebagai berikut : Y = ,044 x (7,801) Koefisien korelasi r = 0,902
8 Koefisien determinasi R² = 0,813 Koefisien regresi variable total ekspor minyak mentah yang juga merupakan angka multiplier ekspor minyak mentah bernilai 566,044 berarti setiap kenaikan nilai ekspor minyak mentah satu juta US $, maka nilai PDB akan naik sebesar 566,044 miliar rupiah. Angka elastisitas ekspor minyak mentah terhadap PDB migas: E = dy. x = 566, ,31 = 2,02 dx y angka elastisitas ekspor minyak mentah 2,02 berarti setiap kenaikan nilai ekspor minyak mentah 1%, maka PDB akan naik sebesar 2,02%. Dengan menggunakan data PDB dengan migas dan nilai ekspor hasil minyak periode diperoleh persamaan regresi liniar sederhana sebagai berikut : Y = , ,168 x (8,585) Koefisien korelasi r = 0,917 Koefisien determinasi R² = 0,840 Koefisien regresi variable nilai hasil mignyak yang juga merupakan multiplier ekspor hasil minyak sebesar berarti setiap kenaikan nilai ekspor hasil minyak satu juta US $, maka PDB migas akan meningkat sebesar miliar rupiah. Angka elastisitas ekspor hasil minyak terhadap PDB migas. E = dy. x = 1579, ,75 = 1,46 dx y angka elastisitas ekspor hasil minyak 1,46 berarti setiap kenaikan nilai ekspor hasil minyak 1%, maka PDB migas naik sebesar 1,46%. Dengan menggunakan data PDB migas dan nilai ekspor gas alam periode diperoleh persamaan regresi liniar sederhana sebagai berikut : Y = ,136 x (14,922) Koefisien korelasi r = 0,97 Koefisien determinasi R² = 0,941 Koefisien regresi variable nilai ekspor gas alam yang merupakan multiplier ekspor gas alam sebesar 477,136 berarti setiap kenaikan nilai ekspor gas alam satu juta US $, maka PDB migas naik sebesar 477,136 miliar rupiah. Angka elastisitas ekspor gas alam terhadap PDB migas. E = dy. x = 477, ,94 = 1,75 dx y angka elastisitas ekspor gas alam 1,75 berarti setiap kenaikan nilai ekspor gas alam 1%, maka PDB migas naik sebesar 1,75%. Dengan menggunakan data PDB non migas dan nilai ekspor hasil pertanian periode diperoleh persamaan regresi liniar sederhana sebagai berikut : Y = ,844 x
9 (2,793) Koefisien korelasi r = 0,598 Koefisien determinasi R² = 0,3584 Koefisien regresi variable nilai ekspor hasil pertanian yang juga merupakan multiplier ekspor hasil pertanian sebesar 1299,844 berarti setiap kenaikan nilai ekspor hasil pertanian satu juta US $, maka PDB non migas akan meningkat sebesar 1299,844 miliar rupiah. Angka elastisitas ekspor hasil pertanian terhadap PDB migas E = dy. x =1299, ,71 = 2,48 dx y angka elastisitas ekspor hasil pertanian 2,48 berarti setiap kenaikan nilai ekspor hasil pertanian 1%, maka PDB migas naik sebesar 2,48%. Dengan menggunakan data PDB non migas dan nilai ekspor hasil industri periode diperoleh persamaan regresi liniar sederhana sebagai berikut : Y = ,406 x (17,501) Koefisien korelasi r = 0,978 Koefisien determinasi R² = 0,956 Koefisien regresi variable nilai ekspor hasil industri yang merupakan multiplier ekspor hasil industri sebesar 65,406 berarti setiap kenaikan nilai ekspor hasil industri satu juta US $, maka PDB non migas akan meningkat sebesar 65,406 miliar rupiah. Angka elastisitas ekspor hasil industri terhadap PDB migas. E = dy. x =65, = 1,82 dx y angka elastisitas ekspor hasil industry 1,82 berarti setiap kenaikan nilai ekspor hasil industri 1%, maka PDB non migas naik sebesar 1,82%. Dengan menggunakan data PDB non migas dan nilai ekspor hasil tambang diluar migas periode diperoleh persamaan regresi liniar sederhana sebagai berikut : Y = 88506, ,930 x (12,321) Koefisien korelasi r = 0,957 Koefisien determinasi R² = 0,916 Koefisien regresi variable nilai ekspor hasil tambang yang juga merupakan multiplier ekspor hasil tambang sebesar 290,930 berarti setiap kenaikan nilai ekspor hasil tambang satu juta US $, maka PDB non migas akan meningkat sebesar 290,930 miliar rupiah. Angka elastisitas ekspor hasil tambang terhadap PDB non migas. E = dy. x =290, ,88 = 0,94 dx y angka elastisitas ekspor hasil tambang 0,94 berarti setiap kenaikan nilai ekspor hasil tambang 1%, maka PDB non migas naik sebesar 0,94%. Pada tabel 5 berikut ini dapat disimpulkan angka multiplier ekspor dan elastisitas ekspor dari masing-
10 masing variabel ekspor. Tabel 5 : Angka multiplier ekspor dan elastisitas ekspor di Indonesia menurut komiditi ekspor. No. Variabel ekspor Multiplier ekspor Elastisitas ekspor Total ekspor Migas Non migas Minyak mentah Hasil minyak Gas alam Hasil pertanian Hasil industry Hasil tambang 47, ,284 52, , , , ,844 65, ,930 1,79 1,86 1,74 2,02 1,46 1,75 2,48 1,82 0,94 Sumber : data olahan KESIMPULAN 1. Perkembangan nilai ekspor baik migas maupun non migas di Indonesia selama periode terus meningkat dan pada tahun 1998,1999 dan 2001 menurun, tetapi pada tahun terus meningkat. Nilai ekspor terbesar berasal dari ekspor non migass berkisaran antara 73,53%-83,88%, sedang ekspor migas memberikan kontribusi antara 16,12%-26,47% dari total ekspor. 2. Ontribusi ekspor minyak mentah, hasil minyak dan gas alam terhadap nilai ekspor migas pada tahun masing-masing 49,03%, 9,38%, 41,58%, dan pada tahun 2008 masing-masing 42,64%, 12,18%, dan 45,18%. 3. Kontribusi nilai ekspor hasil pertanian, hasil industry dan hasil tambang diluar migas terhadap ekspor pada non migas tahun 1993 masing-masing 9,64%, 84,93%, 5,34%, dan pada tahun 2008 masing-masing 4,25%, 81,93% dan 13,82%. 4. Peranan ekspor yang dilihat dari angka multiplier dan angka elastisitas ekspor terhadap PDB menunjukkan bahwa angka multiplier ekspor relative cukup besar, demikian pula angka elastisitas ekspor lebih besar dari 1, kecuali elastisitas ekspor hasil tambang diluar migas sebesar 0,94%. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik, Jakarta-Indonesia Laporan Perekonomian Indonesia Indicator Ekonomi Analisa Komoditi Ekspor Balassa, Bela Policy Response to Exogeneous Shocks in Developing Countries. American Economics Review, Vol 76, No 2 May, pp Mankiw,N. Gregory Principles Of Economics. Pengantar Ekonomi Mikro. Penerbit Selemba Empat. Jakarta Principles Of Economics. Pengantar Ekonomi Makro. Penerbit Selemba Empat. Jakarta. Nanga, muana Makro Ekonomi : teori, masalah dan kebijakan. P.T. Raja Grafindo Persada Jakarta.
11 Sukirno, sadono Makro Ekonomi Teori Pengantar. Penerbit P.T. Raja Grafindo Persada Jakarta.
JURNAL EKONOMI Volume 21, Nomor 4 Desember 2013 PERANAN EKSPOR DALAM PEREKONOMIAN RIAU. Nursiah Chalid
PERANAN EKSPOR DALAM PEREKONOMIAN RIAU Nursiah Chalid Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Simpang Baru Pekanbaru 28293 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan
FUNGSI IMPOR DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA. Nursiah Chalid
FUNGSI IMPOR DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Nursiah Chalid Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Simpang Baru Pekanbaru 28293 ABSTRAKSI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Jurnal Ekonomi Volume 18, Nomor 1 Maret 2010 PENGELUARAN KONSUMSI RUMAH TANGGA DI DAERAH RIAU. Nursiah Chalid
PENGELUARAN KONSUMSI RUMAH TANGGA DI DAERAH RIAU Nursiah Chalid Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Simpang Baru - Pekanbaru 28293 ABSTRAKSI Penelitian ini
BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan berbagai indikator-indikator yang dapat menggambarkan potensi. maupun tingkat kemakmuran masyarakat suatu wilayah.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah dalam suatu periode tertentu. Produk
BAB I PENDAHULUAN. saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Small open economic, merupakan gambaran bagi perekonomian Indonesia saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap perekonomian dunia,
DAFTAR ISI. Hal. i ii iii
DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMAKASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah... 1.2. Rumusan Masalah... 1.3. Tujuan dan Manfaat
JURNAL EKONOMI Volume 22, Nomor 2 Juni 2014
PENGARUH TINGKAT KEMISKINAN, TINGKAT PENGANGGURAN, UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DAN LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PROVINSI RIAU Nursiah Chalid dan Yusbar Yusuf Jurusan
II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Perdagangan Internasional Menurut Oktaviani dan Novianti (2009) perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan negara lain
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN ALAT ANALISIS
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... iv PRAKATA... v DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xiii
Produk Domestik Bruto (PDB)
Produk Domestik Bruto (PDB) Gross Domestic Product (GDP) Jumlah nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unitunit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun.
I. PENDAHULUAN. yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara umum pembangunan ekonomi di definisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan masyarakat meningkat dalam periode
I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan minyak bumi dan gas alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam strategis tidak terbarukan,
PENGARUH SEKTOR EKONOMI TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) PROVINSI RIAU. Dian Alfira Kasmita
PENGARUH SEKTOR EKONOMI TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) PROVINSI RIAU Dian Alfira Kasmita Pembimbing: Almasdi Syahza dan Riadi Armas Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau Jl. Bina
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Majalengka
BAB I PENDAHULUAN. dari keadaan ekonomi negara lain. Suatu negara akan sangat tergantung dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehidupan ekonomi suatu negara pada dewasa ini tidak dapat dipisahkan dari keadaan ekonomi negara lain. Suatu negara akan sangat tergantung dengan negara lain
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk. meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan masyarakat demokratis, yang
1.1 Latar Belakang Hasalah
1.1 Latar Belakang Hasalah Pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh hampir semua negara disertai dengan perubahan struktur produksi yaitu menurunnya pangsa sektor pertanian dan meningkatnya pangsa sektor
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pertumbuhan perekonomian suatu negara tentunya tidak terlepas dari
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan perekonomian suatu negara tentunya tidak terlepas dari aktivitas perdagangan international yaitu ekspor dan impor. Di Indonesia sendiri saat
BAB I PENDAHULUAN. bakat, dan IPTEK beserta barang dan jasa yang dihasilkannya dapat dengan mudah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi dan perdagangan bebas sekarang ini, manusia dengan ide, bakat, dan IPTEK beserta barang dan jasa yang dihasilkannya dapat dengan mudah melewati
Antiremed Kelas 10 Ekonomi
Antiremed Kelas 10 Ekonomi Pendapatan Nasional - Soal Halaman 1 01. Pada metode pendapatan, besar pendapatan nasional suatu negara akan sama dengan (A) jumlah produksi ditambah upah (B) jumlah investasi
ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN DI KOTA MEDAN TAHUN
ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN DI KOTA MEDAN TAHUN 2000-2014 NADIA IKA PURNAMA Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara email : [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. nasional maupun daerah. Karena dengan adanya pembangunan ekonomi. diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat baik pada tingkatan nasional maupun daerah. Karena dengan
PENGARUH NILAI EKSPOR DAN GROSS DOMESTIK PRODUK (GDP) TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA
PENGARUH NILAI EKSPOR DAN GROSS DOMESTIK PRODUK (GDP) TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA I NYOMAN ARIANA GUNA I DEWA GEDE RASTANA Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Tabanan
ABSTRAKSI. Pengaruh Investasi Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Permintaan Tenaga Kerja Di Sumatera Utara.
ABSTRAKSI Pengaruh Investasi Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Permintaan Tenaga Kerja Di Sumatera Utara. Pertumbuhan ekonomi adalah satu indikator yang amat penting dalam melakukan analisis pembangunan
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2008
BADAN PUSAT STATISTIK No.43/08/Th. XI, 14 Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II- Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-
I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003)
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) menyatakan bahwa pertumbuhan
PENDAHULUAN. menyediakan sarana dan prasarana,baik fisik maupun non fisik. Namun dalam
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia mempunyai cita cita yang luhur sebagaimana tertuang dalam Pembukuan UUD Tahun 1945 adalah untuk memajukan kesejahteraan umum menuju masyarakat adil dan makmur
I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan proses transformasi yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pembangunan ekonomi dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. samping komponen konsumsi (C), investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G).
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam sistem perekonomian terbuka, perdagangan internasional merupakan komponen penting dalam determinasi pendapatan nasional suatu negara atau daerah, di
BAB III METODE PENELITIAN. (time series data). Dalam penelitiaan ini digunakan data perkembangan pertumbuhan ekonomi,
BAB III 3.1. Jenis dan Sumber Data METODE PENELITIAN 3.1.1. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan adalah data yang dicatat secara
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
BADAN PUSAT STATISTIK No. 13/02/Th. XV, 6 Februari 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2011 MENCAPAI 6,5 PERSEN Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2011 tumbuh sebesar 6,5 persen dibandingkan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor Industri merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi sektor Industri terhadap pembangunan nasional setiap tahunnya
DETERMINAN PERMINTAAN EKSPOR UDANG BEKU JAWA TIMUR KE AMERIKA SERIKAT PENDAHULUAN
P R O S I D I N G 113 DETERMINAN PERMINTAAN EKSPOR UDANG BEKU JAWA TIMUR KE AMERIKA SERIKAT Erlangga Esa Buana 1 1 Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya E-mail: [email protected] PENDAHULUAN Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. Strategi yang pertama sering dikatakan sebagai strategi inward looking,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Perdagangan Internasional merupakan hal yang sudah mutlak dilakukan oleh setiap negara. Pada saat ini tidak ada satu negara pun yang berada dalam kondisi autarki
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan atas sumber daya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan atas sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan atas sumber daya air, sumber daya lahan, sumber daya hutan, sumber
DAMPAK BELANJA DAERAH TERHADAP KETIMPANGAN ANTAR DAERAH DI PROVINSI JAMBI
Halaman Tulisan Jurnal (Judul dan Abstraksi) Jurnal Paradigma Ekonomika Vol. 9, No. 01 April 2014 DAMPAK BELANJA DAERAH TERHADAP KETIMPANGAN ANTAR DAERAH DI PROVINSI JAMBI Rosmeli * *Dosen Fakultas Ekonomi
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI DI KABUPATEN NAGAN RAYA
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI DI KABUPATEN NAGAN RAYA Abstract This study aims at analysing what factors determine consumption pattern in Nagan Raya. Secondary data used in the study
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, seperti Indonesia serta dalam era globalisasi sekarang ini, suatu negara tidak terlepas dari kegiatan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang
11 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat
Pengaruh Jumlah Produksi, Harga Ekspor, Dan Kurs Dollar Amerika Serikat Terhadap Volume Ekspor Batu Bara Indonesia Tahun
E-Jurnal EP Unud, 4 [2] : 90-95 ISSN: 2303-0178 Pengaruh Jumlah Produksi, Harga Ekspor, Dan Kurs Dollar Amerika Serikat Terhadap Volume Ekspor Batu Bara Indonesia Tahun 1992-2012. I Gusti Bagus Kumbayana
BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pembangunan ekonomi nasional bertujuan untuk. membangun manusia Indonesia seutuhnya, dan pembangunan tersebut harus
13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada dasarnya pembangunan ekonomi nasional bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, dan pembangunan tersebut harus dilaksanakan dengan berpedoman
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
BADAN PUSAT STATISTIK No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2010 MENCAPAI 6,1 PERSEN Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2010 meningkat sebesar
BAB I PENDAHULUAN. Tujuan membangunan ekonomi setiap negara adalah tercapainya. pembangunan ekonomi yang adil dan merata. Pembangunan ekonomi adalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan membangunan ekonomi setiap negara adalah tercapainya pembangunan ekonomi yang adil dan merata. Pembangunan ekonomi adalah sebuah usaha untuk meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, yang
17 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan kemampuan dengan pemanfaatan kemajuan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Suryana (2000 : 3), mengungkapkan pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu masyarakat
Abstraksi. Rita Yani Iyan, Yusbar Yusuf dan Susi Lenggogeni
13 PENGARUH PERKEMBANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TERHADAP PEREKONOMIAN KABUPATEN KUANTAN SINGINGI Abstraksi Rita Yani Iyan, Yusbar Yusuf dan Susi Lenggogeni Kajian ini memfokuskan pada peran perkebunan
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor industri mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Secara umum sektor ini memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto
10. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ( PDRB )
10. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ( PDRB ) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha memberikan gambaran tentang nilai tambah yang dibentuk dalam suatu daerah sebagai akibat dari adanya
PENGARUH HARGA BAWANG MERAH IMPOR TERHADAP PERMINTAAN IMPOR BAWANG MERAH DI INDONESIA TAHUN
PENGARUH HARGA BAWANG MERAH IMPOR TERHADAP PERMINTAAN IMPOR BAWANG MERAH DI INDONESIA TAHUN 2002-2012 Julika Rahma Siagian Program Studi Ilmu Ekonomi, Pasca Sarjana, Medan Sumatera Utara Universitas Negeri
BAB I PENDAHULUAN. berbagai perubahan mendasar atas seluruh sistem sosial seperti politik, ekonomi,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas seluruh sistem sosial seperti politik, ekonomi, infrastrukur dan
FLUKTUASI PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) DI KOTA PADANGSIDIMPUAN
FLUKTUASI PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) DI KOTA PADANGSIDIMPUAN Enni Sari Siregar STKIP Tapanuli Selatan, Padangsidimpuan Email : [email protected] ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT)
DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT) OLEH SRI MULYANI H14103087 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN
Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia
Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perekonomian Indonesia tahun 2004 yang diciptakan UKM berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp
BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. mengedepankan dethronement of GNP, pengentasan garis kemiskinan,
1 BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Paradigma pembangunan modern memandang suatu pola yang berbeda dengan pembangunan ekonomi tradisional yang berfokus pada peningkatan Produk Domestik Regional Bruto
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perdagangan internasional berawal dari adanya perbedaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan perdagangan internasional berawal dari adanya perbedaan sumber daya yang dimiliki setiap negara dan keterbukaan untuk melakukan hubungan internasional
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2014
BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT No. 12/02/61/Th.XVIII, 5 Februari 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TAHUN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TAHUN TUMBUH 5,02 PERSEN MELAMBAT DIBANDINGKAN TAHUN 2013 Perekonomian
PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2015
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI SUMATERA SELATAN No. 11/02/16/Th.XVIII, 5 Februari 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN TUMBUH 4,50 PERSEN Perekonomian
SILABUS PENGANTAR ILMU EKONOMI
SILABUS PENGANTAR ILMU EKONOMI Program Studi: D3 MANAJEMEN PEMASARAN Mata Kuliah : Pengantar Ilmu Ekonomi Kode : DMH1C3 Semester : I SKS : 2 Prasyarat : Kelompok : Ø Inti Ø Pendukung Ø Penunjang Ø Peminatan
BAB I PENDAHULUAN. sangat subur dan memiliki iklim yang baik untuk perkebunan tebu. Kepala Pusat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Negara Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Hal ini terbukti dengan keadaan tanah Indonesia yang sangat subur
I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan perkapita penduduk yang diikuti oleh perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara. Pembangunan
ANALISA PERENCANAAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA DI KABUPATEN INDRAGIRI HILIR
ANALISA PERENCANAAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA DI KABUPATEN INDRAGIRI HILIR Lapeti Sari Fakultas Ekonomi Universitas Riau ABSTRAK Penelitian ini bertujuan antara lain adalah: memberikan gambaran tentang persediaan
ANALISIS PENGARUH EKSPOR NETO TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLAR AMERIKA SERIKAT DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA
Halaman Tulisan Jurnal ( Judul dan Abstraksi ) ANALISIS PENGARUH EKSPOR NETO TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLAR AMERIKA SERIKAT DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA Oleh : Candra Mustika,SE,Msi,
PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TRIWULAN I-2015
No. 24/05/91 Th.IX, 5 Mei 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TRIWULAN I-2015 EKONOMI PAPUA BARAT TRIWULAN I-2015 MENGALAMI KONTRAKSI SEBESAR 1,50 PERSEN MELAMBAT DIBANDING TRIWULAN I-2014 Perekonomian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai kekayaan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai kekayaan yang berlimpah, dimana banyak Negara yang melakukan perdagangan internasional, Sumberdaya yang melimpah tidak
Pertumbuhan PDB atas dasar harga konstan tahun 1983
VIX. KESIMPUL?LN DAN I MPLIKASI 7.1. Kesimpulan 7.1.1. Pertumbuhan PDB atas dasar harga konstan tahun 1983 dalam kurun waktu 1971-1990 sangat berfluktuasi. Tingkat pertumbuhan paling tinggi terjadi pada
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Indonesia merupakan negara bahari yang sangat kaya dengan potensi perikananan
DAMPAK PENINGKATAN PENGELUARAN KONSUMSI SEKTOR RUMAH TANGGA DAN PENGELUARAN SEKTOR PEMERINTAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROPINSI JAMBI ABSTRAK
DAMPAK PENINGKATAN PENGELUARAN KONSUMSI SEKTOR RUMAH TANGGA DAN PENGELUARAN SEKTOR PEMERINTAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROPINSI JAMBI Syaifuddin, Adi Bhakti, Rahma Nurjanah Dosen Fakultas Ekonomi
BADAN PUSAT STATISTIK
BADAN PUSAT STATISTIK No. 50/08/Th.XII, 10 Agustus 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2009 Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Setiap negara di dunia ini pasti akan melakukan interaksi dengan negaranegara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap negara di dunia ini pasti akan melakukan interaksi dengan negaranegara lain di sekitarnya. Biasanya bentuk kerjasama atau interaksi itu berbentuk perdagangan antar
PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2012
BPS PROVINSI KEPULAUAN RIAU No. 33/05/21/Th. VII, 7 Mei 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2012 PDRB KEPRI TRIWULAN I TAHUN 2012 TUMBUH 7,63 PERSEN PDRB Kepri pada triwulan I tahun
PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TRIWULAN III-2015
No. 63/11/Th.IX, 5 November 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TRIWULAN III-2015 EKONOMI PAPUA BARAT TRIWULAN III-2015 MENGALAMI PERTUMBUHAN SEBESAR 6,43 PERSEN MENINGKAT DIBANDING TRIWULAN III-2014
BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto
Analisis penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Barat
Analisis penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Rezky Fatma Dewi Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan Fak. Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi Abstrak Penelitian
BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisis pembangunan ekonomi yang terjadi disuatu Negara yang diukur dari perbedaan PDB tahun
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
BADAN PUSAT STATISTIK No. 12/02/Th. XIII, 10 Februari 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2009 MENCAPAI 4,5 PERSEN Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2009 meningkat sebesar
HUBUNGAN KAUSALITAS ANTARA EKSPOR NON MIGAS TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN SKRIPSI
HUBUNGAN KAUSALITAS ANTARA EKSPOR NON MIGAS TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 1980-2008 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan
BAB I PENDAHULUAN. Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri Indonesia bertumpu kepada minyak bumi dan gas sebagai komoditi ekspor utama penghasil
