BAB II LANDASAN TEORI
|
|
|
- Farida Budiaman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Supply Chain (Rantai Pasok) Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2002) Supply Chain adalah suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya. Rantai ini juga merupakan jaringan atau jejaring dari berbagai organisasi saling berhubungan yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau penyaluran barang tersebut. Kata penyaluran mungkin kurang tepat karena istilah supply meliputi juga proses perubahan barang tersebut, misalnya dari bahan mentah menjadi barang jadi. Konsep supply chain merupakan konsep baru dalam melihat persoalan logistik. Konsep lama melihat logistik lebih sebagai persoalan intern masing masing perusahaan, dan pemecahannya dititikberatkan pada pemecahan secara intern di perusahaan masing masing. Di dalam konsep baru ini, masalah logistik dilihat sebagai masalah yang lebih luas yang terbentang sangat panjang sejak dari bahan dasar sampai barang jadi yang dipakai konsumen akhir, yang merupakan mata rantai penyediaan barang. Oleh karena itu, manajemen rantai pasok dapat didefinisikan sebagai berikut: Supply chain management is a set of approaches utilized to efficiently integrate suppliers, manufacturers, warehouses, and stores, so that merchandise is produced and distributed at the right quantities, to the right locations, at the right time, in order to minimize systemwide costs while satisfying service level requirement. (Levi dkk., 2000) Melihat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa suppply chain adalah logistics network. Dalam hubungan ini, ada beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan perushaaan yang mempunyai kepetingan yang sama, yaitu: 1. Suppliers 10
2 11 2. Manufacturer 3. Distribution 4. Retail outlets 5. Customers Model Supply Chain Dari penjelasan mengenai pelaku pelaku supply chain tersebut dapat dikembangkan suatu model supply chain, yaitu suatu gambaran plpastis mengenai hubungan mata rantai dari pelaku pelaku tersebut yang dapat berbentuk seperti mata rantai yang terhubung satu dengan yang lain. Model supply chain dikembangkan dengan cukup baik pada tahun 1994 oleh A. T. Kearney seperti tertera dan dapat dilihat pada Gambar 2.1 (Indrajit dan Djokopranoto, 2002). Gambar 2.1 Model supply chain (Sumber: Kearney 1994, dalam Indrajit dan Djokopranoto, 2002) Dalam ilustrasi tersebut, suppliers suppliers telah dimasukan untuk menunjukkan hubungan yang lengkap dari sejumlah perusahaan atau organisasi yang bersama sama mengumpulkan atau mencari, mengubah, dan mendistribusikan barang dan jasa kepada pelanggan terakhir. Salah satu faktor kunci untuk mengoptimalkan supply chain adalah dengan menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan dan akurat di antara jaringan atau mata rantai tersebut, dan pergerakan barang yang efektif dan efisien yang menghasilkan kepuasan maksimal pada para pelanggan.
3 12 Selama dua dasawarsa terakhir ini, ada dua konsep yang banyak digunakan dan dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pergerakan barang tersebut, yang kedua merupakan kelanjutan dari yang pertama, yaitu: 1. Mengurangi jumlah supplier a. Konsep ini dikembangkan sejak akhir tahun 1980-an, yang bertujuan mengurangi ketidakseragaman, biaya biaya negosiasi, dan pelacakan (tracking). b. Konsep ini adalah awal perubahan kecenderungan dari konsep multiple supplier ke single supplier. c. Dengan demikian, cara lama yang dahulu dianggap ampuh seperti mencari sourcing dengan cara tender terbuka makin tidak populer karena tender terbuka tidak menjamin terbatasnya jumlah supplier. d. Paling paling yang masih cocok dengan perkembangan ini adalah tender di antara supplier yang terbatas jumlahnya. e. Konsep ini berkembang menuju tahap selanjutnya, yaitu tahap yang kedua, seperti akan dijelaskan sebagai berikut. 2. Mengembangkan supplier partnership atau strategic alliance a. Konsep ini dikembangkan sejak pertengahan tahun 1990-an dan diharapkan masih akan populer pada permulaan abad ke-21 ini. b. Konsep ini menganggap bahwa hanya dengan supplier partnershp, key suppliers untuk barang tertentu merupakan strategic sources yang dapat diandalkan dan dapat menjamin lancarnya pergerakan barang dalam supply chain. c. Konsep ini selalu dibarengi dengan konsep perbaikan yang terus menerus dalam biaya dan mutu barang. Model supply chain tersebut juga dapat dilukiskan speerti denah pada Gambar 2.2, yang dapat disebut sebagai the Interenterprise Supply Chain Model. Model ini merupakan suatu mata rantai supply, yang dinamakan juga model empat langkah (the four step model), yang terdiri dari unsur unsur: 1. Suppliers (dan sub-suppliers atau suppliers suppliers). 2. Manufacturers (plant, yang terdiri dari beberapa unit). 3. Distributors (terdiri dari distribution center, wholesaler, dan sebagainya).
4 13 4. Retailers (yang sangat banyak jumlahnya). Gambar 2.2 The Interenterprise Supply Chain Model (Sumber: Indrajit dan Djokopranoto, 2002) Mengelola Aliran Supply Chain Untuk mengelola aliran barang dan jasa dalam supply chain, pertama tama yang harus diketahui adalah gambaran sesungguhnya dan lengkap mengenai seluruh mata rantai yang ada, mulai dari yang pertama sampai yang terakhir. Misalnya, supply chain dari pihak pabrik kertas adalah sebagai berikut: a. Awal supply chain dari pabrik kertas adalah hutan kayu yang menghasilkan bahan untuk kertas, atau gudang bahan yang didaur ulang yang mengawali proses pembuatan kertas tersebut. b. Tetapi tidak hanya itu. Bahan baku kertas perlu dilengkapi dengan bahan penolong agar bahan baku dapat diproses menjadi kertas. Bahan penolongnya banyak sekali, misalnya air yang berlimpah, bahan kimia yang sangat banyak jenisnya, plastik dan alat pengikat untuk packaging, dan sebagainya. c. Di samping itu, pabrik kertas banyak menggunakan berbagai jenis peralatan dan puluhan ribu jenis material serta suku cadang, yang awal supply chain-nya adalah pabrik baja dan pabrik pembuat peralatan material, dan suku cadang tersebut.
5 14 d. Pokoknya ada puluhan dan mungkin ratusan supplier dan suppliers supplier (sub-suppliers) yang terlibat. Di samping itu, perlu juga diketahui berbagai sifat pergerakan supply chain untuk berbagai inventory. Seperti diketahui, yang dimaksud dengan inventory adalah beberapa jenis barang yang disimpan di gudang yang mempunyai sifat pergerakan yang agak berbeda satu sama lain, sehingga panjang pendeknya supply chain juga berbeda eperti diterangkan berikut ini. Ada beberapa jenis inventory, yaitu: 1. Barang baku (raw materials) a. Mata rantai pertama ada di pabrik pembuat bahan baku ini, dan mata rantai terakhir ada di pabrik pembuat finished product (bukan di konsumen akhir). b. Barang baku ini di pabrik pembuat finished product digabung dengan bahan penolong, dan dengan teknologi tertentu diolah menjadi bahan setengah jadi dan bahan jadi. 2. Barang setengah jadi (semi finished product) a. Permulaan mata rantai ada di pabrik pembuat bahan jadi. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahan setengah jadi adalah hasil dari proses bahan baku. b. Bahan setengah jadi dapat langsung diproses di pabrik yang sama menjadi bahan jadi, tetapi dapat juga dijual kepada konsumen sebagai komoditas. c. Jadi, akhir dari mata rantai akan sangat tergantung dari hal di atas, bisa pendek dan bisa panjang. 3. Barang jadi (finished product) a. Permulaan mata rantai bahan jadi ada di pabrik pembuatnya, sebagai hasil dari pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi tadi. b. Akhir mata rantai ada di konsumen akhir pengguna atau pembeli hasil produksi tersebut. 4. Materials dan suku cadang (MRO = materials for maintenance, repair, and operation)
6 15 a. Inventory jenis ini adaah inventory yang digunakan untuk menunjang pabrik pembuat barang jadi tersebut, yaitu untuk maintenance, repair, dan operasi peralatan pabriknya. b. Mata rantainya bermula dari pabrik pembuat material MRO tadi dan berakhir di perusahaan pembuat barang jadi tersebut, sebagai the final user (manufacturer). 5. Barang komoditas (commodity) a. Inventory jenis ini adalah barang yang dibeli oleh perusahaan tertentu sudah dalam betuk barang jadi dan diperdagangkan, dalam arti dijual kembali kepada konsumen b. Di perusahaan tersebut, barang ini dapat diproses lagi, misalnya diganti bungkusnya atau diperkecil kemasannya, tetapi dapat juga dijual lagi langsung dalam bentuk asli seperti saat dibeli. c. Mata rantai inventory jenis ini bermula dari pabrik pembuat komoditas tersebut dan berakhir pada konsumen akir pengguna barang tersebut. d. Barang komoditas kadang kadang juga disebut resales commodities karena memang barang tersebut dibeli untuk dijual lagi dengan keuntungan tertentu. 6. Barang proyek a. Inventory jenis ini adalah material dan suku cadang yang digunakan untuk membangun proyek tertentu, misalnya membuat pabrik baru. b. Mata rantai panjangnya hampir sama dengan MRO materials, jadi bermula dari pabrik pembuat barang barang tersebut dan berakhir di perusahaan pembuat barang jadi yang dimaksud Mengusahakan Optimalisasi Supply Chain Tipikal supply chain ini sedang mengalami perubahan besar karena perubahan atau perkembangan pasar. Dahulu, produk yang mempunyai brand atau nama yang kuat seakan akan mendikte pasaran, dan pelanggan akan tergantung dan cenderung untuk mencari produk tersebut. Pabrik dengan demikian juga cenderung akan memasarkan langsung produk tersebut atau
7 16 melalui retail outlet-nya sendiri, dan hanya sebagian dari produksinya yang dialokasikan atau disalurkan melalui retail outlet tertentu yang dipilihnya. Sekarang keadaan sudah lain. Pelanggan makin mempunyai pilihan yang banyak dan berada pada posisi untuk menentukan sendiri brand pilihannya. Dan retail outlet makin lebih mempunyai keleluasaan dan berkuasa untuk menjual dan memajang produk yang dipilihnya sendiri berdasarkan kehendak dan selera pelanggan. Perkembangan tersebut mempengaruhi pula bagaimana cara mengoptimalkan supply chain sedemikian rupa sehingga mencapai manfaat yang optimal. Sehubungan dengan itu, perlu dibicarakan beberapa hal sebagai berikut: 1. Tuntutan pelanggan yang terus berkembang 2. Kekuasaan retailer yang makin besar 3. Dilema dalam pencapaian optimalisasi 4. Kendala dalam membangun kepercayaan 5. Kemitraan sebagai suatu solusi 6. Teknologi informasi sebagai katalisator 1. Tuntutan Pelanggan yang Terus Berkembang Sebelumnya telah dijelaskan bahwa terjadi perkembangan dan perubahan dalam sifat, intensitas, ketergantungan, dan tuntutan para pelanggan. Dengan makin terbukanya pasar bebas yang mendunia (globalisasi), maka terjadi begitu banyak dan begitu ketat persaingan antar perusahaan dan antar produk. Bagi para konsumen, ini merupakan keuntungan besar karena mereka mendapatkan: a. Harga yang lebih kompetitif b. Pilihan sumber pembelian yang lebih banyak c. Mutu barang yang lebih baik d. Pilihan brand yang lebih banyak e. Penyediaan yang lebih cepat f. Layanan lain yang lebih baik Oleh karena itu, supply chain yang tadinya hanya atau lebih terfokus pada sisi hulu, yaitu hubungan antar sub-suppliers suppliers manufacturer, bergeser
8 17 ke hilir, yaitu manufacturer wholesalers retailers consumers. Inilah manifestasi dari consumer focus atau consumer oriented dalam supply chain management. Sikap para pelanggan juga tidak boleh diabaikan dan harus diperhatikan dengan sungguh sungguh. Para pelanggan (consumers) cenderung bersikap seperti berikut ini: a. Menghindari penjual yang pernah mengecewakannya b. Ingin mengalami proses pembelian barang dan jasa yang menyenangkan c. Menyenangi pendekatan penjualan yang kreatif, ramah, dan murah (pengecualian bagi pembeli yang mengejar brand yang berprestise) d. Menuntut more for less e. Mencari toko yang serba ada (department store, shopping mall, supermarket, dan sebagainya) karena makin terbatasnya waktu berbelanja f. Menghendaki barang yang aman dari segala hal g. Pokoknya menghendaki harga, mutu, dan pelayanan yang lebih baik lagi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengendali utama supply chain adalah para consumers. 2. Kekuasaan Retailer yang Makin Besar Kalau di atas telah disimpulkan bahwa pengendali utama supply chain adalah consumers, maka yang berhubungan lansung dengan mereka adalah para retailer. Retailer ini menanggapi kehendak dan tuntutan consumers yang makin meningkat dengan mengadakan perubahan perubahan besar dalam penataan, dekorasi, teknik pelayanan, dan personil tokonya. Meskipun keputusan terakhir untuk memilih barang adalah pada consumers, tetapi sampai batas tertentu retailer dapat mempengaruhi pengambilan keputusan ini dengan cara cara antara lain sebagai berikut: a. Membuat display yang menarik untuk produk tertentu b. Memberikan diskon yang menarik untuk produk tertentu c. Memberikan bonus tertentu seperti hadiah dan sebagainya d. Menawarkan secara lebih aktif
9 18 Pada umumnya keuntungan yang diperoleh oleh retailer relatif tidak banyak. Makin banyak retailer, makin sedikit persentase keuntungan yang diperoleh karena persaingannya juga makin ketat, dan sebaliknya. Oleh karena itu, wholesaler umumnya memiliki keuntungan yang jauh lebih besar karena jumlah wholesaler umumnya lebih sedikit. Di sini berlaku hukum supply and demand. Oleh karena itu, para retailer umumnya lebih mengandalkan pada jumlah penjualan (omzet). Retailer besar dan terkenal seperti Kmart, Wal-Mart, Home Depot, dan sebagainya memperoleh keuntungan besar karena omzetnya sangat besar. Pengurangan biaya di retailer umumnya sedikit sekali yang bisa dilakukan, namun di pihak wholesaler lebih banyak penghematan yang dapat dilakukan. 3. Dilema Dalam Pencapaian Optimalisasi Langkah pertama yang sangat penting dalam melakukan manajemen supply chain yang baik adalah menggalang dan memperbaiki komunikasi harian di antara semua pelaku supply, mulai dari hilir sampai ke hulu (retailer, distributor, manufacturer, dan supplier). Komunikasi yang baik ini dapat mencegah kelambatan pengadaan barang maupun penumpulan barang di gudang yang berlebihan. Sayangnya, dalam prakteknya, sering kali dijumpai semacam keengganan untuk melakukan komunikasi ini, karena beberapa pihak masih ada yang menganggap hal tersebut sebagai sesuatu beberapa pihak masih ada yang menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang bersifat rahasia atau sebagai suatu layanan ekstra. Karena dianggap memberikan layanan ekstra, ada yang meminta bayaran, baik secara resmi maupun tidak resmi. Kendala ini tidak hanya dijumpai dalam hubungan atau komunikasi antar perusahaan, tetapi juga dalam satu perusahaan, misalnya antara bagian logistik (penyedia barang), dan bagian teknik atau pabrik (pengguna barang). Oleh karena itu, dalam hal ini semua pihak perlu diyakinkan terlebih dahulu tentang perlunya membangun informasi yang terbuka, cepat, dan akurat mengenai hal hal yang menyangkut penyediaan barang, agar semua pihak dapat memperoleh keuntungan keuntungan yang optimal. 4. Kendala Dalam Membangun Kepercayaan
10 19 Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan manajemen supply chain adalah membangun kepercayaan di antara semua pelaku supply barang dan jasa yang bersangkutan. Namun, dalam prakteknya terdapat banyak kendala, bahkan banyak yang tidak percaya bahwa hal tersebut sungguh sungguh dapat dicapai. Beberapa hal yang melatarbelakangi kendala tersebut adalah: a. Masih banyaknya anggapan bahwa supplier atau pihak lain adalah lawan atau bahkan musuh dalam berbisnis dan bukan mitra. b. Masih banyaknya anggapan bahwa antara supplier atau pihak lain dan perusahaan sendiri pada hakikatnya mempunyai tujuan yang berlainan, bahkan saling bertentangan, sedangkan sebetulnya tujuan akhir mereka sama, yaitu sama sama perlu survive dan growth. c. Dalam negosiasi, masih banyak yang mengharapkan hasil yang win-lose dan kurang mengenal konsep win-win negotiation. d. Banyak yang masih melihat pada hubungan jangka pendek dan kurang melihat hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan. e. Oleh karena itu, konsep konsep baru seperti win-win negotiation, supplier partnering, dan sebagainya perlu dikembangkan di antara para peserta kegiatan supply dan di dalam perusahaan sendiri untuk menciptakan kepercayaan yang sungguh diperlukan dalam mengoptimalkan manajemen supply chain ini. 5. Partnering Sebagai Suatu Solusi Optimalisasi manajemen supply chain seperti telah disebutkan di atas memerlukan aliran informasi yang lancar, transparan, dan akurat, serta memerlukan kepercayaan antar peserta pengadaan barang dan jasa. Hal ini hanya mungkin dilakukan melalui proses yang panjang dan antar pihak yang makin saling mengenal. Dengan demikian, satu satunya cara adalah di antara mereka yang terkait terdapat semacam partnering. Optimalisasi tidak mungkin dicapai apabila dilakukan oleh supplier yang terus menerus berbeda dan berganti, karena hal hal yang diinginkan tersebut tidak akan mungkin terwujud secara
11 20 optimal. Oleh karena itu, dikatakan bahwa partnering adalah salah satu solusi yang terbaik dalam melakukan optimalisasi manajemen supply chain ini. Perlu disampaikan juga bahwa ada beberapa prinsip partnering yang perlu dipegang teguh dan dikembangkan terus menerus, yaitu: a. Meyakini memiliki tujuan yang sama (common goal) b. Saling menguntungkan (mutual benefit) c. Saling percaya (mutual trust) d. Bersikap terbuka (transparent) e. Menjalin hubungan jangka panjang (long term relationship) f. Terus menerus melakukan perbaikan dalam biaya dan mutu barang/jasa. 6. Teknologi Informasi Sebagai Katalisator Kalau partnership dapat disebut sebagai bumbu yang penting untuk supply chain, maka teknologi informasi merupakan katalisator untuk supply chain, yaitu mempercepat proses dan mempermudah manajemen supply chain yang efektif dan efisien. Keberhasilan manajemen supply chain tidak mungkin dapat dicapai tanpa menggunakan jasa teknologi informasi, yang dalam kasus ini harus bercirikan antara lain: a. Hardware dan software-nya mampu digunakan antar organisasi/perusahaan b. Clear information c. Real time POS (point of sales) information d. Customer and network friendly e. High level effectiveness and efficiency Oleh karena itu, pengembangan teknologi informasi harus diusahakan sama pentingnya dengan mengusahakan pengadaan inventory dan mempercepat delivery time pembelian barang.
12 Supplier (Pemasok) Pemasok merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama, di mana mata rantai penyaluran barang akan mulai. Bahan pertama ini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan, subassemblies, suku cadang, dan sebagainya (Indrajit dan Djokopranoto, 2002). Adapun juga menurut Darmawan, dkk. (2013) pemasok adalah perusahan dan individu yang menyediakan sumber daya yang dibutuhkan oleh perusahan dan pesaing untuk memperoduksi barang dan jasa tertentu. 2.3 Kriteria-kriteria Pemilihan Supplier Menurut Pujawan (2005), memilih supplier merupakan kegiatan strategis, terutama apabila supplier tersebut akan memasok item yang kritis dan atau akan digunakan dalam jangka panjang sebagai supplier penting. Kriteria yang digunakan tentunya harus mencerminkan strategi supply chain maupun karakteristik dari item yang akan di pasok. Secara umum banyak perusahaan yang menggunakan kriteria-kriteria dasar seperti kualitas barang yang ditawarkan, harga, dan ketepatan waktu pengiriman. Namun sering kali pemilihan supplier membutuhkan berbagai kriteria lain yang dianggap penting oleh perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Dickson dalam Pujawan (2005) hampir 40 tahun yang lalu menunjukkan bahwa kriteria pemilihan supplier bisa sangat beragam. Tabel 2.1 Kriteria Pemilihan / Evaluasi Supplier No Kriteria Skor 1 Kualitas 3,5 2 Delivery 3,4 3 Performance history 3 4 Warranties and claim policies 2,8 5 Price 2,8 6 Tehnichal capabilyty 2,8 7 Financial Position 2,5 8 Prosedural compliance 2,5 9 Communication system 2,5 10 Reputation and position in industry 2,4 11 Desire for business 2,4 12 Management and organization 2,3
13 22 Tabel 2.1 Kriteria Pemilihan / Evaluasi Supplier (Lanjutan) No Kriteria Skor 13 Operation controls 2,2 14 Repair servise 2,2 15 Attitudes 2,1 16 Impression 2,1 17 Packaging ability 2 18 Labor relations records 2 19 Geographical location 1,9 20 Amount of past business 1,6 21 Training aids 1,5 22 Recipprocal arrangements 0,6 Berdasarkan pada Tabel 2.1 menunjukkan 22 kriteria yang diidentifikasikan oleh Dickson dalam Pujawan (2005). Angka pada kolom kedua menunjukkan tingkat kepentingan dari masing-masing kriteria berdasarkan kumpulan jawaban dari survey yang direspon oleh 170 manajer pembelian di Amerika Serikat. Responden diminta memilih angka 0-4 pada skala likert dimana 4 berarti sangat penting. Jadi tabel tersebut menunjukkan bahwa rata-rata responden melihat kualitas sebagai aspek terpenting dalam pemilihan supplier. Harga ternyata hanya menempati urutan no.5 dan memiliki skor yang secara siknifikan lebih rendah dari kualitas (quality) dan aspek pengiriman (delivery). Namun tentu saja tiap perusahaan harus menentukan sendri kriteria-kriteria yang akan digunakan dalam memilih supplier. Namun secara umum pemilihan pemasok dapat dilakukan dengan cara menentukan kriteria-kriteria dan sub-kriterianya Pujawan (2005). Berikut ini adalah beberapa kriteria dan subkriteria dalam hal pemilihan pemasok : 1. Kriteria Harga (H) Yang termasuk subkriteria pada kriteria harga adalah : a. Kepantasan harga dengan kualitas barang yang dihasilkan (H1) b. Kemampuan untuk memberikan potongan harga (diskon) pada pemesanan dalam jumlah tertentu (H2) 2. Kriteria Kualitas Yang termasuk dalam kriteria ini adalah : a. Kesesuain barang dengan spesifikasi yang sudah ditetapkan (Q1)
14 23 b. Penyediaan barang tanpa cacat (Q2) c. Kemampuan memberikan kualitas yang konsisten (Q3) 3. Kriteria Ketepatan Pengiriman (D) Yang termasuk dalam kriteria ini adalah : a. Kemampuan untuk mengirimkan barang sesuai dengan tanggal yang telah disepakati (D1) b. Kemampuan dalam hal penanganan sistem transportasi (D2) 4. Kriteria Ketepatan Jumlah (J) Yang termasuk dalam kriteria ini adalah : a. Ketepatan dan kesesuain jumlah dalam pengiriman (J1) b. Kesesuaian isi kemasan (J2) 5. Kriteria Custumer Care (C) Yang termasuk dalam kriteria ini adalah : a. Kemudahan untuk dihubungi (C1) b. Kemampuan untuk memberikan informasi secara jelas dan mudah untuk dimengerti (C2) c. Kecepatan dalam hal menaggapi permintaan pelanggan (C3) d. Cepet tanggap dalam meyelesaikan keluhan pelanggan (C4) Teknik Memilih Supplier Menurut Setiadi (2008) setelah kriteria ditetapkan dan berapa kandidat supplier diperoleh maka perusahaan harus melakukan pemilihan. Perusahaan mungkin akan memilih satu atau beberapa dari alternatif yang ada. Dalam proses pemilihan ini perusahaan mungkin harus melakukan peningkatan untuk menentukan mana supplier yang akan dipilih atau mana yang akan dijadikan supplier utama dan mana yang akan dijadikan supplier cadangan. Pada pemilihan supplier, secara umum prosesnya bisa diringkas sebagai beikut : 1. Tentukan kriteria-kriteria pemilihan 2. Tentukan bobot masing-masing kriteria 3. Identifikasi altrnatif (supplier) yang akan dievaluasi 4. Evaluasi masing-masing alternatif dengan kriteria di atas 5. Hitung nilai bobot masing-masing supplier
15 24 6. Urutkan supplier berdasarkan nilai bobot tersebut Menurut Saaty (2008) skala kepentingan dan perbandingan untuk menentukan bobot dapat dilihat pada Tabel 2.2. Tabel 2.2 Skala Kepentingan dan Perbandingan Intensitas Kepentingan Definisi Penjelasan 1 Sama Pentingnya Kedua elemen sama pentingnya 2 Lemah atau sedikit Nilai - nilai pertimbangan yang berdekatan antara 1 dan 3 3 Moderat pentingnya 4 Moderat plus 5 Kuat pentingnya 6 Kuat plus 7 Sangat kuat atau menunjukan pentingnya 8 Sangat, sangat kuat 9 Ekstrim pentingnya (sumber: Saaty, 2008) Elemen satu lebih sedikit penting daripada elemen yang lainnya Nilai - nilai pertimbangan yang berdekatan antara 3 dan 5 Elemen satu lebih penting daripada elemen yang lainnya Nilai - nilai pertimbangan yang berdekatan antara 5 dan 7 Elemen satu jelas lebih penting daripada elemen yang lainnya Nilai - nilai pertimbangan yang berdekatan antara 7 dan 9 Elemen satu mutlak penting daripada elemen yang lainnya Menilai Kinerja Supplier Kinerja supplier perlu dimonitor secara kontinu. Penilaian atau monitoring kinerja ini penting dilakukan sebagai bahan evaluasi yang nantinya bisa digunakan untuk meningkatkan kinerja mereka atau sebagai bahan pertimbangan perlu tidaknya mencari supplier alternatif. Pada situasi dimana perusahaan memiliki lebih dari satu supplier untuk suatu item tertentu, hasil evaluasi juga bisa dijadikan dasar dalam mengalokasikan order di masa depan. Tentunya beralasan kalau supplier yang kinerjanya lebih bagus akan mendapat order yang lebih banyak. Dengan sistem yang seperti ini supplier akan terpacu untuk meningkatkan kinerja mereka.
16 Pengambilan Keputusan Menurut Setiadi (2008) pengambilan keputusan adalah proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Pengambilan keputusan bagian kunci dari kegiatan manajer, sehingga kita perlu mengetahui apakah pengambilan keputusan itu, fungsi dan tujuannya, unsur unsurnya, landasan yang digunakan dalam pengambilan keputusan, tipe tipe keputusan, faktor faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan, dan proses pembuatan keputusan. Selain itu, perlu pula diketahui teknik pengambilan keputusan, pendekatan beserta metodenya, teori teorinya, dan etika dalam pengambilan keputusan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh George R. Terry (Hasan, 2002), pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Menurut Siagian (1988), pengambilan keputusan didefinisikan sebagai proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. Dari pengertian pengertian pengambilan keputusan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah. Proses itu untuk menemukan dan menyelesaikan masalah organisasi. Pernyataan ini menegaskan bahwa mengambil keputusan memerlukan satu seri tindakan yang membutuhkan beberapa langkah. Dapat saja langkah langkah itu terdapat dalam pikiran seseorang yang sekaligus mengajaknya berpikir sistematis. Dalam dunia manajemen atau dalam kehidupan organisasi, baik swasta maupun pemerintah, proses atau seri tindakan itu lebih banyak tampak dalam berbagai diskusi, rapat kerja, maupun dalam aktivitas brainstorming Fungsi dan Tujuan Pengambilan Keputusan Fungsi pengambilan keputusan Menurut Setiadi (2008) fungsi pengambilan keputusan sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah mempunyai fungsi antara lain sebagai berikut:
17 26 1. Pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dab terarah baik secara individual maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional. 2. Sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa yang akan datang, di mana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama. Tujuan pengambilan keputusan Menurut Setiadi (2008) tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan atau dua, yaitu sebagai berikut: 1. Tujuan yang bersifat tunggal Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan, tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain. 2. Tujuan yang bersifat ganda Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil itu sekalipun memecahkan dua masalah (atau lebih), yang bersifat kontradiktif atau bersifat tidak kontradiktif Unsur Unsur Pengambilan Keputusan Menurut Setiadi (2008) dibalik suatu keputusan ada unsur prosedur, yaitu pertama tama pembuat keputusan mengidentifikasi masalah, mengklarifikasi tujuan tujuan khusus yang diinginkan, memeriksa berbagai kemungkinan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dan mengakhiri proses itu dengan menetapkan pilihan bertindak. Jadi, suatu keputusan sebenarnya didasarkan atas fakta dan nilai (facts and values). Keduanya sangat penting, tetapi tampaknya fakta lebih mendominasi nilai nilai dalam menyehatkan keputusan suatu organisasi. Agar pengambilan keputusan dapat lebih terarah, maka perlu diketahui unsur unsur/komponen komponen dari pengambilan keputusan tersebut. Unsur
18 27 unsur/komponen komponen dari pengambilan keputusan itu adalah sebagai berikut: 1. Tujuan dari pengambilan keputusan 2. Identifikasi alternatif alternatif keputusan untuk memecahkan masalah. 3. Perhitungan mengenai faktor faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya/di luar jangkauan manusia. 4. Sarana atau alat untuk mengevaluasi atau mengukur hasil dari suatu pengambilan keputusan. Berikut ini adalah coontoh dalam bentuk ilustrasi dari unsur unsur pengambilan keputusan di atas. Untuk mengembangkan suatu model pengambilan keputusan yang bersifat umum, kita perlu mengadakan identifikasi dan mengambil kategori dari berbagai unsur yang merupakan bagian dari masalah beserta pemecahannya. Unsur pertama, adalah mengetahui lebih dahulu apa tujuan dari pengambilan keputusan itu. Misalnya, jika anda akan membeli mobil baru, maka anda harus mengetahui lebih dahulu tujuannya, biasanya yang paling umum adalah tujuan yang bersifat ekonomis, di samping pertimbangan fungsinya. Unsur kedua, adalah mengadakan identifikasi alternatif alternatif yang akan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut, untuk itu perlu kiranya membuat daftar macam macam tindakan yang memungkinkan untuk mengadakan pilihan. Unsur ketiga, adalah perhitungan mengenai faktor faktor di luar jangkauan manusia. Keberhasilan setiap alternatif keputusan dikaitkan dengan tujuan yang dikehendaki, ini sangat tergantung pada keadaan yang mungkin berada di luar jangkauan manusia. Keadaan ini disebut sebagai peristiwa di luar jangkauan manusia (uncontrollable events). Yang dimaksud dengan peristiwa di luar jangkauan manusia adalah peristiwa yang dapat dibayangkan sebelumnya, namun manusia tidak sanggup atau kurang berdaya untuk mengatasinya. Keputusan untuk membeli mobil baru itu perlu dikaitkan dengan biaya biaya yang dikeluarkan, misalnya biaya pembelian bensin, karena hal tersebut akan
19 28 berpengaruh terhadap penghematan bagi pemakaian kendaraan tersebut. Untuk ini, anda dapat mengidentifikasi kemungkinan harga bensin nantinya akan naik sebagai peristiwa di luar jangkauan manusia. Unsur keempat, adalah adanya sarana atau alat untuk mengevaluasi atau mengukur hasil dari pengambilan keputusan itu. Selanjutnya alternatif alternatif keputusan dan peristiwa di luar jangkauan manusia itu perlu dirinci dengan menggunakan sarana/alat untuk mengukur apa yang akan diperoleh ataupun pengeluaran yang perlu dilakukan dari setiap kombinasi alternatif keputusan dan peristiwa di luar jangkauan manusia itu. Jadi, misalnya, apabila kita memiliki 3 alternatif dan 4 peristiwa di luar jangkauan manusia, maka kita perlu menetapkan 12 hasil di mana setiap alternatif dapat menghasilkan satu hasil yang dikaitkan dengan kemungkinan peristiwa di luar jangkauan manusia Dasar Dasar Pendekatan Pengambilan Keputusan Menurut Setiadi (2008) setiap langkah yang akan diambil harus berdasar ada pengambilan keputusan yang tepat. Kesalahan dalam pengambilan keputusan dapat mengakibatkan terancamnya kehidupan individu atau organisasi yang bersangkutan. Oleh karena itu, pengambilan keputusan harus dilandasi prosedur dan teknik serta didukung oleh informasi yang tepat (accurate), benar (reliable), dan tepat waktu (timeliness). Ada beberapa landasan yang sangat tergantung dari permasalahannya itu sendiri. Oleh Terry dan Brinckloe dalam Setiadi (2008), disebutkan dasar dasar penekatan dari pengambilan keputusan yang dapat digunakan, yaitu: 1. Intuisi Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengundang beberapa kebaikan, namun juga ada kelemahannya. Kebaikannya antara lain: a. Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek
20 29 b. Untuk masalah yang pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusn ini akan memberikan kepuasan pada umumnya. c. Kemampuan mengambil keputusan dari pengambil keputusan itu sangat berperan, dan itu perlu dimanfaatkan dengan baik. Adapun kelemahannya antara lain: a. Keputusan yang dihasilkan relatif kurang baik. b. Sulit mencari alat pembandingnya, sehingga sulit diukur kebenaran dan keabsahannya. c. Dasar dasar lain dalam pengambilan keputusan seringkali diabaikan. 2. Pengalaman Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. Karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan untung ruginya, baik buruknya keputusan yang akan dihasilkan. Karena pengalaman, seseorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan melihat sepintas saja mungkin sudah dapat menduga cara penyelesaiannya. Ada pandangan bahwa pengalaman adalah sakaguru yang baik. Seorang eksekutif dapat memutuskan boleh setidaknya sesuatu dilaksanakan berdasarkan pengalamannya. Seseorang yang sudah menimba banyak pengalaman tentu lebih matang dalam membuat keputusan daripada eksekutif yang sama sekali belum mempunyai pengalaman apa apa. Namun, perlu diperhatikan bahwa peristiwa peristiwa yang lampau tidak akan pernah sama dengan peristiwa peristiwa pada saat ini. Oleh sebab itu, penyesuaian terhadap pengalaman seorang eksekutif senantiasa diperlukan. 3. Fakta Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid, dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat
21 30 menerima keputusan keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada. Seorang eksekutif yang selalu bekerja secara sistematis akan mengumpulkan semua fakta mengenai satu masalah dan hasilnya ialah kemungkinan keputusan akan lahir dengan sendirinya. Artinya, fakta itulah yang akan memberi petunjuk keputusan apa yang akan diambil. Namun, sebenernya tidak segampang itu. Masalahnya, fakta yang ada tidak selamanya jelas dan lengkap. Bisa saja dua fakta melahirkan keputusan yang bertentangan pada saat eksekutif harus mencari jalan keluar yang lain. 4. Wewenang Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilaksanakan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang juga memiliki beberapa kelibahan dan kelemahan. Kelebihannya antara lain: a. Kebanyakan penerimaannya adalah bawahan, terlepas apakah penerimaan tersebut secara sukarela ataukah secara terpaksa. b. Keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukuo lama. c. Memiliki daya autentisitas yang tinggi (autentik). Kelemahannya antara lain: a. Dapat menimbulkan sifat rutinitas. b. Mengasosiasikan dengan praktik diktatorial. c. Sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan. 5. Logika Pengambilan keputusan yang berdasar logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semua unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional,
22 31 keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transpara, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara logika ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: a. Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah. b. Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai c. Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya. d. Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria. e. Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal. Pengambilan keputusan secara logika ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal Tipe Tipe Keputusan Menurut Setiadi (2008) manajer akan membuat tipe tipe keputusan yang berbeda sesuai kondisi dan situasi yang ada. Klasifikasi keputusan yang banyak digunakan adalah sebagai berikut: 1. Keputusan yang diprogram (programmed decisions): biasanya dilakukan secara rutin dan berulang ulang yang dibuat berdasarkan: a. Kebiasaan. b. Aturan atau prosedur tertentu. 2. Keputusan yang tidak diprogram (non-programmed decisions): berkenan dengan masalah masalah khusus, yang harus diselesaikan dengan suatu keputusan yang tidak diprogram. Semakin tinggi kedudukan dalam hierarki organisasi, dibutuhkan kemampuan untuk membuat keputusan keputusan yang tidak diprogram lebih tinggi pula.
23 32 3. Keputusan dengan kepastian, resiko, dan ketidakpastian: pembuatan keputusan sekarang untuk kegiatan kegiatan yang akan dilaksanakan dan tujuan yang akan dicapai di waktu yang akan datang: a. Dalam Kondisi kepastian (certainty): para manajer mengetahui apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang, karena tersedia informasi yang akurat, terpercaya, dan dapat diukur sebagai dasar keputusan. b. Dalam kondisi resiko (risk): manajer mengetahui besarnya probabilitas setiap kemungkinan hasil, tetapi informasi tidak lengkap tersedia. Resiko terjadi karena hasil pengambilan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui nilai probabilitasnya. Teknik pemecahannya selain menggunakan juga mempertimbangkan faktor varian dari hasil yang diharapkan. c. Dalam kondisi ketidakpastian (uncertainty): manajer tidakmengetahui probabilitas, bahkan mungkin tidak mengetahui kemungkinan hasil hasil. Tingkat ketidakpastian keputusan semacam ini dapat dikurangi dengan beberapa cara, antara lainl mencari informasi lebih banyak, mellalui riset atau penelitian, dan penggunaan probabilitas subjektif. Kondisi kondisi ketidakpastian pada umumnya menyangkut keputusan keputusan kritis dan paling menarik, dan keputusan dapat dilakukan lebih tepat dengan menggunakan metode metode kuantitatif untuk mengantisipasi dan memperkirakannya Faktor Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Dalam proses pengambilan keputusan, ada beberapa faktor yang memengaruhinya. Menurut Terry dalam Setiadi (2008), faktor faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: 1. Hal hal yang berwujud dan tidak berwujud, yang emosional maupun yang rasional.
24 33 2. Tujuan organisasi: setiap keputusan nantinya harus dijadikan sebagai bahan dalam pencapaian tujuan dari organisasi. 3. Orientasi: keputusan yang diambil tidak boleh memiliki orientasi kepada diri pribadi, tetapi harus lebih berorientasi kepada kepentingan organisasi. 4. Alternatif alternatif tandingan: jarang sekali ada satu pilihan yang betul betul memuaskan, karenanya harus dibuat alternatif alternatif tandingan. 5. Tindakan: pengambilan keputusan merupakan tindakan mental, karenanya harus diubah menjadi tindakan fisik. 6. Waktu: pengambilan keputusan yang efektif memerlukan waktu dan proses yang lebih lama. 7. Kepraktisan: dalam pengambilan keputusan diperlukan pengambil keputusan yang praktis untuk memperoleh hasil yang optimal (lebih baik). 8. Pelembagaan: setiap keputusan yang diambil harus dilembagakan agar dapat diketahui tingkat kebenarannya. 9. Kegiatan berikutnya: setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian mata rantai kegiatan berikutnya. Menurut Millet dalam Setiadi (2008), faktor faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan oleh pemimpin adalah sebagai berikut: 1. Gender: Pria umumnya bersifat lebih tegas atau berani dan cepat mengambil keputusan, sedangkan wanita umumnya relatif lebih lambat dan sering ragu ragu walaupun biasanya lebih cermat dalam analisis. 2. Peranan pengambil keputusan: peranan bagi orang yang mengambil keputusan itu perlu diperhatikan, mencakup kemampuan mengumpulkan informasi, kemampuan menganalisis dan menginterpretasikan, kemampuan menggunakan konsep yang cukup luas tentang perilaku manusia secara fisik untuk memperkirakan perkembangan perkembangan hari depan yang lebih baik. 3. Keterbatasan kemampuan: perlu disadari adanya kemampuan yang terbatas dalam pengambilan keputusan di bidang manajemen, yang dapat bersifat institusional ataupun bersifat pribadi.
25 34 Sedangkan menurut Hasan dalam Setiadi (2008), dalam pengambilan keputusan ada beberapa hal yang mempengaruhinya, sebagai berikut: 1. Posisi/kedudukan: dalam kerangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan seseorang dapat dilihat dalam hal berikut: a. Letak posisi: dalam hal ini apakah ia sebagai pembuat keputusan (decision maker), penentu keputusan (decision taker), ataukah staf (staffer). b. Tingkat posisi: dalam hal ini apakah sebagai strategi, policy, peraturan organisasional, operasional, atau teknis. 2. Masalah: masalah atau problem adalah apa yang menjadi penghalang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan daripada apa yang diharapkan, direncanakan atau dikehendaki dan harus diselesaikan. Masalah tidak selalu dapat dikenali segera, ada yang memerlukan analisis, ada pula yang bahkan memerlukan riset tersendiri. Masalah dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut: a. Masalah terstruktur (well structured problems), yaitu masalah yang logis dikenal dan mudah diidentifikasi. b. Masalah tidak terstruktur (ill structured problems), yaitu masalah yang masih baru, tidak biasa, dan informasinya tidak legkap. Selain pembagian masalah tersebut di atas, masalah dapat pula dibagi menjadi sebagai berikut: a. Masalah rutin, yaitu masalah yang sifatnya sudah tetap, selalu dijumpai dalam hidup sehari hari. b. Masalah insidental, yaitu masalah yang sifatnya tidak tetap, tidak selalu dijumpai dalam hidup sehari hari. 3. Situasi: adalah keseluruhan faktor faktor dalam keadaan, yang berkaitan satu sama lain, dan yang secara bersama sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat. Faktor faktor itu dapat dibedakan atas dua faktor, yaitu: a. Faktor faktor yang konstan (constant), yaitu faktor faktor yang sifatnya tidak berubah ubah atau tetap keadaannya.
26 35 b. Faktor faktor yang tidak konstan, atau variable, yaitu faktor faktor yang sifatnya terlalu berubah ubah, tidak tetap keadaannya. Di antara faktor variabel ini, ada yang dapat diperhitungkan bahkan dikendalikan, namun ada pula sama sekali di luar jangkauan manusia. 4. Kondisi: adalah keseluruhan dari faktor faktor yang secara bersama sama menentukan daya gerak, daya berbuat, atau kemampuan kita. Sebagian besar faktor faktor tersebut merupakan sumber daya sumberdaya. 5. Tujuan: tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah ditentukan. Tujuan yang ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objektif. Berdasarkan pendapat berbagai pakar tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: 1. Keadaan intern organisasi Keadaan intern organisasi bersangkut paut dengan apa yang ada di dalam organisasi tersebut. Keadaan intern organisasi antara lain meliputi dana yang tersedia, keadaan sumber daya manusia, kemampuan karyawan, kelengkapan dari peralatan organisasi, struktur organisasi. 2. Keadaan ekstern organisasi Keadaan ekstern organisasi bersangkut paut dengan apa yang ada di luar organisasi tersebut. Keadaan ekstern organisasi antara lain meliputi keadaan ekonomi, sosial, politik, hukum, budaya, sebagainya. Keputusan yang diambil harus memperhatikan situasi ekonomi, jika keputusan tersebut ada sangkut pautnya dengan ekonomi. Keputusan yang diambil tidak boleh bertentangan dengan norma norma, undang undang, hukum yang berlaku, dan peraturan peraturan. Keputusan yang diambil jika ada kaitannya, baik langsung maupun tidak langsung dengan bidang politik, jangan sekali kali bertentangan dengan pola kebijaksanaan yang telah
27 36 ditetapkan oleh pemerintah atau penguasa. Jika keputusan yang diambil ada kaitannya dengan budaya, sebaiknya memperhatikan aspek budaya setempatm dan sebagainya. 3. Tersedianya informasi yang diperlukan Dalam pengambilan keputusan, informasi yang diperlukan haruslah lengkap dan memiliki sifat sifat tertentu, sehingga keputusan yang dihasilkan dapatlah berkualitas dan baik. Sifat - sifat informasi itu antara lain sebagai berikut: a. Akurat, artinya informasi harus mencerminkan atau sesuai dengan keadaan yang sebenarnya b. Up to date, artinya informasi hendaknya mutakhir dan tepat waktu c. Komprehensif: artinya informasi harus dapat mewakili d. Relevan: artinya informasi harus ada hubungannya dengan masalah yang akan diselesaikan e. Memiliki kesalahan baku yang kecil: artinya informasi itu memiliki tingkat kesalahan yang kecil 4. Kepribadian dan kecakapan pengambil keputusan. Kepribadian dan kecakapan dari pengambil keputusan meliputi: penilaian, kebutuhan, inteligensia, keterampilan, kapasitasnya, dan sebagainya. Nilai nilai kepribadian dan kecakapan ini turut juga mewarnai tepat tidaknya keputusan yang diambil. Jika pengambil keputusan memiliki kepribadian dan kecakapan yang kurang, maka keputusan yang diambil juga akan kurang, demikian pula sebaliknya Proses Pengambilan Keputusan Menurut Setiadi (2008) banyak manajer yang harus membuat keputusan dengan metode metode pembuatan keputusan informal untuk memberikan pedoman bagi mereka. Contohnya, tradisi membuat keputusan sama seperti masalah dan kesempatan yang sama di waktu lalu, membuat keputusan berdasarkan nasihat dari seorang ahli atau manajer atasannya.
28 37 Proses dasar pembuatan keputusan secara rasional hampir sama dengan proses perencanaan strategis formal, yaitu meliputi tahapan sebagai berikut: Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4 Tahap 5 Tahap 6 Tahap 7 : Pemahaman dan perumusan masalah melalui identifikasi dan diagnosis masalah. : Pengumpulan dan analisis data yang relevan. : Pengembangan alternatif alternatif. Hebert Simon mengemukakan konsep pemuasan (satisfying), yang berarti bahwa pembuat keputusan memilih suatu alternatif yang cukup baik, walaupun bukan yang sempurna atau ideal. : Evaluasi alternatif alternatif melalui penilaian berbagai alternatif penyelesaian. : Pemilihan alternatif terbaik. : Implementasi keputusan. Setelah alternatif terbaik terpilih, para manajer harus membuat rencana rencana tindakan untuk mengatasi berbagai persyaratan dan masalah yang mungkin dijumpai dalam penerapan keputusan. : Evaluasi hasil hasil keputusan. Manajer perlu menggunakan berbagai cara untuk mengurangi unsur keraguan dan ketidakpastian dalam setiap keputusan. Metode pohon keputusan (decision tree) dikembangkan untuk membantu para manajer membuat serangkaian keputusan yang melibatkan peristiwa peristiwa ketidakpastian. Metode pohon keputusan adalah suatu peralatan/metode yang menggambarkan secara grafik yang menunjukkan berbagai kegiatan yang dapat diambil dan hubungan kegiatan kegiatan ini dengan berbagai peristiwa di waktu mendatang yang dapat terjadi. Dalam berbagai situasi yang tepat, penggunaan metode pohon keputuan akan mengurangi kekacauan potensial dalam suatu masalah kompleks dan memungkinkan manajer menganalisa masalah secara rasional. Setelah mempertimbangkan beberapa alternatif, strategi strategi lebih lanjut disajikan kepada manajer puncak untuk diambil keputusannya.
29 Teknik Pengambilan Keputusan Menurut Setiadi (2008) pengambilan keputusan meliputi antara hal hal yang berhubungan dengan fakta. Berbagai teknik dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai suatu masalah, tetapi dapat juga dengan menggantungkan diri pada para ahli atau konsultan. Cara apapun dipakai, tidak ada yang murni objektif, tetapi selalu mengandung unsur bias pada pihak pembuat keputusan karena tergantung pada nilai keputusan dan pada ketersediaan informasi tertentu sebagai fakta. Teknik pengambilan keputusan yang diperkenalkan dalam berbagai literatur cukup bervariasi. Pada umumnya, teknik pengambilan keputusan ini dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu teknik tradisional dan teknik modern. Untuk setiap klasifikasi keputusan yang sudah dijelaskan terdahulu, dapat digunakan teknik teknik yang berbeda sebagaimana dirangkumkan oleh McGrew dan Wilson (1985) dan Simon (1982) dalam Setiadi (2008). Mereka mengemukakan teknik teknik tradisional dan modern dalam pembuatan keputusan keputusan yang diprogram dan tidak diprogram Etika Dalam Pengambilan Keputusan Yang membedakan pengambilan keputusan etis dengan jenis pengambilan keputusan yang lain perbedaannya terletak pada apa yang disebut sebagai prinsip prinsip etis. Menurut Setiadi (2008) pertama, pada alasan yang digunakan dalam menghasilkan satu keputusan. Mengapa keputusan harus demikian? Kedua, pada fakta bahwa pengambil keputusan menerima prinsip yang dipersoalkan itu sebagai bagian dari pandangan moralnya. Masalah itu berkaitan dengan persoalan baik dan buruk yang diketahui umum. Pada prinsipnya etika dipandang sebagai koleksi dari prinsip prinsip atau pandangan moral tentang tindakan tindakan yang dapat atau tidak dapat diterima mengenai satu aktivitas tertentu seseorang atau kelompok orang. Etika selalu berkaitan dengan kata kata baik, buruk, jahat, benar, salah, wajib, harus, seharusnya, sebaiknya, jangan, adil, dan sebagainya. Ia tidak persis sama dengan kesusilaan yang berarti sopan santun, juga tidak identik dengan akhlak, yaitu budi
30 39 pekerti, tabiat, watak, yang merupakan sumber perbuatan manusia (Salusu, 1996 dalam Setiadi, 2008). Etika manajemen, adalah koleksi dari ide dan pemikiran tentang perilaku manajer yang dapat dan yang tidak dapat diterima, yaitu terutama mencakup benar atau salah, baik atau buruk, adil atau tidak adil, dan fair atau unfair. Akan tetapi, siapa yang menentukan bahwa suatu keputusan itu benar atau salah? Sering kali tergantung pada penilaian atau penghakiman seseorang, pada organisasi atau kelompok. Biasanya ada standar atau norma yang muncul sebagai konsensus atau persetujuan dari kelompok. Namun, untuk mencapai konsensus dalam masyarakat, mana yang benar atau salah, adil dan tidak adil, akseptabel atau tidak, tampaknya sulit ditemukan. Memang, ada undang undang tetapi itu bersifat umum, dan untuk setiap arena keutusan, selalu dijumpai daerah kelabu (grey areas) yang bisa benar, bisa salah (Salusu, 1992 dalam Setiadi, 2008). Terlebih lagi belum ada pedoman yang jelas untuk berperilaku dalam membuat keputusan, kecuali melalui pedoman Pancasila atau pedoman dan ketentuan keagamaan. Belum lagi kalau timbul masalah baru, yaitu bagaimana membedakan apa yang dikatakan para eksekutif sebagai yang mereka yakini, dengan apa yang betul betul mereka yakini dan laksanakan (Caroll, 1978 dalam Setiadi, 2008). Bagaimana juga, setiap organisasi memiliki kode etik, atau peraturan perundang undangan yang setidak tidaknya menjadi acuan dalam membuat keputusan yang layak dipertanggungjawabkan sebagai keputusan etis. Jadi, seseorang dikatakan membuat keputusan etis, apabila ia memutuskan untuk melakukan itu dengan mengacu pada aturan aturan etis, prinsip prinsip, standar, norma norma yang sudah menjadi baku dalam organisasi atau masyarakat. Apabila ia tidak mengacu pada aturan itu, maka ia seharusnya tidak membuat keputusan suoaya tidak timbul konflik antara keputusannya dengan aturan aturan tadi. Suatu aturan, prinsip, standar, atau norma dikatakan etis apabila dalam keputusan itu pengambil keputusan mempertimbangkan situasi dan kepentingan orang lain yang akan terkena keputusan tadi dan memberlakukan secara objektif tidak memihak. Dengan demikian, maka objektivitas dalam etika
31 40 memegang peranan sangat penting dalam mendorong lahirnya suatu keputusan yang baik (Salusu, 1992 dalam Setiadi, 2008). Lebih lanjut menurut Hill, (1979) dalam Setiadi (2008) menegaskan bahwa semua keputusan etis pada akhirnya diatur oleh suatu prinsip utilitas yang menyatakan bahwa: 1. suatu rangkaian tindakan dapat dianggap baik bagi organisasi, jika, dan hanya jika itu sudah merupakan alternatif yang terbaik dalam kondisi tertentu. 2. Alternatif terbaik itu adalah yang mempunyai dampak konsekuansi yang terbaik pula dan 3. Alternatif itu memaksimalkan perbandingan antara yang baik terhadap yang buruk bagi semua pihak yang terkena dampaknya. Memang agaknya sulit untuk mencapai persyaratan itu, tetapi usaha setiap pengambil keputusan untuk menuju ke arah sana tidak akan pernah tertutup. 2.5 MADM (Multi Attribute Decision Making) Menurut Hasurgian dan Benny A.R. (2011). MADM (Multiple Attribute Decision Making) adalah suatu metode dengan mengambil banyak kriteria sebagai dasar pengambilan keputusan, dengan penilaian yang subjektif menyangkut masalah pemilihan, dimana analisis matematis tidak terlalu banyak dan digunakan untuk pemilihan alternatif dalam jumlah sedikit. Beberapa teknik dari MADM (Multiple Attribute Decision Making) seperti AHP (Analytical Hierarchy Process), MAUT/MAVT (Multi Attribute Utility Value Theory), Promethee (Preference Ranking Organization Method for Enrichment Evaluation), Electre, dll. MADM (Multiple Attribute Decision Making) adalah bagian dari MCDM (Multi Criteria Decision Making). MCDM (Multi Criteria Decision Making) adalah suatu metode pengambilan keputusan untuk menetapkan alternatif terbaik dari sejumlah alternatif berdasarkan beberapa kriteria tertentu. MCDM memiliki dua kategori yakni MODM (Multiple Objective Decision Making) dan MADM (Multiple Attribute Decision Making).
32 41 Multiple Objective Decision Making (MODM) adalah suatu metode dengan mengambil banyak kriteria sebagai dasar dari pengambilan keputusan yang didalamnya mencakup masalah perancangan (design), dimana teknikteknik matematik untuk optimasi digunakan dan untuk jumlah alternatif yang sangat besar (sampai dengan tak terhingga). 2.6 Analytical Hierarchy Process (AHP) Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah teknik terstruktur untuk mengorganisir dan menganalisa keputusan yang kompleks, berdasarkan matematika dan psikologi. AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970 dan telah diteliti secara luas dan disempurnakan sejak saat itu. Menurut Saaty (2008) AHP (The Analytic Hierarchy Process) adalah teori pengukuran melalui perbandingan berpasangan dan bergantung pada penilaian dari ahli untuk mendapatkan skala prioritas. Skala tersebut adalah yang mengukur berwujud secara relatif. Perbandingan yang dibuat menggunakan skala penilaian mutlak yang mewakili, berapa banyak, satu elemen mendominasi elemen yang lainnya sehubungan dengan atribut yang diberikan. Menurut Saaty (2008) AHP memiliki aplikasi tertentu dalam pengambilan keputusan kelompokdan digunakan di seluruh dunia dalam berbagai situasi keputusan, di bidang-bidang seperti pemerintahan, bisnis, industri, kesehatan, galangan kapal, dan pendidikan. Menurut Saaty (2008) untuk membuat keputusan dalam cara yang terorganisir untuk menghasilkan prioritas kita perlu menguraikan keputusan dalam langkahlangkah berikut. 1. Tentukan masalah dan menentukan jenis pengetahuan yang dicari. 2. Struktur hirarki keputusan dari atas dengan tujuan keputusan, maka tujuan dari perspektif yang luas, melalui tingkat menengah (Kriteria yang mana bergantung pada unsur berikutnya) ke level terendah (Yang biasanya adalah seperangkat alternatif). 3. Buatlah satu set matriks perbandingan berpasangan. Setiap elemen dalam tingkat atas digunakan untuk membandingkan unsur-unsur di tingkat bawah yang langsung sehubungan dengan itu.
33 42 4. Gunakan prioritas yang diperoleh dari perbandingan untuk menimbang prioritas dalam tingkat tepat di bawah. Lakukan ini untuk setiap elemen. Kemudian untuk setiap elemen dalam tingkat bawah menambah nilai tertimbang dan mendapatkan prioritas secara keseluruhan atau global. Dilanjutkan dengan proses pembobotan dan penambahan sampai prioritas akhir dari alternatif yang berada di level paling bawah diperoleh. 2.7 Super Decisions Software Super Decisions Software adalah software pengambilan keputusan yang didasari oleh Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Analytic Network Process (ANP). Pengambilan keputusan adalah semua tentang pengaturan prioritas dengan AHP dan ANP melalui cara memproses pengambilan keputusan yang terbaik. Super Decisions Software berasal dari serangkaian perbandingan berpasangan pada faktor-faktor dari masalah yang dapat mencakup baik nyata dan berwujud. Seringkali pertimbangan paling penting dalam keputusan yaitu yang tidak berwujud, dan AHP adalah cara untuk menangani masalah ini. Tidak ada yang mempengaruhi kehidupan atau bisnis yang melebihi dari suatu kualitas keputusan. Berikut adalah tampilan Super Decisions Software: Gambar 2.3 menunjukan tampilan dari menu Perhitungan Sensitivitas: start up screen Hasil layar analisis sensitivitas saat menggunakan jenis parameter supermatrix dan presentase sebagai simpul lainnya terhadap tujuan utama.
34 43 Gambar 2.3 Sensitivity Screen (Sumber: Gambar 2.4 hingga gambar 2.8 menunjukan tampilan perbandingan pada Super Decisions software.
35 44 Gambar 2.4 Pairwise comparison Screen (Sumber: Gambar 2.5 Pairwise comparison Screen (Sumber: Gambar 2.6 Pairwise comparison Screen (Sumber:
36 45 Gambar 2.7 Pairwise comparison Screen (Sumber: Gambar 2.8 Pairwise comparison Screen (Sumber: Gambar 2.9 menunjukan tampilan contoh hasil penilaian bobot pada Super Decisions software. Gambar 2.9 Ratings Screen (Sumber:
37 46 *Keterangan: dari Gambar 2.3 sampai dengan Gambar 2.9 tanda (.) dalam bilangan angka adalah koma, contoh: adalah 2,543 Gambar 2.10 menunjukkan contoh tampilan pembuka (BOCR) pada Super Decisions software dengan kriteria strategis Gambar 2.10 Opening Screen BOCR (Sumber:
38 47 Gambar 2.11 Menunjukan contoh tampilan pembuka pada Super Decisions software dengan model AHP. Gambar 2.11 Opening Screen AHP model (Sumber: TOPSIS (Technique For Others Reference by Similarity to Ideal Solution) TOPSIS (Technique for Order of Preference by Similarity to Ideal Solution) adalah sebuah metode untuk pengambilan keputusan multi atribut yang pada awalnya dikembangkan oleh oleh Hwang dan Yoon pada tahun 1981 pada bukunya yang berjudul Multiple Attribute Decision Making: Methods and Applications lalu dikembangkan lebih lanjut oleh Yoon pada tahun 1987, dan dikembangkan kembali oleh Hwang, Lai, dan Liu pada tahun Menurut Hwang dan Yoon (1995) metode TOPSIS didasari oleh pemilihan alternatif yang memiliki jarak terpendek geometris dari solusi ideal yang bersifat positif dan memiliki jarak paling jauh dari solusi yang bersifat negatif. TOPSIS adalah metode agregasi sebagai pengganti yang membandingkan satu set alternatif dengan mengidentifikasi bobot untuk setiap kriteria, normalisasi skor untuk setiap kriteria, dan menghitung jarak geometris antara masing-masing alternatif dan
39 48 alternatif lain yang memiliki nilai terbaik pada setiap kriteria. Menurut Yoon dan Hwang (1995) asumsi TOPSIS adalah bahwa kriteria yang meningkat atau menurun. Normalisasi biasanya diperlukan sebagai parameter kriteria yang tidak layak di masalah multi-kriteria. Menurut Greene, Devillers, Luther, dan Eddy (2011) metode kompensasi seperti TOPSIS memungkinkan pertukaran antara kriteria, di mana hasil yang buruk dalam suatu kriteria dapat dinegasikan oleh hasil yang baik dalam kriteria lain. Ini memberikan bentuk permodelan yang lebih realistis dari metode non-kompensasi, yang menyertakan atau mengecualikan solusi alternatif berdasarkan pada pendekatan. Proses TOPSIS dilakukan sebagai berikut: 1. Buat matriks evaluasi yang terdiri dari m alternatif dan n kriteria, dengan persimpangan setiap alternatif dan kriteria diberikan sebagai, oleh karena itu kita memiliki matriks. 2. Matriks kemudian dinormalisasi untuk membentuk matriks.r = menggunakan metode normalisasi =, i = 1,2,...,m,j = 1,2...,n...(2.1) 3. Menghitung bobot matriks keputusan yang sudah dinormalisasi. T = =, i = 1,2,...,m...(2.2) Dimana = /,j = 1,2..., n, jadi = 1, dan adalah bobot asli yang diberikan untuk indikator,j= 1,2,...,n. 4. Menentukan alternatif terburuk dan alternatif terbaik ( ) } { }...(2.3) ( ) } { }...(2.4) Dimana,
40 49 J+ = {j = 1,2,..., n j terkait dengan kriteria yang memiliki dampak positif, dan J- = {j = 1,2,..., n j terkait dengan kriteria yang memiliki dampak negatif 5. Menghitung jarak L2 antara target alternatif i dan kondisi terburuk...(2.5) Dan jarak antara alternatif i dan kondisi terbaik...(2.6) Dimana dan adalah L2-jarak normal dari target alternatif i dengan masing masing kondisi yang terbaik dan terburuk. 6. Menghitung persamaan terhadap kondisi terburuk. = = 1, jika dan hanya solusi alternatif memiliki kondisi terbaik, dan = 1, jika dan hanya solusi alternatif memiliki kondisi terburuk 7. Peringkat alternatif menurut ( i = 1,2,...,m)
Pembahasan Materi #2
Materi #2 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Pembahasan Materi #2 2 Konsep Dasar Pemain Utama SC Pengelolaan Aliran SC The Interenterprise Supply Chain Model Inventory Optimalisasi Rantai Pasokan Push & Pull
MANAJEMEN OPERASIONAL. BAB VI Supply Chain
MANAJEMEN OPERASIONAL BAB VI Supply Chain Pengertian Supply Chain Supply chain adalah jaringan perusahaan yang bekerja sama untuk menciptakan dan mengantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Perusahaan-
TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN. Liduina Asih Primandari, S.Si.,M.Si.
TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN Liduina Asih Primandari, S.Si.,M.Si. PENDAHULUAN PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSEP PROBABILITAS MATERI - 2 PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KONDISI
JURNAL STIE SEMARANG, VOL 5, NO 1, Edisi Februari 2013 (ISSN : )
PERAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (SIM) DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN Anastasia Lipursari Dosen Tetap ASM Semarang Abstrak Sistem informasi mutlak diperlukan dalam pengambilan keputusan yang logis sehingga
LAMPIRAN 1 PANDUAN PENGISIAN KUESIONER MATRIKS PERBANDINGAN
LAMPIRAN 1 PANDUAN PENGISIAN KUESIONER MATRIKS PERBANDINGAN Panduan Untuk Pengisian Harga: 1. Jika Harga Supplier Lebih Murah 0 % s.d. 1.5 % maka nilai = 1 2. Jika Harga Supplier Lebih Murah >1.5 % s.d.
Supply Chain Management. Tita Talitha,MT
Supply Chain Management Tita Talitha,MT 1 Materi Introduction to Supply Chain management Strategi SCM dengan strategi Bisnis Logistics Network Configuration Strategi distribusi dan transportasi Inventory
Materi Minggu 3. Pengambilan Keputusan dalam Organisasi
T e o r i O r g a n i s a s i U m u m 2 11 Materi Minggu 3 Pengambilan Keputusan dalam Organisasi 3.1 Definisi dan Dasar Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan dibutuhkan ketika kita memiliki masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri retail dan chain store telah berkembang pesat dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan customer, baik dalam skala internasional, nasional, bahkan lokal. Walmart
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1. Supply Chain Management Pembahasan yang berkaitan tentang Supply Chain Management sudah banyak diangkat dalam penulisan penulisan sebelumnya. Menurut Fortune Megazine (artikel
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pujawan (2010) menyatakan bahwa Supply Chain Management tidak hanya berorientasi pada urusan internal sebuah perusahaan, melainkan juga urusan eksternal yang menyangkut hubungan
III. KERANGKA PEMIKIRAN
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Supply Chain Management Pada saat ini perusahaan-perusahaan tak terkecuali perusahaan agribisnis, dituntut untuk menghasilkan suatu produk
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangannya di perusahaan manufaktur, selain
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangannya di perusahaan manufaktur, selain bersaing dalam dunia pasar yang semakin memunculkan teknologi informasi yang canggih, perusahaan juga
MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 9: MANAJEMEN PENGADAAN (PURCHASING MANAGEMENT)
MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 9: MANAJEMEN PENGADAAN (PURCHASING MANAGEMENT) By: Rini Halila Nasution, ST, MT PENDAHULUAN Tugas dari manajemen pengadaan adalah menyediakan input,
Oleh : Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom
Oleh : Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom Era 1960-an Era Produksi Masal Mobil Ford Model T berwarna Hitam Mengutamakan jumlah output per satuan waktu Kuncinya : Produktivitas, Efisiensi, dan Utilitas Sistem Produksi.
MANAJEMEN RANTAI PASOKAN. Suhada, ST, MBA
MANAJEMEN RANTAI PASOKAN Suhada, ST, MBA MATERI Supply Chain Supply Chain Management ERP MODULES (POSISI SCM, CRM) ERP Modules (Posisi SCM, CRM) SUPPLY CHAIN Sebuah rangkaian atau jaringan perusahaan-perusahaan
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT ( SCM ) Prof. Made Pujawan
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT ( SCM ) Prof. Made Pujawan Pendahuluan Pelaku industri mulai sadar bahwa untuk menyediakan produk yang murah, berkualitas dan cepat, perbaikan di internal perusahaan manufaktur
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persediaan 2.1.1 Pengertian Persediaan Masalah umum pada suatu model persediaan bersumber dari kejadian yang dihadapi setiap saat dibidang usaha, baik dagang ataupun industri.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Di zaman yang global ini persaingan bisnis berjalan cukup ketat dan mengharuskan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di zaman yang global ini persaingan bisnis berjalan cukup ketat dan mengharuskan manajemen untuk memberikan terobosan yang strategis untuk tetap dapat mengembangkan
BAB II KERANGKA TEORETIS. pemasaran (yang sering disebut dengan istilah saluran distribusi). Saluran
BAB II KERANGKA TEORETIS 2.1. Teori Tentang Distribusi 2.1.1. Pengertian Distribusi Kebanyakan produsen bekerja sama dengan perantara pemasaran untuk menyalurkan produk-produk mereka ke pasar. Mereka membantu
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan menjelaskan pendahuluan dari penelitian yang diuraikan menjadi enam sub bab yaitu latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian
KONSEP SI LANJUT. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.
KONSEP SI LANJUT WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI. PERTEMUAN 3 KSI LANJUT Supply Chain Management (SCM) Pemahaman dan Fungsi Dasar SCM. Karakter Sistem. Arsitektur Pengembangan dan Tantangan SCM. Peran Internet
KONSEP SI LANJUT. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.
KONSEP SI LANJUT WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI. PERTEMUAN 3 KSI LANJUT Supply Chain Management (SCM) Pemahaman dan Fungsi Dasar SCM. Karakter Sistem SCM. Arsitektur Pengembangan dan Tantangan SCM. Peran
DUKUNGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PADA PENGAMBILAN KEPUTUSAN *
DUKUNGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PADA PENGAMBILAN KEPUTUSAN * Hj. Salmilah, S.Kom ** I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem Informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT Disusun Oleh: Puput Resno Aji Nugroho (09.11.2819) 09-S1TI-04 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER (STMIK) AMIKOM YOGYAKARTA Jalan
Julian Adam Ridjal PS Agribisnis UNEJ.
Julian Adam Ridjal PS Agribisnis UNEJ http://adamjulian.web.unej.ac.id/ A. Supply Chain Proses distribusi produk Tujuan untuk menciptakan produk yang tepat harga, tepat kuantitas, tepat kualitas, tepat
DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN
DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN Dosen : Diana Ma rifah DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN Menurut George R. Terry, dasar pengambilan keputusan dibedakan menjadi 5 (lima) macam. Kelima macam dasar pengambilan keputusan
Pembahasan Materi #5
1 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Pembahasan 2 Latar Belakang Kunci Sukses SCM Manajemen Logistik Fungsi dan Kegunaan Pengendalian Logistik Konvensional dan Logistik Mengelola Jaringan SC Strategi Proses
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Perencanaan Strategi Sistem dan Teknologi Informasi 2.1.1 Pengertian Perencanaan Strategis Perencanaan strategis, menurut Ward dan Peppard (2002, p462) adalah analisa
PENDAHULUAN. semakin berkembangnya zaman, maka semakin tinggi pula tingkat inovasi
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini semakin berkembangnya jumlah permintaan produk pangan, semakin berkembangnya zaman, maka semakin tinggi pula tingkat inovasi perusahaan untuk memproduksi pangan
KONSEP SISTEM INFORMASI
CROSS FUNCTIONAL MANAGEMENTS Materi Bahasan Pertemuan 6 Konsep Dasar CRM Contoh Aliran Informasi CRM Konsep Dasar SCM Contoh Aliran Informasi SCM 1 CRM Customer Relationship Management Konsep Dasar CRM
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian Supply Chain Management menurut para ahli, antara lain :
6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Supply Chain Management Pengertian Supply Chain Management menurut para ahli, antara lain : 1. Levi, et.al (2000) mendefinisikan Supply Chain Management (Manajemen Rantai
UPAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG TEPAT
UPAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG TEPAT Oleh: Sumaryanto Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta Disampaikan dalam acara LKMM FIK UNY Pada tanggal
Pembahasan Materi #8
1 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Pembahasan 2 Implikasi Secara Umum Implikasi Terhadap Manajemen Mutu Implikasi Terhadap Arus Barang Implikasi Terhadap Organisasi Implikasi Biaya & Nilai Tambah Implikasi
Enterprise Resource Planning (ERP)
Enterprise Resource Planning (ERP) ERP adalah sebuah system informasi perusahaan yang dirancang untuk mengkoordinasikan semua sumber daya, informasi dan aktifitas yang diperlukan untuk proses bisnis lengkap.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap perusahaan tidak dapat lepas dari persoalan transportasi, baik untuk pengadaan bahan baku ataupun dalam mengalokasikan barang jadinya. Salah satu metode yang
Hakikat Rantai Pasokan
1 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Hakikat Rantai Pasokan 2 Jaringan organisasi yang menyangkut hubungan ke hulu (upstreams) dan ke hilir (downstreams), dalam proses dan kegiatan yang berbeda yang menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN. mutu lebih baik, dan lebih cepat untuk memperolehnya (cheaper, better and
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam era globalisasi ini, distribusi dan logistik telah memainkan peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan perdagangan dunia. Terlebih lagi persaingan
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Logistik
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Logistik Distribusi fisik dan efektivitas logistik memiliki dampak yang besar pada kepuasan dan biaya perusahaan. Manajemen logistik penting dalam rantai pasokan, tujuan dari
MRP Pertemuan 6 BAB 6 IMPLIKASI STRATEGI MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
BAB 6 IMPLIKASI STRATEGI MANAJEMEN RANTAI PASOKAN Implikasi Secara Umum 1. Pengembangan manajemen logistik Manajemen Rantai Pasokan pada hakikatnya pengembangan lebih lanjut dari manajemen logistik, yaitu
KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Manajemen Persediaan Manajemen persediaan adalah menentukan keseimbangan antara investasi persediaan dengan pelayanan pelanggan (Heizer dan
Dwi Hartanto, S,.Kom 03/04/2012. E Commerce Pertemuan 4 1
1.Pengertian E Market Place 2.Pertimbangan Bergabung g ke dalam E Market Place Suatu lokasi diinternet, di mana suatu perusahaan dapat memperoleh atau memberikan informasi, mulai transaksi pekerjaan, atau
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan. Konsumen tidak lagi hanya menginginkan produk yang berkualitas, tetapi juga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Di era globalisasi saat ini, persaingan antar perusahaan semakin ketat. Konsumen tidak lagi hanya menginginkan produk yang berkualitas, tetapi juga menuntut
10/17/2013. N. Tri Suswanto Saptadi Teknik Informatika Istilah (1 dari 5)
N. Tri Suswanto Saptadi Teknik Informatika http://trisaptadi.uajm.ac.id 1 Istilah (1 dari 5) Supply Chain Manajement (SCM) biasa disebut dalam istilah Bahasa Indonesia yaitu: Manajemen Rantai Pasok. SCM
KONSEP SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM) PADA PROSES PRODUKSI DALAM PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU ABSTRAK
KONSEP SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM) PADA PROSES PRODUKSI DALAM PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU Francka Sakti [email protected] Sistem Informatika Universitas Bunda Mulia ABSTRAK Persaingan dunia
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Standard Operating Procedure (SOP) 2.1.1 Pengertian SOP Setiap organisasi perusahaan memiliki pola dan mekanisme tersendiri dalam menjalankan kegiatannya, pola dan mekanisme itu
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Peningkatan persaingan industri baik industri manufaktur maupun industri jasa akibat adanya perdagangan bebas menyebabkan seluruh industri berusaha untuk melakukan
: Yan Ardiansyah NIM : STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
KARYA ILMIAH E-BUSSINESS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT disusun oleh : Nama : Yan Ardiansyah NIM : 08.11.2024 Kelas : S1TI-6C JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA JENJANG STRATA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN
BAB I PENDAHULUAN. manusia akan teknologi semakin besar. Peran teknologi akhir-akhir ini sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, kebutuhan manusia akan teknologi semakin besar. Peran teknologi akhir-akhir ini sangat diperlukan untuk
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Meskipun perekonomian dan perindustrian nasional kini dihadapkan kepada dampak krisis ekonomi global, namun bisnis ritel di Indonesia tidak terkendala bahkan masih
STRATEGI PEMILIHAN SUPPLIER DALAM SUPPLY CHAIN MANAGEMENT PADA BISNIS RITEL
STRATEGI PEMILIHAN SUPPLIER DALAM SUPPLY CHAIN MANAGEMENT PADA BISNIS RITEL Anna Probowati Pengajar Jurusan Manajemen STIE Rajawali Purworejo Abstraksi Supply chain management merupakan sistem dalam proses
Muhammad Bagir, S.E.,M.T.I. Pengelolaan Rantai Pasokan
Muhammad Bagir, S.E.,M.T.I Pengelolaan Rantai Pasokan 1 Rantai Pasok(Supply Chain) Suatu konsep atau mekanisme untuk meningkatkan produktivitas total perusahaan dalam rantai suplai melalui optimalisasi
Bab 9 KONSEP e SUPPLY CHAIN DALAM SISTEM INFORMASI KORPORAT TERPADU
Bab 9 KONSEP e SUPPLY CHAIN DALAM SISTEM INFORMASI KORPORAT TERPADU Sistem Informasi Korporat Terpadu Konsep manajemen supply chain memperlihatkan adanya proses ketergantungan antara berbagai perusahaan
BAB I PENDAHULUAN. terus menciptakan berbagai inovasi-inovasi baru untuk tetap dapat unggul dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dunia bisnis sekarang ini terus bersaing untuk menciptakan berbagai kebutuhan pelanggan (customer) yang semakin tinggi, dan semakin cerdas dalam memilih kebutuhannya.
Pengantar Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management)
Modul 1 Pengantar Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management) PENDAHULUAN Ir. Adi Djoko Guritno, MSIE., Ph.D. Meirani Harsasi, S.E., M.Si. K etatnya kompetisi dalam pasar global masa kini, pengenalan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Untuk mengatasi krisis ekonomi, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia telah membuat Ketetapan MPR Nomor
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Untuk mengatasi krisis ekonomi, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia telah membuat Ketetapan MPR Nomor XVI Tahun 1998 tentang Politik Ekonomi Dalam Rangka
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Keputusan dan Pengambilan Keputusan Suatu masalah keputusan memiliki suatu lingkup yang berbeda dengan masalah lainnya. Perbedaan ini menonjol terutama karena adanya
Pembahasan Materi #11
1 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Pembahasan 2 Konsep, Pengelolaan, Kolaborasi SCM Sistem Informasi Terpadu Tahapan Evolusi Pengembangan Aspek Pengembangan 6623 - Taufiqur Rachman 1 Konsep SCM 3 SCM Memperlihatkan
I. PENDAHULUAN. Kompetisi di dunia usaha yang berlangsung ketat, menuntut. perusahaan untuk memberikan tanggapan secara cepat dan tepat agar
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kompetisi di dunia usaha yang berlangsung ketat, menuntut perusahaan untuk memberikan tanggapan secara cepat dan tepat agar mampu bersaing dan berkembang. Salah satu cara
BAB II URAIAN TEORITIS. lebih dari lima puluh orang. Usaha kecil memiliki ciri-ciri: (1) manajemen
BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Usaha Kecil 2.1.1 Pengertian Usaha kecil adalah usaha yang pemiliknya mempunyai jalur komunikasi langsung dengan kegiatan operasi dan juga dengan sebagian besar tenaga kerja
Deskripsi Mata Kuliah
Materi #1 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Deskripsi Mata Kuliah 2 Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management/SCM) merupakan mata kuliah yang akan membahas pengelolaan kegiatan-kegiatan dalam rangka
MAKALAH E BISNIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
MAKALAH E BISNIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT Disusun oleh : Nama : Marcellinus Cahyo Pamungkas NIM : 08.11.2489 JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAGEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA
BAB II BAHAN RUJUKAN
BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Anggaran Perusahaan Suatu perusahaan didirikan dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan utama dari suatu perusahaan bersifat profit oriented, yaitu mencapai laba yang
LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN SWOT. Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai yang nantinya berpengaruh terhadap
LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN SWOT Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai yang nantinya berpengaruh terhadap strategi di dalam perusahaan. Petunjuk Bobot : Berilah bobot antara 0-1 dengan
BAB I PENDAHULUAN. masalah, tujuan penelitian, dan pembatasan masalah. integrasi yang efisien antara pemasok (Supplier), pabrik (manufacture), pusat
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini menjelaskan mengenai latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan pembatasan masalah. 1.1 Latar Belakang Supply Chain Management (SCM) adalah sebuah
BAB I PENDAHULUAN. ini, pemenuhan pelayanan berkualitas bagi perusahaan kemudian tidak jarang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan kemajuan kondisi perekonomian, maka dunia industri semakin mendapat tuntutan yang tinggi dari masyarakat. Tuntutan yang dimaksud salah satunya
BAB II KAJIAN PUSTAKA. lain : Haryono Jusuf (1997:24), biaya adalah harga pokok barang yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Biaya Definisi mengenai biaya dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain : Haryono Jusuf (1997:24), biaya adalah harga pokok barang yang dijual dan jasa-jasa yang dikonsumsi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan
1 PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Manajemen inventory merupakan suatu faktor yang penting dalam upaya untuk mencukupi ketersediaan stok suatu barang pada distribusi dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Objek Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Objek Penelitian Industri ritel memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara., terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Seiring dengan pesatnya
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perusahaan saat ini semakin pesat. Era saat ini mendorong
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan perusahaan saat ini semakin pesat. Era saat ini mendorong banyak perusahaan untuk semakin memperluas usahanya dengan meraih pangsa pasar. Hal
RISET PEMASARAN. By Zainal Abidin. Agribisnis Perikanan, FPIK UB 2018
RISET PEMASARAN By Zainal Abidin Agribisnis Perikanan, FPIK UB 2018 MENGAPA RISET PEMASARAN ITU PENTING? 1. Perlukah mengetahui berapa omzet bulan depan? 2. Perlukah mengetahui siapa pesaing utama usaha
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER PADA PT.BINTANG MEGA MEDIKA SEMARANG
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER PADA PT.BINTANG MEGA MEDIKA SEMARANG Andi Trisetiawan Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro Semarang 1. Pendahuluan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada kurun waktu terakhir, persaingan dalam bidang ekonomi semakin kuat. Dipengaruhi dengan adanya perdagangan bebas, tingkat kompetisi menjadi semakin ketat. Hal
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. analisis data Structural Equation Modelling maka dapat disimpulkan sebagai
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Setelah dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian dengan teknik analisis data Structural Equation Modelling maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.
BAB 1 PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhannya sehari-hari, baik itu kebutuhan yang bersifat primer
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Belanja merupakan aktivitas keseharian masyarakat, setiap orang perlu memenuhi kebutuhannya sehari-hari, baik itu kebutuhan yang bersifat primer (kebutuhan pokok atau
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia bisnis yang cepat dan kompleks sebagai akibat dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia bisnis yang cepat dan kompleks sebagai akibat dari gelombang globalisasi menuntut para pelaku usaha atau perusahaan untuk lebih responsif dalam menghadapi
PO LIT EKNIK IND RAM AYU (PO LIND RA)
1 (teori pengambilan keputusan) Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Statistika Dan Probabilitas DISUSUN OLEH KELOMPOK I : SENDY BAYU SETIYAZI AHMAD JAMALUDIN FARIZ FATH AL-AKBAR CANDRA
Supply Chain Management Systems
Supply Chain Management Systems Abstraksi Supply chain management systems mengacu kepada koordinasi berbagai aktifitas dan termasuk penciptaan dan pembuatan serta perpindahan suatu produk dari satu titik
BAB IV AUDIT OPERASIONAL ATAS PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PADA PT NORITA MULTIPLASTINDO
BAB IV AUDIT OPERASIONAL ATAS PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PADA PT NORITA MULTIPLASTINDO IV.1 Perencanaan Audit Operasional Audit operasional merupakan suatu proses sistematis yang mencakup serangkaian
II. TINJAUAN PUSTAKA
22 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rantai Pasokan Menurut Indrajit dan Pranoto (2002), rantai pasokan adalah suatu tempat sistem organisasi menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya. Rantai
BAB I PENDAHULUAN. Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia membutuhkan rakyat
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Penelitian Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia membutuhkan rakyat yang sehat untuk dapat belajar dan bekerja dalam rangka membangun bangsa. Agar rakyat
School of Communication Inspiring Creative Innovation. Pengembangan Kepemimpinan Pertemuan 11 SM III
Penempatan School of Communication Pegawai & Business Inspiring Creative Innovation Pengembangan Kepemimpinan Pertemuan 11 SM III 2017-2018 JENIS DAN TIPE KEPUTUSAN Mahasiswa dapat memahami jenis dan tipe
Tahap 2 Pengembangan Pencarian Desain
I. Landasan Teori A. Pandangan umum tentang pengambilan keputusan Fred Luthans dalam bukunya Perilaku Organisasi menyebutkan bahwa pengambilan keputusan didefinisikan secara universal sebagai pemilihan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Pemasaran dan Manajemen Pemasaran Pengertian pemasaran menurut Philip khotler (2000) adalah suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN COORPORATE VALUE. Petunjuk: Berilah nilai bobot antara 0-5 dimana:
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN COORPORATE VALUE Petunjuk: Berilah nilai bobot antara - dimana: Tidak berhubungan sama sekali. Sangat sedikit hubungannya. Sedikit hubungannya Cukup berhubungan. Memiliki
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Salah satu proporsi terbesar dalam suatu organisasi produksi adalah berasal dari pembelian, maka diperlukan Departemen Purchasing yang tepat dan efisien sehingga dapat menghasilkan
2.1. Rantai Pasokan dan Manajemen Rantai Pasokan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rantai Pasokan dan Manajemen Rantai Pasokan Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2002) supply chain (rantai pasokan) adalah suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 14 LANDASAN TEORI 2.1 Proses Hierarki Analitik 2.1.1 Pengenalan Proses Hierarki Analitik Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy Process AHP) dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty dari Wharton
Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari
Kode Etik Global Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari Takeda Pharmaceutical Company Limited Pasien Kepercayaan Reputasi Bisnis KODE ETIK GLOBAL TAKEDA Sebagai karyawan Takeda, kami membuat keputusan
BAB I PENDAHULUAN. Manjemen rantai suplai merupakan suatu proses untuk mengintegrasi,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persaingan ketat dalam dunia bisnis menuntut perusahaan untuk memiliki keunggulan kompetitif dalam hal memenuhi kebutuhan konsumen. Perusahaan dapat meningkatkan kinerja
Entrepreneurship and Inovation Management Berisi : Pengertian Business Plan Format Business Plan
Modul ke: 09 Entrepreneurship and Inovation Management Berisi : Pengertian Business Plan Format Business Plan Fakultas Ekonomi Dr. Tukhas Shilul Imaroh,MM Program Studi Pasca Sarjana www.mercubuana.ac.id
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Sistem Informasi, Analisis Sistem, dan Perancangan Sistem 2.1.1 Pengertian Sistem Informasi Sistem Sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Persediaan pada Supply Chain Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan,
Oleh : Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom. Edi Sugiarto, M.Kom - Supply Chain Management dan Keunggulan Kompetitif
Oleh : Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom Edi Sugiarto, M.Kom - Supply Chain Management dan Supply Chain Management pada hakekatnya adalah jaringan organisasi yang menyangkut hubungan ke hulu (upstream) dan ke
BAB IV PEMBAHASAN. Secara umum, penelitian ini bertujuan membantu perusahaan dalam
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Proses Produksi Secara umum, penelitian ini bertujuan membantu perusahaan dalam menekan tingkat terjadinya kecacatan produk yang terjadi selama proses produksinya dengan efektif dan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini sektor industri terus berkembang,sehingga segala aspek yang terdapat pada sebuah industri sangat menentukan keberhasilan dan kemajuan industri tersebut.
SCM dalam E-Business. 1. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang SCM pada e-business
1. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang SCM pada e-business Supply Chain Management Pengertian supply adalah sejumlah material yang disimpan dan dirawat menurut aturan tertentu dalam tempat persediaan agar
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bisnis pasar modern sudah cukup lama memasuki industri retail Indonesia dan dengan cepat memperluas wilayahnya sampai ke pelosok daerah. Bagi sebagian konsumen pasar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi dewasa ini menjadi kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap negara. Proses interaksi antar negara terjadi di berbagai bidang, salah satunya adalah
BAB II LANDASAN TEORI. penerimaan dengan pengeluaran, tetapi dengan semakin
BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian dan Jenis-Jenis Anggaran 1. Pengertian Anggaran Pengertian anggaran terus berkembang dari masa ke masa. Dulu anggaran hanya merupakan suatu alat untuk menyeimbangkan
