BAB I BERKAS PENYIDIKAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I BERKAS PENYIDIKAN"

Transkripsi

1

2 BAB I BERKAS PENYIDIKAN Rangkaian penyelesaian peradilan pidana terdiri atas beberapa tahapan, suatu proses penyelesaian peradilan dimulai dari adanya suatu peristiwa hukum, namun untuk menentukan apakah peristiwa hukum itu merupakan suatu tindak pidana atau bukan haruslah diadakan suatu penyelidikan. Alur untuk mengetahui adanya suatu tindak pidana adalah melalui : a. Pengaduan, yaitu pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang untuk menindak menurut hukum seseorang yang telah melakukan tindak pidana (delik) aduan yang merugikan (Pasal 1 angka 25 KUHAP). b. Laporan, yaitu pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena hak atau kewajiban berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana (Pasal 1 angka 24 KUHAP). c. Tertangkap tangan, yaitu tertangkapnya seseorang pada waktu sedang melakukan tindak pidana, atau dengan segera sesudah beberapa saat tindak pidana itu dilakukan, atau sesaat kemudian diserukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukannya atau apabila sesaat kemudian padanya ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana itu yang menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau turut melakukan atau membantu melakukan tindak pidana itu. Menurut pasal 1 butir 5 KUHAP, penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur oleh undangundang. Adapun pihak yang berwenang untuk melakukan penyelidikan menurut pasal 4 KUHAP adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia. Dalam melaksanakan penyelidikan, penyelidik memiliki kewajiban dan kewenangan. Penyelidik karena kewajibannya memiliki kewenangan antara lain sebagai berikut : 1. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana; 2. Mencari keterangan dan barang bukti; 3. Menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan seta memeriksa tanda pengenal diri; 4. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab; 5. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa : a. Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penahanan; b. Pemeriksaan dan penyitaan surat; c. Mengambil sidik jari dan memotret orang; d. Membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik. 6. Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebagaimana tersebut diatas; Apabila setelah melalui tahap penyelidikan dapat ditentukan bahwa suatu peristiwa merupakan suatu peristiwa pidana, maka dilanjutkan dengan Tahap Penyidikan. Menurut pasal 1 angka 2 KUHAP yang dimaksud penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undnag ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang diatur dalam undang-undang ini yang mana dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemkan tersangkanya.

3 Pihak yang berwenang melakukan penyidikan menurut pasal 6 KUHAP adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia dan pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. Penyidik karena kewajibannya memiliki kewenangan sebagai berikut : 1. Menerima laporan atau pengaduan tentang adanya tindak pidana; 2. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; 3. Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; 4. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan; 5. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; 6. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang; 7. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; 8. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; 9. Mengadakan penghentian penyidikan; 10. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab; 11. Dalam melakukan tugasnya penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku; 12. Membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan; 13. Penyidik menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum; 14. Penyerahan berkas perkara dilakukan : a. Pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas perkara; b. Dalam hal penyidikan sudah dianggap selesai, penyidik menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum. 15. Berita acara dibuat untuk setiap tindakan tentang : a. Pemeriksaan tersangka; b. Penangkapan; c. Penahanan; d. Penggeledahan; e. Pemasukan rumah; f. Penyitaan benda; g. Pemeriksaan surat; h. Pemeriksaan saksi; i. Pemeriksaan di tempat kejadian; j. Pelaksanaan penetapan dan putusan pengadilan; k. Pelaksanaan tindakan lain sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang. 16. Melakukan penyidikan tambahan, jika penuntut umum mengembalikan hasil penyidikan untuk dilengapi sesuai dengan petunjuk dari penuntut umum; 17. Atas permintaan tersangka atau terdakwa, penyidik dapat mengadakan penangguhan penahanan dengan atau tanpa jaminan uang atau jaminan orang, berdasarkan syarat yang ditentukan; 18. Karena jabatannya hakim sewaktu-waktu dapat mencabut penangguahan penahanan dalam hal tersangka atau terdakwa melanggar syarat yang sudah ditentukan; 19. Melakukan penyidikana tambahan sesuai dengan petunjuk dari penuntut umum, jika penuntut umum mengembalikan hasil penyidikan untuk dilengkapi;

4 20. Dalam hal seorang disangka melakukan suatu tindak pidanan sebelum dimulainya pemeriksaan oleh penyidik, penyidik wajib memberitahukan kepadanya tentang haknya untuk mendapatkan bantuan hukum atau bahwa ia dalam perkaranya itu wajib didampingi oleh penasihat hukum. Ketika melaksanakan penyelidikan dan penyidikan, para aparat penegak hukum melakukan suatu upaya paksa, yaitu serangkaian tindakan untuk kepentingan penyidikan yaitu : a. Penangkapan, menurut pasal 1 angka 20 KUHAP, penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa penangkapan sementara waktu kebebasan tersangka apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang; b. Penahanan, menurut pasal 1 angka 21 KUHAP, penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau hakim dengan penetapannya, dalam serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang; c. Penyitaan, menurut pasal 1 angka 16 KUHAP, penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan/atau menyimpan dibawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud dan/atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan; d. Penggeledahan rumah, menurut pasal 1 angka 17 KUHAP, penggeledahan rumah adalah tindakan penyidik untuk memasuki rumah tempat tinggal dan tempat tertutup lainnya untuk melakukan tindakan pemeriksaan dan/atau penyitaan dan/atau penangkapan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang; e. Penggeledahan badan, menurut pasal 1 angka 18 KUHAP, penggeledahan badan adalah tindakan penyidik untuk mengadakan pemeriksaan badan dan/atau pakaian tersangka untuk mencari benda yang diduga keras ada pada badannya atau dibawanya serta untuk disita Setiap tindakan yang dilakukan oleh Penyidik harus dibuat Berita Acara dan penyidik dalam memproses suatu perkara Pidana harus membuat Berkas Perkara tingkat Penyidikan. Dalam modul ini contoh berkas yang dibuat adalah berkas penyidikan tindak pidana narkotika.

5 1. Cover Berkas Perkara 2. BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) : [email protected] PRO JUSTITIA BERKAS PERKARA BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI BALI KASUS :... MELANGGAR :... LAPORAN KASUS NARKOTIKA :... TEMPAT :... TERSANGKA : FOTO TERSANGKA PENYIDIK...

6 2. Sampul Berkas Perkara BNNP BALI PRO JUSTITIA SAMPUL BERKAS PERKARA Nomor : BP / 11 BRTS / III / 2016 / BNNP Kejadian Perkara Pidana, pada hari... tanggal... sekitar pukul... WITA di... Dilaporkan, pada hari... tanggal..., sekira pukul... WITA. Uraian singkat perkara pidana yang terjadi : BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) No Laporan Kasus Narkotika Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11 BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal 08 Januari 2016 Nama, Nama Kecil, Alias, Tempat dan Tanggal Lahir / Umur, Agama, Kewarganegaraan, Pekerjaan, Tempat Tinggal, Sudah Pernah dihukum berapa kali (Tersangka tidak pernah dihukum dan tidak tersangkut dengan perkara pidana lainnya) Ditahan Tanggal Tanggal Dikeluarkan Tanggal Ket Mengetahui KEPALA BNNP BALI Denpasar,... Penyidik Selaku Penyidik (...)... (...)... NRP...

7 3. Resume Penyidikan. BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA RESUME I. Dasar II. III. IV 1. Pasal 7 ayat (1) huruf g, Pasal 11, Pasal 112 ayat (1) dan (2) KUHAP 2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 4. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11 -BRTS / I/ 2016 / BNNP, tanggal 11 Januari 2016 Perkara FAKTA-FAKTA 1. Penangkapan Penahanan Penggeledahan... KETERANGAN SAKSI 1. Nama :..., Tempat/tanggal lahir :..., Agama :..., Pekerjaan :..., Jenis Kelamin :..., Kewarganegaraan :..., Pendidikan terakhir :..., Alamat :... Menerangkan : V. ANALISIS BUKTI SURAT VI. KETERANGAN TERSANGKA... IV. PEMBAHASAN A. Analisis Kasus Berdasarkan fakta fakta yang ditemukan dalam penyidikan, berdasarkan alat bukti yang ada baik berupa keterangan para saksi maupun tersangka dan adanya barang bukti yang disita, maka dapat dilakukan pembahasan sebagai berikut :

8 ... B. Analisis Yuridis Pasal... Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Unsur-unsurnya adalah : 1)... 2)... 3)... KESIMPULAN 1. Perbuatan tersangka memenuhi unsur pasal PENUTUP Demikian Resume ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah dan jabatan, kemudian ditutup dan ditanda tangani di... Penyidik (...)... NRP...

9 4. Foto Tersangka BNNP BALI PRO JUSTITIA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] FOTO TERSANGKA TAMPAK DEPAN TAMPAK SAMPING KANAN TAMPAK SAMPING KIRI 1. N a m a : Jenis kelamin : Tempat / tgl lahir : Pekerjaan : Agama : Pendidikan : Kewarganegaraan / suku : Alamat : Rumus sidik jari : Perkara : P a s a l :... Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik (...)...

10 5. Laporan Kasus Narkotika BNNP BALI BADAN NARKOTIKA REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] LAPORAN KASUS NARKOTIKA Nomor : LKN / 11 BRTS / I / 2016 / BNNP 1. Waktu Kejadian 2. Tempat Kejadian 3. Apa Yang Terjadi 4. Siapa Pelaku 5. Bagaimana Terjadi 6. Dilaporkan TINDAK PIDANA BARANG BUKTI : : : : : : : NAMA DAN ALAMAT SAKSI-SAKSI 1. Nama :... Umur :... Agama :... Pekerjaan :... Alamat :... Nama :... Umur :... Agama :... Pekerjaan :... Alamat :... URAIAN SINGKAT KEJADIAN TINDAKAN YANG DIAMBIL Mengamankan barang bukti, memeriksa saksi-saksi dan membuat Laporan Kasus Narkotika guna dilakukan penyidikan lebih lanjut. Mengetahui KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik...,... Pelapor Nama :... Pangkat/NRP :... (...)... Tanda Tangan :...

11 6. Surat Perintah Tugas BNNP BALI PRO JUSTITIA Pertimbangan : Dasar : BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] SURAT PERINTAH TUGAS Nomor : SP. Gas / 11 - BRTS / I / 2016 / BNNP Bahwa untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika Golongan I, serta untuk melakukan tindakan hukum, maka perlu mengeluarkan surat perintah tugas ini. 1. Pasal 5 ayat (2), Pasal 6, Pasal 7 ayat (1) huruf d, pasal 11, Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 19 ayat (2) KUHAP; 2. Pasal 70, Pasal 71, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 75, dan Pasal 80 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional; 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 5. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP,... DIPERINTAHKAN Kepada : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Untuk : 1. Melaksanakan tugas penyelidikan, penangkapan, penggeledahan dan penyitaan Perkara Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika yang dilakukan oleh Tersangka An Surat Perintah ini berlaku mulai tanggal 08 Januari 2016 selesai. 3. Melaksanakan perintah ini dengan penuh rasa tanggung jawab dan melaporkan hasilnya. Selesai : - Yang Menerima Perintah Penyidik Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik (...)... NRP... (...)...

12 7. Surat Perintah Penyidikan BNNP BALI PRO JUSTITIA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] SURAT PERINTAH PENYIDIKAN Nomor : SP. Sidik / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP Pertimbangan : Dasar : DIPERINTAHKAN Bahwa untuk kepentingan penyidikan terhadap suatu perbuatan yang diduga merupakan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika Golongan 1, maka perlu mengeluarkan surat perintah penyidikan ini. 1. Pasal 8, Pasal 9, Pasal 106, Pasal 109 ayat (1) KUHAP; 2. Pasal 71, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 75, Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78 dan Pasal 80 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional; 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 5. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 08-BRTS / I / 2016 / BNNP,... Kepada : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Untuk : Selesai : 1. Melakukan penyidikan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika jenis... yang dilakukan oleh tersangka... sebagaimana dimaksud dalam Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal 08 Januari Membuat Rencana Penyidikan. 3. Melaporkan setiap pertimbangan pelaksanaan penyidikan Tindak Pidana tersebut kepada Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Bali. 4. Surat Perintah ini berlaku sejak tanggal dikeluarkan s/d selesai. Yang Menerima Perintah Penyidik Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik (...)... NRP... (...)...

13 8. SPDP PRO JUSTITIA BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA Nomor Klasifikasi Lampiran Perihal : B / 1121 / I / Kb / Pb.01 / 2016 / BNNP : Biasa : 1 (satu) Berkas : Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan...,... Kepada Yth.... Di Dasar : a. Pasal 109 ayat (1) KUHAP; b. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika; c. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal...; d. Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP. Sidik / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal Dengan ini diberitahukan bahwa Badan Narkotika Nasional Provinsi Bali telah melakukan penyidikan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika jenis Shabu (Metamfetamina) yang terjadi pada hari Senin tanggal... sekira pukul... WITA di..., sebagaimana dimaksud dalam Pasal... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, yang dilakukan oleh tersangka : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat Tgl Lahir :... Agama :... Pendidikan Terakhir :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Alamat : Demikian untuk menjadi maklum. KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik Tembusan : (...)...

14 9. Surat Panggilan Saksi BNNP BALI PRO JUSTITIA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] SURAT PANGGILAN SAKSI No Pol : S.Pgl / 04-BRTS / I / BNNP / 2016 Pertimbangan : Dasar : Bahwa untuk kepentingan pemeriksaan dalam rangka penyidikan tindak pidana, dipandang perlu memanggil seseorang untuk didengar keterangannya. 5. Pasal 7 ayat (1) huruf g, Pasal 11, Pasal 112 ayat (1) dan (2) KUHAP 6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional. 7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 8. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal... MEMANGGIL Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat Tanggal Lahir :... Agama :... Pekerjaan :... Alamat :... Dengan ini kami meminta kedatangan saudara pada : Hari :... Tanggal :... Jam :... Tempat :... Menghadap :... Untuk didengar dan diperiksa sebagai SAKSI dalam perkara dugaan tindak pidana Peredaran Gelap Narkotika atas nama tersangka... berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP. Sidik / 11 -BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal... Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... (...)... NRP...

15 10. Berita Acara Pemeriksaan Saksi BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA BERITA ACARA PEMERIKSAAN (SAKSI) Pada hari ini... tanggal... bulan... tahun..., sekitar pukul... WITA saya : (...) Pangkat... NRP..., dengan jabatan sebagai penyidik, pada Kantor Badan Narkotika Nasional tersebut diatas, berdasarkan SKEP penyidik nomor : KEP/501/X/2011/BNN tanggal 15 Oktober 2011, dan berdasarkan surat perintah penyidikan No. Pol : SP. Sidik / 11 BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal..., bersama : (...) Pangkat... NRP..., dengan jabatan sebagai penyidik pembantu, pada Kantor Badan Narkotika Nasional tersebut diatas, telah melakukan pemeriksaan terhadap seorang laki-laki yang belum dikenal dan mengaku sebagai : (...) Tempat / tanggal lahir :... agama :..., Pekerjaan :..., Jenis Kelamin :..., Kewarganegaraan :..., Pendidikan terakhir :..., tempat tinggal : Ia (... ) diperiksa dan didengar keterangannya sebagai saksi dalam perkara tindak pidana Penyalahgunaan dan/atau peredaran gelap Narkotika... sebagaimana dimaksud dalam... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sesuai dengan Laporan Kasus Narkotika : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP. Tanggal Atas pertanyaan pemeriksa yang diperiksa memberikan keterangan dan jawaban sebagai berikut :- PERTANYAAN JAWABAN

16 Setelah Berita Acara Pemeriksaan ini dibuat, kemudian dibacakan kembali kepada yang diperiksa dan yang diperiksa menyatakan setuju dan membenarkan semua keterangannya yang telah diberikan tersebut diatas, dan untuk menguatkan keterangan tersebut yang diperiksa membubuhkan tanda tangannya dibawah ini. Yang diperiksa/saksi (...) Demikianlah Berita Acara Pemeriksaan Saksi ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditanda tangani di Denpasar pada hari dan tanggal tersebut diatas Penyidik (...)... NRP... Penyidik Pembantu (...)... NRP...

17 11. Berita Acara Pengambilan Sumpah Saksi BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA BERITA ACARA PENGAMBILAN SUMPAH SAKSI Pada hari ini..., tanggal... pukul... WITA bertempat di Badan Narkotika Nasional Provinsi Bali, saya penyidik : Nama :... Pangkat :... Nip :... Telah mengambil sumpah seorang saksi :... NAMA :... JENIS KELAMIN :... UMUR :... T.T.L :... ALAMAT :... KEWARGANEGARAAN :... PENDIDIKAN :... PEKERJAAAN :... AGAMA :... Sesuai dengan agama Budha yang dianutnya dengan disaksikan oleh : Nama Lengkap : Pangkat :... Jabatan :... Pada BNN : Nama Lengkap :... Pangkat :... Jabatan :... Pada BNN : Sesuai dengan pasal 116 UU No. 8 tahun 1981 jo. Pasal 30 ayat (1) UU No. 16/2004, maka untuk menguatkan keterangan sebagai saksi dalam perkara Tersangka... sebagaimana yang tercantum dalam berita acara pemeriksaan saksi tanggal... yang dibuat oleh Penyidik... oleh karena diduga bahwa ia tidak akan dapat hadir dalam pemeriksaan pengadilan pada hari yang ditetapkan Dengan mengucap lafal sumpah/janji sebagai berikut :

18 Selesai mengucapkan lafal sumpah/janji, maka ia membubuhkan tanda tangannya di bawah ini beserta 2 orang saksi tersebut diatas Saksi-saksi Yang disumpah/saksi 1. (...) (...) 2. (...) Demikian Berita Acara pengambilan sumpah saksi ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan. Saya tutup dan ditandatangani bersama para saksi pada hari dan tanggal sebagaimana tersebut diatas Yang Mengambil Sumpah (...)... NRP...

19 12. Surat Panggilan Tersangka BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA SURAT PANGGILAN TERSANGKA No Pol : S.Pgl / 01-BRTS / I / BNNP / 2016 Pertimbangan : Dasar : Bahwa untuk kepentingan pemeriksaan dalam rangka penyidikan tindak pidana, dipandang perlu memanggil seseorang untuk didengar keterangannya. 9. Pasal 7 ayat (1) huruf g, Pasal 11, Pasal 112 ayat (1) dan (2) KUHAP 10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional. 11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 12. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11 - BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal... Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat Tanggal Lahir :... Agama :... Pekerjaan :... Alamat :... MEMANGGIL Dengan ini kami meminta kedatangan saudara pada : Hari :... Tanggal :... Jam :... Tempat :... Menghadap :... Untuk didengar dan diperiksa sebagai TERSANGKA dalam perkara dugaan tindak pidana pengedaran narkotika atas nama tersangka... berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP. Sidik / 11 - BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal... Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... Penyidik (...)... NRP...

20 13. Berita Acara Pemeriksaan Tersangka BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA BERITA ACARA PEMERIKSAAN (TERSANGKA) Pada hari ini... tanggal... bulan... tahun..., sekitar pukul... WITA saya : (...) Pangkat... NRP..., dengan jabatan sebagai penyidik, pada Kantor Badan Narkotika Nasional tersebut diatas, berdasarkan SKEP penyidik nomor : KEP/501/X/2011/BNN tanggal 15 Oktober 2011, dan berdasarkan surat perintah penyidikan No. Pol : SP. Sidik / 11 BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal 08 Januari 2016, bersama : (...) Pangkat... NRP..., dengan jabatan sebagai penyidik pembantu, pada Kantor Badan Narkotika Nasional tersebut diatas, telah melakukan pemeriksaan terhadap seorang laki-laki yang belum dikenal dan mengaku sebagai : (...) Tempat / tanggal lahir :..., agama :..., Pekerjaan :..., Jenis Kelamin :..., Kewarganegaraan :..., Pendidikan terakhir :..., tempat tinggal : Ia (... ) diperiksa dan didengar keterangannya sebagai TERSANGAKA dalam perkara tindak pidana Penyalahgunaan dan/atau peredaran gelap Narkotika... sebagaimana dimaksud dalam... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sesuai dengan Laporan Kasus Narkotika : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP. Tanggal Kepada Tersangka sebelum pemeriksaan dimulai, telah diberitahukan terlebih dahulu tentang hak haknya, terutama haknya untuk didampingi oleh penasehat hukum dalam pemeriksaan ini : Atas pertanyaan pemeriksa yang diperiksa memberikan keterangan dan jawaban sebagai berikut :- PERTANYAAN JAWABAN

21 Setelah Berita Acara Pemeriksaan ini dibuat, kemudian dibacakan kembali kepada yang diperiksa dan Penasihat Hukumnya dan yang diperiksa dan Penasihat Hukumnya menyatakan setuju dan membenarkan semua keterangannya yang telah diberikan tersebut diatas, dan untuk menguatkan keterangan tersebut yang diperiksa membubuhkan tanda tangannya dibawah ini Penasihat Hukum Tersangka Yang diperiksa/tersangka (...) (...) Demikianlah Berita Acara Pemeriksaan Tersangka ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditanda tangani di...pada hari dan tanggal tersebut diatas.- Penyidik (...)... NRP... Penyidik Pembantu (...)... NRP...

22 14. Berita Acara Pemeriksaan TKP. BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA BERITA ACARA PEMERIKSAAN TKP Pada hari ini,... tanggal... bulan... tahun... jam... WITA, Saya: (...) Pangkat... NRP..., selaku Penyidik pada Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi Bali tersebut diatas bersama-sama dengan: NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Berdasarkan Surat Laporan Kasus Narkotika No. LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal... telah mendatangi Tempat Kejadian Perkara HASIL YANG DITEMUKAN a. Tempat terjadinya perkara 1. TKP adalah di Lokasi TKP dikelilingi oleh... b. Jejak dan Barang Bukti di TKP berupa : TINDAKAN YANG TELAH DILAKUKAN a. Terhadap tempat kejadian perkara 1. Melakukan pengamanan dengan menutup TKP dengan menggunakan pita pembatas garis polisi dan dijaga agar tetap dalam keadaan status quo Melakukan pengamatan secara umum untuk mengetahui jalan keluar masuknya pelaku serta hal-hal yang berhubungan dengan kejadian tersebut Membuat sket TKP secara umum dan khusus b. Terhadap Jejak dan Barang Bukti Demikian berita acara Pemeriksaan TKP ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan kemudian ditutup dan ditandatangani di... pada tanggal tersebut diatas.- Penyidik (...)... NRP...

23 15. Surat Perintah Penangkapan. BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA SURAT PERINTAH PENANGKAPAN Nomor : SP. Kap / 112 -BRTS / I / 2016 / BNNP Pertimbangan : Dasar : Bahwa untuk kepentingan penyidikan terhadap suatu perbuatan yang diduga merupakan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika Golongan 1, maka perlu mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan ini. 6. Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 11, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 75, Pasal 111 KUHAP; 7. Pasal 70, Pasal 71, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 75 huruf g, Pasal 80 huruf h dan Pasal 88 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 8. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional; 9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 10. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal... DIPERINTAHKAN Kepada : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN

24 Untuk : 1. Melakukan penangkapan terhadap tersangka : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat, Tanggal Lahir :... Agama :... Pendidikan Terakhir :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Guna Alamat pemeriksaan dan penyidikan :... tersangka karena diduga telah melakukan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika... sebagaimana dimaksud dalam... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 2. Melakukan penggeledahan badan/pakaian tersangka. 3. Surat Perintah ini berlaku dari tanggal 08 Januari 2016 s/d 10 Januari Setelah melakukan perintah ini agar membuat Berita Acara Penangkapan. Selesai : - Yang Menerima Perintah Penyidik Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik (...)... NRP... (...)...

25 16. Berita Acara Penangkapan BNNP BALI PRO JUSTITIA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] BERITA ACARA PENANGKAPAN Pada hari ini... tanggal... bulan... tahun... pukul... WITA, Saya : (...) Pangkat... Polisi... selaku penyidik yang dikerjakan pada kantor tersebut diatas bersama-sama dengan : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Masing - masing berkantor dari yang sama, berdasarkan : Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal Surat Perintah Penangkapan Nomor : SP. Kap / 112-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Perpanjangan Penangkapan Nomor : SP. Jang Kap / 112a-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal... Telah melakukan penangkapan terhadap seorang tersangka : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat Tgl Lahir :... Agama :... Pendidikan Terakhir :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Alamat : Yang bersangkuatan ditangkap karena diduga telah melakukan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika... sebagaimana dimaksud dalam... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika Demikianlah Berita Acara Penangkapan ini dibuat dengan sebenar-benarnya, atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani di Denpasar, pada tanggal dan bulan serta tahun tersebut diatas : TERSANGKA PENYIDIK (...) (...)... NRP...

26 17. Surat Perintah Penggeledahan BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA SURAT PERINTAH PENGGELEDAHAN BADAN / RUMAH / TEMPAT TERTUTUP LAINYA Nomor : SP. Dah / 01-BRTS / I / 2016 / BNNP Pertimbangan : Dasar : Bahwa untuk kepentingan penyidikan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika berupa tindakan penggeledahan badan, pakaian, rumah atau tempat tertutup lainnya, maka perlu mengeluarkan surat perintah ini. 1. Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 11, Pasal 32, Pasal 33, Pasal 34, Pasal 35, Pasal 36, Pasal 37, Pasal 75, Pasal 125, Pasal 126 KUHAP; 2. Pasal 70, Pasal 71, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 75, Pasal 80, dan Pasal 81 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional; 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 5. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal 08 Januari Kepada : Untuk : DIPERINTAHKAN NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Melakukan penggeledahan terhadap badan dan atau pakaian di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar atas nama tersangka : Nama :... Jenis kelamin :... Tempat, tanggal lahir :... Agama :... Pendidikan terakhir :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Alamat :... Guna pemeriksaan dan penyidikan tersangka karena di duga terkait dengan perkara Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika jenis Shabu (Metamfetamina), Cathinone dan CC4 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (2), Pasal 114 ayat (2), dan/atau Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 2. Penggeledahan dilaksanakan untuk kepentingan pemeriksaan / penyitaan dan atau penangkapan tersangka. 3. Setelah melaksanakan perintah paling lambat dalam waktu 2 (dua) hari harus membuat Berita Acara Penggeledahan badan dan atau pakaian. Selesai : - Yang Menerima Perintah Penyidik Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik (...)... NRP... (...)...

27 18. Berita Acara Penggeledahan. PRO JUSTITIA BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] BERITA ACARA PENGGELEDAHAN BADAN / RUMAH / TEMPAT TERTUTUP LAINNYA -----Pada hari... tanggal... bulan... tahun..., sekitar pukul... WITA, saya (...) PANGKAT kompol NRP selaku penyidik yang dikerjakan pada kantor tersebut diatas bersama : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Masing-masing dari kantor yang sama, berdasarkan : Laporan kejadian Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal 08 Januari Surat perintah tugas Nomor : SP. Gas / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal 08 Januari Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP. Sidik / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal 08 Januari Surat Perintah Penggeledahan Badan / Barang bawaan : SP. Dah / 01-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal 08 Januari Telah melakukan pengeledahan badan / rumah / tempat tertutup lainnya yang ada kaitannya dengan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika atas nama tersangka : Nama : Jenis Kelamin : Tempat, tanggal lahir : Agama : Pendidikan terakhir : Pekerjaan : Kewarganegaraan : Alamat :... Dengan disaksikan oleh : Nama :... Umur :... Pekerjaan :... Tempat tinggal : Nama :... Umur :... Pekerjaan :... Tempat tinggal :...

28 Uraian tentang jalannya penggeledahan badan / rumah / tempat tertutup :-- penggeledahan badan / rumah / tempat tertutup lainnya dilakukan oleh petugas Polri yang bertugas di kantor BNNP Bali pada hari..., tanggal... sekitar pukul... di..., dengan barang bukti berupa : a.... b.... Barang bukti tersebut diakuinya dihadapan petugas bahwa barang tersebut adalah miliknya atau dikuasainya. Guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut maka tersangka berikut barang buktinya dibawa ke Demikian Berita Acara Penggeledahan Badan / Pakaian ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani di Bali pada tanggal dan bulan serta tahun tersebut diatas Tersangka Penyidik (...) (...)...NRP... SAKSI-SAKSI

29 18. Surat Perintah Penyitaan BNNP BALI PRO JUSTITIA Pertimbangan : Dasar : Kepada : BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] SURAT PERINTAH PENYITAAN Nomor : SP. Sita / 01-BRTS / I / 2016 / BNNP Bahwa untuk kepentingan penyidikan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika, penuntutan dan peradilan perlu dilakukan tindak hukum berupa penyitaan terhadap bendabenda yang diduga ada kaitannya langsung maupun tidak langsung dengan tindak pidana yang terjadi, maka perlu mengeluarkan Surat Perintah ini. 1. Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 11, Pasal 38, Pasal 39, Pasal 40, Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 45 ayat (1) huruf a, ayat (2), ayat (3), ayat (4), Pasal 46 ayat (1) huruf a dan b, Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 75, Pasal 128, Pasal 129, Pasal 130, Pasal 131, Pasal 132 ayat (2), ayat (3), ayat (4), KUHAP; 2. Pasal 70, Pasal 71, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 75, Pasal 80, dan Pasal 81 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional; 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 5. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal... DIPERINTAHKAN NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Untuk : 1. Melakukan Penyitaan terhadap barang dan/atau benda yang diduga ada kaitannya dengan perkara Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai atas nama tersangka : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat, Tgl Lahir :... Agama :... Pendidikan Terakhir :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Alamat :... Guna Pemeriksaan dan Penyidikan tersangka karena diduga terkait dengan Perkara... Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. 2. Melakukan Pembungkusan, Penyegelan dan Pelabelan terhadap benda atau surat atau tulisan lain yang disita. 3. Setelah melaksanakan perintah ini pada kesempatan pertama agar membuat Berita Acara Penyitaan. Selesai : - Yang Menerima Perintah Penyidik Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik (...)... NRP... (...)...

30 19. Berita Acara Penyitaan. BNNP BALI PRO JUSTITIA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] BERITA ACARA PENYITAAN Pada hari... tanggal... bulan... tahun... pukul... WITA Saya : (...) Pangkat... NRP... selaku penyidik yang dikerjakan pada kantor tersebut di atas bersamasama dengan : Masing-masing dari kantor yang sama, berdasarkan : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Tugas Nomor : SP. Gas / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP. Sidik / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Penyitaan Nomor : SP. Sita / 01-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Telah melakukan Penyitaan Barang Bukti di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali berupa : a.... Yang diduga ada kaitannya dengan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika sebagaimana dimaksud dalam... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika atas nama tersangka : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat, Tgl Lahir :... Agama :... Pendidikan Terakhir :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Alamat :... Dengan disaksikan oleh : Nama :... Umur :... Pekerjaan :... Tempat tinggal : Nama :... Umur :... Pekerjaan :... Tempat tinggal :...

31 Uraian tentang jalannya penyitaan: Demikian berita acara penyitaan ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani di... pada tanggal dan bulan serta tahun tersebut di atas Tersangka Penyidik (...) (...)... NRP... SAKSI-SAKSI

32 20. Surat Perintah Penahanan BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA SURAT PERINTAH PENAHANAN Nomor : SP.Han / 11 - BRTS / I / 2016 / BNNP Pertimbangan : Dasar : Bahwa untuk kepentingan penyidikan dan berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh bukti yang cukup, tersangka diduga keras melakukan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika Golongan 1 yang dapat dikenakan penahanan dan tersangka dikhawatirkan akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan/atau mengulangi tindak pidana, maka perlu mengeluarkan surat perintah penahanan ini. 1. Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 11, Pasal 20 ayat (1), Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 75 dan Pasal 123 KUHAP; 2. Pasal 70, Pasal 71, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 75 dan Pasal 80 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika; 3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional. 4. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11- BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP.Sidik / 11 -BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal. DIPERINTAHKAN Kepada : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Untuk : 1. Melakukan Penahanan terhadap tersangka : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat Tanggal lahir :... Agama :... Pendidikan Terakhir :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Alamat :... Guna pemeriksaan dan penyidikan tersangka karena diduga terkait dengan perkara Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika Golongan 1 jenis... sebagaimana dimaksud dalam Pasal... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 2. Menempatkan tersangka di Rumah Tahanan Negara Polisi Daerah...untuk selama 20 (dua puluh) hari terhitung sejak... sampai dengan Setelah melakukan perintah ini agar membuat Berita Acara Penahanan. Selesai : - Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik (...)...

33 21. Berita Acara Penahanan 22. BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA BERITA ACARA PENAHANAN Pada hari ini... tanggal... bulan... tahun... sekitar pukul... WITA, saya : (...) Pangkat... NRP... selaku penyidik yang dikerjakan pada kantor tersebut diatas bersama-sama dengan: NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Masing-masing dari kantor yang sama berdasarkan : Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal Surat Perintah Tugas Nomor : Sprint.Gas / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP.Sidik / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal Surat Perintah Penangkapan : SP. Kap / 112-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal Surat Perintah Penahanan Nomor : SP.Han / 10-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal Telah melakukan penahanan terhadap seorang perempuan : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat Tanggal Lahir :... Agama :... Pendidikan Terakhir :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Alamat :... Yang bersangkutan ditangkap karena diduga keras telah melakukan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika... sebagaimana dimaksud dalam... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Selama 20 (dua puluh) hari, terhitung sejak tanggal... s/d... di Rumah Tahanan Negara Polisi Daerah Bali Keadaan fisik dan mental tersangka sebelum dimasukkan ke dalam ruang tahanan : baik Sidik Jari : Pemotretan : Barang-Barang titipan : Telah disimpan dan disimpan oleh : Demikian Berita Acara Penahanan ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani di Denpasar pada tanggal dan bulan serta tahun tersebut diatas Tersangka Penyidik (...) (...)... NRP...

34 23. Surat Pemberitahuan Penahanan Kepada Keluarga Tersangka BNNP BALI PRO JUSTITIA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected]...,... No. Pol : SPP/B/18/I/2016 Klasifikasi : Biasa Lampiran : 1. Surat Perintah Penahanan Perihal : Pemberitahuan Penahanan kepada keluarga tersangka Yolanda Zara Kepada Yth.... Di Tempat 1. Bersama ini diberitahukan bahwa keluarga/istri saudara, atas nama : N a m a : Jenis kelamin : Tempat tanggal lahir : Pekerjaan : Agama : Kewarganegaran / suku : Tempat tinggal :... Telah dilakukan penahanan atas permintaan Penyidik BNNP Bali dengan alasan karena dari hasil pemeriksaan diperoleh bukti yang cukup sebagai tersangka dan diduga keras telah melakukan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika... sebagaimana dimaksud dalam Pasal...Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika Penahanan dilaksanakan di Rumah Tahanan Negara POLDA Bali selama 20 (dua puluh) hari terhitung mulai pada tanggal... sampai dengan tanggal Bersama ini pula terlampir Surat Perintah Penahanan atas nama tersangka Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan dan atas perhatiannya diucapkan terima kasih. Penyidik KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik (...)... NRP... (...)...

35 23. Rekontruksi Peristiwa BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] REKONSTRUKSI PERISTIWA ( 1 ) 1. Pada sekitar bulan Oktober 2012 Terdakwa mendapatkan bantuan dana dari Dhanan Salvatrucha mengirim Shabu (Metamfetamina) seberat 150 kg yang disisipkan di ikan Makarel dari Pelabuhan Guangzhou menuju Pelabuhan Tunon Taka di Tarakan Indonesia yang kemudian Terdakwa mengecek keadaan ikan yang disisipi Shabu tersebut ( 2 ) 2. Pada sekitar bulan Desember 2012 saat pergantian malam tahun baru, Terdakwa bersama dengan Wawan Suryawan, Lee Mislie, Cristian Hereira, Bonsak Ponsana dan Yura melakukan pertemuan di Hotel Giayu Western di daerah Nusa Dua Bali yang kemudian menyepakati bahwa Terdakwa akan memproduksi Shabu (Metamfetamina) dan kemudian akan disebarkan kepada mereka.

36 24. Berita Acara Penimbangan dan Penghitungan Barang Bukti BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA BERITA ACARA PENIMBANGAN DAN PENGHITUNGAN BARANG BUKTI Pada hari ini... tanggal... bulan... tahun... (...), sekira pukul... WITA, Saya : (...): Pangkat... NRP... selaku Penyidik yang dikerjakan pada Kantor tersebut diatas bersama-sama dengan : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Masing-masing dari kantor yang sama, berdasarkan : Laporan Kejadian Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Tugas Nomor : SP. Gas / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP. Sidik / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP, tanggal Surat Perintah Penyitaan Nomor : SP.Sita / 01-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Perhitungan, Penimbangan Barang Bukti Nomor : SP. Timbang hitung / 01.A-BRTS / I / 2016 / BNNP Telah melakukan Penimbangan, Penghitungan dan Penyisihan Barang Bukti berupa : (satu) bungkus plastik bening berisi kristal Narkotika jenis...dengan berat total brutto... gram dengan perincian sebagai berikut : - Dari tersangka : NO KODE RINCIAN BERAT BRUTTO (GRAM) KET / 2016 / NNF JUMLAH SATU BUNGKUS KRISTAL SHABU AWAL SITA RIKSA LAB/ BUKTI PEMBUKTIAN Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat, Tgl Lahir :... Agama :... Pendidikan Terakhir :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Alamat :... Di... dengan disaksikan oleh : Nama : (...) Umur :... tahun

37 Pekerjaan : (...) Tempat tinggal : (...) 2. Nama : (...) Umur :... tahun Pekerjaan : (...) Tempat tinggal : (...) Yang diduga ada hubungannya atau terkait dalam perkara Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Uraian tentang jalannya Penimbangan, Perhitungan dan Penyisihan Barang Bukti adalah sebagai berikut : Sebelum dilakukan Berita Acara Penimbangan, Penghitungan dan Penyisihan Barang Bukti Narkotika jenis... terlebih dahulu barang bukti tersebut diatas ditunjukkan kepada tersangka... Setelah dibenarkan bahwa barang bukti tersebut adalah yang disita darinya, selanjutnya terhadap barang bukti tersebut dilakukan penyisihan barang bukti guna kepentingan pembuktian perkara dan pemeriksaan laboratorium Forensik Polri Cabang (...) Demikian Berita Acara Penimbangan, Penghitungan Barang Bukti ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani di pada tanggal dan bulan serta tahun tersebut diatas Tersangka Penyidik (...) (...)... NRP... SAKSI-SAKSI 1. (...) 2. (...)

38 25. Surat Perintah Penyisihan Barang Bukti BNNP BALI PRO JUSTITIA Pertimbangan : Dasar : Kepada : BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] SURAT PERINTAH PENYISIHAN BARANG BUKTI Nomor : SP.Sisih / 01-BRTS / II / 2016 / BNNP Bali Untuk kepentingan Penyidikan tindak pidana, dipandang perlu dilakukan tindakan hukum berupa penyitaan terhadap barang-barang yang diduga ada kaitannya baik langsung maupun tidak langsung dengan tindak pidana yang telah terjadi, namun karena situasi dan kondisi barang bukti tersebut memerlukan pengamanan khusus, maka perlu dikeluarkan Surat Perintah ini. 1. Dasar Pasal 17 ayat (1) huruf d, pasal 11, pasal 20, pasal 21, pasal 22, pasal 21 ayat (1) KUHAP; 2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional; 3. Undang-undang RI No.35 tahun 2009 tentang Narkotika; 4. Laporan Kasus Narkotika : Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal...; 5. Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP.Sidik / 11 -BTRS / I / 2016 / BNNP tanggal... DIPERINTAHKAN NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Untuk : 1. Melakukan penyisihan barang bukti yang diduga ada kaitannya dengan tindak pidana Peredaran Gelap Narkotika Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika Yang dilakukan oleh Tsk... Berupa : (...) Shabu yang telah ditemukan saat penggeledahan di Setelah melaksanakan perintah ini pada kesempatan pertama harus membuat berita acara penyisihan barang bukti Yang Menerima Perintah Penyidik Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik NRP... (...)...

39 26. Berita Acara Penyisihan Barang Bukti BNNP BALI PRO JUSTITIA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] BERITA ACARA PENYISIHAN BARANG BUKTI Pada hari ini... tanggal... bulan... tahun... jam... WITA, saya : (...) Pangkat Kompol Nrp selaku penyidik yang di kerjakan pada kantor tersebut di atas bersama-sama dengan NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Masing-masing dari kantor yang sama, berdasarkan : Laporan Kasus narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP Surat Perintah Tugas Nomor : Nomor : SP.Gas / 11 -BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat perintah penyidikan Nomor : Nomor : SP.Sidik / 11 -BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat perintah penyitaan Nomor Nomor : SP.Sita / 01 - BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Telah melakukan penyisihan sebagian hasil dari benda sitaan barang bukti berupa : seberat... dan disisihkan sebanyak... gram untuk labfor dan barang bukti yang dibungkus di klip plastik dari dalam... yang ditemukan pada saat penggeledahan dan penangkapan... Dengan alasan : Untuk pemeriksaan secara Laboratorium Penyisian benda-benda sitaan tersebut untuk dipergunakan sebagai pembuktian dalam sidang pengadilan Demikian Berita Acara Penyisihan Barang Bukti ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan Sumpah Jabatan, kemudian ditutup dan ditanda tangani di...pada tanggal tersebut diatas. Penyidik (...)... NRP...

40 27. Surat Perintah Pembungkusan, Penyegelan dan Pelabelan Barang Bukti BNNP BALI PRO JUSTITIA SURAT PERINTAH PEMBUNGKUSAN PENYEGELAN DAN PELABELAN BARANG BUKTI Nomor : SP. Bungkus Segel Label / 01.B-BRTS / I / 2016 / BNNP Pertimbangan : Bahwa untuk kepentingan penyidikan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika, penuntutan dan peradilan perlu dilakukan tindakan hukum berupa Pembungkusan, Penyegelan dan Pelabelan terhadap benda-benda yang diduga ada kaitannya langsung maupun tidak langsung dengan Tindak Pidana yang terjadi, maka perlu mengeluarkan Surat Perintah ini. Dasar : 1. Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 11, Pasal 16, Pasal 18, Pasal 32, dan Pasal 33, Pasal 34, Pasal 36, Pasal 125, Pasal 126, Pasal 127 KUHAP; 2. Pasal 70, Pasal 71, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 75, Pasal 80 dan Pasal 81 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika; 3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Badan Narkotika Nasional; 4. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika; 5. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal 08 Januari DIPERINTAHKAN Kepada : BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Untuk : 1. Melakukan Pembungkusan, Penyegelan dan Pelabelan terhadap barang dan/atau benda yang diduga ada kaitannya dengan perkara Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika di... yang dilakukan tersangka : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat, Tgl Lahir :... Agama :... Pendidikan :... Terakhir Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Alamat :... Sebagaimana dimaksud dalam... Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

41 2. Melakukan Pembungkusan, Penyegelan dan Pelabelan terhadap benda atau surat atau tulisan lain dilakukan dihadapan tersangka dan disaksikan minimal 2 (dua) orang. 3. Setelah melaksanakan Surat Perintah ini agar membuat Berita Acara Pembungkusan, Penyegelan dan Pelabelan. Selesai : - Yang Menerima Perintah Penyidik Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik (...)... NRP... (...)...

42 28. Berita Acara Pembungkusan, Penyegelan dan Pelabelan Barang Bukti BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA BERITA ACARA PEMBUNGKUSAN PENYEGELAN DAN PELABELAN BARANG BUKTI Pada hari ini... tanggal... (...), sekitar pukul... WITA, saya : (...) Pangkat... NRP... selaku penyidik yang dikerjakan pada kantor tersebut di atas bersama-sama dengan : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Masing-masing dari kantor yang sama, berdasarkan : Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Tugas Nomor : SP. Gas / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP. Sidik / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Penyitaan Nomor : SP. Sita / 01-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Telah melakukan pembungkusan, penyegelan, dan pelabelan barang bukti berupa : -... seberat... kg yang ditemukan di... Dari tersangka : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat, Tgl Lahir :... Agama :... Pndidikan Terakhir :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Alamat :... Di...dengan disaksikan oleh : Nama : (...) Umur :... tahun

43 Pekerjaan : (...) Tempat tinggal : (...) 2. Nama : (...) 3. Umur :... tahun Pekerjaan : (...) Tempat tinggal : (...) -----Yang diduga ada hubunganya atau terkait dalam Perkara Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika sebagaimana dimaksud dalam... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika -----Uraian tentang jalannya pembungkusan, penyegelan, dan pelabelan barang bukti adalah sebagai berikut : Sebelum dilakukan Berita Acara Pembungkusan, Penyegelan, dan Pelabelan Barang Bukti terlebih dahulu barang bukti tersebut diatas ditunjukan kepada tersangka... setelah dibenarkan bahwa barang bukti tersebut adalah yang disita darinya. Selanjutnya dengan disaksikan oleh tersangka, barang bukti tersebut dilakukan pembungkusan dan penyegelan, dengan terlebih dahulu dimasukan kedalam amplop warna coklat serta kemudian diikat dengan benang warna putih serta label yang tercantum tentang jenis dan isi serta dicap Dinas BNNP Bali Demikian Berita Acara Penyitaan Pembungkusan, Penyegelan, dan Pelabelan Barang Bukti ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani di...pada tanggal dan bulan serta tahun tersebut di atas Tersangka Penyidik (...) (...)... NRP... SAKSI-SAKSI 2. (...) 2. (...)

44 29. Surat Permohonan Bantuan Pemeriksaan BB secara Laboratorium BNNP BALI PRO JUSTITIA Nomor Klasifikasi Lampiran Perihal BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] : B / / V / Kb / Pb.01 / 2016 / BNNP : BIASA : Satu bendel : Permohonan bantuan pemeriksaan barang bukti secara laboratorium....,... Kepada Yth.... CABANG... Di Dasar : a. Pasal 183, Pasal 184 KUHAP b. Pasal 75 huruf q, pasal 86 UU. RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika c. Laporan Kasus Narkotika Nomor : LKN / 11 BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal... d. Surat Perintah Penyidikan Nomor: SP.Sidik / 11 - BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal... e. Surat Perintah Penyitaan Nomor : SP.Sita / 02 - BTRS / I / 2016 / BNNP tanggal 2. Surat Perintah Bungkus Label Barang Bukti Nomor Nomor : SP. Bungkus Segel Label/ 01.B BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Bersama ini di kirimkan barang bukti yang disita di... dari tersangka : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat Tgl Lahir :... Agama :... Pendidikan Terakhir :... Kewarganegaraan :... Alamat :... (satu) bungkus plastik bening berisi kristal Narkotika jenis... dengan berat total brutto... (dua puluh satu ribu) gram dengan perincian sebagai berikut : NO KODE RINCIAN BERAT BRUTTO (GRAM) KET SATU AWAL RIKSA PEMBUKTIAN 7028 / 1 BUNGKUS SITA LAB/ 2016 / KRISTAL BUKTI NNF SHABU JUMLAH

45 Guna dilakukan pemeriksaan secara Teknis Laborataries, apakah benar barang bukti tersebut diatas merupakan Narkotika atau bukan dan kandungan apa yang terdapat di dalamnya, untuk kelengkapan administrasi bersama ini kami lampirkan : a. Laporan Kasus Narkotika b. Surat Perintah Tugas c. Surat Perintah Penyidikan d. Berita acara penyitaan e. Berita acara pembungkusan / Pelebelan f. Berita Acara Pemeriksaan Tersangka 4. Demikian untuk menjadi maklum Selesai. KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik Tembusan : 1. Kapolda Bali 2. Dirnarkoba Polda Bali 3. Ditreskrim Polda Bali (...)...

46 30. Berita Acara Pemeriksaan Laboratorium Kriminalistik BADAN RESERSE KRIMINAL POLRI PUSAT LABORATORIUM FORENSIK LABORATORIUM FORENSIK CABANG DENPASAR N Pro Justitia BERITA ACARA PEMERIKSAAN LABORATORIS KRIMINALISTIK NO. LAB : 3231 / NNF / Pada hari ini... tanggal delapan... tahun..., kami: (...) Pangkat... NIP...., Jabatan... pada... cabang... tersebut di atas, (...) Pangkat... NIP...., Jabatan... pada... cabang... tersebut di atas, (...) Pangkat... NIP...., Jabatan... pada... cabang... tersebut di atas, masing-masing selaku pemeriksa, atas perintah Kepala Laboratorium Forensik Cabang..., telah selesai melakukan pemeriksaan terhadap barang bukti sehubungan dengan Surat dari Kepala Badan Narkotika Nasional Propinsi..., nomor : B / / V / Kb / Pb.01 / 2016 / BNNP, tanggal..., yang diterima di Subbid Narkoba Labfor Cabang... tanggal... --I II III IV V BARANG BUKTI YANG DITERIMA : Barang bukti yang diterima berupa satu bungkus kertas warna coklat berlak segel lengkap dengan label barang bukti, setelah dibuka dan diberi nomor bukti : = 7028 / 2016 / NNF.- : Berupa satu kantong plastik berisikan Kristal warna putih dengan berat netto... gram Barang bukti tersebut ditas adalah milik tersangka : MAKSUD PEMERIKSAAN : Apakah barang bukti tersebut benar mengandung sediaan Narkotika? PEMERIKSAAN : Setelah dilakukan pemeriksaan maka didapatkan hasil sebagai berikut : Hasil pemeriksaan Nomor barang bukti Uji pendahuluan Uji konfirmasi 7028 / 2016 / NNF (...) (...) KESIMPULAN : Setelah dilakukan pemeriksaan secara laboratoris kriminalistik disimpulkan bahwa barang bukti dengan nomor : = 7028 / 2015 /NNF.- : seperti tersebut dalam (I) adalah..., terdaftar dalam golongan... nomor urut... Lampiran I Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika SISA BARANG BUKTI : Barang bukti setelah diperiksa dengan nomor : = 7028 / 2016 / NNF.- : berupa 1 (satu) kantong plastik berisikan Kristal dengan berat netto... gram warna putih isi dikembalikan Sisa barang bukti tersebut diatas dimasukkan kembali ke dalam tempatnya semula, kemudian dibungkus dengan kertas pembungkus warna coklat dan diikat dengan benang pengikat warna putih. Pada persilangan benang pengikat dibubuhi lak dan

47 segel bertuliskan Laboratorium Forensik Cabang..., seperti pada berita acara ini. Pada kedua ujung benang pengikat diikatkan label yang berlak dengan bertuliskan : ISI : No. Lab : Barang bukti : Tersangka : Berasal : 3231 / NNF / Seperti tersebut dalam (V) dengan nomor barang bukti 7029 / 2016 / NNF BNNP , Kemudian ditanda tangani oleh pemeriksa Demikian berita acara pemeriksaan laboratoris kriminalistik ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani di Denpasar pada hari dan tanggal tersebut diatas Mengetahui : KALABFOR CABANG DENPASAR 1. Pemeriksa : Dr. M.S. HANDAJANI M.Si DFM, Apt KOMISARIS BESAR POLISI NRP NITA ARIYANI, S.SI, MT. AJUN KOMBES POL NIP IMAM ALI S.Si, Apt., M.Si. PENATA MUDA NIP IRFAN SYAHPUTRA, A.Md. Pangkat Penata Muda Tingkat I NIP

48 Foto barang bukti pada waktu diterima Diberi nomor : Lab / NNF / 2016 Foto barang bukti setelah dibuka pembungkusnya Serta diberi nomor bukti : 7028 / 2016 / NNF

49 31. Surat Perintah Pemusnahan Barang Bukti PRO JUSTITIA BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA SURAT PERINTAH PEMUSNAHAN BARANG BUKTI Nomor : SPP. Nah / 4 / II / 2016 / BNNP Pertimbangan : Bahwa untuk kepentingan penyidikan tindak pidana, penuntutan dan peradilan perlu dilakukan tindakan pemusnahan terhadap benda sitaan/barang bukti yang diduga ada kaitannya baik langsung maupun tidak langsung dengan Tindak Pidana Narkotika, maka perlu dikeluarkan Surat Perintah ini. Dasar : 1. Pasal 7 ayat (1) huruf j, Pasal 11, Pasal 38, Pasal 39, Pasal 45 ayat (4) KUHAP; 2. Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana; 3. Undang-Undang Nomor 10 tahun 2010 tentang Tata Cara Pengelolaan Barang Bukti di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia; 4. Laporan Kasus Narkotika : Nomor : LKN / 11- BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal Surat Perintah Penyitaan Barang Bukti Nomor : SP. Sita / 01 - BTRS / I / 2016 / BNNP tanggal... DIPERINTAHKAN Kepada : Penyidik/Penyidik Pembantu/Penyelidik : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Untuk : 1. Melakukan Pemusnahan benda sitaan/barang bukti sebagaimana tersebut dalam lampiran surat perintah ini; 2. Menyisihkan sebagian kecil benda sitaan/barang bukti dari tiap-tiap jenis/ukuran/bentuk untuk kepentingan pembuktian; 3. Sebelum melakukan pemusnahan supaya mengecek kembali keaslian, nama, jenis, sifat dan berat/jumlah benda sitaan/barang bukti yang akan dimusnahkan, sesuai yang tercantum dalam Surat Perintah Penyitaan dan Surat Perintah Penyisihan Barang bukti; 4. Segera melaporkan pelaksanaan Pemusnahan dan membuat Berita Acaranya. Dikeluarkan di :... pada tanggal :... Mengetahui, Yang Menerima Perintah KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik (...)... NRP... (...)...

50 31. Berita Acara Pemusnahan Barang Bukti BNNP BALI PRO JUSTITIA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] BERITA ACARA PEMUSNAHAN BARANG BUKTI Pada hari ini... tanggal... tahun..., sekitar pukul... WITA saya : (...) Pangkat... NRP..., selaku penyidik, pada Kantor Badan Narkotika Nasional tersebut diatas, bersama-sama dengan : NO NAMA PANGKAT NRP JABATAN Masing-masing dari kantor yang sama, berdasarkan Surat Perintah Pemusnahan Benda Sitaan/Barang Bukti Nomor : SPP. Nah / 4 / II / 2016 / BNNP tanggal 4 Februari Telah melakukan pemusnahan barang-barang berupa : a.... seberat...; b seberat... ; c.... seberat...; Sebelum dimusnahkan benda sitaan/barang-barang bukti tersebut dicek kembali tentang keasliannya, nama, jenis, sifat dan jumlah / berat masing-masing. Pelaksanaan pengecekan kembali dan pemusnahan benda sitaan / barang-barang bukti tersebut disaksikan oleh Pejabat POLRI, Petugas Kejaksaan... Petugas Pengadilan Negeri... masing-masing : Nama : Pekerjaan : Alamat : Nama : Perkerjaan : Alamat : Nama : Pekerjaan : Alamat : Nama : Pekerjaan : Alamat :...

51 Adapun uraian singkat jalannya pemusnahan benda sitaan / barang-barang bukti tersebut adalah sebagai berikut : Bahwa pada hari dan tanggal tersebut diatas pihak penyidik Badan Narkotika Nasional Povinsi Bali menyerahkan barang bukti yang diduga ada kaitannya dengan Tindak Pidana Peredaran Gelap dan Penyalahgunaan Narkotika. Barang bukti tersebut berupa Narkotika dengan jenis... telah dimusnahkan atau dibakar, dengan menyisakan sedikit untuk barang bukti dalam persidangan Demikianlah Berita Acara Pemusnahan Barang Bukti ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan Sumpah Jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani di Denpasar pada tanggal 5 Februari Saksi-saksi : Penyidik/Penyidik Pembantu Yang Melakukan Pemusnahan Barang Bukti 1. (...) (...)... NRP (...) 3. (...) 4. (...) *) Coret yang tidak perlu

52 32. Daftar Saksi BNNP BALI PRO JUSTITIA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] DAFTAR SAKSI No Nama Jenis Kelamin P/L Tempat Tinggal / Kediaman Pekerjaan Agama Penyidik (...)... NRP...

53 34. Daftar Barang Bukti BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA DAFTAR BARANG BUKTI No. Urut No. Reg. Barang Bukti Jenis Pemilikan diakui oleh Disita Tgl. Dari siapa Oleh siapa Ket ,... Penyidik (...)... NRP...

54 35. Daftar Tersangka BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA DAFTAR TERSANGKA No. Reg Tersang ka Nama Jenis Kelamin P/L Tempat Tinggal / Kediaman Pekerjaan Agama Penyidik (...)... NRP...

55 35. Daftar Pencarian Orang BNNP BALI PRO JUSTITIA FOTO BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] DAFTAR PENCARIAN ORANG Nomor : DPO / 23 / II / 2016 / BNNP Untuk (diawasi / diminta Tersebut dalam surat keterangan / ditangkap / permintaan dari : diserahkan ke Badan BADAN NARKOTIKA Narkotika Nasional Provinsi NASIONAL PROVINSI Bali Jalan Kamboja No. 8 BALI Denpasar, Bali Nomor : B / 01 / Ka / Pb.01 / II / 2016 / BNNP KETERANGAN 1. Nama Tempat Tanggal Lahir Jenis Kelamin Kewarganegaraan Alamat Terakhir Pekerjaan Sudah pernah tersangkut... urusan polisi, pernah dihukum (sebutkan dimana dan lamanya dihukum) 8. Lain lain keterangan yang... penting (No Paspor, No. KTP/SIM) 9. Rumus Dactiloscopy (dapat... juga disebut No. Reg. Dactiloscopy huruf dan angka yang telah melakukan kejahatan) 10. Ciri ciri khusus Melanggar No. Reg. Kejahatan /... Pelanggaran 13. Lain - lain... Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP BALI Selaku Penyidik Tembusan : 1. Ditreskoba Polda Kapolrestabes Kapolres/Ta Se Kapolsek/Ta Jajaran Restabes (...)...

56 36. Surat Pengiriman Berkas Perkara PRO JUSTITIA BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA...,... Nomor : BP / 11-BRTS / III / 2016 / BNNP... Klasifikasi : Biasa Lampiran : Satu bendel Perihal : Pengiriman berkas perkara a.n Rujukan : Kepada Yth.... Di... a. Pasal 8 ayat (3) dan pasal 110 ayat (1) KUHAP; b. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional. c. Undang undang No. 35 tahun 2009, tentang Narkotika; d. Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan Nomor : SPDP / 1121 / I / Kb / Pb.01 / 2016 / BNNP tanggal Bersama ini dikirimkan berkas perkara Nomor : BP / 11-BRTS / III / 2016 / BNNP Bali. Tanggal 22 Februari 2016 atas nama tersangka : Nama :... Jenis Kelamin :... Tempat Tgl Lahir :... Pekerjaan :... Agama :... Kewarganegaraan :... Alamat :... Dalam perkara tindak pidana...sebagaimana dimaksud dalam...undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Tersangka tersebut diatas ditahan di... sejak tanggal... sampai dengan... dengan Surat Perintah Penahanan Nomor : SP. Han / 10-BRTS / I / 2016 / BNNP tanggal...,...,... dan Surat Perintah Perpanjangan Penahanan dari Kejaksaan Tinggi... Nomor : SPPP / 7 / DPS / II / tanggal...,..., Barang Bukti sebagaimana tersebut dalam Daftar Barang Bukti. 4. Demikian untuk menjadi maklum. KEPALA BNNP Selaku Penyidik (...)... NRP...

57 37. Tanda Terima Berkas Perkara BNNP BALI PRO JUSTITIA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] TANDA TERIMA BERKAS PERKARA Nomor : BP / 10-BRTS /... /... / BNNP Berkas Perkara Nomor : BP / 11-BRTS / III /... / BNNP tanggal...,...,... yang dikirimkan dalam rangkap 2 (dua), dengan Surat pengantar Nomor BP /... / I /... / BNNP... tanggal...,...,... atas nama tersangka...,...,... telah diterima pada tanggal...,..., Di... Oleh : Nama :... Pangkat :... Jabatan :......,... Yang Menerima Yang Menyerahkan Penyidik (...) (...)...

58 38. Surat Pengiriman Tersangka dan Barang Bukti BNNP BALI BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PROVINSI BALI Jalan. Kamboja No. 8 Denpasar, Bali Telp : (0361) , , Faksimile : (0361) [email protected] PRO JUSTITIA Nomor Klasifikasi Lampiran Perihal : BP / 10 / III / 2016 / BNNP : Biasa : Satu Bendel : Pengiriman Tersangka dan Barang Bukti Kepada Yth.... Di Rujukan : a. Pasal 8 ayat (3) dan Pasal 110 ayat (1) b. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010, tentang Badan Narkotika Nasional c. Surat BNNP Bali Nomor : BP / 1 / III / 2016 / BNNP BALI tanggal... tentang pengiriman berkas perkara atas nama tersangka Sehubungan dengan hal tersebut diatas bersama ini dikirimkan 1 (satu) orang tersangka seperti tersebut daftar tersangka pada berkas perkara nomor BP / 11-BRTS / III /... / BNNP.... Tanggal...,...,... atas nama tersangka :-- Nama :... Jenis Kelamin :... Umur :... Tempat/Tgl Lahir :... Agama :... Pekerjaan :... Kewarganegaraan :... Tempat Tinggal :... Dalam perkara tindak pidana Peredaran Gelap Narkotika... sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 3. Tersangka tersebut diatas ditahan di Rutan Polda Bali sejak tanggal 11 Januari sampai dengan... berdasarkan Nomor : SP. Han / 10-BRTS / I /... / BNNP tanggal... dan surat penetapan perpanjangan penahanan dari Kejaksaan Tinggi... SPPP / 11 / DPSR / II / 2016 tanggal... sampai dengan 4. Barang bukti sebagaimana tersebut dalam Daftar Barang Bukti (Terlampir) 5. Agar KA mengirimkan turunan Surat Pelimpahan beserta Surat Dakwaan dan salinan Surat Putusan Pengadilan. 6. Demikian untuk menjadi maklum dan kabar perkembangan selanjutnya. Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA BNNP... Selaku Penyidik Tembusan : (...)...

59 BAB II BERKAS PENUNTUTAN 1. P-16 SURAT PENUNJUKAN JAKSA PENUNTUT UMUM KEJAKSAAN UNTUK KEADILAN SURAT PERINTAH PENUNJUKAN JAKSA PENUNTUT UMUM UNTUK MENGIKUTI PERKEMBANGAN PENYIDIKAN PERKARA TINDAK PIDANA NOMOR : PRINT-... KEPALA KEJAKSAAN... Dasar : 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pasal 8 ayat (3) huruf B, Pasal 14 a,b.i, Pasal 109, Pasal 110 dan pasal 138 KUHAP 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. 3. Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan terhadap tersangka : Nama Lengkap :... Tempat Lahir :... Umur/tanggal :... lahir Jenis Kelamin :... Kewarganegaraan :... Tempat tinggal :... Agama :... Pekerjaan :... Pendidikan :... P-16 Pertimbangan Diduga melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal... diterima di Kejaksaan...dari Penyidik Badan Narkotika Nasional Provinsi... : 1. Bahwa dengan diterimanya pemberitahuan dimulainya penyidikan, dipandang perlu menugaskan seorang/beberapa Jaksa Penuntut Umum untuk mengikuti perkembangan penyidikan dan penelitian hasil penyidikan perkara tersebut sesuai dengan peraturan perundangundangan dan ketentuan administrasi perkara tindak pidana. 2. Bahwa sebagai pelaksanaannya perlu dikeluarkan Surat Perintah.

60 M E M E R I N T A H K A N Kepada : 1. Nama :... Pangkat/Nip : Jaksa Madya/ NIP.... Jabatan : Jaksa Penuntut Umum 2. Nama :... Pangkat/Nip : Jaksa Madya / NIP.... Jabatan : Jaksa Penuntut Umum Untuk : 1. Mengikuti perkembangan penyidikan 2. Melakukan penelitian hasil penyidikan... tersebut. 3. Melakukan penelitian SP-3 dari penyidik. Dikeluarkan di :... Pada tanggal :... KEPALA KEJAKSAAN... Selaku Penuntut Umum... JAKSA UTAMA PRATAMA NIP.... Tembusan : 1. Yth. Kepala Kejaksaan...; 2. Yth. Wakil Kepala Kejaksaan...; (1 dan 2 sebagai laporan) ; 3. Yth. Asisten Pengawasan Kejati...; 4. Yth. Ketua Pengadilan...; 5. Yth. Kepala Kepolisian Daerah...; 6. Arsip

61 2. P-17 PERMINTAAN PEMBERITAHUAN PERKEMBANGAN PENYIDIKAN KEJAKSAAN UNTUK KEADILAN P-17...,... Nomor :... Sifat :... Lampiran... : Kepada Yth.Kepala... Di Sehubung dengan di mulainya surat pemberitahuan dimulainya penyidikan atas nama tersangka... Nomor... tanggal...yang kani terima pada tanggal...hingga saat ini kami belum menerima hasil penyidikan perkara tersebut. Mengingat surat pemberitahuan di mulainya penyidikan sudah kami terima cukup lama, dengan ini kami meminta perkembangan penyidikan perkara tersebut. Demikian untuk dimaklumi. KEPALA KEJAKSAAN... Selaku Penuntut Umum Dr. H. ABDUL MUNI, S.H., M.Hum. NIP.... Tembusan : 1. Yth. Kepala Kejaksaan Yth. Kepala Badan Narkotika Provinsi Arsip

62 3. T-4 SURAT PERPANJANGAN PENAHANAN KEJAKSAAN KEJAKSAAN UNTUK KEADILAN T-4 Nomor :... Klasifikasi :... Lampiran :... Perihal : SuratPenetapan Perpanjangan Penahanan a.ntsk.... Membaca : 1. Permintaan Perpanjangan Penahanan Nomor :... Tanggal :... D a r i :... Atas nama tersangka :... Surat Perintah Penahanan dari Penyidik; 2. Resume hasil pemeriksaan dari Penyidik. Menimbang :...,... Kepada Yth. Kepala BNNP... Di... a. Uraian singkat Perkara : Bahwa ia tersangka melakukan Tindak Pidana Dalam perkara... sesuai dengan Laporan Kasus Narkotika : LKN / 11-BRTS / I / 2016 / BNNP... Tanggal... b. Untuk kepentingan pemeriksaan di tingkat penyidikan yang belum selesai, dipandang perlu memperpanjang penahanan tersangka tersebut. Mengingat :... M E M P E R P A N J A N G : Penahanan atas nama tersangka: NAMA :... JENIS KELAMIN :... UMUR :... T.T.L :... ALAMAT :... KEWARGANEGARAAN :... PENDIDIKAN :... PEKERJAAN :... AGAMA :... Untuk paling lama 40 (empat puluh) hari terhitung mulai tanggal... s/d... KEPALA KEJAKSAAN... Selaku Penuntut Umum... JAKSA UTAMA PRATAMA NIP....

63 4. P-24 HASIL PENELITIAN BERKAS PERKARA KEJAKSAAN LAMPIRAN SURAT JAM PIDUM NOMOR :... TANGGAL :... UNTUK KEADILAN HASIL PENELITIAN BERKAS PERKARA I. PERSYARATAN FORMIL : NO CORET YANG YANG DITELITI TIDAK PERLU KETERANGAN Sampul Berkas Perkara Ada / Tidak ada - Nama Tersangka - Tempat Lahir - Umur/Tanggal Lahir - Jenis Kelamin - Kebangsaan - Tempat Tinggal - Agama - Pekerjaan - Identitas Lain Kalau Ada *) 1. Pendidikan 2. Nomor KTP 3. Nomor SIM 4. Nomor Pasport 5. Lain-Lain 2. Daftar Isi Berkas Perkara Ada / Tidak ada 3. Resume Ada / Tidak ada 4. Surat Pengaduan Ada / Tidak ada 5. Laporan Polisi Ada / Tidak ada 6. Surat Perintah Penyidikan Ada / Tidak ada 7. Berita Acara Pemeriksaan Tempat Ada / Tidak ada Kejadian Perkara 8. Surat Pemberitahuan Dimulainya Ada / Tidak ada Penyidikan 9. Surat Panggilan Tersangka / Saksi Ada / Tidak ada 10. Surat Perintah Membawa Ada / Tidak ada Tersangka/Saksi 11. Berita Acara Pemeriksaan Saksi / Ahli Ada / Tidak ada 12. Berita Acara Penyumpahan Saksi Ada / Tidak ada 13. Berita Acara Pemeriksaan Tersangka Ada / Tidak ada 14. Surat Kuasa Tersangka Kepada Ada / Tidak ada Penasehat Hukum 15. Berita Acara Konfirmasi Ada / Tidak ada 16. Berita Acara Rekonstruksi Ada / Tidak ada 17. Surat Perintah Visum Et Repertum Ada / Tidak ada 18. Surat Keterangan Dokter / Visum Et Ada / Tidak ada Repertum

64 19. Berita Acara Hasil Pemeriksaan oleh Ahli / a.l. Hasil Pemeriksaan Forensic Laboratories Ada / Tidak ada *)agar tingkat Pendidikan dan Nomor dimaksud diisi dalam kolom keterangan 20. Surat Perintah Penangkapan Ada / Tidak ada 21. Berita Acara Penangkapan Ada / Tidak ada 22. Surat Perintah Penahanan Ada / Tidak ada 23. Berita Acara Penahanan Ada / Tidak ada 24. Surat Perintah Penangguhan Ada / Tidak ada Penahanan 25. Berita Acara Penangguhan Penahanan Ada / Tidak ada (Siapa Dan Berapa Jaminannya, Dicatat Dalam Kolom Keterangan) 26. Surat Perintah Pencabutan Ada / Tidak ada Penanguhan Penahanan 27. Berita Acara Pengalihan Jenis Ada / Tidak ada Penahanan 28. Surat Perintah Pengalihan Jenis Ada / Tidak ada Penahanan 29. Berita Acara Pengalihan Jenis Ada / Tidak ada Penahanan 30. Surat Permintaan Perpanjangan Ada / Tidak ada Penahanan Kepada Kepala Kejaksaan 31. Surat Keterangan Perpanjangan Ada / Tidak ada Penahanan dari Kejaksaan 32. Surat Penolakan Permintaan Ada / Tidak ada Perpanjangan Penahanan dari Kejaksaan 33. Surat Permintaan Perpanjangan Ada / Tidak ada Penahanan Kepada Ketua Pengadilan Negeri 34. Surat Ketetapan Perpanjangan Ada / Tidak ada Penahanan dari Ketua Pengadilan Negeri 35. Surat Penolakan Permintaan Ada / Tidak ada Perpanjangan Penahanan dari Ketua Pengadilan Negeri 36. Surat Perintah Membawa Tahanan Ada / Tidak ada 37. Berita Acara Pelaksanaan membawa Ada / Tidak ada tahanan 38. Surat Perintah Pengeluaran Tahanan Ada / Tidak ada 39. Berita Acara Pengeluaran Tahanan Ada / Tidak ada 40. Laporan / Surat Permintaan Izin Ada / Tidak ada Penggeledahan Kepada Ketua Pengadilan Negeri Denpasar 41. Surat Persetujuan / Izin Penggeledahan Ada / Tidak ada dari Ketua Pengadilan Negeri 42. Surat Perintah Penggeledahan / Badan Ada / Tidak ada / Pakaian / dan lain-lain 43. Berita Acara Penggeledahan Ada / Tidak ada (Pemasukan) Rumah, Badan, Pakaian dan lain-lain 44. Laporan / Surat Izin Penyitaan dari Ada / Tidak ada Ketua Pengadilan Negeri 45. Persetujuan / Surat Izin Penyitaan dari Ada / Tidak ada Ketua Pengadilan Negeri 46. Surat Perintah Penyitaan Barang Bukti Ada / Tidak ada

65 47. Berita Acara Penyitaan Barang Bukti Ada / Tidak ada 48. Surat Perintah Penyisihan Barang Ada / Tidak ada Bukti 49. Berita Acara Penyisihan Barang Bukti Ada / Tidak ada 50. Berita Acara Pembungkusan dan atau Ada / Tidak ada Penyegelan Barang Bukti 51. Surat Perintah Pelelangan Barang Ada / Tidak ada Bukti 52. Berita Acara Penerimaan Hasil Lelang Ada / Tidak ada 53. Surat Perintah Pengembalian Barang Ada / Tidak ada Bukti 54. Berita Acara Pengembalian Barang Ada / Tidak ada Bukti 55. Surat Perintah Pemeriksaan Surat Ada / Tidak ada 56. Berita Acara Pemeriksaan Surat Ada / Tidak ada 57. Surat Perintah Penyitaan Surat Ada / Tidak ada 58. Berita Acara Penyitaan Surat Ada / Tidak ada 59. Surat Tanda Penerimaan Barang / Ada / Tidak ada Surat Bukti 60. Daftar Perincian Barang Bukti Berupa Ada / Tidak ada Dokumen / Uang 61. Petikan Surat Pemindahan Terdahulu Ada / Tidak ada 62. Daftar Saksi Ada / Tidak ada 63. Daftar Tersangka Ada / Tidak ada 64. Daftar Barang Bukti Ada / Tidak ada 65. Berita Acara Tindakan-tindakan lain Ada / Tidak ada II. PERSYARATAN MATERIIL : YANG DITELITI CORET YANG TIDAK PERLU Tindak pidana yang disangkakan Sesuai / Tidak 2. Unsur delik apakah sudah diuraikan NO secara : - Cermat - Jelas - Lengkap Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak 3. Tempus Delicti Ada / Tidak 4. Locus Delicti Ada / Tidak 5. Peran kedudukan masing-masing Sesuai / Tidak tersangka terhadap perbuatan yang disangkakan 6. Alat Bukti - Keterangan Saksi - Keterangan Ahli - Surat - Petunjuk - Keterangan Tersangka 7. Pertanggung Jawaban Pidana dari Tersangka Mendukung / Tidak Mendukung / Tidak Mendukung / Tidak Mendukung / Tidak Mendukung / Tidak Ada / Tidak KETERANGAN

66 8. Kaitan Kejahatan Dengan Kekayaan Ada / Tidak Negara 9. Lain-lain - Kompetensi Absolut Sesuai/ tidak - Kompetensi Relatif Sesuai/ tidak *) misalnya sebagai penyuruh, pelaku turut serta pembantu dan lain-lain agar diisi dalam kolom keterangan. III. PENDAPAT JAKSA PENELITI : NO CORET NOMOR / BUTIR YANG TIDAK PERLU KETERANGAN Hasil penyidikan sudah lengkap perlu diajukan penyerahan tanggung jawab tersangka dan barang bukti, untuk segera menentukan apakah perkara itu sudah memenuhi persyaratan untuk dapat atau tidak dilimpahkan ke pengadilan (pasal 139 KUHP) 2. Hasil penyidikan belum lengkap, perlu memberi petunjuk antara lain : - Peru saksi A. Charge - Perlu alat bukti lain 3. Hasil penyidikan sudah optimal tetapi materiil belum terpenuhi diberikan petunjuk, diberikan barang bukti dan tersangka agar diserahkan untuk diadakan pemeriksaan tambahan berdasarkan pasal 27 ayat (1) huruf d UU No.5 Tahun Lain-lain seperti : - Perkara koneksitas - Tersmasuk wewenang Pengadilan Negeri lain Surabaya, JAKSA PENELITI : IV. PENDAPAT KASI TPUL V. PENDAPAT ASPIIDUM KEPUTUSAN KAJATI

67 5. P-18 HASIL PENYIDIKAN BELUM LENGKAP KEJAKSAAN UNTUK KEADILAN P-18...,... Nomor :... Sifat :... Lampiran :... Perihal : Hasil Penyidikan atas nama tersangka... disangka melanggar pasal...). UU RI Nomor... tentang... belum lengkap.--- Kepada Yth.Kepala... Provinsi... Di... Sehubungan penyerahan berkas perkara pidana atas nama tersangka... Nomor :... tanggal..., yang kami terima pada tanggal..., setelah kami lakukan penelitian sesuai dengan pasal 110 dan 138 ayat (1) KUHAP, ternyata hasil penyidikan belum lengkap. Pengembalian berkas perkara beserta petunjukknya menyusul Demikian untuk dimaklumi. KEPALA KEJAKSAAN... Selaku Penuntut Umum Tembusan : 1. Yth.Kepala Kejaksaan... ; 2. Yth. Wakil Kepala Kejaksaan... ; 3. Yth. Asisten Pengawasan Kejaksaan... ; 4. Yth. Kapolda... ; 5. Arsip JAKSA UTAMA PRATAMA NIP....

68 6. PENGEMBALIAN BERKAS PERKARA KEJAKSAAN UNTUK KEADILAN P-19...,... Nomor :... Sifat :... Lampiran :... Perihal : Pengembalian kembali berkas perkara atas nama tersangka... yang disangka melanggar pasal... UU Nomor... tahun... tentang... Kepada Yth.Kepala... Provinsi... Di-... Sehubungan dengan surat kami nomor :...tanggal...sesuai dengan pasal 110 ayat (2), ayat (3) dan pasal 138 ayat (2) KUHAP bersama ini kami kembalikan berkas perkara atas nama Tersangka...Nomor :...yang kami terima tanggal...untuk saudara lengkapi dalam waktu 14 (empat belas) hari seterimanya berkas perkara ini dengan petunjuk kami sebagai berikut : A. Kelengkapan Formil : 1. Pada berkas perkara atas nama... belum dilampirkan fotokopi identitas tersangka dan Surat Tanda Penerimaan Barang Petunjuk : Agar penyidik melampirkan fotokopi identitas tersangka dan Surat Tanda Penerimaan Barang kedalam berkas perkara. 2. Dalam berkas perkara, penyidik melampirkan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Urine yang menerangkan bahwa urine tersangka... menggunakan... namun keterangan tersebut tidak didukung/tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan Laboratoris Kriminalistik. B. Kelengkapan Materiil 1. Bahwa pasal yang disangkakan terhadap tersangka...adalah Pasal 113 ayat (2), pasal 114 ayat (2), dan/atau pasal 112 ayat (2...UU RI Nomor... tahun... tentang... yang unsurnya adalah :

69 Petunjuk : Bahwa berdasarkan keterangan para saksi dalam berkas perkara, belum ada satupun saksi yang dapat menerangkan guna pemenuhan unsur... Oleh karenanya Penyidik masih perlu mencari alat bukti lain sesuai dengan pasal 184 KUHAP yang dapat mendukung pemenuhan keseluruhan unsur pasal yang disangkakan terhadap tersangka Berdasarkan keterangan saksi... dan... bahwa tersangka... ditangkap di... Petunjuk : Agar Penyidik menanyakan kepada para saksi lokasi penangkapan tersangka tepatnya dimana, dikarenakan Kawasan... tempatnya sangat luas dan terdapat banyak tempat di kawasan...tersebut. Setelah dilengkapi sesuai dengan petunjuk diatas, kami akan meneliti kembali dan apabila terdapat kekurangan kami akan memberikan petunjuk selanjutnya. Demikian untuk dimaklumi. KEPALA KEJAKSAAN... Selaku Penuntut Umum... NIP....

70 7. P-21 HASIL PENYIDIKAN SUDAH LENGKAP KEJAKSAAN TINGGI. UNTUK KEADILAN P-21..,. Nomor : Sifat : Lampiran : - Perihal : Pemberitahuan hasil penyidikan Perkara Pidana atas nama tersangka disangka melanggar pertama pasal sudah lengkap.- Kepada Yth.Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Bali Di Denpasar Sehubungan dengan penyerahan berkas perkara pidana atas nama tersangka nomor Nomor : BP / 11 BRTS / III / / BNNP tanggal. yang kami terima tanggal, setelah dilakukan penelitian ternyata hasil penyidikannya sudah lengkap. Sesuai dengan ketentuan pasal 8 ayat (3) huruf b, pasal 138 ayat (1) dan pasal 139 KUHAP supaya saudara menyerahkan tanggung jawab tersangka dan barang bukti kepada kami, guna menentukan apakah perkara tersebut sudah memenuhi persyaratan untuk dapat atau tidak dilimpahkan ke Pengadilan. Demikian untuk dimaklumi. KEPALA KEJAKSAAN TINGGI. Selaku Penuntut Umum Tembusan : Yth. Kepala Kejaksaan Tinggi ; 2. Yth. Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi. ; ( 1 dan 2 sebagai laporan ) ; 3. Yth. Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi ; 4. Yth. Ditreskoba Polda. ; 5. Arsip

71 8. P-16A SURAT PERINTAH PENUNJUKAN JPU KEJAKSAAN TINGGI UNTUK KEADILAN SURAT PERINTAH PENUNJUKAN JAKSA PENUNTUT UMUM UNTUK PENYELESAIAN PERKARA TINDAK PIDANA NOMOR :. P-16A KEPALA KEJAKSAAN TINGGI Dasar : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Pasal 8 ayat (3) huruf b, pasal 138, pasal 139, pasal 140 KUHAP. 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. 3. Berkas Perkara tahap II atas nama tersangka : Nama Lengkap :. Tempat Lahir :.. Umur/Tanggal :. Lahir Jenis Kelamin :. Kewarganegaraan :. Tempat Tinggal :... Agama : Pekerjaan : Pendidikan : Diduga melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal diterima di Kejaksaan Tinggi. dari Penyidik Badan Narkotika Nasional Provinsi. Pertimbangan : 1. Bahwa dengan diterimanya Berkas Perkara, tersangka dan barang bukti, dipandang perlu untuk menugaskan seorang atau beberapa orang Jaksa Penuntut Umum untuk melakukan penuntutan/penyelesaian perkara tindak pidana tersebut sesuai dengan peraturan perundangundangan dan ketentuan-ketentuan administrasi perkara tindak pidana. 2. Bahwa sebagai pelaksanaannya perlu dikeluarkan Surat Perintah Kepala Kejaksaan Negeri. MEMERINTAHKAN Kepada : 1. Nama : Pangkat : NIP : Jabatan : 2. Nama :. Pangkat :. NIP : Jabatan :. Untuk : 1. Melaksanakan penahanan / pengalihan jenis penahanan / penangguhan penahanan / pengeluaran dari tahanan / pencabutan penangguhan penahanan dan meneliti benda sitaan / barang bukti.

72 2. Melakukan pemeriksaan tambahan terhadap perkaraperkara tertentu. 3. Melaksanakan penghentian penuntutan. 4. Melakukan penuntutan perkara ke pengadilan. 5. Melaksanakan penetapan hakim / Ketua Pengadilan Negeri. 6. Melakukan perlawanan terhadap penetapan hakim / Ketua Pengadilan Negeri. 7. Melakukan Upaya Hukum 8. Memberi pertimbangan atas Permohonan Grasi Terpidana. 9. Memberikan jawaban / tangkisan atas permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang sudah memperoleh kekuatan hukum tetap. 10. Menandatangani Berita Acara Pemeriksaan PK. 11. Melaporkan setiap pelaksanaan tindakan hukum berdasarkan perintah penugasan ini dengan Berita Acara. Kepada pejabat pengendali penanganan perkara pidana yang bersangkutan. Dikeluarkan di : Pada tanggal :. KEPALA KEJAKSAAN TINGGI. Selaku Penuntut Umum Tembusan :.. 1. Yth. Kepala Kejaksaan Tinggi ; 2. Yth. Ketua Pengadilan Negeri. ; 3. Yth. Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi ; 4. Arsip

73 9. BA-15 BERITA ACARA PENERIMAAN DAN PENELITIAN TERSANGKA KEJAKSAAN TINGGI.... UNTUK KEADILAN BERITA ACARA PENERIMAAN DAN PENELITIAN TERSANGKA BA-15 Pada hari ini tanggal bulan tahun., berdasarkan pasal 141, 8 (3) dan 138 (penjelasan) KUHAP kami : Nama :... Pangkat :.. NIP :.. Pada :.. Jaksa penuntut umum pada kejaksaan tinggi bali telah mengadakan penelitian terhadap tersangka : Nama Lengkap :... Tempat Lahir :... Umur/Tanggal lahir :... Jenis Kelamin :... Kewarganegaraan :... Tempat Tinggal :... Agama :... Pekerjaan :... Pendidikan :... Reg. Perkara :... Nomor Reg. Tahanan :... Nomor Setelah menanyakan kebenaran identitas tersebut diatas, saya bertanya kepada tersangka dan tersangka menjawab sebagai berikut : - Apa sebab saudara dihadapkan di Kejaksaan? Jawab : Karena kesalahan saya, saya terlibat kasus. - Apakah untuk perkara ini saudara Jawab : Ya ditahan? - Kalau ditahan sejak kapan? Jawab :...

74 - Benarkah sangkaan terhadap saudara Jawab :... seperti tersebut? - Apakah saudara pernah dihukum? Jawab :... - Apakah ada hal-hal yang akan saudara jelaskan? Jawab :... Selanjutnya tersangka menerangkan dengan keterangan tersebut dalam Berita Acara yang dibuat oleh penyidik di BNNP Bali pada tanggal.. dengan alasan Demikian Berita Acara ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, Kemudian dibacakan dan dijelaskan kepada tersangka dan ia menyetujui keterangan tersebut dan untuk memperkuatnya ia membubuhkan tanda tangannya.berita Acara ini ditutup dan ditanda tangani pada hari dan tanggal tersebut diatas. TERSANGKA JAKSA PENUNTUT UMUM......

75 10. BA-18 BERITA ACARA PENERIMAAN DAN PENELITIAN BENDA SITAAN KEJAKSAAN TINGGI.... UNTUK KEADILAN BA-18 BERITA ACARA PENERIMAAN DAN PENELITIAN BENDA SITAAN/ BARANG BUKTI Pada hari ini. tanggal. bertempat di Kejaksaan Tinggi. kami : 1. N a m a :... Pangkat/NIP Jabatan :./... : Jaksa Penuntut Umum 2. N a m a :... Pangkat/NIP Jabatan :../... : Jaksa Penuntut Umum Dengan disaksikan oleh : 1. Nama :... Pangkat/NRP :.../... Jabatan : Nama :... Pangkat/NIP :.../... Jabatan : Staf Barang Bukti Berdasarkan Surat Perintah Kepala Kejaksaan Tinggi Bali NOMOR PRINT :.. tanggal. telah menerima dan melakukan penelitian terhadap Benda Sitaan/ barang Bukti dalam perkara tersangka.. melanggar Pertama Pasal... berupa : NO BARANG BUKTI 1...

76 Dst... Dan hasil penelitian kami, ternyata barang-barang tersebut sesuai / tidak sesuai*) dengan tercantum didalam daftar benda sitaan / barang bukti... Kemudian barang-barang tersebut dimasukkan / disimpan di Rubbasan dan disegel dengan segel Kejaksaan dan dicatat pada Reg. Barang Bukti No : Demikian Berita Acara dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditanda tangani pada hari dan tanggal tersebut diatas... Yang melakukan penelitian, JAKSA PENUNTUT UMUM Saks-saksi : ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,..

77 11. T-7 SURAT PERINTAH PENAHANAN TINGKAT PENUNTUTAN KEJAKSAAN TINGGI... UNTUK KEADILAN T-7 SURAT PERINTAH PENAHANAN (Tingkat Penuntutan) NOMOR :. KEPALA KEJAKSAAN TINGGI.. Dasar : 1. Undang-undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana pasal 284 ayat (2) jo Pasal 20 ayat (2) jo pasal 21, 22, 23, Pasal 14 Undang-undang tentang pengadilan Hak Asasi Manusia 3. Undang-Undang No. 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia 4. Berkas Perkara dari Penyidik Nomor :.. tanggal dalam Perkara atas nama. 5. Saran dari.. Pertimbangan : a. Uraian singkat perkara pasal yang dilanggar : Bahwa tersangka... pada hari. Tanggal pukul. di. telah melakukan tindak pidana.. Sebagaimana dimaksud dalam pasal.. b. Berdasarkan hasil pemeriksaan berkas penyidik diperoleh bukti yang cukup, tersangka diduga keras dapat melakukan tindak pidana yang dapat dikenakan penahanan, dan dikhawatirkan akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan/atau mengulangi tindak pidana c. Oleh karena itu dipandang perlu untuk mengeluarkan surat ini MEMERINTAHKAN Kepada :. Nama :.. Pangkat :.. Untuk 1. Menahan : / Melanjutkan Penahanan (* tersangka : Nama lengkap :.. Tempat Lahir :.. Umur/tanggal lahir :. tahun / Jenis Kelamin :. Kewarganegaraan :. Tempat tinggal :. Agama :. Pekerjaan :. Pendidikan : S1 Reg Perkara Nomor : PDM 642 / Euh.2 / 04 / 2016 Reg Tahanan Nomor : Print 135 / / Euh.2 / 03 / 2016 Dengan ketentuan bahwa ia ditahan dengan jenis penahanan rutan selama 20 hari terhitung mulai tanggal... sampai dengan.. 2. Membuat berita acara penanahan *coret yang tidak perlu

78 Dikeluarkan :. Pada Tanggal : KEPALA KEJAKSAAN TINGGI.. Selaku Penuntut Umum... Kepada : Yang bersangkutan untuk dilaksanakan Tembusan : 1. Yth. Kepala Kejaksaan Tinggi. 2. Yth. Ketua Pengadilan Negeri. 3. Keluarga Tedakwa 4. Instansi penyidik Ybs; 5. Kepala Rutan 6. Arsip

79 12. SURAT PENGANTAR KE RUTAN KEJAKSAAN TINGGI UNTUK KEADILAN..,.. KEPADA YTH : KEPALA RUMAH TAHANAN NEGARA. DI-.. SURAT PENGANTAR Nomor:. N O ISI SURAT BANYAKNYA KETERANGAN 1 Surat Perintah dan Penahanan Berita Acara Pelaksanaan Penahanan A.n Terdakwa. Nomor Print... Tanggal :.. Melanggar : Pasal.. Bersama ini kami kirimkan tahanan an.. untuk melanjutkan penahanan di Rumah Tahanan Negara (RUTAN).. dan setelah BA-10 ditandatangani agar kirim kembali kepada kami. Demikian untuk menjadi maklum. KEPALA KEJAKSAAN TINGGI. Selaku Penuntut Umum. TEMBUSAN : 1. YTH. KETUA PENGADILAN NEGERI ; 2. YTH. KAPOLDA.. ; 3. YTH. KELUARGA TERSANGKA; 4. KEDUBES di Tempat

80 13. BA-10 BERITA ACARA PELAKSANAAN PERINTAH PENAHANAN KEJAKSAAN TINGGI. UNTUK KEADILAN BA-10 BERITA ACARA PELAKSANAAN PERINTAH PENAHANAN Pada hari ini. tanggal, kami jaksa penuntut umum dalam perkara tersangka Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/Tanggal Lahir Jenis Kelamin Kewarganegaraan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan Reg. Perkara Nomor Reg. Tahanan Nomor : :.. :. tahun /. :. : : : :. :. :.. :.. Berdasarkan Surat Perintah Kepala Kejaksaan Tinggi.. Nomor :. tanggal.. untuk melakukan penahanan terhadap tersangka disangka melanggar Pertama. dan kedua pasal.. dan ketiga pasal mulai tanggal sampai dengan tanggal.. dengan jenis Penahanan Rutan selama 20 (dua puluh) hari. Penahanan/ penahanan lanjutan tersebut dilakukan, karena dikhawatirkan tersangka akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan/atau mengulangi tindak pidana. Demikianlah Berita Acara Ini dibuat dengan sebenar-benarnya atas kekuatan sumpah jabatan dan untuk memperkuat tersangka membubuhkan tanda tangan. Berita Acara ini ditutup dan ditandatangani pada hari dan tanggal tersebut diatas. Tersangka Jaksa Penuntut Umum.....

81 14. SURAT PENGANTAR KE PENGADILAN NEGERI KEJAKSAAN TINGGI.... UNTUK KEADILAN.,. Kepada Yth.: Ketua Pengadilan Negeri Di. SURAT PENGANTAR Nomer : B - 27 / O.132 / Es. 1 / IV / 2016 NO ISI SURAT BANYAKNYA KETERANGAN 1 Surat Pelimpahan Perkara dengan Acara. Bersama ini kami Pemeriksaan Biasa atas nama Terdakwa: kirimkan surat pelimpahan perkara dengan acara Pelimpahan Biasa Nomor :. untuk ditetapkannnya Tanggal :.. hari dan tanggal a. Melanggar : persidangan. Demikian menjadi maklum. KEPALA KEJAKSAAN TINGGI. Selaku Penuntut Umum... TEMBUSAN: 1. YTH. KEPALA BNNP BALI SELAKU PENYIDIK; 2. YTH. KEPALA RUTAN.; 3. YTH. SAKSI KORBAN/KELUARGA; 4. A R S I P.

82 15. SURAT PELIMPAHAN PERKARA ACARA PEMERIKSAAN BIASA KEJAKSAAN TINGGI... UNTUK KEADILAN No. Reg Perkara No. Reg Tahanan No. Reg Barang Bukti : :. : Membaca : SURAT PELIMPAHAN PERKARA ACARA PEMERIKSAAN BIASA Nomor :. KEPALA KEJAKSAAN TINGGI. Berkas Perkara Nomor : tanggal yang dibuat oleh penyidik atas sumpah jabatan dalam perkara terdakwa : Ditahan Jenis Tahanan Ket No Nama Terdakwa Penyidik/PU a. Rutan, Tanggal b. Rumah, Tanggal c. Kota, Tanggal 1. Penyidik Rutan Tanggal :. s/d.. Perpanjangan Penuntut Umum. s/d.. s/d.. s/d. Perpanjangan Menimbang : b. Bahwa Penuntut Umum berpendapat dari hasil penyidikan data dilakukan penuntutan dengan pidana Pasal. c. Bahwa pemeriksaan selanjutnya adalah masuk wewenang Pengadilan Negeri Mengingat Menetapkan Meminta : Pasal 137 Jis Pasal 143, Pasal 152 KUHAP : Melimpahkan perkara atas nama.. ke Pengadilan Negeri dengan acara pemeriksaan biasa dan minta agar segera mengadili perkara tersebut atas dakwaan sebagaimana dimaksud dalam surat dakwaan terlampir. : 1. Agar Ketua Pengadilan Negeri. menetapkan hari persidangan untuk mengadili perkara tersebut dan menetapkan pemanggilan terdakwa serta saksi-saksi 2. Mengeluarkan penetapan untuk tetap menahan terdakwa.. di Rutan Klas I

83 ..,. KEPALA KEJAKSAAN TINGGI.. Selaku Penuntut Umum.... TEMBUSAN 1. Yth. Kepala BNNP ; 2. Terdakwa / Kuasa / Penasihat Hukum; 3. Kepala Rutan klas Saksi Korban / Keluarga 5. Arsip

84 16. P-33 TANDA TERIMA SURAT PELIMPAHAN PERKARA KEJAKSAAN TINGGI.... UNTUK KEADILAN P-33 TANDA TERIMA SURAT PELIMPAHAN PERKARA ACARA PEMERIKSAAN BIASA Pada hari ini... tanggal..., Jam... saya : Nama : Alamat : Pengadilan Negeri. Pekerjaan : - Telah Menerima Surat-Surat Berupa : 1. Surat Pelimpahan Perkara Nomor : tanggal 2. Surat Dakwaan Nomor :.. 3. Berkas Perkara atas nama terdakwa. Nomor :. Tanggal : Sehubungan dengan perkara atas nama terdakwa. Yang Menerima.,. Yang Menyerahkan (...).

85 17. SURAT DAKWAAN KEJAKSAAN TINGGI BALI DENPASAR UNTUK KEADILAN P-29 SURAT DAKWAAN No. Reg Perk. PDM 642 / Euh.2 / 04 / 2016 A. TERDAKWA Nama :... Tempat Lahir :... Umur/ Tanggal Lahir :... Jenis Kelamin :... Kebangsaan/ Kewarganegaraan :... Tempat Tinggal :... Agama :... Pekerjaan :... Pendidikan :... B. PENAHANAN Terdakwa ditahan di Rumah Tahanan Negara: - Ditahan Penyidik sejak tanggal...s/d... - Perpanjangan penahanan oleh jaksa tanggal... s/d... - Ditahan Jaksa Penuntut Umum sejak tanggal... s/d... - Perpanjangan oleh Ketua Pengadila Negeri tanggal... S/d... - Ditahan oleh majelis hakim sejak tanggal... s/d... - Perpanjangan penahanan oleh Ketua Pengadilan Negeri tanggal... s/d 18...

86 C. DAKWAAN DAKWAAN KESATU DAN DAKWAAN KEDUA DAN DAKWAAN KETIGA ,... Jaksa Penuntut Umum Pada Kejaksaan Tinggi... Jaksa Penuntut Umum... JAKSA MADYA NIP JAKSA MADYA NIP....

87 18. SURAT TUNTUTAN KEJAKSAAN TINGGI BALI DENPASAR UNTUK KEADILAN SURAT TUNTUTAN No. Reg Perk. PDM 642 / Euh.2 / 04 / 2016 I. PENDAHULUAN Ketua dan Anggota Majelis Hakim yang Terhormat Terdakwa Serta Tim Penasehat Hukum yang Terhormat Serta Pengunjung sidang yang kami hormati Perkenankanlah kami mengajak para hadirin untuk memanjatkan rasa puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua sehingga dapat mengikuti persidangan pada hari ini dengan sehat dan penuh tanggungjawab sesuai dengan sistem penegakan hukum di Indonesia yang menjunjung nilai moral dan kemanusiaan, melihat esensi dari hukum itu sendiri yakni keadilan, kepastian dan kemanfaatan yang harus kita tegakkan sebagai tanggungjawab kita sebagai penegak hukum (Criminal Justice System). Tugas kami sebagai Penuntut Umum adalah mewakili Negara untuk menuntut para pelanggar hukum sehingga dapat mendapatkan balasan yang sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan, wibawa negara dalam menegakkan hukum menjadi tugas pokok kami sebagai Penuntut Umum sehingga setiap orang yang melakukan pelanggaran hukum harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan alasan apapun karena hukum harus tetap ditegakkan. Di dalam Perkara ini, Terdakwa adalah : A. TERDAKWA Nama :... Tempat Lahir :... Umur/ Tanggal Lahir :... Jenis Kelamin :... Kebangsaan/ :... Kewarganegaraan Tempat Tinggal :... Agama :... Pekerjaan :... Pendidikan :...

88 Dihadapkan dan diperiksa di depan persidangan Pengadilan Negeri...dengan acara biasa, kemudian didakwa dengan dakwaan Penuntut Umum Pada tanggal... : II. URAIAN FAKTA-FAKTA HUKUM 1. Keterangan saksi-saksi SURAT-SURAT PETUNJUK-PETUNJUK KETERANGAN TERDAKWA III IV ANALISA FAKTA-FAKTA ANALISA HUKUM Majelis Hakim yang terhormat, Setelah menguraikan dakwaan yang didakwakan dihubungkan dengan fakta-fakta yang muncul dipersidangan, sekarang perlu dipertimbangkan

89 apakah perbuatan tersebut dapat dipertanggungjawabkan ataukah tidak ada alasan pemaaf menurut Undang-Undang yang dapat melepaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum Sehubungan dengan hal tersebut, sepanjang fakta-fakta di persidangan tidak ada suatu hal yang dapat membuktikan bahwa terdakwa adalah orang yang kurang separuh akal atau sakit berubah akal, karena memperhatikan ucapan-ucapan atau jawaban-jawabannya di depan persidangan terdakwa adalah orang normal, sehingga terdakwa harus dianggap dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya Demikian pula sepanjang fakta persidangan tidak ada suatu alasan pemaaf menurut Undang-Undang yang dapat melepaskan terdakwa dari perbuatannya, sehingga dengan demikian terdakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan atasnya dan harus dinyatakan bersalah serta harus dipidana sebanding dengan perbuatannya Namun sebelum kami mengajukan tuntutan hukuman atas diri terdakwa, akan kami kemukakan alasan-alasan yang memberatkan dan meringankan terdakwa A MEMBERATKAN B MERINGANKAN Dengan pertimbangan tersebut di atas dan setelah memperhatikan peraturan serta Undang-Undang yang berhubungan dengan perkara ini. MENUNTUT Kiranya majelis hakim yang mengadili perkara ini memutuskan :

90 Demikian tuntutan pidana ini kami bacakan, kemudian kami serahkan kepada Majelis Hakim semoga Majelis Hakim tetap diberikan kekuatan batin dan keteguhan iman oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dalam mengadili dan memutuskan perkara ini. Terima kasih....,... Selaku Penuntut Umum... JAKSA MADYA NIP JAKSA MADYA NIP....

91 BAB III BERKAS ADVOKAT 1. SURAT KUASA KHUSUS Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat : : : :. :. Untuk Selanjutnya disebut Pemberi Kuasa Dalam hal ini Pemberi Kuasa menunjuk, memberi kuasa serta memilih domisili hukum pada kuasa hukumnya, sebagaimana tersebut dibawah ini : Adalah para Advokat pada kantor yang berkedudukan di..,... Untuk Selanjutnya disebut Penerima Kuasa Dalam hal ini Para Penerima Kuasa, dapat bertindak untuk dan atas nama serta kepentingan hukum Pemberi Kuasa, baik secara bersama-sama maupun bertindak sendiri-sendiri Khusus Untuk dan atas nama Pemberi Kuasa, Para Penerima Kuasa selaku Penasihat Hukum, mendampingi dan membela hak-hak kepentingan hukum Pemberi Kuasa selaku Terdakwa dengan Nomor Perkara :... Dalam hal ini Para Penerima Kuasa dapat bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa untuk : Surat Kuasa ini secara tegas diberikan Hak Retensi dan Hak Substitusi (Recht Van Subtitute) Demikian Surat Kuasa ini dibuat dengan penuh kesadaran dan akal sehat, tanpa ada paksaan serta ditanda tangani/cap jempol dan dibubuhi materai yang cukup. Para Penerima Kuasa Hormat saya Pemberi Kuasa Materai 6000 ttd 2. BERITA ACARA SUMPAH ADVOKAT ttd

92 PENGADILAN TINGGI... Jalan... Telp/Fax :... BERITA ACARA PENGAMBILAN SUMPAH Pada hari.. tanggal.., SAYA. Ketua Pengadilan Tinggi..., Dengan disaksikan oleh : Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi... Telah mengambil sumpah sebagai Advokat berdasarkan pasal 4 Undang-Undang RI. Nomor 18 Tahun 2003 jo. Surat Edaran Mahkamah Agung RI. No. 1 Tahun 2007, menurut cara agama yang dipeluknya : ( NAMA YANG DISUMPAH )... Yang berbunyi sebagai berikut : (BUNYI LAFAL SUMPAH MENURUT AGAMANYA MASING-MASING)... Demikian Berita Acara Sumpah ini dibuat dan ditanda tangani oleh kami yang mengambil sumpah, yang disumpah dan saksi-saksi. SAKSI-SAKSI KETUA ttd ttd Yang Menerima Sumpah ttd ttd

93 3. EKSEPSI NOTA KEBERATAN TERHADAP SURAT DAKWAAN PENUNTUT UMUM KEJAKSAAN TINGGI. Surat Dakwaan No.... Tanggal. Atas Nama Terdakwa: Dalam Perkara Piadana Nomor:. Kepada Yth. Majelis Hakim yang memeriksa perkara dengan No. Reg Perkara :... Di PN.., Jalan. 1. PENDAHULUAN Majelis Hakim yang kami muliakan Saudara Penuntut Umum yang terhormat Serta Hadirin Pengunjung Sidang yang kami hormati Berdasar pada apa yang telah kami sampaikan dimuka pada kesempatan ini ijinkanlah kami, atas nama Penasihat Hukum dari Terdakwa...mengajukan keberatan atas dakwaan yang dibacakan oleh saudara Jaksa Penuntut Umum di persidangan yang dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum pada tanggal 20 April 2016 sebagai berikut: A. TERDAKWA Nama :... Tempat Lahir :... Umur/ Tanggal Lahir :... Jenis Kelamin :... Kebangsaan/ Kewarganegaraan :... Tempat Tinggal :... Agama Pekerjaan :... :...

94 B. PENAHANAN DAKWAAN DASAR HUKUM ALASAN KEBERATAN (EKSEPSI) PENUTUP DAN PERMOHONAN ,... Hormat Kami Tim Penasihat Hukum ttd

95 4. PEMBELAAN (PLEDOI) PEMBELAAN Dalam perkara pidana dengan nomor register perkara : No. Reg Perkara : Dengan TERDAKWA :. Kepada Yth. Majelis Hakim yang memeriksa perkara dengan No. Reg Perkara :... Di PN, Jalan... I. PENDAHULUAN II. DASAR HUKUM PENGAJUAN PEMBELAAN / PLEDOI III. FAKTA-FAKTA A. Saksi-Saksi IV. PEMBAHASAN DAN ANALIASIS YURIDIS V. KESIMPULAN DAN PERMOHONAN Hormat kami Tim Penasihat Hukum Terdakwa Ttd

96 5. DUPLIK DUPLIK Dalam perkara pidana dengan nomor register perkara : No. Reg Perkara :... Dengan TERDAKWA :.. Kepada Yth. Majelis Hakim yang memeriksa perkara dengan No. Reg Perkara :. Di PN., Jalan. I. PENDAHULUAN II. PEMBAHASAN......,.... III. KESIMPULAN Hormat kami Tim Penasihat Hukum Terdakwa ttd

97 BAB IV BERKAS PENGADILAN 1. TANDA TERIMA PELIMPAHAN BERKAS PERKARA PENGADILAN NEGERI... Jalan... Telp/Fax :... TANDA TERIMA PELIMPAHAN BERKAS PERKARA... Nomor :... / Pel. BP / (tahun) / PN. DPS Pada hari ini, 2 April 2016 saya,..., S.H Panitera Pengadilan Negeri... telah menerima pelimpahan berkas perkara Tindak Pidana... dari Penuntut Umum pada Kejaksaan... ( Penunutut Umum ) sebanyak... rangkap. Masing-masing berkas tersebut telah dinyatakan sama satu dengan yang lainnya oleh Penuntut Umum. Berkas perkara Tindak Pidana Narkotika yang dilimpahkan dengan terdakwa : Nama lengkap :... Tempat, tanggal lahir :... Umur :... Jenis kelamin :... Kebangsaan / Kewarganegaraan :... Alamat tempat tinggal :... Agama :... Pekerjaan :... Bekas perkara Narkotika yang dilimpahakan terdiri dari: No JENIS DOKUMEN STATUS KETERANGAN 1. Berita Acara Pemeriksaan Ada / Tidak Surat Perintah Penahanan Ada / Tidak Surat Perintah Penggeledahan Ada / Tidak Surat Perintah Penyitaan Ada / Tidak Surat Dakwaan Ada / Tidak Surat Pernyataan Penuntut Umum perihal kesamaan berkas perkara Tindak Pidana Narkotika yang dilimpahkan Ada / Tidak... Dengan tanda terima ini berkas perkara yang dilimpahkan dinyatakan lengkap dan diregister dengan nomor (nomor register pada Buku Induk Register Perkara Tindak Pidana...) Demikian tanda terima dibuat. Panitera..., S.H. NIP...

98 2. PENETAPAN PERINTAH PENAHANAN PENGADILAN NEGERI... Jalan... Telp/Fax :... Penetapan perintah penahanan dari hakim Pengadilan Negeri... (Pasal 26 ayat (1) KUHAP) PENETAPAN No:... / Tap.S / IV / Pid.Sus / DPS / 2016 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Hakim Pengadilan Negeri...; Membaca Surat Pelimpahan Perkara dari Jaksa Kejaksaan... tanggal... NOMOR :... / Pid.Sus / IV / 2016 / PN.Dps, atas nama terdakwa : Nama :... Tempat Lahir :... Umur/ Tanggal Lahir :... Jenis Kelamin :... Kebangsaan/Kewarganegaraan :... Tempat Tinggal : Agama :... Pekerjaan :... Telah ditahan berdasarkan Surat Perintah: 1. Ditahan Penyidik sejak tanggal... s/d Perpanjangan penahanan oleh jaksa tanggal... s/d Ditahan Jaksa Penuntut Umum sejak tanggal... s/d...

99 Menimbang, bahwa terdakwa telah didakwa melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal ; Menimbang, bahwa guna kepentingan pemeriksaan dipandang perlu untuk mengeluarkan surat perintah ini terhadap terdakwa tersebut di atas. Mengingat, Pasal 26 ayat (1) Jo. Pasal 21 ayat (4) KUHAP (UU No. 8 tahun 1981). MENETAPKAN Memerintahkan agar kepada terdakwa atau keluarganya selekas mungkin diberikan tembusan dari penetapan ini. Ditetapkan di :... Ketua Pengadilan Negeri... Pada tanggal,......,... NIP....

100 4. SURAT PENETAPAN PENUNJUKAN MAJELIS HAKIM PENGADILAN NEGERI... Jalan... Telp/Fax :... Model : 41 Penetapan Ketua Pengadilan Negeri... Penunjukan Hakim Majelis Untuk menyidangkan dan mengadili perkara (Pasal 152 ayat (1) KUHAP) PENETAPAN No:... / Tap.S / IV / Pid.sus / DPS / 2016 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Ketua Pengadilan Negeri... Membaca surat pelimpahan perkara dari Kejaksaan Tinggi... pada tanggal... dengan No. REG-... / DPS / IV / 2016 atas nama terdakwa : Nama lengkap :... Tempat, tanggal lahir :... Umur :... Jenis kelamin :... Kebangsaan / Kewarganegaraan :... Alamat tempat tinggal : Agama :... Pekerjaan :... Menimbang, bahwa perkara tersebut termasuk wewenang Pengadilan Negeri... Mengingat, Pasal 152 ayat (1) KUHAP (UU No. 8 tahun 1981)

101 MENETAPKAN Menunjuk Sdra... Sebagai Hakim Ketua Sdri...Sebagai Hakim Anggota I Sdri... Sebagai Hakim Anggota II Untuk memeriksa dan mengadili Perkara Terdakwa... dengan Nomor Register... / Pid.Sus / IV / 2016 / Pengadilan Negeri... Ditetapkan di :... Pada tanggal :... Ketua Pengadilan Negeri NIP....

102 5. SURAT PENUNJUKAN PANITERA PENGGANTI PENGADILAN NEGERI... Jalan... Telp/Fax :... PENUNJUKAN PANITERA SIDANG No..../Pid.Sus/2016/PN.... Membaca : 1. Membaca surat pelimpahan perkara dari Jaksa Kejaksaan... pada tanggal... dengan No. REG... / DPS / IV / 2016 atas nama terdakwa : Nama :... Tempat Lahir :... Umur/ Tanggal Lahir :... Jenis Kelamin :... Kebangsaan/Kewarganegaraan :... Tempat Tinggal : Agama :... Pekerjaan : Penetapan Pengadilan Negeri... No :... / Tap.S / IV / Pid.Sus / DPS / 2016 tentang penunjukan Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara pidana. Menimbang : 1. Bahwa untuk kelancaran pelaksanaan tugas hakim dalam bersidang menyelesaikan perkara di Pengadilan Negeri... maka perlu dibantu oleh Panitera; 2. Bahwa Panitera Pengadilan Negeri... berwenang menunjuk Panitera Pengganti untuk melaksanakan tugas tersebut; Mengingat : 1. Pasal 58 Undang - Undang No. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum, sebagaimana telah diubah dengan UU NO. 8 tahun 2004 Jo. No. 49 tahun 2009; 2. Surat Keputusan Ketua MA RI No. KMA / 032 / SK / IV / 2006 dan Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan tahun 2006; MENUNJUK Menunjuk Sdri..., S.H. sebagai Panitera Pengganti

103 Untuk membantu Majelis Hakim dalam mengadili perkara terdakwa... dengan No. Reg.... / Pid.Sus / 2016 / PN. DPS. Ditetapkan di :... Pada tanggal :... Ketua Pengadilan Negeri NIP....

104 6. SURAT PENETAPAN PENAHANAN PENGADILAN NEGERI... Jalan... Telp/Fax :... PENETAPAN PENAHANAN Nomor :....Pen. Han / 2014 / PN.... DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Hakim Ketua Majelis Pengadilan Negeri... telah membaca Surat Dakwaan / Berita Acara Pemeriksaan perkara ini. Memperhatikan segala sesuatu dalam berkas pemeriksaan terdakwa : Nama lengkap :... Tempat, tanggal lahir :... Umur :... Jenis kelamin :... Kebangsaan / Kewarganegaraan :... Alamat tempat tinggal : Agama :... Pekerjaan :... Terdakwa berada di dalam tahanan sejak tanggal... dan berakhir pada... Menimbang bahwa berhubung dengan masih diperlukannya pemerikasaan terhadap diri terdakwa tersebut di atas, sebagimana yang telah didakwakan oleh Penuntut Umum pada Kejaksaan... ( Penuntut Umum ) melanggar pasal : Dakwaan ke-1: Pasal Dakwaan ke-2: Pasal...

105 Dakwaan ke-3: Pasal Menimbang, bahwa demi kepentingan pemeriksaan, kami menganggap bahwa terdakwa perlu ditahan; Mengingat, Pasal 26 ayat (1) KUHAP (UU No. 8 Tahun 1981) M E N E T A P K A N Memerintahkan kepada Penuntut Umum untuk melakukan penahanan atas diri terdakwa tersebut diatas, untuk waktu selama tiga puluh (30) hari, terhitung sejak tanggal... s/d... di Rutan... Memerintahkan Penuntut Umum untuk memberitahukan isi penetapan ini kepada terdakwa. Ditetapkan di... Pada tanggal,... Hakim Pengadilan Negeri......, S.H., M.H. NIP....

106 7. PENETAPAN HARI SIDANG PENGADILAN NEGERI... Jalan... Telp/Fax :... Model: 43 Penetapan Hakim Pengadilan Negeri... Mengenai hari sidang (Pasal 152 KUHAP) PENETAPAN No:... DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Hakim pada Pengadilan Negeri... Membaca surat : 1. Penetapan Ketua Pengadilan Negeri... tanggal... No :... tentang Penunjukan Hakim Majelis untuk memeriksa dan mengadili perkara terdakwa Pelimpahan perkara dari Jaksa Kejaksaan..., tanggal... Nomor :... atas nama terdakwa... dengan No.Reg :... Mengingat Pasal 152 KUHAP ( UU No. 8 tahun 1981) MENETAPKAN: 1. Menetapkan hari sidang pada hari..., tanggal... ; 2. Memerintahkan Penuntut Umum pada Kejaksaan... untuk menghadapkan terdakwa... berikut saksi-saksinya dengan membawa serta barang bukti tersebut dalam berkas perkara. Ditetapkan di :... Pada tanggal :... Hakim Pengadilan Negeri......, S.H., M.H. NIP....

107 8. PENETAPAN PERPANJANGAN PENAHANAN PENGADILAN NEGERI... Jalan... Telp/Fax :... Model : 04 / Pid / Penetapan Perpanjangan Penahanan Ketua Pengadilan Negeri... setelah mendengar pendapat Hakim Pengadilan Negeri... (Pasal 26 ayat (2) KUHAP) P E N E T A P A N Nomor.... / Pen. Pid.Sus / 2016 / PN... DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Ketua Pengadilan Negeri...; Membaca berkas perkara pidana Nomor...., atas nama terdakwa : Nama :... Tempat Lahir :... Umur/ Tanggal Lahir :... Jenis Kelamin :... Kebangsaan/Kewarganegaraan :... Tempat Tinggal :... Agama :... Pekerjaan :... Terdakwa ditangkap tanggal...dan ditahan oleh ; 1. Penyidik, sejak tanggal... s/d...; 2. Perpanjangan Penuntut Umum, sejak tanggal... s/d...; 3. Penuntut Umum, sejak tanggal... s/d...; 4. Hakim Pengadilan Negeri..., sejak tanggal... s/d...; Menimbang : a. bahwa ternyata pemeriksaan belum selesai;

108 b. bahwa guna kepentingan pemeriksaan dipandang perlu untuk memperpanjang penahanan terdakwa tersebut paling lama 60 (enam puluh) hari. Mengingat pasal 26 (2) jo pasal 21 ayat (4) KUHAP ( UU. No.8 Tahun 1981 ) ; M E N E T A P K A N : Memperpanjang waktu penahanan terdakwa... tersebut dalam Rumah Tahanan Negara di... selama 60 (enam puluh) hari, terhitung sejak tanggal... s/d...; Memerintahkan agar sehelai tembusan dari penetapan ini selekas mungkin disampaikan kepada terdakwa dan keluarganya. Ditetapkan di :... Pada tanggal :... Ketua Pengadilan Negeri......, S.H., M.H. NIP.... Tembusan disampaikan kepada : 1. Terdakwa; 2. Keluarga Terdakwa; 3. Kepala Rumah Tahanan Negara di...;

109 9. TANDA TERIMA BERKASP PERKARA PENGADILAN NEGERI... Jalan... Telp/Fax :... TANDA TERIMA BERKAS PERKARA Pada hari ini..., (tanggal...) saya,... Panitera Pengganti telah menerima dari Kepaniteraan Muda Pidana, berkas perkara Tindak Pidana... (bundel A) dengan nomor register... atas Terdakwa... untuk diarsipkan...., tanggal... Panitera Pengganti Pengadilan Negeri NIP...

110 10. PETIKAN PUTUSAN PENGADILAN NEGERI... Jalan... Telp/Fax :... PETIKAN PUTUSAN Perkara Nomor :... DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri... yang mengadili perkara pidana dengan acara biasa pada peradilan tingkat pertama, menjatuhkan putusan terhadap perkara Terdakwa: Nama :... Tempat Lahir :... Umur/ Tanggal Lahir :... Jenis Kelamin :... Kebangsaan/Kewarganegaraan :... Tempat Tinggal : Agama :... Pekerjaan :... Terdakwa berada dalam tahanan Rumah Tahanan Negara, berdasarkan surat perintah penahanan/ penetapan: - Ditahan Penyidik sejak tanggal... s/d... - Perpanjangan penahanan oleh jaksa tanggal... s/d... - Ditahan Jaksa Penuntut Umum sejak tanggal... s/d... - Perpanjangan oleh hakim tanggal... s/d... - Ditahan oleh majelis hakim sejak tanggal... s/d... Terdakwa didampingi oleh Penasihat Hukum; Pengadilan Negeri tersebut; Telah membaca dan mempelajari berkas dan semua surat yang berhubungan dengan perkara ini; Telah memperhatikan dengan seksama segala sesuatu yang terjadi dipersidangan; Mengingat Pasal......dan perundang-undang lainnya;

111 MENGADILI 2. Menyatakan Terdakwa... terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak dan melawan hukum Demikianlah diputuskan dalam Musyawarah Majelis Hakim Pengadilan Negeri... pada hari..., tanggal..., oleh kami... selaku Hakim Ketua,... selaku Hakim Anggota 1 dan... selaku Hakim Anggota 2. Putusan tersebut diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum pada hari..., tanggal... oleh Hakim Ketua tersebut didampingi para Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh... sebagai Panitera Pengganti Pengadilan Negeri... dengan dihadiri Penuntut Umum pada Kejaksaan dan... terdakwa..., serta Penasehat Hukum Terdakwa.... Hakim-Hakim Anggota...,tanggal Hakim Ketua Majelis... NIP NIP NIP....

112 11. PUTUSAN SELA PUTUSAN SELA No. Reg Perkara : 21 / Pid.Sus / 2016 / PN Dps DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Denpasar yang memeriksa dan mengadili Perkara Pidana Khusus dalam Pemeriksaan Tingkat Pertama dengan acara biasa, telah menjatuhkan Putusan sebagai berikut atas nama Terdakwa : A. TERDAKWA Nama :... Tempat Lahir :... Umur/ Tanggal Lahir :... Jenis Kelamin :... Kebangsaan/ Kewarganegaraan :... Tempat Tinggal :... Agama :... Pekerjaan :... B. PENANGKAPAN Terdakwa ditangkap oleh Penyidik pada tanggal 11 Januari berdasarkan Surat Perintah Penangkapan Nomor : SP. Kap / BRTS / I / 2016 / BNNP C. PENAHANAN Terdakwa ditahan di Rumah Tahanan Negara : - Ditahan Penyidik sejak tanggal... s/d...; - Perpanjangan penahanan oleh jaksa tanggal... s/d...; - Ditahan Jaksa Penuntut Umum sejak tanggal... s/d...; - Perpanjangan oleh hakim tanggal... s/d...; - Ditahan oleh majelis hakim sejak tanggal... s/d...;

113 - Perpanjangan oleh Ketua Pengadilan sejak... s/d...; Terdakwa didampingi oleh Tim Penasehat Hukumnya dari Kantor Pengacara JUST MADI LAWYERS AND PARTNERS yang berkantor di Jalan..., dengan Surat Kuasa Khusus tertanggal... Setelah Membaca : 1. Penetapan Ketua Pengadilan Negeri... dengan No. Register Perkara :... Dps tertanggal... tentang Penunjukan Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini. 2. Penetapan Ketua Majelis dengan No.Register Perkara :... tentang Penetapan Hari Sidang. 3. Setelah mendengar Pembacaan Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum dengan No. Reg Perk.,... Setelah membaca Nota Keberatan atau Eksepsi dari Tim Penasehat Hukum Terdakwa atas Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum tertanggal...setelah mendengar pula tanggapan atau pendapat dari Jaksa Penuntut Umum atas Keberatan atau eksepsi Tim Penasehat Hukum Terdakwa tertanggal... Menimbang, bahwa Terdakwa diajukan ke Depan Persidangan dengan Dakwaan berbentuk Komulasi oleh Penuntut Umum sebagaimana dimuat dalam Surat Dakwaan Penuntut Umum No. Register Perkara : PDM- 642/Euh.2/04/2016 tertanggal 20 Maret 2016, yang dibacakan di Persidangan pada hari Senin tanggal 20 April 2016 yang pada Pokoknya adalah sebagai berikut : DAKWAAN KESATU DAN DAKWAAN KEDUA

114 DAN DAKWAAN KETIGA Menimbang, bahwa alasan Keberatan yang diajukan oleh Tim Penasehat Hukum Terdakwa adalah sebagai berikut : Menimbang, Telah mendengar Tanggapan Penuntut Umum atas Eksepsi yang diajukan Tim Penasehat Hukum Terdakwa... yang intinya, Jaksa Penuntut Umum berpendirian tetap sebagaimana yang telah dituangkan dalam Surat Dakwaan Menimbang bahwa untuk mempersingkat uraian perkara ini, selengkapnya keberatan/eksepsi Penasihat Hukum Terdakwa atas surat dakwaaan Penuntut Umum serta Pendapat Penuntut Umum atas keberatan/eksepsi dari Penasihat Hukum Terdakwa tersebut terdapat sebagaimana dimuat dalam berita acara persidangan dalam perkara ini dan semuanya telah turut dipertimbangkan serta telah pula termasuk bagian bagian yang terpisahkan dan merupakan satu kesatuan dalam putusan ini Menimbang, bahwa selanjutnya terhadap keberatan/eksepsi Penasihat hukum Terdakwa serta tanggapan Penuntut Umum atas keberatan Penasihat Hukum Terdakwa serta tanggapan Penuntut Umum atas keberatan tersebut akan dipertimbangkan secara bersamaan dalam pertimbangan berikut:

115 Mengingat pasal 143 ayat (2) dan pasal 156 Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana serta peraturan lain yang bersangkutan ; MENGADILI Demikian putusan ini dibuat dan dibacakan dalam persidangan yang terbuka untuk umum pada hari rabu 04 Mei 2016 oleh kami,... Sebagai Hakim Ketua dibantu oleh... dan... masingmasing selaku hakim anggota, dengan dibantu oleh... selaku Panitera Pengganti serta dihadiri oleh Penuntut Umum... dan... Terdakwa... dan Penasehat Hukum Terdakwa. HAKIM ANGGOTA HAKIM KETUA PANITERA PENGGANTI...

116 12. PUTUSAN P U T U S A N 21/ Pid.sus / 2016 / PN DPSR DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Denpasar yang memeriksa dan mengadili Perkara Pidana Khusus dalam Pemeriksaan Tingkat Pertama dengan acara biasa, telah menjatuhkan Putusan sebagai berikut atas nama Terdakwa Nama :... Tempat Lahir :... Umur/ Tanggal Lahir :... Jenis Kelamin :... Kebangsaan/ Kewarganegaraan :... Tempat Tinggal :... Agama :... Pekerjaan :... Terdakwa ditangkap oleh Penyidik pada tanggal 11 Januari berdasarkan Surat Perintah Penangkapan Nomor : SP. Kap / 112 -BRTS / I / 2016 / BNNP Terdakwa berada dalam tahanan Rumah Tahanan Negara, berdasarkan surat perintah penahanan/ penetapan : - Ditahan Penyidik sejak tanggal... s/d... - Perpanjangan penahanan oleh jaksa tanggal... s/d... - Ditahan Jaksa Penuntut Umum sejak tanggal...s/d... - Perpanjangan oleh hakim tanggal... S/d... - Ditahan oleh majelis hakim sejak tanggal... s/d... - Perpanjangan penahanan oleh Ketua Pengadilan Negeri tanggal... s/d... Terdakwa didampingi oleh Tim Penasihat Hukum bernama... dan... advokat pada kantor JUST MADI LAWYERS AND PARTNERS, berkedudukan di Jalan... berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal..., Pengadilan Negeri Denpasar Setelah: - Membaca Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Denpasar Nomor :... tentang Penunjukan Majelis Hakim yang mengadili perkara ini. - Membaca Surat Penetapan Majelis Hakim Nomor :... tanggal... tentang Penetapan Hari Sidang - Membaca Berkas Perkara Terdakwa... berserta seluruh lampirannya

117 - Mendengar keterangan saksi, ahli dan terdakwa serta memeriksa alat bukti surat dalam perkara ini. Setelah mendengar dan membaca Tuntutan Pidana dari Penuntut Umum Nomor:... Pengadilan Negeri... yang dibacakan pada tanggal... yang menuntut supaya Majelis Hakim Pengadilan Negeri... yang memeriksa dan mengadil Menyatakan barang bukti dalam perkara ini, antara lain: Menetapkan terdakwa tetap berada dalam tahanan sampai putusan ini memiliki kekuatan hukum tetap. Menimbang, bahwa atas tuntutan Penuntut Umum tersebut Terdakwa telah mengajukan pembelaan atau Pledoi yang pada pokoknya mohon untuk dbebaskan atau dihukum seringan mungkin dan Majelis Hakim untuk bisa bijak dalam mengambil keputusan sehingga Terdakwa mendapatkan keputusan yang seadil-adilnya Menimbang, setelah mendengar pembacaan Nota Pembelaan dari Penasihat Hukum terdakwa tanggal 25 Mei 2016 atas surat tuntutan dari Penuntut Umum yang pada pokoknya mengemukakan halhal sebagai berikut Menimbang dalam penyampaian pembelaannya Penasihat Hukum dan Terdakwa mohon agar dalam perkara ini Majelis Hakim memutuskan sebagai berikut; Menimbang, bahwa atas Nota Pembelaan Tim Penasihat Hukum Terdakwa tersebut Penuntut Umum mengajukan tanggapan atas pembelaan pada tanggal 01 Juni 2016 yang pada pokoknya berpendapat tetap pada tuntutannya semula, dan selanjutnya Penasihat Hukum terdakwa mengajukan jawaban atas tanggapan pembelaan Penuntut Umum pada tanggal 08 Juni 2016 yang pada pokoknya berpendapat tetap pada nota pembelaannya semula. Menimbang, bahwa Terdakwa diajukan ke persidangan oleh penuntut umum dengan surat dakwaan Nomor Reg. Perkara PDM-642/Euh.2/04/2016 tanggal 20 April 2016 sebagai berikut :

118 DAKWAAN KESATU Menimbang bahwa Penuntut Umum untuk membuktikan surat dakwaannya telah mengajukan saksi-saksi yang sebelum memberikan keterangan telah disumpah terlebih dahulu sesuai dengan agama dan kepercayaannya, masing-masing pada pokoknya menerangkan sebagai berikut : KETERANGAN SAKSI KETERANGAN AHLI : Menimbang, bahwa dipersidangan Terdakwa memberikan keterangan pada pokoknya sebagai berikut : KETERANGAN TERDAKWA Menimbang, bahwa Selanjutnya Penuntut Umum telah mengajukan barang bukti berupa NO BARANG BUKTI : Menimbang, bahwa penuntut umum di persidangan mengajukan alat bukti Surat berupa

119 3.... Menimbang, karena sudah tidak ada lagi hal-hal yang dikemukakan baik oleh Penuntut Umum, Penasihat Hukum Terdakwa maupun Terdakwa, maka Majelis Hakim menyatakan pemeriksaan atas perkara Terdakwa tersebut ditutup. Menimbang bahwa untuk mempersingkat uraian dalam putusan ini, maka segala sesuatu yang terjadi di persidangan sebagaimana termuat dalam Berita Acara Sidang, dianggap termasuk dan dipertimbangkan pula dalam putusan ini. Menimbang, bahwa barang bukti yang diajukan dipersidangan oleh Penuntut Umum seperti Tersebut diatas yang telah disita secara sah menurut hukum, maka barang bukti tersebut dapat dipergunakan untuk memperkuat pembuktian. Menimbang, atas surat dakwaan Penuntut Umum tersebut, Penasihat Hukum Terdakwa telah mengajukan keberatan atau eksepsi tanggal 27 April 2016, demikian pula Penuntut Umum telah mengajukan pendapat atau tanggapannya secara lisan pada hari itu juga yang pada intinya Penuntut Umum tetap pada surat dakwaan yang telah disusunnya, selengkapnya keberatan atau eksepsi dari Penasihat hukum Terdakwa serta tanggapan Penuntut Umum atas keberatan tersebut sebagaimana terlampir dalam Berita Acara Sidang. Menimbang, Bahwa atas keberatan atau Eksepsi Penasihat Hukum Terdakwa maupun tanggapan atau pendapat Penuntut Umum tersebut, maka Majelis hakim telah menjatuhkan Putusan atas Keberatan pada tanggal...yang amarnya berbunyi sebagai berikut: Menimbang, bahwa untuk dapat mempersalahkan seseorang telah melakukan tindak pidana yang didakwakan haruslah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum. Menimbang, Majelis Hakim akan mempertimbangkan, apakah dakwaan Penuntut Umum dapat dibuktikan, khususnya tentang terjadinya peristiwa pidana dan Terdakwa pelakunya. Menimbang, bahwa selanjutnya Mejelis Hakim akan meneliti dan memperhatikan keterangan saksi-saksi, keterangan ahli, surat-surat yang diajukan dalam persidangan, keterangan Terdakwa dan juga barang bukti sebagaimana diuraikan diatas untuk mempertimbangkan apakah Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan kepadanya. Menimbang, bahwa memperhatikan pula ketentuan pasal 185 ayat 4 KUHAP yang menentukan keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian tertentu

120 Menimbang, bahwa Terdakwa dipersidangan ini oleh Penuntut Umum telah didakwa dengan dakwaan komulatif yaitu didakwa melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana sebagai berikut : Menimbang, bahwa oleh karena Penuntut Umum menyusun dakwaan Komulatif, maka semua pasal dalam dakwaan kesatu, kedua dan ketiga harus terbukti, untuk itu Majelis Hakim akan mempertimbangkan unsur-unsur setiap dakwaan dengan memperhatikan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan. Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan dakwaan pertama, melanggar... Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal... Kitab undang-undang Hukum Pidana, dengan unsurunsur sebagai berikut : Ad Menimbang, atas pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, maka segala unsur-unsur pidana yang didakwakan Penuntut Umum telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum, oleh karena itu Majelis Hakim menyatakan terdakwa bersalah. Menimbang, bahwa oleh karena seluruh unsur dakwaan kesatu, kedua dan ketiga terpenuhi, maka terdakwa harus dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana dalam dakwaan tersebut yang kualifikasinya akan disebutkan dalam amar putusan. Sedangkan dengan tidak adanya alasan yang dapat menghapuskan sifat melawan hukum perbuatannya, maka terdakwa harus dinyatakan bersalah. Menimbang, bahwa pembuktian didasarkan pada alat-alat bukti yang sah dan memberikan keyakinan tentang tindak pidana dan pelakunya, oleh karena harus dipandang sah dan meyakinkan. Menimbang, bahwa selama pemeriksaan dipersidangan tidak ditemukan adanya alasan pemaaf dari Terdakwa... yang dapat menghilangkan sifat melawan hukumnya, maka Terdakwa... harus mempertangung jawabkan atas perbuatannya. Menimbang, bahwa dengan memperhatikan Pasal 183 dan Pasal 193 KUHAP, oleh karena terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan Tindak Pidana Peredaran Gelap Narkotika, maka Terdakwa harus dijatuhi pidana yang adil dan setimpal dengan perbuatannya yang akan disebutkan dalam amar putusan ini Menimbang, bahwa tujuan penjatuhan pidana atau pemidanaan terhadap terdakwa bukanlah bermaksud untuk balas dendam atau menyakiti terdakwa, akan tetapi semata-mata adalah untuk menjunjung tinggi keadilan Menimbang, bahwa berdasarkan uraian seluruh pertimbangan diatas maka Majelis Hakim tidak sependapat dengan pembelaan Terdakwa maupun pembelaan dari Tim Penasihat Hukum yang

121 berpendapat Terdakwa tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan, akan tetapi Majelis Hakim berpendapat lain dimana Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dipertimbangkan di atas. Menimbang, bahwa dengan memperhatikan Pasal 21 KUHAP serta guna memudahkan pelaksanaan putusan dan terhindarnya Terdakwa melarikan diri, maka kepadanya diperintahkan tetap berada dalam tahanan. Menimbang, bahwa terhadap barang bukti akan dipertimbangkan sebagai berikut : Bahwa barang bukti berupa NO 1 s/d 77 : NO BARANG BUKTI Menimbang bahwa barang bukti tersebut keseluruhannya dikembalikan kepada Penuntut Umum untuk berkas perkara Wawan Suryawan dan Su Cu Pung ( Terdakwa dalam berkas terpisah). Menimbang bahwa Penuntut Umum dalam Tuntutan Pidananya meminta kepada Majelis agar Terdakwa... dijatuhi pidana mati maka kini sampailah kepada berapa hukuman (sentencing atau staftoemeting) atau pidana apa yang cocok, selaras dan tepat yang kira-kira sepadan untuk dijatuhkan kepada terdakwa yang sesuai dengan tindak pidana yang telah dilakukannya, apakah permintaan Penuntut Umum tersebut telah cukup memadai ataukah dipandang terlalu berat ataukah masih kurang sepadan dengan kesalahan terdakwa, maka untuk menjawab pertanyaan tersebut disini merupakan kewajiban majelis untuk mempertimbangkan segala sesuatunya selain dari aspek yuridis yang telah dikemukakan diatas, yaitu aspek dimensi pidana mati itu sendiri, aspek tindak pidana narkotika dalam rangka tertib manusia beradab, aspek keadilan korban dan masyarakat aspek kejiwaan/psikologis terdakwa, aspek edukatif dan aspek agamis/religius dimana terdakwa tinggal dan dibesarkan, aspek policy/filsafat pemidanaan dan aspek model keseimbangan kepentingan atau daaddaader straftrecht dimana pertimbangan-pertimbangan tersebut Majelis Hakim perlu uraikan dan jelaskan dalam kerangka sebagai pertanggungjawaban majelis kepada masyarakat Ilmu Hukum itu sendiri, rasa keadilan dan kepastian hukum, Negara dan Bangsa serta demi keadilan berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa. Menimbang bahwa terhadap dimensi dan eksistensi pidana mati (Capital punishment/death penalty) maka majelis hakim mempertimbangkan tentang aspek-aspek berikut ; 1. Bahwa Penasihat Hukum Terdakwa dalam pembelaannya menyatakan bahwa Hukuman Mati bertentangan dengan Hak Asasi Manusia Hal ini diperkuat oleh pandangan Prof. Jeffrey Fagan (Columbia University, USA) tidak ada sama sekali pengaruh efek jera bagi pelaku pidana lain terhadap hukuman mati. Pada asasnya pada aspek ini maka eksistensi pidana mati menurut Amnesty Internasional, sebuah

122 Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) hingga tahun 2016 sebanyak 111 (seratus sebelas) negara telah menghapus pidana mati dalam ketentuan hukumnya. Beberapa negara tersebut antara lain Brazil, Portugal, Austria, Italia, Jerman, Swiss dan sebagainya. Tercatat 84 (delapan puluh empat) negara masih mempertahankan pidana mati. Selain aspek diatas ada juga negara yang menerapkan hukuman mati secara terbatas, misalnya Belanda mempertahankan pidana mati hanya untuk Pengadilan Militer dan Inggris terbatas pada tindak pidana pembunuhan berencana (capital murder) sedangkan Serbia, Polandia, Montenegro dan Yugoslavia menerapkannya pada waktu perang. 2. Bahwa salah satu argumentasi negara yang menghapus pidana mati dalam perundang-undangannya adalah karena bertentangan dengan aspek Hak Asasi Manusia. Khusus untuk di Indonesia terdapat suatu pandangan atau pendapat bahwa pidana mati bertitik tolak kepada ketentuan pasal 28 A dan I UUD RI 1945 yang pada pokoknya menentukan bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Argumentasinya, dengan penerapan pidana mati maka orang tidak dapat memperbaiki dirinya, tidak berhak hidup dan mempertahankan kehidupannya sebagaimana dijamin undang-undang. Aspek ini ditegaskan dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi manusia ditegaskan bahwa : hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa dan seterusnya, adalah hak-hak manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun 3. Bahwa pada dasarnya menurut PAUL SIEGHART dalam THE LAWFUL RIGHTS OF MANKIND, AN INTRODUCTION TO THE INTERNATIONAL LEGAL CODE OF HUMAN RIGHTS secara global HAM terdiri dari tiga generasi, yaitu generasi pertama (Sipil dan Politik), generasi kedua (Ekonomi, sosial dan budaya) generasi ketiga (Hak Kelompok) yang kesemuanya itu sesungguhnya merupakan hak individu. Oleh karena itu dalam konteks teoritik demikian tentu untuk kondisi Indonesia HAM yang secara Imperatif bertumpu pada hak individu, relatif mendapatkan kendala dalam pelaksanaannya karena hak individu berkorelasi dengan kepentingan umum. Tegasnya, ketentuan pasal 28 J UUD RI 1945 mengaskan bahwa dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dari anasir ini, disatu sisi pelaksanaan HAM sifatnya Parsial dalam artian juga memperhitungkan kepentingan HAM masyarakat, korban tindak pidana yang dilakukannya, serta kepentingan bangsa dan negara. Sedangkan disisi lainnya memang dari optik teoritik HAM sebagai hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng. Oleh karena itu tentu sifatnya harus dilindungi, dihormati dan dipertahankan serta tidak boleh diabaikan, dikurangi atau dirampas oleh siapapun. 4. Bahwa Pidana mati ditinjau dulu hukum internasional. ketentuan mengenai hak asasi manusia yang berkaitan dengan hak hidup dapat ditemukan dalam

123 International Covenant on Civil and Political Right (ICCPR) yang mengatur hak untuk hidup (right to life). Dari ketentuan Pasal 6 ICCPR t pidana mati masih diakui untuk dapat diterapkan dinegara-negara yang telah meratifikasi Kovenan tersebut. Bahwa Pasal 6 ICCPR masih mengakui pidana mati juga mengingat adanya ketentuan-ketentuan yang mengikutinya yang mengatur pembatasan terhadap hukum mati. Ketentuan-ketentuan yang mengikuti pasal 6 ayat (1), yaitu pasal 6 ayat (2) sampai dengan (6) adalah: 1. setiap manusia berhak atas hak untuk hidup dan mendapat hak perlindungan hukum dan tiada yang dapat mencabut hak itu. 2. Di negara-negara yang belum menghapuskan pidana mati, Putusan pidana mati hanya dapat dijatuhkan terhadap kejahatan yang paling berat sesuai dengan hukum yang berlaku pada saat dilakukannya kejahatan tersebut, dan tidak bertentangan dengan ketentuan Kovenan ini dan Konvensi tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida. 3. Hukuman ini hanya dapat dilaksanakan atas dasar putusan akhir yang dijatuhkan oleh pengadilan yang berwenang (competent). 4. Siapapun yang dijatuhi hukum mati mempunyai hak untuk mendapatkan pengampunan atau keringanan hukuman. Amnesti, pengampunan atau pengurangan pidana mati dapat diberikan dalam semua kasus. 5. Pidana mati tidak dapat dijatuhkan atas kejahatan yang dilakukan oleh seseorang dibawah usia delapan belas tahun, dan tidak dapat dilaksanakan pada perempuan yang tengah mengandung. 6. Tidak ada satupun dalam Pasal ini yang dapat digunakan untuk menunda atau mencegah penghapusan pidana mati oleh Negara-negara Pihak pada Kovenan tersebut.. 5. Bahwa selanjutnya dari perspektif hukum positif (Ius Constitutum/ius operatum) maka pidana mati diakui sebagai sistem pidana dan bagian dari kebijakan negara (state policy). Sebagai bagian dari sistem pidana maka pidana mati merupakan pelaksanaan dan konsepsi dari kebijakan sebuah negara. Contoh konkret misalnya secara umum Belanda telah menghapus pidana mati sejak tahun 1870, kemudian hanya diterapkan terbatas pada pengadilan militer, sedangkan, di Indonesia dimana Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) merupakan konkordasi dari wetboek van strafrecht Belanda masih mempertahankan pidana mati melalui pasal 10 KUHP sebagai bagian dari pidana pokok. Kemudian seiring adanya perubahan kebiajakan negara yang lebih mengedepankan HAM maka rancangan KUHP tahun 2000 sebagai ius constituendum tetap mempertahankan pidana mati. Akan tetapi pidana mati tersebut sebagai sebuah konsep sifatnya fleksibel karena diatur tersendiri, bukan bagian dari pidana pokok dan ketentuan limitatif pidana mati selalu diancamkan secara alternatif.

124 6. Bahwa dari aspek filosofis pidana mati berkorelasi erat dengan teori tujuan pemidanaan. Pada asasnya, pidana mati diterapkan sebagai upaya pembalasan (Vergeldings Theorien) yang ingin memberi efek jera (detterence effect) kepada si pelaku. Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu maka konsepsi pemidanaan tersebut harus juga bersifat pencegahan (detterence theorien) dan pendidikan (doel theorien). Dari tolak ukur demikian yang dirintis bersifat integratif. 7. Bahwa secara konsepsional pidana mati dapat dikaji dari 2 (dua) dimensi yaitu pertama, dari dimensi pola pikir pembentuk undang-undang sebagai kebijakan formulatif. Dari pola pemikiran demikian maka terlepas masih adanya perdebatan dan sifatnya kontroversial pencantuman pidana mati dalam beberapa undangundang memang masih dianggap relevan oleh masyarakat dan sifatnya selektif yakni hanya untuk kejahatan kemanusiaan (crime against humanity) serta terhadap kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime) dan demi keamanan nasional dan Internasional yang mengacu kepada konvensi internasional. Berikutnya, sebagai hukum positif maka pembentuk undang-undang masih berasumsi pidana mati sebagai terapi mujarab dalam menekan kejahatan yang terjadi. Oleh karena dengan dihukum matinya pelaku diharapkan efek jera bagi pelaku dan prevensi bagi masyarakat lainnya agar tidak melakukan tindak pidana. Tegasnya, adanya aspek pembalasan dan menakutnya bagi pelaku dan masyarakat. Kemudian pembentuk Undang-undang dalam memuat aturan hukum disamping memperhatikan aspek yuridis juga memperhatikan aspek yang bersifat non yuridis. Adanya polarisasi pemikiran dan kajian kriminologik, filosofis, sosiologis dan ketertiban umum memang diperlukan terhadap eksistensi ketentuan pidana mati dalam beberapa undang-undang yang termasuk ruang lingkup tindak pidana khusus. Kedua, dari polarisasi pemikiran hakim yang akan menerapkan kebijakan formulatif pidana mati, dalam praktiknya relatif bervariasi. Dari pola pemikiran ini maka tergantung pada kondisi psikologis, religius dan yuridis dari Majelis Hakim sebagai pelaksana kebijakan aplikatif. 8. Bahwa dakwaan dari penuntut umum bersifat concursus idealis maka ancaman hukuman yang terberat yang akan dikenakan yaitu pasal 113 ayat (2) dan pasal 114 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Bahwa ditinjau dari sistem perumusan sanksi pidana (strafsoort) maka ketentuan Pasal 113 ayat (2) dan pasal 114 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mempergunakan sistem perumusan alternatif yaitu dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga). Sedangkan apabila ditinjau dari perumusan lamanya sanksi pidana (stafmaat) maka ketentuan Pasal 113 ayat (2) dan 114 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika

125 menganut sistem indefinite sentence. Dengan demikian ditinjau dari sistem perumusan sanksi pidana dan perumusan lamanya sanksi pidana maka ketentuan Pasal 113 ayat (2) dan 114 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika bersifat fleksibel dalam artian hakim boleh memilih strafsoort dan strafmaat manakah yang dianggap paling sesuai, selaras dan sepadan yang dapat dijatuhkan kepada terdakwa YOLANDA ZARA yang kira-kira setimpal dengan perbuatan yang telah dilakukannya dalam perkara peredaran gelap narkotika. Menimbang bahwa berdasarkan apa yang telah diuraikan konteks diatas terlepas masih adanya pandangan pro dan kontra maka Majelis berpendirian pidana mati dalam hukum positif Indonesia diakui eksistenisnya, tidak bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), sebagai bagian sistem pidana dan kebijakan negara (state policy), mempunyai dasar pijakan filosofis, kriminologik, yuridis dan religius serta diterapkan secara selektif hanya untuk kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity) dan kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime) Menimbang, berdasarkan pertimbangan dan pendirian sebagaimana telah dideskripsikan tersebut maka Maka Majelis Tidak sependapat dengan pandangan Penasihat Hukum Terdakwa YOLANDA ZARA menyatakan bahwa Hukuman Mati bertentangan dengan Hak Asasi Manusia Hal ini diperkuat oleh pandangan Prof. Jeffrey Fagan (Columbia University, USA) tidak ada sama sekali pengaruh efek jera bagi pelaku pidana lain terhadap hukuman mati. Namun Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa Pidana mati dianggap sebagai sarana yang dapat mencegah seseorang untuk melakukan kejahatan karena pidana mati dianggap sebagai hal yang menakutkan atau menjerakan, sehingga dengan demikian ada rasa takut bagi orang lain untuk melakukan sesuatu perbuatan yang diancam dengan pidana mati. Pendapat yang demikian ini, ada kaitannya dengan pendapat dari Anselm Von Feuerbach dengan teorinya: Psycologische zwang (paksaan psikologis). Menurut teori tersebut, jika seseorang dijatuhi hukuman dengan sepengetahuan orang lain, maka orang lain tersebut akan merasa takut untuk melakukan suatu tindak pidana. Sebenarnya, sejauh mana orang itu akan melaksanakan suatu peraturan akan sangat tergantung pada kesadaran dan kepatuhan hukum dari yang bersangkutan. Teori ini tidak berlaku secara umum. Menimbang, bahwa penerapan pidana mati, tidak terlepas dari tujuan pemidanaan, dasar perjatuhan pidana didasarkan pada beberapa teori pemidanaan yaitu : teori retributif (Pembalasan), Doel Theorien (teori tujuan), dan Vereniging theorien (teori gabungan). Penjatuhan pidana juga berkaitan erat dengan filsafah pemidanaan. Aliran klasik mendasarkan pada falsafah pemidanaan Let the funishmet fit the crime yang artinya sesuaikan hukuman dengan perbuatannya, aliran modern falsafah pemidanaannya Let the funisment fit the criminal yang artinya sesuaikan hukuman dengan pelakunya dan aliran neo klasik filsafah pemidanaannya Let the funishment fit the crime and the criminal yang artinya sesuaikan hukuman dengan perbuatan dan pelakunya. Dari beberapa teori dan falsafah pemidanaan hukuman mati masih dipengaruhi oleh teori retributif (teori pembalasan) dan falsafah

126 pemidanaan Let the funisment fit the crime / sesuaikan hukuman dengan perbuatannya. Dilihat dari sudut pandang kemanusiaan penerapan pidana mati seolah-olah kejam dan tidak berprikemanusiaan, namun jika direnungkan secara mendalam, sebenarnya pidana mati memberikan efek jera yang sangat efektif, baik terhadap si pelaku (efek detterence), maupun terhadap masyarakat yang berpotensi melakukan kejahatan-kejahatan berat (general detterence). Dari beberapa perspektif pidana mati masih memiliki tempat dan memberikan harapan agar masyarakat berfikir ribuan kali untuk melakukan kejahatan-kejahatan berat yang diancam pidana mati, antara lain, kejahatan narkoba, terorisme, korupsi, pembunuhan berencana dan perampokkan dengan kekerasan. Meski kritikan terus bertambah terhadap pidana mati, untuk sekarang ini Indonesia masih memerlukan pidana mati untuk melindungi masyarakat dari ancaman penjahat-penjahat yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan jiwa manusia, kita semua hendaknya bisa berfikir holistik dalam menyikapi persoalan pidana mati, idealnya cita hukum yaitu keadilan, kepastian dan manfaat bisa terpenuhi secara bersama-sama, namun dalam praktiknya itu tidaklah mudah, penerapan pidana mati secara filosofis adalah untuk melenyapkan kejahatan-kejahatan besar sehingga akan dirasakan keadilan dan kemanfaatan bagi masyarakat banyak meskipun harus kehilangan satu nyawa, sulit mencapai kesempurnaan, namun demikian setidak-tidaknya hukum bisa mendekati kesempurnaan dengan ukuran keadilan berdasarkan kemampuan nalar dan hati nurani manusia. Menimbang, Dari adanya pidana mati tersebut maka ditinjau dari segi HAM sebagaimana ada dalam undang-undang yang mengatur mengenai HAM, yaitu Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia sesungguhnya pembahasan tentang pidana mati harus dimulai dari pembicaraan hak untuk hidup terlebih dahulu. Dalam undang-undang No. 39 tahun 1999 mengenai hak hidup tercantum dalam Pasal 9 ayat 1 yang menyatakan "setiap orang berhak untuk hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya", secara sekilas pasal ini tidak jauh dengan ketentuan Pasal 28A UUD Sesungguhnya jika teliti lagi dengan. menelaah Pasal 28A UUD 1945 dan Penjelasan Pasal 9 Undang-undang No: 39 tahun 1999, dalam penjelasan Pasal 9 ini menyatakan : "Setiap orang berhak atas kehidupan, mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf kehidupannya. Hak atas kehidupan ini bahkan melekat pada bayi yang baru lahir atau orang yang terpidana mati. Dalam hal atau keadaan yang sangat luar biasa yaitu demi kepentingan hidup ibunya dalam kasus aborsi atau berdasarkan putusan pengadilan dalam kasus pidana mati, maka tindakan aborsi atau pidana mati dalam hal atau kondisi tersebut, masih dapat diizinkan. Hanya pada dua hal tersebut itulah hak untuk hidup dibatasi." Menimbang, Dari penjelasan tersebut dapat kita garis bawahi pada kalimat "berdasarkan putusan pengadilan dalam kasus pidana mati, maka tindakan aborsi atau pidana mati dalam hal atau kondisi tersebut, masih dapat diizinkan" sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa walaupun setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya namun dalam keadaan tertentu hak untuk hidup dapat dihilangkan atau dicabut. Apa yang tersebut dalam Pasal 9 dan Penjelasan Pasal 9 Undang-undang No. 39 tahun merupakan pengecualian yang telah disebutkan dengan tegas dalam undang-undang jadi jika seseorang terbukti melalukan tindak pidana dan melalui putusan pengadilan menjatuhkan pidana mati maka ini dibenarkan oleh hukum.

127 Menimbang, bahwa berdasarkan Putusan MK No 2-3/PUU-V/2007 maka legalitas pidana mati untuk diterapkan di Indonesia semakin kuat karena melalui putusan MK ini pidana mati tidak bertentangan dengan UUD Putusan MK No. 2-3/PUU-V/2007 ini terkait dengan perkara pengujian ketentuan pidana mati dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (UU Narkotika) terhadap UUD 1945 yang diajukan oleh Edith Yunita Sianturi, Rani Andriani (Melisa Aprilia), Myuran (Nomor Perkara 02/PUU-V/2007) dan Scott Anthony Rush (Nomor Perkara 03/PUU- V/2007) dan karena menyangkut perkara yang sama maka oleh MK di gabungkan dan disidangkan secara bersama-sama. Menimbang, bahwa Salah satu pertimbangan dari Mahkamah Konstitusi terkait dengan Putusan MK No. 2-3/PUU-V/2007 dibangun melalui pemahaman tentang HAM karena tatkala merumuskan Bab XA (Hak Asasi Manusia) rujukannya atau yang melatarbelakanginya adalah Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998, dari Ketetapan MPR inilah yang akhirnya melahirkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Semangat yang dibangun oleh Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia adalah sama yaitu menganut pendirian bahwa HAM bukanlah tanpa batas. Dikatakan pula semangat yang sama juga terdapat dalam UUD 1945, yaitu bahwa HAM bukanlah sebebas-bebasnya melainkan dimungkinkan untuk dibatasi sejauh pembatasan itu ditetapkan dengan undang-undang. Semangat inilah yang melahirkan Pasal 28J UUD Oleh karena itu, penerapan pidana mati di Indonesia bukanlah hal yang melanggar HAM jika dilihat dari aspek peraturan perundang-undangan. Menimbang, Bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi telah mempertimbangkan konstitusional-tidaknya pidana mati dengan mengaitkannya pada kewenangan yang di miliki oleh Mahkamah Konstitusi dalam tugasnya untuk menyelenggarakan peradilan bukan saja untuk menegakkan hukum tetapi juga keadilan. Dalam hubungannya dengan isu pidana mati, menurut Mahkamah Konstitusi keadilan yang ditegakkan berdasar atas hukum itu haruslah senantiasa di buat dengan mengingat pertimbangan-pertimbangan dari berbagai perspektif, yaitu perspektif pidana atau pidana mati itu sendiri, kejahatan yang diancam dengan pidana mati, dan yang tidak kalah pentingnya dari perspektif korban serta keluarga korban dari kejahatan yang diancam pidana mati itu. Menimbang, bahwa oleh karena Majelis Hakim berpendirian pidana mati dalam konteks hukum positif Indonesia diakui eksistensinya, tidak bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), sebagai bagian dari sistem pidana dan kebijakan negara (state policy), mempunyai dasar pijakan filosofis, kriminologik, yuridis dan religius serta diterapkan secara selektif hanya untuk kejahatan terhadap kemanusiaaan (crime against humanity) dan kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime) maka disini yang menjadi permasalahan krusial dan fundamental adalah apakah pidana mati tersebut telah dipandang cocok, sepadan dan selaras apabila dijatuhkan kepada perbuatan yang telah dilakukan terdakwa YOLANDA ZARA ataukah tidak majelis hakim secara obyektif sebagaimana digariskan oleh MR TRAPMANN harus bertitik tolak dan mempertimbangkan tentang anasir-anasir sebagai berikut :

128 Menimbang bahwa dengan bertitik tolak dari aspek yuridis, aspek pidana mati itu sendiri, aspek tindak pidana narkotika, aspek keadilan korban dan masyarakat, aspek kejiwaan/psikologis terdakwa, aspek edukatif dan aspek agamis, aspek policy/filsafat pemidanaan dan strafrecht atau lebih tegasnya lagi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dari aspek yuridis, sosiologis, filosofis dan psikologis atau dari aspek legal justice, moral justice dan social justice maka Majelis berpendirian bahwa tentang jenis dan lamanya hukuman yang akan dijatuhkan atas diri terdakwa sebagaimana disebutkan dalam amar putusan dibawah ini menurut hemat Majelis Hakim telah cukup adil, memadai, argumentatif, manusiawi, proporsional, dan sesuai dengan kadar kesalahan yang telah dilakukan Terdakwa... alias... Menimbang, bahwa dengan memperhatikan pembelaan terdakwa beserta penasihat hukumnya, tuntutan pidana dari Penuntut Umum maka majelis hakim sebelum menjatuhkan pidana juga mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan sebagai berikut: Hal memberatkan Hal meringankan - Tidak ada Menimbang, bahwa untuk memenuhi rasa keadilan, maka dalam menjatuhkan pidana kepada Terdakwa, Majelis Hakim akan mempertimbangkan dari segala segi aspek bagi kepentingan masyarakat, negara maupun bagi kepentingan Terdakwa sendiri. Menimbang, bahwa dalam perkara ini Majelis Hakim tidak hanya mempertimbangkan apa yang timbul dalam masyarakat akibat perbuatan Terdakwa, tetapi juga peran Terdakwa dalam terjadinya tindak pidana. Menimbang, bahwa berdasarkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan diatas, maka Majelis Hakim dengan memperhatikan kepentingan masyarakat dan negara akan menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana yang layak, patut, setimpal dan adil sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya dalam dakwaan kesatu, kedua dan ketiga Penuntut Umum yang terbukti dipersidangan. Menimbang, bahwa dengan mempertimbangkan Pasal 222 KUHAP, karena Terdakwa tersebut di atas terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan TINDAK PIDANA NARKOTIKA, maka Terdakwa haruslah dibebani untuk membayar biaya perkara ini yang besarnya akan dicantumkan dalam amar putusan ini. Memperhatikan Pasal... Undang-Undang Republik

129 Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo... Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Pasal... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo... Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dan... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo... Kitab Undang-Undang Hukum Pidana MENGADILI 3. Menyatakan Terdakwa... telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan TINDAK PIDANA PEREDARAN GELAP NARKOTIKA sebagaimana diatur dan diancam Pasal... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo... Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Pasal...Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 64 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dan Pasal... Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal... Kitab Undang-Undang Hukum Pidana 4. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebut dengan pidana Menetapkan barang bukti berupa : NO BARANG BUKTI o Kesemuanya dikembalikan kepada Penuntut Umum untuk digunakan dalam berkas Terdakwa dalam berkas terpisah dalam perkara ini. 6. Membebankan biaya perkara kepada Negara. 7. Menetapkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan sampai putusan ini memiliki kekuatan hukum tetap. Demikianlah diputuskan dalam Musyawarah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar pada hari..., tanggal..., oleh kami... selaku Hakim Ketua... dan... masing-masing selaku Hakim Anggota. Putusan tersebut diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum pada hari..., tanggal... oleh Hakim Ketua tersebut didampingi para Hakim Anggota tersebut dan

130 dibantu oleh..., S.H sebagai Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Denpasar dengan dihadiri Penuntut Umum pada Kejaksaan Tinggi...,..., dan..., terdakwa..., serta Penasihat Hukum Terdakwa. HAKIM KETUA MAJELIS, HAKIM ANGGOTA Panitera Pengganti...

MEKANISME PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN KEHUTANAN

MEKANISME PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN KEHUTANAN MEKANISME PENYELESAIAN KASUS KEJAHATAN KEHUTANAN POLTABES LOCUSNYA KOTA BESAR KEJAKSAAN NEGERI KOTA PENGADILAN NEGERI PERISTIWA HUKUM PENGADUAN LAPORAN TERTANGKAP TANGAN PENYELIDIKAN, PEYIDIKAN BAP Berdasarkan

Lebih terperinci

SAMPUL BERKAS PERKARA Nomor: BP-../PPNS PENATAAN RUANG / /20..

SAMPUL BERKAS PERKARA Nomor: BP-../PPNS PENATAAN RUANG / /20.. LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PENATAAN RUANG SAMPUL BERKAS PERKARA Nomor: BP-../PPNS PENATAAN

Lebih terperinci

ALUR PERADILAN PIDANA

ALUR PERADILAN PIDANA ALUR PERADILAN PIDANA Rangkaian penyelesaian peradilan pidana terdiri atas beberapa tahapan. Suatu proses penyelesaian peradilan dimulai dari adanya suatu peristiwa hukum, misalnya seorang wanita yang

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 29 TAHUN 2017 TENTANG ADMINISTRASI PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL KOTA YOGYAKARTA DALAM ACARA PEMERIKSAAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 44 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN OPERASIONAL PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DALAM PENEGAKAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

LAMPIRAN PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL LAMPIRAN PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAFTAR ISI LAMPIRAN.A. SAMPUL BERKAS PERKARA. B. ISI BERKAS

Lebih terperinci

LAPORAN KEJADIAN NO... Nama :... Jenis kelamin :... Pekerjaan :... Tempat Tinggal :... Kebangsaan :...

LAPORAN KEJADIAN NO... Nama :... Jenis kelamin :... Pekerjaan :... Tempat Tinggal :... Kebangsaan :... Lampiran 1 PELAPOR LAPORAN KEJADIAN NO... Nama :... Jenis kelamin :... Pekerjaan :... Tempat Tinggal :... Kebangsaan :... PERISTIWA YANG DILAPORKAN Waktu Kejadian : Hari.... Tanggal... Jam... Wita Tempat

Lebih terperinci

GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN

GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 21 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN,

Lebih terperinci

Hukum Acara Pidana Untuk Kasus Kekerasan Seksual

Hukum Acara Pidana Untuk Kasus Kekerasan Seksual Hukum Acara Pidana Untuk Kasus Kekerasan Seksual Hukum Acara Pidana dibuat adalah untuk melaksanakan peradilan bagi pengadilan dalam lingkungan peradilan umum dan Mahkamah Agung dengan mengatur hak serta

Lebih terperinci

Undang Undang No. 8 Tahun 1981 Tentang : Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana

Undang Undang No. 8 Tahun 1981 Tentang : Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana Undang Undang No. 8 Tahun 1981 Tentang : Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 8 TAHUN 1981 (8/1981) Tanggal : 31 DESEMBER 1981 (JAKARTA) Sumber : LN 1981/76;

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 42 TAHUN : 2004 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 5 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 42 TAHUN : 2004 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 5 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 42 TAHUN : 2004 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 5 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. WALIKOTA

Lebih terperinci

PENEGAKAN HUKUM. Bagian Kelima, Penyidikan Oleh Badan Narkotika Nasional (BNN)

PENEGAKAN HUKUM. Bagian Kelima, Penyidikan Oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Modul E-Learning 3 PENEGAKAN HUKUM Bagian Kelima, Penyidikan Oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) 3.5 Penyidikan Oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) 3.5.1 Kewenangan Penyidikan oleh BNN Dalam melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 1 TAHUN 2005 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 1 TAHUN 2005 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 1 TAHUN 2005 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan

Lebih terperinci

Bagian Kedua Penyidikan

Bagian Kedua Penyidikan Bagian Kedua Penyidikan Pasal 106 Penyidik yang mengetahui, menerima laporan atau pengaduan tentang terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana wajib segera melakukan tindakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NO : 7 2001 SERI : D PERATURAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NOMOR : 11 TAHUN 2001 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BEKASI Menimbang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA,

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA, SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK

Lebih terperinci

PERLUNYA NOTARIS MEMAHAMI PENYIDIK & PENYIDIKAN. Dr. Widhi Handoko, SH., Sp.N. Disampaikan pada Konferda INI Kota Surakarta, Tanggal, 10 Juni 2014

PERLUNYA NOTARIS MEMAHAMI PENYIDIK & PENYIDIKAN. Dr. Widhi Handoko, SH., Sp.N. Disampaikan pada Konferda INI Kota Surakarta, Tanggal, 10 Juni 2014 PERLUNYA NOTARIS MEMAHAMI PENYIDIK & PENYIDIKAN Dr. Widhi Handoko, SH., Sp.N. Disampaikan pada Konferda INI Kota Surakarta, Tanggal, 10 Juni 2014 Ketentuan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

KOP SURAT KEMENTERIAN ATR/BPN/PEMERINTAH PROVINSI/ PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA *) SURAT PERINTAH TUGAS Nomor: SP-../Gas-W/PPNS PENATAAN RUANG/ /20..

KOP SURAT KEMENTERIAN ATR/BPN/PEMERINTAH PROVINSI/ PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA *) SURAT PERINTAH TUGAS Nomor: SP-../Gas-W/PPNS PENATAAN RUANG/ /20.. LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PENATAAN RUANG Demi Keadilan KOP SURAT KEMENTERIAN ATR/BPN/PEMERINTAH

Lebih terperinci

LAPORAN POLISI Tentang KEJAHATAN / PELANGGARAN YANG DIKETEMUKAN No. Pol. : LP / 06A / II / 2017 / Polrestabes Semarang

LAPORAN POLISI Tentang KEJAHATAN / PELANGGARAN YANG DIKETEMUKAN No. Pol. : LP / 06A / II / 2017 / Polrestabes Semarang RESORT KOTA BESAR SEMARANG PRO JUSTITIA MODEL B LAPORAN POLISI Tentang KEJAHATAN / PELANGGARAN YANG DIKETEMUKAN No. Pol. : LP / 06A / II / 2017 / Polrestabes Semarang YANG MELAPORKAN : 1. Nama /Suku :

Lebih terperinci

BAB I RUANG PERSIDANGAN

BAB I RUANG PERSIDANGAN BAB I RUANG PERSIDANGAN 1.1 Tata Letak Ruang Sidang menurut KUHAP. Ruang persidangan dalam pengadilam merupakan ruang yang digunakan untuk memeriksa, mengadili dan memutuskan suatu perkara. Mengenai tata

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG ADMINISTRASI PENYIDIKAN DAN PENINDAKAN TINDAK PIDANA DI BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM PASER UTARA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM PASER UTARA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL (PPNS) DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK

Lebih terperinci

MENTER! HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA

MENTER! HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA MENTER! HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTER! HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-Ol.Hl.07.02 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN MANAJEMEN PENYIDIKAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2006 T E N T A N G PEMBENTUKAN, KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA SATUAN POLISI

Lebih terperinci

BUPATI TUBAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TUBAN NOMOR 18 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI TUBAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TUBAN NOMOR 18 TAHUN 2016 TENTANG S A L I N A N BUPATI TUBAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TUBAN NOMOR 18 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tindak pidana korupsi merupakan salah satu kejahatan yang merusak moral

I. PENDAHULUAN. Tindak pidana korupsi merupakan salah satu kejahatan yang merusak moral I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tindak pidana korupsi merupakan salah satu kejahatan yang merusak moral bangsa dan merugikan seluruh lapisan masyarakat, sehingga harus dilakukan penyidikan sampai

Lebih terperinci

HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DILINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /PERMEN-KP/2017 TENTANG PENANGANAN TINDAK PIDANA PERIKANAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 15 TAHUN 2006 SERI E =============================================================== PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 5 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG,

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 5 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG, PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 5 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG, Menimbang : a. bahwa berdasarkan pasal 149 ayat (2) dan ayat

Lebih terperinci

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT RESOR DOMPU STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SAT RES NARKOBA

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT RESOR DOMPU STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SAT RES NARKOBA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT RESOR DOMPU STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SAT RES NARKOBA Dompu 2 Januari 2016 1 KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA

Lebih terperinci

DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Penyelidikan dan Penyidikan. Pengertian penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Penyelidikan dan Penyidikan. Pengertian penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penyelidikan dan Penyidikan Pengertian penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan

Lebih terperinci

PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DILINGKUNGAN PEMERINTAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II UJUNG PANDANG

PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DILINGKUNGAN PEMERINTAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II UJUNG PANDANG WALIKOTA MAKASSAR PERATURAN DAERAH KOTA MAKASSAR NOMOR 2 TAHUN 1988 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DILINGKUNGAN PEMERINTAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II UJUNG PANDANG BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR - 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL GUBERNUR

Lebih terperinci

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, T

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, T No. 339, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BNN. Pencucian Uang. Asal Narkotika. Prekursor Narkotika. Penyelidikan. Penyidikan. PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG PENYELIDIKAN

Lebih terperinci

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Ta

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Ta No.407, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENATR/BPN. PPNS. Penataan Ruang. PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI

Lebih terperinci

BAB II PENGATURAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA

BAB II PENGATURAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA BAB II PENGATURAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA A. Undang Undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban Undang - undang ini memberikan pengaturan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO NOMOR : 7 TAHUN 2006 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB II PRAPERADILAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA. A. Sejarah Praperadilan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

BAB II PRAPERADILAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA. A. Sejarah Praperadilan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia BAB II PRAPERADILAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA A. Sejarah Praperadilan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

Lebih terperinci

PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 05 TAHUN 2015 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 05 TAHUN 2015 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 05 TAHUN 2015 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA METRO, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penegakan atas

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2010 S A L I N A N

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2010 S A L I N A N 4 Nopember 2010 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2010 S A L I N A N SERI E NOMOR 3 Menimbang : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, Menimbang a. bahwa Peraturan Daerah Kabupaten Bulungan Nomor

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG

PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 2 TAHUN 2013

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 2 TAHUN 2013 SALINAN PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI SELATAN,

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG KOORDINASI, PENGAWASAN DAN PEMBINAAN PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG KOORDINASI, PENGAWASAN DAN PEMBINAAN PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG KOORDINASI, PENGAWASAN DAN PEMBINAAN PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUN PUSTAKA. Hukum acara pidana di Belanda dikenal dengan istilah strafvordering,

BAB II TINJAUN PUSTAKA. Hukum acara pidana di Belanda dikenal dengan istilah strafvordering, BAB II TINJAUN PUSTAKA 2.1 Pengertian Hukum Acara Pidana Hukum acara pidana di Belanda dikenal dengan istilah strafvordering, menurut Simons hukum acara pidana mengatur tentang bagaimana negara melalui

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS

PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG. Nomor 7 Tahun 2000 Seri D PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG. Nomor 7 Tahun 2000 Seri D PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG Nomor 7 Tahun 2000 Seri D PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 19 TAHUN 2000 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL ( PPNS ) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SELAYAR. dan BUPATI SELAYAR

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SELAYAR. dan BUPATI SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SELAYAR NOMOR 21 TAHUN 2006 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SELAYAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SELAYAR, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU NOMOR : 5 TAHUN 2009 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU NOMOR : 5 TAHUN 2009 TENTANG PEMERINTAH PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU NOMOR : 5 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL (PPNS) DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

Modul E-Learning 3 PENEGAKAN HUKUM

Modul E-Learning 3 PENEGAKAN HUKUM Modul E-Learning 3 PENEGAKAN HUKUM Bagian Kedua, Penyidikan Oleh Kepolisian RI 3.2 Penyidikan Oleh Kepolisian RI 3.2.1 Penyelidikan Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan

Lebih terperinci

SALINAN. jdih.bulelengkab.go.id

SALINAN. jdih.bulelengkab.go.id PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULELENG NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL ( PPNS ) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULELENG, SALINAN Menimbang : a. bahwa keberadaan dan peranan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BONTANG

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BONTANG RGS Mitra Page 1 of 9 PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BONTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BONTANG, Menimbang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENCABUTANKETERANGAN TERDAKWA DALAM BERITA ACARA PEMERIKSAAAN (BAP) DAN TERDAKWA

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENCABUTANKETERANGAN TERDAKWA DALAM BERITA ACARA PEMERIKSAAAN (BAP) DAN TERDAKWA BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENCABUTANKETERANGAN TERDAKWA DALAM BERITA ACARA PEMERIKSAAAN (BAP) DAN TERDAKWA 2.1. Pengertian Berita Acara Pemeriksaaan (BAP) Dan Terdakwa Sebelum masuk pada pengertian

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PEJABAT PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PROVINSI LAMPUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PEJABAT PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PROVINSI LAMPUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PEJABAT PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PROVINSI LAMPUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG, Menimbang Mengingat : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 3 2013 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BEKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI,

NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI, 1 BUPATI BANYUWANGI BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP) NOMOR 8 TAHUN 1981

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP) NOMOR 8 TAHUN 1981 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP) NOMOR 8 TAHUN 1981 Bab I Ketentuan Umum Bab II Ruang Lingkup Berlakunya Undang-undang Bab III Dasar Peradilan Bab IV Penyidik dan Penuntut Umum Bagian Kesatu:

Lebih terperinci

-1- QANUN ACEH NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG HUKUM ACARA JINAYAT BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG

-1- QANUN ACEH NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG HUKUM ACARA JINAYAT BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG -1- QANUN ACEH NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG HUKUM ACARA JINAYAT BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI BARAT

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI BARAT,

Lebih terperinci

NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA,

NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, 1 SALINAN BUPATI JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI ACEH TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya

Lebih terperinci

BUPATI BUTON PROVINSI SULAWESI TENGGARA

BUPATI BUTON PROVINSI SULAWESI TENGGARA BUPATI BUTON PROVINSI SULAWESI TENGGARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BUTON NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BUTON DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL - 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 19 TAHUN 2001 TENTANG IJIN MEMAKAI TANAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN,

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 19 TAHUN 2001 TENTANG IJIN MEMAKAI TANAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN, PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 19 TAHUN 2001 TENTANG IJIN MEMAKAI TANAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN, Menimbang : a. bahwa pada dasarnya setiap penguasaan ataupun memakai

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memberikan

Lebih terperinci

BUPATI BATANG HARI PROVINSI JAMBI

BUPATI BATANG HARI PROVINSI JAMBI SALINAN BUPATI BATANG HARI PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG HARI NOMOR : 5 TAHUN 2016 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BATANG HARI, Menimbang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 8 TAHUN 2015 BUPATI KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT

Lebih terperinci

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL - 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PELAKSANAAN PENINDAKAN TERHADAP PELANGGARAN PERATURAN DAERAH DAN PERATURAN BUPATI OLEH SATUAN POLISI PAMONG PRAJA DAN PENYIDIK PEGAWAI

Lebih terperinci