BAB III PROSES FISIOTERAPI
|
|
|
- Devi Indradjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III PROSES FISIOTERAPI A. Pengkajian Fisioterapi 1. Anamnesis Anamnesis merupakan suatu pengumpulan data dengan cara tanya jawab antara terapis dengan sumber data, dimana dengan dilakukannya tanya jawab diharapkan akan memperoleh informasi tentang penyakit dan keluhan yang dirasakan oleh sumber data. Anamnesis dapat dibagi menjadi dua, yaitu autoanamnesis dan heteroanamnesis. Autoanamnesis merupakan suatu proses tanya jawab yang dilakukan secara langsung dengan sumber data atau pasien, sedangkan heteroanamnesis merupakan suatu proses tanya jawab yang dilakukan dengan orang lain (keluarga ataupun orang yang mengetahui tentang perjalanan penyakit dari sumber data). a. Anamnesis Umum 1) Identitas pasien Nama Umur : Ny. W : 62 tahun Jenis kelamin : Perempuan Agama Pekerjaan Alamat : Islam : Ibu Rumah Tangga : Rt 02 / Rw 01 Prayan, Gumpang, Kartosuro. No. RM :
2 43 b. Anamnesis Khusus 1) Keluhan utama Keluhan utama merupakan suatu permasalahan yang dirasakan oleh pasien. Pada kasus ini pasien mengeluh adamya nyeri pada bagian punggung bawah. 2) Riwayat penyakit sekarang Bulan Juni 2014, pasien merasakan nyeri pada saat bangun tidur dan nyeri yang tiba tiba saat berjalan. Pada tanggal 8 Juli 2014 pasien periksa ke dokter dan dilakukan foto rontgen serta USG (awalnya pasien juga mengeluhkan adanya sakit pada perut). Nyeri semakin terasa meningkat ketika pasien duduk dan nyeri berkurang ketika pasien tidur terlentang ataupun pada posisi miring. Kemudian pada tanggal 16 Juli 2014 pasien mendapatkan rujukan ke fisioterapi. 3) Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit dahulu diketahui bahwa pasien tidak pernah mengalami trauma dan penyakit yang sama, seperti yang dialami sekarang. 4) Riwayat penyakit penyerta Tidak ada riwayat penyakit penyerta 5) Riwayat penyakit pribadi dan keluarga Tidak ada keluarga pasien yang mempunyai riwayat penyakit serupa.
3 44 6) Anamnesis sistem Pada anamnesis sistem untuk kondisi Low Back Pain akibat spondilosis dan scoliosis, pada kepala dan leher tidak ada keluhan kaku dan pusing. Pada kardiovaskuler tidak ada keluhan nyeri dada dan keluhan jantung berdebar-debar. Pada respirasi tidak ada keluhan nyeri dada dan batuk berdarah. Pada gastroitestinalis berhubungan dengan BAB pasien lancar dan terkontrol. Pada urogenitalis berhubungan dengan BAK pasien normal dan terkontrol. Pada muskuloskeletal ada keluhan nyeri pada punggung bawah. Pada nervorum tidak ada riwayat lumpuh separuh badan. 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaaan tahap awal yang dilakukan terhadap pasien, yaitu meliputi: a. Tanda tanda vital Pemeriksaan tanda vital dilakukan pada tanggal 16 Juli 2014, yang berisi tentang: Tekanan darah Denyut nadi Pernapasan Temperatur Tinggi badan Berat badan : 130 / 90 mmhg : 76 x/ menit : 20 x/ menit : 36,2 0 C : 148 cm : 65 kg b. Inspeksi
4 45 Inspeksi merupakan suatu pemeriksaan, dimana pemeriksaan tersebut memlihat pasien secara langsung dan mengidentifikasi tanda tanda dari keluhan yang pasien alami. Pemeriksaan inspeksi ada dua, yaitu secara statis dan dinamis. Inspeksi statis merupakan inspeksi yang dilakukan saat pasien tidak bergerak atau dalam keadaan diam, sedangkan inspeksi dinamis merupakan inspeksi yang dilakukan saat pasien bergerak. Inspeksi secara statis kondisi umum pasien baik, ekspresi wajah pasien tidak menahan rasa sakit. Inspeksi secara dinamis terlihat abnormal postur saat berjalan, yaitu bahu kanan lebih rendah dari bahu kiri. Pada saat flexi lumbal terlihat scapula kanan lebih tinggi atau menonjol daripada yang kiri. c. Palpasi Palpasi merupakan suatu pemeriksaan dengan cara memegang, menekan dan meraba bagian tubuh pasien. Bertujuan untuk mengetahui adanya spasme otot, nyeri tekan, suhu lokal, tonus, oedema dan perubahan bentuk. Dari pemeriksaan ini didapatkan nyeri tekan pada m. erector spinae dan tidak terdapat bengkak. d. Gerakan dasar 1) Gerak aktif Gerak aktif merupakan gerak yang dilakukan secara mandiri oleh pasien.
5 46 Pada pemeriksaan gerak aktif yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu pasien dapat melakukan gerakan aktif pada daerah lumbal dengan baik, full ROM, tidak terdapat nyeri, seperti gerakan flexi lumbal, lateral flexi dextra, lateral flexi sinistra, namun hanya saja sedikit terbatas pada gerak extensi lumbal. 2) Gerak pasif Gerak pasif merupakan gerak yang dibantu oleh terapis, pasien dalam keadaan diam, dan terapis yang sepenuhnya menggerakkan tubuh pasien. Pada pemeriksaan gerak pasif yang dilakukan, pada saat posisi pasien berdiri, secara pasif trunk pasien digerakkan ke arah flexi, lateral flexi dextra dan lateral flexi sinistra tidak terbatas dan tidak timbul nyeri. Sedangkan untuk gerakan ekstensi dilakukan pada saat pasien tengkurap, dan diperoleh informasi yaitu pasien mengalami keterbatasan karena timbul nyeri pada punggung bawah. 3) Gerak isometrik melawan tahanan Gerak isometrik melawan tahanan merupakan gerak aktif, namun mendapatkan tahanan dari terapis, dan dari gerakan ini tidak menimbulkan gerakan atau perubahan lingkup gerak sendi. Diperoleh data bahwa, pada gerakan flexi trunk dapat dilakukan tanpa timbulnya nyeri, dan pada gerakan ekstensi trunk timbul nyeri.
6 47 e. Kognitif, intrapersonal, dan interpersonal Pemeriksaan kognitif merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan pasien dalam menjelaskan tentang kronologi kejadian, tempat serta waktu. Dari hasil pemeriksaaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pasien dapat menjelaskan secara baik. Pemeriksaan intrapersonal merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui kondisi pasien dalam memahami dirinya. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pasien mempunyai motivasi yang tinggi untuk kembali pulih seperti semula dan kembali beraktivitas. Pemerriksaan interpersonal merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan komunikasi pasien dengan orang lain. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pasien mampu berkomunikasi secara baik dengan orang yang ada disekitar. f. Kemampuan fungsional dan lingkungan aktivitas Kemampuan fungsional merupakan kemampuan pasien dalam melakukan kegiatan sehari harinya. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa kegiatan sehari hari pasien tidak terganggu, hanya saja saat berjalan pasien sering merasakan nyeri paada punggung bawah, begitu pula saat duduk. Lingkungan aktivitas merupakan lingkungan dimana pasien melaksanankan kegiatanya. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh
7 48 hasil bahwa apabila pasien sedang merasakan nyeri pada punggung bawahnya, pekerjaan rumah tangga tidak pasien kerjakan melainkan dikerjakan oleh anaknya. Untuk kegiatan sosial, pasien merasa terganggu, seperti pergi pengajian rutin di masjid. 3. Pemeriksaan Spesifik Pemeriksaan spesifik yang dilakukan untuk memeriksa hal-hal yang diperlukan untuk menegakkan diagnosa ataupun dasar penyusunan problematik, tujuan dan tindakan fisioterapi, antara lain sebagai berikut : 1) Pemeriksaan Derajat Nyeri Pemeriksaan nyeri dilakukan dengan menggunakan alat ukur Verbal Discriptive Scale (VDS). Cara pengukuran derajat nyeri dengan menggunakan VDS terdapat tujuh nilai yaitu : nilai 1 tidak nyeri, nilai 2 nyeri sangat ringan, nilai 3 nyeri ringan, nilai 4 nyeri tidak begitu berat, nilai 5 nyeri cukup berat, nilai 6 nyeri berat, nilai 7 nyeri tak tertahankan. Dalam pemeriksaan nyeri yang dilakukan pada regio lumbal, diperoleh hasil sebagai berikut: Nyeri diam = 1 (tidak nyeri) Nyeri tekan (m. erector spinae) = 3 (nyeri ringan) Nyeri gerak (ekstensi) = 4 (nyeri tidak begitu berat) 2) Kekuatan Otot Pengukuran kekuatan otot dilakukan dengan cara menggunakam Manual Muscle Testing (MMT).
8 49 Manual Muscle Testing (MMT) merupakan salah satu bentuk pemeriksaan kekuatan otot yang paling sering digunakan. Hal tersebut karena penatalaksanaan, intepretasi hasil serta validitas dan reliabilitasnya telah teruji. Namun demikian tetap saja, manual muscle testing tidak mampu untuk mengukur otot secara individual melainkan group / kelompok otot. (Bambang, 2012).
9 50 Tabel 3.1 Kriteria nilai kekuatan otot Nilai otot Fleksor trunk Ekstensor trunk Nilai 1 Mengangkat kepala Mampu mengkontraksikan ototnya tanpa disertai gerakan Nilai 2 mengangkat kepala dengan kedua tangan lurus di samping badan, bagian atas scapula terangkat Mengangkat kepala dengan kedua tangan lurus di samping badan Nilai 3 Mengangkat kepala dengan kedua tangan lurus di samping badan, scapula terangkat penuh Nilai 4 Mengangkat kepala dengan kedua tangan menyilang dada, scapula terangkat penuh Nilai 5 Mengangkat kepala dengan kedua tangan di belakang leher, scapula terangkat penuh Mengangkat kepala dan sternum, ekstensi lumbal dengan kedua tangan lurus di samping badan Mengangkat kepala, dada dan costa serta ekstensi lumbal dengan kedua tangan di samping badan Mengangkat kepala, dada dan costa serta ekstensi lumbal dengan kedua tangan di belakang leher
10 51 Dari pemeriksaan ini diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 3.2 Hasil Pemeriksaan kekuatan otot Kekuatan Otot Nilai Flexor trunk 4 Extensor trunk 3 3) Lingkup Gerak Sendi Lingkup gerak sendi (LGS) adalah luas lingkup gerakan sendi yang mampu dicapai / dilakukan oleh sendi. Pengukuran lingkup gerak sendi yang sering digunakan adalah goniometri, tapi untuk sendi tertentu menggunakan pita ukur (misalnnya pada vertebra). (Bambang, 2012). Pengukuran LGS untuk trunk dapat dilakukan dengann menggunakan pita ukur. Yang diukur yaitu gerakan flexi, ekstensi, lateral flexi dextra dan lateral flexi sinistra. a) Flexi dan ekstensi Pada pengukuran lingkup gerak sendi pada flexi dan ekstensi trunk menggunakan pita ukur, dilakukan dengan posisi berdiri. Dan terapis mengukur jarak antara VC 7 VS 1. Untuk pengukuran gerakan flexi, pasien diminta untuk membungkukkan badan sampai seoptimal mungkin, sedangkan untuk pengukuran gerakan ekstensi pasien diminta untuk menengadah kebelakang sebisa mungkin dan diukur selisih antara VC 7 VS 1.
11 52 b) Lateral flexi Pada gerakan lateral flexi, posisi pasien masih sama dengan pengukuran flexi dan ekstensi yaitu pada posisi berdiri. Pengukuran dilakukan dengan cara meletakkan pita ukur pada jari tengah pasien hingga lantai, kemudian pasien diminta untuk melakukan gerakan lateral flexi dextra dan lateral flexi sinistra. Setelah melakukan gerakan tersebut diukur selisih antara pengukuran sebelum melakukan gerakan dan sesudah melakukan gerakan. Tabel 3.3 Hasil pemeriksaan Lingkup Gerak Sendi Gerakan Patokan Posisi awal Posisi akhir LGS Flexi VC 7 VS 1 52 cm 60 cm 8 cm Ekstensi VC 7 VS 1 55 cm 52 cm 3 cm Lateral dextra Lateral sinistra flexi flexi Ujung jari 3 lantai 51 cm 55 cm 4cm Ujung jari 3 lantai 54 cm 60 cm 6 cm 4) Pemeriksaan khusus a) SLR (Straight Leg Rissing) Posisi pasien tidur terlentang dengan hip fleksi dan knee ekstensi. Secara perlahan kita gerakkan pasif fleksi hip kurang dari
12 53 30 derajat. Positif bila pasien merasakan nyeri yang menjalar dari punggung bawah sampai tungkai bawah dan ankle. Dari pemeriksaan yang dilakukan pada kedua tungkai diperoleh hasil negatif. b) Tes Bragard Posisi pasien tidur terlentang, kemudian terapis menggerakkan fleksi hip secara pasif dengan knee lurus disertai dorsi fleksi ankle dengan sudut 30 derajat. Positif bila pasien merasakan nyeri pada posterior gluteal yang menjalar ke tungkai. Dari pemeriksaan yang dilakukan pada kedua tungkai diperoleh hasil negatif. c) Tes Neri Gerakan sama dengan tes SLR hanya ditambah gerakan fleksi kepala secara aktif dan biasanya dilakukan pada derajat. Positif bila dirasakan nyeri sepanjang distribusi n. Ischiadicus. Dari pemeriksaan yang dilakukan pada kedua tungkai diperoleh hasil negatif. d) Forward Bending Test Forward bending test dilakukan untuk mengetahui perbedaan tinggi scapula, hal ini dilakukan dengan cara melakukan flexi lumbal. Dari pemeriksaan yang dilakukan diperoleh hasil yaitu scapula dextra lebih tinggi dari pada scapula sinistra. e) Cobb method
13 54 Cobb methode dilakukan untuk mengetahui sudut dari kemiringan scoliosis. Hal ini dilakukan dengan cara mengukur sudut kemiringan vertebra pada foto rontgen pasien. Dari pemeriksaan tersebut diperoleh hasil sudut kemiringan scoliosis sebesar 15 o, yang artinya termasuk scoliosis derajat ringan, dengan ciri timbul keluhan nyeri pada pinggang, rheumatic, Hernia Discus Intervertebralis atau gangguan muskuloskeletal (bahu sudah mulai tampak asimetris, namun belum begitu terlihat). f) Panjang Tungkai Pemeriksaan panjang tungkai yang dilakukan yaitu menggunakan metode apperence length, dimana metode ini diukur dari umbilicus ke malleolus lateralis melalui patella. Dan diperoleh hasil : Sisi dextra Sisi sinistra = 84,2 cm = 85,5 cm Sehingga diperoleh selisih panjang tungkai dextra dan sinistra yaitu 1,3 cm. g) Pemeriksaan fungsional (oswestry Low Back Pain Dissability Questionnaire)
14 55 Tabel 3.4 Hasil Pemeriksaan Aktivitas Fungsional No Komponen Penilaian Nilai 1 Intensitas nyeri 3 2 Perawatan diri (mandi, berpakaian) 1 3 Aktifitas Mengangkat 2 4 Berjalan 3 5 Duduk 3 6 Berdiri 4 7 Tidur 1 8 Aktifitas Seksual (bila memungkinkan) Privasi 9 Kehidupan Sosial 3 10 Bepergian / Melakukan Perjalanan 4 Jumlah 24 Nilai keterbatasan 53,3 % Dari pemeriksaan Aktivitas fungsional yang dilakukan diperoleh nilai keterbatasan sebesar 53,3% yang merupakan termasuk dalam kategori keterbatasan sedang. B. Problematika Fisioterapi 1. Impairment Adanya nyeri tekan pada m. errector spinae, nyeri gerak pada saat ekstensi lumbal, keterbatasan lingkup gerak sendi, dan penurunan kekuatan otot ekstensor trunk.
15 56 2. Functional limitation Pasien kesulitan saat dari posisi duduk ke berdiri dan berjalan. 3. Disability Pasien belum dapat berjalan dalam rentang waktu yang lama dan bangkit dari duduk ke berdiri, sehingga kegiatan sosial pasien terganggu (seperti pergi pengajian rutin di masjid). C. Tujuan Fisioterapi Berdasarkan diagnosa dan problematik fisioterapi maka dapat ditentukan tujuan dari terapi yang akan dilaksanakan serta harus berorientasi kepada problematik yang dialami pasien. Tujuan fisioterapi dikelompokkan menjadi 2 yaitu: 1. Tujuan Jangka pendek a. Mengurangi nyeri tekan pada m. erector spine dan nyeri gerak saat gerak ekstensi lumbal. b. Meningkatkan lingkupkup gerak sendi. c. Meningkatkan kekuatan otot ekstensor trunk. 2. Tujuan Jangka panjang Adapun tujuan jangka panjang yang merupakan tujuan akhir adalah meningkatkan aktivitas fungsional seperti semula atau semaksimal mungkin, yakni melanjutkan melanjutkan tujuan jangka pendek. D. Pelaksanaan Fisioterapi 1. Micro Wave Diathermy (MWD) a. Persiapan alat
16 57 Pastikan semua alat dalam keadaan baik (saklar, kabel dan elektroda). Semua saklar dalam keadaaan nol, kabel tidak boleh menyilang satu sama lain yang anati nya akan menimbulkan EEM (Energi Elektromagnetik). b. Persiapan pasien Pastikan pasien bukan kontra indikasi dari terapi ini. Test sensibilitas pasien menggunakan air hangat dan air dingin. Kemudian bebaskan area yang akan di terapi dari kain, sebagai gantinya alasi area yang akan diterapi mengggunakan handuk. Tidak lupa jelaskan kepada pasien tentang manfat pemberian dan efek yang ditimbulkan dari pemberian terapi MWD ini, yaitu timbulnya rasa hangat. Posisi pasien pun harus senyaman mungkin dan jika dapat pasien diposisikan tengkurap. c. Pelaksanaan terapi Pasang elektroda pada punggung bawah, beri jarak dengan permukaan kulit 2 3 cm. Tekan tombol power ke posisi on. Atur waktu yang akan digunakan untuk terapi, yaitu selama 10 menit. Arus yang digunakan yaitu arus continue, intensitas yang digunakan adalah 70 ma. Dalam proses terapi, monitoring terus tentang keadaan pasien, baik sebelum, selama, dan sesudah terapi. Setelah waktu terapi selesai, intensitas dikembalikan kedalam posisi nol dan tekan tombol off serta rapikan alat. 2. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS)
17 58 a. persiapan alat Pastikan semua alat dalam keadaan baik (saklar, kabel dan elektroda). Semua saklar dalam keadaaan nol. b. Persiapan passien Pastikan pasien bukan kontra indikasi dari terapi ini. Test sensibilitas pasien menggunakan benda tajam dan tumpul. Kemudian bebaskan area yang akan di terapi dari kain. Tidak lupa jelaskan kepada pasien tentang manfaat pemberian dan efek yang ditimbulkan dari pemberian terapi TENS ini, yaitu timbulnya rasa seperti tertusuk tusuk ringan. Posisi pasien pun harus senyaman mungkin dan jika dapat pasien diposisikan tengkurap. c. Pelaksanaan terapi Pasang elektroda pada punggung bawah. Tekan tombol power ke posisi on. Atur waktu yang akan digunakan untuk terapi, yaitu selama 10 menit. Intensitas yang digunakan sesuai dengan batas rasa pasien. Dalam proses terapi, monitoring terus tentang keadaan pasien, baik sebelum, selama, dan sesudah terapi. Setelah waktu terapi selesai, intensitas dikembalikan kedalam posisi nol dan tekan tombol off serta rapikan alat. 3. Terapi Latihan a. Persiapan alat Dalam hal ini matras atau alas yang digunakan untuk latiahn adalah bahan yang sedikit keras namun nyaman untuk pasien. b. Persiapan pasien
18 59 Untuk memulai terapi priksa terlebih dahulu vital sign pasien, tanyakan pada pasien apakah ada keluhan pusing, mual dan lainnya. Sarankan kepada pasien untuk tidak memakai pakaian ketat atau yang membatasi gerakan sehingga mengganggu latihan. c. Pelaksanaan terapi 1) William flexi (1) Gerakan William fleksi : Posisi awal : pasien tidur terlentang di atas matras dengan kedua tungkai ditekuk dan kedua telapak kaki rata dengan permukaan matras. Gerakan : pasien diminta untuk menekankan pinggangnya ke arah matrs, sehingga permukaan punggung menjadi rata, dengan cara mengkontraksikan otot perut. Setiap kontraksi ditahan 5 hitungan atau 5 detik, kemudian rileks dan diulang 5-8 kali. Gambar 3.1 Gerakan William Flexion 1 (2) Gerakan William Fleksi 2 Posisi awal : sama seperti nomer 1.
19 60 Gerakan : pasien diminta untuk mengkontraksikan otot perut dan menekuk kepala sehingga dagu menyentuh dada. Tahan 5 hitungan, kemudian rileks dan diulang 5-8 kali. Gambar 3.2 Gerakan William Flexion 2 (3) Gerakan William Fleksi 3 Posisi awal : sama seperti no 1. Gerakan : pasien diminta untuk menekuk salah satu lututnya ke arah dada, dengann kedua tangan memegang paha belakang, pada saat bersamaan pasien diminta untuk menekuk kepala sehingga bahu atas terangkat, tahan 5 hitungan, kemudian rileks, ulangi 5-8 kali. Kemudian pasien diminta untuk mengulang gerakan yang sama pada tungkai yang lainnya. Gambar 3.3 Gerakan William Flexion 3 (4) Gerakan William Fleksi 4 Posisi awal : sama seperti no 1.
20 61 Gerakan : Gerakan sama dengan no 3 namun pasien diminta untuk menekuk kedua lututnya bersamaan, tahan 5 hitungan, kemudian rileks dan ulangi 5-8 kali. Gambar 3.4 Gerakan William Flexion 4 (5) Gerakan William Fleksi 5 Posisi pasien berdiri tegak dan punggung menempel dinding, dengan satu tungkai juga menempel, sedang tungkai yang lain lebih ke depan. Pasien diminta untuk menekankan punggungnya ke dinding, sehingga kurva vertebra lurus, tahan selama 5 detik, ulangi 10 kali. Gambar 3.5 Gerakan William Flexion 5 2) Flexibilitas punggung Posisi pasien : pasien berdiri tegak.
21 62 Pelaksanaan : Pasein melaksanakan gerakan ekstensi lumbal secara aktif, dilakukan sebanyak 8x hitungan dengan 5x repitisi. 3) Stretching thorak Posisi passien : pasien berdiri tegak, salah satu tangan diletakkan pada pinggang. Pelaksanaan : Pasien melakukan gerakan mengangkat tangan kanan dan kiri bergantian secara aktif, setiap gerakan ditahan lima detik, kemudian dilakukan kembali secara bergantian. 4) Lower back stretching Posisi pasien : merangkak Pelaksanaan : Pasien menggerakkan punggung flexi dan ekstensi dilakukan sebanyak 10 kali hitungan, 5 kali repetisi, dengan istirahat 5 detik setiap repetisi. 4. Massage Posisi pasien Persiapan alat : tengkurap di atas bed. : media massage (baby oil), kain penutup. Pelaksanaan : 1. Pasien tengkurap di atas bed. 2. Area yang akan di terapi (massage) terbebas dari kain.
22 63 3. Oleskan media massage (baby oil) pada area yang akan di massage, dengan menggunakan teknik stroking. 4. Setelah media massage dioleskan secara merata, berikan eflurage, petrissage, dan juga friction. 5. Massage dilakukan selama 15 menit. 6. Tanyakan keadaan pasien sebelum, selama, dan sesudah terapi. 7. Setelah terapi selesai rapikan alat. 5. Edukasi Edukasi yang diberikan untuk pasien LBP karena spondylosis dan scoliosis yaitu melaksanakn secara aktif latihan yang seperti di contohkan oleh terapis, yaitu program Terapi Latihan seperti William Flexi, flexibilitas punggung, stretching thorak, dan juga lower back stretching. Latihan ini akan membantu pasien untuk memperbaiki postur tubuhnya. Selain itu untuk memperbaiki postur tuubuh pasien, cara bangun dari tidur dan bangkit dari duduk juga perlu diperhatikan, semua posisi tubuh diusahakan tetap tegak. Selain aktif melaksanakan latihan, pasien dianjurkan untuk mengurangi kegiatan yang dapat memperberat nyeri dan scoliosis yang di derita pasien, seperti mengangkat benda berat. Terapi Latihan dapat dilakukan dengan 8 kali hitungan dan 8 kali pengulangan. E. Evaluasi Evaluasi penatalaksanaan fisioterapi pada Low Back Pain akibat Spondilosis dan Scoliosis bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan
23 64 terapi selama enam kali, dengan modalitas yang diberikan yaitu MWD, TENS, massage dan Terapi Latihan. Dan pengukuran yang dipergunakan yaitu: 1. Pemeriksaan nyeri menggunakan Skala Verbal Descriptive Scale (VDS). 2. Lingkup gerak sendi menggunalan pita ukur (Scoober). 3. Kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). 4. Aktivitas fungsional menggunakan Skala Oswestry.
BAB III PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI. dilakukan pada tanggal 5 Februari 2016 secara auto anamnesis yaitu
BAB III PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI A. Pengkajian Fisioterapi 1. Anamnesis Pada kasus fraktur collum humerus dekstra ini, anamnesis dilakukan pada tanggal 5 Februari 2016 secara auto anamnesis yaitu anamnesis
BAB III PROSES FISIOTERAPI
BAB III PROSES FISIOTERAPI A. Pengkajian Fisioterapi Pengkajian fisioterapi merupakan upaya atau tindakan yang dilakukan untuk memperoleh data-data tentang pasien untuk mengetahui permasalahan yang terjadi.
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN MIOGENIK DI RST. Dr. SOEJONO MAGELANG
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN MIOGENIK DI RST. Dr. SOEJONO MAGELANG Karya Tulis Ilmiah Diajukan guna melengkapi tugas-tugas dan syarat-syarat untuk Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma
BAB I PENDAHULUAN. mencapai hasil yang optimal. Upaya kesehatan yang semula dititikberatkan pada
BAB I PENDAHULUAN Pembangunan Nasional adalah pembangunan yang meliputi segala aspek kehidupan termasuk salah satunya bidang kesehatan. Pembangunan di bidang kesehatan, pada hakekatnya adalah untuk meningkatkan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam studi kasus ini, seorang pasien perempuan dengan inisial Ny. NF
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Dalam studi kasus ini, seorang pasien perempuan dengan inisial Ny. NF berusia 52 tahun dengan keluhan nyeri pinggang bawah dan menjalar sampai kaki kiri akibat Hernia
BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS. A. Pengkajian Fisioterapi. fisioterapi pada kasus carpal tunnel syndrome perlu dilakukan beberapa tahapan
BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS A. Pengkajian Fisioterapi Untuk penentuan masalah dan atau melakukan pelaksanaan pelayanan fisioterapi pada kasus carpal tunnel syndrome perlu dilakukan beberapa tahapan
BAB III PROSES FISIOTERAPI. riwayat penyakit, baik berupa anamnesis maupun pemeriksan. Sistematika
33 BAB III PROSES FISIOTERAPI A. Pengkajian Fisioterapi Untuk mengetahui suatu penyakit dibutuhkan pengkajian tentang riwayat penyakit, baik berupa anamnesis maupun pemeriksan. Sistematika pemeriksaan
BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS. De Quervain Syndrome Dextra, meliputi: (1) pengkajian data, (2) pelaksanaan
43 BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS Proses pemecahan masalah yang harus dihadapi oleh fisioterapi pada kasus De Quervain Syndrome Dextra, meliputi: (1) pengkajian data, (2) pelaksanaan terapi, (3) evaluasi
BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS. anamnesis. Anamnesis dilakukan dengan cara tanya jawab, dilakukan untuk
BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS A. Pengkajian Fisioterapi Sebagai tenaga kesehatan yang profesional maka fisoterapi harus melakukan anamnesis. Anamnesis dilakukan dengan cara tanya jawab, dilakukan untuk
PROTOKOL STUDI KASUS. : RSUP Dr.SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN. : Tn. Biran Kusdomo. : Delanggu RT 03, RW 11,klaten
PROTOKOL STUDI KASUS Nama Mahasiswa : Novvi Kurniasari NIM :J100 080 74 Tempat Praktek Pembimbing : RSUP Dr.SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN : I Sulistya, SSt.FT I. Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin
LAPORAN STATUS KLINIK D III FISIOTERAPI FISIOTERAPI MUSKULOSKELETAL. Program Studi Fisioterapi
LAPORAN STATUS KLINIK D III FISIOTERAPI FISIOTERAPI MUSKULOSKELETAL Program Studi Fisioterapi Nomor Urut: 2/R/2014 NAMA MAHASISWA N.I.M TEMPAT PRAKTEK PEMBIMBING : Triastika Restti Alfiandri : J100110059
BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS. tata urutan tindakan fisioterapi (assasment) yang meliputi, anamnesis,
BAB III PELAKSANAAN STUDI KASUS Fisioterapis dalam memberikan pelayanan kepada pasien harus melakukan tata urutan tindakan fisioterapi (assasment) yang meliputi, anamnesis, pemeriksaan, diagnosa fisioterapi,
LAPORAN STATUS KLINIK
LAPORAN STATUS KLINIK NAMA MAHASISWA : WIWIT JATMIKO N.I.M : J10080005 TEMPAT PRAKTEK : YAYASAN SAYAP IBU YOGYAKARTA PEMBIMBING : ERSIANA INTAN SAFITRI Tanggal pembuatan laporan : 5 Febuari 2011 Kondisi/kasus
Oleh: J FAKULTAS
KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN AKIBAT SPONDYLOSIS LUMBAL DAN SCOLIOSIS DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA Diajukan Guna Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Sebagian Persyaratan
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA SCOLIOSIS VETEBRA THORACAL 7 LUMBAL 1 DI RSAL DR.RAMELAN
3 PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA SCOLIOSIS VETEBRA THORACAL 7 LUMBAL 1 DI RSAL DR.RAMELAN NASKAH PUBLIKASI DISUSUN UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN DALAM MENDAPATKAN GELAR DIPLOMA III FISIOTERAPI Disusun oleh
BAB 1 PENDAHULUAN. seumur hidup sebanyak 60% (Demoulin 2012). Menurut World Health
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nyeri punggung merupakan keluhan yang sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Diperkirakan hampir semua orang pernah mengalami nyeri punggung semasa hidupnya. Nyeri
BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyebab 40% kunjungan pasien berobat jalan terkait gejala. setiap tahunnya. Hasil survei Word Health Organization / WHO
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nyeri menurut International Association For Study Of Pain / IASP yang dikutuip oleh Kuntono, 2011 adalah suatu pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan
LAPORAN KASUS: PENATALAKSANAAN LOW BACK PAIN e.c SPONDYLOSIS LUMBALIS DENGAN SWD DAN WILLIAM FLEXION EXERCISE
LABORATORIUM ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI RSSA LAPORAN KASUS: PENATALAKSANAAN LOW BACK PAIN e.c SPONDYLOSIS LUMBALIS DENGAN SWD DAN WILLIAM FLEXION EXERCISE KALAICHELVI REGUNATHAN 0710714014
Nama Mahasiswa : Fitriyanti NIM : J Tempat Praktek : RS. AL. Dr. Ramelan Surabaya Pembimbing : Deddy Herman. P. SST.
PROTOKOL STUDY KASUS Nama Mahasiswa : Fitriyanti NIM : J 100 080 058 Tempat Praktek : RS. AL. Dr. Ramelan Surabaya Pembimbing : Deddy Herman. P. SST. FT Tanggal pembuatan laporan : 7 Februari 2011 Kondisi/
PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI PASKA OPERASI HERNIA NUCLEUS PULPOSUS DI VERTEBRA L5-S1 DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA
PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI PASKA OPERASI HERNIA NUCLEUS PULPOSUS DI VERTEBRA L5-S1 DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Disusun Oleh FITRI ISTIQOMAH NIM. J100.060.056 KARYA TULIS ILMIAH Diajukan
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah menyelenggarakan. bagian-bagian integral dari pembangunan nasional.
BAB I PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah menyelenggarakan upaya kesehatan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk, demi terwujudnya kesehatan masyarakat yang optimal.
BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan termasuk salah satunya bidang kesehatan. Pembangunan di bidang
1 BAB 1 PENDAHULUAN Pembangunan Nasional adalah pembangunan yang meliputi segala aspek kehidupan termasuk salah satunya bidang kesehatan. Pembangunan di bidang kesehatan, pada hakekatnya adalah untuk meningkatkan
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN SPONDYLOSIS LUMBALIS 4-5 DENGAN MWD ULTRA SOUND DAN WILLIAM FLEXION EXERCISE DI RSUD SRAGEN
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN SPONDYLOSIS LUMBALIS 4-5 DENGAN MWD ULTRA SOUND DAN WILLIAM FLEXION EXERCISE DI RSUD SRAGEN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi
SURAT PERSETUJUAN MENJADI SAMPEL PENELITIAN
Lampiran 1 SURAT PERSETUJUAN MENJADI SAMPEL PENELITIAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Nama : Umur : Alamat : Dengan ini menyatakan bahwa saya telah diberikan penjelasan oleh peneliti tentang tujuan
CASE REPORT SESSION LOW BACK PAIN OLEH : Dani Ferdian Nur Hamizah Nasaruddin PRESEPTOR: Tri Damiati Pandji,dr.,Sp.
CASE REPORT SESSION LOW BACK PAIN OLEH : Dani Ferdian 130112110127 Nur Hamizah Nasaruddin 130110082001 PRESEPTOR: Tri Damiati Pandji,dr.,Sp.KFR (K) BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI RSUP DR.
BAB I PENDAHULUAN. dimana dijumpai beraneka ragam jenis keluhan antara lain gangguan neuromuskular,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hidup sehat adalah harapan setiap individu baik sehat fisik maupun psikis. Namun harapan tersebut kadang bertentangan dengan keadaan di masyarakat, dimana dijumpai
LAPORAN STATUS KLINIK Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi D III Fisioterapi
LAPORAN STATUS KLINIK Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi D III Fisioterapi NAMA MAHASISWA : Titik Dwi Rahayu N.I.M. : J00080004 TEMPAT PRAKTIK : RSUD Karanganyar PEMBIMBING
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS LOW BACK PAIN MYOGENIC E.C. LUMBAR STRAIN DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS LOW BACK PAIN MYOGENIC E.C. LUMBAR STRAIN DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyelesaikan
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CERVICAL ROOT S SYNDROME DI RSU AISYIYAH PONOROGO
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CERVICAL ROOT S SYNDROME DI RSU AISYIYAH PONOROGO Oleh: ARNI YULIANSIH J100141115 NASKAH PUBLIKASI Diajukan guna Melengkapi Tugas dan Memenuhi Sebagian Persyaratan
BAB I PENDAHULUAN. punggung antara lain aktifitas sehari-hari seperti, berolahraga, bekerja, dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Punggung merupakan salah satu dari bagian tubuh manusia yang sering digunakan untuk beraktifitas. Banyak aktifitas yang melibatkan pergerakan punggung antara lain aktifitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman, tingkat aktivitas masyarakat Indonesia semakin tinggi. Hal ini disebabkan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga
BAB I PENDAHULUAN. Nyeri punggung bawah atau Low Back Pain (LBP) merupakan. sehingga dengan demikian walaupun etiologi LBP dapat bervariasi dari yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nyeri punggung bawah atau Low Back Pain (LBP) merupakan manifestasi keadaan patologik yang dialami oleh jaringan atau alat tubuh yang merupakan bagian pinggang
BAB I PENDAHULUAN. pertambahan usia dan atau mengalami gangguan akibat dari injuri atau sakit.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Peran fisioterapi memberikan layanan kepada individu atau kelompok individu untuk memperbaiki, mengembangkan, dan memelihara gerak dan kemampuan fungsi yang maksimal
BAB I PENDAHULUAN. merupakan keadaan dinamis dan dapat ditingkatkan sehingga manusia dapat
1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Setiap orang mendambakan bebas dari penyakit, baik fisik maupun mental serta terhindar dari kecacatan. Sehat bukan suatu keadaan yang sifatnya statis tapi merupakan
KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA ISCHIALGIA DEKSTRA DI RSAL DR RAMELAN SURABAYA
KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA ISCHIALGIA DEKSTRA DI RSAL DR RAMELAN SURABAYA Oleh : WAHYU ANGGRAINI J100070027 Diajukan guna melengkapi tugas tugas dan memenuhi syarat - syarat untuk
NASKAH PUBLIKASI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI LOW BACK PAIN SUSPECT HERNIA NUCLEUS PULPOSUS DI RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA
NASKAH PUBLIKASI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI LOW BACK PAIN SUSPECT HERNIA NUCLEUS PULPOSUS DI RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA Disusun Oleh: FITRANDA HANINA ULFAH J100090010 Diajukan Guna Melengkapi
: Pensiunan PNS angkatan laut. : Waru surabaya
PROTOKOL STUDY KASUS Nama Mahasiswa : HETI HERLINA NIM : J.100 080 060 Tempat Praktek : RS.DR.RAMELAN SURABAYA Pembimbing : Bp.DEDY HERMAN. P Tanggal pembuatan laporan : 2 Februari 2011 Kondisi/ kasus
LAMPIRAN SUKHASANA SHAVASANA
55 LAMPIRAN TEKNIK PELAKSANAAN LATIHAN HATHA YOGA PERSIAPAN LATIHAN Partisipan menggunakan pakaian yang bersih dan longgar. Partisipan tidak memakai alas kaki selama latihan. Karena latihan yoga harus
BAB I PENDAHULUAN. Dunia globalisasi menuntut masyarakat untuk memenuhi kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia globalisasi menuntut masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Bekerja merupakan hal wajib yang dilakukan, seiring kemajuan globalisasi maka daya konsumsi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di daerah Surakarta yaitu masyarakat di Kecamatan Jebres, Kecamatan Banjarsari, Kecamatan Serengan, Kecamatan
LAMPIRAN II. Kuisioner Prevalensi Low Back Pain
LAMPIRAN 1 43 LAMPIRAN II Kuisioner Prevalensi Low Back Pain 1. Berapa usia anda? tahun 2. Apa jenis kelamin anda? Laki-laki Perempuan 3. Sudah berapa lama anda bekerja di perusahaan ini? 4. Berapa lama
PENATALAKSANAAN INFRA RED DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI PASCA GIPS FRAKTUR RADIUS 1/3 DISTAL SINISTRA DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
PENATALAKSANAAN INFRA RED DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI PASCA GIPS FRAKTUR RADIUS 1/3 DISTAL SINISTRA DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL Di susun oleh : ALFIAN RUDIANTO J 100 090 049 NASKAH PUBLIKASI
BAB I. punggung bawah. Nyeri punggung bawah sering menjadi kronis, menetap atau. sehingga tidak boleh dpandang sebelah mata (Muheri, 2010).
BAB I A. Latar Belakang Nyeri punggung bawah (low back pain) adalah suatu sindroma klinik yang ditandai dengan gejala utama adanya nyeri atau perasaan tidak enak di daerah tulang punggung bawah. Nyeri
Naskah Publikasi. Diajukan guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk menyelesaikan program Pendidikan Diploma III fisioterapi
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI LOW BACK PAIN (LBP) AKIBAT HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP) DENGAN SHOR WAVE DIATHERMY (SWD) DAN MC. KENZIE EXERCISE Naskah Publikasi Diajukan guna melengkapi tugas-tugas
BAB I PENDAHULUAN. bidang semakin ketat. Persaingan yang semakin ketat tersebut menuntut kualitas
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin majunya perkembangan zaman, persaingan dalam segala bidang semakin ketat. Persaingan yang semakin ketat tersebut menuntut kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
Latihan Kekuatan Otot Tubuh Bagian Atas
Latihan Kekuatan Otot Tubuh Bagian Atas Kekuatan otot adalah tenaga, gaya, atau tegangan yang dapat dihasilkan oleh otot atau sekelompok otot pada suatu kontraksi dengan beban maksimal. Otot-otot tubuh
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. usia 56 tahun dengan kondisi Hernia Nucleus Pulposus (HNP) pada L5-S1
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Permasalahan yang timbul pada pasien atas nama Ny. Netty Indrayati usia 6 tahun dengan kondisi Hernia Nucleus Pulposus (HNP) pada L-S yaitu Terdapat nyeri menjalar
Blanko Kuisioner Neck Disability Index (NDI)
Lampiran 1 Blanko Kuisioner Neck Disability Index (NDI) 1. Intensitas Nyeri a Saat ini saya tidak merasa nyeri (nilai 0) b. Saat ini nyeri terasa sangat ringan (nilai 1) c. Saat ini nyeri terasa ringan
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI ISCHIALGIA SINISTRA et causa HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP) DI RUMKITAL DR.
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI ISCHIALGIA SINISTRA et causa HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP) DI RUMKITAL DR. RAMELAN SURABAYA KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi
NASKAH PUBLIKASI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA CERVICAL SYNDROME DI RSUP. DR. SARDJITO-YOGYAKARTA
NASKAH PUBLIKASI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA CERVICAL SYNDROME DI RSUP. DR. SARDJITO-YOGYAKARTA Disusun oleh: DEWI FITRIANI J 100 090 060 Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat
BAB I PENDAHULUAN. aktivitas fungsional sehari-hari. Dimana kesehatan merupakan suatu keadaan bebas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu hal yang amat penting dalam melakukan aktivitas fungsional sehari-hari. Dimana kesehatan merupakan suatu keadaan bebas dari penyakit,
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI NYERI PUNGGUNG BAWAH MYOGENIK DI RSUD SRAGEN
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI NYERI PUNGGUNG BAWAH MYOGENIK DI RSUD SRAGEN Disusun oleh : KURNIA APRIYANTI J100 090 039 NASKAH PUBLIKASI Diajukan Guna Melengkapi tugas-tugas dan memenuhi Syarat-
Karya Tulis Ilmiah Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Fisioterapi
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI LOW BACK PAIN KARENA ISCHIALGIA DENGAN MODALITAS SHORT WAVE DIATHERMY (SWD) DAN TERAPI LATIHAN DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI Karya Tulis Ilmiah Untuk Memenuhi Sebagian
BAB I PENDAHULUAN. duduk terlalu lama dengan sikap yang salah, hal ini dapat menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebiasaan duduk dapat menimbulkan nyeri pinggang apabila duduk terlalu lama dengan sikap yang salah, hal ini dapat menyebabkan otot punggung akan menjadi tegang
BAB I PENDAHULUAN. Spine merupakan tulang penopang tubuh yang tersusun atas cervical
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Spine merupakan tulang penopang tubuh yang tersusun atas cervical spine, thoracic spine dan lumbal spine. Lumbal spine merupakan area yang paling mobile diantara bagian-bagian
PENDAHULUAN. yang berkembang kian pesat sangat berpengaruh pula aktivitas yang terjadi pada
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan mempunyai peranan penting dalam pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemauan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS ISCHIALGIA SINISTRA DENGAN MODALITAS INFRA RED DAN MC. KENZIE DI RSUD SUKOHARJO
KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS ISCHIALGIA SINISTRA DENGAN MODALITAS INFRA RED DAN MC. KENZIE DI RSUD SUKOHARJO Diajukan Guna Melengkapi Tugas dan Memenuhi Sebagai Persyaratan
PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN THORAX (ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK)
PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN THORAX (ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK) Nama Mahasiswa : Tanggal Pemeriksaan : No. 1. 2. 3. 4. Aspek yang dinilai Membina sambung rasa, bersikap baik dan sopan, serta menunjukkan
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN LAMPIRAN 1. SURAT IJIN PENELITIAN LAMPIRAN 2. SURAT KETERANGAN SELESAI PENELITIAN LAMPIRAN 3 KUESIONER PENELITIAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PETANI PEMETIK KOPI DI DUSUN BANUA TAHUN 2015 Karakteristik
BAB I. A. Latar Belakang Masalah. penelitian, ditemukan bahwa nyeri punggung bawah mengenai kira-kira %
BAB I A. Latar Belakang Masalah Nyeri punggung bawah adalah salah satu alasan paling umum yang membuat orang tidak dapat bekerja atau melakukan kegiatannya dengan baik. Berdasarkan penelitian, ditemukan
BAB I PENDAHULUAN. sehingga manakala seseorang menderita sakit maka seseorang akan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Sehat pada dasarnya merupakan dambaan atau kebutuhan setiap orang sehingga manakala seseorang menderita sakit maka seseorang akan mengusahakan dirinya untuk kesembuhan
LAPORAN STATUS KLINIK
KEMENTRIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA PROGRAM STUDI DIPLOMA IV FISIOTERAPI LAPORAN STATUS KLINIK NAMA MAHASISWA : GANESA PUPUT DINDA KURNIAWAN N.I.M. : P 27226009061 TEMPAT PRAKTIK : RSUP
KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS NYERI PUNGGUNG BAWAH MIOGENIK
KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS NYERI PUNGGUNG BAWAH MIOGENIK Disusun Oleh: WISNU SASONGKO NIM : J 100 060 014 KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Guna Memenuhi Tugas - Tugas dan Memenuhi
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Angka kejadian Ischialgia bawah hampir sama pada semua populasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ischialgia merupakan salah satu keluhan nyeri yang sering didapatkan di masyarakat. Angka kejadian Ischialgia bawah hampir sama pada semua populasi masyarakat
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CERVICAL ROOT SYNDROME DI RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CERVICAL ROOT SYNDROME DI RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyelesaikan Program
CASE REPORT SESSION OSTEOARTHRITIS. Disusun oleh: Gisela Karina Setiawan Abednego Panggabean
CASE REPORT SESSION OSTEOARTHRITIS Disusun oleh: Gisela Karina Setiawan 1301-1210-0072 Abednego Panggabean 1301-1210-0080 Pembimbing: Vitriana, dr., SpKFR BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI
NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh: AYUDIA SEKAR PUTRI J
NASKAH PUBLIKASI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA STIFFNESS ELBOW DEXTRA POST FRAKTUR SUPRACONDYLAR HUMERI DENGAN K-WIRE DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL Disusun oleh: AYUDIA SEKAR PUTRI J 100 090 02
Lampiran 4. Penatalaksanaan Terapi Masase pada Cedera Bahu PANDUAN MASASE DAN TERAPI LATIHAN PADA CEDERA BAHU A. Panduan Massage 1. NO 1. Masase Frirage Pada Bahu Posisi Pronation Sendi Masase Keterangan
Angkat kedua dumbbell ke depan dengan memutar pergelangan tangan (twist) hingga bertemu satu sama lain.
DADA 1. Breast Twist Fly 1. Posisikan tubuh bersandar incline pada bench dengan kedua tangan terbuka lebar memegang dumbbell. Busungkan dada untuk gerakan yang optimal. Angkat kedua dumbbell ke depan dengan
BAB I PENDAHULUAN. kesemuanya adalah merupakan satu kesatuan untuk menciptakan
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Masalah Dari sekian banyak anggota tubuh yang dimiliki dalam tubuh manusia, kesemuanya adalah merupakan satu kesatuan untuk menciptakan keharmonisan aktivitas seseorang
KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS KNEE DEXTRA DI RSUD KOTA SRAGEN
KARYA TULIS ILMIAH PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS KNEE DEXTRA DI RSUD KOTA SRAGEN Diajukan guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk menyelesaikan program Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. disebabkan karena 65% penduduk Indonesia adalah usia kerja, 30% bekerja disektor
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai salah satu dari negara dengan jumlah penduduk terbesar didunia, sangat berkepentingan terhadap masalah kesehatan dan keselamatan kerja. Hal ini disebabkan
BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Salah satu tujuan dari bangsa Indonesia yang tercantum pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada dewasa ini tingkat partisipasi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar BelakangMasalah. bagian bawah adalah tungkai. Dan lutut merupakan salah satu sendi utama
BAB I PENDAHULUAN A. Latar BelakangMasalah Sebagian aktifitas yang dilakukan oleh seseorang melibatkan anggota tubuh bagian bawah, seperti berjalan. Komponen penting pada aktifitas tubuh bagian bawah adalah
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA CERVICAL ROOT SYNDROME DI RSUD SUKOHARJO NASKAH PUBLIKASI
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA CERVICAL ROOT SYNDROME DI RSUD SUKOHARJO NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh: EKO BUDI WIJAYA J 100 090 032 KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Guna Melengkapi Tugas -Tugas dan Memenuhi
PERBEDAAN PENGARUH PENAMBAHAN WILLIAM S FLEXION EXERCISES PADA INTERVENSI SHORT WAVE DIATHERMY DAN TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION PADA
PERBEDAAN PENGARUH PENAMBAHAN WILLIAM S FLEXION EXERCISES PADA INTERVENSI SHORT WAVE DIATHERMY DAN TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION PADA PENDERITA NYERI PUNGGUNG BAWAH MEKANIK SKRIPSI DISUSUN
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS ISCHIALGIA KARENA SPONDYLOSIS LUMBAL L 4 L 5 di PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS ISCHIALGIA KARENA SPONDYLOSIS LUMBAL L 4 L 5 di PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Naskah Publikasi Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Sebagian Persyaratan
BAB I PENDAHULUAN. tersebut ringan atau berat sehingga dalam proses penyembuhan pasien. buruk dari rawat inap atau long bed rest.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tingkat pelayanan kesehatan di masyarakat saat ini semakin maju dan berkembang sesuai tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Hal ini sebagai dampak dari perubahan pola penyakit-penyakit
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN. MYOGENIC DI RST Dr. SOEJONO MAGELANG
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN MYOGENIC DI RST Dr. SOEJONO MAGELANG PUBLIKASI ILMIAH Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Diploma III pada Jurusan Fisioterapi Fakultas
Latihan 1: untuk menyiapkan kondisi secara fisiologis maupun psikologis agar dapat melaksanakan latihan gerakan senam dengan baik dan benar
Lampiran 4 No. Panduan Senam Bugar Lansia (SBL) Langkah Gerakan SBL Bag. 1 Gerakan Pemanasan Gambar Latihan Pernapasan 1. Meluruskan badan dengan kedua tangan lurus ke bawah sejajar dengan kedua sisi tubuh.
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS LOW BACK PAIN MYOGENIC DI RSUD SUKOHARJO
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS LOW BACK PAIN MYOGENIC DI RSUD SUKOHARJO Naskah Publikasi Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyelesaikan Program Pendidikan
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI MICRO WAVE DIATHERMY DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS GENU UNILATERAL
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI MICRO WAVE DIATHERMY DAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI OSTEOARTHRITIS GENU UNILATERAL Oleh: SURATMAN NIM.J.100.050.005 Diajukan guna untuk melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi
BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian akan dilakukan pada bulan Januari - Februari 2014
BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian akan dilakukan di Balai pertemuan warga villa tangerang elok rw 10 Pasarkemis-Tangerang. 2. Waktu Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN. peningkatan peran serta masyarakat untuk lebih aktif. Aktivitas manusia sangat
BAB 1 PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pembangunan yang semakin meningkat otomatis disertai dengan peningkatan peran serta masyarakat untuk lebih aktif. Aktivitas manusia sangat erat hubungannya dengan gerak
BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari, terutama di negara-negara industri. Sekitar 70-85% dari seluruh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Low Back Pain (LBP), atau dalam bahasa Indonesia disebut nyeri punggung bawah merupakan salah satu keluhan yang dapat menurunkan produktivitas manusia. Low Back Pain
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penyakit pada anggota gerak yang disebabkan oleh traumatik. Trauma merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anggota gerak pada manusia merupakan anggota gerak yang sangat penting sepanjang daur kehidupan manusia, baik anggota gerak atas maupun anggota gerak bawah.
BAB I PENDAHULUAN. mencapai tingkat derajad kesehatan masyarakat secara makro. Berbagai
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Menuju Indonesia Sehat 2010 merupakan program pemerintah dalam mencapai tingkat derajad kesehatan masyarakat secara makro. Berbagai macam kondisi yang dapat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. tahun dengan diagnosa medis CTS dextra diperoleh permasalahan berupa
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Setelah dilakukan proses assessment pada pasien Ny. DA usia 44 tahun dengan diagnosa medis CTS dextra diperoleh permasalahan berupa nyeri tekan dan gerak pada pergelangan
BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nyeri pinggang bawah atau low back pain merupakan rasa nyeri, ngilu, pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah diagnosis tapi hanya
BAB I PENDAHULUAN. emosional setelah menjalani rutinitas yang melelahkan sepanjang hari. Hal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fisioterapi adalah bentuk pelayanan yang di tunjukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh
PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KASUS FRAKTUR COLUMN FEMUR DEXTRA DI RUMAH SAKIT ORTOPEDHI Dr. SOEHARSO SURAKARTA TAHUN 2015
PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KASUS FRAKTUR COLUMN FEMUR DEXTRA DI RUMAH SAKIT ORTOPEDHI Dr. SOEHARSO SURAKARTA TAHUN 2015 Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Diploma III
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) LATIHAN FISIK RENTANG GERAK / RANGE OF MOTION (ROM) AKTIF
LAMPIRAN SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) LATIHAN FISIK RENTANG GERAK / RANGE OF MOTION (ROM) AKTIF Pokok bahasan Sub Pokok bahasan : Latihan fisik rentang derak/ Range Of Motion (ROM) : Mengajarkan latihan
SURAT PERSETUJUAN MENJADI SAMPEL PENELITIAN
SURAT PERSETUJUAN MENJADI SAMPEL PENELITIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Jenis Kelamin : Umur : Alamat : Pekeerjaan : No. Telepon : Dengan ini menyatakan bahwa saya telah diberikan penjelasan
Dilakukan. Komponen STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TEKNIK PEMIJATAN BAYI
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TEKNIK PEMIJATAN BAYI Komponen Ya Dilakukan Tidak Pengertian Gerakan/sentuhan yang diberikan pada bayi setiap hari selama 15 menit, untuk memacu sistem sirkulasi bayi dan denyut
PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN PADA LEHER ( ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK)
Nama Mahasiswa : Tanggal Pemeriksaan : PENILAIAN KETERAMPILAN KELAINAN PADA LEHER ( ANAMNESIS + PEMERIKSAAAN FISIK) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Aspek yang dinilai Membina sambung rasa, bersikap
BAB I PENDAHULUAN. nyeri tak tertahankan, mempengaruhi tangan, punggung, leher, lengan, bahkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Myalgia cervical atau sering dikenal dengan nyeri otot leher adalah suatu kondisi kronis dimana otot mengalami ketegangan atau terdapat kelainan struktural tulang
NASKAH PUBLIKASI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS LOW BACK PAIN MYOGENIC DI RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA
NASKAH PUBLIKASI PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS LOW BACK PAIN MYOGENIC DI RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA Diajukan Guna Melengkapi Tugas dan Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyelesaikan Program Pendidikan
ROM (Range Of Motion)
Catatan : tinggal cari gambar ROM (Range Of Motion) A. Pengertian Range Of Motion (ROM) adalah tindakan/latihan otot atau persendian yang diberikan kepada pasien yang mobilitas sendinya terbatas karena
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PERUBAHAN BODY MEKANIK DALAM KEHAMILAN. Dosen Pembimbing : Christin Hiyana TD, S.SiT
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PERUBAHAN BODY MEKANIK DALAM KEHAMILAN Dosen Pembimbing : Christin Hiyana TD, S.SiT Disusun oleh: ANISA RATNA N P.17424213046 INTAN NUR FATIMAH P.17424213068 RETNO FITRIYANI
BAB I PENDAHULUAN. mempunyai fungsi penting yaitusebagai stabilisasi serta mobilisasi tubuh.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tubuh manusia terbentuk dari banyak jaringan serta organ yang mempunyai fungsi penting yaitusebagai stabilisasi serta mobilisasi tubuh. Salah satunya adalah tulang,
