DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
|
|
|
- Teguh Gunawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) TANAMAN PERKEBUNAN TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2013
2 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Kegiatan Penanganan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di Daerah tahun 2014 disusun dalam rangka memberikan acuan dan arahan pelaksanaannya kepada Dinas yang membidangi Perkebunan dan Perangkat Perlindungan Perkebunan di Provinsi dan Kabupaten/Kota. Sistematika Pedoman Teknis ini terdiri dari Bab I. Pendahuluan, berisi Latar Belakang, Sasaran Kegiatan, Tujuan dan Pengertian Umum; Bab II. Pendekatan Pelaksanaan Kegiatan memuat tentang Prinsip Pendekatan Pelaksanaan Kegiatan dan Spesifikasi Teknis; Bab III. Pelaksanaan Kegiatan, berisi Ruang Lingkup, Pelaksana dan Penanggung Jawab Kegiatan, Lokasi, Jenis, Volume, dan Simpul Kritis; Bab IV. Pengadaan Barang; Bab V. Pembinaan, Pengendalian, Pengawalan dan Pendampingan; Bab VI. Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan; Bab VII. Pembiayaan; serta Bab VIII. Penutup. Pedoman Teknis ini sebagai acuan Dinas yang membidangi Perkebunan di Provinsi/Kabupaten/ Kota dalam menyusun Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis yang lebih spesifik berdasarkan kondisi daerah setempat. i
3 ii
4 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR LAMPIRAN... v I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Sasaran Kegiatan... 4 C. Tujuan... 4 D. Pengertian Umum... 4 II. PENDEKATAN PELAKSANAAN KEGIATAN 9 A. Prinsip Pendekatan Pelaksanaan Kegiatan... 9 B. Spesifikasi Teknis III. PELAKSANAAN KEGIATAN A. Ruang Lingkup B. Pelaksana dan Penanggung Jawab Kegiatan C. Lokasi, Jenis dan Volume D. Simpul Kritis IV. PENGADAAN BARANG V. PEMBINAAN, PENGENDALIAN, PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN. 69 iii
5 VI. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN VII. PEMBIAYAAN VIII. PENUTUP LAMPIRAN iv
6 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Kopi Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Cengkeh Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Lada Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Kakao Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Tebu Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Tembakau Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Kapas Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Kelapa Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Karet Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Jambu Mete Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Kelapa Sawit Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Kopi (PBKo) Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Kakao (PBK) Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Lada (Jamur Pirang) Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Karet(JAP) v
7 16. Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Jambu Mete (JAP) Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Kelapa (Aceria sp.) Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Tebu (Uret) Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian OPT Lada (Busuk Pangkal Batang) Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian OPT Kopi (PBKo) Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian Penggerek Batang/Pucuk Tebu Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian Tikus dengan Burung Hantu pada Tebu Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian OPT Nilam Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian OPT Karet Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Kopi per Hektar Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Cengkeh per Hektar Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Lada per Hektar Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Kakao per Hektar Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Tebu per Hektar Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Tembakau perhektar Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Kapas per Hektar vi
8 32. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Nilam per Hektar Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Kelapa per Hektar Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Karet per Hektar Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Jambu Mete per Hektar Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT Kopi per Hektar Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT Kakao per Hektar Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT Cengkeh per Hektar Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT Lada per Hektar Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT Uret Tebu perhektar Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT Aceria sp. pada tanaman Kelapa per Hektar Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT JAP pada tanaman 112 Karet per Hektar Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT JAP pada tanaman 113 Jambu Mete per Hektar Jenis dan Volume Komponen Demplot Pengendalian OPT Kopi per Hektar Jenis dan Volume Komponen Demplot Pengendalian OPT Lada per Hektar vii
9 46. Jenis dan Volume Komponen Demplot Pengendalian OPT Penggerek 116 Pucuk/Batang Tebu per Hektar Jenis dan Volume Komponen Demplot Pengendalian Tikus dengan Burung 117 Hantu pada Tebu per Hektar Spesifikasi Teknis Sex Feromon Cara dan Waktu Aplikasi Sex Feromon Form Laporan Persiapan Pelaksanaan Kegiatan Pengendalian/Demfarm/ Demplot OPT Form Laporan Pelaksanaan Kegiatan Pengendalian/Demfarm/ Demplot OPT Form Laporan Perkembnagan Realisasi Fisik dan Keuangan Kegiatan Pengendalian/Demfarm/ Demplot OPT Out Line Laporan Akhir viii
10 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rata-rata serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada komoditi utama tanaman perkebunan 3-5 tahun terakhir 1,25 juta Ha dari luas areal perkebunan Indonesia sampai dengan tahun 2012 sekitar 21,49 juta ha dan yang diusahakan oleh rakyat sekitar 70 % dari total areal perkebunan. Produktivitas baru mencapai 58% dari potensi. Rendahnya produktivitas antara lain disebabkan oleh penggunaan benih unggul masih sekitar 40%, penerapan GAP ditingkat petani masih rendah dan adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan yang dapat mengakibatkan terjadinya kehilangan hasil dan penurunan kualitas produk. Kehilangan hasil dan penurunan kualitas produk juga dapat disebabkan oleh faktor dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan dan kebakaran lahan. Kerugian akibat serangan OPT pada 13 komoditas perkebunan yaitu kelapa, kelapa sawit, karet, kopi, kakao, jambu mete, cengkeh, lada, tebu, teh, tembakau, nilam dan kapas pada tahun 2012 berdasarkan data 1
11 perhitungan taksasi kerugian hasil diperkirakan sekitar Rp. 2,017 trilyun. Jenis OPT utama yang masih menjadi ancaman dalam upaya peningkatan produksi, produktivitas dan mutu hasil, antara lain: hama Penggerek Buah Kakao (PBK), penyakit Vascular Streak Dieback (VSD), dan busuk buah pada kakao; hama Penggerek Buah pada Kopi (PBKo); penyakit busuk pangkal batang dan jamur pirang pada lada; penyakit Jamur Akar Putih (JAP) dan Kering Alur Sadap (KAS) pada karet; hama Sexava sp., Oryctes sp., Rhyncophorus sp., Brontispa sp., tungau (Aceria sp.) dan penyakit busuk pucuk pada kelapa; hama Helopeltis sp., penyakit Jamur Akar Putih (JAP) dan Jamur Akar Coklat (JAC) pada jambu mete; hama ulat api dan penyakit busuk pangkal batang (Ganoderma sp.) pada kelapa sawit; hama uret, tikus, penggerek batang dan pucuk pada tebu; hama Spodoptera sp. dan penyakit lanas Phytophthora sp. pada tembakau; penyakit layu bakteri, budok dan nematoda pada nilam; hama penggerek buah Helicoverpa sp., wereng daun Sundapteryx sp. dan Spodoptera sp. pada kapas; hama Helopeltis sp. dan penyakit cacar daun pada teh; hama penggerek batang Nothopeus sp. dan penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC) pada cengkeh; hama 2
12 penggerek batang dan penyakit busuk pangkal batang pada pala. Sesuai dengan UU No.12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, Peraturan Pemerintah No.6 tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman dan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 887/Kpts/07.210/9/97 tentang Pedoman Pengendalian OPT, bahwa Perlindungan Tanaman dilaksanakan dengan menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pengendalian hama dan penyakit masih belum optimal karena peran dan kesadaran masyarakat dalam mengendalikan OPT masih relatif rendah. Untuk meningkatkan efektifitas pengendalian, diperlukan bantuan pengendalian oleh pemerintah sebagai stimulasi untuk mendorong peran serta dan kesadaran masyarakat dalam mengendalikan OPT tersebut. Karena terbatasnya anggaran yang dimiliki oleh pemerintah, kegiatan pengendalian OPT dilaksanakan pada pusatpusat serangan atau areal yang memiliki potensi untuk menjadi sumber serangan. Sehubungan dengan hal tersebut, pada tahun anggaran 2014 Direktorat Jenderal Perkebunan mengalokasikan dana APBN Tugas Pembantuan (TP) untuk kegiatan pengendalian OPT tanaman tahunan di 18 provinsi; pengendalian OPT tanaman 3
13 semusim di 15 provinsi; serta pengendalian OPT tanaman rempah dan penyegar di 18 provinsi. B. Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan penanganan OPT tanaman perkebunan pada tahun 2014 berdasarkan Rencana Kinerja Tahunan Direktorat Perlindungan Perkebunan tahun 2013 adalah terkendalinya serangan OPT seluas Ha sehingga dapat mendukung peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan. C. Tujuan Tujuan kegiatan penanganan OPT tanaman perkebunan adalah memberikan bantuan pengendalian OPT pada pusat-pusat serangan dan mendorong petani untuk melakukan pengendalian secara bersama agar serangan OPT terkendali dan tidak meluas ke areal tanaman lainnya. D. Pengertian Umum Dalam rangka menyamakan persepsi untuk kegiatan Penanganan Organisme Pengganggu Tumbuhan Tanaman Perkebunan, maka perlu disampaikan beberapa pengertian sebagai berikut : 4
14 1. Kelompok Tani adalah kumpulan petani yang tumbuh berdasarkan keakraban dan keserasian, serta kesamaan kepentingan dalam memanfaatkan sumber daya pertanian untuk bekerja sama meningkatkan produktivitas usahatani dan kesejahteraan anggotanya. 2. Calon Petani/Calon Lahan (CP/CL) adalah petani/tempat yang akan diusulkan menjadi peserta kegiatan yang akan dilaksanakan. 3. Hamparan yang relatif kompak yaitu hamparan tanaman dengan umur tanaman yang hampir sama. 4. Sosialisasi adalah penyampaian/ penjelasan lebih rinci tentang kegiatan penanganan OPT perkebunan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah setempat dan petani. 5. Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tanaman adalah jenis serangga, tumbuhan (gulma), jamur, bakteri, nematoda, virus dan jasad renik lainnya yang dapat merusak, mengganggu kehidupan sehingga menyebabkan berkurang/hilangnya produksi dan kualitas hasil tanaman perkebunan. 6. Agens Pengendali Hayati (APH) adalah organisme yang ditemukan di alam yang dapat melemahkan sekaligus membunuh 5
15 OPT. APH terdiri dari predator, parasitoid dan patogen. 7. Predator adalah golongan serangga yang hidupnya memburu dan membunuh serangga inang (OPT). Serangga predator biasanya ukuran tubuhnya lebih besar dari pada inangnya. 8. Parasitoid adalah serangga musuh alami yang hidupnya menempel di/pada dan menghisap cairan sehingga menyebabkan kematian pada inangnya. 9. Patogen adalah golongan jasad renik (jamur, bakteri, nematoda, virus dll) yang hidupnya melemahkan/membuat sakit/kompetisi makanan inang (OPT) sehingga menyebabkan kematian inangnya. 10. Pestisida Nabati (Pesnab) adalah pestisida yang dibuat dari bagian tumbuhan yang bersifat racun (toxic) untuk menghambat/membunuh OPT sasaran namun tidak membahayakan lingkungan. 11. Efikasi yaitu efektifitas, kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan. 12. Demonstrasi plot (Demplot) pengendalian OPT, yaitu model percontohan pengendalian OPT 6
16 perkebunan dengan luas areal 1-5 hektar. 13. Demonstrasi farm (Demfarm) yaitu model percontohan pengendalian OPT pada lahan usahatani perkebunan dengan luas areal 5-25 hektar. 14. Tanaman perangkap adalah jenis tanaman yang digunakan untuk mengalihkan serangan /memerangkap OPT dari tanaman inangnya. 15. APH spesifik lokasi adalah APH yang mempunyai kekhususan terhadap lingkungan sehingga hanya bisa digunakan pada lokasi tertentu. 16. Pengamatan adalah kegiatan perhitungan dan pengumpulan informasi tentang keadaan populasi dan tingkat serangan OPT dan faktor-faktor iklim yang mempengaruhinya pada waktu dan tempat tertentu. 17. Pemantauan adalah kegiatan mengamati dan mengawasi populasi atau tingkat serangan OPT dan faktor-faktor yang mempengaruhinya secara berkala pada tempat tertentu. 18. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah pengendalian OPT dengan cara menggabungkan berbagai tindakan pengendalian yang kompatibel dalam 7
17 suatu kesatuan untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup. 19. Pengambilan keputusan adalah penentuan dilakukan atau tidaknya tindakan pengendalian OPT berdasarkan hasil analis data pengamatan dan pemantauan. 20. Luas serangan adalah luas tanaman yang mengalami kerusakan akibat gangguan/serangan OPT. 21. Luas Pengendalian adalah luas tanaman terserang yang dapat dikendalikan dengan memadukan berbagai teknik pengendalian. 22. Sanitasi/eradikasi adalah tindakan pembersihan/pemusnahan tanaman atau bagian tanaman terserang OPT, sehingga tidak menjadi sumber serangan. 23. Eksplosi adalah serangan OPT yang bersifat mendadak, dengan populasi dan perkembangan secara cepat. 24. Dampak perubahan iklim adalah dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya perubahan iklim/variabilitas iklim, yang menyebabkan banjir, kekeringan, peningkatan suhu dan serangan OPT. 8
18 II. PENDEKATAN PELAKSANAAN KEGIATAN A. Prinsip Pendekatan Pelaksanaan Kegiatan 1. Pendekatan Umum Prinsip pendekatan umum meliputi hal yang bersifat administratif dan manajemen kegiatan. 1.1 SK Tim Pelaksana Kegiatan a. Penetapan SK Tim Pelaksana Kegiatan oleh Kepala Dinas/KPA paling lambat 1 (satu) minggu setelah diterimanya penetapan Satker dari Menteri Pertanian. b. Penanggung jawab dan pelaksana kegiatan pengendalian OPT tanaman perkebunan untuk TP provinsi ditetapkan oleh Kepala Dinas Provinsi. c. Penanggung jawab dan pelaksana kegiatan pengendalian OPT tanaman perkebunan untuk TP kabupaten/kota ditetapkan oleh Kepala Dinas kabupaten/kota. 1.2 Rencana kerja Rencana kerja pelaksanaan masingmasing kegiatan disusun paling lambat 1 (satu) minggu setelah ditetapkannya SK Tim pelaksana dan 9
19 mengacu kepada Pedoman Teknis dari Ditjen Perkebunan. 1.3 Juklak, Juknis Penyelesaian Juklak/Juknis untuk kegiatan TP Provinsi/Kabupaten/Kota paling lambat 2 (dua) minggu setelah ditetapkannya SK Tim pelaksana dan mengacu kepada Pedoman Teknis dari Ditjen Perkebunan. 1.4 Koordinasi dan Sosialisasi Koordinasi dilakukan oleh satker pelaksana kegiatan dengan Direktorat Jenderal Perkebunan melalui Direktorat Perlindungan Perkebunan, Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan, Surabaya, Ambon dan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak (sesuai dengan wilayah kerja), dan Dinas Kabupaten/Kota dimana terdapat lokasi kegiatan dilaksanakan. Sedangkan sosialisasi dilaksanakan kepada petani calon lokasi kegiatan pengendalian/pihak terkait. 1.5 Pelelangan/pengadaan Pelelangan/pengadaan dilaksanakan sesuai peraturan perundangan yang berlaku dan kontrak diupayakan 10
20 ditandatangani paling lambat bulan Maret Pengadaan sarana pendukung perlindungan tidak dapat digabungkan dengan pengadaan sarana produksi lainnya. 1.6 Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh satker pelaksana kegiatan selama kegiatan berlangsung minimal 2 (dua) kali. 1.7 Laporan a. Laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan disampaikan oleh satker pelaksana kegiatan sesuai dengan jadual dan form Pedoman SIMONEV. b. Laporan akhir kegiatan disampaikan oleh satker pelaksana kegiatan ke pusat paling lambat 2 (dua) minggu setelah kegiatan selesai dan tidak melewati bulan Desember
21 2. Prinsip Pendekatan Teknis 2.1 Pengendalian OPT Tanaman Perkebunan a. CP/CL 1) Calon petani peserta pengendalian tergabung dalam kelompok tani yang aktif. Calon lokasi pengendalian OPT merupakan satu hamparan yang relatif kompak dengan tingkat serangan yang masih dapat dikendalikan/dipulihkan. 2) CP/CL untuk kegiatan TP Provinsi ditetapkan oleh Kepala Dinas Provinsi yang membidangi perkebunan. 3) CP/CL untuk kegiatan TP Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan. b. Sosialisasi kepada petani dan pihak terkait lainnya dilakukan sebelum kegiatan pelaksanaan pengendalian. 12
22 c. Pengamatan 1) Pengamatan awal dilakukan sebelum pelaksanaan pengendalian untuk melihat kondisi atau rona awal (produktivitas tanaman, kondisi tanaman dan keadaan OPT, serta teknik pengendalian yang pernah dilakukan) dari kebun yang akan dikendalikan. 2) Pengamatan akhir dilakukan setelah pelaksanaan pengendalian sesuai dengan kondisi teknis efikasi bahan pengendali yang digunakan (kondisi tanaman dan keadaan OPT). 3) Pengamatan dilakukan oleh petugas lapangan bersama dengan petani dari setiap kegiatan pengendalian OPT. d. Bahan Pengendali 1) Agens pengendali hayati (APH) berupa parasitoid, predator dan tanaman antagonis/pestisida nabati. 2) Agens pengendali hayati /APH seperti cendawan patogen, 13
23 Nematoda patogen, yang digunakan harus telah terdaftar dan mendapat ijin dari Menteri Pertanian. 3) Pestisida sintetis dan feromon yang digunakan telah terdaftar dan mendapat ijin dari Menteri Pertanian. e. Penerapan PHT yaitu memadukan cara dan teknik pengendalian OPT sesuai kondisi daerah masing-masing, aman terhadap lingkungan, ekonomis, dan diterima secara sosial maupun budaya. f. Waktu pelaksanaan pengendalian disesuaikan dengan karakter komoditas dan serangan OPT masing-masing. 2.2 Demfarm Pengendalian OPT a. Demfarm pengendalian OPT dilaksanakan oleh kelompok, untuk 8 (delapan) komoditi yaitu kopi, kakao, cengkeh lada, karet, jambu mete, kelapa dan tebu. b. Kegiatan bertujuan untuk memberikan contoh kepada petani dalam mengendalikan 14
24 hama PBKo pada tanaman kopi, PBK pada tanaman kakao, BPKC pada tanaman cengkeh, Jamur pirang pada tanaman lada, JAP pada tanaman karet dan mete, Aceria pada tanaman kelapa dan uret pada tanaman tebu. c. Demfarm dilaksanakan di kebun petani dan mudah dijangkau. Pelaksana kegiatan adalah Dinas yang membidangi perkebunan Provinsi bersama Dinas Kabupaten/Kota. 2.3 Demplot Pengendalian OPT Demplot pengendalian OPT dilaksanakan oleh Dinas yang membidangi perkebunan, di lahan petani pada 5 (lima) komoditi yaitu: lada, kopi, karet, tebu dan nilam. a. Demplot OPT lada Menerapkan teknologi pengendalian OPT pada tanaman lada dengan menggunakan APH (Trichoderma sp). b. Demplot OPT kopi Menerapkan teknologi pengendalian OPT pada tanaman kopi dengan pemasangan perangkap feromon. 15
25 c. Demplot OPT karet Menerapkan teknologi pengendalian OPT Karet dengan mengkombinasikan cara biologis, mekanis, sanitasi dan kimiawi. d. Demplot OPT tebu - Menerapkan teknologi pengendalian hama penggerek batang/pucuk pada tebu dengan pemasangan perangkap feromon. - Menerapkan teknologi pengendalian hama tikus pada tebu dengan cara biologis yaitu menggunakan predator burung hantu. e. Demplot OPT nilam Menerapkan teknologi pengendalian OPT nilam dengan mengkombinasikan cara biologis, mekanis, sanitasi dan kimiawi. Penggunaan APH skala terbatas untuk perkebunan rakyat diprioritaskan APH spesifik lokasi yang sudah mendapat rekomendasi dari Puslit/Balit/ Perti/Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (Medan/Surabaya/ 16
26 Ambon) dan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak. Demplot dilaksanakan di kebun petani dan mudah dijangkau. Pelaksana kegiatan adalah Dinas yang membidang perkebunan Provinsi bersama Dinas Kabupaten/Kota. 3. Tindak Lanjut Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi perlu dilakukan tindak lanjut sebagai berikut: 3.1. Pengendalian OPT Tanaman Perkebunan a. Kelompok tani yang telah melaksanakan pengendalian OPT diharapkan agar melanjutkan pengendalian secara rutin, mandiri dan menyebarluaskan teknologi pengendalian OPT kepada petani disekitarnya. b. Petani agar melakukan pengamatan kebunnya secara rutin dalam rangka membangun sistem peringatan dini. Pengendalian OPT agar dilakukan sejak dini berdasarkan 17
27 pengamatan dan jangan menunggu sampai terjadi eksplosi. c. Petugas perlindungan dinas kabupaten/kota agar melakukan pengawalan/pendampingan secara intensif kepada petani. d. Dinas kabupaten/kota diharapkan melakukan upaya yang dapat mendorong petani mau melaksanakan pengendalian OPT secara mandiri Demfarm Pengendalian OPT Kelompok tani di sekitar lokasi demfarm diharapkan mau mencontoh teknologi pengendalian OPT yang telah dilaksanakan. Provinsi pelaksana demfarm diharapkan melanjutkan dan mengembangkan hasil demfarm di wilayah binaan. Petugas melakukan pencatatan/evaluasi perkembangan demfarm, dan petani melakukan pemeliharaan demfarm Demplot Pengendalian OPT Demplot pengendalian OPT dilaksanakan secara multi years (3 18
28 tahun). Provinsi pelaksana demplot diharapkan mengembangkan hasil demplot di wilayah binaan. Petugas melakukan pencatatan/evaluasi perkembangan demplot, dan petani melakukan pemeliharaan demplot. B. Spesifikasi Teknis 1. Kriteria 1.1. Pengendalian OPT Tanaman Perkebunan Kriteria pengendalian sebagai berikut: a. Luas pengendalian OPT minimal 25 ha/kelompok tani dengan perhitungan populasi tanaman sesuai standar baku. b. Calon lokasi merupakan satu hamparan yang relatif kompak dengan kondisi tanaman terserang OPT yang masih dapat dipulihkan. c. Calon petani/kelompok tani peserta pengendalian tergabung dalam kelompok tani yang aktif. d. Teknologi pengendalian OPT yang digunakan mengacu pada 19
29 rekomendasi Puslit/Balit/Perti/ BBPPTP (Medan/ Surabaya/ Ambon)/BPTP Pontianak atau pedoman pengenalan dan pengendalian OPT yang diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan Demfarm Pengendalian OPT a. Demfarm dilaksanakan oleh Dinas yang membidangi perkebunan bekerja sama dengan kelompok tani/petani. b. Demfarm dilaksanakan pada satu hamparan yang kompak minimal seluas 5 (lima) hektar. c. Lokasi demfarm mudah dijangkau dan dekat dengan sumber air. d. Demfarm berada pada pusat serangan atau daerah penyebaran serangan OPT yaitu: PBKo pada kopi, PBK pada kakao, BPKC pada cengkeh, Jamur pirang pada lada, JAP pada karet dan jambu mete, Aceria pada kelapa, Uret pada tebu. 20
30 1.3. Demplot Pengendalian OPT a. Demplot dilaksanakan oleh Dinas yang membidangi perkebunan bekerja sama dengan kelompok tani/petani. b. Demplot dilaksanakan pada satu hamparan yang kompak minimal seluas 1 (satu) hektar. c. Lokasi demplot mudah dijangkau dan dekat dengan sumber air. d. Demplot berada pada pada pusat serangan atau daerah penyebaran serangan OPT yaitu: penyakit kuning/busuk pangkal batang pada lada; hama PBKo pada kopi; penyakit JAP/KAS pada karet; hama penggerek batang/pucuk dan tikus pada tebu; penyakit budok, nematoda, ulat/kutu daun pada nilam. 2. Metode 2.1. Pengendalian OPT Tanaman Perkebunan a. Pengendalian OPT Kopi 21
31 Pengendalian OPT pada tanaman kopi (hama PBKo) dilaksanakan secara serentak dan massal pada kelompok tani pelaksana dengan menerapkan PHT, antara lain: 1) Kultur teknis melalui pengaturan naungan. 2) Mekanis melalui petik bubuk, lelesan, dan rampasan. 3) Biologis dengan pemasangan atraktan sebanyak 25 set/hektar/ tahun. b. Pengendalian OPT Cengkeh Pengendalian OPT pada tanaman cengkeh dilaksanakan secara serentak dan massal pada kelompok pelaksana pengendalian dengan menerapkan PHT antara lain: 1) Hama penggerek batang (Nothopeus sp. dan Hexamitodera sp.) adalah : a) Kultur Teknis - Sanitasi kebun - Pemupukan dan pemeliharaan tanaman 22
32 b) Kimiawi - Memasukkan insektisida berbahan aktif asefat atau carbofuran ke dalam lubang gerekan yang masih aktif. 2) Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC) adalah : a) Kultur Teknis - Sanitasi kebun - Pembuatan parit isolasi di sekeliling tanaman terserang b) Mekanis - Tananam cengkeh yang terserang berat dilakukan eradikasi dengan cara ditebang dan dibakar untuk mengurangi sumber inokulum. - Membersihkan alat-alat pertanian yang telah digunakan di areal tanaman terserang, sebelum digunakan pada tanaman sehat. c) Biologis Aplikasi agens pengendali hayati. 23
33 d) Kimiawi Melakukan infuse batang dengan bakterisida dan penyemprotan insektisida yang telah terdaftar pada Komisi Pestisida. 3) Penyakit Jamur Akar Putih (Rigidophorus lignosus) adalah : a) Kultur Teknis - Membersihkan sisa tanaman (tunggul). - Pengendalian gulma disekitar piringan tanaman - Perbaikan saluran drainase. b) Mekanis - Penjarangan tanaman - Membongkar tanaman mati/tumbang. c) Biologis Aplikasi Trichoderma sp. Dengan dosis 100 g/pohon diulang 2 (dua) kali Aplikasi diiringi dengan pemberian pupuk organik dengan dosis 400 kg/hektar. 24
34 Aplikasi pestisida nabati sebanyak 2 l/hektar. c. Pengendalian OPT Lada Pengendalian OPT pada tanaman lada dilaksanakan secara serentak dan massal pada kelompok pelaksana pengendalian dengan menerapkan PHT antara lain : 1) Penyakit busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman lada a) Kultur Teknis, dengan cara : - Membuat parit isolasi di sekeliling tanaman terserang. - Melakukan sanitasi kebun dan tidak melakukan penyiangan secara bersih (terbatas disekeliling piringan tanaman lada). - Melakukan pemupukan berimbang sesuai jenis dan dosis yang dianjurkan. b) Mekanis, dengan cara : - Memangkas sulur tanaman dekat permukaan tanah untuk menghindari 25
35 penyebaran spora oleh percikan air hujan. - Mencabut tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan dengan membakar tanaman. - Memangkas tajar hidup secara teratur pada awal dan menjelang akhir musim hujan. - Membuat saluran drainase. - Membersihkan alat-alat pertanian yang telah digunakan di areal tanaman terserang, sebelum digunakan pada tanaman sehat. c) Kimiawi - Aplikasi fungisida yang telah terdaftar pada Komisi Pestisida. 2) Pengendalian penyakit jamur pirang pada tanaman lada a) Kultur Teknis - Sanitasi kebun - Pembuatan parit isolasi di sekeliling tanaman terserang 26
36 b). Mekanis - Tananam lada yang terserang berat dilakukan eradikasi dengan cara ditebang dan dibakar untuk mengurangi sumber inokulum. - Membersihkan alat-alat pertanian yang telah digunakan di areal tanaman terserang, sebelum digunakan pada tanaman sehat. c) Biologis Dengan aplikasi agens pengendali hayati. d) Kimiawi Aplikasi fungisida dan penyemprotan insektisida yang telah terdaftar pada Komisi Pestisida. d. Pengendalian OPT Kakao Pengendalian hama penggerek buah kakao (PBK) a) Kultur Teknis - Pemangkasan - Sanitasi 27
37 - Panen sering - Pemupukan (gunakan pupuk organik sebanyak 250 kg/hektar) b) Biologis Pemasangan sex feromon sebanyak 6 set/hektar. e. Pengendalian OPT Tebu Pengendalian OPT pada tanaman tebu dilaksanakan secara serentak dan massal pada kelompok pelaksana pengendalian dengan menerapkan PHT antara lain: 1) Pengendalian Hama uret - Mekanis Pengambilan, pengumpulan dan pemusnahan uret pada saat pengolahan tanah. - Perangkap Pemasangan perangkap imago dengan lampu petromak/neon sebanyak 1 unit/ha atau pemasangan jaring/barrier trap di sekitar pertanaman tebu. 28
38 2) Pengendalian Hama tikus - Gropyokan Penangkapan/pemburuan tikus secara serentak. - Pengumpanan/racun tikus Umpan/racun tikus yang digunakan berbahan aktif bromadiolon atau coumatetralyl. 3) Pengendalian Hama Penggerek Batang/pucuk - Biologis Pemasangan sex feromon berbahan aktif octadekenil asetat : 100% untuk penggerek batang dan Hexsadsenal 100% untuk penggerek pucuk. - Pemasangan feromon sebanyak set/ ha/th. Setiap 1 set perangkap terdiri dari 1 unit perangkap dan 4 sachet feromon. Pemilihan jenis feromon tergantung jenis penggerek yang ada di lapangan (penggerek batang/pucuk) Pemasangan feromon sebaiknya pada sore hari dan 29
39 feromon diganti setiap 3 bulan sekali. f. Pengendalian OPT Tembakau Pengendalian penyakit lanas dan ulat daun. - Biologis Penggunaan pestisida nabati mimba sebanyak + 10 kg/ hektar dan agens hayati jamur Beauveria bassiana sebanyak 2 kg/ha (tergantung intensitas serangan). Aplikasi APH dilakukan setelah aplikasi pestisida nabati. g. Pengendalian OPT Kapas Pengendalian penggerek buah kapas, ulat daun dan wereng kapas. - Kultur Teknis Penanaman jagung sebagai tanaman perangkap sebanyak 2 kg/hektar dengan cara menanam 1 baris jagung diantara 3 baris tanaman kapas. 30
40 - Biologis Aplikasi agens pengendali hayati Beauveria bassiana sebanyak 2 kg/hektar/ aplikasi diulang sebanyak 3 kali. Aplikasi Pestisida nabati sebanyak 10 kg/hektar/ aplikasi diulang sebanyak 3 kali. Aplikasi APH dilakukan setelah aplikasi pestisida nabati. h. Pengendalian OPT Kelapa Pengendalian OPT pada tanaman kelapa dilaksanakan secara serentak dan massal pada kelompok pelaksana pengendalian dengan menerapkan PHT antara lain: 1) Pengendalian hama Oryctes sp./rhyncophorus sp. - Sanitasi Membersihkan kebun atau memusnahkan semua tempat perkembangbiakan Oryctes sp. seperti sisa tanaman mati, sampah-sampah, tumpukan kotoran ternak, tumpukan serbuk gergaji, 31
41 dan lainnya; memotongmotong tanaman kelapa yang tumbang/mati kemudian dibakar atau ditimbun tanah. - Biologis Pemasangan feromon untuk memerangkap imago Oryctes sp./ Rhyncophorus sp. sebanyak 1-3 sachet/ha/ aplikasi dan diaplikasikan sebanyak 2 kali dalam setahun. 2) Pengendalian hama Sexava sp. - Kultur teknis Sanitasi kebun dan intercroping dengan menanam tanaman sela seperti kacang tanah, jagung dan lainnya. - Biologis Pelepasan parasitoid Leefmansia bicolor sebanyak 25 butir telur terparasit per hektar untuk dua kali aplikasi. - Kimiawi Penggunaan insektisida dengan dosis 1 liter/ha. 32
42 3) Pengendalian hama Brontispa sp. - Mekanis Memotong janur dan diturunkan dengan tali, kemudian dikumpulkan dan dibakar untuk membunuh larva dan imago Brontispa sp. - Biologis Menggunakan Tetrastichus brontispae sebanyak 25 butir telur terparasit per hektar. - Kimia Penggunaan herbisida dengan dosis 1 lt/ha 4) Pengendalian hama tungau (Aceria guerreronis) a. Mekanis Menurunkan buah-buah terserang dari atas pohon dan mengumpulkan buahbuah kelapa terserang yang berserakan disekitar pohon. b. Kimiawi Aplikasi insektisida sistemik melalui injeksi batang/infuse akar sesuai dosis 1.5 lt/ha. 33
43 i. Pengendalian OPT Karet Pengendalian OPT pada tanaman karet dilaksanakan secara serentak dan massal pada kelompok pelaksana pengendalian dengan menerapkan PHT antara lain: 1) Pengendalian Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) - Mekanis Eradikasi tanaman terserang (membongkar dan memusnahkan tanaman yang terserang); - Sanitasi Mengumpulkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman serta melakukan pengendalian gulma; - Biologis Aplikasi agens hayati Trichoderma sp. pada tanaman yang terserang ringan dan tanaman sehat (pencegahan) dan pada bekas tanaman yang dieradikasi sebanyak 10 Kg/ha; 34
44 - Pemberian pupuk organik sebanyak 100 Kg/ha. - Kimia Menggunakan fungisida berbahan aktif triadimefon dengan dosis 1 lt/ha. 2) Pengendalian Penyakit Kering Alur Sadap (KAS) - Pemupukan sesuai dengan anjuran; - Menghentikan penyadapan berat dan pemberian stimulan yang berlebihan; - Waktu dan intensitas penyadapan sesuai anjuran dengan kedalaman sadap 1-1,5 mm dari kambium, ketebalan irisan sadap 1,66-2 mm tiap kali penyadapan, sudut kemiringan irisan sadap untuk bidang sadap bawah; - Mengikis/ mengerok kulit bidang sadap (Bark scrapping) yang bergejala KAS menggunakan pisau sadap hingga kedalaman 3-4 mm dari kambium pada hari pertama sadap. Teknik 35
45 pengikisan sama dengan prinsip penyadapan; - Segera dilakukan aplikasi dengan mengoles formula oleokimia sesuai dosis anjuran; - Penyadapan kulit sehat dapat diteruskan setelah proses pengobatan selesai, yaitu mulai hari ke 90. j. Pengendalian OPT Jambu Mete Pengendalian OPT pada tanaman jambu mete dilaksanakan secara serentak dan massal pada kelompok pelaksana pengendalian dengan menerapkan PHT antara lain: 1) Pengendalian penyakit JAP - Kultur Teknis Eradikasi dengan cara menebang, membongkar, dan memusnahkan tanaman yang terserang; sanitasi kebun dengan cara mengumpulkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman serta melakukan pengendalian gulma; 36
46 pemupukan dengan menggunakan pupuk anorganik sebanyak 100 Kg/ha. Aplikasi pupuk organik dilakukan bersamaan dengan APH. - Biologis Aplikasi agens pengendali hayati Trichoderma sp. pada tanaman yang terserang ringan dan tanaman sehat (pencegahan) dan pada bekas tanaman yang dieradikasi; Rincian spesifikasi teknis, cara dan waktu penggunaan APH (golongan jamur dan golongan nematoda), parasitoid dan feromon sex disajikan pada lampiran 1, 2, 3 dan Demfarm Pengendalian OPT a. Demfarm Pengendalian Hama PBKo pada Tanaman Kopi - Kultur teknis melalui pengaturan naungan. - Mekanis melalui petik bubuk, lelesan, dan rampasan. 37
47 - Biologis dengan pemasangan attraktan sebanyak 25 set/hektar/ tahun. b. Demfarm Pengendalian Hama PBK pada Tanaman Kakao - Kultur Teknis (Pemangkasan dan Sanitasi) - Biologis Pemasangan sex feromon dan pemanfaatan musuh alami semut rangrang atau semut hitam. c. Demfarm Pengendalian Penyakit BPKC Pada Tanaman Cengkeh - Kultur teknis dengan melakukan Sanitasi kebun - Mekanis; tananam cengkeh yang terserang berat dilakukan eradikasi dengan cara ditebang dan dibakar untuk mengurangi sumber inokulum. - Kimiawi Melakukan infuse batang dengan bakterisida dan penyemprotan insektisida 38
48 yang telah terdaftar pada Komisi Pestisida. d. Demfarm Pengendalian Penyakit Jamur Pirang Pada Tanaman Lada - Kultur Teknis dengan melakukan sanitasi kebun - Kimiawi Aplikasi fungisida dan penyemprotan insektisida yang telah terdaftar pada Komisi Pestisida. e. Demfarm JAP karet - Kultur Teknis Eradikasi dengan cara menebang, membongkar, dan memusnahkan tanaman yang terserang; sanitasi kebun dengan cara mengumpulkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman serta melakukan pengendalian gulma; pemupukan dengan menggunakan pupuk anorganik sebanyak 100 Kg/ha. Aplikasi pupuk 39
49 organik dilakukan bersamaan dengan APH. - Biologis Aplikasi agens pengendali hayati Trichoderma sp. pada tanaman yang terserang ringan dan tanaman sehat (pencegahan) dan pada bekas tanaman yang dieradikasi; - Kimiawi Aplikasi fungisida dan penyemprotan insektisida yang telah terdaftar pada Komisi Pestisida. f. Demfarm JAP pada mete - Kultur Teknis Eradikasi dengan cara menebang, membongkar, dan memusnahkan tanaman yang terserang; sanitasi kebun dengan cara mengumpulkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman serta melakukan pengendalian gulma; pemupukan dengan menggunakan pupuk anorganik sebanyak 100 Kg/ha. Aplikasi pupuk 40
50 organik dilakukan bersamaan dengan APH. - Biologis Aplikasi agens pengendali hayati Trichoderma sp. pada tanaman yang terserang ringan dan tanaman sehat (pencegahan) dan pada bekas tanaman yang dieradikasi; - Kimiawi Aplikasi fungisida yang telah terdaftar pada Komisi Pestisida. g. Demfarm Aceria pada kelapa - Kultur Teknis Dengan cara mengumpulkan dan membakar buah terserang - Kimiawi Aplikasi insektisida yang telah terdaftar pada Komisi Pestisida dengan cara infuse batang. 41
51 e. Demfarm Pengendalian Hama uret pada tebu - Pengamatan awal untuk mengetahui intensitas serangan. - Pengambilan, pengumpulan dan pemusnahan uret bersamaan dengan pengolahan tanah. - Aplikasi pupuk organik dicampur dengan APH jamur Metarhizium sp./ nematoda Steinernema sp. sebelum tanam, atau pada saat pembuatan juringan - Pemasangan perangkap (lampu perangkap/trap barrier/jaring perangkap) untuk imago pada awal musim hujan. - Pengamatan rutin dan pengamatan akhir untuk mengetahui tingkat serangan setelah dilakukan aplikasi pengendalian. 42
52 2.3. Demplot Pengendalian OPT a. Demplot Pengendalian Penyakit Kuning dan BPB pada Tanaman Lada melalui Sambung Akar - Kultur Teknis Penggunakan pupuk anorganik dengan ditambahkan zat suplemen. - Biologis Menggunakan Agen Pengendali Hayati Trichoderma sp. untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang. - Mekanis Memangkas pertumbuhan bagian batang bawah (tanaman sirih) yang tidak dikehendaki. - Melakukan pemeliharaan bahan tanaman yang telah dilakukan penyambungan, seperti penyiraman secara berkala, penaungan dan pemupukan sesuai standard teknis. - Menyulam tanaman yang gagal disambung (tidak tumbuh). 43
53 - Mengamati dan mencatat pertumbuhan tanaman dan ekosistem setempat. b. Demplot Pengendalian Hama PBKo pada Tanaman Kopi di Kabupaten Kepahyang. - Pemupukan; - Pemasangan attraktan; - Pembuatan rorak; - Perbaikan saluran drainase, teras sering; - Pengendalian OPT c. Demplot Pengendalian penyakit JAP dan KAS pada Tanaman Karet - Persiapan lahan; - Penyediaan bibit; Bibit diambil dari sumber benih yang dihasilkan oleh petani yang telah mengembangkan teknologi penyambungan batang bawah yang tahan terhadap penyakit JAP dan batang atas yang tahan terhadap KAS serta produksi lateksnya tinggi. - Penanaman dengan jarak tanam sesuai anjuran. 44
54 - Pemupukan dengan menggunakan pupuk organik, anorganik dan zat suplemen. - Pemeliharaan tanaman sesuai anjuran budidaya karet. - Penggunaan APH (Trichoderma sp.) d. Demplot Pengendalian Hama Penggerek batang/pucuk pada tebu. - Pemasangan sex feromon berbahan aktif octadekenil asetat 100% untuk penggerek batang dan Hexsadsenal 100% untuk penggerek pucuk. Pemasangan feromon sebanyak set/ ha/th. Setiap 1 set perangkap terdiri dari 1 unit perangkap dan 4 sachet feromon. Pemilihan jenis feromon tergantung jenis penggerek yang ada di lapangan (penggerek batang/pucuk) Pemasangan feromon sebaiknya pada sore hari dan feromon diganti setiap 3 bulan sekali. 45
55 - Aplikasi parasitoid Trichogramma sp. sebanyak 100 pias/ha (8 kali aplikasi interval 1 minggu, aplikasi pertama 16 pias dan berikutnya 12 pias). e. Demplot Pengendalian Hama tikus pada tebu dengan burung hantu sebagai predator - Pembuatan dan pemasangan pagupon/rumah burung hantu (rubuha) di pertanaman. - Mengkarantina burung hantu didekat lahan tebu untuk adaptasi lingkungan dengan diberi pakan marmut. - Pelepasan burung hantu pada saat awal tanam/mulai ada serangan sebanyak 2 pasang burung hantu untuk 5 ha lahan. f. Demplot Pengendalian OPT nilam (budok, nematoda, ulat/kutu daun dll) - Penggunaan pestisida nabati bubuk biji nimba, dosis 15 kg/ha. aplikasi dilakukan 3 kali dengan interval 2 minggu, di mulai dari tanaman umur 2 46
56 minggu. Pengendalian dapat juga menggunakan pestisida nabati berbahan aktif Azadiractin yang sudah terdaftar, dengan dosis sesuai aturan pemakaian. - Penggunaan APH Beauveria bassiana dengan dosis 1 kg/ha, diaplikasikan 3-4 kali dengan interval 1-2 minggu. - Penggunaan bubur bordo dengan dosis 1 kg/ha, diaplikasikan seminggu setelah tanam. 47
57 III. PELAKSANAAN KEGIATAN A. Ruang Lingkup 1. Pengendalian OPT Tanaman Perkebunan (Tanaman Rempah dan penyegar, Tanaman Semusim, dan Tanaman Tahunan) a. Pengendalian OPT Tanaman Perkebunan dilakukan di areal petani pekebun yang tergabung dalam kelompok tani pada komoditas kopi, lada, cengkeh, kakao, karet, kelapa, jambu mete, kelapa sawit, tebu, tembakau dan kapas. b. Tahapan kegiatan pengendalian OPT tanaman perkebunan meliputi koordinasi antara Dinas yang membidangi Perkebunan Provinsi/ Kabupaten/Kota, penetapan CP/CL, sosialisasi pengendalian OPT, pengadaan bahan dan alat pengendali, pengamatan dan pengendalian, pendampingan serta monitoring/ evaluasi dan pelaporan. 48
58 c. Indikator Kinerja No Indikator Uraian 1 Input/Masukan - Dana - SDM - Data dan informasi - Teknologi 2 Output/Keluaran Terlaksananya pengendalian OPT tanaman kopi 900 ha, lada 300 ha, cengkeh 525 ha, pala 800 ha, kakao ha, karet 660 ha, kelapa ha, kelapa sawit 200 ha, jambu mete 205 ha, tebu ha, tembakau 100 ha dan kapas 150 ha. 3 Outcome/hasil Menurunnya luas serangan OPT pada tanaman tanaman kopi 900 ha, lada 300 ha, cengkeh 525 ha, pala 800 ha, kakao ha, karet 660 ha, kelapa ha, kelapa sawit 200 ha, jambu mete 205 ha, tebu ha, tembakau 100 ha dan kapas 150 ha. 49
59 2. Demfarm Pengendalian OPT a. Demfarm pengendalian OPT pada tanaman kopi, kakao, cengkeh, lada, karet, jambu mete, kelapa dan tebu dilakukan di kebun petani. b. Tahapan kegiatan demfarm pengendalian OPT tanaman perkebunan meliputi koordinasi antara Dinas yang membidangi Perkebunan Provinsi/ Kabupaten/Kota, penetapan lokasi demfarm pengendalian, pengadaan sarana produksi klon unggulan lokal yang tahan terhadap OPT dan mempunyai produktivitas tinggi, pupuk, bahan untuk memperbaiki kesuburan tanah, APH dan pompa air), pengamatan dan pemeliharaan tanaman, pendampingan serta monitoring/evaluasi dan pelaporan. No Indikator Uraian 1 Input/Masukan - Dana - SDM - Data dan informasi - Teknologi 2 Output/Keluaran Terlaksananya demfarm pengendalian PBKo pada kopi 30 ha, PBK pada kakao 20 ha, BPKC 50
60 pada cengkeh 10 ha, Jamur pirang pada lada 10 ha, JAP pada karet 70 ha, JAP pada mete 10 ha, Aceria sp. pada kelapa 20 ha, uret pada tebu 10 ha. 3 Outcome/hasil - Tersosialisasinya teknologi pengendalian PBKo pada kopi 30 ha, PBK pada kakao 20 ha, BPKC pada cengkeh 10 ha, Jamur pirang pada lada 10 ha, JAP pada karet 70 ha, JAP pada mete 10 ha, Aceria sp. pada kelapa 20 ha, uret pada tebu 10 ha. - Diperolehnya rekomendasi teknologi pengendalian PBKo pada kopi 30 ha, PBK pada kakao 20 ha, BPKC pada cengkeh 10 ha, Jamur pirang pada lada 10 ha, JAP pada karet 70 ha, JAP pada mete 10 ha, Aceria sp. pada kelapa 20 ha, uret pada tebu 10 ha. 51
61 3. Demplot Pengendalian OPT a. Demplot pengendalian OPT pada tanaman lada, kopi, karet, tebu dan nilam dilakukan di kebun petani b. Tahapan kegiatan demplot pengendalian OPT tanaman perkebunan meliputi koordinasi antara Dinas yang membidangi Perkebunan Provinsi/ Kabupaten/Kota, penetapan lokasi demplot pengendalian, pengadaan sarana produksi klon unggulan lokal yang tahan terhadap OPT dan mempunyai produktivitas tinggi, pupuk, bahan untuk memperbaiki kesuburan tanah, APH dan pompa air, pengamatan dan pemeliharaan tanaman, pendampingan serta monitoring/ evaluasi dan pelaporan. c. Indikator Kinerja No Indikator Uraian 1 Input/Masukan - Dana - SDM - Data dan informasi - Teknologi 2 Output/Keluaran Terlaksananya demplot pengendalian OPT pada Lada 1 ha, 52
62 OPT pada kopi 1 ha, OPT pada karet 1 ha, penggerek batang/ pucuk pada tebu 1 ha, tikus dengan burung hantu pada tebu 10 ha dan OPT pada nilam 12 ha. 3 Outcome/hasil - Tersosialisasinya teknologi pengendalian hama OPT pada Lada 1 ha, OPT pada kopi 1 ha, OPT pada karet 1 ha, penggerek batang/pucuk pada tebu 1 ha, tikus dengan burung hantu pada tebu 10 ha dan OPT pada nilam 12 ha. - Diperolehnya rekomendasi teknologi pengendalian OPT pada Lada 1 ha, OPT pada kopi 1 ha, OPT pada karet 1 ha, penggerek batang/pucuk pada tebu 1 ha, tikus dengan burung hantu pada tebu 10 ha dan OPT pada nilam 12 ha. 53
63 B. Pelaksana dan Penanggung Jawab Kegiatan 1. Pelaksana dan penanggung jawab kegiatan pengendalian OPT untuk TP provinsi adalah dinas provinsi yang membidangi perkebunan dan untuk TP kabupaten adalah dinas kabupaten yang membidangi perkebunan dan berkoordinasi dengan dinas provinsi. Sedangkan pelaksana dan penanggung jawab kegiatan Demfarm/Demplot pengendalian OPT pada tanaman kopi, kakao, cengkeh, lada, karet, jambu mete, kelapa dan tebu adalah Dinas Provinsi yang membidangi perkebunan. 2. Dinas yang membidangi perkebunan provinsi/kabupaten/kota dalam melaksanakan kegiatan agar berkoordinasi dengan BBPPTP (Medan/ Surabaya/Ambon)/BPTP Pontianak (sesuai dengan wilayah kerja) dan pihak-pihak terkait lainnya. 3. Kewenangan dan tanggung jawab : 3.1 Direktorat Perlindungan Perkebunan a. Menyiapkan Terms of Reference (TOR) dan Pedoman Teknis; b. Melakukan bimbingan, pembinaan, monitoring dan evaluasi. 3.2 Dinas Provinsi yang membidangi perkebunan 54
64 a. Menetapkan Tim Pelaksana kegiatan pengendalian OPT/ demfarm/demplot pengendalian OPT perkebunan tingkat provinsi; b. Melakukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, BBPPTP Medan/Surabaya/ Ambon/BPTP Pontianak (sesuai dengan wilayah kerja) dan Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan, serta institusi terkait lainnya; c. Membuat Petunjuk Pelaksanaan untuk kegiatan pengendalian OPT/Demfarm/Demplot pengendalian OPT perkebunan; d. Melakukan verifikasi CP/CL bersama Dinas Kabupaten; e. Menetapkan CP/CL kegiatan pengendalian OPT/demfarm/ demplot pengendalian OPT untuk TP Provinsi; f. Melakukan pengawalan, pembinaan, monitoring dan evaluasi, berkoordinasi dengan Dinas Kabupaten yang membidangi perkebunan setempat; 55
65 g. Sosialisasi kegiatan pengendalian OPT/demfarm/demplot pengendalian OPT bersama-sama Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan; h. Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan pengendalian OPT/demfarm/ demplot pengendalian OPT ke Direktorat Jenderal Perkebunan cq. Direktorat Perlindungan Perkebunan. 3.3 Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan a. Menetapkan Tim Pelaksana kegiatan pengendalian OPT untuk TP kabupaten; b. Melakukan koordinasi dengan Dinas Provinsi yang membidangi perkebunan, BBPPTP (Medan/ Surabaya/Ambon), BPTP Pontianak (sesuai dengan wilayah kerja), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan pihak terkait lainnya; c. Membuat juknis kegiatan pengendalian OPT perkebunan; d. Melakukan verifikasi dan penetapan CP/CL; 56
66 e. Melakukan sosialisasi, pembinaan dan monev kegiatan pengendalian OPT perkebunan; f. Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan pengendalian OPT ke Dinas Provinsi dan Direktorat Jenderal Perkebunan cq. Direktorat Perlindungan Perkebunan. 3.4 Kelompok Tani/Petani : a. Mengikuti sosialisasi pengendalian OPT/demfarm/ demplot pengendalian OPT. b. Melakukan seluruh tahapan kegiatan pengendalian OPT/ demfarm/demplot pengendalian OPT. C. Lokasi, Jenis dan Volume 1. Pengendalian OPT Tanaman Perkebunan (Tanaman Rempah dan Penyegar, Tanaman Semusim, dan Tanaman Tahunan) 1.1 Pengendalian OPT Kopi Kegiatan pengendalian OPT kopi seluas 900 ha, di 3 provinsi, 5 kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran 1. 57
67 1.2 Pengendalian OPT Cengkeh Kegiatan pengendalian OPT tanaman cengkeh seluas 525 ha di 4 provinsi 5 kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Pengendalian OPT Lada Kegiatan pengendalian OPT pada lada seluas 300 ha di 2 provinsi 3 kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Pengendalian OPT Kakao Kegiatan pengendalian OPT pada kakao seluas ha di 9 provinsi 13 kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Pengendalian OPT Tebu Kegiatan pengendalian OPT pada tanaman tebu seluas ha di 9 Provinsi 40 Kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran 5. 58
68 1.6 Pengendalian OPT Tembakau Kegiatan pengendalian OPT pada tanaman tembakau seluas 100 ha di 4 Provinsi 4 kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Pengendalian OPT Kapas Kegiatan pengendalian OPT tanaman kapas seluas 150 ha di 4 provinsi 6 kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Pengendalian OPT Kelapa Kegiatan pengendalian OPT pada tanaman kelapa seluas ha di 13 Provinsi 27 Kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Pengendalian OPT Karet Kegiatan pengendalian OPT pada tanaman karet seluas 660 ha di 6 provinsi 7 kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran 9. 59
69 1.10 Pengendalian OPT Jambu Mete Kegiatan pengendalian OPT pada tanaman jambu mete seluas 205 ha di 2 Provinsi 2 kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Pengendalian OPT Kelapa Sawit Kegiatan pengendalian OPT pada tanaman kelapa sawit seluas 200 ha di 1 Provinsi 1 Kabupaten. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Demfarm Pengendalian OPT Perkebunan 2.1 Demfarm Pengendalian OPT Tanaman Kopi (PBKo) Kegiatan demfarm pengendalian OPT kopi seluas 30 ha di Provinsi Aceh (Kabupaten Aceh Tengah), Bengkulu (Kabupaten Kepahiang), dan NTB (Kabupaten Lombok Timur). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran
70 2.2 Demfarm Pengendalian OPT Tanaman Kakao (PBK) Kegiatan demfarm pengendalian OPT kakao seluas 30 ha di Provinsi Sulawesi Selatan (Kabupaten Soppeng) dan Sulawesi Tenggara (Kabupaten Bombana). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Demfarm Pengendalian OPT Tanaman Cengkeh (BPKC) Kegiatan demfarm pengendalian OPT cengkeh seluas 10 ha di Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Karanganyar). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Demfarm Pengendalian OPT Tanaman Lada (Jamur Pirang) Kegiatan demfarm pengendalian OPT lada seluas 10 ha di Provinsi Kalimantan Barat (Kabupaten Sambas). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran
71 2.5 Demfarm Pengendalian OPT Tanaman Karet (JAP) Kegiatan demfarm pengendalian OPT karet seluas 70 ha di Provinsi Sumatera Utara (Kabupaten Asahan), Riau (Kabupaten Pelalawan dan Kuantan Singingi), Sumatera Selatan (OKU), Kalimantan Barat (Sambas), Kalimantan Selatan (Kabupaten Tabalong), dan Jawa Barat (Kabupaten Garut). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Demfarm Pengendalian OPT Tanaman Jambu Mete (JAP) Kegiatan demfarm pengendalian OPT jambu mete seluas 10 ha di Provinsi Bali (Kabupaten Karangasem). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Demfarm Pengendalian OPT Tanaman Kelapa (Aceria sp.) Kegiatan demfarm pengendalian OPT kelapa seluas 20 ha di Provinsi Sulawesi Utara (Kabupaten Bitung dan Minahasa Utara). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran
72 2.8 Demfarm Pengendalian OPT Tanaman Tebu (Uret) Kegiatan demfarm pengendalian OPT tebu seluas 10 ha di Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Purworejo) dan DIY (Kabupaten Sleman). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Demplot Pengendalian OPT Perkebunan 3.1 Demplot Pengendalian OPT Lada. Kegiatan demplot pengendalian OPT lada seluas 1 ha di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Kabupaten Bangka). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Demplot Pengendalian OPT Kopi. Kegiatan demplot pengendalian OPT Kopi seluas 1 ha di Provinsi Bengkulu (Kabupaten Kepahiang). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran
73 3.3 Demplot Pengendalian Penggerek Batang/Pucuk Tebu. Kegiatan demplot pengendalian Penggerek Batang/Pucuk Tebu seluas 1 ha di Provinsi Papua. Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Demplot Pengendalian Tikus dengan Burung Hantu pada Tanaman Tebu Kegiatan Demplot Pengendalian Tikus dengan Burung Hantu pada Tanaman Tebu seluas 10 ha di Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Pati 5 ha dan Kabupaten Brebes 5 Ha). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Demplot Pengendalian OPT Nilam Kegiatan Demplot Pengendalian OPT Nilam seluas 12 Ha di 6 Provinsi Sumbar (Kabupaten Pasaman Barat 2 Ha), Aceh (Kabupaten Aceh Selatan 2 Ha), Jambi (Kabupaten Sarolangun 2 Ha), Jabar (Kabupaten Kuningan 2 Ha), Jateng (Kabupaten Purbalingga 2 Ha) dan Sultra (Kabupaten Kolaka Utara 2 Ha). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran
74 3.6 Demplot Pengendalian OPT Karet Kegiatan Demplot Pengendalian OPT Lada seluas 1 Ha di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Kabupaten Bangka). Data rincian lokasi disajikan pada Lampiran Jenis dan Volume Kegiatan 4.1 Komponen biaya kegiatan pengendalian OPT tanaman perkebunan meliputi : Upah/honor pengendalian, sosialisasi, pengadaan bahan, pengadaan alat, pembinaan, monitoring dan evaluasi serta konsultasi. 4.2 Komponen biaya kegiatan Demfarm pengendalian OPT tanaman perkebunan meliputi : Upah/honor pengendalian, sosialisasi, pengadaan bahan, pengadaan alat, pembinaan, monitoring dan evaluasi serta konsultasi. 65
75 4.3 Komponen biaya kegiatan Demplot pengendalian OPT tanaman perkebunan meliputi : Upah/honor pengendalian, sosialisasi, pengadaan bahan, pengadaan alat, pembinaan, monitoring dan evaluasi serta konsultasi. Rincian Jenis dan Volume Komponen Pengendalian/demfarm dan demplot OPT tanaman perkebunan disajikan pada Lampiran D. Simpul Kritis Simpul Kritis Pengendalian OPT, Demfarm dan Demplot Pengendalian OPT Tanaman Perkebunan sebagai berikut : a. Penetapan SK pelaksana kegiatan terlambat, sehingga pelaksanaan kegiatan tidak tepat waktu sesuai target. SK pelaksana kegiatan ditetapkan paling lambat seminggu setelah diterimanya Pedoman Teknis. b. Terlambatnya pengusulan revisi, sehingga pelaksanaan kegiatan tidak tepat waktu sesuai target. Penelaahan dan usulan revisi agar dilakukan sejak awal setelah diterimanya Pedoman 66
76 Teknis, paling lambat bulan Februari c. Terlambatnya penyusunan juklak dan juknis, sehingga pelaksanaan kegiatan tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Dinas agar segera menyusun juknis/juklak paling lambat dua minggu setelah diterimanya Pedoman Teknis. d. Penetapan CP/CL tidak akurat sehingga terjadi revisi CP/CL atau tetap dilaksanakan pada CP/CL yang tidak tepat yang mengakibatkan pelaksanaan pengendalian terlambat/ tidak tepat sasaran. Verifikasi penetapan CP/CL dilakukan secara bersama antara dinas provinsi dengan dinas kabupaten sebelum pengusulan kegiatan. e. Terlambatnya pengadaan bahan dan alat pengendalian akibat proses lelang/pengadaan sehingga aplikasi tidak tepat waktu. Lelang/pengadaan bahan pengendalian dilakukan awal tahun dan penyediaan bahan pengendalian disesuaikan dengan spesifikasi teknis pelaksanaan aplikasi di lapangan. 67
77 IV. PENGADAAN BARANG Pengadaan barang dan jasa kegiatan Perlindungan Perkebunan untuk dana Tugas Perbantuan (TP) Direktorat Jenderal Perkebunan mengacu kepada Perpres No.70 tahun Semua kegiatan pengadaan barang dan jasa yang melalui proses tender, pelaksanaan dan penetapan pemenang harus sudah sesuai dengan usulan rencana yang disampaikan oleh Satker pada awal tahun kegiatan. 68
78 V. PEMBINAAN, PENGENDALIAN, PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN A. Pembinaan, Pengendalian, Pengawalan dan Pendampingan Kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawalan dana TP Provinsi/kabupaten/ kota dilakukan secara terencana dan terkoordinasi dengan unsur penanggung jawab kegiatan di Pusat, BBPPTP (Ambon, Surabaya, Medan)/BPTP Pontianak, dan pihak terkait lainnya. Pelaksanaan kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawalan diutamakan pada tahapan yang menjadi simpul-simpul kritis kegiatan yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawalan dilakukan koordinasi secara berjenjang sesuai dengan tugas fungsi dan kewenangan masing-masing unit pelaksana kegiatan. Sasaran kegiatan pembinaan, pengendalian, dan pengawalan terhadap pelaksana kegiatan (Man), pembiayaan (Money), Metode, dan bahan-bahan yang dipergunakan (Material). Kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawalan harus mampu meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan melalui pemberian rekomendasi dan pemecahan masalah terhadap pelaksanaan kegiatan 69
79 sehingga dapat mengakselerasi kegiatan sesuai dengan tujuan dan sasaran kegiatan yang ditetapkan. B. Pelaksanaan Pembinaan, Pengendalian, Pengawalan dan Pendampingan Waktu pelaksanaan kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawalan minimal satu kali pada setiap jenis kegiatan yang dilaksanakan. Pelaksanaan kegiatan hendaknya selalu di koordinasikan dengan pusat, provinsi dan kabupaten/kota sehingga pembinaan, pengendalian dan pengawalan efektif dan efisien. Pendampingan terhadap kelompok tani peserta pengendalian OPT/demfarm/ demplot dilakukan oleh petugas di tingkat lapangan mencakup tahapan persiapan dan pelaksanaan kegiatan. Direktorat Perlindungan Perkebunan melakukan pembinaan dan pengawalan kegiatan pengendalian OPT/demfarm/ demplot pengendalian OPT tanaman perkebunan pada seluruh wilayah pelaksana kegiatan. Dinas yang membidangi Perkebunan tingkat provinsi melakukan pembinaan, pengendalian, pengawalan dan 70
80 pendampingan kegiatan Perlindungan Perkebunan tingkat provinsi. Dinas yang membidangi Perkebunan tingkat kabupaten/kota melakukan pembinaan, pengendalian, pengawalan dan pendampingan kegiatan Perlindungan Perkebunan tingkat kabupaten/kota. 71
81 VI. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN A. Monitoring Monitoring ditujukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan dan kemajuan yang telah dicapai pada setiap kegiatan. Monitoring dilaksanakan oleh petugas Dinas yang membidangi perkebunan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota pada wilayah kerja masing-masing. Pelaksanaan monitoring minimal satu kali selama kegiatan berlangsung. B. Evaluasi Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui ketepatan/kesesuaian pelaksanaan kegiatan dan hasil yang dicapai dibandingkan dengan yang direncanakan serta realisasi/ penyerapan anggaran. Hasil evaluasi sebagai umpan balik perbaikan pelaksanaan selanjutnya. Evaluasi dilakukan oleh Direktorat Perlindungan Perkebunan, serta Dinas yang membidangi perkebunan Provinsi pada wilayah kerja masing-masing. C. Pelaporan Setiap kegiatan didokumentasikan dalam bentuk laporan tertulis sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan. 72
82 Laporan kegiatan fasilitasi pengendalian OPT dibuat oleh pelaksana kegiatan dan dilaporkan secara berjenjang kepada penanggung jawab/pembina kegiatan mengacu kepada pedoman outline penyusunan laporan dan SIMONEV serta bentuk laporan lainnya sesuai dengan kebutuhan. 1. Jenis Laporan : 1.1 Laporan Perkembangan Pelaksanaan Kegiatan Persiapan Pelaksanaan Kegiatan Persiapan meliputi : penetapan tim pelaksana kegiatan; penyusunan juklak/juknis; penetapan CP/CL; persiapan administrasi; pengadaan alat dan bahan; sosialisasi; Dilaporkan setelah persiapan kegiatan selesai dilaksanakan Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan meliputi pengamatan awal, aplikasi pengendalian, pemantauan, pengamatan akhir. Dilaporkan sebanyak 3 kali selama pelaksanaan kegiatan. 1.2 Laporan Fisik dan Keuangan Laporan Mingguan 73
83 Laporan Mingguan berisi laporan kemajuan (fisik dan keuangan) pelaksanaan kegiatan setiap minggu berjalan dan disampaikan kepada Direktorat Perlindungan Perkebunan setiap minggu hari Jum at Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi laporan kemajuan (fisik dan keuangan) pelaksanaan kegiatan fasilitasi pengendalian OPT setiap bulan berjalan dan disampaikan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan paling lambat tanggal 5 pada bulan berikutnya Laporan Triwulan Laporan Triwulan berisi laporan kemajuan (fisik dan keuangan) pelaksanaan kegiatan fasilitasi pengendalian OPT setiap triwulan dan disampaikan setiap triwulan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan, paling lambat tanggal 5 pada bulan pertama triwulan berikutnya. 1.3 Laporan Akhir Laporan Akhir merupakan laporan keseluruhan pelaksanaan kegiatan fasilitasi pengendalian OPT, setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai 74
84 dilaksanakan. Laporan akhir disampaikan kepada Direktorat Perlindungan Perkebunan, paling lambat 2 minggu setelah kegiatan selesai. Laporan disampaikan melalui surat dan 2. Format Laporan Perkembangan Persiapan Kegiatan, Fisik dan Keuangan, Pelaksanaan Kegiatan dan Out Line Laporan Akhir seperti pada lampiran
85 VII. PEMBIAYAAN Kegiatan fasilitasi pengendalian OPT perkebunan di daerah didanai dari APBN tahun anggaran 2014 melalui anggaran Tugas Pembantuan (TP) Direktorat Jenderal Perkebunan. 76
86 VIII. PENUTUP Pelaksanaan pengendalian OPT diharapkan mampu menstimulasi untuk mendorong peran serta dan kesadaran masyarakat dalam mengendalikan OPT, sehingga dapat menyelesaikan permasalahan gangguan OPT pada tingkat lahan usaha tani secara mandiri, gradual dan berkesinambungan dan pada akhirnya dapat berkontribusi dalam menurunkan tingkat serangan OPT terutama pada pusat-pusat serangan sehingga dapat terkendali dan tidak semakin meluas. Untuk keberhasilan pelaksanaannya diperlukan koordinasi, komitmen dan kerjasama, serta upaya yang sungguhsungguh dari semua pihak terkait sesuai dengan kewenangan, tugas dan fungsi masing-masing. 77
87 Lampiran 1. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Kopi No. Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 1 NTT Flores Timur PBKo 200 Ha 2 Jabar Garut PBKo 200 Ha Bandung PBKo 100 Ha 3 Bali Tabanan PBKo 200 Ha Bangli PBKo 200 Ha Lampiran 2. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Cengkeh No. Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 1 Jateng Semarang Penyakit BPKC 150 Ha 2 Jatim Jombang Penyakit BPKC 25 Ha 3 Sulut Minahasa Penggerek Tenggara Batang 150 Ha 4 Maluku Penggerek Maluku Tengah Batang 100 Ha Buru Selatan Penggerek Batang 100 Ha 78
88 Lampiran 3. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Lada No. Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 1 Babel Bangka Selatan Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada 100 Ha 2 Sambas Jamur Pirang 100 Ha Kalbar Bengkayang Jamur Pirang 100 Ha Lampiran 4. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Kakao No. Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 1 Bali Penggerek Tabanan Buah Kakao 150 Ha Jembrana Penggerek Buah Kakao 100 Ha Badung Penggerek Buah Kakao 50 Ha 2 NTB Lombok Utara Penggerek Buah Kakao 150 Ha 3 Sulbar Polman Penggerek Buah Kakao 250 Ha 4 Sulsel Penggerek Maros Buah Kakao 150 Ha Wajo Penggerek Buah Kakao 300 Ha 5 Sumbar Solok Penggerek Buah Kakao 200 Ha 6 Sulteng Penggerek Sigi Buah Kakao 300 Ha Parigimoutong Penggerek Buah Kakao 300 Ha 7 Jateng Wonogiri Penggerek Buah Kakao 25 Ha 79
89 8 Aceh Bireun 9 DIY Gunung Kidul Penggerek Buah Kakao Penggerek Buah Kakao 100 Ha 50 Ha Lampiran 5. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Tebu No Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 1 DIY Sleman Penggerek Batang/Pucuk 50 Ha 2 Jateng Penggerek Sragen Batang/Pucuk 250 Ha Boyolali Penggerek Batang/Pucuk 100 Ha Jepara Penggerek Batang/Pucuk 125 Ha Rembang Penggerek Batang/Pucuk 250 Ha Blora Penggerek Batang/Pucuk 200 Ha Pemalang Penggerek Batang/Pucuk 100 Ha Pekalongan Penggerek Batang/Pucuk 50 Ha Purbalingga Penggerek Batang/Pucuk 150 Ha Batang Penggerek Batang/Pucuk 150 Ha Karanganyar Penggerek Batang/Pucuk 100 Ha Tegal Penggerek Batang/Pucuk 50 Ha Brebes Penggerek Batang/Pucuk 50 Ha 80
90 No Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume Purwodadi Penggerek Batang/Pucuk 50 Ha Kendal Penggerek Batang/Pucuk 50 Ha 3 Jatim Sidoarjo Mojokerto Ngawi Malang Probolinggo Tulungagung Jombang Kediri 4 Sumsel Ogan Ilir 5 Lampung 6 Gorontalo 7 Sulsel Lampung Utara Gorontalo Boalemo Bone Takalar Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk Penggerek Batang/Pucuk 200 Ha 200 Ha 150 Ha 100 Ha 100 Ha 150 Ha 100 Ha 85 Ha 50 Ha 100 Ha 50 Ha 50 Ha 50 Ha 20 Ha 81
91 No Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 8 Papua Merauke Penggerek Batang/Pucuk 50 Ha 9 DIY Sleman Hama Uret 150 Ha 10 Jateng Purworejo Hama Uret 100 Ha Kebumen Hama Uret 100 Ha Pemalang Hama Uret 50 Ha Magelang Hama Uret 50 Ha 11 Jatim Bondowoso Hama Uret 100 Ha Kediri Hama Uret 100 Ha Malang Hama Uret 100 Ha Tulungagung Hama Uret 50 Ha Situbondo Hama Uret 100 Ha Jombang Hama Uret 100 Ha 12 Jateng Tegal Hama Tikus 100 Ha Purbalingga Hama Tikus 100 Ha 13 Jatim Sidoarjo Hama Tikus 100 Ha Jombang Hama Tikus 50 Ha Mojokerto Hama Tikus 30 Ha 14 Jabar Majalengka Hama Tikus 50 Ha Subang Hama Tikus 50 Ha Indramayu Hama Tikus 200 Ha 15 Sulsel Bone Hama Tikus 75 Ha Takalar Hama Tikus 25 Ha Gowa Hama Tikus 30 Ha Wajo Hama Tikus 15 Ha 82
92 Lampiran 6. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Tembakau No Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 1 Jateng Temanggung 2 Jabar Bandung 3 Jatim Jember 4 NTB Lombok Tengah Seluruh OPT Tembakau Seluruh OPT Tembakau Seluruh OPT Tembakau Seluruh OPT Tembakau 25 Ha 25 Ha 25 Ha 25 Ha 83
93 Lampiran 7. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Kapas No Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 1 Jatim 2 Sulsel 3 NTB Lamongan Pacitan Bantaeng Bulukumba Lombok Utara 4 Bali Karangasem Seluruh OPT Kapas Seluruh OPT Kapas Seluruh OPT Kapas Seluruh OPT Kapas Seluruh OPT Kapas Seluruh OPT Kapas 25 Ha 25 Ha 25 Ha 25 Ha 25 Ha 25 Ha 84
94 Lampiran 8. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Kelapa No Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 1 Sulteng Toli-Toli Brontispa sp. 100 Ha Banggai Brontispa sp. 100 Ha 2 Riau Indragiri Hilir Brontispa sp. 100 Ha 3 Sulut Bolmong Brontispa sp. 100 Ha 4 NTB Lombok Barat Brontispa sp. 100 Ha 5 Kalteng Kotim Brontispa sp. 100 Ha 6 DIY Gunung Oryctes sp./ Kidul Rhyncophorus sp. 150 Ha Kulonprogo Oryctes sp./ Rhyncophorus sp. 150 Ha 7 Jabar Tasikmalaya Oryctes sp./ Rhyncophorus sp. 250 Ha 8 NTB Lombok Oryctes sp./ Barat Rhyncophorus sp. 400 Ha Lombok Oryctes sp./ Timur Rhyncophorus sp. 350 Ha 9 NTT Flores Oryctes sp./ Timur Rhyncophorus sp. 400 Ha 10 Kalbar Kuburaya Oryctes sp./ Rhyncophorus sp. 300 Ha 11 Sulsel Oryctes sp./ Bone Rhyncophorus sp. 400 Ha Sidrap Oryctes sp./ Rhyncophorus sp. 200 Ha 12 Lampung Lampung Oryctes sp./ Selatan Rhyncophorus sp. 200 Ha 13 Jateng Oryctes sp./ Rembang Rhyncophorus sp. 100 Ha Jepara Oryctes sp./ 125 Ha 85
95 No Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume Rhyncophorus sp. Grobogan Oryctes sp./ Rhyncophorus sp. 100 Ha 14 Sulteng Parimo Oryctes sp./ Rhyncophorus sp. 175 Ha 15 Sulut Kep. Talaud Hama Sexava 150 Ha 16 Malut Halmahera Selatan Hama Sexava 150 Ha Halmahera Barat Hama Sexava 150 Ha Morotai Hama Sexava 150 Ha Halmahera Tengah Hama Sexava 200 Ha Halmahera Utara Hama Sexava 150 Ha 17 Sulut Bitung Hama Aceria sp. 250 Ha Minahasa Utara Hama Aceria sp. 250 Ha 86
96 Lampiran 9. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Karet No. Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 1. Sumut Asahan JAP 100 Ha 2. Riau Pelalawan JAP 100 Ha Kuantan JAP Singingi 100 Ha 3. Sumsel OKU JAP 100 Ha 4. Kalbar Sekadau JAP 100 Ha 5. Kalsel Tabalong JAP 100 Ha 6. Jabar Garut JAP 60 Ha Lampiran 10. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Jambu Mete No. Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume 1 Bali Karangasem JAP 130 Ha 2 NTT Sumba Timur JAP 75 Ha Lampiran 11. Lokasi Kegiatan Pengendalian OPT Kelapa Sawit No. Provinsi Kabupaten Jenis OPT Volume Oryctes 1 Riau Kampar 200 Ha sp. 87
97 Lampiran 12. Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Kopi (PBKo) No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Aceh Aceh Tengah 10 Ha 2 Bengkulu Kepahiang 10 Ha 3 NTB Lombok Timur 10 Ha Lampiran 13.Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Kakao (PBK) No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Sulsel Soppeng 10 Ha 2 Sultra Bombana 10 Ha Lampiran 14.Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Cengkeh (BPKC) No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Jateng Karanganyar 10 Ha Lampiran 15.Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Lada (Jamur Pirang) No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Kalbar Sambas 10 Ha 88
98 Lampiran 16.Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Karet (JAP) No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Sumut Asahan 10 Ha 2 Riau Pelalawan 10 Ha Kuantan Singingi 10 Ha 3 Sumsel OKU 10 Ha 4 Kalbar Sambas 10 Ha 5 Kalsel Tabalong 10 Ha 6 Jabar Garut 10 Ha Lampiran 17.Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Jambu Mete (JAP) No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Bali Karangasem 10 Ha Lampiran 18.Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Kelapa (Aceria sp.) No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Sulut Bitung 10 Ha Minahasa Utara 10 Ha Lampiran 19. Lokasi Kegiatan Demfarm Pengendalian OPT Tebu (Uret) No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Jateng Purworejo 5 Ha 2 DIY Sleman 5 Ha 89
99 Lampiran 20. Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian OPT Lada (Busuk Pangkal Batang) No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Kep.Babel Bangka 1 Ha Lampiran 21. Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian OPT Kopi (PBKo) No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Bengkulu Kepahiang 1 Ha Lampiran 22. Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian Penggerek Batang/Pucuk Tebu No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Papua Merauke 1 Ha Lampiran 23. Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian Tikus dengan Burung Hantu Pada Tebu No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Jateng Pati 5 Ha Brebes 5 Ha 90
100 Lampiran 24. Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian OPT Nilam No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Sumbar Pasaman Barat 2 Ha 2 Aceh Aceh Selatan 2 Ha 3 Jambi Sarolangun 2 Ha 4 Jabar Kuningan 2 Ha 5 Jateng Purbalingga 2 Ha 6 Sultra Kolaka Utara 2 Ha Lampiran 25. Lokasi Kegiatan Demplot Pengendalian OPT Karet No. Provinsi Kabupaten Volume 1 Kep. Babel Bangka 1 Ha 91
101 Lampiran 26. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Kopi per Hektar No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Upah pengamatan dan 10 pengendalian pengendalian, rampasan 900 ha di 3 akhir panen (racutan), petik bubuk pada awal panen, provinsi, 5 kabupaten. lelesan, pengaturan naungan, dll (HOK) 2 Sosialisasi (OH) 1 3 Pengadaan Bahan : - Atraktan (Set) - Perlengkapan atraktan (Unit) - Papan nama (unit) ,04 4 Pembinaan dan monev : - Pembinaan provinsi ke lokasi (OT) - Pembinaan kabupaten ke lokasi (OT) - Pembinaan UPTD proteksi ke lokasi (OT) - Bantuan Transport petugas lapang (OH) 0,08 0,16 0,08 0,64 92
102 Lampiran 27. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Cengkeh per Hektar No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Upah Sanitasi, Parit isolasi, aplikasi fungisida, eradikasi dll (HOK) 10 pengendalian 525 ha di 4 provinsi, 5 kabupaten. 2 Sosialisasi (OH) 1 3 Pengadaan Bahan : - Insektisida Asefat (L) untuk penggerek batang - Karbofuran(Kg) - Bakterisida (L) untuk BPKC - Papan nama (unit) 5 7,5 1,8 0,04 4 Pengadaan Alat : - Power mist blower (Unit) - Bor batang (Unit) - Jarum infus (Unit) 5 Pembinaan dan monev : - Pembinaan provinsi ke lokasi (OT) - Pembinaan kabupaten ke lokasi (OT) - Pembinaan UPTD proteksi ke lokasi (OT) - Bantuan transport petugas lapang (OH) ,50 1 0,04 0,08 0,04 0,64 93
103 Lampiran 28. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Lada per Hektar No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Sanitasi, parit, isolasi, 10 pengendalian aplikasi fungisida 300 ha di 2 sistemik, aplikasi APH, provinsi, 3 aplikasi dolomit, kabupaten pemupukan, dll (HOK) 2 Sosialisasi (OH) 1 3 Pengadaan Bahan: - Dolomit (Kg) untuk jamur pirang - Fungisida(Kg) untuk busuk pangkal batang - Insektisida (Kg) untuk busuk pangkal batang dan jamur pirang - Pupuk Organik (pupuk kandang) (Kg) - Papan nama (unit) 50 2,16 2, ,04 4 Pengadaan alat: - Knapsack (unit) 0,08 5 Pembinaan dan monev : - Pembinaan provinsi ke lokasi (OT) - Pembinaan kabupaten ke lokasi (OT) - Pembinaan UPTD proteksi ke lokasi (OT) - Transport petugas lapang (OT) 0,08 0,16 0,08 0,64 94
104 Lampiran 29. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Kakao per Hektar No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: - Pemangkasan, Sanitasi, Panen Sering dan Pemupukan (HOK) 2 Sosialisasi (OH) 1 3 Pengadaan Bahan : - Atraktan (Set) - Perlengkapan atraktan (Set) - Musuh alami (Semut hitam/rangrang) (Sarang) - Papan nama (unit) ,04 4 Pembinaan dan Monev : - Pembinaan provinsi ke lokasi (OT) - Pembinaan kabupaten ke lokasi (OT) - Pembinaan UPTD proteksi ke lokasi (OT) - Transport petugas lapang (OT) 0,04 0,08 0,04 0,64 Total luas pengendalian ha di 9 provinsi, 13 kabupaten. 95
105 Lampiran 30. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian pada Tanaman Tebu per Hektar No Jenis kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: - Upah pengamatan, pengendalian, sanitasi (uret) (HOK) - Upah pengamatan 20 5 Total luas pengendalian ha di 9 provinsi, 40 kabupaten pemasangan feromon (penggerek) (HOK) - Upah gropyokan Pemasangan umpan racun (tikus) (HOK) 14 2 Sosialisasi (OH) 1 3 Pengadaan bahan : - feromon (penggerek) (Set) 15 - Umpan racun (tikus) (Kg) - Papan nama (Unit) 2 0,04 4 Pengadaan alat: - Light Trap (uret) (Unit) 1 - Peralatan pengendalian (Set) 1 5 Pembinaan dan monev: - Sosialisasi, pembinaan, monev kabupaten ke lokasi (OT) 0,08 - Sosialisasi, pembinaan, monev Petugas Provinsi dan UPTD Proteksi ke lokasi (OT) 0,04 96
106 Lampiran 31. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Tembakau per Hektar No Jenis kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: - Pengamatan dan 10 Total luas pengendalian (HOK) 2 Sosialisasi (OH) 1 3 Pengadaan bahan : - Agens Pengendali Hayati (Kg) - Pestisida nabati (Kg) 10 - Papan nama (Unit) 0,04 4 Pengadaan alat: - Sprayer (Unit) 0,08 5 Pembinaan dan monev: - Sosialisasi, pembinaan, monev kabupaten ke lokasi (OT) - sosialisasi, pembinaan, monev Petugas Provinsi dan UPTD Proteksi ke lokasi (OT) 2 0,80 0,04 pengendalian 100 ha di 4 provinsi, 4 kabupaten 97
107 Lampiran 32. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Kapas per Hektar No Jenis kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: - Pengamatan dan Pengendalian (HOK) 10 Total luas pengendali 2 Sosialisasi (OH) 3 Pengadaan bahan : - Agens Pengendali Hayati (Kg) - Pestisida nabati (Kg) - Tanaman perangkap (Kg) - Papan nama (Unit) 4 Pengadaan alat: - Sprayer (unit) 5 Pembinaan dan monev: - Sosialisasi, pembinaan, monev kabupaten ke lokasi (OT) - Sosialisasi, pembinaan, monev Petugas Provinsi dan UPTD Proteksi ke lokasi (OT) ,04 0,08 0,08 0,04 an 150 ha di 4 provinsi, 6 kabupaten 98
108 Lampiran 33. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT Nilam per Hektar No Jenis kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Pengamatan dan Demplot 10,00 Pengendalian (HOK) pengendalian 2 Sosialisasi (OH) 12 ha di 6 1,00 provinsi, 6 kabupaten 3 Pengadaan bahan : - Agens hayati (Kg) - Bubur bordo/benomyl (Kg) - Pestisida nabati (Kg) 4 Pembinaan dan monev: - Sosialisasi, pembinaan, monev kabupaten ke lokasi - Sosialisasi, pembinaan, monev Petugas Provinsi, UPTD Proteksi ke lokasi 1,00 1,00 15,00 1,00 1,00 99
109 Lampiran 34. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT pada Tanaman Kelapa per hektar No Jenis Kegiatan Volume Satuan A Pengendalian hama Brontispa longissima 1 Pengadaan bahan Tetrastichus 25 Ekor brontispae Herbisida 1 Liter Tali tambang 1 Meter Papan nama 0.04 Unit 2 Konsumsi dan 1 OH sosialisasi 3 Honor: Pemotongan pucuk 10 HOK terserang, pemasangan koker, aplikasi herbisida Insentif petugas 0.32 OB lapang Pengamatan dan pengendalian 0.04 HOK 4 Sosialisasi, Pembinaan dan Monev Provinsi ke lokasi 0.08 OT Kabupaten ke lokasi 0.08 OT Transport petugas 0.32 OH lapang Transport petani dalam rangka 1 OH 100
110 sosialisasi B Pengendalian hama Oryctes rhinoceros/ Rhynchophorus sp. 1 Pengadaan bahan Atraktan / Feromon 3 sachet Perlengkapan atraktan 1 set Papan nama 0.04 Unit 2 Konsumsi dan 1 OH sosialisasi 3 Honor: Insentif petugas 0.4 OB lapang Pengamatan dan pengendalian 0.04 HOK 4 Sosialisasi, Pembinaan dan Monev Provinsi ke lokasi 0.04 OT Kabupaten ke lokasi 0.04 OT Trasnsport petugas 0.32 OH lapang Transport petani dalam rangka sosialisasi 1 OH C Pengendalian hama Sexava sp. 1 Pengadaan bahan Bahan perbanyakan telur terparasit Leefmansia bicolor 25 Butir 101
111 sebanyak 25 butir Insektisida 1 Liter Plastik, karet 1 Bks gelang Kawat 0.1 Kg Papan Nama 0.04 Unit 2 Konsumsi dan 1 OH sosialisasi 3 Honor: Penyebaran musuh 10 HOK alami, sanitasi kebun, dan aplikasi insektisida Insentif petugas 0.32 OB lapang Pengamatan dan pengendalian 0.04 HOK 4 Sosialisasi, Pembinaan dan Monev Provinsi ke lokasi 0.04 OT Kabupaten ke lokasi 0.04 OT Trasnsport petugas 0.32 OH lapang Transport petani dalam rangka sosialisasi 1 OH D Pengendalian hama Aceria 1 Pengadaan bahan Insektisida 1.5 Liter Sarung tangan 1 Bks 102
112 Masker 1 Bks Plastik, karet gelang 1 Bks Bor Batang 0.05 Buah Bahan bakar bor 1 Liter batang Dispossible 1 Buah Papan nama 0.04 Unit 2 Konsumsi dan 1 OH sosialisasi 3 Honor: Insentif petugas 0.32 OB lapang Pengamatan dan pengendalian 3 HOK 4 Sosialisasi, Pembinaan dan Monev: Provinsi ke lokasi 0.04 OT Kabupaten ke lokasi 0.04 OT Trasnsport petugas 0.4 OH lapang Transport petani dalam rangka sosialisasi 1 OH 103
113 Lampiran 35. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT pada Tanaman Karet per Hektar No. Jenis Kegiatan Volume Satuan 1. Pengadaan Bahan: Fungisida 1 Liter APH (Trichoderma 10 Kg sp.) Pupuk organik 100 Kg 2 Konsumsi dan 1 OH sosialisasi 3 Honor: Insentif petugas 0.32 OB lapang Pengamatan dan 3 HOK pengendalian 4 Sosialisasi, pembinaan dan monev: Kabupaten ke lokasi 0.08 OT Provinsi ke lokasi 0.04 OT Transport petugas 0.4 OH lapang Transport petani 1 OH dalam rangka sosialisasi 104
114 Lampiran 36. Jenis dan Volume Komponen Pengendalian OPT pada Tanaman Jambu Mete per hektar No. Jenis Kegiatan Volume Satuan 1. Pengadaan Bahan: Fungisida 1 Liter APH (Trichoderma 10 Kg sp.) Pupuk organik 100 Kg 2 Konsumsi dan 1 OH sosialisasi 3 Honor: Insentif petugas 0.32 OB lapang Pengamatan dan 3 HOK pengendalian 3 Sosialisasi, pembinaan dan monev: Kabupaten ke lokasi 0.08 OT Provinsi ke lokasi 0.04 OT Transport petugas 0.4 OH lapang Transport petani 1 OH dalam rangka sosialisasi 105
115 Lampiran 37. Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT Kopi per Hektar No Jenis kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Upah pengamatan, petik bubuk pada awal panen, rampasan akhir panen (racutan), lelesan, pemasangan feromon, dan pengaturan naungan(hok) 10 pengendalian 30 ha di 3 provinsi, 3 kabupaten 2 Sosialisasi (OH) 1 3 Pengadaan Bahan: - Atraktan (set) 25 - Perlengkapan atraktan (set) 1 - Papan nama (unit) 0,1 4 Pembinaan dan monev: - Sosialisasi, pembinaan dan monev kabupaten ke lokasi (OH) 0,40 - Sosialisasi, pembinaan dan monev provinsi dan UPTD ke lokasi (OT) 0,40 - Bantuan transport petugas (OH) 3,2 Lampiran 38. Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT Kakao per Hektar 106
116 No Jenis kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Upah pemangkasan, sanitasi, aplikasi Musuh alami, pemasangan feromon, dll(hok) 10 2 Sosialisasi (OH) 1 3 Pengadaan Bahan: - Atraktan (set) 6 - Perlengkapan atraktan (set) 1 - Musuh alami (semut hitam/rangrang) (sarang) 45 - Papan nama (unit) 0,1 4 Pembinaan dan monev: - Sosialisasi, pembinaan dan monev kabupaten ke lokasi (OH) 0,20 - Sosialisasi, pembinaan dan monev provinsi dan UPTD ke lokasi (OT) 0,20 - Bantuan transport 3,2 petugas (OH) pengendalian 20 ha di 2 provinsi, 2 kabupaten Lampiran 39. Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT Cengkeh per Hektar 107
117 No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Upah Sanitasi, Parit isolasi, aplikasi fungisida, eradikasi dll (HOK) 10 pengendalian 10 ha di 1 provinsi, 1 kabupaten. 2 Sosialisasi (OH) 1 3 Pengadaan Bahan : - Insektisida (L) - Bakterisida (L) 5 1,8 4 Pengadaan Alat : - Power mist blower (Unit) - Bor batang (Unit) 5 Pembinaan dan monev : - Pembinaan provinsi ke lokasi (OT) - Pembinaan kabupaten ke lokasi (OT) - Pembinaan UPTD proteksi ke lokasi (OT) - Bantuan transport petugas lapang (OH) 0.1 0,1 0,20 0,40 0,20 1,6 Lampiran 40. Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian OPT Lada per Hektar 108
118 No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Upah pengamatan, 10 pengendalian Sanitasi,aplikasi 300 ha di 2 fungisida, dll (HOK) provinsi, 3 kabupaten 2 Sosialisasi (OH) 1 3 Pengadaan Bahan: - Fungisida(Kg) - Insektisida (Kg) - Papan nama (unit) 2,16 2,16 0,10 4 Pengadaan alat: - Knapsack (unit) 0,10 5 Pembinaan dan monev : - Pembinaan provinsi ke lokasi (OT) - Pembinaan kabupaten ke lokasi (OT) - Pembinaan UPTD proteksi ke lokasi (OT) - Transport petugas lapang (OT) 0,20 0,40 0,20 3,20 Lampiran 41. Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian Uret Tebu per Hektar 109
119 No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Upah pengamatan, 7,20 Demfarm pengendalian/sanitasi, pengendalian dll (OH) uret tebu 10 - Upah pengolahan lahan 20 ha di 2 dengan traktor diikuti provinsi, 2 pengambilan uret (HOK) kabupaten - Pemasangan Light trap/barrier trap dan 5 pengumpulan imago (HOK) 2 Sosialisasi (OH) 3 3 Pengadaan Bahan: - Pupuk organik(kg) - Agens hayati (Kg) - Papan nama (unit) ,50 4 Pengadaan alat: - Light Trap/Trap Barrier 1 5 Pembinaan dan monev : - Pembinaan provinsi ke lokasi (OT) - Pembinaan kabupaten ke lokasi (OT) 1,20 1,60 Lampiran 42. Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian Aceria Pada Tanaman Kelapa per Hektar 110
120 No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Pengadaan Bahan dan Alat: Insektisida (Lt) 1.5 Total luas Sarung Tangan (Bks) 1 Demfarm Masker (Bks) 1 pengendalian Plastik, Karet Gelang (Bks) 1 1 ha Bor Batang (Bh) 0.05 di 1 provinsi, Bahan Bakar Bor Batang (Lt) 1 1 kabupaten Dispossible (Bh) 1 Papan Nama Kegiatan (Bh) Honor: Insentif petugas Lapangan (OB) 16 Insentif petugas dinas (OB) 24 3 Sosialisasi, Pembinaan dan Monev: Transport Petugas Lapangan (OH) 0.4 Bantuan Transport Petani (OH) 1 Pembinaan kabupaten ke lokasi 1 (OT) Pembinaan Provinsi ke lokasi 1 (OT) Lampiran 43. Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian JAP Pada Tanaman Karet per Hektar No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 111
121 1 Pengadaan Bahan dan Alat: Total luas Fungisida (Lt) 1 Demfarm APH (Kg) 10 pengendalian Pupuk Organik (Kg) ha di 1 provinsi, 1 kabupaten 2 Honor: Insentif petugas Lapangan (OB) 0.3 Insentif petugas dinas (OB) 2.4 Pengamatan dan Pengendalian 3 (HOK) 3 Sosialisasi, Pembinaan dan Monev: Konsultasi ke Pusat (OT) 1 Pembinaan kabupaten ke lokasi 1 (OT) Pembinaan Provinsi ke lokasi 1 (OT) Lampiran 44. Jenis dan Volume Komponen Demfarm Pengendalian JAP Pada Tanaman Jambu Mete per Hektar No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Pengadaan Bahan dan Alat: Total luas 112
122 Fungisida (Lt) 1 Demfarm APH (Kg) 10 pengendalian Pupuk Organik (Kg) ha di 1 provinsi, 1 kabupaten 2 Honor: Insentif petugas Lapangan (OB) 0.32 Insentif petugas dinas (OB) 24 Pengamatan dan Pengendalian 3 (HOK) 3 Sosialisasi, Pembinaan dan Monev: Konsultasi ke Pusat (OT) 1 Pembinaan kabupaten ke lokasi 0.08 (OT) Pembinaan Provinsi ke lokasi 0.04 (OT) Transport Petugas Lapangan (OH) 0.4 Transport Petani (OH) 1 Lampiran 45. Jenis dan Volume Komponen Demplot Pengendalian OPT Kopi per Hektar No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Perbaikan saluran drainase, teras sering 8 Demplot pengendalian 113
123 - Perbaikan Rorak - Pemupukan - Pengendalian OPT 2 Pengadaan Bahan : - Pupuk organik (Kg) - Pupuk NPK (Kg) - Attraktan (set) 3 Pembinaan dan monev : - Koordinasi monitoring dan evaluasi provinsi ke lokasi (OP) - Koordinasi monitoring dan evaluasi kabupaten ke lokasi (OH) - Koordinasi monitoring dan evaluasi UPTD proteksi ke lokasi (OP) - Bantuan transport petugas lapang (OH) ha di 1 provinsi, 1 kabupaten. Lampiran 46. Jenis dan Volume Komponen Demplot Pengendalian OPT Lada per Hektar No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Honor: Total luas - Pengamatan, Sanitasi Kebun, pemupukan dan penyebaran APH (HOK) 50 Demplot pengendalian 1 ha di 1 114
124 2 Pengadaan Bahan : - Pupuk NPK (Kg) - APH (Kg) - MSG (Kg) - Garam (Kg) 3 Pembinaan dan monev : - Pembinaan provinsi ke lokasi (OT) - Pembinaan kabupaten ke lokasi (OT) - Bantuan transport petugas pendamping (OH) provinsi, 1 kabupaten Lampiran 47. Jenis dan Volume Komponen Demplot Pengendalian OPT Penggerek Pucuk/Batang Tebu per Hektar No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Pengadaan Bahan : - Atraktan/feromon (set) - Starter Trichogramma sp.(pias) - Kompensasi kebun (ha) Luas Demplot pengendalian 1 ha di 1 provinsi, 1 kabupaten 115
125 - Papan Nama 1 2 Pembinaan dan monev : - Pembinaan provinsi/uptd ke lokasi (OT) - Pembinaan kabupaten ke lokasi (OT) 5 8 Lampiran 48. Jenis dan Volume Komponen Demplot Pengendalian Tikus dengan Burung Hantu pada Tebu per Hektar No Jenis Kegiatan Volume Keterangan 1 Pengadaan Bahan : - Bibit burung hantu/tito alba (ekor) - Marmut (ekor) - Rumah burung hantu (unit) - Rumah Karantina (unit) 0,8 0,8 1 0,2 Total luas Demplot pengendalian 10 ha di 1 provinsi, 2 kabupaten 116
126 2 Pembinaan dan monev : - Pembinaan provinsi/uptd ke lokasi (OT) - Pembinaan kabupaten ke lokasi (OT) - Bantuan transport petugas lapangan (OH) 0,4 0,4 1,6 117
127 Lampiran 51. Form Laporan Persiapan Pelaksanaan Kegiatan Pengendalian/Demfarm/Demplot OPT PROVINSI : KABUPATEN : POSISI : (Tanggal/bulan/tahun) NO URAIAN Ada Tidak PERMASALAHAN RTL KETERANGAN 1. Penetapan Tim SK Tim Teknis dilampirkan Teknis 2. Penyusunan Juklak/Juknis dilampirkan Juklak/Juknis 3. Penetapan CP/CL SK CP/CL dilampirkan 4. Pengadaan alat dan bahan Waktu dan jadwal pengadaan 5. Sosialisasi Lokasi, tanggal pelaksanaan dan peserta sosialisasi 134
128 Lampiran 52. Form Laporan Pelaksanaan Kegiatan Pengendalian/Demfarm/Demplot OPT KEGIATAN : PROVINSI : KABUPATEN : LUAS : POSISI : (Tanggal/bulan/tahun) 1. Pengamatan Awal - tanggal pengamatan - intensitas serangan OPT 2. Aplikasi Pengendalian - tanggal aplikasi - jumlah bahan dan alat pengendali - dosis bahan pengendali dll 3. Pemantauan - Tanggal pemantauan - Perkembangan intensitas serangan OPT 4. Pengamatan Akhir - Tanggal pengamatan - Intensitas serangan OPT setelah pengendalian 135
129 Lampiran 53. Form Laporan Perkembangan Realisasi Fisik Dan Keuangan Kegiatan Pengendalian /Demfarm/Demplot OPT KEGIATAN : PROVINSI : KABUPATEN : LUAS : POSISI : (Tanggal/bulan/tahun) NO URAIAN PAGU (Rp) REALISASI KEUANGAN REALISASI Rp % FISIK (%) PERMASALAHAN RTL 136
130 Lampiran 54. Out Line Laporan Akhir Laporan akhir dibuat sesuai out line sebagai berikut : KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL (jika ada) DAFTAR GAMBAR (jika ada) DAFTAR LAMPIRAN (jika ada) I. PENDAHULUAN A. Latar belakang B. Tujuan dan Sasaran C. Ruang Lingkup Kegiatan D. Indikator Kinerja II. TINJAUAN PUSTAKA III. PELAKSANAAN KEGIATAN A. Waktu dan Lokasi B. Alat dan Bahan C. Metode D. Tahap Aktivitas/Kegiatan/ Pelaksanaan E. Simpul Kritis Kegiatan F. Pelaksana G. Pembiayaan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran/rekomendasi C. Rencana Tindak Lanjut 137
131 VI. DAFTAR PUSTAKA VII. LAMPIRAN 138
132 LAMPIRAN 139
133 Lampiran 49. Spesifikasi Teknis Sex Feromon Jenis Feromon/ No. Bahan Aktif 1. - Sex Feromon khusus untuk hama PBK - Bahan aktif: hexadecatrienyl, hexadecatrienol 2. - Sex Feromon khusus untuk hama PBKo - Bahan aktif:etanol 3. - Sex Feromon khusus hama Dosis Waktu Simpan OPT Sasaran Keterangan 6 perangkap/ ha/tahun 1 set perangkap terdiri dari 1 unit perangkap dan 4 sachet feromon perangkap/ ha/tahun 1 set perangkap terdiri dari 1 unit perangkap dan 4 sachet feromon set/ha/thn. 1 set perangkap Satu tahun penyimpanan pada suhu kamar dan tidak terkena sinar matahari langsung. Satu tahun penyimpanan pada suhu kamar dan tidak terkena sinar matahari langsung. Empat bulan pada suhu PBK (Conopomorpha cramerella) pada kakao PBKo (Hypothenemus hampei) pada Kopi Penggerek batang (Chilo Diprioritaskan pada daerah serangan penggerek buah kakao. Diprioritaskan pada daerah serangan penggerek buah kopi. Diprioritaskan pada derah 118
134 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif Penggerek Batang Tebu - Bahan Aktif : Oktadekenil asetat 100% Dosis Waktu Simpan OPT Sasaran Keterangan terdiri dari 1 unit perangkap dan 4 sachet feromon kamar dan tidak terkena sinar matahari langsung sachariphagus) pada tanaman tebu serangan penggerek batang tebu 4. - Sex Feromon khusus hama Penggerek pucuk Tebu - Bahan Aktif : Hexsadsenal 100% 5. - Sex Feromon khusus hama Kumbang Nyiur - Bahan Aktif: etil- 4metil oktanoat set/ ha/th. 1 set perangkap terdiri dari 1 unit perangkap dan 4 sachet feromon 1 perangkap/ ha/tahun Empat bulan pada suhu kamar dan tidak terkena sinar matahari langsung Satu tahun penyimpanan pada suhu kamar dan tidak terkena sinar matahari langsung. Penggerek pucuk (Scirpophaga nivella) pada tanaman tebu Kumbang Nyiur (Oryctes rhinoceros) pada kelapa Diprioritaskan pada derah serangan penggerek pucuk tebu Diprioritaskan pada derah serangan Oryctes rhinoceros 119
135 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif 6. - Sex Feromon khusus hama Kumbang Sagu - Bahan aktif: 4 5 metil 5- nonanol Dosis Waktu Simpan OPT Sasaran Keterangan 1-2 perangkap/ ha/tahun Satu tahun penyimpanan pada suhu kamar dan tidak terkena sinar matahari langsung. Kumbang sagu (Rhynchophorus ferrugineus) pada kelapa Diprioritaskan pada derah serangan Rhynchophorus ferrugineus 120
136 Lampiran 50. Cara dan Waktu Aplikasi Sex Feromon Jenis Feromon/ Bahan No. Aktif 1. - Sex Feromon khusus untuk hama PBK - Bahan aktif: hexadecatrienyl, hexadecatrienol Cara Aplikasi - Perangkap dilipat berbentuk rumah; - Tabung feromon digantung pada perangkap; - Tutup tabung feromon dilubangi dengan menggunakan jarum dan jangan dibuka; - Lem atau perekat dibuka kemudian dimasukkan dalam perangkap; - Perangkap digantung diatas Waktu Aplikasi/frekuensi - Aplikasi feromon dilakukan 4 kali dalam satu tahun atau menyesuaikan dengan kondisi lapangan. - Aplikasi feromon dimulai pada saat musim buah. Buah berukuran rata-rata 8 cm dan mulai ada serangan PBK. - Interval penggantian feromon dan perekat/lem paling lambat 3 bulan atau disesuaikan dengan Keterangan - Pemasangan feromon harus memenuhi 5 T (Tepat dosis, waktu, cara, lokasi dan sasaran), sesuai dengan pedoman penggunaan. - Sebelum aplikasi perlu dilakukan pengamatan untuk menentukan waktu pemasangan yang tepat. - Feromon jangan 121
137 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif Cara Aplikasi tajuk tanaman dengan ketinggian 0,5 m diatas tajuk tertinggi; - Jalur penempatan perangkap secara diagonal atau zig zag pada pusatpusat serangan; - Pengamatan dilakukan secara berkala makmimal 1 minggu sekali; - Apabila lem atau perekat sudah tidak berfungsi (misal terkena air hujan atau sudah penuh dengan PBK Waktu Aplikasi/frekuensi kondisi lapangan. - Pemasangan feromon dilakukan pada sore hari. Keterangan dipasang dibawah tajuk karena kebiasaan aktivitas kawin imago PBK diatas tajuk tanaman pada malam hari. - Tutup botol senyawa dan selaput penutup botol feromon tidak boleh dibuka selama pemasangan, karena tutup botol sudah dilubangi dengan jarum. 122
138 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif 2. - Sex Feromon khusus untuk hama PBKo - Bahan aktif: Etanol Cara Aplikasi yang tertangkap) segera diganti dengan lem perekat serangga selama feromon masih belum habis. - Kemasan aluminium foil terdiri dari 4 Sachet feromon dan 1 buah jarum; - Perangkap bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih; - Gunting kemasan almunium foil dan ambil satu sachet Waktu Aplikasi/frekuensi - Aplikasi feromon dilakukan 4 kali dalam satu tahun atau menyesuaikan dengan kondisi lapangan. - Aplikasi feromon dimulai pada saat buah fase matang susu dan mulai ada serangan PBKo. - Feromon diganti paling lambat 3 bulan Keterangan - Pemasangan feromon harus memenuhi 5 T (Tepat dosis, waktu, cara, lokasi dan sasaran), sesuai dengan pedoman penggunaan. - Sebelum aplikasi perlu dilakukan pengamatan untuk menentukan 123
139 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif Cara Aplikasi feromon, lubangi dengan jarum, gantungkan pada gantungan yang tersedia pada perangkap bagian atas; - Masukkan air yang telah dicampur dengan sedikit detergen dengan tinggi + 2 cm dari dasar perangkap bagian warna putih; - Pasangkan perangkap putih ke perangkap merah dengan cara Waktu Aplikasi/frekuensi atau disesuaikan dengan kondisi lapangan. - Pemasangan feromon dilakukan pada sore hari. Keterangan waktu pemasangan yang tepat. - Feromon jangan dipasang dibawah tajuk - Air detergen dalam perangkap bagian bawah diganti bersamaan dengan penggantian sachet feromon. - Sisa sachet feromon yang belum dipakai agar disimpan di dalam lemari pendingin. 124
140 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif 3. - Sex Feromon khusus untuk hama Penggerek Batang Tebu - Bahan Aktif : Oktadekenil asetat 100% Cara Aplikasi diputar; - Perangkap bagian atas digantungkan pada tiang kayu/bambu diantara tanaman kopi dengan ketinggian 1,5 m dari permukaan tanah. - Masukkan wadah perangkap pada tiang bambu atau kayu bulat yang telah ditancapkan ditanah setinggi 120 cm; - Pasang tempat vial rubber pada sisi Waktu Aplikasi/frekuensi - Umur tanaman + 2 bulan s/d menjelang panen dan - Pemasangan feromon dilakukan pada sore hari dan perhatikan arah tiupan angin; - Vial rubber yang berisi feromon Keterangan - Pemasangan feromon harus memenuhi 5 T (tepat dosis, waktu, cara, lokasi dan sasaran); - Setelah 3 bulan vial rubber diganti 125
141 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif Cara Aplikasi tengah; - Masukkan vial rubber yang berisi feromon pada wadah perangkap yang terpasang; - Isi air dan sedikit deterjen pada wadah perangkap setinggi + 0,5 cm, upayakan selalu tersedia air di wadah perangkap - Perangkap dipasang diantara juring,1 unit perangkap untuk 14 juring; Waktu Aplikasi/frekuensi diganti setiap 3 bulan sekali Keterangan atau ditambah vial rubber baru dengan cara ditempelkan pada vial rubber lama menggunakan jarum pentul. 126
142 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif - Sex Feromon khusus hama Penggerek pucuk Tebu - Bahan Aktif : Hexsadsenal 100% Cara Aplikasi - Masukkan wadah perangkap pada tiang bambu atau kayu bulat yang telah ditancapkan ditanah setinggi 120 cm; - Pasang tempat vial rubber pada sisi tengah; - Masukkan vial rubber yang berisi feromon pada wadah perangkap yang terpasang; - Isi air dan sedikit deterjen pada wadah perangkap setinggi + 0,5 cm, Waktu Aplikasi/frekuensi - Umur tanaman 1-4 bulan dan lakukan pengamatan untuk menentukan waktu pemasangan yang tepat; - Pemasangan feromon dilakukan pada sore hari dan perhatikan arah tiupan angin; - Vial rubber diganti setiap 3 bulan sekali Keterangan - Pemasangan feromon harus memenuhi 5 T (tepat: dosis, waktu, cara, lokasi dan sasaran); - Setelah 3 bulan vial rubber diganti atau ditambah vial rubber baru dengan cara ditempelkan pada vial rubber lama menggunakan jarum pentul. 127
143 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif 4. - Sex Feromon khusus untuk hama kumbang nyiur - Bahan Aktif: etil-4 metil oktanoat Cara Aplikasi upayakan selalu tersedia air di wadah perangkap; - Perangkap dipasang diantara tanaman tebu - Siapkan ember plastik berkapasitas 12 liter yang akan digunakan sebagai perangkap; - Buat lubang pada bagian dasar ember sebanyak 5 buah dengan diameter 2 mm untuk pembuangan air hujan; Waktu Aplikasi/frekuensi - Aplikasi feromon dilakukan minimal dua kali dalam satu tahun atau menyesuaikan dengan kondisi lapangan. - Interval waktu aplikasi paling lambat 3 bulan. - Pemasangan feromon dilakukan pada sore hari. Keterangan - Pemasangan feromon harus memenuhi 5 T (Tepat dosis, waktu, cara, lokasi dan sasaran), sesuai dengan pedoman penggunaan. - Sebelum aplikasi perlu dilakukan pengamatan untuk menentukan waktu 128
144 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif Cara Aplikasi - Tutup ember dilubangi sebanyak 5 buah lubang dengan diameter 55 mm; - Balik tutup ember yang sudah dilubangi, kemudian gantungkan satu kantong feromon pada bagian tengah tutup ember dengan menggunakan kawat; - Tutup ember yang telah digantungi feromon dipasang Waktu Aplikasi/frekuensi Keterangan pemasangan yang tepat, yaitu pada saat ditemukan adanya serangan kumbang pada tanaman kelapa 129
145 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif Cara Aplikasi kan pada ember perangkap; - Ember perangkap digantung pada tiang kayu/bambu penyanggah yang berukuran 2-3 m dari permukaan tanah; - Tiang penyanggah ditancapkan di pinggir kebun pada tempat terbuka; - pengumpulan dan pemusnahan kumbang yang terperangkap dilakukan maksimal setiap satu minggu Waktu Aplikasi/frekuensi Keterangan 130
146 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif 5. - Sex Feromon khusus untuk hama kumbang sagu - Bahan aktif 4 5 meti 5- nonanol Cara Aplikasi satu kali; - Akan lebih efektif jika ember diisi dengan serbuk gergaji/tanah yang dicampur dengan insektisida dengan tujuan agar kumbang yang terperangkap mati. - Siapkan ember plastik berkapasitas 18 liter yang akan digunakan sebagai perangkap; - Pada bagian dasar ember untuk perangkap dibuat Waktu Aplikasi/frekuensi - Aplikasi feromon dilakukan minimal dua kali dalam satu tahun atau menyesuaikan dengan kondisi lapangan. - Interval waktu aplikasi feromon paling lambat 3 Keterangan - Pemasangan feromon harus memenuhi 5 T (Tepat dosis, waktu, cara, lokasi dan sasaran), sesuai dengan pedoman penggunaan. 131
147 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif Cara Aplikasi lubang sebanyak 23 buah dengan diameter 2 mm; - Seng Plat sebanyak dua buah disatukan dengan bambu yang ujungnya telah dibelah silang sehingga berbentuk kipas baling-baling; - Seng plat yang telah disatukan dengan bambu dimasukkan ke dalam ember plastik; - Buat gantungan dari kawat dan pasang pada seng Waktu Aplikasi/frekuensi bulan. - Pemasangan feromon dilakukan pada sore hari. Keterangan - Sebelum aplikasi perlu dilakukan pengamatan untuk menentukan waktu pemasangan yang tepat, yaitu pada saat ditemukan adanya gejala serangan kumbang sagu pada tanaman kelapa 132
148 No. Jenis Feromon/ Bahan Aktif Cara Aplikasi plat baling-baling; - Gantungkan feromon pada gantungan kawat tersebut; - Ember perangkap digantung pada bambu/kayu penyanggah berukuran ± 1 m; - Kayu penyanggah tersebut dipasang pada pohon kelapa dengan ketinggian 2 meter dari permukaan tanah. Waktu Aplikasi/frekuensi Keterangan 133
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN PERKEBUNAN TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN OPT TANAMAN PERKEBUNAN TAHUN 2016 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN NOVEMBER 2015 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Kegiatan Penanganan
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS KOORDINASI KEGIATAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2013 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Koordinasi
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) TANAMAN PERKEBUNAN APBN-P TAHUN 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN MARET 2015 KATA
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DAN PENCEGAHAN KEBAKARAN LAHAN/KEBUN TAHUN 2017
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DAN PENCEGAHAN KEBAKARAN LAHAN/KEBUN TAHUN 2017 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN NOVEMBER 2016 DAFTAR
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TAHUN 2018 (Kegiatan Mitigasi dan Adaptasi Dampak Perubahan Iklim Serta Kegiatan Penghitungan Penurunan Emisi Gas Rumah
PEDOMAN UJI MUTU DAN UJI EFIKASI LAPANGAN AGENS PENGENDALI HAYATI (APH)
PEDOMAN UJI MUTU DAN UJI EFIKASI LAPANGAN AGENS PENGENDALI HAYATI (APH) DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 KATA PENGANTAR Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PELATIHAN PEMANDU LAPANG TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Kegiatan Pelatihan Pemandu
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS FASILITASI TEKNIS DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN TAHUN 2018 (Operasional Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun) DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (GERAKAN PENGENDALIAN OPT TANAMAN PERKEBUNAN) TAHUN 2018
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (GERAKAN PENGENDALIAN OPT TANAMAN PERKEBUNAN) TAHUN 2018 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN NOVEMBER
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS FASILITASI TEKNIS PERLINDUNGAN PERKEBUNAN TAHUN 2017 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN NOVEMBER 2016 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Kegiatan
KERANGKA ACUAN KEGIATAN (TERM OF REFERENCE) SEKOLAH LAPANG PENGENDALIAN HAMA TERPADU (SL-PHT) TAHUN 2013
KERANGKA ACUAN KEGIATAN (TERM OF REFERENCE) SEKOLAH LAPANG PENGENDALIAN HAMA TERPADU (SL-PHT) TAHUN 2013 Kementerian negara/lembaga : Pertanian Unit Eselon I : Direktorat Jenderal Perkebunan Program :
RENCANA KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN 2018
RENCANA KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN 2018 Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 30 Mei 2017 CAPAIAN INDIKATOR MAKRO PEMBANGUNAN PERKEBUNAN NO.
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS INSENTIF PETUGAS PENGAMAT TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Kegiatan Insentif Petugas
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS REHABILITASI LABORATORIUM HAYATI TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Kegiatan Rehabilitasi
1 Menerapkan pola tanam yang teratur dan waktu tanam yang serempak (tidak lebih dari 2 minggu)
Hama dan penyakit merupakan cekaman biotis yang dapat mengurangi hasil dan bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil panen yang optimum dalam budidaya padi, perlu dilakukan
Rekapitulasi Laporan Serangan OPT Penting Tanaman Perkebunan di Kalimantan Timur Tahun 2014
Rekapitulasi Laporan Serangan OPT Penting Tanaman Perkebunan di Kalimantan Timur Tahun 2014 Luas Serangan (Ha) Luas Pengendalian (Ha) Jumlah Kerugian Cara Pengendalian 1 KOTA SAMARINDA - KARET 552 Ha JAP
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS FASILITASI TEKNIS PERLINDUNGAN PERKEBUNAN TAHUN 2016
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS FASILITASI TEKNIS PERLINDUNGAN PERKEBUNAN TAHUN 2016 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN MARET 2016 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Kegiatan
REKAPITULASI PENGAMATAN OPT PENTING TANAMAN PERKEBUNAN DINAS PERKEBUNAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERKABUPATEN SE KALIMANTAN TIMUR
REKAPITULASI PENGAMATAN OPT PENTING TANAMAN PERKEBUNAN DINAS PERKEBUNAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERKABUPATEN SE KALIMANTAN TIMUR No Jenis Komoditi / Luas Komoditi Jenis OPT Luas Serangan (Ha) Luas Pengendalian
PERAN BBPPTP SURABAYA DALAM MENANGANI SERANGAN HAMA DAN PENYAKIT PENTING KOMODITI PERKEBUNAN DI INDONESIA
PERAN BBPPTP SURABAYA DALAM MENANGANI SERANGAN HAMA DAN PENYAKIT PENTING KOMODITI PERKEBUNAN DI INDONESIA Oleh: 1. Ir. Achmad Sarjana,MSi. 2. Erna Zahro in,sp. Patutlah kita berbangga karena beberapa hasil
KATA PENGANTAR Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perkebunan
KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii iv v vi DAFTAR TABEL vii viii DAFTAR GAMBAR ix x DAFTAR LAMPIRAN xi xii 1 PENDAHULUAN xiii xiv I. PENDAHULUAN 2 KONDISI UMUM DIREKTOAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN 2005-2009
Strategi Pengelolaan untuk Mengurangi Serangan Phythopthora capsici pada Tanaman Lada
Strategi Pengelolaan untuk Mengurangi Serangan Phythopthora capsici pada Tanaman Lada Lada merupakan salah satu komoditas ekspor tradisional andalan yang diperoleh dari buah lada black pepper. Meskipun
Christina Oktora Matondang, SP dan Muklasin, SP
REKOMENDASI PENGENDALIAN PENYAKIT VSD (Vascular Streak Dieback) PADA TANAMAN KAKAO (Theobromae cocoa) di PT. PERKEBUNAN HASFARM SUKOKULON KEBUN BETINGA ESTATE KABUPATEN LANGKAT SUMATERA UTARA Christina
CENGKEH - RIWAYATMU KINI. Oleh: Erna Zahro in. Cengkeh pernah jadi primadona, kini keberadaannya mengkhawatirkan karena serangan hama dan penyakit.
CENGKEH - RIWAYATMU KINI Oleh: Erna Zahro in Cengkeh pernah jadi primadona, kini keberadaannya mengkhawatirkan karena serangan hama dan penyakit. Rempah Asli Indonesia Cengkeh (Syzygium aromaticum (L)
KEGIATAN PRIORITAS PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TAHUN Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 31 Mei 2016
KEGIATAN PRIORITAS PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TAHUN 2017 Disampaikan pada: MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL Jakarta, 31 Mei 2016 PERKEMBANGAN SERAPAN ANGGARAN DITJEN. PERKEBUNAN TAHUN
Taksasi Benih (Biji) (x 1.000)
STUDI KELAYAKAN PT. PERKEBUNAN GLENMORE SEBAGAI PRODUSEN BENIH KAKAO Zaki Ismail Fahmi (PBT Ahli) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan - Surabaya I. Pendahuluan PT. Perkebunan Glenmore
SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2016 NOMOR : SP DIPA /2016
SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 216 MOR SP DIPA-18.5-/216 DS995-2521-7677-169 A. DASAR HUKUM 1. 2. 3. UU No. 17 Tahun 23 tentang Keuangan Negara. UU No.
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR Kakao Cengkeh Kopi PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN KEBUN BENIH TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
Vol. Sat. Keu (Rp x 1,000) Keu (Rp x 1,000) Vol Sat. %
LAPORAN KONSOLIDASI PER PROGRAM/KEGIATAN/SUB.KEGIATAN/GROUP TAHUN ANGGARAN 2014 DANA DEKON DAN TUGAS PEMBANTUAN LINGKUP DITJEN PERKEBUNAN, P2HP DAN PSP Posisi : JUNI 2014 Kode Program / Kegiatan / Output
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN LABORATORIUM LAPANGAN DI KAB. MERAUKE PROVINSI PAPUA TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PELATIHAN PETUGAS PENGAMAT OPT PERKEBUNAN TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Pelatihan
PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN LADA BERKELANJUTAN TAHUN 2015
PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN LADA BERKELANJUTAN TAHUN 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN MARET 2015 KATA
PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KOPI (PBKo) SECARA PHT UPTD-BPTP DINAS PERKEBUNAN ACEH 2016
PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KOPI (PBKo) SECARA PHT UPTD-BPTP DINAS PERKEBUNAN ACEH 2016 PENDAHULUAN Kebijakan pemerintah yang dituang dalam Undang- Undang No. 20 Tahun 1992 Tentang Budidaya Tanaman
2. PENGHISAP BUAH HELOPELTIS
2. PENGHISAP BUAH HELOPELTIS GEJALA SERANGAN PENGHISAP BUAH Menyerang buah dan pucuk kakao. Serangan Helopeltis pada buah muda menyebabkan layu pentil. Serangan Helopeltis pada pucuk menyebabkan mati pucuk.
Oleh Kiki Yolanda,SP Jumat, 29 November :13 - Terakhir Diupdate Jumat, 29 November :27
Lada (Piper nigrum L.) merupakan tanaman rempah yang menjadi komoditas ekspor penting di Indonesia. Propinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi salah satu sentra produksi utama lada di Indonesia dan dikenal
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI No. 3586 (Penjelasan Atas Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 12) UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
Alternatif pengendalian terhadap si Helopeltis sp. Oleh : Vidiyastuti Ari Y, SP POPT Pertama
Alternatif pengendalian terhadap si Helopeltis sp Oleh : Vidiyastuti Ari Y, SP POPT Pertama Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang dikembangluaskan dalam rangka peningkatan
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PEMBERDAYAAN PERANGKAT TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Kegiatan pemberdayaan
CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)
CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) Lektor Kepala/Pembina TK.I. Dosen STPP Yogyakarta. I. PENDAHULUAN Penurunan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tingkat produksi budidaya tanaman yang mantap sangat menentukan
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN JAMBU METE TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2013 KATA PENGANTAR
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN JAMBU METE TAHUN 2013
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN JAMBU METE TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR
Penggerek Pucuk Tebu dan Teknik Pengendaliannya
Penggerek Pucuk Tebu dan Teknik Pengendaliannya Produksi gula nasional Indonesia mengalami kemerosotan sangat tajam dalam tiga dasawarsa terakhir. Kemerosotan ini menjadikan Indonesia yang pernah menjadi
PENGEMBANGAN TANAMAN TAHUNAN DAN PENYEGAR
PENGEMBANGAN TANAMAN TAHUNAN DAN PENYEGAR PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN KAKAO TAHUN 2018 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2017 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN SAGU TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2013 KATA PENGANTAR Seperti
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN KEBUN SUMBER BAHAN TANAM TANAMAN TAHUNAN TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER
Disampaikan pada: RAPAT KOORDINASI TEKNIS PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN TAHUN 2018 Jakarta, Januari 2017
Disampaikan pada: RAPAT KOORDINASI TEKNIS PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN TAHUN 2018 Jakarta, 26-27 Januari 2017 Prioritas Nasional KETAHANAN PANGAN dengan 2 Program Prioritas yaitu: 1) PENINGKATAN PRODUKSI
Berburu Kwangwung Di Sarangnya
PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO DINAS PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN JL. RAYA DRINGU 81 TELPON 0335-420517 PROBOLINGGO 67271 Berburu Kwangwung Di Sarangnya Oleh : Ika Ratmawati, SP POPT Perkebunan Sudah puluhan
RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
RENCANA STRATEGIS 2015-2019 DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN JAKARTA, 2015 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan
PERKEMBANGANJamur Akar Putih (Rigidoporus lignosus) TANAMAN KARET TRIWULAN IV 2014 di WILAYAH KERJA BBPPTP SURABAYA Oleh : Endang Hidayanti, SP
PERKEMBANGANJamur Akar Putih (Rigidoporus lignosus) TANAMAN KARET TRIWULAN IV 2014 di WILAYAH KERJA BBPPTP SURABAYA Oleh : Endang Hidayanti, SP GAMBARAN UMUM Tanamankaret(Haveabrasiliensis) merupakan salah
Bedanya Serangan Kwangwung atau Ulah Manusia pada Tanaman Kelapa
PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO Jalan Raya Dringu Nomor 81 Telp. (0335) 420517 PROBOLINGGO 67271 Bedanya Serangan Kwangwung atau Ulah Manusia pada Tanaman Kelapa Oleh : Ika Ratmawati, SP POPT Pertama
Belanja ( x Rp ) 28,459,972, ,459,972, ,351,299,600 A PELAYANAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
PROVINSI : SULAWESI SELATAN SKPD : DINAS PERKEBUNAN PERIODE : DESEMBER 2013 ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN T.A. 2013 LAPORAN REALISASI (FISIK DAN KEUANGAN ) ANGGARAN KINERJA
Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang : Perlindungan Tanaman
Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang : Perlindungan Tanaman Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 6 TAHUN 1995 (6/1995) Tanggal : 28 PEBRUARI 1995 (JAKARTA) Sumber : LN 1995/12; TLN NO. 3586
PETUNJUK TEKNIS PETANI PENGAMAT TAHUN 2018
PETUNJUK TEKNIS PETANI PENGAMAT TAHUN 2018 DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2018 KATA PENGANTAR Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
PETUNJUK PENGAMATAN OPT PERKEBUNAN
PETUNJUK PENGAMATAN OPT PERKEBUNAN PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Dalam budidaya tanaman perkebunan, perlindungan tanaman merupakan kegiatan yang penting, karena menjadi jaminan (assurance) bagi terkendalinya
KATA PENGANTAR. Ir. Gamal Nasir, MS. NIP i
DRAFT i KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Penanaman Nilam Tahun 2015 disusun dan dipersiapkan sebagai panduan bagi pelaksana kegiatan pengembangan tanaman nilam yang dilaksanakan oleh Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota
I. PENDAHULUAN. Untuk tingkat produktivitas rata-rata kopi Indonesia saat ini sebesar 792 kg/ha
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan tradisional yang mempunyai peran penting dalam perekonomian Indonesia. Peran tersebut antara lain adalah sebagai sumber
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN KEBUN SUMBER BAHAN TANAM TANAMAN TAHUNAN TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER
PEDOMAN TEKNIS PENGUATAN KELEMBAGAAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
PEDOMAN TEKNIS PENGUATAN KELEMBAGAAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN Januari, 2009 KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Kegiatan Penguatan Kelembagaan
PERKEMBANGAN SERANGAN PENYAKIT CACAR DAUN CENGKEH (Phyllosticta sp.) PADA TANAMAN CENGKEH TRIWULAN II TAHUN 2013 WILAYAH KERJA BBPPTP SURABAYA
PERKEMBANGAN SERANGAN PENYAKIT CACAR DAUN CENGKEH (Phyllosticta sp.) PADA TANAMAN CENGKEH TRIWULAN II TAHUN 2013 WILAYAH KERJA BBPPTP SURABAYA Oleh : Amini Kanthi Rahayu, SP 1 dan Effendi Wibowo, SP 2
tanam, tanamlah apa saja maumu aku akan tetap datang mengganggu karena kau telah merusak habitatku maka aku akan selalu menjadi pesaingmu
tanam, tanamlah apa saja maumu aku akan tetap datang mengganggu karena kau telah merusak habitatku maka aku akan selalu menjadi pesaingmu ttd. Organisme Pengganggu 1 Agroekologi (Ekologi Pertanian) adalah
RKT-2014 Direktorat Perlindungan Perkebunan
1 RKT-2014 Direktorat Perlindungan Perkebunan DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR.. DAFTAR ISI... DAFTAR LAMPIRAN... i ii iii I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan RKT... 2 II. TUGAS POKOK
PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1
PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 Wahyu Asrining Cahyowati, A.Md (PBT Terampil Pelaksana) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya I. Pendahuluan Tanaman kakao merupakan
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN GANGGUAN DAN KONFLIK USAHA PERKEBUNAN TAHUN 2017
DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN GANGGUAN DAN KONFLIK USAHA PERKEBUNAN TAHUN 2017 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN NOVEMBER 2016 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR...
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN KELAPA SAWIT TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2013 I. PENDAHULUAN
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN TEH TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR
PENGEMBANGAN TANAMAN TAHUNAN DAN PENYEGAR
PENGEMBANGAN TANAMAN TAHUNAN DAN PENYEGAR PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN KARET TAHUN 2018 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2017 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... DAFTAR
Agro inovasi. Inovasi Praktis Atasi Masalah Perkebunan Rakyat
Agro inovasi Inovasi Praktis Atasi Masalah Perkebunan Rakyat 2 AgroinovasI PENANAMAN LADA DI LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH Lahan bekas tambang timah berupa hamparan pasir kwarsa, yang luasnya terus bertambah,
Peta Konsep. Tujuan Pembelajaran. gulma biologi hama predator. 148 IPA SMP/MTs Kelas VIII. Tikus. Hama. Ulat. Kutu loncat. Lalat. Cacing.
Peta Konsep Hama Tikus Mengidentifikasi hama dan penyakit pada tumbuhan Penyakit Ulat Kutu loncat Lalat Cacing Wereng Burung Virus Bakteri Jamur Pengendalian Hama Gulma Biologis Mekanis Kimia Pola tertentu
KATA PENGANTAR. Jakarta, Desember 2012 Direktur Jenderal Perkebunan, Ir. Gamal Nasir, MS Nip
KATA PENGANTAR Berbagai upaya dilakukan Pemerintah dalam rangka peningkatan produksi produktivitas dan untuk hasil tanaman perkebunan khususnya tanaman rempah dan penyegar, salah satunya adalah dengan
Teknologi Budidaya Kedelai
Teknologi Budidaya Kedelai Dikirim oleh admin 22/02/2010 Versi cetak Kedelai merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak memberi manfaat tidak saja digunakan sebagai bahan pangan tetapi
KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Pelaksanaan Penanaman Tanaman Nilam Tahun 2013
i KATA PENGANTAR Pedoman Teknis Pelaksanaan Penanaman Tanaman Nilam Tahun 2013 disusun dan dipersiapkan sebagai panduan bagi pelaksana kegiatan penanaman tanaman nilam yang dilaksanakan oleh Dinas yang
TEKNOLOGI SAMBUNG SAMPING UNTUK REHABILITASI TANAMAN KAKAO DEWASA. Oleh: Irwanto BALAI PELATIHAN PERTANIAN JAMBI I. PENDAHULUAN
TEKNOLOGI SAMBUNG SAMPING UNTUK REHABILITASI TANAMAN KAKAO DEWASA Oleh: Irwanto BALAI PELATIHAN PERTANIAN JAMBI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanaman kakao lindak di Indonesia hampir seluruhnya menggunakan
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN KAKAO TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2013 KATA PENGANTAR
KEBIJAKAN PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
KEBIJAKAN PERLINDUNGAN HORTIKULTURA 1. Tanggung jawab masyarakat dan pemerintah 2. Penerapan perlindungan tanaman sesuai dengan sistem PHT 3. PHT menjiwai Good Agriculture Practices (GAP) 4. Penanggulangan
PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA
PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (OPT) PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA PENGENDALIAN OPT BAWANG MERAH Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT)
DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... iii DAFTAR LAMPIRAN... iv
KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-nya sehingga penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Perlindungan Perkebunan Tahun 2010-2014 ini dapat diselesaikan.
HAMA PENYAKIT UTAMA TANAMAN KOPI
HAMA PENYAKIT UTAMA TANAMAN KOPI Hama penyakit utama tanaman kopi Penggerek buah kopi (coffee berry borer = CPB). Penyakit karat daun (Hemileia vastatrix B. et Br.) Nematoda parasit (Pratylenchus coffeae,
I. PENDAHULUAN. penting di antara rempah-rempah lainnya (king of spices), baik ditinjau dari segi
I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu jenis rempah yang paling penting di antara rempah-rempah lainnya (king of spices), baik ditinjau dari segi perannya dalam menyumbangkan
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN LADA TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR
PERBENIHAN BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA
PERBENIHAN BAWANG MERAH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi bawang merah, peran benih sebagai input produksi merupakan tumpuan utama
I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya pada lahan sawah melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. Pertambahan jumlah penduduk
PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR PEDOMAN TEKNIS
PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN KEBUN SUMBER BENIH KAKAO dan KOPI BERKELANJUTAN TAHUN 2015 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN
PENGAWALAN INTEGRASI JAGUNG DI LAHAN PERKEBUNAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2017
PENGAWALAN INTEGRASI JAGUNG DI LAHAN PERKEBUNAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2017 Samarinda, 1 Maret 2017 1 LATAR BELAKANG Untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional dan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN 2014
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN 2014 DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 KATA PENGANTAR Laporan Kinerja Direktorat Perlindungan
Hama penyakit utama tanaman kopi
Hama penyakit utama tanaman kopi Penggerek buah kopi (coffee berry borer = CPB). Penyakit karat daun (Hemileia vastatrix B. et Br.) Nematoda parasit (Pratylenchus coffeae, Radhoholus similis dan Meloydogyne
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN REMPAH DAN PENYEGAR PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN LADA TAHUN 2014 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2013 KATA PENGANTAR
BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL
BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL Bab ini berisi tentang analisis dan interpretasi hasil penelitian. Pada tahap ini akan dilakukan analisis permasalahan prosedur budidaya kumis kucing di Klaster Biofarmaka
PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN GERAKAN PENGENDALIAN OPT KEDELAI
PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN GERAKAN PENGENDALIAN OPT KEDELAI KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 2018 PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN GERAKAN PENGENDALIAN
KEBUN GELAP OPT SENANG KEBUN TERANG OPT HILANG. Oleh: Erna Zahro in
KEBUN GELAP OPT SENANG KEBUN TERANG OPT HILANG Oleh: Erna Zahro in KAKAO INDONESIA Indonesia merupakan penghasil kakao (Theobroma cacao) nomor tiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Produksinya
Cultural Control. Dr. Akhmad Rizali. Pengendalian OPT melalui Teknik Budidaya. Mengubah paradigma pengendalian OPT:
Cultural Control Dr. Akhmad Rizali Pengendalian OPT melalui Teknik Budidaya Mengubah paradigma pengendalian OPT: Dari: mengendalikan setelah terjadi serangan OPT, Menjadi: merencanakan agroekosistem sehingga
I. PENDAHULUAN. memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan
PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU
PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU Ubi kayu diperbanyak dengan menggunakan stek batang. Alasan dipergunakan bahan tanam dari perbanyakan vegetatif (stek) adalah selain karena lebih mudah, juga lebih ekonomis bila
BAB I PENDAHULUAN. untuk melakukan peremajaan, dan penanaman ulang. Namun, petani lebih tertarik BAB II TUJUAN
BAB I PENDAHULUAN Beberapa program terkait pengembangan perkebunan kakao yang dicanangkan pemerintah adalah peremajaan perkebunan kakao yaitu dengan merehabilitasi tanaman kakao yang sudah tua, karena
II. TINJAUAN PUSTAKA
5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kakao Tanaman kakao mempunyai sistematika sebagai berikut (Tjitrosoepomo, 1988 dalam Syakir et al., 2010) Divisi Sub Divisi Kelas Sub Kelas Famili Ordo Genus : Spermatophyta
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN
PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN TAHUNAN PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN TANAMAN KELAPA SAWIT TAHUN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN DESEMBER 2012 KATA PENGANTAR
