AIR CONDITIONING SYSTEM

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "AIR CONDITIONING SYSTEM"

Transkripsi

1 AIR CONDITIONING SYSTEM Hak Cipta oleh Hyundai Motor Company. Alih bahasa oleh Training Material & Development. Buku ini tidak boleh diperbanyak tanpa persetujuan dari Hyundai Motor Company. 1 Training Support & Development

2 KATA PENGANTAR Penerbitan ini telah disiapkan untuk teknisi yang berminat belajat tentang sistem kontrol udara. Sehubungan dengan hal itu, kami sudah mengembangkan kursus baru yang berjudul, Air conditioning system sebagai bagian dari program pelatihan. Kursus ini dirancang untuk diajar dalam dua segmen; pertama "Penyegaran" yaitu meninjau ulang Prinsip dasar air conditioning system dan kedua (dan paling utama), yaitu pelajaran Full Automatic Temperature Control System. Kursus ini sebagian besar telah didisain untuk diajarkan pada lingkungan workshop dengan tujuan mempertunjukkan praktek aplikasi dari isi kursus ini "dalam kendaraan". Harapan kami agar penggunaan buku pelatihan ini dapat mengoptimalkan pengalaman peserta dan akan menghubungkan pengetahuan yang diperolehnya secara langsung pada kendaraan yang diperbaiki di dealer-nya. Kami berharap agar informasi yang diterima selama kursus ini akan meningkatkan pengetahuan peseta tentang Air conditioning system. Kami juga membuat agar prosedur yang ditunjukkan menjadi bagian dari diagnosa rutin yang dilakukan teknisi secara reguler dan diterapkan kapan saja untuk membantu memastikan agar pelanggan dapat menerima servis yang terbaik. 2 Training Support & Development

3 Daftar Isi 1. Informasi umum 9 5. FATC system Heat transfer FATC Input & output Panas sensitif dan panas laten Lokasi part Temperatur dan kelembaban Blower Motor speed control Hubungan Tekanan - Temperatur Actuator Pendinginan Sensor Pendinginan FATC Control panel Bahan pendingin/refrigerant FATC dengan AQS Langkah pendinginan A C FATC tanpa AQS Evaporasi Perubahan temperature unit Kompresi Fungsi switch Kondensasi FATC Control logic Ekspansi FATC Self diagnosis Komponen air conditioner Diagnosa A C Compressor Refrigerant AC Magnetic clutch Cara mencek & mentes bahan refrigerant Safety valve (Pressure Relief Valve) Troubleshooting A C Fungsi belt lock safety Compressor tidak bekerja Condenser Blower motor tidak bekerja Receiver drier Actuators tidak bekerja Pressure switch Udara dingin tidak memancar Expansion valve Evaporator unit Thermostat Heater unit Air filter Blower motor assembly 36 3 Training Support & Development

4 PERHATIAN: Kesalahan mengikuti prosedur, atau mengabaikan perhatian, peringatan, dan catatan dapat mengakibatkan cedera pada manusia dan/atau kerusakan /perbaikan kendaraan yang tidak perlu. PERINGATAN: 1. Sebelum memperbaiki setiap komponen elektrik, lepaskan kabel battery negatif. Bila tidak ada perintah itu, ignition switch harus dalam posisi off atau posisi lock. 2. Air conditioner system yang berisikan gas R-134a, membutuhkan penanganan khusus agar tidak terjadi kecelakaan manusia. Ikutilah selalu instruksi khusus dibawah ini dalam menanganinya: a) Gunakan selalu pelindung mata dan bungkus sekitar fitting, valve dan koneksinya dengan kain bersih saat merawat refrigerant system. b) Selalu bekerja pada tempat yang berventilasi dan hindari menghirup hembusan refrigerant. c) Jangan mengelas atau mencuci dengan steam atau memanaskan tiap pipa atau komponen air conditioner. d) Jangan membiarkan refrigerant bersentuhan langsung dengan kulit anda. Jika gas R- 134a bersentuhan dengan bagian badan anda, basuhlan dengan air pada bagian itu dan segeralah mencari bantuan medis. e) Ketika menggantikan tabung R-134a, pasang kembali heavy metal screw cap setelah dilepaskan. f) Jangan membawa refrigerant container dalam ruang penumpang kendaraan ketika mengisi gas R-134a g) Ketika mengisi gas tabung kecil R-134a dari tabung besar, jangan mengisi tabung itu secara penuh. Siapkan selalu ruang diatasnya untuk pengembang cairan gas itu. 3. Sebelum melakukan pelepasan, pembongkaran, atau penggantian tiap pipa atau komponen air conditioner, seluruh gas refrigerant harus benar-benar dihisap dengan menggunakan peralatan recovery untuk gas refrigerant yang diizinkan. 4. R-12 tidak cocok dengan R-134a. Mengunakan R-12 pada air conditioner system R-134a akan menyebabkan kerusakan system tersebut. 5. Jangan melepaskan penutup/caps dari fitting sampai tiap komponen siap untuk dipasangkan. 6. Jangan membiarkan gas refrigerant bocor ke udara. Gunakan peralatan gas refrigerant recycling saat anda membutuhkan untuk mengisi atau membuang gas dari air conditioner system. 7. Simpan tabung refrigerant pada tempat bersuhu dibawah 40 C (104 F). 8. Jangan membuang tabung gas refrigerant pada tempat bersuhu tinggi/sampah terbakar. 4 Training Support & Development

5 CATATAN: 1. Pasang kembali bolt pengikat pada lokasi yang sama setelah dilepaskan. 2. Selalu gunakan nomor part pengikat yang tepat. 3. Kencangkan selalu pengikat dan fittingnya dengan nilai torque yang tepat. Tidak tepatnya atau kelebihan pengencangan dapat menyebabkan kerusakan atau kebocoran pada air conditioner system. 4. Setiap waktu air conditioner system selalu berhubungan langsung ke atmospir, ia seharusnya secara benar dikeluarkan sebelum mengisi ulang R-134a. 5. Seluruh part harus ada dalam temperatur ruangan sebelum dibuka untuk mencegah dari kondensasi uap air kedalam komponen-komponen. 6. O-ring dan seal harus dalam kondisi yang baik. Kotoran atau debu, pada permukaan sealing dapat menyebabkan refrigerant bocor. 7. Ketika mengencangkan O-ring fitting, pasangan fitting harus ditahan dengan kunci/wrench agar mencegah terpuntirnya seal dan berikanlah pengencangan yang benar. 8. Ingatlah untuk memasang kembali service valve caps setelah mengisi kembali air conditioner system. 9. Flexible hose lines janganlah bengkok dalam radius yang tidak lebih dari empat kali dari diameter hose-nya. 10. Flexible hose lines janganlah dibiarkan dekat dengan exhaust manifold sekurangnya berjarak sekitar 2.5 inches (64mm) diantaranya. 11. Jagalah seluruh tools dan parts agar bersih dan kering. 12. Gunakan penutup pengaman untuk menghindari kerusakan pada body kendaraan. 13. Saat memasang air conditioner lines atau electrical harness, jalurnya harus benar jangan menyentuh bagian parts yang bergerak. 5 Training Support & Development

6 1. Informas umum 1.1 Penyerapan panas Analisa penyerapan panas dikembangkan dari konversi massa dan energi dari hukum thermodynamika, hukum kedua dari thermodynamika, dan tiga tingkat ekuasisi yang dijelaskan sebagai berikut: konduksi, radiasi, dan konveksi. Penyerapan panas dilakukan melalui bahan padat, digunakan sebagai konduksi, yang melibatkan energi di tingkat molekul. Radiasi adalah suatu proses yang menyalurkan energi melalui satuan energi pengembangan cahaya dari satu permukaan ke permukaan lainnya. Konveksi adalah pemindahan panas yang tergantung pada tingkat konduksi dari permukaan padat ke cairan yang berdekatan dan pergerakan cairan sepanjang permukaan atau menjauh darinya. Dengan begitu mekanisme pemindahan panas jauh berbeda dari yang lain; sehingga, mereka semua mempunyai karakteristik yang umum, karena tergantung pada temperatur dan dimensi fisik dari objek yang dipertimbangkan Konduksi Pertimbangan fluktuasi tenaga yang timbul dari konduksi penghantar panas sepanjang batang padat, hal itu sebanding dengan perbedaan temperatur dan area penampangnya dan berbanding terbalik dengan panjangnya. Penghantar panas dan tingkat konduksi penyaluran panas, dihubungkan dengan struktur molekul bahan itu. Semakin dekat kemasan molekul yang teratur dari suatu bahan akan dapat memindahkan energi yang lebih baik dibanding molekul yang teracak dan tidak padat dari bahan bukan metal. Gambar1-1. Konduksi panas Elektron bebas di dalam suatu metal juga berperan untuk menghantarkan panas yang tinggi. Penghantaran panas pada bahan yang lebih sedikit tidak padat akan lebih rendah dari bahan metal. Bahan organik dan berserat, seperti kayu, penghantar panasnya masih lebih rendah. Penghantar panas dari bahan cairan nonmetallic biasanya lebih rendah dari bahan yang padat, dan penghantar panas pada gas dalam tekanan atmospir adalah juga lebih rendah. Pengurangan penghantaran panas ini bisa dihubungkan dengan ketidak-adanya bahan intermolecular kuat yang mengikat dan ruang molekul yang ada secara luas seperti halnya cairan. 6 Training Support & Development

7 1.1.2 Radiasi Perpindahan radiant-energy dihasilkan ketika satuan energi cahaya dipancarkan dari satu permukaan ke permukaan lain. Ketika energi mencapai permukaan lain penyebaran satuan energi cahaya diserap, direfleksikan, atau dipancarkan melalui permukaan itu. Energi tersebut menyebar dari suatu permukaan digambarkan dalam bentuk tenaga emisive. Hal itu dapat ditunjukkan dari pemikiran thermodynamika bahwa tenaga emissive adalah sebanding dengan tenaga keempat dari temperatur absolut. Sifat penting dari pertukaran radiasi energi ini adalah radiasi yang meninggalkan suatu permukaan itu disebarkan secara tidak bersamaan ke segala jurusan. Oleh karena itu hubungan geometris antara dua permukaan mempengaruhi pertukaran radiasi energi antara keduanya. Karakteristik optimal dari permukaan itu juga mempengaruhi tingkat perpindahan panasnya. Gambar 1-2. Radiasi Konveksi Tingkat penyamaan konveksi pemindahan panas awalnya diusulkan oleh Newton pada tahun 1701, tentang pengamatan atas gejala phisik, q=hc A (Ts-Tf). Persamaan ini secara luas digunakan dalam rancangbangun walaupun itu adalah lebih merupakan definisi hc dibandingkan sebagai hukum phenomenologik untuk konveksi (pemindahan panas). Jadi, inti dari analisa konveksi pemindahan panas adalah evaluasi dari hc. Hal itu merupakan suatu kerja, dimana panas ditransfer sebagai gerakan gas atau cairan. Suhu panas yang tinggi diangkat oleh float age (pelampung usia) dan sisi panas yang rendah adalah dataran yang berkaitan dengan perubahan kepadatan udara menurut perbedaan temperatur. Pada waktu ini, panas dipindahkan sebagai cairan. Gambar 1-4. Alcohol menguap dari kulit. Gas Panas Gambar 1-3. Konveksi 7 Training Support & Development

8 1.2 Panas sensitip dan panas latent Disebut panas sensitip karena panas ditingkatkan atau diturunkan ketika temperatur dari suatu bahan berubah, tetapi kondisinya tidak berubah saat panas itu sedang ditingkatkan atau diturunkan. Disebut panas latent karena temperaturnya tidak berubah, tetapi status bahannya (uap air, cairan dan kepadatan) berubah. (Contoh) Jika panas dinaikkan pada es (-15 0 C) maka temperatur akan diangkat. Kemudian suhu es akan menjadi 0 0 C, dan jika panas lebih lanjut ditingkatkan es akan meleleh dan dirubah menjadi air. Temperatur berubah menjadi diatas 0 0 C. Jika setelah es meleleh dipanaskan lagi maka temperatur air akan diangkat ke C. Jika panas ditingkatkan lagi maka temperatur menjadi lebih dari C tetapi air akan mendidih kemudian menguap, sehingga jumlah air akan berkurang. Jika panas ditingkatkan lagi pada uap air itu maka temperatur uap air akan diangkat juga tetapi kondisinya tetap. Inilah apa yang disebut panas sensitip dimana kondisinya tidak berubah ketika temperatur dinaikkan, dan disebut panas latent dimana kondisinya berubah tetapi temperaturnya tidak berubah walau panas ditambahkan. 1.3 Temperatur dan kelembaban udara 0 C dan 0 F digunakan untuk mengukur kondisi panas/dingin dari suatu bahan. Temperatur titik pengembunan: Jika air es ditaruh pada gelas di musim panas, maka embun muncul di permukaan gelas. Hal ini disebut 'kondensasi', dan temperatur kondensasi ini disebut 'temperatur titik pengembunan'. Udara kering: Adalah suatu kondisi udara yang sangat kering belum termasuk uap air didalamnya, sebenarnya hal ini tidak benar-benar ada. Kelembaban udara dan Kelembaban udara jenuh: Itu adalah pencampuran udara kering dan uap air, dan hal ini disebut "kelembaban udara jenuh" dimana kondisi tersebut akan membuat air turun karena air keluar dari udara ketika kelembaban udara menjadi jenuh. Kelembaban udara mutlak: Hal itu menandakan kondisi kelembaban udara dimana berat air yang ada terjadi dalam udara yang kering. Titik kritis dan temperatur kritis: Uap air pada kelembaban udara yang jenuh ada diantara sekitar cairan yang didinginkan berlebihan dan uap air yang dipanaskan. Jika peningkatan penyetalan tekanan uap air dari kelembaban udara jenuh yang dilakukan secara perlahan itu dihilangkan maka uap air itu akan berubah menjadi kondisi yang bukan cairan ataupun uap air. Titik itulah yang disebut temperatur 'titik-kritis' dan 'temperatur kritis'. 8 Training Support & Development

9 1.4. Hubungan Tekanan-Temperatur Pelajaran tentang pisika menyangkut hukum yang menjelaskan hubungan antara tekanan dan temperatur pada saat terjadi cairan kemudian berubah menjadi uap air itu dinamakan titik didih. Pernyataan hukum tersebut seperti berikut ini: A. Jika tekanan berlaku atas cairan ditingkatkan, maka titik didih cairan itu akan meningkat. B. Penurunan tekanan yang berlaku atas cairan, maka titik didih cairan itu akan menurun. DaIam kata lain, air dalam tekanan vacuum akan mendidih pada temperatur yang kurang dari 100 sementara dimana air dalam sebuah pressure cooker atau cooling system sebuah kendaraan yang tertutup rapat akan mendidih pada temperatur yang lebih dari 100. (Contoh) Ketika cooling system ditutup dan dibawah tekanan, titik didih akan lebih tinggi dari 100. Tetapi ketika pressure cap dilepaskan, maka titik didih air pendingin itu akan segera menurun. Air tidak menguap. Suhu air Diatas 100 Suhu air Diatas 100 Pressure Cap Dipasangkan Pressure Cap Dilepaskan Gambar 1-5. Hubungan Tekanan-Temperatur 9 Training Support & Development

10 Hubungan Tekanan-Temperatur A/C system Tekanan yang ditingkatkan oleh compressor A/C akan menaikkan titik didih dari bahan pendinginnya (refrigerant). A/C system dirancang untuk beroperasi agar temperatur udara yang tepat dapat dihasilkan untuk melepaskan panas dari udara ruangan penumpang. Ada hubungan yang membatasi antara cairan bahan pendingin dan uap air dalam udara. Ketika refrigerant yang terkurung dalam sistem A/C ditingkatkan temperaturnya maka ia akan selalu menghasilkan peningkatan dalam tekanannya, walaupun compressor A/C tidak beroperasi pada saat itu. Titik didih dari R-12 di tempat ketinggian permukaan air laut adalah Tetapi temperatur titik didih ini akan lebih rendah dari (-26.5 ) pada system R-134a, dimana tekanan yang terbaca juga cenderung menjadi lebih rendah karena hubungan tekanan-temperaturnya. Tekanan A/C diekspresikan dalam gauge dengan tekanan positive dalam kg/cm2 atau tekanan negative (Vacuum) dalam cmhg. Sekarang anda telah mengulangi pelajaran dasar, sekarang marilah kita ambil pelajaran itu semua sebagai pelajaran dasar untuk mempelajari bagaimana system A/C bekerja. 2. Pendinginan 2.1 Refrigerasi (proses pendinginan) Proses ini akan membuat keadaan dimana temperatur bahan pendingin akan lebih rendah dari suhu sekitarnya sehingga dapat melepaskan tenaga panas dari uadara disekitarnya. Bahan pendingin akan dirubah menjadi padat, cair dan uap. Bahan itu dinamakan juga sebagai refrigerant yaitu bahan pendingin yang digunakan pada saat ini Prinsip pendinginan: Perubahan kondisi dari bahan pendingin itu mempunyai kemampuan merubah panas. Pada umumnya, alat pendingin (refrigerator) mengoperasikan refrigerant untuk menghisap panas uadara disekelilingnya. Ada berbagai macam cara kerja refrigerator ini: 1) Pendinginan dengan mengabutkan panas Cara ini akan membuat bahan cair pendingin mudah dikabutkan, maka ketika ia akan melakukan proses pendinginan ia akan menarik dan melepaskan panas dari bahan itu. Contoh system ini adalah: - Vapor compression refrigerator 10 Training Support & Development

11 - Suction refrigerator - Nitrogen refrigerator 2) Pendinginan dengan menghilangkan panas Cara itu dilakukan dengan menghisap panas (79.68kcal/kg) pada suhu 0 ketika es dicairkan. 3) Pendinginan dengan mensublimasi panas Cara itu digunakan pada es kering, dimana es kering akan menghisap panas dari udara sekitarnya sehingga membuat es kering itu menjadi gas. Saat itu juga ia akan membuat panas udara disekitarnya menurun karena suhu sublimasi dari es kering itu. 4) Pendinginan dengan pemampatan bahan pendingin Jika uap cair bahan pendingin ini ditekan lalu disemburkan dan dikeluarkan pada ruang bertekanan rendah, temperaturnya akan meurun, sehingga akan membuat panas disekitarnya menurun. Melepaskan Panas Kondensasi Uap Refrigerant Menguap Cairan Menghisap Panas Gambar 2-1. Sifat dari refrigerant 2.2 Refrigerant Bahan ini akan menyalurkan panas dari sisi temperatur rendah ke sisi temperatur tinggi, dimana ia akan berubah dari cair ke gas pada tempat bertemperatur rendah dan dari gas ke cair di tempat bertemperatur tinggi. Bahan pendingin ini harus dipadatkan dengan mudah di bawah tekanan yang rendah. 11 Training Support & Development

12 Kondisi refrigerant Titik didihnya rendah: Jika menggunakan bahan pendingin yang terlalu tinggi titik didihnya, tekanan hisapan compressor akan sangat rendah. Kemungkinan bahan yang dialirkan tercampur gas yang tidak dipadatkan dan bahan pendingin ini akan bocor jika perbedaan tekanan terjadi terlalu besar. Panas latent dalam menguapkan bahan pendingin ini harus tinggi: Jika panas latent saat penguapan tinggi, sungguhpun bahan pendingin ini tidak banyak diuapkan, pendinginan dapat dioperasikan secara efisien. Tekanan kondensasi harus selalu rendah: Jika tekanan gas itu terlalu rendah, maka gas yang tidak dikondensasi dapat dialirkan, tetapi jika tekanan gas terlalu tinggi, sistem itu akan mudah rusak. Volume uap airnya harus kecil: Semakin kecil volume uap air yang dihisap oleh compressor, maka semakin kecil juga jumlah uap air yang dikeluarkan. Gas yang dikeluarkan dari compressor harus rendah: Jika gas yang dikeluarkan compressor tinggi, maka tidak hanya efisiensi volume yang dikurangi tetapi juga oil akan jadi karbon atau dipastikan fungsi pelumasan akan dapat berkurang juga. Temperatur kritis harus cukup tinggi: Jika temperatur kritis rendah, hal itu tidak bisa digunakan sebagai bahan pendingin sebab bahan pendingin itu tidak dapat diuapkan. Karat yang rendah: Bahan pendingin tidak memerlukan bahan berkarat di dalam sistem itu. Non-conductor: Bahan itu selain harus tidak berkarat juga bukan pengantar, dan nilai voltase harus tinggi Tujuan penerapan R-134a Efek kerusakan pada lapisan ozon dan lingkungan karena Chloro-Fluoro-Carbons (CFC), yang digunakan pada air conditioning system kendaraan, merupakan masalah yang sudah diketahui. Di tahun terakhir ini, dunia tengah membiayai dalam meningkatkan perhatian terhadap masalah yang berhubungan dengan perlindungan lingkungan hidup. Perhatian terbesar di antara masalah itu adalah kerusakan pada lapisan ozon. Lapisan ozon berfungsi untuk menyaring sinar matahari ultra violet yang berbahaya, dengan demikian perlindungan hidup di atas bumi dapat dilakukan. Untuk itu R-12 yang telah lama digunakan sebagai bahan pendingin untuk proses air conditioning system kendaraan perlu dipertimbangkan, ilmuwan telah menemukan bahwa R-12 adalah salah satu penyebab dari unsur perusak lapisan ozon. Untuk menggantikannya sebagai bahan pendingin baru, R-134A, telah dikembangkan. 12 Training Support & Development

13 Gambar 2-2. Bentuk dan kerusakan ozone - Pemisahan oxygen O 2 Naik ke atas O * O (analysis) - Pembentukan ozone O 2 + O O 3 (Kombinasi) - Kerusakan ozone CFC naik ke atas CCl 2 F 2 (R-12) CI + O 3 CIO * O 2 CIO + O CI * O 2 Name Life (Year) ODP GWP CFC CFC ~ CFC ~ ~ ~ 3.4 CFC ~ ~ ~ 1.4 CFC ~ ~ ~ 4.1 CFC ~ ~ ~ 7.6 HFC HCFC ~ ~ ~ 0.37 HFC 134a 8 ~ ~ 0.29 Daftar 2-1. Umur dari CFC dalam udara R-134A telah terpilih sebagai cairan alternatif yang tidak punya potensi untuk merusak ozon, dengan sifat termodinamik serupa dengan R-12 yang lalu. Ada perbedaan penting antara dua bahan pendingin ini. Yang paling penting, oil yang digunakan dalam R-12 dan R-134A tidaklah dapat dipertukarkan dan tidak bisa dicampur, walaupun sedikit. Artinya untuk mencegah pencemaran dan penggunaan peralatan servis untuk masing-masing jenis bahan pendingin diperlukan. Sebagai tambahan, R-134a jauh lebih dapat larut dalam air, maka fitter-driers harus mempunyai penyerapan yang lebih besar dan A/C system yang menggunakan R-134a memerlukan special hose sebab R-134A system beroperasi pada tekanan yang sedikit lebih tinggi dibanding R-12 system pada temperatur yang sama. 13 Training Support & Development

14 R-134a characteristics Keuntungan: Tidak ada CI Menstabilkan struktur molekul. Struktur thermodynamika serupa dengan R-12. Tidak dapat terbakar dan tidak beracun. Kerugian: Pendinginan menurun pada saat suhu kondensasi sama dengan R-12. Masalah penggunaan bahan karet dan plastik. Tidak tercampur dengan compressor oil (Mineral oil) Perhatian saat memelihara A C Haruslah diperhatikan terhadap penyerapan sendiri (self-suction) selama penyimpanan PAG cooling oil. NHBR sebagai bahan penutup harus digunakan. Nylon coating hose perlu digunakan sebab tingkat penyerapan atau pengisapan air pada refrigerant ini tinggi. Ketika mengisi refrigerant, peralatan khusus yang digunakan untuk memvacuum dan mengisi pada waktu yang sama, harus cocok untuk fitting yang baru. Jagalah tingkat kevacuuman yang sama dengan R-12. Jika pengisapan air dari cooling oil terlalu banyak, akan ada masalah ketika melumasi compressor, sehingga membuat ketahanan compressor lebih buruk Pernyatan rumusan refrigerant R a Menunjukkan keseimbangan Angka dalam satuan: Jumlah atom fluorine (n) Angka dalam puluhan: Jumlah atom hydrogen (n+1) Angka dalam ratusan: Jumlah atom carbon (n-1) R-12 (CFC 12) R 134a (HFC 134a) CCl 2 F 2 CH 2 FCF 3 F F F 14 Training Support & Development

15 Cl C Cl H C C H F F F C: n = 1 H: n = 0 F: n = 2 Cl: n = 2 C: n = 2 H: n = 2 F: n = Perbandingan refrigerant REFRIGERANT R-134a R-12 Rumus molekul CH2FCF3 CCL2F2 Berat molekul Titik didih (1atm, ÆC) Titik beku ( C) Temperatur kritis ( C) Tekanan gas yang diizinkan 2.98 kg/ cm2 (0 ÆC) 3.15 kg/ cm2 (0 ÆC) kg/ cm2 (60 ÆC) kg/ cm2 (60 ÆC) Panas latent pengabutan kcal/ cm2 (0 ÆC) kcal/ cm2 (0 ÆC) kcal/ cm2 (60 ÆC) kcal/ cm2 (60 C) Kemampuan terbakar Tidak Tidak Mengandung racun Mungkin (terbakar) Tidak Waktu bertahan dalam atmospir 8~11 Tahun 95~150 Tahun Daftar 2-2. Perbandingan refrigerant 15 Training Support & Development

16 3. Langkah pendinginan air conditioning Ada 4 langkah operasi pendinginan, dan refrigerant disirkulasikan berulang kali dengan perubahan-perubahan sebagai berikut (Cair Uap Cair). Panas sihisap Evaporator Blower Motor Expansion Valve Condenser Compressor Receiver Drier Panas dilepaskan Gambar 3-1. Langkah pendinginan 3.1. Evaporasi: Refrigerant dirubah dari cairan ke gas dalam evaporator. Cairan refrigerant dikabutkan oleh hisapannya sendiri dimana saat proses evaporasi panas latent dibutuhkan dari udara disekitar evaporator. Udara melepaskan panas untuk didinginkan, dan dialirkan ke dalam ruang dalam kendaraan oleh cooling fan; sambil menurunkan temperatur ruangan itu. Cairan refrigerant itu disalurkan dari expansion valve di dalam evaporator kemudian sekaligus menjadi uap refrigerant, dan perubahan itu terjadi berulang kali dari kondisi cair ke gas. Tekanan dan temperatur dalam perubahan itu selalu berkaitan, jika tekanan di-set maka temperatur juga akan di-set. Untuk pengabutan yang dilakukan saat temperatur lebih rendah dari perubahan itu (Cair -> Gas) dalam kondisi seperti diatas, tekanan dalam evaporator juga harus dibuat tetap rendah. Karena itu, gas dari refrigerant yang dikabutkan haruslah dikurangi secara kontinyu keluar evaporator oleh hisapan compressor. 16 Training Support & Development

17 Kompresi: Refrigerant ditekan dalam compressor sampai kondisinya menjadi cair dengan temperature yang tinggi. Gas refrigerant dalam evaporator dihisap oleh compressor akan membuat tekanannya tetap rendah didalam evaporator, dan untuk membuat cairan refrigerant menjadi gas secara dinamis pada temperature yang rendah (0 ). Maka tekanan gas refrigerant ditekan dalam cylinder, dan berubah menjadi tinggi, sehingga temperatur dan tekanan refrigerant akan mudah menjadi cair walaupun proses pendinginan dalam temperatur yang lebih tinggi Kondensasi: Refrigerant dirubah dari gas menjadi cair dan didinginkan dari temperatur yang tinggi didalam condenser. Refrigerant yang bertemperatur dan bertekanan tinggi itu dipancarkan dalam condenser menjadi cairan dan disalurkan ke receiver drier. Hal itu juga dinamakan proses kondensasi panas. Panas yang tinggi dari refrigerant itu dapat dikeluarkan oleh condenser sehingga refrigerant menjadi dingin dan dapat melakukan proses penyerapan panas di ruangan dalam kendaraan Ekspansi: Tekanan cairan refrigerant diturunkan oleh expansion valve. Hal itu disebut proses ekspansi, dimana gas bertekanan itu dikabutkan dengan mudah dalam evaporator sehingga refrigerant menjadi gas, dan expansion valve ini mengatur aliran cairan refrigerant sambil menurunkan tekanannya. Cairan refrigerant yang dikabutkan ini dalam evaporator di-set oleh tingkat pendinginan yang harus dilakukan dibawah temperatur pengabutan. Untuk itu, penting untuk mengontrol jumlah refrigerant yang dibutuhkan dengan melakukan pengecekan yang benar. Gambar 3-2. Kerja expansion valve 17 Training Support & Development

18 4. Komponen-komponen air conditioner 4.1. Compressor Fungsi Compressor merupakan unit tenaga dalam A/C system. Ia akan memompa gas refrigerant dibawah tekanan dan panas yang tinggi pada sisi discharge (sisi tekanan tinggi dari system) dan menghisap gas bertekanan rendah pada sisi intake (sisi tekanan rendah). Gambar 4-1. Compressor swash plate type a) Fungsi penghisap: proses ini membuat cairan refrigerant dari evaporator dikondensasi dalam temperatur yang rendah ketika tekanan refrigerant dinaikkan. b) Fungsi penekanan: proses ini membuat gas refrigerant dapat ditekan sehingga membuat temperatur dan tekanannya tinggi lalu disalurkan ke condenser, dan dikabutkan pada temperatur yang tinggi. c) Fungsi pemompaan: proses ini dapat dioperasikan secara kontinyu dengan mensirkula-sikan refrigerant berdasarkan hisapan & kompresi Pelumasan Oil pada compressor tersekat dalam ruang oil dan disalurkan ke tiap bagian bersama dengan aliran tekanan gas refrigerant. Jika compressor dioperasikan, oil dalam compressor akan dikirimkan karena tekanan yang dikirimkan ke block dibagian bawah dari kedua sisi penampang- 18 Training Support & Development

19 rotary, needle bearing, dan shaft seal melalui lubang oil. Compressor akan mengakhiri pelumasan, dan mengembalikan oil ke ruang bawah melalui suction hose Magnetic clutch Fungsi Magnetic clutch dipasangkan pada compressor pulley. Magnetic clutch berputar dan menyalurkan putaran engine ke compressor, berdasarkan operasi thermostat dan operasi High / Low pressure switch. No power + B V Compressor Compressor Gambar 4-2. Magnetic clutch berhubungan Operasi a) Saat arus mengalir ke magnetic coil (ON) - Pulley assembly (Armature & Rotor Frame) dan clutch pad masing-masing dihubungkan. b) Saat arus diputus aliriannya ke magnetic coil (OFF) - Pulley assembly (Armature & Rotor Frame) dan clutch pad masing-masing dilepaskan. - Clutch pad tidak menghubungkan rotor dalam pulley assembly. Sehingga, V-belt berputar bebas Safety valve (Pressure Relief Valve) Alat ini berfungsi menstabilkan A/C system ketika menyalurkan refrigerant dan oil melalui PRV ketika tekanan tinggi terjadi dalam compressor untuk mencegah A/C system setelah dideteksi bahwa tekanan A/C meningkat ketika condenser fan rusak, refrigerant overcharged (tekanan melewati batas), dan A/C system terjadi penyumbatan. Oleh karena itu, refrigerant dan oil harus diisi dan diinjeksi lagi ke dalam A/C system setelah mengoperasikan PRV. 19 Training Support & Development

20 - Tekanan operasi: 35.3~42.2kg/ Gambar 4-3 Safety valve 4.4. Fungsi pengaman belt lock safety Ketika mengembangkan engine, jenis belt - 1 umumnya ditujukan untuk mengurangi tenaga yang hilang. Jika bagian dalam A/C compressor dihubungkan ke belt - 1 terjadi kemacetan atau terjadi clutch slip, maka belt itu bisa putus. Untuk itu fungsi belt lock control dipasangkan, dan ada beberapa jenis belt seperti berikut ini. 1. Speed sensor type: Perlindungan ini dengan cara memutus tenaga compressor ke belt karena terlampauinya perbandingan batas slip normal yaitu perbandingan RPM engine dan RPM compressor dan hal itu diditeksi oleh speed sensor yang terpasang pada compressor. 2. Thermal fuse type Jenis ini melindungi belt dan engine agar tidak merusak pulley bearing atau menghilangkan clutch slip dengan menghentikan kerja clutch oleh pemutusan listrik ke coil yang dilakukan oleh temperature fuse (184 OFF) yang terpasang pada clutch compressor dan ia selalu mendeteksi panasnya clutch slip. 20 Training Support & Development

21 Gambar 4.4. Thermal fuse type 4.5. Condenser Condenser didalam air conditioning system merupakan alat yang digunakan untuk merubah gas refrigerant bertekanan tinggi menjadi cairan. Alat tersebut melakukan cara ini dengan menghilangkan panas dari refrigerant panas ke temperature atmospir. Condenser terdiri dari coil dan fin yang berfungsi mendinginkan refrigerant ketika udara tertiup diantaranya. Jenis air conditioning condenser ini adalah aluminum serpentine type (R-12) dan parallel flow type (R- 134a) ditempatkan di depan radiator kendaraan. Jenis parallel Flow type condenser lebih memperbaiki efisiensi dan meminimalkan fungsi pendinginan dibandingkan dengan jenis serpentine Type. Gambar 4-5. R-134A, Parallel flow type 21 Training Support & Development

22 4.5.1 Fungsi Perubahan refrigerant dari bentuk gas yang bersuhu dan bertekanan tinggi menjadi cairan yang bersuhu dan bertekanan tinggi juga belum cukup untuk proses pendinginan selanjutnya. Karenanya gas refrigerant ini dimasukkan kedalam condenser agar panasnya disalurkan ke udara luar atau disamakan dengan suhu atmospir Operasi Dari sisi pandang panas, bila temperatur (sekitar 60 ) dari refrigerant dalam condenser dan / atau temperatur udara luar (sekitar 55 ) merupakan kegagalan, karena suhu refrigerant akan menjadi sekitar 57. Walaupun suhu refrigerant diturunkan hanya sekitar 2~3, ia tetap akan berubah dari gas menjadi cairan, karena sifat alami refrigerant. Condenser kendaraan, yang menggunakan refrigerant R-12 A/C system, adalah berjenis corrugated type. Tetapi condenser, yang menggunakan refrigerant R-134a system, jenisnya adalah parallel flow type untuk memperbaiki efek pendinginan udara. Dengan cara itu maka efek pendinginan udara dapat diperbaiki sekitar 15% sampai 20%. SERPENTINE TYPE PARALLEL FLOW TYPE (R-12) (R-134a) Gambar 4-6. Condenser type 22 Training Support & Development

23 4.6. Receiver drier Receiver Drier Fungsi Outlet Inlet 1) PENYARINGAN REFRIGERANT Desiccant Filter 2) PENYIMPANAN REFRIGERANT 3) PEMISAHAN GELEMBUNG GAS Gambar 4-7. Receiver Drier Fungsi Receiver-drier merupakan tabung penyimpan refrigerant cair, dan ia juga berisikan fiber dan desiccant (bahan pengering) untuk menyaring benda-benda asing dan uap air dari sirkulasi refrigerant. Receiver-drier menerima cairan refrigerant bertekanan tinggi dari condenser dan disalurkan ke expansion valve. a. Jumlah sirkulasi refrigerant haruslah dapat berubah sesuai dengan perubahan beban dari langkah pendinginan. Maka, receiver drier akan membantu penyimpanan refrigerant dengan benar. b. Ketika cairan refrigerant tercampur gelembung, fungsi pendinginan akan menurun. Dalam hal ini, receiver direr dapat menyalurkan hanya cairan refrigerant saja ke expansion valve dengan memisahkan gelembung dari cairan. c. Ia juga menyaring benda-benda asing dan uap air dari refrigerant dengan menggunakan Desiccant dan Filter. d. Jumlah refrigerant dapat diperiksa melalui sight glass (R-12) Struktur dan operasi Alat itu terdiri dari main body filter, desiccant, pipe, dan side glass dlsb. Cairan refrigerant dialirkan ke dalam pipa untuk disalurkan ke expansion valve melalui outlet pipe yang ditempatkan pada bagian bawah main body setelah tersaringnya uap air dan benda asing oleh filter dan desiccant. 23 Training Support & Development

24 4.7. Pressure switch Dual pressure switch Dual pressure switch dipasangkan pada refrigerant line di antara condenser dan receiver drier atau pada receiver drier. Dual pressure switch, sebagai alat pengaman, berfungsi untuk menghentikan compressor dengan mengoff-kan magnetic clutch, ketika tekanan pada high- tinggi atau rendah. pressure line tidak normal 1. Low pressure: Jika tidak ada refrigerant dalam system A/C, switch ini akan terbuka, sehingga memutus pengiriman listrik ke compressor clutch. Ia dapat melindungi kerusakan compressor. Gambar 4-8. Dual pressure switch 2. High pressure: Ia mendeteksi tekanan refrigerant pada si si tekanan tinggi, jika tekanan yang ada lebih tinggi dari normal, maka switch akan terbuka dan memutus aliran listrik, untuk menjaga agar tekanan system A/C tidak melampaui batasnya. Gambar 4-9. Spesifikasi dari dual pressure switch 24 Training Support & Development

25 (Kondisi normal) Gambar Kerja dual pressure switch (Kerja high-pressure switch) Triple pressure switch Ada 3 nilai dari tekanan yang di-set oleh switch ini, dan ia mengatasi fungsi-fungsi dual switch, dan middle-pressure switch. Switch ini mendeteksi tekanan refrigerant dan jika tekanannya dinaikkan, switch akan tertutup dan membuat cooling fan berputar pada posisi high-speed. HIGH MIDDLE LOW ECM Low & high switch: Compressor control Middle switch: Condenser fan control MEDIUM MEDIUM ELECTRIC DIAGRAM LOW HIGH MEDIUM LOW & HIGH (1) LOW & HIGH (2) Gambar Triple pressure switch (1) (3) (4) 25 Training Support & Development

26 1. Daftar Compressor & Condenser fan control PRESSURE (Kg/cm2) COMPESSOR CONDENSER FAN CATATAN 2.3 ~ 15.5 ON OFF Tekanan meningkat 15.5 ~ ON ON Tekanan meningkat 32 OFF ON Tekanan berlebihan 26.0 ~ 11.5 ON ON Tekanan menurun 11.5 ~ 2.0 ON OFF Tekanan menurun 2. Tingkat Switch ON & OFF Low & high switch (kg/cm2) ON 2.3± ±2.0 OFF 2.0±0.2 (Low switch) 32±2.0 (High switch) Middle switch (kg/cm2) ON 15.5±0.8 OFF 11.5±1.2 (Middle switch) 26 Training Support & Development

27 4.8. Expansion valve Tujuan dari expansion valve adalah membuat cairan tekanan yang tinggi untuk di semprotkan masuk kedalam evaporator. Ia juga mengontrol, atau sebagai pengatur system untuk mencegah evaporator dari peluapan dan pembekuan (freezing up). Expansion valve merupakan jenis pemerata tekanan didalam (Block type). Diaphragm terpasang dibagian atas dari expansion valve. Dan, ruangan diaphragm atas dihubungkan ke sensing bulb. Gambar Expansion Valve Gambar 3-2. Kerja expansion valve Gambar Expansion valve unit 27 Training Support & Development

28 4.9. Evaporator unit Fungsi Evaporator adalah penyalur panas yang lain dalam air conditioning system. Ia memiliki coil dan fin seperti condenser, tetapi fungsinya berbeda terbalik. Evaporator menerima atom cairan refrigerant bertekanan rendah dan dingin dari expansion valve. Ketika refrigerant dingin ini melewati coils dari evaporator, maka pengabutan refrigerant akan menyerap panas dari ruang dalam kendaraan. Gambar Evaporator unit Operasi Keadaan refrigerant setelah receiver drier adalah 100% cair. Segera setelah tekanan cairan itu turun, mulailah terjadi gelembung, dan dengan demikian, gas itu akan menyerap panas. Panas ini dilepaskan dari udara yang ditiup lewat cooling fins dari evaporator dan menyebabkan udara menjadi dingin. Refrigerant yang benar masuk kedalam evaporator haruslah semuanya cairan 100% setelah melewati receiver drier dan menjadi 100% gas setelah berada di outlet. (Kerja normal) Gambar Kerja evaporator (Evaporator membeku) 28 Training Support & Development

29 4.10. Thermostat Jika temperatur evaporator fin, dimana suhu pengabutan refrigerant, menurun dibawah 0, beku/frost atau es akan terbentuk pada fin tersebut, yang menyebabkan menurunnya aliran udara dan akibatnya akan menurunkana kapasitas pendinginan. Untuk mencegah seperti pembekuan/frosting ini, dan agar temperature ruang dalam kendaraan dapat disetel sesuai dengan suhu yang diinginkan, maka thermostats dipasangkan. Alat berupa switch ini terpasang pada evaporator case dengan pipa kapilernya terpasang dan terbungkus rapat pada evaporator inlet line. (Struktur) (Lokasi) Gambar Thermostat Alat itu dihubungkan ke magnetic clutch pada compressor secara serie. Dia akan melepaskan magnetic clutch ketika temperature permukaan evaporator fin ada dibawah sekitar 0±1. ON OFF 0 ± Training Support & Development

30 4.11. Heater unit Ketika air pendingin engine dapat dialirkan ke bagian heater core, maka panas dari air pendingin/coolant dapat disalurkan ke cooler, udara akan dialirkan melalui fin dari heater core dan masuk ke ruangan penumpang sehingga ruang itu menjadi hangat. Gambar Heater unit Gambar Kerja heater unit 30 Training Support & Development

31 4.12. Air filter Penjelasan Air filter ini menggunakan combination filter, untuk menyaring debu dan bau dalam udara secara efektif. Air filter cover Perawatan Periode penggantian filter adalah 5000 ~ 12,000 km. Tetapi hal ini dapat menjadi lebih pendek jika kondisi jalan buruk yang menyebabkan debu dan asap hitam lebih banyak dalam udara. Gambar Air filter cover Cara melepas * Lepaskan glove box. * Tarik bagian pengunci dari air filter cover PERHATIAN!! Pastikan bahwa tanda panah pada filter menunjuk kearah sisi evaporator core. Gambar Tanda panah air filter Blower motor assembly Kegunaannya adalah meniupkan udara ke ruangan dalam penumpang dan mengirimkannya melalui evaporator core dan heater core, jika dikehendaki. Alat itu terdiri dari 12V electronic motor dan fan blade jenis squirrel cage style. Motor : magnet motor( 70) 1. Tingkat voltage: 12V2. tanpa beban - Kecepatan: 3300 rpm (min) - Arus: 3.0A (max) + PIN - PIN Gambar Blower motor 31 Training Support & Development

32 2. Dengan beban - Tingkat beban: 4.4 kgf-cm - Kecepatan : 2900 ±300 rpm - Arus : 18.3 ±1.3a (max) 3. Tingkat temperatur digunakan: -30 C ~ 80 C 32 Training Support & Development

33 5. FATC (Full Automatic Temperature Control) Full Automatic Temperature Control (FATC) adalah suatu system AC yang menonjolkan seluruh kendali otomatis terhadap kondisi udara yang dikeluarkan AC. FATC juga mengendalikan sirkulasi dan kelembaban udara di dalam kendaraan. Dengan FATC, pengemudi dapat memilih temperatur dan fungsi FATC untuk menjaga temperatur itu, dengan mengabaikan temperatur udara luar yang berubah-ubah. Modul pengontrol FATC ini mengendalikan system air conditioning, ventilasi, pemanasan, dan sistem defrosting. Dan sistem pengontrol elektronik ini secara otomatis melakukan penyetelan katup udara, kecepatan blower, dan langkah compressor FATC Input & output INPUT OUTPUT AMB SENSOR DISPLAY FIN SENSOR INCAR SENSOR PHOTO SENSOR HUMIDITY SENOSR FATC HI SPEED RELAY POWER TR BLOWER SPEED AUTO SWITCH OFF SWITCH CONTROL MODULE TEMP ACTUATOR MIX DOOR A/C SWITCH AQS SWITCH MODE ACTUATOR MODE DOOR AMB SWITCH TEMP SWITCH DEF SWITCH INTAKE ACTUATOR AQS CONTROL INTAKE DOOR BLOWER SWITCH ECM COMPRESSOR 33 Training Support & Development

34 5.2. Lokasi parts Ambient Sensor A/C Relay, Blower Relay Photo Sensor AQS AQS Compressor HEATER/EVAP Triple switch Receiver & Drier Expansion Valve Blower Relay Hi Speed Blower Relay FATC Module In-car Sensor Power TR Humidity Sensor Gambar 5-1. Lokasi part FATC (Itu tergantung dari model-nya.) 5.3. Pengotrol kecepatan blower motor Power TR Kecepatan blower dikontrol oleh fan control switch dan power TR. Perubahan fan switch dari posisi 1 ke 5, mengakibatkan fan berputar lebih cepat. Base Emitter Collector Gambar 5-2. Lokasi power TR Gambar 5-3. Power TR 34 Training Support & Development

35 1). Pemeriksaan power TR metode 1 2). Pemeriksaan power TR metode 2 35 Training Support & Development

36 High-speed blower relay Ketika blower switch ada diposisi kecepatan 6 th, FATC controller akan menerapkan ground ke sisi pengontrol dari high-speed blower relay. Hal ini membuat battery voltage, mengalir melalui kontaknya ke coil dalam high-speed blower relay. Ketika itu terjadi, blower motor beroperasi di posisi kecepatan tinggi. High-speed blower relay Gambar 5-4. Lokasi high-speed blower relay (Itu tergantung dari model-nya.) 5.4. Actuators Intake door actuator Intake door actuator (fresh/recirculation actuator) merupakan 12V electric motor, yang ditempatkan disisi blower motor assembly, dan dioperasikan oleh intake control switch. Ia dapat membuat penumpang memilih antara udara segar/fresh (udara luar) atau udara sirkulasi/recirculated didalam dengan merubah katup masuk (fresh/recirculation) ke posisi yang diinginkan. Ketika katup itu telah mencapai posisi yang diinginkan, maka actuator akan berhenti. Figure 5-5. Intake door actuator operation (It depends on the models.) 36 Training Support & Development

37 Temperature door actuator TEMP DOOR ACTUATOR ditempatkan di bagian bawah heater unit. Actuator itu mengontrol posisi dari temperature blend door berdasarkan pada sinyal voltase dari FATC module. Potentiometer didalam actuator mengirimkan sinyal feedback ke controller dan controller akan memutus sinyal voltase yang datang dari controller ketika posisi katup yang dikehendaki dicapai. [KARAKTERISTIK POTENTIOMETER] connector Potentiometer mengirimkan sinyal feedback (perubahan voltase) ke controller. Gambar 5-6. Potentiometer didalam Temperature door actuator mengirimkan sinyal feedback ke FATC controller 37 Training Support & Development

38 5.4.3 Mode door actuator Mode door actuator ditempatkan disisi heater unit. Gambar 5-7. Operasi mode door actuator Pemeriksaan 1. Berilah tegangan 12V ke terminal 7 mode actuator dan ground ke terminal Pastikan bahwa mode actuator bekerja seperti dibawah ini ketika terminals 5, 4, 3, 2 dan 1 diberi ground secara berurutan. VENT BI/LEVEL FLOOR MIX DEF 38 Training Support & Development

39 5.5. Sensors FIN thermo sensor 1). Penjelasan Fin sensor terpasang dalam evaporator untuk mendeteksi temperatur dari evaporator. Ia menjaga evaporator dari pembekuan/freezing. 2). Lokasi : Dimasukkan kedalam evaporator pin Gambar 5-8. Lokasi fin sensor 3). Karakteristik TEMP. ( ÆC) RESISTANCE ( Ù) TEMP. ( ÆC) RESISTANCE ( Ù) TEMP. ( ÆC) RESISTANCE ( Ù) ). Temperatur ON/OFF: 0 ~ 0.5 C: OFF 3.5 ~ 4 C: ON 39 Training Support & Development

40 5). FATC control FATC CONTROL MODULE A/C OUTPUT B B FIN SENSOR A/C RELAY HIGH MID M M COMP. A/C LOW RADI. CON. FAN FAN A/C relay control A/C pressure switch input A/C ON input ECM Gambar 5-9. Diagram skema FATC Ketika ignition switch ada di posisi ON, tegangan battery diberikan pada coil pada sisi pengontrol dari A/C relay. Dengan A/C switch ON, voltase dialirkan melalui closed contact secara normal dari triple switch, dan masuk ke ECM. Parameter operasi yang diijinkan, ketika ECM menerima sinyal A/C ON, ia akan memberikan ground pada sisi kontrol dari A/C relay, dan membiarkan kontak relay berhubungan. Lalu mengalirkan voltase battery, dimana selalu ada di sisi beban dari A/C relay, untuk melewati kontak ke coil dalam A/C compressor magnetic clutch. Ketika ini terjadi, A/C compressor mulai beroperasi. 40 Training Support & Development

41 In-car sensor In-car sensor ditempatkan pada lower crash pad seperti ditunjukkan dalam gambar. Ia berisikan thermister, yang mengkur temperatur udara didalam ruang dalam kendaraan. Ia akan mendeteksi temperatur ruang dalam kendaraan, merubah nilai resistan, dan memasukkan voltase yang berhubungan kedalam modul automatic temperature control (FATC). Gambar Lokasi in-car sensor [Lokasinya tergantung dari model-nya] Pemeriksaan Periksalah resistan dari sensor antara terminal 1 dan 2. Thermistor negative type, dimana resistan akan meningkat saat temperature turun, dan menurun saat temperatur meningkat. Gambar In-car sensor dengan aspirator hose [Lokasinya tergantung dari model-nya.] TEMP.( C) RESISTANCE ( Ù) Gambar Pemeriksaan in-car sensor 41 Training Support & Development

42 Photo sensor Photo sensor ditempatkan di sisi pengemudi dekat dengan defrost nozzle. Sensor ini responsif terhadap tingkat intensitas sinar dalam kendaraan, dan sensor ini akan mengirimkan sinyal ke control module lalu ke pengotrol tingkat blower dan pengaturan temperature udara. Ia berisikan sebuah diode photovoltaic (sensitif terhadap sinar matahari). Pancarkan sinar secara langsung kearah sisi pengemudi dan sisi penumpang dengan menggunakan lampu, dan periksa perubahan v oltase antara termi nals 1 & 2 Gambar Lokasi photo sensor [Lokasinya tergantung dari model-nya] 60W 10 ~ 15cm ^ (Over 0.45V) Gambar Pemeriksaan photo sensor Gambar Karakteristik photo sensor 42 Training Support & Development

43 Ambient Sensor Ambient temperature sensor ditempatkan di depan condenser fan shroud. Sensor ini mendeteksi temperatur udara luar dan mengirimkan sinyal voltase ke controller. Gambar Lokasi ambient sensor [Lokasinya tergantung dari modelnya] Output sensor ini akan digunakan untuk mengatur temperature udara, sensor fail-safe, temperature door control, blower motor level control, mix mode control dan in-car humidity control. * Resistan antara a & b Temperature ( C) Resistance ( Ú) Sensor ini merupakan negative type thermistor; resistan akan meningkat ketika temperature turun, dan akan menurun ketika temperatur meningkat. Resistan( ) Temperatur( ) Gambar Karakteristik ambient sensor [Lokasinya tergantung dari modelnya] 43 Training Support & Development

44 AQS (Air Quality System) Umumnya kebanyakan pengemudi memilih mode udara recirculation atau fresh secara manual dan juga untuk menginterupsi aliran udara dari exhaust gas yang berbahaya, dalam menghindari ketidaknyamanan dan bahaya ketika berkendara. Gas berbahaya itu dapat menyebabkan kelelahan, mengantuk atau batuk ketika berkendara. Mereka akan mencium exhaust gas dan secara manual menutup inlet udara kendaraan sementara gas itu sudah terperangkap didalam, dan akan terlambat bagi kesehatan mereka jika sudah menghirup exhaust gas. Kebalikannya, jika berkendara dengan inlet udara tertutup semua, cadangan udara kurang dan penumpukan carbon dioxide (CO2) akan terjadi. Hal ini akan menyebabkan kelelahan, sakit kepala, lemas, dan mengantuk. System AQS memberikan solusi sempurna terhadap masalah ini. Air Quality System ini mendeteksi exhaust gas dari kendaraan terdekat dan menginterupsinya secara otomatis. AQS mengontrol inlet kendaraan secara otomatis dan dapat dengan mudah dipasangkan pada kendaraan yang ada. Panduan operasinya juga tersedia. Gambar AQS mendeteksi exhaust gas dari kendaraan terdekat dan menginterupsi secara otomatis. Gas yang dapat dideteksi SPESFIKASI Voltase operasi Voltase rata-rata Temperatur operasi W aktu reaksi Gas gasoline engine Gas diesel engine 9 ~ 16V DC 12V DC -30 ~ 105 É CXHY, CO NOX, SO2 kurang dari 1 detik 1). Lokasi AQS ini ditempatkan di depan radiator engine. Gambar Lokasi AQS [Lokasinya tergantung dari modelnya] 44 Training Support & Development

45 2). AQS switch 3). Diagram Gambar Diagram skema AQS Ketika Air Quality System mendeteksi gas berbahaya dalam atmospir kurang dari nilai pengesetan, sinyal High, i.e., 5V akan dihasilkan. FA TC Module mengontrol Intake Actuator ke posisi Fresh Mode berdasarkan pada sinyal itu. Jika Air Quality System mendeteksi gas berbahaya dalam atmospir lebih dari nilai pengesetan, sinyal Low, i.e., 0V akan dihasilkan. FATC Module mengontrol Intake Actuator ke posisi Re- circulation Mode berdasarkan pada sinyal itu. 45 Training Support & Development

46 Humidity sensor Humidity sensor mendeteksi hubungan kelembaban dari ruang kabin kendaraan. Sensor ini akan menggantinya menjadi sinyal voltase dan mengirimkan sinyal ke FATC controller. Gambar Lokasi humidity sensor [Lokasinya tergantung dari modelnya] KELEMBABANVOLTASE (V)KELEMBABANVOLTASE (V) 30% % % % % % % % % % % % % ). Karakteristik sensor Gambar Karakteristik humidity sensor Jika temperature udara lingkungan atau kelembaban dalam kendaraan tingkatannya sama dengan udara luar kendaraan, controller akan menghidupkan A/C untuk mengontrol kelembaban udara itu untuk mencegah pengabutan dalam kendaraan. Kerja air conditioner tergantung pada temperature udara lingkungan dan kelembaban udaranya. 46 Training Support & Development

47 2). Spesifikasi 1). Sensor type: High polymer impedance variation sensor 2). Voltase rata-rata: DC 5V. 3). Arus konsumsi: dibawah 10mA 4). Tingkat temperatur: 0-60 C 5). Tingkat kelembaban: dibawah 99% Kelembaban relatif 6). Terminals: 3 terminals (DC 5V, Ground, Sensor output) 3). Block diagram 47 Training Support & Development

48 6. FATC Control panel 6.1. FATC dengan AQS Blower speed up/down switch A/C AUTO switch System OFF switch Ambient temperature check switch Temperature up/down switch Defrost switch Mode switch A/C ON/OFF switch Fre/Rec switch AQS switch Gambar 6-1. FATC controller panel dengan AQS [Lokasinya tergantung dari modelnya] 6.2. FATC tanpa AQS Gambar 6-2. FATC controller panel tanpa AQS [Lokasinya tergantung dari modelnya] 48 Training Support & Development

49 6.3. Perubahan temperature unit Pengendara mungkin memilih tanda temperatur antara C dan F. Tekanlah temp down button selama 3 detik sambil menekan AMB button. * Unit pengesetan: C (Battery dilepaskan) Tekan selama 3 detik atau lebih Terus ditekan Gambar 6-4. Dengan AMB Switch ditekan, saat itu tekan temperature down switch selama 3 detik atau lebih Fungsi switch SWITCH FUNGSI TEMP. SWITCH - TINGKAT TEMPERATUR SET: C - INTERVAL TEMPERATUR: 0.5 C AOTO SWITCH DEFROST SWITCH A/C SWITCH AMB SWITCH - SYSTEM OFF atau MANUAL STATE AUTO SW A/C SYSTEM AUTOMATICALLY CONTROLLED - MODE DOOR: DEF MODE - A/C: ON - INTAKE DOOR: FRESH MODE - OTHERS: KEADAAN SAM SEPERTI 'OFF' - A/C ON - A/C OFF (JIKA SWITCH DITEKAN LAGI) - AMBIENT TEMPERATURE DITAMPILKAN (UNTUK 5 DETIK) 49 Training Support & Development

50 SWITCH FUNGSI OFF SWITCH MODE SWITCH - SYSTEM OFF: BLOWER, COMPRESSOR OFF - TEMP DOOR: AUTOMATICALLY CONTROLLED - MODE DOOR: AUTO CONTROL (JIKA 'AUTO' SEBELUM 'OFF') SAME POSITION (JIKA 'MANUAL' SEBELUM 'OFF') - INTAKE DOOR REC (JIKA 'AUTO' SEBELUM 'OFF') POSISI SAMA (JIKA 'MANUAL' B) * VENT B/L FLOOR MIX VENT REC. SWITCH - RECIRCULATION AQS SWITCH - ACTIVATION: AQS INDICATOR ON (INTAKE DOOR: FRE REC) 50 Training Support & Development

51 7. FATC Control logic A. Koreksi in-car temperatur Saat in-car sensor mendeteksi perubahan temperatur yang tiba-tiba, controller memperbaiki perbedaan temperatur dengan perlahan. - 1 C naik / 4detik tunda - 1 C turun / 4detik tunda B. Koreksi ambient temperatur Saat ambient sensor mendeteksi perubahan temperatur yang tiba-tiba, controller memperbaiki perbedaan temperatur dengan perlahan. - 1 C naik / 3 menit tunda (ex. Underground, tunnel) - 1 C turun / 4detik tunda C. Koreksi radiasi panas Saat photo sensor mendeteksi perubahan radiasi sinar matahari, controller mengkompensasikannya secara perlahan (W/m2) / 1 menit tunda (W/m2) / 5 menit tunda D. Temp. Door control Sudut terbuka temp. door (0% ~ 100%) secara otomatis dikontrol berdasarkan pada pemilihan temperatur dan sinyal sensor lainnya. : Tingkat pilihan temperatur tersedia - MAX COOL: 17 C - MAX HOT: 32 C -17 C 32 C, 0.5 C step (62 F 90 F, 1 F step) E. Blower speed control - AUTO mode: linear control - MANUAL mode: 7 step control F. Mode control - AUTO: Mode berubah dengan otomatis berdasarkan pada pemilihan temperatur dan sinyal sensor lainnya. - Manual: Mode berubah saat mode switch dipilih. VENT B/L FLOOR MIX VENT 51 Training Support & Development

52 G. Intake door mode - Keadaan FRE/REC door dapat dirubah pada AUTO mode berdasarkan kombinasi input data. H. Compressor on/off control (AUTO mode) - Fin sensor: dibawah 0.5 C Compressor OFF diatas 3 C Compressor ON I. Fungsi Max. Panas (Saat 32 C dipilih pada AUTO mode) - Temp door: MAX HOT side - Mode door: Floor mode - Intake door: FRE mode - Compressor: OFF - Blower speed: MAX high J. Fungsi Max. Dingin (Saat 17 C dipilih pada AUTO mode) - Temp door: MAX COOL side - Mode door: VENT mode - Intake door: REC mode - Compressor: ON - Blower speed: MAX HIGH K. Fungsi pengaman udara hangat (Awal kerja A/C) KONDISI KONTROL OUTPUT - AUTO MODE - A/C ON - FIN sensor > 30 FATC - KECEPATAN BLOWER: AUTO low: 12 detik AUTO low AUTO high: 30 detik L. Fungsi pengaman udara dingin (musim dingin) 52 Training Support & Development

53 8. FATC Self diagnosis Sifat FATC module self diagnosis test akan mendeteksi kesalahan elektrik dan memberikan kode kesalahan untuk system components dengan kesalahan yang dicurigai. Ignition switch : OFF ON Tekan AMB switch lebih dari 4 kali dalam 2 detik sambil menekan Auto switch Setelah VFD display berkedip 3 kali per 0.5 detik, mulailah self-diagnosis. Self-diagnosis (Operasi kontinyu) Tekan AUTO Tekan AUTO Tekan OFF Self-diagnosis (Langkah operasi) Tekan OFF Kembali ke kondisi semula 8.1 Daftar DTC & failsafe KODE DTC PENJELASAN FAILSAFE 00 Normal Putus In-car sensor circuit Putus Ambient sensor circuit Putus Fin sensor circuit Short In-car sensor circuit Short Ambient sensor circuit Short Fin sensor circuit 25 C DISET 20 C DISET - 2 C DISET 19 Putus atau short Temp. door potentiometer SETTING TEMP. 17~25 C : MAX COOL 20 Rusak Temp. door SETTING TEMP. 25~32 C : MAX HOT potentiometer 53 Training Support & Development

54 9. Diagnosa A/C 9.1. A/C refrigerant Refrigerant haruslah terjaga dengan baik agar performa A/C dan ketahanan Compressor dan pengisiannya benar-benar membuat Compressor bisa menghasilkan pengisian dan kondisi system A/C yang baik sebelum refrigerant diisikan. Untuk itu, A/C refrigerant haruslah diperiksa seperti dibawah ini. Cara ini juga dibutuhkan ketika menggunakan peralatan pengisian otomatis agar tidak terjadi kesalahan. Cek kebocoran gas Pembuangan otomatis refrigerant Proses vacuum (selama 15 min.) Cek kebocoran vacuum Proses vacuum ulang Pengisian refrigerant Tes kerja & cek kebocorannya Pembuangan refrigerant - Ketika menggunakan manifold gauge a) Tutup high (low) pressure valve lalu hubungkan high (low) pressure hose coupling ke lubang charge/pengisian refrigerant dari A/C system. <Note> High (low) pressure valve dari manifold gauge haruslah tertutup sebelum hose dipasangkan ke A/C system. Jika high (low) pressure hose dihubungkan ke A/C system ketika valve terbuka, refrigerant dan oil banyak terbuang keluar, menyebabkan Compressor menjadi rusak. 54 Training Support & Development

55 b) Dengan perlahan buka high valve hanya ketika hose telah terhubungkan ke lubang pengisian/charge port sehingga dapat membuat hanya refrigerant saja yang dapat terbuang keluar. Low High Tutup Ke low pressure service port Buka Gambar 9-1. Buka high valve hanya sedikit. Jika refrigerant dibiarkan keluar terlalu cepat, compressor oil akan terbuang keluar dari system Cek dengan lap handuk untuk meyakinkan bahwa tak ada oil yang keluar. Jika oil ada, tutuplah hand valve sedikit lagi. Ke high pressure service port Untuk mengukur oil yang keluar bersama refrigerant pasanglah cup atau tabung pada ujung exhaust hose. <Note> Bahkan jika high pressure valve dibuka saat tekanan sisi high pressure port naik ketika mengeluar refrigerant tepat setelah A/C system dioperasikan, refrigerant dan oil akan banyak terbuang. Untuk itu, refrigerant jangan dikeluarkan sampai tekanan high (low) dari A/C system menjadi sama. c) Jika refrigerant tidak keluar walaupun high-pressure valve dari manifold gauge dibuka, berarti refrigerant sudah tidak ada dalam A/C system. Untuk itu, hal itu dapat diasumsikan ada kebocoran pada parts yang rusak atau hubungan antara part bocor. Vacuumlah setelah memeriksa dan melakukan hal seperti dibawah ini. < Cara mencari kebocoran> 1. Periksalah oil pada hubungan part dari tiap hose dan pipe 2. Permukaan condenser apakah kotor karena debu dan oil yang bocor. 3. Tercampurnya oil pada air kondensasi di drain hose bila evaporator bocor. 55 Training Support & Development

56 Proses vacuum Jika refrigerant sudah dikeluarkan, hubungkan exhaust hose ke vacuum pump. Operasikan vacuum pump dan buka high (low) pressure valve. Ketika low-pressure gauge menunjukkan sekitar 29.5 inhg (750mmHg), tutuplah kedua pressure valves dan matikanlah vacuum pump. Low High Buka Buka Udara Gambar 9-2. Hidupkan vacuum pump dan lalu buka high and low manifold pressure valves. Vacuum pump <Note> Jika proses vacuum kurang, akan sulit untuk mengisi refrigerant. Jika air tidak dikeluarkan dari A/C system maka ia akan menjadi es pada expansion valve, maka rangkaian A/C dapat tertutup dan akan memburukkan performa A/C. Hal lainnya, compressor bisa rusak karena tercampurnya air sehingga merusak compressor oil. <Note> Jika kebocoran terjadi karena part yang rusak tidak diganti, maka oil bersama refrigerant akan keluar. Untuk itu, isi oil sekitar 30cc. Ketika tidak ada kebocoran, isikan oil itu sebagai drained oil Menjaga kevacuuman Setelah proses vacuum cukup, pastikan apakah tekanan vacuum yang ada tetap sama selama 5 menit atau lebih. Jika tekanan itu berubah, berarti system ada kebocoran, dan perbaiki seperlunya. <Note> Periksa perubahan tekanan setelah high (low) valve dari manifold gauge ditutup. 56 Training Support & Development

57 Tes kebocoran Tes ini dapat membuktikan apakah ada kebocoran pada hubungan antar tiap part, jika terjadi perubahan pada high (low) pressure gauge. Periksa dan gunakan leak tester setelah mengisi sedikit refrigerant. <Note> Akan sulit bila ditemukan ada kebocoran yang kecil. Untuk itu, periksalah dengan menaikkan tekanan ketika A/C ON setelah mengisi refrigerant secara normal Pengisian oil Oil haruslah diisikan setelah mengganti part pada A/C karena cooling oil telah terbuang. Setelah mengisi oil itu, refrigerant haruslah diisikan setelah proses kevacuuman dilakukan kembali. < Cara mengisi cooling oil > a) Hubungkan exhaust hose ke vacuum pump dan vacuum-lah selama 5 menit atau lebih. Kemudian, biarkan hose terpasang di bawah cylinder untuk mengalirkan oil ke A/C system dengan mengunci valve dan memasangkan hose pada tabung oil. Bukalah low-pressure valve agar oil dapat mengalir ke dalam A/C system. Ketika oil sudah dimasukkan secara normal, low-pressure valve haruslah ditutup. <Note> Hati-hatilah ketika menempatkan cooling oil karena kekuatan menghisap air dari cooling oil sangat kuat. Gunakan dengan benar dan letakkan oil itu dengan penutupnya Pengisian Kuncilah manifold high (low) pressure valve setelah proses vacuum dan hubungkan exhaust hose ke charge cylinder. Jika refrigerant telah cukup diisi dengan membuka hubungan part pada exhaust hose dan manifold, tutuplah hubungan part itu. Saat menggunakan tabung gas, isilah dengan menghubungkan tabung gas ke exhaust hose, dan isilah refrigerant dengan dihangatkan air (dibawah 40 ) ketika temperatur atmospir rendah. <Note> Pengisian refrigerant haruslah ke sisi low-pressure. Pastikan agar tetap memposisikan container keatas untuk mencegah cairan refrigerant masuk ke dalam system melalui sisi suction, 57 Training Support & Development

58 dan hal ini akan memungkinkan rusaknya compressor. Refrigerant haruslah diisikan setelah kevacuuman cukup. Low High Buka Tutup Refrigerant 9.2. Cara memeriksa & mengetes bahan fluorescent 1) Cek kebocoran dye inject : Cek tanda dye pada receiver drier dalam kendaraan yang terpasang injected leak dye. 2) Pengecekan dan pengisian refrigerant : Akan sulit bila ditemukan kebocoran karena kekurangan sedikit refrigerant karena oil tidak dapat bersirkulasi dengan normal. 3) Pengisian bahan fluorescent : Pada kendaraan yang tidak terpasang leak dye, masukkan bahan fluorescent (sekitar 5cc) kedalam sisi low-pressure. 4) Warming up A/C : Operasikan A/C (selama kira-kira 15 min.) untuk mengalirkan bahan fluorescent kedalam bagian yang bocor agar tercampur dengan oil. 5) Tes kebocoran : Temukan kebocoran dengan menggunakan UV lamp. Pada saat ini, A/C system line harus diperiksa seluruhnya. 6) Perbaikan dan pembersihan kebocoran : Bersihkan bahan fluorescent dengan menggunakan air pembersih setelah memperbaiki kebocoran agar tidak terjadi hubungan yang kurang baik sehingga kebocoran ada lagi saat pemeriksaan ulang. 7) Tandai kendaraan berinjeksi bahan fluorescent : Walaupun refrigerant telah diganti, kendaraan berinjeksi bahan fluorescent dapat diperiksa tanpa injeksi tambahan. 58 Training Support & Development

59 < Flow chart test kebocoran fluorescent > Cek injeksi dye Cek refrigerant Tes kebocoran Jika tidak diinjeksi Jika kurang Injeksikan dye Isi refrigerant Perbaiki kebocoran Cek ulang kebocoran Selesai 10. A/C Trouble Shooting Compressor tidak beroperasi. Cek fuse kendaraan Fuse putus Ganti fuse Cek A/C switch Switch tidak bekerja Periksa switch Cek kebocoran refrigerant Refrigerant bocor Cek setelah mengisi refrigerant Check Cek low-pressure switch Cek evaporator sensor Switch tidak bekerja Evaporator sensor putus Ganti yang rusak Cek pressure switch Pressure s/w rusak Periksa switch Cek A/C relay Relay rusak Ganti relay Cek magnetic clutch coil Field coil rusak Ganti field coil 59 Training Support & Development

60 Compressor bekerja on dan off kembali saat A/C bekerja. Cek refrigerant overcharging Refrigerant overcharging Recharge refrigerant Cek refrigerant low Refrigerant low charging lalu periksa ulang charging Cek pressure s/w Switch berbunyi Ganti switch Cek sisi high pressure System tersumbat Ganti yang rusak Compressor tidak bekerja setelah dimatikan mendadak. Cek water temp sensor Water temp sensor rusak Ganti sensor Cek temp sensor pada Compressor Sensor rusak Ganti sensor A/C berbunyi; Compressor tidak bekerja saat A/C bekerja. Cek compressor connector Comp connection rusak Terminal bengkok Perbaiki connector Perbaiki kebengkokan 60 Training Support & Development

61 10.2. Blower motor tidak beroperasi Cek Blower fuse Fuse putus Ganti fuse Cek Blower relay Relay rusak Ganti relay Cek titik hubungan Blower s/w & connector Hubungan rusak Ganti s/w & perbaiki connector Cek B/motor connector Hubungan rusak Perbaiki connector Blower motor beropersi hanya kecepatan tinggi. Cek blower resistor fuse Fuse putus Ganti resistor Cek P/TR T/R short Ganti T/R Blower beroperasi saat blower switch off. Cek P/TR T/R short Ganti T/R Blower motor tidak beroperasi pada max- hi speed. Cek max-high speed Controller tidak bekerja Ganti controller Cek blower hi relay Blower s/w rusak Ganti hi-relay Blower motor tidak beroperasi pada terminal spesifik. Cek blower s/w Switch rusak Ganti controller Resistor panel retak Resistor rusak Ganti resistor 61 Training Support & Development

62 10.3. Actuators tidak beroperasi Tidak beroperasi airflow mode (vacuum type) & REC/FRE mode. Cek part berhubungan dengan vacuum Control s/w vacuum bocor Vacuum hose bocor Ganti part rusak Tidak beroperasi airflow mode (manual type) & REC/FRE mode. Cek mode control cable Cable terlepas Cable dipasang ulang Cek mode cable setting Cable setting rusak Reset cable itu Cek door shaft Door shaft rusak Ganti blower unit Tidak beroperasi airflow mode (FATC type) & REC/FRE mode Cek mode actuator Connector rusak Perbaiki connector Cek kerja signal Kerja signal rusak Ganti controller Cek kerja actuator Kerja actuator rusak Ganti actuator Temperatur tidak disetel (Manual type). Cek temperature cable Cable terlepas Pasang ulang cable Cek temp cable setting Cable setting rusak Cable diset ulang Cek door shaft Door shaft rusak Ganti heater unit Cek door seal Door seal terbuka Ganti heater unit 62 Training Support & Development

63 FATC temp. tidak bekerja Cek temp actuator Connector rusak Perbaiki connector Cek kerja signal Signal rusak Ganti controller Cek kerja actuator Kerja actuator rusak Ganti actuator Cek kerja actuator Kerja actuator rusak Ganti actuator Cek door shaft Door shaft rusak Ganti heater unit Udara dingin tidak dipancarkan Blower motor bekerja, tetapi pendinginan udara tidak dipancarkan. Cek kerja A/C s/w A/C s/w ON putus Ganti s/w Cek temp s/w setting Setel temp s/w hot Setel temp s/w cool Cek refrigerant Refrigerant bocor Isi refrigerant dan cek Cek kerja Comp Comp tidak bekerja Cek part yang berkaitan Cek kerja temp door Cek control temp cable & actuator Ganti yang rusak Cek tersumbat eva air filter Air filter tersumbat Ganti air filter 63 Training Support & Development

64 Tiba-tiba udara dingin tidak dipancarkan. Cek kerja blower motor Blower putus Ganti blower Cek Evaporator beku Cek low-pressure s/w Cek posisi pemasangan thermistor Cek resistan thermistor Ganti s/w Pasang ulang thermistor Cek compressor Compressor tdk bekerja Cek yang berkaitan Cek engine temp sensor Engine temp sensor rusak Ganti temp sensor Engine coolant temperature meningkat secara kontinyu. Cek coolant Cek jumlah coolant Isi coolant Cek retaknya cap Cek bocornya radiator Cek cock plug bocor Cek kerja engine thermistor Isi coolant Ganti radiator Ganti cock plug Ganti thermistor Cek cooling fan Cek kerja pada low -speed Cek kerja fan relay Cek kerja Water temp sensor Ganti resistor Ganti relay Ganti sensor 64 Training Support & Development

65 Panduan Terima kasih atas penggunaan panduan pelatihan ini. Kami berharap buku ini akan berharga untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalaman kerja anda menjadi lebih baik. Jika anda membutuhkan hal yang lebih rinci atau jika anda menemukan kekurangan dari buku ini selama anda belajar, silahkan anda memberitahu kami untuk segera diperbaiki. Ini alamat kontak kami. Web site : [email protected] Fax No. : (Jika anda ingin menggunakan fax, tulislah permohonan anda atau keluhan anda dalam lembaran ini dan fax-lah kepada kami.) Alamat : Hyundai & Kia Corporate After Service Division 407-7, Youngdu-Ri, Byungchon-Myun, Chonan-City, Chungnam, , Korea Informasi Pengirim Permohonan Negara : Perusahaan : Nama : Kembali ke Fax No. : Keluhan 2003 Copyright by Hyundai Motor Company. All rights reserved. 65 Training Support & Development

SISTEM AIR CONDITIONER (AC)

SISTEM AIR CONDITIONER (AC) SISTEM AIR CONDITIONER (AC) KOMPETENSI Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan dapat : 1. Menjelaskan prinsip terjadinya pendinginan pada sistem AC. 2. Menjelaskan Fungsi AC pada mobil. 3. Menjelaskan

Lebih terperinci

CAR AIR CONDITIONER PT. HANINDO AUTOMOTIVE CONSULTANT

CAR AIR CONDITIONER PT. HANINDO AUTOMOTIVE CONSULTANT CAR AIR CONDITIONER PT. HANINDO AUTOMOTIVE CONSULTANT Fungsi Air Conditioner adalah untuk : 1. Mengatur suhu udara 2. Mengatur sirkulasi udara 3. Mengatur kelembaban udara 4. Mengatur Kebersihan udara

Lebih terperinci

Air conditioner memelihara udara di dalam ruangan agar temperatur dan kelembabannya menyenangkan dengan cara :

Air conditioner memelihara udara di dalam ruangan agar temperatur dan kelembabannya menyenangkan dengan cara : AIR CONDITIONER APAKAH AIR CONDITIONER ITU Air conditioner adalah peralatan untuk : 1. 2. 3. 4. Mengatur udara Mengatur udara Mengatur udara Mengatur udara Air conditioner memelihara udara di dalam ruangan

Lebih terperinci

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Refrigerant Refrigeran adalah zat yang mengalir dalam mesin pendingin (refrigerasi) atau mesin pengkondisian udara

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Refrigerant Refrigeran adalah zat yang mengalir dalam mesin pendingin (refrigerasi) atau mesin pengkondisian udara BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Refrigerant Refrigeran adalah zat yang mengalir dalam mesin pendingin (refrigerasi) atau mesin pengkondisian udara (AC). Zat ini berfungsi untuk menyerap panas dari benda/media

Lebih terperinci

TUJUAN PEMBELAJARAN. Setelah mempelajari modul ini anda dapat :

TUJUAN PEMBELAJARAN. Setelah mempelajari modul ini anda dapat : TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari modul ini anda dapat : 1. Menjelaskan prinsip kerja air conditioner system. 2. Mengidentifikasi komponen air conditioner system. 3. Menjelaskan cara kerja air conditioner

Lebih terperinci

- 1 - (1/1) Komponen. Lokasi

- 1 - (1/1) Komponen. Lokasi Garis Besar Garis Besar 1. Sistem Auto A/C (Air Conditioner) Sistem auto A/C bekerja dengan mengaktifkan pengaturan temperatur udara yang dikehendaki, dengan selektor temperatur dan menekan switch AUTO.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan teknologi senantiasa selalu mengalami peningkatan seiring dengan ditemukan berbagai ilmu-ilmu baru pada dunia pendidikan. Teknologi yang telah ada mengalami

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Cooling Tunnel

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Cooling Tunnel BAB II DASAR TEORI 2.1 Cooling Tunnel Cooling Tunnel atau terowongan pendingin merupakan sistem refrigerasi yang banyak digunakan di industri, baik industri pengolahan makanan, minuman dan farmasi. Cooling

Lebih terperinci

BAB III SISTEM AC ( AIR CONDITIONER ) PADA TOYOTA YARIS

BAB III SISTEM AC ( AIR CONDITIONER ) PADA TOYOTA YARIS Laporan Kerja Praktek 14 BAB III SISTEM AC ( AIR CONDITIONER ) PADA TOYOTA YARIS 3.1 PENGERTIAN AIR CONDITIONER Air Conditioner adalah seperangkat peralatan yang tergabung dalam satu kesatuan dan terbentuk

Lebih terperinci

COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan )

COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan ) COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan ) Adalah sistim dalam engine diesel yang berfungsi: 1. Mendinginkan engine untuk mencegah Over Heating.. 2. Memelihara suhu kerja engine. 3. Mempercepat dan meratakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Simulator Pengertian simulator adalah program yg berfungsi untuk menyimulasikan suatu peralatan, tetapi kerjanya agak lambat dari pada keadaan yg sebenarnya. Atau alat untuk melakukan

Lebih terperinci

MAKALAH. SMK Negeri 5 Balikpapan SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE. Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N.

MAKALAH. SMK Negeri 5 Balikpapan SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE. Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N. MAKALAH SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N. Kelas : XI. OTOMOTIF Tahun Ajaran : 2013/2014 SMK Negeri 5 Balikpapan Pendahuluan Kerja

Lebih terperinci

KOMPONEN, FUNGSI DAN CARA KERJA SISTEM AC

KOMPONEN, FUNGSI DAN CARA KERJA SISTEM AC KOMPONEN, FUNGSI DAN CARA KERJA SISTEM AC Dosen Pengampuh : Drs. Abdurrahman, M.Pd. Disusun oleh : Taofik Hidayat (5202412052) 2012 PRODI PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF JURUSAN TEKNIK MESN FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

TROUBLE SHOOTING KERUSAKAN AC

TROUBLE SHOOTING KERUSAKAN AC Trouble Shooting Sistem Air Conditioner (AC) Mobil TROUBLE SHOOTING KERUSAKAN AC Di bawah ini akan di gambarkan langkah-langkah dalam melakukan perbaikan (trouble shooting) kerusakan AC. Langkah-langkah

Lebih terperinci

REFRIGERAN & PELUMAS. Catatan Kuliah: Disiapakan Oleh; Ridwan

REFRIGERAN & PELUMAS. Catatan Kuliah: Disiapakan Oleh; Ridwan REFRIGERAN & PELUMAS Persyaratan Refrigeran Persyaratan refrigeran (zat pendingin) untuk unit refrigerasi adalah sebagai berikut : 1. Tekanan penguapannya harus cukup tinggi. Sebaiknya refrigeran memiliki

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Garis Besar Penelitian Penelitian yang dilakukan pada tugas akhir ini adalah melakukan pengujian pengaruh putaran mesin terhadap performansi sistem pengkondisian udara

Lebih terperinci

PELATIHAN PENGOPERASIAN DAN PERAWATAN MESIN PENDINGIN. Oleh : BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PERIKANAN TEGAL

PELATIHAN PENGOPERASIAN DAN PERAWATAN MESIN PENDINGIN. Oleh : BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PERIKANAN TEGAL PELATIHAN PENGOPERASIAN DAN PERAWATAN MESIN PENDINGIN Oleh : BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PERIKANAN TEGAL PRINSIP PENDINGINAN PROSES MEMINDAHKAN ATAU MENAMBAHKAN PANAS DARI SUATU BENDA ATAU TEMPAT KE

Lebih terperinci

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran : Kompetensi kejuruan Mekanik Otomotif Kelas/semester : XI/3 Pertemuan ke : Alokasi Waktu : 24 x 45 menit Standar Kompetensi : Memelihara / servis sistem

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Refrigerasi Refrigerasi merupakan suatu kebutuhan dalam kehidupan saat ini terutama bagi masyarakat perkotaan. Refrigerasi dapat berupa lemari es pada rumah tangga, mesin

Lebih terperinci

AIR CONDITIONER GARIS BESAR AIR CONDITIONER

AIR CONDITIONER GARIS BESAR AIR CONDITIONER AIR CONDITIONER GARIS BESAR AIR CONDITIONER Apakah air conditioner itu?.................................. 388 HEATER 1. Prinsip dasar........................................... 389 2. Tipe heater.............................................

Lebih terperinci

1. EMISI GAS BUANG EURO2

1. EMISI GAS BUANG EURO2 1. EMISI GAS BUANG EURO2 b c a Kendaraan Anda menggunakan mesin spesifikasi Euro2, didukung oleh: a. Turbocharger 4J 4H Turbocharger mensuplai udara dalam jumlah yang besar ke dalam cylinder sehingga output

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2012

BAB II DASAR TEORI 2012 BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Sistem Brine Sistem Brine adalah salah satu sistem refrigerasi kompresi uap sederhana dengan proses pendinginan tidak langsung. Dalam proses ini koil tidak langsung mengambil

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bahan Penelitian Pada penelitian ini refrigeran yang digunakan adalah Yescool TM R-134a.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bahan Penelitian Pada penelitian ini refrigeran yang digunakan adalah Yescool TM R-134a. 3.1. Lokasi Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Motor Bakar Jurusan Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret Surakarta. 3.2. Bahan Penelitian Pada penelitian

Lebih terperinci

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA TURBOCHARGER URAIAN Dalam merancang suatu mesin, harus diperhatikan keseimbangan antara besarnya tenaga dengan ukuran berat mesin, salah satu caranya adalah melengkapi mesin dengan turbocharger yang memungkinkan

Lebih terperinci

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN. Persiapan Alat Dan Bahan. Persiapan satu Unit kendaraan. Pengecekan. Pembongkaran Evaporator.

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN. Persiapan Alat Dan Bahan. Persiapan satu Unit kendaraan. Pengecekan. Pembongkaran Evaporator. 25 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 ALUR PROSES Persiapan Alat Dan Bahan Persiapan satu Unit kendaraan Pengecekan Pembongkaran Evaporator Kondisi baik tidak Perawatan Korektif ya Perawatan Preventif

Lebih terperinci

JOB SHEET SISTEM KELISTRIKAN RTU

JOB SHEET SISTEM KELISTRIKAN RTU JOB SHEET SISTEM KELISTRIKAN RTU Job No 1 Simple Air Conditioning System Kompresor dihubungkan dengan arus 3 phasa dan tiap phasa menggunakan sekring. 3 kipas evaporator dengan 1 phasa dihubungkan terpisah

Lebih terperinci

Materi Kuliah Teknik Pendingin dan Tata Udara SISTEM PENDINGIN AC MOBIL. Hartoyo

Materi Kuliah Teknik Pendingin dan Tata Udara SISTEM PENDINGIN AC MOBIL. Hartoyo Materi Kuliah Teknik Pendingin dan Tata Udara SISTEM PENDINGIN AC MOBIL Hartoyo PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA A. PENDAHULUAN Dilihat dari fungsinya, AC Mobil memiliki

Lebih terperinci

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN PEMANAS AIR (WATER HEATER) DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir. Gambar 2.1 Schematic Dispenser Air Minum pada Umumnya

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir. Gambar 2.1 Schematic Dispenser Air Minum pada Umumnya BAB II DASAR TEORI 2.1 Hot and Cool Water Dispenser Hot and cool water dispenser merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengkondisikan temperatur air minum baik dingin maupun panas. Sumber airnya berasal

Lebih terperinci

PERAWATAN DAN PERBAIKAN AC MOBIL

PERAWATAN DAN PERBAIKAN AC MOBIL M O D U L PERAWATAN DAN PERBAIKAN AC MOBIL Oleh: Drs. Ricky Gunawan, MT. Ega T. Berman, S.Pd., M.Eng. BIDANG KEAHLIAN TEKNIK REFRIGERASI DAN TATA UDARA JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS PENDIDIKAN

Lebih terperinci

AC (AIR CONDITIONER)

AC (AIR CONDITIONER) AC (AIR CONDITIONER) AC adalah suatu jenis mesin pendingin yang berfungsi sebagai penyejuk ruangan. Ditinjau dari konstruksi, AC bias dibagi menjadi dua bagian, yakni sisi luar dan sisi dalam. Sisi luar

Lebih terperinci

1. Bagian Utama Boiler

1. Bagian Utama Boiler 1. Bagian Utama Boiler Boiler atau ketel uap terdiri dari berbagai komponen yang membentuk satu kesatuan sehingga dapat menjalankan operasinya, diantaranya: 1. Furnace Komponen ini merupakan tempat pembakaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Definisi Pengkondisian Udara

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Definisi Pengkondisian Udara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Definisi Pengkondisian Udara Sistem pengkondisian udara adalah suatu proses mendinginkan atau memanaskan udara sehingga dapat mencapai temperatur dan kelembaban yang sesuai dengan

Lebih terperinci

Cara Kerja AC dan Bagian-Bagiannya

Cara Kerja AC dan Bagian-Bagiannya Cara Kerja AC dan Bagian-Bagiannya Di era serba maju sekarang ini, kita pasti sudah sangat akrab dengan air conditioner. Kehidupan modern, apalagi di perkotaan hampir tidak bisa lepas dari pemanfaatan

Lebih terperinci

Bab III. Metodelogi Penelitian

Bab III. Metodelogi Penelitian Bab III Metodelogi Penelitian 3.1. Kerangka Penelitian Analisa kinerja AC split 3/4 PK dengan mengunakan refrigeran R-22 dan MC-22 variasi tekanan refrigeran dengan pembebanan terdapat beberapa tahapan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengeringan Pengeringan adalah proses mengurangi kadar air dari suatu bahan [1]. Dasar dari proses pengeringan adalah terjadinya penguapan air ke udara karena perbedaan kandungan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI.1 Latar Belakang Pengkondisian udaraa pada kendaraan mengatur mengenai kelembaban, pemanasan dan pendinginan udara dalam ruangan. Pengkondisian ini bertujuan bukan saja sebagai penyejuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Rumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Rumusan Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyejuk udara atau pengkondisi udara atau penyaman udara atau erkon atau AC (air conditioner) adalah sistem atau mesin yang dirancang untuk menstabilkan suhu udara

Lebih terperinci

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB II STUDI PUSTAKA BAB II STUDI PUSTAKA.1 Teori Pengujian Sistem pengkondisian udara (Air Condition) pada mobil atau kendaraan secara umum adalah untuk mengatur kondisi suhu pada ruangan didalam mobil. Kondisi suhu yang

Lebih terperinci

PT. DENSO SALES INDONESIA

PT. DENSO SALES INDONESIA Operation Car Air Conditioning General PT. DENSO SALES INDONESIA JK00500058N DAFTAR ISI 1. Gambaran Umum A/C Mobil....................................................................... 1 1-1. Sistim A/C

Lebih terperinci

TRAINING Operational, Maintenance & Trouble Air Cooled - Water Cooled Package

TRAINING Operational, Maintenance & Trouble Air Cooled - Water Cooled Package TRAINING Operational, Maintenance & Trouble Air Cooled - Water Cooled Package PENDAHULUAN Pendinginan adalah suatu proses penarikan kalor (Heat) dari suatu benda /zat sehingga temperaturnya lebih rendah

Lebih terperinci

Laporan Tugas Akhir 2012 BAB II DASAR TEORI

Laporan Tugas Akhir 2012 BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Tata Udara [sumber : 5. http://ridwan.staff.gunadarma.ac.id] Sistem tata udara adalah proses untuk mengatur kondisi suatu ruangan sesuai dengan keinginan sehingga dapat memberikan

Lebih terperinci

BAB II MESIN PENDINGIN. temperaturnya lebih tinggi. Didalan sistem pendinginan dalam menjaga temperatur

BAB II MESIN PENDINGIN. temperaturnya lebih tinggi. Didalan sistem pendinginan dalam menjaga temperatur BAB II MESIN PENDINGIN 2.1. Pengertian Mesin Pendingin Mesin Pendingin adalah suatu peralatan yang digunakan untuk mendinginkan air, atau peralatan yang berfungsi untuk memindahkan panas dari suatu tempat

Lebih terperinci

BAGIAN II : UTILITAS TERMAL REFRIGERASI, VENTILASI DAN AIR CONDITIONING (RVAC)

BAGIAN II : UTILITAS TERMAL REFRIGERASI, VENTILASI DAN AIR CONDITIONING (RVAC) BAGIAN II : UTILITAS TERMAL REFRIGERASI, VENTILASI DAN AIR CONDITIONING (RVAC) Refrigeration, Ventilation and Air-conditioning RVAC Air-conditioning Pengolahan udara Menyediakan udara dingin Membuat udara

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. perpindahan kalor dari produk ke material tersebut.

BAB II DASAR TEORI. perpindahan kalor dari produk ke material tersebut. BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Refrigerasi Refrigerasi adalah suatu proses penarikan kalor dari suatu ruang/benda ke ruang/benda yang lain untuk menurunkan temperaturnya. Kalor adalah salah satu bentuk

Lebih terperinci

Basic Comfort Air Conditioning System

Basic Comfort Air Conditioning System Basic Comfort Air Conditioning System Manual Book (CAC BAC 09K) 5 PERCOBAAN 32 5.1. KOMPONEN KOMPONEN UTAMA DALAM SISTEM PENDINGIN TUJUAN: Setelah melakukan percobaan ini siswa akan dapat : 1. Memahami

Lebih terperinci

Komponen mesin pendingin

Komponen mesin pendingin Komponen mesin pendingin Berdasarkan fungsi atau kegunaannya komponen mesin pendingin sistem kompresi dibedakan menjadi 2 bagian yaitu : A. Komponen pokok Yang dimaksud dengan komponen pokok adalah komponen

Lebih terperinci

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG SISTIM AC KOMPRESOR TIPE WOBBLE PLATE Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sistim AC Disusun Oleh : Cahyono (5201410028) Naufal Farras Sajid (5201410029) Riwan Setiarso (5201410030) Rifki Yoga Kusuma

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Radiator Radiator memegang peranan penting dalam mesin otomotif (misal mobil). Radiator berfungsi untuk mendinginkan mesin. Pembakaran bahan bakar dalam silinder mesin menyalurkan

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI

LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI 2.1 Dispenser Air Minum Hot and Cool Dispenser air minum adalah suatu alat yang dibuat sebagai alat pengkondisi temperatur air minum baik air panas maupun air dingin. Temperatur air

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Air Conditioner Air Conditioner (AC) digunakan untuk mengatur temperatur, sirkulasi, kelembaban, dan kebersihan udara didalam ruangan. Selain itu, air conditioner juga

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA No. JST/OTO/OTO410/14 Revisi : 02 Tgl : 6 Februari 2014 Hal 1 dari 10 I. Kompetensi : Setelah melaksanakan praktik, mahasiswa diharapkan dapat : 1. Mengidentifikasi komponen sistem bahan bakar, kontrol

Lebih terperinci

BAB V MENGENAL KOMPONEN SISTEM PENDINGIN

BAB V MENGENAL KOMPONEN SISTEM PENDINGIN BAB V MENGENAL KOMPONEN SISTEM PENDINGIN Pada bab ini, sistem pendingin dibagi dalam dua kategori yaitu sistem pemipaan dan sistem kelistrikan. Komponen dalam sistem pemipaan terdiri dari; kompresor, kondenser,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu mesin refrigerasi akan mempunyai tiga sistem terpisah, yaitu:

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu mesin refrigerasi akan mempunyai tiga sistem terpisah, yaitu: BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendahuluan Refrigerasi adalah proses pengambilan kalor atau panas dari suatu benda atau ruang tertutup untuk menurunkan temperaturnya. Kalor adalah salah satu bentuk dari energi,

Lebih terperinci

BAB IV PERAWATAN KOMPRESOR AC PADA TOYOTA FORTUNER

BAB IV PERAWATAN KOMPRESOR AC PADA TOYOTA FORTUNER Laporan Kerja Praktek 34 BAB IV PERAWATAN KOMPRESOR AC PADA TOYOTA FORTUNER 4.1 Tahapan-Tahapan Perawatan Sebelum mobil diberikan perawatan, mobil tersebut terlebih dahulu harus diperiksa di WO ( Working

Lebih terperinci

BAB III PENGETAHUAN DASAR TENTANG AC ( AIR CONDITIONER )

BAB III PENGETAHUAN DASAR TENTANG AC ( AIR CONDITIONER ) BAB III PENGETAHUAN DASAR TENTANG AC ( AIR CONDITIONER ) A. Pengertian Dasar Tentang AC (Air Conditioner) Secara umum pengertian dari AC (Air Conditioner) suatu rangkaian mesin yang memiliki fungsi sebagai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Refrigeran merupakan media pendingin yang bersirkulasi di dalam sistem refrigerasi kompresi uap. ASHRAE 2005 mendefinisikan refrigeran sebagai fluida kerja

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA No. JST/OTO/OTO410/13 Revisi: 03 Tgl: 22 Agustus 2016 Hal 1 dari 10 I. Kompetensi: Setelah melaksanakan praktik, mahasiswa diharapkan dapat: 1. Mengidentifikasi komponen sistem bahan bakar, kontrol udara

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir BAB II DASAR TEORI

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir BAB II DASAR TEORI BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Refrigerasi Freezer Freezer merupakan salah satu mesin pendingin yang digunakan untuk penyimpanan suatu produk yang bertujuan untuk mendapatkan produk dengan kualitas yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tentang refrigerasi dan pengkondisian udara Sekilas tentang refrigerasi dan pengkondisian udara secara fungsi utama bidang refrigerasi dan pengkondisian udara saling berkaitan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN GREEN MEDICAL BOX PORTABLE

BAB III PERANCANGAN GREEN MEDICAL BOX PORTABLE BAB III PERANCANGAN GREEN MEDICAL BOX PORTABLE Green Medical Box Portable dirancang dengan menggunakan sistem refrigerasi yang terintegrasi dengan box. Box terdiri dari dua tingkat, tingkat pertama/bawah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. selanjutnya jumlah dan kualitas dari udara yang dikondisikan tersebut dikontrol.

BAB I PENDAHULUAN. selanjutnya jumlah dan kualitas dari udara yang dikondisikan tersebut dikontrol. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan akan kondisi udara yang nyaman pada saat ini sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, terutama pada kendaraan seperti

Lebih terperinci

DASAR TEKNIK PENDINGIN

DASAR TEKNIK PENDINGIN DASAR TEKNIK PENDINGIN Oleh : Agus Maulana Praktisi Mesin Pendingin HP. 0813 182 182 33 PT Mitra Lestari Bumi Abadi Jl.Gading Indah Raya Blok C No. 25 Kelapa Gading - Jakarta, 14240 Siklus Sistem Mesin

Lebih terperinci

TROUBLESHOOTING AC MOBIL

TROUBLESHOOTING AC MOBIL M O D U L TROUBLESHOOTING AC MOBIL Oleh: Drs. Ricky Gunawan, MT. Ega T. Berman, S.Pd., M.Eng. BIDANG KEAHLIAN TEKNIK REFRIGERASI DAN TATA UDARA JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 PENDAHULUAN 3.1.1 Pengertian AC Air Conditioner(AC) merupakan sebuah alat yang mampu mengkondisikan udara. Dengan kata lain,ac berfungsi sebagai penyejuk udara. Penggunaan

Lebih terperinci

PEMAHAMAN TENTANG SISTEM REFRIGERASI

PEMAHAMAN TENTANG SISTEM REFRIGERASI PEMAHAMAN TENTANG SISTEM REFRIGERASI Darwis Tampubolon *), Robert Samosir **) *) Staf Pengajar Teknik Mesin, Politeknik Negeri Medan **) Staf Pengajar Teknik Mesin, Politeknik Negeri Medan Abstrak Refrigerasi

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Data data yang diperoleh dari penulisan Tugas Akhir ini : pendingin dengan refrigeran R-22 dan MC-22.

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Data data yang diperoleh dari penulisan Tugas Akhir ini : pendingin dengan refrigeran R-22 dan MC-22. BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Data data yang diperoleh dari penulisan Tugas Akhir ini : 1. Data dari hasil pengujian Data diperoleh dari hasil pengujian alat praktikum mesin pendingin

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 diagram blok siklus Sistem Refrigerasi Kompresi Uap

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 diagram blok siklus Sistem Refrigerasi Kompresi Uap BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Refrigerasi Kompresi Uap Sistem refrigerasi kompresi uap merupakan suatu sistem yang menggunakan kompresor sebagai alat kompresi refrigeran, yang dalam keadaan bertekanan

Lebih terperinci

TROUBLE SHOOTING SISTEM AIR CONDITIONER (AC) PADA TRAINER AC MOBIL

TROUBLE SHOOTING SISTEM AIR CONDITIONER (AC) PADA TRAINER AC MOBIL 26 TROUBLE SHOOTING SISTEM AIR CONDITIONER (AC) PADA TRAINER AC MOBIL Setiyo Hermawan 1, Rizki Novianto 2 Program Studi Teknik Mesin Otomotif, Politeknik Muhammadiyah Pekalongan Jl. Raya Pahlawan No. Gejlig

Lebih terperinci

ELECTRONIC CONTROL SYSTEM AGUS DWI PPUTRA ARI YUGA ASWARA ASTRI DAMAYANTI

ELECTRONIC CONTROL SYSTEM AGUS DWI PPUTRA ARI YUGA ASWARA ASTRI DAMAYANTI ELECTRONIC CONTROL SYSTEM AGUS DWI PPUTRA ARI YUGA ASWARA ASTRI DAMAYANTI ECU/ECM berfungsi untuk mengontrol besarnya penginjeksian bensin dan mengontrol seluruh aktifitas elektronik. Pada mesin terdapat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Umum Air Conditioning (AC) atau alat pengkondisian udara merupakan modifikasi pengembangan dari teknologi mesin pendingin. Alat ini dipakai bertujuan untuk mengkondisikan

Lebih terperinci

MEMELIHARA/SERVIS SISTEM A/C (AIR CONDITIONER) OTO.KR

MEMELIHARA/SERVIS SISTEM A/C (AIR CONDITIONER) OTO.KR MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR OTOMOTIF SUB SEKTOR KENDARAAN RINGAN MEMELIHARA/SERVIS SISTEM A/C (AIR CONDITIONER) BUKU KERJA DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I. DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM).

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM). Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM). Pertemuan ke Capaian Pembelajaran Topik (pokok, subpokok bahasan, alokasi waktu) Teks Presentasi Media Ajar Gambar Audio/Video Soal-tugas Web Metode Evaluasi

Lebih terperinci

PERAWATAN DAN PERBAIKAN AIR CONDITIONER

PERAWATAN DAN PERBAIKAN AIR CONDITIONER PERAWATAN DAN PERBAIKAN AIR CONDITIONER Disusun untuk memenuhi tugas pemeliharaan dan perbaikan listrik Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik Listrik Dosen Pembimbing : Heri Liamsi, S.T., M.T (196311091991021001)

Lebih terperinci

MESIN PENDINGIN. Gambar 1. Skema cara kerja mesin pendingin.

MESIN PENDINGIN. Gambar 1. Skema cara kerja mesin pendingin. Mengenal Cara Kerja Mesin Pendingin MESIN PENDINGIN Mesin pendingin adalah suatu rangkaian rangkaian yang mampu bekerja untuk menghasilkan suhu atau temperature dingin. Mesin pendingin bisanya berupa kulkas,

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori. 2.1 AC Split

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori. 2.1 AC Split BAB II DASAR TEORI 2.1 AC Split Split Air Conditioner adalah seperangkat alat yang mampu mengkondisikan suhu ruangan sesuai dengan yang kita inginkan, terutama untuk mengkondisikan suhu ruangan agar lebih

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI LAPORAN TUGAS AKHIR. 2.1 Blast Chiller

BAB II DASAR TEORI LAPORAN TUGAS AKHIR. 2.1 Blast Chiller BAB II DASAR TEORI 2.1 Blast Chiller Blast Chiller adalah salah satu sistem refrigerasi yang berfungsi untuk mendinginkan suatu produk dengan cepat. Cara pendinginan produk pada Blast Chiller ini dilakukan

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 12 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 PENDAHULUAN Air Conditioner (AC) adalah alat pada kendaraan khususnya mobil yang mempunyai fungsi untuk mengatur suhu di dalam kendaraan sesuai dengan keinginan pengendara

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Air Conditioner Split Air Conditioner (AC) split merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengkondikan udara didalam ruangan sesuai dengan yang diinginkan oleh penghuni.

Lebih terperinci

SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN LEMARI PENDINGIN (REFRIGERATOR) DOMO

SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN LEMARI PENDINGIN (REFRIGERATOR) DOMO SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN LEMARI PENDINGIN (REFRIGERATOR) DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian

Lebih terperinci

BAB IV CARA KERJA SISTEM AIR CONDITIONER ( WCP )

BAB IV CARA KERJA SISTEM AIR CONDITIONER ( WCP ) BAB IV CARA KERJA SISTEM AIR CONDITIONER ( WCP ) 4.1 SYSTEM AIR CONDITIONING Compressor AC yang ada pada sistem pendingin dipergunakan sebagai alat untuk memampatkan fluida kerja (refrigent), jadi refrigent

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. berdasarkan prosedur yang telah di rencanakan sebelumnya. Dalam pengambilan data

III. METODOLOGI PENELITIAN. berdasarkan prosedur yang telah di rencanakan sebelumnya. Dalam pengambilan data 26 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Instalasi Pengujian Pengujian dengan memanfaatkan penurunan temperatur sisa gas buang pada knalpot di motor bakar dengan pendinginan luar menggunakan beberapa alat dan

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA 4.1. Menentukan Nilai Severity, Occurrence, Detection dan RPN 4.1.1 Oli dan Filter Hidrolik Kotor Kerusakan pada oli dan filter hidrolik dapat menyebabkan kenaikan temperature

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ALAT PENGKONDISIAN UDARA Alat pengkondisian udara merupakan sebuah mesin yang secara termodinamika dapat memindahkan energi dari area bertemperatur rendah (media yang akan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Penelitian Untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai maka dalam penelitian ini akan digunakan metode penelitian eksperimental yaitu metode yang dapat dipakai untuk menguji

Lebih terperinci

TUGAS TEKNIK DAN MANAJEMEN PERAWATAN SISTEM PEMELIHARAAN AC CENTRAL

TUGAS TEKNIK DAN MANAJEMEN PERAWATAN SISTEM PEMELIHARAAN AC CENTRAL TUGAS TEKNIK DAN MANAJEMEN PERAWATAN SISTEM PEMELIHARAAN AC CENTRAL Disusun Oleh: KELOMPOK 9 Angga Eka Wahyu Ramadan (2113100122) Citro Ariyanto (2113100158) Ahmad Obrain Ghifari (2113100183) INSTITUT

Lebih terperinci

Bab III Metodelogi Penelitian

Bab III Metodelogi Penelitian Bab III Metodelogi Penelitian 3.1. Kerangka Penelitian Dalam pengujian analisa kinerja AC split merk TCL 3/4 PK mengunakan refrigeran R-22 dan MC-22 dengan variasi tekanan tanpa pembebanan terdapat beberapa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Motor Bakar Motor bakar adalah mesin atau peswat tenaga yang merupakan mesin kalor dengan menggunakan energi thermal dan potensial untuk melakukan kerja mekanik dengan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISA MESIN PENDINGIN

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISA MESIN PENDINGIN BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISA MESIN PENDINGIN 4.1. Analisis data Analisis data yang di gunakan dalam pembuatan laporan kerja praktek kerja nyata ini adalah analisa kualitatif sebuah analisa data yang berdasarkan

Lebih terperinci

BAB II. Prinsip Kerja Mesin Pendingin

BAB II. Prinsip Kerja Mesin Pendingin BAB II Prinsip Kerja Mesin Pendingin A. Sistem Pendinginan Absorbsi Sejarah mesin pendingin absorbsi dimulai pada abad ke-19 mendahului jenis kompresi uap dan telah mengalami masa kejayaannya sendiri.

Lebih terperinci

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai STEAM TURBINE POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai PENDAHULUAN Asal kata turbin: turbinis (bahasa Latin) : vortex, whirling Claude Burdin, 1828, dalam kompetisi teknik tentang sumber daya air

Lebih terperinci

Gambar struktur fungsi solenoid valve pneumatic

Gambar struktur fungsi solenoid valve pneumatic A. PNEUMATIK 1. Prinsip Kerja Peralatan Pneumatik Prinsip kerja dari solenoid valve/katup (valve) solenoida yaitu katup listrik yang mempunyai koil sebagai penggeraknya dimana ketika koil mendapat supply

Lebih terperinci

Gambar Sistem pengkondisian udara

Gambar Sistem pengkondisian udara BAB 14 SISTEM PENGKONDISIAN UDARA (AIR CONDITIONER) 14.1. Pendahuluan Air conditioner merupakan peralatan untuk memelihara udara di dalam ruangan agar temperatur dan kelembabannya sesuai dengan yang dikehendaki.

Lebih terperinci

SISTEM PENGKONDISIAN UDARA (AC)

SISTEM PENGKONDISIAN UDARA (AC) Pertemuan ke-9 dan ke-10 Materi Perkuliahan : Kebutuhan jaringan dan perangkat yang mendukung sistem pengkondisian udara termasuk ruang pendingin (cool storage). Termasuk memperhitungkan spatial penempatan

Lebih terperinci

Teknologi Injeksi Pada Sepeda Motor (Konstruksi Dasar Injection Suzuki Fl 125 FI)

Teknologi Injeksi Pada Sepeda Motor (Konstruksi Dasar Injection Suzuki Fl 125 FI) Teknologi Injeksi Pada Sepeda Motor (Konstruksi Dasar Injection Suzuki Fl 125 FI) Sepeda motor Suzuki di Indonesia memulai teknologi fuel injection sesuai dengan perkembanganya maka faktor yang menentukan

Lebih terperinci

Penggunaan sistem Pneumatik antara lain sebagai berikut :

Penggunaan sistem Pneumatik antara lain sebagai berikut : SISTEM PNEUMATIK SISTEM PNEUMATIK Pneumatik berasal dari bahasa Yunani yang berarti udara atau angin. Semua sistem yang menggunakan tenaga yang disimpan dalam bentuk udara yang dimampatkan untuk menghasilkan

Lebih terperinci

REKAYASA RANCANG BANGUN TRAINER SISTEM KELISTRIKAN AC MOBIL DAIHATSU ZEBRA

REKAYASA RANCANG BANGUN TRAINER SISTEM KELISTRIKAN AC MOBIL DAIHATSU ZEBRA Trainer Sistem Kelistrikan AC Mobil Daihatsu Zebra REKAYASA RANCANG BANGUN TRAINER SISTEM KELISTRIKAN AC MOBIL DAIHATSU ZEBRA Wildan Fahmi D3 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya e-mail:

Lebih terperinci

Program pemeliharaan. Laporan pemeliharaan

Program pemeliharaan. Laporan pemeliharaan 29 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 PROSES KERJA PEMERIKSAAN DAN PEMELIHARAAN Berikut diagram alir proses perawatan dan pemeliharaan Jadwal pemeliharaan Program pemeliharaan Pemeliharaan Mingguan

Lebih terperinci

SISTEM REFRIGERASI. Gambar 1. Freezer

SISTEM REFRIGERASI. Gambar 1. Freezer SISTEM REFRIGERASI Sistem refrigerasi sangat menunjang peningkatan kualitas hidup manusia. Kemajuan dalam bidang refrigerasi akhir-akhir ini adalah akibat dari perkembangan sistem kontrol yang menunjang

Lebih terperinci

BAB III INSTALASI PERALATAN UJI. sistem, kondisi udara pada titik masuk dan keluar evaporator. Data yang diperoleh

BAB III INSTALASI PERALATAN UJI. sistem, kondisi udara pada titik masuk dan keluar evaporator. Data yang diperoleh 32 BAB III INSTALASI PERALATAN UJI 3.1 Tujuan Pengujian Pengujian dilakukan untuk memperoleh data-data kondisi refrigeran pada sistem, kondisi udara pada titik masuk dan keluar evaporator. Data yang diperoleh

Lebih terperinci