Abstract dan Executive Summary LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSAING
|
|
|
- Harjanti Kusuma
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Abstract dan Executive Summary LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSAING KONSTRUKSI IDENTITAS DAN KOMODIFIKASI BUDAYA: KAJIAN MODEL KEBIJAKAN DAERAH UNTUK PENGEMBANGAN DAN PELESTARIAN BUDAYA USING (STUDI DI KABUPATEN BANYUWANGI) Tahun ke 2 dari rencana 2 tahun Oleh: Muhammad Hadi Makmur, S.Sos, MAP / (Ketua) Akhmad Taufiq, S.S, M,Pd/ (Anggota) UNIVERSITAS JEMBER FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK November 2014
2 KONSTRUKSI IDENTITAS DAN KOMODIFIKASI BUDAYA: KAJIAN MODEL KEBIJAKAN DAERAH UNTUK PENGEMBANGAN DAN PELESTARIAN BUDAYA USING Peneliti Mahasiswa yang terlibat Sumberdana Kontak Muhammad Hadi Makmur, Akhmad Taufiq : M Fajri, M Ananda Abdul Azis : DIPA BOPTN : [email protected] Abstrak Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan dampak kebijakan kebudayaan yang sudah diterapkan terhadap komunitas seni dan tradisi budaya Banyuwangi, khusunya Using, untuk mendiskripsikan pola relasi antar pelaku budaya dengan pemerintah daerah serta untuk mengambarkan konstruksi model kebijakan daerah untuk pelestarian dan pengembangan kebudayaan lokal Banyuwangi, khusunya Using. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif-kualitatif dengan analisis trianggulasi, analisis isi dan permodelan kebijakan. Metode untuk memperoleh data dilakukan melalui pengamatan, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan dan FGD. Hasil penelitian menemukan bahwa kebudayaan Using menjadi sebuah entitas untuk terus diperebutkan dalam ruang representasi dari kepentingan masing-masing pihak. Terjadi relasi dari masing-masing aktor dalam sebuah ruang yang dinamis. Dari hasil penelitian terkait budaya Using di Banyuwangi ditemukan beberapa kelompok aktor, yaitu pihak swasta, pimpinan daerah-bupati, pelaku budaya lokal, tokoh masyarakat dan masyarakat umum. Relasi tersebut merepresentasikan secara dialektik, nilai ekonomis, politik, spiritualitas serta kebutuhan replikasi identitas dan fantasi-hiburan warga masyarakat. Beberapa Dampak dari kebijakan serta relasi yang muncul adalah dampak sosial, ekonomi dan bagi budaya Using sendiri. Sementara konstruksi model kebijakan diarahkan pada model public private partnership serta public community partnership dengan menfokuskan pada pengembangan budaya dan tradisi lokal Banyuwangi untuk penguatan ekonomi daerah. Kata-kata kunci: kebijakan; budaya Using; budaya konstruksi identitas, komodifikasi
3 Abstract The purpose of this study to describe the impact of cultural policies that have been applied to the arts community and cultural traditions Banyuwangi, to describe the pattern of relations between cultural actors with local government, and to describe the construction of a model of regional policy for the preservation and development of local culture Banyuwangi, especially Using. This study is a descriptive-qualitative triangulation analysis, content analysis and policy modeling. Methods for obtaining the data is done through observation, interviews, documentation and study literature and FGD. The study found that culture Using an entity to continue to be contested in the space representation of the interests of each party. Occurred relation of each actor in a dynamic space. From the research results related to culture Using in Banyuwangi found several groups of actors, namely the private sector, local leaders-regent, local cultural actors, community leaders and the general public. This relation represents dialectically, economic value, politics, spirituality and identity and needs replicationfantasy entertainment community. Some of the impact of policies and relations that arises is the impact of social, economic and cultural context Using his own. While the construction of models of policies directed at public private partnership model as well as the public community partnership to focus on the development of local culture and tradition Banyuwangi to strengthening local economies. Key words: policy; Using culture; construction of identity, cultural commodification
4 Executive Summary KONSTRUKSI IDENTITAS DAN KOMODIFIKASI BUDAYA: KAJIAN MODEL KEBIJAKAN DAERAH UNTUK PENGEMBANGAN DAN PELESTARIAN BUDAYA USING Peneliti : Muhammad Hadi Makmur 1, Akhmad Taufiq 2 Mahasiswa yang terlibat : M Fajri 3, M Ananda Abdul Azis 4 Sumberdana : DIPA BOPTN Kontak [email protected] PENDAHULUAN Latar Belakang Pemerintah daerah harus memiliki komitmen untuk melindungi dan melestarikan berbagai bentuk budaya di daerahnya. Pelestarian dan pengembangan kebudayaan memiliki tujuan untuk menumbuhkan pemahaman dan perkembangan masyarakat terhadap kebudayaan, meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan menumbuhkan sikap kritis terhadap fakta sejarah dan serta memperkokoh ketahanan bangsa. Kebudayaan sebagai identitas komunitas bukan hanya dipahami sebagai pembeda dengan komunitas lain, melainkan sebagai suatu hal yang dapat digunakan untuk mengenal kehidupan komunitas, cara-cara komunitas menyusun pengetahuan, menampilkan perasaan, dan cara mereka bertindak. Hal tersebut senada dengan pemikiran Taylor (Ritzer dan Goodman, 2008), bahwa kebudayaan dapat diartikan sebagai pandangan hidup dari sebuah komunitas atau kelompok. Aspek kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan nasional bukan saja dinilai seberapa banyak penghargaan lencana kebudayaan dan pameran unsur kebudayaan, melainkan 1 Prodi Administrasi Negara, Jurusan Adminstrasi FISIP Universitas Jember 2 Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Sastra, FKIP Universitas Jember 3 Prodi Administrasi Negara, Jurusan Adminstrasi FISIP Universitas Jember 4 Prodi Administrasi Negara, Jurusan Adminstrasi FISIP Universitas Jember
5 mengakui eksistensi serta mengakomodasi kepentingan setiap komunitas dan budaya lokal dalam kehidupan berbangsa. Namun dampak dari otonomi daerah, kebijakan tertentu termasuk terkait kebijakan kebudayaan seringkali digunakan untuk kepentingan pencitraan elit politik yang sedang berkuasa dan untuk mempertahankan tingkat kepercayaan publik suatu wilayah. Semacam ajang perlombaan bagi kekuatan kekuasaan untuk menunjukkan secara artifisial identitas mereka terhadap kepentingan kelompok atau komunitas masyarakat tertentu, termasuk komunitas budaya. Sehingga dikawatirkan kebijakan daerah terkait pengembangan dan pelestraian kebudayaan dibiaskan demi kepentingan ekonomi dan keuntungan kekuasaan politik lokal, yang justru kontra porduktif dengan maksud pengembangan dan pelestarian kebudayaan itu sendiri. Pada penelitian awal (pertama) ditemukan bahwa seni dan tradisi budaya Using telah menjadi perhatian dan agenda penting kebijakan pemerintahan daerah kabupaten Banyuwangi. Muncul dan berkembang tiga wacana dalam kebijakan kebudayaan di wilayah kabupaten Banyuwangi, yaitu rehabilitasi dan kontrol kebudayaan, pembentukan identitas utama/pusat kebudayaan dan ketiga wacana reidentitas dan promosi kebudayaan. Terdapat tiga bentuk strategi dan program yang telah dijalankan dalam Kebijakan kebudayaan pemerintah kabupaten banyuwangi. pertama pengembangan pendidikan, kedua pembangunan simbol atau situs dan ketiga penyiaran, pementasan dan pagelaran karya kebudayaan lokal termasuk budaya Using. Sehingga selanjutnya perlu dilihat bagaimana relasi antar aktor, dampak sehingga tergambarkan model kebijakan untuk pengembangan dan pelestarian kebudayaan Using secara utuh. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian pada tahap II ini adalah : 1. Bagaimana pola relasi antar komunitas pelaku budaya, pelaku komunitas budaya dengan pemerintah di Kabupaten Banyuwangi? 2. Bagaimana dampak atas kebijakan dan relasi tersebut terhadap keberadayaan atau kelestarian dan perkembangan kebudayaan Using? 3. Bagaimana model kebijakan daerah yang bisa memberikan konstruksi pengembangan dan pelestarian kebudayaan lokal, khususnya kebudayaan Using?
6 METODE PENELITIAN Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif, yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian,sehingga akan terdiskripsikan keadaan subyek atau obyek penelitian yaitu kebijakan pemerintah daerah dalam melestarikan dan mengembangakan budaya lokal berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus, dengan wilayah penelitian di kabupaten Banyuwangi. informan yang digunakan adalah; informan dari dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, dinas pendidikan dan tokoh budaya dan pegiat kesenian tradisi Banyuwangi. Untuk memperoleh data yang perlukan, dilakukan pengamatan, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Untuk mendapatkan keabsahan dan kepercayaan data peneliti melakukan trianggulasi data baik secara metode maupun sumber. Data dianalisi dengan menggunakan teknik analis interaktif model milles & Huberman, tekni ini menurut Sugiono,(2008). dimulai dari reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan Penariakn kesimpulan/verivikasi (conclusion drawing/verification) HASIL DAN PEMBAHASAN Relasi Aktor Dalam Ruang Kebijakan Kebudayaan Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kebudayaan menjadi sebuah entitas untuk terus diperebutkan dalam ruang representasi dari kepentingan masing-masing pihak. Di sini terjadi relasi dari masing-masing aktor dalam sebuah ruang yang dinamis. Bagi Bupati sebagai penguasa atau pimpinan pemerintahan daerah kebudayaan Using dihadirkan sebagai entitas yang memiliki makna potensial, baik secara politik maupun ekonomi. Secara ekonomi budaya yang berkembang di Banyuwangi seperti budaya Using menjadi sumber potensial bagi perkembangan pendapatan daerah dan pertumbuhan ekonomi daerah. Sehingga entitas budaya dikemas dan dipromosikan sedemikian rupa menjadi komoditas yang bisa dinikmati dan menarik bagi wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri. Seperti pada saat kepemimpinan bupati Azwar Anas, keberagaman budaya Banyuwangi dikemas dalam program rutin tahunan dalam bentuk Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), yang diakuinya sangat besar sumbangannya bagi penerimaan daerah. Secara politik, bahwa hampir semua Bupati di Banyuwangi, sejak Masa Supaat sampai Bupati
7 Azwar Anas, berupaya untuk menunjukkan pada masyarakat sebagai konstituennya akan kepedulian dan perhatiannya pada budaya melalui kebijakan dan program mereka. Seni dan tradisi Using di sini sebagai sarana bagi pemimpin untuk menunjukkan akan diri mereka sebagai yang peduli dan membesarkan identitas budaya wong Banyuwangi atau setidaknya membuat teridentifikasi kebanyuwangian -nya. Atas hal ia patut untuk didukung dan mendapatkan legitimasi oleh kelompok masyarakat di Banyuwangi khususnya Using. Bagi pelaku dan pegiat seni dan tradisi budaya. Kebudayaan bagi mereka lebih sarana ekspresi jiwa dan spiritualitas yang menunjukkan akan identitas mereka sebagai sebuah entitas kelompok yang hidup di Banyuwangi. Tetapi mereka juga tidak berada dalam realitas hidup yang hampa, sehingga seni dan tradisi yang mereka lakukan hadir sebagai bentuk pertunjukan yang dipertontonkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat aundien. Bagi masyarakat Banyuwangi bahwa pertunjukan atau Even budaya yang ditonton dan dinikmati sebagai menjadi sarana pemenuhan kebutuhan akan fantasi-hiburan sekaligus juga memperteguh diri sebagai orang Banyuwangi atau setidaknya sebagai replikasi identitasnya. Sementara itu bagi tokoh masyarakat, kebudayaan Using merupakan ruang pertarungan antara nilai. Kehadiran kebudayaan sebagai sarana untuk mempertahankan nilai-nilai yang kedaerahan yang ada. Sedangkan bagi swasta kebudayaan lebih kuat dimaknai sebagai ruang potensial secara ekonomi, yang bisa menjadi peluang yang menghasilkan keuntungan. Sebuah entitas budaya seperti budaya Using juga bisa dikembangkan dan kemas secara apik sehingga bisa ditawarkan pada pasar yang bisa mengundang konsumen, yaitu masyarakat wisatawan sebesar-besarnya.
8 Gambar : Model Relasi aktor dalam Ruang Kebudayaan Di Banyuwangi Profit SWASTA OTONOMI DAERAH Pengakuan dan pendapatan PARIWISATA Pemenuhi kebutuhan fantasi/hiburan Pendap PELAKU BUDAYA MASYARAKAT PEMIMPIN DAERAH GLOBALISASI spiritual- Aktualisasi seni Memperteguh dan replikasi identitas SIMBOL IDENTITAS Kepentingan politik/citra Hegemoni Nilai TOKOH MASYARAKAT DAERAH Sumber: Hasil Analisis Dampak dari Kebijakan Pemerintah dan Relasi Aktor Terhadap Budaya Using Dari kebijakan dan program pemerintah daerah Banyuwangi serta relasi kantor yang ada, dari hasil penelitan ini ditemukan beberapa dampak, yaitu dampak sosial, ekonomi dan bagi budaya Using sendiri. Secara sosial Program dan kebijakan pemerintah daerah seperti BEC setidaknya membawa dampak sosial. Dari beberapa budaya lokal yang direpresentasikan, secara bersama-sama memberi implikasi pada kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat Banyuwangi yang sangat multietnis memerlukan tingkat toleransi yang sangat tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan diadakannya BEC dan Festival Kuwung sejak 2010 misalnya, secara sosial sebagai masyarakat merasa identitas multikultural Banyuwangi. Seperti dalam festival Kuwung ruang untuk berperan dan merepresentasikan setiap kelompok terwadahi dam sebuah wadah masyarakat Banyuwangi yang multikultur. Kabupaten Banyuwangi sebagai daerah yang sangat antusias menghadirkan budaya lokal. Hal-hal yang bernuansa ke-lokal-an dibangkitkan kembali. Kebijakan pemerintah dengan dukungan semua pihak menunjukkan komitmen untuk melakukan revitalisasi budaya yang sesuai dengan tuntutan ke-kini-an. Kebudayaan menjadi sesuatu yang bersifat transformatif, yang terus bergerak membentuk modelnya dari waktu ke waktu. Dalam kontek yang substantif kebijakan dan relasi yang ada menjadi ruang dialektik yang melibatkan sebagain besar para aktor untuk terus turut seta memikirkan dan merencanakan model pengembangan dan pelestarian kebudayaan di Banyuwangi.
9 Bagi masyarakat awam, mereka memerlukan sesuatu yang bersifat nyata dan memberikan mereka manfaat terutama secara material. Di saat yang sama mereka juga bisa turut serta melestarikan budaya lokal. Kebijakan terkait budaya di Banyuwangi dari sisi ekonomi dapat dilihat seperti dari kegiatan terkait budaya seperti BEC, festival Kuwung, Paju Gandrung secara langsung telah memberikan nilai tambah secara ekonomis, setidaknya dilapangan para pedagang dapat meningkatkan penghasilan mereka. Hal ini juga diakui oleh bupati Anas bahwa keberhasilan Banyuwangi menurunkan angka kemiskinan dari 20 persen menjadi 9 persen adalah berkat srategi keroyokan dari banyak sektor, termasuk sumbangan dari sektor pariwisata. Seni dan Tradisi budaya lokal dipromosikan secara maksimal dan dapat menambah nilai jualnya. Implikasi ini sejalan dengan maksud ekonomi kreatif, dimana ekonomi kreatif merupakan sebuah proses peningkatan nilai tambah hasil dari eksploitasi kekayaan intelektual berupa kreatifitas, keahlian dan bakat individu menjadi produk yang dapat dikomersialkan. Konstruksi model kebijakan pelestraian dan pengembangan budaya lokal di Banyuwangi Dalam konteks kebijakan ditemukan bahwa model kebijakan pelestarian dan pengembangan budaya lokal di Kabupaten Banyuwangi merupakan perpaduan antara model public-private partnership dan public-community partnership. Kebijakan yang bertumpu pada public private partnership menunjukkan orientasi pemimpin daerah untuk mendorong peran komunitas dan swasta untuk mengemas seni dan tradisi lokal dalam bentuk atraksi-atraksi budaya yang disodorkan pada pasar dan diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi serta penerimaan daerah. Hal itu bisa ditunjukkan oleh program yang dikemas oleh daerah dalam mempromosi kegiatan-kegiatan bernuansa budaya selama 4 tahun terakhir dilakukan secara masif dengan melibatkan seluruh komponen, baik itu pegiat dan pelaku seni tradisi maupun peran swasta. Kegiatan besar seperti BEC, Festtifal Kuwung, Paju Gandrung membutuhkan dana yang besar. Pada sisi yang lain, pemerintah juga mendorong pada komunitas untuk tetap nguri-nguri seni dan tradisi, dengan menfasilitasi pada kelompok-kelompok seni dan tradisi agar tetap hidup. Kelompok seni dan tradisi lokal dalam hal ini berupaya untuk beradaptasi dengan perkembangan sosial budaya masyarakat. Arah kebijakan pemerintah Banyuwangi khususnya pada kepemimpinan
10 Public-comunity Teknologi dan Informasi bupati Azwar Anas dalam memfasilitasi untuk memajukan kesenian dan budaya lokal tersebut sangat ditekankan pada upaya pengembangan pariwisata untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan pendapatan daerah. Kelompok seni dan tradisi yang difasilitasi oleh pemerintah daerah dirahkan tidak saja kelompok yang berada di pusat kota tetapi juga di setiap kecamatan. Kebijakan ini diambil oleh pemerintah daerah agar pentas dan atraksi seni-budaya tidak tersentral di kota, tetapi juga di setiap kecamatan. Sehingga dari analisis penelitia yang telah dijelaskan di atas dapat dibuat gambaran model kebijakan pemerintah daerah dalam pelestarian dan Pengembangan budaya lokal seperti dalam gambar di bawah. Gambar: Model Kebijakan Pelestarian dan Pengembangan Budaya Lokal Partisipasi Warga Orientasi Pemimpin daerah Public-private partnership Peran Swasta KESIMPULAN Dari hasil sementara penelitian ini peneliti memperoleh beberpa poin kesimpulan. Pertama, kebudayaan menjadi sebuah entitas untuk terus diperebutkan dalam ruang representasi dari kepentingan masing-masing pihak. Di sini terjadi relasi dari masing-masing aktor dalam sebuah ruang yang dinamis. Relasi tersebut merepresentasikan secara dialektik, baik ekonomis, politik, nilai-spiritualitas serta kebutuhan replikasi identitas sekaligus kebutuhan fantasi-hiburan warga masyarakat. Kedua, kebijakan dan program pemerintah daerah Banyuwangi serta relasi kantor yang ada, membawa dampak baik secara sosial, ekonomi dan bagi budaya Using sendiri. Ketiga, model konstruksi kebijakan bahwa diarahkan pada model public
11 private partnership serta public community partnership dengan menfokuskan pada pengembangan budaya dan tradisi lokal Banyuwangi untuk penguatan ekonomi daerah. Akhirnya dari hasil penelitian ini maka beberapa hal yang peneliti sarankan yaitu, pada pemerintah daerah agar dalam pengembangan budaya using terus memperkuat keterlibatan pelaku dan memperhatikan dinamika dan konteks sosial masyarakat. REFERENSI Ritzer, George dan Goodman, Douglas J Teori Sosiologi (Edisi Terbaru). Yogyakarta: Kreasi Wacana. Sugiyono Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R & D. Bandung : CV. Alfabeta Effendy, Bisri dan Anoegrajekti, Novi, 2004, Perempuan Dalam Ritual, Mengangan Dewi Sri Membayang Perempuan, Jurnal Srinthil, edisi 07 (November 2004): (diakse 5 oktober 2013) Gaventa, John, 1980, Power And Powerlessness; Quiescence And Rebellion In Appalachian Valley, Clarendon Press, Oxford.hlm.12 Dariharto, 2009, Kesenian Gandrung Banyuwangi, Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.hlm.2-4
Abstract dan Executive Summary LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSAING
Abstract dan Executive Summary LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSAING KONSTRUKSI IDENTITAS DAN KOMODIFIKASI BUDAYA: KAJIAN MODEL KEBIJAKAN DAERAH UNTUK PENGEMBANGAN DAN PELESTARIAN BUDAYA USING (STUDI DI KABUPATEN
RELASI AKTOR DALAM RUANG WACANA KEBIJAKAN KEBUDAYAAN DI BANYUWANGI
RELASI AKTOR DALAM RUANG WACANA KEBIJAKAN KEBUDAYAAN DI BANYUWANGI M. Hadi Makmur dan Ahmad Taufiq FISIP Universitas Jember, Jl. Kalimantan No. 37 Jember Email: [email protected] Abstrak: Tujuan penelitian
Abstract dan Executive Summary LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSAING
Abstract dan Executive Summary LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSAING POLA RELASI AKTOR DAN MODEL KEBIJAKAN PENYELESAIAN KONFLIK TANAH PERKEBUNAN (Studi Kasus Di Kabupaten Jember) Oleh: Muhammad Hadi Makmur,
ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HIBAH BERSAING
ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HIBAH BERSAING MODEL PENGEMBANGAN PERAN LEMBAGA SOSIAL DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT SUKU USING BERBASIS KEARIFAN LOKAL Ketua/Anggota Peneliti: Dra.
PERAN KEPALA DESA SEBAGAI ADMINISTRATOR PEMBANGUNAN DI DESA MONCONGLOE KECAMATAN MONCONGLOE KABUPATEN MAROS
PERAN KEPALA DESA SEBAGAI ADMINISTRATOR PEMBANGUNAN DI DESA MONCONGLOE KECAMATAN MONCONGLOE KABUPATEN MAROS Sirajuddin Saleh, & Hariati Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar ABSTRAK Penelitian
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Hingga saat ini, relasi antara Pemerintah Daerah, perusahaan dan masyarakat (state, capital, society) masih belum menunjukkan pemahaman yang sama tentang bagaimana program CSR
(
Model Akuntabilitas Zonasi Pasar Modern-Tradisonal Untuk Pertumbuhan Ekonomi Daerah Berbasis Dynamic Policy Analysis Dr. Achmad Toha, M.Si 1, Drs. Boedijono, M.Si 2 F I S I P (Email: [email protected])
Eksplorasi Karakteristik Pembangunan Ekonomi Desa Melalui Unsur-Unsur Budaya Universal di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang
Eksplorasi Karakteristik Pembangunan Ekonomi Desa Melalui Unsur-Unsur Budaya Universal di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Endro Pebi Trilaksono Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang
ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY
613 / ILMU HUMANIORA ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY HIBAH KOMPETENSI KESENIAN TRADISI: KEBIJAKAN KEBUDAYAAN DAN REVITALISASI SENI TRADISI MELALUI PENINGKATAN KEINOVASIAN DAN INDUSTRI KREATIF BERBASIS LOKALITAS
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU
Salinan NO : 15/LD/2013 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 15 TAHUN 2013 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 15 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 15 TAHUN 2013 PERATURAN
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. primer dan sekunder yang berbeda (R.M. Soedarsono, 2001: 170).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seni pertunjukan dan kehidupan berkesenian pada umumnya merupakan salah satu perilaku budaya manusia, baik secara individu maupun sebagai sebuah kelompok masyarakat.
BAB V PENUTUP. Universitas Indonesia. Jember fashion..., Raudlatul Jannah, FISIP UI, 2010.
yang hampir 10 tahun berlangsung di Kota Jember. Pada bab selanjutnya akan dijelaskan kesimpulan penelitian ini secara menyeluruh, implikasi teoritis dan rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian ini.
BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Musik dangdut merupakan sebuah genre musik yang mengalami dinamika di setiap jamannya. Genre musik ini digemari oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Berkembangnya dangdut
MODEL KARAKTERISTIK DESA WISATA USING MELALUI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DAN REVITALISASI BUDAYA DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN DESA
ABSTRAK/EKSEKUTIF SUMMARY HIBAH BERSAING JUDUL MODEL KARAKTERISTIK DESA WISATA USING MELALUI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DAN REVITALISASI BUDAYA DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN DESA Tahun ke 2 dari rencana
Rumusan Isu Strategis dalam Draft RAN Kepemudaan PUSKAMUDA
Rumusan Isu Strategis dalam Draft RAN Kepemudaan 2016 2019 PUSKAMUDA Isu Strategis dalam Kerangka Strategi Kebijakan 1. Penyadaran Pemuda Nasionalisme Bina Mental Spiritual Pelestarian Budaya Partisipasi
PROFIL DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ACEH
PROFIL DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ACEH Nama Instansi : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Alamat : Jalan Tgk. Chik Kuta Karang No.03 Banda Aceh Kode Pos 23121 Telp : (+62 651) 26206, 23692, Fax
DINA YULIANA. dalam pemberdayaan perempuan oleh BPP melalui KWT Mekar Asri di Dusun Mekar
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN OLEH BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) MELALUI KELOMPOK WANITA TANI (KWT) MEKAR ASRI DI DUSUN MEKAR MUKTI DESA PASIRMUKTI KECAMATAN CINEAM KABUPATEN TASIKMALAYA DINA YULIANA ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN. Budaya merupakan cerminan yang terefleksikan dalam keseharian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Budaya merupakan cerminan yang terefleksikan dalam keseharian masyarakat. Adalah hal yang sangat diharapkan bahwa budaya mesti tumbuh dan terus hidup dalam
KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BUDAYA
KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BUDAYA 1. Latar Belakang Program pelestarian dan pengembangan kebudayaan pada dasarnya dilaksanakan untuk mengetengahkan nilai-nilai kebudayaan guna memperkokoh ketahanan
BAB III METODE PENELITIAN. Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk
51 BAB III METODE PENELITIAN Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Tujuan penelitian yakni yang bersifat penemuan, pembuktian,
17. URUSAN WAJIB KEBUDAYAAN
17. URUSAN WAJIB KEBUDAYAAN A. KEBIJAKAN PROGRAM Kebijakan Program Urusan Wajib Kebudayaan dititikberatkan pada pengembangan seni dan budaya sebagai daya tarik wisata. Hal tersebut didasarkan dengan pertimbangan
LKPJ WALIKOTA SEMARANG AKHIR TAHUN ANGGARAN 2014
LKPJ WALIKOTA SEMARANG TAHUN 2014 4.1.17 URUSAN WAJIB KEBUDAYAAN 4.1.17.1 UMUM Keberadaan seni dan budaya memerlukan pelestarian agar tidak punah, dalam hal ini Pemerintah Kota Semarang melakukan fasilitasi
BAB III METODE PENELITIAN. lapangan yang bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif yaitu suatu penelitian yang
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian field research yaitu penelitian lapangan yang bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif yaitu suatu
BAB I PENDAHULUAN. Ungkapan motivatif dari C.K. Prahalad dan Garry Hamel yang
. BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Ungkapan motivatif dari C.K. Prahalad dan Garry Hamel yang menyatakan bahwa "If you don t learn, you don t change, If you don t change, you will be die, terpampang
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian adalah suatu kegiatan ilmiah yang bertujuan untuk menemukan fakta dengan menggunakan data-data yang dikumpulkan melalui metode-metode
BAB II KAJIAN TEORI. mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Konsep Pariwisata Menurut Suyitno (2001) dalam Tamang (2012) mendefinisikan pariwisata sebagai berikut : a. Bersifat sementara, bahwa dalam jangka waktu pendek pelaku wisata akan
BAB II DESKRIPSI LOKASI OBJEK PENELITIAN. Batang Hari. Candi ini merupakan peninggalan abad ke-11, di mana Kerajaan
BAB II DESKRIPSI LOKASI OBJEK PENELITIAN A. Deskripsi Objek Wisata Candi Muaro Jambi Candi Muaro Jambi terletak di Kabupaten Muaro Jambi, tepatnya di Kecamatan Muaro Sebo, Provinsi Jambi. Lokasi candi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian Field Research, yaitu penelitian lapangan dilakukan oleh peneliti guna mendapatkan informasi
GUBERNUR GORONTALO PERATURAN DAERAH PROVINSI GORONTALO NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN
GUBERNUR GORONTALO PERATURAN DAERAH PROVINSI GORONTALO NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR GORONTALO, Menimbang Mengingat
MEMBANGUN DAN MEMBERDAYAKAN DESA MELALUI UNDANG-UNDANG DESA Oleh : Mardisontori, LLM *
MEMBANGUN DAN MEMBERDAYAKAN DESA MELALUI UNDANG-UNDANG DESA Oleh : Mardisontori, LLM * DPR-RI dan Pemerintah telah menyetujui RUU Desa menjadi Undang- Undang dalam rapat paripurna DPR pada tanggal 18 Desember
BERITA DAERAH KABUPATEN KARAWANG PERATURAN BUPATI KARAWANG
BERITA DAERAH KABUPATEN KARAWANG NO. 32 2011 SERI. E PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR : 32 TAHUN 2010 TENTANG KAMPUNG BUDAYA GERBANG KARAWANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG, Menimbang
BUPATI BALANGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG
1 BUPATI BALANGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN, PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN KESENIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
Internalisasi ASEAN dalam Upaya Penguatan Integrasi Kawasan Abstrak
Internalisasi ASEAN dalam Upaya Penguatan Integrasi Kawasan Abstrak Dengan telah dimulainya ASEAN Community tahun 2015 merupakan sebuah perjalanan baru bagi organisasi ini. Keinginan untuk bisa mempererat
2017, No , Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5067); 3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran
No.727, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENPORA. Bank Musik. PERATURAN MENTERI PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG BANK MUSIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI
PENGARUH KEPEMIMPINAN VISIONER TERHADAP PELAYANAN PRIMA
PENGARUH KEPEMIMPINAN VISIONER TERHADAP PELAYANAN PRIMA Faidi, Sugeng Rusmiwari, Willy Try Hardiyanto Prgram Studi Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Tribhuwana Tunggadewi Email: [email protected]
Pelaksanaan Public Relations... (Tusri Suharyadi)
174 PELAKSANAAN PUBLIC RELATIONS DALAM RANGKA MENINGKATKAN CITRA LEMBAGA DI BALAI TEKNOLOGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Penulis 1: Tusri Suharyadi Penulis 2: Muhyadi Prodi Pendidikan
BAB V KESIMPULAN. transportasi telah membuat fenomena yang sangat menarik dimana terjadi peningkatan
BAB V KESIMPULAN Mencermati perkembangan global dengan kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi telah membuat fenomena yang sangat menarik dimana terjadi peningkatan arus perjalanan manusia yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian dan Pariwisata merupakan dua kegiatan yang saling memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Dalam konteks pariwisata telah menjadi atraksi atau daya tarik wisata
ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HIBAH BERSAING
ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HIBAH BERSAING MODEL PENGEMBANGAN PERAN LEMBAGA SOSIAL DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT SUKU USING BERBASIS KEARIFAN LOKAL Ketua/Anggota Peneliti: Dra.
ABSTRAK PERANCANGAN BOOK DESIGN TATA CARA PERNIKAHAN ADAT YOGYAKARTA. Oleh Wenny Anggraini Natalia NRP
ABSTRAK PERANCANGAN BOOK DESIGN TATA CARA PERNIKAHAN ADAT YOGYAKARTA Oleh Wenny Anggraini Natalia NRP 1364907 Aneka ragam budaya Indonesia, salah satunya adalah tradisi pernikahan Yogyakarta yang dahulu
BAB I PENDAHULUAN. informasi (e-commerce), dan akhirnya ke ekonomi kreatif (creative economy).
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia telah mengalami krisis ekonomi yang menyebabkan jatuhnya perekonomian nasional. Banyak usaha-usaha skala besar pada berbagai sektor termasuk industri, perdagangan,
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan ekonomi yang berorientasi pertumbuhan di masa lalu telah menumbuhkan suatu kesenjangan yang besar, dimana laju pertumbuhan ekonomi tidak seimbang dengan peningkatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pariwisata telah menjadi sektor industri yang sangat pesat dewasa ini, pariwisata sangat berpengaruh besar di dunia sebagai salah satu penyumbang atau membantu
BAB I PENDAHULUAN. potensial bagi kesejahteraan masyarakat ekonomi, sosial dan lingkungan hidup.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hutan bakau merupakan salah satu ekosistem lautan dan pesisir yang sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Dibeberapa
ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY. Pengembangan Seni Pertunjukan Ludruk dan Tayub Jawa Timur-an dalam Perspektif Industri Kreatif
Tema: Seni dan Budaya/Industri Kreatif Kode/Rumpun Ilmu: 613/ Humaniora ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY Pengembangan Seni Pertunjukan Ludruk dan Tayub Jawa Timur-an dalam Perspektif Industri Kreatif Peneliti
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dicapai dalam penelitian ini adalah penulis dapat mengetahui gambaran secara
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang meneliti status sekelompok manusia, suatu kondisi, suatu obyek, suatu pemikiran ataupun suatu peristiwa masa sekarang. Tujuan yang ingin dicapai dalam
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN V.1. Visi Menuju Surabaya Lebih Baik merupakan kata yang memiliki makna strategis dan cerminan aspirasi masyarakat yang ingin perubahan sesuai dengan kebutuhan, keinginan,
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Dari penilitian skripsi yang berjudul Kesenian Tradisional Mak Yong di
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari penilitian skripsi yang berjudul Kesenian Tradisional Mak Yong di Kabupaten Bintan Tahun 1980-2007 diketahui bahwa kesenian Mak Yong merupakan seni pertunjukan
2015 MUSIK IRINGAN TARI TEPULOUT DISANGGAR SENI KITE SUNGAILIAT KABUPATEN BANGKA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pulau Bangka adalah pulau yang terletak di sebelah timur pulau Sumatera, Indonesia dan termasuk ke dalam wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain
BAB I PENDAHULUAN. baru, maka keberadaan seni dan budaya dari masa ke masa juga mengalami
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proyek Di Indonesia seni dan budaya merupakan salah satu media bagi masyarakat maupun perseorangan untuk saling berinteraksi satu sama lain. Dengan adanya arus globalisasi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif berdasarkan judul penelitian yang digunakan yaitu Implementasi Etika Public Relations PT
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. siaran yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi masyarakat dalam memberi
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Stasiun televisi lokal merupakan stasiun yang mempunyai batasan ruang siar yang berskala daerah. Produk nyata yang dihasilkan adalah sebuah program siaran yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kasus Proyek
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.1.1 Kasus Proyek Perkembangan globalisasi telah memberikan dampak kesegala bidang, tidak terkecuali pengembangan potensi pariwisata suatu kawasan maupun kota. Pengembangan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus pada kota Surakarta mengenai implementasi City Branding Kota Solo untuk menjamin keberlangsungan slogan The
BAB III METODE PENELITIAN. gunakan ialah pendekatan penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan penelitian berisikan uraian tentang pendekatan penelitian yang dipilih oleh peneliti, 46 dan dalam penelitian ini pendekatan yang
BAB I PENDAHULUAN. (http://kbbi.web.id/jilbab). Pada zaman orde baru pemerintah melarang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia sehingga banyak ditemui perempuan muslim Indonesia menggunakan jilbab,
Bab I Pendahuluan. 1 Ratih Purbasari_
Bab I Pendahuluan I.1. Latar Belakang Pengembangan kreativitas sebagai usaha yang mendukung peningkatan inovasi baik untuk suatu produk maupun jasa harus senantiasa terus dilakukan. Hal ini salah satunya
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian yang terdapat di dalam skripsi ini adalah penelitian field research yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik
BAB I PENDAHULUAN. dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan, kepercayaan kepada leluhur
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desa Adat Kuta sebagaimana desa adat lainnya di Bali, merupakan suatu lembaga adat yang secara tradisi memiliki peran dalam mengorganisasi masyarakat dan menyelenggarakan
Nyoman Kutha Ratna, Metodologi Penelitian: Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora pada Umumnya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar) 2010, hlm. 84.
BAB III METODE PENELITIAN Metode berasal dari kata methodos, bahasa Latin, sedangkan methodos itu sendiri berasal dari akar kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah, sedangkan
Iin Maulina 1, Sutrisno 2. Program Studi PG-PAUD, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Pontianak
EXPERIENTIAL LEARNING MELALUI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN MASYARAKAT DI SKB KOTA PONTIANAK (Studi Pada Ibu-Ibu Rumah Susun, Peserta PKM Wilayah Jeruju Pontianak Barat) Iin Maulina 1, Sutrisno 2 Program Studi
penutup, dan melengkapi data-data yang sudah di
A. Desain Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Desain penelitian adalah suatu proses berurutan yang memberikan gambaran keseluruhan dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengumpulan data, analisis serta
BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi yang ditandai dengan tidak adanya batas-batas negara (
1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Era globalisasi yang ditandai dengan tidak adanya batas-batas negara ( boundary-less world) memberikan peluang sekaligus tantangan bagi seluruh negara.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Nazir (1986) dalam Husain (2013: 159) pendekatan kualitatif
51 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Nazir (1986) dalam Husain (2013: 159) pendekatan kualitatif
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. ini berkaitan dengan proses, prinsip dan prosedur penelitian.
68 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi, dalam pengertian luas mengacu kepada pengertian yang menyangkut proses, prinsip dan prosedur yang dipergunakan untuk mendekati masalah dan mencari jawabannya.
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Jember fashion..., Raudlatul Jannah, FISIP UI, 2010.
BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan 7 sub bab antara lain latar belakang penelitian yang menjelaskan mengapa mengangkat tema JFC, Identitas Kota Jember dan diskursus masyarakat jaringan. Tujuan penelitian
BAB I PENDAHULUAN. peranan pariwisata dalam pembangunan ekonomi di berbagai negarad, pariwisata
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pariwisata telah menjadi salah satu industri terbesar di dunia dan merupakan andalan utama dalam menghasilkan devisa di berbagai negara. Dengan pentingnya peranan pariwisata
PENGEMBANGAN KAWASAN GUA SUNYARAGI SEBAGAI TAMAN WISATA BUDAYA DI CIREBON
LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR (LP3A) PENGEMBANGAN KAWASAN GUA SUNYARAGI SEBAGAI TAMAN WISATA BUDAYA DI CIREBON Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh Gelar
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dalam memandang suatu realitas/fenomena/gejala.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Paradigma Penelitian Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini yaitu paradigma postpositifisme. Menurut Sugiyono 1 paradigma post-positifisme merupakan pandangan
KARAKTER KREATIFITAS DAN KEMANDIRIAN PADA SISWA
KARAKTER KREATIFITAS DAN KEMANDIRIAN PADA SISWA (Studi Kasus Pada Proses Pembelajaran Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan Pada Siswa Kelas XI Di SMA Negeri 8 Surakara) NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Dalam kegiatan rebranding Dhea Bordir, peneliti berusaha menganalisa dan menemukan informasi sebagai jalan keluar untuk permasalahan yang ada dengan pendekatan
BAB III METODE PENELITIAN. Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi.
34 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Dalam Penelitian ini peneliti mengambil lokasi penelitian di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Pemilihan tempat ini karena masyarakat
BAB IV KESIMPULAN. merupakan suatu bentuk penghormatan kepada nenek moyang masyarakat Suku
74 BAB IV KESIMPULAN KESIMPULAN Dalam perkembangan dunia pariwisata di Indonesia, tradisi yang lakukan oleh masyarakat Suku Dayak Kenyah di Desa Budaya Pampang merupakan potensi besar yang dapat dikenalkan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan ini mengunakan pendekatan naturalistis atau penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif mengungkapkan data deskriptif. Menurut Bogdan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang merupakan daerah yang memiliki potensi budaya yang masih berkembang secara optimal. Keanekaragaman budaya mencerminkan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat setempat
BAB IV. Kesimpulan. positif terhadap pulau Bali seperti yang telah di paparkan di atas, telah dikaji
82 BAB IV Kesimpulan Komersialisasi seni pertunjukan yang menurut para tokoh sosiologis maupun antropologis yang lebih menekankan bahwa komersialisasi seni pertunjukan di Bali telah memberikan banyak dampak
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Jumlah Wisatawan Yogyakarta. Tahun Wisatawan Lokal Wisatawan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pengadaan Proyek Budaya lokal suatu daerah dapat mengangkat citra serta identitas daerah tersebut ke tingkat yang lebih tinggi yaitu ke tingkat nasional maupun internasional.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Metode merupakan suatu hal yang sangat penting, karena salah satu upaya ilmiah yang menyangkut cara kerja untuk dapat memahami dan mengkritisi
PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG BERBAHASA DAN BERPAKAIAN MELAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG BERBAHASA DAN BERPAKAIAN MELAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara
Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi-FIS UNM
PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP RPP GURU DALAM MENGAJAR DI SMA NEGERI 1 MALLUSETASI (STUDI KASUS PADA GURU DI SMA NEGERI 1 MALLUSETASI KABUPATEN BARRU) Saldy Ramlan Pendidikan Sosiologi FIS-UNM ABSTRAK Penelitian
BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG BADAN PROMOSI PARIWISATA KABUPATEN BANYUWANGI
1 BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG BADAN PROMOSI PARIWISATA KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI, Menimbang : bahwa
BAB I PENDAHULUAN. untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepariwisataan saat ini menjadi fokus utama yang sangat ramai dibicarakan masyarakat karena dengan mengembangkan sektor pariwisata maka pengaruh pembangunan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Metode berasal dari kata methodos, bahasa Latin, sedangkan methodos itu sendiri berasal dari akar kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah, sedangkan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengumpulkan data dan menganalisis data yang diperlukan dalam penelitian.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis dan Metode Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, karena topik yang diangkat perlu eksplorasi secara mendalam tentang Sistem Pengendalian
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Metodologi kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan keadaan tertentu, yaitu untuk menghasilkan penelitian yang ilmiah dan memiliki
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Penelitian adalah suatu proses pengumpulan yang sistematis dan analisa yang logis terhadap informasi (data) untuk tujuan tertentu. Sedangkan, metode penelitian (seringkali disebut
PENGGUNAAN METODE INKUIRI DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DI KELAS V SEKOLAH DASAR
PENGGUNAAN METODE INKUIRI DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DI KELAS V SEKOLAH DASAR Dwi Ari Istianto 1, Triyono 2, Kartika Chrysti Suryandari 3 PGSD FKIP Universitas Negeri Sebelas Maret, Jl.
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi dalam RPJMD Kabupaten Cilacap 2012 2017 dirumuskan dengan mengacu kepada visi Bupati terpilih Kabupaten Cilacap periode 2012 2017 yakni Bekerja dan Berkarya
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian 1. Metode Penelitian Ketepatan dalam menggunakan metode penelitian merupakan cara atau alat untuk mencapai keberhasilan sebuah penelitian. Metode
