Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan"

Transkripsi

1 Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan

2 Konferensi tingkat tinggi untuk indikator anak, Indonesia Angka kematian balita Angka kematian bayi Angka kematian ibu Penggunaan sumber air minum berkualitas 1 Penggunaan fasilitas toilet yang memenuhi syarat Prevalensi kontrasepsi wanita berstatus kawin Prevalensi kontrasepsi wanita pernah kawin Pemeriksaan kehamilan 2 Penolong persalinan Berat badan lahir rendah 3 Anak yang menerima suplemen vitamin A Ibu yang menerima suplemen vitamin A Rabun senja pada wanita hamil ASI eksklusif Terus menyusui sampai bulan Terus menyusui sampai bulan Pemberian makanan tambahan berkala Cakupan vaksinasi TBC Cakupan vaksinasi DPT Cakupan vaksinasi polio Cakupan vaksinasi campak Anak yang terlindung dari neonatal tetanus Terapi larutan gula garam Penanganan diare di rumah Pengobatan infeksi saluran pernafasan akut Akte kelahiran Rata-rata jumlah anggota rumah tangga Anak yatim di rumah tangga Pengobatan penyakit Pengobatan malaria Pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS 4 Pengetahuan yang salah mengenai HIV/AIDS 5 Pengetahuan penularan HIV dari ibu ke anak Wanita yang tahu dimana tempat untuk test HIV 46 per per ,24 61,1 51,6 60,3 57,3 91,5 66,2 7,6 63,7 42,5 1,7 39,5 82,7 55,7 75,0 82,5 58,3 65,6 71,6 50,7 48,4 26,2 61,3 55,1 4,5 3,2 55,8 0,7 19,3 2,3 30,0 13,7 1 Leding atau sumur terlindung. 2 Untuk kelahiran hidup terakhir 5 tahun sebelum survei. 3 Untuk anak-anak yang tidak mempunyai informasi berat waktu lahir, proporsi berat badan lahir rendah diasumsikan sama dengan proporsi berat badan lahir rendah untuk setiap kategori berat badan anak-anak yang mempunyai informasi berat waktu lahir. 4 Melakukan hubungan seksual hanya dengan satu pasangan yang tidak punya pasangan lain dan selalu menggunakan kondom saat berhubungan. 5 Mereka mengatakan bahwa AIDS tidak dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk dan orang yang tampaknya sehat bisa saja mengidap virus AIDS.

3 Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Badan Pusat Statistik Jakarta, Indonesia Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Jakarta, Indonesia Departemen Kesehatan Jakarta, Indonesia ORC Macro Calverton, Maryland USA Desember 2003

4 Laporan ini memuat hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI ) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). SDKI adalah bagian dari program intternasional Survei Demografi dan Kesehatan, yang dirancang untuk mengumpulkan data fertilitas, keluarga be-rencana, dan kesehatan ibu dan anak. Hampir seluruh biaya survei ini disediakan oleh Pemerintah Indonesia melalui pinjaman dana dari Bank Dunia (World Bank). United States Agency for International Development (USAID) menyediakan tambahan dana untuk pelaksanaan survei di tiga propinsi baru dan bantuan teknis dari ORC Macro. Keterangan tambahan tentang survei dapat diperoleh dari Direktorat Statistik Kependudukan, BPS, Jalan Dr. Sutomo No. 6-8, Jakarta 10710, Indonesia (Telepon/Fax , bps.go.id), atau Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, BKKBN, Jalan Permata 1, Halim Perdanakusumah, Jakarta 13650, Indonesia (Telepon/Fax ), atau Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Jalan Percetakan Negara 29, Jakarta 10560, Indonesia (Telepon/Fax ). Keterangan tambahan mengenai program Demographic Health Surveys (DHS) dapat diperoleh dengan menulis surat kepada: MEASURE/DHS+, ORC Macro, Beltsville Drive, Suite 300, Calverton, MD 20705, USA (Telepon ; Fax ; Kutipan yang dianjurkan: Badan Pusat statistik (BPS) dan ORC Macro Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia , Calverton, Maryland, USA: ORC Macro.

5 DAFTAR ISI TABEL DAN GAMBAR... vii KATA PENGANTAR... xvii RINGKASAN... xxiii PETA INDONESIA...xxviii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Geografi, Sejarah dan Ekonomi Penduduk Kebijaksanaan dan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Kebijakan dan Program Kesehatan Tujuan Survei Organisasi Survei...5 BAB 2 KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA DAN PERUMAHAN 2.1 Penduduk menurut Umur, Jenis Kelamin dan Daerah Tempat Tinggal Komposisi Rumah Tangga Tempat Tinggal Anak dan Kelangsungan Hidup Orang Tua Tingkat Pendidikan Penduduk Karakteristik Perumahan dan Kepemilikan Barang...17 BAB 3 KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN STATUS WANITA 3.1 Karakteristik Responden Survei Tingkat Pendidikan Kemampuan Membaca Akses Terhadap Media Massa Ketenagakerjaan Jenis Pendapatan Wanita Kontrol Atas Pendapatan dan Sumbangan Pendapatan Wanita Terhadap Pengeluaran Rumah Tangga Pemberdayaan Wanita Ukuran Gaya Hidup...42 BAB 4 FERTILITAS 4.1 Tingkat dan Kecenderungan Fertilitas Anak Lahir Hidup dan Anak Masih Hidup Selang Kelahiran Umur pada Kelahiran Anak Pertama Fertilitas pada Umur Remaja...51 BAB 5 PENGETAHUAN DAN PEMAKAIAN ALAT/CARA KB DI MASA LALU 5.1 Pengetahuan Tentang Alat/Cara KB Sumber Penerangan KB...56 Daftar Isi iii

6 5.3 Diskusi Tentang Keluarga Berencana dengan Suami Sikap Pasangan Usia Subur Terhadap KB Pengetahuan Tentang Masa Subur Pernah Pakai Alat/Cara KB...64 BAB 6 PEMAKAIAN ALAT/CARA KELUARGA BERENCANA 6.1 Pemakaian Alat/Cara KB Masa Kini Kecenderungan Pemakaian Kontrasepsi Kualitas Pemakaian Informasi Mengenai Alat/Cara KB Masalah dengan Kontrasepsi yang Sedang Dipakai Saat Ini Biaya dan Kemudahan Memperoleh Alat/Cara KB Sumber Pelayanan Waktu Operasi Sterilisasi...82 BAB 7 KEINGINAN MEMPUNYAI ANAK 7.1 Keinginan Menambah Anak Kebutuhan Pelayanan Keluarga Berencana Jumlah Anak Ideal Kelahiran yang Tidak Direncanakan dan Tidak Diharapkan Keinginan Mempunyai Anak menurut Status Wanita...90 BAB 8 TIDAK PAKAI KONTRASEPSI DAN KEINGINAN UNTUK PAKAI KONTRASEPSI 8.1 Tingkat Putus Pakai Alasan Berhenti Memakai Alat/Cara KB Keinginan Untuk Memakai Alat/Cara KB di Waktu yang Akan Datang Alasan Tidak Memakai Alat/Cara KB Alat/Cara KB yang Diinginkan...98 BAB 9 FAKTOR PENENTU FERTILITAS SELAIN KONTRASEPSI 9.1 Status Perkawinan Saat Ini Umur Kawin Pertama Aktifitas Seksual Sebulan Terakhir Belum Haid, Tidak Kumpul dan Masa Tidak Subur Setelah Melahirkan Akhir Masa Subur BAB 10 KEMATIAN BAYI DAN ANAK 10.1 Evaluasi Kualitas Data Tingkat dan Tren Kematian Bayi dan Anak Perbedaan Mortalitas Karakteristik Demografi Mortalitas menurut Status Wanita Kematian Perinatal Risiko Kelahiran Tinggi iv Daftar Isi

7 BAB 11 KESEHATAN IBU 11.1 Pemeriksaan Kehamilan Persalinan Perawatan Nifas Pelayanan Kesehatan Ibu dan Status Wanita Masalah dalam Mendapatkan Pelayanan Kesehatan Registrasi Kelahiran BAB 12 IMUNISASI ANAK 12.1 Cakupan Imunisasi Imunisasi menurut Karakteristik Latar Belakang Imunisasi Hepatitis B BAB 13 PENYAKIT ANAK 13.1 Prevalensi dan Pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Akut dan Demam Pembuangan Tinja Anak Prevalensi Diare Pengetahuan Tentang Perawatan Diare Pengobatan Diare Kebiasaan Pemberian Makanan Selama Diare Perawatan Kesehatan Anak dan Status Ibu Kebiasaan Mencuci Tangan BAB 14 PEMBERIAN MAKANAN PADA ANAK 14.1 Pemberian Air Susu Ibu Awal Pola Umur dalam Pemberian ASI Lama dan Frekuensi Pemberian ASI Jenis Makanan Pendamping ASI Frekuensi Makanan yang Dikonsumsi Anak Asupan Mikronutrien pada Anak Asupan Mikronutrien pada Ibu BAB 15 PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS DAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL LAINNYA 15.1 Pengetahuan tentang AIDS Pengetahuan tentang Cara untuk Menghindari HIV/AIDS Pengetahuan tentang Cara Penting menurut Program untuk Menghindari Tertular HIV/AIDS Pengetahuan tentang Masalah yang Berkaitan dengan HIV/AIDS Pembicaraan tentang HIV/AIDS Aspek Sosial HIV/AIDS Pengetahuan tentang Gejala Penyakit Infeksi Menular Seksual (PMS) Pengetahuan tentang Sumber Kondom Pria BAB 16 KEMATIAN DEWASA DAN MATERNAL 16.1 Data Daftar Isi v

8 16.2 Estimasi Langsung Kematian Dewasa Estimasi Kematian Maternal Tren Kematian Maternal BAB 17 PERAN SERTA PRIA DALAM PERAWATAN KESEHATAN KELUARGA 17.1 Nasehat atau Pelayanan Selama Kehamilan, Persalinan dan Nifas Pengetahuan Tentang Imunisasi Anak Kontak dengan Tenaga Kesehatan Persiapan Persalinan DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN A TABEL-TABEL MENURUT PROPINSI LAMPIRAN B KERANGKA SAMPEL B.1 Pendahuluan B.2 Kerangka Sampel dan Pelaksanaan B.3 Uji Coba B.4 Pelatihan Petugas B.5 Pelaksanaan Lapangan B.6 Pengolahan Data LAMPIRAN C ESTIMASI KESALAHAN SAMPLING LAMPIRAN D KUALITAS DATA LAMPIRAN E STAF SURVEI LAMPIRAN F DAFTAR PERTANYAAN vi Daftar Isi

9 TABEL DAN GAMBAR BAB 1 PENDAHULUAN Tabel 1.1 Parameter demografi...3 Tabel 1.2 Hasil wawancara rumah tangga dan perseorangan...7 BAB 2 KARAKTERISTIK LATAR BELAKANG RUMAH TANGGA DAN PERUMAHAN Tabel 2.1 Penduduk menurut umur, jenis kelamin dan daerah tempat tinggal...10 Tabel 2.2 Komposisi rumah tangga...11 Tabel 2.3 Tempat tinggal anak dan kelangsungan hidup orang tua...12 Tabel 2.4 Tingkat pendidikan penduduk menurut karakteristik latar belakang...13 Tabel Tingkat partisipasi sekolah: sekolah dasar...15 Tabel Tingkat partisipasi sekolah: sekolah lanjutan...16 Tabel 2.6 Karakteristik rumah tangga...18 Tabel 2.7 Barang tahan lama rumah tangga...19 Gambar 2.1 Piramida Penduduk Indonesia...10 Gambar 2.2 Karakteristik Perumahan menurut Daerah Tempat Tinggal...19 BAB 3 KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN STATUS WANITA Tabel 3.1 Karakteristik latar belakang responden...22 Tabel 3.2 Tingkat pendidikan menurut karakteristik latar belakang...23 Tabel 3.3 Kemampuan membaca...24 Tabel 3.4 Akses terhadap media massa...26 Tabel Status pekerjaan: wanita...28 Tabel Status pekerjaan: laki-laki...29 Tabel Jenis pekerjaan: wanita...30 Tabel Jenis pekerjaan: laki-laki...31 Tabel 3.7 Karakteristik pekerjaan...32 Tabel 3.8 Keputusan atas penggunaan pendapatan dan sumbangan pendapatan wanita terhadap pengeluaran rumah tangga...34 Tabel 3.9 Kontrol wanita atas pendapatan...35 Tabel 3.10 Partisipasi wanita dalam penentuan pengambilan keputusan...36 Tabel 3.11 Partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan...37 Tabel 3.12 Sikap wanita atas pemukulan suami terhadap istri...39 Tabel 3.13 Sikap wanita terhadap penolakan kumpul dengan suami...41 Tabel 3.14 Konsumsi rokok...42 Gambar 3.1 Status Pekerjaan Wanita Umur Tahun...28 Gambar 3.2 Jenis Pendapatan Wanita Bekerja Umur Tahun...32 Gambar 3.3 Jumlah Keputusan Dimana Wanita Ikut Memutuskan...38 BAB 4 FERTILITAS Tabel 4.1 Angka fertilitas...44 Tabel dan Gambar vii

10 Tabel 4.2 Angka fertilitas menurut karakteristik latar belakang...45 Tabel 4.3 Angka fertilitas menurut umur...47 Tabel 4.4 Anak lahir hidup dan anak masih hidup...48 Tabel 4.5 Selang kelahiran...49 Tabel 4.6 Umur persalinan pertama...50 Tabel 4.7 Median umur persalinan pertama...51 Tabel 4.8 Fertilitas remaja...52 Gambar 4.1 Angka Fertilitas Total Negara-negara Asia Tenggara...44 Gambar 4.2 Angka Fertilitas Total menurut Propinsi...46 Gambar 4.3 Tren Angka Fertilitas Total, BAB 5 PENGETAHUAN DAN PEMAKAIAN ALAT/CARA KB DI MASA LALU Tabel 5.1 Pengetahuan mengenai alat/cara KB...53 Tabel 5.2 Pengetahuan tentang alat/cara KB menurut karakteristik latar belakang...55 Tabel 5.3 Mendengar/membaca KB di media elektronik dan media cetak...57 Tabel 5.4 Pesan KB melalui petugas...59 Tabel 5.5 Kontak wanita bukan peserta KB dengan petugas KB/pemberi pelayanan KB...60 Tabel 5.6 Diskusi tentang KB antara suami dan istri...61 Tabel 5.7 Sikap terhadap KB...62 Tabel 5.8 Pengetahuan tentang masa subur...63 Tabel 5.9 Pernah pakai alat/cara KB...64 Tabel 5.10 Jumlah anak masih hidup saat pertama kali menggunakan alat/cara KB...65 Gambar 5.1 BAB 6 Persentase Wanita Berstatus Kawin yang Mengetahui Metode Kontrasepsi Modern Tertentu, Indonesia 1991 dan PEMAKAIAN ALAT/CARA KB Tabel 6.1 Pemakaian kontrasepsi masa kini...67 Tabel 6.2 Pemakaian kontrasepsi masa kini: karakteristik latar belakang...68 Tabel 6.3 Tren pemakaian alat/cara KB tertentu, Indonesia Tabel 6.4 Tren pemakaian alat/cara KB menurut propinsi di Jawa 1991 sampai Tabel 6.5 Pemakaian alat/cara KB masa kini menurut status wanita...73 Tabel 6.6 Kualitas pemakaian pil...74 Tabel 6.7 Kualitas pemakaian suntikan...75 Tabel 6.8 Informasi mengenai alat/cara KB...76 Tabel 6.9 Masalah dengan kontrasepsi yang dipakai saat ini...77 Tabel 6.10 Pembayaran untuk jasa pelayanan dan alat/cara KB...78 Tabel 6.11 Biaya rata-rata alat/cara dan pelayanan KB...79 Tabel 6.12 Sumber pelayanan alat/cara KB...80 Tabel 6.13 Waktu sterilisasi...82 Gambar 6.1 Gambar 6.2 Persentase Wanita Berstatus Kawin Berumur Tahun yang Menggunakan Metode Kontrasepsi...69 Persentase Pria Berstatus Kawin Berumur Tahun yang Menggunakan Metode Kontrasepsi...70 viii Tabel dan Gambar

11 Gambar 6.3 Persentase Wanita Berstatus Kawin Berumur Tahun yang Menggunakan Suatu Metode Kontrasepsi, Indonesia Gambar 6.4 Persentase Wanita Berstatus Kawin Berumur Tahun yang Menggunakan Metode Kontrasepsi di Pulau Jawa, Gambar 6.5 Distribusi Pemakai Kontrasespsi Modern menurut Sumber Pelayanan, Indonesia Gambar 6.6 Distribusi Pemakai Kontrasespsi Modern menurut Sumber Pelayanan...81 BAB 7 KEINGINAN MEMPUNYAI ANAK Tabel 7.1 Keinginan mempunyai anak...84 Tabel 7.2 Keinginan untuk tidak mempunyai anak lagi...85 Tabel 7.3 Kebutuhan untuk memperoleh pelayanan KB...86 Tabel 7.4 Jumlah anak ideal...88 Tabel 7.5 Rata-rata jumlah anak ideal menurut karakteristik latar belakang...88 Tabel 7.6 Status perencanaan kelahiran...89 Tabel 7.7 Angka fertilitas yang diinginkan...90 Tabel 7.8 Jumlah anak ideal dan kebutuhan ber-kb yang tidak terpenuhi menurut status wanita...91 Gambar 7.1 Keinginan mempunyai anak dari Wanita Berstatus Kawin Umur Tahun...84 BAB 8 TIDAK PAKAI KONTRASEPSI DAN KEINGINAN UNTUK PAKAI KONTRASEPSI Tabel 8.1 Tingkat putus pakai kontrasepsi...93 Tabel 8.2 Alasan berhenti memakai alat/cara KB...95 Tabel 8.3 Keinginan memakai alat/cara KB di waktu yang akan datang...96 Tabel 8.4 Alasan berhenti memakai alat kontrasepsi...97 Tabel 8.5 Alat/cara KB yang diinginkan...98 Gambar 8.1 BAB 9 Alasan Berhenti Memakai Kontrasepsi...95 FAKTOR-FAKTOR PENENTU FERTILITAS SELAIN KONTRASEPSI Tabel 9.1 Status perkawinan menurut umur Tabel 9.2 Umur kawin pertama Tabel 9.3 Median umur kawin pertama Tabel 9.4 Aktivitas seksual terakhir Tabel 9.5 Belum haid, tidak kumpul dan masa tidak subur setelah melahirkan Tabel 9.6 Median lamanya masa tidak subur setelah melahirkan menurut karakteristik latar belakang Tabel 9.7 Menopause Gambar 9.1 Gambar 9.2 Median Umur Kawin Pertama menurut Propinsi di Jawa 1994, 1997, and Persentase Kelahiran dalam 3 Tahun Terakhir yang Ibunya Belum Haid atau Belum Kumpul Tabel dan Gambar ix

12 BAB 10 KEMATIAN BAYI DAN ANAK Tabel 10.1 Angka kematian anak Tabel 10.2 Angka kematian anak menurut karakteristik sosial-ekonomi Tabel 10.3 Tren kematian bayi menurut propinsi Tabel 10.4 Angka kematian anak menurut karakteristik demografi Tabel 10.5 Angka kematian anak menurut status wanita Tabel 10.6 Kematian perinatal Tabel 10.7 Risiko kelahiran tinggi Gambar 10.1 Pelaporan Umur Kematian dalam Bulan Gambar 10.2 Angka Kematian Bayi menurut Sumber Data, Indonesia, BAB 11 KESEHATAN IBU Tabel 11.1 Pemeriksaan kehamilan Tabel 11.2 Jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan dan saat kunjungan pertama Tabel 11.3 Komponen pemeriksaan kehamilan Tabel 11.4 Imunisasi tetanus toksoid Tabel 11.5 Komplikasi selama kehamilan Tabel 11.6 Tempat persalinan Tabel 11.7 Penolong persalinan: kualifikasi tertinggi Tabel 11.8 Penolong persalinan: kualifikasi terendah Tabel 11.9 Karakteristik persalinan Tabel Persiapan persalinan Tabel Komplikasi selama persalinan Tabel Perawatan nifas menurut karakteristik latar belakang Tabel Pelayanan kesehatan ibu dan status wanita Tabel Masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan Tabel Registrasi kelahiran Tabel Alasan tidak mendaftarkan kelahiran Gambar 11.1 Jumlah Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan dan Umur Kandungan dalam Bulan pada Saat Kunjungan Pertama Pemeriksaan Kehamilan Gambar 11.2 Tempat Persalinan dan Penolong Persalinan dengan Kualifikasi Terendah Gambar 11.3 Pembicaraan tentang Persiapan Persalinan BAB 12 IMUNISASI ANAK Tabel 12.1 Imunisasi menurut karakteristik latar belakang Tabel 12.2 Cakupan imunisasi hepatitis B Gambar 12.1 Persentase Anak Umur Bulan yang Diimunisasi pada Umur 12 Bulan (Informasi dari KMS atau Laporan Ibu) Gambar 12.2 Persentase Anak Umur Bulan yang Diimunisasi Lengkap (Berdasarkan pada Informasi dari KMS atau Laporan Ibu) BAB 13 PENYAKIT ANAK Tabel 13.1 Prevalensi dan pengobatan infeksi saluran pernafasan akut dan atau demam Tabel 13.2 Obat yang diminum untuk demam x Tabel dan Gambar

13 Tabel 13.3 Pembuangan tinja anak Tabel 13.4 Prevalensi diare Tabel 13.5 Pengetahuan tentang paket oralit Tabel 13.6 Pengobatan diare Tabel 13.7 Kebiasaan pemberian makanan selama diare Tabel 13.8 Perawatan kesehatan anak menurut status wanita Tabel 13.9 Kebiasaan mencuci tangan Gambar 13.1 Gambar 13.2 Gambar 13.3 BAB 14 Pengetahuan dan Penggunaan Paket Oralit pada Ibu yang Melahirkan dalam Lima Tahun Terakhir menurut Tingkat Pendidikan Tren Pengetahuan dan Penggunaan Paket Oralit untuk Pengobatan Diare oleh Ibu yang Melahirkan dalam Lima Tahun Terakhir Tren Kebiasaan Pemberian Makanan pada Anak di Bawah Lima Tahun yang Mengalami Diare PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI DAN ANAK Tabel 14.1 Pemberian ASI pertama kali Tabel 14.2 Status pemberian ASI menurut umur anak Tabel 14.3 Median lamanya pemberian ASI Tabel 14.4 Makanan yang dikonsumsi oleh anak pada hari atau malam sebelum Tabel 14.5 pencacahan Frekuensi makanan yang dikonsumsi oleh anak pada hari atau malam sebelum pencacahan Tabel 14.6 Gizi mikro yang diasup oleh anak Tabel 14.7 Gizi mikro yang diasup oleh ibu Gambar 14.1 Distribusi Anak menurut Status Pemberian ASI menurut Umur Gambar 14.2 Median Lamanya Pemberian ASI Tertentu (bulan) BAB 15 PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS DAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL LAINNYA Tabel 15.1 Pengetahuan tentang HIV/AIDS Tabel 15.2 Pengetahuan tentang cara pencegahan HIV/AIDS Tabel Pengetahuan tentang program cara penting untuk mencegah HIV/AIDS: wanita Tabel Pengetahuan tentang program cara penting untuk mencegah HIV/AIDS: pria Tabel Pengetahuan tentang HIV/AIDS-isu terkait: wanita Tabel Pengetahuan tentang HIV/AIDS-isu terkait: pria Tabel Diskusi tentang HIV/AIDS dengan suami Tabel Diskusi tentang HIV/AIDS dengan istri Tabel 15.6 Aspek sosial HIV/AIDS Tabel Pengetahuan tentang gejala infeksi menular seksual: wanita Tabel Pengetahuan tentang gejala infeksi menular seksual: pria Tabel 15.8 Pengetahuan tentang sumber pelayanan dan akses terhadap kondom lakilaki Gambar 15.1 Persentase Wanita Pernah Kawin yang Telah Mendengar dan Percaya Ada Cara Untuk Mencegah AIDS, Indonesia Tabel dan Gambar xi

14 Gambar 15.2 Gambar 15.3 Gambar 15.4 Gambar 15.5 BAB 16 Persentase Wanita Pernah Kawin yang Telah Mendengar dan Percaya Ada Cara Untuk Mencegah AIDS menurut Tingkat Pendidikan Persentase Wanita Berstatus Kawin yang Telah Mendengar dan Percaya Ada Cara Untuk Mencegah AIDS Persentase Wanita Berstatus Kawin dan Pria Berstatus Kawin yang Mendiskusikan Tentang Pencegahan AIDS dengan Pasangannya menurut Tingkat Pendidikan Persentase Wanita Pernah Kawin dan Pria Berstatus Kawin yang Tidak Mengetahui Gejala Infeksi Menular Seksual menurut Tingkat Pendidikan KEMATIAN DEWASA DAN MATERNAL Tabel 16.1 Data saudara kandung Tabel 16.2 Angka kematian dewasa Tabel 16.3 Angka kematian maternal BAB 17 PERAN SERTA PRIA DALAM PERAWATAN KESEHATAN KELUARGA Tabel 17.1 Perawatan yang diperoleh ibu semasa hamil, melahirkan dan sesudah melahirkan Tabel 17.2 Imunisasi tertentu yang diperoleh anak berumur di bawah lima tahun Tabel 17.3 Kontak langsung ayah dengan petugas kesehatan mengenai kesehatan dan kehamilan ibu Tabel 17.4 Persiapan persalinan LAMPIRAN A TABEL-TABEL MENURUT PROPINSI Tabel A.3.1 Distribusi responden menurut propinsi Tabel A Pendidikan tertinggi yang ditamatkan menurut propinsi: wanita pernah kawin Tabel A Pendidikan tertinggi yang ditamatkan menurut propinsi: pria berstatus kawin Tabel A Kemampuan membaca dan menulis menurut propinsi: wanita Tabel A Kemampuan membaca dan menulis menurut propinsi: pria Tabel A Keterpaparan terhadap media massa menurut propinsi: wanita Tabel A Keterpaparan terhadap media massa menurut propinsi: pria Tabel A Status ketenagakerjaan menurut propinsi: wanita Tabel A Status ketenagakerjaan menurut propinsi: pria Tabel A.3.6 Keputusan dalam penggunaan pendapatan dan kontribusi pendapatan terhadap pengeluaran rumah tangga menurut propinsi Tabel A.3.7 Partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan menurut propinsi Tabel A.3.8 Sikap wanita terhadap pemukulan istri menurut propinsi Tabel A.3.9 Sikap wanita terhadap penolakan hubungan seksual dengan suami menurut propinsi Tabel A.4.1 Fertilitas menurut propinsi Tabel A.4.2 Selang kelahiran menurut propinsi Tabel A.4.3 Median umur persalinan pertama menurut propinsi Tabel A.4.4 Fertilitas wanita umur tahun menurut propinsi Tabel A.5.1 Pengetahuan tentang alat/cara KB menurut propinsi xii Tabel dan Gambar

15 Tabel A.5.2 Mendengar/membaca KB di media elektronik dan media cetak menurut propinsi Tabel A.5.3 Pesan KB melalui hubungan personal menurut propinsi Tabel A.5.4 Kontak wanita bukan peserta KB dengan petugas KB/pemberi pelayanan KB menurut propinsi Tabel A.5.5 Diskusi tentang KB antara suami dan istri menurut propinsi Tabel A.6.1 Pemakaian kontrasepsi masa kini menurut propinsi Tabel A.6.2 Kualitas pemakaian pil menurut propinsi Tabel A.6.3 Informasi mengenai alat/cara KB menurut propinsi Tabel A.6.4 Pembayaran untuk jasa pelayanan alat/cara KB menurut propinsi Tabel A.7.1 Keinginan untuk tidak mempunyai anak lagi menurut propinsi Tabel A.7.2 Kebutuhan KB yang tidak terpenuhi menurut propinsi Tabel A.7.3 Rata-rata jumlah anak ideal menurut propinsi Tabel A.7.4 Angka fertilitas yang diinginkan menurut propinsi Tabel A.9.1 Status perkawinan menurut propinsi Tabel A.9.2 Median umur kawin pertama menurut propinsi Tabel A.9.3 Aktivitas seksual sebulan terakhir menurut propinsi Tabel A.9.4 Median lamanya masa tidak subur setelah melahirkan menurut propinsi Tabel A.10.1 Angka kematian anak menurut propinsi Tabel A.11.1 Pemeriksaan kehamilan menurut propinsi Tabel A.11.2 Komponen pemeriksaan kehamilan menurut propinsi Tabel A.11.3 Imunisasi tetanus toksoid menurut propinsi Tabel A.11.4 Tempat persalinan menurut propinsi Tabel A.11.5 Penolong persalinan menurut propinsi Tabel A.11.6 Karakteristik persalinan menurut propinsi Tabel A.11.7 Persiapan persalinan menurut propinsi Tabel A.11.8 Perawatan nifas menurut propinsi Tabel A.11.9 Masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan menurut propinsi Tabel A Registrasi kelahiran menurut propinsi Tabel A Alasan tidak mencatatkan kelahiran menurut propinsi Tabel A.12.1 Imunisasi menurut propinsi Tabel A.12.2 Imunisasi Hepatitis B menurut propinsi Tabel A.13.1 Prevalensi dan pengobatan infeksi saluran pernafasan akut dan atau demam menurut propinsi Tabel A.13.2 Pembuangan tinja anak menurut propinsi Tabel A.13.3 Prevalensi diare menurut propinsi Tabel A.13.4 Pengetahuan tentang paket oralit menurut propinsi Tabel A.14.1 Pemberian ASI pertama kali menurut propinsi Tabel A.14.2 Median frekuensi dan lamanya pemberian ASI menurut propinsi Tabel A.14.3 Gizi mikro yang diasup oleh anak menurut propinsi Tabel A.14.4 Gizi mikro yang diasup oleh ibu menurut propinsi Tabel A.15.1 Pengetahuan tentang HIV/AIDS menurut propinsi Tabel dan Gambar xiii

16 Tabel A.15.2 Pengetahuan tentang program cara penting untuk mencegah HIV/AIDS menurut propinsi Tabel A.15.3 Pengetahuan tentang HIV/AIDS-isu terkait menurut propinsi Tabel A.15.4 Diskusi tentang HIV/AIDS dengan suami menurut propinsi Tabel A.15.5 Aspek sosial HIV/AIDS menurut propinsi Tabel A.15.6 Pengetahuan tentang gejala infeksi menular seksual menurut propinsi: wanita Tabel A.15.7 Pengetahuan tentang gejala infeksi menular seksual menurut propinsi: pria Tabel A.15.8 Pengetahuan tentang sumber pelayanan dan akses terhadap kondom lakilaki menurut propinsi Tabel A.17.1 Perawatan semasa hamil, melahirkan dan sesudah melahirkan menurut propinsi Tabel A.17.2 Imunisasi tertentu yang diperoleh anak berumur di bawah lima tahun menurut propinsi Tabel A.17.3 Kontak langsung ayah dengan petugas kesehatan mengenai kesehatan dan kehamilan ibu menurut propinsi Tabel A.17.4 Persiapan persalinan menurut propinsi LAMPIRAN B KERANGKA SAMPEL Tabel B.1 Alokasi blok sensus menurut propinsi Tabel B.2.1 Rancangan sampel: hasil wawancara rumah tangga: wanita Tabel B.2.2 Rancangan sampel: hasil wawancara rumah tangga: wanita Tabel B.3.1 Rancangan sampel: hasil wawancara rumah tangga: pria Tabel B.3.2 Rancangan sampel: hasil wawancara rumah tangga: pria LAMPIRAN C ESTIMASI KESALAHAN SAMPLING Tabel C.1 Daftar variabel kesalahan sampling, Indonesia Tabel C.2 Kesalahan sampling: Nasional, Indonesia Tabel C.3 Kesalahan sampling: Daerah perkotaan, Indonesia Tabel C.4 Kesalahan sampling: Daerah perdesaan, Indonesia Tabel C.5 Kesalahan sampling: Sumatera Utara, Indonesia Tabel C.6 Kesalahan sampling: Sumatera Barat, Indonesia Tabel C.7 Kesalahan sampling: Riau, Indonesia Tabel C.8 Kesalahan sampling: Jambi, Indonesia Tabel C.9 Kesalahan sampling: Sumatera Selatan, Indonesia Tabel C.10 Kesalahan sampling: Bengkulu, Indonesia Tabel C.11 Kesalahan sampling: Lampung, Indonesia Tabel C.12 Kesalahan sampling: Bangka Belitung, Indonesia Tabel C.13 Kesalahan sampling: DKI Jakarta, Indonesia Tabel C.14 Kesalahan sampling: Jawa Barat, Indonesia Tabel C.15 Kesalahan sampling: Jawa Tengah, Indonesia Tabel C.16 Kesalahan sampling: DI Yogyakarta, Indonesia Tabel C.17 Kesalahan sampling: Jawa Timur, Indonesia Tabel C.18 Kesalahan sampling: Banten, Indonesia Tabel C.19 Kesalahan sampling: Bali, Indonesia Tabel C.20 Kesalahan sampling: Nusa Tanggara Barat, Indonesia Tabel C.21 Kesalahan sampling: Nusa Tenggara Timur, Indonesia Tabel C.22 Kesalahan sampling: Kalimantan Barat, Indonesia xiv Tabel dan Gambar

17 Tabel C.23 Kesalahan sampling: Kalimantan Tengah, Indonesia Tabel C.24 Kesalahan sampling: Kalimantan Selatan, Indonesia Tabel C.25 Kesalahan sampling: Kalimantan Timur, Indonesia Tabel C.26 Kesalahan sampling: Sulawesi Utara, Indonesia Tabel C.27 Kesalahan sampling: Sulawesi Tengah, Indonesia Tabel C.28 Kesalahan sampling: Sulawesi Selatan, Indonesia Tabel C.29 Kesalahan sampling: Sulawesi Tenggara, Indonesia Tabel C.30 Kesalahan sampling: Gorontalo, Indonesia LAMPIRAN D KUALITAS DATA Tabel D.1 Distribusi umur penduduk Tabel D.2.1 Distribusi umur wanita yang memenuhi syarat dan diwawancarai Tabel D.2.2 Distribusi umur pria yang memenuhi syarat dan diwawancarai Tabel D.3 Kelengkapan laporan Tabel D.4 Kelahiran menurut tahun kelender Tabel D.5 Pelaporan umur saat meninggal (dalam hari) Tabel D.6 Pelaporan umur saat meninggal (dalam bulan) Tabel dan Gambar xv

18 KATA PENGANTAR Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) merupakan survei yang kelima kali mengenai kondisi demografi dan kesehatan di Indonesia, yang dilakukan sebagai bagian dari proyek internasional survei demografi dan kesehatan (demographic and Health Surveys/DHS). Survei pertama adalah Survei Prevalensi Kontrasepsi Indonesia yang dilakukan pada tahun 1987 yang kedua, ketiga, dan keempat adalah SDKI 1991, SDKI 1994, dan SDKI SDKI dirancang bersama-sam oleh empat institusi: Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Departemen Kesehatan (DepKes), dan ORC Macro. Hampir seluruh biaya survei ini disediakan oleh Pemerintah Indonesia melalui pinjaman dari Bank Dunia. United States Agency for International Development (USAID) menyediakan dana tambahan untuk pelaksanaan survei di tiga propinsi baru dan bantuan teknis melalui ORC Macro. BPS bertanggung jawab melaksanakan survei, termasuk merancang survei, pelaksanaan lapangan, dan pengolahan data. Pelaksanaan SDKI dilaksanakan dari bulan Oktober 2002 sampai dengan April 2003 di 26 propinsi terpilih. Karena alasan keamanan, empat propinsi tidak dicakup dalam survei: Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Kerangka sampel survei ini adalah daftar blok sensus yang dirancang untuk Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Sampel SDKI dirancang untuk menghasilkan estimasi karakteristik penting dari wanita pernah kawin umur tahun dan pria kawin tingkat nasional, daerah perdesaan dan perkotaan, dan 26 propinsi yang dicakup. Tujuan utama dari SDKI adalah menyediakan informasi yang rinci mengenai penduduk, keluarga berencana dan kesehatan bagi pembuat kebijakan dan pengelola program kependudukan dan kesehatan. Secara khusus SDKI mengumpulkan informasi mengenai latar belakang sosio-ekonomi responden wanita, tingkat fertilitas, perkawinan dan aktifitas seksual, keinginan mempunyai anak, pengetahuan dan keikutsertaan keluarga berencana, praktek menyusui, kematian anak dan dewasa termasuk kematian ibu, kesehatan ibu dan anak, kepedulian dan sikap terhadap AIDS dan penyakit menular seksual lainnya di Indonesia. Laporan ini melengkapi laporan pendahuluan yang sudah diterbitkan sebelumnya. Penyajian laporan ini dapat dilakukan tepat pada waktunya karena kerjasama dan dedikasi dari semua pihak yang terlibat. Atas partisipasi aktifnya, kami ucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya, terutama kepada Bank Dunia, USAID, dan MEASURE DHS+ ORC Macro. Kepala Badan Pusat Statistik Dr. Soedarti Surbakti Kata Pengantar xvii

19

20 KATA PENGANTAR Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dilaksanakan secara berkala setiap tiga tahun sampai dengan tahun Namun SDKI dilakukan dengan selang waktu lebih dari lima tahun sejak survei terakhir. Perkembangan global yang pesat menyebabkan terjadinya perubahan besar dalam situasi politik dan sosial-ekonomi di Indonesia, yang berakibat pada perubahan lingkungan strategi program Keluarga Berencana di Indonesia. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengadopsi paradigma baru Gerakan Keluarga Berencana, yaitu beralih dari program yang berkonsentrasi pada parameter demografi ke pendekatan berorientasi pada individu dan keluarga. Pendekatan ini mengutamakan pentingnya perkembangan individu dan keluarga, serta berupaya untuk mengubah sikap dan perilaku terhadap kesehatan reproduksi dan keluarga berencana Paradigma baru juga berusaha memberikan informasi dan pelayanan yang berkualitas, serta memperbaiki kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga. Paradigma tersebut tersaji dalam visi baru Keluarga Berkualitas pada Tahun Dengan mengacu pada visi baru Program KB Nasional, sejalan dengan penurunan fertilitas yang terus berlangsung dan penerimaan secara luas norma keluarga kecil, maka kegiatan program yang akan datang difokuskan pada peningkatan kualitas pelayanan KB, komunikasi, informasi, dan edukasi, serta program-program kesejahteraan. Di samping itu, kita telah mengumpulkan berbagai informasi baru dan mengitegrasikannya ke dalam rencana strategi pemberian pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi. Hal ini terbukti dari berbagai studi akhir-akhir ini tentang partisipasi pria dalam keluarga berencana. Studi-studi ini telah memberikan kejelasan pada isu-isu ilusif dan telah memberikan kemungkinan bagi kita untuk melakukan pendekatan yang strategis. SDKI juga mencakup data baru, antara lain tentang pemakaian kontrasepsi oleh pria berstatus kawin dan partisipasi kaum perempuan dalam pengambilan/pembuatan keputusan. Saya beranggapan bahwa laporan ini merupakan karya yang monumental bukan saja karena cakupannya, tetapi yang lebih penting lagi adalah karena terbukanya peluang yang lebih besar untuk analisis yang mendalam. Saya ucapkan selamat kepada Panitia Pengarah dan Panitia Teknis SDKI , yang telah mengupayakan penyiapan laporan ini. Ucapan terima kasih saya sampaikan pula kepada Badan Pusat Statistik, Departemen Kesehatan, dan ORC Macro yang telah membantu dalam pelaksanaan survei dan penulisan laporan ini. Penghargaan juga saya tujukan kepada Bank Dunia untuk dukungan pendanaan, sehingga memungkinkan terlaksananya survei ini. Selain itu, penghargaan juga kami tujukan kepada United States Agency for International Development (USAID) atas dukungan pendanaan untuk mencakup propinsi-propinsi baru dan untuk bantuan teknis melalui ORC Macro yang bekerja sama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik dan Departemen Kesehatan. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Dr. Sumarjati Arjoso, S.K.M. Kata Pengantar xix

21

22 KATA PENGANTAR Tujuan dari pada pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kepedulian, kemauan, dan kemampuan dari setiap orang untuk hidup sehat. Untuk mencapai tujuan tersebut Pemerintah Indonesia, dalam memasuki millennium ke-tiga, telah melakukan reformasi kebijakan dalam bidang kesehatan dengan menetapkan visi baru Indonesia Sehat 2010 yang menjadi acuan misi dan strategi pembangunan kesehatan. Pembangunan dalam bidang kesehatan melalui Indonesia Sehat 2010 ini memerlukan perencanaan program yang berdasarkan fakta dan diperlukan informasi kesehatan yang handal dan dapat dipercaya. Survei adalah salah satu metode untuk memperoleh informasi kesehatan yang diperlukan. Berbagai survei tentang kesehatan yang telah dan sedang dilaksanakan di Indonesia telah menghasilkan data kesehatan yang dibutuhkan oleh DepKes dan sektor lain. Upaya keterpaduan surveisurvei kesehatan yang berskala nasional dalam mengumpulkan data kesehatan untuk menyokong kebutuhan informasi kesehatan yang optimal seharusnya dilaksanakan sebagaimana mestinya. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) yang dilaksanakan dengan bekerja-sama dan kemitraan antara Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Badan Pusat Statistik (BPS) dan Departemen Kesehatan (DepKes) adalah sebuah contoh penyelenggaraan survei yang efisien dalam penyediaan data untuk keperluan berbagai pihak. DepKes tentu saja mendapat manfaat dari data SDKI ini. Temuan SDKI bersama-sama dengan data dari berbagai sumber harus dipergunakan sebaik mungkin untuk mendukung perencanaan program berdasarkan fakta. Saya juga menganjurkan agar temuan SDKI disebar-luaskan pada pembuat keputusan diberbagai tingkat administrasi dan masyarakat luas. Akhirnya, saya menyampaikan rasa syukur dan penghargaan kepada BPS, BKKBN, Bank Dunia, United States Agency for International Development (USAID), Macro International Inc. di Maryland (USA) dan semua pihak yang telah membantu keberhasilan pelaksanaan SDKI Penghargaan saya sampaikan pula kepada tim pengarah, tim teknis, dan tim pengumpul data, tanpa ketekunan usaha dan sumbangsih mereka maka survei ini tidak akan terwujud. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. Achmad Sujudi Kata Pengantar xxi

23 RINGKASAN Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) merupakan survei tingkat nasional dari wanita pernah kawin umur tahun dan pria berstatus kawin umur tahun. Tujuan utama SDKI adalah untuk menyediakan informasi yang rinci bagi pembuat kebijakan dan para pengelola program tentang fertilitas, keluarga berencana, kematian anak-anak dan dewasa, kesehatan ibu dan anak, pengetahuan dan sikap mengenai HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya. SDKI merupakan survei yang kelima kali tentang demografi dan kesehatan di Indonesia. Dalam melakukan analisa tren dengan menggunakan data SDKI harus hati-hati karena perbedaan cakupan wilayah geografis. Survei kali ini tidak mencakup Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. SDKI sebelumnya mencakup Timor Timur. STATUS SAAT INI DAN PERKEMBANGANNYA FERTILITAS SDKI menunjukkan bahwa tingkat fertilitas di Indonesia menurun dari 3,0 anak per wanita pada periode menjadi 2,6 anak per wanita pada kurun waktu Penurunan terjadi di sebagian besar propinsi. Dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara seperti Kamboja, Filipina, Malaysia, dan Myanmar, TFR (Total Fertility Rate/Angka Fertilitas Total) Indonesia tergolong rendah, walaupun tidak serendah Singapura dan Thailan. Tingkat fertilitas sangat beragam antar kelompok wanita. Wanita di daerah perkotaan secara rata-rata mempunyai 0,3 anak lebih sedikit dibandingkan wanita di daerah perdesaan, masing-masing 2,4 anak dan 2,7 anak. Hubungan antara pendidikan dan tingkat fertilitas seperti huruf U terbalik. Wanita dengan pendidikan tidak tamat SD dan tamat SD mempunyai TFR paling tinggi. Variasi TFR menurut indeks kekayaan terlihat tajam. Tingkat fertilitas wanita di rumah tangga termiskin jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wanita di rumah tangga terkaya, masing-masing 4,4 kelahiran dan 3,4 kelahiran. Variasi tingkat fertilitas antar propinsi cukup besar: Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali telah mencapai replacement level (2,1 anak per wanita), sementara Nusa Tenggara Timur and Sulawesi Selatan, mempunyai TFR tertinggi masingmasing 4,1 and 3,6 anak per wanita. MENGAPA FERTILITAS MENURUN? Penurunan tingkat fertilitas diantaranya disebabkan oleh peningkatan tingkat pendidikan wanita (sehingga menunda perkawinan), umur pertama kali melahirkan meningkat, keinginan untuk mempunyai jumlah anak yang lebih sedikit, dan meningkatnya penggunaan alat kontrasepsi. Pendidikan lebih baik. Pendidikan wanita pada umur reproduksi terus meningkat. Pada tahun 1997, 13 persen dari wanita umur tahun tidak mempunyai pendidikan. Pada tahun , angka ini turun menjadi 8 persen. Persentase wanita dengan pendidikan tidak tamat SLTP meningkat dari 28 persen pada tahun 1997 menjadi 38 persen pada tahun Penundaan perkawinan. SDKI menunjukkan bahwa makin banyak wanita Indonesia tetap melajang. Wanita menikah pada umur yang lebih tua. Pada tahun 1997 setengah dari wanita umur tahun menikah pada umur 18,6 tahun; pada tahun median umur kawin adalah 19,2 tahun. Penundaan melahirkan. Wanita juga menunda kelahiran pertama. Median umur pertama kali melahirkan untuk wanita umur tahun meningkat dari 20,8 tahun pada tahun 1997 menjadi 21,0 tahun pada tahun Melahirkan pada usia remaja menurun dari 12 persen pada SDKI 1997 menjadi 10 persen pada SDKI Selang kelahiran lebih panjang. Penurunan tingkat fertilitas juga dapat disebabkan oleh selang kelahiran yang lebih panjang, menyiratkan penundaan kelahiran anak yang kedua. Hasil SDKI menunjukkan bahwa setengah dari kelahiran terjadi 54 bulan setelah kelahiran Ringkasan xxiii

24 sebelumnya, di mana hal ini merupakan selang kelahiran yang lebih panjang dibandingkan laporan pada SDKI 1997 dan 1994, masingmasing 45 bulan dan 42 bulan. Keinginan untuk memiliki keluarga yang lebih kecil meningkat. Data SDKI menunjukkan bahwa keinginan untuk membatasi kelahiran terus meningkat. Persentase wanita berstatus kawin yang menyatakan bahwa mereka tidak menginginkan anak lagi atau telah disterilisasi meningkat dari 50 persen pada tahun 1997 menjadi 54 persen pada tahun Perbedaan antara fertilitas yang diinginkan dan fertilitas sebenarnya. Selain peningkatan penggunaan kontrasepsi, data survei menunjukkan bahwa satu dari sepuluh kehamilan terjadi pada waktu yang tidak diinginkan dan satu dari 14 tidak diinginkan sama sekali. Jika kelahiran tidak diinginkan dapat dicegah, TFR Indonesia akan menjadi 2,2 kelahiran per wanita dari pada angka sebenarnya yaitu 2,6 kelahiran per wanita. Perbedaan ini tetap sama seperti yang tercatat pada tahun 1997, tetapi tingkat fertilitas pada tahun lebih rendah dari pada tahun 1997 yaitu masing-masing 2,4 dan 2,8 kelahiran per wanita. PEMAKAIAN KONTRASEPSI Pemakaian kontrasepsi di antara wanita berstatus kawin di Indonesia meningkat dari 57 persen pada tahun 1997 menjadi 60 persen pada tahun Peningkatan terbanyak terjadi pada pemakaian suntikan dari 21 persen menjadi 28 persen (terhitung 42 persen dari keseluruhan peserta KB). Pemakaian Kontrasepsi menurut metode. Selain suntikan, metode KB yang termasuk populer di tahun adalah pil (13 persen), IUD (6 persen), susuk KB dan sterilisasi wanita (masing-masing 4 persen). Peningkatan pemakaian suntikan diiringi oleh turunnya peserta IUD dan susuk KB (masingmasing 2 poin persen.). Terjadi pergeseran dalam pemakaian metode kontrasepsi modern. Pada SDKI 1991, tercatat 30 persen peserta KB menggunakan pil, di tahun terjadi penurunan proporsi menjadi 22 persen. Pemakai IUD turun dari 27 persen pada tahun 1991 menjadi 10 persen pada tahun Sterilisasi pria dan penggunaan kondom masih terbatas jumlah pesertanya. Perbedaan yang besar dalam pemakaian kontrasepsi. Terdapat perbedaan yang besar dalam pemakaian kontrasepsi modern di antara wanita berstatus kawin. Pemakaian metode KB modern jauh lebih tinggi di wilayah perkotaan dari pada di wilayah perdesaan (42 dan 15 persen di antara wanita usia reproduksi (20-34 tahun), berpendidikan lebih tinggi, dan di kalangan wanita dengan jumlah anak banyak. Prevalensi kontrasepsi beragam menurut propinsi. Tercatat 65 persen atau lebih di DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, Bengkulu, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bangka Belitung. Di lain pihak, Nusa Tenggara Timur mempunyai tingkat prevalensi kontrasepsi terendah (35 persen). Sumber Pelayanan. Di Indonesia, kesertaan KB cenderung meningkat pada sumber pelayanan swasta. Penggunaan sumber pelayanan pemerintah turun dari 43 persen pada SDKI 1997 menjadi 28 persen pada SDKI , sedangkan sumber pelayanan swasta meningkat dari 42 persen menjadi 63 persen, dan penggunaan sumber pelayanan lain turun dari 15 persen menjadi 8 persen. Peningkatan pada sumber pelayanan swasta terutama terjadi pada bidan praktek swasta (18 poin persen). Kualitas pemakaian kontrasepsi. Pada SDKI , 90 persen di antara peserta pil mampu menujukkan kemasan pil, dan 83 persen menggunakan pil sesuai urutan. Di antara peserta KB suntikan, hanya 2 sampai 5 persen yang beresiko hamil, karena mereka tidak disuntik pada waktunya. Kebutuhan KB tak terpenuhi. Kebutuhan KB tidak terpenuhi didefinisikan sebagai persentase wanita berstatus kawin yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi. Hasil SDKI menunjukkan bahwa kebutuhan KB tak terpenuhi adalah 9 persen, terdiri dari 5 persen untuk pembatasan kelahiran dan 4 persen untuk penjarangan kelahiran. Angka kebutuhan KB tak terpenuhi tidak berubah sejak tahun Secara keseluruhan, jumlah kebutuhan KB di Indonesia adalah 70 persen, 88 persen diantaranya sudah terpenuhi. Apabila seluruh kebutuhan KB xxiv Ringkasan

25 telah dipenuhi, maka prevalensi kontrasepsi diharapkan dapat mencapai 68 persen. Apabila hasil SDKI dibandingkan dengan hasil SDKI 1997 menunjukkan bahwa persentase kebutuhan KB yang terpenuhi mengalami sedikit kenaikan. Kemandirian KB. Secara keseluruhan 89 persen peserta KB membayar metode dan pelayanan KB yang digunakannya, dan 11 persen mendapatkan metode dan pelayanan secara gratis. Peserta KB suntikan dan pil cenderung membayar biaya alat maupun pelayanannya (98 dan 97 persen). Kemandirian jauh lebih rendah untuk IUD, tercatat hanya 57 persen pemakai yang membayar. Angka kemandirian lebih tinggi di tahun dari pada di tahun Sebagai contoh, persentase peserta KB yang mendapat pelayanan KB dari sumber pemerintah dan gratis turun dari 11 persen di tahun 1997 menjadi 7 persen di KESEHATAN REPRODUKSI Pemeriksaan kehamilan. Sembilan dari sepuluh ibu mendapat pemeriksaan dari tenaga medis profesional selama kehamilan, sedang 4 persen tidak mendapat pemeriksaan kehamilan. Cakupan K4 paling sedikit satu kunjungan dalam trimester pertama, paling sedikit satu kunjungan dalam trimester kedua, dan paling sedikit dua kunjungan dalam trimester ketiga adalah 64 persen. Ibu yang tinggal di daerah perkotaan lebih cenderung mendapat pemeriksaan kehamilan dari tenaga medis profesional daripada ibu yang tinggal di daerah pedesaan. Perawatan persalinan. Empat dari sepuluh kelahiran dalam lima tahun sebelum survei dilakukan di fasilitas kesehatan, 9 persen di fasilitas pemerintah (rumah sakit pemerintah dan puskesmas) dan 31 persen dilakukan di fasilitas kesehatan swasta. Hal ini merupakan perubahan yang bermakna dari 1997, ketika hanya dua dari sepuluh kelahiran dilakukan di fasilitas kesehatan. Staf medis (bidan dan dokter) menolong 66 persen kelahiran dalam lima tahun sebelum survei, sedang dukun menolong 32 persen kelahiran. Sekali lagi, hal ini merupakan kenaikan yang banyak dari 1997, ketika 43 persen persalinan ditolong oleh staf medis dan 54 persen persalinan ditolong oleh dukun. Perawatan nifas. Dalam SDKI , wanita yang melahirkan di luar fasilitas kesehatan ditanya tentang apakah mereka mendapat perawatan nifas. Secara keseluruhan, delapan dari sepuluh wanita mendapat perawatan nifas; dengan 62 persen mendapat perawatan nifas dalam 2 hari setelah persalinan, 13 persen dalam 3-6 hari setelah persalian, dan 8 persen dalam 7-41 hari setelah persalinan. KESEHATAN ANAK Imunisasi anak. Informasi dari Kartu Menuju Sehat (KMS) dan laporan ibu (digabungkan) memperlihatkan bahwa 52 persen anak bulan telah diimunisasi lengkap. Presentase ini lebih rendah daripada 55 persen yang dilaporkan oleh SDKI 1997, tetapi lebih tinggi daripada yang dilaporkan oleh SDKI 1994 dan 1991 (masingmasing 50 persen dan 48 persen) Penyakit anak. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare dan malaria adalah penyebab umum kematian anak. Dalam dua minggu sebelum survei, 8 persen anak dilaporkan mengalami gejala ISPA, 60 persen diantaranya dibawa ke fasilitas kesehatan. Sebelas persen anak mengalami diare dalam dua minggu sebelum survei, 45 persen diantaranya dibawa ke tenaga kesehatan. Enam puluh satu persen anak yang diare diberikan pengobatan rehidrasi oral, yaitu, oralit, larutan gula dan garam buatan sendiri sesuai anjuran, atau minum lebih banyak. Pemberian Air Susu Ibu. Menyusui umum dilakukan di Indonesia, dengan 98 persen bayi disusui paling sedikit untuk beberapa waktu. Akan tetapi, hanya 4 persen yang disusui dalam 1 jam setelah dilahirkan (sesuai anjuran), sedang 27 persen mulai disusui pada hari pertama kehidupan. Secara keseluruhan median lama pemberian air susu ibu (ASI) adalah 22,3 bulan, satu setengah bulan lebih pendek daripada median 1997 (23,9 bulan) Pemberian ASI eksklusif tidak dilakukan secara meluas di Indonesia. Meskipun anjuran pemerintah Ringkasan xxv

26 xxvi Ringkasan bahwa bayi mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, hanya 64 persen bayi di bawah 2 bulan mendapat ASI eksklusif. Pada umur 4 hingga 5 bulan, hanya satu dari tujuh bayi mendapat ASI tanpa disertai makanan pendamping. Masalah yang dirasakan dalam mendapatkan perawatan kesehatan. Dalam SDKI , wanita ditanya tentang apakah mereka sendiri menghadapi masalah dalam mencari nasihat atau pengobatan medis. Masalah utama yang disebutkan mereka adalah biaya berobat (24 persen). Masalah besar berikutnya adalah jarak ke fasilitas kesehatan (12 persen) dan keharusan naik angkutan (12 persen) PERAN SERTA AYAH DALAM PERAWATAN KESEHATAN KELUARGA Dalam survei, ayah ditanya tentang keterlibatan mereka dalam menjamin keselamatan ibu dari anak yang dilahirkan terakhir dan keterlibatan mereka dalam menjamin kesehatan anak yang dilahirkan terakhir tersebut. Pertanyaan ini merupakan respon terhadap kebijakan yang baru dicanangkan oleh pemerintah Indonesia untuk melibatkan pria dalam perawatan kesehatan isteri dan anak mereka. Hasil survei memperlihatkan bahwa untuk 87 persen kelahiran dalam lima tahun sebelum survei, isteri dilaporkan oleh suami telah mendapat nasihat atau perawatan selama kehamilan, 77 persen mendapat perawatan selama persalinan, dan 71 persen mendapat perawatan dalam enam minggu setelah persalinan (masa nifas) Dua dari tiga ayah mengetahui anak terakhir mereka telah diimunisasi. Akan tetapi, hanya empat dari sepuluh ayah melakukan kontak dengan tenaga kesehatan selama isteri mengandung anak tersebut. Sebagian besar ayah membicarakan persiapan kelahiran anak mereka. Topik pembicaraan yang paling sering disebutkan adalah tempat persalinan dan penolong persalinan (masing-masing 65 dan 64 persen), diikuti dengan pembayaran untuk pelayanan (57 persen). Topik yang kurang sering dibicarakan oleh ayah adalah angkutan ke tempat persalinan (33 persen), mungkin karena banyak persalinan berlangsung di rumah. KESADARAN TENTANG HIV/AIDS DAN PENYAKIT MENULAR LAINNYA Pengetahuan tentang HIV/AIDS. Meskipun meningkat, pengetahuan tentang HIV/AIDS di Indonesia masih tetap rendah. Tingkat pengetahuan pada wanita meningkat berangsur-angsur dari 38 persen pada 1994 menjadi 51 persen pada Pada , 59 persen wanita pernah kawin dan 73 persen pria kawin melaporkan pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Pengetahuan tentang tiga cara utama untuk menurunkan penularan HIV berpantang, memakai kondom dan mengurangi jumlah pasangan - sangat terbatas. Satu persen wanita dan satu persen pria menyebutkan tentang berpantang, 6 persen wanita dan 10 persen pria menyebutkan tentang membatasi jumlah pasangan seksual, serta 5 persen wanita dan 13 persen pria menyebutkan tentang memakai kondom. Jawaban yang paling umum tentang cara menghindarkan tertular HIV/AIDS adalah menghindarkan hubungan dengan pekerja seks (16 persen wanita dan 41 persen pria) dan berhubungan seks dengan hanya satu pasangan (14 persen wanita dan 18 persen pria). Pengetahuan tentang penularan dari ibu ke anak. Dalam SDKI, responden ditanya tentang apakah virus yang menyebabkan AIDS dapat ditularkan dari ibu ke anak. Mereka kemudian ditanya tentang apakah penularan terjadi selama kehamilan, persalinan dan menyusui. Satu dari tiga wanita mengatakan bahwa HIV/AIDS dapat ditularkan dari ibu ke anak dalam ketiga peristiwa. Angka tersebut untuk pria kawin masing-masing adalah 45 persen, 48 persen dan 46 persen. Pengetahuan tentang gejala penyakit menular seksual (PMS). PMS telah diidentifikasi sebagai faktor ikutan dalam penularan HIV/AIDS. Pengetahuan tentang gejala PMS pada wanita di Indonesia terbatas; 73 persen wanita pernah kawin tidak mengetahui tentang gejala yang berhubungan dengan PMS pada wanita dan 13 persen tidak mengetahui gejala yang berhubungan dengan PMS pada pria. Pengetahuan pria kawin tentang gejala PMS lebih rendah daripada wanita pernah kawin.

27 MORTALITAS Kematian Anak. Angka kematian bayi di Indonesia menurun dari 142 kematian per kelahiran hidup pada tahun 1967 menjadi 35 kematian pada tahun Dengan tingkat kematian saat ini, 46 dari anak yang lahir di Indonesia meninggal sebelum mencapai ulang tahunnya yang kelima. Secara umum terdapat hubungan terbalik yang kuat antara indeks kekayaan dengan tingkat kematian; anak-anak yang tinggal di rumah tangga yang lebih kaya mempunyai tingkat kematian yang lebih rendah dibandingkan anak-anak yang tinggal di rumah tangga yang lebih miskin (17 dibandingkan dengan 61 kematian per kelahiran hidup). Tingkat kematian anak menurun sejalan dengan meningkatnya selang kelahiran. Sebagai contoh, angka kematian bayi untuk anak-anak yang dilahirkan kurang dari dua tahun dari kelahiran sebelumnya lebih tinggi tiga kali dibandingkan anak-anak yang dilahirkan dengan selang kelahiran empat tahun atau lebih (102 kematian dibandingkan dengan 31 kematian per kelahiran hidup). KEMATIAN DEWASA Tingkat kematian wanita untuk periode 0-4 tahun sebelum SDKI adalah dua kematian per penduduk. Untuk periode yang sama, tingkat kematian pria juga dua per penduduk. Untuk kedua jenis kelamin, kematian meningkat menurut umur. Secara umum, tingkat kematian pria lebih tinggi dibandingkan wanita pada hampir semua umur. Data tahun memperlihatkan bahwa kematian wanita dewasa terus menurun secara berangsur-angsur. TANTANGAN BERKELANJUTAN Walaupun terjadi peningkatan penggunaan alat/cara KB, peningkatan umur kawin pertama, dan penurunan tingkat fertilitas yang terus berlanjut, SDKI mengungkapkan tantangan berkelanjutan. Sepuluh persen dari kelahiran selama lima tahun sebelum survei diinginkan tetapi di waktu kemudian dan 7 persen tidak diinginkan sama sekali. Situasi ini tidak berubah sejak tahun Sementara penggunaan alat/cara KB meningkat dari waktu ke waktu, namun masih terlihat ketergantungan pada metode tertentu, terutama suntikan dan pil. Penekanan program yang lebih besar perlu diarahkan pada metode jangka panjang seperti IUD, susuk KB dan sterilisasi. Dalam sektor kesehatan ibu, meskipun indikator kesehatan tertentu telah memperlihatkan perbaikan, indikator lainnya memperlihatkan perburukan. Target 90 persen wanita melakukan paling sedikit satu kali kunjungan pemeriksaan kehamilan dalam trimester pertama belum tercapai. Dalam bidang kesehatan anak, persentase wanita yang telah diimunisasi terhadap tetanus neonatorum menurun dari 53 persen pada 1997 menjadi 51 persen pada Cakupan imunisasi anak terhadap enam penyakit utama juga menurun dari 55 persen pada 1997 menjadi 52 persen pada Meskipun kematian anak terus menurun, satu dari tiga kelahiran di Indonesia memiliki resiko kematian yang dapat dihindari. Ini meliputi kelahiran di mana ibu terlalu muda (di bawah umur 18 tahun) atau terlalu tua (umur 35 tahun ke atas), selang kelahiran terlalu pendek (kurang dari dua tahun), atau ibu telah mempunyai terlalu banyak anak (tiga anak atau lebih). Rasio kematian ibu yang diperkirakan dengan menggunakan metode langsung adalah 307 kematian ibu per kelahiran hidup untuk periode Karena estimasi kematian ibu mempunyai kesalahan sampling yang tinggi dan selang kepercayaan yang lebar, tidaklah mungkin untuk menyimpulkan bahwa telah ada penurunan tingkat kematian ibu pada tahun yang lalu. Ringkasan xxvii

28 xxviii Peta Indonesia

29 PENDAHULUAN GEOGRAFI, SEJARAH DAN EKONOMI Republik Indonesia, yang terdiri dari kurang lebih pulau, terbentang di antara 6º Lintang Utara dan 11º Lintang Selatan, dan dari 95º sampai 141º Bujur Timur. Kepulauan Indonesia terletak di antara benua Asia dan Australia, dan dibatasi oleh Laut Cina Selatan di utara, Samudra Pasifik di utara dan timur, serta Samudra Hindia di sebelah selatan dan barat. Ada lima pulau besar, dimulai dari ujung barat dengan Sumatera, Jawa di sebelah selatan, Kalimantan yang dipotong garis katulistiwa, Sulawesi yang berbentuk huruf K, dan Papua di sebelah barat Papua Nugini. Dua gugusan kepulauan lain adalah Maluku dan Nusa Tenggara yang terletak di antara pulau Sulawesi dan Papua di utara, dan dari Bali ke Timor di sebelah selatan. Pulau-pulau lain kecil dan sebagian besar tidak berpenghuni. Lebih dari 80 persen dari seluruh wilayah Indonesia merupakan lautan, dengan luas daratan sekitar 1,9 juta km persegi. Banyaknya jumlah pulau di Indonesia dan persebarannya di wilayah yang luas mengakibatkan beragamnya budaya dan beratus suku bangsa, masing-masing dengan bahasanya sendiri. Kenyataan inilah yang mendorong diciptakannya semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" sebagai pemersatu bangsa. Indonesia beriklim tropis dan mempunyai dua musim. Musim kemarau mulai bulan Mei sampai Oktober dan musim hujan mulai bulan Nopember sampai bulan April. Indonesia secara administratif dibagi dalam beberapa propinsi. Sejak tahun 2001, jumlah propinsi bertambah dari 26 menjadi 30. Tambahan propinsi baru meliputi propinsi Bangka Belitung, Banten, Gorontalo, dan Maluku Utara. Keempat propinsi baru tersebut sebelumnya masing-masing merupakan bagian dari propinsi Sumatera Selatan, Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Maluku. Setiap propinsi terdiri dari kabupaten dan kota (sebelumnya disebut kotamadya). Pada tahun 2002, secara keseluruhan ada 302 kabupaten dan 89 kota. Tingkat administrasi berikutnya adalah kecamatan dan desa atau kelurahan. Sejak tahun 2002 ada kecamatan dan desa/kelurahan. Seluruh wilayah desa diklasifikasikan sebagai perkotaan atau pedesaan. Sejak memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945, Republik Indonesia telah beberapa kali mengalami goncangan politik. Pada tahun 1948, Partai Komunis Indonesia memberontak di Madiun. Sejak kemerdekaan sampai tahun 1949, ketika Belanda menyerahkan kedaulatan kepada pemerintah Indonesia, terjadi banyak pemberontakan terhadap pemerintahan republik yang demokratis. Beberapa pihak, dibantu oleh pemerintah Belanda, membentuk Republik Indonesia Serikat yang berkuasa kurang dari satu tahun (dari tahun 1949 sampai tahun 1950). Dalam periode , Indonesia menghadapi berbagai masalah politik, termasuk berlakunya sistem multi-partai yang mempengaruhi stabilitas politik dan ekonomi dan mendorong terjadinya beberapa pemberontakan yang berlatar belakang ideologi dan suku bangsa. Sejarah Republik Indonesia mengalami titik balik setelah gagalnya kudeta kedua oleh Partai Komunis Indonesia pada bulan September Pada tahun 1966, Presiden Suharto memulai babak baru dengan dibentuknya Pemerintah Orde Baru yang berorientasi pada pembangunan di segala bidang. Selama hampir 30 tahun di bawah pemerintahan Orde Baru, Indonesia mengalami banyak kemajuan, utamanya dalam mempertahankan stabilitas politik dan ekonomi. Pada periode terjadi kemajuan ekonomi yang pesat, ketika pendapatan per kapita naik dengan tajam dari US $50 menjadi US $385. Hal tersebut utamanya merupakan hasil dari naiknya harga minyak di pasaran dunia pada awal 80an, yang pada waktu itu menghasilkan lebih dari 60 persen devisa negara. Turunnya harga komoditi tersebut pada tahun 1985 memaksa pemerintah mencari sumber pendapatan dari sektor lain, misalnya industri, perdagangan luar negeri, dan jasa. Upaya tersebut berhasil. Pada tahun 1996, pendapatan per kapita naik menjadi US $1.124, sementara perkembangan ekonomi adalah sekitar 5 persen. Kenaikan ini berakhir pada pertengahan 1997 ketika ekonomi di kawasan Asia terpuruk. Nilai tukar mata uang merosot tajam, harga-harga membumbung, dan tingkat pengangguran naik secara dramatis. Selain itu, sebagian wilayah menderita karena kemarau panjang dan kebakaran hutan besarbesaran. Pendahuluan 1

30 Pada tahun 1998, Indonesia mengalami krisis ekonomi paling parah, pertumbuhan ekonomi merosot menjadi minus 13 persen (BPS, 2003). Pada saat yang sama, situasi politik juga tidak stabil di beberapa daerah. Presiden Suharto digantikan oleh wakilnya, BJ. Habibie. Masa tersebut dikenal sebagai masa reformasi. Sejak 1998 sampai dengan sekarang, pimpinan pemerintahan Indonesia tertinggi mengalami pergantian tiga presiden, yaitu berturut-turut BJ. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Presiden Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 1999, Undang-Undang Nomor 22 tentang otonomi daerah dikeluarkan. Melalui Undang-Undang ini semua daerah (Kota/Kabupaten) diberi otonomi penuh. Dengan beberapa perkecualian, Undang-undang yang sama dimaksudkan juga agar setiap pemerintah daerah bertanggungjawab kepada semua departemen pemerintahan pusat melalui perwakilannya di propinsi dan kabupaten/kota. Mulai tahun 2000, keadaan ekonomi pulih, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen pada tahun 2000 dan 4 persen pada tahun Meskipun demikian, situasi politik masih belum stabil di beberapa propinsi seperti Nanggroe Aceh Darussalam (dulu dikenal sebagai Dista Aceh), Maluku, dan Papua. Salah satu keberhasilan pemerintah adalah dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan sandang, pangan dan papan yang cukup, di samping penyediaan sarana pendidikan dan kesehatan. Hasil Sensus Penduduk 1971 dan 2000, serta Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2002 menunjukkan bahwa selama 32 tahun terakhir, bidang pendidikan di Indonesia telah mengalami perkembangan pesat. Persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis naik dari 61 persen pada tahun 1971 menjadi 91 persen pada tahun Perkembangan di bidang pendidikan lebih terlihat jelas pada penduduk perempuan. Persentase anak usia 7-12 tahun yang bersekolah pada tahun 1971 sebesar 62 persen untuk laki-laki dan 58 persen untuk perempuan. Angka ini pada tahun 2002 naik menjadi 96 persen untuk laki-laki dan 97 persen untuk perempuan. Dari tahun 1971 sampai dengan 2002, persentase penduduk yang tidak pernah sekolah turun dan persentase penduduk yang tamat sekolah pada semua jenjang pendidikan naik. Persentase penduduk yang tamat sekolah dasar naik dari 20 persen pada tahun 1971 meningkat menjadi 33 persen pada tahun 2002, sedangkan proporsi penduduk yang tamat sekolah menengah tingkat pertama atau pendidikan lebih tinggi naik dari 7 persen pada tahun 1971 menjadi 35 persen pada tahun Pada semua tingkat pendidikan, kemajuan dalam pendidikan penduduk wanita lebih cepat dibandingkan penduduk laki-laki (BPS, 1972; 2002b). Salah satu pengaruh dari makin lamanya penduduk wanita bersekolah adalah meningkatnya umur perkawinan pertama. Rata-rata umur perkawinan pertama naik dari 20 tahun pada tahun 1971 menjadi 22 dan 23 masing-masing pada tahun 1990 dan 2000 (BPS, 2002a). Kenaikan tersebut lebih besar di daerah kota daripada daerah desa. Kenaikan tingkat pendidikan juga memberikan peluang yang lebih besar bagi wanita untuk berpartisipasi dalam angkatan kerja. Partisipasi angkatan kerja wanita berumur 10 tahun ke atas naik dari 33 persen pada tahun 1971 menjadi 45 persen pada tahun Sebagian besar wanita bekerja di sektor pertanian, perdagangan, dan jasa dengan status pekerjaan mayoritas sebagai pekerja tak dibayar dan buruh/karyawan (BPS, 2002b). 1.2 PENDUDUK Hasil Sensus Penduduk menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia adalah 205,8 juta jiwa tahun 2000, dan diproyeksikan mencapai 211,1 juta jiwa pada tahun Angka tersebut menempatkan Indonesia pada urutan keempat dari negara yang berpenduduk paling besar di dunia setelah Republik Rakyat Cina, India, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2000, sekitar 86,5 juta orang (42 persen dari penduduk) tinggal di daerah perkotaan. Pada tahun 2002 angka tersebut diperkirakan akan mencapai 92,7 juta orang (44 persen dari penduduk). Pada tahun 2000, lebih dari 88 persen penduduk Indonesia beragama Islam. Tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia telah mengalami penurunan dalam dua dasa warsa terakhir. Antara tahun 1980 dan 1990, rata-rata pertumbuhan penduduk setiap tahun adalah 1,98 persen, sedang antara tahun 1990 dan 2000 turun menjadi 1,49 persen (Tabel 1.1). Pada periode , ratarata pertumbuhan penduduk per tahun diproyeksikan turun lagi menjadi 1.25 persen. 2 Pendahuluan

31 Ciri lain dari penduduk Indonesia adalah persebaran penduduk yang tidak merata antar pulau dan propinsi. Menurut hasil Sensus Penduduk 2000, kepadatan penduduk sangat beragam antar wilayah, tidak saja antar pulau, tetapi juga antar propinsi dalam pulau yang sama. Pulau Jawa yang luas daratannya hanya 7 persen dari wilayah Indonesia dihuni sekitar 59 persen penduduk Indonesia, sehingga kepadatan penduduknya (951 orang per kilometer persegi) lebih tinggi dari pulau lain. Sebagai perbandingan, Kalimantan hanya dihuni 20 orang per kilometer persegi. Perbandingan antar propinsi di Jawa menunjukkan bahwa kepadatan penduduk beragam antara orang per kilometer persegi di DKI Jakarta dan 726 di Jawa Timur. Kepadatan penduduk pada tingkat nasional adalah 109 orang per kilometer persegi pada tahun 2000 menjadi sekitar 112 pada tahun Tabel 1.1 Parameter demografi Beberapa parameter demografi Indonesia Indikator 1990 Sensus 2000 Sensus 2002 Proyeksi 1 Penduduk (ribuan) Pertumbuhan penduduk (GR) Kepadatan penduduk (per km 2 ) Persentase penduduk kota Periode Angka kelahiran kasar (CBR) Angka kematian kasar (CDR) Angka harapan hidup (eo) 5 Laki-laki Perempuan Proyeksi berdasarkan Sensus Penduduk 1990 dan Dihitung dengan menggunakan rumus bunga berbunga 3 Kelahiran per penduduk; diperkirakan dengan menggunakan rumus CBR = TFR 4 Kematian per penduduk; CDR = CBR GR 5 Diperkirakan dengan menggunakan metode tidak langsung Sumber: Badan Pusat Statistik 2001 dan 2003 Tabel 1.1 menunjukkan bahwa tingkat fertilitas di Indonesia telah turun dengan tajam sejak tahun 1980an. Angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate atau CBR) diperkirakan sebesar 28 per 1000 penduduk pada periode , turun menjadi 23 per 1000 penduduk pada periode , menghasilkan rata-rata penurunan sebesar 2,1 persen per tahun. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi percepatan dalam penurunan tingkat kelahiran. Pada tahun 2002, CBR diproyeksikan menjadi 22 kelahiran per penduduk. Sumber data yang sama juga menunjukkan bahwa di Indonesia terjadi penurunan yang nyata pada tingkat kematian. Angka harapan hidup saat kelahiran baik untuk laki-laki maupun perempuan meningkat. Angka harapan hidup laki-laki meningkat dari 57,9 tahun pada 1990 menjadi 64,3 tahun pada 2002, sedangkan untuk perempuan meningkat dari 61,5 tahun pada 1990 menjadi 68,2 tahun pada KEBIJAKSANAAN DAN PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA Perhatian Pemerintah Indonesia terhadap masalah kependudukan telah mulai sejak ditandatanganinya deklarasi mengenai kependudukan oleh para pemimpin dunia termasuk Presiden Suharto pada tahun Dalam deklarasi tersebut dinyatakan bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan masalah yang harus ditanggulangi karena mengecilkan arti pembangunan dalam bidang Pendahuluan 3

32 ekonomi. Untuk melaksanakan kebijaksanaan kependudukan, pemerintah telah mencanangkan berbagai program, dan keluarga berencana (KB) merupakan bagian yang penting. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan KB telah dimulai pada tahun 1957 oleh kelompok swadaya bernama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang bekerja di bawah naungan International Planned Parenthood Federation (IPPF). PKBI memberikan pelayanan dan konsultasi mengenai pengaturan kelahiran, di samping perawatan kesehatan ibu dan anak. Pada tahun 1968, pemerintah mendirikan Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN), yang dua tahun kemudian diubah menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), suatu lembaga nondepartemen yang bertanggungjawab langsung kepada presiden. Setelah pembentukan BKKBN, pemerintah mempunyai komitmen politis yang kuat dalam pelaksanaan KB, dan dengan partisipasi pemuka agama dan masyarakat menyusun berbagai program untuk memasyarakatkan keluarga berencana di Indonesia. Dalam waktu kurang dari tiga dasawarsa, kebijaksanaan kependudukan yang diambil pemerintah tidak hanya berhasil menurunkan angka fertilitas menjadi separo dari keadaan pada waktu program dimulai, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan keluarga. Salah satu faktor yang memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan program KB di Indonesia adalah keberhasilan pemerintah dalam melibatkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam melaksanakan program KB. Sesuai dengan Undang-Undang No. 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, KB didefinisikan sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peranserta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Pada tahun 1999 suatu paradigma baru diperkenalkan. Selama beberapa tahun sebelumnya, tujuan dari program KB adalah melembagakan norma keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera. Tujuan program dalam jangka panjang adalah untuk mewujudkan Keluarga Berkualitas pada tahun Sejalan dengan visi baru ini, dikeluarkan Undang-Undang Nomor 22 tahun 2000 tentang desentralisasi, yang memberdayakan pemerintah daerah dalam merencanakan dan melaksanakan program pembangunan, termasuk KB dan kesehatan reproduksi KEBIJAKAN DAN PROGRAM KESEHATAN Undang-Undang Kesehatan Nomor 23/1992 merupakan landasan hukum kegiatan di bidang kesehatan. Dalam undang-undang tersebut tercantum bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat. Undang-Undang tersebut menekankan desentralisasi pertanggungan jawab operasional dan kewenangan daerah sebagai syarat untuk keberhasilan dan kelangsungan pembangunan. Berdasarkan Garis Besar Haluan Negara tahun 1993, Pembangunan Jangka Panjang tahap II ( ) dalam bidang kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta mutu dan kemudahan pelayanan kesehatan yang harus makin terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, dan meningkatkan keadaan gizi serta membudayakan sikap hidup bersih dan sehat, didukung dengan perumahan dan pemukiman yang layak. Pada pertengahan September 1998, diperkenalkan paradigma baru kesehatan diperkenalkan yang memfokuskan pembangunan kesehatan kepada upaya pencegahan daripada penyembuhan dan rehabilitasi. Visi baru tersebut dituangkan dalam motto Indonesia Sehat Tahun 2010 tersebut digunakan sebagai batas waktu yang cukup jauh untuk mengukur tingkat keberhasilan pencapaian target. yaitu: Dalam mencapai Indonesia sehat 2010, Departemen Kesehatan mempunyai beberapa tujuan, Menggerakkan Pembangunan Nasional berwawasan kesehatan Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya 4 Pendahuluan

33 Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat Pemerintah Indonesia mengutamakan kerjasama inter-sektoral, tanggungjawab bersama dari pemerintah daerah dan masyarakat, program yang sesuai dengan daerah, sasaran pada kelompok rawan, dan meningkatkan program informasi dan komunikasi. 1.5 TUJUAN SURVEI Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) adalah kelanjutan Survei Prevalensi Kontrasepsi Indonesia 1987 (SPI 1987), SDKI 1991, SDKI 1994 dan SDKI SDKI merupakan perluasan dari SDKI 1997, dengan mencakup informasi tentang partisipasi pria berstatus kawin, istri, dan anak-anaknya dalam pemeliharaan kesehatan. SDKI dirancang khusus untuk mencapai beberapa tujuan berikut: Menyediakan data mengenai perilaku fertilitas, keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, kematian ibu, dan pengetahuan tentang AIDS dan PMS yang dapat digunakan oleh para pengelola program, pengambil kebijakan, dan peneliti dalam menilai dan menyempurnakan program yang ada. Mengukur perubahan-perubahan yang terjadi pada angka kelahiran dan pemakaian KB, serta mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti pola dan status perkawinan, daerah tempat tinggal, pendidikan, kebiasaan menyusui, dan pengetahuan, penggunaan, serta penyediaan alat-alat kontrasepsi. Mengukur pencapaian sasaran dari program kesehatan nasional, khususnya yang berkaitan dengan program pembangunan kesehatan ibu dan anak. Menilai partisipasi dan penggunaan pelayanan kesehatan oleh pria bagi seluruh keluarganya. Menyediakan data dasar yang secara internasional dapat dibandingkan dengan negara-negara lain dan dapat digunakan oleh para pengelola program, pengambil kebijakan, dan peneliti dalam bidang fertilitas, KB, dan kesehatan. 1.6 ORGANISASI SURVEI SDKI dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Hampir seluruh biaya survei ini disediakan oleh Pemerintah Indonesia melalui pinjaman dari Bank Dunia (World Bank). Tambahan dana diperoleh dari U.S. Agency for International Development (USAID) melalui ORC Macro, yang juga memberikan bantuan teknis pelaksanaan proyek melalui program Survei Demografi dan Kesehatan (MEASURE DHS+). USAID juga memberikan bantuan pelaksanaan survei di tiga propinsi baru: Bangka Belitung, Banten, dan Gorontalo. Selain ORC Macro, instansi-instansi lain yang ikut terlibat bekerjasama dalam penyusunan daftar pertanyaan, analisis data, dan penyebarluasan hasil survei adalah: BPS, BKKBN, dan Departemen Kesehatan (Depkes). Tim pengarah survei dibentuk dengan anggota wakil-wakil dari, BPS, BKKBN, Depkes, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, dan Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI). Tim teknis yang beranggotakan wakil-wakil dari instansi yang sama, lebih sering melakukan pertemuan dibandingkan tim pengarah untuk membahas serta memutuskan masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan survei. 1 Badan Pusat Statistik (BPS), BKKBN, dan Institute for Resource Development/Westinghouse, 1989; BPS, BKKBN, Departemen Kesehatan, dan Macro International Inc., 1992; BPS, Meneg. Kependudukan/BKKBN, Departemen Kesehatan, dan Macro International Inc., 1995; BPS, Meneg. Kependudukan/BKKBN, Departemen Kesehatan, dan Macro International Inc., Pendahuluan 5

34 BPS melaksanakan survei dan mengolah data. Kepala BPS Propinsi bertanggung jawab atas segi teknis dan administratif pelaksanaan survei di daerahnya masing-masing. Mereka dibantu oleh koordinator lapangan, yaitu Kepala Bidang Statistik Sosial di BPS Propinsi. SDKI menggunakan 3 daftar pertanyaan, yaitu: Daftar Rumah Tangga (SDKI02-RT), Daftar Pertanyaan Wanita (SDKI02-WK), dan Daftar Pertanyaan Pria (SDKI02-PK). Daftar Rumah Tangga dan Daftar Perseorangan didasarkan pada daftar pertanyaan DHS model "A" yang dirancang untuk negara-negara yang prevalensi KBnya tinggi. Melalui konsultasi dengan BKKBN dan Depkes, BPS memodifikasi kuesioner agar menampung kebutuhan informasi KB dan kesehatan yang relevan dengan kondisi di Indonesia. Masukan juga diminta dari calon pengguna data untuk mengoptimalkan SDKI dalam memenuhi kebutuhan negara akan data kependudukan dan kesehatan. Kuesioner dibuat dalam Bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Daftar Rumah Tangga digunakan untuk mendaftar semua anggota rumah tangga yang biasa tinggal dan tamu yang menginap dalam rumah tangga terpilih. Informasi dasar ini ditanyakan kepada semua orang yang didaftar antara lain: umur, jenis kelamin, pendidikan, dan hubungan dengan kepala rumah tangga. Tujuan utama dari daftar rumah tangga adalah untuk mengidentifikasi wanita dan pria yang memenuhi syarat untuk wawancara perseorangan. Daftar Rumah Tangga ini juga digunakan untuk mengidentifikasi wanita dan pria belum kawin umur tahun yang memenuhi syarat untuk wawancara perorangan dalam Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI). Informasi tentang karakteristik bangunan rumah tangga, seperti sumber air minum, jenis kakus, bahan bangunan yang digunakan untuk lantai dan dinding rumah, kepemilikan beberapa barang juga ditanyakan dalam daftar rumah tangga. Informasi tersebut mencerminkan status sosial ekonomi rumah tangga. Daftar Perseorangan Wanita digunakan untuk mengumpulkan informasi dari semua wanita pernah kawin usia tahun. Mereka ditanya tentang beberapa topik, antara lain: Karakteristik latar belakang, seperti: umur, status perkawinan, pendidikan, dan akses terhadap media masa Pengetahuan dan praktek keluarga berencana Preferensi fertilitas Kehamilan, persalinan, dan pemeriksaan masa nifas Pemberian air susu ibu dan pola pemberian makanan balita Immunisasi dan penyakit balita Perkawinan dan kegiatan seksual Karakteristik latar belakang suami dan pekerjaan responden Kematian balita Kesadaran dan perilaku terhadap AIDs dan penyakit menular seksual lainnya Kematian saudara kandung, termasuk kematian ibu. Daftar Pertanyaan Pria ditanyakan kepada semua pria kawin berumur tahun dalam setiap rumah tangga terpilih ketiga dalam sampel SDKI. Informasi yang dikumpulkan dalam Daftar Pertanyaan Pria kurang lebih sama dengan dengan Daftar Pertanyaan Wanita, hanya lebih pendek sebab tidak mencakup riwayat kelahiran, kematian dan kesehatan anak, gizi, dan kematian ibu. Sebaliknya, pria ditanya tentang pengetahuan dan partisipasinya dalam pemeliharaan kesehatan anak. Seperti dalam survei-survei sebelumnya, data dikumpulkan oleh tim pewawancara. Seluruhnya ada 94 tim. Setiap tim terdiri dari satu orang pengawas, satu orang pemeriksa, tiga orang pewawancara wanita, dan satu orang pewawancara pria. Jumlah petugas lapangan adalah 530 orang, yang terdiri dari 362 wanita dan 168 pria. Mereka dilatih selama 16 hari, mulai 30 September sampai dengan 17 Oktober Pengawas dan pemeriksa diberi latihan tambahan mengenai tata cara pengawasan dan pemeriksaan kuesioner. Pengumpulan data dilaksanakan selama kurang lebih lima setengah bulan, mulai 21 Oktober 2002 sampai 9 April Hampir di semua propinsi, kegiatan pengumpulan data berhenti selama bulan puasa, yaitu dari awal November sampai dengan awal Desember Kegiatan pengumpulan data di Propinsi Riau baru dimulai pada bulan Desember Di tiga propinsi baru, Bangka Belitung, Banten dan Gorontalo, pelatihan petugas lapangan dilakukan pada 15 Februari sampai 4 Maret 2003 dan 6 Pendahuluan

35 pelaksanaan lapangan pada 7 Maret sampai 31 April Keterangan lebih lanjut mengenai pelaksanaan lapangan dapat dilihat pada Lampiran A. Lampiran D menyajikan daftar orang-orang yang ikut dalam survei. Daftar pertanyaan survei dicantumkan dalam Lampiran E. Tabel 1.2 Hasil wawancara rumah tangga dan perseorangan Jumlah rumah tangga, jumlah kunjungan dan hasil kunjungan, menurut daerah perkotaan/pedesaan, Indonesia Jenis wawancara Daerah Perkotaan Pedesaan Jumlah Wawancara rumah tangga Rumah tangga sampel Rumah tangga ditemui Rumah tangga diwawancarai Hasil kunjungan 98,7 99,3 99,0 Wawancara dengan wanita Wanita yang memenuhi syarat Wanita yang diwawancarai Hasil kunjungan 98,4 98,2 98,3 Wawancara dengan pria Pria yang memenuhi syarat Pria yang diwawancarai Hasil kunjungan 95,2 95,0 95,1 Seperti halnya SDKI tahun-tahun sebelumnya, sampel SDKI dirancang untuk memperoleh angka estimasi tingkat nasional, perkotaan dan pedesaan, dan propinsi. Tabel 1.2 adalah ringkasan dari hasil wawancara rumah tangga dan perorangan dalam SDKI , menurut daerah kota dan pedesaan. Secara umum, hasil kunjungan untuk rumah tangga dan perseorangan relatif tinggi. Dari rumah tangga yang terpilih dalam survei ini, rumah tangga ditemukan, dan dari jumlah tersebut atau 99 persen rumah tangga berhasil diwawancarai. Dalam rumah tangga yang diwawancarai, ada wanita yang memenuhi syarat untuk diwawancarai, dan yang berhasil diwawancarai ada wanita atau 98 persen dari semua wanita yang memenuhi syarat. Rumah tangga terpilih yang terdapat pria yang memenuhi syarat merupakan subsampel dari seluruh rumah tangga terpilih. Dari rumah tangga yang diwawancarai tersebut, ada pria yang memenuhi syarat untuk diwawancarai, dan yang berhasil diwawancarai ada pria atau 95 persen dari semua pria yang memenuhi syarat. Tingginya hasil kunjungan untuk rumah tangga dan perseorangan utamanya disebabkan diterapkannya aturan bahwa pencacah harus mengadakan kunjungan ulang ke rumah tangga jika pada kunjungan awal tidak ada yang bisa diwawancarai. Rumah tangga terpilih tidak diperkenankan untuk diganti. Pewawancara harus mengadakan paling sedikit tiga kunjungan untuk menghubungi rumah tangga, wanita dan pria yang memenuhi syarat. Pendahuluan 7

36 KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA DAN PERUMAHAN 2 Bab ini menyajikan informasi mengenai beberapa karakteristik demografi dan sosial ekonomi penduduk dalam rumah tangga sampel. Bab ini juga memperhatikan kondisi rumah tempat tinggal penduduk, termasuk sumber air minum, ketersediaan listrik, fasilitas sanitasi, bahan bangunan dan penguasaan alat-alat rumah tangga. Informasi mengenai karakteristik rumah tangga dan responden wanita dan pria penting untuk menginterpretasikan temuan survei dan dapat memberikan perkiraan indikasi tingkat keterwakilan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). Dalam SDKI , rumah tangga didefinisikan sebagai seorang atau sekelompok orang tanpa memperhatikan apakah mereka mempunyai hubungan keluarga atau tidak, yang hidup bersama dalam satu bangunan tempat tinggal, dan makan dari satu dapur. Daftar Rumah Tangga (lihat Lampiran F) digunakan untuk mengumpulkan informasi semua orang yang biasa tinggal dalam rumah tangga dan tamu yang menginap di rumah tangga semalam sebelum survei. Metode pengumpulan data seperti ini memungkinkan analisis penduduk baik secara de jure (orang yang biasa tinggal) atau de facto (orang yang ditemui pada saat survei). 2.1 PENDUDUK MENURUT UMUR, JENIS KELAMIN DAN DAERAH TEMPAT TINGGAL Umur dan jenis kelamin adalah faktor demografi yang penting dan merupakan dasar utama klasifikasi demografi dalam statistik vital, sensus dan survei. Umur dan jenis kelamin juga merupakan faktor yang penting dalam studi kematian, kelahiran, dan perkawinan. Distribusi penduduk secara de facto dalam SDKI ditunjukkan dalam Tabel 2.1 menurut kelompok umur lima tahunan, jenis kelamin, dan daerah tempat tinggal (perkotaan dan perdesaan). Rumah tangga dalam SDKI mencakup penduduk sebesar orang. Data menunjukkan bahwa proporsi penduduk wanita sama dengan pria (masing-masing 50 persen). Komposisi jenis kelamin penduduk tidak menunjukkan perbedaan yang nyata menurut daerah tempat tinggal. Tabel tersebut lebih lanjut menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai penduduk muda, dengan proporsi penduduk pada kelompok usia muda yang besar. Tiga puluh dua persen penduduk berusia di bawah 15 tahun. Sebaliknya, kelompok usia tua kecil sekali, seperti yang ditunjukkan dalam piramida penduduk (Gambar 2.1). Piramida penduduk dimana bagian atasnya kecil dan bagian dasar lebar menggambarkan pola negara dengan tingkat fertilitas di masa lalu yang tinggi. Pola struktur umur ini merupakan dasar pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang. Ketika penduduk muda mencapai usia reproduksi, penduduk akan tumbuh dengan cepat untuk beberapa tahun mendatang. Dasar piramida yang sedikit menjorok kedalam disebabkan oleh penurunan tingkat fertilitas dalam beberapa tahun terakhir. 2.2 KOMPOSISI RUMAH TANGGA Informasi tentang komposisi rumah tangga menurut jenis kelamin kepala rumah tangga dan banyaknya anggota rumah tangga disajikan dalam Tabel 2.2. Karakteristik ini penting karena berhubungan dengan kesejahteraan rumah tangga. Rumah tangga dengan kepala rumah tangganya wanita, biasanya lebih miskin dari rumah tangga yang kepalanya laki-laki. Rumah tangga yang mempunyai jumlah anggota besar, secara umum lebih padat dan biasanya berhubungan dengan kondisi kesehatan yang buruk dan kesulitan ekonomi. Data SDKI menunjukkan bahwa 12 persen rumah tangga mempunyai kepala rumah tangga wanita. Proporsi ini sama dengan hasil SDKI 1997 (BPS dll., 1998:12). Proporsi kepala rumah tangga wanita sedikit lebih tinggi di perkotaan dibanding di perdesaan (masing-masing 12 persen dan 11 persen). Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan 9

37 Tabel 2.1 Penduduk menurut umur, jenis kelamin dan daerah tempat tinggal Distribusi persentase penduduk de facto menurut kelompok umur, jenis kelamin, dan daerah tempat tinggal, Indonesia Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan Umur Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah <5 10,6 9,8 10,2 10,8 10,4 10,6 10,7 10,1 10, ,7 10,0 10,4 11,2 10,9 11,0 11,0 10,5 10, ,3 10,0 10,2 11,3 10,5 10,9 10,8 10,3 10, ,1 10,2 10,2 9,2 8,5 8,9 9,7 9,3 9, ,4 10,0 9,7 7,9 8,6 8,2 8,6 9,2 8, ,5 9,3 8,9 7,4 8,1 7,8 7,9 8,7 8, ,3 8,4 8,4 7,8 7,9 7,8 8,0 8,1 8, ,3 7,7 7,5 6,7 7,2 6,9 7,0 7,4 7, ,8 6,4 6,6 6,4 6,6 6,5 6,6 6,5 6, ,0 5,6 5,3 5,5 5,9 5,7 5,3 5,8 5, ,3 3,5 3,9 4,8 3,6 4,2 4,6 3,5 4, ,4 2,3 2,4 2,8 2,9 2,9 2,6 2,6 2, ,6 2,4 2,5 2,9 3,3 3,1 2,8 2,9 2, ,4 1,7 1,5 2,0 2,1 2,0 1,7 1,9 1, ,0 1,5 1,2 1,7 1,9 1,8 1,4 1,7 1, ,5 0,6 0,6 0,7 0,7 0,7 0,6 0,7 0, ,6 0,7 0,6 0,9 0,9 0,9 0,7 0,8 0,7 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah Gambar 2.1 Piramida Penduduk Indonesia Umur Laki-laki Perempuan Persen SDKI Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan

38 Tabel 2.2 Komposisi rumah tangga Distribusi persentase rumah tangga menurut jenis kelamin kepala rumah tangga dan banyaknya anggota rumah tangga, menurut daerah tempat tinggal, Indonesia Tempat tinggal Karakteristik Perkotaan Perdesaan Jumlah Kepala rumah tangga Laki-laki 87,7 88,6 88,2 Perempuan 12,3 11,4 11,8 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Jumlah anggota rumah tangga 1 5,8 4,6 5,1 2 9,9 12,2 11,1 3 16,6 21,5 19,2 4 23,9 23,4 23,6 5 18,5 17,4 17,9 6 11,6 10,5 11,0 7 6,4 5,0 5,6 8 3,4 2,5 2,9 9+ 4,0 2,8 3,3 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Jumlah rumah tangga Rata-rata anggota rumah tangga 4,5 4,2 4,3 Catatan: Tabel berdasarkan tempat tinggal de jure, yaitu anggota rumah tangga yang biasanya tinggal di rumahtangga tersebut. Lima persen dari rumah tangga hanya mempunyai satu anggota rumah tangga; daerah perkotaan sedikit lebih tinggi proporsinya dibandingkan dengan daerah perdesaan (6 persen dibandingkan dengan 5 persen). Meskipun demikian, masih ada rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga yang besar (9 orang atau lebih); 4 persen di perkotaan dan 3 persen di perdesaan. Komposisi jenis kelamin penduduk tidak menunjukkan perbedaan yang berarti menurut daerah perkotaan dan perdesaan. Tabel 2.2 menunjukkan bahwa secara keseluruhan rata-rata banyaknya anggota rumah tangga di Indonesia per rumah tangga adalah 4,3 orang. Banyaknya anggota rumah tangga ini hampir sama di perdesaan (4,2 orang) dan di perkotaan (4,5 orang). Pola yang sama ditemukan dalam SDKI 1997 (BPS dll., 1998:12). 2.3 TEMPAT TINGGAL ANAK DAN KELANGSUNGAN HIDUP ORANG TUA Informasi mengenai tempat tinggal anak, khususnya anak angkat dan anak yatim-piatu, disajikan dalam Tabel 2.3. Beberapa hal dalam tabel menarik, terutama mengenai berapa banyak anak yatim (proporsi anak yang kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya). Pada SDKI , untuk seluruh anak berumur kurang dari 15 tahun dikumpulkan informasi mengenai dengan siapa mereka tinggal dan kelangsungan hidup orang tua kandungnya. Sebagian besar anak di bawah 15 tahun tinggal dengan kedua orang tuanya (88 persen), 7 persen tinggal dengan hanya satu orang tua, dan 4 persen tidak tinggal dengan orang tua kandungnya. Anak yang lebih muda lebih cenderung tinggal dengan kedua orang tuanya dibanding anak yang lebih tua (93 persen anak di bawah usia 2 tahun dibanding dengan 85 persen untuk usia 10-14). Anak laki-laki mempunyai kemungkinan yang sama dengan anak Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan 11

39 perempuan untuk tinggal dengan kedua orang tuanya. Anak-anak di perkotaan sedikit lebih tinggi kemungkinannya untuk tinggal dengan kedua orang tuanya dibanding di perdesaan (89 persen dibanding 87 persen). Tabel 2.3 Tempat tinggal anak dan kelangsungan hidup orang tua Distribusi persentase anak usia di bawah 15 tahun de jure menurut tempat tinggal dan status kelangsungan hidup orang tua, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Tinggal dengan kedua orang tua Tinggal dengan ibu tetapi tidak dengan bapak Bapak masih hidup Bapak sudah meninggal Tinggal dengan bapak tetapi tidak dengan ibu Ibu masih hidup Ibu sudah meninggal Bapak dan ibu masih hidup Tidak tinggal dengan bapak atau ibu Hanya bapak yang masih hidup Hanya ibu yang masih hidup Bapak dan ibu sudah meninggal Tidak tahu apakah bapak/ibu masih hidup Jumlah Jumlah anak Umur <2 93,2 4,8 0,7 0,1 0,1 0,9 0,1 0,0 0,0 0,1 100, ,2 4,1 0,6 1,4 0,3 3,0 0,1 0,1 0,1 0,1 100, ,0 3,7 1,7 1,6 0,4 3,6 0,3 0,2 0,2 0,3 100, ,5 2,9 3,4 1,6 0,9 4,8 0,5 0,4 0,4 0,7 100, Jenis kelamin Laki-laki 88,1 3,6 1,8 1,3 0,5 3,4 0,3 0,2 0,3 0,3 100, Perempuan 87,7 3,7 2,1 1,4 0,4 3,7 0,3 0,2 0,2 0,4 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 89,2 3,3 1,8 1,0 0,4 3,2 0,2 0,2 0,2 0,4 100, Perdesaan 86,9 3,9 2,0 1,6 0,6 3,8 0,4 0,2 0,2 0,3 100, Jumlah 87,9 3,6 1,9 1,4 0,5 3,5 0,3 0,2 0,2 0,4 100, TINGKAT PENDIDIKAN PENDUDUK Pendidikan adalah suatu faktor penentu pada gaya hidup dan status kehidupan seseorang dalam masyarakat. Secara konsisten penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang diduduki mempunyai pengaruh yang kuat pada peri laku reproduksi, penggunaan alat kontrasepsi, kelahiran, kematian anak dan bayi, kesakitan, dan sikap serta kesadaran atas kesehatan keluarga. Dalam SDKI , informasi untuk pendidikan yang djalani dikumpulkan untuk setiap anggota rumah tangga Pendidikan yang Dijalani/Dicapai Anggota Rumah Tangga Tabel 2.4 menunjukkan distribusi persentase penduduk de facto pria dan wanita usia enam tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang diduduki, umur, dan daerah tempat tinggal. Tabel 2.4 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata dalam tingkat pendidikan menurut karakteristik latar belakang. Secara keseluruhan, pendidikan pria sedikit lebih baik dibanding wanita: 13 persen wanita usia 6 tahun ke atas tidak pernah sekolah dibanding dengan 7 persen pria. Pada semua kelompok umur kecuali tahun, pria lebih berpendidikan dan lebih lama bersekolah dibanding wanita. Pada tahun 1994, berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1, Pemerintah Indonesia mencanangkan Program Wajib Belajar 9 Tahun untuk anak di bawah usia 15 tahun. Program ini berhasil menyamakan tingkat pendidikan pria dan wanita. Meskipun ada perbedaan kecil dalam pendidikan antara pria dan wanita pada umur tua, perbedaan dalam pendidikan tidak terlihat pada kohor usia muda. Gambaran ini menunjukkan bahwa dalam tahun-tahun belakangan ini, wanita telah mempunyai kesempatan yang sama dengan pria untuk memperoleh pendidikan. 12 Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan

40 Tabel 2.4 Tingkat pendidikan penduduk menurut karakteristik latar belakang Distribusi persentase penduduk de facto perempuan dan laki-laki usia 6 tahun ke atas menurut tingkat pendidikan tertinggi yang pernah diduduki, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD 1 Tidak tamat SLTP Tamat SLTP 2 SLTP+ Tidak tahu/ tak terjawab Jumlah Jumlah Median jumlah tahun sekolah PRIA Umur ,2 84,9 0,0 0,2 0,0 0,0 0,7 100, , ,3 56,5 10,0 32,1 0,0 0,0 0,0 100, , ,9 9,4 17,1 60,7 9,7 2,1 0,1 100, , ,0 7,5 25,1 26,8 28,6 10,9 0,1 100, , ,6 7,6 30,9 23,0 27,8 9,0 0,2 100, , ,0 10,9 29,5 21,7 27,6 8,2 0,1 100, , ,8 16,2 29,3 16,3 24,1 10,2 0,2 100, , ,2 23,2 31,8 13,0 17,1 8,5 0,2 100, , ,8 26,9 32,3 13,2 14,9 5,8 0,1 100, , ,9 27,1 32,5 14,6 11,5 5,4 0,0 100, , ,4 28,1 30,7 10,5 10,4 5,3 0,6 100, , ,4 26,9 28,4 9,3 8,0 4,4 0,6 100, , ,8 31,1 23,9 4,4 5,1 1,0 0,7 100, ,1 Daerah tempat tinggal Perkotaan 4,0 23,1 17,8 24,9 20,8 9,3 0,2 100, ,2 Perdesaan 9,1 33,7 26,7 19,6 8,9 1,8 0,3 100, ,3 Jumlah 6,7 28,7 22,5 22,1 14,5 5,3 0,2 100, ,6 WANITA Umur ,5 84,7 0,0 0,1 0,0 0,0 0,6 100, , ,9 52,8 10,0 36,2 0,0 0,1 0,0 100, , ,1 6,9 18,7 59,4 10,2 3,6 0,0 100, , ,3 8,1 28,8 23,8 25,5 12,4 0,0 100, , ,5 9,8 34,8 20,9 23,5 8,6 0,0 100, , ,9 14,9 31,9 18,3 22,3 7,7 0,1 100, , ,2 24,3 31,7 13,0 14,7 7,0 0,1 100, , ,9 29,9 30,5 10,7 9,1 5,0 0,1 100, , ,1 32,8 28,9 9,9 8,0 3,2 0,1 100, , ,3 28,9 25,1 10,3 6,3 2,2 0,9 100, , ,1 30,3 17,6 7,7 4,7 1,0 0,7 100, , ,1 23,4 13,1 4,8 3,2 0,6 1,9 100, , ,6 17,4 9,8 2,6 1,1 0,4 1,1 100, ,0 Daerah tempat tinggal Perkotaan 9,0 23,3 18,8 23,9 16,8 8,0 0,1 100, ,9 Perdesaan 17,2 33,5 24,6 16,9 6,0 1,5 0,4 100, ,8 Jumlah 13,3 28,7 21,8 20,2 11,1 4,6 0,3 100, ,3 Jumlah termasuk 20 pria dan 25 wanita tak tertimbang yang tidak mempunyai informsi tentang umur. 1 Tamat kelas 6 sekolah dasar 2 Tamat kelas 3 sekolah menengah tingkat pertama Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan 13

41 Persentase pria dan wanita yang tidak pernah sekolah meningkat sejalan dengan umur. Pada wanita, proporsi naik dari 1 persen pada umur menjadi 68 persen dalam kelompok umur tua (65 tahun ke atas). Peningkatan ini tidak begitu drastis pada pria, dari 1 persen menjadi 34 persen. Tabel 2.4 juga menunjukkan bahwa penduduk tua kurang berpendidikan. Sebagai contoh, rata-rata lamanya sekolah di antara pria umur tahun adalah 5,4 tahun, sedang untuk pria umur rata-ratanya adalah 8,6 tahun. Perbedaan untuk wanita lebih mencolok: 3,7 tahun untuk umur dan 8,5 tahun untuk umur Penduduk di daerah perkotaan mempunyai kemungkinan untuk bersekolah lebih besar dan bersekolah untuk jangka waktu lebih lama dibanding daerah perdesaan. Di perkotaan, hanya 4 persen pria yang tidak pernah sekolah, di perdesaan proporsinya adalah 9 persen. Untuk wanita, angka-angka tersebut adalah 9 persen di perkotaan dan 17 persen di perdesaan. Perbedaan kota-desa lebih nyata pada tingkat pendidikan menengah dan atas. Untuk pria, rata-rata lamanya bersekolah di perkotaan adalah 7,2 tahun dibandingkan dengan 5,3 tahun di perdesaan. Perbedaan kota-desa di antara wanita kurang nyata, 5,9 tahun dan 4,8 tahun Tingkat Partisipasi Sekolah SDKI mengumpulkan informasi partipasi sekolah di antara penduduk yang disajikan dalam Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK). APM untuk tingkat sekolah dasar (SD) adalah persentase dari penduduk usia SD (7-12 tahun) yang bersekolah di SD. APM untuk tingkat sekolah lanjutan (SL) adalah persentase dari penduduk usia SL (13-18 tahun) yang bersekolah di SL. Secara definisi, APM tidak lebih dari 100 persen. APK untuk SD adalah persentase jumlah siswa pada SD, tanpa memandang umur, terhadap penduduk usia resmi SD. APK untuk SL adalah persentase jumlah siswa pada SL sampai usia 24 tahun, terhadap penduduk usia SL. APK hampir selalu lebih tinggi dari APM karena APK mencakup partisipasi orang-orang yang lebih tua atau muda dari usia resmi pada tingkat pendidikan yang bersangkutan. APK dapat melebihi 100 persen ika banyak pelajar yang terlalu tua atau terlalu muda pada tingkat pendidikan tertentu. Rasio APK adalah rasio dari APK untuk wanita terhadap APK untuk pria. APK disajikan untuk tingkat dasar dan lanjutan dan merupakan ringkasan untuk melihat perbedaan jender dalam tingkat partisipasi dalam pendidikan. Tabel dan menunjukkan bahwa di tingkat SD maupun lanjutan terdapat perbedaaan yang nyata dalam tingkat partisipasi sekolah menurut karakteristik latar belakang. Tabel menunjukkan bahwa di sekolah dasar, APM dan APK di daerah perdesaan sedikit lebih tingi dari perkotaan (88 persen dibanding 87 persen, dan 105 persen dibanding 104 persen). Tidak ada perbedaan yang berarti antar jenis kelamin dalam APM dan APK menurut daerah tempat tinggal. Secara keseluruhan, APM dan APK untuk sekolah dasar di semua propinsi sedikit lebih tinggi dari APM dan APK untuk sekolah lanjutan. Di tingkat sekolah dasar, APM dan APK yang paling rendah adalah di Gorontalo (81,4 untuk APM dan 97,4 untuk APK), sedang APM tertingi adalah di Nusa Tenggara Barat (90,7) dan APK tertinggi di Kalimantan Timur (110,8). Tabel menunjukkan bahwa tingkat patisipasi di sekolah lanjutan lebih rendah dan sangat beragam menurut karakteristik latar belakang. Secara keseluruhan, APM dan APK untuk sekolah lanjutan adalah 54 dan 64 persen. Partisipasi di sekolah lanjutan di daerah perkotaan lebih tinggi (64 persen) daripada di perdesaan (44 persen). Tidak ada perbedaan yang nyata dalam APM dan APK antara pria dan wanita. Rasio APK adalah 1,05 di perdesaan dan 0,98 di perkotaan. Rasio APK beragam antar propinsi antara 0,68 di Nusa Tenggara Barat dan 1,21 di Bengkulu. Ini berarti partisipasi perempuan di sekolah lanjutan lebih rendah dibanding pria di Nusa Tenggara Barat, sementara di Bengkulu partisipasi perempuan lebih tinggi dari pria. APM dan APK yang paling rendah adalah di Nusa Tenggara Timur (36 dan 43 persen) dan tertinggi di DI Yogyakarta (70 dan 83 persen). 14 Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan

42 Tabel Tingkat partisipasi sekolah: sekolah dasar Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) penduduk de jure tingkat sekolah dasar menurut jenis kelamin, daerah tempat tinggal, dan propinsi, Indonesia Daerah tempat tinggal/ Propinsi Angka Partisipasi Murni 1 Angka Partisipasi Kasar 2 Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio APK 3 Daerah tempat tinggal Perkotaan 88,4 84,9 86,7 104,8 103,3 104,1 0,99 Perdesaan 87,3 88,5 87,9 103,3 106,5 104,8 1,03 Sumatera Sumatera Utara 84,2 82,7 83,5 101,3 100,9 101,1 1,00 Sumatera Barat 87,7 89,8 88,8 105,1 104,3 104,7 0,99 Riau 88,8 86,6 87,8 104,0 103,2 103,7 0,99 Jambi 82,6 84,7 83,6 108,7 109,7 109,2 1,01 Sumatera Selatan 85,0 86,8 85,8 100,6 102,9 101,7 1,02 Bengkulu 89,7 83,0 86,4 112,7 104,1 108,5 0,92 Lampung 91,3 89,5 90,5 109,2 108,7 108,9 1,00 Bangka Belitung 85,5 90,8 88,2 112,5 112,8 112,6 1,00 Jawa DKI Jakarta 86,1 87,8 87,0 111,4 105,5 108,3 0,95 Jawa Barat 87,0 88,0 87,5 99,9 104,7 102,2 1,05 Jawa Tengah 89,9 90,0 90,0 106,1 108,4 107,2 1,02 DI Yogyakarta 91,0 85,2 88,0 106,6 98,1 102,2 0,92 Jawa Timur 91,7 84,7 88,3 108,2 105,2 106,8 0,97 Banten 88,1 85,2 86,8 100,5 103,4 101,8 1,03 Bali and Nusa Tenggara Bali 84,4 84,5 84,5 104,1 105,4 104,7 1,01 Nusa Tenggara Barat 88,2 93,2 90,7 99,7 102,5 101,2 1,03 Nusa Tenggara Timur 85,7 90,3 88,1 106,9 111,2 109,1 1,04 Kalimantan Kalimantan Barat 82,8 86,2 84,4 106,9 109,1 108,0 1,02 Kalimantan Tengah 89,1 89,9 89,5 107,0 112,9 109,8 1,05 Kalimantan Selatan 83,4 85,0 84,2 100,2 99,9 100,0 1,00 Kalimantan Timur 84,1 84,3 84,2 113,2 108,7 110,8 0,96 Sulawesi Sulawesi Utara 84,2 82,5 83,3 106,5 99,5 103,0 0,93 Sulawesi Tengah 85,1 89,9 87,2 105,4 114,7 109,3 1,09 Sulawesi Selatan 88,5 81,1 85,0 100,9 98,4 99,7 0,97 Sulawesi Tenggara 82,5 90,1 86,2 104,9 111,3 108,0 1,06 Gorontalo 81,1 81,8 81,4 95,0 100,3 97,4 1,06 Jumlah 87,8 86,9 87,3 103,9 105,1 104,5 1,01 1 APM untuk sekolah dasar adalah persentase penduduk usia sekolah dasar (7-12 tahun) yang bersekolah di sekolah dasar. Menurut definisi APM tidak dapat melebihi 100 persen. 2 APK untuk sekolah dasar adalah banyaknya murid sekolah dasar, ditunjukkan sebagai persentase terhadap penduduk usia sekolah dasar. Jika terdapat banyak murid yang terlalu tua atau terlalu muda pada tingkat sekolah tertentu, APK dapat lebih dari 100 persen. 3 Rasio APK untuk sekolah dasar adalah rasio APK sekolah dasar untuk perempuan terhadap rasio APK untuk laki-laki. Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan 15

43 Tabel Tingkat partisipasi sekolah: sekolah lanjutan Angka Partisipasi Murni (APM) and Angka Partisipasi Kasar (APK) penduduk de jure menurut tingkat sekolah lanjutanmenurut jenis kelamin, daerah tempat tinggal, dan propinsi, Indonesia Daerah tempat tinggal/propinsi Tingkat Partisipasi Neto Tingkat Partisipasi Bruto Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio APK 3 Daerah tempat tinggal Perkotaan 64,8 62,7 63,7 77,5 76,0 76,7 0,98 Perdesaan 41,8 45,7 43,7 51,2 53,5 52,3 1,05 Sumatera Sumatera Utara 61,8 63,5 62,6 75,9 77,3 76,6 1,02 Sumatera Barat 60,0 69,8 65,1 70,8 78,2 74,7 1,11 Riau 58,2 61,6 59,9 68,9 73,3 71,0 1,06 Jambi 48,5 45,5 46,9 66,2 56,5 61,1 0,85 Sumatera Selatan 45,2 54,0 49,6 56,6 61,8 59,2 1,09 Bengkulu 57,1 64,8 60,8 65,2 79,0 71,8 1,21 Lampung 48,6 55,0 51,4 55,7 63,1 59,0 1,13 Bangka Belitung 43,5 49,9 46,5 56,2 60,1 58,0 1,07 Jawa DKI Jakarta 68,7 59,9 64,0 82,2 70,5 75,9 0,86 Jawa Barat 48,7 50,6 49,6 60,8 62,4 61,6 1,03 Jawa Tengah 54,4 56,1 55,2 66,1 66,9 66,5 1,01 DI Yogyakarta 71,0 69,4 70,2 81,7 84,0 82,9 1,03 Jawa Timur 53,8 57,9 55,7 62,9 68,5 65,6 1,09 Banten 52,2 48,6 50,3 60,7 56,6 58,6 0,93 Bali and Nusa Tenggara Bali 64,9 60,4 62,9 80,8 70,2 76,1 0,87 Nusa Tenggara Barat 55,5 40,2 47,4 63,4 42,9 52,6 0,68 Nusa Tenggara Timur 35,4 36,4 35,9 44,4 41,3 43,0 0,93 Kalimantan Kalimantan Barat 46,0 41,0 43,3 59,8 47,4 53,2 0,79 Kalimantan Tengah 46,2 45,4 45,8 55,2 58,7 56,9 1,06 Kalimantan Selatan 42,9 41,2 42,1 50,2 49,7 49,9 0,99 Kalimantan Timur 60,8 60,7 60,8 74,1 74,3 74,2 1,00 Sulawesi Sulawesi Utara 51,0 59,9 55,5 67,4 71,3 69,4 1,06 Sulawesi Tengah 46,5 52,4 49,2 58,8 61,2 59,9 1,04 Sulawesi Selatan 47,4 43,0 45,3 55,2 55,7 55,5 1,01 Sulawesi Tenggara 47,9 52,5 50,1 62,8 59,8 61,4 0,95 Gorontalo 25,9 37,1 31,9 29,5 42,6 36,6 1,44 Total 52,9 54,2 53,5 63,9 64,8 64,3 1,01 1 APM untuk sekolah lanjutan adalah persentase penduduk usia sekolah menengah (13-18 tahun) yang bersekolah di sekolah lanjutan. Menurut definisi APM tidak dapat melebihi 100 persen. 2 APK untuk sekolah lanjutan adalah banyaknya murid sekolah lanjutan, ditunjukkan sebagai persentase terhadap penduduk usia sekolah lanjutan. Jika banyak murid yang terlalu tua atau terlalu muda pada tingkat sekolah tertentu, APK dapat lebih dari 100 persen. 3 Rasio APK untuk sekolah lanjutan adalah rasio APK sekolah lanjutan untuk perempuan terhadap rasio APK untuk laki-laki. 16 Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan

44 2.5 KARAKTERISTIK PERUMAHAN DAN KEPEMILIKAN BARANG Dalam SDKI , dikumpulkan beberapa informasi tentang karakteristik rumah tangga, termasuk akses listrik, sumber air minum, waktu ke sumber air, jenis fasilitas sanitasi, bahan-bahan bangunan rumah, kepemilikan barang-barang tahan lama, dan jarak antara sumur dan tempat penampungan tinja (tangki septik) terdekat. Hal ini penting karena berpengaruh terhadap status kesehatan anggota rumah tangga, khususnya anak-anak. Selain itu juga, informasi itu juga dapat digunakan sebagai indikator status sosialekonomi rumah tangga. Praktek kesehatan dan sanitasi yang baik dapat membantu mencegah beberapa penyakit anak, seperti diare. Informasi karakteristik perumahan disajikan dalam Tabel 2.6 dan 2.7. Tabel 2.6 menunjukkan bahwa 91 persen dari rumah tangga yang dicakup dalam SDKI mempunyai listrik, meningkat pesat dari hanya 80 persen pada SDKI 1997 (BPS dll., 1998:17). Daerah perkotaan sangat berbed dengan daerah perdesaan dalam hal akses terhadap listrik (98 persen dibanding 85 persen)(lihat Gambar 2.2). Tabel 2.6 juga menunjukkan bahwa sumur terlindung, baik dalam rumah, di halaman, atau di tempat umum, merupakan sumber utama air minum (42 persen). Tujuh belas persen rumah tangga menggunakan air yang dialirkan melalui pipa ke dalam rumah atau ke halaman atau didapat dari keran air milik umum. Proporsi ini sangat berbeda antara daerah perkotaan dan perdesaan (masing-masing 29 persen dan 7 persen). Sumber air minum lain adalah mata air (12 persen), sumber air tak terlindung lain seperti sungai dan kolam (3 persen), air kemasan (3 persen). Rumah tangga di perdesaan lebih banyak yang menggunakan mata air dari pada rumah tangga perkotaan (19 persen dibanding dengan 3 persen). Sebaliknya, air kemasan lebih umum digunakan di daerah perkotaan ( 6 persen) daripada di perdesaan (1 persen) Perbedaan kota-desa juga dicerminkan dalam waktu untuk mengambil air. Hampir semua rumah tangga di perkotaan (97 persen) dapat menjangkau sumber air minum dalam waktu kurang dari 15 menit dibanding dengan 86 persen rumah tangga di perdesaan. Rumah tangga yang tidak mempunyai kakus yang baik lebih mudah terkena penyakit seperti disentri, diare, dan tipus. Lebih dari separo rumah tangga dalam sampel (54 persen) mempunyai kakus sendiri. Angka ini lebih tinggi sedikit dari 50 persen di SDKI 1997 (BPS dll.,1998:19). Delapan persen rumah tangga menggunakan fasilitas bersama, dan sisanya (28 persen) tidak mempunyai toilet. Angka ini lebih rendah dari 40 persen hasil SDKI 1997 (BPS dll., 1998:19). Perbedaan kota-desa sangat nyata; 74 persen rumah tangga di perkotaan mempunyai toilet sendiri, dibandingkan dengan 37 persen di perdesaan. Tabel 2.6 juga menunjukkan distribusi rumah tangga dengan jarak dari sumur ke tangki septik terdekat. Empat puluh satu persen rumah tangga tidak mempunyai sumur. Pada 9 persen rumah tangga, jarak antara sumur dengan tangki septik tank kurang dari 7 meter, dan pada 38 persen, jarak tersebut adalah 7 meter atau lebih. Di daerah perkotaan jarak antara sumur dengan tangki septik sedikit lebih dekat daripada di perdesaan. Jenis lantai dapat dipakai sebagai indikator ekonomi dan kesehatan rumah tangga. Beberapa jenis lantai, seperti tanah, dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi rumah tangga, karena menjadi tempat berkembangnya hama dan serangga dan mungkin menjadi sumber debu. Jenis lantai ini juga lebih sulit dijamin kebersihannya. Di Indoneisa, 14 persen dari rumah tangga mempunyai lantai tanah. Lebih dari separo rumah tangga (52 persen) tinggal di rumah dengan lantai dari beton, semen, atau ubin, dan 15 persen mempunyai lantai dari kayu. Ada perbedaan kota-desa yang berarti pada jenis lantai; 58 persen dari rumah tangga perkotaan berlantai beton, semen, atau ubin, sedang proporsi di perdesaan hanya 47 persen. Sebaliknya, 22 persen rumah tangga di perdesaan menggunakan lantai tanah, dibanding hanya 5 persen di daerah perkotaan. Sebagian besar rumah tangga menggunakan minyak tanah dan kayu bakar untuk memasak (masingmasing 44 persen), sedang 10 persen menggunakan gas. Ada perbedaan yang besar antara perkotaan dan Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan 17

45 perdesaan menurut jenis bahan bakar untuk memasak. Di perkotaan, 64 persen dari rumah tangga menggunakan minyak tanah untuk memasak, sedang di daerah perdesaan hanya 28 persen. Selain itu, 19 persen rumah tangga di perkotaan menggunakan gas untuk memasak dibanding dengan 3 persen di daerah perdesaan. Keberadaan barang tahan lama dalam rumah tangga, seperti radio, televisi, telepon, lemari es, sepeda motor, dan mobil pribadi, adalah indikator lain dari satus sosial-ekonomi rumah tangga. Selain itu, setiap barang mempunyai keuntungan khusus. Kepemilikan radio atau televisi dapat digunakan untuk mengukur akses terhadap media massa dan ide-ide baru. Kepemilikan telepon mengukur akses terhadap komunikasi yang lebih efisien. Kepemilikan lemari es memperpanjang usia makanan sehat; dan kepemilikan alat angkutan pribadi mempermudah akses terhadap pelayanan yang jauh dari tempat tinggal. Tabel 2.7 menunjukkan bahwa 56 persen rumah tangga mempunyai radio, 62 persen mempunyai televisi, 13 persen mempunyai telepon, 18 persen mempunyai lemari es, 44 persen mempunyai sepeda atau perahu, dan 30 persen mempunyai sepeda motor atau perahu motor tempel. Hanya 6 persen dari rumah tangga mempunyai mobil pribadi atau truk. Satu dari enam rumah tangga tidak mempunyai alat rumah tangga seperti yang tercantum dalam Tabel 2.7. Kepemilikan barang tahan lama, kecuali radio dan sepeda atau perahu, telah meningkat dari yang tercatat di SDKI 1997 (BPS dll., 1998:20). Kepemilikan radio turun sejak 1997 (62 persen menjadi 56 persen), sedang kepemilikan televisi meningkat selama periode yang sama dari 48 persen menjadi 62 persen. Kepemilikan beberapa alat rumah tangga beragam menurut daerah tempat tinggal. Secara umum, barang-barang ini lebih tersedia di rumah tangga daerah perkotaan dari pada di perdesaan. Sebagai contoh, 4 dari 5 rumah tangga di perkotaan mempunyai televisi, dibandingkan dengan kurang dari separo rumah tangga di perdesaan (48 persen). Telepon tersedia di 25 persen rumah tangga perkotaan tetapi hampir tidak Tabel 2.6 Karakteristik rumah tangga Distribusi persentase rumah tangga menurut karakteristik rumah tangga dan daerah tempat tinggal, Indonesia Daerah tempat tinggal Karakteristik rumah tangga Perkotaan Perdesaan Jumlah Listrik Ya 98,1 84,5 90,7 Tidak 1,9 15,4 9,2 Tak terjawab 0,1 0,1 0,1 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Sumber Air minum Leding ke dalam rumah 22,1 4,2 12,4 Leding di halaman 2,9 1,4 2,1 Leding umum 3,9 1,5 2,6 Sumur tak terlindung di dalam rumah 5,8 3,6 4,6 Sumur tak terlindung di halaman 5,8 12,4 9,4 Sumur tak terlindung umum 1,7 4,9 3,5 Sumur terlindung di dalam rumah 24,9 12,8 18,4 Sumur terlindung di halaman 11,9 18,1 15,3 Sumur terlindung umum 6,0 9,8 8,0 Mata air 3,2 19,1 11,8 Sungai, kali, danau 0,3 6,0 3,4 Air hujan 1,2 3,2 2,3 Truk tangki air/air pikulan 3,2 1,6 2,3 Air kemasan 6,2 0,8 3,3 Lainnya 0,8 0,4 0,6 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Waktu ke sumber air Persentase < 15 menit 96,8 86,3 91,1 Fasilitas sanitasi Sendiri dengan tangki septik 64,6 26,6 44,0 Sendiri tanpa tangki septik 8,9 10,2 9,6 Bersama/umum 9,3 6,2 7,6 Sungai/kali/anak sungai 11,3 26,6 19,6 Lubang 2,9 16,5 10,3 Semak/hutan/halaman/lapangan/ tanpa fasilitas 0,5 7,1 4,1 Lainnya 2,2 6,7 4,6 Tak terjawab 0,3 0,2 0,2 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Jarak dari sumur ke tangki septik terdekat Tidak ada sumur 43,8 38,3 40,8 Kurang dari 7 meter 11,4 7,6 9,4 7 meter atau lebih 36,5 39,4 38,1 Tidak tahu/ tak terjawab 8,2 14,7 11,7 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Jenis lantai Tanah 4,6 21,9 14,0 Bambu 0,5 2,3 1,5 Kayu/papan 9,0 20,0 14,9 Semen/bata merah 35,0 33,1 34,0 Ubin/tegel/teraso 23,1 13,5 17,9 Keramik/marmer/granit 27,4 8,7 17,2 Lainnya 0,1 0,2 0,1 Tak terjawab 0,4 0,3 0,4 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Bahan bakar memasak Listrik 0,7 0,2 0,4 Gas 18,6 2,8 10,0 Minyak tanah 63,8 27,7 44,2 Batu bara 0,1 0,1 0,1 Arang 0,1 0,4 0,3 Kayu bakar 15,9 68,5 44,4 Lainnya 0,8 0,3 0,5 Tak terjawab 0,1 0,1 0,1 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Jumlah rumah tangga ada di daerah perdesaan. Rumah tangga di perkotaan mempunyai kesempatan 4 kali lebih besar untuk mempunyai mobil dibanding rumah tangga di perdesaan. 18 Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan

46 Table 2.7 Barang tahan lama rumah tangga Persentase rumah tangga yang mempunyai alat-alat rumah tangga, menurut daerah tempat tinggal, Indonesia Tempat tinggal Alat-alat rumah tangga Perkotaan Perdesaan Total Radio 64,8 48,4 55,9 Televisi 79,3 47,8 62,2 Telepon 25,1 2,4 12,8 Lemari es 31,9 6,2 17,9 Sepeda/perahu 45,6 42,9 44,2 Sepeda motor/perahu motor 38,7 21,9 29,6 Mobil/truk 9,7 2,3 5,7 Tidak memiliki barang yang disebutkan di atas 8,4 22,8 16,2 Jumlah rumah tangga Gambar 2.2 Karakteristik Perumahan menurut Daerah Tempat Tinggal Listrik Air Leding Kakus Sendiri Keramik/Marmer/Granit Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan SDKI Karakteristik Rumah Tangga dan Perumahan 19

47 KARAKTERISTIK RESPONDEN 3 DAN STATUS WANITA Tujuan utama dari bab ini adalah menyediakan profil kependudukan dan sosial ekonomi responden wanita pernah kawin dan pria kawin dalam sampel Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Informasi berdasarkan karakteristik latar belakang responden dalam survei penting guna menjelaskan temuan-temuan yang disajikan berikutnya dalam laporan ini. Bab ini diawali dengan menyajikan karakteristik latar belakang responden menurut umur, status perkawinan, tingkat pendidikan, dan daerah tempat tinggal. Informasi lebih mendalam mengenai pendidikan, tingkat melek huruf, dan akses terhadap media massa juga akan dibahas. Selain itu, disajikan data ketenagakerjaan dan pendapatan wanita, pengambilan keputusan dalam rumah tangga, dan sikap wanita mengenai kedudukannya dalam rumah tangga. 3.1 KARAKTERISTIK RESPONDEN SURVEI Tabel 3.1 menyajikan distribusi wanita pernah kawin umur tahun dan pria kawin umur tahun yang diwawancarai dalam SDKI menurut beberapa karakteristik latar belakang, termasuk umur, status perkawinan, daerah tempat tinggal perkotaan-perdesaan, dan tingkat pendidikan. Data dalam survei menunjukkan bahwa kira-kira sepertiga dari responden wanita dan satu dari lima responden pria berumur di bawah umur 30 tahun. Tabel 3.1 juga menunjukkan bahwa 95 persen dari wanita dalam survei berstatus kawin, dan 5 persen lainnya terbagi dua sama besar, cerai hidup dan cerai mati. Empat puluh enam persen dari responden wanita dan 47 persen pria bertempat tinggal di daerah perkotaan. Delapan persen dari wanita pernah kawin dan 4 persen dari pria kawin tidak pernah mendapatkan pendidikan formal. Lebih banyak wanita daripada pria yang menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (masing-masing 34 dan 30 persen). Pria lebih cenderung berpendidikan lebih tinggi daripada wanita, 28 persen pria telah menyelesaikan sekolah lanjutan pertama (SLTP) atau yang lebih tinggi dibandingkan dengan 21 persen wanita. Wanita berangsur mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Persentase wanita pernah kawin yang tidak berpendidikan turun dari 13 persen pada 1997 menjadi 8 persen pada , sementara itu persentase wanita yang berpendidikan SLTP meningkat (28 persen pada tahun 1997 menjadi 38 persen pada tahun ). Bila diperhatikan menurut agama, 90 persen wanita dan pria beragama Islam, diikuti oleh Kristen Protestan atau Katolik (7 sampai 8 persen). Persentase pemeluk agama lainnya, yaitu Hindu, Budha, atau agama lain sangat kecil. Perbedaan karakteristik latar belakang responden menurut propinsi disajikan dalam Lampiran Tabel A.3.1. Sebagian besar responden tinggal di Pulau Jawa (masing-masing pria dan wanita sebesar 62 persen), diikuti oleh Sumatera (20 persen wanita dan 21 persen pria). Kelompok kepulauan Kalimantan, dan Bali dan Nusa Tenggara memiliki proporsi responden yang terendah: masing-masing 6 dan 5 persen wanita, dan 5 persen masing-masing untuk pria. Perlu dicatat adanya perbedaan besar antara jumlah tertimbang dan jumlah tidak tertimbang responden pria dan wanita di beberapa propinsi. Jumlah responden tidak tertimbang adalah jumlah responden yang sebenarnya diwawancarai dalam SDKI , sedangkan jumlah tertimbang adalah jumlah responden yang mewakili propinsi proporsional dengan populasi dalam Survei Sosial-ekonomi Nasional (SUSENAS) Sebagai contoh, Sumatera Selatan mewakili 3 persen dari penduduk nasional wanita pernah kawin umur dalam SUSENAS (diwakili oleh 809 responden), namun ada wanita yang diwawancarai dalam SDKI. Hal ini dijelaskan agar pembaca memahami bahwa meskipun dalam laporan disajikan angka tertimbang, Karakteristik Responden dan Status Wanita 21

48 perkiraan-perkiraan menurut propinsi mungkin didasarkan pada jumlah wawancara dengan wanita dan pria yang lebih besar. Tabel 3.1 Karakteristik latar belakang responden Distribusi persentase wanita pernah kawin dan pria kawin menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Persentase tertimbang Jumlah wanita pernah kawin Tidak Tertimbang tertimbang Persentase tertimbang Jumlah pria kawin Tidak Tertimbang tertimbang Umur , , , , , , , , , , , , , , na na na 12, Status perkawinan Kawin 94, , Cerai hidup 2, na na na Cerai mati 2, na na na Daerah tempat tinggal Perkotaan 45, , Perdesaan 54, , Pendidikan Tidak sekolah 7, , Tidak tamat SD 20, , Tamat SD 33, , Tidak tamat SLTP 17, , SLTP + 20, , Agama Islam 89, , Kristen/Protestan 5, , Katolik 2, , Hindu 1, , Budha 0, , Konghucu 0, , Lainnya 0, , Tak Terjawab (TT) 0, , Jumlah 100, , Catatan: Kategori pendidikan merujuk pada tingkat pendidikan yang pernah diduduki, tanpa memperhatikan apakah tingkat pendidikan tersebut sudah ditamatkan atau belum. na = Tidak berlaku 22 Karakteristik Responden dan Status Wanita

49 3.2 TINGKAT PENDIDIKAN Tabel 3.2 menunjukkan distribusi persentase responden menurut tingkat pendidikan tertinggi yang diduduki atau ditamatkan berdasarkan umur dan daerah tempat tinggalnya. Wanita dan pria muda lebih berkemungkinan mendapatkan pendidikan di sekolah dibanding responden lebih tua. Distribusi responden yang pernah sekolah meningkat sejalan dengan umur, baik pada pria dan wanita. Sebagai contoh, 2 persen wanita pernah kawin dan 1 persen laki-laki kawin pada umur tahun tidak pernah sekolah, dibandingkan dengan 17 persen wanita dan 7 persen pria umur tahun. Selain itu, 28 persen wanita usia menyelesaikan sekolah menengah/lanjutan, dibandingkan dengan hanya 9 persen wanita pada umur tahun. Di antara responden pria, 34 persen berumur mendapat pendidikan sekolah lanjutan, dibandingkan dengan 15 persen pria pada umur tahun. Tabel 3.2 Tingkat pendidikan menurut karakteristik latar belakang Distribusi persentase wanita pernah kawin dan pria kawin menurut tingkat pendidikan tertinggi yang pernah diduduki atau diselesaikan, dan median lamanya tahun sekolah, menurut umur dan tempat tinggal Indonesia Umur/Tempat tinggal Tingkat pendidikan tertinggi yang diduduki atau diselesaikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD 1) Tidak tamat SLTP WANITA PERNAH KAWIN Tamat SLTP 2) SLTP+ Jumlah Jumlah responden Median lamanya tahun sekolah Umur ,5 11,1 40,5 38,3 8,5 0,1 100, , ,7 10,2 39,2 27,6 18,9 2,5 100, , ,4 10,7 37,6 21,8 22,1 5,4 100, , ,9 15,2 33,2 18,2 21,7 6,7 100, , ,3 24,2 32,0 12,9 14,7 6,8 100, , ,7 30,8 30,8 10,3 8,6 4,8 100, , ,3 32,6 29,3 9,9 7,8 3,2 100, ,0 Daerah tempat tinggal Perkotaan 5,0 13,5 28,9 20,0 24,2 8,4 100, ,0 Perdesaan 10,4 25,5 38,1 15,2 8,7 2,0 100, ,4 Jumlah 7,9 20,0 33,9 17,4 15,8 4,9 100, ,6 PRIA KAWIN Umur * * * * * * 100,0 11 * ,9 7,6 37,7 33,9 18,1 1,7 100, , ,7 8,9 32,6 24,9 26,8 5,2 100, , ,0 16,3 25,6 22,6 26,7 7,9 100, , ,3 16,7 30,0 15,9 21,7 11,4 100, , ,0 28,9 27,1 12,6 17,0 8,3 100, , ,0 29,5 30,5 10,1 16,5 6,4 100, , ,5 32,0 30,6 14,7 10,4 5,8 100, ,4 Daerah tempat tinggal Perkotaan 1,9 14,0 24,0 18,4 29,5 12,3 100, ,5 Perdesaan 6,0 26,7 34,5 17,2 12,2 3,3 100, ,5 Jumlah 4,1 20,8 29,6 17,8 20,2 7,4 100, ,8 Catatan: Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kejadian dan tidak ditampilkan. 1 Menamatkan/menyelesaikan tingkat 6 pada Sekolah Dasar (SD) 2 Menamatkan/menyelesaikan tingkat 6 pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Karakteristik Responden dan Status Wanita 23

50 Data SDKI menunjukkan bahwa kesempatan mendapatkan pendidikan bervariasi di antara responden menurut daerah tempat tinggal mereka. Wanita dan pria perkotaan lebih berkemungkinkan mendapat pendidikan daripada mereka yang tinggal di daerah perdesaan. Lima persen dari wanita perkotaan dan 2 persen dari pria perkotaan tidak pernah sekolah, dibanding dengan 10 persen dan 6 persen wanita dan pria di perdesaan. Perbandingan median jumlah tahun sekolah menunjukkan pola yang sama, median untuk wanita perkotaan adalah 8 tahun dan median untuk wanita perdesaan 5 tahun. Perbedaan tingkat pendidikan antar propinsi cukup besar (lihat Lampiran Tabel A.3.2). Proporsi wanita pernah kawin yang pernah sekolah berkisar antara 2 persen di Propinsi Gorontalo dan 27 persen di Nusa Tenggara Barat. Di samping itu, terdapat keragaman nyata pada tingkat pendidikan dan lamanya bersekolah antar propinsi. 3.3 KEMAMPUAN MEMBACA Kemampuan membaca adalah modal penting yang memungkinkan wanita dan pria meningkatkan kesempatan dalam hidupnya. Informasi tentang distribusi penduduk menurut kemampuan membaca bisa membantu perencana dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana dalam pencapaian sasaran terhadap pesan-pesan program. Dalam SDKI , seseorang dikatakan melek huruf jika ia mampu membaca sebagian atau seluruh kalimat dalam kartu dalam suatu bahasa yang diperlihatkan oleh pewawancara kepada responden. Pertanyaan-pertanyaan untuk menilai melek huruf hanya ditanyakan kepada wanita dan pria yang tidak bersekolah atau hanya tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Responden yang pernah duduk di sekolah menengah dianggap bisa membaca. Tabel 3.3 menunjukkan bahwa tingkat melek huruf di Indonesia cukup tinggi; untuk wanita pernah kawin 86 persen dan pria kawin 93 persen. Tiga belas persen wanita tidak mampu membaca sama sekali, dibandingkan dengan 7 persen pria. Semakin muda umur responden lebih besar kemungkinannya untuk bisa membaca. Sebagai perbandingan, 96 persen wanita dan 98 persen pria pada kelompok umur tahun melek huruf, dibandingkan dengan 72 persen wanita dan 88 persen pria pada kelompok umur tahun. Penduduk perkotaan lebih mampu membaca daripada penduduk perdesaan (92 persen wanita dan 97 persen pria, dibandingkan dengan 82 persen wanita dan 90 persen pria). Keragaman tingkat melek huruf menurut propinsi disajikan pada Lampiran Tabel A dan A Di sebagian besar propinsi, tingkat melek huruf wanita lebih rendah dari tingkat untuk pria. Pada wanita, tingkat melek huruf terendah adalah untuk Nusa Tenggara Barat (67 persen), sedangkan yang tertinggi di Sulawesi Utara (96 persen). Pada pria, Nusa Tenggara Timur memiliki tingkat melek huruf terendah (81 persen), sedangkan propinsi DKI Jakarta memiliki tingkat melek huruf tertinggi (99 persen). 24 Karakteristik Responden dan Status Wanita

51 Tabel 3.3 Kemampuan membaca Distribusi persentase wanita pernah kawin dan pria kawin menurut tingkat pendidikan tertinggi yang pernah diduduki atau diselesaikan dan tingkat melek huruf, persentase melek huruf, menurut propinsi, Indonesia Umur/Tempat tinggal SLTP+ Bisa membaca seluruh kalimat Tidak sekolah atau Sekolah Dasar (SD) Bisa membaca Tidak bisa sebagian membaca Tak kalimat sama sekali terjawab WANITA PERNAH KAWIN Jumlah Jumlah wanita pernah kawin Persentase melek huruf 1 Umur ,9 45,2 4,2 2,4 1,3 100, , ,9 43,4 3,9 3,4 0,4 100, , ,3 40,0 4,9 4,9 0,8 100, , ,6 38,8 6,4 7,7 0,5 100, , ,5 39,4 10,0 15,5 0,6 100, , ,7 39,5 13,2 23,2 0,5 100, , ,9 37,2 13,5 27,7 0,7 100, ,5 Daerah tempat tinggal Perkotaan 52,6 33,0 5,9 7,9 0,6 100, ,5 Perdesaan 25,9 45,6 10,5 17,3 0,6 100, ,1 Jumlah 38,2 39,8 8,4 13,0 0,6 100, ,4 PRIA KAWIN Umur * * * * * 100,0 11 * ,8 41,7 2,6 2,0 0,0 100, , ,8 37,9 1,8 3,3 0,1 100, , ,1 35,3 3,4 4,1 0,1 100, , ,0 39,8 5,7 5,3 0,1 100, , ,0 42,0 9,9 10,0 0,2 100, , ,0 46,6 8,8 11,4 0,2 100, , ,9 45,9 12,5 10,3 0,4 100, ,3 Daerah tempat tinggal Perkotaan 60,1 32,7 3,9 3,2 0,1 100, ,7 Perdesaan 32,7 48,1 8,9 10,1 0,2 100, ,7 Jumlah 45,5 40,9 6,5 6,9 0,2 100, ,9 Catatan: Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kejadian dan tidak ditampilkan. 1 Merujuk pada responden yang pernah duduk di sekolah lanjutan pertama atau lebih tinggi dan responden yang bisa membaca sebagian atau seluruh kalimat 3.4 AKSES TERHADAP MEDIA MASSA SDKI mengumpulkan informasi mengenai akses responden terhadap berbagai media massa. Responden ditanya berapa sering mereka membaca surat kabar atau majalah, mendengarkan radio, atau menonton televisi (TV) dalam seminggu. Informasi ini berguna untuk menentukan jenis media untuk menyebarkan informasi mengenai program keluarga berencana dan kesehatan bagi masyarakat yang menjadi sasaran program. Hal tersebut juga penting untuk mengetahui kemungkinan pencapaian responden terhadap media massa. Tabel 3.4 menunjukkan bahwa TV adalah media yang paling populer di antara wanita pernah kawin dan pria kawin (masing-masing 76 dan79 persen), diikuti oleh radio dengan 38 persen wanita dan 46 persen pria yang mendengarkan radio setiap minggu. Persentase wanita dan pria yang membaca surat kabar atau majalah seminggu sekali jauh lebih rendah (15 persen wanita dan 29 persen pria). Sejak 1997, Karakteristik Responden dan Status Wanita 25

52 telah terjadi penurunan yang nyata dalam proporsi wanita yang mempunyai akses terhadap ketiga media massa, dari 16 persen menjadi 9 persen pada SDKI Tabel 3.4 Akses terhadap media massa Persentase wanita pernah kawin dan pria kawin yang biasanya membaca surat kabar paling sedikit sekali seminggu, menonton televisi (TV) paling sedikit sekali seminggu, dan mendengarkan radio paling sedikit sekali seminggu, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Membaca surat kabar/majalah paling sedikit sekali seminggu Menonton TV paling sedikit sekali seminggu Mendengarkan radio paling sedikit sekali seminggu WANITA PERNAH KAWIN Akses terhadap ketiga media massa Tidak ada akses terhadap media massa Jumlah Umur ,9 74,9 46,3 5,5 17, ,4 79,2 41,5 8,8 15, ,8 80,1 41,8 11,1 15, ,6 78,0 40,3 10,8 16, ,2 75,1 36,1 9,3 19, ,6 74,7 34,8 7,2 20, ,2 70,6 31,5 6,3 23, Daerah tempat tinggal Perkotaan 23,7 87,4 39,0 13,6 9, Perdesaan 8,0 67,1 37,4 5,0 25, Pendidikan Tidak sekolah 0,1 51,7 24,8 0,0 40, Tidak tamat SD 2,9 64,8 30,2 1,5 28, Tamat SD 7,2 75,7 38,8 4,4 18, Tidak tamat SLTP 16,9 83,7 41,0 10,5 11, SLTP+ 44,5 92,0 47,3 25,7 4, Jumlah 15,2 76,4 38,1 9,0 18, PRIA KAWIN Umur * * * * * ,6 85,8 51,6 17,2 10, ,7 80,1 49,4 17,5 14, ,5 80,1 50,5 20,0 12, ,9 81,8 48,6 21,3 12, ,6 79,0 44,0 16,5 15, ,4 79,9 36,3 13,3 14, ,6 70,5 40,2 12,2 22, Darah tempat tinggal Perkotaan 43,1 87,7 47,7 25,5 8, Perdesaan 16,9 72,1 43,8 10,0 20, Pendidikan Tidak sekolah 0,9 49,2 26,3 0,7 43,9 341 Tidak tamat SD 7,1 69,6 37,2 4,5 23, Tamat SD 15,6 74,5 44,8 9,6 17, Tidak tamat SLTP 32,5 85,4 50,2 18,3 8, SLTP+ 62,0 92,4 52,8 36,7 4, Jumlah 29,1 79,3 45,6 17,2 14, Catatan: Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kejadian dan tidak ditampilkan. 26 Karakteristik Responden dan Status Wanita

53 Wanita dan pria yang tinggal di perkotaan dan yang berumur tahun lebih berpeluang mendapatkan akses terhadap ketiga jenis media daripada mereka yang tinggal di perdesaan atau mereka yang berada pada kelompok umur lain. Pendidikan juga mempunyai hubungan yang sangat erat dengan akses terhadap media massa. Sebagai contoh, 26 persen wanita dan 37 persen pria yang berpendidikan sekolah lanjutan atau lebih tinggi mempunyai akses terhadap ketiga jenis media dibandingan wanita dan pria yang berpendidikan SD (masing-masing 2 persen dan 5 persen). Pria memiliki akses media massa yang lebih besar dibandingkan wanita. Perbedaan serupa terlihat pada semua kelompok penduduk. Lampiran Tabel A dan A memperlihatkan variasi akses media massa bagi wanita pernah kawin dan pria kawin menurut propinsi. Akses terhadap TV di DKI Jakarta tertinggi, dengan 91 persen wanita dan 94 persen pria menonton TV setiap minggu. DI Yogyakarta mempunyai proporsi tertinggi dalam akses wanita terhadap ketiga jenis media (24 persen), sedangkan Nusa Tenggara Barat mempunyai proporsi terendah (4 persen). Untuk pria, Sulawesi Utara mempunyai proporsi tertinggi dalam akses terhadap ketiga jenis media (45 persen), sedang Bengkulu dan Sulawesi Tenggara mempunyai persentase terendah (7 persen). Menarik dan perlu dicatat bahwa 64 persen wanita dan 56 persen pria di Nusa Tenggara Timur tidak mempunyai akses terhadap satupun dari ketiga jenis media massa tersebut. 3.5 KETENAGAKERJAAN Status Pekerjaan Responden SDKI ditanyai sejumlah pertanyaan guna mendapatkan data status pekerjaan mereka pada saat survei dan keberlangsungan pekerjaan mereka selama dua belas bulan sebelum pelaksanaan survei. Pengukuran pekerjaan wanita sulit, karena beberapa pekerjaan yang dikerjakan oleh wanita, khususnya di usaha pertanian keluarga, usaha keluarga, atau di sektor informal sering tidak dianggap oleh wanita itu sendiri sebagai pekerjaan dan dengan demikian hal ini tidak dilaporkan sebagai pekerjaan. Untuk menghindari rendahnya perkiraan persentase wanita yang bekerja, responden wanita dalam SDKI ditanyai beberapa pertanyaan untuk memastikan status pekerjaan mereka. Pertama, kepada responden ditanyakan, Di samping pekerjaan rumah, apakah ibu sekarang bekerja? Responden wanita yang menjawab tidak pada pertanyaan ini kemudian ditanya, Seperti yang ibu ketahui, banyak wanita yang bekerja, maksud saya di samping menegerjakan pekerjaan rumah tangganya. Beberapa di antaranya bekerja di toko, atau di perusahaan, atau di instansi pemerintah. Beberapa wanita bekerja dengan mendapat upah/gaji, dan juga ada yang bekerja tetapi tidak mendapat upah atau gaji. Apakah ibu melakukan kegiatan tersebut atau ada pekerjaan lain?. Responden wanita yang menjawab tidak pada pertanyaan ini kemudian ditanya, Dalam 12 bulan terakhir, apakah ibu pernah bekerja?. Responden dikatakan bekerja jika mereka menjawab salah satu dari dua pertanyaan pertama ya. Responden wanita yang menjawab pertanyaan ketiga ya tidak dianggap sedang bekerja tetapi bekerja dalam 12 bulan terakhir. Tabel dan Gambar 3.1 menunjukkan bahwa 15 persen dari wanita pernah kawin sedang bekerja, 2 persen bekerja dalam 12 bulan terakhir, dan 47 persen wanita tidak bekerja sama sekali pada periode yang sama. Wanita usia tua, wanita yang tinggal di perdesaan, dan yang tidak berpendidikan lebih besar kemungkinannya untuk bekerja. Selain itu, responden wanita yang memiliki lebih banyak anak lebih berkemungkinan untuk bekerja pada waktu survei. Tabel menunjukkan bahwa hampir semua responden pria kawin saat ini bekerja (97 persen), sementara 1 persen bekerja pada tahun yang lalu. Lampiran Tabel A dan A menyajikan distribusi persentase dari wanita pernah kawin dan pria kawin menurut status pekerjaan dan propinsi. Proporsi terbesar wanita bekerja ditemukan di Propinsi Bengkulu (75 persen) dan terendah di Kalimantan Tengah (27 persen). Untuk pria, keragaman status pekerjaan menurut propinsi tidak begitu berarti. Karakteristik Responden dan Status Wanita 27

54 Tabel Status pekerjaan: wanita Distribusi persentase wanita pernah kawin menurut status pekerjaan, karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Bekerja dalam 12 bulan terakhir Sekarang Sekarang sedang sedang tidak bekerja bekerja Tidak bekerja dalam 12 bulan terakhir Jumlah Jumlah wanita Umur ,3 3,5 71,2 100, ,0 3,4 63,6 100, ,0 1,6 57,3 100, ,7 1,5 45,9 100, ,2 1,7 42,1 100, ,3 1,5 36,2 100, ,9 1,1 35,0 100, Status perkawinan Kawin 49,5 1,8 48,7 100, Cerai hidup/cerai mati 71,6 2,1 26,3 100, Jumlah anak yang masih hidup 0 44,7 3,8 51,5 100, ,7 2,0 50,2 100, ,7 1,3 43,0 100, ,5 0,9 42,6 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 44,6 1,8 53,6 100, Perdesaan 55,9 1,8 42,2 100, Pendidikan Tidak sekolah 67,0 1,4 31,5 100, Tidak tamat SD 59,5 2,0 38,5 100, Tamat SD 49,4 1,7 48,8 100, Tidak tamat SLTP 39,9 1,7 58,4 100, SLTP+ 47,4 2,0 50,6 100, Jumlah 50,7 1,8 47,4 100, Gambar 3.1 Status Pekerja Wanita Umur Tahun Bekerja 51% Pernah bekerja dalam setahun terakhir tetapi sekarang tidak bekerja 2% Tidak pernah bekerja dalam setahun terakhir 47% SDKI Karakteristik Responden dan Status Wanita

55 Tabel Status pekerjaan: pria Distribusi persentase pria kawin menurut status pekerjaan dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Bekerja dalam 12 bulan terakhir Sekarang sedang bekerja Sekarang sedang tidak bekerja Tidak bekerja dalam 12 bulan terakhir Jumlah Jumlah pria Umur ,0 0,0 0,0 100, ,6 3,7 2,4 100, ,5 2,1 1,4 100, ,7 1,9 0,4 100, ,0 1,2 0,7 100, ,7 0,3 1,0 100, ,9 1,1 2,0 100, ,5 1,3 2,2 100, Jumlah anak yang masih hidup 0 95,1 2,8 2,1 100, ,5 1,3 1,1 100, ,2 1,7 1,2 100, ,2 0,3 1,5 100,0 925 Daerah tempat tinggal Perkotaan 96,3 1,8 1,9 100, Perdesaan 98,1 1,1 0,7 100, Pendidikan Tidak sekolah 97,1 0,3 2,6 100,0 341 Tidak tamat SD 97,9 1,0 1,1 100, Tamat SD 97,2 2,1 0,6 100, Tidak tamat SLTP 96,8 1,4 1,9 100, SLTP+ 97,3 1,2 1,4 100, Jumlah 97,3 1,4 1,3 100, Jenis Pekerjaan Tabel menyajikan distribusi persentase dari wanita pernah kawin yang bekerja dalam 12 bulan sebelum survei menurut jenis pekerjaan dan karakteristik latar belakang. Data tersebut menggambarkan bahwa 45 persen wanita bekerja di sektor pertanian, dan lebih dari separo di antara mereka (24 persen) bekerja pada lahan pertanian milik sendiri. Sebagian besar wanita yang bekerja di sektor bukan pertanian bekerja di sektor penjualan dan jasa pelayanan (32 persen). Karakteristik Responden dan Status Wanita 29

56 Tabel Jenis pekerjaan: wanita Distribusi persentase wanita pernah kawin yang bekerja dalam 12 bulan sebelum survei menurut jenis pekerjaan dan karakteristik latar belakang, Indonesia Pertanian Bukan Pertanian Lahan Pro- Tenaga Bukan Tenaga Lahan Lahan milik fesional/ usaha Tenaga tenaga usaha Karakteristik milik milik orang Lahan teknisi/ Tata jasa dan ahli ahli/ Per- Jumlah latar belakang sendiri keluarga lain sewa manajer Usaha penjualan kasar terampil tanian Jumlah wanita Umur ,4 15,2 16,0 0,6 0,3 0,4 21,9 18,9 0,0 0,9 100, ,2 8,1 10,5 1,6 2,9 2,3 28,9 23,5 0,1 0,7 100, ,3 4,6 12,5 2,1 5,2 3,7 30,6 17,0 0,4 1,3 100, ,1 4,5 12,6 2,0 7,4 3,8 31,3 14,2 0,0 0,9 100, ,0 2,7 13,9 2,2 9,3 3,0 31,2 10,6 0,0 1,7 100, ,7 2,7 16,7 2,2 6,7 1,8 34,1 8,9 0,2 1,8 100, ,5 2,8 17,2 3,3 4,9 1,9 32,7 6,5 0,0 1,8 100, Status perkawinan Kawin 25,1 4,1 14,0 2,3 6,7 2,8 30,4 12,6 0,1 1,4 100, Cerai hidup/cerai mati 15,9 3,4 17,0 1,7 2,5 1,5 44,9 11,2 0,0 1,0 100, Jumlah anak yang masih hidup 0 16,4 5,3 12,6 1,2 8,0 6,4 30,2 17,6 0,6 0,9 100, ,8 4,5 13,7 1,7 6,9 3,4 31,2 15,4 0,0 1,1 100, ,1 3,2 14,5 2,7 6,6 1,7 32,7 9,2 0,1 2,0 100, ,0 3,9 16,8 4,1 2,6 0,4 31,2 6,1 0,0 1,2 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 4,2 0,7 6,7 0,7 10,1 5,8 51,2 18,7 0,3 1,1 100, Perdesaan 38,1 6,4 19,4 3,3 3,8 0,7 18,3 8,3 0,0 1,6 100, Pendidikan Tidak sekolah 31,5 3,7 31,2 2,2 0,0 0,0 24,9 4,9 0,1 1,0 100, Tidak tamat SD 32,3 3,7 23,1 2,8 0,2 0,1 26,0 9,5 0,0 2,1 100, Tamat SD 29,6 5,4 13,5 2,8 0,1 0,1 31,2 15,5 0,0 1,3 100, Tidak tamat SLTP 21,1 5,5 6,7 2,0 1,1 0,9 44,1 16,8 0,3 1,2 100, SLTP+ 4,6 1,4 1,3 0,7 31,3 13,1 33,5 12,2 0,3 1,0 100, Jumlah 24,4 4,1 14,3 2,2 6,3 2,7 31,6 12,5 0,1 1,4 100, Jenis pekerjaan responden bervariasi dengan umur; wanita muda yang bekerja di sektor pertanian cenderung bekerja pada lahan milik keluarga, sedangkan wanita usia tua cenderung bekerja pada lahan pertanian milik sendiri. Di sektor bukan pertanian, persentase wanita yang bekerja dalam sector penjualan dan jasa pelayanan meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Wanita di perdesaan dan yang berpendidikan rendah lebih besar kemungkinannya untuk bekerja di sektor pertanian daripada kelompok wanita lainnya. Wanita perkotaan dan yang berpendidikan tinggi mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk bekerja di bidang penjualan dan jasa pelayanan. Tabel menunjukkan distribusi persentase pria kawin yang bekerja dalam 12 bulan terakhir sebelum survei menurut pekerjaan dan karakteristik latar belakang. Tiga puluh delapan persen dari pria berstatus kawin bekerja di sektor pertanian dan lebih dari separo (19 persen) bekerja pada lahan pertanian milik sendiri. Pada sektor bukan pertanian, seperti halnya dengan wanita, pria lebih besar kemungkinannya untuk bekerja di bidang penjualan dan jasa pelayanan dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain (38 persen). Pria menunjukkan keragaman antar subkelompok yang sama seperti pada wanita. 30 Karakteristik Responden dan Status Wanita

57 Tabel Jenis pekerjaan: pria Distribusi persentase pria kawin yang bekerja dalam 12 bulan sebelum survei menurut jenis pekerjaan dan karakteristik latar belakang, Indonesia Pertanian Bukan Pertanian Lahan Lahan Pro- Tenaga Bukan Tenaga Lahan milik milik Tak fesional/ usaha Tenaga tenaga usaha Tak Karakteristik milik kelu- orang Lahan ter- teknisi/ Tata jasa dan ahli/ ahli/ per- ter- Jumlah latar belakang sendiri arga lain sewa jawab manajer usaha penjualan terampil terampil tanian jawab Jumlah pria Umur * * * * * * * * * * * * * ,4 10,8 15,6 0,2 0,4 2,8 0,6 42,8 11,4 0,0 3,0 0,0 100, ,3 5,9 10,9 2,0 1,7 4,3 3,1 41,2 13,2 0,4 1,9 0,1 100, ,0 3,5 10,2 1,6 1,8 7,3 3,9 44,7 9,6 0,0 2,3 0,1 100, ,7 2,4 12,6 0,9 1,2 9,9 6,0 38,4 8,6 0,1 1,8 0,4 100, ,3 1,1 12,7 1,2 0,8 9,4 5,3 33,4 10,6 0,3 2,3 0,5 100, ,5 2,2 14,7 2,3 1,0 7,9 4,8 34,8 9,0 0,0 2,9 0,0 100, ,8 2,4 12,6 2,2 0,8 7,3 6,3 29,6 5,3 0,0 2,6 0,1 100,0 985 Jumlah anak yang masih hidup 0 13,3 5,8 15,2 0,8 0,8 7,6 2,4 44,6 8,0 0,0 1,5 0,0 100, ,4 3,8 10,7 1,3 1,4 7,9 4,6 39,1 11,1 0,2 2,4 0,1 100, ,8 2,0 13,5 1,7 1,0 8,4 6,1 35,9 8,4 0,0 2,0 0,3 100, ,8 2,5 15,5 3,0 1,1 3,6 3,2 31,2 6,9 0,1 3,7 0,5 100,0 911 Tempat tinggal Perkotaan 3,8 0,8 5,9 0,9 1,3 11,9 6,6 52,9 13,4 0,2 2,0 0,2 100, Perdesaan 32,6 5,5 18,0 2,1 1,1 3,9 3,0 24,7 6,3 0,1 2,5 0,2 100, Pendidikan Tidak sekolah 34,6 4,1 25,6 3,4 1,3 0,0 0,0 23,3 4,5 0,0 3,1 0,0 100,0 333 Tidak tamat SD 29,2 3,6 23,1 1,6 0,9 0,4 0,2 30,4 7,2 0,2 3,1 0,0 100, Tamat SD 22,8 3,5 16,5 2,2 1,8 0,6 1,6 37,9 10,6 0,0 2,6 0,1 100, Tidak tamat SLTP 18,2 4,1 5,5 1,8 0,3 3,6 3,1 49,3 11,4 0,4 1,7 0,4 100, SLTP+ 6,6 2,3 2,4 0,4 1,4 24,2 13,1 37,9 9,8 0,0 1,6 0,4 100, Jumlah 19,3 3,3 12,4 1,6 1,2 7,6 4,7 37,8 9,6 0,1 2,3 0,2 100, Catatan: Tanda bintang mewakili kalau angka tersebut kurang dari 25 kejadian (sangat kecil) yang tidak tertimbang dan tidak ditampilkan. 3.6 JENIS PENDAPATAN WANITA Tabel 3.7 menunjukkan distribusi persentase wanita pernah kawin yang bekerja selama 12 bulan sebelum survei menurut jenis pendapatan yang diterima, jenis pengusaha (majikan), kelangsungan (kontinuitas) pekerjaan, dan keragamannya menurut lapangan pekerjaan (pertanian dan bukan pertanian). Lima puluh enam persen wanita bekerja menerima pendapatan berupa uang; 8 persen mendapat uang dan barang; dan 35 persen tidak dibayar (Gambar 3.2). Sebagian besar wanita yang bekerja di sektor pertanian (58 persen) tidak menerima upah, sedangkan di antara wanita yang bekerja di sektor bukan pertanian, hanya 16 persen yang tidak menerima upah sama sekali. Karakteristik Responden dan Status Wanita 31

58 Tabel 3.7 Karakteristik pekerjaan Distribusi persentase wanita pernah kawin yang bekerja dalam 12 bulan sebelum survei menurut jenis pendapatan, jenis pengusaha, kelangsungan pekerjaan, dan lapangan pekerjaan (pertanian atau bukan pertanian), Indonesia Karakteristik pekerjaan Pertanian Bukan pertanian Jumlah Jenis pendapatan Hanya uang 29,1 79,1 56,1 Uang dan barang 6,5 4,1 5,2 Hanya barang 6,8 0,4 3,3 Tidak dibayar 57,5 16,4 35,2 Tak terjawab (TT) 0,1 0,0 0,2 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Jenis pengusaha Dibantu oleh pekerja keluarga 60,4 14,9 35,7 Dibantu oleh bukan pekerja keluarga 29,4 46,1 38,4 Berusaha sendiri 9,8 38,6 25,4 Tak terjawab (TT) 0,3 0,4 0,4 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Kelangsungan pekerjaan Sepanjang tahun 55,3 91,4 74,8 Musiman 40,2 5,3 21,3 Sesekali 3,9 3,3 3,5 Tak terjawab (TT) 0,6 0,1 0,4 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita Jumlah termasuk wanita yang tidak memberikan informasi mengenai jenis pekerjaan Gambar 3.2 Jenis Pendapatan Wanita Bekerja Umur Tahun Uang, 56% Uang dan barang, 5% Barang, 3% Tidak dibayar 35% SDKI Karakteristik Responden dan Status Wanita

59 Enam di antara sepuluh wanita yang bekerja di sektor pertanian bekerja untuk anggota keluarga, namun wanita yang bekerja di sektor bukan pertanian lebih besar kemungkinannya dipekerjakan oleh bukan anggota keluarga (46 persen) atau berusaha sendiri (39 persen). Sembilan dari sepuluh wanita yang bekerja pada pekerjaan bukan pertanian bekerja sepanjang tahun, dibandingkan dengan kira-kira setengah dari (55 persen) wanita yang bekerja di bidang pertanian. Empat puluh persen dari wanita pernah kawin di sektor pertanian adalah pekerja musiman. 3.7 KONTROL ATAS PENDAPATAN DAN SUMBANGAN PENDAPATAN WANITA TERHADAP PENGELUARAN RUMAH TANGGA Kepada wanita bekerja yang mendapat penghasilan berupa uang ditanyakan siapa yang menentukan penggunaan uang yang diperolehnya. Informasi ini memungkinkan adanya penilaian kontrol wanita atas penghasilan mereka. Di samping itu, kepada mereka ditanyakan proporsi dari pengeluaran rumah tangga yang dipenuhi oleh pendapatan mereka. Informasi ini penting untuk menilai seberapa penting peran pendapatan wanita dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan memberikan indikasi mengenai pemberdayaan wanita. Diharapkan agar pekerjaan dan pendapatan lebih memberdayakan wanita jika mereka merasa penghasilan mereka mempunyai peran penting dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangganya. Tabel 3.8 menggambarkan bagaimana tingkat pengendalian/pengaruh responden dalam penggunaan penghasilan mereka dan sejauh mana penghasilan wanita dalam memenuhi kebutuhan pengeluaran rumah tangga bervariasi menurut karakteristik latar belakang. Tabel 3.8 menggambarkan bahwa 68 persen wanita pernah kawin memutuskan sendiri pembelanjaan pendapatan mereka, dan 29 persen memutuskan bersama dengan orang lain (kebanyakan dengan suami). Hanya 2 persen wanita yang melaporkan bahwa yang menentukan penggunaan pendapatan mereka adalah orang lain. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa peran responden dalam penggunaan pendapatan mereka tidak banyak beragam menurut karakteristik latar belakang, kecuali status perkawinan. Wanita yang berstatus cerai hidup atau cerai mati jauh lebih berkemungkinan untuk memutuskan sendiri penggunaan penghasilan mereka daripada wanita yang berstatus kawin (98 persen dibanding 65 persen). Tiga puluh dua persen wanita menikah melaporkan bahwa keputusan dibuat bersama orang lain, dibandingkan dengan hanya 1 persen wanita yang cerai hidup atau cerai mati. Ketika ditanyakan berapa proporsi pengeluaran rumah tangga yang dipenuhi oleh penghasilan mereka, 43 persen wanita mengatakan bahwa semua pengeluaran rumah tangga dipenuhi dengan pendapatan mereka dan 42 persen melaporkan kalau pendapatan mereka menyokong setengah atau lebih pengeluaran rumah tangga. Wanita usia tua, yang berstatus cerai hidup atau cerai mati, bertempat tinggal di perdesaan, dan mereka yang kurang berpendidikan lebih berkemungkinan untuk memenuhi semua pengeluaran rumah tangganya. Lampiran Tabel A.3.6 menunjukkan adanya perbedaan antar propinsi dalam penentuan penggunaan penghasilan dan sumbangan wanita terhadap pengeluaran rumah tangga mereka. Proporsi wanita bekerja yang mendapat penghasilan berupa uang yang menentukan sendiri penggunaan penghasilannya berkisar antara 88 persen di Sulawesi Selatan dan 26 persen di Sulawesi Utara. Wanita di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara paling kecil kemungkinannya dalam menyokong semua kebutuhan rumah tangganya (masing-masing 12 dan 15 persen), sedangkan wanita di Nusa Tenggara Barat dan Bangka Belitung adalah yang paling besar kemungkinannya (masing-masing 62 dan 60 persen). Karakteristik Responden dan Status Wanita 33

60 Tabel 3.9 menggambarkan kondisi wanita kawin yang bekerja dalam mengontrol penghasilannya dengan secara lebih luas lagi dalam memenuhi pengeluaran rumah tangga. Enam puluh lima persen wanita kawin menentukan sendiri penggunaan penghasilan mereka. Perlu diperhatikan, bahwa wanita yang tidak memberikan sumbangan keuangan sedikitpun terhadap pengeluaran rumah tangganya lebih berkemungkinan untuk menentukan penggunaan uangnya sendiri (80 persen) dibandingkan dengan mereka yang mencukupi semua pengeluaran rumah tangganya (67 persen). Tabel 3.8 Keputusan atas penggunaan pendapatan dan sumbangan pendapatan wanita terhadap pengeluaran rumah tangga Distribusi persentase wanita pernah kawin yang bekerja dalam 12 bulan sebelum survei yang memperoleh pendapatan berupa uang menurut orang yang memutuskan penggunaan pendapatan dan menurut proporsi pengeluaran rumah tangga yang dipenuhi oleh pendapatan, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Orang yang membuat keputusan Proporsi pengeluaran rumah tangga atas penggunaan pendapatan yang dipenuhi oleh pendapatan Hanya Tak Hampir Kurang Setengah Tak Karakteristik Diri Ber- orang ter- tdk ada/ dari atau ter- Jumlah latar belakang sendiri sama 1 lain 2 jawab Jumlah tdk ada setengah lebih Semua jawab Jumlah wanita Umur ,8 18,7 7,5 5,1 100,0 4,8 7,8 43,9 43,5 0,0 100, ,2 28,5 3,0 1,3 100,0 3,6 12,5 46,2 36,0 1,7 100, ,0 32,5 1,9 0,6 100,0 3,3 14,1 44,4 37,4 0,8 100, ,8 29,6 2,0 0,6 100,0 2,9 12,5 46,2 37,7 0,7 100, ,4 31,1 0,9 1,6 100,0 2,9 10,6 40,4 45,3 0,8 100, ,1 28,5 1,2 1,3 100,0 2,3 7,8 39,7 49,1 1,1 100, ,0 25,4 1,4 1,3 100,0 2,3 8,2 38,9 50,1 0,5 100, Status perkawinan Kawin 64,6 32,3 1,8 1,3 100,0 2,7 11,4 44,3 40,8 0,9 100, Cerai hidup/cerai mati 98,2 1,2 0,3 0,2 100,0 4,1 4,2 24,9 66,2 0,6 100,0 959 Jumlah anak yang masih hidup 0 68,7 26,5 3,9 0,9 100,0 5,0 15,9 48,3 29,1 1,8 100, ,1 29,5 1,2 1,2 100,0 2,9 10,9 44,3 41,3 0,6 100, ,4 31,0 1,5 1,1 100,0 2,7 9,8 39,6 46,7 1,1 100, ,6 23,9 2,6 1,9 100,0 1,0 7,5 34,8 55,9 0,8 100,0 950 Daerah tempat tinggal Perkotaan 69,4 28,1 1,4 1,1 100,0 3,1 12,1 44,5 39,5 0,7 100, Perdesaan 66,4 30,3 2,0 1,3 100,0 2,5 9,0 39,8 47,7 1,0 100, Pendidikan Tidak sekolah 71,1 25,9 1,6 1,3 100,0 1,6 5,3 29,4 62,7 1,0 100,0 946 Tidak tamat SD 71,3 25,7 1,3 1,7 100,0 2,2 8,6 34,5 53,6 1,2 100, Tamat SD 70,0 27,3 1,7 1,0 100,0 2,2 8,8 41,3 46,9 0,8 100, Tidak tamat SLTP 68,0 28,8 2,1 1,1 100,0 3,2 12,8 46,4 37,1 0,5 100, SLTP+ 61,9 35,3 1,8 1,0 100,0 4,4 15,4 52,6 27,0 0,8 100, Jumlah 68,0 29,1 1,7 1,2 100,0 2,8 10,7 42,3 43,3 0,9 100, Dengan suami atau orang lain 2 Termasuk suami Hampir semua wanita yang berstatus tidak kawin menentukan penggunaan uangnya sendiri (98 persen), tidak tergantung pada sumbangannya terhadap pengeluaran rumah tangga (data tidak disajikan). 34 Karakteristik Responden dan Status Wanita

61 Tabel 3.9 Kontrol wanita atas pendapatannya Distribusi persentase wanita pernah kawin yang memperoleh pendapatan berupa uang dalam 12 bulan sebelum survei menurut orang yang membuat keputusan dalam penggunaan pendapatannya, menurut proporsi pemenuhan pengeluaran rumah tangga dengan pendapatan, Indonesia Sumbangan terhadap pengeluaran rumah tangga Sendiri Bersama suami Bersama orang lain Hanya suami Hanya orang lain Tak terjawab Jumlah Jumlah wanita Hampir tidak ada/tidak ada 80,1 17,3 0,5 0,9 0,1 1,2 100,0 230 Kurang dari setengah 61,2 35,9 0,0 1,9 0,1 0,9 100,0 973 Setengah atau lebih 63,4 33,2 0,1 2,4 0,2 0,8 100, Semua 66,7 30,9 0,1 0,9 0,1 1,4 100, Jumlah 64,6 32,2 0,1 1,7 0,2 1,3 100, Catatan: Jumlah termasuk 75 wanita yang memberi informasi atas kontribusinya terhadap pengeluaran rumah tangga. 3.8 PEMBERDAYAAN WANITA Di samping informasi pendidikan wanita, status pekerjaan, dan kontrol atas pendapatan, SDKI juga mengumpulkan informasi dari wanita pernah kawin dan pria kawin mengenai beberapa ukuran lain mengenai status dan pemberdayaan wanita. Secara khusus, ditanyakan partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan dalam rumah tangga, tingkat penerimaannya atas pemukulan terhadap isteri, dan pendapatnya tentang kemampuan seorang istri untuk menolak kumpul dengan suaminya. Data ini menunjukkan pengertian mengenai kontrol wanita atas kehidupannya dan lingkungannya dan sikapnya terhadap peran gender secara tradisional, yang merupakan aspek penting bagi pemberdayaan wanita yang relevan dengan pemahaman perilaku demografi dan kesehatan wanita Partisipasi Wanita dalam Pengambilan Keputusan Untuk memperkirakan tingkat otonomi pengambilan keputusan oleh wanita, dikumpulkan informasi partisipasi wanita dalam lima jenis keputusan, yaitu: pemeriksaan kesehatan responden, pembelian barang tahan lama untuk kebutuhan rumah tangga, pembelian kebutuhan rumah tangga seharihari, kunjungan ke keluarga, dan jenis makanan yang akan dimasak setiap harinya. Tabel 3.10 menunjukkan distribusi persentase wanita pernah kawin menurut siapa yang biasanya memutuskan bebagai jenis keputusan tertentu dalam rumah tangga. Wanita dianggap berpartisipasi dalam pengambilan keputusan jika mereka menentukan sendiri atau bersama dengan suami atau orang lain. Wanita berstatus kawin mempunyai kemungkinan lebih kecil untuk turut mengambil keputusan dalam rumah tangga dibandingkan wanita yang tidak berstatus kawin. Sebagai contoh, kira-kira separo wanita kawin (54 persen) memutuskan sendiri pemeriksaan kesehatannya dibandingkan dengan sembilan dalam sepuluh (91 persen) wanita tidak kawin. Karakteristik Responden dan Status Wanita 35

62 Tabel 3.10 Partisipasi wanita dalam penentuan pengambilan keputusan Distribusi persentase wanita pernah kawin menurut orang yang mengambil keputusan tertentu, menurut status perkawinan dan jenis keputusan, Indonesia Wanita kawin Wanita tidak kawin 1 Keputusan Keputusan Bersa- tidak Ber- tidak Ber- ma Ha- Hanya dibuat/ sama Hanya dibuat/ Sen- sama orang nya orang tidak Jumlah Sen- orang orang tidak Jumlah Keputusan diri suami lain suami lain sesuai Jumlah wanita diri lain lain sesuai Jumlah wanita Pemeriksaan Kesehatan responden 54,0 32,1 0,2 12,7 0,3 0,6 100,0 27,857 90,8 5,6 3,1 0,5 100, Pembelian rumah tangga untuk kebutuhan barang tahan lama 13,9 66,4 0,3 17,8 0,8 0,7 100,0 27,857 76,2 11,6 7,7 4,4 100, Pembelian rumah tangga untuk kebutuhan sehari-hari 82,6 13,0 0,8 2,4 0,8 0,3 100,0 27,857 87,0 6,8 5,5 0,7 100, Kunjungan ke keluarga 12,5 74,2 0,2 10,8 0,3 1,9 100,0 27,857 79,4 12,4 4,0 4,1 100, Menentukan jenis makanan yang dimasak setiap hari 89,8 5,9 1,3 1,3 1,1 0,5 100,0 27,857 86,5 7,3 4,8 1,2 100, Wanita yang berstatus cerai hidup atau cerai mati Tabel 3.11 dan Gambar 3.3 menunjukkan bahwa partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan bervariasi menurut karakteristik latar belakang. Enam puluh delapan persen wanita turut mengambil keputusan dalam semua hal yang ditanyakan dalam survei, baik sendiri atau bersama orang lain. Di samping itu, 80 persen atau lebih wanita menentukan sendiri maupun bersama paling sedikit satu dari lima keputusan tersebut. Keterlibatan wanita dalam pengambilan keputusan meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Sebagai contoh: 56 persen wanita umur tahun turut mengambil keputusan dalam lima hal tersebut, sedang pada umur proporsinya adalah 72 persen. Wanita dengan status cerai hidup atau cerai mati lebih besar kemungkinannya untuk mengambil keputusan dibandingkan dengan wanita berstatus kawin, masing-masing 83 persen dan 68 persen. Otonomi dalam mengambil keputusan juga meningkat seiring dengan makin tingginya tingkat pendidikannya. Tujuh puluh empat persen wanita dengan pendidikan SLTP atau lebih tinggi berpartisipasi dalam mengambil semua keputusan, dibandingkan dengan 65 persen dari wanita yang tidak berpendidikan. Lampiran Tabel A.3.7 menyajikan keragaman partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan menurut propinsi. Partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan pada kelima hal tersebut beragam nyata, berkisar antara 50 persen di Kalimantan Barat dan 91 persen di Sulawesi Utara. 36 Karakteristik Responden dan Status Wanita

63 Tabel 3.11 Partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan Persentase wanita pernah kawin yang mengatakan bahwa mereka sendiri atau bersama orang lain mengambil keputusan tertentu, menurut latar belakang karakteristik, Indonesia Karakteristik latar belakang Pemeriksaan kesehatan responden Pembelian barang tahan lama Memutuskan sendiri atau bersama orang lain Pembelian kebutuhan sehari-hari Kunjungan ke keluarga Menentukan jenis makanan yang dimasak setiap hari Semua jenis keputusan Tidak ada keputusan Jumlah wanita Umur ,8 71,8 89,3 78,3 89,5 56,0 2, ,0 78,0 95,3 85,7 95,2 63,0 0, ,3 80,5 95,9 87,1 96,5 67,5 0, ,3 83,5 97,4 87,9 97,4 68,7 0, ,8 82,0 97,4 88,4 98,1 70,4 0, ,5 82,6 96,6 86,7 97,7 71,1 0, ,4 80,8 96,2 88,8 97,6 71,8 0, Status perkawinan Kawin 86,3 80,7 96,5 86,9 97,1 67,6 0, Cerai hidup/cerai mati 96,4 87,9 93,7 91,8 93,8 83,1 1, Jumlah anak yang masih hidup 0 85,1 77,7 92,2 84,7 90,8 62,6 1, ,8 82,5 97,1 87,5 97,2 69,6 0, ,2 80,7 96,2 87,6 97,6 68,7 0, ,6 77,9 95,9 86,2 97,9 66,5 0, Daerah tempat tinggal Perkotaan 87,5 81,9 97,0 87,6 97,1 69,0 0, Perdesaan 86,4 80,3 95,8 86,8 96,7 68,0 0, Pendidikan Tidak sekolah 83,5 77,1 95,2 86,2 97,8 64,9 0, Tidak tamat SD 85,6 78,0 95,6 86,6 97,1 66,2 0, Tamat SD 86,5 80,3 96,6 86,0 97,5 67,1 0, Tidak tamat SLTP 86,8 81,7 95,8 86,9 96,1 68,6 0, SLTP+ 90,1 86,3 97,3 90,3 96,0 74,0 0, Pekerjaan Tidak bekerja 85,0 78,6 95,7 84,6 96,5 64,2 0, Pekerja mendapat upah 90,6 85,1 97,9 90,7 97,3 74,2 0, Pekerja tak dibayar 85,7 80,9 95,5 88,2 97,3 69,9 0, Tak terjawab (TT) 90,1 83,3 86,7 79,0 84,2 64,1 4,7 62 Jumlah 86,9 81,1 96,3 87,2 96,9 68,4 0, Karakteristik Responden dan Status Wanita 37

64 Gambar 3.3 Jumlah Keputusan Dimana Wanita Ikut Memutuskan Persentase Wanita Jumlah Keputusan SDKI Sikap Terhadap Pemukulan Istri Untuk memperkirakan tingkat penerimaan wanita atas pemukulan oleh suami terhadap isteri, dalam SDKI kepada wanita pernah kawin ditanyakan, Kadang-kadang suami merasa kesal atau marah karena kelakuan istrinya. Menurut ibu, apakah seorang suami berhak memukul istrinya dalam beberapa alasan? Kelima alasan diajukan kepada wanita atas pendapat mereka jika: pergi tanpa memberitahu suaminya, mengabaikan anak-anaknya, bertengkar dengan suaminya, menolak untuk kumpul dengan suaminya, atau memasak makanan yang tidak bisa dimakan. Lima kolom pertama Tabel 3.12 menggambarkan bagaimana penerimaan atas pemukulan terhadap istri beragam menurut setiap alasan. Pada kolom terakhir diperlihatkan persentase wanita yang menganggap bahwa seorang suami berhak memukul istrinya dengan paling sedikit satu dari berbagai alasan tertentu. Data menunjukkan bahwa wanita muda, berstatus kawin, dan bertempat tinggal di perdesaan lebih berkemungkinan menyetujui pemukulan suami atas istri dengan salah satu alasan tertentu dibandingkan dengan wanita dengan karakteristik lainnya. Hal yang layak untuk dicatat adalah bahwa wanita yang tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dalam keluarga adalah yang paling kecil kemungkinanya untuk menyetujui pemukulan terhadap istri dibandingkan dengan kelompok wanita lainnya. Namun, wanita yang berpartisipasi dalam satu atau dua keputusan dalam rumah tangga lebih besar kemungkinannya untuk menyetujui paling sedikit satu dari alasan-alasan pada pemukulan istri dibandingkan dengan wanita yang berpartisipasi dalam lebih banyak keputusan dalam rumah tangga. Merujuk pada Lampiran Tabel A.3.8, wanita di Propinsi Nusa Tenggara Barat adalah yang paling mungkin menyetujui hal suami untuk memukul istrinya dengan paling sedikit satu alasan tertentu (64 persen), sedangkan wanita di DKI Jakarta adalah yang paling kecil kemungkinannya untuk melakukan hal tersebut (13 persen). 38 Karakteristik Responden dan Status Wanita

65 Tabel 3.12 Sikap wanita atas pemukulan suami terhadap istri Persentase wanita pernah kawin yang menyetujui hak suami untuk memukul istri karena alasan-alasan tertentu, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Memasak makanan yang tidak bisa dimakan Suami berhak memukul istri bila: Bertengkar dengan suami Pergi tanpa Mengabaikan memberitahu anakanaknya suami Menolak kumpul dengan suami Persentase responden yang menyetujui paling sedikit satu alasan Jumlah wanita Umur ,6 6,8 24,9 24,3 9,2 29, ,2 5,4 21,0 22,9 7,6 28, ,1 5,7 22,0 23,6 7,0 29, ,6 4,8 17,8 18,9 6,9 24, ,3 4,5 15,8 17,3 6,7 22, ,6 5,3 16,0 17,3 7,0 22, ,8 5,8 15,2 16,3 5,9 20, Status perkawinan Kawin 2,9 5,2 18,3 19,7 6,9 25, Cerai hidup/cerai mati 4,3 7,3 16,9 16,5 7,4 21, Jumlah anak yang masih hidup 0 3,5 6,2 21,3 19,7 7,2 26, ,7 4,7 17,8 19,4 6,4 24, ,9 5,5 17,8 18,9 7,2 24, ,2 6,7 19,0 21,7 8,7 26, Daerah tempat tinggal Perkotaan 2,2 4,1 14,9 16,5 5,8 21, Perdesaan 3,6 6,3 21,1 22,1 7,9 27, Pendidikan Tidak sekolah 3,7 8,0 18,1 18,1 8,3 22, Tidak tamat SD 3,4 6,0 18,9 20,0 7,6 25, Tamat SD 3,4 5,7 19,0 20,3 7,6 25, Tidak tamat SLTP 2,5 4,6 20,2 21,6 6,6 27, SLTP+ 2,0 3,4 14,6 16,8 4,9 21, Pekerjaan Tidak bekerja 2,6 4,5 17,8 19,1 6,7 24, Bekerja dengan mendapat upah 3,0 5,5 17,1 18,2 6,3 23, Bekerja dengan tidak mendapat upah 3,8 6,9 21,1 23,0 8,5 28, Jumlah keputusan dimana wanita ikut memutuskan 1 0 4,8 7,0 15,6 12,7 7,9 18, ,4 9,7 25,6 26,1 10,8 33, ,8 6,3 21,8 21,8 7,7 28, ,9 4,6 16,4 18,3 6,4 22, Jumlah 3,0 5,3 18,2 19,6 6,9 24, Catatan: Jumlah ini termasuk 62 wanita yang tidak memberikan informasi mengenai pada pekerjaannya. 1 Oleh dirinya sendiri atau bersama orang lain Karakteristik Responden dan Status Wanita 39

66 3.8.3 Sikap Wanita Atas Penolakan Kumpul dengan Suami Tingginya kontrol yang dimiliki wanita atas kapan dan dengan siapa mereka kumpul mempunyai implikasi penting dari segi demografi dan kesehatan. Hal ini juga menjadi indikator bagi pemberdayaan wanita karena mengukur tingkat penerimaan wanita terhadap norma-norma yang membuat wanita percaya bahwa mereka tidak memiliki hak untuk menolak kumpul dengan suaminya karena suatu alasan. Dalam SDKI , kepada wanita ditanyakan apakah seorang istri berhak menolak untuk kumpul dengan suaminya dengan empat alasan tertentu: istri mengetahui suaminya terkena penyakit menular seksual (PMS); istri mengetahui suaminya kumpul dengan wanita lain; istri baru melahirkan; dan istri lelah atau tidak ingin melakukannya. Pendapat wanita mengenai keempat alasan ini dipilih karena efektif dalam menghubungkan hak-hak wanita dan pengaruhnya bagi kesehatan wanita. Tabel 3.13 menyajikan persentase dari wanita pernah kawin yang mengatakan bahwa seorang istri berhak menolak kumpul dengan suaminya karena beberapa alasan tertentu menurut karakteristik latar belakang. Data dalam tabel menunjukkan bahwa 62 persen wanita setuju dengan semua alasan bahwa isteri berhak menolak kumpul dengan suaminya. Sebaliknya, 7 persen dari wanita tidak setuju dengan satu pun dari alasan tersebut. Alasan yang paling diterima adalah jika istri baru melahirkan (91 persen), sedang alasan yang paling tidak diterima adalah jika istri lelah atau tidak ingin melakukan (69 persen). Hak seorang istri menolak kumpul dengan suaminya tidak memperlihatkan pola yang jelas menurut karakteristik latar belakang wanita, kecuali menurut pendidikan dan status pekerjaan wanita. Wanita yang berpendidikan tinggi dan wanita yang bekerja dengan mendapatkan upah uang lebih berkemungkinan menyetujui semua alasan bagi seorang istri menolak kumpul dengan suaminya dibandingkan kelompok wanita lainnya. Lampiran Tabel A.3.9 menunjukkan bahwa 76 persen dari wanita di Jawa Timur dan Kalimantan Timur menyetujui semua alasan tertentu bagi seorang istri untuk menolak kumpul dengan suaminya, dibandingkan dengan 32 persen wanita di Sumatera Selatan. 40 Karakteristik Responden dan Status Wanita

67 Tabel 3.13 Sikap wanita terhadap penolakan kumpul dengan suami Persentase wanita pernah kawin yang mempercayai bahwa isteri berhak menolak kumpul dengan suaminya karena alasan-alasan tertentu, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Istri berhak menolak kumpul dengan suaminya karena istri : Persentase Mengetahui Mengetahui Istri Persentase yang suami men- suami lelah yang setuju setuju derita penya- kumpul atau tdk dengan dengan Karakteristik kit menular dengan Baru ingin semua alasan Jumlah latar belakang seksual wanita lain melahirkan melakukan alasan lainnya wanita Umur ,7 84,7 89,6 67,7 61,5 8, ,5 85,0 92,3 69,7 61,5 5, ,5 84,9 90,9 67,3 60,6 6, ,2 84,2 91,4 70,0 62,6 6, ,4 83,0 89,9 70,3 62,5 7, ,0 81,3 90,0 69,2 61,1 7, ,9 80,4 88,9 68,3 60,8 8, Status perkawinan Kawin 84,9 83,4 90,9 69,2 61,5 6, Cerai hidup/cerai mati 80,4 80,1 85,0 66,7 61,7 11, Jumlah anak yang masih hidup 0 84,3 82,3 88,3 68,5 60,8 7, ,7 85,0 91,8 70,3 63,4 6, ,2 82,2 90,0 69,2 61,1 7, ,6 78,6 87,8 63,8 54,8 8, Daerah tempat tinggal Perkotaan 88,5 86,0 93,1 69,2 62,9 5, Perdesaan 81,4 81,0 88,4 69,0 60,4 8, Pendidikan Tidak sekolah 76,1 77,6 85,3 68,1 57,5 11, Tidak tamat SD 78,4 79,2 87,3 68,7 60,1 9, Tamat SD 84,0 83,3 89,8 68,2 60,4 7, Tidak tamat SLTP 89,2 86,1 93,5 70,5 63,5 4, SLTP+ 91,3 86,8 94,3 70,1 64,7 3, Pekerjaan Tidak bekerja 86,0 84,6 90,8 68,2 61,5 6, Bekerja dengan mendapat upah 85,8 83,9 91,7 71,5 64,3 6, Bekerja dengan tidak mendapat upah 79,4 78,8 88,1 67,8 57,8 8, Jumlah keputusan dimana wanita ikut memutuskan ,6 61,1 69,0 49,9 37,6 26, ,6 73,5 80,8 58,3 45,9 13, ,5 81,8 91,2 69,1 60,0 6, ,2 84,6 91,1 69,9 63,3 6, Jumlah alasan pembenaran istri dipukul 0 84,9 84,2 90,3 69,7 63,4 7, ,9 79,6 91,5 67,6 55,8 4, ,0 81,8 91,1 63,9 53,4 4, ,6 83,9 88,5 74,4 68,3 6,8 479 Jumlah 84,7 83,3 90,6 69,1 61,6 6, Catatan: Jumlah ini termasuk 62 wanita yang tidak memberikan informasi mengenai pada pekerjaannya. 1 Baik sendiri atau dengan yang lainnya Karakteristik Responden dan Status Wanita 41

68 3.9 UKURAN GAYA HIDUP Merokok dalam rumah tangga mempunyai efek yang merugikan bagi kondisi kesehatan semua anggota rumah tangga, termasuk orang-orang yang tidak merokok. Untuk memperkirakan konsumsi rokok, SDKI menyertakan pertanyaan konsumsi rokok. Kepada responden ditanyakan apakah mereka perokok tetap, jenis rokok yang mereka hisap dan berapa banyak batang rokok yang mereka hisap dalam 24 jam terakhir. Dalam menggunakan data mengenai konsumsi rokok, perlu untuk diingat bahwa beberapa responden mungkin merasa malu untuk melaporkan bahwa ia merokok. Tabel 3.14 menunjukkan bahwa dua persen dari wanita pernah menikah adalah perokok tetap. Di antara wanita yang merokok, 30 persen melaporkan merokok 1-2 batang rokok dan 26 persen merokok 3-5 batang rokok dalam 24 jam terakhir. Perlu dicatat bahwa 19 persen dari wanita yang merokok melaporkan merokok 10 batang rokok atau lebih dalam 24 jam terakhir. Tabel 3.14 Konsumsi rokok Persentase wanita pernah kawin yang merokok dan distribusi persentase perokok menurut jumlah rokok yang dikonsumsi dalam 24 jam terakhir, menurut karakteristik latar belakang dan status ibu, Indonesia Jumlah rokok yang dikonsumsi Konsumsi tembakau Tidak Tidak Karakteristik Selain me- Jumlah tahu/ter- Jumlah latar belakang Rokok rokok rokok wanita jawab Jumlah perokok Umur ,2 0,0 98,8 956 * * * * * * 100, ,9 0,0 99,0 14,679 6,6 36,9 19,7 15,7 10,9 10,3 100, ,0 0,3 96,7 13,848 1,7 26,7 29,3 18,2 22,2 2,0 100,0 418 Daerah tempat tinggal Perkotaan 2,4 0,0 97,5 13,499 2,7 27,6 24,5 21,7 20,6 2,9 100,0 330 Perdesaan 1,5 0,3 98,2 15,984 3,0 34,4 29,2 11,0 17,1 5,4 100,0 234 Pendidikan Tidak sekolah 2,3 0,4 97,3 2,335 1,8 23,5 30,6 20,0 23,7 0,4 100,0 53 Tidak tamat SD 2,3 0,5 97,2 5,902 2,5 32,4 35,5 18,5 7,6 3,5 100,0 137 Tamat SD 1,7 0,1 98,2 9,995 2,3 41,7 22,0 14,8 11,9 7,2 100,0 167 Tidak tamat SLTP 2,1 0,0 97,9 5,136 3,7 16,3 16,8 21,7 39,7 1,9 100,0 109 SLTP+ 1,6 0,0 98,3 6,114 3,9 27,6 29,7 13,4 22,4 3,1 100,0 98 Status ibu Hamil 1,0 0,0 98,9 1,627 * * * * * * 100,0 17 Menyusui (tidak hamil) 0,6 0,1 99,2 6,017 0,3 31,4 20,6 19,3 12,0 16,5 100,0 38 Tidak keduanya 2,3 0,2 97,5 21,839 2,8 30,2 27,2 17,2 20,2 2,4 100,0 509 Jumlah 1,9 0,2 97,9 29,483 2,9 30,4 26,4 17,3 19,1 3,9 100,0 564 Catatan: Tanda bintang menunjukkan bahwa estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kejadian dan tidak ditampilkan. 42 Karakteristik Responden dan Status Wanita

69 FERTILITAS 4 Dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dikumpulkan informasi mengenai tingkat fertilitas saat ini dan masa lampau. Bab ini menyajikan tingkat, kecenderungan, dan perbedaan fertilitas hasil SDKI berdasarkan data riwayat kelahiran yang dikumpulkan dari wanita pernah kawin umur tahun. Untuk mendapatkan informasi tersebut, pertama-tama kepada setiap wanita ditanyakan beberapa pertanyaan untuk menentukan jumlah anak lahir hidup selama hidupnya. Kedua, untuk setiap kelahiran hidup dikumpulkan informasi mengenai umur, jenis kelamin, dan apakah anak tersebut masih hidup atau sudah meninggal. Untuk anak yang sudah meninggal, dicatat umur saat meninggal. Informasi dari riwayat kelahiran digunakan untuk memperkirakan tingkat fertilitas saat ini (fertilitas total dan menurut umur) dan fertilitas (jumlah kumulatif anak lahir hidup per wanita), serta untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan fertilitas, seperti umur melahirkan pertama kali, selang kelahiran, dan fertilitas pada umur remaja. Dari hasil sensus dan survei kependudukan Indonesia, tingkat fertilitas dan mortalitas diperkirakan dengan cara tidak langsung menggunakan keterangan tentang anak yang dilahirkan hidup dan anak yang masih hidup. Ukuran-ukuran fertilitas yang disajikan dalam laporan ini dihitung menggunakan cara langsung berdasarkan data dalam riwayat kelahiran. Setiap cara estimasi mengandung kelemahan. Pertama, karena yang diwawancarai hanya wanita yang masih hidup, tidak ada informasi dari wanita yang sudah meninggal. Estimasi fertilitas akan mengandung kesalahan jika tingkat kematian wanita usia subur tinggi, dan jika ada perbedaan fertilitas yang nyata antara wanita yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Nampaknya hal-hal tersebut tidak terjadi di Indonesia. Selain itu, SDKI dan sensus hanya mengumpulkan data dari wanita pernah kawin. Karena di Indonesia hampir semua kelahiran terjadi pada wanita yang berada dalam ikatan perkawinan, maka kelahiran yang terjadi pada wanita yang tidak pernah kawin dapat diabaikan. Ketepatan data fertilitas dipengaruhi oleh kurang lengkapnya laporan kelahiran (khususnya untuk bayi yang meninggal segera setelah lahir) dan kurang tepatnya pelaporan tanggal kelahiran. Kesalahan pada pelaporan jumlah kelahiran berpengaruh pada estimasi tingkat fertilitas, sedang kesalahan pelaporan tanggal lahir mempengaruhi tren fertilitas. Jika kesalahan ini beragam menurut kondisi sosial ekonomi responden, maka perbedaan fertilitas pun akan terganggu. 4.1 TINGKAT DAN KECENDERUNGAN FERTILITAS Tingkat Fertilitas Ukuran tingkat fertilitas yang sering digunakan adalah angka fertilitas total (Total Fertility Rate atau TFR) dan angka fertilitas menurut umur (Age Specific Fertility Rate atau ASFR). 1 TFR merupakan penjumlahan ASFR, yaitu jumlah anak yang akan dilahirkan oleh seorang wanita pada akhir masa reproduksinya dengan asumsi ia mengikuti pola fertilitas yang berlaku dari umur 15 sampai 49 tahun. Untuk mendapatkan tingkat fertilitas saat ini--dengan tanpa mengorbankan kecermatan statistik dari estimasi dan dalam rangka menghindari kemungkinan menggeser kelahiran dari lima tahun ke enam tahun sebelum survei-- angka fertilitas yang disajikan adalah angka fertilitas untuk periode tiga tahun sebelum survei. Angka fertilitas ini merujuk ke periode Pembilang dari ASFR diperoleh dengan menjumlah semua kelahiran hidup yang terjadi dalam kurun 1-36 bulan sebelum survei (ditentukan dengan melihat tanggal wawancara dan tanggal lahir anak yang bersangkutan) dan mengelompokkannya menurut umur ibu (dalam kelompok lima tahunan) ketika melahirkan (ditentukan dengan tanggal lahir ibu). Penyebut dari ASFR adalah jumlah wanita-tahun dari setiap kelompok lima tahunan selama 1-36 bulan sebelum survei. Karena dalam SDKI yang diwawancarai hanya wanita pernah kawin, untuk mendapatkan jumlah wanita seluruhnya, maka jumlah wanita dalam penyebut ASFR dikalikan dengan faktor yang dihitung dari keterangan mengenai proporsi wanita yang pernah kawin dalam daftar rumah tangga. Wanita yang tidak pernah kawin dianggap tidak pernah melahirkan. Fertilitas 43

70 Tabel 4.1 menyajikan TFR dan ASFR untuk Indonesia menurut tempat tinggal. Jika pola fertiltas sekarang tidak berubah, secara rata-rata seorang wanita akan mempunyai 2,6 anak pada akhir masa reproduksinya (untuk periode 36 bulan sebelum survei). TFR daerah perkotaan lebih rendah dari daerah perdesaan, 2,4 dan 2,7 anak per wanita. TFR hasil SDKI sedikit lebih rendah dari hasil SDKI 1997 (2,8 anak per wanita). Lebih tingginya angka fertilitas daerah perkotaan dibandingkan dengan perdesaan terlihat dihampir semua kelompok umur. Tingkat fertilitas tertinggi adalah pada kelompok umur tahun (143 anak per wanita). Hasil SDKI menunjukkan bahwa pola fertilitas menurut umur sama dengan hasil SDKI Namun begitu, kenaikan tingkat fertilitas di daerah perkotaan hanya terlihat pada kelompok umur tahun, sedangkan untuk daerah perdesaan terjadi pada kelompok tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa wanita daerah perkotaan cenderung mulai membatasi jumlah anak (atau menjarangkan kelahiran) pada usia yang lebih muda dari pada wanita daerah perdesaan. Tabel 4.1 juga menyajikan angka fertilitas umum (General Fertility Rate atau GFR) dan angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate atau CBR) untuk tiga tahun sebelum Tabel 4.1 Angka fertilitas Angka fertilitas menurut umur dan fertilitas kumulatif, angka fertilitas umum, dan angka kelahiran kasar untuk tiga tahun sebelum survei menurut daerah tempat tinggal, Indonesia Kelompok Daerah tempat tinggal Umur Perkotaan Perdesaan Jumlah TFR 2,4 2,7 2,6 GFR CBR 22,1 21,7 21,9 TFR: Angka fertilitas total umur 15-49, per wanita GFR: Angka fertilitas umum (jumlah kelahiran dibagi jumlah wanita umur tahun), per wanita CBR: Angka kelahiran kasar per penduduk Catatan: Angka untuk kelompok umur kemungkinan sedikit bias karena pembulatan survei. GFR adalah jumlah kelahiran hidup per wanita umur tahun. CBR adalah jumlah kelahiran per penduduk. Di Indonesia, angka yang diperoleh untuk GFR adalah 89 dan CBR adalah 22. Gambar 4.1 menunjukkan bahwa tingkat fertilitas Indonesia lebih rendah dari negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Kamboja, Filipina, Malaysia, dan Myanmar, walau tidak serendah Singapura, Thailan, atau Vietnam. Gambar 4.1 Angka Fertilitas Total Negara-negara Asia Tenggara Laos Kamboja Filipina Malaysia Myanmar Indonesia Brunei Vietnam Thailan Singapura 1,4 1,7 1,9 2,9 2,8 2,6 2,5 3,7 4,0 4,7 0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 Jumlah anak per wanita Sumber:United Nations Economic dan Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) Population Data Sheet 2003, Laporan DHS untuk Kamboja, Filipina, Vietnam dan Indonesia 44 Fertilitas

71 4.1.2 Keragaman Fertilitas Tabel 4.2 menyajikan keragaman fertilitas menurut daerah tempat tinggal, pendidikan, dan indeks kekayaan. Dalam SDKI dikumpulkan informasi mengenai kepemilikan barang dalam rumah tangga, seperti radio, televisi, atau mobil, serta karakteristik tempat tinggal dan fasilitas sanitasi. Indeks kekayaan dihitung dengan cara memberi penimbang tertentu terhadap setiap aset rumah tangga melalui analisis komponen. Penimbang untuk setiap rumah tangga dijumlahkan dan setiap individu diurutkan berdasarkan besarnya jumlah penimbang dari rumah tangga di mana dia berada. Kemudian sampel dikelompokkan dalam kuantil penduduk, yaitu lima kelompok dengan jumlah penduduk yang sama. Tabel 4.2 Angka fertilitas menurut karakteristik latar belakang Angka fertilitas total (TFR) untuk periode tiga tahun sebelum survei, persentase wanita hamil, dan rata-rata jumlah anak lahir hidup (ALH) terhadap wanita umur tahun, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Angka Fertilitas Total (TFR) 1 Persentase wanita hamil 1 Rata-rata ALH terhadap wanita umur Daerah tempat tinggal Perkotaan 2,4 3,8 4,0 Perdesaan 2,7 4,5 4,1 Pendidikan Tidak sekolah 2,6 1,7 4,3 Tidak tamat SD 2,7 3,2 4,4 Tamat SD 2,7 4,5 4,0 Tidak tamat SLTP 2,5 4,1 3,7 SLTP+ 2,5 5,1 3,0 Selain perbedaan menurut daerah tempat tinggal, Tabel 4.2 juga menunjukkan keragaman tingkat fertilitas menurut tingkat pendidikan wanita dan satatus sosial-ekonomi (diukur dengan indeks kekayaan). Data SDKI menunjukkan bahwa hubungan antara tingkat fertilitas dan pendidikan adalah seperti U terbalik. TFR wanita dengan pendidikan sekolah dasar sedikit lebih tinggi dari TFR wanita lainnya. Variasi TFR menurut Indeks kekayaan kuantil Terbawah 3,0 4,8 4,4 Menengah bawah 2,6 4,2 4,3 Menengah 2,7 3,9 4,1 Menengah atas 2,5 4,1 4,0 Teratas 2,2 3,7 3,4 Jumlah 2,6 4,1 4,0 1 Wanita umur tahun indeks kekayaan terlihat lebih tajam: TFR wanita pada kuantil terendah (termiskin) adalah 3.0 kelahiran per wanita, sedang untuk wanita pada kuantil tertinggi (terkaya) adalah 2,2 kelahiran. Tabel 4.2 juga menunjukkan bahwa pada saat survei dilaksanakan, 4 persen wanita sedang hamil. Proporsi wanita hamil di daerah perkotaan, wanita tidak berpendidikan, dan wanita pada kuantil tertinggi (terkaya) lebih rendah dari kelompok lainnya. Kolom terakhir dari Tabel 4.2 menunjukkan rata-rata anak yang pernah dilahirkan hidup (ALH) per wanita berumur tahun. Angka ini merupakan indikator dari fertilitas kumulatif, yang menggambarkan perilaku fertilitas dari wanita yang telah mencapai akhir masa reproduksinya, sehingga mewakili fertilitas lengkapnya. Jika tingkat fertilitas tidak berubah dari waktu ke waktu, kedua ukuran tersebut, TFR dan ALH, akan sama atau setara. Data menunjukkan bahwa rata-rata jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup per wanita berumur tahun (4,0 anak per wanita) lebih tinggi dari pada TFR untuk tiga tahun sebelum survei (2,6 anak per wanita), yang menunjukkan adanya penurunan tingkat fertilitas yang cukup tajam akhir-akhir ini. Fertilitas 45

72 Gambar 4.2 Angka Fertilitas Total menurut Propinsi DI Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Timur Bali DKI Jakarta Sumatera Selatan Bangka Belitung Nusa Tenggara Barat Banten Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Jambi Lampung Jawa Barat Kalimantan Timur Gorontalo Kalimantan Barat Sumatera Utara Bengkulu Kalimantan Selatan Sumatera Barat Riau Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Timur 1,9 2,1 2,1 2,1 2,2 2,3 2,4 2,4 2,6 2,6 2,6 2,7 2,7 2,8 2,8 2,8 2,9 3,0 3,0 3,0 3,2 3,2 3,2 3,2 3,6 4,1 Jumlah anak per wanita SDKI Tabel Lampiran A.4.1 dan Gambar 4.2 menyajikan perbedaan fertilitas antar propinsi. Keragaman fertilitas antar propinsi cukup besar, berkisar dari 1,9 anak per wanita di DI Yogyakarta hingga 3,6 dan 4,1 anak per wanita di Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Timur. Gambar 4.2 menyajikan TFR per propinsi dari urutan paling rendah sampai yang tertinggi Perkembangan Tingkat Fertilitas Selain membandingkan tingkat fertilitas masa kini dan fertilitas kumulatif, perkembangan tingkat fertilitas juga dapat diteliti dengan jalan membandingkan tingkat TFR masa kini dengan tingkat TFR dalam SDKI sebelumnya. Gambar 4.3 menunjukkan TFR untuk SDKI 1991, 1994, 1997, dan Terlihat bahwa TFR berangsur turun dari 3,0 anak per wanita pada periode menjadi 2,6 anak per wanita pada periode ,0 Gambar 4.3 Tren Angka Fertilitas Total, Jumlah Anak per Wanita 3,0 2,0 1,0 3,0 2,9 2,8 2,6 0,0 SDKI 1991 SDKI 1994 SDKI 1997 SDKI Catatan: SDKI tidak mencakup Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Survei sebelumnya mencakup Timor-Timur. 46 Fertilitas

73 Perkembangan tingkat fertilitas bisa juga dilihat dengan meneliti perkembangan antar kelompok umur wanita hasil SDKI Tabel 4.3 menyajikan ASFR untuk lima tahun sebelum survei. Karena wanita berumur 50 tahun dan lebih tidak diwawancarai dalam survei, maka data pada Tabel 4.3 terpotong. Sebagai contoh, angka fertilitas tidak dapat dihitung untuk wanita berumur tahun untuk periode lima tahun atau lebih sebelum survei, karena wanita dalam kelompok umur tersebut pada saat survei sudah berumur berumur 50 tahun atau lebih. Tabel 4.3 menujukkan bahwa terjadi penurunan ASFR pada setiap kelompok umur. Untuk semua kelompok umur, penurunan fertilitas tercepat adalah untuk periode dan tahun sebelum survei. Penurunan TFR utamanya disebabkan oleh penurunan fertilitas yang tajam pada kelompok umur dan tahun. Tabel 4.3 Angka fertilitas menurut umur Angka fertilitas untuk periode lima tahun sebelum survei, menurut umur ibu pada saat melahirkan, Indonesia Jumlah tahun sebelum survei Umur ibu ANAK LAHIR HIDUP DAN ANAK MASIH HIDUP Tabel 4.4 menyajikan distribusi semua wanita dan wanita kawin menurut jumlah anak yang pernah dilahirkan (ALH). Tabel juga menyajikan rata-rata jumlah anak lahir hidup dan anak yang masih hidup untuk setiap kelompok umur lima tahunan. Distribusi anak lahir hidup merupakan indikasi dari tingkat fertilitas seumur hidup. Angka ini menggambarkan [139] [87] a [27] a a [5] a a a Catatan: Angka kelahiran menurut umur ibu per wanita. Angka dalam kurung tidak lengkap karena umurnya terpotong. a Kurang dari 125 orang tahun survei. jumlah kelahiran selama 30 tahun dari wanita yang diwawancarai dalam SDKI Data yang disajikan pada Tabel 4.4 kemungkinan dipengaruhi oleh kesalahan daya ingat, yang lebih besar untuk wanita tua dibandingkan dengan wanita muda. Informasi mengenai paritas berguna untuk melihat sejumlah issu lain. Pertama, paritas menunjukkan variasi besarnya keluarga menurut umur. Paritas juga memperlihatkan pengaruh perpecahan perkawinan terhadap tingkat fertilitas. Secara umum wanita Indonesia telah menikah pada usia 30 tahun (lihat Tabel 9.1). Oleh karena itu, perbedaan antara paritas untuk semua wanita dan paritas wanita kawin pada dasarnya menggambarkan pengaruh cerai hidup dan cerai mati terhadap fertilitas. Selain itu, persentase wanita usia 40-an yang tidak pernah mempunyai anak menunjukkan tingkat kemandulan primer 2, atau ketidakmampuan mengandung anak. Orang yang berniat untuk tidak mempunyai anak di negara sedang berkembang seperti Indonesia sangat jarang, oleh karena itu wanita kawin yang tidak mempunyai anak pada umur 40-an pada umumnya karena mereka tidak dapat mengandung. Akhirnya, membandingkan perbedaan antara rata-rata junlah anak lahir hidup dan jumlah anak masih hidup di antara wanita berumur 40-an menggambarkan sejauh mana pengaruh tingkat kematian terhadap penduduk. Tabel 4.4 menunjukkan bahwa, secara rata-rata, seorang wanita akan melahirkan kurang dari satu anak pada usia pertengahan 20-an, lebih dari dua anak pada usia pertengahan 30-an, dan sekitar empat anak pada usia pertengahan-sampai-akhir 40-an. Rata-rata jumlah anak lahir hidup antara semua wanita dan wanita kawin berbeda besar pada kelompok usia muda, setelah itu perbedaannya mengecil. 2 Perlu dijelaskan bahwa estimasi kemandulan primer (primary infertility) tidak mencakup wanita yang pernah mempunyai satu anak atau lebih, tetapi tidak dapat mempunyai anak lagi atau kemandulan sekunder (secondary infertility). Fertilitas 47

74 Tabel 4.4 Anak lahir hidup dan anak masih hidup Distribusi persentase semua wanita dan wanita berstatus kawin umur tahun menurut jumlah anak lahir hidup (ALH) dan ratarata anak lahir hidup menurut kelompok umur, Indonesia Jumlah anak lahir hidup Umur Jumlah Jumlah wanita Rata-rata anak lahir hidup Rata-rata anak masih hidup SEMUA WANITA ,7 7,5 0,7 0,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,09 0, ,0 35,0 10,7 1,9 0,3 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,63 0, ,0 33,6 30,9 11,6 2,6 1,0 0,2 0,1 0,0 0,0 0,0 100, ,47 1, ,7 17,0 38,5 19,2 8,8 3,4 1,7 0,5 0,2 0,1 0,0 100, ,20 2, ,6 8,4 25,4 28,0 15,3 8,1 4,4 2,0 0,9 0,7 0,2 100, ,01 2, ,5 6,0 16,9 23,5 17,8 11,0 8,2 4,5 2,9 1,7 2,1 100, ,78 3, ,9 6,2 10,2 18,0 18,9 15,5 9,8 6,4 4,9 1,9 3,2 100, ,30 3,74 Jumlah 30,8 17,5 19,0 13,5 8,0 4,7 2,9 1,6 1,0 0,5 0,6 100, ,99 1,81 WANITA BERSTATUS KAWIN ,0 51,0 4,9 1,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,64 0, ,4 59,5 18,6 3,2 0,3 0,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,08 1, ,9 38,5 36,3 13,6 3,1 1,2 0,3 0,1 0,0 0,0 0,0 100, ,72 1, ,5 17,2 41,4 20,9 9,5 3,7 1,8 0,6 0,2 0,1 0,0 100, ,37 2, ,5 7,8 26,1 29,2 16,2 8,6 4,6 2,1 1,0 0,8 0,2 100, ,15 2, ,9 5,6 16,8 24,7 18,5 11,4 8,4 4,6 3,1 1,7 2,3 100, ,92 3, ,6 6,2 10,1 18,8 18,5 16,0 10,6 6,4 5,0 2,1 3,7 100, ,44 3,85 Jumlah 7,4 23,1 25,6 18,3 10,5 6,2 3,9 2,0 1,3 0,7 0,9 100, ,66 2, SELANG KELAHIRAN Informasi mengenai selang waktu antara kelahiran memberikan gambar mengenai pola selang kelahiran. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir terlalu cepat setelah kelahiran sebelumnya mempunyai resiko kematian yang lebih besar, terutama apabila selang kelahiran tersebut kurang dari 24 bulan. Kesehatan ibu juga terganggu jika selang kelahiran terlalu dekat. Tabel 4.5 memperlihatkan distribusi persentase kelahiran selama lima tahun sebelum survei menurut selang waktu kelahiran dengan anak terdahulu, dan karakteristik latar belakang. Anak pertama tidak disertakan dalam tabel. Hasil SDKI menunjukkan bahwa median selang kelahiran adalah 54 bulan, jauh lebih tinggi dari median selang kelahiran hasil SDKI 1997 dan SDKI 1994 (45 dan 42 bulan). Tiga belas persen kelahiran di Indonesia terjadi kurang dari 24 bulan setelah kelahiran anak sebelumnya. Lima puluh tujuh persen kelahiran mempunyai selang kelahiran 4 tahun atau lebih. Hasil SDKI menunjukkan bahwa selang kelahiran untuk ibu muda cenderung lebih pendek. Sebagai contoh, median selang kelahiran wanita usia adalah 32 bulan dan untuk wanita usia adalah 65 bulan. Selain itu, selang kelahiran jauh lebih pendek jika kakaknya meninggal. Hubungan ini merupakan akibat dari replacement fertility, di mana seorang ibu akan segera hamil setelah kematian anaknya. Median selang kelahiran menjadi 25 bulan lebih pendek jika kakaknyta meninggal. Tabel Lampiran A.4.2 menunjukkan bahwa median selang kelahiran antar propinsi sangat bervariasi, berkisar antara 38 bulan di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan sampai dan 69 bulan di Jawa Timur. 48 Fertilitas

75 Tabel 4.5 Selang kelahiran Distribusi persentase kelahiran (tidak termasuk kelahiran pertama) selama periode lima tahun sebelum survei menurut jumlah bulan sejak kelahiran sebelumnya dan karakteristik latar belakang, Indonesia Jumlah bulan sejak kelahiran sebelumnya Karakteristik latar belakang Jumlah Jumlah kelahiran tidak termasuk kelahiran pertama Median jumlah bulan sejak kelahiran sebelumnya Umur ,4 13,0 33,3 16,2 17,1 100, , ,0 9,0 20,9 16,8 45,2 100, , ,9 5,8 12,8 13,4 64,1 100, , ,7 6,4 15,7 9,9 63,2 100, ,7 Urutan kelahiran 2-3 5,5 6,9 15,0 13,6 59,0 100, , ,4 6,7 17,1 16,8 55,0 100, , ,4 11,3 25,8 12,8 38,6 100, ,7 Jenis kelamin kelahiran sebelumnya Pria 5,1 7,1 15,9 14,2 57,7 100, ,6 Wanita 6,2 7,1 16,7 14,4 55,5 100, ,3 Kelangsungan hidup kelahiran sebelumnya Masih hidup 4,5 6,8 15,9 14,5 58,3 100, ,5 Meninggal 21,7 12,0 22,3 11,9 32,1 100, ,9 Daerah tempat tinggal Perkotaan 6,6 7,4 15,9 14,4 55,7 100, ,5 Perdesaan 4,9 6,9 16,6 14,3 57,4 100, ,1 Pendidikan Tidak sekolah 9,0 7,2 13,8 14,2 55,8 100, ,8 Tidak tamat SD 5,9 5,4 17,5 13,9 57,2 100, ,7 Tamat SD 3,7 6,5 14,0 13,8 62,0 100, ,9 Tidak tamat SLTP 6,0 7,8 17,9 13,2 55,1 100, ,8 SLTP+ 7,3 9,1 18,2 16,4 49,0 100, ,6 Jumlah 5,6 7,1 16,3 14,3 56,6 100, ,2 Catatan: Tidak termasuk kelahiran pertama. Selang kelahiran adalah merupakan jumlah bulan sejak kehamilan sebelumnya yang berakhir dengan lahir hidup. 4.4 UMUR PADA KELAHIRAN ANAK PERTAMA Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat fertilitas adalah rata-rata umur pada kelahiran anak pertama. Wanita yang menikah pada usia muda lebih lama menghadapi resiko kehamilan. Oleh karena itu, pada umumnya ibu yang melahirkan pada usia muda mempunyai anak banyak dan mempunyai resiko kesehatan yang tinggi. Kenaikan median umur pada kelahiran pertama merupakan tanda menurunnya tingkat fertilitas. Tabel 4.6 menyajikan persentase wanita yang telah melahirkan pada umur tertentu dan median umur pada saat pertama kali melahirkan menurut umur, data dalam tabel menunjukkan bahwa wanita cenderung untuk menunda kelahiran anak pertama. Distribusinya sama dengan hasil SDKI 1997, dan menunjukkan bahwa prevalensi kelahiran pada ibu usia muda makin menurun. Tujuh persen wanita Fertilitas 49

76 berusia melahirkan anak pertama pada umur 15 tahun, sedangkan untuk wanita berusia persentasenya kurang dari satu persen. Persentase tertinggi wanita yang melahirkan anak pertama pada usia 18 tahun adalah pada wanita berusia tahun (30 persen), dan terendah pada wanita berusia (12 persen). Kenaikan median umur pada kelahiran pertama dapat dilihat pada kolom terakhir Tabel 4,6; 20,1 tahun untuk wanita berusia dan 21,9 tahun untuk wanita berusia Tabel 4.6 Umur persalinan pertama Persentase wanita yang melahirkan pertama kali pada umur tertentu menurut umur, Indonesia Persen kumulatif wanita melahirkan pertama pada umur tertentu Umur Persentase wanita yang tidak pernah melahirkan Jumlah wanita Median umur persalinan pertama ,7 na na na na 91, a ,3 11,9 27,5 na na 52, a ,5 14,9 32,9 51,1 70,5 20, , ,2 18,4 35,9 53,6 72,1 10, , ,9 24,3 43,1 59,5 76,2 6, , ,0 27,5 47,5 65,4 81,5 5, , ,0 30,2 49,5 66,1 81,9 4, ,1 na = tidak berlaku a Diabaikan karena kurang dari 50 persen wanita melahirkan sebelum mencapai umur awal dari kelompok umur tersebut Tabel 4.7 menyajikan data mengenai perbedaan median umur saat melahirkan pertama bagi wanita umur tahun menurut umur, daerah tempat tinggal, dan pendidikan. Hasil SDKI menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang besar pada umur wanita saat melahirkan pertama kali. Secara keseluruhan, median umur wanita ketika melahirkan pertama kali adalah 21 tahun, yang sedikit lebih tinggi dari hasil SDKI 1997 dan SDKI 1994 (masing-masing 20.8 dan 20.3 tahun). Wanita di daerah perkotaan mulai melahirkan anak pertama dua tahun lebih lambat daripada wanita di daerah perdesaan (22.0 tahun dibandingkan 20.3 tahun). Tingkat pendidikan ibu berhubungan positif dengan median umur ibu ketika pertama kali melahirkan. Wanita yang tamat SMP atau lebih tinggi mulai melahirkan enam tahun lebih lambat (umur median 25 tahun) daripada wanita tidak berpendidikan dan tidak tamat SD (masing masing 19,4 dan 19,2 tahun). Pola ini sama pada semua kelompok umur. Tabel Lampiran A.4.3 menyajikan median umur melahirkan anak pertama wanita umur tahun menurut propinsi. Median umur melahirkan anak pertama sangat bervariasi antar propinsi, berkisar antara 19,8 tahun di Jawa Barat dan 23,2 tahun di Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat adalah satu-satunya propinsi di mana median umur melahirkan anak pertama di bawah 20,0 tahun. 50 Fertilitas

77 Tabel 4.7 Median umur persalinan pertama Median umur persalinan pertama wanita umur tahun, menurut umur, daerah tempat tinggal, dan pendidikan, Indonesia Daerah tempat tinggal/ Umur Pendidikan Wanita umur Daerah tempat tinggal Perkotaan 23,2 22,9 21,8 20,7 20,7 22,0 Perdesaan 20,7 20,5 20,0 19,8 19,6 20,2 Pendidikan Tidak sekolah 19,4 19,3 18,5 19,5 19,9 19,4 Tidak tamat SD 19,2 18,7 19,4 19,2 19,3 19,2 Tamat SD 20,1 20,2 19,7 19,8 19,4 19,9 Tidak tamat SLTP 21,5 21,5 21,2 20,9 20,6 21,2 SLTP+ a 25,3 24,8 24,1 23,8 25,0 Jumlah 21,9 21,6 20,9 20,2 20,1 21,0 a Diabaikan karena kurang dari 50 persen wanita melahirkan sebelum mencapai umur awal dari kelompok umur tersebut 4.5 FERTILITAS PADA UMUR REMAJA Isu fertilitas remaja penting dari segi kesehatan dan sosial. Melahirkan pada usia remaja berpotensi mempunyai dampak negatif secara demografi dan sosial. Ibu remaja, khususnya yang berumur di bawah 18 tahun, lebih cenderung untuk mengalami komplikasi kehamilan dan melahirkan dibandingkan ibu yang lebih tua, yang meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas, baik tehadap mereka sendiri maupun terhadap anak mereka. Selain itu, melahirkan pada usia muda mengurangi kesempatan mereka untuk melanjutkan pendidikan serta membatasi akses mereka terhadap kesempatan kerja. Tabel 4.8 menyajikan keterangan tentang fertilitas pada wanita berusia tahun. Mereka yang belum menikah dianggap tidak pernah hamil dan tidak pernah melahirkan. Secara keseluruhan, 10 persen wanita berumur tahun sudah menjadi ibu; 8 persen pernah melahirkan, dan dua persen sedang hamil anak pertama. Sejak tahun 1997, proporsi remaja yang telah mempunyai anak turun sedikit-dari 12 persen menjadi 10 persen. Proporsi remaja yang telah mulai membina keluarga naik menurut umur. Pada umur 15 tahun hanya satu persen wanita yang sudah mengandung, tetapi 25 persen pada umur 19 tahun sudah mempunyai anak atau mengandung anak pertama. Fertilitas remaja di daerah perkotaan sangat berbeda dengan di perdesaan. Proporsi remaja di daerah perdesaan yang sudah mengandung dua kali lebih tinggi dari remaja di daerah perkotaan. Pendidikan wanita berhubungan terbalik dengan saat mulainya seorang wanita mengandung; wanita yang kurang berpendidikan lebih cenderung mulai mengandung pada usia lebih muda. Tigabelas persen wanita berpendidikan sekolah dasar telah menjadi ibu, sedang proporsi untuk wanita berpendidikan sekolah menengah pertama atau lebih tinggi hanya empat persen. Fertilitas remaja beragam antar propinsi. Tabel Lampiran A.4.4 memperlihatkan bahwa persentase tertinggi remaja yang sudah mulai menjadi ibu adalah di Kalimantan Tengah (19 persen) dan Jambi (18 persen), sedangkan yang terendah di Sumatera Utara dan DKI Jakarta (5 persen). Fertilitas 51

78 Tabel 4.8 Fertilitas remaja Persentase wanita umur tahun yang sudah melahirkan atau mengandung anak pertama, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Persentase yang : Sudah pernah melahirkan Mengandung anak pertama Persentase yang sudah pernah melahirkan dan sedang mengandung anak pertama Jumlah wanita Umur 15 0,7 0,5 1, ,5 1,0 2, ,2 2,4 6, ,6 2,4 16, ,9 3,8 24, Daerah tempat tinggal Perkotaan 6,4 0,9 7, Perdesaan 10,5 3,2 13, Pendidikan Tidak sekolah 13,5 0,1 13,6 81 Tidak tamat SD 12,8 3,4 16,2 452 Tamat SD 18,5 4,2 22, Tidak tamat SLTP 5,4 1,3 6, SLTP+ 4,0 1,6 5,7 910 Jumlah 8,3 2,0 10, Fertilitas

79 PENGETAHUAN DAN PEMAKAIAN ALAT/CARA KB DI 5 MASA LALU 5.1 PENGETAHUAN TENTANG ALAT/CARA KB Pengetahuan tentang pengendalian kelahiran dan keluarga berencana merupakan salah satu aspek penting ke arah pemahaman tentang berbagai alat/cara kontrasepsi, dan selanjutnya berpengaruh terhadap pemakaian alat/cara KB yang tepat dan efektif. Data tentang pengetahuan mengenai alat/cara KB pada SDKI diperoleh dengan pertama-tama meminta kepada wanita pernah kawin untuk menyebutkan alat/cara yang dapat dipakai oleh pasangan suami isteri untuk menunda atau menghindari terjadinya kehamilan dan kelahiran. Apabila responden tidak secara spontan menyebutkannya, pewawancara akan menjelaskan alat/cara KB tersebut, dan selanjutnya menanyakan apakah responden mengenalinya. Pada daftar pertanyaan dimuat sembilan alat/cara KB modern, yaitu sterilisasi wanita, sterilisasi pria, pil, IUD, suntikan, susuk KB, kondom, intravag/diafragma dan metode amenore laktasi (MAL). Informasi lain yang dicatat adalah dua metode tradisional, yaitu pantang berkala dan sanggama terputus. Cara KB tradisional lainnya juga ditanyakan seperti jamu dan pijat/urut. Tabel 5.1 menyajikan pengetahuan wanita pernah kawin, wanita berstatus kawin, serta pria kawin mengenai suatu alat/cara KB. Temuan SDKI menunjukkan bahwa pengetahuan tentang alat/cara KB sudah me-nyebar luas di kalangan wanita maupun pria. Hampir semua wanita pernah kawin dan berstatus kawin mengetahui paling sedikit satu alat/cara KB. Sedangkan pengetahuan tentang suatu alat/cara KB modern menunjukkan persentase yang hampir sama, yaitu 98 persen di antara wanita pernah kawin dan 99 persen di kalangan wanita berstatus kawin. Sekitar empat di antara sepuluh wanita dan pria mengetahui paling sedikit satu alat/cara KB tradisional. Tabel 5.1 Pengetahuan tentang alat/cara KB Persentase wanita pernah kawin, wanita berstatus kawin, serta pria kawin yang mengetahui paling sedikit satu alat/cara KB tertentu menurut alat/cara KB, Indonesia Metode Wanita pernah kawin Wanita kawin Pria kawin Suatu alat/cara KB 98,5 98,7 96,7 Suatu alat/cara KB modern 98,4 98,5 96,3 Metode operasi wanita 63,1 63,6 44,1 Metode operasi pria 38,6 39,0 31,9 Pil 96,2 96,4 90,5 IUD 87,0 87,4 73,9 Suntikan 96,9 97,1 90,5 Susuk KB 86,7 87,1 63,1 Kondom 75,6 76,3 82,3 Intravag/Diafragma 12,0 12,2 8,6 Metode amenore laktasi (MAL) 20,0 20,3 12,3 Metode tradisional 41,0 41,6 37,0 Pada pria berstatus kawin, pengetahuan tentang suatu cara KB maupun cara KB modern juga cukup tinggi, dengan persentase berturutturut 97 persen dan 96 persen. Alat/cara KB yang paling populer Pantang berskala 33,4 33,9 30,0 Sanggama terputus 25,7 26,1 22,9 Jamu, pijat, dll 7,0 7,1 3,0 Rata-rata alat/cara KB yang diketahui 6,4 6,5 5,5 Jumlah wanita / pria adalah suntikan dan pil, yang diketahui 97 persen wanita pernah kawin dan 96 persen wanita kawin. Pengetahuan wanita tentang IUD dan susuk KB juga tinggi, dengan perpersentase sama yaitu 87 persen. Sebaliknya alat/cara KB yang kurang dikenal wanita adalah metode amenore laktasi (20 persen) dan diafragma (12 persen). Pola pengetahuan mengenai alat/cara KB di kalangan pria serupa dengan pola pada wanita. Alat/cara KB yang paling dikenal pria adalah pil dan suntikan (masing-masing 91 persen), berikutnya Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu 53

80 adalah kondom (82 persen). Metode KB amenore laktasi dan diafragma juga kurang dikenal pria, masingmasing 12 persen dan 9 persen. Secara umum wanita lebih banyak mengetahui berbagai jenis cara/alat KB dibandingkan dengan pria. Rata-rata jumlah alat/cara KB yang diketahui wanita adalah 6,5 jenis, sedangkan pria rata-rata mengenal 5,5 jenis. Gambar 5.1 menyajikan data pengetahuan wanita berstatus kawin tentang berbagai alat/cara KB yang terus meningkat sejak tahun Pengetahuan wanita tentang susuk KB meningkat tajam selama 10 tahun terakhir, dari 68 persen pada tahun 1991 menjadi 87 persen pada waktu survei. Pengetahuan tentang kondom dan suntikan juga naik cukup menyolok dalam kurun waktu yang sama. Gambar 5.1. Persentase Wanita Berstatus Kawin yang Mengetahui Metode Kontrasepsi Modern Tertentu, Indonesia 1991 dan 2003 Suntikan Pil IUD Susuk KB Kondom MOW MOP Persen SDKI 1991 SDKI Catatan: SDKI tidak mencakup Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. SDKI 1991 mencakup Timor Timur Tabel 5.2 menyajikan persentase wanita kawin dan pria kawin yang mengetahui paling sedikit satu alat/cara KB, dirinci menurut karakteristik latar belakang. Hampir semua wanita berstatus kawin dan 96 persen pria kawin mengetahui paling sedikit satu alat/cara KB modern. Pengetahuan wanita tentang suatu alat/cara KB pada kelompok umur muda dan tua sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kelompok umur tahun. Pengetahuan wanita tentang alat/cara KB modern memperlihatkan pola yang sama. Pengetahuan wanita tentang suatu cara KB modern sudah tinggi (95 persen) dan tidak menunjukkan keragaman antar tempat tinggal, tingkat pendidikan, dan antar indeks kekayaan kuantil. Di kalangan pria kawin, pengetahuan suatu alat/cara KB dan alat/cara KB modern sedikit menurun sejalan dengan meningkatnya umur pria. Pria yang bertempat tinggal di perdesaan, berpendidikan rendah, mempunyai indeks kekayaan kuantil relatif rendah, memiliki pengetahuan alat/cara KB yang relatif sedikit lebih rendah dibandingkan kelompok pria lainnya. 54 Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu

81 Tabel 5.2 Pengetahuan tentang alat/cara KB menurut karakteristik latar belakang Distribusi persentase wanita berstatus kawin dan pria kawin yang mengetahui paling sedikit satu jenis alat/cara KB dan satu jenis alat/cara KB modern menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Tahu suatu alat/cara Wanita berstatus kawin Tahu suatu alat/cara modern 1 Jumlah wanita Tahu suatu alat/cara Pria berstatus kawin Tahu suatu alat/cara modern 1 Jumlah pria Umur ,1 97,1 912 * * ,1 99, ,4 97, ,4 99, ,6 97, ,4 99, ,3 98, ,8 98, ,6 97, ,0 97, ,5 96, ,1 96, ,6 93, na na 0 94,5 93, Daerah tempat tinggal Perkotaan 99,3 99, ,4 98, Perdesaan 98,1 98, ,3 94, Tingkat pendidikan Tidak sekolah 95,6 95, ,0 78,3 341 Tidak tamat SD 97,5 97, ,7 92, Tamat SD 98,9 98, ,0 96, Tidak tamat SLTP 99,3 99, ,8 98, SLTP+ 99,9 99, ,7 99, Indeks kekayaan kuantil Terbawah 96,3 96, ,2 90, Menengah bawah 98,5 98, ,0 95, Menengah 99,3 99, ,8 97, Menengah atas 99,6 99, ,6 98, Teratas 99,8 99, ,2 99, Jumlah 98,7 98, ,7 96, Catatan: * Jumlah wanita tak tertimbang kurang dari 25 dan data tidak disajikan 1 Metode operasi wanita, metode operasi pria, pil, IUD, suntikan, susuk KB, kondom, diafragma, dan metode amenore laktasi (MAL) na = Tidak berlaku Lampiran Tabel A.5.1 memperlihatkan bahwa pengetahuan alat/cara KB di kalangan wanita tampak sedikit beragam antar propinsi. Pengetahuan wanita kawin tentang suatu metode KB modern berkisar antara 90 persen di Nusa Tenggara Timur hingga 100 persen di Kalimantan Tengah. Di sisi lain, pengetahuan pria kawin mengenai suatu alat/cara KB tampak lebih bervariasi antar propinsi. Pengetahuan terendah dijumpai di Propinsi Gorontalo (84 persen), sedangkan tertinggi di DKI Jakarta (100 persen). Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu 55

82 5.2 SUMBER PENERANGAN KB Media massa utama yang digunakan untuk menyebarluaskan informasi KB di Indonesia adalah radio dan TV dengan tayangan berupa drama, spot show, laporan, diskusi dan siaran berkala. Tujuan Komunikasi, Edukasi, dan Informasi (KIE) dalam Program KB Nasional di Indonesia adalah menyebarkan pengetahuan keluarga berencana dan melembagakan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Secara umum, kegiatan KIE dilaksanakan oleh media massa, kelompok KB, dan petugas KB. Penggunaan media massa surat kabar, radio dan TV merupakan bagian tak terpisahkan dari Program KIE dan dilaksanakan di tingkat pusat maupun propinsi. Program KB melalui radio dan TV ditayangkan oleh stasiun pusat maupun daerah, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Media lain yang cukup penting untuk menyebarluaskan informasi KB adalah melalui petugas lapangan KB yang tersebar di seluruh tanah air. Petugas lapangan KB terdiri dari PLKB, PPLKB, Kaderkader, PPKBD, dan Sub PPKBD. Petugas lapangan KB memusatkan upayanya dalam penyebaran informasi KB, pemberian motivasi dalam pemakaian kontrasepsi, dan pencacatan statistik. Mereka bekerja di tingkat lini lapangan dan bekerja sama dengan organisasi yang ada di masyarakat, seperti perkumpulan ibu-ibu, perkumpulan agama, organisasi wanita seperti Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan organisasi isteri Pegawai Negeri Sipil (Dharma Wanita). Beberapa strategi yang digunakan untuk mempromosikan penerimaan KB adalah kegiatan-kegiatan peningkatan pendapatan keluarga (Income Generating) dan pemberian penghargaan kepada peserta KB Lestari; walaupun pelaksanaan strategi tersebut tidak segencar masa lalu. Untuk mengetahui sumber informasi KB apakah mencapai target sasaran program KB, maka kepada wanita pernah kawin dan pria kawin dalam SDKI ditanyakan serangkaian pertanyaan mengenai hal tersebut. Setiap responden ditanya apakah mereka mendengar atau melihat pesan KB melalui radio atau TV, dan apakah mereka membaca di surat kabar/majalah, poster atau pamflet dalam enam bulan sebelum survei. Kepada wanita pernah kawin dan wanita berstatus kawin juga ditanyakan apakah mereka pernah menerima pesan atau informasi KB secara langsung dari petugas Peran Media Massa Data tentang peran media massa sebagai sumber informasi KB disajikan dalam Tabel 5.3. Sekitar separo dari seluruh responden wanita pernah kawin dan pria berstatus kawin pernah melihat pesan KB melalui TV dalam enam bulan terakhir sebelum survei, dan satu di antara lima wanita dan pria mendengar pesan tersebut dari radio. Hasil SDKI juga menunjukkan bahwa pria lebih terekspos terhadap media cetak dibandingkan dengan wanita. Hal ini disebabkan pria lebih berpendidikan dari wanita. Sebagai gambaran, 23 persen pria terekspos terhadap informasi KB melalui surat kabar atau majalah, sedangkan pada wanita hanya 14 persen. Empat puluh delapan persen wanita pernah kawin dan 45 persen pria berstatus kawin sama sekali tidak terekspos terhadap suatu media yang memuat pesan KB selama enam bulan terakhir. Persentase wanita pernah kawin yang pernah mendengar informasi KB sedikit bervariasi menurut umur. Wanita berumur cenderung lebih banyak menerima pesan KB melalui suatu media dibandingkan dengan wanita dalam kelompok umur lain. Seperti yang diperkirakan wanita di perdesaan kurang terekspos terhadap pesan KB dari berbagai media dibandingkan dengan wanita di perkotaan. Untuk ilustrasi, 59 persen wanita di perkotaan melihat pesan-pesan KB melalui TV selama enam bulan terakhir dibandingkan dengan 39 persen wanita di perdesaan. 56 Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu

83 Tabel 5.3 Mendengar/membaca KB di media elektronik dan media cetak Distribusi persentase wanita pernah kawin dan pria kawin yang mendengar atau membaca pesan KB di media elektronik atau media cetak dalam enam bulan sebelum survei menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Media cetak Karakteristik latar belakang Radio Televisi Koran/majalah Poster Pamflet WANITA PERNAH KAWIN Tidak satupun media Jumlah Umur ,8 52,2 9,8 10,1 3,2 43, ,4 53,8 13,2 12,8 5,8 42, ,9 53,8 17,1 14,9 6,6 41, ,4 53,0 16,4 15,3 7,8 42, ,3 47,1 14,0 12,3 6,7 48, ,7 41,7 10,6 9,1 4,3 55, ,3 35,3 8,8 7,4 4,0 61, Daerah tempat tinggal Perkotaan 20,6 59,3 20,6 16,5 8,4 37, Perdesaan 17,6 38,5 7,5 8,4 3,8 57, Tingkat pendidikan Tidak sekolah 9,1 23,1 0,7 0,8 0,2 74, Tidak tamat SD 12,6 32,0 2,6 4,5 2,0 64, Tamat SD 18,4 45,5 6,9 8,7 2,8 50, Tidak tamat SLTP 21,5 57,4 15,4 14,0 6,5 38, SLTP+ 27,6 69,0 38,3 27,9 16,4 25, Jumlah 19,0 48,0 13,5 12,1 5,9 48, PRIA KAWIN Umur ,4 45,1 12,5 26,3 21,1 50, ,7 52,6 17,5 13,9 6,2 42, ,5 53,5 26,4 21,3 12,2 40, ,2 56,7 27,5 22,3 13,5 37, ,9 54,6 25,3 19,7 11,2 40, ,1 48,2 23,0 19,1 12,2 46, ,5 41,3 17,6 13,8 8,0 54, ,3 39,8 16,2 12,5 6,3 55, Daerah tempat tinggal Perkotaan 20,2 61,3 33,7 25,3 15,3 33, Perdesaan 18,4 39,9 13,3 12,1 6,5 54, Tingkat pendidikan Tidak sekolah 8,0 16,1 0,3 1,4 0,8 79,5 341 Tidak tamat SD 12,1 30,4 5,5 3,7 2,6 66, Tamat SD 17,7 44,1 12,7 10,1 4,7 51, Tidak tamat SLTP 21,1 55,0 21,6 20,2 12,1 38, SLTP+ 26,7 72,4 50,7 39,2 23,4 20, Jumlah 19,2 49,9 22,8 18,3 10,6 44, Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu 57

84 Wanita tidak bersekolah maupun berpendidikan rendah cenderung kurang mendapat akses terhadap informasi KB melalui media dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan lebih tinggi. Sebagai gambaran, 69 persen wanita tamat SLTP atau pendidikan lebih tinggi melihat pesan KB dari TV, sedangkan pada wanita tak bersekolah angka tersebut hanya 23 persen. Di antara wanita berpendidikan tamat SLTP atau lebih tinggi, 38 persen membaca informasi KB dari surat kabar, dibandingkan dengan tiga persen di antara wanita yang tidak tamat SD. Pola sumber informasi KB yang diterima pria berstatus kawin serupa dengan pola pada wanita (Tabel 5.3). Pria di perkotaan mempunyai akses yang lebih baik dibandingkan pria di perdesaan. Pendidikan menunjukkan hubungan yang positif dengan akses informasi KB melalui media. Sebagai contoh, persentase pria berpendidikan SLTP atau lebih tinggi yang menerima pesan KB melalui TV adalah 72 persen, sedangkan pada pria tidak sekolah hanya 16 persen. Lampiran Tabel A.5.2 menyajikan data tentang penerimaan wanita mengenai informasi KB melalui media massa dirinci menurut propinsi. Persentase wanita yang menerima pesan KB melalui radio terendah di Riau (12 persen) dan tertinggi di Gorontalo (40 persen). Akses terhadap informasi KB melalui TV jauh lebih bervariasi. Propinsi dengan proporsi penerimaan informasi KB melalui TV tertinggi dijumpai di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur (masing-masing 65 persen); sedangkan terendah di Nusa Tenggara Timur (12 persen). Sementara itu propinsi dengan proporsi tertinggi wanita yang menerima pesan KB dari media cetak dalam enam bulan terakhir sebelum survei adalah Sulawesi Utara dan DKI Jakarta (masing-masing 28 persen); dan proporsi penerimaan terendah dijumpai di Nusa Tenggara Barat (7 persen). Media poster sebagai sumber informasi KB lebih banyak menjangkau wanita di Bengkulu (25 persen), sedangkan paling rendah di Propinsi Sulawesi Tenggara (1 persen). Hal penting yang harus mendapatkan perhatian dari pengelola Program KB adalah cukup besarnya proporsi wanita pernah kawin di beberapa propinsi yang tidak pernah mendengar maupun melihat pesan-pesan KB melalui media massa selama enam bulan terakhir. Propinsi-propinsi dengan 60 persen atau lebih wanita yang tidak terjangkau oleh informasi KB melalui media massa adalah Nusa Tenggara Timur, Bangka Belitung, Jambi, Sumatra Selatan, Riau, dan Sulawesi Tenggara. Tabel 5.4 menyajikan data tentang penerimaan informasi KB melalui petugas. Pada survei SDKI , setiap wanita ditanya apakah mereka menerima informasi KB dari berbagai macam petugas, seperti petugas lapangan KB, guru, petugas kesehatan, dan tokoh masyarakat. Proporsi wanita pernah kawin yang menerima informasi KB langsung dari petugas secara umum masih rendah. Di antara petugas yang disebut sebagai sumber informasi KB adalah perawat dan bidan (11 persen), petugas KB (6 persen), PKK (4 persen), dan dokter (3 persen). Kurang dari 2 persen wanita menyebut pemuka agama, kepala desa, guru, dan petugas apotik sebagi sumber informasi KB. Hal ini mungkin disebabkan oleh lebih seringnya kontak antara wanita dengan petugas kesehatan dalam hal kesehatan dibandingkan dengan KB. Selain itu, kontak dengan petugas KB umumnya berkisar pada alat/cara kontrasepsi, yang telah diketahui oleh sebagian besar klien. Tabel 5.4 menyajikan juga tentang persentase wanita pernah kawin yang mendengar atau melihat pesan KB dari petugas, dirinci menurut karakteristik latar belakang. Secara umum pola penerimaan informasi KB melalui kontak dengan petugas tidak bervariasi menurut umur wanita, kecuali kontak dengan perawat atau bidan. Wanita berumur tahun cenderung menerima informasi KB dari perawat/bidan dibandingkan dengan wanita kelompok umur lain. Sementara itu, wanita di perdesaan lebih besar kemungkinannya untuk menerima informasi KB dari petugas KB dalam enam bulan sebelum survei dibandingkan dengan wanita di perkotaan, dengan proporsi berturut-turut 7 persen dan 5 persen. Umumnya wanita berpendidikan lebih tinggi cenderung menerima informasi dari berbagai macam sumber informasi KB dari pada wanita berpendidikan lebih rendah. Pola ini tampak lebih jelas bila sumber informasi KB adalah petugas KB, dokter, perawat/bidan. 58 Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu

85 Variasi dalam proporsi wanita yang menerima informasi KB dari petugas tertentu menurut propinsi disajikan pada Lampiran A Tabel A.5.3. Bila dicermati dengan rinci, variasi menurut propinsi yang paling jelas adalah sumber informasi KB oleh petugas KB atau perawat/bidan. Sebagai gambaran, proporsi wanita yang menerima pesan KB dari petugas KB berkisar dari 2 persen di Propinsi Sumatra Utara sampai 22 persen di Propinsi Gorontalo. Disisi lain, proporsi wanita yang mendapat informasi KB dari perawat atau bidan yang terendah adalah 8 persen di Jawa Tengah dan Sumatra Utara, sedangkan tertinggi 22 persen di Propinsi Bengkulu. Penting kiranya untuk diperhatikan adalah satu di antara 10 wanita di Sulawesi Utara (11 persen) mendengar pesan KB dari organisasi wanita PKK, proporsi ini lebih rendah di propinsi-propinsi lain. Tabel 5.4 Pesan KB melalui petugas Distribusi persentase wanita pernah kawin yang mendengar atau melihat pesan KB dari petugas tertentu dalam enam bulan terakhir sebelum survei menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Petugas KB Guru Pemuka agama Dokter Perawat/bida n Tokoh masyarakat Kelompok wanita Apoteker Jumlah wanita Umur ,0 0,7 1,3 2,9 10,0 0,1 1,1 0, ,1 0,7 1,2 3,9 13,1 1,7 2,8 0, ,5 0,5 1,1 3,9 14,4 1,4 4,3 0, ,6 0,5 2,6 3,7 14,2 2,5 5,2 0, ,6 0,7 2,1 4,3 10,5 1,8 4,6 0, ,7 0,5 1,7 2,8 7,8 1,6 4,8 0, ,7 0,3 1,3 1,6 4,5 1,4 2,8 0, Daerah tempat tinggal Perkotaan 4,6 0,5 1,6 4,2 10,5 1,2 4,1 0, Perdesaan 7,2 0,6 1,8 2,7 11,4 2,1 4,1 0, Tingkat pendidikan Tidak sekolah 3,1 0,0 0,3 0,8 4,2 1,2 2,3 0, Tidak tamat SD 4,7 0,6 1,4 2,0 7,7 1,4 2,7 0, Tamat SD 6,7 0,4 2,0 2,7 11,0 1,7 4,7 0, Tidak tamat SLTP 7,0 0,7 1,8 3,6 14,0 2,8 5,4 0, SLTP+ 6,2 0,7 1,9 6,7 14,1 1,3 3,9 0, Jumlah 6,0 0,5 1,7 3,4 11,0 1,7 4,1 0, Penyebarluasan Informasi KB Kegiatan KIE juga dilakukan melalui kelompok-kelompok masyarakat yang dibentuk di tingkat desa atau rukun warga. Biasanya kegiatan KIE pada pertemuan kelompok di masyarakat diatur oleh petugas KB atau ketua kelompok KB. Informasi tentang KB juga disebarluaskan dari mulut ke mulut melalui tetangga maupun teman (gethok tular). Dalam SDKI , semua wanita berstatus kawin yang tidak ber-kb ditanya apakah dalam 12 bulan terakhir mereka dikunjungi petugas lapangan KB yang membahas informasi KB. Responden juga ditanya apakah mereka mengunjungi fasilitas kesehatan selama kurun waktu tersebut, dan apakah mereka membahas tentang KB di tempat tersebut. Informasi ini digunakan untuk mengidentifikasi apakah wanita yang bukan peserta KB telah dijangkau penggarapannya oleh pengelola program KB. Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu 59

86 Tabel 5.5 menunjukkan bahwa empat persen wanita yang bukan peserta KB dikunjungi petugas lapangan KB dan membahas KB, dan persentase yang sama mengunjungi fasilitas kesehatan serta membahas KB. Sebesar 22 persen wanita yang bukan peserta KB mengunjungi fasilitas kesehatan tetapi tidak membahas KB. Keadaan ini merupakan peluang yang tidak termanfaatkan (missed opportunity) dan mengindikasikan bahwa KB belum terintegrasi secara penuh kedalam sistem pelayanan kesehatan bagi wanita. Tabel 5.5 Kontak wanita bukan peserta KB dengan petugas KB/ pemberi pelayanan KB Persentase wanita yang tidak menggunakan alat kontrasepsi yang dikunjungi petugas lapangan KB dan diskusi tentang KB, mengunjungi fasilitas kesehatan dan diskusi tentang KB, dan mengunjungi fasilitas kesehatan dan tidak diskusi tentang KB dalam kurun waktu 12 bulan terakhir sebelum survei menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Wanita yang dikunjungi petugas lapangan KB dan diskusi tentang KB Wanita yang mengunjungi fasilitas kesehatan dan diskusi tentang KB Wanita yang mengunjungi fasilitas kesehatan dan tidak diskusi tentang KB Wanita yang tidak diskusi tentang KB dengan petugas lapangan KB atau dengan provider Jumlah wanita Umur ,0 4,3 25,9 94, ,5 5,0 31,2 91, ,2 6,9 32,9 90, ,7 6,3 27,1 91, ,6 3,8 18,9 92, ,6 2,6 15,6 95, ,0 1,3 11,2 96, Daerah tempat tinggal Perkotaan 3,9 3,7 25,1 93, Perdesaan 4,0 4,5 19,8 93, Tingkat pendidikan Tidak sekolah 1,5 1,0 10,6 97, Tidak tamat SD 3,4 2,5 14,6 94, Tamat SD 4,5 4,0 20,9 93, Tidak tamat SLTP 5,3 6,4 28,4 90, SLTP+ 3,9 6,1 34,8 91, Jumlah 4,0 4,1 22,2 93, Wanita berusia remaja (15-19 tahun) dan berusia relatif tua (40-49 tahun) cenderung lebih jarang dikunjungi oleh petugas KB dan membahas tentang KB dibandingkan dengan wanita kelompok usia lainnya. Wanita usia tahun sedikit lebih mengalami kehilangan peluang dalam membahas KB dengan petugas di fasilitas kesehatan. Wanita di perkotaan sedikit lebih banyak mengunjungi fasilitas kesehatan tetapi tidak membahas mengenai KB dibandingkan dengan wanita perdesaan (25 persen berbanding 20 persen). Proporsi wanita yang tidak berpendidikan yang dikunjungi petugas KB sedikit lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan. Sementara itu, proporsi wanita yang tidak berpendidikan yang mengunjungi fasilitas kesehatan dan membahas tentang KB lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan. 60 Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu

87 Persentase wanita pernah kawin yang dikunjungi petugas KB dan membahas tentang KB bervariasi menurut propinsi (Lampiran Tabel A.5.4), berkisar dari 2 persen di Sumatera Utara, Bangka Belitung, dan Jawa Timur hingga 13 persen di Gorontalo. Wanita yang tinggal di Sumatera Utara paling sedikit mengunjungi fasilitas kesehatan dan mendiskusikan KB (1 persen), sementara itu proporsi tertinggi adalah di Gorontalo (14 persen). 5.3 DISKUSI TENTANG KELUARGA BERENCANA DENGAN SUAMI Walaupun pembicaraan antara suami dan isteri mengenai keluarga berencana tidak selalu menjadi prasyarat dalam penerimaan keluarga berencana, namun tidak adanya diskusi tersebut dapat menjadi halangan terhadap pemakaian kontrasepsi. Komunikasi tatap muka antara suami isteri merupakan jembatan dalam proses penerimaan, dan khususnya dalam kelangsungan pemakaian kontrasepsi. Tidak adanya diskusi antara suami isteri mungkin merupakan cerminan kurangnya minat pribadi, penolakan terhadap suatu persoalan, atau sikap tabu dalam membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan seks. Untuk menggali informasi tersebut, wanita berstatus kawin dan pria kawin ditanya apakah mereka membahas KB dengan suaminya dalam periode 12 bulan terakhir. Informasi ini disajikan dalam Tabel 5.6. Temuan SDKI menunjukkan bahwa 56 persen wanita mendiskusikan KB dengan pasangannya paling sedikit satu kali selama setahun terakhir. Wanita usia tahun cenderung membicarakan KB dengan suami lebih sering dibandingkan dengan wanita pada kelompok umur lainnya. Selain itu, 43 persen wanita berstatus kawin tidak pernah membicarakan KB dengan pasangannya. Tabel 5.6 Diskusi tentang KB antara suami dan isteri Distribusi persentase wanita berstatus kawin yang mengetahui metode KB menurut banyaknya diskusi tentang KB dengan suami dalam satu tahun terakhir, distribusi persentase pria kawin yang mengetahui metode KB dan diskusi tentang KB dengan isteri dalam satu tahun terakhir menurut umur saat ini, Indonesia Umur Tidak pernah Berapa kali diskusi tentang KB antara isteri dengan suami Sekali atau dua kali Tiga kali atau lebih Tak terjawab Jumlah Jumlah wanita Suami yang berdiskusi tentang KB dengan isteri Jumlah pria ,1 49,3 9,7 0,8 100,0 886 * ,2 53,7 12,5 0,7 100, , ,1 53,7 12,3 0,9 100, , ,4 51,6 12,2 0,9 100, , ,5 46,1 9,8 0,7 100, , ,1 39,4 7,2 1,3 100, , ,3 28,8 3,8 1,1 100, , na na na na na na 29,6 952 Jumlah 42,7 46,5 9,9 0,9 100, , Catatan: * angka berdasarkan jumlah wanita tak tertimbang <25 dan tidak disajikan na = Tidak berlaku Menarik untuk diperhatikan bahwa wanita melaporkan bahwa mereka lebih sering mendiskusikan mengenai KB dengan suaminya dibandingkan dengan pelaporan oleh pria. Sebagai gambaran, 46 persen pria kawin membicarakan KB dengan isteri, sementara 56 persen wanita berstatus kawin melaporkan hal yang sama. Proporsi wanita berstatus kawin dan pria kawin yang membicarakan mengenai KB paling sedikit sekali dengan pasangannya bervariasi menurut propinsi (Lampiran A Tabel A.5.5). Proporsi wanita berstatus kawin yang berdiskusi KB paling sedikit sekali selama 12 bulan terakhir terendah, yaitu 38 persen Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu 61

88 di Jawa Tengah dan tertinggi 77 persen di Gorontalo. Wanita berstatus kawin yang tinggal di Bangka Belitung paling sedikit melakukan diskusi tentang KB dengan suaminya (31 persen), sebaliknya persentase tertinggi dijumpai di Kalimantan Tengah (73 persen). 5.4 SIKAP PASANGAN USIA SUBUR TERHADAP KB Apabila suatu pasangan mempunyai sikap positif terhadap KB, maka mereka cenderung akan memakai kontrasepsi. Pada SDKI , setiap wanita berstatus kawin ditanya apakah mereka setuju bila suatu pasangan ber-kb dan bagaimanakah sikap suami mereka tentang hal tersebut. Informasi ini penting untuk menyusun kebijakan KB, karena ini menunjukkan pembinaan lebih lanjut yang diperlukan untuk meningkatkan penerimaan KB. Tabel 5.7 memperlihatkan bahwa 94 persen wanita berstatus kawin yang mengetahui suatu metode kontrasepsi setuju suatu pasangan menggunakan kontrasepsi; dan hanya empat persen yang tidak setuju. Sembilan dari 10 wanita berstatus kawin (88 persen) melaporkan bahwa mereka dan suaminya setuju bila suatu pasangan ber-kb. Perbedaan pendapat antara suami isteri relatif rendah. Hanya dua persen wanita berstatus kawin yang setuju dengan KB, tetapi suaminya tidak setuju; dan hanya satu persen wanita yang tidak setuju tetapi suami setuju. Dengan demikian perbedaan pendapat tentang KB antara suami isteri di Indonesia relatif rendah (dua persen). Tabel 5.7 Sikap terhadap KB Distribusi persentase wanita berstatus kawin yang mengetahui metode kontrasepsi menurut sikap terhadap KB dan persepsi sikap suami terhadap KB menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Responden setuju terhadap KB Sikap suami Suami tidak Suami tidak tahu, tak setuju setuju ter-jawab Responden tidak setuju terhadap KB Suami setuju Suami tidak setuju Sikap suami tidak tahu, tak terjawab Responden tidak yakin 1 Total Jumlah wanita Umur ,1 1,3 5,0 0,7 1,5 0,3 3,1 100, ,4 1,6 3,1 0,7 2,3 0,3 1,6 100, ,5 2,0 2,1 1,5 2,1 0,4 2,4 100, ,4 1,7 2,5 1,1 2,0 0,1 2,1 100, ,6 2,4 3,2 1,3 2,1 0,3 3,1 100, ,8 2,4 4,0 1,0 2,0 0,3 3,5 100, ,1 2,7 4,9 0,6 4,1 0,4 4,1 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 89,3 2,3 2,5 0,9 2,6 0,2 2,1 100, Perdesaan 87,2 1,9 3,9 1,2 2,1 0,4 3,3 100, Tingkat pendidikan Tidak sekolah 78,6 2,6 6,7 1,3 3,2 0,8 6,7 100, Tidak tamat SD 83,5 2,7 4,5 1,4 3,4 0,4 4,1 100, Tamat SD 89,8 2,0 2,8 1,1 2,0 0,2 2,1 100, Tidak tamat SLTP 90,2 2,1 2,7 0,8 1,9 0,2 2,0 100, SLTP+ 91,4 1,6 2,1 0,8 1,9 0,2 1,9 100, Jumlah 88,2 2,1 3,2 1,1 2,3 0,3 2,8 100, Termasuk tak terjawab 62 Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu

89 Sikap terhadap pemakaian kontrasepsi tidak banyak bervariasi menurut umur dan tempat tinggal. Tetapi, pendidikan menunjukkan hubungan yang erat dengan sikap suatu pasangan terhadap KB. Persentase pasangan yang setuju dengan KB berkisar antara 79 persen di antara wanita yang tak bersekolah dan 91 persen pada wanita yang berpendidikan SLTP atau lebih tinggi. 5.5 PENGETAHUAN TENTANG MASA SUBUR Pengetahuan dasar tentang fisiologi reproduksi wanita dan masa subur adalah penting bagi keberhasilan cara KB pantang berkala. Keberhasilan cara KB pantang berkala tergantung dari pemahaman wanita dan pria mengenai siklus bulanan wanita dan hari-hari subur wanita. Dalam SDKI , setiap wanita pernah kawin ditanya mengenai pengetahuannya tentang masa subur. Tabel 5.8 menyajikan data tentang distribusi persentase wanita pernah kawin dan wanita berstatus kawin menurut pengetahuan masa subur selama siklus bulanan, menurut pemakaian kontrasepsi pantang berkala dan bukan pemakai pantang berkala. Tabel 5.8 Pengetahuan tentang masa subur Distribusi persentase wanita pernah kawin dan pria kawin menurut pengetahuan tentang masa subur menurut pemakaian metode pantang berskala, Indonesia Wanita Pria Masa subur yang diketahui Pemakai pantang berkala Bukan pemakai pantang berkala Jumlah Pemakai pantang berkala Bukan pemakai pantang berkala Jumlah Menjelang haid 2,8 3,4 3,4 6,5 2,2 2,2 Selama masa haid 0,5 0,3 0,3 0,0 0,2 0,2 Segera setelah haid berakhir 18,5 14,1 14,2 19,0 18,1 8,1 Di tengah antara dua haid 64,9 15,6 16,4 56,2 14,7 15,5 Lainnya 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 Tidak ada waktu tertentu 6,4 30,0 29,6 1,1 11,9 11,7 Tidak tahu 6,9 36,4 36,0 16,5 52,7 52,0 Tak terjawab 0,0 0,1 0,1 0,7 0,2 0,2 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita/ pria Temuan SDKI menunjukkan bahwa pengetahuan yang benar tentang siklus reproduksi sangat terbatas. Ini menunjukkan bahwa KIE tentang mekanisme dan fisiologi reproduksi serta masa subur masih sangat diperlukan. Hanya 16 persen wanita pernah kawin dan wanita berstatus kawin memberikan jawaban yang benar tentang periode yang tepat ketika wanita mempunyai kemungkinan terbesar untuk menjadi hamil, yaitu pada pertengahan siklus ovulasi. Secara umum, 36 persen wanita pernah kawin dan 52 persen pria kawin tidak tahu kapan seorang wanita mengalami saat subur selama siklus menstruasinya Seperti yang diharapkan, wanita dan pria yang ber-kb pantang berkala lebih mengetahui tentang siklus ovulasi wanita dari pada wanita dan pria lainnya. Enam puluh lima persen wanita yang memakai cara KB pantang berkala memberi jawaban benar tentang pengetahuan masa subur dibandingkan dengan 16 persen wanita yang tidak menggunakan metode tersebut. Angka untuk pria berturut-turut adalah 56 persen dan 16 persen. Pengetahuan tentang masa subur pada wanita pemakai cara KB pantang berkala hampir sama dengan keadaan Berdasarkan SDKI 1997, 16 persen wanita yang memakai suatu cara KB dan 67 persen wanita yang memakai cara KB pantang berkala mengetahui masa subur dengan benar. Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu 63

90 5.6 PERNAH PAKAI ALAT/CARA KB Semua wanita yang diwawancarai dalam SDKI yang melaporkan bahwa mereka pernah mendengar tentang alat/cara KB ditanya lebih lanjut apakah mereka pernah memakai alat/cara KB tersebut. Informasi tentang pemakaian kontrasepsi berguna untuk perencanaan dan evaluasi program KB. Tabel 5.9 menampilkan data tentang persentase wanita pernah kawin dan berstatus kawin yang telah memakai suatu alat/cara KB menurut metode tertentu. SDKI mencatat bahwa 80 persen wanita pernah kawin dan 82 persen wanita berstatus kawin melaporkan pernah menggunakan suatu alat/cara KB. Persentase wanita yang pernah menggunakan suatu alat/cara KB modern adalah 78 persen di antara wanita pernah kawin dan 79 persen di kalangan wanita berstatus kawin. Proporsi wanita yang pernah memakai kontrasepsi sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi tahun 1997, yaitu dari 76 persen di antara wanita pernah kawin dan 78 persen di kalangan wanita berstatus kawin. Tabel 5.9 Pernah pakai alat/cara KB Persentase wanita pernah kawin dan berstatus kawin yang pernah menggunakan metode kontrasepsi menurut alat/cara KB dan umur, Indonesia Cara modern Cara tradisional Steri- Suatu Pan- Sang- Suatu lisasi Steri- cara tang gama Suatu cara wa- lisasi Susuk Kon- Dia- tradi- ber- ter- Cara Jumlah Umur cara modern nita pria Pil IUD Suntik KB dom phragm MAL sional kala putus lain Jumlah wanita WANITA PERNAH KAWIN ,0 58,3 0,0 0,0 24,2 1,0 43,5 1,5 1,5 0,0 0,2 2,4 0,2 1,6 0,8 100, ,3 73,8 0,0 0,1 30,6 3,1 58,9 5,1 1,7 0,0 1,6 5,2 1,7 2,9 1,2 100, ,2 81,7 0,3 0,1 42,1 6,5 63,6 9,2 2,8 0,2 1,9 7,6 2,6 4,6 1,6 100, ,4 83,1 1,5 0,5 44,5 13,9 61,1 11,0 5,1 0,4 2,3 9,0 3,9 5,2 1,2 100, ,8 82,7 5,2 0,6 44,2 20,5 53,8 12,2 4,6 0,3 2,6 10,2 4,9 5,0 2,2 100, ,1 77,4 7,8 1,3 43,2 24,1 42,4 10,5 4,9 0,4 2,5 11,2 5,3 5,3 2,7 100, ,7 67,8 8,4 1,2 36,4 23,0 29,6 6,2 4,3 0,3 1,7 8,4 4,4 3,8 1,8 100, Jumlah 79,9 77,7 3,6 0,6 40,2 14,7 52,2 9,0 3,9 0,3 2,1 8,5 3,7 4,5 1,8 100, WANITA BERSTATUS KAWIN ,6 59,9 0,0 0,0 24,6 1,1 44,7 1,6 1,6 0,0 0,2 2,4 0,2 1,7 0,7 100, ,7 74,2 0,0 0,1 30,3 3,1 59,6 5,2 1,7 0,0 1,6 5,3 1,7 3,0 1,2 100, ,4 82,9 0,4 0,1 42,7 6,7 64,7 9,3 2,9 0,2 2,0 7,7 2,6 4,7 1,7 100, ,3 84,9 1,6 0,6 45,6 14,4 62,7 11,3 5,3 0,4 2,4 9,3 4,1 5,4 1,2 100, ,1 83,9 5,4 0,6 45,0 20,9 54,8 12,5 4,6 0,3 2,6 10,4 5,0 5,1 2,2 100, ,8 80,0 8,2 1,3 44,8 24,9 44,2 10,8 5,1 0,4 2,7 11,7 5,5 5,5 2,8 100, ,0 70,0 8,9 1,2 37,3 24,2 30,8 6,3 4,4 0,2 1,8 8,8 4,5 4,2 1,8 100, Jumlah 81,6 79,4 3,7 0,6 41,0 15,0 53,7 9,3 4,0 0,3 2,2 8,7 3,8 4,6 1,8 100, MAL = Metode Amenorrhea Laktasi Alat/cara KB yang paling umum dipakai oleh wanita pernah kawin dan wanita berstatus kawin adalah suntikan, berturut-turut 52 persen dan 54 persen. Dua alat/cara KB lain yang juga banyak dipakai adalah IUD dan susuk KB. Persentase wanita pernah kawin dan wanita berstatus kawin yang pernah memakai IUD adalah 15 persen, sedangkan yang pernah memakai susuk KB adalah 9 persen untuk kedua kelompok wanita. Proporsi wanita yang melaporkan pernah memakai kondom, sterilisasi pria, dan sterilisasi wanita relatif rendah. Pemakaian cara KB tradisional juga sangat terbatas. Secara umum, proporsi wanita pernah kawin dan berstatus kawin yang pernah memakai cara KB tradisional hanya 9 persen. Lima persen wanita pernah kawin dan berstatus kawin pernah menggunakan sanggama terputus, dan 4 persen wanita dalam kedua kelompok itu pernah memakai pantang berkala. 64 Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu

91 Apabila dibandingkan dengan kondisi tahun 1997, terlihat sedikit perubahan proporsi wanita menurut alat/cara KB yang pernah dipakai. Dalam SDKI 1997, metode KB yang paling banyak pernah dipakai adalah pil (43 persen) dan suntikan (42 persen). Dalam SDKI , keadaannya terbalik, metode yang paling banyak dipakai adalah suntikan (52 persen), berikutnya pil (40 persen). Tabel 5.10 menyajikan distribusi wanita pernah kawin yang pernah memakai kontrasepsi menurut jumlah anak masih hidup ketika pertama menggunakan kontrasepsi. Tabel ini digunakan untuk mengidentifikasi penerimaan norma keluarga kecil dan penggunaan alat/cara KB sebagai metode untuk pembatasan kelahiran. Enam puluh tiga persen wanita pernah kawin mulai memakai alat/cara KB sebelum mereka mempunyai dua anak, 18 persen wanita ber-kb ketika mereka sudah mempunyai dua anak; dan 19 persen menggunakannya pada saat sudah memiliki 3 anak atau lebih. Wanita lebih muda cenderung mulai menggunakan kontrasepsi ketika mempunyai lebih sedikit anak. Sebagai gambaran, satu persen wanita berusia tahun memakai kontrasepsi ketika belum mempunyai anak, sementara itu proporsi pada wanita tahun dan tahun berturut-turut 33 persen dan 16 persen. Penting untuk dicatat bahwa satu di antara lima wanita berumur dan satu di antara tiga wanita usia tahun memakai kontrasepsi setelah mempunyai empat anak atau lebih. Tabel 5.10 Jumlah anak masih hidup saat pertama kali menggunakan alat/cara KB Distribusi persentase wanita pernah kawin yang pernah menggunakan alat/cara KB menurut jumlah anak masih hidup pada saat pertama kali menggunakan alat/cara KB dan umur wanita saat ini, Indonesia Jumlah anak masih hidup pada saat pertama kali menggunakan alat kontrasepsi Tak terjawab Umur Jumlah Jumlah wanita ,8 65,1 2,1 0,0 0,0 0,0 100, ,4 76,7 6,1 0,6 0,1 0,1 100, ,5 75,3 12,7 3,7 0,8 0,1 100, ,5 66,2 19,2 6,1 3,9 0,1 100, ,9 50,8 24,5 12,6 9,8 0,4 100, ,6 36,2 24,2 16,1 20,8 0,1 100, ,7 25,4 20,1 20,8 32,7 0,2 100, Jumlah 6,0 56,6 17,8 9,4 10,0 0,1 100, Pengetahuan dan Pemakaian Alat/Cara KB di Masa Lalu 65

92 PEMAKAIAN ALAT/CARA KELUARGA BERENCANA 6 Informasi mengenai tingkat pemakaian kontrasepsi (prevalensi kontrasepsi) adalah penting untuk mengukur keberhasilan Program Keluarga Berencana. Prevalensi kontrasepsi didefinisikan sebagai proporsi wanita kawin umur tahun yang pada waktu SDKI memakai salah satu alat/cara KB. Uraian berikut menyajikan tingkat, kecenderungan, dan keragaman pemakaian kontrasepsi, sumber pelayanan kontrasepsi, umur pada waktu pertama kali menggunakan kontrasepsi, alasan pemakaian kontrasepsi, dan beberapa indikator kualitas pemakaian pil, suntikan dan kondom. 6.1 PEMAKAIAN ALAT/CARA KB MASA KINI Tabel 6.1 menunjukkan distribusi persentase wanita pernah kawin dan wanita kawin yang saat ini sedang menggunakan metode KB menurut umur. Hasil SDKI menunjukkan bahwa 57 persen wanita pernah kawin dan 60 persen wanita kawin sedang menggunakan kontrasepsi. Lebih lanjut, 54 persen wanita pernah kawin dan 57 persen wanita kawin menggunakan metode modern. Alat/cara tradisional tidak banyak digunakan di Indonesia, hanya 3 persen dari wanita pernah kawin dan 4 persen wanita kawin saat ini sedang menggunakan suatu alat/cara tradisional. Di antara cara modern, suntikan merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak dipakai baik oleh wanita yang pernah kawin maupun wanita yang berstatus kawin (masing-masing 26 dan 28 persen), diikuti oleh pil KB (masing-masing 13 persen untuk kedua kelompok tersebut). Tabel 6.1 Pemakaian Kontrasepsi Masa Kini Distribusi persentase wanita pernah kawin dan berstatus kawin menurut alat/cara KB yang dipakai, berdasarkan umur, Indonesia Cara modern Cara tradisional Steri- Suatu Pan- Sang- Seka- Suatu lisasi Steri- cara tang gama rang Suatu cara wa- lisasi Susuk Kon- tradisi- ber- ter- Cara tidak Jumlah Umur cara modern nita pria Pil IUD Suntik KB dom MAL onal kala putus lain pakai Jumlah wanita WANITA PERNAH KAWIN ,1 44,6 0,0 0,0 12,5 0,8 30,0 0,6 0,5 0,1 0,5 0,0 0,3 0,1 54,9 100, ,0 57,2 0,0 0,1 11,5 1,7 40,1 3,4 0,3 0,1 1,8 0,8 0,5 0,4 41,0 100, ,7 60,5 0,3 0,1 15,1 3,4 35,9 4,9 0,6 0,2 2,2 0,8 1,1 0,3 37,3 100, ,6 60,0 1,5 0,1 15,7 5,9 30,5 4,8 1,3 0,2 3,5 1,7 1,6 0,2 36,4 100, ,7 58,0 5,2 0,5 13,1 8,2 24,6 5,3 0,9 0,2 4,7 2,2 2,1 0,5 37,3 100, ,2 51,0 7,8 1,0 11,1 9,3 16,5 4,5 0,9 0,0 5,2 2,2 2,1 1,0 43,8 100, ,3 34,0 8,4 1,0 6,8 7,5 7,6 1,8 0,9 0,0 3,3 1,6 1,3 0,4 62,7 100, Jumlah 57,3 53,9 3,6 0,4 12,5 5,9 26,4 4,1 0,8 0,1 3,4 1,5 1,4 0,5 42,7 100, WANITA BERSTATUS KAWIN ,3 46,8 0,0 0,0 13,2 0,9 31,5 0,7 0,5 0,1 0,5 0,0 0,4 0,1 52,7 100, ,7 58,9 0,0 0,1 11,8 1,8 41,3 3,5 0,3 0,1 1,8 0,9 0,5 0,4 39,3 100, ,5 62,2 0,4 0,1 15,6 3,5 36,9 5,0 0,6 0,2 2,3 0,8 1,1 0,4 35,5 100, ,7 63,0 1,6 0,1 16,5 6,2 32,1 4,9 1,4 0,2 3,7 1,8 1,7 0,2 33,3 100, ,4 60,5 5,4 0,5 13,7 8,5 25,7 5,5 0,9 0,2 5,0 2,3 2,1 0,6 34,6 100, ,6 54,0 8,2 1,0 11,9 9,7 17,6 4,8 0,9 0,0 5,6 2,3 2,2 1,1 40,4 100, ,7 38,0 8,9 1,1 7,7 8,5 8,7 2,0 1,0 0,0 3,8 1,9 1,5 0,4 58,3 100, Jumlah 60,3 56,7 3,7 0,4 13,2 6,2 27,8 4,3 0,9 0,1 3,6 1,6 1,5 0,5 39,7 100, Catatan: Jika terdapat lebih dari satu alat/cara KB yang dipakai, hanya cara yang paling efektif yang dimasukkan ke dalam tabel ini MAL = Metode Amenorrhea Laktasi Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana 67

93 Alat/cara KB modern populer di antara wanita di semua umur. Namun demikian, pemakaian kontrasepsi pada wanita yang berumur lebih muda dan yang berumur lanjut lebih rendah dibandingkan mereka yang berumur tahun. Wanita muda cenderung menggunakan cara suntik, pil dan susuk KB, sementara mereka yang lebih tua cenderung memilih alat/cara kontrasepsi jangka panjang seperti IUD, sterilisasi wanita dan sterilisasi pria. Dibanding dengan data SDKI tahun 1997, pemakaian cara suntikan naik 7 persen, sementara pemakaian IUD dan susuk KB masing-masing turun 2 persen. Data dari SDKI pada tingkat nasional dan pada tingkat propinsi tidak dapat secara langsung dibandingkan dengan data SDKI sebelumnya dikarenakan adanya perbedaan cakupan wilayah. SDKI yang dilakukan sekarang tidak mencakup Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara, dan Papua, serta bekas Propinsi Timor Timur. Ditambah lagi dengan munculnya beberapa propinsi baru yang merupakan pecahan dari propinsi sebelumnya, yakni: Bangka Belitung dari Sumatera Selatan, Banten dari Jawa Barat, dan Gorontalo dari Sulawesi Utara. Prevalensi kontrasepsi modern di propinsi-propinsi yang tercakup dalam SDKI untuk wanita pernah kawin adalah 6 poin persentase lebih tinggi dari SDKI 1997 (57 persen berbanding 51 persen) sedangkan untuk wanita yang berstatus kawin 2 poin persentase lebih tinggi (57 persen berbanding 55 persen). Tabel 6.2 dan Gambar 6.1 menunjukkan bahwa pemakaian kontrasepsi di daerah perkotaan maupun perdesaan tidak berbeda (61 dan 60 persen berturut-turut). Namun demikian terdapat perbedaan dalam variasi alat/cara KB yang dipakai, di mana wanita perkotaan lebih mengandalkan pada IUD dan sterilisasi wanita, sementara wanita perdesaan lebih mengandalkan pada suntikan dan susuk KB Tabel 6.2 Pemakaian kontrasepsi masa kini: karakteristik latar belakang Distribusi persentase wanita berstatus kawin menurut alat/cara KB yang dipakai dan karakteristik latar belakang, Indonesia Cara modern Cara tradisional Steri- Suatu Pan- Sang- Seka- Suatu lisasi Steri- cara tang gama rang Karakteristik Suatu cara wa- lisasi Susuk Kon- tradisi- ber- ter- Cara tidak Jumlah latar belakang cara modern nita pria Pil IUD Suntik KB dom MAL onal kala putus lain pakai Jumlah wanita Daerah tempat tinggal Perkotaan 61,1 57,0 4,8 0,2 14,1 7,9 26,0 2,3 1,6 0,1 4,1 2,3 1,4 0,4 38,9 100, Perdesaan 59,7 56,5 2,8 0,7 12,5 4,7 29,4 6,0 0,3 0,2 3,2 1,0 1,6 0,6 40,3 100, Pendidikan Tidak sekolah 47,0 44,8 3,3 0,9 9,9 5,8 19,1 5,6 0,0 0,2 2,3 0,4 0,9 1,0 53,0 100, Tidak tamat SD 55,3 52,6 3,7 0,9 12,9 5,0 23,9 5,9 0,3 0,0 2,8 0,5 1,5 0,8 44,7 100, Tamat SD 63,0 60,3 3,8 0,4 14,9 4,1 31,6 4,7 0,6 0,2 2,7 1,0 1,2 0,4 37,0 100, Tidak tamat SLTP 62,1 58,1 2,9 0,3 13,8 5,1 31,5 3,9 0,6 0,1 3,9 1,7 1,8 0,5 37,9 100, SLTP + 63,9 57,8 4,4 0,1 11,6 11,6 25,5 2,1 2,4 0,1 6,1 3,8 2,0 0,2 36,1 100,0 5,932 Jumlah anak masih hidup 0 7,0 6,7 0,0 0,0 2,9 0,2 3,0 0,0 0,5 0,0 0,3 0,3 0,1 0,0 93,0 100, ,8 63,4 1,2 0,2 15,1 6,4 34,8 4,7 0,8 0,1 3,4 1,7 1,3 0,4 33,2 100, ,5 62,9 7,8 0,8 14,3 8,1 25,5 5,1 1,2 0,2 4,6 1,6 2,3 0,7 32,5 100, ,4 44,9 7,9 1,1 9,1 3,9 18,8 3,5 0,5 0,1 4,5 2,2 1,7 0,7 50,6 100, Indeks kekayaan kuantil Terbawah 52,4 48,6 1,5 0,7 12,1 3,1 24,4 6,4 0,1 0,2 3,9 1,1 1,8 0,9 47,6 100, Menengah bawah 60,1 57,9 2,8 0,6 13,2 5,1 29,6 6,4 0,1 0,2 2,2 0,7 1,2 0,3 39,9 100, Menengah 62,9 60,0 3,4 0,4 14,2 4,7 32,4 4,2 0,6 0,1 2,9 0,9 1,6 0,4 37,1 100, Menengah atas 63,0 59,3 4,5 0,1 15,4 4,2 31,0 2,9 1,2 0,1 3,6 1,5 1,8 0,4 37,0 100, Teratas 63,5 58,1 6,5 0,4 11,5 13,7 22,2 1,6 2,2 0,1 5,4 3,7 1,2 0,4 36,5 100, Jumlah 60,3 56,7 3,7 0,4 13,2 6,2 27,8 4,3 0,9 0,1 3,6 1,6 1,5 0,5 39,7 100, Catatan: Jika terdapat lebih dari satu alat/cara KB yang dipakai, hanya cara yang paling efektif yang dimasukkan ke dalam tabel ini MAL = Metode Amenorrhea Laktasi 68 Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana

94 Gambar 6.1 Persentase Wanita Berstatus Kawin Berumur Tahun yang Menggunakan Metode Kontrasepsi INDONES IA 60 TEMPAT TINGGAL Perkotaan Perdesaan P E NDIDIKAN Tidak s ekolah 47 Tidak tamat S D 55 Tamat SD Tidak tamat S LTP SLTP J UMLAH ANAK Persen SDKI Tabel 6.2 juga menunjukkan bahwa pemakaian kontrasepsi meningkat sejalan dengan tingkat pendidikan responden. Empat puluh lima persen wanita kawin yang tidak sekolah menggunakan cara kontrasepsi modern dibandingkan 58 persen wanita yang berpendidikan menengah atau lebih tinggi. Secara umum, semakin tinggi tingkat pendidikan wanita semakin besar kemungkinannya memakai alat/cara KB modern, kecuali susuk KB dan sterilisasi pria. Pemakaian kontrasepsi meningkat pesat sejalan dengan jumlah anak yang masih hidup. Sebesar 7 persen pada wanita yang tidak memiliki anak menjadi 68 persen pada wanita yang memiliki 3 atau 4 anak, dan turun menjadi 49 persen pada wanita dengan anak 5 atau lebih. Wanita yang tidak memiliki anak cenderung menggunakan suntikan dan pil. Pemakaian suntikan meningkat setelah kelahiran anak pertama, dari 3 persen pada wanita tanpa anak menjadi 35 persen pada wanita dengan anak satu atau dua. Juga jelas terlihat bahwa proporsi wanita yang memilih untuk dioperasi sterilisasi meningkat seiring dengan jumlah anak yang dimiliki, dari 1 persen pada mereka yang memiliki satu atau dua anak menjadi 8 persen untuk wanita yang memiliki anak 3 atau lebih. Secara keseluruhan, pemakaian alat/cara KB mempunyai hubungan positif dengan indeks kekayaan kuantil, dari 52 persen untuk indeks kekayaan kuantil terbawah menjadi 64 persen untuk indeks kekayaan kuantil teratas. Lampiran Tabel A.6.1 menunjukkan distribusi wanita berstatus kawin berdasarkan pemakaian alat/cara KB, menurut propinsi. Tingkat pemakaian kontrasepsi 35 persen di Nusa Tenggara Timur dan 76 persen di DI Yogyakarta. Pemakaian alat/cara KB modern terendah terdapat di Nusa Tenggara Barat (28 persen) dan tertinggi di Sulawesi Utara (66 persen). SDKI juga mengumpulkan informasi mengenai pemakaian alat/cara KB di kalangan pria yang berstatus kawin. Gambar 6.2 menunjukkan bahwa pemakaian alat/cara KB pria masih sangat terbatas. Metode yang paling banyak mereka gunakan adalah pantang berkala (2 persen) dan senggama terputus (2 persen). Hanya satu persen pria berstatus kawin yang menggunakan kondom. Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana 69

95 Gambar 6.2 Persentase Pria Berstatus Kawin Berumur Tahun yang Menggunakan Metode Kontrasepsi Persen Kondom Pantang berkala Sanggama terputus SDKI KECENDERUNGAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI Tabel 6.3 dan Gambar 6.3 menunjukkan kecenderungan pemakaian alat/cara KB di antara wanita berstatus kawin, menurut alat/cara KB, dalam kurun waktu Temuan menunjukkan bahwa pemakaian alat/cara KB oleh wanita berstatus kawin, meningkat dari 50 persen pada tahun 1991 menjadi 60 persen pada tahun Ada perubahan pemakaian alat/cara KB tertentu. Pada tahun 1991, 15 persen wanita berstatus kawin menggunakan pil, pemakaian pil sedikit meningkat antara tahun , kemudian menurun menjadi 13 persen pada tahun Pemakaian IUD juga menurun Tabel 6.3 Tren pemakaian alat/cara KB tertentu, Indonesia Persentase wanita berstatus kawin yang menggunakan suatu alat/cara KB tertentu, Indonesia SDKI SDKI SDKI SDKI Alat/cara KB Suatu cara 49,7 54,7 57,4 60,3 Pil 14,8 17,1 15,4 13,2 IUD 13,3 10,3 8,1 6,2 Suntikan 11,7 15,2 21,1 27,8 Kondom 0,8 0,9 0,7 0,9 Susuk KB 3,1 4,9 6,0 4,3 Sterilisasi wanita 2,7 3,1 3,0 3,7 Sterilisasi pria 0,6 0,7 0,4 0,4 Pantang berkala 1,1 1,1 1,1 1,6 Sanggama terputus 0,7 0,8 0,8 1,5 Lainnya 0,9 0,8 0,8 0,5 Jumlah wanita Catatan: SDKI tidak mencakup Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. SDKI sebelumnya mencakup Timor Timur. 70 Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana

96 selama 20 tahun terakhir, dari 13 persen pada tahun 1991 menjadi 6 persen saat ini. Sebaliknya pemakaian cara suntik meningkat secara signifikan dalam 2 dekade, dari 13 persen pada tahun 1991 menjadi 28 persen pada tahun Pil adalah alat/cara KB modern yang pada umumnya dipakai wanita berstatus kawin pada tahun 1991, sementara suntikan adalah alat/cara KB modern yang paling banyak dipakai oleh wanita berstatus kawin pada SDKI tahun Gambar 6.3 Persentase Wanita Berstatus Kawin Berumur Tahun yang Menggunakan Suatu Metode Kontrasepsi, Indonesia Pil IUD Suntikan Kondom Susuk Sterilisasi wanita 3 4 Sterilisasi pria Pantang berkala Sanggama terputus Persen SDKI SDKI 1997 Perubahan yang dramatis dalam tingkat dan pola pemakaian kontrasepsi di Indonesia dalam 20 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 6.4 dan Gambar 6.4. Pulau Jawa disajikan terpisah karena besarnya jumlah penduduk di pulau ini, yakni sebesar 59 persen dari populasi negara (kira-kira 125 juta). Karena Propinsi Banten baru saja terbentuk, data di propinsi ini tidak bisa dianalisa secara terpisah. Di lain pihak, Jawa Barat dalam data SDKI sebelumnya sudah mencakup propinsi Banten. Tabel 6.4 memperlihatkan kecenderungan pemakaian kontrasepsi pada wanita yang berstatus kawin untuk setiap propinsi di Jawa antara 1991 dan Pemakaian kontrasepsi terlihat meningkat terus disemua propinsi di Jawa dalam 2 dasawarsa terakhir. Peningkatan tertinggi ditemukan di Jawa Tengah (15 poin persentase) diikuti oleh Jawa Timur (12 poin persentase). Hasil survey SDKI menunjukkan bahwa di antara propinsi-propinsi di Jawa, prevalensi kontrasepsi tertinggi diperlihatkan oleh DI Yogyakarta (76 persen), sementara yang terendah adalah Jawa Barat (59 persen). Tabel 6.4 Tren pemakaian alat/cara KB menurut propinsi di Jawa 1991 sampai Persentase wanita berstatus kawin yang memakai alat/cara KB, menurut propinsi, Jawa SDKI SDKI SDKI SDKI Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Dalam SDKI 1991, 1994, dan 1997 mencakup Banten. Dalam SDKI Jawa Barat sudah tidak mencakup Banten. Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana 71

97 Gambar 6.4 Persentase Wanita Berstatus Kawin Berumur Tahun yang Menggunakan Metode Kontrasepsi di Pulau Jawa, DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Persen SDKI SDKI 1997 SDKI 1994 Keinginan dan kemampuan wanita untuk mengatur fertilitasnya dan pilihan terhadap alat/cara KB yang digunakan dipengaruhi oleh status, pandangan pribadi dan rasa keberdayaannya. Wanita yang tidak banyak memiliki kontrol terhadap aspek-aspek mendasar atas kehidupannya mungkin tidak akan merasa dapat memutuskan mengenai fertilitasnya. Ia mungkin akan memilih cara-cara yang tidak perlu membutuhkan pendapat suaminya. Tabel 6.5 memperlihatkan distribusi persentase wanita berstatus kawin yang menggunakan alat/cara KB menurut tiga indikator status wanita. Pemakaian alat/cara KB modern meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah keputusan yang melibatkan wanita tersebut. Sebagai contoh, 40 persen wanita yang sama sekali tidak terlibat dalam pengambilan keputusan memakai suatu alat/cara KB, dibandingkan dengan 61 persen wanita yang terlibat dalam pengambilan keputusan kelima hal yang ditanyakan. Pemakaian kontrasepsi juga meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah alasan yang mampu dikemukakan oleh wanita untuk menolak hubungan seks dengan suami mereka. Lima puluh tiga persen wanita yang tidak dapat memberi alasan ketika menolak berhubungan seks dengan suaminya memakai kontrasepsi, dibandingkan dengan 61 persen wanita yang dapat memberikan 3-4 alasan. Penggunaan alat/cara KB mempunyai hubungan terbalik dengan jumlah alasan suami diperbolehkan memukul istri. Sebagai contoh, 61 persen wanita yang mengatakan bahwa suami tidak diperbolehkan memukul istri dengan alasan apapun menggunakan alat/cara KB, dibandingkan dengan 55 persen wanita yang menyatakan lima alasan suami diperbolehkan memukul istri. 72 Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana

98 Tabel 6.5 Pemakaian alat/cara KB masa kini menurut status wanita Distribusi persentase wanita berstatus kawin yang menggunakan alat/cara KB, menurut indikator status wanita, Indonesia Cara modern Cara tradisional Steri- Suatu Pan- Sang- Seka- Suatu lisasi Steri- cara tang gama rang Indikator status Suatu cara wa- lisasi Susuk Kon- tradi- ber- ter- tidak Jumlah seorang wanita cara modern nita pria Pil IUD Suntik KB dom MAL sional kala putus Lainnya pakai Jumlah wanita Jumlah keputusan yang melibatkan wanita ,4 38,0 0,8 0,0 8,5 0,7 20,8 7,0 0,2 0,0 2,5 1,2 0,0 1,3 59,6 100, ,2 47,7 2,2 0,0 11,0 4,7 24,6 4,3 0,8 0,1 3,5 1,7 1,1 0,7 48,8 100, ,6 56,2 3,6 0,5 13,7 5,4 28,8 3,5 0,7 0,1 3,4 1,1 1,8 0,5 40,4 100, ,3 57,7 3,9 0,5 13,2 6,6 27,7 4,6 1,0 0,1 3,7 1,8 1,4 0,5 38,7 100, Jumlah alasan untuk menolak berhubungan seks dengan suami 0 52,5 50,8 3,1 0,7 10,5 6,0 23,9 6,1 0,4 0,0 1,6 0,5 0,7 0,5 47,5 100, ,4 54,1 4,1 0,2 13,4 4,2 27,6 3,8 0,5 0,3 3,3 1,7 1,2 0,4 42,6 100, ,3 57,5 3,7 0,5 13,4 6,4 28,2 4,2 0,9 0,1 3,8 1,7 1,6 0,5 38,7 100, Jumlah alasan suami diperbolehkan memukul istri 0 60,5 57,0 4,0 0,5 12,5 6,7 28,0 4,3 1,0 0,1 3,6 1,7 1,4 0,5 39,5 100, ,4 56,8 2,8 0,2 16,4 4,4 27,8 4,3 0,5 0,3 3,6 1,6 1,6 0,4 39,6 100, ,5 54,3 3,1 0,8 13,8 4,0 27,1 4,5 0,8 0,1 4,2 1,0 2,6 0,6 41,5 100, ,4 53,5 2,6 0,1 13,3 9,3 23,7 4,2 0,2 0,2 1,9 0,5 0,5 0,9 44,6 100,0 433 Jumlah 60,3 56,7 3,7 0,4 13,2 6,2 27,8 4,3 0,9 0,1 3,6 1,6 1,5 0,5 39,7 100, Catatan : Jika terdapat lebih dari satu cara pemakaian, hanya cara yang paling efektiflah yang dimasukkan ke dalam tabulasi. MAL = Metode Amenorrhea Laktasi 1 Keputusan yang diambil sendiri atau bersama orang lain 6.3 KUALITAS PEMAKAIAN Kualitas Pemakaian Pil Karena pil adalah salah satu metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan di Indonesia, pengelola program KB perlu mengetahui apakah pemakai pil telah menggunakannya dengan benar. Untuk mengetahui kualitas pemakaian pil, SDKI menanyakan serangkaian pertanyaan kepada pemakai pil mengenai jenis pil yang digunakan, ketersediaan pil di rumah, dan kapan mereka terakhir meminum pil. Tabel 6.6 menunjukkan bahwa sebagian besar (69 persen) pemakai pil, memilih kontrasepsi oral kombinasi (pil kombinasi) dan 11 persen hanya menggunakan kontrasepsi oral progrestin (pil tunggal). Secara keseluruhan, 90 persen pemakai pil dapat menunjukkan kemasan pil kepada pewawancara. Delapan puluh tiga persen pemakai pil meminumnya secara benar dan 87 persen pemakai pil meminumnya dari dua hari sebelum wawancara dilakukan. Tabel 6.6 menunjukkan bahwa wanita perkotaan cenderung menggunakan pil kombinasi dibanding wanita perdesaan (71 persen dan 67 persen). Pemakai pil di daerah perkotaan sedikit lebih disiplin dibanding wanita perdesaan (85 persen dibanding 81 persen). Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana 73

99 Tabel 6.6 Kualitas pemakaian pil Persentase wanita berstatus kawin yang memakai pil, distribusi pemakai pil dan kemampuan menunjukkan kemasan pil, dan persentase pemakai pil yang meminum pil dari dua hari yang lalu, menurut usia, daerah tempat tinggal dan tingkat pendidikan, Indonesia Karakteristik latar belakang Persen pemakai pil Wanita berstatus kawin Mampu memperlihatkan kemasan menurut jenis pil Kombinasi Tunggal Lainnya Kemasan tidak ada/tidak terjawab Persentase pemakai pil yang Mema- Minum kai pil pil <2 dengan hari yang benar lalu Jumlah pemakai pil Umur , ,6 12,8 14,7 13,9 81,2 82, ,8 3,761 66,0 12,5 6,9 14,6 83,5 86, ,6 5,217 64,4 13,5 9,3 12,8 80,6 86, ,5 5,150 70,7 10,2 11,8 7,4 86,5 89, ,7 4,953 74,6 7,2 10,5 7,7 83,4 90, ,9 4,294 66,7 12,7 8,4 12,3 79,4 81, ,7 3,570 80,6 8,1 3,4 8,0 84,4 86,8 277 Daerah tempat tinggal Perkotaan 14,1 12,765 71,1 9,9 8,8 10,2 80,9 88, Perdesaan 12,5 15,093 67,4 11,9 10,0 10,6 84,9 85, Pendidikan Tidak sekolah 9,9 2,089 64,8 9,6 14,7 10,9 84,6 88,2 206 Tidak tamat SD 12,9 5,435 68,0 10,4 11,2 10,4 81,6 84,4 699 Tamat SD 14,9 9,499 68,4 10,7 11,2 9,7 85,1 88, Tidak tamat SLTP 13,8 4,902 71,1 11,1 4,6 13,3 77,0 83,9 676 SLTP + 11,6 5,932 71,7 12,3 7,1 8,9 85,1 90,8 690 Jumlah 13,2 27,857 69,2 10,9 9,4 10,4 82,9 87, Kualitas Pemakaian Suntikan Pada SDKI , kepada wanita yang memakai suntik KB ditanyakan apakah mereka memakai suntikan 1 bulanan atau suntikan 3 bulanan. Berdasarkan jawaban mereka, pemakai suntik KB ditanya sudah berapa minggu sejak suntikan yang terakhir, dengan tujuan untuk mengetahui kualitas pemakaian suntik KB. Tabel 6.7 menunjukkan bahwa 95 persen pemakai suntikan 1 bulanan menerima suntikan yang terakhir sejak 4 minggu sebelumnya dan 98 persen pemakai suntikan 3 bulanan, menerima suntikan terakhir dalam 3 bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa proporsi pemakai suntik KB yang menggunakannya secara benar sangat besar. Derajat simpang ketaatan pemakaian suntikan tidak banyak beragam menurut umur, daerah tempat tinggal (perkotaan atau perdesaan), dan tingkat pendidikan. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat ketaatan pemakai suntik KB 3 bulanan, menurut propinsi (antara 92 dan 100 persen). 74 Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana

100 Tabel 6.7 Kualitas Pemakaian Suntikan Persentase wanita pemakai suntikan satu bulanan yang sudah disuntik dalam empat minggu terakhir dan persentase wanita pemakai suntikan tiga bulanan yang sudah disuntik dalam tiga bulan terakhir, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Persen pemakai suntikan satu bulanan yang sudah disuntik dalam empat minggu terakhir Jumlah pemakai suntikan Persen pemakai suntikan tiga bulanan yang sudah disuntik dalam empat bulan terakhir Jumlah pemakai suntikan Umur * 14 96, , , , ,2 1, , , , , (90,2) 40 96, * 6 96,9 307 Daerah tempat tinggal Perkotaan 94, , Perdesaan 94, , Pendidikan Tidak sekolah * 3 96,7 401 Tidak tamat SD (85,7) 21 98, Tamat SD 90, , Tidak tamat SLTP 98, , SLTP + 95, , Jumlah 94, , Catatan: Angka dalam tanda kurung berdasarkan kasus tidak tertimbang. Tanda bintang mengindikasikan bahwa estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kasus tidak tertimbang dan tidak disajikan INFORMASI MENGENAI ALAT/CARA KB Informasi mengenai alat/cara KB yang tersedia kepada calon pemakai kontrasepsi merupakan salah satu cara penting untuk mengawasi kualitas pelayanan program KB. Semua pemberi pelayanan operasi sterilisasi harus memberitahu kepada calon pemakai bahwa mereka tidak akan dapat mempunyai anak lagi akibat setelah operasi, dan kepada mereka juga harus diberi tahu pilihan alat/cara KB yang lain. Pemberi pelananan alat/cara KB juga berkewajiban menyampaikan efek samping yang mungkin timbul dari setiap alat/cara KB dan cara mengatasinya. Informasi ini akan membantu untuk menanggulangi efek samping tersebut dan mengurangi tingkat putus pakai yang tidak perlu dari alat/cara sementara. Para pemakai alat/cara KB non-permanen harus juga menerima informasi yang lengkap baik mengenai alat/cara KB yang mereka pilih maupun dengan alat/cara KB yang lain. Tabel 6.8 menunjukkan persentase pemakai kontrasepsi modern (yang menggunakan cara ini lima tahun sebelumnya) yang diberi informasi tentang adanya efek samping dari alat/cara KB yang dipilih dan tindakan yang harus dilakukan jika hal itu terjadi, menurut alat/cara KB yang digunakan, sumber diperolehnya alat tersebut, dan latar belakang karakteristik. Selain itu, Tabel 6.8 menunjukkan persentase wanita yang disterilisasi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebelum survey yang telah diberi tahu bahwa mereka tidak bisa mempunyai anak lagi. Satu dari 4 peserta KB (23 persen) telah diberi tahu tentang Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana 75

101 Tabel 6.8 Informasi mengenai alat/cara KB Di antara wanita yang memakai alat/cara KB modern yang menggunakan metode tersebut dalam kurun waktu lima tahun terakhir, persentase yang sudah disterilsasi dalam kurun waktu lima tahun yang sudah diberi tahu bahwa mereka tidak akan bisa mempunyai anak lagi, persentase wanita yang sudah diberi tahu mengenai efek samping dari metode yang mereka gunakan, persentase wanita yang sudah diberi tahu mengenai tindakan yang diambil bila terjadi efek samping, dan persentase wanita yang diberi tahu tentang kemungkinan digunakannya alat/cara KB lainnya, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Jenis informasi Sudah diberi Sudah diberi Sudah diberi Sudah diberi tahu efek samping tahu tindakan tahu metode tahu bahwa Metode, sumber pelayanan dari metode untuk mengatasi lain yang sterilisasi berdan karakteristik latar belakang yang dipakai efek samping 1 bisa dipakai 2 sifat permanen 3 Metode Sterilisasi wanita 16,9 11,8 9,9 82,7 Pill 20,9 18,0 29,5 na IUD 19,9 19,1 19,2 na Suntikan 25,1 21,7 30,7 na Susuk KB 26,5 22,2 28,2 na Pemerintah Pemerintah 33,4 29,4 35,3 86,7 Rumah sakit pemerintah 48,9 38,9 42,4 86,8 Puskesmas 30,7 27,5 33,5 79,3 Klinik pemerintah 77,6 71,3 70,8 100,0 Petugas lapangan KB 33,2 34,5 46,5 na KB Safari * * * na Swasta 32,2 27,2 39,2 85,7 Rumah sakit swasta 32,9 23,7 40,3 87,0 Klinik swasta 35,2 33,4 38,4 95,2 Dokter swasta 34,3 29,2 35,4 75,0 Bidan praktek swasta 33,0 28,2 41,4 na Bidan di desa 31,7 27,0 38,6 na Apotek/toko obat 23,2 17,6 30,1 na Lainnya 28,6 25,0 38,7 na Poliklinik desa 35,0 31,2 44,6 na Posyandu 25,3 22,6 40,1 na Pos KB 39,9 34,0 51,2 na Teman/keluarga 19,1 18,0 20,3 na Toko 25,0 20,6 29,1 na Lainnya 24,0 25,1 24,4 na Daerah tempat tinggal Perkotaan 24,9 21,8 29,8 84,7 Perdesaan 21,5 18,2 25,4 79,9 Pendidikan Tidak sekolah 11,6 8,7 12,2 84,5 Tidak tamat SD 13,1 11,2 16,9 75,1 Tamat SD 20,9 17,3 25,7 79,4 Tidak tamat SLTP 28,2 23,8 33,2 88,5 SLTP + 34,2 31,4 38,6 89,7 Jumlah 23,1 19,9 27,4 82,7 Catatan: Tanda bintang mengindikasikan bahwa estimasi didasarkan pada kurang dari 25 kasus tidak tertimbang dan tidak disajikan. na = Tidak berlaku 1 Khusus pemakai sterilisasi wanita, pil, IUD, suntikan, dan susuk KB 2 Khusus pemakai sterilisasi wanita, pil, IUD, susuk KB, diafragma, dan MAL 3 Khusus pemakai sterilisasi wanita yang diberitahu bahwa mereka tidak akan bisa mempunyai anak lagi 76 Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana

102 kemungkinan efek samping dari alat kontrasepsi yang mereka pilih. Selain itu, satu dari lima peserta KB saat ini sudah diberi informasi mengenai tindakan apa yang perlu diambil jika terjadi efek samping. Dua puluh tujuh persen peserta KB diberi tahu mengenai ketersediaan alat/cara KB yang lain. Sebagian besar wanita (83 persen) yang telah disterilisasi sudah diberi tahu bahwa mereka tidak akan bisa mempunyai anak lagi setelah melakukan operasi. Di antara peserta KB saat ini, pemakai sterilisasi merupakan peserta KB yang paling sedikit diberitahu tentang kemungkinan timbulnya efek samping, berbagai alat/cara KB lain, cara lain yang mungkin bisa mereka gunakan, dan apa yang dilakukan jika timbul masalah dalam pemakaian alat/cara KB. Dari tiga sumber pelayanan kontrasepsi, terdapat sedikit perbedaan dalam penyampaian informasi mengenai efek samping alat/cara KB yang dipilih, alat/cara KB yang sebaiknya digunakan, dan tindakan yang diambil untuk mengatasi efek samping alat cara/kb yang dipakai. Tingkat penyampaian informasi mengenai alat/cara KB lain yang berasal dari pihak swasta sedikit lebih tinggi dari pihak pemerintah. Tingkat pemberian informasi untuk alat/cara KB modern yang pilih oleh peserta KB di perdesaan maupun perkotaan tidak berbeda nyata. Menurut latar belakang pendidikan peserta KB modern, semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin tinggi juga tingkat pemberian informasi mengenai efek samping dari alat/cara KB yang mereka gunakan, tindakan yang diambil jika hal itu terjadi, dan alat/cara KB lain yang masih bisa digunakan. Variasi pemberian informasi kepada calon peserta KB menurut propinsi disajikan pada Lampiran Tabel A.6.2. Secara umum, tingkat pemberian informasi mengenai efek samping alat/cara KB tampak rendah pada Bangka-Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Kalimantan Barat. Sebaliknya, tampak tinggi pada DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Tengah. Sedangkan tingkat pemberian informasi mengenai pilihan alat/cara KB lain masih kurang pada Sumatera Utara, Jambi, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Tengah. 6.5 MASALAH DENGAN KONTRASEPSI YANG SEDANG DIPAKAI SAAT INI Pada SDKI , semua pemakai kontrasepsi diberi pertanyaan apakah mereka pernah mengalami masalah dengan kontrasepsi yang mereka pakai. Tabel 6.9 menunjukkan bahwa sebagian besar pemakai alat/cara kontrasepsi modern yang paling banyak digunakan (pil, IUD, suntik dan susuk KB) tidak mengalami gangguan kesehatan. Keluhan terbesar pemakai pil KB adalah sakit kepala dan peningkatan berat badan, sementara dari pemakai IUD, suntik dan susuk KB adalah amenorrhea. Tabel 6.9 Masalah dengan kontrasepsi yang sedang dipakai saat ini Distribusi persentase peserta KB yang mengalami masalah dengan alat/cara KB yang digunakan, menurut metode yang dipakai, Indonesia Masalah utama yang dihadapi Pil IUD Suntikan Susuk KB Tidak ada 83,0 84,1 76,2 82,5 Berat badan naik 3,4 2,6 3,3 1,9 Berat badan turun 0,6 0,4 0,9 0,6 Pendarahan 0,4 0,7 0,6 1,0 Hipertensi 0,1 0,2 0,2 0,1 Pusing kepala 5,1 1,7 5,5 3,8 Mual 1,8 1,0 0,5 0,4 Tidak haid 2,2 4,5 8,5 4,1 Lemah/letih 0,3 0,2 0,6 0,3 Lainnya 2,1 3,5 2,6 3,4 Tidak tahu 1,0 1,0 1,2 1,8 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana 77

103 6.6 BIAYA DAN KEMUDAHAN MEMPEROLEH ALAT/CARA KB Program KB di Indonesia dilaksanakan oleh pemerintah dengan partisipasi aktif masyarakat dan sektor swasta. Salah satu indikator dari keinginan untuk memakai KB adalah tingkat kemandirian, diukur berdasarkan proporsi pemakai alat/cara KB yang membayar untuk pelayanan yang mereka peroleh. Pada SDKI , kepada pemakai ditanyakan sumber pelayanan dan biaya yang dikeluarkan. Tabel 6.10 menunjukkan bahwa 28 persen peserta KB memperoleh cara dari tempat-tempat pelayanan yang disediakan oleh pemerintah dan sebagian besar dari mereka (21 persen) membayar. Enam puluh tiga persen peserta KB memperolehnya dari tempat-tempat pelayanan swasta, dan sebagian besar dari mereka (59 persen) membayar. Satu dari sepuluh orang, memperolehnya diluar pemerintah maupun swasta, seperti polindes, posyandu, pos KB, teman atau toko. Hampir semua pemakai ini juga membayar baik untuk alat maupun pelayanannya. Secara keseluruhan, 89 persen peserta KB membayar untuk kontrasepsi mereka. Tabel 6.10 Pembayaran untuk jasa pelayanan dan alat/cara KB Distribusi persentase pemakai alat/cara KB modern yang memperoleh alat/cara KB secara cuma-cuma atau membayar, menurut sumber pelayanan dan alat/cara KB yang dipilih, Indonesia Pemerinah Swasta Lainnya Jumlah Metode Gratis Membayar Gratis Membayar Gratis Mambayar Jumlah wanita Sterilisai Wanita 25,0 41,1 8,1 25,6 0,0 0,0 100, Sterilisai Pria 1 71,4 14,6 6,2 0,3 0,0 1,9 100,0 125 Pil 1,3 17,6 0,8 54,2 1,1 25,0 100, IUD 24,1 15,8 12,5 41,5 5,7 0,4 100, Suntikan 0,9 18,9 1,2 75,1 0,4 3,5 100, Susuk KB 13,9 42,0 5,4 30,0 4,4 4,3 100, Kondom 0,6 2,9 6,0 78,6 3,3 7,9 100,0 240 Jumlah 6,7 21,2 3,2 59,2 1,5 8,0 100, Termasuk pemakai sterilisasi pria dari sumber pelayanan pemerintah yang tidak mengerti informasi jenis pembayaran Berdasarkan alat kontrasepsi yang dipilih, pemakai suntik dan pil KB adalah pemakai yang besar kemungkinannya membayar untuk kontrasepsi mereka (masing-masing 98 dan 97 persen). Tingkat kemandirian pemakai IUD jauh lebih rendah, hanya 58 persen yang membayar untuk kontrasepsi yang mereka pakai. Delapan puluh enam persen pria yang disterilisasi, melakukan operasinya di fasilitas pemerintah dan 71 persen pria tidak membayar. Tingkat kemandirian dalam SDKI lima poin persentase lebih tinggi dibanding SDKI 1997 (89 dan 84 persen). Proporsi mereka yang menggunakan jasa layanan sektor pemerintah menurun tajam, dari 43 persen pada SDKI 1997 menjadi 28 persen saat ini. Proporsi peserta KB yang memperoleh kontrasepsi secara cuma-cuma dari pemerintah juga turun dari 11 persen pada tahun 1997 menjadi 7 persen pada tahun Lampiran Tabel A.6.4 menunjukkan bahwa tingkat kemandirian beragam menurut sumber pelayanan dan propinsi. Di antara pemakai yang memperoleh kontrasepsi dari sumber pelayanan pemerintah, proporsi terbesar yang membayar untuk alat kontrasepsi dan pelayanan KB terdapat di Sulawesi Selatan (56 persen), sementara yang memperoleh alat dan pelayanan KB secara gratis ditemukan di Nusa Tenggara Timur (31 persen). Sedangkan di sektor swasta, proporsi pemakai alat KB 78 Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana

104 yang membayar berkisar antara 77 persen di DKI Jakarta dan 9 persen di Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar peserta KB yang memperoleh alat dan pelayanan KB selain di sektor pemerintah atau swasta membayar, dan proporsi peserta KB yang mandiri ini tidak begitu berbeda antara propinsi satu dengan propinsi lain. Tabel 6.11 menunjukkan persentase pemakai alat/cara KB yang mendapatkan alat kontrasepsi tertentu dengan gratis, dan biaya rata-rata (dalam rupiah) yang dikeluarkan oleh peserta KB yang membayar, menurut jenis sumber pelayanan. Secara keseluruhan, SDKI menunjukkan bahwa peserta KB yang memanfaatkan jasa sektor pemerintah secara cuma-cuma sebesar 24 persen sedangkan yang memanfaatkan jasa sektor swasta jauh lebih sedikit (5 persen). Wanita yang membeli alat/cara KB dari sektor pemerintah membayar lebih rendah daripada yang membeli dari sektor swasta. Contohnya, biaya suntikan yang harus dibayar di sektor swasta Rp sedangkan di sektor pemerintah hanya Rp Pola ini serupa dengan SDKI 1997, bahkan terdapat kenaikan sebesar empat kali lipat pada biaya rata-rata di sektor publik, tiga kali lipat pada biaya rata-rata di sektor swasta, dan dua kali lipat di sektor lainnya. Perbedaan rata-rata biaya ini beragam menurut metode dan sumber pelayanan kontrasepsi. Biaya sterilisasi wanita merupakan biaya yang paling mahal, sedangkan pil merupakan yang paling murah. Biaya sterilisasi wanita dan IUD di sektor swasta dua kali lebih tinggi daripada di sektor pemerintah. Hal yang sama juga terjadi pada susuk KB, dimana biaya di sektor swasta hampir dua kali lebih tinggi dari pada sektor pemerintah (Rp dibandingkan dengan Rp ). Tabel 6.11 Biaya rata-rata alat/cara dan pelayanan KB Persentase pamakai alat/cara KB modern yang mendapatkannya secara Cuma-Cuma dan biaya rata-rata (dalam 1000 rupiah) alat/cara KB (termasuk jasa pelayanan) bagi mereka yang membayar, menurut jenis alat/cara KB dan sumber pelayanan, Indonesia Sumber pelayanan alat/cara KB Pemerintah Swasta Lainnya Biaya Biaya Biaya Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Metode Gratis (Rp. 000) Pemakai Gratis (Rp. 000) Pemakai Gratis (Rp. 000) Pemakai Sterilisasi wanita 37, , * * 0 Sterilisasi pria 78, * * 8 * * 2 Pil 6, , , IUD 60, , , Suntikan 4, , , Susuk KB 24, , , Kondom * * 8 7, * * 27 Jumlah 24, , , Catatan: Tanda bintang menunjukkan bahwa angka didasarkan pada kurang dari 25 kasus tidak tertimbang dan tidak disajikan. 6.7 SUMBER PELAYANAN Informasi yang berhubungan dengan sumber pelayanan alat kontrasepsi sangat penting bagi pengelola program KB karena program KB saat ini diarahkan pada kemandirian dan perbesaran fungsi sektor swasta. Tabel 6.12 menunjukkan distribusi persentase pemakai alat/cara KB modern menurut sumber pelayanan dan alat/cara KB tertentu. Temuan menunjukkan bahwa pemakai kontrasepsi lebih 1 Berdasarkan kurs US $1 = Rp Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana 79

105 banyak yang memanfaatkan jasa pelayanan sektor swasta daripada pemerintah (63 dibandingkan 28 persen). Delapan persen pemakai mendapatkan alat kontrasepsi dari sumber lain seperti posyandu, polindes, pos-pos KB, dan teman atau kerabat. Tabel 6.12 Sumber pelayanan alat/cara KB Distribusi persentase pemakai alat/cara KB modern berdasarkan tempat terbanyak untuk mendapatkan alat/cara KB, menurut alat/cara KB tertentu, Indonesia Steri- Sterilisasi lisasi Sun- Susuk Sumber wanita pria Pil IUD tikan KB Kondom jumlah Pemerintah 66,1 91,5 18,9 39,8 19,8 55,9 3,5 28,0 Rumah sakit pemerintah 61,9 54,0 0,4 8,3 0,6 3,2 1,0 6,2 Puskesmas 2,0 32,1 16,3 29,2 18,2 51,3 2,3 20,3 Klinik pemerintah 2,1 2,0 0,1 0,5 0,3 0,4 0,0 0,4 Petugas lapangan KB 0,1 0,2 1,9 0,5 0,1 0,5 0,0 0,6 KB safari 0,0 0,0 0,1 0,2 0,2 0,1 0,0 0,1 Lainnya 0,0 3,2 0,1 1,1 0,3 0,5 0,2 0,3 Swasta 33,9 6,6 55,0 54,0 76,4 35,4 85,3 62,5 Rumah sakit 27,9 5,9 0,2 9,0 0,8 0,6 0,0 3,4 Klinik 3,3 0,0 1,1 4,0 1,5 1,1 0,0 1,8 Dokter 2,6 0,6 1,4 12,9 4,3 2,5 0,0 4,2 Perawat/bidan 0,0 0,0 17,0 19,5 37,8 13,3 2,8 25,7 Bidan desa 0,0 0,0 15,3 8,5 30,3 17,4 0,7 20,7 Apotek/toko obat 0,0 0,0 19,4 0,0 0,1 0,0 81,8 5,8 Lainnya 0,0 0,0 0,5 0,1 1,6 0,6 0,0 1,0 Lainnya 0,0 0,0 23,1 2,7 2,6 5,2 7,7 7,5 Poliklinik desa 0,0 0,0 0,7 1,2 1,4 1,8 0,0 1,1 Posyandu 0,0 0,0 7,6 1,0 1,1 2,6 2,1 2,6 Pos KB 0,0 0,0 2,9 0,5 0,1 0,9 0,4 0,8 Teman/keluarga 0,0 0,0 1,2 0,0 0,1 0,0 0,9 0,3 Toko 0,0 0,0 10,8 0,0 0,0 0,0 4,3 2,6 Lainnya 0,0 0,0 2,9 3,3 1,1 3,5 3,6 1,9 Tidak tahu 0,0 1,9 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 Gagal 0,0 0,0 0,1 0,1 0,2 0,0 0,0 0,1 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 6.5 pemakaian sumber-sumber pemerintah turun dari 43 persen pada tahun 1997 menjadi 28 persen saat ini, sementara pada waktu yang sama pemakaian sumbersumber swasta naik dari 42 menjadi 63 persen. Pemakaian sumber-sumber lain turun dari 15 menjadi 8 persen di antara kedua survei tersebut. Kenaikan pemakaian sumber-sumber swasta, terutama disebabkan oleh meningkatnya peran bidan swasta (18 persen). Gambar 6.5 memperlihatkan bahwa sebagian besar wanita yang memperoleh alat KB dari sektor pemerintah mendapatkannya dari puskesmas (20 persen). Di antara sektor swasta, perawat/bidan atau bidan perdesaan adalah pilihan utama (46 persen), sementara lainnya, posyandu dan toko obat (masingmasing sebesar 3 persen). Sumber pelayanan KB yang dipilih pemakai beragam sesuai dengan metode KB yang dipakai. Dua dari tiga wanita yang disterilisasi, melakukan operasi di rumah sakit pemerintah dan sepertiganya di fasilitas kesehatan swasta.. Separuh dari operasi susuk KB dan 29 persen pemasangan IUD dilakukan di pusat kesehatan milik pemerintah. Lima puluh lima persen pemakai pil KB menggunakan fasilitas kesehatan swasta, khususnya 17 persen dari perawat atau bidan, 15 persen dari bidan desa, dan 19 persen dari apotek atau toko obat. 80 Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana

106 Gambar 6.5 Distribusi Pemakai Kontrasepsi Modern Menurut Sumber Pelayanan, Indonesia Persen Pemerintah Swasta Lainnya SDKI 1997 SDKI Catatan: SDKI tidak mencakup Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. SDKI sebelumnya mencakup Timor Timur. Gambar 6.6 Distribusi Pemakai Kontrasepsi Modern Menurut Sumber Pelayanan Apotek/ toko obat 6% Dokter praktek 4% Rumah sakit swasta/klinik 5% Rumah sakit pemerintah 6% Swasta lainnya 1% Puskesmas 20% Perawat/bidan 26% Lainnya 10% Pemerintah lainnya 1% Bidan di desa 20% SDKI Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana 81

107 6.8 WAKTU OPERASI STERILISASI. Mengingat sterilisasi wanita adalah salah satu cara KB yang penting untuk mencegah kehamilan, terutama bagi wanita beresiko tinggi, program KB menyediakan informasi dan fasilitas pelayanan sehubungan dengan cara tersebut. Program ini juga memberikan pelayanan berdasarkan umur dan status kesehatan wanita. Suatu hal yang menarik untuk mengetahui kecederungan tingkat pemakaian cara ini, terutama dalam hubungannya dengan umur wanita sewaktu menjalani operasi. Dalam menggunakan data ini, masalah sensor harus diperhatikan. Karena SDKI hanya terbatas kepada wanita berstatus kawin umur tahun, sterilisasi wanita umur 50 tahun atau lebih tidak tercakup. Tabel 6.13 menyajikan distribusi persentase dari wanita yang disterilisasi berdasarkan umur pada waktu sterilisasi dan berapa lamanya tahun semenjak operasi. Sebagaimana diperkirakan, sebagian besar (68 persen) wanita disterilisasi pada umur 30 tahun atau lebih. Median umur pada waktu sterilisasi adalah 31,9 tahun, yang tidak berubah sejak 1997 (31,8 tahun). Tabel 6.13 Waktu sterilisasi Distribusi persentase wanita yang disterilisasi menurut usia pada waktu disterilisasi, dan median umur saat sterilisasi, menurut lamanya tahun sejak dilakukan operasi, Indonesia Lamanya Umur saat sterilisasi tahun sejak Jumlah Median operasi < Jumlah wanita umur 1 <2 0,4 9,4 26,7 44,3 17,0 2,2 100, , ,0 17,2 35,3 31,6 13,9 1,0 100, , ,6 13,4 45,4 30,6 9,0 0,0 100, , ,5 8,7 44,6 31,7 7,5 0,0 100, , ,5 23,6 30,4 42,2 3,3 0,0 100, , ,1 44,3 35,0 12,6 0,0 0,0 100,0 477 a Jumlah 5,0 27,2 36,1 25,5 5,8 0,4 100, ,9 1 Umur median dihitung hanya untuk wanita yang saat disterilisasi berumur kurang dari 40 tahun untuk menghindari terjadinya permasalahan sensor. a Tidak dihitung sehubungan dengan masalah sensor 82 Pemakaian Alat/Cara Keluarga Berencana

108 KEINGINAN MEMPUNYAI ANAK 7 Bab ini membahas informasi yang memungkinkan dilakukannya penilaian terhadap kebutuhan kontrasepsi, penerimaan norma keluarga kecil dengan dua anak, dan jumlah anak yang sebetulnya tidak dikehendaki oleh responden. Responden SDKI ditanya apakah mereka ingin untuk punya anak lagi, jika jawabannya ya, berapa lama mereka ingin menunggu kelahiran anak berikutnya, dan jika responden dapat kembali ke keadaan sebelum mempunyai anak, berapakah jumlah anak yang diinginkan. Konsep keluarga kecil dua anak cukup dengan cara mengatur jarak kelahiran melalui berbagai metode kontrasepsi masih tetap menjadi perhatian Program Keluarga Berencana di Indonesia dalam era baru seperti saat ini. Oleh sebab itu, SDKI menyiapkan informasi apakah anjuran dua anak cukup masih tetap tertanam di masyarakat meskipun dengan munculnya misi baru program KB yaitu mewujudkan keluarga kecil berkualitas dengan memperhatikan hak-hak reproduksi setiap individu. Disamping itu, dua hal penting lainnya juga dibahas dalam bab ini, yaitu informasi yang berkaitan dengan status wanita dan kesepakatan suami-isteri terhadap jumlah anak ideal yang diinginkan. Interpretasi data mengenai keinginan mempunyai anak selalu menjadi bahan perdebatan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam survei di kritik karena 1) jawaban-jawaban yang diperoleh dapat menyesatkan, tidak menggambarkan pandangan yang sebenarnya, dan hanya berlaku pada saat wawancara, sehingga tidak dapat diterima begitu saja dan 2) pertanyaan-pertanyaan itu tidak memperhitungkan adanya pengaruh dari tekanan-tekanan sosial maupun sikap dari anggota keluarga lain, khususnya suami, yang mungkin mempengaruhi responden dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan perilaku reproduksinya. Kritik yang pertama mungkin berlaku dalam masyarakat yang pemakaian kontrasepsinya belum meluas, dan kesadaran untuk membatasi jumlah anak belum ada. Dalam masyarakat seperti itu, data mengenai kemungkinan mempunyai anak perlu ditelaah dengan hati-hati. Kritik ini kurang relevan di Indonesia, dimana pengetahuan tentang keluarga berencana telah meluas, sehingga mempengaruhi sikap masyarakat mengenai perencanaan keluarga sebelum wawancara dilakukan. Kritik yang kedua pada dasarnya benar. Namun dalam kenyataannya diragukan, karena hasil survei yang mewawancara suami dan isteri secara terpisah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan jawaban yang berarti. Disertakannya wanita yang sedang hamil dalam survei ini menimbulkan kesulitan dalam pengukuran pendapatnya mengenai keinginan mempunyai anak di masa yang akan datang. Bagi wanitawanita ini, pertanyaannya diatur sedemikian rupa sehingga yang dimaksud dengan kelahiran yang akan datang adalah kelahiran anak setelah kelahiran anak yang dikandungnya. Karena wanita hamil diikutkan dalam wawancara, maka dalam penyajian hasilnya, data digolongkan menurut jumlah anak yang masih hidup termasuk kehamilan. Disamping itu, pertanyaan mengenai berapa lama responden ingin menunggu sebelum mempunyai anak berikutnya untuk wanita hamil diubah agar responden faham bahwa yang dimaksud adalah waktu menunggu sejak kelahiran anak yang sedang dikandungnya. Wanita yang menjalani sterilisasi dengan tujuan keluarga berencana diperlakukan khusus dalam analisa ini, yaitu dengan menggolongkan mereka dalam kelompok wanita yang tidak ingin anak lagi. Secara umum, pada beberapa tabel dalam bab ini disajikan berdasarkan kelompok wanita yang tidak ingin tambah anak lagi 7.1 KEINGINAN MENAMBAH ANAK Tabel 7.1 menyajikan distribusi wanita kawin yang ingin mempunyai anak lagi menurut jumlah anak yang hidup. Angka-angka pada kolom terakhir menunjukkan bahwa 50 persen wanita kawin tidak menginginkan anak lagi, dan 4 persen telah dioperasi sterilisasi. Empat puluh persen dari wanita kawin menyatakan ingin punya anak lagi, 13 persen menginginkan anak dalam waktu dua tahun, 24 persen ingin Keinginan Mempunyai Anak 83

109 punya anak setelah dua tahun atau lebih, dan tiga persen ingin punya anak lagi tetapi tidak tahu kapan. Empat persen wanita ragu-ragu apakah mereka sebenarnya ingin anak lagi atau tidak (lihat Gambar 7.1). Tabel 7.1 Keinginan mempunyai anak Distribusi persentase wanita berstatus kawin menurut keinginan mempunyai anak dan jumlah anak masih hidup, Indonesia Jumlah anak masih hidup 1 Keinginan mempunyai anak Jumlah Ingin anak segera 2 80,4 20,5 7,6 3,5 1,5 1,6 0,7 13,0 Ingin anak kemudian 3 4,8 57,9 23,5 9,4 4,0 2,6 1,2 23,6 Ingin anak, belum menentukan 2,5 5,3 3,9 2,6 1,0 1,6 0,5 3,3 Belum memutuskan 4,2 3,6 5,0 3,4 2,8 1,5 3,3 3,8 Tidak ingin anak lagi 2,8 11,0 56,1 71,2 80,4 81,4 80,6 50,0 Disterilisasi 4 0,0 0,2 2,3 8,2 8,5 9,1 8,5 4,2 Tidak dapat hamil lagi 5,0 1,0 0,8 1,3 1,5 1,8 5,0 1,6 Tidak terjawab 0,3 0,5 0,8 0,4 0,3 0,5 0,2 0,5 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah waniita Termasuk kehamilan pada waktu survei 2 Ingin anak lagi dalam 2 tahun 3 Ingin menunda kelahiran anak berikutnya dalam 2 tahun atau lebih 4 Termasuk sterilisasi wanita dan pria Gambar 7.1 Keinginan Mempunyai Anak dari Wanita Berstatus Kawin Umur Tahun Tidak ingin anak lagi 50% Belum memutuskan 4% Ingin anak, belum Menentukan 3% Ingin anak kemudian 24% Disterilisasi 4% Tidak dapat hamil lagi 2% Ingin anak segera 13% SDKI Tabel 7.2 memperlihatkan presentase wanita kawin yang tidak ingin anak lagi menurut jumlah anak lahir hidup dan latar belakang karakteristik. Terlihat bahwa keinginan untuk tidak punya anak lagi meningkat secara nyata setelah wanita memiliki dua anak atau lebih. Lebih separo wanita kawin yang mempunyai dua anak yang masih hidup menyatakan tidak ingin menambah anak lagi, atau telah dioperasi sterilisasi. Delapan dari sepuluh wanita yang mempunyai tiga anak,sudah disterilisasi atau tidak ingin anak lagi, dan sembilan dari sepuluh wanita yang mempunyai 84 Keinginan Mempunyai Anak

110 lebih dari tiga orang anak tidak ingin anak lagi. Hasil SDKI 1997 menunjukkan pola yang serupa, namun keinginan untuk membatasi kelahiran sedikit lebih lebih rendah. Tabel 7.2. Keinginan untuk tidak mempunyai anak lagi Persentase wanita berstatus kawin yang tidak ingin anak lagi menurut jumlah anak masih hidup dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik Jumlah anak masih hidup 1 Latar belakang Jumlah Daerah tempat tinggal Perkotaan 3,1 11,3 58,2 81,7 91,0 95,2 90,9 55,4 Perdesaan 2,5 11,3 58,6 77,3 87,2 86,9 87,9 53,2 Pendidikan Tidak sekolah 8,9 43,0 69,7 78,0 92,0 90,9 85,8 73,9 Tidak tamat SD 4,4 21,0 63,6 80,6 85,1 89,3 86,7 67,0 Tamat SD 1,5 10,3 57,7 79,3 90,1 91,0 92,9 54,2 Tidak tamat SLTP 4,3 7,1 51,4 74,8 88,6 90,1 94,4 42,7 SLTP + 0,6 7,9 58,5 82,3 91,7 93,3 89,7 45,1 Jumlah 2,8 11,3 58,4 79,4 88,9 90,4 89,2 54,2 Catatan: Wanita yang sudah disterilisasi dikelompokkan sebagai wanita yang tidak ingin anak lagi 1 Termasuk kehamilan pada waktu survei Meneliti perbedaan menurut karakteristik latar belakang wanita seperti yang disajikan Tabel 7.2, tampak bahwa secara umum wanita di perkotaan lebih cenderung untuk tidak ingin punya anak lagi dibandingkan dengan wanita perdesaan. Perbedaan yang sama juga terlihat pada SDKI Ada pola yang menarik pada data mengenai proporsi wanita yang tidak ingin anak lagi menurut pendidikan. Pada paritas satu sampai tiga, wanita yang berpendidikan rendah lebih cenderung untuk tidak ingin punya anak lagi dibandingkan wanita yang berpendidikan lebih tinggi, tetapi pada paritas empat atau lebih, tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan keinginan untuk tidak punya anak lagi. Lampiran Tabel A.7.1 memperlihatkan adanya perbedaan keinginan untuk tidak punya anak lagi menurut propinsi. Keinginan untuk menghentikan kelahiran anak tertinggi di DI Yogyakarta dan Bali (lebih dari 60 persen) dan terendah di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara (42 persen atau kurang). Proporsi wanita Bali yang ingin membatasi kelahiran anak turun dari 67 persen pada tahun 1994 menjadi 64 persen di tahun 1997 dan pada SDKI tidak berubah. 7.2 KEBUTUHAN PELAYANAN KELUARGA BERENCANA Ukuran mengenai kebutuhan KB yang tidak terpenuhi (unmet need) didefinisikan sebagai persentase wanita kawin yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi. Wanita yang memerlukan KB untuk menjarangkan kelahiran mencakup wanita hamil yang kehamilannya tidak diinginkan waktu itu, wanita yang belum haid setelah melahirkan anak yang tidak diinginkan waktu itu, dan wanita lain yang tidak sedang hamil atau belum haid setelah melahirkan dan tidak memakai kontrasepsi tetapi ingin menunggu dua tahun atau lebih sebelum kelahiran berikutnya. Wanita yang belum memutuskan apakah ingin anak lagi atau ingin anak lagi tapi belum tahu kapan juga termasuk kelompok ini. Wanita yang memerlukan KB untuk membatasi kelahiran, mencakup wanita hamil yang kehamilannya tidak diinginkan, wanita yang belum haid dan yang sudah haid setelah melahirkan anak yang tidak diinginkan, yang tidak memakai kontrasepsi lagi. Ukuran pelayanan KB yang tidak terpenuhi, digunakan untuk menilai sejauh mana program KB telah dapat memenuhi kebutuhan. Wanita yang telah disterilisasi termasuk kategori tidak ingin menambah anak. Keinginan Mempunyai Anak 85

111 Berdasarkan kriteria itu, menurut SDKI total kebutuhan KB yang tidak terpenuhi di Indonesia adalah 9 persen, terdiri dari 5 persen untuk pembatasan kelahiran dan 4 persen untuk penjarangan kelahiran (Tabel 7.3). Pola serupa juga terjadi pada tahun dan Kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi beragam antar golongan umur. Wanita muda cenderung untuk menjarangkan kelahiran, sedang wanita yang lebih tua cenderung untuk membatasi kelahiran. Tidak ada perbedaan yang nyata dalam kebutuhan berkb antara wanita perkotaan dan wanita perdesaan. Tabel 7.3 Kebutuhan untuk memperoleh pelayanan KB Persentase wanita berstatus kawin yang kebutuhan berkbnya tidak terpenuhi, persentase yang kebutuhan KBnya terpenuhi, dan total kebutuhan pelayanan KB menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi 1 Kebutuhan berkb yang terpenuhi (sedang pakai) 2 Untuk Untuk menjarangkan Untuk menjar- Untuk membatasi angkan membatasi kelahiran kelahiran Jumlah kelahiran kelahiran Jumlah Jumlah yang ingin berkb 3 Untuk menjarangkan kelahiran Untuk membatasi kelahiran Jumlah Persentase merasa puas Jumlah wanita Umur ,4 0,4 6,8 43,5 3,8 47,3 50,1 4,2 54,3 87, ,8 1,0 8,8 53,5 7,2 60,7 62,4 8,1 70,6 87, ,1 2,5 9,6 42,3 22,2 64,5 50,4 24,8 75,1 87, ,3 4,7 9,0 28,0 38,7 66,7 33,1 43,8 77,0 88, ,5 7,7 10,2 10,0 55,4 65,4 13,0 63,3 76,3 86, ,1 7,6 8,7 3,4 56,3 59,6 4,5 64,1 68,6 87, ,3 4,6 4,8 0,9 40,8 41,7 1,2 45,6 46,8 89, Daerah tempat tinggal Perkotaan 4,1 4,5 8,7 23,7 37,4 61,1 28,4 42,2 70,6 87, Perdesaan 4,0 4,6 8,6 24,6 35,1 59,7 29,1 39,9 69,0 87, Pendidikan Tidak sekolah 3,3 7,7 11,0 7,6 39,4 47,0 11,4 47,3 58,7 81, Tidak tamat SD 2,9 6,0 8,8 13,6 41,7 55,3 17,0 47,9 64,9 86, Tamat SD 3,9 4,4 8,3 26,1 36,9 63,0 30,5 41,5 71,9 88, Tidak tamat SLTP 5,0 4,3 9,3 32,8 29,3 62,1 38,5 33,9 72,4 87, SLTP+ 4,8 2,8 7,6 29,4 34,5 63,9 34,9 37,5 72,4 89, Jumlah 4,0 4,6 8,6 24,2 36,2 60,3 28,8 41,0 69,7 87, Kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi untuk menjarangkan kelahiran termasuk kahamilan yang waktunya tidak diinginkan, wanita yang tidak haid sejak kelahiran anak terakhir dimana kelahiran anak terakhir tersebut waktunya tidak diinginkan, tidak menggunakan alat/cara KB,dan wanita subur yang tidak dapat hamil lagi atau tidak dapat haid dimana wanita tersebut tidak memakai kontrasepsi dan mereka ingin menunggu 2 tahun atau lebih untuk kelahiran anak berikutnya. Juga yang termasuk kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi untuk menjarangkankan kelahiran adalah wanita subur yang tidak menggunakan alat/cara KB dan mereka merasa tidak yakin apakah menginginkan anak lagi atau mereka menginginkan anak tetapi tidak dapat ditentukan kecuali mereka mengatakan tidak menjadi masalah kalau mereka hamil. Keingian berkb yang tidak terpenuhi untuk membatasi kelahiran termasuk wanita hamil yang kehamilannya tidak diinginkan, wanita yang tidak haid sejak kelahiran anak terakhir yang tidak diinginkan, dan wanita subur yang tidak dapat hamil atau tidak dapat haid tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi dan wanita tersebut tidak ingin anak lagi. Kategori kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi untuk membatasi kelahiran tidak termasuk wanita hamil dan wanita yang tidak haid tetapi menjadi hamil ketika mereka memakai alat /cara KB (wanita tersebut ingin memilih alat kontrasepsi yang lebih baik). 2 Pakai alat untuk menjarangkan kelahiran termasuk wanita yang menggunakan suatu alat/cara KB dan mereka ingin menunggu 2 tahun atau lebih kelahiran anak berikutnya. Pakai alat untuk membatasi kelahitan termasuk wanita yang memakai alat dan tidak ingin anak lagi. Catatan: alat/cara KB tertentu yang digunakan tidak dirinci menurut alat/cara KB. 3 Wanita yang sedang hamil atau msasih dalam masa nifas yang tidak menggunakan alat/cara KB dan wanita yang kehamil annya karena kegagalan kontasepsi tidak dikategorikan kedalam kebutuhan KB yang tidak terpenuhi tetapi termasuk dalam jumlah yang ingin berkb (karena mereka pernah gagal menggunakan alat/cara KB). 86 Keinginan Mempunyai Anak

112 Kebutuhan KB yang tidak terpenuhi secara umum turun dengan naiknya tingkat pendidikan, makin tinggi pendidikan wanita makin rendah persentase wanita yang kebutuhan KBnya tidak terpenuhi. Pola kebutuhan untuk berkb menurut umur dapat digambarkan seperti kurva yang berbentuk U terbalik yaitu rendah pada wanita kelompok umur tahun (54 persen) dan pada wanita dengan kelompok umur tahun (47 persen), dan tertinggi pada usia antara tahun (77 persen). Perbedaan antara wanita perkotaan dan perdesaan tidak besar. Persentase kebutuhan ber KB yang terpenuhi menunjukkan hubungan yang positif dengan pendidikan wanita, mulai dari 81 persen pada wanita yang tidak sekolah sampai 90 persen pada wanita dengan pendidikan SLTP. Lampiran Tabel A.7.2 menunjukkan bahwa total kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi tertinggi di propinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur masing-masing 16 dan 17 persen, dan terendah di propinsi Sulawesi Utara dan DI Yogyakarta (masing-masing kurang dari 5 persen). Tingginya angka kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi di propinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur barangkali disebabkan oleh tingginya keinginan untuk menjarangkan kelahiran (masing-masing 10 dan 9 persen). Program Pembangunan Nasional menetapkan target angka kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi di Indonesia untuk turun dari 9 persen pada tahun 1997 menjadi 7 persen atau lebih rendah di tahun Sampai kini ada 11 propinsi yang telah mencapai atau melampaui angka tersebut, yaitu propinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bangka/Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara. Persentase kebutuhan berkb yang terpenuhi berkisar antara 68 persen di Nusa Tenggara Timur hingga 94 persen di DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara. 7.3 JUMLAH ANAK IDEAL Dalam SDKI , setiap responden diminta untuk mengerjakan yang sulit, yaitu membayangkan suatu keadaan yang abstrak dan bebas dari jumlah anak yang ia punyai, berapa jumlah anak yang diinginkan seandainya ia bisa mulai dari awal lagi. Karena sebagian besar wanita pernah kawin dalam sampel berstatus kawin, maka jumlah anak ideal untuk kedua kelompok ini hampir sama. Secara keseluruhan, jumlah anak ideal di Indonesia sama seperti SDKI 1994 dan SDKI 1997 (2,9 anak) (Tabel 7.4). Presentase wanita dengan jumlah anak ideal satu atau dua anak meningkat dari 39 persen di tahun 1997 menjadi 42 persen di tahun Hubungan antara jumlah anak sebenarnya dengan jumlah anak ideal dapat dilihat dari kenyataan bahwa wanita yang mempunyai anak sedikit cenderung untuk ingin punya anak sedikit. Dengan meningkatnya paritas, jumlah anak ideal juga meningkat. Dua alasan dapat dikemukakan untuk menjelaskan hal tersebut. Pertama, sepanjang wanita ingin memenuhi hasrat fertilitasnya, wanita yang ingin anak banyak cenderung untuk mempunyai anak banyak. Kedua, wanita mungkin bersikap rasional mengenai jumlah keluarga yang ideal dan kenyataannya. Ketika jumlah anaknya bertambah, jumlah anak yang diinginkan juga bertambah. Selanjutnya, karena wanita yang jumlah anaknya banyak pada umumnya berumur lebih tua dari wanita dengan jumlah anak sedikit, mereka mungkin mempunyai jumlah anak ideal yang lebih besar karena pola itu telah tertanam sejak 20 sampai 30 tahun yang lalu. Meskipun ada pengaruh pemikiran rasional, banyak responden yang menyatakan jumlah anak idealnya lebih kecil dari jumlah anak masih hidup yang mereka miliki. Perbedaan ini dapat dijadikan indikator adanya kelebihan anak atau kelahiran yang tidak diinginkan. Untuk wanita yang memiliki tiga atau lebih anak yang masih hidup, proporsi wanita yang jumlah anak idealnya lebih kecil dari jumlah anak yang dimiliki cukup besar. Sebagai contoh, 45 persen wanita yang mempunyai enam anak atau lebih menyatakan bahwa jika dapat mengulang, mereka akan mempunyai anak lebih sedikit dari yang sekarang dimilikinya. Keinginan Mempunyai Anak 87

113 Tabel 7.4 Jumlah anak ideal Distribusi persentase wanita pernah kawin menurut jumlah anak ideal, dan rata-rata jumlah anak ideal untuk wanita pernah kawin dan wanita berstatus kawin, menurut jumlah anak masih hidup, Indonesia Jumlah anak masih hidup 1 Jumlah anak yang dinginkan Jumlah 0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 1 3,0 4,2 0,7 0,8 0,5 0,5 0,1 1,7 2 57,6 58,6 54,2 23,2 16,3 12,6 6,4 40,6 3 11,8 17,4 20,7 36,7 11,7 18,1 11,3 20,6 4 10,2 8,3 13,1 18,6 40,0 20,3 22,0 16,6 5 1,4 1,8 1,6 4,1 4,0 13,0 4,9 3,2 6+ 1,3 0,8 0,8 1,6 5,1 10,0 17,2 2,9 Jawaban tidak berupa angka 14,6 8,8 9,0 15,1 22,4 25,6 38,1 14,5 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita Rata-rata jumlah anak ideal untuk: 2 Wanita pernah kawin 2,5 2,4 2,6 3,1 3,6 3,9 4,5 2,9 Jumlah Wanita berstatus kawin 2,5 2,4 2,6 3,1 3,6 3,9 4,5 2,9 Jumlah Termasuk kehamilan saat survei 2 Tidak termasuk wanita yang memberi jawaban tidak berupa angka Tabel 7.5 menyajikan rata-rata jumlah anak ideal dari semua wanita menurut umur dan karakteristik latar belakang. Jumlah anak ideal bervariasi antara kelompok umur, wanita yang lebih tua cenderung untuk mempunyai jumlah anak ideal yang lebih besar daripada wanita yang lebih muda. Wanita dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung menginginkan keluarga lebih kecil dibandingkan dengan wanita yang pendidikannya rendah. Sebagai contoh, rata-rata jumlah anak ideal pada wanita yang tidak bersekolah adalah 3,3 anak, sedangkan pada wanita dengan pendidikan SLTP atau lebih tinggi adalah 2,7 anak. Tabel 7.5. Rata-rata jumlah anak ideal menurut karakteristik latar belakang Rata-rata jumlah anak ideal untuk semua wanita pernah kawin, menurut umur dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik Umur latar belakang Jumlah Daerah tempat tinggal Perkotaan 2,6 2,5 2,6 2,7 2,9 3,1 3,3 2,8 Perdesaan 2,4 2,6 2,7 2,9 3,0 3,2 3,4 2,9 Pendidikan Tidak sekolah 1,6 2,8 2,9 3,2 3,3 3,5 3,4 3,3 Tidak tamat SD 2,7 2,9 3,0 3,1 3,2 3,2 3,5 3,2 Tamat SD 2,4 2,6 2,7 2,8 2,9 3,2 3,4 2,9 Tidak tamat SLTP 2,5 2,5 2,7 2,7 2,9 3,0 3,2 2,7 SLTP+ 2,6 2,4 2,5 2,6 2,8 2,8 3,1 2,7 Jumlah 2,5 2,6 2,7 2,8 3,0 3,2 3,4 2,9 88 Keinginan Mempunyai Anak

114 Lampiran Tabel A.7.3 memperlihatkan bahwa jumlah anak ideal menurut propinsi sangat beragam, dari terendah 2,3 anak di DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara dan tertinggi 3,8 anak di Nusa Tenggara Timur. Propinsi dengan rata-rata jumlah anak ideal kurang dari tiga terdapat di semua propinsi di Jawa (kecuali Banten), dan di Bali, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo. 7.4 KELAHIRAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN DAN TIDAK DIHARAPKAN Dalam SDKI , responden diwawancarai dengan rangkaian pertanyaan tentang anak yang dilahirkan selama lima tahun sebelum survei dan anak yang sedang dikandung untuk menentukan apakah kehamil-an itu diinginkan pada waktu itu, pada waktu yang akan datang, atau sama sekali tidak diinginkan. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan petunjuk yang kuat sejauh mana pasangan suami isteri berhasil mengendalikan kela-hiran. Selain itu, data tersebut dapat digunakan untuk mengukur pengaruh dari pencegahan kelahiran yang tidak diinginkan terhadap fertilitas. Pertanyaan-pertanyaan mengenai perencanaan kelahiran dalam SDKI tidak dengan mudah dapat dijawab. Responden diminta untuk mengingat dengan tepat keinginannya pada satu atau lebih titik waktu dalam lima tahun sebelum survei, dan menyatakannya dengan jujur. Rasionalisasi jawaban responden mungkin muncul di sini. Misalnya, kehamilan yang semula tidak diharapkan ternyata menghasilkan anak yang sangat dibanggakan. Terlepas dari masalah pemahaman, daya ingat dan kejujuran responden, hasilhasil dari survei yang terdahulu membuktikan bahwa jawaban responden dapat dipercaya. Responden ternyata bersedia menyatakan kehamilan yang tidak diinginkan, meskipun pandangannya berubah setelah anaknya lahir. Hal itu dapat meng-akibatkan rendahnya fertilitas yang tidak diinginkan. Tabel 7.6 Status perencanaan kelahiran Disteribusi persentase jumlah kelahiran selama 5 tahun sebelum survei (termasuk kehamilan saat survei), menurut status perencanaan kelahiran, urutan kelahiran dan umur ibu waktu melahirkan, Indonesia Urutan kelahiran dan umur ibu waktu melahirkan Status perencanaan kelahiran Tidak ingin lagi Segera/ sekarang Kemudian Tidak terjawab Jumlah Jumlah kelahiran Urutan kelahiran 1 94,3 4,3 0,3 1,0 100, ,2 11,7 1,2 0,9 100, ,1 13,7 8,8 0,4 100, ,2 12,0 25,7 1,0 100, Umur waktu melahirkan <20 91,8 6,9 0,3 1,0 100, ,1 9,5 1,5 0,9 100, ,9 10,0 4,0 1,1 100, ,1 11,1 10,2 0,5 100, ,6 9,2 24,7 0,4 100, ,9 9,0 37,5 0,6 100, (30,3) (3,4) (57,7) (8,6) 100,0 54 Jumlah 82,4 9,6 7,2 0,9 100, Catatan: Angka didalam kurung berdasarkan kasus tak tertimbang Tabel 7.6 menunjukkan disteribusi persentase kelahiran selama lima tahun sebelum survei menurut status perencanaan, urutan kelahiran, dan umur ibu pada saat melahirkan. Delapan dari sepuluh kelahiran memang diinginkan sesuai dengan rencana, 10 persen diharapkan tetapi pada waktu kemudian, Keinginan Mempunyai Anak 89

115 dan hanya 7 persen yang tidak diinginkan sama sekali. Gambaran ini memperlihatkan bahwa tidak ada perubahan dari hasil SDKI Urutan kelahiran mempunyai hubungan yang erat dengan perencanaan kelahiran. Dalam SDKI , proporsi kelahiran yang sesuai dengan rencana turun sejalan dengan naiknya urutan kelahiran, sedangkan proporsi kelahiran yang sama sekali tidak diharapkan meningkat. Sementara hampir semua kelahiran pertama diinginkan, satu dari empat kelahiran keempat dan seterusnya tidak dikehendaki. (Tabel 7.6). Pola perencanaan kelahiran juga dipengaruhi oleh umur ibu saat melahirkan. Secara umum, semakin tua umur ibu makin rendah persentase anak yang diinginkan. Persentase kelahiran anak yang tidak diinginkan meningkat sejalan dengan meningkatnya umur ibu: kurang dari satu persen pada wanita berumur kurang dari 20 tahun dan 38 persen pada wanita umur tahun. Pola kehamilan yang tidak diinginkan menurut umur dan urutan kelahiran anak sama seperti hasil SDKI Tabel 7.7 menyajikan angka fertilitas yang diinginkan. Angka tersebut dihitung dengan cara yang sama dengan perhitungan angka fertilitas menurut umur yang konvensional, kecuali pembilangnya dibatasi pada kelahiran yang diharapkan. Kelahiran dianggap sebagai kelahiran yang diharapkan jika jumlah anak yang masih hidup saat responden hamil sama dengan atau kurang dari jumlah anak ideal yang disebutkan oleh responden. Angka fertilitas yang diinginkan mencerminkan angka fertilitas yang secara teoritis akan terjadi jika semua kelahiran yang tidak diharapkan dapat dicegah. Perbandingan angka fertilitas yang sebenarnya dan fertiltias yang diinginkan menunjukkan pengaruh potensi demografi dari pencegahan kelahiran yang tidak diinginkan. Semakin kecil perbedaan antara angka fertilitas sesungguhnya dan angka fertilitas yang diinginkan, semakin berhasil wanita dalam mencapai keinginan fertilitasnya. Secara umum, angka fertilitas yang diinginkan lebih rendah dari angka fertilitas total. Sehingga, jika semua kelahiran yang tidak diinginkan dapat dicegah, maka angka fertilitas di Indoneisa akan menjadi 2,2 kelahiran per wanita, tidak 2,6 anak. Angka fertilitas total yang diinginkan lebih rendah dari yang dilaporkan da-lam SDKI 1997 (2,4 kelahiran per wanita). Tabel 7.7 memperlihatkan perbedaan antara angka fertilitas yang diiginkan dengan angka fertilitas total menurut karakteristik latar belakang. Ada sedikit perbedaan antara wanita yang tinggal di perkotaan, berpendidikan lebih baik, dan wanita dengan Indeks Kekayaan Quintile teratas (terkaya). Sebagai contoh, perbedaan fertilitas antara wanita tidak berpendidikkan adalah 0,5 anak, sedangkan pada wanita berpendidikan SLTP + adalah 0,3 anak. Lampiran Tabel A.7.4 menyajikan angka fertilitas yang diinginkan dengan angka fertilitas sebenarnya menurut propinsi. Seperti halnya dengan angka fertilitas yang sebenarnya, wanita di DI Yogyakarta mempunyai angka fertilitas yang diinginkan terendah (1,5 anak), sedangkan wanita di Nusa 90 Keinginan Mempunyai Anak Tabel 7.7 Angka fertilitas yang diinginkan Angka fertilitas yang diinginkan dan angka fertilitas total selama 3 tahun sebelum survei menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Angka fertilitas yang diinginkan Angka fertiltas total Daerah tempat tinggal Perkotaan 2,1 2,4 Pedesaan 2,3 2,7 Pendidikan Tidak sekolah 2,1 2,6 Tidak tamat SD 2,4 2,8 Tamat SD 2,2 2,5 Tidak tamat SLTP 2,3 2,6 SLTP + 2,1 2,4 Indeks Kekayaan Quantile Terbawah 2,6 3,0 Menengah bawah 2,2 2,6 Menengah 2,2 2,7 Menengah atas 2,2 2,5 Teratas 1,9 2,2 Jumlah 2,2 2,6 Catatan: Angka dihitung berdasarkan jumlah kelahiran terhadap wanita untuk tahun dalam kurun 1-36 bulan sebelum survei. Angka fertilitas total sama seperti yang disajikan dalam Tabel 4.2

116 Tenggara Timur mempunyai angka fertilitas yang diinginkan tertinggi (3,5 anak). Perbedaan kedua angka fertilitas berkisar antara 0,2 anak di DKI Jakarta, Bali dan Kalimantan Tengah sampai 0,7 anak di Lampung dan Sulawesi Tengah, diikuti oleh Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Timur (0,6 anak). 7.5 KEINGINAN MEMPUNYAI ANAK MENURUT STATUS WANITA Meningkatnya status dan pemberdayaan atau kewenangan wanita diakui sebagai salah satu faktor penting dalam menurunkan fertilitas; makin tinggi status wanita, makin kecil jumlah anak yang diinginkan, dan makin tinggi kemampuannya untuk mencapai jumlah keluarga melalui penggunaan kontrasepsi yang efektif. Tabel 7.8 memperlihatkan rata-rata jumlah anak yang diinginkan dan kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi untuk menjarangkan dan mengakhiri kehamilan menurut tiga indikator status wanita, yaitu: keterlibatan wanita dalam pengambilan keputusan, pendapat wanita mengenai isteri yang menolak untuk berhubungan seks dengan suami, dan pendapat wanita mengenai pemukulan isteri oleh suami. Dalam SDKI , kepada wanita ditanyakan tentang keterlibatannya dalam pengambilan keputusan dalam beberapa hal, yaitu: pemeriksaan kesehatan responden, pembelian barang tahan lama, pembelian kebutuhan sehari-hari, kunjungan ke keluarga, dan jenis makanan apa yang akan dimasak setiap hari. Tabel 7.8 Jumlah anak Ideal dan kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi menurut status wanita Rata-rata jumlah anak ideal dan kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi untuk menjarangkan dan membatasi kelahiran, menurut indikator status wanita, Indonesia Indikator status wanita Rata-rata jumlah anak ideal 1 Jumlah Kebutuhan KB yang tidak terpenuhi 2 Untuk pengaturan kelahiran Untuk pembatasan kelahiran Jumlah Jumlah wanita Jumlah keputusan yang dapat diputuskan oleh wanita 3 0 3,1 73 9,5 9,2 18, , ,5 4,9 10, , ,2 4,6 8, , ,8 4,5 8, Jumlah alasan menolak berhubungan seksual dengan suami 0 3, ,1 7,2 10, , ,5 4,7 8, , ,2 4,4 8, Jumlah alasan menolak kekerasan yang dilakukan oleh suami 0 2, ,7 4,7 8, , ,9 4,4 9, , ,8 4,2 9,0 1, , ,8 3,8 10,7 433 Jumlah ,0 4,6 8, Total dihitung tidak termasuk wanita yang memberikan jawaban tidak dalam angka. 2 Lihat Tabel 7.3 untuk definisi kebutuhan bekb yang tidak terpenuhi 3 Sendiri atau bersama orang lain. Data memperlihatkan bahwa keterlibatan wanita di dalam pengambilan keputusan dalam rumah tangga, berhubungan terbalik dengan jumlah anak yang diinginkan. Wanita yang sama sekali tidak terlibat Keinginan Mempunyai Anak 91

117 dalam pengambilan keputusan dalam rumah tangga ingin mempunyai anak 3,1 orang, sementara wanita yang terlibat penuh dalam pengambilan lima keputusan ingin mempunyai anak 2,9 orang. Kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi pada wanita yang tidak terlibat dalam pengambilan keputusan rumah tangga lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang terlibat penuh dalam pengambilan keputusan di rumah tangga, masing-masing 19 dan 8 persen. Banyaknya keputusan yang melibatkan partisipasi wanita dan banyaknya alasan isteri dapat menolak berhubungan seks dengan suami berhubungan terbalik dengan jumlah anak ideal, tetapi jumlah alasan dalam sikap pemukulan isteri oleh suami berhubungan positif. Kebutuhan yang tidak terpenuhi untuk mendapatkan pelayanan KB dan khususnya untuk tujuan pengaturan kelahiran turun dengan meningkatnya keterlibatan wanita dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Tidak ada hubungan yang jelas antara kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi dengan pendapat wanita terhadap penolakan berhubungan seks dengan suami dan pemukulan isteri. 92 Keinginan Mempunyai Anak

118 TIDAK PAKAI KONTRASEPSI DAN KEINGINAN UNTUK 8 PAKAI KONTRASEPSI Bab ini khusus membahas mengenai wanita yang sedang tidak menggunakan alat/cara keluarga berencana (KB) dan alasan mengapa berhenti memakai. Lima topik akan dibahas dalam bab ini yaitu tingkat putus pakai kontrasepsi, alasan berhenti memakai kontrasepsi, alasan tidak memakai kontrasepsi, keinginan untuk memakai kontrasepsi di waktu yang akan datang, dan alat /cara KB yang ingin dipakai oleh pemakai yang potensial. 8.1 TINGKAT PUTUS PAKAI Perbaikan kualitas pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu tujuan dari program KB Indonesia. Salah satu ukuran dari kualitas pemakaian adalah angka putus pakai kontrasepsi. Alasan putus pakai bisa mencakup kegagalan kontrasepsi, ketidakpuasan terhadap alat/cara KB, efek samping, dan ketidaktersediaannya alat/cara KB. Tingkat putus pakai yang tinggi, kegagalan alat/cara KB, dan pergantian alat/cara bisa mengindikasikan bahwa diperlukan perbaikan dalam pemberian konseling tentang pemilihan alat/cara kontrasepsi, pelayanan lanjutan, dan penyediaan pelayanan yang lebih luas. Tingkat putus pakai dihitung dengan cara tabel kematian berdasarkan data SDKI , yang disajikan pada Tabel 8.1. Angka-angka dalam tabel tersebut adalah tingkat putus pakai selama satu tahun, dan merupakan proporsi pemakai alat KB yang berhenti memakai alat tersebut dalam waktu satu tahun setelah pemakaian. Angka-angka tersebut dihitung dengn cara menghitung jumlah dan lama pemakaian peserta KB yang memakai setiap alat/cara KB dan menurut alasan, dibagi dengan jumlah seluruh bulan pemakaian. Angka putus pakai setiap bulan dihitung secara kumulatif untuk mendapatkan angka satu tahun. Untuk setiap penghentian pemakaian hanya ada satu alasan berhenti memakai yang dapat diperhitungkan. Ada tiga alasan putus pakai kontrasepsi yang dicatat, yaitu kegagalan alat (hamil ketika memakai kontrasepsi), ingin hamil, dan efek samping atau kesehatan. Tabel 8.1 Tingkat putus pakai kontrasepsi Tingkat putus pakai kontrasepsi selama 12 bulan setelah mulai memakai menurut alasan berhenti dan alat/cara KB, Indonesia Alat/cara KB Metode gagal Alasan berhenti memakai Ganti Ingin alat/cara Alasan hamil KB lain 1 lain Jumlah Pil 4,1 8,3 11,8 7,7 31,9 IUD 0,7 0,7 5,2 2,4 8,9 Suntikan 1,1 3,9 8,9 4,4 18,4 Susuk KB 0,1 0,3 1,6 0,7 2,7 Kondom 4,5 6,4 20,5 7,3 38,8 Pantang berkala 4,0 5,0 6,1 1,4 16,5 Senggama terputus 6,3 7,4 4,4 2,5 20,6 Lain-lain 2,8 8,6 3,4 4,2 19,0 Jumlah 2,1 4,8 9,0 4,8 20,7 Catatan: Tabel ini didasarkan pada episode pemakaian kontrasepsi yang dimulai 3-59 bulan sebelum survei. 1 Menggunakan suatu alat/cara dalam bulan setelah berhenti pakai atau ingin metode lebih efektif dan mulai pakai cara KB lain dalam waktu dua bulan setelah berhenti pakai. Tidak Pakai Kontrasepsi dan Keinginan untuk Pakai Kontrasepsi 93

119 Angka putus pakai dihitung dari informasi yang dicatat pada bagian kalender dalam kuesioner perseorangan wanita kawin SDKI Semua episode pemakaian kontrasepsi antara bulan Januari 1997 hingga saat wawancara dicatat dalam kalender, bersama dengan alasan berhenti memakai yang terjadi pada periode waktu tersebut. Tingkat putus pakai yang disajikan merujuk pada semua episode pemakaian kontrasepsi yang dimulai selama periode yang dicakup oleh kalender. Tingkat putus pakai kontrasepsi dalam tahun pertama yang disajikan pada Tabel 8.1 merujuk pada periode 3-59 bulan sebelum wawancara. Bulan wawancara dan dua bulan sebelumnya diabaikan untuk mencegah bias yang mungkin disebabkan oleh kehamilan yang tidak diketahui. Secara umum, 21 persen wanita berhenti memakai alat/cara KB dalam waktu 12 bulan sejak mulai memakai; dua persen berhenti memakai karena hamil ketika masih menggunakan metode kontrasepsi (kegagalan metode), lima persen berhenti karena ingin hamil, sembilan persen beralih ke metode lain, dan lima persen berhenti karena alasan lain (termasuk biaya, alat/cara KB tidak nyaman dipakai, keretakan perkawinan/perceraian, dan puasa kumpul). Angka putus pakai selama satu tahun yang tertinggi adalah untuk kondom (39 persen), diikuti oleh pil (32 persen), dan suntikan (18 persen). Angka putus pakai untuk alat/cara KB tradisional adalah 21 persen untuk senggama terputus dan 17 persen untuk pantang berkala. Angka putus pakai kontrasepsi dirinci menurut alasan berhenti bervariasi menurut alat/cara yang KB yang dipakai. Misalnya, proporsi wanita yang berhenti memakai kontrasepsi karena kegagalan kontrasepsi tertinggi terjadi pada pemakai pantang berkala dan kondom (masing-masing 4 dan 5 persen), sedangkan angka terendah terjadi pada susuk KB (kurang dari satu persen). Sebelas persen wanita pemakai pil berhenti karena mereka ganti dengan metode lain, 8 persen karena menjadi hamil, dan 8 persen karena alasan lain. 8.2 ALASAN BERHENTI MEMAKAI ALAT/CARA KB Aspek lain tentang berhentinya pemakaian kontrasepsi disajikan Tabel 8.2. Tabel tersebut menyajikan distribusi persentase tingkat putus pakai dalam periode 5 tahun sebelum survei menurut alasan berhenti dan alat/cara KB yang dipakai. Alasan berhenti pakai yang paling sering dikemukakan relatif sama seperti alasan berhenti pakai pada SDKI 1997, yaitu keinginan untuk hamil (34 persen). Alasan tersebut berlaku untuk semua alat/cara KB, kecuali pada pemakai alat/cara KB kondom dan metode amenore laktasi (MAL). Pada pemakai kondom dan MAL, alasan berhenti pakai yang dominan adalah beralih ke alat/cara KB yang lebih efektif (22 persen pada pemakai kondom dan 44 persen pada pemakai MAL). Alasan berhenti pakai lainnya adalah mengalami efek samping (14 persen), masalah kesehatan (10 persen), dan kegagalan alat/cara KB (10 persen) (lihat Gambar 8.1). Efek samping dan masalah kesehatan sering dilaporkan oleh pemakai suntikan, IUD dan susuk KB (15-19 persen), sedangkan alasan kegagalan metode dan keinginan untuk hamil lebih banyak dikemukakan oleh pemakai cara KB tradisional. Alasan-alasan ketidaklangsungan pemakaian kontrasepsi sedikit berubah dibandingkan dengan hasil SDKI Tidak Pakai Kontrasepsi dan Keinginan untuk Pakai Kontrasepsi

120 Tabel 8.2 Alasan berhenti memakai alat/cara KB Distribusi persentase wanita yang berhenti memakai alat/cara KB dalam 5 tahun sebelum survei per alasan utama yang diberikan wanita menurut metode tertentu, Indonesia Alasan berhenti memakai Pil IUD Suntikan Susuk KB Kondom MAL Pantang berkala Senggama terputus Lainnya Semua metode Hamil ketika memakai 15,6 8,4 5,9 1,1 12,3 5,8 28,7 28,4 16,1 10,0 Ingin hamil 34,7 29,5 35,6 25,1 21,5 4,3 32,8 34,6 45,2 34,0 Suami tidak setuju 0,4 0,3 0,4 0,3 1,1 0,0 0,6 0,6 1,2 0,4 Efek samping 10,5 15,4 18,5 15,2 0,5 11,6 2,5 0,1 1,0 14,4 Masalah kesehatan 7,6 14,4 12,2 11,6 4,2 0,2 0,4 1,2 0,1 10,1 Akses/ketersediaan 0,8 1,5 0,6 3,5 0,7 0,0 0,0 0,0 6,8 0,9 Ingin cara efektif 9,1 4,8 5,5 11,2 28,3 44,9 14,6 18,1 7,7 7,9 Tidak nyaman/repot 2,0 3,3 1,7 2,2 10,0 0,0 1,9 2,9 0,5 2,0 Jarang kumpul/suami pergi 1,7 1,0 1,6 1,1 2,0 0,8 0,7 1,5 1,1 1,6 Ongkos terlalu mahal 1,2 0,3 3,5 7,3 0,9 0,0 0,0 0,0 1,3 2,6 Fatalistik 0,7 0,0 0,2 0,6 0,6 0,5 0,2 1,7 0,3 0,4 Sulit hamil/menopause 1,2 4,4 0,8 0,7 1,5 0,0 1,0 0,9 1,5 1,2 Cerai/berpisah 1,7 1,9 1,9 1,4 2,2 2,5 0,5 0,4 1,8 1,8 IUD terlepas na 3,9 na na na na na na na 3,9 Lain-lain 7,4 5,5 6,8 14,7 10,8 10,7 5,2 2,4 6,6 7,6 Tak tahu 0,0 0,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,4 0,0 0,1 0,0 Tak terjawab 5,5 5,2 4,8 4,0 3,3 18,9 10,5 7,2 8,7 5,3 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita MAL= Metode amenore laktasi na = Tidak berlaku 1 Jumlah termasuk 13 wanita yang berhenti memakai diafragma Gambar 8.1 Alasan Berhenti Memakai Kontrasepsi Efek samping 14% Hamil 10% Masalah kesehatan 10% Alasan lainnya 16% Jarang kumpul 2% Ingin hamil 34% Ingin cara yang lebih efektif 8% Keterbatasan biaya/akses 6% SDKI Tidak Pakai Kontrasepsi dan Keinginan untuk Pakai Kontrasepsi 95

121 8.3 KEINGINAN UNTUK MEMAKAI ALAT/CARA KB DI MASA MENDATANG Keinginan untuk memakai kontrasepsi di waktu yang akan datang memberikan suatu gambaran mengenai kebutuhan yang potensial terhadap pelayanan KB serta merupakan indikator ringkas tentang sikap bukan peserta KB terhadap kontrasepsi pada saat ini. Di Indonesia, dengan tingkat prevalensi kontrasepsi tinggi, wanita yang tidak memakai kontrasepsi merupakan kelompok sasaran bagi program dan pemberi pelayanan KB. Wanita yang tidak memakai alat/cara kontrasepsi pada waktu wawancara ditanya apakah mereka bermaksud memakai metode pada suatu waktu di masa yang akan datang. Tabel 8.3 menyajikan ditribusi wanita berstatus kawin yang saat ini sedang tidak memakai metode kontrasepsi menurut keinginan untuk memakai suatu alat/cara KB di waktu yang akan datang dan menurut jumlah anak masih hidup. Menurut data SDKI , 43 persen dari bukan peserta KB bermaksud menggunakan keluarga berencana pada waktu yang akan datang dan 42 persen tidak bermaksud menggunakannya. Selebihnya sekitar 14 persen wanita tidak yakin akan keinginannya. Tabel 8.3 Keinginan memakai alat/cara KB pada waktu yang akan datang Distribusi persentase wanita bestatus kawin yang tidak memakai alat/cara KB, keinginan untuk memakai alat/cara KB pada waktu yang akan datang dan menurut jumlah anak masih hidup, Indonesia Jumlah anak masih hidup 1 Keinginan memakai di waktu yang akan datang Jumlah Wanita Kawin Ingin memakai 44,5 56,7 54,1 37,1 23,6 43,1 Tidak yakin 23,6 13,6 9,1 12,4 13,2 13,7 Tidak bermaksud memakai 31,6 28,7 35,9 49,6 62,6 42,4 Tak terjawab 0,2 0,9 0,9 0,9 0,6 0,7 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita Pria Kawin Ingin memakai 11,7 8,6 10,2 10,2 4,7 8,8 Tidak yakin 11,6 11,5 8,2 11,9 8,1 10,1 Tidak bermaksud memakai 76,6 79,5 80,0 76,5 85,9 80,2 Tak terjawab 0,0 0,4 1,7 1,4 1,3 0,9 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah pria Termasuk kehamilan saat ini Keinginan untuk memakai alat/cara kontrasepsi di masa mendatang cenderung berkurang sejalan dengan meningkatnya jumlah anak. Sebagai gambaran, wanita dengan satu anak cenderung paling besar keinginannya untuk memakai alat/cara KB dibandingkan dengan wanita yang memiliki lebih dari satu anak. Empat puluh tiga persen wanita yang tidak mempunyai anak ingin menggunakan alat/cara KB di waktu yang akan datang. Proporsi tersebut lebih tinggi dari pada angka yang tercatat dalam SDKI 1997 (38 persen). Di kalangan pria berstatus kawin yang tidak memakai alat/cara kontrasepsi, hanya 9 persen yang mengatakan bahwa mereka bermaksud memakai satu metode di waktu yang akan datang, 10 persen tidak yakin, dan 80 persen tidak berkeinginan untuk memakai di masa yang akan datang (Tabel 8.3). Berbeda dengan kaum wanita, bagi kaum laki-laki, hampir tidak ada hubungan antara keinginan memakai alat/cara kontrasepsi di waktu yang akan datang dengan jumlah anak masih hidup. 96 Tidak Pakai Kontrasepsi dan Keinginan untuk Pakai Kontrasepsi

122 8.4 ALASAN TIDAK MEMAKAI ALAT/CARA KB Salah satu cara terbaik untuk mengukur hambatan terhadap program keluarga berencana adalah dengan menanyakan kepada wanita dan pria alasan mengapa mereka tidak memakai alat/cara KB; hal ini dilakukan dalam SDKI Tabel 8.4 menyajikan informasi tentang distribusi persentase wanita dan pria yang tidak memakai alat/cara KB saat ini yang tidak bermaksud menggunakan alat/cara KB di waktu mendatang, menurut alasan tidak memakai kontrasepsi dan umur. Tabel 8.4 Alasan tidak ingin memakai kontrasepsi Distribusi persentase wanita berstatus kawin yang tidak memakai alat/cara KB dan yang tidak berkeinginan untuk memakai alat/cara KB pada waktu yang akan datang menurut alasan utama tidak ingin memakai dan umur, Indonesia Wanita Pria ALASAN Total Total Fertilitas 35,4 60,5 57,6 28,9 24,7 25,3 Abstinensi 3,9 11,6 10,7 0,8 3,3 2,8 Menopause/histerektomi 0,2 23,5 20,9 0,1 5,3 4,4 Tidak subur 9,5 18,0 17,0 0,4 3,0 2,5 Ingin banyak anak 21,8 7,4 9,0 27,6 13,1 15,6 Menentang untuk memakai 11,6 5,1 5,8 5,9 8,3 7,9 Responden menolak 1,7 1,2 1,2 2,7 3,3 3,2 Suami/pasangan menolak 7,1 3,4 3,8 1,7 1,2 1,3 Orang lain menolak 0,1 0,1 0,1 0,0 0,2 0,2 Larangan agama 2,6 0,5 0,7 1,5 3,6 3,2 Kurang pengetahuan 1,8 0,8 0,9 7,7 6,2 6,5 Tidak tahu alat/cara KB 1,3 0,7 0,8 7,7 6,2 6,5 Tidak tahu sumber 0,5 0,1 0,1 0,0 0,0 0,0 Alat/cara KB 36,6 24,5 25,8 25,5 24,0 24,2 Masalah kesehatan 12,8 11,6 11,7 4,5 4,5 4,5 Takut efek samping 16,2 8,9 9,7 15,5 12,9 13,4 Kurang akses/terlalu jauh 0,5 0,2 0,2 0,3 0,0 0,1 Biaya terlalu mahal 2,2 2,7 2,7 2,1 2,4 2,3 Tidak nyaman 4,3 0,9 1,3 3,2 4,0 3,8 Menjadi gemuk/kurus 0,5 0,2 0,2 0,0 0,2 0,1 Lainnya 11,1 6,8 7,3 21,5 22,7 22,5 Tidak tahu 3,3 2,0 2,2 10,3 8,6 8,9 Tak terjawab 0,3 0,4 0,4 0,3 5,4 4,5 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita/ pria Wanita yang tidak ingin memakai kontrasepsi di masa mendatang pada umumnya mengemukakan alasan yang berkaitan dengan fertilitas (58 persen), berikutnya adalah alasan yang berkaitan dengan alat/cara KB, seperti masalah kesehatan, sumber pelayanan yang terlalu jauh, dan biaya yang tinggi (26 persen). Sementara itu di kalangan pria kawin yang tidak ingin menggunakan alat/cara kontrasepsi, alasan yang terbanyak dilaporkan adalah karena mereka menghendaki sebanyak mungkin anak (16 persen) dan takut akan efek samping (13 persen). Tidak Pakai Kontrasepsi dan Keinginan untuk Pakai Kontrasepsi 97

123 Di antara wanita yang tidak berkeinginan untuk menggunakan alat/cara KB, alasan utama yang dikemukakan adalah menopause atau sudah mengalami histerektomi (21 persen), tidak bisa hamil (17 persen), atau ingin tambah anak (9 persen). Seperti yang diharapkan, wanita usia lebih tua cenderung mengemukakan alasan menopause atau histerektomi, sementara pada wanita usia muda lebih besar kemungkinannya untuk mengemukakan alasan ingin mempunyai anak lagi. Takut akan efek samping dan alasan kesehatan adalah alasan lain yang dilaporkan oleh wanita yang tidak ingin menggunakan kontrasepsi (masing-masing 10 dan 12 persen). Berdasarkan temuan ini, konseling KB diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan wanita mengenai alat/cara KB dan efek samping kontrasepsi. Informasi yang lengkap tentang alat/cara KB, termasuk keuntungan dan kerugiannya akan membantu wanita maupun pria yang belum menjadi peserta KB dalam mengambil keputusan untuk memakai alat/cara KB. Alasan yang dikemukakan pria beragam menurut umur; pria usia lebih muda cenderung menghendaki anak lagi (28 persen), sedang pria usia tua lebih besar kemungkinannya menyebutkan alasan fertilitas lainnya, seperti jarang kumpul, isteri telah mati haid atau telah mengalami operasi histerektomi, atau sudah tidak subur (12 persen). Selain itu, satu diantara empat pria mengemukakan alasan yang berkaitan dengan alat/cara KB. 8.5 ALAT/CARA KB YANG DIINGINKAN Tabel 8.5 menyajikan data tentang wanita dan pria berstatus kawin yang saat ini tidak menggunakan alat/cara KB, tapi bermaksud menggunakannya di waktu yang akan datang. Temuan menunjukkan bahwa wanita yang ingin memakai suntikan (56 persen) dan 19 persen ingin menggunakan pil. Bila hasil survei ini dibandingkan dengan dengan hasil SDKI terdahulu, terlihat bahwa proporsi wanita yang ingin memakai suntikan berangsur meningkat dari 34 persen pada SPI 1987 menjadi 56 persen pada SDKI , dan proporsi wanita yang ingin memakai pil turun dari 40 persen pada SPI 1987 menjadi 20 persen pada SDKI Tabel 8.5 juga memperlihatkan bahwa pria yang ingin memakai kondom di waktu yang akan datang (52 persen). Menarik untuk dicermati bahwa 14 persen lakilaki mengatakan bahwa mereka ingin memakai sterilisasi pria, sementara itu tidak ada wanita yang menginginkan suaminya untuk memakai cara tersebut. Selain itu, satu di antara delapan laki-laki berstatus kawin (12 persen) berkeinginan memakai alat/cara KB lainnya di waktu yang akan datang, antara lain; metode KB wanita. Tabel 8.5 Alat/cara KB yang diinginkan Distribusi persentase wanita berstatus kawin dan pria kawin yang saat ini tidak memakai alat/cara KB tetapi berkeinginan untuk memakainya di masa yang akan datang menurut alat/cara KB yang diinginkan, Indonesia Metode Wanita Pria Sterilisasi wanita 2,3 a Sterilisasi pria 0,1 13,5 Pil 19,1 a IUD 7,5 a Suntikan 55,6 a Susuk KB 7,0 a Kondom 0,4 51,8 Pantang berkala 0,7 9,4 Senggama terputus 0,3 5,2 Lainnya 2,4 11,9 Tidak tahu 4,4 7,0 Tak terjawab 0,1 1,1 Jumlah 100,0 100,0 Jumlah wanita/ pria a) Metode tidak dipertimbangkan secara terpisah dan dicakup dalam metode lainnya, 98 Tidak Pakai Kontrasepsi dan Keinginan untuk Pakai Kontrasepsi

124 FAKTOR PENENTU FERTILITAS SELAIN KONTRASEPSI 9 Bab ini membahas faktor-faktor lain selain kontrasepsi yang mempengaruhi kemungkinan seorang wanita untuk hamil, seperti perkawinan, hubungan suami isteri, masa tidak haid setelah melahirkan (postpartum amenorrhea), abstinensi setelah melahirkan (postpartum abstinence), dan mati haid. Perkawinan merupakan indikasi utama dari kemungkinan untuk hamil, oleh karenanya sangat penting dalam mempelajari pola-pola fertilitas. Dalam masyarakat yang umur perkawinan pertamanya rendah, wanita cenderung untuk mulai mempunyai anak pada umur yang rendah pula, dan mempunyai fertilitas yang tinggi. Bab ini juga mencakup informasi tentang beberapa pengukuran langsung dari awal kemungkinan wanita untuk hamil dan tingkat exposure, seperti umur pada waktu kumpul pertama, dan frekuensi kumpul. Pengukuran atau faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemungkinan hamil termasuk lamanya masa tidak haid setelah melahirkan, masa abstinensi setelah melahirkan, dan kemandulan sekunder juga dibahas dalam bab ini. Dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI ), wanita pernah kawin umur tahun diwawancarai dengan menggunakan kuesioner perseorangan. Beberapa tabel dalam bab ini didasarkan pada semua wanita, dan yang lain didasarkan pada wanita pernah kawin dan wanita tidak pernah kawin. Data yang menyajikan angka untuk semua wanita dihitung dengan mengalikan jumlah wanita pernah kawin yang diwawancarai dengan suatu faktor pengali yang merupakan rasio jumlah semua wanita dan jumlah wanita pernah kawin yang didapat dari daftar rumah tangga. Faktor pengali dihitung untuk semua umur tunggal, dan jika hasilnya disajikan menurut latar belakang responden, maka faktor-faktor tersebut dihitung untuk masing-masing kategori latar belakang. 9.1 STATUS PERKAWINAN SAAT INI Tabel 9.1 menyajikan distribusi wanita umur tahun menurut umur dan status perkawinannya pada waktu survei. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa 25 persen wanita tidak pernah kawin, 71 persen berstatus kawin, dan yang berstatus cerai hidup dan cerai mati masing-masing 2 persen. Proporsi wanita yang belum menikah turun secara tajam pada wanita muda, yakni dari 85 persen di antara wanita muda (umur tahun) menjadi 41 persen di antara wanita umur tahun. Pada umur 30 tahun, 94 persen wanita telah pernah menikah. Proporsi wanita yang cerai mati meningkat sejalan dengan meningkatnya umur, yaitu dari kurang 1 persen untuk wanita di bawah umur 30 tahun menjadi 4 persen pada wanita umur tahun, dan 9 persen untuk wanita umur tahun. Proporsi tertinggi wanita yang cerai hidup tertinggi (4 persen) terdapat pada dua kelompok umur, yaitu kelompok umur wanita tahun dan tahun. Distribusi wanita menurut status perkawinan dan propinsi disajikan pada Lampiran Tabel A.9.1. Di antara seluruh propinsi di Indonesia, persentase tertinggi untuk wanita tidak menikah ada di Sulawesi Selatan (39 persen), sedangkan terendah di Jawa Barat dan Kalimantan Tengah, yakni hanya (20 persen). Di sisi lain, Sulawesi Selatan mempunyai persentase terendah wanita yang berstatus kawin (57 persen), sedangkan Kalimantan Tengah mempunyai proporsi tertinggi (78 persen). Persentase wanita yang cerai hidup berkisar antara kurang dari 1 persen di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Riau sampai dengan 6 persen di Nusa Tenggara Barat. Persentase wanita yang cerai mati juga beragam antar propinsi, dari kurang dari 1 persen di Kalimantan Tengah sampai dengan 4 persen di Jambi. Faktor Penentu Fertilitas Selain Kontrasepsi 99

125 Tabel 9.1 Status perkawinan menurut umur Distribusi persentase wanita menurut status perkawinan dan umur, Indonesia Umur Status perkawinan Belum kawin Kawin Cerai hidup Cerai mati Jumlah Jumlah wanita ,4 14,0 0,6 0,0 100, ,2 57,0 1,4 0,4 100, ,8 83,7 2,2 0,3 100, ,9 89,3 3,5 1,3 100, ,0 92,7 2,4 1,9 100, ,1 91,8 2,5 3,7 100, ,0 85,6 3,7 8,7 100, Jumlah 25,0 70,9 2,2 1,9 100, UMUR KAWIN PERTAMA Salah satu indikator sosial demografi yang penting adalah umur kawin pertama, karena umur kawin pertama berkaitan dengan permulaan wanita kumpul pertama yang memungkinkan wanita berisiko untuk menjadi hamil. Umumnya wanita yang menikah pada usia muda mempunyai waktu yang lebih panjang berisiko untuk hamil. Oleh karena itu pada masyarakat yang kebanyakan wanitanya melakukan perkawinan pertama pada umur muda, angka kelahirannya juga lebih tinggi dibandingkan dengan pada masyarakat yang wanitanya melakukan perkawinan pertama kali pada usia lebih tua. Di Indonesia, perkawinan mempunyai hubungan yang kuat dengan fertilitas, karena itu mengetahui tren umur kawin pertama adalah sangat penting dalam mempelajari perubahan-perubahan pola fertilitas di Indonesia. Tabel 9.2 menyajikan proporsi wanita pernah kawin menurut umur kawin pertama dan median umur kawin pertama, dirinci menurut umur pada waktu survei. Median umur kawin pertama didefinisikan sebagai umur, di mana 50 persen wanita pada semua kelompok umur sudah menikah pada saat survei. Median lebih disukai dari pada rata-rata sebagai ukuran gejala pusat (central Tabel 9.2 Umur kawin pertama Persentase wanita yang kawin pertama pada umur tertentu dan median umur kawin pertama menurut umur, Indonesia Persentase wanita yang kawin pertama pada umur: Umur Persentase belum/ tidak kawin Jumlah wanita Median umur kawin pertama ,8 na na na na 85, a ,7 24,2 42,1 na na 41, a ,2 29,0 48,2 64,0 78,9 13, , ,1 32,1 50,5 65,2 81,0 5, , ,7 41,7 57,2 72,0 84,7 3, , ,0 46,8 66,5 79,8 89,4 2, , ,4 51,2 68,9 80,6 90,2 2, , ,2 36,0 54,1 a a 13, , ,8 39,0 57,1 71,4 84,2 5, ,2 na = Tidak berlaku a = Median tidak dihitung kurang dari 50 persen dari wanita dalam kelompok umur x sampai x+4 di mana perkawinan pertama x. 100 Faktor Penentu Fertilitas Selain Kontrasepsi

126 tendency), karena berlainan dengan rata-rata, median dapat diestimasikan untuk semua kohor di mana paling sedikit separo dari wanita itu sudah pernah kawin pada saat survei. Dalam analisis tren, data untuk kohor-kohor tertua dalam Tabel 9.2 harus diinterpretasikan secara hati-hati, karena para wanita itu mungkin tidak ingat tanggal perkawinan atau umur ketika kawin pertama dengan tepat. Bila dilihat dari umur kawin pertama, telah terjadi perubahan mendasar menurut kohor umur kawin pertama wanita. Sebagai contoh, 20 persen wanita umur tahun telah menikah pada umur 15 tahun, sementara proporsi untuk wanita umur tahun hanya 10 persen, dan untuk wanita umur tahun kurang dari 5 persen. Di samping itu, 7 dari 10 wanita umur tahun telah menikah pada umur 20 tahun, sedangkan hanya 4 dari 10 wanita umur tahun menikah pada umur yang sama. Secara keseluruhan, median umur kawin pertama naik dari 17,9 tahun untuk wanita pada kelompok umur tertua (45-49 tahun), menjadi 20,2 tahun pada kelompok wanita umur tahun. Bila hasil SDKI dibandingkan dengan SDKI 1997, terdapat kenaikan umur kawin pertama; median umur kawin pertama untuk wanita umur tahun naik dari 18,6 tahun pada SDKI 1997 (BPS et al., 1998) menjadi 19,2 tahun pada SDKI Tabel 9.3 menunjukkan median umur kawin pertama menurut tempat tinggal dan pendidikan wanita. Median umur kawin pertama wanita di perkotaan adalah 20,3 tahun, sedangkan wanita di perdesaan 18,3 tahun. Bila dilihat dari tingkat pendidikan, tampak bahwa wanita yang berpendidikan lebih tinggi menikah lebih lambat daripada wanita yang berpendidikan lebih rendah. Secara umum, wanita yang tamat sekolah menengah kawin paling sedikit 6 tahun lebih lambat dari wanita yang tidak pernah sekolah. Median umur kawin pertama untuk wanita yang tamat sekolah menengah ke atas adalah 23,5 tahun, sedangkan untuk wanita yang tidak pernah sekolah adalah 17,1 tahun. Tabel 9.3 Median umur kawin pertama Median umur kawin pertama wanita umur tahun, menurut umur dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Umur Umur wanita Daerah tempat tinggal Perkotaan 21,7 21,2 20,2 19,1 18,6 20,3 Perdesaan 19,1 18,9 18,0 17,7 17,4 18,3 Pendidikan Tidak sekolah 17,7 17,4 16,8 17,4 16,9 17,1 Tidak tamat SD 17,6 17,1 17,6 17,0 17,0 17,3 Tamat SD 18,5 18,3 17,8 18,0 17,6 18,1 Tidak tamat SLTP 19,9 19,8 19,5 19,4 18,8 19,6 SLTP + 23,9 23,7 23,4 22,9 22,3 23,5 Jumlah 20,2 19,9 18,9 18,3 17,9 19,2 Catatan = Median untuk wanita umur dan tahun tidak ditampilkan karena jumlah wanita yang kawin pertama berumur 15 dan 20 kurang dari 50 persen. Keragaman umur kawin pertama menurut propinsi diperlihatkan pada Lampiran Tabel A.9.2. Median umur kawin pertama untuk wanita umur tahun tertinggi di Nusa Tenggara Timur (21,7 tahun). Angka ini melampaui median umur kawin pertama wanita di Sulawesi Utara, Bali, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Sumatera Utara, yang masing-masing 21 tahun. Median umur kawin pertama terendah tercatat di Jawa Barat (17,8 tahun), kemudian Kalimantan Selatan dan Lampung, masing-masing 18 tahun. Faktor Penentu Fertilitas Selain Kontrasepsi 101

127 Gambar 9.1 menunjukkan bahwa sejak tahun 1994, median umur kawin pertama di seluruh propinsi di Jawa mengalami kenaikan. Gambar 9.1 Median Umur Kawin Pertama Menurut Propinsi di Pulau Jawa 1994, 1997, and DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur 17.0 a 17.4 a 17.8 b Umur Kawin a Termasuk Banten b Tidak Termasuk Banten SDKI SDKI 1997 SDKI AKTIFITAS SEKSUAL SEBULAN TERAKHIR Tanpa pemakaian kontrasepsi, kemungkinan untuk menjadi hamil tergantung pada frekuensi kumpul. Oleh karena itu, pertanyaan tentang hubungan seksual suami-isteri penting untuk mempertajam ukuran dari kemungkinan untuk menjadi hamil. Tabel 9.4 didasarkan pada pertanyaan kapan responden terakhir kumpul. Data tersebut memungkinkan diadakannya pengamatan tentang kegiatan seksual yang dikelompokkan menurut umur dan lamanya kawin. Dalam SDKI , wanita berstatus kawin ditanya kapan mereka terakhir kali kumpul dan berapa kali kumpul dalam empat minggu sebelum survei. Tabel 9.4 memberikan informasi tentang kapan responden terakhir kumpul, dirinci menurut umur, lama kawin, dan beberapa karakteristik latar belakang lainnya. Secara keseluruhan, 82 persen wanita berstatus kawin menyatakan kumpul dalam waktu empat minggu sebelum survei, dan hampir semua wanita kawin kumpul dalam waktu satu tahun sebelum survei. Dua persen wanita kawin telah kumpul 1 tahun atau lebih sebelum survei. Aktifitas kumpul dalam sebulan terakhir mempunyai hubungan negatif dengan umur wanita. Wanita usia lebih tua cenderung lebih jarang kumpul dibandingkan wanita lebih muda; 80 persen wanita kawin berumur di bawah 35 tahun mengaku kumpul dalam waktu empat minggu sebelum survei, sedangkan pada kelompok umur wanita tahun proporsi ini hanya 63 persen. Wanita di perkotaan lebih sering kumpul dalam empat minggu sebelum survei dibanding wanita di perdesaan (81 persen). Terdapat hubungan positif antara pendidikan dengan aktifitas kumpul dalam empat minggu terakhir. Wanita berpendidikan lebih sering kumpul dibandingkan dengan wanita yang tidak berpendidikan; 70 persen untuk wanita tidak pernah sekolah dibandingkan dengan 88 persen wanita 102 Faktor Penentu Fertilitas Selain Kontrasepsi

128 berpendidikan SLTP dan lebih tinggi. Hal ini mungkin berkaitan dengan kenyataan bahwa wanita tidak berpendidikan cenderung berumur lebih tua dibanding dengan wanita yang berpendidikan. Tabel 9.4 Aktifitas seksual terakhir Distribusi persentase wanita berstatus kawin yang melakukan aktifitas seksual terakhir menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Dalam 4 minggu Aktifitas seksual terakhir Dalam 1 1 tahun tahun¹ atau lebih Tak terjawab Jumlah Jumlah wanita Umur ,2 13,2 0,0 2,6 100, ,5 12,8 0,1 1,5 100, ,1 10,7 0,9 1,3 100, ,3 10,2 0,5 1,1 100, ,7 14,4 1,6 1,3 100, ,1 16,9 2,9 1,1 100, ,4 27,9 7,7 1,1 100, Lama perkawinan, kawin hanya sekali² 0-4 tahun 85,5 12,2 0,4 1,9 100, tahun 87,6 10,5 0,6 1,3 100, tahun 87,6 10,8 0,9 0,7 100, tahun 86,3 11,6 0,8 1,3 100, tahun 79,6 16,4 2,4 1,6 100, tahun 67,6 26,0 5,4 0,9 100, Kawin lebih dari sekali 73,1 20,1 5,5 1,2 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 83,2 13,7 1,7 1,3 100, Perdesaan 80,8 15,7 2,2 1,2 100, Pendidikan Tidak sekolah 70,1 22,3 5,6 2,1 100, Tidak tamat SD 77,6 18,2 3,1 1,1 100, Tamat SD 82,1 14,9 1,8 1,2 100, Tidak tamat SLTP 84,4 13,4 0,9 1,3 100, Tamat SLTP + 87,8 10,1 0,8 1,3 100, Alat/cara KB yang dipakai Sterilisasi wanita 80,6 16,1 3,2 0,2 100, Pil 91,6 7,5 0,3 0,6 100, IUD 83,4 15,4 1,0 0,3 100, Kondom 93,9 4,9 0,0 1,2 100,0 240 Pantang berkala 88,9 10,9 0,0 0,1 100,0 444 Lainnya 88,4 10,4 0,6 0,6 100, Tidak pakai 72,4 21,2 4,0 2,4 100, Jumlah 81,9 14,8 2,0 6,6 100, ¹ Tidak termasuk wanita yang kumpul dalam 4 minggu terakhir ² Tidak termasuk wanita yang saat ini belum kawin Seperti diharapkan, bahwa wanita yang menggunakan kontrasepsi lebih sering kumpul dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi. SDKI memperlihatkan bahwa metode kontrasepsi yang digunakan saat ini juga berkaitan dengan aktifitas kumpul. Frekuensi kumpul dalam empat minggu sebelum survei di antara wanita yang sudah dioperasi steril cenderung lebih rendah (81 persen) dibanding dengan wanita yang menggunakan pil (92 persen). Perbedaan umur antara wanita yang sudah dioperasi steril dengan wanita yang menggunakan kontrasepsi untuk menjarangkan kelahiran kemungkinan merupakan salah satu faktor yang dapat menjelaskan untuk melihat pola aktifitas kumpul. Faktor Penentu Fertilitas Selain Kontrasepsi 103

129 Lampiran Tabel A.9.3 memberikan informasi tentang wanita yang kumpul selama empat minggu terakhir menurut propinsi. Terdapat keragaman antar propinsi, yaitu berkisar antara 77 persen di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur dan 91 persen di Sulawesi Utara. Rendahnya proporsi wanita yang kumpul di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur mungkin berkaitan dengan tingginya proporsi wanita yang melakukan abstinensi karena alasan lain, seperti pisah sementara. 9.4 BELUM HAID, TIDAK KUMPUL, DAN MASA TIDAK SUBUR SETELAH MELAHIRKAN Pada wanita yang tidak memakai kontrasepsi, kemungkinan untuk menjadi hamil setelah melahirkan ditentukan oleh dua faktor, yaitu menyusui bayi dan tidak kumpul dengan suami. Seorang wanita yang baru melahirkan dapat menunda kehamilan berikutnya dengan memperpanjang masa menyusui, yang dapat memperpanjang masa tidak haid, atau menunda kumpul dengan suami. Dalam laporan ini, wanita disebut tidak subur jika ia belum haid atau belum kumpul setelah melahirkan, sehingga tidak mempunyai kemungkinan untuk menjadi hamil. Tabel 9.5 menunjukkan persentase kelahiran tiga tahun sebelum survei yang ibunya belum mulai haid, belum kumpul dengan suami, dan tidak subur setelah melahirkan dirinci menurut jumlah bulan sejak kelahiran tersebut. Angka-angka yang disajikan pada Tabel 9.5 dihitung berdasarkan status saat survei (current status). Setiap wanita ditentukan statusnya, apakah belum haid atau belum kumpul setelah melahirkan pada waktu survei. Tabel tersebut mencakup semua anak yang lahir selama tiga tahun sebelum survei. Untuk mengurangi fluktuasi, kelahiran dikelompokkan dalam selang dua bulanan. Tabel 9.5 menunjukkan bahwa hampir semua wanita tidak subur dalam dua bulan pertama setelah melahirkan, karena mereka belum haid atau belum kumpul. Tetapi, kontribusi dari masa tidak kumpul terhadap periode tidak subur menjadi kurang penting mulai dari bulan ke empat setelah melahirkan. Tabel 9.5 Belum haid, tidak kumpul, dan masa tidak subur setelah melahirkan Persentase kelahiran pada wanita tiga tahun sebelum survei yang belum haid, tidak kumpul, dan masa tidak subur setelah melahirkan menurut jumlah bulan sejak kelahiran, median dan rata-rata, Indonesia Bulan sejak Persentase kelahiran pada wanita yang: kelahiran Belum haid Tidak kumpul Masa tidak subur Jumlah kelahiran < 2 92,2 91,0 97, ,9 34,0 63, ,9 10,7 47, ,8 10,2 37, ,6 4,9 27, ,2 5,6 25, ,1 4,0 30, ,2 4,3 23, ,7 3,1 18, ,6 4,6 23, ,3 2,2 13, ,7 2,7 13, ,7 1,8 17, ,4 1,7 11, ,3 2,4 12, ,8 2,1 16, ,6 1,3 14, ,4 1,6 9,0 493 Jumlah 25,4 10,2 28, Median 3,8 2,2 4,6 na Rata-rata 9,4 4,1 10,3 na T Catatan: Estimasi berdasarkan status saat survei. na = Tidak berlaku Pengaruh perlindungan dari masa belum haid kurang cepat turun; 54 persen wanita belum haid pada 2-3 bulan setelah melahirkan, 28 persen wanita belum haid pada bulan, dan 16 persen wanita belum haid pada bulan (Gambar 9.2). 104 Faktor Penentu Fertilitas Selain Kontrasepsi

130 Gambar 9.2 Persentase Kelahiran dalam 3 Tahun Terakhir yang Ibunya Belum Haid atau Belum Kumpul < Bulan-bulan sejak kelahiran Masa Nifas Puasa Kumpul SDKI Median masa tidak haid, tidak kumpul, dan tidak subur setelah melahirkan menurut karakteristik latar belakang responden disajikan pada Tabel 9.6. Wanita umur di bawah 30 tahun mempunyai masa tidak subur lebih rendah dibanding wanita umur di atas 30 tahun, masing-masing 4,2 dan 5,3 bulan. Menurut tempat tinggal, masa tidak subur untuk wanita di perdesaan lebih lama (5,4 bulan) dibanding wanita di perkotaan (4,0 bulan). Bila dilihat menurut pendidikan wanita, makin rendah tingkat pendidikan wanita, makin lama masa tidak subur setelah melahirkan. Median lamanya tidak subur untuk wanita yang tidak berpendidikan adalah 9,6 bulan, sedangkan untuk wanita yang mempunyai pendidikan tamat SLTP atau lebih tinggi adalah 3,7 bulan. Kontribusi wanita belum haid pada masa tidak subur lebih besar dari pada kontribusi masa tidak kumpul untuk semua kelompok latar belakang karakteristik wanita. Tabel 9.6 Median lamanya masa tidak subur setelah melahirkan menurut karakteristik latar belakang Median jumlah bulan belum haid, tidak kumpul, dan masa tidak subur setelah melahirkan dalam 3 tahun sebelum survei menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Belum haid Tidak kumpul Masa tidak subur Jumlah kelahiran Umur ,6 2,3 4, ,4 2,0 5, Daerah tempat tinggal Perkotaan 3,1 2,2 4, Perdesaan 4,5 2,2 5, Pendidikan Tidak sekolah 8,3 1,8 9,6 409 Tidak tamat SD 5,5 2,3 6, Tamat SD 4,1 2,2 4, Tidak tamat SLTP 2,9 2,2 3, SLTP + 3,0 2,2 3, Jumlah 3,8 2,2 4, Catatan : Median berdasarkan status sekarang Faktor Penentu Fertilitas Selain Kontrasepsi 105

131 Lampiran Tabel A.9.4 menunjukkan keragaman masa belum haid, tidak kumpul, dan masa tidak subur menurut propinsi. Median masa tidak haid berkisar mulai kurang dari 2 bulan di Sumatera Utara sampai dengan hampir 11 bulan di Nusa Tenggara Timur. Perbedaan dalam masa tidak kumpul setelah melahirkan tidak sejelas perbedaan dalam masa belum haid. Pada semua kelompok wanita di hampir seluruh propinsi, median lamanya tidak kumpul setelah melahirkan lebih dari 2 bulan. Keragaman median masa tidak subur antar propinsi umumnya sama dengan keragaman median masa belum haid setelah melahirkan. Median masa tidak subur paling lama ditemui pada wanita di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan (masing-masing 11,4 dan 7,9 bulan) dan paling rendah di Bangka Belitung (2,2 bulan). 9.6 AKHIR MASA SUBUR Faktor lain yang mempengaruhi kemungkinan seorang wanita untuk menjadi hamil adalah menopause atau mati haid. Mati haid di sini diartikan sebagai proporsi wanita kawin umur 30 tahun atau lebih yang tidak dalam masa nifas, tidak sedang hamil, dan tidak mendapat haid selama enam bulan atau lebih sebelum survei, atau yang menyatakan bahwa mereka sudah mati haid. Tabel 9.7 menunjukkan bahwa, seperti yang diharapkan, proporsi wanita yang memenuhi persyaratan tadi naik seiring dengan meningkatnya umur, dari 9 persen untuk wanita umur tahun, menjadi 21 persen pada wanita umur tahun, dan menjadi 47 persen pada wanita umur tahun. Tabel 9.7 Menopause Persentase wanita umur tahun yang menopause/ mati haid menurut umur, Indonesia Umur Persentase menopause¹ Jumlah wanita , , , , , , , Total 15, Persentase dari semua wanita yang tidak hamil dan belum mulai haid setelah melahirkan, yang masa haidnya terjadi enam bulan atau lebih sebelum survei. 106 Faktor Penentu Fertilitas Selain Kontrasepsi

132 KEMATIAN BAYI DAN ANAK 10 Sejak lama, program kesehatan Indonesia difokuskan pada penurunan angka kematian bayi dan anak yang masih tinggi. Angka kematian bayi dan anak tidak hanya penting untuk mengevaluasi kemajuan program kesehatan, tapi juga untuk memonitor situasi kesehatan, dan sebagai input dalam penghitungan proyeksi penduduk. Selain itu, angka kematian bayi dan anak dapat juga dipakai untuk mengidentifikasi kelompok penduduk yang mempunyai risiko kematian tinggi. Bab ini mengulas tingkat, tren, dan perbedaan angka kematian berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan beberapa survei lainnya. Berikut adalah beberapa ukuran angka kematian bayi dan anak: Kematian neonatum: Kematian post-neonatum: Kematian bayi: Kematian anak: Kematian balita: Kematian Perinatal: peluang untuk meninggal dalam bulan pertama setelah lahir. peluang untuk meninggal setelah bulan pertama tetapi sebelum umur tepat satu tahun. peluang untuk meninggal antara kelahiran dan sebelum mencapai umur tepat satu tahun. peluang untuk meninggal antara umur satu tahun dan sebelum tepat lima tahun. peluang untuk meninggal antara kelahiran dan sebelum umur tepat lima tahun. jumlah bayi lahir mati dan bayi yang meninggal sebelum berumur tepat satu minggu dibagi dengan jumlah kehamilan umur 7 bulan atau lebih. Data kematian bayi dan anak hasil SDKI dihitung dari riwayat kelahiran yang dicakup dalam daftar perseorangan. Bagian ini dimulai dengan menanyakan keterangan riwayat kelahiran responden seperti: jumlah anak laki-laki dan perempuan yang tinggal bersama responden, yang tinggal di tempat lain, serta anak yang telah meninggal. Selanjutnya, untuk setiap kelahiran hidup, dicatat keterangan mengenai nama, tanggal lahir, jenis kelamin, apakah kelahirannya merupakan kelahiran tunggal atau kembar, dan status kelangsungan hidup. Untuk anak yang masih hidup, umur saat ulang tahun terakhir dan apakah anak tersebut tinggal bersama dengan ibunya atau tidak juga ditanyakan. Untuk anak responden yang telah meninggal ditanyakan umur saat meninggal EVALUASI KUALITAS DATA Riwayat kelahiran secara restropektif seperti yang dicakup dalam SDKI dapat dipengaruhi oleh beberapa kesalahan dalam pengumpulan data. Pertama, hanya wanita umur tahun yang masih hidup yang diwawancarai; oleh sebab itu tidak tersedia data anak dari wanita yang sudah meninggal. Estimasi angka mortalitas dapat bias jika fertilitas dari wanita yang masih hidup dan yang sudah meninggal berbeda sangat nyata. Di Indonesia, bias ini nampaknya diabaikan. Kesalahan lain yang mungkin terjadi adalah ketidaklengkapan jumlah kasus yang tidak dilaporkan; responden cenderung melupakan peristiwa yang terjadi pada waktu lampau. Kesalahan pelaporan umur saat lahir dan umur saat meninggal juga mengakibatkan bias. Secara umum, kesalahan pelaporan umur dari wanita sekarang jauh lebih baik dibanding wanita pada masa sebelumnya. Data SDKI dapat digunakan untuk memeriksa adanya bukti kesalahan dan juga seberapa jauh bias tersebut. Sehubungan dengan kesalahan pelaporan tanggal kelahiran anak, seperti yang ditunjukkan dalam Lampiran Tabel D.4, terlihat ada defisit kelahiran di tahun 1997 dan kelebihan kelahiran di tahun Pola ini ditemukan sejak SDKI sebelumnya, kemungkinan adalah akibat kesalahan pewawancara memindahkan kelahiran diluar periode dimana seharusnya data kesehatan anak Kematian Bayi dan Anak 107

133 dikumpulkan (yaitu Januari 1997 sampai saat tanggal pencacahan). Hal ini dilakukan pewawancara kemungkinan untuk mengurangi beban kerja. Sehubungan dengan pelaporan umur anak saat meninggal, sumber utama kesalahan adalah kecenderungan ibu melaporkan umur berkelipatan 6 bulan. Untuk mengurangi kesalahan ini, instruksi rinci diberikan ke pewawancara SDKI untuk mencatat umur kematian di bawah satu bulan dalam hari, dan umur kematian di bawah dua tahun dalam bulan. Pewawancara juga diminta untuk menggali ketepatan umur kematian dalam bulan seandainya dilaporkan sebagai satu tahun atau 12 bulan. Distribusi kematian anak menurut umur saat meninggal ditampilkan dalam Lampiran Tabel D.5. Terlihat adanya bukti kelebihan kematian untuk 7 hari atau 1 minggu yang mempengaruhi penghitungan kematian perinatal. Tidak ada bukti kecenderungan kematian dilaporkan pada umur 12 bulan, kesalahan umum yang mempengaruhi estimasi kematian bayi. Kematian pada umur 6 bulan dan 18 bulan dilaporkan lebih; juga terlihat pelaporan kematian yang terjadi pada umur satu tahun, meskipun pewawancara sudah diberi instruksi untuk mencatat dalam bulan. Kecenderungan melaporkan kematian pada umur 6 bulan dan 18 bulan tidak separah yang tercatat di SDKI Seperti yang diharapkan, kecenderungan pelaporan umur kematian lebih parah untuk kematian yang terjadi di masa lampau dibanding kematian yang terjadi baru-baru ini. Seperti yang terlihat dari Gambar 10.1, distribusi kematian yang dilaporkan untuk periode 0-4 tahun sebelum survei lebih stabil daripada distribusi kematian untuk periode 5-9 dan tahun sebelum survei. Gambar 10.1 Pelaporan Umur Kematian dalam Bulan Jumlah Kematian Umur saat meninggal (bulan) Tahun sebelum Survei SDKI Kematian Bayi dan Anak

134 Masalah lain berhubungan dengan kenyataan bahwa estimasi mortalitas SDKI merujuk ke status kelangsungan hidup dari kelahiran yang terjadi selama satu periode tertentu (misal, 0-4 tahun sebelum survei). Namun, karena hanya wanita usia reproduksi yang diwawancarai, wanita usia di atas 49 tahun tidak diwawancarai, dengan demikian mereka tidak dapat melaporkan kelangsungan hidup dari bayi yang mereka lahirkan pada periode yang sama untuk dapat diperhitungkan. Jika cakupan periode diperpanjang sampai jauh ke masa lampau, data kematian yang didapat menjadi jauh lebih jelek. Untuk mengurangi kesalahan, analisis tren kematian bayi dan anak di SDKI dibatasi untuk periode tidak lebih dari 15 tahun sebelum survei. Dalam membahas masalah yang mempengaruhi data mortalitas, perlu dicatat bahwa karena tingkat fertilitas di Indonesia sudah rendah, estimasi kematian bayi dan anak dari hasil SDKI didasarkan pada sampel yang relatif kecil. Situasi ini menyebabkan estimasi yang kurang tepat. Untuk mengurangi masalah ini, mortalitas hasil SDKI dihitung untuk periode lima atau 10 tahun. Pada akhirnya, estimasi mortalitas hasil SDKI dihitung secara langsung dari keterangan kematian anak yang dikumpulkan dalam tabel riwayat kelahiran. Tidak tersedianya informasi yang diperlukan untuk menghasilkan estimasi dengan metode langsung, menyebabkan sensus penduduk di Indonesia selalu menyajikan estimasi penghitungan dengan cara tidak langsung berdasarkan jumlah anak lahir hidup dan anak masih hidup. Meskipun tidak ada kesepakatan metode mana yang lebih baik, asumsi dasar yang digunakan dalam metode tidak langsung dapat menimbulkan bias yang besar. Hasil studi menemukan bahwa meskipun model mortalitas digunakan yang tepat, hasil dari teknik penghitungan tidak langsung selalu lebih tinggi dari teknik penghitungan langsung (Sullivan, dkk., 1994). Oleh sebab itu, dalam laporan ini hanya disajikan estimasi dengan cara langsung TINGKAT DAN TREN KEMATIAN BAYI DAN ANAK Tabel 10.1 menyajikan estimasi kematian anak untuk tiga periode lima tahunan sebelum survey. Data menunjukkan bahwa kematian balita telah turun sebesar 42 persen selama periode lima belas tahun, dari 79 kematian per kelahiran selama periode menjadi 46 kematian per kelahiran selama periode Kematian bayi merupakan bagian terbesar dari kematian balita. Selama periode lima belas tahun, kematian post-neonatum juga turun cepat (50 persen) dari angka kematian neonatum (31 persen). Akibatnya, sebagian besar kematian bayi sekarang ini terjadi pada bulan pertama. Tabel 10.1 Angka kematian anak Angka kematian neonatum, post-neonatum, bayi, anak, dan balita untuk periode lima tahunan sebelum survei, Indonesia Tahun sebelum survei Perkiraan tahun kalender Kematian neonatum (NN) Kematian postneonatum (PNN) 1 Kematian bayi ( 1 q 0 ) Kematian anak ( 4 q 1 ) Kematian balita ( 5 q 0 ) Dihitung dari selisih antara angka kematian bayi dan kematian neonatum Dengan menggunakan estimasi dari survei dan sensus penduduk sebelumnya, Gambar 10.2 menunjukkan kematian bayi turun dari 142 kematian per kelahiran di tahun 1967 menjadi 35 kematian per kelahiran di tahun Sedikit fluktuasi dalam estimasi diduga karena metode penghitungan yang berbeda. Perbedaan juga disebabkan karena perbedaan wilayah yang dicakup dalam berbagai survei dan sensus. Kematian Bayi dan Anak 109

135 Gambar 10.2 Angka Kematian Bayi, Menurut Sumber Data, Indonesia, Kematian per Kelahiran (a) 112(b) 75(c) 70(d) 68(e) 57(f) 46(g) 47(h) 35(i) Tahun Sumber: (a) Sensus1971, (b) Sensus 1980, (c) SPI 1987, (d) Sensus 1990, (e) SDKI 1991, (f) SDKI 1994, (g) SDKI 1997, (h) Sensus 2000, (i) SDKI SDKI PERBEDAAN MORTALITAS Sejumlah faktor sosial ekonomi, lingkungan dan faktor biologis mempengaruhi kematian bayi dan anak. Sebuah kerangka kerja untuk mempelajari kematian anak di negara berkembang yang dikembangkan oleh Mosley dan Chen (1984) menyatakan bahwa ada berbagai faktor termasuk faktor sosial ekonomi yang secara langsung mempengaruhi kematian bayi, meliputi: karakteristik ibu seperti umur, paritas, dan selang kelahiran; pencemaran lingkungan; gizi, kecelakaan; dan penyakit. Faktor sosial ekonomi mempengaruhi kematian melalui faktor-faktor yang mempengaruhi secara langsung. Pada bagian selanjutnya, dibahas perbedaan menurut karakteristik sosial ekonomi dan biodemografis yang dikumpulkan dalam SDKI Variabel sosial ekonomi mencakup tempat tinggal, pendidikan, serta indeks kekayaan kuantil. Variabel biodemografis mencakup umur ibu, paritas, dan selang kelahiran. Beberapa variabel lain yang berpengaruh terhadap kesehatan dan kematian anak, seperti berat bayi saat lahir, pemeriksaan kehamilan dan penolong kelahiran, serta komplikasi saat persalinan juga dibahas. Tabel 10.2 menyajikan angka kematian anak-anak untuk periode sepuluh tahun sebelum survei (sekitar tahun ) menurut karakteristik sosial ekonomi ibu. Secara umum, anak yang lahir dari ibu yang tinggal di daerah perkotaan mempunyai angka mortalitas yang lebih rendah daripada yang ibunya tinggal di daerah perdesaan. Sebagai contoh, kematian post-neonatum di daerah perkotaan hanya separo daripada di perdesaan (13 kematian per kelahiran dibandingkan dengan 26 kematian per kelahiran). Pola yang sama ditemukan pada SDKI sebelumnya, untuk semua umur saat meninggal dan di seluruh wilayah negara. Mortalitas yang rendah di daerah perkotaan kemungkinan berhubungan dengan ketersediaan fasilitas yang lebih baik dan perilaku kesehatan yang lebih baik dari penduduk kota. 110 Kematian Bayi dan Anak

136 Tabel 10.2 Angka kematian anak menurut karakteristik sosial ekonomi Angka kematian neonatum, post-neonatum, bayi, anak, dan balita untuk periode 10-tahun sebelum survei menurut karakteristik sosial ekonomi, Indonesia Kematian bayi ( 1 q 0 ) Karakteristik latar belakang Kematian neonatum (NN) Kematian postneonatum (PNN) 1 Kematian anak ( 4 q 1 ) Daerah tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Kematian balita ( 5 q 0 ) Pendidikan ibu Tidak sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tidak Tamat SLTP SLTP Indeks kekayaan kuantil Terbawah Menengah Bawah Menengah Menengah Atas Teratas Dihitung dari selisih antara angka kematian bayi dan kematian neonatum Data SDKI menunjukkan bahwa pendidikan ibu mempunyai hubungan yang terbalik dengan angka kematian bayi; tingkat kematian anak dari ibu yang berpendidikan rendah lebih tinggi dari tingkat kematian anak yang ibunya berpendidikan lebih tinggi. Sebagai contoh, angka kematian bayi dari ibu yang tidak sekolah adalah 67 kematian per kelahiran, dibandingkan dengan 23 kematian per kelahiran dari ibu berpendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama. Kekayaan rumah tangga di kuesioner SDKI diambil dari informasi keadaan tempat tinggal dan kepemilikan barang-barang tahan lama seperti radio, televisi, kulkas, sepeda, sepeda motor, atau mobil. Semua jenis barang tersebut dimasukkan sebagai kekayaan rumah tangga dan dipakai untuk menyusun indeks komposit. Anggota rumah tangga kemudian diklasifikasikan kedalam lima kategori (kuantil) menurut skor dari rumah tangga: terbawah, menengah bawah, menengah, menengah atas, dan teratas. Ada hubungan terbalik antara kekayaan dan angka kematian bayi; anak yang lahir dari keluarga kaya mempunyai mortalitas yang rendah. Sebagai contoh, angka kematian bayi untuk anak di kelompok kuantil terbawah adalah 61 kematian per kelahiran, sementara untuk anak di kelompok kuantil teratas hanya 17 kematian per kelahiran. Lampiran Tabel A.10.1 menunjukkan angka mortalitas untuk periode 10 tahun sebelum survei menurut propinsi. Gorontalo dan Nusa Tenggara Barat mempunyai angka kematian bayi tertinggi (masing-masing 77 dan 74 kematian kelahiran), sementara Bali mempunyai angka kematian bayi terendah (14 kematian per kelahiran). Pola ini berbeda dengan hasil SDKI sebelumnya, dimana D.I Yogyakarta selalu menunjukkan angka kematian bayi terendah. Bangka Belitung, D.I Yogyakarta, dan Bali mempunyai angka kematian anak terendah, dan Nusa Tenggara Barat mempunyai angka kematian anak tertinggi. Bangka Belitung dan Gorontalo mempunyai angka kematian bayi yang lebih tinggi dari propinsi asal mereka (masing-masing Sumatera Selatan dan Sulawesi Utara). Angka kematian bayi di Banten lebih rendah daripada di Jawa Barat yang merupakan propinsi asal Banten. Tabel 10.3 menyajikan tren angka kematian bayi menurut propinsi, dari 1994 sampai Angka kematian telah turun di hampir semua propinsi. Nusa Tenggara Barat mempunyai angka kematian bayi tertinggi untuk semua periode. Kematian Bayi dan Anak 111

137 Tabel 10.3 Tren kematian bayi menurut propinsi Angka kematian bayi (per 1.000) untuk 10 tahun sebelum survei, menurut propinsi, Propinsi SDKI SDKI SDKI Sumatera Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung 1 na na 43 Jawa DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten 1 na na 38 Bali dan Nusa Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo 1 na na 77 Catatan: SDKI tidak memasukkan propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Survei sebelumnya termasuk propinsi Timor Timur. na = Tidak berlaku 1 Propinsi pecahan masing-masing dari Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi Utara KARAKTERISTIK DEMOGRAFI Tabel 10.4 menyajikan kematian anak menurut karakteristik demografi. Angka kematian anak laki-laki selalu lebih tinggi dari perempuan. Seperti contoh, angka kematian bayi laki-laki 15 persen lebih tinggi dari perempuan, dan angka kematian anak laki-laki adalah 18 persen lebih tinggi dari perempuan. 112 Kematian Bayi dan Anak

138 Table 10.4 Angka kematian anak menurut karakteristik demografi Angka kematian neonatum, post-neonatum, bayi, anak, dan balita untuk periode 10 tahun sebelum survei menurut karakteristik demografi, Indonesia Karakteristik demografi Kematian Neonatum (NN) Kematian Postneonatum (PNN) 1 Kematian bayi ( 1 q 0 ) Kematian anak ( 4 q 1 ) Kematian balita ( 5 q 0 ) Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Umur ibu saat melahirkan < Urutan kelahiran Selang kelahiran <2 tahun tahun tahun tahun Berat waktu lahir Kecil/sangat kecil na na Rata-rata atau lebih besar na na Pemeriksaan kehamilan/ penolong persalinan PK dan PP na na PK saja na na PP saja na na Selain PK dan PP na na na = Tidak berlaku 1 Dihitung dari selisih antara angka kematian bayi dan kematian neonatal 2 Tidak termasuk kelahiran pertama PK = Pemeriksaan Kehamilan (oleh tenaga kesehatan) PP = Penolong Persalinan (oleh tenaga kesehatan) Umur ibu saat melahirkan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup anak. Tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa angka kematian neonatum dan angka kematian bayi menurut umur ibu mengikuti hubungan bentuk-u, tinggi pada umur muda, rendah pada umur sedang, dan tinggi pada umur tua. Sebagai contoh, kematian bayi pada wanita yang melahirkan di bawah umur 20 tahun adalah 53 kematian per kelahiran. Angka ini menurun pada wanita yang melahirkan pada umur tahun dan tahun (masing-masing 39 dan 46 kematian per kelahiran), dan kemudian meningkat menjadi 50 kematian per kelahiran pada wanita umur tahun. Angka yang tinggi pada wanita yang lebih muda dan lebih tua mungkin disebabkan oleh faktor biologis yang mengakibatkan komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Hasil SDKI menunjukkan adanya hubungan positif yang nyata antara urutan kelahiran dan tingkat kematian; urutan kelahiran yang tinggi mempunyai risiko kematian yang tinggi. Sebagai contoh, angka kematian bayi untuk urutan kelahiran pertama adalah 36 kematian per kelahiran, Kematian Bayi dan Anak 113

139 sedang angka kematian untuk urutan kelahiran ke tujuh atau lebih adalah 89 kematian per kelahiran. Seperti yang diharapkan, angka kematian anak menurun ketika selang kelahiran meningkat. Sebagai contoh, angka kematian bayi untuk anak yang lahir dengan selang kelahiran kurang dari dua tahun setelah kelahiran sebelumnya adalah tiga kali lebih tinggi dari angka kematian yang lahir dengan selang kelahiran empat tahun atau lebih (102 berbanding 31 kematian per kelahiran). Ukuran bayi saat lahir mempunyai hubungan yang kuat dengan risiko kematian bayi, terutama dalam bulan pertama. Untuk semua anak yang lahir selama periode lima tahun sebelum survei, ibunya ditanya apakah anaknya sangat kecil, kecil, rata-rata, besar, atau sangat besar saat dilahirkan. Meskipun bersifat subyektif, pendapat ibu memperlihatkan adanya hubungan yang erat dengan berat saat lahir yang sesungguhnya. Hasil SDKI memastikan bahwa angka kematian anak yang ibunya menganggap berat bayinya kecil atau sangat kecil saat dilahirkan lebih tinggi dari anak yang lahir dengan ukuran rata-rata atau lebih besar dari rata-rata. Angka kematian neonatum pada bayi yang beratnya dianggap kecil atau sangat kecil adalah tiga kali lebih tinggi dari bayi yang dilaporkan mempunyai berat rata-rata atau besar (39 berbanding dengan 12 kematian per kelahiran). Tabel 10.4 juga memperlihatkan hubungan antara kematian bayi dan anak dengan pemeriksaan kehamilan dan penolong persalinan. Seperti yang diharapkan, angka kematian umumnya paling rendah untuk anak yang ibunya memeriksakan kehamilan dan mendapat pertolongan tenaga medis saat melahirkan dan paling tinggi pada anak yang ibunya tidak memeriksakan kehamilan maupun mendapat pertolongan persalinan dari tenaga medis MORTALITAS MENURUT STATUS WANITA Meskipun tidak ada hubungan langsung, status wanita dapat mempengaruhi kematian bayi dan anak melalui kemampuan perempuan untuk mengontrol keuangan dan membuat keputusan. Dalam SDKI , responden ditanya mengenai kebiasaan mereka dalam beberapa aspek tertentu dari kewenangan mereka, termasuk jumlah keputusan dalam rumah tangga yang melibatkan wanita, jumlah alasan dimana wanita dibenarkan untuk menolak berhubungan seks dengan suaminya, dan jumlah alasan yang menerima suami memukul istrinya. Seorang wanita dinggap lebih mandiri jika ikut menentukan keputusan rumah tangga dan setuju dengan sejumlah alasan untuk menolak berhubungan seks dengan suaminya. Sebaliknya, makin banyak alasan yang ia terima untuk pembenaran istri dipukul, maka ia dianggap makin kurang mandiri. Tabel 10.5 menyajikan angka kematian anak menurut indikator status wanita. Berdasarkan tiga indikator, terlihat hubungan yang samar antara status wanita dan kematian anak. Hubungan antara partisipasi wanita dalam hal pembuatan keputusan dan kematian anak umumnya adalah negatif; anak dari wanita yang mempunyai suara dalam pembuatan keputusan mempunyai kematian yang lebih rendah. Jumlah alasan yang membenarkan seorang wanita menolak berhubungan seks dengan suami berlaku sama seperti dalam hal pembuatan keputusan. Semakin banyak alasan yang disetujui, maka ia semakin mandiri. Dengan demikian, anak dari ibu yang tidak menolak tanpa suatu alasan diharapkan mempunyai angka kematian yang tertinggi. Ini yang ditunjukkan oleh Tabel Pandangan tentang pemukulan terhadap istri adalah cerminan dari status wanita. Wanita yang tidak setuju alasan apapun yang membenarkan pemukulan terhadap istri dianggap berstatus tinggi, yang pada gilirannya berdampak pada gambaran kematian yang lebih baik untuk anak-anaknya. Tabel 10.5 umumnya menggambarkan pola yang diharapkan. Anak dari wanita yang setuju 3-5 alasan untuk memukul istri mempunyai angka kematian yang tertinggi. 114 Kematian Bayi dan Anak

140 Table 10.5 Angka kematian anak menurut status wanita Angka kematian neonatum, post-neonatum, bayi, anak, dan balita untuk periode 10 tahun sebelum survei menurut indikator status wanita, Indonesia Indikator status wanita Kematian neonatum (NN) Kematian postneonatum (PNN) 1 Kematian bayi ( 1 q 0 ) Kematian anak ( 4 q 1 ) Kematian balita ( 5 q 0 ) Jumlah keputusan dimana wanita ikut memutuskan Jumlah alasan menolak berhubungan seks dengan suami Jumlah alasan pembenaran istri dipukul Dihitung dari selisih antara angka kematian bayi dan kematian neonatum 2 Baik sendiri atau dengan yang lainnya KEMATIAN PERINATAL Dalam SDKI , responden diminta untuk melaporkan semua kehamilan yang gagal selama lima tahun sebelum survei. Untuk setiap kehamilan tersebut, dicatat umur kehamilan. Dalam laporan ini, kematian perinatal adalah kehamilan yang gagal setelah tujuh bulan pembuahan (lahir mati) dan kematian bayi baru lahir sampai berumur tujuh hari (kematian bayi sebelum berumur tepat satu minggu). Angka kematian perinatal adalah jumlah bayi lahir mati dan jumlah kematian bayi sebelum berumur tepat satu minggu dibagi dengan jumlah kehamilan usia tujuh bulan atau lebih. Perbedaan antara lahir mati dan kematian bayi sebelum berumur tepat satu minggu tidak jelas, tergantung pada ada tidaknya tanda-tanda kehidupan setelah kelahiran. Penyebab lahir mati dan kematian bayi sebelum berumur tepat satu minggu tumpang tindih, jadi meneliti salah satu dapat salah menyimpulkan angka kematian sekitar kelahiran. Untuk alasan ini, dalam laporan, kedua kejadian digabung dan diteliti bersama-sama. Angka kematian perinatal adalah indikator yang berguna mengenai pelayanan persalinan, baik dalam penggunaan pelayanan maupun kemampuan pelayanan untuk menjamin bayi lahir sehat. Data di Tabel 10.6 memperlihatkan bahwa secara keseluruhan, survei mencatat 147 bayi lahir mati dan 224 kematian bayi neonatum, yang menghasilkan angka kematian perinatal sebesar 24 kematian per kehamilan. Kematian perinatal sangat banyak terjadi pada wanita yang melahirkan di atas umur 40 tahun. Angka perinatal terendah terjadi pada wanita umur tahun. Lebih jauh Tabel 10.6 menunjukkan bahwa selang kelahiran mempunyai pengaruh yang kuat pada hasil dari kehamilan berikutnya. Kehamilan yang terjadi dalam 15 bulan setelah kelahiran sebelumnya mempunyai risiko tertinggi untuk gagal atau berakhir dengan kematian dini (50 kasus kehamilan gagal atau kematian dini per kehamilan), Kematian Bayi dan Anak 115

141 sementara selang kelahiran yang paling aman adalah antara 15 dan 26 bulan (14 kasus kehamilan gagal atau kematian dini per kehamilan). Tabel 10.6 Kematian perinatal Jumlah anak yang lahir mati dan kematian neonatum dini, dan angka kematian perinatal untuk lima tahun sebelum survei, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Jumlah lahir mati 1 Jumlah kematian neonanatum dini 2 Angka kematian perinatal 3 Jumlah kehamilan 7 bulan atau lebih Umur ibu melahirkan < Selang kehamilan dalam bulan Kehamilan pertama < Daerah Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Pendidikan ibu Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tidak tamat SLTP SLTP Jumlah Lahir mati adalah kematian bayi setelah kehamilan tujuh bulan atau lebih. 2 Kematian neonatum dini adalah kematian bayi baru lahir umur 0-6 hari. 3 Jumlah lahir mati dan kematian neonatum dini dibagi jumlah kehamilan tujuh bulan atau lebih. Seperti halnya kematian anak lain, angka kematian perinatal anak yang ibunya tinggal di perkotaan lebih rendah dari angka kematian anak yang ibunya tinggal di perdesaan. Anak dari wanita dengan pendidikan lebih tinggi diharapkan mempunyai angka kematian perinatal yang rendah, ternyata angka kematian perinatal dari anak yang ibunya berpendidikan tinggi hampir sama dengan kematian perinatal dari anak yang ibunya tidak sekolah. Angka kematian perinatal terendah adalah pada anak yang ibunya berpendidikan tamat sekolah dasar RISIKO KELAHIRAN TINGGI Ada hubungan yang kuat antara pola fertilitas ibu dengan kelangsungan hidup anak. Pada umumnya, bayi dan anak-anak mempunyai probabilitas kematian yang tinggi jika mereka dilahirkan oleh ibu yang terlalu muda atau terlalu tua, jika mereka dilahirkan setelah selang kelahiran yang terlalu pendek, atau jika mereka dilahirkan pada urutan kelahiran yang tinggi. Faktor-faktor ini menjadi perhatian khusus karena mudah dihindari dengan biaya yang murah. 116 Kematian Bayi dan Anak

142 Untuk keperluan analisis fertilitas risiko tinggi yang disajikan pada Tabel 10.7, seorang ibu dikategorikan terlalu muda jika ia berumur kurang dari 18 tahun dan terlalu tua jika ia berumur di atas 34 tahun saat melahirkan. Selang kelahiran yang pendek didefinisikan jika kelahiran terjadi kurang dari 24 bulan setelah kelahiran sebelumnya, dan seorang anak yang urutan kelahirannya tinggi adalah jika si ibu telah melahirkan tiga anak atau lebih (yaitu jika urutan anak adalah anak ke empat atau lebih). Meskipun kelahiran pertama umumnya berhubungan dengan risiko kematian tinggi, walaupun terjadi saat ibu berumur antara 18 dan 34 tahun, mereka tidak termasuk dalam kategori risiko tinggi kecuali jika terjadi pada mereka yang terlalu muda atau tua; sebaliknya, mereka dianggap tidak dapat dihindarkan. Tabel 10.7 Risiko kelahiran tinggi Distribusi persentase anak yang dilahirkan selama 5 tahun sebelum survei menurut kategori risiko tinggi dan distribusi persentase wanita berstatus kawin yang berisiko tinggi melahirkan anak menurut kategori risiko pada saat survei, Indonesia Kategori risiko Kelahiran selama 5 tahun sebelum survei Persentase kelahiran Rasio risiko Persentase wanita berstatus kawin 1 Kategori tidak berisiko tinggi 35,6 1,00 31,6 a Risiko kategori tidak dapat dihindarkan Urutan kelahiran pertama antara umur 18 dan 34 tahun 30,4 0,98 5,7 Kategori berisiko tinggi tunggal Umur ibu <18 4,1 1,83 0,2 Umur ibu >34 3,8 0,40 13,5 Selang kel. <24 bulan 5,2 2,02 8,0 Uritan kelahiran >3 9,4 1,31 6,7 Sub jumlah 22,4 1,42 28,4 Kategori berisiko tinggi ganda Umur <18 & urutan kel. <24 bulan 2 0,2 1,38 0,1 Umur >34 & selang kel. <24 bulan 0,1 0,99 0,4 Umur >34 & urutan kel. >3 8,5 1,29 29,0 Umur >34 & selang kel. <24 bulan & urutan kel. >3 1,1 3,48 2,2 Selang kel. <24 bulan & urutan kel. >3 1,8 3,89 2,7 Sub jumlah 11,6 1,88 34,3 Dalam kategori risiko tinggi 34,0 1,58 62,7 Jumlah 100,0 na 100,0 Jumlah kelahiran na Catatan: Rasio risiko merupakan proporsi anak lahir mati dalam suatu kategori risiko tinggi terhadap anak lahir mati kategori tidak berisiko. na = Tidak berlaku 1 Wanita dimasukkan kedalam kategori berisiko tinggi menurut status mereka saat kelahiran anak jika mereka mengandung pada waktu survei umurnya kurang dari 17 tahun dan 3 bulan atau umurnya lebih dari 34 tahun dan 2 bulan, kelahiran terakhir kurang dari 15 bulan yang lalu, dan kelahiran terakhir merupakan urutan keempat atau lebih. 2 Termasuk kedua kategori umur <18 dan urutan kelahiran >3 a Termasuk wanita yang sudah disterilisasi Kolom pertama di Tabel 10.7 memperlihatkan persentase kelahiran yang terjadi lima tahun sebelum survei yang masuk dalam berbagai kategori risiko. Satu dari tiga kelahiran di Indonesia mempunyai risiko kematian tinggi yang dapat dihindarkan, 30 persen adalah kelahiran pertama, dimana risiko kematian apapun dianggap tidak dapat dihindarkan, dan 36 persen dari kelahiran tidak termasuk dalam kategori risiko tinggi manapun. Di antara mereka yang dalam kategori risiko tinggi, 22 persen Kematian Bayi dan Anak 117

143 kelahiran hanya ada dalam salah satu kategori risiko tinggi, sementara 12 persen ada dalam kategori risiko tinggi ganda (disebabkan oleh kombinasi umur ibu, urutan kelahiran, dan selang kelahiran). Kategori risiko kematian tinggi tunggal dengan persentase kelahiran tertinggi adalah urutan kelahiran ketiga atau lebih; kategori ini mencakup 9 persen kelahiran. Dibandingkan dengan kelahiran tanpa risiko kematian tinggi, peningkatan kematian yang berhubungan dengan kategori ini signifikan (31 persen). Risiko kematian tertinggi untuk kategori risiko tunggal adalah dari ibu yang terlalu muda dan selang kelahiran yang terlalu pendek; masing-masing 4 dan 5 persen dari kelahiran. Kategori risiko tinggi ganda dengan proporsi kelahiran tertinggi adalah urutan kelahiran tinggi pada ibu yang berusia tua; 9 persen anak ada di kategori ini. Dibandingkan dengan kelahiran tanpa risiko tinggi, kelahiran ini mempunyai risiko kematian 29 persen lebih besar di masa dini anak. Kategori risiko tinggi ganda dengan rasio risiko kematian tertinggi adalah kombinasi selang kelahiran kurang dari 24 bulan dan urutan kelahiran ketiga atau lebih; 2 persen dari anak-anak di kategori ini peluang meninggalnya hampir empat kali lebih besar dari pada anak tanpa risiko kematian tinggi. Kolom terakhir dari Tabel 10.7 menyajikan distribusi wanita kawin menurut kategori meningkatnya risiko kematian jika mereka hamil pada saat survei. Meskipun banyak wanita yang terhindar dari kehamilan karena menggunakan alat/cara keluarga berencana, dalam masa nifas, dan tidak berhubungan seks dalam jangka panjang, untuk menyederhanakan, hanya mereka yang telah dioperasi sterilisasi dimasukkan dalam kategori tidak dalam risiko tinggi apapun. Dua dari tiga wanita berstatus kawin mempunyai risiko untuk mengandung anak dengan risiko kematian tinggi; 28 persen wanita mempunyai risiko kematian tinggi tunggal, sementara 34 persen wanita mempunyai risiko kematian tinggi ganda. Risiko yang paling umum adalah urutan kelahiran tinggi dikombinasikan dengan usia tua saat melahirkan (29 persen dari wanita kawin). 118 Kematian Bayi dan Anak

144 KESEHATAN IBU 11 Bab ini menyajikan temuan-temuan dari beberapa hal yang penting mengenai kesehatan ibu, yaitu pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan, komplikasi kehamilan dan persalinan, perawatan nifas, status wanita dan masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Informasi tentang pemeriksaan kehamilan dan perawatan nifas sangat penting dalam mengidentifikasi kelompok wanita yang tidak memanfaatkan pelayanan semacam ini, dan berguna dalam perencanaan untuk meningkatkan pelayanan. Pemeriksaan kehamilan dibedakan menurut jenis pemberi pelayanan, jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan, usia kehamilan pada kunjungan pertama, jumlah kunjungan, jenis pelayanan yang diterima dan penjelasan yang diberikan selama pemeriksaan kehamilan, termasuk imunisasi tetanus toksoid yang sudah diperoleh. Demikian pula, pelayanan persalinan diuraikan menurut penolong persalinan, tempat persalinan, dan jumlah bedah caesar. Informasi tentang perawatan nifas dikumpulkan untuk wanita yang tidak melahirkan di fasilitas kesehatan, menurut berapa lama pertolongan diterima setelah persalinan dan siapa yang memberi pertolongan. Bersama dengan informasi tentang komplikasi kehamilan dan angka kematian bayi baru lahir serta angka kematian bayi, informasi ini membantu untuk mengidentifikasi kelompok masyarakat yang kurang mendapat pelayanan. Pertanyaan tentang berat badan dan panjang badan bayi baru lahir memberikan informasi yang bermanfaat bagi pemerintah dalam upaya untuk menurunkan angka kematian bayi melalui penurunan angka berat badan lahir rendah. Pemanfaatan pelayanan pemeriksaan kehamilan, perawatan persalinan dan perawatan nifas yang diberikan tenaga kesehatan profesional diukur dalam hubungnnya dengan tingkat pemberdayaan, menurut tiga indikator status wanita. Dalam masyarakat yang pelayanan kesehatannya telah tersebar luas, status wanita mungkin tidak berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan ibu; tetapi dalam masyarakat yang pelayanan kesehatannya belum demikian, meningkatnya pemberdayaan wanita cenderung berhubungan dengan meningkatnya kemampuan mereka dalam mencari dan menggunakan pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan akan kesehatan, termasuk keselamatan ibu PEMERIKSAAN KEHAMILAN Pemeriksaan Kehamilan Tabel 11.1 memperlihatkan distribusi persentase wanita yang melahirkan dalam lima tahun sebelum survei menurut tenaga pemeriksa kehamilan dan karakteristik latar belakangnya. Di Indonesia, pemeriksaan kehamilan didefinisikan sebagai pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan kehamilan yang diberikan oleh tenaga medis profesional (yaitu dokter umum, dokter ahli kebidanan dan kandungan, perawat, bidan atau bidan di desa). Di antara wanita pernah kawin umur tahun yang diwawancarai dalam survei, melahirkan bayi hidup dalam lima tahun sebelum survei. Sembilan puluh dua persen ibu ini mendapat pemeriksaan kehamilan dari tenaga kesehatan: 81 persen mendapat pemeriksaan dari perawat, bidan atau bidan di desa; 10 persen mendapat pemeriksaan dari dokter ahli kebidanan dan kandungan dan 1 persen mendapat pemeriksaan dari dokter umum. Dibandingkan dengan data SDKI tahun 1997, data dari survei ini menunjukkan sedikit peningkatan dalam pemeriksaan kehamilan yang diberikan oleh perawat, bidan atau bidan di desa, dan penurunan dalam persentase wanita yang tidak mendapat pemeriksaan kehamilan (BPS dkk, 1998). Kesehatan Ibu 119

145 Cakupan pemeriksaan kehamilan sedikit lebih rendah untuk ibu berumur 35 tahun ke atas, yang lebih cenderung pergi ke dukun atau lebih cenderung tidak memeriksakan kehamilannya. Ibu yang pernah melahirkan tiga kali atau kurang dan yang tinggal di daerah perkotaan lebih cenderung mendapat pemeriksaan kehamilan dari tenaga kesehatan profesional dibandingkan dengan ibu yang pernah melahirkan empat kali atau lebih yang tinggal di daerah perdesaan. Tabel 11.1 Pemeriksaan Kehamilan Distribusi persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei menurut tenaga pemeriksa kehamilan dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Dokter umum Dokter kandungan Perawat/ bidan/ bidan di desa Dukun/ lainnya Tidak periksa Tidak terjawab Jumlah Jumlah ibu Umur saat melahirkan <20 0,8 2,9 85,1 5,3 5,6 0,3 100, ,5 10,6 80,9 3,2 3,4 0,2 100, ,2 9,6 74,6 6,1 8,4 0,2 100, Urutan kelahiran 1 1,8 11,5 80,9 2,8 2,8 0,2 100, ,3 10,5 82,2 2,9 2,9 0,2 100, ,3 5,2 79,0 6,8 7,4 0,3 100, ,3 2,7 71,2 9,7 15,3 0,8 100,0 946 Daerah tempat tinggal Perkotaan 1,7 16,0 79,0 0,9 2,2 0,2 100, Perdesaan 1,2 3,9 81,9 6,5 6,3 0,3 100, Pendidikan Tidak sekolah 1,7 0,8 67,6 11,9 17,9 0,1 100,0 580 Tidak tamat SD 0,6 1,6 77,4 9,7 10,4 0,4 100, Tamat SD 1,0 2,3 88,1 4,1 4,4 0,2 100, Tidak tamat SLTP 1,8 6,4 87,4 1,9 2,3 0,2 100, SLTP + 2,0 27,4 69,4 0,5 0,4 0,3 100, Jumlah 1,4 9,6 80,5 3,9 4,4 0,2 100, Catatan: Jika lebih dari satu tenaga pemeriksa yang disebutkan, hanya tenaga pemeriksa dengan kualifikasi tertinggi yang dicantumkan dalam tabulasi ini. Ada hubungan yang positif antara pendidikan ibu dan pemeriksaan kehamilan. Tujuh puluh persen ibu yang tidak sekolah mendapat pemeriksaan kehamilan dari tenaga kesehatan profesional, dibandingkan dengan hampir semua ibu yang berpendidikan SLTP atau lebih tinggi. Proporsi serupa untuk ibu yang tidak tamat SD dan tamat SD masing-masing adalah 80 persen dan 91 persen. Seperti yang diperkirakan, ibu yang tinggal di daerah perkotaan dan berpendidikan SLTP lebih cenderung mendapat pemeriksaan kehamilan dari dokter ahli kebidanan dan kandungan daripada ibu yang lain. Lampiran Tabel A.11.1 memperlihatkan perbedaan antar propinsi dalam cakupan pemeriksaan kehamilan. Hampir semua wanita di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta mendapat pemeriksaan selama kehamilan. Cakupan pemeriksaan kehamilan 90 persen atau lebih terdapat di lebih dari separuh propinsi yang dicakup oleh survei. Di lain pihak, cakupan pemeriksaan kehamilan kurang dari 70 persen terdapat di Kalimantan Tengah, dengan proporsi yang tinggi untuk ibu yang mendapat pemeriksaan kehamilan dari dukun. 120 Kesehatan Ibu

146 Jumlah Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan dan Saat Kunjungan Pertama Program kesehatan ibu di Indonesia menganjurkan agar ibu hamil melakukan paling sedikit empat kali kunjungan pemeriksaan kehamilan selama kehamilan, menurut jadwal berikut: paling sedikit satu kunjungan dalam trimester pertama, paling sedikit satu kunjungan dalam trimester kedua dan paling sedikit dua kunjungan dalam trimester ketiga. (Depkes RI, 2001a). Tabel 11.2 memperlihatkan bahwa 64 persen ibu memenuhi jadwal yang dianjurkan. Ibu di daerah perkotaan lebih cenderung melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan yang dianjurkan daripada ibu di daerah perdesaan (72 persen dibandingkan dengan 57 persen). Gambar 11.1 memperlihatkan bahwa 81 persen ibu melakukan empat atau lebih kunjungan pemeriksaan kehamilan ke tenaga kesehatan profesional, sementara 4 persen ibu tidak melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan. Tabel 11.2 juga memperlihatkan bahwa tujuh dari sepuluh wanita hamil melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan dalam trimester pertama, seperti yang dianjurkan pemerintah. Tujuh puluh dua persen wanita melakukan satu kunjungan pemeriksaan kehamilan dalam trimester pertama. Cakupan ini di bawah target cakupan program kesehatan ibu (90 persen). Ibu di daerah perkotaan lebih cenderung melakukan pemeriksaan kehamilan dalam trimester pertama daripada ibu di daerah perdesaan (masingmasing 79 dan 66 persen). Tabel 11.2 Jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan dan saat kunjungan pertama Distribusi persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei menurut jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan, umur kandungan dalam bulan pada saat kunjungan pertama dan jadwal paling sedikit satu kunjungan pemeriksaan kehamilan dalam setiap trimester, berdasarkan daerah tempat tinggal, Indonesia Jumlah dan saat kunjungan Daerah tempat tinggal pemeriksaan kehamilan Perkotaan Perdesaan Jumlah Jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan Tidak pernah 2,2 6,3 4,4 1 1,6 3,2 2, ,2 14,2 11, ,5 75,2 81,0 Tidak tahu/tidak terjawab 0,4 1,1 0,8 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Paling sedikit 1 kali kunjungan selama trimester I, paling sedikit 1 kali kunjungan selama trimester II dan paling sedikit 2 kali kunjungan selama trimester III 71,7 56,7 63,7 Umur kandungan dalam bulan pada saat kunjungan pertama pemeriksaan kehamilan Tidak periksa 2,2 6,3 4,4 <4 79,4 66,3 72, ,6 19,2 16, ,7 5,5 4,7 8+ 0,7 1,9 1,3 Tidak tahu/tidak terjawab 0,3 0,9 0,6 Jumlah 100,0 100,0 100,0 Median umur kandungan dalam bulan pada kunjungan pertama (untuk ibu yang melakukan pemeriksaan kehamilan) 2,6 3,2 3,0 Jumlah wanita Kesehatan Ibu 121

147 Gambar 11.1 Jumlah Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan dan Umur Kandungan dalam Bulan Pada Saat Kunjungan Pertama Pemeriksaan Kehamilan 2-3 kunjungan 11% 1 kunjungan 3% Tidak pernah 4% Tidak pernah 4,4 % 6+ bulan 6% 4-5 bulan 16,6 % 4+ kunjungan 81% Jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan 0-3 bulan 72,4% Umur kehamilan dalam bulan pada saat kunjungan pertama SDKI Komponen Pemeriksaan Kehamilan Di Indonesia, setiap ibu hamil dianjurkan mendapat pelayanan berikut ini: pengukuran tinggi badan dan berat badan, pengukuran tekanan darah, pemberian pil zat besi, imunisasi toksoid tetanus dan pemeriksaan perut (Depkes RI, 2001a). Dalam setiap kunjungan pemeriksaan kehamilan, ibu harus dijelaskan tentang tanda-tanda komplikasi kehamilan, diukur berat badannya, diperiksa darah dan urinnya. Tabel 11,3 memperlihatkan bahwa pelayanan yang paling sering didapatkan selama kunjungan pemeriksaan kehamilan adalah pemeriksaan perut (95 persen), pengukuran berat dan tekanan darah (masing-masing 90 persen). Kurang dari satu di antara tiga ibu yang diterangkan tentang tanda-tanda komplikasi kehamilan, diukur tinggi badannya atau diperiksa darahnya. Tiga puluh tujuh persen ibu diperiksa urinnya, Pada umumnya, wanita yang lebih tua, wanita yang melahirkan lebih banyak, wanita perdesaan, dan wanita dengan pendidikan lebih rendah, cenderung kurang mendapat pelayanan pemeriksaan kehamilan lengkap. Program kesehatan ibu Departemen Kesehatan menganjurkan agar wanita hamil minum paling sedikit 90 pil zat besi selama kehamilannya (Depkes RI, 2001a). Dalam SDKI , semua wanita yang melahirkan dalam periode lima tahun sebelum survei ditanya tentang apakah mendapat pil zat besi selama kehamilan yang terakhir dan jika ya, berapa banyak yang mereka telah minum. Dari wanita yang melahirkan dalam lima tahun sebelum survei, 78 persen ibu mendapat pil zat besi selama kehamilan. Pembicaraan tentang jumlah pil zat besi yang diminum disajikan dalam Bab 14. Lampiran Tabel A.11.2 memperlihatkan adanya sedikit keragaman menurut propinsi dalam komponen pemeriksaan kehamilan yang didapatkan oleh wanita hamil. Persentase ibu yang diukur berat badannya berkisar dari 66 persen di Sulawesi Tenggara dan Sumatera Utara, hingga 99 persen di DKI Jakarta dan Bali. Pemeriksaan perut didapatkan oleh paling sedikit 90 persen wanita di semua propinsi, kecuali di Kalimantan Tengah dan Gorontalo (masing-masing 84 dan 80 persen). Persentase ibu yang diukur tekanan darahnya berkisar dari 75 persen di Sumatera Utara hingga 98 persen di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Persentase yang mendapat pil zat besi beragam dari 58 persen di Kalimantan Tengah hingga 98 persen di DI Yogyakarta. 122 Kesehatan Ibu

148 Table 11.3 Komponen pemeriksaan kehamilan Persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang mendapat pelayanan pemeriksaan kehamilan tertentu, dan persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang mendapat pil zat besi, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Jenis pelayanan yang didapatkan wanita pada pemeriksaan kehamilan Karakteristik latar belakang Informasi tentang tanda-tanda komplikasi kehamilan Penimbangan berat badan Pengukuran tinggi badan Pengukuran tekanan darah Pemeriksaan urin Pemeriksaan darah Pemeriksaan perut Jumlah wanita Persentase wanita yang mendapat pil zat besi Jumlah wanita Umur saat melahirkan <20 26,1 87,3 31,3 87,8 30,9 28,4 94,6 1,410 74, ,9 90,7 31,9 91,3 40,1 30,3 95,8 9,126 80, ,5 85,9 24,8 84,4 31,3 31,6 93,2 1,634 69, Urutan melahirkan 1 32,6 91,7 35,2 92,0 43,7 33,4 96,6 4,156 82, ,0 91,1 30,5 91,5 38,2 30,0 95,4 5,697 81, ,4 84,5 25,7 85,3 27,8 24,6 95,3 1,523 70, ,7 78,7 21,1 76,7 23,7 26,8 88, ,5 946 Daerah tempat tinggal Perkotaan 30,7 95,2 36,3 95,2 49,4 37,3 97,1 5,824 82, Perdesaan 26,9 84,5 25,9 85,1 27,2 23,8 93,7 6,347 74, Pendidikan Tidak sekolah 10,7 72,2 19,2 68,9 18,5 21,1 91, ,4 580 Tidak tamat SD 18,6 79,6 19,5 80,1 21,1 22,5 91,5 1,650 64, Tamat SD 23,3 89,1 26,6 89,1 29,2 25,8 94,6 4,161 77, SLTP 32,0 92,3 32,8 92,8 41,1 31,6 96,2 2,547 81, SLTP + 40,6 95,7 42,0 96,7 57,1 40,0 98,0 3,337 89, Jumlah 28,7 89,6 30,9 89,9 37,8 30,3 95,3 12,170 78, Imunisasi Tetanus Toksoid Imunisasi wanita hamil adalah program yang dikoordinasi oleh Sub Direktorat Imunisasi dan Sub Direktorat Kesehatan Maternal dan Neonatal dalam Departemen Kesehatan. Program tersebut menganjurkan agar wanita mendapat dua imunisasi tetanus toksoid (TT) selama kehamilan pertama. Imunisasi ulang diberikan satu kali pada setiap kehamilan berikutnya untuk memelihara perlindungan penuh. Dalam tahun-tahun terakhir ini, imunisasi TT juga diberikan kepada wanita sebelum menikah, sehingga setiap kehamilan yang terjadi dalam tiga tahun sejak pernikahan akan dilindungi terhadap penyakit tetanus (Depkes RI, 2000). Secara keseluruhan, 51 persen wanita yang mempunyai anak lahir hidup dalam lima tahun sebelum survei mendapat dua kali atau lebih imunisasi TT selama kehamilan, 22 persent mendapat satu kali imunisasi dan 26 persen tidak mendapat imunisasi (Tabel 11.4). Cakupan wanita yang mendapat dua kali atau lebih imunisasi TT beragam menurut umur dan paritas. Persentase wanita yang mendapat dua kali atau lebih imunisasi TT selama kehamilan terakhir sedikit lebih tinggi di daerah perkotaan daripada di daerah perdesaan (masing-masing 52 dan 49 persen). Cakupan tetanus toksoid meningkat dengan makin tingginya pendidikan ibu: 27 persen untuk wanita tidak sekolah dan 59 persen untuk wanita berpendidikan SLTP ke atas. Persentase kelahiran yang dilindungi terhadap tetanus neonatorum mungkin lebih tinggi daripada yang dinyatakan oleh angka-angka ini, karena sejumlah wanita mungkin hanya membutuhkan satu kali imunisasi ulang selama kehamilan mereka yang paling akhir. Kesehatan Ibu 123

149 Tabel 11.4 Imunisasi tetanus toksoid Distribusi persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei menurut jumlah imunisasi tetanus toksoid yang didapatkan selama kehamilan dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Tidak pernah Satu kali Dua kali atau lebih Tidak tahu/ tidak terjawab Jumlah Jumlah wanita Umur saat melahirkan <20 30,0 22,4 45,6 2,1 100, ,1 21,4 53,1 1,5 100, ,1 21,3 42,2 2,5 100, Urutan kelahiran 1 22,4 21,8 54,2 1,6 100, ,8 21,5 53,1 1,6 100, ,0 21,7 44,6 1,6 100, ,7 19,6 30,1 2,5 100,0 946 Daerah tempat tinggal Perkotaan 21,7 24,2 52,3 1,8 100, Perdesaan 30,1 19,1 49,2 1,6 100, Pendidikan Tidak sekolah 56,4 15,7 27,1 0,9 100,0 580 Tidak tamat SD 39,8 20,9 37,1 2,2 100, Tamat SD 26,5 21,4 50,5 1,6 100, Tidak tamat SLTP 20,5 22,6 54,9 2,0 100, SLTP + 17,5 22,1 59,2 1,3 100, Jumlah 26,2 21,5 50,7 1,7 100, Cakupan tetanus toksoid beragam menurut propinsi yang berkisar dari 21 persen di Sumatera Utara hingga 71 persen di Sulawesi Utara (Lampiran Tabel A.11.3) Komplikasi Kehamilan Untuk mengidentifikasi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilan, responden ditanya tentang tanda dan gejala yang mereka alami ketika melahirkan anak yang terakhir. Tabel 11.5 memperlihatkan bahwa 93 persen wanita melaporkan tidak ada komplikasi selama kehamilan. Di antara mereka yang mengalami komplikasi, 2 persen melahirkan sebelum sembilan bulan, 2 persen mengalami perdarahan berlebihan, dan kurang dari 1 persen mengalami demam dan kejang-kejang. Meskipun beberapa masalah yang mungkin mengarah ke komplikasi persalinan dapat di deteksi pada kunjungan pemeriksaan kehamilan, data memperlihatkan bahwa komplikasi yang dilaporkan selama kehamilan hanya beragam kecil menurut pemeriksaan kehamilan yang didapatkan atau menurut jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan yang dilakukan. 124 Kesehatan Ibu

150 Tabel 11.5 Komplikasi selama kehamilan Persentase anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ibunya mengalami komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan, menurut jenis komplikasi dan indikator pelayanan ibu hamil, Indonesia Mules Indikator pelayanan sebelum Tanpa Jumlah ibu hamil 9 bulan Perdarahan Demam Kejang Lainnya komplikasi kelahiran Jumlah kunjungan Pemeriksaan kehamilan Tidak pernah 0,3 1,7 0,5 0,0 1,8 95, kali 1,6 1,9 0,7 0,2 1,9 94, kali 1,9 1,9 0,5 0,4 4,0 92, Tidak terjawab 1,0 1,1 0,3 0,0 0,4 98,1 101 Upaya untuk mengatasi komplikasi Tidak ada (47,9) (7,1) (6,7) (2,7) (56,7) (0,0) 28 Istirahat 26,2 25,4 10,3 8,5 44,6 0,0 112 Minum obat 23,9 35,7 20,5 8,4 29,1 0,0 90 Minum jamu * * * * * * 17 Ke dukun 23,0 14,8 21,6 2,8 50,7 0,0 50 Ke tenaga kesehatan 17,6 25,1 8,3 8,0 58,8 0,0 184 Ke bidan 23,0 14,8 21,6 2,8 50,7 0,0 50 Ke dokter 23,0 14,8 21,6 2,8 50,7 0,0 50 Lainnya (13,0) (11,2) (1,7) (5,5) (72,9) (0,0) 56 Bayi meninggal dalam umur 1 bulan 3,4 4,8 1,3 0,9 3,4 88,9 171 Persalinan ditolong tenaga kesehatan 2,1 2,5 0,5 0,5 5,3 90, Persalinan melalui bedah caesar 3,9 4,9 0,3 0,9 13,6 78,2 523 Jumlah 1,8 1,9 0,5 0,4 3,6 92, Catatan: Angka dalam kurung berdasarkan pada kasus yang belum dibobot. Tanda bintang menunjukkan bahwa angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya yang belum dibobot kurang dari 25. Hampir separuh dari wanita yang mengalami mules sebelum sembilan bulan melaporkan bahwa mereka tidak melakukan tindakan apa-apa (48 persen). Di antara mereka yang melakukan tindakan, satu dari empat wanita pergi ke dukun, bidan atau dokter. Wanita yang mengalami perdarahan berlebihan selama kehamilan sangat cenderung minum obat (36 persen). Yang lainnya mencari pertolongan dari bidan, dokter atau dukun (masing-masing 15 persen). Tidak ada perbedaan yang bermakna dalam persentase melahirkan untuk wanita yang mengalami komplikasi kehamilan menurut daerah tempat tinggal (data tidak ditampilkan). Ibu cenderung kurang melaporkan masalah selama kehamilan untuk kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan atau yang berakhir dengan kematian bayi dalam satu bulan setelah dilahirkan. Meskipun demikian, ibu dari bayi yang meninggal dalam periode neonatal lebih cenderung melaporkan telah mengalami perdarahan berlebihan selama kehamilan. Ibu yang bayinya dilahirkan melalui bedah caesar cenderung melaporkan masalah lainnya selain yang dirinci dalam Tabel Kesehatan Ibu 125

151 11.2 PERSALINAN Tempat Persalinan Empat dari sepuluh kelahiran dalam lima tahun sebelum survei dilakukan di fasilitas kesehatan, 9 persen dilakukan di fasilitas kesehatan pemerintah (rumah sakit pemerintah atau puskesmas), dan 31 persen dilakukan di fasilitas kesehatan swasta (rumah sakit swasta, klinik, praktek dokter/ bidan / bidan di desa) (Tabel 11.6 dan Gambar 11.2). Membandingkan data dari survei ini dengan data dari SDKI sebelumnya, harus dilakukan dengan hati-hati, karena perbedaan dalam klasifikasi jawaban terhadap tempat persalinan. Dalam SDKI , jawaban mencakup kelompok baru tenaga medis swasta : dokter, dokter ahli kebidanan dan kandungan, bidan, dan bidan di desa. Mereka adalah tenaga kesehatan profesional yang memberikan pelayanan persalinan di tempat mereka praktek. Di lain pihak, persalinan di rumah bidan dan bidan di desa, yang dalam survei 1997 diklasifikasi sebagai di rumah, dalam survei ini diklasifikasi sebagai di fasilitas kesehatan. Selanjutnya, pos kesehatan, pondok bersalin, dan fasilitas lain yang sejenis diklasifikasi secara terpisah dalam SDKI Persalinan di fasilitas kesehatan (40 persen) adalah jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan dalam SDKI 1997 (21 persen) (BPS dkk, 1998). Tabel 11.6 Tempat persalinan Distribusi persentase anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei menurut tempat persalinan dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik Fasilitas kesehatan Tidak Jumlah Latar belakang Pemerintah Swasta Rumah Lainnya terjawab Jumlah kelahiran Umur ibu saat melahirkan <20 8,2 21,3 69,2 0,4 0,8 100, ,5 33,1 56,1 0,4 0,8 100, ,7 24,8 65,7 0,2 0,5 100, Urutan kelahiran 1 11,4 36,2 51,0 0,4 0,9 100, ,8 32,6 57,5 0,5 0,6 100, ,3 19,5 72,0 0,3 0,9 100, ,4 11,5 81,8 0,2 1,1 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 13,1 46,5 39,5 0,3 0,6 100, Perdesaan 5,9 16,6 76,1 0,5 1,0 100, Pendidikan ibu Tidak sekolah 3,3 6,3 88,8 0,2 1,4 100,0 709 Tidak tamat SD 5,4 12,7 80,0 0,7 1,2 100, Tamat SD 6,9 19,2 73,2 0,3 0,4 100, Tidak tamat SLTP 8,5 34,6 55,3 0,4 1,3 100, SLTP+ 15,9 55,8 27,3 0,4 0,5 100, Kunjungan pemeriksaan kehamilan 1 Tidak pernah 2,1 6,3 91,4 0,3 0,0 100, ,0 9,8 85,1 0,1 0,0 100, ,5 36,4 52,6 0,5 0,0 100, Jumlah 9,2 30,5 59,0 0,4 0,8 100, Hanya mencakup kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei; jumlah mencakup 101 kelahiran yang frekuensi pemeriksaan kehamilan nya tidak terjawab. 126 Kesehatan Ibu

152 Persalinan pada ibu kelompok umur risiko tinggi (kurang dari 20 tahun atau 35 tahun ke atas) lebih cenderung terjadi di rumah (masing-masing 69 dan 66 persen) daripada persalinan pada ibu kelompok umur tahun (56 persen). Persalinan untuk urutan kelahiran yang tinggi sangat cenderung terjadi di rumah (82 persen untuk urutan kelahiran ke enam atau lebih dibandingkan dengan 51 persen untuk urutan kelahiran pertama). Hal ini menunjukkan bahwa secara relatif proporsi sebagian besar persalinan dengan risiko tinggi masih terjadi di rumah. Gambar 11.2 Tempat Persalinan dan Penolong Persalinan dengan Kualifikasi Terendah Rumah 59% Fasilitas pemerintah 31% Saudara/ lainnya 12% Dokter 5 % Dukun 32% Fasilitas swasta 9% Perawat/ bidan 50% Tempat persalinan Penolong persalinan dengan kualifikasi terendah Penggunaan fasilitas kesehatan swasta dan pemerintah untuk persalinan jauh lebih tinggi di daerah perkotaan daripada di daerah perdesaan. Persalinan di daerah perdesaan hampir dua kali lebih besar kemungkinannya untuk dilakukan di rumah dibandingkan dengan persalinan di daerah perkotaan (masing-masing 76 dan 40 persen). Persalinan pada ibu yang tidak sekolah adalah tiga kali lebih besar kemungkinannya untuk dilakukan di rumah dibandingkan dengan persalinan pada ibu yang berpendidikan SLTP ke atas (masing-masing 89 dan 27 persen). Ada hubungan yang negatif antara persalinan di rumah dan jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan; ibu yang tidak mendapat pemeriksaan kehamilan lebih cenderung melahirkan di rumah daripada ibu yang mendapat pemeriksaan kehamilan. Lampiran Tabel A.11.4 memperlihatkan adanya keragaman yang bermakna dalam tempat persalinan menurut propinsi. Lebih dari 50 persen persalinan dilakukan di rumah di semua propinsi, kecuali di DKI Jakarta (11 persen), Bali (14 persen), DI Yogyakarta (27 persen), Jawa Timur (38 persen), dan Sumatera Barat (41 persen). Di semua propinsi, persalinan yang dilakukan di fasilitas kesehatan lebih cenderung dilakukan di fasilitas kesehatan swasta daripada di fasilitas kesehatan pemerintah, kecuali di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Gorontalo Penolong Persalinan Departemen Kesehatan menetapkan target bahwa 90 persen kelahiran ditolong oleh tenaga medis pada tahun 2010 (Depkes RI, 2001b). Untuk mengukur kemajuan dalam mencapai target ini, responden ditanya mengenai semua orang yang menolong mereka selama persalinan. Tabel 11.7 memperlihatkan distribusi anak lahir hidup yang ditolong oleh tenaga berkualifikasi paling tinggi. Tenaga ini adalah orang Kesehatan Ibu 127

153 yang dirujuk jika ibu mendapat masalah kehamilan. Enam puluh enam persen dari kelahiran dalam masa lima tahun sebelum survei ditolong oleh tenaga medis: 55 persen ditolong oleh perawat, bidan, atau bidan di desa, dan 11 persen oleh dokter. Satu dari tiga kelahiran ditolong oleh dukun. Perbandingan dengan data dari survei-survei SDKI yang lampau memperlihatkan bahwa telah terjadi peningkatan yang sangat mencolok pada proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga medis profesional. Walaupun terjadi pergeseran, dukun masih memiliki peran penting dalam pertolongan persalinan, terutama di daerah perdesaan (42 persen), ibu yang tidak sekolah (60 persen) dan yang urutan kelahirannya tinggi (58 persen). Tabel 11.7 Penolong persalinan: kualifikasi tertinggi Distribusi persentase anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei menurut penolong persalinan berkualifikasi tertinggi dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Dokter umum Dokter kandungan Perawat/ bidan/ bidan di desa Dukun/ lainnya Sanak keluarga/ lainnya Tidak ada Tidak terjawab Jumlah Jumlah kelahiran Umur ibu saat melahirkan <20 1,0 4,5 52,7 40,2 0,8 0,0 0,8 100, ,6 10,9 57,6 28,5 1,3 0,3 0,8 100, ,2 11,6 44,8 39,9 1,6 0,4 0,5 100, Urutan kelahiran 1 1,0 13,5 59,7 24,3 0,7 0,0 0,9 100, ,6 10,5 57,4 29,6 1,1 0,3 0,5 100, ,7 4,0 50,4 41,8 1,9 0,3 1,0 100, ,1 3,9 31,7 57,5 3,9 0,7 1,2 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 0,6 16,6 61,8 19,9 0,5 0,1 0,5 100, Perdesaan 0,9 4,6 49,7 41,6 1,9 0,4 1,0 100, Pendidikan ibu Tidak sekolah 2,5 0,4 29,5 59,9 5,7 0,7 1,4 100,0 709 Tidak tamat SD 0,6 2,9 36,6 56,1 2,1 0,5 1,2 100, Tamat SD 0,5 3,7 51,1 42,7 1,3 0,3 0,4 100, Tidak tamat SLTP 0,6 8,1 66,1 22,8 1,1 0,1 1,1 100, SLTP+ 1,0 25,5 67,3 5,4 0,2 0,1 0,5 100, Jumlah 0,8 10,2 55,3 31,5 1,3 0,3 0,8 100, Catatan: Jika responden menjawab lebih dari satu penolong persalinan, hanya penolong berkualifikasi tertinggi yang dimasukkan dalam tabulasi ini. Cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga medis profesional beragam antar propinsi, dari 94 persen di DKI Jakarta hingga 36 persen di Nusa Tenggara Timur dan 42 persen di Sulawesi Tenggara. Dukun tetap memainkan peran yang penting dalam menolong persalinan di Nusa Tenggara Timur (55 persen), Sulawesi Tenggara (55 persen), Gorontalo (51 persen) dan Jawa Barat (50 persen) (Lampiran Tabel A.11.5) Persentase tertinggi untuk pertolongan persalinan oleh tenaga medis ditemukan di propinsi DKI Jakarta, Bali, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Utara, yang dokter ahli kebidanan dan kandungannya menolong sekitar satu dari empat persalinan. Sanak keluarga, terutama jika mereka orang tua atau orang yang tidak terlatih, dapat menimbulkan risiko kesehatan pada saat persalinan. Di Indonesia, peran dari sanak keluarga sebagai penolong persalinan adalah kecil (1 persen), walaupun di beberapa propinsi, 128 Kesehatan Ibu

154 persentase persalinan ditolong oleh sanak keluarga lebih besar, misalnya di Nusa Tenggara Timur (7 persen), Sulawesi Selatan (6 persen), Sulawesi Tengah (4 persen), Sumatera Utara (3 persen) dan Nusa Tenggara Barat (3 persen). Tabel 11.8 memperlihatkan distribusi persalinan oleh penolong berkualifikasi terendah. Penolong yang diidentifikasi dalam Tabel 11.7 mungkin merupakan orang yang menjadi tempat merujuk jika ibu mempunyai masalah dengan kehamilannya, sedang Tabel 11.8 memperlihatkan penolong persalinan yang pertama dipilih dalam persalinan. Sebagai penolong berkualifikasi terendah, tenaga medis profesional menangani 55 persen persalinan. Namun sebagai penolong berkualifikasi tertinggi, mereka menangani 66 persen persalinan. Perbedaan (11 persen) ini menunjukkan bahwa sejumlah persalinan dirujuk oleh penolong berkualifikasi kurang ke penolong berkualifikasi lebih tinggi. Menarik untuk diperhatikan bahwa walaupun 12 persen persalinan ditolong oleh sanak keluarga/lainnya sebagai penolong berkualifikasi terendah, namun hanya 1 persen ditangani oleh sanak keluarga atau lainnya sebagai penolong berkualifikasi tertinggi. Tabel 11.8 Penolong persalinan: kualifikasi terendah Distribusi persentase anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei menurut penolong persalinan berkualifikasi terendah dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Dokter umum Dokter kandungan Perawat/ bidan/ bidan di desa Dukun/ lainnya Sanak saudara/ lainnya Tidak ada Tidak terjawab Jumlah Jumlah kelahiran Umur ibu saat melahirkan <20 0,3 2,4 41,9 41,0 13,7 0,0 0,8 100, ,2 4,5 53,3 29,7 11,2 0,3 0,8 100, ,3 6,3 42,2 39,2 11,1 0,4 0,5 100, Urutan kelahiran 1 0,3 5,7 55,3 27,6 10,1 0,0 0,9 100, ,2 4,7 52,8 30,3 11,2 0,3 0,5 100, ,1 1,6 42,5 40,4 14,1 0,3 1,0 100, ,3 2,1 28,1 52,4 15,2 0,7 1,2 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 0,1 7,2 63,4 19,4 9,3 0,1 0,5 100, Perdesaan 0,3 2,0 39,1 43,7 13,5 0,4 1,0 100, Pendidikan ibu Tidak sekolah 0,0 0,2 22,2 60,3 15,3 0,7 1,4 100,0 709 Tidak tamat SD 0,2 1,8 30,0 50,8 15,5 0,5 1,2 100, Tamat SD 0,2 1,6 41,6 42,3 13,5 0,3 0,4 100, Tidak tamat SLTP 0,2 3,1 57,7 26,9 10,9 0,1 1,1 100, SLTP+ 0,3 11,3 72,2 9,1 6,6 0,1 0,5 100, Jumlah 0,2 4,5 50,4 32,4 11,5 0,3 0,8 100, Catatan:Jika responden menjawab lebih dari satu penolong persalinan, hanya penolong berkualifikasi terendah yang dimasukkan dalam tabulasi ini. Perbedaan dalam pertolongan persalinan oleh penolong berkualifikasi terendah menurut umur ibu, urutan kelahiran, tempat tinggal dan pendidikan serupa dengan pola pertolongan persalinan oleh penolong berkualifikasi tertinggi. Kesehatan Ibu 129

155 Karakteristik Persalinan Di Indonesia, bedah caesar umumnya hanya dilakukan atas indikasi medis tertentu dan kehamilan dengan komplikasi (Depkes RI, 2001c). Menurut SDKI , 4 persen anak lahir hidup dalam lima tahun sebelum survei melalui bedah caesar (Tabel 11.9). Angka ini tidak berubah sejak SDKI 1997 (BPS dkk, 1998). Bedah caesar lebih cenderung dilakukan pada kelahiran pertama (5 persen) dan pada kelahiran dari ibu dengan pendidikan menengah ke atas (11 persen). Bedah caesar juga lebih umum di daerah perkotaan (7 persen) daripada di daerah perdesaan (2 persen). Karena sebagian besar persalinan terjadi di rumah, 21 persen bayi tidak ditimbang ketika dilahirkan. Bayi lebih cenderung ditimbang ketika dilahirkan jika ibu berumur tahun, jika mereka anak pertama, jika ibu tinggal di daerah perkotaan, atau jika ibu berpendidikan. Sebagai contoh, walaupun 42 persen bayi dari ibu yang tidak sekolah ditimbang ketika dilahirkan, proporsi bayi tersebut dari ibu yang tamat sekolah lanjutan tingkat pertama ke atas yang ditimbang ketika dilahirkan adalah 94 persen. Tabel 11.9 Karakteristik persalinan Persentase anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei melalui bedah caesar, dan distribusi persentase menurut berat lahir dan perkiraan ukuran bayi saat lahir oleh ibu, berdasarkan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Persalinan dengan bedah caesar Tidak ditimbang Berat saat lahir Kurang dari 2,5 kg 2,5 kg/ lebih Tidak tahu/ tidak terjawab Jumlah Sangat kecil Ukuran bayi saat lahir Lebih kecil dari ratarata Ratarata atau lebih besar Tidak tahu/ tidak terjawab Jumlah Jumlah kelahiran Umur ibu saat melahirkan <20 1,4 25,1 8,2 65,7 1,0 100,0 2,9 14,5 77,5 5,1 100, ,3 19,4 5,1 74,3 1,2 100,0 1,9 11,1 82,6 4,4 100, ,2 28,6 5,7 64,9 0,8 100,0 2,3 11,6 81,8 4,3 100, Urutan kelahiran 1 5,0 15,9 6,3 76,7 1,1 100,0 2,6 12,8 80,6 4,0 100, ,3 18,2 5,5 75,4 0,9 100,0 1,7 10,6 84,1 3,6 100, ,5 35,0 4,2 59,2 1,5 100,0 1,7 12,0 80,1 6,3 100, ,9 40,8 5,0 52,6 1,6 100,0 2,9 11,4 77,4 8,3 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 6,6 10,0 6,1 83,1 0,7 100,0 1,9 11,3 84,3 2,6 100, Perdesaan 1,9 31,2 5,0 62,4 1,4 100,0 2,2 11,9 79,8 6,1 100, Pendidikan ibu Tidak sekolah 0,6 56,5 4,1 37,9 1,5 100,0 2,7 11,6 71,7 13,9 100,0 709 Tidak tamat SD 1,6 41,3 5,6 51,3 1,8 100,0 2,7 12,1 77,2 8,0 100, Tamat SD 1,7 24,3 5,5 69,3 0,9 100,0 2,2 12,5 80,5 4,8 100, Tidak tamat SLTP 1,9 15,5 7,0 76,2 1,3 100,0 2,4 11,4 83,0 3,2 100, SLTP+ 10,7 4,8 4,7 89,7 0,8 100,0 1,3 10,3 87,1 1,3 100, Jumlah 4,1 21,3 5,6 72,0 1,1 100,0 2,1 11,6 81,9 4,5 100, Secara keseluruhan, 6 persen bayi dilaporkan mempunyai berat kurang dari 2,5 kilogram ketika dilahirkan. Berat bayi ketika dilahirkan berkaitan dengan karakteristik ibu: bayi lebih cenderung ditimbang dan mempunyai berat rata-rata (2,5 kilogram atau lebih) jika ibu berumur tahun, jika mereka anak pertama, jika ibu tinggal di daerah perkotaan, dan jika ibu berpendidikan (Tabel 11.9). 130 Kesehatan Ibu

156 Dalam SDKI , responden ditanya tentang persepsi mereka mengenai ukuran bayi yang baru dilahirkannya. Empat belas persen bayi baru lahir dianggap oleh ibunya sebagai sangat kecil ataupun lebih kecil dari rata-rata. Perbedaan mengenai persepsi ukuran antar kelompok kelahiran adalah sama seperti perbedaan yang ditemukan pada berat yang sebenarnya. Bayi lebih cenderung dianggap berukuran rata-rata atau lebih besar jika ibu berumur tahun, jika mereka adalah anak dengan urutan kelahiran yang lebih kecil, jika ibu tinggal di daerah perkotaan, atau jika ibu berpendidikan (Tabel 11.9). Perbedaan dalam karakteristik persalinan menurut propinsi diperlihatkan dalam Lampiran Tabel A Persalinan melalui bedah caesar lebih jarang di Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tenggara, Di lain pihak, lebih dari 5 persen bayi lahir melalui bedah caesar di Sumatera Barat, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, dan Bali. Persentase bayi yang ditimbang ketika dilahirkan berkisar dari 42 persen di Sulawesi Tenggara hingga 90 persen atau lebih di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali, dan Kalimantan Timur. Prevalensi bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dihitung dengan membagi persentase bayi yang berat lahirnya kurang dari gram dengan persentase bayi yang ditimbang. Prevalensi ini berkisar dari 3 persen di Bali hingga 13 persen di Gorontalo Persiapan Persalinan Untuk menjamin keselamatan ibu dan bayi pada waktu persalinan, perlu diadakan persiapan tertentu. Hal ini termasuk memutuskan siapa yang akan menolong persalinan, di mana persalinan akan dilakukan, bagaimana ibu sampai di tempat ini, dan berapa besar biaya persalinan. Dalam SDKI , responden ditanya tentang apakah mereka telah membicarakan hal-hal tersebut selama kehamilan. Tiga dari empat ibu melaporkan mereka telah membicarakan paling sedikit satu hal yang berkaitan dengan persiapan persalinan. Tabel memperlihatkan bahwa hal yang paling sering dibicarakan adalah tempat melahirkan, penolong persalinan, dan biaya persalinan (61 hingga 65 persen). Yang lebih sedikit dibicarakan adalah masalah transportasi (38 persen) dan yang dapat menjadi donor darah (8 persen). Ibu yang tinggal di daerah perkotaan dan berpendidikan makin tinggi lebih cenderung membahas masalah yang berhubungan dengan kelahiran bayi mereka daripada ibu lainnya. Sebagai contoh, ibu yang berpendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama ke atas hampir dua kali lebih cenderung membicarakan hal yang berhubungan dengan persalinan daripada ibu yang tidak sekolah (masing-masing 85 persen dan 49 persen). Pria menikah yang diwawacara dalam survei ini yang mempunyai anak dalam lima tahun sebelum survei juga ditanya mengenai apakah mereka melakukan pembicaraan tentang persiapan kelahiran anak tersebut. Temuan disajikan dalam Bab 17. Gambar 11.3 membandingkan jawaban yang diperoleh dari ibu dan bapak. Menarik untuk diperhatikan bahwa bapak sama cenderungnya seperti ibu dalam melaporkan bahwa mereka telah membicarakan berbagai aspek mengenai kelahiran anak mereka. Kesehatan Ibu 131

157 Tabel Persiapan Persalinan Persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang membicarakan topik tertentu selama kehamilan, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Tempat persalinan Topik yang dibicarakan Penolong persalinan Transportasi Pembayaran Donor darah Salah satu topik Tidak ada yang dibicarakan Jumlah kelahiran Umur ,2 28,4 58,4 51,3 2,7 65,9 34, ,2 38,2 67,7 62,8 6,9 77,2 22, ,7 66,3 63,3 9 75,6 24, , ,8 63,7 9,3 76,8 23, ,6 35,5 60,6 56,1 9,1 70,1 29, ,1 31,6 56,1 51,2 7,2 64,5 35, ,3 29, ,9 1,9 69,5 30,5 171 Status perkawinan ibu Kawin 64,4 37,6 65,3 61,1 8,1 74,6 25, Cerai hidup/ Cerai mati ,1 52,6 7,2 61,7 38,3 288 Daerah tempat tinggal Perkotaan 71,8 45, ,5 77,9 22, Perdesaan 57,3 30,3 61,6 57,3 5, Pendidikan Tidak sekolah 38,5 16,1 39,8 36,2 2,4 48,7 51,3 580 Tidak tamat SD 49,8 24,2 54,4 49,8 4,4 63,8 36, Tamat SD 58,8 32,1 61,1 58,9 6,2 71,7 28, Tidak tamat SLTP 69 41,5 69,7 66,2 7,9 78,5 21, SLTP+ 79,5 52,3 76,9 69,6 13,8 84,5 15, Jumlah 64,1 37,5 65,1 60,9 8,1 74,3 25, Kemungkinan bahwa ibu membicarakan masalah yang berhubungan dengan persalinan sangat beragam menurut propinsi. Walaupun di banyak propinsi lebih dari 80 persen ibu membicarakan topik ini, namun di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara kurang dari 65 persen ibu yang membicarakan topik tertentu yang berhubungan dengan persiapan persalinan ini (Lampiran Tabel A.11.7). 132 Kesehatan Ibu

158 Gambar 11.3 Pembicaraan tentang Persiapan Persalinan Persen Tempat melahirkan Transportasi Penolong persalinan Pembayaran Donor darah Topik lain Tidak bicara Bapak Ibu SDKI Komplikasi Selama Persalinan Untuk mengidentifikasi komplikasi yang berhubungan dengan persalinan, responden ditanya tentang tanda dan gejala tertentu yang mereka alami ketika melahirkan anak yang terakhir dalam lima tahun sebelum survei. Tabel memperlihatkan bahwa 64 persen ibu melaporkan tidak mengalami komplikasi selama persalinan. Persalinan lama dilaporkan sebesar 31 persen, perdarahan berlebihan sebesar 7 persen, dan demam sebesar 5 persen dari persalinan, Kejang pada ibu hamil terjadi pada sekitar 1 persen dari persalinan Ibu yang ditolong oleh tenaga kesehatan profesional selama persalinan, tanpa memperhatikan apakah mereka mendapat pemeriksaan kehamilan, sangat cenderung melaporkan komplikasi selama persalinan. Di lain pihak, ibu yang hanya mendapat pemeriksaan kehamilan saja, sangat cenderung tidak mengalami komplikasi persalinan. Seperti yang diperkirakan, ibu yang melahirkan melalui bedah caesar lebih cenderung melaporkan komplikasi (59 persen), yang sebagian besar merupakan persalinan lama (42 persen). Untuk bayi yang meninggal dalam satu bulan setelah dilahirkan, 39 persen ibu mereka melaporkan komplikasi termasuk persalinan lama (30 persen), perdarahan berlebihan (12 persen), dan demam (10 persen). Prevalensi komplikasi persalinan menurut daerah perkotaan dan perdesaan tidak memperlihatkan perbedaan yang berarti (data tidak disajikan). Kesehatan Ibu 133

159 Tabel Komplikasi selama Persalinan Persentase anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ibunya mengalami komplikasi yang berhubungan dengan persalinan, menurut jenis komplikasi dan indikator pelayanan ibu hamil, Indonesia Indikator pelayanan Persalinan Tanpa Jumlah ibu hamil lama Perdarahan Demam Kejang Lainnya komplikasi kelahiran Pemeriksaan kehamilan/ penolong persalinan PK dan PP 29,5 6,8 4,6 1,3 4,3 64, PK saja 26,0 6,1 3,7 1,3 1,3 69, PP saja 37,7 12,3 7,4 1,4 7,3 50,6 519 Tanpa PK dan tanpa PP 33,1 7,6 4,5 1,5 2,0 63, Bayi meninggal dalam 1 bulan setelah dilahirkan 30,2 12,4 10,3 3,4 3,4 60,7 171 Melahirkan melalui bedah caesar 42,2 15,6 5,7 2,6 18,2 40,6 523 Jumlah 30,5 7,2 4,5 1,4 3,1 64, PK = Pemeriksaan kehamilan (oleh tenaga kesehatan) PP = Penolong Persalinan (oleh tenaga kesehatan) 11.3 PERAWATAN NIFAS Perawatan nifas adalah penting baik bagi ibu maupun bayi untuk mengobati komplikasi yang timbul dari persalinan, dan juga untuk memberikan informasi penting kepada ibu tentang cara merawat dirinya dan bayinya. Masa nifas didefinisikan sebagai waktu antara lahirnya ari-ari sampai 42 hari (6 minggu) setelah persalinan. Pengaturan waktu perawatan nifas adalah penting. Dua hari pertama setelah melahirkan adalah masa kritis, karena kematian ibu dan bayi paling banyak terjadi dalam masa ini. Dalam SDKI , ibu yang melahirkan di luar fasilitas kesehatan ditanya tentang apakah mereka mendapat perawatan nifas. Secara keseluruhan delapan dari sepuluh ibu mendapat perawatan nifas, terdiri dari : 62 persen mendapat perawatan dalam 2 hari, 13 persen mendapat perawatan dalam 3-6 hari, dan 8 persen mendapat perawatan dalam 7-41 hari setelah melahirkan (Tabel 11.12). Umur ibu ada hubungannya dengan kemungkinan mendapat perawatan nifas; ibu yang berumur lebih muda agak cenderung melakukan pemeriksaan setelah melahirkan daripada ibu yang berumur lebih tua. Urutan kelahiran yang lebih kecil lebih cenderung mendapat pemeriksaan dalam minggu pertama setelah persalinan. Ibu yang tinggal di daerah perdesaan agak cenderung mendapat pemeriksaan pertama dalam 2 hari setelah melahirkan daripada ibu di daerah perkotaan (masing-masing 63 dan 60 persen). Cakupan perawatan nifas beragam menurut propinsi, berkisar mulai dari 90 persen atau lebih di Bengkulu, Lampung, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur hingga kurang dari 70 persen di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Lampiran Tabel A.11.8). Penting untuk diperhatikan bahwa Bangka Belitung sebelumnya merupakan bagian dari propinsi Sumatera Selatan. 134 Kesehatan Ibu

160 Tabel Perawatan nifas menurut karakteristik latar belakang Distribusi persentase wanita yang melahirkan bayi hidup terakhir bukan di fasilitas kesehatan dalam lima tahun sebelum survei menurut saat pemeriksaan nifas pertama dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Dalam 2 hari setelah melahirkan Saat pemeriksaan nifas pertama 3-6 hari setelah melahirkan 7-41 hari setelah melahirkan Tidak tahu/ tidak terjawab Tidak mendapat pemeriksaan setelah melahirkan 1 Jumlah Jumlah wanita Umur saat melahirkan <20 61,9 14,5 9,2 0,1 14,3 100, ,1 12,4 8,0 0,1 17,4 100, ,0 12,4 6,6 0,1 20,9 100, Urutan kelahiran 1 67,2 12,4 7,8 0,0 12,6 100, ,2 13,0 8,4 0,1 16,3 100, ,2 13,2 8,3 0,1 21,2 100, ,3 11,4 5,8 0,1 31,4 100,0 781 Daerah tempat tinggal Perkotaan 60,0 13,2 10,4 0,1 16,3 100, Perdesaan 62,6 12,5 6,8 0,0 18,1 100, Pendidikan Tidak sekolah 63,0 8,6 4,0 0,0 24,4 100,0 521 Tidak tamat SD 53,9 13,4 7,8 0,0 24,9 100, Tamat SD 58,1 15,5 9,5 0,0 16,9 100, Tidak tamat SLTP 68,0 10,3 8,0 0,3 13,5 100, SLTP+ 76,4 8,0 5,0 0,1 10,5 100,0 936 Jumlah 61,8 12,7 7,9 0,1 17,5 100, Termasuk wanita yang mendapat pemeriksaan pertama setelah 41 hari melahirkan 11.4 PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN STATUS WANITA Tabel menyajikan data tentang hubungan antara status wanita dan kemampuannya untuk mengakses dan menggunakan pelayanan kesehatan ibu. Dalam laporan ini, status wanita diukur dengan menggunakan 3 indikator: jumlah peran serta wanita pada pengambilan keputusan dalam rumah tangga, jumlah alasan yang membenarkan isteri untuk menolak hubungan seks dengan suami, dan jumlah alasan yang membenarkan suami untuk memukul isteri. Tabel memperlihatkan bahwa ke tiga indikator status wanita mempunyai hubungan dengan hal mendapat pelayanan kesehatan ibu (pemeriksaan kehamilan, perawatan nifas dan perawatan persalinan) dari tenaga medis profesional. Makin banyak keputusan yang menyertakan peranserta wanita, ibu makin cenderung mendapat pelayanan kesehatan. Jumlah alasan yang membenarkan isteri untuk menolak hubungan seks dengan suami, juga mempengaruhi kemungkinan wanita untuk mendapat pelayanan kesehatan. Wanita yang setuju dengan lebih banyak alasan untuk menolak hubungan seks lebih cenderung mendapat pemeriksaan kehamilan, perawatan nifas dan perawatan persalinan dari tenaga medis profesional. Sebagai contoh, 85 % wanita, yang tidak membenarkan alasan untuk menolak berhubungan seks, mendapat pelayanan pemeriksaan kehamilan, dibandingkan dengan 92 persen wanita, yang membenarkan alasan untuk menolak hubungan seks dengan 3-4 alasan. Hal serupa, wanita yang tidak Kesehatan Ibu 135

161 membenarkan pemukulan isteri dengan alasan apapun, lebih cenderung mendapat perawatan nifas dan perawatan persalinan daripada wanita yang membenarkan alasan untuk memukul isteri. Tabel Pelayanan kesehatan ibu dan status wanita Persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang mendapat pemeriksaan kehamilan dan mendapat perawatan nifas dari tenaga kesehatan profesional, dan persentase anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ibunya mendapat perawatan persalinan profesional, menurut indikator status wanita, Indonesia Persentase wanita yang mendapat pemeriksaan kehamilan dari dokter, perawat, bidan/ bidan di desa Persentase wanita yang mendapat perawatan nifas dalam dua hari pertama setelah melahirkan 1 Persentase anak yang ibunya mendapat perawatan persalinan dari dokter, perawat, bidan/ bidan di desa Indikator status wanita Jumlah wanita Jumlah kelahiran Jumlah keputusan akhir di tangan wanita ,7 70, , ,1 69, , ,2 71,4 3,573 60, ,3 80,3 8,544 69, Jumlah alasan yang membenarkan isteri untuk menolak kumpul dengan suami 0 84,5 64, , ,1 69,3 1,215 60, ,4 79,1 10,716 67, Jumlah alasan yang membenarkan suami untuk memukul isteri 0 91,9 78,8 9,243 67, ,9 74,9 2,571 64, ,2 67, , ,3 69, ,4 279 Jumlah 91,5 77,3 12,760 66, Termasuk ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan 2 Baik oleh wanita sendiri ataupun bersama yang lainnya 11.5 MASALAH DALAM MENDAPATKAN PELAYANAN KESEHATAN Banyak faktor dapat menghalangi wanita dalam mendapatkan saran medis atau pengobatan ketika mereka memerlukan. Dalam survei ini, semua wanita ditanya tentang apakah mendapatkan saran medis atau pengobatan bagi mereka merupakan masalah besar atau bukan merupakan masalah besar, berkenaan dengan hal berikut: tahu harus pergi ke mana, memperoleh ijin untuk pergi, memperoleh uang yang diperlukan untuk pengobatan, jarak ke fasilitas kesehatan, harus naik angkutan, tidak mau pergi sendiri, dan kuatir kalau di tempat yang dituju tidak ada tenaga kesehatan wanita. 136 Kesehatan Ibu

162 Tabel memperlihatkan persentase wanita pernah kawin yang mempunyai masalah besar dalam mendapatkan pelayanan kesehatan menurut karakteristik latar belakang. Tujuh dari sepuluh wanita melaporkan tidak ada masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Wanita yang lebih muda, wanita dengan anak lebih banyak, janda cerai hidup atau cerai mati, wanita berpendidikan rendah dan wanita tidak berpenghasilan lebih cenderung melaporkan masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan daripada wanita lainnya. Tabel Masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan Persentase wanita pernah kawin yang melaporkan bahwa mereka mempunyai masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan bagi mereka ketika sakit, menurut jenis masalah dan karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan Tahu ke mana Memperoleh Memperoleh harus berobat ijin untuk berobat uang untuk berobat Jarak ke tempat berobat Angkutan ke tempat berobat Tidak berani pergi sendiri Kuatir tidak ada tenaga pemeriksa wanita Salah satu masalah Jumlah wanita Umur ,6 6,1 24,6 14,3 15,7 16,9 9,4 38, ,7 4,5 24,3 13,4 12,6 9,5 7,0 34, ,1 4,1 22,7 11,7 10,7 7,2 4,8 30, ,6 4,0 24,0 12,0 10,9 8,3 4,9 31, Jumlah anak hidup 0 4,9 4,4 19,3 11,2 10,9 11,2 8,4 31, ,9 4,0 21,8 10,9 10,2 8,4 5,5 30, ,9 4,1 24,2 13,2 12,1 7,8 5,0 32, ,2 5,4 34,3 18,1 16,1 9,5 6,3 41, Status kawin Kawin 4,4 4,3 23,1 12,3 11,3 8,6 5,7 31, Cerai hidup/ cerai mati 5,4 3,7 32,5 14,1 14,1 8,7 4,9 38, Daerah tempat tinggal Perkotaan 3,1 2,7 16,0 5,1 4,3 6,0 4,4 23, Perdesaan 5,7 5,5 30,1 18,5 17,5 10,8 6,8 39, Pendidikan Tidak sekolah 7,5 5,5 37,8 20,5 19,3 13,5 6,4 46, Tidak tamat SD 5,4 5,6 31,6 16,3 15,8 10,6 7,1 40, Tamat SD 4,5 4,2 26,5 13,9 12,7 8,3 5,4 34, Tidak tamat SLTP 4,3 4,4 19,2 9,8 8,7 6,9 5,7 28, SLTP+ 2,7 2,5 9,8 5,2 4,7 6,5 4,4 19, Pekerjaan Tidak bekerja 4,8 4,5 21,9 10,9 9,9 8,5 5,5 30, Berpenghasilan sendiri 3,3 2,6 21,7 9,5 8,7 7,3 5,3 29, Bekerja tanpa digaji 5,8 6,1 31,0 20,5 19,7 10,7 6,8 40, Jumlah 4,5 4,2 23,7 12,4 11,5 8,6 5,7 32, Catatan: Jumlah termasuk 24 wanita yang status pekerjaannya tidak terjawab Masalah utama yang disebutkan oleh para wanita ini adalah yang bersifat ekonomi (24 persen). Wanita perdesaan dua kali lebih cenderung menyebutkan masalah ini daripada wanita perkotaan (masingmasing 30 dan 16 persen). Masalah besar berikutnya adalah jarak ke fasilitas kesehatan (12 persen) dan transportasi (12 persen). Kesehatan Ibu 137

163 Lampiran Tabel A.11.9 memperlihatkan persentase wanita yang melaporkan mempunyai masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan menurut propinsi. Masalah wanita dalam memperoleh pelayanan kesehatan beragam menurut propinsi. Wanita yang tinggal di propinsi dengan medan sulit dan fasilitas transportasi terbatas lebih cenderung mempunyai masalah. Daerah ini meliputi Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo REGISTRASI KELAHIRAN Registrasi kelahiran diakui sebagai salah satu hak anak di Indonesia. Meskipun registrasi adalah keharusan, Indonesia tidak pernah mempunyai sistem registrasi yang komprehensif baik untuk maksud statistik maupun legal. Pemerintah Indonesia telah melakukan banyak studi di daerah panduan untuk menghidupkan kembali sistem registrasi tanpa hasil yang nyata. Dalam SDKI , untuk semua anak yang dilahirkan sejak Januari 1997, ibu nya ditanya tentang apakah kelahiran anak mereka telah didaftarkan. Ibu yang memberikan jawaban ya terhadap pertanyaan ini diminta untuk memperlihatkan catatan apapun mengenai anak mereka, yang dapat berupa satu atau lebih dokumen berikut: surat keterangan lahir rumah sakit, surat laporan kelahiran desa, surat kenal lahir yang dikeluarkan oleh kantor bupati atau walikota sebagai pengganti akte kelahiran, dan akte kelahiran, suatu dokumen legal yang dikeluarkan oleh kantor catatan sipil. Tabel memperlihatkan distribusi kelahiran dalam lima tahun sebelum survei menurut registrasi dan jenis surat keterangan yang diperoleh. Tabel Registrasi kelahiran Persentase kelahiran yang diregistrasi dalam lima tahun sebelum survei dan distribusi persentase jenis dokumen dari kelahiran yang diregistrasi, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Dokumen registrasi Tidak Surat Jumlah Persentase dapat Surat laporan Surat kelahiran Karakteristik kelahiran yang Jumlah memper- keterangan kelahiran kenal Akte Tidak yang latar belakang diregistrasi kelahiran lihatkan lahir RS desa lahir kelahiran terjawab Jumlah diregistrasi Umur , ,7 52,8 7,2 4,7 26,6 0,0 100, ,7 3,361 7,7 38,3 5,9 3,6 44,4 0,1 100, ,5 4,417 8,5 33,1 4,2 3,3 50,8 0,1 100, ,4 3,395 9,7 29,8 5,0 3,2 52,2 0,1 100, ,2 2,217 9,2 33,0 8,1 3,5 46,0 0,3 100, , ,6 38,4 10,4 1,5 34,0 0,1 100, , ,9 51,0 6,3 3,7 27,1 0,0 100,0 55 Daerah tempat tinggal Perkotaan 67,3 7,029 8,6 30,8 3,3 2,8 54,3 0,2 100, Perdesaan 41,4 8,059 9,9 39,1 9,3 4,0 37,6 0,1 100, Pendidikan Tidak sekolah 21, ,7 32,0 14,7 5,9 28,8 0,0 100,0 153 Tidak tamat SD 34,6 2,238 10,2 48,1 15,2 3,7 22,9 0,0 100,0 774 Tamat SD 46,5 5,038 10,5 39,6 8,5 4,1 37,1 0,2 100, Tidak tamat SLTP 54,9 3,074 8,0 36,0 4,1 4,4 47,6 0,0 100, SLTP + 77,2 4,029 8,0 25,9 1,8 1,9 62,1 0,2 100, Jumlah 53,5 15,089 9,1 34,2 5,7 3,3 47,4 0,1 100, Secara keseluruhan, 54 persen dari kelahiran dilaporkan telah diregistrasi. Cakupan registrasi lebih besar untuk anak yang ibunya berumur tahun (61 persen), tinggal di daerah perkotaan (67 persen) dan tamat sekolah lanjutan tingkat pertama ke atas (77 %). Di antara anak yang dilaporkan mempunyai dokumen registrasi, 47 persen mempunyai akte kelahiran dan 34 persen mempunyai surat keterangan lahir rumah sakit. Untuk 9 persen kelahiran, walaupun dilaporkan telah diregistrasi, surat 138 Kesehatan Ibu

164 keterangannya tidak diperlihatkan kepada pewawancara. Hanya sedikit kelahiran yang didaftarkan ke kantor kepala desa (6 persen) atau mempunyai surat kenal lahir yang dikeluarkan oleh kantor bupati atau walikota (3 persen) Kelahiran di daerah perkotaan lebih cenderung mempunyai akte kelahiran daripada kelahiran di daerah perdesaan (54 persen dibandingkan dengan 38 persen). Di lain pihak, kelahiran di daerah perdesaan lebih cenderung mempunyai surat keterangan lahir rumah sakit daripada kelahiran di daerah perkotaan (39 persen dibandingkan dengan 31 persen). Pendidikan ibu mempunyai hubungan positif dengan registrasi kelahiran. Hanya 22 persen anak yang ibunya tidak sekolah diregistrasi, sedang proporsi tersebut untuk anak yang ibunya tamat SD adalah 47 persen dan proporsi untuk anak yang ibunya tamat SLTP ke atas adalah 77 persen. Perbandingan cakupan registrasi kelahiran antara Multiple Indicator Cluster Survey (MICS) 2000 dan SDKI memperlihatkan bahwa SDKI melaporkan cakupan akte kelahiran yang lebih tinggi (47 persen dibandingkan dengan 31 persen). Meskipun data MICS juga memperlihatkan bahwa cakupan di daerah perkotaan lebih tinggi daripada cakupan di daerah perdesaan, tingkat cakupan yang dicatat dalam MICS lebih rendah daripada tingkat cakupan yang dicatat dalam SDKI (BPS, 2001). Sebagai contoh, angka cakupan dalam MICS adalah 48 persen di daerah perkotaan dan 20 persen di daerah perdesaan, dibandingkan dengan masing-masing 67 persen dan 41 persen dalam SDKI. Lampiran Tabel A memperlihatkan bahwa ada perbedaan yang besar dalam cakupan registrasi menurut propinsi. Persentase cakupan berkisar dari 12 persen di Nusa Tenggara Timur hingga 92 persen di DI Yogyakarta, dengan sebagian besar propinsi memperlihatkan cakupan antara 36 persen dan 64 persen. Keragaman dalam cakupan akte kelahiran menurut propinsi tidak perlu sama dengan cakupan dalam registrasi secara keseluruhan. Di DI Yogyakarta, yang lebih dari 90 persen kelahirannya diregistrasi, 74 persen mempunyai akte kelahiran, Di Sulawesi Utara, di lain pihak, walau hanya 43 persen kelahiran diregistrasi, tetapi 74 persen dari yang diregistrasi mempunyai akte kelahiran. Tabel 11.6 memperlihatkan distribusi kelahiran yang tidak didaftarkan menurut alasan tidak mendaftarkan dan karakteristik latar belakang. Alasan yang paling sering disebutkan responden adalah menyangkut biaya, baik karena biaya terlalu besar (28 persen) atau karena mereka tidak mau membayar biaya keterlambatan (3 persen). Biaya juga merupakan alasan tidak mendaftarkan kelahiran yang paling sering disebut dalam MICS (47 persen) Pengetahuan ibu tentang registrasi kelahiran secara umum terbatas-13 persen wanita yang melahirkan dalam lima tahun sebelum survei tidak mengetahui bahwa anak harus didaftarkan dan 10 persen tidak mengetahui di mana harus mendaftarkan kelahiran. Tujuh persen wanita mengatakan bahwa tempat pendaftaran terlalu jauh, sedang 37 persen wanita menyebutkan alasan lainnya. Wanita yang lebih tua dan berpendidikan rendah lebih cenderung daripada wanita lainnya dalam menyebutkan bahwa alasan tidak mendaftarkan kelahiran adalah biaya. Sebagai contoh, 35 persen ibu yang tidak sekolah menyebutkan biaya sebagai masalah, sedang proporsi tersebut untuk ibu yang tamat SLTP ke atas adalah 15 persen. Kesehatan Ibu 139

165 Table Alasan tidak mendaftarkan kelahiran Perssentase kelahiran yang tidak didaftarkan dalam lima tahun sebelum survei menurut alasan tidak mendaftarkan kelahiran dan karakteristik latar belakang,,indonesia Alasan tidak mendaftarkan kelahiran Tidak tahu Terlambat, Tidak tahu Jumlah Biaya bahwa tidak mau dimana harus kelahiran Karakteristik terlalu Terlalu harus membayar mendaftarkan Tidak yang tidak latar belakang mahal jauh didaftarkan denda kelahiran Lainnya terjawab Jumlah didaftarkan Umur ,0 5,9 10,7 2,5 12,5 42,2 1,3 100, ,5 7,3 14,1 3,6 13,1 39,3 2,3 100, ,3 7,2 12,4 2,6 9,2 37,2 3,0 100, ,8 7,1 12,6 2,1 10,1 37,1 2,3 100, ,0 6,5 13,2 2,3 8,7 33,6 1,6 100, ,8 6,9 12,3 2,2 6,3 37,7 0,8 100, ,4 6,8 12,1 6,7 6,0 27,1 4,9 100,0 131 Daerah tempat tinggal Perkotaan 29,4 3,3 10,2 4,0 9,4 40,9 2,9 100, Perdesaan 26,9 8,8 14,2 2,1 10,5 35,5 2,0 100, Pendidikan Tidak sekolah 34,5 5,7 18,7 0,4 17,0 20,8 2,9 100,0 556 Tidak tamat SD 31,4 6,6 12,0 1,8 13,2 32,8 2,2 100, Tamat SD 31,9 7,3 13,1 3,2 9,6 33,5 1,4 100, Tidak tamat SLTP 21,4 7,4 12,5 2,6 7,8 45,4 2,8 100, SLTP + 14,8 7,0 10,4 4,6 6,2 53,2 3,8 100,0 917 Jumlah 27,7 7,0 12,9 2,7 10,1 37,3 2,3 100, Lampiran Tabel A menggambarkan alasan tidak mendaftarkan kelahiran menurut propinsi. Tiga dari sepuluh wanita di Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Sulawesi Utara mengatakan bahwa biaya merupakan masalah. Di propinsi lainnya, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tenggara, jarak dianggap merupakan alasan utama tidak mendaftarkan kelahiran. Kurangnya pengetahuan tentang registrasi kelahiran adalah tinggi (30 persen atau lebih) di Sumatera Utara, Nusa Tenggara barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. 140 Kesehatan Ibu

166 IMUNISASI ANAK 12 Program Pengembangan Imunisasi, yang dicanangkan oleh Departemen Kesehatan tahun 1977 menganjurkan agar semua anak mendapat imunisasi terhadap enam penyakit anak utama yang bisa dicegah dengan imunisasi: satu kali imunisasi BCG terhadap tuberkulosis; tiga kali imunisasi DPT untuk mencegah difteri, pertusis dan tetanus; empat kali imunisasi polio; dan satu kali imunisasi campak. Pada tahun 1997, program imunisasi dikembangkan dengan memasukkan tiga dosis vaksin Hepatitis B (HB). Semua imunisasi yang dianjurkan harus diberikan sebelum anak berumur 12 tahun (Depkes RI, 2000). Dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun ke VI ( s.d ), upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian anak dengan memperbaiki cakupan imunisasi anak dilanjutkan; kurun waktu ini mencakup Pekan Imunisasi Nasional pada tahun 1996 dan Bayi yang dibawa ke Puskesmas atau Posyandu untuk perawatan setelah dilahirkan diberikan Kartu Menuju Sehat (KMS), yang mecatat pemberian makanan, pertumbuhan dan imunisasi. Jenis dan tanggal imunisasi dicatat dalam buku register yang dipegang oleh juru imunisasi lapangan. Meskipun sangatlah penting KMS disimpan oleh ibu agar memungkinkan mereka untuk memantau pertumbuhan anak dan untuk mengetahui jadwal imunisasi, namun tidak semua ibu menyimpan KMS tersebut. Lebih lanjut tidak semua bayi mendapat perawatan setelah dilahirkan dan oleh karenanya tidak pernah mendapat KMS. Dalam survei ini, keterangan imunisasi dikumpulkan untuk bayi yang dilahirkan dalam lima tahun sebelum survei. Untuk anak yang mempunyai KMS, pewawancara meminta ibu memperlihatkan KMS tersebut, kemudian menyalin tanggal imunisasi ke dalam kuesioner. Jika anak tidak pernah mendapat KMS atau jika ibu tidak dapat memperlihatkan KMS kepada pewawanca, ibu ditanya tentang jenis imunisasi yang didapatkan oleh anaknya (khususnya, BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B). Pencatatan imunisasi polio dalam SDKI berbeda dengan SDKI 1994 dan 1997, karena SDKI memasukkan polio1 sampai 4, sedangkan SDKI sebelumnya mencatat polio 0 sampai CAKUPAN IMUNISASI Gambar 12.1 memperlihatkan persentase anak umur bulan, yang telah mendapat imunisasi terhadap enam penyakit anak utama yang bisa dicegah dengan imunisasi pada umur 12 bulan, seperti yang dianjurkan oleh pemerintah. Secara keseluruhan, 44 persen anak umur bulan telah diimunisasi lengkap terhadap penyakit-penyakit ini sebelum mereka mencapai hari ulang tahun pertama. Cakupan tertinggi adalah untuk BCG, DPT 1 dan Polio 1 yang berkisar dari 80 hingga 86 persen. Anak sangat cenderung belum diimunisasi lengkap terhadap polio pada umur 1 tahun (43 persen anak umur bulan telah mendapat empat dosis). Enam puluh tiga persen anak umur bulan mendapat imunisasi campak. Sebelas persen anak umur bulan belum mendapat satupun dari imunisasi yang dianjurkan. Cara lain untuk menilai keberhasilan program imunisasi adalah dengan menghitung persentase anak yang mendapat imunisasi pertama tetapi tidak menyelesaikan semua dosis vaksin DPT dan Polio untuk mencapai imunitas. Dalam laporan ini, angka dropout didefinisikan sebagai persentase anak yang mendapat dosis pertama tetapi tidak mendapat dosis ketiga dari rangkaian tersebut. Persentase anak yang dropout sebelum mendapat semua dosis DPT dan polio masing-masing adalah 31 dan 29 persen. Imunisasi Anak 141

167 Gambar 12.1 Persentase Anak Umur Bulan yang Diimunisasi pada Umur 12 Bulan (Informasi dari KMS atau Laporan Ibu) BCG DPT1 DPT2 DPT3 Polio1 Polio2 Polio3 Polio4 Campak Lengkap 1* Tidak diimunisasi Persen Catatan: Untuk anak yang informasi imunisasinya diperoleh dari laporan ibu, proporsi imunisasi yang diberikan selama tahun pertama kehidupan, diasumsikan sama seperti anak dengan catatan tertulis imunisasi. * Imunisasi BCG, campak dan masing-masing tiga dosis DPT dan Polio (tidak termasuk Polio 4). SDKI IMUNISASI MENURUT KARAKTERISTIK LATAR BELAKANG Tabel 12.1 memperlihatkan cakupan imunisasi untuk enam penyakit anak utama yang bisa dicegah menurut informasi yang dicatat pada KMS (bagian atas), informasi dari laporan ibu (bagian tengah) dan informasi dari kedua sumber (bagian bawah). Tabel tersebut memperlihatkan bahwa hanya 31 persen dari anak umur bulan memiliki KMS yang diperlihatkan pada waktu wawancara. Temuan ini serupa dengan SDKI 1997, dengan 31 persen anak umur bulan memiliki KMS; yang menunjukkan bahwa proporsi KMS yang dipegang oleh ibu tetap sama. Untuk anak yang KMS nya diperlihatkan (Tabel 12.1, bagian atas), 71 persen diimunisasi lengkap. Cakupan imunisasi terhadap penyakit tertentu, sesuai dengan yang dicatat dalam KMS, sama dengan yang dilaporkan dalam SDKI Cakupan imunisasi tertinggi, seperti yang terlihat pada KMS, adalah untuk BCG, DPT 1, Polio 1 dan Polio 2 (semuanya 90 persen atau lebih). Cakupan imunisasi berdasarkan laporan ibu, jauh lebih rendah daripada berdasarkan pengamatan KMS (Tabel 12.1 bagian tengah). Sebagai contoh, persentase anak yang diimunisasi lengkap adalah 43 persen, yang lebih rendah 28 persen daripada yang tercatat pada KMS. Cakupan tertinggi dosis imunisasi, menurut laporan ibu, adalah Polio 1 (84 persen), BCG (78 persen) dan DPT 1 (76 persen). 142 Imunisasi Anak

168 Tabel 12.1 Imunisasi menurut karakteristik latar belakang Persentase anak umur bulan yang mendapat imunisasi tertentu sebelum survei (menurut KMS atau laporan ibu) dan persentase yang mempunyai KMS, menurut karakteristik latar belakang,, Indonesia Persentase anak yang mendapat: Persentase DPT Polio KMS Karakteristik Imunisasi Tidak diper- Jumlah latar belakang BCG Campak lengkap 1 pernah lihatkan anak KARTU MENUJU SEHAT Jenis kelamin Laki-laki 93,3 96,3 88,9 77,0 96,4 93,1 85,6 69,8 76,0 66,3 0,4 100,0 433 Perempuan 92,9 91,2 87,7 84,2 95,4 91,2 90,1 71,0 81,3 75,5 0,0 100,0 432 Urutan kelahiran 1 98,1 97,3 94,9 88,1 99,6 97,4 91,7 77,9 82,7 78,4 0,0 100, ,4 94,6 89,0 80,5 95,2 92,3 88,9 68,8 82,2 71,1 0,2 100, ,4 93,2 83,7 74,3 94,6 89,5 85,0 64,9 64,4 60,4 0,0 100, (68,8) (58,9) (39,5) (34,9) (76,9) (54,3) (53,3) (36,5) (44,8) (31,9) 2,3 100,0 42 Daerah tempat tinggal Perkotaan 92,9 93,6 88,9 81,3 96,6 94,3 90,9 68,1 79,5 71,0 0,0 100,0 423 Perdesaan 93,4 94,0 87,7 80,0 95,3 90,0 85,0 72,6 77,8 70,7 0,4 100,0 441 Pendidikan Tidak sekolah * * * * * * * * * * * 100,0 13 Tidak tamat SD 86,1 88,5 74,6 66,0 100,0 81,6 77,3 68,9 71,3 58,7 0,0 100,0 67 Tamat SD 88,2 90,5 80,9 69,4 91,2 87,7 81,0 64,1 66,5 57,2 0,6 100,0 277 Tidak tamat SLTP 94,3 96,3 93,7 88,8 95,7 93,6 90,6 72,9 87,1 77,0 0,1 100,0 213 SLTP + 98,3 96,4 94,6 89,5 99,4 97,4 94,8 74,7 86,5 82,8 0,0 100,0 295 Jumlah 93,1 93,8 88,3 80,6 95,9 92,1 87,9 70,4 78,6 70,9 0,2 100,0 865 LAPORAN IBU Jenis kelamin Laki-laki 80,6 77,9 67,1 49,6 85,9 77,2 57,7 36,7 71,1 44,3 12,0 0, Perempuan 74,5 73,8 59,5 47,0 80,7 70,6 55,1 34,3 65,5 41,2 17,6 0,0 921 Urutan kelahiran 1 83,1 82,6 68,8 53,7 89,0 77,8 61,3 37,8 74,9 48,5 8,7 0, ,3 80,0 66,9 51,1 86,4 77,5 60,2 38,7 71,5 45,2 11,9 0, ,2 65,9 56,2 43,1 75,7 71,3 51,6 31,4 62,4 38,4 22,1 0, ,0 40,1 33,0 19,0 55,4 42,4 21,5 13,6 33,5 13,0 44,2 0,0 154 Daerah tempat tinggal Perkotaan 86,4 83,7 71,1 56,6 90,0 79,9 64,1 40,2 76,8 49,5 8,5 0,0 902 Perdesaan 70,4 69,3 57,1 41,4 77,8 69,1 49,9 31,6 61,3 37,2 19,9 0, Pendidikan Tidak sekolah 45,1 42,7 29,5 15,8 58,0 53,4 30,4 12,0 39,6 11,2 41,6 0,0 99 Tidak tamat SD 55,9 50,7 41,2 28,6 66,9 55,5 37,3 21,9 43,2 24,6 30,6 0,0 312 Tamat SD 76,2 74,8 59,7 47,2 82,9 72,6 53,1 34,9 65,7 39,5 15,7 0,0 583 Tidak tamat SLTP 81,6 82,0 67,9 47,8 87,7 76,7 60,4 36,0 73,3 45,0 9,2 0,0 433 SLTP + 95,4 93,5 83,9 68,1 95,2 88,4 73,2 48,5 87,9 61,7 3,3 0,0 527 Total 77,8 75,9 63,5 48,4 83,5 74,1 56,5 35,6 68,5 42,9 14,6 0, Bersambung... Imunisasi Anak 143

169 Tabel Sambungan Persentase anak yang mendapat: Persentase DPT Polio KMS Karakteristik Imunisasi Tidak diper- Jumlah latar belakang BCG Campak lengkap 1 pernah lihatkan anak KARTU MENUJU SEHAT DAN LAPORAN IBU Jenis kelamin Laki-laki 84,4 83,3 73,5 57,7 89,0 81,9 65,9 46,5 72,6 50,8 8,6 29, Perempuan 80,4 79,3 68,5 58,9 85,4 77,1 66,2 46,0 70,5 52,2 12,0 31, Urutan kelahiran 1 88,4 87,8 78,0 65,9 92,7 84,7 72,0 52,0 77,7 59,0 5,6 35, ,9 84,3 73,4 59,7 88,9 81,8 68,6 47,5 74,6 52,8 8,5 29, ,2 73,7 64,1 52,0 81,1 76,5 61,1 41,0 63,0 44,7 15,8 28, ,4 44,1 34,4 22,4 60,0 44,9 28,3 18,5 35,9 17,0 35,3 21,3 195 Daerah tempat tinggal Perkotaan 88,4 86,8 76,8 64,5 92,1 84,5 72,6 49,1 77,6 56,4 5,8 31, Perdesaan 77,2 76,6 66,1 52,8 83,0 75,3 60,3 43,7 66,2 47,1 14,1 29, Pendidikan Tidak sekolah 51,2 48,2 35,9 20,6 62,9 58,4 36,7 18,7 41,9 15,9 36,8 11,5 112 Tidak tamat SD 61,2 57,3 47,1 35,2 72,8 60,1 44,3 30,2 48,2 30,6 25,2 17,7 379 Tamat SD 80,1 79,9 66,5 54,4 85,5 77,5 62,1 44,3 66,0 45,2 10,9 32,2 859 Tidak tamat SLTP 85,7 86,7 76,4 61,3 90,3 82,3 70,4 48,1 77,9 55,5 6,2 32,9 646 SLTP + 96,5 94,5 87,7 75,8 96,7 91,6 80,9 57,9 87,4 69,3 2,1 35,9 822 Jumlah 82,5 81,4 71,1 58,3 87,3 79,6 66,1 46,2 71,6 51,5 10,2 30, Catatan: Pekan Imunisasi Nasional dilaksanakan dua kali pada tahun 2002, bulan September untuk imunisasi polio dan bulan Oktober untuk imunisasi polio dan campak. Angka dalam kurung berdasarkan pada kasus yang tidak dibobot. tanda bintang menunjukkan bahwa angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya yang belum dibobot kurang dari Imunisasi BCG, Campak dan masing-masing tiga dosis DPT dan Polio. Informasi menurut KMS dan laporan ibu (Gambar 12.2) memperlihatkan bahwa 52 persen anak umur bulan telah diimunisasi lengkap pada suatu saat sebelum wawancara. Persentase ini lebih kecil dari pada angka 55 persen yang dilaporkan oleh SDKI 1997, tetapi lebih tinggi daripada yang dilaporkan oleh SDKI 1994 dan 1991 (masing-masing 50 dan 48 persen). Membandingkan data dari SDKI dengan data survei sebelumnya perlu dilakukan dengan hati-hati karena sampel rumah tangga yang disurvei diambil dari himpunan propinsi/wilayah yang sedikit berbeda. Survei ini tidak mencakup Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara dan Papua, serta bekas Propinsi Timor Timur. 144 Imunisasi Anak

170 Gambar 12.2 Persentase Anak Umur Bulan yang Diimunisasi Lengkap (Berdasarkan pada Informasi dari KMS atau Laporan Ibu) Persen 20 0 SDKI 1991 SDKI 1994 SDKI 1997 SDKI Catatan: SDKI tidak mencakup Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Papua dan bekas Propinsi Timor Timur. Anak diimunisasi lengkap jika mereka telah mendapat imunisasi BCG, Campak dan masing-masing 3 dosis DPT dan Polio (tidak termasuk Polio 4). SDKI Menurut data yang ada pada Tabel 12.1, anak wanita hampir sama seperti anak laki-laki telah diimunisasi lengkap terhadap enam penyakit anak yang dapat dicegah. Cakupan imunisasi beragam menurut latar belakang karakteristik anak, kecuali menurut jenis kelamin. Sebagai contoh, persentase anak yang telah diimunisasi menurun dengan meningkatnya urutan kelahiran, berkisar dari 59 persen untuk anak pertama hingga 17 persen untuk anak ke enam atau lebih. Anak di daerah perkotaan lebih cenderung untuk menyelesaikan jadwal imunisasi daripada anak di daerah perdesaan (masing-masing 56 persen dan 47 persen). Demikian juga, anak yang ibunya tidak sekolah kurang cenderung untuk diimunisasi lengkap terhadap enam penyakit anak yang dapat dicegah daripada anak yang ibunya berpendidikan lebih tinggi (masing-masing 16 dan 69 persen) Persentase anak yang tidak mendapat imunisasi juga sangat beragam menurut latar belakang karakteristik demografi dan sosial ekonomi. Urutan kelahiran tinggi dan anak yang ibunya tidak sekolah paling cenderung tidak mendapat imunisasi. Sebanyak 35 persen anak dengan urutan kelahiran ke enam atau lebih dan 37 persen anak yang ibunya tidak berpendidikan formal, tidak mendapat imunisasi apapun (Tabel bagian bawah) Cakupan imunisasi sangat beragam antar propinsi. Propinsi dengan cakupan tertinggi meliputi DI Yogyakarta (84 persen) dan Bali (80 persen), sedangkan Banten mempunyai cakupan imunisasi lengkap yang paling rendah (25 persen). Cakupan KMS juga bervariasi antar propinsi berkisar dari 13 persen di Sumatera Selatan hingga 54 persen di Bali (Lampiran Tabel A.12.1) IMUNISASI HEPATITIS B Seperti yang disebutkan sebelumnya, pada tahun 1997, pemerintah Indonesia memperluas program imunisasi dengan mencakup tiga dosis vaksin Hepatitis B (HB). Pemerintah juga menyatakan bahwa semua imunisasi harus diberikan sebelum anak mencapai umur 1 tahun (Depkes RI, 2000). Cakupan imunisasi untuk HB disajikan dalam Tabel 12.2 dan Lampiran Tabel A.12.2 serta berdasarkan Imunisasi Anak 145

171 pada KMS dan laporan ibu. Meskipun imunisasi HB baru dimulai tahun 1997, 71 persen anak umur bulan telah mendapat paling sedikit 1 dosis vaksin dan 45 persen telah menyelesaikan rangkaian imunisasi HB tersebut. Tabel 12.2 Cakupan Imunisasi Hepatitis B Persentase anak umur bulan yang mendapat imunisasi Hepatitis B pada suatu saat sebelum survei (berdasarkan KMS atau laporan ibu) menurut karakteristik latar belakang,, Indonesia Imunisasi Hepatitis B Karakteristik Jumlah latar belakang HB1 HB2 HB3 anak Jenis kelamin Laki-laki 70,1 56,7 42, Perempuan 71,8 59,6 47, Urutan kelahiran 1 77,6 64,0 50, ,9 61,2 47, ,4 48,5 38, ,9 23,9 13,8 195 Jenis kelamin Perkotaan 80,4 64,3 51, Perdesaan 62,6 52,5 39, Pendidikan Tidak sekolah 27,5 23,1 12,6 112 Tidak tamat SD 42,3 30,7 21,8 379 Tamat SD 68,4 51,4 40,9 859 Tidak tamat SLTP 76,2 64,9 50,1 646 SLTP + 88,6 77,1 61,5 822 Jumlah 70,9 58,1 45, Tabel 12.2 memperlihatkan bahwa anak wanita sedikit lebih cenderung mendapat imunisasi Hepatitis B daripada anak laki-laki. Cakupan imunisasi untuk karakteristik latar belakang lain memperlihatkan pola yang sama seperti cakupan untuk imunisasi terhadap penyakit lainnya. Sebagai contoh, persentase anak yang telah mendapatkan ketiga dosis menurun dengan meningkatnya urutan kelahiran, yang berkisar dari 51 persen untuk kelahiran pertama hingga 14 persen untuk anak dengan urutan kelahiran ke enam atau lebih. Anak di daerah perkotaan lebih cenderung untuk menyelesaikan jadwal imunisasi daripada anak di daerah perdesaan (masing-masing 52 dan 40 persen). Demikian juga anak yang ibunya tidak sekolah cenderung tidak diimunisasi lengkap terhadap semua penyakit anak yang dapat dicegah daripada yang ibunya berpendidikan lebih tinggi (masing-masing 13 dan 62 persen). Cakupan imunisasi HB sangat bervariasi menurut propinsi. Propinsi dengan cakupan tertinggi untuk rangkaian ketiga dosis HB meliputi DI Yogyakarta (91 persen) dan Bali (82 persen), sedang Banten mempunyai tingkat cakupan imunisasi yang paling rendah (28 persen) (Lampiran Tabel A.12.2.) 146 Imunisasi Anak

172 PENYAKIT ANAK 13 Infeksi saluran pernafasan bawah akut, terutama pneumonia, adalah penyebab umum kesakitan dan kematian pada anak umur di bawah lima tahun. Pneumonia ditandai oleh batuk yang disertai dengan pernafasan yang sulit atau cepat dan tarikan dada ke dalam. Untuk pneumonia berat, rawat inap di rumah sakit dianjurkan, jika tidak, pengobatan rawat jalan dengan antibiotik disarankan. Diagnosis dan pengobatan dini dengan antibiotik dapat mencegah banyak kematian yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan bawah akut. Dalam SDKI , identifikasi infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) berdasarkan pada persepsi ibu tentang gejala pernafasan yang diderita oleh anaknya. Informasi tentang prevalensi demam pada anak umur di bawah lima tahun juga dicatat dalam survei, meskipun penyebabnya tidak dirinci. Berbagai penyakit infeksi disertai oleh demam. Di Indonesia, penyakit yang paling umum disertai dengan demam adalah malaria, infeksi pernafasan dan saluran cerna, campak dan tifoid. SDKI juga merekam prevalensi diare pada anak di bawah lima tahun yang dilaporkan oleh ibunya. Kontak dengan tenaga kesehatan dan praktek pengobatan membantu program nasional yang ditujukan untuk mengurangi dampak dari diare. Angka pengobatan dengan cara rehidrasi oral atau minum lebih banyak mencerminkan keberhasilan program dalam mendorong perilaku ini PREVALENSI DAN PENGOBATAN INFEKSI SALURAN NAPAS AKUT DAN DEMAM Tabel menunjukkan bahwa 8 persen anak mengalami gejala ISPA dalam dua minggu sebelum survei. Prevalensi tertinggi ISPA ditemukan pada anak umur 6-23 bulan (9 persen). Prevalensi ISPA menurun sedikit dengan bertambahnya umur, menjadi 6 persen pada anak umur bulan. Prevalensi ISPA tidaklah berbeda menurut jenis kelamin dan tempat tinggal anak, serta keragaman menurut pendidikan ibu juga kecil dan tidak teratur. Tabel 13.1 juga memperlihatkan bahwa 26 persen anak mengalami demam dalam 2 minggu sebelum survei. Seperti dalam kasus ISPA, prevalensi tertinggi demam ditemukan pada anak umur 6-23 bulan (35-36 persen). Prevalensi demam mengikuti pola yang sama seperti prevalensi ISPA; prevalensi ini tidak berbeda menurut jenis kelamin atau tempat tinggal anak. Enampuluh persen anak yang memperlihatkan gejala ISPA atau demam dibawa ke fasilitas kesehatan untuk berobat. Persentase ini berfluktuasi menurut umur anak, dengan anak umur 6-23 bulan paling cenderung dibawa untuk berobat. Perilaku pencarian pengobatan tidaklah berbeda menurut jenis kelamin anak. Anak di daerah perkotaan lebih cenderung diobati daripada anak di daerah perdesaan (masing-masing 64 dan 51 persen). Pendidikan ibu mengakibatkan perbedaan dalam pengobatan ISPA dan/ atau demam pada anak. Enampuluh sembilan persen anak yang ibunya tamat SLTP dibawa untuk berobat, sedang persentase untuk anak yang ibunya tidak sekolah adalah 45 persen. Lampiran Tabel A.13.1 memperlihatkan prevalensi ISPA dan demam menurut propinsi. Prevalensi ISPA tinggi di Bangka Belitung (20 persen), Banten (17 persen), Gorontalo (14 persen) dan Kalimantan Barat (12 persen). Kurang dari 5 persen anak dilaporkan mengalami ISPA di Jawa Timur, DI Yogyakarta, Lampung, Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Propinsi dengan prevalensi ISPA tinggi cenderung mempunyai prevalensi demam tinggi. Penyakit Anak 147

173 Tabel 13.1 Prevalensi dan pengobatan infeksi saluran pernapasan akut dan/atau demam Persentase anak umur di bawah lima tahun yang mengalami batuk disertai pernapasan dangkal dan cepat (gejala ISPA), persentase anak yang mengalami demam dalam 2 minggu sebelum survei, dan persentase anak dengan gejala ISPA dan/atau demam yang menerima pengobatan dari fasilitas atau tenaga kesehatan, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Prevalensi ISPA dan/atau demam Pengobatan anak dengan gejala pada anak dibawah 5 tahun ISPA dan/atau demam Persentase Persentase yang anak Persentase menerima dengan anak pengobatan dari Karakteristik gejala dengan Jumlah fasilitas atau Jumlah latar belakang ISPA demam anak tenaga kesehtaan 1 anak Umur dalam bulan <6 6,3 20, , ,0 35, , ,2 34, , ,3 25, , ,5 21, , ,2 20, ,0 591 Jenis kelamin Laki-laki 7,7 25, , Perempuan 7,4 25, , Daerha tempat tinggal Perkotaan 7,6 25, , Perdesaan 7,6 26, , Pendidikan Tidak sekolah 7,3 21, ,2 150 Tidak tamat SD 9,1 29, ,6 653 Tamat SD 7,6 26, , Tidak tamat SLTP 8,0 28, ,7 877 SLTP+ 6,3 22, ,9 966 Jumlah 7,6 25, , Tidak termasuk apotik, toko obat dan pengobat tradisional Tabel menyajikan jenis obat yang diberikan kepada anak yang demam. Karena malaria adalah penyebab penting kematian pada bayi dan anak di banyak negara sedang berkembang, apa yang dinamakan pengobatan presumtif demam (pengobatan tersangka malaria) dengan obat antimalaria dianjurkan di banyak negara yang malarianya endemik. Empat puluh tujuh persen anak yang demam selama dua minggu sebelum survei diberikan asetaminofen atau parasetamol, sedang kurang dari 1 persen anak diberikan obat antimalaria. Sebagian besar anak (76 persen) diberikan obat yang bukan antimalaria (Tabel 13.2.). Perbedaan menurut daerah tempat tinggal perkotaan/ perdesaan tidaklah bermakna. Table 13.2 Obat yang diminum untuk demam Persentase anak di bawah lima tahun yang sakit demam selama 2 minggu sebelum survei menurut jenis obat yang diminum dan daerah tempat tinggal, Indonesia Daerah tempat tinggal Jenis obat Perkotaan Perdesaan Jumlah Fansidar 0,3 0,1 0,2 Chloroquine/Nivaquine 0,5 0,5 0,5 Obat bukan anti malaria 77,2 75,7 76,4 Aspirin 2,9 4,6 3,8 Acetaminophen/paracetamol 48,0 46,4 47,1 Ibuprofen 0,6 0,5 0,6 Tidak tahu/tidak terjawab 16,0 14,6 15,2 Tanpa obat 5,2 8,9 7,2 Jumlah balita Penyakit Anak

174 13.2 PEMBUANGAN TINJA ANAK Pembuangan tinja anak dengan benar sangat penting dalam mencegah penyebaran penyakit. Jika tinja dibuang di tempat tidak tertutup, penyakit dapat menyebar melalui kontak langsung atau melewati kontak hewan. Tabel 13.3 menyajikan informasi tentang pembuangan tinja anak, menurut karakteristik latar belakang, termasuk jenis kakus yang ada di rumah tangga. Tabel memperlihatkan bahwa hanya 21 persen anak di bawah lima tahun yang selalu menggunakan kakus, demkian pula 31 persen ibu biasanya membuang tinja di kakus. Anak di daerah perkotaan lebih cenderung membuang tinja di tempat tertutup daripada anak di daerah perdesaan. Secara keseluruhan, persentase anak perkotaan yang selalu menggunakan kakus atau yang tinjanya dibuang di kakus atau dikuburkan adalah 72 persen, sedang anak perdesaan hanya 41 persen. Pendidikan ibu mempunyai hubungan dengan penggunaan kakus; makin tinggi pendidikan ibu, makin tinggi persentase anak yang menggunakan kakus atau yang tinjanya dibuang di kakus. Tabel 13.3 Pembuangan tinja anak Distribusi persentase ibu yang tinggal bersama anak terkecil di bawah lima tahun menurut cara tinja anak dibuang, dan karakteristik latar belakang dan jenis fasilitas kakus di rumah tangga, Indonesia Tinja tertutup Tinja tidak tertutup Memakai popok Anak selalu Dikubur menggu- Dibuang di Dibuang Dibuang Karakteristik nakan di hala- di luar di hala- Tidak Sekali Dicuci Tidak Jumlah latar belakang kakus kakus man rumah man Disiram dibuang pakai lagi Lainnya terjawab Jumlah ibu Daerah tempat tinggal Perkotaan 29,8 40,7 1,1 13,8 3,7 3,6 0,0 0,3 6,4 0,1 0,4 100, Perdesaan 13,9 23,2 4,3 30,0 12,1 5,2 0,4 0,2 10,0 0,3 0,4 100, Education Tidak sekolah 5,7 19,7 3,6 37,9 18,3 7,4 0,3 0,0 6,3 0,3 0,6 100,0 564 Tidak tamat SD 12,6 20,7 4,8 37,1 12,5 4,1 0,4 0,2 6,8 0,3 0,3 100, Tamat SD 17,9 27,8 3,3 26,2 9,6 4,4 0,3 0,2 9,8 0,2 0,4 100, Tidak tamat SLTP 20,9 36,6 2,2 19,1 8,0 4,2 0,1 0,2 7,9 0,3 0,4 100, SLTP + 33,5 40,0 1,3 9,5 2,5 4,5 0,1 0,5 7,8 0,0 0,4 100, Fasilitas kakus Tidak ada 4,1 7,3 3,9 55,7 12,2 5,6 0,1 0,2 10,3 0,4 0,4 100, Kakus cemplung 16,4 33,3 2,0 23,5 9,7 5,2 0,1 0,0 8,6 0,1 1,1 100, Kakus siram 32,8 43,9 1,5 6,6 2,9 3,8 0,1 0,4 7,7 0,1 0,3 100, Lainnya 8,7 19,7 5,6 33,2 18,0 5,0 0,9 0,1 8,1 0,5 0,3 100, Jumlah 21,3 31,4 2,8 22,4 8,2 4,5 0,2 0,3 8,3 0,2 0,4 100, J Jumlah mencakup 25 kasus yang informasi jenis fasilitas kakusnya tidak terjawab Lampiran Tabel A memperlihatkan keragaman dalam pembuangan tinja anak menurut propinsi. Anak di DKI Jakarta paling cenderung menggunakan kakus (45 persen), diikuti oleh Bali (30 persen) dan Sulawesi Utara (30 persen). Kurang dari 10 persen anak di Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Selatan menggunakan kakus. Propinsi yang tinjanya paling cenderung dibuang di kakus adalah Kalimantan Timur dan DI Yogyakarta (masingmasing 49 dan 43 persen). Perilaku tidak sehat seperti membuang tinja anak ke luar rumah atau halaman adalah umum di propinsi seperti Nusa Tenggara Barat (60 persen) dan Bangka Belitung (54 persen). Penyakit Anak 149

175 13.3 PREVALENSI DIARE Diare telah dipilih untuk dicakup dalam survei ini karena dua alasan. Di banyak negara dehidrasi karena diare adalah penyebab utama kematian pada bayi dan anak, dan kondisi ini dapat diatasi dengan pengobatan rehidrasi oral. Kombinasi antara angka kematian tinggi dan tersedianya pengobatan yang efektif menyebabkan diare dan pengobatannya menjadi perhatian utama pelayanan kesehatan. Tabel memperlihatkan prevalensi diare untuk anak di bawah lima tahun menurut karaktertistik latar belakang. Kurun waktu yang dirujuk adalah dua minggu sebelum wawancara. Reliabilitas jawaban ibu dipengaruhi oleh daya ingat terhadap episode diare yang terjadi. Karena jumlah kasus diare beragam menurut musim, waktu ketika survei lapangan dilaksanakan (Oktober 2002-April 2003) harus diperhitungkan dalam menginterpretasi temuan ini. Tabel 13.4 memperlihatkan bahwa 11 persen anak di bawah lima tahun mengalami diare dalam dua minggu sebelum survei. Angka ini serupa dengan yang ditemukan dalam SDKI 1994 dan 1997 (masing-masing 9 dan 12 persen). Prevalensi diare adalah tertinggi pada anak umur 6-11 bulan. Prevalensi diare tidak beragam menurut jenis kelamin dan tempat tinggal anak, tetapi berhubungan dengan pendidikan ibu. Anak yang ibunya berpendidikan SLTP ke atas paling cenderung tidak mengalami diare. Meskipun perbedaannya kecil, anak yang sumber air minumnya berupa air permukaan, agak lebih cenderung mengalami diare daripada anak lainnya. Tabel 13.4 Prevalensi diare Persentase anak di bawah lima tahun yang diare dalam 2 minggu sebelum survei menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Diare dalam Karakteristik dua minggu Jumlah Latar belakang sebelum survei anak Umur dalam bulan <6 8, , , , , , Jenis kelamin Laki-laki 10, Perempuan 11, Daerah tempat tinggal Perkotaan 11, Perdesaan 10, Pendidikan ibu Tidak sekolah 11,9 666 Tidak tamat SD 15, Tamat SD 11, Tidak tamat SLTP 11, SLTP + 8, Sumber air minum Perpipaan 11, Sumur terlindung 10, Sumur tidak terlindung 11, Air permukaan 13, Lainnya/tidak terjawab 8, Jumlah 11, Lampiran Tabel A memperlihatkan keragaman prevalensi diare antar propinsi. Prevalensi diare tertinggi terdapat di Sulawesi Selatan (16 persen) dan Jawa Barat (15 persen). Di lain pihak prevalensi diare terendah terdapat di Kalimantan Tengah (2 persen) dan Sumatera Selatan (3 persen) PENGETAHUAN TENTANG PERAWATAN DIARE Pengobatan rehidrasi oral, termasuk larutan yang disiapkan melalui paket Oralit (garam rehidrasi oral), dan minum lebih banyak telah disarankan untuk mengatasi diare. Di Indonesia, pengobatan rehidrasi oral dipromosikan melalui penyuluhan kesehatan dan kampanye media massa. Dalam SDKI, ibu dikatakan tahu pengobatan rehidrasi oral jika pernah mendengar tentang Oralit, merek Oralit yang paling sering digunakan, atau pernah melihat paket Oralit. Tabel memperlihatkan persentase ibu yang melahirkan dalam lima tahun sebelum survei dan yang mengetahui tentang paket Oralit. Secara keseluruhan 92 persen dari ibu mengetahui tentang paket Oralit. Pengetahuan tentang paket Oralit tidak beragam banyak menurut umur dan tempat tinggal responden. Pendidikan ibu berhubungan secara positif dengan pengetahuan paket Oralit, dengan Penyakit Anak

176 persen ibu yang tidak sekolah mengetahui tentang paket Oralit, dibandingkan dengan hampir semua ibu yang tamat sekolah lanjutan tingkat pertama. Tabel 13.5 Pengetahuan tentang paket oralit Persentase ibu yang melahirkan dalam lima tahun sebelum survei yang mengetahui tentang paket Oralit untuk pengobatan diare. menurut karakteristik latar belakang. Indonesia Persentase ibu Karakteristik yang mengetahui Jumlah latar belakang tentang paket Oralit ibu Umur , , , , , Daerah tempat tinggal Perkotaan 95, Perdesaan 90, Pendidikan ibu Tidak sekolah 68,1 580 Tidak tamat SD 85, Tamat SD 92, Tidak tamat SLTP 95, SLTP + 98, Jumlah 92, Oralit = Garam rehidrasi oral Lampiran Tabel A.13.4 memperlihatkan pengetahuan ibu tentang paket Oralit menurut propinsi. Pengetahuan ibu tentang paket Oralit paling rendah di Banten (67 persen) dan paling tinggi di DI Yogyakarta (99 persen) PENGOBATAN DIARE Tabel 13.6 memberikan informasi tentang perawatan medis dan pencarian pengobatan untuk episode diare anak dalam dua minggu sebelum survei, termasuk persentase anak yang mendapat berbagai pengobatan untuk diare. Perhatian utama dipusatkan pada pengobatan dengan rehidrasi oral, yang meliputi cairan yang dibuat dari paket Oralit, cairan yang dibuat sendiri sesuai petunjuk dan minum lebih banyak. Tabel 13.6 memperlihatkan bahwa 51 persen anak di bawah lima tahun yang diare dalam dua minggu sebelum survei dibawa ke fasilitas atau tenaga kesehatan. Pengobatan diare beragam menurut umur anak; bayi di bawah enam bulan dan anak tiga tahun atau lebih cenderung tidak dibawa ke fasilitas atau tenaga kesehatan. Anak wanita dan anak di daerah perkotaan agak lebih cenderung mendapat perawatan dari tenaga kesehatan dibanding dengan anak lainnya. Penyakit Anak 151

177 Tabel 13.6 Pengobatan diare Persentase yang dibawa untuk pengobatan ke tenaga kesehatan, persentase yang mendapat rehidrasi oral dan persentase yang diberikan pengobatan lain, pada anak umur di bawah lima tahun yang mengalami diare dalam dua minggu sebelum survei, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Pengobatan rehidrasi oral Pengobatan lain Persentase Paket Larutan Oralit, Pengoyang garam yang Oralit buatan batan dibawa rehi- dibuat ataupun sendiri/ di Jumlah ke drasi sendiri larutan Minum minum Pil rumah Tanpa anak Karakteristik fasilitas oral sesuai buatan lebih lebih atau Cairan atau Tidak pengo- yang Latar belakang kesehatan 1 (Oralit) petunjuk sendiri banyak banyak sirup Suntik infus lainnya terjawab batan diare Umur dalam bulan <6 24,0 15,3 13,2 26,3 25,3 39,6 30,0 0,6 0,0 17,4 0,0 41, ,0 35,5 15,4 45,2 26,3 59,2 59,9 0,7 0,4 8,9 0,0 16, ,7 35,4 22,2 51,6 29,1 60,7 60,2 1,2 0,1 10,8 0,0 12, ,2 34,7 24,7 45,5 30,3 61,5 64,6 1,1 1,7 13,9 0,0 8, ,1 40,4 23,7 51,4 24,7 62,2 51,1 0,9 0,0 11,6 2,8 12, ,7 46,6 26,4 65,1 33,4 75,3 66,3 0,0 0,0 15,0 0,0 4,3 175 Jenis kelamin Laki-laki 49,0 33,0 24,1 48,0 24,9 56,3 59,9 0,6 0,9 11,1 0,0 15,3 808 Perempuan 52,7 38,0 18,9 48,9 32,0 65,0 55,8 1,1 0,0 13,6 0,8 12,0 788 Daerah tempat tinggal Perkotaan 54,6 35,0 21,8 48,9 29,0 62,5 59,8 0,7 0,9 10,5 0,8 12,6 767 Perdesaan 47,3 35,9 21,3 48,0 27,9 58,9 56,1 1,0 0,0 14,1 0,0 14,7 829 Pendidikan ibu Tidak sekolah 31,7 39,3 16,4 48,9 34,5 57,4 43,4 0,0 0,0 19,6 0,0 23,9 79 Tidak tamat SD 50,6 47,0 17,6 55,4 23,0 63,1 51,8 0,7 1,5 9,0 0,0 18,6 326 Tamat SD 48,8 30,7 23,5 44,5 27,7 60,0 61,8 1,1 0,0 7,5 1,2 11,9 550 Tidak tamat SLTP 50,1 35,6 20,5 49,4 31,8 60,9 55,8 0,9 0,0 20,5 0,0 12,8 323 SLTP+ 60,1 31,0 24,5 47,0 30,2 59,8 63,1 0,8 0,8 14,1 0,0 10,0 318 Jumlah 50,8 35,5 21,6 48,4 28,4 60,6 57,9 0,9 0,5 12,3 0,4 13, Catatan : Pengobatan rehidrasi oral meliputi larutan yang dibuat dari paket garam rehidrasi oral (Oralit), larutan buatan sendiri sesuai petunjuk atau minum lebih banyak. 1 Tidak termasuk apotik. toko obat dan pengobat tradisional. Pengobatan anak yang diare beragam menurut pendidikan ibu. Anak yang ibunya tidak sekolah paling cenderung tidak dibawa ke fasilitas kesehatan, sedang anak yang ibunya berpendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama atau lebih paling cenderung mendapat perawatan dari tenaga kesehatan profesional. Akan tetapi, hubungan antara pengobatan anak yang diare dengan pengobatan rehidrasi oral dan pendidikan ibu kurang jelas (Gambar 13.1.) 152 Penyakit Anak

178 Gambar 13.1 Pengetahuan dan Penggunaan Paket Oralit pada Ibu yang Melahirkan dalam Lima Tahun Terakhir menurut Tingkat Pendidikan Persen Tidak sekolah Tdk tmt SD Tamat SD Tdk tmt SLTP SLTP + Pengetahuan Penggunaan SDKI Anak yang mengalami diare mungkin diberikan larutan yang dibuat dari paket Oralit, cairan buatan sendiri, pengobatan lain, minum lebih banyak, atau kombinasi dari berbagai cara pengobatan ini. Meskipun lebih dari 90 persen ibu melaporkan bahwa mereka mengetahui tentang paket oralit, hanya 36 persen anak yang diare diberi pengobatan rehidrasi oral. Persentase ini, jauh lebih rendah dibandingkan dengan SDKI 1997 (48 persen). (Gambar 13.2.). Secara keseluruhan, 22 persen anak yang diare diberikan larutan buatan sendiri sesuai petunjuk, 48 persen diberi baik oralit ataupun buatan sendiri, 58 persen diberikan pil atau sirup, 12 persen diberikan obat di rumah. Walaupun sebagian besar anak yang diare diberikan Oralit, larutan buatan sendiri atau minum lebih banyak, 14 persen anak tidak mendapat pengobatan sama sekali. Gambar 13.2 Tren Pengetahuan dan Penggunaan Paket Oralit untuk Pengobatan Diare oleh Ibu yang Melahirkan dalam Lima Tahun Terakhir Persen Tahu Oralit 1 Pengobatan paket Oralit SDKI 1997 SDKI Catatan : SDKI tidak mencakup propinsi : Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara dan Papua. Survei sebelumnya mencakup Timor Timur. 1 Anak di bawah lima tahun yang mengalami diare dalam dua minggu sebelum survei. Oralit = Garam rehidrasi oral Penyakit Anak 153

179 13.6 KEBIASAAN PEMBERIAN MAKANAN SELAMA DIARE Penyembuhan anak yang menderita diare mungkin tergantung pada kebiasaan pemberian makanan selama dan antar episode diare. Secara khusus, konsumsi cairan tambahan adalah penting. Tabel 13.7 menyajikan data tentang kebiasaan pemberian makanan pada anak yang mengalami diare dalam dua minggu sebelum survei. Data memperlihatkan bahwa hanya 28 persen anak yang diare diberi lebih banyak cairan daripada biasanya, sedang 47 persen diberi cairan dengan jumlah yang sama. Perlu diperhatikan bahwa 24 persen anak yang diare kurang diberi cairan atau tidak diberikan sama sekali. Episode diare sering disertai dengan muntah, yang membuat pemberian makanan sulit karena anak mungkin menolak makanan. Tabel 13.7 memperlihatkan bahwa hanya 10 persen anak diberikan lebih banyak makanan daripada biasa, sedang 44 persen diberikan lebih sedikit makanan atau tidak diberikan sama sekali. Secara keseluruhan, hasil SDKI memperlihatkan bahwa kebiasaan pemberian makanan pada anak yang diare di Indonesia tidaklah sesuai dengan petunjuk yang dianjurkan program. Tabel 13.7 Kebiasaan pemberian makanan selama diare Persentase anak di bawah lima tahun yang mengalami diare dalam dua minggu sebelum survei, menurut jumlah cairan dan makanan yang diberikan, dibandingkan dengan kebiasaan normal, Indonesia Kebiasaan pemberian makanan Persentase Jumlah cairan yang diberikan Sama seperti biasa 46,9 Lebih banyak 28,4 Kurang 16,5 Sangat kurang 1,2 Tidak diberikan 5,9 Tidak tahu/tidak terjawab 1,1 Jumlah 100,0 Jumlah makanan yang diberikan Sama seperti biasa 44,3 Lebih banyak 9,9 Kurang 38,0 Sangat kurang 2,8 Tidak ada 3,4 Tidak pernah diberi makanan 0,8 Tidak tahu/tidak terjawab 0,9 Jumlah 100,0 Jumlah anak Gambar 13.3 membandingkan kebiasaan pemberian makanan selama diare pada 1997 dan Gambar tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan pemberian makanan yang benar telah memburuk. Persentase anak yang diberikan minum dan makanan lebih banyak pada adalah setengah dari persentase pada Sebagai contoh, 57 persen anak yang diare diberikan minum lebih banyak, sedang proporsi tersebut pada hanya 28 persen. 154 Penyakit Anak

180 Gambar 13.3 Tren Kebiasaan Pemberian Makanan pada Anak Dibawah Lima Tahun yang Mengalami Diare Persen Sama Ditambah Dikurangi/ tidak diberikan Jumlah Cairan Sama Ditambah Dikurangi/ tidak diberikan Jumlah Makanan SDKI 1997 SDKI Catatan : SDKI tidak mencakup propinsi : Nangroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara dan Papua. Survei sebelumnya mencakup Timor Timur PERAWATAN KESEHATAN ANAK DAN STATUS IBU SDKI meneliti hubungan antara perawatan kesehatan anak dan status wanita yang diukur melalui jumlah peranserta ibu pada pengambilan keputusan dalam rumah tangga, jumlah alasan yang membenarkan istri untuk menolak hubungan seks dengan suami, dan jumlah alasan yang membenarkan suami untuk memukul istri. Tabel 13.8 memperlihatkan sedikit hubungan antara status wanita dan perawatan kesehatan anak. Walaupun ada sedikit hubungan positif antara peranserta wanita pada pengambilan keputusan dalam rumah tangga dan cakupan imunisasi, hubungan tersebut lebih lemah lagi untuk pengobatan demam pada anak dan agak negatif untuk kemungkinan anak dibawa berobat ketika mereka sakit diare. Sedangkan untuk jumlah alasan yang membenarkan isteri menolak kumpul dengan suami, hubungan tersebut diperkirakan positif, yaitu lebih banyak alasan, lebih tinggi persentase. Akan tetapi, hubungan yang sebenarnya tidaklah linier dengan masing-masing dari ketiga variabel kesehatan anak tersebut. Demikian juga untuk jumlah alasan yang membenarkan suami memukul isteri, hubungan negatif yang diperkirakan hanya ditemukan pada persentase anak dengan gejala ISPA atau demam yang dibawa berobat. Penyakit Anak 155

181 Tabel 13.8 Perawatan kesehatan anak menurut status perempuan Persentase anak umur bulan yang diimunisasi lengkap. dan persentase anak di bawah lima tahun yang sakit dengan demam dan/ atau gejala ISPA dan diare dalam dua minggu sebelum survei yang dibawa berobat ke tenaga kesehatan, menurut indikator status wanita, Indonesia Anak umur Anak dengan demam dan/ Anak dengan diare bulan yang atau gejala ISPA yang dibawa yang dibawa ke diimunisasi lengkap 1 ke tenaga kesehatan 2 tenaga kesehatan 2 Indikator status wanita Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Jumlah keputusan akhir pada wanita 3 0 * 6 * 29 * , , , , ,6 1,272 49, , , ,5 958 Jumlah alasan yang membenarkan istri menolak hubungan seks dengan suami 0 50, , , , , , , , , Jumlah alasan yang membenarkan suami memukul isteri 0 51, , , , , , , , , (63,4) 38 (43,6) 63 (57,7) 32 Jumlah 51, , , Catatan : Angka dalam kurung berdasarkan pada kasus yang tidak dibobot, tanda bintang menunjukkan bahwa angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya yang belum dibobot kurang dari Anak yang mendapatkan imunisasi BCG, campak dan tiga dosis DPT dan polio (tidak termasuk polio yang diberikan waktu lahir) 2 Tidak termasuk apotik, toko obat dan pengobat tradisional 3 Baik wanita sendiri ataupun bersama yang lain KEBIASAAN MENCUCI TANGAN Banyak penyakit mudah ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau dari tangan ke mulut. Mencuci tangan mengurangi penularan bibit penyakit baik pada saluran pencernaan (tinja) maupun pernafasan. Dalam SDKI , responden ditanya tentang apakah mereka mencuci tangan sebelum menyiapkan hidangan untuk keluarga. Tabel 13.9 memperlihatkan bahwa 96 persen wanita mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan. Hampir tidak ada perbedaan dalam kebiasaan menurut karakteristik latar belakang atau ketersediaan air. 156 Penyakit Anak

182 Tabel Kebiasaan mencuci tangan Persentase wanita yang mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan untuk keluarga yang terakhir kali menurut karakteristik latar belakang. Indonesia Tidak Tidak pernah Karakteristik Mencuci mencuci menyiapkan Tidak Jumlah latar belakang tangan tangan makanan terjawab Jumlah wanita Umur ,7 0,0 100, ,1 2,4 2,4 0,1 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 96,7 1,6 1,7 0,1 100, Perdesaan 94,7 3,1 2,2 0,0 100, Sumber air minum Perpipaan 95,9 2,1 1,9 0,1 100, Sumur terlindung 96,4 1,9 1,6 0,0 100, Sumur tidak terlindung 95,6 2,6 1,7 0,1 100, Air permukaan 92,4 4,1 3,6 0,0 100, Lainnya 96,9 1,6 1,4 0,0 100, Waktu untuk mendapatkan air Dalam rumah/halaman 96,4 1,9 1,7 0,1 100, < 2 menit 98,9 1,1 0,0 0,0 100, menit 94,8 2,5 2,7 0,0 100, menit 95,3 3,1 1,6 0,0 100, menit 91,0 4,9 4,0 0,1 100, Jumlah 1 95,6 2,4 2,0 0,1 100, Jumlah mencakup 5 wanita tanpa informasi tentang sumber air minum dan 327 wanita tanpa informasi tentang waktu untuk mendapatkan air. Penyakit Anak 157

183 PEMBERIAN MAKANAN PADA ANAK 14 Kebiasaan pemberian makanan yang benar amat penting untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan, perkembangan, kesehatan dan gizi dari bayi dan anak balita. Keadaan gizi ibu yang baik sebelum dan selama kehamilan secara permanen akan mempengaruhi kesehatan anak pada semua tingkat perkembangan dan kemampuan ibu untuk melahirkan dan menyusui bayi dengan lancar, demikian pula dengan kesehatan umum ibu. Manfaat kesehatan menyusui baik untuk ibu maupun anak sudah tidak diperdebatkan lagi dan dipengaruhi baik oleh lama maupun intensitas menyusui dan oleh umur pada waktu bayi mendapat cairan dan makanan pendamping. Untuk menurunkan tingkat kesakitan dan kematian anak, the United Nation Childrens Fund (UNICEF) dan the World Health Organization (WHO) menganjurkan agar anak disusui selama paling sedikit enam bulan. Makanan padat hanya diberikan pada umur tujuh bulan atau lebih dan pemberian air susu ibu (ASI) harus dilanjutkan dengan baik sampai tahun ke dua kehidupan (Rutstein, 2000). Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia mengubah lama pemberian ASI eksklusif dari empat bulan menjadi enam bulan (Depkes RI, 2002c) PEMBERIAN AIR SUSU IBU AWAL Ibu dan anak mendapat manfaat dari menyusui yang dimulai seawal mungkin. Dari segi anak, kolostrum (ASI yang keluar pertama) penting karena kaya dengan antibodi yang dalam gilirannya mempunyai efek menurunkan risiko kematian. Menyusui yang dimulai seawal mungkin mempengaruhi kesehatan ibu baru melahirkan yaitu dengan menimbulkan retraksi uterus, yang membantu mengurangi kehilangan darah masa nifas. Untuk jangka yang lebih panjang, ibu yang menyusui cenderung memperpanjang lama selang kelahiran, karena efek supresi yang dimiliki oleh menyusui terhadap kembalinya haid setelah melahirkan. Efek menyusui terhadap kembalinya haid dipengaruhi baik oleh lama maupun intensitas menyusui. Selang kelahiran yang lebih panjang memberi kesempatan kepada tubuh ibu untuk pulih dari kekurangan fisik yang berkaitan dengan kehamilan. Dalam SDKI , untuk semua anak yang dilahirkan dalam lima tahun sebelum survei, ibunya ditanya tentang berapa lama setelah melahirkan bayinya diberi ASI. Mereka juga ditanya tentang apakah anak diberi sesuatu selain ASI selama tiga hari pertama kehidupan sebelum ibu mulai menyusui secara teratur. Data yang disajikan dalam tabel meneguhkan bahwa menyusui di Indonesia adalah umum, dengan 96 persen anak yang dilahirkan dalam lima tahun sebelum survei telah disusui untuk beberapa waktu. Hal ini terjadi pada semua kelompok anak. Empat dari sepuluh bayi disusui dalam satu jam setelah dilahirkan sesua anjuran, sedang 62 persen mulai disusui dalam hari pertama kehidupan. Persentase anak yang mulai menyusu dalam hari pertama kehidupan naik dari tahun 1997 (masing-masing 53 dan 62 persen) (BPS, 1998). Waktu dimulainya pengenalan makanan pendamping sebagai tambahan terhadap ASI mempunyai manfaat yang penting baik bagi kesehatan anak maupun ibu. Pengenalan dini makanan yang rendah energi dan gizi, dan yang disiapkan dalam kondisi tidak higienis dapat mengakibatkan gizi kurang, Pemberian Makanan Pada Anak 159

184 infeksi organisme asing dan kekebalan yang lebih rendah terhadap penyakit pada bayi. Pada waktu yang sama, bayi yang mendapat makanan pendamping akan kurang menyusu, dengan demikian menurunkan frekuensi menghisap dan jumlah ASI yang diproduksi. Dalam gilirannya hal ini akan memperpendek masa tidak haid setelah melahirkan, yang bisa mengakibatkan kehamilan berikutnya yang lebih awal. Keterlambatan mulainya pemberian ASI yang segera adalah petunjuk bahwa semacam makanan pralaktasi diberikan dalam masa antara kelahiran dan pemberian ASI pertama kali. Tabel memperlihatkan bahwa persentase anak yang mendapat cairan pralaktasi adalah sangat tinggi (45 persen). Seperti yang diperkirakan, anak lebih cenderung mendapat cairan daripada makanan setengah padat sebelum mereka mendapat ASI secara teratur (masing-masing 45 dan 18 persen). Tabel 14.1 Pemberian ASI awal Persentase anak yang dilahirkan dalam lima tahun sebelum survei yang pernah disusui, dan pada anak yang pernah disusui, persentase yang mulai mendapat ASI dalam satu jam dan dalam satu hari setelah dilahirkan, dan persentase yang mendapat makanan pralaktasi, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Karakteristik latar belakang Pada semua anak: Persentase yang pernah disusui Jumlah anak Pada anak yang pernah disusui, persentase mulai mendapat ASI: Dalam 1 jam setelah dilahirkan Dalam 1 hari setelah dilahirkan 1 Persentase anak yang mendapat cairan pralaktasi 2 Persentase yang mendapat makanan pralaktasi setangah padat 2 Jumlah anak yang pernah disusui Jenis kelamin Laki-laki 95,8 7,787 38,4 61,1 46,0 18, Perempuan 96,1 7,301 39,1 63,2 44,7 16, Daerah tempat tinggal Perkotaan 95,1 7,029 36,4 59,6 52,5 16, Perdesaan 96,6 8,059 40,7 64,2 39,2 19, Pendidikan ibu Tidak sekolah 98, ,3 63,2 34,1 20,9 699 Tidak tamat SD 96,5 2,238 40,5 61,6 36,9 22, Tamat SD 96,5 5,038 38,9 65,5 38,6 19, Tidak tamat SLTP 95,4 3,074 39,1 60,7 48,2 18, SLTP + 94,9 4,029 36,7 59,0 58,5 12, Penolong persalinan Tenaga kesehatan 3 95,3 9,994 38,2 61,4 53,1 14, Dukun 97,2 4,752 40,2 65,1 30,8 25, Lainnya 96, ,2 63,9 38,9 11,7 182 Tanpa penolong (100,0) (39) (46,9) (58,7) (42,7) (3,2) 39 Tempat persalinan Fasilitas kesehatan 94,3 6,002 39,3 62,2 58,0 9, Di rumah 97,0 8,906 38,7 62,8 37,6 23, Lainnya 98, ,0 66,9 40,2 10,2 59 Tidak terjawab 99, ,1 8,2 5,3 0,1 121 Jumlah 95,9 15,089 38,7 62,1 45,3 17, Catatan: Tabel berdasarkan pada semua kelahiran yang anaknya hidup atau mati pada saat wawancara. Angka dalam kurung berdasarkan pada kasus yang tidak dibobot 1 Termasuk anak yang mulai menyusu dalam satu jam setelah dilahirkan. 2 Anak diberikan sesuatu selain ASI selama tiga hari pertama kehidupan sebelum ibu mulai menyusui secara teratur 3 Dokter, perawat/bidan, atau bidan di desa 160 Pemberian Makanan Pada Anak

185 Anak perdesaan cenderung kurang mendapat makanan pralaktasi cair daripada anak perkotaan. Ada hubungan yang positif antara pendidikan ibu dan kemungkinan anak mendapat makanan pralaktasi cair. Anak dari ibu yang tidak sekolah cenderung kurang mendapat makanan pralaktasi cair daripada anak dari ibu yang tamat SLTP atau lebih. Demikian juga, anak yang dilahirkan di rumah cenderung kurang mendapat makanan pralaktasi cair dan lebih cenderung mendapat makanan pralaktasi setengah padat daripada anak yang dilahirkan di fasilitas kesehatan. Anak yang ibunya ditolong oleh tenaga kesehatan profesional pada waktu dilahirkan sangat cenderung mendapat cairan sebelum air susu ibu keluar dengan teratur daripada anak yang ditolong oleh dukun pada saat melahirkan. Di lain pihak, anak yang ditolong oleh dukun pada saat dilahirkan lebih cenderung diberikan makanan pralaktasi setengah padat daripada anak yang ditolong oleh tenaga kesehatan profesional (masing-masing 26 dan 14 persen). Lampiran Tabel A.14.1 memperlihatkan bahwa anak di Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Tengah paling cenderung diberikan ASI dalam jam pertama setelah dilahirkan (masing-masing 66 dan 63 persen) daripada anak di propinsi lain, sedangkan anak di DI Yogyakarta paling cenderung tidak mendapat ASI dalam satu jam setelah dilahirkan (14 persen). Ibu di Nusa Tenggara Barat paling cenderung menyusui dalam satu hari pertama setelah melahirkan (86 persen) Anak di DKI Jakarta dan Riau paling cenderung mendapat makanan pralaktasi cair (masingmasing 66 dan 62 persen), sedang anak di Gorontalo (43 persen), Bengkulu (36 persen) dan Sulawesi Tengah (36 persen) paling cenderung mendapat makanan pralaktasi setengah padat POLA UMUR DALAM PEMBERIAN ASI Ibu yang masih menyusui ditanya tentang apakah mereka telah memberikan berbagai jenis cairan atau makanan padat kepada anak dalam 24 jam terakhir. Anak dikelompokkan mendapat ASI secara eksklusif jika mereka hanya mendapat ASI dalam 24 jam terakhir. Pemberian ASI adalah penuh bila anak hanya mendapat air putih selain ASI. Tabel 14.2 dan Gambar memperlihatkan data status pemberian ASI pada anak sejak lahir hingga umur tiga tahun. Lima puluh lima persen anak kurang dari empat bulan diberikan ASI secara eksklusif, sedang proporsi pada anak di bawah enam bulan adalah 40 persen. Setelah melewati umur enam bulan, ASI saja tidak memberikan gizi yang cukup untuk bayi; dengan demikian anak di atas umur enam bulan tidak boleh hanya diberikan ASI. Di Indonesia, 5 persen bayi umur 6-9 bulan dilaporkan mendapat ASI saja. Persentase anak yang tidak lagi mendapat ASI mulai meningkat dari 13 persen pada umur 6-7 bulan menjadi 41 persen pada umur bulan. Pada umur 28 bulan, 66 persen anak telah berhenti mendapat ASI. Dengan membandingkan angka ini dengan SDKI 1997, tampak bahwa persentase anak di bawah 4 bulan yang mendapat ASI secara eksklusif telah mengalami sedikit peningkatan (52 persen tahun 1997 dibandingkan dengan 55 persen tahun ). Pengenalan dini makanan yang rendah energi dan gizi atau yang disiapkan dalam kondisi tidak higienis mungkin dapat mengakibatkan gizi kurang, infeksi organisme asing dan kekebalan yang lebih rendah terhadap penyakit pada bayi (Depkes RI, 2002a). Hal yang tidak menguntungkan di Indonesia, pemberian makanan tambahan dimulai terlalu dini, yang tidak sejalan dengan anjuran pemerintah. Pemberian ASI eksklusif tidak diterapkan secara meluas. Hanya 64 persen anak umur di bawah 2 bulan yang diberikan ASI eksklusif. Persentase ini menurun menjadi 46 persen untuk anak 2-3 bulan dan 14 persen untuk anak 4-5 bulan. Oleh karena itu, hanya satu dari tujuh bayi mendapat ASI eksklusif pada umur ketika semua bayi dianjurkan diberi ASI eksklusif. Pemberian Makanan Pada Anak 161

186 Tiga belas persen bayi di bawah 2 bulan diberi susu lain dan 15 persen diberi makanan pendamping ASI. Pada umur 2-3 bulan, satu dari tiga anak diberikan makanan pendamping. Proporsi ini meningkat menjadi 71 persen pada umur 6-7 bulan. Pemberian susu botol bisa tidak memenuhi persyaratan sanitasi dan tidak dianjurkan untuk semua umur. Akan tetapi, kebiasaan ini menjadi makin umum di Indonesia. Tabel 14.2 memperlihatkan persentase anak umur 2-3 bulan yang diberikan susu botol meningkat dari 12 persen pada 1997 menjadi 17 persen pada Persentase ini meningkat menjadi 35 persen pada bayi umur 8-9 bulan. Tabel 14.2 Status pemberian ASI menurut umur anak Distribusi persentase anak terkecil di bawah tiga tahun yang tinggal bersama ibu menurut status pemberian ASI dan persentase anak di bawah tiga tahun yang menggunakan botol dot, menurut umur dalam bulan, Indonesia Mendapat ASI dan mengkonsumsi : Jumlah Meng- anak Tidak Diberi Air Makanan gunakan yang diberi ASI putih Cairan/ Susu pendam- Jumlah botol tinggal Umur dalam bulan ASI Ekslusif saja jus lain ping Total anak dot 1 bersama <2 3,9 64,0 4,1 0,1 13,2 14,6 100, , ,8 45,5 7,2 0,6 9,7 32,2 100, , ,4 13,9 6,2 0,3 3,1 69,0 100, , ,0 7,8 2,7 1,2 3,9 71,3 100, , ,9 1,7 0,9 1,9 0,6 79,1 100, , ,5 1,2 2,0 0,6 0,3 78,4 100, , ,4 1,0 1,1 1,0 0,6 80,8 100, ,1 1, ,1 1,3 0,2 0,2 0,6 73,5 100, , ,3 0,3 0,2 0,2 0,0 58,0 100, , ,8 0,9 0,1 0,0 0,1 40,1 100, , ,6 0,3 0,2 0,3 0,0 33,7 100, ,7 1, ,8 0,2 0,6 0,0 0,2 26,2 100, , <4 4,2 55,1 7,6 0,5 12,8 19,8 100, , <6 5,5 39,5 6,0 0,4 8,4 40,3 100, , ,4 4,9 1,8 1,5 2,3 75,0 100, ,4 904 Catatan: Status pemberian ASI merujuk pada kurun waktu 24 jam (kemarin atau malam lalu). Pengelompokan anak sebagai kelompok tidak diberi ASI, diberi ASI eksklusif, diberi ASI dan air putih saja, cairan/ jus, susu lain dan makanan pendamping (padat dan setengah padat) bersifat bertingkat dan saling eksklusif, sehingga persentasenya berjumlah 100 persen. Jadi, anak yang mendapat ASI dan cairan, yang tidak mendapat makanan pendamping, dikelompokkan dalam kelompok cairan, meskipun mereka juga mungkin mendapat air putih. Demikian pula anak yang mendapat makanan pendamping dimasukkan dalam kelompok tersebut selama mereka juga mendapat ASI. 1 Berdasarkan pada semua anak di bawah tiga tahun. 162 Pemberian Makanan Pada Anak

187 Gambar 14.1 Distribusi Anak menurut Status Mendapat ASI dan Umur 100% 80% 60% 40% 20% 0% Umur dalam bulan ASI eksklusif ASI+air ASI+pendamping Bukan ASI LAMA DAN FREKUENSI PEMBERIAN ASI Tabel memperlihatkan perbedaan dalam lama dan frekuensi pemberian ASI menurut karakteristik latar belakang. Secara keseluruhan median lama pemberian ASI adalah 22,3 bulan, median lama pemberian ASI eksklusif adalah 1,6 bulan dan median lama pemberian ASI utama 2 adalah 2,0 bulan. Secara keseluruhan median lama pemberian ASI dalam SDKI 1997 adalah satu bulan lebih lama (23,9 bulan) daripada median yang dilaporkan oleh SDKI Walaupun hanya ada sedikit perbedaan dalam praktek pemberian ASI menurut jenis kelamin anak dan daerah tempat tinggal perkotaan/ perdesaan, tapi keragaman menurut pendidikan ibu cukup besar. Sebagai contoh, median lama pemberian ASI adalah 24,8 bulan untuk ibu yang tidak sekolah dibandingkan dengan 19,7 bulan untuk ibu tamat SLTP ke atas (Gambar 14.2.) Agar ibu dapat meningkatkan penyediaan ASI dan menunda kembalinya haid, pemberian ASI yang sering harus dilakukan sepanjang siang dan malam (Depkes RI, 2002d). Data yang disajikan dalam Tabel menunjukkan bahwa 97 persen pemberian ASI kepada anak di bawah umur enam bulan dilakukan enam kali atau lebih dalam 24 jam sebelum survei. Anak disusui lebih sering selama siang hari dibandingkan malam hari (masing-masing 7 dan 5 kali). Lampiran Tabel A.14.2 memperlihatkan bahwa lama median pemberian ASI berkisar dari 14,4 bulan di DKI Jakarta hingga 32,7 bulan di Kalimantan Barat. Ada keragaman kecil dalam frekuensi pemberian ASI antar propinsi. 2 Termasuk air susu ibu saja, air susu ibu dan air putih, cairan dan/atau jus saja (tidak termasuk susu lain) Pemberian Makanan Pada Anak 163

188 Tabel 14.3 Median lama dan frekuensi pemberian ASI Median lama mendapat ASI, ASI eksklusif, dan ASI utama pada anak yang dilahirkan dalam tiga tahun sebelum survei, persentase mendapat ASI pada anak di bawah umur enam bulan yang tinggal bersama ibu yang disusui enam kali atau lebih dalam 24 jam sebelum survei, dan rata-rata jumlah pemberian ASI (siang/malam), menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Median lama (bulan) mendapat ASI 1 Anak mendapat ASI dibawah enam bulan 2 Persentase Yang Rata-rata Rata-rata disusui jumlah jumlah 6 kali pemberian pemberian atau lebih ASI ASI dalam selama selama Karakteristik Pemberian ASI ASI Jumlah 24 jam siang malam Jumlah latar belakang ASI eksklusif utama 3 anak terakhir hari hari anak Jenis kelamin Laki-laki 21,9 1,5 1, ,7 6,3 4,7 748 Perempuan 22,6 1,7 2, ,3 6,6 4,8 698 Daerah tempat tinggal Perkotaan 21,2 1,4 1, ,0 6,3 4,6 665 Perdesaaan 23,1 1,7 2, ,7 6,6 4,8 782 Pendidikan ibu Tidak sekolah 24,8 0,7 3, ,6 6,6 4,7 56 Tidak tamat SD 25,4 1,1 1, ,2 6,4 4,8 172 Tamat SD 23,6 1,7 2, ,4 6,4 4,5 575 Tidak tamat SLTP 21,1 1,7 2, ,4 6,6 4,7 314 Tamat SLTP + 19,7 1,5 1, ,5 6,5 5,1 328 Jumlah 22,3 1,6 2, ,5 6,5 4, Rata-rata untuk semua anak 22,1 3,2 3,9 na na na na na Catatan: Median dan rata-rata lama berdasarkan pada status sekarang. ts = tidak sesuai 1 Diasumsikan bahwa anak yang dilahirkan bukan terakhir dan terakhir yang tidak tinggal bersama ibu dianggap tidak diberi ASI 2 Tidak termasuk anak yang jawaban ibunya tidak benar mengenai jumlah kali diberi susu 3 Baik diberi ASI eksklusif maupun mendapat ASI dan air putih, cairan, dan atau jus saja (tidak termasuk susu lain) 164 Pemberian Makanan Pada Anak

189 Gambar 14.2 Median lama pemberian ASI (bulan) INDONESIA 22,3 JENIS KELAMIN ANAK Laki-laki 21,9 Perempuan 22,6 DAERAH TEMPAT TINGGAL Perkotaan 21,2 Perdesaan 23,1 PENDIDIKAN Tidak sekolah 24,8 Tidak tamat SD 25,4 Tamat SD 23,6 Tidak tamat SLTP 21,1 SLTP+ 19,7 0,0 10,0 20,0 30,0 Bulan SDKI JENIS MAKANAN PENDAMPING ASI Seperti yang disebutkan sebelumnya, umur yang dianjurkan untuk mulai mengenalkan makanan pendamping ASI adalah 6 bulan. Data dalam Tabel 14.4 memperlihatkan bahwa 48 persen anak di bawah 6 bulan yang menyusu mendapat makanan setengah padat atau padat. Seperti yang diperkirakan, persentase anak yang tidak disusui lebih tinggi (76 persen). Di antara anak di bawah umur 6 bulan yang menyusu, 36 persen mendapat biji-bijian dan 21 persen mendapat buah dan sayur, sedangkan di antara anak yang tidak menyusu dari kelompok umur yang sama, 48 persen mendapat biji-bijian dan 36 persen mengkonsumsi buah atau sayur pada hari atau malam sebelum wawancara. Tabel memperlihatkan bahwa lebih dari 65 persen anak yang mendapat ASI di atas umur tujuh bulan dan lebih dari 75 persen anak yang tidak mendapat ASI menerima makanan kaya dengan vitamin A, yang meliputi labu, wortel, ubi jalar, sayuran berdaun hijau, mangga, pepaya, nangka dan makanan setempat lain yang kaya dengan vitamin A, dan daging. Perkiraan tingkat konsumsi vitamin A ini mungkin agak terlalu tinggi, karena kelompok daging dalam kuesioner mencakup baik daging yang kaya dengan vitamin A, dan unggas, ikan, kerang atau telur yang tidak banyak mengandung vitamin A. Tidaklah mungkin untuk memisahkan daging dari makanan lain pada waktu analisis data. Pemberian Makanan Pada Anak 165

190 Tabel 14.4 Makanan yang dikonsumsi anak pada hari atau malam sebelum wawancara Persentase anak di bawah umur tiga tahun yang tinggal bersama ibu yang mengkonsumsi makanan tertentu pada hari atau malam sebelum wawancara, menurut status pemberian ASI dan umur, Indonesia Makanan padat/setengah padat Makanan Makanan Makanan Makanan Daging/ Makanan Buah padat Susu terbuat terbuat terbuat ikan/ dibuat dan sayur atau Susu lain/ dari dari dari kerang/ dengan yang kaya setengah Umur Anak formula keju/ Cara padi- Buah/- umbi- kacang- unggas/ minyak/ vitamin padat Jumlah Dalam bulan bayi yogurt lain 1 padian sayur 2 umbian kacangan telur mentega A 3 lainnya anak ANAK YANG MENYUSU <2 16,3 0,1 2,7 11,1 9,0 0,0 0,3 0,5 0,0 1,4 21, ,8 0,6 6,4 25,5 14,8 0,9 1,7 4,1 1,1 5,0 38, ,0 1,0 19,0 68,1 37,8 4,0 8,8 12,9 2,2 20,0 80, ,0 4,0 26,1 79,6 56,2 10,7 12,5 28,1 5,2 45,9 87, ,4 3,8 42,6 87,5 75,4 14,4 25,7 40,7 11,3 64,6 95, ,3 9,7 48,4 88,7 77,1 19,7 47,1 57,5 26,5 73,4 95, ,4 6,3 53,5 94,4 85,4 22,4 46,9 63,3 26,8 81,2 96, ,7 9,9 62,2 95,2 89,0 21,0 51,8 70,7 38,0 83,5 98, ,2 11,0 59,4 96,5 87,9 30,0 62,4 74,4 41,6 83,4 99, ,6 17,1 67,8 94,3 88,1 27,8 60,8 70,6 43,8 82,9 99,0 908 <6 18,1 0,6 9,7 36,1 21,1 1,7 3,8 6,1 1,2 9,2 47, ,7 3,9 33,8 83,3 65,2 12,4 18,7 34,0 8,0 54,6 91,1 768 ANAK YANG TIDAK MENYUSU ,5 6,5 30,6 78,6 57,9 14,8 17,6 18,6 5,2 48,9 99, ,8 24,5 58,2 91,5 94,2 4,0 31,6 65,5 32,6 79,2 100, ,8 5,7 44,6 98,1 77,6 27,4 54,1 59,3 6,4 75,3 98, ,4 12,8 70,0 95,3 92,5 27,5 57,8 80,4 28,4 88,9 99, ,6 10,6 76,4 98,9 95,1 28,4 49,1 81,3 47,8 91,0 99, ,0 15,8 66,0 96,0 88,8 26,0 55,6 73,4 42,6 84,3 97, ,1 20,7 69,2 97,6 93,3 32,1 59,0 78,5 42,4 89,3 99, <6 76,6 5,6 23,7 48,3 36,3 4,4 10,9 4,3 0,9 16,3 75, ,4 16,0 45,1 85,4 76,9 9,2 24,9 43,2 19,6 64,8 99,9 129 Catatan: Status pemberian ASI dan makanan yang dikonsumsi merujuk pada kurun waktu 24 jam (kemarin atau malam lalu). 1 Tidak termasuk air putih 2 Termasuk buah dan sayur yang kaya vitamin A 3 Termasuk labu, wortel, ubi jalar, sayur berdaun hijau, mangga, pepaya, dan buah lain dan sayur yang kaya vitamin A dan tumbuh setempat 14.5 FREKUENSI MAKANAN YANG DIKONSUMSI ANAK Tabel memperlihatkan jumlah kali berbagai makanan dikonsumsi dalam 24 jam sebelum wawancara oleh anak terkecil umur di bawah tiga tahun yang tinggal bersama ibunya. Anak yang menyusu mendapat cairan lainnya 3, makanan biji-bijian serta buah dan sayur rata-rata sekali dalam kurun waktu 24 jam sebelum wawancara. Secara umum, frekuensi makanan yang dikonsumsi meningkat dengan bertambahnya umur anak. Seperti yang diperkirakan, anak yang tidak mendapat ASI mengkonsumsi makanan seperti ini lebih sering daripada anak yang mendapat ASI. 3 Cairan lainnya meliputi air gula, teh, soda, dan air kaldu 166 Pemberian Makanan Pada Anak

191 Tabel 14.5 Frekuensi makanan yang dikonsumsi anak pada hari/ malam sebelum wawancara Rata-rata jumlah kali makanan tertentu yang dikonsumsi pada hari atau malam sebelum wawancara menurut anak terkecil umur di bawah tiga tahun yang tinggal bersama ibu, berdasarkan status pemberian ASI dan umur, Indonesia Makanan padat/setengah padat Makanan Makanan Makanan Daging/ Makanan Buah Susu terbuat terbuat terbuat ikan/ dibuat dan sayur Susu lain/ dari dari dari kerang/ dengan yang kaya Umur anak formula keju/ Cara padi- Buah/- umbi- kacang- unggas/ minyak/ vitamin Jumlah dalam bulan bayi yogurt lain 1 padian sayur 2 umbian kacangan telur mentega A 3 anak ANAK YANG MENYUSU <2 0,5 0,0 0,0 0,3 0,2 0,0 0,0 0,0 0,0 0, ,6 0,0 0,1 0,6 0,3 0,0 0,0 0,1 0,0 0, ,5 0,0 0,3 1,5 1,0 0,1 0,1 0,3 0,0 0, ,8 0,1 0,5 2,0 1,8 0,2 0,2 0,5 0,1 1, ,0 0,1 0,8 2,3 2,5 0,2 0,5 0,8 0,3 1, ,6 0,1 1,0 2,3 2,7 0,4 0,8 1,1 0,5 2, ,7 0,1 1,1 2,5 3,3 0,4 0,9 1,3 0,5 2, ,7 0,2 1,3 2,6 3,4 0,3 1,0 1,3 0,8 2, ,7 0,2 1,2 2,5 3,4 0,5 1,1 1,5 0,8 2, ,5 0,3 1,5 2,6 3,4 0,4 1,2 1,3 0,9 2,5 908 <6 0,6 0,0 0,2 0,8 0,5 0,0 0,1 0,1 0,0 0, ,9 0,1 0,7 2,2 2,1 0,2 0,3 0,7 0,2 1,5 768 ANAK YANG TIDAK MENYUSU 6-7 4,1 0,1 0,6 2,0 1,9 0,2 0,3 0,3 0,1 1, ,0 0,4 1,9 2,8 4,7 0,1 0,4 1,5 0,5 3, ,7 0,3 0,8 2,5 3,0 0,6 1,0 1,0 0,1 2, ,7 0,5 1,9 2,9 4,2 0,5 1,0 1,8 0,5 3, ,8 0,3 1,6 2,9 4,5 0,5 0,9 2,0 1,0 3, ,5 0,4 1,4 2,9 3,5 0,5 1,0 1,6 0,9 2, ,5 0,5 1,6 2,9 3,7 0,5 1,1 1,7 0,9 2, <6 3,3 0,1 0,3 1,2 1,0 0,1 0,1 0,1 0,0 0, ,1 0,3 1,3 2,4 3,4 0,1 0,4 0,9 0,3 2,6 129 Catatan: Status pemberian ASI dan makanan yang dikonsumsi merujuk pada kurun waktu 24 jam (kemarin atau malam lalu). 1 Tidak termasuk air putih 2 Termasuk buah dan sayur yang kaya vitamin A 3 Termasuk labu, wortel, ubi jalar, sayur berdaun hijau, mangga, pepaya, dan buah lain dan sayur yang kaya vitamin A dan tumbuh setempat 14.6 ASUPAN MIKRONUTRIEN PADA ANAK Kekurangan mikronutrien merupakan masalah di Indonesia. Vitamin A sangat penting untuk penglihatan normal dan peningkatan kekebalan. Kekurangan vitamin A telah diketahui menjadi penyebab utama kebutaan anak. Beberapa laporan telah menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A juga berhubungan dengan meningkatnya kematian dan makin beratnya penyakit infeksi (Helen Keller International, 2001). Pemberian Makanan Pada Anak 167

192 Tabel 14.6 Asupan mikronutrien pada anak Persentase anak terkecil umur di bawah tiga tahun yang tinggal bersama ibu yang mengkonsumsi buah dan sayur yang kaya vitamin A dalam tujuh hari sebelum survei dan persentase anak umur 6-59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dalam enam bulan sebelum survei, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Konsumsi Buah dan sayuran Mendapat Karakteristik yang kaya Jumlah kapsul Jumlah latarbelakang vitamin A 1 anak vitamin A anak Umur dalam bulan <6 9, na , , , , , , , , na 0 74, na 0 73, Jenis kelamin Laki-laki 66, , Perempuan 68, , Urutan anak 1 69, , , , , , , ,2 970 Status pemberian ASI Menyusu 58, , Tidak menyusu 85, , Daerah tempat tinggal Perkotaan 70, , Perdesaan 65, , Pendidikan ibu Tidak sekolah 68, ,2 608 Tidak tamat SD 63, , Tamat SD 64, , Tidak tamat SLTP 69, , SLTP + 71, , Umur ibu saat melahirkan <20 64, , , , , , , , , , Jumlah 67, , Catatan : informasi tentang pemberian kapsul vitamin A berdasarkan pada ingatan kembali ibu. Jumlahnya termasuk 18 anak tanpa informasi tentang status pemberian ASI dan 109 anak tanpa informasi tentang konsumsi kapsul vitamin A ts = tidak sesuai 1 Termasuk labu, wortel, ubi jalar, sayur berdaun hijau, mangga, pepaya, buah dan sayur lain yang tumbuh setempat dan kaya vitamin A 168 Pemberian Makanan Pada Anak

193 Konsumsi makanan yang kaya mikronutrien dalam tujuh hari sebelum survei oleh anak di bawah tiga tahun yang tinggal bersama ibunya diperlihatkan dalam tabel Enampuluh tujuh persen anak ini mendapat makanan yang kaya vitamin A. Konsumsi makanan yang kaya vitamin A meningkat dengan bertambahnya umur anak. Anak yang mendapat ASI cenderung kurang mendapat makanan yang kaya dengan vitamin A dibandingkan dengan anak yang tidak mendapat ASI (masing-masing 59 dan 85 persen). Hubungan antara konsumsi makanan yang kaya vitamin A dan pendidikan ibu serta umur ibu pada saat melahirkan tidaklah jelas. Akan tetapi anak di daerah perkotaan lebih cenderung mendapat makanan yang kaya vitamin A daripada anak di daerah perdesaan (masing-masing 70 dan 65 persen) Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa 75 persen anak umur 6-59 bulan mendapat kapsul vitamin A dalam enam bulan sebelum survei. Proporsi tersebut meningkat dengan bertambahnya umur anak dan pendidikan ibu, tetapi menurun dengan bertambahnya urutan kelahiran anak. Lima puluh tujuh persen anak yang ibunya tidak sekolah mendapat kapsul vitamin A, sedang proporsi tersebut untuk anak yang ibunya tamat SLTP adalah 81 persen. Lampiran Tabel A memperlihatkan keragaman konsumsi dan pemberian kapsul vitamin A antar propinsi. Anak di DI Yogyakarta paling cenderung mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin A dan mendapat kapsul vitamin A (masing-masing 80 dan 88 persen), sedangkan anak di Sulawesi Tenggara dan Gorontalo paling cenderung tidak mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin A (57 persen), dan anak di Sumatera Utara paling cenderung tidak mendapat kapsul vitamin A (51 persen) 14.7 ASUPAN MIKRONUTRIEN PADA IBU Kekurangan vitamin dapat berperan pada meningkatnya risiko kematian dan penyakit serta kebutaan. Tabel 14.7 memperlihatkan asupan mikronutrien pada ibu menurut karakteristik latar belakang. Ada keragaman persentase asupan mikronutrien antar kelompok wanita. Wanita umur tahun, wanita dengan paritas rendah, wanita perkotaan dan wanita yang berpendidikan makin baik lebih cenderung mendapat vitamin A setelah melahirkan. Sebagai contoh, 48 persen wanita perkotaan mendapat vitamin A, sedang proporsi tersebut untuk wanita perdesaan adalah 38 persen. Persentase ibu tidak sekolah yang mendapat vitamin A masa nifas adalah 26 persen, sedang untuk wanita tamat SLTP ke atas persentasenya 54 persen. Pada wanita hamil dan menyusui, kekurangan vitamin A dapat menimbulkan buta senja dan mempunyai implikasi terhadap kesakitan dan kematian (Helen Keller International, 2001). Dalam SDKI , wanita yang melahirkan dalam 5 tahun sebelum survei ditanya tentang apakah mereka mengalami masalah penglihatan selama kehamilan. Kurang dari satu persen ibu melaporkan mengalami masalah ini. Tabel tersebut juga menunjukkan persentase ibu yang mendapat pil zat besi tambahan selama kehamilan. Kekurangan zat besi adalah masalah gizi yang paling utama di dunia, dan Indonesia tidak terkecuali. Limapuluh lima persen wanita minum kurang dari 60 tablet zat besi selama kehamilan, 8 persen minum 60 hingga 89 tablet dan 29 persen minum sesuai anjuran 90 tablet atau lebih. Ibu di perkotaan lebih cenderung minum 90 tablet atau lebih sesuai anjuran daripada ibu di perdesaan (masingmasing 35 dan 24 persen). Persentase wanita tidak sekolah yang minum 90 tablet atau lebih adalah kecil (16 persen), tetapi bertambah dengan makin tingginya tingkat pendidikan. Lampiran tabel A.14.4 memperlihatkan asupan mikronutrien pada wanita menurut propinsi. Ada keragaman yang lebar dalam cakupan pemberian kapsul vitamin A, buta senja, dan pil zat besi tambahan. Di beberapa propinsi, kurang dari 30 persen ibu mendapat kapsul vitamin A (misalnya Sumatera Utara, Lampung dan Bangka Belitung), sedang di propinsi lainnya lebih dari 50 persen ibu mendapat kapsul vitamin A masa nifas (misalnya Jambi, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara dan Gorontalo). Wanita di DI Yogyakarta paling cenderung menelan 90 atau lebih pil zat besi tambahan, Pemberian Makanan Pada Anak 169

194 sedang wanita di Sulawesi Utara paling cenderung tidak menelan 90 atau lebih pil zat besi tambahan (2 persen). Tabel 14.7 Asupan mikronutrien pada ibu Persentase ibu yang melahirkan dalam lima tahun sebelum survei yang mendapat kapsul vitamin A dalam dua bulan pertama setelah melahirkan, persentase yang menderita buta senja selama kehamilan, dan persentase yang menelan pil zat besi untuk jumlah hari tertentu, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Jumlah hari menelan pil zat besi Mendapat selama kehamilan kapsul Buta selama vitamin A kehamilan Tidak Karakteristik setelah Tidak tahu/tidak Jumlah latar belakang melahirkan 1 Melaporkan Koreksi 2 ada < terjawab wanita Umur saat melahirkan <20 39,2 1,3 0,0 24,7 36,1 9,8 23,6 5, ,3 2,1 0,3 16,5 36,1 9,0 30,5 7, ,6 1,3 0,4 17,3 34,5 8,2 31,8 8, ,4 1,9 0,6 20,1 34,5 8,1 29,3 8, ,3 2,2 0,4 29,1 32,9 5,5 25,2 7, Jumlah anak yang dilahirkan 1 46,5 1,3 0,2 16,0 32,0 10,3 34,1 7, ,7 1,7 0,4 17,2 35,9 7,9 31,1 7, ,0 2,1 0,5 27,9 41,3 5,9 17,4 7, ,8 3,7 0,3 43,6 30,6 4,6 14,9 6,3 946 Daerah tempat tinggal Perkotaan 47,6 1,4 0,3 15,8 33,8 8,0 34,7 7, Perdesaan 38,0 2,1 0,4 23,9 35,9 8,4 24,2 7, Pendidikan ibu Tidak sekolah 26,3 2,3 0,3 48,9 26,9 5,5 15,5 3,2 580 Tidak tamat SD 29,6 3,1 0,2 34,2 34,4 5,9 18,5 7, Tamat SD 39,9 1,6 0,4 21,1 38,1 8,2 25,6 7, Tidak tamat SLTP 45,3 1,7 0,5 16,2 36,4 10,1 29,4 7, SLTP + 53,6 1,0 0,3 9,2 31,4 8,4 41,6 9, Jumlah 42,5 1,7 0,4 20,1 34,9 8,2 29,1 7, Catatan: Untuk wanita dengan dua kelahiran hidup atau lebih dalam kurun waktu lima tahun, data merujuk pada kelahiran yang terakhir. 1 Dalam dua bulan pertama setelah melahirkan 2 Wanita yang melaporkan buta senja, tetapi tidak melaporkan gangguan penglihatan pada siang hari 170 Pemberian Makanan Pada Anak

195 PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS DAN PENYAKIT 15 MENULAR SEKSUAL LAINNYA Komisi Nasional AIDS dibentuk melalui Keputusan Presiden pada tahun Komisi ini mempromosikan Strategi Nasional Penanggulangan AIDS, suatu upaya bersama antara pemerintah, organisasi non pemerintah, sektor swasta dan masyarakat. Strategi ini mempromosikan gaya hidup sehat, hubungan seks lebih aman melalui pemakaian kondom, suntikan aman dan membantu orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Program serupa telah dirancang dan komite telah dibentuk di tingkat propinsi dan kabupaten untuk menjawab kenyataan tentang HIV/AIDS melalui cara yang sesuai keadaan setempat. (Depkes RI, 2001). Data yang diperoleh dalam SDKI memberikan kemungkinan untuk menilai sejumlah faktor yang berkaitan dengan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual (PMS). Bab ini menyajikan tingkat pengetahuan (umum dan khusus) tentang masalah yang berkaitan dengan AIDS, seperti cara penularan dan pencegahan, aib, dan diskriminasi terhadap orang yang mengidap HIV/AIDS. Berikutnya, disajikan temuan tentang pengetahuan dan pengalaman dengan penyakit menular seksual yang mungkin merupakan faktor ikutan dalam penularan HIV. Bab ini diakhiri dengan informasi tentang pengetahuan dan akses terhadap kondom. Tujuan utama bab ini adalah mengemukakan tingkat pengetahuan, persepsi dan perilaku pada aras nasional dan propinsi dan dalam berbagai kelompok sosial ekonomi penduduk. Dengan cara ini, program dan strategi penanggulangan AIDS dapat ditujukan kepada kelompok yang paling memerlukan informasi dan pelayanan serta paling rentan terhadap risiko terkena infeksi HIV/AIDS PENGETAHUAN TENTANG AIDS Karena pengobatan untuk HIV/AIDS masih belum ada, strategi utama untuk memerangi penyakit ini di Indonesia adalah pencegahan melalui promosi berpantang, kesetiaan pada satu pasangan seksual dan pemakaian kondom. Strategi ini sangat tergantung pada tingkat pengetahuan dan persepsi penduduk tentang HIV/AIDS serta cara penularan dan pencegahannya. Tabel 15.1 memperlihatkan persentase wanita pernah kawin dan pria kawin yang pernah mendengar tentang AIDS dan percaya ada cara untuk menghindari HIV atau AIDS menurut karakteristik latar belakang. Secara keseluruhan, 59 persen wanita pernah kawin dan 73 persen pria kawin mengatakan bahwa mereka pernah mendengar tentang AIDS. Tingkat pengetahuan pada wanita pernah kawin berangsur-angsur meningkat dari 38 persen pada 1994 lalu 51 persen pada 1997 dan 59 persen pada 2003 (Gambar 15.1.). Persentase wanita pernah kawin yang telah mendengar tentang AIDS beragam menurut umur dan mempunyai pola bentuk huruf U terbalik, yaitu, meningkat terus dari 60 persen untuk kelompok umur tahun ke puncaknya 69 persen untuk kelompok umur tahun, setelah itu menurun ke tingkat 46 persen untuk kelompok umur tahun. Pola yang serupa terdapat pada pria. Persentase wanita yang pernah mendengar tentang AIDS lebih tinggi pada wanita kawin daripada wanita cerai mati atau cerai hidup (masing-masing 60 dan 42 persen). Wanita dan pria di daerah perkotaan lebih cenderung pernah mendengar tentang AIDS daripada di daerah pedesaan. Sebagai contoh, 74 persen wanita perkotaan pernah mendengar tentang AIDS dibandingkan dengan 46 persen wanita pedesaan. Demikian juga, 86 persen pria perkotaan pernah mendengar tentang AIDS dibandingkan dengan 61 persen pria pedesaan. Pengetahuan tentang AIDS meningkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya 171

196 Tabel 15.1 Pengetahuan tentang HIV/AIDS Persentase wanita pernah kawin dan pria kawin yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS dan persentase yang percaya bahwa ada cara untuk menghindari tertular AIDS, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Pernah mendengar tentang HIV/AIDS Wanita pernah kawin Percaya bahwa ada cara untuk menghindari HIV/AIDS Pernah mendengar tentang HIV/AIDS Pria kawin Percaya bahwa ada cara untuk menghindari HIV/AIDS Karakteristik latar belakang Jumlah wanita Jumlah pria Umur ,8 29,2 956 * * ,3 37, ,6 58, ,7 41, ,7 61, ,4 37, ,8 59, ,7 22, ,4 48, na na 0 60,1 37, Satus perkawinan Kawin 59,8 34, ,8 53, Cerai hidup/cerai mati 42,4 21, na na 0 Daerah tempat tinggal Perkotaan 73,7 47, ,9 69, Pedesaan 46,2 22, ,4 39, Pendidikan Tidak sekolah 15,2 2, ,2 10,7 341 Tidak tamat SD 33,5 9, ,6 21, Tamat SD 52,9 20, ,7 41, Tidak Tamat SLTP 77,9 45, ,7 66, SLTP+ 93,6 79, ,2 89, Jumlah 58,8 33, ,8 53, Catatan : tanda bintang menunjukkan angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya yang belum dibobot kurang dari 25. na = tidak berlaku Gambar 15.1 Persentase Wanita Pernah Kawin yang Pernah Mendengar tentang AIDS dan Percaya Bahwa Ada Cara untuk Menghindari AIDS, Indonesia Persen Pernah mendengar AIDS Percaya ada cara menghindari AIDS SDKI 1994 SDKI 1997 SDKI Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya

197 dengan makin tingginya pendidikan, baik untuk wanita maupun untuk pria. Pengetahuan tentang AIDS masing-masing adalah 15 dan 21 persen untuk wanita dan pria yang tidak sekolah dibandingkan dengan masing-masing 94 dan 98 persen untuk wanita dan pria yang tamat SLTP atau lebih. Pola serupa ditemukan dalam Multiple Indicator Cluster Survei 2000 (BPS, 2000). Menurut hasil survei ini, persentase wanita umur 15 hingga 49 tahun yang pernah mendengar tentang AIDS adalah 62 persen dan wanita perkotaan lebih cenderung pernah mendengar tentang AIDS daripada wanita pedesaan (masing-masing 78 dan 50 persen). Indikator kedua untuk pengetahuan HIV/AIDS yang disajikan dalam Tabel merujuk pada kepercayaan bahwa ada cara menghindari tertular HIV/AIDS. Temuan ini memperlihatkan bahwa secara keseluruhan 34 persen wanita pernah kawin dan 54 persen pria kawin mengatakan bahwa infeksi HIV/AIDS dapat dihindari. Secara umum, pola untuk indikator ini serupa dengan pola untuk pengetahuan umum dan kesadaran tentang AIDS. Kepercayaan bahwa ada cara untuk menghindari HIV/AIDS paling banyak diketahui pada wanita dan pria kelompok umur tahun dan mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Perbedaan dalam kepercayaan tentang adanya cara untuk menghindari HIV/AIDS lebih nyata menurut tingkat pendidikan (Gambar 15.2 dan 15.3). Sebagai contoh, 79 persen wanita pernah kawin yang tamat SLTP atau lebih percaya bahwa ada cara untuk menghindari tertular infeksi HIV, dibandingkan dengan hanya 3 persen wanita yang tidak sekolah. Gambar 15.2 Persentase Wanita Pernah Kawin yang Pernah Mendengar tentang AIDS dan Percaya Bahwa Ada Cara untuk Menghindari AIDS, menurut Pendidikan Persen Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tidak tamat SLTP 21 SLTP + Jumlah Wanita yang pernah mendengar tentang AIDS Wanita yang percaya ada cara untuk menghindari AIDS SDKI Pengetahuan tentang AIDS pada wanita pernah kawin dan pria kawin menurut propinsi disajikan dalam Lampiran Tabel A Persentase wanita yang pernah mendengar tentang AIDS berkisar dari 31 persen di Nusa Tenggara Timur hingga 90 persen di DKI Jakarta. Proporsi terkecil untuk pria yang pernah mendengar tentang AIDS ditemukan di Gorontalo (29 persen), sedang proporsi tertinggi ditemukan di DKI Jakarta (96 persen). Persentase wanita yang mengatakan bahwa AIDS dapat dihindari juga paling kecil di Nusa Tenggara Timur (18 persen) dan paling tinggi di DKI Jakarta (64 persen). Proporsi pria yang percaya bahwa ada cara untuk menghindari AIDS beragam dari 19 persen di Gorontalo hingga 75 persen di DI Yogyakarta dan Kalimantan Tengah. Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya 173

198 Gambar 15.3 Persentase Pria Kawin yang Pernah Mendengar tentang AIDS dan Percaya Bahwa Ada Cara untuk Menghindari AIDS, menurut Pendidikan Persen Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tidak tamat SLTP SLTP + Jumlah Pria yang pernah mendengar tentang AIDS Pria yang percaya ada cara untuk menghindari AIDS SDKI PENGETAHUAN TENTANG CARA UNTUK MENGHINDARI HIV/AIDS Kuesioner SDKI mengumpulkan informasi tentang pengetahuan mengenai cara untuk menghindari infeksi HIV dengan dua jalan: pendekatan, jika responden mengatakan bahwa AIDS dapat dihindari, maka diajukan pertanyaan terbuka tentang bagaimana seseorang dapat menghindari dari tertular virus AIDS. Responden diberi kesempatan untuk menyebutkan semua cara yang mereka ketahui untuk menghindari HIV/AIDS (tanpa pewawancara membacakan pilihan jawaban). Berikutnya, responden wanita dan pria ditanya tentang hal khusus mengenai apakah membatasi aktifitas seksual hanya pada satu pasangan dan (dalam pertanyaan terpisah) apakah pemakaian kondom dapat mengurangi kemungkinan mereka tertular AIDS. Tabel 15.2 menyajikan hasil survei tentang pengetahuan untuk mencegah AIDS. Denominator atau penyebut untuk estimasi adalah semua wanita pernah kawin dan semua pria kawin (termasuk mereka yang mengatakan bahwa mereka tidak tahu sama sekali tentang HIV/AIDS, bahwa mereka tidak tahu apakah dapat dihindari, atau bahwa mereka pikir tidak dapat dihindari). Hasil survei menunjukkan bahwa 61 persen wanita pernah kawin dan 44 persen pria kawin tak pernah mendengar tentang AIDS atau tidak tahu bahwa AIDS dapat dihindari. Enam persen wanita dan 2 persen pria percaya bahwa AIDS tak dapat dihindari. Tabel 15.2 memperlihatkan bahwa pengetahuan tentang cara terpenting untuk menghindari infeksi HIV masih terbatas di Indonesia; masing-masing 1 persen wanita dan pria menyebutkan puasa kumpul, 5 persen wanita dan 13 persen pria menyebutkan tentang memakai kondom, dan 14 persen wanita dan 18 persen pria mengatakan tentang membatasi hubungan seks pada satu pasangan dan setia pada satu pasangan sebagai cara untuk menghindari AIDS. Enam persen wanita dan 10 persen pria menyebutkan tentang membatasi jumlah pasangan seksual sebagai cara untuk menghindari AIDS, dan 7 persen wanita dan 8 persen pria menyebutkan tentang menghindari hubungan seks dengan orang yang mempunyai banyak pasangan. Cara paling umum yang disebutkan baik oleh pria maupun wanita untuk menghindari infeksi HIV adalah menghindari hubungan dengan pekerja seks (16 persen wanita pernah 174 Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya

199 kawin dan 41 persen pria kawin). Lebih lanjut, 8 persen wanita dan 5 persen pria menyebutkan tentang menghindari suntikan sebagai cara untuk mencegah infeksi HIV. Tabel 15.2 Pengetahuan tentang cara menghindari HIV/AIDS Persentase wanita pernah kawin dan pria kawin yang secara spontan menyebutkan cara menghindari HIV/AIDS, Indonesia, Cara menghindari HIV/AIDS Persentase wanita pernah kawin Persentase pria kawin Tidak mengetahui tentang AIDS atau apakah AIDS dapat dihindari 60,7 44,0 Percaya tidak ada cara untuk menghindari AIDS 5,6 2,3 Tak mengetahui cara khusus 1 0,6 0,8 Berpantang hubungan seks 1,0 0,9 Memakai kondom 5,3 12,6 Membatasi jumlah pasangan seksual 6,3 10,2 Membatasi hubungan seks pada satu pasangan/ setia pada satu pasangan 14,1 18,4 Menghindari hubungan seks dengan pekerja seks 16,2 41,1 Menghindari hubungan seks dengan orang yang mempunyai banyak pasangan 7,1 7,6 Menghindari hubungan seks dengan homoseksual 1,5 1,6 Menghindari hubungan seks dengan pengguna suntikan zat narkotik 3,7 4,7 Menghindari transfusi darah 3,3 3,2 Menghindari suntikan 7,9 4,9 Menghindari pemakaian pisau cukur bersama 0,4 0,5 Menghindari berciuman 0,6 0,8 Menghindari gigitan nyamuk 0,1 0,2 Mencari perlindungan dari pengobat tradisional 0,1 0,0 Lainnya 1,5 5,0 Jumlah wanita/pria Percaya bahwa ada cara yang dapat dilakukan untuk menghindari HIV/AIDS, tapi tidak dapat secara spontan menyebutkan cara tersebut 15.3 PENGETAHUAN TENTANG CARA PENTING MENURUT PROGRAM UNTUK MENGHINDARI TERTULAR HIV/AIDS Program perubahan perilaku dipusatkan pada tiga cara utama untuk mencegah dan mengurangi penularan HIV: berpantang melakukan hubungan seks, memakai kondom, dan membatasi pasangan seksual atau setia kepada satu pasangan. Pengetahuan responden tentang tiga cara penting menghindari tertular HIV/AIDS ini disajikan dalam Tabel dan , yang memperlihatkan distribusi persentase wanita pernah kawin dan pria kawin yang menyebutkan 0,1, atau 2-3 dari cara tersebut untuk menghindari AIDS. Sekitar satu dari lima wanita (21 persen) dan satu dari empat pria (26 persen) mengetahui 2-3 cara untuk menghindari tertular HIV/AIDS. Wanita cenderung lebih mengetahui cara untuk menghindari AIDS daripada pria (masing-masing 69 dan 48 persen). Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya 175

200 Tabel Pengetahuan tentang cara penting menurut program untuk menghindari HIV/AIDS: wanita Distribusi persentase wanita pernah kawin berdasarkan pengetahuan tentang tiga cara penting menurut program untuk menghindari HIV/AIDS, dan persentase wanita yang mengetahui dua cara khusus untuk menghindari HIV/AIDS, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Karakteristik latar belakang Pengetahuan tentang cara penting menurut program untuk menghindari HIV/AIDS Dua atau tiga cara Cara khusus untuk menghindari HIV/AIDS Memakai kondom Membatasi pasangan seksual 2 Jumlah wanita Tak ada 1 Satu cara Jumlah Umur ,6 8,4 17,0 100,0 18,4 23, ,6 11,5 23,8 100,0 25,3 33, ,8 12,6 26,7 100,0 28,0 37, ,9 11,2 22,9 100,0 24,3 32, ,4 6,7 13,8 100,0 14,4 19, Satus perkawinan Kawin 68,4 10,3 21,3 100,0 22,5 30, Cerai hidup/cerai mati 80,2 6,6 13,3 100,0 13,5 19, Daerah tempat tinggal Perkotaan 56,2 13,0 30,8 100,0 32,3 41, Pedesaan 79,9 7,6 12,5 100,0 13,3 19, Pendidikan Tidak sekolah 97,6 1,2 1,1 100,0 1,1 2, Tidak tamat SD 92,0 3,3 4,7 100,0 5,0 7, Tamat SD 81,7 7,6 10,8 100,0 11,6 17, Tidak Tamat SLTP 58,4 14,5 27,1 100,0 28,6 39, SLTP+ 24,4 20,3 55,3 100,0 57,8 72, Jumlah 69,1 10,1 20,9 100,0 22,0 29, Catatan : Cara penting menurut program adalah berpantang hubungan seks, memakai kondom, dan membatasi jumlah pasangan seksual. Berpantang hubungan seks diukur dari jawaban spontan saja; memakai kondom dan membatasi jumlah pasangan seksual diukur dari jawaban spontan dan jawaban dipandu. 1 Mereka yang tidak pernah mendengar tentang HIV/AIDS atau tidak tahu tentang cara penting apapun menurut program untuk menghindari HIV/AIDS 2 Merujuk pada membatasi jumlah pasangan seksual dan membatasi hubungan seks pada satu pasangan/ setia pada satu pasangan Tabel memperlihatkan bahwa persentase wanita pernah kawin yang tidak mengetahui cara apapun untuk menghindari AIDS paling tinggi pada wanita umur (75 persen) dan (79 persen). Wanita cerai hidup atau cerai mati dan wanita pedesaan cenderung sangat kurang mengetahui cara apapun untuk menghindari tertular AIDS daripada wanita kawin dan wanita di daerah perkotaan. Lebih lanjut, wanita yang pendidikannya makin baik cenderung lebih mengetahui cara untuk menghindari infeksi HIV daripada wanita yang tidak sekolah. Pola yang serupa terlihat pada pria kawin (Tabel ). Bagian kanan Tabel dan memperlihatkan hasil SDKI yang diperoleh ketika pertanyaan yang dipandu oleh pewawancara digunakan untuk memastikan apakah wanita dan pria mengetahui tentang memakai kondom dan membatasi jumlah pasangan seksual sebagai cara untuk menghindari infeksi HIV. Ketika wanita dipandu, pengetahuan tentang pemakaian kondom untuk perlindungan terhadap HIV/AIDS naik dari 5 persen (spontan) menjadi 22 persen. Dengan cara yang sama, pengetahuan pria meningkat dari 13 persen mejadi 38 persen. Ketika dipandu, 30 persen wanita pernah kawin dan 44 persen pria kawin menyebutkan tentang membatasi jumlah pasangan seksual sebagai cara untuk menghindari HIV/AIDS. 176 Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya

201 Tabel Pengetahuan tentang cara penting menurut program untuk menghindari HIV/AIDS: pria Distribusi persentase pria kawin menurut pengetahuan tentang tiga cara penting menurut program untuk untuk menghindari HIV/AIDS, dan persentase pria yang mengetahui dua cara khusus untuk menghindari HIV/AIDS, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Karakteristik latar belakang Mengetahui tentang cara penting menurut program untuk menghindari HIV/AIDS Dua atau tiga cara Cara khusus untuk menghindari HIV/AIDS Mengunakan kondom Membatasi pasangan seksual 2 Jumlah pria Tak ada 1 Satu cara Jumlah Umur ,9 26,1 27,0 100,0 40,4 41, ,6 25,2 31,2 100,0 44,7 45, ,2 28,6 28,2 100,0 43,5 44, ,3 25,4 22,3 100,0 33,2 42, ,3 20,0 19,7 100,0 26,1 42, Daerah tempat tinggal Perkotaan 32,3 30,9 36,9 100,0 52,1 56, Pedesaan 62,5 21,6 15,8 100,0 26,0 32, Pendidikan Tidak sekolah 89,6 8,3 2,1 100,0 6,2 18,5 341 Tidak tamat SD 78,8 15,7 5,5 100,0 10,7 27, Tamat SD 60,2 24,0 15,8 100,0 27,7 32, Tidak Tamat SLTP 37,0 33,0 30,0 100,0 46,9 47, SLTP+ 14,1 33,8 52,1 100,0 69,0 68, Jumlah 48,4 25,9 25,6 100,0 38,1 43, Catatan : Cara penting menurut program adalah berpantang hubungan seks, memakai kondom, dan membatasi jumlah pasangan seksual. Berpantang hubungan seks diukur dari jawaban spontan saja; memakai kondom dan membatasi jumlah pasangan seksual diukur dari jawaban spontan dan jawaban dipandu. 1 Mereka yang tidak pernah mendengar tentang HIV/AIDS atau tidak tahu tentang cara penting apapun menurut program untuk menghindari HIV/AIDS 2 Merujuk pada membatasi jumlah pasangan seksual dan membatasi hubungan seks pada satu pasangan/ setia pada satu pasangan Lampiran A.15.2 memperlihatkan keragaman pengetahuan wanita tentang cara untuk menghindari AIDS antar propinsi. Proporsi wanita yang mengatakan bahwa tidak ada cara untuk menghindari HIV/AIDS berkisar dari 38 persen di DKI Jakarta hingga 83 persen di Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo. Pengetahuan berdasarkan jawaban yang dipandu tentang pemakaian kondom untuk menghindari tertular AIDS beragam dari 9 persen di Nusa Tenggara Timur hingga 49 persen di Kalimantan Tengah. Persentase wanita pernah kawin yang, ketika dipandu, menyebutkan tentang membatasi jumlah pasangan seksual sebagai cara untuk menghindari HIV, berkisar dari 16 persen di Gorontalo hingga 60 persen di DKI Jakarta dan Kalimantan Tengah PENGETAHUAN TENTANG MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN HIV/AIDS Tabel dan memperlihatkan distribusi wanita pernah kawin dan pria kawin menurut jawaban terhadap pertanyaan tentang masalah penting yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Ketika ditanya tentang apakah seseorang yang kelihatan sehat dapat mengidap virus AIDS, hanya 6 persen wanita pernah kawin dan 7 persen pria kawin yang dengan benar menjawab ya. Wanita dan pria yang paling cenderung tidak menjawab dengan benar terhadap pertanyaan ini tinggal di daerah pedesaan dan berpendidikan rendah. Sebagai contoh, wanita perkotaan dua kali lebih besar kemungkinannya untuk mengatakan bahwa orang yang kelihatan sehat dapat mengidap AIDS daripada wanita pedesaan (9 persen versus 4 persen). Kurang dari 1 persen wanita yang tidak sekolah mengatakan bahwa orang yang Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya 177

202 Tabel Pengetahuan tentang masalah yang berhubungan dengan HIV/AIDS: wanita Persentase wanita pernah kawin yang memberikan jawaban khusus terhadap pertanyaan mengenai berbagai masalah yang berhubungan dengan HIV/AIDS, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Persentase yang mengatakan HIV/ AIDS dapat ditularkan dari ibu ke anak Karakteristik latar belakang Persentase yang mengatakan orang yang kelihatan sehat dapat mengidap virus AIDS Selama persalinan Selama kehamilan Lewat ASI Persentase yang mengenal seseorang secara pribadi yang mengidap virus yang menyebabkan AIDS atau yang meninggal karena AIDS Jumlah wanita Umur ,8 25,2 29,1 27,7 2, ,1 33,5 38,7 37,8 3, ,1 38,2 43,7 40,8 3, ,6 35,2 39,1 37,5 3, ,8 23,0 25,4 24,6 2, Satus perkawinan Kawin 6,4 32,3 36,3 34,7 3, Cerai hidup/cerai mati 4,1 20,1 22,7 21,7 3, Daerah tempat tinggal Perkotaan 8,6 44,3 49,6 46,9 4, Pedesaan 4,3 20,9 23,7 23,2 1, Pendidikan Tidak sekolah 0,6 4,7 4,9 5,0 0, Tidak tamat SD 2,4 10,8 12,4 12,2 1, Tamat SD 4,1 21,7 24,7 24,0 2, Tidak Tamat SLTP 7,7 44,4 48,4 46,9 3, SLTP+ 14,4 67,4 76,4 71,7 6, Jumlah 6,2 31,6 35,5 34,0 3, kelihatan sehat dapat memiliki virus AIDS, sedang proporsi pada wanita berpendidikan SLTP ke atas adalah 14 persen. Salah satu tujuan program pencegahan AIDS adalah menurunkan insiden penularan HIV dari ibu ke anak. Dalam SDKI , responden ditanya tentang apakah mereka berpendapat bahwa virus AIDS dapat ditularkan dari ibu ke anak selama kehamilan, dan (dalam pertanyaan terpisah) selama persalinan dan selama menyusui. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga wanita mengatakan ya ketika ditanya untuk masing-masing dari ke tiga cara penularan ibu ke anak. Pria lebih cenderung mengetahui daripada wanita bahwa AIDS dapat ditularkan selama kehamilan, selama persalinan, dan melalui air susu ibu. Pola pengetahuan wanita dan pria mengenai ke tiga cara penularan AIDS dari ibu ke anak adalah serupa dengan pola yang terlihat untuk kesadaran dan pengetahuan umum tentang HIV/ AIDS. Wanita dan pria pada kelompok umur termuda dan tertua, yang tinggal di daerah pedesaan, serta wanita dan pria yang tidak sekolah atau berpendidikan rendah cenderung paling tidak mengetahui ke tiga cara penularan AIDS dari ibu ke anak. Tabel dan juga memperlihatkan bahwa 3 persen wanita pernah kawin dan 2 persen pria kawin melaporkan mengenal seseorang secara pribadi yang mengidap virus yang menyebabkan AIDS atau telah meninggal karena AIDS. Perbedaan menurut karakteristik latar belakang dapat diabaikan. 178 Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya

203 Tabel Pengetahuan tentang masalah yang berhubungan dengan HIV/AIDS:pria Persentase pria kawin yang memberikan jawaban khusus terhadap pertanyaan mengenai berbagai masalah yang berhubungan dengan HIV/AIDS, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Karakteristik latar belakang Persentase yang mengatakan orang yang kelihatan sehat dapat mengidap virus AIDS Persentase yang mengatakan HIV/ AIDS dapat ditularkan dari ibu ke anak Selama persalinan Selama kehamilan Melalui ASI Persentase yang mengenal seseorang secara pribadi yang mengidap virus yang menyebabkan AIDS atau yang meninggal karena AIDS Jumlah pria Umur * * * * * ,1 49,0 53,6 51,9 2, ,7 50,7 55,2 53,1 4, ,1 51,2 55,0 52,1 4, ,3 39,6 43,0 40,1 2, ,6 29,9 32,0 29,7 0, Daerah tempat tinggal Perkotaan 9,4 59,6 63,8 59,9 3, Pedesaan 5,5 31,9 35,0 33,4 2, Pendidikan Tidak sekolah 1,1 9,9 10,5 10,7 1,0 341 Tidak tamat SD 3,3 16,8 18,1 17,3 1, Tamat SD 5,0 34,2 37,6 36,1 2, Tidak Tamat SLTP 10,1 56,5 59,8 57,5 3, SLTP+ 12,0 74,8 80,9 75,0 4, Jumlah 7,3 44,8 48,4 45,7 3, Catatan: tanda bintang menunjukkan bahwa angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya sebelum dibobot kurang dari 25. Lampiran Tabel A.15.3 memperlihatkan keragaman dalam pengetahuan tentang masalah yang berkaitan dengan HIV/AIDS pada wanita yang pernah kawin menurut propinsi. Proporsi wanita yang mengatakan bahwa orang yang kelihatan sehat dapat mengidap AIDS berkisar dari 2 persen di Sumatera Selatan hingga 21 persen di DKI Jakarta. Perbedaan nyata juga terdapat pada proporsi wanita yang mengetahui salah satu dari tiga cara penularan AIDS dari ibu ke anak. Sebagai contoh, hanya 18 persen wanita pernah kawin di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur mengetahui bahwa AIDS dapat ditularkan dari ibu ke anak selama persalinan, sedang 59 persen wanita mengetahui hal ini di DKI Jakarta. Keragaman antar propinsi dalam proporsi wanita yang mengenal seseorang secara pribadi yang mengidap virus yang menyebabkan AIDS atau yang telah meninggal karena AIDS adalah kecil PEMBICARAAN TENTANG HIV/AIDS Dalam SDKI , wanita kawin dan pria kawin yang pernah mendengar tentang AIDS ditanya mengenai apakah mereka pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS dengan suami atau isteri. Tabel dan memperlihatkan bahwa 16 persen wanita kawin dan 15 persen pria kawin melaporkan pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS dengan suami/ isteri. Di lain pihak, 43 persen wanita dan 58 persen pria tidak pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS dengan pasangannya. Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya 179

204 Tabel Pembicaraan tentang HIV/AIDS dengan suami Distribusi persentase wanita kawin berdasarkan apakah mereka pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS dengan suami, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Karakteristik latar belakang Umur Pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS Tidak pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS Tidak tahu/ tidak terjawab Tidak pernah mendengar AIDS Jumlah Jumlah wanita ,9 51,7 0,1 39,2 100, ,6 52,0 0,1 32,3 100, ,1 48,9 0,1 30,9 100, ,1 42,9 0,1 37,8 100, ,9 34,5 0,2 53,4 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 22,9 51,6 0,2 25,4 100, Pedesaan 11,0 36,1 0,1 52,8 100, Pendidikan Tidak sekolah 2,4 13,2 0,1 84,3 100, Tidak tamat SD 5,1 28,7 0,1 66,1 100, Tamat SD 9,6 43,9 0,1 46,4 100, Tidak Tamat SLTP 19,9 57,9 0,4 21,8 100, SLTP+ 53,6 53,6 0,1 6,4 100, Jumlah 16,4 43,2 0,1 40,2 100, Tabel Pembicaraan tentang HIV/AIDS dengan isteri Distribusi persentase pria kawin berdasarkan apakah mereka pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS dengan suami, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Karakteristik latar belakang Pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS Tidak pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS Tidak tahu/ tidak terjawab Tidak pernah mendengar AIDS Jumlah Jumlah pria Umur ,4 65,7 0,5 20,4 100, ,3 63,2 0,3 20,3 100, ,3 61,0 0,5 21,2 100, ,2 52,8 0,3 33,6 100, ,1 49,8 0,2 39,8 100, Daerah tempat tinggal Perkotaan 19,8 65,7 0,4 14,1 100, Pedesaan 10,4 50,6 0,4 38,6 100, Pendidikan Tidak sekolah 0,4 20,4 0,3 78,8 100,0 341 Tidak tamat SD 4,1 40,3 0,3 55,3 100, Tamat SD 8,7 58,7 0,3 32,3 100, Tidak Tamat SLTP 17,7 68,8 0,2 13,3 100, SLTP+ 29,6 67,9 0,6 1,8 100, Jumlah 14,8 57,6 0,4 27,2 100, Catatan : Jumlah pria kawin umur terlampau kecil untuk ditampilkan tersendiri. 180 Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya

205 Perbedaan besar terdapat dalam komunikasi antara suami dengan isteri tentang pencegahan AIDS menurut karakteristik latar belakang. Baik wanita maupun pria, responden perkotaan dan yang pendidikannya makin baik, lebih cenderung pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS dengan pasangannya daripada responden lainnya. (Gambar 15.4.) Lampiran Tabel A.15.4 memperlihatkan distribusi persentase wanita kawin yang pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS dengan pasangannya berdasarkan propinsi. Persentase berkisar dari 9 persen di Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Barat hingga 34 persen di Sulawesi Utara. Menarik untuk diperhatikan bahwa di propinsi yang pengetahuan dan kesadaran tentang AIDS nya tinggi pun, tingkat pembicaraan antara suami dengan isteri mengenai pencegahan HIV/AIDS tidaklah sama tingginya. Sebagai contoh meskipun sembilan dari sepuluh wanita pernah kawin di DKI Jakarta pernah mendengar tentang AIDS, hanya satu dari empat wanita kawin di propinsi ini pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS tertentu dengan suami. Gambar 15.4 Persentase wanita kawin dan pria kawin yang membicarakan tentang pencegahan AIDS dengan pasangan, menurut pendidikan Persen Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tidak tamat SLTP 10 9 SLTP + Jumlah Wanita Pria SDKI ASPEK SOSIAL HIV/AIDS Dalam SDKI , pertanyaan diajukan untuk menilai tingkat aib yang melekat pada AIDS dan pada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS. Pertama, responden ditanya sebagai berikut : Jika salah satu anggota keluarga tertular virus penyebab penyakit AIDS, apakah ibu/ bapak akan merahasiakannya?. Tabel memperlihatkan bahwa satu dari empat wanita dan satu dari lima pria merasa bahwa status HIV positif dari anggota keluarga harus dirahasiakan. Sentimen ini tidak banyak berbeda menurut karakteristik latar belakang responden. Responden SDKI ditanya sebagai berikut : Jika saudara/ keluarga ibu/ bapak menderita AIDS, apakah ibu/ bapak bersedia merawatnya di rumah ibu/ bapak?. Tigapuluh satu persen wanita pernah kawin dan 28 persen pria kawin mengatakan tidak akan merawat saudara/ keluarga yang menderita AIDS di rumah mereka. Lampiran A.15.5 memperlihatkan bahwa di kalangan wanita pernah kawin, persentase yang setuju bahwa seseorang yang HIV positif harus dirahasiakan statusnya berkisar dari 5 persen di Sulawesi Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya 181

206 Utara hingga 38 persen di Banten. Pada pria kawin, keragaman antar propinsi dari proporsi yang percaya bahwa individu dengan HIV positif harus dirahasiakan statusnya jauh lebih besar, berkisar dari 2 persen di Bali hingga 40 persen di DKI Jakarta. Gorontalo memiliki proporsi yang tertinggi untuk wanita pernah kawin maupun pria kawin yang tidak mau merawat sanak saudara dengan AIDS di rumah mereka (masing-masing 50 persen dan 86 persen). Tabel 15.6 Aspek sosial HIV/AIDS Persentase yang memberikan jawaban khusus terhadap pertanyaan tentang berbagai aspek sosial HIV/AIDS pada wanita pernah kawin dan pria kawin yang pernah mendengar AIDS menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Wanita Pria Karakteristik latar belakang Merasa status HIV positif anggota keluarga harus dirahasiakan Tidak mau merawat sanak saudara dengan AIDS di rumah Jumlah wanita Merasa status HIV positif anggota keluarga harus dirahasiakan Tidak mau merawat sanak saudara dengan AIDS di rumah Jumlah pria Umur ,4 25,4 572 * * ,4 29, ,5 23, ,9 29, ,9 29, ,0 33, ,9 25, ,9 31, ,3 32, ts ts 0 15,9 27,8 605 Satus perkawinan Kawin 24,0 31, ,0 28, Cerai hidup/cerai mati 21,1 28,9 690 ts ts 0 Daerah tempat tinggal Perkotaan 24,6 30, ,3 29, Pedesaan 23,1 33, ,8 26, Pendidikan Tidak sekolah 22,5 42, ,8 28,9 72 Tidak tamat SD 23,4 32, ,0 31,2 772 Tamat SD 21,9 31, ,3 29, Tidak Tamat SLTP 23,7 30, ,1 26, SLTP+ 26,2 31, ,9 27, Jumlah 23,9 31, ,0 28, Catatan : tanda bintang menunjukkan angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya sebelum dibobot kurang dari 25. ts = tidak ber;aku 15.7 PENGETAHUAN TENTANG GEJALA PENYAKIT INFEKSI MENULAR SEKSUAL (PMS) Responden SDKI ditanya tentang apakah mereka tahu mengenai gejala yang berhubungan dengan PMS pada wanita dan PMS pada pria (selain HIV/AIDS). Tabel memperlihatkan bahwa tiga perempat dari wanita pernah kawin (73 persen) tidak mempunyai pengetahuan tentang penyakit menular seksual (Gambar 15.5). Lebih lanjut, 16 persen mengetahui satu atau lebih gejala PMS pada pria dan 14 persen mengatahui satu atau lebih gejala PMS pada wanita. Pengetahuan wanita pernah kawin tentang gejala PMS beragam menurut karakteristik latar belakang; persentase terkecil pada wanita termuda, pada wanita cerai mati atau cerai hidup, pada wanita yang tinggal di daerah pedesaan dan pada wanita yang tidak atau kurang berpendidikan. 182 Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya

207 Tabel Pengetahuan tentang gejala PMS: wanita Persentase wanita pernah kawin menurut pengetahuan tentang gejala yang berhubungan dengan penyakit menular seksual (PMS) pada pria dan wanita, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Karakteristik latar belakang Tidak mengetahui tentang PMS Pengetahuan tentang gejala PMS pada pria Tidak menyebutkan gejala Menyebutkan satu gejala Menyebutkan dua atau lebih gejala Pengetahuan tentang gejala PMS pada wanita Tidak menyebutkan gejala Menyebutkan satu gejala Menyebutkan dua atau lebih gejala Jumlah wanita Umur ,6 8,7 5,6 4,1 10,6 3,1 4, ,4 11,6 5,3 6,7 14,0 4,6 5, ,1 10,9 8,7 10,3 14,2 6,7 8, ,9 11,0 8,5 10,7 14,0 7,1 9, ,4 10,0 5,4 8,1 12,0 4,3 7, Satus perkawinan Kawin 72,6 10,8 7,3 9,2 13,6 5,9 7, Cerai hidup/cerai mati 80,5 8,3 4,2 7,0 9,2 3,7 6, Daerah tempat tinggal Perkotaan 64,0 13,0 9,7 13,3 16,3 8,3 11, Pedesaan 80,7 8,7 5,0 5,6 10,9 3,6 4, Pendidikan Tidak sekolah 92,3 3,6 2,3 1,9 4,6 1,9 1, Tidak tamat SD 87,5 6,6 3,3 2,6 8,0 2,5 2, Tamat SD 83,1 8,2 4,2 4,4 9,7 3,3 3, Tidak Tamat SLTP 68,2 14,5 7,8 9,5 18,0 6,1 7, SLTP+ 39,5 18,1 16,9 25,5 23,8 14,2 22, Jumlah 73,1 10,7 7,1 9,1 13,3 5,8 7, Gambar 15.5 Persentase Wanita Pernah Kawin dan Pria Kawin yang Tidak Mengetahui Gejala Penyakit Menular Seksual, menurut Pendidikan Persen Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tidak tamat SLTP SLTP + Jumlah Wanita Pria SDKI Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya 183

208 Pengetahuan wanita pernah kawin tentang gejala PMS beragam menurut propinsi (Lampiran Tabel A.15.6). Sebagai contoh, proporsi responden wanita yang mengetahui dua atau lebih gejala yang berhubungan dengan PMS pada wanita beragam dari 2 persen di Bangka Belitung hingga 40 persen di Kalimantan Tengah. Tabel memperlihatkan bahwa, secara keseluruhan, sekitar empat dari sepuluh pria kawin tidak mempunyai pengetahuan tentang PMS. Hampir separuh dari responden pria (49 persen) mengetahui satu atau lebih gejala yang berhubungan dengan PMS pada pria. Di lain pihak, hanya 15 persen mengetahiui paling sedikit satu gejala PMS pada wanita. Pengetahuan pria kawin tentang gejala PMS beragam menurut karakteristik latar belakang; umumnya lebih tinggi pada pria yang lebih muda, yang berdiam di daerah perkotaan dan yang berpendidikan lebih baik. Seperti pada wanita, pengetahuan pria kawin tentang gejala yang berhubungan dengan PMS antar propinsi sangat beragam (Lampiran Tabel A.15.7). Tabel Pengetahuan tentang gejala PMS: pria Persentase pria kawin menurut pengetahuan tentang gejala yang berhubungan dengan penyakit menular seksual (PMS) pada pria dan wanita, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Karakteristik latar belakang Tidak mengetahui tentang PMS Pengetahuan tentang gejala PMS pada pria Tidak menyebutkan gejala Menyebutkan satu gejala Menyebutkan dua atau lebih gejala Pengetahuan tentang gejala PMS pada wanita Tidak menyebutkan gejala Menyebutkan satu gejala Menyebutkan dua atau lebih gejala Jumlah pria Umur ,3 0,0 8,3 66,4 30,4 6,5 37, ,5 10,0 15,9 35,6 50,2 5,5 5, ,0 11,3 22,1 34,5 52,7 6,5 8, ,7 12,3 19,9 34,0 50,0 7,3 9, ,4 11,1 16,4 29,1 41,5 6,1 9, ,2 12,7 14,0 22,0 36,8 4,7 7, Daerah tempat tinggal Perkotaan 27,8 11,3 21,6 39,3 53,9 7,8 10, Pedesaan 48,6 12,0 15,2 24,2 39,3 5,1 7, Pendidikan Tidak sekolah 79,1 6,7 8,6 5,5 17,0 2,7 1,2 341 Tidak tamat SD 61,1 9,9 12,8 16,2 31,8 3,3 3, Tamat SD 47,7 11,5 18,7 22,0 43,1 4,0 5, Tidak Tamat SLTP 29,1 14,6 20,2 36,1 55,9 7,3 7, SLTP+ 13,0 12,2 21,8 53,0 58,0 11,3 17, Jumlah 38,9 11,7 18,2 31,2 46,1 6,4 8, PENGETAHUAN TENTANG SUMBER KONDOM PRIA Pemakaian kondom adalah salah satu dari pendekatan program yang penting untuk menghindari penyebaran HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya. Oleh karena itu, responden wanita SDKI ditanya tentang apakah mereka mengetahui di mana mereka dapat memperoleh kondom pria. Mereka juga ditanya tentang apakah mereka sungguh dapat memperoleh kondom jika mereka membutuhkannya. Tabel 15.8 memperlihatkan bahwa empat dari sepuluh wanita pernah kawin mengetahui sumber kondom pria. Selain itu, 27 persen wanita melaporkan bahwa mereka dapat memperoleh kondom pria jika mereka membutuhkan. Pengetahuan tentang sumber kondom dan kemampuan untuk memperoleh kondom lebih tinggi pada wanita umur Pengetahuan tentang sumber kondom pria juga jauh lebih tinggi di kalangan wanita perkotaan daripada wanita pedesaan (53 persen dibandingkan dengan Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya

209 persen), seperti kemampuan untuk mendapatkan kondom jika membutuhkan (36 persen versus 20 persen). Tingkat pengetahuan dan kemampuan untuk mendapatkan kondom pria lebih tinggi pada wanita kawin dan berpendidikan lebih baik, bila dibandingkan dengan wanita cerai mati atau cerai hidup dan wanita yang tidak atau kurang berpendidikan. Tabel 15.8 Pengetahuan tentang sumber kondom pria dan akses terhadap kondom Persentase wanita pernah kawin yang mengetahui sumber kondom pria, dan persentase yang berpendapat mereka sendiri dapat memperoleh kondom pria, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia, Karakteristik latar belakang Mengetahui sumber kondom pria Dapat memperoleh kondom pria Jumlah wanita Umur ,6 15, ,3 25, ,3 28, ,7 31, ,4 23, Satus perkawinan Kawin 40,7 27, Cerai hidup/cerai mati 35,9 19, Daerah tempat tinggal Perkotaan 53,0 36, Pedesaan 29,7 19, Pendidikan Tidak sekolah 11,7 6, Tidak tamat SD 23,4 14, Tamat SD 33,0 21, Tidak Tamat SLTP 49,1 32, SLTP+ 72,5 52, Jumlah 40,4 27, Pengetahuan tentang sumber kondom pria beragam dari 15 persen di Gorontalo hingga 75 persen di DKI Jakarta (Lampiran Tabel A.15.8). Persentase wanita yang dapat memperoleh kondom pria jika mereka membutuhkan berkisar dari 5 persen di Nusa Tenggara Timur hingga 56 persen di DI Yogyakarta. Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan PMS lainnya 185

210 KEMATIAN DEWASA DAN MATERNAL 16 Bab 10 menyajikan angka kematian tahun-tahun awal kehidupan. Bab ini mengulas kematian dewasa terutama kematian wanita yang terjadi pada saat kehamilan, persalinan dan masa nifas. Meskipun angka kematian maternal dianggap sebagai salah satu indikator terpenting dari kesehatan masyarakat suatu negara, data yang dapat diandalkan ini masih langka dan hasil estimasinya sangat bervariasi. Data kematian dewasa dan kematian maternal dikumpulkan dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 dan SDKI Data serupa juga dikumpulkan dalam SDKI untuk mendapatkan estimasi kematian dewasa dan kematian maternal dengan menggunakan estimasi cara langsung. Keterangan mencakup kelangsungan hidup dari semua saudara yang dilahirkan oleh ibu kandung responden, seperti saudara kandung laki-laki maupun perempuan dari responden. Pendekatan langsung untuk estimasi kematian dewasa dan kematian maternal adalah dengan memakai data yang tersedia termasuk keterangan umur saudara kandung yang masih hidup, umur saudara kandung saat meninggal, serta tahun saat saudara kandung meninggal. Ini memungkinkan data diagregasikan untuk menentukan jumlah tahun hidup orang terpapar pada risiko kematian dan jumlah kematian saudara kan-dung yang terjadi dalam satu periode tertentu. Angka kematian maternal didapat dengan membagi kematian maternal dengan jumlah tahun hidup wanita terpapar pada kemungkinan hamil (Rutenberg dan Sullivan, 1991) DATA Setiap responden wanita, pertama ditanyai jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh ibunya. Kemudian ditanyai nama-nama anak yang dilahirkan oleh ibunya mulai dari anak pertama, termasuk apakah saudara kandung responden tersebut masih hidup atau tidak pada saat pencacahan. Untuk saudara kandung yang masih hidup, ditanyakan umurnya; dan untuk saudara kandung yang sudah meninggal, ditanyakan umur saat meninggal dan tahun saat meninggal. Pewawancara dianjurkan untuk menerima umur perkiraan jika responden tidak tahu secara pasti umur atau tahun kematian. Untuk saudara perempuan yang meninggal pada umur 10 tahun atau lebih, tiga pertanyaan diajukan untuk menentukan apakah kematiannya berhubungan dengan kematian maternal: Apakah [NAMA SAUDARA PEREMPUAN] sedang hamil saat meninggal?, dan jika tidak, Apakah meninggal saat melahirkan?, dan jika tidak, Apakah dia meninggal dalam masa nifas atau saat berakhirnya kehamilan?. Estimasi kematian dewasa dan kematian maternal membutuhkan laporan yang akurat dari jumlah saudara kandung perempuan atau laki-laki yang dipunyai responden, jumlah yang meninggal, dan jumlah saudara perempuan meninggal yang berhubungan dengan sebab-sebab kematian maternal (untuk kematian maternal). Tabel 16.1 menunjukkan jumlah saudara kandung yang dilaporkan oleh responden dan kelengkapan pelaporan data untuk umur, umur saat meninggal, dan tahun meninggal. Rasio jenis kelamin saudara kandung responden (rasio saudara laki-laki terhadap saudara perempuan) adalah 1,09, dimana angka ini lebih tinggi dari yang diharapkan yaitu sebesar 1,02 atau 1,03 dan menunjukkan kelebihan pelaporan saudara laki-laki juga kekurangan pelaporan saudara perempuan. Responden SDKI sangat mengetahui kelangsungan hidup saudara mereka, hanya 86 dari saudara kandung (0,1 persen) yang tidak diketahui kelangsungan hidupnya. Umumnya mereka mengetahui umur saudara kandung mereka, dengan hanya 0,3 persen saudara kandung yang umurnya tidak diketahui. Namun, seperti yang diharapkan, responden tidak begitu mengetahui umur dan tahun saat meninggal saudara kandungnya: hanya 81 persen saudara kandung yang umur maupun tahun meninggalnya diketahui, 17 persen tidak diketahui tahun kematiannya, dan 2 persen yang tidak diketahui umur maupun tahun kematiannya. Daripada mengeluarkan data yang hilang dari analisa, keterangan dari urutan Kematian Dewasa dan Maternal 187

211 kelahiran saudara kandung, dipakai untuk mengganti data yang hilang. 1 Data kelangsungan hidup dari saudara kandung termasuk data yang diimputasi, dipakai untuk menghitung angka kematian dewasa dan kematian maternal secara langsung. Tabel 16.1 Data Saudara Kandung Jumlah saudara kandung yang dilaporkan responden dan kelengkapan laporan tentang umur, umur saat meninggal, dan tahun meninggal, Indonesia Kelangsungan hidup saudara kandung dan kelengkapan laporan Perempuan Laki-laki Jumlah Jumlah Jumlah Persentase Persentase Persentase Jumlah Semua saudara kandung 100, , , Masih hidup 90, , , Meninggal 9, , , Tidak diketahui 0,1 50 0,0 36 0,1 86 Saudara kandung yang masih hidup 100, , , Umur diketahui 99, , , Umur tidak diketahui 0, , ,3 467 Saudara kandung yang meninggal 100, , , Umur dan tahun meninggal diketahui 79, , , Umur meninggal tidak diketahui 0,4 28 0,5 46 0,4 73 Tahun meninggal tidak diketahui 18, , , Umur dan tahun meninggal tidak diketahui 1, , , ESTIMASI LANGSUNG KEMATIAN DEWASA Cara lain menilai kualitas data untuk estimasi kematian maternal adalah dengan mengevaluasi kelayakan angka kematian dewasa yang diperoleh. Jika secara keseluruhan angka kematian dewasa menunjukkan angka yang stabil, pola yang benar, hal tersebut memberikan kebenaran pada angka kemtian maternal. Ini disebabkan kematian maternal adalah bagian dari kematian dewasa. Tabel 16.2 menyajikan angka kematian laki-laki dan perempuan menurut kelompok umur (15-49 tahun) untuk periode lima tahun sebelum survei, sekitar periode Angka kematian menurut kelompok umur dihitung dengan membagi jumlah kematian pada setiap kelompok umur dengan jumlah tahun hidup orang terpapar pada kelompok umur yang sama selama periode tertentu. Selama jumlah kematian tidak berbeda jauh (518 kematian pada wanita dan 619 kematian pada pria), angka kematian menurut kelompok umur menjadi sasaran variasi sampel yang besar. 1 Imputasi dilakukan berdasarkan asumsi bahwa urutan kelahiran saudara kandung dari keterangan riwayat kelahiran adalah benar. Tahap pertama menghitung tanggal kelahiran. Untuk setiap saudara kandung masih hidup yang diketahui umurnya, dan setiap saudara kandung yang sudah meninggal yang diketahui umur ketika meninggal serta tahun kematiannya, telah dihitung tanggal lahirnya. Tanggal lahir saudara kandung yang tidak diketahui diperkirakan dari tanggal lahir saudara kandungnya yang telah dikumpulkan bersama. Umur saudara kandung yang masih hidup dihitung dari imputasi tanggal lahir. Bila umur atau tanggal diketahui, maka tanggal lahir dari saudara kandung yang meninggal dapat dihitung. Bila kedua keterangan tersebut tidak diketahui, maka umur ketika meninggal diimputasi. Imputasi ini berdasarkan distribusi umur kematian dari mereka yang tidak diketahui tahun kematiannya, tetapi umur ketika meninggal diketahui. 188 Kematian Dewasa dan Maternal

212 Angka kematian laki-laki maupun perempuan adalah 2 kematian per penduduk. Seperti yang diharapkan, kematian meningkat sesuai dengan umur. Pada hampir semua umur, angka kematian laki-laki sedikit lebih tinggi daripada angka kematian perempuan. Analisa dari data SDKI 1994 menunjukkan telah terjadi sedikit penurunan pada kematian perempuan, dari tahun 1984 ke Data tahun menunjukkan penurunan ini masih berlanjut. Tabel 16.2 Angka kematian dewasa Estimasi langsung angka kematian menurut kelompok umur untuk perempuan dan laki-laki umur berdasarkan kelangsungan hidup saudara kandung responden untuk periode 0-4 tahun sebelum survei, Indonesia Perempuan Laki-laki Kematian Tahun Angka Kematian Tahun Angka Umur perempuan paparan kematian laki-laki paparan kematian , , , , , , , , , , , , , ,83 Total ,89 a ,16 a a Umur disesuaikan 16.3 ESTIMASI KEMATIAN MATERNAL Estimasi cara langsung kematian maternal menurut kelompok umur dari keterangan kelangsungan hidup saudara perempuan untuk periode lima tahun sebelum survei ditunjukkan di Tabel Angka kematian maternal menurut kelompok umur dihitung dengan membagi jumlah kematian maternal dengan jumlah tahun hidup wanita terpapar pada kemungkinan hamil. Untuk menghilangkan pengaruh bias (batas atas umur responden SDKI yang memenuhi syarat adalah 49 tahun), angka kematian wanita umur tahun distandarisasi dengan distribusi umur responden. Kematian maternal adalah kematian yang terjadi selama kehamilan, saat melahirkan, atau selama masa nifas atau saat berakhirnya kehamilan. 2 Jumlah kematian maternal (73) adalah rendah, sehingga angka kematian menurut kelompok umur Tabel 16.3 Angka kematian maternal Angka kematian maternal untuk periode 0-4 tahun sebelum survei, berdasarkan kelangsungan hidup saudara perempuan responden, Indonesia Kematian Tahun Angka Umur maternal terpapar kematian , , , , , , , ,2 Angka fertilitas umum 0,081 Rasio kematian maternal 307 menjadi sasaran kesalahan sampling yang besar dan harus diterjemahkan dengan hati-hati. Pendekatan yang dianjurkan adalah dengan menghitung satu estimasi untuk umur reproduksi (15-49 tahun). Untuk periode 0-4 tahun sebelum survei, angka kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran 2 Definisi ini termasuk seluruh kematian yang terjadi selama kehamilan dan masa nifas, meskipun kematian di-sebabkan oleh bukan sebab-sebab maternal. Namun demikian, definisi ini tidak menyebabkan kelebihan pelaporan kematian maternal sebab hampir semua kematian wanita yang terjadi pada periode tertentu disebabkan oleh sebab-sebab maternal dan kematian maternal umumnya dilaporkan kurang daripada dilaporkan lebih. Kematian Dewasa dan Maternal 189

213 adalah 0,24 kematian maternal per tahun hidup wanita terpapar pada kemungkinan hamil. Kematian maternal mewakili 14 persen seluruh kematian wanita umur tahun. Kematian maternal dapat diubah menjadi rasio kematian maternal dan dinyatakan per kelahiran, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas umum (0,081) untuk periode yang sama. Dengan cara ini, dampak pelayanan kebidanan pada risiko kematian akibat hamil dan bersalin diperhatikan. Dengan estimasi cara langsung, rasio kematian maternal diperkirakan 307 kematian maternal per kelahiran untuk periode TREN ANGKA KEMATIAN MATERNAL Analisa hasil SDKI 1994 menunjukkan bahwa rasio kematian maternal untuk periode lima tahun sebelum survei ( ) adalah 390 kematian per kelahiran. Analisa hasil SDKI 1997 yang tidak dipublikasikan menunjukkan sedikit penurunan menjadi 334 kematian per kelahiran selama periode Namun, karena angka kematian maternal dan rasio kematian maternal berhubungan dengan kesalahan sampling yang tinggi, selang kepercayaan kedua angka tersebut saling tumpang tindih, sehingga sulit untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi penurunan. Rasio kematian maternal sebesar 307 yang dihasilkan dari SDKI sepertinya menambah bukti adanya sebuah penurunan. Namun, angka dari ketiga survei menjadi sasaran kesalahan sampling yang tinggi dan 95 persen selang kepercayaan di sekitar angka-angka tersebut saling tumpang tindih. Bahkan pada selang kepercayaan yang lebih besar (67 persen), selang kepercayaan angka di tahun 1994 dan masih saling tumpang tindih, sehingga sulit untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi penurunan angka kematian maternal di Indonesia selama 10 sampai 15 tahun terakhir. 190 Kematian Dewasa dan Maternal

214 PERANSERTA PRIA DALAM PERAWATAN KESEHATAN 17 KELUARGA Salah satu kebijakan baru yang dibuat Pemerintah Indonesia adalah melibatkan pria dalam perawatan kesehatan isteri dan anaknya. Pria diharapkan terlibat dalam pembuatan keputusan dan pengambilan tindakan berkenaan dengan keluarga berencana, pemeriksaan kehamilan, persiapan untuk persalinan dan imunisasi anak serta gizi anak (Depkes RI, 2001). Bab ini menyajikan informasi tentang keterlibatan pria dalam menjamin keselamatan isterinya dan perawatan kesehatan yang tepat bagi anaknya NASEHAT ATAU PELAYANAN KESEHATAN SELAMA KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS Dalam SDKI , pria kawin yang telah mempunyai paling sedikit satu anak sejak Januari 1997 ditanya tentang beberapa hal mengenai pemeriksaan kehamilan ibu dari anak terakhir dan perawatan kesehatan anak tersebut. Tabel memperlihatkan persentase kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ibunya mendapat nasehat atau perawatan dari dokter atau tenaga kesehatan selama kehamilan, persalinan atau dalam masa enam minggu setelah persalinan. Untuk 87 persen kelahiran dalam lima tahun sebelum survei, pria melaporkan bahwa ibu dari anak tersebut mendapat Tabel 17.1 Nasehat atau perawatan yang didapat oleh ibu selama kehamilan, persalinan dan nifas Persentase kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ibunya mendapat nasehat atau perawatan dari tenaga kesehatan (berdasarkan laporan ayah) menurut jenis nasehat atau perawatan dan karakteristik latar belakang ayah, Indonesia Memperoleh nasehat dan pelayanan kesehatan Selama 6 minggu Karakteristik Selama Selama setelah Jumlah latar belakang kehamilan persalinan persalinan ayah Umur * * * ,0 69,5 60, ,6 78,1 71, ,3 80,6 75, ,9 79,9 75, ,2 73,8 67, ,3 70,4 59, ,3 65,5 49,7 96 Daerah tempat tinggal Perkotaan 90,8 83,3 76, Perdesaan 83,3 71,6 66, Pendidikan ayah Tidak sekolah 62,7 57,3 47,8 93 Tidak tamat SD 77,4 61,3 55,5 553 Tamat SD 82,1 67,0 65, Tidak tamat SLTP 89,9 80,8 69,0 800 SLTP + 95,2 92,4 85, Jumlah 86,9 77,2 70, Catatan: tanda bintang menunjukkan angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya sebelum dibobot kurang dari 25. Peranserta Pria dalam Perawatan Kesehatan Keluarga 191

215 nasehat atau perawatan selama kehamilan, 77 persen mendapat perawatan selama persalinan dan 71 persen mendapat perawatan dalam enam minggu setelah persalinan. Proporsi ini agak beragam menurut umur; pria umur 30-an paling cenderung mengatakan bahwa ibu dari anak terakhir mendapat nasehat atau perawatan selama kehamilan, selama persalinan atau dalam masa enam minggu setelah persalinan. Seperti yang diperkirakan, pria yang tinggal di daerah perkotaan dan pria yang berpendidikan makin baik lebih cenderung melaporkan bahwa ibu dari anak yang terakhir mendapat nasehat atau perawatan selama kehamilan, selama persalinan atau dalam masa enam minggu setelah persalinan. Lampiran Tabel A.17.1 memperlihatkan bahwa persentase kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ibunya mendapat nasehat atau perawatan selama kehamilan beragam antar propinsi, berkisar dari 73 persen di Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah hingga 99 persen di Sulawesi Utara, DI Yogyakarta, dan Bali. Nasehat atau perawatan selama persalinan dan selama enam minggu setelah persalinan juga beragam menurut propinsi. Berdasarkan laporan pria, ibu yang mendapat nasehat atau perawatan selama persalinan hanya separuhnya (51 persen) dari kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei di Nusa Tenggara Timur, sedang hampir semua ibu (99 persen) dari kelahiran tersebut di Sulawesi Utara mendapat nasehat atau perawatan. Lebih lanjut, persentase kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ibunya mendapat nasehat atau perawatan selama enam minggu setelah persalinan beragam dari 47 persen di Jambi dan Nusa Tenggara Timur hingga 98 persen di DI Yogyakarta PENGETAHUAN TENTANG IMUNISASI ANAK Pria kawin juga ditanya tentang apakah anak yang dilahirkan hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei telah diimunisasi terhadap tuberkulosis (BCG), polio, DPT, campak dan hepatitis B. Tabel 17.2 memperlihatkan bahwa menurut laporan pria, persentase anak terakhir yang dilahirkan dalam lima tahun sebelum survei telah mendapat imunisasi: BCG 78 persen, polio 82 persen, DPT 73 persen, campak 64 persen dan hepatitis B 65 persen. Table 17.2 Imunisasi anak balita Persentase anak terakhir yang lahir dalam lima tahun sebelum survei dan masih hidup yang medapatkan imunisasi (berdasarkan laporan ayah) menurut karakteristik latar belakang ayah, Indonesia Karakteristik Hepa- Jumlah Latar belakang BCG Polio DPT Campak titis B ayah Umur * * * * * ,2 78,8 67,5 61,2 58, ,0 79,5 67,7 57,6 62, ,4 84,9 77,8 69,5 67, ,8 88,1 79,2 70,5 70, ,5 76,1 68,7 59,8 60, ,0 76,6 63,9 67,5 60, ,3 70,1 59,3 40,6 49,7 92 Daerah tempat tinggal Perkotaan 81,7 84,3 77,0 68,5 69, Perdesaan 73,9 79,6 68,4 60,1 60, Pendidikan ayah Tidak sekolah 49,2 59,9 40,9 40,6 42,7 91 Tidak tamat SD 63,9 71,0 61,1 54,6 47,8 546 Tamat SD 76,3 79,8 69,2 62,0 60,7 994 Tidak tamat SLTP 75,2 78,5 69,3 60,7 62,6 778 SLTP + 88,9 92,6 85,4 74,6 78, Jumlah 77,6 81,9 72,6 64,2 64, Catatan: tanda bintang menunjukkan angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya sebelum dibobot kurang dari Peranserta Pria dalam Perawatan Kesehatan Keluarga

216 Imunisasi anak beragam menurut karakteristik latar belakang ayah. Secara umum, anak dari ayah umur 30-39, anak dari ayah yang tinggal di daerah perkotaan, dan anak dari ayah yang berpendidikan makin baik lebih cenderung diimunisasi daripada anak lainnya untuk setiap jenis vaksin. Sebagai contoh, berdasarkan laporan ayah, 82 persen anak yang ayahnya berdiam di daerah perkotaan telah mendapat vaksin BCG, dibandingkan dengan 74 persen anak yang ayahnya tinggal di daerah perdesaan. Lebih lanjut, 49 persen anak dari ayah yang tidak sekolah telah mendapat imunisasi BCG, dibandingkan dengan 89 persen anak dari ayah yang berpendidikan SLTP atau lebih tinggi. Lampiran tabel A.17.2 memperlihatkan bahwa persentase anak yang diimunisasi untuk setiap jenis vaksin sangat beragam menurut propinsi tempat tinggal ayahnya. Sebagai contoh, 58 persen anak yang ayahnya tinggal di Lampung dan Sumatera Barat telah mendapat imunisasi BCG, sedangkan proporsi tersebut di DI Yogyakarta dan Bali masing-masing adalah 100 dan 97 persen KONTAK DENGAN TENAGA KESEHATAN Dalam SDKI , keterlibatan pria dalam kehamilan dan perawatan ibu diukur dengan menanyakan responden pria tentang apakah mereka berbicara dengan tenaga kesehatan mengenai perawatan kehamilan atau kesehatan ibu dari anak terakhir yang lahir dalam lima tahun sebelum survei. Pria juga ditanya secara khusus tentang topik yang mereka bicarakan selama kontak tersebut dengan dokter atau tenaga kesehatan. Informasi ini disajikan dalam Tabel Temuan memperlihatkan bahwa selama kehamilan terakhir dari isteri, hanya empat dari sepuluh pria berbicara dengan tenaga kesehatan tentang perawatan kehamilan dan kesehatan isteri mereka. Di antara para pria ini, 35 persen berbicara dengan tenaga kesehatan tentang jenis makanan yang harus dimakan isterinya selama kehamilan, 36 persen berbicara tentang berapa banyak istirahat yang harus dilakukan isterinya selama kehamilan dan 37 persen berbicara tentang jenis masalah kesehatan pada isterinya yang harus segera mendapat perhatian dari tenaga medis. Pria umur 30-an, pria di daerah perkotaan dan pria yang berpendidikan makin baik lebih cenderung berbicara dengan tenaga kesehatan daripada pria lainnya tentang kesehatan dan perawatan isteri selama kehamilan. Lampiran tabel A.17.3 memperlihatkan keragaman antar propinsi dalam tingkat kontak antara pria dan tenaga kesehatan mengenai kehamilan dan kesehatan isteri. Secara keseluruhan, maupun untuk setiap topik, Nusa Tenggara Timur memiliki proporsi terendah untuk kontak antara pria dengan tenaga kesehatan tentang kesehatan atau kehamilan isteri, sedang Bali memiliki proporsi tertinggi. Sebagai contoh, walaupun hanya 12 persen pria di Nusa Tenggara Timur membicarakan kehamilan dan kesehatan isteri dengan tenaga kesehatan, tetapi hampir semua pria di Bali melakukannya (99 persen) Peranserta Pria dalam Perawatan Kesehatan Keluarga 193

217 Table 17.3 Kontak ayah dengan tenaga kesehatan tentang kesehatan dan kehamilan ibu Persentase kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ayahnya berbicara dengan petugas kesehatan tentang kesehatan atau kehamilan ibu, dan persentasenya yang membicarakan topik tertentu, menurut karakteristik latarbelakang ayah, Indonesia Topik pembicaraan Karakteristik latarbelakang Berbicara dengan tenaga kesehatan Jenis makanan yang dimakan selama kehamilan Berapa banyak istirahat yang harus dilaku-kan selama kehamilan Jenis masalah kesehatan yang harus mendapat perhatian medis segera Jumlah ayah Umur * * * * ,0 21,9 22,6 24, ,0 33,4 33,8 36, ,1 41,5 42,0 42, ,0 40,1 40,3 40, ,7 29,8 30,0 32, ,5 24,7 28,5 28, ,2 25,0 25,4 26,1 96 Daerah tempat tinggal Perkotaan 47,1 42,5 43,0 44, Pedesaan 32,6 28,0 28,5 30, Pendidikan Tidak sekolah 22,8 22,1 21,9 22,4 93 Tidak tamat SD 24,2 20,9 21,1 21,7 553 Tamat SD 25,8 23,0 23,3 23, Tidak tamat SLTP 39,1 35,6 35,3 36,6 800 SLTP + 60,0 52,2 53,8 55, Jumlah 39,6 35,0 35,5 36, Catatan: tanda bintang menunjukkan angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya sebelum dibobot kurang dari PERSIAPAN PERSALINAN Untuk keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, beberapa langkah tertentu perlu dilakukan. Hal ini meliputi pengambilan keputusan mengenai berbagai aspek persalinan, seperti memutuskan tempat dan orang yang membantu persalinan, transportasi ke tempat persalinan, biaya yang berhubungan dengan persalinan, dan identifikasi donor darah potensial bila dibutuhkan. Dalam SDKI , pria ditanya tentang apakah mereka membicarakan aspek persalinan ini dengan siapapun selama kehamilan ibu dari anak yang dilahirkan terakhir dalam lima tahun sebelum survei. Informasi ini disajikan dalam Tabel Hasilnya memperlihatkan bahwa, secara keseluruhan, 77 persen ayah membicarakan dengan seseorang tentang topik yang berkaitan dengan persalinan. Topik yang paling sering dibicarakan adalah tempat persalinan (65 persen) dan penolong persalinan (64 persen), diikuti dengan pembayaran untuk pelayanan (57 persen). Topik yang kurang dibicarakan oleh ayah adalah transportasi ke tempat persalinan (33 persen), mungkin karena sebagian terbesar persalinan di Indonesia berlangsung di rumah. Identifikasi donor darah potensial selama persalinan dibicarakan hanya oleh 6 persen ayah. 194 Peranserta Pria dalam Perawatan Kesehatan Keluarga

218 Persiapan persalinan beragam menurut karakteristik latar belakang ayah. Ayah yang lebih muda agak cenderung membicarakan topik yang berkaitan dengan persalinan dengan seseorang. Ayah di perkotaan dan yang berpendidikan lebih tinggi sangat cenderung membicarakan berbagai aspek persalinan dengan seseorang daripada ayah di pedesaan atau yang tidak sekolah atau yang berpendidikan lebih rendah. Lampiran Tabel A.17.4 menyajikan keragaman tingkat pembicaraan ayah yang berhubungan dengan persiapan kelahiran anak antar propinsi. Sembilan puluh delapan persen ayah di Sumatera Barat membicarakan topik yang berhubungan dengan persalinan dengan seseorang, dan hanya 55 persen ayah yang berdiam di Lampung melakukannya. Tabel Persiapan persalinan Persentase kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ayahnya membicarakan topik khusus tentang persalinan, menurut karakteristik latar belakang ayah, Indonesia Karakteristik latar belakang Tempat persalinan Topik yang dibicarakan Penolong persalinan Transportasi Pembayaran Donor darah Salah satu topik Tidak ada topik yang dibicarakan Jumlah ayah Umur * * * * * * * ,6 33,1 59,5 63,5 6,5 82,6 17, ,8 30,0 64,1 56,6 4,5 78,1 21, ,9 37,5 68,0 60,5 7,6 78,0 22, ,3 30,8 63,4 54,3 6,7 78,8 21, ,9 32,0 58,5 58,1 6,3 73,0 27, ,1 32,5 64,4 48,4 8,9 69,9 30, ,0 22,3 54,4 38,9 3,2 60,7 39,3 96 Daerah tempat tinggal Perkotaan 72,9 39,3 65,4 62,5 7,0 81,7 18, Pedesaan 58,2 26,4 62,0 51,8 5,8 72,5 27, Pendidikan Tidak sekolah 41,9 21,4 49,6 41,6 8,9 54,2 45,8 93 Tidak tamat SD 53,5 30,4 59,6 49,2 5,0 66,3 33,7 553 Tamat SD 64,4 30,1 59,0 60,6 4,1 77,8 22, Tidak tamat SLTP 63,8 27,0 62,0 55,7 4,5 76,3 23,7 800 SLTP + 74,3 40,3 71,6 59,5 10,1 83,2 16, Jumlah 65,3 32,6 63,6 57,0 6,4 76,9 23, Catatan: tanda bintang menunjukkan angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya sebelum dibobot kurang dari 25. Peranserta Pria dalam Perawatan Kesehatan Keluarga 195

219 DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik (BPS) [Indonesia] Sensus Penduduk Jakarta: BPS. Badan Pusat Statistik (BPS) [Indonesia], Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Departemen Kesehatan, dan Macro International Inc. (MI) Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Columbia, Maryland: BPS dan MI. Badan Pusat Statistik (BPS) [Indonesia], Kantor Menteri Negara Kependudukan/BKKBN, Departemen Kesehatan, dan Macro International Inc. (MI) Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Columbia, Maryland: BPS dan MI. Badan Pusat Statistik (BPS) [Indonesia], Kantor Menteri Negara Kependudukan/BKKBN, Departemen Kesehatan, dan Macro International Inc. (MI) Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Calverton, Maryland, USA: BPS dan MI. Badan Pusat Statistik (BPS) [Indonesia], UNICEF, dan Departemen Kesehatan (Depkes) Pendidikan dan kesehatan ibu dan anak, Indonesia, Multiple Indicators Cluster Survey (MICS). Jakarta, Indonesia: BPS. BPS-Statistik Indonesia (BPS) [Indonesia] Estimasi fertilitas, mortalitas dan migrasi: Hasil Sensus Penduduk Jakarta, Indonesia: BPS. BPS-Statistik Indonesia (BPS) [Indonesia] Laporan Pendahuluan-Hasil Sensus Penduduk 2000 (Seri L2.1). Jakarta, Indonesia: BPS. BPS-Statistik Indonesia (BPS) [Indonesia]. 2002a. Profil Penduduk Indonesia Jakarta, Indonesia: BPS. BPS-Statistik Indonesia (BPS) [Indonesia]. 2002b. Statistik Kesejahteraan Rakyat Jakarta, Indonesia: BPS. BPS-Statistik Indonesia (BPS) [Indonesia] Statistical year book of Indonesia Jakarta, Indonesia: BPS. Helen Keller International (HKI) Homestead food production A strategy to combat malnutrition and poverty. Jakarta, Indonesia: HKI. Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia] Upaya Akselerasi Penurunan Angka Kematian Ibu. Jakarta, Indonesia: Depkes. 6-7, Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia] Petunjuk pelaksanaan program imunisasi di Indonesia. Jakarta, Indonesia: Depkes. 1, 4, 34, and 63. Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia] Challenges and opportunities for action Jakarta, Indonesia: Depkes Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia]. 2001a. Yang perlu diketahui petugas kesehatan tentang kesehatan reproduksi. Jakarta, Indonesia: Depkes Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia]. 2001b. National Strategic Plan for Making Pregnancy Safer (MPS) in Indonesia Jakarta, Indonesia: Depkes. 4, 5, and 16. Daftar Pustaka 197

220 Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia]. 2001c. Program Kesehatan Reproduksi dan Pelayanan Integratif di Tingkat Pelayanan Dasar. Jakarta, Indonesia: Depkes Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia]. 2002a. Guidance for complementary feeding. Jakarta, Indonesia: Depkes. Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia]. 2002b. Lactation management. A handbook for midwives and health provider in public health centers. Jakarta, Indonesia: Depkes. Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia]. 2002c. Balanced nutrition for under five healthy living children. Jakarta, Indonesia: Depkes. Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia]. 2002d. Mother and child health handbook. Jakarta, Indonesia: Depkes. Departemen Kesehatan (Depkes) [Indonesia]. 2002e. Balanced nutrition for healthy living for pregnant and lactating women. Jakarta, Indonesia: Depkes. Mosley, W.H., and L.C. Chen An analytical framework for the study of child survival in developing countries. In Child survival: Strategies for research, ed. W.H. Mosley and Lincoln C. Chen, Population and development review 10, Supplement. New York: The Population Council. Rutstein, S.O Factors associated with trends in infant and child mortality in developing countries during the 1990s. Bulletin of the World Health Organization 78(10). Sullivan, J.M., S.O. Rutstein, and G.T. Bicego Infant and child mortality. DHS Comparative Studies No. 15. Calverton, Maryland: Macro International Inc. Westoff, C.F., and L.H. Ochoa Unmet need and demand for family planning. DHS Comparative Studies No. 5. Columbia, Maryland: Institute for Resource Development. 198 Daftar Pustaka

221 TABEL PROPINSI Lampiran A BAB 3 KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN STATUS WANITA Tabel A.3.1 Distribusi responden menurut propinsi Distribusi persentase wanita pernah kawin dan pria kawin menurut propinsi, Indonesia Propinsi Persentase tertimbang Tertimbang Jumlah wanita pernah kawin Tak tertimbang Persentase tertimbang Tertimbang Jumlah pria kawin Tak tertimbang Sumatera Sumatera Utara 7, , Sumatera Barat 2, , Riau 2, , Jambi 1, , Sumatera Selatan 2, , Bengkulu 0, , Lampung 3, , Bangka-Belitung 0, , Jawa DKI Jakarta 3, , Jawa Barat 19, , Jawa Tengah 14, , DI Yogyakarta 1, , Jawa Timur 18, , Banten 4, , Bali dan Nusa Tenggara Bali 1, , Nusa Tenggara Barat 2, , Nusa Tenggara Timur 1, , Kalimantan Kalimantan Barat 1, , Kalimantan Tengah 1, , Kalimantan Selatan 1, , Kalimantan Timur 1, , Sulawesi Sulawesi Utara 1, , Sulawesi Tengah 1, , Sulawesi Selatan 3, , Sulawesi Tenggara 0, , Gorontalo 0, , Jumlah 100, , Lampiran A 199

222 Tabel A Tingkat pendidikan menurut propinsi: wanita pernah kawin Distribusi persentase wanita menurut tingkat pendidikan tertinggi yang diduduki atau diselesaikan, dan median lamanya tahun sekolah, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Tidak sekolah Tingkat pendidikan tertinggi yang diduduki atau diselesaikan Tidak tamat SD Tamat SD 1) Tidak tamat SLTP Tamat SLTP 2) SLTP+ Jumlah Jumlah responden Median lamanya tahun sekolah Sumatera Sumatera Utara 3,8 14,5 28,3 22,6 26,0 4,7 100, ,0 Sumatera Barat 2,6 17,0 22,0 22,6 23,6 12,3 100, ,3 Riau 4,5 18,7 27,1 22,2 22,0 5,5 100, ,0 Jambi 7,2 19,2 33,5 16,4 18,3 5,3 100, ,7 Sumatera Selatan 4,1 22,4 39,5 16,2 12,8 5,1 100, ,6 Bengkulu 5,9 22,9 24,7 23,4 16,8 6,4 100, ,8 Lampung 5,2 27,9 34,2 15,3 13,7 3,7 100, ,5 Bangka-Belitung 9,3 32,8 27,4 13,1 13,5 3,9 100, ,3 Jawa DKI Jakarta 3,4 10,4 25,5 23,1 25,8 11,8 100, ,4 Jawa Barat 7,7 18,3 44,4 14,9 11,9 2,9 100, ,5 Jawa Tengah 10,1 21,1 38,5 15,8 10,7 3,8 100, ,5 DI Yogyakarta 6,3 14,6 25,2 23,2 19,9 10,7 100, ,0 Jawa Timur 8,1 21,5 32,4 16,5 16,0 5,5 100, ,6 Banten 8,9 25,0 28,4 15,3 15,7 6,6 100, ,6 Bali dan Nusa Tenggara Bali 12,5 13,4 28,5 13,8 23,7 8,1 100, ,8 Nusa Tenggara Barat 26,6 25,0 23,5 14,5 8,9 1,5 100, ,6 Nusa Tenggara Timur 9,0 19,5 44,3 15,0 9,6 2,5 100, ,5 Kalimantan Kalimantan Barat 20,6 22,8 21,1 18,2 13,0 4,4 100, ,3 Kalimantan Tengah 3,8 22,4 30,0 24,0 15,1 4,7 100, ,8 Kalimantan Selatan 8,5 24,6 33,6 16,9 13,5 2,9 100, ,5 Kalimantan Timur 4,6 17,3 26,3 23,0 21,8 7,0 100, ,7 Sulawesi Sulawesi Utara 0,8 18,8 20,1 24,8 28,6 6,8 100, ,2 Sulawesi Tengah 5,2 19,2 34,6 20,9 15,4 4,5 100, ,7 Sulawesi Selatan 10,3 23,8 24,0 18,4 18,0 5,5 100, ,6 Sulawesi Tenggara 10,3 15,7 29,7 22,9 18,1 3,3 100, ,8 Gorontalo 2,2 26,3 30,8 20,8 16,6 3,3 100, ,7 Jumlah 7,9 20,0 33,9 17,4 15,8 4,9 100, ,6 1 Menamatkan/menyelesaikan tingkat 6 pada Sekolah Dasar (SD) 2 Menamatkan/menyelesaikan tingkat 6 pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 200 Lampiran A

223 Tabel A Tingkat pendidikan menurut propinsi: pria kawin Distribusi persentase pria menurut tingkat pendidikan tertinggi yang diduduki atau diselesaikan, dan median lamanya tahun sekolah, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Tingkat pendidikan tertinggi yang diduduki atau diselesaikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD 1) Tidak tamat SLTP Tamat SLTP 2) SLTP+ Jumlah Jumlah responden Median lamanya tahun sekolah Sumatera Sumatera Utara 1,4 14,5 24,0 22,9 30,0 7,2 100, ,4 Sumatera Barat 3,8 21,1 22,7 20,7 22,3 9,4 100, ,4 Riau 3,1 11,0 27,0 22,5 25,7 10,7 100, ,4 Jambi 2,4 14,7 33,1 22,0 21,2 6,7 100, ,0 Sumatera Selatan 3,0 16,8 35,3 18,5 21,3 5,1 100, ,9 Bengkulu 2,8 16,0 25,2 23,5 21,9 10,6 100,0 44 7,6 Lampung 2,9 20,4 31,7 22,9 15,2 7,0 100, ,8 Bangka-Belitung 3,5 24,7 32,3 16,9 18,8 3,7 100,0 40 5,7 Jawa DKI Jakarta 0,8 4,6 21,0 18,9 38,9 15,7 100, ,1 Jawa Barat 2,9 21,7 41,0 13,1 17,4 3,8 100, ,6 Jawa Tengah 6,5 22,8 35,2 18,5 12,5 4,4 100, ,6 DI Yogyakarta 2,9 13,4 21,8 20,5 26,6 14,8 100, ,5 Jawa Timur 4,9 26,5 25,5 17,8 16,0 9,3 100, ,7 Banten 1,1 21,3 23,9 13,8 29,3 10,5 100, ,1 Bali dan Nusa Tenggara Bali 5,9 9,3 26,3 14,8 31,3 12,4 100, ,6 Nusa Tenggara Barat 12,7 27,8 22,2 14,7 14,3 8,3 100, ,4 Nusa Tenggara Timur 8,0 18,5 30,5 18,1 19,0 5,9 100, ,7 Kalimantan Kalimantan Barat 12,4 30,3 18,3 15,6 18,8 4,6 100, ,4 Kalimantan Tengah 3,1 14,4 30,6 25,7 21,4 4,9 100,0 97 7,1 Kalimantan Selatan 4,5 22,1 25,8 21,0 20,6 6,1 100, ,9 Kalimantan Timur 2,9 15,6 19,1 16,2 32,2 13,9 100, ,7 Sulawesi Sulawesi Utara 0,2 18,5 15,1 26,9 28,4 10,9 100,0 95 8,5 Sulawesi Tengah 2,2 11,7 32,4 23,2 23,8 6,7 100, ,9 Sulawesi Selatan 8,5 30,8 14,0 13,6 19,3 13,8 100, ,7 Sulawesi Tenggara 3,8 20,5 24,9 18,3 25,3 7,3 100,0 77 6,0 Gorontalo 1,4 39,2 26,9 18,8 12,9 0,9 100,0 41 5,4 Jumlah 4,1 20,8 29,6 17,8 20,2 7,4 100, ,8 1 Menamatkan/menyelesaikan tingkat 6 pada Sekolah Dasar (SD) 2 Menamatkan/menyelesaikan tingkat 6 pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Lampiran A 201

224 Tabel A Melek huruf menurut propinsi: wanita pernah kawin Distribusi persentase wanita pernah kawin menurut tingkat pendidikan tertinggi yang diduduki atau diselesaikan dan tingkat melek huruf, dan persentase melek huruf, menurut propinsi, Indonesia Propinsi SLTP+ Bisa membaca seluruh kalimat Tidak sekolah atau Sekolah Dasar (SD) Bisa membaca sebagian kalimat Tidak bisa membaca sama sekali Tak terjawab Jumlah Jumlah wanita pernah kawin Persentase melek huruf 1 Sumatera Sumatera Utara 53,4 35,3 2,8 7,4 1,1 100, ,5 Sumatera Barat 58,5 29,9 2,7 8,8 0,2 100, ,1 Riau 49,7 32,2 6,3 9,2 2,6 100, ,2 Jambi 40,0 33,6 12,8 13,4 0,1 100, ,5 Sumatera Selatan 34,0 48,0 10,8 6,1 1,1 100, ,8 Bengkulu 46,6 38,9 4,0 10,3 0,2 100, ,4 Lampung 32,7 46,0 8,8 12,4 0,1 100, ,5 Bangka-Belitung 30,5 40,4 16,2 12,1 0,7 100, ,1 Jawa DKI Jakarta 60,7 28,7 4,8 5,3 0,6 100, ,2 Jawa Barat 29,6 49,8 9,7 10,3 0,7 100, ,1 Jawa Tengah 30,3 43,1 9,9 16,5 0,2 100, ,3 DI Yogyakarta 53,8 30,1 6,1 9,8 0,1 100, ,1 Jawa Timur 37,9 35,7 9,3 16,7 0,3 100, ,0 Banten 37,7 40,1 7,2 13,6 1,4 100, ,0 Bali dan Nusa Tenggara Bali 45,6 34,2 6,6 13,0 0,6 100, ,4 Nusa Tenggara Barat 24,9 35,0 6,7 33,0 0,3 100, ,7 Nusa Tenggara Timur 27,1 43,7 12,3 14,0 2,8 100, ,1 Kalimantan Kalimantan Barat 35,5 29,8 7,6 27,0 0,1 100, ,9 Kalimantan Tengah 43,8 39,3 10,3 6,0 0,5 100, ,5 Kalimantan Selatan 33,3 45,9 8,6 11,8 0,4 100, ,7 Kalimantan Timur 51,8 32,4 7,7 8,1 0,0 100, ,9 Sulawesi Sulawesi Utara 60,3 33,1 3,1 2,8 0,7 100, ,4 Sulawesi Tengah 40,9 39,5 9,0 10,6 0,1 100, ,3 Sulawesi Selatan 41,9 30,9 9,9 16,9 0,4 100, ,7 Sulawesi Tenggara 44,3 30,2 9,7 14,9 0,9 100, ,2 Gorontalo 40,7 37,6 11,5 8,4 1,8 100, ,9 Jumlah 38,2 39,8 8,4 13,0 0,6 100, ,4 1 Merujuk pada responden yang pernah menduduki sekolah lanjutan tingkat pertama atau lebih tinggi (SLTP+) dan responden yang bisa membaca sebagian atau seluruh kalimat 202 Lampiran A

225 Tabel A Melek huruf menurut propinsi: pria kawin Distribusi persentase pria kawin menurut tingkat pendidikan tertinggi yang diduduki atau diselesaikan dan tingkat melek huruf, dan persentase melek huruf, menurut propinsi, Indonesia Propinsi SLTP+ Bisa membaca seluruh kalimat Tidak sekolah atau Sekolah Dasar (SD) Bisa membaca sebagian kalimat Tidak bisa membaca sama sekali Tak terjawab Jumlah Jumlah pria kawin Persentase melek huruf 1 Sumatera Sumatera Utara 60,1 35,5 1,6 2,1 0,7 100, ,2 Sumatera Barat 52,4 35,9 2,6 9,0 0,1 100, ,8 Riau 58,9 30,9 4,8 4,5 0,9 100, ,6 Jambi 49,9 41,7 2,7 5,4 0,3 100, ,3 Sumatera Selatan 44,9 42,3 8,6 4,0 0,2 100, ,8 Bengkulu 55,9 38,9 2,8 2,0 0,4 100, ,6 Lampung 45,0 35,0 13,3 6,8 0,0 100, ,2 Bangka-Belitung 39,4 46,3 7,5 6,7 0,0 100, ,3 Jawa DKI Jakarta 73,6 23,7 2,0 0,5 0,2 100, ,3 Jawa Barat 34,3 55,4 7,3 3,1 0,0 100, ,9 Jawa Tengah 35,4 46,5 9,5 8,6 0,0 100, ,4 DI Yogyakarta 61,9 30,1 1,8 6,3 0,0 100, ,7 Jawa Timur 43,1 37,9 7,5 11,5 0,0 100, ,5 Banten 53,6 36,2 5,1 3,9 1,1 100, ,0 Bali dan Nusa Tenggara Bali 58,4 30,8 6,2 4,5 0,1 100, ,4 Nusa Tenggara Barat 37,3 42,7 2,4 17,7 0,0 100, ,3 Nusa Tenggara Timur 43,0 27,2 10,7 19,1 0,0 100, ,9 Kalimantan Kalimantan Barat 39,0 38,5 8,1 14,5 0,0 100, ,5 Kalimantan Tengah 52,0 38,1 5,3 4,5 0,2 100, ,3 Kalimantan Selatan 47,6 37,8 9,6 4,9 0,0 100, ,1 Kalimantan Timur 62,4 29,9 1,2 6,5 0,1 100, ,5 Sulawesi Sulawesi Utara 66,3 25,0 5,8 2,7 0,2 100, ,1 Sulawesi Tengah 53,8 37,1 3,9 5,2 0,0 100, ,8 Sulawesi Selatan 46,7 32,2 5,5 15,6 0,0 100, ,4 Sulawesi Tenggara 50,8 36,8 4,9 7,5 0,0 100, ,5 Gorontalo 32,6 45,3 10,4 11,7 0,0 100, ,3 Jumlah 45,5 40,9 6,5 6,9 0,2 100, ,9 1 Merujuk pada responden yang pernah menduduki sekolah lanjutan pertama atau lebih tinggi (SLTP+) dan responden yang bisa membaca sebagian atau seluruh kalimat Lampiran A 203

226 Tabel A Akses terhadap media massa menurut propinsi: wanita pernah kawin Persentase wanita pernah kawin yang biasanya membaca surat kabar paling sedikit sekali seminggu, menonton televisi (TV) paling sedikit sekali seminggu, dan mendengarkan radio paling sedikit sekali seminggu, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Membaca surat kabar paling sedikit sekali seminggu Menonton TV paling sedikit sekali seminggu Mendengarkan radio paling sedikit sekali seminggu Akses terhadap ketiga media massa Tidak ada akses terhadap media massa Jumlah Sumatera Sumatera Utara 14,1 68,2 27,0 7,0 28, Sumatera Barat 22,5 74,1 37,3 12,5 19,9 705 Riau 21,5 79,4 31,1 10,5 15,3 660 Jambi 17,1 77,8 35,2 10,6 16,6 382 Sumatera Selatan 18,1 68,1 41,9 11,8 24,3 809 Bengkulu 25,9 76,8 51,1 17,5 16,1 159 Lampung 15,7 80,1 53,2 8,6 10,4 984 Bangka-Belitung 14,5 76,7 20,1 4,5 19,2 128 Jawa DKI Jakarta 36,5 90,7 36,6 20,3 7, Jawa Barat 11,4 79,8 35,3 6,6 15, Jawa Tengah 11,5 78,6 44,9 8,4 16, DI Yogyakarta 31,6 87,2 69,0 23,7 5,2 367 Jawa Timur 12,7 80,8 35,9 7,8 15, Banten 24,4 79,5 29,2 10,2 16, Bali dan Nusa Tenggara Bali 16,5 83,5 43,1 10,5 13,6 465 Nusa Tenggara Barat 6,0 51,4 40,2 4,3 35,6 583 Nusa Tenggara Timur 11,9 20,0 25,0 5,9 64,2 460 Kalimantan Kalimantan Barat 17,6 67,2 42,0 10,5 24,4 477 Kalimantan Tengah 8,9 69,5 49,7 6,0 19,2 297 Kalimantan Selatan 15,7 79,2 59,7 12,0 11,5 470 Kalimantan Timur 25,1 84,4 22,6 7,7 10,9 447 Sulawesi Sulawesi Utara 28,2 77,5 41,4 19,7 18,0 310 Sulawesi Tengah 13,3 57,0 30,4 8,7 36,0 347 Sulawesi Selatan 13,9 74,1 45,7 10,3 18, Sulawesi Tenggara 9,2 53,9 47,0 5,8 30,1 251 Gorontalo 14,8 55,1 42,8 12,5 37,1 153 Jumlah 15,2 76,4 38,1 9,0 18, Lampiran A

227 Tabel A Akses terhadap media massa menurut propinsi: pria kawin Persentase pria kawin yang biasanya membaca surat kabar paling sedikit sekali seminggu, menonton televisi (TV) paling sedikit sekali seminggu, mendengarkan radio paling sedikit sekali seminggu, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Membaca surat kabar paling sedikit sekali seminggu Menonton TV paling sedikit sekali seminggu Mendengarkan radio paling sedikit sekali seminggu Akses terhadap ketiga media massa Tidak ada akses terhadap media massa Jumlah Sumatera Sumatera Utara 32,6 71,5 38,5 19,4 23,9 663 Sumatera Barat 35,3 86,0 38,2 17,3 10,7 182 Riau 33,3 85,2 43,1 19,3 11,0 199 Jambi 20,3 84,5 43,6 13,7 8,3 114 Sumatera Selatan 26,1 75,3 56,3 16,1 18,7 259 Bengkulu 17,2 69,4 35,1 6,6 24,4 44 Lampung 25,0 76,7 48,0 13,9 14,9 261 Bangka-Belitung 28,5 93,3 41,3 15,7 3,1 40 Jawa DKI Jakarta 65,4 94,1 55,1 42,3 3,4 310 Jawa Barat 27,4 75,0 48,1 16,8 16, Jawa Tengah 22,7 78,6 43,5 11,7 15, DI Yogyakarta 43,9 90,9 66,9 27,8 2,9 103 Jawa Timur 25,6 87,4 41,2 14,6 9, Banten 38,2 89,1 47,4 20,1 6,9 396 Bali dan Nusa Tenggara Bali 44,5 87,5 66,2 40,3 8,5 138 Nusa Tenggara Barat 14,5 73,1 51,4 9,7 18,4 145 Nusa Tenggara Timur 19,9 27,0 32,9 12,7 56,4 122 Kalimantan Kalimantan Barat 27,3 64,9 43,7 11,8 21,9 119 Kalimantan Tengah 20,9 74,9 57,5 18,3 15,0 97 Kalimantan Selatan 28,4 83,9 48,0 17,4 12,1 109 Kalimantan Timur 42,8 90,6 30,3 15,0 7,7 115 Sulawesi Sulawesi Utara 56,5 90,4 58,9 44,7 6,6 95 Sulawesi Tengah 18,2 63,6 38,9 14,9 31,4 114 Sulawesi Selatan 25,8 75,5 52,7 12,1 12,9 237 Sulawesi Tenggara 11,0 57,1 38,0 6,6 31,9 77 Gorontalo 24,1 61,7 58,9 21,7 29,1 41 Jumlah 29,1 79,3 45,6 17,2 14, Lampiran A 205

228 Tabel A Status pekerjaan menurut propinsi: wanita Distribusi persentase wanita pernah kawin menurut status pekerjaan dan propinsi, Indonesia Propinsi Bekerja dalam 12 bulan terakhir Sekarang sedang bekerja Sekarang sedang tidak bekerja Tidak bekerja dalam 12 bulan terakhir Jumlah Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 58,9 1,5 39,6 100, Sumatera Barat 57,5 2,4 40,1 100,0 705 Riau 41,2 1,8 56,9 100,0 660 Jambi 48,7 1,3 49,9 100,0 382 Sumatera Selatan 59,6 2,9 37,6 100,0 809 Bengkulu 74,7 1,8 23,4 100,0 159 Lampung 57,5 2,0 40,5 100,0 984 Bangka-Belitung 41,0 2,5 56,5 100,0 128 Jawa DKI Jakarta 44,4 2,9 52,7 100, Jawa Barat 37,6 2,1 60,3 100, Jawa Tengah 61,2 1,4 37,4 100, DI Yogyakarta 73,7 3,1 23,2 100,0 367 Jawa Timur 52,3 1,3 46,4 100, Banten 39,4 1,6 58,9 100, Bali dan Nusa Tenggara Bali 65,3 2,6 32,1 100,0 465 Nusa Tenggara Barat 72,2 3,3 24,5 100,0 583 Nusa Tenggara Timur 80,3 2,8 16,9 100,0 460 Kalimantan Kalimantan Barat 60,4 2,0 37,6 100,0 477 Kalimantan Tengah 27,0 0,4 72,4 100,0 297 Kalimantan Selatan 54,5 1,6 43,9 100,0 470 Kalimantan Timur 36,1 1,9 62,0 100,0 447 Sulawesi Sulawesi Utara 37,2 0,4 62,4 100,0 310 Sulawesi Tengah 60,4 2,2 37,4 100,0 347 Sulawesi Selatan 34,3 1,8 63,8 100, Sulawesi Tenggara 52,6 1,4 46,0 100,0 251 Gorontalo 35,5 1,5 62,9 100,0 153 Jumlah 50,7 1,8 47,4 100, Lampiran A

229 Tabel A Status pekerjaan menurut propinsi: pria Distribusi persentase pria kawin menurut status pekerjaan dan propinsi, Indonesia Propinsi Bekerja dalam 12 bulan terakhir Sekarang sedang bekerja Sekarang sedang tidak bekerja Tidak bekerja dalam 12 bulan terakhir Jumlah Jumlah pria Sumatera Sumatera Utara 97,2 2,1 0,7 100,0 663 Sumatera Barat 95,5 2,7 1,8 100,0 182 Riau 96,8 1,2 1,3 100,0 199 Jambi 97,5 1,5 1,0 100,0 114 Sumatera Selatan 99,5 0,2 0,3 100,0 259 Bengkulu 99,6 0,2 0,2 100,0 44 Lampung 98,6 1,0 0,5 100,0 261 Bangka-Belitung 97,6 0,6 1,8 100,0 40 Jawa DKI Jakarta 96,0 1,8 2,2 100,0 310 Jawa Barat 96,5 1,9 1,6 100, Jawa Tengah 97,3 1,0 1,7 100, DI Yogyakarta 98,5 1,3 0,2 100,0 103 Jawa Timur 99,1 0,4 0,5 100, Banten 92,8 3,7 3,5 100,0 396 Bali dan Nusa Tenggara Bali 95,9 1,0 3,2 100,0 138 Nusa Tenggara Barat 94,3 4,5 1,2 100,0 145 Nusa Tenggara Timur 97,7 1,1 1,1 100,0 122 Kalimantan Kalimantan Barat 98,3 1,1 0,6 100,0 119 Kalimantan Tengah 97,3 1,0 1,1 100,0 97 Kalimantan Selatan 97,8 1,0 1,2 100,0 109 Kalimantan Timur 95,0 2,5 2,5 100,0 115 Sulawesi Sulawesi Utara 99,4 0,0 0,6 100,0 95 Sulawesi Tengah 98,3 1,0 0,7 100,0 114 Sulawesi Selatan 97,7 1,9 0,3 100,0 237 SouthSulawesi Timur 98,1 0,7 1,0 100,0 77 Gorontalo 99,6 0,0 0,4 100,0 41 Jumlah 97,3 1,4 1,3 100, Lampiran A 207

230 Tabel A.3.6 Keputusan atas penggunaan pendapatan dan sumbangan pendapatan wanita terhadap pengeluaran rumah tangga menurut propinsi Distribusi persentase wanita pernah kawin yang bekerja dalam 12 bulan terakhir yang memperoleh pendapatan berupa uang menurut orang yang menentukan keputusan dalam penggunaan pendapatan dan menurut proporsi pemenuhan pengeluaran rumah tangga menurut pendapatan dan propinsi, Indonesia Orang yang menentukan keputusan Proporsi pemenuhan pengeluaran atas penggunaan pendapatan rumah tangga menurut pendapatan Hanya Tak Hampir Kurang Setengah Diri Ber- orang ter- tdk ada/ dari se- atau Tak ter- Jumlah Propinsi sendiri sama 1 lain 2 jawab Jumlah tdk ada tengah lebih Semua jawab Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 59,0 37,9 1,9 1,2 100,0 7,8 10,8 40,2 40,8 0,3 100,0 748 Sumatera Barat 68,1 28,2 3,7 0,0 100,0 8,3 7,7 36,9 47,0 0,1 100,0 247 Riau 49,1 47,7 2,1 1,0 100,0 3,1 9,2 45,5 38,3 3,9 100,0 180 Jambi 62,6 30,5 2,2 4,7 100,0 0,9 17,1 44,2 37,8 0,0 100,0 78 Sumatera Selatan 68,1 27,9 0,9 3,1 100,0 1,7 23,3 46,8 27,3 0,9 100,0 161 Bengkulu 62,1 35,2 0,3 2,4 100,0 4,1 20,1 40,2 34,7 0,8 100,0 41 Lampung 62,0 34,5 2,0 1,5 100,0 4,4 15,7 52,2 27,4 0,2 100,0 246 Bangka-Belitung 71,3 26,8 1,2 0,8 100,0 3,2 3,9 31,0 60,4 1,6 100,0 35 Jawa DKI Jakarta 81,5 16,7 1,1 0,7 100,0 6,1 9,4 40,7 42,7 1,1 100,0 433 Jawa Barat 73,8 21,8 2,6 1,8 100,0 1,3 7,4 45,0 45,9 0,4 100, Jawa Tengah 66,4 32,4 0,5 0,7 100,0 0,7 7,4 34,1 57,6 0,2 100, DI Yogyakarta 71,0 27,3 1,4 0,4 100,0 2,0 14,3 53,0 30,8 0,0 100,0 193 Jawa Timur 70,2 27,8 1,2 0,7 100,0 2,8 8,1 41,8 46,2 1,1 100, Banten 79,8 15,8 1,3 3,2 100,0 2,6 18,7 56,7 18,8 3,2 100,0 432 Bali dan Nusa Tenggara Bali 43,8 54,1 1,9 0,2 100,0 1,6 30,3 46,5 19,8 1,8 100,0 267 Nusa Tenggara Barat 61,0 35,6 3,0 0,4 100,0 1,1 8,0 28,3 62,1 0,5 100,0 279 Nusa Tenggara Timur 47,5 45,3 5,9 1,2 100,0 6,1 15,3 41,0 36,3 1,2 100,0 60 Kalimantan Kalimantan Barat 62,8 29,6 5,7 1,8 100,0 4,3 2,7 46,7 46,1 0,1 100,0 119 Kalimantan Tengah 48,9 48,7 1,2 1,2 100,0 2,2 8,9 30,8 55,7 2,4 100,0 43 Kalimantan Selatan 60,6 34,3 1,3 3,9 100,0 1,6 9,4 37,8 51,2 0,0 100,0 143 Kalimantan Timur 71,4 27,4 1,0 0,2 100,0 6,4 22,6 46,8 22,7 1,6 100,0 131 Sulawesi Sulawesi Utara 26,1 66,2 6,0 1,7 100,0 2,8 19,9 61,2 14,6 1,6 100,0 58 Sulawesi Tengah 59,4 36,8 2,3 1,4 100,0 3,9 43,5 39,5 11,5 1,6 100,0 85 Sulawesi Selatan 87,8 11,9 0,0 0,3 100,0 0,7 12,3 57,7 28,6 0,6 100,0 169 Sulawesi Tenggara 76,6 19,8 1,8 1,8 100,0 3,9 19,9 47,1 21,1 8,0 100,0 49 Gorontalo 72,6 24,6 2,1 0,7 100,0 3,5 8,4 63,2 24,9 0,0 100,0 36 Jumlah 68,0 29,1 1,7 1,2 100,0 2,8 10,7 42,3 43,3 0,9 100, Dengan suami atau orang lain 2 Termasuk suami 208 Lampiran A

231 Tabel A.3.7 Partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan menurut propinsi Persentase wanita pernah kawin yang mengatakan bahwa mereka sendiri atau bersama orang lain dalam menentukan keputusan tertentu menurut propinsi, Indonesia Propinsi Pemeriksaan kesehatan responden Memutuskan sendiri atau bersama orang lain dalam : Pembelian barang tahan lama Pembelian kebutuhan sehari-hari Kunjungan ke keluarga Menentukan jenis makanan yang dimasak setiap hari Semua jenis keputusan Tidak ada keputusan tertentu Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 83,7 86,6 95,0 89,5 96,2 70,2 0, Sumatera Barat 77,8 75,5 92,4 84,7 95,3 58,7 1,6 705 Riau 82,2 83,6 91,7 90,1 92,9 68,0 2,8 660 Jambi 88,0 87,4 97,3 85,2 94,6 77,8 0,3 382 Sumatera Selatan 91,2 76,9 94,8 78,3 89,2 66,0 1,0 809 Bengkulu 81,7 76,2 92,2 84,6 96,3 67,1 0,7 159 Lampung 80,9 75,4 96,0 87,1 98,0 60,7 0,7 984 Bangka-Belitung 80,0 72,4 91,6 84,0 95,6 62,1 3,1 128 Jawa DKI Jakarta 97,3 85,0 96,9 90,6 94,6 76,6 0, Jawa Barat 83,2 68,9 96,3 84,5 98,2 57,5 0, Jawa Tengah 93,3 85,1 98,2 93,3 98,7 79,6 0, DI Yogyakarta 89,5 82,6 97,6 92,2 95,7 70,5 0,1 367 Jawa Timur 88,7 87,0 97,5 82,3 97,1 69,2 0, Banten 84,7 80,7 95,8 87,9 96,4 65,8 0, Bali dan Nusa Tenggara Bali 89,4 77,5 94,7 89,2 92,2 67,8 1,3 465 Nusa Tenggara Barat 82,4 76,3 96,0 82,3 96,4 60,0 0,7 583 Nusa Tenggara Timur 83,1 85,1 91,8 91,0 94,8 74,6 2,1 460 Kalimantan Kalimantan Barat 64,6 70,2 90,0 85,6 96,1 49,7 0,9 477 Kalimantan Tengah 97,3 81,0 97,1 89,1 98,3 72,1 0,4 297 Kalimantan Selatan 91,5 87,6 93,7 91,4 96,0 77,8 0,9 470 Kalimantan Timur 89,3 85,5 97,3 92,2 96,4 74,9 0,6 447 Sulawesi Sulawesi Utara 95,8 96,9 98,6 96,7 98,7 91,0 0,4 310 Sulawesi Tengah 91,0 89,1 97,1 92,0 98,1 78,1 0,0 347 Sulawesi Selatan 87,0 91,0 97,7 92,3 97,8 77,6 0, Sulawesi Tenggara 85,7 87,4 98,4 85,8 98,9 72,5 0,0 251 Gorontalo 82,6 74,8 93,2 86,7 96,1 60,8 0,9 153 Jumlah 86,9 81,1 96,3 87,2 96,9 68,4 0, Lampiran A 209

232 Tabel A.3.8 Sikap wanita atas pemukulan suami terhadap istri menurut propinsi Persentase wanita pernah kawin yang menyetujui suami berhak memukul istri karena alasan-alasan tertentu menurut propinsi, Indonesia Propinsi Memasak makanan yang tidak bisa dimakan Suami berhak memukul istri bila : Bertengkar dengan suami Pergi tanpa memberitahu suami Mengabaikan anakanaknya Menolak kumpul dengan suami Persentase responden yang menyetujui dengan paling sedikit ada satu alasan tertentu Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 2,3 4,4 17,0 24,2 4,9 29, Sumatera Barat 4,6 8,0 33,5 32,8 9,1 43,1 705 Riau 5,4 7,8 36,4 36,7 12,7 44,0 660 Jambi 1,6 3,3 11,5 12,3 5,4 15,6 382 Sumatera Selatan 3,5 4,9 14,4 22,7 10,9 28,0 809 Bengkulu 4,4 13,0 44,3 45,5 15,4 54,3 159 Lampung 2,0 5,4 21,6 23,3 7,3 28,6 984 Bangka-Belitung 10,1 13,6 45,2 44,6 17,4 57,1 128 Jawa DKI Jakarta 0,5 1,2 7,4 10,4 3,2 13, Jawa Barat 2,2 3,4 16,8 17,4 8,4 23, Jawa Tengah 1,2 2,2 9,2 9,6 3,2 14, DI Yogyakarta 0,3 3,5 11,9 16,2 3,2 20,2 367 Jawa Timur 0,8 3,3 15,8 14,0 3,1 18, Banten 3,2 3,9 12,5 12,1 6,0 16, Bali dan Nusa Tenggara Bali 8,6 10,7 13,5 14,4 9,6 15,8 465 Nusa Tenggara Barat 7,6 31,5 55,1 56,4 30,2 64,3 583 Nusa Tenggara Timur 13,7 26,9 35,5 37,2 16,4 43,2 460 Kalimantan Kalimantan Barat 3,0 5,6 26,4 31,6 8,7 35,8 477 Kalimantan Tengah 3,0 1,5 11,2 44,6 1,8 45,0 297 Kalimantan Selatan 2,7 9,0 31,2 33,3 11,9 39,5 470 Kalimantan Timur 2,6 1,9 18,9 20,5 3,4 26,6 447 Sulawesi Sulawesi Utara 2,5 4,4 9,7 12,1 3,0 14,2 310 Sulawesi Tengah 13,5 12,5 35,7 35,6 10,5 46,0 347 Sulawesi Selatan 12,0 14,3 27,9 28,4 15,4 34, Sulawesi Tenggara 14,7 5,3 39,8 35,8 10,0 48,0 251 Gorontalo 1,3 4,2 25,4 22,8 2,4 34,0 153 Jumlah 3,0 5,3 18,2 19,6 6,9 24, Lampiran A

233 Tabel A.3.9 Sikap wanita terhadap penolakan kumpul dengan suami menurut propinsi Persentase wanita pernah kawin yang mempercayai kalau istri berhak menolak kumpul dengan suaminya karena alasan-alasan tertentu, menurut Propinsi, Indonesia Istri berhak menolak kumpul dengan suaminya karena istri : Persentase Mengetahui Mengetahui Istri Persentase yang suami suami lelah atau yang setuju setuju tertular kumpul Baru tidak dengan dengan penyakit dengan mela- ingin semua alasan Jumlah Propinsi seksual wanita lain hirkan melakukan alasan lainnya wanita Sumatera Sumatera Utara 85,5 81,4 91,2 58,7 50,4 5, Sumatera Barat 74,9 74,9 91,9 59,8 46,8 6,5 705 Riau 72,3 75,7 88,6 61,6 47,3 8,8 660 Jambi 84,2 84,2 89,5 73,2 69,0 9,5 382 Sumatera Selatan 65,8 60,8 72,4 41,3 32,0 18,6 809 Bengkulu 80,5 83,0 93,3 59,7 51,7 4,4 159 Lampung 85,0 85,5 91,7 65,2 59,7 6,6 984 Bangka-Belitung 84,0 79,7 88,4 68,0 58,9 8,6 128 Jawa DKI Jakarta 95,2 91,3 98,2 70,8 67,5 1, Jawa Barat 85,1 83,6 90,0 57,0 51,6 7, Jawa Tengah 85,9 87,3 94,5 81,9 73,7 3, DI Yogyakarta 90,7 91,1 95,5 79,2 70,4 1,5 367 Jawa Timur 88,2 84,4 91,6 84,1 75,5 6, Banten 85,4 87,5 94,1 66,4 58,7 5, Bali dan Nusa Tenggara Bali 76,3 74,5 77,7 69,6 66,3 20,9 465 Nusa Tenggara Barat 75,4 78,5 81,3 58,5 49,1 12,6 583 Nusa Tenggara Timur 75,0 74,3 79,0 63,0 52,2 15,7 460 Kalimantan Kalimantan Barat 81,4 88,0 88,8 74,1 62,8 6,8 477 Kalimantan Tengah 92,5 81,8 89,5 76,0 64,8 4,9 297 Kalimantan Selatan 79,9 75,2 91,2 51,4 41,7 3,6 470 Kalimantan Timur 94,9 90,8 96,7 80,7 75,5 1,8 447 Sulawesi Sulawesi Utara 75,1 77,6 82,0 62,1 54,9 13,6 310 Sulawesi Tengah 92,1 85,6 96,7 74,7 69,1 2,4 347 Sulawesi Selatan 85,6 82,7 86,7 70,6 66,1 9, Sulawesi Tenggara 80,4 80,5 84,6 64,5 60,0 13,3 251 Gorontalo 84,5 84,9 86,2 75,7 69,5 9,7 153 Jumlah 84,7 83,3 90,6 69,1 61,6 6, Lampiran A 211

234 BAB 4 FERTILITAS Tabel A.4.1 Angka fertilitas menurut propinsi Angka fertilitas total (TFR) untuk periode tiga tahun sebelum survei, persentase wanita hamil umur tahun, dan rata-rata anak lahir hidup (ALH) terhadap wanita umur tahun, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Angka Fertilitas Total (TFR) 1 Persentase wanita hamil 1 Rata-rata ALH terhadap wanita umur Sumatera Sumatera Utara 3,0 4,0 4,4 Sumatera Barat 3,2 5,7 4,8 Riau 3,2 5,0 4,7 Jambi 2,7 6,7 4,5 Sumatera Selatan 2,3 2,5 4,4 Bengkulu 3,0 4,2 4,8 Lampung 2,7 4,4 4,8 Bangka Belitung 2,4 2,9 4,1 Jawa DKI Jakarta 2,2 3,8 3,5 Jawa Barat 2,8 4,4 4,8 Jawa Tengah 2,1 3,4 3,7 DI Yogyakarta 1,9 3,3 2,9 Jawa Timur 2,1 3,5 3,0 Banten 2,6 4,3 4,5 Bali and Nusa Tenggara Bali 2,1 3,8 3,1 Nusa Tenggara Barat 2,4 5,9 4,9 Nusa Tenggara Timur 4,1 6,0 4,2 Kalimantan Kalimantan Barat 2,9 3,9 4,6 Kalimantan Tengah 3,2 5,5 4,1 Kalimantan Selatan 3,0 4,3 4,3 Kalimantan Timur 2,8 6,1 4,5 Sulawesi Sulawesi Utara 2,6 3,9 2,8 Sulawesi Tengah 3,2 6,0 4,1 Sulawesi Selatan 2,6 3,8 4,1 Sulawesi Tenggara 3,6 6,7 4,7 Gorontalo 2,8 6,8 4,0 Jumlah 2,6 4,1 4,0 1 Wanita umur tahun 212 Lampiran A

235 Tabel A.4.2 Selang kelahiran menurut propinsi Distribusi persentase kelahiran (tidak termasuk kelahiran pertama) selama periode lima tahun sebelum survei menurut jumlah bulan sejak kelahiran sebelumnya dan propinsi, Indonesia Jumlah bulan sejak kelahiran sebelumnya Propinsi Jumlah Jumlah kelahiran tidak termasuk kelahiran pertama Median jumlah bulan sejak kelahiran sebelumnya Sumatera Sumatera Utara 8,7 13,0 24,6 15,5 38,2 100, ,1 Sumatera Barat 7,7 8,6 24,2 20,5 39,1 100, ,8 Riau 5,6 9,4 22,3 15,4 47,2 100, ,9 Jambi 4,3 3,9 20,7 15,7 55,5 100, ,6 Sumatera Selatan 6,2 4,9 17,5 16,9 54,4 100, ,0 Bengkulu 5,2 5,8 16,2 14,8 58,0 100, ,5 Lampung 5,9 6,5 17,0 17,6 53,0 100, ,2 Bangka Belitung 7,3 3,4 11,0 13,5 64,8 100, ,9 Jawa DKI Jakarta 6,4 5,2 16,1 15,9 56,5 100, ,1 Jawa Barat 4,0 5,6 11,8 12,7 65,9 100, ,3 Jawa Tengah 4,3 5,8 11,8 12,1 66,0 100, ,6 DI Yogyakarta 6,1 5,0 10,6 14,5 63,9 100, ,4 Jawa Timur 7,1 5,2 11,4 10,0 66,2 100, ,9 Banten 4,1 4,9 14,3 14,8 61,9 100, ,9 Bali dan Nusa Tenggara Bali 3,0 6,8 13,4 13,2 63,6 100, ,7 Nusa Tenggara Barat 3,4 8,1 19,4 12,9 56,1 100, ,1 Nusa Tenggara Timur 6,5 13,5 23,7 22,8 33,4 100, ,1 Kalimantan Kalimantan Barat 5,5 5,5 17,2 19,2 52,7 100, ,5 Kalimantan Tengah 6,3 7,4 11,5 17,0 57,8 100, ,7 Kalimantan Selatan 2,2 5,2 14,1 13,3 65,2 100, ,1 Kalimantan Timur 7,6 7,1 11,9 18,3 55,0 100, ,8 Sulawesi Sulawesi Utara 4,7 7,4 18,2 13,7 56,0 100, ,0 Sulawesi Tengah 8,1 7,4 18,5 19,0 46,9 100, ,0 Sulawesi Selatan 5,3 11,2 29,5 14,0 40,0 100, ,3 Sulawesi Tenggara 8,8 9,2 25,0 17,1 40,0 100, ,8 Gorontalo 7,1 7,4 22,2 17,3 45,9 100, ,9 Jumlah 5,6 7,1 16,3 14,3 56,6 100, ,2 Catatan: Tidak termasuk kelahiran pertama. Selang kelahiran adalah jumlah bulan sejak kehamilan sebelumnya yang berakhir dengan lahir hidup. Lampiran A 213

236 Tabel A.4.3 Median umur persalinan pertama menurut propinsi Median umur persalinan pertama wanita umur tahun, menurut kelompok umur dan propinsi, Indonesia Kelompok umur Wanita umur Propinsi Sumatera Sumatera Utara 23,1 23,9 23,0 21,9 22,2 22,8 Sumatera Barat 24,8 23,2 21,9 22,0 20,7 22,5 Riau 22,7 22,0 21,0 19,8 20,2 21,4 Jambi 20,9 21,2 19,7 19,3 19,8 20,4 Sumateran Selatan 21,4 21,2 19,9 20,5 20,1 20,6 Bengkulu 21,0 20,3 20,8 20,3 19,3 20,3 Lampung 20,9 20,6 20,0 19,7 19,3 20,1 Bangka Belitung 21,7 21,4 20,4 21,3 22,5 21,4 Java DKI Jakarta a 23,8 22,7 20,9 21,7 23,0 Jawa Barat 20,2 20,5 19,4 19,4 18,8 19,8 Jawa Tengah 21,7 21,0 20,0 20,2 19,7 20,7 DI Yogyakarta 24,4 23,6 21,8 21,8 21,1 22,5 Jawa Timur 22,3 21,8 21,0 19,9 19,7 20,9 Banten 21,3 20,8 20,2 18,6 20,4 20,5 Bali and Nusa Tenggara Bali 23,7 23,7 23,8 21,9 21,3 22,9 Nusa Tenggara Barat 21,4 20,1 20,0 19,9 20,2 20,4 Nusa Tenggara Timur 22,9 24,3 23,2 22,3 22,4 23,2 Kalimantan Kalimantan Barat 21,7 21,0 21,5 20,1 20,5 21,1 Kalimantan Tengah 20,8 20,9 20,9 20,4 22,7 20,9 Kalimantan Selatan 21,1 20,4 19,8 20,0 19,5 20,2 Kalimantan Timur 22,4 21,9 22,6 20,2 20,1 21,8 Sulawesi Sulawesi Utara 22,2 22,6 22,9 22,2 22,0 22,4 Sulawesi Tengah 21,1 21,9 21,3 20,8 19,9 21,0 Sulawesi Selatan 24,7 23,1 21,8 21,1 21,4 22,6 Sulawesi Tenggara 20,5 20,4 21,7 20,6 20,6 20,6 Gorontalo 21,7 22,2 21,2 21,1 22,4 21,7 Jumlah 21,9 21,6 20,9 20,2 20,1 21,0 a = Diabaikan karena kurang 50 persen dari wanita melahirkan sebelum mencapai umur awal dari kelompok umur tersebut 214 Lampiran A

237 Tabel A.4.4 Fertlitas remaja menurut propinsi Persentase wanita umur tahun yang sudah melahirkan atau mengandung anak pertama, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Persentase yang : Sudah pernah melahirkan Mengandung anak pertama Persentase yang sudah pernah melahirkan dan sedang mengandung anak pertama Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 3,5 0,7 4,2 592 Sumatera Barat 5,9 1,9 7,9 201 Riau 7,3 1,1 8,5 146 Jambi 11,3 6,3 17,6 70 Sumatera Selatan 3,5 1,9 5,5 231 Bengkulu 10,2 3,6 13,8 41 Lampung 6,8 1,7 8,4 182 Bangka Belitung 4,7 1,1 5,8 37 Java DKI Jakarta 4,4 0,9 5,3 278 Jawa Barat 12,6 2,1 14, Jawa Tengah 7,6 1,5 9,1 900 DI Yogyakarta 3,8 2,1 5,9 96 Jawa Timur 7,7 3,2 10, Banten 7,3 1,9 9,2 356 Bali and Nusa Tenggara Bali 4,0 2,5 6,5 73 Nusa Tenggara Barat 10,4 1,8 12,1 161 Nusa Tenggara Timur 8,0 2,6 10,6 121 Kalimantan Kalimantan Barat 7,8 1,5 9,3 94 Kalimantan Tengah 16,9 1,7 18,6 63 Kalimantan Selatan 9,1 3,4 12,5 99 Kalimantan Timur 10,4 3,6 14,0 110 Sulawesi Sulawesi Utara 6,2 3,8 10,0 50 Sulawesi Tengah 13,2 2,1 15,2 73 Sulawesi Selatan 12,9 0,7 13,6 317 Sulawesi Tenggara 12,5 1,5 14,0 58 Gorontalo 10,9 5,3 16,2 26 Jumlah 8,3 2,0 10, Lampiran A 215

238 BAB 5 PENGETAHUAN DAN PEMAKAIAN ALAT/CARA KB DI MASA LALU Tabel A.5.1 Pengetahuan tentang alat/cara KB menurut propinsi Distribusi persentase wanita berstatus kawin dan pria berstatus kawin yang mengetahui paling sedikit satu jenis alat/cara KB dan satu jenis alat/cara KB modern menurut propinsi, Indonesia Wanita berstatus kawin Pria berstatus kawin Tahu suatu Tahu suatu Propinsi Tahu suatu alat/cara alat/cara modern 1 Jumlah wanita Tahu suatu alat/cara alat/cara modern 1 Jumlah pria Sumatera Sumatera Utara 95,2 94, ,7 93,3 663 Sumatera Barat 97,3 97, ,8 95,6 182 Riau 99,2 99, ,4 96,4 199 Jambi 99,2 99, ,0 96,8 114 Sumatera Selatan 99,9 99, ,1 98,1 259 Bengkulu 99,8 99, ,9 97,9 44 Lampung 99,7 99, ,3 99,3 261 Bangka Belitung 97,6 97, ,5 97,1 40 Jawa DKI Jakarta 99,8 99, ,0 100,0 310 Jawa Barat 99,6 99, ,7 98, Jawa Tengah 99,0 98, ,7 95, DI Yogyakarta 99,8 99, ,5 97,2 103 Jawa Timur 99,1 99, ,9 96, Banten 98,4 98, ,9 95,9 396 Bali dan Nusa Tenggara Bali 98,9 98, ,3 97,3 138 Nusa Tenggara Barat 99,6 99, ,5 95,9 145 Nusa Tenggara Timur 90,6 89, ,3 88,2 122 Kalimantan Kalimantan Barat 98,0 97, ,2 96,2 119 Kalimantan Tengah 100,0 100, ,0 99,0 97 Kalimantan Selatan 99,9 99, ,0 94,0 109 Kalimantan Timur 99,6 99, ,0 91,7 115 Sulawesi Sulawesi Utara 99,4 99, ,7 98,7 95 Sulawesi Tengah 98,1 97, ,4 95,4 114 Sulawesi Selatan 96,5 96, ,6 88,9 237 Sulawesi Tenggara 95,3 94, ,1 91,0 77 Gorontalo 99,2 99, ,7 83,7 41 Jumlah 98,7 98, ,7 96, Metode operasi wanita, metode operasi pria, pil, IUD, suntikan, implant, kondom, diafragma, dan metode amenore laktasi (MAL) 216 Lampiran A

239 Tabel A.5.2 Mendengar/membaca KB di media elektronik dan media cetak menurut propinsi Distribusi persentase wanita pernah kawin yang mendengar atau membaca pesan KB di media elektronik atau media cetak dalam satu bulan sebelum survei menurut propinsi, Indonesia Media cetak Propinsi Radio Televisi Koran/majalah Poster Pamflet Tidak satu pun media Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 14,7 39,1 11,8 14,9 13,7 56, Sumatera Barat 17,6 42,5 20,8 18,6 7,3 53,2 705 Riau 11,8 33,9 12,7 9,1 3,6 60,4 660 Jambi 12,8 31,0 9,0 5,5 3,0 64,4 382 Sumatera Selatan 12,3 33,4 10,5 5,0 2,0 62,0 809 Bengkulu 20,0 50,7 14,0 24,5 11,2 42,5 159 Lampung 17,9 50,9 8,9 11,3 6,0 44,9 984 Bangka Belitung 13,8 31,2 12,3 5,1 3,0 66,4 128 Jawa DKI Jakarta 15,2 47,6 27,7 20,6 6,0 41, Jawa Barat 21,9 64,2 13,1 14,3 7,3 33, Jawa Tengah 23,4 38,4 7,7 8,0 2,7 57, DI Yogyakarta 21,8 38,9 16,8 16,3 7,5 50,1 367 Jawa Timur 13,8 46,9 14,4 12,9 4,9 50, Banten 22,8 59,7 23,1 15,4 8,7 37, Bali dan Nusa T Bali 22,7 60,0 17,1 10,7 4,2 37,9 465 Nusa Tenggara Nusa B Tenggara Ti Kalimantan 21,6 36,6 6,9 8,8 4,6 56, ,7 12,2 10,4 3,6 1,9 77,6 460 Kalimantan Barat 13,9 37,9 12,5 11,8 5,1 58,1 477 Kalimantan Tengah 38,7 64,8 8,8 8,4 0,8 27,0 297 Kalimantan Selatan 20,7 50,1 10,7 9,0 5,7 46,2 470 Kalimantan Timur 14,3 64,5 19,5 14,3 9,4 31,6 447 Sulawesi Sulawesi Utara 27,3 58,2 28,2 12,4 9,9 37,3 310 Sulawesi Tengah 23,1 55,4 17,4 8,5 3,8 42,3 347 Sulawesi Selatan 21,3 43,8 13,6 9,2 2,6 53, Sulawesi Tenggara 24,7 32,3 8,9 1,4 0,8 59,9 251 Gorontalo 39,6 53,5 20,4 17,6 13,7 38,3 153 Jumlah 19,0 48,0 13,5 12,1 5,9 48, Lampiran A 217

240 Tabel A.5.3 Pesan KB melalui hubungan personal menurut propinsi Distribusi persentase wanita pernah kawin yang mendengar atau melihat pesan KB dari petugas tertentu dalam enam bulan terakhir sebelum survei menurut propinsi, Indonesia Propinsi Petugas KB Guru Pemuka agama Dokter Perawat/bidan Tokoh masyarakat Kelompok wanita Apoteker Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 1,9 0,1 0,6 2,8 8,3 0,6 0,7 0, Sumatera Barat 5,5 1,1 1,4 3,4 10,2 1,3 2,6 0,5 705 Riau 4,0 0,7 2,1 4,2 9,7 1,3 2,9 0,0 660 Jambi 5,6 1,0 1,2 2,7 10,2 3,4 6,3 0,6 382 Sumatera Selatan 3,5 0,3 2,6 2,4 18,0 0,6 2,9 0,3 809 Bengkulu 13,7 0,9 3,1 4,8 22,0 5,9 5,8 0,1 159 Lampung 6,1 0,3 0,7 2,6 14,2 0,6 2,5 0,0 984 Bangka Belitung 7,2 0,3 1,0 4,0 10,8 0,8 1,6 0,1 128 Jawa DKI Jakarta 3,5 0,1 0,7 5,4 13,6 0,2 1,2 0, Jawa Barat 6,6 0,7 3,3 3,1 9,8 1,5 4,3 0, Jawa Tengah 4,6 0,5 0,9 2,4 8,0 2,5 7,4 0, DI Yogyakarta 8,8 0,0 2,1 2,9 13,3 4,0 9,1 0,1 367 Jawa Timur 6,2 0,8 1,6 4,4 12,2 1,7 5,7 0, Banten 7,6 0,5 0,3 4,4 10,8 1,6 1,9 0, Bali dan Nusa Tenggara Bali 7,5 0,2 0,1 1,9 9,4 0,1 0,5 0,2 465 Nusa Tenggara Barat 8,3 0,2 1,3 2,0 11,0 2,2 2,3 0,0 583 Nusa Tenggara Timur 7,1 0,3 1,4 1,9 17,4 1,5 0,7 0,0 460 Kalimantan Kalimantan Barat 8,4 0,4 1,4 4,0 11,1 0,8 1,5 0,4 477 Kalimantan Tengah 8,0 0,3 0,3 0,4 10,3 0,7 0,9 0,0 297 Kalimantan Selatan 4,9 0,5 2,1 2,4 12,0 3,2 3,1 0,0 470 Kalimantan Timur 7,4 0,5 1,6 4,5 12,8 0,8 1,8 0,4 447 Sulawesi Sulawesi Utara 8,7 1,0 8,6 8,6 12,0 12,3 10,5 0,4 310 Sulawesi Tengah 11,8 0,1 1,3 4,3 18,3 2,1 2,2 0,2 347 Sulawesi Selatan 5,0 0,6 1,2 4,0 8,6 1,0 1,3 0, Sulawesi Tenggara 14,7 0,3 0,8 2,7 16,6 1,9 3,8 0,1 251 Gorontalo 21,9 1,0 2,7 4,2 17,7 5,7 7,4 0,3 153 Jumlah 6,0 0,5 1,7 3,4 11,0 1,7 4,1 0, Lampiran A

241 Tabel A.5.4 Kontak wanita bukan peserta KB dengan petugas KB/ pemberi pelayanan KB menurut propinsi Persentase wanita yang tidak menggunakan alat kontrasepsi yang dikunjungi petugas lapangan KB dan diskusi tentang KB, mengunjungi fasilitas kesehatan dan diskusi tentang KB, dan mengunjungi fasilitas kesehatan dan tidak diskusi tentang KB dalam kurun waktu 12 bulan terakhir sebelum survei menurut propinsi, Indonesia Propinsi Wanita yang dikunjungi petugas lapangan KB dan diskusi tentang KB Wanita yang mengunjungi fasilitas kesehatan dan diskusi tentang KB Wanita yang mengunjungi fasilitas kesehatan dan tidak diskusi tentang KB Wanita yang tidak diskusi tentang KB dengan petugas lapangan KB atau dengan provider Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 1,7 1,4 20,5 97, Sumatera Barat 6,3 6,8 38,9 88,1 352 Riau 4,1 4,1 24,7 92,1 290 Jambi 4,4 3,5 10,8 93,5 172 Sumatera Selatan 2,9 3,7 18,7 94,9 335 Bengkulu 9,1 10,1 30,1 85,1 56 Lampung 4,4 6,4 26,5 92,0 401 Bangka Belitung 2,0 3,5 18,1 95,1 48 Jawa DKI Jakarta 2,6 3,3 22,0 94,5 436 Jawa Barat 4,9 4,0 17,2 92, Jawa Tengah 2,8 2,8 25,4 95, DI Yogyakarta 3,8 10,8 42,1 86,5 100 Jawa Timur 2,3 3,1 23,9 95, Banten 4,0 3,8 19,6 93,6 627 Bali dan Nusa Tenggara Bali 9,4 5,3 29,4 89,7 191 Nusa Tenggara Barat 4,8 8,9 31,4 88,1 306 Nusa Tenggara Timur 6,8 11,8 32,0 85,6 312 Kalimantan Kalimantan Barat 3,2 4,1 17,1 93,7 219 Kalimantan Tengah 3,3 2,7 7,0 94,4 111 Kalimantan Selatan 3,4 4,6 14,3 93,1 218 Kalimantan Timur 6,3 5,1 31,2 89,4 205 Sulawesi Sulawesi Utara 5,3 4,4 20,7 92,3 100 Sulawesi Tengah 7,0 10,0 21,4 86,3 167 Sulawesi Selatan 4,8 2,4 16,0 93,5 560 Sulawesi Tenggara 8,0 8,7 18,6 87,5 134 Gorontalo 13,2 14,3 13,6 78,0 78 Jumlah 4,0 4,1 22,2 93, Lampiran A 219

242 Tabel A.5.5 Diskusi tentang KB antara suami dan isteri menurut propinsi Distribusi persentase wanita berstatus kawin yang mengetahui metode KB menurut banyaknya diskusi tentang KB dengan suami dalam satu tahun terakhir, distribusi persentase suami kawin yang mengetahui metode KB dan diskusi tentang KB dengan isteri dalam satu tahun terakhir menurut propinsi, Indonesia Propinsi Banyaknya diskusi tentang KB antara isteri dengan suami Tiga kali Tidak Sekali atau atau Tak pernah dua kali lebih terjawab Jumlah Jumlah wanita Suami yang diskusi tentang KB dengan isteri Jumlah pria Sumatera Sumatera Utara 44,0 43,8 11,0 1,2 100, ,9 635 Sumatera Barat 37,7 47,5 14,6 0,1 100, ,0 174 Riau 36,2 50,8 11,3 1,6 100, ,7 192 Jambi 35,1 55,9 8,7 0,3 100, ,0 111 Sumatera Selatan 25,0 59,4 14,3 1,4 100, ,5 254 Bengkulu 27,9 60,2 11,5 0,5 100, ,6 44 Lampung 35,1 42,9 21,8 0,3 100, ,0 259 Bangka Belitung 36,8 44,8 17,1 1,3 100, ,5 39 Jawa DKI Jakarta 35,1 58,7 6,1 0,1 100, ,9 310 Jawa Barat 42,0 48,5 8,0 1,5 100, , Jawa Tengah 61,7 33,6 4,4 0,3 100, , DI Yogyakarta 41,6 49,7 8,7 0,1 100, ,3 101 Jawa Timur 45,7 44,5 8,6 1,1 100, , Banten 29,0 50,8 19,2 1,0 100, ,1 380 Bali dan Nusa Tenggara Bali 37,2 57,0 5,2 0,7 100, ,3 134 Nusa Tenggara Barat 40,8 53,3 5,8 0,1 100, ,9 140 Nusa Tenggara Timur 33,5 49,8 16,0 0,7 100, ,8 113 Kalimantan Kalimantan Barat 44,8 47,4 7,5 0,3 100, ,8 115 Kalimantan Tengah 24,0 64,8 9,4 1,7 100, ,9 96 Kalimantan Selatan 29,0 57,6 13,3 0,1 100, ,3 103 Kalimantan Timur 38,7 42,4 17,9 1,0 100, ,6 107 Sulawesi Sulawesi Utara 21,9 49,6 25,8 2,8 100, ,9 94 Sulawesi Tengah 34,0 51,1 13,2 1,7 100, ,9 108 Sulawesi Selatan 45,7 45,6 8,3 0,5 100, ,5 212 Sulawesi Tenggara 32,8 54,2 12,6 0,4 100, ,0 73 Gorontalo 22,1 49,3 27,6 1,0 100, ,1 34 Jumlah 42,7 46,5 9,9 0,9 100, , Lampiran A

243 BAB 6 PEMAKAIAN ALAT/CARA KELUARGA BERENCANA Tabel A.6.1 Pemakaian kontrasepsi masa kini menurut propinsi Distribusi persen wanita berstatus kawin yang menggunakan alat kontrasepsi tertentu, menurut propinsi, Indonesia Cara modern Cara tradisional Steri- Suatu Pan- Sang- Suatu lisasi Steri- cara tang gama Sekarang Suatu cara wa- lisasi Susuk Kon- tradi- ber- ter- Cara tidak Jumlah Propinsi cara modern nita pria Pil IUD Suntik KB dom MAL sional kala putus lain pakai Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 52,5 43,2 6,4 0,3 13,1 3,3 15,9 2,5 1,6 0,1 9,4 3,2 5,4 0,8 47,5 100, Sumatera Barat 52,9 46,2 3,4 0,0 9,1 6,1 22,1 4,6 0,8 0,2 6,7 2,8 3,7 0,2 47,1 100,0 668 Riau 57,8 55,7 1,3 0,0 17,6 2,6 30,2 2,6 1,3 0,0 2,1 1,0 0,9 0,2 42,2 100,0 636 Jambi 59,0 57,9 0,9 0,1 15,4 4,6 28,7 7,5 0,7 0,0 1,1 0,4 0,4 0,4 41,0 100,0 353 Sumatera Selatan 61,4 58,6 4,6 0,1 9,9 2,4 30,2 10,9 0,5 0,0 2,8 1,9 0,6 0,3 38,6 100,0 772 Bengkulu 68,2 64,0 3,5 0,1 13,0 6,3 30,4 8,9 1,7 0,1 4,2 1,5 2,4 0,3 31,8 100,0 150 Lampung 61,4 58,9 1,8 0,3 13,6 4,2 31,1 7,6 0,1 0,1 2,6 1,1 0,8 0,6 38,6 100,0 946 Bangka-Belitung 65,1 63,3 2,1 0,0 27,1 1,6 26,9 4,3 1,3 0,0 1,9 1,3 0,4 0,2 34,9 100,0 122 Java DKI Jakarta 63,2 57,4 2,8 0,1 12,6 10,0 27,5 1,4 3,1 0,0 5,8 3,5 1,4 0,9 36,8 100,0 919 Jawa Barat 59,0 57,5 2,3 1,0 15,8 3,6 32,6 1,7 0,4 0,0 1,5 0,7 0,8 0,0 41,0 100, Jawa Tengah 65,0 62,2 5,3 0,8 8,8 6,1 32,5 7,2 1,2 0,4 2,8 1,5 1,2 0,0 35,0 100, DI Yogyakarta 75,6 63,2 6,1 0,4 7,6 19,3 22,8 3,2 3,6 0,1 12,5 6,3 5,3 0,9 24,4 100,0 350 Jawa Timur 67,0 63,2 6,0 0,2 13,2 10,9 26,7 5,3 0,8 0,2 3,8 1,7 1,1 1,0 33,0 100, Banten 58,6 57,3 1,7 0,9 11,0 5,0 34,7 2,8 1,1 0,1 1,2 1,1 0,2 0,0 41,4 100, Bali dan Nusa Tenggara Bali 61,2 58,9 4,5 0,2 3,4 26,4 22,0 0,5 1,8 0,0 2,4 1,3 0,9 0,1 38,8 100,0 446 Nusa Tenggara Barat 53,5 52,5 1,6 0,0 10,9 4,3 28,7 6,9 0,0 0,1 1,0 0,2 0,1 0,6 46,5 100,0 518 Nusa Tenggara Timur 34,8 27,5 1,6 0,4 3,2 5,4 14,8 1,8 0,1 0,2 7,3 3,7 0,8 2,8 65,2 100,0 427 Kalimantan Kalimantan Barat 57,8 55,7 1,0 0,3 15,5 2,6 30,8 5,1 0,4 0,0 2,1 0,6 0,8 0,6 42,2 100,0 445 Kalimantan Tengah 63,9 62,9 0,4 0,0 33,4 0,5 26,0 2,3 0,3 0,0 1,0 0,7 0,0 0,3 36,1 100,0 291 Kalimantan Selatan 57,6 56,2 1,5 0,2 26,7 1,4 23,3 2,7 0,4 0,1 1,4 0,2 0,2 1,0 42,4 100,0 437 Kalimantan Timur 56,2 52,3 3,2 0,5 19,5 5,5 21,8 1,4 0,3 0,2 3,8 1,6 0,8 1,4 43,8 100,0 430 Sulawesi Sulawesi Utara 70,1 66,4 2,3 0,0 19,9 12,2 23,7 8,3 0,0 0,0 3,7 2,2 1,1 0,4 29,9 100,0 298 Sulawesi Tengah 54,6 49,8 2,9 0,0 19,2 4,9 17,2 5,6 0,0 0,1 4,8 1,7 1,5 1,6 45,4 100,0 329 Sulawesi Selatan 49,1 42,4 1,7 0,0 13,5 1,2 23,1 2,8 0,1 0,1 6,6 1,1 4,5 1,1 50,9 100,0 961 Sulawesi Tenggara 48,6 40,9 1,8 0,0 10,8 1,3 21,7 4,9 0,3 0,0 7,7 2,3 4,9 0,5 51,4 100,0 239 Gorontalo 52,0 48,2 0,6 0,0 17,1 5,6 15,6 9,1 0,1 0,2 3,8 3,2 0,0 0,6 48,0 100,0 143 Jumlah 60,3 56,7 3,7 0,4 13,2 6,2 27,8 4,3 0,9 0,1 3,6 1,6 1,5 0,5 39,7 100, Catatan: Jika terdapat lebih dari satu alat/cara KB yang dipakai, hanya cara yang paling efektif yang dimasukkan ke dalam tabel ini. MAL = Metode Amenorrhea Laktasi Lampiran A 221

244 Tabel A.6.2 Kualitas Pemakaian Pil menurut propinsi Persentase wanita berstatus kawin yang memakai pil, distribusi persen pemakai pil menurut jenis pil dan kemampuan memperlihatkan kemasan pil, dan persentase pengguna pil yang memakai pil kurang dari dua hari yang lalu, berdasarkan propinsi, Indonesia Propinsi Persentase wanita kawin yang memakai pil Wanita berstatus kawin Mampu memperlihatkan kemasan berdasarkan jenis pil Kombinasi Tunggal Lainnya Kemasan tidak ada/ hilang Persentase pemakai pil yang: Memakai Memakai pil <2 dengan hari yang benar lalu Jumlah pemakai pil Sumatera Sumatera Utara 13,1 2,071 76,9 16,1 3,4 3,6 89,4 89,4 271 Sumatera Barat 9, ,8 5,5 1,1 12,6 84,3 85,1 61 Riau 17, ,1 7,4 2,6 11,8 83,1 90,2 112 Jambi 15, ,2 20,0 11,7 22,1 74,0 90,8 54 Sumatera Selatan 9, ,1 28,3 0,0 5,6 90,9 91,2 77 Bengkulu 13, ,2 17,8 8,6 11,4 82,2 78,3 19 Lampung 13, ,3 5,9 1,5 11,3 83,5 82,0 129 Bangka-Belitung 27, ,7 2,0 13,1 4,2 87,1 86,6 33 Jawa DKI Jakarta 12, ,2 22,4 1,0 7,5 86,9 90,0 116 Jawa Barat 15,8 5,539 70,9 10,8 5,3 13,0 80,5 88,3 877 Jawa Tengah 8,8 4,031 66,5 9,1 18,4 6,1 86,5 83,4 354 DI Yogyakarta 7, ,4 2,5 6,2 9,8 87,2 93,6 27 Jawa Timur 13,2 5,034 57,7 6,2 20,5 15,5 75,8 83,2 663 Banten 11,0 1,301 53,1 21,0 20,5 5,4 78,1 85,7 143 Bali dan Nusa Tenggara Bali 3, ,4 53,0 10,8 4,8 95,2 86,7 15 Nusa Tenggara Barat 10, ,9 3,3 8,5 6,2 87,8 89,2 57 Nusa Tenggara Timur 3, ,4 28,2 6,4 6,0 89,0 83,0 14 Kalimantan Kalimantan Barat 15, ,7 6,5 7,2 9,5 85,8 90,6 69 Kalimantan Tengah 33, ,4 5,1 2,5 12,0 87,2 90,9 97 Kalimantan Selatan 26, ,2 6,2 5,8 7,8 91,4 90,4 117 Kalimantan Timur 19, ,0 14,0 0,8 10,1 79,1 85,9 84 Sulawesi Sulawesi Utara 19, ,6 5,9 7,2 7,4 89,1 94,0 59 Sulawesi Tengah 19, ,4 19,2 1,5 11,9 85,3 87,6 63 Sulawesi Selatan 13, ,6 5,7 6,1 4,6 90,2 95,1 130 Sulawesi Tenggara 10, ,9 34,9 5,0 10,1 86,8 88,2 26 Gorontalo 17, ,0 21,1 13,3 2,6 91,0 90,5 24 Jumlah 13,2 27,857 69,2 10,9 9,4 10,4 82,9 87, Lampiran A

245 Tabel A.6.3 Informasi mengenai alat/cara KB menurut propinsi Di antara pengguna alat/cara KB modern yang menggunakan metode tersebut dalam kurun waktu lima tahun terakhir, persentase wanita yang sudah disterilisasi dalam kurun waktu lima tahun yang sudah diberi tahu bahwa mereka tidak akan bisa mempunyai anak lagi, persentase wanita yang sudah diberi tahu mengenai efek samping dari metode yang mereka gunakan, persentase wanita yang sudah diberi tahu mengenai tindakan yang diambil bila terjadi efek samping, dan persentase wanita yang diberi tahu tentang kemungkinan digunakannya alat/cara kontrasepsi lainnya, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia Jenis informasi Sudah Sudah diberi Sudah diberi Sudah diberi diberi tahu tahu tindakan tahu metode tahu bahwa efek samping untuk mengatasi lain yang sterilisasi bersifat Propinsi yang dipakai efek samping 1 bisa dipakai 2 permanent 3 Sumatera Sumatera Utara 28,6 23,0 34,4 81,5 Sumatera Barat 33,2 26,6 40,7 80,2 Riau 24,2 18,3 33,1 96,1 Jambi 22,2 17,2 32,8 100,0 Sumatera Selatan 38,0 32,9 47,6 93,5 Bengkulu 23,9 22,0 33,5 89,3 Lampung 23,2 22,1 30,2 84,1 Bangka-Belitung 17,2 15,9 24,8 78,4 Jawa DKI Jakarta 42,5 36,1 42,3 91,5 Jawa Barat 18,0 13,8 23,8 96,9 Jawa Tengah 17,0 12,6 18,2 69,6 DI Yogyakarta 29,2 26,9 35,0 82,3 Jawa Timur 23,2 22,3 21,5 81,7 Banten 16,9 15,7 37,8 95,0 Bali dan Nusa Tenggara Bali 23,6 21,9 27,5 81,1 Nusa Tenggara Barat 34,1 31,2 35,3 90,6 Nusa Tenggara Timur 39,0 36,7 44,0 80,5 Kalimantan Kalimantan Barat 18,0 14,1 24,8 65,7 Kalimantan Tengah 44,5 41,2 46,9 100,0 Kalimantan Selatan 27,5 25,3 30,1 80,8 Kalimantan Timur 27,0 24,7 36,8 90,0 Sulawesi Sulawesi Utara 23,9 18,7 35,1 81,6 Sulawesi Tengah 26,8 22,7 34,3 88,1 Sulawesi Selatan 18,5 20,1 23,2 85,8 Sulawesi Tenggara 27,5 27,5 35,3 97,2 Gorontalo 24,2 21,5 34,5 100,0 Jumlah 23,1 19,9 27,4 82,7 1 Khusus pengguna sterilisasi wanita, pil, IUD, suntikan, dan susuk 2 Khusus pengguna sterilisasi wanita, pil, IUD, suntikan, diafragma, dan MAL 3 Khusus pengguna sterilisasi wanita yang diberi tahu bahwa mereka tidak akan bisa mempunyai anak lagi Lampiran A 223

246 Tabel A.6.4 Pembayaran untuk jasa pelayanan dan alat/cara KB menurut propinsi Distribusi persentase pengguna alat/cara KB modern sesuai sumber pelayanan, jenis pembayaran, menurut propinsi, Indonesia Pemerintah Swasta Lainnya Jumlah Propinsi Gratis Bayar Gratis Bayar Gratis Bayar Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 11,2 16,9 3,0 65,9 0,7 2,2 100,0 894 Sumatera Barat 12,7 16,1 6,9 54,5 4,4 5,4 100,0 308 Riau 3,6 29,0 2,4 54,5 1,2 9,1 100,0 356 Jambi 7,6 34,5 2,4 45,6 4,9 4,7 100,0 206 Sumatera Selatan 4,8 22,8 2,5 64,4 1,7 3,6 100,0 453 Bengkulu 10,9 15,2 3,4 51,7 1,6 17,2 100,0 96 Lampung 3,7 17,9 2,5 67,8 0,6 7,2 100,0 557 Bangka-Belitung 3,4 16,0 1,8 65,1 1,1 12,7 100,0 78 Jawa DKI Jakarta 4,2 12,8 3,8 76,7 1,0 1,5 100,0 535 Jawa Barat 3,6 15,3 2,9 70,0 0,3 7,8 100, Jawa Tengah 8,0 19,8 2,7 60,7 1,5 7,3 100, DI Yogyakarta 16,8 22,9 2,0 49,7 3,7 4,7 100,0 222 Jawa Timur 7,3 23,2 4,5 54,4 1,9 8,7 100, Banten 4,4 11,9 2,3 74,1 0,9 6,0 100,0 751 Bali dan Nusa Tenggara Bali 7,8 25,2 4,4 60,8 0,5 1,3 100,0 264 Nusa Tenggara Barat 9,5 32,8 1,9 32,2 3,4 19,5 100,0 272 Nusa Tenggara Timur 30,8 45,2 1,2 9,0 8,4 5,4 100,0 117 Kalimantan Kalimantan Barat 4,8 33,1 0,6 42,7 1,5 17,0 100,0 249 Kalimantan Tengah 2,6 25,4 4,3 37,1 2,6 27,8 100,0 184 Kalimantan Selatan 5,0 20,3 1,9 45,9 2,0 24,9 100,0 246 Kalimantan Timur 5,1 26,3 8,7 46,4 2,1 11,4 100,0 225 Sulawesi Sulawesi Utara 9,0 24,0 5,4 55,6 1,0 4,9 100,0 199 Sulawesi Tengah 11,7 35,3 2,5 33,5 1,3 15,6 100,0 164 Sulawesi Selatan 5,4 55,6 1,4 30,8 0,2 6,7 100,0 408 Sulawesi Tenggara 10,7 22,7 4,0 33,6 7,9 21,1 100,0 98 Gorontalo 9,0 34,9 2,3 34,4 1,9 17,6 100,0 69 Jumlah 6,7 21,2 3,2 59,2 1,5 8,0 100, Lampiran A

247 BAB 7 KEINGINAN MEMPUNYAI ANAK Tabel A.7.1 Keinginan untuk tidak mempunyai anak lagi menurut propinsi Persentase wanita berstatus kawin yang tidak ingin anak lagi, menurut jumlah anak masih hidup dan propinsi, Indonesia Jumlah anak masih hidup 1 Propinsi Jumlah Sumatera Sumatera Utara 0,0 11,0 44,3 75,6 87,8 89,4 91,9 58,1 Sumatera Barat 0,0 7,7 37,1 59,5 86,0 83,0 88,4 49,4 Riau 2,9 7,3 37,8 65,4 85,8 79,0 84,8 47,6 Jambi 2,7 7,4 53,2 75,1 90,4 82,6 89,9 49,7 Sumatera Selatan 0,0 8,3 52,8 81,9 83,8 93,7 76,4 58,1 Bengkulu 0,0 6,4 50,5 76,7 93,4 88,0 93,2 58,6 Lampung 0,0 6,6 47,5 77,6 94,6 94,7 89,3 54,9 Bangka Belitung 3,7 10,3 53,0 75,4 86,5 90,7 78,3 53,6 Jawa DKI Jakarta 3,2 10,7 65,3 86,6 92,0 97,7 90,3 53,8 Jawa Barat 5,8 10,5 52,5 78,0 93,0 91,4 89,8 54,5 Jawa Tengah 1,2 9,3 65,0 90,4 94,5 100,0 96,1 57,5 DI Yogyakarta 9,3 17,6 85,8 94,4 97,2 92,2 84,9 65,4 Jawa Timur 3,6 17,3 78,6 90,9 96,0 98,9 100,0 58,7 Banten 3,3 9,4 43,6 70,5 83,9 86,9 90,2 48,0 Bali and Nusa Tenggara Bali 2,6 24,2 80,2 92,7 85,5 94,5 86,1 64,3 Nusa Tenggara Barat 0,6 5,0 32,4 58,9 81,6 80,0 89,5 39,3 Nusa Tenggara Timur 3,5 5,2 28,0 53,5 68,0 71,8 85,5 42,8 Kalimantan Kalimantan Barat 0,0 8,6 43,7 72,0 87,2 84,6 85,7 49,9 Kalimantan Tengah 4,5 8,4 38,3 83,5 91,8 91,6 90,5 48,9 Kalimantan Selatan 2,2 13,6 41,4 67,0 80,6 62,7 93,9 44,5 Kalimantan Timur 0,0 8,9 48,7 77,0 93,6 97,9 90,7 49,9 Sulawesi Sulawesi Utara 2,2 11,4 71,6 81,8 88,5 93,8 88,5 54,9 Sulawesi Tengah 1,3 7,2 42,1 69,8 72,5 74,4 70,8 46,2 Sulawesi Selatan 0,0 4,1 37,0 55,8 70,1 89,2 65,9 41,5 Sulawesi Tenggara 0,0 2,2 26,7 55,3 73,3 86,7 92,0 41,5 Gorontalo 12,0 12,7 52,7 79,1 88,5 93,4 99,2 53,1 Jumlah 2,8 11,3 58,4 79,4 88,9 90,4 89,2 54,2 Catatan: Wanita yang sudah disterilisasi dikelompokkan sebagai wanita yang tidak ingin anak lagi. 1 Termasuk kehamilan pada waktu survei Lampiran A 225

248 Tabel A.7.2 Kebutuhan untuk memperoleh pelayanan KB menurut propinsi Persentase wanita berstatus kawin yang tidak ingin berkb, ingin berkb dan jumlah yang ingin untuk mendapatkan pelayanan KB, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi 1 Untuk Untuk menjarang membatasi kan kelahiran Jumlah kelahiran Kebutuhan berkb yang terpenuhi (sedang pakai) 2 Untuk Untuk menjarang membatasi kan kelahiran Jumlah kelahiran Jumlah yang ingin berkb 3 Untuk menjarang kan kelahiran Untuk membatasi kelahiran Jumlah Persentase merasa puas Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 6,0 7,0 13,0 15,9 36,7 52,5 22,4 43,9 66,2 80, Sumatera Barat 5,9 6,4 12,3 22,6 30,2 52,9 29,0 36,8 65,8 81,4 668 Riau 4,9 5,5 10,4 27,6 30,2 57,8 33,2 35,8 69,0 84,9 636 Jambi 3,2 2,9 6,1 24,7 34,4 59,0 28,3 37,3 65,6 90,7 353 Sumatera Selatan 2,7 4,2 6,8 19,9 41,5 61,4 23,1 45,8 68,9 90,1 772 Bengkulu 3,5 4,4 8,0 24,7 43,5 68,2 28,9 48,5 77,4 89,7 150 Lampung 2,5 4,8 7,3 27,5 34,0 61,4 30,7 39,8 70,4 89,6 946 Bangka Belitung 3,2 2,4 5,6 27,3 37,9 65,1 30,7 40,2 70,9 92,1 122 Jawa DKI Jakarta 3,4 3,4 6,9 25,9 37,3 63,2 29,8 41,2 71,0 90,3 919 Jawa Barat 3,8 6,1 9,9 25,5 33,5 59,0 29,8 39,8 69,7 85, Jawa Tengah 3,2 3,3 6,5 24,2 40,7 65,0 27,9 44,1 72,0 91, DI Yogyakarta 1,8 3,0 4,8 21,0 54,7 75,6 23,3 58,3 81,7 94,1 350 Jawa Timur 2,8 2,8 5,6 23,0 43,9 67,0 26,3 47,0 73,3 92, Banten 4,9 4,8 9,7 30,3 28,2 58,6 36,5 33,3 69,8 86, Bali and Nusa Tenggara Bali 4,1 2,8 6,9 12,9 48,4 61,2 17,7 51,2 68,9 90,1 446 Nusa Tenggara Barat 9,8 6,3 16,0 30,4 23,1 53,5 41,3 29,4 70,7 77,3 518 Nusa Tenggara Timur 8,8 7,9 16,7 16,4 18,4 34,8 25,7 26,3 52,0 68,0 427 Kalimantan Kalimantan Barat 4,8 5,3 10,1 27,0 30,8 57,8 32,5 36,1 68,6 85,3 445 Kalimantan Tengah 2,3 4,5 6,8 30,1 33,9 63,9 32,9 38,3 71,2 90,5 291 Kalimantan Selatan 4,4 4,9 9,3 32,0 25,6 57,6 37,2 30,7 67,8 86,4 437 Kalimantan Timur 3,9 3,2 7,0 24,7 31,4 56,2 29,2 34,6 63,7 88,9 430 Sulawesi Sulawes Utara 2,2 2,2 4,4 26,6 43,5 70,1 29,3 45,8 75,1 94,2 298 Sulawesi Tengah 5,2 5,0 10,2 24,5 30,1 54,6 30,6 35,6 66,2 84,7 329 Sulawesi Selatan 6,9 4,9 11,8 27,3 21,8 49,1 34,6 26,9 61,5 80,8 961 Sulawesi Tenggara 8,6 4,7 13,4 24,4 24,2 48,6 33,6 29,0 62,6 78,7 239 Gorontalo 4,0 7,0 11,0 22,6 29,5 52,0 27,3 36,9 64,1 82,8 143 Total 4,0 4,6 8,6 24,2 36,2 60,3 28,8 41,0 69,7 87, Kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi untuk menjarangkan kelahiran termasuk kahamilan yang waktunya tidak diinginkan, wanita yang tidak haid sejak kelahiran anak terakhir dimana kelahiran anak terakhir tersebut waktunya tidak diinginkan, tidak menggunakan alat/cara KB, dan wanita subur yang tidak dapat hamil lagi atau tidak dapat haid dimana wanita tersebut tidak memakai kontrasepsi dan mereka ingin menunggu 2 atau 3 tahun lagi untuk kelahiran anak berikutnya. Juga yang termasuk kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi untuk menjarangkankan kelahiran adalah wanita subur yang tidak menggunakan alat/cara KB dan mereka merasa tidak yakin apakah menginginkan anak lagi atau mereka menginginkan anak tetapi tidak dapat ditentukan kecuali mereka mengatakan tidak menjadi masalah kalau mereka hamil. Keingian berkb yang tidak terpenuhi untuk membatasi kelahiran termasuk wanita hamil yang kehamilannya tidak diinginkan, wanita yang tidak haid sejak kelahiran anak terakhir yang tidak diinginkan, dan wanita subur yang tidak dapat hamil atau tidak dapat haid tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi dan wanita tersebut tidak ingin anak lagi. Kategori kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi untuk membatasi kelahiran tidak termasuk wanita hamil dan wanita yang tidak haid tetapi menjadi hamil ketika mereka memakai alat / cara KB (wanita tersebut ingin memilih alat kontrasepsi yang lebih baik). 2 Pakai alat untuk menjarangkan kelahiran termasuk wanita yang menggunakan suatu alat/cara KB dan mereka ingin menunggu 2 tahun atau lebih kelahiran anak berikutnya. Pakai alat untuk membatasi kelahitan termasuk wanita yang memakai alat dan tidak ingin anak lagi. Catatan: alat/cara KB tertentu yang diguna-kan tidak dirinci menurut alat/cara KB. 3 Wanita yang tidak memakai alat/cara KB atau belum haid kemudian hamil dan wanita yang kehamil annya karena kegagalan kontasepsi tidak dikategorikan kedalam kebutuhan berkb yang tidak terpenuhi tetapi dikategorikan memakai suatu alat kontrasepsi (sejak mereka menggunakan alat/cara KB). 226 Lampiran A

249 Tabel A.7.3 Rata-rata jumlah anak ideal menurut propinsi Rata-rata jumlah anak ideal dari wanita pernah kawin, menurut umur dan propinsi, Indonesia Umur Propinsi Jumlah Sumatera Sumatera Utara 3,5 3,0 3,0 3,3 3,7 3,9 3,9 3,5 Sumatera barat 3,2 2,8 3,0 3,1 3,4 3,6 4,0 3,3 Riau 2,8 2,8 3,0 3,0 3,5 3,8 3,8 3,2 Jambi 2,5 2,6 2,7 2,7 2,9 3,6 3,7 2,9 Sumatera Selatan 2,7 2,6 2,8 3,0 3,3 3,7 3,8 3,2 Bengkulu 2,6 2,5 2,8 2,9 3,3 3,5 4,2 3,1 Lampung 2,4 2,8 2,8 3,0 3,2 3,3 3,5 3,0 Bangka Belitung 2,3 2,7 2,7 3,0 3,0 3,3 3,5 3,0 Jawa DKI Jakarta 2,4 2,4 2,5 2,6 2,6 2,9 3,1 2,6 Jawa Barat 2,6 2,5 2,7 2,8 3,0 3,5 3,5 2,9 Jawa Tengah 2,3 2,6 2,6 2,6 2,8 2,9 3,2 2,8 DI Yogyakarta 1,9 2,1 2,1 2,2 2,3 2,4 2,7 2,3 Jawa Timur 2,1 2,2 2,3 2,4 2,5 2,5 2,7 2,4 Banten 2,7 2,9 3,0 3,1 3,2 3,8 3,7 3,2 Bali and Nusa Tenggara Bali 1,9 2,2 2,3 2,4 2,4 2,6 2,9 2,5 Nusa Tenggara Barat 2,7 2,8 2,8 3,2 3,4 3,5 4,1 3,1 Nusa Tenggara Timur 3,4 3,7 3,7 3,7 3,8 3,7 4,7 3,8 Kalimantan Kalimantan Barat 2,3 2,7 2,9 3,3 3,2 3,6 3,4 3,1 Kalimantan Tengah 3,1 3,1 3,0 3,3 3,6 3,9 3,7 3,3 Kalimantan Selatan 2,5 2,4 2,7 3,2 3,2 3,2 3,7 2,9 Kalimantan Timur 2,6 2,5 2,7 2,7 2,7 3,4 3,7 2,9 Sulawesi Sulawesi Utara 2,3 2,1 2,2 2,3 2,4 2,5 2,6 2,3 Sulawes Tengah 2,1 2,3 2,6 2,7 3,0 3,3 3,5 2,8 Sulawesi Selatan 2,5 2,8 3,0 3,0 3,5 3,8 4,0 3,2 Sulawesi Tenggara 3,0 2,9 3,4 3,7 3,5 3,8 3,8 3,4 Gorontalo 2,0 2,3 2,6 2,7 3,0 3,3 3,0 2,8 Jumlah 2,5 2,6 2,7 2,8 3,0 3,2 3,4 2,9 Lampiran A 227

250 Tabel A.7.4 Angka fertilitas yang diinginkan menurut propinsi Angka fertilitas yang diinginkan dan angka fertilitas total untuk 3 tahun sebelum survei, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Angka fertilitas yang diinginkan Angka fertilitas total Sumatera Sumatera Utara 2,6 3,0 Sumatera Barat 2,9 3,2 Riau 2,7 3,2 Jambi 2,4 2,7 Sumatera Selatan 2,0 2,3 Bengkulu 2,5 3,0 Lampung 2,0 2,7 Bangka Belitung 2,1 2,4 Jawa DKI Jakarta 2,0 2,2 Jawa Barat 2,4 2,8 Jawa Tengah 1,8 2,1 DI Yogyakarta 1,5 1,9 Jawa Timur 1,8 2,1 Banten 2,3 2,6 Bali and Nusa Tenggara Bali 1,9 2,1 Nusa Tenggara Barat 2,1 2,4 Nusa Tenggara Timur 3,5 4,1 Kalimantan Kalimantan Barat 2,4 2,9 Kalimantan Tengah 3,0 3,2 Kalimantan Selatan 2,6 3,0 Kalimantan Timur 2,2 2,8 Sulawesi Sulawesi Utara 2,2 2,6 Sulawesi Tengah 2,5 3,2 Sulawesi Selatan 2,2 2,6 Sulawesi Tenggara 3,1 3,6 Gorontalo 2,3 2,8 Jumlah 2,2 2,6 Catatan: Angka dihitung berdasarkan jumlah kelahiran terhadap wanita umur dalam kurun 1-36 bulan sebelum survei. Angka Fertilitas Total sama seperti yang disajikan pada Tabel Lampiran A

251 BAB 9 FAKTOR PENENTU FERTILITAS SELAIN KONTRASEPSI Tabel A.9.1 Status perkawinan menurut propinsi Distribusi persentase wanita menurut staus perkawinan, dan propinsi, Indonesia Status perkawinan Propinsi Belum Kawin Kawin Cerai hidup Cerai mati Jumlah Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 31,2 65,5 1,6 1,8 100, Sumatera Barat 30,7 65,6 1,3 2,4 100, Riau 25,7 71,7 0,9 1,7 100,0 888 Jambi 20,5 73,5 2,2 3,8 100,0 481 Sumatera Selatan 30,1 66,7 1,1 2,1 100, Bengkulu 23,4 72,3 1,6 2,7 100,0 207 Lampung 22,2 74,8 1,2 1,8 100, Bangka Belitung 32,1 65,1 1,2 1,6 100,0 188 Jawa DKI Jakarta 34,5 58,8 4,3 2,4 100, Jawa Barat 19,6 76,8 2,5 1,1 100, Java Tengah 24,0 72,3 1,8 1,9 100, DI Yogyakarta 32,0 64,9 1,9 1,2 100,0 539 Jawa Timur 21,3 73,8 2,6 2,3 100, Banten 25,8 69,2 2,5 2,6 100, Bali and Nusa Tenggara Bali 24,4 72,4 2,1 1,1 100,0 616 Nusa Tenggara Barat 25,5 66,1 5,9 2,5 100,0 783 Nusa Tenggara Timur 31,8 63,2 3,1 1,9 100,0 675 Kalimantan Kalimantan Barat 27,0 68,0 1,9 3,0 100,0 655 Kalimantan Tengah 20,2 78,3 0,8 0,8 100,0 372 Kalimantan Selatan 23,0 71,6 2,8 2,6 100,0 611 Kalimantan Timur 27,6 69,5 0,9 2,0 100,0 618 Sulawesi Sulawesi Utara 21,4 75,6 2,0 1,0 100,0 394 Sulawesi Tengah 22,9 73,1 1,3 2,7 100,0 450 Sulawesi Selatan 38,9 56,8 2,1 2,2 100, Sulawesi Tenggara 21,2 75,1 1,6 2,0 100,0 318 Gorontalo 20,6 74,2 2,2 3,0 100,0 193 Jumlah 25,0 70,8 2,2 1,9 100, Lampiran A 229

252 Tabel A.9.2 Median umur kawin pertama menurut propinsi Median umur kawin pertama wanita umur 25-49, menurut kelompok umur dan propinsi, Indonesia Umur Propinsi Wanita umur Sumatera Sumatera Utara 21,9 22,1 21,5 20,1 20,4 21,2 Sumatera Barat 23,2 22,0 20,7 19,9 19,1 20,9 Riau 21,0 20,6 19,7 18,4 17,8 19,8 Jambi 19,3 19,7 18,0 17,5 17,7 18,8 Sumatera Selatan 20,0 19,6 18,4 19,1 18,3 19,0 Bengkulu 19,7 19,0 18,7 19,1 17,7 19,0 Lampung 19,4 18,9 17,7 17,4 16,5 18,0 Bangka Belitung 20,7 19,9 19,0 19,7 20,6 19,9 Jawa DKI Jakarta 23,5 22,1 21,2 19,3 19,9 21,4 Jawa Barat 18,7 18,6 17,4 17,4 16,5 17,8 Java Tengah 20,2 19,5 18,3 18,4 17,4 18,8 DI Yogyakarta 22,8 22,4 20,6 20,2 19,6 21,1 Jawa Timur 20,1 20,1 18,9 17,7 17,1 18,8 Banten 19,7 18,8 18,4 16,0 16,9 18,3 Bali and Nusa Tenggara Bali 22,4 22,6 22,3 20,3 20,1 21,5 Nusa Tenggara Barat 19,7 18,4 18,6 18,4 18,2 18,7 Nusa Tenggara Timur 21,6 23,0 22,3 20,8 21,2 21,7 Kalimantan Kalimantan Barat 20,3 19,2 19,5 19,0 18,9 19,5 Kalimantan Tengah 19,3 19,4 19,4 18,8 20,2 19,4 Kalimantan Selatan 19,4 18,5 17,5 17,4 16,5 18,0 Kalimantan Timur 20,7 20,0 21,1 17,9 18,0 19,8 Sulawesi Sulawesi Utara 21,4 21,9 21,8 21,4 20,9 21,5 Sulawesi Tengah 19,5 20,1 19,0 18,9 18,0 19,1 Sulawesi Selatan 23,0 21,0 20,5 18,8 18,8 20,8 Sulawesi Tenggara 19,0 19,5 19,6 18,9 18,9 19,2 Gorontalo 20,2 20,9 19,6 19,3 20,8 20,2 Jumlah 20,2 19,9 18,9 18,3 17,9 19,2 230 Lampiran A

253 Tabel A.9.3 Aktivitas seksual terakhir menurut propinsi Distribusi persentase wanita berstatus kawin menurut waktu terakhir melakukan aktivitas seksual dan propinsi, Indonesia Aktivitas seksual terakhir Dalam 1 tahun Karakteristik 4 minggu Dalam atau Tak Jumlah Latar belakang terakhir 1 tahun 1 lebih terjawab Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara ,071 Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Jawa DKI Jakarta Jawa Barat ,539 Jawa Tengah ,031 DI Yogyakarta Jawa Timur ,034 Banten ,301 Bali and Nusa Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Jumlah ,857 1 Termasuk wanita yang kumpul dalam 4 minggu terakhir Lampiran A 231

254 Tabel A.9.4 Median lamanya masa tidak subur menurut propinsi Median jumlah bulan belum haid, tidak kumpul, masa tidak subur setelah melahirkan dalam 3 tahun sebelum survei menurut propinsi, Indonesia Propinsi Belum haid Tidak kumpul Masa tidak subur Jumlah kelahiran Sumatera Sumatera Utara 1,9 2,0 2,8 804 Sumatera Barat 2,9 2,2 3,8 279 Riau 3,6 2,3 4,1 273 Jambi 3,7 2,1 4,6 124 Sumatera Selatan 4,5 2,0 7,1 218 Bengkulu 5,3 2,3 6,1 52 Lampung 3,7 2,9 4,1 311 Bangka Belitung 2,2 1,5 2,2 42 Jawa DKI Jakarta 2,4 2,4 3,0 318 Jawa Barat 4,9 2,1 5, Java Tengah 3,7 2,7 4, DI Yogyakarta 3,2 2,3 3,8 86 Jawa Timur 2,7 2,3 4, Banten 5,5 2,0 5,9 436 Bali and Nusa Tenggara Bali 3,5 2,0 4,3 121 Nusa Tenggara Barat 4,1 3,2 5,6 183 Nusa Tenggara Timur 10,8 4,1 11,4 239 Kalimantan Kalimantan Barat 3,1 2,3 3,9 185 Kalimantan Tengah 3,3 2,0 3,9 117 Kalimantan Selatan 3,9 2,0 4,5 160 Kalimantan Timur 6,5 1,9 6,6 162 Sulawesi Sulawesi Utara 3,3 1,9 3,4 97 Sulawesi Tengah 3,8 2,1 4,3 133 Sulawesi Selatan 7,7 2,3 7,9 417 Sulawesi Tenggara 4,3 2,1 4,8 114 Gorontalo 3,6 2,2 3,9 53 Jumlah 3,8 2,2 4,6 Catatan: Median berdasarkan status sekarang Lampiran A

255 BAB 10 KEMATIAN BAYI DAN ANAK Tabel A.10.1 Angka kematian anak-anak menurut propinsi Angka kematian neonatum, kematian post-neonatum, kematian bayi, kematian anak, dan kematian balita untuk periode 10 tahun sebelum survei menurut propinsi, Indonesia Propinsi Kematian neonatum (NN) Kematian postneonatum (PNN) 1 Kematian Bayi ( 1 q 0 ) Kematian Anak ( 4 q 1 ) Kematian Balita ( 5 q 0 ) Sumatera Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Jawa DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali dan Nusa Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Dihitung dari selisih antara angka kematian bayi dan kematian neonatum Lampiran A 233

256 BAB 11 KESEHATAN IBU Tabel A.11.1 Pemeriksaan kehamilan menurut propinsi Distribusi persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei, menurut tenaga pemeriksa kehamilan dan propinsi, Indonesia Propinsi Dokter umum Dokter ahli kandungan Perawat/ bidan/ bidan di desa Dukun/ lainnya Tidak periksa Tidak terjawab Jumlah Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 1,4 8,4 75,9 5,0 8,7 0,5 100, Sumatera Barat 3,1 16,8 74,9 3,8 1,5 0,0 100,0 368 Riau 3,8 12,2 74,3 4,8 4,2 0,6 100,0 342 Jambi 2,2 7,7 72,3 13,7 4,0 0,1 100,0 168 Sumatera Selatan 0,4 11,3 82,0 2,7 3,5 0,2 100,0 311 Bengkulu 0,5 9,8 81,6 3,4 4,8 0,0 100,0 76 Lampung 1,2 8,9 82,9 4,3 2,6 0,0 100,0 442 Bangka Belitung 0,4 5,2 83,2 3,4 6,6 1,2 100,0 57 Jawa DKI Jakarta 1,2 19,9 77,7 0,6 0,6 0,0 100,0 436 Jawa Barat 1,3 5,2 87,1 2,1 4,1 0,2 100, Jawa Tengah 1,6 8,0 86,5 0,4 3,5 0,0 100, DI Yogyakarta 0,4 13,8 85,1 0,0 0,6 0,0 100,0 128 Jawa Timur 1,0 14,0 75,9 5,0 3,8 0,3 100, Banten 0,2 9,8 75,8 8,8 5,1 0,3 100,0 640 Bali dan Nusa Tenggara Bali 0,7 25,1 71,9 0,8 1,3 0,2 100,0 171 Nusa Tenggara Barat 1,4 2,1 87,0 2,8 6,7 0,0 100,0 280 Nusa Tenggara Timur 2,2 1,4 84,1 4,4 7,8 0,2 100,0 275 Kalimantan Kalimantan Barat 1,0 8,9 72,9 7,1 9,5 0,6 100,0 247 Kalimantan Tengah 0,3 0,6 65,7 21,9 9,5 1,9 100,0 153 Kalimantan Selatan 2,4 5,7 80,6 7,7 3,4 0,2 100,0 220 Kalimantan Timur 3,1 14,5 73,6 3,1 5,5 0,2 100,0 209 Sulawesi Sulawesi Utara 3,1 32,3 61,4 1,1 1,0 1,1 100,0 128 Sulawesi Tengah 1,0 9,0 72,4 10,2 7,2 0,2 100,0 171 Sulawesi Selatan 1,2 8,4 84,7 2,3 3,0 0,4 100,0 521 Sulawesi Tenggara 1,7 5,7 77,5 9,2 5,8 0,1 100,0 136 Gorontalo 4,2 7,8 75,9 5,7 6,2 0,3 100,0 75 Jumlah 1,4 9,6 80,5 3,9 4,4 0,2 100, Catatan: Jika lebih dari satu sumber pemeriksaan yang disebutkan, hanya tenaga dengan kualifikasi tertinggi yang dimasukkan dalam tabulasi ini. 234 Lampiran A

257 Tabel A.11.2 Komponen pemeriksaan kehamilan menurut propinsi Persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang mendapat pelayanan pemeriksaan kehamilan tertentu, dan persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang mendapat pil zat besi, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Komponen pemeriksaan yang didapatkan wanita pada pemeriksaan kehamilan Penjelasan tanda-tanda komplikasi kehamilan Penimbangan berat badan Pengukuran tinggi badan Pengukuran tekanan darah Pemeriksaan sampel urin Pemeriksaan sampel darah Pemeriksaan perut Jumlah wanita Mendapat pil zat besi Sumatera Sumatera Utara 26,1 66,8 10,2 75,0 34,6 14,5 95, , Sumatera Barat 38,2 86,4 38,8 89,8 26,4 31,3 96, ,2 368 Riau 27,9 79,5 20,9 90,8 45,8 35,5 94, ,2 342 Jambi 25,4 81,2 20,7 78,2 31,4 21,8 93, ,4 168 Sumatera Selatan 32,4 88,8 26,8 88,7 19,8 16,8 95, ,4 311 Bengkulu 34,3 84,5 21,1 91,8 23,6 11,9 97, ,6 76 Lampung 20,8 92,1 12,1 88,3 41,0 21,0 98, ,7 442 Bangka Belitung 27,8 89,3 25,6 88,8 34,4 41,3 97, ,0 57 Jawa DKI Jakarta 34,8 99,2 51,8 97,7 78,8 70,5 99, ,3 436 Jawa Barat 15,6 95,2 23,3 93,0 33,1 24,8 91,0 2,591 76, Jawa Tengah 37,1 98,0 29,7 94,5 36,2 35,1 98,8 1,556 89, DI Yogyakarta 35,6 97,4 45,7 98,2 61,0 41,1 99, ,6 128 Jawa Timur 38,4 92,8 36,5 92,6 46,9 26,5 97,6 1,800 87, Banten 25,8 84,6 29,5 87,0 34,4 27,4 97, ,5 640 Bali dan Nusa Tenggara Bali 18,8 99,0 41,2 95,0 41,6 22,8 98, ,5 171 Nusa Tenggara Barat 35,0 87,8 49,7 91,5 23,2 23,2 97, ,6 280 Nusa Tenggara Timur 33,8 86,6 39,5 83,2 19,1 47,3 93, ,8 275 Kalimantan Kalimantan Barat 35,7 84,0 38,6 86,5 36,9 43,7 90, ,4 247 Kalimantan Tengah 50,9 68,0 36,2 76,2 7,9 15,9 83, ,3 153 Kalimantan Selatan 38,4 84,1 31,7 89,4 32,3 20,1 93, ,5 220 Kalimantan Timur 37,2 93,1 43,9 92,2 43,2 44,1 97, ,9 209 Sulawesi Sulawesi Utara 34,6 82,7 39,9 89,1 43,0 51,8 97, ,6 128 Sulawesi Tengah 31,3 80,6 29,7 77,2 26,1 29,7 92, ,1 171 Sulawesi Selatan 14,9 92,8 65,9 90,8 54,6 59,4 96, ,0 521 Sulawesi Tenggara 26,2 65,6 19,5 81,5 14,5 20,9 89, ,2 136 Gorontalo 30,3 82,7 51,9 84,9 19,9 31,7 80, ,8 75 Jumlah 28,7 89,6 30,9 89,9 37,8 30,3 95,3 12,170 78, Jumlah wanita Lampiran A 235

258 Tabel A.11.3 Imunisasi tetanus toksoid menurut propinsi Distribusi persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei, menurut jumlah imunisasi tetanus toksoid yang didapatkan selama kehamilan dan propinsi, Indonesia Propinsi Tidak pernah Satu kali Dua kali/lebih Tidak tahu/ tidak terjawab Jumlah Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 63,6 12,1 21,0 3,4 100, Sumatera Barat 27,3 21,2 51,2 0,3 100,0 368 Riau 33,5 17,1 44,6 4,8 100,0 342 Jambi 36,9 21,2 41,3 0,6 100,0 168 Sumatera Selatan 24,4 23,1 51,9 0,5 100,0 311 Bengkulu 19,9 18,2 61,7 0,3 100,0 76 Lampung 25,4 28,1 44,5 2,0 100,0 442 Bangka Belitung 28,0 21,0 44,5 6,5 100,0 57 Jawa DKI Jakarta 23,0 26,3 49,3 1,4 100,0 436 Jawa Barat 24,5 20,0 54,0 1,5 100, Jawa Tengah 15,6 22,2 61,5 0,7 100, DI Yogyakarta 10,2 22,7 66,9 0,2 100,0 128 Jawa Timur 22,4 23,4 52,2 2,0 100, Banten 30,4 22,4 46,0 1,2 100,0 640 Bali dan Nusa Tenggara Bali 18,1 24,3 55,6 2,1 100,0 171 Nusa Tenggara Barat 26,7 21,8 49,0 2,5 100,0 280 Nusa Tenggara Timur 14,8 19,5 63,7 1,9 100,0 275 Kalimantan Kalimantan Barat 31,9 11,2 55,8 1,1 100,0 247 Kalimantan Tengah 38,5 17,9 40,2 3,4 100,0 153 Kalimantan Selatan 27,3 18,3 53,3 1,0 100,0 220 Kalimantan Timur 21,0 19,3 58,1 1,6 100,0 209 Sulawesi Sulawesi Utara 7,3 19,5 71,3 2,0 100,0 128 Sulawesi Tengah 24,3 18,0 55,6 2,0 100,0 171 Sulawesi Selatan 12,9 38,9 47,1 1,0 100,0 521 Sulawesi Tenggara 25,6 19,7 54,4 0,3 100,0 136 Gorontalo 22,9 31,2 44,6 1,3 100,0 75 Jumlah 26,2 21,5 50,7 1,7 100, Lampiran A

259 Tabel A Tempat persalinan menurut propinsi Distribusi persentase anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei, menurut tempat persalinan dan propinsi, Indonesia Fasilitas kesehatan Tidak Jumlah Propinsi Pemerintah Swasta Rumah Lainnya terjawab Jumlah kelahiran Sumatera Sumatera Utara 7,3 25,7 65,3 0,0 1,6 100, Sumatera Barat 14,2 44,5 40,6 0,7 0,1 100,0 464 Riau 8,3 29,1 59,8 0,7 2,1 100,0 430 Jambi 11,4 25,4 62,3 0,0 0,9 100,0 198 Sumatera Selatan 7,9 30,1 61,6 0,0 0,4 100,0 382 Bengkulu 5,0 8,0 85,0 1,3 0,6 100,0 90 Lampung 6,8 34,8 58,1 0,0 0,3 100,0 530 Bangka Belitung 5,7 27,3 64,9 0,0 2,2 100,0 69 Jawa DKI Jakarta 17,8 71,3 10,9 0,0 0,0 100,0 514 Jawa Barat 5,2 23,4 70,6 0,0 0,8 100, Jawa Tengah 8,0 32,6 59,1 0,0 0,2 100, DI Yogyakarta 18,7 52,3 27,2 1,8 0,0 100,0 144 Jawa Timur 10,1 50,4 38,1 0,4 0,9 100, Banten 4,6 37,7 56,8 0,1 0,9 100,0 736 Bali dan Nusa Tenggara Bali 23,8 61,1 13,7 0,2 1,2 100,0 194 Nusa Tenggara Barat 21,8 5,6 64,2 7,9 0,4 100,0 327 Nusa Tenggara Timur 9,4 3,6 85,4 1,0 0,6 100,0 376 Kalimantan Kalimantan Barat 7,4 17,6 72,8 1,0 1,2 100,0 301 Kalimantan Tengah 1,4 1,6 94,2 0,0 2,9 100,0 178 Kalimantan Selatan 5,9 3,1 90,2 0,1 0,6 100,0 251 Kalimantan Timur 12,7 32,3 53,3 0,0 1,7 100,0 260 Sulawesi Sulawesi Utara 16,9 31,7 48,7 0,5 2,1 100,0 153 Sulawesi Tengah 12,1 4,6 82,0 1,0 0,4 100,0 217 Sulawesi Selatan 20,3 15,1 63,9 0,3 0,3 100,0 652 Sulawesi Tenggara 3,6 2,5 93,0 0,0 0,8 100,0 183 Gorontalo 11,7 3,2 83,7 1,2 0,2 100,0 93 Jumlah 9,2 30,5 59,0 0,4 0,8 100, Lampiran A 237

260 Tabel A.11.5 Penolong persalinan menurut propinsi Distribusi persentase anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei, menurut penolong persalinan berkualifikasi tertinggi dan propinsi, Indonesia Propinsi Dokter umum Dokter ahli kandungan Perawat/ bidan/ bidan di desa Dukun/ lainnya Sanak saudara/ lainnya Tidak ada Tidak terjawab Jumlah Jumlah kelahiran Sumatera Sumatera Utara 0,4 6,7 72,8 15,4 2,5 0,6 1,6 100, Sumatera Barat 2,5 13,9 63,4 18,0 1,8 0,3 0,1 100,0 464 Riau 2,4 10,0 61,6 22,8 0,7 0,4 2,1 100,0 430 Jambi 0,7 8,9 60,9 28,3 0,3 0,0 0,9 100,0 198 Sumatera Selatan 0,0 9,1 67,3 22,5 0,3 0,4 0,4 100,0 382 Bengkulu 1,3 5,9 61,4 29,5 1,0 0,3 0,6 100,0 90 Lampung 1,2 8,1 53,1 37,1 0,2 0,0 0,3 100,0 530 Bangka Belitung 0,5 3,4 62,9 30,6 0,5 0,0 2,2 100,0 69 Jawa DKI Jakarta 0,3 25,3 68,7 5,7 0,1 0,0 0,0 100,0 514 Jawa Barat 0,3 6,5 41,9 50,4 0,2 0,0 0,8 100, Jawa Tengah 0,8 10,3 56,1 32,2 0,3 0,0 0,2 100, DI Yogyakarta 1,5 24,4 59,3 14,8 0,0 0,0 0,0 100,0 144 Jawa Timur 0,4 18,1 62,2 17,0 1,0 0,6 0,6 100, Banten 1,5 10,2 51,2 35,7 0,6 0,0 0,9 100,0 736 Bali dan Nusa Tenggara Bali 1,7 25,3 60,8 9,6 1,6 0,2 0,8 100,0 194 Nusa Tenggara Barat 2,8 3,1 44,2 46,5 3,0 0,0 0,4 100,0 327 Nusa Tenggara Timur 0,5 1,8 34,1 54,9 6,9 1,3 0,5 100,0 376 Kalimantan Kalimantan Barat 1,3 5,4 57,0 33,3 1,8 0,0 1,2 100,0 301 Kalimantan Tengah 0,4 0,9 44,8 48,8 2,2 0,0 2,9 100,0 178 Kalimantan Selatan 0,2 4,2 53,0 40,3 1,0 0,6 0,6 100,0 251 Kalimantan Timur 1,7 11,8 65,7 17,9 0,5 0,6 1,8 100,0 260 Sulawesi Sulawesi Utara 1,6 24,4 59,7 12,0 0,0 0,2 2,0 100,0 153 Sulawesi Tengah 0,9 6,8 46,3 41,4 4,1 0,0 0,5 100,0 217 Sulawesi Selatan 0,2 6,5 55,5 31,2 5,7 0,5 0,3 100,0 652 Sulawesi Tenggara 0,6 2,9 38,5 54,5 1,8 0,9 0,8 100,0 183 Gorontalo 0,6 5,2 43,0 50,6 0,4 0,0 0,2 100,0 93 Jumlah 0,8 10,2 55,3 31,5 1,3 0,3 0,8 100, Catatan: Jika responden menyebutkan lebih dari satu orang yang menolong persalinan, hanya orang dengan berkualifikasi tertinggi yang dimasukkan dalam tabulasi ini. 238 Lampiran A

261 Tabel A.11.6 Karakteristik persalinan menurut propinsi Persentase anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei melalui bedah caesar, dan distribusi persentase berat lahir dan perkiraan ukuran bayi saat lahir oleh ibu, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Persalinan melalui bedah caesar Tidak ditimbang Berat saat lahir Kurang dari 2,5 kg 2,5 kg atau lebih Tidak tahu/ tidak Sangat terjawab Jumlah kecil Ukuran bayi saat lahir Lebih kecil dari ratarata Ratarata atau lebih besar Tidak tahu/ tidak Jumlah terjawab Jumlah kelahiran Sumatera Sumatera Utara 4,0 31,2 3,1 63,5 2,1 100,0 2,6 8,2 83,5 5,6 100, Sumatera Barat 6,4 15,1 6,2 78,0 0,8 100,0 1,9 14,2 80,3 3,6 100,0 464 Riau 4,6 21,8 3,5 72,0 2,7 100,0 0,8 10,4 78,2 10,6 100,0 430 Jambi 1,6 31,1 2,4 65,3 1,2 100,0 1,4 9,3 82,2 7,1 100,0 198 Sumatera Selatan 3,6 19,1 5,6 74,7 0,5 100,0 1,1 11,9 83,2 3,8 100,0 382 Bengkulu 2,3 25,5 4,0 69,6 0,9 100,0 2,0 11,1 84,6 2,4 100,0 90 Lampung 1,9 29,6 3,9 66,2 0,3 100,0 2,0 8,3 88,5 1,2 100,0 530 Bangka Belitung 3,2 18,8 7,2 71,9 2,2 100,0 0,8 12,6 79,6 7,0 100,0 69 Jawa DKI Jakarta 10,5 2,4 7,7 89,8 0,2 100,0 4,0 12,7 82,7 0,6 100,0 514 Jawa Barat 3,4 21,8 6,4 70,6 1,2 100,0 1,3 12,2 83,6 2,9 100, Jawa Tengah 3,2 7,0 6,6 86,0 0,4 100,0 2,9 11,1 84,7 1,3 100, DI Yogyakarta 6,3 4,3 6,7 88,9 0,0 100,0 2,3 15,3 82,4 0,0 100,0 144 Jawa Timur 6,4 13,6 5,9 79,8 0,7 100,0 1,7 12,4 81,5 4,4 100, Banten 6,1 24,7 6,3 67,5 1,6 100,0 0,9 10,3 80,2 8,6 100,0 736 Bali dan Nusa Tenggara Bali 11,7 7,1 2,9 88,6 1,4 100,0 1,4 6,2 89,4 3,0 100,0 194 Nusa Tenggara Barat 0,5 27,7 5,2 65,5 1,6 100,0 0,5 12,7 78,7 8,0 100,0 327 Nusa Tenggara Timur 1,3 51,3 4,0 42,9 1,7 100,0 2,4 7,6 81,6 8,4 100,0 376 Kalimantan Kalimantan Barat 2,1 33,2 5,8 59,3 1,7 100,0 1,7 11,0 74,3 13,1 100,0 301 Kalimantan Tengah 0,4 40,0 4,5 52,1 3,5 100,0 2,1 9,7 81,9 6,3 100,0 178 Kalimantan Selatan 2,5 23,4 4,6 71,2 0,8 100,0 0,9 14,8 80,3 4,0 100,0 251 Kalimantan Timur 3,2 8,0 5,1 85,0 1,9 100,0 2,7 9,6 85,2 2,5 100,0 260 Sulawesi Sulawesi Utara 4,4 18,9 3,1 75,0 3,0 100,0 6,1 8,9 73,7 11,3 100,0 153 Sulawesi Tengah 1,5 35,3 6,1 58,2 0,5 100,0 3,8 15,0 74,6 6,6 100,0 217 Sulawesi Selatan 2,2 31,2 7,3 61,0 0,5 100,0 3,3 18,7 73,5 4,5 100,0 652 Sulawesi Tenggara 0,1 56,9 2,7 38,9 1,5 100,0 5,9 8,1 71,8 14,2 100,0 183 Gorontalo 1,4 54,8 5,6 39,1 0,5 100,0 6,3 26,0 67,4 0,3 100,0 93 Jumlah 4,1 21,3 5,6 72,0 1,1 100,0 2,1 11,6 81,9 4,5 100, Lampiran A 239

262 Tabel 11.7 Persiapan persalinan menurut propinsi Persentase wanita yang mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang membicarakan topik tertentu selama kehamilan, menurut propinsi, Indonesia Topik yang dibicarakan Tidak ada Tempat Penolong Pemba- Donor Salah satu yang di- Jumlah Propinsi melahirkan Angkutan persalinan yaran darah topik bicarakan kelahiran Sumatera Sumatera Utara 60,1 23,7 62,8 52,6 3,3 71,1 28, Sumatera Berat 76,3 55,1 70,5 68,5 23,6 81,5 18,5 368 Riau 67,7 41,9 67,0 59,2 13,9 73,6 26,4 342 Jambi 61,9 38,2 68,0 60,1 16,0 75,5 24,5 168 Sumatera Selatan 74,5 39,5 80,2 81,3 9,9 88,6 11,4 311 Bengkulu 58,5 27,0 62,5 55,1 7,0 67,5 32,5 76 Lampung 59,6 30,4 60,5 56,3 3,9 74,1 25,9 442 Bangka-Belitung 60,3 33,3 64,0 62,3 3,2 75,1 24,9 57 Jawa DKI Jakarta 74,0 40,9 66,8 56,2 11,3 78,5 21,5 436 Jawa Barat 53,7 29,2 52,4 51,3 7,3 62,9 37, Jawa Tengah 61,2 31,2 62,1 61,7 5,7 74,0 26, DI Yogyakarta 78,9 52,7 84,0 72,2 10,4 88,6 11,4 128 Jawa Timur 79,4 54,5 82,0 78,0 6,5 88,2 11, Banten 61,7 45,4 68,3 69,3 14,1 74,5 25,5 640 Bali dan Nusa Tenggara Bali 77,8 65,4 76,3 76,7 31,1 83,4 16,6 171 Nusa Tenggara Barat 56,2 29,2 52,0 52,9 3,2 66,1 33,9 280 Nusa Tenggara Timur 68,1 43,1 78,2 58,4 3,5 84,7 15,3 275 Kalimantan Kalimantan Barat 57,4 35,4 60,3 48,8 6,2 68,4 31,6 247 Kalimantan Tengah 61,0 10,3 73,7 58,3 2,8 80,6 19,4 153 Kalimantan Selatan 63,7 33,8 69,3 61,1 5,2 77,4 22,6 220 Kalimantan Timur 76,0 54,4 74,0 64,0 14,8 82,0 18,0 209 Sulawesi Sulawesi Utara 75,8 45,3 73,1 62,5 25,0 78,9 21,1 128 Sulawesi Tengah 62,8 46,2 61,1 58,6 7,4 69,5 30,5 171 Sulawesi Selatan 56,1 32,3 54,7 47,8 5,3 64,2 35,8 521 Sulawesi Tenggara 48,1 24,8 52,6 51,2 4,0 63,5 36,5 136 Gorontalo 73,0 52,3 78,4 76,9 12,6 88,0 12,0 75 Jumlah 64,1 37,5 65,1 60,9 8,1 74,3 25, Lampiran A

263 Tabel A.11.8 Perawatan nifas menurut propinsi Distribusi persentase wanita yang melahirkan bayi hidup terakhir bukan di fasilitas kesehatan dalam lima tahun sebelum survei, menurut saat pemeriksaan nifas pertama dan propinsi, Indonesia Propinsi Dalam 2 hari setelah persalinan Saat pemeriksaan nifas pertama 3-6 hari setelah persalinan 7-41 hari setelah persalinan Tidak tahu/tidak terjawab Tidak mendapat pemeriksaan nifas 1 Jumlah Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 58,9 5,7 6,6 0,3 28,5 100,0 666 Sumatera Barat 72,0 5,9 2,5 0,0 19,6 100,0 148 Riau 64,3 9,1 5,1 0,3 21,3 100,0 216 Jambi 69,3 12,1 1,7 0,0 16,9 100,0 104 Sumatera Selatan 48,1 13,3 7,2 0,0 31,5 100,0 196 Bengkulu 88,3 1,8 1,6 0,0 8,2 100,0 67 Lampung 90,8 3,8 1,8 0,0 3,6 100,0 261 Bangka Belitung 42,2 16,2 2,4 0,7 38,6 100,0 38 Jawa DKI Jakarta 46,2 10,1 27,6 1,6 14,5 100,0 47 Jawa Barat 34,0 29,3 17,5 0,0 19,1 100, Jawa Tengah 82,7 4,2 2,0 0,0 11,0 100,0 943 DI Yogyakarta 70,1 10,1 15,2 0,0 4,5 100,0 38 Jawa Timur 86,5 3,3 1,9 0,0 8,3 100,0 748 Banten 44,5 19,6 15,1 0,0 20,8 100,0 361 Bali dan Nusa Tenggara Bali 75,1 0,9 0,8 0,0 23,2 100,0 25 Nusa Tenggara Barat 60,5 13,3 10,0 0,0 16,3 100,0 200 Nusa Tenggara Timur 61,5 3,7 5,7 0,1 29,0 100,0 236 Kalimantan Kalimantan Barat 54,0 21,7 7,4 0,3 16,5 100,0 188 Kalimantan Tengah 78,3 2,7 0,4 0,2 18,5 100,0 148 Kalimantan Selatan 73,6 9,5 5,1 0,0 11,8 100,0 199 Kalimantan Timur 79,2 3,3 3,1 0,0 14,4 100,0 114 Sulawesi Sulawesi Utara 78,8 3,2 4,0 0,5 13,4 100,0 62 Sulawesi Tengah 76,5 6,6 2,0 0,0 14,9 100,0 141 Sulawesi Selatan 76,1 3,2 1,4 0,0 19,3 100,0 330 Sulawesi Tenggara 69,5 4,5 2,4 0,2 23,4 100,0 127 Gorontalo 73,7 2,7 5,6 0,6 17,4 100,0 64 Jumlah 61,8 12,7 7,9 0,1 17,5 100, Termasuk wanita yang mendapat pemeriksaan pertama setelah 41 hari persalinan. Lampiran A 241

264 Tabel A.11.9 Masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan menurut propinsi Persentase wanita pernah kawin yang melaporkan bahwa mereka mempunyai masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan bagi mereka ketika sakit, menurut jenis masalah dan propinsi, Indonesia Propinsi Tahu kemana harus berobat Masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan Tidak Memperoleh Jarak ke Harus ingin biaya untuk fasilitas naik pergi berobat kesehatan angkutan sendiri Memperoleh ijin untuk pergi berobat Kuatir tidak ada tenaga kesehatan wanita Salah satu masalah Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 6,7 6,6 33,9 21,0 20,9 10,5 9,5 46, Sumatera Barat 5,3 3,8 15,9 9,7 8,9 8,2 7,1 31,4 705 Riau 4,1 2,2 12,8 9,7 10,2 9,1 5,9 24,9 660 Jambi 5,6 4,7 20,8 18,7 19,6 8,9 5,1 31,0 382 Sumatera Selatan 3,5 4,7 36,0 20,1 18,7 9,0 3,1 41,4 809 Bengkulu 1,9 0,7 18,9 7,4 6,9 4,0 4,8 27,9 159 Lampung 4,1 7,9 34,0 17,0 16,5 7,2 9,2 44,0 984 Bangka Belitung 8,8 5,2 20,8 13,5 11,7 9,6 5,7 31,4 128 Jawa DKI Jakarta 0,8 0,6 15,4 2,0 1,6 3,2 4,5 20, Jawa Barat 3,1 1,9 20,8 10,3 6,3 6,2 4,1 26, Jawa Tengah 3,3 1,8 22,3 11,1 11,4 6,2 7,4 28, DI Yogyakarta 2,8 2,4 16,2 4,6 4,2 5,4 5,2 24,8 367 Jawa Timur 3,1 4,9 14,1 4,8 4,9 8,2 5,4 22, Banten 3,6 2,0 22,8 11,4 10,2 18,3 3,0 36, Bali dan Nusa Tenggara Bali 4,5 4,4 22,9 9,2 10,4 5,7 1,1 27,9 465 Nusa Tenggara Barat 2,3 7,2 47,3 20,3 18,9 7,0 4,8 54,9 583 Nusa Tenggara Timur 6,8 3,1 31,3 27,3 29,1 9,2 6,2 45,9 460 Kalimantan Kalimantan Barat 6,8 5,2 27,3 20,3 18,8 12,2 9,2 41,1 477 Kalimantan Tengah 10,5 7,0 48,1 35,7 37,4 20,6 1,6 53,1 297 Kalimantan Selatan 7,7 7,2 27,1 18,7 16,8 16,1 9,7 36,1 470 Kalimantan Timur 6,9 3,4 18,2 19,0 18,6 14,6 4,8 32,3 447 Sulawesi Sulawesi Utara 7,5 3,9 34,2 16,4 16,4 5,2 5,6 40,4 310 Sulawesi Tengah 16,4 18,4 38,9 23,4 24,7 19,6 2,9 46,9 347 Sulawesi Selatan 13,0 14,5 38,5 19,7 20,1 10,9 5,4 43, Sulawesi Tenggara 7,6 5,9 46,5 28,6 26,2 8,3 2,7 57,2 251 Gorontalo 18,7 11,6 49,7 27,7 26,1 16,7 6,7 60,2 153 Jumlah 4,5 4,2 23,7 12,4 11,5 8,6 5,7 32, Lampiran A

265 Tabel A Registrasi kelahiran menurut propinsi Persentase kelahiran yang diregistrasi dalam lima tahun sebelum survei dan distribusi persentase jenis dokumen dari kelahiran yang diregistrasi, menurut propinsi, Indonesia Dokumen registrasi Persentase Tidak Surat Surat Jumlah kelahiran dapat keterangan laporan Surat kelahiran yang Jumlah diper- lahir kelahiran kenal Akte Tidak yang Propinsi diregistrasi kelahiran lihatkan RS desa lahir kelahiran terjawab Jumlah diregistrasi Sumatera Sumatera Utara 43,6 1,372 19,3 50,6 12,6 4,8 12,7 0,0 100,0 599 Sumatera Berat 63, ,2 52,6 0,3 7,8 29,2 0,0 100,0 293 Riau 64, ,9 59,7 2,6 4,6 29,4 0,7 100,0 278 Jambi 46, ,8 3,3 0,0 2,4 85,4 0,0 100,0 91 Sumatera Selatan 64, ,9 58,7 0,9 7,7 21,8 0,0 100,0 245 Bengkulu 57, ,9 33,8 0,0 0,8 54,2 0,4 100,0 51 Lampung 57, ,9 56,1 0,0 2,6 34,4 0,0 100,0 306 Bangka-Belitung 64,5 69 5,3 33,0 5,3 1,0 55,4 0,0 100,0 44 Jawa DKI Jakarta 88, ,0 24,1 1,8 3,4 68,8 0,0 100,0 454 Jawa Barat 41,5 3,090 12,9 32,6 1,8 3,7 49,0 0,1 100, Jawa Tengah 73,7 1,784 6,2 26,0 20,5 4,4 42,8 0,0 100, DI Yogyakarta 91, ,1 18,3 3,9 1,2 73,5 0,0 100,0 132 Jawa Timur 69,7 2,101 2,2 33,4 2,7 1,7 59,7 0,3 100, Banten 50, ,6 18,2 0,2 0,5 74,5 0,0 100,0 375 Bali dan Nusa Tenggara Bali 52, ,6 20,6 0,0 3,4 50,4 0,0 100,0 102 Nusa Tenggara Barat 11, ,3 8,7 0,0 0,0 43,0 0,0 100,0 39 Nusa Tenggara Timur 24, ,5 34,0 2,0 4,0 19,2 1,3 100,0 91 Kalimantan Kalimantan Barat 40, ,5 27,7 4,9 0,5 61,1 0,4 100,0 121 Kalimantan Tengah 36, ,1 47,6 18,4 1,6 22,3 0,0 100,0 65 Kalimantan Selatan 36, ,1 26,7 1,0 0,3 56,6 0,3 100,0 92 Kalimantan Timur 70, ,2 38,5 2,8 2,2 48,2 0,0 100,0 183 Sulawesi Sulawesi Utara 43, ,0 12,4 1,0 4,3 74,3 0,0 100,0 66 Sulawesi Tengah 24, ,0 18,8 2,2 3,7 68,4 0,0 100,0 53 Sulawesi Selatan 40, ,7 33,6 0,7 2,1 39,4 0,5 100,0 266 Sulawesi Tenggara 21, ,2 8,5 2,5 0,0 75,4 0,4 100,0 39 Gorontalo 27, ,2 55,4 0,5 3,9 27,6 0,4 100,0 26 Jumlah 53,5 15,089 9,1 34,2 5,7 3,3 47,4 0,1 100, Lampiran A 243

266 Tabel A Alasan tidak mencatatkan kelahiran menurut propinsi Persentase kelahiran yang tidak dicatatkan dalam lima tahun sebelum survei, menurut alasan tidak mencatatkan kelahiran dan propinsi, Indonesia Alasan tidak mencatatkan kelahiran Tidak tahu Tidak tahu Terlambat, dimana Jumlah Biaya bahwa tidak mau harus men- kelahiran terlalu Terlalu harus di- bayar catatkan Tidak yang tidak Propinsi mahal jauh catatkan denda kelahiran Lainnya terjawab Jumlah dicatatkan Sumatera Sumatera Utara 13,5 2,0 32,6 1,1 5,0 41,9 3,9 100,0 773 Sumatera Berat 10,0 4,3 18,3 0,0 8,5 57,6 1,2 100,0 171 Riau 7,9 9,1 16,1 2,0 11,9 39,8 13,2 100,0 152 Jambi 17,0 18,0 6,8 3,4 5,7 47,4 1,7 100,0 106 Sumatera Selatan 23,9 13,2 6,5 5,2 8,8 41,1 1,2 100,0 137 Bengkulu 19,8 1,1 10,4 1,5 7,4 56,2 3,6 100,0 39 Lampung 31,7 4,2 10,1 1,6 5,3 46,0 1,1 100,0 224 Bangka-Belitung 14,9 8,6 7,4 0,0 10,4 51,6 7,0 100,0 24 Jawa DKI Jakarta 46,9 3,0 0,8 1,5 5,3 42,5 0,0 100,0 60 Jawa Barat 47,0 4,3 7,6 4,6 7,6 26,9 2,1 100, Jawa Tengah 21,3 2,7 10,1 0,9 10,3 53,0 1,8 100,0 470 DI Yogyakarta (12,4) (9,9) (1,9) (17,5) (0,0) (58,4) (0,0) 100,0 12 Jawa Timur 21,0 5,4 9,6 5,9 13,3 42,6 2,1 100,0 638 Banten 36,2 3,3 7,9 1,7 4,7 43,0 3,1 100,0 361 Bali dan Nusa Tenggara Bali 27,6 11,8 7,4 3,2 7,0 40,3 2,8 100,0 92 Nusa Tenggara Barat 22,0 5,9 17,2 0,4 23,7 30,4 0,5 100,0 288 Nusa Tenggara Timur 20,3 17,1 12,1 0,8 14,2 35,0 0,6 100,0 286 Kalimantan Kalimantan Barat 14,8 22,5 18,2 1,1 14,0 27,1 2,3 100,0 180 Kalimantan Tengah 12,0 29,6 28,2 1,0 12,7 12,5 4,0 100,0 113 Kalimantan Selatan 16,4 11,6 14,4 2,7 13,8 39,8 1,3 100,0 160 Kalimantan Timur 23,8 7,3 13,2 0,6 13,7 35,5 5,7 100,0 77 Sulawesi Sulawesi Utara 47,6 9,4 2,5 3,3 1,6 31,6 3,9 100,0 87 Sulawesi Tengah 17,3 16,3 16,9 0,6 14,0 34,3 0,5 100,0 165 Sulawesi Selatan 24,8 4,4 11,0 0,5 19,2 39,6 0,6 100,0 386 Sulawesi Tenggara 17,6 21,2 8,7 4,1 17,0 30,3 1,0 100,0 143 Gorontalo 19,2 13,6 1,7 6,7 4,8 53,2 0,8 100,0 67 Jumlah 27,7 7,0 12,9 2,7 10,1 37,3 2,3 100, Catatan: Angka dalam tanda kurung berdasarkan pada kasus tidak dibobot. 244 Lampiran A

267 BAB 12 IMUNISASI ANAK Tabel A.12.1 Imunisasi menurut propinsi Persentase anak umur bulan yang mendapat imunisasi tertentu sebelum survei (menurut KMS atau laporan ibu) dan persentase yang mempunyai KMS, menurut propinsi, Indonesia Persentase anak yang mendapat: Persen- tase yang DPT Polio mem- Imunisasi Tidak punyai Jumlah Propinsi BCG Campak lengkap 1 pernah KMS anak Sumatera Sumatera Utara 74,2 71,1 59,6 41,9 77,5 67,5 53,3 31,4 56,3 36,5 18,1 22,4 289 Sumatera Berat 84,0 80,1 75,7 66,5 89,3 82,9 76,2 60,6 66,0 58,6 10,7 43,9 80 Riau 83,6 85,1 78,2 63,3 90,4 80,0 70,0 47,9 75,4 57,2 9,6 35,2 81 Jambi 84,7 77,8 66,8 51,6 83,7 72,6 56,8 34,8 73,2 50,6 13,3 32,1 32 Sumatera Selatan 88,2 84,9 76,4 56,0 90,3 84,5 70,3 28,6 78,2 50,7 8,1 12,5 59 Bengkulu 93,6 88,5 85,5 76,3 93,6 89,9 84,9 71,9 82,3 69,2 6,4 51,2 20 Lampung 87,7 85,4 78,3 61,0 93,1 90,2 71,5 52,8 79,8 46,3 6,1 40,2 103 Bangka-Belitung 77,9 81,4 74,7 67,5 85,0 84,5 72,8 67,5 71,4 64,9 14,3 48,7 13 Jawa DKI Jakarta 95,2 92,6 89,3 76,0 93,6 91,2 85,5 46,1 80,4 67,0 3,9 28,6 96 Jawa Barat 79,1 82,0 62,8 48,3 89,1 80,1 58,1 38,0 71,7 41,4 8,2 29,6 552 Jawa Tengah 87,1 86,8 81,1 73,6 93,2 88,6 78,7 61,5 75,9 63,5 5,0 36,9 323 DI Yogyakarta 100,0 98,6 96,4 91,0 100,0 100,0 96,0 80,9 91,1 84,2 0,0 49,0 31 Jawa Timur 84,6 83,2 74,2 66,6 86,5 74,9 67,9 56,4 76,5 64,2 11,0 30,2 360 Banten 69,3 61,1 47,8 35,0 79,6 62,6 44,3 22,9 44,0 25,4 18,1 23,0 136 Bali dan Nusa Tenggara Bali 88,1 93,4 90,9 87,0 92,4 91,4 88,5 76,0 82,7 80,3 6,6 53,7 38 Nusa Tenggara Barat 88,6 89,9 70,4 44,6 94,5 85,7 56,1 40,2 80,9 42,5 3,8 18,1 62 Nusa Tenggara Timur 92,7 91,6 85,7 70,1 95,7 93,9 81,1 54,7 88,6 62,7 4,3 28,1 83 Kalimantan Kalimantan Barat 70,2 66,5 58,0 46,3 74,9 59,8 47,2 40,2 61,0 38,3 22,5 30,0 66 Kalimantan Tengah 76,8 73,7 65,2 56,2 76,4 74,8 65,2 43,6 58,9 49,0 23,0 28,2 37 Kalimantan Selatan 79,1 75,5 70,9 59,4 81,9 73,2 62,6 39,8 69,8 52,2 14,8 28,1 52 Kalimantan Timur 85,9 87,6 81,7 71,0 89,3 87,1 77,7 57,6 80,9 66,6 10,1 31,1 49 Sulawesi Sulawesi Utara 90,1 87,3 86,4 77,9 88,2 86,6 81,7 65,1 73,6 68,6 8,8 41,5 31 Sulawesi Tengah 86,7 85,6 81,5 69,2 87,5 85,6 73,8 60,2 84,1 66,5 11,5 22,8 42 Sulawesi Selatan 80,3 78,8 68,7 49,9 80,7 78,8 66,4 38,5 71,0 43,7 16,8 30,0 132 Sulawesi Tenggara 84,2 83,5 77,0 68,1 87,5 78,1 69,3 36,6 70,3 52,8 11,4 40,1 34 Gorontalo 87,7 80,6 70,3 58,4 86,4 77,3 64,1 49,9 75,5 56,6 8,9 27,3 17 Jumlah 82,5 81,4 71,1 58,3 87,3 79,6 66,1 46,2 71,6 51,5 10,5 30, Catatan: Pekan Imunisasi Nasional dilaksanakan dua kali pada tahun 2002, di bulan September untuk imunisasi polio dan di bulan Oktober untuk imunisasi polio dan campak. Angka dalam tanda kurung berdasarkan pada kasus tidak dibobot. 1 BCG, campak dan tiga dosis DPT dan Polio. Lampiran A 245

268 Tabel A.12.2 Imunisasi Hepatitis B menurut propinsi Persentase anak umur bulan yang mendapat imunisasi Hepatitis B pada suatu saat sebelum survei (berdasarkan KMS atau laporan ibu), menurut propinsi, Indonesia Hepatitis B Jumlah Propinsi anak Sumatera Sumatera Utara 55,4 44,1 31,7 289 Sumatera Berat 78,0 67,6 59,7 80 Riau 70,4 61,2 49,7 81 Jambi 69,7 55,4 42,5 32 Sumatera Selatan 71,8 55,7 35,8 59 Bengkulu 79,1 65,2 39,9 20 Lampung 69,5 60,6 47,2 103 Bangka-Belitung 80,6 75,9 60,6 13 Jawa DKI Jakarta 84,1 74,7 49,5 96 Jawa Barat 67,6 49,4 34,9 552 Jawa Tengah 82,6 75,1 65,2 323 DI Yogyakarta 98,8 97,2 91,3 31 Jawa Timur 77,3 63,5 56,9 360 Banten 45,7 38,6 28,4 136 Bali dan Nusa Tenggara Bali 88,6 87,8 81,7 38 Nusa Tenggara Barat 64,6 41,3 21,2 62 Nusa Tenggara Timur 74,8 57,5 34,3 83 Kalimantan Kalimantan Barat 55,9 46,7 33,2 66 Kalimantan Tengah 71,4 65,7 48,0 37 Kalimantan Selatan 66,9 53,8 46,9 52 Kalimantan Timur 85,1 77,3 65,2 49 Sulawesi Sulawesi Utara 74,6 67,0 50,7 31 Sulawesi Tengah 79,6 73,8 54,0 42 Sulawesi Selatan 73,0 44,7 33,8 132 Sulawesi Tenggara 77,4 72,3 49,6 34 Gorontalo 65,4 51,0 43,1 17 Jumlah 70,9 58,1 45, Lampiran A

269 BAB 13 PENYAKIT ANAK Tabel A.13.1 Prevalensi dan pengobatan infeksi saluran pernapasan akut dan/atau demam menurut propinsi Persentase anak umur di bawah lima tahun yang mengalami batuk disertai pernapasan dangkal dan cepat (gejala ISPA), persentase anak yang mengalami demam dalam 2 minggu sebelum survei, dan persentase anak dengan gejala ISPA dan/atau demam yang menerima pengobatan dari fasilitas atau tenaga kesehatan, menurut propinsi, Indonesia Prevalensi ISPA dan/atau demam Pengobatan anak dengan gejala pada anak dibawah 5 tahun ISPA dan/atau demam Persentase Persentase yang anak Persentase menerima dengan anak pengobatan dari gejala dengan Jumlah fasilitas atau Jumlah Propinsi ISPA demam anak tenaga kesehtaan 1 anak Sumatera Sumatera Utara 10,2 28, ,9 389 Sumatera Barat 11,7 39, ,6 187 Riau 7,1 22, ,6 103 Jambi 6,1 13,5 189 (60,8) 28 Sumatera Selatan 3,5 11, ,8 49 Bengkulu 9,7 27,7 86 (60,1) 27 Lampung 3,7 18, ,2 103 Bangka-Belitung 20,3 44, ,3 33 Jawa DKI Jakarta 6,8 21, ,4 117 Jawa Barat 9,0 31, ,3 957 Jawa Tengah 5,2 19, ,2 369 DI Yogyakarta 3,2 23,3 142 (82,3) 34 Jawa Timur 2,8 20, ,5 446 Banten 16,5 33, ,7 261 Bali dan Nusa Tenggara Bali 6,2 15,8 191 (77,4) 34 Nusa Tenggara Barat 8,4 34, ,4 107 Nusa Tenggara Timur 8,1 28, ,7 105 Kalimantan Kalimantan Barat 12,3 34, ,9 108 Kalimantan Tengah 4,2 7,0 171 * 14 Kalimantan Selatan 8,1 31, ,9 80 Kalimantan Timur 8,0 28, ,1 75 Sulawesi Sulawesi Utara 6,5 24,0 147 (60,2) 37 Sulawesi Tengah 9,7 24, ,2 54 Sulawesi Selatan 6,1 27, ,7 189 Sulawesi Tenggara 8,9 28, ,1 52 Gorontalo 13,8 32,6 84 (41,0) 30 Jumlah 7,6 25, , Catatan: angka dalam kurung berdasarkan pada kasus yang tidak dibobot. Tanda bintang menunjukkan bahwa angka tidak ditampilkan karena jumlah kasusnya yang belum dibobot kurang dari Tidak mencakup apotik, toko obat dan pengobat tradisional Lampiran A 247

270 Tabel A.13.2 Pembuangan tinja anak menurut propinsi Distribusi persentase ibu yang tinggal bersama anak terkecil di bawah lima tahun menurut cara tinja anak dibuang dan propinsi, Indonesia Tinja tertutup Tinja tidak tertutup Memakai popok Anak selalu Dikubur menggu- Dibuang di Dibuang Dibuang nakan di hala- di luar di hala- Tidak Sekali Dicuci Tidak Jumlah Propinsi kakus kakus man rumah man Disiram dibuang pakai lagi Lainnya terjawab Jumlah ibu Sumatera Sumatera Utara 7,4 35,2 7,1 21,2 5,4 14,6 0,1 0,3 8,0 0,3 0,4 100,0 992 Sumatera Barat 19,3 24,4 6,1 27,4 3,8 2,7 0,0 0,5 15,8 0,0 0,0 100,0 359 Riau 18,0 39,9 2,4 12,2 6,4 12,5 0,0 0,6 4,0 0,8 3,3 100,0 333 Jambi 18,9 41,4 1,2 27,4 5,2 3,4 0,0 0,0 2,0 0,0 0,5 100,0 164 Sumatera Selatan 15,7 23,0 2,1 24,8 5,8 9,5 0,0 0,4 18,6 0,0 0,2 100,0 308 Bengkulu 27,8 23,7 1,4 22,6 7,1 6,8 0,5 0,1 8,8 0,4 0,8 100,0 74 Lampung 28,8 26,7 0,7 14,8 10,3 3,3 0,0 0,7 14,4 0,2 0,0 100,0 433 Bangka-Belitung 14,2 18,7 4,7 48,9 5,2 4,0 0,0 0,3 3,4 0,0 0,6 100,0 57 Jawa DKI Jakarta 44,6 39,8 0,1 9,4 1,6 1,6 0,1 0,4 2,4 0,0 0,0 100,0 414 Jawa Barat 26,4 38,5 1,3 19,8 4,5 4,3 0,0 0,0 4,7 0,1 0,6 100, Jawa Tengah 20,4 26,2 1,3 23,6 13,1 0,9 0,0 0,4 13,9 0,0 0,2 100, DI Yogyakarta 27,7 43,0 6,4 11,3 6,4 1,7 0,0 0,0 3,1 0,4 0,0 100,0 126 Jawa Timur 27,1 30,4 2,2 24,9 7,5 1,7 0,0 0,0 6,2 0,0 0,0 100, Banten 22,1 34,1 0,7 25,3 9,9 1,9 0,0 0,0 4,4 0,8 0,8 100,0 618 Bali dan Nusa Tenggara Bali 30,0 28,0 0,6 13,2 7,5 1,4 1,8 1,3 15,5 0,4 0,4 100,0 167 Nusa Tenggara Barat 6,2 13,8 9,7 45,6 14,4 0,4 1,5 0,0 5,5 2,6 0,4 100,0 266 Nusa Tenggara Timur 6,3 21,2 6,3 18,7 32,2 1,3 6,5 0,2 6,8 0,0 0,5 100,0 267 Kalimantan Kalimantan Barat 19,7 21,2 0,6 38,5 7,4 5,9 0,6 1,1 4,8 0,0 0,2 100,0 243 Kalimantan Tengah 6,9 15,5 1,5 45,4 1,6 13,3 0,0 0,0 14,3 0,1 1,5 100,0 148 Kalimantan Selatan 11,0 27,9 1,1 33,0 2,4 12,1 0,0 0,2 12,3 0,0 0,0 100,0 212 Kalimantan Timur 21,9 49,4 0,2 7,9 5,3 2,0 0,0 1,7 10,1 0,5 0,9 100,0 208 Sulawesi Sulawesi Utara 30,1 28,8 7,5 10,5 2,0 3,3 0,3 0,3 15,9 0,8 0,4 100,0 125 Sulawesi Tengah 16,3 14,6 13,5 27,7 8,2 6,3 0,0 0,0 12,6 0,5 0,4 100,0 166 Sulawesi Selatan 10,1 31,8 5,0 18,5 17,0 5,5 0,0 0,5 11,2 0,4 0,0 100,0 509 Sulawesi Tenggara 9,1 23,5 8,7 27,7 15,8 9,2 0,1 0,1 5,7 0,0 0,1 100,0 131 Gorontalo 11,5 14,7 8,1 27,5 23,1 0,8 0,0 0,5 13,6 0,0 0,2 100,0 66 Jumlah 21,3 31,4 2,8 22,4 8,2 4,5 0,2 0,3 8,3 0,2 0,4 100, Lampiran A

271 Tabel A.13.3 Prevalensi diare menurut propinsi Persentase anak di bawah lima tahun yang diare dalam 2 minggu sebelum survei menurut propinsi, Indonesia Diare dalam dua minggu Jumlah Propinsi sebelum survei anak Sumatera Sumatera Utara 12, Sumatera Barat 14,3 445 Riau 6,1 413 Jambi 8,1 189 Sumatera Selatan 3,3 368 Bengkulu 8,2 86 Lampung 9,2 509 Bangka-Belitung 9,4 66 Jawa DKI Jakarta 7,8 497 Jawa Barat 15, Jawa Tengah 7, DI Yogyakarta 5,2 142 Jawa Timur 9, Banten 12,5 713 Bali dan Nusa Tenggara Bali 11,9 191 Nusa Tenggara Barat 13,5 307 Nusa Tenggara Timur 12,9 359 Kalimantan Kalimantan Barat 8,3 291 Kalimantan Tengah 2,4 171 Kalimantan Selatan 9,9 241 Kalimantan Timur 11,1 249 Sulawesi Sulawesi Utara 9,5 147 Sulawesi Tengah 6,4 204 Sulawesi Selatan 15,5 620 Sulawesi Tenggara 9,0 170 Gorontalo 12,2 84 Jumlah 11, Lampiran A 249

272 Tabel A.13.4 Pengetahuan tentang paket oralit menurut province Persentase ibu yang melahirkan dalam lima tahun sebelum survei yang mengetahui paket Oralit untuk pengobatan diare menurut propinsi, Indonesia Persentase ibu yang mengetahui tentang paket Jumlah Propinsi Oralit ibu Sumatera Sumatera Utara 89, Sumatera Barat 92,7 368 Riau 94,1 342 Jambi 92,6 168 Sumatera Selatan 98,1 311 Bengkulu 96,4 76 Lampung 92,1 442 Bangka-Belitung 90,7 57 Jawa DKI Jakarta 99,0 436 Jawa Barat 98, Jawa Tengah 93, DI Yogyakarta 99,1 128 Jawa Timur 93, Banten 67,0 640 Bali dan Nusa Tenggara Bali 95,7 171 Nusa Tenggara Barat 92,3 280 Nusa Tenggara Timur 85,6 275 Kalimantan Kalimantan Barat 87,0 247 Kalimantan Tengah 87,1 153 Kalimantan Selatan 94,3 220 Kalimantan Timur 95,9 209 Sulawesi Sulawesi Utara 93,9 128 Sulawesi Tengah 88,7 171 Sulawesi Selatan 89,0 521 Sulawesi Tenggara 90,9 136 Gorontalo 90,0 75 Jumlah 92, Oralit = Garam rehidrasi oral 250 Lampiran A

273 BAB 14 PEMBERIAN MAKANAN PADA ANAK Tabel A.14.1 Pemberian ASI awal menurut propinsi Persentase anak yang dilahirkan dalam lima tahun sebelum survei yang pernah disusui, dan pada anak yang pernah disusui, persentase yang mulai mendapat ASI dalam satu jam dan dalam satu hari setelah dilahirkan, dan persentase yang mendapat makanan pralaktasi, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Pada semua anak: Persentase yang pernah disusui Jumlah anak Pada anak yang pernah disusui, persentase mulai mendapat ASI: Dalam 1 jam setelah dilahirkan Dalam 1 hari setelah dilahirkan 1 Persentase anak yang mendapat cairan pralaktasi 2 Persentase yang mendapat makanan pralaktasi setangah padat 2 Jumlah anak yang pernah disusui Sumatera Sumatera Utara 98,0 1,372 35,2 44,3 54,8 12, Sumatera Barat 97, ,9 71,3 61,0 19,3 451 Riau 96, ,1 37,5 62,2 31,2 414 Jambi 97, ,2 55,0 49,8 18,6 193 Sumatera Selatan 95, ,2 72,1 52,9 9,2 365 Bengkulu 97, ,7 45,8 60,7 36,0 88 Lampung 95, ,7 53,7 45,5 23,5 507 Bangka Belitung 95, ,5 56,7 59,7 1,5 65 Jawa DKI Jakarta 94, ,5 57,5 65,7 12,5 484 Jawa Barat 97,1 3,090 33,9 67,4 33,4 22, Jawa Tengah 95,8 1,784 22,9 59,7 45,1 29, DI Yogyakarta 98, ,0 71,8 58,1 11,3 142 Jawa Timur 91,7 2,101 61,8 74,4 42,6 7, Banten 95, ,3 62,8 39,9 18,5 702 Bali dan Nusa Tenggara Bali 97, ,6 78,5 31,9 2,4 189 Nusa Tenggara Barat 98, ,2 86,4 26,6 17,5 322 Nusa Tenggara Timur 97, ,6 67,3 35,7 5,2 369 Kalimantan Kalimantan Barat 93, ,0 59,7 44,3 14,7 282 KalimantanTengah 98, ,9 78,1 59,0 2,6 175 Kalimantan Selatan 95, ,5 59,4 54,8 18,5 241 Kalimantan Timur 95, ,6 64,2 54,1 17,7 249 Sulawesi Sulawesi Utara 97, ,9 80,7 34,1 1,9 149 Sulawesi Tengah 98, ,2 39,5 58,6 35,9 213 Sulawesi Selatan 96, ,7 38,3 60,8 10,3 630 Sulawesi Tenggara 97, ,3 59,1 29,3 17,8 178 Gorontalo 95, ,4 76,1 29,0 43,2 88 Jumlah 95,9 15,089 38,7 62,1 45,3 17, Catatan: Tabel berdasarkan pada semua kelahiran yang anaknya hidup atau mati pada saat wawancara. Angka dalam kurung berdasarkan pada kasus yang tidak dibobot 1 Termasuk anak yang mulai menyusu dalam satu jam setelah dilahirkan. 2 Anak diberikan sesuatu selain ASI selama tiga hari pertama kehidupan sebelum ibu mulai menyusui secara teratur Lampiran A 251

274 Tabel A.14.2 Median lama dan frekuensi pemberian ASI menurut propinsi Median lama mendapat ASI, ASI eksklusif, dan ASI utama pada anak yang dilahirkan dalam tiga tahun sebelum survei, persentase mendapat ASI pada anak di bawah umur enam bulan yang tinggal bersama ibu yang disusui enam kali atau lebih dalam 24 jam sebelum survei, dan rata-rata jumlah pemberian ASI (siang/malam), menurut propinsi, Indonesia Median lama (bulan) mendapat ASI 1 Anak mendapat ASI dibawah enam bulan 2 Persentase Yang Rata-rata Rata-rata disusui jumlah jumlah 6 kali pemberian pemberian atau lebih ASI ASI dalam selama selama Pemberian ASI ASI Jumlah 24 jam siang malam Jumlah Propinsi ASI eksklusif utama 3 anak terakhir hari hari anak Sumatera Sumatera Utara 19,4 2,0 2, ,2 6,7 5,1 117 Sumatera Barat 21,5 0,6 0, ,5 7,1 5,0 49 Riau 22,7 0,7 1, ,0 6,8 5,7 39 Jambi 21,8 3,9 4, ,8 7,3 5,2 25 Sumatera Selatan 22,4 2,0 2, ,0 6,6 5,8 44 Bengkulu 21,4 2,2 2, ,0 7,3 5,0 8 Lampung 20,3 2,5 3, ,2 6,5 4,1 49 Bangka-Belitung 22,5 1,4 1, ,0 5,4 5,7 6 Jawa DKI Jakarta 14,4 0,6 1, ,8 6,5 5,2 46 Jawa Barat 24,0 1,6 1, ,5 6,2 4,2 384 Jawa Tengah 24,6 0,7 0, ,5 6,5 5,1 149 DI Yogyakarta 22,3 0,8 0, ,8 6,0 5,5 11 Jawa Timur 22,8 0,7 0, ,7 7,3 4,4 155 Banten 24,8 1,7 2, ,6 6,4 4,9 59 Bali dan Nusa Tenggara Bali 21,7 1,0 1, ,5 5,5 5,0 19 Nusa Tenggara Barat 22,3 3,2 3, ,6 6,0 5,0 25 Nusa Tenggara Timur 21,3 2,1 2, ,6 6,2 4,4 35 Kalimantan Kalimantan Barat 32,7 1,2 1, ,6 6,0 4,8 20 Kalimantan Tengah 23,5 1,9 2, ,3 5,7 3,8 15 Kalimantan Selatan 26,3 2,3 3, ,5 6,0 4,3 31 Kalimantan Timur 21,4 1,8 2, ,7 5,5 4,8 30 Sulawesi Sulawesi Utara 17,9 2,2 2, ,0 6,6 5,5 14 Sulawesi Tengah 21,2 2,7 2, ,7 5,8 4,5 21 Sulawesi Selatan 17,4 3,8 4, ,7 6,7 5,3 66 Sulawesi Tenggara 23,9 3,1 3, ,0 6,2 4,2 22 Gorontalo 25,3 1,5 2, ,5 4,6 4,1 8 Jumlah 22,3 1,6 2, ,5 6,5 4, Rata-rata untuk semua anak 22,1 3,2 3,9 na na na na na Catatan: Median dan rata-rata lama berdasarkan pada status sekarang. ts = tidak sesuai 1 Diasumsikan bahwa anak yang dilahirkan bukan terakhir dan terakhir yang tidak tinggal bersama ibu dianggap tidak diberi ASI 2 Tidak termasuk anak yang jawaban ibunya tidak benar mengenai jumlah kali diberi susu 3 Baik diberi ASI eksklusif maupun mendapat ASI dan air putih, cairan, dan atau jus saja (tidak termasuk susu lain) 252 Lampiran A

275 Tabel A.14.3 Asupan mikronutrien pada anak menurut propinsi Persentase anak terkecil umur di bawah tiga tahun yang tinggal bersama ibu yang mengkonsumsi buah dan sayur yang kaya vitamin A dalam tujuh hari sebelum survei dan persentase anak umur 6-59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A dalam enam bulan sebelum survei, menurut propinsi, Indonesia Propinsi Anak terkecil berumur di bawah 36 bulan: Konsumsi buah dan sayur yang kaya vitamin A dalam 7 hari terakhir Jumlah anak Anak berumur 6-59 bulan: Mendapat kapsul vitamin A dalam 6 bulan terakhir Jumlah anak Sumatera Sumatera Utara 67, , Sumatera Barat 59, ,2 395 Riau 67, ,2 366 Jambi 58, ,0 164 Sumatera Selatan 70, ,9 321 Bengkulu 71, ,8 78 Lampung 68, ,6 455 Bangka Belitung 58, ,2 59 Jawa DKI Jakarta 76, ,5 443 Jawa Barat 63,7 1,724 77, Jawa Tengah 72, , DI Yogyakarta 80, ,6 131 Jawa Timur 72,2 1,121 83, Banten 68, ,9 647 Bali dan Nusa Tenggara Bali 65, ,9 172 Nusa Tenggara Barat 65, ,9 281 Nusa Tenggara Timur 59, ,5 322 Kalimantan Kalimantan Barat 68, ,2 268 KalimantanTengah 64, ,4 154 Kalimantan Selatan 61, ,4 207 Kalimantan Timur 63, ,7 215 Sulawesi Sulawesi Utara 64, ,4 131 Sulawesi Tengah 67, ,2 182 Sulawesi Selatan 67, ,3 554 Sulawesi Tenggara 56, ,1 146 Gorontalo 56, ,6 76 Jumlah 67,4 8,265 75, Catatan: informasi tentang kapsul vitamin A berdasarkan pada ingatan kembali ibu. Jumlahnya termasuk 18 anak tanpa informasi tentang status pemberian ASI dan 109 anak tanpa informasi tentang konsumsi vitamin A tambahan. 1 termasuk labu, wortel, ubi jalar, sayur berdaun hijau, mangga, pepaya, buah dan sayur lain yang tumbuh setempat dan kaya vitamin A Lampiran A 253

276 Tabel A.14.4 Asupan mikronutrien pada ibu menurut propinsi Persentase ibu yang melahirkan dalam lima tahun sebelum survei yang mendapat kapsul vitamin A dalam dua bulan pertama setelah melahirkan, persentase yang menderita buta senja selama kehamilan, dan persentase yang menelan pil zat besi untuk jumlah hari tertentu, menurut propinsi, Indonesia Jumlah hari menelan pil zat besi Mendapat selama kehamilan kapsul Buta selama vitamin A kehamilan Tidak setelah Tidak tahu/tidak Jumlah Propinsi melahirkan 1 Melaporkan Koreksi 2 ada < terjawab wanita Sumatera Sumatera Utara 29,1 2,8 1,0 34,4 46,4 2,1 3,2 13, Sumatera Barat 40,7 3,9 0,7 13,9 43,6 12,5 26,6 3,5 368 Riau 44,7 1,7 0,7 24,1 33,6 9,9 19,8 12,7 342 Jambi 51,9 1,8 0,5 40,3 33,1 7,9 14,1 4,6 168 Sumatera Selatan 38,5 0,7 0,3 17,1 31,9 10,1 20,1 20,9 311 Bengkulu 34,1 1,7 0,4 15,1 33,7 15,6 32,0 3,6 76 Lampung 25,9 1,3 0,7 18,4 53,3 6,4 11,3 10,5 442 Bangka-Belitung 29,2 4,7 0,8 31,2 32,4 8,5 19,8 8,1 57 Jawa DKI Jakarta 51,9 0,4 0,3 6,2 14,5 11,5 60,5 7,3 436 Jawa Barat 42,2 1,6 0,3 22,8 43,6 8,8 22,9 1, Jawa Tengah 38,2 1,4 0,1 10,7 26,3 10,7 51,1 1, DI Yogyakarta 49,0 1,0 0,0 2,2 13,0 14,8 69,8 0,3 128 Jawa Timur 59,1 0,7 0,1 11,7 15,9 6,6 50,4 15, Banten 33,8 1,5 0,1 38,8 26,1 2,8 22,4 9,9 640 Bali dan Nusa Tenggara Bali 35,3 0,7 0,5 10,6 32,8 20,2 32,8 3,6 171 Nusa Tenggara Barat 41,8 1,8 0,0 12,4 45,0 12,1 25,7 4,7 280 Nusa Tenggara Timur 45,1 5,9 0,9 21,1 34,8 7,2 25,4 11,6 275 Kalimantan Kalimantan Barat 38,1 3,1 0,8 32,2 36,7 7,7 18,6 4,8 247 Kalimantan Tengah 37,4 0,3 0,3 33,5 28,9 16,7 7,8 13,0 153 Kalimantan Selatan 36,0 4,2 1,5 15,5 37,3 16,2 29,6 1,3 220 Kalimantan Timur 55,2 3,7 0,2 17,1 23,1 10,1 41,5 8,2 209 Sulawesi Sulawesi Utara 50,6 1,1 0,3 6,3 54,6 8,8 11,2 19,1 128 Sulawesi Tengah 31,8 1,7 0,5 33,5 44,0 3,9 4,4 14,3 171 Sulawesi Selatan 41,7 2,0 0,1 26,3 62,8 1,4 2,2 7,3 521 Sulawesi Tenggara 45,4 1,0 0,0 27,1 54,4 7,2 7,8 3,4 136 Gorontalo 54,9 3,8 1,0 21,5 50,0 12,7 13,3 2,5 75 Jumlah 42,5 1,7 0,4 20,1 34,9 8,2 29,1 7, Catatan: Untuk wanita dengan dua kelahiran hidup atau lebih dalam kurun waktu lima tahun, data merujuk pada kelahiran yang terakhir. 1 Dalam dua bulan pertama setelah melahirkan 2 Wanita yang melaporkan buta senja, tetapi tidak melaporkan gangguan penglihatan pada siang hari 254 Lampiran A

277 BAB 15 PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS DAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL LAINNYA Tabel A Pengetahuan tentang HIV/AIDS Persentase wanita pernah kawin dan pria kawin yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS dan persentase yang percaya ada cara untuk menghindari tertular AIDS, menurut propinsi, Indonesia, Propinsi Pernah mendengar HIV/AIDS Wanita pernah kawin Percaya ada cara untuk menghindari HIV/AIDS Jumlah wanita Pernah mendengar HIV/AIDS Pria kawin Percaya ada cara untuk menghindari HIV/AIDS Jumlah pria Sumatera Sumatera Utara 58,9 34, ,3 56,0 663 Sumatera Barat 67,6 45, ,9 43,4 182 Riau 67,4 38, ,9 59,5 199 Jambi 45,9 22, ,5 43,5 114 Sumatera Selatan 48,8 27, ,3 57,7 259 Bengkulu 60,1 38, ,6 50,1 44 Lampung 53,8 31, ,0 43,8 261 Bangka Belitung 65,4 28, ,0 67,7 40 Jawa DKI Jakarta 89,5 63, ,8 67,9 310 Jawa Barat 63,2 30, ,0 50, Jawa Tengah 53,4 30, ,0 50, DI Yogyakarta 75,5 60, ,8 75,4 103 Jawa Timur 60,3 34, ,1 55, Banten 53,8 34, ,4 62,3 396 Bali dan Nusa Tenggara Bali 49,5 28, ,9 68,8 138 Nusa Tenggara Barat 34,8 18, ,4 38,7 145 Nusa Tenggara Timur 30,6 18, ,0 33,4 122 Kalimantan Kalimantan Barat 51,8 31, ,3 50,0 119 KalimantanTengah 71,2 61, ,4 74,6 97 Kalimantan Selatan 59,3 33, ,6 46,8 109 Kalimantan Timur 79,7 54, ,8 72,2 115 Sulawesi Sulawesi Utara 74,2 43, ,5 70,8 95 Sulawesi Tengah 55,4 24, ,8 30,4 114 Sulawesi Selatan 46,4 26, ,2 55,8 237 Sulawesi Tenggara 43,2 21, ,5 43,6 77 Gorontalo 48,6 25, ,3 19,3 41 Jumlah 58,8 33, ,8 53, Lampiran A 255

278 Tabel A Pengetahuan tentang cara menghindari HIV/AIDS menurut propinsi Distribusi persentase wanita pernah kawin berdasarkan pengetahuan tentang tiga cara penting menurut program untuk menghindari HIV/AIDS, dan persentase wanita yang mengetahui dua cara khusus untuk menghindari HIV/AIDS, menurut propinsi, Indonesia, Propinsi Pengetahuan tentang cara penting menurut program untuk menghindari HIV/AIDS Tak ada 1 Satu cara Dua atau tiga cara Jumlah Cara khusus untuk menghindari HIV/AIDS Memakai kondom Membatasi jumlah pasangan seksual 2 Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 68,6 10,0 21,4 100,0 22,5 30, Sumatera Barat 58,8 17,7 23,5 100,0 24,7 39,7 705 Riau 64,0 13,5 22,5 100,0 22,7 34,1 660 Jambi 79,7 7,7 12,6 100,0 14,2 18,7 382 Sumatera Selatan 74,4 9,5 16,1 100,0 16,5 25,0 809 Bengkulu 64,6 12,0 23,4 100,0 24,4 34,2 159 Lampung 69,6 11,3 19,1 100,0 18,2 29,7 984 Bangka Belitung 75,5 9,4 15,1 100,0 16,7 22,9 128 Jawa DKI Jakarta 37,8 20,2 42,1 100,0 44,0 60, Jawa Barat 75,7 8,3 16,0 100,0 17,9 22, Jawa Tengah 71,5 8,8 19,7 100,0 20,8 27, DI Yogyakarta 40,5 18,9 40,6 100,0 41,8 57,7 367 Jawa Timur 66,1 7,9 25,9 100,0 26,2 33, Banten 69,8 12,4 17,9 100,0 21,7 26, Bali dan Nusa Tenggara Bali 71,6 6,2 22,3 100,0 23,5 27,0 465 Nusa Tenggara Barat 82,2 6,5 11,3 100,0 10,9 17,7 583 Nusa Tenggara Timur 82,8 8,7 8,5 100,0 8,8 16,9 460 Kalimantan Kalimantan Barat 70,9 12,8 16,3 100,0 17,5 26,7 477 KalimantanTengah 38,3 11,7 49,6 100,0 49,4 60,0 297 Kalimantan Selatan 67,9 9,3 22,8 100,0 23,3 31,6 470 Kalimantan Timur 50,8 19,9 29,3 100,0 32,7 44,9 447 Sulawesi Sulawesi Utara 63,0 17,2 19,7 100,0 21,9 34,6 310 Sulawesi Tengah 79,0 9,6 11,4 100,0 12,0 20,1 347 Sulawesi Selatan 75,3 10,7 14,0 100,0 14,5 24, Sulawesi Tenggara 79,5 7,2 13,3 100,0 13,7 20,0 251 Gorontalo 82,8 5,4 11,8 100,0 12,6 16,4 153 Jumlah 69,1 10,1 20,9 100,0 22,0 29, Catatan : Cara penting menurut program adalah berpantang hubungan seks, memakai kondom, dan membatasi jumlah pasangan seksual. Berpantang hubungan seks diukur dari jawaban spontan saja; memakai kondom dan membatasi jumlah pasangan seksual diukur dari jawaban spontan dan terpandu 1 Mereka yang tidak pernah mendengar tentang HIV/AIDS atau tidak tahu tentang cara penting apapun menurut program untuk menghindari HIV/AIDS 2 Merujuk pada membatasi jumlah pasangan seksual dan membatasi hubungan seks pada satu pasangan/ setia pada satu pasangan. 256 Lampiran A

279 Tabel A Pengetahuan tentang masalah yang berhubungan dengan HIV/AIDS menurut propinsi Persentase wanita pernah kawin yang memberikan jawaban khusus terhadap pertanyaan mengenai berbagai masalah yang berhubungan dengan HIV/AIDS, menurut propinsi, Indonesia, Propinsi Persentase yang mengatakan orang yang kelihatan sehat dapat mengidap virus AIDS Persentase yang mengatakan HIV/ AIDS dapat ditularkan dari ibu ke anak Selama persalinan Selama kehamilan Melalui ASI Persentase yang mengenal seseorang secara pribadi yang mengidap virus yang menyebabkan AIDS atau yang meninggal karena AIDS Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 4,4 28,4 35,9 33,8 1, Sumatera Barat 10,1 42,6 49,0 45,8 2,6 705 Riau 6,5 41,3 45,8 43,3 2,1 660 Jambi 2,9 26,6 28,9 24,3 3,5 382 Sumatera Selatan 1,5 20,4 22,0 20,1 0,7 809 Bengkulu 4,6 31,6 38,1 33,9 1,0 159 Lampung 7,5 24,6 32,0 29,3 1,6 984 Bangka Belitung 6,9 37,2 40,8 38,5 3,0 128 Jawa DKI Jakarta 21,0 58,8 63,1 64,3 5, Jawa Barat 5,1 28,1 32,1 30,5 3, Jawa Tengah 5,2 32,3 35,5 32,5 2, DI Yogyakarta 6,4 47,4 55,4 50,9 1,2 367 Jawa Timur 8,3 33,1 35,9 35,7 3, Banten 5,1 35,5 38,9 38,2 5, Bali dan Nusa Tenggara Bali 2,9 36,0 36,3 35,6 3,0 465 Nusa Tenggara Barat 3,0 18,2 18,2 18,5 0,9 583 Nusa Tenggara Timur 4,3 17,7 19,0 18,3 2,0 460 Kalimantan Kalimantan Barat 3,8 33,5 38,5 36,9 2,0 477 KalimantanTengah 4,7 51,0 50,0 62,6 0,6 297 Kalimantan Selatan 4,7 23,7 29,5 27,8 2,6 470 Kalimantan Timur 6,7 47,7 53,5 45,0 1,9 447 Sulawesi Sulawesi Utara 6,8 42,5 43,0 42,8 2,8 310 Sulawesi Tengah 5,6 24,2 27,8 26,0 2,9 347 Sulawesi Selatan 5,1 18,0 23,8 22,3 3, Sulawesi Tenggara 3,7 21,8 24,7 23,6 2,3 251 Gorontalo 6,9 20,8 22,8 23,5 5,6 153 Jumlah 6,2 31,6 35,5 34,0 3, Lampiran A 257

280 Tabel A.15.4 Pembicaraan tentang HIV/AIDS dengan suami menurut propinsi Distribusi persentase wanita kawin berdasarkan apakah mereka pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS dengan suami, menurut propinsi, Indonesia, Propinsi Pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS Tidak pernah membicarakan pencegahan HIV/AIDS Tidak tahu/ tidak terjawab Tidak pernah mendengar AIDS Jumlah Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 15,0 44,4 0,5 40,2 100, Sumatera Barat 26,8 42,5 0,0 30,8 100,0 668 Riau 20,6 46,7 0,6 32,2 100,0 636 Jambi 13,4 33,8 0,0 52,8 100,0 353 Sumatera Selatan 10,8 39,0 0,1 50,1 100,0 772 Bengkulu 22,6 38,1 0,0 39,3 100,0 150 Lampung 16,7 38,1 0,1 45,2 100,0 946 Bangka Belitung 25,6 40,2 0,1 34,2 100,0 122 Jawa DKI Jakarta 24,5 66,9 0,0 8,6 100,0 919 Jawa Barat 13,4 50,2 0,2 36,1 100, Jawa Tengah 14,6 39,9 0,0 45,4 100, DI Yogyakarta 26,0 50,1 0,0 23,9 100,0 350 Jawa Timur 17,7 43,5 0,0 38,8 100, Banten 19,8 35,3 0,2 44,7 100, Bali dan Nusa Tenggara Bali 16,6 33,5 0,0 49,9 100,0 446 Nusa Tenggara Barat 9,2 27,0 0,0 63,8 100,0 518 Nusa Tenggara Timur 12,1 19,6 0,1 68,3 100,0 427 Kalimantan Kalimantan Barat 16,3 36,0 0,2 47,5 100,0 445 KalimantanTengah 14,2 56,1 1,5 28,1 100,0 291 Kalimantan Selatan 19,3 40,3 0,0 40,4 100,0 437 Kalimantan Timur 23,3 56,2 0,2 20,4 100,0 430 Sulawesi Sulawesi Utara 34,4 40,5 0,2 24,9 100,0 298 Sulawesi Tengah 16,7 38,9 0,1 44,3 100,0 329 Sulawesi Selatan 13,9 33,9 0,0 52,2 100,0 961 Sulawesi Tenggara 8,5 35,2 0,1 56,3 100,0 239 Gorontalo 20,4 29,2 0,0 50,4 100,0 143 Jumlah 16,4 43,2 0,1 40,2 100, Lampiran A

281 Tabel A Aspek sosial HIV/AIDS menurut propinsi Persentase yang memberikan jawaban khusus terhadap pertanyaan tentang berbagai aspek sosial HIV/AIDS pada wanita pernah kawin dan pria kawin yang pernah mendengar AIDS, menurut propinsi, Indonesia, Propinsi Merasa status HIV positif anggota keluarga harus dirahasiakan Wanita Tidak mau merawat sanak saudara dengan AIDS di rumah Jumlah wanita Merasa status HIV positif anggota keluarga harus dirahasiakan Pria Tidak mau merawat sanak saudara dengan AIDS di rumah Jumlah pria Sumatera Sumatera Utara 18,5 30, ,3 27,2 500 Sumatera Barat 36,5 22, ,3 9,6 136 Riau 19,3 19, ,1 24,2 159 Jambi 17,5 30, ,3 10,6 92 Sumatera Selatan 22,9 25, ,5 13,5 166 Bengkulu 27,3 21, ,1 21,0 30 Lampung 26,4 22, ,7 19,7 193 Bangka Belitung 17,5 37, ,1 20,1 35 Jawa DKI Jakarta 18,1 22, ,8 15,7 297 Jawa Barat 18,6 24, ,9 47, Jawa Tengah 34,0 38, ,7 17,9 843 DI Yogyakarta 21,5 23, ,6 37,6 87 Jawa Timur 29,3 35, ,5 21, Banten 38,1 40, ,9 28,9 295 Bali dan Nusa Tenggara Bali 7,1 47, ,9 41,2 109 Nusa Tenggara Barat 26,0 43, ,9 40,7 89 Nusa Tenggara Timur 14,5 41, ,4 22,6 59 Kalimantan Kalimantan Barat 23,3 36, ,5 25,8 85 KalimantanTengah 21,5 14, ,3 10,8 80 Kalimantan Selatan 22,3 32, ,6 19,0 80 Kalimantan Timur 24,0 36, ,9 13,0 100 Sulawesi Sulawesi Utara 5,4 43, ,1 75,4 85 Sulawesi Tengah 6,8 41, ,2 36,0 78 Sulawesi Selatan 11,4 41, ,7 29,6 173 Sulawesi Tenggara 8,3 38, ,5 79,2 44 Gorontalo 14,1 49,6 74 8,0 85,8 12 Jumlah 23,9 31, ,0 28, Lampiran A 259

282 Tabel A Pengetahuan tentang gejala PMS menurut propinsi : wanita Persentase wanita pernah kawin berdasarkan pada pengetahuan tentang gejala yang berhubungan dengan penyakit menular seksual (PMS) pada pria dan wanita, menurut propinsi, Indonesia, Propinsi Tidak mengetahui tentang PMS Pengatahuan tentang gejala PMS pada pria Tidak menyebutkan gejala Menyebutkan satu gejala Menyebutkan dua atau lebih gejala Pengetahuan tentang gejala PMS pada wanita Tidak menyebutkan gejala Menyebutkan satu gejala Menyebutkan dua atau lebih gejala Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 70,9 10,1 4,9 14,0 12,6 5,3 11, Sumatera Barat 68,5 15,5 7,4 8,6 19,7 5,7 6,2 705 Riau 69,9 13,0 7,8 9,3 17,5 6,9 5,7 660 Jambi 87,3 7,1 2,6 3,0 9,5 1,6 1,7 382 Sumatera Selatan 72,1 6,3 7,2 14,5 7,4 6,9 13,7 809 Bengkulu 71,2 13,4 5,5 9,9 16,3 6,3 6,2 159 Lampung 68,4 14,8 8,2 8,6 17,8 6,3 7,6 984 Bangka Belitung 69,2 18,7 6,7 5,4 22,3 6,2 2,3 128 Jawa DKI Jakarta 65,4 9,9 11,4 13,2 12,2 10,7 11, Jawa Barat 85,5 6,3 4,3 3,9 7,4 3,8 3, Jawa Tengah 76,1 11,2 6,7 6,0 12,1 5,6 6, DI Yogyakarta 57,3 9,8 9,6 23,3 15,5 6,4 20,7 367 Jawa Timur 61,4 15,9 9,9 12,8 21,1 6,5 10, Banten 77,0 10,9 7,7 4,4 12,8 6,4 3, Bali dan Nusa Tenggara Bali 70,0 11,0 9,3 9,7 14,3 7,3 8,3 465 Nusa Tenggara Barat 87,0 5,0 2,0 6,0 6,8 1,8 4,4 583 Nusa Tenggara Timur 80,1 7,0 7,0 5,8 7,9 6,0 5,9 460 Kalimantan Kalimantan Barat 68,9 14,8 7,0 9,3 17,0 6,8 7,3 477 KalimantanTengah 53,1 1,1 5,5 39,9 1,7 4,6 40,2 297 Kalimantan Selatan 70,5 11,0 7,3 11,2 17,4 5,2 6,9 470 Kalimantan Timur 54,4 21,0 13,9 10,8 27,1 12,5 6,0 447 Sulawesi Sulawesi Utara 51,5 14,6 15,7 18,1 18,7 12,5 17,1 310 Sulawesi Tengah 76,4 12,6 5,7 5,3 13,4 5,1 5,1 347 Sulawesi Selatan 82,1 2,8 6,8 8,4 6,0 5,2 6, Sulawesi Tenggara 76,9 6,6 3,7 12,8 10,7 2,0 10,4 251 Gorontalo 71,6 10,2 11,3 7,0 12,8 9,7 6,0 153 Jumlah 73,1 10,7 7,1 9,1 13,3 5,8 7, Lampiran A

283 Tabel A Pengetahuan tentang gejala PMS menurut propinsi : pria Persentase pria pernah kawin berdasarkan pada pengetahuan tentang gejala yang berhubungan dengan penyakit menular seksual (PMS) pada pria dan wanita, menuru propinsi,, Propinsi Tidak mengetahui tentang PMS Pengatahuan tentang gejala PMS pada pria Tidak menyebutkan gejala Menyebutkan satu gejala Menyebutkan dua atau lebih gejala Pengetahuan tentang gejala PMS pada wanita Tidak menyebutkan gejala Menyebutkan satu gejala Menyebutkan dua atau lebih gejala Sumatera Sumatera Utara 48,8 7,8 22,3 21,1 27,4 12,0 11,8 663 Sumatera Barat 35,5 21,5 9,1 33,9 52,7 5,1 6,7 182 Riau 39,6 19,6 9,5 30,3 47,9 3,9 7,5 199 Jambi 49,1 15,6 13,7 21,7 40,2 6,6 4,1 114 Sumatera Selatan 32,8 6,2 5,8 55,2 28,9 3,7 34,7 259 Bengkulu 40,9 25,3 11,8 22,0 40,0 8,5 10,6 44 Lampung 37,7 27,1 12,2 23,1 55,4 4,8 2,1 261 Bangka Belitung 42,1 20,3 15,1 22,5 53,3 2,1 2,4 40 Jawa DKI Jakarta 18,1 5,5 29,7 46,7 74,3 3,2 4,4 310 Jawa Barat 50,5 3,4 21,5 24,7 39,8 4,6 5, Jawa Tengah 40,6 15,3 16,7 27,4 45,8 7,2 6, DI Yogyakarta 31,4 23,4 11,3 33,9 48,4 7,2 13,0 103 Jawa Timur 29,4 12,4 20,1 38,0 60,8 6,7 3, Banten 35,5 19,0 18,8 26,6 48,5 5,5 10,4 396 Bali dan Nusa Tenggara Bali 27,5 3,3 25,2 43,8 11,4 18,6 42,4 138 Nusa Tenggara Barat 36,9 25,5 18,9 18,8 60,3 1,1 1,8 145 Nusa Tenggara Timur 67,2 6,2 6,8 19,3 24,5 2,8 5,0 122 Kalimantan Kalimantan Barat 28,6 24,4 16,4 30,3 58,0 6,7 6,4 119 KalimantanTengah 25,3 0,8 6,7 67,2 13,5 11,3 49,8 97 Kalimantan Selatan 27,4 21,9 17,5 33,1 53,9 3,0 15,6 109 Kalimantan Timur 18,4 15,8 23,3 42,6 52,1 18,8 10,7 115 Sulawesi Sulawesi Utara 27,7 14,3 18,9 39,2 60,5 2,9 8,9 95 Sulawesi Tengah 39,8 17,9 15,5 26,8 49,5 4,9 5,9 114 Sulawesi Selatan 38,8 7,1 12,6 41,5 38,9 2,7 19,7 237 Sulawesi Tenggara 63,6 3,6 10,4 22,4 18,2 5,0 13,3 77 Gorontalo 55,2 6,9 14,6 23,4 11,8 14,9 18,1 41 Jumlah 38,9 11,7 18,2 31,2 46,1 6,4 8, Jumlah pria Lampiran A 261

284 Tabel A.15.8 Pengetahuan tentang sumber kondom pria dan akses pada kondom menurut propinsi Persentase wanita pernah kawin yang mengetahui sumber kondom pria, dan persentase yang berpendapat mereka sendiri dapat memperoleh kondom pria, menurut propinsi, Indonesia, Propinsi Mengetahui sumber kondom pria Dapat memperoleh kondom pria Jumlah wanita Sumatera Sumatera Utara 49,3 38, Sumatera Barat 52,5 39,5 705 Riau 41,5 26,4 660 Jambi 32,5 25,8 382 Sumatera Selatan 65,0 41,9 809 Bengkulu 52,9 38,7 159 Lampung 34,8 25,9 984 Bangka Belitung 38,4 20,3 128 Jawa DKI Jakarta 74,6 45, Jawa Barat 29,5 18, Jawa Tengah 41,2 26, DI Yogyakarta 72,7 55,9 367 Jawa Timur 43,3 31, Banten 41,5 28, Bali dan Nusa Tenggara Bali 34,2 25,1 465 Nusa Tenggara Barat 18,3 7,5 583 Nusa Tenggara Timur 15,7 4,7 460 Kalimantan Kalimantan Barat 30,9 16,6 477 KalimantanTengah 53,9 28,7 297 Kalimantan Selatan 35,4 27,5 470 Kalimantan Timur 53,8 29,3 447 Sulawesi Sulawesi Utara 32,7 19,3 310 Sulawesi Tengah 24,9 17,4 347 Sulawesi Selatan 32,3 19, Sulawesi Tenggara 33,3 15,5 251 Gorontalo 14,5 7,6 153 Jumlah 40,4 27, Lampiran A

285 BAB 17 PERAN SERTA PRIA DALAM PERAWATAN KESEHATAN KELUARGA Tabel A.17.1 Nasehat atau perawatan tentang pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan persalinan dan perawatan nifas menurut propinsi Persentase kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ibunya mendapat nasehat atau perawatan dari tenaga kesehatan (berdasarkan laporan ayah), menurut propinsi, Indonesia Propinsi Memperoleh nasehat dan pelayanan kesehatan Selama enam Selama minggu setelah Selama hamil persalinan melahirkan Jumlah ayah Sumatera Sumatera Utara 83,3 85,1 68,6 309 Sumatera Barat 89,4 82,5 71,1 94 Riau 81,6 76,4 55,6 111 Jambi 82,5 73,7 46,6 49 Sumatera Selatan 96,5 87,3 74,2 97 Bengkulu 87,6 82,0 80,4 22 Lampung 88,8 68,8 70,9 123 Bangka Belitung 73,3 69,6 54,0 17 Jawa DKI Jakarta 92,4 89,2 84,4 147 Jawa Barat 81,3 64,3 65,3 732 Jawa Tengah 87,8 82,7 72,9 456 DI Yogyakarta 99,4 97,7 98,4 34 Jawa Timur 94,2 83,4 75,8 563 Banten 83,1 84,1 77,8 179 Bali dan Nusa Tenggara Bali 98,6 97,0 96,8 47 Nusa Tenggara Barat 92,3 77,0 74,6 83 Nusa Tenggara Timur 79,6 51,0 47,1 77 Kalimantan Kalimantan Barat 86,1 72,8 60,4 62 Kalimantan Tengah 73,4 75,0 60,6 51 Kalimantan Selatan 83,6 75,5 53,4 48 Kalimantan Timur 87,7 81,6 79,1 58 Sulawesi Sulawesi Utara 99,1 98,9 97,0 41 Sulawesi Tengah 77,8 72,5 75,4 62 South Sulawesi Selatan 88,6 65,0 72,3 130 Sulawesi Tenggara 83,7 65,1 62,9 43 Gorontalo 95,6 80,3 71,2 20 Jumlah 86,9 77,2 70, Lampiran A 263

286 Tabel A.17.2 Imunisasi yang didapat anak balita menurut propinsi Persentase anak terakhir yang lahir dalam lima tahun sebelum survei dan masih hidup yang medapat imunisasi (berdasarkan laporan ayah), menurut propinsi, Indonesia Karakteristik latar belakang BCG Polio DPT Campak Hepatitis B Jumlah ayah Sumatera Sumatera Utara 67,4 75,4 59,0 54,2 52,0 304 Sumatera Barat 57,7 68,7 48,9 49,3 45,0 92 Riau 77,6 81,7 73,8 71,2 73,3 109 Jambi 81,3 84,8 72,8 68,9 67,6 48 Sumatera Selatan 89,9 83,2 79,8 70,6 65,9 96 Bengkulu 84,2 86,6 80,7 78,5 73,4 22 Lampung 57,6 70,4 54,6 56,8 42,4 119 Bangka Belitung 78,0 81,6 77,1 72,3 73,6 16 Jawa DKI Jakarta 92,6 89,4 85,1 79,1 85,1 147 Jawa Barat 73,7 75,0 66,2 59,0 56,9 708 Jawa Tengah 89,0 91,9 87,2 78,4 77,0 454 DI Yogyakarta 100,0 100,0 97,6 88,8 94,4 34 Jawa Timur 82,6 86,9 80,4 63,6 77,0 554 Banten 70,4 81,8 66,4 55,6 49,0 178 Bali dan Nusa Tenggara Bali 97,3 96,2 94,8 83,9 94,0 47 Nusa Tenggara Barat 86,2 86,3 78,4 77,0 72,7 80 Nusa Tenggara Timur 78,2 83,1 57,7 48,4 38,9 75 Kalimantan Kalimantan Barat 70,6 80,0 63,4 64,5 61,9 62 Kalimantan Tengah 75,5 72,0 70,6 55,2 60,0 49 Kalimantan Selatan 66,5 78,6 59,8 52,0 39,7 48 Kalimantan Timur 73,7 75,9 71,1 59,8 61,9 58 Sulawesi Sulawesi Utara 93,0 92,6 90,2 74,6 83,1 39 Sulawesi Tengah 77,7 91,4 80,6 63,2 66,8 61 Sulawesi Selatan 62,2 73,9 63,9 55,3 54,1 126 Sulawesi Tenggara 81,9 87,5 80,6 77,0 78,5 42 Gorontalo 71,3 75,8 65,9 64,4 59,6 19 Total 77,6 81,9 72,6 64,2 64, Lampiran A

287 Tabel A.17.3 Kontak ayah dengan tenaga kesehatan tentang kesehatan dan kehamilan ibu menurut propinsi Persentase kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ayahnya berbicara dengan petugas kesehatan tentang kesehatan atau kehamilan ibunya, dan persentasenya yang membicarakan topik tertentu. menurut propinsi. Indonesia Topik pembicaraan Propinsi Berbicara dengan tenaga kesehatan Jenis makanan yang dimakan selama kehamilan Berapa banyak istirahat yang harus dilaku-kan selama kehamilan Jenis masalah kesehatan yang harus mendapat perhatian medis segera Jumlah ayah Sumatera Sumatera Utara 41,4 36,6 35,7 40,5 309 Sumatera Barat 48,2 41,8 42,8 45,4 94 Riau 47,7 41,0 43,0 39,0 111 Jambi 26,9 23,3 22,9 24,2 49 Sumatera Selatan 48,7 44,7 44,8 47,1 97 Bengkulu 41,0 35,8 37,5 37,8 22 Lampung 27,6 21,2 22,2 24,1 123 Bangka Belitung 54,1 52,9 52,9 54,1 17 Jawa DKI Jakarta 47,9 44,8 46,4 44,0 147 Jawa Barat 33,7 30,2 30,6 32,1 732 Jawa Tengah 43,6 40,6 39,9 41,9 456 DI Yogyakarta 52,8 50,7 45,2 49,8 34 Jawa Timur 39,2 32,8 34,5 37,6 563 Banten 42,7 38,4 40,6 40,7 179 Bali dan Nusa Tenggara Bali 99,2 98,0 97,8 96,2 47 Nusa Tenggara Barat 23,8 16,4 20,9 15,1 83 Nusa Tenggara Timur 12,1 9,9 9,9 11,4 77 Kalimantan Kalimantan Barat 30,2 30,0 29,0 28,9 62 Kalimantan Tengah 22,8 14,0 12,8 13,9 51 Kalimantan Selatan 29,6 19,5 18,1 19,8 48 Kalimantan Timur 68,7 63,4 65,8 68,1 58 Sulawesi Sulawesi Utara 74,6 64,7 64,7 66,1 41 Sulawesi Tengah 35,1 29,9 31,7 34,6 62 Sulawesi Selatan 29,7 26,6 27,6 19,7 130 Sulawesi Tenggara 43,8 40,7 41,0 39,6 43 Gorontalo 39,6 20,1 15,0 21,4 20 Jumlah 39,6 35,0 35,5 36, Lampiran A 265

288 Tabel A Persiapan persalinan menurut propinsi Persentase kelahiran terakhir dalam lima tahun sebelum survei yang ayahnya membicarakan topik khusus tentang persalinan. menurut propinsi. Indonesia Tempat persalinan Transportasi Topik yang dibicarakan Penolong Pembayaran persalinan Donor darah Salah satu topik Tidak ada topik yg dibicarakan Jumlah ayah Propinsi Sumatera Sumatera Utara 37,9 19,1 65,5 48,0 2,2 73,5 26,5 309 Sumatera Barat 83,1 61,4 94,3 70,1 7,1 97,6 2,4 94 Riau 67,0 40,3 71,0 57,5 12,3 76,2 23,8 111 Jambi 49,1 34,8 58,3 47,6 8,6 61,9 38,1 49 Sumatera Selatan 76,7 50,2 88,9 78,4 13,1 96,4 3,6 97 Bengkulu 54,7 30,0 63,5 55,2 11,5 68,7 31,3 22 Lampung 45,7 14,9 46,5 37,0 1,5 55,1 44,9 123 Bangka Belitung 79,6 34,9 80,8 70,2 9,9 88,5 11,5 17 Jawa DKI Jakarta 88,6 57,9 62,7 71,8 1,4 90,7 9,3 147 Jawa Barat 75,9 33,6 60,8 73,0 2,7 83,3 16,7 732 Jawa Tengah 66,6 34,0 55,1 52,8 11,6 74,6 25,4 456 DI Yogyakarta 72,3 43,6 75,7 60,5 5,2 87,9 12,1 34 Jawa Timur 65,2 24,0 59,1 40,2 4,3 69,5 30,5 563 Banten 62,4 30,0 70,2 59,7 14,5 82,6 17,4 179 Bali dan Nusa Tenggara Bali 84,3 38,0 77,3 58,9 11,8 90,3 9,7 47 Nusa Tenggara Barat 53,7 39,6 58,8 57,0 1,2 63,4 36,6 83 Nusa Tenggara Timur 73,4 31,6 71,4 62,7 0,0 82,7 17,3 77 Kalimantan Kalimantan Barat 42,0 22,6 55,0 38,1 8,8 59,2 40,8 62 Kalimantan Tengah 48,1 18,9 59,1 42,8 4,8 69,9 30,1 51 Kalimantan Selatan 51,8 12,0 71,2 52,3 3,6 77,2 22,8 48 Kalimantan Timur 70,1 49,3 72,3 57,0 9,7 77,1 22,9 58 Sulawesi Sulawesi Utara 87,7 40,3 69,6 57,0 24,3 88,5 11,5 41 Sulawesi Tengah 59,1 18,2 71,2 50,8 15,6 72,2 27,8 62 Sulawesi Selatan 56,7 47,2 69,9 61,2 6,7 70,5 29,5 130 Sulawesi Tenggara 61,4 39,0 59,9 64,3 9,8 72,3 27,7 43 Gorontalo 71,7 22,9 70,3 57,7 10,4 89,6 10,4 20 Jumlah 65,3 32,6 63,6 57,0 6,4 76,9 23, Lampiran A

289 KERANGKA SAMPEL Lampiran B B.1 PENDAHULUAN SDKI mengumpulkan data dari sampel wanita thn pernah kawin dan pria thn berstatus kawin untuk: Mengestimasi parameter demografi,khususnya Fertilitas dan kematian anak dibawah lima tahun; Mengukur pengetahuan dan penggunaan alat kontrasepsi; Melihat indikator kunci kesehatan anak termasuk tingkat immunisasi; prevalensi dan pengobatan diare dan penyakit lainnya; dan praktek pemberian makananan kepada anak; Menilai cakupan pelayanan perawatan ibu; Menggali keterlibatan pria dalam kesehatan reproduksi; Meneliti variabel langsung dan tidak langsung yang mempengaruhi situasi kesehatan ibu dan anak. Survei memberikan perkiraan ditingkat nasional dan propinsi untuk seluruh indikator diatas. Dilima kabupaten Jawa Tengah dan Jawa timur yang dicakup dalam Safe Motherhood Project sampel diperbesar agar dapat diestimasi sampai level kabupaten/kota dengan ketelitian yang dapat diterima dari rumah tangga dan wanita yang diwawancarai. B.2 RANCANGAN SAMPEL DAN PELAKSANAAN Secara administrasi, Indonesia dibagi dalam 30 propinsi. Setiap propinsi dibagi dalam kabupaten/kota (kabupaten umumnya daerah perdesaan dan kota adalah daerah perkotaan). Kabupaten/kota dibagi dalam kecamatan dan setiap kecamatan terbagi menjadi desa. Seluruh desa ditentukan daerah perkotaan atau perdesaan. Tujuan utama dari SDKI adalah untuk memberikan perkiraan dengan ketelitian yang dapat diterima mencakup: Indonesia secara keseluruhan; Setiap propinsi dari 26 propinsi yang tercakup dalam survei. Empat propinsi tidak dicakup karena alasan keamanan yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, Maluku Utara dan Papua, propinsi tersebut hanya dihuni oleh empat persen penduduk Indonesia; Daerah perkotaan dan perdesaan Indonesia; Masing-masing dari 5 kabupaten/kota di Jawa Tengah dan 5 kabupaten/kota di Jawa Timur yang tercakup dalam Safe Motherhood Project (SMP), untuk evaluasi dan monitoring proyek. Kabupaten/kota tersebut adalah : Di Jawa tengah : Cilacap, Rembang, Jepara, Pemalang dan Brebes. Di Jawa timur : Trenggalek, Jombang, Ngawi, Sampang dan Pamekasan. Lampiran B 267

290 Blok Sensus (BS) adalah merupakan unit sampel terkecil dalam SDKI BS dibentuk dalam persiapan Sensus Penduduk Setiap BS kurang lebih terdapat 80 rumah tangga. Dalam kerangka contoh induk, BS dikelompokkan menurut propinsi, kabupaten/kota dalam propinsi dan kecamatan dalam kabupaten/kota. Di daerah perdesaan, BS disetiap kabupaten/kota diurutkan menurut lokasi wilayah. Di perkotaan, BS dibedakan menurut klasifikasi perkotaan (besar, sedang dan kota kecil) di setiap kecamatan. Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan daftar BS yang sebagai dasar pengambilan sampel untuk berbagai survei. Daftar sampel Susenas 2002 digunakan sebagai kerangka sampel untuk SDKI Pendaftaran rumah tangga telah dilakukan diseluruh BS yang tercakup dalam Susenas Hal ini meniadakan pelaksanaan pendaftaran rumah tangga dalam SDKI Dalam rancangan SDKI ditentukan paling sedikit 40 BS untuk setiap propinsi. Sampel dirancang untuk menghasilkan indikator yang terpercaya di setiap propinsi, jumlah BS di setiap propinsi tidak dialokasikan secara proporsional terhadap jumlah penduduk propinsi juga tidak proporsional menurut klafikasi daerah perkotaan dan perdesaan. Dengan demikian, penyesuaian penimbang akhir dilakukan untuk mendapatkan perkiraan seluruh variabel. Sampel SDKI dipilih melalui strafikasi dua tahap dari BS. Setelah jumlah rumah tangga dialokasikan untuk setiap propinsi menurut daerah perkotaan dan perdesaan, jumlah BS ditentukan berdasarkan rata-rata sampel 25 rumah tangga disetiap BS. Seluruh wanita pernah 25. Sulawesi Tenggara 26. Gorontalo Jumlah kawin umur tahun dalam rumah tangga memenuhi syarat untuk diwawancarai secara individu. Delapan rumah tangga disetiap BS yang terpilih untuk sampel wanita dipilih untuk sampel pria. Seluruh pria yang berstatus kawin umur tahun dalam rumah tangga terpilih diwawancarai. Sampel ini dirancang dapat memberikan perkiraan yang mencakup : Indonesia keseluruhan; Perkotaan dan perdesaan; Propinsi, untuk indikator kunci dihampir seluruh propinsi. Tabel B.1 Alokasi blok sensus menurut propinsi Propinsi Jumlah blok sensus 1. Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka-Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah 5 SMP Districts Remaining districts DI Yogyakarta Jawa Timur 5 SMP Districts Remaining districts Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Lampiran B Disetiap propinsi, pemilihan BS di wilayah perkotaan dan perdesaan dilakukan menggunakan sampling beberapa tahap (multi stage stratified sampling). Di daerah perkotaan, tahap pertama BS dipilih secara sistematik sampling. Disetiap BS terpilih 25 rumah tangga dipilih secara acak. Di daerah perdesaan pemilihan rumah tangga dilakukan dengan tiga tahap. Tahap pertama, kecamatan dipilih dengan proporsi banyaknya rumah tangga. Di tahap kedua, setiap kecamatan terpilih, dipilih BS dengan sistematik sampling. Di tahap ketiga disetiap BS terpilih, dipilih 25 rumah tangga secara acak. Di setiap kabupaten/kota di 10 kabupaten/kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, BS dipilih secara sistematik dan proposional terhadap jumlah rumah tangga. Ditahap kedua disetiap BS terpilih dipilih 25 rumah tangga secara acak.

291 Hasil pemilihan sampel menurut daerah perkotaan/perdesaan, setiap propinsi dan menurut pria dan wanita disajikan pada tabel B.2.1 dan B.2.2. Dalam Tabel B.2.1, rumah tangga terpilih dalam SDKI Dari jumlah ini 95 persen berhasil diwawancarai, 2 persen tidak berhasil karena rumahnya ditemukan kosong, dan 2 persen sedang pergi saat petugas pencacah datang. Alasan lain tidak berhasil mewawancarai rumah tangga, karena responden di rumah tangga tidak mampu diwawancarai, rumah tidak dapat ditemukan atau telah dirobohkan. Tingkat keberhasilan mewawancarai rumah tangga secara keseluruhan adalah 99 persen (lihat Tabel B.2.1 untuk definisi). Tingkat keberhasilan rumah tangga yang berhasil di wawancarai disetiap propinsi berkisar dari 88 persen di Kalimantan Barat sampai 99 persen di Riau. Tingkat keberhasilan lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding di daerah perkotaan. Tabel B.2.2 menunjukkan cakupan untuk responden wanita. Dari wanita yang memenuhi syarat untuk di wawancarai, 98 persen berhasil di wawancarai, 1 persen tidak berhasil karena tidak berada dirumah (lihat Tabel B.2.2 untuk definisi). Wanita perkotaan sama seperti wanita perdesaan bila diwawancara dalam survei. Tingkat keberhasilan wawancara tidak banyak berbeda antar propinsi. Tingkat keberhasilan terendah terdapat di Kalimantan Barat 96 persen, sedangkan di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah hampir 100 persen. Tabel B.3.1 menunjukkan rumah tangga terpilih dalam subsampel pria dalam SDKI Ini kurang lebih 1 diantara 3 rumah tangga yang terpilih dalam sampel wanita. Dari seluruh sampel tersebut, 95 persen rumah tangga berhasil diwawancarai, 2 persen tidak berhasil diwawancarai karena rumah kosong dan 2 persen tidak dapat ditemui saat petugas datang. Secara keseluruhan tingkat keberhasilan per propinsi berkisar dibawah 88 persen di Kalimantan Barat sampai persen di Riau, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah. Tabel B.3.2 menunjukkan bahwa dari pria yang memenuhi syarat untuk diwawancarai, pria berhasil diwawancarai atau dengan tingkat keberhasilan 95 persen. Alasan utama tidak berhasilnya pria yang memenuhi syarat untuk diwawancara adalah karena tidak dapat ditemui saat petugas datang, walaupun petugas sudah berkali-kali mendatangi. Rendahnya tingkat keberhasilan untuk reponden pria karena sering dan lama responden pria tidak berada dirumah. Tingkat keberhasilan wawancara rumah tangga disetiap propinsi bevariasi dari kurang 99 persen di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan dan persen di Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah. Lampiran B 269

292 Tabel B.2.1 Rancangan sampel: hasil wawancara rumah tangga: wanita Distribusi persentase sampel rumah tangga berdasarkan hasil wawancara dan tingkat hasil kunjungan daftar rumah tangga, menurut daerah tempat tinggal dan propinsi, Indonesia Rumah tangga Bangunan ada tetapi Rumah kosong/ tidak ada Bangunan tangga bukan Tingkat Daerah responden tidak tidak tempat Bangunan Jumlah hasil tempat tinggal Selesai di rumah Ditolak ditemukan ada tinggal dibongkar Lainnya rumah kunjungan dan propinsi (S) (RA) (D) (BTD) (RT) (BK) (BD) (L) Jumlah tangga (THK) 1 Daerah tempat tinggal Perkotaan 94,5 0,4 0,2 0,7 1,4 2,4 0,3 0,2 100, ,7 Perdesaan 95,8 0,4 0,0 0,3 1,7 1,4 0,3 0,1 100, ,3 Sumatera Sumatera Utara 96,7 0,2 0,4 0,3 1,2 1,1 0,2 0,0 100, ,1 Sumatera Barat 97,8 0,3 0,0 0,2 1,1 0,5 0,0 0,1 100, ,5 Riau 99,1 0,4 0,1 0,0 0,3 0,1 0,0 0,0 100, ,5 Jambi 98,4 0,1 0,0 0,0 0,7 0,8 0,0 0,0 100, ,9 Sumatera Selatan 98,2 0,0 0,2 0,3 0,1 0,8 0,3 0,1 100, ,4 Bengkulu 96,2 0,1 0,0 0,0 1,4 2,3 0,0 0,0 100, ,9 Lampung 96,8 0,2 0,0 0,0 1,1 1,6 0,3 0,0 100, ,8 Bangka-Belitung 89,9 0,3 0,2 0,9 3,2 4,7 0,7 0,1 100, ,5 Jawa DKI Jakarta 94,3 0,2 0,1 1,2 1,1 2,5 0,2 0,3 100, ,3 Jawa Barat 93,2 0,6 0,4 0,4 1,8 2,8 0,5 0,2 100, ,5 Jawa Tengah 97,6 0,3 0,0 0,3 0,5 1,0 0,3 0,0 100, ,4 DI Yogyakarta 94,5 1,0 0,0 0,1 1,0 3,1 0,2 0,1 100, ,8 Jawa Timur 97,1 0,1 0,1 0,2 1,1 1,2 0,2 0,0 100, ,7 Banten 93,0 0,3 0,3 1,8 0,5 3,7 0,4 0,1 100, ,5 Bali dan Nusa Tenggara Bali 94,7 0,5 0,1 0,4 2,1 1,3 0,4 0,5 100, ,0 Nusa Tenggara Barat 95,9 0,1 0,1 0,3 0,8 2,5 0,2 0,1 100, ,5 Nusa Tenggara Timur 97,6 0,3 0,2 0,1 1,2 0,4 0,1 0,1 100, ,4 Kalimantan Kalimantan Barat 87,9 2,7 0,1 0,1 3,7 4,8 0,7 0,0 100, ,8 Kalimantan Tengah 98,3 0,1 0,0 0,2 0,5 0,6 0,1 0,2 100, ,7 Kalimantan Selatan 91,4 0,3 0,1 0,6 3,5 2,6 1,0 0,4 100, ,9 Kalimantan Timur 93,5 0,3 0,4 0,9 3,6 1,1 0,2 0,0 100, ,3 Sulawesi Sulawesi Utara 94,0 0,2 0,0 1,6 1,5 1,1 0,8 0,8 100, ,2 Sulawesi Tengah 98,2 0,0 0,1 0,4 0,2 0,8 0,0 0,3 100, ,5 Sulawesi Selatan 92,3 0,3 0,0 0,2 4,6 2,1 0,4 0,1 100, ,4 Sulawesi Tenggara 97,5 0,0 0,0 0,0 2,5 0,0 0,0 0,0 100, ,0 Gorontalo 95,4 0,2 0,1 0,9 1,2 1,9 0,3 0,0 100, ,8 Jumlah 95,3 0,4 0,1 0,5 1,5 1,8 0,3 0,1 100, ,0 1 Berdasarkan jumlah rumah tangga menurut kategori hasil kunjungan, tingkat hasil kunjungan rumah tangga (THK) dihitung dengan rumus: 100 * S S + RA + T + D + BTD 270 Lampiran B

293 Tabel B.2.2 Rancangan sampel: hasil wawancara rumah tangga: wanita Distribusi persentase wanita memenuhi syarat berdasarkan hasil wawancara perorangan dan tingkat hasil kunjungan wanita memenuhi syarat dan tingkat hasil kunjungan keseluruhan menurut daerah tempat tinggal dan propinsi, Indonesia Tingkat Hasil Tingkat Responden kunjungan hasil Responden tidak/kurang wanita kunjungan Daerah tidak Sebagian mampu memenuhi ketempat tinggal Selesai ada Ditolak selesai menjawab Lainnya Jumlah syarat seluruhan dan propinsi (S) (TA) (D) (SB) (G) (L) Jumlah wanita (TKWS) 1 (TKS) 2 Daerah tempat tinggal Perkotaan 98,3 1,2 0,2 0,1 0,1 0,1 100, ,3 96,9 Perdesaan 98,3 1,1 0,1 0,1 0,2 0,2 100, ,3 97,6 Sumatera Sumatera Utara 99,7 0,1 0,0 0,1 0,1 0,1 100, ,7 98,8 Sumatera Barat 97,9 1,9 0,1 0,1 0,0 0,0 100, ,9 97,4 Riau 97,4 1,8 0,2 0,0 0,3 0,4 100, ,4 96,9 Jambi 98,3 0,6 0,0 0,7 0,1 0,4 100, ,3 98,2 Sumatera Selatan 99,6 0,4 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,6 99,0 Bengkulu 99,1 0,9 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,1 99,0 Lampung 98,5 1,2 0,3 0,0 0,0 0,0 100, ,5 98,3 Bangka-Belitung 97,6 1,1 0,6 0,0 0,0 0,8 100, ,6 96,1 Jawa DKI Jakarta 99,0 0,7 0,2 0,0 0,1 0,0 100, ,0 97,3 Jawa Barat 97,7 1,5 0,4 0,1 0,4 0,0 100, ,7 96,2 Jawa Tengah 98,1 1,2 0,1 0,1 0,1 0,3 100, ,1 97,5 DI Yogyakarta 98,8 1,1 0,2 0,0 0,0 0,0 100, ,8 97,6 Jawa Timur 97,9 1,4 0,1 0,1 0,4 0,1 100, ,9 97,6 Banten 98,9 0,6 0,1 0,0 0,2 0,1 100, ,9 96,5 Bali dan Nusa Tenggara Bali 98,8 0,9 0,2 0,0 0,1 0,0 100, ,8 97,8 Nusa Tenggara Barat 98,7 0,5 0,3 0,3 0,1 0,1 100, ,7 98,2 Nusa Tenggara Timur 98,0 1,2 0,0 0,0 0,0 0,8 100, ,0 97,4 Kalimantan Kalimantan Barat 96,0 2,2 0,8 0,1 0,6 0,2 100, ,0 93,0 Kalimantan Tengah 99,7 0,0 0,0 0,1 0,0 0,2 100, ,7 99,4 Kalimantan Selatan 97,2 2,3 0,2 0,0 0,2 0,1 100, ,2 96,1 Kalimantan Timur 97,2 2,4 0,1 0,0 0,4 0,0 100, ,2 95,5 Sulawesi Sulawesi Utara 99,7 0,1 0,0 0,1 0,0 0,1 100, ,7 97,9 Sulawesi Tengah 99,7 0,0 0,3 0,0 0,0 0,0 100, ,7 99,2 Sulawesi Selatan 95,5 3,5 0,2 0,1 0,5 0,2 100, ,5 95,0 Sulawesi Tenggara 98,9 0,4 0,0 0,0 0,0 0,7 100, ,9 98,9 Gorontalo 96,6 2,2 0,2 0,0 0,5 0,5 100, ,6 95,4 Jumlah 98,3 1,1 0,2 0,1 0,2 0,2 100, ,3 97,3 1 Berdasarkan jumlah wanita yang memenuhi syarat berdasarkan kategori hasil kunjungan, tingkat hasil kunjungan wanita memenuhi syarat (TKWS) dihitung dengan rumus: 100 * S S + TA + T + D + SB + G + L 2 Tingkat hasil kunjungan keseluruhan (TKS) dihitung dengan rumus: TKS = THK * TKWS/100 Lampiran B 271

294 Tabel B.3.1 Rancangan sampel: hasil wawancara rumah tangga: pria Distribusi persentase rumah tangga terpilih untuk subsampel pria berdasarkan hasil wawancara dan tingkat hasil kunjungan daftar rumah tangga, menurut daerah tempat tinggal dan propinsi, Indonesia Rumah tangga Bangunan ada tetapi Rumah kosong/ tidak ada Bangunan tangga bukan Tingkat Daerah responden tidak tidak tempat Bangunan Jumlah hasil tempat tinggal Selesai di rumah Ditolak ditemukan ada tinggal dibongkar Lainnya rumah kunjungan dan propinsi (S) (RA) (D) (BTD) (RT) (BK) (BD) (L) Jumlah tangga (THK) 1 Daerah tempat tinggal Urban 94,8 0,5 0,2 0,4 1,4 2,5 0,2 0,1 100, ,0 Rural 95,8 0,3 0,0 0,2 1,6 1,5 0,4 0,1 100, ,4 Sumatera Sumatera Utara 96,8 0,0 0,4 0,2 1,3 1,1 0,2 0,0 100, ,3 Sumatera Barat 98,0 0,0 0,0 0,3 1,0 0,8 0,0 0,0 100, ,7 Riau 99,5 0,5 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,5 Jambi 97,8 0,3 0,0 0,0 0,6 1,3 0,0 0,0 100, ,7 Sumatera Selatan 98,2 0,0 0,0 0,3 0,3 1,0 0,3 0,0 100, ,7 Bengkulu 95,4 0,0 0,0 0,0 2,3 2,3 0,0 0,0 100, ,0 Lampung 96,2 0,3 0,0 0,0 1,5 1,5 0,5 0,0 100, ,7 Bangka-Belitung 90,3 0,3 0,0 0,3 4,1 4,7 0,3 0,0 100, ,3 Jawa DKI Jakarta 94,7 0,0 0,0 0,6 1,3 3,0 0,2 0,2 100, ,3 Jawa Barat 93,9 0,4 0,3 0,1 2,4 2,5 0,3 0,0 100, ,1 Jawa Tengah 98,3 0,5 0,0 0,0 0,2 0,7 0,3 0,0 100, ,5 DI Yogyakarta 94,3 0,8 0,0 0,0 1,0 3,2 0,8 0,0 100, ,2 Jawa Timur 97,1 0,0 0,2 0,0 1,1 1,4 0,2 0,0 100, ,8 Banten 93,5 0,4 0,0 1,7 0,4 3,4 0,4 0,2 100, ,8 Bali dan Nusa Tenggara Bali 93,8 1,5 0,2 0,2 1,7 1,5 0,4 0,6 100, ,0 Nusa Tenggara Barat 95,2 0,0 0,0 0,5 0,8 2,9 0,5 0,0 100, ,4 Nusa Tenggara Timur 96,4 0,7 0,3 0,0 1,6 0,7 0,0 0,3 100, ,0 Kalimantan Kalimantan Barat 88,4 2,8 0,0 0,0 2,6 5,4 0,8 0,0 100, ,9 Kalimantan Tengah 99,4 0,0 0,0 0,0 0,3 0,3 0,0 0,0 100, ,0 Kalimantan Selatan 91,3 0,3 0,0 0,5 3,3 3,1 1,3 0,3 100, ,2 Kalimantan Timur 92,7 0,6 0,3 0,9 3,8 1,3 0,3 0,0 100, ,0 Sulawesi Sulawesi Utara 97,2 0,0 0,0 0,0 0,8 1,3 0,3 0,5 100, ,0 Sulawesi Tengah 99,4 0,0 0,3 0,3 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,4 Sulawesi Selatan 90,9 0,0 0,0 0,4 4,7 3,2 0,6 0,2 100, ,5 Sulawesi Tenggara 97,5 0,0 0,0 0,0 2,5 0,0 0,0 0,0 100, ,0 Gorontalo 96,9 0,0 0,0 0,9 1,3 0,9 0,0 0,0 100, ,0 Jumlah 95,4 0,4 0,1 0,3 1,5 1,9 0,3 0,1 100, ,2 1 Berdasarkan jumlah rumah tangga menurut kategori hasil kunjungan, tingkat hasil kunjungan rumah tangga (THK) dihitung dengan rumus: 100 * S S + RA + T + D + BTD 272 Lampiran B

295 Tabel B.3.2 Rancangan sampel: hasil wawancara rumah tangga: pria Distribusi persentase pria memenuhi syarat berdasarkan hasil wawancara perorangan dan tingkat hasil kunjungan pria memenuhi syarat dan tingkat hasil kunjungan keseluruhan menurut daerah tempat tinggal dan propinsi, Indonesia Tingkat hasil Tingkat Responden kunjungan hasil Responden tidak/kurang pria kunjungan Daerah tidak Selesai mampu memenuhi ketempat tinggal Selesai ada Ditunda Ditolak sebagian menjawab Lainnya Jumlah sayarat seluruhan dan propinsi (S) (TA) (T) (D) (SB) (G) (L) Jumlah pria (TKPS) 1 (TKS) 2 Daerah tempat tinggal Perkotaan 95,2 3,5 0,0 0,4 0,0 0,1 0,9 100, ,2 94,2 Perdesaan 95,0 4,0 0,0 0,2 0,0 0,2 0,5 100, ,0 94,4 Sumatera Sumatera Utara 99,3 0,0 0,0 0,0 0,5 0,0 0,2 100, ,3 98,6 Sumatera Barat 88,0 12,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,0 87,7 Riau 94,1 5,1 0,0 0,0 0,0 0,3 0,6 100, ,1 93,6 Jambi 98,0 1,3 0,0 0,3 0,0 0,0 0,3 100, ,0 97,7 Sumatera Selatan 98,5 0,5 0,0 0,0 0,0 0,0 1,0 100, ,5 98,2 Bengkulu 94,5 2,7 0,0 0,4 0,4 0,0 2,0 100, ,5 94,5 Lampung 92,5 6,8 0,0 0,3 0,0 0,3 0,0 100, ,5 92,2 Bangka-Belitung 91,6 4,7 0,0 0,5 0,0 0,0 3,3 100, ,6 91,0 Jawa DKI Jakarta 98,2 0,9 0,2 0,4 0,0 0,0 0,4 100, ,2 97,6 Jawa Barat 94,4 4,7 0,0 0,4 0,0 0,0 0,4 100, ,4 93,5 Jawa Tengah 96,4 3,6 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,4 95,9 DI Yogyakarta 94,5 5,5 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,5 93,7 Jawa Timur 97,9 1,8 0,0 0,2 0,0 0,0 0,0 100, ,9 97,8 Banten 95,2 3,8 0,0 0,0 0,0 0,0 1,0 100, ,2 93,1 Bali dan Nusa Tenggara Bali 98,5 1,2 0,0 0,0 0,0 0,2 0,0 100, ,5 96,5 Nusa Tenggara Barat 99,6 0,4 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,6 99,0 Nusa Tenggara Timur 91,9 5,5 0,4 0,8 0,0 0,0 1,3 100, ,9 91,0 Kalimantan Kalimantan Barat 87,6 9,7 0,0 0,0 0,0 1,9 0,8 100, ,6 84,9 Kalimantan Tengah 99,3 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,7 100, ,3 99,3 Kalimantan Selatan 88,3 8,8 0,0 0,7 0,0 0,4 1,8 100, ,3 87,5 Kalimantan Timur 87,0 10,3 0,0 0,8 0,0 0,0 1,9 100, ,0 85,2 Sulawesi Sulawesi Utara 98,8 1,2 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 100, ,8 98,8 Sulawesi Tengah 99,7 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,3 100, ,7 99,1 Sulawesi Selatan 84,5 11,6 0,3 2,6 0,0 0,6 0,3 100, ,5 84,1 Sulawesi Tenggara 98,4 0,9 0,0 0,0 0,0 0,0 0,6 100, ,4 98,4 Gorontalo 93,3 2,8 0,0 0,4 0,0 1,1 2,5 100, ,3 92,4 Jumlah 95,1 3,8 0,0 0,3 0,0 0,2 0,6 100, ,1 94,3 1 Berdasarkan jumlah pria memenuhi syarat menurut kategori hasil kunjungan, tingkat hasil kunjungan pria memenuhi syarat (TKPS) dihitung dengan rumus: 2 Tingkat hasil kunjungan keseluruhan (TKS) dihitung dengan rumus: 100 * S S + TA + T + D + SB + G + L TKS = THK * TKPS/100 Lampiran B 273

296 274 Lampiran B B.3 UJI COBA BPS mengujicobakan kuesioner, formulir kontrol, dan buku pedoman pada bulan Agustus 2002 untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya kesalahan dalam penerjemahan atau alur kuesioner, juga untuk mengukur waktu yang diperlukan dalam wawancara. Tujuan lain pentingnya uji coba adalah untuk mendapatkan pengalaman dalam pelaksanaan lapangan dan wawancara terhadap responden pria, karena untuk pertama kalinya SDKI memasukkan pria sebagai responden. Uji coba dilaksanakan di dua propinsi yaitu Jambi dan Kalimantan Selatan. Pelatihan uji coba dilaksanakan dari tanggal 1-18 Agustus 2002 dengan hari terakhir digunakan untuk melatih pengawas dan editor menyangkut tugas khusus mereka. Pelatihan dilaksanakan sesuai dengan prosedur SDKI, termasuk presentasi di kelas, wawancara, praktek lapangan. Pelatihan termasuk latihan wawancara dengan daftar pertanyaan dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Disetiap propinsi, 12 petugas dilatih, terdiri dari 2 tim, setiap tim terdiri dari satu pengawas lakilaki, satu editor perempuan, 3 pewawancara wanita dan satu pewawancara pria. Seluruh peserta pelatihan adalah pegawai BPS daerah. Pelaksanaan uji coba di lapangan berlangsung selama 1 minggu (22 30 Agustus 2002). Uji coba dilaksanakan di daerah perkotaan dan perdesaan. Di Kalimantan Selatan satu BS wilayah perkotaan dan 2 BS wilayah perdesaan dikunjungi. Disetiap BS, 25 rumah tangga dipilih. Rumah tangga tersebut diwawancarai menggunakan kuesioner rumah tangga, di mana semua wanita umur tahun pernah kawin dan pria berstatus kawin dipilih. Diseluruh BS terpilih, 150 rumah tangga dikunjungi, 75 di Jambi dan 75 di Kalimantan Selatan. Instrumen survei diselesaikan dan didiskusikan dengan BKKBN dan Departemen Kesehatan. B.4 PELATIHAN Sebanyak 530 petugas lapangan, 362 wanita dan 168 pria, berpartisipasi dalam pelatihan survei untuk pewawancara. Pelatihan untuk 23 propinsi dilaksanakan pada tanggal 30 September sampai dengan 17 Oktober 2002, sedangkan untuk 3 propinsi baru dilaksanakan pada bulan Februari Pelatihan dilaksanakan sesuai dengan prosedur SDKI termasuk presentasi di kelas, latihan wawancara dan ujian. Seluruh peserta dilatih dengan kuesioner wanita. Setelah bahan kuesioner wanita selesai dilatihkan, peserta pria dilatih wawancara dengan menggunakan kuesioner pria. Pelatihan termasuk berlatih wawancara dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah. B.5 PELAKSANAAN LAPANGAN Data SDKI dikumpulkan oleh 94 tim pewawancara. Setiap tim terdiri dari satu orang pengawas, satu orang editor, 3 pewawancara wanita dan satu pewawancara pria. Pelaksanaan lapangan diselenggarakan lebih dari 5½ bulan dari 21 Oktober 2002 sampai dengan 9 April Dihampir seluruh propinsi pelaksanaan lapangan berhenti paling sedikit 1 bulan selama bulan puasa bagi orang Muslim, yang jatuh pada awal bulan November sampai dengan awal bulan Desember Di Propinsi Riau pelaksanaan lapang baru dimulai pada bulan Desember Di tiga propinsi baru Bangka Belitung, Banten dan Gorontalo pelatihan dilaksanakan pada bulan Maret 2003 dan pengumpulan data dilaksanakan pada bulan April dan Mei B.6 PENGOLAHAN DATA Seluruh kuesioner yang telah terisi bersamaan dengan lembar kontrol, dikirim ke BPS pusat untuk diolah. Proses pengolahan terdiri dari pemeriksaan di kantor, pemberian kode pada pertanyaan terbuka, entri data, verifikasi dan pemeriksaan kesalahan oleh komputer. Sebuah tim terdiri dari 40 petugas entri data, editor data dan dua pengawas entri data. Entri data dan pemeriksaan kuesioner dimulai pada 4 Nopember 2002 menggunakan program CSPro yang khusus dirancang untuk mengolah tipe survei data DHS (Demographic Health Survey). Untuk menyiapkan program entri data, dua staff BPS dilatih selama 3 minggu dikantor ORC Macro di Calverton, Maryland pada bulan April 2002.

297 ESTIMASI KESALAHAN SAMPLING Lampiran C Estimasi dari sampel survey dipengaruhi oleh dua jenis kesalahan: (1) kesalahan disebabkan bukan oleh pengambilan sample (nonsampling error) dan (2) kesalahan karena pemilihan sampel (sampling error). Kesalahan pertama disebabkan karena kesalahan dalam pelaksanaan pengumpulan data dan pengolahan data, seperti kesalahan alokasi dan wawancara terhadap rumah tangga yang terpilih, kesalah pahaman terhadap pertanyaan dari pihak pewawancara maupun responden dan kesalahan entri data. Meskipun banyak usaha telah dilaksanakan selama pelaksanaan SDKI untuk meminimalkan kesalahan, kesalahan yang disebabkan bukan oleh pengambilan sampel tidak mungkin untuk dihindari dan sulit untuk dievaluasi secara statistik. Kesalahan karena pemilihan sampel dilain pihak dapat di evaluasi secara statistik. Sampel responden yang terpilih dalam SDKI adalah hanya satu dari banyak sampel yang dapat dipilih dari populasi yang sama, menggunakan kerangka yang sama dan ukuran yang diharapkan. Setiap sampel ini akan menghasilkan hal yang berbeda dari hasil sampel yang sebenarnya. Kesalahan pemilihan sampel adalah ukuran keanekaragaman antara semua kemungkinan sampel. Meskipun derajat keragaman yang sebenarnya tidak diketahui ini dapat diperkirakan dari hasil survey. Kesalahan Sampling biasanya diukur dengan standard error untuk ukuran statistik tertentu (rata-rata, persentase dll.) yaitu akar dari varisi (variance). Standard error dapat digunakan untuk menghitung selang tingkat kepercayaan yang mana nilai sebenarnya dari populasi dapat secara masuk akal diasumsikan seperti sample. Sebagai contoh untuk setiap ukuran statistik yang dihitung dari sampel survey, nilai statistik akan berada dalam antara lebih kurang dua kali standard error nya dari statistik dalam 95 persen semua kemungkinan sampel dari ukuran dan rancangan yang sama. Kalau sampel responden telah dipilih dengan cara acak sederhana (simpel random sample), ini mungkin digunakan rumus langsung untuk menghitung kesalahan sampling. Namun demikian sampel SDKI adalah hasil dari pilihan strata banyak tahap dan akibatnya, ini harus digunakan rumus yang kompleks. Perangkat lunak yang digunakan untuk menghitung kesalahan sampling SDKI 2003 adalah modul kesalahan sampling ISSA. Modul ini digunakan methode Taylor Linearization dari estimasi variasi untuk memperkirakan survey yaitu rata-rata atau proporsi. Metode pengulangan dan penggadaan Jacknife digunakan untuk perkiraan variasi dari ukuran statistik yang lebih kompleks seperti angka kelahiran (fertilitas) dan kematian (mortalitas). Metode Taylor Linearization memperlakukan setiap persentase dan rata-rata adalah estimasi rasio, r = y/x, dimana y menunjukkan nilai total sampeluntuk variable y, dan x menunjukkan jumlah kasus dalam kelompok atau sub-kelompok yang menjadi penelitian. Variasi dari r dihitung menggunakan rumus seperti di bawah ini, dengan standard error akar dari variasi: SE ( r) = var( r) = 2 1 x 2 f H m m h m h h= 1 h 1 i= 1 z 2 hi z m 2 h h dengan z hi = y rx = yhi rxhi, and h h h z Lampiran C 275

298 dimana h adalah stratum yang mempunyai nilai antara 1 dan H, m h adalah jumlah blok sensus terpilih dalam stratum ke-h, y hi adalah jumlah tertimbang nilai dari variabel y dalam blok sensus ke-i dan stratum ke-h, x hi adalah jumlah kasus (wanita) dalam blok sensus ke-i dan stratum ke-h, dan f adalah fraksi sampling, yang karena nilainya kecil, tidak diperhitungkan. Metode pengulangan Jackknife memperoleh estimasi dari statistik yang rumit dari setiap beberapa sampel induk, dan menghitung galat baku dari statistik-statistik tersebut dengan menggunakan formula sederhana. Dalam setiap perhitungan estimasi mempertimbangkan semua blok sensus kecuali satu yang digunakan untuk menghitung estimasi. Pseudo-independent akan muncul. Pada SDKI IDHS, ada blok sensus yang berisi. Karena itu, mncul Ragam untuk suatu estimasi r dihitung dengan mengunakan rumus sebagai berikut: dengan dimana r r (i) k 2 1 SE () r = var() r = kk ( 1) r i = kr ( k 1) r( i) k i= 1 ( r r) adalah estimasi yang dihitung dari blok sensus, adalah estimasi yang dihirung dari blok sensus (blok sensus ke-i dikeluarkan), dan adalah jumlah blok sesnsus. i Lampiran C Selain galat baku, ISSA juga menghitung efek rancangan (DEFT) untuk setiap estimasi, yang dihitung sebagai rasio antara galat baku yang menggunakan suatu rancangan sampling tertentu dan galat baku yang diperoleh jika menggunakan simple random sampling. Nilai efek rancangan sama dengan 1,0 menunjukan bahwa rancangan sampel yang digunakan sama efisiennya dengan simple random sampling, dan nilai yang lebih besar dari 1,0 menunjukan kesalahan sampling yang lebih besar disebabkan oleh pemakaian rancangan sampling yang lebih kompleks dan kurang efisien. ISSA juga menghitung kesalahan relatif dan selang kepercayaan (confidence limits) dari estimasi. Kesalahan sampling SDKI dihitung hanya untuk variabel-variabel tertentu yang dianggap penting. Hasil perhitungan yang disajikan dalam laporan ini adalah untuk nasional, daerah perkotaan dan pedesaan, untuk setiap propinsi. Untuk setiap variabel, jenis statistik (rata-rata, proporsi, atau rate) dan penduduk dasar, disajikan dalam Tabel C.1. Tabels C.2 sampai C.30 menyajikan nilai-nilai statistik (R), galat baku (SE), jumlah kasus tak tertimbang (N) dan jumlah kasus tertimbang (WN), efek rancangan (DEFT), galat baku relatif (SE/R), dan batas nilai untuk selang kepercayaan (R±2SE), untuk setiap variabel. DEFT tidak dapat digunakan jika galat baku simple random sampling adalah nol (ketika estimasi mendekati 0 atau 1). Dalam hal total fertility rate (TFR), jumlah kasus tak tertimbang tidak relevan, karena tidak ada nilai untuk lamanya wanita mempunyai resiko untuk melahirkan. Selang kepercayaan (sebagai contoh seperti yang dihitung untuk jumlah anak lahir hidup dari wanita umur 40-49) dapat dijelaskan sebagai berikut: rata-rata sampel secara nasional adalah 4,024 dan galat bakunya adalah 0,054. Karena itu, dengan menggunakan selang kepercayaan 95 persen, proporsinya ditambah dan dikurangi 2 x galat baku, yaitu 4,024± Dengan probabilitas yang tinggi (95 persen), rata-rata anak lahir hidup per wanita umur adalah antara 3,915 dan 4,133. Kesalahan sampling dianalisa untuk sampel nasional dan untuk 2 kelompok estimasi: (1) rata-rata dan proporsi, dan (2) demografi yang kompleks. Galat bakus relatif (SE/R) untuk rata-rata dan proporsi terletak antara 0,1 persen dan 7,4 persen denga rata-rata 2,8 persen; galat baku relatif tertinggi adalah untuk nilai estimasi yang sangat rendah (misalnya persentase wanita yang menggunakan pantang berkala). Jika nilai estimasi dari nilai yang sangat rendah (kurang dari 10 persen) dihapus, maka rataratanya akan turun menjadi 2,2 persen. Jadi secara umum, galat baku relatif untuk nasional secara

299 keseluruhan adalah kecil, kecuali untuk estimasi dari proporsi yang sangat kecil. The Galat baku relatif untuk angka kelahiran total (TFR) juga kecil, 1,8 persen. Tetapi, untuk angka kematian bayi (IMR), ratarata galat baku jauh lebih itnggi, yaitu 8,2 persen. Ada beberapa perbedaan dalam galat baku relatif untuk estimasi dari sub-populasi. Misalnya, untuk variabel tidak ingin anak lagi, galat baku realtif sebagai persentase dari rata-rata estimasi untuk nasional, dan untuk daerah perkotaan adalah 1,1 persen dan 2,0 persen. Untuk total sampel, nilai dari efek rancangan (DEFT), dirata-ratakan untuk semua variabel, adalah 2,05 yang berarti karena pengaruh multi-stage clustering dari sampel, galat baku naik 2,05 kali untuk nilai simple random sampling. Lampiran C 277

300 Tabel C.1 Daftar Variabel kesalahan sampling, Indonesia Variabel Estimasi Penduduk dasar WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan Proporsi Wanita pernah kawin umur Dapat membaca Proporsi Wanita pernah kawin umur Tidak sekolah Proporsi Wanita pernah kawin umur Sekolah menengah ke atas Proporsi Wanita pernah kawin umur Berstatus kawin Proporsi Wanita pernah kawin umur Hamil Proporsi Semua wanita Anak lahir hidup Rata-rata Wanita berstatus kawin umur Anak masih hidup Rata-rata Wanita berstatus kawin umur Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 Rata-rata Wanita umur Tahu suatu metode kontrasepsi Proporsi Wanita berstatus kawin umur Pernah pakai suatu metode kontrasepsi Proporsi Wanita berstatus kawin umur Pakai suatu metode kontrasepsi Proporsi Wanita berstatus kawin umur Pakai suatu metode kontrasepsi modern Proporsi Wanita berstatus kawin umur Pakai pil Proporsi Wanita berstatus kawin umur Pakai IUD Proporsi Wanita berstatus kawin umur Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) Proporsi Wanita berstatus kawin umur Pakai pantang berkala Proporsi Wanita berstatus kawin umur Memanfaatkan sumber sektor umum Proporsi Wanita berstatus kawin umur Tidak ingin anak lagi Proporsi Wanita berstatus kawin umur Ingin menunda paling sedikit 2 tahun Proporsi Wanita berstatus kawin umur Jumlah anak ideal Rata-rata Wanita pernah kawin umur Ibu menerima suntikan tetanus Proporsi Kelahiran selama 5 tahun terakhir Ibu menerima perawatan saat melahirkan Proporsi Kelahiran selama 5 tahun terakhir Sakit diare dalam 2 minggu terakhir Proporsi Balita Diberikan oralit Proporsi Balita menderita diare dalam 2 minggu terakhir Berkonsultasi dengan petugas kesehatan Proporsi Balita menderita diare dalam 2 minggu terakhir Mempunyai KMS Proporsi Anak umur bulan Menerima vaksinasi BCG Proporsi Anak umur bulan Menerima vaksinasi DPT (3 kali) Proporsi Anak umur bulan Menerima vaksinasi polio (3 kali) Proporsi Anak umur bulan Menerima vaksinasi campak Proporsi Anak umur bulan Immunisasi lengkap Proporsi Anak umur bulan Angka kelahiran total (3 tahun) Rate Wanita usia subur Angka kematian perinatal (0-4 years) Rasio Kehamilan 7 bulan ke atas Angka kematian neonatal (10 years) 1 Rate Jumlah kelahiran Angka kematian postneonatal (10 years) 1 Rate Jumlah kelahiran Angka kematian bayi (10 tahun) 1 Rate Jumlah kelahiran Angka kematian anak (10 tahun) 1 Rate Jumlah kelahiran Angka kematian balita (10 tahun) 1 Rate Jumlah kelahiran PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan Proporsi Pria berstatus kawin Tidak sekolah Proporsi Pria berstatus kawin Sekolah menengah ke atas Proporsi Pria berstatus kawin Tahu suatu metode kontrasepsi Proporsi Pria berstatus kawin Tahu suatu metode kontrasepsi modern Proporsi Pria berstatus kawin tahun untuk sampel nasional 278 Lampiran C

301 Tabel C.2 Kesalahan sampling: Nasional, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,458 0, ,679 0,023 0,436 0,479 Dapat membaca 0,864 0, ,719 0,006 0,853 0,875 Tidak sekolah 0,079 0, ,625 0,052 0,071 0,087 Sekolah menengah ke atas 0,382 0, ,745 0,020 0,366 0,397 Berstatus kawin 0,945 0, ,808 0,003 0,940 0,950 Hamil 0,041 0, ,674 0,042 0,038 0,045 Anak lahir hidup 2,659 0, ,195 0,010 2,608 2,711 Anak masih hidup 2,421 0, ,043 0,009 2,380 2,463 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,024 0, ,236 0,014 3,915 4,133 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,987 0, ,817 0,001 0,984 0,989 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,816 0, ,213 0,006 0,806 0,826 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,603 0, ,433 0,012 0,589 0,618 Pakai pil 0,132 0, ,317 0,036 0,123 0,142 Pakai IUD 0,062 0, ,236 0,052 0,055 0,068 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,037 0, ,347 0,072 0,032 0,043 Pakai pantang berkala 0,016 0, ,578 0,074 0,014 0,018 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,280 0, ,696 0,035 0,260 0,299 Tidak ingin anak lagi 0,500 0, ,877 0,011 0,489 0,512 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,236 0, ,778 0,019 0,227 0,245 Jumlah anak ideal 2,878 0, ,938 0,008 2,835 2,922 Ibu menerima suntikan tetanus 0,721 0, ,269 0,012 0,703 0,739 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,662 0, ,948 0,019 0,637 0,688 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,110 0, ,064 0,051 0,099 0,121 Diberikan oralit 0,355 0, ,638 0,058 0,314 0,396 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,508 0, ,473 0,038 0,469 0,547 Mempunyai KMS 0,307 0, ,934 0,055 0,273 0,340 Menerima vaksinasi BCG 0,825 0, ,976 0,017 0,796 0,853 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,583 0, ,652 0,026 0,552 0,614 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,661 0, ,758 0,024 0,629 0,692 Menerima vaksinasi campak 0,716 0, ,867 0,022 0,684 0,748 Immunisasi lengkap 0,515 0, ,649 0,030 0,483 0,546 Angka kelahiran total 0-3 tahun 2,566 0,047 NA ,008 0,018 2,471 2,661 Angka kematian perinatal (0-4 tahun) 24,308 1, ,526 0,082 20,31 28,31 Angka kematian neonatal 0-4 tahun 19,591 1, ,587 0,095 15,868 23,314 Angka kematian post-neonatal 0-4 tahun 15,130 1, ,510 0,103 12,003 18,257 Angka kematian bayi 0-4 tahun 34,720 2, ,547 0,070 29,869 39,572 Angka kematian bayi 5-9 tahun 50,758 3, ,793 0,069 43,751 57,765 Angka kematian bayi tahun 58,677 3, ,749 0,064 51,176 66,178 Angka kematiananak 0-4 years 11,296 1, ,506 0,116 8,667 13,926 Angka kematian balita 0-4 years 45,624 2, ,469 0,058 40,356 50,893 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,465 0, ,873 0,022 0,445 0,486 Tidak sekolah 0,041 0, ,807 0,096 0,033 0,049 Sekolah menengah ke atas 0,455 0, ,000 0,024 0,433 0,476 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,967 0, ,499 0,003 0,961 0,973 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,963 0, ,472 0,003 0,957 0,969 NA = Tidak berlaku Lampiran C 279

302 Tabel C.3 Kesalahan sampling: Daerah Perkotaan, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 1,000 0, NA 0,000 1,000 1,000 Dapat membaca 0,915 0, ,240 0,006 0,904 0,926 Tidak sekolah 0,050 0, ,940 0,077 0,042 0,057 Sekolah menengah ke atas 0,526 0, ,779 0,024 0,501 0,551 Berstatus kawin 0,946 0, ,809 0,004 0,938 0,953 Hamil 0,038 0, ,553 0,066 0,033 0,043 Anak lahir hidup 2,624 0, ,063 0,014 2,549 2,698 Anak masih hidup 2,420 0, ,915 0,012 2,360 2,480 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 3,992 0, ,259 0,021 3,823 4,160 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,993 0, ,885 0,001 0,990 0,996 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,831 0, ,326 0,010 0,815 0,847 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,611 0, ,887 0,014 0,594 0,628 Pakai pil 0,141 0, ,384 0,055 0,126 0,157 Pakai IUD 0,079 0, ,100 0,067 0,068 0,089 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,048 0, ,419 0,100 0,038 0,057 Pakai pantang berkala 0,023 0, ,604 0,097 0,019 0,027 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,243 0, ,800 0,061 0,213 0,273 Tidak ingin anak lagi 0,505 0, ,155 0,020 0,485 0,525 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,230 0, ,874 0,032 0,215 0,244 Jumlah anak ideal 2,835 0, ,104 0,012 2,768 2,901 Ibu menerima suntikan tetanus 0,765 0, ,355 0,018 0,738 0,792 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,790 0, ,357 0,024 0,751 0,828 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,112 0, ,217 0,083 0,094 0,131 Diberikan oralit 0,350 0, ,699 0,092 0,286 0,415 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,546 0, ,439 0,052 0,489 0,603 Mempunyai KMS 0,319 0, ,712 0,072 0,273 0,365 Menerima vaksinasi BCG 0,884 0, ,110 0,022 0,846 0,923 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,645 0, ,763 0,038 0,596 0,694 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,726 0, ,845 0,033 0,679 0,774 Menerima vaksinasi campak 0,776 0, ,944 0,030 0,730 0,823 Immunisasi lengkap 0,564 0, ,678 0,043 0,516 0,612 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,446 0,060 NA ,793 0,025 2,326 2,567 Angka kematian perinatal (0-4 years) 21,591 2, ,459 0,127 16,12 27,06 Angka kematian neonatal (10 years) 1 18,854 1, ,517 0,099 15,136 22,573 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 13,038 1, ,560 0,127 9,735 16,340 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 31,892 2, ,597 0,084 26,555 37,229 Angka kematian anak (10 tahun) 1 10,749 1, ,982 0,173 7,034 14,465 Angka kematian balita (10 tahun) 1 42,299 3, ,744 0,079 35,642 48,956 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 1,000 0, NA 0,000 1,000 1,000 Tidak sekolah 0,019 0, ,684 0,203 0,011 0,027 Sekolah menengah ke atas 0,601 0, ,103 0,029 0,566 0,636 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,984 0, ,733 0,004 0,976 0,991 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,982 0, ,727 0,004 0,975 0,990 NA = Tidak berlaku 280 Lampiran C

303 Tabel C.4 Kesalahan sampling: Daerah Pedesaan, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,000 0, NA NA 0,000 0,000 Dapat membaca 0,821 0, ,896 0,010 0,804 0,838 Tidak sekolah 0,104 0, ,903 0,065 0,091 0,118 Sekolah menengah ke atas 0,259 0, ,667 0,034 0,242 0,277 Berstatus kawin 0,944 0, ,796 0,003 0,938 0,951 Hamil 0,045 0, ,760 0,056 0,040 0,050 Anak lahir hidup 2,690 0, ,322 0,014 2,617 2,762 Anak masih hidup 2,422 0, ,151 0,012 2,365 2,480 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,061 0, ,204 0,017 3,919 4,203 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,981 0, ,861 0,002 0,977 0,985 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,803 0, ,109 0,008 0,790 0,816 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,597 0, ,867 0,019 0,575 0,619 Pakai pil 0,125 0, ,192 0,046 0,114 0,137 Pakai IUD 0,047 0, ,371 0,084 0,039 0,055 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,028 0, ,077 0,096 0,023 0,034 Pakai pantang berkala 0,010 0, ,315 0,103 0,008 0,012 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,311 0, ,630 0,042 0,285 0,337 Tidak ingin anak lagi 0,497 0, ,542 0,012 0,485 0,509 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,242 0, ,663 0,023 0,231 0,253 Jumlah anak ideal 2,916 0, ,846 0,010 2,857 2,974 Ibu menerima suntikan tetanus 0,683 0, ,143 0,017 0,660 0,706 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,551 0, ,703 0,029 0,519 0,584 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,108 0, ,858 0,061 0,095 0,121 Diberikan oralit 0,359 0, ,540 0,071 0,308 0,411 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,473 0, ,525 0,057 0,420 0,527 Mempunyai KMS 0,296 0, ,142 0,083 0,246 0,345 Menerima vaksinasi BCG 0,772 0, ,940 0,026 0,731 0,812 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,528 0, ,570 0,037 0,488 0,567 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,603 0, ,662 0,034 0,562 0,644 Menerima vaksinasi campak 0,662 0, ,787 0,032 0,620 0,705 Immunisasi lengkap 0,471 0, ,618 0,043 0,430 0,511 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,700 0,072 NA ,096 0,027 2,556 2,844 Angka kematian perinatal (0-4 years) 26,669 2, ,577 0,108 20,92 32,42 Angka kematian neonatal (10 years) 1 26,201 2, ,831 0,094 21,270 31,131 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 26,192 2, ,528 0,078 22,108 30,276 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 52,392 3, ,856 0,068 45,219 59,566 Angka kematian anak (10 tahun) 1 13,014 1, ,337 0,090 10,671 15,357 Angka kematian balita (10 tahun) 1 64,725 3, ,801 0,059 57,029 72,420 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,000 0, NA NA 0,000 0,000 Tidak sekolah 0,060 0, ,912 0,110 0,047 0,074 Sekolah menengah ke atas 0,327 0, ,118 0,044 0,298 0,356 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,953 0, ,444 0,005 0,944 0,962 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,946 0, ,412 0,005 0,937 0,956 NA = Tidak berlaku Lampiran C 281

304 Tabel C.5 Kesalahan sampling : Sumatera Utara, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,462 0, ,830 0,082 0,386 0,537 Dapat membaca 0,915 0, ,596 0,013 0,891 0,939 Tidak sekolah 0,038 0, ,091 0,280 0,017 0,060 Sekolah menengah ke atas 0,534 0, ,961 0,049 0,481 0,586 Berstatus kawin 0,952 0, ,686 0,010 0,932 0,971 Hamil 0,040 0, ,976 0,121 0,030 0,050 Anak lahir hidup 3,134 0, ,438 0,027 2,966 3,303 Anak masih hidup 2,914 0, ,312 0,023 2,778 3,050 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,391 0, ,674 0,036 4,072 4,711 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,952 0, ,216 0,008 0,938 0,966 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,682 0, ,562 0,029 0,642 0,722 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,525 0, ,348 0,035 0,488 0,562 Pakai pil 0,131 0, ,873 0,133 0,096 0,165 Pakai IUD 0,033 0, ,262 0,188 0,021 0,045 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,064 0, ,319 0,139 0,046 0,082 Pakai pantang berkala 0,032 0, ,358 0,205 0,019 0,045 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,282 0, ,778 0,119 0,215 0,350 Tidak ingin anak lagi 0,514 0, ,267 0,034 0,479 0,549 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,206 0, ,297 0,070 0,177 0,235 Jumlah anak ideal 3,466 0, ,837 0,021 3,322 3,609 Ibu menerima suntikan tetanus 0,330 0, ,530 0,085 0,274 0,387 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,799 0, ,909 0,041 0,733 0,864 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,123 0, ,463 0,144 0,088 0,159 Diberikan oralit 0,234 0, ,409 0,274 0,106 0,363 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,486 0, ,981 0,107 0,382 0,591 Mempunyai KMS 0,224 0, ,625 0,222 0,125 0,323 Menerima vaksinasi BCG 0,742 0, ,580 0,068 0,641 0,843 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,419 0, ,100 0,095 0,340 0,499 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,533 0, ,108 0,076 0,452 0,615 Menerima vaksinasi campak 0,563 0, ,421 0,092 0,460 0,667 Immunisasi lengkap 0,365 0, ,076 0,104 0,289 0,441 Angka kelahiran total (3 tahun) 3,040 0,138 NA ,607 0,046 2,764 3,317 Angka kematian perinatal (0-4 years) 17,552 4, ,000 0,249 8,815 26,29 Angka kematian neonatal (10 years) 1 23,930 4, ,106 0,176 15,517 32,343 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 17,861 3, ,245 0,224 9,866 25,855 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 41,791 6, ,247 0,151 29,189 54,392 Angka kematian anak (10 tahun) 1 16,365 3, ,197 0,216 9,286 23,443 Angka kematian balita (10 tahun) 1 57,471 8, ,445 0,148 40,511 74,432 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,460 0, ,590 0,084 0,383 0,538 Tidak sekolah 0,014 0, ,807 0,329 0,005 0,024 Sekolah menengah ke atas 0,601 0, ,290 0,052 0,539 0,663 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,957 0, ,130 0,012 0,935 0,980 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,933 0, ,976 0,013 0,909 0,957 NA = Tidak berlaku 282 Lampiran C

305 Tabel C.6 Kesalahan sampling : Sumatera Barat, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,396 0, ,066 0,077 0,335 0,457 Dapat membaca 0,911 0, ,130 0,011 0,891 0,930 Tidak sekolah 0,026 0, ,082 0,200 0,015 0,036 Sekolah menengah ke atas 0,585 0, ,903 0,048 0,529 0,641 Berstatus kawin 0,947 0, ,022 0,007 0,934 0,961 Hamil 0,057 0, ,895 0,125 0,043 0,072 Anak lahir hidup 3,102 0, ,818 0,041 2,850 3,354 Anak masih hidup 2,817 0, ,710 0,036 2,613 3,021 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,763 0, ,725 0,047 4,317 5,208 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,973 0, ,250 0,012 0,950 0,995 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,763 0, ,198 0,038 0,705 0,821 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,529 0, ,317 0,068 0,457 0,600 Pakai pil 0,091 0, ,191 0,215 0,052 0,130 Pakai IUD 0,061 0, ,150 0,140 0,044 0,078 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,034 0, ,563 0,259 0,016 0,051 Pakai pantang berkala 0,028 0, ,547 0,282 0,012 0,044 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,288 0, ,103 0,078 0,243 0,333 Tidak ingin anak lagi 0,460 0, ,111 0,037 0,426 0,494 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,244 0, ,620 0,088 0,201 0,287 Jumlah anak ideal 3,304 0, ,408 0,036 3,069 3,539 Ibu menerima suntikan tetanus 0,724 0, ,090 0,054 0,646 0,802 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,798 0, ,210 0,048 0,721 0,875 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,143 0, ,238 0,118 0,109 0,177 Diberikan oralit 0,408 0, ,278 0,164 0,274 0,541 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,555 0, ,021 0,096 0,449 0,661 Mempunyai KMS 0,439 0, ,483 0,151 0,306 0,571 Menerima vaksinasi BCG 0,840 0, ,507 0,059 0,741 0,939 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,665 0, ,315 0,084 0,553 0,776 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,762 0, ,218 0,061 0,669 0,855 Menerima vaksinasi campak 0,660 0, ,313 0,085 0,548 0,771 Immunisasi lengkap 0,586 0, ,267 0,096 0,474 0,698 Angka kelahiran total (3 tahun) 3,228 0,138 NA ,097 0,043 2,952 3,504 Angka kematian perinatal (0-4 years) 35,643 5, ,848 0,167 23,71 47,58 Angka kematian neonatal (10 years) 1 28,400 6, ,370 0,226 15,586 41,214 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 19,156 6, ,624 0,349 5,792 32,521 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 47,556 8, ,370 0,174 30,995 64,118 Angka kematian anak (10 tahun) 1 11,764 3, ,029 0,273 5,332 18,197 Angka kematian balita (10 tahun) 1 58,761 9, ,415 0,169 38,940 78,583 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,376 0, ,437 0,110 0,293 0,459 Tidak sekolah 0,038 0, ,081 0,322 0,014 0,063 Sekolah menengah ke atas 0,524 0, ,552 0,088 0,432 0,616 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,958 0, ,327 0,017 0,926 0,989 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,956 0, ,314 0,017 0,925 0,988 NA = Tidak berlaku Lampiran C 283

306 Tabel C.7 Kesalahan sampling: Riau, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,495 0, ,701 0,081 0,414 0,575 Dapat membaca 0,882 0, ,718 0,019 0,849 0,915 Tidak sekolah 0,045 0, ,728 0,236 0,024 0,066 Sekolah menengah ke atas 0,497 0, ,338 0,070 0,428 0,567 Berstatus kawin 0,964 0, ,859 0,005 0,954 0,973 Hamil 0,050 0, ,072 0,121 0,038 0,062 Anak lahir hidup 2,898 0, ,915 0,041 2,660 3,135 Anak masih hidup 2,672 0, ,806 0,038 2,471 2,874 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,687 0, ,506 0,042 4,296 5,078 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,992 0, ,946 0,003 0,986 0,997 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,819 0, ,372 0,020 0,787 0,851 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,578 0, ,402 0,036 0,536 0,620 Pakai pil 0,176 0, ,404 0,092 0,144 0,209 Pakai IUD 0,026 0, ,997 0,185 0,016 0,036 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,013 0, ,376 0,358 0,004 0,023 Pakai pantang berkala 0,010 0, ,092 0,329 0,003 0,017 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,328 0, ,347 0,079 0,276 0,380 Tidak ingin anak lagi 0,462 0, ,065 0,035 0,430 0,494 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,261 0, ,171 0,060 0,230 0,292 Jumlah anak ideal 3,230 0, ,317 0,018 3,116 3,345 Ibu menerima suntikan tetanus 0,617 0, ,518 0,049 0,557 0,678 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,740 0, ,801 0,046 0,672 0,809 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,061 0, ,866 0,134 0,045 0,077 Diberikan oralit 0,349 0, ,957 0,207 0,205 0,494 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,559 0, ,880 0,125 0,420 0,698 Mempunyai KMS 0,352 0, ,274 0,146 0,249 0,456 Menerima vaksinasi BCG 0,836 0, ,031 0,039 0,772 0,901 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,633 0, ,277 0,082 0,529 0,737 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,700 0, ,065 0,059 0,617 0,783 Menerima vaksinasi campak 0,754 0, ,240 0,060 0,663 0,844 Immunisasi lengkap 0,572 0, ,061 0,078 0,483 0,661 Angka kelahiran total (3 tahun) 3,208 0,200 NA ,445 0,062 2,809 3,608 Angka kematian perinatal (0-4 years) 21,676 4, ,808 0,209 12,634 30,717 Angka kematian neonatal (10 years) 1 25,937 4, ,068 0,184 16,375 35,499 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 16,914 7, ,078 0,448 1,744 32,085 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 42,851 7, ,288 0,183 27,198 58,504 Angka kematian anak (10 tahun) 1 18,085 4, ,270 0,228 9,822 26,348 Angka kematian balita (10 tahun) 1 60,161 8, ,303 0,148 42,392 77,931 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,532 0, ,381 0,071 0,456 0,607 Tidak sekolah 0,031 0, ,129 0,343 0,010 0,053 Sekolah menengah ke atas 0,589 0, ,306 0,060 0,519 0,659 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,964 0, ,819 0,019 0,927 1,001 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,964 0, ,819 0,019 0,927 1,001 NA = Tidak berlaku 284 Lampiran C

307 Tabel C.8 Kesalahan sampling: Jambi, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,280 0, ,096 0,106 0,220 0,339 Dapat membaca 0,865 0, ,701 0,021 0,829 0,902 Tidak sekolah 0,072 0, ,441 0,162 0,049 0,095 Sekolah menengah ke atas 0,400 0, ,595 0,100 0,320 0,480 Berstatus kawin 0,924 0, ,754 0,016 0,895 0,953 Hamil 0,067 0, ,020 0,207 0,039 0,094 Anak lahir hidup 2,558 0, ,883 0,048 2,314 2,803 Anak masih hidup 2,361 0, ,963 0,047 2,138 2,583 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,465 0, ,794 0,053 3,992 4,937 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,992 0, ,603 0,005 0,982 1,001 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,773 0, ,664 0,030 0,728 0,819 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,590 0, ,500 0,041 0,542 0,639 Pakai pil 0,154 0, ,344 0,103 0,122 0,186 Pakai IUD 0,046 0, ,351 0,201 0,028 0,065 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,009 0, ,030 0,359 0,002 0,015 Pakai pantang berkala 0,004 0, ,809 0,420 0,001 0,007 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,422 0, ,891 0,096 0,341 0,502 Tidak ingin anak lagi 0,486 0, ,065 0,070 0,419 0,554 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,264 0, ,793 0,098 0,213 0,316 Jumlah anak ideal 2,931 0, ,086 0,030 2,756 3,105 Ibu menerima suntikan tetanus 0,625 0, ,777 0,065 0,544 0,707 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,705 0, ,671 0,085 0,586 0,824 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,081 0, ,827 0,285 0,035 0,127 Diberikan oralit 0,525 0, ,941 0,147 0,370 0,679 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,360 0, ,230 0,495 0,003 0,717 Mempunyai KMS 0,321 0, ,997 0,316 0,118 0,523 Menerima vaksinasi BCG 0,847 0, ,247 0,058 0,749 0,944 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,516 0, ,412 0,148 0,363 0,670 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,568 0, ,526 0,145 0,404 0,732 Menerima vaksinasi campak 0,732 0, ,255 0,083 0,611 0,853 Immunisasi lengkap 0,506 0, ,435 0,154 0,350 0,662 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,739 0,193 NA ,581 0,071 2,352 3,125 Angka kematian perinatal (0-4 years) 14,785 5, ,118 0,394 3,122 26,449 Angka kematian neonatal (10 years) 1 13,957 4, ,041 0,337 4,558 23,356 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 27,536 9, ,854 0,354 8,056 47,015 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 41,493 9, ,493 0,240 21,540 61,445 Angka kematian anak (10 tahun) 1 9,973 4, ,281 0,409 1,824 18,122 Angka kematian balita (10 tahun) 1 51,052 9, ,343 0,194 31,207 70,897 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,279 0, ,296 0,121 0,211 0,346 Tidak sekolah 0,024 0, ,048 0,387 0,005 0,043 Sekolah menengah ke atas 0,499 0, ,548 0,090 0,409 0,588 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,970 0, ,152 0,012 0,947 0,993 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,968 0, ,183 0,012 0,944 0,992 NA = Tidak berlaku Lampiran C 285

308 Tabel C.9 Kesalahan sampling: Sumatera Selatan, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,300 0, ,871 0,125 0,225 0,374 Dapat membaca 0,928 0, ,824 0,014 0,901 0,955 Tidak sekolah 0,041 0, ,828 0,249 0,021 0,062 Sekolah menengah ke atas 0,340 0, ,995 0,079 0,286 0,394 Berstatus kawin 0,954 0, ,059 0,007 0,941 0,967 Hamil 0,025 0, ,995 0,154 0,017 0,033 Anak lahir hidup 3,076 0, ,204 0,023 2,934 3,218 Anak masih hidup 2,865 0, ,110 0,021 2,746 2,983 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,364 0, ,396 0,032 4,085 4,643 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,999 0, ,869 0,001 0,998 1,001 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,782 0, ,220 0,019 0,752 0,811 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,614 0, ,261 0,029 0,578 0,650 Pakai pil 0,099 0, ,680 0,147 0,070 0,128 Pakai IUD 0,024 0, ,320 0,243 0,012 0,036 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,046 0, ,179 0,157 0,031 0,060 Pakai pantang berkala 0,019 0, ,718 0,360 0,005 0,032 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,276 0, ,963 0,120 0,210 0,342 Tidak ingin anak lagi 0,535 0, ,075 0,029 0,504 0,566 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,176 0, ,448 0,091 0,144 0,208 Jumlah anak ideal 3,175 0, ,312 0,016 3,073 3,277 Ibu menerima suntikan tetanus 0,750 0, ,737 0,046 0,682 0,819 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,763 0, ,339 0,061 0,670 0,857 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,033 0, ,487 0,376 0,008 0,057 Diberikan oralit 0,371 0, ,116 0,369 0,097 0,644 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,510 0, ,095 0,277 0,228 0,792 Mempunyai KMS 0,125 0, ,131 0,315 0,046 0,204 Menerima vaksinasi BCG 0,882 0, ,040 0,040 0,812 0,953 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,560 0, ,531 0,145 0,398 0,722 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,703 0, ,205 0,083 0,586 0,820 Menerima vaksinasi campak 0,782 0, ,055 0,059 0,690 0,874 Immunisasi lengkap 0,507 0, ,443 0,152 0,353 0,662 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,298 0,176 NA ,449 0,076 1,947 2,649 Angka kematian perinatal (0-4 years) 24,686 7, ,208 0,309 9,445 39,927 Angka kematian neonatal (10 years) 1 18,937 6, ,489 0,320 6,824 31,051 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 11,539 3, ,002 0,268 5,354 17,724 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 30,476 7, ,415 0,238 15,952 45,001 Angka kematian anak (10 tahun) 1 18,679 6, ,572 0,325 6,521 30,838 Angka kematian balita (10 tahun) 1 48,587 9, ,453 0,188 30,316 66,857 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,280 0, ,794 0,146 0,198 0,361 Tidak sekolah 0,030 0, ,112 0,320 0,011 0,049 Sekolah menengah ke atas 0,449 0, ,301 0,073 0,383 0,515 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,981 0, ,181 0,008 0,965 0,997 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,981 0, ,181 0,008 0,965 0,997 NA = Tidak berlaku 286 Lampiran C

309 Tabel C.10 Kesalahan sampling: Bengkulu, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,310 0, ,663 0,135 0,226 0,393 Dapat membaca 0,894 0, ,447 0,017 0,864 0,925 Tidak sekolah 0,059 0, ,486 0,201 0,035 0,083 Sekolah menengah ke atas 0,466 0, ,061 0,075 0,396 0,536 Berstatus kawin 0,944 0, ,956 0,008 0,929 0,959 Hamil 0,042 0, ,408 0,197 0,025 0,058 Anak lahir hidup 3,092 0, ,343 0,030 2,909 3,276 Anak masih hidup 2,731 0, ,370 0,029 2,576 2,887 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,809 0, ,766 0,045 4,375 5,243 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,998 0, ,948 0,002 0,995 1,001 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,889 0, ,862 0,011 0,870 0,908 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,682 0, ,233 0,029 0,642 0,723 Pakai pil 0,130 0, ,155 0,104 0,103 0,157 Pakai IUD 0,063 0, ,877 0,252 0,031 0,095 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,035 0, ,046 0,192 0,021 0,048 Pakai pantang berkala 0,015 0, ,308 0,365 0,004 0,027 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,261 0, ,188 0,087 0,215 0,306 Tidak ingin anak lagi 0,549 0, ,246 0,039 0,506 0,593 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,252 0, ,121 0,067 0,218 0,286 Jumlah anak ideal 3,111 0, ,167 0,017 3,006 3,216 Ibu menerima suntikan tetanus 0,798 0, ,705 0,042 0,731 0,865 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,686 0, ,877 0,101 0,547 0,825 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,082 0, ,989 0,155 0,056 0,107 Diberikan oralit 0,255 0, ,054 0,292 0,106 0,403 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,509 0, ,997 0,160 0,346 0,672 Mempunyai KMS 0,512 0, ,172 0,111 0,398 0,625 Menerima vaksinasi BCG 0,936 0, ,212 0,030 0,879 0,992 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,763 0, ,118 0,061 0,670 0,857 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,840 0, ,989 0,043 0,768 0,913 Menerima vaksinasi campak 0,823 0, ,172 0,054 0,734 0,912 Immunisasi lengkap 0,683 0, ,964 0,064 0,595 0,770 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,963 0,206 NA 586 1,517 0,069 2,552 3,375 Angka kematian perinatal (0-4 years) 22,937 7, ,092 0,329 7,840 38,035 Angka kematian neonatal (10 years) 1 27,497 6, ,220 0,240 14,277 40,718 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 25,248 6, ,187 0,249 12,675 37,821 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 52,745 7, ,973 0,140 38,021 67,470 Angka kematian anak (10 tahun) 1 16,608 3, ,926 0,223 9,200 24,016 Angka kematian balita (10 tahun) 1 68,477 7, ,874 0,109 53,565 83,390 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,299 0, ,548 0,153 0,207 0,390 Tidak sekolah 0,028 0, ,084 0,411 0,005 0,051 Sekolah menengah ke atas 0,559 0, ,479 0,085 0,465 0,654 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,979 0, ,711 0,016 0,947 1,011 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,979 0, ,711 0,016 0,947 1,011 NA = Tidak berlaku Lampiran C 287

310 Tabel C.11 Kesalahan sampling: Lampung, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,275 0, ,173 0,109 0,215 0,335 Dapat membaca 0,875 0, ,190 0,014 0,851 0,899 Tidak sekolah 0,052 0, ,228 0,162 0,035 0,068 Sekolah menengah ke atas 0,327 0, ,385 0,106 0,258 0,396 Berstatus kawin 0,961 0, ,214 0,008 0,947 0,976 Hamil 0,044 0, ,126 0,154 0,031 0,058 Anak lahir hidup 2,991 0, ,169 0,026 2,834 3,148 Anak masih hidup 2,737 0, ,218 0,027 2,590 2,884 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,814 0, ,317 0,038 4,449 5,178 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,997 0, ,633 0,001 0,995 0,999 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,860 0, ,467 0,019 0,828 0,892 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,614 0, ,338 0,033 0,573 0,656 Pakai pil 0,136 0, ,707 0,136 0,099 0,173 Pakai IUD 0,042 0, ,377 0,208 0,024 0,059 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,018 0, ,236 0,289 0,008 0,028 Pakai pantang berkala 0,011 0, ,601 0,474 0,001 0,022 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,218 0, ,210 0,170 0,144 0,292 Tidak ingin anak lagi 0,528 0, ,180 0,035 0,490 0,565 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,278 0, ,439 0,073 0,237 0,319 Jumlah anak ideal 3,038 0, ,888 0,022 2,904 3,172 Ibu menerima suntikan tetanus 0,726 0, ,003 0,028 0,685 0,767 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,624 0, ,122 0,077 0,528 0,719 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,092 0, ,551 0,218 0,052 0,132 Diberikan oralit 0,303 0, ,117 0,247 0,153 0,452 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,428 0, ,206 0,207 0,251 0,606 Mempunyai KMS 0,402 0, ,818 0,219 0,226 0,579 Menerima vaksinasi BCG 0,877 0, ,924 0,033 0,819 0,935 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,610 0, ,082 0,087 0,505 0,716 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,715 0, ,194 0,073 0,610 0,819 Menerima vaksinasi campak 0,798 0, ,398 0,071 0,685 0,912 Immunisasi lengkap 0,463 0, ,264 0,134 0,338 0,587 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,670 0,219 NA ,399 0,082 2,232 3,108 Angka kematian perinatal (0-4 years) 47,987 9, ,954 0,190 29,711 66,263 Angka kematian neonatal (10 years) 1 23,511 6, ,366 0,259 11,351 35,671 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 31,394 8, ,617 0,264 14,791 47,996 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 54,905 11, ,587 0,201 32,783 77,026 Angka kematian anak (10 tahun) 1 9,968 3, ,075 0,304 3,906 16,031 Angka kematian balita (10 tahun) 1 64,325 11, ,563 0,181 40,978 87,673 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,257 0, ,097 0,114 0,198 0,315 Tidak sekolah 0,029 0, ,987 0,347 0,009 0,049 Sekolah menengah ke atas 0,450 0, ,442 0,097 0,363 0,538 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,993 0, ,027 0,005 0,983 1,003 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,993 0, ,027 0,005 0,983 1,003 NA = Tidak berlaku 288 Lampiran C

311 Tabel C.12 Kesalahan sampling: Bangka Belitung, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,498 0, ,367 0,094 0,405 0,591 Dapat membaca 0,871 0, ,104 0,017 0,842 0,901 Tidak sekolah 0,093 0, ,865 0,106 0,073 0,113 Sekolah menengah ke atas 0,305 0, ,589 0,094 0,248 0,363 Berstatus kawin 0,959 0, ,952 0,008 0,944 0,974 Hamil 0,029 0, ,940 0,186 0,018 0,039 Anak lahir hidup 2,782 0, ,167 0,032 2,602 2,962 Anak masih hidup 2,594 0, ,983 0,026 2,457 2,731 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,132 0, ,033 0,040 3,803 4,462 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,976 0, ,487 0,009 0,958 0,995 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,829 0, ,391 0,025 0,786 0,871 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,651 0, ,630 0,048 0,589 0,714 Pakai pil 0,271 0, ,177 0,210 0,157 0,385 Pakai IUD 0,016 0, ,209 0,380 0,004 0,028 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,021 0, ,040 0,289 0,009 0,033 Pakai pantang berkala 0,013 0, ,141 0,401 0,003 0,023 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,194 0, ,467 0,153 0,134 0,253 Tidak ingin anak lagi 0,515 0, ,099 0,043 0,471 0,559 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,198 0, ,860 0,070 0,170 0,226 Jumlah anak ideal 2,977 0, ,438 0,026 2,823 3,130 Ibu menerima suntikan tetanus 0,655 0, ,147 0,049 0,591 0,719 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,667 0, ,854 0,076 0,565 0,769 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,094 0, ,207 0,218 0,053 0,135 Diberikan oralit 0,491 0, ,961 0,188 0,307 0,676 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,492 0, ,186 0,231 0,265 0,719 Mempunyai KMS 0,487 0, ,849 0,115 0,375 0,598 Menerima vaksinasi BCG 0,779 0, ,165 0,081 0,652 0,905 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,675 0, ,093 0,097 0,544 0,806 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,728 0, ,140 0,090 0,597 0,859 Menerima vaksinasi campak 0,714 0, ,064 0,087 0,591 0,838 Immunisasi lengkap 0,649 0, ,144 0,107 0,510 0,787 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,418 0,190 NA 491 1,122 0,079 2,038 2,798 Angka kematian perinatal (0-4 years) 30,409 9, ,962 0,312 11,433 49,385 Angka kematian neonatal (10 years) 1 27,760 6, ,040 0,244 14,205 41,315 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 14,992 4, ,133 0,317 5,479 24,504 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 42,752 8, ,147 0,204 25,297 60,208 Angka kematian anak (10 tahun) 1 4,280 2, ,948 0,545 0,000 8,948 Angka kematian balita (10 tahun) 1 46,850 9, ,158 0,198 28,295 65,404 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,495 0, ,389 0,100 0,396 0,595 Tidak sekolah 0,035 0, ,166 0,438 0,004 0,066 Sekolah menengah ke atas 0,394 0, ,153 0,102 0,314 0,475 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,975 0, ,375 0,016 0,944 1,006 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,971 0, ,232 0,015 0,941 1,000 NA = Tidak berlaku Lampiran C 289

312 Tabel C.13 Kesalahan sampling: DKI Jakarta, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 1,000 0, NA 0,000 1,000 1,000 Dapat membaca 0,942 0, ,350 0,008 0,927 0,956 Tidak sekolah 0,034 0, ,312 0,161 0,023 0,045 Sekolah menengah ke atas 0,607 0, ,669 0,031 0,569 0,645 Berstatus kawin 0,898 0, ,730 0,013 0,874 0,922 Hamil 0,038 0, ,817 0,082 0,032 0,045 Anak lahir hidup 2,333 0, ,017 0,018 2,248 2,417 Anak masih hidup 2,190 0, ,994 0,017 2,115 2,264 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 3,468 0, ,394 0,034 3,233 3,703 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,998 0, ,759 0,002 0,994 1,002 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,861 0, ,006 0,010 0,844 0,878 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,632 0, ,097 0,020 0,606 0,658 Pakai pil 0,126 0, ,235 0,079 0,106 0,146 Pakai IUD 0,100 0, ,686 0,123 0,075 0,124 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,028 0, ,204 0,173 0,018 0,038 Pakai pantang berkala 0,035 0, ,038 0,132 0,026 0,044 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,170 0, ,515 0,108 0,133 0,206 Tidak ingin anak lagi 0,509 0, ,322 0,032 0,477 0,542 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,257 0, ,352 0,056 0,228 0,286 Jumlah anak ideal 2,646 0, ,513 0,013 2,578 2,714 Ibu menerima suntikan tetanus 0,756 0, ,134 0,023 0,722 0,791 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,942 0, ,573 0,016 0,913 0,971 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,078 0, ,279 0,156 0,054 0,102 Diberikan oralit 0,465 0, ,110 0,152 0,324 0,607 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,588 0, ,976 0,105 0,465 0,711 Mempunyai KMS 0,286 0, ,130 0,134 0,209 0,363 Menerima vaksinasi BCG 0,952 0, ,449 0,024 0,906 0,999 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,760 0, ,038 0,044 0,693 0,826 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,855 0, ,214 0,038 0,791 0,920 Menerima vaksinasi campak 0,804 0, ,293 0,048 0,727 0,881 Immunisasi lengkap 0,670 0, ,118 0,059 0,591 0,749 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,215 0,106 NA ,294 0,048 2,003 2,427 Angka kematian perinatal (0-4 years) 17,370 6, ,332 0,379 4,202 30,537 Angka kematian neonatal (10 years) 1 17,525 4, ,192 0,244 8,968 26,082 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 17,007 3, ,121 0,205 10,024 23,990 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 34,532 6, ,298 0,174 22,516 46,548 Angka kematian anak (10 tahun) 1 6,437 2, ,122 0,356 1,850 11,024 Angka kematian balita (10 tahun) 1 40,747 6, ,290 0,159 27,815 53,678 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 1,000 0, NA 0,000 1,000 1,000 Tidak sekolah 0,008 0, ,814 0,383 0,002 0,014 Sekolah menengah ke atas 0,736 0, ,203 0,030 0,691 0,781 Tahu suatu metode kontrasepsi 1,000 0, NA 0,000 1,000 1,000 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 1,000 0, NA 0,000 1,000 1,000 NA = Tidak berlaku 290 Lampiran C

313 Tabel C.14 Kesalahan sampling: Jawa Barat, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,555 0, ,252 0,050 0,500 0,611 Dapat membaca 0,891 0, ,600 0,014 0,866 0,915 Tidak sekolah 0,077 0, ,667 0,143 0,055 0,099 Sekolah menengah ke atas 0,296 0, ,520 0,058 0,262 0,330 Berstatus kawin 0,955 0, ,035 0,006 0,945 0,966 Hamil 0,044 0, ,271 0,142 0,032 0,057 Anak lahir hidup 2,857 0, ,498 0,029 2,691 3,023 Anak masih hidup 2,553 0, ,468 0,026 2,419 2,688 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,785 0, ,613 0,040 4,399 5,170 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,996 0, ,965 0,002 0,993 0,999 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,862 0, ,789 0,018 0,831 0,893 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,590 0, ,937 0,041 0,542 0,638 Pakai pil 0,158 0, ,480 0,086 0,131 0,186 Pakai IUD 0,036 0, ,582 0,207 0,021 0,051 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,023 0, ,034 0,169 0,016 0,031 Pakai pantang berkala 0,007 0, ,387 0,423 0,001 0,013 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,190 0, ,297 0,089 0,156 0,224 Tidak ingin anak lagi 0,511 0, ,167 0,029 0,482 0,541 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,232 0, ,074 0,049 0,209 0,255 Jumlah anak ideal 2,915 0, ,584 0,017 2,815 3,015 Ibu menerima suntikan tetanus 0,740 0, ,440 0,031 0,694 0,785 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,486 0, ,284 0,087 0,402 0,571 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,151 0, ,643 0,140 0,108 0,193 Diberikan oralit 0,350 0, ,081 0,134 0,256 0,444 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,530 0, ,064 0,094 0,430 0,630 Mempunyai KMS 0,296 0, ,488 0,184 0,187 0,404 Menerima vaksinasi BCG 0,791 0, ,338 0,055 0,704 0,878 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,483 0, ,056 0,087 0,398 0,567 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,581 0, ,297 0,088 0,478 0,683 Menerima vaksinasi campak 0,717 0, ,393 0,070 0,616 0,817 Immunisasi lengkap 0,414 0, ,079 0,103 0,329 0,499 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,790 0,133 NA ,197 0,048 2,523 3,057 Angka kematian perinatal (0-4 years) 23,749 6, ,122 0,266 11,125 36,374 Angka kematian neonatal (10 years) 1 24,795 5, ,264 0,204 14,703 34,887 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 18,907 4, ,036 0,212 10,901 26,913 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 43,702 7, ,316 0,173 28,563 58,841 Angka kematian anak (10 tahun) 1 6,474 2, ,140 0,325 2,271 10,677 Angka kematian balita (10 tahun) 1 49,893 8, ,327 0,164 33,523 66,262 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,570 0, ,139 0,046 0,518 0,623 Tidak sekolah 0,029 0, ,149 0,309 0,011 0,048 Sekolah menengah ke atas 0,343 0, ,033 0,067 0,297 0,389 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,987 0, ,001 0,005 0,977 0,998 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,985 0, ,002 0,006 0,974 0,997 NA = Tidak berlaku Lampiran C 291

314 Tabel C.15 Kesalahan sampling: Jawa Tengah, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,408 0, ,769 0,054 0,364 0,452 Dapat membaca 0,833 0, ,651 0,019 0,802 0,864 Tidak sekolah 0,101 0, ,639 0,124 0,076 0,126 Sekolah menengah ke atas 0,303 0, ,777 0,068 0,262 0,344 Berstatus kawin 0,952 0, ,135 0,006 0,940 0,964 Hamil 0,034 0, ,034 0,133 0,025 0,043 Anak lahir hidup 2,509 0, ,406 0,026 2,377 2,641 Anak masih hidup 2,304 0, ,247 0,022 2,203 2,406 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 3,693 0, ,624 0,040 3,400 3,987 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,990 0, ,155 0,003 0,984 0,996 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,830 0, ,118 0,013 0,808 0,852 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,650 0, ,484 0,028 0,613 0,686 Pakai pil 0,088 0, ,654 0,138 0,063 0,112 Pakai IUD 0,061 0, ,326 0,134 0,045 0,078 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,053 0, ,206 0,132 0,039 0,067 Pakai pantang berkala 0,015 0, ,923 0,191 0,010 0,021 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,278 0, ,680 0,089 0,229 0,328 Tidak ingin anak lagi 0,514 0, ,111 0,028 0,486 0,543 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,247 0, ,441 0,065 0,215 0,280 Jumlah anak ideal 2,766 0, ,748 0,027 2,617 2,915 Ibu menerima suntikan tetanus 0,837 0, ,980 0,036 0,777 0,897 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,673 0, ,368 0,070 0,579 0,766 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,079 0, ,998 0,148 0,055 0,102 Diberikan oralit 0,312 0, ,019 0,225 0,172 0,453 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,687 0, ,873 0,090 0,564 0,810 Mempunyai KMS 0,369 0, ,335 0,160 0,251 0,487 Menerima vaksinasi BCG 0,871 0, ,694 0,060 0,767 0,975 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,736 0, ,206 0,066 0,638 0,833 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,787 0, ,168 0,057 0,697 0,876 Menerima vaksinasi campak 0,759 0, ,316 0,068 0,656 0,862 Immunisasi lengkap 0,635 0, ,235 0,087 0,525 0,745 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,144 0,141 NA ,206 0,066 1,862 2,426 Angka kematian perinatal (0-4 years) 22,520 5, ,007 0,256 11,010 34,031 Angka kematian neonatal (10 years) 1 18,763 3, ,028 0,199 11,306 26,220 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 17,446 3, ,948 0,194 10,669 24,223 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 36,209 4, ,934 0,129 26,870 45,549 Angka kematian anak (10 tahun) 1 7,939 3, ,300 0,423 1,220 14,657 Angka kematian balita (10 tahun) 1 43,860 5, ,933 0,118 33,498 54,223 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,412 0, ,269 0,074 0,351 0,473 Tidak sekolah 0,065 0, ,060 0,195 0,040 0,091 Sekolah menengah ke atas 0,354 0, ,285 0,084 0,294 0,414 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,957 0, ,131 0,012 0,934 0,979 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,957 0, ,131 0,012 0,934 0,979 NA = Tidak berlaku 292 Lampiran C

315 Tabel C.16 Kesalahan sampling: DI Yogyakarta, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,557 0, ,907 0,053 0,498 0,616 Dapat membaca 0,901 0, ,432 0,015 0,874 0,927 Tidak sekolah 0,063 0, ,165 0,139 0,046 0,081 Sekolah menengah ke atas 0,538 0, ,301 0,038 0,498 0,579 Berstatus kawin 0,955 0, ,895 0,006 0,943 0,966 Hamil 0,033 0, ,050 0,147 0,023 0,042 Anak lahir hidup 2,173 0, ,275 0,025 2,064 2,281 Anak masih hidup 2,063 0, ,267 0,024 1,963 2,163 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 2,906 0, ,063 0,026 2,753 3,058 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,998 0, ,968 0,001 0,996 1,001 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,910 0, ,164 0,012 0,888 0,931 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,756 0, ,202 0,022 0,724 0,789 Pakai pil 0,076 0, ,145 0,127 0,057 0,096 Pakai IUD 0,193 0, ,759 0,115 0,149 0,238 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,061 0, ,662 0,207 0,036 0,087 Pakai pantang berkala 0,063 0, ,207 0,148 0,044 0,082 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,398 0, ,153 0,057 0,352 0,443 Tidak ingin anak lagi 0,589 0, ,024 0,027 0,557 0,621 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,219 0, ,920 0,055 0,195 0,244 Jumlah anak ideal 2,317 0, ,203 0,011 2,264 2,370 Ibu menerima suntikan tetanus 0,897 0, ,517 0,027 0,848 0,945 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,852 0, ,411 0,030 0,801 0,903 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,052 0, ,241 0,279 0,023 0,080 Diberikan oralit 0,523 0, ,277 0,281 0,229 0,816 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,709 0, ,175 0,169 0,469 0,949 Mempunyai KMS 0,490 0, ,518 0,168 0,325 0,655 Menerima vaksinasi BCG 1,000 0, NA 0,000 1,000 1,000 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,910 0, ,650 0,022 0,869 0,950 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,960 0, ,415 0,009 0,943 0,978 Menerima vaksinasi campak 0,911 0, ,106 0,037 0,843 0,979 Immunisasi lengkap 0,842 0, ,930 0,043 0,769 0,915 Angka kelahiran total (3 tahun) 1,902 0,135 NA ,243 0,071 1,632 2,172 Angka kematian perinatal (0-4 years) 21,262 5, ,843 0,281 9,308 33,217 Angka kematian neonatal (10 years) 1 16,985 4, ,037 0,271 7,775 26,196 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 2,555 1, ,854 0,583 0,000 5,535 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 19,541 4, ,996 0,242 10,074 29,007 Angka kematian anak (10 tahun) 1 3,623 1, ,873 0,501 0,000 7,255 Angka kematian balita (10 tahun) 1 23,093 5, ,011 0,225 12,710 33,475 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,554 0, ,233 0,065 0,482 0,626 Tidak sekolah 0,029 0, ,894 0,304 0,011 0,047 Sekolah menengah ke atas 0,619 0, ,056 0,049 0,558 0,679 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,975 0, ,341 0,013 0,951 1,000 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,972 0, ,311 0,013 0,946 0,997 NA = Tidak berlaku Lampiran C 293

316 Tabel C.17 Kesalahan sampling: Jawa Timur, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,428 0, ,729 0,081 0,358 0,497 Dapat membaca 0,830 0, ,159 0,025 0,788 0,872 Tidak sekolah 0,081 0, ,991 0,173 0,053 0,109 Sekolah menengah ke atas 0,379 0, ,204 0,073 0,324 0,434 Berstatus kawin 0,938 0, ,435 0,010 0,920 0,956 Hamil 0,035 0, ,260 0,149 0,024 0,045 Anak lahir hidup 2,126 0, ,351 0,025 2,017 2,234 Anak masih hidup 1,959 0, ,173 0,021 1,876 2,041 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 3,038 0, ,323 0,035 2,825 3,251 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,991 0, ,684 0,004 0,983 1,000 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,831 0, ,377 0,017 0,803 0,858 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,670 0, ,603 0,030 0,630 0,710 Pakai pil 0,132 0, ,573 0,108 0,103 0,160 Pakai IUD 0,109 0, ,373 0,104 0,087 0,132 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,060 0, ,833 0,194 0,037 0,083 Pakai pantang berkala 0,017 0, ,986 0,199 0,010 0,024 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,305 0, ,925 0,097 0,245 0,364 Tidak ingin anak lagi 0,525 0, ,500 0,038 0,485 0,565 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,204 0, ,115 0,059 0,180 0,228 Jumlah anak ideal 2,407 0, ,153 0,021 2,305 2,508 Ibu menerima suntikan tetanus 0,755 0, ,426 0,035 0,702 0,809 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,808 0, ,126 0,046 0,733 0,882 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,098 0, ,139 0,149 0,069 0,128 Diberikan oralit 0,361 0, ,125 0,203 0,214 0,507 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,416 0, ,782 0,126 0,311 0,521 Mempunyai KMS 0,302 0, ,198 0,181 0,193 0,412 Menerima vaksinasi BCG 0,846 0, ,458 0,062 0,741 0,951 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,666 0, ,333 0,094 0,541 0,791 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,679 0, ,326 0,091 0,556 0,802 Menerima vaksinasi campak 0,765 0, ,407 0,078 0,646 0,884 Immunisasi lengkap 0,642 0, ,302 0,097 0,517 0,766 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,088 0,140 NA ,278 0,067 1,808 2,368 Angka kematian perinatal (0-4 years) 26,690 7, ,064 0,279 11,795 41,585 Angka kematian neonatal (10 years) 1 28,193 6, ,139 0,224 15,580 40,807 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 14,448 4, ,158 0,317 5,293 23,603 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 42,641 9, ,266 0,221 23,756 61,526 Angka kematian anak (10 tahun) 1 9,761 2, ,969 0,282 4,255 15,268 Angka kematian balita (10 tahun) 1 51,986 9, ,243 0,191 32,124 71,848 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,430 0, ,162 0,065 0,375 0,486 Tidak sekolah 0,049 0, ,368 0,290 0,021 0,078 Sekolah menengah ke atas 0,431 0, ,646 0,091 0,352 0,510 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,969 0, ,921 0,008 0,953 0,984 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,969 0, ,921 0,008 0,953 0,984 NA = Tidak berlaku 294 Lampiran C

317 Tabel C.18 Kesalahan sampling: Banten, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,604 0, ,167 0,047 0,547 0,661 Dapat membaca 0,850 0, ,019 0,023 0,812 0,889 Tidak sekolah 0,089 0, ,134 0,184 0,056 0,122 Sekolah menengah ke atas 0,377 0, ,527 0,087 0,311 0,442 Berstatus kawin 0,932 0, ,467 0,011 0,912 0,952 Hamil 0,043 0, ,867 0,098 0,034 0,051 Anak lahir hidup 2,808 0, ,577 0,032 2,626 2,991 Anak masih hidup 2,488 0, ,455 0,028 2,348 2,628 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,506 0, ,825 0,054 4,018 4,993 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,984 0, ,533 0,005 0,973 0,995 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,833 0, ,097 0,014 0,811 0,856 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,586 0, ,472 0,034 0,545 0,626 Pakai pil 0,110 0, ,348 0,106 0,087 0,134 Pakai IUD 0,050 0, ,121 0,257 0,024 0,075 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,017 0, ,216 0,258 0,008 0,026 Pakai pantang berkala 0,011 0, ,870 0,233 0,006 0,016 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,162 0, ,960 0,164 0,109 0,216 Tidak ingin anak lagi 0,455 0, ,202 0,036 0,421 0,488 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,286 0, ,375 0,060 0,251 0,320 Jumlah anak ideal 3,176 0, ,553 0,020 3,050 3,302 Ibu menerima suntikan tetanus 0,684 0, ,898 0,051 0,614 0,755 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,629 0, ,225 0,070 0,540 0,717 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,125 0, ,447 0,146 0,088 0,161 Diberikan oralit 0,332 0, ,301 0,200 0,199 0,465 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,459 0, ,318 0,155 0,317 0,601 Mempunyai KMS 0,230 0, ,424 0,225 0,127 0,333 Menerima vaksinasi BCG 0,693 0, ,064 0,061 0,608 0,777 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,350 0, ,099 0,129 0,260 0,440 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,443 0, ,396 0,135 0,323 0,562 Menerima vaksinasi campak 0,440 0, ,914 0,089 0,362 0,518 Immunisasi lengkap 0,254 0, ,092 0,161 0,172 0,335 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,611 0,107 NA ,175 0,041 2,398 2,824 Angka kematian perinatal (0-4 years) 22,592 6, ,110 0,266 10,556 34,628 Angka kematian neonatal (10 years) 1 16,494 3, ,145 0,226 9,055 23,933 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 21,010 4, ,058 0,197 12,717 29,303 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 37,504 5, ,081 0,150 26,265 48,743 Angka kematian anak (10 tahun) 1 19,306 3, ,060 0,201 11,542 27,070 Angka kematian balita (10 tahun) 1 56,086 7, ,131 0,135 40,946 71,227 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,673 0, ,573 0,057 0,597 0,749 Tidak sekolah 0,011 0, ,958 0,963 0,000 0,032 Sekolah menengah ke atas 0,536 0, ,309 0,063 0,469 0,604 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,959 0, ,028 0,011 0,938 0,980 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,959 0, ,028 0,011 0,938 0,980 NA = Tidak berlaku Lampiran C 295

318 Tabel C.19 Kesalahan sampling: Bali, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,522 0, ,679 0,069 0,449 0,594 Dapat membaca 0,864 0, ,757 0,019 0,831 0,896 Tidak sekolah 0,125 0, ,717 0,122 0,095 0,156 Sekolah menengah ke atas 0,456 0, ,939 0,057 0,403 0,508 Berstatus kawin 0,958 0, ,826 0,010 0,939 0,978 Hamil 0,038 0, ,903 0,237 0,020 0,055 Anak lahir hidup 2,221 0, ,022 0,038 2,052 2,391 Anak masih hidup 2,097 0, ,982 0,036 1,946 2,249 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 3,079 0, ,982 0,052 2,760 3,398 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,989 0, ,911 0,003 0,984 0,994 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,812 0, ,747 0,023 0,775 0,850 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,612 0, ,900 0,042 0,562 0,663 Pakai pil 0,034 0, ,124 0,164 0,023 0,045 Pakai IUD 0,264 0, ,626 0,075 0,225 0,304 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,045 0, ,344 0,170 0,030 0,061 Pakai pantang berkala 0,013 0, ,210 0,284 0,006 0,021 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,330 0, ,224 0,109 0,258 0,402 Tidak ingin anak lagi 0,596 0, ,995 0,045 0,542 0,649 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,134 0, ,707 0,119 0,102 0,166 Jumlah anak ideal 2,467 0, ,549 0,025 2,344 2,590 Ibu menerima suntikan tetanus 0,799 0, ,061 0,046 0,725 0,872 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,878 0, ,944 0,033 0,820 0,936 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,119 0, ,383 0,167 0,079 0,159 Diberikan oralit 0,408 0, ,022 0,157 0,280 0,536 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,441 0, ,047 0,148 0,310 0,571 Mempunyai KMS 0,537 0, ,426 0,126 0,401 0,672 Menerima vaksinasi BCG 0,881 0, ,379 0,048 0,796 0,966 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,870 0, ,123 0,041 0,798 0,942 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,885 0, ,060 0,036 0,821 0,949 Menerima vaksinasi campak 0,827 0, ,247 0,054 0,737 0,917 Immunisasi lengkap 0,803 0, ,273 0,060 0,706 0,899 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,108 0,147 NA ,412 0,069 1,815 2,401 Angka kematian perinatal (0-4 years) 8,781 4, ,047 0,463 0,643 16,918 Angka kematian neonatal (10 years) 1 9,500 2, ,931 0,295 3,903 15,097 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 4,589 2, ,012 0,443 0,520 8,658 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 14,089 3, ,998 0,255 6,907 21,270 Angka kematian anak (10 tahun) 1 5,069 1, ,845 0,353 1,493 8,645 Angka kematian balita (10 tahun) 1 19,086 4, ,977 0,212 10,989 27,183 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,554 0, ,515 0,068 0,479 0,629 Tidak sekolah 0,059 0, ,193 0,237 0,031 0,087 Sekolah menengah ke atas 0,584 0, ,596 0,067 0,506 0,663 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,973 0, ,218 0,010 0,953 0,993 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,973 0, ,218 0,010 0,953 0,993 NA = Tidak berlaku 296 Lampiran C

319 Tabel C.20 Kesalahan sampling: Nusa Tanggara Barat, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,346 0, ,066 0,092 0,283 0,410 Dapat membaca 0,667 0, ,496 0,034 0,621 0,712 Tidak sekolah 0,266 0, ,692 0,091 0,217 0,314 Sekolah menengah ke atas 0,249 0, ,446 0,081 0,209 0,290 Berstatus kawin 0,888 0, ,043 0,012 0,867 0,909 Hamil 0,059 0, ,371 0,166 0,040 0,079 Anak lahir hidup 2,860 0, ,319 0,034 2,667 3,053 Anak masih hidup 2,348 0, ,243 0,029 2,210 2,487 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,872 0, ,377 0,044 4,442 5,303 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,996 0, ,192 0,003 0,990 1,001 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,851 0, ,590 0,023 0,812 0,890 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,535 0, ,907 0,029 0,504 0,566 Pakai pil 0,109 0, ,487 0,146 0,077 0,141 Pakai IUD 0,043 0, ,819 0,294 0,018 0,068 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,016 0, ,050 0,280 0,007 0,025 Pakai pantang berkala 0,002 0, ,871 0,625 0,000 0,005 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,423 0, ,477 0,083 0,353 0,492 Tidak ingin anak lagi 0,376 0, ,072 0,047 0,341 0,412 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,378 0, ,100 0,048 0,342 0,415 Jumlah anak ideal 3,146 0, ,609 0,024 2,993 3,298 Ibu menerima suntikan tetanus 0,708 0, ,756 0,053 0,633 0,783 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,501 0, ,016 0,094 0,407 0,594 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,135 0, ,264 0,146 0,096 0,175 Diberikan oralit 0,484 0, ,357 0,179 0,311 0,656 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,537 0, ,228 0,144 0,382 0,692 Mempunyai KMS 0,181 0, ,328 0,281 0,079 0,283 Menerima vaksinasi BCG 0,886 0, ,282 0,046 0,805 0,967 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,446 0, ,359 0,152 0,310 0,581 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,561 0, ,230 0,109 0,439 0,683 Menerima vaksinasi campak 0,809 0, ,469 0,071 0,694 0,924 Immunisasi lengkap 0,425 0, ,379 0,161 0,288 0,562 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,427 0,158 NA ,143 0,065 2,112 2,743 Angka kematian perinatal (0-4 years) 19,633 6, ,113 0,335 6,462 32,805 Angka kematian neonatal (10 years) 1 23,585 5, ,107 0,216 13,395 33,774 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 50,546 9, ,335 0,180 32,320 68,771 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 74,130 9, ,168 0,128 55,205 93,055 Angka kematian anak (10 tahun) 1 31,049 9, ,508 0,295 12,739 49,358 Angka kematian balita (10 tahun) 1 102,877 12, ,244 0,123 77, ,23 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,379 0, ,302 0,108 0,297 0,460 Tidak sekolah 0,127 0, ,128 0,191 0,079 0,176 Sekolah menengah ke atas 0,373 0, ,389 0,117 0,286 0,460 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,965 0, ,012 0,012 0,941 0,989 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,959 0, ,058 0,014 0,932 0,986 NA = Tidak berlaku Lampiran C 297

320 Tabel C.21 Kesalahan sampling: Nusa Tenggara Timur, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,103 0, ,379 0,141 0,074 0,131 Dapat membaca 0,831 0, ,529 0,024 0,792 0,871 Tidak sekolah 0,090 0, ,565 0,172 0,059 0,121 Sekolah menengah ke atas 0,271 0, ,040 0,115 0,209 0,334 Berstatus kawin 0,927 0, ,377 0,013 0,902 0,952 Hamil 0,060 0, ,056 0,130 0,045 0,076 Anak lahir hidup 3,094 0, ,850 0,021 2,962 3,226 Anak masih hidup 2,810 0, ,998 0,025 2,671 2,949 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,236 0, ,715 0,063 3,705 4,767 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,906 0, ,836 0,021 0,867 0,944 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,637 0, ,510 0,041 0,585 0,689 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,348 0, ,285 0,063 0,304 0,392 Pakai pil 0,032 0, ,226 0,241 0,017 0,048 Pakai IUD 0,054 0, ,120 0,169 0,036 0,072 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,016 0, ,354 0,385 0,004 0,028 Pakai pantang berkala 0,037 0, ,203 0,222 0,020 0,053 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,759 0, ,866 0,073 0,649 0,870 Tidak ingin anak lagi 0,408 0, ,317 0,057 0,361 0,455 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,252 0, ,339 0,083 0,210 0,294 Jumlah anak ideal 3,845 0, ,236 0,018 3,704 3,987 Ibu menerima suntikan tetanus 0,832 0, ,583 0,032 0,779 0,885 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,364 0, ,241 0,134 0,266 0,461 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,129 0, ,143 0,236 0,068 0,190 Diberikan oralit 0,651 0, ,992 0,089 0,535 0,767 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,570 0, ,411 0,146 0,404 0,737 Mempunyai KMS 0,281 0, ,345 0,305 0,110 0,453 Menerima vaksinasi BCG 0,927 0, ,445 0,033 0,866 0,988 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,701 0, ,181 0,063 0,613 0,789 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,811 0, ,340 0,092 0,662 0,960 Menerima vaksinasi campak 0,886 0, ,038 0,030 0,833 0,940 Immunisasi lengkap 0,627 0, ,295 0,081 0,525 0,729 Angka kelahiran total (3 tahun) 4,092 0,236 NA ,311 0,058 3,620 4,563 Angka kematian perinatal (0-4 years) 22,554 6, ,043 0,270 10,385 34,723 Angka kematian neonatal (10 years) 1 31,421 5, ,136 0,175 20,452 42,390 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 27,654 6, ,417 0,226 15,161 40,148 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 59,076 9, ,412 0,155 40,762 77,389 Angka kematian anak (10 tahun) 1 14,929 3, ,031 0,240 7,768 22,090 Angka kematian balita (10 tahun) 1 73,123 9, ,315 0,134 53,529 92,716 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,092 0, ,618 0,132 0,068 0,117 Tidak sekolah 0,080 0, ,161 0,268 0,037 0,123 Sekolah menengah ke atas 0,430 0, ,133 0,089 0,354 0,507 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,923 0, ,327 0,026 0,875 0,971 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,882 0, ,702 0,042 0,808 0,957 NA = Tidak berlaku 298 Lampiran C

321 Tabel C.22 Kesalahan sampling: Kalimantan Barat, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,226 0, ,759 0,107 0,177 0,274 Dapat membaca 0,729 0, ,421 0,049 0,658 0,800 Tidak sekolah 0,206 0, ,945 0,126 0,154 0,257 Sekolah menengah ke atas 0,355 0, ,854 0,127 0,265 0,445 Berstatus kawin 0,932 0, ,360 0,012 0,910 0,955 Hamil 0,039 0, ,985 0,148 0,028 0,051 Anak lahir hidup 2,937 0, ,450 0,035 2,733 3,141 Anak masih hidup 2,571 0, ,142 0,026 2,439 2,704 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,589 0, ,006 0,030 4,311 4,867 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,980 0, ,869 0,004 0,972 0,988 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,820 0, ,266 0,020 0,787 0,853 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,578 0, ,549 0,045 0,526 0,630 Pakai pil 0,155 0, ,199 0,095 0,126 0,185 Pakai IUD 0,026 0, ,686 0,354 0,007 0,044 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,010 0, ,199 0,405 0,002 0,018 Pakai pantang berkala 0,006 0, ,183 0,506 0,000 0,013 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,382 0, ,577 0,091 0,312 0,451 Tidak ingin anak lagi 0,486 0, ,370 0,048 0,439 0,532 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,266 0, ,954 0,054 0,237 0,295 Jumlah anak ideal 3,103 0, ,823 0,030 2,917 3,290 Ibu menerima suntikan tetanus 0,670 0, ,090 0,067 0,580 0,760 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,638 0, ,335 0,082 0,533 0,743 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,083 0, ,890 0,289 0,035 0,130 Diberikan oralit 0,336 0, ,696 0,144 0,240 0,433 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,263 0, ,636 0,416 0,044 0,482 Mempunyai KMS 0,300 0, ,429 0,193 0,184 0,416 Menerima vaksinasi BCG 0,702 0, ,228 0,071 0,602 0,801 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,463 0, ,336 0,127 0,345 0,581 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,472 0, ,289 0,121 0,358 0,586 Menerima vaksinasi campak 0,610 0, ,288 0,091 0,498 0,721 Immunisasi lengkap 0,383 0, ,150 0,129 0,284 0,482 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,886 0,129 NA ,113 0,045 2,629 3,144 Angka kematian perinatal (0-4 years) 25,905 7, ,115 0,278 11,498 40,311 Angka kematian neonatal (10 years) 1 23,648 6, ,200 0,258 11,451 35,845 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 23,162 9, ,933 0,396 4,836 41,488 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 46,810 13, ,944 0,290 19,692 73,927 Angka kematian anak (10 tahun) 1 17,436 4, ,153 0,243 8,974 25,898 Angka kematian balita (10 tahun) 1 63,430 13, ,721 0,210 36,821 90,038 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,241 0, ,181 0,139 0,174 0,309 Tidak sekolah 0,124 0, ,674 0,296 0,050 0,197 Sekolah menengah ke atas 0,390 0, ,412 0,118 0,298 0,481 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,962 0, ,056 0,014 0,936 0,989 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,962 0, ,056 0,014 0,936 0,989 NA = Tidak berlaku Lampiran C 299

322 Tabel C.23 Kesalahan sampling: Kalimantan Tengah, Indonesia Jumlah Galat Tidak ter- Ter- Efek Kesalahan Selang kepercayaan Nilai baku timbang timbang rancangan relatif Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan Dapat membaca Tidak sekolah Sekolah menengah ke atas Berstatus kawin Hamil Anak lahir hidup Anak masih hidup Anak lahir hidup thd wanita umur > Tahu suatu metode kontrasepsi NA Pernah pakai suatu metode kontrasepsi Pakai suatu metode kontrasepsi Pakai pil Pakai IUD Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) Pakai pantang berkala Memanfaatkan sumber sektor umum Tidak ingin anak lagi Ingin menunda paling sedikit 2 tahun Jumlah anak ideal Ibu menerima suntikan tetanus Ibu menerima perawatan saat melahirkan Sakit diare dalam 2 minggu terakhir Diberikan oralit Berkonsultasi dengan petugas kesehatan Mempunyai KMS Menerima vaksinasi BCG Menerima vaksinasi DPT (3 kali) Menerima vaksinasi polio (3 kali) Menerima vaksinasi campak Immunisasi lengkap Angka kelahiran total (3 tahun) NA Angka kematian perinatal (0-4 years) Angka kematian neonatal (10 years) Angka kematian postneonatal (10 years) Angka kematian bayi (10 tahun) Angka kematian anak (10 tahun) Angka kematian balita (10 tahun) PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan Tidak sekolah Sekolah menengah ke atas Tahu suatu metode kontrasepsi Tahu suatu metode kontrasepsi modern NA = Tidak berlaku 300 Lampiran C

323 Tabel C.24 Kesalahan sampling: Kalimantan Selatan, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,362 0, ,699 0,113 0,281 0,444 Dapat membaca 0,877 0, ,984 0,023 0,836 0,918 Tidak sekolah 0,085 0, ,355 0,243 0,044 0,126 Sekolah menengah ke atas 0,333 0, ,313 0,103 0,264 0,401 Berstatus kawin 0,930 0, ,132 0,010 0,912 0,948 Hamil 0,043 0, ,805 0,108 0,034 0,052 Anak lahir hidup 2,700 0, ,182 0,029 2,543 2,858 Anak masih hidup 2,419 0, ,330 0,031 2,267 2,571 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,301 0, ,164 0,034 4,009 4,593 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,999 0, ,724 0,001 0,997 1,000 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,855 0, ,713 0,023 0,816 0,895 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,576 0, ,239 0,035 0,536 0,616 Pakai pil 0,267 0, ,345 0,073 0,228 0,306 Pakai IUD 0,014 0, ,410 0,387 0,003 0,025 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,015 0, ,926 0,248 0,007 0,022 Pakai pantang berkala 0,002 0, ,941 0,737 0,000 0,004 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,253 0, ,817 0,135 0,184 0,321 Tidak ingin anak lagi 0,429 0, ,607 0,061 0,376 0,481 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,287 0, ,341 0,069 0,247 0,327 Jumlah anak ideal 2,932 0, ,509 0,028 2,766 3,098 Ibu menerima suntikan tetanus 0,716 0, ,998 0,058 0,633 0,799 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,574 0, ,825 0,073 0,490 0,659 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,099 0, ,284 0,169 0,065 0,133 Diberikan oralit 0,312 0, ,269 0,263 0,148 0,476 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,425 0, ,588 0,258 0,206 0,645 Mempunyai KMS 0,281 0, ,471 0,223 0,156 0,407 Menerima vaksinasi BCG 0,791 0, ,559 0,075 0,672 0,909 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,594 0, ,202 0,096 0,480 0,708 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,626 0, ,285 0,096 0,506 0,746 Menerima vaksinasi campak 0,698 0, ,176 0,073 0,596 0,801 Immunisasi lengkap 0,522 0, ,007 0,092 0,425 0,618 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,975 0,147 NA ,024 0,049 2,681 3,269 Angka kematian perinatal (0-4 years) 31,030 9, ,233 0,307 11,967 50,092 Angka kematian neonatal (10 years) 1 22,635 5, ,220 0,261 10,836 34,434 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 22,152 8, ,779 0,383 5,175 39,129 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 44,788 10, ,494 0,235 23,748 65,827 Angka kematian anak (10 tahun) 1 12,393 3, ,010 0,284 5,365 19,421 Angka kematian balita (10 tahun) 1 56,626 11, ,486 0,201 33,875 79,376 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,409 0, ,570 0,122 0,310 0,509 Tidak sekolah 0,045 0, ,424 0,426 0,007 0,083 Sekolah menengah ke atas 0,476 0, ,316 0,089 0,391 0,561 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,940 0, ,133 0,035 0,875 1,006 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,940 0, ,133 0,035 0,875 1,006 NA = Tidak berlaku Lampiran C 301

324 Tabel C.25 Kesalahan sampling: Kalimantan Timur, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,587 0, ,884 0,084 0,488 0,686 Dapat membaca 0,919 0, ,037 0,021 0,881 0,958 Tidak sekolah 0,046 0, ,146 0,340 0,015 0,077 Sekolah menengah ke atas 0,518 0, ,091 0,070 0,445 0,591 Berstatus kawin 0,960 0, ,360 0,010 0,941 0,979 Hamil 0,061 0, ,993 0,243 0,031 0,091 Anak lahir hidup 2,553 0, ,245 0,034 2,379 2,727 Anak masih hidup 2,369 0, ,126 0,030 2,227 2,511 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,453 0, ,768 0,070 3,825 5,081 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,996 0, ,995 0,002 0,992 1,000 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,830 0, ,663 0,027 0,786 0,874 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,562 0, ,841 0,058 0,497 0,626 Pakai pil 0,195 0, ,527 0,110 0,152 0,238 Pakai IUD 0,055 0, ,683 0,249 0,027 0,082 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,032 0, ,223 0,237 0,017 0,048 Pakai pantang berkala 0,016 0, ,032 0,286 0,007 0,025 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,314 0, ,474 0,107 0,247 0,381 Tidak ingin anak lagi 0,462 0, ,408 0,054 0,412 0,511 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,232 0, ,589 0,103 0,184 0,280 Jumlah anak ideal 2,862 0, ,105 0,017 2,764 2,960 Ibu menerima suntikan tetanus 0,774 0, ,404 0,039 0,714 0,834 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,792 0, ,127 0,056 0,702 0,881 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,111 0, ,203 0,164 0,075 0,148 Diberikan oralit 0,400 0, ,103 0,196 0,243 0,557 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,573 0, ,382 0,170 0,378 0,768 Mempunyai KMS 0,311 0, ,149 0,179 0,200 0,423 Menerima vaksinasi BCG 0,859 0, ,546 0,066 0,746 0,972 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,710 0, ,720 0,115 0,546 0,874 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,777 0, ,680 0,094 0,631 0,924 Menerima vaksinasi campak 0,809 0, ,741 0,089 0,666 0,953 Immunisasi lengkap 0,666 0, ,787 0,133 0,490 0,843 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,820 0,185 NA ,321 0,066 2,451 3,190 Angka kematian perinatal (0-4 years) 22,694 10, ,383 0,472 1,291 44,098 Angka kematian neonatal (10 years) 1 20,208 5, ,025 0,287 8,609 31,807 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 21,639 7, ,574 0,354 6,322 36,956 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 41,848 10, ,345 0,248 21,088 62,607 Angka kematian anak (10 tahun) 1 8,704 4, ,243 0,475 0,435 16,974 Angka kematian balita (10 tahun) 1 50,188 11, ,428 0,239 26,192 74,183 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,572 0, ,726 0,099 0,459 0,686 Tidak sekolah 0,029 0, ,406 0,544 0,000 0,060 Sekolah menengah ke atas 0,624 0, ,751 0,090 0,511 0,737 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,930 0, ,390 0,025 0,882 0,977 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,917 0, ,436 0,029 0,864 0,970 NA = Tidak berlaku 302 Lampiran C

325 Tabel C.26 Kesalahan sampling: Sulawesi Utara, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,355 0, ,614 0,108 0,279 0,432 Dapat membaca 0,964 0, ,321 0,008 0,950 0,979 Tidak sekolah 0,008 0, ,869 0,294 0,003 0,013 Sekolah menengah ke atas 0,603 0, ,884 0,047 0,546 0,659 Berstatus kawin 0,961 0, ,007 0,006 0,949 0,973 Hamil 0,039 0, ,846 0,109 0,030 0,047 Anak lahir hidup 2,145 0, ,008 0,040 1,973 2,317 Anak masih hidup 2,036 0, ,083 0,040 1,872 2,199 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 2,846 0, ,496 0,048 2,575 3,117 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,994 0, ,081 0,003 0,989 0,999 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,889 0, ,248 0,014 0,864 0,913 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,701 0, ,235 0,025 0,665 0,736 Pakai pil 0,199 0, ,126 0,071 0,171 0,227 Pakai IUD 0,122 0, ,381 0,116 0,094 0,150 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,023 0, ,237 0,250 0,012 0,035 Pakai pantang berkala 0,022 0, ,103 0,233 0,011 0,032 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,331 0, ,703 0,093 0,270 0,393 Tidak ingin anak lagi 0,526 0, ,797 0,053 0,470 0,582 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,174 0, ,633 0,111 0,135 0,213 Jumlah anak ideal 2,335 0, ,747 0,019 2,244 2,426 Ibu menerima suntikan tetanus 0,908 0, ,060 0,016 0,878 0,937 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,857 0, ,949 0,040 0,788 0,926 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,095 0, ,208 0,170 0,063 0,128 Diberikan oralit 0,118 0, ,127 0,447 0,012 0,223 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,481 0, ,933 0,146 0,340 0,621 Mempunyai KMS 0,415 0, ,213 0,140 0,299 0,531 Menerima vaksinasi BCG 0,901 0, ,239 0,040 0,829 0,972 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,779 0, ,258 0,065 0,678 0,880 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,817 0, ,488 0,068 0,705 0,928 Menerima vaksinasi campak 0,736 0, ,245 0,072 0,630 0,842 Immunisasi lengkap 0,686 0, ,262 0,083 0,573 0,800 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,594 0,152 NA ,317 0,059 2,290 2,897 Angka kematian perinatal (0-4 years) 31,232 9, ,049 0,306 12,139 50,324 Angka kematian neonatal (10 years) 1 15,667 4, ,013 0,279 6,929 24,404 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 8,867 3, ,964 0,351 2,636 15,098 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 24,534 4, ,939 0,203 14,571 34,496 Angka kematian anak (10 tahun) 1 8,953 3, ,039 0,348 2,729 15,176 Angka kematian balita (10 tahun) 1 33,267 5, ,915 0,166 22,204 44,329 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,358 0, ,552 0,115 0,276 0,441 Tidak sekolah 0,002 0, ,738 1,009 0,000 0,005 Sekolah menengah ke atas 0,663 0, ,326 0,053 0,593 0,732 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,987 0, ,239 0,008 0,972 1,003 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,987 0, ,239 0,008 0,972 1,003 NA = Tidak berlaku Lampiran C 303

326 Tabel C.27 Kesalahan sampling: Sulawesi Tengah, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,211 0, ,629 0,159 0,144 0,278 Dapat membaca 0,893 0, ,430 0,015 0,866 0,921 Tidak sekolah 0,052 0, ,354 0,181 0,033 0,071 Sekolah menengah ke atas 0,409 0, ,569 0,059 0,361 0,457 Berstatus kawin 0,949 0, ,302 0,010 0,930 0,967 Hamil 0,060 0, ,060 0,119 0,046 0,074 Anak lahir hidup 2,825 0, ,475 0,033 2,640 3,009 Anak masih hidup 2,515 0, ,362 0,029 2,370 2,661 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,101 0, ,831 0,052 3,676 4,526 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,981 0, ,025 0,009 0,963 0,999 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,739 0, ,841 0,035 0,687 0,791 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,546 0, ,282 0,038 0,505 0,587 Pakai pil 0,192 0, ,108 0,139 0,138 0,245 Pakai IUD 0,049 0, ,308 0,326 0,017 0,081 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,029 0, ,420 0,265 0,013 0,044 Pakai pantang berkala 0,017 0, ,221 0,295 0,007 0,028 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,471 0, ,540 0,125 0,353 0,588 Tidak ingin anak lagi 0,433 0, ,410 0,052 0,388 0,478 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,198 0, ,318 0,085 0,164 0,231 Jumlah anak ideal 2,844 0, ,599 0,021 2,725 2,963 Ibu menerima suntikan tetanus 0,737 0, ,245 0,033 0,688 0,786 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,540 0, ,387 0,099 0,433 0,647 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,064 0, ,640 0,272 0,029 0,098 Diberikan oralit 0,406 0, ,778 0,363 0,111 0,701 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,399 0, ,137 0,235 0,211 0,587 Mempunyai KMS 0,228 0, ,715 0,285 0,098 0,358 Menerima vaksinasi BCG 0,867 0, ,145 0,040 0,797 0,937 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,692 0, ,243 0,075 0,588 0,795 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,738 0, ,383 0,075 0,628 0,848 Menerima vaksinasi campak 0,841 0, ,107 0,043 0,768 0,914 Immunisasi lengkap 0,665 0, ,242 0,080 0,559 0,771 Angka kelahiran total (3 tahun) 3,167 0,159 NA ,433 0,050 2,849 3,485 Angka kematian perinatal (0-4 years) 27,523 7, ,085 0,261 13,167 41,880 Angka kematian neonatal (10 years) 1 24,108 5, ,021 0,223 13,341 34,876 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 27,862 5, ,016 0,183 17,665 38,059 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 51,970 7, ,026 0,149 36,528 67,413 Angka kematian anak (10 tahun) 1 19,567 3, ,903 0,191 12,111 27,023 Angka kematian balita (10 tahun) 1 70,521 9, ,142 0,134 51,603 89,439 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,198 0, ,390 0,156 0,136 0,260 Tidak sekolah 0,022 0, ,294 0,484 0,001 0,043 Sekolah menengah ke atas 0,538 0, ,223 0,063 0,470 0,606 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,954 0, ,733 0,021 0,913 0,994 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,954 0, ,733 0,021 0,913 0,994 NA = Tidak berlaku 304 Lampiran C

327 Tabel C.28 Kesalahan sampling: Sulawesi Selatan, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,454 0, ,322 0,212 0,262 0,647 Dapat membaca 0,827 0, ,960 0,027 0,781 0,872 Tidak sekolah 0,103 0, ,566 0,141 0,074 0,132 Sekolah menengah ke atas 0,419 0, ,464 0,053 0,375 0,463 Berstatus kawin 0,930 0, ,994 0,008 0,914 0,945 Hamil 0,038 0, ,126 0,135 0,028 0,048 Anak lahir hidup 2,904 0, ,289 0,030 2,732 3,075 Anak masih hidup 2,651 0, ,159 0,026 2,514 2,788 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,124 0, ,042 0,034 3,844 4,405 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,965 0, ,822 0,011 0,944 0,986 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,693 0, ,001 0,042 0,635 0,752 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,491 0, ,702 0,055 0,436 0,545 Pakai pil 0,135 0, ,646 0,132 0,099 0,171 Pakai IUD 0,012 0, ,734 0,499 0,000 0,024 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,017 0, ,598 0,389 0,004 0,030 Pakai pantang berkala 0,011 0, ,435 0,439 0,001 0,020 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,610 0, ,631 0,144 0,434 0,786 Tidak ingin anak lagi 0,398 0, ,198 0,047 0,361 0,435 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,280 0, ,487 0,076 0,238 0,323 Jumlah anak ideal 3,226 0, ,582 0,021 3,088 3,364 Ibu menerima suntikan tetanus 0,861 0, ,429 0,025 0,818 0,903 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,623 0, ,355 0,046 0,565 0,680 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,155 0, ,510 0,140 0,111 0,198 Diberikan oralit 0,376 0, ,429 0,189 0,234 0,518 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,490 0, ,877 0,091 0,401 0,580 Mempunyai KMS 0,300 0, ,534 0,200 0,180 0,420 Menerima vaksinasi BCG 0,803 0, ,072 0,045 0,730 0,876 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,499 0, ,755 0,150 0,349 0,649 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,664 0, ,981 0,060 0,585 0,744 Menerima vaksinasi campak 0,710 0, ,822 0,045 0,647 0,774 Immunisasi lengkap 0,437 0, ,345 0,130 0,323 0,551 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,643 0,233 NA ,572 0,088 2,177 3,108 Angka kematian perinatal (0-4 years) 22,001 8, ,457 0,367 5,844 38,157 Angka kematian neonatal (10 years) 1 11,907 4, ,376 0,377 2,922 20,892 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 35,198 6, ,091 0,177 22,747 47,648 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 47,105 8, ,300 0,182 29,966 64,243 Angka kematian anak (10 tahun) 1 26,102 11, ,717 0,442 3,026 49,178 Angka kematian balita (10 tahun) 1 71,977 9, ,244 0,128 53,509 90,445 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,401 0, ,938 0,222 0,223 0,579 Tidak sekolah 0,085 0, ,329 0,271 0,039 0,130 Sekolah menengah ke atas 0,467 0, ,168 0,077 0,395 0,539 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,896 0, ,678 0,035 0,832 0,959 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,889 0, ,670 0,037 0,823 0,954 NA = Tidak berlaku Lampiran C 305

328 Tabel C.29 Kesalahan sampling: Sulawesi Tenggara, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,170 0, ,287 0,158 0,116 0,223 Dapat membaca 0,842 0, ,769 0,024 0,802 0,883 Tidak sekolah 0,103 0, ,341 0,216 0,059 0,148 Sekolah menengah ke atas 0,443 0, ,660 0,093 0,360 0,525 Berstatus kawin 0,954 0, ,499 0,010 0,934 0,973 Hamil 0,067 0, ,377 0,163 0,045 0,089 Anak lahir hidup 2,980 0, ,363 0,032 2,791 3,169 Anak masih hidup 2,635 0, ,942 0,020 2,527 2,742 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 4,698 0, ,599 0,052 4,208 5,188 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,953 0, ,019 0,014 0,926 0,980 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,687 0, ,586 0,034 0,640 0,735 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,486 0, ,620 0,053 0,434 0,538 Pakai pil 0,108 0, ,234 0,114 0,084 0,133 Pakai IUD 0,013 0, ,641 0,456 0,001 0,025 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,018 0, ,714 0,405 0,003 0,033 Pakai pantang berkala 0,023 0, ,396 0,291 0,010 0,037 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,334 0, ,369 0,162 0,226 0,442 Tidak ingin anak lagi 0,397 0, ,946 0,037 0,367 0,427 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,356 0, ,072 0,046 0,323 0,389 Jumlah anak ideal 3,415 0, ,861 0,023 3,261 3,569 Ibu menerima suntikan tetanus 0,741 0, ,488 0,037 0,685 0,796 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,420 0, ,488 0,076 0,356 0,484 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,090 0, ,230 0,152 0,063 0,117 Diberikan oralit 0,298 0, ,800 0,158 0,204 0,392 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,326 0, ,240 0,237 0,171 0,480 Mempunyai KMS 0,401 0, ,190 0,126 0,300 0,501 Menerima vaksinasi BCG 0,842 0, ,593 0,059 0,743 0,942 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,681 0, ,647 0,098 0,548 0,814 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,693 0, ,600 0,092 0,565 0,821 Menerima vaksinasi campak 0,703 0, ,313 0,073 0,600 0,807 Immunisasi lengkap 0,528 0, ,667 0,137 0,383 0,672 Angka kelahiran total (3 tahun) 3,630 0,197 NA 935 1,004 0,054 3,236 4,023 Angka kematian perinatal (0-4 years) 29,245 8, ,202 0,291 12,209 46,282 Angka kematian neonatal (10 years) 1 36,067 6, ,110 0,192 22,210 49,925 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 31,040 12, ,199 0,407 5,785 56,295 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 67,107 17, ,004 0,264 31, ,52 Angka kematian anak (10 tahun) 1 26,987 7, ,362 0,261 12,894 41,081 Angka kematian balita (10 tahun) 1 92,283 20, ,998 0,223 51, ,50 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,171 0, ,105 0,137 0,124 0,217 Tidak sekolah 0,038 0, ,549 0,439 0,005 0,071 Sekolah menengah ke atas 0,508 0, ,377 0,076 0,431 0,586 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,941 0, ,376 0,019 0,904 0,977 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,910 0, ,245 0,022 0,870 0,951 NA = Tidak berlaku 306 Lampiran C

329 Tabel C.30 Kesalahan sampling: Gorontalo, Indonesia Jumlah Nilai Galat baku Tidak tertimbang Tertimbang Efek rancangan Kesalahan relatif Selang kepercayaan Variabel (R) (SE) (N) (WN) (DEFT) (SE/R) R-2SE R+2SE WANITA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,260 0, ,649 0,142 0,186 0,334 Dapat membaca 0,899 0, ,406 0,015 0,872 0,926 Tidak sekolah 0,022 0, ,338 0,283 0,010 0,035 Sekolah menengah ke atas 0,407 0, ,408 0,092 0,332 0,483 Berstatus kawin 0,935 0, ,921 0,008 0,920 0,949 Hamil 0,068 0, ,107 0,113 0,052 0,083 Anak lahir hidup 2,656 0, ,606 0,039 2,448 2,865 Anak masih hidup 2,311 0, ,263 0,030 2,173 2,450 Anak lahir hidup thd wanita umur > 40 3,991 0, ,823 0,069 3,438 4,543 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,992 0, ,083 0,003 0,986 0,999 Pernah pakai suatu metode kontrasepsi 0,829 0, ,826 0,012 0,808 0,849 Pakai suatu metode kontrasepsi 0,520 0, ,476 0,047 0,472 0,569 Pakai pil 0,171 0, ,209 0,160 0,116 0,225 Pakai IUD 0,056 0, ,260 0,169 0,037 0,075 Pakai sterilisasi wanita (tubektomi) 0,006 0, ,905 0,391 0,001 0,010 Pakai pantang berkala 0,032 0, ,790 0,321 0,012 0,053 Memanfaatkan sumber sektor umum 0,439 0, ,724 0,091 0,359 0,519 Tidak ingin anak lagi 0,526 0, ,314 0,041 0,482 0,569 Ingin menunda paling sedikit 2 tahun 0,227 0, ,970 0,059 0,200 0,254 Jumlah anak ideal 2,756 0, ,198 0,016 2,667 2,846 Ibu menerima suntikan tetanus 0,758 0, ,085 0,054 0,676 0,839 Ibu menerima perawatan saat melahirkan 0,488 0, ,324 0,111 0,380 0,597 Sakit diare dalam 2 minggu terakhir 0,122 0, ,399 0,178 0,078 0,165 Diberikan oralit 0,523 0, ,255 0,166 0,349 0,696 Berkonsultasi dengan petugas kesehatan 0,507 0, ,889 0,248 0,255 0,758 Mempunyai KMS 0,273 0, ,473 0,232 0,147 0,400 Menerima vaksinasi BCG 0,877 0, ,774 0,064 0,765 0,990 Menerima vaksinasi DPT (3 kali) 0,584 0, ,535 0,125 0,438 0,730 Menerima vaksinasi polio (3 kali) 0,641 0, ,665 0,120 0,486 0,795 Menerima vaksinasi campak 0,755 0, ,253 0,124 0,568 0,942 Immunisasi lengkap 0,566 0, ,531 0,129 0,419 0,713 Angka kelahiran total (3 tahun) 2,787 0,179 NA 583 1,399 0,064 2,430 3,145 Angka kematian perinatal (0-4 years) 33,882 8, ,074 0,243 17,394 50,371 Angka kematian neonatal (10 years) 1 23,676 4, ,136 0,202 14,099 33,254 Angka kematian postneonatal (10 years) 1 53,576 9, ,405 0,185 33,715 73,438 Angka kematian bayi (10 tahun) 1 77,253 9, ,230 0,129 57,373 97,133 Angka kematian anak (10 tahun) 1 21,281 4, ,057 0,214 12,159 30,404 Angka kematian balita (10 tahun) 1 96,890 12, ,314 0,125 72, ,12 PRIA Daerah tempat tinggal perkotaan 0,232 0, ,345 0,150 0,162 0,302 Tidak sekolah 0,014 0, ,087 0,566 0,000 0,029 Sekolah menengah ke atas 0,326 0, ,315 0,116 0,250 0,402 Tahu suatu metode kontrasepsi 0,847 0, ,130 0,030 0,797 0,897 Tahu suatu metode kontrasepsi modern 0,837 0, ,140 0,031 0,785 0,889 NA = Tidak berlaku Lampiran C 307

330 KUALITAS DATA: KESALAHAN NON-SAMPLING Lampiran D Lampiran ini menyajikan penilaian awal dari kualitas data SDKI Untuk tujuan ini, diteliti kesalahan pelaporan umur, masalah daya ingat responden, dan masalah-masalah lain yang ditemui selama pelaksanaan pengumpulan data. Table D.1 menyajikan distribusi penduduk menurut umur tunggal. Kebalikan dari yang diharapkan, proporsi anak-anak yang dilaporkan berumur 5 tahun pada saat pencacahan lebih kecil dari pada proporsi anak-anak yang berumur 4 dan 6 tahun. Terlihat adanya kecenderungan pelaporan umur yang berakhiran 0 dan 5 pada usia yang lebih tua untuk perempuan dan laki-laki. Namun demikian, tidak seperti hasil SDKI tahun-tahun sebelumnya, nampaknya tidak terjadi pelaporan umur yang lebih banyak pada umur 50 dan 55 tahun (49 dan 54 tahun adalah batas umur sebagai syarat menjadi responden untuk wanita dan pria) (BPS dkk.,1998). Tabel D.1 Distribusi umur penduduk Distribusi penduduk de facto menurut umur tunggal dan jenis kelamin (tertimbang), Indonesia Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Umur Jumlah Persentase Jumlah Persentase Umur Jumlah Persentase Jumlah Persentase , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,8 Tidak tahu/ tak terjawab 23 0,0 29 0,0 Jumlah , ,0 Lampiran D 309

331 Tabel D.2.1 dan D.2.2 menyajikan distribusi umur wanita dan pria yang memenuhi syarat untuk diwawancarai. Tabel D.2.1 memperlihatkan bahwa selama pencacahan terdapat wanita umur diantaranya pernah kawin yang memenuhi syarat untuk diwawancarai. Diantara wanita yang memenuhi syarat, berhasil diwawancarai, dengan response rate 98 persen. Tabel D.2.2 memperlihatkan bahwa terdapat pria umur tercatat dalam Daftar Rumah Tangga, diantaranya berstatus kawin dan memenuhi syarat untuk diwawancarai. Diantara pria yang memenuhi syarat, berhasil diwawancarai, dengan response rate 95 persen. Untuk meneliti kemungkinan kesalahan pelaporan umur pada pertanyaan perseorangan untuk wanita dan pria, distribusi umur wanita pernah kawin dan pria berstatus kawin dihitung dari keterangan rumah tangga dan kemudian dibandingkan dengan distribusi umur wanita dan pria yang diwawancarai. Pola yang diharapkan, yaitu penurunan persentase sejalan dengan bertambahnya umur, terlihat pada penduduk wanita di rumah tangga, tetapi tidak tampak pada wanita pernah kawin. Selain itu, tidak ada perbedaan yang nyata pada distribusi umur wanita pernah kawin dengan wanita yang diwawancarai. Hal ini menunjukkan tidak ada bias pada pelaporan umur. Response rate begitu beragam antar kelompok umur. Tabel D.2.1 Distribusi umur wanita yang memenuhi syarat dan yang diwawancarai Distribusi penduduk wanita de facto umur 10-54, wanita pernah kawin umur 10-54, dan persentase wanita yang memenuhi syarat yang diwawancarai (tertimbang), menurut kelompok umur, Indonesia Persentase wanita yang memenuhi Wanita Wanita yang syarat yang Penduduk pernah diwawancarai diwawanwanita kawin carai Umur Jumlah Persentase (tertimbang) na na na na ,3 98, ,2 97, ,2 98, ,5 97, ,6 98, ,5 98, ,8 98, na na na ,0 98,1 Catatan: Penduduk de facto termasuk semua orang yang biasa tinggal di rumah tangga dan tamu yang menginap semalam sebelum wawancara. Penimbang untuk wanita yang diwawancarai adalah rumah tangga. Umur berdasarkan daftar rumah tangga. na = Tidak berlaku 310 Lampiran D

332 Tabel D.2.2 Distribusi umur pria yang memenuhi syarat dan yang diwawancarai Distribusi penduduk pria de facto umur 10-59, pria berstatus kawin umur 10-59, dan persentase pria yang memenuhi syarat yang diwawancarai (tertimbang), menurut kelompok umur, Indonesia Persentase pria yang memenuhi Pria Pria yang syarat yang Penduduk berstatus diwawancarai diwawanpria kawin carai Umur Jumlah Persentase (tertimbang) na na na na ,1 93, ,2 94, ,6 94, ,5 94, ,0 95, ,6 96, ,8 95, ,1 96, na na na ,0 95,4 Catatan: Penduduk de facto termasuk semua orang yang biasa tinggal di rumah tangga dan tamu yang menginap semalam sebelum wawancara. Penimbang untuk pria yang diwawancarai adalah rumah tangga. Umur berdasarkan daftar rumah tangga. na = Tidak berlaku Informasi mengenai kelengkapan pelaporan dari variabel-variabel penting disajikan Tabel D.3. Diantara kelahiran pada 15 tahun sebelum survey, 8 persen tidak diketahui tahun kelahirannya. Informasi umur pada saat meningal sangat rendah, kurang dari 1 persen. Begitu juga informasi mengenai kumpul pertama pada wanita pernah kawin, kurang dari 1 persen. Dibandingkan dengan hasil SDKI sebelumnya, hasil SDKI menunjukkan bahwa tingkat pelaporan kejadian sedikit lebih baik. Tabel D.3 Kelengkapan pelaporan Persentase pengamatan atas keterangan yang hilang menurut parameter demografi dan pertanyaan tentang kesehatan, Indonesia Persentase kelompok referensi yang hilang Jumlah Masalah Kelompok referensi keterangannya kasus Tanggal lahir Kelahiran dlm 15 thn terakhir Bulan saja 7, Bulan dan tahun 0, Umur waktu meninggal Dalam 15 thn terakhir 0, Umur kumpul pertama 1 Responden pernah kawin 0, Pendidikan responden Semua responden 0, Diare dlm 2 minggu terakhir Anak masih hidup umur 1-59 bln 0, Tidak ada keterangan tahun dan umur Lampiran D 311

333 Tabel D.4 disajikan untuk meneliti apakah ada kesalahan data mengenai pelaporan kelahiran. Persentase anak yang masih hidup dalam tahun 1997 adalah jauh lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya, hal ini diduga ada kesengajaan dari beberapa pewawancara untuk mengurangi beban kerja mereka, terutama untuk memperpendek waktu berwawancara dengan melewati pertanyaan di bagian kesehatan yang pertanyaannya sangat mendalam tentang anak balita. Hal ini dapat diperlihatkan dari rasio kelahiran pada tahun 1997 untuk rata-rata dari dua tahun yang bersamaan (82), sementara itu untuk tahun 1996 rasio kelahirannya adalah 121. Masalah ini lebih serius diantara anak-anak yang meninggal, dimana pengurangan jumlah kelahiran terjadi pada tahun Rasio jenis kelamin beragam dari tahun ke tahun, dan menunjukkan tidak adanya bias. Para wanita kelihatannya mempunyai ingatan yang lebih baik pada anak laki-laki yang meningal dari pada anak perempuan yang meninggal, yang ditandai dengan tingginya rasio jenis kelamin anak yang meninggal. Tabel D.4 menyajikan perbandingan data SDKI tahun-tahun sebelumnya, pelaporan kelahiran lebih lengkap isiannya pada tahun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tabel D.4 Kelahiran menurut tahun kalender Distribusi kelahiran menurut tahun kalender untuk anak masih hidup, anak sudah meninggal, dan semua anak, berdasarkan kelengkapan isian, rasio jenis kelamin, dan rasio kelahiran menurut tahun kalender (tertimbang), Indonesia Persentase Rasio jenis Jumlah kelahiran tanggal lahir lengkap 1 kelamin saat lahir 2 Rasio tahun kalender 3 Tahun Hidup Meninggal Jumlah Hidup Meninggal Jumlah Hidup Meninggal Jumlah Hidup Meninggal Jumlah ,0 99,7 100,0 109,5 117,0 109,7 na na na ,9 100,0 99,9 106,5 161,9 108,2 na na na ,7 99,7 99,7 113,5 207,2 115,9 105,1 105,3 105, ,7 98,9 99,7 93,9 70,0 93,0 102,5 80,1 101, ,5 98,5 99,4 110,3 69,7 107,8 99,3 130,3 100, ,6 91,1 99,2 97,5 140,0 99,1 82,2 59,9 80, ,9 64,2 90,9 92,5 139,6 95,1 121,2 155,8 123, ,7 63,2 89,9 109,7 68,2 106,6 98,0 85,0 97, ,2 63,7 89,2 113,2 135,6 114,7 97,6 109,8 98, ,4 57,1 88,1 106,1 147,0 108,5 98,2 87,5 97, ,8 99,3 99,7 106,5 111,4 106,7 na na na ,9 65,5 91,2 103,4 121,3 104,4 na na na ,7 50,4 84,6 106,6 127,8 108,2 na na na ,2 48,1 79,7 102,1 133,6 104,9 na na na < ,7 42,2 71,5 104,8 125,7 107,7 na na na Jumlah ,9 52,8 84,8 104,7 125,6 106,4 na na na 1 Bulan dan tahun lahir diketahui 2 (B m /B f )*100, dimana B m dan B f adalah jumlah kelahiran laki-laki dan perempuan 3 [2B x /(B x-1 +B x+1 )]*100, dimana B x adalah jumlah kelahiran dalam tahun kalender x na = Tidak berlaku Tabel D.5 memperlihatkan bahwa adanya pengelompokan pelaporan umur anak meninggal pada umur 7 hari atau satu minggu. Sementara itu, terlihat pengelompokan pelaporan kematian pada umur 8 dan 9 hari untuk kelahiran dalam 5 tahun terakhir, pada periode 3 sampai 5 tahun sebelumnya juga terjadi pengelompokan pelaporan umur anak yang meninggal pada umur 10 hari. Proporsi kematian sesaat setelah lahir dalam periode 3 sampai 5 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan saat ini, hal ini sejalan dengan menurunnya angka kematian bayi. Kesimpulan yang sama dapat digambarkan dari proporsi kematian sesaat setelah lahir dalam Tabel D.6. Hal menarik untuk dicatat bahwa tidak ada pengelompokan kematian pada umur 12 bulan. Pengelompokan kematian yang lainnya ditunjukkan dalam umur yang berbeda dalam periode 4 sampai 5 tahun, hal ini menunjukkan bahwa kejadian ini terjadi secara acak. Dalam SDKI 1997, terjadi pengelompokan kematian pada umur 12 bulan, yang mempunyai pengaruh dalam estimasi angka kematian bayi. 312 Lampiran D

334 Tabel D.5 Pelaporan umur saat meninggal dalam hari Distribusi pelaporan umur saat meninggal di bawah satu bulan menurut umur saat meninggal (dalam hari) dan persentase pelaporan anak yang meninggal berumur 0-6 hari, menurut periode 5 tahunan sebelum survey, Indonesia Jumlah tahun sebelum survey Umur saat Jumlah meninggal (hari) < Jumlah Persentase neonatum 1 77,2 69,7 70,5 60,6 68, hari/0-30 hari Lampiran D 313

335 Tabel D.6 Pelaporan umur saat meninggal dalam bulan Distribusi pelaporan umur meninggal di bawah satu bulan menurut umur saat meninggal (dalam bulan) dan persentase pelaporan bayi meninggal berumur di bawah satu bulan, menurut periode 5 tahunan sebelum survey, Indonesia Jumlah tahun sebelum survey Umur saat Jumlah meninggal (bln) <1 bln Hilang Tahun Jumlah Persen neonatum 2 58,0 52,4 49,5 46,8 50,9 1 <1 termasuk pelaporan kematian bayi di bawah 1 bulan dalam hari 2 Persentase neonatum = di bawah 1 bulan/ i bawah satu tahun 314 Lampiran D

336 STAF SURVEY Lampiran E TIM PENGARAH Dr. Achmad Sujudi Menteri Kesehatan Prof. Dr. Yaumil Agoes Achir Kepala BKKBN Dr. Soedarti Surbakti Kepala BPS Dr. Sridadi Suparto BKKBN Toto E. Sastrasuanda, MS BPS Dr. Sri Astuti Soedarso Suparmanto, MSc.Ph, MPH Depkes dr. Nelly Nangoy, MPH BKKBN Dr. Siswanto Aguswilopo, PhD BKKBN Dr. Lalu Sudarmadi, MPIA BKKBN Drs. Mazwar Noerdin BKKBN Drs. Imam Haryadi, MSc BKKBN Dr. Suharsono Sumantri, PhD Depkes Drs. Mulyono Muah, MA BPS Dr. Victor Trigno, MPH NFPCB Saudin Sitorus, MSc BPS Slamet Mukeno, MA BPS Kusmadi Saleh, MA BPS R. Lukito Praptoprijoko, MA BPS Dr. Si Gde Made Mamas BPS Arizal Ahnaf, MA BPS La Ode Syafiuddin, MSc BPS Dr. Ratna L. Budiarso Depkes Drs. Tohir Diman, MSc. Meneg PP S. Happy Hardjo, Mec BPS Subagio Dwijosumono, SE, MA BPS Drs. Wynandin Imawan, MSc BPS Agus Suherman, MSc BPS Drs. Armuni Umar BPS Drs. Purwotanoyo BPS Drs. Ardief Achmad, MM BPS Drs. Suharno, MSc BPS Dr. Ida Bagus Pernama BKKBN Dr. Dasep Budi Abadi BKKBN Dr. Risman Musa BKKBN Dr. Djoko Sulistijo BKKBN Drs. Eddy S. Hasmi, MSc BKKBN Dr. Wandri Mukhtar, MPH BKKBN Aziz Abdul Wahab, SE BKKBN Dr. Sriharyati Hatmadji LDUI Drs. Sudja l Z.L. BKKBN Dr. Subagus BKKBN Dr. Sri Moertiningsih Adioetomo LDUI Dra. Sri Murtiningsih, SU BKKBN Lampiran E 315

337 TIM TEKNIS Toto E. Sastrasuanda, MS BPS Drs. Mulyono Muah, MA BPS Dr. Sridadi Suparto BKKBN Dr. Sri Astuti Soedarso Suparmanto, MSc.Ph, MPH Depkes Dr. Wendy Hartanto BPS S. Happy Hardjo, M.Ec BPS dr. Nelly Nangoy, MPH BKKBN Dr. Djoko Sulistyo BKKBN Dr. Si Gde Made Mamas BPS Arizal Ahnaf, MA BPS Drs. Suharno, MSc BPS Suharsono Sumantri, PhD Depkes Drs. Amanto Wardoyo, MM BKKBN Drs. T. Prihyugiarto, MPH BKKBN Dra. Flourisa Julian, MKM BKKBN Drs. Razali Ritonga, MA BPS Ir. Aden Gultom, MM BPS Uzair Suhaemi, MA BPS Ir. Dudi Sulaeman, M.Eng BPS Drs. Eri Hastoto BPS Dedi Walujadi, SE, MA BPS Ir. Gunadi Supena BPS Ir. Wien Kusdiatmono, MM BPS Ir. Mudjianto, MPIA BKKBN Ir. Endah Winarni, MSPH BKKBN Dra. Iswarati, SU BKKBN Tati Irwati, MA BPS Rini Savitridina, MA BPS Muhammad Taufiq, DPSc BPS Dr. Anthony Tan BKKBN Drs. Asaad Malik, MM BKKBN Sri Wahyuni, SH, MA BKKBN Dra. Maria Anggraeni, MS BKKBN Dra. Hadriah Oesman, MSc BKKBN Ir. Siti Fathonah, MPH BKKBN Dr. Azwan Nurdin, MSi BKKBN Dr. Dina Bisara Lolong, MA Depkes Dr. Ch. M. Kristanti, MSc Depkes Ir. Thoman Pardosi, SE, MSi BPS Krismawati, MA BPS Martin Suanta, SE BPS Achmad Sukroni, SSi BPS Bachtiar BPS Tri Windiarto, SSi BPS Ika Luswara, SSi BPS 316 Lampiran E

338 INSTRUKTUR Bachtiar Titik Harsanti, MSi Achmad Sukroni, SSi Wachyu Winarsih, MSi Siti Rusmiati, MA Yunita Rusanti, MStat Mariet Tetty Nuryetty, MA Dini Iriani, SSi Sudjono, Ssi Dani Jaelani Dendi Romadhon, SSi Tri Windiarto, SSi Agus Prasetyo, DPSc Syafii Nur, SSi Hartono, SSi, MT Martin Suanta, SE Awaludin Apriyanto, MSi Mimiek Nurjanti, SSi Achmad Sukroni, Ssi Martin Suanta, SE Tri Windiarto, Ssi SUPERVISI PENGOLAHAN DATA Bachtiar Awaludin Apriyanto, MSi Dendi Handiyatmo PENULIS Tati Irwati, MA (Koordinator) Dr. Dina Bisara Lolong, MA Dra. Israwati, SU Dr. Wendy Hartanto Rini Savitridina, MA Yunita Rusanti, MStat Sri Hartini, MA Awaludin Apriyanto, MSi Muhammad Taufiq, DPSc Ir. Endah Winarni, MSPH Sri Wahyuni, SH, MA Ir. Mudjianto, MPIA Dr. Anthony Tan, MPH, PhD Dra. Hadriah Oesman, MS Dra. Leli Asih Dra. Maria Anggaraeni, MS Dr. Felly P. Senewe, M. Kes drg. Ch. M. Kristanti, MS Agustina Lubis, MSc Joko Irianto, M. Kes Dwi Hapsari, M. Kes Ning Sulistyowati, M. Kes Tin Afifah, SKM Dra. Rahmalina, MS Dr. Julianti Pradono, MS Dr. Sarimaway Djaya, M. Kes Drs. Sardjaini Jamal, MSc Dr. Emiliana Tjitra, PhD Dr. Yuana Wiryawan Supraptini, MM BPS Depkes BKKBN BPS BPS BPS BPS BPS BPS BKKBN BKKBN BKKBN BKKBN BKKBN BKKBN BKKBN Depkes Depkes Depkes Depkes Depkes Depkes Depkes Depkes Depkes Depkes Depkes Depkes Depkes Depkes Lampiran E 317

339 EDITOR Dr. Sunaryo Urip (BPS) Suharno, MSc (BPS) Dr. Pudjo Rahardjo (BKKBN) dr. Nelly Nangoy, MPH (BKKBN) dr. Suhardi, MPH (Depkes) STAF ORC MACRO Sri Poedjastoeti (Country Manager) Alfredo Aliaga J. Guillermo Rojas Anne R. Cross Ann A. Way Sidney Moore Kaye Mitchell Katherine Senzee Arlinda Zhuzhuni Sushil Kumar Rebecca Henry Nancy Fronczak Kiersten Johnson Daniel Vadnais Noah Bartlett 318 Lampiran E

340 DAFTAR PERTANYAAN Lampiran F Lampiran F 319

341 SDKI02-RT SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA 2002 DAFTAR RUMAH TANGGA Rahasia I. PENGENALAN TEMPAT KODE 1. PROPINSI 2. KABUPATEN/KOTA *) 3. KECAMATAN 4. DESA/KELURAHAN *) 5. DAERAH **) PERKOTAAN - 1 PERDESAAN NOMOR BLOK SENSUS 7. NOMOR KODE SAMPEL SDKI NOMOR URUT RUMAH TANGGA NAMA KEPALA RUMAH TANGGA 10. TERPILIH SURVEI PRIA KAWIN YA - 1 TIDAK - 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 *!!!*!!!* +)))3)))3)))1 *!!!*!!!*!!!* /)))3)))3)))1 *!!!*!!!*!!!*.)))2)))3)))1 *!!!*.)))- +)))0)))0)))0))), *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))3)))3)))1 *!!!*!!!* +))), *!!!*.)))- II. KUNJUNGAN PETUGAS DAN REKAPITULASI KUNJUNGAN AKHIR TANGGAL WAWANCARA NAMA PEWAWANCARA HASIL KUNJUNGAN ***) TANGGAL *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN *!!!*!!!* +)))0)))3)))3)))1 TAHUN *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))3)))3)))3)))1 PEWAWANCARA *!!!*!!!*!!!*.)))2)))3)))1 HASIL KUNJUNGAN *!!!*.)))- KUNJ. BERIKUT TGL JAM JUMLAH KUNJUNGAN +))), *!!!*.)))- ***) PILIH SALAH SATU DAN ISIKAN KODE HASIL KUNJUNGAN 1 SELESAI 2 TIDAK ADA ANGGOTA RUMAH TANGGA DI RUMAH ATAU TIDAK ADA RESPONDEN YANG MAMPU MENJAWAB PADA SAAT KUNJUNGAN 3 RUMAH TANGGA TIDAK ADA SELAMA WAKTU PENCACAHAN 4 DITANGGUHKAN 5 DITOLAK 6 BANGUNAN KOSONG ATAU ALAMAT BUKAN TEMPAT TINGGAL 7 BANGUNAN DIBONGKAR 8 BANGUNAN TIDAK DITEMUKAN 9 LAINNYA (TULISKAN) JUMLAH ANGGOTA *!!!*!!!* RUMAH TANGGA JUMLAH PRIA KAWIN TAHUN *!!!*!!!* JUMLAH WANITA PERNAH KAWIN *!!!*!!!* TAHUN JUMLAH ART BELUM KAWIN *!!!*!!!* TAHUN NOMOR URUT *!!!*!!!* RESPONDEN EDITOR LAPANGAN PENGAWAS EDITOR BPS PONSER NAMA TANGGAL *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *) Coret yang tidak sesuai **) Lingkari salah satu Lampiran F 321

342 III. DAFTAR ANGGOTA Sekarang saya ingin memperoleh beberapa keterangan mengenai orang-orang yang biasa tinggal NO ORANG YANG BIASA TINGGAL DAN TAMU HUBUNGAN DENGAN KEPALA RU- MAH TANGGA JENIS KELAMIN TEMPAT TINGGAL UMUR JIKA BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS ANGGOTA RUMAH TANGGA YANG MEMENUHI SYARAT Siapakah nama orang-orang yang biasanya tinggal di rumah tangga ini dan tamu yang menginap semalam, mulai dengan kepala rumah tangga? Apa hubungan (NAMA) dengan kepala rumah tangga? * Apakah (NAMA) laki-laki atau perempuan? Apakah (NAMA) biasanya tinggal di sini? Apakah (NAMA) menginap di sini tadi malam? Berapakah umur (NAMA)? Apakah status perkawinan (NAMA)? ** LINGKARI NOMOR URUT SEMUA PRIA BERSTATUS KAWIN BERUMUR TAHUN LINGKARI NOMOR URUT SEMUA WANITA PERNAH KAWIN BERUMUR TAHUN LINGKARI NOMOR URUT SEMUA ART BELUM KAWIN BERUMUR TAHUN (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (10A) *) KODE KOLOM (3): HUBUNGAN DENGAN KEPALA RUMAH TANGGA 01 = KEPALA RUMAH TANGGA 02 = ISTRI/SUAMI 03 = ANAK KANDUNG 04 = MENANTU 05 = CUCU 06 = ORANG TUA 07 = MERTUA 08 = SAUDARA KANDUNG 09 = FAMILI LAIN 10 = ADOPSI/ANAK ANGKAT 11 = ANAK TIRI 12 = TIDAK ADA HUBUNGAN 98 = TIDAK TAHU 322 Appendix F *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* **) KODE KOLOM (8): STATUS PERKAWINAN 1 = BELUM KAWIN 2 = KAWIN 3 = CERAI HIDUP 4 = CERAI MATI L P YA TDK YA TDK TAHUN *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* 2 +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- ***) KOLOM (11) S.D. KOLOM (14): PERTANYAAN INI MERUJUK KEPADA ORANG TUA KANDUNG ANAK KOLOM (12) DAN KOLOM (14): TULISKAN 00' JIKA ORANG TUA KANDUNG TIDAK TINGGAL DI RUMAH TANGGA ****) KODE KOLOM (16): JENJANG PENDIDIKAN 1 = SD 2 = SMP 3 = SMU 4 = AKADEMI/DI/DII/DIII 5 = UNIVERSITAS/DIV 8 = TIDAK TAHU KELAS 7 = TAMAT 8 = TIDAK TAHU

343 RUMAH TANGGA di rumah tangga ini atau orang-orang yang sekarang sedang tinggal di rumah tangga ini. STATUS KELANGSUNGAN HIDUP DAN TEMPAT TINGGAL ORANG TUA ANGGOTA RUMAH TANGGA BERUMUR KURANG DARI 15 TAHUN *** P E N D I D I K A N Apakah ibu kandung (NAMA) masih hidup? JIKA MASIH HIDUP Apakah ibu kandung (NAMA) tinggal di rumah tangga ini? JIKA YA: Siapakah namanya? CATAT NO. URUT IBU KANDUNG, ISI 00' JIKA TIDAK ADA DI KOL.(2) Apakah ayah kandung (NAMA) masih hidup? JIKA MASIH HIDUP Apakah ayah kandung (NAMA) tinggal di rumah tangga ini? JIKA YA: Siapakah namanya? CATAT NO. URUT AYAH KANDUNG, ISI 00' JIKA TIDAK ADA DI KOL. (2) Apakah (NAMA) pernah bersekolah? JIKA BERUMUR 5 TAHUN ATAU LEBIH Apa jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan/ diduduki (NAMA)? Apakah kelas tertinggi yang diselesaikan(nama) **** JIKA UMUR 5-24 TAHUN Apakah (NAMA) masih bersekolah? (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) YA TDK TT YA TDK TT YA TIDAK JENJANG KELAS YA TIDAK +))), +))), *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!* *!!!* 1 2 (ART BERIKUT)=)-.)))-.))) *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* BERI TANDA / BILA MEMAKAI LEMBAR TAMBAHAN *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- 1 2 (ART BERIKUT)=)- Untuk meyakinkan bahwa tidak ada yang terlewat: 1) Apakah ada orang lain seperti bayi atau anak kecil yang belum didaftar? YA +))),.)))2< 2) Apakah ada orang lain yang bukan keluarga seperti pembantu, pemondok atau teman YA +))), yang biasanya tinggal disini?.)))2< 3) Apakah ada tamu yang sementara tinggal disini selama 6 bulan atau lebih, atau ada YA +))), yang menginap di rumah ini yang belum didaftar?.)))2< 4) Apakah ada orang yang biasanya tinggal disini tetapi sedang bepergian selama YA +))), kurang dari 6 bulan yang belum didaftar?.)))2< 5) Adakah seseorang yang telah tercatat yang sedang bepergian selama 6 bulan atau YA +))), lebih, bepergian kurang dari 6 bulan tapi bermaksud menetap di tempat tinggal baru?.)))2< +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- +))), *!!!*.))) ))), *!!!*.)))- TULIS DALAM DAFTAR TIDAK +))),.)))- TULIS DALAM DAFTAR TIDAK +))),.)))- TULIS DALAM DAFTAR TIDAK +))),.)))- TULIS DALAM DAFTAR TIDAK +))),.)))- CORET DARI DAFTAR TIDAK +))),.)))- 3 Lampiran F 323

344 IV. KEADAAN TEMPAT TINGGAL NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 18 Apa sumber utama air minum untuk anggota rumah tangga saudara? LEDING DI DALAM RUMAH...11 DI HALAMAN...12 UMUM...13 SUMUR TIDAK TERLINDUNG DI DALAM RUMAH...21 DI HALAMAN...22 UMUM...23 SUMUR TERLINDUNG DI DALAM RUMAH...31 DI HALAMAN...32 UMUM...33 MATA AIR...41 SUNGAI...42 DANAU...43 BENDUNGAN...44 AIR HUJAN...51 TRUK TANGKI AIR/AIR PIKULAN...61 AIR KEMASAN...71 LAINNYA ), )2< 20 ), )2< 20 ), )2< 20 ))< 20 ))< Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengambil air minum dan kembali ke rumah? +)))0)))0))), MENIT... *)))*)))*)))*.)))2)))2)))- DITEMPAT/RUMAH Apakah jenis kakus yang digunakan di rumah tangga ini? KAKUS SENDIRI DENGAN TANGKI SEPTIK...11 TANPA TANGKI SEPTIK...12 KAKUS BERSAMA/UMUM...21 SUNGAI...31 CUBLUK...41 HALAMAN/SEMAK/BELUKAR...51 LAINNYA 96 (TULISKAN) 21 LIHAT 18: SUMUR +))), SELAIN KODE +))), (KODE 21, 22, 23, 31, 32, 33) /)))- 21, 22, 23, 31, 32, 33.)))2)))))))))))))))))))))))))))))) ))< 23? 22 Berapa meter jarak antara sumur dan tempat rembesan/penampungan kotoran/tinja terdekat? (BULATKAN DALAM SATUAN METER) 23 BAHAN BANGUNAN UTAMA UNTUK LANTAI (TIDAK USAH DITANYA, CUKUP DILIHAT LALU DICATAT) 24 Berapa luas lantai rumah ini? (BULATKAN DALAM SATUAN METER PERSEGI) M JARAK... *)))*)))*M M TIDAK TAHU...98 TANAH...11 BAMBU...21 KAYU/PAPAN...22 SEMEN/BATA MERAH...31 UBIN/TEGEL/TERASO...32 KERAMIK/MARMER/GRANIT...33 LAINNYA 96 (TULISKAN) +)))0)))0))),M 2 LUAS...*)))*)))*)))*M 2.)))2)))2)))-M 2 TIDAK TAHU Apa jenis dinding luar terluas rumah ini? TEMBOK...1 KAYU...2 BAMBU...3 LAINNYA 6 (TULISKAN) 324 Appendix F 4

345 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 26 Apa jenis atap terluas rumah ini? BETON...1 KAYU/SIRAP...2 GENTENG...3 ASBES/SENG...4 IJUK/DAUN-DAUNAN...5 LAINNYA 6 (TULISKAN) 27 Apakah di rumah tangga ini ada: YA TIDAK Listrik? Radio? Televisi? Telepon? Lemari es? LISTRIK RADIO TELEVISI TELEPON LEMARI ES Apa jenis bahan bakar utama yang digunakan untuk memasak? LISTRIK...01 GAS...02 MINYAK TANAH...03 BATU BARA...04 ARANG...05 KAYU BAKAR...06 LAINNYA 96 (TULISKAN) 29 Apakah ada anggota rumah tangga yang mempunyai: YA TIDAK Sepeda/sampan? Sepeda motor atau perahu motor tempel? Mobil/truk? SEPEDA/SAMPAN SEPEDA MOTOR/PERAHU MOTOR TEMPEL MOBIL/TRUK Lampiran F 325

346 SDKI02-WK SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA 2002 DAFTAR PERTANYAAN WANITA Rahasia I. PENGENALAN TEMPAT KODE 1. PROPINSI 2. KABUPATEN/KOTA *) 3. KECAMATAN 4. DESA/KELURAHAN *) 5. DAERAH **) PERKOTAAN - 1 PERDESAAN NOMOR BLOK SENSUS 7. NOMOR KODE SAMPEL SDKI NOMOR URUT RUMAH TANGGA NAMA KEPALA RUMAH TANGGA 10. NAMA RESPONDEN 11. NOMOR URUT RESPONDEN... *!!!*!!!* /)))3)))1 *!!!*!!!* +)))3)))3)))1 *!!!*!!!*!!!* /)))3)))3)))1 *!!!*!!!*!!!*.)))2)))3)))1 *!!!*.)))- +)))0)))0)))0))), *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))3)))3)))1 *!!!*!!!* *!!!*!!!* II. KUNJUNGAN PETUGAS KUNJUNGAN AKHIR TANGGAL WAWANCARA NAMA PEWAWANCARA HASIL KUNJUNGAN ***) TANGGAL *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN *!!!*!!!* +)))0)))3)))3)))1 TAHUN *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))3)))3)))3)))1 PEWAWANCARA *!!!*!!!*!!!*.)))2)))3)))1 HASIL KUNJUNGAN *!!!*.)))- KUNJ. BERIKUT TGL JAM JUMLAH KUNJUNGAN +))), *!!!*.)))- ***) PILIH SALAH SATU DAN ISIKAN KODE HASIL KUNJUNGAN 1. SELESAI 2. RESP. TIDAK ADA DI RUMAH 3. DITANGGUHKAN 4. DITOLAK 5. SELESAI SEBAGIAN 6. RESP. TIDAK/KURANG MAMPU MENJAWAB 7. LAINNYA (TULISKAN) EDITOR LAPANGAN PENGAWAS EDITOR BPS PONSER NAMA TANGGAL *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *) Coret yang tidak sesuai **) Lingkari salah satu Lampiran F 327

347 BAGIAN 1. LATAR BELAKANG RESPONDEN PERNYATAAN PERSETUJUAN Selamat pagi (siang, sore,...). Nama saya... dan saya adalah salah seorang petugas dari Badan Pusat Statistik yang sedang melaksanakan survei mengenai kesehatan wanita, pria dan anak. Kami akan sangat menghargai kesertaan Ibu dalam survei ini. Saya ingin bertanya mengenai kesehatan Ibu dan anak/putra Ibu. Keterangan ini akan membantu pemerintah dalam merencanakan pelayanan kesehatan. Wawancara akan berlangsung sekitar 30 sampai 40 menit. Keterangan apapun yang Ibu berikan akan dijaga kerahasiaannya dan tidak akan diberitahukan kepada pihak lain. Kesertaan dalam survei ini bersifat sukarela dan Ibu dapat memilih untuk tidak menjawab beberapa atau semua pertanyaan. Namun, kami berharap Ibu akan tidak menolak untuk diwawancarai karena pandangan dan jawaban Ibu dalam survei ini sangat penting. Sekarang, apakah ada yang ingin Ibu tanyakan mengenai survei ini? Apakah saya boleh mulai mewawancarai Ibu sekarang? Tanda tangan pewawancara: Tanggal: RESPONDEN SETUJU DIWAWANCARAI...1 RESPONDEN TIDAK SETUJU DIWAWANCARAI...2 ± SELESAI NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 101 CATAT WAKTU JAM... *!!!*!!!* /)))3)))1 MENIT... *!!!*!!!* 105 Pada bulan apa dan tahun berapa Ibu dilahirkan? BULAN... *!!!*!!!* TIDAK TAHU BULAN )))0)))0)))0))), TAHUN... *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))2)))- TIDAK TAHU TAHUN Berapa umur Ibu pada ulang tahun terakhir? BANDINGKAN DAN PERBAIKI 105 DAN ATAU 106 JIKA TIDAK SESUAI. JIKA UMUR KURANG DARI 15 TAHUN ATAU LEBIH DARI 49 TAHUN WAWANCARA SELESAI. PERBAIKI DAFTAR SDKI02-RT BLOK III KOLOM (7). UMUR DALAM TAHUN... *!!!*!!!* (BILANGAN BULAT) 106A Apakah Ibu sekarang berstatus kawin, cerai hidup, atau cerai mati? KAWIN... 1 CERAI HIDUP... 2 CERAI MATI Apakah Ibu pernah sekolah? YA... 1 TIDAK... 2 ))< Apakah jenjang sekolah tertinggi yang pernah/sedang Ibu duduki: sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan tingkat atas, akademi atau universitas? 109 Apakah kelas/tingkat tertinggi yang Ibu selesaikan pada jenjang tersebut? TAMAT = 7 SEKOLAH DASAR... 1 SEKOLAH LANJUTAN TKT PERTAMA 2 SEKOLAH MENENGAH TKT ATAS... 3 AKADEMI/DI/DII/DIII... 4 UNIVERSITAS/DIV ))), KELAS/TINGKAT... *!!!*.)))- 110 LIHAT 108: SD +))), SLTP +))), /)))- KE ATAS.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 114? 328 Appendix F 1

348 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 111 Sekarang saya minta Ibu untuk membacakan kalimat ini. TUNJUKKAN SALAH SATU KARTU. JIKA RESPONDEN TIDAK DAPAT MEMBACA KALIMAT SECARA LENGKAP, TANYAKAN: Dapatkah Ibu membaca sebagian kalimat ini? 112 Apakah Ibu pernah mengikuti program melek huruf atau program lain yang mengajarkan cara membaca atau menulis (tidak termasuk SD)? TIDAK BISA MEMBACA SAMA SEKALI... 1 BISA MEMBACA SEBAGIAN KALIMAT... 2 BISA MEMBACA SELURUH KALIMAT... 3 YA... 1 TIDAK LIHAT 111: KODE 2' ATAU 3 +))), KODE 1' +))), DILINGKARI /)))- DILINGKARI.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 115? 114 Apakah Ibu biasanya membaca surat kabar atau majalah: hampir setiap hari, paling sedikit sekali seminggu, kurang dari sekali seminggu atau tidak membaca sama sekali? 115 Apakah Ibu biasanya mendengarkan radio: hampir setiap hari, paling sedikit sekali seminggu, kurang dari sekali seminggu atau tidak mendengarkan radio sama sekali? 116 Apakah Ibu biasanya menonton televisi: hampir setiap hari, paling sedikit sekali seminggu, kurang dari sekali seminggu atau tidak menonton sama sekali? HAMPIR SETIAP HARI... 1 PALING SEDIKIT SEKALI SEMINGGU 2 JARANG SEKALI... 3 TIDAK SAMA SEKALI... 4 HAMPIR SETIAP HARI... 1 PALING SEDIKIT SEKALI SEMINGGU 2 JARANG SEKALI... 3 TIDAK SAMA SEKALI... 4 HAMPIR SETIAP HARI... 1 PALING SEDIKIT SEKALI SEMINGGU 2 JARANG SEKALI... 3 TIDAK SAMA SEKALI Apakah agama yang Ibu anut? ISLAM KRISTEN PROTESTAN KATHOLIK HINDU BUDHA KONG HU CHU LAINNYA Lampiran F 329

349 BAGIAN 2. RIWAYAT KELAHIRAN NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 201 Sekarang saya ingin bertanya mengenai semua anak yang Ibu lahirkan selama hidup. Apakah Ibu pernah melahirkan? 202 Apakah Ibu mempunyai anak laki-laki atau anak perempuan yang Ibu lahirkan yang sekarang tinggal bersama Ibu? 203 Berapa jumlah anak laki-laki yang tinggal bersama Ibu? Dan berapa jumlah anak perempuan yang tinggal bersama Ibu? JIKA TIDAK ADA, TULISKAN 00'. 204 Apakah Ibu mempunyai anak laki-laki atau perempuan yang Ibu lahirkan, yang sekarang masih hidup tetapi tidak tinggal bersama Ibu? 205 Berapa jumlah anak laki-laki yang masih hidup tetapi tidak tinggal bersama Ibu? Dan berapa jumlah anak perempuan yang masih hidup tetapi tidak tinggal bersama Ibu? JIKA TIDAK ADA, TULISKAN 00'. 206 Apakah Ibu pernah melahirkan anak laki-laki atau perempuan yang lahir hidup tetapi sekarang sudah meninggal? JIKA TIDAK PERNAH, TANYAKAN: Apakah ada anak yang lahir dalam keadaan hidup tetapi hanya hidup untuk beberapa jam atau beberapa hari? 207 Berapa jumlah anak laki-laki yang sudah meninggal? Dan berapa jumlah anak perempuan yang sudah meninggal? JIKA TIDAK ADA, TULISKAN 00'. 208 JUMLAHKAN ISIAN DI 203, 205, DAN 207, DAN TULISKAN JUMLAHNYA. JIKA TIDAK ADA, TULISKAN 00'. YA... 1 TIDAK... 2 ))< 206 YA... 1 TIDAK... 2 ))< 204 ANAK LAKI-LAKI *!!!*!!!* DI RUMAH... ANAK PEREMPUAN *!!!*!!!* DI RUMAH... YA... 1 TIDAK... 2 ))< 206 ANAK LAKI-LAKI *!!!*!!!* DI TEMPAT LAIN... ANAK PEREMPUAN *!!!*!!!* DI TEMPAT LAIN... YA... 1 TIDAK... 2 ))< 208 ANAK LAKI-LAKI YANG *!!!*!!!* SUDAH MENINGGAL... ANAK PEREMPUAN YANG *!!!*!!!* SUDAH MENINGGAL... JUMLAH... *!!!*!!!* 209 LIHAT 208: Untuk meyakinkan apakah jawaban yang saya peroleh sudah benar, Ibu mempunyai anak yang lahir hidup. Apakah angka ini benar? 210 LIHAT 208: +))), +))), YA /)))- TIDAK.)))2))< JIKA PERLU TANYAKAN LAGI *? SATU ATAU LEBIH +))), TIDAK ADA +))), KELAHIRAN HIDUP /)))- KELAHIRAN HIDUP.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 226? 330 Appendix F 3

350 211 Sekarang saya ingin mendaftar semua anak yang Ibu lahirkan hidup, baik masih hidup atau sudah meninggal, mulai dari anak pertama yang Ibu lahirkan hidup. TULISKAN NAMA SEMUA ANAK YANG DILAHIRKAN OLEH RESPONDEN PADA PERTANYAAN 212. ANAK KEMBAR DITULIS PADA BARIS TERPISAH JIKA MASIH HIDUP Siapakah nama anak (pertama, kedua, dst)? (NAMA) (NAMA) (NAMA) (NAMA) (NAMA) (NAMA) Apakah di antara anakanak Ibu ada yang kembar? TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* TUNG- GAL 1 KEM- BAR 2 HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 Apakah (NAMA) laki-laki atau perempuan? LK.. 1 PR. 2 LK.. 1 PR. 2 LK.. 1 PR. 2 LK.. 1 PR. 2 LK. 1 PR. 2 LK.. 1 PR. 2 Pada bulan apa dan tahun berapa (NAMA) dilahirkan? TANYAKAN: Kapan ulang tahun terakhirnya? BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- Apakah (NAMA) masih hidup? YA... 1 TIDAK 2 *? 220 YA... 1 TIDAK 2 *? 220 YA... 1 TIDAK 2 *? 220 YA... 1 TIDAK 2 *? 220 YA... 1 TIDAK 2 *? 220 YA... 1 TIDAK 2 *? 220 Berapa umur (NAMA) pada ulang tahun terakhir? TULISKAN DALAM TAHUN. UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* 218 JIKA MASIH HIDUP Apakah (NAMA) tinggal bersama Ibu? YA... 1 TIDAK. 2 YA... 1 TIDAK. 2 YA... 1 TIDAK. 2 YA... 1 TIDAK. 2 YA... 1 TIDAK. 2 YA... 1 TIDAK JIKA MASIH HIDUP CATAT NO. URUT ART ANAK. (TULIS 00' JIKA ANAK TIDAK TERDAFTAR SEBAGAI ART). NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE ANAK BERIKUTNYA) NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) 220 JIKA SUDAH MENINGGAL Berapa umur (NAMA) ketika ia meninggal? JIKA 1 TAHUN TANYAKAN: Berapa bulan umur (NAMA) ketika ia meninggal? CATAT DALAM HARI JIKA KURANG DARI 1 BULAN, CATAT DALAM BULAN JIKA KURANG DARI 2 TAHUN, ATAU DA- LAM TAHUN JIKA 2 TAHUN LEBIH. JIKA KURANG DARI 1 HARI, TULIS 00' PADA KOTAK HARI. HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* 221 Apakah ada anak lahir hidup lain antara (NAMA ANAK SEBE- LUMNYA) dan (NAMA)? YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK Lampiran F 331

351 JIKA MASIH HIDUP Siapakah nama anak (pertama, kedua, dst)? Apakah di antara anakanak Ibu ada yang kembar? Apakah (NAMA) laki-laki atau perempuan? Pada bulan apa dan tahun berapa (NAMA) dilahirkan? TANYAKAN: Kapan ulang tahun terakhirnya? Apakah (NAMA) masih hidup? Berapa umur (NAMA) pada ulang tahun terakhir? TULISKAN DALAM TAHUN. 218 JIKA MASIH HIDUP Apakah (NAMA) tinggal bersama Ibu? 219 JIKA MASIH HIDUP CATAT NO. URUT ART ANAK. (TULIS 00' JIKA ANAK TIDAK TERDAFTAR SEBAGAI ART). 220 JIKA SUDAH MENINGGAL Berapa umur (NAMA) ketika ia meninggal? JIKA 1 TAHUN TANYAKAN: Berapa bulan umur (NAMA) ketika ia meninggal? CATAT DALAM HARI JIKA KURANG DARI 1 BULAN, CATAT DALAM BULAN JIKA KURANG DARI 2 TAHUN, ATAU DA- LAM TAHUN JIKA 2 TAHUN LEBIH. JIKA KURANG DARI 1 HARI, TULIS 00' PADA KOTAK HARI. 221 Apakah ada anak lahir hidup lain antara (NAMA ANAK SEBE- LUMNYA) dan (NAMA)? 07 (NAMA) TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 LK.. 1 PR. 2 BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- YA... 1 TIDAK 2 *? 220 UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK. 2 NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK (NAMA) TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 LK.. 1 PR. 2 BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- YA... 1 TIDAK 2 *? 220 UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK. 2 NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK (NAMA) TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 LK.. 1 PR. 2 BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- YA... 1 TIDAK 2 *? 220 UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK. 2 NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK (NAMA) TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 LK.. 1 PR. 2 BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- YA... 1 TIDAK 2 *? 220 UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK. 2 NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK (NAMA) TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 LK.. 1 PR. 2 BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- YA... 1 TIDAK 2 *? 220 UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK. 2 NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK (NAMA) TUNG- GAL. 1 KEM- BAR. 2 LK.. 1 PR. 2 BULAN *!!!*!!!* TAHUN +))0))0))0)), *!!*!!*!!*!!*.))2))2))2))- YA... 1 TIDAK 2 *? 220 UMUR DALAM TAHUN *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK. 2 NO. URUT *!!!*!!!* *? (KE 221) HARI.. 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN 3 *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK Apakah ada kelahiran hidup setelah (NAMA ANAK TERAKHIR)? YA...1 TIDAK Appendix F 5

352 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 223 BANDINGKAN 208 DENGAN JUMLAH KELAHIRAN DI ATAS DAN BERI TANDA / : JUMLAH +))), JUMLAH +))), SAMA /)))- TIDAK SAMA.)))2))<(TANYAKAN LAGI DAN SESUAIKAN) *? PERIKSA:UNTUK SETIAP ANAK LAHIR HIDUP (P.215): ADA TAHUN LAHIR UNTUK SETIAP ANAK MASIH HIDUP (P.217): ADA UMUR UNTUK SETIAP ANAK SUDAH MENINGGAL (P.220): ADA UMUR WAKTU MENINGGAL JIKA UMUR WAKTU MENINGGAL 12 BULAN ATAU 1 TAHUN, TANYAKAN TEPATNYA BERAPA BULAN (P.220). 224 LIHAT 215: TULISKAN JUMLAH ANAK YANG LAHIR SEJAK JANUARI JIKA TIDAK ADA KELAHIRAN SEJAK JANUARI 1997, TULISKAN 0'. +))), *!!!* /)))1 *!!!* /)))1 *!!!* /)))1 *!!!*.)))- +))), *!!!*.)))- 225 UNTUK SETIAP KELAHIRAN SEJAK JANUARI 1997, TULISKAN L DALAM BULAN KELAHIRANNYA DI KOLOM 1 PADA KALENDER. UNTUK SETIAP KELAHIRAN, TANYAKAN JUMLAH BULAN KEHAMILAN DAN TULISKAN H PADA SETIAP BULAN KEHAMILAN SESUAI DENGAN LAMANYA KEHAMILAN. (CATATAN: JUMLAH HURUF H HARUS SATU LEBIH KECIL DARI JUMLAH BULAN KEHAMILAN). TULISKAN NAMA ANAK DI MUKA KODE L. 226 Apakah Ibu sekarang sedang hamil? HATI-HATI DALAM MENANYAKAN PERTANYAAN INI TERHADAP WANITA YANG BERSTATUS CERAI HIDUP/CERAI MATI. 227 Sudah berapa bulan Ibu hamil? TULISKAN JUMLAH BULAN KEHAMILAN. TULISKAN H DI KOLOM 1 PADA KALENDER DALAM BULAN WAWANCARA DAN BULAN-BULAN SELAMA KEHAMILAN. 228 Ketika Ibu mulai hamil, apakah Ibu menginginkan kehamilan ini waktu itu, ingin hamil kemudian, atau sama sekali tidak ingin hamil? 229 Apakah Ibu pernah hamil yang berakhir dengan keguguran, digugurkan atau lahir mati? 230 Pada bulan dan tahun berapa berakhirnya kehamilan seperti itu yang terakhir? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 BULAN... *!!!*!!!* WAKTU ITU... 1 KEMUDIAN... 2 TIDAK SAMA SEKALI... 3 ), )2 < 229 YA... 1 TIDAK... 2 ))< 237 BULAN... *!!!*!!!* +)))0)))3)))3)))1 TAHUN... *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))2)))- 231 LIHAT 230: KEHAMILAN KEHAMILAN BERAKHIR SEJAK +))), BERAKHIR SEBELUM +))), JANUARI 1997 /)))- JANUARI 1997.)))2)))))))))))))))))))))))))) ))< 237? 232 Berapa bulan umur kehamilan tersebut? CATAT JUMLAH BULAN KEHAMILAN. TULISKAN K DI KOLOM 1 PADA KALENDER BULAN TERAKHIR KEHAMILAN DAN H PADA SETIAP BULAN SELAMA KEHAMILAN LAINNYA. 233 Apakah sebelumnya Ibu juga pernah mengalami kehamilan yang berakhir dengan keguguran, digugurkan atau lahir mati? BULAN... *!!!*!!!* YA... 1 TIDAK... 2 ))< TANYAKAN KAPAN DAN BERAPA UMUR SEMUA KEHAMILAN YANG BERAKHIR DENGAN KEGUGURAN, DIGUGURKAN, DAN LAHIR MATI SEJAK JANUARI TULISKAN K DI KOLOM 1 PADA KALENDER BULAN TERAKHIR KEHAMILAN DAN H PADA SETIAP BULAN KEHAMILAN LAINNYA. 235 Apakah Ibu pernah hamil yang tidak berakhir dengan kelahiran hidup sebelum Januari 1997? YA... 1 TIDAK... 2 ))< Lampiran F 333

353 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 236 Kapan kehamilan sebelum Januari 1997 itu berakhir? BULAN... *!!!*!!!* +)))0)))3)))3)))1 TAHUN... *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))2)))- 237 Kapan Ibu mulai haid terakhir? (TANGGAL, JIKA ADA) 238 Antara hari pertama haid dan hari pertama haid berikutnya, apakah ada hari-hari tertentu seorang wanita mempunyai kesempatan lebih besar dari hari-hari lain untuk hamil apabila kumpul? 239 Apakah hari-hari tersebut menjelang haid, selama haid, segera setelah haid berakhir, atau di tengah antara dua haid? HARI YANG LALU... 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 MINGGU YANG LALU... 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN YANG LALU... 3 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN YANG LALU... 4 *!!!*!!!* MENOPAUSE/HISTEREKTOMI SEBELUM KELAHIRAN/ KEGUGURAN TERAKHIR TIDAK PERNAH HAID YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 MENJELANG HAID... 1 SELAMA HAID... 2 SEGERA SETELAH HAID BERAKHIR 3 DI TENGAH ANTARA DUA HAID... 4 LAINNYA 6 (TULISKAN) TIDAK TAHU... 8 ), )2< 239A 239A LIHAT 106A: STATUS PERKAWINAN RESPONDEN +))), CERAI HIDUP/ +))), KAWIN /)))- CERAI MATI.)))2)))))))))))))))))))))))))))) ))< 239G? 239B 239C Apakah suami Ibu mengetahui kapan Ibu mendapat haid yang terakhir? Apakah suami Ibu menanyakan keadaan Ibu pada saat mendapat haid yang terakhir, seperti: Perdarahan yang lebih dari biasa? Apakah haid tersebut tepat waktu? Lamanya haid? Ada rasa sakit yang berlebihan? Lainnya? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA TDK TT PERDARAHAN TEPAT WAKTU LAMANYA SAKIT BERLEBIHAN LAINNYA ), )2< 239D 239D LIHAT 214: 239E LIHAT 217: MEMPUNYAI +))), TIDAK MEMPUNYAI +))), PALING SEDIKIT SATU /)))- ANAK PEREMPUAN.)))2)))))))))))))))))))))))))))) ))< 239G ANAK PEREMPUAN *? ADA ANAK +))), TIDAK ADA ANAK +))), PEREMPUAN BERUMUR /)))- PEREMPUAN BERUMUR.)))2)))))))))))))))))))))))))))) ))< 239G 10 TAHUN KE ATAS * 10 TAHUN KE ATAS? 239F Apakah suami Ibu tahu kapan anak perempuannya mendapat haid untuk yang pertama kali? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU Appendix F 7

354 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 239G Apakah Ibu mengetahui tanda-tanda adanya bahaya (komplikasi) pada waktu hamil? 240 Masalah kesehatan apakah yang dapat membahayakan seorang wanita ketika hamil? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 241 Apakah yang harus dilakukan oleh wanita hamil jika mengalami masalah tersebut? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 242 Apakah Ibu dapat mengatakan masalah kesehatan apa saja yang dapat membahayakan wanita selama melahirkan? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 243 Apakah yang harus dilakukan? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 244 Apakah Ibu dapat mengatakan masalah yang dapat membahayakan pada seorang wanita selama masa nifas? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 245 Apakah yang harus dilakukan oleh wanita tersebut? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. YA... 1 TIDAK... 2 ))< 242 MULES BERKEPANJANGAN... A PERDARAHAN... B DEMAM YANG TINGGI... C KEJANG-KEJANG... D BAYI DALAM POSISI YANG SALAH.. E BENGKAK... F PINGSAN... G SUSAH BERNAPAS... H LELAH... I LAINNYA... X TIDAK MELAKUKAN APA-APA... A ISTIRAHAT... B MINUM OBAT... C MINUM JAMU... D KE DUKUN.... E KE BIDAN... F KE DOKTER... G KE UNIT PELAYANAN KESEHATAN. H LAINNYA... X TIDAK TAHU... Z AIR KETUBAN PECAH TERLALU CEPAT... A PERDARAHAN SELAMA MELAHIRKAN DAN SESUDAH BAYI LAHIR... B DEMAM YANG TINGGI... C MULES BERKEPANJANGAN... D PINGSAN... E KEJANG-KEJANG... F PLASENTA TIDAK MAU KELUAR... G BAYI MENINGGAL SEBELUM LAHIR H LAINNYA... X TIDAK TAHU... Z ))< 244 TIDAK MELAKUKAN APA-APA... A ISTIRAHAT... B MINUM OBAT... C MINUM JAMU... D KE DUKUN.... E KE BIDAN... F KE DOKTER... G KE UNIT PELAYANAN KESEHATAN. H LAINNYA... X TIDAK TAHU... Z PERDARAHAN LEBIH BANYAK DIBANDING DENGAN BIASANYA (LEBIH DARI 3 KAIN)... A PINGSAN... B KEJANG-KEJANG... C DEMAM YANG TINGGI... D BAU YANG TIDAK SEDAP... E RASA NYERI DI PAYUDARA... F RASA SEDIH DAN TERTEKAN... G LAINNYA... X TIDAK TAHU... Z ))< 301 TIDAK MELAKUKAN APA-APA... A ISTIRAHAT... B MINUM OBAT... C MINUM JAMU... D KE DUKUN.... E KE BIDAN... F KE DOKTER... G KE UNIT PELAYANAN KESEHATAN. H LAINNYA... X TIDAK TAHU... Z 8 Lampiran F 335

355 BAGIAN 3. PENGETAHUAN DAN PRAKTEK KELUARGA BERENCANA Sekarang saya ingin berbicara mengenai keluarga berencana. Ada beberapa cara atau alat yang dapat digunakan oleh suatu pasangan untuk menunda atau mencegah terjadinya kehamilan. LINGKARI KODE 1 PADA 301 UNTUK SETIAP ALAT/CARA YANG DISEBUT SPONTAN, KEMUDIAN TANYAKAN BERURUTAN KE BAWAH KOLOM 301. BACAKAN NAMA DAN PENJELASAN MASING-MASING ALAT/CARA YANG TIDAK DISEBUT SPONTAN. LINGKARI KODE 1 UNTUK ALAT/CARA YANG PERNAH DIDENGAR, ATAU KODE 2 UNTUK YANG TIDAK PERNAH DIDENGAR. UNTUK ALAT/CARA YANG BERKODE 1 PADA 301, TANYAKAN Cara apakah yang Ibu pernah dengar? (Apakah Ibu pernah mendengar:) 01 STERILISASI WANITA/TUBEKTOMI. Wanita dapat dioperasi agar tidak mempunyai anak lagi. 02 STERILISASI PRIA/VASEKTOMI. Pria dapat dioperasi agar tidak mempunyai anak lagi. 03 PIL. Wanita dapat minum pil setiap hari untuk mencegah kehamilan. 04 IUD/AKDR/SPIRAL. Wanita bisa dipasangi spiral dalam rahimnya oleh dokter atau bidan. 05 SUNTIKAN. Wanita bisa disuntik oleh dokter atau bidan untuk mencegah kehamilan selama satu bulan atau lebih. 06 SUSUK KB. Wanita dapat diberi beberapa batang susuk di bawah kulit lengan atas untuk mencegah terjadinya kehamilan selama satu tahun atau lebih. 07 KONDOM/KARET KB. Pria dapat memakai sarung dari karet selama kumpul. 08 INTRAVAG/DIAFRAGMA. Wanita bisa meletakkan tisyu atau diafragma dalam vagina sebelum kumpul. 09 METODE MENYUSUI ALAMI. Sampai dengan 6 bulan setelah kelahiran anak, wanita bisa menggunakan cara ini, yang mengha-ruskan Ibu untuk menyusui terus menerus siang dan malam, sehingga haidnya tertunda. 10 PANTANG BERKALA/KALENDER. Pasangan sengaja tidak kumpul pada hari-hari tertentu pada waktu wanita berkemungkinan besar untuk menjadi hamil. 11 SANGGAMA TERPUTUS. Pria dapat mengeluarkan air maninya di luar vagina ketika kumpul. 12 CARA-CARA LAIN. Apakah Ibu pernah mendengar cara atau alat lain yang dapat dipakai oleh wanita atau pria untuk mencegah kehamilan atau kelahiran? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), (TULISKAN) 302. Apakah Ibu pernah memakai (ALAT/CARA KB)? Apakah Ibu pernah dioperasi agar tidak mempunyai anak lagi? YA... 1 TIDAK... 2 Apakah suami/mantan suami ibu pernah dioperasi agar tidak mempunyai anak lagi? YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 (TULISKAN) (TULISKAN) TIDAK...2 ),? (TULISKAN) TIDAK Appendix F 303 LIHAT 302: TIDAK ADA +))), PALING SEDIKIT +))), JAWABAN YA /)))- SATU JAWABAN YA.)))2))))))))))))))))))))))))))) ))<307 (TIDAK PERNAH PAKAI) * (PERNAH PAKAI)? 9

356 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 304 Apakah Ibu pernah memakai suatu alat/cara KB untuk menunda atau mencegah kehamilan? YA...1 ))< 306 TIDAK ISIKAN 0" DI KOLOM 1 PADA KALENDER DI SETIAP BULAN YANG KOSONG )))))))))))))))))))))))))))))) ))< Apakah alat/cara KB yang pernah Ibu pakai? PERBAIKI 302 DAN 303 (DAN 301 JIKA PERLU). 307 Sekarang saya ingin bertanya kepada Ibu tentang waktu ketika Ibu pertama kali menjadi peserta KB untuk menunda atau mencegah kehamilan. Berapa jumlah anak yang masih hidup ketika itu, jika ada? JUMLAH ANAK...*!!!*!!!* JIKA TIDAK ADA, TULIS 00'. 308 LIHAT 302 (01) : RESPONDEN +))), RESPONDEN +))), TIDAK DISTERIL /)))- DISTERIL.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))))) ))< 311A? 309 LIHAT 226: TIDAK HAMIL/ +))), HAMIL +))), TIDAK TAHU /)))-.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))))) ))< 318? 310 Apakah Ibu sekarang memakai suatu alat/cara KB untuk menunda/ mencegah kehamilan? YA...1 TIDAK...2 ))< A Alat/cara KB apa yang Ibu gunakan? JIKA MENGGUNAKAN LEBIH DARI SATU METODE, UNTUK PERTANYAAN SELANJUTNYA IKUTI PETUNJUK UNTUK KODE TERTINGGI. JIKA SUNTIKAN, TANYAKAN JENISNYA. JIKA SUSUK KB, TANYAKAN JENISNYA. LIHAT 308, JIKA BERTANDA CEK SEBELAH KANAN LINGKARI KODE A UNTUK STERILISASI WANITA. STERILISASI WANITA... A STERILISASI PRIA... B PIL... C IUD/AKDR/SPIRAL... D SUNTIKAN 1 BULAN... E SUNTIKAN 3 BULAN... F SUSUK KB 3 TAHUN... G SUSUK KB 5 TAHUN... H KONDOM... I INTRAVAG/DIAFRAGMA...J METODE MENYUSUI ALAMI... K PANTANG BERKALA...L SANGGAMA TERPUTUS... M LAINNYA (TULISKAN) X ), )2< 313 ))< 316A ), )2< 312H ), )2< 312K ))< 316A ))< 316B ), )3< 318 )1 )- 312 Apakah Ibu mempunyai kemasan pil KB di rumah? YA...1 TIDAK...2 ))< 312B 312A Tolong perlihatkan kemasan pil yang Ibu minum. PERIKSA KEMASAN PIL, CARI MEREK PIL DARI DAFTAR DI BAWAH INI DAN LINGKARI KODE YANG SESUAI. 312B KOMBINASI: TUNGGAL: - GRACIAL 28 - EXCLUTON - GYNERA - LYNDIOL - MARVELON 28 - MERCILON 28 - MICROGYNON - MIKRODIOL - NORDETTE 28 - OVOSTAT 28 - LIVODIOL 28 - TRINORDIOL 21/TRINORDIOL 28 Mengapa Ibu tidak mempunyai (tidak dapat menunjukkan) kemasan pil KB? DAPAT MENUNJUKKAN KOMBINASI...1 TUNGGAL...2 LAINNYA...6 TIDAK DAPAT MENUNJUKKAN...8 PIL HABIS...1 BIAYA MAHAL...2 SUAMI PERGI...3 SEDANG HAID...4 LAINNYA... 6 ), )* )1 )* )3< 312C )* )- ), )1 )3< 312E )1 )- 10 Lampiran F 337

357 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 312C PERIKSA KEADAAN KEMASAN PIL YANG DIMINUM DAN LINGKARI KODE YANG SESUAI. LUBANG BERURUTAN...1 ))< 312E LUBANG TIDAK BERURUTAN...2 PIL LENGKAP D Mengapa Ibu tidak minum pil (secara berurutan)? TIDAK TAHU CARA...1 ALASAN KESEHATAN...2 DISURUH PETUGAS KB...3 KEMASAN BARU...4 SEDANG HAID...5 LAINNYA E Kapan Ibu terakhir kali minum pil? HARI YANG LALU:...*!!!*!!!* LEBIH DARI SEBULAN YANG LALU F LIHAT 312E: LEBIH DARI DUA +))), DUA HARI +))), HARI YANG LALU /)))- ATAU KURANG.)))2)))))))))))))))))))))))))))< 316A *? 312G Mengapa Ibu tidak minum pil KB selama ini? SUAMI PERGI...01 LUPA...02 ALASAN KESEHATAN BIAYA MAHAL...04 TIDAK PERLU SETIAP HARI...05 HABIS...06 SEDANG HAID LAINNYA H Berapa minggu yang lalu ibu terakhir disuntik KB? MINGGU YANG LALU...*!!!*!!!* ), )1 )1 )3< 316A )1 )1 )1 )- 312I LIHAT 311/311A: KODE E +))), DILINGKARI /)))-? KODE F +))), DILINGKARI /)))-? 312IA LIHAT 312H: LEBIH DARI +))), 4 MINGGU /)))- * *? 4 MINGGU +))), ATAU /)))- KURANG *? 316A LEBIH DARI +))), 13 MINGGU /)))- * *? 13 MINGGU +))), ATAU /)))- KURANG *? 316A 312J Mengapa Ibu tidak disuntik lagi? SUAMI PERGI...1 LUPA...2 ALASAN KESEHATAN...3 MAHAL...4 LAINNYA K Kapan Ibu mulai memakai susuk KB? BULAN...*!!!*!!!* +)))0)))3)))3)))1 TAHUN...*!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))2)))- ), )1 )3< 316A )1 )- 312L LIHAT 312K: HITUNG LAMANYA MEMAKAI SUSUK KB. LAMANYA DALAM BULAN.. *!!!*!!!* 338 Appendix F 11

358 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 312M LIHAT 311/311A: KODE G +))), DILINGKARI /)))-? KODE H +))), DILINGKARI /)))-? 312N LIHAT 312L: LEBIH DARI +))), 36 BULAN /)))- * *? 36 BULAN +))), ATAU /)))- KURANG *? 316A LEBIH DARI +))), 60 BULAN /)))- * *? 60 BULAN +))), ATAU /)))- KURANG *? 316A 312O Mengapa susuk KB belum dicabut? SUAMI PERGI...1 LUPA...2 ALASAN KESEHATAN... 3 BIAYA MAHAL...4 LAINNYA... 6 ), )1 )3< 316B )1 )- 313 Di mana operasi tersebut dilaksanakan? JIKA SUMBERNYA ADALAH RUMAH SAKIT ATAU KLINIK, TULISKAN NAMANYA. TANYAKAN APAKAH DIKELOLA OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA. LINGKARI KODE YANG TEPAT. (NAMA TEMPAT) JIKA DI 311 KODE A DAN B DILINGKARI, DITANYAKAN HANYA UNTUK STERILISASI WANITA. PEMERINTAH RUMAH SAKIT...11 PUSKESMAS...12 KLINIK...13 MOBIL KLINIK...14 LAINNYA 16 (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT...21 KLINIK...22 DOKTER PRAKTEK...23 MOBIL KLINIK...24 LAINNYA 26 (TULISKAN) LAINNYA 96 (TULISKAN) TIDAK TAHU LIHAT 311: KODE A +))), DILINGKARI /)))- *? Sebelum dioperasi, apakah Ibu diberitahu bahwa Ibu tidak akan dapat mempunyai anak (lagi) karena operasi tersebut? KODE B +))), DILINGKARI /)))- *? Sebelum dioperasi, apakah suami Ibu diberitahu bahwa suami Ibu tidak akan dapat mempunyai anak (lagi) karena operasi tersebut? YA...1 TIDAK...2 TIDAK TAHU A Apakah ibu pernah mendengar tentang rekanalisasi yaitu penyambungan kembali saluran yang putus setelah operasi sterilisasi? YA...1 TIDAK...2 ))< B Apakah Ibu tahu tempat mendapatkan pelayanan rekanalisasi? YA...1 TIDAK Pada bulan apa dan tahun berapa (Ibu) menjalani operasi sterilisasi? 316A 316B Sudah berapa lama Ibu menggunakan (ALAT/CARA KB YANG DIGUNAKAN SEKARANG) secara terus menerus? TANYAKAN: Kapan Ibu mulai menggunakan (ALAT/CARA KB YANG DIGUNAKAN SEKARANG) secara terus menerus? Berapa biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh alat kontrasepsi/ operasi sterilisasi tersebut? BULAN...*!!!*!!!* +)))0)))3)))3)))1 TAHUN...*!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))2)))- +))),+)))0)))0))),+)))0)))0))), Rp *!!!**!!!*!!!*!!!**!!!*!!!*!!!*.)))-.)))2)))2)))-.)))2)))2)))- 12 Lampiran F 339

359 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 317 LIHAT 316/316A: TAHUN 1997 ATAU SESUDAHNYA +))), /)))- *? ISIKAN KODE ALAT/CARA YANG DIGUNAKAN DI KOLOM 1 PADA KALENDER SEJAK BULAN MULAI MEMAKAI SAMPAI BULAN WAWANCARA. ISIKAN SUMBER ALAT/CARA YANG DIGUNAKAN DI KOLOM 2 PADA KALENDER DI BULAN MULAI MEMAKAI, KEMUDIAN TERUSKAN KE 318. TAHUN 1996 ATAU SEBELUMNYA +))), /)))- *? ISIKAN KODE ALAT/CARA YANG DIGUNAKAN DI KOLOM 1 PADA KALENDER SEJAK BULAN WAWANCARA SAMPAI JANUARI 1997, KEMUDIAN LANJUTKAN KE ))))))))))))))))))))))))))))))))))< Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai semua alat/cara KB yang Ibu/suami Ibu gunakan selama beberapa tahun terakhir untuk mencegah kehamilan. GUNAKAN KALENDER UNTUK MEMPERKIRAKAN WAKTU PERTAMA KALI MENGGUNAKAN DAN BERHENTI MENGGUNAKAN ALAT/CARA KB MULAI JANUARI 1997 SAMPAI SEKARANG. GUNAKAN NAMA ANAK, TANGGAL LAHIR, DAN MASA KEHAMILAN SEBAGAI PEDOMAN. PADA KOLOM 1, CATAT KODE ALAT/CARA KB YANG DIGUNAKAN ATAU 0' JIKA TIDAK MENGGUNAKAN. CONTOH CARA BERTANYA: KOLOM 1: Kapan Ibu terakhir kali memakai alat/cara KB tersebut? Alat/cara KB apakah yang Ibu pakai? Kapan Ibu mulai memakai alat/cara KB tersebut? Berapa lama setelah kelahiran (NAMA)? Berapa lama Ibu memakai alat/cara KB tersebut (waktu itu)? PADA KOLOM 2, CATAT KODE SUMBER PELAYANAN ALAT/CARA KB DI BULAN MULAI MEMAKAI ALAT/ CARA KB. CONTOH CARA BERTANYA: KOLOM 2: Di mana Ibu memperoleh alat/cara KB ketika mulai memakai alat/cara KB tersebut? [untuk metode menyusui alami, pantang berkala, atau sanggama terputus]. Dari siapa Ibu mendapatkan saran tentang bagaimana menggunakan alat/cara KB tersebut? PADA KOLOM 3, CATAT KODE ALASAN BERHENTI MEMAKAI PADA BULAN TERAKHIR MEMAKAI ALAT/CARA KB. BANYAKNYA KODE DI KOLOM 3 HARUS SAMA DENGAN JUMLAH TERHENTINYA PEMAKAIAN ALAT/CARA KB DI KOLOM 1. TANYAKAN MENGAPA BERHENTI MEMAKAI ALAT/CARA KB TERSEBUT. JIKA DIIKUTI DENGAN KEHAMILAN, TANYAKAN APAKAH HAMIL TANPA DISENGAJA SELAMA MEMAKAI ALAT/CARA KB TERSEBUT ATAU SENGAJA TIDAK MEMAKAI ALAT/CARA KB SUPAYA BISA HAMIL. CONTOH CARA BERTANYA: KOLOM 3: Mengapa Ibu berhenti memakai alat/cara KB tersebut? Apakah Ibu menjadi hamil ketika memakai alat/cara KB tersebut, atau Ibu berhenti memakai alat/cara KB tersebut supaya hamil, atau Ibu berhenti memakai karena alasan lain? JIKA BERHENTI MEMAKAI DENGAN SENGAJA SUPAYA HAMIL, TANYAKAN: Berapa bulan setelah berhenti memakai alat/cara KB tersebut Ibu mulai hamil? ISIKAN 0' PADA SETIAP BULAN DI KOLOM LIHAT 311/311A: LINGKARI KODE ALAT/CARA KB: JIKA LEBIH DARI SATU ALAT/CARA KB YANG DILINGKARI DI 311/311A, LINGKARI KODE TERTINGGI. 322 Ketika ibu mendapatkan (ALAT/CARA KB), dari (SUMBER DARI KALENDER) pada (BULAN), apakah Ibu diberitahu masalah yang mungkin timbul dengan pemakaian alat/cara KB tersebut? TIDAK ADA YANG DILINGKARI...00 STERILISASI WANITA...01 STERILISASI PRIA...02 PIL...03 IUD/AKDR/SPIRAL...04 SUNTIKAN 1 BULAN...05 SUNTIKAN 3 BULAN...06 SUSUK KB 3 TAHUN...07 SUSUK KB 5 TAHUN...08 KONDOM...09 INTRAVAG/DIAFRAGMA...10 METODE MENYUSUI ALAMI...11 PANTANG BERKALA...12 SANGGAMA TERPUTUS...13 LAINNYA ))< 329 ))< 327 ), )1 )1 )3< 327 )1 )- YA...1 ))< 324 TIDAK Appendix F 13

360 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 323 Apakah Ibu pernah diberitahu oleh petugas tentang masalah yang mungkin timbul dengan memakai alat/cara KB yang Ibu pakai? YA...1 TIDAK...2 ))< 324A 323A Apakah Ibu bertanya kepada petugas tentang efek samping atau masalah yang mungkin dialami dari pemakaian alat/cara KB? YA...1 TIDAK Apakah Ibu diberitahu apa yang harus dilakukan jika Ibu mengalami efek samping atau masalah dari alat/cara KB yang Ibu gunakan? YA...1 TIDAK A Apakah Ibu mempunyai masalah kesehatan selama menggunakan (ALAT/CARA KB PADA 321)? YA...1 TIDAK...2 ))< B LIHAT 311/311A : PIL, IUD, SUNTIKAN +))), LAINNYA +))), ATAU SUSUK KB /)))-.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))))? ))< C Apakah masalah kesehatan utama yang Ibu rasakan? BERAT BADAN NAIK...01 BERAT BADAN TURUN...02 PERDARAHAN...03 DARAH TINGGI...04 SAKIT KEPALA...05 MUAL...06 TIDAK HAID...07 LELAH/LEMAH...08 LAINNYA...96 TIDAK TAHU LIHAT 322: KODE 1' +))), DILINGKARI /)))- *? Pada waktu itu, apakah Ibu diberitahu tentang alat/cara KB lain yang bisa Ibu gunakan? KODE 1' TIDAK +))), DILINGKARI /)))- *)))-?)))- Ketika Ibu memperoleh (ALAT/CARA KB) ini dari (SUMBER PELAYANAN DARI KALENDER) pada (BULAN), apakah Ibu diberitahu tentang alat/cara KB lain yang bisa Ibu gunakan? YA...1 TIDAK...2 ))< Apakah Ibu pernah diberitahu oleh petugas kesehatan/kb tentang alat/cara KB lain yang dapat Ibu gunakan? 327 LIHAT 311/311A: LINGKARI ALAT/CARA KB YANG DIGUNAKAN. YA...1 TIDAK...2 STERILISASI WANITA...01 STERILISASI PRIA...02 PIL...03 IUD/AKDR/SPIRAL...04 SUNTIKAN 1 BULAN...05 SUNTIKAN 3 BULAN...06 SUSUK KB 3 TAHUN...07 SUSUK KB 5 TAHUN...08 KONDOM...09 INTRAVAG/DIAFRAGMA...10 METODE MENYUSUI ALAMI...11 PANTANG BERKALA...12 SANGGAMA TERPUTUS...13 LAINNYA ), )2< 331 ), )1 )3< 331 )- 14 Lampiran F 341

361 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 328 Di mana Ibu memperoleh (ALAT/CARA KB) terakhir kali? JIKA SUMBERNYA ADALAH RUMAH SAKIT ATAU KLINIK, TULISKAN NAMANYA. TANYAKAN APAKAH DIKELOLA OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA. LINGKARI KODE YANG TEPAT. (NAMA TEMPAT) PEMERINTAH RUMAH SAKIT...11 PUSKESMAS/PUSK.PEMBANTU.. 12 KLINIK...13 PLKB...14 TKBK/TMK...15 LAINNYA 16 (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT...21 KLINIK...22 DOKTER PRAKTEK...23 BIDAN PRAKTEK...24 BIDAN DI DESA...25 APOTEK/TOKO OBAT...26 LAINNYA 27 (TULISKAN) LAINNYA POLINDES...31 POSYANDU...32 POS KB/PPKBD...33 TEMAN/KELUARGA...34 TOKO...35 LAINNYA 36 (TULISKAN) ), )1 )1 )1 )1 )1 * * )1 )1 )1 )1 )3< 331 )1 * * )1 )1 )1 )1 )1 )1 )- 329 Apakah Ibu tahu tempat untuk mendapatkan alat/cara KB? YA...1 TIDAK...2 ))< Dimanakah itu? JIKA SUMBERNYA ADALAH RUMAH SAKIT ATAU KLINIK, TULISKAN NAMANYA. TANYAKAN APAKAH DIKELOLA OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA. LINGKARI KODE YANG TEPAT. Adakah tempat lain? (NAMA TEMPAT) JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 331 Dalam 6 bulan terakhir, apakah Ibu dikunjungi oleh petugas lapangan yang menerangkan tentang KB? 332 Dalam 6 bulan terakhir, apakah Ibu mengunjungi fasilitas kesehatan untuk memeriksa kesehatan Ibu atau anak Ibu? 333 Apakah ada petugas kesehatan yang berbicara kepada Ibu tentang alat/cara KB? PEMERINTAH RUMAH SAKIT... A PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU.. B KLINIK... C PLKB... D TKBK/TMK... E LAINNYA F (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT... G KLINIK... H DOKTER PRAKTEK... I BIDAN PRAKTEK...J BIDAN DI DESA... K APOTEK/TOKO OBAT...L LAINNYA M (TULISKAN) LAINNYA POLINDES... N POSYANDU... O POS KB/PPKBD... P TEMAN/KELUARGA... Q TOKO... R LAINNYA X (TULISKAN) YA...1 TIDAK...2 YA...1 TIDAK...2 ))< 401 YA...1 TIDAK Appendix F 15

362 BAGIAN 4A. KEHAMILAN, PEMERIKSAAN SESUDAH MELAHIRKAN, DAN PEMBERIAN AIR SUSU IBU 401 LIHAT 224: MEMPUNYAI SATU +))), TIDAK MEMPUNYAI +))), ATAU LEBIH ANAK /)))- ANAK LAHIR HIDUP.)))2)))))))))))))))))))))))))))))) ))< 487 LAHIR HIDUP SEJAK * SEJAK JANUARI 1997 JANUARI 1997 *? 402 TULISKAN PADA TABEL NOMOR URUT, NAMA, DAN STATUS KELANGSUNGAN HIDUP SETIAP KELAHIRAN SEJAK JANUARI AJUKAN PERTANYAAN MENGENAI SEMUA ANAK LAHIR HIDUP, MULAI DENGAN ANAK TERAKHIR. (JIKA LEBIH DARI 2 ANAK LAHIR HIDUP, GUNAKAN LEMBAR TAMBAHAN). Sekarang saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kesehatan anak Ibu yang lahir dalam lima tahun terakhir. (Kita akan membicarakan seorang demi seorang). ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR 403 NOMOR URUT DARI 212 NOMOR URUT... *)))*)))* NOMOR URUT...*)))*)))* 404 DARI 212 DAN 216 NAMA +)), +)), HIDUP /))- MENINGGAL /))-?? NAMA +)), +)), HIDUP /))- MENINGGAL /))-?? 405 Pada saat Ibu mengandung (NAMA), apakah Ibu memang ingin hamil waktu itu, menginginkannya kemudian, atau sama sekali tidak menginginkan anak (lagi)? 406 Berapa lama jarak kelahiran yang Ibu inginkan sebelum punya anak (NAMA)? WAKTU ITU...1 (TERUS KE 406A)=)))))))- KEMUDIAN...2 TIDAK INGIN LAGI...3 (TERUS KE 406A)=)))))))- BULAN...1 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN...2 *!!!*!!!* TIDAK TAHU WAKTU ITU...1 (TERUS KE 406A)=)))))))- KEMUDIAN...2 TIDAK INGIN LAGI...3 (TERUS KE 406A)=)))))))- BULAN...1 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN...2 *!!!*!!!* TIDAK TAHU A 406B 406C 406D Apakah (NAMA) mempunyai surat yang menerangkan tentang kelahirannya? Dapatkah Ibu tunjukkan suratnya? LIHAT SURAT APA SAJA YANG ADA. Berapa umur (NAMA) ketika memperoleh akte kelahiran? Mengapa (NAMA) tidak mempunyai surat yang menerangkan tentang kelahirannya? YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 406D)=)))))))1 TIDAK TAHU...8 TIDAK... 1, SURAT KETERANGAN LAHIR SURAT LAPORAN KELAHIRAN SURAT KENAL LAHIR (TERUS KE 407)=)))))))- AKTE KELAHIRAN... 51, HARI... 1 *!!!*!!!*, /)))3)))1 * MINGGU... 2 *!!!*!!!* 1 /)))3)))1 * BULAN... 3 *!!!*!!!* 1 /)))3)))1 * TAHUN... 4 *!!!*!!!* 1 * TIDAK TAHU (TERUS KE 407)=)))))))- BIAYANYA MAHAL...1 TEMPATNYA JAUH...2 TIDAK TAHU HARUS DIDAFTAR...3 TERLAMBAT, TIDAK MAU DIDENDA... 4 TIDAK TAHU KEMANA MENDAFTAR... 5 LAINNYA...6 YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 406D)=)))))))1 TIDAK TAHU...8 TIDAK... 1, SURAT KETERANGAN LAHIR SURAT LAPORAN KELAHIRAN SURAT KENAL LAHIR (TERUS KE 423)=)))))))- AKTE KELAHIRAN... 51, HARI... 1 *!!!*!!!*, /)))3)))1 * MINGGU... 2 *!!!*!!!* 1 /)))3)))1 * BULAN... 3 *!!!*!!!* 1 /)))3)))1 * TAHUN... 4 *!!!*!!!* 1 * TIDAK TAHU (TERUS KE 423)=)))))))- BIAYANYA MAHAL...1 TEMPATNYA JAUH...2 TIDAK TAHU HARUS DIDAFTAR...3 TERLAMBAT, TIDAK MAU DIDENDA.. 4 TIDAK TAHU KEMANA MENDAFTAR.. 5 LAINNYA Lampiran F 343

363 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR NAMA NAMA 407 Pada saat ibu mengandung (NAMA) apakah Ibu memeriksakan kehamilan? JIKA YA: Siapa yang memeriksa kandungan Ibu? Ada lagi? TANYAKAN SIAPA SAJA YANG MEMERIKSA KEHAMILAN. JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. PETUGAS KESEHATAN DOKTER UMUM...A DOKTER KANDUNGAN...B PERAWAT/BIDAN... C BIDAN DI DESA... D ORANG LAIN DUKUN...E LAINNYA (TULISKAN) TIDAK DIPERIKSA...Y (TERUS KE 414A)=)))))))- X 407A LIHAT 407: 407B KODE A, B, C, +))), ATAU D DILINGKARI /)))-? Apakah Ibu diberi Kartu Menuju Sehat Ibu Hamil (KMS BUMIL) atau buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)? JIKA YA: Dapatkah Ibu memperlihatkan kartu/buku? KODE E ATAU X +))), DILINGKARI.)))2))< 407C YA, DIPERLIHATKAN...1 YA, TIDAK DIPERLIHATKAN...2 TIDAK...3 TIDAK TAHU C Di mana Ibu memeriksakan kehamilan tersebut? RUMAH RUMAH RESPONDEN...11 RUMAH ORANG LAIN...12 PEMERINTAH RUMAH SAKIT...21 PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU LAINNYA 26 (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT...31 KLINIK...32 DOKTER UMUM...33 DOKTER KANDUNGAN...34 BIDAN PRAKTEK...35 BIDAN DI DESA...36 LAINNYA 37 (TULISKAN) LAIN-LAIN POLINDES...41 POSYANDU...42 LAINNYA 46 (TULISKAN) 407D Apakah ibu pernah ditemani suami ketika memeriksakan kehamilan (NAMA)? YA...1 TIDAK Berapa bulan umur kandungan (NAMA) ketika Ibu pertama kali memeriksakan kehamilan? 409 Selama Ibu mengandung (NAMA), berapa kali Ibu memeriksakan kehamilan? BULAN... *!!!*!!!* TIDAK TAHU...98 JUMLAH PEMERIKSAAN... *!!!*!!!* TIDAK TAHU...98 (TERUS KE 412)=)))))))- 410 LIHAT 409: JUMLAH PEMERIKSAAN KEHAMILAN: SATU KALI +))), /)))-? (TERUS KE 412) LEBIH DARI SATU KALI +))), /)))-? 344 Appendix F 17

364 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR NAMA NAMA 410A Ibu mengatakan memeriksakan kehamilan (NAMA) kali. Berapa kali Ibu memeriksakan kehamilan a. Dalam 3 bulan pertama? b. Antara 4-6 bulan? c. Antara 7 bulan sampai melahirkan? JUMLAH DI a, b, DAN c HARUS SAMA DENGAN JAWABAN DI 409. JUMLAH PEMERIKSAAN KEHAMILAN 3 BULAN PERTAMA... *!!!*!!!* /)))3)))1 ANTARA 4-6 BULAN... *!!!*!!!* /)))3)))1 ANTARA 7 BULAN *!!!*!!!* SAMPAI MELAHIRKAN Berapa bulan umur kandungan (NAMA) ketika Ibu terakhir kali memeriksakan kehamilan (NAMA)? BULAN... *!!!*!!!* TIDAK TAHU Selama kehamilan (NAMA) apakah Ibu : YA TIDAK Ditimbang berat badannya? Diukur tinggi badannya? Diukur tekanan darahnya? Diperiksa air seninya? Diperiksa darahnya? Diperiksa (diraba) perutnya? 413 Apakah Ibu diberitahu tanda-tanda bahaya (komplikasi) dalam kehamilan? 414 Apakah Ibu diberitahu ke mana harus pergi untuk mendapat pertolongan jika mengalami bahaya (komplikasi) kehamilan? BERAT BADAN TINGGI BADAN TEKANAN DARAH AIR SENI DARAH PERUT YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 414A)=)))))))1 TIDAK TAHU...8 YA...1 TIDAK...2 TIDAK TAHU A 414B 414C 414D Selama kehamilan (NAMA), apakah Ibu membicarakan dengan seseorang mengenai: Di mana Ibu akan melahirkan/bersalin? Angkutan/transportasi ke tempat bersalin? Siapa yang akan menolong persalinan? Biaya persalinan? Donor darah jika diperlukan? Apakah ibu mengalami tanda-tanda bahaya (komplikasi) selama kehamilan (NAMA)? Apa sajakah tanda-tanda bahaya (komplikasi) kehamilan tersebut? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. Apa yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. YA TIDAK TEMPAT MELAHIRKAN TRANSPORTASI PENOLONG PERSALINAN BIAYA DONOR DARAH YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 415)=)))))))- MULES SEBELUM 9 BULAN...A PERDARAHAN...B DEMAM YANG TINGGI... C KEJANG-KEJANG DAN PINGSAN... D LAINNYA X (TULISKAN) TIDAK MELAKUKAN APA-APA...A ISTIRAHAT...B MINUM OBAT... C MINUM JAMU... D KE DUKUN....E KE BIDAN...F KE DOKTER... G KE UNIT PELAYANAN KESEHATAN.. H LAINNYA...X TIDAK TAHU...Z 415 Selama Ibu mengandung (NAMA) apakah Ibu pernah mendapat suntikan di lengan atas untuk mencegah bayi dari penyakit tetanus, atau kejangkejang setelah lahir? YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 417)=)))))))1 TIDAK TAHU Lampiran F 345

365 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR NAMA NAMA 416 Selama mengandung (NAMA) berapa kali ibu mendapat suntikan tersebut? +))), KALI... *!!!*.)))- TIDAK TAHU Selama mengandung (NAMA), apakah ibu mendapat atau membeli pil zat besi? TUNJUKKAN PIL ZAT BESI. YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 419)=)))))))1 TIDAK TAHU Selama mengandung (NAMA) berapa hari ibu minum pil zat besi? 419 Selama mengandung (NAMA) apakah ibu mengalami gangguan penglihatan pada siang hari? 420 Selama mengandung (NAMA) apakah ibu mengalami kebutaan/rabun pada malam hari? 423 Ketika (NAMA) lahir, apakah ia: sangat besar, lebih besar dari rata-rata, rata-rata, lebih kecil dari ratarata, atau sangat kecil? +)))0)))0))), JUMLAH HARI... *!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))- TIDAK TAHU YA...1 TIDAK...2 TIDAK TAHU...8 YA...1 TIDAK...2 TIDAK TAHU...8 SANGAT BESAR...1 LEBIH BESAR DARI RATA-RATA...2 RATA-RATA...3 LEBIH KECIL DARI RATA-RATA...4 SANGAT KECIL...5 TIDAK TAHU...8 SANGAT BESAR...1 LEBIH BESAR DARI RATA-RATA...2 RATA-RATA...3 LEBIH KECIL DARI RATA-RATA...4 SANGAT KECIL...5 TIDAK TAHU Apakah (NAMA) ditimbang ketika dilahirkan? YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 425A)=)))))))1 TIDAK TAHU Berapakah berat badan (NAMA) ketika dilahirkan? CATAT BERAT BADAN DARI KMS/BUKU KIA, JIKA ADA. GRAM DARI +)))0)))0)))0))), KMS/BUKU KIA.. 1 *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))2)))- GRAM BERDASAR- +)))0)))0)))0))), KAN INGATAN... 2 *!!!*!!!*!!!*!!!* RESPONDEN.)))2)))2)))2)))- YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 425A)=)))))))1 TIDAK TAHU...8 GRAM DARI +)))0)))0)))0))), KMS/BUKU KIA. 1 *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))2)))- GRAM BERDASAR- +)))0)))0)))0))), KAN INGATAN.. 2 *!!!*!!!*!!!*!!!* RESPONDEN.)))2)))2)))2)))- TIDAK TAHU TIDAK TAHU A 425B Setelah lahir apakah petugas kesehatan atau dukun memeriksa kesehatan (NAMA)? Berapa hari atau minggu sesudah melahirkan (NAMA) diperiksa? CATAT 00' HARI JIKA HARINYA SAMA. YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 426)=)))))))1 TIDAK TAHU...8 SESUDAH MELAHIRKAN HARI...1 *!!!*!!!* /)))3)))1 MINGGU...2 *!!!*!!!* TIDAK TAHU YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 426)=)))))))1 TIDAK TAHU...8 SESUDAH MELAHIRKAN HARI...1 *!!!*!!!* /)))3)))1 MINGGU...2 *!!!*!!!* TIDAK TAHU C Siapa yang memeriksa (NAMA) saat itu? PETUGAS KESEHATAN DOKTER UMUM...11 DOKTER KANDUNGAN...12 DOKTER ANAK...13 PERAWAT/BIDAN...14 BIDAN DI DESA...15 ORANG LAIN DUKUN...21 PETUGAS KESEHATAN DOKTER UMUM...11 DOKTER KANDUNGAN...12 DOKTER ANAK...13 PERAWAT/BIDAN...14 BIDAN DI DESA...15 ORANG LAIN DUKUN...21 LAINNYA 96 (TULISKAN) LAINNYA 96 (TULISKAN) 346 Appendix F 19

366 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR NAMA NAMA 425D Di mana ibu memeriksa kesehatan (NAMA) saat itu? JIKA TEMPATNYA ADALAH RUMAH SAKIT ATAU KLINIK, TULISKAN NAMANYA. TANYAKAN APAKAH DIKELOLA OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA. LINGKARI KODE YANG TEPAT. (NAMA TEMPAT) RUMAH RUMAH RESPONDEN...11 RUMAH ORANG LAIN...12 PEMERINTAH RUMAH SAKIT/KLINIK...21 PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU LAINNYA 26 (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT...31 KLINIK...32 DOKTER UMUM...33 DOKTER KANDUNGAN...34 DOKTER ANAK...35 BIDAN PRAKTEK...36 BIDAN DI DESA...37 LAINNYA 38 (TULISKAN) LAIN-LAIN POLINDES...41 POSYANDU...42 LAINNYA 46 (TULISKAN) RUMAH RUMAH RESPONDEN...11 RUMAH ORANG LAIN...12 PEMERINTAH RUMAH SAKIT/KLINIK...21 PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU.. 22 LAINNYA 26 (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT...31 KLINIK...32 DOKTER UMUM...33 DOKTER KANDUNGAN...34 DOKTER ANAK...35 BIDAN PRAKTEK...36 BIDAN DI DESA...37 LAINNYA 37 (TULISKAN) LAIN-LAIN POLINDES...41 POSYANDU...42 LAINNYA 46 (TULISKAN) 426 Siapa saja yang menolong Ibu ketika melahirkan (NAMA)? Ada yang lain? PETUGAS KESEHATAN DOKTER UMUM...A DOKTER KANDUNGAN...B PERAWAT/BIDAN... C BIDAN DI DESA... D PETUGAS KESEHATAN DOKTER UMUM... DOKTER KANDUNGAN... PERAWAT/BIDAN... BIDAN DI DESA... A B C D TANYAKAN SIAPA PENOLONG PERSALINAN DAN CATAT SEMUA YANG MENOLONG PERSALINAN. JIKA RESPONDEN MENGATAKAN TIDAK ADA YANG MENOLONG, TANYAKAN APAKAH ADA ORANG DEWASA YANG MENEMANI PADA SAAT MELAHIRKAN. ORANG LAIN DUKUN...E TEMAN/KELUARGA...F LAINNYA (TULISKAN) TIDAK ADA...Y X ORANG LAIN DUKUN... E TEMAN/KELUARGA...F LAINNYA (TULISKAN) TIDAK ADA...Y X 427 Di mana Ibu melahirkan (NAMA)? JIKA MELAHIRKAN DI RUMAH SAKIT ATAU KLINIK, TULISKAN NAMANYA. TANYAKAN APAKAH DIKELOLA OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA. LINGKARI KODE YANG TEPAT. (NAMA TEMPAT) RUMAH RUMAH RESPONDEN...11 (TERUS KE 428A)=)))))))1 RUMAH ORANG LAIN...12 PEMERINTAH RUMAH SAKIT/KLINIK...21 PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU LAINNYA 26 (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT...31 KLINIK...32 DOKTER UMUM...33 DOKTER KANDUNGAN...34 BIDAN PRAKTEK...35 BIDAN DI DESA...36 LAINNYA 37 (TULISKAN) RUMAH RUMAH RESPONDEN...11 (TERUS KE 428A)=)))))))1 RUMAH ORANG LAIN...12 PEMERINTAH RUMAH SAKIT/KLINIK...21 PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU.. 22 LAINNYA 26 (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT...31 KLINIK...32 DOKTER UMUM...33 DOKTER KANDUNGAN...34 BIDAN PRAKTEK...35 BIDAN DI DESA...36 LAINNYA 37 (TULISKAN) 427A Apakah suami Ibu mendampingi ketika persalinan (NAMA)? LAIN-LAIN POLINDES...41 POSYANDU...42 LAINNYA 46 (TULISKAN) * (TERUS KE 428A)=)))))))- YA...1 TIDAK...2 LAIN-LAIN POLINDES...41 POSYANDU...42 LAINNYA 46 (TULISKAN) * (TERUS KE 428A)=)))))))- YA...1 TIDAK Lampiran F 347

367 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR NAMA NAMA 428 Apakah (NAMA) dilahirkan dengan operasi perut? YA...1 TIDAK...2 YA...1 TIDAK A Pada saat Ibu melahirkan (NAMA), apakah Ibu mengalami: YA TDK TT YA TDK TT Mules yang kuat dan teratur lebih dari sehari semalam? MULES MULES Pendarahan lebih banyak dibandingkan dengan biasanya (lebih dari 3 kain)? PENDARAHAN PENDARAHAN Suhu badan tinggi dan mengeluarkan lendir yang berbau tidak sedap dari jalan lahir? SUHU & LENDIR SUHU & LENDIR Kejang-kejang dan pingsan? KEJANG & PINGSAN KEJANG & PINGSAN Apakah ada kesulitan/komplikasi lain? JIKA ADA, tuliskan. LAINNYA LAINNYA (TULISKAN) (TULISKAN) 429 Setelah (NAMA) lahir, apakah ada petugas kesehatan atau dukun yang memeriksa kesehatan Ibu? YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 433)=)))))))- YA...1 (TERUS KE 435)=)))))))1 TIDAK A Berapa hari setelah (NAMA) lahir pemeriksaan kesehatan Ibu dilakukan? CATAT 00' HARI JIKA HARINYA SAMA. SESUDAH MELAHIRKAN HARI...1 *!!!*!!!* /)))3)))1 MINGGU...2 *!!!*!!!* TIDAK TAHU Siapakah yang memeriksa kesehatan Ibu? JIKA LEBIH DARI SATU, TANYAKAN SIAPA YANG PALING AHLI. PETUGAS KESEHATAN DOKTER UMUM...11 DOKTER KANDUNGAN...12 PERAWAT/BIDAN...13 BIDAN DI DESA...14 LAINNYA DUKUN...21 LAINNYA 96 (TULISKAN) 432 Di mana pemeriksaan itu dilakukan? JIKA TEMPATNYA ADALAH RUMAH SAKIT ATAU KLINIK, TULISKAN NAMANYA. TANYAKAN APAKAH DIKELOLA OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA. LINGKARI KODE YANG TEPAT. (NAMA TEMPAT) RUMAH RUMAH RESPONDEN...11 RUMAH ORANG LAIN...12 PEMERINTAH RUMAH SAKIT/KLINIK...21 PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU LAINNYA 26 (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT...31 KLINIK...32 DOKTER UMUM...33 DOKTER KANDUNGAN...34 BIDAN PRAKTEK...35 BIDAN DI DESA...36 LAINNYA 37 (TULISKAN) LAIN-LAIN POLINDES...41 POSYANDU...42 LAINNYA 46 (TULISKAN) 348 Appendix F 21

368 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR NAMA NAMA 433 Dalam waktu dua bulan setelah kelahiran (NAMA), apakah ibu mendapat vitamin A seperti ini? TUNJUKKAN KAPSUL WARNA MERAH. 434 Apakah Ibu sudah mendapatkan haid lagi setelah melahirkan (NAMA)? YA...1 TIDAK...2 YA...1 (TERUS KE 436)=)))))))- TIDAK...2 (TERUS KE 437)=)))))))- 435 Apakah Ibu pernah mendapat haid antara kelahiran (NAMA) dengan kehamilan berikutnya? 436 Berapa bulan setelah kelahiran (NAMA) Ibu tidak mendapat haid? 437 LIHAT 226: APAKAH RESPONDEN HAMIL? 438 Apakah Ibu dan suami Ibu sudah kumpul sejak kelahiran (NAMA)? 439 Berapa bulan setelah kelahiran (NAMA) Ibu dan suami Ibu tidak kumpul? BULAN... *!!!*!!!* TIDAK TAHU...98 TIDAK +)), HAMIL/ +)), HAMIL /))- TIDAK TAHU.))1 * *? (TERUS KE 439) =))- YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 440)=)))))))- BULAN... *!!!*!!!* TIDAK TAHU...98 YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 439)=)))))))- BULAN...*!!!*!!!* TIDAK TAHU...98 BULAN...*!!!*!!!* TIDAK TAHU Apakah Ibu pernah menyusui (NAMA)? YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 447)=)))))))- YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 447)=)))))))- 441 Berapa lama setelah melahirkan ibu menyusui (NAMA) pertama kali? JIKA KURANG DARI 1 JAM, TULIS 00', JIKA KURANG DARI 24 JAM, TULIS DALAM JAM, JIKA 24 JAM ATAU LEBIH TULIS DALAM HARI. SEGERA JAM...1 *!!!*!!!* /)))3)))1 HARI...2 *!!!*!!!* SEGERA JAM...1 *!!!*!!!* /)))3)))1 HARI...2 *!!!*!!!* 442 Dalam tiga hari setelah melahirkan, sebelum air susu ibu keluar (mengalir) dengan lancar, apakah (NAMA) diberi minuman atau makanan selain ASI? YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 444)=)))))))- YA...1 TIDAK...2 (TERUS KE 446)=)))))))- 443 Minuman/makanan apa sajakah yang diberikan kepada (NAMA)? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 444 LIHAT 404: APAKAH ANAK MASIH HIDUP? SUSU BAYI...A SUSU LAINNYA...B AIR PUTIH... C GULA ATAU AIR GULA... D AIR TAJIN...E SARI BUAH/JUS BUAH...F AIR TEH... G MADU/AIR MADU... H MAKANAN LUMAT/PADAT... I LAINNYA X (TULISKAN) HIDUP +)), MENINGGAL +)), /))-.))1 * *? (TERUS KE 446)=))- SUSU BAYI... A SUSU LAINNYA... B AIR PUTIH... C GULA ATAU AIR GULA... D AIR TAJIN... E SARI BUAH/JUS BUAH...F AIR TEH... G MADU/AIR MADU... H MAKANAN LUMAT/PADAT... I LAINNYA X (TULISKAN) 445 Apakah Ibu masih menyusui (NAMA)? YA...1 (TERUS KE 448)=)))))))- TIDAK Lampiran F 349

369 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR NAMA NAMA 446 Berapa bulan Ibu menyusui (NAMA)? BULAN... *!!!*!!!* TIDAK TAHU...98 BULAN...*!!!*!!!* TIDAK TAHU LIHAT 404: APAKAH ANAK MASIH HIDUP? HIDUP +))), /)))- * * * * *? (KE 450) MENINGGAL +))), /)))-? KEMBALI KE 405 PADA KOLOM BERIKUTNYA; ATAU, JIKA TIDAK ADA KELAHIRAN SEBELUMNYA TERUS KE 454. HIDUP +))), /)))- * * * * *? (KE 450) MENINGGAL +))), /)))-? KEMBALI KE 405 PADA KOLOM BERIKUTNYA; ATAU, JIKA TIDAK ADA KELAHIRAN SEBELUMNYA TERUS KE Berapa kali Ibu menyusui (NAMA) tadi malam (sejak matahari terbenam sampai matahari terbit)? JIKA JAWABAN RESPONDEN TIDAK BERUPA ANGKA, TANYAKAN JUMLAH TEPATNYA. 449 Berapa kali Ibu menyusui (NAMA) kemarin selama siang hari? JIKA JAWABAN RESPONDEN TIDAK BERUPA ANGKA, TANYAKAN JUMLAH TEPATNYA. 450 Apakah kemarin dan tadi malam (NAMA) diberi minum dari botol dengan dot? JUMLAH MENYUSUI TADI MALAM... *!!!*!!!* JUMLAH MENYUSUI KEMARIN SIANG... *!!!*!!!* YA...1 TIDAK...2 TIDAK TAHU...8 YA...1 TIDAK...2 TIDAK TAHU Apakah kemarin (NAMA) diberi makanan/ minuman/cairan yang ditambah gula? 452 Berapa kali (NAMA) diberi makanan padat, setengah padat, atau makanan lumat selain cairan selama siang dan malam hari kemarin? YA...1 TIDAK...2 +))), KALI... *!!!*.)))- YA...1 TIDAK...2 +))), KALI...*!!!*.)))- JIKA 7 KALI ATAU LEBIH, TULIS 7' TIDAK TAHU...8 TIDAK TAHU KEMBALI KE 405 PADA KOLOM KEMBALI KE 405 PADA KOLOM BERIKUTNYA; ATAU, JIKA TIDAK ADA BERIKUTNYA; ATAU, JIKA TIDAK ADA KELAHIRAN SEBELUMNYA TERUS KELAHIRAN SEBELUMNYA TERUS KE 454. KE Appendix F 23

370 BAGIAN 4B. IMUNISASI, KESEHATAN, DAN GIZI 454 TULISKAN NOMOR URUT, NAMA, DAN STATUS KELANGSUNGAN HIDUP SETIAP KELAHIRAN SEJAK JANUARI 1997 PADA TABEL. AJUKAN PERTANYAAN MENGENAI SEMUA ANAK LAHIR HIDUP, MULAI DENGAN ANAK TERAKHIR (JIKA LEBIH DARI 2 ANAK LAHIR HIDUP, GUNAKAN LEMBAR TAMBAHAN). 455 NOMOR URUT DARI P.212 ANAK TERAKHIR NOMOR URUT... *!!!*!!!* ANAK KEDUA DARI TERAKHIR NOMOR URUT... *!!!*!!!* 456 DARI 212 DAN 216 NAMA NAMA 457 Apakah (NAMA) menerima vitamin A seperti ini selama 6 bulan terakhir? TUNJUKKAN KAPSUL. 458 Apakah Ibu mempunyai kartu imunisasi/kms balita/buku KIA untuk (NAMA)? JIKA YA: Bolehkah saya lihat? HIDUP +)), /))- * * * * * * * * *? MENINGGAL +)), /))-? (TERUS KE 456 PADA KOLOM BERIKUTNYA; ATAU, JIKA TIDAK ADA KELAHIRAN LAGI TERUS KE 484) YA, MERAH... 1 YA, BIRU... 2 TIDAK... 3 TIDAK TAHU... 8 YA, DAPAT MENUNJUKKAN... 1 (TERUS KE 460)=)))))))))))- YA, TIDAK DAPAT MENUNJUKKAN.. 2 (TERUS KE 462)=)))))))))))- TIDAK PUNYA... 3 HIDUP +)), /))- * * * * * * * * *? MENINGGAL +)), /))-? (TERUS KE 456 PADA KOLOM YANG SAMA DI LEMBAR TAMBAHAN; ATAU, JIKA TIDAK ADA KELAHIRAN LAGI TERUS KE 484) YA, MERAH... 1 YA, BIRU... 2 TIDAK... 3 TIDAK TAHU... 8 YA, DAPAT MENUNJUKKAN... 1 (TERUS KE 460)=)))))))))))- YA, TIDAK DAPAT MENUNJUKKAN.. 2 (TERUS KE 462)=)))))))))))- TIDAK PUNYA Apakah Ibu pernah memiliki kartu imunisasi/kms balita/ buku KIA untuk (NAMA)? SALIN DARI KARTU TANGGAL-TANGGAL IMUNISASI UNTUK SETIAP JENIS IMUNISASI. YA... 1 (TERUS KE 462)=)))))))))))1 TIDAK... 2 YA... 1 (TERUS KE 462)=)))))))))))1 TIDAK TULIS 44' DI KOLOM TGL, JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN, TETAPI TANGGALNYA TIDAK ADA. TGL BLN TAHUN TGL BLN TAHUN BCG POLIO 1 POLIO 2 POLIO 3 POLIO 4 DPT1 DPT2 DPT3 CAMPAK HEPATITIS B1 HEPATITIS B2 HEPATITIS B3 +)))0)))%)))0)))%)))0)))0)))0))), *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))*.)))2)))%)))2)))%)))2)))2)))2)))- +)))0)))%)))0)))%)))0)))0)))0))), *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))* /)))3)))%)))3)))%)))3)))3)))3)))1 *)))*)))%)))*)))%)))*)))*)))*)))*.)))2)))%)))2)))%)))2)))2)))2)))- 24 Lampiran F 351

371 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR 461 Apakah (NAMA) juga mendapat imunisasi yang tidak dicatat pada kartu imunisasi/kms balita/buku KIA termasuk imunisasi pada saat Pekan Imunisasi Nasional (PIN)? CATAT YA JIKA RESPONDEN MENYEBUT IMUNISASI BCG, DPT 1-3, POLIO 1-4, DAN/ATAU CAMPAK. 462 Apakah (NAMA) pernah mendapat imunisasi, untuk mencegah penyakit, termasuk imunisasi pada saat PIN? 463 Apakah (NAMA) pernah mendapat imunisasi seperti: NAMA YA... 1 (TANYAKAN IMUNISASINYA=))- TULIS 66' PADA KOLOM TANGGAL YANG BERSANG- KUTAN DI 460) )))))))))))), (TERUS KE 464)=)))))))- TIDAK... 2 (TERUS KE 464)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 466)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 NAMA YA... 1 (TANYAKAN IMUNISASINYA=))- TULIS 66' PADA KOLOM TANGGAL YANG BERSANG- KUTAN DI 460) )))))))))))), (TERUS KE 464)=)))))))- TIDAK... 2 (TERUS KE 464)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 466)=)))))))1 TIDAK TAHU A Imunisasi BCG terhadap TBC, yang biasanya disuntikkan di lengan atas dan meninggalkan bekas? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU B Imunisasi polio, cairan merah muda atau putih yang diteteskan ke mulut? YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 463E)=)))))))1 TIDAK TAHU 8 YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 463E)=)))))))1 TIDAK TAHU C Pada umur berapa (NAMA) pertama kali diimunisasi polio? HARI...1 *!!!*!!!* /)))3)))1 MINGGU...2 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN...3 *!!!*!!!* HARI...1 *!!!*!!!* /)))3)))1 MINGGU...2 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN...3 *!!!*!!!* 463D Berapa kali (NAMA) diimunisasi polio? +))), KALI... *!!!*.)))- +))), KALI... *!!!*.)))- 463E Imunisasi DPT yang biasanya disuntikkan di paha dan diberikan bersama dengan imunisasi polio? YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 463G)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 463G)=)))))))1 TIDAK TAHU F Berapa kali (NAMA) diimunisasi DPT? +))), KALI... *!!!*.)))- +))), KALI... *!!!*.)))- 463G Imunisasi campak yang biasanya disuntikkan di lengan kiri bagian atas dan diberikan satu kali? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU H Imunisasi Hepatitis B yang biasanya disuntikkan di paha bagian luar? YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 464)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 464)=)))))))1 TIDAK TAHU I Berapa kali (NAMA) diimunisasi Hepatitis B? 464 Diantara imunisasi yang (NAMA) dapat dalam dua tahun terakhir apakah ada yang diperoleh pada saat PIN? +))), KALI... *!!!*.)))- YA...1, TIDAK...2, TIDAK DIIMUNISASI DALAM * DUA TAHUN TERAKHIR TIDAK TAHU (TERUS KE 466)=)))))))- +))), KALI... *!!!*.)))- YA...1, TIDAK...2, TIDAK DIIMUNISASI DALAM * DUA TAHUN TERAKHIR TIDAK TAHU (TERUS KE 466)=)))))))- 465 PIN yang mana, yang dilaksanakan pada bulan September atau Oktober 2002? LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. SEPTEMBER 2002 (POLIO)... A OKTOBER 2002 (CAMPAK DAN POLIO)... B SEPTEMBER 2002 (POLIO)... A OKTOBER 2002 (CAMPAK DAN POLIO)... B 352 Appendix F 25

372 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR 466 Apakah (NAMA) pernah sakit panas dalam dua minggu terakhir? 467 Apakah (NAMA) pernah sakit batuk dalam dua minggu terakhir? 468 Ketika (NAMA) sakit batuk, apakah ia bernafas lebih cepat, atau tersengal-sengal? NAMA YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 469)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 NAMA YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 469)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU LIHAT 466 DAN 467: SAKIT PANAS ATAU BATUK? YA DI 466 ATAU 467 +)), /))- *? LAINNYA +)), /))- *? (TERUS KE 475) YA DI 466 ATAU 467 +)), /))- *? LAINNYA +)), /))- *? (TERUS KE 475) 470 Apakah Ibu pernah mencari pertolongan/obat untuk mengobati sakit panas/batuk (NAMA)? 471 Ke mana Ibu mencari pertolongan/obat untuk mengobati sakit panas/batuk (NAMA)? Ke mana lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 472)=)))))))- PEMERINTAH RUMAH SAKIT... A PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU.. B LAINNYA C (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT... D KLINIK... E DOKTER PRAKTEK... F LAINNYA G (TULISKAN) LAIN-LAIN POLINDES... H POSYANDU...I KADER KESEHATAN... J DUKUN/SINSHE... K APOTEK/TOKO OBAT... L WARUNG/TOKO...M LAINNYA X (TULISKAN) YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 472)=)))))))- PEMERINTAH RUMAH SAKIT... A PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU.. B LAINNYA C (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT... D KLINIK... E DOKTER PRAKTEK... F LAINNYA G (TULISKAN) LAIN-LAIN POLINDES... H POSYANDU...I KADER KESEHATAN... J DUKUN/SINSHE... K APOTEK/TOKO OBAT... L WARUNG/TOKO...M LAINNYA X (TULISKAN) 472 LIHAT 466: SAKIT PANAS? YA DI 466 +)), /))- *? TIDAK / TIDAK TAHU DI 466 +)), /))-? (TERUS KE 475) YA DI 466 +)), /))- *? TIDAK / TIDAK TAHU DI 466 +)), /))-? (TERUS KE 475) 473 Apakah (NAMA) minum obat selama sakit panas? YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 475)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 475)=)))))))1 TIDAK TAHU Obat apa yang diminum (NAMA)? JIKA RESPONDEN TIDAK TAHU MINTA RESPON- DEN UNTUK MEMPERLIHATKAN KEMASAN OBATNYA. JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. FANSIDAR... A CHLOROQUINE/NIVAQUINE... B ASPIRIN... C ACETAMINOPHEN/PARACETAMOL. D IBUPROFEN... E LAINNYA X (TULISKAN) TIDAK TAHU... Z FANSIDAR... A CHLOROQUINE/NIVAQUINE... B ASPIRIN... C ACETAMINOPHEN/PARACETAMOL. D IBUPROFEN... E LAINNYA X (TULISKAN) TIDAK TAHU... Z 26 Lampiran F 353

373 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR 475 Apakah (NAMA) pernah buang-buang air (mencret/diare) dalam dua minggu terakhir? NAMA YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 483)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 NAMA YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 483)=)))))))1 TIDAK TAHU A LIHAT 445: APAKAH ANAK TERAKHIR MASIH DISUSUI? YA +)), /))- *? TIDAK +)), /))-? (TERUS KE 476) 475B 475C Selama (NAMA) sakit mencret/diare, apakah Ibu mengubah jumlah pemberian Air Susu Ibu (ASI)? Apakah dikurangi, ditambah atau dihentikan sama sekali? YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 476)=)))))))- DIKURANGI... 1 DITAMBAH... 2 DIHENTIKAN Sekarang saya ingin menanyakan mengenai pemberian minum selain ASI kepada (NAMA) selama ia mencret/ diare. Apakah (NAMA) diberi minum selain ASI kurang dari biasanya, sama atau lebih banyak dari biasanya? JIKA KURANG DARI BIASANYA, TANYAKAN: apakah (NAMA) diberi minum selain ASI sangat kurang atau sedikit kurang dari biasanya? 477 Apakah (NAMA) diberi makan kurang dari biasanya, sama atau lebih banyak dari biasanya? JIKA KURANG DARI BIASANYA, TANYAKAN: apakah (NAMA) diberi makan sangat kurang (KODE 1/5) atau sedikit kurang dari biasanya (KODE 2)? 478 Apakah (NAMA) diberi minuman seperti: a. Cairan dari paket khusus (ORALIT)? b. Cairan yang dibuat sendiri (larutan gula dan garam) sesuai anjuran pemerintah? 479 Apakah (NAMA) diberi obat untuk mengobati diare/ mencretnya? 480 Obat/ramuan apakah yang diberikan? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 481 Apakah Ibu pernah mencari pertolongan/obat untuk mengobati mencret/diare untuk (NAMA)? SANGAT KURANG... 1 KURANG... 2 SAMA... 3 LEBIH BANYAK... 4 TIDAK SAMA SEKALI... 5 TIDAK TAHU... 8 SANGAT KURANG... 1 KURANG... 2 SAMA... 3 LEBIH BANYAK... 4 TIDAK DIBERI MAKANAN... 5 TIDAK PERNAHDIBERI MAKANAN.. 6 TIDAK TAHU... 8 YA TDK TT ORALIT CAIRAN BUATAN SENDIRI YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 481)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 PIL /SIRUP... A, SUNTIKAN... B 1 SUNTIKAN PEMBULUH DARAH... C 1 OBAT RAMUAN/JAMU... D 1 (TERUS KE 482)=)))))))- LAINNYA (TULISKAN) YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 483)=)))))))- X SANGAT KURANG... 1 KURANG... 2 SAMA... 3 LEBIH BANYAK... 4 TIDAK SAMA SEKALI... 5 TIDAK TAHU... 8 SANGAT KURANG... 1 KURANG... 2 SAMA... 3 LEBIH BANYAK... 4 TIDAK DIBERI MAKANAN... 5 TIDAK PERNAHDIBERI MAKANAN.. 6 TIDAK TAHU... 8 YA TDK TT ORALIT CAIRAN BUATAN SENDIRI YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 481)=)))))))1 TIDAK TAHU... 8 PIL /SIRUP... A, SUNTIKAN... B 1 SUNTIKAN PEMBULUH DARAH... C 1 OBAT RAMUAN/JAMU... D 1 (TERUS KE 482)=)))))))- LAINNYA (TULISKAN) YA... 1 TIDAK... 2 (TERUS KE 483)=)))))))- X 354 Appendix F 27

374 ANAK TERAKHIR ANAK KEDUA DARI TERAKHIR 482 Ke mana Ibu mencari pertolongan/obat untuk (NAMA)? Ke mana lagi? NAMA PEMERINTAH RUMAH SAKIT/KLINIK... A PUSKESMAS/PUSKESMAS PEMBANTU... B LAINNYA C (TULISKAN) NAMA PEMERINTAH RUMAH SAKIT/KLINIK... A PUSKESMAS/PUSKESMAS PEMBANTU... B LAINNYA C (TULISKAN) JIKA SUMBER PELAYANAN ADALAH RUMAH SAKIT, ATAU KLINIK, TULISKAN NAMANYA. TANYAKAN APAKAH DIKELOLA OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA. LINGKARI KODE YANG TEPAT. (NAMA TEMPAT) JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. SWASTA RUMAH SAKIT... D KLINIK... E DOKTER PRAKTEK... F BIDAN DI DESA...G LAINNYA H (TULISKAN) LAINNYA POLINDES...I POSYANDU... J KADER KESEHATAN... K DUKUN... L APOTEK/TOKO OBAT...M WARUNG/TOKO... N LAINNYA X (TULISKAN) 483 KEMBALI KE 457 PADA KOLOM BERIKUTNYA; ATAU, JIKA TIDAK ADA KELAHIRAN SEBELUMNYA TERUS KE 484. SWASTA RUMAH SAKIT... D KLINIK... E DOKTER PRAKTEK... F BIDAN DI DESA...G LAINNYA H (TULISKAN) LAINNYA POLINDES...I POSYANDU... J KADER KESEHATAN... K DUKUN... L APOTEK/TOKO OBAT...M WARUNG/TOKO... N LAINNYA X (TULISKAN) KEMBALI KE 457 PADA KOLOM BERIKUTNYA; ATAU, JIKA TIDAK ADA KELAHIRAN SEBELUMNYA TERUS KE Lampiran F 355

375 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 484 LIHAT 215, 216 DAN 218: JUMLAH ANAK YANG MASIH HIDUP YANG LAHIR SEJAK JANUARI 1997 DAN TINGGAL DENGAN RESPONDEN SATU ATAU +))), TIDAK ADA +))), LEBIH /)))-.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 487? 485 Di mana biasanya ibu membuang kotoran anak (terkecil) ketika tidak menggunakan kakus/jamban? SELALU MENGGUNAKAN KAKUS DIBUANG KE KAKUS DIBUANG KE LUAR RUMAH DIBUANG KE PEKARANGAN DIKUBUR DI HALAMAN DISIRAM MENGGUNAKAN POPOK YANG LANGSUNG DIBUANG MENGGUNAKAN POPOK YANG BISA DICUCI TIDAK DIBUANG LAINNYA 96 (TULISKAN) 486 LIHAT 478a, SEMUA KOLOM: TIDAK ADA ANAK +))), ADA ANAK YANG +))), YANG MENERIMA CAIRAN /)))- MENERIMA CAIRAN.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 488 ORALIT DARI PAKET * ORALIT DARI PAKET? 487 Apakah Ibu pernah mendengar tentang ORALIT yang bisa dipakai untuk mengobati diare? YA... 1 TIDAK LIHAT 218: PUNYA SATU ANAK ATAU +))), TIDAK ADA ANAK +))), LEBIH YANG TINGGAL /)))- YANG TINGGAL.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))) ))< 490 DENGAN RESPONDEN * DENGAN RESPONDEN? 489 Ketika anak Ibu (salah seorang anak Ibu) menderita sakit keras, apakah Ibu dapat memutuskan sendiri untuk mencari pengobatan medis untuk anak Ibu? JIKA TIDAK ADA ANAK YANG MENDERITA SAKIT KERAS, TANYAKAN: Seandainya anak Ibu (salah seorang anak Ibu) menderita sakit keras, apakah Ibu dapat memutuskan sendiri untuk mencari pengobatan medis untuk anak Ibu? YA... 1 TIDAK... 2 TERGANTUNG A Siapa yang membuat keputusan akhir mengenai apakah anak yang sakit diobati secara medis atau tidak? RESPONDEN SUAMI SUAMI BERSAMA RESPONDEN ORANG LAIN SUAMI BERSAMA ORANG LAIN RESPONDEN BERSAMA ORANG LAIN. 06 LAINNYA Sekarang saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang perawatan kesehatan Ibu: Ada beberapa masalah yang dapat menghalangi wanita untuk menda-patkan perawatan kesehatan atau pengobatan. Apakah halhal berikut ini merupakan masalah atau tidak? Tahu kemana harus berobat. Mendapatkan izin untuk berobat. Mendapatkan uang untuk berobat. Jarak ke tempat berobat. Angkutan ke tempat berobat. Tidak berani pergi sendiri. Yang memeriksa bukan wanita. BUKAN MASA- MASA- LAH LAH TAHU TEMPAT BEROBAT IZIN UANG JARAK ANGKUTAN TIDAK BERANI PEMERIKSA BUKAN WANITA Appendix F 29

376 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 491 LIHAT 215 DAN 218: TIDAK PUNYA ANAK YANG PUNYA PALING SEDIKIT SATU +))), LAHIR SEJAK JANUARI +))), ANAK YANG LAHIR SEJAK /))) DAN TINGGAL.)))2)))))))))))))))))))) ))< 495 JANUARI 1999 DAN TINGGAL * DENGAN RESPONDEN DENGAN RESPONDEN *? TULIS NAMA ANAK TERKECIL YANG TINGGAL DENGAN RESPONDEN (DAN TERUSKAN KE 492) (NAMA) 492 Sekarang saya ingin bertanya tentang cairan yang diminum (NAMA DARI 491) selama 7 hari terakhir, termasuk kemarin. Berapa hari selama 7 hari terakhir (NAMA DARI 491) minum minuman berikut? UNTUK SETIAP MINUMAN YANG DIBERIKAN, PALING TIDAK SATU KALI DALAM 7 HARI TERAKHIR. SEBELUM MELANJUTKAN KE PERTANYAAN BERIKUTNYA, TANYAKAN: Berapa kali (NAMA DARI 491) minum (MINUMAN) dari pagi hingga malam hari kemarin? 7 HARI TERAKHIR JUMLAH HARI a. Air putih? a a b. Susu bayi atau susu balita? b b c. Susu lainnya, seperti susu kental manis, susu bubuk, atau susu segar? c c d. Sari atau jus buah? d d e. Cairan lain seperti air gula, teh, kopi, minuman soda, kaldu daging, kaldu ayam, atau kaldu ikan? e e JIKA 7 KALI ATAU LEBIH, TULIS 7'. JIKA TIDAK TAHU, TULIS 8'. 493 Sekarang saya ingin bertanya tentang jenis makanan yang dimakan (NAMA DARI 491) selama 7 hari terakhir, termasuk kemarin: Berapa hari selama 7 hari terakhir (NAMA DARI 491) makan jenis makanan berikut ini baik secara terpisah atau dicampur dengan jenis makanan lain? UNTUK SETIAP MAKANAN YANG DIBERIKAN, PALING TIDAK SATU KALI DALAM 7 HARI TERAKHIR. SEBELUM MELANJUTKAN KE PERTANYAAN BERIKUTNYA, TANYAKAN: 7 HARI TERAKHIR KEMARIN/ SEHARI SEMALAM JUMLAH KALI KEMARIN/ SEHARI SEMALAM JUMLAH HARI JUMLAH KALI Berapa kali (NAMA DARI 491) makan (makanan) dari pagi hingga malam hari kemarin? a. Makanan yang dibuat dari padi-padian (jagung, beras, gandum, sagu, dll.)? a a b. Labu kuning, ubi kuning/merah, atau wortel? b b c. Makanan dari akar-akaran atau akar umbi (kentang, ubi putih, singkong, talas, dll.)? c c d. Sayuran hijau (bayam, daun singkong, dll.)? d d e. Mangga, pepaya, cempedak, sawo, nangka, durian (atau buah-buahan berwarna kuning/merah)? e e f. Buah-buahan dan sayuran lainnya (pisang, apel, alpukat, tomat, buncis, kacang panjang, kacang kapri)? f f g. Daging, ayam, ikan, kerang, atau telur? g g h. Makanan dari kacang-kacangan (kacang kedelai, kacang merah, kacang tolo, kacang jogo, kacang hijau, kacang babi, kacang tanah, tahu, tempe, dll.)? h h i. Keju atau yoghurt? i i j. Makanan yang mengandung minyak, lemak, atau margarin? j j JIKA 7 KALI ATAU LEBIH, TULIS 7'. JIKA TIDAK TAHU, TULIS 8'. 30 Lampiran F 357

377 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 495 Terakhir kali Ibu menyiapkan makanan untuk keluarga, apakah ibu mencuci tangan dahulu sebelum mulai mempersiapkannya? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK PERNAH MENYIAPKAN MAKANAN Apakah Ibu merokok? JIKA YA: Apakah jenis rokok yang dihisap? YA, ROKOK PUTIH/KRETEK... YA, PIPA CANGKLONG... A B JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. YA, LAINNYA... C TIDAK... Y 497 LIHAT 496: KODE A +))), KODE A +))), DILINGKARI /)))- TIDAK DILINGKARI.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 501A? 498 Dalam 24 jam terakhir, berapa batang rokok yang ibu hisap? BATANG ROKOK... *!!!*!!!* 358 Appendix F 31

378 BAGIAN 5. PERKAWINAN DAN KEGIATAN SEKSUAL NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 501A LIHAT 106A: STATUS PERKAWINAN RESPONDEN KAWIN +))), CERAI HIDUP/CERAI MATI +))), /)))- CERAI HIDUP/MATI.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))? CERAI HIDUP/MATI ))< Apakah suami Ibu tinggal bersama Ibu atau tinggal di tempat lain? TINGGAL BERSAMA... 1 TINGGAL DI TEMPAT LAIN TULISKAN NAMA SUAMI DAN NOMOR URUT DARI DAFTAR RUMAH TANGGA. JIKA IA TIDAK ADA DALAM DAFTAR RUMAH TANGGA, TULISKAN 00'. NAMA *!!!*!!!* NOMOR URUT: Apakah Ibu menikah hanya satu kali atau lebih dari satu kali? HANYA SATU KALI... 1 LEBIH DARI SATU KALI A Apa alasan utama Ibu menikah lebih dari satu kali? SUAMI MENINGGAL... 1 TIDAK COCOK... 2 PISAH TERLALU LAMA... 3 TIDAK PUNYA ANAK... 4 LAINNYA 6 (TULISKAN) 511 LIHAT 510: ))< 511 MENIKAH +))), HANYA /)))- SATU KALI *? Pada bulan dan tahun berapa Ibu memulai kehidupan dengan suami Ibu? MENIKAH +))), LEBIH DARI /)))- SATU KALI *? Sekarang saya ingin menanyakan suami pertama Ibu. Pada bulan dan tahun berapa Ibu memulai kehidupan dengannya? BULAN... *!!!*!!!* TIDAK TAHU BULAN )))0)))0)))0))), TAHUN... *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))2)))- TIDAK TAHU TAHUN Berapa umur ibu ketika menikah dengan suami Ibu (yang pertama)? UMUR... *!!!*!!!* 512A Apakah Ibu pernah mendapat imunisasi TT sebelum menikah? YA... 1 TIDAK... 2 ))< B JIKA YA: Berapa kali Ibu diberi imunisasi TT? +))), JUMLAH SUNTIKAN... *!!!*.)))- TIDAK TAHU TENTUKAN BULAN-BULAN RESPONDEN BERSTATUS KAWIN SEJAK JANUARI TULISKAN X DI KOLOM 4 PADA KALENDER UNTUK SETIAP BULAN RESPONDEN DALAM STATUS KAWIN ATAU, TULISKAN 0' UNTUK SETIAP BULAN RESPONDEN STATUS TIDAK KAWIN SEJAK JANUARI UNTUK WANITA YANG MENIKAH LEBIH DARI SATU KALI: TANYAKAN KAPAN TELAH MENIKAH LAGI, TANGGAL MENIKAH DAN CERAI PADA PERKAWINAN SEBELUMNYA. UNTUK WANITA YANG SEKARANG BERSTATUS JANDA ATAU KAWIN LEBIH DARI SATU KALI: TANYAKAN BULAN-BULAN MENJANDA, DAN PERMULAAN DARI BULAN PERKAWINAN-PERKAWINAN BERIKUTNYA. 514 Sekarang saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kegiatan seksual untuk mendapatkan pengertian tentang persoalan kehidupan keluarga. Berapa umur Ibu ketika pertama kali kumpul? TIDAK PERNAH UMUR DALAM TAHUN... *!!!*!!!* KETIKA MENIKAH ))< Lampiran F 359

379 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 514A LIHAT 106A: STATUS PERKAWINAN RESPONDEN KAWIN +))), CERAI HIDUP/CERAI MATI +))), /)))- CERAI HIDUP/MATI.)))2))))))))))))))))))))))))))))))? CERAI HIDUP/MATI ))< Kapan Ibu terakhir kali kumpul? JAWABAN TAHUN YANG LALU HANYA JIKA TERAKHIR KUMPUL PALING SEDIKIT 1 TAHUN YANG LALU. JIKA 12 BULAN ATAU LEBIH JAWABAN HARUS DICATAT DALAM TAHUN. HARI YANG LALU... 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 MINGGU YANG LALU... 2 *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN YANG LALU... 3 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN YANG LALU... 4 *!!!*!!!* ))< Ketika terakhir kali kumpul, apakah menggunakan kondom? YA... 1 TIDAK Apakah Ibu tahu di mana seseorang bisa mendapatkan kondom? YA... 1 TIDAK... 2 ))< Di mana? JIKA SUMBERNYA ADALAH RUMAH SAKIT ATAU KLINIK, TULISKAN NAMA TEMPATNYA. TANYAKAN APAKAH DIKELOLA OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA. LINGKARI KODE YANG TEPAT. PEMERINTAH RUMAH SAKIT... A PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU.. B KLINIK... C PLKB... D TKBK/TMK... E LAINNYA F (TULISKAN) Ada lagi? (NAMA TEMPAT) SWASTA RUMAH SAKIT... G KLINIK... H DOKTER PRAKTEK...I BIDAN PRAKTEK... J BIDAN DI DESA... K APOTEK/TOKO OBAT... L LAINNYA M (TULISKAN) JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. LAINNYA POLINDES... N POSYANDU... O POS KB/PPKBD... P TEMAN/KELUARGA... Q TOKO... R LAINNYA X (TULISKAN) 526 Jika Ibu menginginkannya, apakah Ibu dapat memperolehnya sendiri? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU/TIDAK YAKIN Appendix F 33

380 BAGIAN 6. PREFERENSI FERTILITAS NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 601A LIHAT 106A: STATUS PERKAWINAN RESPONDEN KAWIN +))), CERAI HIDUP/CERAI MATI +))), /)))-.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))) ))< 614? 601B LIHAT 311/311A: 602 LIHAT 226: SUAMI/RESPONDEN +))), SUAMI/RESPONDEN +))), TIDAK DISTERILISASI /)))- DISTERILISASI.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 614? TIDAK HAMIL/ +))), TIDAK TAHU /)))- *? Sekarang saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan mengenai masa yang akan datang. Apakah Ibu ingin mempunyai anak (lagi) atau ingin agar tidak mempunyai anak (lagi)? HAMIL +))), /)))- *? Sekarang saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan mengenai masa yang akan datang. Setelah melahirkan anak yang Ibu kandung sekarang, apakah Ibu ingin mempunyai anak (lagi) atau ingin agar tidak mempunyai anak (lagi)? INGIN ANAK (LAGI)... 1 TIDAK INGIN ANAK (LAGI)... 2 TIDAK DAPAT HAMIL... 3 BELUM PASTI/TIDAK TAHU HAMIL.. 4 TIDAK HAMIL ATAU TIDAK YAKIN... 5 ))< 604 ))< 614 ))< 610 ))< LIHAT 226: TIDAK HAMIL/ +))), TIDAK TAHU /)))- *? Berapa lama Ibu ingin menunggu mulai dari sekarang sampai kelahiran anak (berikutnya)? 604 LIHAT 226: HAMIL +))), /)))- *? Berapa lama Ibu ingin menunggu sesudah melahirkan anak yang Ibu kandung sampai kelahiran anak berikutnya? BULAN... 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN... 2 *!!!*!!!* SEGERA/SEKARANG TIDAK DAPAT HAMIL LAINNYA 996 (TULISKAN) TIDAK TAHU ))< 609 ))< 614 ), )/< 609 )- TIDAK HAMIL/ +))), HAMIL +))), TIDAK TAHU /)))-.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 610 *? 605 LIHAT 310: TIDAK, YA, TIDAK +))), SEDANG TIDAK +))), SEDANG +))), DITANYAKAN /)))- PAKAI /)))- PAKAI.)))2))))))))))))))))))))) ))< 608 * *?? 606 LIHAT 603: 24 BULAN ATAU LEBIH, BULAN, TIDAK +))), ATAU 2 TAHUN +))), ATAU +))), DITANYAKAN /)))- ATAU LEBIH /))) TAHUN.)))2))))))))))))))))))))) ))< 610 * *?? 34 Lampiran F 361

381 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 607 LIHAT 602: INGIN PUNYA +)), ANAK (LAGI) /))- *? Ibu mengatakan bahwa Ibu tidak ingin anak segera, tetapi Ibu tidak menggunakan alat/cara KB apapun untuk mencegah kehamilan. Dapatkah Ibu mengatakan alasannya? Ada alasan lain? TIDAK INGIN +)), ANAK /))- *? Ibu mengatakan bahwa Ibu tidak ingin anak lagi, tetapi Ibu tidak menggunakan alat/cara KB apapun untuk mencegah kehamilan. Dapatkah Ibu mengatakan alasannya? Ada alasan lain? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. ALASAN FERTILITAS PUASA KUMPUL... A JARANG KUMPUL... B MENOPAUSE/HISTEREKTOMI.... C TIDAK SUBUR... D BARU MELAHIRKAN... E MENYUSUI... F KEPERCAYAAN... G MENENTANG UNTUK MEMAKAI RESPONDEN MENENTANG... H SUAMI MENENTANG...I ORANG LAIN MENENTANG... J LARANGAN AGAMA... K KURANG PENGETAHUAN TIDAK TAHU ALAT/CARA KB... L TIDAK TAHU SUMBER...M ALASAN ALAT/CARA KB KESEHATAN... N TAKUT EFEK SAMPING... O KURANGNYA AKSES/ TERLALU JAUH... P BIAYA TERLALU MAHAL... Q TIDAK NYAMAN... R MENJADI GEMUK/KURUS... S LAINNYA (TULISKAN) X TIDAK TAHU... Z 608 Dalam beberapa minggu yang akan datang, jika Ibu ternyata menjadi hamil, apakah hal itu merupakan masalah besar, masalah kecil, atau tidak masalah? MASALAH BESAR... 1 MASALAH KECIL... 2 TIDAK MASALAH... 3 TIDAK DAPAT HAMIL/ PUASA KUMPUL LIHAT 310: TIDAK, YA, TIDAK +))), SEDANG TIDAK +))), SEDANG +))), DITANYAKAN /)))- PAKAI /)))- PAKAI.)))2))))))))))))))))))))) ))< 614 * *?? 610 Apakah Ibu berpikir akan menjadi peserta KB untuk menunda atau mencegah kehamilan di masa yang akan datang? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 ), )2< Alat/cara KB apa yang Ibu ingin pakai? STERILISASI WANITA STERILISASI PRIA PIL IUD/AKDR/SPIRAL SUNTIKAN SUSUK KB KONDOM INRAVAG/DIAFRAGMA METODE MENYUSUI ALAMI PANTANG BERKALA SANGGAMA TERPUTUS LAINNYA 96 (TULISKAN) TIDAK YAKIN Appendix F 35

382 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 611A Kemanakah Ibu akan pergi untuk mendapatkan alat/cara KB tersebut? PEMERINTAH RUMAH SAKIT PUSKESMAS/PUSK. PEMBANTU. 12 KLINIK PLKB TKBK/TMK LAINNYA 16 (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT KLINIK DOKTER PRAKTEK BIDAN PRAKTEK BIDAN DI DESA APOTEK/TOKO OBAT LAINNYA 27 (TULISKAN) LAINNYA POLINDES POSYANDU POS KB/PPKBD TEMAN/KELUARGA TOKO LAINNYA 36 (TULISKAN) TIDAK TAHU ), )1 )1 )1 )1 )1 * * )1 )1 )1 )3< 614 )1 )1 )1 * * )1 )1 )1 )1 )1 )1 * )- 612 Apa alasan utama Ibu tidak menggunakan alat/cara KB di masa yang akan datang? ALASAN FERTILITAS JARANG/PUASA KUMPUL MENOPAUSE/HISTEREKTOMI TIDAK SUBUR/MANDUL INGIN ANAK SEBANYAK MUNGKIN LIHAT 216: ADA ANAK +)), MASIH HIDUP /))-? Seandainya Ibu dapat kembali ke waktu Ibu baru saja menikah dan belum mempunyai anak dan Ibu dapat menentukan jumlah anak yang Ibu inginkan selama hidup, berapakah jumlah anak tersebut? TIDAK ADA ANAK +)), MASIH HIDUP /))-? Seandainya Ibu dapat menentukan jumlah anak yang Ibu inginkan selama hidup, berapakah jumlah anak tersebut? MENENTANG UNTUK MEMAKAI RESPONDEN MENENTANG SUAMI MENENTANG ORANG LAIN MENENTANG LARANGAN AGAMA KURANG PENGETAHUAN TIDAK TAHU ALAT/CARA KB TIDAK TAHU SUMBER ALASAN ALAT/CARA KB KESEHATAN TAKUT EFEK SAMPING KURANGNYA AKSES/ TERLALU JAUH BIAYA TERLALU MAHAL TIDAK NYAMAN MENJADI GEMUK/KURUS LAINNYA 96 (TULISKAN) TIDAK TAHU JUMLAH... *!!!*!!!* LAINNYA 96 (TULISKAN) ))< 616 AJUKAN PERTANYAAN UNTUK MENDAPATKAN JAWABAN BERUPA ANGKA. 36 Lampiran F 363

383 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 615 Dari jumlah tersebut, berapa anak laki-laki yang diinginkan, berapa anak perempuan yang diinginkan, dan berapa yang jenis kelaminnya tidak menjadi masalah? APA LK PR SAJA JUMLAH... *!!!*!!!**!!!*!!!**!!!*!!!* LAINNYA (TULISKAN) 616 Apakah Ibu setuju atau tidak setuju seandainya suatu pasangan menjadi peserta KB untuk menunda atau mencegah kehamilan? SETUJU... 1 TIDAK SETUJU... 2 TIDAK TAHU/TIDAK YAKIN Dalam 6 bulan terakhir, apakah Ibu pernah mendengar/melihat acara tentang KB: YA TIDAK Di radio? Di televisi? RADIO TELEVISI Dalam 6 bulan terakhir, apakah Ibu pernah membaca tentang KB: YA TIDAK Di koran atau majalah? Di poster? Di pamflet? 619 Dalam 6 bulan terakhir, apakah Ibu pernah membicarakan KB dengan teman, tetangga, atau keluarga? 620 Dengan siapa? Siapa lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. KORAN/MAJALAH POSTER PAMFLET YA... 1 TIDAK... 2 ))< 620A SUAMI... A IBU... B BAPAK... C SAUDARA PEREMPUAN... D SAUDARA LAKI-LAKI... E ANAK PEREMPUAN... F ANAK LAKI-LAKI... G IBU MERTUA... H TEMAN/TETANGGA...I LAINNYA X (TULISKAN) 620A Dalam 6 bulan terakhir, apakah Ibu mendapatkan penerangan tentang KB dari: YA TIDAK Petugas KB? Guru? Tokoh agama? Dokter? Bidan atau perawat? Pemimpin desa? PKK? Apoteker? PETUGAS KB GURU TOKOH AGAMA DOKTER BIDAN/PERAWAT PEMIMPIN DESA PKK APOTEKER B Dalam 6 bulan terakhir, apakah Ibu mendapatkan penerangan tentang KB dari: YA TIDAK Unit mobil penerangan? Kesenian tradisional? UNIT MOBIL KESENIAN TRADISIONAL LIHAT 106A: STATUS PERKAWINAN RESPONDEN 622 LIHAT 311/311A: KAWIN +))), CERAI HIDUP/ +))), /)))- CERAI MATI.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))< 628? ADA KODE YANG DILINGKARI +))), TIDAK ADA KODE YANG DILINGKARI +))), /)))-.)))2))))))))))))))? ))< Appendix F 37

384 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 623 Ibu mengatakan bahwa Ibu sedang memakai alat/cara KB. Apakah keputusan untuk menjadi peserta KB merupakan keputusan Ibu, suami Ibu atau keputusan bersama? 624 Sekarang saya ingin bertanya tentang pendapat suami Ibu mengenai KB. Menurut Ibu, apakah suami Ibu setuju atau tidak setuju jika suatu pasangan menggunakan alat/cara KB untuk mencegah kehamilan? RESPONDEN... 1 SUAMI... 2 BERSAMA... 3 LAINNYA 6 (TULISKAN) SETUJU... 1 TIDAK SETUJU... 2 TIDAK TAHU Sesering apakah Ibu membicarakan tentang KB dengan suami ibu setahun yang lalu? TIDAK PERNAH... 1 SEKALI ATAU DUA KALI... 2 SERINGKALI LIHAT 311/311A: TIDAK ADA YANG +))), RESPONDEN ATAU SUAMI +))), DISTERILISASI /)))- DISTERILISASI.)))2))))))))))))))))))))))))))? ))< Menurut Ibu, apakah suami Ibu menginginkan jumlah anak yang sama, lebih banyak, atau lebih sedikit dari yang Ibu inginkan? 628 Suami dan istri tidak selalu sepakat mengenai berbagai hal. Menurut Ibu, apakah seorang istri berhak menolak untuk kumpul dengan suaminya jika: Ia tahu bahwa suaminya terkena penyakit menular seksual (PMS)? Ia tahu bahwa suaminya kumpul dengan wanita lain? Ia baru melahirkan? Ia lelah atau tidak ingin melakukannya? JUMLAH SAMA... 1 LEBIH BANYAK ANAK... 2 LEBIH SEDIKIT ANAK... 3 TIDAK TAHU... 8 YA TDK TT PUNYA PMS WANITA LAIN BARU MELAHIRKAN LELAH/TIDAK INGIN A LIHAT 214, 217 DAN 218: MEMPUNYAI PALING TIDAK TIDAK MEMPUNYAI ANAK SEORANG ANAK PEREMPUAN PEREMPUAN YANG BERUMUR YANG BERUMUR TAHUN DAN +))), TAHUN DAN TINGGAL +))), TINGGAL DENGAN RESPONDEN /)))- DENGAN RESPONDEN.)))2))))))))))))))))))))) ))<701 *? 628B Apakah Ibu/suami Ibu dan anak remaja putri Ibu pernah membahas: Usia subur? Penyakit menular seksual (PMS)? Narkoba? Penundaan usia kawin? Masalah KB dan kesehatan reproduksi? Akil baliq atau pubertas? YA TIDAK USIA SUBUR PMS NARKOBA PENUNDAAN USIA KAWIN KB & KES. REPRODUKSI AKIL BALIQ/PUBERTAS Lampiran F 365

385 BAGIAN 7. LATAR BELAKANG SUAMI DAN PEKERJAAN RESPONDEN NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 701 LIHAT 106A: STATUS PERKAWINAN RESPONDEN KAWIN +))), CERAI HIDUP/ +))), /)))- CERAI MATI.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 703? 702 Berapa umur suami Ibu pada ulang tahun terakhir? UMUR DALAM TAHUN...*!!!*!!!* (BILANGAN BULAT) 703 Apakah suami/mantan suami Ibu (yang terakhir) pernah sekolah? YA...1 TIDAK...2 ))< 705A 704 Apakah jenjang sekolah tertinggi yang pernah/sedang diduduki oleh suami Ibu: sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan tingkat atas, akademi, atau universitas? 705 Apakah tingkat/kelas tertinggi yang diselesaikan oleh suami Ibu pada jenjang tersebut? TAMAT = 7 SEKOLAH DASAR...1 SEKOLAH LANJUTAN TKT PERTAMA. 2 SEKOLAH LANJUTAN TKT ATAS...3 AKADEMI/DI/DII/DIII...4 UNIVERSITAS/DIV...5 TIDAK TAHU...6 ))< 705A +))), KELAS/TINGKAT...*!!!*.)))- TIDAK TAHU A Apakah suami (terakhir) Ibu bekerja? YA...1 TIDAK...2 ))< LIHAT 701: +)), KAWIN /))- *? Apa pekerjaan suami Ibu? Jenis pekerjaan apa yang utama dia lakukan? +)), CERAI HIDUP/ /))- CERAI MATI *? Apa pekerjaan mantan suami Ibu? Jenis pekerjaan apa yang utama dia lakukan? (TULIS SELENGKAP MUNGKIN, JANGAN MELINGKARI KODE JAWABAN DAN JANGAN MENGISI KOTAK) *!!!*!!!* (DIISI BPS) PROFESIONAL, TEKNISI...01 KEPEMIMPINAN DAN KETATALAKSANAAN...02 PEJABAT PELAKSANA DAN TATA USAHA...03 TENAGA USAHA PENJUALAN...04 TENAGA USAHA JASA...05 TENAGA USAHA PERTANIAN...06 TENAGA PRODUKSI...07 LAINNYA 96 (TULISKAN) TIDAK TAHU Di samping mengurus rumah tangga, apakah Ibu bekerja? YA...1 ))< 709A TIDAK Seperti Ibu ketahui, banyak wanita yang bekerja, maksud saya di samping mengurus rumah tangganya. Ada yang bekerja di toko, di perusahaan, atau di instansi pemerintah. Ada yang bekerja dengan mendapat upah/gaji; dan ada juga yang bekerja tanpa upah/gaji. Apakah Ibu melakukan kegiatan seperti itu atau pekerjaan lain? YA...1 ))< 709A TIDAK Dalam 12 bulan terakhir, apakah Ibu pernah bekerja? YA...1 TIDAK...2 ))< A Apakah Ibu bekerja di bidang pertanian atau bukan pertanian? PERTANIAN...1 BUKAN PERTANIAN Appendix F 39

386 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 710 Apakah jenis pekerjaan utama Ibu? (TULIS SELENGKAP MUNGKIN, JANGAN MELINGKARI KODE JAWABAN DAN JANGAN MENGISI KOTAK) *!!!*!!!* (DIISI BPS) PROFESIONAL, TEKNISI...01 KEPEMIMPINAN DAN KETATALAKSANAAN...02 PEJABAT PELAKSANA DAN TATA USAHA...03 TENAGA USAHA PENJUALAN...04 TENAGA USAHA JASA...05 TENAGA USAHA PERTANIAN...06 TENAGA PRODUKSI...07 LAINNYA 96 (TULISKAN) TIDAK TAHU LIHAT 709A: BEKERJA DI +))), BEKERJA DI +))), PERTANIAN /)))- BUKAN PERTANIAN.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 713? 712 Apakah Ibu bekerja di lahan pertanian milik sendiri, keluarga, lahan sewa, atau lahan milik orang lain? 713 Apakah Ibu pekerja keluarga, buruh/karyawan atau berusaha/ mempunyai usaha? MILIK SENDIRI...1 MILIK KELUARGA...2 SEWA...3 MILIK ORANG LAIN...4 PEKERJA KELUARGA...1 BURUH/KARYAWAN...2 BERUSAHA/MEMPUNYAI USAHA Apakah Ibu biasanya bekerja di rumah atau di luar rumah? DI RUMAH...1 ))< 715 DI LUAR RUMAH A Berapa jam Ibu meninggalkan rumah? HITUNG SEJAK IBU MENINGGALKAN RUMAH SAMPAI KEMBALI KE RUMAH LAGI. JAM...*!!!*!!!* 714B LIHAT 217 DAN 218: ADA ANAK TIDAK ADA ANAK BERUMUR DI +))), BERUMUR DI +))), BAWAH 5 TAHUN /)))- BAWAH 5 TAHUN.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))? ))< C Siapa yang biasa mengurus (NAMA ANAK TERKECIL DI RUMAH) waktu Ibu bekerja? RESPONDEN...01 SUAMI...02 KAKAK PEREMPUAN...03 KAKAK LAKI-LAKI...04 KELUARGA...05 TETANGGA...06 TEMAN...07 PEMBANTU...08 ANAK DI SEKOLAH...09 TEMPAT PENITIPAN ANAK...10 TIDAK BEKERJA SEJAK KELAHIRAN ANAK TERAKHIR...11 LAINNYA 96 (TULISKAN) 715 Apakah Ibu bekerja sepanjang tahun, musiman, atau sesekali saja? SEPANJANG TAHUN...1 MUSIMAN...2 SESEKALI Apakah Ibu memperoleh upah/gaji atau pendapatan berupa uang atau barang untuk pekerjaan tersebut, atau tidak dibayar sama sekali? HANYA UANG...1 UANG DAN BARANG...2 HANYA BARANG...3 ), TIDAK DIBAYAR...4 )2< Lampiran F 367

387 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 717 LIHAT 106A: STATUS PERKAWINAN RESPONDEN KAWIN +)), /))- *? Siapa yang menentukan penggunaan uang yang Ibu peroleh: Ibu sendiri, suami Ibu, Ibu dengan suami Ibu, orang lain, atau Ibu dengan orang lain? CERAI HIDUP/ +)), CERAI MATI /))- *? Siapa yang menentukan penggu-naan uang yang Ibu peroleh: Ibu sendiri, orang lain, atau Ibu dengan orang lain? RESPONDEN...1 SUAMI RESPONDEN...2 RESPONDEN DGN SUAMI...3 ORANG LAIN...4 RESPONDEN DGN ORANG LAIN Secara rata-rata, berapakah pengeluaran rumah tangga yang menggunakan upah/gaji/pendapatan Ibu: hampir tidak ada, kurang dari separo, separo, lebih dari separo, atau semua? TIDAK ADA, SEMUANYA DITABUNG.. 1 HAMPIR TIDAK ADA...2 KURANG DARI SEPARO...3 SEPARO...4 LEBIH DARI SEPARO...5 SEMUA...6 TIDAK TAHU Siapa dalam keluarga Ibu yang biasanya memutuskan mengenai: RESPONDEN = 1 SUAMI RESPONDEN = 2 RESPONDEN DENGAN SUAMI = 3 ORANG LAIN = 4 RESPONDEN DENGAN ORANG LAIN = 5 KEPUTUSAN TIDAK DIBUAT/TIDAK DITERAPKAN = 6 Pemeriksaan kesehatan Ibu? Pembelian kebutuhan barang tahan lama? Pembelian kebutuhan sehari-hari? Kunjungan ke keluarga? Jenis makanan yang akan dimasak setiap hari? 720 KEHADIRAN ORANG LAIN PADA PERTANYAAN INI (HADIR DAN MENDENGARKAN, HADIR TETAPI TIDAK MENDENGARKAN, ATAU TIDAK HADIR) HADIR/ HADIR/ TIDAK DENGAR TIDAK HADIR DENGAR ANAK-ANAK < 10 TH SUAMI LAKI-LAKI LAIN PEREMPUAN LAIN Kadang-kadang seorang suami merasa kesal atau marah dengan tingkah laku istrinya. Menurut Ibu, apakah seorang suami berhak untuk memukul istrinya jika: YA TDK TT Istri pergi tanpa memberitahu suaminya? Istri mengabaikan anak-anak? Istri bertengkar dengan suaminya? Istri menolak untuk kumpul dengan suaminya? Istri masak makanan yang tidak bisa dimakan? PERGI TANPA IZIN MENGABAIKAN ANAK BERTENGKAR MENOLAK KUMPUL MASAKAN TIDAK BISA DIMAKAN Appendix F 41

388 BAGIAN 8. AIDS DAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL LAINNYA NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 801 Sekarang saya ingin membicarakan hal lain. Apakah Ibu pernah mendengar tentang penyakit AIDS? YA... 1 TIDAK... 2 ))< A Dari mana Ibu mengetahui tentang penyakit AIDS? Ada sumber lain? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. RADIO... A TELEVISI... B SURAT KABAR/MAJALAH... C SELEBARAN/POSTER... D PETUGAS KESEHATAN... E PERKUMPULAN KEAGAMAAN... F SEKOLAH/GURU... G PERTEMUAN MASYARAKAT... H TEMAN/KELUARGA... I TEMPAT KERJA... J LAINNYA X (TULISKAN) 802 Apakah ada sesuatu cara yang dapat dilakukan seseorang untuk menghindari penyakit AIDS atau virus yang menyebabkan AIDS? 803 Apa yang dapat dilakukan? Ada cara lain? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 PUASA KUMPUL... A PAKAI KONDOM KETIKA KUMPUL.. B HANYA KUMPUL DENGAN SATU PASANGAN... C MEMBATASI JUMLAH PASANGAN KUMPUL... D MENGHINDARI KUMPUL DENGAN PELACUR... E MENGHINDARI KUMPUL DENGAN ORANG YANG PUNYA BANYAK PASANGAN... F MENGHINDARI KUMPUL DENGAN PASANGAN SEJENIS... G MENGHINDARI KUMPUL DENGAN ORANG YANG MENGGUNAKAN JARUM SUNTIK (NARKOBA)... H MENGHINDARI TRANSFUSI DARAH.. I MENGHINDARI SUNTIKAN... J MENGHINDARI PENGGUNAAN PISAU CUKUR SECARA BERSAMA-SAMA K MENGHINDARI BERCIUMAN... L MENGHINDARI GIGITAN NYAMUK.. M MENCARI PERLINDUNGAN DARI DUKUN... N ), )2< 809 LAINNYA (TULISKAN) W LAINNYA X (TULISKAN) TIDAK TAHU... Z 804 Apakah seseorang dapat mengurangi kemungkinan terjangkit penyakit AIDS dengan hanya mempunyai seorang pasangan yang tidak punya pasangan lain? 805 Apakah seseorang dapat terkena penyakit AIDS karena gigitan nyamuk? 806 Apakah seseorang dapat mengurangi kemungkinan terjangkit virus penyebab penyakit AIDS dengan menggunakan kondom setiap kali kumpul? 807 Apakah seseorang dapat tertular penyakit AIDS melalui makan sepiring dengan penderita AIDS? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU Lampiran F 369

389 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 808 Apakah seseorang dapat mengurangi kemungkinan terjangkit penyakit AIDS dengan cara minum obat seperti jamu atau antibiotik sebelum kumpul? 809 Apakah dengan melihat penampilan seseorang dapat diketahui bahwa ia menderita penyakit HIV/AIDS? 810 Apakah Ibu kenal secara pribadi seseorang yang terkena virus penyebab penyakit AIDS atau seseorang yang meninggal karena AIDS? 811 Apakah virus penyebab penyakit AIDS dapat ditularkan dari seorang Ibu ke anaknya? 812 Apakah virus penyebab penyakit AIDS dapat ditularkan dari seorang Ibu ke anaknya: Selama hamil? Saat melahirkan? Dengan menyusui? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA TDK TT SELAMA HAMIL SAAT MELAHIRKAN DENGAN MENYUSUI ), )2< LIHAT 106A: STATUS PERKAWINAN RESPONDEN KAWIN +))), CERAI HIDUP/ +))), /)))- CERAI MATI.)))2))))))))))))))))))))))? ))< Apakah Ibu pernah membicarakan dengan suami Ibu cara agar tidak tertulari virus penyebab penyakit AIDS? 815 Jika salah satu anggota keluarga tertular virus penyebab penyakit AIDS, apakah Ibu akan merahasiakannya? 816 Jika saudara/keluarga Ibu menderita AIDS, apakah Ibu bersedia merawatnya di rumah Ibu? YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU/TIDAK YAKIN... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TT/TIDAK YAKIN/TERGANTUNG A Apakah Ibu mengetahui bahwa ada pemeriksaan/tes untuk mengetahui apakah seseorang terkena AIDS? YA... 1 TIDAK... 2 ))< B Apakah Ibu tahu di mana tempat pemeriksaan/tes AIDS? YA... 1 TIDAK Selain AIDS, apakah Ibu pernah mendengar infeksi lain yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual seperti penyakit kelamin? YA... 1 TIDAK... 2 ))< A Dari manakah Ibu memperoleh informasi tentang penyakit menular seksual (PMS)? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP SUMBER YANG DISEBUT. RADIO... A TELEVISI... B SURAT KABAR/MAJALAH... C SELEBARAN/POSTER... D PETUGAS KESEHATAN... E PERKUMPULAN KEAGAMAAN... F SEKOLAH/GURU... G PERTEMUAN MASYARAKAT... H TEMAN/KELUARGA... I TEMPAT KERJA... J LAINNYA X (TULISKAN) 370 Appendix F 43

390 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 818 Jika seorang laki-laki tertular penyakit seksual, apakah gejalanya? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP GEJALA YANG DISEBUT. NYERI PERUT... A NANAH KELUAR DARI ALAT KELAMIN/KENCING NANAH... B CAIRAN BAU KELUAR DARI ALAT KELAMIN... C RASA NYERI/PANAS DI SALURAN KENCING... D KEMERAHAN/RADANG PADA ALAT KELAMIN... E BENGKAK PADA ALAT KELAMIN... F LUKA/BISUL PADA ALAT KELAMIN.. G KUTIL PADA ALAT KELAMIN... H GATAL PADA ALAT KELAMIN... I KENCING DARAH... J BERAT BADAN TURUN... K IMPOTEN... L LAINNYA W (TULISKAN) LAINNYA X (TULISKAN) TIDAK ADA GEJALA... Y TIDAK TAHU... Z 819 Jika seorang perempuan tertular penyakit seksual, apakah gejalanya? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP GEJALA YANG DISEBUT. NYERI PERUT... A KEPUTIHAN... B KEPUTIHAN YANG BERBAU... C RASA NYERI/PANAS DI SALURAN KENCING... D KEMERAHAN/RADANG PADA ALAT KELAMIN... E BENGKAK PADA ALAT KELAMIN... F LUKA/BISUL PADA ALAT KELAMIN.. G KUTIL PADA ALAT KELAMIN... H GATAL PADA ALAT KELAMIN... I KENCING DARAH... J BERAT BADAN TURUN... K SULIT HAMIL/MENDAPAT ANAK... L LAINNYA LAINNYA (TULISKAN) (TULISKAN) W X TIDAK ADA GEJALA... Y TIDAK TAHU... Z 44 Lampiran F 371

391 BAGIAN 9. KEMATIAN IBU 901. Sekarang saya ingin bertanya tentang saudara kandung laki-laki dan perempuan Ibu, yaitu anak-anak yang dilahirkan oleh Ibu kandung Ibu, termasuk yang tinggal bersama Ibu, tinggal di tempat lain, maupun yang telah meninggal. Berapa jumlah anak yang dilahirkan oleh Ibu kandung Ibu, termasuk Ibu? JUMLAH ANAK DARI IBU KANDUNG *)))*)))* JIKA JAWABAN 01' +))), ATAU IBU ANAK TUNGGAL.)))2))))))))< Di antara semua kelahiran, berapa orang yang lebih tua dari Ibu? JUMLAH KELAHIRAN SEBELUM KELAHIRAN IBU *)))*)))* PERTANYAAN DAN SARINGAN (1) (2) (3) (4) (5) (6) 903. Siapakah nama saudara kandung laki-laki dan perempuan Ibu? (CATAT MULAI DARI YG TERTUA) 904. Apakah (NAMA) laki-laki atau perempuan? 905. Apakah (NAMA) masih hidup? LK... 1 PR... 2 YA... 1, TIDAK... 2, KE 908 =))- TDK TAHU 8, KE (2) =)) Berapa umur (NAMA)? *)))*)))* < 10 KE (2) 907. Apakah (NAMA) pernah kawin? 908. Pada tahun berapa (NAMA) meninggal? 909. Berapa umur (NAMA) saat meninggal? 911. Apakah (NAMA) meninggal pada saat hamil atau saat melahirkan? 912. Apakah (NAMA) meninggal dalam masa nifas (1-42 hari) setelah berakhirnya kehamilan? 913. Apakah (NAMA) meninggal berkaitan dengan kesulitan pada waktu hamil, persalinan atau masa nifas? 914. Berapa anak yang dilahirkan (NAMA) (sebelum kehamilan tersebut)? 915. Apakah (NAMA) pernah kawin? YA... 1 KE (2) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (2) YA... 1, KE 913 =))- TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA... 1, TIDAK KE (2) =)))- LK... 1 PR... 2 YA... 1, TIDAK... 2, KE 908 =))- TDK TAHU 8, KE (3) =))- *)))*)))* < 10 KE (3) YA... 1 KE (3) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (3) YA... 1, KE 913 =))- TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA... 1, TIDAK KE (3) =)))- LK... 1 PR... 2 YA... 1, TIDAK... 2, KE 908 =))- TDK TAHU 8, KE (4) =))- *)))*)))* < 10 KE (4) YA... 1 KE (4) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (4) YA... 1, KE 913 =))- TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA... 1, TIDAK KE (4) =)))- LK... 1 PR... 2 YA... 1, TIDAK... 2, KE 908 =))- TDK TAHU 8, KE (5) =))- *)))*)))* < 10 KE (5) YA... 1 KE (5) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (5) YA... 1, KE 913 =))- TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA... 1, TIDAK KE (5) =)))- LK... 1 PR... 2 YA... 1, TIDAK... 2, KE 908 =))- TDK TAHU 8, KE (6) =))- *)))*)))* < 10 KE (6) YA... 1 KE (6) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (6) YA... 1, KE 913 =))- TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA... 1, TIDAK KE (6) =)))- LK... 1 PR... 2 YA...1, TIDAK...2, KE 908 =))- TDK TAHU. 8, KE (7) =))- *)))*)))* < 10 KE (7) YA... 1 KE (7) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (7) YA...1, KE 913 =))- TIDAK...2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA...1, TIDAK KE (7) =)))- 372 Appendix F 45

392 PERTANYAAN DAN SARINGAN (7) (8) (9) (10) (11) (12) 903. Siapakah nama saudara kandung laki-laki dan perempuan Ibu? (CATAT MULAI DARI YG TERTUA) 904. Apakah (NAMA) laki-laki atau perempuan? 905. Apakah (NAMA) masih hidup? LK... 1 PR... 2 YA... 1, TIDAK... 2, KE 908 =))- TDK TAHU 8, KE (8) =)) Berapa umur (NAMA)? *)))*)))* < 10 KE (8) 907. Apakah (NAMA) pernah kawin? 908. Pada tahun berapa (NAMA) meninggal? 909. Berapa umur (NAMA) saat meninggal? 911. Apakah (NAMA) meninggal pada saat hamil atau saat melahirkan? 912. Apakah (NAMA) meninggal dalam masa nifas (1-42 hari) setelah berakhirnya kehamilan? 913. Apakah (NAMA) meninggal berkaitan dengan kesulitan pada waktu hamil, persalinan atau masa nifas? 914. Berapa anak yang dilahirkan (NAMA) (sebelum kehamilan tersebut)? 915. Apakah (NAMA) pernah kawin? YA... 1 KE (8) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (8) YA... 1, KE 913 =))- TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA... 1, TIDAK KE (8) =)))- LK... 1 PR... 2 YA... 1, TIDAK... 2, KE 908 =))- TDK TAHU 8, KE (9) =))- *)))*)))* < 10 KE (9) YA... 1 KE (9) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (9) YA... 1, KE 913 =))- TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA... 1, TIDAK KE (9) =)))- LK... 1 PR... 2 YA... 1, TIDAK... 2, KE 908 =))- TDK TAHU 8, KE (10) =))- *)))*)))* < 10 KE (10) YA... 1 KE (10) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (10) YA... 1, KE 913 =))- TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA... 1, TIDAK KE (10) =)))- LK... 1 PR... 2 YA... 1, TIDAK... 2, KE 908 =))- TDK TAHU 8, KE (11) =))- *)))*)))* < 10 KE (11) YA... 1 KE (11) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (11) YA... 1, KE 913 =))- TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA... 1, TIDAK KE (11) =)))- LK... 1 PR... 2 YA... 1, TIDAK... 2, KE 908 =))- TDK TAHU 8, KE (12) =))- *)))*)))* < 10 KE (12) YA... 1 KE (12) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (12) YA... 1, KE 913 =))- TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA... 1, TIDAK KE (12) =)))- LK... 1 PR... 2 YA...1, TIDAK...2, KE 908 =))- TDK TAHU. 8, KE (13) =))- *)))*)))* < 10 KE (13) YA... 1 KE (13) =))1 TIDAK ))0))0))0)), *))*))*))*))*.))2))2))2))- *)))*)))* JIKA LAKI- LAKI ATAU MENINGGAL SEBELUM BERUMUR 10 THN KE (13) YA...1, KE 913 =))- TIDAK...2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 *)))*)))* YA...1, TIDAK KE (13) =)))- 916 CATAT WAKTU JAM... *!!!*!!!* /)))3)))1 MENIT... *!!!*!!!* 46 Lampiran F 373

393 PENGAMATAN PENCACAH DIISI SETELAH WAWANCARA SELESAI KOMENTAR TENTANG RESPONDEN: KOMENTAR PADA PERTANYAAN KHUSUS: KOMENTAR LAINNYA: PENGAMATAN PENGAWAS NAMA PENGAWAS: TANGGAL: PENGAMATAN EDITOR NAMA EDITOR: TANGGAL: 374 Appendix F 47

394 KALENDER INSTRUKSI: HANYA SATU KODE UNTUK SETIAP KOTAK (BULAN). UNTUK KOLOM 1 DAN 4, SEMUA KOTAK (BULAN) HARUS DIISI. KETERANGAN KODE UNTUK MASING-MASING KOLOM: KOL. 1: KELAHIRAN, KEHAMILAN, PENGGUNAAN KONTRASEPSI L H K LAHIR HIDUP KEHAMILAN GUGUR/LAHIR MATI 0 TIDAK MEMAKAI KONTRASEPSI 1 STERILISASI WANITA 2 STERILISASI PRIA 3 PIL 4 IUD/AKDR/SPIRAL 5 SUNTIKAN 6 SUSUK KB 7 KONDOM 8 INTRAVAG/DIAFRAGMA M METODE MENYUSUI ALAMI P PANTANG BERKALA T SANGGAMA TERPUTUS X LAINNYA (TULISKAN) KOL. 2: SUMBER KONTRASEPSI 1 RUMAH SAKIT PEMERINTAH 2 PUSKESMAS/PUSKESMAS PEMBANTU 3 KLINIK PEMERINTAH 4 PLKB 5 TKBK/TMK 6 RUMAH SAKIT SWASTA 7 KLINIK SWASTA 8 DOKTER PRAKTEK 9 BIDAN PRAKTEK A BIDAN DI DESA B APOTEK/TOKO OBAT C POLINDES D POSYANDU E POS KB/PPKBD F TEMAN/KELUARGA G TOKO X LAINNYA (TULISKAN) KOL. 3: ALASAN BERHENTI (GANTI) MEMAKAI KONTRASEPSI KOL. 4: 0 JARANG KUMPUL /SUAMI JAUH 1 HAMIL KETIKA MEMAKAI 2 INGIN HAMIL 3 SUAMI TIDAK SETUJU 4 INGIN CARA YANG LEBIH EFEKTIF 5 MASALAH KESEHATAN 6 EFEK SAMPINGAN 7 SUKAR DIPEROLEH/TEMPAT JAUH 8 BIAYA MAHAL 9 TIDAK NYAMAN F TIDAK PEDULI/MASA BODOH M MENOPAUSE/MATI HAID C CERAI/SUAMI MENINGGAL N LEPAS SENDIRI X LAINNYA (TULISKAN) T TIDAK TAHU STATUS PERKAWINAN X KAWIN 0 TIDAK KAWIN APR APR 2 0 MAR MAR 0 0 PEB PEB 0 3 JAN JAN 3 DES DES NOV NOV OKT OKT SEP SEP 2 AGT AGT 2 0 JUL JUL 0 0 JUN JUN 0 2 MEI MEI 2 APR APR MAR MAR PEB PEB JAN JAN DES DES NOV NOV OKT OKT SEP SEP 2 AGT AGT 2 0 JUL JUL 0 0 JUN JUN 0 1 MEI MEI 1 APR APR MAR MAR PEB PEB JAN JAN DES DES NOV NOV OKT OKT SEP SEP 2 AGT AGT 2 0 JUL JUL 0 0 JUN JUN 0 0 MEI MEI 0 APR APR MAR MAR PEB PEB JAN JAN DES DES NOV NOV OKT OKT SEP SEP 1 AGT AGT 1 9 JUL JUL 9 9 JUN JUN 9 9 MEI MEI 9 APR APR MAR MAR PEB PEB JAN JAN DES DES NOV NOV OKT OKT SEP SEP 1 AGT AGT 1 9 JUL JUL 9 9 JUN JUN 9 8 MEI MEI 8 APR APR MAR MAR PEB PEB JAN JAN DES DES NOV NOV OKT OKT SEP SEP 1 AGT AGT 1 9 JUL JUL 9 9 JUN JUN 9 7 MEI MEI 7 APR APR MAR MAR PEB PEB JAN JAN 48 Lampiran F 375

395 SDKI02-PK SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA 2002 DAFTAR PERTANYAAN PRIA Rahasia I. PENGENALAN TEMPAT KODE 1. PROPINSI 2. KABUPATEN/KOTA *) 3. KECAMATAN 4. DESA/KELURAHAN *) 5. DAERAH **) PERKOTAAN - 1 PERDESAAN NOMOR BLOK SENSUS 7. NOMOR KODE SAMPEL SDKI NOMOR URUT RUMAH TANGGA NAMA KEPALA RUMAH TANGGA 10. NAMA RESPONDEN 11. NOMOR URUT RESPONDEN... *!!!*!!!* /)))3)))1 *!!!*!!!* +)))3)))3)))1 *!!!*!!!*!!!* /)))3)))3)))1 *!!!*!!!*!!!*.)))2)))3)))1 *!!!*.)))- +)))0)))0)))0))), *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))3)))3)))1 *!!!*!!!* *!!!*!!!* II. KUNJUNGAN PETUGAS KUNJUNGAN AKHIR TANGGAL WAWANCARA NAMA PEWAWANCARA HASIL KUNJUNGAN ***) TANGGAL *!!!*!!!* /)))3)))1 BULAN *!!!*!!!* +)))0)))3)))3)))1 TAHUN *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))3)))3)))3)))1 PEWAWANCARA *!!!*!!!*!!!*.)))2)))3)))1 HASIL KUNJUNGAN *!!!*.)))- KUNJ. BERIKUT TGL JAM JUMLAH KUNJUNGAN +))), *!!!*.)))- ***) PILIH SALAH SATU DAN ISIKAN KODE HASIL KUNJUNGAN 1. SELESAI 2. RESP. TIDAK ADA DI RUMAH 3. DITANGGUHKAN 4. DITOLAK 5. SELESAI SEBAGIAN 6. RESP. TIDAK/KURANG MAMPU MENJAWAB 7. LAINNYA (TULISKAN) EDITOR LAPANGAN PENGAWAS EDITOR BPS PONSER NAMA TANGGAL *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *!!!*!!!* *) Coret yang tidak sesuai **) Lingkari salah satu Lampiran F 377

396 BAGIAN 1. LATAR BELAKANG RESPONDEN PERNYATAAN PERSETUJUAN Selamat pagi (siang, sore,...). Nama saya... dan saya adalah salah seorang petugas dari Badan Pusat Statistik yang sedang melaksanakan survei mengenai kesehatan wanita, pria dan anak. Kami akan sangat menghargai kesertaan Bapak dalam survei ini. Saya ingin bertanya mengenai Bapak dan keluarga Bapak. Keterangan ini akan membantu pemerintah dalam merencanakan pelayanan kesehatan. Wawancara akan berlangsung sekitar 30 menit. Keterangan apapun yang Bapak berikan akan dijaga kerahasiaannya dan tidak akan diberitahukan kepada pihak lain. Partisipasi dalam survei ini bersifat sukarela dan Bapak dapat memilih untuk tidak menjawab beberapa atau semua pertanyaan. Namun, kami berharap Bapak akan tidak menolak untuk diwawancarai karena pandangan dan jawaban Bapak dalam survei ini sangat penting. Sekarang, apakah ada yang ingin Bapak tanyakan mengenai survei ini? Apakah saya boleh mulai mewawancarai Bapak sekarang? Tanda tangan pewawancara: Tanggal: RESPONDEN SETUJU DIWAWANCARAI...1 RESPONDEN TIDAK SETUJU DIWAWANCARAI...2 ± SELESAI NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 101 CATAT WAKTU JAM...*!!!*!!!* /)))3)))1 MENIT...*!!!*!!!* 108 Pada bulan apa dan tahun berapa Bapak dilahirkan? BULAN...*!!!*!!!* TIDAK TAHU BULAN )))0)))0)))0))), TAHUN...*!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))2)))- TIDAK TAHU TAHUN Berapa umur Bapak pada ulang tahun terakhir? 109A BANDINGKAN DAN PERBAIKI 108 DAN ATAU 109 JIKA TIDAK SESUAI. JIKA UMUR KURANG DARI 15 TAHUN ATAU LEBIH DARI 54 TAHUN WAWANCARA SELESAI. PERBAIKI DAFTAR SDKI02-RT BAGIAN III KOLOM (7). Apakah Bapak sekarang berstatus belum kawin, kawin, cerai hidup, atau cerai mati? BELUM KAWIN...1 KAWIN...2 CERAI HIDUP...3 CERAI MATI B LIHAT 109 DAN 109A: UMUR DALAM TAHUN...*!!!*!!!* (BILANGAN BULAT) UMUR TAHUN +))), LAINNYA +))), DAN BERSTATUS KAWIN /)))-.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))))))<SELE-? ))<SAI 110 Apakah Bapak pernah sekolah? YA...1 TIDAK...2 ))< Apakah jenjang sekolah tertinggi yang pernah/sedang Bapak duduki: sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan tingkat atas, akademi atau universitas? 112 Apakah kelas/tingkat tertinggi yang Bapak selesaikan pada jenjang tersebut? TAMAT = 7 SEKOLAH DASAR...1 SEKOLAH LANJUTAN TKT PERTAMA. 2 SEKOLAH LANJUTAN TKT ATAS...3 AKADEMI/DI/DII/DIII...4 UNIVERSITAS/DIV...5 +))), KELAS/TINGKAT...*!!!*.)))- 378 Appendix F 1

397 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 113 LIHAT 111: SD +))), SLTP +))), /)))- KE ATAS.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 117? 114 Sekarang saya minta Bapak untuk membacakan kalimat ini. TUNJUKKAN SALAH SATU KARTU. JIKA RESPONDEN TIDAK DAPAT MEMBACA KALIMAT SECARA LENGKAP, TANYAKAN: Dapatkah Bapak membaca sebagian kalimat ini? 115 Apakah Bapak pernah mengikuti program melek huruf atau program lain yang mengajarkan cara membaca atau menulis (tidak termasuk SD)? TIDAK BISA MEMBACA SAMA SEKALI...1 BISA MEMBACA SEBAGIAN KALIMAT...2 BISA MEMBACA SELURUH KALIMAT...3 YA...1 TIDAK LIHAT 114: KODE 2' ATAU 3' +))), KODE 1' +))), DILINGKARI /)))- DILINGKARI.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))? ))< Apakah Bapak biasanya membaca surat kabar atau majalah hampir setiap hari, paling sedikit sekali seminggu, kurang dari sekali seminggu atau tidak membaca sama sekali? 118 Apakah Bapak biasanya mendengarkan radio hampir setiap hari, paling sedikit sekali seminggu, kurang dari sekali seminggu atau tidak mendengarkan radio sama sekali? 119 Apakah Bapak biasanya menonton televisi hampir setiap hari, paling sedikit sekali seminggu, kurang dari sekali seminggu atau tidak menonton sama sekali? HAMPIR SETIAP HARI...1 PALING SEDIKIT SEKALI SEMINGGU. 2 JARANG SEKALI...3 TIDAK SAMA SEKALI...4 HAMPIR SETIAP HARI...1 PALING SEDIKIT SEKALI SEMINGGU. 2 JARANG SEKALI...3 TIDAK SAMA SEKALI...4 HAMPIR SETIAP HARI...1 PALING SEDIKIT SEKALI SEMINGGU. 2 JARANG SEKALI...3 TIDAK SAMA SEKALI A Apakah agama yang Bapak anut? ISLAM...01 KRISTEN PROTESTAN...02 KATHOLIK...03 HINDU...04 BUDHA...05 KONG HU CHU...06 LAINNYA Apakah Bapak sekarang bekerja? YA...1 ))< 120B TIDAK A Dalam 12 bulan terakhir apakah Bapak bekerja? YA...1 TIDAK...2 ))< B Apakah Bapak bekerja di bidang pertanian atau bukan pertanian? PERTANIAN...1 BUKAN PERTANIAN Apakah jenis pekerjaan utama Bapak? (TULIS SELENGKAP MUNGKIN, JANGAN MELINGKARI KODE JAWABAN DAN JANGAN MENGISI KOTAK). *!!!*!!!* (DIISI BPS) PROFESIONAL, TEKNISI...01 KEPEMIMPINAN DAN KETATALAKSANAAN...02 PEJABAT PELAKSANA DAN TATA USAHA...03 TENAGA USAHA PENJUALAN...04 TENAGA USAHA JASA...05 TENAGA USAHA PERTANIAN...06 TENAGA PRODUKSI...07 LAINNYA 96 (TULISKAN) TIDAK TAHU LIHAT 120B: BEKERJA DI +))), BEKERJA DI +))), PERTANIAN /)))- BUKAN PERTANIAN.)))2))))))))))))))))))))))))))))? ))< Lampiran F 379

398 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 125 Apakah Bapak bekerja di lahan pertanian milik sendiri, keluarga, lahan sewa, atau lahan milik orang lain? MILIK SENDIRI...1 MILIK KELUARGA...2 SEWA...3 MILIK ORANG LAIN Appendix F 3

399 BAGIAN 2. REPRODUKSI NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 201 Sekarang saya ingin bertanya mengenai semua anak Bapak. Apakah Bapak mempunyai anak kandung? 202 Apakah Bapak mempunyai anak kandung laki-laki atau perempuan yang sekarang tinggal bersama Bapak? 203 Berapa jumlah anak kandung laki-laki yang tinggal bersama Bapak? Dan berapa jumlah anak kandung perempuan yang tinggal bersama Bapak? JIKA TIDAK ADA, TULISKAN 00'. 204 Apakah Bapak mempunyai anak kandung laki-laki atau perempuan, yang sekarang masih hidup tetapi tidak tinggal bersama Bapak? 205 Berapa jumlah anak kandung laki-laki yang masih hidup tetapi tidak tinggal bersama Bapak? Dan berapa jumlah anak kandung perempuan yang masih hidup tetapi tidak tinggal bersama Bapak? JIKA TIDAK ADA, TULISKAN 00'. 206 Apakah Bapak mempunyai anak kandung laki-laki atau perempuan yang lahir hidup tetapi kemudian meninggal? JIKA TIDAK ADA, TANYAKAN: Apakah ada anak yang lahir dalam keadaan hidup tetapi hanya hidup untuk beberapa jam atau beberapa hari? 207 Berapa jumlah anak kandung laki-laki yang sudah meninggal? Dan berapa jumlah anak kandung perempuan yang sudah meninggal? JIKA TIDAK ADA, TULISKAN 00'. 209 JUMLAHKAN ISIAN DI 203, 205, DAN 207, DAN TULISKAN JUMLAHNYA. JIKA TIDAK ADA, TULISKAN 00'. YA... 1 TIDAK... 2 ))< 206 YA... 1 TIDAK... 2 ))< 204 ANAK LAKI-LAKI *!!!*!!!* DI RUMAH... ANAK PEREMPUAN *!!!*!!!* DI RUMAH... YA... 1 TIDAK... 2 ))< 206 ANAK LAKI-LAKI *!!!*!!!* DI TEMPAT LAIN... ANAK PEREMPUAN *!!!*!!!* DI TEMPAT LAIN... YA... 1 TIDAK... 2 ))< 209 ANAK LAKI-LAKI YANG *!!!*!!!* SUDAH MENINGGAL... ANAK PEREMPUAN YANG *!!!*!!!* SUDAH MENINGGAL... JUMLAH... *!!!*!!!* 210 LIHAT 209: JUMLAH ANAK = 0 +))),.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 301 JUMLAH ANAK = 2 +))), JUMLAH +))), ATAU LEBIH /)))- ANAK = 1.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 213? 211 Apakah semua anak kandung Bapak dilahirkan oleh seorang ibu? YA... 1 TIDAK Berapa umur Bapak ketika kelahiran anak yang pertama? UMUR DALAM TAHUN... *!!!*!!!* 4 Lampiran F 381

400 BAGIAN 3. PENGETAHUAN DAN PRAKTEK KELUARGA BERENCANA Sekarang saya ingin berbicara mengenai keluarga berencana. Ada beberapa cara atau alat yang dapat digunakan oleh suatu pasangan untuk menunda atau mencegah terjadinya kehamilan. LINGKARI KODE 1 PADA 301 UNTUK SETIAP ALAT/CARA YANG DISEBUT SPONTAN, KEMUDIAN TANYAKAN BERURUTAN KE BAWAH KOLOM 301. BACAKAN NAMA DAN PENJELASAN MASING-MASING ALAT/CARA YANG TIDAK DISEBUT SPONTAN. LINGKARI KODE 1 UNTUK ALAT/CARA YANG PERNAH DIDENGAR, ATAU KODE 2 UNTUK YANG TIDAK PERNAH DIDENGAR. UNTUK ALAT/CARA YANG BERKODE 1 PADA 301, TANYAKAN Cara apakah yang Bapak pernah dengar? (Apakah Bapak pernah mendengar:) 01 STERILISASI WANITA/TUBEKTOMI. Wanita dapat dioperasi agar tidak mempunyai anak lagi 02 STERILISASI PRIA/VASEKTOMI. Pria dapat dioperasi agar tidak mempunyai anak lagi 03 PIL. Wanita dapat minum pil setiap hari untuk mencegah kehamilan 04 IUD/AKDR/SPIRAL. Wanita bisa dipasangi spiral dalam rahimnya oleh dokter atau bidan 05 SUNTIKAN. Wanita bisa disuntik oleh dokter atau bidan untuk mencegah kehamilan selama satu bulan atau lebih 06 SUSUK KB. Wanita dapat diberi beberapa batang susuk di bawah kulit lengan atas untuk mencegah terjadinya kehamilan selama satu tahun atau lebih 07 KONDOM/KARET KB. Pria dapat memakai sarung dari karet selama kumpul 08 INTRAVAG/DIAFRAGMA. Wanita bisa meletakkan tisyu atau diafragma dalam vagina sebelum kumpul 09 METODE MENYUSUI ALAMI. Sampai dengan 6 bulan setelah kelahiran anak, wanita bisa menggunakan cara ini, yang mengha-ruskan Ibu untuk menyusui terus menerus siang dan malam, sehingga haidnya tertunda. 10 PANTANG BERKALA/KALENDER. Pasangan sengaja tidak kumpul pada hari-hari tertentu pada waktu wanita berkemungkinan besar untuk menjadi hamil 11 SANGGAMA TERPUTUS. Pria dapat mengeluarkan air maninya di luar vagina ketika kumpul 12 CARA-CARA LAIN. Apakah Bapak pernah mendengar cara atau alat lain yang dapat dipakai oleh wanita atau pria untuk mencegah kehamilan atau kelahiran? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA...1 ), TIDAK...2 ),? YA... 1 (TULISKAN) 302. Apakah Bapak pernah memakai (ALAT/CARA KB)? Apakah istri Bapak pernah di opera-si agar tidak mempunyai anak lagi? YA... 1 TIDAK... 2 Apakah Bapak pernah dioperasi agar tidak mempunyai anak lagi? YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 (TULISKAN) TIDAK Appendix F 5

401 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 302A Apakah Bapak sekarang memakai alat/cara KB? YA...1 TIDAK...2 ))< 302C 302B Alat/cara KB apa yang Bapak pakai? STERILISASI PRIA...1 KONDOM...2 PANTANG BERKALA...3 SANGGAMA TERPUTUS...4 LAINNYA 6 (TULISKAN) 302C Apakah sekarang istri Bapak memakai alat/cara KB? YA...1 TIDAK...2 TIDAK TAHU D Alat/cara KB apa yang istri Bapak pakai? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. STERILISASI WANITA... A STERILISASI PRIA... B PIL... C IUD/AKDR/SPIRAL... D SUNTIKAN... E SUSUK KB... F KONDOM... G INTRAVAG/DIAFRAGMA... H METODE MENYUSUI ALAMI... I PANTANG BERKALA...J SANGGAMA TERPUTUS... K LAINNYA X (TULISKAN) ), )2)< 302F 302F Apakah Bapak tahu tempat untuk memperoleh alat/cara KB? YA...1 TIDAK...2 ))< G Dimanakah itu? JIKA SUMBERNYA ADALAH RUMAH SAKIT, ATAU KLINIK, TULISKAN NAMANYA. TANYAKAN APAKAH DIKELOLA OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA. LINGKARI KODE YANG SESUAI. Adakah tempat lain? (NAMA TEMPAT) JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 308 Antara hari pertama haid dan hari pertama haid berikutnya, apakah ada hari-hari tertentu seorang wanita mempunyai kesempatan lebih besar dari hari-hari lain untuk hamil apabila kumpul? 309 Apakah hari-hari tersebut menjelang haid, selama haid, segera setelah haid berakhir, atau di tengah antara dua haid? 310 Menurut Bapak, apakah seorang wanita yang masih dalam masa menyusui dapat hamil bila kumpul dengan suaminya? PEMERINTAH RUMAH SAKIT... A PUSKESMAS/PUSKESMAS PEMBANTU... B KLINIK... C PLKB... D TKBK/TMK... E LAINNYA F (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT... G KLINIK... H DOKTER PRAKTEK... I BIDAN PRAKTEK...J BIDAN DI DESA... K APOTEK/TOKO OBAT...L LAINNYA M (TULISKAN) LAINNYA POLINDES... N POSYANDU... O POS KB/PPKBD... P TEMAN/KELUARGA... Q TOKO... R LAINNYA X (TULISKAN) YA...1 TIDAK...2 TIDAK TAHU...8 MENJELANG HAID...1 SELAMA HAID...2 SEGERA SETELAH HAID BERAKHIR 3 DI TENGAH ANTARA DUA HAID...4 LAINNYA 6 (TULISKAN) TIDAK TAHU...8 YA...1 TIDAK...2 TIDAK TAHU/TERGANTUNG...8 ), )2)< Lampiran F 383

402 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE 311 LIHAT 301(07) DAN 302 (07) : PENGETAHUAN DAN PEMAKAIAN KONDOM TERUS KE PERNAH DENGAR +))), PERNAH DENGAR +))), TAPI TIDAK PERNAH.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))) ))< 323 DAN PAKAI KONDOM /)))- PAKAI KONDOM * TIDAK PERNAH +))), * DENGAR KONDOM.)))2))))))))))))))) ))< 324? 314 Ketika Bapak kumpul, apakah Bapak menggunakan kondom setiap saat/selalu, kadang-kadang atau tidak sama sekali selama sebulan yang lalu? 316 Apakah Bapak pernah mengalami masalah selama menggunakan kondom? 316A 316B JIKA YA: Apakah masalahnya? TANYAKAN: Ada masalah lain? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. Apakah Bapak pernah melakukan hubungan seksual dengan memberi imbalan berupa uang maupun barang? Dalam 12 bulan terakhir, apakah Bapak pernah memberi imbalan untuk mendapat hubungan seksual? SELALU...1 KADANG-KADANG...2 TIDAK SAMA SEKALI...3 TIDAK PERNAH KUMPUL...4 TELALU MAHAL... A MALU MEMBELINYA... B SULIT PEMBUANGANNYA... C SULIT MEMAKAINYA... D MENURUNKAN GAIRAH... E MENGURANGI KENYAMANAN... F ISTRI TIDAK SUKA... G ISTRI JADI HAMIL... H REPOT... I KONDOM ROBEK...J LAINNYA X (TULISKAN) TIDAK MASALAH... Y YA...1 TIDAK...2 ))< 317 YA...1 TIDAK...2 ))< C Pada saat itu apakah Bapak menggunakan kondom? YA...1 TIDAK LIHAT 314: PENGGUNAAN KONDOM SELALU ATAU +))), TIDAK SAMA SEKALI/ +))), KADANG-KADANG /)))- TIDAK PERNAH KUMPUL.)))2)))))))))))))))))))))))))))))? ))< Dimanakah Bapak biasanya memperoleh kondom? JIKA SUMBERNYA ADALAH RUMAH SAKIT ATAU KLINIK, TULIS NAMA TEMPATNYA. TANYAKAN APAKAH DIKELOLA OLEH PEMERINTAH ATAU SWASTA. LINGKARI KODE YANG SESUAI. (NAMA TEMPAT) PEMERINTAH RUMAH SAKIT...11 PUSKESMAS/PUSKESMAS PEMBANTU...12 KLINIK...13 PLKB...14 TKBK/TMK...15 LAINNYA 16 (TULISKAN) SWASTA RUMAH SAKIT...21 KLINIK...22 DOKTER PRAKTEK...23 BIDAN PRAKTEK...24 APOTEK/TOKO OBAT...25 LAINNYA 26 (TULISKAN) LAINNYA POLINDES...31 POSYANDU...32 POS KB/PPKBD...33 TEMAN/KELUARGA...34 TOKO...35 LAINNYA 36 (TULISKAN) 320 Berapakah biasanya harga satu paket kondom? +)))0)))0))), Rp.... *!!!*!!!* *!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))- GRATIS TIDAK TAHU Berapa jumlah kondom dalam setiap paket? JUMLAH...*!!!*!!!* ), )2)< Appendix F 7

403 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE 322 Menurut Bapak, apakah harga kondom ini tidak mahal, masih bisa dijangkau atau terlalu mahal? 323 Sekarang saya akan membacakan beberapa pernyataan mengenai pendapat pria pada umumnya tentang penggunaan kondom. Apakah Bapak setuju atau tidak setuju dengan pernyataan ini: TIDAK MAHAL...1 TERJANGKAU...2 TERLALU MAHAL...3 TIDAK SE- SE- TIDAK TUJU TUJU TAHU TERUS KE Kondom mengurangi kenikmatan dalam berhubungan seksual. Kondom sangat tidak nyaman dipakai. Kondom dapat dipakai ulang. KURANG NIKMAT TIDAK NYAMAN DIPAKAI ULANG Kondom dapat melindungi dari penyakit. Seorang wanita tidak berhak mengatakan kepada pria agar memakai kondom. MELINDUNGI DARI PENYAKIT HAK WANITA LIHAT 301(02) DAN 302 (02) : PENGETAHUAN DAN STERILISASI PRIA PERNAH DENGAR +))), RESPONDEN +))), TAPI RESPONDEN /)))- DISTERILISASI.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))) ))< 326 TIDAK DISTERILISASI * * TIDAK PERNAH +))), * DENGAR STERILISASI.)))2))))))))))))))) ))< 328? 325 Ketika jumlah anak yang diinginkan sudah terpenuhi, apakah Bapak pernah mempertimbangkan untuk melakukan sterilisasi? 326 Menurut Bapak, apa saja keuntungan sterilisasi pria? TANYAKAN : Apa ada keuntungan lain? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 327 Mengapa Bapak tidak pernah mempertimbangkan untuk disterilisasi? TANYAKAN: Ada alasan lain? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. PERNAH MEMPERTIMBANGKAN... 1 TIDAK PERNAH MEMPERTIM- BANGKAN...2 TIDAK YAKIN...3 ISTRI SUDAH DISTERILISASI...4 PRIA MERASA AMAN... A METODE KB YANG EFEKTIF... B OPERASINYA AMAN... C LEBIH AMAN DARI STERILISASI WANITA... D BIAYA OPERASI TIDAK MAHAL... E BIAYA OPERASI LEBIH MURAH DARI STERILISASI WANITA... F OPERASINYA MUDAH... G MEMBERI KEBEBASAN PADA PRIA H LAINNYA X (TULISKAN) BERTENTANGAN DENGAN AGAMA... A TIDAK BAIK UNTUK KESEHATAN PRIA... B OPERASI TIDAK AMAN... C MASIH ADA ALAT/CARA KB LAIN YANG TERSEDIA... D KEMUNGKINAN INGIN ANAK LAGI. E KEMUNGKINAN INGIN MENIKAH LAGI... F BIAYA... G KEHILANGAN FUNGSI SEKSUAL.. H KEHILANGAN KEJANTANAN... I LAINNYA X (TULISKAN) ))< 327 ))< 328 ), )1 )1 )* )1 )3<328 )* )1 )1 )1 )- 8 Lampiran F 385

404 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE 328 Sekarang saya akan membacakan beberapa pernyataan tentang KB. Apakah Bapak setuju atau tidak setuju dengan pernyataan ini: TDK SE- SE- TDK TUJU TUJU TAHU TERUS KE KB adalah urusan wanita dan pria tak perlu merisaukannya. Wanita yang disterilisasi dapat berganti-ganti pasangan seksual. Disterilisasi buat pria adalah sama dengan dikebiri. Wanita yang bisa hamil, sehingga dialah yang seharusnya disterilisasi. URUSAN WANITA GANTI PASANGAN STERILISASI PRIA SAMA DENGAN PENGEBIRIAN WANITA YANG SEHARUSNYA DISTERILISASI Appendix F 9

405 BAGIAN 4. PERKAWINAN DAN SIKAP TERHADAP PEREMPUAN NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 401 Berapa kali Bapak menikah? SEKALI... 1 LEBIH DARI SEKALI Apakah istri Bapak tinggal bersama Bapak atau tinggal di tempat lain? TINGGAL BERSAMA... 1 TINGGAL DI TEMPAT LAIN TULISKAN NAMA ISTRI DAN NOMOR URUT DARI DAFTAR RUMAH TANGGA. JIKA IA TIDAK ADA DALAM DAFTAR RUMAH TANGGA, TULISKAN 00'. NAMA *!!!*!!!* NOMOR URUT: LIHAT 401: MENIKAH LEBIH +))), MENIKAH +))), DARI SEKALI /)))- SEKALI.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))? ))< Apakah Bapak mempunyai istri yang tidak tinggal di rumah tangga ini? 406 Siapakah nama istri Bapak yang tidak tinggal di rumah tangga ini? YA... 1 TIDAK... 2 ))< 407 NAMA 407 Pada umur berapa ketika Bapak menikah dengan istri Bapak (yang pertama)? 408 Berapa umur Bapak ketika melakukan hubungan seksual pertama kali? UMUR... *!!!*!!!* TIDAK TAHU UMUR... *!!!*!!!* 409 Umur berapa sebaiknya laki-laki menikah yang pertama kali? UMUR... *!!!*!!!* 410 Umur berapa sebaiknya perempuan menikah yang pertama kali? UMUR... *!!!*!!!* 411 Umur berapa sebaiknya perempuan melahirkan yang pertama kali? UMUR... *!!!*!!!* 412 Umur berapa sebaiknya perempuan tidak melahirkan lagi? UMUR... *!!!*!!!* 413 Siapa dalam keluarga Bapak yang biasanya memutuskan: Pemeriksaan kesehatan Bapak? Pembelian kebutuhan barang tahan lama? Pembelian kebutuhan sehari-hari? Mengunjungi famili atau keluarga? Jenis makanan yang akan dimasak setiap hari? RESPONDEN...= 1 ISTRI RESPONDEN...= 2 RESPONDEN DENGAN ISTRI...= 3 ORANG LAIN...= 4 RESPONDEN DENGAN ORANG LAIN...= 5 KEPUTUSAN TIDAK DIBUAT/TIDAK DITERAPKAN = Lampiran F 387

406 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 414 Kadang-kadang seorang suami merasa kesal atau marah dengan tingkah laku istrinya. Menurut Bapak, apakah seorang suami berhak memukul istrinya, jika: Istri pergi tanpa memberi tahu suaminya? Istri mengabaikan anak-anak? Istri bertengkar dengan suaminya? Istri menolak untuk kumpul dengan suaminya? Istri masak makanan yang tidak bisa dimakan? TDK YA TDK TAHU PERGI TANPA IZIN MENGABAIKAN ANAK BERTENGKAR MENOLAK KUMPUL MASAKAN TIDAK BISA DIMAKAN Appendix F 11

407 BAGIAN 5. PREFERENSI FERTILITAS NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 502 LIHAT 302 (02): RESPONDEN TIDAK +))), RESPONDEN +))), DISTERILISASI /)))- DISTERILISASI.)))2))))))))))))))))? ))< A TULISKAN NAMA ISTRI RESPONDEN. ISTRI PERTAMA ISTRI KEDUA JIKA LEBIH DARI DUA ORANG GUNAKAN DAFTAR TAMBAHAN. NO. URUT ART *!!!*!!!* NO. URUT ART *!!!*!!!* 503 Apakah (NAMA) sekarang hamil? YA...1), TIDAK...2 ), TT/TIDAK YAKIN...8)1 (TERUS KE 505) =)))))- YA...1 ), TIDAK...2 ), TT/TIDAK YAKIN...8 )1 (TERUS KE 505) =)))))- 504 Ketika (NAMA) hamil, apakah Bapak menginginkan kehamilan ini waktu itu, ingin hamil kemudian atau sama sekali tidak ingin hamil? 505 Dalam beberapa minggu yang akan datang, jika (NAMA) menjadi hamil, apakah itu merupakan masalah besar, masalah kecil, atau tidak masalah? 506 Menurut Bapak, apakah (NAMA) menginginkan jumlah anak yang sama, lebih banyak, atau lebih sedikit dari yang Bapak inginkan? 507 Dalam setahun yang lalu berapa kali Bapak membahas tentang KB dengan (NAMA)? 508 Menurut Bapak, apakah (NAMA) setuju atau tidak setuju jika suatu pasangan menggunakan metode kontrasepsi untuk mencegah kehamilan? 508A 509 LIHAT 503: WAKTU ITU...1 ), KEMUDIAN...2 )1 TIDAK SAMA SEKALI. 8 )1 (TERUS KE 506) =)))))- MASALAH BESAR... 1 MASALAH KECIL... 2 TIDAK MASALAH... 3 TIDAK DAPAT HAMIL... 4 (TERUS KE 507) =)))))- JUMLAH SAMA... 1 LEBIH BANYAK ANAK... 2 LEBIH SEDIKIT ANAK... 3 TIDAK TAHU... 8 TIDAK PERNAH... 1 SEKALI ATAU DUA KALI. 2 SERING... 3 SETUJU... 1 TIDAK SETUJU... 2 TIDAK TAHU... 8 TERUS KE 503 UNTUK ISTRI BERIKUTNYA. JIKA TIDAK ADA ISTRI LAIN, TERUS KE 509. WAKTU ITU...1 ), KEMUDIAN...2 )1 TIDAK SAMA SEKALI. 8 )1 (TERUS KE 506) =)))))- MASALAH BESAR... 1 MASALAH KECIL TIDAK MASALAH TIDAK DAPAT HAMIL... 4 (TERUS KE 507) =)))))- JUMLAH SAMA... 1 LEBIH BANYAK ANAK... 2 LEBIH SEDIKIT ANAK... 3 TIDAK TAHU... 8 TIDAK PERNAH... 1 SEKALI ATAU DUA KALI. 2 SERING... 3 SETUJU... 1 TIDAK SETUJU... 2 TIDAK TAHU... 8 TERUS KE 503 UNTUK ISTRI BERIKUTNYA. JIKA TIDAK ADA ISTRI LAIN, TERUS KE 509. TIDAK ADA/ TIDAK YAKIN +))), ISTRI HAMIL /)))-? Sekarang saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan mengenai masa yang akan datang. Apakah Bapak ingin mempunyai anak (lagi) atau ingin agar tidak mempunyai anak (lagi)? ADA ISTRI +))), HAMIL /)))-? Sekarang saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan mengenai masa yang akan datang. Setelah melahirkan anak dikandung sekarang, apakah Bapak ingin mempunyai anak (lagi) atau ingin agar tidak mempunyai anak (lagi)? INGIN ANAK/INGIN ANAK LAGI... 1 TIDAK INGIN ANAK (LAGI)... 2 TIDAK DAPAT HAMIL... 3 BELUM PASTI HAMIL... 4 TIDAK HAMIL... 5 ))< 516 ))< 521 ), )2< Berapa lama Bapak ingin menunggu mulai dari sekarang sampai kelahiran anak (berikutnya)? BULAN... 1 *!!!*!!!* /)))3)))1 TAHUN... 2 *!!!*!!!* SEGERA/SEKARANG LAINNYA 996 (TULISKAN) TIDAK TAHU Lampiran F 389

408 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 516 LIHAT 302A: PAKAI ALAT/CARA KB TIDAK, +))), YA, +))), TIDAK SEDANG PAKAI /)))- SEDANG PAKAI.)))2)))))))))))))))))))))))))))))? ))< Apakah Bapak berpikir akan memakai alat/cara KB untuk menunda atau mencegah kehamilan di masa yang akan datang? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 ), )2< Alat/cara KB apa yang Bapak ingin pakai? STERILISASI PRIA... 1 KONDOM... 2 PANTANG BERKALA... 3 SANGGAMA TERPUTUS... 4 LAINNYA 6 (LAINNYA) TIDAK YAKIN... 8 ), )1 )3< 521 )1 )- 519 Apa alasan utama Bapak tidak menggunakan alat/cara KB di masa yang akan datang? ALASAN FERTILITAS JARANG/PUASA KUMPUL ISTRI MENOPAUSE/ HISTEREKTOMI TIDAK SUBUR/MANDUL INGIN ANAK SEBANYAK MUNGKIN MENENTANG UNTUK MEMAKAI RESPONDEN MENENTANG ISTRI MENENTANG ORANG LAIN MENENTANG LARANGAN AGAMA KURANG PENGETAHUAN TIDAK TAHU ALAT/CARA KB TIDAK TAHU SUMBER ALASAN ALAT/CARA KB KESEHATAN TAKUT EFEK SAMPING KURANGNYA AKSES/ TERLALU JAUH BIAYA TERLALU MAHAL TIDAK NYAMAN BERTAMBAH GEMUK/KURUS LAINNYA 96 (TULISKAN) TIDAK TAHU LIHAT 203 DAN 205: ADA ANAK +)), MASIH HIDUP /))- *? Seandainya Bapak dapat kembali ke waktu Bapak baru saja meni-kah dan belum mempunyai anak dan Bapak dapat menentukan jumlah anak yang Bapak inginkan selama hidup, berapakah jumlah anak tersebut? TIDAK ADA ANAK +)), MASIH HIDUP /))- *? Seandainya Bapak dapat menentukan jumlah anak yang Bapak inginkan selama hidup, berapakah jumlah anak tersebut? JUMLAH... *!!!*!!!* LAINNYA 96 (TULISKAN) ))< 524 AJUKAN PERTANYAAN UNTUK MENDAPATKAN JAWABAN BERUPA ANGKA 522 Dari jumlah tersebut, berapa anak laki-laki yang diinginkan, berapa anak perempuan yang diinginkan dan berapa anak yang jenis kelaminnya tidak jadi masalah? APA LK PR SAJA JUMLAH... *!!!*!!!**!!!*!!!**!!!*!!!* LAINNYA (TULISKAN) 390 Appendix F 13

409 NO PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 524 Dalam 6 bulan terakhir, apakah Bapak pernah mendengar/melihat acara tentang KB: YA TIDAK Di radio? Di televisi? RADIO TELEVISI A Dalam 6 bulan terakhir, apakah Bapak pernah membaca tentang KB: YA TIDAK Di koran atau majalah? Di poster? Di pamflet? 526 Dalam 6 bulan terakhir, apakah Bapak pernah membicarakan tentang KB dengan teman, tetangga atau keluarga? 527 Dengan siapa? Siapa lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. KORAN/MAJALAH POSTER PAMFLET YA... 1 TIDAK... 2 ))< 601A ISTRI... A IBU... B BAPAK... C SAUDARA PEREMPUAN... D SAUDARA LAKI-LAKI... E ANAK PEREMPUAN... F ANAK LAKI-LAKI... G IBU MERTUA... H TEMAN/TETANGGA... I LAINNYA X (TULISKAN) 14 Lampiran F 391

410 BAGIAN 6. PARTISIPASI DALAM PERAWATAN KESEHATAN NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 601A LIHAT 209: PUNYA ANAK SATU +))), TIDAK/BELUM +))), ORANG ATAU LEBIH /)))- PUNYA ANAK.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 701? 602 Nama dan jenis kelamin (ANAK TERAKHIR): (NAMA ANAK) LAKI-LAKI... 1 PEREMPUAN Bulan dan tahun berapa (NAMA ANAK) dilahirkan? BULAN... *!!!*!!!* +)))0)))0)))0))), TAHUN... *!!!*!!!*!!!*!!!*.)))2)))2)))2)))- 607 LIHAT 603: LAHIR SEJAK +))), LAHIR SEBELUM +))), JANUARI 1997 /)))- JANUARI 1997.)))2))))))))))))))))))))))))))))))))) )))< 616? 612 TANYAKAN PERTANYAAN 612, PERTAMA UNTUK KEHAMILAN, KEMUDIAN PERSALINAN, DAN SELANJUTNYA UNTUK 6 MINGGU SETELAH PERSALINAN. SEMUA PERTANYAAN MERUJUK KE KELAHIRAN ANAK YANG TERAKHIR. Apakah (NAMA IBU ANAK) mendapat konsultasi atau perawatan kesehatan dari dokter atau petugas kesehatan lainnya selama (kehamilan/persalinan/6 minggu setelah persalinan)? KEHAMILAN PERSALINAN 6 MINGGU SETELAH PERSALINAN YA... 1, TIDAK... 2 * TIDAK TAHU (KE 612 KOLOM=)- BERIKUTNYA) YA... 1, TIDAK... 2 * TIDAK TAHU (KE 612 KOLOM=)- BERIKUTNYA) YA...1 TIDAK...2 TIDAK TAHU Kadangkala kehamilan mengalami masalah yang dapat menyebabkan keguguran atau bahkan kematian. Apakah tanda-tanda dan gejala yang menunjukkan bahwa kehamilan ada dalam bahaya? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. MULES BERKEPANJANGAN...A PERDARAHAN...B DEMAM YANG TINGGI...C KEJANG-KEJANG...D BAYI DALAM POSISI YANG SALAH... E BENGKAK... F PINGSAN...G SUSAH BERNAPAS...H LELAH... I LAINNYA...X TIDAK TAHU... Z 617 Selama (NAMA IBU ANAK) hamil (NAMA ANAK) apakah Bapak berbicara langsung dengan dokter, atau petugas kesehatan lainnya tentang kesehatan Ibu atau kehamilannya? 618 Apakah petugas kesehatan membicarakan tentang : Jenis makanan yang harus dimakan (NAMA IBU ANAK) selama kehamilan? Waktu istirahat selama kehamilan? Masalah kesehatan yang harus mendapat perhatian segera? YA... 1 TIDAK... 2 ))< 618A YA TIDAK TIDAK INGAT MAKANAN ISTIRAHAT KESEHATAN A Selama kehamilan (NAMA ANAK), apakah Bapak membicarakan dengan seseorang mengenai: Di mana (NAMA IBU ANAK) akan melahirkan/bersalin? Angkutan/transportasi ke tempat bersalin? Siapa yang akan menolong persalinan? Biaya persalinan? Donor darah jika diperlukan? YA TIDAK TEMPAT MELAHIRKAN TRANSPORTASI PENOLONG PERSALINAN BIAYA DONOR DARAH Appendix F 15

411 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 619A Apakah (NAMA ANAK) masih hidup? YA... 1 TIDAK... 2 ))< A 621B Apakah (NAMA ANAK) penah mendapat imunisasi: BCG? Polio? DPT? Campak? Hepatitis? LIHAT 621A: SEMUA IMUNISASI TIDAK YA TIDAK TAHU BCG POLIO DPT CAMPAK HEPATITIS SEMUA JAWABAN +))), PALING SEDIKIT +))), TIDAK /)))- ADA 1 JAWABAN YA.)))2)))))))))))))))))))))))))))))))))))))< 624? 623 Apa alasan utama (NAMA ANAK) tidak diimunisasi? TERLALU MAHAL TIDAK TAHU TEMPAT MENDAPATKANNYA TIDAK TERSEDIA TIDAK PENTING/TIDAK INGIN TIDAK BAGUS UNTUK KESEHATAN ANAK ANAK TERLALU KECIL TERLALU JAUH/TIDAK ADA TRANSPORTASI LAINNYA 96 (TULISKAN) TIDAK TAHU IMUNISASI TIDAK TAHU MENGAPA Apakah (NAMA ANAK) tinggal bersama Bapak di rumah ini? YA... 1 TIDAK... 2 ))< Jika (NAMA ANAK) sakit, siapa yang biasa membuat keputusan untuk pengobatan? Siapa lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. 627 Saya ingin menanyakan apakah Bapak akan marah dengan (NAMA IBU ANAK) jika ia: Membawa (NAMA ANAK) untuk diimunisasi tanpa izin Bapak? Membawa (NAMA ANAK) ke dokter/petugas kesehatan tanpa izin Bapak karena ia menganggap (NAMA ANAK) sakit? RESPONDEN...A IBU ANAK...B ISTRI/IBU TIRI...C SAUDARA PEREMPUAN RESPONDEN...D SAUDARA LAKI-LAKI RESPONDEN.. E LAINNYA X (TULISKAN) ANAK TIDAK PERNAH SAKIT... Y TIDAK, TIDAK TIDAK YA MARAH TAHU IMUNISASI KE DOKTER/PETU- GAS KESEHATAN Lampiran F 393

412 BAGIAN 7. AIDS DAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL LAINNYA NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 701 Sekarang saya ingin membicarakan hal lain. Apakah Bapak pernah mendengar tentang penyakit AIDS? YA... 1 TIDAK... 2 ))< A Dari mana Bapak mengetahui tentang penyakit AIDS? Ada sumber lain? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. RADIO... A TELEVISI... B SURAT KABAR/MAJALAH... C SELEBARAN/POSTER... D PETUGAS KESEHATAN... E PERKUMPULAN KEAGAMAAN... F SEKOLAH/GURU... G PERTEMUAN MASYARAKAT... H TEMAN/KELUARGA... I TEMPAT KERJA... J LAINNYA X (TULISKAN) 702 Apakah ada sesuatu cara yang dapat dilakukan seseorang untuk menghindari penyakit AIDS atau virus yang menyebabkan AIDS? 703 Apa yang dapat dilakukan? Ada cara lain? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP KODE JAWABAN YANG DISEBUT. YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 PUASA KUMPUL... A PAKAI KONDOM KETIKA KUMPUL.. B HANYA KUMPUL DENGAN SATU PASANGAN... C MEMBATASI JUMLAH PASANGAN KUMPUL... D MENGHINDARI KUMPUL DENGAN PELACUR... E MENGHINDARI KUMPUL DENGAN ORANG YANG PUNYA BANYAK PASANGAN... F MENGHINDARI KUMPUL DENGAN PASANGAN SEJENIS... G MENGHINDARI KUMPUL DENGAN ORANG YANG MENGGUNAKAN JARUM SUNTIK (NARKOBA)... H MENGHINDARI TRANSFUSI DARAH.. I MENGHINDARI SUNTIKAN... J MENGHINDARI PENGGUNAAN PISAU CUKUR SECARA BERSAMA-SAMA... K MENGHINDARI BERCIUMAN... L MENGHINDARI GIGITAN NYAMUK.. M MENCARI PERLINDUNGAN DARI DUKUN... N ), )2< 709 LAINNYA (TULISKAN) W LAINNYA X (TULISKAN) TIDAK TAHU... Z 704 Apakah seseorang dapat mengurangi kemungkinan terjangkit penyakit AIDS dengan hanya mempunyai seorang pasangan yang tidak punya pasangan lain? 705 Apakah seseorang dapat terkena penyakit AIDS karena gigitan nyamuk? 706 Apakah seseorang dapat mengurangi kemungkinan terjangkit virus penyebab penyakit AIDS dengan menggunakan kondom setiap kali kumpul? 707 Apakah seseorang dapat tertular penyakit AIDS melalui makan sepiring dengan penderita AIDS? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU Appendix F 17

413 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 707A Apakah seseorang dapat mengurangi kemungkinan terjangkit penyakit AIDS dengan cara minum obat seperti jamu atau antibiotik sebelum kumpul? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU Apakah dengan melihat penampilan seseorang dapat diketahui bahwa ia menderita penyakit HIV/AIDS? 710 Apakah Bapak kenal secara pribadi seseorang yang terkena penyebab penyakit virus AIDS atau seseorang yang meninggal karena AIDS? 711 Apakah virus penyebab penyakit AIDS dapat ditularkan dari seorang Ibu ke anak? 712 Apakah virus penyebab AIDS dapat ditularkan dari seorang Ibu ke anaknya: Selama hamil? Saat melahirkan? Dengan menyusui? 714 Apakah Bapak pernah membicarakan dengan istri Bapak cara agar tidak tertular virus penyebab AIDS? 716 Jika salah satu anggota keluarga tertular virus penyebab penyakit AIDS, apakah Bapak akan merahasiakannya? 717 Jika saudara/keluarga Bapak menderita AIDS, apakah Bapak bersedia merawatnya di rumah Bapak? 720 Apakah Bapak mengetahui adanya pemeriksaan/tes untuk mengetahui seseorang terkena AIDS? YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU... 8 YA TDK TT SELAMA HAMIL SAAT MELAHIRKAN DENGAN MENYUSUI YA... 1 TIDAK... 2 YA... 1 TIDAK... 2 TIDAK TAHU/TIDAK YAKIN... 8 YA... 1 TIDAK... 2 TT/TIDAK YAKIN/TERGANTUNG... 8 ), )2< 714 YA... 1 TIDAK... 2 ))< Apakah Bapak tahu di mana tempat pemeriksaan/tes AIDS? YA... 1 TIDAK Selain AIDS, apakah Bapak pernah mendengar infeksi lain yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual seperti penyakit kelamin? YA... 1 TIDAK... 2 ))< A Dari manakah Bapak memperoleh informasi tentang penyakit menular seksual (PMS)? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP SUMBER YANG DISEBUT. RADIO... A TELEVISI... B SURAT KABAR/MAJALAH... C SELEBARAN/POSTER... D PETUGAS KESEHATAN... E PERKUMPULAN KEAGAMAAN... F SEKOLAH/GURU... G PERTEMUAN MASYARAKAT... H TEMAN/KELUARGA... I TEMPAT KERJA... J LAINNYA X (TULISKAN) 18 Lampiran F 395

414 NO. PERTANYAAN DAN SARINGAN KODE TERUS KE 725 Jika seorang laki-laki tertular penyakit seksual, apakah gejalanya? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAPGEJALA YANG DISEBUT. 726 Jika seorang perempuan tertular penyakit seksual, apakah gejalanya? Ada lagi? JAWABAN JANGAN DIBACAKAN DAN LINGKARI SETIAP GEJALA YANG DISEBUT. NYERI PERUT... A NANAH KELUAR DARI ALAT KELAMIN/KENCING NANAH... B CAIRAN BAU KELUAR DARI ALAT KELAMIN... C RASA NYERI/PANAS DI SALURAN KENCING... D KEMERAHAN/RADANG PADA ALAT KELAMIN... E BENGKAK PADA ALAT KELAMIN... F LUKA/BISUL PADA ALAT KELAMIN.. G KUTIL PADA ALAT KELAMIN... H GATAL PADA ALAT KELAMIN... I KENCING DARAH... J BERAT BADAN TURUN... K IMPOTEN... L LAINNYA W (TULISKAN) LAINNYA X (TULISKAN) TIDAK ADA GEJALA... Y TIDAK TAHU... Z NYERI PERUT... A KEPUTIHAN... B KEPUTIHAN YANG BERBAU... C RASA NYERI/PANAS DI SALURAN KENCING... D KEMERAHAN/RADANG PADA ALAT KELAMIN... E BENGKAK PADA ALAT KELAMIN... F LUKA/BISUL PADA ALAT KELAMIN.. G KUTIL PADA ALAT KELAMIN... H GATAL PADA ALAT KELAMIN... I KENCING DARAH... J BERAT BADAN TURUN... K SULIT HAMIL/MENDAPAT ANAK... L LAINNYA W (TULISKAN) LAINNYA X (TULISKAN) TIDAK ADA GEJALA... Y TIDAK TAHU... Z 727 CATAT WAKTU JAM... *!!!*!!!* /)))3)))1 MENIT... *!!!*!!!* 396 Appendix F 19

Indonesia. Survei Demografi dan Kesehatan Ringkasan Hasil

Indonesia. Survei Demografi dan Kesehatan Ringkasan Hasil Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan 2002-2003 Ringkasan Hasil Laporan ini memuat ringkasan dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003 (SDKI 2002-2003) yang dilaksanakan oleh Badan

Lebih terperinci

RINGKASAN SDKI 2007 PROVINSI SULAWESI BARAT

RINGKASAN SDKI 2007 PROVINSI SULAWESI BARAT RINGKASAN SDKI 2007 PROVINSI SULAWESI BARAT Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 merupakan survey yang berskala Nasional, sehingga untuk menganalisa tingkat propinsi perlu dilakukan suatu

Lebih terperinci

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012 Laporan Pendahuluan Badan Pusat Statistik Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Kementerian Kesehatan MEASURE DHS ICF International 1 Survei Demografi

Lebih terperinci

Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007

Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php

Lebih terperinci

Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia

Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php

Lebih terperinci

Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997

Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997 Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php

Lebih terperinci

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia :

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : 255.461.686 Sumber : Pusdatin, 2015 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK PROVINSI BANTEN TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Banten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mulai dari penyediaan fasilitas pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan

BAB I PENDAHULUAN. mulai dari penyediaan fasilitas pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia berada di urutan ke empat dengan penduduk terbesar di dunia setelah Amerika, China, dan India. Jumlah penduduk Indonesia dari hasil Sensus 2010 mencapai angka

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1970, kemudian dikukuhkan dan diatur di dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. 1970, kemudian dikukuhkan dan diatur di dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Program Keluarga Berencana (KB) Nasional yang dicanangkan sejak tahun 1970, kemudian dikukuhkan dan diatur di dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Semoga Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2012 ini bermanfaat. Jakarta, September 2013 Kepala Pusat Data dan Informasi

KATA PENGANTAR. Semoga Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2012 ini bermanfaat. Jakarta, September 2013 Kepala Pusat Data dan Informasi KATA PENGANTAR Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2012 ini disusun untuk menyediakan beberapa data/informasi kesehatan secara garis besar pencapaian program-program kesehatan di Indonesia. Pada edisi ini selain

Lebih terperinci

Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012

Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012 Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php

Lebih terperinci

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia :

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : 255.461.686 Sumber : Pusdatin, 2015 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, November 2008 Kepala Pusat Data dan Informasi. DR. Bambang Hartono, SKM, MSc. NIP

KATA PENGANTAR. Jakarta, November 2008 Kepala Pusat Data dan Informasi. DR. Bambang Hartono, SKM, MSc. NIP KATA PENGANTAR Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2007 ini disusun untuk menyediakan beberapa data/informasi kesehatan secara garis besar pencapaian program-program kesehatan di Indonesia. Pada edisi ini selain

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kualitas pelayanan kesehatan. Kematian ibu masih merupakan masalah besar yang

BAB 1 PENDAHULUAN. kualitas pelayanan kesehatan. Kematian ibu masih merupakan masalah besar yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Angka kematian merupakan barometer status kesehatan, terutama kematian ibu dan kematian bayi. Tingginya angka kematian tersebut menunjukkan rendahnya kualitas pelayanan

Lebih terperinci

DATA STATISTIK TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA

DATA STATISTIK TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA DATA STATISTIK TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA Drs. Razali Ritonga, MA (Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS RI) Disampaikan di Lokakarya Perkawinan Anak, Moralitas Seksual, dan Politik

Lebih terperinci

DATA STATISTIK TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA

DATA STATISTIK TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA DATA STATISTIK TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA DATA STATISTIK TENTANG PERKAWINAN DI INDONESIA Drs. Razali Ritonga, MA (Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS RI) Disampaikan di Lokakarya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penduduk Indonesia sebanyak jiwa dan diproyeksikan bahwa jumlah ini

I. PENDAHULUAN. penduduk Indonesia sebanyak jiwa dan diproyeksikan bahwa jumlah ini I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia termasuk salah satu negara sedang berkembang yang tidak luput dari masalah kependudukan. Berdasarkan data hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia

Lebih terperinci

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia :

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : 255.461.686 Sumber : Pusdatin, 2015 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK PROVINSI GORONTALO TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Gorontalo

Lebih terperinci

KEBIJAKAN KEMENTERIAN KESEHATAN DALAM AKSELERASI PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU

KEBIJAKAN KEMENTERIAN KESEHATAN DALAM AKSELERASI PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU KEBIJAKAN KEMENTERIAN KESEHATAN DALAM AKSELERASI PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU dr. Budihardja, DTM&H, MPH Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA Disampaikan pada Pertemuan Teknis Program Kesehatan Ibu Bandung,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pembangunan telah, sedang dan akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. pembangunan telah, sedang dan akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah penduduk merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi Indonesia adalah

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. faktor risiko lain yang berperan terhadap kejadian kehamilan tidak diinginkan

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. faktor risiko lain yang berperan terhadap kejadian kehamilan tidak diinginkan 59 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini bersifat kuantitatif dan dilakukan dengan menganalisis data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003.

Lebih terperinci

4203002 2 Profil Kesehatan Ibu dan Anak 2012 PROFIL KESEHATAN ffiu DAN ANAK 2012 Profil Kesehatan Ibu dan Anak 2012 ISSN: 2087-4480 No. Publikasi: 04230.1202 Katalog BPS: 4203002 Ukuran Buku: 18,2 cm x

Lebih terperinci

Indonesia - Survei Prevalansi Kontrasepsi Nasional 1987

Indonesia - Survei Prevalansi Kontrasepsi Nasional 1987 Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Prevalansi Kontrasepsi Nasional 1987 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. jiwa. Menurut data Badan Pusat Statistik sosial didapatkan laju pertumbuhan

BAB 1 PENDAHULUAN. jiwa. Menurut data Badan Pusat Statistik sosial didapatkan laju pertumbuhan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Indonesia terus meningkat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 adalah 237,6 juta jiwa. Menurut

Lebih terperinci

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada tim penyusun, yang sudah bekerja. Jakarta, 2010 Kepala Pusat Data dan Informasi. dr.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada tim penyusun, yang sudah bekerja. Jakarta, 2010 Kepala Pusat Data dan Informasi. dr. KATA PENGANTAR Dalam rangka meningkatkan pelayanan data dan informasi baik untuk jajaran manajemen kesehatan maupun untuk masyarakat umum perlu disediakan suatu paket data/informasi kesehatan yang ringkas

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP 27 November 2014 KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga

Lebih terperinci

GAMBARAN KELUARGA BERENCANA DAN KESEHATAN REPRODUKSI DI PROPINSI BENGKULU TAHUN 2007 (SURVEI DEMOGRAFI KESEHATAN INDONESIA 2007)

GAMBARAN KELUARGA BERENCANA DAN KESEHATAN REPRODUKSI DI PROPINSI BENGKULU TAHUN 2007 (SURVEI DEMOGRAFI KESEHATAN INDONESIA 2007) GAMBARAN KELUARGA BERENCANA DAN KESEHATAN REPRODUKSI DI PROPINSI BENGKULU TAHUN 2007 (SURVEI DEMOGRAFI KESEHATAN INDONESIA 2007) I. Pendahuluan Propinsi Bengkulu telah berhasil melaksanakan Program Keluarga

Lebih terperinci

ANALISIS DATA KEPENDUDUKAN DAN KB HASIL SUSENAS

ANALISIS DATA KEPENDUDUKAN DAN KB HASIL SUSENAS ANALISIS DATA KEPENDUDUKAN DAN KB HASIL SUSENAS 2015 (Disarikan dari Hartanto, W 2016, Analisis Data Kependudukan dan KB Hasil Susenas 2015, disajikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BKKBN,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. besar dan berkualitas serta dikelola dengan baik, akan menjadi aset yang besar dan

BAB I PENDAHULUAN. besar dan berkualitas serta dikelola dengan baik, akan menjadi aset yang besar dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan sangat berkaitan erat dengan kualitas masyarakat. Penduduk yang besar dan berkualitas serta dikelola dengan baik, akan menjadi aset yang besar dan berharga

Lebih terperinci

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia :

ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk Indonesia : 255.461.686 Sumber : Pusdatin, 2015 ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK PROVINSI KALIMANTAN UTARA TAHUN 2015 Estimasi Jumlah Penduduk

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu dari 8 tujuan pembangunan millenium atau MDG s (Millenium Development Goals) yang terdapat pada tujuan ke 5 yaitu

Lebih terperinci

KATA SAMBUTAN DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II GAMBARAN UMUM 3

KATA SAMBUTAN DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II GAMBARAN UMUM 3 DAFTAR ISI hal. KATA SAMBUTAN DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN i ii iv v x BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II GAMBARAN UMUM 3 A. KEADAAN PENDUDUK 3 B. KEADAAN EKONOMI 8 C. INDEKS PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

ii DATA DAN INDIKATOR GENDER di INDONESIA

ii DATA DAN INDIKATOR GENDER di INDONESIA ii Kata Pengantar i DAFTAR ISI Kata Pengantar...i Daftar Isi... iii Daftar Tabel...v Daftar Gambar...xi Bab I KEPENDUDUKAN... 1 Bab II INDIKATOR GENDER... 9 1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development

Lebih terperinci

TUJUAN 5. Meningkatkan Kesehatan Ibu

TUJUAN 5. Meningkatkan Kesehatan Ibu TUJUAN 5 Meningkatkan Kesehatan Ibu 57 Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 6: Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara 1990 dan 2015. Indikator: Angka kematian ibu. Proporsi

Lebih terperinci

Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1991

Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1991 Katalog Datamikro - Badan Pusat Statistik Indonesia - Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1991 Laporan ditulis pada: December 30, 2014 Kunjungi data katalog kami di: http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Delapan tujuan Millenium Development Goals (MDG s) telah disepakati

BAB I PENDAHULUAN. Delapan tujuan Millenium Development Goals (MDG s) telah disepakati BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Delapan tujuan Millenium Development Goals (MDG s) telah disepakati oleh 191 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk dicapai pada tahun 2015 (WHO, 2013).

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Program keluarga berencana merupakan salah satu program pembangunan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Program keluarga berencana merupakan salah satu program pembangunan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program keluarga berencana merupakan salah satu program pembangunan nasional yang sangat penting dalam rangka mewujudkan keluarga Indonesia yang sejahtera. Peran program

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

Lampiran Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Kesehatan Keluarga TA 2016

Lampiran Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Kesehatan Keluarga TA 2016 Lampiran Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Kesehatan Keluarga TA 2016 Lampiran Perjanjian Kinerja Direktur Kesehatan Keluarga dengan Dirjen Kesehatan Masyarakat. Lampiran, Cakupan Indikator Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (International Conference on Population and Development) tanggal 5 sampai

BAB I PENDAHULUAN. (International Conference on Population and Development) tanggal 5 sampai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development) tanggal 5 sampai 13 September 1994 di

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM KESEHATAN TAHUN

DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM KESEHATAN TAHUN DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM KESEHATAN TAHUN 2007-2011 PUSAT DATA DAN INFORMASI DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA 2009 KATA PENGANTAR Salah satu permasalahan yang dihadapi saat ini adalah belum ada kesepakatan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

. Keberhasilan manajemen data dan informasi kependudukan yang memadai, akurat, lengkap, dan selalu termutakhirkan.

. Keberhasilan manajemen data dan informasi kependudukan yang memadai, akurat, lengkap, dan selalu termutakhirkan. S ensus Penduduk, merupakan bagian terpadu dari upaya kita bersama untuk mewujudkan visi besar pembangunan 2010-2014 yakni, Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan Berkeadilan. Keberhasilan

Lebih terperinci

TINJAUAN HASIL SURVAI INDIKATOR KINERJA RPJMN 2015 BKKBN PROVINSI JAMBI

TINJAUAN HASIL SURVAI INDIKATOR KINERJA RPJMN 2015 BKKBN PROVINSI JAMBI TINJAUAN HASIL SURVAI INDIKATOR KINERJA RPJMN 2015 BKKBN PROVINSI JAMBI Dr. Junaidi, SE, M.Si (Disampaikan pada Rapat Koordinasi Perwakiltan BKKBN Provinsi Jambi tanggal 1 September 2016) I. LATAR BELAKANG

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. lebih besar menempatkan ibu pada risiko kematian (akibat kehamilan dan persalinan)

BAB 1 PENDAHULUAN. lebih besar menempatkan ibu pada risiko kematian (akibat kehamilan dan persalinan) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kontrasepsi modern memainkan peranan penting untuk menurunkan kehamilan yang tidak diinginkan yang merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian ibu. Kehamilan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Propinsi (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Propinsi (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) PERTUMBUHAN PENDUDUK 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. dr. Pattiselanno Roberth Johan, MARS NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL PENDATAAN SUSENAS Jumlah (1) (2) (3) (4) Penduduk yang Mengalami keluhan Sakit. Angka Kesakitan 23,93 21,38 22,67

RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL PENDATAAN SUSENAS Jumlah (1) (2) (3) (4) Penduduk yang Mengalami keluhan Sakit. Angka Kesakitan 23,93 21,38 22,67 RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL PENDATAAN SUSENAS 2015 Dalam kaitan dengan upaya peningkatan kesejahteraan, meningkatnya derajat kesehatan penduduk di suatu wilayah, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Program Keluarga Berencana (KB) menurut Undang-Undang Nomor 10

BAB I PENDAHULUAN. Program Keluarga Berencana (KB) menurut Undang-Undang Nomor 10 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Program Keluarga Berencana (KB) menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 merupakan salah satu program pembangunan nasional yang sangat penting dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN TAHUN

DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN TAHUN DATA PENDUDUK SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN TAHUN 2011-2014 PUSAT DATA DAN INFORMASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI JAKARTA 2011 KATA PENGANTAR Dalam rangka pemantauan rencana aksi percepatan pelaksanaan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. utama yang dihadapi Indonesia. Dinamika laju pertumbuhan penduduk di

BAB I PENDAHULUAN. utama yang dihadapi Indonesia. Dinamika laju pertumbuhan penduduk di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingginya pertumbuhan penduduk di Indonesia merupakan masalah utama yang dihadapi Indonesia. Dinamika laju pertumbuhan penduduk di Indonesia saat ini cukup tinggi.

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan yang penting karena menjadi penyebab pertama kematian balita di Negara berkembang.setiap tahun ada

Lebih terperinci

SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA 2017

SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA 2017 SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA 2017 Mariet Tetty Nuryetty Badan Pusat Statistik Forum Informatika Kesehatan Indonesia ke 5 Mercure Hotel Surabaya, 9 November 2017 SDKI? salah satu survei sosial

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PENILAIAN MULTI INDIKATOR PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL SEMESTER II TAHUN 2013

ANALISIS DAN PENILAIAN MULTI INDIKATOR PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL SEMESTER II TAHUN 2013 ANALISIS DAN PENILAIAN MULTI INDIKATOR PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL SEMESTER II TAHUN 2013 BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA i NASIONAL DIREKTORAT PELAPORAN DAN STATISTIK

Lebih terperinci

PENCAPAIAN TARGET MDGs DALAM RPJMN

PENCAPAIAN TARGET MDGs DALAM RPJMN PENCAPAIAN TARGET MDGs DALAM RPJMN 2010-2014 NINA SARDJUNANI Deputi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang SDM dan Kebudayaan Disampaikan dalam Rakornas

Lebih terperinci

PROFIL SINGKAT PROVINSI MALUKU TAHUN 2014

PROFIL SINGKAT PROVINSI MALUKU TAHUN 2014 PROFIL SINGKAT PROVINSI MALUKU TAHUN 2014 1 Jumlah kabupaten/kota 8 Tenaga Kesehatan di fasyankes Kabupaten 9 Dokter spesialis 134 Kota 2 Dokter umum 318 Jumlah 11 Dokter gigi 97 Perawat 2.645 2 Jumlah

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Perbandingan karakteristik...,cicik Zehan Farahwati, FKM UI, 2009

BAB 1 PENDAHULUAN. Perbandingan karakteristik...,cicik Zehan Farahwati, FKM UI, 2009 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program Keluarga Berencana (KB) berpotensi meningkatkan status kesehatan wanita dan menyelamatkan kehidupannya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memungkinkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. banyak persoalan, terutama di negara berkembang. Salah satunya adalah Negara

BAB 1 PENDAHULUAN. banyak persoalan, terutama di negara berkembang. Salah satunya adalah Negara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemenuhan hak-hak reproduksi wanita di dunia pada masa sekarang ini masih banyak persoalan, terutama di negara berkembang. Salah satunya adalah Negara Indonesia, di

Lebih terperinci

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR HK.03.01/VI/432/2010 TENTANG

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR HK.03.01/VI/432/2010 TENTANG KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.01/VI/432/2010 TENTANG DATA SASARAN PROGRAM KEMENTERIAN KESEHATAN TAHUN 2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SEKRETARIS

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. orang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu sandang, pangan, dan papan.

I. PENDAHULUAN. orang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu sandang, pangan, dan papan. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemiskinan adalah kondisi dimana ketidakmampuan seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu sandang, pangan, dan papan. Masalah kemiskinan

Lebih terperinci

TUJUAN 4. Menurunkan Angka Kematian Anak

TUJUAN 4. Menurunkan Angka Kematian Anak TUJUAN 4 Menurunkan Angka Kematian Anak 51 Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Target 5: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya, antara 1990 dan 2015. Indikator: Angka kematian balita.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2013 yaitu sebanyak 248 juta jiwa. akan terjadinya ledakan penduduk (Kemenkes RI, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2013 yaitu sebanyak 248 juta jiwa. akan terjadinya ledakan penduduk (Kemenkes RI, 2013). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingginya laju pertumbuhan penduduk yang terjadi merupakan suatu permasalahan yang dihadapi Indonesia, maka diperlukan perhatian serta penanganan yang sungguh sungguh

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

Dr.dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, AAK

Dr.dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, AAK Dr.dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, AAK Millennium Development Goals (MDGs) Komitmen Negara terhadap rakyat Indonesia dan global Komitmen Indonesia kepada masyarakat Suatu kesepakatan dan kemitraan global

Lebih terperinci

MATRIK LAPORAN MINI SURVEI PEMANTAUAN PUS PROVINSI BENGKULU TAHUN 2009

MATRIK LAPORAN MINI SURVEI PEMANTAUAN PUS PROVINSI BENGKULU TAHUN 2009 MATRIK LAPORAN MINI SURVEI PEMANTAUAN PUS PROVINSI BENGKULU TAHUN 2009 2.6 terhadap PUS umur terhadap PUS 40-49 Umur 40-49 1 Bengkulu Selatan 2,7 3,8 2 Rejang Lebong 3,6 4,7 3 Bengkulu Utara 3,6 5,3 4

Lebih terperinci

STATISTIK GENDER 2011

STATISTIK GENDER 2011 STATISTIK GENDER 211 STATISTIK GENDER 211 ISBN: 978-979 - 64-46 - 9 No. Publikasi: 421.111 Katalog BPS: 21412 Ukuran Buku: 19 cm x 11 cm Naskah: Sub Direktorat Statistik Rumah tangga Gambar Kulit: Sub

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sudah enam puluh sembilan tahun Indonesia merdeka, telah banyak tindakantindakan

I. PENDAHULUAN. Sudah enam puluh sembilan tahun Indonesia merdeka, telah banyak tindakantindakan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sudah enam puluh sembilan tahun Indonesia merdeka, telah banyak tindakantindakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam usaha menyejahterakan rakyat Indonesia.

Lebih terperinci

mengenai seksualitas membuat para remaja mencari tahu sendiri dari teman atau

mengenai seksualitas membuat para remaja mencari tahu sendiri dari teman atau BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja, yakni antara usia 10-19 tahun adalah suatu periode masa

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR 2014

INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR 2014 12 IndikatorKesejahteraanRakyat,2013 INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR 2014 No. ISSN : 0854-9494 No. Publikasi : 53522.1002 No. Katalog : 4102004 Ukuran Buku Jumlah Halaman N a s k a

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV) semakin mengkhawatirkan secara kuantitatif dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV) semakin mengkhawatirkan secara kuantitatif dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan permasalahan penyakit menular seksual termasuk Human Immunodeficiency Virus (HIV) semakin mengkhawatirkan secara kuantitatif dan kualitatif. HIV merupakan

Lebih terperinci

Surat Kabar Harian PIKIRAN RAKYAT, terbit di Bandung, Edisi: 30 Desember 1995

Surat Kabar Harian PIKIRAN RAKYAT, terbit di Bandung, Edisi: 30 Desember 1995 Surat Kabar Harian PIKIRAN RAKYAT, terbit di Bandung, Edisi: 30 Desember 1995 PROFIL KEPENDUDUKAN DAN KESEHATAN DI JAWA BARAT Oleh : Ki Supriyoko Salah satu survei kependudukan, KB, dan kesehatan yang

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

MATRIK LAPORAN MINI SURVEI PEMANTAUAN PUS PROVINSI BENGKULU TAHUN 2009

MATRIK LAPORAN MINI SURVEI PEMANTAUAN PUS PROVINSI BENGKULU TAHUN 2009 MATRIK LAPORAN MINI SURVEI PEMANTAUAN PUS PROVINSI BENGKULU TAHUN 2009 2.6 terhadap PUS umur terhadap PUS 40-49 Umur 40-49 1 Bengkulu Selatan 2,7 3,8 2 Rejang Lebong 3,6 4,7 3 Bengkulu Utara 3,6 5,3 4

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan. Realita yang ada saat ini masih banyak masyarakat yang belum bisa

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan. Realita yang ada saat ini masih banyak masyarakat yang belum bisa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang penduduknya sangat padat. Hal ini terlihat dari angka kelahiran yang terjadi di setiap tahunnya mengalami peningkatan.

Lebih terperinci