ANALISIS RANCANGAN. Tabel 16. ConeIndeks (CI)
|
|
|
- Sudirman Budiono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 IV. ANALISIS RANCANGAN 4.1 Kriteria Rancangan Transporter akan difungsikan sebagai pengangkut TBS dari titik panen sampai ke TPH, sehingga pergerakan transporter harus disesuaikan dengan kegiatan panen dan pengangkutan TBS. Transporter akan menjemput TBS yang terkumpul pada titik panen dan kemudian TBS akan dimuat pada bak penampung dengan kapasitas angkut kg. Setelah sampai di TPH proses unloading dilakukan secara manual tanpa hidrolik. Desain transporter disesuaikan dengan keadaan dilapangan tempat transporter diaplikasikan.keadaan tanah pada lahan adalah termasuk dalam klasifikasi clay (USDA) dengan fraksi liat 57%, debu 40% dan pasir 3%. Berdasarkan pengukuran kondisi tanah menggunakan penetrometer diketahui tahanan tanah (kpa) seperti pada Tabel 16. Tabel 16. ConeIndeks (CI) Kedalaman (cm) CI (kpa) Berdasarkan pengukuran tersebut tahanan tanah pada kedalaman adalah 0 kpa dan kemampuan tanah yang paling besar hanya kpa. Sehingga desain transporter harus memiliki luasan bidang kontak yang besar agar ground pressure yang dihasilkan rendah dan kurang dari 800 kpa. Jalur evakuasi TBS dari titik panen samapai TPH memiliki lebar antara cm dan pada sisi kanan dan kiri jalur tersebut terdapat saluran air dengan lebar rata-rata 3 m, sehingga desain lebar bidang kontak transporter terhadap tanah harus kurang dari 100 cm. Mesin yang dirancang harus memiliki mekanisme yang sederhana dan perawatannya mudah agar pada pengaplikasian mesin dilapangan lebih sesuai. Proses unloading TBS dilakukan secara manual (menggunakan tenaga manusia). 4.2 Pengembangan dan Penyempurnaan Ide Desain Pengembangan ide desain merupakan tahapan dalam proses desain. Perubahan yang terjadi pada rancangan dimaksudkan agar desain yang dihasilkan memiliki mekanisme yang sederhana dan dapat diaplikasikan di lahan. Dalam proses pengembangan desain terjadi beberapa perubahan dan mekanisme pada transporter yang dirancang, perubahan ini dipengaruhi kekuatan bahan dan persedian bahan yang ada dipasaran serta penyesuaian pola kegiatan pemanenan. Perubahan desain terletak pada bagian bak penampung, beamper penahan bak, dudukan bak dan rel bak. Mekanisme unloading pada awalnya direncanakan menggunakan hidrolik, namun dilihat dari sisi biaya memiliki harga yang cukup tinggi. Selain itu hidrolik harus memiliki perawatan yang terjadwal. Sehingga mekanisme bongkar menggunakan hidrolik digantikan dengan manual. 25
2 Rel dan dudukan bak Gambar 15.Konstruksi dudukan rel dan bakdesain awal Perancangan yang selanjutnya, kontruksi dudukan bak dibuat seperti lenganserta tumpuan lengan ini berada pada rangka (Gambar 15). Tangan lengan sebagai penyangga bak, sedangkan rel berada pada ujung lengan, rel tersebut akan menjadi landasan luncur bak TBS dengan bobot kg. Untuk menahan beban besar tersebut kontruksi seperti ini kurang baik karena pada lengan tersebut akan terjadi lendutan dan bengkok. Pertimbangan kekuatan bahan dan ketersediaan bahan di pasaran membuat desain mengalami perubahan pada dudukan penahan bak.jika menggunakan besi strip maka untuk menahan beban 630 kg (kapasitas dan berat bak) digunakan bahan S45C dengan σa sebesar 30 kg/mm 2 maka dimensi besi strip adalah 48 mm x 24 mm. Dudukan yang difungsikan sebagai tempat rel dan bak tidak digunakan. Rel langsung beradadi atas rangka utama dan bak disanggah menggunakan hinge (Gambar 16). Rel dan dudukan bak 26
3 Gambar 16. Kontruksi dudukan rel dan bak perbaikan 4.3 Rancangan Fungsional Fungsi utama dari mesin yang dirancang adalah untuk menggantikan fungsi angkong yaitu mengangkut TBS dari titik panen sampai dengan TPH. Alat yang dirancang akan diaplikasikan pada tanah yang memiliki daya dukung tanah yang rendah dengan Cl < 800 kpa. Sehingga mesin yang dirancang harus memiliki ground pressure yang kurang dari 800 kpa. Untuk memenuhi kriteria dengan ground pressure rendah maka upaya yang dilakukan adalah memilih tipe roda trek. Kapasitas angkut dari mesin yang dirancang akan diupayakan dapat menampung TBS lebih besar dibandingkan menggunakan angkong. Sehingga perlu didesain bak penampung yang memiliki kapasitas besar. Kendala yang dihadapi adalah unloading TBS pada bak dilakukan secara manual, sehingga perlu mekanisme tambahan untuk menunjang fungsi tersebut. Untuk mendukung tercapainya fungsi utama tersebut maka diperlukan fungsi-fungsi turunannya antara lain: fungsi penggerak, fungsi penampung TBS, fungsi kemudi dan lain lain. Tabel 17 menyajikan desain fungsional yang menyatakan hubungan antara fungsi fungsi yang dibutuhkan dengan komponen/bagian untuk mencapai fungsi tersebut. Tabel 17. Desain fungsional No Fungsi Komponen/bagian 1 Menahan beban yang ada dalam Transporter yang dirancang. Selain Rangka itu rangka juga digunakan sebagai landasan untuk meletakan bagian yang lain 2 Menampung TBS Bak 3 Landasan gerak bak penampung TBS Rel bak 4 Transmisi gaya dari motor penggerak ke penggerak (Crawler) Gear box 5 Sumber tenaga penggerak Motor penggerak 6 Menghasilkan traksi untuk menggerakkan transporter Crawler 7 Melawan gaya dari bawah sehingga dapat mendukung dan Roller memberikan tekanan pada trek kayu bagian bawah. 8 Sebagai sistem kendali arah gerak dan kecepatan transporter Kemudi 9 Penopang beban operator saat mengemudikan transporter Tempat duduk Rangka dirancang agar mampu menahan sebagian besar beban yang ada dalam transporter yang dirancang. Fungsi utama rangka adalah memberikan bentuk dari suatu alat atau mesin dan sebagai tempat terpasangnya bagian/komponen yang lain.selain itu rangka juga menentukan 27
4 dimensi transporter yang dirancang. Sehingga lebar dan panjang rangka harus disesuaikan dengan parameter desain yang ada. Rel bak berfungsi sebagai landasan pergerakan bak penampung. Cara unloading TBS pada bak direncakan secara manual, sehingga perlu perhitungan terhadap titik jungkit agar unloading dapat dilakukan secara manual. Titik jungkit yang direncanakan tidak berada pada ujung bak sehingga perlu ada pergerakan ke depan agar sudut unloading memungkinkan untuk semua TBS keluar. Gearbox berfungsi sebagai penyalur tenaga dari motor penggerak ke penggerak (Crawler). Gearbox yang dipilih memiliki fungsi maju dan mundur. Transmisi gearbox yang dipilih memiliki dua kecepatan maju dan satu kecepatan mundur. Gearbox yang dipilih sudah memiliki sistem pembelok yaitu mekanisme Dog Clutch. Pemilihan motor penggerak didasarkan pada kebutuhan power yang akan ditransmisikan. Motor penggerak yang dipilih harus mampu menjaga transporter tetap berada dalam performa yang baik agar kegiatan pengangkutan TBS berjalan lancar. Transporter diaplikasikan untuk pengangkutan TBS pada lahan yang memiliki daya dukung tanah yang rendah. Untuk mendukung hal tersebut maka alat traksi yang dirancang harus memiliki ground pressure yangrendah. Crawler memiliki gaya tekan yang lebih rendah dibandingkan dengan roda traksi lain seperti roda ban atau roda besi karena luas bidang kontak Crawler lebih besar. 4.4 Rancangan Struktural Analisis pada bak penampung TBS Analisis titik jungkit Proses unloading TBS dilakukan dengan tenaga manusia. Kemampuan angkat maksimal rata rata manusia sebesar 30 kg. Sehingga untuk memungkinkan tenaga tersebut mengangkat beban TBS yang mencapai 600 kg maka titik jungkit harus dihitung agar pengoperasian mudah. Sebelum dilakukan analisis titik jungkit terlebih dahulu dilakukan simulasi peletakan/penyusunan TBS pada bak untuk menentukan jumlah TBS yang mampu ditampung oleh bak. Pada simulasi ini dilakukan penyusunan TBS secara rapih dan tegak. Dimensi bak TBS (tampak samping) disajikan dalam Gambar 17. Gambar 17. Dimensi bak (tampak samping) 28
5 Penyusunan TBS tipe I Simulasi penyusunan TBS tipe I disajikan dalam Gambar 18. Pada simulasi penyusunan ini TBS diposisikan berbaring dan tersusun rapih.pada simulasi ini TBS yang dapat ditampung oleh bak sebanyak 15 buah. Gambar 18. Penyusunan TBS tipe I Untuk mendapatkan letak titik jungkit pada bak terlebih dahulu ditentukan centroid pada simulasi penyusunan TBS. Penentuan centroid dilakukan menggunakan perangkat lunak AutoCAD. Gaya gaya yang bekerja pada penyusunan TBS tipe I dalam bak dapat dilihat pada Gambar F L 1 L 2 W 1 lg W 2 lm Gambar19. Diagram benda bebas penyusunan tipe I Centroid x = mm y = mm z = mm (L 1 + lg)w 1 + (lm - lg)f = (L 2 - lg)w 2 ( lg)270 + (466.9 lg)30 = ( lg)240 (270 x ) + 270lg + (30 x 466.9) 30lg = ( x 240) 240lg lg = ( ) = mm Dari hasil perhitungan diketahui jarak titik jungkit pada penyusunan TBS tipe I berada pada mm dari belakang bak. 29
6 Penyusunan TBS tipe II Simulasi penyusunan TBS tipe II disajikan dalam Gambar 20. Pada penyusunan ini TBS diposisikan tegak dan disusun padat.penyusunan ini dimaksudkan untuk menentukan jumlah maksimal yang dapat ditampung bak. Pada simulasi ini TBS yang dapat ditampung oleh bak sebanyak 19 buah. Gambar 20. Penyusunan TBS tipe II Untuk mendapatkan letak titik jungkit pada bak terlebih dahulu ditentukan centroid pada simulasi penyusunan TBS. Penentuan centroid dilakukan menggunakan perangkat lunak AutoCAD. Gaya gaya yang bekerja pada penyusunan TBS tipe II dalam bak dapat dilihat pada Gambar 21. Centroid x = mm y = mm z = mm F L 1 L 2 W 1 lg W 2 lm Gambar 21. Diagram benda bebaspenyusunan TBS tipe II (L 1 + lg)w 1 + (lm - lg)f = (L 2 - lg)w 2 ( lg)390 + (484.2 lg)30 = ( lg)240 (390 x 74.49) +390lg + (30 x 484.2) 30lg = (242.1 x 240) 240lg lg = ( ) = mm Dari hasil perhitungan diketahui jarak titik jungkit pada penyusunan TBS tipe II berada pada mm dari belakang bak. 30
7 4.4.2 Rancangan Rangka Bahan utama yang digunakan untuk rangka adalah besi U. Besi U yang digunakan memiliki panajang 100 mm, lebar 50 mm dan tebal 5 mm. Rancangan rangka dibuat seperti Gambar 22. Dalam perkembangannya rangka dibuat lebih rumit dan kaku. Gambar 22. Diagram benda bebas pada rangka (chasis) Dari analisis rangka, data rangka dan beban statis utamanya adalah: Bak TBS + isi = 630 kg Gearbox = 63.6 kg Mesin = 27 kg Karena beban masing-masing diatas posisinya berbeda maka secara riil tiap-tiap posisi menerima beban yang berbeda pula. 1. Distribusi beban mesin statis Beban mesin didistribusikan ke sisi kanan dan kiri rangka sebesar: Bagian C1 C2 We 91mm 209 mm C1 C2 Gambar 23. Diagram benda bebas bagian C1-C2 ΣMC1 = 0 (91 x 27) (C2x300) = 0 C2 = 8.19 kg ΣMC2 = 0 (209 x 27) (C1x300) = 0 C1 = kg 31
8 Beban bak didistribusikan ke sisi kanan dan kiri rangka sebesar: Bagian A1 A2 Wb 227mm 73mm A1 A2 Gambar 24. Diagram benda bebas bagian A1- A2 ΣMA1 = 0 (227 x 630) (A2 x 300) = 0 A2 = kg ΣMA2 = 0 (73 x 630) (A1 x 300) = 0 A1 = kg Beban gearbox didistribusikan ke sisi kanan dan kiri rangka sebesar: Bagian B1 B2 Wg 150mm 150mm B1 B2 Gambar 25. Diagram benda bebas bagian B1-B2 ΣMB1 = 0 (150 x 63.6) (B2x300) = 0 B2 = 31.8 kg B2 = B1 = 31.8 kg 2. Perhitungan reaksi tumpuan pada sumbu depan dan belakang Karena beban yang paling besar berada pada B2, maka digunakan sebagai perhitungan. Beban yang diterima pada sumbu depan dan belakang digambarkan seperti gambar dibawah ini. Jarak pendekatan yang sebenarnya: dpn sampai A2 = 215 mm dpn sampai B2 (blk) = 800 mm dpn sampai C2 = 1115 mm blk sampai C2 = 315 mm 32
9 476.7 kg kg dpn B2 (blk) Gambar 26. Diagram benda bebas pada rangka sebelah kanan ΣMdpn = 0 (blk x 800) - (476.7 x 215) (31.8 x 800) - (8.19 x 1115) = 0 Blk = kg dpn = ( ) = kg Dalam perhitungan kekuatan chasis ini dihitung berdasarkan anggapan sumbu dpn dan blk sebagai tumpuan sederhana (simple beam). Bidang gaya geser Bidang momen Gambar 27. Diagram bidang gaya geser dan bidang momen 33
10 MA2 = kg x 215 = kgmm MB2 = (476.7 ( )) ( x 800) = kgmm MC2 = (476.7 x ( )) + (31.8 x ( )) ( x 1115) ( x ( )) = 1.65 kgmm Gambar 28. Diagram bidang momen Kekuatan sumbu depan dan belakang dihitung terhadap gaya geser dan momen. Untuk perhitungannya, beban F diambil yang terbesar yaitu A2 = kg Ditinjau dari tegangan geser : Bahan yang digunakan S45C, σ b = 58 kg/mm2 Angka keamanan = 8, σ ijin = 58 = 7.25 kg/mm2 8 τ geser ijin bahan, τ g = 0.8 x σ ijin (Sularso, 2002) = 0.8 x 7.25 = 5.8 kg/mm2 = 58N/mm2 Gambar 29. Luasan penampang besi U 34
11 τ = F A < τ ijin x 10 = 950 = 5.02 N/mm2 <58 N/mm 2 Ditinjau dari tegangan bengkok σ = Mc I Mrangka ; dimana M = MA2 = kgmm I rangka = 1 12 BH3 bh 3 = x x 90 3 σ rangka = M x 1 2 H I Defleksi yang terjadi = mm 4 = x = 2.59 kg/mm 2 < σ b Dalam perhitungan defleksi ini, digunakan beban yang menimbulkan momen lentur terbesar yaitu dari bucket (A2) sebesar kg, g =10 m/s2. Deflesi yang diijinkan, y a = 5 mm Defleksi sebesar: P = A2 = kg 215 mm 585 mm a L b Gambar 30. Diagram benda bebas defleksi δ maks = P. a (L2 b 2 ) 3/2 9 3 L E I δ maks = x x 0.8 x 1.9 x x 2.4 x 10 8 = 2.92 x 10 3 m = 2.92 mm < y a Kesimpulan : rangka terbukti aman terhadap tegangan geser, tegangan bengkok dan defleksi. τ terjadi = 5.02 N/mm2 < 58 N/mm2 (τ ijin) σ terjadi ya maks = 2.59 kg/mm 2 < σ b = 2.92 mm < y a 35
12 4.4.3 Rancangan Roller Rangka Roller dipilih menggunakan besi square dengan ukuran 60 x 40 x 4 mm. beban yang diterima oleh rangka Roller diperlihatkan dalam Gambar 31. Wr Wr R1 R3 R4 R2 R1 R3 R2 Gambar 31. Sketsa beban pada rangka Roller Asumsi beban keritis terjadi pada R1 dan R3 atau R2 dan R3 saja yang menopang beban Wr. Sehingga dalam rancangan diasumsikan beban kritis yang harus diterima oleh rangka Roller adalah ½ dari beban yang diterima satu rangkaian trek kayu (Setyawan 2005) yaitu sebesar kg dengan panjang rangka 230 mm. Tebal plat yang digunakan adalah 4 mm, sehingga beban yang bekerja pada rangka Roller adalah: Dipilih bahan S45C σ b = 58 kg/mm 2 M = x ½ (230) = kg.mm I = 1 12 BH3 bh 3 = = σ x 1/2 40 = = 5.35 < σ b Poros pada rangka Roller akan menerima beban lentur murni, sehingga momen tahanan lentur dari poros dengan diameter ds adalah Z = (π/32)ds 3, sehingga diameter yang diperlukan dapat diperoleh dari: σ a ds = M π 32 ds = 10.2M 3 ds 3 1/ xm σ a Dengan asumsi Wpr = 0.5 Wr dan panjang poros yang digunakan adalah 300 mm maka: M = Wpr x l = x 95 = kg. mm 1/ ds = 30 x = mm Dipilih diameter poros Roller adalah 21 mm dengan batas minimum adalah mm. 36
13 4.4.4 Rancangan Tempat Duduk Pemilihan rangka Asumsi beban maksimun yang disangga oleh rangka tersebut adalah ½ dari beban total dan beban dikenakan di tepi rangka dudukan, maka akan memberikan beban lentur pada rangka dudukan tempat duduk. Persamaan yang digunakan menurut Nash (1983) adalah: σa I = Mc/I = I I I d Keterangan: σa : kekuatan lentur bahan (kg/mm 2 ) M : momen bahan (kg.mm) C : titik pusat bahan (kg.mm) I : inersia bahan (mm 4 ) (I l : Inersia bagian luar bahan, I d : Inersia bagian dalam bahan) Karena pipa tersebut berbentuk lingkaran, maka inersia bahan yang digunakan dihitung berdasarkan rumus inersia lingkaran yaitu: I= 1/64πD 4 σa M x 0.5 ((Dl Dd)) = 1 64 Dl4 1 x π xdd4 64 σa 10.2 M = D 3 3 l D d dengan menggunakan bahan yang memiliki σa = 24 kg/mm 2 dan faktor keamanan statik 6, maka σa yang digunakan sebesar 24/6 = 4 kg/mm 2, sehingga didapatkan diameter dalam maksimum lingkaran sebesar: 4 = 10.2 (75x50)/(50 3 D 3 d ) = D d 3 4 D d = D d = D d = mm Dengan demikian tebal besi pipa minimum yang digunakan sebesar 50 mm = 1.3 mm, apabila faktor tegangan maka menjadi 1.3 x 1.3 = 1.7 mm, yang dipergunakan adalah tebal 4 mm. Plat pengencang rangka Plat pengencang rangka terbuat dari plat besi panjang 140 dan lebar 60 mm. Beban yang diterima tidap dudukan sebesar 75 kg (setiap dudukan menerima beban ½ 37
14 dari berat total operator), maka tebal dari plat besi yang dibutuhkan dapat dihitung sebagai berikut: Dipilih bahan S45C σ b = 58 kg/mm 2 Lebar palt (b) = 60 mm M = 75 x 70 = 5250 kg.mm I = 1/12 (60)(h) 3 = 5h 3 mm 4 σ rangka = m x 1 2 h I 30 = 5250 x 1 2 h 5h 3 h = x 5 h = 6 mm Baud pengencang rangka Sebagai pengikat antara rangka dudukan tempat duduk dan rangka utama digunakan baud. Baud ini akan menerima beban geser, sehingga besarnya diameter baud yang dibutuhkan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut. Dipilih bahan S30C σb = 48 kg/mm 2 Faktor keamanan Sf = 2 W = 150 kg fc = 1.2 w = 1.2 x 150 = 180 σa = 48/2 = 24 kg/mm 2 τa = ( ) σa τa = (0.5) x 24 = 12 kg/mm 2 D baud 4 w π x σa D baud π x 24 = Diameter PuliMotor Penggerak Ratio putaran puli pada gigi transmisi 1 adalah 1:33, pada gigi transmisi 2 adalah 1: 9 dan pada gigi transmisi mundur (R) adalah 1:56. Dengan asumsi kecepatan maju transporter yang diinginkan adalah 0.5 m/det maka diameter pulimotor penggerak dihitung sebagai berikut. Rpm max motor penggerak = 3600 = 40 cm D roda 38
15 D puli V transporter = 20 cm = 0.5 m/det = 3000 cm/menit w roda = V /( π x D roda ) = 3000 /(π x 40) = rpm w puli = 33 x = rpm untuk menentukan D motor penggerak menggunakan persamaan sebagai berikut: n pulley = d engine n engine d pulley d engine = x20 = 5.25cm = inch Pemilihan diameter puli disesuaikan dengan persediaan dipasaran sehingga dipilih diameter puli2.5 inchi Kecepatan Maju Transporter Gigi transmisi 1 Kecepatan maju transporter pada gigi transmisi satu merupakan keadaan yang diasumsikan untuk mendapatkan dimensi (diameter) motor penggerak. Nilai dari kecepatan maju transporter pada gigi transmisi 1 adalah 0.5 m/det Gigi transmisi 2 wpuli sebesar rpm pada wmotor penggerak 3000 rpm sehingga w roda = /9 = rpm V roda = w roda x (π Droda ) = x (π 40) = cm/menit = 1.83 m/detik Gigi transmisi mundur (R) wpuli sebesar rpm pada wmotor penggerak 3000 rpm sehingga w roda = /56 = rpm V roda = w roda x (π Droda ) = x (π 40) = cm/menit = 0.29 m/detik Perhitungan Poros Idler Poros sprocket idler merupakan dudukan sprocket Crawler bagian depan. Poros ini merupakan poros gandar yaitu poros yang tidak mendapatkan beban punter, bahkan kadang-kadang tidak boleh berputar. Poros ini hanya mendapatkan beban lentur murni saja. Diasumsikan poros idler menerima beban statis sebesar 50% dari berat traktor (tanpa dudukan sepatu trek kayu, sepatu trek kayu, sprocket dan rantai), jarak pillow 39
16 block (g) 240 mm, jarak sprocket (j) 740 mm, tinggi titik berat dari poros (h) 615 mm, kecepatan kerja maksimum (v) 1.83 m/s dan jari jari sprocket (r) 150 mm. Dengan menggunakan diagram alir untuk perencanaan poros dengan beban lentur murni (Sularso dan Suga 1994) maka besarnya diameter poros idler yang dibutuhkan dapat diketahui. W h a M 1 j g Gambar 32. Diagram benda bebas poros idler = W x 4 = x = kg.mm 4 α v = 0.4 dan α L = 0.3 M 2 = α v x M 1 M 2 = 0.4 x = kg.mm a = 250 mm dan l (lebar sproket) = 23.5 mm P = α L x W P = 0.3 x = kg Q 0 = P x (h/j) = x (615/740) = kg R 0 = P x ( h + r ) / g R 0 = x ( ) /240 = kg M 3 = P x r + Q 0 ( a + l) R 0 x ( a +l ((j g/2)) = ( x 150) ( ) ( (740 (240/2)) = kg.mm Poros gandar, Kelas 2 SFA60A, σ wb = 60 kg/mm 2 Untuk poros pengikut, m = 1 d s [ 10.2 σ wb m M1 + M2 + M3 ] 1/ x 1 x d s [ σ b = m (M1+M2+M3) ds x σ b = 40 3 = kg/mm 2 n = σ wb 1 σ b n = 60 / = 1.43, baik. Ditentukan ds = 40 mm,bahan SFA60A ] 1/3 = mm diambil poros 40 mm 40
17 4.4.8 Perhitungan Poros Bak Diasumsikan poros bak menerima beban statis sebesar 315 kg, jarak hinge (g) 160 mm, jarak bearing (j) 282 mm, tinggi titik berat dari poros (h) 402 mm, kecepatan kerja maksimum (v) 1 m/s dan jari bearing (r) 45 mm. Dengan menggunakan diagram alir untuk perencanaan poros dengan beban lentur murni (Sularso dan Suga 1994) maka besarnya diameter poros bak yang dibutuhkan dapat diketahui. W h a Gambar 33. Diagram benda bebas poros bak j g M 1 = W x 4 = 315 x = kg.mm 4 α v = 0.4 dan α L = 0.3 M 2 = α v x M 1 M 2 = 0.4 x = 3843 kg.mm a = 61 mm dan l (lebar bearing) = 20 mm P = α L x W P = 0.3 x 315 = 94.5 kg Q 0 = P x (h/j) = 94.5 x (402/282) = kg R 0 = P x ( h + r ) / g R 0 = 94.5 x ( ) /160 = kg M 3 = P x r + Q 0 ( a + l) R 0 x ( a +l ((j g/2)) = (94.5 x 45) ( ) ( (( /2)) = ( - 121) = kg.mm Poros gandar kelas 4, σ wb = 15 kg/mm 2 (Sularso, 2004) Untuk poros pengikut, m = 1 d s [ 10.2 σ wb m M1 + M2 + M3 ] 1/ x 1 x d s [ σ b = m (M1+M2+M3) ds x σ b = 38 3 = kg/mm 2 n = σ wb 1 σ b n = 15 / = 1.3, baik. Ditentukan ds = 38 mm, kelas 4 ] 1/3 = mm diambil poros 38 mm 41
18 4.4.9 Perhitungan Belt Diasumsikan transporter bekerja 8 10 jam/hari. Motor penggerak adalah motor torak dengan daya 6.7 Hp atau 4.99 kw. Kecepatan putar motor penggerak 3000 rpm dan kecepatan puli transmisi Jarak poros motor penggerak poros transmisi adalah 386 mm. [Penyelesaian] P = 6.7 Hp = 4.99 kw, n 1 = 3000 rpm, i 3000/ , C = 386 mm f c = 1.7 P d = 1.7 x 4.99 = kw T 1 = 9.74 x 10 5 x (8.483/3000) = kg.mm T 2 = 9.74 x 10 5 x (8.483/787.81) = kg.mm Bahan poros S45C, σ B = 58 kg/mm 2 Sf 1 = 6, Sf 2 = 2 τ α = 58/(6 x 2) = 4.83 kg/mm 2 K t = 2 untuk beban tumbukan C b = 2 untuk lenturan d s1 = {(5.1/4.83) x 2 x 2 x } 1/3 = mm 24 mm d s2 = {(5.1/4.83) x 2 x 2 x } 1/3 = mm 38 mm Penampang sabuk-v tipe B d min = 145 mm d p = 145, D p = 145 x 3.81 = mm d k = x 5.5 = 156 mm D k = x 5.5 = mm 5 d s = 50 d B = 55 mm 3 5 d s = 73.3 D B = 75 mm x 145 x 3000 v = = < 30 m/s, baik 60 x = mm, baik 2 Dipakai tipe standar P 0 = ( ) = 6.39 kw ( )2 L = 2 x ( ) + = mm 4 x 386 Nomor nominal sabuk V: No.60 L = 1524 b = 2 x ( ) = mm C = = mm 8 θ = 180 o 57( ) = o, K 386 θ = N = = buah 6.39 x0.82 C i = 35 (mm) C t = 50 (mm) Tipe B, No. 60, 2 buah, d k = 156 (mm), D k = (mm) 42
19 4.5 Analisis Gaya dan Tenaga Ground Pressure Analisis gayatekan transporter pada tanah digunakan untuk penyesuaian luasan bidang kontak dengan keadaan lahan yang memiliki daya dukung yang rendah.gound Pressure unit harus lebih kecil dari daya dukung tanah (bearing capacity) yaitu 800 kpa. P = F A Dimana: F adalah berat keseluruhan transporter dikali gravitasi A adalah luasan bidang kontak transporter terhadap tanah A = 788 x 300 = mm 2 F = x 9.8 = N = kn P = = kpa Dari analisis tersebut diketahui ground pressure transporter34.35 kpa < bearing capacity lahan yaitu 800 kpa Beban dan tenaga transporter W = kg Koefisien traksi (C t ) = 0.6 (Sembiring dan Desrial 2005) Koefisien tahanan gelinding (C RR ) = 0.15 Daya motor penggerak (P) = 4.99KW Kecepatan maju 1 (V 1 ) = 0.5 m/det Kecepatan maju 2 (V 2 ) = 1.83 m/det Kecepatan mundur (V 3 ) = 0.29 m/det Daya tarik = P x Ct = 4.99 x 0.6 x 1000 = 2994 Watt Traksi pesnl. n daya tarik = V n Traksi pesnl. 1 = = 5988 N = kg Traksi pesnl. 2 = = N = kg Traksi pesnl. mundur = = N = kg Traksi bersih pesnl.1 = Traksi pesnl.1 = kg Sin α = α = o 43
20 4.5.3 Kesetimbangan Saat Bak Kosong Analisis kesetimbangan menggunakan kesetimbangan gaya dengan diagram benda bebas disajikan dalam Gambar 34. Analisis ini melihat kesetimbangan transporter ketika digunakan sebagai alat transportasi, sehingga bak tidak memuat TBS namun terdapat operator yang mengemudikan. 332 Wb Wg We Wk1 Wk2 x Gambar 34. Diagram benda bebas transporter saat bak kosong W b (l b ) = W g (l g ) + W e (l e ) + W k1 (l k1 ) + W k2 (l k2 ) 60 (x 332) = 63.6 (920 x) + 27 (1268 x) + 50 (1721 x) + 50 (1901 x) 60x = x x x x x = x = mm Titik kesetimbangan berada pada mm dari bagian depan rangka sehingga transporter masih dalam keadaan setimbang dan aman untuk digunakan sebagai transportasi operator Kesetimbangan Saat Siap Unloading Analisis ini untuk melihat kesetimbangna transporter saat dilakukan proses unloading yaitu ketika bak berada pada posisi siap dijungkitkan. Diagram benda bebas dari kesetimbangan gaya dapat dilihat dalam Gambar Wb Wg We Wk1 Wk2 x Gambar 35. Diagram benda bebastransporter saat siap unloading 44
21 W b (l b ) = W g (l g ) + W e (l e ) + W k1 (l k1 ) + W k2 (l k2 ) 630 (x 22) = 63.6 (920 x) + 27 (1268 x) x = x x x = x = mm Titik kesetimbangan berada pada mm dari bagian depan rangka sehingga transporter masih dalam keadaan setimbang atau dalam hal ini transporter tidak terbalik saat dilakukan proses unloading Analisi Gaya Pada Tempat Duduk 41 o Gambar 36. DBB tempat duduk ΣF y = 0 ΣM = 0 Momen pada R1 R2 x a W1 x b W2 x c = 0 R2 x a = W1 x b + W2 x c R2 Diketahui : W1 W2 a b c = = 50 kg = 50 kg = 530 mm = 644 mm = 824 mm 50 x x 824 R2 = 530 R2 = kg.mm R2 = W3 Momen pada R2 ΣM = 0 W1 x b + W2 x c R1 x a = 0 R1 x a = W1 x b + W2 x c W1 x b + W2 x c R1 = a = kg.mm W1 x b + W2 x c a = R2 45
22 4.6 Analisis Jangkauan Kemudi Pengoperasian kemudi transporter dilakukan oleh tangan (kecuali rem) meliputi clutch handle, speed change rod dan disc clutch handle.parameter perancangan posisi alat kendali disesuaikan dengan jenis daerah kerja yaitu daerah normal kerja dan daerah maksimum kerja. Daerah normal kerja merupakan radius dari jarak siku tangan - ujung jari tangan dan berada pada cm dari SRL (Seat Reference Level), yaitu jarak siku tangan pantat. Daerah maksimum kerja merupakan radius jangkauan ke depan yang berada pada cm dari SRL. Gambar 37. Sketsa daerah normal jangkauan tangan transporter. Gambar 38. Sketsa daerah maksimal jangkauan tangan transporter 46
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil rancangan transporter tandan buah segar tipe trek kayu dapat dilihat pada Gambar 39. Transporter ini dioperasikan oleh satu orang operator dengan posisi duduk. Besar gaya
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN Pada rancangan uncoiler mesin fin ini ada beberapa komponen yang perlu dilakukan perhitungan, yaitu organ penggerak yang digunakan rancangan ini terdiri dari, motor penggerak,
BAB IV PROSES, HASIL, DAN PEMBAHASAN. panjang 750x lebar 750x tinggi 800 mm. mempermudah proses perbaikan mesin.
BAB IV PROSES, HASIL, DAN PEMBAHASAN A. Desain Mesin Desain konstruksi Mesin pengaduk reaktor biogas untuk mencampurkan material biogas dengan air sehingga dapat bercampur secara maksimal. Dalam proses
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Dari konsep yang telah dikembangkan, kemudian dilakukan perhitungan pada komponen komponen yang dianggap kritis sebagai berikut: Tiang penahan beban maksimum 100Kg, sambungan
Perancangan Belt Conveyor Pengangkut Bubuk Detergent Dengan Kapasitas 25 Ton/Jam BAB III PERHITUNGAN BAGIAN-BAGIAN UTAMA CONVEYOR
BAB III PERHITUNGAN BAGIAN-BAGIAN UTAMA CONVEYOR 3.1 Data Perancangan Spesifikasi perencanaan belt conveyor. Kapasitas belt conveyor yang diinginkan = 25 ton / jam Lebar Belt = 800 mm Area cross-section
BAB III PERANCANGAN SISTEM TRANSMISI RODA GIGI DAN PERHITUNGAN. penelitian lapangan, dimana tujuan dari penelitian ini adalah :
BAB III PERANCANGAN SISTEM TRANSMISI RODA GIGI DAN PERHITUNGAN 3. Metode Penelitian Metode penelitian yang dipakai dalam perancangan ini adalah metode penelitian lapangan, dimana tujuan dari penelitian
BAB III PEMBAHASAN, PERHITUNGAN DAN ANALISA
BAB III PEMBAHASAN, PERHITUNGAN DAN ANALISA 3.1 Perancangan awal Perencanaan yang paling penting dalam suatu tahap pembuatan hovercraft adalah perancangan awal. Disini dipilih tipe penggerak tunggal untuk
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema Dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin pemotong krupuk rambak kulit ini adalah sumber tenaga motor listrik ditransmisikan kepulley 2 dan memutar pulley 3 dengan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambar 14. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar mesin sortasi buah manggis hasil rancangan dapat dilihat dalam Bak penampung mutu super Bak penampung mutu 1 Unit pengolahan citra Mangkuk dan sistem transportasi
IV. PENDEKATAN DESAIN A. KRITERIA DESAIN B. DESAIN FUNGSIONAL
IV. PENDEKATAN DESAIN A. KRITERIA DESAIN Perancangan atau desain mesin pencacah serasah tebu ini dimaksudkan untuk mencacah serasah yang ada di lahan tebu yang dapat ditarik oleh traktor dengan daya 110-200
Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam
SIDANG TUGAS AKHIR TM091476 Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam Oleh: AGENG PREMANA 2108 100 603 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN
19 BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN 31 Diagram Alur Proses Perancangan Proses perancangan mesin pengupas serabut kelapa seperti terlihat pada diagram alir berikut ini: Mulai Pengamatan dan Pengumpulan
IV. ANALISA PERANCANGAN
IV. ANALISA PERANCANGAN Mesin penanam dan pemupuk jagung menggunakan traktor tangan sebagai sumber tenaga tarik dan diintegrasikan bersama dengan alat pembuat guludan dan alat pengolah tanah (rotary tiller).
IV. PENDEKATAN RANCANGAN
IV. PENDEKATAN RANCANGAN 4.1. Rancang Bangun Furrower Pembuat Guludan Rancang bangun furrower yang digunakan untuk Traktor Cultivator Te 550n dilakukan dengan merubah pisau dan sayap furrower. Pada furrower
SISTEM MEKANIK MESIN SORTASI MANGGIS
SISTEM MEKANIK MESIN SORTASI MANGGIS Perancangan dan pembuatan mekanik mesin sortasi manggis telah selesai dilakukan. Mesin sortasi manggis ini terdiri dari rangka mesin, unit penggerak, unit pengangkut,
BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer
BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan Konsep perencanaan komponen yang diperhitungkan sebagai berikut: a. Motor b. Reducer c. Daya d. Puli e. Sabuk V 2.2 Motor Motor adalah komponen dalam sebuah kontruksi
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Flowchart Perencanaan Pembuatan Mesin Pemotong Umbi Proses Perancangan mesin pemotong umbi seperti yang terlihat pada gambar 3.1 berikut ini: Mulai mm Studi Literatur
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN BAGIAN BAGIAN CONVEYOR
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN BAGIAN BAGIAN CONVEYOR Dalam pabrik pengolahan CPO dengan kapasitas 60 ton/jam TBS sangat dibutuhkan peran bunch scrapper conveyor yang berfungsi sebagai pengangkut janjangan
BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Perencanaan Tabung Luar Dan Tabung Dalam a. Perencanaan Tabung Dalam Direncanakan tabung bagian dalam memiliki tebal stainles steel 0,6, perencenaan tabung pengupas
PENDEKATAN RANCANGAN Kriteria Perancangan Rancangan Fungsional Fungsi Penyaluran Daya
IV. PENDEKATAN RANCANGAN 4.1. Kriteria Perancangan Perancangan dynamometer tipe rem cakeram pada penelitian ini bertujuan untuk mengukur torsi dari poros out-put suatu penggerak mula dimana besaran ini
BAB III PROSES PERANCANGAN DAN GAMBAR
BAB III PROSES PERANCANGAN DAN GAMBAR 31Skema dan Prinsip kerja Prinsip kerja mesin penggiling serbuk jamu ini adalah sumber tenaga motor listrik di transmisikan ke diskmill menggunakan dan pulley dan
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Perencanaan Rangka Mesin Peniris Minyak Proses pembuatan mesin peniris minyak dilakukan mulai dari proses perancangan hingga finishing. Mesin peniris minyak dirancang
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Motor
BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Pada perancangan suatu kontruksi hendaknya mempunyai suatu konsep perencanaan. Untuk itu konsep perencanaan ini akan membahas dasar-dasar teori
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Perhitungan Sebelum mendesain mesin pemotong kerupuk hal utama yang harus diketahui adalah mencari tegangan geser kerupuk yang akan dipotong. Percobaan yang dilakukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Mesin Pan Granulator Mesin Pan Granulator adalah alat yang digunakan untuk membantu petani membuat pupuk berbentuk butiran butiran. Pupuk organik curah yang akan
BAB III PERANCANGAN. = 280 mm = 50,8 mm. = 100 mm mm. = 400 gram gram
BAB III PERANCANGAN 3.. Perencanaan Kapasitas Perajangan Kapasitas Perencanaan Putaran motor iameter piringan ( 3 ) iameter puli motor ( ) Tebal permukaan ( t ) Jumlah pisau pada piringan ( I ) iameter
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Kapasitas Alat pencacah Plastik Q = 30 Kg/jam 30 kg = jam x 1 jam 60 menit = 0,5 kg/menit = 500 gr/menit Dimana : Q = Kapasitas mesin B. Perencanaan Putaran Pisau Jika
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. TINJAUAN PUSTAKA Potato peeler atau alat pengupas kulit kentang adalah alat bantu yang digunakan untuk mengupas kulit kentang, alat pengupas kulit kentang yang
METODOLOGI PENELITIAN
14 METODOLOGI PENELITIAN Tahapan Penelitian Tahap-tahap penelitian terdiri dari : (1) proses desain, () konstruksi alat, (3) analisis desain dan (4) pengujian alat. Adapun skema tahap penelitian seperti
BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:
BAB II DASAR TEORI 2.1 Daya Penggerak Secara umum daya diartikan sebagai suatu kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah kerja, yang dinyatakan dalam satuan Watt ataupun HP. Penentuan besar daya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. digunakan untuk mencacah akan menghasikan serpihan. Alat pencacah ini
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Alat Pencacah plastik Alat pencacah plastik polipropelen ( PP ) merupakan suatu alat yang digunakan untuk mencacah akan menghasikan serpihan. Alat pencacah ini memiliki
BAB IV PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ALAT. Data motor yang digunakan pada mesin pelipat kertas adalah:
BAB IV PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ALAT 4.1 Perhitungan Rencana Pemilihan Motor 4.1.1 Data motor Data motor yang digunakan pada mesin pelipat kertas adalah: Merek Model Volt Putaran Daya : Multi Pro :
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan mesin peniris minyak pada kacang seperti terlihat pada gambar 3.1 berikut ini: Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa
BAB II DASAR TEORI Sistem Transmisi
BAB II DASAR TEORI Dasar teori yang digunakan untuk pembuatan mesin pemotong kerupuk rambak kulit adalah sistem transmisi. Berikut ini adalah pengertian-pengertian dari suatu sistem transmisi dan penjelasannya.
BAB II TEORI DASAR. unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya, excavator dibedakan menjadi. efisien dalam operasionalnya.
BAB II TEORI DASAR 2.1 Hydraulic Excavator Secara Umum. 2.1.1 Definisi Hydraulic Excavator. Excavator adalah alat berat yang digunakan untuk operasi loading dan unloading. Berdasarkan sistem penggeraknya,
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Girder Crane Kerangka girder crane adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk mendukung semua mekanisme operasi, perlengkapan listrik, motor dan peralatan pengendali
PERANCANGAN MOTORCYCLE LIFT DENGAN SISTEM MEKANIK
PROS ID I NG 0 1 HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK PERANCANGAN MOTORCYCLE LIFT DENGAN SISTEM MEKANIK Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Tamalanrea
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
A III PERENCANAAN DAN GAMAR 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Diagram alir adalah suatu gambaran utama yang dipergunakan untuk dasar dalam bertindak. Seperti halnya pada perancangan diperlukan suatu
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin spin coating adalah sumber tenaga motor listrik ditransmisikan ke poros hollow melalui pulley dan v-belt untuk mendapatkan
POROS dengan BEBAN PUNTIR
POROS dengan BEBAN PUNTIR jika diperkirakan akan terjadi pembebanan berupa lenturan, tarikan atau tekanan, misalnya jika sebuah sabuk, rantai atau roda gigi dipasangkan pada poros, maka kemungkinan adanya
Jumlah serasah di lapangan
Lampiran 1 Perhitungan jumlah serasah di lapangan. Jumlah serasah di lapangan Dengan ketinggian serasah tebu di lapangan 40 cm, lebar alur 60 cm, bulk density 7.7 kg/m 3 dan kecepatan maju traktor 0.3
BAB VI POROS DAN PASAK
BAB VI POROS DAN PASAK Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap mesin. Hampir semua mesin meneruskan tenaga bersamasama dengan putaran. Peranan utama dalam transmisi seperti itu dipegang
BAB II TEORI DASAR. BAB II. Teori Dasar
BAB II TEORI DASAR Perencanaan elemen mesin yang digunakan dalam peralatan pembuat minyak jarak pagar dihitung berdasarkan teori-teori yang diperoleh dibangku perkuliahan dan buku-buku literatur yang ada.
Bahan poros S45C, kekuatan tarik B Faktor keamanan Sf 1 diambil 6,0 dan Sf 2 diambil 2,0. Maka tegangan geser adalah:
Contoh soal: POROS:. Tentukan diameter sebuah poros bulat untuk meneruskan daya 0 (kw) pada putaran 450 rpm. Bahan diambil baja dingin S45C. Solusi: Daya P = 0 kw n = 450 rpm f c =,0 Daya rencana = f c
BAB III PERANCANGAN Perencanaan Kapasitas Penghancuran. Diameter Gerinda (D3) Diameter Puli Motor (D1) Tebal Permukaan (t)
BAB III PERANCANGAN 3.1. Perencanaan Kapasitas Penghancuran Kapasitas Perencanaan : 100 kg/jam PutaranMotor : 1400 Rpm Diameter Gerinda (D3) : 200 mm Diameter Puli Motor (D1) : 50,8 mm Tebal Permukaan
BAB IV ANALISA & PERHITUNGAN ALAT
BAB IV ANALISA & PERHITUNGAN ALAT Pada pembahasan dalam bab ini akan dibahas tentang faktor-faktor yang memiliki pengaruh terhadap pembuatan dan perakitan alat, gaya-gaya yang terjadi dan gaya yang dibutuhkan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.. Gambaran Umum Mesin pemarut adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu atau serta mempermudah pekerjaan manusia dalam hal pemarutan. Sumber tenaga utama mesin pemarut adalah
MESIN PERUNCING TUSUK SATE
MESIN PERUNCING TUSUK SATE NASKAH PUBLIKASI Disusun : SIGIT SAPUTRA NIM : D.00.06.0048 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 013 MESIN PERUNCING TUSUK SATE Sigit Saputra,
PERANCANGAN MESIN PENGUPAS KULIT KENTANG KAPASITAS 3 KG/PROSES
PERANCANGAN MESIN PENGUPAS KULIT KENTANG KAPASITAS 3 KG/PROSES TARTONO 202030098 PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Kampus Terpadu UMY, Jl. Lingkar Selatan
MESIN PEMINDAH BAHAN PERANCANGAN HOISTING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 5 TON PADA PABRIK PENGECORAN LOGAM
MESIN PEMINDAH BAHAN PERANCANGAN HOISTING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 5 TON PADA PABRIK PENGECORAN LOGAM SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik KURNIAWAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
24 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PERENCANAAN DAN PENJELASAN PRODUK Tahap perencanaan dan penjelasan produk merupakan tahapan awal dalam metodologi perancangan. Tahapan perencanaan meliputi penjelasan
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2013.
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2013. Penelitian ini dilakukan dua tahap, yaitu tahap pembuatan alat yang dilaksanakan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. girder silang ( end carriage ) yang menjadi tempat pemasangan roda penjalan.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Merencanakan girder Sturktur perencanaan crane dengan H-beam atau Wide Flange untuk kepastian 5 (lima) ton terdiri atas dua girder utama memanjang yang ujungnya diikatkan
BAB IV PERHITUNGAN RANCANGAN
BAB IV PERHITUNGAN RANCANGAN Pada rancangan mesin penghancur plastic ini ada komponen yang perlu dilakukan perhitungan, yaitu daya motor,kekuatan rangka,serta komponenkomponen elemen mekanik lainnya,perhitungan
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Maret 2013
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai dengan Maret 2013 di Laboratorium Daya dan Alat Mesin Pertanian, Jurusan Teknik Pertanian,
BAB III ANALISA PERHITUNGAN
BAB III ANALISA PERHITUNGAN 3.1 Data Informasi Awal Perancangan Gambar 3.1 Belt Conveyor Barge Loading Capasitas 1000 Ton/Jam Fakultas Teknoligi Industri Page 60 Data-data umum dalam perencanaan sebuah
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Gambar 3.1 : Proses perancangan sand filter rotary machine seperti terlihat pada Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa Perhitungan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cara Kerja Alat Cara kerja Mesin pemisah minyak dengan sistem gaya putar yang di control oleh waktu, mula-mula makanan yang sudah digoreng di masukan ke dalam lubang bagian
SETYO SUWIDYANTO NRP Dosen Pembimbing Ir. Suhariyanto, MSc
PERHITUNGAN SISTEM TRANSMISI PADA MESIN ROLL PIPA GALVANIS 1 ¼ INCH SETYO SUWIDYANTO NRP 2110 030 006 Dosen Pembimbing Ir. Suhariyanto, MSc PROGRAM STUDI DIPLOMA III JURUSAN TEKNIK MESIN Fakultas Teknologi
BAB IV PERHITUNGAN DAN HASIL PEMBAHASAN
BAB IV PERHITUGA DA HASIL PEMBAHASA Pada proses perancangan terdapat tahap yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu perancangan, yaitu tahap perhitungan. Perhitungan di lakukan untuk menentukan
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. WAKTU DAN TEMPAT Kegiatan Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juni hingga Desember 2011 dan dilaksanakan di laboratorium lapang Siswadhi Soepardjo (Leuwikopo), Departemen
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Prinsip Dasar Alat uji Bending 2.1.1. Definisi Alat Uji Bending Alat uji bending adalah alat yang digunakan untuk melakukan pengujian kekuatan lengkung (bending)
Lampiran 1. Analisis Kebutuhan Daya Diketahui: Massa silinder pencacah (m)
LAMPIRAN 74 75 Lampiran 1. Analisis Kebutuhan Daya Diketahui: Massa silinder pencacah (m) : 15,4 kg Diameter silinder pencacah (D) : 37,5cm = 0,375 m Percepatan gravitasi (g) : 9,81 m/s 2 Kecepatan putar
BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN
BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN 3.1. Diagram Alur Perencanaan Proses perencanaan pembuatan mesin pengupas serabut kelapa dapat dilihat pada diagram alur di bawah ini. Gambar 3.1. Diagram alur perencanaan
Hopper. Lempeng Panas. Pendisribusian Tenaga. Scrubber. Media Penampung Akhir
IV. PENDEKATAN RANCANGAN dan ANALISIS TEKNIK 4.1. Rancangan Fungsional Rancangan fungsional merupakan penjelasan mengenai fungsi-fungsi yang ada, yang dilakukan oleh sistem atau dalam model pemisah ini
PERENCANAAN MESIN PENGIRIS PISANG DENGAN PISAU (SLICER) VERTIKAL KAPASITAS 120 KG/JAM
PERENCANAAN MESIN PENGIRIS PISANG DENGAN PISAU (SLICER) VERTIKAL KAPASITAS 120 KG/JAM SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana (S-1) Program Studi Teknik Mesin Fakultas
BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN DESAIN RANGKA DAN BODY. Perhitungan Kekuatan Rangka. Menghitung Element Mesin Baut.
BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN DESAIN RANGKA DAN BODY.1 Diagram Alir Proses Perancangan Data proses perancangan kendaraan hemat bahan bakar seperti terlihat pada diagram alir berikut ini : Mulai Perhitungan
MESIN PEMINDAH BAHAN
MESIN PEMINDAH BAHAN PERANCANGAN DAN ANALISA PERHITUNGAN BEBAN ANGKAT MAKSIMUM PADA VARIASI JARAK LENGAN TOWER CRANE KAPASITAS ANGKAT 3,2 TON TINGGI ANGKAT 40 METER DAN RADIUS LENGAN 70 METER SKRIPSI Skripsi
IV. ANALISIS TEKNIK. Pd n. Besarnya tegangan geser yang diijinkan (τ a ) dapat dihitung dengan persamaan :
A. POROS UTAMA IV. ANALISIS TEKNIK Menurut Sularso dan K. Suga (1997), untuk menghitung besarnya diameter poros yang digunakan adalah dengan menentukan daya rencana Pd (kw) dengan rumus : Pd = fcp (kw)...
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 hingga bulan November 2011. Desain, pembuatan model dan prototipe rangka unit penebar pupuk dilaksanakan
PERENCANAAN MEKANISME PADA MESIN POWER HAMMER
PERENCANAAN MEKANISME PADA MESIN POWER HAMMER Oleh: Ichros Sofil Mubarot (2111 030 066) Dosen Pembimbing : 1. Ir. Eddy Widiyono, MSc. NIP. 19601025 198701 1 001 2. Hendro Nurhadi, Dipl.-lng.,Ph.D NIP.
Perancangandanpembuatan Crane KapalIkanUntukDaerah BrondongKab. lamongan
Perancangandanpembuatan Crane KapalIkanUntukDaerah BrondongKab. lamongan Latar Belakang Dalam mencapai kemakmuran suatu negara maritim penguasaan terhadap laut merupakan prioritas utama. Dengan perkembangnya
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan konstruksi mesin pengupas serabut kelapa ini terlihat pada Gambar 3.1. Mulai Survei alat yang sudah ada dipasaran
BAB IV ANALISIS TEKNIK MESIN
BAB IV ANALISIS TEKNIK MESIN A. ANALISIS PENGATUR KETINGGIAN Komponen pengatur ketinggian didesain dengan prinsip awal untuk mengatur ketinggian antara pisau pemotong terhadap permukaan tanah, sehingga
ALTERNATIF DESAIN MEKANISME PENGENDALI
LAMPIRAN LAMPIRAN 1 : ALTERNATIF DESAIN MEKANISME PENGENDALI Dari definisi permasalahan yang ada pada masing-masing mekanisme pengendali, beberapa alternatif rancangan dibuat untuk kemudian dipilih dan
BAB II DASAR TEORI. 1. Roda Gigi Dengan Poros Sejajar.
BAB II DASAR TEORI 2.1 Roda Gigi Roda gigi digunakan untuk mentransmisikan daya besar dan putaran yang tepat. Roda gigi memiliki gigi di sekelilingnya, sehingga penerusan daya dilakukan oleh gigi-gigi
ANALISIS RANCANGAN. penggetar. kopling. blade. motor listrik. beam
IV. ANALISIS RANCANGAN A. RANCANGAN FUNGSIONAL Ide rancangan penggetaran mole plow adalah mengaplikasikan forced vibrations pada kantilever beam dari mole plow. Beam mole plow terbuat dari baja S45C yang
METODE PENELITIAN. Mulai. Identifikasi masalah. Pengembangan dan perumusan ide desain. Tidak Penetapan mekanisme.
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2012 sampai Oktober 2012 di Laboraturium Teknik Mesin dan Otomasi, Departemen Teknik Mesin dan Biosistem,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Mesin Gerinda Batu Akik Sebagian pengrajin batu akik menggunakan mesin gerinda untuk membentuk batu akik dengan sistem manual. Batu gerinda diputar dengan menggunakan
V.HASIL DAN PEMBAHASAN
V.HASIL DAN PEMBAHASAN A.KONDISI SERASAH TEBU DI LAHAN Sampel lahan pada perkebunan tebu PT Rajawali II Unit PG Subang yang digunakan dalam pengukuran profil guludan disajikan dalam Gambar 38. Profil guludan
SABUK ELEMEN MESIN FLEKSIBEL 10/20/2011. Keuntungan Trasmisi sabuk
0/0/0 ELEMEN MESIN FLEKSIBEL RINI YULIANINGSIH Elemen mesin ini termasuk Belts, Rantai dan ali Perangkat ini hemat dan sering digunakan untuk mengganti gear, poros dan perangkat transmisi daya kaku. Elemen
Tujuan Pembelajaran:
P.O.R.O.S Tujuan Pembelajaran: 1. Mahasiswa dapat memahami pengertian poros dan fungsinya 2. Mahasiswa dapat memahami macam-macam poros 3. Mahasiswa dapat memahami hal-hal penting dalam merancang poros
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alir Proses Perencanaan Proses perencanaan mesin pembuat es krim dari awal sampai akhir ditunjukan seperti Gambar 3.1. Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa Perhitungan
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alur Proses Perencanaan Proses perencanaan mesin modifikasi camshaft ditunjukkan pada diagram alur pada Gambar 3.1: Mulai Pengamatan dan pengumpulan data Perencanaan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka Conveyor merupakan suatu alat transportasi yang umumnya dipakai dalam proses industri. Conveyor dapat mengangkut bahan produksi setengah jadi maupun hasil produksi
LAPORAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN MESIN ROUGH MAKER DIAMETER INTERNAL PIPA POLYPROPYLENE Ø 600
LAPORAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN MESIN ROUGH MAKER DIAMETER INTERNAL PIPA POLYPROPYLENE Ø 600 Diajukan Guna Memenuhi Syarat Kelulusan Mata Kuliah Tugas Akhir Pada Program Sarjana Strata Satu (S1) Disusun
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Poros Poros merupakan bagian yang terpenting dari suatu mesin. Hampir semua mesin meneruskan tenaga dan putarannya melalui poros. Setiap elemen mesin yang berputar, seperti roda
Rancang Bangun Alat Uji Impak Metode Charpy
Rancang Bangun Alat Uji Impak Metode Charpy Amud Jumadi 1, Budi Hartono 1, Gatot Eka Pramono 1 1 Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor Corresponding author : [email protected]
TRANSMISI RANTAI ROL
TRANSMISI RANTAI ROL Penggunaan: transmisi sabuk > jarak poros > transmisi roda gigi Rantai mengait pada gigi sproket dan meneruskan daya tanpa slip perbandingan putaran tetap Keuntungan: Mampu meneruskan
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema Dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin pencacah rumput ini adalah sumber tenaga motor listrik di transmisikan ke poros melalui pulley dan v-belt. Sehingga pisau
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Singkat Alat Alat pembuat mie merupakan alat yang berfungsi menekan campuran tepung, telur dan bahan-bahan pembuatan mie yang telah dicampur menjadi adonan basah kemudian
ANALISA KEMAMPUAN ANGKAT DAN UNJUK KERJA PADA OVER HEAD CONVEYOR. Heri Susanto
ANALISA KEMAMPUAN ANGKAT DAN UNJUK KERJA PADA OVER HEAD CONVEYOR Heri Susanto ABSTRAK Keinginan untuk membuat sesuatu hal yang baru serta memperbaiki atau mengoptimalkan yang sudah ada adalah latar belakang
Kentang yang seragam dikupas dan dicuci. Ditimbang kentang sebanyak 1 kg. Alat pemotong kentang bentuk french fries dinyalakan
Lampiran 1. Prosedur penelitian Kentang yang seragam dikupas dan dicuci Ditimbang kentang sebanyak 1 kg Alat pemotong kentang bentuk french fries dinyalakan Kentang dimasukkan ke dalam mesin melalui hopper
BAB II LANDASAN TEORI
II-1 BAB II LANDASAN TEORI Suatu sistem penggerak yang terdapat dalam sebuah mobil tidak lepas dari peranan motor penggerak dan transmisi sebagai penghantar putaran dari motor penggerak sehingga mobil
Lampiran 1 Analisis aliran massa serasah
LAMPIRAN 84 85 Lampiran 1 Analisis aliran massa serasah 1. Aliran Massa Serasah Tebu 3 a. Bulk Density serasah tebu di lahan, ρ lahan = 7.71 kg/m b. Kecepatan maju mesin, Vmesin = 0.3 m/s c. Luas penampang
Mulai. Studi Literatur. Gambar Sketsa. Perhitungan. Gambar 2D dan 3D. Pembelian Komponen Dan Peralatan. Proses Pembuatan.
BAB III PERANCANGAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alur Proses Perancangan Proses perancangan mesin pemipil jagung seperti terlihat pada Gambar 3.1 seperti berikut: Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa Perhitungan
PERENCANAAN MESIN BENDING HEAT EXCHANGER VERTICAL PIPA TEMBAGA 3/8 IN
PERENCANAAN MESIN BENDING HEAT EXCHANGER VERTICAL PIPA TEMBAGA 3/8 IN Dani Prabowo Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta E-mail: [email protected] Abstrak Perencanaan ini
Tugas Akhir TM
Tugas Akhir TM 090340 REDESAIN PERENCANAAN SISTEM CONTINUOSLY VARIABLE TRANSMISSION (CVT) DAN PENGARUH BERAT ROLLER TERHADAP KINERJA PULLEY PADA SEPEDA MOTOR MATIC Program Studi D3 Teknik Mesin Fakultas
BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alur Perencanaan Proses perancangan alat pencacah rumput gajah seperti terlihat pada diagram alir berikut ini: Mulai Pengamatan dan Pengumpulan Perencanaan Menggambar
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. DESAIN PENGGETAR MOLE PLOW Prototip mole plow mempunyai empat bagian utama, yaitu rangka three hitch point, beam, blade, dan mole. Rangka three hitch point merupakan struktur
