TEKNIK SWITCHING PCM DAN MATRIKS SWITCH

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TEKNIK SWITCHING PCM DAN MATRIKS SWITCH"

Transkripsi

1 TEKIK SWITCHIG PCM DA MATRIKS SWITCH

2 Pendahuluan Konsep dasar Merupakan metode umum untuk mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital Dalam sistem digital, sinyal analog yang dikirimkan cukup dengan sampel-sampelnya saja Sinyal suara atau gambar yang masih berupa sinyal listrik analog diubah menjadi sinyal listrik digital melalui 4 tahap utama, yaitu : Sampling Quantisasi Pengkodean Multiplexing

3 Sampling. Sampling Untuk mengirimkan informasi dalam suatu sinyal, tidak perlu seluruh sinyal ditransmisikan, cukp diambil sampelnya saja Sampling : proses pengambilan sample atau contoh besaran sinyal analog pada titik tertentu secara teratur dan berurutan Frekuensi sampling harus lebih besar dari x frekuensi yang disampling (sekurang- kurangnya memperoleh puncak dan lembah) [teorema yqust] Hasil penyamplingan berupa PAM (Pulse Amplitude Modulation) LPF Sam pling fs > fi fs = Frekuensi sampling fi = Frekuensi informasi/sumber (yang disampling) CCITT : fs = 8000 Hz fi = Hz (Sinyal Bicara) Artinya sinyal telepon disampling 8000 kali per detik Dalam sampling yang dipentingkan adalah periode sampling bukan lebar pulsa sampling Menurut teorema nyquist bila frekuensi sampling lebih kecil dari frekuensi informasi/sumber maka akan terjadi penumpukan frekuensi/aliasing

4 Sampling teorema yquist t f spektrum frekuensi sinyal asal fs pulsa sampling t 0 fs spektrum frekuensi pulsa sampling f fs fs 3fs fs > fi fs fs 3fs fs = fi fs fs 3fs fs < fi

5 Kuantisasi Proses menentukan segmen-segmen dari amplitudo sampling dalam level-level kuantisasi Amplitudo dari masing-masing sample dinyatakan dengan harga integer dari level kuantisasi yang terdekat Adanya pendekatan / pembulatan tersebut menimbulkan Derau Kuantisasi Quantizer Ada (dua) cara kuantisasi Kuantisasi Linear (Uniform) Selang level kuantisasi sama untuk seluruh level kuantisasi. Besarnya noise kuantisasi sama untuk seluruh level, tetapi noise relatifnya tidak sama antara level yang satu dengan lainnya Misal skala bagian positif dibuat sama besar +, +, 4,+8, demikian juga pada bagian negatif, -,, -8 3 karena dimulai dari +8 s.d 8 sehingga dibutuhkan 6 macam kode bit yang memerlukan 4 bit binary Kelemahan : bila level sampling menghasilkan amplitudo level yang berkisar + dan hanya dideteksi satu level, menimbulkan noise, diatasi dengan memperkecil skala segmen tapi akan menambah bit pengkodean

6 Kuantisasi Kuantisasi Tidak Linear (on Linear) Perbaikan dari kuantisasi linear pada level rendah Ada dua cara kuantisasi tidak linear : Langsung menggunakan kuantisasi tidak linear Level kuantisasi diperkecil untuk level sinyal rendah Level kuantisasi diperbesar untuk level sinyal tinggi Hasil sampling pada sinyal-sinyal yang rendah dapat dibedakan dengan beberapa kode yang berbeda sehingga mengurangi noise. Companding Selang dibiarkan seragam, tetapi sebelum kuatnitsasi amplitudo sinyal kecil diperbesar dan amplitudo sinyal pulsa besar diperkecil. Operasi yang dilakukan disebut sebagai kompresi (comp) dan ekspansi (exp), yang disebut dengan companding O u t p u t Input In p u t Output +6 Compressing Expanding Ada dua aturan companding yang digunakan : Aturan A (A-Law) : PCM 30 Eropa terdiri atas 3 segmen Aturan u (u Law) : PCM 4 AS & Jepang terdiri atas 5 segmen

7 Kuantisasi Companding A-law µ-law

8 Pengkodean Pengkodean Pengkodean adalah proses mengubah (mengkodekan) besaran amplitudo sampling ke bentuk kode digital biner. Pemrosesan dilakukan secara elektronik oleh perangkat encoding menjadi 8 bit word PCM yang merepresentasikan level hasil kuantisasi yang sudah ditentukan yaitu dari 7 sampai dengan +7 interval kuantisasi. yaitu dari 7 sampai dengan +7 Keterangan : Bit paling kiri dari word PCM jika = menyatakan level positif dan jika = 0 berarti level negatif. Pengkodean menghasilkan total 56 beda sampling (56 subsegmen) yang memerlukan 8 bit (8 = 56) M S S S A A A A M = Mark atau tanda level = amplitudo positif 0 = amplitudo negative S = Segmen 000 = segmen 0 00 = segmen.. = segmen 7 A = sub-segmen 0000 = 0.. = 5 µ-law

9 Pengkodean

10 Multipleksing Multipleksing Fungsi : - Untuk penghematan transmisi - Menjadi dasar penyambungna digital TDM digunakan dalam pentransmisian sinyal digital. Sinyal suara (analog) diubah dalam bentuk digital melalui proses sampling dan coding, setelah itu baru di multiplex. LPF Sam pling Kuantis asi Coding M ultiple k sing LPF Sam pling Kuantis asi Coding LPF Sam pling Kuantis asi Coding

11 KARAKTERISTIK PCM Aturan dasar Rekomendasi CCITT G.73 : PCM 30 mengkobinasikan 30 kanal bicara pada satu jalur highway dengan bitrate 048 Kbps Rekomendasi CCITT G.733 : PCM 4 mengkobinasikan 4 kanal bicara pada satu jalur highway dengan bitrate 544 Kbps Keduanya merupakan rekomendasi dasar atau basic struktur PCM yang disebut juga dengan Primary Transmission System atau Primary Digital Carrier (PDC) Persamaan PCM 30 dengan PCM 4 Frekuensi Sampling Jumlah sampling per time slot Periode pulse frame Jumlah bit dalam time-slot Bit rate per time-slot : 8 KHz : 8000 sample/detik : T = /f = 5 usec : 8 bit : 8000 x 8 = 64 Kbps

12 KARAKTERISTIK PCM Perbedaan PCM 30 dengan PCM 4 o Parameter PCM 30 PCM 4 Coding/Encoding A law µ law Jumlah segment 3 segment 5 segment 3 Jumlah ts / frame 3 ts 4 ts 4 Jumlah bit / frame 8 x 3 = 56 8 x 4 + = 93 5 Periode ts 5 us/3 = 3,9 us 5 us/4 = 5, us 6 Bitrate / frame 048 Kbps 544 Kbps 7 Signalling (CAS) Dikumpulkan pada ts 6 setiap 6 frame ( Kbps) bit perkanal setiap 6 frame (,3 Kbps) 8 Signaling (CCS) 8 bit pada ts 6 (64 Kbps) 9 Pola frame alignment 7 bit pada ts0 setiap frame ganjil bit pada setiap frame genap (4 Kbps) bit tersebar pada setiap frame ganjil 0 Pengkodean saluran HDB3 atau 4B3T ADI / AMI

13 Pulse frame PCM Pulse Frame PCM30 Satu pulse frame PCM30 terdiri dari 3 time slot (3 ts). 30 ts dipakai untuk kanal telepon, satu ts (ts0) mempunyai fungsi yang dipakai secara bergantian pada satu multi frame. Satu multi frame terdiri dari 6 frame (frame 0 sampai dengan frame 5) Ts0 pada frame 0,, 4 s.d 4 digunakan untuk menandai awal pulse frame yang disebut dengan Frame Alignment Signal (FAS) dengan kode X000 Ts0 pada frame, 3, 5 s.d 5 digunakan sebagai service word untuk mengirimkan pesanpesan alarm dengan kode XDYYYYY Satu ts lainnya (ts6) pada frame,, 3 s.d 5 digunakan untuk memproses Line Signalling seperti pulsa dial, answer signal, release signal, dll yaitu signal yang termasuk dalam kategori Channel Associated Signalling (CAS). Sedangkan ts6 pada frame-0, khusus digunakan untuk Common Channel Signalling (CCS) Susunan bit pada ts 0 Time slot 0 sebagai Frame Alignment Signal (FAS) Bit ke Kode Biner X Bit ke-7 = X sampai saat ini belum digunakan boleh 0 atau, disediakan untuk kode internasional Bit ke-6 s.d 0 : Diisi data 000 digunakan sebagai kode awal dari urutan frame Time Slot 0 sebagai byte Service Word Bit ke Kode Biner X D Y Y Y Y Y Bit ke-7 = X belum digunakan, untuk kode Internasional Bit ke-6 = kode ini selalu, untuk membedakan FAS dengan Service Word Bit ke-5 = D Digunakan untuk kode alarm urgent secara Internasional Jika D = 0 artinya kondisi baik (tidak ada alarm) Jika D = artinya terjadi alarm, mungkin catuan hilang tapi signal masih muncul, CODEC rusak, jejak frame hilang, Frame Alignment salah, dll Bit ke-4 s.d 0 (Y) disediakan untuk pemakaian setempat (pemakaian nasional)

14 Multiframe PCM Multiframe Multiframe adalah deretan 6 buah frame PCM30 (frame 0 s.d 5) digunakan untuk membentuk jalur 30 buah trunk digital Satu frame (pulse frame) mempunyai panjang waktu 5 us berisi 3 ts. Panjang waktu satu multi frame = 6 x 5 us = mdetik Multiframe diperlukan karena dalam proses signaling CAS memerlukan time-slot khusus untuk dapat mengirimkan Line Signalling seperti pulsa 60 mdetik dan 40 mdetik dari signal dekadik, seizing, atau clear signal dll. Umumnya satu jalur pelanggan memerlukan satu time slot sendiri untuk signalling atau bisa juga bersifat common (pemakaian bersama). Time Slot yang digunakan hanya satu time slot yaitu time slot 6 dari setiap frame PCM30 dalam satu multi frame. Satu multi frame PCM30 ada 6 time slot yang digunakan untuk signalling (yaitu ts 6 ini dibagi menjadi bagian yang masing-masing terdiri dari 4 bit ( nible) bit a b c d, yang digunakan kiri dan kanan dari setiap frame. Sehingga 6 buah time slot tersebut sudah melebihi untuk digunakan sebagai signalling CAS Satu ts6 dipakai oleh pensinyalan kanal telepon, sehingga untuk 30 kanal telepon diperlukan 5 buah ts6. satu ts 6 sisanya digunakan sebagai Multiframe Alignment Signal (MAS) yaitu ts6 pada frame 0 omer Frame 0 Susunan ts 6 untuk CAS bit - 4 a b c d MAS ( ) Signalling untuk kanal Signalling untuk kanal Signalling untuk kanal 5 Alokasi bit ts 6 bit 5-8 a b c d LOSS OF MAS (D D X X) Signalling untuk kanal 6 Signalling untuk kanal 7 Signalling untuk kanal 30 D kondisi normal = 0, akan berubah menjadi = bila terjadi kehilangan Multi Frame Alignment Signal X belum dipakai dan biasanya diset =

15 Multiframe PCM Multiframe Pada PCM 30 5 µ s FRAME 0 TS 0 TS TS TS 6 TS 30 TS 3 FAW FRAME ALARM Bit Inform asi FRAME FAW MFAW atau signalling FRAME 3 ALARM FAW pada fram e genap a b c d a b c d CH. 3 CH. 8 0 Alarm Signal pada fram e Ganjil FRAME 4 FAW FRAME 5 ALARM

16 Orde Transmisi Digital Orde Tingkat Tinggi Transmisi Digital Dengan cara multiplexing jumlah kanal (time-slot) per highway dapat ditingkatkan. Umumnya faktor perkalian yang digunakan adalah 4 yaitu 4 x PDC, 4 x SDC dan seterusnya. CCITT merekomendasikan sistem transmisi orde tingkat tinggi sebagai berikut : Hirarki transmisi digital TDM LEVEL GROSS RATE MBIT/S KAPASITAS KAAL 64 KBIT/S SISTEM TRASMISI YAG AVAILABLE,048 () 30 8,448 (8) ,368 (34) ,64 (40) 960 Symmetric pair cable Transverse screened copper cable Microwave radio Carrier copper cable Optical fibre Microwave radio Coaxial cable Optical fibre Microwave radio Microwave radio Coaxial cable Optical fibre 5 563,99 (565) 7840 Optical fibre

17 Contoh soal Contoh Soal. Jika waktu yang diperlukan multiframe 5 µs dan waktu per timeslot 44 nsec. Berapa jumlah timeslot dalam frame tersebut?. Duatu sinyal sampling PCM 30 beramplitudo positif, terletak pada segmen ke-5 dan subsegmen ke-5, ditanyakan : a). Berapa kode PCM word-nya? b). Berapa bit rate kanalnya? c). Berapa panjang frmae-nya? d). Berapa panjang waktu satu multiframenya?

18 Contoh soal Contoh Soal. Jika waktu yang diperlukan multiframe 5 µs dan waktu per timeslot 44 nsec. Berapa jumlah timeslot dalam frame tersebut? Jawaban Diketahui : t multiframe = 5 ms t timeslot = 44 nsec Penyelesaian : multiframe = 6 frame PCM 5µ s t frame = = 7,85µ s 6 ts/frame = 7,85µ s = 3 timeslot 44 nsec. Duatu sinyal sampling PCM 30 beramplitudo positif, terletak pada segmen ke-5 dan subsegmen ke-5, ditanyakan : a). Berapa kode PCM word-nya? b). Berapa bit rate kanalnya? c). Berapa panjang frmae-nya? d). Berapa panjang waktu satu multiframenya? Jawaban : a). PCM word : 0 b). Bit rate kanal PCM ; 8000 x 8 x 3 =.048 Kbps c). T frame = 5 µs/3 = 3,9 µs d). T multiframe = 6 x 5 µs = milidetik atau dengan cara lain : 5µ s ts multiframe = 44 nsec timeslot frame = 5 6 = 3 timeslot

19 Penyusunan Matriks dan Perhitungan Jumlah Crosspoint Pendahuluan Elemen dasar switching matriks adalah switch. Switch dengan n terminal input dan n terminal output adalah jika setiap inlet pada n terminal input dapat disambungkan dengan setiap outlet pada m terminal output atau disebut sebagai switch n x m (n x m switch). Switching matriks yang paling sederhana adalah matriks satu tingkat (single stage switching matrix) a. Matrik segitiga X ( ) = X = ( ) b. Matrik Bujur sangkar Kelemahan matrik tunggal : Jumlah cross point sangat besar jika jumlah inlet/outlet bertambah Capasitive loading yang timbul pada jalur bicara akan besar Satu cross point dipakai khusus untuk hubungan yang spesifik. Jika cross point tersebut terganggu maka hubungan tidak dapat dilakukan (block). Kecuali pada matrik bujur sangkar, tetapi harus dilakukan modifikasi algoritma pemilihan jalur dari inlet oriented ke outlet oriented Pemakaian cross point tidak efisien, karena dalam setiap baris/kolom haya cross point saja yang dipakai. Untuk mengatasi kelemahan matrik tunggal, maka digunakanlah switching netork bertingkat (multiple stage switching) 3 3 c. Full interconnection crosspoint = X x

20 Penyusunan Matriks dan Perhitungan Jumlah Crosspoint multistage switch /n array k array /n array n.k /n./n k.n inlet n.k /n./n k.n outlet n.k /n./n k.n X = jumlah crosspoint total = jumlah inlet/outlet n = ukuran dari setiap switch block atau setiap group inlet/outlet K = jumlah array tengah X = n n n ( n k ) + k + ( n k) k + k n n X = ()

21 Sifat Multistage Sifat yang menarik dari matrik tunggal adalah ia bersifat non-blocking sedangkan pada S bertingkat dimana pemakaian cross point secara sharing maka memunculkan kemungkinan blocking Agar S bertingkat bersifat non-blocking, Charles Clos dari Bell Laboratories telah menganalisa berapa jumlah matrik pada center stage yang diperlukan. k k = n = ( n ) + ( n ) + = n (min.) X = ( n ) + ( n ) () n d / X = 0 dn = n (3) (3) () Jumlah crosspoint minimum : x = 4 ( )

22 Penyusunan Matriks dan Perhitungan Jumlah Crosspoint soal Matrik tunggal Bila diketahui suatu switching network mempunyai group inlet dan outlet = 00, jumlah inlet dan outletnya 000 se-dangkan jumlah array tengahnya = 0, hitung jumlah matrik bila disusun dalam matrik tunggal dan matrik 3 tingkat. Full Connection Switch X Segitiga ( - )/ M. Bujur sangkar (-) Jawaban Diketahui : n = 00 = 000 k = 0 Matrik 3 tingkat x 0 0 x 0 0 x x 0 0 x x 0 0 x 0 0 x 00 00

23 Penyusunan Matriks dan Perhitungan Jumlah Crosspoint soal Matrik tunggal Bila diketahui suatu switching network mempunyai group inlet dan outlet = 00, jumlah inlet dan outletnya 000 se-dangkan jumlah array tengahnya = 0, hitung jumlah matrik bila disusun dalam matrik tunggal dan matrik 3 tingkat. Jawaban Full Connection Switch Segitiga M. Bujur sangkar X ( - )/ (-) x = x x = (-)/ x = (-) = 0 3 x 0 3 = 0 3 (0 3 -)/ = 0 3 (0 3 -) = 0 6 cp = 499,5 x 0 3 cp = 949 x 0 3 cp Diketahui : n = 00 = 000 k = 0 Matrik 3 tingkat x 0 0 x 0 0 x x 0 0 x x = k + k (/n) = x 0 3 x (0 3 /0 ) = x 0 3 cp x 0 0 x 0 0 x 00 00

24 Penyusunan Matriks dan Perhitungan Jumlah Crosspoint soal Bila diketahui suatu switching network mempunyai group inlet dan outlet = 00, jumlah inlet dan outletnya 000 se-dangkan jumlah array tengahnya = 0, hi-tung jumlah matrik bila disusun dalam matrik tunggal dan matrik 3 tingkat. Diketahui : n = 00 = 000 k = 0

25 Penyusunan Matriks dan Perhitungan Jumlah Crosspoint soal Bila diketahui suatu switching network mempunyai group inlet dan outlet = 00, jumlah inlet dan outletnya 000 se-dangkan jumlah array tengahnya = 0, hi-tung jumlah matrik bila disusun dalam matrik tunggal dan matrik 3 tingkat. Jawaban Diketahui : n = 00 = 000 k = 0 Matrik tunggal x = x x = (-)/ x = (-) = 0 3 x 0 3 = 0 3 (0 3 -)/ = 0 3 (0 3 -) = 0 6 cp = 499,5 x 0 3 cp = 999 x 0 3 cp Full Connection Switch Segitiga M. Bujur sangkar X ( - )/ (-)

26 Penyusunan Matriks dan Perhitungan Jumlah Crosspoint soal Bila diketahui suatu switching network mempunyai group inlet dan outlet = 00, jumlah inlet dan outletnya 000 se-dangkan jumlah array tengahnya = 0, hi-tung jumlah matrik bila disusun dalam matrik tunggal dan matrik 3 tingkat. Jawaban Diketahui : n = 00 = 000 k = x 0 00 x 0 0 x 0 Matrik 3 tingkat 0 x 00 0 x x = k + k (/n) = x 0 3 x (0 3 /0 ) = x 0 3 cp x 0 0 x 0 0 x 00 00

27 Penyusunan Matriks dan Perhitungan Jumlah Crosspoint soal Diketahui suatu switching network yang bersifat non-blocking mempunyai jumlah inlet/outlet () sebanyak 5000 saluran, tentukan : Jumlah group inlet/outletnya Jumlah array tengahnya (k) Gambar switch Jumlah Crosspoint totalnya

28 5000 = Jawaban : a. n = = ( 500) = 50 b. k = n = ( x 50 ) = 00 = 99 c. Jumlah inlet/outlet switch () = 5000 Jumlah group inlet/outlet (n) = 50 Jumlah array tengah (k) = 99 ( ) ( ) d. = 4 = 4x5000 x5000 = 4x5000( 00 ) = cp X

29 50 50 x 99 00x00 99 x x 99 00x00 99 x

30 Penyusunan Matriks dan Perhitungan Jumlah Crosspoint soal 3 Suatu switching etwork berting-kat-3 mempunyai kapasitas 600 saluran pelanggan, 300 saluran untuk trunk dan 00 saluran untuk kebutuhan lainnya. Jika dipilih tiap group inlet/outletnya = 40, bersifat non-blocking : a. Gambarkan switching networknya b. Jumlah crosspoint switch tersebut

31 Diketahui : = = 000 n = 40 k = n = x 40 - = 79 a. Gambar Switching etwork x 79 5 x 5 79 x x 79 5 x 5 79 x ( ) = 4x000( x000 ) 74. cp b. X = 4 = 885

32 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH Switching non blocking memang dibutuhkan oleh hubungan telepon. Tetapi dengan alasan ekonomis dalam implementasi pada jaringan, kapasitasnya dibatasi pada jamjam trafik sibuk (puncak). Umumnya peralatan telepon didesain dengan memberikan probabilitas blocking maksimum pada jam sibuk. ilai probabilitas blocking ini merupakan salah satu aspek dari Grade of Service (aspek lainnya dari GOS adalah : availability, transmission quality, delay pada panggilan). Salah satu konsep penghitungan probabilitas blocking yaitu metode probability graph C.Y Lee. x x m 0 m 0 y x a) S tiga tingkat y x 0 m y b) S empat tingkat

33 Metode ini menggunakan analisis matematis linier graph (grafik linier) yang terdiri dari node-node untuk menyatakan tingkat switching (stage) dan garis cabang untuk menyatakan link antar stage. Linier graph menyatakan kemungkinan semua jalur yang dapat ditempuh dari suatu inlet pada stage pertama ke suatu outlet yang berada pada output stage terakhir secara point to point Metode Lee dipakai untuk menentukan probabilitas blocking berbagai struktur switching dengan menggunakan prosentase pemakaian link atau beban link individual. otasi p menyatakan bagian dari waktu dimana suatu link sedang dipakai (p = probabilitas link sibuk). Dan probabilitas link bebas (idle) dinyatakan dengan x x m 0 m 0 y x a) S tiga tingkat y x 0 m y b) S empat tingkat

34 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH Link Tunggal Pada gambar diatas, misal beban yang dibawa adalah a Erlang, maka probabilitas link sibuk p = a, probabilitas link bebas q =- p =- a Maka probabilitas semua link sibuk atau probabilitas blocking B = p = a (karena jumlah link hanya satu).

35 Link Paralel Probabilitas link sibuk p = a Probabilitas kedua link sibuk bersamaan : B = p Probabilitas memperoleh link yang bebas : Q = p Jika ada n buah link paralel maka : B = p Q = - p

36 Link Seri x P q = - p P q = - p y Untuk menghubungkan inlet x ke outlet y, diperlukan kedua link diatas secara bersamaan. Probabilitas memperoleh hubung Q B B = q. q = = Q = q q ( p )( p )

37 Secara umum untuk sistem dengan n buah link seri : ( ) ) ( a t q B n i i q Q = = = = q B q Q Atau q B q Q q q q Jika = = = = = =

38 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH Probabilitas Blocking Linier Graph dari S tiga tingkat B = p' β k p p' p' p' p' p n p' = p k maka p' = p β dimana β = k / n Probabilitas semua jalur sibuk : B = ( q' ) k dimana ; q' = p' = β = p β k n p' p' k p'

39 Penurunan persamaan probabilitas blocking 3 tingkat : P' P' Q = q. q = ( P) ( P) B = qq = - ( P) ( P) P P' P' P B = ( qq) = { - ( P) ( P) } P P' k P' P P = P = P q = q = q Q = (q ) = ( P ) ( P ) = ( P ) B = - ( P ) B = { - ( P ) } k p ' B = { - ( β ) } k P = β p

40 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH Probabilitas blocking Switching etwork 5 tingkat n x k n x k x k x n nn nn nx k n n n n n n n n n n B = { q five stage sw itching netw ork } k k [ ( ) ] q dimana : q = P q = P

41 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH P P Probabilitas blocking Switching etwork 5 tingkat Q A = (q ) B A = - (q ) P = n p k n k P P n P = p k A k B P = n p k A k B P P P P P B k B = ( (q ) ) Q B = ( (q ) ) k A k P P B k ( q ) q q k P P Q C = (q ) ( (q ) ) k B C = - (q ) ( (q ) ) k k ( q ) P q q A k P P B k B = { ( q ) ( ( ( q ) ) )} k k

42 P P Q A = (q ) B A = - (q ) ( ) k ( q ) q Q C = (q ) ( (q ) ) k B C = - (q ) ( (q ) ) k (3) q k A P P k B B B = ( (q ) ) k Q B = ( (q ) ) k B () k ( q ) q q B = { ( ) ( ( ( ) ) k )} q q k

43 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH soal : Jika diketahui blocking dari suatu switch bertingkat tiga adalah 0,00 dan kemungkinan inlet idle adalah 0,9, besarnya factor konsentrator (β) = 0,33 maka hitunglah : Berapa kebutuhan ilai k (array tengah) Berapa kubutuhan Ukuran group inlet /outletnya Jumlah crosspoint jika diketahui jumlah inlet/ouletnya 048

44 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH soal : Jika diketahui blocking dari suatu switch bertingkat tiga adalah 0,00 dan kemungkinan inlet idle adalah 0,9, besarnya factor konsentrator (β) = 0,33 maka hitunglah : Berapa kebutuhan ilai k (array tengah) Berapa kubutuhan Ukuran group inlet /outletnya Jumlah crosspoint jika diketahui jumlah inlet/ouletnya 048 Jawaban a. q = 0,9 shg. P = q = 0,9 = 0, B = ( ( P/β) ) k 0,00 = ( ( 0,/0,33) ) k = (0,537) k -,69 = -0,7k k = 9,996 0 b. β = k/n n = 0/0,33 = 3,9 3 c. X = k + k (/n) = (048) (0) + (0) (048/3) = = 8.90 cp

45 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH Hitung probabilitas blocking total jika diketahui P = 0, dan P = 0, P P A k = 8 P B P k = 8 P P A B

46 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH Hitung probabilitas blocking total jika diketahui P = 0, dan P = 0, A P P k = 8 P P k = 8 P P B A B Jawaban : Langsung menggunakan rumus probabilitas blocking : q = P = 0,9 = 0, q = P = 0, = 0,8 B total = { - (q) ( - ( (q) ) k ) } k = { (0,9)(-(- (0,8) ) 8 } 8 = { 0,8 ( - (0,36)) 8 } 8 = { (o,9) (0,999)} 8 = (0,899) 8 =,69 x 0-6

47 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH Hitung probabilitas blocking total jika diketahui P = 0, dan P = 0, P P P P k = 8 A k = 8 P P B Q = (q ) = ( P) ( P) = (0,8)(0,8) = 0,64 P P A P P B A k = 8 B B = ( q ) k = ( 0,64) 8 = (0,36) 8 =,8 x 0-4 Q = B =,8 x 0-4 = 0,99999 = ( ) k q P P Q = ( - P )( P ) ( -( q ) k ) = 0,9 x 0,9 x = 0,8 B = - Q = 0,8 = 0,9 B total = ( Q ) 8 = ( 0,9 ) 8 =,6798 x 0-6

48 The end

49 PROBABILITAS BLOCKIG LEE GRAPH Hitung probabilitas blocking total jika diketahui P = 0, dan P = 0, P P P P A k = 8 P P B Q = (q ) = ( P) ( P) = (0,8)(0,8) = 0,64 k = 8 P P P P A B A k = 8 B Jawaban : Langsung menggunakan rumus probabilitas blocking : q = P = 0,9 = 0, q = P = 0, = 0,8 B total = { - (q) ( - ( (q) ) k ) } k = { (0,9)(-(- (0,8) ) 8 } 8 = { 0,8 ( - (0,36)) 8 } 8 = { (o,9) (0,999)} 8 = (0,899) 8 =,69 x 0-6 B = ( q ) k = ( 0,64) 8 = (0,36) 8 =,8 x 0-4 Q = B =,8 x 0-4 = 0,99999 k ( q ) P P Q = ( - P )( P ) ( -( q ) k ) = 0,9 x 0,9 x = 0,8 B = - Q = 0,8 = 0,9 B total = ( Q ) 8 = ( 0,9 ) 8 =,6798 x 0-6

TEKNIK SWITCHING SWITCHING BERTINGKAT DAN PROBABILITAS BLOCKING

TEKNIK SWITCHING SWITCHING BERTINGKAT DAN PROBABILITAS BLOCKING TEKIK SWITCHIG SWITCHIG BERTIGKT D PROBBILITS BLOCKIG Pendahuluan SYRT S BERTIGKT :. Trafik harus digital. Trafik atau informasi (dari user terminal masuk di time slot tertentu pada frame (highway) tertentu.

Lebih terperinci

MULTIPLEX PDH ( PLESIOCHRONOUS DIGITAL HIERARCHY) ISSUED

MULTIPLEX PDH ( PLESIOCHRONOUS DIGITAL HIERARCHY) ISSUED ISSUED - 4/17/2004 1 MULTIPLEX PDH ( PLESIOCHRONOUS DIGITAL HIERARCHY) ISSUED - 4/17/2004 2 Mux Dig Order- 1 (PCM) 1 Mux Dig Order-3 Mux Dig Order- 2 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Mux Dig Order- 4 BR = 139.264

Lebih terperinci

PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN TEKNOLOGI

PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN TEKNOLOGI Kata Pengantar Pertama patutlah kita mengucap syukur pada Tuhan yang maha kuasa sehingga kita dapat kesempatan untuk menyusun makalah Switching dan signaling.

Lebih terperinci

Sistem Transmisi Telekomunikasi Kuliah 2 Penjamakan Digital

Sistem Transmisi Telekomunikasi Kuliah 2 Penjamakan Digital TKE 8329W Sistem Transmisi Telekomunikasi Kuliah 2 Penjamakan Digital Indah Susilawati, S.T., M.Eng. Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana Yogyakarta 2009

Lebih terperinci

BAB II WIDE AREA NETWORK

BAB II WIDE AREA NETWORK BAB II WIDE AREA NETWORK Wide Area Network adalah sebuah jaringan komunikasi data yang mencakup daerah geographi yang cukup besar dan menggunakan fasilitas transmisi yang disediakan oleh perusahaan telekomunikasi.

Lebih terperinci

DTG2F3. Sistem Komunikasi. Siskom Digital ADC, SOURCE CODING, MULTIPLEXING. By : Dwi Andi Nurmantris

DTG2F3. Sistem Komunikasi. Siskom Digital ADC, SOURCE CODING, MULTIPLEXING. By : Dwi Andi Nurmantris DTG2F3 Sistem Komunikasi Siskom Digital ADC, SOURCE CODING, MULTIPLEXING By : Dwi Andi Nurmantris Where We Are? OUTLINE SISKOM DIGITAL ADC, SOURCE CODING, MULTIPLEXING 1. Analog to Digital Convertion (ADC

Lebih terperinci

Sistem Telekomunikasi Switching And Signaling

Sistem Telekomunikasi Switching And Signaling Sistem Telekomunikasi Switching And Signaling Dibuat Oleh Hardy Saerang (10310766) FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MANADO UNIMA KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha

Lebih terperinci

TEKNIK SWITCHING SWITCHING BERTINGKAT DAN PROBABILITAS BLOCKING

TEKNIK SWITCHING SWITCHING BERTINGKAT DAN PROBABILITAS BLOCKING TEKNIK SWITCHING SWITCHING BERTINGKAT DAN PROBABILITAS BLOCKING Pendahuluan Frame... highway MASUK.......... highway highway n KELUAR TS 0 TS TS k a. Trafik harus digital b. Trafik atau informasi (dari

Lebih terperinci

Modul #10 ADC / PCM. Program Studi S1 Teknik Telekomunikasi Departemen Teknik Elektro - Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung 2007

Modul #10 ADC / PCM. Program Studi S1 Teknik Telekomunikasi Departemen Teknik Elektro - Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung 2007 Modul #10 TE3113 SISTEM KOMUNIKASI 1 ADC / PCM (ANALOG TO DIGITAL CONVERTER / PULSE CODE MODULATION) Program Studi S1 Teknik Telekomunikasi Departemen Teknik Elektro - Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung

Lebih terperinci

Latihan Soal dan Pembahasan SOAL A

Latihan Soal dan Pembahasan SOAL A Latihan Soal dan Pembahasan SOAL A 1. Jelaskan jenis-jenis modulasi digital? 2. Apa keuntungan modulasi FM jika dibandingkan dengan modulasi AM? 3. Sebutkan interface mux SDH dan dapan menampung sinyal

Lebih terperinci

Frequency Division Multiplexing

Frequency Division Multiplexing Multiplexing 1 Multiplexing 2 Frequency Division Multiplexing FDM Sinyal yang dimodulasi memerlukan bandwidth tertentu yang dipusatkan di sekitar frekuensi pembawa disebut channel Setiap sinyal dimodulasi

Lebih terperinci

GRIFALEN WESTREENEN NIM: KLS/SEM:C/SEM IV

GRIFALEN WESTREENEN NIM: KLS/SEM:C/SEM IV M.K SISTEM TELEKOMUNIKASI MATA KULIAH SISTEM TELEKOMUNIKASI UNIVERSITAS NEGERI MANADO KATA PENGANTAR S egala puji syukur kami naikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan karunia-nya makalah Sistem

Lebih terperinci

Jaringan Komputer Multiplexing

Jaringan Komputer Multiplexing Jaringan Komputer Multiplexing Multiplexing Frequency Division Multiplexing FDM Bandwidth yang bisa digunakan dari suatu media melebihi bandwidth yang diperlukan dari suatu channel Setiap sinyal dimodulasi

Lebih terperinci

Dasar Sinyal S1 TEKNIK TELEKOMUNIKASI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELEMATIKA TELKOM PURWOKERTO 2015

Dasar Sinyal S1 TEKNIK TELEKOMUNIKASI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELEMATIKA TELKOM PURWOKERTO 2015 Dasar Sinyal S1 TEKNIK TELEKOMUNIKASI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELEMATIKA TELKOM PURWOKERTO 2015 Apakah sinyal itu? Suatu besaran fisis yang berubah seiring dengan waktu, ruang atau beberapa variabel Kuantitas

Lebih terperinci

MULTIPLEKS VI.1 PENGERTIAN UMUM

MULTIPLEKS VI.1 PENGERTIAN UMUM VI. MULTIPLEKS VI.1 PENGERTIAN UMUM Yang dimaksud Multiplex (Penggandaan) disini adalah penggandaan terhadap kanal informasi yang akan ditransmisikan. Penggandaan kanal ini menghasilkan multikanal (kanal

Lebih terperinci

Setelah mempelajari bagian ini diharapkan dapat: Memahami prinsip switching mekanik pada telepon Memahami prinsip switching elektronik pada telepon

Setelah mempelajari bagian ini diharapkan dapat: Memahami prinsip switching mekanik pada telepon Memahami prinsip switching elektronik pada telepon Setelah mempelajari bagian ini diharapkan dapat: Memahami prinsip switching mekanik pada telepon Memahami prinsip switching elektronik pada telepon Menjelaskan terjadinya sambungan secara mekanik pada

Lebih terperinci

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 5 Modulasi Pulsa

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 5 Modulasi Pulsa TKE 2102 TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR Kuliah 5 Modulasi Pulsa Indah Susilawati, S.T., M.Eng. Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana Yogyakarta 2009 B A B

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DATA SUSMINI INDRIANI LESTARININGATI, M.T

KOMUNIKASI DATA SUSMINI INDRIANI LESTARININGATI, M.T Konversi Data Analog ke Sinyal Digital Proses transformasi data analog ke digital dikenal sebagai digitalisasi. Tiga hal yang paling umum terjadi setelah proses digitalisasi adalah: 1. Data digital dapat

Lebih terperinci

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Nila Feby Puspitasari

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Nila Feby Puspitasari STMIK AMIKOM YOGYAKARTA Oleh : Nila Feby Puspitasari Data digital, sinyal digital - Merupakan bentuk paling sederhana dari pengkodean digital - Data digital ditetapkan satu level tegangan untuk biner satu

Lebih terperinci

Modul 3 Teknik Switching dan Multiplexing

Modul 3 Teknik Switching dan Multiplexing Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Modul 3 Teknik Switching dan Multiplexing Prima Kristalina PENS (November 2014) 1. Teknik Switching a. Circuit-Switching dan Packet-Switching b.jenis sambungan pada

Lebih terperinci

TEKNIK SWITCHING Perkembangan Teknologi Switching Manual System) Step By Step System Common Control System Stored Program Controlled

TEKNIK SWITCHING Perkembangan Teknologi Switching Manual System) Step By Step System Common Control System Stored Program Controlled TEKIK SWITCHIG Perkembangan Teknologi Switching - Sentral telepon manual (Manual System) dibangun pertama kali tahun 878 di Connecticut. - Tahun 89 ditemukan sistem sentral yang langsung dikendalikan pesawat

Lebih terperinci

BAB II TEKNIK PENGKODEAN

BAB II TEKNIK PENGKODEAN BAB II TEKNIK PENGKODEAN 2.1 Pendahuluan Pengkodean karakter, kadang disebut penyandian karakter, terdiri dari kode yang memasangkan karakter berurutan dari suatu kumpulan dengan sesuatu yang lain. Seperti

Lebih terperinci

Rijal Fadilah. Transmisi & Modulasi

Rijal Fadilah. Transmisi & Modulasi Rijal Fadilah Transmisi & Modulasi Pendahuluan Sebuah sistem komunikasi merupakan suatu sistem dimana informasi disampaikan dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya tempat A yang terletak ditempat yang

Lebih terperinci

Bab 9. Circuit Switching

Bab 9. Circuit Switching 1/total Outline Konsep Circuit Switching Model Circuit Switching Elemen-Elemen Circuit Switching Routing dan Alternate Routing Signaling Control Signaling Modes Signaling System 2/total Jaringan Switching

Lebih terperinci

Modulasi adalah proses modifikasi sinyal carrier terhadap sinyal input Sinyal informasi (suara, gambar, data), agar dapat dikirim ke tempat lain, siny

Modulasi adalah proses modifikasi sinyal carrier terhadap sinyal input Sinyal informasi (suara, gambar, data), agar dapat dikirim ke tempat lain, siny Modulasi Modulasi adalah proses modifikasi sinyal carrier terhadap sinyal input Sinyal informasi (suara, gambar, data), agar dapat dikirim ke tempat lain, sinyal tersebut harus ditumpangkan pada sinyal

Lebih terperinci

SISTEM TELEKOMUNIKASI

SISTEM TELEKOMUNIKASI SISTEM TELEKOMUNIKASI SWITCHING AND SIGNALING Nadia A. Rumimpunu PTI-K FAKULTAS TEKNIK Kata Pengantar Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan segala kemudahan kepada saya sehingga dapat

Lebih terperinci

BAB V SIGNALING. (CAS dan CCS7 Lihat Software) Oleh : Suherman, ST.

BAB V SIGNALING. (CAS dan CCS7 Lihat Software) Oleh : Suherman, ST. BAB V SIGNALING (CAS dan CCS7 Lihat Software) Oleh : Suherman, ST. Signaling Telepon Analog Signaling pada telepon analog adalah sinyal-sinyal yang terdengar pada saat melakukan panggilan telepon selain

Lebih terperinci

Powered by Upload By - Vj Afive -

Powered by  Upload By - Vj Afive - Powered by http://teuinsuska2009.wordpress.com Upload By - Vj Afive - Powered by http://teuinsuska2009.wordpress.com Upload By - Vj Afive - Hubungan Langsung tanpa Switching Hubungan antar 2 pelanggan

Lebih terperinci

BAB II DIGITISASI DAN TRANSMISI SUARA. 16Hz 20 khz, yang dikenal sebagai frekwensi audio. Suara menghasilkan

BAB II DIGITISASI DAN TRANSMISI SUARA. 16Hz 20 khz, yang dikenal sebagai frekwensi audio. Suara menghasilkan BAB II DIGITISASI DAN TRANSMISI SUARA 2.1 Umum Telinga manusia memiliki kemampuan menerima frekwensi dalam kisaran 16Hz 20 khz, yang dikenal sebagai frekwensi audio. Suara menghasilkan frekwensi yang sempit

Lebih terperinci

1.2 Rumusan Masalah Permasalahan-permasalahan yang perlu dirumuskan untuk akhirnya dapat

1.2 Rumusan Masalah Permasalahan-permasalahan yang perlu dirumuskan untuk akhirnya dapat Analisis Distorsi Pentransmisian Sinyal PCM (Pulse Code Modulation) 30/32 Pada Saluran Telepon Tetap Yang Berperilaku Sebagai LPF (Low Pass Filter). Oleh: Sigit Kusmaryanto, Ir, M.Eng Diketahui bahwa saluran

Lebih terperinci

BAB 3 REBALANCING GPRS TIME SLOT (GTS) TRAFFIC DATA GSM 900 MHZ

BAB 3 REBALANCING GPRS TIME SLOT (GTS) TRAFFIC DATA GSM 900 MHZ BAB 3 REBALANCING GPRS TIME SLOT (GTS) TRAFFIC DATA GSM 900 MHZ 3.1 Trafik dan Kanal Dalam jaringan telekomunikasi, pola kedatangan panggilan (voice ataupun data) dan pola pendudukan dideskripsikan dengan

Lebih terperinci

Rijal Fadilah. Transmisi Data

Rijal Fadilah. Transmisi Data Rijal Fadilah Transmisi Data Review Sistem Komunikasi Data Entitas yg melambangkan suatu pengertian Jenis : data analog & data digital Signal / Sinyal Suatu bentuk/cara utk menyalurkan data Jenis : signal

Lebih terperinci

Komputer, terminal, telephone, dsb

Komputer, terminal, telephone, dsb Circuit Switching Jaringan Switching Transmisi jarak jauh melalui simpul-simpul jaringan switching perantara Simpul switching tidak berkaitan dengan isi data Perangkat yang melakukan komunikasi disebut

Lebih terperinci

SISTEM TELEKOMUNIKASI

SISTEM TELEKOMUNIKASI SWITCHING AND SIGNALING Renaldi Mandolang PTI-K Kata Pengantar Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan segala kemudahan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dgn lancar.

Lebih terperinci

Teknik Sistem Komunikasi 1 BAB I PENDAHULUAN

Teknik Sistem Komunikasi 1 BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Model Sistem Komunikasi Sinyal listrik digunakan dalam sistem komunikasi karena relatif gampang dikontrol. Sistem komunikasi listrik ini mempekerjakan sinyal listrik untuk membawa

Lebih terperinci

PERCOBAAN I. ENCODER DAN DECODER PCM (Pulse Code Modulation)

PERCOBAAN I. ENCODER DAN DECODER PCM (Pulse Code Modulation) 1. Tujuan Percobaan : PERCOBAAN I ENCODER DAN DECODER PCM (Pulse Code Modulation) Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan secara praktis proses konversi sinyal DC menjadi

Lebih terperinci

BAB IV SINYAL DAN MODULASI

BAB IV SINYAL DAN MODULASI DIKTAT MATA KULIAH KOMUNIKASI DATA BAB IV SINYAL DAN MODULASI IF Pengertian Sinyal Untuk menyalurkan data dari satu tempat ke tempat yang lain, data akan diubah menjadi sebuah bentuk sinyal. Sinyal adalah

Lebih terperinci

JARINGAN AKSES PSTN (Public Switch Telephone Network) Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP)

JARINGAN AKSES PSTN (Public Switch Telephone Network) Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) JARINGAN AKSES PSTN (Public Switch Telephone Network) Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) Konfigurasi Umum Jartel 2 Struktur Jaringan Figure A.3.33 The network hierarchy according to the ITU-T Figure

Lebih terperinci

TEKNIK ENCODING SINYAL

TEKNIK ENCODING SINYAL William Stallings Data and Computer Communications 7 th Edition TEKNIK ENCODING SINYAL Ir. Hasanuddin Sirait, MT 1 Teknik Encoding Data digital, sinyal digital Data analog, sinyal digital Data digital,

Lebih terperinci

Teknik MULTIPLEXING. Rijal Fadilah S.Si Program Studi Teknik Informatika STMIK Balikpapan Semester Genap 2010/2011

Teknik MULTIPLEXING. Rijal Fadilah S.Si  Program Studi Teknik Informatika STMIK Balikpapan Semester Genap 2010/2011 Teknik MULTIPLEXING Rijal Fadilah S.Si http://rijalfadilah.net Program Studi Teknik Informatika STMIK Balikpapan Semester Genap 2010/2011 Multiplexing Proses penggabungan beberapa kanal Pembagian bandwith

Lebih terperinci

Sistem Transmisi Modulasi & Multiplexing

Sistem Transmisi Modulasi & Multiplexing Sistem Transmisi Modulasi & Multiplexing Konsep Sinyal Sinyal informasi tidak dapat bergerak sendiri pada jarak yang jauh. Misalkan anda bicara, apa sinyal suara anda bisa sampai ke jakarta dengan sendirinya?

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA JARINGAN SWITCHING BANYAN

ANALISIS KINERJA JARINGAN SWITCHING BANYAN ANALISIS KINERJA JARINGAN SWITCHING BANYAN Louis Putra Yudha Sirait, M. Zulfin KonsentrasiTeknik Telekomunikasi, DepartemenTeknikElektro FakultasTeknikUniversitas Sumatera Utara (USU) Jl. Almamater, Kampus

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DATA SUSMINI INDRIANI LESTARININGATI, M.T

KOMUNIKASI DATA SUSMINI INDRIANI LESTARININGATI, M.T Multiplexing Multiplexing adalah suatu teknik mengirimkan lebih dari satu (banyak) informasi melalui satu saluran. Tujuan utamanya adalah untuk menghemat jumlah saluran fisik misalnya kabel, pemancar &

Lebih terperinci

Komunikasi Data. Bab 5. Data Encoding. Bab 5. Data Encoding 1/46

Komunikasi Data. Bab 5. Data Encoding. Bab 5. Data Encoding 1/46 Bab 5. Data Encoding Bab 5. Data Encoding 1/46 Outline Teknik Encoding Data Digital Signal Digital Teknik Encoding Data Analog Signal Digital Teknik Encoding Data Digital Signal Analog Teknik Encoding

Lebih terperinci

SWITCHING DAN SIGNALING

SWITCHING DAN SIGNALING SWITCHING DAN SIGNALING REJOY A. RENDE Semester IV PTIK KATA PENGANTAR Dengan selesainya tulisan ini, maka patutlah penulis mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan berkatnya

Lebih terperinci

Teknik Encoding. Data digital, sinyal digital Data analog, sinyal digital Data digital, sinyal analog Data analog, sinyal analog

Teknik Encoding. Data digital, sinyal digital Data analog, sinyal digital Data digital, sinyal analog Data analog, sinyal analog Pengkodean Data Teknik Encoding Data digital, sinyal digital Data analog, sinyal digital Data digital, sinyal analog Data analog, sinyal analog Data Digital, Sinyal Digital Sinyal Digital Discrete, deretan

Lebih terperinci

Jaringan Komputer Data Encoding Data Enc

Jaringan Komputer Data Encoding Data Enc Jaringan Komputer Data Encoding Teknik Encoding Data digital, sinyal digital Data analog, sinyal digital Data digital, sinyal analog Data analog, sinyal analog Data Digital, Sinyal Digital Sinyal digital

Lebih terperinci

Bab 3. Transmisi Data

Bab 3. Transmisi Data Bab 3. Transmisi Data Bab 3. Transmisi Data 1/34 Outline Terminologi dan Konsep Transmisi Data Media Transmisi Konsep Domain Waktu Konsep Domain Frekuensi Transmisi Analog Transmisi Digital Gangguan Transmisi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. layanan jasa telekomunikasi melalui satu interface serbaguna yang berlaku di

BAB II LANDASAN TEORI. layanan jasa telekomunikasi melalui satu interface serbaguna yang berlaku di BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Integrated Service Digital Network (ISDN) ISDN adalah Jaringan Digital yang mampu memberikan berbagai macam layanan jasa telekomunikasi melalui satu interface serbaguna yang berlaku

Lebih terperinci

SINYAL DISKRIT. DUM 1 September 2014

SINYAL DISKRIT. DUM 1 September 2014 SINYAL DISKRIT DUM 1 September 2014 ADC ADC 3-Step Process: Sampling (pencuplikan) Quantization (kuantisasi) Coding (pengkodean) Digital signal X a (t) Sampler X(n) Quantizer X q (n) Coder 01011 Analog

Lebih terperinci

PENGKODEAN DATA Komunikasi Data. Muhammad Zen Samsono Hadi, ST. MSc. Lab. Telefoni Gedung D4 Lt. 1

PENGKODEAN DATA Komunikasi Data. Muhammad Zen Samsono Hadi, ST. MSc. Lab. Telefoni Gedung D4 Lt. 1 1 PENGKODEAN DATA Komunikasi Data Muhammad Zen Samsono Hadi, ST. MSc. Lab. Telefoni Gedung D4 Lt. 1 Teknik Pengkodean 2 Data digital, sinyal digital - Merupakan bentuk paling sederhana dari pengkodean

Lebih terperinci

Pokok Bahasan 2. Transmisi Digital

Pokok Bahasan 2. Transmisi Digital Pokok Bahasan 2 Transmisi Digital Pokok Bahasan 2 Pokok Bahasan Transmisi digital Sub Pokok Bahasan Pulsa-pulsa untuk transmisi basebandi NRZ, AMI Regenerasi Kriteria Nyquist Kompetensi Setelah mengikuti

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA BASIC RATE ACCESS (BRA) DAN PRIMARY RATE ACCESS (PRA) PADA JARINGAN ISDN

ANALISIS KINERJA BASIC RATE ACCESS (BRA) DAN PRIMARY RATE ACCESS (PRA) PADA JARINGAN ISDN Widya Teknika Vol.18 No.1; Maret 2010 ISSN 1411 0660 : 1-5 ANALISIS KINERJA BASIC RATE ACCESS (BRA) DAN PRIMARY RATE ACCESS (PRA) PADA JARINGAN ISDN Anis Qustoniah 1), Dewi Mashitah 2) Abstrak ISDN (Integrated

Lebih terperinci

Faculty of Electrical Engineering BANDUNG, 2015

Faculty of Electrical Engineering BANDUNG, 2015 PENGENALAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI Modul : 03 Sinyal Faculty of Electrical Engineering BANDUNG, 2015 PengTekTel-Modul:03 Telecommunication deals with conveying information with Electrical Signals.

Lebih terperinci

MAKALAH SWITCHING & SIGNALING

MAKALAH SWITCHING & SIGNALING 2012 MAKALAH SWITCHING & SIGNALING Nama : Patricia Mantiri NIM : 10 312 633 Kelas : C FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS NEGERI MANADO 2012 KATA PENGANTAR Segala puji

Lebih terperinci

TEKNIK PENGKODEAN SINYAL

TEKNIK PENGKODEAN SINYAL TEKNIK PENGKODEAN SINYAL Sumber: Bab 5 Data and Computer Communications William Stallings Program Studi S1 Teknik Telekomunikasi Jurusan Teknik Elektro Sekolah Tinggi Teknologi Telkom 3/17/2006 JARINGAN

Lebih terperinci

BAB III JARINGAN AKSES SERAT OPTIK DI PT TELKOM STO JATINEGARA SERTA APLIKASI SDH DAN MODUL SDT1

BAB III JARINGAN AKSES SERAT OPTIK DI PT TELKOM STO JATINEGARA SERTA APLIKASI SDH DAN MODUL SDT1 BAB III JARINGAN AKSES SERAT OPTIK DI PT TELKOM STO JATINEGARA SERTA APLIKASI SDH DAN MODUL SDT1 3.4 Jaringan Akses STO Jatinegara PT TELKOM Indonesia sebagai salah satu penyelenggara telekomunikasi terbesar

Lebih terperinci

Teknik Pengkodean (Encoding) Dosen : I Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan

Teknik Pengkodean (Encoding) Dosen : I Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan Teknik Pengkodean (Encoding) Dosen : I Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan Pendahuluan Pengkodean karakter, kadang disebut penyandian karakter, terdiri dari kode yang memasangkan karakter berurutan dari suatu

Lebih terperinci

1. Adaptive Delta Modulation (ADM) Prinsip yang mendasari semua algoritma ADM adalah sebagai berikut:

1. Adaptive Delta Modulation (ADM) Prinsip yang mendasari semua algoritma ADM adalah sebagai berikut: 1. Adaptive Delta Modulation (ADM) Adaptive delta modulation (ADM) merupakan modifikasi dari DM (Delta Modulation). ADM digunakan untuk mengatasi bising kelebihan beban yang terjadi pada modulator data

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk. memperoleh transmisi yang efisien dan handal.

BAB II DASAR TEORI. Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk. memperoleh transmisi yang efisien dan handal. BAB II DASAR TEORI 2.1 Modulasi Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk memperoleh transmisi yang efisien dan handal. Pemodulasi yang merepresentasikan pesan yang akan dikirim, dan

Lebih terperinci

Sinyal dan Sistem Digital. Tutun Juhana KK Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung

Sinyal dan Sistem Digital. Tutun Juhana KK Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Sinyal dan Sistem Digital Tutun Juhana KK Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung What the heck is digital? The Basic Ilustrasi 1 Jarum jam analog bergerak

Lebih terperinci

MULTIPLEXING. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung

MULTIPLEXING. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung MULTIPLEXING Ir. Roedi Goernida, MT. ([email protected]) Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung 2010 1 Pengertian Multiplexing: Proses penggabungan beberapa

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1.(a). Blok Diagram Kelas D dengan Dua Aras Keluaran. (b). Blok Diagram Kelas D dengan Tiga Aras Keluaran.

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1.(a). Blok Diagram Kelas D dengan Dua Aras Keluaran. (b). Blok Diagram Kelas D dengan Tiga Aras Keluaran. BAB II DASAR TEORI Dalam bab dua ini penulis akan menjelaskan teori teori penunjang utama dalam merancang penguat audio kelas D tanpa tapis LC pada bagian keluaran menerapkan modulasi dengan tiga aras

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. sebagian besar masalahnya timbul dikarenakan interface sub-part yang berbeda.

BAB II DASAR TEORI. sebagian besar masalahnya timbul dikarenakan interface sub-part yang berbeda. BAB II DASAR TEORI. Umum Pada kebanyakan sistem, baik itu elektronik, finansial, maupun sosial sebagian besar masalahnya timbul dikarenakan interface sub-part yang berbeda. Karena sebagian besar sinyal

Lebih terperinci

Memahami proses switching dalam sistem telepon Memahami rangkaian switching yang digunakan dalam sistem komunikasi telepon Menjelaskan aplikasi dan

Memahami proses switching dalam sistem telepon Memahami rangkaian switching yang digunakan dalam sistem komunikasi telepon Menjelaskan aplikasi dan Memahami proses switching dalam sistem telepon Memahami rangkaian switching yang digunakan dalam sistem komunikasi telepon Menjelaskan aplikasi dan konsep swicting dalam sistem telepon Proses switching

Lebih terperinci

Jaringan Komputer. Transmisi Data

Jaringan Komputer. Transmisi Data Jaringan Komputer Transmisi Data Terminologi (1) Transmitter Receiver Media Transmisi Guided media Contoh; twisted pair, serat optik Unguided media Contoh; udara, air, ruang hampa Terminologi (2) Hubungan

Lebih terperinci

SINYAL DISKRIT. DUM 1 September 2014

SINYAL DISKRIT. DUM 1 September 2014 SINYAL DISKRIT DUM 1 September 2014 ADC ADC 3-Step Process: Sampling (pencuplikan) Quantization (kuantisasi) Coding (pengkodean) Digital signal X a (t) Sampler X(n) Quantizer X q (n) Coder 01011 Analog

Lebih terperinci

TEKNIK MODULASI. Kelompok II

TEKNIK MODULASI. Kelompok II TEKNIK MODULASI Kelompok II Pengertian Modulasi adalah proses pencampuran dua sinyal menjadi satu sinyal Biasanya sinyal yang dicampur adalah sinyal berfrekuensi tinggi dan sinyal berfrekuensi rendah Contoh

Lebih terperinci

BAB III TEORI DASAR SENTRAL TELEPON DIGITAL. 3.1 Sejarah Perkembangan Teknologi Sentral Telepon Digital

BAB III TEORI DASAR SENTRAL TELEPON DIGITAL. 3.1 Sejarah Perkembangan Teknologi Sentral Telepon Digital BAB III TEORI DASAR SENTRAL TELEPON DIGITAL 3.1 Sejarah Perkembangan Teknologi Sentral Telepon Digital Telepon pertama kali diperkenalkan lebih dari satu abad yang lalu yaitu pada tahun 1876. Pada awalnya

Lebih terperinci

BAB III SENTRAL TELEPON DIGITAL EWSD. Electronic Wahler System Digital (EWSD) atau Digital Electronic Switching

BAB III SENTRAL TELEPON DIGITAL EWSD. Electronic Wahler System Digital (EWSD) atau Digital Electronic Switching BAB III SENTRAL TELEPON DIGITAL EWSD 3.1 Pengenalan sentral EWSD Electronic Wahler System Digital (EWSD) atau Digital Electronic Switching System telah di produksi oleh PT. INTI dengan lisensi dari SIEMENS

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR JARINGAN SWITCHING. dan keluaran yang disebut dengan inlet dan outlet. Fungsi utama dari sistem switching adalah

BAB II TEORI DASAR JARINGAN SWITCHING. dan keluaran yang disebut dengan inlet dan outlet. Fungsi utama dari sistem switching adalah BAB II TEORI DASAR JARINGAN SWITCHING 2.1 Umum Komponen utama dari sistem switching atau sentral adalah seperangkat sirkit masukan dan keluaran yang disebut dengan inlet dan outlet. Fungsi utama dari sistem

Lebih terperinci

BAB II TEORI PENUNJANG

BAB II TEORI PENUNJANG BAB II TEORI PENUNJANG 2.1 Dasar-Dasar Jaringan GSM 2.1.1 Pengertian GSM Global System for Mobile Communication disingkat GSM adalah sebuah teknologi komunikasi selular yang bersifat digital. Teknologi

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DATA Teknik Pengkodean Sinyal. Fery Antony, ST Universitas IGM

KOMUNIKASI DATA Teknik Pengkodean Sinyal. Fery Antony, ST Universitas IGM KOMUNIKASI DATA Teknik Pengkodean Sinyal Fery Antony, ST Universitas IGM Gambar Teknik Pengkodean dan Modulasi a) Digital signaling: sumber data g(t), berupa digital atau analog, dikodekan menjadi sinyal

Lebih terperinci

Data and Computer BAB 3

Data and Computer BAB 3 William Stallings Data and Computer Communications BAB 3 Transmisi Data Terminologi (1) Transmitter Receiver Media Transmisi Guided media Contoh; twisted pair, serat optik Unguided media Contoh; udara,

Lebih terperinci

DOKUMEN PENAWARAN INTERKONEKSI DOKUMEN PENDUKUNG D: SPESIFIKASI TEKNIS

DOKUMEN PENAWARAN INTERKONEKSI DOKUMEN PENDUKUNG D: SPESIFIKASI TEKNIS DOKUMEN PENAWARAN INTERKONEKSI DOKUMEN PENDUKUNG D: SPESIFIKASI TEKNIS PT. XL AXIATA,Tbk 2014 DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN... 1 2. SPESIFIKASI INTERFACE FISIK DAN KELISTRIKAN... 2 2.1 Port Masukan Dan Port

Lebih terperinci

REKAYASA TRAFIK. DERAJAT PELAYANAN (Lanjutan)

REKAYASA TRAFIK. DERAJAT PELAYANAN (Lanjutan) REKAYASA TRAFIK DERAJAT PELAYANAN (Lanjutan) [email protected] TUJUAN Mahasiswa dapat memahami konsep kegagalan panggilan dan kemacetan dalam jaringan Mahasiswa dapat membedakan kemacetan

Lebih terperinci

MULTIPLEXING. Frequency-division Multiplexing (FDM)

MULTIPLEXING. Frequency-division Multiplexing (FDM) MULTIPLEXING Multiplexing merupakan rangkaian yang memiliki banyak input tetapi hanya 1 output dan dengan menggunakan sinyal-sinyal kendali, kita dapat mengatur penyaluran input tertentu kepada outputnya,

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DATA PROGRAM STUDI TEKNIK KOMPUTER DOSEN : SUSMINI I. LESTARININGATI, M.T

KOMUNIKASI DATA PROGRAM STUDI TEKNIK KOMPUTER DOSEN : SUSMINI I. LESTARININGATI, M.T KOMUNIKASI DATA PROGRAM STUDI TEKNIK KOMPUTER 3 GANJIL 2017/2018 DOSEN : SUSMINI I. LESTARININGATI, M.T Sinyal Digital Selain diwakili oleh sinyal analog, informasi juga dapat diwakili oleh sinyal digital.

Lebih terperinci

SINYAL & MODULASI. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung

SINYAL & MODULASI. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung SINYAL & MODULASI Ir. Roedi Goernida, MT Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung 2012 1 Pengertian Sinyal Merupakan suatu perubahan amplitudo dari tegangan,

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DATA SUSMINI INDRIANI LESTARININGATI, M.T. Konversi Data Digital ke Sinyal Digital. Karakteristik Line Coding. Tujuan Line Coding

KOMUNIKASI DATA SUSMINI INDRIANI LESTARININGATI, M.T. Konversi Data Digital ke Sinyal Digital. Karakteristik Line Coding. Tujuan Line Coding Konversi Data Digital ke Sinyal Digital Pada transmisi digital, data yang dihasilkan oleh transmitter berupa data digital dan ditransmisikan dalam bentuk sinyal digital menuju ke receiver (penerima). Pada

Lebih terperinci

Model Sistem Komunikasi

Model Sistem Komunikasi Model Sistem Komunikasi Pendahuluan Apakah Komunikasi itu? Cara menyampaikan/menyebarluaskan informasi(berita, pikiran,pendapat) Bagaimana cara manusia berkomunikasi, contoh : Bicara secara langsung Berbisik

Lebih terperinci

BAB II JARINGAN SWITCHING BANYAN. sirkit masukan dan keluaran yang disebut dengan inlet dan outlet. Fungsi utama

BAB II JARINGAN SWITCHING BANYAN. sirkit masukan dan keluaran yang disebut dengan inlet dan outlet. Fungsi utama BAB II JARINGAN SWITCHING BANYAN 2. Switching Komponen utama dari sistem switching atau sentral adalah seperangkat sirkit masukan dan keluaran yang disebut dengan inlet dan outlet. Fungsi utama dari sistem

Lebih terperinci

~ By : Aprilia Sulistyohati, S.Kom ~

~ By : Aprilia Sulistyohati, S.Kom ~ ~ By : Aprilia Sulistyohati, S.Kom ~ Teknologi WAN Wide area network (WAN) digunakan untuk saling menghubungkan jaringan-jaringan yang secara fisik tidak saling berdekatan terpisah antar kota, propinsi

Lebih terperinci

Quadrature Amplitudo Modulation-16 Sigit Kusmaryanto,

Quadrature Amplitudo Modulation-16 Sigit Kusmaryanto, Quadrature Amplitudo Modulation-16 Sigit Kusmaryanto, http://[email protected] BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, kebutuhan

Lebih terperinci

Pertemuan 2 DASAR-DASAR SISTEM KOMUNIKASI

Pertemuan 2 DASAR-DASAR SISTEM KOMUNIKASI Pertemuan 2 DASAR-DASAR SISTEM KOMUNIKASI Tujuan Menyebutkan elemen dasar sistem komunikasi dengan diagramnya Membedakan antara bentuk komunikasi analog dan komunikasi digital Menjelaskan pentingnya keberadaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Umum Perkembangan dalam bidang komunikasi dan pengaruh globalisasi serta arus informasi, masyarakat modern memerlukan adanya sarana Telekomunikasi yang lebih canggih. Kebutuhan

Lebih terperinci

BAB II JARINGAN INTERKONEKSI BANYAK TINGKAT. Komponen utama dari sistem switching atau sentral adalah seperangkat sirkuit

BAB II JARINGAN INTERKONEKSI BANYAK TINGKAT. Komponen utama dari sistem switching atau sentral adalah seperangkat sirkuit BAB II JARINGAN INTERKONEKSI BANYAK TINGKAT 2.1 Konsep Switching Komponen utama dari sistem switching atau sentral adalah seperangkat sirkuit masukan dan keluaran yang disebut dengan inlet dan outlet.

Lebih terperinci

TEKNIK DAN MODEL KOMUNIKASI

TEKNIK DAN MODEL KOMUNIKASI Modul 2 TEKNIK DAN MODEL KOMUNIKASI. PENDAHULUAN Pertama kali jaringan PSTN diciptakan hanya untuk pengiriman sinyal analog dalam hal ini datanya berupa suara. Namun belakangan ini data yang dikirim tidak

Lebih terperinci

Pokok Bahasan 6. Multiplexing

Pokok Bahasan 6. Multiplexing Pokok Bahasan 6 Multiplexing Pokok Bahasan 6 Pokok Bahasan Multiplexing Sub Pokok Bahasan FDM, TDM Transmultiplexing Kompetensi Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa mampu menjelaskan berbagai hal tentang

Lebih terperinci

Bab 6 Interface Komunikasi Data

Bab 6 Interface Komunikasi Data Bab 6 Interface Komunikasi Data Asynchronous and Synchronous Transmission Kesulitan dalam hal waktu membutuhkan mekanisme untuk mengsinkronisasi transmitter dan receiver Ada dua pemecahan Asynchronous

Lebih terperinci

SWITCHING & SIGNALING

SWITCHING & SIGNALING SISTEM TELEKOMUNIKASI SWITCHING & SIGNALING VEGA R BAWOTONG PTIK 2012 UNIVERSITAS NEGERI MANADO KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sang Pencipta alam semesta

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Trafik Secara umum trafik dapat diartikan sebagai perpindahan informasi dari satu tempat ke tempat lain melalui jaringan telekomunikasi. Besaran dari suatu trafik telekomunikasi

Lebih terperinci

PERCOBAAN 3 MULTIPLEXER/DEMULTIPLEXER UNIT 3.3. PENJELASAN SINGKAT TENTANG MODUL

PERCOBAAN 3 MULTIPLEXER/DEMULTIPLEXER UNIT 3.3. PENJELASAN SINGKAT TENTANG MODUL PERCOBAAN 3 MULTIPLEXER/DEMULTIPLEXER UNIT 3.1. TUJUAN Memahami proses digitalisasi beberapa kanal suara menjadi bentuk sinyal multiplex pada teknologi sentral digital. Memahami pembagian sinyal multiplex

Lebih terperinci

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version -

This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - This PDF is Created by Simpo Word to PDF unregistered version - http://www.simpopdf.com 1 KATA PENGANTAR Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat-nya hingga saya dapat menyelesaikan

Lebih terperinci

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Nila Feby Puspitasari

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Nila Feby Puspitasari STMIK AMIKOM YOGYAKARTA Oleh : Nila Feby Puspitasari 1. Source (Sumber) - Membangkitkan data untuk ditransmisikan Contoh : telepon dan PC (Personal Computer) 2. Transmitter (Pengirim) - Mengkonversi data

Lebih terperinci

DIGITAL LINE UNIT (DLU) PADA SENTRAL SWITCHING ELECTRONIC WAHLER SYSTEM DIGITAL (EWSD) PT.TELKOM TBK REGIONAL PANGKALPINANG

DIGITAL LINE UNIT (DLU) PADA SENTRAL SWITCHING ELECTRONIC WAHLER SYSTEM DIGITAL (EWSD) PT.TELKOM TBK REGIONAL PANGKALPINANG 1 DIGITAL LINE UNIT (DLU) PADA SENTRAL SWITCHING ELECTRONIC WAHLER SYSTEM DIGITAL (EWSD) PT.TELKOM TBK REGIONAL PANGKALPINANG *Zulkurniawan**Wahri Sunandar S.T.,M.Eng***Ishar *Mahasiswa Jurusan Teknik

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA JARINGAN SWITCHING KNOCKOUT

ANALISIS KINERJA JARINGAN SWITCHING KNOCKOUT ANALISIS KINERJA JARINGAN SWITCHING KNOCKOUT Deni Destian (1), M. Zulfin (2) Konsentrasi teknik telekomunikasi, Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU) Jl. Almamater,

Lebih terperinci