BAB II KAJIAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Perairan Pulau Biawak Pulau Biawak merupakan salah satu pulau kecil yang terletak di Laut Jawa sebelah utara dari Kabupaten Indramayu. Pulau Biawak sendiri adalah satu dari tiga pulau yang terdapat dalam Kawasan Konservasi Daerah Pulau Biawak. Selain Pulau biawak terdapat pula Pulau Gosong dan Pulau Candikian. Secara administratif Pulau Biawak termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Indramayu yang memiliki luas daerah ±120 Ha dengan letak geografis LS dan BT (Dirjen KP3K 2012). Batas dari kawasan konservasi laut Pulau Biawak seperti tercantum dalam Perda kabupaten Indramayu No. 14 tahun 2006 adalah sejauh 4 mil yang diukur dari garis batas pangkal pulau-pulau terluar dalam wilayah kabupaten Indramayu. Sedangkan untuk Kabupaten Indramayu sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Subang, sebelah timur dengan Kabupaten Cirebon, sebelah utara dengan Laut Jawa, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sumedang, Majalengka, dan Cirebon. Jarak dari Kabupaten Indramayu menuju Pulau Biawak sekitar 26 mil (±50 km) (Pemkab Indramayu 2006). Secara umum karakteristik kondisi perairan di Pulau Biawak memiliki arus yang cukup tinggi yang dipengaruhi oleh angin barat dan angin timur dengan kecepatan mencapai 5-10 m/detik. Untuk pasang surut berdasarkan pendapat Dahuri (1996) dalam Dirjen KP3K (2012) menyatakan bahwa karakteristik pasang surut Cirebon dan sekitarnya memiliki tipe campuran, dengan tinggi air pasang surut di pantai adalah 0,5 0,7 meter dan gelombang laut musiman sangat mempengaruhi gelombang laut di Pulau Biawak seperti musim barat dan musim timur serta musim peralihan. Gelombang laut bisa mencapai ketinggian rata-rata 0,5 0,8 meter. Menurut Pramesti (2011) kecepatan arus di Pulau biawak tergolong arus lemah hingga sedang, sedangkan suhu perairan pada bulan Juli berkisar antara 30ºC - 32ºC dan salinitas air laut berkisar ppt (Purba dkk. 2012). 7

2 8 2.2 Budidaya Laut Budidaya laut merupakan salah satu sub bagian dari budidaya perairan (aquaculture). Budidaya perairan sendiri merupakan suatu usaha atau cara-cara untuk menernakkan spesies-spesies hewan dan tumbuh-tumbuhan perairan tertentu pada kondisi yang terkendali sebagai usaha untuk meningkatkan jumlah pangan yang tersedia untuk manusia di samping dari hasil perikanan tangkap. Hanya saja budidaya laut hanya berfokus pada spesies hewan atau tumbuhan yang berada atau berhabitat di laut (Nybakken 1992). Dalam melakukan kegitan budidaya laut terdapat beberapa metode yang digunakan tergantung pada jenis kultivan apa yang akan dibudidaya. Karamba Jaring Apung (KJA) digunakan untuk budidaya ikan kerapu, kurungan pagar jaringan digunakan untuk budidaya teripang, dan metode lepas dasar untuk budidaya rumput laut. KJA merupakan salah satu metode yang cukup ideal digunakan untuk budidaya ikan kerapu karena dapat ditempatkan di perairan yang cukup dalam. Satu konstruksi KJA terdiri dari jangkar, karamba, dan rumah jaga. KJA dapat memelihara berbagai jenis dan ukuran ikan (Ghufron dan Kordi 2005). Kurungan pagar jaringan yang digunakan untuk budidaya teripang dikarenakan kultivan ini merupakan hewan yang hidup didasar laut. Metode ini dapat membuat teripang tidak dapat lolos melalui dasar perairan (Martoyo dkk 2007). Metode lepas dasar merupakan salah satu metode yang cukup ideal untuk budidaya rumput laut untuk daerah perairan pantai atau daerah yang memiliki terumbu karang yang dangkal. Kedalam perairan biasanya kurang dari 1,5 meter (Irstiyanto 2003) Pemilihan lokasi merupakan faktor terpenting dalam suatu kegiatan budidaya. Dalam pemilihan lokasi tidak terlepas dari aspek bioteknis dan non teknis dimana aspek bioteknis mencakup parameter ekosistem perairan yang berperan sebagai daya dukung lingkungan sedangkan aspek non teknis berupa aksesibilitas dan sosial-ekonomi. Aspek bioteknis dalam pemilihan lokasi untuk budidaya laut menurut Kangkan (2006) adalah sebagai berikut :

3 Parameter Fisika a) Kedalaman Perairan Kedalaman perairan merupakan jarak antara permukaan laut sampai ke dasar laut. Menurut Brotowidjoyo dkk (1995) kedalaman suatu perairan berpengaruh terhadap distribusi ikan dan penetrasi cahaya yang diterima. Masingmasing oerganisme dilaut memiliki kedalaman ideal untuk dapat hidup dengan baik. Kedalaman perairan juga mempengaruhi kecepatan arus dari suatu lokasi dimana menurut Odum (1979) dalam Kangkan (2006) dijelaskan bahwa kecepatan relatif cukup besar pada perairan yang dangkal sedangkan pada perairan yang cukup dalam kecepatan arus relatif lebih kecil. Pada kegiatan budidaya kedalaman perairan lebih berperan dalam penentuan metode budidaya yang akan dikembangkan. Rumput laut membutuhkan perairan yang tidak terlalu dalam jika dibandingkan dengan budidaya ikan kerapu (Kangkan 2006). b) Suhu Perairan Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, dan kedalaman perairan (Effendi 2003). Suhu merupakan salah satu faktor pembatas dalam perkembangan atau pertumbuhan suatu organisme. Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu (batas atas dan bawah) yang disukai bagi pertumbuhannya (Effendi 2003). Selanjutnya, suhu perairan dapat mempengaruhi kehidupan biota air secara tidak langsung, yaitu terhadap kelarutan oksigen dalam perairan karena semakin tinggi suhu maka semakin rendah daya larut oksigen dalam air. c) Material Dasar perairan Material dasar perairan atau substrat dasar merupakan sedimen yang terendapkan di dasar laut. Sedimen dasar laut terbagi menjadi 4 jenis berdasarkan asal usul sedimennya yaitu 1) Lithogenous dimana jenis sedimen ini berasal dari pelapukan batuan di daratan yang terbawa oleh drainase air sungai memasuki laut; 2) Biogenous merupakan sedimen yang berasal dari organisme laut yang telah mati; 3) Hydrogenous merupakan sedimen yang berasal dari dekomposisi

4 10 kimia yang larut dalam air laut dengan konsentrasi yang kelewat jenuh sehingga terjadi pengendapan di dasar laut; 4) Cosmogenous merupakan sedimen yang berasal dari luar angkasa dimana partikel-partikel benda angkasa ditemukan di dasar laut (Wibisono 2005). Menurut Kangkan (2006) substrat dasar berpengaruh terhadap hewan yang tumbuh di dasar suatu perairan. Selain itu jenis dan ukuran substrat juga berpengaruh terhadap kandungan bahan organik dan distribusi bentos. Kemampuan substrat dalam menjebak bahan organik lebih tinggi pada substrat yang memiliki tekstur halus (Nybakken 1992). Substrat yang cocok untuk budidaya rumput laut adalah yang stabil terdiri dari patahan karang mati (pecahan karang) dan pasir kasar serta bebas dari lumpur (Ditjenkan Budidaya 2004). Dalam budidaya teripang sebaiknya dasar perairannya landai serta terdiri dari pasir dan pecahan karang, berlumpur, dan banyak ditumbuhi lamun serta rumput laut (Martoyo dkk 2005). Ikan kerapu dengan sistem KJA sebaiknya substrat dasar berupa pasir, pasir berlumpur, pasir berbatu agar mudah dalam instalasi (Ghufron dan Kordi 2005). d) Arus Arus laut secara umum diartikan sebagai gerakan massa air laut ke arah horizontal dalam skala besar (Wibisono 2005). Arus laut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kecepatan angin, morfologi dasar laut, gaya coriolis, dan perbedaan densitas. Menurut Ghufron dan kordi (2005) arus air sangat membantu dalam proses pertukaran air dalam karamba jaring apung. Arus memiliki pengaruh positif dan negatif bagi budidaya laut. Pengaruh positif adalah arus membawa suplai makanan alami seperti plankton, membawa oksigen terlarut, dan pembuangan sisa-sisa metabolisme biota laut (Gufron dan Kordi, 2005). Pengaruh negatifnya adalah dapat mengaduk substrat dasar yang mengakibatkan kekeruhan sehingga menghambat fotosintesis (Beverige 1987, Romimohtarto 2003 dalam Kangkan 2006).

5 11 e) Kecerahan Perairan Kecerahan dari suatu perairan berpengaruh terhadap intensitas cahaya yang diterima oleh perairan tersebut. Menurut Brotowidjoyo dkk 1995 cahaya merupakan salah satu faktor terpenting dalam kehidupan ikan, yaitu : dalam penangkapan mangsa, dalam tingkah laku reproduksi, dalam orientasi migrasi, serta pola pertumbuhannya. Dengan diketahuinya kecerahan suatu perairan maka dapat diketahui juga sampai sejauh mana terjadi proses asimilasi dalam air. Sehingga lapisan-lapisan air tersebut dapat diketahui mana yang tidak keruh, agak keruh, dan sangat keruh. Air yang terlalu keruh dan juga terlalu jernih tidak bagus untuk kehidupan biota budidaya (Ghufron dan Kordi 2007). Cahaya merupakan sumber energi utama dalam ekosistem perairan. Di perairan, cahaya memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mempengaruhi perubahan suhu karena panasnya dalam air dan sumber energy dalam proses fotosintesis algae dan tumbuhan air (Jeffries dan Mills 1996 dalam Effendi 2003). Selain itu cahaya sangat mempengaruhi tingkah laku dari organisme akuatik. Fitoplankton dan rumput laut membutuhkan cahaya matahari untuk berfotosintesis. f) Gelombang Laut Gelombang merupakan salah satu dari fenomena di lautan yang dapat di lihat secara langsung dan dapat langsung dirasakan. Gelombang laut adalah gerakan dari setiap partikel air laut yang berupa gerakan longitudinal dan orbital secara bersamaan disebabkan oleh transmisi energi serta waktu (momentum) dalam artian impuls vibrasi melalui berbagai ragam bentuk materi (Wibisono 2005). Gelombang laut sangat berpengaruh terhadap kelarutan oksigen, dimana dengan adanya gelombang laut dapat mempermudah kelarutan oksigen yang sangat penting bagi kehidupan biota laut (Wibisono 2005). Menurut Brotowidjoyo dkk (1995) Gelombang laut sangat di pengaruhi oleh angin. Bila gelombang memasuki daerah yang tidak berangin, gelombang akan bergerak lebih teratur. Besarnya gelombang dan kecepatannya itu tergantung dengan kecepatan angin yang mempengaruhinya. Gelombang yang terlalu besar dan berlangsung secara terus menerus tidak bagus dalam kegiatan budidaya

6 12 karena dapat menyebabkan stres pada ikan yang dibudidaya, selain itu gelombang yang terlalu besar akan mudah merusak konstruksi budidaya (Ghufron dan Kordi 2005). g) Pasang Surut Pasang surut yakni suatu pergerakan vertikal dari seluruh partikel massa air laut dari permukaan sampai bagian terdalam dari dasar laut yang disebabkan oleh gaya tarik menarik antara bumi dengan benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan. Pasang surut salah satu gejala alam yang nyata nampak di laut. Gaya tarik menarik antara bumi dan bulan lebih besar pengaruhnya daripada gaya tarik menarik bumi dengan matahari, karena jarak bulan yang lebih dekat dengan bumi jika dibandingkan dengan matahari (Wibisono 2005). Pasang surut disebabkan oleh gerakan bulan mengelilingi bumi, dan juga gerakan matahari serta rotasi bumi walaupun pengaruhnya kecil ( Brotowidjoyo dkk 1995). Menurut Wibisono (2005) pasang surut dibagi atas 3 jenis (tipe) pokok, yakni sebagai berikut : 1. Pasang surut tipe Harian Tunggal (diurnal type) : yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat satu kali pasang dan 1 kali surut. 2. Pasang surut tipe Harian Ganda (semi diurnal type) : yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat 2 kali pasang dan 2 kali surut. 3. Pasang surut tipe campuran : yakni bila dalam waktu 24 jam terdapat bentuk campuran yang condong ke tipe harian tunggal atau condong ke tipe harian ganda. Pasang surut sangat berpengaruh terhadap terhadap segala kegiatan yang akan dilakukan diperairan. Jenis pasang surut juga mempengaruhi pembuangan pencemar suatu perairan, dimana jika suatu perairan memiliki jenis Harian Tunggal maka jika terjadi pencemaran dalam waktu 24 jam diharapkan akan tersapu bersih dari lokasi, namun pencemar akan berpindah ke lokasi lain, sedangkan jika memiliki jenis tipe Harian Ganda atau campuran condong Harian Ganda, maka pencemar tidak akan segera tergelontor keluar (Wibisono 2005).

7 Parameter Kimia a) Derajat Keasaman (ph) Derajat keasaman adalah satuan yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Menurut Brotowidjoyo dkk (1995) ph air lautan biasanya memiliki nilai yang berkisar antara 7,6-8,6 dan mengandung ion HCO 3-. Pengukuran ph sulit dilakuka karena sangat bergantung pada suhu dan salinitas. Bila suhu meningkat maka akan merubah konstanta dissosiasi H 2 CO 3 yang mengakibatkan ph turun dan kadar oksigen juga turun. Nilai ph mempengaruhi proses biokimia perairan seperti proses nitrifikasi akan berakhir jika ph rendah (Effendi 2003). Berikut ini adalah tabel pengaruh ph terhadap biologi perairan dalam Effendi (2003) : Tabel 1. Pengaruh ph Terhadap Komunitas Biologi Perairan Nilai ph Pengaruh Umum 1. Keanekaragaman plankton dan bentos sedikit menurun. 6,0 6,5 2. Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas tidak mengalami perubahan. 1. Penurunan nilai keanekaragaman plankton dan bentos semakin tampak. 5,5 6,0 2. Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas masih belum mengalami perubahan yang berarti. 3. Algae hijau berfilamen mulai tampak pada zona litoral. 1. Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifiton, dan bentos semakin besar. 2. Terjadi penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan 5,0 5,5 bentos 3. Algae hijau berfilamen semakin banyak. 4. Proses nitrifikasi terhambat. 1. Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifiton, dan bentos semakin besar. 4,5 5,0 2. Penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan bentos. 3. Algae hijau berfilamen semakin banyak. 4. Proses nitrifikasi terhambat. Sumber : Modifikasi Baker et al., 1990 dalam Novotny dan Olem, b) Oksigen Terlarut Kandungan oksigen air laut dalam kondisi normal tidak mengganggu ikan, sebab kandungan oksigen itu secara relatif bervariasi dalam batas-batas yang

8 14 sangat sempit (Brotowidjoyo dkk 1995). Menurut Wibisono (2005) oksigen terlarut berasal dari dua sumber utama yaitu atmosfer dan hasil dari fotosintesis fitoplankton yang berjenis tanaman laut. Oksigen sendiri merupakan salah satu faktor pembatas sehingga jika ketersediannya didalam air tidak mencukupi maka akan menghambat segala aktifitas biota yang dibudidaya (Ghufron dan Kordi 2009). Ketersediaan dari oksigen dalam perairan dibutuhkan oleh ikan agar dapat membakar bahan makanan untuk menjadikan energi agar aktivitas dari organisme tersebut tidak terganggu (Ghufron dan Kordi 2005). Teripang membutuhkan oksigen terlarut agar dapat tumbuh optimal pada kadar 4 8 ppm (Martoyo dkk 2007). Berikut ini merupakan tabel pengaruh kandungan oksigen terlarut dalam Effendi (2003). Tabel 2. Kadar Oksigen Terlarut dan Pengaruhnya terhadap Kelangsungan Hidup Ikan Kadar Oksigen Terlarut(mg/liter) Pengaruh Terhadap Kelangsungan Hidup Ikan < 0,3 Hanya sedikit jenis ikan yang yang dapat bertahan pada masa pemaparan singkat (short exposure). 0,3 1,0 Pemaparan lama (prolonged exposure) dapat mengakibatkan kematian ikan. 1,0 5,0 Ikan dapat bertahan hidup, tetapi pertumbuhannya terganggu. >5,0 Hampir semua organisme akuatik menyukai kondisi in. Sumber : Modifikasi Swingle dalam Boyd, c) Fosfat Fosfat merupakan salah satu parameter yang menentukan nilai kesuburan suatu perairan (Wibisono 2005). Dalam perairan, unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen, melainkan dalam bentuk senyawa organik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat (Effendi 2003). Berdasarkan kadar fosfat total, perairan diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu : perairan dengan tingkat kesuburan rendah kadar fosfat total berkisar antara 0 0,02 mg/liter, perairan dengan tingkat kesuburan sedang kadar fosfat total berkisar 0,021 0,05 mg/liter, dan perairan dengan tingkat kesuburan

9 15 tinggi kadar fosfat total 0,051 0,1 mg/liter (Yoshimura dalam Liaw 1969 dalam Effendi 2003). d) Nitrat Nitrat bersama dengan fosfat merupakan parameter yang menggambarkan kesuburan dari suatu perairan (Wibisono 2005). Kadar oksigen sangat mempengaruhi nitrat di perairan dimana jika kadar oksigen mencukupi ammonia akan dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat. Akibatnya, kadar ammonia berkurang sebaliknya kadar nitrat dan nitrit meningkat (Effendi 2003). Kandungan nitrat dalam kondisi berkecukupan biasanya berada pada kisaran 0,01 0,7 mg/liter (Joshimura dalam Wardoyo 1978 dalam BPP-PSPL Universitas Riau 2009). e) Salinitas Perairan Salinitas adalah konsentrasi seluruh larutan garam yang diperoleh dalam air laut (Ghufron dkk 2007). Salinitas merupakan suatu penggambaran padatan total di dalam air, setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida selain itu bromida dan iodida digaantikan oleh klorida dan semua bahan organik telah telah dioksidasi (Effendi 2003). Menurut Brotowidjoyo dkk (1995) salinitas berpengaruh terhadap reproduksi, distribusi, dan lama hidup dari ikan. Variasi salinitas jauh dari pantai atau laut lepas relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan variasi salinitas yang berada dekat pantai. Hal ini disebabkan daerah yang dekat dengan pantai banyak terpengaruh oleh daratan misalnya saja masukkan air tawar dari sungai Parameter Biologi a) Plankton Plankton adalah suatu golongan jasad hidup akuatik berukuran mikroskopik, biasanya berenang atau tersuspensi dalam air, tidak bergerak atau hanya bergerak sedikit untuk melawan/mengikuti arus (Wibisono 2005). Plankton dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu : fitoplankton terdiri dari tumbuhan laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut serta mampu berfotosintesis dan zooplankton adalah hewan-hewan laut yang bersifat planktonik (Nybakken 1992).

10 16 Plankton mempunyai peranan pening dalam kehidupan di laut, karena peranan plankton sebagai pengikat awal energi matahari (Nybakken 1992). Menurut Odum (1979) dalam Kangkan (2006) menyatakan bahwa fitoplankton merupakan pakan alami yang memilki peran ganda, yakni sebagai penyangga dalam kualitas air dan sebagai dasar dalam rantai makanan di perairan. b) Klorofil-a Kangkan 2006 menyatakan bahwa plankton memiliki pigmen lengkap mulai dari klorofil-a, Klorofil-b, dan klorofil-c sehingga kadang plankton diberi nama berdasarkan pada warnanya. Fitoplangkton menggunakan klorofil untuk mensintesis substansi organis, menggunakan energi dari sinar matahari melalui proses fotosintesis (Brotowidjoyo dkk 1995). Pigmen klorofil-a merupakan pigmen yang paling besar jika dibandingkan dengan klorofil-b atau klorofil-c (Kangkan 2006). Klorofil-a merupakan salah satu parameter dalam penentuan tingkat kesuburan dari suatu perairan (Effendi 2003). Menurut Akbulut (2003) dalam Kangkan (2006) hubungan antara fitoplankton dan klorofil mempunyai nilai positif. 2.3 Pengenalan Kultivan Pada penelitian yang akan dilakukan penentuan lokasi budidaya didasarkan pada tiga kultivan, yaitu : 1. Rumput Laut Rumput laut (seaweed) adalah algae (ganggang) makroskopis yang hidup di dasar laut menempel pada benda-benda padat, seperti batu, karang mati, ataupun rumput laut lainnya. Rumput laut juga hidup di daerah pasang surut hinnga kedalaman tertentu dimana sinar matahari masih dapat menembusnya. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam menghasilkan rumput laut karena perairannya yang luas dan kondisi pantai yang terbilang masih bagus. Rumput laut atau ganggang merupakan tumbuhan tingkat rendah karena tanaman ini tidak memiliki akar, batang, dan daun. Dalam mengklasifikasikan ganggang berdasarkan pada warnanya, yaitu : ganggang hijau (Chlorophyceae), ganggang

11 17 biru hijau (Cyanophyceae), ganggang cokelat (Phaeophyceae), dan ganggang merah (Rhodophyceae) (Gambar 2) (Irstiyanto, 2003). Gambar 2. Rumput Laut Kering (Sumber : Irstiyanto (2003) menyebutkan manfaat dari rumput laut antara lain sebagai berikut : a. Sebagai bahan makanan b. Sebagai bahan indutri pada bidang kosmetika, farmasi, dan industry makanan. 2. Ikan Kerapu Ikan kerapu merupakan salah satu jenis ikan karang dimana penyebarannya dikaitkan atau identik dengan penyebaran terumbu karang. Namun, ada juga penyebaran ikan kerapu yang dekat dengan pantai ataupun muara sungai. Ikan kerapu termasuk kedalam komoditas ekspor yang bernilai cukup tinggi. Ikan kerapu tersebar cukup luas didaerah tropic maupun sub tropika. Diperkirakan ada sekitar 46 jenis atau spesies dari ikan kerapu yang hidup di berbagai tipe habitat. Murtidjo (2002) menjelaskan beberapa jenis ikan kerapu yang memiliki nilai ekonomis tinggi, yaitu : a. Ikan kerapu bebek (Chromileptes altivelis). Ikan ini memiliki badan yang lonjong dan agak gepeng serta warna dasar tubuh abu-abu dengan bintikbintik hitam berukuran cukup besar dan terbatas jumlahnya. Bagian atas berwarna merah sawo matang dan bagian bawah keputihan. Pada seluruh badan terdapat noda-noda berwarna cokelat tua yang menyebar secara merata (Gambar 3a).

12 18 b. Ikan kerapu lumpur (Epinephelus tauvina). Ikan ini memiliki bentuk badan yang gepeng memanjang dengan warna dasar tubuh sawo matang pada bagian bawah agak keputihan. Selain itu terdapat garis melintang menyerupai pita yang berwarna gelap (Gambar 3b). c. Ikan kerapu sunu/sonoh (Plectropomus maculates). Ikan ini memiliki bentuk tubuh agak gepeng dan memanjang dengan warna badan cokelat atau merah dengan noda berwarna biru yan berukuran tidak seragam. Pada tubuhnya memiliki 6 garis menyerupai pita berwarna gelap yang melintang pada badannya (Gambar 3c). d. Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscogutattus). Ikan kerapu ini memiliki ciri-ciri yang hampir serupa dengan ikan kerapu lumpur. Ukuran tubuh lebih tinggi dengan noda-noda tubuhnya yang berwarna lebih gelap dan lebih rapat. Ikan kerapu macan seluruh tubuhnya berwarna cokelat kemerahan atau merah, termasuk sirip-siripnya (Gambar 3d). e. Ikan kerapu balong (Epinephelus merra). Ikan kerapu ini lebih mudah untuk dikenali karena memiliki ciri yang berbeda dengan yang lainnya seperti mulut yang melebar dan serong ke atas. Bentuk tubuhnya gepeng memanjang dengan warna dasar tubuhnya cokelat muda, dan seluruh tubuh dicirikan dengan adanya noda-noda berbentuk segi enam yang saling berdekatan (Gambar 3e). (a) (b)

13 19 (c) (d) (e) Gambar 3. a) Ikan Kerapu Bebek; b) Ikan Kerapu Lumpur; c) Ikan Kerapu Sunu; d) Ikan Kerapu Macan; e) Ikan Kerapu Balong (Sumber : dan 3. Teripang Teripang merupakan salah satu anggota hewan berduri (Echinodermata). Namun, tidak semua jenis teripang memiliki kulit berduri. Tubuh teripang lunak berdaging, dan berbentuk silindris memanjang seperti buah ketimun. Teripang hidup di dasar laut dengan pergerakan yang sangat lamban. Warna dari teripang bermacam-macam, mulai dari abu-abu, hitam, cokelat, kemerah-merahan, sampai putih (Gambar 4) (Martoyo 2007). Gambar 4. Teripang (Sumber :

14 20 Teripang termasuk jenis hewan dioecious yang berarti hewan jantan terpisah dengan hewan betina. Perkawinan dari teripang biasanya berlangsung secar eksternal atau diluar tubuh. Menurut Martoyo (2007) tidak semua teripang yang ditemukan di perairan Indonesia mempunyai nilai ekonomis penting hanya teripang yang berasal dari family Holothuriidae pada genus Holothuria, Muelleria, dan Stichopus. Teripang dapat ditemukan di seluruh perairan pantai, mulai dari daerah pasang surut yang dangkal sampai perairan yang dalam. Teripang menyukai perairan yang jernih dan air yang relatif tenang. Makanan utama dari teripang adalah detritus, zat organik dalam lumpur, dan plankton. 2.4 Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem yang mempergunakan komputer untuk memasukkan, mengelola, mengedit, dan menyajikan informasi secara geografis. Dengan kata lain, SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk data yang berujuk spasial maupun suatu kumpulan operasi yang bekerja dengan data tersebut (Albertus 2006). Menurut Yousman (2003) Data yang menunjang keberhasilan SIG dapat dipisahkan menjadi dua kelompok yaitu : a. Data spasial, yaitu data yang berhubungan dengan ruang. Bentuk data spasial dibagi ke dalam empat kelompok yaitu: 1. Titik Posisi, dengan format : sepasang koordinat (X,Y) dengan tanpa mempunyai dimensi panjang dan luas (area) 2. Garis, dengan format : kumpulan pasangan-pasangan koordinat yang mempunyai titik awal dan titik akhir serta mempunyai dimensi panjang tapi tidak mempunyai luas. 3. Area (polygon), dengan format : kumpulan pasangan-pasangan koordinat yang mempunyai titik awal dan titik akhir serta mempunyai dimensi panjang dan juga luas. 4. Permukaan (surface), dengan format : area dengan besaran (X,Y,Z), mempunyai dimensi luas, panjang, dan ketinggian.

15 21 b. Data deskriptif, yaitu data baik numeris, tabulasi, dan deskripsi yang mempunyai hubungan dengan data spasialnya. Fungsi dari SIG itu adalah untuk meningkatkan kemampuan menganalisis informasi spasial secara terpadu untuk perancangan dan pengambilan keputusan maupun pemantauan lingkungan. Menurut Albertus (2006) keuntungan dengan adanya SIG cukup banyak. Khusus untuk aplikasi pemetaan, misalnya : 1. Penggunaan data/informasi yang sama atau berlebihan untuk beberapa peta dapat dihilangkan. 2. Pekerjaan revisi menjadi lebih mudah dan cepat. 3. Data lebih terjamin (secure) dan lebih terorganisir dibandingkan dengan cara penyimpanan data konvesional. 4. Data akan jauh lebih mudah dicari, dianalisa, dan disajikan. 5. Pelaksana pekerjaan pemetaan menjadi lebih produktif. 6. Integrasi dan sharing of data dapat dilakukan dengan lebih mudah. Menurut Ariyati dkk (2006) dalam Fatah (2012) SIG merupakan salah satu pilihan dalam penentuan lokasi yang sesuai untuk budidaya laut, SIG dapat menyatukan data-data yang dibutuhkan dengan caya menumpangtindihkan datadata tersebut, sehingga mengahsilkan output baru dalam bentuk peta tematik. Untuk mendapatkan Zonasi kesesuaian untuk budidaya laut, secara umum pemprosesan data menjadi tiga tahap, yaitu : persiapan data, overlay, matching dan scoring (Cornelia dkk 2005 dalam Fatah 2012).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Pulau Biawak merupakan suatu daerah yang memiliki ciri topografi berupa daerah dataran yang luas yang sekitar perairannya di kelilingi oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya perikanan Indonesia termasuk dalam kategori terbesar di dunia karena memiliki wilayah yang sebagian besar berupa perairan. Indonesia memiliki potensi lahan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jatinangor, 22 Juli Haris Pramana. iii

KATA PENGANTAR. Jatinangor, 22 Juli Haris Pramana. iii KATA PENGANTAR Puji dan syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas segala Berkat dan Rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah

Lebih terperinci

V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN

V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN 49 V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN 5.1 Distribusi Parameter Kualitas Perairan Karakteristik suatu perairan dan kualitasnya ditentukan oleh distribusi parameter fisik dan kimia perairan yang berlangsung

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makanan Alami Ikan Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam perkembangbiakan ikan baik ikan air tawar, ikan air payau maupun ikan air laut. Fungsi utama

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013). 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai dingin dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu : 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari mata air, air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran air

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Terumbu adalah serangkaian struktur kapur yang keras dan padat yang berada di dalam atau dekat permukaan air. Sedangkan karang adalah salah satu organisme laut yang tidak

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus - September Tahapan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus - September Tahapan III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus - September 2014. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian terdiri dari peninjauan lokasi penelitian pada

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan sungai Sungai merupakan salah satu dari habitat perairan tawar. Berdasarkan kondisi lingkungannya atau daerah (zona) pada sungai dapat dibedakan menjadi tiga jenis,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Laut Belawan merupakan pelabuhan terbesar di bagian barat Indonesia

TINJAUAN PUSTAKA. Laut Belawan merupakan pelabuhan terbesar di bagian barat Indonesia TINJAUAN PUSTAKA Laut Belawan Laut Belawan merupakan pelabuhan terbesar di bagian barat Indonesia yang berjarak ± 24 km dari kota Medan berhadapan dengan Selat Malaka yang sangat padat lalu lintas kapalnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperkirakan sekitar 25% aneka spesies di dunia berada di Indonesia. Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. diperkirakan sekitar 25% aneka spesies di dunia berada di Indonesia. Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, diperkirakan sekitar 25% aneka spesies di dunia berada di Indonesia. Indonesia memiliki banyak hutan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang s

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang s BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Morotai yang terletak di ujung utara Provinsi Maluku Utara secara geografis berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik di sebelah utara, sebelah selatan berbatasan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air

TINJAUAN PUSTAKA. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air TINJAUAN PUSTAKA Sungai Sungai merupakan suatu bentuk ekositem aquatik yang mempunyai peran penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi daerah di sekitarnya,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan

TINJAUAN PUSTAKA. kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan 17 TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Danau Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponenkomponen biotik dan abiotik yang saling berintegrasi sehingga membentuk satu kesatuan. Di dalam ekosistem

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Tabel 3. Alat-alat Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Tabel 3. Alat-alat Penelitian BAB III METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan November 0 sampai dengan bulan Februari 0. Penelitian terdiri dari dua kegiatan yaitu kegiatan survei di lapangan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Lokasi dan objek penelitian analisis kesesuaian perairan untuk budidaya

III. METODE PENELITIAN. Lokasi dan objek penelitian analisis kesesuaian perairan untuk budidaya III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi dan objek penelitian analisis kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut ini berada di Teluk Cikunyinyi, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Lebih terperinci

BY: Ai Setiadi FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA

BY: Ai Setiadi FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA BY: Ai Setiadi 021202503125002 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA Dalam budidaya ikan ada 3 faktor yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan budidaya, karena hasil

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Sumber oksigen terlarut dalam perairan

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Sumber oksigen terlarut dalam perairan 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme, atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan

Lebih terperinci

MANAJEMEN KUALITAS AIR

MANAJEMEN KUALITAS AIR MANAJEMEN KUALITAS AIR Ai Setiadi 021202503125002 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS SATYA NEGARA INDONESIA Dalam budidaya ikan ada 3 faktor yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan budidaya,

Lebih terperinci

FORMASI SPASIAL PERAIRAN PULAU 3S (SALEMO, SAGARA, SABANGKO) KABUPATEN PANGKEP UNTUK BUDIDAYA LAUT Fathuddin dan Fadly Angriawan ABSTRAK

FORMASI SPASIAL PERAIRAN PULAU 3S (SALEMO, SAGARA, SABANGKO) KABUPATEN PANGKEP UNTUK BUDIDAYA LAUT Fathuddin dan Fadly Angriawan ABSTRAK FORMASI SPASIAL PERAIRAN PULAU 3S (SALEMO, SAGARA, SABANGKO) KABUPATEN PANGKEP UNTUK BUDIDAYA LAUT Fathuddin dan Fadly Angriawan Ilmu Kelautan, Sekolah Tinggi Teknologi Kelautan (STITEK) Balik Diwa Makassar

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Pada dasarnya proses terjadinya danau dapat dikelompokkan menjadi dua

TINJAUAN PUSTAKA. Pada dasarnya proses terjadinya danau dapat dikelompokkan menjadi dua TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Danau Perairan disebut danau apabila perairan itu dalam dengan tepi yang umumnya curam.air danau biasanya bersifat jernih dan keberadaan tumbuhan air terbatas hanya pada daerah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produktivitas Primer Fitoplankton Berdasarkan hasil penelitian di Situ Cileunca didapatkan nilai rata-rata produktivitas primer (PP) fitoplankton pada Tabel 6. Nilai PP

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Perairan Selat Bali

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Perairan Selat Bali 3 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Perairan Selat Bali Selat adalah sebuah wilayah perairan yang menghubungkan dua bagian perairan yang lebih besar, dan karenanya pula biasanya terletak diantara dua

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Pantai Sei Nypah adalah salah satu pantai yang berada di wilayah Desa

TINJAUAN PUSTAKA. Pantai Sei Nypah adalah salah satu pantai yang berada di wilayah Desa TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Lokasi Pantai Sei Nypah adalah salah satu pantai yang berada di wilayah Desa Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Propinsi Sumatera Utara dan merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai. Secara ekologis sungai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai. Secara ekologis sungai 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai merupakan suatu perairan yang airnya berasal dari air tanah dan air hujan, yang mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran tersebut dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Holothuroidea merupakan salah satu kelompok hewan yang berduri atau

BAB I PENDAHULUAN. Holothuroidea merupakan salah satu kelompok hewan yang berduri atau 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Holothuroidea merupakan salah satu kelompok hewan yang berduri atau berbintil yang termasuk dalam filum echinodermata. Holothuroidea biasa disebut timun laut (sea cucumber),

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Kadar Oksigen Terlarut Hasil pengukuran konsentrasi oksigen terlarut pada kolam pemeliharaan ikan nila Oreochromis sp dapat dilihat pada Gambar 2. Dari gambar

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan kimia. Secara biologi, carrying capacity dalam lingkungan dikaitkan dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan kimia. Secara biologi, carrying capacity dalam lingkungan dikaitkan dengan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daya Dukung Penentuan carrying capacity dalam lingkungan dapat didekati secara biologi dan kimia. Secara biologi, carrying capacity dalam lingkungan dikaitkan dengan konsep ekologi

Lebih terperinci

Amonia (N-NH3) Nitrat (N-NO2) Orthophosphat (PO4) mg/l 3 Ekosistem

Amonia (N-NH3) Nitrat (N-NO2) Orthophosphat (PO4) mg/l 3 Ekosistem Tabel Parameter Klasifikasi Basis Data SIG Untuk Pemanfaatan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Kelautan No Parameter Satuan 1 Parameter Fisika Suhu ºC Kecerahan M Kedalaman M Kecepatan Arus m/det Tekstur

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. limbah dari pertanian dan industri, serta deforestasi ilegal logging (Nordhaus et al.,

I. PENDAHULUAN. limbah dari pertanian dan industri, serta deforestasi ilegal logging (Nordhaus et al., I. PENDAHULUAN Segara Anakan merupakan perairan estuaria yang terletak di pantai selatan Pulau Jawa, termasuk dalam wilayah Kabupaten Cilacap, dan memiliki mangroveestuaria terbesar di Pulau Jawa (7 o

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi dan Kelimpahan Plankton Hasil identifikasi komunitas plankton sampai tingkat genus di Pulau Biawak terdiri dari 18 genus plankton yang terbagi kedalam 14 genera

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif,

TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif, TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Estuari Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif, karena area ini merupakan area ekoton daerah pertemuan dua ekosistem berbeda (tawar dan laut)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komunitas Fitoplankton Di Pantai Balongan Hasil penelitian di perairan Pantai Balongan, diperoleh data fitoplankton selama empat kali sampling yang terdiri dari kelas Bacillariophyceae,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak di Cagar Alam Leuweung Sancang. Cagar Alam Leuweung Sancang, menjadi satu-satunya cagar

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pantai Kawasan pantai (coastal zone) merupakan zona transisi yang berhubungan langsung antara ekosistem laut dan darat (terrestrial). Kawasan pantai dan laut paparan menyediakan

Lebih terperinci

2.2. Struktur Komunitas

2.2. Struktur Komunitas 5 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makrozoobentos Hewan bentos dibagi dalam tiga kelompok ukuran, yaitu makrobentos (ukuran lebih dari 1,0 mm), meiobentos (ukuran antara 0,1-1 mm) dan mikrobentos (ukuran kurang

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang dua per tiga luasnya ditutupi oleh laut

1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang dua per tiga luasnya ditutupi oleh laut 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang dua per tiga luasnya ditutupi oleh laut dan hampir sepertiga penduduknya mendiami daerah pesisir pantai yang menggantungkan hidupnya dari

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tidak kurang dari 70% dari permukaan bumi adalah laut. Atau dengan kata lain ekosistem laut merupakan lingkungan hidup manusia yang terluas. Dikatakan bahwa laut merupakan

Lebih terperinci

ES R K I R P I S P I S SI S S I TEM

ES R K I R P I S P I S SI S S I TEM 69 4. DESKRIPSI SISTEM SOSIAL EKOLOGI KAWASAN PENELITIAN 4.1 Kondisi Ekologi Lokasi studi dilakukan pada pesisir Ratatotok terletak di pantai selatan Sulawesi Utara yang termasuk dalam wilayah administrasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya merupakan perairan dan terletak di daerah beriklim tropis. Laut tropis memiliki

Lebih terperinci

Gambar 4. Peta Rata-Rata Suhu Setiap Stasiun

Gambar 4. Peta Rata-Rata Suhu Setiap Stasiun BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Fisika Perairan 4.1.1 Suhu Setiap organisme perairan mempunyai batas toleransi yang berbeda terhadap perubahan suhu perairan bagi kehidupan dan pertumbuhan organisme

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS CAHAYA DENGAN KEKERUHAN PADA PERAIRAN TELUK AMBON DALAM

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS CAHAYA DENGAN KEKERUHAN PADA PERAIRAN TELUK AMBON DALAM HBNGAN ANTARA INTENSITAS CAHAYA DENGAN KEKERHAN PADA PERAIRAN TELK AMBON DALAM PENDAHLAN Perkembangan pembangunan yang semakin pesat mengakibatkan kondisi Teluk Ambon, khususnya Teluk Ambon Dalam (TAD)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan karena lingkungan air tawar memiliki beberapa kondisi, antara lain:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan karena lingkungan air tawar memiliki beberapa kondisi, antara lain: 18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Indonesia adalah negara kepulauan dengan kawasan maritim yang sangat luas sehingga Indonesia memiliki kekayaan perikanan yang sangat kaya.pengetahuan lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Kehidupan bergantung kepada air dalam berbagai bentuk. Air merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Kehidupan bergantung kepada air dalam berbagai bentuk. Air merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan bergantung kepada air dalam berbagai bentuk. Air merupakan zat yang sangat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup yang ada di bumi. Hampir 71%

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan selalu terbawa arus karena memiliki kemampuan renang yang terbatas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan selalu terbawa arus karena memiliki kemampuan renang yang terbatas BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PLANKTON Plankton merupakan kelompok organisme yang hidup dalam kolom air dan selalu terbawa arus karena memiliki kemampuan renang yang terbatas (Wickstead 1965: 15; Sachlan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Plankton merupakan organisme renik yang hidup melayang-layang di air dan

BAB I PENDAHULUAN. Plankton merupakan organisme renik yang hidup melayang-layang di air dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Plankton merupakan organisme renik yang hidup melayang-layang di air dan mempunyai kemampaun berenang yang lemah dan pergerakannya selalu dipegaruhi oleh gerakan massa

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aspek Biologi Klasifikasi Morfologi

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aspek Biologi Klasifikasi Morfologi 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aspek Biologi 2.1.1. Klasifikasi Tiram merupakan jenis bivalva yang bernilai ekonomis. Tiram mempunyai bentuk, tekstur, ukuran yang berbeda-beda (Gambar 2). Keadaan tersebut

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai

TINJAUAN PUSTAKA. Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai TINJAUAN PUSTAKA Sungai Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai peranan penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi daerah disekitarnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang dialami ekosistem perairan saat ini adalah penurunan kualitas air akibat pembuangan limbah ke

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang dialami ekosistem perairan saat ini adalah penurunan kualitas air akibat pembuangan limbah ke 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang dialami ekosistem perairan saat ini adalah penurunan kualitas air akibat pembuangan limbah ke perairan yang menyebabkan pencemaran. Limbah tersebut

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Berdasarkan hasil yang diperoleh dari kepadatan 5 kijing, persentase penurunan total nitrogen air di akhir perlakuan sebesar 57%, sedangkan untuk kepadatan 10 kijing

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perairan Pantai Pantai memiliki arti strategis karena merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut, serta memiliki potensi sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. empat genus anggota famili Serranidae yaitu Epinephelus, Variola, Plectropomus

II. TINJAUAN PUSTAKA. empat genus anggota famili Serranidae yaitu Epinephelus, Variola, Plectropomus II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) Ikan kerapu tergolong dalam famili Serranidae, tubuhnya tertutup oleh sisik-sisik kecil. Menurut Nontji (2005) nama kerapu biasanya digunakan

Lebih terperinci

2.2. Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang mempengaruhi pemanfaatan

2.2. Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang mempengaruhi pemanfaatan 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Chironomida Organisme akuatik yang seringkali mendominasi dan banyak ditemukan di lingkungan perairan adalah larva serangga air. Salah satu larva serangga air yang dapat ditemukan

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE-6 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN HUBUNGAN SUHU DAN SALINITAS PERAIRAN TERHADAP DPI ASEP HAMZAH

PERTEMUAN KE-6 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN HUBUNGAN SUHU DAN SALINITAS PERAIRAN TERHADAP DPI ASEP HAMZAH PERTEMUAN KE-6 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN HUBUNGAN SUHU DAN SALINITAS PERAIRAN TERHADAP DPI ASEP HAMZAH Hidup ikan Dipengaruhi lingkungan suhu, salinitas, oksigen terlarut, klorofil, zat hara (nutrien)

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perairan Laut Belawan Perairan Laut Belawan yang berada di Kecamatan Medan Belawan Provinsi Sumatera Utara banyak digunakan oleh masyarakat setempat untuk berbagai aktivitas.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Selat Bali Bagian Selatan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Selat Bali Bagian Selatan 3 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Selat Bali Bagian Selatan Selat merupakan perairan relatif sempit yang menghubungkan dua buah perairan yang lebih besar dan biasanya terletak di antara dua daratan

Lebih terperinci

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton. Ima Yudha Perwira, SPi, Mp

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton. Ima Yudha Perwira, SPi, Mp Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton Ima Yudha Perwira, SPi, Mp Suhu Tinggi rendahnya suhu suatu badan perairan sangat mempengaruhi kehidupan plankton. Semakin tinggi suhu meningkatkan kebutuhan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh

TINJAUAN PUSTAKA. Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Sungai Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh karena itu, sumber air sangat dibutuhkan untuk dapat menyediakan air yang baik dari segi kuantitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat

I. PENDAHULUAN. Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat I. PENDAHULUAN Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat dengan cara membendung aliran sungai sehingga aliran air sungai menjadi terhalang (Thohir, 1985). Wibowo (2004) menyatakan

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ekosistem Danau

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ekosistem Danau 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ekosistem Danau Danau merupakan perairan tergenang yang berada di permukaan tanah, terbentuk akibat proses alami atau buatan. Danau memiliki berbagai macam fungsi, baik fungsi

Lebih terperinci

PERANAN MIKROORGANISME DALAM SIKLUS UNSUR DI LINGKUNGAN AKUATIK

PERANAN MIKROORGANISME DALAM SIKLUS UNSUR DI LINGKUNGAN AKUATIK PERANAN MIKROORGANISME DALAM SIKLUS UNSUR DI LINGKUNGAN AKUATIK 1. Siklus Nitrogen Nitrogen merupakan limiting factor yang harus diperhatikan dalam suatu ekosistem perairan. Nitrgen di perairan terdapat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (1968); (Martoyo et al. 2007) adalah sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (1968); (Martoyo et al. 2007) adalah sebagai berikut : BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teripang Secara garis besar klasifikasi dari beberapa jenis teripang menurut Barnes (1968); (Martoyo et al. 2007) adalah sebagai berikut : Filum Sub filum Kelas Sub kelas Ordo

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN . HASIL DAN PEMBAHASAN.. Hasil Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pola distribusi vertikal oksigen terlarut, fluktuasi harian oksigen terlarut, produksi primer, rincian oksigen terlarut, produksi

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara ekologis ekosistem padang lamun di perairan pesisir dapat berperan sebagai daerah perlindungan ikan-ikan ekonomis penting seperti ikan baronang dan penyu, menyediakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif seperti hewan. Inti

TINJAUAN PUSTAKA. memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif seperti hewan. Inti II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Biologi Tetraselmis sp. Tetraselmis sp. merupakan alga bersel tunggal, berbentuk oval elips dan memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak di daerah beriklim tropis dan merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya perairan. Laut tropis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki jumlah pulau yang sangat banyak. Secara astronomis, Indonesia terletak

BAB I PENDAHULUAN. memiliki jumlah pulau yang sangat banyak. Secara astronomis, Indonesia terletak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki jumlah pulau yang sangat banyak. Secara astronomis, Indonesia terletak pada garis

Lebih terperinci

Modul 1 : Ruang Lingkup dan Perkembangan Ekologi Laut Modul 2 : Lautan sebagai Habitat Organisme Laut Modul 3 : Faktor Fisika dan Kimia Lautan

Modul 1 : Ruang Lingkup dan Perkembangan Ekologi Laut Modul 2 : Lautan sebagai Habitat Organisme Laut Modul 3 : Faktor Fisika dan Kimia Lautan ix M Tinjauan Mata Kuliah ata kuliah ini merupakan cabang dari ekologi dan Anda telah mempelajarinya. Pengetahuan Anda yang mendalam tentang ekologi sangat membantu karena ekologi laut adalah perluasan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi dan Kelimpahan Plankton Hasil identifikasi plankton sampai tingkat genus pada tambak udang Cibalong disajikankan pada Tabel 1. Hasil identifikasi komunitas plankton

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dibandingkan daratan, oleh karena itu Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. adanya aliran yang cukup kuat, sehingga digolongkan ke dalam perairan mengalir

TINJAUAN PUSTAKA. adanya aliran yang cukup kuat, sehingga digolongkan ke dalam perairan mengalir TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Sungai Perairan sungai adalah suatu perairan yang di dalamnya dicirikan dengan adanya aliran yang cukup kuat, sehingga digolongkan ke dalam perairan mengalir (perairan lotik).

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian tingkat kesesuaian lahan dilakukan di Teluk Cikunyinyi,

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian tingkat kesesuaian lahan dilakukan di Teluk Cikunyinyi, BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian tingkat kesesuaian lahan dilakukan di Teluk Cikunyinyi, Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Analisis parameter kimia air laut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sedangkan secara geografis Indonesia terletak di antara benua Asia dan Benua

BAB I PENDAHULUAN. sedangkan secara geografis Indonesia terletak di antara benua Asia dan Benua BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis Indonesia membentang 6 0 LU 11 0 LS dan 95 0-141 0 BT, sedangkan secara geografis Indonesia terletak di antara benua Asia dan Benua Australia

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bahasa Gorontalo yaitu Atiolo yang diartikan dalam bahasa Indonesia yakni

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bahasa Gorontalo yaitu Atiolo yang diartikan dalam bahasa Indonesia yakni BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Pengamatan Desa Otiola merupakan pemekaran dari Desa Ponelo dimana pemekaran tersebut terjadi pada Bulan Januari tahun 2010. Nama Desa Otiola diambil

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. besar di perairan. Plankton merupakan organisme renik yang melayang-layang dalam

I. PENDAHULUAN. besar di perairan. Plankton merupakan organisme renik yang melayang-layang dalam I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Plankton merupakan salah satu jenis biota yang penting dan mempunyai peranan besar di perairan. Plankton merupakan organisme renik yang melayang-layang dalam air atau

Lebih terperinci

ANALISIS EKOLOGI TELUK CIKUNYINYI UNTUK BUDIDAYA KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) ABSTRAK

ANALISIS EKOLOGI TELUK CIKUNYINYI UNTUK BUDIDAYA KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) ABSTRAK e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume III No Oktober 204 ISSN: 202-600 ANALISIS EKOLOGI TELUK CIKUNYINYI UNTUK BUDIDAYA KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) Dwi Saka Randy *, Qadar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Umum Perairan Bintan Pulau Bintan merupakan salah satu pulau di kepulauan Riau tepatnya di sebelah timur Pulau Sumatera. Pulau ini berhubungan langsung dengan selat

Lebih terperinci

sedangkan sisanya berupa massa air daratan ( air payau dan air tawar ). sehingga sinar matahari dapat menembus kedalam air.

sedangkan sisanya berupa massa air daratan ( air payau dan air tawar ). sehingga sinar matahari dapat menembus kedalam air. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perairan merupakan ekosistem yang memiliki peran sangat penting bagi kehidupan. Perairan memiliki fungsi baik secara ekologis, ekonomis, estetika, politis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan yang disebut sumberdaya pesisir. Salah satu sumberdaya pesisir

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan yang disebut sumberdaya pesisir. Salah satu sumberdaya pesisir BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan pesisir dan laut di Indonesia memegang peranan penting, karena kawasan ini memiliki nilai strategis berupa potensi sumberdaya alam dan jasajasa lingkungan yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Fisik Kimiawi dan Biologi Perairan Dari hasil penelitian didapatkan data parameter fisik (suhu) kimiawi (salinitas, amonia, nitrat, orthofosfat, dan silikat) dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya yang sangat tinggi. Nybakken (1988), menyatakan bahwa kawasan

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya yang sangat tinggi. Nybakken (1988), menyatakan bahwa kawasan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir dikenal sebagai ekosistem perairan yang memiliki potensi sumber daya yang sangat tinggi. Nybakken (1988), menyatakan bahwa kawasan pesisir terdapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air laut merupakan suatu medium yang unik. Sebagai suatu sistem, terdapat hubungan erat antara faktor biotik dan faktor abiotik, karena satu komponen dapat

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos Odum (1993) menyatakan bahwa benthos adalah organisme yang hidup pada permukaan atau di dalam substrat dasar perairan yang meliputi organisme

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI IV.1 Gambaran Umum Kepulauan Seribu terletak di sebelah utara Jakarta dan secara administrasi Pulau Pramuka termasuk ke dalam Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. tahapan dalam stadia hidupnya (larva, juwana, dewasa). Estuari merupakan

TINJAUAN PUSTAKA. tahapan dalam stadia hidupnya (larva, juwana, dewasa). Estuari merupakan 5 TINJAUAN PUSTAKA Estuari Estuari merupakan suatu komponen ekosistem pesisir yang dikenal sangat produktif dan paling mudah terganggu oleh tekanan lingkungan yang diakibatkan kegiatan manusia maupun oleh

Lebih terperinci

hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin dan intensitas

hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin dan intensitas 2.3 suhu 2.3.1 Pengertian Suhu Suhu merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan organisme di lautan. Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Barus, 1996). Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari pulau

BAB I PENDAHULUAN. (Barus, 1996). Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari pulau BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perairan yang menutupi seperempat bagian dari permukaan bumi dibagi dalam dua kategori utama, yaitu ekosistem air tawar dan ekosistem air laut (Barus, 1996).

Lebih terperinci

KANDUNGAN ZAT PADAT TERSUSPENSI (TOTAL SUSPENDED SOLID) DI PERAIRAN KABUPATEN BANGKA

KANDUNGAN ZAT PADAT TERSUSPENSI (TOTAL SUSPENDED SOLID) DI PERAIRAN KABUPATEN BANGKA KANDUNGAN ZAT PADAT TERSUSPENSI (TOTAL SUSPENDED SOLID) DI PERAIRAN KABUPATEN BANGKA Umroh 1, Aries Dwi Siswanto 2, Ary Giri Dwi Kartika 2 1 Dosen Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian,Perikanan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ekosistem Sungai Air merupakan salah satu sumber daya alam dan kebutuhan hidup yang penting dan merupakan sadar bagi kehidupan di bumi. Tanpa air, berbagai proses kehidupan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Amonia Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data berupa nilai dari parameter amonia yang disajikan dalam bentuk grafik. Dari grafik dapat diketahui

Lebih terperinci

n, TINJAUAN PUSTAKA Menurut Odum (1993) produktivitas primer adalah laju penyimpanan

n, TINJAUAN PUSTAKA Menurut Odum (1993) produktivitas primer adalah laju penyimpanan n, TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Produktivitas Primer Menurut Odum (1993) produktivitas primer adalah laju penyimpanan energi sinar matahari oleh aktivitas fotosintetik (terutama tumbuhan hijau atau fitoplankton)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai kawasan pesisir yang cukup luas, dan sebagian besar kawasan tersebut ditumbuhi mangrove yang lebarnya dari beberapa

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. Deskripsi Data 1. Kondisi saluran sekunder sungai Sawojajar Saluran sekunder sungai Sawojajar merupakan aliran sungai yang mengalir ke induk sungai Sawojajar. Letak

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 33 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Umum Kepulauan Seribu Wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terletak di sebelah Utara Teluk Jakarta dan Laut Jawa Jakarta. Pulau Paling utara,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemetaan Sebaran Lamun Pemetaan sebaran lamun dihasilkan dari pengolahan data citra satelit menggunakan klasifikasi unsupervised dan klasifikasi Lyzenga. Klasifikasi tersebut

Lebih terperinci

bio.unsoed.ac.id TELAAH PUSTAKA A. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Brek

bio.unsoed.ac.id TELAAH PUSTAKA A. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Brek II. TELAAH PUSTAKA A. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Brek Puntius Orphoides C.V adalah ikan yang termasuk anggota Familia Cyprinidae, disebut juga dengan ikan mata merah. Ikan brek mempunyai garis rusuk

Lebih terperinci

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. Berikut ini letak batas dari Desa Ponelo: : Pulau Saronde, Mohinggito, dan Pulau Lampu

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. Berikut ini letak batas dari Desa Ponelo: : Pulau Saronde, Mohinggito, dan Pulau Lampu BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Ponelo merupakan Desa yang terletak di wilayah administrasi Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.

Lebih terperinci

EKOSISTEM. Yuni wibowo

EKOSISTEM. Yuni wibowo EKOSISTEM Yuni wibowo EKOSISTEM Hubungan Trofik dalam Ekosistem Hubungan trofik menentukan lintasan aliran energi dan siklus kimia suatu ekosistem Produsen primer meliputi tumbuhan, alga, dan banyak spesies

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. rumah tangga dapat mempengaruhi kualitas air karena dapat menghasilkan. Rawa adalah sebutan untuk semua daerah yang tergenang air, yang

PENDAHULUAN. rumah tangga dapat mempengaruhi kualitas air karena dapat menghasilkan. Rawa adalah sebutan untuk semua daerah yang tergenang air, yang 16 PENDAHULUAN Latar Belakang Rawa sebagai salah satu habitat air tawar yang memiliki fungsi yang sangat penting diantaranya sebagai pemancingan, peternakan, dan pertanian. Melihat fungsi dan peranan rawa

Lebih terperinci