BAB II LANDASAN TEORI
|
|
|
- Leony Setiabudi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 IT Service Management Bagian ini akan membahas hasil tinjauan literatur sehubugan dengan servis dan manajemen servis untuk IT IT As Service Menurut OGC (2007, p28), A service is a means of delivering value to customers by facilitating outcomes customers want to achieve without the ownership of specific costs and risks. IT adalah salah satu kategori servis yang digunakan oleh bisnis (OGC, 2007). IT sebagai servis biasanya berupa aplikasiaplikasi dan infrastruktur yang dipaketkan dan ditawarkan sebagai servis-servis oleh IT internal organisasi atau penyedia-penyedia jasa eksternal (OGC, 2007). Fisher (2008) mencontohkan pada saat IT menyediakan desktop PC untuk karyawan baru, bagian organisasi yang melakukan permintaan desktop PC tidak tertarik atau tidak ingin mengetahui mengenai kesesuaian dengan standar-standar peralatan yang telah ditetapkan sebelumnya, instalasi aplikasi, keamanan dan patches. Adalah kesanggupan pelayanan, bukan hanya komponen-komponen, yang dibutuhkan saat karyawan baru yang telah tiba di lokasi kerja agar dapat mulai melaksanakan pekerjaan pada organisasi tersebut (Fisher, 2008). 8
2 Konsep dan Manfaat IT Service Management Tan, Cater-Steel, dan Toleman (2009) mengindikasikan adanya tren yang mendorong fungsi IT untuk lebih berorientasi servis agar lebih selaras dengan tujuan bisnis organisasi. Selain itu, tren yang juga muncul adalah semakin besarnya tekanan bagi organisasi publik dan privat untuk lebih cost-effective, meningkatnya ketergantungan pada IT untuk mencapai informasi yang bersifat nyaris real-time, untuk mendukung aktivitas-aktivitas yang bersifat missioncritical, serta kebutuhan untuk meningkatkan integritas pelaporan agar dapat memenuhi ketentuan regulasi yang semakin ketat (Tan et al., 2009). Tan et al. juga menyebutkan bahwa user-user dan manajemen senior semakin berkeinginan untuk mengurangi level toleransi dan kegagalan infrastruktur IT. Tren-tren ini menyebabkan model ITSM semakin dibutuhkan oleh IT, baik IT dalam suatu organisasi maupun sebagai penyedia jasa eksternal organisasi. Service management adalah serangkaian specialized organizational capabilities dalam menyediakan value ke customers dalam bentuk servis (OGC, 2007, p26). Istilah IT Service Management (ITSM) menunjuk pada praktek service management untuk IT sebagai suatu pendekatan berorientasi servis untuk mengelola aplikasi-aplikasi, infrastruktur-infrastruktur, serta proses-proses IT (OGC, 2007). Laporan hasil survei di Australia sehubungan dengan manfaat ITSM mengindikasikan adanya berbagai manfaat dari implementasi kerangka kerja ITSM, yang diantaranya adalah meningkatkan fleksibilitas dan kemampuan adaptasi dari servis IT (dipilih oleh 43% dari total responden), staf IT memiliki ekspektasi yang jelas (37%), cost justification dari infrastruktur dan servis IT
3 10 (35%), serta meningkatkan kualitas dari operasional bisnis (34%) (Gacenga, Cater-Steel, & Toleman, 2010). Survei ini dilakukan pada populasi berupa seluruh anggota IT Service Management Forum (ITSMF) Australia berjumlah 2085 anggota dengan jumlah respon yang dapat digunakan berasal dari 215 anggota atau tingkat respon sebesar 10 % (Gacenga et al., 2010). 2.2 IT Infrastructure Library Pada tahun 1980an, dalam rangka kebutuhan efisiensi, pemerintah Inggris membuat dokumentasi tentang bagaimana organisasi-organisasi terbaik dan tersukses melaksanakan service management (OGC, 2007). Berdasarkan literatur dari OGC, dokumentasi atas pendekatan ITSM tersebut itulah yang diterbitkan dalam bentuk seri buku dan diberi judul IT Infrastructure Library atau disingkat sebagai ITIL. Publikasi ITIL dilakukan oleh Her Majesty s Stationery Office untuk OGC pada tahun 1989 sampai 1995 di Inggris (Cartlidge et al., 2007). OGC adalah suatu independent office dari kementerian ekonomi dan keuangan di Inggris (dikenal juga sebagai Her Majesty s Treasury) yang didirikan untuk membantu pemerintah Inggris memberikan the best value dari pengeluaran atau spending (HM Treasury, n.d.; OGC, 2009). ITIL versi pertama terdiri atas 31 buku yang membahas tentang seluruh aspek dari ketentuan IT service (Cartlidge et al., 2007, p8). Menurut Cartlidge et al., penggunaan awal dari ITIL pada saat itu terutama terbatas untuk Inggris dan Belanda. Versi kedua dari ITIL (ITIL V2) diterbitkan antara tahun 2000 dan 2004 (Cartlidge et al., 2007). Cartlidge et al. menyatakan ITIL V2, yang terdiri atas
4 11 tujuh buku, lebih terhubung dan terkonsolidasi dalam suatu kerangka yang menyeluruh. Penggunaan ITIL V2 lebih universal dan digunakan oleh banyak organisasi di berbagai negara (Cartlidge et al., 2007). ITIL V3 diterbitkan pada tahun 2007 dan terdiri atas lima buku inti (core) yang membahas tentang service lifecycle, dengan Official Introduction sebagai buku keenam (Cartlidge et al., 2007). Cartlidge et al. menyebutkan bahwa lima buku inti itu menjabarkan setiap tingkat dari service lifecycle, yaitu service strategy, service design, service transition, service operation, dan continual Service Improvement. IT service lifecycle sehubungan dengan ITIL digambarkan sebagai diagram pada Gambar 2.1. Gambar 2.1 IT Service Lifecycle (OGC, 2007)
5 Definisi IT Infrastructure Library Pada literatur resmi OGC (2007, p.381) untuk ITIL V3, definisi ITIL dinyatakan sebagai, A set of Best Practice guidance for IT Service Management. OGC juga menyatakan bahwa ITIL memberikan panduan mengenai ketentuan pada Quality IT Services dan proses-proses serta fasilitasfasilitas yang dibutuhkan untuk mendukung servis-servis tersebut. ITIL memperkenalkan pendekatan ITSM yang lebih terhubung, end-toend sehingga dapat menggantikan technology silos dan isolated island of excelence (Cartlidge et al., 2007). ITIL dinyatakan juga sebagai rangkaian prosedur manajemen yang ekstensif dengan tujuan untuk mendukung bisnis guna mencapai kualitas dan value for money dari operasional IT (Zeng, 2007) Manfaat IT Infrastructure Library ITIL V3 digunakan sebagai kerangka kerja dalam melakukan koordinasi dan optimalisasi proses (Kræmmergaard, 2010). Kerangka kerja best practice ITIL memungkinkan manajer-manajer untuk melakukan dokumentasi, audit, dan meningkatkan proses-proses ITSM mereka (Tan et al., 2009). Secara spesifik untuk ITIL V3, banyak organisasi melihat bahwa ITIL V3 ditujukan untuk memfasilitasi penyelarasan proses-proses ITSM mereka dengan keseluruhan kebutuhan bisnis dan untuk menghindari kerugian akibat munculnya silo dari proses (Tan et al., 2009).
6 13 Aspek-aspek dari ITIL pada service management memberikan teknikteknik untuk (Fisher, 2006): 1. Menurunkan kesalahan-kesalahan (errors) dan kelebihan riset yang tidak perlu (research redundancies). 2. Membantu dalam perencanaan, eksekusi, dan analisis atas insiatif-insiatif yang berhubungan dengan IT. 3. Meningkatkan ketersediaan, reliability, keamanan, dan kontinuitas dari aset. 4. Mendefinisikan servis-servis untuk mendukung organisasi per kebutuhankebutuhan user pada biaya-biaya yang terendah. 5. Mengkomunikasikan peran dan tanggung jawab 6. Analisis pada key performance indicators. 7. Menerapkan lesson learned pada aktivitas-aktivitas di masa mendatang Hambatan-hambatan Implementasi ITIL Studi kasus pada tiga perusahaan dalam industri berbasis jasa oleh Shang dan Lin (2010) mengidentifikasikan hambatan-hambatan dalam melakukan implementasi atau melakukan investasi untuk ITIL pada servis-servis dan prosesproses perusahaan-perusahaan tersebut. Studi ini juga menggunakan dimensidimensi dalam Balanced Scorecard dimana hambatan-hambatan yang ditemukan adalah (Shang & Lin, 2010): 1. Ketidakpuasan customer karena adanya gap antara tingkat perbaikan kualitas servis dengan persepsi customer 2. Tidak mampu memuaskan kebutuhan spesifik customer pada waktunya
7 14 3. Biaya ekstra muncul untuk pendidikan dan manajemen 4. Jeda waktu (time lag) antara investasi proyek ITIL dengan hasil kinerja 5. Konflik antara kebutuhan yang mendesak atas peningkatan kualitas dengan pertimbangan biaya 6. Kesulitan dalam melakukan implementasi 7. Resistance dari karyawan 8. Kurangnya kemampuan dalam hal integrasi Pengaruh hambatan-hambatan di atas terhadap empat dimensi Balanced Scorecard disajikan pada Gambar 2.2. Gambar 2.2 Hubungan Hambatan-hambatan Implementasi ITIL dengan Dimensidimensi Balanced Scorecard (Shang & Lin, 2010)
8 15 Menurut Shang dan Lin (2010), hambatan-hambatan tersebut berdampak tidak hanya pada perusahaan, melainkan juga pada customers, call centers, dan staf IT service, serta karyawan-karyawan pada departemen lain. Oleh karena itu, dalam melaksanakan proyek perbaikan kualitas, sebaiknya tidak hanya memperhatikan dari salah satu aspek saja, seperti biaya implementasi, melainkan juga aspek-aspek lain yang terkena dampak akibat munculnya hambatanhambatan implementasi tersebut (Shang & Lin, 2010). Hambatan-hambatan implementasi ITIL tersebut dapat semakin diatasi dengan adanya dukungan yang kuat dari manajemen level atas, komunikasi antara internal dengan customer eksternal, mendesain sistem penghargaan yang mendorong penerapan dari proyek kualitas, dan menciptakan budaya yang menekankan perbaikan secara berkelanjutan (Shang & Lin, 2010) Faktor-faktor Penentu Kesuksesan Implementasi ITIL Studi oleh Tan et. al (2009), yang dilakukan pada proyek implementasi model ITSM secara terpusat berdasarkan ITIL menyimpulkan adanya faktorfaktor penting yang berperan pada kesuksesan proyek ITIL, yaitu: 1. Dukungan dari manajemen senior dan penunjukan senior staf dari unit-unit bisnis ke high level committees. 2. Manajemen senior harus memahami seberapa besar implementasi yang dilakukan dan menjamin bahwa proyek ITSM tersebut didukung sumber daya yang mencukupi dan sesuai atau tepat. 3. Manajer senior sebagai project champion.
9 16 4. Untuk proyek ITSM yang melibatkan vendor, dibutuhkan transfer teknologi yang efektif dari vendor ke staf perusahaan. Hal ini diupayakan tidak hanya dengan mengandalkan penerapan kontrak, tetapi juga dengan mengupayakan hubungan yang dekat dan terus terang (forthright) dengan para vendor terkait proyek ITSM. 5. Manajemen perubahan yang efektif dalam mengubah kultur dari berfokus teknologi menjadi berfokus pada servis. 6. Jika perubahan menyertakan restrukturisasi organisasi, maka dibutuhkan perencanaan yang hati-hati, reinforcement dari tujuan-tujuan proyek, dan penunjukan process owners yang tepat. 7. Rencana realisasi manfaat dijalankan agar manfaat yang nyata (tangible) dan yang tidak berwujud (intangible) dari proyek ini dapat dilacak dan dikomunikasikan sehingga komitmen manajemen senior dan manajer-manajer bisnis dapat dipertahankan. 8. Tata kelola (governance) dan eksekusi proyek secara efektif dan tetap berfokus pada tujuan proyek. Studi lain menyimpulkan bahwa faktor-faktor kritis yang menentukan kesuksesan implementasi ITIL dapat dikategorikan sebagai berikut (Kræmmergaard, Lynge, & Schou, 2010): 1. Fokus pada keselarasan strategis dan pelanggan sehingga memastikan proyek adalah masuk akal dari sisi bisnis dan berkontribusi pada organsiasi.
10 17 2. Proses implementasi yang berbasis contingency dimana sasaran, proses, sumber daya, dan lain-lain, diadaptasikan terhadap keadaan spesifik dari organisasi. 3. Proses implementasi yang terencana dan risk driven yang dapat menangani resiko nyata dari implementasi secara sistematis ketika proyek berjalan. 4. Proses implementasi yang bersifat bertingkat dimana tantangan-tantangan dapat diatasi dengan langkah-langkah yang sederhana dan tidak begitu rumit, sehingga lesson learned dapat digunakan pada tingkat selanjutnya dari proyek. 5. Paket implementasi ITIL berkualitas tinggi dengan perbaikan melalui quality assurance yang sistematis. 6. Manajemen pembelajaran dan pengetahuan dilakukan dengan cara memperoleh pengetahuan dari luar organisasi, menggunakan in-house knowledge yang ada, serta memastikan bahwa karyawan-karyawan yang terkait belajar dari praktek (learn by doing). 7. Pentingnya pelaksanaan change management saat implementasi ITIL dan juga saat implementasi jenis teknologi lain. Temuan lain dari studi oleh Kræmmergaard et al. (2010) adalah kesuksesan atau kegagalan dalam mengimplementasikan ITIL lebih ditentukan dari seberapa baik manajemen atas proses perubahan secara organisasi, dibandingkan dari detail-detail spesifik dalam ITIL.
11 Manajemen Konfigurasi Menurut Klosterboer (2008), manajemen konfigurasi adalah suatu disiplin dalam mengidentifikasi, melacak, dan mengontrol berbagai komponen dari IT environment. Klosterboer juga menyatakan bahwa informasi dari manajemen konfigurasilah yang memungkinkan keputusan yang terkait dengan IT dapat dibuat. Manajemen konfigurasi termasuk dalam tahap Service Transition dari IT Service Lifecycle (OGC, 2007). Sasaran-sasaran (goals) dari manajemen konfigurasi sesuai ITIL V3 adalah (OGC, 2007, p118): 1. Mendukung kebutuhan dan control objectives dari bisnis dan customer 2. Mendukung Service Management yang efisien dan efektif dengan cara menyediakan informasi konfigurasi yang akurat sehingga memungkinkan oran-orang membuat keputusan pada waktu yang tepat, contohnya adalah mengotorisasi perubahan dan rilis, menyelesaikan insiden dan problem lebih cepat. 3. Minimalisasi jumlah isu kualitas dan compliance yang disebabkan karena konfigurasi servis dan aset yang tidak tepat. 4. Optimalisasi aset, konfigurasi IT, kapabilitas, dan sumber daya dari servis. Tujuan dari manajemen konfigurasi adalah untuk mendefinisikan dan mengontrol komponen-komponen dari servis-servis dan infrastruktur, serta memelihara informasi konfigurasi secara akurat berdasarkan kondisi historis, kondisi yang direncanakan, dan kondisi saat ini dari servis-servis dan infrastruktur (OGC, 2007, p118).
12 19 Manajemen konfigurasi berbeda dengan manajemen aset, tetapi kedua proses ini saling berhubungan (Ward, Aggarwal, Buco, Olsson, dan S Weinberger, 2007). Aset dan configuration item adalah rangkaian yang saling overlap (Ward et al., 2007). Menurut Ward et al., manajemen aset terutama digunakan untuk mendukung akuntansi dan umumnya tidak memperhatikan hubungan antara item seperti pada manajemen konfigurasi. Umumnya, sebelum menerapkan manajemen konfigurasi, organisasi tersebut terlah menerapkan manajemen aset terlebih dahulu (Ward et al., 2007). Oleh Fisher (2006), hubungan atau pengaruh antara manajemen konfigurasi dengan beberapa proses lain dalam ITSM digambarkan pada diagram pada Gambar 2.3. Penjelasan atas beberapa bagian dari diagram tersedia pada Tabel 2.1. Gambar 2.3 Hubungan Proses Manajemen Konfigurasi Dengan Proses Manajemen atas Insiden, Problem, Rilis, dan Perubahan (Fisher, 2006)
13 20 Tabel 2.1 Penjelasan Tentang Service Desk, Manajemen Insiden, Problem, Konfigurasi, Perubahan, dan Rilis (Shang & Lin, 2010) Configuration Items dan Configuration Management Database Definisi oleh configuration items (CIs) menurut OGC (2007) adalah aset, komponen servis atau item lain yang berada atau akan berada di bawah kontrol manajemen konfigurasi. CI dapat bervariasi dalam hal kompleksitas, ukuran, dan jenis (Fisher, 2006). Pada literature dari Fisher (2006), definisi configuration management database (CMDB) dinyatakan sebagai, "a master database which contains all relevant details of each CI and details of the important relationships between
14 21 CIs. Contoh komponen dari IT environment yang termasuk dalam CMDB adalah hardware, software, dokumentasi, servis, dan user (Ward et al., 2007). Dalam rangka mengumpulkan informasi tentang inventory dan konfigurasi untuk membuat dan memelihara CMDB, organisasi dapat menggunakan suatu software untuk melakukan aktivitas tersebut. Pada studi oleh Fisher (2006), software ini disebut juga sebagai agent, yaitu software yang melakukan scan dan mengumpulkan informasi inventory dan konfigurasi untuk IT-enabled PCs, server-server, personal data assistants (PDAs) dan peralatan lain yang terhubung ke network. Penggunaan agent software ini dapat dilakukan terutama pada organisasi terhadap aset-set internal yang dimilikinya (Fisher, 2006) Penerapan ITIL pada Proses Manajemen Konfigurasi Pelaksanaan ITIL akan memperbaiki manajemen client-systems dan manajemen konfigurasi peralatan (Fisher, 2006). Dengan melihat vitalnya dukungan infrastruktur IT pada service delivery dan keseluruhan service management serta manfaat penerapan ITIL bagi performa infrastruktur, penerapan proses-proses dan disiplin ITIL kemudian akan meningkatkan juga performa bisnis (Fisher, 2006). Disimpulkan dari studi Fisher (2006), penerapan ITIL pada manajemen konfigurasi akan semakin bermanfaat pada organisasi dengan lingkungan yang bersifat fast-paced dan terdistribusi. Organisasi yang memiliki fast paced environment dapat dengan sangat cepat kewalahan jika tidak ada suatu disciplined approach dalam menangani (install, migrate, upgrade, dan troubleshoot) IT enabled devices (Fisher, 2006). Fisher menyatakan bahwa, pada lingkungan yang
15 22 terdistribusi dengan peralatan yang kompleks dan intensif dalam hal konfigurasi, praktek-praktek ITIL akan semakin sesuai untuk diterapkan dalam rangka memberikan support pada users. Dengan begitu, aktivitas-aktivitas tersebut akan menghasilkan perbaikan dalam hal servis dan biaya (Fisher, 2006). Terkait dengan dampak penerapan ITIL dalam pada proses manajemen konfigurasi, Fisher (2006) menyatakan bahwa ITIL melakukan leverage terhadap CMDB dalam hal mengelola satu sumber tunggal yang benar (a single source of truth) untuk kepustakaan (library) dari detail-detail infrastruktur. Detail-detail infrastruktur yang dimaksud Fisher tersebut diantaranya adalah karakteristik, kontrak-kontrak, dan configuration items yang terkait dengan peralatan. Menurut Fisher, beberapa manfaat dari CMDB yang telah diperbaiki menggunakan ITIL ini adalah: 1. Manajemen yang lebih baik terhadap resiko terjadinya outages, errors atau intrusions. 2. Mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan restore dan maintainance pada IT-enabled availability dan functionality. 3. Teknik-teknik dalam ITIL membantu dalam melakukan distribusi, update versi, dan distribusi patch dari software. Gacenga et al. (2010) melaporkan bahwa, berdasarkan survei yang dilakukan di Australia, untuk jenis kerangka kerja ITSM yang digunakan, ITIL digunakan oleh 95% dari seluruh responden dimana 53% menggunakan ITIL V2 (53%) sedangkan 42% menggunakan ITIL V3. Sehubungan dengan proses-proses ITSM yang mengadopsi ITIL, analisis pada survei oleh Gacenga et al.
16 23 menemukan bahwa dari seluruh pengguna ITIL V3, change management (85%) dan incident management (85%) adalah dua proses yang paling banyak menerapkan ITIL V3. Sementara, setidaknya 40% responden telah menggunakan proses service asset and configuration management dari ITIL V3. Gambar 2.4 menunjukkan grafik hasil survei tersebut oleh Gacenga et al.. Gambar 2.4 Proporsi Implementasi Proses-proses ITIL Berdasarkan Informasi dari 215 Anggota ITSMF Australia (Gacenga et al., 2010) 2.4 Continual Service Improvement Proses Continual Service Improvement (CSI) merupakan salah satu tahap dalam IT service lifecycle yang tujuan utamanya adalah, to continually align and re-align IT services to the changing business needs by identifying and implementing improvements to IT services that support business processes. (OGC, 2007, p31). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa CSI mencari cara
17 24 untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses, sekaligus mencapai efektivitas dalam hal biaya (OGC, 2007). Proses CSI mendukung pendekatan service lifecycle melalui Service Strategy, Service Design, Service Transition, dan Service Operation (OGC, 2007). Gambar 2.5 menjabarkan langkah-langkah perbaikan untuk mendukung proses CSI. Gambar 2.5 Langkah-langkah Perbaikan Untuk Melaksanakan Continual Service Improvement Process (OGC, 2007) 2.5 Pengukuran Menggunakan Metrik Pada ITSM Brooks (2006) menyatakan bahwa metrik adalah bagian penting dari sistem manajemen yang mengarahkan dan mengontrol IT dalam arah yang diinginkan. Tujuan penggunaan metrik dalam ITSM adalah (Brooks, 2006): 1. Menyelaraskan tujuan bisnis dengan IT 2. Membantu memenuhi kebutuhan compliance untuk operasi bisnis. 3. Untuk mendorong operational excellence dari IT secara strategis
18 25 Goal Question Metrics Method (GQM) adalah metode yang dimulai dari mendesain top-levels goals dari proyek, kemudian dibuatkan serangkaian pertanyaan untuk tiap goal dimana tiap pertanyaan akan dijawab jika goal tercapai, dan kemudian metrik digunakan untuk mengukur hasil dari pertanyaan tersebut (Brooks, 2006). Brooks (2006) menjelaskan bahwa pada ITSM, top-level goals yang dimaksud adalah goals dari proses. Gambar 2.6 Struktur Model GQM (Basili, Caldiera, & Rombach, 1994)
19 26 Gambar 2.7 Contoh Model GQM (Basili et al., 1994) Dalam rangka memberikan keterangan yang lengkap mengenai metrik untuk ITSM sehingga memberikan informasi yang jelas tentang cara penggunaan, pengukuran, dan fungsinya, berikut adalah field-field yang dapat digunakan untuk menjabarkan metrik (Brooks, 2006): 1. Metric: Deskripsi sederhana atas metrik. Satuan metrik ditulis dalam kurung. 2. Description: Deskripsi singkat dari metrik, sebagai tambahan atas kata-kata sebagai judul metrik.
20 27 3. Specification: Keterangan singkat untuk menspesifikasi apa yang diukur dan / atau bagaimana mengukurnya secara tepat. 4. Justification: Penjelasan mengapa metrik ini berguna dan bermakna. 5. Audience: Indikasi mengenai kepada siapa seharusnya informasi dari metrik memberikan manfaat. 6. Constraints: Isu-isu yang membatasi aplikasi atau interpretasi metrik. 7. Danger value: Kondisi tingkat metrik adalah merah. 8. Target: Nilai target metrik. 9. Possible value: Daftar nilai yang dapat diterima metrik. Pada survei oleh Gacenga et al. (2010), berdasarkan respon-respon atas pertanyaan terkait tantangan-tantangan dalam melakukan pengukuran dan pelaporan atas manfaat ITSM, ditemukan bahwa tantangan-tantangan tersebut berasal dari sisi internal bisnis atau dari sisi pelanggan. Tantangan-tantangan tersebut diperjelas dengan informasi mengenai adanya kesulitan dalam mengelola persepsi stakeholder, mengidentifikasi manfaat-manfaat yang tidak berwujud, serta jeda waktu antara perbaikan proses dan pengukuran ITSM (Gacenga et al., 2010). Gacenga et al. melihat adanya kemungkinan hubungan antara problem pengukuran ITSM dengan hasil observasi dimana hampir 50% dari respondenresponden survei itu menjawab not applicable atau do not know saat ditanyakan tentang kerangka kerja pengukuran kinerja yang digunakan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN Berdasarkan studi kasus pada CM yang dilaksanakan Direktorat IT Binus, secara spesifik oleh IT AMD dengan menggunakan ITIL V3 untuk memperbaiki proses, maka kesimpulan
BAB II LANDASAN TEORI
6 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Information Technology Service Management (ITSM) 2.1.1 Konsep ITSM ITSM (Information Technology Service Management) yaitu sebuah teknologi IT yang dapat membantu perusahaan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Metodelogi penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peristiwa yang real mengenai rencana proses design pada layanan IT dengan menggunakan framework ITIL v3 pada perusahaan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II 1 LANDASAN TEORI 1.1 Penelitian Sebelumnya Penelitian ini merupakan penelitian yang didukung oleh penelitian sebelumnya milik Sutomo dan Ayuningtyas pada Februari 2014 dengan judul "Penentuan Kebijakan
Manejemen Pusat Data
Manejemen Pusat Data Modul ke: 03 Fakultas Ilmu Komputer ITSM (Management Layanan Teknologi Informasi) Dian Wirawan, S.Kom, M.Kom Program Studi Teknik Informatika ITSM (BERBASIS ITIL V3) Management Pusat
BAB II DASAR TEORI. Strategi TI terbaik adalah strategi yang selalu baru dan sesuai
6 BAB II DASAR TEORI 2.1 Tata kelola departemen TI Strategi TI terbaik adalah strategi yang selalu baru dan sesuai mencerminkan perubahan bisnis dan kondisi pasar serta isu-isu yang berkembang (D.Lutchen,
ITIL (Information Technology Infrastructure Library) merupakan suatu framework yang konsisten dan komprehensif dari hasil penerapan yang teruji pada
ITIL (Information Technology Infrastructure Library) merupakan suatu framework yang konsisten dan komprehensif dari hasil penerapan yang teruji pada manajemen pelayanan teknologi informasi sehingga suatu
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan Teknologi Informasi (TI) saat ini telah mencakup berbagai bidang. Hal tersebut dapat dilihat bahwa Teknologi Informasi saat ini sudah menjadi kebutuhan
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 IT Service Management IT Service Management mendukung praktek terbaik dalam manajemen dan tata kelola infrastruktur TI saat ini, termasuk komputerisasi infrastruktur yang mendasari
INFORMATION TECHNOLOGY SERVICE MANAGEMENT
INFORMATION TECHNOLOGY SERVICE MANAGEMENT 06PEM Kelompok 8 Hari Cahya Nugraha 1501203064 Ratu Dewi Ayu M 1501201885 Alena Rizki 1501185534 Teddy Marzen S 1501185673 Zuageri Adhirahmana 1501187016 APA ITU
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Gamatechno Indonesia sebagai organisasi yang menyediakan solusi total Teknologi Informasi (TI) dengan fokus bisnis pada penyediaan produk software serta jasa konsultasi,
BEST PRACTICES ITG di Perusahaan. Titien S. Sukamto
BEST PRACTICES ITG di Perusahaan Titien S. Sukamto Beberapa Best Practices Guideline untuk Tata Kelola TI 1. ITIL (The Infrastructure Library) ITIL dikembangkan oleh The Office of Government Commerce (OGC),
Pengantar IT Infrastructure Library Versi 3
Pengantar IT Infrastructure Library Versi 3 Agenda Permasalahan Service Service Management Apa itu ITIL? Komponen ITIL Daur hidup ITIL Permasalahan Business Manager & IT Manager Perencanaan strategis IT
Tulisan ini bersumber dari : WikiPedia dan penulis mencoba menambahkan
Tulisan ini bersumber dari : WikiPedia dan penulis mencoba menambahkan Control Objectives for Information and related Technology (COBIT) adalah seperangkat praktik terbaik (kerangka) untuk teknologi informasi
BAB I PENDAHULUAN. organisasi semakin menyadari manfaat potensial yang dihasilkan oleh Information
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam lingkungan bisnis yang begitu kompetitif dan cepat berubah, organisasi semakin menyadari manfaat potensial yang dihasilkan oleh Information Technology (IT).Kunci
BAB II LANDASAN TEORI. terdiri atas penggunaan software, hardware, dan fasilitas komunikasi untuk
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Layanan Sistem dan Teknologi Informasi Layanan Sistem dan Teknologi Informasi (STI) adalah layanan yang terdiri atas penggunaan software, hardware, dan fasilitas komunikasi untuk
Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang
Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta meluasnya perkembangan infrastruktur informasi global telah mengubah pola dan cara beraktivitas pada organisasi,
BAB 1 PENDAHULUAN. terbatas pada masalah teknis yang melibatkan aplikasi database, support, aplikasi. pengelolaan sumber daya di perusahaan tersebut.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam suatu perusahaan sekarang ini, baik perusahaan skala kecil, menengah maupun yang berskala besar, sudah menggunakan IT dalam proses kerja hariannya. IT yang digunakan
PENGGUNAAN FRAMEWORK ITIL DALAM AUDIT PERUSAHAAN TELKOMSEL
PENGGUNAAN FRAMEWORK ITIL DALAM AUDIT PERUSAHAAN TELKOMSEL OLEH EKA SAPUTRA DESTILVIANUS 321110012 JONATHAN HENRY GUNAWAN 321110013 MARGARETHA FELICIA 321110017 PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FAKULTAS
Cobit memiliki 4 Cakupan Domain : 1. Perencanaan dan Organisasi (Plan and organise)
COBIT Control Objective for Information and related Technology Dikeluarkan dan disusun oleh IT Governance Institute yang merupakan bagian dari ISACA (Information Systems Audit and Control Association)
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: ( Print) A-175
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) A-175 Pembuatan Standard Operating Procedure (SOP) Service Desk Berdasarkan Kerangka Kerja Itil V3 dengan Menggunakan Metode
TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI
TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI N. Tri Suswanto Saptadi PENGERTIAN Tata Kelola IT diartikan sebagai bagian terintegrasi dari pengelolaan perusahaan. Cakupan meliputi kepemimpinan, serta proses yang mengarahkan
COBIT 5: ENABLING PROCESSES
COBIT 5: ENABLING PROCESSES COBIT 5: Enabling Processes (cont.) Source: COBIT 5, figure 29. 2012 ISACA All rights reserved. 2 Enabling Process COBIT 5 cont... Stakeholder : tiap proses memiliki stakeholder
Implementasi Configuration Management pada IT Infrastruktur Library (ITIL)
Implementasi Configuration Management pada IT Infrastruktur Library (ITIL) Arsitektur ITIL adalah seperti gambar dibawah ini : IT Infrastructure Library (ITIL) adalah sebuah kerangka best practice untuk
ABSTRAKSI. Kata Kunci: ITIL V3, ITIL v3 Service Strategy, Service Asset, Service Structure, Service Provider Type, Service Unit, Bisnis Unit
ABSTRAKSI PT. RST merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penjualan Abrasive, Cutting Tools and Technical Equipment. PT.RST memiliki sebuah sistem berbasis ERP yang digunakan untuk mengelola
BAB II LANDASAN TEORI. layanan yang memanfaatkan kegunaan dari software, hardware, dan fasilitas
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Layanan Sistem dan Teknologi Informasi Layanan Sistem dan Teknologi Informasi (STI) merupakan sebuah layanan yang memanfaatkan kegunaan dari software, hardware, dan fasilitas
BAB II LANDASAN TEORI. layanan TI agar berkualitas dan memenuhi kebutuhan bisnis. IT Service. dari orang, proses dan teknologi informasi.
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 IT Service Management IT Service Management adalah Manajemen pelaksanaan dan pengelolaan layanan TI agar berkualitas dan memenuhi kebutuhan bisnis. IT Service Management dilakukan
BAB I PENDAHULUAN. Saat ini teknologi informasi dan komunikasi berkembang sangat cepat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini teknologi informasi dan komunikasi berkembang sangat cepat seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Kebutuhan
Dimensi Kelembagaan. Kebijakan Kelembagaan 1. Perencanaan 0.5
Dimensi Kelembagaan Perencanaan Kebijakan 5 4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 Kelembagaan Aplikasi Infrastruktur 1 KONSEP KELEMBAGAAN 2 Pembentukan Organisasi: Elemen-Elemen Utama Elemen-elemen yang perlu
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam suatu perusahaan sekarang ini, baik perusahaan skala kecil, menengah maupun yang berskala besar, sudah menggunakan IT dalam proses kerja hariannya. IT yang digunakan
BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai pihak, baik dari sisi developer, manajemen perusahaan, operasional
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan sumbangan besar terhadap peradaban manusia, salah satunya adalah pada kegiatan bisnis dan organisasi.
Pengantar IT Infrastructure Library Versi 3
Pengantar IT Infrastructure Library Versi 3 Oleh: Arrianto Mukti Wibowo, M.Sc., Dr.*, CISA, CGEIT* (*cand.) [email protected] 0856-8012508, 311ef9ee Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia Perkenalan
IT GOVERNANCE (TATA KELOLA IT)
with COBIT Framework introductory IT GOVERNANCE (TATA KELOLA IT) Oleh: Ahmad Syauqi Ahsan 1 Tujuan Memahami manfaat IT Governance Mengerti kapan perlu mengaplikasikan IT Governance Mengerti prinsip2 dasar
BAB VIII Control Objective for Information and related Technology (COBIT)
BAB VIII Control Objective for Information and related Technology (COBIT) Dikeluarkan dan disusun oleh IT Governance Institute yang merupakan bagian dari ISACA (Information Systems Audit and Control Association)
TINJAUAN PUSTAKA Information Technology Infrastructure Library (ITIL) Framework Tujuan Penelitian Ruang Lingkup Penelitian
2 sebanyak 92% pada incident bisnis kritis pada tahun 2003. Dari beberapa fakta di atas terbukti bahwa ITIL framework dapat memberikan solusi penanganan incident di perusahaan. Pada penelitian ini, ITIL
BAB I PENDAHULUAN. pentingnya Information Technology dalam peningkatan kinerja suatu bisnis. Salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dewasa ini, para praktisi bisnis di indonesia mulai sadar akan pentingnya Information Technology dalam peningkatan kinerja suatu bisnis. Salah satu pendorongnya
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXV Program Studi MMT-ITS, Surabaya, 30 Juli 2016
PERANCANGAN TATA KELOLA SERVICE DESK MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA INFORMATION TECHNOLOGY INFRASTRUCTURE LIBRARY ( ITIL ) V. 3 PADA PT BERLIAN JASA TERMINAL INDONESIA Rendra Wijaya 1) dan R. V. Hari Ginardi
BAB II LANDASAN TEORI
8 BAB II LANDASAN TEORI 2. 1. Tata Kelola TI Strategi TI terbaik adalah startegi TI yang selalu baru dan menyesuaikan perubahan bisnis dan kondisi pasar beserta isu isu yang berkembang, seperti yang diungkapkan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Kerangka penelitian ini adalah langkah demi langkah dalam penyusunan Tugas Akhir mulai dari tahap persiapan penelitian hingga pembuatan dokumentasi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 ITIL Menurut Erna Infitahrina (2007) bahwa seiring dengan ketatnya persaingan bisnis yang ada, kualitas dukungan layanan perusahaan terhadap client perlu ditingkatkan. Banyak
BAB II LANDASAN TEORI. berasal dari penggunaan hardware, software, dan fasilitas komunikasi lainnya yang
BAB II LANDASAN TEORI 1.1 Layanan Sistem dan Teknologi Layanan Sistem dan Teknologi Informasi (STI) merupakan layanan yang berasal dari penggunaan hardware, software, dan fasilitas komunikasi lainnya yang
BAB I PENDAHULUAN. memberikan layanan kepada stakeholder utama, yaitu mahasiswa, dosen, dan. bisnis Labkom (Sutomo dan Ayuningtyas, 2014).
BAB I 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) STMIK STIKOM Surabaya, Laboratorium Komputer (Labkom) menjadi salah satu bagian terpenting dalam menjamin kelangsungan proses praktikum
BAB III METODOLOGI. Dalam penyusunan thesis ini kerangka berpikir yang akan digunakan adalah untuk
BAB III METODOLOGI 3.1. Kerangka Berpikir Dalam penyusunan thesis ini kerangka berpikir yang akan digunakan adalah untuk menjawab pertanyaan Apakah Strategi TI Bank Indonesia sudah sesuai dan sejalan dengan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perkembangan teknologi informasi saat ini berperan penting dalam meningkatkan keunggulan bersaing. Teknologi informasi juga dapat meningkatkan efisiensi proses yang
An Introductory Overview of ITIL V3
An Introductory Overview of ITIL V3 A High Level Overview of the IT Infrastructure Library Musda Daftar Isi Daftar Isi... ii Daftar Gambar... iii Daftar Tabel... iv Tentang Panduan Ini... iv 1. Pengantar...
DAFTAR ISI CHAPTER 5
DAFTAR ISI DAFTAR ISI 2 CHAPTER 5 ANOTHER INTERNAL CONTROL FRAMEWORK : CobiT 5.1 Pengantar COBIT... 3 5.2 Kerangka COBIT 4 5.3 Menggunakan COBIT untuk Menilai Pengendalian Intern... 6 5.4 Langkah-langkah
Project Integration Management. Inda Annisa Fauzani Indri Mahadiraka Rumamby
Project Integration Management Inda Annisa Fauzani 1106010300 Indri Mahadiraka Rumamby 1106070376 Project Integration Management Develop Project Charter Develop Project Management Plan Direct and Manage
MAKALAH KEAMANAN INFORMASI. Oleh : Muhammad Shodiqil Khafili Djakfar. Dosen Pengajar : Ferry Astika Saputra, ST, M.Sc
MAKALAH KEAMANAN INFORMASI Oleh : Muhammad Shodiqil Khafili Djakfar 2110155027 Dosen Pengajar : Ferry Astika Saputra, ST, M.Sc Pendahuluan Informasi merupakan aset yang sangat penting bagi Instansi penyelenggara
Penyusunan COBIT, ITIL, dan iso 17799
Penyusunan COBIT, ITIL, dan iso 17799 Pengantar : COBIT, ITIL DAN ISO 17799 berkaitan dengan praktek manajemen berbasis IT yang pada dasarnya menuju pada standarisasi, Praktek ini sangat membantu karena
USULAN TATA KELOLA MANAJEMEN INSIDEN DAN MASALAH BERDASARKAN KOMBINASI COBIT 4.1 DAN ITIL V3
USULAN TATA KELOLA MANAJEMEN INSIDEN DAN MASALAH BERDASARKAN KOMBINASI COBIT 4.1 DAN ITIL V3 Megawati 1, Kridanto Surendro 2 1 Sistem Informasi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jl.H.R
MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI SERVIS STRATEGI & DESIGN 2KA30
MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI SERVIS STRATEGI & DESIGN 2KA30 Disusun oleh: Mukhamad Arif Kurniawan (17114619) Richart Wirianto (19114247) Indra Oktamara (15114300) FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN INFORMASI
Penyusunan Service Catalog e-tendering Tahap Awal Realisasi SLA
Penyusunan Service Catalog e-tendering Tahap Awal Realisasi SLA Apa itu service? Pelayan Restoran Customer Service sebuah Bank Service : 1. Customer satisfaction 2. Perceived value Service adalah sebuah
BAB 4 EVALUASI PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI PELAYANAN JASA KAPAL PADA PT. PELABUHAN INDONESIA II
BAB 4 EVALUASI PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI PELAYANAN JASA KAPAL PADA PT. PELABUHAN INDONESIA II Teknologi informasi pada saat ini telah digunakan hampir pada seluruh aspek penting dalam setiap perusahaan
SISTEM MANAJEMEN INTEGRASI/TERPADU
hotspot@1100010904 SISTEM MANAJEMEN INTEGRASI/TERPADU : Sistem manajemen yang mengintegrasikan semua sistem dan proses organisasi dalam satu kerangka lengkap, yang memungkinkan organisasi untuk bekerja
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penerapan Teknologi Informasi (IT) menjadi sebuah kebutuhan bagi perusahaan, dikarenakan saat ini IT merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari suatu perusahaan.
Customer Request/Complaint. Send jobs by SMS Technical Spv. Confirmasi Solve by SMS. Monitoring worktime
Customer Request/Complaint Send jobs by SMS Technical Spv Monitoring worktime CE Confirmasi Solve by SMS 1 2 Bagaimana melakukan penilaian pengelolaan tata kelola call center 500345 dengan mengunakan
KONTROL KUALITAS PADA PERANGKAT LUNAK
Media Informatika Vol. 9 No. 2 (2010) KONTROL KUALITAS PADA PERANGKAT LUNAK Rini Astuti Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer LIKMI Jl. Ir. H. Juanda 96 Bandung 40132 [email protected]
LAMPIRAN. A. Hasil kuisioner Proses TI PO2 Menentukan Arsitektur Informasi
LAMPIRAN Lampiran A. Hasil kuisioner Proses TI PO Menentukan Arsitektur Informasi Responden Adanya kesadaran bahwa arsitektur informasi penting bagi organisasi Pengetahuan untuk mengembangkan arsitektur
BAB 1 PENDAHULUAN. layanan perusahaan terhadap client perlu ditingkatkan. Banyak tantangan yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan ketatnya persaingan bisnis yang ada, kualitas dukungan layanan perusahaan terhadap client perlu ditingkatkan. Banyak tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan
PERANCANGAN SERVICE TRANSITION PADA LAYANAN IT PT. XYZ DENGAN MENGGUNAKAN FRAMEWORK ITIL VERSI 3
ISSN : 2355-9365 e-proceeding of Engineering : Vol.2, No.2 Agustus 2015 Page 5540 PERANCANGAN SERVICE TRANSITION PADA LAYANAN IT PT. XYZ DENGAN MENGGUNAKAN FRAMEWORK ITIL VERSI 3 1 Vera Ananda, 2 Murahartawaty,
Meningkatkan Kualitas Pelayanan Teknologi Informasi Menggunakan Metode DMAIC pada Divisi IT Helpdesk PT XYZ
ISSN 2356-4393 Meningkatkan Kualitas Pelayanan Teknologi Informasi Menggunakan Metode DMAIC pada Divisi IT Helpdesk PT XYZ Melissa Indah Fianty Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer Kalbis Institute
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Layanan Sistem dan Teknologi Informasi Layanan Sistem dan Teknologi Informasi (STI) merupakan sebuah layanan yang memanfaatkan kegunaan dari software, hardware, dan fasilitas
RAHMADINI DARWAS. Program Magister Sistem Informasi Akuntansi Jakarta 2010, Universitas Gunadarma Abstrak
EVALUASI PERAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN KOPERASI SWADHARMA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL MATURITY LEVEL PADA KERANGKA KERJA COBIT PADA DOMAIN PLAN AND ORGANISE RAHMADINI DARWAS Program Magister Sistem Informasi
PENGUKURAN TINGKAT MATURITY TATA KELOLA SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT DENGAN MENGGUNAKAN FRAMEWORK COBIT VERSI 4.1 (Studi Kasus : Rumah Sakit A )
Media Indormatika Vol. 8 No. 3 (2009) PENGUKURAN TINGKAT MATURITY TATA KELOLA SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT DENGAN MENGGUNAKAN FRAMEWORK COBIT VERSI 4.1 (Studi Kasus : Rumah Sakit A ) Hartanto Sekolah Tinggi
EVALUASI LAYANAN SERVICE DESK MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIX SIGMA DAN ITIL V3 DI PT XYZ
EVALUASI LAYANAN SERVICE DESK MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIX SIGMA DAN ITIL V3 DI PT XYZ Hamzah Agung (9109205411) Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Joko Lianto Buliali, MSc Latar Belakang PT XYZ merupakan salah
TUGAS MANAJEMEN JARINGAN
TUGAS MANAJEMEN JARINGAN Disusun Oleh : Nama : Nova Dyati Pradista Nim : 09011181320005 JURUSAN SISTEM KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2016 Tugas : Ambil point ITIL lalu terangkan
BEST PRACTICES TATA KELOLA TI DI PERUSAHAAN Titien S. Sukamto
BEST PRACTICES TATA KELOLA TI DI PERUSAHAAN Titien S. Sukamto Pengantar Meskipun high-level model tata kelola telah dikembangkan, belum tentu tata kelola tersebut benar-benar berhasil diterapkan. Pemahaman
PENINGKATAN KINERJA TI BERDASARKAN METODE DMAIC DENGAN PENDEKATAN FRAME WORK ITIL V.3 TESIS. Alvian Guntur Perdana Kusuma
PENINGKATAN KINERJA TI BERDASARKAN METODE DMAIC DENGAN PENDEKATAN FRAME WORK ITIL V.3 TESIS Diajukan sebagai salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Program Pascasarjana Program Studi Magister Manajemen
PROOF OF CONCEPT. Pemanfaatan ITSM tools berbasis aplikasi opensource di LAPAN- PUSTEKDATA untuk manajamen aset IT
PROOF OF CONCEPT Pemanfaatan ITSM tools berbasis aplikasi opensource di LAPAN- PUSTEKDATA untuk manajamen aset IT Latar Belakang Dewasa ini penggunaan teknologi informasi dan komputer (TIK) telah banyak
Manajemen Ketersediaan
Manajemen Ketersediaan (Availability Management) Infrastruktur TI @ 2 0 1 5 - R O N Y1 Pertanyaan Apakah itu ketersediaan layanan TI? Komponen infrastruktur apa yang menentukan ketersediaan layanan TI?
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab II Tinjauan Pustaka Persoalan tata kelola TI menyangkut beberapa hal yang perlu dipahami agar dapat membantu analisis dan pengembangan solusi. Beberapa hal yang akan mendasari untuk membantu pencapaian
PEMBUATAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) SERVICE DESK BERDASARKAN KERANGKA KERJA ITIL V3 (STUDI KASUS: PT XYZ, TANGERANG)
Seminar Nasional Sistem Informasi Indonesia, 22 September 2014 PEMBUATAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) SERVICE DESK BERDASARKAN KERANGKA KERJA ITIL V3 (STUDI KASUS: PT XYZ, TANGERANG) Annisa Rachmi
Mengenal COBIT: Framework untuk Tata Kelola TI
Mengenal COBIT: Framework untuk Tata Kelola TI Reza Pahlava [email protected] :: http://rezapahlava.com Abstrak Penelitian yang dilakukan MIT (Massachusetts Institute of Technology) menyimpulkan bahwa
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rekomendasi audit pengembangan teknologi informasi. 4.1 Evaluasi Hasil Pengujian & Laporan Audit
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini membahas tentang identifikasi kendali dan memperkirakan resiko, mengumpulkan bukti, mengevaluasi temuan, sampai dengan membuat rekomendasi audit pengembangan teknologi
Nama : - Kartika Rahel - Mayke - Rinaras - Radhika Frisdela
Nama : - Kartika Rahel - Mayke - Rinaras - Radhika Frisdela Review Question BAB 1 No.1-17 1. Enterprise Resource Planning (ERP) merupakan perencanaan sumber daya perusahaan yaitu sebuah sistem informasi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Perencanaan Strategis SI/TI Menurut Ward dan Peppard (2002), Perencanaan strategis SI/TI merupakan proses identifikasi portofolio aplikasi SI berbasis komputer yang mendukung
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, banyak perusahaan mengandalkan teknologi informasi sebagai faktor pendukung untuk meningkatkan keunggulan kompetitif demi mendukung terwujudnya strategi
PENGGUNAAN FRAMEWORK ITIL DAN TIPE AUDIT INTERNAL PADA PT HEWLETT PACKARD
PENGGUNAAN FRAMEWORK ITIL DAN TIPE AUDIT INTERNAL PADA PT HEWLETT PACKARD OLEH EKA SAPUTRA DESTILVIANUS 321110012 JONATHAN HENRY GUNAWAN 321110013 MARGARETHA FELICIA 321110017 SISTEM INFORMASI FAKULTAS
COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology)
COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) Pengertian Cobit COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) adalah sekumpulan dokumentasi best practices untuk IT
Plainning & Organization
Sangat Tidak Perlu Tidak Perlu Bisa Diterapkan Perlu Sangat Perlu Direktorat ICT&M Dept. Lain Pihak Luar Plainning & Organization P01 Define a Strategic IT Plan Pengembangan TI Unikom harus direncanakan
BAB 4 EVALUASI PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI PENJUALAN PADA PT. BANGUNAN JAYA. kematangan penerapan sistem informasi pada PT. Bangunan Jaya.
BAB 4 EVALUASI PENGENDALIAN SISTEM INFORMASI PENJUALAN PADA PT. BANGUNAN JAYA 4.1 Prosedur Evaluasi Evaluasi terhadap sistem informasi penjualan pada PT. Bangunan Jaya adalah merupakan suatu proses evaluasi
PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management. Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang
PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang mengkhususkan diri pada pengembangan manajemen proyek. PMBOK merupakan
INCIDENT MANAGEMENT. Patrisia Anggi A.W ( ) Maulidina Rahmawati S. ( ) Roisyatun Nadhifah ( )
INCIDENT MANAGEMENT Patrisia Anggi A.W (125150400111040) Maulidina Rahmawati S. (125150401111046) Roisyatun Nadhifah (125150401111053) Latar Belakang ITIL versi ketigas (ITIL v3) intinya terdiri dari lima
STUDI PENERAPAN IT GOVERNANCE UNTUK MENUNJANG IMPLEMENTASI APLIKASI PENJUALAN DI PT MDP SALES
STUDI PENERAPAN IT GOVERNANCE UNTUK MENUNJANG IMPLEMENTASI APLIKASI PENJUALAN DI PT MDP SALES Dafid Sistem Informasi, STMIK GI MDP Jl Rajawali No.14 Palembang [email protected] Abstrak Layanan penjualan
AUDIT SISTEM INFORMASI PENGAWASAN DAN PEMANTAUAN PERMINTAAN LAYANAN DAN INSIDEN MENGGUNAKAN COBIT
AUDIT SISTEM INFORMASI PENGAWASAN DAN PEMANTAUAN PERMINTAAN LAYANAN DAN INSIDEN MENGGUNAKAN COBIT 5 PADA PT TELKOM REGIONAL WHOLESALE SERVICE 3 JAWA BARAT 1 Tri Ramdhany, 2 Marsya Diyni Nur adila 1 Program
Sistem Informasi dan Pengendalian Internal. PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero)
Sistem Informasi dan Pengendalian Internal PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) Disusun oleh: Kelompok 2 Alberta Vinanci R Danu Pradipta Diana Mayung B. Dina Puspasari 14/377038/EE/06971 14/377052/EE/06985
MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000
MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000 Oleh : Muhamad Ali, M.T JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TAHUN 2011 MODUL IX SISTEM MANAJEMEN
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi khusus nya di Indonesia semakin pesat dengan adanya modernisasi di sisi teknologi yang berbasis perangkat lunak (software) terhadap
Seminar Nasional Informatika 2010 (semnasif 2010) ISSN: UPN Veteran Yogyakarta, 22 Mei 2010
SISTEM MANAJEMEN INSIDEN PADA PROGRAM MANAJEMEN HELPDESK DAN DUKUNGAN TI BERDASARKAN FRAMEWORK ITIL V3 (STUDI KASUS PADA BIRO TEKNOLOGI INFORMASI BPK-RI) Tumpal Paradongan Silitonga 1), Achmad Holil Noor
ANALISIS MANAJEMEN TI MENGGUNAKAN METODE GOAL QUESTION METRIC
ANALISIS MANAJEMEN TI MENGGUNAKAN METODE GOAL QUESTION METRIC Vito Triantori Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Nusa Mandiri (STMIK Nusa Mandiri) http://www.nusamandiri.ac.id [email protected]
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN COORPORATE VALUE. Petunjuk: Berilah nilai bobot antara 0-5 dimana:
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN COORPORATE VALUE Petunjuk: Berilah nilai bobot antara - dimana: Tidak berhubungan sama sekali. Sangat sedikit hubungannya. Sedikit hubungannya Cukup berhubungan. Memiliki
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN CORPORATE VALUE. 0 Tidak berhubungan sama sekali. 1 Sangat sedikit hubungannya. 2 Sedikit berhubungan
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN CORPORATE VALUE Petunjuk: Berilah skor antara dimana: Tidak berhubungan sama sekali Sangat sedikit hubungannya Sedikit berhubungan Cukup berhubungan Memiliki hubungan
WORKSHOP SMOS
ENTERPRISE RESOURCES PLANNING WORKSHOP 23 08-2005 Enterprise Resource Planning (ERP) Sistem informasi yang didesain untuk mendukung keseluruhan unit fungsional dari perusahaan ERP adalah paket software
BAB II LANDASAN TEORI. Layanan yang memanfaatkan penggunaan software, hardware, dan fasilitas
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Layanan Sistem dan Teknologi Infromasi Layanan yang memanfaatkan penggunaan software, hardware, dan fasilitas komunikasi yang berguna dalam akses informasi kepada pelanggan/ pengguna
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Bab ini memberikan beberapa landasan teori, meliputi teori di bidang tata kelola TI, dan pengelolaan investasi TI yang digunakan dalam penelitian. 2.1 Definisi Sebelum lebih jauh,
MODEL PENILAIAN KAPABILITAS PROSES OPTIMASI RESIKO TI BERDASARKAN COBIT 5
MODEL PENILAIAN KAPABILITAS PROSES OPTIMASI RESIKO TI BERDASARKAN COBIT 5 Rahmi Eka Putri Program Studi Sistem Komputer Fakultas Teknologi Informasi Universitas Andalas e-mail : [email protected] Abstrak
