Diagnosis Laboratorik pada Antiphospholipid Syndrome (APS)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Diagnosis Laboratorik pada Antiphospholipid Syndrome (APS)"

Transkripsi

1 Diagnosis Laboratorik pada Antiphospholipid Syndrome (APS) Sri Suryo Adiyanti Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Ciptomangunkusumo Pendahuluan Antiphospholipid syndrome (APS) merupakan penyebab trombosis vena yang paling umum. Antibodi ini biasanya terdeteksi pada pemeriksaan lupus antikoagulan dan antibodi antikardiolipin. Antibodi antifosfolipid umumnya terikat secara langsung pada beberapa protein phospholipid binding protein. Antiphospholipid syndrome merupakan suatu kondisi otoimun yang didapat yang gejala klinisnya meliputi trombosis baik pada vena, arteri dan mikrovaskular dan abortus berulang sehingga sangat penting untuk mengenali sindrom ini untuk segera memberikan penanganan yang tepat sehingga mengurangi risiko kejadian berulang dan komplikasinya. 1,2 Antiphospholipid syndrome didiagnosis pada pasien dengan trombosis dan/atau abortus berulang yang mempunyai antibodi antifosfolipid (apl) yang persisten. Trombosis vena pada APS umumnya terjadi pada tungkai bawah berupa Deep Vein Thrombosis (DVT) dan/atau emboli pulmonal namun bisa di mana saja pada sistem vena termasuk vena superfisial, portal, renal, mesenterik dan intrakranial. Tempat paling sering terjadinya trombosis arteri pada APS adalah vaskular serebral yang dapat menyebabkan iskemia serebral atau stroke transient. Antiphospholipid syndrome yang terjadi tanpa ada penyakit otoimun lainnya disebut APS primer sedangkan APS sekunder adalah APS yang terjadi karena adanya penyakit otoimun lainnya, yang paling umum adalah systemic lupus erythematosus (SLE). 1-3 Antibodi antifosfolipid (apl) pertama ditemukan pada pasien dengan tes serologi sifilis yang positif palsu. Hal ini terjadi karena apl mengenali kardiolipin dalam reagen untuk tes serologi sifilis. Antibodi antifosfolipid (apl) juga ditemukan pada pasien dengan penyakit SLE dan kemudian dinamakan Lupus Antikoagulan (LA). Secara paradoks, walaupun antibodi ini mengakibatkan pemanjangan waktu pada pemeriksaan pembekuan secara in vitro, seseorang dengan antibodi apl tidak menunjukkan gejala perdarahan, namun adanya apl meningkatkan risiko trombosis pada arteri dan vena. Di awal tahun 1990an kemudian diketahui bahwa pemeriksaan apl mendeteksi antibodi bukan terhadap fosfolipid anion namun terhadap phospholipid binding protein. 1,4 Antibodi apl ini juga mengenali protein yang berikatan atau dalam kompleks dengan fosfolipid, termasuk antibodi terhadap β2 glikoprotein, protrombin, Protein C, Protein S, dan F VII. Antibodi apl ini juga dapat terpapar setelah infeksi tertentu seperti malaria, mikobakteria, dan organisme parasit lainnya dan juga setelah terpapar dengan obat obatan seperti neuroleptik, klorpromazine, kuinidin, prokainamid. 3,4 Kriteria laboratorik saat ini mencakup 3 pemeriksaan yaitu pemeriksaan yang mendeteksi apl sebagai inhibitor koagulasi yaitu LA, pemeriksaan imunologi untuk mendeteksi acl, dan pemeriksaan imunologi yang mendeteksi aβ2gp1 sehingga hasil pemeriksaan LA harus selalu digabungkan dengan profil apl lengkap lainnya yaitu anticardiolipin (acl) dan antiβ2 glikoprotein I

2 (aβ2gp1) dengan menggunakan metode solid phase ELISA. Adanya titer yang sedang/tinggi dari acl dan aβ2gp1 dengan isotype yang sama (biasanya Ig G) dengan hasil pemeriksaan LA yang positif menunjukkan pasien mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya trombosis. 5,6 Mekanisme terjadinya trombosis pada APS Beberapa mekanisme telah terjadinya trombosis pada APS telah diusulkan seperti adanya peningkatan tissue faktor (TF) pada monosit dan sel endotel, interferensi pada jalur antikoagulan protein C, penghambatan fibrinolisis, dan penghambatan ikatan annexin V terhadap fosfolipid. Kemudian penelitian difokuskan kepada anti β2-gpi yang terdapat dalam 2 bentuk dalam plasma yaitu closed circular dan open form. Beta2-glycoprotein merupakan suatu glikoprotein dengan berat molekul 50 kda, yang berikatan dengan reseptor permukaan sel dan permukaan bermuatan negatif. Beta2-glycoprotein terdiri dari 5 domain (I-V). Anti β2gp1 telah diketahui berikatan dengan epitop pada domain I protein (Gly40-Arg43) secara spesifik yang berhubungan erat dengan terjadinya trombosis. Saat ini diketahui bahwa setelah berikatan dengan permukaan anionik maka β2gp1 akan mengalami perubahan bentuk yang bermakna, sehingga terjadi paparan dari epitop yang tadinya tersembunyi. Interaksi dengan permukaan anionik mengubah β2gp1 dari bentuk sirkular, domain I yang tadinya berikatan dengan domain V menjadi terbuka, dan menjadi bentuk fishhook. Otoantibodi yang terdapat pada pasien dengan APS dapat menstabilkan β2gp1 dalam bentuk yang terbuka. Diduga bahwa paparan epitop tersembunyi tadi yang terlalu lama bertanggung jawab atas adanya korelasi antara antibodi β2gp1 dan peningkatan risiko trombosis dan fetal loss. Kompleks Antibodi β2 GPI terikat pada berbagai reseptor pada berbagai jenis sel termasuk sel endotel, platelet dan trofoblas dan dapat memicu terjadinya respons signalling intrasellular dan inflamasi. 2,5,7 Gambar 1. Otoantibodi terhadap β2gp1 5 β2gp1 akan mengalami perubahan bentuk yang bermakna setelah berikatan dengan permukaan anionik, sehingga terjadi paparan dari epitop yang tadinya tersembunyi. Interaksi dengan permukaan anionik mengubah β2gp1 dari bentuk sirkular, domain I yang tadinya berikatan dengan domain V menjadi terbuka, dan menjadi bentuk fishhook sehingga epitop akan terpapar terhadap otoantibodi. Antibodi akan berikatan dan menstabilkan bentuk terbuka β2gp1 tersebut sehingga β2gp1 dapat berikatan pada reseptor di permukaan sel.

3 Mekanisme terjadinya trombosis pada APS dapat melalui TF. Secara in vitro, apl menginduksi ekspresi dan aktivitas TF pada monosit dan sel endotel pembuluh darah normal. Secara in vivo, ekspresi TF meningkat pada monosit pasien APS. Pada pasien SLE ekspresi TF monosit meningkat dan berhubungan kuat dengan apl. Serum pasien APS dan IgG yang telah dimurnikan dari pasien SLE juga menunjukkan peningkatan TF pada netrofil yang normal. Lupus antikoagulan (LA) yang dimurnikan menghambat Ca dependent binding dari protrombin dan faktor X terhadap fosfolipid, sehingga menghambat aktivitas kompleks fosfolipid yang diperlukan untuk mengkonversi protrombin menjadi trombin. Hasil pemanjangan tes yang abnormal dapat terjadi pada PT, APTT, dan Russel s viper venom, karena LA tidak secara langsung bekerja melawan suatu faktor yang spesifik namun terhadap fosfolipid. 1,3,9 Komplikasi kehamilan yang terjadi dapat disebabkan oleh trombosis pada plasenta dan dapat menjelaskan kecenderungan abortus pada fase awal pembentukan plasenta. Antibodi fosfolipid (apl) tampak mempunyai efek langsung pada trofoblas dan terdapat bukti bahwa adanya aktivasi komplemen pada komplikasi kehamilan pada pasien APS. Hal ini menjelaskan efektivitas heparin sebagai pencegahan early fetal loss pada APS. 2 Diagnosis Kriteria laboratorik untuk APS berdasarkan kriteria Sapporo tahun 1999 adalah adanya peningkatan kadar antibodi antikardiolipin dan/atau terdeteksinya lupus antikoagulan dalam darah pada 2 x atau lebih pemeriksaan, sedikitnya dalam jarak 6 minggu. Walaupun antibodi anti β2 glikprotein saat ini tidak termasuk dalam kriteria diagnostik laboratorik untuk APS, namun adanya antibodi ini lebih spesifik untuk APS. Pemeriksaan lupus antikoagulan harus mengikuti kriteria yang direkomendasikan oleh Scientific Subcomittee on Lupus Anticoagulant and Antiphospholipid Antibody on Lupus Anticoagulant and Antiphospholipid Antibodies of the International Society on Thrombosis and Haemostasis. Interpretasi tes laboratorium untuk lupus antikoagulan sulit dilakukan pada keadaan terapi antikoagulan, misalnya heparin. 8 Kriteria klasifikasi untuk APS kemudian direvisi di Sydney tahun 2006 yaitu adanya antibodi yang spesifik sebagai komponen yang esensial untuk menegakkan diagnosis. Adanya oto antibodi tersebut yang persisten dengan kadar yang tinggi (>12 minggu) isotype Ig M atau Ig G, dideteksi dengan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) yang mencakup anti β2 glikoprotein I atau antibodi kardiolipin atau lupus antikoagulan. Pemeriksaan lupus antikoagulan mendeteksi otoantibodi yang mempunyai kemampuan memperpanjang waktu pembekuan secara in vitro. 1,5,7,10

4 Terdapat kriteria klinis dan laboratorik dalam mendeteksi APS yaitu 5,10 : Kriteria klinik : 1. Trombosis vaskular Satu atau lebih episode klinis trombosis arteri, vena atau pembuluh darah kecil. 2. Gangguan kehamilan a. Satu atau lebih kematian janin normal yang tak dapat dijelaskan di kehamilan di atas 10 minggu. b. Satu atau lebih kelahiran prematur janin normal sebelum kehamilan 34 minggu yang disebabkan oleh : (i) pre eklampsia atau pre-eklampsia berat (ii) insufisiensi plasenta. c. Tiga atau lebih kejadian abortus spontan secara berturutan sebelum masa kehamilan 10 minggu dengan pengecualian sebab kelainan anatomi maternal atau kelainan hormonal dan kromosom paternal dan maternal. Kriteria laboratorik 1. Terdapatnya lupus antikoagulan (LA) dalam plasma, pada 2 kali atau lebih pemeriksaan sedikitnya dengan perbedaan waktu 12 minggu. 2. Terdapat Ig G dan/atau Ig M Anticardiolipin antibody (acl) dalam serum atau plasma, dengan titer sedang atau tinggi ( >40 GPL atau MPL, atau > persentil 99) pada 2 kali atau lebih pemeriksaan, sedikitnya dengan perbedaan waktu 12 minggu. Anti β2gp1 kemudian juga ditambahkan ke dalam kriteria. APS dapat didiagnosis jika terdapat sedikitnya 1 kriteria klinik dan 1 kriteria laboratorik terpenuhi. LA merupakan tes yang paling prediktif untuk trombosis dan adanya IgG acl atau IgG antiβ2gpi pada LA yang positif meningkatkan spesifisitasnya. Tidak ada gunanya untuk menyarankan antibodi IgM pada pasien dengan trombosis. Tes harus diulang dengan interval 12 minggu untuk menunjukkan menunjukkan persistensinya. Deteksi apl di laboratorium Persiapan plasma Darah diambil ke dalam tabung yang mengandung mol/l trisodium citrat. Platelet Poor Plasma (PNP) diperoleh dengan melakukan sentrifugasi ganda pada 2000 g selama 15 menit pada o C sehingga akan menghasilkan plasma dengan jumlah platelet <10 x 10 9 /L. Hal ini dapat dicapai dengan memisahkan plasma setelah sentrifugasi yang pertama ke tabung plastik kemudian disentrifugasi ulang. Ketika plasma dipisahkan kembali ke tabung sekunder maka diperhatikan jangan sampai terbawa trombosit sisa yang terkumpul pada dasar tabung saat disentrifugasi. Sampel sebaiknya tidak dicairkan atau dibekukan berulangkali. 2,6,10

5 Pada pemeriksaan LA biasanya akan ditemukan pemanjangan waktu tes pembekuan phospholipid dependent, adanya inhibitor dengan mixing test dan adanya phospholipid dependence dari inhibitor. Tes untuk mendeteksi LA harus memenuhi kriteria diagnostik dan direvisi oleh Scientific and Standardizatin Committee of the International Society on Thrombosis and Haemostasis. Kriteria ini memerlukan prosedur tiga tahap. 2,5,10 Prosedur Skrining Sebaiknya sudah ada bukti yang menyatakan bahwa hasil phospholipid screening test di atas presentil 99 dari distribusi donor yang sehat. Hal penting dari prosedur skrining adalah kualitas tes plasma, pilihan tes yang digunakan dan ada atau tidaknya heparin atau antagonis vitamin K dalam plasma yang diperiksa. Trombosit residual yang terdapat dalam plasma harus diminimalisir untuk menghindari hilangnya sensitivitas karena efek LA menggunakan fosfolipid dari trombosit yang lisis khususnya setelah proses freezing-thawing. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan double centrifugation. Dua pemeriksaan dengan prinsip yang berbeda harus digunakan untuk memastikan bahwa LA yang lemah dapat dideteksi dan untuk meningkatkan spesifisitas walaupun pasien dianggap mempunyai LA dengan hanya 1 tes yang positif. Penggunaan tes skrining yang tidak lebih dari 2 sangat dianjurkan. Tes pertama sebaiknya dilute Russell viper venom test (DRVVT) dan yang kedua adalah APTT dengan silika sebagai aktivator dan dengan kandungan fosfolipid yang rendah. Jika kriteria skrining dipenuhi maka penting untuk menyingkirkan adanya Unfractioned Heparin (UFH) sebelum melanjutkan langkah selanjutnya. Hal ini dapat dicapai dengan dengan melakukan thrombin time, yang akan memanjang kalau terdapat UFH namun normal bila terdapat LA. Umumnya Low Molecular Weight Heparin (LMWH) tidak mempengaruhi phospholipid dependent test. 5 Prosedur mixing Mixing test dapat digunakan untuk mengenali adanya inhibitor dan dikerjakan setelah terdapat hasil bahwa pemanjangan clotting time dari prosedur skrining tidak terkoreksi dengan penambahan plasma pasien dengan plasma normal dengan jumlah yang sama. Jika waktu pembekuan dari mixing test ini lebih panjang dari persentil 99 dari distribusi clotting time yang dicatat dari sampel plasma donor sehat, maka prosedur konfirmasi harus dilakukan. Jika waktu pembekuan masih dalam rentang distribusi sampel plasma normal maka adanya LA dapat disingkirkan. 5 Mixing test merupakan kriteria untuk LA dan memperbaiki spesifisitas, namun, adanya faktor pengenceran dapat membuat sampel LA menjadi lemah dan nampak negatif. Bila tidak ada penyebab lain yang menyebabkan pemanjangan waktu pembekuan maka sampel ini dianggap LA positif jika tes penyaring dan konfirmasi pada plasma yang tidak diencerkan memberi hasil positif dan dilakukan pada sampel yang segar. 2 Prosedur konfirmasi Langkah konfirmasi (menggunakan konsentrasi fosfolipid tinggi, platelet neutralizing reagent atau LA-insensitive reagent) diperlukan untuk menunjukkan adanya phospholipid dependence. Jika

6 APTT menunjukkan adanya LA namun hasil DRVVT negatif maka langkah konfirmasi diperlukan pada tes APTT untuk memenuhi kriteria LA. 5 Antikoagulan yang dideteksi dalam plasma mixing harus terbukti berlawanan dengan fosfolipid dan bukan terhadap faktor pembekuan. Hal ini dapat dicapai dengan mengulang tes skrining yang abnormal dengan peningkatan konsentrasi fosfolipid. Adanya LA dikonfirmasi ketika persentase koreksi waktu pembekuan lebih tinggi dari local cut off value. LA dipastikan bila percent correction atau rasio skrining : konfirmasi > nilai potong lokal (> 99 persentil). Percent correction adalah waktu pembekuan ( skrining-konfirmasi) : skrining x ,6 Pemeriksaan LA tidak direkomendasikan pada pasien yang menerima antagonis vitamin K karena eksklusi LA menjadi problematik ketika INR berada dalam range terapeutik. Ketika pemeriksaan LA diperlukan pada pasien yang menerima terapi antikoagulan, maka kegunaan drvvt diperdebatkan dan tes yang yang dilakukan pada plasma yang tidak diencerkan dapat memberi hasil yang keliru. Melakukan langkah skrining dan konfirmasi pada jumlah volume yang sama dalam campuran plasma pasien dan plasma normal dapat memberi banyak informasi. Jika pada tes penyaring hasilnya abnormal, maka hal ini dapat dianggap sebagai dasar untuk mempertimbangkan bahwa terdapat inhibitor dan pada tes konfirmasi akan menunjukkan phospholipid dependence. Adanya efek pengenceran pada hasil uji mixing yang negatif tidak menyingkirkan adanya LA. 2 Tes LA tidak seharusnya dilakukan jika pasien menerima dosis terapeutik unfractioned heparin, karena dapat menyebabkan hasil yang tidak tepat. Unfractionated heparin subkutan dosis rendah dan low molecular weight heparin (LMWH) kurang mempunyai efek pada drvvt dan umumnya reagen komersial mengandung heparin neutralizing reagent yang cukup untuk menutupi dosis profilaktik. Prosedur platelet neutralization harus dihindari pada sampel yang mengandung heparin karena dapat mmberikan hasil LA yang positif palsu. Jika hasil positif diperoleh dari pemeriksaan acl atau anti β2-gpi, maka cukup untuk menegakkan diagnosis APS. 2,6 Gambar 2. Flow chart deteksi LA. 5 Adanya heparin dapat disingkirkan dengan hasil trombin time yang negatif pada prosedur skrining.pnp : Pooled Normal Plasma. PL : Phospholipid.

7 Pemeriksaan APS sebaiknya hanya dilakukan untuk pasien yang mempunyai kemungkinan yang bermakna untuk menderita APS atau mempunyai hasil pemanjangan APTT yang tidak dapat dijelaskan. Berdasarkan kriteria klinisnya maka probabilitas untuk mendiagnosis LA dapat dibagi menjadi rendah, sedang dan tinggi. Kriteria rendah adalah bila terdapat tromboemboli vena atau arteri pada pasien usia lanjut. Kriteria sedang adalah bila terdapat hasil APTT yang memanjang pada pasien yang asimptomatik, abortus spontan pada kehamilan muda yang berulang, dan tromboemboli arteri/vena yang dapat terpicu pada pasien usia muda. Kriteria tinggi adalah tromboemboli arteri/vena yang spontan dan tak dapat dijelaskan pada pasien usia muda di bawah 50 tahun, trombosis pada tempat yang tidak lazim, abortus pada kehamilan tua, trombosis atau komplikasi kehamilan pada pasien dengan penyakit otoimun. 5,10 Berbagai pitfalls dalam pemeriksaan LA ringkasnya dapat dilihat di tabel sebagai berikut. 6 Menghindari hasil positif palsu Menghindari hasil negatif palsu 1. Terapkan 3 prosedur skrining, mixing dan Persiapan plasma harus sesuai konfirmasi 2. Hitung nilai cut off dengan persentil 99 Perhatikan adanya efek pengenceran saat uji mixing 3. Gunakan hanya pemeriksaan PL dependent : drvvt dan aptt 4. Tes diulang setelah 12 minggu 5. Cari kemungkinan bila ada inhibitor lain yang spesifik atau kelainan perdarahan lainnya. 6. Periksa INR dan hindari melakukan pemeriksaan bila pasien dalam terapi antagonis vitamin K dan antikoagulan oral. 7. Periksa trombin time dan jangan diperiksa bila pasien dalam terapi heparin atau dabigatran 8. Jangan melakukan pemeriksaan saat pasien sedang dalam acute phase (cek CRP) 9. Jangan melakukan pemeriksaan pada acute phase (F VIII meningkat) Ikuti prosedur dalam guideline, lakukan Pemantapan Mutu Internal, berpartisipasi dalam program pemantapan mutu eksternal. 10. Perhatikan sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan 11. Lakukan ke 3 pemeriksaan apl (LA, acl dan aβ2gp1) dan buat profil antibodi. Antibodi Antifosfolipid lainnya Kriteria Sydney hanya mencakup LA, acl dan β2gp1 sebagai klasifikasi APS. Terdapat beberapa antibodi apl lainnya yang tidak termasuk dalam kriteria pemeriksaan untuk menegakkan diagnosa APS seperti antiphosphatidic acid, antiphosphatidyl-choline, -ethanolamine, -glycerol, - inositol, -serine, anti protrombin, antiprotrombin/fosfatidilserin, anti annexin V, anti protein S yang tidak dapat diimplementasikan karena kurangnya standarisasi pemeriksaan dan kurang adanya bukti tentang kepentingan klinisnya pada pasien APS maka belum direkomendasikan memasukkan antibodi apl lainnya ini dalam panel tes standar. 6

8 RINGKASAN Antiphospholipid syndrome (APS) merupakan penyakit otoimun yang ditandai dengan adanya antibodi antiphospholipid (apl) dan gejala klinis berupa trombosis dan gangguan kehamilan. Diagnosis APS ditegakkan dengan adanya minimal 1 kriteria klinis dan 1 kriteria laboratorik. Kriteria ini disepakati pada tahun 1999 di Sapporo kemudian direvisi kembali pada tahun 2006 di Sydney. Kriteria laboratorik mencakup pemeriksaan Lupus antikoagulan (LA) dengan 3 tahap yaitu skrining, mixing dan konfirmasi, kemudian juga pemeriksaan anti cardiolipin (acl) dan anti beta2 glikoprotein 1 (β2gp1) dengan menggunakan prosedur ELISA solid phase. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan LA seperti adanya pemakaian obat antagonis vitamin K, antikoagulan oral, dsb. Perlu diperhatikan juga cara persiapan sampel sebelum melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan APS sebaiknya hanya dilakukan pada kelompok risiko tinggi yaitu adanya trombosis spontan dan pada usia di bawah 50 tahun. DAFTAR PUSTAKA 1. Farmer-Boatwright MK, Roubey RAS. Venous Thrombosis in Antiphospholipid Syndrome. Arterioscler Thromb Vasc Biol. 2009;29: Keeling D, Mackie I, Moore GW, Greer IA, Greaves M. Guidelines on the investigation and management of antiphospholipid syndrome. British Journal of Hematology.2012;157: Bick RL. Antiphospholipid Thrombosis Syndrome. Hematol Oncol Clin N Am. 2003;17: Williams L. Thrombophilia. In : McKenzie SB, Williams LJ Clinical Laboratory Hematology. 2 th ed. Boston, Pearson, 2010; p Tripodi A, de Groot PD, Pengo V. Antiphospholipid Syndrome: laboratory detection, mechanims of actions and treatment. Journal of Internal Medicine. 2011: Devreese, KMJ. Antiphospholipid antibody and standardization. Int. Jnl. Lab. Hem. 2014;36: Giannakoupoulos B, Krilis SA. The Pathogenesis of the Antiphospholipid Syndrome.N Engl J Med.2013;368(11): Ortel TL. Thrombosis and the Antiphospholipid Syndrome.American Society of Hematology.2005: Ritis K, Doumas M, Mastellos D, Micheli A, Giaglis S, Magotti P, Rafail S, Kartali G, Sideras P, Lambris JD. A novel C5a receptor tissue factor cross talk in neutrophil links innate immunity to coagulation pathways. J. Immunol.2006;177:

9 10. Pengo V, Tripodi A, Reber G, Rand H, Ortel L, Galli M, de Groot PG. Update of the guidelines for lupus anticoagulant detection. Journal of Thrombosis and Haemostasis.2009;7:

Dr. Indra G. Munthe, SpOG

Dr. Indra G. Munthe, SpOG Dr. Indra G. Munthe, SpOG PENDAHULUAN Suatu kumpulan gejala berupa trombosis vena atau arteri disertai peninggian kadar antibodi anti post polipid (APA). SAF mengakibatkan kegagalan kehamilan yg berubungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kongenital faktor koagulasi di dalam darah. Penyakit ini diturunkan secara X-

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kongenital faktor koagulasi di dalam darah. Penyakit ini diturunkan secara X- 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Hemofilia adalah gangguan koagulasi yang disebabkan defisiensi kongenital faktor koagulasi di dalam darah. Penyakit ini diturunkan secara X- linked recessive

Lebih terperinci

EVIDENCE BASED OF ANTIPHOSPHOLIPID SYNDROME (APS) TERHADAP KEHAMILAN

EVIDENCE BASED OF ANTIPHOSPHOLIPID SYNDROME (APS) TERHADAP KEHAMILAN EVIDENCE BASED OF ANTIPHOSPHOLIPID SYNDROME (APS) TERHADAP KEHAMILAN Siti Yulaikah* Antiphospholipid Syndrome (APS) merupakan suatu kelainan yang berciri khas terjadinya recurrent venous atau arterial

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sering kita jumpai di Intensive Care Unit (ICU) dan biasanya membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. sering kita jumpai di Intensive Care Unit (ICU) dan biasanya membutuhkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasien sakit kritis adalah pasien dengan penyakit atau kondisi yang mengancam keselamatan jiwa pasien tersebut. Pasien dengan kondisi semacam ini sering kita jumpai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah terdiri atas 2 komponen utama yaitu plasma darah dan sel-sel darah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah terdiri atas 2 komponen utama yaitu plasma darah dan sel-sel darah. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Darah Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup, mulai dari binatang hingga manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memfokuskan diri dalam bidang life support atau organ support pada pasienpasien

BAB I PENDAHULUAN. memfokuskan diri dalam bidang life support atau organ support pada pasienpasien BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Intensive Care Unit (ICU) merupakan cabang ilmu kedokteran yang memfokuskan diri dalam bidang life support atau organ support pasienpasien sakit kritis yang kerap membutuhkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai indikasi, yaitu sebagai analgesik, antipiretik, anti-inflamasi dan

BAB I PENDAHULUAN. berbagai indikasi, yaitu sebagai analgesik, antipiretik, anti-inflamasi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acetylsalicylic acid (ASA)/aspirin adalah obat yang banyak digunakan untuk berbagai indikasi, yaitu sebagai analgesik, antipiretik, anti-inflamasi dan antitrombotik

Lebih terperinci

Kelainan darah pada lupus eritematosus sistemik

Kelainan darah pada lupus eritematosus sistemik Kelainan darah pada lupus eritematosus sistemik Amaylia Oehadian Sub Bagian Hematologi Onkologi Medik Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit infeksi tropik sistemik, yang disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan penanganan khusus di ruang rawat intensif (ICU). Pasien yang dirawat

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan penanganan khusus di ruang rawat intensif (ICU). Pasien yang dirawat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasien sakit kritis adalah pasien dengan kondisi mengancam nyawa yang membutuhkan penanganan khusus di ruang rawat intensif (ICU). Pasien yang dirawat di ICU memiliki

Lebih terperinci

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN Pertemuan : Minggu ke 11 Waktu : 50 menit Pokok bahasan : 1. Hemostasis (Lanjutan) Subpokok bahsan : a. Evaluasi hemostasis di laboratorium. b. Interpretasi hasil

Lebih terperinci

G. PRATAMA N. WIBOWO E.J. SURJANA S.B. SUBAKIR * R.D. SETIABUDY **

G. PRATAMA N. WIBOWO E.J. SURJANA S.B. SUBAKIR * R.D. SETIABUDY ** Vol 33, No 1 Januari 2009 Kadar svcam-1 pada penderita APS 35 Peningkatan kadar soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (svcam-1) sebagai petanda aktivasi endotel pada serum penderita sindrom antifosfolipid

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Aktivasi koagulasi dan fibrinolitik merupakan bagian dari sistem

BAB I PENDAHULUAN. Aktivasi koagulasi dan fibrinolitik merupakan bagian dari sistem BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivasi koagulasi dan fibrinolitik merupakan bagian dari sistem hemostasis dalam upaya menjaga homeostasis tubuh terhadap terjadinya perdarahan atau trombosis. 1 Trombosis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya seperti sifilis, gonore, dan herpes. Ilmu pengetahuan yang semakin

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya seperti sifilis, gonore, dan herpes. Ilmu pengetahuan yang semakin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kelamin merupakan fenomena penyakit yang telah lama kita kenal diantaranya seperti sifilis, gonore, dan herpes. Ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, menemukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit tromboemboli vena (TEV) termasuk didalamnya trombosis vena dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit tromboemboli vena (TEV) termasuk didalamnya trombosis vena dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit tromboemboli vena (TEV) termasuk didalamnya trombosis vena dalam (TVD)/Deep Vein Thrombosis (DVT) dan pulmonary embolism (PE) merupakan penyakit yang dapat

Lebih terperinci

Urutan mekanisme hemostasis dan koagulasi dapat dijelaskan sebagai berikut:

Urutan mekanisme hemostasis dan koagulasi dapat dijelaskan sebagai berikut: MEKANISME HEMOSTASIS Urutan mekanisme hemostasis dan koagulasi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Segera setelah pembuluh darah terpotong atau pecah, rangsangan dari pembuluh darah yang rusak itu menyebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Virus Epstein-Barr (EBV) adalah virus yang. menginfeksi lebih dari 90% populasi di dunia, baik yang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Virus Epstein-Barr (EBV) adalah virus yang. menginfeksi lebih dari 90% populasi di dunia, baik yang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Virus Epstein-Barr (EBV) adalah virus yang menginfeksi lebih dari 90% populasi di dunia, baik yang diikuti dengan timbulnya gejala ataupun tidak. WHO-IARC menggolongkan

Lebih terperinci

BAB V HEMOSTASIS Definisi Mekanisme hemostasis Sistem koagulasi

BAB V HEMOSTASIS Definisi Mekanisme hemostasis Sistem koagulasi BAB V HEMOSTASIS Definisi Hemostasis adalah mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan karena trauma dan mencegah perdarahan spontan. Hemostasis juga menjaga darah tetap cair. Mekanisme hemostasis Jika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Warfarin merupakan antagonis vitamin K yang banyak digunakan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Warfarin merupakan antagonis vitamin K yang banyak digunakan sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Warfarin merupakan antagonis vitamin K yang banyak digunakan sebagai antikoagulan oral untuk terapi tromboembolisme vena dan untuk mencegah emboli sistemik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kematian ibu, disamping perdarahan dan infeksi. Dari kelompok hipertensi

BAB I PENDAHULUAN. kematian ibu, disamping perdarahan dan infeksi. Dari kelompok hipertensi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hipertensi dalam kehamilan merupakan penyebab 3 besar kematian ibu, disamping perdarahan dan infeksi. Dari kelompok hipertensi dalam kehamilan, syndrom preeklampsia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat disebabkan oleh infeksi virus. Telah ditemukan lima kategori virus yang menjadi agen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) memerlukan deteksi cepat untuk kepentingan diagnosis dan

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN RF (RHEUMATOID FACTOR)

PEMERIKSAAN RF (RHEUMATOID FACTOR) Nama : Benny Tresnanda PEMERIKSAAN RF (RHEUMATOID FACTOR) Nim : P07134013027 I. Tujuan Untuk mengetahui adanya RF (Rheumatoid Factor) secara kualitatif dan semi kuantitatif pada sampel serum. II. Dasar

Lebih terperinci

Sindroma antifosfolipid : pendekatan diagnostik dan terapi

Sindroma antifosfolipid : pendekatan diagnostik dan terapi Sindroma antifosfolipid : pendekatan diagnostik dan terapi Amaylia Oehadian Sub bagian Hematologi Onkologi Medik Bagian Penyakit Dalam FK Unpad, RS Hasan Sadikin Bandung Diajukan pada Pendidikan Kedokteran

Lebih terperinci

KEHAMILAN DENGAN SINDROMA ANTIFOSFOLIPID

KEHAMILAN DENGAN SINDROMA ANTIFOSFOLIPID JMJ, Volume 4, Nomor 1, Mei 2016, Hal: 156 178 KEHAMILAN DENGAN SINDROMA ANTIFOSFOLIPID Herlambang 1 1 Divisi Fetomaternal Bagian Kebidanan dan Kandungan FKIK Universitas Jambi / RSUD Raden mattaher Jambi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekrutan dan aktivasi trombosit serta pembentukan trombin dan fibrin 1. Proses

BAB I PENDAHULUAN. perekrutan dan aktivasi trombosit serta pembentukan trombin dan fibrin 1. Proses BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hemostasis adalah proses yang mempertahankan integritas sistem peredaran darah setelah terjadi kerusakan vaskular. Dalam keadaan normal, dinding pembuluh darah yang

Lebih terperinci

ANTICOAGULANT Quick Outlook To Guideline Review Widya Istanto Nurcahyo

ANTICOAGULANT Quick Outlook To Guideline Review Widya Istanto Nurcahyo ANTICOAGULANT Quick Outlook To Guideline Review Widya Istanto Nurcahyo RSUP DR KARIADI-FK UNDIP Klasifikasi ANTIKOAGULAN Cara Pemberian Parenteral Oral Target Thrombin Thrombin, FXa FXa Thrombin FXa Others

Lebih terperinci

Trombositopenia akibat Heparin

Trombositopenia akibat Heparin Akreditasi PP IAI 2 SKP Trombositopenia akibat Heparin Roveny Dokter Umum RSUK Kembangan, Jakarta, Indonesia; Kolumnis Harian Medan Bisnis ABSTRAK Trombositopenia akibat heparin merupakan komplikasi serius

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah besar. dalam bidang obstetri, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi

BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah besar. dalam bidang obstetri, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah besar dalam bidang obstetri, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi baik pada ibu maupun bayi. Hipertensi

Lebih terperinci

Recurrent spontaneous fetal loss (RSFL) pada sindrom antifosfolipid

Recurrent spontaneous fetal loss (RSFL) pada sindrom antifosfolipid Recurrent spontaneous fetal loss (RSFL) pada sindrom antifosfolipid John J. E. Wantania Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi - RSUP Prof. R. D. Kandou Manado

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak beberapa tahun terakhir ini, berbagai penyakit infeksi mengalami peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai belahan dunia

Lebih terperinci

Mekanisme Pembekuan Darah

Mekanisme Pembekuan Darah Mekanisme Pembekuan Darah Pada pembuluh darah yang rusak, kaskade koagulasi secara cepat diaktifasi untuk menghasilkan trombin dan akhirnya untuk membentuk solid fibrin dari soluble fibrinogen, memperkuat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid adalah penyakit infeksi bakteri yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Demam tifoid masih merupakan penyakit endemik di Indonesia. Hal ini dikaitkan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya kesehatan transfusi darah adalah upaya kesehatan berupa penggunaan darah bagi keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan. Sebelum dilakukan transfusi darah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ketuban pecah dini (KPD) adalah keluarnya air ketuban (cairan amnion) sebelum

BAB I PENDAHULUAN. Ketuban pecah dini (KPD) adalah keluarnya air ketuban (cairan amnion) sebelum 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ketuban pecah dini (KPD) adalah keluarnya air ketuban (cairan amnion) sebelum terjadinya persalinan. KPD merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit demam berdarah hingga saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang sulit ditanggulangi di Indonesia. Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia

Lebih terperinci

Deskripsi. IMUNOGLOBULIN YOLK (IgY) ANTI Canine parvovirus MURNI UNTUK TERAPI INFEKSI VIRUS PARVO PADA ANJING

Deskripsi. IMUNOGLOBULIN YOLK (IgY) ANTI Canine parvovirus MURNI UNTUK TERAPI INFEKSI VIRUS PARVO PADA ANJING 1 I Gst Ayu Agung Suartini(38) FKH - Universitas Udayana E-mail: [email protected] Tlf : 081282797188 Deskripsi IMUNOGLOBULIN YOLK (IgY) ANTI Canine parvovirus MURNI UNTUK TERAPI INFEKSI VIRUS PARVO

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang

I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid akut merupakan penyakit infeksi akut bersifat sistemik yang disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang dikenal dengan Salmonella

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam tifoid adalah penyakit sistemik akut pada saluran pencernaan yang masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian demam tifoid di

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kebiasaan mengadakan hubungan seksual bebas mungkin dapat dianggap sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kebiasaan mengadakan hubungan seksual bebas mungkin dapat dianggap sebagai BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pola perilaku seksual Kebiasaan mengadakan hubungan seksual bebas mungkin dapat dianggap sebagai suatu bentuk kenakalan. Hubungan bebas diartikan sebagai hubungan seksual yang

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Skema Kerangka Konseptual

Gambar 3.1 Skema Kerangka Konseptual BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Konseptual 3.1.1 Skema Kerangka Konseptual Pola Penggunaan Angiotensin Reseptor Bloker pada Pasien Stroke Iskemik Etiologi - Sumbatan pembuluh darah otak - Perdarahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Heparin Heparin adalah salah satu jenis obat golongan antikoagulan yang mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat pembentukan atau menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang. disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang. disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama

Lebih terperinci

HIPERTIROID DALAM KEHAMILAN

HIPERTIROID DALAM KEHAMILAN HIPERTIROID DALAM KEHAMILAN Dr.Eva Decroli,SpPD-KEMD,FINASIM SUB BAGIAN ENDOKRIN DAN METABOLIK BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNAND/ RS DR. M. DJAMIL PADANG 1 HIPERTIROID sindroma hipermetabolisme

Lebih terperinci

PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN LAJU ENDAP DARAH CARA WESTERGREN MENGGUNAKAN DARAH EDTA TANPA PENGENCERAN DENGAN CARA OTOMATIK

PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN LAJU ENDAP DARAH CARA WESTERGREN MENGGUNAKAN DARAH EDTA TANPA PENGENCERAN DENGAN CARA OTOMATIK PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN LAJU ENDAP DARAH CARA WESTERGREN MENGGUNAKAN DARAH EDTA TANPA PENGENCERAN DENGAN CARA OTOMATIK Ardiya Garini Dosen Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Palembang ABSTRAK Laju

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kehamilan 20 minggu. American College Obstetry and Gynecology (ACOG)

BAB 1 PENDAHULUAN. kehamilan 20 minggu. American College Obstetry and Gynecology (ACOG) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Preeklampsia merupakan new onset hipertensi dengan proteinuria setelah kehamilan 20 minggu. American College Obstetry and Gynecology (ACOG) membagi preeklampsia menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selama kehamilan, wanita dihadapkan pada berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, salah satunya adalah abortus. Abortus adalah kejadian berakhirnya kehamilan secara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke adalah sindrom yang terdiri dari tanda dan/atau gejala hilangnya fungsi sistem saraf pusat fokal (atau global) yang berkembang cepat (dalam detik atau menit).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkembang secara bermakna setelah 2 minggu (Harper, 2005). 75% di antaranya berada di Asia, Afrika (20%), dan Amerika Latin (5%).

BAB I PENDAHULUAN. berkembang secara bermakna setelah 2 minggu (Harper, 2005). 75% di antaranya berada di Asia, Afrika (20%), dan Amerika Latin (5%). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) merupakan masalah penting dalam dunia kedokteran, karena PJT dikaitkan dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas neonatal. Selain

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan mortalitas yang tinggi di dunia. Menurut data World Health Organization

BAB 1 PENDAHULUAN. dan mortalitas yang tinggi di dunia. Menurut data World Health Organization BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskuler merupakan masalah kesehatan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di dunia. Menurut data World Health Organization (WHO), penyakit kardiovaskuler

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. virus DEN 1, 2, 3, dan 4 dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedesal

BAB I PENDAHULUAN. virus DEN 1, 2, 3, dan 4 dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedesal 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Infeksi dengue masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Infeksi dengue disebabkan oleh virus DEN 1,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut World Health Organization (WHO) ditingkat dunia AKB berkisar sekitar 37 per 1000

BAB I PENDAHULUAN. Menurut World Health Organization (WHO) ditingkat dunia AKB berkisar sekitar 37 per 1000 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka angka kematian bayi (AKB) pada saat ini masih menjadi persoalan di Indonesia. Menurut World Health Organization (WHO) ditingkat dunia AKB berkisar sekitar 37

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, dan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. World Health Organization (WHO) pada berbagai negara terjadi

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, dan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. World Health Organization (WHO) pada berbagai negara terjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae (M. leprae) yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit,

Lebih terperinci

Mola Hidatidosa. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

Mola Hidatidosa. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi Mola Hidatidosa Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi Definisi Mola hidatidosa adalah bagian dari penyakit trofoblastik gestasional, yang disebabkan oleh kelainan pada vili koriales

Lebih terperinci

DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN

DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. satu kegawatdaruratan paling umum di bidang bedah. Di Indonesia, penyakit. kesembilan pada tahun 2009 (Marisa, dkk., 2012).

BAB I PENDAHULUAN. satu kegawatdaruratan paling umum di bidang bedah. Di Indonesia, penyakit. kesembilan pada tahun 2009 (Marisa, dkk., 2012). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanda dan gejala klasik apendisitis akut pertama kali dilaporkan oleh Fitz pada tahun 1886 (Williams, 1983). Sejak saat itu apendisitis akut merupakan salah satu kegawatdaruratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Polisitemia Vera (PV) adalah salah satu jenis keganasan mieloproliferatif.

BAB I PENDAHULUAN. Polisitemia Vera (PV) adalah salah satu jenis keganasan mieloproliferatif. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Polisitemia Vera (PV) adalah salah satu jenis mieloproliferatif. Pada penderita PV, terdapat produksi berlebih sel-sel darah akibat hipersensitifitas proses hematopoesis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari tubuh yang jumlahnya 6-8% dari berat badan total. a. Plasma darah, merupakan bagian yang cair

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari tubuh yang jumlahnya 6-8% dari berat badan total. a. Plasma darah, merupakan bagian yang cair BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Darah 1. Definisi Darah Darah merupakan bagian penting dari sistem transport dan bagian penting dari tubuh yang jumlahnya 6-8% dari berat badan total. Darah merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. atau gabungan keduanya (Majid, 2007). Penyakit jantung dan pembuluh darah

BAB 1 PENDAHULUAN. atau gabungan keduanya (Majid, 2007). Penyakit jantung dan pembuluh darah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh penyempitan pada lumen arteri koroner akibat arterosklerosis, atau spasme, atau gabungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi bakteri yang berkembang menjadi sepsis yang merupakan suatu respon tubuh dengan adanya invasi mikroorganisme, bakteremia atau pelepasan sitokin akibat pelepasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kronik dan termasuk penyakit hati yang paling berbahaya dibandingkan dengan. menularkan kepada orang lain (Misnadiarly, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. kronik dan termasuk penyakit hati yang paling berbahaya dibandingkan dengan. menularkan kepada orang lain (Misnadiarly, 2007). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepatits B disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang termasuk virus DNA, yang menyebakan nekrosis hepatoseluler dan peradangan (WHO, 2015). Penyakit Hepatitis B

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue I, II, III, dan IV yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedes albopticus.

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian Hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program strata-1 kedokteran umum

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian Hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program strata-1 kedokteran umum PENGARUH PEMBERIAN HEPARIN SUBKUTAN SEBAGAI PROFILAKSIS TROMBOSIS VENA DALAM (TVD) TERHADAP NILAI D-DIMER PADA PASIEN SAKIT KRITIS DI ICU RSUP DR. KARIADI LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN MASA PEMBEKUAN DARAH

PEMERIKSAAN MASA PEMBEKUAN DARAH PEMERIKSAAN MASA PEMBEKUAN DARAH (CLOTTING TIME) Oleh : KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN ANALIS KESEHATAN 2015 PEMERIKSAAN MASA PEMBEKUAN ( CLOTTING TIME ) A. Faal Hemostasis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan

BAB I PENDAHULUAN. Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan dan kematian pada anak. 1,2 Watson dan kawan-kawan (dkk) (2003) di Amerika Serikat mendapatkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah merupakan bagian dari tubuh yang jumlahnya 60-80% dari berat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah merupakan bagian dari tubuh yang jumlahnya 60-80% dari berat BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Darah Darah merupakan bagian dari tubuh yang jumlahnya 60-80% dari berat badan, dangan viskositas darah 4,5 kali lebih besar daripada air. Darah merupakan jaringan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan penyulit medis yang sering ditemukan pada kehamilan yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas baik ibu maupun perinatal. Hipertensi dalam

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK

PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK Endang Retnowati Departemen/Instalasi Patologi Klinik Tim Medik HIV FK Unair-RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 15 16 Juli 2011

Lebih terperinci

1 Universitas Kristen Maranatha

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan di PMI antara lain mencakup pengerahan donor, penyumbangan darah, pengambilan, pengamanan, pengolahan, penyimpanan, dan penyampaian darah kepada pasien. Kegiatan

Lebih terperinci

BAB. IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB. IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian BAB. IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai hubungan antara jumlah trombosit dengan kejadian pada pasien DBD (DSS) anak ini dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Bantul pada tanggal

Lebih terperinci

Sehat merupakan kondisi yang ideal secara fisik, psikis & sosial, tidak terbatas pada keadaan bebas dari penyakit dan cacad (definisi WHO)

Sehat merupakan kondisi yang ideal secara fisik, psikis & sosial, tidak terbatas pada keadaan bebas dari penyakit dan cacad (definisi WHO) 1 Sehat merupakan kondisi yang ideal secara fisik, psikis & sosial, tidak terbatas pada keadaan bebas dari penyakit dan cacad (definisi WHO) Sakit : pola respon yang diberikan oleh organisme hidup thd

Lebih terperinci

SINDROM ANTIFOSFOLIPID PADA KEGUGURAN BERULANG

SINDROM ANTIFOSFOLIPID PADA KEGUGURAN BERULANG SINDROM ANTIFOSFOLIPID PADA KEGUGURAN BERULANG Prasetyowati 1) dan Sadiman 2) 1) 2) Program Studi Kebidanan Metro Politeknik Kesehatan Tanjungkarang E-mail: [email protected] Abstrak Abortus berulang

Lebih terperinci

Journal of Diabetes & Metabolic Disorders Review Article

Journal of Diabetes & Metabolic Disorders Review Article Journal of Diabetes & Metabolic Disorders Review Article Gestational Diabetes Mellitus : Challenges in diagnosis and management Bonaventura C. T. Mpondo, Alex Ernest and Hannah E. Dee Abstract Gestational

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Separuh penduduk dunia berisiko tertular malaria karena hidup lebih dari 100

BAB I PENDAHULUAN. Separuh penduduk dunia berisiko tertular malaria karena hidup lebih dari 100 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria masih merupakan salah satu penyakit menular yang masih sulit diberantas dan merupakan masalah kesehatan diseluruh dunia termasuk Indonesia, Separuh penduduk

Lebih terperinci

Jurnal Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Rubella

Jurnal Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Rubella Jurnal Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Rubella TORCH adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis

Lebih terperinci

RINGKASAN. Penyakit hati kronis merupakan masalah kesehatan masyarakat, tetapi sering tidak diketahui, karena tidak menunjukkan gejala untuk

RINGKASAN. Penyakit hati kronis merupakan masalah kesehatan masyarakat, tetapi sering tidak diketahui, karena tidak menunjukkan gejala untuk RINGKASAN Penyakit hati kronis merupakan masalah kesehatan masyarakat, tetapi sering tidak diketahui, karena tidak menunjukkan gejala untuk waktu yang sangat lama, dan baru terdeteksi ketika fibrosis telah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Subyek Penelitian Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan penurunan kadar HsCRP dan tekanan darah antara pemberian

Lebih terperinci

autologous control yang positif mengindikasikan adanya keabnormalan pada pasien itu sendiri yang disebabkan adanya alloantibody di lapisan sel darah

autologous control yang positif mengindikasikan adanya keabnormalan pada pasien itu sendiri yang disebabkan adanya alloantibody di lapisan sel darah SCREENING ANTIBODY Screening antibody test melibatkan pengujian terhadap serum pasien dengan dua atau tiga sampel reagen sel darah merah yang disebut sel skrining/sel panel. Sel panel secara komersial

Lebih terperinci

Meyakinkan Diagnosis Infeksi HIV

Meyakinkan Diagnosis Infeksi HIV ART untuk infeksi HIV pada bayi dan anak dalam rangkaian terbatas sumber daya (WHO) IV. Meyakinkan Diagnosis Infeksi HIV Bagian ini merangkum usulan WHO untuk menentukan adanya infeksi HIV (i) agar memastikan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yang didapatkan dari RSUP Dr. Kariadi yang telah diketahui hasil test

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yang didapatkan dari RSUP Dr. Kariadi yang telah diketahui hasil test BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Sampel Pada penelitian kesesuaian besar flokulan test kualitatif terhadap test kuantitatif pada pemeriksaan VDRL sampel yang digunakan adalah sampel serum yang

Lebih terperinci

HIPERTIROID DALAM KEHAMILAN

HIPERTIROID DALAM KEHAMILAN HIPERTIROID DALAM KEHAMILAN MASITA FUJIKO Divisi Fetomaternal, Departemen Obgin FK UNHAS/ RS Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar Hipertiroid adalah kondisi klinik dan biokimiawi yang menunjukkan meningkatnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. berkembang. Berdasarkan data WHO (2010), setiap tahunya terdapat 10 juta

I. PENDAHULUAN. berkembang. Berdasarkan data WHO (2010), setiap tahunya terdapat 10 juta 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke adalah penyakit multifaktoral dengan berbagai penyebab disertai manifestasi mayor, dan penyebab kecacatan dan kematian di negara-negara berkembang. Berdasarkan

Lebih terperinci

R S. D R. H I. A B D O E L M O E L O E K B A N D A R L A M P U N G

R S. D R. H I. A B D O E L M O E L O E K B A N D A R L A M P U N G STANDAR PELAYANAN MINIMAL PATOLOGI KLINIK R S. D R. H I. A B D O E L M O E L O E K B A N D A R L A M P U N G S T A N D A R P E L A Y A N A N M E D I K PATOLOGI KLINIK Latar Belakang Ruang lingkup disiplin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Tumor ganas ovarium adalah penyebab kematian akibat tumor ginekologi yang menduduki urutan ke empat di Amerika Serikat. (1-10) Laporan statistik kanker Amerika Serikat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membahayakan, merupakan penyakit saluran cerna pada neonatus, ditandai

BAB I PENDAHULUAN. membahayakan, merupakan penyakit saluran cerna pada neonatus, ditandai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Enterokolitis nekrotikans (EKN) adalah penyakit yang umum sekaligus membahayakan, merupakan penyakit saluran cerna pada neonatus, ditandai dengan kematian jaringan

Lebih terperinci

DIAGNOSIS DM DAN KLASIFIKASI DM

DIAGNOSIS DM DAN KLASIFIKASI DM DIAGNOSIS DM DAN KLASIFIKASI DM DIAGNOSIS DM DM merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya

Lebih terperinci

BAB I Infeksi dengue adalah suatu infeksi arbovirus yang ditularkan melalui

BAB I Infeksi dengue adalah suatu infeksi arbovirus yang ditularkan melalui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi dengue adalah suatu infeksi arbovirus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti atau aedes albopictus (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan FKUI, 2002:Hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Insidensi gangguan toleransi glukosa cenderung meningkat seiring dengan peningkatan kasus Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 dan Sindrom Metabolik (Mets). Peningkatan insidensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella sp. Demam tifoid merupakan masalah yang serius di negara berkembang,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk mengukur status kesehatan ibu disuatu negara. Dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Dasar Indonesia

Lebih terperinci

Interpretasi dan Aspek Legalitas Hasil. Pemeriksaan Laboratorium pada HIV/AIDS

Interpretasi dan Aspek Legalitas Hasil. Pemeriksaan Laboratorium pada HIV/AIDS nterpretasi dan Aspek Legalitas Hasil Pemeriksaan Laboratorium pada HV/ADS Diajukan oleh: Agnes R ndrati Dept. Patologi Klinik, RS Hasan Sadikin/ FK Universitas Padjadjaran Bandung Pada Acara: Simposium

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang disiapkan dari fresh frozen plasma (FFP) dengan mencairkannya secara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang disiapkan dari fresh frozen plasma (FFP) dengan mencairkannya secara 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA KRIOPRESIPITAT Kriopresipitat merupakan plasma yang tidak terlarut pada suhu dingin yang disiapkan dari fresh frozen plasma (FFP) dengan mencairkannya secara perlahan pada 4-6⁰

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hemostasis Faal hemostasis adalah suatu fungsi tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan keenceran darah sehingga darah tetap mengalir dalam pembuluh darah dan menutup kerusakan

Lebih terperinci