Erupsi Obat pada Pasien HIV/AIDS

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Erupsi Obat pada Pasien HIV/AIDS"

Transkripsi

1 CONTINUING PROFESSIONAL CONTINUING CONTINUING DEVELOPMENT PROFESSIONAL MEDICAL DEVELOPMENT EDUCATION Akreditasi PP IAI 2 SKP Erupsi Obat pada Pasien HIV/AIDS Yuri Yogya RSU dr. Slamet, Garut, Jawa Barat, Indonesia ABSTRAK Penggunaan obat-obat antiretroviral dan antibiotik golongan sulfa sering mencetuskan erupsi obat pada pasien HIV/AIDS. Pasien terinfeksi HIV/ AIDS memiliki risiko tinggi untuk mendapatkan erupsi obat dibandingkan masyarakat umum. Erupsi obat bervariasi dari yang ringan sampai berat. Deteksi dan tata laksana dini dan mencari obat pencetus dapat mencegah perburukan erupsi obat. Kata kunci: HIV/AIDS, erupsi obat, obat antiretroviral, high activity antiretroviral therapy, obat golongan sulfa ABSTRACT The use of antiretroviral drug and sulphonamides increase the probability of adverse cutaneous drug reactions. HIV-infected patients have a higher risk of developing cutaneous reactions than the general population. The severity of cutaneous adverse reactions varies. The early detection and treatment of adverse cutaneous drug reactions, plus identification of the causative agent, are essential to prevent the progression of reaction. Yuri Yogya. Drug Eruption in HIV/AIDS. Key words: HIV-infected patients, adverse cutaneous drug reactions, antiretroviral drug, high activity antiretroviral therapy, sulphonamides PENDAHULUAN HIV/AIDS (human immunodeficiency virus/ acquired immune deficiency syndrome) merupakan masalah kesehatan di dunia sejak tahun 1981, penyakit ini berkembang secara pandemik. Terdapat lebih dari 40 juta penderita HIV di dunia. 1 Penggunaan obat antiretroviral menurunkan mortalitas pasien HIV/AIDS, tetapi penggunaan obat tersebut banyak menimbulkan erupsi obat. Semua obat antiretroviral dilaporkan dapat menyebabkan erupsi obat. 2 Pasien HIV/ AIDS cenderung lebih mudah mengalami erupsi obat. Trimetoprim-sulfametoksazol (TMP-SMX) dan obat golongan sulfa lain merupakan penyebab erupsi obat paling sering pada pasien HIV/AIDS. Erupsi obat yang berat, seperti sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan nekrolisis epidermal toksik (NET), berhubungan dengan morbiditas dan terutama NET mortalitas yang tinggi. Pada tahun 1996, mulai diperkenalkan terapi obat antiretroviral (ARV) menggunakan kombinasi tiga macam obat atau lebih yang disebut dengan istilah high activity antiretroviral therapy (HAART) untuk Tabel 1 Erupsi obat alergik 6 Reaksi Patogenesis Klinis Tipe 1 Reaksi imunologi yang diperantarai IgE Urtikaria, edema, syok anafilaktik Tipe 2 Reaksi sitotoksik menyebabkan lisis trombosit atau leukosit Petekie karena purpura trombositopenik, druginduced pemphigus Tipe 3 Kompleks antigen-antibodi yang diperantarai IgM dan IgG Vaskulitis, urtikaria Tipe 4 Reaksi imunologi yang diperantarai limfosit tersensitisasi Erupsi morbiliformis, fixed drug eruption, SSJ, NET meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup pengidap HIV. Penggunaan metode terapi HAART secara drastis mengubah AIDS yang mematikan menjadi sebuah penyakit kronis yang dapat dikontrol. Pada tahun pertama pengobatan, banyak pasien HIV yang menghentikan pengobatan karena mengalami efek samping pengobatan. Sekitar 80% pasien yang terinfeksi HIV mengalami efek samping obat, dapat disebabkan oleh perubahan sistem imun, perubahan metabolisme obat, dan/atau polifarmasi. 3,4 Pasien HIV/AIDS memiliki risiko 100 kali lebih besar untuk mendapat erupsi obat berat dibandingkan masyarakat umum. Beratnya erupsi obat bervariasi antarindividu dan terkadang sulit diatasi. Erupsi obat dapat berupa eritema multiforme, erupsi makulopapular, rambut rontok, urtikaria, hiperpigmentasi, drug rash with eosinophilia and systemic symptoms (DRESS), SSJ, atau NET. Deteksi awal, identifikasi obat yang diduga menyebabkan erupsi, dan penatalaksanaan erupsi obat sangat membantu mencegah perburukan penyakit. 5,6 DEFINISI Reaksi simpang (adverse reaction) obat yang bermanifestasi pada kulit dan mukosa disebut erupsi obat. Mekanisme terjadinya erupsi obat dapat secara non-imunologik dan imunologik; sebagian besar merupakan reaksi imunologik. Erupsi obat dengan mekanisme imunologik disebut juga erupsi obat alergik. Satu macam erupsi dapat disebabkan oleh berbagai macam obat, sedangkan satu macam obat dapat menimbulkan berbagai macam erupsi. 7 Alamat korespondensi [email protected] 347

2 Erupsi obat alergik secara patogenesis dapat diklasifikasikan menjadi tipe I hingga tipe IV (tabel 1). Erupsi obat non-imunologik dapat berupa kumulasi (contohnya hiperpigmentasi), fotosensitivitas, atrofi kulit pada pemakaian obat topikal, dan idiosinkrasi. 6 ERUPSI OBAT YANG SERING DITEMUKAN PADA PASIEN HIV/AIDS Erupsi Morbiliformis/Erupsi Makulopapular Erupsi morbiliformis (disebut juga erupsi makulopapular) merupakan erupsi obat yang paling sering terjadi pada pengobatan HIV. Erupsi morbiliformis ditandai dengan makula dan papula berwarna merah muda sampai merah disertai rasa gatal. Ukuran lesi bervariasi mulai dari beberapa milimeter sampai 1 cm. Lesi dapat berkonfluensi membentuk suatu makula yang besar. Lokasi biasanya simetris dan hampir selalu terdapat di badan. 8 Erupsi morbiliformis biasanya timbul 2-10 minggu setelah dimulai pengobatan dengan obat antiretroviral. Pada pajanan kedua, erupsi makulopapular dapat terjadi dalam 1-2 hari setelah mulai pengobatan. Penggunaan obat antiretroviral dapat diteruskan, tetapi jika disertai urtikaria, vesikel atau bula, keterlibatan mukosa, gejala sistemik (seperti demam), peningkatan SGOT/SGPT, dan malaise, sebaiknya obat dihentikan. Nyeri merupakan salah satu tanda akan berkembang menjadi erupsi obat yang lebih berat, seperti SSJ atau NET. 6 Pemberian antihistamin dapat mengurangi pruritus. 2 Urtikaria Urtikaria ditandai dengan edema sementara pada kulit. Lesi tampak sebagai eritema dan edema setempat berbatas tegas. Bentuknya dapat papular, lentikular, numular, sampai plakat. Jika mengenai jaringan yang lebih dalam pada subkutan atau submukosa, juga beberapa alat dalam (seperti saluran cerna dan saluran napas), disebut angioedema. Angioedema sering mengenai daerah wajah. 9 Pengobatan urtikaria yang disebabkan oleh obat antiretroviral adalah dengan menghentikan pemberian obat tersebut dan memberikan anthistamin. Apabila penggunaan anhistamin tidak menunjukkan respons yang baik, dapat diberikan kortikosteroid. 10 SSJ dan NET Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan nekrolisis Gambar 1 (A) Erupsi makulopapular pada pengobatan dengan nevirapin (B) NET pada pengobatan dengan nevirapin 12 epidermal toksik (NET) merupakan erupsi obat yang berat. Obat merupakan penyebab yang paling sering. Kedua kondisi ini ditandai dengan nekrosis dan pengelupasan epidermis. Nekrolisis epidermal toksik dibedakan dengan SSJ berdasarkan luas permukaan tubuh yang terkena. Luas permukaan tubuh yang terkena pada SSJ <10%, NET >30%, dan tumpang tindih antara SSJ-NET 10-30%. 6 Gejala klinis muncul dalam 1-3 minggu setelah terpajan obat. Terdapat gejala prodormal, seperti demam, malaise, dan artralgia, pada 1-3 hari sebelum munculnya lesi mukokutan. Lesi kulit terdiri dari eritema, vesikel, dan bula. Vesikel dan bula memecah sehingga menjadi erosi yang luas. Di samping itu, dapat terjadi purpura. Tanda Nikolsky dapat positif pada vesikel atau bula yang belum pecah. Kelainan mukosa yang paling sering adalah kelainan mukosa mulut, disusul oleh kelainan lubang alat genital, sedangkan lubang hidung dan anus jarang terkena. Kelainannya berupa vesikel dan bula yang cepat memecah hingga menjadi erosi dan krusta kehitaman. Di bibir, kelainan yang nampak adalah krusta kehitaman yang tebal. Pada mata, kelainan tersering adalah konjungtivitis. 6,9 Sampai saat ini, belum ada obat untuk SSJ/ NET. Pengobatan simptomatik meliputi penghentian pengobatan, pemberian cairan, keseimbangan elektrolit, dan nutrisi. Penggunaan kortikosteroid jangka pendek pada pengobatan SSJ/NET masih kontroversial. 11 Drug hypersensitivity syndrome (DHS) Drug rash with eosinophilia and systemic symptoms (DRESS) sering pula disingkat DHS (drug hypersensitivity syndrome). Sindrom ini ditandai dengan (1) erupsi obat, (2) gangguan hematopoietik (eosinofilia 1500/ ul atau limfosit atipikal), (3) gejala sistemik (adenopati 2 cm atau hepatitis atau nefritis interstisial atau penumonitis interstisial atau karditis). Diagnosis ditegakkan jika ketiga kriteria tersebut ditemukan. 6 Erupsi obat bersifat progresif, dari erupsi makulopapular di wajah, badan bagian atas, dan ekstremitas atas menjadi dermatitis eksfoliatif. Edema merupakan salah satu tanda khas pada DRESS, terutama di daerah wajah. Dibandingkan dengan SSJ atau NET, DRESS jarang mengenai mukosa. Obat yang diberikan harus dihentikan jika terdapat DRESS. Namun, dengan penghentian obat saja jarang sembuh sempurna, dibutuhkan kortikosteroid sistemik untuk memberikan kesembuhan. Abakavir merupakan obat antiretroviral yang dapat menyebabkan DRESS. 13 Hiperpigmentasi Hiperpigmentasi kulit dan kuku sering terjadi pada pasien yang terinfeksi HIV. Hiperpigmentasi biasanya mengenai beberapa kuku dan bersifat reversibel, tetapi membutuhkan waktu beberapa tahun setelah dihentikannya obat. 14 ERUPSI OBAT ANTIRETROVIRAL Nucleoside Reverse-Transcriptase Inhibitor (NRTI) Nucleoside reverse-transcriptase inhibitors (NRTI) merupakan obat pertama yang digunakan untuk pengobatan HIV. Obat-obat golongan NRTI digunakan dalam terapi kombinasi dan tidak digunakan sebagai terapi tunggal. Berdasarkan namanya, obat golongan ini bekerja dengan cara menghambat enzim reverse transcriptase dan merusak perpanjangan rantai DNA provirus. 6 Zidovudin Pewarnaan kuku jari-jari tangan dan kaki dilaporkan pada pasien yang mendapatkan pengobatan zidovudin. Perubahan warna menjadi hitam kebiruan pada kuku terjadi 348

3 Gambar 2 Melanonikia longitudinal pada pengobatan dengan zidovudin sekitar 2-6 minggu setelah mendapatkan pengobatan dengan zidovudin. Reaksi anafilaktik, angioedema, SSJ, dan NET jarang terjadi. 15 Emtrisitabin Efek samping cenderung ringan sampai sedang. Pasien dapat mengalami perubahan ringan warna kulit, kuku, dan lidah. Pada suatu penelitian yang melibatkan 814 pasien, terdapat 4% pasien yang mengalami perubahan warna kulit. Tidak ada efek berat pada perubahan warna kulit ini sehingga bukan indikasi menghentikan pengobatan. 15 Abakavir Sekitar 2,3-9% pasien HIV yang mendapat pengobatan abakavir mengalami efek samping yang diduga berhubungan dengan reaksi imunologis oleh faktor genetik tertentu. Manifestasi hipersensitivitas biasanya timbul pada 6 minggu setelah pengobatan. Gejala yang terjadi meliputi demam (80%), ruam kulit (70%), keluhan gastrointestinal (50%), letargi/malaise (40-60%), keluhan pernapasan (18-30%). Diagnosis klinis hipersensitivitas terhadap abakavir ditegakkan jika setidaknya terdapat dua dari gejala berikut: demam, ruam kulit, mual, muntah, nyeri kepala, keluhan gastrointestinal dan pernapasan, letargi, mialgia, atau atralgia yang timbul setelah 6 minggu pengobatan dan membaik setelah 72 jam penghentian pengobatan. Reaksi hipersensitivitas terhadap abakavir diduga berhubungan dengan adanya HLA-B Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan NET dilaporkan terjadi pada pasien yang mendapat pengobatan kombinasi dengan abakavir, lamivudin, dan zidovudin. 16 Zalsitabin Pada kasus ini, gejala bersifat sementara, berupa erupsi makulovesikular, demam, malaise, dan stomatitis aftosa setelah pengobatan selama 4-6 minggu. Gejala ini muncul pada pasien yang mendapat pengobatan zalsitabin dosis tinggi dan jarang terjadi pada pengobatan dosis rendah (0,005 mg/kg setiap 4 jam atau 0,01 mg/kg setiap 8 jam). Kelainan kulit menghilang setelah penghentian obat dan walaupun timbul gejala setelah pemberian obat dosis tinggi, akan menghilang setelah diteruskan pengobatan sampai 1-3 minggu tanpa penghentian pengobatan. 17 Non-Nucleoside Reverse-Transcriptase Inhibitor (NNRTI) Non-Nucleoside Reverse-Transcriptase Inhibitor (NNRTI) diperkenalkan pada tahun Gangguan kulit dan hepar merupakan efek samping utama pada pemberian NNRTI. Obat ini akan berikatan dengan enzim reverse transcriptase sehingga dapat memperlambat kecepatan sintesis DNA HIV atau menghambat replikasi virus. 6 Nevirapin Ruam kulit merupakan efek samping yang paling sering dilaporkan pada pengobatan dengan nevirapin. Ruam kulit dapat berupa erupsi makulopapular yang berlokasi di wajah, badan, dan ekstremitas. Faktor risiko timbulnya ruam kulit pada pengobatan dengan nevirapin adalah hitung sel T CD4 + yang tinggi sebelum pengobatan (>250 sel/ mm 3 pada perempuan dan >400 sel/mm 3 pada laki-laki), kadar HIV-1 rendah, dan jenis kelamin perempuan. Direkomendasikan pemantauan yang intensif pada wanita dengan sel T CD4+ lebih dari 250 sel/mm 3. Penggunaan prednison atau antihistamin pada 14 hari pertama pengobatan untuk mencegah timbulnya ruam kulit tidak efektif dan tidak dianjurkan. Fungsi hati harus diperiksa pada pasien yang mengalami ruam kulit, terutama dalam 18 minggu pertama pengobatan. Jika nevirapin dihentikan karena ruam kulit berat, ruam kulit dengan kombinasi peningkatan SGOT/ SGPT, atau reaksi hipersensitivitas, obat tidak boleh digunakan kembali. Pengobatan dengan nevirapin dapat diteruskan jika ruam kulit tidak begitu berat seperti erupsi makulopapular. Dosis tidak dinaikkan sampai ruam kulit menghilang. Ruam kulit derajat ringan sampai sedang menghilang dalam 2 minggu pada 50% pasien dan 1 bulan pada 75% pasien, dan dapat diberikan tambahan pengobatan antihistamin. 18 Efavirenz Erupsi obat pada efavirenz biasanya berupa erupsi makulopapular. Erupsi obat umumnya timbul sekitar 11 hari setelah pemberian obat pada orang dewasa. Insidens SSJ dilaporkan sekitar 0,1%. Pada pemberian efavirenz, dapat terjadi fotosensitivitas. Fotosensitivitas timbul setelah 2 bulan pemakaian dan gangguan kulit timbul pada daerah yang terpajang sinar matahari. Erupsi obat pada nevirapin dan efavirenz diduga berhubungan dengan HLA- DRB10 pada pasien yang terinfeksi HIV. 19 Delavirdine Erupsi obat merupakan efek samping yang paling banyak ditemukan pada penggunaan delavirdin. Erupsi obat yang terjadi berkisar antara 32-35% pada pemberian obat yang dikombinasi dengan NRTI dibandingkan dengan 16-21% pada pemberian NRTI saja. Erupsi obat timbul pada 1 minggu setelah pemberian obat dan jarang timbul 1 bulan setelah pemberian obat. 15 Inhibitor Protease Inhibitor protease bekerja berdasarkan pengenalan rangkaian asam amino dan pembelahan protein HIV. Agen ini berguna mencegah pembelahan sel yang terinfeksi HIV sehingga menghambat pembentukan virion baru. Inhibitor protease memiliki aktivitas yang poten terhadap HIV dan pengobatan dengan agen ini menurunkan insidens kematian pasien terinfeksi HIV. Erupsi obat yang terjadi pada penggunaan inhibitor protease sekitar 5%. 15 Indinavir Kasus pertama SSJ dari golongan inhibitor protease terjadi pada seorang pria berusia 41 tahun terinfeksi HIV yang mendapat pengobatan dengan indinavir, stavudin, dan lamivudin. Erupsi morbiliformis timbul di leher, badan, dan ekstremitas, serta terdapat lesi di mukosa. Pasien tetap meneruskan pengobatan selama 2 minggu dan erupsi obat makin berat, ditandai dengan pengelupasan kulit, demam, dan berat badan menurun. Gejala-gejala tersebut menghilang setelah obat dihentikan. Erupsi obat tidak timbul lagi setelah diganti dengan sakuinavir, stavudin, dan lamivudin

4 Tabel 2 Erupsi obat yang sering terjadi pada pemakaian obat antiretroviral 15 Obat ARV Erupsi Obat Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI) Zidovudin Pruritus, erupsi makulopapular, perubahan warna pada kuku, SSJ, NET, urtikaria Stavudin Lamivudin 1-10%: erupsi makulopapular Emtrisitabin >10%: hiperpigmentasi Tenofovir 1% to 10%: erupsi makulopapular Abakavir 1% to 10%: erupsi makulopapular, <1%: SSJ, NET Didanosin 1% to 10%: erupsi makulopapular Zalsitabin Stomatitis aftosa, pruritus, urtikaria Nonnucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI) Nevirapin, wanita lebih berisiko dibandingkan dengan pria SSJ, NET Efavirenz, 1-10%: pruritus, <1%: eritema multiforme, gangguan pada kuku, perubahan warna pada kulit, SSJ Delavirdin, 1-10%: SSJ Etravirin Erupsi makulopapular Rilpivarin Erupsi makulopapular Inhibitor Protease Indinavir >10%: Pruritus, erupsi makulopapular, <1%: SSJ, urtikaria, vaskulitis. Saquinavir Pruritus (3%), erupsi makulopapular (3%), kekeringan pada kulit (2%) Nelfinavir 2% to 10%: erupsi makulopapular, <2%: urtikaria Ritonavir 2% to 10%: erupsi makulopapular, <2%: urtikaria, SSJ Lopinavir <2%: erupsi makulopapular, SSJ Tipranavir Darunavir 2% to 10%: erupsi makulopapular, <2%: SSJ Amprenavir Fosamprenavir >10%: Rash, 1% to 10%: pruritus, <1%: SSJ Atazanavir < 2%: Steven-Johnson syndrome (SJS), erupsi makulopapular Fusion/Entry Inhibitor Enfuvirtid (T-20) Reaksi pada tempat injeksi (98%) Maraviroc Erupsi makulopapular (11%), pruritus (4%), folikulitis (3%) Inhibitor Integrase Raltegravir Erupsi makulopapular ( 5%), pruritus (3% to 4%), folikulitis ( 2%), SSJ Elvitegravir Tahap uji klinis Inhibitor Maturasi Bevirimat (PA457,DSB) Tahap uji klinis Pada penggunaan indinavir, terdapat efek samping seperti pada penggunaan asam retinoid, seperti keilitis, kulit kering, pruritus, ingrown toenail, dermatitis asteatotik, rambut rontok, dan granuloma piogenik. 6 Amprenavir/Fosamprenavir Fosamprenavir merupakan prodrug dari amprenavir. Fosamprenavir memiliki bioavailabilitas lebih baik dari amprenavir. Erupsi obat berat terjadi sekitar 3-8% dan menyebabkan pasien menghentikan pengobatan. Baik fosamprenavir maupun amprenavir memiliki gugus sulfa, sehingga pemberiannya harus hati-hati pada pasien alergi sulfa. 15 Lopinavir/Ritonavir Erupsi makulopapular terjadi pada 2-4% pasien. Erupsi obat ini tidak berhubungan dengan jumlah CD4+, kandungan virus, maupun stadium klinis HIV/AIDS. Pada pasien yang mendapat terapi profilaksis dengan lopinavir dan ritonavir, dilaporkan mengalami acute generalized exanthematous pustulosis (AGEP), yang timbul dalam waktu 24 jam setelah dosis pertama dan menghilang dalam 48 jam setelah obat dihentikan. Kerontokan rambut dan alopesia merupakan efek samping yang dapat terjadi pada penggunaan inhibitor protease. Terdapat hipotesis bahwa hal ini karena peningkatan aktivitas retinal dehidrogenase, enzim yang berperan dalam pembentukan asam retinoid. Ritonavir, indinavir, sakuinavir, dan lefinavir meningkatkan aktivitas retinal dehidrogenase, berturut-turut sebesar 24%, 17%, 17%, dan 10%. 21 Fusion Inhibitor Fusion inhibitor bekerja dengan cara Gambar 3 Unguis inkarnatus (ingrown toenail) pada pengobatan dengan indinavir menghambat masuknya virus ke dalam sel pejamu. Enfuvirtid merupakan obat antiretroviral pertama dari golongan fusion inhibitor. Pengobatan dilakukan melalui injeksi subkutan dengan dua kali penyuntikan perhari. Efek samping yang terjadi berkaitan dengan tempat penyuntikan. Terdapat eritema, nodul indurasi, gatal, dan/atau nyeri pada tempat penyuntikan. Pada uji klinis tahap III, dalam minggu pertama pengobatan, terdapat 98,3% reaksi pada tempat penyuntikan. 22 Inhibitor Maturasi Obat ini bekerja dengan cara menghambat proses gag pada saat poliprotein kapsid virus membelah sehingga mencegah terbentuknya protein kapsid yang matang. Bevirimat merupakan obat golongan ini. Obat ini masih dalam tahap uji klinis. Sampai saat ini, belum ada efek samping berat pada penelitian yang pernah dilakukan dalam jangka waktu 10 hari dengan pemberian obat satu kali sehari. 15 ERUPSI OBAT OLEH TMP-SMX Pada sekitar 50-60% pasien yang diterapi TMP-SMX, timbul erupsi makulopapular (sering disertai demam) pada 1-2 minggu setelah mulai pengobatan. Insidens erupsi obat karena TMP-SMX lebih besar 10 kali lipat dibandingkan dengan populasi umum. 6 Trimetoprim-sulfametoksazol sering digunakan sebagai profilaksis infeksi oportunistik. Obat ini efektif sebagai profilaksis terhadap pneumocystis carinii pneumonia (PCP) dan terbukti efektif sebagai profilaksis terhadap toksoplasmosis serta organisme lain penyebab infeksi oportunistik. Penggunaan TMP-SMX pada pasien terinfeksi HIV sering memberikan efek samping. 23 SIMPULAN Pasien HIV/AIDS cenderung lebih mudah mendapatkan erupsi obat. Penggunaan 350

5 Gambar 5 Pasien wanita 24 tahun HIV positif dengan CD4+ 77 sel/mm 3 mendapatkan tenofovir, lamivudin, efavirenz, dan TMP-SMX. Setelah 1 bulan pengobatan, timbul pustul dan makula eritematosa yang gatal pada seluruh tubuh disertai malaise, mual, muntah, dan nyeri pada kaki. Setelah dilakukan pemeriksaan histologi, pasien didiagnosis AGEP. Tenofovir diganti dengan abacavir dan TMP-SMX dihentikan. Setelah 8 hari, pasien menunjukkan perbaikan. 25 Gambar 4 Sindrom Stevens-Johnson yang disebabkan oleh TMP-SMX pada pasien HIV/AIDS obat-obat antiretroviral maupun antibiotik, khususnya TMP-SMX atau obat golongan sulfa lainnya, perlu mendapat perhatian khusus. Bila erupsi obat cenderung ringan, misalnya erupsi makulopapular, obat dapat diteruskan. Namun, jika disertai demam, lesi di mukosa, terbentuknya vesikel atau bula, terdapat pengelupasan kulit, dan rasa gatal yang berat, sebaiknya obat dihentikan untuk mencegah timbulnya erupsi obat yang berat. Deteksi dini dan penghentian obat secara dini pada kasus erupsi obat yang berat dapat menurunkan mortalitas pasien. DAFTAR PUSTAKA 1. World Health Organization. AIDS epidemic update Rotunda A, Hirsch RJ, Scheinfeld N,Weinberg JM. Severe cutaneous reactions associated with the use of humanimmunodeficiency virus medications. Acta Derm Venereol. 2003;83: Shah CA. Adherence to high activity antiretroviral therapy (HAART) in pediatric patients infected with HIV: Issues and interventions. Indian J Pediatr. 2007;74: Manzardo C, Zaccarelli M, Agu ero F. Optimal timing and best antiretroviral regimen in treatment-naive HIV-infected individuals with advanced disease. J Acquir Immune Defic Syndr. 2007;46:S Radhakrishnan R, Sudha V. Highly active antiretroviral therapy induced cutaneous adverse drug reactions in patients with human immunodeficiency virus infection. Int Journal of Pharmaceutical Science. 2010;2: Wolff K, Goldsmith L, Katz S, editors. Fitzpatrick s color atlas and synopsis of clinical dermatology. 6 th ed. United States: McGraw Hill. 7. Retno WS, Suharti KS. Erupsi obat alergik. In: Adi S, et al. Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan erupsi obat alergik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1995.p Nigen S, Knowles SR, Shear NH. Drug eruptions: Approaching the diagnosis of drug-induced skin diseases. J Drug Dermatol. 2003;2: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi keempat. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 10. Muller BA. Urticaria and angioedema: A practical approach. AmFam Physician. 2004;69: Chia FL, Leong KP. Severe cutaneous adverse reactions to drugs. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2007;7: Hartman M, Enk A. Cutaneous effects of antiretroviral therapy. Dtsch Arztebl. 2007;104:A Shepherd GM. Hypersensitivity reactions to drugs: Evaluation and management. Mt Sinai J Med. 2003;70: Piraccini BM, Iorizzo M, Antonucci A. Drug-induced nail abnormalities. Expert Opin Drug Saf. 2004;3: Radhakrishnan R, Sudha V. Highly active antiretroviral therapy induced cutaneous adverse drug reactions in patients with human immunodeficiency virus infection. Int J Pharmaceut Sci. 2010;2: Lucas A, Nolan D, Mallal S. HLA-B*5701 screening for susceptibility to abacavir hypersensitivity. J Antimicrob Chemother. 2007;59: Tancrede-Bohin E, Grange F, Bourerias I. Hypersensitivity syndrome associated with zalcitabine therapy. Lancet. 1996;347: Montaner JS, Cahn P, Zala C, Casssetti LI Study Team. Randomized, controlled study of the effects of a short course of prednisone on the incidence of rash associated with nevirapine in patients infected with HIV-1. J Acquir Immune Defic Syndr. 2003;33: Newell A, Avila C, Rodgers ME. Photosensitivity reaction of efavirenz. Sex Transm Infect. 2000;76: Yoshimoto E, Konishi M, Takahashi K. The first case of efavirenz-induced photosensitivity in a Japanese patient withhiv infection. Intern Med. 2004;43: Teira R, Zubero Z, Munoz J, Baraia-Etxaburu J, Santamaria JM. Stevens Johnson syndrome caused by indinavir. Scan J Infect Dis. 1998;30: Lenhard JM, Weiel JE, Paulik MA. Stimulation of vitamin A(1) acid signalling by the HIV protease inhibitor indinavir. Biochem Pharmacol. 2000;59: Maggi P, Ladisa N, Cinori E. Cutaneous injection site reactions to long-term therapy with enfuvirtide. J Antimicrob Chemother. 2004;53: Gifford SL, James FS, Michael FG, Allan. Trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMZ) dose escalation versus direct rechallenge for Pneumocystis carinii pneumonia prophylaxis in human immunodeficiency virus-infected patients with previous adverse reaction to TMP-SMZ. J Infect Dis. 2001;184: Syed AT, Syed AZ, Angadi RN, Lateef BS. Trimethoprim-sulfamethoxazole-induced Stevens-Johnson syndrome in an HIV-infected patient. Indian J Pharmacol. 2012;44: Black J, Kruger R, Roberts R, Lehloenya R, Mendelson M. Case report: Acute generalised exanthematous pustulosis secondary to cotrimoxazole or tenofovir. SAJHIVMED. 2012;13:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. luasnya akses ke pelayanan kesehatan untuk melakukan terapi dengan berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. luasnya akses ke pelayanan kesehatan untuk melakukan terapi dengan berbagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini jumlah reaksi simpang obat cukup tinggi dan besar kemungkinan akan bertambah. Hal tersebut berhubungan dengan tingginya angka harapan hidup dan luasnya akses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1,2,3. 4 United Nations Programme on HIV/AIDS melaporkan

BAB I PENDAHULUAN 1,2,3. 4 United Nations Programme on HIV/AIDS melaporkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi dari virus Human Immunodeficiency

Lebih terperinci

Prevalensi Sindrom Stevens-Johnson Akibat Antiretroviral pada Pasien Rawat Inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin

Prevalensi Sindrom Stevens-Johnson Akibat Antiretroviral pada Pasien Rawat Inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Prevalensi Sindrom Stevens-Johnson Akibat Antiretroviral pada Pasien Rawat Inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Nurmilah Maelani*, Irna Sufiawati**, Hartati Purbo Darmadji*** *Student of Dental Faculty, Padjadjaran

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. infeksi Human Immunodificiency Virus (HIV). HIV adalah suatu retrovirus yang

BAB I. PENDAHULUAN. infeksi Human Immunodificiency Virus (HIV). HIV adalah suatu retrovirus yang BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang AIDS (Accquired Immunodeficiency Syndrom) adalah stadium akhir pada serangkaian abnormalitas imunologis dan klinis yang dikenal sebagai spektrum infeksi Human Immunodificiency

Lebih terperinci

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan RI (4),

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan RI (4), BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi dari virus HIV (Human Immunodeficiency

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus ribonucleic acid (RNA) yang termasuk family retroviridae dan genus lentivirus yang menyebabkan penurunan imunitas tubuh.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) telah menjadi masalah yang serius bagi dunia kesehatan. Menurut data World Health

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. imuno kompromis infeksius yang berbahaya, dikenal sejak tahun Pada

I. PENDAHULUAN. imuno kompromis infeksius yang berbahaya, dikenal sejak tahun Pada 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan suatu penyakit imuno kompromis infeksius yang berbahaya, dikenal sejak tahun 1981. Pada tahun 1983, agen penyebab

Lebih terperinci

Gambaran Klinis Fixed Drug Eruption pada Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo

Gambaran Klinis Fixed Drug Eruption pada Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Artikel Asli Gambaran Klinis Fixed Drug Eruption pada Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Afaf Susilawati, Arwin AP. Akib, Hindra Irawan Satari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

Dampak Perpaduan Obat ARV pada Pasien HIV/AIDS ditinjau dari Kenaikan Jumlah Limfosit CD4 + di RSUD Dok II Kota Jayapura

Dampak Perpaduan Obat ARV pada Pasien HIV/AIDS ditinjau dari Kenaikan Jumlah Limfosit CD4 + di RSUD Dok II Kota Jayapura PLASMA, Vol. 1, No. 2, 2015 : 53-58 Dampak Perpaduan Obat ARV pada Pasien HIV/AIDS ditinjau dari Kenaikan Jumlah Limfosit CD4 + di RSUD Dok II Kota Jayapura Comparison of the Efficacy of ARV Combination

Lebih terperinci

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pada Infeksi Jamur Subkutan

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pada Infeksi Jamur Subkutan : : Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pada Infeksi Jamur Subkutan : infeksi jamur subkutan adalah infeksi jamur yang secara langsung masuk ke dalam dermis atau jaringan subkutan melalui suatu trauma.

Lebih terperinci

SKRIPSI diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan mencapai gelar Sarjana Farmasi ( S1 )

SKRIPSI diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan mencapai gelar Sarjana Farmasi ( S1 ) STUDI PENGGUNAAN ANTIRETROVIRAL PADA PENDERITA HIV(Human Immunodeficiency Virus) POSITIF DI KLINIK VOLUNTARY CONSELING AND TESTING RSUD dr. SOEBANDI JEMBER Periode 1 Agustus 2007-30 September 2008 SKRIPSI

Lebih terperinci

OBAT ANTIVIRUS GOLONGAN OBAT ANTI NONRETROVIRUS

OBAT ANTIVIRUS GOLONGAN OBAT ANTI NONRETROVIRUS OBAT ANTIVIRUS Virus hanya dapat ditanggulangi oleh antibodies selama masih berada di dalam darah. Bila virus sudah masuk ke dalam sel, segera system-interferon dengan khasiat antiviralnya turun tangan,

Lebih terperinci

Pemberian ARV pada PMTCT. Dr. Janto G. Lingga,SpP

Pemberian ARV pada PMTCT. Dr. Janto G. Lingga,SpP Pemberian ARV pada PMTCT Dr. Janto G. Lingga,SpP Terapi & Profilaksis ARV Terapi ARV Penggunaan obat antiretroviral jangka panjang untuk mengobati perempuan hamil HIV positif dan mencegah MTCT Profilaksis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. tertinggi dia Asia sejumlah kasus. Laporan UNAIDS, memperkirakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. tertinggi dia Asia sejumlah kasus. Laporan UNAIDS, memperkirakan 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKAA 2.1 Epidemiologi HIV/AIDS Secara global Indonesia menduduki peringkat ketiga dengan kasusa HIV tertinggi dia Asia sejumlah 380.000 kasus. Laporan UNAIDS, memperkirakan pada tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired UKDW

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) semakin nyata menjadi masalah kesehatan utama di seluruh

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit epidemik di

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit epidemik di BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit epidemik di dunia, dimana penderita HIV terbanyak berada di benua Afrika dan Asia. Menurut World Health Organization

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran umum

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran umum FAKTOR DETERMINAN PENINGKATAN BERAT BADAN DAN JUMLAH CD4 ANAK HIV/AIDS SETELAH ENAM BULAN TERAPI ANTIRETROVIRAL Penelitian Cohort retrospective terhadap Usia, Jenis kelamin, Stadium klinis, Lama terapi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih

BAB 1 PENDAHULUAN. Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian terpenting dari sistem kekebalan tubuh, Sel ini juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sumber: Kemenkes, 2014

BAB I PENDAHULUAN. Sumber: Kemenkes, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang merupakan penyebab dari timbulnya Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), masih menjadi masalah kesehatan utama secara

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah gejala atau

I. PENDAHULUAN. Penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah gejala atau I. PENDAHULUAN Penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah gejala atau infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusiaakibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi Menular Seksual (IMS) atau Sexually Transmited Infections (STIs) adalah penyakit yang didapatkan seseorang karena melakukan hubungan seksual dengan orang yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan kriteria WHO, anemia merupakan suatu keadaan klinis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan kriteria WHO, anemia merupakan suatu keadaan klinis 11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anemia Pada Pasien HIV/AIDS 2.1.1 Definisi Anemia Berdasarkan kriteria WHO, anemia merupakan suatu keadaan klinis dimana konsentrasi hemoglobin kurang dari 13 g/dl pada laki-laki

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tubuh manusia dan akan menyerang sel-sel yang bekerja sebagai sistem kekebalan

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tubuh manusia dan akan menyerang sel-sel yang bekerja sebagai sistem kekebalan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus atau HIV merupakan suatu virus yang dapat menyebabkan penurunan kekebalan tubuh pada manusia. Virus ini akan memasuki tubuh manusia dan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : CD4, HIV, obat antiretroviral Kepustakaan : 15 ( )

ABSTRAK. Kata kunci : CD4, HIV, obat antiretroviral Kepustakaan : 15 ( ) PERBEDAAN KADAR CD4 SEBELUM DAN SESUDAH PENGGUNAAN ANTI RETROVIRAL TERAPI PADA PENDERITA HIV DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAHURIPAN KECAMATAN TAWANG KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2014 Prayitno ) Hidayanti 2) Program

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang terjadi sebagai akibat pemberian obat dengan cara sistemik. Obat ialah zat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang terjadi sebagai akibat pemberian obat dengan cara sistemik. Obat ialah zat BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Erupsi Obat 2.1.1. Definisi Erupsi Obat Salah satu bentuk reaksi silang obat pada kulit adalah erupsi obat. Erupsi obat atau drug eruption itu sendiri adalah reaksi pada kulit

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia. (2) Meskipun ilmu. namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia. (2) Meskipun ilmu. namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak negara di seluruh dunia. Tidak ada negara yang terbebas dari HIV/AIDS. (1) Saat ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Komplikasi infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) terhadap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Komplikasi infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Komplikasi infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) terhadap perubahan status nutrisi telah diketahui sejak tahap awal epidemi. Penyebaran HIV di seluruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tersebut disebut AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). UNAIDS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tersebut disebut AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). UNAIDS BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus atau HIV merupakan virus yang menyerang imunitas manusia. Kumpulan gejala penyakit yang muncul karena defisiensi imun tersebut disebut AIDS

Lebih terperinci

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Dermoskopi Sebagai Teknik Pemeriksaan Diagnosis dan Evaluasi Lesi

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Dermoskopi Sebagai Teknik Pemeriksaan Diagnosis dan Evaluasi Lesi : : Dermoskopi Sebagai Teknik Pemeriksaan Diagnosis dan Evaluasi Lesi Pigmentasi : penggunaan dermoskopi telah membuka dimensi baru mengenai lesi pigmentasi. Dermoskopi merupakan metode non-invasif yang

Lebih terperinci

BAB II PENDAHULUANN. Syndromem (AIDS) merupakan masalah global yang terjadi di setiap negara di

BAB II PENDAHULUANN. Syndromem (AIDS) merupakan masalah global yang terjadi di setiap negara di 1 BAB II PENDAHULUANN 1.1 Latar Belakangg Humann Immunodeficiencyy Viruss (HIV) / Acquired Immuno Deficiency Syndromem (AIDS) merupakan masalah global yang terjadi di setiap negara di dunia, dimana jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue I, II, III, dan IV yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedes albopticus.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit menular menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat di Indonesia dan hal ini sering timbul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) yang menyebabkan kematian penderitanya.

Lebih terperinci

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular?

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular? Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang HIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Ini adalah retrovirus, yang berarti virus yang mengunakan sel tubuhnya sendiri

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran umum

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran umum HUBUNGAN JENIS INFEKSI OPORTUNISTIK DENGAN MORTALITAS ANAK HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS/ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME Studi di RSUP Dr. Kariadi Semarang LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Disusun untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menginfeksi sel-sel sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak

BAB I PENDAHULUAN. menginfeksi sel-sel sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan retrovirus yang menginfeksi sel-sel sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak fungsi. Selama infeksi berlangsung,

Lebih terperinci

Senarai Ubat HIV Dunia

Senarai Ubat HIV Dunia Senarai Ubat HIV Dunia Lebih daripada 20 jenis ubat anti-hiv boleh didapati sekarang ini. Kelas-kelas Ubatan HIV Ubat-ubat di bawah disusun oleh kelas ubatan. Kelas-kelas ini mempunyai nama panjang yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS yang merupakan singkatan dari Acquired

BAB 1 PENDAHULUAN. menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS yang merupakan singkatan dari Acquired BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang AIDS dapat terjadi pada hampir semua penduduk di seluruh dunia, termasuk penduduk Indonesia. AIDS merupakan sindrom (kumpulan gejala) yang terjadi akibat menurunnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. HIV/AIDS Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sejenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yaitu pada sel-sel darah putih yang bertugas

Lebih terperinci

JENIS JENIS EFEK SAMPING PENGOBATAN OAT DAN ART PADA PASIEN DENGAN KOINFEKSI TB/HIV DI RSUP dr.kariadi LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

JENIS JENIS EFEK SAMPING PENGOBATAN OAT DAN ART PADA PASIEN DENGAN KOINFEKSI TB/HIV DI RSUP dr.kariadi LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH JENIS JENIS EFEK SAMPING PENGOBATAN OAT DAN ART PADA PASIEN DENGAN KOINFEKSI TB/HIV DI RSUP dr.kariadi LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian Karya Tulis Ilmiah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala akibat penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi human immunodeficiency virus

Lebih terperinci

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). 10,11 Virus ini akan

Lebih terperinci

INSIDENSI HEPATITIS B PADA PASIEN HIV- AIDS DI KLINIK VCT PUSYANSUS RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN DARI JANUARI TAHUN DESEMBER TAHUN 2012

INSIDENSI HEPATITIS B PADA PASIEN HIV- AIDS DI KLINIK VCT PUSYANSUS RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN DARI JANUARI TAHUN DESEMBER TAHUN 2012 INSIDENSI HEPATITIS B PADA PASIEN HIV- AIDS DI KLINIK VCT PUSYANSUS RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN DARI JANUARI TAHUN 2010- DESEMBER TAHUN 2012 KARYA TULIS ILMIAH Oleh: THILAKAM KANTHASAMY 100 100 415 FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 51 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian 3.1.1 Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah pembuatan media konsultasi diagnosis penyakit Kulit berbasis mobile web dengan menjawab pertanyaan

Lebih terperinci

TELAAH EFEK SAMPING PENGGUNAAN OBAT ANTITUBERKULOSIS DAN ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN KO-INFEKSI HIV-TUBERKULOSIS DI RSUP SANGLAH DENPASAR

TELAAH EFEK SAMPING PENGGUNAAN OBAT ANTITUBERKULOSIS DAN ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN KO-INFEKSI HIV-TUBERKULOSIS DI RSUP SANGLAH DENPASAR TELAAH EFEK SAMPING PENGGUNAAN OBAT ANTITUBERKULOSIS DAN ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN KO-INFEKSI HIV-TUBERKULOSIS DI RSUP SANGLAH DENPASAR Skripsi DESAK PUTU MEILINDA ASRI SWANTARI 1208505037 JURUSAN FARMASI

Lebih terperinci

ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR

ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR PENDAHULUAN Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yg disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) HIV : HIV-1 : penyebab

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit (sel T CD4+) yang tugasnya

BAB 1 PENDAHULUAN. merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit (sel T CD4+) yang tugasnya BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang secara progresif merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit (sel T CD4+) yang tugasnya menjaga sistem kekebalan

Lebih terperinci

ABSTRAK PREDIKTOR PENINGKATAN STATUS GIZI PASIEN YANG MENDAPATKAN TERAPI ANTIRETROVIRAL DI RSUP SANGLAH DENPASAR BALI

ABSTRAK PREDIKTOR PENINGKATAN STATUS GIZI PASIEN YANG MENDAPATKAN TERAPI ANTIRETROVIRAL DI RSUP SANGLAH DENPASAR BALI ABSTRAK PREDIKTOR PENINGKATAN STATUS GIZI PASIEN YANG MENDAPATKAN TERAPI ANTIRETROVIRAL DI RSUP SANGLAH DENPASAR BALI Setelah ditemukannya obat antiretroviral (ARV) telah terjadi peningk atan status gizi

Lebih terperinci

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Angka Kejadian Penyakit Kulit Primer dan Kaitannya dengan Hitung CD4 pada Penderita HIV/AIDS Baru di Klinik Teratai Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) & Acquired Immunodeficieny Syndrome (AIDS) merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global yang

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) semakin menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia.

Lebih terperinci

BAB I. mengubah keadaaan fisiologik atau patologik dengan tujuan untuk diagnosis, terapi, maupun profilaksis. Efek samping obat (ESO) menurut

BAB I. mengubah keadaaan fisiologik atau patologik dengan tujuan untuk diagnosis, terapi, maupun profilaksis. Efek samping obat (ESO) menurut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Obat adalah senyawa atau produk yang digunakan untuk eksplorasi atau mengubah keadaaan fisiologik atau patologik dengan tujuan untuk diagnosis, terapi, maupun profilaksis.

Lebih terperinci

Hasil. Kesimpulan. Kata kunci : Obat-obatan kausatif, kortikosteroid, India, SCORTEN Skor, Stevens - Johnson sindrom, Nekrolisis epidermal

Hasil. Kesimpulan. Kata kunci : Obat-obatan kausatif, kortikosteroid, India, SCORTEN Skor, Stevens - Johnson sindrom, Nekrolisis epidermal LATAR BELAKANG Stevens - Johnson sindrom (SJS) dan Nekrolisis epidermal (TEN) adalah reaksi obat kulit parah yang langka. Tidak ada data epidemiologi skala besar tersedia untuk penyakit ini di India. Tujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1.1 Latar Belakang Penyakit human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) disebabkan oleh infeksi HIV. HIV adalah suatu retrovirus yang berasal dari famili

Lebih terperinci

ABSTRAK. STUDI TATALAKSANA SKRINING HIV di PMI KOTA BANDUNG TAHUN 2007

ABSTRAK. STUDI TATALAKSANA SKRINING HIV di PMI KOTA BANDUNG TAHUN 2007 vi ABSTRAK STUDI TATALAKSANA SKRINING HIV di PMI KOTA BANDUNG TAHUN 2007 Francine Anne Yosi, 2007; Pembimbing I: Freddy Tumewu Andries, dr., MS Pembimbing II: July Ivone, dr. AIDS (Acquired Immunodeficiency

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berkurang. Data dari UNAIDS (Joint United Nations Programme on HIV and

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berkurang. Data dari UNAIDS (Joint United Nations Programme on HIV and BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) merupakan masalah kesehatan global yang menjadi perbincangan masyarakat di seluruh

Lebih terperinci

4.6 Instrumen Penelitian Cara Pengumpulan Data Pengolahan dan Analisis Data Etika Penelitian BAB V.

4.6 Instrumen Penelitian Cara Pengumpulan Data Pengolahan dan Analisis Data Etika Penelitian BAB V. DAFTAR ISI SAMPUL DALAM... I LEMBAR PERSETUJUAN... II PENETAPAN PANITIA PENGUJI... III KATA PENGANTAR... IV PRASYARAT GELAR... V ABSTRAK... VI ABSTRACT... VII DAFTAR ISI... VIII DAFTAR TABEL... X Bab I.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. helper Cluster of Differentiation 4 (CD4) positif dan makrofag),

BAB I PENDAHULUAN. helper Cluster of Differentiation 4 (CD4) positif dan makrofag), BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah suatu retrovirus yang menyerang sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama sel T helper Cluster of Differentiation 4

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu. Penurunan imunitas seluler penderita HIV dikarenakan sasaran utama

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu. Penurunan imunitas seluler penderita HIV dikarenakan sasaran utama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu infeksi yang perkembangannya terbesar di seluruh dunia, dalam dua puluh tahun terakhir diperkirakan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 27 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain Penelitian yang dipilih adalah rancangan studi potong lintang (Cross Sectional). Pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap data

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno Deficiency Syndrome(AIDS) saat ini telah menjadi masalah kesehatan global. Selama kurun

Lebih terperinci

TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS

TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS BAB 2 TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS 2.1 Pengenalan Singkat HIV dan AIDS Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, HIV adalah virus penyebab AIDS. Kasus pertama AIDS ditemukan pada tahun 1981. HIV

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome HIV merupakan virus Ribonucleic Acid (RNA) yang termasuk dalam golongan Retrovirus dan memiliki

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Erupsi Obat Alergi 2.1.1. Definisi Erupsi Obat Alergi Reaksi silang obat adalah reaksi berbahaya atau tidak diinginkan yang diakibatkan dari penggunaan produk pengobatan dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit HIV & AIDS merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global yang melanda dunia. Indonesia merupakan negara di ASEAN yang paling tinggi

Lebih terperinci

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab sekumpulan gejala akibat hilangnya kekebalan tubuh yang disebut Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. mengetahui jenis-jenis efek samping pengobatan OAT dan ART di RSUP dr.

BAB III METODE PENELITIAN. mengetahui jenis-jenis efek samping pengobatan OAT dan ART di RSUP dr. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Dalam, dengan fokus untuk mengetahui jenis-jenis efek samping pengobatan OAT dan ART di RSUP dr. Kariadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. imun. Antibodi yang biasanya berperan dalam reaksi alergi adalah IgE ( IgEmediated

BAB I PENDAHULUAN. imun. Antibodi yang biasanya berperan dalam reaksi alergi adalah IgE ( IgEmediated BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Alergi adalah reaksi hipersensitivitas yang diinisiasi oleh mekanisme imun. Antibodi yang biasanya berperan dalam reaksi alergi adalah IgE ( IgEmediated allergy). 1,2

Lebih terperinci

PENELITIAN RETROSPEKTIF ERUPSI KULIT AKIBAT OBAT DI BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT SAIFUL ANWAR MALANG

PENELITIAN RETROSPEKTIF ERUPSI KULIT AKIBAT OBAT DI BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT SAIFUL ANWAR MALANG Artikel Asli PENELITIAN RETROSPEKTIF ERUPSI KULIT AKIBAT OBAT DI BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT SAIFUL ANWAR MALANG SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, ABSTRAK sering terjadi. akibat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus ribonucleic acid (RNA) yang termasuk family retroviridae dan genus lentivirus yang menyebabkan penurunan imunitas tubuh.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi AIDS Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human immunodeficiency virus (HIV) adalah suatu jenis retrovirus yang memiliki envelope, yang mengandung RNA dan mengakibatkan gangguan sistem imun karena menginfeksi

Lebih terperinci

PENYAKIT DARIER PADA ANAK

PENYAKIT DARIER PADA ANAK PENYAKIT DARIER PADA ANAK dr. Imam Budi Putra, SpKK DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RSUP H. ADAM MALIK M E D A N PENYAKIT DARIER PADA ANAK Pendahuluan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dermatitis Kontak Alergika (DKA) merupakan suatu penyakit keradangan

BAB I PENDAHULUAN. Dermatitis Kontak Alergika (DKA) merupakan suatu penyakit keradangan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dermatitis Kontak Alergika (DKA) merupakan suatu penyakit keradangan kulit yang ada dalam keadaan akut atau subakut, ditandai dengan rasa gatal, eritema, disertai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Joint United National Program on

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Joint United National Program on BAB I PENDAHULUAN A.Latar belakang Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) saat ini merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia. Berdasarkan data yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai penyakit, salah satunya adalah penyakit Lupus, yang merupakan salah satu penyakit yang masih jarang diketahui oleh masyarakat,

Lebih terperinci

Mengapa Kita Batuk? Mengapa Kita Batuk ~ 1

Mengapa Kita Batuk? Mengapa Kita Batuk ~ 1 Mengapa Kita Batuk? Batuk adalah refleks fisiologis. Artinya, ini adalah refleks yang normal. Sebenarnya batuk ini berfungsi untuk membersihkan tenggorokan dan saluran napas. Atau dengan kata lain refleks

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 HIV/AIDS 2.1.1. HIV HIV(Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyebabkan sindrom AIDS(Acquired Immunodeficiency Syndrome), yaitu sindrom penyakit infeksi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis Atopik (DA) adalah penyakit inflamasi pada kulit yang bersifat kronis dan sering terjadi kekambuhan. Penyakit ini terjadi akibat adanya kelainan pada fungsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) semakin nyata menjadi masalah kesehatan utama diseluruh dunia (Yasin

Lebih terperinci

KARYA TULIS ILMIAH PROFIL PASIEN HIV DENGAN TUBERKULOSIS YANG BEROBAT KE BALAI PENGOBATAN PARU PROVINSI (BP4), MEDAN DARI JULI 2011 HINGGA JUNI 2013

KARYA TULIS ILMIAH PROFIL PASIEN HIV DENGAN TUBERKULOSIS YANG BEROBAT KE BALAI PENGOBATAN PARU PROVINSI (BP4), MEDAN DARI JULI 2011 HINGGA JUNI 2013 i KARYA TULIS ILMIAH PROFIL PASIEN HIV DENGAN TUBERKULOSIS YANG BEROBAT KE BALAI PENGOBATAN PARU PROVINSI (BP4), MEDAN DARI JULI 2011 HINGGA JUNI 2013 Oleh : YAATHAVI A/P PANDIARAJ 100100394 FAKULTAS KEDOKTERAN

Lebih terperinci

CURRENT DIAGNOSIS & THERAPY HIV. Dhani Redhono Tim CST VCT RS dr. Moewardi

CURRENT DIAGNOSIS & THERAPY HIV. Dhani Redhono Tim CST VCT RS dr. Moewardi CURRENT DIAGNOSIS & THERAPY HIV Dhani Redhono Tim CST VCT RS dr. Moewardi Di Indonesia, sejak tahun 1999 telah terjadi peningkatan jumlah ODHA pada kelompok orang berperilaku risiko tinggi tertular HIV

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan pengobatan dan pencegahan terhadap acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) telah menjadi masalah global sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1981

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia terutama negara berkembang. Munculnya epidemik Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) didefinisikan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) didefinisikan sebagai 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) didefinisikan sebagai suatu kondisi klinis yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immuodeficiency Virus (HIV)

Lebih terperinci

Gambar 1. Perluasan lesi pada telapak kaki. 9

Gambar 1. Perluasan lesi pada telapak kaki. 9 BAB 3 DISKUSI Larva migrans adalah larva cacing nematoda hewan yang mengadakan migrasi di dalam tubuh manusia tetapi tidak berkembang menjadi bentuk dewasa. Terdapat dua jenis larva migrans, yaitu cutaneous

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena

BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang ditransmisikan oleh nyamuk Ae. Aegypti. 1 Menyebabkan banyak kematian pada anakanak sekitar 90 % dan biasanya

Lebih terperinci

PIODERMA. Dr. Sri Linuwih S Menaldi, Sp.KK(K) Dr. Wieke Triestianawati, Sp.KK(K) Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI / RSCM Jakarta

PIODERMA. Dr. Sri Linuwih S Menaldi, Sp.KK(K) Dr. Wieke Triestianawati, Sp.KK(K) Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI / RSCM Jakarta PIODERMA Dr. Sri Linuwih S Menaldi, Sp.KK(K) Dr. Wieke Triestianawati, Sp.KK(K) Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI / RSCM Jakarta DEFINISI Pioderma ialah penyakit kulit yang disebabkan oleh

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. kulit, membran mukosa maupun keduanya, secara histologi ditandai dengan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. kulit, membran mukosa maupun keduanya, secara histologi ditandai dengan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemfigus vulgaris 2.1.1 Definisi Pemfigus merupakan kelompok penyakit bula autoimun yang menyerang kulit, membran mukosa maupun keduanya, secara histologi ditandai dengan terjadinya

Lebih terperinci

V. Kapan mulai terapi antiretroviral pada bayi dan anak

V. Kapan mulai terapi antiretroviral pada bayi dan anak ART untuk infeksi HIV pada bayi dan anak dalam rangkaian terbatas sumber daya (WHO) V. Kapan mulai terapi antiretroviral pada bayi dan anak Proses pengambilan keputusan untuk mulai ART pada bayi dan anak

Lebih terperinci

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Keberhasilan Terapi Tingtura Podofilin 25% Pada Pasien AIDS Dengan. Giant Condyloma Acuminatum

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Keberhasilan Terapi Tingtura Podofilin 25% Pada Pasien AIDS Dengan. Giant Condyloma Acuminatum : : Keberhasilan Terapi Tingtura Podofilin 25% Pada Pasien AIDS Dengan Giant Condyloma Acuminatum Tanggal kegiatan : 23 Maret 2010 : GCA merupakan proliferasi jinak berukuran besar pada kulit dan mukosa

Lebih terperinci