KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI
|
|
|
- Budi Dharmawijaya
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LAPORAN AKHIR KNKT KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN Terbakarnya KM. Mandiri Nusantara Di Perairan P. Keramian, Laut Jawa 30 Mei 2009 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI KEMENTERIAN PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA 2009
2
3 Keselamatan merupakan pertimbangan utama KNKT untuk mengusulkan rekomendasi keselamatan sebagai hasil suatu penyelidikan dan penelitian. KNKT menyadari bahwa dalam pengimplementasian suatu rekomendasi kasus yang terkait dapat menambah biaya operasional dan manajemen instansi/pihak terkait. Para pembaca sangat disarankan untuk menggunakan informasi laporan KNKT ini hanya untuk meningkatkan dan mengembangkan keselamatan transportasi; Laporan KNKT tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menuntut dan menggugat di hadapan peradilan manapun. Laporan ini diterbitkan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Gedung Karya Lantai 7, Departemen Perhubungan, Jln. Medan Merdeka Barat No. 8, JKT 10110, Indonesia, pada tahun i
4 ii
5 DAFTAR IISII DAFTAR ISI... iii SINOPSIS... v I. INFORMASI FAKTUAL... 1 I.1. DATA UTAMA KAPAL :... 1 I.1.1. Data Utama Kapal... 1 I.1.2. Data Mesin, Sistem Kelistrikan dan Sistem Propulsi... 2 I.2. AWAK KAPAL... 2 I.3. MUATAN KAPAL DAN PENATAAN... 3 I.3.1. Data Muatan Dan Penempatannya... 3 I.3.2. Posisi Muatan, Kendaraan dan penumpang... 4 I.4. PERALATAN KESELAMATAN DAN PEMADAMAN KEBAKARAN... 5 I.4.1. Peralatan Keselamatan... 5 I.4.2. Peralatan Pemadam Kebakaran... 5 I.5. KRONOLOGIS KEJADIAN... 6 I.6. AKIBAT KECELAKAAN... 8 II. ANALISIS... 9 II.1. INVESTIGASI KNKT... 9 II.2. TERJADINYA KEBAKARAN... 9 II.2.1. Lokasi Kebakaran... 9 II.2.2. Proses Kebakaran II.3. PROSES MASUKNYA BARANG KE KAPAL LEWAT ANGKUTAN TRUK II.3.1. Prosedur dan Ketentuan Pemuatan Barang Ke Atas Kapal II.3.2. Masuknya barang-barang mudah terbakar ke atas kapal II.4. PROSES PEMADAMAN KEBAKARAN II.4.1. Peralatan Pemadam Kebakaran II.4.2. Perencanaan Jumlah Muatan yang Diangkut II.4.3. Proses Pemadaman Api Oleh Awak Kapal II.4.4. Manajemen Kondisi Darurat Kapal III. KESIMPULAN III.1. KONTEKS III.2. FAKTOR-FAKTOR YANG TURUT BERKONTRIBUSI III.3. FAKTOR LAIN YANG BERPENGARUH TERHADAP KESELAMATAN TETAPI TIDAK BERKONTRIBUSI TERHADAP KECELAKAAN iii
6 IV. REKOMENDASI IV.1. DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT IV.2. PERUSAHAAN PELAYARAN ANGKUTAN KAPAL RO-RO PENUMPANG IV.3. AWAK KAPAL RO-RO PENUMPANG IV.4. PERUSAHAAN EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT IV.5. ADMINISTRATOR PELABUHAN IV.6. MANAJEMEN PELABUHAN iv
7 SIINOPSIIS Pada tanggal 29 Mei 2009 pukul WIB, Syahbandar Kantor Administrator Pelabuhan Tanjung Perak menandatangani Surat Ijin Berlayar (SIB) No. NI/KM.17/1206/V/2009. Berdasarkan surat pemeriksaan muatan kapal, KM. Mandiri Nusantara berangkat dengan jumlah penumpang naik dari Pelabuhan Tanjung Perak sebanyak 286 Jiwa dan mengangkut kendaraan bermotor sebanyak 45 Unit. Pukul WIB KM. Mandiri Nusantara berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kapal bertolak menuju ke pelabuhan Balikpapan. Kondisi cuaca pada saat keberangkatan dalam keadaan baik. Kapal melaju dengan kecepatan dinas ratarata 13 knot. Pada pukul WIB, tanggal 30 Mei 2009 timbul kebakaran di area tujuh (VII) geladak kendaraan. Alarm kebakaran diketahui pertama kali oleh Masinis Jaga (Masinis III) yang melihat lampu alarm menyala di MSB (Main Switch Board). Masinis jaga segera melaporkan ke anjungan bahwa ada kebakaran di geladak kendaraan dan Nakhoda memberi intruksi kepada awak kapal agar melakukan tindakan pemadaman di area tersebut. Tandil 1 dan Kelasi yang sedang melakukan pengecekan di geladak kendaraan segera mencari sumber api dan melihat kebakaran terjadi di atas truk. Tandil dan Kelasi segera melakukan pemadaman dengan alat pemadam api ringan (APAR) dan dibantu oleh awak kapal lainnya tetapi api semakin membesar dan tidak dapat dikendalikan. Nakhoda memerintahkan untuk meninggalkan kapal. Kapal terbakar pada posisi LS dan BT. Kebakaran mengakibatkan meninggalnya 5 awak kapal dan 1 orang yang belum dapat diidentifkasi. Tidak ada muatan kendaraan bermotor yang dapat diselamatkan. Kecelakaan ini juga mengakibatkan rusaknya sebagian besar ruangan akomodasi dan konstruksi kapal mulai dari geladak kendaraan hingga ke geladak akomodasi dan anjungan kapal. 1 Tandil: Wakil Serang v
8 vi
9 II.. IINFORMASII FAKTUAL Gambar I-1 KM. Mandiri Nusantara Setelah Terbakar dan lego jangkar di perairan Gresik I.1. DATA UTAMA KAPAL : I.1.1. Data Utama Kapal Nama : KM. Mandiri Nusantara Nama panggil/call Sign : Y G U T IMO Number : Tipe : Roro Passenger Klasifikasi (Classification Society) : PT. Biro Klasifikasi Indonesia Panjang Keseluruhan (Length Over All) : m Panjang Antara garis Tegak (LBP) : 136 m Lebar keseluruhan (Breadth Moulded) : 18.4 m Tinggi (Height) : 7.2 m Sarat Maxsimum (Maximum draught) : 5.09 m Kecepatan Operasional : 13 Kt Tonase Kotor (GT) : 8257 Tonase Bersih (NT) : 2870 Bahan Dasar Kontruksi : Baja Tempat Pembuatan (built at) : Naikai Shipbuilding Jepang Tahun Pembuatan :
10 Pemilik Pelabuhan Pendaftaran KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI : PT. Prima Vista, Surabaya : Surabaya I.1.2. Data Mesin, Sistem Kelistrikan dan Sistem Propulsi Mesin Utama (Main Engine) Type Merek : Mesin Diesel : Daihatsu Diesel Engine Jumlah : 8 Unit (6 DSM-32 L) Daya (BHP) RPM Mesin Bantu (Auxiliary Engine) Type Merek / Model Jumlah Daya (BHP) Rpm Sistem Propulsi Jenis Propulasi Jumlah I.2. AWAK KAPAL : 1600 Hp, 4 langkah kerja tunggal : 600 Rpm : Mesin Diesel : 6 PSHT 26 D : 3 Unit : 4 Stroke : 1800 Rpm : Control Pitch Propeller : 2 Unit Berdasarkan daftar awak yang dikeluarkan oleh perusahaan pelayaran, KM. Mandiri Nusantara diawaki oleh 34 orang dengan 3 orang tidak ikut berlayar (juru minyak, juru mudi dan koki). Awak dek kapal berjumlah 22 orang termasuk kru katering untuk pelayanan penumpang. Kru mesin terdiri atas 12 orang. Seluruh awak kapal telah mempunyai kualifikasi dan kompetensi yang cukup untuk mengoperasikan kapal jenis KM. Mandiri Nusantara ini. Semua awak kapal juga telah memiliki sertifikat basic safety training (BST) dan para perwiramya telah memiliki sertifikat advance fire fighting (AFF). Tabel I-1 Sertifikat dan Pengalaman berlayar perwira KM. Mandiri Nusantara No. Jabatan Ijazah Pelaut/Tahun Pengalaman berlayar 1. Nakhoda ANT II/ thn 2. Mualim I ANT III/ thn 3. Mualim II ANT III/ thn 4. Mualim III ANT III/ bln 5. Kepala Kamar Mesin ATT II/ thn 6. Masinis I ATT III/ thn 2
11 No. Jabatan Ijazah Pelaut/Tahun Pengalaman berlayar 7. Masinis II ATT IV/ thn 8. Masinis III ATT IV/ thn Keterangan: pengalaman berlayar dimaksud adalah pengalaman untuk jenis kapal dan rute kapal yang sama I.3. MUATAN KAPAL DAN PENATAAN I.3.1. Data Muatan Dan Penempatannya Penumpang Sesuai dengan daftar penumpang yang dibuat oleh PT. Prima Vista, KM. Mandiri Nusantara, pada tanggal keberangkatan 29 Mei 2009 dengan lintasan Surabaya-Balikpapan, memuat penumpang sebanyak 286 jiwa dengan rincian sebagai berikut : Tabel I-2 Jumlah penumpang di KM. Mandiri Nusantara berdasarkan daftar penumpang dari PT. Prima Vista No. Kategori Jumlah 1. Penumpang Dewasa Penumpang anak anak 4 3. Penumpang Bayi 4 Total Penumpang 286 Sedangkan berdasarkan laporan kegiatan kapal penumpang roro di terminal penumpang pada hari jumat tanggal 29 mei 2009, yang dikeluarkan oleh PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia III (PELINDO III), cabang Tanjung Perak, yang ditandatangani oleh Supervisor pelayanan terminal penumpang dan diketahui Assisten Manager Aneka Usaha dan Terminal Penumpang, menyatakan bahwa jumlah penumpang naik adalah sebanyak 302 dengan rincian sebagai berikut: Tabel I-3 Daftar muatan penumpang berdasarkan catatan PT. Pelindo III No. Kategori Jumlah 1. Penumpang Dewasa Penumpang anak anak 6 3. Penumpang Bayi 5 Total Penumpang 302 Muatan barang dan Kendaraan bermotor Pada saat kejadian, Selain muatan penumpang KM. Mandiri Nusantara mengangkut muatan dalam bentuk kemasan dan kendaraan bermotor. Muatan-muatan ini dibawa oleh penumpang dan ada juga yang dibawa oleh kurir kapal. 3
12 Sedangkan muatan yang lain adalah kendaraan bermotor antara lain truk besar, maupun truk sedang yang dimuati dengan muatan-muatan. Sebagai pelindung muatan rata-rata kendaraan tersebut telah ditutup rapat dengan terpal dan sulit untuk dibuka. Dari informasi yang diperoleh dari perusahaan pemilik barang, jenis-jenis muatan yang diangkut oleh truk-truk tersebut adalah berupa permesinan, barang paket, sayuran, peralatan elektronik, peralatan pertambangan, tekstil dan lain sebagainya. Berdasarkan surat pemeriksaan muatan kapal tiba/berangkat yang ditandatangani oleh Manajer cabang PT. Prima Vista tanggal 26 Mei 2009 dan diketahui oleh Syahbandar, jumlah kendaraan bermotor yang dimuat sebanyak 45 unit dengan rincian sebagai berikut: Tabel I-4 Daftar Muatan KM. Mandiri Nusantara KENDARAAN NAIK DARI SURABAYA Golongan II (Sepeda Motor) 4 Golongan III (Kendaraan Kecil/Sedan) 6 Golongan IV (Truk Sedang) 4 Golongan V (Truk Besar) 31 JUMLAH 45 I.3.2. Posisi Muatan, Kendaraan dan penumpang Berdasarkan gambar rencana umum, KM. Mandiri Nusantara mempunyai 4 geladak. Geladak I merupakan geladak kendaraan yang dapat menampung 28 kendaraan sejenis truk besar. Geladak II dan III merupakan geladak akomodasi penumpang yang berupa ruangan untuk tempat tidur, sanitasi, ruang makan dan rekreasi. Gambar I-2 Rencana umum KM. Mandiri Nusantara Pada tanggal 29 Mei 2009, kendaraan kendaraan tersebut diatur sedemikian rupa pada geladak kendaraan seperti yang terlihat pada sketsa berikut: 4
13 Gambar I-3 Denah muatan kendaraan bermotor Geladak kendaraan I.4. PERALATAN KESELAMATAN DAN PEMADAMAN KEBAKARAN I.4.1. Peralatan Keselamatan Berdasarkan surat pemeriksaan keberangkatan kapal yang dikeluarkan oleh kantor Administrator Pelabuhan Surabaya pada tanggal 29 Mei 2009, dan ditanda-tangani oleh petugas pemeriksa, peralatan keselamatan yang berada di atas kapal adalah sebagai berikut : Tabel I-5 Daftar Peralatan Keselamatan di KM. Mandiri Nusantara NO. JENIS ALAT-ALAT KESELAMATAN JUMLAH KAPASITAS KETERANGAN 1. Sekoci Penolong (Life boat) Rakit apung (Inflatable Lift Raft) Jaket Penolong (Life Jacket) Pelampung Penolong (Life Buoy) Radio teleponi - - Terpasang 6. Pesawat penerima NAVTEX - - Terpasang 7. EPIRB Satelit (COMPAS - SARSAT) Radar Transponder (SART) Two Way VHF Radio Communication I.4.2. Peralatan Pemadam Kebakaran Sesuai ketentuan peraturan keselamatan kapal penumpang, KM. Mandiri Nusantara dipasangi serangkaian peralatan pemadam kebakaran dengan rincian sebagai berikut : 5
14 Tabel I-6 Daftar Peralatan Pemadam Kebakaran di KM. Mandiri Nusantara NO. PERALATAN PEMADAMAN KEBAKARAN JUMLAH KETERANGAN 1. Fire hose yang dilengkapi selang kebakaran 63 Roll 2. Pemadam Utama (CO2 Instalasi) 20 Tabung 3. Instalasi pipa pemadam api+sprinkler 3. Pemadam Api ringan/portable (Foam Liquid, Foam powder, Dry Chemical, CO2 Portable) 155 Tabung 4. Pakaian Tahan Api 4 Set 5. Breathing Apparatus 4 Set Kapal juga dilengkapi dengan alat pemantau kebakaran (fire detector) yang terpasang pada tempat-tempat rawan kebakaran. Khususnya untuk geladak kendaraan, telah dipasang peralatan kebakaran tetap berupa hydrant berikut selang pemadam dan perpipaan pemadaman berikut sprinklernya. Untuk memudahkan pemantauan kondisi darurat kebakaran, geladak kendaraan dibagi menjadi 12 area. Masing-masing area tersebut mempunyai fire detector yang terhubung ke ruang control mesin. Pembagian area kebakaran di geladak kendaraan tersebut seperti yang ditunjuk pada sketsa berikut ini: Area XII Area XI Area X Area IX Area VII Area VIII Area V Area VI Area III Area IV Area II Area I Gambar I-4 Posisi pembagian area kebakaran di geladak kendaraan I.5. KRONOLOGI KEJADIAN Pada tanggal 29 Mei 2009 pukul WIB, Syahbandar Kantor Administrator Pelabuhan Tanjung Perak menandatangani Surat Ijin Berlayar (SIB) No. NI/KM.17/1206/V/2009. Pukul WIB KM. Mandiri Nusantara berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kapal bertolak menuju ke pelabuhan Balikpapan. Kondisi cuaca pada saat keberangkatan dalam keadaan baik. Kapal melaju dengan kecepatan dinas ratarata 13 knot. Pada waktu tengah hari tanggal 30 Mei 2009, 2 awak kapal melakukan pemeriksaan pengikatan kendaraan di Geladak kendaraan. 6
15 Pukul WIB, KM. Mandiri Nusantara telah sampai di perairan sekitar Pulau Keramian, Bawean. Beberapa saat berikutnya, Masinis I yang sedang berjaga di ruang kontrol kamar mesin melihat dan mendengar alarm kebakaran Area VII geladak kendaraan. Gambar I-5 Posisi awal kebakaran Melihat hal ini, Masinis jaga segera melaporkan ke anjungan dan diterima oleh Mualim jaga (Mualim II). Selanjutnya Masinis jaga melapor ke KKM yang pada waktu itu sedang berada di kamar mesin. KKM segera menginstruksikan awak kapal untuk menyalakan pompa darurat kebakaran (emergency fire pump). Nakhoda yang berada di anjungan menerima laporan kebakaran dari Mualim jaga dan segera memerintahkan untuk mematikan mesin induk selanjutnya membunyikan sinyal kebakaran dan menekan tombol sprinkler pemadam api tetap. Nakhoda memerintahkan beberapa awak kapal untuk turun membantu pemadaman. Tandil dan Kelasi langsung melakukan pemadaman di mobil truk tersebut dengan menggunakan APAR yang berupa dry chemical (Bubuk pemadam api). Tidak lama kemudian awak kapal lainnya ikut membantu memadamkan api dengan menggunakan nozzle dan APAR lainnya. Asap yang timbul dan lokasi api yang sulit dijangkau menyebabkan proses pemadaman menjadi terhambat. Markonis segera mengirimkan sinyal bahaya dan menginformasikan ke pada kapalkapal yang terdekat bahwa telah terjadi kebakaran di atas kapal dan meminta bantuan. Tidak lama kemudian datang KM. Timur Galaksi, KM. Sanmas 02 dan TB. Shukur 22 untuk memberikan bantuan. Setelah mengetahui api semakin sulit dipadamkan dan telah menyebar tanpa terkendali ke kendaraan lainnya, Nakhoda segera mengintruksikan untuk meninggalkan kapal dan memerintahkan awak kapal untuk melakukan evakuasi penumpang. Liferaft dan sekoci yang berada diatas kapal segera diturunkan untuk proses evakuasi. Beberapa penumpang terlihat terjun langsung ke laut. Setelah semua penumpang turun dari kapal, Nakhoda mengintruksikan awak kapal segera meninggalkan kapal. Berdasarkan data operasional (shiplog) dari PT. Prisma Vista pada tanggal 30 Mei 2009, bahwa kapal terbakar pada posisi LS dan BT (Gambar I-6). 7
16 Laut Jawa Posisi Kebakaran P. Bawean P. Kangean P. Madura Tj. Perak Surabaya Gambar I-6 Posisi KM. Mandiri Nusantara ketika kebakaran (sebelah timur P. Keramian) I.6. AKIBAT KECELAKAAN Kebakaran yang terjadi telah menghanguskan seluruh geladak kendaraan, dan sebagian besar ruang akomodasi penumpang. Seluruh kendaraan yang berada di geladak kendaraan tidak berhasil diselamatkan. Tidak seperti halnya bagian konstruksi kapal lainnya, kamar mesin masih ditemukan dalam kondisi utuh dan tidak terpengaruh kebakaran. Kebakaran yang terjadi semakin meluas dan menyebar ke geladak akomodasi penumpang. Geladak anjungan juga terbakar hingga menyebabkan rusaknya peralatan-peralatan navigasi kapal. Awak kapal dan penumpang yang berhasil dievakuasi selanjutnya dikumpulkan ke MT. Timur Galaksi yang selanjutnya bertolak ke Surabaya. Kecelakaan ini telah menelan korban jiwa sebanyak 6 orang dengan rincian 5 awak kapal dan 1 belum diketahui identitasnya. Semua korban ditemukan di pintu akses kamar mesin menuju geladak kendaraan. Diperkirakan para korban meninggal tersebut terjebak dalam kebakaran dan tidak dapat meloloskan diri. Pemadaman kebakaran dilakukan oleh TB. Nova yang didatangkan dari Banjarmasin. TB. Anugrah dan TB. Shukur 22 yang kebetulan melintasi lokasi kejadian turut memadamkan kebakaran. Pada tanggal 1 Juni 2009, kebakaran di KM. Mandiri Nusantara berhasil dikendalikan. Selanjutnya pada tanggal 2 Juni 2009, kapal ditarik oleh TB. Anugrah dan tiba di pelabuhan Gresik, Jawa Timur pada tanggal 4 Juni
17 IIII.. ANALIISIIS II.1. INVESTIGASI KNKT Pada tanggal 30 Mei 2009 Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Departemen Perhubungan menerima surat dari Puskodalops No. 052/R/.OPS/V/ perihal kejadian kecelakaan terbakarnya KM. Mandiri Nusantara di Perairan Keramian Bawean. Pada tanggal 31 Mei 2009, KNKT mengirimkan tim investigasi untuk melaksanakan penelitian dan pengumpulan data kecelakaan terbakarnya KM. Mandiri Nusantara berdasarkan Surat Perintah Tugas dari ketua KNKT No.KNKT/012/V/SPT.KL/09 tanggal 31 Mei Pemeriksaan di atas kapal dilaksanakan setelah proses pemadaman selesai dan dinyatakan aman untuk dilakukan pemeriksaan oleh tim survey Dinas Karantina Kesehatan dan Kesyahbandaran Pelabuhan Gresik. Pada tanggal 9 Juni 2009, tim investigasi KNKT memeriksa kondisi KM. Mandiri Nusantara bersama dengan tim Laboratorium Forensik Kepolisian Daerah Jawa Timur (LABFOR POLDA JATIM), dan Kesyahbandaran Adpel Tanjung Perak Surabaya. Tim investigasi KNKT melakukan pemeriksaan lokasi kebakaran, mengambil foto kondisi kerusakan kapal, melakukan inventarisasi hasil kebakaran dan mengumpulkan barang bukti lainnya. Investigator KNKT mengumpulkan data dan dokumen yang terkait langsung dengan kecelakaan di PT. Prima Vista dan melakukan wawancara dengan awak kapal KM. Mandiri Nusantara. Pada tanggal 20 Agustus 2009, KNKT melaksanakan rapat koordinasi dengan pihak LABFOR Polda Jatim untuk mendapatkan keterangan dan data pendukung mengenai penyebab terjadinya kebakaran tersebut. Dalam investigasi ini, KNKT menitikberatkan penelitian pada proses masuknya barang-barang mudah terbakar dan proses pemadaman api yang merupakan faktor kontributor penyebab kebakaran. II.2. TERJADINYA KEBAKARAN II.2.1. Lokasi Kebakaran Identifikasi awal kebakaran menurut keterangan beberapa awak kapal adalah berawal dari berderingnya alarm tanda kebakaran area VII dan munculnya asap pada kendaraan yang berada di area VII (Gambar I-4 dan Gambar I-5). Selanjutnya berdasarkan pemeriksaan lokasi kebakaran, awal lokasi kebakaran adalah pada truk bernomor polisi BM 8998 AK. Bukti tersebut ditunjukkan dengan kerusakan berat pada instalasi listrik di atas truk BM 8998 AK akibat jalaran api dari bawah dan lamanya mendapat paparan panas sehingga kabel tersebut terputus. Pipa hidran dan pipa pembuang kotoran yang berada tepat di atas truk tersebut juga terputus. Adanya Flipboard atau bekas yang ditimbulkan pada permukaan dek mengalami perubahan warna karena mengalami pemanasan yang lama dan 9
18 tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa awal api benar berasal dari truk tersebut. II.2.2. Proses Kebakaran Kebakaran adalah kondisi dimana suatu api menjadi tidak terkendali. Sedangkan proses terjadinya api adalah suatu reaksi kimia yang melibatkan 3 unsur yang terdiri dari oksigen, bahan bakar dan sumber panas yang tercampur secara seimbang. Hal ini secara ringkas dapat digambarkan dalam konsep segi tiga api. OKSIGEN (O2): Oksigen merupakan salah satu unsur untuk membentuk api. Sumber O2 di geladak kendaraan dipasok oleh blower hisap dan tekan untuk sirkulasi udara di geladak kendaraan tersebut. BAHAN MUDAH TERBAKAR: Pada umumnya benda padat, ketika terlibat dalam suatu kebakaran, harus melewati suatu proses Pyrolisis 2 untuk merubah benda padat tersebut ke substansi tingkat yang sangat kecil (molekuler) sehingga mudah menguap dan menjadi lebih mudah terbakar (flamable). Untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan suatu energi panas pada suhu tertentu tergantung pada jenis bendanya. Untuk menentukan bahan mudah terbakar ini, KNKT telah melakukan penelitian dan pemeriksaan dokumen muatan dan juga sisa-sisa kebakaran di truk yang bersangkutan. Dari dokumen pemuatan yang dikeluarkan oleh pemilik barang, diketahui jenis muatan yang diangkut oleh truk ini adalah paket barang. Namun, dokumen barang tidak secara rinci menyebutkan komposisi dari paket-paket tersebut. Dari keterangan saksi pengemudi kendaraan biasanya paket-paket tersebut berupa kertas, bahan-bahan kelontong berupa plastik dan bahan tekstil. Biasanya paket tersebut dikemas dengan menggunakan bahan penutup yang berasal dari plastik, karung goni, kertas dan bahan lainnya. Paket ukuran besar biasanya dilindungi dengan rangka yang terbuat dari kayu. Pemeriksaan LABFOR Polda Jatim terhadap residu kebakaran yang ditemukan di lokasi awal kebakaran menunjukkan bahwa residu tersebut bagian dari proses dari penyaring air mineral atau air minum dan bersifat non flamable. SUMBER PANAS: Sumber panas yang dibutuhkan untuk menimbulkan api dapat berasal dari panas eksternal dan internal. Dilihat dari asal, sumber panas dapat berasal dari proses mekanik, kimia, unsur biologis. Ketersediaan sumber panas eksternal di atas kapal bisa dari korek api, nyala rokok, hubungan singkat listrik pada instalasi listrik kapal, atau pada instalasi listrik kendaraan yang ada di geladak kendaraan. Sumber panas juga dapat ditimbulkan oleh sebuah proses kimia dari barang muatan yang berakibat timbulnya api. 2 Pyrolisis: penguraian secara kimiawi benda benda organis padat yang diakibatkan panas 10
19 Gambar II-1 Kondisi Muatan Truk BM 8998 AK (asal api) dan Botol gas yang berada di dekat truk Pada kasus kebakaran ini, KNKT mengalami kesulitan untuk menentukan sumber panas. Berdasarkan keterangan-keterangan dari tim LABFOR Polda Jatim, sumber panas tidak dimungkinkan berasal dari faktor internal muatan truk. Sumber api mekanik juga tidak dimungkinkan terjadi dikarenakan penempatan muatan dalam bak truk sudah sangat rapat dan tidak dimungkinkan terjadi pergerakan. Sumber api eksternal sangat dimungkinkan terjadi dikarenakan kebakaran terjadi pada saat kapal telah berlayar 17 jam dari keberangkatan. Dalam kurun waktu tersebut, banyak aktifitas yang berjalan di geladak kendaraan. Selain itu, tidak semua pengemudi kendaraan ketika kejadian berada di geladak penumpang. Pemeriksaan pasca kebakaran di lokasi titik awal api, ada beberapa potensi yang dapat memantik api, seperti halnya sistem kelistrikan, puntung rokok, korek api dan lain-lain. II.3. PROSES MASUKNYA BARANG KE KAPAL LEWAT ANGKUTAN TRUK II.3.1. Prosedur dan Ketentuan Pemuatan Barang Ke Atas Kapal Kewajiban pemilik muatan dan perusahaan pengangkutan muatan diatur dalam Peraturan pemerintah No. 82 tahun Pada Bab X pasal 91 disebutkan tentang kewajiban yang harus dipenuhi oleh pengangkut yaitu:..pada saat menyerahkan barang untuk diangkut, pemilik/pengirim barang harus: a. memberitahu pengangkut mengenai ciri-ciri umum barang yang akan diangkut dan cara penangananya, apabila pengangkut menghendaki demikian; b. Memberi tanda atau label secara memadai terhadap barang khusus, barang berbahaya dan beracun, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku; Perusahaan angkutan di perairan berhak menolak untuk mengangkut barang apabila pemilik barang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. 11
20 Dalam penerapannya di lapangan, proses masuknya muatan hingga ke dalam kapal secara umum dapat digambarkan sebagai berikut: Pemilik barang mengirimkan barang lewat EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut) beserta dokumen pengantarnya yang menjelaskan kondisi dari muatan tersebut. Oleh EMKL, dibuatkan dokumen muatan yang berisi data tentang jenis dan berat muatan untuk kemudian diajukan kepada agen/perusahaan pelayaran. Berdasarkan data dari EMKL tersebut, Agen/perusahaan pelayaran membuat daftar muatan (berisi nomor polisi kendaraan dan jenis kendaraan dengan rincian muatan yang berada di atasnya). Dalam satu kapal, EMKL yang terlibat dalam pengangkutan mungkin lebih dari satu. Agen/Perusahaan Pelayaran kemudian menghubungi Administrator Pelabuhan untuk mengajukan permohonan berlayar (SIB) dengan melampirkan daftar muatan kapal. Sebelum memasuki area pelabuhan, Muatan yang berada di atas kendaraan tersebut diperiksa oleh petugas pelabuhan. Pemeriksaan meliputi jenis barang yang dikirim dan volumenya. Setelah kapal siap untuk dimuat, kendaraan yang membawa muatanmuatan tersebut kemudian masuk ke kapal diatur posisinya oleh mualim I. Setelah pengaturan posisi di geladak kendaraan selesai, kendaraan berikut muatannya kembali diperiksa oleh petugas Administrator pelabuhan sebagai persyaratan untuk dikeluarkannya SIB (surat ijin berlayar). Pemeriksaan ini dilakukan terhadap sertifikat-sertifikat keselamatan, sarat kapal, pengaturan/pengikatan muatan dan Custom imigration quarantine (CIQ). Berdasarkan hasil pemeriksaan ini, Administrator pelabuhan kemudian mengeluarkan SIB (port clearance). Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa semua informasi tentang jenis, ukuran dan jumlah muatan adalah dari pemilik barang. Ketika pemilik barang menghubungi perusahaan EMKL untuk melakukan pemuatan lewat kapal laut, pemilik barang diwajibkan mengisi Surat Permintaan Pengapalan Kendaraan dan Muatan. Dokumen ini berisi informasi rinci tentang jenis, ukuran dan jumlah muatan yang akan diangkut ke kapal baik lewat perusahaan bongkar muat (PBM) ataupun lewat angkutan truk. Selain itu pemilik barang atau muatan juga diwajibkan memberitahukan perusahaan angkutan perihal kebutuhan penanganan khusus yang dibutuhkan untuk muatannya. Perusahaan angkutan selanjutnya akan berkoordinasi dengan awak kapal yang bertanggung jawab atas penataan muatan di atas kapal. II.3.2. Masuknya barang-barang mudah terbakar ke atas kapal PP Nomor 82 tahun 1999 Bab VIII pasal 87 tentang pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya menerangkan tentang ketentuan dan 12
21 persyaratan yang harus dipenuhi untuk pengiriman barang-barang mudah terbakar. Sedangkan untuk kategori barang-barang berbahaya dijelaskan dalam pasal 87 ayat 3 dengan rincian sebagai berikut:..barang berbahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbagi menurut kelas-kelas sebagai berikut : a. bahan peledak; b. gas yang dikempa, dicairkan atau dilarutkan dibawah tekanan; c. cairan yang mudah menyala; d. barang padat yang mudah menyala; e. bahan yang dapat terbakar sendiri; f. bahan yang jika terkena air mengeluarkan gas yang mudah menyala; g. peroxida organik; h. zat beracun; i. bahan yang menimbulkan infeksi; j. bahan radio aktif; k. bahan/zat yang mengakibatkan korosi dan berbagai bahan atau zat berbahaya lainnya... Dari hasil pemeriksaan dokumen muatan, terdapat berbagai jenis muatan yang dilaporkan. Namun, tidak ada pemilik barang yang menyatakan bahwa barang-barang tersebut termasuk kategori berbahaya. Mungkin, pemilik barang berbahaya sengaja menutupi data yang benar untuk menghindari kendala-kendala yang muncul selama proses pemuatan barang-barang mudah terbakar tersebut seperti halnya: penundaan muatan, penambahan biaya, berbelitnya administrasi dan ditolaknya muatan. Gambar II-2 muatan mudah terbakar thinner yang ditemukan ketika pemeriksaan kebakaran Pada saat pemeriksaan kapal pasca terjadinya kebakaran, tim investigasi KNKT menemukan barang-barang muatan bak terbuka yang dapat 13
22 dikategorikan barang berbahaya sesuai ketentuan di atas. Tim investigasi juga menemukan muatan thinner yang dikategorikan cairan yang mudah terbakar dan beracun. Dari inventarisasi terhadap muatan setelah kebakaran, tim penanganan kebakaran menemukan bahan radio aktif yang dimuat dalam truk terbuka (Gambar II-3). Ketika dilakukan pemeriksaan SPPKM, tidak ada pemilik barang yang menyatakan muatannya adalah berbahaya jenis bahan radio aktif, akan tetapi disebutkan sebagai paket. Gambar II-3 bahan radio aktif yang ditemukan ikut berada di atas kapal (diikat garis polisi ) Pada saat barang berbahaya akan dikirimkan melalui angkutan bak terbuka, pemilik barang tersebut dimungkinkan untuk menyatakan bahwa barangnya adalah barang paket tanpa dinyatakan secara rinci isi paket tersebut. Pernyataan ini menimbulkan persepsi yang membingungkan bagi pengusaha angkutan laut untuk menentukan tindakan penanganan untuk angkutan barang tertentu. Selain ketidaksesuain informasi yang diberikan oleh pemilik barang, hal lain yang dapat menyebabkan barang-barang tersebut mudah masuk ke atas kapal adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak pengawas pelabuhan dan perusahaan angkutan. Dari keterangan petugas pemeriksa barang, pemeriksaan muatan sebelum masuk kapal dilakukan secara administrative dengan melihat kelengkapan dokumen pengiriman. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa, perusahaan angkutan telah melakukan pemeriksaan terhadap dokumen pemuatan sebelum truk angkutan masuk ke kapal. Pemeriksaan tersebut tidak dapat dilakukan secara efektif dikarenakan kondisi pengemasan dan penempatan di bak-bak terbuka umumnya sudah sangat rapi dan membutuhkan waktu yang lama untuk membongkar kembali. Hal ini juga dipengaruhi oleh singkatnya waktu 14
23 sandar kapal, yang mana jika dilakukan pemeriksaan secara rinci akan mengakibatkan tertundanya keberangkatan kapal. Guna dapat mengendalikan jenis maupun jumlah muatan di atas truk yang akan diangkut ke atas kapal Roro diperlukan pengaturan berupa peraturan setempat dimana lingkup (scope) pemberlakuannya hanya pada wilayah Pelabuhan setempat ataupun peraturan nasional dimana lingkup pemberlakuannya untuk seluruh pelabuhan di seluruh Pelabuhan Indonesia. Peraturan setempat dapat berupa surat keputusan Adpel Tanjung Perak Surabaya atau secara Nasional dengan surat keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut atau yang sejenis. Hal-hal yang perlu diatur adalah sebagai berikut : 1. Prosedur pemuatan barang ke atas truk. 2. Prosedur pemuatan truk ke atas kapal Ro-Ro. 3. Sistem pengawasan seluruh prosedur pemuatan barang. Diharapkan dengan adanya pengaturan sistem dan prosedur pemuatan barang khususnya untuk kapal Ro-Ro ini, maka penanganan pemuatan barang ke atas kapal-kapal Ro-Ro ini dapat sesuai dengan peraturan yang berlaku, sehingga kemungkinan kejadian kebakaran di atas kapal Ro-Ro dapat dikurangi. II.4. PROSES PEMADAMAN KEBAKARAN II.4.1. Peralatan Pemadam Kebakaran SOLAS 3 CHAPTER II-2 berisi aturan-aturan mengenai konstruksi-perlindungan api-pendeteksi api-pemadaman api menerangkan bahwa sebuah kapal harus dibangun dengan sebuah standar yang dapat bertahan dari kebakaran dalam kurun waktu dan dalam suatu kondisi kebakaran tertentu. Kapal juga harus dilengkapi dengan peralatan pendeteksi dan pemadam api. Berdasarkan rencana kebakaran (fire plan) yang disyahkan oleh Direktorat Perkapalan dan Kepelautan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, KM. Mandiri Nusantara memiliki sistem pemantau kebakaran berupa tipe ultraviolet (UV) dan tipe ion, sistem peralatan pemadam api tetap (Fixed fire extinguisher system) dan ringan. Jenis pemantau UV dipergunakan untuk memantau adanya asap yang terjadi. Sedangkan pematau ion digunakan untuk mendeteksi adanya nyala api. Kedua alat ini dipasang bersama dalam satu titik. Di geladak kendaraan KM. Mandiri Nusantara telah dipasang alat pendeteksi panas dan pendeteksi nyala api. Sesuai dengan Fire Plan tersebut, jumlah pemantau asap terpasang sebanyak 19 unit dan pemantau nyala api adalah sejumlah 22 unit. Ketika kebakaran terjadi di geladak kendaraan, asap telah memicu detektor dan mengirimkan sinyal ke panel kontrol kebakaran dan memicu alarm kebakaran. 3 Safety of life at sea
24 Jenis alat pemadam api tetap yang terpasang di geladak kendaraan adalah instalasi perpipaan pemadam api dengan media pemadam adalah air laut. Fungsi dari peralatan pemadam api tetap ini adalah selain untuk memadamkan api juga berfungsi untuk menahan laju kebakaran. Sistem peralatan pemadam api tetap dilengkapi dengan hydrant berikut selang, dan instalasi pipa pemadam api dengan nozzle. Alat pemadam kebakaran tetap yang terpasang di geladak kendaraan direncanakan untuk mengendalikan kebakaran dengan komposisi muatan kendaraan bermotor sesuai dengan rencana muatan. Sesuai ketentuan, ukuran selang yang terpasang pada kapal ukuran ini adalah sepanjang 20 m. Pada saat kejadian, berdasarkan gambar rencana kebakaran posisi hydrant terdekat adalah berada kurang dari 10 m dari titik awal api. Dengan demikian sangat dimungkinkan selang pemadam akan dapat mencapai titik api. Dari keterangan awak kapal yang ikut dalam upaya pemadaman, beberapa hydrant sudah dilibatkan, namun tidak berhasil memadamkan api. Hal ini dimungkinkan dikarenakan metode pemadaman tidak dilakukan secara tepat dan juga karena api sudah menyebar. Selain itu, juga dimungkinkan tekanan yang dikeluarkan tidak cukup untuk memberikan daya pemadaman yang dibutuhkan. Gambar II-4 Bekas alat pemadam api ringan yang ditemukan di lokasi titik awal kebakaran Sedangkan kinerja dari sistem instalasi pipa pemadam tetap dengan media air laut adalah dengan cara mendistribusikan air laut yang dipompa oleh pompa darurat kebakaran melalui instalasi pipa dan disemprotkan melalui sprinkler ke seluruh geladak kendaraan. Sprinkler didesain bekerja secara otomatis. Sensor yang terpasang dipicu oleh api pada suhu tertentu dan selanjutnya mengaktifkan nozzle dan kemudian menyemburkan air ke segala arah dengan tekanan tertentu. Jika satu sprinkler aktif, maka akan memicu instalasi sprinkler lainnya. Jumlah sprinkler yang terpasang di geladak kendaraan adalah sebanyak 159 titik. Jumlah ini sudah seharusnya sudah dapat menahan laju api yang yang terjadi. Di sekitar lokasi kejadian sendiri, terdapat 5 titik sprinkler. Jika Sprinkler dapat bekerja secara efektif, maka api akan dapat dikendalikan dan dapat dipadamkan secara cepat. 16
25 Peralatan pemadam api ringan yang berada di atas kapal berjumlah 155 buah yang terdiri dari busa cair, busa bubuk, CO2 dan dry chemical. Menurut keterangan saksi dan awak kapal, APAR tersebut dapat digunakan namun tidak mampu memadamkan api. Hal ini dapat terjadi jika teknik pemadaman yang digunakan tidak tepat. Media pemadam seperti halnya busa atau dry chemical tidak akan langsung memadamkan api jika diarahkan langsung ke titik api. Jika alat-alat pemadam tersebut dapat digunakan secara tepat, sangat dimungkinkan api dapat dikendalikan sehingga tidak menyebar. II.4.2. Perencanaan Jumlah Muatan yang Diangkut Berdasarkan rencana gambar umum, geladak kendaraan direncakan untuk memuat kendaraan sebanyak 28 unit kendaraan truk besar. Dengan jumlah tersebut geladak kendaraan akan masih mempunyai area kosong. Dalam kondisi darurat yang melibatkan kendaraan bermotor, seperti halnya kebakaran, area kosong ini berguna untuk mengatur ulang penempatan muatan kendaraan bermotor, sebagai tindakan yang diperlukan untuk penyelamatan muatan. Pada tanggal 29 Mei 2009, geladak KM. Mandiri Nusantara dimuati 45 unit kendaraan bermotor dengan berbagai jenis. Dengan jumlah muatan tersebut, geladak kendaraan terisi penuh. Hal ini ditujukan untuk optimalisasi ruangan yang ada sehingga dapat menambah pendapatan perusahaan. Ketika terjadi kebakaran, truk yang merupakan awal titik api tidak dapat diisolasi dari truk di sebelahnya, sehingga menyebabkan proses pemadaman kebakaran menjadi terhambat. Selanjut api menjalar dan tidak terkendali. Jika penataan muatan kendaraan bermotor menyediakan ruang untuk akses menuju titik api ketika salah satu kendaraan mengalami kebakaran, dimungkinkan proses pemadaman lebih mudah dan api dapat dikendalikan, sehingga tidak merambat ke seluruh badan kapal. II.4.3. Proses Pemadaman Api Oleh Awak Kapal. Nakhoda KM. Mandiri Nusantara telah berpengalaman dalam mengoperasikan kapal jenis ini. Berdasarkan manajemen keselamatan kapal, pelatihan kondisi darurat kebakaran diwajibkan dilaksanakan satu kali dalam sebulan. Pelatihan ini melibatkan seluruh awak kapal yang berada di atas kapal sehingga didapatkan kerjasama yang baik dari seluruh awak kapal. Dari keterangan dan catatan pelatihan kondisi darurat kebakaran yang didapat, pelatihan ini mensimulasikan kebakaran pada daerah yang dianggap paling rawan dan secara terus menerus mempunyai sumber api seperti halnya dapur atau ruang mesin. Tidak ada catatan pelatihan yang menunjukkan adanya simulasi pemadaman kebakaran yang terjadi di geladak kendaraan. Kondisi geladak kendaraan dapat memberikan tingkat kesulitan yang cukup tinggi jika terjadi kebakaran terkait dengan adanya penataan muatan 17
26 kendaraan. Ditambahkan lagi, dibutuhkan suatu upaya yang terpadu dan terlatih dari petugas-petugas pemadam kebakaran. Susunan kendaraan yang rapat akan membatasi akses dan gerak dari awak kapal ketika kebakaran terjadi. Pada saat sebelum kejadian, beberapa anak buah kapal (ABK) sedang melakukan pengawasan terhadap pengikatan kendaraan. Dari keterangan awak kapal ketika kebakaran terjadi, hal yang pertama diketahui adalah timbulnya asap dari balik terpal pelindung muatan truk. ABK tersebut selanjutnya menggunakan alat pemadam api ringan yang berada di dekat titik kebakaran. Namun alat pemadam tersebut tidak dapat memadamkan api dengan cepat, dikarenakan posisi kebakaran yang berada di dalam truk dan tertutup oleh terpal. Kebakaran selanjutnya semakin membesar dan tidak dapat dikendalikan. Beberapa awak kapal lainnya juga datang membantu memadamkan api dengan menggunakan peralatan pemadam yang sama. Namun tidak berhasil memadamkan api. Dengan bertambahnya Asap yang timbul, titik api semakin sulit untuk diakses. Sesuai ketentuan, KM. Mandiri Nusantara telah dilengkapi dengan 4 unit baju tahan api. Selain itu di atas kapal juga tersedia 4 unit alat bantu pernapasan (Breathing aparatus). Peralatan-peralatan tersebut berfungsi untuk melindungi petugas pemadam kebakaran dari bahaya panas dan kekurangan oksigen akibat dari asap ketika melakukan proses pemadaman api. Dari keterangan awak kapal, tidak ada awak kapal yang mengenakan baju tahan api ataupun breathing apparatus. Berdasarkan sijil kebakaran, sudah ada awak kapal yang berkewajiban mengenakan peralatan-peralatan tersebut. Hal ini dimungkinkan karena proses pemakaian yang cukup lama dan kondisi yang sudah tidak terkendali menyebabkan baju tahan api dan breathing apparatus tidak dapat digunakan. Jika petugas pemadam kebakaran dapat mengenakan baju tahan api dan Breathing Apparatus, dimungkinkan petugas tersebut akan dapat menuju titik api dan melakukan pemadaman dengan alat-alat yang tersedia. Secara garis besar teknik pemadaman yang tepat adalah memposisikan arah pemadaman dengan memperhatikan arah angin. Teknik pemadaman api yang tepat, pemadam memposisikan dirinya menghadap arah hembusan angin. Dengan demikian teknik pemadaman akan lebih efektif dikarenakan arah kobaran api dan asap yang timbul tidak mengganggu pemadam. Dalam kasus terbakarnya KM. Mandiri Nusantara ini, Nakhoda kapal mematikan mesin kapal. Hal ini akan menyebabkan olah gerak kapal terhenti dan kapal tidak dapat diposisikan sesuai kondisi angin. Meskipun kebakaran terjadi di geladak kendaraan yang tertutup, namun api yang berkobar telah merambat ke hampir seluruh badan kapal termasuk geladak akomodasi dan anjungan. Jika kapal dapat diposisikan mengikuti arah angin, sangat dimungkinkan akan dapat mengurangi efek kebakaran di kapal dan membantu proses pemadaman. 18
27 II.4.4. Manajemen Kondisi Darurat Kapal KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Dalam suatu kondisi darurat yang melibatkan armada kapal diperlukan suatu mekanisme penanganan yang terpadu sehingga kondisi darurat tersebut akan dapat ditangani secara cepat dan tepat. Mekanisme sudah seharusnya melibatkan pihak di atas kapal dan manajemen di darat. Pihak yang berada di atas kapal tentunya awak kapal dan penumpang. Sedangkan untuk manajemen di darat, petugas yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap operasional kapal adalah DPA (Designated Person Ashore). Dalam manajemen keselamatan kapal sudah diatur tentang kewajiban DPA yang secara umum adalah menjamin keselamatan pelayaran armadanya. DPA harus dilibatkan sepenuhnya di dalam operasional kapal terutama dalam hal pengarahan dan pemantauan kondisi penanggulangan keadaan darurat atau kecelakaan kapal kepada awak kapal sesuai dengan prosedur yang ada. Setiap kondisi yang membahayakan keselamatan pelayaran harus segera ditangani secara cepat dan tepat. Dalam kasus ini, kebakaran terjadi ketika kapal sudah berada di separuh waktu operasinya. Tindakan pemberian bantuan penanganan darurat sebagian besar dilakukan oleh kapal yang kebetulan melewati rute yang sama dengan KM. Mandiri Nusantara. DPA seharusnya mengupayakan penanganan untuk melakukan upaya penyelamatan kapal sehingga pengaruh yang ditimbulkan akibat kebakaran tidak bertambah parah. Di atas kapal, awak kapal bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keselamatan operasi kapal. Pemantauan potensi yang membahayakan keselamatan kapal harus secara simultan dilaksanakan. Patrol-patroli (ronda) kebakaran harus tetap diadakan. Selain itu awak kapal harus secara aktif menyampaikan informasi potensi bahaya kepada seluruh pelayar termasuk para penumpang. Sehingga penumpang dapat selalu waspada terhadap kondisi kapal. Sudah seharusnya bagi awak kapal yang bekerja di atas kapal penumpang mempunyai kemampuan untuk mengendalikan penumpang. Kondisi darurat yang ada dapat diperparah dengan meningkatnya kepanikan seluruh penumpang. Prosedur kondisi darurat yang ada akan tidak dapat dijalankan dengan tepat. Kemampuan pengendalian penumpang dalam kondisi darurat ini didapatkan dari pelatihan crowd and crisis management. Pelatihan ini harus diikuti oleh seluruh awak kapal. Selain itu, untuk mempermudah pengendalian penumpang ini, sosisalisasi prosedur keselamatan dan pendekatan-pendekatan untuk mengajak penumpang menjaga keamanan dan keselamatan pelayaran harus diberikan penumpang di setiap awal pelayaran. Sehingga ketika terjadi kondisi darurat, penumpang secara tertib akan dapat mengikuti arahan dan panduan dari awak kapal. Dalam kasus terbakarnya KM. Mandiri Nusantara ini, informasi kondisi darurat disediakan melalui poster-poster dan arahan keselamatan yang 19
28 terpasang di dinding kapal. Sangat dimungkinkan seebagian besar penumpang tidak memperhatikan informasi ini. Untuk itu diperlukan tindakan proaktif dari awak kapal menyampaikan informasi yang berkaitan dengan petunjuk kondisi darurat. Selain penumpang yang ada di ruang akomodasi, sosialisasi keselamatan juga seharusnya diberikan kepada para pengemudi truk. Sehingga pengemudi truk tersebut dapat juga secara aktif membantu untuk memantau dan memberikan informasi tentang potensi bahaya kepada awak kapal, utamanya ketika pengemudi tersebut masih berada di geladak kendaraan. 20
29 IIIIII.. KESIIMPULAN III.1. KONTEKS Pada tangal 30 Mei 2009 pukul WIB, telah terjadi kebakaran di KM. Mandiri Nusantara ketika kapal dalam pelayaran dan telah berada di Perairan Pulau Keramian, Bawean. Api yang timbul tidak berhasil dipadamkan dengan peralatan yang ada di kapal dan selanjutnya Nakhoda mengambil keputusan untuk melakukan prosedur evakuasi meninggalkan kapal. Sebagai akibat dari kebakaran ini adalah kerusakan total pada geladak kendaraan berikut muatan yang berada di dalamnya dan menyebar hingga ke seluruh kapal. Kebakaran juga mengakibatkan kapal tidak dapat beroperasi dikarenakan kendali kapal berikut perangkat permesinan kapal ikut terbakar. Dari bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan dan dianalisis oleh tim investigasi KNKT, dapat disimpulkan bahwa terjadinya api dimungkinkan oleh sumber eksternal dan adanya muatan yang mudah terbakar yang berada di bak kendaraan tertutup terpal. Api ini mungkin dipicu oleh sumber eksternal seperti halnya percikan hubungan singkat listrik atau puntung rokok. III.2. FAKTOR-FAKTOR YANG TURUT BERKONTRIBUSI Belum adanya aturan yang memadai untuk mengatur dan memeriksa pemuatan barang mudah diangkut dengan truk bak tertutup. Pemilik barang tidak dengan sebenarnya melaporkan isi dan jenis muatan kepada pihak EMKL dan data yang tidak akurat ini selanjutnya dilaporkan ke perusahaan pengangkut. Sehingga perusahaan pengangkut tidak dapat memberikan pengaturan yang tepat. Jumlah muatan di atas truk melebihi kapasitas dan tertutup terpal sehingga menyulitkan pengawasan dalam hal kebenaran isi muatan truk, sehingga pihak operator pelayaran hanya mengandalkan pernyataan dari pemilik truk/ekspedisi. Pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas pelabuhan kurang efektif karena hanya bersifat administratif, sehingga tidak dapat memverifikasi secara tepat jenis-jenis barang-barang yang akan masuk ke kapal. Penataan muatan kendaraan bermotor yang berhimpit di geladak kendaraan menyulitkan proses pemadaman. Peralatan pemadam api tetap yang ada di geladak kendaraan tidak dapat difungsikan secara efektif untuk menanggulangi kebakaran. Proses pemadaman yang dilakukan pada saat kejadian berjalan tidak efektif dikarenakan posisi truk yang sangat rapat mempersulit penanganan dari awak kapal. Peralatan pemadam kebakaran seperti halnya baju tahan api dan breathing apparatus tidak digunakan sehingga tidak dapat memberikan perlindungan kepada petugas pemadam kebakaran. 21
30 Simulasi pelatihan kondisi darurat kebakaran yang telah dilakukan tidak secara tepat memberikan gambaran dan pengetahuan kepada awak kapal untuk melakukan pemadaman kebakaran di geladak kendaraan. III.3. FAKTOR LAIN YANG BERPENGARUH TERHADAP KESELAMATAN TETAPI TIDAK BERKONTRIBUSI TERHADAP KECELAKAAN Tidak berjalannya manajemen tindakan darurat baik dari pihak operasional di atas kapal maupun manajemen keselamatan di darat untuk menangani kondisi darurat kebakaran di kapal. Sosialisasi keselamatan kepada penumpang dan pengemudi tidak berjalan secara efektif sehingga informasi potensi bahaya keselamatan operasi kapal tidak diketahui oleh seluruh pelayar. 22
31 IIV.. REKOMENDASII Sebagai hasil investigasi dan penelitian kecelakaan ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi merekomendasikan hal-hal berikut kepada pihak-pihak terkait untuk selanjutnya dapat diterapkan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang serupa di masa mendatang. IV.1. DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT Menindaklanjuti ketentuan pengangkutan muatan, khususnya pada kapalkapal Ro-Ro dengan membuat prosedur pengangkutan. Meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan terhadap masuknya barangbarang ke atas kapal. Mensosialisasikan ketentuan tentang jenis-jenis barang berbahaya serta tata cara pengangkutannya kepada operator pelayaran dan pemilik barang yang diwakili oleh ekspedisi/truk pengangkut serta petugas pengawas di lapangan/pelabuhan. Mensosialisasikan jenis-jenis tindak pidana maupun pelanggaran pelayaran dan ancaman hukuman yang akan dikenakan terhadap pelanggaran butir-butir di atas kepada seluruh pihak yang terkait dengan usaha pengangkutan. IV.2. PERUSAHAAN PELAYARAN ANGKUTAN KAPAL RO-RO PENUMPANG Perusahaan pelayaran harus memahami jenis-jenis barang berbahaya yang diangkut oleh truk serta tata cara pengangkutannya. Meningkatkan pemeriksaan dan pengawasan terhadap barang-barang yang akan diangkut ke atas kapal dengan sistem prosedur yang berlaku. Membuat daftar rincian secara tepat dan benar barang-barang yang dimuat di atas truk dan diangkut oleh kapal sebelum berlayar. Perusahaan pelayaran angkutan kapal roro penumpang direkomendasikan untuk melengkapi kapalnya dengan alat-alat informasi awal terjadinya kebakaran misalnya CCTV, Handy Talky yang dibawa petugas jaga di geladak kendaraan dan pesawat intercom dari geladak kendaraan ke anjungan dan kamar mesin. DPA (Designated Person Ashore) harus dilibatkan sepenuhnya di dalam operasional kapal terutama dalam hal pengarahan dan pemantauan kondisi penanggulangan keadaan darurat atau kecelakaan kapal kepada awak kapal sesuai dengan prosedur yang ada. Perusahaan pelayaran wajib menyiapkan semua informasi tentang kondisi berbahaya kepada penumpang secara periodik. 23
32 IV.3. AWAK KAPAL RO-RO PENUMPANG KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Perlunya peningkatan kemampuan SDM dalam penanggulangan terjadinya kebakaran sesuai dengan jenis barang yang terbakar dan kemampuan menjalankan prosedur penanggulangan kebakaran secara cepat dan tepat sesuai dengan ISM Code. Perlunya penegakan hukum (Law Enforcement) yang ada di kapal oleh ABK terhadap muatannya, baik itu penumpang ataupun barang. Meningkatkan kepedulian ABK terhadap potensi kejadian berbahaya dengan peningkatan sistim ronda pada kapal RoRo, saat kapal berlayar. Mensosialisasikan semua informasi berbahaya termasuk crisis management dan crowd management kepada penumpang secara periodik. Perlunya penyegaran melalui program pendidikan dan pelatihan baik untuk kompetensi maupun profesiensi, mengenai crisis management dan crowd management (tata cara penanganan penumpang pada saat terjadinya bahaya). Perlunya penanganan kecelakaan secara terpadu oleh seluruh awak kapal sesuai dengan tugas dan fungsinya. IV.4. PERUSAHAAN EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT Memberikan informasi yang sebenar-benarnya mengenai muatan berbahaya yang akan dikirim dengan menggunakan kapal penyeberangan. Harus berhati-hati dalam penerimaan barang dari shipper untuk dikirimkan sebab EMKL bisa termasuk atau bagian dari pengirim (shipper) Harus memahami kondisi berbahaya yang diakibatkan oleh pemuatanpemuatan diatas truk yang melebihi kapasitas berat dan volume daya angkut truk tersebut serta jenis muatan yang membahayakan. Memberikan pengarahan kepada pengemudi truk untuk dapat memahami kondisi berbahaya terhadap truknya maupun lingkungan di sekitar kendaraannya yang dapat membahayakan truk maupun muatan yang ada di atasnya dan mempunyai kewajiban melaporkan kepada pihak pelayaran maupun langsung ke regulator atau petugas pelabuhan. Pengemudi truk wajib mengikuti sosialisasi keselamatan yang dilaksanakan ABK di kapal pada saat awal keberangkatan kapal. Pengemudi truk wajib melaporkan kepada ABK kapal apabila mengetahui terjadinya kondisi berbahaya di atas kapal. IV.5. ADMINISTRATOR PELABUHAN Meningkatkan koordinasi aparat-aparat pengawas di lapangan dalam rangka pengawasan terhadap semua muatan dan barang bawaan penumpang, untuk menghindari adanya muatan berbahaya masuk ke dalam kapal penumpang. 24
33 Aparat pengawas harus memahami serta menegakkan hukum (Law Enforcement) secara tegas terhadap tata cara pemuatan serta pelanggaran terhadap rencana muatan kendaraan truk di atas kapal Ro- Ro termasuk pemuatan-pemuatan di atas truk yang melebihi kapasitas berat dan volume daya angkut truk serta jenis muatan yang membahayakan. IV.6. MANAJEMEN PELABUHAN Pengadaan alat pemantau X-ray untuk kendaraan dan barang bawaan penumpang di terminal penumpang dan di terminal kendaraan. 25
LAPORAN PENDAHULUAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT TERBAKARNYA KMP. DHARMA KENCANA I
KNKT/KL.08.38/08.4.32 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI LAPORAN PENDAHULUAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT TERBAKARNYA KMP. DHARMA KENCANA I DI SUNGAI MENTAYA HILIR SELATAN KOTA WARINGIN TIMUR,
FINAL KNKT Laporan Investigasi Kecelakaan Laut
FINAL KNKT-08-11-05-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Laporan Investigasi Kecelakaan Laut Terbaliknya Perahu Motor Koli-Koli Perairan Teluk Kupang NTT 09 Nopember 2008 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN
FINAL REPORT KNKT/KL / LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT TERBAKARNYA KMP. DHARMA KENCANA I
FINAL REPORT KNKT/KL.2008.38/2008.3.31 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT TERBAKARNYA KMP. DHARMA KENCANA I DI SUNGAI MENTAYA HILIR SELATAN KOTA WARINGIN
BAB 1 : PENDAHULUAN. industri penyedia jasa angkutan laut seperti pelayaran kapal laut. (1)
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah perairan dan lautan. Banyak aktifitas yang dilakukan dengan mengandalkan perhubungan melalui
STATUS REKOMENDASI KESELAMATAN SUB KOMITE INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI. Penerima Receiver.
STATUS REKOMENDASI KESELAMATAN SUB KOMITE INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Investigasi Investigation Tanggal Kejadian Date of Occurrence Sumber Source Tanggal Dikeluarkan
BAB VIII PENUTUP. bahan bakar berasal dari gas berupa: LPG. generator, boiler dan peralatan masak di dapur.
BAB VIII PENUTUP 8.1. Kesimpulan Dari hasil penelitian terhadap evaluasi sistem penanggulangan kebakaran di kapal penumpang KM Lambelu, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Berdasarkan
FINAL KNKT KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI REPUBLIK INDONESIA
REPUBLIK INDONESIA FINAL KNKT.17.03.05.03 Laporan Investigasi Kecelakaan Pelayaran Tenggelamnya KM. Sweet Istanbul (IMO No. 9015993) Area Labuh Jangkar Pelabuhan Tanjung Priok, DKI Jakarta Republik Indonesia
FINAL KNKT KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI REPUBLIK INDONESIA
REPUBLIK INDONESIA FINAL KNKT.14.09.07.03 Laporan Investigasi Kecelakaan Pelayaran Kebakaran di FSO. CILACAP/PERMINA SAMUDRA 104 (IMO No. 7378585) Di Sekitar 6 Mil Timur Dari Tanjung Pemancingan Pulau
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Seiring dengan perkembangan dunia yang menuntut kemajuan IPTEK
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan dunia yang menuntut kemajuan IPTEK disegala kebutuhannya, IPTEK berkembang dengan pesat hampir di seluruh negara. Dari negara maju sampai
Perancangan Fire Control and Safety Plan pada Kapal Konversi LCT menjadi Kapal Small Tanker
Perancangan Fire Control and Safety Plan pada Kapal Konversi LCT menjadi Kapal Small Tanker Tri Octa Kharisma Firdausi 1*, Arief Subekti 2, dan Rona Riantini 3 1 Program Studi Teknik Keselamatan dan Kesehatan
FINAL KNKT Laporan Investigasi Kecelakaan Kapal Laut
FINAL KNKT-08-01-01-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Laporan Investigasi Kecelakaan Kapal Laut Terbakarnya MT. Pendopo Balongan, Indramayu, Jawa Barat 27 Januari 2008 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN
FINAL KNKT KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI REPUBLIK INDONESIA
REPUBLIK INDONESIA FINAL KNKT.17.02.02.03 Laporan Investigasi Kecelakaan Pelayaran Kebakaran di KMP. Caitlyn (IMO No. 8602048) Area Labuh Jangkar Pelabuhan Merak, Banten Republik Indonesia 21 Februari
Laporan Investigasi Kecelakaan Kapal Laut
FINAL KNKT-10-04-02-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Laporan Investigasi Kecelakaan Kapal Laut Ledakan di Kamar Mesin KM.GEMILANG Di Kade 103 Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar Sulawesi Selatan
LAPORAN PENDAHULUAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT
KNKT/KL.08.36/08.3.31 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI LAPORAN PENDAHULUAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT TENGGELAMNYA KM. SAMUDERA MAKMUR JAYA PERAIRAN SEKITAR BUOY 14 PELABUHAN TANJUNG PERAK,
PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia sebagai negara yang terdiri dari ribuan pulau dan memiliki wilayah laut yang sangat luas maka salah satu moda transportasi yang sangat diperlukan adalah angkutan
FINAL KNKT
FINAL KNKT 08 04 04-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN LAUT TENGGELAMNYA KM. SAMUDERA MAKMUR JAYA PERAIRAN SEKITAR BUOY 14 PELABUHAN TANJUNG PERAK, SURABAYA 17 MEI
LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT MELEDAKNYA MT. MAULANA
KNKT/KL. 07.20/07.3.24 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT MELEDAKNYA MT. MAULANA TIKUNGAN TELEPUNG, SUNGAI SIAK, RIAU 25 APRIL 2007 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN
W A L I K O T A B A N J A R M A S I N
W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 09 TAHUN 2012 TENTANG PENGAMANAN OBJEK VITAL DAN FASILITAS PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANJARMASIN, Menimbang
BAB 4 MENERAPKAN PROSEDUR PENYELAMATAN DIRI DARURAT DAN SAR
BAB 4 MENERAPKAN PROSEDUR PENYELAMATAN DIRI DARURAT DAN SAR Kapal laut yang berlayar melintasi samudera di berbagai daerah pelayaran dalam kurun waktu yang cukup, bergerak dengan adanya daya dorong pada
LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT TERBAKARNYA KMP. NUSA BHAKTI
KNKT / KL.07.7 / 07.1.22 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT TERBAKARNYA KMP. NUSA BHAKTI PANTAI BUG-BUG KARANGASEM, BALI 13 JANUARI 2007 KOMITE NASIONAL
KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI
LAPORAN AKHIR KNKT-13-08-04-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN Kebakaran KM. Express Bahari 8C Perairan Selat Nasik, 14 Nmil Laut Barat Laut Tanjung Pandan Bangka
BAB V PENGENALAN ISYARAT BAHAYA. Tanda untuk mengingat anak buah kapal tentang adanya suatu keadaan darurat atau bahaya adalah dengan kode bahaya.
BAB V PENGENALAN ISYARAT BAHAYA Tanda untuk mengingat anak buah kapal tentang adanya suatu keadaan darurat atau bahaya adalah dengan kode bahaya. a. Sesuai peraturan Internasional isyarat-isyarat bahaya
PERATURAN KESYAHBANDARAN DI PELABUHAN PERIKANAN
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN TANGKAP DIREKTORAT PELABUHAN PERIKANAN PERATURAN KESYAHBANDARAN DI PELABUHAN PERIKANAN SYAHBANDAR DI PELABUHAN PERIKANAN Memiliki kompetensi
Tubrukan antara. KM. Alken Pesat dengan KM. Alpine
LAPORAN FINAL KNKT-12-12-04-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT Tubrukan antara KM. Alken Pesat dengan KM. Alpine Di Kolam Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa
BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG
BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENDATAAN KAPAL DAN GALANGAN KAPAL SERTA PENERBITAN SURAT TANDA KEBANGSAAN KAPAL DI KABUPATEN TANGERANG
FINAL KNKT LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT
FINAL KNKT-08-03-02-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT TERBAKARNYA MT. CENDRAWASIH PERAIRAN LAUT SELATAN, YOGYAKARTA 5 MARET 2008 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN
LAMPIRAN LAMPIRAN Universitas Kristen Maranatha
LAMPIRAN LAMPIRAN 1 84 Universitas Kristen Maranatha 85 Universitas Kristen Maranatha 86 Universitas Kristen Maranatha 87 Universitas Kristen Maranatha LAMPIRAN 2 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT JANTUNG HASNA MEDIKA NOMOR TENTANG PENANGGULANGAN KEBAKARAN DAN KEWASPADAAN BENCANA
PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT JANTUNG HASNA MEDIKA NOMOR TENTANG PENANGGULANGAN KEBAKARAN DAN KEWASPADAAN BENCANA Menimbang : DIREKTUR RUMAH SAKIT JANTUNG HASNA MEDIKA 1. Bahwa penanggulangan kebakaran
kondisi jalur di pusat perbelanjaan di jantung kota Yogyakarta ini kurang BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
kondisi jalur di pusat perbelanjaan di jantung kota Yogyakarta ini kurang memadai. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penelitian ini telah melakukan evaluasi terhadap kondisi jalur evakuasi darurat
5 HASIL 5.1 Potensi kejadian kebakaran di PPS Nizam Zachman Jakarta
5 HASIL Secara umum PPS Nizam Zachman mempunyai manajemen penanggulangan kebakaran yang baik. Organisasi unit penanggulangan kebakaran yang terdapat di lingkungan PPS Nizam Zachman ada 2 (dua), yaitu TB.Mina
Investigasi Kecelakaan Kapal Laut. Terbakarnya KMP. Laut Teduh-2
LAPORAN FINAL KNKT-11-01-01-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Investigasi Kecelakaan Kapal Laut Terbakarnya KMP. Laut Teduh-2 Di Perairan Sekitar Pulau Tempurung Selat Sunda, Banten 28 Januari
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT DIREKTORAT KEPOLISIAN PERAIRAN
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT DIREKTORAT KEPOLISIAN PERAIRAN STANDART OPERASIONAL PROSEDUR Tentang SAR ( SEARCH AND RESCUE ) PENANGANAN KECELAKAAN DIWILAYAH PERAIRAN Lembar,
DESAIN AKSES OPTIMUM DAN SISTEM EVAKUASI SAAT KONDISI DARURAT PADA KM. SINAR BINTAN. Disusun Oleh: Nuke Maya Ardiana
DESAIN AKSES OPTIMUM DAN SISTEM EVAKUASI SAAT KONDISI DARURAT PADA KM. SINAR BINTAN Disusun Oleh: Nuke Maya Ardiana 6508040502 ABSTRAK Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak diinginkan dan bisa terjadi
PROSEDUR PERLENGKAPAN PEMADAM KEBAKARAN. A. Perlengkapan Pemadam Kebakaran 1. Sifat api Bahan bakar, panas dan oksigen harus ada untuk menyalakan api.
A. Perlengkapan Pemadam Kebakaran 1. Sifat api Bahan bakar, panas dan oksigen harus ada untuk menyalakan api. Gambar 1. Bahan bakar adalah bahan yang dapat terbakar, baik padat, cair maupun gas. Bahan
DATA INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN TAHUN (Database KNKT, 25 November 2016) Oleh: Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Pelayaran
DATA INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN TAHUN 2010 2016 (Database KNKT, 25 November 2016) Oleh: Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Pelayaran Jakarta, 30 November 2016 DATA INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN
FINAL KNKT KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI REPUBLIK INDONESIA
REPUBLIK INDONESIA FINAL KNKT.17.03.04.03 Laporan Investigasi Kecelakaan Pelayaran Kebakaran di KM. CANTIKA LESTARI 77 (GT 963 No.2012/KKb) Di Sekitar Perairan Galangan Kapal PT. Samudera Puranabile Abadi,
Investigasi Kecelakaan Kapal Laut. Kebakaran di Kamar Mesin KM. Salvia
LAPORAN FINAL KNKT-11-02-02-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Investigasi Kecelakaan Kapal Laut Kebakaran di Kamar Mesin KM. Salvia Di Perairan Sebelah Timur, Sekitar Pulau Damar, Kepulauan Seribu,
INSTALASI PERMESINAN
INSTALASI PERMESINAN DIKLAT MARINE INSPECTOR TYPE-A TAHUN 2010 OLEH MUHAMAD SYAIFUL DITKAPEL DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT KEMENTRIAN PERHUBUNGAN KAMAR MESIN MACHINERY SPACE / ENGINE ROOM RUANG
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Obyek Penelitian
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Obyek Penelitian Penelitian ini dilakukan di Hotel UNY yang beralamat di Jl Karangmalang Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta. Lokasi Hotel UNY dapat dikatakan sangat strategis
WALI KOTA BALIKPAPAN, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
WALI KOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALI KOTA BALIKPAPAN,
BUPATI KOTABARU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN
BUPATI KOTABARU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTABARU, Menimbang : a. bahwa ancaman
LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 15 TAHUN : 2003 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 15 TAHUN : 2003 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN DI KOTA CIMAHI DENGAN
Tenggelamnya KM. Pertama I Perairan Pelabuhan Gresik, Jawa Timur
LAPORAN FINAL KNKT-14-08-06-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN Tenggelamnya KM. Pertama I Perairan Pelabuhan Gresik, Jawa Timur 26 Agustus 2014 KOMITE NASIONAL
2013, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negar
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.156, 2013 TRANSPORTASI. Darat. Laut. Udara. Kecelakaan. Investigasi. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5448) PERATURAN PEMERINTAH
LAPORAN PEMERIKSAAN TONGKANG
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN MINISTRY OF TRANSPORTATION DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT DIRECTORATE GENERAL OF SEA TRANSPORTATION LAPORAN PEMERIKSAAN TONGKANG NAMA KAPAL : PEMILIK / OPERATOR : AGENT :
128 Universitas Indonesia
BAB 8 PENUTUP 8.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap audit keselamatan kebakaran di gedung PT. X Jakarta, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Bangunan gedung
BAB III KESELAMATAN PELAYARAN
BAB III KESELAMATAN PELAYARAN Untuk meningkatkan keselamatan pelayaran di indonesia mengikuti keselamatan pelayaran di dunia internasional. Meskipun didalam kenyataanya, pemerintah memberlakukan Peraturan
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT GEDUNG KARYA LANTAI 12 s/d 17 JL. MEDAN MERDEKA BARAT No. 8 JAKARTA-10110 TEL. : 3811308,3505006,3813269,3447017 3842440 Pst. : 4213,4227,4209,4135
LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT TERBAKARNYA KMP. LEVINA I
KNKT/KL.07.14/07.2.23 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT TERBAKARNYA KMP. LEVINA I PELABUHAN TANJUNG PRIOK, JAKARTA 22 FEBRUARI 2007 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN
KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI
FINAL KNKT-12-03-03-01 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI LAPORAN INVESTIGASI DAN PENELITIAN KECELAKAAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN MOBIL PENUMPANG SUZUKI CARRY Z-951-W TERTABRAK KERETA API PASUNDAN
Investigasi Kecelakaan Kapal Laut. Tubrukan antara MT.Gloria Sentosa dengan Kapal Jukung Irpansya
LAPORAN FINAL KNKT-11-03-03-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Investigasi Kecelakaan Kapal Laut Tubrukan antara MT.Gloria Sentosa dengan Kapal Jukung Irpansya Di Selat Jaran, Alur Pelayaran Sungai
RANCANGAN KRITERIA DI BIDANG TRANSPORTASI LAUT PENETAPAN KRITERIA PEMERIKSA DAN PENGUJI KESELAMATAN DAN KEAMANAN KAPAL
PENETAPAN KRITERIA PEMERIKSA DAN PENGUJI KESELAMATAN DAN KEAMANAN KAPAL LAMPIRAN 8 i DAFTAR ISI 1. Ruang Lingkup 2. Acuan 3. Istilah dan Definisi 4. Persyaratan 4.1. Persyaratan Utama 4.2. Kompetensi Marine
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT TAHUN 2012 NOMOR 4
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT TAHUN 2012 NOMOR 4 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DI KABUPATEN TANAH LAUT DENGAN RAHMAT
MANAJEMEN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KEBAKARAN PADA KAPAL PENUMPANG MELALUI UPAYA PERANCANGAN DETEKTOR
MANAJEMEN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KEBAKARAN PADA KAPAL PENUMPANG MELALUI UPAYA PERANCANGAN DETEKTOR Mohamad Hakam Prodi : Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Investigasi Kecelakaan Kapal Laut. Tubrukan antara KM. Marina Nusantara dengan
LAPORAN FINAL KNKT 11 09 06 03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Investigasi Kecelakaan Kapal Laut Tubrukan antara KM. Marina Nusantara dengan TK. Pulau Tiga 330 22 di Alur Pelayaran Sungai Barito,
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) memiliki lebih kurang 17.500 pulau, dengan total panjang garis pantai mencapai 95.181 km
Secara harfiah berarti keteraturan, kebersihan, keselamatan dan ketertiban
HOUSEKEEPING Secara harfiah berarti keteraturan, kebersihan, keselamatan dan ketertiban Penerapan housekeeping yang baik dapat mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat dan nyaman. Housekeeping
PENANGANAN PROSEDUR DARURAT PADA KAPAL ABSTRAK
PENANGANAN PROSEDUR DARURAT PADA KAPAL Prasetya Sigit Santosa Staf Pengajar Akademi Maritim Yogyakarta ( AMY ) ABSTRAK Keadaan darurat adalah keadaan dari suatu kejadian kecelakaan tiba-tiba yang memerlukan
Laporan Investigasi Kecelakaan Kapal Laut
FINAL KNKT-09-05-02-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Laporan Investigasi Kecelakaan Kapal Laut Tubrukan K M. Tanto Niaga Dengan K M. Mitra Ocean Di Perairan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya
2013, No Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negar
No.386, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. Kesyahbandaran. Pelabuhan Perikanan. Pedoman. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3/PERMEN-KP/2013
PERATURAN DAERAH KABUPATEN NUNUKAN NOMOR 04 TAHUN 2005
PERATURAN DAERAH KABUPATEN NUNUKAN NOMOR 04 TAHUN 2005 TENTANG PENERBITAN SURAT-SURAT KAPAL, SURAT KETERANGAN KECAKAPAN, DISPENSASI PENUMPANG DAN SURAT IZIN BERLAYAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 73 2001 SERI C PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 22 TAHUN 2001 TENTANG PEMILIKAN, PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DAN RETRIBUSINYA DENGAN MENGHARAP BERKAT
SISTEM DETEKSI DAN PEMADAMAN KEBAKARAN
LAMPIRAN II PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG KETENTUAN DESAIN SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN DAN LEDAKAN INTERNAL PADA REAKTOR DAYA SISTEM DETEKSI DAN PEMADAMAN KEBAKARAN
Latar Belakang. Luaran yang Diharapkan Metodologi. Hasil analisa Kesimpulan dan Rekomendasi
SKRIPSI ME09 1329 OUTLINE Latar Belakang Tujuan Luaran yang Diharapkan Metodologi Data Kapal 5000 GT Hasil analisa Kesimpulan dan Rekomendasi Kejadian kebakaran pada umumnya disebabkan penanggulangan awal
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
16 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 PENDAHULUAN Sistem pemadam kebakaran atau sistem fire fighting disediakan digedung sebagai preventif (pencegahan) terjadinya kebakaran. Sistem ini terdiri dari sistem sprinkler,
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 95, 2002 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4227) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1970 TENTANG KESELAMATAN KERJA BAB I TENTANG ISTILAH-ISTILAH. Pasal 1
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1970 TENTANG KESELAMATAN KERJA BAB I TENTANG ISTILAH-ISTILAH Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. "tempat kerja" ialah tiap ruangan atau
PROSEDUR KESIAPAN TANGGAP DARURAT
PROSEDUR KESIAPAN TANGGAP DARURAT 1. TUJUAN Untuk memastikan semua personil PT XXXXXXX bertindak dalam kapasitas masing-masing selama aspek-aspek kritis dari suatu keadaan darurat. 2. RUANG LINGKUP Prosedur
PUTUSAN NOMOR HK.2010/06/I/MP.15 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN MAHKAMAH PELAYARAN TENTANG
PUTUSAN NOMOR HK.2010/06/I/MP.15 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN MAHKAMAH PELAYARAN TENTANG KECELAKAAN KAPAL TERBAKARNYA KLM. ANUGRAH BAHARI DI DERMAGA NIPAH KUNING PONTIANAK
MAKALAH PERLENGKAPAN KAPAL
MAKALAH PERLENGKAPAN KAPAL PERLENGKAPAN KESELAMATAN DIKAPAL DISUSUN OLEH : 1. AZIS ANJAS NUGROHO ( 21090111120001 ) 2. CARMINTO ( 21090111120002 ) 3. M.RESI TRIMULYA ( 21090111120003 ) 4. M. BUDI HERMAWAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN [LN 1992/98, TLN 3493]
UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN [LN 1992/98, TLN 3493] BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 100 (1) Barangsiapa dengan sengaja merusak atau melakukan tindakan apapun yang mengakibatkan tidak
FINAL KNKT
FINAL KNKT-08-09-04-01 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI LAPORAN INVESTIGASI DAN PENELITIAN KECELAKAAN LALU LINTAS JALAN TRUK KAYU PADI MAS NOMOR KENDARAAN EB 2144 AC MASUK JURANG DI JALAN JURUSAN
BAB VIII PENGAWAKAN. Pasal 144. Pasal 145
Lampiran : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT Nomor : UM.008/9/20/DJPL - 12 Tanggal : 16 FEBRUARI 2012 BAB VIII PENGAWAKAN Pasal 144 (1) Pengawakan kapal Non-Convention terdiri dari : a. Seorang
b. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut pada huruf a perlu diatur lebih lanjut mengenai perkapalan dengan Peraturan Pemerintah;
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2002 TENTANG P E R K A P A L A N PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran terdapat
KEBAKARAN DAN ALAT PEMADAM API. Regina Tutik Padmaningrum Jurdik Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta
KEBAKARAN DAN ALAT PEMADAM API Regina Tutik Padmaningrum e-mail: [email protected] Jurdik Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta Alat Pemadam Api adalah semua jenis alat ataupun bahan pemadam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. umumnya, hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur. Sedangkan secara
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Secara filosofi, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan jasmani
KEBIJAKAN SEKTOR PERHUBUNGAN DALAM RANGKA PENGANGKUTAN LIMBAH B3
KEBIJAKAN SEKTOR PERHUBUNGAN DALAM RANGKA PENGANGKUTAN LIMBAH B3 disampaikan oleh : Kepala Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa Transportasi Kementerian Perhubungan dalam acara : Sosialisasi Kebijakan
ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB VI PEMBAHASAN. perawatan kesehatan, termasuk bagian dari bangunan gedung tersebut.
BAB VI PEMBAHASAN 6.1. Klasifikasi Gedung dan Risiko Kebakaran Proyek pembangunan gedung Rumah Sakit Pendidikan Universitas Brawijaya Malang merupakan bangunan yang diperuntukkan untuk gedung rumah sakit.
Investigasi Kecelakaan Kapal Laut. Tubrukan antara MT. Soechi Chemical XIX dengan KM. Dian No.1
FINAL KNKT-10-05-03-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Investigasi Kecelakaan Kapal Laut Tubrukan antara MT. Soechi Chemical XIX dengan KM. Dian No.1 Di 15 NM sebelah utara Pelabuhan Tanjung Priok,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1975 TENTANG PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1975 TENTANG PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa zat radioaktif mengandung bahaya radiasi, baik terhadap
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.731, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Pencemaran. Perairan. Pelabuhan. Penanggulangan PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2002 TENTANG KESELAMATAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2002 TENTANG KESELAMATAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 16 Undang-undang Nomor
FUNGSI PELABUHAN P P NOMOR 69 TAHUN 2001 SIMPUL DALAM JARINGAN TRANSPORTASI; PINTU GERBANG KEGIATAN PEREKONOMIAN DAERAH, NASIONAL DAN INTERNASIONAL;
FUNGSI PELABUHAN P P NOMOR 69 TAHUN 2001 SIMPUL DALAM JARINGAN TRANSPORTASI; PINTU GERBANG KEGIATAN PEREKONOMIAN DAERAH, NASIONAL DAN INTERNASIONAL; TEMPAT KEGIATAN ALIH MODA TRANSPORTASI; PENUNJANG KEGIATAN
KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI
KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI FINAL KNKT-07-04-06-02 LAPORAN INVESTIGASI DAN PENELITIAN KECELAKAAN LALU LINTAS JALAN KECELAKAAN TUNGGAL MOBIL BUS AKAP JATUH KE DALAM JURANG DAN MASUK SUNGAI
Investigasi Kecelakaan Kapal Laut. Terbakarnya KM. Musthika Kencana II
LAPORAN FINAL KNKT-11-07-04-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Investigasi Kecelakaan Kapal Laut Terbakarnya KM. Musthika Kencana II Di Perairan 45 NM Selatan Pulau Masalembo Besar, Laut Jawa,
KNKT/KL.03.03/
KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI KNKT/KL.03.03/03.02.02 LAPORAN INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT Tubrukan Kapal antara MV Uni Chart dengan KM Mandiri Nusantara ALUR PELAYARAN BARAT SURABAYA, 2
DAFTAR PERTANYAAN AUDIT KESELAMATAN KEBAKARAN GEDUNG PT. X JAKARTA
Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Audit Keselamatan Kebakaran Gedung PT. X Jakarta Tahun 2009 DAFTAR PERTANYAAN AUDIT KESELAMATAN KEBAKARAN GEDUNG PT. X JAKARTA Data Umum Gedung a. Nama bangunan : b. Alamat
ROOT CAUSE ANALYSIS PADA KEBAKARAN KMP. NUSA BHAKTI
PRO S ID IN G 20 1 1 HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK ROOT CAUSE ANALYSIS PADA KEBAKARAN KMP. NUSA BHAKTI M. Rusydi Alwi & Hasnawiya Hasan Jurusan Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Jl.
BAB III TINJAUAN UMUM UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN
BAB III TINJAUAN UMUM UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN A. Pengertian Pelayaran Pasal 1 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 Tentang Pelayaran menyatakan bahwa pelayaran adalah segala sesuatu
K3 KEBAKARAN. Pelatihan AK3 Umum
K3 KEBAKARAN Pelatihan AK3 Umum Kebakaran Hotel di Kelapa Gading 7 Agustus 2016 K3 PENANGGULANGAN KEBAKARAN FENOMENA DAN TEORI API SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN FENOMENA & TEORI API Apakah...? Suatu proses
PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH DI PELABUHAN
PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH DI PELABUHAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam upaya
PT. FORTUNA STARS DIAGRAM ALIR KEADAAN DARURAT BAHAYA KEBAKARAN DI KANTOR PUSAT
BAHAYA KEBAKARAN DI KANTOR PUSAT Lampiran 1 KEBAKARAN Besar Floor Warden/Safety Officer/ personil setempat segera memadamkan api dengan fire extinguisher Floor warden/personil setempat segera memberitahukan
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN MINISTRY OF TRANSPORTATION DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT DIRECTORATE GENERAL OF SEA TRANSPORTATION
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN MINISTRY OF TRANSPORTATION DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT DIRECTORATE GENERAL OF SEA TRANSPORTATION LAPORAN PEMERIKSAAN KAPAL UNTUK PENERBITAN DOKUMEN OTORISASI PENGANGKUTAN
Laporan Investigasi Kecelakaan Kapal Laut
FINAL KNKT-07-10-06-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Laporan Investigasi Kecelakaan Kapal Laut Terbaliknya KM. Acita - 03 Pesisir Pantai Lakeba, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara 18 Oktober 2007 KOMITE
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2000 TENTANG KENAVIGASIAN
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2000 TENTANG KENAVIGASIAN UMUM Kegiatan kenavigasian mempunyai peranan penting dalam mengupayakan keselamatan berlayar guna mendukung
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT Nomor : SK.1763/AJ.501/DRJD/2003 TENTANG
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT Nomor : SK.1763/AJ.501/DRJD/2003 TENTANG PETUNJUK TEKNIS TANGGAP DARURAT KECELAKAAN KENDARAAN BERMOTOR ANGKUTAN PENUMPANG DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT
KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI
LAPORAN FINAL KNKT-12-08-02-03 KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI INVESTIGASI KECELAKAAN KAPAL LAUT Ledakan di Kamar Mesin MT. Soechi Lesmana 20 NM Sebelah Barat Pelabuhan Belang Belang, Mamuju,
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KM.1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT PERSETUJUAN BERLAYAR (PORT CLEARANCE)
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KM.1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT PERSETUJUAN BERLAYAR (PORT CLEARANCE) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK
