DAFTAR ISI. Daftar Isi... 1

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DAFTAR ISI. Daftar Isi... 1"

Transkripsi

1 DAFTAR ISI Daftar Isi... 1 BAB I STANDAR KOMPETENSI Kode Unit Judul Unit Deskripsi Unit Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja Batasan Variabel Panduan Penilaian Kompetensi Kunci... 5 BAB II TAHAPAN BELAJAR... 6 BAB III TUGAS TEORI DAN UNJUK KERJA Tugas Tertulis Lembar Tugas Unjuk Kerja Hal Halaman: 1 dari 29

2 BAB I STANDAR KOMPETENSI 1.1 KODE UNIT 1.2 JUDUL UNIT 1.3 DESKRIPSI UNIT : : : Perencanaan Layout Daerah Irigasi Unit kompetensi ini mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang diperlukan untuk membuat rancangan layout daerah irigasi. 1.4 ELEMEN KOMPETENSI DAN KRITERIA UNJUK KERJA Elemen Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja ( Performance Criteria ) 1. Memeriksa lokasi perencanaan daerah irigasi 2. Merancang peta petak Irigasi 1.1 Lokasi daerah irigasi diidentifikasi dengan teliti berdasarkan peta topografi. 1.2 Daerah-daerah yang teridentifikasi tidak dapat diairi diberi tanda (warna) sesuai persyaratan. 1.3 Bangunan-bangunan atau lokasi existing (batas kampung, jalan, sungai, dsb) diidentifikasi secara teliti. 2.1 Trace saluran (primer, sekunder dan tersier) dan saluran pembuang dibuat berdasarkan kriteria perencanaan yang telah ditetapkan. 2.2 Bentuk petak tersier dibuat sesuai dengan kondisi daerah yang akan diairi berdasarkan peta topografi. 2.3 Luas petak tersier yang terbentuk dibuat sesuai dengan persyaratan dalam kriteria perencanaan. 2.4 Petak kwarter dan pencetakan sawah dibuat secara proporsional sesuai kriteria. Halaman: 2 dari 29

3 3. Menetapkan tata letak bangunan irigasi dan tata nama (nomenklatur) 4. Menetapkan layout definitif daerah irigasi 3.1 Letak bangunan bagi dan sadap ditentukan berdasarkan kondisi daerah yang diairi.dan sesuai persyaratan dalam kriteria Perencanaan. 3.2 Jenis dan tipe bangunan pelengkap pada jaringan irigasi (gorong-gorong, talang, sipon, terjunan, dsb) diidentifikasi sesuai kebutuhan dan kondisi topografi. 3.3 Jenis dan tipe bangunan ukur ditentukan secara cermat sesuai dengan debit yang dialirkan. 3.4 Bangunan boks tersier dan kwarter ditentukan sesuai dengan kondisi topografi. 3.5 Tata nama (nomenklatur) ditentukan sesuai dengan kriteria pada pra-layout daerah irigasi. 4.1 Hasil rancangan layout jaringan irigasi dikonsultasikan kepada pihak terkait. 4.2 Rancangan layout diperiksa ke lapangan bersama petugas dan pemanfaat air irigasi secara cermat. 4.3 Rancangan layout disempurnakan berdasarkan hasil pengecekan lapangan untuk dijadikan bahan penetapan layout definitif. 1.5 BATASAN VARIABEL 1) Kontek Variabel a. Unit kompetensi ini diterapkan dalam satuan kerja individu dan atau berkelompok, pada lingkup pekerjaan jasa konstruksi utamanya pada perencanaan irigasi. b. Unit kompetensi ini diterapkan sebagai acuan dalam pelaksanaan tugas perencanaan irigasi, meliputi: (1) Ketentuan kriteria perencanaan lokasi daerah irigasi. (2) Ketentuan kriteria perencanaan peta petak tersier (3) Ketentuan kriteria perencanaan tata letak bangunan irigasi (4) Penetapan layout daerah irigasi definitif 2) Perlengkapan dan Peralatan a. Peralatan : Komputer dan software dalam menyelesaikan tugas individual dan kelompok b. Bahan: Buku Kriteria Perencanaan Irigasi, peta topografi c. Fasilitas: ruang kerja/studio Halaman: 3 dari 29

4 3) Tugas-tugas yang harus dilakukan : a. Memeriksa lokasi perencanaan daerah irigasi b. Merancang peta petak Irigasi c. Menetapkan tata letak bangunan irigasi dan tata nama (nomenklatur) d. Menetapkan layout definitive daerah irigasi. 4) Materi dan peraturan-peraturan yang diperlukan : a. Pedoman atau peraturan tentang perencanaan irigasi b. Pedoman atau peraturan tentang perencanaan irigasi air tanah c. Pedoman atau peraturan tentang perencanaan penyediaan air baku d. Pedoman atau peraturan tentang perencanaan jarinagan tersier serta pencetakan sawah e. Pedoman atau peraturan tentang perencanaan irigasi mikro. 1.6 PANDUAN PENILAIAN 1. Kondisi Pengujian Unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di tempat kerja atau di luar kerja secara simulasi dengan kondisi seperti tempat kerja normal dengan menggunakan kombinasi metode uji untuk mengungkap pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan tuntutan standar. Metode uji antara lain: 1.1 Tes tertulis 1.2 Test lisan (wawancara) dan atau 1.3 Praktek/simulasi 1.4 Portofolio atau metode lain yang relevan 2. Unit kompetensi yang harus dikuasai sebelumnya dan yang diperlukan sebelum menguasai unit kompetensi ini serta unit-unit kompetensi yang terkait: Unit kompetensi yang harus dikuasai sebelumnya, meliputi: 2.1 F45 AMPI Menerapkan Peraturan dan perundang-undangan yang terkait Jasa Konstruksi, dan Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja dan Lingkungan (SMK3L). 2.2 F45 AMPI Menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya air 2.3 F45 AMPI Mengumpulkan data perencanaan irigasi Unit kompetensi yang terkait, meliputi: 2.1 F45 AMPI Merencanakan Saluran dan Bangunan Irigasi 2.2 F45 AMPI Merencanakan Bangunan Utama (Bendung) Halaman: 4 dari 29

5 2.3 F45 AMPI Menerapkan parameter perencanaan, dan standar penggambaran Irigasi 2.4 F45 AMPI Menyusun Panduan Operasi dan Pemeliharaaan Irigasi berdasarkan Kriteria Perencanaan 2.5 F45 AMPI Melakukan Aplikasi Model Matematis jaringan irigasi 3. Pengetahuan yang dibutuhkan 3.1 Pembuatan layout irigasi dengan persyaratannya berdasarkan kondisi medan 3.2 Dasar-dasar perencanaan irigasi 3.3 Bangunan air yang terdapat pada jaringan irigasi 3.4 Peta topografi. 4. Keterampilan yang dibutuhkan 4.1 Membuat layout daera irigasi berdasarkan Kriteria perencanaan 4.2 Menjelaskan cara membuat peta petak tersier 4.3 Melakukan pengecekan lapangan terhadap rancangan layout jaringan irigasi. 5. Aspek kritis yang harus diperhatikan 5.1 Ketelitian dalam mengidentifikasi daerah irigasi berdasarkan peta topografi dan pengecekan lapangan 5.2 Ketelitian dalam menerapkan keriteria perencanaan dalam pembuatan layout daerah irigasi 1.7 KOMPETENSI KUNCI No Kompetensi Kunci dalam Unit Ini Tingkat 1. Mengumpulkan, menganalisa dan mengorganisasikan informasi 3 2. Mengomunikasikan informasi dan ide-ide 2 3. Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan 2 4. Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok 2 5. Menggunakan gagasan secara matematis dan teknis 3 6. Memecahkan masalah 3 7. Menggunakan teknologi 2 Halaman: 5 dari 29

6 BAB II TAHAPAN BELAJAR Langkah-langkah/tahapan belajar Menunjukkan lokasi daerah irigasi berdasarkan peta topografi. Menetapkan daerah-daerah yang tidak dapat diairi pada peta topografi. Mencatat bangunan atau lokasi existing pada peta topografi. Merencanakan trase saluran pembawa dan pembuang sesuai dengan kriteria perencanaan. Merencanakan bentuk petak tersier sesuai dengan kondisi daerah yang akan diairi berdasarkan peta topografi. Merancang petak tersier berdasarkan luasan yang dipersyaratkan Merancang petak kwarter secara proporsional sesuai kriteria Merancang pencetakan sawah secara proporsional sesuai kriteria Mengidentifikasi kondisi topografi daerah irigasi untuk penetapan lokasi letak bangunan bagi dan sadap Merancang tata letak bangunan bagi dan sadap pada jaringan irigasi sesuai kriteria perencanaan Menunjukkan lokasi yang memerlukan bangunan pelengkap berdasarkan kondisi topografi Merancang jenis dan tipe bangunan pelengkap pada jaringan irigasi sesuai kebutuhan dan kondisi topografi Menerapkan kriteria perencanaan pada pemilihan tipe dan jenis bangunan ukur Merancang jenis dan tipe bangunan ukur sesuai dengan debit yang dialirkan Merancang bangunan boks tersier dan kwarter sesuai kondisi topografi Menyusun tata nama pada pra-layout daerah irigasi sesuai dengan kriterria Menunjukkan hasil rancangan layout daerah irigasi Memeriksa hasil rancangan layout jaringan irigasi ke lapangan bersama petugas dan pemanfaat air Mengidentifikasi adanya ketidak-sesuaian antara rancangan layout dengan kondisi lapangan Mengidentifikasi adanya ketidaksesuaian antara rancangan layout dengan kondisi lapangan Memperbaiki rancangan layout berdasarkan hasil pemeriksaan kondisi lapangan Halaman: 6 dari 29

7 BAB III TUGAS TEORI DAN UNJUK KERJA 3.1 Tugas Tertulis Tugas Teori 1 Tugas Teori Memeriksa lokasi perencanaan daerah irigasi. Tugas tertulis dapat digunakan oleh penilai untuk mengidentifikasi kesiapan Anda untuk melaksanakan penilaian unjuk kerja. Perintah Tugas Waktu Penyelesaian Tugas Soal Tugas: : : : Jawablah soal di bawah ini pada lembar jawaban yang telah disediakan 20 Menit a. Jawaban Singkat 1. Jelaskan persyaratan penetapan lokasi daerah irigasi! 2. Sebutkan daerah-daerah yang tidak bisa diairi sesuai standar perencanaan! b. Pilihan Ganda 3. Pengaruh kondisi topografi lokasi daerah irigasi yang bergelombang terhadap luas dan bentuk petak tersier, adalah: a) Luas petak sempit dan bentuk tidak optimal b) Luas petak lebih besar dan bentuk tidak optimal Halaman: 7 dari 29

8 c) Luas petak sempit tapi bentuk optimal d) Luas petak besar dan bentuk optimal 4. Untuk menunjukkan lokasi daerah irigasi dapat menggunakan peta topografi yang berskala: a) 1 : b) 1 : 5,000 c) 1 : d) 1 : Di bawah ini adalah salah satu daerah yang tidak dapat diairi berdasarkan peta topografi, kecuali: a) Daerah bergelombang b) Tidak ada petani penggarap c) Daerah rawa d) Muka tanah terlalu tinggi. 6. Salah satu tujuan mengidentifikasi bangunan atau lokasi existing dalam perencanaan irigasi, adalah: a) Sebagai syarat dalam perencanaan irigasi b) Sebagai batas petak dalam perencanaan irigasi c) Efisiensi dalam melakukan pembangunan d) Jika diperlukan bisa dijadikan lahan pertanian. 7. Yang umum ditemukan pada saat mengidentifikasi bangunan atau lokasi existing pada peta topografi untuk daerah irigasi, diantaranya, kecuali: a) Jalan b) Sungai c) Batas kampung d) Pantai. Halaman: 8 dari 29

9 3.1.2 Tugas Tertulis II Tugas Teori Merancang peta petak Irigasi Tugas tertulis dapat digunakan oleh penilai untuk mengidentifikasi kesiapan Anda untuk melaksanakan penilaian unjuk kerja. Perintah Tugas : Jawablah soal di bawah ini pada lembar jawaban yang telah disediakan Waktu Penyelesaian Tugas : 50 menit Soal Tugas : a. Pilihan Ganda 1. Salah satu fungsi saluran irigasi, adalah: a) Menyalurkan air untuk mencukupi kebutuhan hidup masyarakat b) Sebagai tempat penyaluran air hujan c) Untuk membawa air ke daerah pertanian d) Untuk mengurangi banjir di daerah hilir akibat hujan di daerah hulu 2. Fungsi saluran pembuang diantaranya, kecuali: a) Membuang kelebihan air irigasi b) Mengeringkan sawah c) Membuang kelebihan air hujan d) Membuang kotoran atau sampah. 3. Yang termasuk dalam persyaratan pembuatan petak tersier, diantaranya: a) Ukuran petak tersier Ha b) Panjang saluran tersier > 1500 meter c) Ukuran petak kwarter Ha d) Bentuk petak mengikuti kondisi topografi. 4. Berdasarkan kriteria perencanaan maka luas petak tersier yang dapat dibuat, adalah: a) 8 15 Ha b) Ha c) > 100 Ha d) Ha Halaman: 9 dari 29

10 5. Luas petak kwarter berdasarkan kriteria adalah: a) Ha b) 8 15 Ha c) Ha d) Tergantung kondisi topografi. b. Jawaban Singkat 1. Jelaskan persyaratan pembuatan trase saluran irigasi sesuai kriteria perencanaan irigasi! 2. Rencanakan trase saluran pembawa tersier untuk daerah terjal! 3. Untuk menentukan layout petak tersier, aspek-aspek apa saja yang harus dipertimbangkan untuk mendapatkan kondisi yang ideal? 4. Jelaskan cara membuat layout petak tersier pada medan bergelombang! 5. Jelaskan untuk merancang petak tersier yang ideal sesuai dengan persyaratan! Halaman: 10 dari 29

11 6. Jelaskan persyaratan pencetakan sawah berdasarkan kriteria perencanaan! 7. Jelaskan cara merancang petak kwarter secara proporsional sesuai kriteria! 8. Tunjukkan cara merancang pencetakan sawah secara proporsional sesuai kriteria! Halaman: 11 dari 29

12 3.1.3 Tugas Tertulis III Tugas Teori Menetapkan tata letak bangunan irigasi dan tata nama (nomenklatur). Tugas tertulis dapat digunakan oleh penilai untuk mengidentifikasi kesiapan Anda untuk melaksanakan penilaian unjuk kerja. Perintah Tugas : Jawablah soal di bawah ini pada lembar jawaban yang telah disediakan Waktu Penyelesaian Tugas : 75 menit Soal Tugas : a. Pilihan Ganda 1. Persyaratan letak bangunan bagi dan sadap berdasarkan peta topografi, terletak: a) Lembah b) Punggung bukit/ punggung gunung c) Daerah datar d) Benar semua 2. Penetapan lokasi letak bangunan bagi dan sadap berdasarkan kondisi topografi daerah irigasi didasarkan pada: a) Pengukuran di lapangan b) Kontur/ketinggian daerah rencana c) Informasi dari masyarakat setempat d) Ditetapkan oleh dinas terkait 3. Penetapan tata letak bangunan bagi dan sadap harus mempertimbangkan juga: a. Panjang saluran ke boks tersier b. Panjang saluran pembuang c. Luas petak yang akan diairi d. Panjang jalan inspeksi Halaman: 12 dari 29

13 4. Fungsi bangunan terjun pada saluran irigasi adalah: a. untuk mengatasi perbedaan ketinggian yang terlalu besar antara kemiringan saluran dengan kemiringan medan b. merupakan syarat dari sebuah saluran irigasi c. agar debit aliran tidak berubah d. adanya pekerjaan galian dan timbunan 5. Tentukan jenis bangunan pelengkap yang dapat digunakan pada saluran yang melintasi lembah/sungai yang cukup dalam: a. Sipon b. Talang c. Gorong-gorong d. Jembatan. 6. Fungsi bangunan ukur, adalah mengukur: a. kecepatan aliran b. debit aliran c. volume air d. elevasi muka air. 7. Jenis bangunan ukur yang biasa digunakan pada saluran tersier, adalah: a. Ambang lebar b. Parshall c. Crump De Gruyter d. Romijn. 8. Di bawah ini merupakan criteria penetapan tata nama pada pra-layout daerah irigasi, kecuali: a. Nama harus jelas dan singkat serta mempunyai arti b. Saluran tersier diberi nama sesuai menurut bangunan dimana saluran tersier tersebut menyadap air c. Saluran sekunder diberi nama menurut desa yang terletak dalam petak sekundernya d. Untuk saluran utama (induk/primer) diberi nama sesuai dengan nama desa yang paling terkenal. Halaman: 13 dari 29

14 b. Jawaban Singkat 1. Jelaskan fungsi bangunan bagi dan bangunan sadap! 2. Jelaskan jenis-jenis bangunan pelengkap yang terdapat pada jaringan irigasi! 3. Jelaskan criteria bangunan terjun tegak! 4. Komponen apa saja yang harus dipertimbangkan dalam merangcang sipon? 5. Sebutkan jenis bangunan ukur yang umum digunakan pada jaringan irigasi! 6. Kenapa bangunan ukur ambang lebar disarankan untuk digunakan, terutama pada saluran induk? Halaman: 14 dari 29

15 7. Jelaskan fungsi bangunan boks tersier dan kwarter pada saluran irigasi! 8. Jelaskan penentuan bangunan boks tersier dan kwarter berdasarkan kondisi topografi! 9. Tuliskan rumus untuk merancang bangunan boks tersier dan kwarter sesuai kondisi topografi! 10. Jelaskan fungsi tata nama pada pra-layout daerah irigasi! 11. Tunjukkan penyusunan tata nama pada pra-layout daerah irigasi sesuai dengan kriteria! Halaman: 15 dari 29

16 3.1.4 Tugas Tertulis IV Tugas Teori Menetapkan layout definitif daerah irigasi. Tugas tertulis dapat digunakan oleh penilai untuk mengidentifikasi kesiapan Anda untuk melaksanakan penilaian unjuk kerja. Perintah Tugas : Jawablah soal di bawah ini pada lembar jawaban yang telah disediakan Waktu Penyelesaian Tugas : 35 menit Soal Tugas : a. Pilihan Ganda 1. Pihak terkait yang dapat memberikan masukan terhadap hasil rancangan layout jaringan irigasi, diantaranya: a. Kelompok petani penggarap b. Dinas pengairan c. Rekan sejawat d. Kontraktor 2. Yang termasuk pemamfaat air dalam pemeriksaan hasil rancangan jaringan irigasi ke lapangan adalah: a. Kontraktor b. Perencana c. Kelompok petani penggarap d. Pemerintah 3. kondisi di bawah ini termasuk adanya ketidakssuaian antara rancangan layout dengan kondisi lapangan, kecuali: a. Saluran pembuang berada pada punggung bukit b. Daerah yang diairi merupakan daerah industry c. Jalan inspeksi berada sejajar dengan saluran pembawa d. Bentuk layout petak tersier di daerah pedataran berbentuk bujur sangkar Halaman: 16 dari 29

17 4. Salah satu bentuk ketidaksesuaian dari rancangan layout, diantaranya: a. Daerah yang akan diairi sudah berubah menjadi daerah pemukiman b. Tidak ada petani penggarap c. Elevasi Saluran pembuang lebih rendah d. Sumber air tidak jelas b. Jawaban Singkat 1. Jelaskan hasil rancangan layout jaringan irigasi! 2. Jelaskan tujuan pemeriksaan kesesuaian hasil rancangan dengan kondisi lapangan! 3. Jelaskan pihak-pihak yang terlibat dalam pemeriksaan hasil rancangan dengan kondisi lapangan! 4. Jelaskan proses penetapan rancangan layout menjadi layout definitif! 5. Jelaskan tujuan perbaikan terhadap rancangan layout berdasarkan hasil pemeriksaan kondisi lapangan! Halaman: 17 dari 29

18 3.2 Lembar Tugas Unjuk Kerja 1. Nama Tugas I : Memeriksa lokasi perencanaan daerah irigasi 2. Waktu Penyelesaian Tugas I : 60 menit 3. Tujuan Pelatihan : Setelah menyelesaikan tugas memeriksa lokasi perencanaan daerah irigasi peserta mampu: a. bersikap cermat dalam mengidentifikasi lokasi daerah irigasi berdasarkan peta topografi b. bersikap cermat dan teliti dalam menetapkan daerah-daerah yang tidak dapat diairi c. bersikap cermat dan teliti dalam mengidentifikasi bangunan-bangunan atau lokasi exisiting pada peta topografi. 4. Indikator Unjuk Kerja a. Mampu menunjukkan lokasi daerah irigasi berdasarkan peta topografi b. Harus mampu bersikap cermat dalam mengidentifikasi lokasi daerah irigasi berdasarkan peta topografi c. Mampu menetapkan daerah-daerah yang tidak dapat diairi pada peta topografi d. Harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam menetapkan daerahdaerah yang tidak dapat diairi e. Mampu mencatat bangunan atau lokasi existing pada peta topografi f. Harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam mengidentifikasi bangunan-bangunan atau lokasi exisiting pada peta topografi 5. Standar Kinerja a. Dikerjakan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditetapkan dan diselesaikan tepat waktu dengan menyelesaikan seluruh tugas-tugas yang diberikan b. Toleransi kesalahan 5% dari hasil yang harus dicapai, dan kesalahan yang terjadi bukan pada kegiatan kritis atau sangat penting. Halaman: 18 dari 29

19 6. Instruksi kerja a. Tunjukkan cara mengidentifikasi lokasi daerah irigasi berdasarkan peta topografi b. Lakukan pemberian tanda pada daerah yang tidak dapat diairi c. Tunjukkan cara mengidentifikasi bangunan-bangunan atau lokasi existing (batas kampung, jalan, sungai, dsb) 7. Langkah kerja a. Menunjukkan lokasi daerah irigasi berdasarkan peta topografi. b. Menetapkan daerah-daerah yang tidak dapat diairi pada peta topografi. c. Mencatat bangunan atau lokasi existing pada peta topografi. 8. Daftar Cek Unjuk Kerja NO. DAFTAR TUGAS/INSTRUKSI POIN YANG DICEK 1. Tunjukkan cara mengidentifikasi lokasi daerah irigasi berdasarkan peta topografi 2. Lakukan pemberian tanda pada daerah yang tidak dapat diairi 3. Tunjukkan cara mengidentifikasi bangunan-bangunan atau lokasi existing (batas kampung, jalan, sungai, dsb) Kecematan pengidentifikasian lokasi daerah irigasi Kecermatan pemberian tanda Kecermatan pengidentifikasian bangunan-bangunan atau lokasi existing PENCAPAIAN PENILAIAN YA TIDAK K BK Halaman: 19 dari 29

20 1. Nama Tugas II : Merancang peta petak Irigasi 2. Waktu Penyelesain Tugas II : 75 menit 3. Tujuan Pelatihan : Setelah menyelesaikan tugas merancang peta petak Irigasi peserta mampu: a. bersikap cermat dan teliti dalam membuat trace saluran b. bersikap cermat dan teliti dalam membuat bentuk petak tersier sesuai dengan kondisi daerah yang akan diairi berdasarkan peta topografi. c. bersikap cermat dan taat terhadap persyaratan dalam merancang luas petak tersier d. bersikap taat dan konsisten terhadap kriteria perencanaan dalam merancang petak kwarter dan pencetakan sawah. 4. Indikator Unjuk Kerja a. Mampu merencanakan trase saluran pembawa dan pembuang sesuai dengan kriteria perencanaan b. Harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam membuat trace saluran c. Mampu merencanakan bentuk petak tersier sesuai dengan kondisi daerah yang akan diairi berdasarkan peta topografi d. Harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam membuat bentuk petak tersier sesuai dengan kondisi daerah yang akan diairi berdasarkan peta topografi e. Mampu merancang petak tersier berdasarkan luasan yang dipersyaratkan f. Harus mampu bersikap cermat dan taat terhadap persyaratan dalam merancang luas petak tersier g. Mampu merancang petak kwarter secara proporsional sesuai kriteria h. Mampu merancang pencetakan sawah secara proporsional sesuai kriteria i. Harus mampu bersikap taat dan konsisten terhadap kriteria perencanaan dalam merancang petak kwarter dan pencetakan sawah 5. Standar Kinerja Halaman: 20 dari 29

21 c. Dikerjakan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditetapkan dan diselesaikan tepat waktu dengan menyelesaikan seluruh tugas-tugas yang diberikan d. Toleransi kesalahan 5% dari hasil yang harus dicapai, dan kesalahan yang terjadi bukan pada kegiatan kritis atau sangat penting. 6. Instruksi kerja a. Tunjukkan cara membuat trace saluran (primer, sekunder dan tersier) dan saluran pembuang dibuat berdasarkan kriteria perencanaan yang telah ditetapkan b. Tunjukkan cara membuat bentuk petak tersier sesuai dengan kondisi daerah yang akan diairi berdasarkan peta topografi c. Tunjukkan cara membuat luas petak tersier yang terbentuk sesuai dengan persyaratan dalam kriteria perencanaan d. Tunjukkan cara membuat petak kwarter dan pencetakan sawah secara proporsional sesuai kriteria 7. Langkah kerja a. merencanakan trase saluran pembawa dan pembuang sesuai dengan kriteria perencanaan. b. merencanakan bentuk petak tersier sesuai dengan kondisi daerah yang akan diairi berdasarkan peta topografi. c. merancang petak tersier berdasarkan luasan yang dipersyaratkan d. merancang petak kwarter secara proporsional sesuai kriteria e. merancang pencetakan sawah secara proporsional sesuai kriteria Halaman: 21 dari 29

22 8. Daftar Cek Unjuk Kerja NO. DAFTAR TUGAS/INSTRUKSI POIN YANG DICEK 1. Tunjukkan cara membuat trace saluran (primer, sekunder dan tersier) dan saluran pembuang dibuat berdasarkan kriteria perencanaan yang telah ditetapkan 2. Tunjukkan cara membuat bentuk petak tersier sesuai dengan kondisi daerah yang akan diairi berdasarkan peta topografi 3. Tunjukkan cara membuat luas petak tersier yang terbentuk sesuai dengan persyaratan dalam kriteria perencanaan 4. Tunjukkan cara membuat petak kwarter dan pencetakan sawah secara proporsional sesuai kriteria Kecermatan membuat trace saluran (primer, sekunder dan tersier) dan saluran pembuang Kecermatan membuat bentuk petak tersier Kecermatan membuat luasan petak tersier Kecermatan membuat petak kwarter dan pencetakan sawah PENCAPAIAN PENILAIAN YA TIDAK K BK Halaman: 22 dari 29

23 1. Nama Tugas III : Menetapkan tata letak bangunan irigasi dan tata nama (nomenklatur) 2. Waktu Penyelesain Tugas III : 75 menit 3. Tujuan Pelatihan : Setelah menyelesaikan tugas menetapkan tata letak bangunan irigasi dan tata nama (nomenklatur) peserta mampu: a. bersikap cermat dan taat terhadap persyaratan dalam menentukan letak bangunan bagi dan sadap berdasarkan kondisi daerah yang diairi b. bersikap cermat dan teliti dalam mengidentifikasi jenis dan tipe bangunan pelengkap yang dibu-tuhkan sesuai dengan kondisi topografi c. bersikap cermat dan teliti dalam menetapkan jenis dan tipe bangunan ukur d. bersikap taat dan konsisten terhadap persyaratan dan criteria perencanaan dalam mendisain bangunan ukur e. bersikap cermat dan teliti dalam menentukan bangunan boks tersier dan kwarter berdasarkan kondisi topografi f. bersikap cermat dan taat pada persyaratan / pedoman penyusunan tata nama 4. Indikator Unjuk Kerja a. Mampu mengidentifikasi kondisi topografi daerah irigasi untuk penetapan lokasi letak bangunan bagi dan sadap b. Mampu merancang tata letak bangunan bagi dan sadap pada jaringan irigasi sesuai kriteria Perencanaan c. Harus mampu bersikap cermat dan taat terhadap persyaratan dalam menentukan letak bangunan bagi dan sadap berdasarkan kondisi daerah yang diairi d. Mampu menunjukkan lokasi yang memerlukan bangunan pelengkap berdasarkan kondisi topografi e. Mampu merancang jenis dan tipe bangunan pelengkap pada jaringan irigasi sesuai kebutuhan dan kondisi topografi Halaman: 23 dari 29

24 f. Harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam mengidentifikasi jenis dan tipe bangunan pelengkap yang dibu-tuhkan sesuai dengan kondisi topografi g. Mampu menerapkan kriteria perencanaan pada pemilihan tipe dan jenis bangunan ukur h. Mampu merancang jenis dan tipe bangunan ukur sesuai dengan debit yang dialirkan i. Harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam menetapkan jenis dan tipe bangunan ukur j. Harus mampu taat dan konsisten terhadap persyaratan dan criteria perencanaan dalam mendisain bangunan ukur k. Mampu merancang bangunan bokas tersier dan kwarter sesuai kondisi topografi l. Harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam menentukan bangunan boks tersier dan kwarter berdasarkan kondisi topografi m. Mampu menyusun tata nama pada pra-layout daerah irigasi sesuai dengan kriterria n. Harus mampu bersikap cermat dan taat pada persyaratan / pedoman penyusunan tata nama 5. Standar Kinerja a. Dikerjakan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditetapkan dan diselesaikan tepat waktu dengan menyelesaikan seluruh tugas-tugas yang diberikan b. Toleransi kesalahan 5% dari hasil yang harus dicapai, dan kesalahan yang terjadi bukan pada kegiatan kritis atau sangat penting. Halaman: 24 dari 29

25 6. Instruksi kerja a. Tunjukkan cara menentukan letak bangunan bagi dan sadap berdasarkan kondisi daerah yang diairi dan sesuai persyaratan dalam kriteria Perencanaan b. Tunjukkan cara mengidentifikasi jenis dan tipe bangunan pelengkap pada jaringan irigasi (gorong-gorong, talang, sipon, terjunan, dsb) sesuai kebutuhan dan kondisi topografi c. Tunjukkan cara menentukan jenis dan tipe bangunan ukur secara cermat sesuai dengan debit yang dialirkan d. Tunjukkan cara menentukan bangunan boks tersier dan kwarter sesuai dengan kondisi topografi e. Tunjukkan cara menetukan tata nama (nomenklatur) sesuai dengan kriteria pada pra-layout daerah irigasi 7. Langkah kerja a. mengidentifikasi kondisi topografi daerah irigasi untuk penetapan lokasi letak bangunan bagi dan sadap b. merancang tata letak bangunan bagi dan sadap pada jaringan irigasi sesuai kriteria Perencanaan c. menunjukkan lokasi yang memerlukan bangunan pelengkap berdasarkan kondisi topografi d. merancang jenis dan tipe bangunan pelengkap pada jaringan irigasi sesuai kebutuhan dan kondisi topografi e. menerapkan kriteria perencanaan pada pemilihan tipe dan jenis bangunan ukur f. merancang jenis dan tipe bangunan ukur sesuai dengan debit yang dialirkan g. merancang bangunan boks tersier dan kwarter sesuai kondisi topografi h. menyusun tata nama pada pra-layout daerah irigasi sesuai dengan kriterria Halaman: 25 dari 29

26 8. Daftar Cek Unjuk Kerja NO. DAFTAR TUGAS/INSTRUKSI POIN YANG DICEK 1. Tunjukkan cara menentukan letak bangunan bagi dan sadap berdasarkan kondisi daerah yang diairi.dan sesuai persyaratan dalam kriteria Perencanaan 2. Tunjukkan cara mengidentifikasi jenis dan tipe bangunan pelengkap pada jaringan irigasi (gorong-gorong, talang, sipon, terjunan, dsb) sesuai kebutuhan dan kondisi topografi 3. Tunjukkan cara menentukan jenis dan tipe bangunan ukur secara cermat sesuai dengan debit yang dialirkan 4. Tunjukkan cara menentukan bangunan boks tersier dan kwarter sesuai dengan kondisi topografi 5. Tunjukkan cara menetukan tata nama (nomenklatur) sesuai dengan kriteria pada pra-layout daerah irigasi Kecermatan menentukan letak bangunan bagi dan sadap sesuai KP Kecermatan mengidentifikasi jenis dan tipe bangunan pelengkap pada jaringan irigasi Kecermatan menentukan jenis dan tipe bangunan ukur Kecermatan menentukan bangunan boks tersier dan kwarter Kecermatan menetukan tata nama (nomenklatur) PENCAPAIAN PENILAIAN YA TIDAK K BK Halaman: 26 dari 29

27 1. Nama Tugas IV : Menetapkan layout definitif daerah irigasi 2. Waktu Penyelesain Tugas IV : 50 menit 3. Tujuan Pelatihan : Setelah menyelesaikan tugas menetapkan layout definitif daerah irigasi peserta mampu: a. bersikap cermat dan teliti dalam mengonsultasikan hasil rancangan layout jaringan irigasi b. bersikap cermat dan teliti dalam memeriksa kesesuaian hasil rancangan layout dengan kondisi lapangan c. bersikap cermat dan teliti dalam menyempurnakan rancangan layout yang disesuaikan dengan kondisi lapangan 4. Indikator Unjuk Kerja d. Mampu menunjukkan hasil rancangan layout daerah irigasi e. Harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam mengonsultasikan hasil rancangan layout jaringan irigasi f. Mampu memeriksa hasil rancangan layout jaringan irigasi ke lapangan bersama petugas dan pemanfaat air g. Mampu mengidenti-fikasi adanya ketidak-sesuaian antara rancangan layout dengan kondisi lapangan h. Harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam memeriksa kesesuaian hasil rancangan layout dengan kondisi lapangan i. Mampu mengidentifikasi adanya ketidaksesuaian antara rancangan layout dengan kondisi lapangan j. Mampu memperbaiki rancangan layout berdasarkan hasil pemeriksaan kondisi lapangan k. Harus mampu bersikap cermat dan teliti dalam menyempurnakan rancangan layout yang disesuaikan dengan kondisi lapangan Halaman: 27 dari 29

28 5. Standar Kinerja a. Dikerjakan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditetapkan dan diselesaikan tepat waktu dengan menyelesaikan seluruh tugas-tugas yang diberikan b. Toleransi kesalahan 5% dari hasil yang harus dicapai, dan kesalahan yang terjadi bukan pada kegiatan kritis atau sangat penting. 6. Instruksi kerja a. Tunjukkan cara melakukan konsultasi hasil rancangan kepada pihak terkait b. Tunjukkan cara memeriksa rancangan layout ke lapangan bersama petugas dan pemanfaat air irigasi secara cermat c. Tunjukkan cara menyempurnakan rancangan layout berdasarkan hasil pengecekan lapangan untuk dijadikan bahan penetapan layout definitif 7. Langkah kerja a. menunjukkan hasil rancangan layout daerah irigasi b. memeriksa hasil rancangan layout jaringan irigasi ke lapangan bersama petugas dan pemanfaat air c. mengidentifikasi adanya ketidak-sesuaian antara rancangan layout dengan kondisi lapangan d. mengidentifikasi adanya ketidaksesuaian antara rancangan layout dengan kondisi lapangan e. memperbaiki rancangan layout berdasarkan hasil pemeriksaan kondisi lapangan Halaman: 28 dari 29

29 8. Daftar Cek Unjuk Kerja NO. DAFTAR TUGAS/INSTRUKSI POIN YANG DICEK 1. Tunjukkan cara melakukan konsultasi hasil rancangan kepada pihak terkait 2. Tunjukkan cara memeriksa rancangan layout ke lapangan bersama petugas dan pemanfaat air irigasi secara cermat 3. Tunjukkan cara menyempurnakan rancangan layout berdasarkan hasil pengecekan lapangan untuk dijadikan bahan penetapan layout definitif Kecermatan melakukan konsultasi hasil rancangan kepada pihak terkait Kecermatan memeriksa rancangan layout Kecermatan menyempurnakan rancangan layout PENCAPAIAN PENILAIAN YA TIDAK K BK Apakah semua instruksi kerja tugas praktek merancang sesi pembelajaran dilaksanakan dengan benar dengan waktu yang telah ditentukan? YA TIDAK NAMA TANDA TANGAN PESERTA PENILAI Catatan Penilai : Halaman: 29 dari 29

DAFTAR ISI. Daftar Isi... 1

DAFTAR ISI. Daftar Isi... 1 DAFTAR ISI Daftar Isi... 1 BAB I STANDAR KOMPETENSI... 2 1.1 Kode Unit... 2 1.2 Judul Unit... 2 1.3 Deskripsi Unit... 2 1.4 Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja... 2 1.5 Batasan Variabel... 3 1.6

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Daftar Isi... 1

DAFTAR ISI. Daftar Isi... 1 DAFTAR ISI Daftar Isi... 1 BAB I STANDAR KOMPETENSI... 2 1.1 Kode Unit... 2 1.2 Judul Unit... 2 1.3 Deskripsi Unit... 2 1.4 Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja... 2 1.5 Batasan Variabel... 3 1.6

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Daftar Isi... 1

DAFTAR ISI. Daftar Isi... 1 DAFTAR ISI Daftar Isi... 1 BAB I STANDAR KOMPETENSI... 2 1.1 Kode Unit... 2 1.2 Judul Unit... 2 1.3 Deskripsi Unit... 2 1.4 Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja... 2 1.5 Batasan Variabel... 3 1.6

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... 1

DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... 1 DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... 1 BAB I PENGANTAR... 2 1.1 Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK)... 2 1.2 Penjelasan Materi Pelatihan... 2 1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini... 3

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Daftar Isi BAB II PELAKSANAAN PENILAIAN Kunci Jawaban Tugas-Tugas (Teori) Daftar Cek Unjuk Kerja (Praktek)...

DAFTAR ISI. Daftar Isi BAB II PELAKSANAAN PENILAIAN Kunci Jawaban Tugas-Tugas (Teori) Daftar Cek Unjuk Kerja (Praktek)... DAFTAR ISI Daftar Isi... 1 BAB I KONSEP PENILAIAN... 2 1.1 Latar Belakang... 2 1.2 Tujuan... 2 1.3 Metoda Penilaian... 2 BAB II PELAKSANAAN PENILAIAN... 4 2.1 Kunci Jawaban Tugas-Tugas (Teori)... 4 2.2

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Kode Modul F45.QAE Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer

DAFTAR ISI. Kode Modul F45.QAE Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer DAFTAR ISI Daftar Isi... 1 BAB I STANDAR KOMPETENSI... 2 1.1 Kode Unit... 2 1.2 Judul Unit... 2 1.3 Deskripsi Unit... 2 1.4 Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja... 2 1.5 Batasan Variabel... 3 1.6

Lebih terperinci

Gambar 7. Peta Ikhtisar Irigasi

Gambar 7. Peta Ikhtisar Irigasi GEOMETRIK IRIGASI Komponen-komponen sebuah jaringan irigasi teknis dapat dibedakan berdasarkan fungsinya. Untuk mengetahui komponen-komponen suatu jaringan irigasi dapat dilihat pada peta ikhtisar. Peta

Lebih terperinci

DESAIN BANGUNAN IRIGASI

DESAIN BANGUNAN IRIGASI DESAIN BANGUNAN IRIGASI 1. JENIS JENIS BANGUNAN IRIGASI Keberadaan bangunan irigasi diperlukan untuk menunjang pengambilan dan pengaturan air irigasi. Beberapa jenis bangunan irigasi yang sering dijumpai

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer. Kode Modul F45.QAE

DAFTAR ISI. Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer. Kode Modul F45.QAE DAFTAR ISI Daftar Isi... 1 BAB I STANDAR KOMPETENSI... 2 1.1 Kode Unit... 2 1.2 Judul Unit... 2 1.3 Deskripsi Unit... 2 1.4 Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja... 2 1.5 Batasan Variabel... 3 1.6

Lebih terperinci

BAB-2 JARINGAN IRIGASI

BAB-2 JARINGAN IRIGASI 1 BAB-2 JARINGAN IRIGASI Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yang diperlukan untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaannya.

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL PENGUJIAN MATERIAL FILLER

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL PENGUJIAN MATERIAL FILLER MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL PENGUJIAN MATERIAL FILLER KODE UNIT KOMPETENSI: BUKU KERJA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer. Kode Modul F45.QAE

DAFTAR ISI. Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer. Kode Modul F45.QAE DAFTAR ISI Daftar Isi... 1 BAB I STANDAR KOMPETENSI... 2 1.1 Kode Unit... 2 1.2 Judul Unit... 2 1.3 Deskripsi Unit... 2 1.4 Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk... 2 1.5 Batasan Variabel... 3 1.6 Panduan

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA ESTIMATOR BIAYA JALAN (COST ESTIMATOR FOR ROAD PROJECT)

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA ESTIMATOR BIAYA JALAN (COST ESTIMATOR FOR ROAD PROJECT) MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA ESTIMATOR BIAYA JALAN (COST ESTIMATOR FOR ROAD PROJECT) PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DAN

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE 6 A. Kompetensi Mahasiswa memahami proses pembuatan peta petak untuk keperluan irigasi

PERTEMUAN KE 6 A. Kompetensi Mahasiswa memahami proses pembuatan peta petak untuk keperluan irigasi PERTEMUAN KE 6 A. Kompetensi Mahasiswa memahami proses pembuatan peta petak untuk keperluan irigasi Bangunan Bangunan Utama (headworks) merupakan kompleks bangunan yang direncanakan di dan sepanjang sungai

Lebih terperinci

PERTEMUAN ke-5 A. Kompetensi Mahasiswa memahami proses pembuatan peta petak untuk keperluan irigasi

PERTEMUAN ke-5 A. Kompetensi Mahasiswa memahami proses pembuatan peta petak untuk keperluan irigasi PERTEMUAN ke-5 A. Kompetensi Mahasiswa memahami proses pembuatan peta petak untuk keperluan irigasi B. Indikator Mahasiswa mampu membuat peta petak irigasi serta memberi warna dan menghitung luasnya. C.

Lebih terperinci

RC TEKNIK IRIGASI PETAK TERSIER

RC TEKNIK IRIGASI PETAK TERSIER RC14-1361 TEKNIK IRIGASI PETAK TERSIER SEJARAH IRIGASI Keberadaan sistem irigasi di Indonesia telah dikenal sejak zaman Hindu, pada zaman tersebut telah dilakukan usaha pembangunan prasarana irigasi sederhana.

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL MEMBUAT LAPORAN KEGIATAN PELAKSANAAN PENGUJIAN BETON ASPAL KODE UNIT KOMPETENSI: F45.TLBA.02.008.02

Lebih terperinci

KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (KPBK) JABATAN KERJA AHLI MUDA PERENCANA IRIGASI

KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (KPBK) JABATAN KERJA AHLI MUDA PERENCANA IRIGASI KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (KPBK) JABATAN KERJA AHLI MUDA PERENCANA IRIGASI A. PENDAHULUAN a. Latar Belakang Pelatihan berdasarkan kompetensi perlu diselenggarakan karena adanya Kesenjangan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengelolaan Air Pengelolaan air pada sistem irigasi adalah kunci keberhasilan pembangunan irigasi itu sendiri. Keadaan lingkungan air yang dipengaruhi evapotranspirasi yang harus

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Kode Modul F45.QAE Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer

DAFTAR ISI. Kode Modul F45.QAE Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer DAFTAR ISI Daftar Isi... 1 BAB I STANDAR KOMPETENSI... 2 1.1 Kode Unit... 2 1.2 Judul Unit... 2 1.3 Deskripsi Unit... 2 1.4 Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja... 2 1.5 Batasan Variabel... 3 1.6

Lebih terperinci

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN PEKERJAAN DRAINASE

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN PEKERJAAN DRAINASE MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN PEKERJAAN DRAINASE NO. KODE :.K BUKU KERJA DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 BAB I STANDAR

Lebih terperinci

JARINGAN IRIGASI DAN BANGUNAN AIR

JARINGAN IRIGASI DAN BANGUNAN AIR Definisi Irigasi Irigasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring (Dalam Jaringan/Online) Edisi III, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL PERSIAPAN PENGUJIAN BETON ASPAL KODE UNIT KOMPETENSI: F45.TLBA.02.001.02 BUKU KERJA

Lebih terperinci

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN PEKERJAAN TANAH

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN PEKERJAAN TANAH MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN PEKERJAAN TANAH NO. KODE :.K BUKU KERJA DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 BAB I STANDAR KOMPETENSI...

Lebih terperinci

BAB VII PERENCANAAN JARINGAN UTAMA

BAB VII PERENCANAAN JARINGAN UTAMA BAB VII PERENCANAAN JARINGAN UTAMA 7.1 UMUM Untuk dapat mengalirkan air dari bendung ke areal lahan irigasi maka diperlukan suatu jaringan utama yang terdiri dari saluran dan bangunan pelengkap di jaringan

Lebih terperinci

Ada empat unsur fungsional pokok dalam suatu jaringan irigasi, yaitu :

Ada empat unsur fungsional pokok dalam suatu jaringan irigasi, yaitu : RANGKUMAN KP 01 BAGIAN PERENCANAAN Unsur dan Tingkatan Jaringan Irigasi Ada empat unsur fungsional pokok dalam suatu jaringan irigasi, yaitu : Bangunan-bangunan utama ( headworks ) di mana air diambil

Lebih terperinci

RC MODUL 2 KEBUTUHAN AIR IRIGASI

RC MODUL 2 KEBUTUHAN AIR IRIGASI RC14-1361 MODUL 2 KEBUTUHAN AIR IRIGASI SISTEM PENGAMBILAN AIR Irigasi mempergunakan air yang diambil dari sumber yang berupa asal air irigasi dengan menggunakan cara pengangkutan yang paling memungkinkan

Lebih terperinci

IRIGASI AIR. Bangunan-bangunan Irigasi PROGRAM STUDI S-I TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI

IRIGASI AIR. Bangunan-bangunan Irigasi PROGRAM STUDI S-I TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI IRIGASI DAN BANGUNAN AIR Bangunan-bangunan Irigasi PROGRAM STUDI S-I TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI 2013 PENGERTIAN TENTANG IRIGASI Sejak ratusan tahun lalu atau bahkan ribuan

Lebih terperinci

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DAN LINGKUNGAN (K3L) NO. KODE :.K BUKU KERJA DAFTAR

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR JASA KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR JASA KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR JASA KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL KOMUNIKASI DAN KERJASAMA DI TEMPAT KERJA KODE UNIT KOMPETENSI F45.TLBA.01.002.02

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI TUKANG PASANG WATERPROOFING KOMUNIKASI TIMBAL BALIK DI TEMPAT KERJA

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI TUKANG PASANG WATERPROOFING KOMUNIKASI TIMBAL BALIK DI TEMPAT KERJA MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI KOMUNIKASI TIMBAL BALIK DI TEMPAT KERJA KODE UNIT KOMPETENSI: BUKU KERJA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI

Lebih terperinci

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI. MELAKUKAN PEKERJAAN PENANAMAN PADA LAHAN KERJA F l 08 05

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI. MELAKUKAN PEKERJAAN PENANAMAN PADA LAHAN KERJA F l 08 05 MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI MELAKUKAN PEKERJAAN PENANAMAN PADA LAHAN KERJA F.45 4 0 5 2 1 01 l 08 05 KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I. DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 4 SERI E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 4 SERI E LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 4 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJARNEGARA, Menimbang

Lebih terperinci

Perencanaan Saluran Irigasi Primer di Desa Maroko Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua

Perencanaan Saluran Irigasi Primer di Desa Maroko Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua Perencanaan Saluran Irigasi Primer di Desa Maroko Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua Irianto Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Sistem Informasi, Universitas Yapis Papua [email protected]

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 1 TAHUN 2009

PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 1 TAHUN 2009 PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 1 TAHUN 2009 DRAFT-4 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CILACAP, Menimbang : a. bahwa pertanian mempunyai

Lebih terperinci

RC MODUL 1 TEKNIK IRIGASI

RC MODUL 1 TEKNIK IRIGASI RC14-1361 MODUL 1 TEKNIK IRIGASI PENDAHULUAN PENGERTIAN DAN MAKSUD IRIGASI Irigasi: Berasal dari istilah Irrigatie (Bhs. Belanda) atau Irrigation (Bahasa Inggris) diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN : Sejarah dan Fungsi Irigasi Tujuan Pembelajaran Umum : Mahasiswa memahami tentang arti, sejarah perkembangan Irigasi secara umum, kegunaan air irigasi, pengaruh, dan syarat-syarat air untuk irigasi, serta

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG BEKERJASAMA DENGAN REKAN KERJA NO. KODE : BUKU KERJA DAFTAR ISI DAFTAR ISI...

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... 1

DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... 1 DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... 1 BAB I PENGANTAR... 2 1.1 Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK)... 2 1.2 Penjelasan Materi Pelatihan... 2 1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini... 3

Lebih terperinci

PERANCANGAN SISTEM DRAINASE

PERANCANGAN SISTEM DRAINASE PERANCANGAN SISTEM DRAINASE Perencanaan saluran pembuang harus memberikan pemecahan dengan biaya pelak-sanaan dan pemeliharaan yang minimum. Ruas-ruas saluran harus stabil terhadap erosi dan sedimentasi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN REMBANG NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI REMBANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN REMBANG NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI REMBANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN REMBANG NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI REMBANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mencapai keberlanjutan sistem irigasi serta untuk

Lebih terperinci

PERENCANAAN SALURAN. Rencana pendahuluan dari saluran irigasi harus menunjukkan antara lain :

PERENCANAAN SALURAN. Rencana pendahuluan dari saluran irigasi harus menunjukkan antara lain : PERENCANAAN SALURAN Perencanaan Pendahuluan. Rencana pendahuluan dari saluran irigasi harus menunjukkan antara lain : - Trase jalur saluran pada peta tata letak pendahuluan. - Ketinggian tanah pada jalar

Lebih terperinci

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 MANDOR PERKERASAN JALAN

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 MANDOR PERKERASAN JALAN MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 MANDOR PERKERASAN JALAN PEKERJAAN PERKERASAN LAPISAN ATAS (BASE COURSE) NO. KODE : -K BUKU KERJA DAFTAR ISI DAFTAR ISI...

Lebih terperinci

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN PEKERJAAN DRAINASE

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN PEKERJAAN DRAINASE MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN PEKERJAAN DRAINASE NO. KODE :.P BUKU PENILAIAN DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 BAB I KONSEP

Lebih terperinci

STANDAR PERENCANAAN IRIGASI

STANDAR PERENCANAAN IRIGASI K E M E N T E R I A N P E K E R JA A N U M U M DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAYA AIR D I R E K T O R A T I R I G A S I D A N R A W A STANDAR PERENCANAAN IRIGASI KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN PERENCANAAN JARINGAN

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 SISTEM IRIGASI Irigasi secara umum didefinisikan sebagai kegiatan yang bertalian dengan usaha untuk mendapatkan air guna menunjang kegiatan pertanian seperti sawah, ladang

Lebih terperinci

PERSIAPAN REFERENSI DALAM PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI KODE UNIT KOMPETENSI: F45 PZ BUKU KERJA

PERSIAPAN REFERENSI DALAM PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI KODE UNIT KOMPETENSI: F45 PZ BUKU KERJA MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI BIDANG PENATAAN RUANG SUB SEKTOR PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG JABATAN KERJA AHLI PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI PERSIAPAN REFERENSI DALAM PENYUSUNAN

Lebih terperinci

KONTROL PERHITUNGAN DIMENSI SALURAN PRIMER DAN DIMENSI KOLAM OLAK BANGUNAN TERJUN 13 SALURAN SEKUNDER DI BENDUNG NAMU SIRA SIRA

KONTROL PERHITUNGAN DIMENSI SALURAN PRIMER DAN DIMENSI KOLAM OLAK BANGUNAN TERJUN 13 SALURAN SEKUNDER DI BENDUNG NAMU SIRA SIRA KONTROL PERHITUNGAN DIMENSI SALURAN PRIMER DAN DIMENSI KOLAM OLAK BANGUNAN TERJUN 13 SALURAN SEKUNDER DI BENDUNG NAMU SIRA SIRA LAPORAN Ditulis untuk Menyelesaikan Mata Kuliah Tugas Akhir Semester VI Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Umum. Bendung adalah suatu bangunan yang dibangun melintang sungai

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Umum. Bendung adalah suatu bangunan yang dibangun melintang sungai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Umum Bendung adalah suatu bangunan yang dibangun melintang sungai untuk meninggikan taraf muka air sungai dan membendung aliran sungai sehingga aliran sungai bisa bisa disadap dan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Studi dan Waktu Penelitian Lokasi Studi

METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Studi dan Waktu Penelitian Lokasi Studi III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Studi dan Waktu Penelitian 3.1.1 Lokasi Studi Daerah Irigasi Way Negara Ratu merupakan Daerah Irigasi kewenangan Provinsi Lampung yang dibangun pada tahun 1972 adapun

Lebih terperinci

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 MANDOR PERKERASAN JALAN

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 MANDOR PERKERASAN JALAN MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 MANDOR PERKERASAN JALAN PEKERJAAN PERKERASAN LAPISAN BAWAH (SUB BASE COURSE) NO. KODE : -K BUKU KERJA DAFTAR ISI DAFTAR

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BREBES Nomor : 21 Tahun : 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BREBES, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

LAPORAN PERENCANAAN IRIGASI

LAPORAN PERENCANAAN IRIGASI LAPORAN PERENCANAAN IRIGASI Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Irigasi dan Bangunan Air I Dosen : Drs. Odih Supratman, MT Oleh : Adi Hamdani 1203220 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL S1 JURUSAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, Menimbang : a. bahwa sektor pertanian mempunyai peran yang sangat strategis

Lebih terperinci

tidak ditetapkan air bawah tanah, karena permukaan air tanah selalu berubah sesuai dengan musim dan tingkat pemakaian (Sri Harto, 1993).

tidak ditetapkan air bawah tanah, karena permukaan air tanah selalu berubah sesuai dengan musim dan tingkat pemakaian (Sri Harto, 1993). batas topografi yang berarti ditetapkan berdasarkan aliran air permukaan. Batas ini tidak ditetapkan air bawah tanah, karena permukaan air tanah selalu berubah sesuai dengan musim dan tingkat pemakaian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 41 Undang-Undang

Lebih terperinci

Mengenalkan kepada Peserta beberapa contoh bangunan irigasi, khususnya bangunan sadap, bangunan pembawa, serta bangunan pembagi.

Mengenalkan kepada Peserta beberapa contoh bangunan irigasi, khususnya bangunan sadap, bangunan pembawa, serta bangunan pembagi. Yogyakarta, Kamis 5 April 2012 Mengenalkan kepada Peserta beberapa contoh bangunan irigasi, khususnya bangunan sadap, bangunan pembawa, serta bangunan pembagi. 1. Peserta mengenali fungsi bangunan sadap,

Lebih terperinci

BAB I STANDAR KOMPETENSI

BAB I STANDAR KOMPETENSI BAB I STANDAR KOMPETENSI 1.1 Kode Unit : 1.2 Judl Unit : Melaksanakan Peraturan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dan Ketentuan Mutu 1.3 Deskripsi Unit : Unit ini menggambarkan ruang lingkup pengetahuan,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 01 TAHUN 2010 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PROBOLINGGO, Menimbang : a. bahwa perubahan

Lebih terperinci

BAB III METODE PELAKSANAAN

BAB III METODE PELAKSANAAN BAB III METODE PELAKSANAAN 3.1 Pekerjaan Persiapan dan pengumpulan Data 3.1.1 Pekerjaan Persiapan Pekerjaan yang harus dipersiapkan guna memperlancar jalannya pelaksanaan pekerjaan Perencanaan Teknis dan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI 3.1 TINJAUAN UMUM

BAB 3 METODOLOGI 3.1 TINJAUAN UMUM BAB 3 METODOLOGI 3.1 TINJAUAN UMUM Untuk dapat memenuhi tujuan penyusunan Tugas Akhir tentang Perencanaan Polder Sawah Besar dalam Sistem Drainase Kali Tenggang, maka terlebih dahulu disusun metodologi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 21 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR SUMATERA SELATAN,

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 21 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR SUMATERA SELATAN, PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 21 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR SUMATERA SELATAN, Menimbang Mengingat : a. bahwa sumber daya air adalah merupakan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Lampiran Jawaban Tugas Tertulis 14. Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer. Kode Modul F45.QAE

DAFTAR ISI. Lampiran Jawaban Tugas Tertulis 14. Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Quality Assurance Engineer. Kode Modul F45.QAE DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... 1 BAB I KONSEP PENILAIAN... 2 1.1 Latar Belakang... 2 1.2 Tujuan... 2 1.3 Metoda Penilaian... 2 BAB II PELAKSANAAN PENILAIAN... 4 2.1 Kunci Jawaban Tugas-Tugas (Teori)... 4

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR JASA KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN SIPIL JABATAN KERJA PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN BRONJONG

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR JASA KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN SIPIL JABATAN KERJA PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN BRONJONG MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR JASA KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN SIPIL JABATAN KERJA PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN BRONJONG MENGHITUNG VOLUME HASIL PEKERJAAN KODE UNIT KOMPETENSI: BUKU KERJA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang Mengingat : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN IRIGASI PARTISIPATIF (PIP) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN IRIGASI PARTISIPATIF (PIP) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN IRIGASI PARTISIPATIF (PIP) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mencapai keberlanjutan

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI BIDANG KONSTRUKSI SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUMBETON ASPAL

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI BIDANG KONSTRUKSI SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUMBETON ASPAL MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI BIDANG KONSTRUKSI SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUMBETON ASPAL FORMULA CAMPURAN KERJA BETON ASPAL KODE UNIT KOMPETENSI: BUKU KERJA KEMENTERIAN

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. secara alamiah. Mulai dari bentuk kecil di bagian hulu sampai besar di bagian

TINJAUAN PUSTAKA. secara alamiah. Mulai dari bentuk kecil di bagian hulu sampai besar di bagian TINJAUAN PUSTAKA Daerah Aliran Sungai Sungai merupakan jaringan alur-alur pada permukaan bumi yang terbentuk secara alamiah. Mulai dari bentuk kecil di bagian hulu sampai besar di bagian hilir. Air hujan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG I R I G A S I

PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG I R I G A S I PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR, Menimbang : a. bahwa irigasi merupakan salah satu

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMENEP NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMENEP Menimbang : Mengingat : a. bahwa dengan diundangkannya

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBER NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBER, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG WEWENANG, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG WEWENANG, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG WEWENANG, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KELEMBAGAAN PENGELOLAAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian Lokasi dari objek penelitian ini berada pada Kecamatan Rancaekek, tepatnya di Desa Sukamanah dan Kecamatan Rancaekek sendiri berada di Kabupaten Bandung.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang Mengingat : bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pengelolaan air di suatu daerah irigasi, kenyataannya seringkali terdapat pembagian air yang kurang sesuai kebutuhan air di petak-petak sawah. Pada petak yang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 24 TAHUN 2009 SERI E. 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIREBON, Menimbang : a.

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2011 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN SALURAN IRIGASI

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2011 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN SALURAN IRIGASI MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2011 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN SALURAN IRIGASI BIMBINGAN TEKNIS PADA MITRA KERJA NO. KODE : BUKU INFORMASI DAFTAR ISI DAFTAR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I-1. Laporan Tugas Akhir Kinerja Pengoperasian Waduk Sempor Jawa Tengah dan Perbaikan Jaringan Irigasinya

BAB I PENDAHULUAN I-1. Laporan Tugas Akhir Kinerja Pengoperasian Waduk Sempor Jawa Tengah dan Perbaikan Jaringan Irigasinya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waduk adalah suatu bangunan yang berfungsi untuk melestarikan sumberdaya air dengan cara menyimpan air disaat kelebihan yang biasanya terjadi disaat musim penghujan

Lebih terperinci

PENENTUAN LOKASI (Route Location)

PENENTUAN LOKASI (Route Location) PENENTUAN LOKASI (Route Location) Penentuan lokasi jalan merupakan suatu tahapan dalam rekayasa jalan yang dilakukan setelah tahapan perencanaan (planning) dan sebelum tahap perancangan (design) suatu

Lebih terperinci

BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH

BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang: BUPATI BOYOLALI, a. bahwa untuk mendukung produktivitas

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG PERHITUNGAN BIAYA AKIBAT ADANYA PERUBAHAN PEKERJAAN NO. KODE : BUKU KERJA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN I-1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Satuan Wilayah Sungai (SWS) Serayu Bogowonto merupakan salah satu SWS di Pulau Jawa disamping SWS Cimanuk, SWS Pemali Comal, SWS Jratun Seluna, SWS Bengawan Solo,

Lebih terperinci

EXECUTIVE SUMMARY JARINGAN IRIGASI PERPIPAAN

EXECUTIVE SUMMARY JARINGAN IRIGASI PERPIPAAN EXECUTIVE SUMMARY JARINGAN IRIGASI PERPIPAAN Desember 2012 KATA PENGANTAR Executive Summary ini merupakan ringkasan dari Laporan Akhir kegiatan Penelitian Jaringan Irigasi Perpipaan yang dilaksanakan oleh

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menyelenggarakan otonomi,

Lebih terperinci

MELAKUKAN PERSIAPAN PEKERJAAN ESTIMASI BIAYA JALAN

MELAKUKAN PERSIAPAN PEKERJAAN ESTIMASI BIAYA JALAN MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA (COST ESTIMATOR FOR ROAD PROJECT) MELAKUKAN PERSIAPAN PEKERJAAN ESTIMASI BIAYA JALAN KODE UNIT KOMPETENSI F45.EST BJ.02.001.01

Lebih terperinci

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI BAB II KONDISI WILAYAH STUDI 2.1 Tinjauan Umum Kondisi dari DAS Sengkarang meliputi kondisi alam (topografi, cuaca, geologi), hidrologi, sosial ekonomi (kependudukan, ekonomi reegional, infrastruktur),

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI BUPATI LEBAK,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI BUPATI LEBAK, LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LEBAK, Menimbang a. bahwa irigasi merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 22 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 22 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU, PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 22 TAHUN 2007 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU, Menimbang : a. bahwa dalam rangka usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Provinsi Sumatera Selatan memiliki lahan yang cukup luas dengan sungai yang banyak dan besar. Hal ini memberikan potensi yang besar bagi pengembangan lahan pertanian

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan kemanfaatan

Lebih terperinci

IRIGASI DAN BANGUNAN AIR SURVEY SELOKAN MATARAM YOGYAKARTA

IRIGASI DAN BANGUNAN AIR SURVEY SELOKAN MATARAM YOGYAKARTA IRIGASI DAN BANGUNAN AIR SURVEY SELOKAN MATARAM YOGYAKARTA Dosen Pengampu : Adwiyah Asyifa, S.T., M.Eng. Disusun oleh : RIZA RIZKIA (5140811023) HERIN AFRILIYANTI (5140811051) MADORA ARUM KAHANI (5140811097)

Lebih terperinci

STANDAR PERENCANAAN IRIGASI

STANDAR PERENCANAAN IRIGASI K E M E N T E R I A N P E K E R JA A N U M U M DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAYA AIR D I R E K T O R A T I R I G A S I D A N R A W A STANDAR PERENCANAAN IRIGASI KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN PETAK TERSIER

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada masa awal orde baru situasi dan keadaan ketersediaan pangan Indonesia sangat memprihatinkan, tidak ada pembangunan bidang pengairan yang berarti pada masa sebelumnya.

Lebih terperinci

PERENCANAAN IRIGASI DAN BANGUNAN AIR YOGI OKTOPIANTO

PERENCANAAN IRIGASI DAN BANGUNAN AIR YOGI OKTOPIANTO PERENCANAAN IRIGASI DAN BANGUNAN AIR YOGI OKTOPIANTO 6309875 FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS GUNADARMA DEPOK 20 BAB I PENDAHULUAN.. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA TEKNISI LABORATORIUM BETON ASPAL MEMBUAT LAPORAN KEGIATAN PELAKSANAAN PENGUJIAN BETON ASPAL KODE UNIT KOMPETENSI: F45.TLBA.02.008.02

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. Dalam pengumpulan data untuk mengevaluasi bendungan Ketro, dilakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait, antara lain :

BAB III METODOLOGI. Dalam pengumpulan data untuk mengevaluasi bendungan Ketro, dilakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait, antara lain : BAB III METODOLOGI 45 3.1. URAIAN UMUM Di dalam melaksanakan suatu penyelidikan maka, diperlukan data-data lapangan yang cukup lengkap. Data tersebut diperoleh dari hasil survey dan investigasi dari daerah

Lebih terperinci