BAB IV Perhitungan Cadangan
|
|
|
- Utami Atmadjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV Perhitungan Cadangan Perhitungan cadangan minyak yang ada di dalam Reservoir X akan menggunakan parameter-parameter yang ada dalam model Reservoir X, misalnya porositas dan Sw. Dalam perhitungan cadangan dengan menggunakan model tersebut, akan dilihat sensitifitas parameter yang mengontrol OOIP. Mengenai klasifikasi cadangan minyak, PT. CPI menyebutkan bahwa cadangan minyak dalam Reservoir X sampai sekarang masih termasuk ke dalam kategori Contingency Resources, yaitu kategori P4-P6 Resources (Gambar IV.1 a). Contingent Resources (P4-P6) adalah perkiraan jumlah crude oil, natural gas, dan natural gas liquids yang mana data geoscience dan engineering menunjukkan (hidrokarbon tersebut) dapat diperoleh (recoverable) pada masa yang akan datang dari reservoir tersebut, tapi sekarang tidak komersial dalam kondisi ekonomi dan operasi yang ada (Chevron Corporate Reserves Manual, 2006). Dalam penelitian ini, penamaan klasifikasi contingency resources akan mengacu kepada Petroleum Resources Management System yang disusun oleh Komite Oil and Gas Reserves dalam Society of Petroleum Engineers (SPE) tahun 2007, yang juga di-review dan secara bersama disponsori oleh the World Petroleum Council (WPC), the American Association of Petroleum Geologist (AAPG), dan the Society of Petroleum Evaluation Engineers (SPEE). Contingency Resource yang disebutkan dalam klasifikasi reserves dan resource tersebut dinamakan sebagai Contingent Resources 1C, 2C, dan 3C (Gambar IV. I b). 1C adalah ekuivalen dengan P4, 2C sebagai P5, dan 3C sebagai P6 pada klasifikasi Chevron. 68
2 (a) (b) Gambar IV.1 (a) Klasifikasi 6P Reserves dan Resources Chevron (Chevron Corporate, 2006), dan (b) Klasifikasi menurut SPE (WPC, SPE, AAPG, SPEE, 2007). 69
3 Parameter yang dipakai dalam perhitungan OOIP adalah volume, porositas, serta saturasi minyak atau So, yang diperoleh dari 1-Sw. Volume yang dipakai adalah berdasarkan total volume sel pada model Reservoir X yang masuk dalam kategori region yang ditentukan. Untuk region pay, tergantung cut-off dari rock properties yang dipakai). Sedangkan porositas dan Sw diperoleh dari model. IV.1 Penentuan Paramater Penentuan parameter porositas (phie) dan Sw telah disebutkan pada bagian II.2.5. Khusus untuk Lapangan Duri dan dalam penelitian ini, ketebalan pay (net pay) adalah ketebalan dimana batuan tersebut mempunyai Sw<=0.8 dan Phie >= 0.24 (Gambar IV.2). Sedangkan untuk perhitungan cadangan minyak (OOIP), net pay ditentukan berdasarkan sel-sel yang mempunyai cut-off Sw dan Phie sebagai pay, sehingga sel tersebut masuk dalam pay region (Gambar IV.3). Pay Cut-off phie Cut-off Sw Gambar IV.2 Log sumur yang mempelihatkan penentuan pay dengan cut-off Sw <= 0.8 dan Phie >=
4 U Legenda: Pay Cells Area Non Pay Cells Area Gambar IV.3 Pay cells yang merupakan bagian dari pay region, mempunyai property Sw <= 0.8 dan Phie >= 0.24, di atas OWC. IV.2 Penentuan Batas Hidrokarbon Dalam penenelitian ini dan secara spesisifk yang diterapkan di Lapangan Duri, interpretasi batas hidrokarbon yang meliputi OWC, LKO, dan HKW (Gambar IV.4), ditentukan berdasarkan data log sumur yang meliputi log-log gamma ray, resistivitas, porositas, dan Sw. Johansen (2006) mendefinisikan OWC sebagai kedalaman batupasir berkualitas reservoir yang mengandung minyak yang mobile.. Air merupakan fluida yang mobile dalam batupasir berkualitas reservoir di bawah OWC. Sedangkan untuk suatu reservoir yang dibor dan dilakukan well logging, LKO adalah titik paling bawah pada perpotongan lubang sumur pada suatu unit lapisan yang mengandung mobile oil. HKW adalah titik paling tinggi di perpotongan lubang sumur pada reservoir yang mengandung movable water dan no movable oil. Contoh interpretasi dalam log sumur diperlihatkan pada gambar IV.5. 71
5 Sumur B Sumur A Sumur C Minyak OWC LKO Air HKW Gambar IV.4 Kartun yang memperlihatkan hubungan antara OWC, LKO, dan HKW dalam tiga sumur yang menembus kedalam satuan reservoir yang sama. LKO OWC HKW Gambar IV.5 Log sumur yang memperlihatkan contoh penentuan batas hidroharbon: OWC, LKO, dan HKW (Johansen, 2006). 72
6 Di daerah penelitian, LKO diinterpretasikan rata-rata pada kedalaman -382 feet, OWC pada kedalaman -396 feet, HKW pada kedalaman -443 feet di bawah permukaan rata-rata air laut (sub-sea). LKO ditentukan berdasarkan kedalaman LKO paling dalam yang ditemukan pada sumur. Tipe LKO ini ditemukan pada sumur B. Tipe OWC ditemukan pada sumur C, sedangkan HKW ditemukan pada sumur A (Gambar IV.6). Cara penentuan OWC di Duri adalah khas. Secara tradisional, penentuan OWC berdasarkan gamma ray dan vsh untuk menentukan litologi, sedangkan untuk menentukan pay atau wet adalah dengan resistivitas. Data porositas, permeabilitas, dan Sw hasil evaluasi formasi, membantu dalam proses interpretasi. Cut-off pay dan non pay interval ditentukan berdasarkan studi evaluasi formasi Duri yang diterangkan pada Bab II. Sumur A Sumur B Sumur C Sumur D Sumur E Legenda: LKO OWC B A U HKW Top dan Bottom Reservoir X C D E Gambar IV.6 Tipe LKO, OWC, dan HKW di daerah penelitian. 73
7 IV.3 Deskripsi mengenai Metode Perhitungan Pada prinsipnya, perhitungan volumetrik menggunakan rumusan: OOIP = A (Luas) x h (Ketebalan Net Pay) x Ф (Porositas) x (1-Sw) x 7758 Bbl Untuk mendapatkan STB (Stock Tank Barrel), digunakan nilai Boi atau FVF (Formation Volume Factor) yang konstan, yatu untuk Duri. Hasil diskusi dengan Reservoir Engineer, data Boi reservoir ini dianggap sama dengan reservoir di bawahnya, yaitu Reservoir Rindu, dan perbedaanya tidak berarti. Oleh karena itu akan diasumsikan sama. Proses perhitungan volumetrik pada proses ini adalah dengan menggunakan modul yang sudah tersedia dalam aplikasi perangkat lunak GOCAD. Hanya dengan memasukkan nilai porositas dan Sw bersama dengan masing-masing cutoff dan probabilistic range serta region yang digunakan, Kita akan mendapatkan OOIP dari suatu reservoir pada region tertentu Karena perhitungan OOIP menggunakan beberapa case dari masing-masing parameter dan jumlahnya banyak serta membutuhkan waktu yang lama, maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan program script. Hubungannya dengan 1C, 2C, dan 3C case OOIP, berikut adalah deskripsi untuk penentuan 1C, 2C, dan 3C case dari OWC, sifat batuan, dan cut-off yang dipakai untuk perhitungan OOIP probabilistik. Metode untuk melakukan analisis sensitifitas terhadap parameter yang berkontribusi terhadap OOIP, dilakukan pendekatan dengan menggunakan metode DoE. 74
8 IV.3.1 Parameter 1C, 2C, dan 3C Case untuk OOIP Batas Hidrokarbon meliputi: P10_owc = LKO sebagai 1C Case P50_owc = OWC sebagai 2C Case P90_owc = HKW sebagai 3C Case Hasil interpretasi dari LKO, OWC, dan HKW pada sumur, selanjutnya dibuat surface untuk pembuatan region 1C, 2C, dan 3C case. Data ini diperlukan untuk membuat region di atas dan di bawah batas hidrokarbon, yang akan dipakai untuk perhitungan OOIP sebagai region volume. Model Property ( Modifikasi dari Johansen dkk., 2005) Phie P10 Phie= well phie = (1C Case model phie untuk OOIP) P50 Phie= well phie P90 Phie= well phie = (3C Case model phie untuk OOIP) Sw = (1-So) P90 Sw= well sw = (1C Case model sw untuk OOIP) P50 Sw = well sw P10 Sw= well sw = (3C Case model sw untuk OOIP) Cut-off zona pay (Johansen dkk., 2005) Phie P90= (3C Case cut-off porositas untuk OOIP) P50= 0.24 (2C Case) P10= (1C Case cut-off porositas untuk OOIP) Sw P10= 0.77 (1C Case cut-off sw untuk OOIP) P50= 0.80 (2C Case) P90= 0.87 (3C Case cut-off sw untuk OOIP) Penentuan case pada batas hidrokarbon, model property, dan cut-off, diringkas dalam bentuk tabel (Tabel IV.1). Penentuan setiap case pada kurva dan cut-off diperlihatkan pada gambar IV.7. 75
9 Tabel IV.1 Ringkasan parameter untuk DoE Parameter* 1C Case 2C Case 3C Case owc lko owc hkw phie model phie_model_1c phie_model_2c phie_model_3c sw model sw_model_1c sw_model_2c sw model 3C phie cut-off sw cut-off *Parameter yang berkontribusi terhadap OOIP 1C Net Pay 3C Net Pay Gambar IV.7 Penerapan 1C (low case), 2C (base case), dan 3C(high case) pada kurva dan cut-off, untuk menentukan Pay. 76
10 Masing masing model dan cut-off pada setiap case akan digunakan untuk penentuan OOIP dengan beberapa kombinasi, sehingga hasil OOIP akan berbedabeda tergantung kombinasinya. Kombinasi kelima parameter dengan case: 1C, 2C, dan 3C, bisa lebih dari 90 kombinasi (Tabel IV.2). Kombinasi lainnya adalah -1 dengan 0 and 1; 0 dengan -1 and 1; 1 dengan -1 and 0. Tabel IV.2 Skema model beberapa kemungkinan kombinasi antar parameter (dua parameter). 1C = -1; 2C = 0; 3C = 1 cut cut Combination owc phie sw phie sw -1 and and and and and and Mulyadi - Thesis ITB 2007 IV.3.2 Perhitungan OOIP dengan menggunakan Script Formula dasar untuk perhitungan OOIP adalah seperti yang disebutkan di bagian awal: OOIP = A (area) x h (thickness) x Phie x (1-Sw) FVF Untuk melakukan perhitungan OOIP dalam berbagai kombinasi 1C-2C-3C cases pada kelima parameter adalah dengan menggunakan script dalam program linux 77
11 yang di-run dalam aplikasi perangkat lunak GOCAD (Lampiran 6 dan 7). Kelima parameter tersebut adalah sebagai berikut: a. Region batas hidrokarbon (region lko,owc,hkw) b. Phie = SGS_simulation_phie c. Sw = Colcok_simulation_sw d. Phie cut-off e. Sw cut-off IV.3.3 Analisis Ketidakpastian dengan DoE Setelah menentukan parameter-parameter yang akan digunakan, maka dilakukan proses DoE dengan metode D-Optimal. Experiment tabel berikut adalah kombinasi case dari kelima parameter yang dilakukan oleh perangkat lunak DoE dalam GOCAD dengan jumlah run yang ditentukan Peneliti sebanyak 25, yang dianggap mewakili semua kombinasi (Tabel IV.3). Tabel IV.3 Tabel eksperimental dalam desain D-Optimal. 78
12 IV.4 Hasil Perhitungan IV.4.1 1C, 2C, dan 3C case OOIP dari Script Hasil perhitungan OOIP dengan menggunakan 1C, 2C, dan 3C case yang berbeda pada setiap parameter bisa dihasilkan lebih dari 90 kombinasi. Berikut adalah contoh hasil perhitungan OOIP untuk 1C Case region batas hidrokarbon (LKO) dengan 1C, 2C dan 3C Case dari beberapa kombinasi antar parameter lainnya: 2_pg_Layer_6_AOI_above_p10_owc_co_sw_hi= , Hasil perhitungan OOIP dari kombinasi parameter sebanyak 25 run dalam DoE untuk Lapisan A, B, dan C diringkas pada table IV.4 dan diperlihatkan dalam bentuk grafik (Gambar IV.8). Contoh salah satu hasil perhitungan di atas hasilnya adalah , dimasukkan pada tabel DoE adalah dalam Run 1 pada OOIP Lapisan A. Tabel IV.4 Hasil perhitungan OOIP Lapisan A, B, C berdasarkan kombinasi parameter. Parameter Lapisan A Lapisan B Lapisan C Run(n) owc phie_model sw_model phie_cutoff sw_cutoff OOIP (stbo) OOIP (stbo) OOIP (stbo) RUN1 Low Low Low Low High RUN2 Low Low Low High Low RUN3 Low Low High Low Low RUN4 Low Low High Middle Middle RUN5 Low Low High High High RUN6 Low Middle Low High High RUN7 Low Middle Middle Low Low RUN8 Low High Low Low Low RUN9 Low High Low Middle High RUN10 Low High Middle High High RUN11 Low High High Low High RUN12 Low High High High Low RUN13 Middle Low Middle Middle High RUN14 Middle Middle High Middle High RUN15 Middle High Low High Middle RUN16 Middle High Middle Low Middle RUN17 High Low Low Low Low RUN18 High Low Low High High RUN19 High Low High Low High RUN20 High Low High High Low RUN21 High Middle Middle Middle Middle RUN22 High High Low Low High RUN23 High High Low High Low RUN24 High High High Low Low RUN25 High High High High High
13 Gambar IV.8 Jumlah OOIP antara Lapisan A,B, dan C dari beberapa kombinasi parameter. Lapisan A mempunyai OOIP yang paling besar dari kombinasi parameter yang ada, sedangkan Lapisan C mempunyai OOIP yang paling kecil. 80
14 IV.4.2 Hasil DoE Berikut adalah gambar hasil tabel eksperimen dari metode D-Optimal Design, dengan memasukkan hasil OOIP dari setiap run dengan kombinasi parameter tertentu. Nilai OOIP diperoleh dari hasil perhitungan volumetrik hidrokarbon untuk Lapisan A atau Layer 6 (Gambar IV.9). Kelima parameter tersebut merupakan uncertainty sources, sedangkan OOIP merupakan response variable. Begitu juga langkah yang sama dilakukan untuk Lapisan B dan C. Gambar IV.9 Besaran OOIP (Lapisan A) yang merupakan input untuk setiap run dan kombinasi parameter. Satuan OOIP di atas adalah STBO (Stock Tank Barrel Oil). 81
15 IV Analisis Sensitifitas Setelah menentukan OOIP dari kombinasi paramater tersebut, maka dilakukan analisis sensitifitas dari setiap parameter terhadap OOIP, yang ditunjukkan dalam pareto chart. Proses ini bertujuan untuk menentukan significant contributors terhadap ketidakpastian. Dari chart tersebut, Kita dapat menentukan, parameter mana yang paling signifikan kontibusinya terhadap OOIP. Hasil analisis pada Lapisan A menunjukkan bahwa parameter model Sw adalah kontributor yang paling signifikan terhadap nilai OOIP (Gambar IV.10). Begitu juga dengan cara yang sama dilakukan untuk Lapisan B dan C (Gambar IV.11 sampai IV.12). Gambar IV.10 Hasil analisis sensitifitas Lapisan A. Model Sw merupakan kontributor paling besar terhadap OOIP. 82
16 Gambar IV.11 Hasil analisis sensitifitas Lapisan B. Region batas hidrokarbon adalah kontributor paling besar terhadap OOIP. Gambar IV.12 Hasil analisis sensitivitas Lapisan C. Region batas hidrokarbon adalah kontributor paling besar terhadap OOIP. 83
17 Dari ketiga gambar pareto chart di atas, dapat disimpulkan bahwa parameter model Sw adalah parameter sebagai kontributor yang paling signifikan terhadap nilai OOIP. Parameter OWC lebih kecil dibanding model Sw. Hal ini diinterpretasikan karena variasi region pay berdasarkan 3 case batas hidrokarbon (LKO, OWC, dan HKW) kurang memberikan pengaruh dibanding model Sw terhadap nilai OOIP. Sedangkan untuk model porositas serta cut-off porositas dan Sw, tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap OOIP. Pada Lapisan B dan C, OWC merupakan parameter sebagai kontributor yang paling signifikan terhadap nilai OOIP. Ini diinterpretasikan bahwa variasi region pay berdasarkan 3 case batas hidrokarbon, memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai OOIP. Model Sw memberikan kontribusi yang lebih kecil dibanding batas hidrokarbon. Sama seperti pada Lapisan A, parameter model porositas serta cut-off porositas dan Sw tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai OOIP pada Lapisan B dan C. IV.4.3 Perhitungan OOIP Probabilistik Perhitungan OOIP probabilistik dalam penenelitian ini adalah dengan menggunakan tool Monte Carlo, yang modulnya masih dalam aplikasi perangkat lunak GOCAD. Tujuan metode ini adalah untuk mendapatkan hasil perhitungan OOIP secara probabilistik dengan menggunakan hukum distribusi (Distribution Law) masing-masing parameter. Aturan distribusi parameter berdasarkan hasil dari DoE atau histogram dari parameter tersebut. Contoh histogram model porositas pada region pay (region yang mempunyai sel yang memenuhi syarat cut-off pay) Lapisan B diperlihatkan pada gambar IV
18 Gambar IV.13 Histogram porositas pada region pay Lapisan B. Parameter statistik diperlihatkan pada sebelah kiri histogram. Input parameter untuk perhitungan OOIP probabilistik meliputi kelima paramater: Region kontak hidrokarbon, Phie Model, Sw Model, Cut-off Phie dan Cut-off Sw (Gambar IV.14 sampai IV.18). Tipe distribusi dan besaran parameter statistik setiap parameter diringkas dalam tabel IV.4 sampai IV.6. Tipe distribusi OWC, cut-off Phie dan Sw, adalah triangle, dimana hanya 3 nilai sebagai input, yaitu nilai minimum, mode, dan maksimum. Sedangkan untuk parameter model Phie dan Sw, digunakan model Gaussian dengan memasukkan nilai mean (µ) dan standar deviasi (σ) yang diperoleh dari histogram model. 85
19 Gambar IV.14 Distribution Law untuk parameter batas hidrokarbon (OWC) Lapisan A Gambar IV.15 Distribution Law untuk parameter Model Phie dalam region pay pada Lapisan A 86
20 Gambar IV.16 Distribution Law untuk parameter Model Sw dalam region pay Lapisan A Gambar IV.17 Distribution Law untuk parameter Cut-off Phie Lapisan A 87
21 Gambar IV.18 Distribution Law untuk parameter Cut-off Sw Lapisan A Pada Lapisan semua lapisan (A, B, dan C), model Sw mempunyai nilai standar deviasi dan koefisien variasi (CV, dimensionless =σ/µ) lebih besar dibanding pada model Phie. Berdasarkan nilai koefisien variasi (sebagai pembanding), ini menunjukkan bahwa variasi nilai Sw lebih besar dibanding Phie. Tipe distribusi dan besaran parameter statistik tersebut dipakai sebagai distribution law untuk perhitungan OOIP probabilistik dengan Monte Carlo melalui iterasi kali, yang hasilnya bisa dilihat pada gambar IV.19 sampai IV.21. Hasil perhitungannya diringkas pada tabel IV.8. 88
22 Tabel IV.5 Tipe distribusi dan parameter statistik untuk setiap parameter pada region pay Lapisan A Paramater Tipe Distribusi Min Mode Max Mean (µ) owc Triangle Standar Deviasi (σ) Koefisien Variasi (CV) Jumlah Sampel Phie_model Gaussian 0,372 0,047 0, Sw_model Gaussian 0,536 0,184 0, Phie_cutoff Triangle 0,235 0,24 0,255 Sw_cutoff Triangle 0,77 0,8 0,87 Tabel IV.6 Tipe distribusi dan parameter statistik untuk setiap parameter pada region pay Lapisan B Paramater Tipe Distribusi Min Mode Max Mean (µ) owc Triangle Standar Deviasi (σ) Koefisien Variasi (CV) Jumlah Sampel Phie_model Gaussian 0,386 0,034 0, Sw_model Gaussian 0,595 0,159 0, Phie_cutoff Triangle 0,235 0,24 0,255 Sw_cutoff Triangle 0,77 0,8 0,87 Tabel IV.7 Tipe distribusi dan parameter statistik untuk setiap parameter pada region pay Lapisan C Paramater Tipe Distribusi Min Mode Max Mean (µ) owc Triangle Standar Deviasi (σ) Koefisien Variasi (CV) Jumlah Sampel Phie_model Gaussian 0,364 0,032 0, Sw_model Gaussian 0,687 0,089 0, Phie_cutoff Triangle 0,235 0,24 0,255 Sw_cutoff Triangle 0,77 0,8 0,87 89
23 Gambar IV.19 Hasil perhitungan OOIP probabilistik pada region pay Lapisan A. Hasil perhitungan OOIP (STBO) untuk Lapisan A adalah sebagai berikut: P10 OOIP= P50 OOIP= P90 OOIP= Minimum= Maksimum= Range= Mean (µ)= Standar Deviasi (σ)= Koefisien Variasi= 0,044 90
24 Gambar IV.20 Hasil perhitungan OOIP probabilistik pada region pay Lapisan B. Hasil perhitungan OOIP (STBO) untuk Lapisan B adalah sebagai berikut: P10 OOIP= P50 OOIP= P90 OOIP= Minimum= Maksimum= Range= Mean (µ)= Standar Deviasi (σ)= Koefisien Variasi= 0,105 91
25 Gambar IV.21 Hasil perhitungan OOIP probabilistik pada region pay Lapisan C. Hasil perhitungan OOIP (STBO) untuk Lapisan C adalah sebagai berikut: P10 OOIP= P50 OOIP= P90 OOIP= Minimum= Maksimum= Range= Mean (µ)= Standar Deviasi (σ)= Koefisien Variasi= 0,258 92
26 Tabel IV.8 Ringkasan hasil perhitungan OOIP probabilistik dengan menggunakan Monte Carlo pada region pay Lapisan A,B, dan C. Lapisan OOIP (MSTBO) Koefisien Jumlah Variasi sel P10 P50 P90 Mean Standar region Deviasi pay A pay , B pay , , , , ,9 0, C pay 848, , , ,2 0, Dari hasil perhitungan OOIP di atas, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Lapisan A mempunyai OOIP yang paling besar, diikuti oleh Lapisan B, dan selanjutnya lapisan C. 2. Lapisan A mempunyai koefisien variasi yang paling kecil, yang mengindikasikan bahwa variasi nilai OOIP yang dihasilkan lebih seragam dibanding Lapisan B dan C. Lapisan C mempunyai koefisien variasi yang paling besar. Perhitungan OOIP di atas menggunakan model dengan parameter statistik untuk region pay, sehingga tidak mencerminkan keseluruhan data porositas dan Sw pada masing-masing lapisan. Jadi, ada beberapa data porositas dan Sw dalam model geologi Reservoir X yang tidak dimasukkan dalam menentukan parameter statistik (mean dan standar deviasi) pada region pay tersebut. Walaupun dari hasil analisis sensitifitas DoE, porositas model tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan seperti OWC dan model Sw, pada penelitian ini akan dilakukan perhitungan OOIP probabilistik dengan menggunakan data porositas keseluruhan, untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan parameter statistik porositas dan implikasinya terhadap OOIP (Gambar IV.22 sampai IV.24). Begitu juga untuk data Sw, dilakukan perhitungan OOIP probabilistik dengan menggunakan parameter statistik seluruh data Sw pada setiap lapisan (Gambar IV.25 sampai IV.27). Semua lapisan menggunakan parameter yang sama untuk data region batas hidrokarbon dan cut-off porositas serta cut-off Sw pada setiap lapisan. 93
27 Gambar IV.22 Hasil OOIP dengan menggunakan porositas pada region keseluruhan (pay dan non-pay di atas 3C case OWC) pada Lapisan A. Gambar IV.23 Hasil OOIP dengan menggunakan porositas pada region keseluruhan (pay dan non-pay di atas 3C case OWC) pada Lapisan B. 94
28 Gambar IV.24 Hasil OOIP dengan menggunakan porositas pada region keseluruhan (pay dan non-pay di atas 3C case OWC) pada Lapisan C. Setelah membandingkan hasil antara OOIP yang menggunakan law distribution pada pay region (sw pay dan phie pay) terhadap OOIP yang menggunakan law distribution pada region yang menggunakan semua data porositas (sw pay dan phie all), terlihat tidak ada perubahan OOIP yang signifikan. (Tabel IV.9). Perubahan nilai OOIP dan parameter statistik adalah kurang dari 1%, sehingga perubahan model dengan menggunakan seluruh data porositas, tidak memberikan pengaruh dan perubahan OOIP yang berarti. Lain halnya dengan model Sw, dengan membandingkan hasil antara OOIP yang menggunakan distribution law pada pay region (sw pay dan phie pay) terhadap OOIP yang menggunakan distribution law pada region yang menggunakan semua data Sw, terlihat adanya perubahan OOIP yang signifikan, yaitu rata-rata sekitar 4 sampai 8% (Tabel IV.10). 95
29 Tabel IV.9 Pengaruh perubahan parameter statistik porositas model terhadap OOIP. Lapisan OOIP (MSTBO) Koefisien P10 P50 P90 Mean Standar Variasi Deviasi Jumlah sel region pay dan semua A pay , A phie_all , Delta % 0,2% 0,0% 0,1% 0,1% -0,9% 71% B pay , B phie_all , Delta % -0,2% -0,2% -0,1% -0,2% 0,9% 70% C pay , C phie_all , Delta 2-9,3 2,9-5 -1, % 0,2% -0,7% 0,2% -0,4% -0,4% 97% Gambar IV.25 Hasil OOIP dengan menggunakan Sw pada region keseluruhan (pay dan non-pay di atas 3C case OWC) pada Lapisan A. 96
30 Gambar IV.26 Hasil OOIP dengan menggunakan Sw pada region keseluruhan (pay dan non-pay di atas 3C case OWC) pada Lapisan B. Gambar IV.27 Hasil OOIP dengan menggunakan Sw pada region keseluruhan (pay dan non-pay di atas 3C case OWC) pada Lapisan C. 97
31 Tabel IV.10 Pengaruh perubahan parameter statistik Sw model terhadap OOIP. Lapisan OOIP (MSTBO) Koefisien Jumlah sel P10 P50 P90 Mean Standar Deviasi Variasi region pay dan semua A pay , A sw_all , Delta % 5% 5% 5% 5% 13% 71% B pay , B sw_all , Delta % 5% 4% 4% 4% 3% 70% C pay , C sw_all , Delta % 14% 8% 6% 8% -1% 97% IV.5 Analisis Hasil Perhitungan dalam kaitan dengan Karakterisasi Reservoir Hasil perhitungan OOIP, Lapisan A mempunyai jumlah hidrokarbon yang paling banyak, diikuti oleh Lapisan B dan C. Lapisan C mempunyai OOIP yang paling sedikit. Jumlah OOIP bisa dicerminkan dari peta ketebalan hidrokarbon (HPT). Berdasarkan perhitungan OOIP probabilistik, Lapisan A mempunyai jumlah OOIP rata-rata MSTBO, Lapisan B= MSTBO, dan Lapisan C= MSTBO. Dari proses analisis ketidakpastian (uncertainty analysis) yang diperlihatkan pareto chart, model Sw merupakan kontributor paling signifikan terhadap OOIP pada Lapisan A. Sedangkan pada Lapisan B dan C, region owc merupakan kontributor yang paling signifikan terhadap OOIP. Berdasakan data histogram properties model, model Sw mempunyai koefisien variasi lebih besar dibanding model porositas. Ini menunjukkan bahwa, data porositas pada Reservoir X mempunyai nilai yang lebih seragam dibanding Sw. 98
32 Dari perbandingan hasil perhitungan OOIP probabilistik yang menggunakan distribution law model porositas yang memenuhi syarat sebagai pay, terhadap model porositas keseluruhan, hasil OOIP antar kedua model tersebut mempunyai perbedaan yang sangat kecil, yaitu kurang 1%. Sedangkan perbandingan hasil perhitungan OOIP probabilistik yang menggunakan distribution law model Sw yang memenuhi syarat sebagai pay, terhadap model Sw keseluruhan, hasil OOIP antar kedua model tersebut mempunyai perbedaan yang cukup signifikan sampai 8 % (rata-rata OOIP). 99
BAB I Pendahuluan. 8km
BAB I Pendahuluan I.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dengan luas sekitar 72 km 2 berada di Lapangan Duri bagian Utara, Kabupaten Bengkalis, Riau, Sumatera, Indonesia (Gambar I.1). 8km 9km Gambar I.1
KARAKTERISASI RESERVOIR X DI LAPANGAN DURI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP OOIP TESIS. MULYADI NIM : Program Studi Teknik Geologi
KARAKTERISASI RESERVOIR X DI LAPANGAN DURI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP OOIP TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh MULYADI NIM :
Perhitungan Volumetrik OOIP dan Analisis Ketidakpastiannya
Bab V Perhitungan Volumetrik OOIP dan Analisis Ketidakpastiannya Definisi dan terminologi dalam perhitungan volumetrik dalam studi ini dideskripsikan dalam diagram gambar V.1. Gross Pore Volume Total Pore
Porositas Efektif
Gambar 4.2.3. Histogram frekuensi porositas total seluruh sumur. 4.2.3. Porositas Efektif Porositas efektif adalah porositas total yang tidak terisi oleh shale. Porositas efektif ditentukan berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN. kegiatan yang sangat penting di dalam dunia industri perminyakan, setelah
BAB I PENDAHULUAN Kegiatan ekplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi merupakan kegiatan yang sangat penting di dalam dunia industri perminyakan, setelah kegiatan eksplorasi dilaksanakan dan ditemukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurunnya angka produksi minyak dan gas bumi dewasa ini memberikan konsekuensi yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat. Kebutuhan akan sumber daya minyak dan gas
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. V.1 Penentuan Zona Reservoar dan Zona Produksi
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN V.1 Penentuan Zona Reservoar dan Zona Produksi Penentuan zona reservoir dilakukan dengan menggunakan cutoff volume serpih (VSH) dan porositas efektif (PHIE) pada zona target.
BAB III Permodelan Reservoir X
BAB III Permodelan Reservoir X Proses permodelan Reservoir X dilakukan untuk mendapatkan model property secara 3d yang realistik secara geologi dan statistik. Distribusi dan parameter property dapat memberikan
Berikut ini adalah log porositas yang dihasilkan menunjukkan pola yang sama dengan data nilai porositas pada inti bor (Gambar 3.18).
Gambar 3.17 Grafik silang antara porositas inti bor dan porositas log densitas. Berikut ini adalah log porositas yang dihasilkan menunjukkan pola yang sama dengan data nilai porositas pada inti bor (Gambar
Sertifikasi Cadangan Migas Wahyu Djatmiko PPPTMGB LEMIGAS
Sertifikasi Cadangan Migas Wahyu Djatmiko PPPTMGB LEMIGAS Pentingnya Sertifikasi Cadangan Di industri perminyakan baik di dunia maupun di Indonesia, jumlah cadangan migas merupakan salah satu parameter
ANALISIS PETROFISIKA DAN PERHITUNGAN CADANGAN MINYAK PADA LAPANGAN BEAR CEKUNGAN SUMATRA TENGAH (Studi kasus PT Chevron Pacific Indonesia)
ANALISIS PETROFISIKA DAN PERHITUNGAN CADANGAN MINYAK PADA LAPANGAN BEAR CEKUNGAN SUMATRA TENGAH (Studi kasus PT Chevron Pacific Indonesia) Eko Vidhotomo 1, A. M. Juwono M.Sc 1, Rinie Mekarsari M.Sc 2,
Data dan Analisis Ketidakpastiannya
Bab III Data dan Analisis Ketidakpastiannya Penelitian-penelitian geologi, geofisika dan petrofisika telah dilakukan dilapangan Batang. Beberapa penelitian yang mendukung untuk dilakukannya pemodelan reservoar
HALAMAN PENGESAHAN...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii ABSTRAK... iv PERNYATAAN... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR TABEL... xiv DAFTAR LAMPIRAN... xv BAB I. PENDAHULUAN...
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri minyak dan gas bumi merupakan salah satu industri yang berkontribusi besar terhadap devisa negara. Hal ini menyebabkan minyak dan gas bumi menjadi salah satu
Bab I Pendahuluan. I.1 Maksud dan Tujuan
Bab I Pendahuluan I.1 Maksud dan Tujuan Pemboran pertama kali di lapangan RantauBais di lakukan pada tahun 1940, akan tetapi tidak ditemukan potensi hidrokarbon pada sumur RantauBais#1 ini. Pada perkembangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah penelitian, yaitu Cekungan Sunda merupakan salah satu cekungan dari rangkaian cekungan sedimen busur belakang berumur Tersier yang terletak di Sumatra dan Laut
DAFTAR GAMBAR. Gambar 5. Pengambilan Conventinal Core utuh dalam suatu pemboran... Gambar 6. Pengambilan Side Wall Core dengan menggunakan Gun...
DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Kontribusi berbagai cabang disiplin ilmu dalam kegiatan eksplorasi (Peadar Mc Kevitt, 2004)... Gambar 2. Peta Lokasi Struktur DNF... Gambar 3. Batas batas Struktur DNF dari
SIMULASI MONTE CARLO UNTUK MENENTUKAN ESTIMASI CADANGAN MINYAK DI LAPANGAN X
SIMULASI MONTE CARLO UNTUK MENENTUKAN ESTIMASI CADANGAN MINYAK DI LAPANGAN X Diyah Rosiani STEM Akamigas, Jl. Gajah Mada No. 38, Cepu E-mail : [email protected] ABSTRAK Estimasi cadangan yak merupakan
ANALISIS PETROFISIKA DAN PERHITUNGAN CADANGAN GAS ALAM LAPANGAN KAPRASIDA FORMASI BATURAJA CEKUNGAN SUMATERA SELATAN
Analisis Petrofisika dan... ANALISIS PETROFISIKA DAN PERHITUNGAN CADANGAN GAS ALAM LAPANGAN KAPRASIDA FORMASI BATURAJA CEKUNGAN SUMATERA SELATAN M. Iqbal Maulana, Widya Utama, Anik Hilyah Jurusan Teknik
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: PERKIRAAN VOLUME GAS AWAL DI TEMPAT MENGGUNAKAN METODE VOLUMETRIK PADA LAPANGAN POR
PERKIRAAN VOLUME GAS AWAL DI TEMPAT MENGGUNAKAN METODE VOLUMETRIK PADA LAPANGAN POR Edgar G Sebastian Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian Dan Energi Universitas Trisakti E-mail: [email protected]
KARAKTERISASI RESERVOIR X DI LAPANGAN DURI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP OOIP TESIS. MULYADI NIM : Program Studi Teknik Geologi
KARAKTERISASI RESERVOIR X DI LAPANGAN DURI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP OOIP TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh MULYADI NIM :
Kata kunci: Interpretasi seismik, Petrofisika, Volumetrik, OOIP
PERHITUNGAN VOLUMETRIK CADANGAN HIDROKARBON MENGGUNAKAN DATA PETROFISIK DAN SEISMIK PADA RESERVOIR BATUPASIR FORMASI TALANG AKAR, LAPANGAN CTR, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN Citra Fitriani 1, Makharani,S.Si
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang I.2 Studi-studi yang sudah dilakukan
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Lapangan minyak Batang sudah diproduksi secara komersial semenjak tahun 1976 dan sampai saat ini diperkirakan cadangan minyak yang bisa diambil (recovery factor) hanya
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN:
ANALISA DATA LOG UNTUK MENENTUKAN ZONA PRODUKTIF DAN MEMPERKIRAKAN CADANGAN AWAL PADA SUMUR R LAPANGAN Y Riza Antares, Asri Nugrahanti, Suryo Prakoso Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti Abstrak
PEMODELAN 3 DIMENSI RESERVOAR LAPANGAN BATANG DAN ANALISIS KETIDAKPASTIAN VOLUMETRIKNYA TESIS
PEMODELAN 3 DIMENSI RESERVOAR LAPANGAN BATANG DAN ANALISIS KETIDAKPASTIAN VOLUMETRIKNYA TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh
EVALUASI FORMASI SUMURGJN UNTUK PENENTUAN CADANGAN GAS AWAL (OGIP) PADA LAPANGAN X
EVALUASI FORMASI SUMURGJN UNTUK PENENTUAN CADANGAN GAS AWAL (OGIP) PADA LAPANGAN X Abstrak Muhammad Fahdie, Asri Nugrahanti, Samsol Fakultas teknologi kebumian dan energi universitas trisakti Evaluasi
I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Gambar 1.1
I.1. I. PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Lapangan Reira telah diproduksi sejak 30 tahun yang lalu. Hingga saat ini telah lebih dari 90 sumur diproduksi di Reira. Pada awal masa eksploitasi, sumursumur
BAB I PENDAHULUAN. Pliosen Awal (Minarwan dkk, 1998). Pada sumur P1 dilakukan pengukuran FMT
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Lapangan R merupakan bagian dari kompleks gas bagian Selatan Natuna yang terbentuk akibat proses inversi yang terjadi pada Miosen Akhir hingga Pliosen Awal
DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN... 1
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii SARI... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xv DAFTAR LAMPIRAN... xvi BAB I. PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang
Bab I. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan berjalannya waktu jumlah cadangan migas yang ada tentu akan semakin berkurang, oleh sebab itu metoda eksplorasi yang efisien dan efektif perlu dilakukan guna
BAB 3 ANALSIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN EVALUASI FORMASI RESERVOIR FORMASI BANGKO B
BAB 3 ANALSIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN EVALUASI FORMASI RESERVOIR FORMASI BANGKO B Untuk melakukan analisis lingkungan pengendapan suatu reservoir dibutuhkan data batuan inti (core) dan juga melihat
Bab IV Model dan Optimalisasi Produksi Dengan Injeksi Surfaktan dan Polimer
Bab IV Model dan Optimalisasi Produksi Dengan Injeksi Surfaktan dan Polimer Pada bab ini akan dijelaskan tentang model yang telah dibuat oleh peneliti sebelumnya kemudian dari model tersebut akan dioptimalisasi
BAB V INTERPRETASI DATA. batuan dengan menggunakan hasil perekaman karakteristik dari batuan yang ada
BAB V INTERPRETASI DATA V.1. Penentuan Litologi Langkah awal yang dilakukan pada penelitian ini adalah menentukan litologi batuan dengan menggunakan hasil perekaman karakteristik dari batuan yang ada dibawah
BAB IV PERHITUNGAN IGIP/RESERVES GAS
BAB IV PERHITUNGAN IGIP/RESERVES GAS Setelah dilakukannya pemodelan perangkap hidrokarbon yang ada di Lapangan Tango, juga perhitungan properti reservoir dengan melakukan analisis kuantitatif untuk menghasilkan
PEMODELAN RESERVOIR BATUPASIR A, FORMASI MENGGALA DAN PENGARUH HETEROGENITAS TERHADAP OOIP, LAPANGAN RINDANG, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
PEMODELAN RESERVOIR BATUPASIR A, FORMASI MENGGALA DAN PENGARUH HETEROGENITAS TERHADAP OOIP, LAPANGAN RINDANG, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH TUGAS AKHIR B Diajukan Sebagai Syarat dalam Mencapai Kelulusan Strata
Gambar Ilustrasi Simulasi Monte Carlo
(input). Metode inii sering digunakan ketika model memiliki kompleksitas yang tinggi, nonlinier, atau melibatkan lebih dari sekedar beberapa parameter yang tidak pasti. Evaluasi yang sering dilakukan dalam
ANALISIS PENENTUAN ZONA PRODUKTIF DAN PERHITUNGAN CADANGAN MINYAK AWAL DENGAN MENGGUNAKANDATA LOGGING PADA LAPANGAN APR
ANALISIS PENENTUAN ZONA PRODUKTIF DAN PERHITUNGAN CADANGAN MINYAK AWAL DENGAN MENGGUNAKANDATA LOGGING PADA LAPANGAN APR Anastasya P.R1) 1) Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti Email
BAB I PENDAHULUAN. Analisis fasies dan evaluasi formasi reservoar dapat mendeskripsi
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Analisis fasies dan evaluasi formasi reservoar dapat mendeskripsi sifat-sifat litologi dan fisika dari batuan reservoar, sehingga dapat dikarakterisasi dan kemudian
DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii LEMBAR PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv. SARI...v ABSTRACT... vi DAFTAR ISI...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii LEMBAR PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv SARI...v ABSTRACT... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR TABEL...xv DAFTAR LAMPIRAN... xvi
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: ANALISA DATA LOG UNTUK PERHITUNGAN VOLUME AWAL GAS DI TEMPAT DENGAN METODA VOLUME TRIK
ANALISA DATA LOG UNTUK PERHITUNGAN VOLUME AWAL GAS DI TEMPAT DENGAN METODA VOLUME TRIK Dhita Stella Aulia Nurdin Abstract Perhitungan Initial Gas In Place (IGIP) pada Lapangan KIM menjadi langkah awal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Suardy dan Taruno (1985), Indonesia memiliki kurang lebih 60 cekungan sedimen yang tersebar di seluruh wilayahnya. Dari seluruh cekungan sedimen tersebut, penelitian
BAB I PENDAHULUAN. Analisa konektivitas reservoir atau RCA (Reservoir Connectivity Analysis)
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Analisa konektivitas reservoir atau RCA (Reservoir Connectivity Analysis) merupakan metode yang baru mulai dipublikasikan pada tahun 2005 (Vrolijk, 2005). Metode
BAB IV ANALISIS KORELASI INFORMASI GEOLOGI DENGAN VARIOGRAM
BAB IV ANALISIS KORELASI INFORMASI GEOLOGI DENGAN VARIOGRAM Tujuan utama analisis variogram yang merupakan salah satu metode geostatistik dalam penentuan hubungan spasial terutama pada pemodelan karakterisasi
Jl. Raya Palembang-Prabumulih KM.32 Indralaya Sumatera Selatan, Indonesia Telp/Fax. (0711) ;
STUDI EVALUASI DATA LOGGING DAN SIFAT PETROFISIKA UNTUK MENENTUKAN ZONA HIDROKARBON PADA LAPISAN BATU PASIR FORMASI DURI LAPANGAN BALAM SOUTH, CEKUNGAN SUMATERA TENGAH STUDY EVALUATION OF DATA LOGGING
Rani Widiastuti Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut t Teknologi Sepuluh hnopember Surabaya 2010
PEMETAAN BAWAH PERMUKAAN DAN PERHITUNGAN CADANGAN HIDROKARBON LAPANGAN KYRANI FORMASI CIBULAKAN ATAS CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA DENGAN METODE VOLUMETRIK Rani Widiastuti 1105 100 034 Jurusan Fisika Fakultas
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik mengenai geologi terutama mengenai sifat/karakteristik suatu reservoir sangat penting dalam tahapan eksploitasi suatu
BAB III PEMODELAN GEOMETRI RESERVOIR
BAB III PEMODELAN GEOMETRI RESERVOIR III.1 ANALISIS DATA SUMUR DAN SEISMIK Analisis data sumur dilakukan dengan menginterpretasikan log pada sumur sumur di daerah penelitian untuk menentukan marker. Dari
Eoremila Ninetu Hartantyo, Lestari Said ABSTRAK
PENENTUAN ISI AWAL MINYAK DI TEMPAT DENGAN METODE VOLUMETRIK DAN MATERIAL BALANCE GARIS LURUS HAVLENA-ODEH DAN PERKIRAAN PRODUKSI ZONA ENH PADA LAPANGAN X Eoremila Ninetu Hartantyo, Lestari Said 1 Program
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Salah satu kegiatan pengumpulan data bawah permukaan pada kegiatan pengeboran sumur minyak dan atau gas bumi baik untuk sumur eksplorasi maupun untuk sumur
Cut-off Porositas, Volume shale, dan Saturasi Air untuk Perhitungan Netpay Sumur O Lapangan C Cekungan Sumatra Selatan
Cut-off Porositas, Volume shale, dan Saturasi Air untuk Perhitungan Netpay Sumur O Lapangan C Cekungan Sumatra Selatan Bambang Triwibowo Jurusan Teknik Geologi FTM UPN Veteran Yogyakarta Abstract The values
BAB V KARAKTERISASI DAN APLIKASI
BAB V KARAKTERISASI DAN APLIKASI V. Kurva Fractional flow History matching dilakukan terhadap data produksi aktual dibandingkan dengan data produksi hasil perhitungan. History matching ini menggunakan
Bab IV Prospect Generation pada Interval Anggota Main, Daerah Osram
karena itu, pada daerah tutupan yang tidak berada pada area kitchen, diperlukan bantuan dari migrasi lateral menuju ke daerah tutupan tersebut melalui carrier bed (Gambar 4.11). Lapisan batuan dimana hidrokarbon
UNIVERSITAS DIPONEGORO
UNIVERSITAS DIPONEGORO ANALISIS KARAKTERISTIK RESERVOIR DAN PERHITUNGAN CADANGAN PADA LAPANGAN ALFA, FORMASI BATURAJA, CEKUNGAN SUNDA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PETROFISIK BERDASARKAN DATA SUMUR DAN SEISMIK
BAB I PENDAHULUAN. Sebuah lapangan gas telah berhasil ditemukan di bagian darat Sub-
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sebuah lapangan gas telah berhasil ditemukan di bagian darat Sub- Cekungan Tarakan, Kalimantan Utara pada tahun 2007. Lapangan gas ini disebut dengan Lapangan BYN
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISTILAH
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH KATA PENGANTAR ABSTRAK ABSTRACT DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISTILAH i ii iii iv vi vii viii xi xv xvi BAB I.
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN Kiprah dan perjalanan PT. Chevron Pacific Indonesia yang telah cukup lama ini secara perlahan diikuti oleh penurunan produksi minyak dan semakin kecilnya
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Peningkatan kebutuhan energi di dunia akan minyak dan gas bumi sebagai bahan bakar fosil yang utama cenderung meningkat seiring dengan perubahan waktu. Kebutuhan dunia
TUGAS AKHIR B. Institut Teknologi Bandung. Oleh. Ade Himsari PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN EVALUASI FORMASI SERTA PERHITUNGAN CADANGAN HIDROKARBON PADA RESERVOIR FORMASI BANGKO B, LAPANGAN DAHLIA, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH TUGAS AKHIR B Diajukan Sebagai Syarat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hidrokarbon merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat meningkatkan kemajuan Bangsa Indonesia khususnya pada eksplorasi minyak dan gas bumi. Kegiatan ekplorasi
Kata kunci : petrofisika, analisis deterministik, impedansi akustik, volumetrik
PERHITUNGAN VOLUMETRIK CADANGAN HIDROKARBON BERDASARKAN ANALISIS PETROFISIKA DAN INTERPRETASI SEISMIK PADA LAPISAN SAND-A FORMASI TALANG AKAR DI LAPANGAN WIRA CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Dwi Noviyanto 1
BAB I PENDAHULUAN. Minyak dan gas bumi merupakan gabungan/ campuran komposisi dari
BAB I PENDAHULUAN Bab I berisi latar belakang, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Minyak dan gas bumi merupakan gabungan/ campuran komposisi
DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... iv KATA PENGANTAR... vi RINGKASAN... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR
BAB IV PEMBAHASAN. BAB IV berisi pembahasan tahapan penelitian, yaitu klasifikasi logika. A. Identifikasi Data Cadangan Hidrokarbon
BAB IV PEMBAHASAN BAB IV berisi pembahasan tahapan penelitian yaitu klasifikasi logika fuzzy hasil pembahasan analisis pengujian model fuzzy dan visualisasi model fuzzy pada perhitungan cadangan hidrokarbon
KUANTIFIKASI KETIDAKPASTIAN DAN PENENTUAN PERSAMAAN UNTUK MEMPERKIRAKAN FAKTOR PEROLEHAN MINYAK PADA RESERVOIR MINYAK LAPANGAN X
JTM Vol. XVII No. 1/2010 KUANTIFIKASI KETIDAKPASTIAN DAN PENENTUAN PERSAMAAN UNTUK MEMPERKIRAKAN FAKTOR PEROLEHAN MINYAK PADA RESERVOIR MINYAK LAPANGAN X Zakki Sabiq Purwaka 1, Tutuka Ariadji 1 Sari Studi
BAB IV SIMULASI RESERVOIR REKAH ALAM DENGAN APLIKASI MULTILATERAL WELL
BAB IV SIMULASI RESERVOIR REKAH ALAM DENGAN APLIKASI MULTILATERAL WELL Simulasi reservoir pada reservoir rekah alam dilakukan pada studi ini untuk mengetahui performance dari reservoir dan memprediksi
Oleh : Fikri Rahmansyah* Dr. Ir. Taufan Marhaendrajana**
IDENTIFIKASI PENGARUH KEDALAMAN PENGUKURAN TEKANAN, SIFAT MINYAK, DAN BATUAN RESERVOIR TERHADAP PENENTUAN JUMLAH MINYAK AWAL di RESERVOIR DENGAN METODE MATERIAL BALANCE Oleh : Fikri Rahmansyah* Dr. Ir.
UNIVERSITAS DIPONEGORO
UNIVERSITAS DIPONEGORO ANALISIS KARAKTERISTIK PETROFISIK DAN PERHITUNGAN CADANGAN GAS BUMI PADA FORMASI TACIPI UNIT C, LAPANGAN ADHITAMA, CEKUNGAN SENGKANG TIMUR, SULAWESI SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE
DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... iv KATA PENGANTAR...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... iv KATA PENGANTAR... v HALAMAN RINGKASAN... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR...
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cekungan Sumatra Tengah merupakan cekungan penghasil minyak bumi yang pontensial di Indonesia. Cekungan ini telah dikelola oleh PT Chevron Pacific Indonesia selama
Bab III Pengolahan dan Analisis Data
Bab III Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data telah dilakukan mengikuti diagram alir umum seperti Gambar III.1. Studi kelayakan dan pembuatan SGRID dilakukan secara bersamaan karena terdapat bagian
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN: ANALISIS DATA LOG UNTUK PERHITUNGAN CADANGAN MINYAK AWAL FORMASI KAIS PADA LAPANGAN Y
ANALISIS DATA LOG UNTUK PERHITUNGAN CADANGAN MINYAK AWAL FORMASI KAIS PADA LAPANGAN Y Sartika Sah Putri, Asri Nugrahanti, Slamet Soeharto Program Studi Teknik Perminyakan, Universitas Trisakti Abstrak
BAB IV METODE DAN PENELITIAN
40 BAB IV METODE DAN PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada Lapangan T, berada di Sub-Cekungan bagian Selatan, Cekungan Jawa Timur, yang merupakan daerah operasi Kangean
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang dan Pembatasan Masalah
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang dan Pembatasan Masalah Pada tahun 1997, PT CPI mengaplikasikan teknik perolehan dengan metode peripheral waterflood di lapangan Bekasap untuk mengimbangi penurunan
BAB IV PEMBAHASAN. Pada lapangan XY menggunakan porositas tunggal atau single porosity.
BAB IV PEMBAHASAN Pada lapangan XY menggunakan porositas tunggal atau single porosity. Model porositas tunggal digunakan pada primary recovery yang hanya memerlukan nilai porositas dari pori-pori atau
Acara Well Log Laporan Praktikum Geofisika Eksplorasi II
WELL LOG 1. Maksud dan Tujuan Maksud : agar praktikan mengetahui konsep dasar mengenai rekaman sumur pemboran Tujuan : agar praktikan mampu menginterpretasi geologi bawah permukaaan dengan metode rekaman
Evaluasi Cadangan Minyak Zona A dan B, Lapangan Ramses, Blok D Melalui Pemodelan Geologi Berdasarkan Data Petrofisika
Evaluasi Cadangan Minyak Zona A dan B, Lapangan Ramses, Blok D Melalui Pemodelan Geologi Berdasarkan Data Petrofisika a Prahara Iqbal, b Undang Mardiana a UPT Loka Uji Teknik Penambangan dan Mitigasi Bencana,
HALAMAN PENGESAHAN...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH... v KATA PENGANTAR... vi RINGKASAN... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR
BAB III PEMODELAN RESERVOIR
BAB III PEMODELAN RESERVOIR Penelitian yang dilakukan pada Lapangan Rindang dilakukan dalam rangka mendefinisikan reservoir Batupasir A baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Beberapa hal yang dilakukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri perminyakan adalah salah satu industri strategis yang memegang peranan sangat penting saat ini, karena merupakan penyuplai terbesar bagi kebutuhan
PEMODELAN PERSEBARAN SATURASI AIR DENGAN MENGGUNAKAN METODE FOIL FUNCTION (BULK VOLUME OF WATER) PADA RESERVOIR MINYAK DI LAPANGAN X
JTM Vol. XVII No. 1/2010 PEMODELAN PERSEBARAN SATURASI AIR DENGAN MENGGUNAKAN METODE FOIL FUNCTION (BULK VOLUME OF WATER) PADA RESERVOIR MINYAK DI LAPANGAN X Jovie Yunara 1, Taufan Marhaendrajana 1 Sari
Rani Widiastuti 1, Syamsu Yudha 2, Bagus Jaya Santosa 3
PEMETAAN BAWAH PERMUKAAN DAN PERHITUNGAN CADANGAN HIDROKARBON LAPANGAN KYRANI FORMASI CIBULAKAN ATAS CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA DENGAN METODE VOLUMETRIK Rani Widiastuti 1, Syamsu Yudha 2, Bagus Jaya Santosa
INTERPRETASI RESERVOIR HIDROKARBON DENGAN METODE ANALISIS MULTI ATRIBUT PADA LAPANGAN FIAR
INTERPRETASI RESERVOIR HIDROKARBON DENGAN METODE ANALISIS MULTI ATRIBUT PADA LAPANGAN FIAR Skripsi Untuk memenuhi persyaratan mencapai derajat Sarjana S-1 diajukan oleh: Saidatul Fitriany J2D 006 041 JURUSAN
PERSAMAAN USULAN UNTUK PERAMALAN KINERJA LAJU ALIR MINYAK BERDASARKAN HUBUNGAN WATER OIL RATIO DAN DECLINE EXPONENT
PERSAMAAN USULAN UNTUK PERAMALAN KINERJA LAJU ALIR MINYAK BERDASARKAN HUBUNGAN WATER OIL RATIO DAN DECLINE EXPONENT PADA RESERVOIR MULTI LAPISAN BERTENAGA DORONG AIR TUGAS AKHIR Oleh: SANDI RIZMAN H NIM
Evaluasi Formasi dan Estimasi Permeabilitas Pada Reservoir Karbonat Menggunakan Carman Kozceny, Single Transformasi dan Persamaan Timur
Evaluasi Formasi dan Estimasi Permeabilitas Pada Reservoir Karbonat Menggunakan Carman Kozceny, Single Transformasi dan Persamaan Timur Oleh: Ari Teguh Sugiarto 1109100053 Dosen Pembimbing: Prof. Dr.rer.nat
BAB I PENDAHULUAN. Gambar I.1. Peta Lokasi Lapangan Duri dan daerah Penelitian (tanpa skala)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Lapangan Minyak Duri merupakan salah satu lapangan minyak yang menerapkan sistem injeksi uap sebagai metode eksploitasi kandungan minyak berat terbesar di
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Simposium Nasional IATMI 2009 Bandung, 2-5 Desember Makalah Profesional IATMI
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Simposium Nasional IATMI 2009 Bandung, 2-5 Desember 2009 Makalah Profesional IATMI 08-036 Upaya Peningkatan Produksi Pada Struktur Rantau Zona 600 Yang Sudah Dilakukan
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Simposium Nasional IATMI 2009 Bandung, 2-5 Desember Makalah Profesional IATMI
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Simposium Nasional IATMI 29 Bandung, 2- Desember 29 Makalah Profesional IATMI 9-16 ANALISIS DATA WATER OIL RATIO UNTUK MEMPREDIKSI NILAI PERMEABILITAS VERTIKAL
BAB IV RESERVOIR KUJUNG I
BAB IV RESERVOIR KUJUNG I Studi geologi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui geometri dan potensi reservoir, meliputi interpretasi lingkungan pengendapan dan perhitungan serta pemodelan tiga dimensi
LONTARA-FIELD DEVELOPMENT OPTIMIZATION USING RESERVOIR SIMULATION Optimasi Pengembangan Lapangan LONTARA dengan Simulasi Reservoir
LONTARA-FIELD DEVELOPMENT OPTIMIZATION USING RESERVOIR SIMULATION Optimasi Pengembangan Lapangan LONTARA dengan Simulasi Reservoir Oleh : Sakti Tanripada* SARI Rencana pengembangan lapangan merupakan hal
BAB V ANALISA. dapat memisahkan litologi dan atau kandungan fluida pada daerah target.
BAB V ANALISA 5.1 Analisa Data Sumur Analisis sensitifitas sumur dilakukan dengan cara membuat krosplot antara dua buah log dalam sistem kartesian sumbu koordinat x dan y. Dari plot ini kita dapat memisahkan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Cekungan Kutai merupakan cekungan Tersier terbesar dan terdalam di Indonesia bagian barat, dengan luas area 60.000 km 2 dan ketebalan penampang mencapai 14 km. Cekungan
BAB V ANALISA SENSITIVITAS MODEL SIMULASI
BAB V ANALISA SENSITIVITAS MODEL SIMULASI Simulasi menggunakan model sistem reservoir seperti yang dijelaskan dan divalidasi dengan data lapangan pada Bab IV terdahulu, selanjutnya akan dilakukan analisa
STUDI PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DI ZONA A LAPANGAN X DENGAN METODE INJEKSI AIR
STUDI PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DI ZONA A LAPANGAN X DENGAN METODE INJEKSI AIR TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh : RADEN
METODE PENENTUAN LOKASI SUMUR PENGEMBANGAN UNTUK OPTIMASI PENGEMBANGAN LAPANGAN X DENGAN MENGGUNAKAN
METODE PENENTUAN LOKASI SUMUR PENGEMBANGAN UNTUK OPTIMASI PENGEMBANGAN LAPANGAN X DENGAN MENGGUNAKAN PARAMETER POROSITAS, PERMEABILITAS DAN SATURASI MINYAK SECARA SEMI-ANALITIK TUGAS AKHIR Oleh: YOGA PRATAMA
Evaluasi Formasi Reservoar Batupasir Menggunakan Analisis Petrofisika Pada Lapangan Teapot Dome
Evaluasi Formasi Reservoar Batupasir Menggunakan Analisis Petrofisika Pada Lapangan Teapot Dome Luhur Prayogo 1, Reza Syahputra 2, Abdul Haris 3 1 Departemen Fisika, FMIPA UI, Kampus UI Depok 16424 2,3
Analisis Petrofisika Batuan Karbonat Pada Lapangan DIF Formasi Parigi Cekungan Jawa Barat Utara
Analisis Petrofisika Batuan Karbonat Pada Lapangan DIF Formasi Parigi Cekungan Jawa Barat Utara Nadifatul Fuadiyah 1, Widya Utama 2,Totok Parafianto 3 Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia
BAB V ANALISIS SEKATAN SESAR
BAB V ANALISIS SEKATAN SESAR Dalam pembahasan kali ini, penulis mencoba menganalisis suatu prospek terdapatnya hidrokarbon ditinjau dari kondisi struktur di sekitar daerah tersebut. Struktur yang menjadi
