REPORT REVIEW SDKI 2012 MODUL PRIA
|
|
|
- Ari Sutedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 REPORT REVIEW SDKI 2012 MODUL PRIA Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) yang dilakukan secara berkala mengumpulkan informasi mengenai: latar belakang sosial ekonomi responden; tren angka fertilitas; pola dan status perkawinan; pengetahuan dan penggunaan metode kontrasepsi; keinginan mempunyai anak; kematian bayi, anak dan ibu; kesehatan ibu; pengetahuan tentang HIV dan AIDS dan penyakit menular seksual lainnya serta beberapa indikator kesehatan lain. Tujuan utama dari SDKI adalah untuk memberikan informasi rinci tentang kependudukan, keluarga berencana, dan kesehatan bagi para pembuat kebijakan dan pengelola program. SDKI tahun 2012 merupakan survei ketujuh yang dilaksanakan di Indonesia. Selama ini SDKI menitikberatkan pada persoalan kesehatan ibu dan anak (KIA) dan beberapa penyakit spesifik lainnya, meskipun sejak tahun 2002 responden pria yang sudah menikah juga diwawancarai. Perhatian terhadap status dan peran pria dalam masalah kesehatan dan kependudukan belum serius dilakukan oleh pemerintah melalui program-programnya. Usulan terhadap draft SDKI 2014 Modul Pria Secara umum, draft SDKI 2014 Modul Pria ini cukup komprehensif dalam menyajikan datadata yang dikumpulkan. Tantangannya adalah menafsirkan data-data itu agar dapat digunakan untuk membuat kebijakan dan program kependudukan dan kesehatan. Salah satunya dengan menggunakan perspektif gender ketika menganalisis variabel yang relevan dengan isu gender. Di bawah ini adalah review per bab dari draft Modul Pria. Bab I Pendahuluan Sub bab pertama berjudul Geografi, Sejarah dan Ekonomi, namun tidak jelas apa yang dimaksud dengan Sejarah. Hanya ada uraian ringkas tentang otonomi daerah dan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir. Apakah yang dimaksud Sejarah Indonesia? Dalam penjelasan tentang rata-rata usia perkawinan pertama, data yang digunakan adalah Sensus Penduduk 1971, 1990 dan Sebaiknya dimasukkan pula hasil Sensus Penduduk 2010 agar lebih relevan dengan kondisi sekarang. Dalam sub bab Kebijakan dan program kependudukan dan keluarga berencana telah diuraikan secara ringkas tentang sejarah program kependudukan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Ada baiknya kalau ditambahkan informasi tentang 1
2 program kependudukan ketika jaman kolonial Belanda, sehingga pembaca mengetahui bahwa isu kependudukan dan programnya telah ada cukup lama. Rekomendasi sumber referensi untuk sejarah kependudukan di Indonesia: - Hull, T 'Indonesian fertility behaviour before the transition: Searching for hints in the historical record', dalam Tsui-jung Liu, James Lee, David Sven Reher, Osama Saito and Wang Feng (ed.), Asian Population History, Oxford University Press, United States, hlm Hull, T & Hull, V 'From Family Planning to Reproductive Health Care: A Brief History', in Terence H. Hull (ed.), People, Population and Policy in Indonesia, Equinox Publishing Ltd, Jakarta, pp Bab II Karakteristik responden pria Laporan SDKI 2014 Modul Pria ini memang difokuskan pada responden pria kawin usia tahun untuk mendapatkan informasi yang cukup komprehensif terkait kependudukan, keluarga berencana, dan kesehatan reproduksi. Namun karena isu keluarga berencana dan kesehatan reproduksi tidak dapat lepas dari isu gender maka menjadi penting untuk memasukkan pula beberapa variabel yang sama dari responden perempuan sebagai perbandingan dalam analisisnya. Misalnya dalam bab 2 ini variabel Kemampuan membaca dan Akses media massa dapat membandingkan antara responden pria dan responden perempuan. Kedua variabel ini berasosiasi dengan variabel pendidikan responden. Apakah ada perbedaan dalam mengakses media massa antara laki-laki dan perempuan? Jika ada, maka informasi ini penting bagi penyebaran program kesehatan dan kependudukan kepada masyarakat. Demikan juga dengan variabel Pengambilan keputusan dalam rumah tangga akan menjadi menarik dan informatif apabila menyajikan data dari responden perempuan sehingga akan terlihat apakah ada perbedaan atau tidak. Apabila terdapat perbedaan maka analisisnya bisa lebih tajam. Variabel Sikap pria terhadap pemukulan suami kepada istri sebaiknya dibandingkan dengan jawaban responden perempuan bila hal itu juga ditanyakan dalam survei. Apakah ada perbedaan? Variabel ini penting untuk melihat bagaimana relasi kuasa di dalam relasi suami-istri. Bab III Pengetahuan tentang Keluarga Berencana Analisis dimensi gender dalam bab ini belum terlihat. Dua variabel penting yang dapat dianalisis dari perspektif gender adalah Sumber informasi tentang KB khususnya Peran media massa dan Diskusi tentang KB. Variabel Sumber informasi 2
3 KB dapat digunakan untuk melihat konsistensi dengan jawaban variabel Akses media massa pada bab II. Selain itu juga untuk mengetahui apakah responden perempuan memanfaatkan media massa untuk mendapatkan informasi tentang KB atau pun masalah kesehatan reproduksi lainnya. Variabel Diskusi tentang KB penting dianalisis secara gender untuk mengetahui sejauh mana keterbukaan komunikasi antara pasangan suami-istri dalam persoalan reproduksi dan seksualitas. Membicarakan persoalan seksualitas dalam keluarga di Indonesia masih sering diselimuti oleh rasa malu, enggan atau pun tabu. Kepada siapa suami dan/atau istri mendiskusikan tentang KB penting diketahui karena terkait dengan strategi pengembangan program KB, khususnya meningkatkan partisipasi pria dalam KB yang sejak lama diwacanakan tetapi lemah dalam implementasi. Bab IV Pengalaman dan pemakaian alat/cara KB Pada bab ini variabel yang penting untuk diinterpretasikan lebih luas adalah persepsi terhadap kondom. Lebih dari 50% responden setuju dengan pernyataan bahwa kondom mengurangi kenikmatan dan tidak nyaman dipakai. Dalam analisis sebaiknya dimasukkan referensi dari studi yang pernah ada di negara lain terkait dengan penggunaan kondom pada laki-laki. Jawaban responden tersebut menyiratkan bahwa aspek kenikmatan (pleasure) dalam hubungan seksual adalah hal yang penting bagi laki-laki. Rekomendasi referensi - C. Yang, C. Latkin, R. Luan, K. Nelson Peer norms and consistent condom use with female sex workers among male clients in Sichuan province, China, Social Science & Medicine 71: Flood, M Lust, Trust and Latex: Why Young Heterosexual Men Do Not Use Condoms, Culture, Health & Sexuality, 5(4): Respon terhadap pernyataan Wanita tidak berhak mengatakan agar pria pakai kondom akan menarik apabila dibandingkan dengan persepsi responden perempuan. Apakah responden perempuan ditanyakan tentang hal yang sama? Hampir 30% responden pria setuju dengan pernyataan tersebut, yang menyiratkan bahwa relasi kuasa dalam hubungan seksual suami-istri ada pada pihak laki-laki. Variabel Persepsi terhadap kondom mungkin juga menghasilkan temuan menarik apabila dilakukan cross-tab dengan variabel Seks dengan imbalan untuk melihat apakah ada korelasinya dengan penggunaan kondom. Jadi jika persepsi responden terhadap kondom adalah mengurangi kenikmatan, maka dalam hubungan seks dengan imbalan ia tidak menggunakan kondom. Tetapi bisa juga terjadi responden menggunakan kondom dalam hubungan seks dengan imbalan. 3
4 Bab V Keinginan mempunyai anak Dalam bab ini salah satu temuan utama adalah Empat puluh satu persen pria kawin yang sudah punya dua anak masih ingin menambah anak. Namun di sisi lain, keinginan untuk tidak memiliki anak lagi juga kuat sekitar 50% -- di antara pria yang sudah memiliki 2 anak (lihat tabel 5.1.) Lagi-lagi, di sini menjadi menarik apabila bisa menyajikan data dari responden perempuan terhadap keinginan memiliki anak (fertility desire). Perbandingan antara respon pria dan perempuan penting untuk mengetahui mana yang sebenarnya memiliki hasrat lebih besar untuk memiliki anak lagi. Kehamilan yang tidak direncanakan (unplanned) dan kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted) merupakan isu penting dalam kesehatan reproduksi, karena akan berhubungan dengan isu aborsi. Variabel 5.6 tentang status perencanaan kelahiran akan memberikan informasi yang lebih luas apabila dibandingkan dengan responden perempuan. Apakah ada pola yang berbeda dari jawaban perempuan? Bab VI Tidak pakai kontrasepsi dan keinginan untuk pakai kontrasepsi Pada tabel 6.3 salah satu alasan tidak ingin KB adalah Menentang untuk memakai yang di antaranya adalah kategori jawaban Responden menentang dan Istri menentang. Apakah mungkin kedua kategori jawaban tersebut diperjelas alasan penentangan pemakaian kontrasepsi? Bila responden menentang, apa alasan yang disebutkannya? Bab VII Partisipasi pria dalam perawatan kesehatan Ini salah satu bab yang sudah baik penulisannya karena diperkaya dengan sejumlah referensi yang relevan. Pada sub bab 7.1 Pengetahuan tentang masa subur sebaiknya membandingkan pengetahuan responden pria dan responden perempuan. Dalam beberapa survei di negara lain, ditemukan bahwa baik pria maupun perempuan memiliki pengetahuan yang rendah tentang masa subur pada perempuan. Sub bab 7.3. Komunikasi dengan tenaga kesehatan bisa dianalisis lebih mendalam seperti dalam artikel yang direkomendasikan di bawah ini. Rekomendasi referensi: - Kabagenyi et al Modern contraceptive use among sexually active men in Uganda: does discussion with a health worker matter?, BMC Public Health, 14:286 4
5 Variabel Kemarahan Pria dapat dianalisis lebih lanjut dengan melakukan tabulasi silang dengan variabel Sikap Pria Tentang Pemukulan Suami Terhadap Isteri yang dideskripsikan pada bab II di atas. Analisis ini bisa menunjukkan apakah ada atau tidak ada korelasi yang kuat antara kedua variabel. Variabel ini penting karena terkait dengan potensi kekerasan dalam rumah tangga yang dikaitkan dengan persoalan kesehatan anggota keluarga. Bab VIII Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan Penyakit Menular Seksual lainnya Pada bagian awal bab ini ada penjelasan tentang Strategi Rencana Aksi Nasional Penanggulangan AIDS yang bersumber pada Stranas KPAN Sebaiknya direvisi dengan mengacu pada Stranas KPAN yang masih berlaku hingga sekarang. Catatan terhadap teknis penulisan Pola penulisan setiap bab kurang konsisten, khususnya terkait penggunaan referensi. Sebaiknya dalam pembahasan temuan digunakan referensi yang relevan sehingga pembaca mendapatkan pengetahuan yang lebih lengkap. Sebagai contoh bab 7 sudah cukup banyak menggunakan referensi yang relevan. Sementara ada bab yang sama sekali tidak menggunakan referensi. Dianjurkan menggunakan literatur yang relevan sebagai referensi dalam melakukan analisis. Beberapa bab sudah menggunakan referensi yang relevan. Upayakan untuk menggunakan literatur yang dipublikasikan pada kurun tahun 2000 ke atas. Cukup banyak kalimat yang kurang jelas maksudnya dan tidak mengikuti kaidah pembentukan kalimat yang benar. Misalnya kalimat tanpa predikat atau obyek. Hindari penggunaan kata sambung di awal kalimat, misalnya sehingga, maka, yang dll. Penggunaan kata di mana untuk menunjukkan tempat, bukan untuk hal lain. Masih ada ketidakkonsistenan dalam penulisan jumlah persen dalam kalimat yang sama. Misalnya 6 persen dan tiga persen. 5
BAB I PENDAHULUAN. pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi kearah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Melalui kesepakatan International Conference on Population and Development (ICPD) tahun 1994 terjadi perubahan paradigma baru Program Keluarga Berencana Nasional (KBN).
RINGKASAN SDKI 2007 PROVINSI SULAWESI BARAT
RINGKASAN SDKI 2007 PROVINSI SULAWESI BARAT Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 merupakan survey yang berskala Nasional, sehingga untuk menganalisa tingkat propinsi perlu dilakukan suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Masalah kependudukan yang dihadapi Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Program keluarga berencana merupakan salah satu program pembangunan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program keluarga berencana merupakan salah satu program pembangunan nasional yang sangat penting dalam rangka mewujudkan keluarga Indonesia yang sejahtera. Peran program
BAB I PENDAHULUAN. Tingginya laju pertumbuhan penduduk merupakan salah satu masalah yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingginya laju pertumbuhan penduduk merupakan salah satu masalah yang dihadapi Indonesia di bidang kependudukan. Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa
ANALISA DAMPAK PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI TERHADAP TOTAL ANGKA KELAHIRAN DI PROVINSI MALUKU
ANALISA DAMPAK PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI TERHADAP TOTAL ANGKA KELAHIRAN DI PROVINSI MALUKU Oleh BIDANG PENGENDALIAN PENDUDUK BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL PROVINSI MALUKU 2013 KATA
BAB 1 PENDAHULUAN. dalam waktu 10 tahun. Jumlah penduduk dunia tumbuh begitu cepat, dahulu untuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Badan Kependudukan PBB (UNFPA), menyatakan bahwa jumlah penduduk dunia tahun 2010 telah mencapai 7 miliar jiwa atau bertambah 1 miliar jiwa hanya dalam waktu 10 tahun.
Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan 2002-2003 Konferensi tingkat tinggi untuk indikator anak, Indonesia 2002-2003 Angka kematian balita Angka kematian bayi Angka kematian ibu Penggunaan sumber air
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia diterjemahkan sebagai Tujuan Pembangunan Milenium yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Millenium Development Goals atau disingkat MDG s dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Tujuan Pembangunan Milenium yang merupakan paradigma pembangunan global
BAB 1 PENDAHULUAN. Hubungan karakteristik..., Sarah Dessy Oktavia, FKM UI, 2009 Universitas Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa remaja merupakan suatu masa transisi antara masa anak-anak dengan masa dewasa. Remaja dalam beberapa literatur biasanya merujuk pada usia 10-19 tahun. Badan Koordinasi
BAB I PENDAHULUAN. Delapan tujuan Millenium Development Goals (MDG s) telah disepakati
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Delapan tujuan Millenium Development Goals (MDG s) telah disepakati oleh 191 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk dicapai pada tahun 2015 (WHO, 2013).
Silabus Mata Kuliah Kesehatan Reproduksi dan KB Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana
Silabus Mata Kuliah Kesehatan Reproduksi dan KB Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Kompetensi (Competency Statement) Mampu mengambil keputusan dan melakukan evaluasi terhadap
Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007
Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi kependudukan di Indonesia saat ini baik yang menyangkut jumlah, kualitas, maupun persebarannya merupakan tantangan yang harus diatasi bagi tercapainya keberhasilan
Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012
Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php
BAB I PENDAHULUAN. berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah penduduk merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi Indonesia adalah
I. PENDAHULUAN. tinggi. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk pada bulan Agustus 2010 jumlah
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan sebuah negara berkembang yang memiliki banyak permasalahan penduduk, salah satunya adalah pertumbuhan penduduk yang tinggi. Berdasarkan hasil
mengenai seksualitas membuat para remaja mencari tahu sendiri dari teman atau
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja, yakni antara usia 10-19 tahun adalah suatu periode masa
BAB I PENDAHULUAN. seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis (Sarwono, 2013).
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis (Sarwono, 2013). Tingkah laku yang
BAB 1 PENDAHULUAN. sistem kekebalan tubuh yang terjadi karena seseorang terinfeksi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah HIV merupakan famili retrovirus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia terutama limfosit (sel darah putih) dan penyakit AIDS adalah penyakit yang merupakan
BAB VI PENUTUP. Kebutuhan KB yang tidak terpenuhi atau bisa disebut dengan unmet need KB di salah
BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Kebutuhan KB yang tidak terpenuhi atau bisa disebut dengan unmet need KB di salah satu propinsi di Indonesia yaitu Nusa Tenggara Timur menunjukkan angka kejadian yang cenderung
I. PENDAHULUAN. penduduk Indonesia sebanyak jiwa dan diproyeksikan bahwa jumlah ini
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia termasuk salah satu negara sedang berkembang yang tidak luput dari masalah kependudukan. Berdasarkan data hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa dimana terjadi pacu tumbuh (growth spurt), timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapai fertilitas
MATRIK LAPORAN MINI SURVEI PEMANTAUAN PUS PROVINSI BENGKULU TAHUN 2009
MATRIK LAPORAN MINI SURVEI PEMANTAUAN PUS PROVINSI BENGKULU TAHUN 2009 2.6 terhadap PUS umur terhadap PUS 40-49 Umur 40-49 1 Bengkulu Selatan 2,7 3,8 2 Rejang Lebong 3,6 4,7 3 Bengkulu Utara 3,6 5,3 4
Laporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dan Laporan Performance Monitoring and Accountability 2020 (PMA2020) gelombang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Program Keluarga Berencana (KB) dibentuk dengan tujuan untuk mengendalikan jumlah penduduk sehingga dapat mewujudkan penduduk tanpa pertumbuhan atau Zero Population
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah kependudukan merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara termasuk Indonesia. Saat ini penduduk Indonesia kurang lebih berjumlah 228 juta jiwa. Dengan pertumbuhan
Indonesia - Survei Prevalansi Kontrasepsi Nasional 1987
Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Prevalansi Kontrasepsi Nasional 1987 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. faktor risiko lain yang berperan terhadap kejadian kehamilan tidak diinginkan
59 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini bersifat kuantitatif dan dilakukan dengan menganalisis data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di negara-negara berkembang diperkirakan selama kurun waktu 40 tahun program keluarga berencana (KB) telah berperan penting dalam peningkatan contraceptive prevalence
Volume 3 / Nomor 1 / April 2016 ISSN :
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PARTISIPASI PRIA DALAM KB KONDOM DI DESA BANGSALAN KECAMATAN TERAS KABUPATEN BOYOLALI The Relationship Between The Knowledge Level And Men s Participation In Family
I. PENDAHULUAN. dengan jumlah penduduk sebanyak juta jiwa penduduk (BPS, 2010).
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah kependudukan di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar yaitu dengan jumlah penduduk sebanyak 237.641.326 juta jiwa penduduk (BPS, 2010). Di tingkat
ABSTRAK. Kata kunci: pengalaman, seksual, vasektomi. Referensi (108: )
ABSTRAK Pemilihan kontrasepsi dalam rumah tangga merupakan kesepakatan antara suami dan istri sesuai dengan kebutuhan dan keinginan bersama. Peningkatan partisipasi pria dalam penggunaan Keluarga Berencana
Indonesia. Survei Demografi dan Kesehatan Ringkasan Hasil
Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan 2002-2003 Ringkasan Hasil Laporan ini memuat ringkasan dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003 (SDKI 2002-2003) yang dilaksanakan oleh Badan
BAB 1 PENDAHULUAN. lebih besar menempatkan ibu pada risiko kematian (akibat kehamilan dan persalinan)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kontrasepsi modern memainkan peranan penting untuk menurunkan kehamilan yang tidak diinginkan yang merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian ibu. Kehamilan
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN KB VASEKTOMI TERHADAP PENGETAHUAN SUAMI DI DESA SOCOKANGSI KECAMATAN JATINOM KABUPATEN KLATEN
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN KB VASEKTOMI TERHADAP PENGETAHUAN SUAMI DI DESA SOCOKANGSI KECAMATAN JATINOM KABUPATEN KLATEN SKRIPSI Diajukan UntukMemenuhi Salah Satu Persyaratan Meraih Derajat Sarjana
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah kependudukan telah menjadi perhatian pemerintah Indonesia sejak ditandatanganinya deklarasi mengenai kependudukan oleh para pemimpin dunia termasuk presiden
BAB I PENDAHULUAN. kualitas penduduk dan pengarahan mobilitas penduduk kedepan. Berdasarkan hasil
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah kependudukan tetap menjadi isu yang sangat penting dan mendesak, terutama yang berkaitan dengan aspek pengendalian kuantitas penduduk, peningkatan kualitas
ABSTRACT HUBUNGAN PERSEPSI MAHASISWA TENTANG NILAI ANAK PROGRAM KELUARGA BERENCANA DENGAN JUMLAH ANAK
ABSTRACT HUBUNGAN PERSEPSI MAHASISWA TENTANG NILAI ANAK PROGRAM KELUARGA BERENCANA DENGAN JUMLAH ANAK Nurlaili 1) Trisnaningsih 2) Edy Haryono 3) This research aimed to find out correlation between university
BAB I PENDAHULUAN. sehingga memunculkan masalah-masalah sosial (sosiopatik) atau yang biasa
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat ini merupakan era globalisasi dimana sering terjadi perdagangan manusia, budaya luar dengan mudahnya masuk dan diadopsi oleh masyarakat sehingga memunculkan
I. PENDAHULUAN. oleh masalah kependudukan dengan segala tata kaitan persoalan, karena
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan di Indonesia dalam jangka panjang akan selalu dibayangi oleh masalah kependudukan dengan segala tata kaitan persoalan, karena itu, usaha langsung untuk melakukan
Katalog BPS: KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI DALAM PEMBANGUNAN: Yang Harus Diperbuat oleh Wakil Rakyat
Katalog BPS: 4201005 KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI DALAM PEMBANGUNAN: Yang Harus Diperbuat oleh Wakil Rakyat 4 GENDER 3 Kesehatan Seksual dan Reproduksi 2 Kependudukan dan Keluarga Berencana 1 PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN. Program Keluarga Berencana (KB) menurut Undang-Undang Nomor 10
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Program Keluarga Berencana (KB) menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 merupakan salah satu program pembangunan nasional yang sangat penting dalam rangka mewujudkan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1970, kemudian dikukuhkan dan diatur di dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Program Keluarga Berencana (KB) Nasional yang dicanangkan sejak tahun 1970, kemudian dikukuhkan dan diatur di dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan
Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php
BAB 1 PENDAHULUAN. (1969) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Program Keluarga Berencana (KB) merupakan bagian program pembangunan nasional di Indonesia yang sudah dimulai sejak masa awal pembangunan lima tahun (1969) yang bertujuan
BAB I PENDAHULUAN. mulai dari penyediaan fasilitas pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia berada di urutan ke empat dengan penduduk terbesar di dunia setelah Amerika, China, dan India. Jumlah penduduk Indonesia dari hasil Sensus 2010 mencapai angka
BAB I PENDAHULUAN. Program Keluarga Berencana (KB) yang dimulai tahun 1970 telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program Keluarga Berencana (KB) yang dimulai tahun 1970 telah meningkatkan angka prevalensi kontrasepsi (CPR) di Indonesia dari 26 persen tahun 1976 menjadi 62 persen
MATRIK LAPORAN MINI SURVEI PEMANTAUAN PUS PROVINSI BENGKULU TAHUN 2009
MATRIK LAPORAN MINI SURVEI PEMANTAUAN PUS PROVINSI BENGKULU TAHUN 2009 2.6 terhadap PUS umur terhadap PUS 40-49 Umur 40-49 1 Bengkulu Selatan 2,7 3,8 2 Rejang Lebong 3,6 4,7 3 Bengkulu Utara 3,6 5,3 4
BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV) semakin mengkhawatirkan secara kuantitatif dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan permasalahan penyakit menular seksual termasuk Human Immunodeficiency Virus (HIV) semakin mengkhawatirkan secara kuantitatif dan kualitatif. HIV merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN. terjadinya pubertas, yaitu seseorang yang dulunya masih anak-anak menjadi mampu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa remaja adalah periode perubahan fisik yang sangat monumental dimana terjadinya pubertas, yaitu seseorang yang dulunya masih anak-anak menjadi mampu secara seksual
HUBUNGAN INFORMASI DENGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI METODE OPERASI PRIA (MOP) PADA PRIA PASANGAN USIA SUBUR DI KECAMATAN PAKUALAMAN YOGYAKARTA ABSTRAK
HUBUNGAN INFORMASI DENGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI METODE OPERASI PRIA (MOP) PADA PRIA PASANGAN USIA SUBUR DI KECAMATAN PAKUALAMAN YOGYAKARTA Susiana Sariyati Prodi DIII Kebidanan, Universitas Alma ata Yogyakarta
BAB I PENDAHULUAN. dan kreatif sesuai dengan tahap perkembangannya. (Depkes, 2010)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Remaja adalah harapan bangsa, sehingga tak berlebihan jika dikatakan bahwa masa depan bangsa yang akan datang akan ditentukan pada keadaan remaja saat ini. Remaja
BAB 1 PENDAHULUAN. pembangunan telah, sedang dan akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah penduduk merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi Indonesia adalah
BAB I PENDAHULUAN. jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. Kontrasepsi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga berencana (KB) adalah upaya untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan keluarga,
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Promiskuitas merupakan aktifitas seksual yang dilakukan dengan banyak atau lebih dari satu pasangan yang telah dikenal ataupun baru dikenal. Dampak perilaku promiskuitas
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN
130 BAB VI SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Proses pengambilan keputusan pemakaian kontrasepsi pada ibu gande multipara sangat dipengaruhi oleh adanya bias gender yang ditunjukkan dengan keyakinan peran
KUESIONER KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PONDOK PESANTREN GEDONGAN KABUPATEN CIREBON
KUESIONER KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PONDOK PESANTREN GEDONGAN KABUPATEN CIREBON Disusun oleh: Nama : NIP : LATAR BELAKANG Masa remaja merupakan satu periode dalam kehidupan manusia yang batasan usia
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Perilaku seksual dapat diwujudkan dalam
POLA, PERBEDAAN, DAN DETERMINAN KELUARGA BERENCANA. Perilaku praktek keluarga berencana (family planning practice):
POLA, PERBEDAAN, DAN DETERMINAN KELUARGA BERENCANA Perilaku praktek keluarga berencana (family planning practice): praktek masa kini (current practice): pemakaian (use), pemilihan (choice). dinamika praktek
BAB 1 PENDAHULUAN. (bkkbn.go.id 20 Agustus 2016 di akses jam WIB). besar pada jumlah penduduk dunia secara keseluruhan. Padahal, jumlah penduduk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah penduduk dunia saat ini 7,2 milyar jiwa (menurut CIA World Factbook Tahun 2015). Indonesia menduduki urutan keempat dengan jumlah penduduk terbanyak setelah
TINJAUAN HASIL SURVAI INDIKATOR KINERJA RPJMN 2015 BKKBN PROVINSI JAMBI
TINJAUAN HASIL SURVAI INDIKATOR KINERJA RPJMN 2015 BKKBN PROVINSI JAMBI Dr. Junaidi, SE, M.Si (Disampaikan pada Rapat Koordinasi Perwakiltan BKKBN Provinsi Jambi tanggal 1 September 2016) I. LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN. jiwa. Menurut data Badan Pusat Statistik sosial didapatkan laju pertumbuhan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Indonesia terus meningkat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 adalah 237,6 juta jiwa. Menurut
PERKAWINAN DAN PERCERAIAN
PERKAWINAN DAN PERCERAIAN 1. Pendahuluan Dalam demografi pertumbuhan penduduk antara lain dipengaruhi oleh fertilitas. Perkawinan merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat
TANGGUNG JAWAB SUAMI PADA KESEHATAN REPRODUKSI DAN KB DI KELUARGA. Suami yang ideal bagi keluarga muslim adalah suami yang bertaqwa
TANGGUNG JAWAB SUAMI PADA KESEHATAN REPRODUKSI DAN KB DI KELUARGA 1. Pendahuluan Kaum laki-laki (suami) adalah pelindung bagi wanita (isteri) oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (suami)
BAB I PENDAHULUAN. dalam pelaksanaan hingga saat ini juga masih mengalami hambatan hambatan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meskipun program KB dinyatakan cukup berhasil di Indonesia, namun dalam pelaksanaan hingga saat ini juga masih mengalami hambatan hambatan. Dari hasil penelitian diketahui
FORMULIR PERSETUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN. Pada Laki-laki di Lingkungan XIII Kelurahan Tegal Sari Mandala 3 Kecamatan Medan-Denai.
FORMULIR PERSETUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN Persepsi Suami tentang Penggunaan Alat Kontrasepsi Pada Laki-laki di Lingkungan XIII Kelurahan Tegal Sari Mandala 3 Kecamatan Medan-Denai Oleh : Desra Kasmarita
BAB I PENDAHULUAN. cara operasional dan dampaknya terhadap pencegahan kelahiran.tahap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Program KB di Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ditinjau dari sudut, tujuan, ruang lingkup geografi, pendekatan, cara operasional dan dampaknya
BAB I PENDAHULUAN. (International Conference on Population and Development) tanggal 5 sampai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development) tanggal 5 sampai 13 September 1994 di
Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997
Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terjadi peningkatan penduduk sebesar satu triliun penduduk pada tahun 2030.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Total populasi penduduk dunia semakin meningkat, bahkan diperkirakan akan terjadi peningkatan penduduk sebesar satu triliun penduduk pada tahun 2030. Mayoritas peningkatan
I. PENDAHULUAN. Provinsi Lampung dari hasil Sensus Penduduk tahun 2010 mencatat jumlah
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Provinsi Lampung dari hasil Sensus Penduduk tahun 2010 mencatat jumlah penduduk mencapai 7.608.405 jiwa, sedangkan hasil sensus penduduk tahun 2000 mencatat jumlah
Pendidikan seksualitas remaja. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH
Pendidikan seksualitas remaja Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH 1 Pokok Bahasan Pendahuluan Alasan pentingnya pendidikan seksualitas remaja Manfaat pendidikan seksualitas remaja Pendidikan seksualitas
BAB 1 : PENDAHULUAN. sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi serta proses
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara mental, fisik dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi
BAB 1 PENDAHULUAN. dirasakan mengalami kemunduruan. Setelah program KB digalakkan pada tahun
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak era reformasi digulirkan, program Keluarga Berencana (KB) dirasakan mengalami kemunduruan. Setelah program KB digalakkan pada tahun 1967 telah terjadi penurunan
BAB I PENDAHULUAN. seperti Negara Indonesia akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Negara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah penduduk yang begitu besar di Negara yang sedang berkembang seperti Negara Indonesia akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Negara tersebut. Dalam Wicaksono
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Penduduk ialah orang atau individu yang tinggal atau menetap pada suatu daerah tertentu dalam jangka waktu yang lama. Ada beberapa pengertian yang secara singkat perlu
BAB I PENDAHULUAN. dapat diatasi. Permasalahan ini antara lain diwarnai jumlah yang besar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah kependudukan di Indonesia sampai saat sekarang belum dapat diatasi. Permasalahan ini antara lain diwarnai jumlah yang besar dengan pertumbuhan yang tinggi, serta
BAB I PENDAHULUAN. jumlah anak dalam keluarga (WHO, 2009). Program KB tidak hanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga Berencana (KB) merupakan tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
BAB I PENDAHULUAN. memungkinkan wanita untuk merencanakan kehamilan sedemikian rupa sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program Keluarga Berencana (KB) berpotensi meningkatkan status kesehatan wanita dan menyelamatkan kehidupannya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memungkinkan
BAB 1 PENDAHULUAN. berdasarkan sensus penduduk mencapai 237,6 juta jiwa. keluarga kecil yang sehat dan sejahtera yaitu melalui konsep pengaturan jarak
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tingginya angka kelahiran di Indonesia masih menjadi masalah utama dalam kependudukan. Sejak 2004, program keluarga berencana (KB) dinilai berjalan lamban, hingga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja adalah masa dimana anak sudah meninggalkan masa kanakkanaknya menuju dunia orang dewasa. Literatur mengenai remaja biasanya merujuk pada kurun usia 10-19
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Masalah Kependudukan Masalah kependudukan di Indonesia di kategorikan sebagai suatu masalah nasional yang besar dan memerlukan pemecahan segera. Hal ini mencangkup lima masalah
lamban. 1 Pada tahun 2016 jumlah penduduk Indonesia mengalami lonjakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat setelah Cina, India
