Jurnal Pendidikan IPA Indonesia
|
|
|
- Ari Sutedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 JPII 1 (2) (2012) Jurnal Pendidikan IPA Indonesia KEMAMPUAN SUBJECT SPECIFIC PEDAGOGY CALON GURU BIOLOGI PESERTA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESIONAL GURU (PPG) YANG BERLATAR BELAKANG BASIC SAINS PRA DAN POST WORKSHOP Yenny Anwar 1,2 *, Nuryani Y. Rustaman 3 & Ari Widodo 3 1 Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia 2 Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia 3 Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia Diterima: 14 Juni Disetujui: 22 Juli Dipublikasikan: Oktober 2012 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan/mendeskripsikan kemampuan Subjek Spesifik Pedagogi mahasiswa calon guru biologi yang mengikuti program Pendidikan Profesional Guru (PPG) angkatan melalui pendekatan konsekutif. Hasil sementara menunjukkan bahwa Kemampuan Subject Specific Pedagogy mahasiswa calon guru biologi yang berlatar belakang Biologi murni program Basic Science masih minim, dapat dilihat dari hasil CoRes dan PaP-eRs buatan mereka sebelum mengikuti workshop. Setelah workshop semester I diperoleh hasil yang menunjukkan peningkatan yang cukup baik. ABSTRACT This study aimed to describe / describes the ability of prospective students Subject Specific Pedagogy biology teachers who follow the Professional Teacher Education Program (PTEP) armed consecutive approach. Preliminary results indicate that the ability of prospective students Subject Specific Pedagogy biology teacher who belongs to the pure Biology Basic Science program is minimal, it can be seen from the cores and pap-ers made them before the workshop. After the workshop the first half of the obtained results that showed a pretty good improvement. Keywords: PCK; PPG; CNS; consecutive; Biology; Basic Science Program 2012 Prodi Pendidikan IPA FMIPA UNNES Semarang PENDAHULUAN Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Pekerjaan profesional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam yang hanya mungkin diperoleh dari lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai, sehingga kinerjanya didasarkan pada keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara *Alamat korespondensi: [email protected] ilmiah. Untuk itu seorang guru yang professional harus disiapkan sejak awal, yaitu ketika mereka masih menjadi mahasiswa calon guru. Seorang calon guru harus mampu merencanakan dan menggabungkan strategi mengajar IPA yang sesuai untuk pelajar dengan beragam latar belakang dan gaya belajar (NSTA, 1998). Untuk memenuhi kebutuhan seorang guru yang profesional tersebut maka didesain suatu program pendidikan guru melalui pendekatan konsekutif, yang tujuannya adalah memadukan pengetahuan materi ajar dan pengetahuan pedagogik. Guru profesional menurut Undang-
2 158 Yenny Anwar dkk. / JPII 1 (2) (2012) Undang no 14 tahun 2005 harus berpendidikan S1 atau DIV ditambah pendidikan profesi tanpa mempersoalkan latar belakang dari pendidikan atau nonpendidikan, namun tetap mempertimbangkan kecenderungan perubahan dan tuntutan pendidikan pada masa yang akan datang. Untuk itu desain pendidikan profesional guru dipilah menjadi pendidikan profesi guru (PPG) untuk yang berlatar belakang S1 pendidikan dan pendidikan profesi guru berlatar belakang S1 atau DIV nonkependidikan. Desain program pendidikan Profesional Guru ini merujuk pada pembelajaran yang menekankan content-based dan content-specific pedagogy untuk menyiapkan mahasiswa calon guru agar mampu mengajar di lingkungan para peserta didik yang multikultural (Kartadinata, 2010). Keseluruhan program harus mendukung penyiapan calon guru yang mampu mengemas dan mengimplementasikan pembelajarannya bekerja sama dengan pendidik lain. Desain program Pendidikan Profesional Guru (PPG) yang merujuk pada content-based dan content-specific pedagogy ini sudah lama dinyatakan oleh Shulman (1987), bahwa seorang guru profesional harus memiliki pengetahuan dan kemampuan Pedagogical Content Knowledge (PCK) yang baik. Sebagai agen pengubah (the agent of change) seyogianya para guru terus mengembangkan proses mengajarnya di kelas dan calon guru terus melatih kemampuannya dalam merancang pembelajaran, salah satunya dengan memahami PCK. Pedagogical Content Knowledge merupakan pengetahuan yang harus dipahami oleh seorang guru dan calon guru karena seorang guru harus familiar dengan konsep alternatif dan kesulitan yang akan dihadapi siswa yang beragam latar belakang serta dapat mengorganisasikan, menyusun, menjalankan dan menilai materi subjek, yang semuanya itu terangkum dalam PCK (Shulman, 1986). PCK merupakan pengetahuan, pengalaman dan keahlian yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman di kelas (Baxter & Lederman, 1999; National Research Council, 1996; Van Driel et al., 2001). PCK merupakan kumpulan pengetahuan yang terintegrasi, konsep, kepercayaan dan nilai yang dikembangkan guru pada situasi mengajar (Marks, 1990; Fernandez-Balboa & Stiehl, 1995; Van Driel, Verloop, & de Vos, 1998; Gess-Newsome, 1999; Loughran, Milroy, Berry, Gunstone, & Mulhall, 2001; Loughran, Erry & Mulhall, 2004 dalam Lee and Julie, 2008). The National Science Education Standards (National Research Council, 1996) menyatakan: incorporated the concept of PCK as an essential component of professional development for science teachers. A teacher s Understanding of how to help students understand specific subject matter (Magnusson, Krajcik, & Borko, 1999). Shulman s (1986, 1987) suggestion that teachers needed strong PCK to be the best possible teachers has resulted in a range of studies into PCK in pre-service science teacher education. Menurut Shulman (1987) PCK merupakan pengetahuan yang penting dan harus dimiliki oleh seorang guru. Hasil beberapa penelitian dikemukakan bahwa PCK merupakan pengetahuan yang sangat penting dan harus dimiliki oleh seorang guru. Melalui program pemenuhan kebutuhan seorang guru yang profesional maka didesain suatu program pendidikan profesional guru melalui pendekatan konsekutif, yang tujuannya adalah memadukan pengetahuan materi ajar dan pengetahuan pedagogik (Kartadinata, 2010). Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa mahasiswa yang mengikuti program pendekatan konsekutif, kemampuan pedagoginya minim. Berdasarkan beberapa alasan tersebut, maka dirasa perlu untuk melakukan penelitian tentang perkembangan kemampuan PCK calon guru yang mengikuti program Pendidikan Profesi Guru dengan pendekatan konsekutif. Tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan/mendeskripsikan kemampuan Subjek Spesifik Pedagogi mahasiswa calon guru biologi yang mengikuti program pendidikan profesional guru (PPG) yang telah mengikuti matrikulasi, workshop dan peer teaching. METODE Penelitian dilakukan di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung, dengan melibatkan mahasiswa calon guru yang sedang mengikuti Program Pendidikan Profesional Guru PPG (konsekutif) sebagai subjek penelitian. Sampel dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Setelah diperoleh hasil penilaian pertama, akan ditentukan tingkat kemampuan siswa (tingkat I,II,III). Mahasiswa dengan kategori tersebut akan dijadikan sampel selanjutnya. Penelitian ini termasuk penelitian non ekperimental (Nonexperimental Research). Perkembangan ini dilakukan dengan menggunakan metode longitudinal study. Penelitian diawali dengan melakukan penelusuran dokumen yang meliputi kurikulum dan silabus pada program pendidikan profesional guru melalui pendekatan konsekutif. Selain itu partisipan diberi kuesioner untuk mengetahui latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar para partisipan. Pada program dengan pendekatan konse-
3 Yenny Anwar dkk. / JPII 1 (2) (2012) kutif, sebelum mengikuti program PPG partisipan diminta untuk membuat CoRes dan PaP-eRs untuk topik transportasi zat melintasi membran, yang tujuannya untuk melihat kemampuan awal mereka. Saat pengerjaan partisipan tidak diperbolehkan bekerjasama dan tidak boleh membuka buku. Pada pertengahan semester I, dan pada akhir semester I mahasiswa diminta kembali membuat CoRes dan PaP-eRs. Beberapa hari setelah pelaksanaan, dilakukan wawancara terhadap partisipan, berkaitan dengan CoRes dan PaP-eRs yang mereka buat. Data hasil penelitian dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan desain konkuren triangulasi (Creswell, 2007). Proses pengumpulan data dan analisis data dilakukan secara terus menerus melalui proses cek dan recek, analisis dan re-analisis, sehingga diperoleh hasil perkembangan secara menyeluruh. HASIL DAN PEMBAHASAN Mahasiswa yang telah menamatkan S1nya pada program Basic Sains melanjutkan Program Pendidikan Profesi Guru selama tiga semester atau selama 18 bulan. Satu semester diberikan pembekalan ilmu-ilmu pedagogi (matrikulasi) yang kemudian dilanjutkan dengan workshop pembuatan silabus dan RPP serta peer teaching selama satu semester berikutnya (semester kedua). Pada semester ketiga mahasiswa akan kesekolah-sekolah untuk melakukan praktik mengajar (PPL). Tabel 1. Mata kuliah Matrikulasi Program Pendidikan Profesional Guru Mata Kuliah Analisis Kurikulum 2 Belajar dan Pembelajaran Biologi 4 Metodologi Penelitian 2 Evaluasi Pembelajaran Biologi 2 Kapita Selekta Biologi 4 Media Pembelajaran Biologi 2 Perencanaan Pembelajaran Biologi 2 Perkembangan Peserta Didik 2 SKS Jumlah 20 Tujuan matrikulasi adalah memberikan bekal pengetahuan pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan bahan ajar, pemahaman tentang peserta didik, penguasaan tentang peserta didik, penguasaan pembelajaran yang mendidik, serta pengembangan kepribadian dan keprofesionalan. Melalui pembekalan tersebut diharapkan mahasiswa yang telah lulus program matrikulasi memiliki bekal pengetahuan untuk merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran serta menindak lanjuti hasil penilaian, proses bimbingan dan latihan peserta didik serta cara melakukan penelitian dan cara pengembanagn profesionalitas secara berkelajutan. Pelaksanaan PPG mengikuti sistem Blok, yaitu pelaksanaan program tersebut ditentukan satu semester. Program pada semester pertama berupa workshop Subject Spesific Pedagogik (SSP), sedangkan program pada semester kedua berupa Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). Program PPL dilaksanakan penuh di sekolah mitra yang guru-gurunya terlibat pada semester pertama. Tahapan Workshop Pleno I 1. Untuk peserta baru diawali dengan penjelasan umum program PPG, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. 2. Diskusi kelompok dibimbing oleh dosen pembimbing (DP), dosen mata pelajaran, dan guru pamong (GP). Diskusi yang dilakukan untuk membahas; a. Pemilihan tema/materi pembelajaran b. Sinkronisasi tema/ materi dengan SK dan KD c. Pemantapan materi sesuai bidang studi (jika diperlukan) difasilitasi Dosen pembimbing dan dosen mata pelajaran d. Pemilihan pendekatan/metode/ strategi pembelajaran. 3. Kerja kelompok/mandiri mengembangkan perangkat RPP a. Mengembang indikator dan tujuan pembelajaran b. Merancang evaluasi pembelajaran c. Merancang bahan ajar ; memilih buku siswa, LKS, dan Media pembelajaran d. Merancang skenario pembelajaran/ RPP 4. Presesntasi Silabus dan RPP untuk beberapa mata pelajaran Tahapan Workshop Pleno 2 1. Presentasi hasil kerja kelompok/mandiri, berupa peerteaching 2. Masukan dari Guru pamong dan teman sejawat 3. Revisi RPP 4. Persetujuan RPP oleh Dosen Pembimbing dan Guru Pamong 5. Peerteaching 6. Refleksi dan revisi, menghasilkan RPP siap
4 160 Yenny Anwar dkk. / JPII 1 (2) (2012) untuk Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Dari hasil nampak bahwa pada tes pertama hanya satu orang yang membuat PaP-eRs, sedangkan yang lain belum dapat mengaitkan materi dengan pedagogi. Hal tersebut diduga disebabkan calon guru baru memperoleh materi mengenai strategi pembelajaran, dan belum bisa mengaitkannya dengan konsep tertentu. Pada tes kedua, setelah calon guru melakukan workshop tentang silabus dan RPP secara berkelompok dan mandiri, nampak ada peningkatan pada PaP-eRS maupun CoResnya. Calon guru sudah bisa mengkaitkan strategi mengajar dengan konten tertentu, namun semua calon guru tersebut belum bisa mengkaitakn strategi, dengan karakteristik dari konsep/konten tersebut. Pada tes ketiga sebagian sudah ada beberapa calon guru yang membuat karakteristik materi kedalam PaP-eRs dan telah mengkaitkannya dengan CoRes. Hal ini memperlihatkan bahwa setelah diadakan peer teaching, calon guru menyadari bahwa karakteristik materi merupakan bagian penting dalam menentukan metode untuk mengajarkan suatu materi. Pada tes pertama, dari 22 orang partisipan hanya 4 orang calon guru yang menuliskan difusi berfasilitas termasuk ide penting yang harus diajarkan kepada siswa, sedangkan 18 orang calon guru tidak menuliskan difusi berfasilitas merupakan ide yang harus diberikan. Namun pada tes kedua hanya satu orang yang konsisten menganggap difusi berfasilitas merupakan hal yang Tabel 2. Kemampuan Calon Guru Tentang Materi Khusus dan Pedagoginya Kode I Nilai Ide/Konsep CoRes PaP-eRs II III I II III I II III Total I Total II Total III A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W
5 Yenny Anwar dkk. / JPII 1 (2) (2012) Gambar 1. Diagram Kemampuan Calon Guru Tentang Materi Khusus dan Pedagoginya penting, sedangkan pada tes ketiga ada tiga orang yang menuliskan difusi berfasilitas merupakan konsep yang penting. Jadi sebanyak 19 orang tidak menuliskan difusi berfasilitas termasuk konsep penting yang harus diberikan kepada siswa. Dari hasil tes pertama tampak ada satu mahasiswa yang memperoleh nilai nol untuk setiap aspek, mahasiswa tersebut tidak mengisikan materi yang akan diajarkan mengenai transportasi zat, melainkan tentang struktur sel. Hasil wawancara mengungkapkan bahwa mahasiswa tersebut lupa ide-ide apa yang berkaitan dengan transportasi zat. Dari hasil juga menunjukkan hanya seorang mahasiswa yang mengalami penurunan dari tes pertama. Hal tersebut disebabkan mahasiswa yang bersangkutan mengikuti tes susulan dan hasil setelah diwawancarai pengisian tidak konsentrasi karena terlalu banyak tugas lain yang harus diselesaikan, sedangkan mahasiswa lainnya mengalami peningkatan. Dari hasil tes kedua tampak kemampuan mereka mengenai konten spesifik dan pedagoginya masih minim terlihat dari perolehan hasil yang belum mencapai 50% dari nilai yang sebenarnya. Hasil tes ketiga menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik pada semua calon guru basic sains, hal ini terlihat dari skor peningkatan yang mereka peroleh. Tetapi hanya beberapa siswa yang memperoleh skor mendekati sangat baik, dari hasil wawancara ternyata calon guru tersebut memperoleh materi tentang sel pada saat workshop dan peer teaching. Kemampuan mahasiswa mengenai materi spesifik menunjukkan adanya peningkatan yang baik. Peningkatan terlihat setelah calon guru melakukan workshop dan terjadi peningkatan kembali setelah calon guru melakukan beberapa kali peer teaching. Peningkatan tidak hanya terjadi pada CoRes saja tetapi pada PaP-eRs juga terjadi peningkatan yang baik. Pada tes pertama hanya seorang calon guru yang mampu membuat beberapa pedagogi yang terkait cara mengajarkan materi transportasi zat. Pada tes kedua 80 % calon guru telah mengisi metode untuk mengajarkan materi transportasi zat melintasi membran, walaupun belum ada calon guru yang menuliskan karakteristik materinya. Pada tes ketiga ada beberapa calon guru yang mengaitkan antara Co- Res dengan metode mengajar dan karakteristik materi. Para calon guru tersebut belum terlatih untuk mengupas ide-ide atau konsep-konsep penting mana yang harus disampaikan kepada siswa, mereka juga belum bisa mengaitkan ide-ide mana yang belum saatnya dipelajari oleh siswa. Calon guru juga belum bisa mengkaitkan antara cara mengajar dengan karakteristik materi, ini terlihat dari hasil PaP-eRs yang mereka buat, belum ada satupun calon guru yang membuat catatan-catatan tentang karakteristik materi pada PaP-eRs. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sementara bahwa kemampuan materi/subjek spesifik pedagogi calon guru biologi yang mengikuti program Pendidikan Profesi Guru masih minim, namun setelah mengikuti workshop dan peer teaching kemampuan Subjek Spesifik Pedagogi calon guru mengalami peningkatan yang cukup baik. Namun hanya lima orang calon guru yang mengalami peningkatan yang baik, tiga dari lima calon guru tersebut membahas materi sel pada saat workshop dan peer teaching. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, diantaranya latar belakang mereka yang basic science, mereka baru memperoleh matrikulasi (padat) selama satu semester, ditambah
6 162 Yenny Anwar dkk. / JPII 1 (2) (2012) empat bulan melakukan workshop. Selain faktor tersebut, juga disebabkan pola-pola pembelajaran yang diberikan tidak memberikan penekanan pada kemampuan PCK secara umum dan kemampuan subjek spesifik Pedagogi secara khusus. DAFTAR PUSTAKA Arends, R. (2008) Learning to Teach. New York: Mc- Graw Hill Companies. Bon-Robinson, J. (2005), Identifying pedagogical content knowledge (PCK) in the chemistry laboratory, Chemistry Education Research and Practice, 6 (2), Child, A & McNicholl, J. (2007). Investigating the relationship between subject content knowledge and pedagogical practice through the analysis of classroom discourse. International Journal of Science Education. 29: Cooper, J. M. (ed.) (1990). Classroom Teaching Skill. Lexington, Massa chusetts Toronto: D.C. Heath and Company. Creswell, John W & Clark, Vicki LP. (2007) Designing and Conducting Mixed Methods Research. London: Sage Publications. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (2004) Strategi Jangka Panjang Pendidikan Tinggi (HELTS) Gall, D, M. et al. (2002) Educational Research. Boston, United States of America : Library of Congress Cataloging Publication Data. Jong, S & Chuan, S. (2009). Develoing in-service Science Teachers PCK through a peer coachingbased model. Education Research. 3: Kartadinata, S. (2010). Re-desain Pendidikan Profesional Guru. Universitas Pendidikan Indonesia Press. Koppelman, H. (2008). Pedagogical content knowledge and educational cases in computer science: An exploration, Proceeding of the Informing Science and IT Education Conference. Lee, E & Luft, J. (2008), Experienced Secondary Science Teacher s representation of Pedagogical Content Knowledge. International Journal of Science Education. 30 : Loughran, J., Berry, A., & Mulhall, P. (2006), Understanding and developing Science Teacher s Pedagogical Content Knowledge, Rotterdam: Sense Publishers. Loughran, J., Milroy, P., Berry A, Gunstone,R., & Mulhall P. (2001) Documenting Science Teacher s Content Knowledge Through Pap-eRs. Research in Science Education 31: Loughran, J. Muhall, P., & Berry, A. (2008), Exploring Pedagogical Content Knowledge in Science Teacher Education. International Journal of Science Education. 30 : Major, C & Palmer B. (2006). Reshaping teaching and learning: the transformation of faculty Pedagogical Content Knowledge. Springer. 51: Moreland, J et al. (2006) Developing Pedagogical Content Knowledge for the New Sciences: The Example of biotekchnology. Teacher Education journal. 17: National Research Council, (1996), National Science Education Standards, Washington DC: National Academy Press NSTA (1998), Standards for Science Teacher Preparation. National Science Teachers Association in collaboration with the association for the Education of Teachers in Science Padilla K., Ponce-de-Leon A, Rembado F.M.,& Garritz A., (2008) Understanding Professors Pedagogical Content Knowledge : The Case of amount of substance. International Journal of Science Education. 30 : Shulman, L.S. (1986). Those who understand: Knowledge growth in teaching. Educational Researcher, 15(2), Shulman, L. (1987). Knowledge and teaching: foundations of the new reform. Harvard Educational Review, 57(1), Uno, H. (2007). Profesi Kependidikan ; Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika Offset. Unit Pelaksana Teknis Program Pengalaman Lapangan. Panduan Praktek Kependidikan, Bandung : Universtitas Pendidikan Indonesia.
Yenny Anwar / Profil Kemampuan PCK Guru B-0
B-0 Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 18 Mei 2013 PROFIL KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE GURU BIOLOGI SENIOR DAN
KESIAPAN CALON GURU DALAM PELAKSANAAN PPL: DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE
KESIAPAN CALON GURU DALAM PELAKSANAAN PPL: DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE Yenny Anwar Universitas Sriwijaya Abstrak : Penelitian ini dilakukan untuk melihat kesiapan mahasiswa calon
KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE GURU BIOLOGI YANG BERPENGALAMAN DAN YANG BELUM BERPENGALAMAN
KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE GURU BIOLOGI YANG BERPENGALAMAN DAN YANG BELUM BERPENGALAMAN Yenny Anwar 1,2, Nuryani Y. Rustaman 3, Ari Widodo 3, dan Sri Redjeki 3 1 Universitas Sriwijaya 2 Sekolah
PERKEMBANGAN KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE CALON GURU BIOLOGI PADA PENDEKATAN KONKUREN
PERKEMBANGAN KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE CALON GURU BIOLOGI PADA PENDEKATAN KONKUREN Yenny Anwar 1, Nuryani Y. Rustaman 2, Ari Widodo 2, dan Sri Redjeki 2 1 FKIP Universitas Sriwijaya dan 2
Pedagogical Content Knowledge (PCK) Guru dalam Pembelajaran Biologi SMA di Kota Cimahi
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Pendidikan Sains (2016) 6:17 24; ISSN: 2087-0922 Tersedia online di : http://fsm.uksw.edu/ojs Pedagogical Content Knowledge (PCK) Guru dalam Pembelajaran Biologi SMA
BAB III METODE PENELITIAN
41 BAB III METODE PENELITIAN A. Paradigma Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji perkembangan Pedagogical content knowledge calon guru yang mengikuti program pendidikan guru dengan pendekatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru adalah suatu profesi yang jabatannya memerlukan keahlian khusus dan tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Sebagai tenaga
PROFIL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE MAHASISWA CALON GURU BIOLOGI PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE PROFILE ON PROSPECTIVE BIOLOGY TEACHER
PROFIL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE MAHASISWA CALON GURU BIOLOGI Eny Hartadiyati Wasikin Haryanti 1) 1 Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas PGRI Semarang [email protected] PEDAGOGICAL
DAFTAR PUSTAKA. American Association for the Advancement of Science (1990). Chapter 14. Reforming Education. Science for all Americans Online.
162 DAFTAR PUSTAKA Abell, S.K.(2008). Twenty Years Later: Does pedagogical content knowledge remain a useful idea?. International Journal of Science Education,30:10,1405 1416 American Association for the
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikmanda Nugraha, 2014
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas, termasuk di dalamnya karakteristik materi pelajaran, pengetahuan awal siswa,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Guru merupakan profesi yang secara langsung menuntut keprofesionalan seorang pendidik untuk menguasai kemampuan membelajarkan suatu konsep agar tidak hanya berupa materi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Untuk mempermudah pembahasan, terlebih dahulu akan diuraikan definisi operasional dalam penelitian yaitu sebagai berikut: 1. Pedagogy Knowledge (PK)
Seminar Nasional Pendidikan Sains II UKSW
PERKEMBANGAN CALON GURU PROFESIONAL YANG BERFOKUS PADA PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) PADA KELAS AKADEMIK ATAS DAN AKADEMIK BAWAH DI UNIVERSITAS KUNINGAN Ilah Nurlaelah 1, Handayani 2, Ina Setiawati
ARTIKEL ILMIAH. ANALISIS PEDAGOGIC CONTENT KNOWLEDGE (PCK) TERHADAP BUKU PEGANGAN GURU IPA SMP/MTs KELAS VII PADA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
ARTIKEL ILMIAH ANALISIS PEDAGOGIC CONTENT KNOWLEDGE (PCK) TERHADAP BUKU PEGANGAN GURU IPA SMP/MTs KELAS VII PADA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Maryati dan Eko Widodo ABSTRAK Analisis buku pegangan guru IPA
ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SISWA SD MELALUI PENERAPAN SKENARIO PEMBELAJARAN BERBASIS PCK TENTANG GAYA GRAVITASI
ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SISWA SD MELALUI PENERAPAN SKENARIO PEMBELAJARAN BERBASIS PCK TENTANG GAYA GRAVITASI Ina Oktarina Rahman, Rustono WS, Ghullam Hamdu PROGRAM S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
PENGEMBANGAN DAN PENILAIAN PANDUAN WORKSHOP SUBJECT SPECIFIC PEDAGOGIC DENGAN RASCH MODEL
PENGEMBANGAN DAN PENILAIAN PANDUAN WORKSHOP SUBJECT SPECIFIC PEDAGOGIC DENGAN RASCH MODEL Maryati dan Susilowati FMIPA UNY, [email protected] Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Guru memiliki tugas utama mendidik dan mengajar serta sebagai tenaga pengajar yang profesional, guru harus menguasai empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogi, profesional,
Potret Representasi Pedagogical Content Knowledge (PCK) Guru dalam Mengajarkan Materi Getaran dan Gelombang pada Siswa Smp
ISSN:2089 0133 Indonesian Journal of Applied Physics (2015) Vol.5 No.1 Halaman 9 April 2015 Potret Representasi Pedagogical Content Knowledge (PCK) Guru dalam Mengajarkan Materi Getaran dan Gelombang pada
BAB V KESIMPULAN & SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa struktur program
BAB V KESIMPULAN & SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa struktur program Pembekalan Pedagogical Content Knowledge ( PCK) Bioteknologi (P2CKBiotek) yang dibangun dari
BAB I PENDAHUUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHUUAN A. Latar Belakang Masalah Guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam proses pembelajaran. Terdapat tujuh kategori ranah pengetahuan yang penting dikuasai oleh guru agar
ANALISIS PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE
ANALISIS PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) TERHADAP BUKU GURU SD KURIKULUM 2013 Gaguk Resbiantoro [email protected] STKIP PGRI Tulungagung ABSTRAK Analisis buku pegangan guru
KURIKULUM NASIONAL PPG SM3T 2014 DAN IMPLEMENTASINYA DI PROGRAM PPG SM-3T UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2014
KURIKULUM NASIONAL PPG SM3T 2014 DAN IMPLEMENTASINYA DI PROGRAM PPG SM-3T UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2014 SOSIALISASI KURIKULUM NASIONAL PPG SM3T 2014 DAN PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 PADA PROGRAM
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Guru sebagai suatu profesi yang jabatannya memerlukan keahlian khusus dan tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Sebagai tenaga profesional,
Oleh: KHUSNUL CHOTIMAH A
GAMBARAN KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE GURU IPA KELAS VII SMP NEGERI SE-KABUPATEN SUKOHARJO DALAM MENGGUNAKAN KURIKULUM 2013 TAHUN AJARAN 2016/2017 Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan
PENERAPAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK)PADA TOPIK PERSAMAAN KEADAAN GAS. Sarwanto Program Studi P.Fisika FKIP UNS
PENERAPAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK)PADA TOPIK PERSAMAAN KEADAAN GAS Sarwanto Program Studi P.Fisika FKIP UNS ABSTRAK Diperlukan strategi khusus untuk membelajaran sebuah persamaan matematis pada
BAB I PENDAHULUAN. tentang Guru dan Dosen).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebijakan peningkatan mutu pendidikan dan pengkajian harus selalu diupayakan oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun komponen lain yang terlibat dalam proses
Profesionalisme Guru/ Dosen Sains DISKRIPSI PEDAGOGICAL CONTEIN KNOWLEDGE CALON GURU SDPADA PEMBELAJARAN IPA. Kartika Chrysti S. PGSD Kebumen FKIP UNS
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Magister Pendidikan Sains dan Doktor Pendidikan IPA FKIP UNS Surakarta,
KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMS DALAM MENYUSUN RPP KURIKULUM 2013 TAHUN AKADEMIK 2016/2017
KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMS DALAM MENYUSUN RPP KURIKULUM 2013 TAHUN AKADEMIK 2016/2017 PUBLIKASI ILMIAH Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan
Lampiran-1 S I L A B U S (E D I S I R E V I S I) TAHUN Mata Kuliah/Kode : IPA Terintegrasi dan Pembelajaran
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM Alamat: Karangmalang, Yogyakarta 55281 Telepon: 0274 586168 Psw. 217 Lampiran-1 S I L A B U S
Unnes Science Education Journal
USEJ 5 (3) (2016) Unnes Science Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/usej PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) CALON GURU DAN GURU KIMIA PADA MATERI BUFFER Sri Haryani, Agung Tri Prasetya,
ISSN Jurnal Exacta, Vol. IX No.2 Desember 2011
PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN STRATEGI PROBLEM SOLVING PADA TOPIK OPTIKA BAGI MAHASISWA PENDIDIKAN FISIKA Oleh: Dr. Eko Swistoro Warimun Email : [email protected] Program
PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN PROFESI GURU
PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN PROFESI GURU Oleh: Anik Ghufron FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010 Program pendidikan profesi guru pra jabatan yang selanjutnya disebut program
ANALISIS KEMAMPUAN PEDAGOGIK DAN SELF CONFIDENCE CALON GURU MATEMATIKA DALAM MENGHADAPI PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN. Oleh :
ANALISIS KEMAMPUAN PEDAGOGIK DAN SELF CONFIDENCE CALON GURU MATEMATIKA DALAM MENGHADAPI PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN Oleh : Neneng Aminah Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon ABSTRAK Penelitian ini adalah
PERSETUJUAN PEMBIMBING PERNYATAAN KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH ABSTRACT DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. A. Latar Belakang Masalah 1
DAFTAR ISI Halaman PERSETUJUAN PEMBIMBING PERNYATAAN KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH ABSTRAK ABSTRACT DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ii iii iv vi viii ix x xii xiv xvi BAB I PENDAHULUAN
KESULITAN MAHASISWA PPG PENDIDIKAN FISIKA FKIP UNSYIAH DALAM MELAKSANAKAN PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN DI BANDA ACEH
288 Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM) Pendidikan Fisika. Vol. 2 No.3 Juli 2017, 288-294 KESULITAN MAHASISWA PPG PENDIDIKAN FISIKA FKIP UNSYIAH DALAM MELAKSANAKAN PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN DI BANDA ACEH Rahmat
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
KEMAMPUAN GURU IPA KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH DI SURAKARTA DALAM PENYUSUNAN RPP TAHUN AKADEMIK 2016/2017 BERDASARKAN TECHNOLOGICAL PAEDAGOGICAL AND CONTENT KNOWLEDGE (TPACK) Disusun sebagai salah satu
PROFIL KEMAMPUAN MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI DALAM MEMBUAT LKS IPA JENJANG SMP. (Artikel) Oleh ARINTA WINSI
PROFIL KEMAMPUAN MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI DALAM MEMBUAT LKS IPA JENJANG SMP (Artikel) Oleh ARINTA WINSI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 PROFIL KEMAMPUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Visi Kemendiknas 2025 adalah untuk menghasilkan Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna), yaitu insan yang cerdas komprehensif, yang
DAMPAK PELAKSANAAN PENGAJARAN MIKRO BERORIENTASI PADA PENGUASAAN MATERI TERHADAP KUALITAS MENGAJAR MAHASISWA PPL
DAMPAK PELAKSANAAN PENGAJARAN MIKRO BERORIENTASI PADA PENGUASAAN MATERI TERHADAP KUALITAS MENGAJAR MAHASISWA PPL Jeffry Handhika Pendidikan Fisika, Fakuls Pendidikan Matematika dan IPA, IKIP PGRI Madiun
BAB I PENDAHULUAN. dalam rangka membangun profesionalisasi guru. Hal ini ditandai dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berbagai upaya mereformasi program persiapan guru telah dikembangkan dalam rangka membangun profesionalisasi guru. Hal ini ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang
Profil Keterampilan Mengajar Mahasiswa Calon Guru Melalui Kegiatan Induksi Guru Senior
Jurnal Riset Pendidikan ISSN: 2460-1470 Profil Keterampilan Mengajar Mahasiswa Calon Guru Melalui Kegiatan Induksi Guru Senior STKIP Al Hikmah Surabaya e-mail: [email protected] Abstrak Guru
ARTIKEL HASIL PENELITIAN HIBAH BERSAING
ARTIKEL HASIL PENELITIAN HIBAH BERSAING PENGEMBANGAN LEARNIG GUIDE WORKSHOP PPG IPA SMP BERBASIS PEDAGOGIC CONTENT KNOWLEDGE UNTUK MENINGKATKAN KEPROFESIONALAN GURU Tahun pertama dari rencana 2 tahun Oleh:
Kemampuan Mahasiswa Calon Guru Biologi dalam Merancang Pembelajaran Berbasis Praktikum: Studi Kasus Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP UMS
SP-010-002 Proceeding Biology Education Conference (ISSN: 2528-5742), Vol 13(1) 2016: 536-540 Kemampuan Mahasiswa Calon Guru Biologi dalam Merancang Pembelajaran Berbasis Praktikum: Studi Kasus Mahasiswa
EKSPLORASI CONTENT KNOWLEDGE MAHASISWA CALON GURU PADA MATERI SISTEM PERIODIK UNSUR
EKSPLORASI CONTENT KNOWLEDGE MAHASISWA CALON GURU PADA MATERI SISTEM PERIODIK UNSUR Andari Puji Astuti 1), Abdul Azis 2), Testiana Deni Wijayatiningsih 3), Sri Susilowati Sumarti 4), Dwi Anggani Lingga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan manusia untuk meningkatkan taraf atau kesejahteraan dalam kehidupannya (Sadulloh, 2015: 4). Pendidikan pada hakikatnya
PENERAPAN PRAKTEK PEMBELAJARAN BERMAKNA BERBASIS BETTER TEACHING LEARNING
Jurnal Penelitian Pendidikan Vol. 29 Nomor 2 tahun 2012 PENERAPAN PRAKTEK PEMBELAJARAN BERMAKNA BERBASIS BETTER TEACHING LEARNING (BTL) PADA MATA KULIAH MICROTEACHING UNTUK MENGEMBANGKAN KOMPETENSI PROFESIONAL
PENGEMBANGAN MODUL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) FISIKA PADA MATERI HUKUM GRAVITASI NEWTON UNTUK SMA KELAS XI
PENGEMBANGAN MODUL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) FISIKA PADA MATERI HUKUM GRAVITASI NEWTON UNTUK SMA KELAS XI Gaguk Resbiantoro 1, Sarwanto 2 dan Cari 3 1 Program Studi Magister Pendidikan Sains
STUDI KASUS KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU IPA SMP DITINJAU DARI ASPEK PCK (PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE) DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Vol. 5 No. 9 Tahun 2016 17 STUDI KASUS KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU IPA SMP DITINJAU DARI ASPEK PCK (PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE) DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
KAJIAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU IPA DI SMP KOTA SEMARANG 1. Abstrak
KAJIAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU IPA DI SMP KOTA SEMARANG 1 Ngurah Ayu NM 2, Susilawati 3, dan Siti Patonah 4 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang kompetensi profesional
HUBUNGAN ANTARA PENGUASAAN KONTEN PEDAGOGIS DENGAN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI JURNAL. Oleh PUJI HAYATI ( )
HUBUNGAN ANTARA PENGUASAAN KONTEN PEDAGOGIS DENGAN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI JURNAL Oleh PUJI HAYATI (1113054040) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
PENGEMBANGAN ALAT PENILAIAN BERBASIS KETERAMPILAN GENERIK SAINS PADA PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN
PENGEMBANGAN ALAT PENILAIAN BERBASIS KETERAMPILAN GENERIK SAINS PADA PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN Rahma Widiantie 1, Lilis Lismaya 2 1,2 Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Kuningan Email: [email protected]
PEDAGOGICAL CHEMISTRY KNOWLEDGE (PChK): PENGERTIAN DAN TAKSONOMI
PEDAGOGICAL CHEMISTRY KNOWLEDGE (PChK): PENGERTIAN DAN TAKSONOMI Hari Sutrisno Jurdik Kimia, FMIPA-Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ABSTRAK Konsep Pedagogical Content Knowledge (PCK) berasal dari tujuh
PENGEMBANGAN PETUNJUK PRAKTIKUM KIMIA BERBASIS PENDEKATAN KOMBINASI CHEMOEDUTAINMENT
PENGEMBANGAN PETUNJUK PRAKTIKUM KIMIA BERBASIS PENDEKATAN KOMBINASI CHEMOEDUTAINMENT (CET) DAN PEDAGOGICAL CHEMISTRY KNOWLEDGE (PChK) UNTUK SISWA SMA/MA KELAS XII SEMESTER GASAL THE DEVELOPMENT OF MANUAL
ABSTRAK
PENGEMBANGAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) CALON GURU KIMIA MENGGUNAKAN CONTENT REPRESENTATION (CoRe) FRAMEWORK dan PEDAGOGICAL AND PROFESSIONAL - EXPERIENCE REPERTOIRES (PaP-eRs) Pada PEMBELAJARAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1.1.Metode dan Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Penelitian eksperimen pada umumnya dianggap sebagai penelitian yang memberikan
PENGEMBANGAN PETUNJUK PRAKTIKUM PENDIDIKAN IPA BERBASIS PEDAGOGY CONTENT KNOWLEDGE MAHASISWA CALON GURU
PENGEMBANGAN PETUNJUK PRAKTIKUM PENDIDIKAN IPA BERBASIS PEDAGOGY CONTENT KNOWLEDGE MAHASISWA CALON GURU Susilowati, Purwanti Widhy H. FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta e-mail: [email protected] Abstrak
PENERAPAN LESSON STUDY UNTUK MENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAJAR MAHASISWA CALON GURU FISIKA
PENERAPAN LESSON STUDY UNTUK MENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAJAR MAHASISWA CALON GURU FISIKA Rif ati Dina Handayani 1), Agung Ryskiadi 2), Ali Machrus 2), dan Rifan Acik 2) 1 ) Pendidikan Fisika FKIP Universitas
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PREDICTION, OBSERVATION AND EXPLANATION
Jurnal Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 3 No. 1 Tahun 2014 Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Sebelas Maret ISSN 2337-9995 [email protected] PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PREDICTION, OBSERVATION
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Biologi merupakan cabang ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Siswa dapat memperoleh pengetahuan dari pengamatannya terhadap fenomena biologi yang
STANDAR PENDIDIKAN UNTUK CALON GURU SAINS: PEDAGOGI MATERI SUBJEK SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN PENGETAHUAN KONTEN PEDAGOGI CALON GURU
STANDAR PENDIDIKAN UNTUK CALON GURU SAINS: PEDAGOGI MATERI SUBJEK SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN PENGETAHUAN KONTEN PEDAGOGI CALON GURU Oleh Rosnita (PGSD, FKIP, Universitas Tanjungpura, Pontianak) Abstrak:
SATUAN ACARA PERKULIAHAN 1. : Pemantapan dan pengembangan kompetensi kependidikan Biologi
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES) Kantor: Gedung H lt 4 Kampus, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229 Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001
KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMS DALAM MENYUSUN RPP TAHUN AKADEMIK 2015/2016
KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMS DALAM MENYUSUN RPP TAHUN AKADEMIK 2015/2016 PUBLIKASI ILMIAH Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi
UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol.4, No.2, pp , May 2015
KETERAMPILAN METAKOGNITIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA DI KELAS XI SMA NEGERI 1 SUMENEP STUDENT METACOGNITIVE SKILLS THROUGH
Departement of Mathematic Education Mathematic and Sains Education Major Faculty of Teacher Training and Education Riau University
1 THE IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE LEARNING MODEL WITH STRUCTURAL NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) APPROACH TO IMPROVE MATHEMATICS LEARNING ACHIEVEMENT IN CLASS VII 3 SMP NEGERI 16 SIJUNJUNG Nadhilah Andriani
BIOLOGY EDUCATION FACULTY OF TEACHER TRAINING AND EDUCATION UNIVERSITY OF RIAU
1 THE IMPLEMENTATION OF GUIDED INQUIRY LEARNING MODEL TO INCREASE STUDENT SCIENCE SKILL PROCESS IN SCIENCE SUBJECT AT CLASS VII G SMPN 23 PEKANBARU IN ACADEMIC YEAR 2015/2016 Endah Kurnia Sari, Dr.Evi
DESKRIPSI KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DAN CALON GURU KIMIA SMA MUHAMMADIYAH 1 SEMARANG
DESKRIPSI KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DAN CALON GURU KIMIA SMA MUHAMMADIYAH 1 SEMARANG Ade Kurniawan 1), Andari Puji Astuti 2) 1),2) Universitas Muhammdiyah Semarang Email: [email protected] Abstrak
PROSIDING SEMNAS KBSP V
PEDAGOGICAL KNOWLEDGE (PK) CALON GURU BAHASA INDONESIA PADA MATA KULIAH WORKSHOP SILABUS DAN RPP Dini Restiyanti Pratiwi dan Hari Kusmanto Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah
ANALISIS KETERAMPILAN TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (TPCK) GURU BIOLOGI SMA NEGERI KOTA PEKANBARU
ANALISIS KETERAMPILAN TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (TPCK) GURU BIOLOGI SMA NEGERI KOTA PEKANBARU Evi Suryawati, Firdaus L.N. dan Yosua Hernandez Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan
MEMBANGUN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE CALON GURU FISIKA MELALUI PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN BERBASIS LESSON STUDY
Momentum: Physisc Education Journal http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/momentum/index Vol 1, No 1, (2017) 16-30 MEMBANGUN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE CALON GURU FISIKA MELALUI PRAKTEK PENGALAMAN
DESAIN PENGEMBANGAN MODEL PRAKTIKUM RANGKAIAN LISTRIK BERBASIS MASALAH TERHADAP KETERAMPILAN SCIENTIFIC INQUIRY DAN KOGNISI MAHASISWA
DESAIN PENGEMBANGAN MODEL PRAKTIKUM RANGKAIAN LISTRIK BERBASIS MASALAH TERHADAP KETERAMPILAN SCIENTIFIC INQUIRY DAN KOGNISI MAHASISWA Sehat Simatupang, Togi Tampubolon dan Erniwati Halawa Jurusan Fisika
Jurnal Pendidikan IPA Indonesia
JPII 1 (1) (2012) 57-62 Jurnal Pendidikan IPA Indonesia http://journal.unnes.ac.id/index.php/jpii UPAYA MENGEMBANGKAN LEARNING COMMUNITY SISWA KELAS X SMA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Jurnal Pendidikan IPA Indonesia
JPII 1 (2) (2012) 183-191 Jurnal Pendidikan IPA Indonesia http://journal.unnes.ac.id/index.php/jpii PENERAPAN CRITICAL REVIEW ARTIKEL PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM MENYUSUN
UNIT PENJAMINAN MUTU FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2013
STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE (SOP) TAILOR MADE PELAKSANAAN PLPG PSG RAYON 107 UNIVERSITAS LAMPUNG UNIT PENJAMINAN MUTU FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2013 Panitia Sertifikasi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah kualitatif dengan desain penelitian narrative (Creswell, 2012). Dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap kemampuan
UPAYA MENINGKATKAN KINERJA DAN HASIL BELAJAR MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PROBLEM BASED LEARNING
UPAYA MENINGKATKAN KINERJA DAN HASIL BELAJAR MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PROBLEM BASED LEARNING Mariati Purnama Simanjuntak Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Medan [email protected] ABSTRAK Penelitian
RESPON MAHASISWA MENGENAI PELAKSANAAN MATRIKULASI BAGI MAHASISWA BARU IKIP PGRI PONTIANAK
Jurnal Edukasi, Vol. 15, No. 2, Desember 2017 RESPON MAHASISWA MENGENAI PELAKSANAAN MATRIKULASI BAGI MAHASISWA BARU IKIP PGRI PONTIANAK Mesterianti Hartati Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
PROFIL KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) GURU IPA SMP NEGERI SE-JATISRONO
PROFIL KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) GURU IPA SMP NEGERI SE-JATISRONO 1. Miftah Arifah, 2. Hariyatmi 1,2. Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
II. SILABUS MATA KULIAH (SMK)
II. SILABUS MATA KULIAH (SMK) Mata Kuliah / Kode : Pengembangan Model Pembelajaran IPA / KPA 2308 Semester/ SKS : II/ 2 Program Studi : Magister Pendidikan IPA Fakultas : FKIP 1. Capaian Pembelajaran MK
