PENGEMBANGAN KONSEP DIRI PADA MASA KANAK-KANAK
|
|
|
- Widya Atmadjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENGEMBANGAN KONSEP DIRI PADA MASA KANAK-KANAK Konsep diri adalah suatu konstruk multidimensional berkaitan dengan kompetensi fisik yang dipersepsikan sepanjang masa kanak-kanak sampai dewasa. Kiranya siapapun masih ingat ketika masih kanak-kanak dengan tidak ada yang perlu dikerjakan tetapi bermain sepanjang hari. Masih ingat masa pertama penulis dapat memanjat pohon dan sampai dipuncaknya, ketika berhasil mengendarai sepeda roda dua, berhasil menyebrangi kolam renang Centrum. Penulis dapat mengingatnya dan merasakannya manakala itu berhasil atau gagal dilakukan. Keberhasilan atau kegagalan di masa kanak-kanak mungkin kurang bermakna bagi penulis sekarang. Tapi peristiwa penting itu mempengaruhi pada penulis dimasa dewasa. Banyak peristiwa seperti ini mempengaruhi pengalaman-pengalaman bermain sebelumnya. Perasaan anak memiliki pengaruh pada dirinya sangat ditentukan oleh pengalaman bermain baik berhasil maupun gagal. Anak-anak merupakan manusia yang berkembang aktif dan energik. Banyak bagian hidupnya digunakan untuk bermain dan eksplorasi aktif dari suatu dunia yang berkembang. Oleh karena itu dunia bermain anak-anak memmerlukan porsi besar dari keseharian mereka. Sangatlah bermakna bila anak-anak belajar lebih tentang diri mereka sendiri, tubuh mereka untuk bergerak. Berbagai konsep afektif dasar memiliki akar sendiri dalam ketidak pedulian, semangat tinggi dunia bermain mereka. Konsep diri merupakan perilaku afektif anak yang penting yang mempengaruhi melalui dunia bermain dan berbagai pergerakan. Konsep diri yang positif dan stabil sangatlah penting bagi kemampuan anak untuk fungsi perkembangan afektif mereka yang tidak dapat dihindari. Kontribusi penting bahwa gerakan dan berbagai kegiatan fisik dapat membentuk konsep diri positif tidak boleh diabaikan. Sebagai orang dewasa harus peduli terhadap perkembangan konsep diri yang baik bagi anak-anak. Selanjutnya akan diuraikan perkembangan konsep diri dan potensial aktivitas fisik dalam mengembangkan atau meningkatkan penghargaan diri (self-esteem). Apa arti Konsep diri. Pembahasan tentang diri telah banyak menjadi pusat perhatian psikososial untuk selama kurang lebih 100 tahun terakhir. Hasil klasik Williams James (1890/1963), yang sekarang ini telah banyak dikembangkan. Berbagai istilah lain telah banyak digunakan sebagai kata padanannya. Oleh karena itu muncul kebingungan untuk mengartikan dan mencari kesamaan serta perbedaannya. Dalam tulisan ini akan ditelusuri letak perbedaan arti sebelum memperjelas peran gerakkan dalam menciptakan pandangan diri yang positif. Sering pula terjadi pertukaran pengertian dan penggunaan silang diantara istilah-istilah ini sebagaimana sering terjadi pemakaian secara umum dalam literatur sekarang ini. Konsep diri sebagaimana digunakan dalam tulisan ini merupakan payung dari istilah diri yang lain. Konsep diri secara umum dipandang sebagai kesadaran karakteristik pribadi seseorang, atribut, dan keterbatasan-keterbatasan, dan kualitaskualitas ini disukai dan tidak disukai orang lain. Konsep diri adalah bagaimana orang memandang dirinya sendiri tanpa ada penilaian pribadi atau perbandingan dengan orang lain, sebaliknya harga diri (self-esteem) adalah nilai yang melekat pada karakteristik unik dia, atribut, dan keterbatasan.
2 Weis (1987) mengindikasikan bahwa self-esteem mencerminkan evaluasi dan komponen konsep diri individu yang efektif, yaitu: merujuk pada penilaian kualitatif dan perasaan yang melekat terhadap deskripsi individu yang mencerminkan diri, sementara konsep diri adalah tidak lebih tentang persepsi individu tentang diri, sedangkan self-esteem adalah nilai seseorang menempatkan persepsi-persepsi itu. James (1890) adalah orang pendidikan modern pertama berusaha untuk lebih banyak menerima arti yang tepat tentang self-esteem. Pernyataan penting dia menyimpulkan bahwa perasaan self-esteem seseorang sama dengan rasio pencapaian seseorang terhadap potensi orang itu untuk berprestasi. Semakin besar rasio potensi mendekati angka 1,0 semakin dekat menjadi diri ideal. Coopersmith (1967) mendefinisikan self-esteem terbaik dengan menyatakan bahwa self-esteem adalah penilaian personal tentang penghargaan yang diwujudkan dalam sikap seseorang itu menjadi dirinya. Meskipun istilah-istilah berkaitan, self-esteem tidak sama dengan kepercayaan diri. Kepercayaan diri mencerminkan keyakinan seseorang atas kemampuannya melaksanakan tugas-tugas fisik mental, atau emosional. Kepercayaan diri adalah kemampuan antisipasi seseorang untuk menangani tantangan-tantangan tertentu dan mengatasi hambatan atau kesulitan. Orang yang percaya diri yang digunakan disini sama dengan istilah dari Bandura (1982), yaitu: self efficacy yang dia artikan sebagai Keyakinan kuat bahwa orang itu dapat berhasil melakukan perilaku yang diperlukan untuk menghasilkan hasil yang diinginkan Sangatlah penting untuk dicatat bahwa kepercayaan diri mungkin berkaitan dengan self-esteem dalam beberapa situasi tertentu. Sebagai contoh: Seorang anak merasa tidak puas pada tingkat kepercayaan diri tertentu untuk berusaha melakukangerakan senam yang sukar, tetapi mungkin masih memiliki tingkat selfesteem tinggi. Sejalan dengan pendapat ini, Dickstein (1977) menyatakan bahwa kepercayaan diri memerlukan pencapaian kemenangan tugas khusus atau pengembangan peran. Tingkat kepercayaan pada berbagai keadaan tertentu bisa tidak berhubungan dengan semua tingkatan self-esteem. Namun demikian orang harus memutuskan kepentingan yang dipersepsi dari kegiatan atau tugas oleh individu atau (kawan, orang tua, guru, pelatih) yang secara aktual membentuk ikatan antara kepercayaan diri dengan self-esteem. Jika tugas yang dipandang itu penting, maka kompetensi dalam pelaksanaan tugas itu akan mempengaruhi pada selfpesteem. Karena itu, istilah kompetensi menjadi konstruk yang penting dalam pengembangan self-esteem. Istilah kompetensi yang berhubungan dengan konsep diri pertama kali dikenalkan oleh White (1959) yang kemudian dikembangkan oleh Coopersmith (1977) dan Harter (1978). Kompetensi dapat dipandang sebagai kemampuan aktual seseorang yang berada pada rentang rendah, menengah, dan tinggi. Kompetensi merupakan faktor penting dalam pengembangan seseorang (Ebbeck dan Stuart, 1996). Lebih khusus, persepsi kompetensi seseorang (misal: kompetensi yang dikenal) pada situasi tertentu dan kompetensi yang dikenal itu dapat memiliki dampak penting pada kompetensi aktual seseorang, kepercayaan diri, self-esteem (harga diri), dan konsep diri. Perkiraan kompetensi fisik yang dikenal (misal: kemampuan) menunjukkan kontribusi pada motivasi berprestasi anak-anak (Weiss dan Horn, 1990). Dengan kata lain, perkiraan yang rendah, tentang kemampuan fisikal sepertinya mengarah pada partisipasi olahraga generasi muda. Sementara kemampuan yang dikenal tinggi sepertinya memotivasi anak-anak untuk terus berpartisipasi dalam olahraga.
3 KONSEP DIRI ; GLOBAL ATAU MULTIDIMENSIONAL Suatu pertanyaan penting yang menarik para akhli dan para peneliti pada dua puluh tahun terakhir ini melibatkan kealamiahan umum atau spesif...konsep diri seseorang, yaitu bahwa apakah konsep diri suatu ciri umum atau dapat dibedakan ke dalam berbagai komponen? Kasus kuat dapat dilakukan baik pandangan dan penelitian dapat digunakan untuk mendukung posisi keduanya (Marsh, 1986). Nampaknya mungkin bahwa seseorang memiliki baik sebagai konsep diri yang berbeda dan konsep diri yang umum. Dalam hal ini Rossenberg (1979) menyatakan bahwa keduanya tidak sama, dia menyatakan: keduanya muncul dalam fenomena individual sebagai suatu terpisah dan benar-benar berbeda, dan masing-masing secara benar. Dalam tulisan selanjutnya Rossenberg (1982) membuat pernyataan bahwa meskipun sangat luas digunakan dalam studi harga diri (self-esteem), sangatlah cukup penting bahwa harga diri (self esteem) global seseorang tidak didasarkan seutuhnya pada penilaian kualitas dia yang nampak. Harga diri (self-esteem) didasarkan penilaian kualitas diri Constituante. Dengan kata lain konsep diri yang global adalah hasil persepsi dia tentang kompetensi dalam bidang pengertian personal. Konsep diri tidak dipengaruhi oleh penilaian kompetensinya, hanya sedikit atau bahkan tidak signifikan. Karena itu, sangat baik dan penting pada permainan, kegiatan bermain dan olahraga bagi anak-anak, bila berhasil dalam kegiatan ini akan berpengaruh pada konsep diri globalnya. Akan tetapi jika atribut-atribut ini tidak dipandang sebagai ciri personal yang berarti, maka hanya sedikit saja pengaruhnya (Harter 1987, Marsh, 1994) HIERARKI PERKEMBANGAN KONSEP DIRI HARGA DIRI Gambaran bebas nilai yang melekat pada Diri seseorang KEPERCAYAAN DIRI Keyakinan dalam hal kemampuan seseorang untuk Melaksanakan tugas KOMPETENSI Keberhasilan aktual dalam upaya memenuhi ketergantungan Prestasi tertentu KOMPETENSI YANG DIKENALI Potensial perasaan seseorang agar berhasil dalam upaya memenuhi Ketergantungan prestasi tertentu
4 Pada masyarakat modern Amerika Utara, bermain dan olahraga berpengaruh positif tinggi bagi anak laki-laki dan perempuan. Kompetensi dalam bidang ini penting dalam konteks penerimaan sosial dan status dalam kelompok. Lebih lanjut, orang dewasa sering memberi pandangan pada anak-anak bahwa kompetensi mereka dalam kegiatan fisik berkaitan erat dengan nilai dan peneriman mereka dalam keluarganya atau dalam suatu kelompoknya. Dalam suatu masyarakat, keberhasilan dalam penerimaan dan olahraga bernilai positif tinggi, karena itu sangatlah beralasan bila dikatakan salah satu komponen penting dari konsep diri global adalah kompetensi gerak dan kompetensi ini berperan sangat penting bagi perkembangan harga diri (self esteem) yang positif. Harter (1978, 1982) dan Harter dan Connell (1984), menelusuri aspek-aspek perkembangan konsep diri dengan upaya membedakan tiga dimensi kompetensi evaluatif diri. Profil persepsi diri pada anak-anak (Harter, 1985) dan pengukuran Pictorial kompetensi yang dikenali serta penerimaan sosial kedalam domain kognitif dan fisikal, berikut pengukuran penerimaan sosial dan self-esteem secara umum.harter (1982) menemukan bahwa anak-anak kelas 3 sampai kelas 9 melakukan perbedaan jelas antara kategori-kategori yang diajukan. Akan tetapi, Harter dan Pike (1984) tidak menemukan kesamaan pada anak-anak usia 4 sampai 7 tahun. Anakanak ini cenderung secara bersamaan menempatkan kompetensi kognitif dan fisikal kedalam suatu kategori kompetensi umum dan memandang penerimaan sosial (oleh teman atau ibu) adalah penting. Mereka juga tidak memiliki konsep self esteem yang umum. Karena itu, ini muncul bahwa kompetensi gerak memilki impliksi penting bagi anak-anak mulai dari usia kelas tiga dan seterusnya. Sebelumnya, anak-anak cenderung memandang diri mereka sendiri sebagai apakah kompeten atau tidak kompeten dengan sedikit perbedaan antara domain fisikal dan kognitif. Namun demikian, akhir-akhir ini Marsh dkk. (1991) menelusuri struktur multi dimensional konsep diri pada anak-anak usia 5 sampai 8 tahun. Hasilnya, dengan menggunakan Angket Deskripsi Diri (Marsh, 1990), membuktikan bahwa, manakala dilakukan pengukuran secara tepat, konsep diri lebih baik dibedakan oleh masa usia anak-anak daripada pernyataan-pernyataan sebelumnya. Karena itu dapat diputuskan bahwa manakala pengukuran dilakukan secara tepat konsep diri adalah hal yang multi dimensional pada masa anak-anak yang lebih tua, remaja, dan dewasa.
5 Pengembangan Self-Esteem Self esteem sering dianggap sebagai tujuan penting pendidikan. Secara umum, sering dianggap sebagai suatu indikator penyesuaian mental dan sosial, sebagai gambaran kesejahteraan total, dan kepuasan dalam kehidupan. Lebih lanjut, dapat dianggap sebagai konsekuensi yang perlu dikembangkan untuk dapat memperkuat motivasi (Harter, 1987; dalam Auweele, 1999). Sebaliknya, rendahnya self-esteem dapat menyebabkan persepsi siatuasi belajar sebagai ancaman dan tekanan (Bandura, 1986; dalam Auweele, 1999). Secara prinsipal, pendidikan jasmani memiliki potensi untuk mengembangkan self esteem dengan cara menumbuhkan persepsi tubuh-diri adalah menarik, mampu, dan berprestasi serta membuat unsur-unsur ini penting bagi mereka. Self esteem itu sendiri dapat diartikan sebagai proses evaluasi-diri, yang berbeda dengan konsep self-konsep yang lebih mengarah pada proses deskripsi diri. Self esteem adalah produk adanya interaksi sosial, selain juga oleh adanya rasa kompetensi dan juga penerimaan-diri, namun demikian peningkatan kompetensi-diri mejadi hal penting dalam pengembangan self-esteem melalui pendidikan jasmani. Dalam hubungan pendidikan jasmani dengan self-esteem gambaran-tubuh, fungsinya, penampilannya, dan kemampuan tubuh merupakan aspek penting dalam pengembangan self-esteem. Fox (1988; dalam Auweele, 1999) menyatakan bahwa komponen kompetensi olahraga, ketertarikan-tubuh, kekuatan fisik, dan kondisi fisik adalah komponen pemicu bagi pengembangan self-esteem. Kompetensi gerak dan Self-esteem. Penelitian terbatas telah dilakukan dalam bidang gerakkan dan self-esteem, untuk berbagai alasan telah sering dipertimbangkan sebagai bidang yang lemah untuk dilakukan studi. Alasannya. Pertama: sangatlah sukar membedakan variabel yang mungkin berpengaruh terhadap diri. Kedua; kriteria pengukuran self-esteem sangatlah lemah dalam validitasnya. Ketiga; masalah yang akan diukur sering terasa janggal atau aneh menurut McCandless (1976). Akan tetapi sekarang penelitian dalam bidang gerakan dan self-esteem telah mulai banyak dilakukan. Beberapa penelitian yang mencoba menggambarkan pengaruh gerakkan terhadap konsep diri anak banyak dilakukan. Persepsi tentang kompetensi adalah satu variabel yang sangat penting yang berada dibawah kajian motivasi (Crawford; 1989; Duda; 1986; Harter; 1978; White; 1959). Pengembangan Harter terhadap teori kompetensi motivasi dari White (1978) menyatakan bahwa kualitas pengalaman seseorang adalah penentu kritis bagi pengembangan kompetensi. Kompetensi adalah fasilitator kepercayaan, dan kepercayaan memacu pandangan diri yang lebih positif. Mempertunjukkan kompetensi mengarahkan pada kebanggaan dan kesenangan, tapi kegagalan untuk mempertunjukkan kompetensi mengarahkan pada rasa malu dan kebodohan diri. Kompetensi anak yang dikenali memiliki pengaruh yang berkelanjutan terhadap minat melakukan kegiatan dan usaha-usaha menguasai pada tahap selnjutnya. Manakala diterapkan pada aktivitas fisik, teori kompetensi motivasi dari Harter berarti bahwa jika seseorang mempersepsi dirinya memiliki kompetensi fisikal dia akan terus berpartisipasi dalam kegiatan fisik. Akan tetapi, jika dia mempersepsi dirinya tidak memiliki kompetensi fisikal, dia akan membatasi keikut sertaannya dan berhenti mencari usaha-usaha untuk menguasainya.
6 Kompetensi yang dikenali dan kompetensi aktual mendukung kepercayaan diri, kompetensi ini memiliki potensi untuk mengembangkan dimensi aspek-aspek konsep diri dan self-esteem. Pengembangan kompetensi yang dikenali adalah tujuan utama keikut sertaan generasi muda berolahraga (Fox, 1988; Gould dan Horn 1984, Knopper, 1982). Beberapa studi menunjukkan pentingnya kompetensi yang dikenali untuk terus berpartisipasi dalam olahraga (Crawford, 1989; Feltz dan Petlichkoff, 1983; Gould koordinasi gerakdan Horn, 1984; Marsh, 1985; Roberts, Kleiber dan Duda, 1981). Kegiatan fisik dan meningkatkan atau menurunkan pengembangan konsep diri pada anak-anak, karena ini menjadi pusat perhatian kehidupan mereka. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan menilai penting terhadap kompetensi kegiatan fisikal, dan ini merupakan faktor penting dalam self-esteem secara umum (Harter, 1983; Weiss, 1987). Zaharopoulos dan Hodge (1981) menguji perbedaan antara atlet dewasa dan bukan atlet dan jenis kelamin. Hasil dari studi cross seksional ini menunjukkan bahwa secara signifikan atlet dengan non atlet berbeda dalam kemampuan konsep diri fisikal, tetapi tidak pada konsep diri secara umum. Selanjutnya perempuan tidak berbeda dengan laki-laki dalam kemampuan konsep diri fisikalnya. Penemuan ini mendukung konsep multi dimensional konsep diri, tetapi menyangkal pendapat bahwa keikut sertaan berolahraga meningkatkan konsep diri secara umum. Hasil penelitian ini bersesuaian dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Marsh dan Peart (1988). Hubungan antara status sosial anak dengan kompetensi gerak dia telah menjdi perhatian para peneliti selama bertahun-tahun. Berbagai studi menunjukkan ada ikatan antara penerimaan kelompok positif tinggi dengan kemampuan dalam permainan dan olahraga, terutama anak laki-laki. Keterampilan berolahraga adalah yang terpenting bagi kebanyakan anak laki-laki, yang diindikasikan pada koordinasi gerak, kekuatan, ukuran, dan kematangan fisik (Tudenham, 1951). Akan tetapi, akhir-akhir ini beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan kurang memiliki persepsi yang kurang positif tentang kompetensi fisikal dari pada anak laki-laki (Fos, Corbin, dan Couldry, 1985). Granleese, Trew, dan Turner, (1988); Marsh, (1985); van Werch, Trew, dan Turner, (1990). Tingkat keterampilan sering ditentukan oleh faktor luar pengaruh anak. Faktor itu seperti; status fisik, kondisi kesehatan, pengalaman, dan kualitas pengajaran yang memungkinkan anak-anak memenuhi kriteria teman kelompok mereka. Sebagai hasil mereka merasa direndahkan dan ditolak dan lemah mengembangkan gambaran diri. Ketidak amanan personal dan kesalahan penyesuaian sosial sering menjadi kajian dalam bidang ini. Halaman sekolah, bangunan gedung olahraga dan lingkungan bermain menyediakan kesempatan besar untuk mengembangkan konsep diri yang positif. Kompetensi yang dikenali anak sebagaimana juga kompetensi aktual dalam domain fisikal, kognitif dan afektif merupakan fasilitator penting bagi pengembangan konsep diri yang positif (Harter, 1978). Dalam domain fisikal, Robert dan kawan-kawan (1981) menguji siswa kelas empat dan kelas lima, dan Harter (1982) menguji siswa kelas enam yang baik ikut serta atau tidak ikut sertadalam program olahragagenerasi muda yang diorganisir. Hasilnya mencirikan bahwa siswa yang berpartisipasi mempersepsi dirinya sendiri lebih kompeten dalam permainan dan olahraga dibandingkan dengan siswa yang tidak berpartisipasi. Namun demikian, Ulrich (1987) menemukan perbedaan hasil dalam studi yang dilakukan pada siswa taman
7 kanak-kanak sampai siswa kelas empat. Dia membandingkan persepsi kompetensi fisikal anak, kompetensi aktual gerak mereka, dan partisipasi dalam program olahraga generasi muda. Hasil penelitian dia menunjukkan bahwa kompetensi persepsi yang dikenali pada anak-anak tidak signifikan berhubungan dengan keikut sertaan dalam olahraga yang diorganisir. Namun demikian, kompetensi aktual gerak signifikan berhubungan dengan partisipasi olahraga. Ini menunjukkan bahwa apakah anak-anak lebih tua secara jelas dipengaruhi oleh persepsi kompetensi fisik mereka dan partisipasi, sedangkan anak-anak yang lebih muda tidak demikian halnya. Alasanalasan perbedaan ini belum dapat dijelaskan.
BAB II. Tinjauan Pustaka
BAB II Tinjauan Pustaka Dalam bab ini peneliti akan membahas tentang tinjauan pustaka, dimana dalam bab ini peneliti akan menjelaskan lebih dalam mengenai body image dan harga diri sesuai dengan teori-teori
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa berkembang dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa berkembang dan mengalami perubahan-perubahan bertahap dalam hidupnya. Sepanjang rentang kehidupannya tersebut,
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang unik dan terus mengalami perkembangan di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah individu yang unik dan terus mengalami perkembangan di sepanjang kehidupannya sejalan dengan pertambahan usianya. Manusia merupakan individu
Bab II. Kajian Pustaka. Teori identitas sosial dipelopori oleh Henri Tajfel pada tahun 1957 dalam
Bab II Kajian Pustaka 2.1. Identitas Sosial Teori identitas sosial dipelopori oleh Henri Tajfel pada tahun 1957 dalam upaya menjelaskan prasangka, diskriminasi, perubahan sosial dan konflik antar kelompok.
Bab 1 PENDAHULUAN. Di Indonesia kegiatan psikologi olahraga belum berkembang secara meluas.
Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia kegiatan psikologi olahraga belum berkembang secara meluas. Psikologi olahraga di Indonesia merupakan cabang psikologi yang sangat baru, sekalipun pada
Bab 5 SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara
Bab 5 SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1 Simpulan Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kemampuan personal (personal competence) dalam kecerdasan emosi dengan prestasi. Selain
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari, dan lain-lain. Setiap tugas dipelajari secara optimal pada waktu-waktu tertentu
BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan
BAB 2 LANDASAN TEORI Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan prestasi belajar. 2.1 Self-Efficacy 2.1.1 Definisi self-efficacy Bandura (1997) mendefinisikan self-efficacy
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Identity Achievement. (Kartono dan Gulo, 2003). Panuju dan Umami (2005) menjelaskan bahwa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Identity Achievement 1. Definisi Identity Achievement Identitas merupakan prinsip kesatuan yang membedakan diri seseorang dengan orang lain. Individu harus memutuskan siapakah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berlian Ferdiansyah, 2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Olahraga futsal merupakan salah satu modifikasi olahraga sepak bola yang dimainkan di dalam ruangan. Jumlah pemain dalam olahraga futsal sebanyak lima orang
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
8 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1. Kajian Pustaka 2.1.1. Penyesuaian Diri Penyesuaian berarti adaptasi yang dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa bertahan serta memperoleh
BAB I PENDAHULUAN. didalamnya, dan prestasi akhir itulah yang dikenal dengan performance atau
BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Masalah Kekuatan setiap organisasi terletak pada sumber daya manusia, sehingga prestasi organisasi tidak terlepas dari prestasi setiap individu yang terlibat didalamnya,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Elsa Sylvia Rosa, 2014
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Remaja, dalam hal ini pelajar dipandang sebagai generasi muda yang memegang peranan penting sebagai generasi penerus dalam pembangunan masyarakat, bangsa,
Perkembangan Sepanjang Hayat
Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Remaja dalam Aspek Psikososial Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Memahami Masa
TINJAUAN PUSTAKA Teori Komunikasi Keluarga Pengertian Komunikasi
7 TINJAUAN PUSTAKA Teori Komunikasi Keluarga Pengertian Komunikasi Komunikasi merupakan suatu cara untuk memengaruhi individu agar si pemberi pesan (sender) dan si penerima pesan (receiver) saling mengerti
KEBUTUHAN HARGA DIRI DAN KONSEP DIRI NIKEN ANDALASARI
1 KEBUTUHAN HARGA DIRI DAN KONSEP DIRI NIKEN ANDALASARI Apakah harga diri atau self esteem itu? Coopersmith (Gilmore, 1974) mengemukakan bahwa:.self esteem is a personal judgement of worthiness that is
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Normative Social Influence 2.1.1 Definisi Normative Social Influence Pada awalnya, Solomon Asch (1952, dalam Hogg & Vaughan, 2005) meyakini bahwa konformitas merefleksikan sebuah
BAB I PENDAHULUAN. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi ini,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi ini, pendidikan semakin menjadi suatu kebutuhan yang tidak terelakkan. Pendidikan memiliki
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan menjadi calon-calon pemimpin bangsa maupun menjadi calon penggerak kehidupan bangsa dari sumbangsih
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Sepakbola adalah olahraga yang dimainkan secara beregu dan terdiri dari dua kesebelasan. Sepak bola moderen mulai berkembang di Inggris dan mulai digemari di seluruh
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kepuasan Kerja. sebuah evaluasi karakteristiknya. Rivai & Sagala (2009) menjelaskan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kepuasan Kerja 1. Kepuasan Kerja Guru Robbins & Judge (2012) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari
BAB I PENDAHULUAN. tersebut terbentang dari masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga masa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sepanjang rentang kehidupannya individu mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang harus dijalani untuk tiap masanya. Tugas perkembangan tersebut terbentang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Konsep Diri Istilah konsep diri biasanya mengarah kepada sebuah pembentukan konsep pribadi dari diri seseorang. Secara umum konsep diri adalah pandangan dan sikap
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.
BAB I PENDAHULUAN. memandang remaja itu sebagai kanak-kanak, tapi tidak juga sebagai orang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja dapat dipandang sebagai suatu masa dimana individu dalam proses pertumbuhannya (terutama fisik) telah mencapai kematangan. Masa ini menunjukan suatu masa
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk paling unik di dunia. Sifat individualitas manusia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk paling unik di dunia. Sifat individualitas manusia memunculkan perbedaan karakter antara satu dengan yang lainnya. Tidak hanya seseorang
BAB I PENDAHULUAN. perilaku yang diinginkan. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan terencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Suryana (2008:2), mendefinisikan bahwa kewirausahaan adalah
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Niat Berwirausaha Suryana (2008:2), mendefinisikan bahwa kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar,
Perkembangan Sepanjang Hayat
Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Dewasa Awal dalam Aspek Psikososial Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Masa Dewasa
BAB I PENDAHULUAN. lingkungannya maupun mengenai diri mereka sendiri. dirinya sendiri dan pada late childhood semakin berkembang pesat.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak belajar tentang banyak hal, sejak lahir ke dunia ini. Anak belajar untuk mendapatkan perhatian, memuaskan keinginannya, maupun mendapatkan respon yang
BAB I PENDAHULUAN. Krisis multidimensional dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Krisis multidimensional dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya yang dialami Indonesia pada saat ini menyebabkan keterpurukan dunia usaha di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang, karena pada masa ini remaja mengalami perkembangan fisik yang cepat dan perkembangan psikis
BAB 1 PENDAHULUAN. 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia tahun. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun. Menurut Peraturan Mentri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang
2015 STUD I D ESKRIPTIF PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PEND IDIKAN JASMANI D I SLB-A CITEREUP
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap negara yang sudah merdeka sudah sepatutnya negara tersebut mampu untuk membangun dan memperkuat kekuatan sendiri tanpa harus bergantung pada negara lain. Maka
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting di dalam suatu kehidupan. manusia. Teori Erikson memberikan pandangan perkembangan mengenai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa yang penting di dalam suatu kehidupan manusia. Teori Erikson memberikan pandangan perkembangan mengenai kehidupan manusia dalam beberapa
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. Motivasi berprestasi memiliki peranan penting yang harus dimiliki oleh setiap
187 BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Motivasi berprestasi memiliki peranan penting yang harus dimiliki oleh setiap individu, khususnya di kalangan pelajar sebagai generasi bangsa
BAB I PENDAHULUAN. Ketika memulai relasi pertemanan, orang lain akan menilai individu diantaranya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ketika memulai relasi pertemanan, orang lain akan menilai individu diantaranya berdasarkan cara berpakaian, cara berjalan, cara duduk, cara bicara, dan tampilan
BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN. Hasil dari penelitian menunjukkan Ho ditolak sehingga ada hubungan
BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5.1 Simpulan Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan, antara lain: 1. Uji Korelasi Hasil dari penelitian menunjukkan Ho ditolak sehingga ada hubungan antara self-efficacy
BAB II LANDASAN TEORI. Komitmen karyawan terhadap organisasi merupakan suatu hubungan antara
BAB II LANDASAN TEORI A. KOMITMEN KARYAWAN TERHADAP ORGANISASI 1. Defenisi Komitmen Karyawan terhadap Organisasi Komitmen karyawan terhadap organisasi merupakan suatu hubungan antara individu karyawan
KONTRIBUSI KONSEP DIRI DAN PERSEPSI MENGAJAR GURU TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI JENIS KELAMIN SISWA SMA GAMA YOGYAKARTA TAHUN 2009 TESIS
KONTRIBUSI KONSEP DIRI DAN PERSEPSI MENGAJAR GURU TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI JENIS KELAMIN SISWA SMA GAMA YOGYAKARTA TAHUN 2009 TESIS Diajukan Kepada Program Studi Manajemen Pendidikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Body Image 1. Pengertian Body image adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi
PERUBAHAN DALAM TAHAPAN HARGA DIRI Harga diri itu adalah sangat tinggi selama masa awal kanak-kanak kanak. Kemudian jatuh pada tahun pertama dari seko
Harga diri dihitung sebagai aspek terpenting dari pengembangan diri, sejak evaluasi dari kemampuan kita sendiri mempengaruhi pengalaman emosional, perilaku masa depan, dan penyesuaian psikologis yang jangka
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan individu yang merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang meliputi perubahan biologis,
BAB II LANDASAN TEORI. Dalam model pembelajaran Bandura, faktor person (kognitif) memainkan peran
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Efikasi Diri (self-efficacy) Dalam model pembelajaran Bandura, faktor person (kognitif) memainkan peran penting. Faktor person (kognitif) yang ditekankan Bandura (dalam Santrock,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peristiwa yang menyenangkan maupun peristiwa yang tidak menyenangkan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu pasti melewati segala peristiwa dalam kehidupan mereka. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh setiap individu dapat beragam, dapat berupa peristiwa yang menyenangkan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Harga Diri 2.1.1 Pengertian Harga Diri Harga diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang mempunyai peran penting dan berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku individu.
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan mencakup pengajaran dan pelaksanaan nilai-nilai, isi pendidikan ialah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan mencakup pengajaran dan pelaksanaan nilai-nilai, isi pendidikan ialah tindakan-tindakan yang membawa anak didik kita mengalami dan menghayati nilai-nilai
BAB I PENDAHULUAN. manusia yang menjembatani masa kanak-kanak dengan masa dewasa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja merupakan suatu periode transisi dalam rentang kehidupan manusia yang menjembatani masa kanak-kanak dengan masa dewasa (Santrock, 2012). Remaja merupakan usia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia selalu mengalami proses perkembangan yang cukup panjang. Perkembangan manusia bahkan sudah dimulai saat masa prakelahiran, menuju ke masa bayi, masak
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Memasuki Abad 21, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memasuki Abad 21, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju serta terbukanya pasar global akan menstimulus kita untuk selalu meningkatkan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Pasundan 2 Bandung yang beralamat di Jl. Cihampelas No 167. 2. Populasi Penelitian
BAB I PENDAHULUAN. terjadi perubahan-perubahan baik dalam segi ekonomi, politik, maupun sosial
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era globalisasi dan modernisasi yang sedang berjalan saat ini, banyak terjadi perubahan-perubahan baik dalam segi ekonomi, politik, maupun sosial budaya. Dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia Pengertian kecemasan Menghadapi Kematian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia 2.1.1. Pengertian kecemasan Menghadapi Kematian Kecemasan menghadapi kematian (Thanatophobia) mengacu pada rasa takut dan kekhawatiran
TINJAUAN PUSTAKA Remaja
TINJAUAN PUSTAKA Remaja Remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescent yang mempunyai arti tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Self-efficacy mengarah pada keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Self Efficacy 2.1.1 Definisi self efficacy Self-efficacy mengarah pada keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam mengatur dan melaksanakan serangkaian tindakan dalam mencapai
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perguruan tinggi adalah pendidikan tinggi yang merupakan lanjutan dari pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk mempersiapkan peserta
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Marilah kita kaji sejenak arti kata belajar menurut Wikipedia Bahasa
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Belajar Marilah kita kaji sejenak arti kata belajar menurut Wikipedia Bahasa Indonesia. Disana dipaparkan bahwa belajar diartikan sebagai perubahan yang relatif permanen
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan Sumberdaya Manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang
KARAKTERISTIK ANAK USIA SD Oleh : Sugiyanto
KARAKTERISTIK ANAK USIA SD Oleh : Sugiyanto Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah
PSIKOLOGI PELATIHAN FISIK
1 PSIKOLOGI PELATIHAN FISIK Danu Hoedaya FPOK UPI Materi Penyajian Pelatihan Pelatih Fisik Sepak Bola Se-Jawa Barat FPOK-UPI, 14-17 Februari 2007 2 PENGANTAR Materi Psikologi Kepelatihan pada Pelatihan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Motivasi Berprestasi Pada Atlet Sepak Bola. Menurut McClelland (dalam Sutrisno, 2009), motivasi berprestasi yaitu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Motivasi Berprestasi Pada Atlet Sepak Bola 1. Pengertian Motivasi Berprestasi Menurut McClelland (dalam Sutrisno, 2009), motivasi berprestasi yaitu usaha pada tiap individu dalam
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos dan stereotip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos dan stereotip mengenai penyimpangan dan ketidakwajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya teori-teori perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. ketidakmampuan. Orang yang lahir dalam keadaan cacat dihadapkan pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap orang ingin lahir dalam keadaan normal, namun pada kenyataannya ada orang yang dilahirkan dengan keadaan cacat. Bagi orang yang lahir dalam keadaan cacat
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan,
3. METODE PENELITIAN
3. METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian Fenomena perempuan bercadar merupakan sebuah realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat kita. Fenomena yang terjadi secara alamiah dalam setting dunia
BAB I PENDAHULUAN. Masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak. diperbincangkan, diantaranya adalah rendahnya mutu pendidikan yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan, diantaranya adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menentukan arah dan tujuan dalam sebuah kehidupan. Anthony (1992)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepercayaan diri pada dasarnya adalah kemampuan dasar untuk dapat menentukan arah dan tujuan dalam sebuah kehidupan. Anthony (1992) menyatakan bahwa kepercayaan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. UKM Olahraga merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa sebagai
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah UKM Olahraga merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa sebagai wadah dari mahasiswa untuk menyalurkan bakat dibidang olahraga. Mahasiswa juga dapat mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia yang paling unik, penuh dinamika, sekaligus penuh tantangan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan salah satu tahap perkembangan sepanjang rentang kehidupan manusia yang paling unik, penuh dinamika, sekaligus penuh tantangan dan harapan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif
I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perancangan 1. Penjelasan Judul Perancangan Pendidikan PAUD saat ini sangatlah penting, sebab merupakan pendidikan dasar yang harus diterima anak-anak. Selain itu untuk
BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman dahulu sebagian besar manusia memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada zaman dahulu sebagian besar manusia memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan sistem barter (pertukaran) karena pada saat itu manusia belum mengenal uang,
BAB I. Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan. terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan
BAB I 1.1 Latar Belakang Masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai ujung tombak perubahan memiliki peranan penting dalam mengoptimalkan potensi peserta didik, sehingga peserta didik memiliki kompetensi dalam
2. TINJAUAN PUSTAKA. Universitas Indonesia
10 2. TINJAUAN PUSTAKA Bab ini mengulas tentang pelbagai teori dan literatur yang dipergunakan dalam penelitian ini. Adapun teori-teori tersebut adalah tentang perubahan organisasi (organizational change)
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Self-Esteem 2.1.1 Pengertian Self-Esteem Menurut Rosenberg (dalam Mruk, 2006), Self-Esteem merupakan bentuk evaluasi dari sikap yang di dasarkan pada perasaan menghargai diri
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan periode yang penting, walaupun semua periode
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan periode yang penting, walaupun semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting namun kadar kepentingannya berbedabeda. Kadar kepentingan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sifatnya subjektif. Kebahagiaan, kesejahteraan, dan rasa puas terhadap hidup yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Individu dapat mencapai tujuan hidup apabila merasakan kebahagian, kesejahteraan, kepuasan, dan positif terhadap kehidupannya. Kebahagiaan yang dirasakan oleh
BAB I PENDAHULUAN. dimana individu mengalami perubahan dari masa kanak-kanak menuju. dewasa. Dimana pada masa ini banyak terjadi berbagai macam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam perjalanan hidup manusia pasti akan mengalami suatu masa yang disebut dengan masa remaja. Masa remaja merupakan suatu masa dimana individu mengalami perubahan
BAB I PENDAHULUAN. lain. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri,
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang berarti tidak dapat hidup tanpa orang lain. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri, baik terhadap
BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi perkembangan psikologis individu. Pengalaman-pengalaman
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Sepanjang rentang kehidupan individu, banyak hal yang dipelajari dan mempengaruhi perkembangan psikologis individu. Pengalaman-pengalaman bersama keluarga dan
formal, non formal, dan informal. Taman kanak-kanak (TK) adalah pendidikan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu proses yang terus menerus berlangsung dan menjadi dasar bagi kelangsungan kehidupan manusia. Undangundang nomor
