Analisa Efek Terapi Panas Terhadap Kelelahan Otot

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Analisa Efek Terapi Panas Terhadap Kelelahan Otot"

Transkripsi

1 Analisa Efek Terapi Panas Terhadap Kelelahan Otot Endang Dian Setioningsih 1, Ir. Joko Purwanto, M.Eng, P.h.D 2 dan DR. Tri Arief Sardjono, ST, MT. 3 1 Jurusan Teknik Elektro, FakultasTeknologi Industri, ITS, Surabaya, Indonesia [email protected] 2 Jurusan Teknik Elektro, FakultasTeknologi Industri, ITS, Surabaya, Indonesia [email protected] 3 Afiliasi Penulis Ketiga, Institusi Asal, Bandung, Indonesia [email protected] Abstrak Kelelahan sering muncul pada saat kita melakukan suatu aktifitas yang berat dan dalam waktu yang cukup lama, kelelahan pada setiap individu berbeda-beda tetapi pada dasarnya kelelahan digolongkan dalam dua katagori yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan otot merupakan suatu keadaan dimana otot tidak dapat mempertahankan gaya atau kontraksi yang diberikan, sedangkan kelelahan umum ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan karena pekerjaan yang sifatnya monoton. Salah satu cara untuk mengatasi kelelahan otot adalah dengan menggunakan terapi panas, untuk itu perlu dilakukan penelitian terkait dengan pengukuran kelelahan otot dan pengaruh terapi panas terhadap tingkat kelelahan otot tersebut. Pengukuran tingkat kelelahan dilakukan pada otot biceps dengan menganalisa sinyal semg (surface elektromyogram) dengan memberikan beban tertentu (barbel dengan berat 3 Kg) pada otot yang diukur selama kurang lebih 10 menit. Analisa pengaruh terapi panas dilakukan selama pemanasan (menggunakan diathermy) diberikan di daerah tersebut selama 10 menit. Setelah riset dilakukan dan mengolah data koefisien fourier transform didapatkan bahwa pada saat otot lelah, amplitudo dari sinyal semg mengalami penurunan, dan apabila diberikan terapi panas maka amplitudo sinyal akan mengalami kenaikan,demikian pula dengan perubahan nilai pergeseran frekuensi mengalami perubahan secara perlahan tapi pasti.kenaikan dan penurunan amplitudo danfrekuensi dipengaruhi oleh kelelahan otot. Kata kunci: Elektromiografi, kelelahan, terapi panas 1. Pendahuluan Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan dari tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut. Kondisi kelelahan setiap orang biasanya berbeda-beda, tetapi semuanya bermuara pada kehilangan efisiensi dan penurunan ketahanan tubuh. Konsep kelelahan dibagi menjadi subyektif, obyektif dan physiological. Kelelahan subyektif adalah dibedakan dengan suatu penurunan kesiagaan, konsentrasi mental, dan motivasi dan kelelahan obyektif adalah dicirikan dengan penurunan input kerja, sedangkan kelelahan fisiologi adalah dihubungkan dengan perwujudan eksternal seperti ketidakmampuan mempertahankan suatu gaya input yang diberikan, gemetar pada otot, dan kesakitan pada sekelompok otot tertentu yang melaksanakan kontraksi.[1] Kontraksi serabut otot (muscle fibre contraction) selalu diikuti dengan aktifitas listrik (electrical activity).elektromiografi (electromyography) adalah sebuah metode untuk pengukuran, menampilkan dan menganalisa setiap sinyal listrik (electrical signal) dengan menggunakan bermacam-macam elektroda. Sebuah sinyal elektromiogram berasal dari sinyal serabut otot pada jarak tertentu dari elektroda.[2] dari Kelelahan otot dapat diobservasi dengan mengamati perubahan amplitudo dari sinyal semg dalam level microvolt atau dengan mengamati perubahan aktifitas spectral dari sinyal[3]. Pada power frekuensi nilai yang dihasilkan akan sedikit demi sedikit menuju kearah level minimum, hal ini menandakan bahwa ada indikasi kelelahan. 2. Tinjauan Pustaka Bagian ini membahas ilmu yang bekaiatan dengan penelitian ini secara keseluruhan, baik tentang anatomi maupun rangkaian elektrik yang berhubungan dengan penangkapan dan pengolahan sinyal aktifitas listrik dari otot.

2 Otot dan Sistem Syaraf Otot manusia dapat diklasifikasikan menjadi tiga katagori, yaitu otot skaletal atau striated yang berhubungan dengan gaya luar,otot jantung, dan otot polos. Otot skeletal yang bekerja di bawah kontrol system syaraf badan, sehingga dinamakan otot sadar (a voluntary muscle). Otot jantung dan otot polos dioperasikan oleh system syaraf otomatis.untuk kontraksi otot sadar diperlukan stimulan dari sistem saraf. Sistem syaraf pusat terdiri dari otak (brain) dan spinal cord. Spinal cord menghubungkan otak dengan tubuh.sistem syaraf tepi (peripheral nervous system) terdiri dari serabut syaraf (axon) yang membawa impuls dari dan ke sistem syaraf pusat. Unit penggerak (motor unit) adalah unit fungsional terkecil dari system otot-syaraf (neuromuscular system). Kontraksi Otot Otot sadar memerlukan potensial aksi (action potensials) dari serabut syaraf untuk dapat berkontraksi. Ketika potensial aksi timbul, maka akan dilepaskan neurotransmitter acetyholine. Kemudian akan terjadi pengurangan polarisasi (depolarizes) antara penerima stimulan acetylcholine di dalam membran sel dari serabut otot dan membran serabut otot. Hasil akhir dari proses ini adalah sebuah kontraksi serabut otot. Unit-unit motor akan aktif secara berulang-ulang. Untuk menaikkan gaya otot, unit-unit motor aktif menaikkan kecepatan penembakan (firing rates) dan menunda unit-unit motor menjadi aktif. Kecepatan penembakan tergantung dari bermacam-macam faktor, seperti tingkatan kontraksi, ukuran otot, axonal damage, dll. Besar frekuensi penembakan dari unit-unit motor adalah diantara Hz. Elektromiografi Seperti telah disampaikan pada pendahuluan bahwa elektromiografi adalah sebuah metode untuk pengukuran, menampilkan, dan penganalisaan setiap signal listrik dengan menggunakan bermacammacam electrode. Signal listrik atau signal EMG timbul melalui beberapa proses, yaitu: resting membrane potential, muscle fiber action potential, potensial aksi unit motor, dan pengukuran signal EMG. Resting Membrane Potential. Dalam keadaan istirahat maka potensial dari dalam ke luar serabut otot kira-kira -90 mv. Hal ini disebabkan perbedaan konsentrasi dari ion dan akan menimbulkan transportasi ion(ion pumps) Muscle Fiber Action Potential. Ketika potensial aksi menjalar di sepanjang axon dari semua serabut otot, maka pada sambungan neuromuscular akan dikeluarkan neuro transmitter acetylcholinetransmitter ini yang menyebabkan potensial aksi pada serabut otot. Hal ini akan mengubah perbedaan potensial antara dalam dan luar serabut otot dari sekitar -90 mv menjadi sekitar 20 sampai 50 mv, sehingga terjadi kontraksi serabut otot. Potenial aksi ini akan menjalar dan diikuti menjalarnya depolarisasi pada membran serabut otot. Signal yang dihasilkan akan dapat diukur jika sebuah serabut otot adalah aktif dalam suatu waktu, hal ini disebut a muscle fiber action potential (MFAP). Potensial Aksi Unit Motor. Sejak aktivasi dari sebuah neuron motor alpha (an alpha motor neuron) menyebabkan kontraksi serabut otot, sejumlah signal, sebagai kontribusi dari potensial aksi serabut otot yang biasanya diukur. Aktivitas listrik ini disebut potensial aksi unit motor (MUAP). Jadi MUAP adalah gelombang yang diukur ketika sebuah unit motor diaktivasi pada suatu waktu. Pengukuran Signal EMG. Sebuah signal EMG berasal dari beberapa unit motor dan didefinisikan sebagai jumlah dari semua MUAP ditambah noise dan artefacts. Ada beberapa tipe elektrode yang digunakan untuk mengukur signal EMG, yaitu needle electrodes, fine-wire electrodes, dan surface electrodes. Electromyogram dapat diukur dengan dua cara, secara invasive yaitu dengan memasukkan elektroda jarum pada otot yang akan diukur dan secara non invasive yaitu dengan meletakkan elektroda pada permukaan kulit. Sinyal yang dihasilkan dari perekamam dengan metoda non invasive ini akan menghasilkan sinyal surface electromyogram (semg). Metode non invasive ini lebih sering digunakan karena dapat dilakukan oleh personal selain dokter, dengan resiko yang minimal terhadap subject [4] Untuk keperluan aplikasi efek terapi panas maka elektrode yang sering digunakan adalah surface electrodes. Hal ini dikarenakan surface electrodes mudah pemasangannya juga tidak terlalu mengganggu aktivitas dari orang yang diteliti. Adapun susunan intrumen EMG dengan surface electrodes dapat dilihat pada Gambar 1

3 Gambar 1. Susunan Instrumen EMG Dengan Surface Electrodes dan Prinsip Perekaman Potencial aksi Ekstrasellular [2] Penggunaan Energi Panas Sebagai Terapi Didalam kamus, definisi terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit. Didalam penelitian ini, terapi yang digunakan adalah terapi panas. Diharapkan dengan terapi panas dapat mengurangi kelelahan pada otot yang diberi latihan. Telah kita ketahui bahwa hamparan energi panas dapat melalui konduksi, konveksi dan evaporasi. Dengan mengetahui sifat hamparan energi panas ini diusahakan agar dengan cara apa saja dapat mentrasferkan panas tersebut serta bagaimanakah agar energi panas tersebut dapat mencapai tubuh. Energi panas mula-mula akan penetrasi ke dalam jaringan kulit dalam bentuk berkas cahaya (dalam bentuk radiasi atau konduksi). Kemudian akan menghilang di daerah jaringan yang lebih dalam berupa panas. Panas tersebut kemudian diangkut ke jaringan lain dengan cara konveksi yaitu diangkut ke jaringan seluruh tubuh melalui cairan tubuh. Sejak beribu-ribu tahun, energi panas telah banyak digunakan dalam bidang kedokteran. Romans (600 tahun sebelum masehi) memakai minyak panas untuk memijat. Tahun 1774 Tuan Faure mempergunakan hotsbricchs dalam pengobatan nyeri yang disebabkan oleh rheumatic. Roeberiener (1816) membicarakan pemakaian sinar dalam bidang pengobatan. Seabad kemudian tepatnya 1913 penggunaan sinar ungu ultra oleh Reyn dalam iradiasi tubuh manusia. Dan sejak diketemukannya piezzo elektrik oleh langevin pada tahun 1917 mulailah para klinisi menggunakan ultrasonic dalam pengobatan. Sepuluh tahun kemudian Schliepluke melaporkan hasil pengobatan dengan menggunakan short wave diathermy.[5] Pada penelitian ini penulis akan mencoba menganalisa penggunaan terapi panas untuk pengobatan, dalam hal ini mengurangi kelelahan pada otot terukur. Analisa dilakukan dengan mengambil sinyal elektromiogram dari otot yang diberi latihan sekaligus diberi terapi panas. Hasilnya akan dibandingkan dengan pemberian latihan tanpa diberi terapi panas.terapi panas yang diberikan adalah panas melalui diathermy. Rangkaian Differential Amplifier Rangkaian differential amplifier berfungsi untuk menangkap sinyal mioelektrik dari otot untuk kemudian dikuatkan. Rangkaian ini mempunyai impedansi input yang sangat rendah sehingga dapat disiasati dengan menggunakan rangkaian instrumentation amplifier. Rangkaian Filter Filter adalah sebuah rangkaian yang dirancang agar melewatkan suatu pita frekuensi tertentu saja dan memperlemah semua isyarat diluar pita frekuensi ini. Jaringan filter bisa bersifat aktif maupun pasif. Jaringan filter pasif hanya berisi resistor, induktor dan capasitor saja. Sedangkan jaringan filter aktif menggunakan transistor atau op amp ditambah resistor, induktor dan kapasitor. Ada beberapa jenis filter antara lain low pass, high pass dan band pass.[6]low pass filter adalah sebuah rangkaian yang keluaran tegangannya tetap, kemudian naik sampai ke suatu frekuensi cutoff (fc). LPF (Low Pass Filter) hanya akan melewatkan sinyal dengan frekuensi yang lebih rendah dari frekuensi cutoff (f c ) dan menindas atau menekan sinyal yang lebih tinggi dari frekuensi cuttoff (f c ). HPF (High Pass Filter) adalah jaringan yang melewatkan sinyal dengan frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi cuttoff (f c ) dan menekan atau menindas sinyal dengan frekuensi yang lebih rendah dari frekuensi cut off (f c ). Non Inverting adder amplifier

4 Adalah suatu rangkaian penjumlah tak membalik yang akan menjumlahkan dua masukan pada kaki non inverting, dalam hal ini yang akan dijumlahkan adalah tegangan dari kedua elektroda. Analog to Digital Converter Analog to Digital Converter ( ADC ) merupakan suatu rangkaian yang berfungsi untuk mengubah tegangan analog menjadi kode data biner digital. ADC mempunyai berbagai macam parameter diantaranya resolusi, waktu konversi, LSB error. Ada berbagai macam tipe ADC yang didisain.salah satu tipe ADC yang sering digunakan untuk akuisisi data frekuensi tinggi adalah tipe flash ADC. Flash ADC juga disebut parallel A/D converter, rangkaian ini sangat sederhana untuk dipahami. Rangkaian ini dibangun dengan menggunakan beberapa komparator, masing-masing komparator membandingkan sinyal input terhadap suatu tegangan referensi tertentu. Output-output komparator dihubungkan pada input-input rangkaian encoder priority, yang menghasilkan output berupa data biner.v ref adalah suatu tegangan referensi yang dihasilkan dari regulator tegangan yang presisi yang merupakan bagian dari rangkaian ADC. Ketika tegangan input analog melebihi tegangan referensi pada tiap-tiap komparator, output-output komparator akan secara berurutan berada pada suatu keadaan logika high. Encoder priority membangkitkan suatu data biner pada input sesuai dengan urutan bit tertinggi pada bagian input, dan mengabaikan input lain yang aktif. Dengan menggunakan teknik konversi half flash, 8 bit ADC0820 CMOS A/D memiliki waktu konversi 1,5µs pada write-read mode dan 2,5 µs pada read mode. Range input pada 0 VDC hingga +5 VDC dan daya yang diperlukan hanya 75mW. Half flash teknik terdiri dari 32 komparator,sebagian besar hampir seperti 2 buah rangkaian 4 bit ADC. Input dari ADC 0820 dibangun dan mengikuti input frekuensi sampling, rangkaian pembatas dibutuhkan untuk membatasi sampling dari luar dan sinyal bergerak tidak lebih dari 100 mv/ µs. Rangkaian IC Mikrokontroler (AT89S51) IC Mikrokontroler AT89S51 adalah komponen produksi Atmel yang berorientasi pada kontrol dengan level logika CMOS. Komponen ini sangat membantu dalam pembacaan data dari ADC menuju komputer. Memori data ini yang akan mempercepat proses penampilan data ke komputer. Rangkaian Serial Port (Komunikasi Serial) Bila anda bandingkan cara komunikasi yang dilakukan secara paralel dengan cara komunikasi yang dilakukan secara serial, maka masing-masing akan memiliki keuntungan dan kelebihan yang tersendiri. Komunikasi yang dilakukan secara serial mempunyai keuntungan dari sisi pengkabelan, karena hanya memerlukan tiga buah kabel, TX, RX dan Ground. Fast fourier transform Analisa fourier digunakan untuk menentukan spectrum frekuensi pada sinyal semg, dimana dari spectrum frekuensi ini kita dapat melihat perubahan yang terjadi pada sinyal EMG.Hal ini dilakukan karena pada perancangan elektronik hanya mampu menghasilkan sinyal dalam domain waktu sedangkan untuk menganalisa sinyal tersebut, kita membutuhkan analisa sinyal dalam domain frekuensi, sehingga analisa sinyal dengan FFT akan sangat membantu dalam menentukan hasil analisa. 3. APLIKASI EMG DALAM PERANCANGAN Metodelogi Perancangan Elektroda Differential Amplifier Band Pass filter Adder. Rs232 Converter Mikrokontroler ADC Komputer RAM Gambar 2. blok diagram perancangan sistem hardware

5 Perancangan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu perancangan hardware yang mana blok diagramnya terlihat pada gambar 2 dan perancangan software. Hardware digunakan untuk menangkap sinyal semg yang berasal dari otot terukur, kemudian oleh software ditampilkan melalui komputer melalui program delphi. Penempatan Elektroda Dalam penelitian ini EMG digunakan untuk mengukur aktifitas listrik otot biceps. Pengukuran dilakukan dengan memberikan beban seberat 3 Kg digenggam dan diangkat, kemudian akan dipertahankan oleh otot biceps selama 10 menit. Pada saat otot bíceps mempertahankan gaya yang diberikan kepadanya, maka aktifitas otot akan direkam, perekaman sinyal elektromiogram ini akan ditampilkan dalam bentuk sinyal elektromiogram dalam domain waktu kemudian juga untuk mempermudah analisa akan ditampilkan dalam domain frekuensi. Bahasa pemprograman Delphi digunakan untuk membantu menampilkan sinyal semg, baik dalam domain waktu maupun dalam domain frekuensi. Peletakan elektroda pada otot bíceps dapat dilihat dalam gambar 3. Gambar 3. Penempatan elektroda pada otot biceps Pengukuran pada otot tersebut memerlukan dua buah elektroda (elektroda aktif), dan satu buah elektroda pasif, sehingga total pemasangan elektroda sebanyak 3 buah. Elektroda. Elektroda aktif yang digunakan adalah elektroda disposable, karena selain nyaman terhadap pasien, sinyal yang dihasilkan juga lebih teratur. Untuk elektroda pasif, digunakan jenis elektroda kering, yang dipasang pada bagian netral dari jaringan ketiga otot tersebut yaitu pada bagian pergelangan tangan. PEMBAHASAN Pelatihan dilakukan selama 10 menit, dalam kurun waktu tersebut terdapat 40 kali pengambilan data, kemudian diubah dalam kofisien fouriertransform. Setelah didapat data berupa koefisien fourier transform kemudian hasil tersebut dianalisa. Gambar 4 dan 5 adalah hasil perekaman dari sinyal elektromiogram pada salah satu pasien. Dimana pada gambar 4 adalah grafik hasil perekaman sinyal semg saat latihan diberikan tanpa terapi panas dan gambar 5 adalah grafik hasil perekaman sinyal semg saat latihan diberikan bersamaan dengan pemberian terapi panas. Gambar 4 Hasil pengukuran sinyal semg pada saat latihan tanpa pemberian terapi panas

6 Pada gambar 4 sebelah kiri adalah gambar sinyal EMG dalam domain waktu, sedangkan gambar kanan adalah gambar pengolahan sinyal dalam domain frekuensi. Gambar 4 Hasil pengukuran sinyal semg pada saat latihan tanpa pemberian terapi panas ANALISA DATA Dari hasil pengukuran sinyal semg pada titik pengukuran biceps, menunjukkan bahwa sinyal semg mempunyai sifat yang random atau stokastik, sehingga analisa sinyal semg dengan menggunakan domain frekuensi, masih merupakan metode yang paling sesuai. Penelitian Analisa efek terapi panas pada keletihan otot ini, yang menjadi variabel bebas adalah waktu dan berat beban. Pemberian beban pada pasien seberat 3 Kg diberikan selama rentang waktu 10 menit. selama rentang waktu ini pasien dianggap mampu menahan beban tersebut pada postur titik pengukuran otot biceps. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran berulang kali untuk beberapa pasien. Akan tetapi untuk analisa data hanya diambil sebanyak 7 pasien, hal ini disebabkan karena pengukuran pada pasien tidak memenuhi kriteria, misalkan pada pasien yang ototnya terlatih akan sulit untuk menentukan kelelahan, karena otot masih mampu menahan gaya yang diberikan pada rentang waktu 10 menit. Demikian pula untuk pasien yang terlalu kurus atau terlalu gemuk akan sangat sulit untuk menangkap sinyal semg, karena sinyal yang dihasilkan sangat kecil, sehingga sulit di ukur. Pada waktu pengukuran yang dilakukan selama 10 menit, akan terjadi pengambilan data setiap 10 detik dan setiap kali pengambilan data berlangsung selama 5 detik. Jumlah seluruh data pada masing-masing pengukuran adalah 40 data. Untuk mempermudah analisa data maka data yang dimbil adalah data ke 10, data ke 20, data ke 30 dan data ke 40. Dengan demikian kita dapat mengetahui waktu untuk masing-masing pengambilan data yaitu, pada data ke 10 diambil setelah gaya diberikan selama 145 detik, pada data ke 20, diambil pada saat pengukuran mencapai 295 detik, untuk pengukuran ke 30 pengambilan data pada waktu 445 detik dan untuk pengukuran terakhir diambil pada waktu pengukuran mencapai waktu 595 detik. Pengolahan data akan dibagi menjadi beberapa tahap, yaiu; 1. Melihat data koefisien fourier transform sinyal semg pada pengukuran ke 10, 20, 30 dan 40 untuk masing-masing pasien yang diambil saat pengukuran tanpa terapi, untuk kemudian hasilnya dianalisa. 2. Membandingkan data koefisien fourier transform sinyal semg pada pengukuran ke 10, 20, 30 dan 40 antara pasien yang satu dengan pasien yang lain, data diambil saat pengukuran tanpa terapi, untuk kemudian hasilnya dianalisa.

7 3. Melihat data koefisien fourier transform sinyal semg pada pengukuran ke 10, 20, 30 dan 40 untuk masing-masing pasien yang diambil saat pengukuran dengan terapi, untuk kemudian hasilnya dianalisa. 4. Membandingkan data koefisien fourier transform sinyal semg pada pengukuran ke 10, 20, 30 dan 40 antara pasien yang satu dengan pasien yang lain, data diambil saat pengukuran dengan terapi, untuk kemudian hasilnya dianalisa. 5. Membandingkan rerata data koefisien fourier transform sinyal semg pada pengukuran ke 10, ke 20, ke 30 dan ke 40 antara pasien saat pengukuran dengan terapi dan pengukuran tanpa terapi. KESIMPULAN Dari hasil pengukuran ini menunjukkan bahwa hampir semua pasien memiliki waktu kelelahan yang hampir sama yaitu pada saat pengukuran mencapai 295 detik hingga mencapai 445 detik. Sedangkan apabila latihan dibarengi dengan terapi panas maka kelelahan akan muncul antara 445 detik sampai dengan 595 detik. Dari hasil pengamatan pada data pengukuran saat latihan dengan menggunakan terapi panas dapat dilihat bahwa kenaikan nilai magnitudo tidak terlalu tinggi untuk masing-masing pasien dibandingkan tanpa terapi pans dan pada frekuensi antara 50 HZ sampai dengan 100 HZ masih terdapat kenaikan-kenaikan nilai amplitudo untuk masing-masing pasien sedangkan apabila tanpa terapi panas frekuensi hanya berkisar 50 Hz saja, hal ini menandakan bahwa tingkat kelelahan dapat direduksi atau berkurang karena adanya terapi panas. Dengan menggunakan SPSS kita dapat membandingkan nilai maksimum dari magnitudo saat latihan dengan menggunakan terapi dan latihan tanpa menggunakan terapi. Hal ini menandakan bahwa dengan pemberian terapi panas dapat mengurangi tingkat kelelahan pada otot. Ucapan Terima Kasih Pada kesempatan ini, dengan segenap kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada; 1. Bapak Ketua Program Studi Pasca Sarjana Teknik Elektro beserta dosen dan segenap karyawan di Jurusan Teknik Elektro. 2. Bapak Ir. Joko Purwanto, M.Eng, Ph.D. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama ini. 3. Bapak DR. Tri Arief Sardjono, ST, MT selaku Co. Pembimbing yang juga telah memberikan arahan dan bimbingan selama ini. 4. Semua Teman-teman di Jurusan Teknik Elektromedik Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya, yang selalu mendorong penulis untuk segera menyelesaikan Tesis ini. 5. Suamiku, anakku dan keluarga besarku yang dengan sabar menemaniku dan selalu membesarkan hatiku selama pembuatan Tesis ini. 6. Dan rekan-rekan sejawat yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu selama ini. Tanpa Bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian penulis tidak akan mungkin menyelesaikan Tesis ini. Akhirnya dengan kesungguhan hati, penulis berharap agar Allah SWT melimpahkan berkah-nya dan membalas semua budi baik yang telah diberikan. Daftar pustaka [1] Bills,A.G., The Psychology of Efficiency, Harper, New York, [2] LUTTMANN, A., 1996, Physiological basisand concepts of electromyography in: Electromyography in ergonomics, edited byshrawan Kumar and Anil Mital, Institut furarbeitsphysiologie an der UniversitatDortmund, Dortmund. Taulor & FrancisPublishers [3] Merletti R, Gulisashvili A,Lo Conte LR, Estimation of Shape characteristics of Surface Muscle Signal Spectra From Time Domain Data. IEEE Trans Biomed Eng 42: , [4] Day Scott, Important Factor in Surface EMG Measurement, BortecBiomedical,2001. [5] Gabriel J.F.,dr, Fisika Kedokteran, EGC, Jakarta,1996. [6 Coughlin Robert F., Driscoll Frederick F., Operational Amplifiers and Linier Integrated Circuits, PrenticeHall, 2001.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambar Rangkaian EMG Dilengkapi Bluetooth

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambar Rangkaian EMG Dilengkapi Bluetooth BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambar Rangkaian EMG Dilengkapi Bluetooth Gambar 4. 1 Rangkaian keseluruhan EMG dilengkapi bluetooth Perancangan EMG dilengkapi bluetooth dengan tampilan personal computer

Lebih terperinci

Deteksi Sinyal Elektromyogram (EMG) Saat Kontraksi Dan Relaksasi Dengan Personal Komputer

Deteksi Sinyal Elektromyogram (EMG) Saat Kontraksi Dan Relaksasi Dengan Personal Komputer Deteksi Sinyal Elektromyogram (EMG) Saat Kontraksi Dan Relaksasi Dengan Personal Komputer Irmalia Suryani Faradisa 1, Pandu Noortyas 2 1,2) Program Studi Teknik Elektro, ITN Malang e-mail: 1) [email protected],

Lebih terperinci

Desain Dan Implementasi Lengan Robot Berbasis Electromyogram Untuk Orang Berkebutuhan Khusus

Desain Dan Implementasi Lengan Robot Berbasis Electromyogram Untuk Orang Berkebutuhan Khusus Vol. 2, 2017 Desain Dan Implementasi Lengan Robot Berbasis Electromyogram Untuk Orang Berkebutuhan Khusus Ardhan Dwi Meirika Surachman 1*, Mohammad Ramdhani 2, Ramdhan Nugraha 3 Program Studi Teknik Elektro

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suara paru terjadi karena adanya turbulensi udara saat udara memasuki saluran pernapasan selama proses pernapasan. Turbulensi ini terjadi karena udara mengalir dari

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas dasar teori yang berhubungan dengan perancangan skripsi antara lain fungsi dari function generator, osilator, MAX038, rangkaian operasional amplifier, Mikrokontroler

Lebih terperinci

Rancang Bangun Modul EEG Untuk Menentukan Posisi Otak Saat Melakukan Aktivitas Tertentu Menggunakan Metoda Filter Digital IIR

Rancang Bangun Modul EEG Untuk Menentukan Posisi Otak Saat Melakukan Aktivitas Tertentu Menggunakan Metoda Filter Digital IIR Rancang Bangun Modul EEG Untuk Menentukan Posisi Otak Saat Melakukan Aktivitas Tertentu Menggunakan Metoda Filter Digital IIR Fitra Setiawan #1, Ratna Adil #2 # Jurusan Teknik Elektronika, Politeknik Elektronika

Lebih terperinci

BAB III HARDWARE & SOFTWARE

BAB III HARDWARE & SOFTWARE BAB III HARDWARE & SOFTWARE Pada bab ini akan di bahas mengenai perancangan alat yang di gunakan dalam tugas akhir kali ini, dalam alat yang di gunakan terdapat 2 rangkaian yang di gunakan, yaitu rangkaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi yang pesat mempermudah manusia dalam mencapai kebutuhan hidup. Hal tersebut telah merambah segala bidang termasuk dalam bidang kedokteran.

Lebih terperinci

ANALOG SIGNAL PROCESSING USING OPERASIONAL AMPLIFIERS

ANALOG SIGNAL PROCESSING USING OPERASIONAL AMPLIFIERS ANALOG SIGNAL PROCESSING USING OPERASIONAL AMPLIFIERS (PEMROSESAN SINYAL ANALOG MENGGUNAKAN PENGUAT OPERASIONAL) A. PENDAHULUAN Sinyal keluaran dari sebuah tranduser atau sensor sangat kecil hampir mendekati

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PROTOTIPE BAND PASS FILTER UNTUK OPTIMASI TRANSFER DAYA PADA SINYAL FREKUENSI RENDAH; STUDI KASUS : SINYAL EEG

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PROTOTIPE BAND PASS FILTER UNTUK OPTIMASI TRANSFER DAYA PADA SINYAL FREKUENSI RENDAH; STUDI KASUS : SINYAL EEG PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PROTOTIPE BAND PASS FILTER UNTUK OPTIMASI TRANSFER DAYA PADA SINYAL FREKUENSI RENDAH; STUDI KASUS : SINYAL EEG LISA SAKINAH (07 00 70) Dosen Pembimbing: Dr. Melania Suweni Muntini,

Lebih terperinci

Perancangan Dan Realisasi Pengontrol Gerakan Lengan Robot Berdasarkan Kontraksi Dan Relaksasi Otot Lengan Manusia

Perancangan Dan Realisasi Pengontrol Gerakan Lengan Robot Berdasarkan Kontraksi Dan Relaksasi Otot Lengan Manusia Perancangan Dan Realisasi Pengontrol Gerakan Lengan Robot Berdasarkan Kontraksi Dan Relaksasi Otot Lengan Manusia Disusun Oleh : Bonnie Ismailia Mehta 0422108 Email : [email protected] Jurusan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM 25 BAB III PERANCANGAN SISTEM Sistem monitoring ini terdiri dari perangkat keras (hadware) dan perangkat lunak (software). Perangkat keras terdiri dari bagian blok pengirim (transmitter) dan blok penerima

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. sistem. Blok diagram sistem dapat dilihat pada gambar 3.1 di bawah ini.

BAB III METODE PENELITIAN. sistem. Blok diagram sistem dapat dilihat pada gambar 3.1 di bawah ini. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Blok Sistem Perancangan sistem EKG ini dimulai dengan perancangan blok diagram sistem. Blok diagram sistem dapat dilihat pada gambar 3.1 di bawah ini. Perangkat keras

Lebih terperinci

SISTEM TELECARDIAC MONITORING EKSTRAKSI DAN TRANSMISI PARAMETER TEMPORAL SINYAL JANTUNG MELALUI KANAL RADIO

SISTEM TELECARDIAC MONITORING EKSTRAKSI DAN TRANSMISI PARAMETER TEMPORAL SINYAL JANTUNG MELALUI KANAL RADIO SISTEM TELECARDIAC MONITORING EKSTRAKSI DAN TRANSMISI PARAMETER TEMPORAL SINYAL JANTUNG MELALUI KANAL RADIO Norma Hermawan 1), Muh. Farid Retistianto 2), Achmad Arifin 3) 1),3 ) Teknik Biomedik, Institut

Lebih terperinci

Gambar 2.1 Perangkat UniTrain-I dan MCLS-modular yang digunakan dalam Digital Signal Processing (Lucas-Nulle, 2012)

Gambar 2.1 Perangkat UniTrain-I dan MCLS-modular yang digunakan dalam Digital Signal Processing (Lucas-Nulle, 2012) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Digital Signal Processing Pada masa sekarang ini, pengolahan sinyal secara digital yang merupakan alternatif dalam pengolahan sinyal analog telah diterapkan begitu luas. Dari

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENULISAN

BAB III METODOLOGI PENULISAN BAB III METODOLOGI PENULISAN 3.1 Blok Diagram Gambar 3.1 Blok Diagram Fungsi dari masing-masing blok diatas adalah sebagai berikut : 1. Finger Sensor Finger sensor berfungsi mendeteksi aliran darah yang

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI. Blok diagram carrier recovery dengan metode costas loop yang

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI. Blok diagram carrier recovery dengan metode costas loop yang BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI 3.1 Perancangan Alat Blok diagram carrier recovery dengan metode costas loop yang direncanakan diperlihatkan pada Gambar 3.1. Sinyal masukan carrier recovery yang berasal

Lebih terperinci

Disusun Oleh: Kevin Yogaswara ( ) Meitantia Weni S B ( ) Pembimbing: Ir. Rusdhianto Effendi AK., MT.

Disusun Oleh: Kevin Yogaswara ( ) Meitantia Weni S B ( ) Pembimbing: Ir. Rusdhianto Effendi AK., MT. Disusun Oleh: Kevin Yogaswara (2207 030 006) Meitantia Weni S B (2207 030 055) Pembimbing: Ir. Rusdhianto Effendi AK., MT. PROGRAM STUDI DIII TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI

Lebih terperinci

PENDETEKSI OTOMATIS ARAH SUMBER CAHAYA MATAHARI PADA SEL SURYA. Ahmad Sholihuddin Universitas Islam Balitar Blitar Jl. Majapahit no 4 Blitar.

PENDETEKSI OTOMATIS ARAH SUMBER CAHAYA MATAHARI PADA SEL SURYA. Ahmad Sholihuddin Universitas Islam Balitar Blitar Jl. Majapahit no 4 Blitar. PENDETEKSI OTOMATIS ARAH SUMBER CAHAYA MATAHARI PADA SEL SURYA Ahmad Sholihuddin Universitas Islam Balitar Blitar Jl. Majapahit no 4 Blitar Abstrak Penerapan teknologi otomatis dengan menggunakan sistem

Lebih terperinci

A364. JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print)

A364. JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) A364 Sistem Restorasi Gerak Sendi Siku Menggunakan Functional Electrical Stimulation Erwin Setiawan Widjaja, Achmad Arifin, Fauzan Arrofiqi dan Mohammad Nuh Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Industri,

Lebih terperinci

INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 14 (DAC 0808)

INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 14 (DAC 0808) INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 14 (DAC 0808) I. TUJUAN 1. Mahasiswa dapat memahami karakteristik pengkondisi sinyal DAC 0808 2. Mahasiswa dapat merancang rangkaian pengkondisi sinyal DAC 0808

Lebih terperinci

Seminar Tugas Akhir Juni 2017

Seminar Tugas Akhir Juni 2017 Seminar Tugas Akhir Juni 07 Stetoskop Elektronik Sederhana untuk Auskultasi Jantung dan Paru Yahya Nanda Khurniawan, Torib Hamzah,Dyah Titisari ABSTRAK Stetoskop merupakan alat medis akustik sederhana

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 Tujuan Perancangan Tujuan dari perancangan ini adalah untuk menentukan spesifikasi kerja alat yang akan direalisasikan melalui suatu pendekatan analisa perhitungan, analisa

Lebih terperinci

Penguat Oprasional FE UDINUS

Penguat Oprasional FE UDINUS Minggu ke -8 8 Maret 2013 Penguat Oprasional FE UDINUS 2 RANGKAIAN PENGUAT DIFERENSIAL Rangkaian Penguat Diferensial Rangkaian Penguat Instrumentasi 3 Rangkaian Penguat Diferensial R1 R2 V1 - Vout V2 R1

Lebih terperinci

BAB III KEGIATAN PENELITIAN TERAPAN

BAB III KEGIATAN PENELITIAN TERAPAN BAB III KEGIATAN PENELITIAN TERAPAN Pada bab ini akan dijelaskan langkah-langkah yang akan digunakan dalam menyelesaikan Alat Simulasi Pembangkit Sinyal Jantung, berupa perangkat keras (hardware) dan perangkat

Lebih terperinci

PERENCANAAN DAN PENGAMBILAN DATA DENYUT JANTUNG UNTUK MENGETAHUI HEART RATE PASCA AKTIFITAS DENGAN PC

PERENCANAAN DAN PENGAMBILAN DATA DENYUT JANTUNG UNTUK MENGETAHUI HEART RATE PASCA AKTIFITAS DENGAN PC PERENCANAAN DAN PENGAMBILAN DATA DENYUT JANTUNG UNTUK MENGETAHUI HEART RATE PASCA AKTIFITAS DENGAN PC Miftakh Dali Suryana 1, Ir. Ratna Adil, MT 2, Paulus Susetyo Wardhana 2 Jurusan Elektronika, Politeknik

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT. modulator 8-QAM seperti pada gambar 3.1 berikut ini: Gambar 3.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT. modulator 8-QAM seperti pada gambar 3.1 berikut ini: Gambar 3.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT 3.1 Pembuatan Modulator 8-QAM Dalam Pembuatan Modulator 8-QAM ini, berdasarkan pada blok diagram modulator 8-QAM seperti pada gambar 3.1 berikut ini: Gambar 3.1 Blok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jantung (cardiac) adalah organ di dalam tubuh manusia yang mempunyai fungsi untuk memompa dan mengedarkan darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan

Lebih terperinci

PERANCANGAN ELEKTROMIOGRAF DILENGKAPI BLUETOOTH UNTUK KONEKSI DENGAN PERSONAL COMPUTER TUGAS AKHIR. Oleh : LUQMAN BHANU FITRIAN

PERANCANGAN ELEKTROMIOGRAF DILENGKAPI BLUETOOTH UNTUK KONEKSI DENGAN PERSONAL COMPUTER TUGAS AKHIR. Oleh : LUQMAN BHANU FITRIAN PERANCANGAN ELEKTROMIOGRAF DILENGKAPI BLUETOOTH UNTUK KONEKSI DENGAN PERSONAL COMPUTER TUGAS AKHIR Oleh : LUQMAN BHANU FITRIAN 20143010012 PROGRAM STUDI D3 TEKNIK ELEKTROMEDIK PROGRAM VOKASI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan November 2014 sampai dengan

METODE PENELITIAN. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan November 2014 sampai dengan 34 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan November 2014 sampai dengan April 2015. Perancangan sistem, identifikasi kadar air pada kayu jati dan akasia daun

Lebih terperinci

Perancangan Simulator EKG (Elektronik Kardiogra) Menggunakan Software Proteus 8.0

Perancangan Simulator EKG (Elektronik Kardiogra) Menggunakan Software Proteus 8.0 Perancangan Simulator EKG (Elektronik Kardiogra) Menggunakan Software Proteus 8.0 Suroso Andrianto dan Laela Sakinah Teknik Elektro Sekolah Tinggi Teknik Multimedia Cendekia Abditama Tangerang, Indonesia

Lebih terperinci

Sistem Instrumentasi Sinyal Electrocardiography untuk Analisa Dinamika Jantung

Sistem Instrumentasi Sinyal Electrocardiography untuk Analisa Dinamika Jantung Sistem Instrumentasi Sinyal Electrocardiography untuk Analisa Dinamika Jantung Eko Agus Suprayitno Bidang Keahlian Teknik Elektronika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember 60111 Surabaya, Indonesia Email:

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN SISTEM DETEKSI KELELAHAN PADA PENGEMUDI MOBIL BERBASIS SINYAL ELECTROMYOGRAPHY (EMG)

PENGEMBANGAN SISTEM DETEKSI KELELAHAN PADA PENGEMUDI MOBIL BERBASIS SINYAL ELECTROMYOGRAPHY (EMG) PEGEMBAGA SISTEM DETEKSI KELELAHA PADA PEGEMUDI MOBIL BERBASIS SIYAL ELECTROMYOGRAPHY (EMG) Sukma Firdaus, Marlia Adriana Jurusan Mesin Otomotif, Politeknik egeri Tanah Laut email: [email protected]

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI Suara. Suara adalah sinyal atau gelombang yang merambat dengan frekuensi dan

BAB II DASAR TEORI Suara. Suara adalah sinyal atau gelombang yang merambat dengan frekuensi dan BAB II DASAR TEORI 2. 1 Suara Suara adalah sinyal atau gelombang yang merambat dengan frekuensi dan amplitude tertentu melalui media perantara yang dihantarkannya seperti media air, udara maupun benda

Lebih terperinci

RANGKAIAN ELEKTRONIKA ANALOG

RANGKAIAN ELEKTRONIKA ANALOG Pendahuluan i iv Rangkaian Elektronika Analog RANGKAIAN ELEKTRONIKA ANALOG Oleh : Pujiono Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2012 Hak Cipta 2012 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN STETOSKOP DIGITAL SEBAGAI PEREKAM SUARA RESPIRASI DAN DETAK JANTUNG

RANCANG BANGUN STETOSKOP DIGITAL SEBAGAI PEREKAM SUARA RESPIRASI DAN DETAK JANTUNG EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 9 No. Januari 203 ; 3-2 RANCANG BANGUN STETOSKOP DIGITAL SEBAGAI PEREKAM SUARA RESPIRASI DAN DETAK JANTUNG Sri Anggraeni K Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Semarang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. alat pendeteksi frekuensi detak jantung. Langkah langkah untuk merealisasikan

BAB III METODE PENELITIAN. alat pendeteksi frekuensi detak jantung. Langkah langkah untuk merealisasikan BAB III METODE PENELITIAN Pada penelitian ini, akan dilakukan beberapa langkah untuk membuat alat pendeteksi frekuensi detak jantung. Langkah langkah untuk merealisasikan alat pendeteksi frekuensi detak

Lebih terperinci

2) Staf Pengajar Jurusan Fisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

2) Staf Pengajar Jurusan Fisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PROTOTIPE BAND PASS FILTER UNTUK OPTIMASI TRANSFER DAYA PADA SINYAL FREKUENSI RENDAH; STUDI KASUS:SINYAL EEG Lisa Sakinah 1), Dr. Melania SM,M.T 2) 1) Mahasiswa Jurusan Fisika,

Lebih terperinci

OPTIMASI RANCANGAN FILTER BANDPASS AKTIF UNTUK SINYAL LEMAH MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIK Studi Kasus: Sinyal EEG

OPTIMASI RANCANGAN FILTER BANDPASS AKTIF UNTUK SINYAL LEMAH MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIK Studi Kasus: Sinyal EEG OPTIMASI RANCANGAN FILTER BANDPASS AKTIF UNTUK SINYAL LEMAH MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIK Studi Kasus: Sinyal EEG Oleh : Ellys Kumala P (1107100040) Dosen Pembimbing Dr. Melania Suweni Muntini, MT JURUSAN

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SISTEM

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SISTEM BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN SISTEM 4.1 Pengujian Perangkat Keras (Hardware) Pengujian perangkat keras sangat penting dilakukan karena melalui pengujian ini rangkaian-rangkaian elektronika dapat diuji

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jantung merupakan sebuah organ tubuh yang terdiri dari sekumpulan otot.

BAB I PENDAHULUAN. Jantung merupakan sebuah organ tubuh yang terdiri dari sekumpulan otot. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jantung merupakan sebuah organ tubuh yang terdiri dari sekumpulan otot. Otot jantung merupakan jaringan istimewa karena kalau dilihat dari bentuk dan susunannya sama

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEOI Simulator ECG adalah sinyal tiruan aktifitas jantung yang banyak digunakan baik oleh tenaga medis maupun teknisi lainya yang berkaitan dengan penggunaan alat perekam aktifitas listrik

Lebih terperinci

BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED. Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar

BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED. Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar BAB III RANCANG BANGUN SISTEM KARAKTERISASI LED 3.1. Rancang Bangun Perangkat Keras Rancangan sistem karakterisasi LED diperlihatkan pada blok diagram Gambar 3.1. Sistem ini terdiri dari komputer, antarmuka

Lebih terperinci

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2015 hingga Desember 2015 di Laboratorium Elektronika dan Laboratorium Instrumentasi Medis, Departemen

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1PHOTODIODA Dioda foto adalah jenis dioda yang berfungsi mendeteksi cahaya. Berbeda dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1PHOTODIODA Dioda foto adalah jenis dioda yang berfungsi mendeteksi cahaya. Berbeda dengan 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1PHOTODIODA Dioda foto adalah jenis dioda yang berfungsi mendeteksi cahaya. Berbeda dengan dioda biasa, komponen elektronika ini akan mengubah cahaya menjadi arus listrik. Cahaya

Lebih terperinci

DAC - ADC Digital to Analog Converter Analog to Digital Converter

DAC - ADC Digital to Analog Converter Analog to Digital Converter DAC - ADC Digital to Analog Converter Analog to Digital Converter Missa Lamsani Hal 1 Konverter Alat bantu digital yang paling penting untuk teknologi kontrol proses adalah yang menerjemahkan informasi

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM. Dalam tugas akhir ini dirancang sebuah modulator BPSK dengan bit rate

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM. Dalam tugas akhir ini dirancang sebuah modulator BPSK dengan bit rate BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM 3.1 Gambaran Umum Dalam tugas akhir ini dirancang sebuah modulator BPSK dengan bit rate 64 Kbps untuk melakukan proses modulasi terhadap sinyal data digital. Dalam

Lebih terperinci

No Output LM 35 (Volt) Termometer Analog ( 0 C) Error ( 0 C) 1 0, , ,27 26,5 0,5 4 0,28 27,5 0,5 5 0, ,

No Output LM 35 (Volt) Termometer Analog ( 0 C) Error ( 0 C) 1 0, , ,27 26,5 0,5 4 0,28 27,5 0,5 5 0, , 56 Tabel 4.1 Hasil Perbandingan Antara Output LM 35 dengan Termometer No Output LM 35 (Volt) Termometer Analog ( 0 C) Error ( 0 C) 1 0,25 25 0 2 0,26 26 0 3 0,27 26,5 0,5 4 0,28 27,5 0,5 5 0,29 28 1 6

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR SISTEM MONITORING TEKANAN BAN

BAB II KONSEP DASAR SISTEM MONITORING TEKANAN BAN BAB II KONSEP DASAR SISTEM MONITORING TEKANAN BAN Konsep dasar sistem monitoring tekanan ban pada sepeda motor secara nirkabel ini terdiri dari modul sensor yang terpasang pada tutup pentil ban sepeda

Lebih terperinci

Deskripsi. Bidang Teknik Invensi. Latar Belakang Invensi

Deskripsi. Bidang Teknik Invensi. Latar Belakang Invensi Deskripsi PERALATAN DAN METODE PENGUKURAN PERUBAHAN NILAI TEGANGAN LISTRIK ANTARA TITIK-TITIK AKUPUNKTUR TUBUH SECARA INVASIF UNTUK MENGETAHUI KELAINAN FUNGSI ORGAN TUBUH MANUSIA Bidang Teknik Invensi

Lebih terperinci

BAB VI INSTRUMEN PENGKONDISI SINYAL

BAB VI INSTRUMEN PENGKONDISI SINYAL BAB VI INSTRUMEN PENGKONDISI SINYAL Pengkondisian sinyal merupakan suatu konversi sinyal menjadi bentuk yang lebih sesuai yang merupakan antarmuka dengan elemen-elemen lain dalam suatu kontrol proses.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Elektromiografi (EMG) adalah sebuah teknik yang digunakan untuk merekam aktivitas elektris yang dihasilkan oleh kontraksi otot manusia. EMG didesain dan digunakan untuk

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan Mei 2015,

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan Mei 2015, III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan Mei 2015, pembuatan alat dan pengambilan data dilaksanakan di Laboratorium

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI SISTEM PENGENALAN KATA MENGGUNAKAN SINYAL ELECTROMYOGRAPHY BERBASIS RASPBERRY PI

IMPLEMENTASI SISTEM PENGENALAN KATA MENGGUNAKAN SINYAL ELECTROMYOGRAPHY BERBASIS RASPBERRY PI IMPLEMENTASI SISTEM PENGENALAN KATA MENGGUNAKAN SINYAL ELECTROMYOGRAPHY BERBASIS RASPBERRY PI Disusun oleh : Evan Lesmana (1022010) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Kristen Maranatha

Lebih terperinci

Materi-2 SENSOR DAN TRANSDUSER (2 SKS / TEORI) SEMESTER 106 TA 2016/2017

Materi-2 SENSOR DAN TRANSDUSER (2 SKS / TEORI) SEMESTER 106 TA 2016/2017 Materi-2 SENSOR DAN TRANSDUSER 52150802 (2 SKS / TEORI) SEMESTER 106 TA 2016/2017 KONSEP AKUISISI DATA DAN KONVERSI PENGERTIAN Akuisisi data adalah pengukuran sinyal elektrik dari transduser dan peralatan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT. Pada perancangan alat untuk sistem demodulasi yang dirancang, terdiri dari

BAB III PERANCANGAN ALAT. Pada perancangan alat untuk sistem demodulasi yang dirancang, terdiri dari BAB III PERANCANGAN ALAT Pada perancangan alat untuk sistem demodulasi yang dirancang, terdiri dari beberapa perangkat keras (Hardware) yang akan dibentuk menjadi satu rangkaian pemodulasi sinyal digital

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jantung merupakan salah satu organ tubuh yang sangat vital, karena jantung

I. PENDAHULUAN. Jantung merupakan salah satu organ tubuh yang sangat vital, karena jantung I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jantung merupakan salah satu organ tubuh yang sangat vital, karena jantung berfungsi untuk memompakan darah ke seluruh jaringan tubuh. Jika terjadi gangguan pada jantung

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ELEKTROMIOGRAF BERBASIS PERSONAL COMPUTER

RANCANG BANGUN ELEKTROMIOGRAF BERBASIS PERSONAL COMPUTER RANCANG BANGUN ELEKTROMIOGRAF BERBASIS PERSONAL COMPUTER Rizky Justitian 1, Retna Apsari 2, Franky Chandra Satria Arisgraha 3 Program Studi Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI AREA PARKIR BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 16

SISTEM INFORMASI AREA PARKIR BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 16 SISTEM INFORMASI AREA PARKIR BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 16 Alfa Anindita. [1], Sudjadi [2], Darjat [2] Jurusan Teknik Elektro, Universitas Diponegoro Semarang Jl. Prof. Sudharto, SH, Kampus UNDIP Tembalang,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2011 sampai dengan bulan Juli 2012 yang dilaksanakan di laboratorium Elektronika dan Robotika

Lebih terperinci

DESAIN DAN IMPLEMENTASI LENGAN ROBOT BERBASIS ELECTROMYOGRAM UNTUK ORANG BERKEBUTUHAN KHUSUS

DESAIN DAN IMPLEMENTASI LENGAN ROBOT BERBASIS ELECTROMYOGRAM UNTUK ORANG BERKEBUTUHAN KHUSUS ISSN : 2355-9365 e-proceeding of Engineering : Vol.4, No.2 Agustus 2017 Page 1572 DESAIN DAN IMPLEMENTASI LENGAN ROBOT BERBASIS ELECTROMYOGRAM UNTUK ORANG BERKEBUTUHAN KHUSUS DESIGN AND IMPLEMENTATION

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2012 sampai bulan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2012 sampai bulan BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penalitian Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Juni 2012 yang dilaksanakan di Laboratorium Biofisika Departemen Fisika

Lebih terperinci

Jurnal Teknologi Elektro, Universitas Mercu Buana ISSN: Sistem Logger Suhu dengan Menggunakan Komunikasi Gelombang Radio

Jurnal Teknologi Elektro, Universitas Mercu Buana ISSN: Sistem Logger Suhu dengan Menggunakan Komunikasi Gelombang Radio Sistem Logger Suhu dengan Menggunakan Komunikasi Gelombang Radio Setiyo Budiyanto Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana JL. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta, 11650 Telepon:

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM 21 BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Rangkaian Keseluruhan Sistem kendali yang dibuat ini terdiri dari beberapa blok bagian yaitu blok bagian plant (objek yang dikendalikan), blok bagian sensor, blok interface

Lebih terperinci

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB III METODE PENELITIAN. Program Studi S1 Teknobiomedik, Departemen Fisika, Fakultas Sains dan

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB III METODE PENELITIAN. Program Studi S1 Teknobiomedik, Departemen Fisika, Fakultas Sains dan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Instrumentasi Medis, Program Studi S1 Teknobiomedik, Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi,

Lebih terperinci

MAKALAH LOW PASS FILTER DAN HIGH PASS FILTER

MAKALAH LOW PASS FILTER DAN HIGH PASS FILTER MAKALAH LOW PASS FILTER DAN HIGH PASS FILTER Disusun oleh : UMI EKA SABRINA (115090309111002) JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011 PEMBAHASAN 1.1.

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERANCANGAN SISTEM PENDETEKSI ARITMIA MENGGUNAKAN NEURAL NETWORK. Andri Iswanto

TUGAS AKHIR PERANCANGAN SISTEM PENDETEKSI ARITMIA MENGGUNAKAN NEURAL NETWORK. Andri Iswanto TUGAS AKHIR PERANCANGAN SISTEM PENDETEKSI ARITMIA MENGGUNAKAN NEURAL NETWORK Andri Iswanto 2208 100 531 Dosen Pembimbing : Dr. Tri Arief Sardjono ST.,MT. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri

Lebih terperinci

MODUL - 04 Op Amp ABSTRAK

MODUL - 04 Op Amp ABSTRAK MODUL - 04 Op Amp Yuri Yogaswara, Asri Setyaningrum 90216301 Program Studi Magister Pengajaran Fisika Institut Teknologi Bandung [email protected] ABSTRAK Pada percobaan praktikum Op Amp ini digunakan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk. memperoleh transmisi yang efisien dan handal.

BAB II DASAR TEORI. Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk. memperoleh transmisi yang efisien dan handal. BAB II DASAR TEORI 2.1 Modulasi Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk memperoleh transmisi yang efisien dan handal. Pemodulasi yang merepresentasikan pesan yang akan dikirim, dan

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI 3.1 Perancangan Blok Diaram Metode untuk pelaksanaan Program dimulai dengan mempelajari sistem pendeteksi kebocoran gas pada rumah yang akan digunakan. Dari sini dikembangkan

Lebih terperinci

BAB IV PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM

BAB IV PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM BAB IV PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM IV.1 Deskripsi Perangkat Perangkat yang dirancang dalam tugas akhir ini merupakan sistem instrumentasi pengukuran yang bertujuan untuk merekam data sinyal dari

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM. menjadi tiga bit (tribit) serial yang diumpankan ke pembelah bit (bit splitter)

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM. menjadi tiga bit (tribit) serial yang diumpankan ke pembelah bit (bit splitter) BAB II DASAR TEORI 2.1 Modulator 8-QAM Gambar 2.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM Dari blok diagram diatas dapat diuraikan bahwa pada modulator 8-QAM sinyal data yang dibangkitkan oleh rangkaian pembangkit

Lebih terperinci

BAB II ANALOG SIGNAL CONDITIONING

BAB II ANALOG SIGNAL CONDITIONING BAB II ANALOG SIGNAL CONDITIONING 2.1 Pendahuluan Signal Conditioning ialah operasi untuk mengkonversi sinyal ke dalam bentuk yang cocok untuk interface dengan elemen lain dalam sistem kontrol. Process

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013. III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013. Perancangan alat penelitian dilakukan di Laboratorium Elektronika, Laboratorium

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada dua tempat yaitu di Laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada dua tempat yaitu di Laboratorium 45 BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan pada dua tempat yaitu di Laboratorium Pemodelan Fisika untuk perancangan perangkat lunak (software) program analisis

Lebih terperinci

LAB PTE - 05 (PTEL626) JOBSHEET 8 (ADC-ANALOG TO DIGITAL CONVERTER)

LAB PTE - 05 (PTEL626) JOBSHEET 8 (ADC-ANALOG TO DIGITAL CONVERTER) LAB PTE - 05 (PTEL626) JOBSHEET 8 (ADC-ANALOG TO DIGITAL CONVERTER) A. TUJUAN 1. Mahasiswa dapat mengetahui prinsip kerja dan karakteristik rangkaian ADC 8 Bit. 2. Mahasiswa dapat merancang rangkaian ADC

Lebih terperinci

Bab III. Operational Amplifier

Bab III. Operational Amplifier Bab III Operational Amplifier 30 3.1. Masalah Interfacing Interfacing sebagai cara untuk menggabungkan antara setiap komponen sensor dengan pengontrol. Dalam diagram blok terlihat hanya berupa garis saja

Lebih terperinci

Clamp-Meter Pengukur Arus AC Berbasis Mikrokontroller

Clamp-Meter Pengukur Arus AC Berbasis Mikrokontroller Clamp-Meter Pengukur Arus AC Berbasis Mikrokontroller Tanu Dwitama, Daniel Sutopo P. Politeknik Batam Parkway Street, Batam Centre, Batam 29461, Indonesia E-mail: [email protected], [email protected]

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN WHIRLPOOL DENGAN MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER

RANCANG BANGUN WHIRLPOOL DENGAN MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER RANCANG BANGUN WHIRLPOOL DENGAN MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER Cahya Firman AP 1, Endro Wahjono 2, Era Purwanto 3. 1. Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Industri 2. Dosen Jurusan Teknik Elektro Industri 3.

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MODUL ECG DAN EMG DALAM SATU UNIT PC Sub Judul : PEMBUATAN RANGKAIAN ECG DAN SOFTWARE ECG PADA PC

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MODUL ECG DAN EMG DALAM SATU UNIT PC Sub Judul : PEMBUATAN RANGKAIAN ECG DAN SOFTWARE ECG PADA PC PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MODUL ECG DAN EMG DALAM SATU UNIT PC Sub Judul : PEMBUATAN RANGKAIAN ECG DAN SOFTWARE ECG PADA PC Fandi Ahmad #, Ir.Ratna Adil #, M.T, Paulus Susetyo Wardana #3, ST., Ir. Moch.

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM III PERNCNGN SISTEM Pada bab ini akan dibahas tentang diagram blok sistem yang menjelaskan tentang prinsip kerja alat dan program serta membahas perancangan sistem alat yang meliputi perangkat keras dan

Lebih terperinci

Gambar 3.1. Diagram alir metodologi perancangan

Gambar 3.1. Diagram alir metodologi perancangan 19 BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN 3.1. Metode Perancangan Berikut merupakan diagram alur kerja yang menggambarkan tahapantahapan dalam proses rancang bangun alat pemutus daya siaga otomatis pada Peralatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pembuluh darah secara teratur dan berulang. Letak jantung berada di sebelah kiri

I. PENDAHULUAN. pembuluh darah secara teratur dan berulang. Letak jantung berada di sebelah kiri I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jantung merupakan salah satu rongga organ berotot yang memompa darah ke pembuluh darah secara teratur dan berulang. Letak jantung berada di sebelah kiri bagian dada diantara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Adaptive Noise Cancellation merupakan salah satu aplikasi filter adaptif yang digunakan untuk meredam noise pada sinyal. Aplikasi filter ini menggunakan algoritma Least

Lebih terperinci

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM KOMUNIKASI RADIO SEMESTER V TH 2013/2014 JUDUL REJECTION BAND AMPLIFIER GRUP 06 5B PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI JAKARTA PEMBUAT

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2015 sampai dengan Agustus 2015.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2015 sampai dengan Agustus 2015. 44 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2015 sampai dengan Agustus 2015. Perancangan, pembuatan dan pengambilan data dilaksanakan di Laboratorium

Lebih terperinci

ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA RANCANG BANGUN SISTEM PEREKAMAN SINYAL EMG UNTUK MONITORING PERKEMBANGAN PASIEN PASCA STROKE (BAGIAN I)

ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA RANCANG BANGUN SISTEM PEREKAMAN SINYAL EMG UNTUK MONITORING PERKEMBANGAN PASIEN PASCA STROKE (BAGIAN I) RANCANG BANGUN SISTEM PEREKAMAN SINYAL EMG UNTUK MONITORING PERKEMBANGAN PASIEN PASCA STROKE (BAGIAN I) TUGAS AKHIR Oleh: RIZKY ALTRYARA NIM. 081310213014 PROGRAM STUDI D3 OTOMASI SISTEM INSTRUMENTASI

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan langkah-langkah yang akan digunakan dalam menyelesaikan perangkat keras (hardware) yang berupa komponen fisik penunjang seperti IC AT89S52 dan perangkat

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret - Mei 2015 dan tempat

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret - Mei 2015 dan tempat III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret - Mei 205 dan tempat pelaksanaan penelitian ini di Laboratorium Elektronika Jurusan Fisika Fakultas Matematika

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH PEMASANGAN MOTOR DC PADA SEKUTER DENGAN PENGENDALI PULSE WIDTH MODULATION

NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH PEMASANGAN MOTOR DC PADA SEKUTER DENGAN PENGENDALI PULSE WIDTH MODULATION NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH PEMASANGAN MOTOR DC PADA SEKUTER DENGAN PENGENDALI PULSE WIDTH MODULATION Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi S-1 Jurusan Teknik Elektro Fakultas

Lebih terperinci

Pengkondisian Sinyal. Rudi Susanto

Pengkondisian Sinyal. Rudi Susanto Pengkondisian Sinyal Rudi Susanto Tujuan Perkuliahan Mahasiswa dapat menjelasakan rangkaian pengkondisi sinyal sensor Mahasiswa dapat menerapkan penggunaan rangkaian pengkondisi sinyal sensor Pendahuluan

Lebih terperinci

Gambar 1 : Sistem Penempatan Elektoda [1]

Gambar 1 : Sistem Penempatan Elektoda [1] Cara Kerja EEG Rekaman EEG umumnya melalui elektroda yang diletakkan di kulit kepala atau dapat juga ditanam intra kranial. Untuk meningkatkan kontak listrik antara elektroda dan kulit kepala digunakan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dan perancangan tugas akhir ini telah dimulai sejak bulan Juli 2009

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dan perancangan tugas akhir ini telah dimulai sejak bulan Juli 2009 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dan perancangan tugas akhir ini telah dimulai sejak bulan Juli 2009 dilakukan di Laboratorium Konversi Energi Elektrik dan Laboratorium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Otot adalah sebuah jaringan konektif dalam tubuh dengan tugas utamanya

BAB I PENDAHULUAN. Otot adalah sebuah jaringan konektif dalam tubuh dengan tugas utamanya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Otot adalah sebuah jaringan konektif dalam tubuh dengan tugas utamanya kontraksi. Kontraksi otot berfungsi untuk menggerakkan bagian-bagian tubuh dan substansi dalam

Lebih terperinci

SISTEM KONVERTER DC. Desain Rangkaian Elektronika Daya. Mochamad Ashari. Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012

SISTEM KONVERTER DC. Desain Rangkaian Elektronika Daya. Mochamad Ashari. Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012 SISTEM KONVERTER DC Desain Rangkaian Elektronika Daya Oleh : Mochamad Ashari Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012 Diterbitkan oleh: ITS Press. Hak Cipta dilindungi Undang undang Dilarang

Lebih terperinci

BAB IV PENGUKURAN DAN ANALISIS

BAB IV PENGUKURAN DAN ANALISIS BAB IV PENGUKURAN DAN ANALISIS Untuk mengetahui apakah hasil rancangan yang dibuat sudah bekerja sesuai dengan fungsinya atau tidak, perlu dilakukan beberapa pengukuran pada beberapa test point yang dianggap

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. sebagian besar masalahnya timbul dikarenakan interface sub-part yang berbeda.

BAB II DASAR TEORI. sebagian besar masalahnya timbul dikarenakan interface sub-part yang berbeda. BAB II DASAR TEORI. Umum Pada kebanyakan sistem, baik itu elektronik, finansial, maupun sosial sebagian besar masalahnya timbul dikarenakan interface sub-part yang berbeda. Karena sebagian besar sinyal

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN PROGRAM

BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN PROGRAM BAB III ANALISIS MASALAH DAN RANCANGAN PROGRAM III.1. Analisa Masalah Dalam perancangan sistem otomatisasi pemakaian listrik pada ruang belajar berbasis mikrokontroler terdapat beberapa masalah yang harus

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI MASALAH

BAB III DESKRIPSI MASALAH BAB III DESKRIPSI MASALAH 3.1 Perancangan Hardware Perancangan hardware ini meliputi keseluruhan perancangan, artinya dari masukan sampai keluaran dengan menghasilkan energi panas. Dibawah ini adalah diagram

Lebih terperinci