Sampling Plan System for Attribute Inspection. For use with ANSI / ASQC Z1.4
|
|
|
- Hartanti Gunardi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Sampling Plan System for Attribute Inspection For use with ANSI / ASQC Z1.4 March 2008
2 PENGANTAR Panduan ini disusun berdasarkan buku Sampling Procedure and Tables for Inspection by Attribute yang diterbitkan oleh ANSI/ASQC dan dikenal dengan standar ANSI/ASQC Z Standar ini ditinjau setiap 5 tahun sekali oleh ANSI/ASQC. Revisi terakhir yang terbit adalah versi tahun Tetapi pada dasarnya sistem atau konsep yang digunakan pada versi tahun 2003 sama dengan versi Panduan ini dimaksudkan untuk memudahkan pengertian dalam membaca buku di atas agar dapat dijadikan pedoman dalam menentukan metode sampling untuk data atribut. Pembaca disarankan untuk merujuk ke standar di atas apabila ada yang perlu diperjelas. Beberapa buku lain juga dijadikan referensi dalam menyusun panduan ini, yaitu: a. Quality Planning & Analysis, from product development through use, edisi ke-4, Frank M. Gryna, Mc. Graw Hill. b. Measurement Systems Analysis, edisi ke-3, AIAG. Pembaca disarankan untuk mempelajari referensi diatas dan referensi-referensi lainnya untuk memperkaya wawasan, untuk kemudian dapat pula membagi pengetahuannya demi kemajuan ilmu itu sendiri. Sampling Plan System for Attribute Inspection 2
3 1. Pendahuluan Inspeksi adalah suatu proses untuk mengukur, menguji, mengevaluasi atau membandingkan suatu unit produk terhadap persyaratan atau spesifikasi yang ditentukan. Berdasarkan jenis data yang akan dilakukan pengujian, inspeksi dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Variable inspection Yaitu suatu jenis inspeksi dimana karakteristik kualitas yang diukur dari suatu produk dapat dinyatakan dalam angka, misalnya gram, centimeter, meter per detik, kgf, dan hasil pengukurannya dicatat. 2. Attribute inspection Yaitu suatu jenis inspeksi dimana karakteristik kualitas yang diuji hanya dinyatakan sebagai produk OK atau Not OK. Dengan bahasa statistik, istilah OK ataupun Not OK (NG) dapat dinyatakan sebagai : a. Conforming dan nonconforming, atau b. Conforming dan Number of unit nonconformities. Misalkan pada inspeksi kualitas mainan mobil-mobilan. Bila salah satu ban mobil tidak bisa berfungsi dan mobil dinyatakan NG dengan dihitung 1 NG, maka disebut 1 nonconforming. Tetapi bila setiap jenis NG dihitung, misalnya ban tidak berfungsi, lampu pecah dan kabel baterai putus, maka dihitung ada 3 nonconformities dalam 1 unit produk. Pengecekan dengan alat go/no-go termasuk dalam kelompok conforming dan nonconforming, karena hanya menghasilkan OK atau NG, undersized atau oversized. Perhitungan NG atau defect untuk kedua cara inspeksi diatas dibedakan menjadi: a. % nonconforming = jumlah nonconforming x 100 jumlah unit yang diinspeksi b. Nonconformities per 100 unit = jumlah nonconformities x 100 Jumlah unit yang diinspeksi 2. Metode Sampling Sampling adalah mengambil sebagian kecil dari suatu lot/batch produk yang dianggap mewakili karakteristik dari lot/batch tersebut. Sampling dapat dilakukan secara acak ataupun terstruktur sesuai dengan metode tertentu. Sampling dilakukan untuk mengetahui apakah suatu lot/batch produk telah memenuhi persyaratan/spesifikasi yang diinginkan. Salah satu metode yang umum digunakan untuk menentukan jumlah sampel (sample size) adalah metode yang diterbitkan oleh ANSI/ASQC (American National Standard Institute / American Society for Quality Standards) yang diadopsi dari Military Standard (MIL STD). Oleh karena itu disebut juga sebagai MIL STD. Sampling Plan System for Attribute Inspection 3
4 3. ANSI/ASQC Z1.4 Sampling plan untuk inspeksi atribut yang dijadikan acuan adalah ANSI/ASQC Z1.4 terbitan tahun Sebenarnya standar ini sudah tidak dipakai, dan sebagai gantinya telah terbit ANSI/ASQC Z1.4 tahun 2003 atau bisa menggunakan ISO 2859 atau spesifikasi setara lainnya. Untuk attribute inspection, ada beberapa jenis sampling plan yang bisa digunakan, yaitu : a. Single sampling plan b. Double sampling plan c. Multiple sampling plan Semua jenis sampling diatas dapat diterapkan pada berbagai jenis inspeksi atribut, diantaranya: a. end items b. komponen atau bahan baku c. proses / operasi d. material dalam proses (WIP = Work in process) e. barang dalam penyimpanan f. prosedur administrasi. 3.1 AQL AQL adalah Acceptance Quality Level yaity prosentase maksimum dari produk nonconforming atau nonconformities per unit, yang dapat dianggap sebagai rata-rata proses. Attribute sampling plan berdasarkan AQL adalah dengan mengambil sampel secara acak dari suatu lot dan setiap unit diklasifikasikan sebagai acceptable (OK) atau defective (NOK). Jumlah defective ini kemudian dibandingkan dengan suatu angka yang diizinkan dan dibuat keputusan apakah lot/batch tersebut akan diterima (accepted) atau ditolak (rejected). Biasanya AQL dapat dinyatakan dalam kontrak dengan supplier. Angka AQL untuk suatu produk tidak harus sama dengan angka AQL untuk produk lainnya meskipun dari supplier yang sama. Misalkan produk A lebih kritikal dari produk B, maka angka AQL untuk produk A lebih kecil dari produk B. Angka AQL bervariasi dari sampai Angka AQL 10.0 dapat digunakan untuk % nonconforming atau nonconformities per 100 unit. Angka AQL > 10.0 hanya dapat digunakan untuk % nonconformities per 100 unit. Umumnya untuk major defect, angka AQL yang digunakan adalah 1%, sedangkan untuk minor defect digunakan angka AQL 2.5%. 3.2 Pengambilan Sampel Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengambil sampel adalah: a. Sampel mengandung satu atau lebih unit produk yang diambil dari suatu lot/batch dan dipilih secara acak tanpa diketahui kualitasnya. Jumlah unit yang diambil disebut sebagai sample size. b. Apabila memungkinkan, jumlah unit sampel harus dipilih secara proporsi terhadap jumlah lot/batch sesuai kriteria-kriteria rasional. c. Sampel dapat diambil setelah seluruh hasil produksi membentuk satu lot/batch, atau bisa juga diambil selama proses produksi. Sampling Plan System for Attribute Inspection 4
5 3.3. Inspection Level Inspection level menunjukkan hubungan antara ukuran lot/batch dan ukuran sampel. Ada 3 level inspeksi, yaitu level I, II dan III. Level II adalah yang umum digunakan. Level I memerlukan kira-kira setengah dari jumlah sampel level II, dan digunakan bila akan mengurangi biaya sampling dan level diskriminasi yang dibutuhkan rendah. Level III memerlukan kira-kira dua kali lipat dari jumlah sampel level II, dan digunakan bila diskriminasi lebih tinggi dibutuhkan. Diskriminasi adalah jumlah perubahan dari suatu angka referensi yang masih dapat dideteksi oleh instrumen atau alat ukur. Diskriminasi disebut juga kemampuan membaca (readability) atau resolusi. Pada prinisipnya (general rule of thumb), diskriminasi suatu instrumen harus lebih kecil 1/10 dari range hasil pengukuran. Misalnya spesifikasi dimensi suatu produk adalah 4.5 ± 0.5 cm, maka sebaiknya alat ukur dapat membaca sampai angka 0.01 cm, yaitu 1/10 dari range spesifikasi terkecil. Selain level I, II dan III, juga ada special level S-1, S-2, S-3 dan S-4. Special level menggunakan sampel yang sangat sedikit dan dapat dipilih apabila jumlah sampel yang dibutuhkan sedikit dan resiko sampling besar dapat ditoleransi. Tabel jumlah sampel pada ANSI/ASQC Z1.4 menggunakan kode huruf untuk setiap inspection level yang digunakan. General Inspection Special Inspection Level Lot / batch size Level S-1 S-2 S-3 S-4 I II III 2-8 A A A A A A B 9-15 A A A A A B C A A B B B C D A B B C C D E B B C C C E F B B C D D F G B C D E E G H B C D E F H J C C E F G J K C D E G H K L C D F G J L M C D F H K M N D E G J L N P D E G J M P Q seterusnya D E H K N Q R Misalkan jumlah lot 1500, maka untuk inspection level II, jumlah sampel yang diambil adalah K. Berapa jumlah K akan ditentukan oleh jenis sampling yang dipakai, apakah single, double atau multiple. 3.4 Acceptance and Rejection Number Sampling Plan menunjukkan jumlah sampel yang akan diinspeksi dari suatu unit lot/batch (jumlah sampel atau beberapa seri jumlah sampel) lengkap dengan kriteria untuk menentukan apakah lot/batch tersebut diterima (accepted) atau ditolak (rejected). Angka penerimaan atau penolakan ini disebut juga sebagai acceptance (Ac) and rejection (Re) number. Sampling Plan System for Attribute Inspection 5
6 3.5 Single Sampling, Double Sampling and Multiple Sampling Ada tiga jenis sampling plan, yaitu single, double dan multiple. a. Single sampling Pada sistem single sampling, sejumlah n sampel diambil dari suatu lot. Jika jumlah produk NG lebih kecil atau sama dengan acceptance number (Ac), maka lot diterima. Jika tidak, ditolak. Sample = n Jumlah defect Acceptance number (Ac) Jumlah defect Rejection number (Re) Lot diterima Lot ditolak b. Double sampling Pada double sampling, jumlah sampel awal yang diambil lebih kecil daripada single sampling. Pada double sampling ada dua level pengecekan untuk memutuskan apakah lot diterima atau ditolak. Sampling 1. Sampel = n 1 Jumlah defect 1 Acceptance number 1 (Ac) Lot diterima Jumlah defect 1 Rejection number 1 (Re) Lot ditolak Acceptance number 1 < Jumlah defect 1 < Rejection number 1 sampling 2. Sampling 2. Sample = n 2 Jumlah defect (1+2) Acceptance number 2 (Ac) Lot diterima Jumlah defect (1+2) Rejection number 2 (Re) Lot ditolak Bila digambarkan dalam bentuk skema, pelaksanaan double sampling adalah sebegai berikut. Inspeksi sampel ke-1 sejumlah sampel n 1 Jika jumlah defect (D 1 ) pada sampling 1 D 1 Ac 1 Ac1 < D1 < Re1 D 1 Re 1 Inspeksi sampel ke-2 sejumlah sampel n 2 Jika jumlah defect kumulatif (D 1 + D 2 ) (D 1 +D 2 ) Ac 2 (D 1 +D 2 ) Re 2 Lot DITERIMA Lot DITOLAK Sampling Plan System for Attribute Inspection 6
7 c. Multiple sampling Multiple sampling menggunakan metode yang sama dengan double sampling. Perbedaannya bahwa untuk memutuskan apakah suatu lot diterima atau ditolak, perlu dilakukan serangkaian inspeksi bertahap yang lebih dari dua. Baik double sampling maupun multiple sampling, keduanya bertujuan agar cek 100% tidak perlu langsung dilakukan begitu ditemukan produk NG. Ini akan lebih memudahkan inspektor, di samping pengecekan 100% kurang efektif. Akan tetapi double atau multiple sampling juga sedikit menyulitkan petugas administrasi yang menghitung jumlah lot dan membandingkannya dengan acceptance and rejection number. 3.6 Sampling Plan Sampling plan yang baik harus mempunyai karakteristik-karakteristik berikut. a. Indeks (AQL ataupun yang lainnya) yang dipilih harus mencerminkan kebutuhan konsumen dan produsen, dan bukan dipilih semata-mata demi kebutuhan statistik. b. Resiko sampling harus diketahui secara kuantitatif (kurva OC = Operating Characteristic). Produsen harus mempunyai perlindungan yang cukup dari penolakan produk bagus. Konsumen harus mempunyai perlindungan yang cukup dari penerimaan produk NG. c. Sampling plan harus meminimalkan seluruh biaya inspeksi produk. Ini memerlukan evaluasi yang mendalam tentang pemilihan jenis data (variabel atau atribut) dan jenis sampling (single, double atau multiple). Juga merefleksikan prioritas produk dan kegunaannya. d. Sampling plan harus mempertimbangkan data lain, misalnya process capability, data supplier, customer claim, dan lainnya. e. Sampling plan harus fleksibel terhadap perubahan jumlah lot, kualitas produk dan faktor lainnya. f. Pengukuran/pengecekan dapat memberikan informasi untuk estimasi kualitas lot lainnya dalam satu proses. g. Sampling plan harus cukup mudah untuk dijelaskan dan didokumentasikan. Sampling Plan menunjukkan jumlah sampel yang akan diinspeksi dari suatu unit lot/batch lengkap dengan kriteria untuk menentukan apakah lot/batch tersebut diterima (accepted) atau ditolak (rejected). Berikut ini beberapa contoh sampling plan. Gunakan tabel pada buku ANSI/ASQC Z1.4 yang sesuai untuk referensi. Contoh 1. Jumlah lot = Inspection level = II AQL = 1.0 % Kode huruf = M Single Double Sampling Sampling Referensi Tabel Z1.4 Tabel II-A Tabel III-A Step 1 Jumlah sampel Acceptance criteria defect 7 defect 3 Rejection criteria defect 8 defect 7 Step 2 criteria Jika 3 < defect < 7, maka lanjutkan ke step 2. Step 2 Jumlah sampel 200 (tambahan). Jadi total sampel = 400 Acceptance criteria Total defect 8 Rejection criteria Total defect 9 Sampling Plan System for Attribute Inspection 7
8 Single Sampling Plan for normal inspection (part of Table II-A) Acceptance Quality Level (AQL) Sample size Sample code letter size Ac Re Ac Re Ac Re Ac Re G H J K L M Double Sampling Plan for normal inspection (part of Table III-A) Sample size code letter Sample Sample size Cumm Acceptance Quality Level (AQL) Sample size Ac Re Ac Re Ac Re Ac Re K First Second L First Second M First Second N First Second Contoh 2. Jumlah lot = 170 Inspection level = II AQL = 1.0 % Kode huruf = G Single Double Sampling Sampling Referensi Tabel Z1.4 Tabel II-A Tabel III-A Step 1 Jumlah sampel Acceptance criteria defect 1 defect 0 Rejection criteria defect 2 defect 2 Step 2 criteria Jika 0 < defect < 2, maka lanjutkan ke step 2. Step 2 Jumlah sampel 20 (tambahan). Jadi total sampel = 40 Acceptance criteria Total defect 1 Rejection criteria Total defect 2 Sampling Plan System for Attribute Inspection 8
9 3.7 Normal, Tightened and Reduced Inspection Pada awal inspeksi, biasanya jenis inspeksi yang dipakai adalah normal inspection, yaitu pengambilan sampel secara normal sesuai jenis sampling yang dipilih. Seringkali pada normal inspection ditemukan beberapa produk NG, dan karena perusahaan tidak mau mengambil resiko, inspeksi dilanjutkan dengan 100% cek. Hal ini tidak efektif, karena 100% cek akan menimbulkan biaya yang tinggi di samping efisiensi proses inspeksi sendiri tidak 100%. Oleh karena itu kemudian dikembangkan sistem inspeksi diperketat (tightened inspection) dengan memperketat jumlah sampel yang dicek. Apabila pada beberapa pengecekan ini, kondisi sudah membaik, artinya tidak ditemukan banyak produk NG, maka sistem inspeksi bisa kembali ke normal. Sebaliknya, apabila hasil inspeksi cenderung membaik, sistem pengecekan bisa diperlonggar (reduced inspection). Perubahan dari normal menjadi diperketat atau normal menjadi diperlonggar dan sebaliknya disebut sebagai switching procedure. Switching Rule sesuai ANSI/ASQC Z LOT BERTURU- TURUT DITERIMA - TOTAL NG DIBAWAH ANGKA REJECTION - PRODUK STABIL, DAN - DISETUJUI START 2 DARI 5 LOT BERTURUT- TURUT DITOLAK REDUCED NORMAL TIGHTENED - LOT DITOLAK, ATAU - LOT DITERIMA TETAPI NG DIANTARA Ac DAN Re - PRODUK TIDAK STABIL - KONDISI LAIN 5 LOT BERTURUT- TURUT DITERMA 10 LOT TETAP INSPEKSI TIGHTENED INSPEKSI DIHENTIKAN a. Normal to tightened Apabila pada normal inspection ditemukan 2 dari 5 lot berturut-turut ditolak, maka inspeksi bisa diubah ke tightened. b. Tightened to normal Apabila pada kondisi tightened inspection, 5 lot berturut-turut diterima, maka sistem inspeksi dapat beralih ke normal inspection. Sampling Plan System for Attribute Inspection 9
10 c. Normal to reduced Normal inspection bisa beralih ke reduced inspection apabila : 10 lot berturut-turut (atau lebih, tergantung angka kualitas yang diizinkan) diterima; dan jumlah defect atau produk NG sama dengan atau di bawah angka kualitas yang diizinkan (lihat tabel VIII pada ANSI/ASQC Z1.4. Apabila menggunakan metode double atau multiple sampling, maka seluruh jumlah defect (kumulatif) harus sama dengan atau di bawah angka kualitas yang diizinkan; dan produksi dalam kondisi stabil; dan telah disetujui oleh personel yang berwenang. d. Reduced to normal Reduced inspection bisa beralih ke normal inspection apabila : Lot atau batch ditolak; atau Lot atau batch diterima dalam kondisi tertentu, yaitu: Pada reduced inspection, prosedur sampling dapat dihentikan tanpa keputusan. Bila hal ini terjadi, lot atau batch akan dianggap diterima, tetapi lot atau batch berikutnya akan dimulai pengecekan dengan normal inspection. Atau Produksi tidak teratur atau sering terlambat; atau Kondisi lain yang menyebabkan kepercayaan bergeser ke normal inspection. e. Discontinuation of inspection Apabila 10 lot berturut-turut dicek dengan tightened inspection (atau jumlah lot lain yang ditentukan oleh personel yang berwenang), inspeksi di bawah pengawasan dapat dihentikan sambil menunggu tindakan perbaikan terhadap kualitas produk. Switching rule dapat dikombinasikan penggunaannya dengan single, double ataupun multiple inspection. 4. Penutup Metode sampling dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Stratifikasi dari Schiling pada tahun 1982 adalah sebagai berikut. Menggaransi quality level pada resiko tertentu. Menjaga quality pada level AQL atau lebih baik. Menggaransi AOQL (Average Outgoing Quality Limit), yaitu long-run quality. Mengurangi inspeksi apabila historis data bagus. Inspeksi pengecekan. Memastikan kesesuaian terhadap standar wajib. Reliability sampling. Akurasi checking inspection Apapun tujuan sampling, rekomendasi dari Schilling adalah agar menggunakan sampling plan yang spesifik baik untuk atribut maupun variabel. Pemilihan sampling plan tergantung dari tujuan, data historis quality, biaya proses dan pengetahuan proses. Sampling Plan System for Attribute Inspection 10
MILITARY STANDARD (MIL-STD) Ganda Marulitua Simbolon ( )
MILITARY STANDARD (MIL-STD) Ganda Marulitua Simbolon (4133230016) Robinsar Pakpahan (4133230031) Rony G.T.Marpaung (4133230032) Sumanto Sitanggang (4132230035) MIL-STD-105E Suatu sistem rencana penarikan
SAMPLING PENERIMAAN ( ACCEPTANCE SAMPLING )
SAMPLING PENERIMAAN ( ACCEPTANCE SAMPLING ) PENDAHULUAN Pengertian dari Sampling Penerimaan : keputusan untuk menerima atau menolak suatu lot atau populasi berdasarkan hasil dari pemeriksaan sebagian lot
RENCANA PENERIMAAN SAMPEL (ACCEPTANCE SAMPLING)
1 KOMPETENSI Mampu menerapkan rencana penerimaan sampel, baik satu tingkat atau beberapa tingkat, untuk data atribut dan data variabel dengan menggunakan beberapa metode guna menentukan keputusan dalam
KUMPULAN TABEL MIL-STD-414
KUMPULAN TABEL MIL-STD-414 Ir. Budi Nurtama, M.Agr. 2005 Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor TABLES FOR
Seminar Nasional IENACO ISSN: PENENTUAN SAMPEL PRODUK LINK BELT MENGGUNAKAN METODE ACCEPTANCE SAMPLING MIL-STD-105E
PENENTUAN SAMPEL PRODUK LINK BELT MENGGUNAKAN METODE ACCEPTANCE SAMPLING MIL-STD-105E Siti Nandiroh 1, Ganang Adi Sulistyawan 2 1 Pusat Studi Logistik dan Optimisasi Industri (PUSLOGIN), Universitas Muhammadiyah
Rencana Penerimaan Sampel (Acceptance Sampling) untuk Data Atribut
Rencana Penerimaan Sampel (Acceptance Sampling) untuk Data Atribut 13 Pengendalian Kualitas Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya e- Mail : [email protected] Blog : hdp://debrina.lecture.ub.ac.id/
BAB II LANDASAN TEORI. SEMPEL TUNGGAL MAUPUN GANDA. NAMUN APABILA MASIH TERDAPAT KERAGUAN DAN HARUS
BAB II LANDASAN TEORI. SEMPEL TUNGGAL MAUPUN GANDA. NAMUN APABILA MASIH TERDAPAT KERAGUAN DAN HARUS BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah ANSI/ASQC Rencana penerimaan sample secara manual dapat dilakukan
Rencana Penerimaan Sampel (Acceptance Sampling) untuk Data Variabel
Rencana Penerimaan Sampel (Acceptance Sampling) untuk Data Variabel 12 Pengendalian Kualitas Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya e- Mail : [email protected] Blog : hdp://debrina.lecture.ub.ac.id/
Rencana Penerimaan Sampel (Acceptance Sampling)
Rencana Penerimaan Sampel (Acceptance Sampling) 12 Pengendalian Kualitas Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya e-mail : [email protected] Blog : http://debrina.lecture.ub.ac.id/
Rencana Penerimaan Sampel (Acceptance Sampling)
Rencana Penerimaan Sampel (Acceptance Sampling) 12 Pengendalian Kualitas Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya e-mail : [email protected] Blog : hdp://debrina.lecture.ub.ac.id/
Rabu, 8 Desember 2010
Perencanaan Sampling Penerimaan dengan Atribut Bagian - 1 [email protected] Rabu, 8 Desember 2010 Review Apa tujuan dilakukannya analisis kemampuan proses? Apa artinya jika indek kemampuan proses ( C
BAB II LANDASAN TEORI. sempel tunggal maupun ganda. Namun apabila masih terdapat keraguan dan harus
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah ANSI/ASQC Rencana penerimaan sample secara manual dapat dilakukan baik untuk sempel tunggal maupun ganda. Namun apabila masih terdapat keraguan dan harus dilakukan perencanaan
Pengendalian Proses. Waktu
Pengendalian Kualitas TKI-306 DEFINISI adalah Pernyataan tentang ukuran sampel yang akan digunakan dan kriteria penerimaan/penolakan sampel untuk memvonis suatu lot Aplikasi tipikal sampling penerimaan
ACCEPTANCE SAMPLING PLANS MUHAMMAD YUSUF IWAN NOEGROHO GALIH DWI AGUNG P BRIAN REYVENDRA P AHMAD AUDREY T. JUIOCAISAR W SYAFIQAR NABIL M.
ACCEPTANCE SAMPLING PLANS MUHAMMAD YUSUF IWAN NOEGROHO GALIH DWI AGUNG P BRIAN REYVENDRA P AHMAD AUDREY T. JUIOCAISAR W SYAFIQAR NABIL M. ILHAMDKA 125060707111002 125060707111004 125060707111009 125060707111022
Pengendalian Kualitas Statistik. Lely Riawati
1 Pengendalian Kualitas Statistik Lely Riawati 2 SQC DAN SPC SPC dan SQC bagian penting dari TQM (Total Quality Management) Ada beberapa pendapat : SPC merupakan bagian dari SQC Mayelett (1994) cakupan
Pengendalian Kualitas dengan Metode Acceptance Sampling (Studi kasus: AMDK ADENI Pamekasan)
Pengendalian Kualitas dengan Metode Acceptance Sampling (Studi kasus: AMDK ADENI Pamekasan) 1 M. Fitriyan H, 2 Agus Salim Program Studi Teknik Industri, Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO
B. ACCEPTANCE SAMPLING. Analysis
Analysis Control A. PENDAHULUAN B. ACCEPTANCE SAMPLING Control Analysis Pengendalian dan pengawasan mutu untuk mengetahui kesesuaian dengan standar tidak dapat diterapkan pada semua produk karena jumlah
Rencana Penerimaan Sampel (Acceptance Sampling)
Rencana Penerimaan Sampel (Acceptance Sampling) 12 Pengendalian Kualitas Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya e-mail : [email protected] Blog : hdp://debrina.lecture.ub.ac.id/
Usulan Perencanaan Sampling Penerimaan Berdasarkan Kecacatan Atribut dengan Metode Mil Std 105E pada Proses Penyamakan Kulit
Performa (2008) Vol.7, No.1: 39-54 Usulan Perencanaan Sampling Penerimaan Berdasarkan Kecacatan Atribut dengan Metode Mil Std 105E pada Proses Penyamakan Kulit Lobes Herdiman, I Wayan Suletra, Amithya
SOAL DETECT UTS GENAP 2014/2015. Quality Control
SOAL DETECT UTS GENAP 2014/2015 Quality Control 1. a. Buat peta kendali dan R! b. Buat revisi peta kendali jika dibutuhkan! c. Diketahui spesifikasi produk adalah 171 ± 11. Jika produk di bawah LSL maka
BAB 3 METODE PENELITIAN
30 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Populasi dan Metode Pengambilan Sampel Dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah bahan baku yang digunakan oleh PT Singgang Jati. Jumlah populasi penelitian
Lobes Herdiman, Retno Wulan Damayanti 1, Sukarno Jurusan Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret, Surakarta
Performa (2007) Vol. 6, No.2: 60-70 Perencanaan Pengambilan Sampel Lampu TL Dop 10 W pada Post Quality Inspection dengan Metode Military Standard 105D di PT. General Electric Lighting Indonesia Lobes Herdiman,
Acceptance Sampling. sampling penerimaan
Acceptance Sampling sampling penerimaan ditolak dan dikembalikan? diterima? Pemeriksaan bahan baku Option: o tidak ada pemeriksaan o pemeriksaan 100% o pemeriksaan sample Supplier Pabrik Konsumen Pemeriksaan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, dunia automotive di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan. Menurut harian Bisnis Indonesia pada 29 Maret 2012, peningkatan penjualan kendaraan
Model Optimisasi Ukuran Lot Produksi yang Mempertimbangkan Inspeksi Sampling dengan Kriteria Minimisasi Total Ongkos
Model Optimisasi Ukuran Lot Produksi yang Mempertimbangkan Inspeksi Sampling dengan Kriteria Minimisasi Total Ongkos Arie Desrianty, Fifi Herni M, Adelia Septy Perdana Jurusan Teknik Industri Institut
STUDI PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK PADA PT X
STUDI PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK PADA PT X Staf Pengajar Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik USU Abstrak:
Praktikum Total Quality Management
Moul ke: 09 Dr. Fakultas Praktikum Total Quality Management Aries Susanty, ST. MT Program Stui Acceptance Sampling Abstract Memberikan pemahaman tentang rencana penerimaan sampel, baik satu tingkat atau
Pengendalian dan Penjaminan Mutu
Pengendalian dan Penjaminan Mutu K-01 PENDAHULUAN Dosen : 1 TEKNIK INDUSTRI-UNAND Deskripsi Singkat Mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib mahasiswa Jurusan Teknik Industri yang membahas konsep mutu
BAB III MODEL DASAR DAN RENCANA PENGEMBANGAN AOQ DAN ATI
BAB III MODEL DASAR DAN RENCANA PENGEMBANGAN AOQ DAN ATI 3.1. Kualitas Keluaran Rata Rata (AOQ) Mengukur performasi rencana sampling penerimaan dapat dikatakan melalui AOQ (Average Outgoing Quality) atau
BAB I PENDAHULUAN. tahapan tersebut diperlukan suatu pengendalian terhadap kualitas.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kualitas merupakan suatu bahasa komunikasi antara produsen dan konsumen. Kualitas menjadi suatu pertaruhan agar tercipta kepuasan. Artinya perusahaan akan
Kelemahan Sistem Sampling
Kelemahan Sistem Sampling Sampling tanpa melalui proses evaluasi variasi berpotensi mengakibatkan produk defect terkirim ke Customer. Produk reject yang terkirim berasal dari produk antar inspection 8.00
SUKARNO NIM I
USULAN PERENCANAAN PENGAMBILAN SAMPEL LAMPU TL DOP 10 W PADA PQI (POST QUALITY INSPECTION) DENGAN METODE MILITARY STANDARD 105D DI PT. GENERAL ELECTRIC LIGHTING INDONESIA Skripsi Sebagai Persyaratan Untuk
SAMPLING PENERIMAAN SKRIPSI
/i'''' " SAMPLING PENERIMAAN SKRIPSI f:::~ Mftfi't, 9-3> /C)t/ Aqh (' '"" ;- I ~ " ;I Q.. A.. 4;,. /,/ NO ~.;. ':,(',
BAB 1 PENDAHULUAN. Secara umum, diketahui bahwa dalam suatu siklus pengembaangan perangkat lunak selalu terdapat empat proses utama, yaitu :
BAB 1 PENDAHULUAN Secara umum, diketahui bahwa dalam suatu siklus pengembaangan perangkat lunak selalu terdapat empat proses utama, yaitu : Gambar Siklus Pengembangan secara umum Penamaan untuk empat proses
BAB II LANDASAN TEORI
5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kualitas Kualitas secara umum adalah sesuatu yang mengacu pada kadar atau tingkat keunggulan tertentu. American National Standard Institute and American Society for Quality
SAMPLING PLAN. Dasar - Dasar Penarikan Contoh (Sampling)
SAMPLING PLAN Dasar - Dasar Penarikan Contoh (Sampling) Apa Itu Sampling? Pendugaan karakteristik suatu populasi berdasarkan contoh (sample) yang diambil dari populasi tersebut pengukuran hanya dilakukan
Metode Training ISO/TS Sentral Sistem TAPI MENJELASKAN
Metode Training ISO/TS 16949 Sentral Sistem TIDAK SEKEDAR MENJELASKAN APA ISI PERSYARATAN ISO/TS 16949 TAPI MENJELASKAN KONSEP/MAKSUD DARI TIAP PERSYARATAN ISO/TS 16949, HUBUNGAN ANTARA PERSYARATAN DENGAN
SPC Copyright Sentral Sistem March09 - For Trisakti University. Aplikasi Statistik pada Industri Manufaktur
Aplikasi Statistik pada Industri Manufaktur Why Statistic? Kecepatan Produksi sangat cepat, pengecekan 00% sulit dilakukan karena tidak efisien Cycle time produksi motor di AHM : 9 detik Cycle time produksi
PEMODELAN KUALITAS PROSES
TOPIK 6 PEMODELAN KUALITAS PROSES LD/SEM II-03/04 1 1. KERANGKA DASAR Sampling Penerimaan Proses Produksi Pengendalian Proses MATERIAL PRODUK PRODUK BAIK SUPPLIER Manufacturing Manufacturing KONSUMEN PRODUK
TEKNIK PENARIKAN SAMPEL PADA DATA ATRIBUT UNTUK PEMERIKSAAN HASIL AKHIR PRODUKSI
TEKNIK PENARIKAN SAMPEL PADA DATA ATRIBUT UNTUK PEMERIKSAAN HASIL AKHIR PRODUKSI ERNANING WIDIASWANTI Program Studi Teknik Industri, Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO Box Kamal, Bangkalan,
BAB 2 LANDASAN TEORI
23 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi mengenai Kualitas Saat kata kualitas digunakan, kita mengartikannya sebagai suatu produk atau jasa yang baik yang dapat memenuhi keinginan kita. Menurut ANSI/ASQC Standard
PENERAPAN PENGENDALIAN KUALITAS JENIS VARIABEL PADA PRODUKSI MAKANAN (Studi Kasus pada Pabrik Wingko Babat Cap Moel Semarang)
PENERAPAN PENGENDALIAN KUALITAS JENIS VARIABEL PADA PRODUKSI MAKANAN (Studi Kasus pada Pabrik Wingko Babat Cap Moel Semarang) SKRIPSI Disusun Oleh : PRAMESTIARA DEWIGA 24010211130023 JURUSAN STATISTIKA
Rabu, 8 Desember 2010
Perencanaan Samling Penerimaan dengan Atribut Bagian - [email protected] Rabu, 8 Desember 00 Isi Bagian. Masalah samling enerimaan. Alat untuk mengevaluasi rencana samling 3. Perencanaan samling tunggal
BAB 2 LANDASAN TEORI
8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Dasar dari Kualitas Kata kualitas memiliki banyak definisi yang berbeda, dan bervariasi dari yang konvensional sampai yang lebih strategik. Definisi konvensional dari
Aplikasi Statistik Pada Industri Manufaktur. SPC,I/Rev.03 Copyright Sentral Sistem Mei 08
Aplikasi Statistik Pada Industri Manufaktur 1 Why Statistik Kecepatan Produksi sangat cepat, pengecekan 100% sulit dilakukan karena tidak efisien Cycle time produksi motor di AHM : 1,7 menit Cycle time
QUICKSWITCHING SYSTEMS (QSS) UNTUK SAMPLING SEKUENSIAL SKRIPSI
QUICKSWITCHING SYSTEMS (QSS) UNTUK SAMPLING SEKUENSIAL RACHMA UNTANG JAUHARI JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2003 QUICK SWITCHING SYSTEMS
3/17/16 Testing dan Audit Perangkat Lunak - Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Dosen Pengampu: Anief Fauzan Rozi, S.Kom., M.Eng. Phone/WA: 0856 4384 6541 PIN BB: 29543EC4 Email: [email protected] Website: http://anief.mercubuana- yogya.ac.id 3/17/16 Testing dan Audit Perangkat
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengendalian Kualitas Menurut Gasperz (1998, p1) pengendalian kualitas merupakan aktivitas teknik dan manajemen, tentang bagaimana mengukur karakteristik kualitas dari output (barang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh para konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Kualitas yang baik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kualitas Kualitas merupakan aspek yang harus diperhatikan oleh perusahaan, karena kualitas merupakan aspek utama yang diperhatikan oleh para konsumen dalam memenuhi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Lead Time Istilah lead time biasa digunakan dalam sebuah industri manufaktur. Banyak versi yang dapat dikemukakan mengenai pengertian lead time ini. Menurut Kusnadi,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Maraknya pertumbuhan usaha dan bisnis di tengah pertumbuhan yang semakin membaik menciptakan persaingan pasar yang semakin ketat. Keadaan ini menuntut perusahaan untuk
Metode Training SPC TIDAK FOKUS PADA CARA MELAKUKAN PERHITUNGAN STATISTIK TAPI
Metode Training SPC TIDAK FOKUS PADA CAA MELAKUKAN PEHITUNGAN STATISTIK TAPI MENGAJAKAN KONSEP STATISTIK SECAA MENDALAM, APLIKASI STATISTIK, TEMASUK TEKNIK SAMPLING DISETAI VIDEO SIMULASI, STUDI KASUS
STATISTIC QUALITY CONTROL (SQC)
#9 STATISTIC QUALITY CONTROL (SQC) Pengertian Kualitas dan manajemen kualitas telah mengalami evolusi menjadi TQM (Total Quality Management), filosofi TQM berisi dua komponen yang saling berhubungan, yaitu
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan di awal yang kemudian diolah dan diproses menjadi informasi yang berguna. Sebelum dilakukan pengumpulan data langkah pertama yang
STATISTIC QUALITY CONTROL (SQC)
#9 STATISTIC QUALITY CONTROL (SQC) Pengertian Kualitas dan manajemen kualitas telah mengalami evolusi menjadi TQM (Total Quality Management), filosofi TQM berisi dua komponen yang saling berhubungan, yaitu
Pertemuan 10 Manajemen Kualitas
Pertemuan 10 Manajemen Kualitas Tujuan Memahami manfaat manajemen kualitas. Memahami proses dalam manajemen kualitas. Mengenal alat yang yang dapat digunakan untuk melakukan manajemen kualitas. SE 3773
SAMPLING PENERIMAAN DENGAN VARIABEL
TOI 12 SAMLIN NRIMAAN NAN VARIAL lm. 1 1. TI VARIAL ATAN SAMLIN (VAS) Variabel: karakteristik kualitas yang diukur dalam skala numerik. ontoh: berat, panjang, temperatur, tingkat kepekatan, kekuatan tarik,
Pertemuan 12 dan 13 SQA TIK : Menjelaskan konsep dan strategi Software Quality Assurance
1 Pertemuan 12 dan 13 SQA TIK : Menjelaskan konsep dan strategi Software Quality Assurance 1. Pengertian SQA Jaminan kualitas perangkat lunak (Software Quality Assurance / SQA) adalah aktivitas pelindung
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi adalah proses, prinsip, dan prosedur yang digunakan untuk mendekati masalah dalam mencari jawaban. Dengan ungkapan lain, metodologi adalah pendekatan umum untuk
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Statistic Quality Control (SQC) Statistik merupakan teknik pengambilan keputusan tentang suatu proses atau populasi berdasarkan pada suatu analisa informasi yang terkandung di
BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH
BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Setelah mengevaluasi berbagai data-data kegiatan produksi, penulis mengusulkan dasar evaluasi untuk mengoptimalkan sistem produksi produk
BAB I PENDAHULUAN. Di dalam dunia industri, kualitas merupakan faktor dasar yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Di dalam dunia industri, kualitas merupakan faktor dasar yang mempengaruhi pilihan konsumen untuk berbagai jenis produk yang berkembang pesat dewasa ini. Perusahaan
ANALISIS PENGENDALIAN MUTU PRODUK PT. MEIWA INDONESIA PLANT II DEPOK
ANALISIS PENGENDALIAN MUTU PRODUK PT. MEIWA INDONESIA PLANT II DEPOK Sri dan Sunarto Universitas Gunadarma ABSTRAK Mutu sebagi keseluruhan karakteristik suatu produk baik barang maupun jasa berperan penting
BAB IV METODE PENELITIAN. kuantitatif dan kualitatif. Desain Penelitian ini adalah deskriptif eksploratif yaitu
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis /Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif. Desain Penelitian ini adalah deskriptif eksploratif
BAB I PENDAHULUAN. Produk merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keunggulan bersaing,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Produk merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keunggulan bersaing, di samping harga dan jangkauan distribusinya. Oleh karena itu setiap perusahaan,
BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH
BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH Tahap analisis pemecahan masalah merupakan tahap untuk menemukan root cause, memberikan ide dan melakukan perbaikan terhadap cacat yang terjadi dengan adanya perubahan
QUALITY ASSURANCE (QA) vs QUALITY CONTROL (QC)
QUALITY ASSURANCE (QA) vs QUALITY CONTROL (QC) Filed under: Mechanical jakfarsegaf @ 12:21 am Beberapa tokoh mendefinisikan Quality, yaitu: - Juran : fitness to use, kecocokan penggunaan produk - Crosby
BAB 1 PENDAHULUAN. Pada saat ini perekonomian di dunia telah memasuki era globalisasi. Semua
BAB 1 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada saat ini perekonomian di dunia telah memasuki era globalisasi. Semua faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, bahan baku, uang, informasi, telekomunikasi, pendidikan,
BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa peta kendali dan kapabilitas proses. Dari gambar 4.7 peta kendali X-bar dan R-bar bulan Januari 2013, dapat
BAB V ANALISA HASIL 5.1 Analisa peta kendali dan kapabilitas proses Dari gambar 4.7 peta kendali X-bar dan R-bar bulan Januari 2013, dapat dijelaskan sebagai berikut: Garis berwarna hijau adalah Mean (rata-rata
BAB I PENDAHULUAN. maka perusahaan akan mengalami kerugian. Kerugian tersebut dapat berupa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Montgomery (2009), kualitas adalah salah satu dari faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk di antara pesaingpesaing yang ada. Jika
Analisa Kegagalan Pada Proses. dan
Analisa Kegagalan Pada Proses dan Sistem Kontrol Metode Pencegahan Defect 1 Produksi Zero Defect? Mungkinkah Produksi Zero Defect? Jika tidak mungkin Mungkinkah Customer complain Zero Defect? 2 99.99%
SISTEM PENGENDALIAN KUALITAS DENGAN BANTUAN EXPERT SYSTEM UNTUK MENURUNKAN TINGKAT KECACATAN PRODUK (Studi Kasus di Perusahaan Pembuat Filaman Lampu)
JURNAL TEKNIK INDUSTRI VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2005: 168-176 SISTEM PENGENDALIAN KUALITAS DENGAN BANTUAN EXPERT SYSTEM UNTUK MENURUNKAN TINGKAT KECACATAN PRODUK (Studi Kasus di Perusahaan Pembuat Filaman
MODEL OPTIMISASI LOT PRODUKSI DENGAN PERTIMBANGAN BIAYA KUALITAS PADA SISTEM PRODUKSI MULTISTAGE
MODEL OPTIMISASI LOT PRODUKSI DENGAN PERTIMBANGAN BIAYA KUALITAS PADA SISTEM PRODUKSI MULTISTAGE Arie Desrianty, Hendro Prassetiyo 2, Ladzwina Mahardini Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Nasional,2,)
PENINGKATAN KEAKURATAN INSPEKSI SUBDEPARTMENT QUALITY CONTROL INCOMING : STUDI KASUS
PENINGKATAN KEAKURATAN INSPEKSI SUBDEPARTMENT QUALITY CONTROL INCOMING : STUDI KASUS Christian Davin Gunawan 1, Indriati Bisono 2 Abstract: PT. X produces circuit breakers. The raw material inspection
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008
USULAN PENERAPAN PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK PADA PT. PANTJA SURYA TUGAS SARJANA Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-Syarat
Quality Cost And Productivity : Measurement, Reporting, and Control (Biaya Kualitas dan Produktivitas)
Quality Cost And Productivity : Measurement, Reporting, and Control (Biaya Kualitas dan Produktivitas) Kualitas yang rendah dapat menjadikan produk sangat mahal bagi produsen dan konsumennya. Konsekuensi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel 3.1.1 Variabel Penelitian Variabel penelitian merupakan suatu atribut atau sifat yang mempunyai variasi tertentu
PENGENDALIAN KUALITAS STATISTIK
PENGENDALIAN KUALITAS STATISTIK 5 Pengendalian Kualitas Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya e-mail : [email protected] Blog : hbp://debrina.lecture.ub.ac.id/ 2 Outline Kualitas
BAB III METODE CONTROL CHART. sebagai metode grafik yang di gunakan untuk mengevaluasi apakah suatu proses
BAB III METODE CONTROL CHART 3.1 Control Chart Peta kendali atau Control Chart merupakan suatu teknik yang dikenal sebagai metode grafik yang di gunakan untuk mengevaluasi apakah suatu proses berada dalam
MATERI II PERKEMBANGAN METODE KUALITAS. By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab.
MATERI II PERKEMBANGAN METODE KUALITAS By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab. 2 TUJUAN 1. MEMAHAMI TAHAPAN PERKEMBANGAN KUALITAS 2. MEMAHAMI TENTANG INSPEKSI 3. MEMAHAMI TENTANG QUALITY
BAB I PENDAHULUAN. B. Rumusan masalah Bagaimana cara pengendalian kualitas proses statistik pada data variabel.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengendalian Kualitas Statistik (Statistical Quality Control) secara garis besar digolongkan menjadi dua, yakni pengendalian proses statistik (statistical process control)
BAB III METODOLOGI.
BAB III METODOLOGI 3.1 Jenis dan Disain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Deskriptif. Menurut (Gulo, 2002) penelitian Deskriptif didasarkan pada pertanyaan
ANALISIS PRODUK DAN PROSES MANUFAKTURING
ANALISIS DAN PROSES MANUFAKTURING Suatu rancangan ataupun rencana tentang tata letak fasilitas pabrik tidaklah akan bisa dibuat efektif apabila data penunjang mengenai bermacam-macam faktor yang berpengaruh
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Manajemen Operasi Dalam mengelolah suatu perusahaan atau organisasi dibutuhkan sistem manajemen agar tujuan dari perusahaan atau organisasi dapat tercapai. Manajemen
AUDIT INTERNAL SNI ISO 9001:2015. Oleh: Ade Khaerudin Taufiq & Sik Sumaedi
AUDIT INTERNAL SNI ISO 9001:2015 Oleh: Ade Khaerudin Taufiq & Sik Sumaedi Topik Konsep dasar Audit Mutu Internal Perencanaan dan Persiapan Audit Mutu Internal Pelaksanaan Audit Mutu Internal Pelaporan
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
35 BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan Dalam profil perusahaan akan dijelaskan mengenai sejarah perusahaan disertai dengan visi dan misi, serta strategi perusahaan. 4.1.1 Sejarah Singkat
BAB I LATAR BELAKANG
BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Permasalahan Menurut Montgomery (2009), kualitas adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk di antara pesaingpesaing yang
Pengendalian Mutu Statistik
Pengendalian Mutu Statistik Konsep Pengendalian Kualitas Kualitas suatu produk : derajat/tingkatan dimana suatu produk mampu memuaskan keinginan konsumen Pengendalian Kualitas : sistem verifikasi & penjagaan
BAB II LANDASAN TEORI. pengertian yang satu hampir sama dengan definisi atau pengertian yang lain. Pengertian
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Kualitas Ada banyak sekali definisi dan pengertian kualitas, yang sebenarnya definisi atau pengertian yang satu hampir sama dengan definisi atau pengertian yang lain.
BAB I PENDAHULUAN. Sistem kualitas begitu penting dan diperlukan dalam dunia usaha untuk dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sistem kualitas begitu penting dan diperlukan dalam dunia usaha untuk dapat bersaing dan meningkatkan keunggulan kompetitif dengan perusahaan lain yang sejenis,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Bab ini dimaksudkan untuk memecahkan suatu masalah yang berisi mengenai langkah-langkah pembahasan yang harus ditempuh sebagai pedoman, bagaimana dan apa yang harus dikerjakan
BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH
BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH 5.1. Analisa Tahap Define Adapun persentase produk cacat terbesar periode September 2012 s/d Desember 2012 terdapat pada produk Polyester tipe T.402 yaitu dengan persentase
RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS)
RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS) Kode / Nama Mata Kuliah : E124406 / Pengendalian dan Penjaminan Mutu Revisi 4 Satuan Kredit Semester : 3 SKS Tgl revisi : 16 Juli 2015 Jml Jam kuliah
Fungsi Internal Quality Audit yang baik! Bukan sekedar Memastikan sistem dijalankan sesuai aturan (prosedur/ persyaratan ISO 9001)
Fungsi Internal Quality Audit yang baik! Bukan sekedar Memastikan sistem dijalankan sesuai aturan (prosedur/ persyaratan ISO 9001) Tetapi dapat membantu melihat kelemahan dari sistem manajemen mutu 1 Perbandingan
ANALISIS PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK DI PT. XYZ
ANALISIS PROCESS CAPABILITY DAN ACCEPTANCE SAMPLING PLANS BERDASARKAN MIL-STD 1916 UNTUK MENGENDALIKAN KUALITAS PRODUK DI PT. XYZ TUGAS SARJANA Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Memperoleh
PENGENDALIAN MUTU PRODUK DENGAN METODE STATISTIK
PENGENDALIAN MUTU PRODUK DENGAN METODE STATISTIK IRVAN, ZULIA HANUM* RUKMINI** *Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara **Dosen Universitas Muslim Nusantara Medan Abstrak: PT X adalah perusahaan
