BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
|
|
|
- Yanti Sanjaya
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebuah karya arsitektur selalu bertujuan untuk menunjang dan mendukung kehidupan penggunanya. Pengguna karya arsitektur juga sering disebut sebagai user. User bisa berasal dari berbagai kalangan ekonomi, sosial, maupun golongan usia. Dalam mendesain sebuah karya arsitektur, pertimbangan akan user dalam karya kita adalah hal yang sangat penting. Siapa yang akan menggunakan karya kita dan bagaimana kita ingin mereka menggunakannya, menjadi pedoman dalam setiap perancangan desain arsitektur. Hasil karya arsitektur yang paling mudah kita lihat adalah tempat tinggal kita sendiri. Dalam sebuah tempat tinggal akan diisi oleh orang dari berbagai latar belakang profesi, tingkatan sosial, gender dan usia.. Bila dalam kehidupan keseharian kita berada di ruang yang didesain baik untuk kita maka dalam lingkungan tempat tinggal hal ini perlu lebih diperhatikan. Sayang dalam prakteknya, arsitek seringkali mendesain untuk orang dewasa yang masih sehat dan aktif. Di dalam sebuah keluarga selalu ada orang lanjut usia yang lebih membutuhkan perhatian khusus karena sudah menurunnya kemampuan mereka baik dari segi fisik maupun ingatan. Orang tua atau lansia memiliki keterbatasan yang perlu kita perhatikan sebagai pertimbangan untuk mendesain. Tubuh yang sudah bertambah tua tidak lagi dapat menyokong kegiatan-kegiatan seperti saat mereka masih aktif. Hal ini juga didukung dengan terbatasnya kemampuan para lansia dalam berpikir karena kemampuan otak yang menurun. Penurunan kondisi tubuh perlu diseimbangkan dengan penyediaan ruang yang lebih memudahkan mereka dalam beraktivitas. Kalangan lansia dengan keterbatasan fisiknya akan mengalami kesulitan dalam beraktivitas. Bagi orang lanjut usia juga dianjurkan adanya ruang-ruang yang memudahkan mereka untuk berinteraksi satu 1
2 dengan yang lain sehingga kinerja otak mereka tetap aktif dan terhindar dari stress berlebih. Memasukkan unsur vernakular dalam desain yang ramah bagi orang lanjut usia juga salah satu cara yang ramah bagi orang lanjut usia agar mereka merasa nyaman dan betah untuk berada di rumah. Kondisi-kondisi semacam inilah yang perlu dihadirkan oleh arsitek dalam setiap perancangan rumah tinggalnya dan ini membutuhkan penanganan khusus dari arsitek sebagai perancang tempat tinggal. Dycthwald (Age Wave: The Challenges and Opportunities of an Aging America.New York: St. Martin s Press, 1989) seorang ahli gerontologi dan pembicara yang terkemuka mempelopori pembahasan tentang age wave. Age wave adalah keadaan yang terjadi di sebuah negara maju dimana masyarakatnya memiliki rentan usia yang lebih panjang dengan angka kelahiran yang rendah sehingga jumlah lansia akan terus bertambah. Berdasarkan Dycthwald, keadaan ini akan terjadi di seluruh dunia dan desain bangunan khususnya akan terpengaruh oleh keadaan ini. Situasi ini sudah berkembang ke Asia dan dihimbau agar penduduk Asia mulai serius dalam menanggapi masalah perumahan lansia sama seperti negara maju di benua Eropa seperti Swedia dan Jerman. Ada 2 konflik yang terjadi ketika Negara-negara Asia mengadaptasi desain hunian lansia dari Negara-negara Barat, yang pertama adalah adanya ketidakcocokan pada ketentuan bangunan dari Negara-negara Barat dengan adat di Asia. Hal yang kedua adalah sering terjadi konflik secara norma dalam menentukan ruang publik dan privat. Kedua hal inilah yang mengakibatkan sulitnya menemukan kriteria perancangan hunian lansia yang dianggap sesuai bagi negara di Asia. Aturan desain di Amerika sudah memiliki ketentuan dalam mendesain seperti pengamanan kebakaran, sirkulasi udara, akses, ketinggian reling, garis sempadan bangunan hingga letak pintu keluar ( Goodman & Smith, 1992 ). Hal ini kadang dapat bertentangan dengan kebudayaan dari Asia yang mengakibatkan area-area seperti kamar tidur, dapur bahkan koridor sirkulasi kehilangan fungsionalitasnya. Sebagai contoh, bagi masyarakat China, Feng Shui adalah aturan yang penting dalam desain 2
3 khususnya desain ruang. Aturan Feng Shui dapat mempengaruhi banyak elemen ruang seperti peletakan ranjang, kompor, dan cermin dalam ruangan yang terkadang berbeda dengan aturan desain dari Negara-negara Barat. Salah satu contoh lain adalah rumah bagi kalangan pensiunan di India. Adanya pembagian kasta dan derajat pria serta wanita mengakibatkan adanya desain koridor-koridor yang memutar untuk menghindari pertemuan antar kasta yang berbeda. Selain itu, terjadi perubahan dalam mendesain area makan agar mengikuti aturan kehalalan. Konflik secara norma terjadi ketika mendesain ruang privat dan publik. Perbedaan budaya di kedua wilayah mengakibatkan perbedaan norma spasial dalam mendefinisikan ruang privat dan publik. Sebagai contoh, rumah panti jompo di India menerapkan pola desain asrama. Pola desain ini bertentangan dengan aturan desain di Negara Barat yang memiliki ruang tidur privat dan semi-privat. Di Sada Sukhi Ashram terdapat 10 buah pondok yang masing-masing pondoknya berisi ruang tidur bersama bagi para lanjut usia. Studi-studi dari karya arsitektur di Negara-negara Barat bagi lansia akan semakin membantu kita dalam menemukan kriteria perancangan desain yang dianggap sesuai bagi kalangan lansia di wilayah Asia khususnya Indonesia. Di Indonesia saat ini sudah mulai terlihat adanya fasilitas-fasilitas yang melayani kalangan lansia. Sebagai contoh, di ibukota Jakarta kita pernah menemui panti jompo atau wreda yang memfasilitasi kebutuhan kalangan lansia. Sayangnya, antisipasi tentang kebutuhan kalangan lansia secara desain belum banyak terlihat di Jakarta bahkan Indonesia. Ada beberapa perbedaan dalam metode mendesain untuk kalangan umum dan kalangan lanjut usia. Sebagai contoh, sirkulasi di bangunan untuk kalangan umum lebih mengutamakan prinsip efisiensi dan estetika tetapi dalam bangunan untuk kalangan lansia sirkulasi juga harus menambahkan elemen kenyamanan dan keamanan karena kemampuan fisik lansia yang terbatas. Tangga yang curam dan tinggi tidak dapat diterapkan dalam bangunan bagi kalangan lansia. 3
4 Gambar 1.1: Lansia memerlukan sirkulasi yang lebih lebar (Sumber: Elderly Housing, 2010) Dalam buku Inclusive Urban Design: Streets For Life (2006) dijelaskan bahwa untuk menciptakan desain ruang yang lebih memudahkan bagi lansia harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu keakraban (Familiarity), mudah dibaca (Legibility), jelas (Distinctiveness), mudah dicapai (Accessibility), nyaman (Comfort) dan aman (Security). Persyaratan ini tidak hanya perlu diterapkan pada desain bangunan tetapi juga pada desain lingkungan agar lansia dapat lebih mudah dalam menjalankan kegiatan sehari-hari mereka. Ketika mencapai usia lanjut manusia cenderung mengalami penurunan kemampuan kerja baik fisik maupun otak. Penurunan ini akan mempengaruhi segala tindakan dan pemikiran dari orang tersebut yang biasanya keadaan ini terjadi pada usia paruh baya. Penurunan dapat berlanjut menjadi sebuah penyakit yang disebut dementia/hilang ingatan. Dementia adalah keadaan dimana manusia kehilangan banyak kemampuan kognitifnya yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk memproses protein sehingga berakibat menurunnya daya ingat, konsentrasi, kemampuan berbahasa, dan kemampuan memecahkan masalah. Dementia merupakan penyakit yang umumnya muncul bila kita sudah mencapai usia lanjut. Dementia 4
5 sering menjadi faktor yang menyulitkan kalangan lansia untuk melangsungkan kehidupan mereka. Gambar 1.2: Penderita Dementia Takut untuk Keluar dari Rumah (Sumber: Elderly Housing,, 2010) Kesulitan ini sering terjadi pada saat kalangan lansia harus menggunakan fasilitas umum yang didesain untuk kalangan yang masih muda dan aktif. Akibatnya, kalangan lansia menjadi merasa tidak diterima dan diperhatikan oleh masyarakat. Apabila hal ini terus berlanjut dapat mengarah kepada penurunan minat bersosialisasi. Bagi kalangan lansia, sosialisasi adalah salah satu kebutuhan yang penting karena dengan bersosialisasi maka lansia dapat menjaga kesehatan ingatan mereka. Hal ini memerlukan tindakan yang serius dari kita sebagai arsitek untuk menciptakan desain-desain yang dianggap sesuai bagi kalangan lansia. Desain ini tidak hanya pada hunian mereka tetapi juga pada lingkungan sekitar mereka dimana aktivitas dan kehidupan berlangsung. Berdasarkan buku Design Innovations For Aging and Alzheimer s (2006: 3-17) dijelaskan beberapa masalah yang dihadapi oleh para lansia dalam sebuah hunian akibat usia dan penyakit. Beberapa diantaranya adalah: 1. Kalangan lansia khususnya wanita yang terkena osteoporosis akan kehilangan mobilitas mereka dan mengakibatkan kesulitan ketika melewati pola sirkulasi 5
6 yang didesain bagi kalangan aktif. Sebagai contoh : tangga atau ramp yang terlalu curam. 2. Kalangan lansia yang menggunakan kursi roda akan mengalami kesulitan untuk melewati lorong atau pintu yang didesain untuk kalangan aktif karena ukurannya yang terlalu kecil. 3. Kalangan lansia yang menurun daya ingatnya akan mudah tersesat di daerah yang ramai. 4. Kalangan lansia akan membutuhkan lebih banyak olahraga di udara terbuka untuk menjaga kebugaran. Hal ini akan sulit dicapai apabila mereka tinggal di area yang padat tanpa adanya ruang terbuka yang memadai. Bila kita dapat menyelesaikan beberapa masalah-masalah kalangan lansia seperti di atas maka akan semakin membantu mereka dalam kelangsungan hidup mereka, bahkan dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Perkembangan jaman saat ini sudah mengarah kepada masalah peningkatan jumlah lansia dan apabila tidak diantisipasi maka kalangan ini akan terlantar. Adanya studi penelitian ini, diharapkan menjadi salah satu bentuk antisipasi dari masalah tersebut sehingga kalangan lansia khususnya di Indonesia saat ini dapat lebih diperhatikan kebutuhannya oleh arsitek sebagai perancang. 1.2 Perumusan Masalah Ketika memasuki masa lansia, kebutuhan ruang seseorang akan berubah. Sayangnya hingga saat ini masih belum banyak upaya untuk menciptakan hunian yang merespon terhadap kebutuhan lansia di Indonesia. Dari permasalahan ini maka muncullah sebuah pertanyaan yaitu apa saja kriteria desain yang baik untuk mendesain sebuah hunian bagi orang tua khususnya lansia. 6
7 1.3 Tujuan Penelitian Setelah mengetahui tentang sedikitnya respon desain terhadap kebutuhan lansia di Indonesia, maka dibuatlah penelitian ini yang bertujuan untuk menemukan kriteria-kriteria desain perancangan hunian yang dianggap sesuai bagi kalangan lanjut usia. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi studi-studi tidak terbatas dalam bidang arsitektur tetapi bidang lain yang ingin menghadirkan hunian yang dianggap sesuai bagi kalangan lanjut usia di masa yang akan datang. 1.5 Metode Penelitian Dalam menyelesaikan masalah di atas, penulis akan memulai dengan studi literatur. Dari studi literatur, akan dicari contoh-contoh desain yang ramah terhadap orang lanjut usia baik dari segi eksterior, interior, pemilihan material, organisasi ruang, dan program. Selain itu, dari studi literatur dapat diketahui apa saja persyaratan bangunan yang baik untuk orang lanjut usia. Studi ini akan dilanjutkan dengan penjabaran studi-studi kasus dari dalam negeri maupun luar negeri untuk dilakukan perbandingan. Dari perbandingan dan studi literatur akan ditemukan jenis-jenis penerapan desain hunian yang dianggap sesuai untuk diterapkan khususnya untuk daerah ibukota Jakarta. Studi akan dilanjutkan dengan mencari tahu apa saja kebutuhan ruang yang diperlukan oleh orang lanjut usia dan persyaratan apa saja yang diperlukan untuk mendukung kebutuhan ruang mereka. 1.6 Asumsi Permasalahan yang ada di kalangan lansia khususnya di Indonesia saat ini adalah belum ditemukan kriteria perancangan hunian lanjut usia yang dianggap sesuai 7
8 di Indonesia. Tanpa adanya antisipasi yang baik akan mengakibatkan kalangan lansia terlantar. Kriteria desain yang dianggap sesuai bagi kalangan lansia sangat dibutuhkan dan ini perlu diterapkan dalam hunian dan lingkungan hunian mereka sehingga dalam kesehariannya kalangan lansia ini dapat menikmati kehidupan mereka dengan lebih baik. Penjelasan yang telah disebutkan di atas dalam buku Inclusive Urban Design: Streets For Life (2006), dapat kita rumuskan kesimpulan sementara mengenai syarat sebuah desain yang dianggap sesuai untuk lansia yaitu: 1. Keakrababan (Familiarity). 2. Keterbacaan (Legibility). 3. Kejelasan (Distinctiveness). 4. Akses yang mudah (Accesibility). 5. Kenyamanan (Comfort). 6. Keamanan (Security). Dengan tercapainya persyaratan di atas maka diharapkan hunian yang sesuai bagi kalangan lansia akan semakin terwujud khususnya melalui penyelesaian desain baik dalam bangunan maupun di lingkungan hunian. Pencapaian sebuah hunian kalangan lanjut usia yang sesuai tidak hanya berhenti pada titik kriteria desain saja, tetapi perlu dipertimbangkan alasan-alasan mengapa sebuah hunian lansia adalah pilihan terakhir bagi kalangan lansia. 1.7 Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN Berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian, metode penelitian, pendekatan pemecahan masalah, dan sistematika penulisan. 8
9 BAB II LANDASAN TEORI Menjelaskan tentang uraian perkembangan kalangan lansia, pengertian dementia pada lansia, dan perkembangan panti wreda yang akan menjadi dasar dalam menemukan kriteria yang dianggap sesuai untuk hunian lanjut usia di Indonesia. Penjelasan dalam bab ini akan disertai dengan studi kasus dari hunian lansia dari dalam dan luar negeri untuk membantu dalam menemukan kriteria program dan tapak yang paling tepat. BAB III USULAN TAPAK DAN PROGRAM Menjelaskan tentang analisa tapak yang sesuai, program-program yang akan digunakan pada bangunan, dan konsep perancangan yang dapat mendukung perkembangan hunian lansia di Jakarta. BAB IV LAPORAN PERANCANGAN Berisi tentang penjelasan yang menjabarkan proses perancangan hunian bagi kalangan lanjut usia yang akan diusulkan. Laporan perancangan ini akan dimulai dari penjelasan konsep, pembagian zoning, dan tahapan desain berdasarkan diagramdiagram yang telah dibuat. 9
BAB I PENDAHULUAN. kesulitan dalam menggunakan panca indera, muncul berbagai penyakit yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setelah memasuki usia 60 tahun, manusia pada umumnya mengalami penurunan fungsi tubuh baik secara fisik maupun mental. Secara fisik, manusia mengalami kesulitan dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan data dari berbagai sumber, salah satu indikator keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduknya.
BAB 1 PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Persentase penduduk lansia di dunia, Asia dan Indonesia tahun
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang proyek Indonesia termasuk negara dengan proses penuaan penduduk cepat di Asia Tenggara. Upaya pembangunan dalam mengurangi angka kematian berdampak pada perubahan
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha. (Sumber:
BAB I PENDAHULUAN Pengertian panti jompo menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata panti jompo diartikan sebagai tempat merawat dan menampung jompo. Perda No, 15 Tahun 2002 mengenai Perubahan atas Perda
Tabel Kegiatan Lansia dan Persentase Kegiatan Hari Ke-1. Kegiatan Nonton TV 2/ % - Baca koran/buku 4/ % - Melakukan hobi/
Lampiran 1 Hari Ke-1: 16 Maret 2015 Tabel Kegiatan Lansia dan Persentase Kegiatan Hari Ke-1 Waktu Jenis Aktivitas/ Jumlah Persentase Penelitian Kegiatan Lansia 13.00 - Nonton TV 2/32 6.25% - Baca koran/buku
BAB I PENDAHULUAN A. JUDUL B. LATAR BELAKANG MASALAH. Desain Interior Lansia Therapist Center di Surakarta dengan Konsep. Surga
BAB I PENDAHULUAN A. JUDUL Surga Desain Interior Lansia Therapist Center di Surakarta dengan Konsep B. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan salah satu negara dengan proses penuaan paling cepat di
BAB I PENDAHULUAN. Diagram 1.1. Data Statistik Kenaikan Angka Lansia Sumber: Badan Pusat Statistik,2010
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan pola hidup di masyarakat pun mulai berubah baik dari segi sosial, ekonomi, dan budaya. Masyarakat masa kini tentunya menganut sistem pola hidup modern terutama
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Perancangan Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Setia 5.1.1. Gaya Perancangan Gaya arsitektur yang dipakai pada bangunan Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Setia ini direncanakan
BAB I PENDAHULUAN. Directorat Data Center UBiNus)
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Universitas Bina Nusantara adalah salah satu universitas di Jakarta yang banyak diminati oleh orang banyak. Mahasiswa Universitas Bina Nusantara yang berasal dari dalam
ABSTRAK. Kata Kunci: aksesibilitas, desain, ergonomi, lansia, ruang makan. vii Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Dasar pemikiran yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah fasilitas hunian untuk lansia, karena kita ketahui panti jompo adalah salah satu tempat menampung atau merawat lansia, dan panti
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semua manusia itu membutuhkan fasilitas-fasilitas penunjang yang dapat dijadikan sandaran hidup. Area public yang diharuskan dapat membuat seluruh manusia nyaman
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan V.1.1 Topik dan Tema Proyek Hotel Kapsul ini menggunakan pendekatan sustainable design sebagai dasar perencanaan dan perancangan.
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisa yang dilakukan, terdapat beberapa variabel aksesibilitas dan penataan ruang berdasarkan sistem terapi yang perlu diperhatikan
DATTA SAGALA WIDYA PRASONGKO, 2016 PERSEPSI PENGGUNA TERHADAP SISTEM SIRKULASI GEDUNG FPTK UPI
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Arsitektur adalah ilmu dan seni dalam perencanaan dan perancangan lingkungan binaan, mulai dari lingkup makro hingga lingkup mikro. Dalam arti yang lebih sempit, arsitektur
BAB I PENDAHULUAN. pemukiman kumuh di kota yang padat penduduk atau dikenal dengan istilah urban
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kota Jakarta sebagai ibu kota negara yang terus berkembang mengalami permasalahan dalam hal penyediaan hunian yang layak bagi warga masyarakatnya. Menurut data kependudukan,
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan rangkuman dari ide-ide pokok dari bab-bab sebelumnya, pada tahap ini penyajian telah sampai pada tahap akhir. 5.1 SIMPULAN Desain melalui kajian empirik ( yang
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seperti kita ketahui, saat ini pembangunan gedung-gedung untuk berbagai kepentingan masyarakat tumbuh dengan sangat pesat. Berbagai gedung baru seperti gedung perkantoran,
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Panti jompo adalah sebuah rumah atau tempat penampungan untuk manusia lanjut usia. Sebuah sarana dimana manula diberikan fasilitas, layanan 24 jam, jadwal aktifitas,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah susun adalah sebuah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam
PENDAHULUAN BAB I. Latar Belakang. Kota Jakarta, ibukota negara sekaligus sebagai pusat ekonomi dan pusat
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kota Jakarta, ibukota negara sekaligus sebagai pusat ekonomi dan pusat pendidikan di negara kita, memiliki berbagai sarana dan prasarana penunjang kehidupan yang sangat
BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk kota Yogyakarta berdasarkan BPS Propinsi UKDW
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan penduduk kota Yogyakarta berdasarkan BPS Propinsi Daerah Ibukota Yogyakarta mulai dari tahun 2008 yang memiliki jumlah penduduk 374.783 jiwa, pada tahun
BAGIAN 3 HASIL RANCANGAN DAN PEMBUKTIANNYA
BAGIAN 3 HASIL RANCANGAN DAN PEMBUKTIANNYA 1.1.1.1 Narasi dan Ilustrasi Skematik Hasil Rancangan Hasil yang akan dicapai dalam perancangan affordable housing dan pertanian aeroponik ini adalah memecahkan
para1). BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Menjadi tua merupakan suatu proses perubahan alami yang terjadi pada setiap individu. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan 60 tahun sampai 74 tahun sebagai
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berbagai alasan yang membuat para lansia ditempatkan pada panti lansia, diantaranya mereka merasa lebih senang ketika berkumpul dengan teman-teman segenerasinya (seusia),
BAB 1 PENDAHULUAN. manusia disamping kebutuhan sandang dan pangan. Dikatakan sebagai
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah atau tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar (primer) manusia disamping kebutuhan sandang dan pangan. Dikatakan sebagai kebutuhan dasar (basic human
BAB I PENDAHULUAN. Jepang 129%, Jerman 66%, dan Swedia 33% (Depkes,2003). Indonesia termasuk salah satu negara Asia yang pertumbuhan penduduk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah penduduk lansia (lanjut usia) Indonesia pada tahun 2025 dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1990 akan mengalami kenaikan sebesar 414% dan hal ini merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari tabel jumlah penduduk yang dilakukan dari Sensus Penduduk
PERANCANGAN INTERIOR PADA PANTI JOMPO KELAS PREMIUM DI SEMARANG
PERANCANGAN INTERIOR PADA PANTI JOMPO KELAS PREMIUM DI SEMARANG Yosephine Brenda Mathovani Binus University, Jl. Kebon Jeruk Raya No. 27, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11530 (021) 53696969 [email protected]
BAB IV KONSEP PERANCANGAN. Tujuan dari perancangan Pusat Gerontologi di Jawa Barat merupakan
BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1. TUJUAN PERANCANGAN Tujuan dari perancangan Pusat Gerontologi di Jawa Barat merupakan sebuah fasilitas kesehatan berupa hunian bagi kaum lansia agar dapat terlihat lebih nyaman
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Manusia memiliki sifat dasar yaitu sebagai mahluk sosial artinya mahluk yang selalu tergantung dengan manusia lainnya, saling membutuhkan, senantiasa berhubungan satu
BAB IV: KONSEP. c) Fasilitas pendukung di hotel (event-event pendukung/pengisi kegiatan kesenian di hotel)
BAB IV: KONSEP 4.1. Konsep Dasar Menitikberatkan HERITAGE sebagai acuan dasar konsep perancangan agar menjadi pertimbangan dalam perencanaan dan wujud produknya, meliputi antara lain: a) Aspek arsitektural
BAB I PENDAHULUAN. Service), serta media alam sebagai media pembelajaran dan tempat. school melalui penyediaan fasilitas yang mengacu pada aktivitas
1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Berdirinya Boarding School bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pendidikan dan menanamkan nilai-nilai tertentu yang tidak didapatkan pada sekolah-sekolah
BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki
BAB V KONSEP 5.1 Konsep Perancangan Tapak 5.1.1 Pencapaian Pejalan Kaki Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki Sisi timur dan selatan tapak terdapat jalan utama dan sekunder, untuk memudahkan
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber:
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Olahraga dapat menjadi batu loncatan sebagai pemersatu bangsa, daerah dan negara lainnya, baik di dalam skala nasional maupun internasional. Dalam setiap skala, negara-negara
Kata kunci : lansia, panti wreda, home not alone, American classic.
ABSTRAK Proses penuaan adalah suatu proses yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Setiap hari manusia semakin bertambah tua, dengan bertambah tua maka manusia memiliki kemunduran fungsi-fungsi tubuh seperti
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan perekonomian dan pembangunan di Indonesia yang didukung kegiatan di sektor industri sebagian besar terkonsentrasi di daerah perkotaan yang struktur dan infrastrukturnya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa ini penitipan orang tua ke panti jompo menjadi alternatif pilihan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini penitipan orang tua ke panti jompo menjadi alternatif pilihan bagi anak yang memiliki kegiatan yang padat atau bekerja dalam waktu yang lama. Di
PENDAHULUAN. Berbicara tentang tempat tinggal, kota Jakarta menyediakan lahan yang
PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Berbicara tentang tempat tinggal, kota Jakarta menyediakan lahan yang diperuntukan sebagai lahan untuk tempat tinggal yaitu seluas 45964,88 Ha, dengan keterbatasan lahan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Atlet dituntut untuk selalu memiliki kondisi tubuh yang prima, terutama pada musim pertandingan untuk mencapai hasil yang optimal. Seperti yang dikemukakan oleh Sajoto
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Olahraga merupakan kegiatan jasmani yang dilakukan dengan maksud untuk memelihara kesehatan dan memperkuat otot-otot tubuh. Kegiatan ini dalam perkembangannya dapat
BAB I PENDAHULUAN. pemakaian energi karena sumbernya telah menipis. Krisis lingkungan sangat mempengaruhi disiplin arsitektur di setiap
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Arsitek pada jaman ini memiliki lebih banyak tantangan daripada arsitekarsitek di era sebelumnya. Populasi dunia semakin bertambah dan krisis lingkungan semakin menjadi.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pemahaman Judul Tanjung Emas Container (Peti Kemas) Apartement
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pemahaman Judul Tanjung Emas Tanjung Emas adalah suatu kawasan pelabuhan yang berada di daerah pesisir utara jawa, dan berada disebelah utara kawasan kota Semarang. Pelabuhan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan budaya dan teknologi semakin lama semakin berkembang, perkembangan ini juga diikuti oleh perkembangan di dalam dunia kuliner. Dunia kuliner merupakan hal
PENYESUAIAN DIRI PADA LANSIA YANG TINGGAL DI PANTI WREDHA
PENYESUAIAN DIRI PADA LANSIA YANG TINGGAL DI PANTI WREDHA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh : SANTI SULANDARI F 100 050 265 FAKULTAS PSIKOLOGI
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Beberapa hal yang menjadi dasar perencanaan dan perancangan Asrama Mahasiwa Bina Nusantara: a. Mahasiswa yang berasal dari
ABSTRAK. Kata kunci : aksesibilitas, kenyamanan spasial, area publik, pengunjung.
ABSTRAK Tempat makan dengan konsep yang tertata ditunjang makanan enak tidaklah cukup untuk memenuhi kriteria menjadi sebuah tempat makan yang baik. Visualisasi yang baik bukan merupakan jaminan bagi sebuah
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Eksistensi Proyek. kota besar di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1 Latar Belakang Eksistensi Proyek Meningkatnya kebutuhan akan rumah, terbatasnya lahan, serta tingginya nilai lahan menjadi fenomena umum yang terjadi hampir
Apartemen untuk Wanita di Kota Semarang I. PENDAHULUAN
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Semarang sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat. Hal ini membuat banyak orang tertarik untuk bekerja dan mencari nafkah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dunia pendidikan adalah salah satu bidang yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat sekarang ini, terlebih lagi dengan adanya program pemerintah yang mewajibkan
BAB I: PENDAHULUAN Latar Belakang Proyek.
BAB I: PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proyek Universitas Mercu Buana merupaan salah satu universitas swasta di Jakarta yang saat ini banyak diminati oleh murid-murid yang baru lulus SMA/SMK maupun oleh
BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Perkembangan dalam bidang perekonomian semakin meningkat, di
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 LATAR BELAKANG Perkembangan dalam bidang perekonomian semakin meningkat, di tambah dengan kebutuhan hidup sehari hari yang harus terpenuhi. Suatu lahan kota akan mengalami perkembangan,
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanpa disadari kehidupan anak terlantar di Indonesia semakin meningkat, yang termasuk di dalam nya yaitu anak yatim piatu, anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya,
BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan manusia seringkali terjadi konflik yang tidak dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia seringkali terjadi konflik yang tidak dapat dihindarkan dan sulit untuk diselesaikan. Umat manusia diberikan akal dan pikiran agar dapat memecahkan
2016 BANDUNG SPORTS CLUB
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perancangan Bandung sebagai salah satu kota besar di Indonesia, pada perkembangannya tergolong cukup pesat. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya populasi
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Sebuah bangunan baru dapat berfungsi apabila bangunan tersebut dapat mengakomodir aktifitas dari fungsi yang terdapat di dalamnya. Pemakai bangunan adalah setiap orang
Pusat Kesejahteraan Lansia di Batang
TUGAS AKHIR 138 LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Pusat Kesejahteraan Lansia di Batang Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik Oleh: DEWI
BAB IV: KONSEP Konsep Bentuk Massa Bangunan
BAB IV: KONSEP 4.1. Konsep Bentuk Massa Bangunan Dari hasil analisa pada lokasi tapak, diperoleh zoning peletakan masa bangunan pada bagian sisi timur yaitu yang berhadapan dengan Universita Mercu Buana
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 24 sampai dengan 31 Juni 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. Jakarta, seperti yang telah kita ketahui, merupakan kota dengan populasi
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Jakarta, seperti yang telah kita ketahui, merupakan kota dengan populasi penduduk terpadat di Indonesia dan merupakan salah satu kota dengan penduduk terpadat di dunia.
BAB V KONSEP. V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan. Konsep desain untuk fungsi M al dan Apartemen ini mencoba menampung kegiatankegiatan
BAB V KONSEP V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan Konsep desain untuk fungsi M al dan Apartemen ini mencoba menampung kegiatankegiatan yang terjadi di sekitar tapak, khusunya jalur pejalan kaki dan kegiatan
BAB I PENDAHULUAN. lingkungan kota baik dari skala mikro maupun makro (Dwihatmojo)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Ruang terbuka merupakan ruang publik yang digunakan masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, dan sebagai sarana rekreatif. Keberadaan ruang terbuka juga bermanfaat
UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN
BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Pengguna interior dan fasilitas ruang yang ada di wisma lansia J.Soenarti Nasution Bandung bukan hanya para lansia dengan kondisi fisik sehat maupun menurun yang memang merasakan,
RUMAH SUSUN SEDERHANA DI SEMARANG
LANDASAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR RUMAH SUSUN SEDERHANA DI SEMARANG Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik Disususn oleh : ISWANTO TOTOU L2B 002
BAB 5 HASIL RANCANGAN
BAB 5 HASIL RANCANGAN 6. Desain Bangunan Desain bangunan pertunjukan seni ini memiliki bentuk kotak masif untuk efisiensi bentuk bangunan dan ruang bangunan. Bentuk bangunan yang berbentuk kotak masif
BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK
BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK 2.1. DESKRIPSI PROYEK Pemilihan lokasi proyek berada di Jln Gudang air No. 14 C Kampung Dukuh, Jakarta Timur, karena lokasi tersebut sesuai Implementasi kebijakan provinsi DKI
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan pada Bab IV didapatkan temuan-temuan mengenai interaksi antara bentuk spasial dan aktivitas yang membentuk karakter urban
Rusunawa Buruh di Kawasan Industri Mangkang Semarang
TUGAS AKHIR 36 Periode Januari Juni 2011 Rusunawa Buruh di Kawasan Industri Mangkang Semarang Disusun Oleh : MIRNA PUTRI KARTIKA NIM. L2B 309 017 Dosen Pembimbing : M. Sahid Indraswara, ST, MT Sukawi,
BAB III: TAHAP FINALISASI METODE PENELITIAN
BAB III: TAHAP FINALISASI METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Pendekatan dengan menggunakan metode komparatif mengenai ergonomi sebagai landasan dalam penelitian yang telah banyak dilakukan oleh beberapa
PENDEKATAN KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pendekatan konsep untuk tata ruang dan tata fisik
BAB IV PENDEKATAN KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 4. 1 Pendekatan Konsep Dasar Perencanaan 4. 1. 1 Pendekatan Konsep Tata Ruang Makro Pendekatan konsep untuk tata ruang dan tata fisik bangunan
BAB 1 PENDAHULUAN. tinggal, seperti ruang tidur, ruang makan, dan kamar mandi. Karena bersifat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perancangan Hotel merupakan fasilitas akomodasi yang menyediakan sarana penginapan sekaligus pelayanan makanan dan minuman yang bersifat komersil. Secara umum,
Asrama Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1. Konsep perencanaan 6.1.1. Pelaku dan kategori kebutuhan ruang, dan Besaran Ruang. 6.1.1.1. Pelaku Dan Kategori Kebutuhan Ruang Dari analisis yang telah dilakukan
RUMAH SAKIT KHUSUS LANSIA DI SEMARANG Dengan Penekanan Desain Post Modern
LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT KHUSUS LANSIA DI SEMARANG Dengan Penekanan Desain Post Modern Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana
BAB VI KESIMPULAN, PANDUAN DESAIN DAN SARAN. adalah perbandingan besaran ruang antara halte existing dan halte ergonomi:
BAB VI KESIMPULAN, PANDUAN DESAIN DAN SARAN VI.1 KESIMPULAN Berdasarkan pengumpulan dan pengolahan data, analisis yang telah dibahas pada sub-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan dan beberapa
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Makro 5.1.1 Site terpilih Gambar 5.1 Site terpilih Sumber : analisis penulis Site terpilih sangat strategis dengan lingkungan kampus/ perguruan tinggi
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Jakarta merupakan Ibukota dari Indonesia, oleh sebab itu industri dan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Jakarta merupakan Ibukota dari Indonesia, oleh sebab itu industri dan teknologi berkembang secara pesat, sehingga permasalahan urbanisasi meningkat per tahunnya. Peningkatan
RUMAH RETRET DI YOGYAKARTA
LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH RETRET DI YOGYAKARTA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA 1 UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN YUDISIUM UNTUK MENCAPAI DERAJAT SARJANA TEKNIK (S PADA PROGRAM
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Latar Belakang Proyek Setiap manusia akan melalui masa pertumbuhan dan mengalami siklus kehidupan dari kecil hingga lanjut usia. Menurut Carl Gustav Jung, daur
ABSTRAK. : Desain Interior, Feng Shui, Rumah Tinggal.
ABSTRAK Pendidikan di Indonesia banyak mendapat pengaruh pendidikan dari barat, yakni pendidikan yang bersifat fisik, maksudnya fisik apa yang bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indra (make sense) sedangkan
BAB 1 PENDAHULAN I.1. LATAR BELAKANG. Latar Belakang Proyek. Jakarta adalah Ibukota dari Indonesia merupakan kota yang padat akan
BAB 1 PENDAHULAN I.1. LATAR BELAKANG Latar Belakang Proyek Jakarta adalah Ibukota dari Indonesia merupakan kota yang padat akan penduduk. Seiring dengan perkembangan waktu, semakin banyak orang yang datang
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang didasarkan dengan perilaku manusia merupakan salah satu bentuk arsitektur yang menggabungkan ilmu pengetahuan
PEREMAJAAN PEMUKIMAN RW 05 KELURAHAN KARET TENGSIN JAKARTA PUSAT MENJADI RUMAH SUSUN
LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PEREMAJAAN PEMUKIMAN RW 05 KELURAHAN KARET TENGSIN JAKARTA PUSAT MENJADI RUMAH SUSUN Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh
BAB I LATAR BELAKANG
BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Perancangan Sepakbola merupakan olahraga yang paling dikenal dan digemari di dunia. Hampir semua orang dari berbagai golongan menyukai olahraga ini. Di dalam negeri
BAB I PENDAHULUAN. di atas 65 tahun (7,79 % dari seluruh jumlah penduduk). Bahkan, Indonesia. paling cepat di Asia Tenggara (Versayanti, 2008).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jumlah lanjut usia (lansia) sekarang ini semakin meningkat. Hal ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju, tetapi di Indonesia pun terjadi hal yang serupa. Saat
Universitas Sumatera Utara. Gambar 1.2 Area parkir yang kurang memadai, akibatnya lobby menjadi area parkir. Sumber: (peneliti 2013)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gedung Asrama Putra (USU) sudah tidak layak dihuni mahasiswa dikarenakan tidak mengalami perkembangan dalam konteks pembangunan sejak tahun 1987 dan juga minimnya fasilitas-fasilitas
BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkat, menyebabkan jumlah penduduk yang berusia lanjut meningkat. dan cenderung bertambah lebih cepat (Nugroho, 2000).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan manusia sejak lahir dibagi dalam beberapa masa, yaitu masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa serta masa lansia. Keberhasilan pemerintah dalam
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN V.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN Konsep dasar ini tidak digunakan untuk masing-masing ruang, tetapi hanya pada ruang-ruang tertentu. 1. Memperkenalkan identitas suatu tempat Karena
BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan sosial masyarakat yang memiliki harkat dan martabat, dimana setiap
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesejahteraan sosial adalah upaya peningkatan kualitas kesejahteraan sosial masyarakat yang memiliki harkat dan martabat, dimana setiap orang mampu mengambil
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menjadikan kebutuhan ruang semakin tidak terbatas. Aktivitas masyarakat baik dari segi ekonomi, sosial, maupun yang lainnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah penduduk Lanjut Usia (lansia) semakin meningkat di dunia, termasuk juga di Negara Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah penduduk Lanjut Usia (lansia) semakin meningkat di dunia, termasuk juga di Negara Indonesia. Keberhasilan pembangunan nasional memberikan dampak peningkatan
