HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 menggunakan washer(air keran) yang berfungsi untuk membersihkan dari sisasisa perak bromida pada film dengan waktu pencucian menit dan selanjutnya film dikeringkan. Analisis sampel Pembacaan radiograf dilakukan di ruang Laboratorium Radiologi Bagian Bedah dan Radiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Radiograf yang akan dianalisis digantung pada illuminator sesuai prosedur standar di ruang gelap. Prosedur standar yang harus dipenuhi adalah pada saat membaca radiograf arah pandang laterolateral (LL) bagian cranial hewan harus berada di sebelah kiri dan bagian caudal berada di bagian kiri dari pembaca. Pada arah pandang ventrodorsal (VD), radiograf bagian cranial hewan berada di atas dan bagian caudal hewan berada di bawah sudut pandang pembaca. Pengamatan difokuskan pada daerah abdomen. Analisis sampel menggunakan dua parameter yaitu deskriptif dan kuantitatif. Analisis deskriptif dilakukan dengan menentukan laju bahan kontras sesuai dengan anatomi traktus gastrointestinal kucing pada setiap waktu pengamatan. Analisis deskriptif juga dilakukan untuk menentukan laju bahan kontras berdasarkan pembagian zona dalam interpretasi radiografi abdomen dengan melihat derajat opasitas menggunakan satuan presentase (%) dari setiap luasan zona. Menurut Thrall (2002), pembagian zona abdomen pada arah pandang LL terbagi atas lima zona sedangkan pada arah pandang VD terbagi atas empat zona. Analisis kuantitatif dilakukan dengan mengukur diameter usus pada saat kontraksi dan relaksasi pada zona tiga.pengukuran diameter diambil dengan tiga kali pengulangan pada masing-masing kucing. Pengukuran diameter usus kucing dari hasil radiograf menggunakan Software MacBiophotonicImage-J (National Institute of Health 2012)dan di uji statistik menggunakan Anova. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil dari penelitian disajikan dengan menggunakan dua parameter yaitu pembagian zona berdasarkan anatomi organ gastrointestinal (GI) dan penilaian derajat opasitas dalam interpretasi radiografi abdomen melalui gambaran laju barium sulfat (BaSO 4 ) pada arah pandang laterolateral (LL) dan ventrodorsal (VD) serta mengukur diameter usus pada keadaan kontraksi dan relaksasi. Laju BaSO 4 dengan Intepretasi Radiografi Abdomen Gambar 3 radiograf arah pandang LL menunjukkan laju pergerakan BaSO 4 yang mulai memasuki lambung pada menit ke-5 sampai usus besar pada menit ke- 180 tanpa perlakuan anestesi. Pada menit ke-5 (Gambar 3A), radiograf terlihat radiopaque dikarenakan BaSO 4 yang memenuhi bagian pylorus lambung.

2 10 Lambung memiliki empat bagian yaitu cardia, fundus, corpus, dan pylorus. Gambar 3B memperlihatkan BaSO 4 yang mengisi bagian usus halus. Seiring berjalannya waktu, pada menit ke-60 BaSO 4 mulai meninggalkan lambung menuju usus besar yang dapat ditunjukkan pada gambar 3C. Pada menit ke-180 (Gambar 3D), BaSO 4 telah meninggalkan lambung sepenuhnya ditandai dengan radiolucent pada daerah g (Gambar 3D). A B C D Gambar 3 Radiograf arah pandang laterolateral (LL) organ gastrointestinal tanpa perlakuan anestesi. A: menit ke-5, B: menit ke-30, C: menit ke-60, D: menit ke-180, a: cardia lambung, b: fundus lambung, c: corpus lambung, d: pylorus lambung, e: usus halus, f: usus besar, g: lambung. Tabel 2 Laju pergerakan barium sulfat (BaSO 4 )pada radiograf tanpa anestesi arah pandang laterolateral (LL) Waktu (menit) Tanpa Anestesi Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona : Tidak ditemukan keberadaan BaSO 4, +: Terdapat BaSO % dari luas organ GIdalam zona, ++:Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, +++: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, ++++: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona. Tabel 2 menunjukkan penilaian derajat opasitas dari laju pergerakan BaSO 4 pada radiograf arah pandang LL tanpa perlakuan anestesi pada setiap waktu terhadap masing-masing zona mengunakan satuan presentase (%). Pada zona satu dari radiograf arah pandang LL organ gastrointestinal yang terlihat adalah lambung dan sebagian usus. Barium sulfat mulai mengisi zona satu pada menit ke-5 sebesar 25-50% dari luas organ gastrointestinal. Jumlahnya akan semakin berkurang seiring berjalannya waktu pengamatan dan benar-benar tidak ditemukan bahan kontras di menit ke-180. Organ gastrointestinal yang terlihat pada zona dua arah pandang LL tanpa perlakuan anestesi adalah sebagian corpusdan pylorus lambung. Laju pergerakan

3 BaSO 4 memasuki zona dua pada menit ke-5 sebesar 50-75% dari luas organ gastrointestinal dan akan berkurang pada menit ke-60 hingga terlihat radiolucent pada menit ke-180. Pada zona tiga yang dipenuhi oleh usus halus dan usus besar, belum terlihat adanya BaSO 4 di menit ke-5 dan baru terlihat pada menit ke-30. Tidak berbeda dengan zona tiga, zona empat yang hanya berisi usus besar yaitu kolon dan rektum baru dilewati BaSO 4 pada menit ke-180 sebesar 5-25% dari luas organ gastrointestinal. Gambar 4 Radiograf arah pandang ventrodorsal (VD) organ gastrointestinal tanpa perlakuan anestesi. A: menit ke-5, B:menit ke-30, C: menit ke-60, D: menit ke-180, a: cardia lambung, b: fundus lambung, c: corpus lambung, d: pylorus lambung, e: usus halus, f: usus besar, g: lambung, h: colon ascendens, i: colon transversal, j: colon descendens. Gambar 4 memperlihatkan radiograf laju pergerakan BaSO 4 arah pandang VD mulai mengisi lambung pada menit ke-5 hingga usus besar pada menit ke-180 tanpa perlakuan anestesi. Pada menit ke-5 (Gambar 4A), terlihat adanya BaSO 4 yang memenuhi bagian cardia, fundus, dan pylorus lambung yang dikarakteristikkan dengan radiopaque. Gambar 4B menunjukkan BaSO 4 masih

4 12 berada pada lambung dan sebagian masuk ke usus halus. Pergerakan BaSO 4 mulai meninggalkan lambung menuju usus besar di menit ke-60 terlihat pada gambar 4C. Pada menit ke-180 (Gambar 4D), BaSO 4 telah meninggalkan lambung sepenuhnya ditunjukkan dengan radiolucent pada daerah g dan telah melewati usus besar yaitu kolon. Kolon terdiri atas kolon ascendens, kolon transversal, dan kolon descendens yang membentuk seperti kait (Gambar 5). Gambar 5 Radiograf usus besar pada zona tiga arah pandang ventrodorsal (VD) tanpa perlakuan anestesi yang terlihat seperti kait. a: colon ascendens, b: colon transversal, c: colon descendens. Tabel 3 Laju pergerakan barium sulfat (BaSO 4 )pada radiograf tanpa anestesi arah pandang ventrodorsal (VD) Waktu (menit) Tanpa Anestesi Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona : Tidak ditemukan keberadaan BaSO 4, +: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, ++:Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, +++: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, ++++: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona. Tabel 3 memperlihatkan penilaian derajat opasitas dari laju pergerakan BaSO 4 arah pandang VD tanpa perlakuan anestesi pada setiap waktu terhadap masing-masing zona mengunakan satuan presentase (%). Pada zona satu dari radiograf arah pandang VD organ gastrointestinal yang terlihat hanya pylorus lambung. Barium sulfat mulai mengisi zona satu pada menit ke-5 sekitar 50-75% dari luas organ gastrointestinal sama halnya dengan arah pandang LL yang semakin lama jumlahnya akan semakin berkurang dan benar-benar kosong di menit ke-180.

5 Tidak berbeda dengan zona satu, pada zona dua juga terdapat lambung. Perbedaannya, zona dua arah pandang VD terdapat lambung bagian corpus dan pylorus. Laju pergerakan BaSO 4 memasuki zona dua sebesar 25-50% dari luas organ gastrointestinal dan terlihat radiolucent pada menit ke-180. Sama halnya pada arah pandang LL, pada arah pandang VD zona tiga belum terlihat adanya BaSO 4 di menit ke-5. Organ intestinal yaitu kolon dan rektum yang berada pada zona empat baru dilewati BaSO 4 pada menit ke-180 sebesar 50-75% dari luas organ gastrointestinal. Gambar 6 menunjukkan radiograf laju pergerakan setelah diberikan BaSO 4 mulai dari menit ke-5 hingga menit ke-180pada arah pandang LL dengan perlakuan anestesi. Gambar 6A terlihat adanya radiopaque yang memenuhi seluruh bagian lambung. Berbeda pada tanpa perlakuan anestesi, gambar 6B belum memperlihatkan adanya BaSO 4 yang mengisi usus halus tetapi perlahan mulai menuruni lambung dan memadat di bagian pylorus. Baru pada menit ke-60 sedikit demi sedikitbaso 4 bergerak menuju usus halus (Gambar 6C). A B C D Gambar 6 Radiograf arah pandang laterolateral (LL) organ gastrointestinal dengan perlakuan anestesi. A: menit ke-5, B:menit ke-30, C: menit ke-60, D: menit ke-180, a: cardia lambung, b: fundus lambung, c: corpus lambung, d: pylorus lambung, e: usus halus, f: usus besar, g: lambung. Secara perlahan pada menit ke-180 BaSO 4 mulai meninggalkan lambung dan memenuhi usus halus (Gambar 6D). Pada Gambar 6D belum terlihat adanya pergerakan BaSO 4 yang dapat ditandai radiolucent pada daerah kolon di zona empat. Pada perlakuan anestesi ini juga,radiopaque masih terlihat di bagian lambung pada menit ke-180. Fenomena tersebut berbeda saat perlakuan tanpa anestesi yang terlihat radiolucent di lambung pada akhir waktu pengamatan (Gambar 3D). Penilaian derajat opasitas dari laju pergerakan BaSO 4 arah pandang LL perlakuan anestesi pada setiap waktu terhadap masing-masing zona menggunakan satuan presentase (%) ditunjukan pada Tabel 4. Zona satu dari radiograf arah pandang LL perlakuan anestesi disepanjang waktu pengamatan keberadaan BaSO 4 selalu terlihat. Barium sulfat sebagian besar ada pada zona dua dengan jumlah presentase (%)berfluktuasi. Laju pergerakan BaSO 4 mulaimemasuki zona tiga

6 14 pada menit ke-60 sebesar 5-25% dari luas organ gastrointestinal dan jumlahnya bertambah hingga menit ke-180. Zona terakhir yaitu zona empat tidak terlihat adanya BaSO 4 yang dikarakteristikkan oleh radiolucent Pergerakan BaSO 4 arah pandang LLsecaraperlahan lebih terlihat pada perlakuan anestesi. Terlihat pada zona satu dan zona dua di menit ke-180 masih terdapat adanya BaSO 4 sebesar 5-25% dari luas organ gastrointestinal dan di zona tiga juga masih terlihat radiolucent hingga menit ke-30. Selain itu, pada zona empat perlakuan anestesi sampai akhir waktu pengamatan tidak ditemukan keberadaaan BaSO 4. Hal ini berbeda pada perlakuan tanpa anestesi arah pandang LL (Tabel 2) yang sudah menunjukkanradiopaque dari BaSO 4 di zona empat. Tabel 4 Laju pergerakan barium sulfat (BaSO 4 ) pada radiograf dengan anestesi arah pandang laterolateral (LL) Waktu (menit) Anestesi Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona : Tidak ditemukan keberadaan BaSO 4, +: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, ++:Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, +++: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, ++++: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona.. Tabel 5 menunjukkan penilaian derajat opasitas dari laju pergerakan BaSO 4 arah pandang VD perlakuan anestesi pada setiap waktu terhadap masing-masing zona mengunakan satuan presentase (%). Barium sulfat mulai memasuki zona satu pada menit ke-5 sebesar 50-75% dari luas organ gastrointestinal. Presentase tersebut semakin berkurang seiring berjalannya waktu pengamatan. Berbeda pada perlakuan tanpa anestesi, pada perlakuan anestesi arah pandang VD zona satu dan dua terlihat masih ada BaSO 4 yang tersisa di menit ke-180 yaitu sebesar 5-25% dari luas organ gastrointestinal. Tabel 5 Laju pergerakan barium sulfat (BaSO 4 ) pada radiograf dengan anestesi arah pandang ventrodorsal (VD) Waktu (menit) Anestesi Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona : Tidak ditemukan keberadaan BaSO 4, +: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, ++:Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, +++: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona, ++++: Terdapat BaSO % dari luas organ GI dalam zona. Tidak berbeda pada arah pandang LL perlakuan anestesi (Tabel 3), pada zona dua arah pandang VD perlakuan anestesi jumlah BaSO 4 juga berfluktuasi di setiap waktu pengamatan. Jika pada perlakuan tanpa anestesibaso 4 mengisi zona tiga di menit ke-30 berbeda pada perlakuan anestesi yang baru terjadi di menit ke-

7 60 sebesar 5-25% dari luas organ gastrointestinal. Pada perlakuan anestesi juga daerah zona empat terlihat radiolucent disepanjang waktu pengamatan. A B Gambar 7 C D Radiograf arah pandang ventrodorsal (VD) organ gastrointestinal dengan perlakuan anestesi. A: menit ke-5, B: menit ke-30, C: menit ke-60, D: menit ke-180, a: cardia lambung, b: fundus lambung, c: corpus lambung, d: pylorus lambung, e: usus halus, f: usus besar, g: lambung. Gambar 7 memperlihatkan radiograf laju pergerakan BaSO 4 arah pandang VD mulai dari menit ke-5 hingga menit ke-180 dengan perlakuan anestesi. Pada menit ke-5 (Gambar 7A), seluruh bagian lambung dipenuhi oleh BaSO 4 yang ditunjukkan adanya radiopaque. Tidak berbeda jauh dengan Gambar7A, Gambar 7B (menit ke-30) juga masih terlihat radiopaque dan belum mengisi usus halus. Pergerakan BaSO 4 sangatlah lamban yang mengakibatkan hanya sedikit BaSO 4 yang berada di usus halus terlihat pada gambar 7C. Pada menit ke-180 (Gambar 7D), sedikit demi sedikit BaSO 4 telah meninggalkan lambung dan mengisi usus halus (Gambar 7D). Pada perlakuan ini, pada menit ke-180 (Gambar 7D) tidak ditemukannya bentuk kait seperti pada Gambar 4D. Hal ini dapat disebabkan laju

8 16 BaSO 4 yang cukup lama akibat pengaruh anestesi sehingga belum memasuki usus besar. Ukuran Diameter Usus Kucing Lokal Tabel 6Diameter usus kucing lokal arah pandang laterolateral (LL) Tanpa Anestesi Anestesi Waktu Selisih (menit) A B A B A&B Selisih A&B ± ± ±0.48 a 6.72± ± ±0.60 a ± ± ±0.73 a 5.80± ± ±2.25 a ± ± ±0.48 a 7.26± ± ±0.32 a Rataan 7.28± ± ± ± ± ±0.53 huruf superscript (a, b) yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukan perbedaan nyata (p<0.05) antar perlakuan dan antar waktu pengamatan, A: diameter usus relaksasi (mm), B: diameter usus kontraksi (mm). Tabel 6 menunjukkan ukuran diameter usus kucing lokal dan hasil uji statistik dari kedua perlakuan pada arah pandang LL. Diameter usus tersebut terbagi atas dua, yaitu diameter usus kucing lokal saat relaksasi (Diameter A) dan saat kontraksi (Diameter B). Pada perlakuan tanpa anestesi rataan diameter Adiperoleh 7.28±0.27 mmyang nilainya lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan anestesi yaitu 6.59±0.74 mm. Tidak berbeda pada diameter B yang nilainya lebih kecil daripada diameter A, tanpa perlakuan anestesi juga memiliki nilai yang lebih tinggi daripada perlakuan anestesi. Bila dilihat dari sudut pandang waktunya, nilai rataan diameter usus pada kedua perlakuan juga tidak terlalu berbeda. Hasil uji statistik dari selisih kedua diameter pada zona tiga arah pandang LL pada Tabel 6 menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0.05) antar kelompok perlakuan yang ditunjukkan dengan huruf superscript yang sama. Begitu pula dengan uji statistik terhadap antar waktu pengamatan menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (p>0.05). Akan tetapi, diperoleh rataan selisih diameter usus relaksasi dan kontraksi pada perlakuan tanpa anestesi yaitu 4.02±0.09 mmyang nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan anestesi yang hanya sebesar 3.50±0.53 mm. Tabel 7 memperlihatkan ukuran diameter usus kucing lokal dan hasil uji statistik dari kedua perlakuan arah pandang VD. Tidak berbeda dengan arah pandang LL, pada arah pandang VD juga rataan diameter Aperlakuan tanpa anestesi nilainya lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan anestesi yaitu 8.45±0.82mm. Nilai dari rataan diameter A ataupun diameter B pada arah pandang VD sedikit lebih besar dibandingkan pada arah pandang LL. Tidak berbeda pada diameter B yang nilainya lebih kecil daripada diameter A, pada perlakuan tanpa anestesi juga memiliki nilai yang lebih tinggi daripada perlakuan anestesi. Begitu pula bila dilihat dari sudut pandang waktunya juga nilai rataan diameter dikedua perlakuan juga tidak terlalu berbeda. Hasil uji statistik pada Tabel 7 menunjukkan bahwa tidak berbeda nyata (p>0.05) dari kedua perlakuan. Akan tetapi, rataan dari selisih diameter A dengan diameter B pada tanpa perlakuan anestesi lebih tinggi dibandingkan dengan

9 perlakuan anestesi. Uji statistik berdasarkan antar waktu pengamatan menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (p>0.05) pada perlakuan anestesi sedangkan pada perlakuan tanpa anestesi menunjukkan hasil berbeda nyata (p<0.05). Tabel 7Diameter usus kucing lokal arah pandang ventrodorsal (VD) Tanpa Anestesi Anestesi Waktu Selisih Selisih (menit) A B A B A&B A&B ± ± ±2.22 abx 6.76± ± ±0.80 ax ± ± ±0.85 ax 6.86± ± ±0.83 ax ± ± ±0.58 cx 7.70± ± ±0.82 ax Rataan 8.45± ± ± ± ± ±0.70 huruf superscript (a, b, c) yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan nyata (p<0.05) antarawaktu, huruf superscript (x, y, z) yang berbeda pada baris yang sama menunjukan perbedaan nyata (p<0.05) antaraperlakuan, A: diameter usus relaksasi (mm), B: diameter usus kontraksi (mm). Pembahasan Pada penelitian kali ini obat anestesi yang dipakai Zoletil yaitu kombinasi 1:1 dari tiletamin sebagai antagonis reseptor N-metil-d-aspartate (NMDA) dan zolazepam yang biasa digunakan sebagai anestesi hewan (Lee et al. 2012). Kadang-kadang kombinasi suatu senyawa obat dengan obat yang lain dibutuhkan untuk meminimalisir kekurangan masing-masing. Metabolisme obat kombinasi tiletamin-zolazepam dapat menimbulkan efek yang berbeda pada spesies yang berbeda pula. Tiletamin-zolazepam dapat diberikan dengan mudah secara intramuskular (IM) dan akan menghilangkan refleks penderita serta kesadaran penderita hilang dalam waktu ±5 menit (Hilbery et al. 1992; Sardjana 2003). Hasil yang didapat dari laju pergerakan BaSO 4 pada perlakuan tanpa anestesi dibutuhkan waktu untuk pengosongan lambung setelah menit ke-60 sedangkan dengan perlakuan anestesi hingga akhir waktu pengamatan belum terjadi pengosongan lambung. Menurut Thrall (2002), setelah pemberian BaSO 4 seharusnya pengosongan lambung sudah terjadi dalam 15 menit di sebagian besar pasien normal tetapi tidak pada ketiga kucing yang diamati pada penelitian kali ini terjadi setelah menit ke-60. Laju pengosongan lambung adalah fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti volume isi, unsur kimia, berbagai mekanisme refleks, medikasi tertentu, dan tipe dari media kontras yang digunakan. Faktor psikologis dan penyakit pada pylorus juga dapat menyebabkan keterlambatan. Stres emosional dan lingkungan yang berisik dapat menghambat pergerakan lambung. Rasa gelisah, takut, marah, atau sakit yang diinduksi dari manipulasi fisik pasien, intubasi lambung, dan restrain fisik dapat berkontribusi dengan keterlambatan pengosongan lambung (Thrall 2002). Pasien dengan keterlambatan pengosongan lambung harus diijinkan untuk menenangkan diri di lingkungan tenang sebelum diagnosis diberikan. Adanya keterlambatan pengosongan lambung tersebut juga disebabkanoleh adanya aktivitas antikonvulsan. Hal ini dikarenakan sifat

10 18 zolazepam yang merilis gamma-aminobutyric acid (GABA) endogenous sebagai inhibitor neurotransmitter di otak yang menyebabkan menurunnya sekresi dan fungsi motoris dari gastrointestinal (Lukasik 1999; McKelvey & Hollingshead2003). Selain itu, perbedaan laju pergerakan BaSO 4 dapat terlihat pada pengisian organ usus halus (zona tiga) apabila pada perlakuan tanpa anestesi mulai mengisi usus halus di menit ke-30 berbeda pada perlakuan anestesi baru terjadi di menit ke-60. Berdasarkan hasil yang diperoleh di akhir waktu pengamatan dengan perlakuan anestesi bahan kontras masih berada di usus halus (zona tiga) dan belum mengisi usus besar sedangkan pada perlakuan tanpa anestesi bahan kontras telah mengisi usus besar pada menit ke-60. Perbedaan kecepatan pengisian BaSO 4 antar kedua perlakuan tersebut disebabkan dengan perlakuan anestesi general dan transquilizers akan menurunkan pergerakan BaSO 4. Kerja daripada kombinasi anestesi tiletaminzolazepam juga menekan kerja susunan saraf pusat (Sardjana 2003). Semua zat anestesi umum menghambat susunan saraf secara bertahap, mula-mula fungsi yang kompleks akan dihambat dan yang paling akhir adalah medula oblongata (MO) yang mengandung pusat vasomotor dan pusat pernapasan yang vital (Rivanda 2011). Kombinasi tiletamin-zolazepam merupakan obat yang bekerja pada sistem saraf otonom yaitu parasimpatolitik atau antikolinergik. Salah satu efek dari parasimpatolitik adalah penurunan motilitas saluran pencernaan.parasimpatolitik merupakan antagonis kompetitif pada reseptor asetilkolin tipe muskarinik (Schmitz etal.2003). Asetilkolin tersebut merupakan neurotransmitter yang diproduksi oleh parasimpatis (McKelvey & Hollingshead 2003). Perbedaan antar kedua perlakuan juga terjadi pada parameter penilaian kuantatif dari laju pergerakan BaSO 4 yang menggunakan selisih diameter usus kucing lokal pada zona tiga. Hal ini disebabkan pada zona tiga berisi sebagian besar usus halus dan usus besar. Terdapat perbedaan hasil rataan diameter A (relaksasi) dan diameter B (kontraksi) yaitu lebih tinggi pada perlakuan tanpa anestesi dibandingkan dengan perlakuan anestesi. Begitu pula dengan rataan selisih dari kedua diameter tersebut nilai yang dihasilkan lebih tinggi pada perlakuan tanpa anestesi daripada dengan perlakuan anestesi. Hal ini dikarenakan menurunnya kekuatan kontraksi usus pada kondisi teranestesi. Penurunan kekuatan kontraksi usus tersebut dikarenakan adanya efek zolazepam yang merelaksasi otot dan menurunkan peristaltik saluran pencernaan(mckelvey & Hollingshead 2003). Tidak hanya efek dari kombinasi tiletamin-zolazepam saja tetapi dengan adanya pemberian atropin sebagai premedikasi juga memiliki mekanisme kerja menghambat saraf vagus dan antagonis reseptor kolinergik. Atropin memblokir asetilkolin yang dikeluarkan oleh saraf postganglion di reseptor muskarinik pada saluran pencernaan. Kombinasi tersebut dapat saling melengkapi antara efek analgesik maupun relaksasi otot dengan baik dan efektif sehingga memiliki rentang keamanan yang lebar (Gorda et al. 2010). Kombinasi tiletamin-zolazepam akan meningkatkan kualitas dari masingmasing zat penyusun dan menghilangkan efek-efek negatif dibandingkan dengan penggunaan secara terpisah (Gorda et al. 2010). Kombinasi tersebut dapat meningkatkan kerja obat penenang lebih baik daripada bekerja sendiri tanpa

11 menambahkan kerja depresi organ vital yang lain (Riviere & Papich 2009).Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diperoleh bahwa pada perlakuan anestesi dapat memperlambat motilitas saluran pencernaan dan menurunkan kekuatan kontraksi usus kucing lokal secara signifikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan pergerakan BaSO 4 yang sangat lamban yang hingga akhir waktu pengamatan (menit ke-180) BaSO 4 masih mengisi lambung, usus halus, dan belum mencapai usus besar. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Radiografi kontras pada saluran pencernaan kucing lokal dapat digunakan untuk melihat efek anestesi tiletamin-zolazepam. Berdasarkan dari parameter laju pergerakan BaSO 4 dan perbedaan dari selisih kedua diameter usus terlihat adanya perlambatan motilitas saluran pencernaan dan penurunan kekuatan kontraksi usus kucing lokal akibat dari kombinasi tiletamin-zolazepam. Saran Kombinasi tiletamin-zolazepam memperlambat motilitas saluran pencernaan dan menurunkan kekuatan kontraksi usus kucing lokal sehingga disarankan bagi dokter hewan praktisi agar dapat memperhatikan efek yang ditimbulkan oleh obat anestesi tersebut.penelitian lebih lanjut untuk melihat efek anestesi terhadap motilitas saluran pencernaan secara real time dapat menggunakan fluoroscopy. DAFTAR PUSTAKA Corwin EJ Buku Radiografi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Forsyth S Administration of low dose tiletamine-zolazepam combination to cats. NZ Vet J.43(3): Gorda IW, Wardhita GY, Dharmayudha GO Perbandingan efek pemberian anestesi xylazin-ketamin hidroklorida dengan anestesi tiletamin-zolazepam terhadap capillary refill time (CRT) dan warna selaput lendir pada anjing. Bul Vet Udayana. 1(2): Hilbery ADR, Waterman AE, Brouwer GJ Manual of Anaesthesia for Small Animals Practise. Ed ke-3. Cheltenham: British Small Animal Veterinary Association. Kealy JK, McAllister H, Graham JP Diagnostic Radiology and Ultrasonography of Dog and Cat. 5th ed. Missouri: Elsevier Science.

STUDI RADIOGRAFI KONTRAS PENGARUH ANESTESI TILETAMIN-ZOLAZEPAM TERHADAP MOTILITAS SALURAN PENCERNAAN KUCING LOKAL AJENG KANDYNESIA

STUDI RADIOGRAFI KONTRAS PENGARUH ANESTESI TILETAMIN-ZOLAZEPAM TERHADAP MOTILITAS SALURAN PENCERNAAN KUCING LOKAL AJENG KANDYNESIA STUDI RADIOGRAFI KONTRAS PENGARUH ANESTESI TILETAMIN-ZOLAZEPAM TERHADAP MOTILITAS SALURAN PENCERNAAN KUCING LOKAL AJENG KANDYNESIA DEPARTEMEN KLINIK, REPRODUKSI, DAN PATOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

Lebih terperinci

Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian

Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian 2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari efek anestesi tiletamin-zolazepam terhadap motilitas saluran pencernaan kucing lokal melalui studiradiografi kontras. Manfaat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seluruh dunia, baik anjing ras maupun anjing lokal. Selain lucu, anjing juga

BAB I PENDAHULUAN. seluruh dunia, baik anjing ras maupun anjing lokal. Selain lucu, anjing juga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anjing merupakan hewan peliharaan yang paling populer hampir di seluruh dunia, baik anjing ras maupun anjing lokal. Selain lucu, anjing juga memiliki jiwa pengabdian

Lebih terperinci

EFEK ANESTESI KETAMIN-ACEPROMAZIN TERHADAP MOTILITAS SALURAN PENCERNAAN KUCING MELALUI STUDI RADIOGRAFI KONTRAS RIO ADITYA

EFEK ANESTESI KETAMIN-ACEPROMAZIN TERHADAP MOTILITAS SALURAN PENCERNAAN KUCING MELALUI STUDI RADIOGRAFI KONTRAS RIO ADITYA EFEK ANESTESI KETAMIN-ACEPROMAZIN TERHADAP MOTILITAS SALURAN PENCERNAAN KUCING MELALUI STUDI RADIOGRAFI KONTRAS RIO ADITYA DEPARTEMEN KLINIK REPRODUKSI PATOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

Buletin Veteriner Udayana Vol. 2 No.1. :21-27 ISSN : Pebruari 2010

Buletin Veteriner Udayana Vol. 2 No.1. :21-27 ISSN : Pebruari 2010 PERBANDINGAN EFEK PEMBERIAN ANESTESI XYLAZIN-KETAMIN HIDROKLORIDA DENGAN ANESTESI TILETAMIN-ZOLAZEPAM TERHADAP CAPILLARY REFILL TIME (CRT) DAN WARNA SELAPUT LENDIR PADA ANJING (COMPARISON EFFECT OF XYLAZINE-KETAMINE

Lebih terperinci

ANTAGONIS KOLINERGIK. Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS

ANTAGONIS KOLINERGIK. Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS ANTAGONIS KOLINERGIK Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS PENDAHULUAN Antagonis kolinergik disebut juga obat peng hambat kolinergik atau obat antikolinergik. Yang paling bermanfaat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Premedikasi adalah penggunaan obat-obatan sebelum pemberian agen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Premedikasi adalah penggunaan obat-obatan sebelum pemberian agen BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Premedikasi Anestesi Premedikasi adalah penggunaan obat-obatan sebelum pemberian agen anestesi seperti obat analgesik yang dapat menghilangkan rasa sakit, sementara obat-obat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Premedikasi Premedikasi adalah pemberian obat-obatan sebelum tindakan anestesi umum dengan tujuan utama menenangkan pasien, menghasilkan induksi anestesi yang halus, mengurangi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 10 Variabel yang diamati : Gambar 5 Alur penelitian terhadap babi A, B, dan C 1. Gejala pada saat periode induksi 2. Onset anestesi 3. Durasi anestesi 4. Temperatur tubuh ( o C) 5. Frekuensi denyut jantung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Rumusan Masalah. 1.3 Tujuan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Rumusan Masalah. 1.3 Tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami definisi, penyebab, mekanisme dan patofisiologi dari inkontinensia feses pada kehamilan. INKONTINENSIA

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 7 HASIL DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan Fisik Anjing Lokal Hewan yang digunakan adalah anjing lokal berjumlah 2 ekor berjenis kelamin betina dengan umur 6 bulan. Pemilihan anjing betina bukan suatu perlakuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2006). Infeksi bakteri sebagai salah satu pencetus apendisitis dan berbagai hal

BAB I PENDAHULUAN. 2006). Infeksi bakteri sebagai salah satu pencetus apendisitis dan berbagai hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Apendiks merupakan salah satu organ yang fungsinya belum diketahui secara pasti. Apendiks sering menimbulkan masalah kesehatan, salah satunya adalah apendisitis (Sjamsuhidayat

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE 3 (50 MENIT)

PERTEMUAN KE 3 (50 MENIT) PERTEMUAN KE 3 (50 MENIT) TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Menjelaskan faktor faktor pembentuk dalam radiografi POKOK BAHASAN : Faktor faktor pembentuk radiografi Sub pokok bahasan : 1. Interaksi antara sinar

Lebih terperinci

PENDAHULUAN PENYAJIAN

PENDAHULUAN PENYAJIAN PENDAHULUAN Rontgen (Rö) Thorax bertujuan untuk pemeriksaan trachea dan paru paru, jantung, esophagus, diafragma dan costae, ruang pleura dan thorax. Radiografi thorax dilakukan pada saat inhalasi maximum

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Latar belakang. hilangnya kesadaran. Pada dasarnya anestesi digunakan pada tindakan-tindakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Latar belakang. hilangnya kesadaran. Pada dasarnya anestesi digunakan pada tindakan-tindakan BAB 1 PENDAHULUAN Latar belakang Anestesi adalah hilangnya rasa sakit yang disertai atau tanpa disertai hilangnya kesadaran. Pada dasarnya anestesi digunakan pada tindakan-tindakan yang berkaitan dengan

Lebih terperinci

Buletin Veteriner Udayana Vol. 2 No.2. : ISSN : Agustus 2010

Buletin Veteriner Udayana Vol. 2 No.2. : ISSN : Agustus 2010 PERBANDINGAN WAKTU INDUKSI, DURASI DAN PEMULIHAN ANESTESI DENGAN PENAMBAHAN PREMEDIKASI ATROPIN-XYLAZIN DAN ATROPIN- DIAZEPAM UNTUK ANESTESI UMUM KETAMIN PADA BURUNG MERPATI (COLUMBA LIVIA) (THE COMPARISON

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembedahan belum bisa dilakukan tanpa anestesi (Hall dan Clarke, 1983).

BAB I PENDAHULUAN. pembedahan belum bisa dilakukan tanpa anestesi (Hall dan Clarke, 1983). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Anestesi adalah tahapan yang sangat penting pada prosedur pembedahan. Prosedur awal pembedahan harus didahului dengan pemberian anestesi karena pembedahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konstipasi berasal dari bahasa Latin constipare yang berarti ramai bersama. 18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konstipasi berasal dari bahasa Latin constipare yang berarti ramai bersama. 18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Konstipasi Konstipasi berasal dari bahasa Latin constipare yang berarti ramai bersama. 18 Konstipasi secara umum didefinisikan sebagai gangguan defekasi yang ditandai

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Anestesi merupakan tahapan yang sangat penting dan strategis pada tindakan pembedahan, karena pembedahan tidak dapat dilakukan bila belum dilaksanakan anestesi. Sejarah membuktikan

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE 1 (50 MENIT)

PERTEMUAN KE 1 (50 MENIT) PERTEMUAN KE 1 (50 MENIT) TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Menjelaskan ruang lingkup radiologi sebagai radiodiagnostika serta radioterapi pada hewan. Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu :

Lebih terperinci

ANESTESI INFUS GRAVIMETRIK PADA ANJING (The Gravimetric Infuson Anaesthesia in Dogs)

ANESTESI INFUS GRAVIMETRIK PADA ANJING (The Gravimetric Infuson Anaesthesia in Dogs) ANESTESI INFUS GRAVIMETRIK PADA ANJING (The Gravimetric Infuson Anaesthesia in Dogs) I Gusti Ngurah Sudisma 1), Setyo Widodo 2), Dondin Sajuthi 2), Harry Soehartono 2), Putu Yudhi Arjentinia 1) 1) Bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di negara berkembang seperti Indonesia banyak sekali faktor-faktor

BAB I PENDAHULUAN. Di negara berkembang seperti Indonesia banyak sekali faktor-faktor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di negara berkembang seperti Indonesia banyak sekali faktor-faktor pencetus penyebab terjadinya penyakit, penyebab utamanya yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Pemberian Minyak Buah Makasar terhadap Denyut Jantung Itik Cihateup Fase Grower

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Pemberian Minyak Buah Makasar terhadap Denyut Jantung Itik Cihateup Fase Grower 26 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pemberian Minyak Buah Makasar terhadap Denyut Jantung Itik Cihateup Fase Grower Hasil pengamatan denyut jantung itik Cihateup fase grower yang diberi minyak buah

Lebih terperinci

PETIDIN, PROPOFOL, SULFAS ATROPIN, MIDAZOLAM

PETIDIN, PROPOFOL, SULFAS ATROPIN, MIDAZOLAM PETIDIN, PROPOFOL, SULFAS ATROPIN, MIDAZOLAM Annisa Sekar 1210221051 PEMBIMBING : dr.daris H.SP, An PETIDIN Merupakan obat agonis opioid sintetik yang menyerupai morfin yang dapat mengaktifkan reseptor,

Lebih terperinci

PERGERAKAN MAKANAN MELALUI SALURAN PENCERNAAN

PERGERAKAN MAKANAN MELALUI SALURAN PENCERNAAN PERGERAKAN MAKANAN MELALUI SALURAN PENCERNAAN FUNGSI PRIMER SALURAN PENCERNAAN Menyediakan suplay terus menerus pada tubuh akan air, elektrolit dan zat gizi, tetapi sebelum zat-zat ini diperoleh, makanan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Uji pelarut DMSO terhadap kontraksi otot polos uterus

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Uji pelarut DMSO terhadap kontraksi otot polos uterus BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil penlitian dan pembahasan 1. Uji pelarut DMSO terhadap kontraksi otot polos uterus Senyawa 1-(2,5-dihidroksifenil)-(3-piridin-2-il)-propenon adalah senyawa sintetis

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 32 HASIL DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan Fisik Keseluruhan anjing yang dipergunakan pada penelitian diperiksa secara klinis dan dinyatakan sehat sesuai dengan klasifikasi status klas I yang telah ditetapkan

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Test of Homogeneity of Variances. Menit ke Levene Statistic df1 df2 Sig

LAMPIRAN. Test of Homogeneity of Variances. Menit ke Levene Statistic df1 df2 Sig LAMPIRAN Lampiran 1 Uji Oneway ANOVA post hoc Duncan Perbandingan antar perlakuan (tanpa anestesi dan anetesi) pada sudut pandang laterolateral (LL) Oneway [DataSet3] G:\data\ajeng\input_LL (perbedaan

Lebih terperinci

ANOREKSIA. Keluhan yang paling sering disampaikan oleh pemilik anjing dan kucing

ANOREKSIA. Keluhan yang paling sering disampaikan oleh pemilik anjing dan kucing 1 ANOREKSIA Keluhan yang paling sering disampaikan oleh pemilik anjing dan kucing yang membawa hewan kesayangannya ke klinik hewan adalah hewannya tidak mau makan atau makannya hanya sedikit. Banyak proses

Lebih terperinci

drh. Ahmad Fauzi M.Sc

drh. Ahmad Fauzi M.Sc drh. Ahmad Fauzi M.Sc Definisi Enterotomy adalah operasi insisi (sayatan) pada usus Enterektomi adalah operasi pemotongan sebagian usus Enteropexy adalah fiksasi segmen usus ke dinding cavum abdomen. Indikasi

Lebih terperinci

PERBANDINGAN EFEK GROOMING PADA MENCIT YANG DIBERIKAN EPINEFRIN DAN ATROPIN DAN EFEK DIURESIS PADA MENCIT YANG DIBERIKAN PILOKARPIN DAN PROPRANOLOL

PERBANDINGAN EFEK GROOMING PADA MENCIT YANG DIBERIKAN EPINEFRIN DAN ATROPIN DAN EFEK DIURESIS PADA MENCIT YANG DIBERIKAN PILOKARPIN DAN PROPRANOLOL PERBANDINGAN EFEK GROOMING PADA MENCIT YANG DIBERIKAN EPINEFRIN DAN ATROPIN DAN EFEK DIURESIS PADA MENCIT YANG DIBERIKAN PILOKARPIN DAN PROPRANOLOL ABSTRAK PENDAHULUAN Sistem saraf otonom berkerja menghantarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Vegetarian telah menjadi salah satu pilihan gaya hidup masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada saat berdiri tahun 1998, jumlah vegetarian yang terdaftar

Lebih terperinci

mempermudah dalam penggunaannya, orally disintegrating tablet juga menjamin keakuratan dosis, onset yang cepat, peningkatan bioavailabilitas dan

mempermudah dalam penggunaannya, orally disintegrating tablet juga menjamin keakuratan dosis, onset yang cepat, peningkatan bioavailabilitas dan BAB 1 PENDAHULUAN Sediaan Tablet merupakan suatu bentuk sediaan solid mengandung bahan obat (zat aktif) dengan atau tanpa bahan pengisi (Departemen Kesehatan RI, 1995). Tablet terdapat dalam berbagai ragam,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Temperatur Tubuh Temperatur tubuh didefinisikan sebagai derajat panas tubuh. Temperatur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Temperatur Tubuh Temperatur tubuh didefinisikan sebagai derajat panas tubuh. Temperatur BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Temperatur Tubuh Temperatur tubuh didefinisikan sebagai derajat panas tubuh. Temperatur tubuh hewan merupakan keseimbangan antara produksi panas tubuh yang dihasilkan oleh

Lebih terperinci

Materi 7 Pencernaan II

Materi 7 Pencernaan II Materi 7 Pencernaan II A. Gerakan usus dan kerutan segmen usus di luar tubuh Tujuan a. Mempelajari gerakan usus in situ pada kelinci. b. Mempelajari segmen usus yang diisolasi dan mengamati : Kontraksi

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE 4 (50 MENIT)

PERTEMUAN KE 4 (50 MENIT) PERTEMUAN KE 4 (50 MENIT) TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Menjelaskan pengambilan gambar, pencucian film dan pengendalian mutu film radiografi POKOK BAHASAN : Pengambilan gambar, pencucian film dan pengendalian

Lebih terperinci

Perubahan Klinik Pada Anjing Lokal Selama Teranestesi Ketamin Dengan Berbagai Dosis Premedikasi Xilazin Secara Subkutan

Perubahan Klinik Pada Anjing Lokal Selama Teranestesi Ketamin Dengan Berbagai Dosis Premedikasi Xilazin Secara Subkutan Perubahan Klinik Pada Anjing Lokal Selama Teranestesi Ketamin Dengan Berbagai Dosis Premedikasi Xilazin Secara Subkutan (THE CLINICAL CHANGES IN LOCAL DOG DURING ANESTHETIZED BY KETAMINE WITH VARIOUS DOSE

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saluran pencernaan (gastrointestinal, GI) dimulai dari mulut sampai anus. Fungsi saluran pencernaan adalah untuk ingesti dan pendorongan makanan, mencerna makanan, serta

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Premedikasi Premedikasi adalah penggunaan obat-obatan sebelum induksi anestesi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Premedikasi Premedikasi adalah penggunaan obat-obatan sebelum induksi anestesi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Premedikasi Premedikasi adalah penggunaan obat-obatan sebelum induksi anestesi. Obat analgesik akan menghilangkan rasa sakit, sementara obat tranquilliser akan menenangkan hewan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Sebagai tinjauan pustaka berikut ini ada beberapa contoh penelitian yang sudah dilakukan oleh para peneliti yang dapat digunakan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anestesi digunakan secara luas dalam bidang kedokteran hewan seperti menghilangkan nyeri dan kesadaran pada tindakan pembedahan, pengendalian hewan (restraint), keperluan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecemasan 2.1.1 Definisi Kecemasan adalah sinyal peringatan; memperingatkan akan adanya bahaya yang akan terjadi dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi

Lebih terperinci

BAB III SISTEM KOORDINASI (SARAF)

BAB III SISTEM KOORDINASI (SARAF) BAB III SISTEM KOORDINASI (SARAF) Standar Kompetensi : Sistem koordinasi meliputi sistem saraf, alat indera dan endokrin mengendalikan aktivitas berbagai bagian tubuh. Sistem saraf yang meliputi saraf

Lebih terperinci

Fakultas Kedokteran Universitas Jember 2015

Fakultas Kedokteran Universitas Jember 2015 PRAKTIKUM FARMAKOLOGI OBAT MIOTIKUM DAN MIDRIATIKUM ILMU PENYAKIT MATA LAPORAN PRAKTIKUM Oleh Latifatu Choirunisa NIM 132010101013 Cahya Kusumawardani NIM 132010101030 Ngurah Agung Reza Satria Nugraha

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dilaksanakan di RSGM UMY dengan tujuan untuk melihat adanya

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dilaksanakan di RSGM UMY dengan tujuan untuk melihat adanya BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian eksperimental quasi yang telah dilaksanakan di RSGM UMY dengan tujuan untuk melihat adanya pengaruh obat anti ansietas

Lebih terperinci

KEBUTUHAN ELIMINASI BOWEL

KEBUTUHAN ELIMINASI BOWEL KEBUTUHAN ELIMINASI BOWEL DISUSUN OLEH : 1. SEPTIAN M S 2. WAHYU NINGSIH LASE 3. YUTIVA IRNANDA 4. ELYANI SEMBIRING ELIMINASI Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa urin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang The International Association for The Study of Pain menggambarkan rasa sakit sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dan dihubungkan dengan

Lebih terperinci

Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.1. :9-15 ISSN : Pebruari 2012

Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.1. :9-15 ISSN : Pebruari 2012 Perbandingan Anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida dengan Anestesi Tiletamin- Zolazepam terhadap Frekuensi Denyut Jantung dan Pulsus Anjing Lokal (COMPARISON EFFECT OF ANESTHESIA XYLAZINE-KETAMINE HYDROCHLORIDE

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seorang ahli anestesi. Suatu studi yang dilakukan oleh Pogatzki dkk, 2003

BAB I PENDAHULUAN. seorang ahli anestesi. Suatu studi yang dilakukan oleh Pogatzki dkk, 2003 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penatalaksanaan nyeri akut pascaoperasi merupakan salah satu tantangan seorang ahli anestesi. Suatu studi yang dilakukan oleh Pogatzki dkk, 2003 melaporkan bahwa

Lebih terperinci

LAPORAN PENDAHULUAN PERAWATAN KOLOSTOMI Purwanti,

LAPORAN PENDAHULUAN PERAWATAN KOLOSTOMI Purwanti, LAPORAN PENDAHULUAN PERAWATAN KOLOSTOMI Purwanti, 0906511076 A. Pengertian tindakan Penyakit tertentu menyebabkan kondisi-kondisi yang mencegah pengeluaran feses secara normal dari rektum. Hal ini menimbulkan

Lebih terperinci

ATROPIN OLEH: KELOMPOK V

ATROPIN OLEH: KELOMPOK V ATROPIN OLEH: KELOMPOK V ATROPIN ATROPIN 0,25 MG/ML INJEKSI GOLONGAN : K KANDUNGAN : Atropine sulfat DOSIS : 250-1000 µg secara subkutan. KEMASAN : Injeksi 0,25 mg/ml x 30 ampul @1 ml SEDIAAN : ampul inj.im/iv/sk

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN 51 BAB V HASIL PENELITIAN Bab ini menguraikan hasil penelitian tentang pengaruh terapi air terhadap proses defekasi pasien konstipasi di RSU Sembiring Delitua Deli Serdang yang dilaksanakan pada 4 April-31

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan Pemeriksaan Fisik dan Jantung Hasil pemeriksaan fisik yang meliputi suhu tubuh, frekuensi nafas dan frekuensi jantung menunjukkan bahwa kelima hewan yang digunakan dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang tua. 1 Berdasarkan data pada Agustus 2010, terdapat pasien anak berusia 2-12 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Anak-anak mempunyai kondisi berbeda dengan orang dewasa pada saat pra bedah sebelum masuk

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU BEDAH UMUM (LAPARATOMY)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU BEDAH UMUM (LAPARATOMY) LAPORAN PRAKTIKUM ILMU BEDAH UMUM (LAPARATOMY) Oleh: NURUL SULFI ANDINI O 111 11 007 KELOMPOK 1 PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013 I. TUJUAN PRAKTIKUM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering. memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang

BAB I PENDAHULUAN. nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering. memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering memudahkan diagnosis, pasien

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ulkus Peptikum 2.1.1 Definisi Ulkus peptikum merupakan luka terbuka dengan pinggir edema disertai indurasi dengan dasar tukak tertutup debris (Tarigan, 2009). Ulkus peptikum

Lebih terperinci

Dr. Ade Susanti, SpAn Bagian anestesiologi RSD Raden Mattaher JAMBI

Dr. Ade Susanti, SpAn Bagian anestesiologi RSD Raden Mattaher JAMBI Dr. Ade Susanti, SpAn Bagian anestesiologi RSD Raden Mattaher JAMBI Mempunyai kekhususan karena : Keadaan umum pasien sangat bervariasi (normal sehat menderita penyakit dasar berat) Kelainan bedah yang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Babi Lokal (Sus domestica) Indonesia

TINJAUAN PUSTAKA. Babi Lokal (Sus domestica) Indonesia 2 TINJAUAN PUSTAKA Babi Lokal (Sus domestica) Indonesia Babi merupakan hewan monogastrik berasal dari Eurasia yang memiliki bentuk hidung khas sebagai ciri hewan tersebut, yaitu berhidung lemper. Babi

Lebih terperinci

Lampiran 1 Klasifikasi status pasien pada prosedur anestesi menurut American Society of Anaesthesiologist (ASA)

Lampiran 1 Klasifikasi status pasien pada prosedur anestesi menurut American Society of Anaesthesiologist (ASA) LAMPIRAN 73 74 Lampiran 1 Klasifikasi status pasien pada prosedur anestesi menurut American Society of Anaesthesiologist (ASA) Katagori Kondisi Fisik Contoh kondisi klinik Hewan normal (sehat klinis) Tidak

Lebih terperinci

HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS SENYAWA STIMULAN SISTEM SARAF PUSAT. JULAEHA, M.P.H., Apt

HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS SENYAWA STIMULAN SISTEM SARAF PUSAT. JULAEHA, M.P.H., Apt HUBUNGAN STRUKTUR AKTIVITAS SENYAWA STIMULAN SISTEM SARAF PUSAT JULAEHA, M.P.H., Apt FISIONEUROLOGI OBAT SSP Obat SSP menekan / menstimulasi seluruh atau bagian tertentu dari SSP. Jika terdapat penekanan

Lebih terperinci

PERBANDINGAN PENGARUH ANESTESI KETAMIN- XYLAZIN DAN KETAMIN-ZOLETIL TERHADAP FISIOLOGIS KUCING LOKAL (Felis domestica) SKRIPSI

PERBANDINGAN PENGARUH ANESTESI KETAMIN- XYLAZIN DAN KETAMIN-ZOLETIL TERHADAP FISIOLOGIS KUCING LOKAL (Felis domestica) SKRIPSI PERBANDINGAN PENGARUH ANESTESI KETAMIN XYLAZIN DAN KETAMINZOLETIL TERHADAP FISIOLOGIS KUCING LOKAL (Felis domestica) SKRIPSI PRISKHA FLORANCIA PIRADE O111 10 119 PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN FAKULTAS

Lebih terperinci

Jurnal Kajian Veteriner Desember 2015 Vol. 3 No. 2 :: ISSN :

Jurnal Kajian Veteriner Desember 2015 Vol. 3 No. 2 :: ISSN : Jurnal Kajian Veteriner Desember 2015 Vol. 3 No. 2 :: 113-119 ISSN : 2356-4113 PERBEDAAN EFEKTIVITAS ANESTETIKUM ANTARA ZOLETIL- ACEPROMACIN DAN KETAMIN- ACEPROMACIN PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia, sebagai sumber energi vital manusia agar dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari dengan baik. Kandungan dalam makanan yang

Lebih terperinci

Sistem saraf. Kurnia Eka Wijayanti

Sistem saraf. Kurnia Eka Wijayanti Sistem saraf Kurnia Eka Wijayanti Sistem saraf SSP SST Otak Medula spinalis Saraf somatik Saraf Otonom Batang otak Otak kecil Otak besar Diencephalon Mesencephalon Pons Varolii Medulla Oblongata Saraf

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pestisida mencakup bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh jasad

BAB I PENDAHULUAN. Pestisida mencakup bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh jasad BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai negara agraris. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Kebiasaan petani dalam menggunakan pestisida

Lebih terperinci

konvensional 150 mg dapat menghambat sekresi asam lambung hingga 5 jam, tetapi kurang dari 10 jam. Dosis alternatif 300 mg dapat meningkatkan

konvensional 150 mg dapat menghambat sekresi asam lambung hingga 5 jam, tetapi kurang dari 10 jam. Dosis alternatif 300 mg dapat meningkatkan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini, penyakit saluran cerna merupakan penyakit yang sangat sering dialami oleh banyak orang karena aktivitas dan rutinitas masingmasing orang, yang membuat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Masalah pencernaan merupakan salah satu masalah yang paling sering dihadapi oleh orang tua pada anaknya yang masih kecil. Biasanya masalah-masalah tersebut timbul

Lebih terperinci

Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar.

Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar. Pengertian Sistem saraf adalah sistem yang mengatur dan mengendalikan semua kegiatan aktivitas tubuh kita seperti berjalan, menggerakkan tangan, mengunyah makanan dan lainnya. Sistem Saraf tersusun dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma merupakan keadaan sakit sesak nafas karena terjadinya aktivitas berlebih terhadap rangsangan tertentu sehingga menyebabkan peradangan dan penyempitan pada saluran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka (Sjamsuhidajat dan Jong, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka (Sjamsuhidajat dan Jong, 2005). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembedahan merupakan suatu tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka dan menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani. Pembukaan bagian tubuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pergeseran pola konsumsi pangan. Seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan

BAB I PENDAHULUAN. pergeseran pola konsumsi pangan. Seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini masyarakat Indonesia terutama yang di perkotaan mengalami pergeseran pola konsumsi pangan. Seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan sosial ekonomi masyarakat,

Lebih terperinci

PENGARUH PIJAT TERHADAP LAMA TIDUR BAYI USIA 0-3 BULAN DI KLINIK FISIOTERAPI SKRIPSI

PENGARUH PIJAT TERHADAP LAMA TIDUR BAYI USIA 0-3 BULAN DI KLINIK FISIOTERAPI SKRIPSI PENGARUH PIJAT TERHADAP LAMA TIDUR BAYI USIA 0-3 BULAN DI KLINIK FISIOTERAPI SKRIPSI disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mendapatkan gelar sarjana sains terapan fisioterapi oleh: NURNARITA

Lebih terperinci

PENGANTAR FARMAKOLOGI

PENGANTAR FARMAKOLOGI PENGANTAR FARMAKOLOGI FARMAKOLOGI : PENGGUNAAN OBAT - PREVENTIV - DIAGNOSIS - PENGOBATAN GEJALA PENYAKIT FARMAKOTERAPI : CABANG ILMU PENGGUNAAN OBAT - PREVENTIV - PENGOBATAN FARMAKOLOGI KLINIK : CABANG

Lebih terperinci

SISTEM SARAF OTONOM KELAS IIID FORMU14SI 014

SISTEM SARAF OTONOM KELAS IIID FORMU14SI 014 SISTEM SARAF OTONOM KELAS IIID FORMU14SI 014 PENGERTIAN SISTEM SARAF Merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh Merupan

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan untuk melihat onset, durasi, kematian dan tahapan anestesi Acepromazine (ACP). Selanjutnya, hasil penelitian dengan menggunakan ACP yang diberikan secara

Lebih terperinci

SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA

SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN SMP VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA Salah satu ciri mahluk hidup adalah membutuhkan makan (nutrisi). Tahukah kamu, apa yang

Lebih terperinci

TRANSPORTASI BASAH BENIH NILA (Oreochromis niloticus) MENGGUNAKAN EKSTRAK BUNGA KAMBOJA (Plumeria acuminata) ABSTRAK

TRANSPORTASI BASAH BENIH NILA (Oreochromis niloticus) MENGGUNAKAN EKSTRAK BUNGA KAMBOJA (Plumeria acuminata) ABSTRAK e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume III No 2 Februari 2015 ISSN: 2302-3600 TRANSPORTASI BASAH BENIH NILA (Oreochromis niloticus) MENGGUNAKAN EKSTRAK BUNGA KAMBOJA (Plumeria acuminata)

Lebih terperinci

OBAT GASTROINTESTINAL

OBAT GASTROINTESTINAL OBAT GASTROINTESTINAL OBAT SALURAN PENCERNAAN Obat Penyakit Tukak - Peptik Anti emetik Laxativa ( Pencahar ) Anti Diare 1. OBAT PENYAKIT TUKAK PEPTIC A. Antasida adalah basa basa lemah yang digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama

BAB I PENDAHULUAN. Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan yang saat ini terjadi di negara Indonesia. Angka kesakitan bayi menjadi indikator kedua

Lebih terperinci

Pengertian Irritable Bowel Syndrome (IBS)

Pengertian Irritable Bowel Syndrome (IBS) Pengertian Irritable Bowel Syndrome (IBS) Apakah IBS itu? Irritable bowel syndrome (IBS), juga dikenal sebagai "kejang usus besar," adalah gangguan umum. Sementara kebanyakan orang mengalami masalah pencernaan

Lebih terperinci

PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012

PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012 PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012 Penelitian Keperawatan Jiwa SITI FATIMAH ZUCHRA BP. 1010324031

Lebih terperinci

Penelitian efek antidiare ekstrak daun salam (Eugenia polyantha) dengan metode transit intestinal oleh Hardoyo (2005), membuktikan

Penelitian efek antidiare ekstrak daun salam (Eugenia polyantha) dengan metode transit intestinal oleh Hardoyo (2005), membuktikan BAB 1 PENDAHULUAN Diare dapat diartikan sebagai timbulnya feses yang berbentuk cair secara berulang-ulang dan berlebihan (lebih dari 3 kali sehari). Pada umumnya timbulnya diare karena suatu gejala klinis,

Lebih terperinci

biologi SET 17 SISTEM SARAF DAN LATIHAN SOAL SBMPTN ADVANCE AND TOP LEVEL A. PEMBAGIAN SUSUNAN SARAF

biologi SET 17 SISTEM SARAF DAN LATIHAN SOAL SBMPTN ADVANCE AND TOP LEVEL A. PEMBAGIAN SUSUNAN SARAF 17 MATERI DAN LATIHAN SOAL SBMPTN ADVANCE AND TOP LEVEL biologi SET 17 SISTEM SARAF Segala aktivitas tubuh manusia dikoordinasi oleh sistem saraf dan sistem hormon (endokrin). Sistem saraf bekerja atas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Anestesi umum merupakan teknik yang sering dilakukan pada berbagai macam prosedur pembedahan. 1 Tahap awal dari anestesi umum adalah induksi anestesi. 2 Idealnya induksi

Lebih terperinci

PENGARUH STATIK KONTRAKSI TERHADAP KECEPATAN KEMBALINYA PERISTALTIK USUS PADA PASIEN POST SECTIO CAESAREA (SC)

PENGARUH STATIK KONTRAKSI TERHADAP KECEPATAN KEMBALINYA PERISTALTIK USUS PADA PASIEN POST SECTIO CAESAREA (SC) PENGARUH STATIK KONTRAKSI TERHADAP KECEPATAN KEMBALINYA PERISTALTIK USUS PADA PASIEN POST SECTIO CAESAREA (SC) Ernawati, Suryanti, Intan Dyah Rahmawati Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap Jl. Dr. Soetomo

Lebih terperinci

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN POST OPERASI LAPARATOMI SAAT PERAWATAN LUKA DI RSUD MAJALENGKA TAHUN 2014

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN POST OPERASI LAPARATOMI SAAT PERAWATAN LUKA DI RSUD MAJALENGKA TAHUN 2014 PENGARUH TEKNIK RELAKSASI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN POST OPERASI LAPARATOMI SAAT PERAWATAN LUKA DI RSUD MAJALENGKA TAHUN 2014 Oleh: Tresna Komalasari ABSTRAK Teknik relaksasi dengan

Lebih terperinci

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian dengan pemberian ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.)

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian dengan pemberian ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan 1. Uji Larvasida Penelitian dengan pemberian ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap larva Aedes aegypti instar III yang dilakukan selama

Lebih terperinci

OBAT YANG BEKERJA PADA SUSUNAN SARAF OTONOM DR. APRILITA RINA YANTI EFF., M.BIOMED PRODI RMIK-FIKES

OBAT YANG BEKERJA PADA SUSUNAN SARAF OTONOM DR. APRILITA RINA YANTI EFF., M.BIOMED PRODI RMIK-FIKES OBAT YANG BEKERJA PADA SUSUNAN SARAF OTONOM DR. APRILITA RINA YANTI EFF., M.BIOMED PRODI RMIK-FIKES KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN Mahasiswa mampu menguraikan pengertian tentang Obat-obat`yang bekerja

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Ransum Terhadap Bobot Potong Ayam dan Lemak Abdominal Persentase lemak abdominal ayam perlakuan cenderung didapatkan hasil yang lebih rendah dibandingkan ayam pembanding.

Lebih terperinci

OBAT-OBAT PARASIMPATIS (PARASIMPATOMIMETIK) Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS

OBAT-OBAT PARASIMPATIS (PARASIMPATOMIMETIK) Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS OBAT-OBAT PARASIMPATIS (PARASIMPATOMIMETIK) Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS 1 Pembagian sistem syaraf Sistem syaraf dibedakan atas 2 bagian : 1. Sistem Syaraf Pusat (SSP). 2. Sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan homeostasis tubuh yang seimbang. Hal tersebut sesuai

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan homeostasis tubuh yang seimbang. Hal tersebut sesuai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keperawatan merupakan ilmu yang berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan tujuan untuk mempertahankan homeostasis tubuh yang seimbang. Hal tersebut

Lebih terperinci

Obat Penyakit Diabetes & Cara Mendiagnosis Gastroparesis

Obat Penyakit Diabetes & Cara Mendiagnosis Gastroparesis Obat Penyakit Diabetes & Cara Mendiagnosis Gastroparesis Bagaimana Mendiagnosis Gastroparesis? Apakah Obat Penyakit Diabetes Berperan Penting? Diagnosis gastroparesis akan dikonfirmasi melalui satu atau

Lebih terperinci

PENGATURAN FUNGSI TRAKTUS GASTROINTESTINAL

PENGATURAN FUNGSI TRAKTUS GASTROINTESTINAL PENGATURAN FUNGSI TRAKTUS GASTROINTESTINAL MAKALAH Disusun oleh : R. RIZKY SUGANDA P. D100.531 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2011 DAFTAR ISI Daftar Isi i Daftar Gambar Ii BAB I. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memberikan respon stress bagi pasien, dan setiap pasien yang akan menjalani

BAB I PENDAHULUAN. memberikan respon stress bagi pasien, dan setiap pasien yang akan menjalani BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tindakan pembedahan dan anestesi merupakan suatu kondisi yang dapat memberikan respon stress bagi pasien, dan setiap pasien yang akan menjalani pembedahan sudah tentunya

Lebih terperinci

Perkembangan Sepanjang Hayat

Perkembangan Sepanjang Hayat Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Dewasa Akhir dalam Aspek Fisik dan Kognitif Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Sakit Perut Berulang Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut berulang pada remaja terjadi paling sedikit tiga kali dengan jarak paling sedikit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak terlepas dari proses belajar, mengingat dan mengenal sesuatu. Semua proses tersebut akan berjalan dengan baik apabila melibatkan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data rata-rata parameter uji hasil penelitian, yaitu laju pertumbuhan spesifik (LPS), efisiensi pemberian pakan (EP), jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein

Lebih terperinci