BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
|
|
|
- Leony Atmadjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS A. Gambaran Kasus Korupsi Simulator SIM Konflik kewenangan sebagaimana yang terjadi antara KPK dan POLRI bermula dari kasus dugaan korupsi simulator SIM di Korlantas POLRI yaitu dalam proyek pengadaan alat simulator SIM. Adapun gambaran mengenai kasus dugaan korupsi simulator SIM adalah sebagai berikut: Korlantas POLRI mengadakan proyek simulator SIM yang dilaksanakan pada tahun Kemudian sebelum memulai proyek, dilakukan tender terlebih dahulu yang dilakukan pada bulan Februari 2011, yang mana salah satu peserta tendernya adalah PT. CMMA (Citra Mandiri Metalindo Abadi) yaitu perusahaan yang dimiliki oleh Budi Susanto. Dalam tender ini menurut Sukotjo S Bambang direktur PT. ITI (Inovasi Teknologi Indonesia), terdapat skenario yang menimbulkan kejanggalan dimana tender proyek sudah pasti akan dimenangkan oleh PT. CMMA, sedangkan peserta tender yang lain menurut Sukotjo S Bambang hanya sebagai pendamping saja. Walaupun ada skenario demikian, ada kendala teknis dimana PT.CMMA tidak memiliki kemampuan untuk menyusun dokumen untuk mengikuti tender. Oleh sebab itu Budi Susanto selaku Direktur PT. CMMA meminta kepada Sukotjo S Bambang sebagai Direktur PT. ITI selaku rekan bisnis Budi Susanto untuk menyusun dokumen dan menyiapkan syarat-syarat yang diperlukan untuk keperluan tender proyek simulator SIM tersebut. Budi Susanto dan Sukotjo S. Bambang sebelumnya merupakan rekan bisnis dalam proyek pengadaan simulator SIM pada tahun anggaran 2010 di Korlantas POLRI, perusahaan Sukotjo S. Bambang merupakan subkontraktor dari perusahaan Budi Susanto dalam proyek tersebut. Kerjasama tersebut berlanjut hingga pada pengadaan proyek simulator SIM untuk tahun anggaran Kemudian sesuai dengan pernyataan Sukotjo S Bambang di atas, tender dimenangkan oleh PT. CMMA milik Budi Susanto, akan tetapi pengerjaan proyek dilakukan oleh PT. ITI milik Sukotjo S Bambang sebagai subkontraktor karena perusahaan Budi Susanto 63
2 tidak mempunyai pengalaman dalam pembuatan riding simulator dan driving simulator. Pada 28 Februari 2011 SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja) untuk pengerjaan proyek simulator SIM mulai bulan Maret 2011 Juni 2011 dari Korlantas POLRI untuk PT. CMMA telah ditanda tangani dan PT. ITI selaku subkontraktor yang ditunjuk oleh PT. CMMA mulai mengerjakan proyek ini pada bulan Maret 2011, penunjukan subkontraktor ini sebelumnya telah diketahui oleh POLRI sejak kedua perusahaan ini mengerjakan proyek simulator SIM di Korlantas POLRI pada tahun 2010, sehingga pada proyek simulator SIM tahun 2011 ini pihak Korlantas POLRI meminta kepada PT. CMMA dan PT. ITI untuk membantu menyusun anggaran proyek simulator SIM tahun Kemudian pada waktu pengerjaan proyek ini, tepatnya pada bulan Juni 2011 terdapat masalah yaitu PT. ITI gagal menyelesaikan simulator roda 4 tepat waktu karena kendala produksi, kemudian pada 4 Juli 2011 PT. ITI dianggap oleh tim pengawas proyek dari Korlantas POLRI tidak dapat mengerjakan proyek ini secara tepat waktu dan PT. ITI dianggap tidak mampu mengerjakan proyek ini, sehingga pada tanggal 19 Juli 2011 oleh tim pengawas proyek, manajemen PT. ITI diambil alih. Atas dasar pengetahuannya akan kejanggalan mengenai proyek ini dan dirinya merasa ditipu dan dimanfaatkan, kemudian Sukotjo S Bambang melaporkan kejanggalan atas proyek simulator SIM ini kepada KPK pada awal bulan Januari 2012 dan KPK segera melakukan penyelidikan pada tanggal 20 Januari 2012 dan segera mengumpulkan bukti permulaan yang cukup. 1 Setelah adanya laporan dari Sukotjo S Bambang kepada KPK perihal adanya dugaan korupsi dalam proyek simulator SIM, tidak lama kemudian muncul pemberitaan perihal kesaksian Sukotjo S Bambang yang dimuat dalam Majalah Tempo edisi April Dengan adanya pemberitaan tersebut Kabareskrim MABES POLRI Komjen Pol Drs. Sutarman, memerintahkan Direktur Tindak Pidana Korupsi yaitu Brigjen Nur Ali untuk melakukan penyelidikan dugaan korupsi dalam proyek tersebut, pernyataan ini diungkapkan sendiri oleh Komjen Pol Drs. Sutarman dalam wawancara dengan Kompas 4 Agustus 2012 sebagai berikut : "Saya membaca itu, kemudian saya memerintahkan Direktur Tindak Pidana Korupsi yaitu Brigjen Nur Ali untuk melakukan penyelidikan tentang kemungkinan terjadinya tindak pidana yang ada di Korlantas khususnya terkait dengan pengadaan simulator," terang Sutarman Dari pemberitaan di Majalah Tempo edisi April 2012 tersebut, POLRI mengeluarkan Sprindlid (Surat Perintah Dimulainya 1 Majalah Tempo tanggal 29 April 2012, halaman "Simsalabim Simulator SIM". 64
3 B. Temuan Data Penyelidikan) pada tanggal 21 Mei 2012 dan mulai memeriksa 33 orang yang dinilai mengetahui tentang pengadaan simulator SIM. Kemudian penyelidik POLRI juga melakukan interogasi dengan Sukotjo S. Bambang, dari interogasi tersebut penyelidik POLRI memperoleh informasi bahwa KPK memiliki data mengenai kasus ini, untuk itu POLRI bersurat kepada KPK perihal dukungan penyelidikan, yang isinya untuk meminta data dan informasi yang dimiliki KPK tentang hasil pengumpulan bahan keterangan dalam perkara dimaksud dengan melalui surat nomor : B/3115/VII/2012 /Tipidkor tanggal 17 Juli Setelah itu POLRI meningkatkan status dari penyelidikan menjadi penyidikan terhadap kasus ini pada tanggal 31 Juli 2012 dengan menetapkan Budi Susanto sebagai tersangka, akan tetapi sebelum POLRI menaikkan status dari penyelidikan menjadi penyidikan, KPK sudah terlebih dahulu melakukan penyidikan pada tanggal 27 Juli 2012 dan menetapkan Djoko Susilo sebagai tersangka Kronologi Penanganan Kasus Simulator SIM a. Penyidikan Kasus Oleh KPK Pada bulan Januari 2012 Sukotjo S. Bambang, Direktur PT Inovasi Teknologi Indonesia (ITI) sekaligus pelaksana subkontrak proyek simulator SIM melaporkan dugaan korupsi proyek driving simulator yang melibatkan sejumlah perwira tinggi POLRI kepada KPK. Pernyataan Sukotjo S. Bambang dikuatkan oleh wakil ketua KPK Bambang Widjojanto yang mengatakan, pihaknya (KPK) telah menyelidiki kasus ini sejak 20 Januari 2012 atas dasar laporan dari Direktur PT. ITI Sukotjo S. Bambang. Setelah Sukotjo melaporkan dugaan korupsi proyek simulator SIM, pada bulan Februari tepatnya tanggal
4 Februari 2012, Sukotjo dilaporkan oleh Budi Susanto ke Polres Bandung dengan tuduhan penipuan dan penggelapan uang proyek simulator SIM. Perkara ini disidangkan di Pengadilan Negeri Bandung dan pada bulan Mei 2012 Sukotjo dihukum dengan 3 tahun 6 bulan penjara, putusan ini diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Jawa Barat pada tanggal 25 Juli Sukotjo kemudian dijebloskan ke Rumah Tahanan Kebon Waru. Pada tanggal 10 Mei 2012, KPK memberitahukan kepada POLRI mengenai penyelidikan kasus Simulator SIM. Saat itu perwakilan Mabes Polri Kombes Pol Wiyagus, yang menerima pemberitahuan ini memberi lampu hijau kepada KPK untuk melanjutkan penyelidikan. Setelah dilakukan penyelidikan, pada tanggal 27 Juli 2012, KPK menetapkan Irjen Djoko Susilo sebagai tersangka dugaan korupsi proyek simulator SIM tahun anggaran 2011 dan meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan dengan mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan nomor Sprint.Dik- 37/01/VII/2012 tanggal 27 Juli Kemudian pada tanggal 30 Juli 2012 KPK menggeledah kantor Korlantas Mabes POLRI hingga tanggal 31 Juli Setelah dilakukan penggeledahan, pada hari itu juga, Selasa tanggal 31 Juli 2012 pukul WIB, Ketua KPK Abraham Samad dan Bambang Widjojanto menghadap Kapolri 66
5 membicarakan tindak lanjut penggeledahan dan penyidikan. Berdasarkan Sprint.Dik-37/01/VII/2012 tanggal 27 Juli 2012 KPK menyatakan telah menetapkan Djoko Susilo sebagai tersangka. Pertemuan saat itu disepakati KPK akan menyidik Djoko Susilo sebagai penyelenggara negara, sedangkan Bareskrim POLRI akan menyidik penyelenggara negara lainnya dan pihak lainnya yang terlibat. b. Penyidikan Kasus Oleh POLRI Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) memaparkan kronologi penanganan kasus dugaan korupsi proyek simulator SIM Korlantas Polri tahun 2011, dalam jumpa pers pada 3 Agustus Pada, rangkaian kronologi ini POLRI ingin menunjukkan kapan pihaknya memulai penyelidikan dan penyidikan. Berikut kronologi dari penyelidikan hingga penyidikan dan penetapan tersangka : POLRI mengaku memutuskan untuk memulai penyelidikan kasus tersebut setelah membaca berita pada Majalah Tempo tanggal 29 April 2012, halaman yang berjudul Simsalabim Simulator SIM. Pada 21 Mei 2012, POLRI mengeluarkan surat perintah dimulainya penyelidikan dengan nomor Sprindlid/55/V/2012 /Tipidkor dengan telah melakukan interogasi dan memeriksa 33 67
6 saksi yang diduga terkait kasus tersebut. Dalam interogasi dengan Direktur Utama PT Inovasi Teknologi Indonesia (ITI), Sukotjo S Bambang, penyelidik memperoleh informasi bahwa ada data dan informasi yang telah diberikan kepada KPK. Oleh karenanya, pada 17 Juli 2012, Bareskrim POLRI mengirim surat kepada KPK melalui surat dengan nomor : B / 3115 / VII / 2012 /Tipidkor akan tetapi tidak mendapatkan tanggapan dari KPK. Kemudian, 31 Juli 2012 POLRI meningkatkan penyelidikan menjadi penyidikan sesuai dengan Sprindik nomor Sprindik/184a/VIII/2012/Tipidkor dan menetapkan Budi Susanto sebagai tersangka. Tanggal 1 Agustus 2012, POLRI juga menetapkan Didik Purnomo, Legimo Pudjo, Sukotjo S. Bambang dan Teddy Rusmawan sebagai tersangka sesuai Sprindik No: Sprindik/ 188a/VIII/2012/Pidkor tanggal 1 Agustus 2012, Sprindik No: Sprindik/189a/VIII/2012/Pidkor tanggal 1 Agustus 2012, Sprindik No: Sprindik/190a/VIII/2012/Pidkor tanggal 1 Agustus 2012, dan Sprindik No: Sprindik/191/VIII/2012/Pidkor tanggal 1 Agustus Munculnya Konflik Dan Penyebabnya Dalam kasus simulator SIM terdapat dualisme penyidikan antara KPK dan POLRI, kedua pihak tersebut sama-sama melakukan 68
7 penyidikan atas kasus yang sama akan tetapi pelaksanaan penyidikan tersebut POLRI tidak mau tunduk kepada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi sehingga menimbulkan konflik kewenangan penyidikan diantara kedua lembaga penegak hukum tersebut. Dalam kasus tersebut, KPK telah terlebih dahulu melakukan penyidikan dan menetapkan tersangkanya yaitu Irjen Polisi Djoko Susilo pada tanggal 27 Juli 2012 dengan surat Sprindik nomor :.Dik- 37/01/VII/2012. Kemudian pihak kepolisian juga menetapkan lima orang sebagai tersangka lainnya dalam kasus tersebut, yaitu, pada tanggal 31 Juli 2012 Budi Susanto ditetapkan sebagai tersangka dan pada 1 Agustus 2012, 4 tersangka lainnya ditetapkan oleh POLRI. Sebenarnya bila melihat Pasal 11 huruf a UU KPK, telah ditegaskan bahwa yang berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara adalah KPK, dapat dilihat juga dalam Pasal 50 ayat (3) yang berbunyi Dalam hal Komisi Pemberantasan Korupsi sudah mulai melakukan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepolisian atau kejaksaan tidak berwenang lagi melakukan penyidikan. Pasal 50 ayat (4) 69
8 Dalam hal penyidikan dilakukan secara bersamaan oleh kepolisian dan/atau kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi, penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan tersebut segera dihentikan. Dengan melihat pasal-pasal tersebut, seharusnya POLRI tidak melanjutkan penyidikan, akan tetapi POLRI tetap bersikeras ingin menyelesaikan kasus tersebut. Dalam melakukan penyidikan kasus simulator SIM tersebut, Kepolisian berpedoman pada KUHAP dan UU POLRI yang berdasarkan konstitusi, dimana POLRI merasa lebih berhak untuk melakukan penyidikan atas tindak pidana korupsi, sehingga kewenangan POLRI ini tentu saja akan berbenturan dengan UU KPK yang lebih mengkhususkan KPK sebagai lembaga pemberantasan korupsi di Indonesia. Peran POLRI dalam menyelesaikan kasus korupsi juga didukung oleh Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2004 tentang percepatan Pemberantasan Korupsi, Huruf Kesebelas butir 10 yang diinstruksikan kepada Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai berikut: 1) Mengoptimalkan upaya-upaya penyidikan terhadap tindak pidana korupsi untuk menghukum pelaku dengan menyelamatkan uang negara. 2) Mencegah dan memberikan sanksi tegas terhadap penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka penegakan hukum. 70
9 3) Meningkatkan kerja sama dengan Kejaksaan Republik Indonesia, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, dan Institusi Negara yang terkait dengan upaya penegakan hukum dan pengembalian kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi. Berangkat dari sinilah benturan-benturan kewenangan dalam melakukan penyidikan kasus simulator SIM ini mulai muncul dan masing-masing pihak sama-sama ngotot ingin menyelesaikan kasus ini. C. Upaya Penyelesaian Konflik 1. Antara KPK Dan POLRI Penyelesaian konflik kasus simulator SIM sebenarnya telah diusahakan oleh kedua pihak yaitu diselesaikan atas dasar MoU yang telah disepakati bersama oleh POLRI, KPK dan Kejaksaan pada tanggal 29 Maret 2012 yang terdiri dari tiga surat yaitu Nomor B/23/III/2012 untuk Kepolisian, Nomor SPJ-39/01/- 03/2012 untuk KPK, dan Nomor KEP-049/A/JA/ 03/2012 untuk Kejaksaan Tentang Optimalisasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Adapun isi Pasal 8 MoU tersebut adalah sebagai berikut : a. Dalam hal PARA PIHAK melakukan penyelidikan pada sasaran yang sama, untuk menghindari duplikasi 71
10 penyelidikan maka penentuan instansi yang mempunyai kewajiban untuk menindaklanjuti penyelidikan adalah instansi yang lebih dahulu mengeluarkan surat perintah penyeledikan atau atas kesepakatan PARA PIHAK. b. Penyelidikan yang dilakukan pihak kejaksaan dan pihak POLRI diberitahukan kepada pihak KPK, dan perkembangannya diberitahukan kepada pihak KPK paling lama 3 (tiga) bulan sekali. c. Pihak KPK menerima rekapitulasi penyampaian laporan bulanan atas kegiatan penyelidikan yang dilaksanakan oleh pihak Kejaksaan dan pihak Polri. d. Penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi oleh salah satu pihak dapat dialihkan ke pihak lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, dengan terlebih dahulu dilakukan gelar perkara yang dihadiri oleh PARA PIHAK, yang pelaksanaannya dituangkan dalam Berita Acara. Akan tetapi upaya ini menemui jalan buntu karena isi dari MoU tersebut tidak sejalan dengan argumen masing-masing pihak yaitu KPK dan POLRI dan tidak sesuai dengan fakta-fakta terkait dengan kasus simulator SIM ini. Selain dengan MoU, sebenarnya upaya penyelesaian juga sudah diusahakan dengan menggunakan ketentuan dalam undang- 72
11 undang dalam hal ini UU KPK. Sebenarnya UU KPK sudah cukup memadai untuk menyelesaikan konflik kewenangan ini, karena di dalam UU KPK telah diatur tentang siapa saja yang berhak melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan untuk perkara tindak pidana korupsi, di dalam UU KPK juga sudah diatur mengenai prosedur dalam menyelesaikan kasus tindak pidana korupsi. Akan tetapi hal ini juga menemui jalan buntu, karena POLRI tidak bersedia menyerahkan berkas perkara dan tersangka kepada KPK. Jika POLRI melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam UU KPK, maka konflk kewenangan ini tidak akan terjadi. 2. Peran Presiden Dalam Perkembangan Penyidikan Kasus Simulator SIM Peran Presiden dalam perkembangan penyidikan kasus simulator SIM adalah sebagai penengah dalam kasus ini, karena presiden tidak menginginkan adanya kegaduhan dalam proses penegakan hukum. Presiden dalam menyampaikan pidatonya pada tanggal 08 Oktober 2012, meminta untuk kasus korupsi simulator ujian SIM Korlantas POLRI agar ditangani oleh KPK. Sementara POLRI dihimbau untuk menangani kasus lain yang tidak terkait. Presiden meminta semua berkas penyelidikan dan penyidikan kasus tersebut diserahkan ke KPK dan penanganan hukum dugaan korupsi simulator SIM yang melibatkan Irjen Djoko Susilo agar ditangani 73
12 KPK. Selain itu, Presiden berharap KPK dan POLRI memperbaharui nota kesepahaman (MoU) kedua lembaga ini, kemudian dijalankan secara bersama-sama, sehingga perselisihan antara KPK dan POLRI tidak terulang. Akhirnya pada tanggal 30 Oktober 2012, POLRI menyerahkan seluruh penanganan kasus Simulator SIM kepada KPK. Hal ini dinilai Presiden sesuai dengan arahannya dan POLRI sudah mendudukkan kasus ini pada proporsinya sesuai dengan Undangundang nomor 30 tahun 2002 tentang KPK dan tidak bersikukuh lagi untuk menanganinya. Peran presiden dalam memberikan arahannya tersebut, memberikan andil yang cukup besar bagi kasus ini, agar dalam penyelesaian kasus ini tidak berlarut-larut yang bisa berujung pada pelanggaran hak-hak tersangka, dimana tersangka harus segera mendapatkan kepastian hukum dan juga agar asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan dapat terpenuhi. Maka dari itu, POLRI diharapkan untuk segera menyerahkan kasus simulator SIM kepada KPK. Hal ini juga didasari dengan adanya Undang-Undang nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK yang memberikan wewenang KPK untuk menindak lanjuti masalahmasalah korupsi. 74
13 D. Analisis Menurut perundang-undangan yang berlaku bagi masing-masing pihak yaitu POLRI dan KPK, keduanya sama-sama mempunyai kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan dalam kasus korupsi. Penulis akan menganalisa masing-masing kewenangan antara POLRI dan KPK sesuai dengan kasus dugaan tindak pidana korupsi simulator SIM berdasarkan undang-undang sebagai berikut: 1. POLRI a. Undang Undang No. 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana KUHAP oleh POLRI dijadikan sebagai acuan untuk melakukan penyidikan tindak pidana korupsi simulator SIM, karena dalam KUHAP mengatur bahwa penyidik adalah pejabat POLRI atau PPNS tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan (Pasal 1 angka 1), sehingga POLRI berhak untuk melakukan penyidikan tindak pidana korupsi, karena berdasarkan pada Pasal 284 ayat (2) KUHAP dasar argumennya adalah sepanjang tindak pidana khusus dalam hal ini tindak pidana korupsi belum mengatur sendiri hukum acaranya secara keseluruhan maka POLRI berhak untuk melakukan penyidikan atas tindak pidana korupsi. b. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah 75
14 diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yaitu pada waktu masih berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berdasarkan ketentuan dalam Pasal 284 ayat (2) penyidik tindak pidana korupsi adalah Jaksa dan Kepolisian. Karena dalam Pasal 284 ayat (2) ditentukan bahwa sebelum ada yang mencabut atau mengubah maka ketentuan tersebut dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi masih berlaku. c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Mengenai tugas dari Kepolisian yang diatur dalam Pasal 14 ayat (1) huruf g yang bunyinya, Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya; Sama halnya dengan KUHAP, Pasal 14 ayat (1) UU POLRI ini menyatakan bahwa POLRI berhak melakukan penyelidikan dan penyidikan yang pelaksanaannya didasarkan pada KUHAP. Ketentuan Undang-Undang Hukum Acara Pidana 76
15 memberikan peranan utama kepada POLRI dalam penyelidikan dan penyidikan sehingga secara umum diberi kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana. Namun demikian, kewenangan POLRI tersebut tetap memperhatikan dan tidak mengurangi kewenangan yang dimiliki oleh penyidik lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukumnya masingmasing. Berdasarkan penjelasan di atas, dalam kaitannya dengan kasus dugaan korupsi simulator SIM ini, seharusnya POLRI tetap memperhatikan ketentuan yang tertuang dalam UU KPK, karena dalam kasus dugaan korupsi simulator SIM ini pelakunya adalah penyelenggara Negara dan UU KPK sudah mengaturnya, sehingga yang lebih berwenang untuk menyidik adalah penyidik KPK dan penyidik POLRI wajib memperhatikan ketentuan dan tata cara penyidikan yang sudah diatur dalam UU KPK. d. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi Huruf Kesebelas butir 10 ayat 1 Penulis akan menganalisa dari ayat yang pertama saja dalam InPres ini, karena menurut penulis ayat ini lebih berkaitan dengan kasus simulator SIM. Dalam ayat yang pertama 77
16 dijelaskan bahwa POLRI diinstruksikan oleh presiden untuk mengoptimalkan upaya penyidikan tindak pidana korupsi dan menyelamatkan uang negara. Pada akhir kalimat dikatakan bahwa POLRI diberi tugas untuk menyelamatkan uang negara, akan tetapi disini tidak diberikan spesifikasi tentang batasan besarnya uang negara yang harus diselamatkan oleh POLRI dalam setiap perkara korupsi, sehingga InPres ini memberikan ruang gerak bebas bagi POLRI untuk melakukan penyidikan tindak pidana korupsi berapapun kerugian yang dialami oleh negara. e. Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam UU KPK POLRI juga diberikan kewenangan untuk melakukan penyidikan tindak pidana korupsi, yaitu seperti tertuang dalam Pasal 50 ayat (1) yang berbunyi: Dalam hal suatu tindak pidana korupsi terjadi dan Komisi Pemberantasan Korupsi belum melakukan penyidikan, sedangkan perkara tersebut telah dilakukan penyidikan oleh kepolisian atau kejaksaan, instansi tersebut wajib memberitahukan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal dimulainya penyidikan. Dari pasal di atas memberikan gambaran bahwa wewenang POLRI dalam melakukan penyidikan tindak pidana korupsi diawasi dan dikoordinasikan dengan dan oleh KPK. Dalam hal ini POLRI harus tunduk pada UU KPK, akan tetapi 78
17 dalam kasus korupsi simulator SIM ini kaitannya dengan Pasal 50 ayat (1) UU KPK, POLRI dalam menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan UU KPK sehingga penegakan hukum dalam kasus korupsi simulator SIM ini terjadi hubungan yang tidak harmonis antara POLRI dengan KPK dan kepastian hukum tidak segera tercapai. 2. KPK a. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yaitu pada waktu masih berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berdasarkan ketentuan dalam Pasal 284 ayat (2) penyidik tindak pidana korupsi adalah Jaksa dan Kepolisian. Karena dalam Pasal 284 ayat (2) ditentukan bahwa sebelum ada yang mencabut atau mengubah maka ketentuan tersebut dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi masih berlaku. Setelah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat, 79
18 munculah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam undang-undang ini tepatnya pada Pasal 43 ayat (1) yang berbunyi: Dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-undang ini mulai berlaku, dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dimunculkan sebuah lembaga penegak hukum independen yang khusus menangani kasus korupsi di Indonesia dan penyidikannya pun dilakukan secara independen sesuai dengan ketentuan dalam lembaga tersebut, lembaga tersebut adalah Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai diperlukan keberadaannya, karena kasus korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa sehingga diperlukan penanganan khusus, untuk itu dibentuklah KPK yang dikhususkan untuk menangani kasus tindak pidana korupsi di Indonesia. Berdasarkan UU Tipikor tersebut menandakan bahwa keberadaan KPK sebagai lembaga pemberantas korupsi di Indonesia ini telah diamanatkan oleh undang-undang, jadi keberadaan KPK telah diakui di Indonesia secara de facto dan de jure. Hal ini juga berlaku untuk kasus korupsi simulator SIM yang melibatkan penyelenggara negara sebagai tersangkanya, seharusnya KPK lebih berwenang dalam menyelesaikan kasus 80
19 ini, karena keberadaan KPK memang dikhususkan dalam menyelesaikan kasus korupsi yang salah satunya adalah kasus korupsi tersebut dilakukan oleh penyelenggara negara. b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pengukuhan atas dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK diatur dalam Pasal 2 UU KPK yang berbunyi: Dengan Undang-Undang ini dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang untuk selanjutnya disebut Komisi Pemberantasan Korupsi. Dengan dibuatnya undang-undang ini berarti keberadaan KPK di Indonesia telah diakui, sehingga berdasarkan amanat undang-undang ini KPK dapat dengan segera melakukan tugasnya sebagai lembaga pemberantas korupsi di Indonesia. Kewenangan KPK dalam menyelesaikan kasus korupsi yang terjadi di Indonesia ditegaskan dalam Pasal 6 yang berbunyi, Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas : a) koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; b) supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; c) melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi; d) melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi; dan e) melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara. 81
20 berbunyi: Kemudian selanjutnya dalam Pasal 7 UU KPK Dalam melaksanakan tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang : a) mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi; b) menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi; c) meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi yang terkait; d) melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; dan e) meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana korupsi Selain dari tugas dan wewenang di atas, KPK dapat juga mengambil alih perkara korupsi yang sedang ditangani oleh POLRI yaitu terdapat dalam Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3) UU KPK, yang bunyinya : Pasal 8 ayat (2) Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) 3, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang juga mengambil alih penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang sedang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan. Pasal 8 ayat (3) 3 Bunyi Pasal 8 ayat (1) Dalam melaksanakan tugas supervisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan pengawasan, penelitian, atau penelaahan terhadap instansi yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan pemberantasan tindak pidana korupsi, dan instansi yang dalam melaksanakan pelayanan publik. 82
21 Dalam hal Komisi Pemberantasan Korupsi mengambil alih penyidikan atau penuntutan, kepolisian atau kejaksaan wajib menyerahkan tersangka dan seluruh berkas perkara beserta alat bukti dan dokumen lain yang diperlukan dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja, terhitung sejak tanggal diterimanya permintaan Komisi Pemberantasan Korupsi. Batasan kewenangan KPK dalam melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan kasus korupsi diatur dalam Pasal 11 UU KPK yang berbunyi : Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang : a) melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara; b) mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau c) menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp ,00 (satu milyar rupiah). Kemudian kewenangan KPK dalam melakukan penyidikan kasus korupsi dapat dilihat dalam Pasal 50 UU KPK sebagai berikut : 1) Dalam hal suatu tindak pidana korupsi terjadi dan Komisi Pemberantasan Korupsi belum melakukan penyidikan, sedangkan perkara tersebut telah dilakukan penyidikan oleh kepolisian atau kejaksaan, instansi tersebut wajib memberitahukan kepada Komisi Pemberantasan 83
22 Korupsi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal dimulainya penyidikan. 2) Penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan koordinasi secara terus menerus dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. 3) Dalam hal Komisi Pemberantasan Korupsi sudah mulai melakukan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepolisian atau kejaksaan tidak berwenang lagi melakukan penyidikan. Dalam hal penyidikan dilakukan secara bersamaan oleh kepolisian dan/atau kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi, penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan tersebut segera dihentikan. Jika melihat lagi tugas dan kewenangan KPK seperti tersebut dalam pasal-pasal di atas dan dikaitkan dengan kasus korupsi simulator SIM, KPK mempunyai kewenangan lebih daripada dengan POLRI, karena dalam kasus simulator SIM ini melibatkan penyelenggara Negara sebagai tersangkanya sehingga KPK mempunyai kewenangan dan KPK berhak mengambil alih penyidikan yang sudah dilakukan oleh POLRI. Maka dari itu POLRI seharusnya selalu berkoordinasi dengan 84
23 KPK terhadap kasus korupsi yang sedang ditangani, sehingga dapat tercapai kepastian hukum. Setelah menguraikan kewenangan masing-masing antara POLRI dan KPK penulis akan menganalisa secara keseluruhan kronologi kasus simulator SIM dikaitkan dengan kewenangan masing-masing sebagai berikut, berdasarkan apa yang sudah penulis kemukakan pada sub bab temuan data dalam Bab III ini, bahwa dalam kronologi kasus simulator SIM ini dalam hal penyelidikan dan penyidikan dapat diketahui secara jelas siapakah yang telah melakukan penyelidikan dan penyidikan terlebih dahulu. Dari hasil temuan data yang penulis kemukakan, diketahui bahwa awal dari penyelidikan kasus ini dimulai dari laporan direktur PT. ITI Sukotjo S Bambang kepada KPK. Berdasarkan laporan dari direktur PT. ITI tersebut KPK melakukan penyelidikan, hal ini sesuai dengan pernyataan dari wakil ketua KPK Bambang Widjojanto yang mengatakan bahwa KPK telah melakukan penyelidikan atas kasus ini pada tanggal 20 Januari Kemudian data yang penulis temukan adalah pada tanggal 27 Juli 2012, setelah menemukan cukup bukti kemudian KPK meningkatkan status dari kasus simulator SIM ini dari penyelidikan menjadi penyidikan dengan mengeluarkan surat perintah penyidikan dengan nomor Sprint.Dik- 37/01/VII/2012. Dengan dikeluarkannya surat itu, KPK menetapkan tersangka Irjen. Pol. Djoko Susilo sebagai tersangka. 85
24 Data lain yang ditemukan penulis yaitu di pihak POLRI juga telah melakukan penyelidikan atas kasus simulator SIM pada tanggal 21 Mei 2012 dengan mengeluarkan surat printah penyelidikan dengan nomor surat Sprindlid/55/V/2012 /Tipidkor. Dilakukannya penyelidikan ini bukan berangkat dari laporan seseorang, melainkan dari berita nasional yang diterbitkan oleh Tempo dalam Majalah Tempo edisi April Setelah itu dilakukan penyelidikan dan ditemukan cukup bukti, maka POLRI menaikkan status dari penyelidikan menjadi penyidikan pada tanggal 31 Agustus 2012 melalui surat perintah penyidikan dengan nomor surat Sprindik/184a/VIII/2012/Tipidkor dan menetapkan Budi Susanto sebagai tersangka. Dari data yang penulis temukan tersebut, jika dilihat dari saat dimulainya penyidikan maka dapat diketahui secara pasti bahwa KPK terlebih dahulu melakukan penyidikan. Hal ini dapat dilihat dari salah satu syarat dari saat dimulainya penyidikan sesuai dalam Keputusan Menteri Kehakiman Nomor : M.14 PW tahun 1983 pada angka 3 alinea ke dua tentang pengertian saat dimulainya penyidikan yaitu jika dalam kegiatan penyidikan tersebut sudah dilakukan tindak upaya paksa dari penyidik, seperti pemanggilan pro Yustitia, penangkapan, penahanan, pemeriksaan, penyitaan, dan sebagainya. Sesuai dengan keputusan Menteri Kehakiman tersebut, KPK sudah melakukan tindakan pro justitia yang salah satunya adalah penetapan tersangka dengan mengeluarkan surat perintah penyidikan pada tanggal 27 Juli Surat perintah penyidikan yang dikeluarkan oleh 86
25 KPK diterbitkan lebih dahulu yaitu tanggal 27 Juli 2012 sedangkan POLRI baru mengeluarkan surat perintah penyidikan dan menetapkan tersangka pada tanggal 31 Juli Berdasarkan pengertian dimulainya penyidikan tersebut, maka dapat diketahui bahwa yang terlebih dahulu melakukan penyidikan adalah KPK. Dengan diketahuinya KPK telah terlebih dahulu melakukan penyidikan, maka sesuai dengan UU KPK Pasal 50 ayat (3) yang berbunyi, Dalam hal Komisi Pemberantasan Korupsi sudah mulai melakukan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepolisian atau kejaksaan tidak berwenang lagi melakukan penyidikan. Jadi POLRI sudah tidak berhak lagi untuk melakukan penyidikan atas kasus simulator SIM tersebut dan wajib segera menyerahkan berkas perkara dan tersangka kepada KPK. Setelah melihat analisa berdasarkan saat dimulainya penyidikan, sebenarnya pada awal penyidikan kasus ini, penetapan tersangka oleh KPK dan POLRI sudah berbeda, yaitu KPK menetapka Irjen. Pol. Djoko Susilo dan POLRI menetapkan Budi Susanto sebagai tersangka. Jika melihat fakta tersebut seharusnya baik KPK maupun POLRI dapat melaksanakan penyidikannya masing-masing walaupun dengan kasus yang sama dan tanpa harus menimbulkan konflik. Akan tetapi yang seharusnya menjadi masalah atau munculnya konflik adalah ketika tersangka lainnya ditetapkan oleh KPK dan POLRI dimana ada beberapa tersangka yang sama, dari sinilah seharusnya konflik tersebut muncul, namun dari kedua instansi tersebut jika dikaitkan dengan peraturan yang ada KPK lebih tepat untuk menangani 87
26 perkara ini. Alasan hukumnya ada di Pasal 50 UU No. 30 Tahun 2002 tentang KPK seperti yang sudah penulis jelaskan diatas. Kemudian alasan hukum lainnya adalah terletak pada Pasal 11 UU KPK, dalam pasal ini sangat jelas diuraikan apa saja yang menjadi kewenangan KPK dalam menyelesaikan tindak pidana korupsi dan jika dikaitkan dengan kasus tindak pidana korupsi simulator SIM, ketentuan dalam pasal ini sangat sesuai. Berikut akan dijelaskan mengenai Pasal 11 UU KPK dan dikaitkan dengan kasus simulator SIM, yang pertama adalah ketentuan dalam huruf a, yaitu KPK menangani kasus korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum dan penyelenggara negara. Dalam kasus tindak pidana korupsi simulator SIM, kasus ini melibatkan pejabat penyelenggara negara dalam hal ini adalah pejabat POLRI, yang kedua, kasus tindak pidana korupsi tersebut meresahkan masyarakat. Dalam kasus simulator SIM ini, menurut penulis kasus ini harus menjadi prioritas untuk diselesaikan, karena kasus ini sudah dimuat di media cetak maupun televisi sehingga menyebabkan masyarakat tahu dan masyarakat menuntut agar kasus korupsi simulator SIM yang dilakukan oleh pejabat penyelenggara negara ini untuk segera diselesaikan. Kemudian yang ketiga atau yang terakhir adalah menyangkut kerugian negara paling sedikit satu milyar rupiah, dalam kasus simulator SIM kerugian negara mencapai 198 Milyar Rupiah. Jadi sudah tidak diragukan lagi dengan melihat penjabaran Pasal 11 UU KPK yang dikaitkan dengan kasus simulator SIM, KPK lebih berhak dibandingkan dengan POLRI untuk menangani perkara tindak pidana korupsi simulator SIM ini. 88
27 Analisa di atas juga ditegaskan lagi dengan Perkapolri No. 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam Pasal 14 huruf m Perkapolri No. 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia dikatakan bahwa setiap anggota POLRI dalam melaksanakan tugas penegakan hukum sebagai penyelidik, penyidik pembantu, dan penyidik dilarang menangani perkara yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Kenapa penulis mengambil pasal ini dalam melakukan analisa, karena dalam kasus simulator SIM, POLRI berada pada pihak yang menyelenggarakan proyek ini, sehingga apabila penyelenggara proyek ini adalah POLRI dan terjadi kasus korupsi dalam proses pengerjaan proyek tersebut maka berdasarkan Pasal 14 huruf m Perkapolri No. 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia, seharusnya POLRI dilarang melakukan penyidikan di dalam internalnya sendiri, karena dapat menimbulkan konflik kepentingan yang menyebabkan penyelesaian kasus tersebut tidak sempurna. Kemudian penulis akan menganalisa berdasarkan asas preferensi hukum yaitu asas lex Specialis Derogat Legi Generali adapun pengertian dari asas ini adalah hukum yang khusus mengesampingkan hukum yang umum. Dalam konflik kewenangan ini yang akan dianalisis dengan asas ini adalah kedudukan dari Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia. 89
28 Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yaitu pada waktu masih berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berdasarkan ketentuan dalam Pasal 284 ayat (2) penyidik tindak pidana korupsi adalah Jaksa dan Kepolisian. Karena dalam Pasal 284 ayat (2) ditentukan bahwa sebelum ada yang mencabut atau mengubah maka ketentuan tersebut dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi masih berlaku. Setelah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat, munculah Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam undang-undang ini tepatnya pada Pasal 43 ayat (1) yang berbunyi: Dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-undang ini mulai berlaku, dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dimunculkan sebuah lembaga penegak hukum independen yang khusus menangani kasus korupsi di Indonesia dan penyidikannya pun dilakukan secara independen sesuai dengan ketentuan dalam lembaga tersebut, lembaga tersebut adalah Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai diperlukan keberadaannya, karena kasus korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa sehingga diperlukan penanganan khusus, untuk itu dibentuklah KPK yang 90
29 dikhususkan untuk menangani kasus tindak pidana korupsi di Indonesia. Jadi berdasarkan analisa di atas, sepanjang dalam KUHAP belum diatur atau ada penyimpamgan dari KUHAP maka Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan Lex Specialis dari Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang merupakan legi generali. Meskipun demikian, adanya asas tersebut di atas sama sekali bukan berati mengurangi keabsahan penerapan KUHAP sebagai hukum acara pidana bagi semua perkara tindak pidana termasuk tindak pidana korupsi. Kemudian lebih lanjut lagi pada saat proses penulisan skripsi ini, benturan kewenangan antara KPK dan POLRI tersebut telah selesai dan POLRI juga telah menyerahkan berkas perkara kepada KPK pada tanggal 30 Oktober Penyelesaiannya dilakukan dengan melaksanakan instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 08 Oktober Dari pidato Presiden tersebut mencerminkan bahwa pada dasarnya POLRI harus tunduk kepada KPK dalam hal penyelesaian kasus korupsi, karena pada Pasal 50 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi dijadikan dasar dalam pidato Presiden tersebut. Karena UU KPK merupakan lex specialis dari KUHAP dalam kasus korupsi simulator SIM yang melibatkan penyelenggara negara ini. Sehingga KPK dalam menyelesaikan tindak pidana korupsi simulator SIM ini lebih berwenang daripada POLRI. 91
BAB IV KEWENANGAN KEJAKSAAN DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI. A. Perbedaan Kewenangan Jaksa dengan KPK dalam Perkara Tindak
BAB IV KEWENANGAN KEJAKSAAN DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI A. Perbedaan Kewenangan Jaksa dengan KPK dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Tidak pidana korupsi di Indonesia saat ini menjadi kejahatan
BAB I PENDAHULUAN. terkait korupsi merupakan bukti pemerintah serius untuk melakukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Persoalan korupsi yang terjadi di Indonesia selalu menjadi hal yang hangat dan menarik untuk diperbincangkan. Salah satu hal yang selalu menjadi topik utama
BAB II KEWENANGAN JAKSA DALAM SISTEM PERADILAN DI INDONESIA. diatur secara eksplisit atau implisit dalam Undang-undang Dasar 1945, yang pasti
BAB II KEWENANGAN JAKSA DALAM SISTEM PERADILAN DI INDONESIA 1. Wewenang Jaksa menurut KUHAP Terlepas dari apakah kedudukan dan fungsi Kejaksaan Republik Indonesia diatur secara eksplisit atau implisit
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
PENEGAKAN HUKUM. Bagian Keempat, Penyidikan Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 3.4 Penyidikan Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Modul E-Learning 3 PENEGAKAN HUKUM Bagian Keempat, Penyidikan Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 3.4 Penyidikan Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 3.4.1 Kewenangan KPK Segala kewenangan yang
KEWENANGAN KEJAKSAAN SEBAGAI PENYIDIK TINDAK PIDANA KORUPSI
KEWENANGAN KEJAKSAAN SEBAGAI PENYIDIK TINDAK PIDANA KORUPSI Sigit Budi Santosa 1 Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang Jl. Danau Sentani 99 Kota Malang Abstraksi: Korupsi sampai saat ini merupakan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
PENEGAKAN HUKUM. Bagian Kelima, Penyidikan Oleh Badan Narkotika Nasional (BNN)
Modul E-Learning 3 PENEGAKAN HUKUM Bagian Kelima, Penyidikan Oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) 3.5 Penyidikan Oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) 3.5.1 Kewenangan Penyidikan oleh BNN Dalam melaksanakan
RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 016/PUU-IV/2006 Perbaikan 11 September 2006
RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 016/PUU-IV/2006 Perbaikan 11 September 2006 I. PARA PEMOHON Prof. DR. Nazaruddin Sjamsuddin sebagai Ketua KPU PEMOHON I Prof. DR. Ramlan Surbakti, M.A., sebagai Wakil Ketua
BAB I PENDAHULUAN. Lahirnya Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahirnya Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomer 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. benar-benar telah menjadi budaya pada berbagai level masyarakat sehingga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fenomena korupsi yang terjadi di Indonesia selalu menjadi persoalan yang hangat untuk dibicarakan. Salah satu hal yang selalu menjadi topik utama sehubungan
BAB I PENDAHULUAN. Istilah korupsi berasal dari bahasa latin yaitu corruption yang artinya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Beberapa waktu lalu publik dikejutkan dengan berita perseteruan antara dua lembaga negara yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik
I. PENDAHULUAN. Tindak pidana korupsi merupakan salah satu kejahatan yang merusak moral
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tindak pidana korupsi merupakan salah satu kejahatan yang merusak moral bangsa dan merugikan seluruh lapisan masyarakat, sehingga harus dilakukan penyidikan sampai
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Korporasi adalah kumpulan orang dan atau kekayaan
2011, No b. bahwa Tindak Pidana Korupsi adalah suatu tindak pidana yang pemberantasannya perlu dilakukan secara luar biasa, namun dalam pelaksan
No.655, 2011 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Koordinasi. Aparat Penegak Hukum. PERATURAN BERSAMA KETUA MAHKAMAH AGUNG MENTERI HUKUM DAN HAM JAKSA
BAB V ANALISIS. A. Analisis mengenai Pertimbangan Hakim Yang Mengabulkan Praperadilan Dalam
BAB V ANALISIS A. Analisis mengenai Pertimbangan Hakim Yang Mengabulkan Praperadilan Dalam Perkara No. 97/PID.PRAP/PN.JKT.SEL Setelah keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 21/PUU-XII/2014, maka penetapan
Revisi UU KPK Antara Melemahkan Dan Memperkuat Kinerja KPK Oleh : Ahmad Jazuli *
Revisi UU KPK Antara Melemahkan Dan Memperkuat Kinerja KPK Oleh : Ahmad Jazuli * Naskah diterima: 18 Februari 2016; disetujui: 10 Maret 2016 Karakteristik korupsi di Indonesia teramat kompleks dan mengakar
KEPUTUSAN BERSAMA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAN KETUA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI
KEPUTUSAN BERSAMA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAN KETUA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI No. Pol.:Kep/ 16 /VII/2005 Nomor : 07 / POLRI - KPK/VII/2005 TENTANG KERJASAMA ANTARA POLRI DAN KPK
Indonesia Corruption Watch dan UNODC REVISI SKB/MOU OPTIMALISASI PEMBERANTASAN KORUPSI
Indonesia Corruption Watch dan UNODC REVISI SKB/MOU OPTIMALISASI PEMBERANTASAN KORUPSI LATAR BELAKANG Korupsi terlalu besar dihadapi sendiri (satu institusi tertentu saja) KPK tidak pernah didesain untuk
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.983, 2013 KEPOLISIAN. Penyidikan. Tindak Pidana. Pemilu. Tata Cara. PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENYIDIKAN
BAB I PENDAHULUAN. Negara yang terbukti melakukan korupsi. Segala cara dilakukan untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga penyidik pemberantasan tindak pidana korupsi merupakan lembaga yang menangani kasus tindak pidana korupsi di Indonesia maupun di Negara-negara lain. Pemberantasan
NOTA KESEPAHAMAN ANTARA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA, KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, DAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN
NOTA KESEPAHAMAN ANTARA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA, KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, DAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR NO. POL. NOMOR : KEP-109/A/JA/09/2007 : B / 2718 /IX/2007
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan manusia Indonesia
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya yang adil, makmur, sejahtera dan tertib berdasarkan
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG
MEKANISME PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN KEHUTANAN
MEKANISME PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN KEHUTANAN POLTABES LOCUSNYA KOTA BESAR KEJAKSAAN NEGERI KOTA PENGADILAN NEGERI PERISTIWA HUKUM PENGADUAN LAPORAN TERTANGKAP TANGAN PENYELIDIKAN, PEYIDIKAN BAP Berdasarkan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
Komisi Pemberantasan Korupsi. Peranan KPK Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Komisi Pemberantasan Korupsi Peranan KPK Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi secara meluas, tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id
II. TINJAUAN PUSTAKA. Setiap penegak hukum mempunyai kedudukan (status) dan peranan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Peranan Setiap penegak hukum mempunyai kedudukan (status) dan peranan (role). Kedudukan merupakan posisi tertentu di dalam struktur kemasyarakatan dimana kedudukan itu
NOTA KESEPAHAMAN ANTARA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TENTANG
NOTA KESEPAHAMAN ANTARA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Nomor : Nomor : TENTANG KERJA SAMA DALAM PEMBERANTASAN
Peran PPNS Dalam Penyidikan Tindak Pidana Kehutanan. Oleh: Muhammad Karno dan Dahlia 1
Peran PPNS Dalam Penyidikan Tindak Pidana Kehutanan Oleh: Muhammad Karno dan Dahlia 1 I. PENDAHULUAN Sebagai akibat aktivitas perekonomian dunia, akhir-akhir ini pemanfaatan hutan menunjukkan kecenderungan
KEWENANGAN PENYIDIK DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI
RESUME KEWENANGAN PENYIDIK DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I. Latar Belakang Tindak pidana korupsi maksudnya adalah memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negri atau pejabat Negara dengan maksud
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, sehingga harus diberantas 1. hidup masyarakat Indonesia sejak dulu hingga saat ini.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional bertujuan mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia seutuhmya yang adil, makmur, sejahtera dan tertib berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
PERBAIKAN DR SETUM 13 AGUSTUS 2010 PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG KOORDINASI, PENGAWASAN DAN PEMBINAAN PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN
PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG MANAJEMEN PELAKSANAAN TUGAS PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
SALINAN NOMOR 52/2014 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG MANAJEMEN PELAKSANAAN TUGAS PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa
BAB I BERKAS PENYIDIKAN
BAB I BERKAS PENYIDIKAN Rangkaian penyelesaian peradilan pidana terdiri atas beberapa tahapan, suatu proses penyelesaian peradilan dimulai dari adanya suatu peristiwa hukum, namun untuk menentukan apakah
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 16/PUU-X/2012 Tentang KEWENANGAN KEJAKSAAN DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 16/PUU-X/2012 Tentang KEWENANGAN KEJAKSAAN DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI I. Pemohon 1. Iwan Budi Santoso S.H. 2. Muhamad Zainal Arifin S.H. 3. Ardion
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
PROSEDUR TINDAKAN KEPOLISIAN TERHADAP PEJABAT NEGARA. Oleh INDARTO BARESKRIM
PROSEDUR TINDAKAN KEPOLISIAN TERHADAP PEJABAT NEGARA Oleh INDARTO BARESKRIM DASAR 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. 2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG KOORDINASI, PENGAWASAN DAN PEMBINAAN PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA
ANOTASI UNDANG-UNDANG BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI
ANOTASI UNDANG-UNDANG BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DAFTAR ANOTASI Halaman 1. Sejak Rabu,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
http://welcome.to/rgs_mitra ; rgs@cbn. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Presiden, DPR, dan BPK.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG KPK adalah lembaga negara yang dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. KPK bersifat independen
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik
- 2 - BAB I KETENTUAN UMUM
- 2 - BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Badan ini yang dimaksud dengan: 1. Pemilihan Umum yang selanjutnya disebut Pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Korupsi adalah suatu perbuatan untuk menguntungkan diri sendiri, dan secara tidak langsung dapat merugikan negara dan orang banyak. Korupsi menurut Mahzar
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
KAITAN EFEK JERA PENINDAKAN BERAT TERHADAP KEJAHATAN KORUPSI DENGAN MINIMNYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENYERAPAN ANGGARAN DAERAH
KAITAN EFEK JERA PENINDAKAN BERAT TERHADAP KEJAHATAN KORUPSI DENGAN MINIMNYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENYERAPAN ANGGARAN DAERAH I. Pendahuluan. Misi yang diemban dalam rangka reformasi hukum adalah
Matriks Perbandingan KUHAP-RUU KUHAP-UU TPK-UU KPK
Matriks Perbandingan KUHAP-RUU KUHAP-UU TPK-UU KPK Materi yang Diatur KUHAP RUU KUHAP Undang TPK Undang KPK Catatan Penyelidikan Pasal 1 angka 5, - Pasal 43 ayat (2), Komisi Dalam RUU KUHAP, Penyelidikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Agar hukum dapat berjalan dengan baik pelaksanaan hukum
1 A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Agar hukum dapat berjalan dengan baik pelaksanaan hukum diserahkan kepada aparat penegak hukum yang meliputi: kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga pemasyarakatan
2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Sistem Peradilan Pidana Anak adalah keseluruhan proses penyeles
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.194, 2015 PIDANA. Diversi. Anak. Belum Berumur 12 Tahun. Pedoman. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5732). PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA, Menimbang : a. bahwa
Nama : ALEXANDER MARWATA
Nama : ALEXANDER MARWATA 1. Pengadilan adalah tempat seseorang mencari keadilan. Pengadilan bukan tempat untuk menjatuhkan hukuman. Meskipun seorang Terdakwa dijatuhi hukuman penjara hal itu dalam rangka
NOMOR : M.HH-11.HM.03.02.th.2011 NOMOR : PER-045/A/JA/12/2011 NOMOR : 1 Tahun 2011 NOMOR : KEPB-02/01-55/12/2011 NOMOR : 4 Tahun 2011 TENTANG
PERATURAN BERSAMA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA KETUA
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLlK INDONESIA JAKARTA
KEJAKSAAN AGUNG REPUBLlK INDONESIA JAKARTA Nomor Sifat Lampiran : Perihal R-045a/ F/2./ 2001 Rahasia 1 (satu berkas Kewenangan jaksa sebagai Penyidik berdasarkan UU No 31 Tahun 1999 Jakarta, 16 Februari
BAB III DASAR HUKUM PEMBERHENTIAN TIDAK TERHORMAT ANGGOTA KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA MENURUT PERPRES NO 18 TAHUN 2011
BAB III DASAR HUKUM PEMBERHENTIAN TIDAK TERHORMAT ANGGOTA KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA MENURUT PERPRES NO 18 TAHUN 2011 A. Prosedur tugas dan kewenangan Jaksa Kejaksaan R.I. adalah lembaga pemerintahan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Agar hukum dapat berjalan dengan baik, maka berdasarkan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Agar hukum dapat berjalan dengan baik, maka berdasarkan Undang-undang No. 8 tahun 1981 yang disebut dengan Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana (KUHAP), menjelaskan
BAB I PENDAHULUAN. Hukum adalah sesuatu yang sangat sulit untuk didefinisikan. Terdapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum adalah sesuatu yang sangat sulit untuk didefinisikan. Terdapat bermacam-macam definisi Hukum, menurut P.Moedikdo arti Hukum dapat ditunjukkan pada cara-cara
NOMOR 14 TAHUN 2016 NOMOR 01 TAHUN 2016 NOMOR 013/JA/11/2016 TENTANG
PERATURAN BERSAMA KETUA BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA, KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, DAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2016 NOMOR 01 TAHUN 2016 NOMOR 013/JA/11/2016
INDONESIA CORRUPTION WATCH 1 Oktober 2013
LAMPIRAN PASAL-PASAL RUU KUHAP PELUMPUH KPK Pasal 3 Pasal 44 Bagian Kedua Penahanan Pasal 58 (1) Ruang lingkup berlakunya Undang-Undang ini adalah untuk melaksanakan tata cara peradilan dalam lingkungan
BAB II PROSES PENYIDIKAN BNN DAN POLRI TERHADAP TERSANGKA NARKOTIKA MENGACU PADA UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA
BAB II PROSES PENYIDIKAN BNN DAN POLRI TERHADAP TERSANGKA MENGACU PADA UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG 2.1 Bentuk Kejahatan Narkotika Kejahatan adalah rechtdelicten, yaitu perbuatan-perbuatan
GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN
GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 21 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN,
BAB I PENDAHULUAN. tabu untuk dilakukan bahkan tidak ada lagi rasa malu untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Zaman sekarang korupsi sudah menjadi hal yang biasa untuk diperbincangkan. Korupsi bukan lagi menjadi suatu hal yang dianggap tabu untuk dilakukan bahkan tidak
I. PENDAHULUAN. mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rangkaian panjang dalam proses peradilan pidana di Indonesia berawal dari suatu proses yang dinamakan penyelidikan. Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik
II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Penyelidikan dan Penyidikan. Pengertian penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penyelidikan dan Penyidikan Pengertian penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Pengertian, Kedudukan, serta Tugas dan Wewenang Kejaksaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Tinjauan Umum Tentang Kejaksaan a. Pengertian, Kedudukan, serta Tugas dan Wewenang Kejaksaan Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia,
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.790, 2014 BNPT. Perkaran Tindak Pidana Terorisme. Perlindungan. Saksi. Penyidik. Penuntut Umum. Hakim dan Keluarganya. Pedoman PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN DIVERSI DAN PENANGANAN ANAK YANG BELUM BERUMUR 12 (DUA BELAS) TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN DIVERSI DAN PENANGANAN ANAK YANG BELUM BERUMUR 12 (DUA BELAS) TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
1 of 24 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NO : 7 2001 SERI : D PERATURAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NOMOR : 11 TAHUN 2001 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BEKASI Menimbang
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang
BAB III PENUTUP. I dan BAB II, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
51 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan-pembahasan yang telah diuraikan pada BAB I dan BAB II, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Implementasi Penyidikan tindak pidana korupsi oleh
MENTER! HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA
MENTER! HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTER! HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-Ol.Hl.07.02 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN MANAJEMEN PENYIDIKAN
RINGKASAN SKRIPSI/ NASKAH PUBLIKASI TANGGUNG JAWAB KEJAKSAAN DALAM PRA PENUNTUTAN UNTUK MENYEMPURNAKAN BERKAS PERKARA PENYIDIKAN
RINGKASAN SKRIPSI/ NASKAH PUBLIKASI TANGGUNG JAWAB KEJAKSAAN DALAM PRA PENUNTUTAN UNTUK MENYEMPURNAKAN BERKAS PERKARA PENYIDIKAN Diajukan oleh: JEMIS A.G BANGUN NPM : 100510287 Program Studi Program Kekhususan
II. TINJAUAN PUSTAKA. sehingga mereka tidak tahu tentang batasan umur yang disebut dalam pengertian
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Anak dan Anak Nakal Pengertian masyarakat pada umumnya tentang anak adalah merupakan titipan dari Sang Pencipta yang akan meneruskan keturunan dari kedua orang tuanya,
PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN Hasil PANJA 12 Juli 2006 Dokumentasi KOALISI PERLINDUNGAN SAKSI Hasil Tim perumus PANJA, santika 12 Juli
PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG
PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENYIDIKAN PELANGGARAN PIDANA PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH DAN DEWAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik
KEPUTUSAN BERSAMA KETUA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA Nomor : KEP Nomor : KEP- IAIJ.
KEPUTUSAN BERSAMA KETUA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA Nomor : KEP- 1 11212005 Nomor : KEP- IAIJ.A11212005 TENTANG KERJASAMA ANTARA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DENGAN
BAB I PENDAHULUAN. melakukan penyidikan tindak pidana tertentu berdasarkan undang- undang sesuai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu unsur penegak hukum yang diberi tugas dan wewenang melakukan penyidikan tindak pidana tertentu berdasarkan undang- undang sesuai Pasal 30 ayat 1(d)
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan
