B A B I P E N D A H U L U A N

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "B A B I P E N D A H U L U A N"

Transkripsi

1 B A B I P E N D A H U L U A N 1.1. LATAR BELAKANG Arsitektur merupakan konstruksi yang dengan sengaja mengubah lingkungan fisik menurut suatu bagan pengaturan (Rapoport dalam Snyder, 1992). Arsitektur dibagi menjadi dua tahap, yaitu wujud dan konsep. Wujud arsitektur adalah tatanan yang diekspresikan melalui proses pemilihan, citra yang terkandung, dan bentuk yang diberikan dari suatu pandangan dari lingkungan yang ideal, sedangkan konsep arsitektur adalah pemikiran mengenai cara beberapa unsur atau karakteristik dapat digabungkan menjadi satu hal saja. Konsep sebagai identifikasi bagaimana aspek persyaratan dalam sebuah karya digabungkan dalam satu pemikiran spesifik yang langsung mempengaruhi rancangan dan konfigurasinya. Konsep sendiri terbagi menjadi prinsip rancangan, metode rancangan, dan konsep rancangan (Snyder, 1992). Gutman (1976) menjelaskan Arsitektur merupakan lingkungan buatan yang bukan saja menjembatani antara manusia dengan lingkungan melainkan sekaligus merupakan wahana ekspresi kultural untuk menata kehidupan jasmaniah, psikologis dan sosial manusia. Arsitektur dalam skala bangunan diidentifikasi memiliki empat komponen, yaitu fungsi (function), bentuk (form), teknik (technique), dan konteks(context) (Ching, 1979 dalam Wijono, 2011) Sumalyo (2005) menyatakan perkembangan arsitektur sejalan dengan kebudayaan manusia, yaitu : pola pikir dan pola hidupnya. Pola pikir manusia dipengaruhi oleh cara pandangnya terhadap dunia, realitas yang tampak dan tak tampak. Jencks (1995) dalam Ikhwanuddin (2004) menyatakan wujud arsitektur dipengaruhi oleh world view manusia dan masyarakatnya dengan prinsip form follow world view. Sejak tahun 1930 gerakan modern Jepang melonjak cepat berkembang dan menghasilkan berbagai karya arsitektur penting. Perkembangan arsitektur modern Jepang pada waktu itu tidak berlangsung lama setelah dijatuhkannya bom atom 1

2 oleh Amerika di Hiroshima dan Nagasaki. Falsafah Less is more seperti konsep kemurnian de stijl dan international style, dipadukan dengan menonjolkan secara jujur elemen-elemen konstruksi kolom, balok, bidang dan lain-lain sudah sejak lama menjadi konsep dalam arsitektur tradisional Jepang. Setelah terjadinya Perang Dunia ke II negara Jepang mengalami kehancuran dimana-mana terutama 2 kota besar yaitu Hiroshima dan Nagasaki. Untuk memperbaiki dan membangun kota dari awal, maka pemerintah Jepang mengadakan sayembara-sayembara besar untuk memperingati kehancuran 2 kota tersebut. Salah satunya adalah sayembara Hiroshima Memorial Park yang dimenangkan oleh Kenzo Tange. Dari desain inilah kemudian para arsitek-arsitek lain berlomba-lomba untuk mengajukan proposal desain mereka untuk memperbaiki Jepang secara seutuhnya..pertumbuhan perkotaan yang sebelumnya bergerak ke arah horizontal, sebenarnya ingin diatasi oleh arsitek modern awal dengan menciptakan sistem superblok. Di mana mulai muncul ide mengenai superblok dengan bangunan skyscraper oleh Le Corbusier misalnya. Namun kecanggihan teknologi yang ada dinilai terlalu kering, sehingga beberapa arsitek Jepang pada Tokyo World Design Conference merasa perlu mengkaitkannya dengan tradisi lokal. Pada awal tahun 1960-an sebuah gerakan dicetuskan oleh sekelompok arsitek Inggris yang kreatif dan penuh dedikasi yang meyebut dirinya Archigram yang terdiri dari arsitek-arsitek muda saat itu yaitu : Peter Cook, Ron Herron, Warren Chalk, Michael Webb, Dennis Crompton dan David Greene. Archigram dibentuk dari kombinasi kata architecture dan telegram, yang dimaksud untuk menyampaikan pentingnya isi dari pamflet mereka. Mereka mengemukakan berbagai usulan arsitektur futuris yang penuh imajinasi tentang pemanfaatan teknologi modern dalam bidang arsitektur. Bangunan-bangunan masa depan diprediksi akan berjalan secara mekanik tanpa perlu manusia ikut campur tangan. Kota dan arsitektur yang serba otomatis dan serba cepat, movable maupun portable diterjemahkan ke dalam pemikiran ide konsep Instant City. 2

3 Di saat yang hampir bersamaan pada tahun 1960 di Jepang, muncullah sebuah gerakan arsitektur yang menyerupai Archigram. Sekelompok arsitek muda diantaranya ada yang belajar dan bekerja pada Kenzo Tange dan Kunio Maekawa, bersama-sama mencetuskan gerakan yang dinamakannya Metabolism. Gerakan ini melihat bahwa arsitektur maupun kota di masa yang akan datang harus di rencanakan dengan waktu yang cepat, mudah dan dapat diganti secara periodik menggunakan teknologi yang maju dan memudahkan manusia untuk mengontrol lingkungannya. Ide-ide yang sebelumnya oleh Archigram hanya ide proposal semata, oleh gerakan ini dijentawahkan ke dalam produk yang nyata pada Osaka Expo Franklin Ross, AIA mengatakan bahwa kemampuan khas Jepang dalam merangkul dan mensenyawakan teknologi modern dengan warisan kultur dan arsitektur tradisional mereka telah menarik perhatian dan merangsang imajinasi arsitek-arsitek di seluruh pelosok dunia (Budihardjo, 1984: 19). Ada suatu keyakinan kuat bahwa masa depan dari arsitektur modern akan banyak sekali dipengaruhi oleh apa yang sudah dibangun di Jepang. Suatu periode yang penuh kecaman, tantangan dan cercaan terhadap konsep-konsep gerakan Arsitektur Modern. Hasil karya arsitek-arsitek seperti Kenzo Tange, Kisho Kurokawa, Kiyonori Kikutake, Fumihiko Maki serta Arata Isozaki yang berada pada jalur perancangan Arsitektur Modern telah melangkah lebih jauh melewati tahap derivasi dan imitasi. Mereka telah berhasil menimbulkan kesan identitas pribadi (sense of self-identity) dan menciptakan arsitektur yang penuh vitalitas serta orisinalitas (Budiharjo, 1984:20). Gambar 1.1. Konsep Instant City oleh Archigram Sumber : akses

4 Metabolisme muncul pada saat transisi dalam sejarah Jepang - saat pasca-perang restrukturisasi telah menyebabkan perkembangan ekonomi yang pesat dan densifikasi perkotaan. Dengan Kenzo Tange sebagai pemimpin kelompok de facto itu, Metabolis berusaha untuk membangun arsitektur yang memiliki kemampuan untuk mengubah, memperluas dan mengubah dalam menanggapi kondisi lingkungan. Mereka memiliki mimpi dan visi menciptakan Jepang yang baru. We regard human society as a vital process, a continious development from atom to nebula. The reason why we use the biological word metabolism is that we believe design and technology should be denote human vitality. (Metabolism 1960 ; a Proposal for a New Urbanism) Metabolis menganggap arsitektur dan kota sebagai jasad hidup yang kapabel dalam bereaksi terhadap berbagai tingkat perubahan yang terjadi. Salah satu tujuan dari grup ini adalah memperkembangkan suatu building system yang dapat mengatasi masalah-masalah di dalam kehidupan masyarakat yang selalu berubah-rubah dengan cepat dan pada saat yang sama melestarikan tata kehidupan yang sudah mantap /stabil (Budihadjo,1984:24). Sedangkan manifesto dari kelompok ini merupakan koleksi dari sudut pandangan yang divergen tentang masa depan dari arsitektur dan perencanaan kota. Nama gerakan ini dicetuskan bersamaan dengan adanya World Design Conference pada tahun Tokoh-tokohnya antara lain; arsitek : Kisho Kurokawa, Fumihiko Maki, Kiyonori Kikutake, Masato Otaka; desainer grafis Kiyoshi Awazu; desainer industri Kenji Ekuan, dan fotografer Shomei Tono (Kurokawa, 1988). Gerakan ini seiring dengan politik Jepang dan merupakan propagada memasarkan produknya ke Eropa, dengan puncak kegiatannya Osaka World s Fair tahun

5 Gambar 1.2. Ide pemikiran metabolisme seperti apa kota di masa depan (Arata Isozaki) Sumber: GA.Architect.Arata Isozaki, 2014 Tokoh-tokoh arsitek tersebut secara bersamaan mengungkapkan pemikiran mereka akan Arsitektur Metabolisme berdasarkan versi mereka masing-masing baik secara yang telah dibangun maupun yang masih berupa ide proposal (unbuilt). Seperti Kisho Kurokawa dengan bangunan fenomenalnya yaitu Nakagin Capsule Tower yang dibangun pada tahun 1972, dan Yamagata Hawaii Dreamland tahun Gambar 1.3. Yamagata Hawaii Dreamland (Kiri) analogi sel, dan Nakagin Capsule (kanan) analogi pohon Sumber: From Metabolism to Symbiosis, 2014 Dilanjutkan dengan Kiyonori Kikutake dengan ide-ide arsitektur lautnya, Kikutake menganalogikan bahwa bangunan di masa yang akan datang akan seperti hewan-hewan laut tetapi tetap memiliki nilai lokalitas Jepang, seperti Aquapolis di Okinawa yang dibangun tahun Fumihiko Maki yang awalnya menolak untuk ikut terlibat dalam gerakan ini menyumbangkan ide yang dianggap 5

6 oleh Kurokawa merupakan ide yang representatif untuk mewakili arsitektur metabolisme. Gambar 1.4. Aquapolis (Kiri) analogi hewan laut, dan Hillside Terace (kanan) bentuk collective form Sumber: Metabolism: Project Talks,.., 2014 Sedangkan Kenzo Tange yang merupakan pencetus gerakan ini memandang metabolisme arsitektur merupakan perpaduan arsitektur modern Barat dengan budaya lokal Jepang. Gambar Yamanashi Broadcast Centre Sumber: Metabolism: Project Talks,.., 2014 Menurut Pernice (2004), gerakan metabolisme sebagai bagian dari teori arsitektur bertujuan memecahkan persoalan akibat tingginya jumlah penduduk dan semakin sesaknya kota Jepang selama pertumbuhan ekonomi yang pesat pada waktu itu, juga sebagai sebuah teori kritis terhadap analisa sosial dalam sudut pandang arsitektur. Lebih lanjut Pernice (2004) menyatakan bahwa gerakan ini berusaha menghubungkan antara kebudayaan Jepang dan arsitektur kontemporer melalui pembauran dan selanjutnya mentransformasikan tatanan nilai barat untuk 6

7 menghasilkan model yang cocok untuk tradisi budaya Jepang. Kelompok ini memiliki maksud untuk menghasilkan suatu sistem yang membuat manusia menjaga kontrol atas teknologi. Teori ini menawarkan suatu pengaturan ulang untuk membagi arsitektur dan ruang kota pada tataran lanjut dari yang global ke yang mengkhusus dan yang bisa memudahkan manusia untuk mengontrol lingkungannya. Namun gerakan ini tidak berlangsung lama, hanya 10 tahun sejak dideklarasikan pada tahun 1960 dan dibubarkan pada tahun Momentum puncak dari gerakan ini pada Osaka Fair Dimana pada ekspo tersebut para tokoh gerakan ini mengeluarkan ide-ide metabolisme versi mereka masingmasing. Dengan masterplan ekspo dibuat oleh Kenzo Tange, para tokoh Metabolis menawarkan ide-ide futuris tentang kota di masa yang akan datang. Konsepkonsep tersebut dikemudian hari ada yang terbangun maupun tidak terbangun atau hanya sebagai cita-cita (utopia). Setelah Osaka Fair 1970 selesai, gerakan ini resmi dibubarkan. Masingmasing tokoh akhirnya berkarya sendiri-sendiri dan berkarya berdasarkan pemikiran baik masih menggunakan konsep metabolisme maupun tidak. Setelah gerakan ini bubar Kurokawa menyatakan bahwa gerakan Metabolisme hanya sebagai filosofi semata dan belum teruji secara nyata keberhasilannya terhadap perkembangan arsitektur dan kota. 1.2.PERMASALAHAN Perkembangan Arsitektur Metabolisme di Jepang berdiri pada tahun 1960 yang ditandai oleh gerakan Metabolisme hingga bubarnya gerakan ini pada tahun 1970 pada Osaka Fair 70. Dalam perjalanan aliran ini terdapat sejumlah konsepkonsep pemikiran metabolisme yang dibawa oleh para tokoh-tokoh arsitektur Jepang yang menjadi pelopor gerakan Metabolisme. Para tokoh asitektur Metabolisme membuat proposal desain berdasarkan ide dan konsep metabolisme versi mereka. Dengan demikian pertanyaan penelitian yang muncul dari uraian di atas adalah: 7

8 1. Seperti apa Arsitektur Metabolisme Jepang yang dibangun oleh tokoh gerakan Metabolis antara lain Kenzo Tange, Kiyonori Kikutake, Kisho Kurokawa dan Fumihiko Maki pada karya-karya metabolismenya, serta konsep Metabolisme Arata Isozaki yang bukan merupakan anggota formal dari grup ini? 2. Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi munculnya Arsitektur Metabolisme Jepang? 1.3. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian disusun untuk merumuskan Arsitektur Metabolisme Jepang secara konseptual dengan mengkonstruksikan Konsep Arsitektur Metabolisme yang diangkat oleh tokoh-tokoh gerakan Metabolis yaitu Kenzo Tange, Fumihiko Maki, Kisho Kurokawa, dan Kiyonori Kikutake, serta sumbangan pemikiran dan konsep Metabolisme dari arsitek non-anggota Metabolis yaitu Arata Isozaki. Konsep Metabolisme dilihat pada konsep-konsep karya yang terbangun (built) dan karya tidak terbangun (unbuilt) dari para anggota Metabolis dimana gerakan ini adalah bagian dari fenomena perkembangan arsitektur di Jepang dan di dunia, yang berkembang selama kurun waktu 1960 dan dinyatakan berakhir pada Osaka World Fair tahun KEASLIAN PENELITIAN Letak perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian maupun tesis sebelumnya adalah: a. Objek penelitiannya, yaitu pemikiran, ide dalam bentuk skema/gambar maupun maket, serta konsep metabolisme versi masing-masing tokoh arsitektur Metabolist yang sangat berpengaruh pada perkembangan arsitektur modern di Jepang yaitu: Kenzo Tange, Kisho Kurokawa, Fumihiko Maki, dan Kiyonori Kikutake dan tokoh non formal gerakan ini Arata Isozaki. Tiap-tiap wujud karya, pemikiran, ide dan prinsip rancangan 8

9 dari para tokoh gerakan Metabolis dikaji esensinya. Dari analisis tersebut kemudian disusun kerangka konsep dari Arsitektur Metabolisme Jepang. b. Fokus penelitiannya yaitu mengkonstruksikan konsep metabolisme tokoh Arsitektur Metabolisme Jepang serta merumuskan seperti apakah konsep arsitektur metabolisme yang dibangun oleh para tokohnya secara konseptual dan faktor-faktor pengaruh apa saja yang melatarbelakangi munculnya Arsitektur Metabolisme. Kesamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah : a. Tema yang diangkat adalah metabolisme dalam arsitektur dan beberapa tokoh terkait seperti Kisho Kurokawa, Kiyonori Kikutake dan Fumihiko Maki. b. Pada metode yang digunakan yaitu content analysis yang menekankan pada pembahasan kasus berdasarkan pada pemahaman dan analisis tekstual dari beberapa acuan referensi yang digunakan. Mendialogkan teks dan gambar dari berbagai sumber yang dianggap bisa membantu mengkonstruksikan pemahaman Arsitektur Metabolisme. Penelitian ini sendiri memulai pembahasan tentang teori, gerakan dan ajaran yang memiliki ide, konsep atau bentuk yang menyerupai arsitektur metabolisme. Kemudian merekonstruksikan teori, konsep, prisnsip serta menganalisis kasus-kasus arsitektur metabolisme yang terpilih sebagai verifikasi. Penelitian-penelitian tersebut adalah : 1. Manshuri Kisho Kurokawa: Kajian Teori, Metode, dan Aplikasi. Penelitiannya difokuskan pada teori, metode dan aplikasi tokoh arsitek Jepang dalam merancang setiap karya-karyanya. Metode yang digunakan adalah content analysis. Temuannya adalah konsep yang banyak digunaakan dalam desain karya nya adalah super domino dan capsule, hybrid style, simuclra, whole and part dan ambiguity. 2. Raffaele Pernice, 2009, Considerations on the Theme of Marine Architectures in the Early Projects of Masato Otaka, Kiyonori Kikutake 9

10 and Noriaki Kisho Kurokawa, International Conference on East Asian Architectural Culture, Tainan, Taiwan. Penelitian ini berisi konsep dan teori arsitektur laut yang diprakarsai oleh arsitek Masato Otaka, Kiyonori Kikutake, dan Kisho Kurokawa. Kesimpulannya adalah proses pembangunan dan teknologi industrilialisasi yang berkelanjutan dan progresif sebagai metode konstruksi yang diterapkan pada struktur bangunan kelautan sebagai dasar untuk merencanakan dan merancang habitat perkotaan yang baru. 3. Fabiano Lemes de Oliveira, 2011, Of Metabolism: future cities for our contemporary world, Architect, Senior Lecturer of Portsmouth School of Architecture, University of Portsmouth, Inggris. Tulisan ini diterbitkan pada jurnal RISCO Vol-14 yang dikeluarkan oleh Instituto de Arquitetura e Urbanismo IAU-USP, Portugal. Tulisannya difokuskan kepada kritik yang mendeskripsikan bahwa manifestasi dari metabolisme adalah soal fakta, arsitektur dan tata kota yang akan menjadi alat utama dalam menggantikan ketidaksesuaian manusia. Dalam menghadapi itu, proyek Metabolis mencari sintesis tradisi, teknologi, manusia dan alam. Masa lalu yang kreatif diinterpretasikan dan masa depan diasumsikan sebagai konstruksi kolektif bangsa. 4. Rem Koolhas dan Hans Ulricht Obrist, Project Japan : Metabolism Talks..., Taschen. Memuat interview maraton dan hasil karya dari beberapa tokoh Metabolis (minus Kenzo Tange yang telah meninggal sebelum buku ini dibuat) yaitu Kiyonori Kikutake, Kisho Kurokawa, Arata Isozaki, Fumihiko Maki, Noboru Kawazoe, Kenji Ekuan dan Masato Otaka BATASAN PENELITIAN Penelitian ini akan membatasi pembahasannya pada pemikiran, ide berupa skema maupun sketsa pada karya terbangun (built ) dan tidak terbangun (unbuilt) dari tokoh gerakan Metabolime dan perumusan konsep Arsitektur Metabolisme yang difokuskan pada 4 tokoh anggota Metabolis yaitu Kenzo Tange, Kisho 10

11 Kurokawa, Fumihiko Maki dan Kiyonori Kikutake dan 1 arsitek non-anggota metabolisme yaitu Arata Isozaki. Karya-karya yang dilihat dalam riset ini adalah karya-karya arsitektur para tokoh metabolis yang terbangun (built) dan tidak terbangun (unbuilt) yang dihasilkan sejak aliran ini berdiri dari tahun 1960, hingga aliran ini dinyatakan berakhir pada tahun Lokus penelitian adalah di negara Jepang tempat kelahiran aliran ini. Tokoh lain yang merupakan anggota Metabolis yaitu Masato Otaka karena keterbatasan literatur dan bacaan yang memuat tentangnya maka dalam penelitian ini tidak diikutsertakan, tokoh-tokoh lain seperti desainer grafis Kiyoshi Awazu, desainer industri Kenji Ekuan, dan fotografer Shomei Tono hanya disebutkan pada latar belakang MANFAAT PENELITIAN Buku-buku yang membahas tentang arsitektur metabolisme baik terbitan dalam negeri maupun luar negeri masih dirasakan kurang dari segi kuantitas maupun variasi bahasannya, keberadaan referensi yang bersifat tekstual yang berisikan kajian-kajian arsitektur metabolisme dari sisi esensi dan pemikirannya sangat penting untuk memberikan pemahaman yang lengkap tentang arsitektur metabolisme. Sehingga penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : a. Akademik Sebagai referensi mengenai perumusan Arsitektur Metabolisme yang dipahami melalui tahap yaitu wujud dan konsep b. Praktis Sebagai referensi untuk mendesain karya-karya yang menekankan pada konsep dan prinsip arsitektur metabolisme. 11

12 1.7. KERANGKA BERPIKIR Kerangka berpikir berisi penjelasan secara singkat uraian permasalahan penelitian, latar belakang munculnya fenomena gerakan Metabolisme, tokoh gerakan Metabolisme yang mengklaim memiliki konsep masing-masing kemudian dari konsep masingmasing tokoh gerakan ini dikonstruksikan menjadi Arsitektur Metabolisme Jepang. Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi munculnya Arsitektur Metabolisme Jepang? Seperti apa Arsitektur Metabolisme yang dibangun oleh tokoh gerakan Metabolisme antara lain Kenzo Tange, Kiyonori Kikutake, Kisho Kurokawa dan Fumihiko Maki pada karya-karya metabolismenya, serta konsep Metabolisme Arata Isozaki yang bukan merupakan anggota formal dari grup ini? Bagan 1.1. Kerangka Pemikiran Sumber: dikonstruksikan Penulis,

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1.KESIMPULAN 6.1.1. Arsitektur Metabolisme Jepang Kenzo Tange mengungkapkan bahwa konsep Metabolisme adalah Linear City dan Jaringan Tiga Dimensi. Kiyonori Kikutake mendefinisikan

Lebih terperinci

BAB V KAJIAN TEORI. memanfaatkan lingkungan seperti pemanfaatan limbah peti kemas.

BAB V KAJIAN TEORI. memanfaatkan lingkungan seperti pemanfaatan limbah peti kemas. BAB V KAJIAN TEORI 5.1. Kajian Teori Penekanan / Tema Desain Penekanan tema desain dalam project Rumah Susun Kontainer di Semarang adalah Arsitektur Metabolist. 5.2. Kajian Teori Permasalahan Dominan Project

Lebih terperinci

memiliki lokalitas kuat, yaitu kedekatannya dengan alam dan arsitektur asli Amerika (antara lain rumah pertanian, padang rumput dan memori peradaban

memiliki lokalitas kuat, yaitu kedekatannya dengan alam dan arsitektur asli Amerika (antara lain rumah pertanian, padang rumput dan memori peradaban 2 memiliki lokalitas kuat, yaitu kedekatannya dengan alam dan arsitektur asli Amerika (antara lain rumah pertanian, padang rumput dan memori peradaban suku Indian) dan hidup dalam masa transisional menuju

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN LITERATUR

BAB II KAJIAN LITERATUR BAB II KAJIAN LITERATUR 2.1 Pengertian Pelestarian Filosofi pelestarian didasarkan pada kecenderungan manusia untuk melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Judul "Permukiman Tumbuh di atas Lahan Bencana Lumpur Lapindo Dengan Prinsip Metabolisme"

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Judul Permukiman Tumbuh di atas Lahan Bencana Lumpur Lapindo Dengan Prinsip Metabolisme BAB I PENDAHULUAN I.1 Judul "Permukiman Tumbuh di atas Lahan Bencana Lumpur Lapindo Dengan Prinsip Metabolisme" I.2 Esensi Judul I.2.1 Permukiman Pengertian dasar permukiman dalam UU No.1 tahun 2011 adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Latar Belakang Eksistensi Proyek

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Latar Belakang Eksistensi Proyek BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Latar Belakang Eksistensi Proyek Indonesia merupakan negara yang kaya akan produk seni. Berbagai produk seni yang khas dapat ditemukan di hampir seluruh daerah

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 214 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI.1. Kesimpulan VI.1.1. Esensi Arsitektur Frank Lloyd Wright Sebagai hasil proses indentifikasi ideologi, konsep dan metode Arsitektur Frank Lloyd Wright yang telah peneliti

Lebih terperinci

Modul 3 TOPIK 2 : Metode Perancangan Arsitektur Sub-Topik 3 : KONSEP

Modul 3 TOPIK 2 : Metode Perancangan Arsitektur Sub-Topik 3 : KONSEP Modul 3 TOPIK 2 : Metode Perancangan Arsitektur Sub-Topik 3 : KONSEP CONCEPT (KONSEP) GAGASAN yang memiliki KARAKTER KHUSUS dan merupakan PEMIKIRAN SPESIFIK sebagai hasil dari suatu pemahaman (Snyder Catanese

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Makanan modern yang beredar tersebut menarik minat para generasi muda

BAB I PENDAHULUAN. Makanan modern yang beredar tersebut menarik minat para generasi muda BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara yang mempunyai identitas budaya yang sangat beragam. Namun pada saat ini identitas tersebut mulai pudar karena adanya pengaruh globalisasi

Lebih terperinci

Identitas, suatu objek harus dapat dibedakan dengan objek-objek lain sehingga dikenal sebagai sesuatu yang berbeda atau mandiri.

Identitas, suatu objek harus dapat dibedakan dengan objek-objek lain sehingga dikenal sebagai sesuatu yang berbeda atau mandiri. PENDAHULUAN.1 Latar Belakang Dalam memahami citra kota perlu diketahui mengenai pengertian citra kota, elemenelemen pembentuk citra kota, faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan citra kota dan metode

Lebih terperinci

M E T O D E K R I T I K N O R M A T I F. r a z I q h a s a n m I n g g u k e - 3

M E T O D E K R I T I K N O R M A T I F. r a z I q h a s a n m I n g g u k e - 3 M E T O D E K R I T I K N O R M A T I F r a z I q h a s a n m I n g g u k e - 3 H A K I K A T K R I T I K N O R M A T I F Hakikat kritik normatif adalah adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam lingkup sosio-kultural yang lebih sempit, salah satu manfaat

BAB I PENDAHULUAN. Dalam lingkup sosio-kultural yang lebih sempit, salah satu manfaat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Friedman (2000) mengatakan, dalam perspektif global saat ini tidak banyak dipertentangkan tentang fakta bahwa homogenisasi dunia barat, tetapi kebanyakan masyarakat

Lebih terperinci

APLIKASI LANGGAM ARSITEKTUR MELAYU SEBAGAI IDENTITAS KAWASAN MENUJU KOTA BERKELANJUTAN

APLIKASI LANGGAM ARSITEKTUR MELAYU SEBAGAI IDENTITAS KAWASAN MENUJU KOTA BERKELANJUTAN APLIKASI LANGGAM ARSITEKTUR MELAYU SEBAGAI IDENTITAS KAWASAN MENUJU KOTA BERKELANJUTAN Fakultas Teknik Universitas Riau, Email: [email protected] Abstract Perkembangan kota yang berkelanjutan (sustainable

Lebih terperinci

BAB III ELABORASI TEMA: ORIGAMI DALAM ARSITEKTUR

BAB III ELABORASI TEMA: ORIGAMI DALAM ARSITEKTUR dua tempat pusat kebudayaan Eropa seperti yang dibutuhkan oleh kelompok penggemar budaya Jepang (kadang dikenal dengan sebutan komunitas Jepang saja), kemungkinan disebabkan oleh perbedaan karakter budaya

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DI YOGYAKARTA Penekanan Desain Konsep Arsitektur Modern

SEKOLAH TINGGI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DI YOGYAKARTA Penekanan Desain Konsep Arsitektur Modern LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR SEKOLAH TINGGI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DI YOGYAKARTA Penekanan Desain Konsep Arsitektur Modern Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

Lebih terperinci

BAB V KAJIAN TEORI. Tema desain menjadi sebuah konsep untuk merancang dan membuat

BAB V KAJIAN TEORI. Tema desain menjadi sebuah konsep untuk merancang dan membuat BAB V KAJIAN TEORI 5.1 KAJIAN TEORI PENEKANAN / TEMA DESAIN 5.1.1 Tema Desain Tema desain menjadi sebuah konsep untuk merancang dan membuat desain sebuah karya arsitektural. Pada proyek resort di komplek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kerja praktik

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kerja praktik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kerja praktik Pengaruh perkembangan era globalisasi yang semakin pesat membuat mahasiswa dituntut untuk bisa memahami banyak hal dengan mengikuti perkembangan teknologi

Lebih terperinci

1. BAB I INTRODUCTION. perbelanjaan dengan tema besar Post-Modern Vernacularism. Adapun definisi

1. BAB I INTRODUCTION. perbelanjaan dengan tema besar Post-Modern Vernacularism. Adapun definisi 1. BAB I INTRODUCTION Pada skripsi kali ini, perancang mendapatkan kesempatan untuk merancang kawasan terpadu khususnya pada tower yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan dengan tema besar Post-Modern

Lebih terperinci

KANTOR SEWA DAN APARTEMEN DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR SIMBIOSIS

KANTOR SEWA DAN APARTEMEN DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR SIMBIOSIS KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KANTOR SEWA DAN APARTEMEN DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR SIMBIOSIS TUGAS AKHIR Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh derajat Sarjana S-1 Program Studi

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN Ruang Lingkup Penelitian Untuk Rancangan. Penelitian tentang upaya Perancangan Kembali Pasar Karangploso

BAB III METODE PERANCANGAN Ruang Lingkup Penelitian Untuk Rancangan. Penelitian tentang upaya Perancangan Kembali Pasar Karangploso BAB III METODE PERANCANGAN 3.1 Proses Perancangan 3.1.1 Ruang Lingkup Penelitian Untuk Rancangan Penelitian tentang upaya Perancangan Kembali Pasar Karangploso Kabupaten Malang ini mempunyai ruang lingkup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes

BAB I PENDAHULUAN. suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nasionalisme adalah suatu konsep dimana suatu bangsa merasa memiliki suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes (Chavan,

Lebih terperinci

MUSEUM BATIK INDONESIA DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR KONTEMPORER DI TMII

MUSEUM BATIK INDONESIA DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR KONTEMPORER DI TMII MUSEUM BATIK INDONESIA DENGAN PENEKANAN DESAIN MUSEUM BATIK INDONESIA DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR KONTEMPORER DI TMII Oleh : Luthfan Alfarizi, Titien Woro Murtini, R. Siti Rukayah Museum merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Novel Nijūshi No Hitomi ( 二二二二二 ) merupakan karya seorang penulis

BAB I PENDAHULUAN. Novel Nijūshi No Hitomi ( 二二二二二 ) merupakan karya seorang penulis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Novel Nijūshi No Hitomi ( 二二二二二 ) merupakan karya seorang penulis cerita anak-anak sekaligus penulis novel wanita terkenal dari negara Jepang yang bernama Tsuboi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah Liburan menjadi salah satu kebutuhan penting dan gaya hidup baru bagi manusia masa kini yang manfaatnya dapat dirasakan bagi psikologis manusia. Liburan dapat

Lebih terperinci

PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang

PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang ABSTRAK Arsitektur enterprise merupakan suatu upaya memandang

Lebih terperinci

Koleksi. Sampul Poster Perangko Tipografi Ilustrasi Iklan Logo

Koleksi. Sampul Poster Perangko Tipografi Ilustrasi Iklan Logo BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek Desain Grafis mulai masuk dan dikenal di Indonesia pada awal tahun 1970, pada waktu itu banyak art director atau creative director

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kampus Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Bina Nusantara. yang Berhubungan dengan Arsitektur.

BAB I PENDAHULUAN. Kampus Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Bina Nusantara. yang Berhubungan dengan Arsitektur. BAB I PENDAHULUAN I.1. Deskripsi Proyek Judul : Topik : Kampus Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Bina Nusantara Ekspresionisme Tema : Pengolahan Bentuk Kampus yang Ekspresif dalam Menaungi Kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Cepat atau lambat, Kota Semarang akan menjadi salah satu kota metropolis di Indonesia, jika mengingat perdagangan dan perekonomian global yang sudah berjalan di Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan gaya tipografi Swiss yang dikenal dengan International Typographic Style

BAB I PENDAHULUAN. dengan gaya tipografi Swiss yang dikenal dengan International Typographic Style BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gaya desain Eropa dan Amerika telah lama menjadi kiblat para desainer grafis terutama type foundry di dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini dimulai pada masa revolusi

Lebih terperinci

PEACE International School. -Sekolah Bertaraf Internasional- BAB I PENDAHULUAN

PEACE International School. -Sekolah Bertaraf Internasional- BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi, manajemen dan sumberdaya manusia. Keunggulan teknologi akan menurunkan biaya produksi, meningkatkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Pos Indonesia yang selanjutnya disebut Kantor Pos merupakan badan usaha milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang layanan sarana komunikasi seperti mengirimkan

Lebih terperinci

MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN. Imam Gunawan

MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN. Imam Gunawan MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN Imam Gunawan PERENIALISME Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad 20. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Judul

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pengertian Judul 1.1.1. Pengertian Galeri Pengertian dari kata Galeri berdasarkan KBBI ga le ri /n ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni dsb. Sedangkan menurut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kekhasan sejarah dan budaya tersendiri, salah satunya adalah Nanggroe Aceh

BAB I PENDAHULUAN. kekhasan sejarah dan budaya tersendiri, salah satunya adalah Nanggroe Aceh BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa, setiap daerah memiliki kekhasan sejarah dan budaya tersendiri, salah satunya adalah Nanggroe Aceh Darussalam sebagai Provinsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Tema dan gaya sebuah hotel menjadi aspek yang membedakan hotel yang satu dengan hotel yang lainnya. Tema merupakan titik berangkat proses perancangan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang mempunyai keanekaragaman budaya dan komunitas masyarakat yang unik seperti ras, suku, agama, dan etnis. Kebudayaan di Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penjajahan Belanda di Indonesia membawa pengaruh penting bagi aspek

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penjajahan Belanda di Indonesia membawa pengaruh penting bagi aspek BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penjajahan Belanda di Indonesia membawa pengaruh penting bagi aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Seperti aspek ekonomi, religi, seni, filsafat, dan termasuk juga

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR II

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR II PERKEMBANGAN ARSITEKTUR II Neo Vernacular Architecture (Materi pertemuan 8) DOSEN PENGAMPU: ARDIANSYAH, S.T, M.T PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI Arsitektur

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI ASTRONOMI DI KOTA PARE-PARE TEMA ARSITEKTUR METAFORA

SEKOLAH TINGGI ASTRONOMI DI KOTA PARE-PARE TEMA ARSITEKTUR METAFORA SEKOLAH TINGGI ASTRONOMI DI KOTA PARE-PARE TEMA ARSITEKTUR METAFORA Shahibuddin Juddah1 Muthmainnah2 Jurusan Arsitektur Fakultas Sains & Teknologi UIN-Alauddin Makassar Abstrak Kota Pare-Pare sebagai kota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan masyarakatnya yang Pluralistic mempunyai berbagai macam bentuk dan variasi dari kesenian budaya. Warisan kebudayaan tersebut harus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Jember fashion..., Raudlatul Jannah, FISIP UI, 2010.

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Jember fashion..., Raudlatul Jannah, FISIP UI, 2010. BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan 7 sub bab antara lain latar belakang penelitian yang menjelaskan mengapa mengangkat tema JFC, Identitas Kota Jember dan diskursus masyarakat jaringan. Tujuan penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan kehidupan manusia. Alangkah lebih baiknya. Terlebih lagi jika ingin mendalami segala sesuatu yang berkaitan

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan kehidupan manusia. Alangkah lebih baiknya. Terlebih lagi jika ingin mendalami segala sesuatu yang berkaitan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proyek Makanan adalah salah satu kebutuhan yang pokok untuk memenuhi kebutuhan kehidupan manusia. Alangkah lebih baiknya jika semua orang dapat memiliki kemampuan

Lebih terperinci

Nama Mata Kuliah : Arsitektur Moderen dan Pasca Moderen Kode Mata Kuliah : AR 35214

Nama Mata Kuliah : Arsitektur Moderen dan Pasca Moderen Kode Mata Kuliah : AR 35214 LAMPIRAN PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENINJAUAN KURIKULUM UNIKOM GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) SILABI SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARN (GBPP) I. IDENTITAS MATA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seseorang akan mampu menilai banyak hal mengenai budaya seperti gaya hidup,

BAB I PENDAHULUAN. seseorang akan mampu menilai banyak hal mengenai budaya seperti gaya hidup, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Arsitektur merupakan produk budaya yang tidak lepas dari kehidupan manusia. Permukiman, perkotaan dan lansekap suatu daerah terbentuk sebagai hasil dari sistem kebudayaan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PERANCANGAN. Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan Convention and

BAB 3 METODE PERANCANGAN. Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan Convention and BAB 3 METODE PERANCANGAN Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan Convention and Exhibition Center di Kota Batu ini menggunakan penelitian dengan metode analisis dan sintesis. Metode tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latarbelakang Latarbelakang Pengadaan Proyek

BAB I PENDAHULUAN Latarbelakang Latarbelakang Pengadaan Proyek BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latarbelakang 1.1.1. Latarbelakang Pengadaan Proyek Perkembangan negara Jepang yang sangat maju dalam waktu yang singkat merupakan titik pandang tersendiri baik bagi dunia Barat

Lebih terperinci

SEJARAH DESAIN. Gaya Desain Bauhaus Modul IX. Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn. Modul ke: Fakultas Desain dan Seni Kreatif. Program Studi Desain Produk

SEJARAH DESAIN. Gaya Desain Bauhaus Modul IX. Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn. Modul ke: Fakultas Desain dan Seni Kreatif. Program Studi Desain Produk SEJARAH DESAIN Modul ke: Gaya Desain Bauhaus Modul IX Fakultas Desain dan Seni Kreatif Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn Program Studi Desain Produk www.mercubuana.ac.id Abstract Gaya desain Bauhaus muncul sekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bandung merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Selain terkenal sebagai kota kembang, Bandung juga dikenal sebagai kota kreatif.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan penderitaan bagi masyarakat Korea. Jepang melakukan eksploitasi

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan penderitaan bagi masyarakat Korea. Jepang melakukan eksploitasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Sejarah Korea yang pernah berada di bawah kolonial kekuasaan Jepang menimbulkan penderitaan bagi masyarakat Korea. Jepang melakukan eksploitasi sumber

Lebih terperinci

APLIKASI REGIONALISME DALAM DESAIN ARSITEKTUR

APLIKASI REGIONALISME DALAM DESAIN ARSITEKTUR APLIKASI REGIONALISME DALAM DESAIN ARSITEKTUR Agus Dharma Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Gunadarma email : [email protected] website : staffsite.gunadarma.ac.id/agus_dh/

Lebih terperinci

MANFAAT STUDI FILOLOGI

MANFAAT STUDI FILOLOGI MANFAAT STUDI FILOLOGI Manfaat Studi Filologi Manfaat studi filologi dibagi menjadi dua, yaitu manfaat umum dan manfaat khusus. Mengetahui unsur-unsur kebudayaan masyarakat dalam suatu kurun waktu tertentu,

Lebih terperinci

II. METODOLOGI A. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Perancangan 2. Manfaat Perancangan

II. METODOLOGI A. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Perancangan 2. Manfaat Perancangan II. METODOLOGI A. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Perancangan Tujuan dari perancangan desain t-shirt animal monster ini antara lain: a. Membuka peluang baru bagi penulis, khususnya dibidang clothing untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Citra Antika, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Citra Antika, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada masa ini, demokrasi merupakan salah satu pandangan dan landasan kehidupan dalam berbangsa yang memiliki banyak negara pengikutnya. Demokrasi merupakan paham

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Museum Permainan Tradisional di Yogyakarta AM. Titis Rum Kuntari /

BAB I PENDAHULUAN. Museum Permainan Tradisional di Yogyakarta AM. Titis Rum Kuntari / BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG PENGADAAN PROYEK Proyek yang diusulkan dalam penulisan Tugas Akhir ini berjudul Museum Permainan Tradisional di Yogyakarta. Era globalisasi yang begitu cepat berkembang

Lebih terperinci

Pengantar Konsep Desain Interiior-IKD.Noorwatha

Pengantar Konsep Desain Interiior-IKD.Noorwatha 1 DAFTAR ISI Kata Pengantar... iii Daftar Isi... vi Daftar Gambar... viii Daftar Tabel... x Glossarium... xi BAB I DEFINISI... 1 A. Terminologi... 6 B. Tujuan Konsep... 14 BAB II RUANG LINGKUP... 50 A.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Latar Belakang Perancangan. Pusat perbelanjaan modern berkembang sangat pesat akhir-akhir ini.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Latar Belakang Perancangan. Pusat perbelanjaan modern berkembang sangat pesat akhir-akhir ini. BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG 1.1.1. Latar Belakang Perancangan Pusat perbelanjaan modern berkembang sangat pesat akhir-akhir ini. Khususnya di DKI Jakarta. Di berbagai wilayah terus tumbuh pusat-pusat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LAPORAN TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LAPORAN TUGAS AKHIR BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Beragam budaya dan tradisi Indonesia membuat banyaknya kerajinan tradisional di Indonesia. Contohnya yang saat ini lagi disukai masyarakat Indonesia yaitu kerajinan

Lebih terperinci

kesulitan tertentu, sehingga tahapan desain diakhiri dengan solusi terhadap kesulitan-kesulitan tersebut. Melalui penjelasan di atas, solusi desain me

kesulitan tertentu, sehingga tahapan desain diakhiri dengan solusi terhadap kesulitan-kesulitan tersebut. Melalui penjelasan di atas, solusi desain me BAB I PENDAHULUAN 1.1 Topik Konstruksi Ide, Gagasan Awal Desain Joke Roos Interior-Consultant bagi Desain Interior Erha Clinic Surabaya 1.2 Latar Belakang Desain, sebagai tindakan kreatif, selalu diawali

Lebih terperinci

BAB VIII KESIMPULAN. kesengsaraan, sekaligus kemarahan bangsa Palestina terhadap Israel.

BAB VIII KESIMPULAN. kesengsaraan, sekaligus kemarahan bangsa Palestina terhadap Israel. BAB VIII KESIMPULAN Puisi Maḥmūd Darwīsy merupakan sejarah perlawanan sosial bangsa Palestina terhadap penjajahan Israel yang menduduki tanah Palestina melalui aneksasi. Puisi perlawanan ini dianggap unik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kuno maupun bangunan modern. Dimana hal tersebut dapat mencerminkan dan menjadi sebuah

BAB I PENDAHULUAN. kuno maupun bangunan modern. Dimana hal tersebut dapat mencerminkan dan menjadi sebuah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah. Setiap Bangsa memiliki arsitektur bangunan yang berbeda-beda, baik itu pada bangunan kuno maupun bangunan modern. Dimana hal tersebut dapat mencerminkan dan

Lebih terperinci

INTERIOR Konsep interior kontemporer (Materi pertemuan 9 )

INTERIOR Konsep interior kontemporer (Materi pertemuan 9 ) INTERIOR Konsep interior kontemporer (Materi pertemuan 9 ) DOSEN PENGAMPU: ARDIANSYAH, S.T, M.T PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI Interior Kontemporer Gaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi mengakibatkan terjadinya

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi mengakibatkan terjadinya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Arsitektur sebagai produk dari kebudayaan, tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi mengakibatkan terjadinya proses perubahan

Lebih terperinci

Teori Arsitektur. Tugas Individu Dosen: Dr. Ir. Murni Rachmawati, MT. Oleh: Kadek Ary Wicaksana Dr. Arina Hayati, ST. MT.

Teori Arsitektur. Tugas Individu Dosen: Dr. Ir. Murni Rachmawati, MT. Oleh: Kadek Ary Wicaksana Dr. Arina Hayati, ST. MT. Teori Arsitektur Tugas Individu Dosen: Dr. Ir. Murni Rachmawati, MT. Dr. Arina Hayati, ST. MT. Oleh: Kadek Ary Wicaksana 3212100083 Pengertian Teori Arsitektur secara Personal Teori arsitektur adalah pemikiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada abad ini gerak perubahan zaman terasa semakin cepat sekaligus semakin padat. Perubahan demi perubahan terus-menerus terjadi seiring gejolak globalisasi yang kian

Lebih terperinci

Studi Terapan Konsep Metabolisme dan Simbiosis pada Bangunan Karya Kisho Kurokawa

Studi Terapan Konsep Metabolisme dan Simbiosis pada Bangunan Karya Kisho Kurokawa JURNAL INTRA Vol. 1, No. 2, (2013) 1-11 1 Studi Terapan Konsep Metabolisme dan Simbiosis pada Bangunan Karya Kisho Kurokawa Mikha Adriani Widagdo, Yusita Kusumarini dan Lucky Basuki Program Studi Desain

Lebih terperinci

ARSITEKTUR DAN SOSIAL BUDAYA SUMATERA UTARA

ARSITEKTUR DAN SOSIAL BUDAYA SUMATERA UTARA ARSITEKTUR DAN SOSIAL BUDAYA SUMATERA UTARA Penulis: Julaihi Wahid Bhakti Alamsyah Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2013 Hak Cipta 2013 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tuntutan atau permintaan pihak pemberi tugas. Tahapan perencanaan yang. kebudayaan Indonesia serta pengaruh asing.

BAB I PENDAHULUAN. tuntutan atau permintaan pihak pemberi tugas. Tahapan perencanaan yang. kebudayaan Indonesia serta pengaruh asing. BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Perencanaan interior merupakan proses kreatif menciptakan elemen elemen pembentuk ruang, pengisi ruang dan perlengkapan lain agar mempunyai fungsi bagi kegiatan manusia

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kreativitas menurut para ahli psikologi penjelasannya masih berbeda-beda

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kreativitas menurut para ahli psikologi penjelasannya masih berbeda-beda 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kreativitas Kreativitas menurut para ahli psikologi penjelasannya masih berbeda-beda sesuai sudut pandang masing-masing. Menurut Semiawan kreativitas adalah suatu kemampuan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir

Lebih terperinci

DEFINISI INTERIOR & KONSEP U N I V E R S I T A S U D A Y A N A A A

DEFINISI INTERIOR & KONSEP U N I V E R S I T A S U D A Y A N A A A DEFINISI d e s i g n INTERIOR & KONSEP U N I V E R S I T A S U D A Y A N A 2 0 1 5 A A DEFINISI INTERIOR d e s i g n DESIGN INTERIOR Desain interior adalah Ilmu yang mempelajari perancangan suatu karya

Lebih terperinci

BAB II TEORI SOSIOLOGI PENGETAHUAN

BAB II TEORI SOSIOLOGI PENGETAHUAN BAB II TEORI SOSIOLOGI PENGETAHUAN Pada umumnya manusia dilahirkan seorang diri. Namun demikian, mengapa manusia harus hidup bermasyarakat. Manusia tanpa manusia lainnya pasti akan mati. Bayi misalnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Lingkungan bisnis pada saat ini tumbuh dan berkembang secara drastis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Lingkungan bisnis pada saat ini tumbuh dan berkembang secara drastis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lingkungan bisnis pada saat ini tumbuh dan berkembang secara drastis dan sangat dinamis dan karena perkembangan tersebut diperlukan sistem manajemen yang efektif dan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM

BAB II GAMBARAN UMUM BAB II GAMBARAN UMUM 2.1. Jepang Pasca Perang Dunia II Pada saat Perang Dunia II, Jepang sebagai negara penyerang menduduki negara Asia, terutama Cina dan Korea. Berakhirnya Perang Dunia II merupakan kesempatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari kejadian atau peristiwa di masa lalu yang sungguh-sungguh terjadi. Dalam sejarah, terkandung nilai-nilai yang dijadikan

Lebih terperinci

TUGAS 1 PERANCANGAN BANGUNAN FUNGSI CAMPUR (MIXED USE BUILDING) DI PUSAT KOTA

TUGAS 1 PERANCANGAN BANGUNAN FUNGSI CAMPUR (MIXED USE BUILDING) DI PUSAT KOTA TUGAS 1 PERANCANGAN BANGUNAN FUNGSI CAMPUR (MIXED USE BUILDING) DI PUSAT KOTA 14 Bangunan Fungsi Campur (Mixed Use Building) Mendorong Vitalitas Baru pada Tanah di Pusat Kota Mendorong vitalitas baru merupakan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh masyarakat khusunya generasi muda. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat bangunan-bangunan

Lebih terperinci

Desain Interior I ( Pengantar )

Desain Interior I ( Pengantar ) Desain Interior I ( Pengantar ) By : Dina Fatimah Pertemuan I Pengantar 6 SKS Terdiri dari Teori dan Praktik Hasil Akhir : Porto Folio Mata Kuliah Pendukung DI 1 Konstruksi Bangunan Fisika Bangunan Pengetahuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan juga dipandang sebagai

BAB I PENDAHULUAN. menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan juga dipandang sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Pendidikan sangat penting peranannya dalam kehidupan manusia, karena pendidikan merupakan sarana ataupun alat untuk mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Kusrianto, Adi Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Andi Offset halaman

BAB I PENDAHULUAN Kusrianto, Adi Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Andi Offset halaman BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1. Sejarah Perkembangan Desain Komunikasi Visual di Dunia Pada awalnya, media desain grafis hanya terbatas pada media cetak dwi matra. Namun, seiring dengan perkembangan

Lebih terperinci

EGYPTIAN ARCHITECTURE

EGYPTIAN ARCHITECTURE EGYPTIAN ARCHITECTURE - terdapat pada daerah iklim yang panas kering - material tanah liat atau bebatuan lokal dengan warna asli materialnya. - Monumen dengan gaya arsitektur ini cenderung terdiri dari

Lebih terperinci

KRITIK DAN TINJAUAN KARYA DESAIN Pokok Bahasan - II

KRITIK DAN TINJAUAN KARYA DESAIN Pokok Bahasan - II BAHAN AJAR II : Kritik dan Tinjauan Karya Nama Mata Kuliah : Tinjauan Desain Program Studi DKV FSRD UNTAR Desain Komunikasi Visual. FSRD UNIVERSITAS TARUMANAGARA Tahun Akademik : Agustus-Desember/Ganjil

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan gedung perpustakaan merupakan upaya menyediakan wadah informasi baik dalam bentuk buku maupun bentuk bahan lainnya bagi para pemustaka. Keberadaanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota merupakan salah satu wilayah hunian manusia yang paling kompleks,

BAB I PENDAHULUAN. Kota merupakan salah satu wilayah hunian manusia yang paling kompleks, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota merupakan salah satu wilayah hunian manusia yang paling kompleks, terdiri dari berbagai sarana dan prasarana yang tersedia, kota mewadahi berbagai macam aktivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. GambarI.1 Teknik pembuatan batik Sumber: <www.expat.or.id/infi/info.html#culture>

BAB I PENDAHULUAN. GambarI.1 Teknik pembuatan batik Sumber: <www.expat.or.id/infi/info.html#culture> BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan museum tidak hanya sekedar untuk menyimpan berbagai bendabenda bersejarah saja. Namun dari museum dapat diuraikan sebuah perjalanan kehidupan serta

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Dua hal yang melatar belakangi dari penulisan karya ilmiah ini :

BAB I. PENDAHULUAN. Dua hal yang melatar belakangi dari penulisan karya ilmiah ini : BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Dua hal yang melatar belakangi dari penulisan karya ilmiah ini : 1. Latar belakang judul 2. Latar belakang dan tema I.1.1. Latar belakang judul ( Islamic school )

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber:

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber: BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Olahraga dapat menjadi batu loncatan sebagai pemersatu bangsa, daerah dan negara lainnya, baik di dalam skala nasional maupun internasional. Dalam setiap skala, negara-negara

Lebih terperinci

Kasino Hotel di Bintan Kasino Hotel BAB I PENDAHULUAN. Suwanti Latar belakang

Kasino Hotel di Bintan Kasino Hotel BAB I PENDAHULUAN. Suwanti Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Gambling merupakan sebuah dunia lain yang bersifat untung-untungan dimana kegiatan ini telah berkembang sejak dahulu kala, dan terus mengalami perkembangan seiring

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem pendidikan nasional pada hakikatnya mencari nilai tambah melalui pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia atau kualitas manusia utuh jasmaniah rohaniah,

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI 318 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan Berdasarkan capaian hasil penelitian dan pembahasan seperti yang tertuang pada bab IV, bahwa penelitian ini telah menghasilkan dua analisis, pertama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan pesatnya tindak kriminal di Indonesia maka sering terjaditindak kriminal yang pada umumnya terjadi di kota-kota besar, ini sebabkankarena kurang perhatian

Lebih terperinci

BAB VIII PENUTUP. Bab ini memuat simpulan dari pembahasan masalah-masalah pokok yang

BAB VIII PENUTUP. Bab ini memuat simpulan dari pembahasan masalah-masalah pokok yang BAB VIII PENUTUP Bab ini memuat simpulan dari pembahasan masalah-masalah pokok yang telah disajikan pada Bab V, Bab VI, dan Bab VII. Pada bab ini juga dicantumkan saran yang ditujukan kepada Pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Logo adalah tanda, lambang, ataupun simbol yang mengandung makna dan digunakan sebagai identitas sebuah organisasi, perusahaan atau individu agar mudah diingat

Lebih terperinci

BAB l PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB l PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB l PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahirnya teknologi informasi sebagai konsekuensi dari perubahan zaman yang semakin modern, terutama dunia industri yang semakin pesat turut mempengaruhi berbagai dimensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Penelitian. Pada hakikatnya manusia membutuhkan sebuah media massa untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Penelitian. Pada hakikatnya manusia membutuhkan sebuah media massa untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Pada hakikatnya manusia membutuhkan sebuah media massa untuk mendapatkan informasi terkini, wawasan maupun hiburan. Media massa sendiri dalam kajian komunikasi

Lebih terperinci