RKL- RPL Tambahan. PT. Pertamina EP PPGM

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RKL- RPL Tambahan. PT. Pertamina EP PPGM"

Transkripsi

1 PERTAMINA EP RKL- RPL Tambahan Peningkatan Kapasitas Produksi Gas Matindok (45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD) Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah Oktober 2011 PT. Pertamina EP PPGM Menara Standard Chartered Lt. 21 Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. 164 Jakarta Selatan Telp.: (021) , Faks.: (021)

2

3

4

5

6

7

8

9 PT. Pertamina EP PPGM Kata Pengantar Daftar Isi

10 Kata Pengantar KATA PENGANTAR PT. Pertamina EP merupakan kontraktor kontrak kerjasama Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS). PT. Pertamina EP akan melakukan kegiatan pengembangan lapangan gas di Blok Matindok yang berlokasi di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Dalam rangka merealisasikan kegiatan tersebut, dibentuk Pengelola yaitu Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM). Proyek Pengembangan Gas Matindok merupakan kegiatan pembangunan fasilitas yang lengkap mulai dari memproduksi gas bumi dari sumur yang telah dieksplorasi maupun dari rencana sumur pengembangan yang berasal dari 5 lapangan gas (Donggi, Matindok, Maleo Raja, Sukamaju, dan Minahaki). Dokumen lingkungan yang telah melingkupi kegiatan pengembangan tersebut adalah dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Proyek Pengembangan Gas Matindok, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah dan dokumen RKL RPL Tambahan Kegiatan Perubahan Jalur Pemipaan Gas Sepanjang 2,8 km di Sisi Jalan Provinsi Luwuk Toili melalui Suaka Margasatwa Bakiriang di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Dokumen AMDAL tersebut telah disetujui oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 863 Tahun 2008 tanggal 10 November 2008, tentang Kelayakan Lingkungan Hidup Rencana Pengembangan Lapangan Gas Matindok di Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah dan dokumen RKL RPL Tambahan telah disetujui oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup melalui Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun Pada saat ini, PT. Pertamina EP PPGM merencanakan akan menaikkan kapasitas pada fasilitas produksi Matindok dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD. Peningkatan produksi gas ini dilakukan dengan cara meningkatkan kinerja fasilitas produksi tanpa perubahan mendasar atas desain fasilitasnya. Jumlah sumur produksi dan rancangan pipa flowline masih seperti semula. Pada dasarnya tujuan rencana kegiatan tersebut adalah dalam rangka peningkatan efisiensi produksi gas yang tidak disertai dengan banyak perubahan. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 tahun 2006 mengenai Jenis Rencana Kegiatan dan/atau Usaha yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL, dan berdasarkan arahan dari KLH (Surat Nomor B 7263/Dep.I/LH/09/2010 tanggal 28 September 2010), maka rencana kegiatan perlu dilengkapi dengan dokumen lingkungan dalam bentuk RKL RPL Tambahan Peningkatan Kapasitas Produksi Gas Matindok (45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD) Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM), Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung dalam penyusunan dokumen ini dan semoga dokumen ini dapat bermanfaat dan memenuhi harapan semua pihak yang terkait dan berkepentingan. Jakarta, Oktober 2011 PT. Pertamina EP PPGM General Manager, Medianto B. Satyawan i

11 Daftar Isi DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR LAMPIRAN... vii DAFTAR SINGKATAN... ix I. PENDAHULUAN... I Latar Belakang dan Alasan... I Latar Belakang... I Alasan RKL RPL Tambahan Blok Matindok... I Tujuan dan Manfaat Proyek... I Peraturan Perundang Undangan... I 3 II. DESKRIPSI KEGIATAN... II Identitas Pemrakarsa dan Penyusun... II Identitas Pemrakarsa... II Identitas Penyusun Studi... II Uraian Rencana Kegiatan Lapangan Matindok... II Rencana Kegiatan Pengembangan Blok Matindok untuk Fasilitas Produksi Matindok dengan Kapasitas 45 MMSCFD (Dilingkup Dalam Dokumen AMDAL Tahun 2008)... II Lokasi Rencana Kegiatan dan Kesesuaian RTRW... II Rencana Kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitas Produksi Gas Lapangan Matindok dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD (Dilingkup Dalam RKL RPL Tambahan Tahun 2011)... II Rencana Jadwal Kegiatan... II Rencana Tanggap Darurat... II Keterkaitan Rencana Usaha dengan Kegiatan Sekitar... II 31 III. RONA LINGKUNGAN HIDUP... III Komponen Geo Fisik Kimia... III Iklim... III Kualitas Udara dan Kebisingan... III Kualitas Air... III Kualitas Tanah... III Komponen Geologi... III Komponen Biologi... III Vegetasi... III Satwa Liar... III 24 ii

12 Daftar Isi 3.3. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya... III Demografi... III Sosial Ekonomi... III Sosial Budaya... III Transportasi Darat... III Sikap dan Persepsi Masyarakat... III Komponen Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan... III Sumberdaya Kesehatan... III Status Gizi Masyarakat... III Kondisi Lingkungan... III 37 IV. RUANG LINGKUP DAN METODE STUDI... IV Lingkup Rencana Kegiatan... IV Pelingkupan... IV Lingkup Wilayah Studi... IV Batas Waktu Kajian... IV Metode Studi... IV Metode Pengumpulan dan Analisis Data... IV Metode Prakiraan Dampak... IV Metode Evaluasi Dampak... IV 22 V. PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK PENTING... V Prakiraan Dampak Penting... V Kualitas Udara... V Kesehatan Masyarakat... V Persepsi Masyarakat Terhadap Pertamina EP... V Evaluasi Dampak Penting... V Telaahan Secara Holistik Dampak Penting... V Pemilihan Alternatif Terbaik... V Arahan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan... V 8 VI. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL)... VI Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)... VI Pendahuluan... VI Pendekatan Pengelolaan Lingkungan... VI Pengelolaan Lingkungan... VI Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)... VI Pendahuluan... VI Pemantauan Lingkungan... VI 5 DAFTAR PUSTAKA... DP 1 LAMPIRAN... L 1 iii

13 Daftar Isi DAFTAR TABEL No. Judul Tabel Halaman 2.1. Tipikal Komposisi Gas yang akan Diolah di Fasilitas Produksi Matindok... II Koordinat Sumur Pengembangan Lapangan Matindok... II Koordinat Sumur Pengembangan Lapangan Maleoraja... II Skema Casing dan Desain Lumpur Pada Sumur Lapangan Matindok dan Maleoraja... II Jenis Peralatan dan Fasilitas Produksi yang Tersedia pada Fasilitas Produksi Matindok dengan Kapasitas Awal 45 MMSCFD dan Kapasitas yang Baru 65 MMSCFD... II Jadwal Rencana Kegiatan Pengembangan Lapangan Gas Matindok... II Ringkasan Parameter Iklim di Daerah Studi... III Tabulasi Klasifikasi Iklim Daerah Studi Menurut Schmidt dan Ferguson... III Tingkat Kebauan di Lokasi Studi... III Hasil Analisis Sampel Kualitas Udara Ambien... III Tingkat Kebisingan di Lokasi Studi... III Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai di Sekitar Lokasi Kegiatan... III Hasil Pemantauan Kualitas Air Sumur Penduduk di Sekitar Lokasi Kegiatan... III Jumlah Kelas, Jumlah Jenis, Kelimpahan, dan Indeks Diversitas plankton dan Benthos di Sungai Kayowa... III Perhitungan Indeks Erosivitas Hujan di Wilayah Studi... III Perhitungan Pendugaan Erosi di Lokasi Studi... III Hasil Analisis Laboratorium Sifat Kimia Tanah di Lokasi Studi... III Hasil Analisis Sifat Fisika di Lokasi Studi (kedalaman 0 20 cm)... III Kondisi Infrastruktur Jaringan Irigasi Dam Bakung... III Debit Sesaat Beberapa Saluran Irigasi Teknis di Wilayah Studi... III Daftar Jumlah Jenis Vegetasi Berdasarkan Habitus di Lokasi Areal Station Block Matindok... III Daftar Jumlah Jenis Vegetasi Berdasarkan Famili di Lokasi Areal Station Block Matindok... III Daftar Jenis Vegetasi yang Ada di Lokasi Areal Station Block Matindok... III Daftar Jenis Satwa Liar yang Ada di Lokasi Areal Station Block Matindok... III Distribusi Penduduk Menurut Luas, Jumlah, dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan dan Desa Wilayah Studi... III Jumlah Rumah Tangga, Penduduk Menurut Jenis Kelamin, dan Sex Ratio di Kecamatan dan Desa Wilayah Studi... III Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Rasio Beban Tanggungan... III Penduduk Usia 5 Tahun Keatas Menurut Pendidikan yang Ditamatkan di Kecamatan Batui... III 27 iv

14 Daftar Isi Banyaknya Pencari Kerja yang Terdaftar Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun di Kabupaten Banggai... III Banyaknya Pencari Kerja, Penempatan dan Permintaan Menurut Jenis Kelamin Tahun Di Kabupaten Banggai... III Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Batui... III Mata Pencaharian Responden di Lokasi Studi... III Tingkat Pendapatan Utama Responden di Lokasi Studi... III Tingkat Pendapatan Sambilan Responden di Lokasi Studi... III Volume Arus Lalulintas Kendaraan Kintom Batui... III Jenis dan Frekuensi Kendaraan yang Melewati Simpang Kini Kini... III Sikap dan Persepsi Responden Terhadap Keberadaan Pertamina Selama ini... III Sikap dan Persepsi Responden Tentang Rencana Kegiatan... III Nama Rumah Sakit dan Klinik Menurut Status di Kabupaten Banggai... III Banyaknya Fasilitas Kesehatan Menurut Kecamatan di Kabupaten Banggai... III Banyaknya Tenaga Kesehatan di Kabupaten Banggai... III Banyaknya Penderita Menurut Jenis Penyakit di Kabupaten Banggai... III Persentasi Kelahiran Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBBLR) di Puskemas Batui... III Persentase Rata rata Status Gizi Balita Kecamatan Batui... III Persentase Sumber Air Minum yang Digunakan Masyarakat... III Persentase Kepemilikan Jamban yang dimiliki Masyarakat... III Persentase Sarana Pembuangan Air limbah yang dimiliki Masyarakat... III Persentase Kondisi Lingkungan Ternak Masyarakat... III Persentase Kondisi Kesehatan Pekarangan Masyarakat... III Rata rata Jarak Tandon Tinja (jamban) dengan Sumur Keluarga... III Matrik Dampak Potensial... IV Prioritas Dampak Berdasarkan Probabilitas dan Konsekuensi... IV Proses Pemberian Skala Prioritas Dampak pada Tahap Operasi... IV Perbandingan Dampak Potensial, Dampak Penting Hipotetik, dan Prioritas Dampak Penting Hipotetik antara AMDAL (2008) dan RKL RPL Tambahan Peningkatan Produksi Gas Matindok (45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD)... IV Lokasi Pengamatan Beberapa Komponen Lingkungan dan Alasannya... IV Metode dan Peralatan Analisis Kualitas Udara Ambien... IV Metode Analisis Parameter Kualitas Air Permukaan... IV Metode Analisis Parameter Kualitas Tanah... IV Lingkup Kajian Geologi dan Fisiografi... IV Perhitungan Emisi Polutan Berdasarkan Konsumsi Bahan Bakar Gas... V Kriteria Dalam Penentuan Sifat Penting Dampak Terhadap Kualitas Udara... V Kriteria Dalam Penentuan Sifat Penting Dampak Terhadap Kesehatan Masyarakat... V Kriteria Dalam Penentuan Sifat Penting Dampak Terhadap Persepsi Masyarakat... V Matrik Prakiraan Dampak Penting... V 6 v

15 Daftar Isi 5.6. Konsentrasi dan Jarak dari Sumber Peningkatan Sebaran gas CO dan NO₂ pada Produksi Gas 45 MMSCFD dan 65 MMSCFD... V Arahan Rencana Pengelolaan Lingkungan... V Arahan Rencana Pemantauan Lingkungan... V Parameter dan Metode Pengukuran Kualitas Udara Emisi... VI Parameter dan Metode Analisis Kualitas Udara Ambien... VI Matriks Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)... VI Matrik Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)... VI 9 vi

16 Daftar Isi DAFTAR GAMBAR No. Judul Gambar Halaman 2.1. Lokasi PPGM Blok Matindok... II Lokasi Rencana Kegiatan Lapangan Matindok Dikaitkan dengan Peruntukkan lahan... II Diagram Alir Pengembangan Blok Matindok... II Posisi Sumur Sumur Pengembangan (titik serap) di Lapangan Matindok... II Posisi Sumur Sumur Pengembangan (titik serap) di lapangan Maleoraja... II Diagram Blok Fasilitas Produksi... II Diagram Unit Unit Operasi Pada Pemrosesan Gas di Block Station... II Neraca Massa Fasilitas Proses Produksi Gas Lapangan Matindok Kapasitas 45 MMSCFD... II a. Diagram Alir Block Station/Gathering Station... II b. Diagram Alir Block Station/Gathering Station... II Sulfur Recovery Unit (SRU) untuk Fasilitas Produksi Donggi dan Matindok akan menggunakan teknologi process Shell Paques... II Diagram Fasilitas Produksi Gas (GPF)... II Diagaram Alir Acid Gas Removal Unit... II Tipikal Process Shell Paques... II PFD Acid Removal dan Sulfur Recovery Unit (Claus Process)... II Skema Kerja Dehydration Unit... II Diagram Blok Fasilitas Produksi BS Matindok Kapasitas 65 MMSCFD... II Neraca Massa Fasilitas Proses Produksi Gas Lapangan Matindok Kapasitas 65 MMSCFD... II Peta Kegiatan Lain Di Sekitar Lokasi Rencana Kegiatan... II Rata Rata Curah Hujan Bulanan di Daerah Studi... III Windrose Arah dan Kecepatan Angin di Daerah Studi... III Kondisi Lingkungan Lokasi Block Station Matindok... III Pengambilan Contoh Tanah di Block Station Lokasi Studi... III Kenampakan Sebagian dari Batupasir Kasar Kompak dan Keras, Batupasir kasar dan Masif... III Singkapan Sebagian dari Konglomerat dan Batupasir Kasar (a,b), Endapan Aluvial di Sepanjang Jalur Pipa (c)... III Denah Sebaran Sesar Aktif... III Jejak Seretan Sesar Mendatar di Salah Satu Tepi Sungai Kayowa... III Denah Zona Sumber Gempa di Indonesia... III Denah Rawan Bahaya Goncangan Gempa Sulawesi dan Wilayah Studi... III Mata Pencaharian di Sektor Perkebunan Kelapa (A) dan Sektor Perikanan Tangkap di Laut (B)... III Moda Tranportasi di Simpang Kini Kini... III 32 vii

17 Daftar Isi 4.1. Pendekatan Studi RKL RPL Tambahan Peningkatan Produksi Gas Matindok (45 MMSCFD Menjadi 65 MMSCFD)... IV Tingkat Kebisingan Agregasi dari Lima Mesin dan Peralatan di Block Station Matindok... IV Perubahan Tingkat Kebisingan Menjauhi Sumber Bising di Block Station Matindok... IV Bagan Alir Proses Pelingkupan... IV Batas Wilayah Studi RKL RPL Tambahan Peningkatan Produksi Gas (2011) dan AMDAL PPGM (2008)... IV Simulasi Dispersi CO dalam Udara Ambien dengan Skenario 45 MMSCFD... V Simulasi Dispersi CO dalam Udara Ambien dengan Skenario 65 MMSCFD... V Simulasi Dispersi NO₂ dalam Udara Ambien dengan Skenario 45 MMSCFD... V Simulasi Dispersi NO₂ dalam Udara Ambien dengan Skenario 65 MMSCFD... V 3 DAFTAR LAMPIRAN No. Judul Lampiran Halaman 1. Surat Pernyataan (Testimonial)... L 1 2. Surat Surat dan Perijinan... L 2 3. Peta Lokasi RKL RPL dan Peta Lokasi Sampel... L 3 4. Peta RTRW Kabupaten Banggai... L 4 5. Tata Kerja Penanggulangan Keadaan Darurat... L 5 6. Struktur Organisasi Penanggulangan Keadaan Darurat PPGM... L 6 7. Daftar Riwayat Hidup, Surat Pernyataan, dan Sertifikat Tenaga Ahli... L 7 8. Dokumentasi... L 8 9. Hasil Analisis Laboratorium... L Berita Acara dan Tanggapan Hasil Notulensi Pembahasan Dokumen... L 10 viii

18 Daftar Isi DAFTAR SINGKATAN AGE Acid Gas Enrichment AGRU Acid Gas Removal Unit AMDAL Analisis Mengenai Dampak Lingkungan APHA American Public Health Association (Asosiasi Kesehatan Masyarakat Amerika) BBL Barel, sekitar 159 liter BCF Billion Cubic Feet BBM Bahan Bakar Minyak Benthos Bentic organisme, organisme yang hidup di dalam atau di atas dasar perairan. BFPD Barrel Fluid per Day (barel fluida per hari) BM Baku Mutu BML Baku Mutu Lingkungan BOD Basis of Design BOPD Barrel Oil per Day (barel minyak per hari) BPMIGAS Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (Indonesian Oil and Gas Development Government Body) BS Block Station BWPD Barrel Water per Day (barel air per hari) CCR Central Control Room CGP Central Gas Plant CNG Compressed Natural Gas (Gas alam terkompresi) CITES Convention for International Trade on Endangered Species Dehydration Pengeringan gas DAS Daerah Aliran Sungai DANIDA Danish International Development Agency DHU Dehydration Unit DCU Dew Point Control Unit EPC Enginering Procurement Contract ESDM Energi Sumberdaya Mineral ERP Emergency Response Plan FEED Front End Engineering Design fracture zona Zona hancuran Fitoplankton Plankton nabati bisa berfotosintesis Flowline Pipa pengumpul produksi di lapangan Fuel Gas System Sistem bahan bakar gas GDS Gas Detection System GPF Gas Processing Facility GTU Gas Treating Unit HPH Perusahaan Pengusahaan Hutan HV Heavy Vehicle (Kendaraan Berat) IPAL Instalasi Pengolah Air Limbah IPB Institut Pertanian Bogor ix

19 Daftar Isi IPP JOB KKKS KLH KM KTK LC LNG LV MC MCK MDEA MHV MLR MMI MMSCFD MS MTD NT OPKD PAD Plankton PPGM PPLH PPT Produced water PCS PSC PSP RH RKL RPL RTRW Shear zona SIS SNI Solid Control Equipment SOP Sour gas SRU STB TAF TD TGTU Independent Power Plant Joint Operation Body Kontraktor Kontrak Kerja Sama Kementrian Lingkungan Hidup Kilometer Kapasitas Tukar kation Least Concern (Kurang Diperhatikan) Liquified Natural Gas (gas alam yang dicairkan) Light Vehicle (Kendaraan Ringan) Motor Cycle Mandi Cuci Kakus Methyl Diethanol Amine Medium Heavy Vehicle (Kendaraan Sedang) Maleoraja Modified Mercalli Intensity Million Metric Standard Cubic Feet Day (Juta Standard Kaki Kubik Per Hari) Manifold Station Matindok Near Threatened (Hampir Terancam) Organisasi Penanggulangan Keadaan Darurat Pendapatan Asli Daerah Organisme renik/mikroskopik, tidak bisa bergerak aktif atau kemampuan renangnya sangat lemah sehingga pergerakannya tergantung arus. Proyek Pengembangan Gas Matindok Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Pusat Penelitian Tanah Air terproduksi Process Control System Production Sharing Contractor Process Shell Paques Kelembaban Relatif Udara Rencana Pengelolaan Lingkungan Rencana Pemantauan Lingkungan Rencana Tata Ruang Wilayah Zona gerusan Safety Instrument System Standard Nasional Indonesia Peralatan pengolah limbah padat Standard Operating Procedure (Prosedur Standar Operasi) Gas alam yang mengandung H 2 S dalam jumlah yang signifikan Sulphur Recovery Unit (Fasilitas penangkapan sulfur/belerang) Stock Tank Barrel Talang Akar Formation Total Depth Tail Gas Treating Unit x

20 Daftar Isi TEG TKO TSL TVD US EPA USLE UTM VU Ware house Water Based Mud (WBM) WKP Workshop Zooplankton Triethyleneglycol Tata Kerja Organisasi Tolerable Soil Loss Total Vertical Depth (Kedalaman Total Vertikal) United States Environmental Protection Agency Universal Soil Loss Equation Universal Transfer Metric Vulnerable (Rawan) Gudang Penyimpanan Lumpur bor berbahan dasar air Wilayah Kuasa Pertambangan Bengkel Plankton hewani tidak bisa berfotosintesis xi

21 PT. Pertamina EP PPGM BAB I PENDAHULUAN

22 Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Alasan Latar Belakang Kebutuhan gas sebagai salah satu bahan bakar utama terus meningkat dari waktu ke waktu, sehingga pasokan gas untuk konsumsi domestik juga perlu ditingkatkan. PT. Pertamina EP PPGM sebagai salah satu PSC (Production Sharing Contractor Kontraktor Kontrak Kerjasama/KKKS) dengan BPMIGAS turut berpartisipasi dan berperan dalam memenuhi kebutuhan akan peningkatan permintaan akan kebutuhan gas. Kegiatan di sektor migas ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat sesuai dengan fungsinya. Dukungan dari sektor swasta dalam upaya eksplorasi dan eksploitasi di sektor energi dan sumberdaya mineral sangat diperlukan. PT. Pertamina EP merencanakan mengembangkan lapangan gas yang terletak di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Untuk merealisasikan kegiatan tersebut, dibentuk Pengelola yaitu Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM). Sesuai dengan Undang undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, tugas manajemen Kegiatan Minyak dan Gas Bumi Hulu dipindahkan dari Pertamina menjadi tugas Badan Pelaksana Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS). PT. Pertamina (Persero) telah membentuk anak perusahaan yaitu PT. Pertamina EP yang khusus menangani Bidang Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. PT. Pertamina EP dibentuk berdasarkan Akta Notaris nomor 4 pada tanggal 13 September PPGM merupakan proyek yang penting bagi industri minyak dan gas bumi di Indonesia serta akan berperan penting dalam mempertahankan dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara pengekspor LNG terbesar di dunia. Pembangunan PPGM sangat tepat waktu karena akan meningkatkan kontribusi sektor minyak dan gas bumi dalam menyumbangkan devisa bagi negara dan kemungkinan sebagian untuk substitusi BBM dalam negeri. Proyek LNG ini akan memperkuat produksi LNG Indonesia yang dapat dipasarkan dan akan menjadi pusat ekspor LNG ke empat di Indonesia. PPGM diharapkan akan beroperasi pada tahun Proyek Pengembangan Gas Matindok merupakan kegiatan pembangunan fasilitas yang lengkap mulai dari memproduksi gas bumi dari sumur yang telah dieksplorasi maupun dari rencana sumur pengembangan yang berasal dari 5 lapangan gas bumi, yaitu: lapanganlapangan gas Donggi, Matindok, Maleoraja, Sukamaju, dan Minahaki. Pada awalnya kemampuan produksi gas dari Blok Matindok diperkirakan ± 100 MMSCFD (gross), dengan kandungan kondensat ± 850 BOPD, dan air yang terikut diproduksikan diperkirakan maksimum sebesar BWPD, dengan prakiraan umur produksi 20 tahun yang didasarkan atas besarnya cadangan gas yang ada dan hasil kajian keekonomian pengembangan lapangan. Untuk dapat memproduksi gas sebesar ± 100 MMSCFD, diperlukan fasilitas produksi yang mempunyai kapasitas desain sebesar ± 110 MMSCFD dengan rincian sebagai berikut: Suplai gas ke LNG direncanakan berasal dari lapangan Donggi, Minahaki, Maleoraja dan Matindok dengan Fasilitas Produksi gas yang akan dibangun di dua lokasi yaitu Fasilitas Produksi Donggi dengan kapasitas desain sebesar 60 MMSCFD dan Fasilitas Produksi Matindok dengan kapasitas desain 45 MMSCFD. I 1

23 Pendahuluan Suplai gas ke IPP (Independent Power Plant) direncanakan berasal dari lapangan Sukamaju dan akan mempunyai Block Station tersendiri dengan kapasitas desain 5 MMSCFD. POD (Plan of Development) Area Matindok yang telah disetujui BPMIGAS pada tanggal 24 Desember 2008 adalah untuk suplai gas ke LNG dengan volume sales gas sebesar 85 MMSCFD (nett). Sedangkan POD untuk suplai gas ke IPP belum dapat diajukan karena terkait lokasi Lapangan Sukamaju yang berada di kawasan Taman Suaka Margasatwa Bakiriang. Pada perkembangan selanjutnya, setelah dilakukan pemboran di lapangan gas Matindok diperoleh tambahan cadangan gas sehingga kemampuan produksi gas dari Blok Matindok bertambah sebesar 20 MMSCFD atau menjadi ± 120 MMSCFD (gross), dengan kandungan kondensat total ± BOPD, dan air terproduksi diperkirakan maksimum sebesar BWPD. Gas yang diproduksi mengandung CO 2 ± 2,5 3,5 %, H 2 S ± ppm dan kemungkinan juga mengandung unsur yang lainnya. Tambahan cadangan gas dari Lapangan Matindok dan alokasi gas Donggi dan Senoro yang telah ditetapkan Pemerintah melalui Surat Menteri ESDM Nomor 5943/13/MEM.M/2010 pada tanggal 17 September 2010, disepakati bahwa alokasi gas untuk Blok Matindok adalah 105 MMSCFD (nett) atau naik sebesar 20 MMSCFD dari rencana pada POD sebelumnya, sehingga Fasilitas Produksi Matindok harus dinaikkan kapasitas desainnya dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD, sedangkan kapasitas desain Fasilitas Produksi Donggi (60 MMSCFD) dan kapasitas desain Block Station Sukamaju (5 MMSCFD) tidak berubah, sehingga total kapasitas desain Blok Matindok secara keseluruhan menjadi ± 130 MMSCFD untuk dapat memproduksikan gas sebesar ± 120 MMSCFD. Dokumen lingkungan yang telah melingkupi kegiatan pengembangan tersebut adalah dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Proyek Pengembangan Gas Matindok, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah dan dokumen RKL RPL Tambahan Kegiatan Perubahan Jalur Pemipaan Gas Sepanjang 2,8 km di Sisi Jalan Provinsi Luwuk Toili Melalui Suaka Margasatwa Bakiriang di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Dokumen AMDAL tersebut telah disetujui oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 863 Tahun 2008 tanggal 10 Nopember 2008, tentang Kelayakan Lingkungan Hidup Rencana Pengembangan Lapangan Gas Matindok di Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah dan dokumen RKL RPL Tambahan telah disetujui oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup melalui Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 160 Tahun Alasan RKL RPL Tambahan Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Pada saat ini, PT. Pertamina EP PPGM merencanakan akan menaikkan produksi gasnya sebesar 20 MMSCFD yaitu dari ± 100 MMSCFD (gross) menjadi ± 120 MMSCFD (gross), untuk itu kapasitas pada Fasilitas Produksi Matindok dinaikkan dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD, sedangkan kapasitas Fasilitas Produksi Donggi dan Block Station Sukamaju tidak berubah yaitu 60 MMSCFD dan 5 MMSCFD. Peningkatan produksi gas ini dilakukan dengan cara meningkatkan kinerja fasilitas produksi tanpa perubahan mendasar atas desain konfigurasi proses fasilitasnya. Jumlah sumur produksi dan rancangan pipa flowline masih seperti semula. Pada dasarnya tujuan rencana kegiatan tersebut adalah dalam rangka peningkatan efisiensi produksi gas yang tidak disertai dengan banyak perubahan. Secara umum kegiatan pengembangan ini dilakukan untuk memastikan pemenuhan pasokan kebutuhan gas, terutama untuk kebutuhan dalam negeri. I 2

24 Pendahuluan Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 tahun 2006 mengenai Jenis Rencana Kegiatan dan/atau Usaha yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL, dan berdasarkan arahan dari KLH (Surat Nomor B 7263/Dep.I/LH/09/2010 tanggal 28 September 2010), maka rencana kegiatan perlu dilengkapi dengan dokumen lingkungan dalam bentuk RKL RPL Tambahan Peningkatan Kapasitas Produksi Gas Matindok (dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD) Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM), Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah Tujuan dan Manfaat Proyek Tujuan proyek adalah : Meningkatkan produksi gas di Blok Matindok oleh PT. Pertamina EP PPGM yang berasal dari lapangan lapangan gas Donggi, Matindok, Maleoraja, Sukamaju, dan Minahaki dari ± 100 MMSCFD (gross) menjadi ± 120 MMSCFD (gross). Menaikkan kapasitas Fasilitas Produksi Matindok dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD, sedangkan Fasilitas Produksi Donggi dan Block Station Sukamaju tidak mengalami perubahan yaitu tetap sebesar 60 MMSCFD dan 5 MMSCFD. Meningkatkan pemanfaatan cadangan gas dari sumur sumur produksi gas yang sudah ada (existing) dengan penambahan cadangan hasil pemboran sumur MTD 2 (Sertifikasi Lemigas pada Oktober 2009). Memanfaatkan fasilitas utama dan pendukung dari Gas Station Matindok dalam memproduksi gas. Manfaat proyek adalah : Terpenuhinya kebutuhan akan gas yang terus meningkat pada saat ini dan pada masa yang akan datang terutama untuk kebutuhan dalam negeri. Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) terutama Kabupaten Banggai, serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terutama dari sektor Migas dari pajak dan royalti. Meningkatnya efisiensi bahan bakar terutama dalam rangka mendukung alih fungsi penggunaan bahan bakar minyak ke gas yang cenderung lebih hemat Peraturan Perundang undangan Undang Undang (UU) Perundangan Undang undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kaitan Kegiatan Acuan untuk mencapai sasaran perlindungan pengelolaan lingkungan hidup yaitu tercapainya keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup, pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana serta tercapainya fungsi lingkungan hidup. I 3

25 Pendahuluan Perundangan Undang undang nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Undang undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Undang undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Undang undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi Undang undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Undang undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang undang No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Undang undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Undang undang No. 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa Bangsa mengenai Perubahan Iklim. Undang undang No. 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati. Undang undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria Kaitan Kegiatan Acuan untuk memperhatikan aspek aspek kesehatan bagi setiap usaha dan atau kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun swasta. Acuan untuk memperhatikan aspek aspek perlindungan terkait pada penggunaan lahan pertanian terutama pangan pada kegiatan pengembangan minyak dan gas. Acuan pada penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Penataan ruang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta teknologi yang sesuai, akan meningkatkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan subsistem. Pedoman dalam pengolahan dan pemanfaatan energi untuk peningkatan ekonomi dan ketahanan nasional secara keadilan, berkelanjutan, rasional, optimal, dan terpadu. Acuan untuk melakukan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkait perimbangan keuangan. Acuan sebagai bahan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat terkait pengembangan gas agar tidak menyalahi aturan ataupun ketentuan yang berlaku. Acuan untuk memperhatikan penggunaan tenaga kerja, kesejahteraan, hak serta kewajibannya. Acuan pada kegiatan pengembangan gas terkait eksploitasi sumberdaya alam dan sumberdaya pembangunan yang bersifat strategis dan vital. Acuan untuk mempertahankan kelestarian hutan dan pengelolaan yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya kehutanan yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat di areal kegiatan pengembangan. Acuan untuk menjaga lingkungan hidup di area kegiatan pengembangan gas dengan menjaga areal hutan tropis basah dan laut yang berfungsi sebagai penyerap gas rumah kaca yang besar. Acuan untuk tetap memperhatikan aspek keanekaragaman hayati di area kegiatan pengembangan gas agar kelestarian tetap terjaga serta pembangunan berkelanjutan. Acuan pelaksanaan kegiatan pengembangan gas untuk tetap menjaga agar pemanfaatan sumberdaya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik baiknya, sehingga langkahlangkah konservasi tetap dilaksanakan. Acuan untuk memperhatikan peraturan dasar pokok pokok agraria terkait pada penggunaan lahan pertanian terutama pangan pada kegiatan pengembangan minyak dan gas. I 4

26 Pendahuluan Perundangan Kaitan Kegiatan Peraturan Pemerintah (PP) Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2002 tentang Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun jo Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan. Keputusan Presiden Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Peraturan dan Keputusan Menteri Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 19 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Migas serta Panas Bumi. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.13 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Minyak dan Gas Bumi. Peraturan Menteri Kehutanan No. PM 43/Menhut II/2008 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. Acuan untuk memperhatikan tata ruang wilayah nasional dan karakteristik lokasi dalam pengelolaan lingkungan. Acuan dimana rencana kegiatan akan berurusan baik dengan Pemerintah Pusat, Provinsi, maupun Kabupaten/Kota terkait dengan koordinasi yang akan dibangun untuk kelancaran rencana kegiatan. Acuan dalam melaksanakan kegiatan di sektor Migas dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Acuan dalam upaya eksplorasi dan ekploitasi dalam kegiatan pengembangan gas di Blok Matindok. Baku mutu lingkungan untuk kualitas air badan air penerima yang ada di sekitar kegiatan pengembangan gas di Blok Matindok. Baku mutu lingkungan kualitas udara ambien dari kegiatan pengembangan gas Matindok. Acuan penyusunan dokumen lingkungan yang bersifat mandatory bagi kegiatan yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting. Bahan acuan untuk melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkan dari proses rencana kegiatan pengembangan gas di Blok Matindok sesuai prosedurnya sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga. Pedoman untuk memperhatikan aspek keselamatan kerja pada bidang pemurnian dan pengolahan minyak dan gas terkait rencana kegiatan. Pedoman untuk memperhatikan keselamatan kerja terutama yang terlibat dalam kegiatan pengembangan lapangan gas Matindok. Acuan untuk menjaga, melestarikan dan tidak merubah fungsi dari kawasan lindung yang ada di areal pengembangan gas di Blok Matindok. Pedoman dalam menetapkan acuan baku mutu dari air limbah yang dihasilkan dari kegiatan di sektor Migas. Acuan dan dasar baku mutu bagi emisi dari sumber yang tidak bergerak terutama pada tahap operasi (produksi) yang dilakukan oleh rencana kegiatan di bidang minyak dan gas. Pedoman dalam penggunaan kawasan hutan sebagai area pertambangan. Memperhatikan aspek kelestarian hutan serta mempertahankan keutuhan fungsi ekosistem hutan. I 5

27 Pendahuluan Perundangan Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral No. 045 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Lumpur Bor, Limbah Lumpur dan Serbuk Bor pada Kegiatan Pengeboran Minyak dan Gas Bumi. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 11 Tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1077/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah. Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Kaitan Kegiatan Pedoman dan bahan acuan dalam pengelolaan pengelolaan lumpur bor, limbah lumpur dan serbuk bor pada kegiatan pengeboran minyak dan gas bumi di Blok Matindok. Pedoman pelaksanaan kegiatan pertambangan untuk menjaga kelestarian lingkungan terkait eksploitasi sumberdaya alam. Jaminan agar tetap menjaga kelestarian sumberdaya alam yang masuk dalam area kegiatan. Pedoman pada proses penyusunan AMDAL sesuai dengan aturan yang berlaku terkait kegiatan pengembangan gas di Blok Matindok. Acuan mengenai kesehatan udara dalam ruang rumah terkait dengan pengembangan gas di Blok Matindok Pedoman tentang persyaratan kualitas air minum terkait dengan pengembangan gas di Blok Matindok. Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 02/1999 tentang ijin lokasi menyatakan bahwa ijin lokasi adalah ijin yang diberikan kepada perusahaan baik perorangan/berbadan hukum sebagai dasar pembebasan tanah dan pemindahan hak atas tanah dalam rangka penanaman modal. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. 06.P/0746/MPE/1991 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kerja Atas Instalasi, Peralatan dan Teknik yang Dipergunakan dalam Pertambangan Minyak dan Gas Bumi dan Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Syarat Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Keputusan Menteri Energi Sumberbaya Daya Mineral Nomor 2950K/21/MEM/2006 tentang Rencana Induk Jaringan Transmisi Distribusi Gas Bumi Nasional. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 45 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 129 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Emisi Usaha dan atau Kegiatan Minyak dan Gas Bumi. Keputusan Menteri Kesehatan No. 876 Tahun 2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan. Pedoman mengenai ijin yang diberikan kepada perusahaan baik perorangan/berbadan hukum sebagai dasar pembebasan tanah dan pemindahan hak atas tanah dalam rangka penanaman modal. Pedoman ini dijadikan dasar dalam melakukan rencana kegiatan sehingga tidak menjadi permasalahan di kemudian hari. Acuan mengenai keselamatan kerja dan peralatan serta teknik yang di gunakan dalam usaha pertambangan minyak dan gas bumi dan pengusahaan sumber daya panas bumi. Pedoman ini juga sebagai dasar dalam memperhatikan hak dan kewajiban dari tenaga kerja. Acuan dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan terkait dengan kualitas air bersih dan kualitas air minum. Pedoman tentang rencana induk jaringan transmisi distribusi gas bumi nasional terkait dengan pengembangan gas di Blok Matindok. Sebagai pedoman dalam membuat format laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan juga rencana pemantauan lingkungan (RKL RPL). Pedoman tentang baku mutu emisi dari kegiatan minyak dan gas bumi terkait kegiatan pengembangan gas di Blok Matindok. Pedoman teknis analisis dampak kesehatan lingkungan terkait dengan pengembangan gas di Blok Matindok. I 6

28 Pendahuluan Perundangan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 21 tahun 2001 tentang Pelepasan Tenaga Kerja Migas. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No K/28/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Lingkungan Bidang Pertambangan dan Energi. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP 50/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebauan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP 48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 103.K/008/M.PE/1994 tentang Pengawasan atas Pelaksanaan RKL dan RPL dalam Bidang Pertambangan dan Energi. Keputusan Kepala BAPEDAL Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Ligkungan No. 124 Tahun 1997 tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat Dalam Penyusunan Dokumen AMDAL. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP 299/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 255/ Bapedal/08/1996 tentang Tata Cara dan Persyaratan Penyimpanan dan Pengumpulan Minyak Pelumas Bekas. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 05/ Bapedal/09/1995 tentang Simbol dan Label Limbah B3. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 03/ Bapedal/09/1995 tentang Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah B3. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 02/ Bapedal/09/1995 tentang Dokumen Limbah B3. Kaitan Kegiatan Pedoman teknis mengenai pelepasan tenaga kerja terkait pengembangan gas Matindok. Pedoman teknis untuk melakukan pengelolaan lingkungan di bidang pertambangan dan energi terkait pengembangan gas di Blok Matindok. Pedoman tentang baku tingkat kebauan terkait kegiatan pengembangan gas di Blok Matindok. Baku mutu lingkungan tingkat kebisingan yang akan digunakan terkait dengan kegiatan pengembangan gas di Blok Matindok. Pedoman dalam upaya pengawasan atas pelaksanaan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam bidang pertambangan dan energi. Panduan keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL untuk memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAL dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Pedoman teknis kajian aspek kesehatan dalam penyusunan AMDAL meliputi komponen parameter lingkungan yang diprakirakan terkena dampak, proses dan potensi terjadinya pemajanan, potensi resiko timbulnya penyakit, karakteristik spesifik penduduk yang berisiko, sumberdaya kesehatan, kondisi sanitasi lingkungan, status gizi masyarakat, dan kondisi lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan AMDAL. Pedoman teknis kajian aspek sosial dalam penyusunan AMDAL meliputi komponen demografi, ekonomi dan budaya serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan AMDAL. Ketentuan untuk melakukan penanganan terhadap minyak pelumas bekas yang dihasilkan selama kegiatan sesuai dengan persyaratan dan ketentuan penanganan yang berlaku. Ketentuan untuk melakukan penandaan pada setiap kemasan limbah B3 untuk penyimpanan, pengolahan, pengumpulan dan pemanfaatan sesuai dengan karakteristik dan jenis limbah. Ketentuan untuk melakukan pengolahan limbah B3 yang dihasilkan dari pengembangan minyak dan gas sesuai dengan kaidah dan persyaratan teknis. Ketentuan untuk pelengkapan dokumen limbah B3 terkait kegiatan pengembangan gas di Blok Matindok. I 7

29 Pendahuluan Perundangan Kaitan Kegiatan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 01/Bapedal/09/1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. Peraturan Daerah dan Keputusan Gubernur/Bupati Peraturan Daerah Provinsi Dati I Sulawesi Tengah No. 4 Tahun 1985 tentang Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup di Sulawesi Tengah. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah No. 465 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Air dan Udara di Sulawesi Tengah. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah No. 2 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Ketentuan untuk melakukan pengujian limbah B3 di laboratorium, penyimpanan dan pengumpulan limbah B3 sesuai dengan prosedur. Pedoman ukuran dampak penting (ukuran, standar atau prinsip prinsip). Ukuran dampak penting digunakan untuk menilai apakah suatu rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan atau tidak. Acuan dalam pengelolaan dan melestarikan lingkungan hidup sehingga pencemaran lingkungan dapat dicegah dan dikendalikan yang terkait kegiatan pengembangan gas di Blok Matindok. Pedoman untuk baku mutu air dan udara terutama dalam melaksanakan kegiatan pemantauan di daerah pengembangan gas di Blok Matindok. Acuan dalam upaya pengembangan gas di Blok Matindok agar sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. I 8

30 PT. Pertamina EP PPGM BAB II DESKRIPSI KEGIATAN

31 Deskripsi Kegiatan BAB II DESKRIPSI KEGIATAN 2.1. Identitas Pemrakarsa dan Penyusun Identitas Pemrakarsa Nama Instansi : PT. Pertamina EP PPGM Alamat : Menara Standard Chartered Lt. 21 Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. 164 Jakarta Selatan Telp : (021) Faks : (021) Penanggung Jawab : Medianto Budi Satyawan (General Manager PPGM) Identitas Penyusun Studi Nama Instansi : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Institut Pertanian Bogor (PPLH IPB) Alamat : Jl. Lingkar Akademik, Kampus IPB Darmaga Bogor Telp : (0251) , Faks : (0251) E mail : pplh [email protected] Penanggung Jawab : Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, M.S. (Kepala PPLH IPB) Tenaga ahli menurut bidang keahlian yang dibutuhkan untuk penyusunan RKL RPL Tambahan Peningkatan Kapasitas Produksi Gas Matindok (45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD), Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah sebagai berikut: Ketua Tim : Dr. Ir. Hefni Effendi, M.Phil. (AMDAL A, B, C) Sertifikasi ketua tim : /SKPA/LSK INTAKINDO/III/2010 Ahli Kualitas Udara : Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, M.Sc. (AMDAL Penyusun) Ahli Kualitas Air dan Biota : Dr. Ir. Enan M. Adiwilaga (AMDAL A, B) Sertifikasi ketua tim : /SKPA/LSK INTAKINDO/XII/2009 Ahli Geologi : Ir. Singgih Irianto, M.S. (AMDAL Penyusun) Ahli Tanah : Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, M.S. Ahli Vegetasi dan Satwa : Eko Adhiyanto, S.Hut. Ahli Sosekbud dan Kesmas : Ir. Gatot Yulianto, M.S. Sertifikasi anggota tim : /SKPA/LSK INTAKINDO/X/2010 Drs. Dahlan H. Hasan, M.Si. (Kepala PPLH Universitas. Tadulako) Tenaga Pendukung : Setyo Pambudi Nugroho, S.P. (Project Officer) Sertifikasi ketua tim : /SKPA/LSK INTAKINDO/VIII/2010 Bagus A. Utomo, S.Pi. (Asisten Ahli Biofiskim) Suwandono (Administrasi) Registrasi kompetensi AMDAL PPLH IPB adalah No. 0020/LPJ/AMDAL 1/LRK/KLH. II 1

32 Deskripsi Kegiatan 2.2. Uraian Rencana Kegiatan Lapangan Matindok Rencana awal Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) untuk pembangunan fasilitas produksi secara keseluruhan yaitu fasilitas produksi Donggi dengan kapasitas 60 MMSCFD dan fasilitas produksi Matindok dengan kapasitas 45 MMSCFD sampai saat ini belum terealisasi, walaupun rencana PPGM ini sudah dilingkup dalam Dokumen AMDAL yang telah disetujui tahun Selanjutnya sesuai dengan perkembangan terakhir alokasi gas untuk Blok Matindok dan Senoro dari Pemerintah dan telah dilakukannya pemboran delineasi di Blok Matindok pada tahun 2009, potensi cadangan di Blok Matindok bertambah dari sebelumnya. Untuk itu, Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) akan melakukan peningkatan kapasitas fasilitas produksi Matindok dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD (peningkatan 20 MMSCFD) sehingga diperlukan dokumen lingkungan yang mencakup rencana peningkatan kapasitas produksi tersebut berupa RKL RPL Tambahan. Oleh karena itu, uraian kegiatan ini secara garis besar menjadi: (1) Uraian kegiatan yang telah dilingkup dalam AMDAL untuk kapasitas fasilitas produksi Matindok 45 MMSCFD dan (2) Uraian kegiatan yang dilingkup dalam RKL RPL Tambahan untuk peningkatan kapasitas fasilitas produksi Matindok dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD Rencana Kegiatan Pengembangan Blok Matindok untuk Fasilitas Produksi Matindok dengan Kapasitas 45 MMSCFD (Dilingkup Dalam Dokumen AMDAL tahun 2008) Fasilitas Produksi Matindok dengan kapasitas awal 45 MMSCFD ini akan memproses gas dari Lapangan Maleoraja dan Lapangan Matindok yang meliputi: kegiatan pengembangan sumur gas, pembangunan Block Station (BS) atau Fasilitas Processing Gas (Gas Processing Facility, disingkat GPF), pemasangan pipa penyalur gas, dan pengangkutan kondensat. Rencana kegiatan pengeboran sumur di Lapangan Maleoraja dan Lapangan Matindok tidak mengalami perubahan dari dokumen AMDAL tahun 2008 yaitu 3 sumur di Lapangan Maleo raja dan 4 sumur di Lapangan Matindok, yang berlokasi di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Fasilitas Produksi Matindok akan ditingkatkan kapasitasnya dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD yang disebabkan adanya permintaan kebutuhan gas untuk pemenuhan kebutuhan domestik, sehingga alokasi gas yang akan dijual ke pembeli juga bertambah. Lokasi PPGM Blok Matindok disampaikan pada Gambar 2.1 dan lokasi rencana Fasilitas Produksi Matindok berada di Desa Nonong Kecamatan Batui Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah pada koordinat garis lintang ,87 S. dan garis bujur ,21 E disampaikan pada Gambar 2.2. Diagram alir pengembangan Blok Matindok secara keseluruhan disampaikan pada Gambar 2.3. II 2

33 Deskripsi Kegiatan RKL RPL Tambahan Peningkatan Kapasitas Gas Matindok (45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD) Kabupaten Banggai, Prov. Sulawesi Tengah Gambar 2.1. Lokasi PPGM Blok Matindok II 3

34 Deskripsi Kegiatan RKL RPL Tambahan Peningkatan Kapasitas Gas Matindok (45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD) Kabupaten Banggai, Prov. Sulawesi Tengah Lokasi Lapangan Matindok Gambar 2.2. Lokasi Rencana Kegiatan Lapangan Matindok Dikaitkan dengan Peruntukkan Lahan II 4

35 Deskripsi Kegiatan MS MATINDOK MS MALEORAJA Compressor Separation Unit GPF 14 X 5300 m MLR Junction 12 X 8400 m Compressor GPF MS MINAHAKI 14 X m Condensate Tank BS SUKAMAJU 8 X 3900 m Separation Unit Compressor GPF Condensate Tank BS MATINDOK 16 x 1000 m Separation Unit Condensate Tank BS DONGGI Sumber: AMDAL PPGM dan POD PPGM PT. Pertamina EP, Revisi Februari x m 30 x m 30 x m Operating Standby Senoro Junction BUYERS Gambar 2.3. Diagram Alir Pengembangan Blok Matindok II 5

36 Deskripsi Kegiatan Gas yang diproduksi mengandung CO₂ ± 2,5 3,5 %, kandungan H 2 S ± ppm dan kemungkinan adanya unsur lainnya. Komposisi gas yang terkandung dalam pipa antara Sumur sampai dengan Block Station (BS) maupun dari Block Station (BS) sampai dengan Kilang LNG disampaikan pada Tabel 2.1. Tabel 2.1. Tipikal Komposisi Gas yang akan Diolah di Fasilitas Produksi Matindok Komposisi Gas Unit Matindok Spesifikasi 1. Dari sumur s/d Block Station Hydrogen Sulphide H 2 S % mole 0,38400 Alkyl Mercaptan RSH % mole 0,00200 Carbonyl Sulphide COS % mole 0,00020 Nitrogen N 2 % mole 2,23043 Carbon Dioxide CO 2 % mole 3,03000 Methane CH 4 % mole 80,97919 Ethane C 2 H 6 % mole 6,49778 Propane C 3 H 8 % mole 3,06306 Iso Butane i C 4 H 10 % mole 0,72750 Normal Butane n C 4 H 10 % mole 0,94917 Iso Pentane i C 5 H 12 % mole 0,65306 Normal Pentane n C 5 H 12 % mole 0,39829 Hexane C 6 H 14 % mole 0,34852 Heptane plus C 7 H 16 % mole 0,73681 Total % mole 100, Dari Block Station s/d Kilang LNG Nitrogen N 2 % mole 2,30920 Methane CH 4 % mole 83,83896 Ethane C 2 H 6 % mole 6,72725 Propane C 3 H 8 % mole 3,17123 Iso Butane i C 4 H 10 % mole 0,75319 Normal Butane n C 4 H 10 % mole 0,98269 Iso Pentane i C 5 H 12 % mole 0,67612 Normal Pentane n C 5 H 12 % mole 0,41235 Hexane C 6 H 14 % mole 0,36083 Heptane plus C 7 H 16 % mole 0,76283 CO 2 H 2 S Total Sulfur H 2 O Sumber: PT. Pertamina EP, ppmv max 3,5 ppmv max 17 ppmv max 10 lb/mmscf max Berdasarkan hasil analisis, pada struktur Matindok dapat diproduksikan gas dari 4 titik serap yang kesemuanya merupakan sumur pengembangan. Titik titik serap tersebut adalah: MTD BB/2, MTD 1S/3 dan MTD AA/4 akan dibor miring dari cluster sumur MTD 2, dan MTD CC/5. Ilustrasi titik titik serap sumur sumur di Lapangan Matindok dapat dilihat pada gambar 2.4. II 6

37 Deskripsi Kegiatan Sumber: PT. Pertamina EP Gambar 2.4. Posisi Sumur Sumur Pengembangan (titik serap) di Lapangan Matindok Koordinat sumur pengembangan Lapangan Matindok disampaikan pada Tabel 2.2. Tabel 2.2. Koordinat Sumur Pengembangan Lapangan Matindok Sumur Koordinat X Y Keterangan MTD 1S/ Subtitute MTD 1 MTD AA/ Development MTD BB/ Development MTD CC/ Development Sumber: PT. Pertamina EP, 2011 Sedangkan pada struktur Maleoraja dapat diproduksikan gas dari 3 titik serap sumur pengembangan. Titik titik serap tersebut adalah: MLR 1 berupa sumur eksisting yang dilakukan work over untuk menggantikan sumur MLR AA/2, MLR BB/3 dan MLR CC/4 akan dibor miring dari cluster sumur MLR 2. Posisi sumur sumur eksisting dan pengembangan lapangan Maleoraja dapat dilihat pada Tabel 2.3. Ilustrasi titik titik serap sumur sumur dilapangan Maleoraja dapat dilihat pada gambar 2.5. Tabel 2.3. Koordinat Sumur Pengembangan Lapangan Maleoraja Sumur Koordinat X Y Keterangan MLR Eksisting/Development MLR BB/ Development MLR CC/ Development Sumber: PT. Pertamina EP, 2011 II 7

38 Deskripsi Kegiatan Sumber: PT. Pertamina EP Gambar 2.5. Posisi Sumur Sumur Pengembangan (titik serap) di lapangan Maleoraja Rencana casing dan desain lumpur pada sumur sumur Lapangan Matindok dan Maleoraja disampaikan pada Tabel 2.4. Tabel 2.4. Skema Casing dan Desain Lumpur Pada Sumur Lapangan Matindok dan Maleoraja Sumur Selubung Kedalaman Mud Type Mud Weight MTD 1S/3 MTD AA/4 MTD BB/2 (APRAISAL) MTD CC/5 MLR 1 MLR BB/3 MLR CC/4 Sumber: PT. Pertamina EP, /8 9 5/ /8 9 5/ /8 9 5/ /8 9 5/ /8 9 5/ /8 9 5/ /8 9 5/ m m m m m m m m m mvd mvd mvd m m m m 0 20 m m m m m m m m m m m m PHB PHPA PHPA PHPA PHB PHPA PHPA PHPA PHB PHPA PHPA PHPA PHB PHPA PHPA PHPA PHB PHPA PHPA PHPA PHB PHPA PHPA PHPA PHB PHPA PHPA PHPA 1,05 1,05 1,08 1,08 1,20 1,13 1,15 1,05 1,05 1,08 1,08 1,20 1,13 1,15 1,05 1,05 1,08 1,08 1,20 1,13 1,15 1,05 1,05 1,08 1,08 1,20 1,13 1,15 1,055 1,055 1,18 1,18 1,36 1,15 1,055 1,055 1,18 1,18 1,36 1,15 1,055 1,055 1,18 1,18 1,36 1,15 II 8

39 Deskripsi Kegiatan Block Station (BS) Gas dari sumur produksi di Lapangan Maleoraja dialirkan ke Manifold Station (MS) yang terletak di Lapangan Maleoraja dan gas dari sumur produksi di Lapangan Matindok dialirkan ke Manifold Station (MS) yang terletak di Lapangan Matindok. Selanjutnya gas dari MS Maleoraja dan MS Matindok akan dialirkan bersama sama melalui Gathering Line menuju Block Station Fasilitas Produksi Matindok (Gambar 2.6). Di dalam Block Station (BS) terdapat unit separasi, unit kompresi, tangki penampung, unit utilitas, dan unit pengolah limbah (Flaring system dan IPAL). Unit unit operasi yang digunakan untuk pemrosesan gas di Block Station (BS) disampaikan pada Gambar 2.7. Neraca massa fasilitas proses produksi gas Lapangan Matindok dengan kapasitas 45 MMSCFD disampaikan pada Gambar 2.8. Block Station (BS) atau Stasiun Pengumpul Gas Matindok terdiri dari sistem pengumpulan (gathering system) dan sistem separasi gas bumi yang terdiri dari separator dan tangki kondensat. Unit atau fasilitas pada Block Station (BS) antara lain: Unit Separasi: Hidrokarbon dari sumur produksi mengandung kondensat, air dan gas dimana jumlah terbesar adalah gas. Langkah awal untuk memisahkan kondensat, air dan gas adalah dengan menggunakan separator gas. Di dalam alat tersebut kondensat dan air terpisah dari gas. Kondensat dan air akan mengalir dari bagian bawah separator sedangkan gas akan mengalir dari bagian atasnya. Proses pemisahaan di dalam alat tersebut hanya merupakan proses fisika dan tanpa penambahan bahan kimia. Kondensat dan air dipisahkan dengan prinsip ketidak saling larutan dan perbedaan berat jenis. Kondensat ditampung di tangki penampung, sedangkan air diproses lebih lanjut dalam sistem pengolah air (waste water treatment). Apabila tekanan gas dari sumur berkurang akibat penurunan tekanan reservoir secara alami, maka akan dilakukan pemasangan kompresor di gathering station/block station untuk menjaga stabilitas tekanan gas yang masuk ke sistem CO₂/H₂S removal dan juga ke konsumen gas tetap stabil. Tangki Penampung: Tangki penampung dipakai untuk menampung kondensat yang berasal dari separator. Jumlah tangki penampung yang dipakai sebanyak 2 buah dengan kapasitas masing masing sebesar ± BOPD. Kondensat akan diangkut dari block station ke fasilitas JOB di Desa Bajo dengan menggunakan road tank atau mobil tangki. Kompresor: Kompresor yang akan dipergunakan untuk menjaga tekanan keluar dari block station tetap sebesar 900 psig. Kompresor ini dipasang di block station. Jumlah kompresor yang ditempatkan di Block Station Matindok sebanyak 3 unit. Hal ini karena pada umumnya tekanan gas yang keluar dari sumur akan mengalami penurunan secara alamiah selama proses produksi, sehingga diperlukan tambahan kompresor baru di gathering station/block station. Unit Pengolah Air: Unit pengolah air atau unit Effluent Treatment atau Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) dipakai untuk mengolah limbah cair yang berasal dari separator. Kapasitas unit pengolahan air adalah untuk dapat mengolah jumlah perkiraan air terproduksi ± BWPD. Diagram alir Block Station (BS) Matindok disampaikan pada Gambar 2.9a. dan Gambar 2.9b. II 9

40 Deskripsi Kegiatan 8 WELLS 4 WELLS FL DONGGI MS MANIFOLD STATION Minahaki BS B S DONGGI AGRU, SRU GPF DHU DCU PL 4 WELLS MANIFOLD STATION Matindok BS FROM JOB PMTS GPF TIP-1 3 WELLS MANIFOLD STATION Maleoraja B S AGRU, SRU MATINDOK DHU DCU TIP-2 TO LNG PLANT 2 WELLS BLOCK STATION SUKAMAJU TO IPP BANGGAI Separate POD with POD gas to LNG Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP, 2008 Gambar 2.6. Diagram Blok Fasilitas Produksi II 10

41 Deskripsi Kegiatan Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP, 2008 Gambar 2.7. Diagram Unit Unit Operasi Pada Pemrosesan Gas di Block Station II 11

42 Deskripsi Kegiatan 45 MMSCFD Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP, 2008 Gambar 2.8. Neraca Massa Fasilitas Proses Produksi Gas Lapangan Matindok Kapasitas 45 MMSCFD II 12

43 Deskripsi Kegiatan LC LC AGRU-SRU EP MEDCOENERGI Oil & Gas LC Flare PC Water Treat. HP manifold MP manifold LP manifold Test manifold Water Treat. LC Water Treat. LC Flare PC LC LC LC Water Treat. Closed drain PFD BLOCK STATION Cond. export 48 Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP, 2008 Gambar 2.9a. Diagram Alir Block Station/Gathering Station II 13

44 Deskripsi Kegiatan Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP, 2008 Gambar 2.9b. Diagram Alir Block Station/Gathering Station II 14

45 Deskripsi Kegiatan Unit Proses atau GPF (Gas Processing Facility) BS Matindok terdapat unit proses atau GPF yang meliputi AGRU, SRU, dehydration unit, dew point control. Diagram Fasilitas Produksi Gas (GPF) disampaikan pada Gambar Beberapa unit/fasilitas produksi gas antara lain: 1. Unit Penghilangan CO 2 / H 2 S (AGRU) Gas dari Block Station sebelum masuk ke kilang LNG akan dikurangi kandungan CO₂ dan H₂S nya dengan proses absorbsi menggunakan larutan MDEA (Methyl Diethanol Amine) dalam unit penghilangan CO₂/H₂S (Acid Gas Removal Unit = AGRU). Prinsip kerja unit tersebut adalah penyerapan gas CO₂ dan H₂S di dalam absorber dan melepaskannya lagi di dalam menara stripper atau column, sehingga diperoleh sweet gas dengan kandungan CO₂ dan H₂S yang rendah. Diagram Alir Acid Gas Removal Unit disampaikan pada Gambar Fungsi utama AGRU adalah pembuangan karbondioksida untuk mencegah timbulnya masalah pembekuan dan penyumbatan pada suhu yang sangat rendah (dipakai dalam unit liquifaction). Konsentrasi karbondioksida dalam aliran gas akan dikurangi sampai 50 ppmv dengan cara penyerapan menggunakan larutan dasar amina (amine based solution). Kegiatan ini merupakan pengolahan lingkaran tertutup (closed loop) dan regeneratif sehingga karbon dioksida yang terserap akan terangkat dari larutan yang mengandung (banyak) karbondioksida. Karbondioksida yang terangkat akan dilepas ke udara, dan larutan amina yang sudah bebas dari karbondioksida dikembalikan pada langkah penyerapan. Larutan dasar amina yang dipakai dalam semua AGRU juga akan menghilangkan seluruh campuran sulfur yang telah berkurang yang mungkin masih tertinggal (sebagai contoh, sulfida hydrogen dan mercaptan). Namun demikian, analisis bersifat komposisional yang ada menunjukkan bahwa sulfur yang tertinggal dalam ransum (feed) gas alam hanya sedikit sekali atau tidak ada sama sekali. 2. Sulfur Recovery Unit (SRU) Sulfur recovery dimaksudkan untuk memenuhi ketentuan dan perundangan undangan lingkungan sesuai dengan nilai ambang batas yang diizinkan pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 129 Tahun Terdapat beberapa proses yang tersedia untuk memproduksi sulfur dari hydrogen sulfide. Beberapa proses didesain dengan maksud untuk memproduksi sulfur dan beberapa proses juga dikembangkan dengan tujuan utama untuk menghilangkan kandungan H₂S dari gas bumi dengan produksi sulfur hanya sebagai hasil dari proses lanjutan yang harus dilakukan. Mengingat masih terdapat 2 kemungkinan kandungan sulfur dalam gas alam yang diproduksikan dari sumur sumur gas, maka teknologi proses yang dipertimbangkan untuk sulfur recovery ada dua yaitu: Process Claus Proses Claus dipilih apabila kandungan sulfur dalam gas alam mencapai lebih dari ppm. Dari banyak teknologi yang ada, proses Claus adalah yang paling terkenal dan paling banyak diaplikasikan di seluruh dunia. Proses Claus menggunakan prinsip oksidasi menggunakan oksigen atau udara pada suhu sekitar C melalui reaksi sebagai berikut : H₂S + O₂ SO₂ + H₂O H₂S + SO₂ S + H₂O Proses Clauss dapat memproduksi sulfur dari umpan gas yang mengandung 15% 100% H₂S. Terdapat berbagai macam skema alir dari proses Clauss dimana perbedaan utamanya terletak pada susunannya saja. II 15

46 Deskripsi Kegiatan Gas asam dikombinasikan secara stoikiometri dengan udara untuk membakar 1/3 dari total H₂S menjadi SO₂ dan semua hidrokarbon menjadi CO₂. Pembakaran H₂S terjadi di burner dan kamar reaksi. Aliran massa bertemperatur tinggi hasil dari pembakaran dialirkan ke waste heat boiler dimana panas akan dibuang dari gas hasil pembakaran tersebut. Aliran gas selanjutnya diumpankan ke reaktor dimana akan terjadi reaksi yang akan mengubah SO₂ menjadi sulfur. Hasil reaksi selanjutnya didinginkan dikondenser pertama dan sulfur cair yang dihasilkan dipisahkan. Gas yang keluar kondenser pertama selanjutnya dipanaskan dan diumpankan ke reaktor kedua. Dalam reaktor ini terjadi reaksi yang sama dengan reaksi dalam reaktor pertama. Produk yang keluar dari reaktor kedua selanjutnya didinginkan dalam kondenser kedua dan sulfur cairnya dipisahkan. Process Shell Paques Untuk kandungan sulfur dalam gas alam di bawah ppm, maka akan dipilih teknologi dari Shell Paques (Gambar 2.10). Proses Shell Paques adalah proses biologi untuk removal H₂S dari umpan gas sangat sesuai untuk kapasitas produksi sulfur 0,5 30 ton/hari. Larutan yang digunakan untuk menyerap H₂S adalah larutan soda yang mengandung bakteri sulfur. Penyerapan H₂S terjadi pada kolom absorber dan larutan yang keluar dari absorber diregenerasi di tangki aerator dimana hidrogen sulfida secara biologi dikonversi menjadi elemen sulfur oleh bakteri sulfur. Konsentrasi H₂S yang bisa dicapai oleh proses ini di bawah 5 ppmv. Tekanan operasi proses Shell Paques adalah 0,1 90 barg. Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP Gambar Sulfur Recovery Unit (SRU) untuk Fasilitas Produksi Donggi dan Matindok akan menggunakan teknologi process Shell Paques II 16

47 Deskripsi Kegiatan Tail Gas Treating Dalam Tail Gas Treating Unit, senyawa H₂S yang tidak terkonversi dalam unit sulfur recovery dikonversi menjadi senyawa sulfur sehingga gas buang yang dihasilkan memenuhi spesifikasi lingkungan. Proses pemisahan gas asam dan proses sulfur recovery untuk mencapai spesifikasi gas pipeline disampaikan pada Gambar Dehydration Unit (DHU) Setelah gas keluar dari unit proses, gas tersebut selanjutnya dialirkan ke dehydration unit. Dehydration unit berfungsi untuk mengeringkan gas, yaitu untuk menyempurnakan pengurangan air yang terikut di dalam gas. Proses yang berlangsung di dalamnya adalah proses absorbsi (penyerapan) air dengan menggunakan bahan kimia triethyleneglycol (TEG), yang mana TEG dapat dipakai lagi setelah dibersihkan dari air secara fisis (close cycle). Hasil dari proses tersebut adalah gas yang sudah memenuhi syarat untuk dikirim ke konsumen. Unit dehidrasi diperlukan untuk mengurangi kandungan air dalam gas bumi agar tercapai spesifikasi gas pipeline yaitu maksimum 7 lb/mmscfd. Skema kerja dehydration unit disampaikan pada Gambar Dew Point Control Unit (DCU) Setelah gas keluar dari unit dehidrasi, gas masuk ke unit dew point control yaitu unit untuk menjaga suhu embun dari hydrocarbon mencapai maksimum 75 F pada tekanan 750 psig. Fungsi dari unit ini adalah untuk menjaga agar cairan tidak timbul selama pengiriman gas akibat turunnya temperatur udara. Prosesnya didasarkan pada JT valve expansion dan pendinginan dengan cara recompression. Proses cara lain dengan menggunakan sistem propane refrigeration juga akan dipertimbangkan pada rekayasa (engineering) front end engineering design (FEED) tahap berikutnya. II 17

48 Deskripsi Kegiatan Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP, 2008 Gambar Diagram Fasilitas Produksi Gas (GPF) II 18

49 Deskripsi Kegiatan DHP SRU Outlet Gas Scrubber Condenser Amine Contactor Amine Circulation Pump Amine Filter Lean Amine Cooler Amine booster Pump Still Stripping Column GATHERING STATION Inlet Gas Scrubber Amine Flash Tank Lean-Rich Amine Exchanger Reboiler Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP, 2008 Gambar Diagram Alir Acid Gas Removal Unit II 19

50 Deskripsi Kegiatan Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP, 2008 Gambar Tipikal Process Shell Paques II 20

51 Deskripsi Kegiatan Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP, 2008 Gambar PFD Acid Removal dan Sulfur Recovery Unit (Claus Process) II 21

52 Deskripsi Kegiatan Sumber: AMDAL PPGM PT. Pertamina EP, 2008 Gambar Skema Kerja Dehydration Unit II 22

53 Deskripsi Kegiatan Pengiriman Gas dan Kondensat Pada saat pengiriman gas sepenuhnya telah berjalan, sistim operasi instalasi yang terletak di daerah remote misalnya sumur gas, manifold station, dan metering station dilengkapi dengan sistem safety dan sistem monitoring secara terpisah (independent). Bila terjadi keadaan operasi yang berbahaya, sistem safety tersebut akan bekerja secara otomatis melakukan tindakan pengamanan terhadap instalasi terkait, dan pada waktu yang bersamaan sistem monitoring akan bekerja secara otomatis mengirimkan status keadaan bahaya yang terjadi ke pusat ruang kendali (Central Control Room) di Block Station. Dan sebaliknya, bila diperlukan, operator di pusat ruang kendali dapat mengirim sinyal untuk menutup Emergency Shutdown Valve di setiap instalasi di atas. Sistem safety dan monitoring di atas diintegrasikan dengan sistem sistem lainnya seperti Process Control System (PCS), Safety Instrument System (SIS), maupun Gas Detection System (GDS) di Block Station, sehingga seluruh bagian instalasi dapat dikendalikan dari pusat ruang kendali di Block Station. Dalam hal integrasi dengan lapangan lain seperti Block station Matindok, Block Station JOB P MTS dan LNG Plant maka dipasang fiber optic cable yang menghubungkan setiap instalasi tersebut yang memungkinkan adanya pertukaran data operasi yang diperlukan. Dengan adanya sarana ini maka operator di masing masing instalasi dapat saling memonitor data atau kondisi operasi sehingga dapat dilakukan koordinasi operasi penyaluran gas secara terintegrasi. Sitem sistem di atas dibangun berdasarkan alur perencanaan dasar yang dibuat oleh pihak perusahaan dengan menyusun basic engineering atau Front End Engineering Design (FEED), selanjutnya perusahaan membuat Enginering Procurement Contract (EPC) untuk membuat detail engineering, melakukan procurement dan melaksanakan konstruksi. Menjelang commissioning, pihak EPC menyusun Standard Operating Procedure (SOP) pengoperasian sistem secara keseluruhan yang disesuaikan dengan sistem operasi sehingga SOP tercipta setelah commissioning. Penanggulangan keadaan darurat didasarkan pada kode praktis Tata Kerja Organisasi (TKO) serta Organisasi Penanggulangan Keadaan Darurat (OPKD) PPGM, sistem tanda bahaya, prosedur jalur pelaporan, sistem komando dalam pelaksanaan tindakan, dan saranaprasarana untuk penanggulangan kecelakaan akan disiapkan. Sumber Energi, Bahan Bakar, dan Air Jenis sumber energi utama untuk mendukung pengoperasian fasilitas produksi adalah: Bahan bakar gas diperlukan untuk pengoperasian berbagai fasilitas seperti unit pengering gas, gas treating unit, penggerak kompresor, dan penggerak generator listrik. Bahan bakar gas akan diambil dari hasil produksi sendiri. Unit generator berbahan bakar minyak, yang disediakan untuk keadaan darurat. Bahan bakar minyak diperoleh dari sumber terdekat di sekitar lokasi proyek. Energi listrik yang berasal dari genset berbahan gas untuk penerangan dan penggerak motor listrik. Semua kebutuhan tenaga listrik akan diproduksikan sendiri tanpa mendatangkan tenaga listrik dari luar. Pembangkit tenaga listrik untuk operasi normal akan dicapai dengan cara pembangkit turbin gas. Sumber bahan bakar untuk pembangkit turbin tersebut adalah bagian dari gas alam yang diproduksi dan dimurnikan. Kebutuhan bahan bakar gas sebesar 3 MMSCFD. II 23

54 Deskripsi Kegiatan Jika terjadi kegagalan tenaga listrik utama, pembangkit diesel darurat akan disiapkan untuk menjamin keberlangsungan fungsi instrumentasi dan kontrol, serta untuk menyediakan penerangan darurat selama shutdown berkala. Sistem kelistrikan akan dilengkapi dengan peralatan start dan pemindahan (transfer) otomatis sehingga kehilangan tenaga listrik akan segera menghidupkan pembangkit dan memindahkan muatan yang penting ini ke sistem tenaga listrik darurat. Sistem bahan bakar gas akan diadakan untuk memasok bahan bakar yang dipergunakan untuk menjalankan turbin pada kompresor pendingin, turbin pembangkit tenaga listrik, dan tungku pemanas hot oil serta flare. Kebutuhan air untuk operasi di Block Station Matindok berupa air tawar yang berfungsi sebagai sumber pasokan air setelah pengolahan yang memadai, untuk keperluan proses dan utilities (pendingin bearing, kompresor, turbin, dan sistem air pemadam api), serta penghilangan bakteri sebagai suplai air minum. Air minum akan dipasok untuk keperluan minum serta untuk keperluan lain seperti untuk tempat mandi dan cuci muka yang aman, pancuran ruang ganti, toilet, penyiapan makanan, dan lain lain. Air minum akan diproses untuk memenuhi peraturan kesehatan dan standar mutu yang berlaku. Kebutuhan air untuk Block Station Matindok meningkat dari 104 m³/hari menjadi 114 m³/hari. Pencegahan Kebakaran Sistem pencegahan kebakaran dapat dipastikan akan terdiri dari tiga komponen dasar yaitu (1) alat pemantau dan alarm, (2) persyaratan pencegahan kebakaran pasif, dan (3) peralatan dan sistem pemadam kebakaran aktif. BS Matindok akan dilengkapi dengan alat pemantau yang bekerja terus menerus untuk memberi tanda kepada personil akan kondisi bahaya yang ada dan untuk memberikan indikasi yang jelas mengenai lokasi dan keadaannya. Pencegahan kebakaran pasif, yang mengacu kepada ketentuan rancangan BS Matindok, akan dipakai sejauh mungkin secara konsisten dengan batasan batasan ekonomis. Pencegahan kebakaran pasif meliputi: Membuat insulasi selubung bejana (vessel skirts) dan kolom/struktur rak pipa tahan api. Pelindung percikan untuk flanges atau komponen lain dengan tingkat kebocoran tinggi. Spacing peralatan dan pengurungan tumpahan (spill containment) yang tepat sesuai dengan standar internasional yang layak yang berlaku (seperti NFPA 59A). Peralatan/sistem pemadaman kebakaran aktif adalah alat yang akan dipakai secara aktif untuk mengawasi/memadamkan keadaan kebakaran/bahaya sebenarnya. Pemadaman kebakaran aktif meliputi: Sistem deteksi dini terhadap terjadinya bahaya kebocoran, tumpahan, dan kebakaran. Sistem distribusi air pemadam api bertekanan dan fasilitas pendukungnya termasuk cadangan dari pompa, hidran kebakaran, pemantau kebakaran, gulungan/rak selang, dan sistem distribusi perpipaan. Sistem penggenangan CO₂ untuk semua ruangan turbin gas, mesin diesel dan ruang pengawas tak berorang. Sistem penggenangan pemadam kebakaran non halon (non halon fire supressant) untuk semua ruang pengawasan yang secara rutin ada orangnya. Mobil pemadam kebakaran. Tabung pemadam jenis powder (bubuk kering) tersedia dalam bentuk unit paket serta unit unit portabel dan beroda yang ditempatkan di BS Matindok. II 24

55 Deskripsi Kegiatan Lokasi Rencana Kegiatan dan Kesesuaian RTRW Lokasi administrasi yang tercakup dalam kegiatan pengembangan Lapangan Gas Matindok terletak di Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah. Rencana kegiatan pengembangan Lapangan Gas Matindok oleh Pertamina EP sudah termasuk ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), yang berlaku dari tahun , Kabupaten Banggai yang dikeluarkan oleh Bappeda. Lokasi rencana kegiatan terutama dalam rencana pengembangan ini telah dikoordinasikan dengan instansi terkait. Peruntukan lahan lokasi pengembangan Lapangan Gas Matindok saat ini, menurut RTRW ( ) adalah perkebunan masyarakat dan lokasi perusahaan. Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banggai disampaikan pada Lampiran Rencana Kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitas Produksi Gas Lapangan Matindok dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD (Dilingkup Dalam RKL RPL Tambahan Tahun 2011) A. Tahapan Rencana Kegiatan Kegiatan peningkatan kapasitas desain produksi gas Lapangan Matindok dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD akan dilaksanakan dalam beberapa tahap, yaitu tahap pra konstruksi, konstruksi, operasi, dan pasca operasi. A1. Tahap Pra Konstruksi Kegiatan kegiatan pada tahap pra konstruksi antara lain: perijinan dan sosialisasi serta pembebasan lahan dan tanam tumbuh. Pengurusan perijinan dilakukan kepada instansi instansi yang berwenang antara lain: BPMIGAS, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Ditjen MIGAS, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Pemerintah Kabupaten Banggai, Pemerintah kecamatan dan desa. Sebelum kegiatan dilakukan, pemrakarsa akan memberikan informasi (sosialisasi) kepada masyarakat sekitar, dan instansi terkait. Sosialisasi terutama berkaitan dengan adanya rencana kegiatan, pembebasan lahan, dan ganti rugi tanam tumbuh. Sebelum rencana kegiatan konstruksi, akan dilakukan inventarisasi lahan sehingga teridentifikasi lahan yang akan dibebaskan. BPMIGAS PT. Pertamina EP berkoordinasi dengan pemerintah setempat (desa, kecamatan, dan kabupaten) untuk menangani pembebasan lahan dan kompensasi tanam tumbuh ini. Pembebasan lahan telah dilakukan dengan luas + 15 Ha sesuai dengan ijin lokasi yang telah dikeluarkan oleh Bupati Kabupaten Banggai. Lahan yang dibutuhkan pada pengembangan Lapangan Matindok adalah + 20 Ha, sehingga direncanakan dilakukan tambahan pembebasan lahan seluas + 5 Ha. Lahan tersebut (15 ha + 5 Ha) merupakan perkebunan milik masyarakat dan lokasi perusahaan. Proses pembebasan lahan (+ 15 Ha) telah dilakukan dengan baik, sehingga proses pembebasan lahan tambahan seluas + 5 Ha milik masyarakat akan dilakukan sesuai dengan prosedur pembebasan sebelumnya sehingga akan berjalan dengan lancar. II 25

56 Deskripsi Kegiatan Penentuan nilai kompensasi lahan dan tanam tumbuh dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat. Proses kompensasi dilakukan secara langsung antara pihak PT. Pertamina EP dengan pemilik atau pengelola lahan disaksikan oleh aparat pemerintah setempat sesuai peraturan atau ketentuan yang berlaku. A2. Tahap Konstruksi Kegiatan kegiatan pada tahap konstruksi sudah tercakup dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Proyek Pengembangan Gas Matindok, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah (SK Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 863 Tahun 2008 tertanggal 10 November 2008). Dampak rencana kegiatan pada tahap konstruksi tersebut sudah dikaji dalam dokumen AMDAL tersebut. Pada kegiatan peningkatan produksi Gas Matindok (45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD) ini tidak ada penambahan peralatan, sehingga kegiatan konstruksi sepenuhnya mengacu pada dokumen AMDAL sebelumnya. A3. Tahap Operasi Fasilitas Produksi Matindok dengan kapasitas awal sebesar 45 MMSCFD akan ditingkatkan menjadi 65 MMSCFD. Pada proses peningkatan ini, tidak ada perubahan desain konfigurasi proes fasilitas produksi yang berarti. Diagram alir fasilitas produksi gas pada BS Matindok untuk peningkatan dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD disampaikan pada Gambar Neraca massa fasilitas proses produksi gas Lapangan Matindok dengan kapasitas 65 MMSCFD disampaikan pada Gambar Alasan peningkatan kapasitas fasilitas produksi Matindok dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD ini antara lain untuk memenuhi kebutuhan pasar akan gas untuk keperluan domestik dan adanya tambahan cadangan gas di Lapangan Matindok dari hasil pemboran delineasi sumur MTD 2. Fasilitas Produksi BS Matindok akan didesain mampu mengolah raw gas sebesar + 65 MMSCFD. Volume raw gas yang diolah telah memperhitungkan kebutuhan fuel gas maupun losses yang terjadi pada pengoperasian fasilitas produksi. Dengan adanya kenaikan kapasitas produksi juga akan meningkatkan konsumsi bahan bakar gas (3 MMSCFD menjadi 5 MMSCFD) untuk berbagai peralatan (turbin, heater, dan generator). Gas yang dibakar di flare juga terjadi peningkatan dari 0,4 MMSCFD menjadi 0,65 MMSCFD. Emisi gas diperkirakan menjadi lebih banyak karena jumlah gas yang akan dibakar meningkat. Penggunaan alat alat tersebut masih di bawah kapasitasnya masing masing. Dalam produksi gas sebanyak ± 65 MMSCFD tersebut akan dihasilkan kondensat sebanyak ± BOPD dan air terproduksi sebanyak ± BWPD. Dalam rangka peningkatan produksi hingga 65 MMSCFD, kegiatan produksi yang dilakukan adalah menurunkan suction compressor dan memperbesar daya compressor yang diperlukan sehingga akan meningkatkan laju alir. Peningkatan kapasitas produksi gas pada fasilitas produksi Matindok dari 45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD, konfigurasi desain proses fasilitas tidak mengalami perubahan, hanya ukuran peralatan yang disesuaikan dengan kebutuhan produksi gas. Jenis peralatan dan fasilitas produksi yang tersedia pada proses produksi gas sebesar 45 MMSCFD dan 65 MMSCFD disajikan pada Tabel 2.5. II 26

57 Deskripsi Kegiatan Minahaki Matindok Maleoraja Sumber: PT. Pertamina EP, 2011 Gambar Diagram Blok Fasilitas Produksi BS Matindok Kapasitas 65 MMSCFD II 27

58 Deskripsi Kegiatan Sumber: PT. Pertamina EP, 2011 Gambar Neraca Massa Fasilitas Proses Produksi Gas Lapangan Matindok Kapasitas 65 MMSCFD II 28

59 Deskripsi Kegiatan Tabel 2.5. Jenis Peralatan dan Fasilitas Produksi yang Tersedia pada Lapangan Matindok dengan Kapasitas Awal 45 MMSCFD dan Kapasitas yang Baru 65 MMSCFD No Jenis Peralatan 1 Sumur gas 2 Flowline 3 Manifold Station (MS) 4 Gathering line 5 Blok Station Unit Penghilangan CO₂/H₂S (AGRU) Sulfur Recovery Unit (SRU) Dehydration Unit (DHU) Dew Point Control Unit (DCU) Kapasitas Produksi 45 MMSCFD 65 MMSCFD 7 sumur (4 sumur di lapangan Matindok dan 3 sumur di Lapangan Maleoraja) (MTD 1S/3, MTD AA/4, MTD BB/2, MTD CC/5, MLR AA/1, MLR BB/3 dan MLR CC/4) 3 buah flowline menuju MS Maleoraja dan 4 buah flowline menuju MS Matindok 2 unit (MS Maleoraja dan MS Matindok) 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit tidak berubah Konfigurasi peralatan tidak berubah, ukuran pipa disesuaikan Konfigurasi peralatan proses tidak berubah, ukuran pipa disesuaikan Konfigurasi peralatan tidak berubah, ukuran pipa disesuaikan Konfigurasi peralatan proses tidak berubah, ukuran peralatan disesuaikan Konfigurasi peralatan proses tidak berubah, ukuran peralatan disesuaikan Konfigurasi peralatan proses tidak berubah, ukuran peralatan disesuaikan Konfigurasi peralatan proses tidak berubah, ukuran peralatan disesuaikan Konfigurasi peralatan proses tidak berubah, ukuran peralatan disesuaikan Fungsi Untuk memproduksi 45 MMSCFD dan 65 MMSCFD gas (gross). Untuk mengalirkan gas ke Manifold Station di masingmasing lapangan Untuk mengumpulkan gas dari sumur sumur untuk dialirkan ke Block Station. Di Manifold Station juga terdapat Test Separator untuk melakukan pengetesan kinerja sumur. Pipa gabungan untuk mengalirkan gas dari MS Maleoraja dan MS Matindok ke Blok Station. Unit separasi untuk memisahkan gas, kondensat, dan air terproduksi. Untuk mengurangi kandungan CO₂ dan H₂S nya dengan proses absorbsi menggunakan larutan MDEA (Methyl Diethanol Amine) dalam Unit Penghilangan CO₂/H₂S dan komponen Sulfur lainnya (Acid Gas Removal Unit = AGRU). Untuk merubah kandungan H₂S dari acid gas keluaran AGRU menjadi elemental Sulfur. Untuk mengeringkan gas, yaitu untuk menyempurnakan pengurangan air yang terikut di dalam gas melalui proses absorbsi (penyerapan) air dengan menggunakan bahan kimia triethylene glycol (TEG). Untuk menjaga suhu embun dari hydrocarbon mencapai maksimum 75 F pada tekanan 750 psig saat gas masuk dari unit dehidrasi. Selain itu untuk menjaga agar cairan tidak timbul selama pengiriman gas akibat turunnya temperatur udara. II 29

60 Deskripsi Kegiatan No 10 Jenis Peralatan Pipa sales gas ke TIP 2 11 Utilities 12 Offsite Facilities 13 Lahan untuk Fasilitas Produksi Matindok Kapasitas Produksi 45 MMSCFD 65 MMSCFD 1 unit (± 2 km panjang) Sistem Bahan Bakar gas, diesel, Udara Utilititas/ Instrumentasi, Nitrogen, Pembangkit Listrik, Media Pemanas, Sistim Instrumentasi dan Kontrol Pengolahan air dan distribusinya Sistim Flare dan Blowdown, Pengolahan Oily Water, Pengolahan Air terproduksi, Penanganan Kondensat, Material dan Bahan Kimia, Sistem Grounding dan penangkal petir, Sistim Fire dan Safety, Infrastruktur dan Building, dan fasilitas pendukung lainnya 1 unit (± 2 km panjang), ukuran pipa disesuaikan Konfigurasi peralatan proses tidak berubah, ukuran peralatan disesuaikan Konfigurasi peralatan proses tidak berubah, ukuran peralatan disesuaikan + 15 Ha + 20 Ha Fungsi Mengalirkan sales gas dari Fasilitas Produksi Matindok ke Tie In Point 2 (TIP 2) ke pipa bersama Matindok dan JOB PMTS. Menyediakan sistem utilities untuk keperluan proses di fasilitas produksi mulai dari flowline sampai pipeline sales gas. Menyediakan fasilitas offsite untuk mendukung operasi proyek secara keseluruhan. Terdapat penambahan luas lahan sekitar 5 Ha yang akan dibebaskan. Sumber: PT. Pertamina EP, 2011 Catatan: Ukuran peralatan yang baru secara detail belum ada karena baru akan dilakukan studi Reengineering pada awal tahun A4. Tahap Pasca Operasi Kegiatan kegiatan pada tahap pasca operasi pada dasarnya sudah tercakup dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Proyek Pengembangan Gas Matindok, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah (SK Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 863 Tahun 2008 tertanggal 10 Nopember 2008) Rencana Jadwal Kegiatan Secara umum, rencana kegiatan pengembangan Lapangan Gas Matindok pada tahap prakonstruksi akan dilaksanakan pada akhir tahun 2011 sampai akhir tahun Kegiatan tahap konstruksi dilaksanakan pada akhir tahun 2012 sampai tahun Tahap operasi rencana dilaksanakan pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2035 (sekitar 20 tahun operasi). Jadwal rencana kegiatan pada tahap pra konstruksi, konstruksi, operasi, dan pasca operasi disampaikan pada Tabel 2.6. II 30

61 Deskripsi Kegiatan Tabel 2.6. Jadwal Rencana Kegiatan Pengembangan Lapangan Gas Matindok Tahapan Kegiatan I. Pra Konstruksi II. Konstruksi III. Operasi IV. Pasca Operasi Sumber: PT. Pertamina EP PPGM, Rencana Tanggap Darurat PT. Pertamina EP PPGM telah mempunyai dokumen rencana tanggap darurat (Emergency Response Plan) yang berkaitan dengan kegiatan eksplorasi dan produksi gas bumi. Rencana tanggap darurat disusun berdasarkan rencana pekerjaan yang akan dilaksanakan. Rencana tanggap darurat yang disiapkan antara lain mencakup penanganan: Kebakaran dan Ledakan, Kecelakaan Tambang, Semburan liar (Blow out), Pencemaran Lingkungan atau Tumpahan Minyak, Bencana Alam (banjir, gempa bumi, dan kebakaran hutan), Kejadian lain yang secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh yang siginifikan terhadap kelancaran operasi. PT. Pertamina EP telah mempunyai Tata Kerja Organisasi Kesiagaan dan Penanggulangan Keadaan Darurat dengan Nomor Dokumen B 001/EP2Q10/2011 S0 (Lampiran 4). Struktur organisasi KPKD PPGM disampaikan pada Lampiran Keterkaitan Rencana Usaha dengan Kegiatan Sekitar Lokasi rencana kegiatan secara administratif terletak di Kecamatan Batui. Beberapa kegiatan lain yang telah ada di sekitar rencana kegiatan berpotensi menimbulkan dampak pada rencana kegiatan atau sebaliknya. Beberapa kegiatan lain di sekitar lokasi rencana kegiatan antara lain : Pertambangan: Joint Operation Body (JOB) Pertamina Medco E&P Tomori Sulawesi di Senoro dan sekitarnya telah melakukan kegiatan eksplorasi migas, telah melakukan pemboran beberapa sumur. Kegiatan tersebut potensial menyebabkan turunnya kualitas udara, meningkatkan kebisingan, turunnya kualitas air permukaan, berkurangnya keanekaragaman flora fauna. Namun pada sisi yang lain, kegiatan ini berperan positif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan yang dapat diraih oleh penduduk lokal. Perusahaan Pengusahaan Hutan (HPH): di sekitar lokasi rencana kegiatan terdapat aktivitas pengambilan kayu hutan oleh PT. Palopo Timber. Beberapa aktivitas penebangan hutan dan aktivitas mobilisasi truk telah dilakukan. Mobilisasi untuk pengangkutan kayu melalui jalan PT. Pertamina EP. Aktivitas perusahaan kayu ini akan berpotensi menyebabkan turunnya kualitas udara (meningkatnya emisi dan debu), meningkatkan kebisingan, dan berkurangnya keanekaragaman flora fauna jika tidak dilakukan pengawasan dan pengelolaan dengan baik. Pertanian dan Kebun Masyarakat: Kegiatan pertanian dan perkebunan di sekitar lokasi kegiatan peningkatan kapasitas gas Lapangan Matindok pada umumnya milik masyarakat sekitar (bukan perusahaan). Kegiatan pertanian masyarakat tersebut adalah pertanian padi sawah lahan irigasi teknis. Pertanian yang diusahakan intensif yaitu 2 kali setahun. II 31

62 Deskripsi Kegiatan Kegiatan pertanian tersebut akan menimbulkan dampak negatif, antara lain cenderung meningkatnya penggunaan berbagai bahan agrokimia seperti pupuk dan pestisida yang pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu berbagai upaya penyadaran perlu dilakukan agar penggunaan bahan agrokimia tidak terus meningkat. Perkebunan Masyarakat: Kegiatan perkebunan di sekitar lokasi kegiatan peningkatan kapasitas gas Blok Matindok pada umumnya milik masyarakat sekitar (bukan perusahaan). Kegiatan perkebunan masyarakat tersebut pada umumnya adalah kakao dan kelapa. Kegiatan perkebunan masyarakat tersebut akan menimbulkan dampak negatif jika terlalu banyak menggunakan pupuk buatan dan pestisida (bahan kimia) yang akhirnya dapat berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan di sekitarnya. Pemukiman Penduduk: Pada sekitar lokasi rencana kegiatan terdapat pemukiman penduduk yang berjarak sekitar 1,2 km. Terdapat tiga desa yang berada di sekitar lokasi rencana kegiatan yaitu Desa Nonong, Desa Kayowa, dan Desa Masing. Sebagian masyarakat pada desa desa tersebut mempunyai lahan kebun dan sawah yang berdekatan dengan lokasi rencana kegiatan. Adanya rencana kegiatan secara tidak langsung akan memberikan dampak positif maupun negatif terhadap penduduk desadesa tersebut seperti peluang bekerja, pendapatan penduduk, dan peluang gangguan kebisingan. Peta kegiatan lain di sekitar lokasi rencana kegiatan disampaikan pada gambar II 32

63 Deskripsi Kegiatan PETA KEGIATAN LAIN DI SEKITAR LOKASI RENCANA KEGIATAN RKL RPL Tambahan Peningkatan Kapasitas Produksi Gas Matindok (45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD) Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah Gambar Peta Kegiatan Lain Di Sekitar Lokasi Rencana Kegiatan II 33

64 PT. Pertamina EP PPGM BAB III RONA LINGKUNGAN HIDUP

65 Rona Lingkungan Hidup BAB III RONA LINGKUNGAN HIDUP 3.1. Komponen Fisika Kimia Iklim a. Curah Hujan, Suhu dan Kelembaban Parameter iklim di daerah studi yang dideskripsikan meliputi temperatur udara rata rata bulanan, kelembaban relatif (RH) udara, curah hujan bulanan, arah angin dominan, kecepatan angin, serta lama penyinaran matahari, dan kelas iklim. Curah hujan rata rata bulanan di daerah studi disajikan pada Gambar 3.1. Tabulasi singkat parameter iklim yang lain disajikan pada Tabel 3.1. Sumber: Stasiun Meteorologi Luwuk, Sulawesi Tengah ( ) Gambar 3.1. Rata Rata Curah Hujan Bulanan di Daerah Studi Tabel 3.1. Ringkasan Parameter Iklim di Daerah Studi No Parameter iklim Satuan Nilai 1. Temperatur udara bulanan rata rata o C 27,5 2. Kelembaban relatif udara (RH) % 77,5 3. Durasi penyinaran matahari % 57,7 4. Kecepatan angin rata rata m/detik 2,7 5. Tekanan udara rata rata mb 1.011,5 Sumber: Stasiun Meteorologi Luwuk, Sulawesi Tengah ( ) Iklim di daerah studi termasuk ke dalam tipe iklim C menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, yakni rata rata bulan keringnya adalah 2,9 bulan, sedangkan rata rata bulan basahnya adalah 6,3 bulan. Hasil bagi antara bulan kering dan bulan basah yaitu 0,455 yang berarti daerah studi termasuk kedalam tipe iklim C. Ringkasan klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Ferguson di daerah studi disajikan pada Tabel 3.2. III 1

66 Rona Lingkungan Hidup Tabel 3.2. Tabulasi Klasifikasi Iklim Daerah Studi Menurut Schmidt dan Ferguson Tahun Bulan kering Bulan basah Rata rata 2,9 6,3 Rasio rata rata jumlah bulan kering/bulan basah 0,455 Kelas iklim C Sumber: Stasiun Meteorologi Luwuk, Sulawesi Tengah ( ) b. Kecepatan dan Arah Angin Pada Gambar 3.2. terlihat bahwa angin yang dominan bertiup dari arah Barat. Resultan arah angin berada diantara garis arah Barat dan Barat Daya (250 ). Kecepatan angin rata rata berdasarkan data yang dikumpulkan selama 7 tahun ( ) dari Stasiun Meteorologi Luwuk, Sulawesi Tengah adalah sebesar 2,7 m/detik. Arah dan kecepatan angin yang dinyatakan dalam bentuk windrose disajikan pada Gambar 3.2. Sumber: Stasiun Meteorologi Luwuk, Sulawesi Tengah ( ) Gambar 3.2. Windrose Arah dan Kecepatan Angin di Daerah Studi. III 2

67 Rona Lingkungan Hidup Kualitas Udara dan Kebisingan a. Kualitas Udara Kualitas udara ambien di lokasi studi ditunjukkan secara kuantitatif dalam Tabel 3.3. dan Tabel 3.4. Dalam tabel ini terlihat bahwa tidak ada konsentrasi parameter kualitas udara ambien yang melebihi baku mutu. Secara umum terlihat bahwa konsentrasi setiap parameter jauh di bawah baku mutunya masing masing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kualitas udara di daerah studi masih memenuhi baku mutu sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 50 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebauan. Tabel 3.3. Tingkat Kebauan di Lokasi Studi Parameter Satuan BM UL 01 UL 02 UL 03 UL 04 UL 05 Rata 2 Amoniak (NH3) ppm 2,0 0,50 <0,007 <0,007 <0,007 0,51 <0,5 Hidrogen Sulfida (H2S) ppm 0,02 <0,002 <0,002 <0,002 <0,002 <0,002 <0,002 Sumber: Data Primer Tim PPLH IPB 2011 (Lampiran 9) Baku Mutu: KepMen LH No. 50 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebauan UL 01: area proyek, UL 02: permukiman, UL 03: akses mobilisasi, UL 04: hutan, UL 05: Matindok 2 Tabel 3.4. Hasil Analisis Sampel Kualitas Udara Ambien Parameter Satuan BM UL 01 UL 02 UL 03 UL 04 UL 05 Rata 2 SO2 µg/nm 3 900/1 jam ,2 CO µg/nm /1 jam < < < < < <2.500 NO2 µg/nm 3 400/1 jam <0,004 <0,004 <0,004 <0,004 <0,004 <0,004 O3 µg/nm 3 235/1 jam 0,02 0,02 0,01 <0,0001 <0,0001 0,0167 CH4 µg/nm 3 160/3 jam 0,0098 < 0,001 < 0,001 < 0,001 0,0151 0,012 PM10 µg/nm 3 150/24 jam 2,9 11,5 8,6 2,8 5,8 6,3 TSP µg/nm 3 230/24 jam 40,0 74,7 51,5 19,8 60,5 49,3 Pb µg/nm 3 2/24 jam < 0,04 < 0,04 < 0,04 < 0,04 < 0,04 <0,04 Debu jatuh Ton/km 2 /bln 10/30 hari 1,0 5,0 3,9 3,3 Sumber: Data Primer Tim PPLH IPB 2011 (Lampiran 9) Baku Mutu: Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara UL 01: area proyek, UL 02: permukiman, UL 03: akses mobilisasi, UL 04: hutan, UL 05: Matindok 2 b. Kebisingan Tingkat kebisingan (noise level) lingkungan yang diukur di lima (5) lokasi studi menghasilkan nilai rata rata sebesar 50 dba. Nilai ini relatif jauh di bawah nilai baku mutu tingkat kebisingan lingkungan menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan, yaitu sebesar 70 dba. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa tingkat kebisingan di lokasi studi memenuhi baku mutu. Tabel tingkat kebisingan di lokasi studi disajikan pada Tabel 3.5. III 3

68 Rona Lingkungan Hidup Tabel 3.5. Tingkat Kebisingan di Lokasi Studi Parameter Satuan BM UL 01 UL 02 UL 03 UL 04 UL 05 Rata 2 Kebisingan dba 70 46,2 47,2 42,9 41,4 51,0 45,7 Sumber: Data Primer Tim PPLH IPB 2011 (Lampiran 9) Baku Mutu: KepMen LH No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan UL 01: area proyek, UL 02: pemukiman, UL 03: akses mobilisasi, UL 04: hutan, UL 05: Matindok Kualitas Air a. Air Sungai Contoh air sungai diambil di 3 (tiga) lokasi, yaitu Sungai Kayowa (hulu dan hilir) dan di saluran irigasi. Selain itu, juga dilakukan analisis terhadap hasil pengamatan kualitas air Sungai Kayowa pada tahun Hasil analisis kualitas air sungai dan irigasi disampaikan pada Tabel 3.6. Karakteristik Fisika Dari tiga parameter fisika yang diukur yaitu suhu (berkisar dari 29,4 30,80 C), TDS (berkisar dari mg/l), dan TSS (berkisar dari 2,90 25,90 mg/l). Ketiganya memenuhi nilai baku mutunya masing masing yaitu deviasi 3 C (untuk suhu), mg/l (untuk TDS), dan 50 mg/l untuk TSS. Tabel 3.6. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai di Sekitar Lokasi Kegiatan No. Parameter Hulu Sungai Kayowa (WL 01)* Lokasi Hilir Sungai Kayowa (WL 04)* Saluran Irigasi (WL 05)* Sungai Kayowa** 2007 Baku Mutu Satuan Karakteristik Fisika 1 Suhu 30,8 29,4 29,8 28,5 deviasi 3 oc 2 TDS 170,0 244,0 130, mg/l 3 TSS 3,47 25,90 2,90 50 mg/l Karakteristik Kimia 4 ph 6,80 6,86 6,73 6, DO 7,20 5,60 6,40 6,9 4 mg/l 6 BOD 0,96 1,91 2,87 0,4 3 mg/l 7 COD 12,53 39,82 16,57 2,5 25 mg/l 8 N NO2 0,055 0,070 0,086 ttd 0,06 mg/l 9 N NO3 1,000 1,392 2,373 2,12 10 mg/l 10 P Total 0,085 0,030 0,060 Ttd 0,2 mg/l 11 Sulfida (S = ) < < < ,002 mg/l 12 Klorine bebas ,03 mg/l 13 Arsen (As) <0,002 <0,002 <0,002 1 mg/l 14 Boron (B) <0,010 <0,010 <0,010 <1 1 mg/l 15 Flourida (F) 0,062 <0,001 0,086 0,11 1,5 mg/l 16 Kadmium (Cd) <0,005 <0,005 <0,005 0,011 0,01 mg/l 17 Krom Heksavalen (Cr 6+ ) <0,011 <0,011 <0,011 ttd 0,05 mg/l 18 Air Raksa (Hg) <0,001 <0,001 <0,001 0,002 mg/l 19 Selenium (Se) <0,001 <0,001 <0,001 0,05 mg/l 20 Seng (Zn) <0,008 <0,008 <0,008 0,02 0,05 mg/l 21 Tembaga (Cu) <0,015 <0,015 <0,015 0,011 0,02 mg/l 22 Timbal (Pb) <0,030 <0,030 <0,030 ttd 0,03 mg/l 23 Kobalt (Co) <0,025 <0,025 <0,025 0,05 0,2 mg/l 24 Fenol 0,031 0,061 0,564 0,001 mg/l 25 Sianida (CN) 0,002 0,001 0,001 0,02 mg/l 26 Minyak / Lemak <1 <1 <1 1,7 1 mg/l 27 Deterjen 0,037 0,081 0,145 0,2 mg/l III 4

69 Rona Lingkungan Hidup No. Parameter Hulu Sungai Kayowa (WL 01)* Lokasi Hilir Sungai Kayowa (WL 04)* Saluran Irigasi (WL 05)* Sungai Kayowa** 2007 Baku Mutu Satuan Karakteristik Biologi 28 Coliform Group MPN/100 ml 29 Coliform Tinja MPN/100 ml Baku Mutu : Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Kelas II) Sumber : *Data primer Februari 2011, **Data sekunder dari Amdal Pengembangan Produksi Gas Matindok (2008) Karakteristik Kimia Dari 24 parameter kimia yang diukur, hanya 3 parameter yang nilainya di beberapa stasiun telah melebihi nilai baku mutunya. Ketiga parameter tersebut adalah COD, nitrit nitrogen (N NO₂), dan fenol. Tingginya nilai COD yaitu 39,82 mg/l (baku mutu 25 mg/l) di bagian hilir sungai Kayowa diduga berasal karena kegiatan manusia yaitu mencuci kendaraan. Kandungan nitrit nitrogen yang tinggi di sungai Kayowa bagian hilir (0,07 mg/l) dan di saluran irigasi (0,086 mg/l) dapat berasal dari proses pembusukan bahan organik dari serasah tumbuhan. Kandungan nitrit nitrogen yang melebihi nilai baku mutunya ini tidak perlu dikhawatirkan karena di kedua lokasi tersebut kandungan oksigen terlarutnya tinggi yaitu 5,60 dan 6,40 mg/l. Kandungan oksigen yang tinggi ini akan dapat merubah nitritnitrogen (yang bentuknya tidak stabil) yang merupakan racun bagi organisme perairan menjadi bentuk nitrat nitrogen yang bentuknya stabil dan tidak berbahaya. Kandungan fenol (berkisar 0,031 0,564 mg/l) telah melebihi nilai baku mutunya yaitu 0,001 mg/l. Tingginya kandungan fenol ini diduga berasal dari proses pembusukan bahan organik, misalnya dedaunan dan kayu yang jatuh dan masuk ke sungai. Fenol yang terukur ini bukan berasal dari kegiatan migas (misalnya dari buangan air terproduksi) karena di lokasi studi tidak ada kegiatan migas. Dibandingkan dengan beberapa data parameter kualitas air dalam dokumen ANDAL (2007) terlihat bahwa sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 kualitas air Sungai Kayowa tidak mengalami perubahan yang signifikan dan tergolong baik. Mikrobiologi Kandungan coliform group berkisar MPN/100 ml. Walaupun coliform group terdeteksi namun nilai tersebut belum melebihi nilai baku mutu yaitu MPN/100 ml. Di ketiga lokasi pengamatan tidak ditemukan coliform tinja, walaupun perairan tersebut digunakan untuk kakus. b. Air Sumur Contoh air sumur diambil di dua lokasi yaitu di sumur penduduk (Tabel 3.7. dan Lampiran 3). Kedua lokasi tersebut terletak di bagian hilir dari calon lokasi blok stasiun Matindok. Dari 21 parameter kualitas air sumur yang diamati (4 parameter fisika, 16 parameter kimia, dan 1 parameter biologi) dan tersedia nilai baku mutunya semuanya memenuhi nilai baku mutunya masing masing. Keadaan ini menggambarkan bahwa dua sumur yang diukur kualitas airnya tergolong baik, tidak ada rembesan air dari MCK. Namun sebaiknya air tetap perlu dimasak dahulu sebelum digunakan untuk air minum. III 5

70 Rona Lingkungan Hidup Tabel 3.7. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sumur Penduduk di Sekitar Lokasi Kegiatan Lokasi No. Parameter Sumur Penduduk/ Perempatan Pintu Masuk Area (WL 02) Sumur Penduduk/ ± 2 Km dari Tapak Proyek (WL 03) Baku Mutu Satuan 1. Suhu 26,2 25,8 ± 3 C oc 2. Warna Pt.Co 3. Kekeruhan 2,075 4, NTU 4. TDS 106,0 98, mg/l 5. ph 6,44 6,60 6,5 9,0 8. Kes. Total 174,00 178, mg/l CaCO3 9. N NO2 0,045 0,030 1 mg/l 10. N NO3 < 0,035 0, mg/l 11. Sulfat (SO4) 13,140 14, mg/l 12. Klorida (Cl ) 90,47 110, mg/l 14. Arsen (As) <0,002 0,003 0,05 mg/l 16. Besi (Fe) <0,016 <0,016 1 mg/l 17. Flourida (F) 0,246 0,019 1,5 mg/l 18. Kadmium (Cd) <0,005 <0,005 0,005 mg/l 19. Crom Heksavalent (Cr 6+ ) <0,011 <0,011 0,05 mg/l 20. Mangan (Mn) <0,017 <0,017 0,5 mg/l 23. Air Raksa (Hg) <0,001 <0,001 0,001 mg/l 24. Selenium (Se) <0,001 <0,001 0,01 mg/l 25. Seng (Zn) <0,008 <0, mg/l 27. Timbal (Pb) <0,030 <0,030 0,05 mg/l 28. Coliform Group a) 10 b) MPN/100 ml Sumber : Data primer Februari 2011 Baku Mutu: Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416 Tahun 1990 Tentang Syarat Syarat dan Pengawasan Kualitas Air (Lampiran II. Daftar Persyaratan Kualitas Air Bersih), a) bukan air perpipaan, b) air perpipaan c. Plankton Contoh plankton dan benthos diambil dari titik yang sama dengan pengambilan contoh kualitas air sungai, kecuali di sumur penduduk tidak dilakukan pengambilan contoh plankton dan benthos. Jumlah kelas fitoplankton dan zooplankton adalah sama yaitu 3 kelas. Kelas kelas fitoplankton adalah Bacillariophyceae, Chlorophyceae, dan Cyanophyceae. Sementara kelas kelas zooplankton adalah Rhizopoda, Rotifera, dan Malacostraca. Jumlah jenis fitoplankton (13 14 jenis) lebih banyak dari jumlah jenis zooplankton (7 8 jenis). Demikian juga kelimpahan fitoplankton ( individu/liter) lebih banyak dari kelimpahan zooplankton ( individu/liter). Kelimpahan fitoplankton dan zooplankton yang kecil ini alamiah karena perairan alami seperti sungai airnya mengalir sehingga perkembangan kedua kelompok biota air tersebut juga tidak akan terkonsentrasi di satu tempat tetapi terbawa oleh aliran sungai ke bagian hilir. Kelimpahan zooplankton secara alami juga lebih kecil dari kelimpahan fitoplankton karena beberapa jenis fitoplankton (misalnya Tabellaria sp dan Diatoma sp) merupakan makanan zooplankton (misalnya Monostylla sp dan Nauplius). Benthos yang ditemukan berasal dari satu kelas yaitu Gastropoda dan terdiri dari 2 jenis yaitu Goniobasis sp. dan Helisoma sp. Jumlah kelas, jumlah jenis, kelimpahan, dan indeks diversitas plankton dan Benthos di Sungai Kayowa disajikan pada Tabel 3.8. III 6

71 Rona Lingkungan Hidup Tabel 3.8. Jumlah Kelas, Jumlah Jenis, Kelimpahan, dan Indeks Diversitas plankton dan Benthos di Sungai Kayowa Parameter Fitoplankton Zooplankton Benthos Hulu Hilir Hulu Hilir Hulu Hilir Jumlah Kelas Jumlah Jenis Kelimpahan Indeks Diversitas 2,59 2,49 1,86 1,98 1,00 0,96 Indeks Dominansi 0,08 0,09 0,16 0,15 0,50 0,54 Sumber : Data primer Tim PPLH IPB, Februari 2011 Nilai indeks diversitas ketiga kelompok biota air tersebut berkisar dari 0,96 2,59. Nilai tersebut berkisar dari 1 sampai 3 yang menggambarkan bahwa kelimpahan setiap jenis tidak merata betul dan juga tidak ada yang mendominansi. Hal ini diperkuat dengan nilai indeks dominansi yang berkisar dari 0,08 0,54. Apabila indeks dominansi mendekati nilai 1, maka mengindikasikan ada jenis tertentu yang mendominasi. d. Nekton (Ikan) Di Sungai Kayowa terdapat beberapa jenis nekton (ikan) yaitu organisme yang dapat bergerak bebas di dalam air antara lain: ikan mujair (Oreochromis sp), udang (Macrobrachium sp), tawes (Puntius sp). Ikan ikan tersebut ditangkap untuk dikonsumsi. Salah satu jenis makanan ikan mujair dan ikan tawes adalah plankton Kualitas Tanah Topografi dan Fisiografi Secara umum topografi di wilayah studi dan sekitarnya berupa dataran bergelombang yang membentang dari arah selatan wilayah studi dengan lereng agak landai (<15%) ke arah utara wilayah studi berupa perbukitan dan pegunungan dengan lereng agak curam (15 40%) hingga sangat curam (> 40%). Secara fisiografi, menurut Laporan Fakta dan Analisis Revisi RTRW Kabupaten Banggai Tahun (Bappeda Pemkab Banggai, 2003), daerah studi terbagi menjadi: 1) bagian sebelah utara wilayah studi mempunyai fisiografi perbukitan pegunungan yang memanjang dari barat daya menuju timur laut. Perbukitan dan pegunungan tersebut terbentuk dari batuan yang berumur Tertier (endapan batuan pasir) pada kondisi lipatan dan patahan, 2) di bagian selatan daerah studi adalah perbukitan dan terbentuk dataran aluvial dan menyambung ke sedikit dataran marine yang berbatasan langsung dengan pantai. a. Jenis Tanah Menurut sistem Klasifikasi Puslitanah (1983), tanah di wilayah studi adalah Kambisol Eutrik (Soil taxonomy USDA : Eutropepts) yang dijumpai pada wilayah yang lebih landai atau kaki bukit hingga dataran dengan ciri tanah yang baru berkembang (horisonisasi belum berkembang jelas), dan bertekstur sedang. Gambaran lokasi studi dan pengambilan contoh tanah diilustrasikan masing masing pada Gambar 3.3 dan Gambar 3.4. b. Kimia dan Kesuburan Tanah Sifat kimia dan kesuburan tanah di lokasi studi disajikan pada Tabel 3.9. Data menunjukkan bahwa tanah di daerah lokasi tambang mempunyai reaksi tanah agak masam (ph 4,6 5,3) dengan KTK dan kandungan basa basa (Ca, Mg, K dan Na) tergolong sedang sampai tinggi. III 7

72 Rona Lingkungan Hidup Berdasarkan Tabel 3.9. terlihat bahwa kadar P tanah di wilayah studi tergolong sangat rendah. Kecilnya kadar P ini karena memang sumber atau cadangannya dari bahan induknya rendah. ph tanah yang terukur tergolong agak masam dapat mengakibatkan P yang ada di dalam tanah mengalami fiksasi oleh kation Fe yang pada umumnya tinggi. KTK yang terukur pada lokasi tambang tergolong sedang yaitu 24,04 meq/100 g. Nilai KTK tersebut berasal dari bahan induk tanah yaitu batuan sedimen dan sebagian berasosiasi dengan koral dan kapur. Untuk unsur kalium (K), kadar K yang terukur tergolong sedang yaitu 0,23 meq/100 g tanah. Kadar K tersebut dimungkinkan karena tanah tanah di wilayah studi adalah tanah dengan tingkat pelapukan belum lanjut sehingga sebagian mineral mineral yang menjadi sumber utama K belum tercuci hebat. Sedangkan unsur Mg yang terukur pada tanah di wilayah studi tergolong sedang yang dipengaruhi oleh asal dari bahan induk pembentuk tanah yang bersifat intermedier. Dari pengamatan terhadap unsur C dan N, terlihat tanah di areal studi memiliki nilai C/N tergolong rendah. Nilai C/N tanah memberikan gambaran tentang mudah tidaknya bahan tersebut dilapuk, tingkat kematangan bahan organik ataupun tentang mobilisasi dari N tanah. Hal ini merupakan indikasi bahwa bahan organik yang ada belum mengalami pelapukan yang lanjut. Pengadaan nitrogen (N) di dalam tanah terjadi melalui proses mineralisasi N dari bahan organik dan immobilisasinya, fiksasi N dari udara oleh mikroorganisme, melalui hujan dan bentuk presipitasi lain dan pemupukan. Jumlah N di dalam tanah merupakan hasil dari kesetimbangan antara faktor faktor kadar bahan organik, iklim dan tipe vegetasi, topografi, sifat kimia dan fisika tanah, kegiatan manusia dan waktu. Kadar bahan organik pada wilayah studi tergolong sangat rendah hingga rendah, sehingga menyebabkan kadar N total tanah tergolong rendah. Iklim dan dan tipe vegetasi ini mempengaruhi organisme yang hidup yang dapat memfiksasi N dari udara. Kadar N yang terukur di areal studi tergolong sangat rendah sampai rendah karena kesetimbangan faktor faktor yang mempengaruhi jumlah N di dalam tanah tidak memungkinkan jumlah N yang tersedia banyak, ada satu faktor yang sangat bagus dan menunjang sedangkan faktor yang lain tidak menguntungkan. Berdasarkan semua informasi ini serta sifat litologisnya maka dapat disimpulkan bahwa secara alamiah potensi kesuburan tanah dari tanah tanah di daerah tambang tergolong sedang. c. Fisika Tanah Hasil analisis laboratorium sifat fisika tanah disajikan pada Tabel Hasil analisis tekstur contoh tanah, terlihat bahwa tanah di areal studi memiliki persentase liat yang lebih besar dari pada persentase pasir dan debu atau tergolong ke dalam kelas tekstur lempung liat berdebu. Hasil pengukuran air tersedia menunjukkan tanah lokasi studi memiliki jumlah air tersedia antara sedang. Sedangkan pori drainase tanah di lokasi studi tergolong sedang. Bobot isi tanah di areal studi mempunyai bobot isi lebih dari 1 g/cc karena tanah terbentuk dari bahan mineral bukan bahan organik. Dengan semakin besar bahan organik, bobot isi yang diperoleh semakin rendah, dan sebaliknya tanah di areal studi yang kandungan bahan organiknya tergolong rendah (Tabel 3.11 dan Tabel 3.12). Nilai bobot isi ini akan mempengaruhi jumlah air tersedia yang terukur. Semakin tinggi bobot isi maka semakin rendah jumlah air tersedia. III 8

73 Rona Lingkungan Hidup Gambar 3.3. Kondisi Lingkungan Lokasi Block Station Matindok d. Erosi Gambar 3.4. Pengambilan Contoh Tanah di Block Station Matindok Berdasarkan pengamatan di lapang pada saat survei yang dilakukan pada bulan Februari 2011, erosi tanah pada lokasi studi yang berada di daerah berlereng belum atau tidak menunjukkan tingkat yang mengkhawatirkan atau tergolong tinggi karena masih bervegetasi relatif rapat baik dalam bentuk semak belukar. Erosi dalam bentuk alur (rill erosion) apalagi bentuk erosi parit (gully erosion) tidak dijumpai, kecuali pada tebing jalan. Sementara itu, tanah yang berada di selatan lokasi studi (topografi datar hingga landai) yang dimanfaatkan untuk lahan pertanian baik sawah irigasi atau tanaman pangan lainnya tidak menunjukkan gejala erosi yang serius terlebih bila dilihat dari indikasi tingkat kekeruhan air sungai. Berdasarkan hasil analisis laboratorium dari contoh tanah yang diambil saat survei (Tabel dan Tabel 3.12) dan perhitungan erosivitas hujan (Tabel 3.9), kemudian dengan menggunakan persamaan Universal Soil Loss Equation (USLE), maka dapat diduga besarnya erosi di lokasi studi (Tabel 3.10). III 9

74 Rona Lingkungan Hidup Berdasarkan prediksi erosi tersebut maupun berdasarkan kejadian erosi yang dapat dicatat di lapang saat survei menunjukkan nilai erosi tergolong rendah (4,8 ton/ha/tahun) yang masih di bawah nilai erosi yang masih dapat ditoleransikan atau Tolerable Soil Loss (TSL), yaitu sekitar ton/ha/tahun. Prediksi erosi tersebut bersifat indikatif karena rumus yang digunakan mempunyai berbagai asumsi atau keterbatasan misalnya tekstur sedang dan lereng yang tidak panjang. Disamping itu, pengamatan di lapang saat survei, erosi tanah belum menunjukkan gejala yang serius. Tabel 3.9. Perhitungan Indeks Erosivitas Hujan di Wilayah Studi No. Bulan Tahun Januari 39,94 95,81 117,70 47,34 40,68 10,56 2 Februari 112,88 59,64 67,12 89,74 32,01 50,13 3 Maret 82,86 166,87 31,46 236,96 66,96 146,60 4 April 40,16 77,56 20,96 18,44 29,23 50,88 5 Mei 49,38 116,52 110,69 60,12 63,36 176,73 6 Juni 172,95 111,41 19,06 31,72 132,11 138,23 7 Juli 105,62 98,54 22,69 113,78 66,20 61,50 8 Agustus 140,51 10,19 1,57 28,32 0,58 64,56 9 September 97,56 148,86 0 8,16 10,04 42,54 10 Oktober 43,13 77,57 0 2,49 5,29 67,70 11 Nopember 22,90 60,06 38,35 33,91 14,84 54,85 12 Desember 16,24 13,72 214,64 46,71 78,68 90,06 Erosivitas Hujan 924, ,75 644,23 717,69 539,99 954,35 Catatan : Nilai erosivitas hujan rata rata tahunan = 805 Sumber : Laporan Studi AMDAL Lapangan Senoro MEDCO dan JOB Pertamina Tabel Perhitungan Pendugaan Erosi di Lokasi Studi No. Penggunaan Lahan CP K LS A 1 Belukar utuh* 0,01 0,15 4 4,8 2 Belukar utuh* 0,01 0,25 4 8,1 5 Kebun campuran 0,07 0, ,8 6 Kebun campuran 0,07 0, ,4 7 Belukar berumput 0,10 0, ,3 8 Belukar berumput 0,10 0, ,5 Ket.: CP = faktor tanaman (penggunaan lahan) dan tindakan konservasi, K = faktor erodibilitas tanah; LS = faktor panjang dan besar lereng; A = besarnya erosi tanah (ton/ha/th), * = lokasi studi; Erosi yang dapat ditoleransikan = ton/ha/thn. III 10

75 Rona Lingkungan Hidup Tabel Hasil Analisis Laboratorium Sifat Kimia Tanah di Lokasi Studi No. Kode Lapang 1 Titik 1 Nama Lokasi Block Station Matindok Sumber : Balai Penelitian Tanah (2011) ph C org N tot. P Bray Ca Mg K Na KTK KB Pasir Debu Liat H 2 0 KCl (%) (ppm) meq/100 gr (%) (%) 5,3 4,6 2 0,15 7,8 12,35 7,89 0,23 0,38 24, Tabel Hasil Analisis Sifat Fisika di Lokasi Studi (kedalaman 0 20 cm) No. Lokasi Air BD Porositas Kadar Air (% V) Pada pf Pori Drainase Permeabilitas Tersedia (g/cc) (% vol) pf 1.0 pf 2.0 pf 2.54 pf 4.2 Cepat Lambat (% vol) cm/jam 1 Block Station 1,27 45,6 44,2 39,2 34,6 27,1 6,3 4,7 7,5 2,4 2 Matindok 1,20 44,0 43,6 38,0 34,3 26,4 6,0 3,7 7,9 5,2 Sumber : Balai Penelitian Tanah (2011) III 11

76 Rona Lingkungan Hidup e. Sistem Drainase, Irigasi, dan Debit Sistem drainase alami dari sungai sungai yang mengalir di lokasi studi dan sekitarnya selalu berair sepanjang masa walau ada fluktuasi debit antara musim penghujan dan kemarau. Pola drainase sungai tersebut dendritik atau bulu burung dengan anak sungai yang tidak terlampau banyak. Air sungai Kayowa yang terdekat dengan lokasi studi berwarna jernih. Di lokasi studi sawah yang sangat luas dengan sarana dan fasilitas irigasi teknis hingga irigasi desa/sederhana. Saluran irigasi teknis berasal dari bendung Bakung (di Sungai Bakung). Bendung tersebut membentuk saluran primer, sekunder dan tertier dengan bendung pembagi yang dilengkapi dengan pintu pintunya. Kondisi infrastruktur jaringan irigasi bendung tersebut disajikan pada Tabel 3.13, sedangkan pengukuran debit sesaat di Sungai Kayowa dan saluran irigasi di sekitar lokasi studi disajikan pada Tabel Tabel Kondisi Infrastruktur Jaringan Irigasi Dam Bakung Deskripsi infrastruktur jaringan irigasi Bakung Luas pengairan potensial (ha) Luas pengairan fungsional (ha) 660 Panjang saluran utama (km) 13,873 Bangunan (buah) : pengambilan 1 pengatur 16 pelengkap 48 pelengkap pada saluran Pembawa jumlah 65 Pelindung pintu air (buah) 14 Pintu air (buah) 50 Jalan inspeksi (km) 10,081 Saluran pembuang (km) 1,500 Sumber : Laporan Studi AMDAL Lapangan Senoro MEDCO dan JOB Pertamina Tabel Debit Sesaat Beberapa Saluran Irigasi Teknis di Wilayah Studi No. Lokasi Pengukuran Debit (m 3 /detik) 1 Saluran tertier Desa Bakung 0,005 2 Saluran kuarter Desa Pasibololi ke arah Senoro #1 0,012 3 Saluran tertier Desa Gori gori 0,011 4 Sungai Kayowa/Matindok 0,075 Sumber : laporan Studi AMDAL Lapangan Senoro MEDCO dan JOB Pertamina Debit sesaat ini bukan merupakan debit rata rata dari sungai yang dimaksud, melainkan hanya nilai indikatif atau debit sesaat pengukuran di lapang pada waktu survei dilakukan. Pendugaan debit puncak aliran sungai atau debit banjir dengan rumus rasional (q = 0,0028CiA) ditentukan dengan parameter parameter koefsien run off yang dicirikan oleh tipe penutupan atau penggunaan lahan (nilai C), intensitas hujan maksium 24 jam dalam setahun (nilai i), dan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) atau daerah tangkapan air (catchment area) (nilai A). Pendugaan debit puncak ini hanya diterapkan pada DAS yang kecil yang sungai utamanya akan dilintasi pipa saat konstruksi dengan ROW nya. III 12

77 Rona Lingkungan Hidup Berdasarkan studi AMDAL yang dilakukan oleh MEDCO dan JOB Pertamina tahun 2006, diambil kasus Sungai Kauyo Omolu dimana luas DAS yaitu 1.237,5 ha, perbedaan elevasi titik tertinggi dan terendah yaitu 500 m, panjang sungai dari titik terjauh yaitu 10 km, curah hujan maksimum dalam 24 jam = 109 mm, koefisien aliran permukaan yaitu 0,65, maka berdasarkan rumus rasional tersebut debit puncak (q) diperoleh sebesar 126,9 m 3 /detik Komponen Geologi a. Geomorfologi Secara regional wilayah studi berada pada lengan timur Sulawesi, yang mempunyai bentuk pegunungan memanjang dengan arah barat daya timur laut searah dengan bentuk memanjang lengan timur. Pegunungan yang berada di wilayah studi yaitu pegunungan Batui di bagian barat daya dan pegunungan Balantak di bagian timur laut. Secara fisiografi wilayah studi terbagi menjadi tiga yaitu: 1) Bagian sebelah utara jalan raya Luwuk Morowali mempunyai fisiografi perbukitan pegunungan yang memanjang dari barat daya menuju timur laut dan sejajar dengan jalan raya. Pegunungan dan perbukitan tersebut terbentuk oleh batuan yang berumur Tersier (endapan marine dan terumbu koral), yang kondisinya terlipat dan terpatahkan. 2) Di bagian bawah perbukitan terbentuk dataran alluvial dan menerus sampai ke dataran marine yang berbatasan langsung dengan pantai. 3) Di beberapa tempat seperti sekitar muara muara sungai seperti muara sungai Kayowa, dijumpai berupa rawa belakang (backswap). Wilayah studi berada pada ketinggian antara 1 50 m. Berdasarkan analisa peta topografi dan geologi, geomorfologi wilayah studi adalah: 1) Satuan geomorfologi perbukitan landai, satuan ini berada di tengah dan sebagian selatan wilayah studi, berupa bukit bukit landai dengan kemiringan lereng antara 2 15%. Batuan penyusunnya berupa batuan sedimen klastik seperti batupasir dan konglomerat, 2) Satuan geomorfologi dataran, pada wilayah sebelah timur wilayah studi, bentang alam dataran dengan relief datar, kemiringan lereng <5%, terutama sepanjang pantai merupakan daerah dataran yang dibentuk oleh endapan aluvial sungai dan pantai. b. Litologi Batuan penyusun di sekitar lokasi pembangunan fasilitas pengolahan dan jalur pipa adalah batuan sedimen, berupa batupasir kasar, konglomerat, breksi, dan endapan aluvial sungai dan aluvial pantai. Satuan batupasir kasar Batupasir kelabu kehijauan coklat, mampat dan agak keras. Butiran berukuran pasir sedang hingga kasar, berbentuk membulat tanggung sampai membulat, terdiri dari fragmen batuan mafik, ultramafik, feldspar, dan kuarsa, pemilahan puruk. Pada umumnya berlapis baik dengan tebal lapisan antara cm. Di beberapa tempat dijumpai serpih, warna kuning kecoklatan kelabu, mampat, agak lunak hingga agak keras tebal lapisan antara 5 10 cm (Gambar 3.5). Satuan batuan ini umumnya membentuk perbukitan dengan relief bergelombang lemah. Dijumpai adanya indikasi struktur geologi, yang mencirikan sesar/patahan mendatar, tetapi karena jenis batuannya adalah pasir padat dan konglomerat sehingga tidak dijumpai adanya zona hancuran (fracture zona), yang dapat menurunkan daya dukung batuan maupun menyebabkan gerakan tanah yang dapat mengganggu pipa. III 13

78 Rona Lingkungan Hidup Potensi gangguan kemungkinan terjadi hanya faktor topografi, yaitu berupa perbukitan bergelombang. Gambar 3.5. Kenampakan Sebagian dari Batupasir Kasar Kompak dan Keras, Batupasir kasar dan Masif Satuan konglomerat selangseling batupasir tufaan Konglomerat, warna abu abu kehitaman, mampat dan keras, komponen berukuran 3 40 cm, berbentuk membulat tanggung hingga membulat, terdiri dari batuan ultramafik dan mafik terpilah buruk dengan tebal lapisan antara 20 cm sampai 2 m. Napal kuning kecoklatan coklat, agak mampat hingga mampat, agak keras hingga keras, berlapis baik antara cm (Gambar 3.6.a.b). Satuan batuan ini umumnya membentuk perbukitan dengan relief bergelombang lemah. Penggunaan lahannya berupa perkebunan dan kebun campuran. Tidak dijumpai adanya struktur geologi yang dapat menurunkan daya dukung batuan ataupun menimbulkan bencana geologi seperti gerakan tanah. Potensi terjadinya gangguan geologi terhadap jalur pipa dapat terjadi berupa longsoran yang disebabkan oleh faktor topografi dan kontak batuan antara konglomerat bagian atas yang sudah lapuk, kontak dengan pasir tufaan. Aluvial Endapan aluvial sepanjang jalur pipa berupa lumpur, pasir, dan kerakal (berupa endapan sungai, rawa dan pantai). Satuan ini cukup luas di jumpai di sekitar pantai dan dekat muara sungai Kayowa (Gambar 3.6.c). Konglomerat (a) (b) (c) Gambar 3.6. Singkapan Sebagian dari Konglomerat dan Batupasir Kasar (a,b), Endapan Aluvial di Sepanjang Jalur Pipa (c) III 14

79 Rona Lingkungan Hidup c. Stratigrafi Stratigrafi Regional Batuan penyusun pada lengan timur Pulau Sulawesi yang termasuk dalam Kabupaten Banggai adalah batuan berumur Mesozoikum yang terdiri dari kompleks ofiolit, batuan sedimen tersier, dan batuan kuarter. Berdasarkan peta geologi dari P3G Bandung (1994), tata urutan formasi geologi yang ada di Kabupaten Banggai terdiri dari beberapa formasi sebagai berikut: Formasi Maluhu: terdiri dari batusabak, filit, sekis dan batupasir yang mengalami metamorfosis, batuan ini menempati lereng lereng di pegunungan Batui. Formasi Nambo: terdiri dari napal pasiran. Formasi Nanaka: terdiri dari batupasir kuarsa dengan sisipan batubara dan konglomerat. Kompleks Mafik (Ofiolit): terdiri dari batuan beku dan metamorf, berupa gabro, basalt, serpentinit, filit dan sekis. Formasi Matano: terdiri dari batuan sediment berupa batulempung dan batugamping. Formasi Salodik: terdiri dari batuan sediment berupa batugamping dan sedikit batupasir. Formasi Poh : terdiri dari napal, batugamping dan sedikit batupasir berumur tersier. Formasi Lonsio berda hanya di pesisir utara pegunungan balantak, terdiri dari batuan endapan gunung api tua. Formasi Bongka: terdiri dari konglomerat, batupasir, lanau, batulempung dan lensalensa batugamping. Formasi Kintom: terdiri dari konglomerat, batupasir dan napal. Formasi koral terangkat: merupakan suatu terumbu koral berumur kuarter yang tadinya tumbuh dipantai. Endapan Aluvial adalah endapan paling muda terbentuk karena erosi pada sungai dan batuan yang lebih tua yang diendapkan pada dataran dataran banjir sungai dan sepanjang pantai. Endapan aluvial umumnya terdiri dari lempung dan batupasir yang belum terkonsolidasi. Batuan yang terdapat di wilayah studi seluruhnya berupa batuan sedimen baik yang berumur tersier maupun kuarter, dengan urutan stratigrafinya sebagai berikut: Formasi Bongka terdiri dari perselingan antara konglomerat, batupasir, serpih, napal dan batugamping sebagian bersifat tuf dan lignit. Formasi Kintim terdiri dari napal dan batupasir berukuran halus dengan ketebalan antara m. Formasi Terumbu Koral Kuarter berupa batugamping koral dengan sisipan napal. Endapan Aluvial adalah endapan paling muda terbentuk karena erosi pada sungai dan batuan yang lebih tua yang diendapkan pada dataran dataran banjir sungai dan sepanjang pantai. Endapan aluvial umumnya terdiri dari lempung dan batupasir yang belum terkonsolidasi. III 15

80 Rona Lingkungan Hidup d. Struktur Struktur Regional Struktur Geologi Permukaan Struktur geologi yang penting di Banggai berupa struktur patahan, lipatan, dan kekar. Struktur patahan yang dijumpai berupa patahan/sesar sungkup, sesar normal dan sesar mendatar. Sesar besar atau sesar utama yaitu sesar Toili, sesar Batui, dan sesar Pasini, yang merupakan sesar sungkup, terjadinya diperkirakan pada Miosen Tengah. Sesar Batui berarah barat daya timur laut sampai di Luwuk, merupakan sesar sungkup dan sesar Toili berarah tenggara barat daya, arah pergerakannya mendatar. Sesar penting lainnya ialah sesar sungkup di daerah pegunungan Tokala, sesar ini melibatkan kompleks ultramafik dan mafik, formasi tokala, dan formasi nanaka. Sesar tersebut juga dijumpai di sebelah selatan Batui yang merupakan bagian dari sesar Pasini dan sesar Batui. Sesar yang berukuran lebih kecil, merupakan sesar ikutan tingkat pertama, kedua dan ketiga. Sesar berukuran besar maupun kecil terdapat pada satuan batuan ultramafik, mafik dan batuan sedimen Mesozoikum. Sesar bongkah yang terjadi pada kala Plio Plistosen merupakan struktur yang mempengaruhi bentuk bentang alam daerah Batui sekarang. Keberadaan sesar sesar di Banggai akan dapat mengganggu keberadaan kegiatan pembangunan secara tidak langsung. Pengaruh langsung dapat terjadi karena secara tektonik wilayah studi masih termasuk kedalam zona tektonik aktif (Gambar 3.7). Hal ini ditandai dengan masih sering terjadi gempa gempa berskala kecil, sehingga pergerakan atau pergeseran batuan akibat sesar aktif dapat menyebabkan gangguan dan kerusakan pada pipa yang melalui zona patahan aktif. Sedangkan pengaruh tidak langsung keberadaan sesar sesar tersebut dapat menyebabkan berkurangnya daya dukung tanah dan batuan atau menjadikan suatu zona lemah yang dapat menyebabkan terjadinya longsoran. Struktur lipatan yang dijumpai di daerah ini berupa lipatan terbuka, lipatan tertutup dan lipatan tumpang. Jenis lipatan terbuka lapisannya berkemiringan kurang dari 30, dengan sumbu berkembang batuan Neogen. Jenis lipatan tertutup lapisannya miring antara 30 dan 60 dan sumbunya menggelombang sampai menunjam. Pada Lipatan tumpang, lapisannya hampir tegak sampai terbalik, sumbu umumnya menggelombang kuat dan menunjam kuat. Struktur Geologi Bawah Permukaan Secara tektonik lokasi studi berada diantara lengan Sulawesi tengah, cekungan Banggai yang merupakan bagian dari lempeng mikro Banggai Sula. Tumbukan dari lempeng Banggai Sula menghasilkan terjadinya runtuhan dan membentuk sesar anjak dan munculnya ofiolit. Wilayah Batui merupakan bagian dari patahan normal dan sesar anjak di sepanjang pantai Sulawesi Tengah. Secara umum struktur geologi bawah permukaan yang diperoleh dari data seismik berada pada kedalaman lebih dari m, yaitu berupa sesar normal, sesar mendatar utara selatan dan sesar anjak dengan arah barat daya timur laut. Jika mempertimbangkan kedalaman sesar sesar yang ada di wilayah studi yaitu lebih dari m, maka pengaruhnya terhadap kegiatan dipermukaan berupa fasilitas dan jalur pipa tidak signifikan, namun demikian efek dari sesar sesar tersebut dapat menghasilkan zona zona hancuran (fracture zona) atau zona gerusan (shear zona). III 16

81 Rona Lingkungan Hidup Zona ini akan sampai di permukaan dan akan dapat berpengaruh terhadap stabilitas batuan dan lereng, yang pada akhirnya akan dapat mengganggu atau berpengaruh negatif terhadap jalur pipa. Untuk mengetahui secara pasti pengaruh struktur dan batuan terhadap pipa yang akan melalui wilayah tersebut, maka perlu dilakukan pengamatan geologi secara lebih rinci khususnya disekitar rencana kegiatan. Gambar 3.7. Denah Sebaran Sesar Aktif Struktur Geologi di Lokasi Wilayah Studi Struktur geologi yang dijumpai atau yang terdapat di wilayah studi adalah struktur perlipatan. Berdasarkan pengamatan di lokasi rencana wilayah studi tidak dijumpai adanya indikasi indikasi yang mencirikan adanya struktur patahan. Struktur geologi Tidak banyak dijumpai adanya indikasi struktur geologi di sepanjang rencana jalur pipa untuk semua alternatif. Indikasi struktur yang ada berupa seretan sesar/patahan dan cermin sesar pada satuan batupasir kasar di tepi sungai Kayowa, pada koordinat S dan E (Gambar 3.8). Pada zona sesar tersebut tidak menimbulkan atau tidak terindikasi bahwa patahan tersebut menghasilkan zona zona hancuran. Gambar 3.8. Jejak Seretan Sesar Mendatar di Salah Satu Tepi Sungai Kayowa III 17

82 Rona Lingkungan Hidup Dari hasil pengamatan lapangan di wilayah studi tidak dijumpai indikasi adanya pengaruh struktur geologi terhadap lingkungan, seperti tidak dijumpainya zona amblesan, zona hancuran serta gawir gawir terjal maupun longsoran. Indikasi indikasi kerusakan lingkungan akibat patahan biasanya ditunjukan oleh banyaknya jalan jalan yang rusak/ambles, serta rusaknya infrastruktur lainnya seperti bangunan irigasi teknis yang memotong arah umum patahan, hal ini tidak dijumpai di sekitar rencana lokasi pembangunan fasilitas produksi. Hal ini menandakan bahwa struktur geologi yang ada di sekitar wilayah studi tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap bangunan yang akan dibangun. Selain struktur patahan/sesar geser, juga dijumpai struktur perlipatan berupa lipatan miring satu arah (homoklin) dengan arah kemiringan N 30 E 10 miring ke arah tenggara. e. Hidrogeologi Air tanah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain morfologi, litologi, struktur geologi, tata guna lahan dan curah hujan. Berdasarkan pada faktor tersebut di atas maka air tanah di wilayah studi dapat dikelompokan menjadi: Mandala Air Tanah Wilayah Perbukitan Bergelombang Mandala Air Tanah Wilayah Dataran Mandala Air Tanah Wilayah Perbukitan Bergelombang Satuan air tanah ini tersebar di sebagian besar wilayah studi yaitu di bagian barat laut, memanjang dan barat daya timur laut. Dengan memperhatikan jenis batuannya yaitu berupa batuan sedimen berupa batupasir (formasi Kintom) dan konglomerat batupasir. Seluruh batuan tersebut umumnya memiliki porositas dan permeabilitas yang baik, sehingga pada wilayah tersebut memiliki potensi air tanah yang baik. Tipologi akifer pada wilayah tersebut adalah tipologi akifer batuan sedimen dengan sistem akifer berupa aliran rongga antar butir yaitu pada batuan sedimen klastik berupa batupasir, konglomerat. Pada bagian perbukitan yang bergelombang sedang, keterdapatan air tanah pada daerah tersebut cukup bagus, terutama pada akuifer dasarnya yaitu pada batupasir dan konglomerat. Kedalaman air tanah berkisar antara 5 10 meter dengan debit sumur cukup besar mencapai 5 liter/detik seperti di daerah Batui, dan Kayowa. Satuan Air Tanah Wilayah Dataran Satuan air tanah wilayah dataran tersebar di sepanjang pantai dengan arah sebarannya barat daya timur laut. Sistem akifer wilayah ini termasuk dalam sistem akifer endapan aluvial pantai dan delta, dengan batuan penyusunnya berupa lempung, pasir, lanau, bersifat lepas. Akifer pantai mempunyai potensi air tanah cukup baik. Air tanah di akifer pantai dapat menjadi sumber air tanah yang baik terutama pada pematang pantai atau pada lensa lensa batu pasir lepas. Kondisi air tanah di dataran pantai banyak ditentukan oleh kondisi geologi di hulunya. Keterdapatan air tanah pada mandala ini mempunyai kriteria sedang dengan debit sumur maksimal 5 liter/detik dengan kedalaman muka air tanah antara 1,5 3 meter. Pada wilayah dataran di dekat pantai, air tanah dangkal mudah diperoleh dengan rasa yang tawar sebagaimana ditunjukkan oleh sumur sumur yang ada di wilayah permukiman yang digunakan untuk keperluan hidup sehari hari. III 18

83 Rona Lingkungan Hidup f. Kerentanan Gerakan Tanah Stabilitas Lereng Secara umum wilayah studi berada pada daerah dengan bentuk topografi perbukitan landai dan dataran, wilayah studi memiliki beda ketinggian < 50 m, kelerengan antara 2 15%, dengan penggunaan lahan didominasi oleh kebun campuran. Secara visual wilayah studi ditempati batuan yang kompak dan padat berupa batupasir dan konglomerat, sehingga stabilitas lereng di lokasi rencana pembangunan fasilitas produksi cukup stabil dan tidak berpotensi untuk terjadinya gerakan tanah berupa longsoran maupun jenis lainnya. Sifat Fisik Batuan Secara visual sifat fisik dan keteknikan batuan di lokasi studi tidak menjadi faktor pengahambat atau kendala, karena sifat fisik batuannya kompak, padat dan keras. Sedangkan pada daerah dataran yang terbentuk oleh aluvial berupa pasir ataupun lempung umumnya, menempati daerah dataran. Bahaya Geologi Gerakan Tanah Tingkat kerentanan gerakan tanah suatu wilayah ditentukan oleh sifat fisik tanah dan batuan, sudut lereng, struktur geologi serta vegetasi, atas pertimbangan tersebut tingkat kerentanan gerakan tanah di wilayah studi dikelompokan sebagai berikut: Zona Kerentanan Gerakan Tanah Sangat Rendah Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan sangat rendah untuk terkena gerakan tanah. Pada zona ini sangat jarang atau hampir tidak pernah terjadi gerakan tanah, baik gerakan tanah lama maupun gerakan tanah baru, kecuali pada daerah sekitar tebing sungai. Merupakan daerah dataran dengan kemiringan lereng 0 5% dan lereng tidak dibentuk oleh onggokan material gerakan tanah, bahan timbunan atau lempung yang mempunyai sifat mengembang. Satuan ini umumnya dibentuk oleh aluvium, endapan pantai, napal pasiran, dan batupasir. Daerah yang termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah ini meliputi daerah sebelah barat jalan raya dari Kayowa sampai Maseng, ke arah barat sampai pantai. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan gerakan tanah rendah untuk terkena gerakan tanah. Umumnya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah apabila lereng tidak mengalami gangguan, dan jika terdapat gerakan tanah yang lama maka lereng dapat mantap kembali. Gerakan tanah dalam ukuran sangat kecil mungkin terjadi, terutama pada tebing dan lembah sungai (alur). Lokasi rencana pembangunan fasilitas produksi berada pada zona kerentanan gerakan tanah rendah. g. Kegempaan Sesuai dengan data tektonik bumi, Indonesia dikelilingi oleh lempeng Eurasia, lempeng India dan lempeng Pasifik, yang mengakibatkan terbentuknya 3 busur pulau yang berpotensi terhadap terjadinya gempa bumi tektonik yaitu Busur Indonesia, Tapal Batas Benua Australia, dan Busur Filipina. III 19

84 Rona Lingkungan Hidup 1. Busur Indonesia Panjang sekitar km, arah sejajar dengan pantai barat pulau Sumatera, pantai selatan pulau Jawa sampai ke sepanjang pulau Timor. Di bagian Sumatera, diperkirakan dalamnya sumber gempa tidak melampaui 100 km, sedang di bagian Pulau Jawa banyak lokasi sumber gempa yang dalamnya lebih dari 600 km. 2. Tapal batas benua Australia Mengikuti potongan lempeng Pasifik dan lempeng India ke arah timur dari Semenanjung Berau sampai Irian Jaya. Sistem tektonis ini aktif sekali, tetapi lokasinya dalam sekali sehingga pengaruhnya tidak berarti. 3. Busur Filipina Tapal batas tektonis ini aktif sekali. Gempa gempa besar yang berhubungan dengan tapal batas Filipina ini (di bawah Mindano misalnya) dapat menyebabkan efek yang berarti di daerah Indonesia. Berdasarkan peta zona sumber gempa bumi di Indonesia, wilayah studi berada pada jalur zona sumber gempa patahan aktif, yaitu zona patahan mendatar Sorong, patahan naik Batui. Pulau Sulawesi saat ini berada pada sistem tektonik muka busur pulau yang dipengaruhi oleh adanya tumbukan dari lempeng India Australia, lempeng Filipina, dan lempeng Caroline yang menghasilkan sumber sumber gempa berupa sesar sesar aktif seperti sesar sorong. Zona zona sumber gempa lainnya disajikan pada Gambar 3.9. Berdasarkan peta wilayah rawan bencana gempa bumi Indonesia, wilayah studi masuk ke dalam wilayah dengan intensitas gempa menurut skala intensitas modified Mercalli pada skala V dan VI (Gambar 3.10) dengan tingkat pengaruh goncangan: Skala V dapat dirasakan di luar rumah, orang tidur terbangun, cairan tampak bergerak dan tumpah sedikit, barang perhiasan rumah yang kecil dan tidak stabil bergerak atau jatuh, pintu pintu terbuka tertutup, dan pigura dinding bergerak. Skala VI dapat dirasakan oleh semua orang, banyak orang lari keluar rumah karena terkejut, orang yang sedang jalan kaki terganggu, jendela menderit, gerabah barang pecah belah pecah, barang barang kecil dan buku jatuh dari raknya, gambar gambar kecil dan pohon terlihat bergoyang, lonceng gereja berbunyi, dan plester dinding yang lemah menjadi retak retak. Gejala geologi lanjutan akibat gempa tersebut yaitu menghasilkan zona zona hancuran atau rekahan. Pergerakan dari rekahan dapat berpengaruh terhadap jalur pipa (pipa bengkok, bocor). Sedangkan pengaruh lainnya adalah karena terbentuknya rekahan dan hancuran maka daya dukung tanah/batuannya menjadi lemah yang dapat menggangu rencana pembangunan fasilitas pengolahan dan jalur pemasangan jalur pipa. Berdasarkan informasi dari masyarakat, aktivitas gempa dengan skala kecil masih sering terjadi. III 20

85 Rona Lingkungan Hidup Sumber: Kertapati, 2000 Gambar 3.9. Denah Zona Sumber Gempa di Indonesia Sumber: Peta Rawan Bencana Goncangan Gempa Bumi Indonesia (2002) Gambar Denah Rawan Bahaya Goncangan Gempa Sulawesi dan Wilayah Studi III 21

86 Rona Lingkungan Hidup 3.2. Komponen Biologi Vegetasi Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, lokasi block station yang ada memiliki kondisi berupa tanah lapang dan semak belukar. Jenis vegetasi berhabitus pohon sangat jarang dijumpai, demikian juga kelimpahan satwa liar yang ada relatif sedikit. Lokasi ini berbatasan dengan kebun/ladang masyarakat. Adapun jenis komoditi kebun yang ada adalah kakao (Theobroma cacao) dan kelapa (Cocos nucifera). Dari hasil pengamatan di lokasi ini terdapat sedikitnya sekitar 61 jenis vegetasi. Dari jenis yang ada, berdasarkan habitusnya terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu herba (25 jenis), liana (8 jenis), perdu (10 jenis), palem (1 jenis) dan pohon (17 jenis). Daftar jumlah jenis vegetasi berdasarkan habitus di areal Block Station Matindok disajikan pada Tabel Tabel Daftar Jumlah Jenis Vegetasi Berdasarkan Habitus di Block Station Matindok No. Habitus Jumlah Jenis 1 Herba 25 2 Liana 8 3 Perdu 10 4 Palem 3 5 Pohon 15 Total Jenis 61 Sumber: Data hasil survei, pengamatan dan wawancara Tim PPLH IPB, 2011 Berdasarkan familinya, jenis vegetasi yang ada di lokasi block station terbagi menjadi 31 famili, dengan jumlah jenis tertinggi terdapat pada famili Asteraceae dan Poaceae (masingmasing terdapat 6 jenis). Daftar selengkapnya mengenai jumlah jenis vegetasi berdasarkan famili di lokasi block station tersaji pada Tabel Tabel Daftar Jumlah Jenis Vegetasi Berdasarkan Famili di Block Station Matindok No. Habitus Jumlah Jenis 1 Acanthaceae 2 2 Anacardiaceae 1 3 Arecaceae 3 4 Asteraceae 6 5 Burseraceae 1 6 Caesalpiniaceae 2 7 Caricaceae 1 8 Commelinaceae 1 9 Convolvulaceae 1 10 Cyperaceae 1 11 Dilleniaceae 1 12 Euphorbiaceae 4 13 Fabaceae 4 14 Liliaceae 1 15 Malvaceae 4 16 Mimosaceae 1 17 Moraceae 3 18 Myrtaceae 1 19 Nephrolepidaceae 1 20 Onagraceae 1 21 Oxalidaceae 1 22 Papilionaceae 1 23 Passifloraceae 1 24 Poaceae 6 III 22

87 Rona Lingkungan Hidup No. Habitus Jumlah Jenis 25 Polypodiaceae 1 26 Rubiaceae 5 27 Sapindaceae 1 28 Schizaeaceae 1 29 Ulmaceae 1 30 Verbenaceae 2 31 Zingiberaceae 1 Total Jenis 61 Sumber: Data hasil survei, pengamatan dan wawancara Tim PPLH IPB, 2011 Berdasarkan status konservasinya, tidak terdapat jenis vegetasi yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999, begitu pula tidak terdapat jenis yang masuk ke dalam Appendix CITES. Demikian juga tidak terdapat jenis yang masuk ke dalam kategori kelangkaan berdasarkan Red List Data Book IUCN. Sedangkan daftar selengkapnya mengenai jenis vegetasi beserta status konservasi/kelangkaannya yang ada di block station tersaji pada Tabel Tabel Daftar Jenis Vegetasi yang ada di Lokasi Areal Block Station Matindok No. Famili/Nama Ilmiah Nama Lokal Habitus Status Konservasi dan Kelangkaan PP No. 7/1999 CITES IUCN Acanthaceae 1 Ruellia tuberosa Pletisan herba TD TT TT 2 Hyptis capicata Rumput Kenop herba TD TT TT Anacardiaceae 3 Lannea sp Kayu Kuda pohon TD TT TT Arecaceae 4 Arenga pinnata Enau palem TD TD TT 5 Cocos nucifera Kelapa palem TD TD TT 6 Caryota mitis Nduru palem TD TD TT Asteraceae 7 Bidens pilosa Ajeran perdu TD TT TT 8 Ageratum conyzoides Bandotan herba TD TT TT 9 Erigeron sumatrensis Jabung herba TD TT TT 10 Eupatorium odoratum Kirinyuh perdu TD TT TT 11 Elepanthopus molli Patah Kemudi herba TD TT TT 12 Emilia sonchifolia Seungit Mangga Ngora herba TD TT TT Burseraceae 13 Santiria sp Amkarik pohon TD TT TT Caesalpiniaceae 14 Cassia alata Ketepeng Cina perdu TD TT TT 15 Cassia tora Ketepeng Kecil herba TD TT TT Caricaceae 16 Carica papaya Pepaya pohon TD TT TT Commelinaceae 17 Commelina nudiflora Rumput Gewor herba TD TT TT Convolvulaceae 18 Merremia umbellata Akar Bilaran liana TD TT TT Cyperaceae 19 Scleria sumatrensis Selingsing herba TD TT TT Dilleniaceae 20 Tetracera indica Akar Ampelas liana TD TT TT Euphorbiaceae 21 Sauropus sp Katuk Hutan perdu TD TT TT 22 Macaranga sp Mahang pohon TD TT TT 23 Phyllanthus niruri Meniran herba TD TT TT 24 Euphorbia hirta Patikan Kebo herba TD TT TT Fabaceae 25 Adenanthera sp Akar Kempas liana TD TT TT 26 Phanera sp Akar Kupu kupu liana TD TT TT 27 Glyricidia sepium Gamal pohon TD TT TT 28 Crotalaria sp Orok orok perdu TD TT TT III 23

88 Rona Lingkungan Hidup No. Famili/Nama Ilmiah Nama Lokal Habitus Status Konservasi dan Kelangkaan PP No. 7/1999 CITES IUCN Liliaceae 29 Cordyline sp Andong perdu TD TT TT Malvaceae 30 Urena lobata Pulutan perdu TD TT TT 31 Sida rhombifolia Sidaguri herba TD TT TT 32 Sida retusa Sidaguri herba TD TT TT 33 Thespesia populnea Waru pohon TD TT TT Mimosaceae 34 Mimosa pudica Putri Malu herba TD TT TT Moraceae 35 Ficus septicum Awar awar pohon TD TT TT 36 Ficus sp Kayu Ara pohon TD TT TT 37 Artocarpus communis Sukun pohon TD TT TT Myrtaceae 38 Psidium guajava Jambu Biji pohon TD TT TT Nephrolepidaceae 39 Nephrolepis exavata Paku Cebuk herba TD TT TT Onagraceae 40 Ludwigia scandens Krangkong herba TD TT TT Oxalidaceae 41 Averrhoa bilimbi Belimbing Wuluh pohon TD TT TT Papilionaceae 42 Clitoria ternatea Kembang Telang liana TD TT TT Passifloraceae 43 Passiflora foetida Ciplukan Blungsung liana TD TT TT Poaceae 44 Imperata cyllindrica Alang alang herba TD TT TT 45 Axonopus compressus Rumput Paitan herba TD TT TT 46 Digittaria sp Jelamparan herba TD TT TT 47 Panicum sarmentosum Rumput Sarang Puyuh herba TD TT TT 48 Isachne globosa Rumput Waderan herba TD TT TT 49 Desmodium triflorum Sisik Betok herba TD TT TT Polypodiaceae 50 Stenochlaena palustris Akar Kelakai liana TD TT TT Rubiaceae 51 Hedyotis corymbosa Rumput Mutiara herba TD TT TT 52 Antocephallus chinensis Jabon pohon TD TT TT 53 Theobroma cacao Kakao pohon TD TT TT 54 Morinda sp Mengkudu Hutan pohon TD TT TT 55 Mussaenda nodosa Mata Ulik perdu TD TT TT Sapindaceae 56 Schleichera oleosa Kosambi herba TD TT TT Schizaeaceae 57 Lygodium japonicum Mintu liana TD TT TT Ulmaceae 58 Tremna orientalis Anggrung pohon TD TT TT Verbenaceae 59 Stachytarpheta indica Pecut Kuda perdu TD TT TT 60 Lantana camara Tembelekan perdu TD TT TT Zingiberaceae 61 Alpinia sp Lelemas herba TD TT TT Keterangan : TD : Tidak Dilindungi, TT : Tidak Terdaftar Sumber : Data hasil survei, pengamatan dan wawancara Tim PPLH IPB, Satwa Liar Kondisi block station yang berupa tanah lapang dan semak belukar kurang menopang keberadaan satwa liar yang ada. Jenis satwa liar yang dijumpai dari hasil pengamatan di lapangan dan berdasarkan hasil wawancara terdapat sekitar 18 jenis, yang terdiri dari 17 jenis burung dan 1 jenis reptilia. Berdasarkan status perlindungannya, tidak terdapat jenis satwa liar yang masuk ke dalam Appendiks CITES. III 24

89 Rona Lingkungan Hidup Sedangkan berdasarkan Red List Data Book IUCN, terdapat 1 jenis termasuk kategori NT/Near Threatened (Hampir Terancam) yaitu Walik Malomiti (Ptilinopus subgularis) dan 15 jenis yang termasuk kategori LC/Least Concern (Kurang Diperhatikan). Kesemua jenis tersebut adalah jenis burung (aves). Daftar jenis satwa liar yang ada beserta status konservasi dan kelangkaannya di block station selengkapnya disajikan pada Tabel Tabel Daftar Jenis Satwa Liar yang Ada di Lokasi Areal Block Station Matindok No. Famili dan Nama Ilmiah Nama Lokal Common Name Status Konservasi dan Kelangkaan PP No. CITES IUCN 7/1999 A. Burung (Aves) Ardeidae 1 Ardea purpurea Cangak merah Purple Heron TD TT LC ver 3.1 Cisticolidae 2 Cisticola exilis Cici Merah Golden headed Cisticola TD TT LC ver 3.1 Columbidae 3 Streptopelia chinensis Tekukur Biasa Spotted Dove TD TT LC ver Ptilinopus subgularis Walik Malomiti Maroon chinned Fruitdove TD TT NT ver 3.1 Cuculidae 5 Centropus bengalensis Bubut Alang alang Lesser Coucal TD TT LC ver Surniculus lugubris Kedasi Hitam Drongo Cuckoo TD TT LC ver 3.1 Dicaeidae 7 Dicaeum celebicum Cabai Panggul Hitam Grey sided Flowerpecker TD TT LC ver Dicaeum aureolimbatum Cabai Panggul Kuning Yellow sided Flowerpecker TD TT LC ver 3.1 Megapodiidae 9 Megapodius cumingii Gosong Filipina Tabon Megapode TD TT LC ver 3.1 Passeridae 10 Lonchura pallida Bondol kepala Pucat Pale headed Munia TD TT LC ver Lonchura molucca Bondol Taruk Black faced Munia TD TT LC ver 3.1 Pycnonotidae 12 Pycnonotus aurigaster Cucak Kutilang Sooty headed Bulbul TD TT LC ver 3.1 Rallidae 13 Amaurornis phoenicurus Kareo Padi White breasted Waterhen TD TT LC ver Amaurornis isabellina Kareo Sulawesi Isabelline Waterhen TD TT LC ver Gallirallus philippensis Mandar Padi Kalung Kuning Buff banded Rail TD TT LC ver Poliolimnas cinerea Tikusan Alis Putih White browed Crake TD TT LC ver 3.1 B. Reptilia Scincidae 17 Mabuya multifasciata Kadal The East Indian Brown Mabuya TD TT TT Keterangan : TD : Tidak Dilindungi TT : Tidak Terdaftar NT : Near Threatened (Hampir Terancam) D : Dilindungi LC : Least Concern (Kurang Diperhatikan) VU : Vulnerable (Rawan) Sumber: Data hasil survei, pengamatan dan wawancara Tim PPLH IPB, Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya Demografi a. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Secara administrasi lokasi kegiatan proyek Peningkatan Kapasitas Produksi Gas Matindok (45 MMSCFD menjadi 65 MMSCFD) terletak di Kabupaten Banggai meliputi 2 wilayah kecamatan yaitu Batui, dan Batui Selatan. Distribusi penduduk menurut luas, jumlah dan kepadatan di masing masing kecamatan dan desa wilayah studi dapat dilihat pada Tabel Secara keseluruhan desa desa wilayah studi mempunyai kepadatan lebih rendah dibandingkan dengan kepadatan penduduk Kabupaten Banggai (33 jiwa/km²). III 25

90 Rona Lingkungan Hidup Tabel Distribusi Penduduk Menurut Luas, Jumlah, dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan dan Desa Wilayah Studi Kecamatan/Desa Luas (km 2 ) Jumlah Penduduk Kepadatan (Jiwa/km 2 ) I. Kecamatan Batui 1.062, Desa Kayowa 122, Desa Nonong 61, II. Kecamatan Batui Selatan 327, Desa Masing 61, Sumber: Kecamatan Batui dan Kecamatan Batui Selatan Dalam Angka 2010 b. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Sex Ratio Jumlah rumah tangga dan penduduk menurut jenis kelamin dan sex ratio disajikan pada Tabel Jumlah rumah tangga yang tertinggi ada di Desa Masing dengan jumlah anggota keluarga setiap Rumah Tangga rata rata adalah 3 orang. Demikian juga Desa Masing mempunyai rasio jenis kelamin tertinggi sebesar 109 yang menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Tabel Jumlah Rumah Tangga, Penduduk Menurut Jenis Kelamin, dan Sex Ratio di Kecamatan dan Desa Wilayah Studi Kecamatan/Desa RT Rata Rata Jumlah Penduduk Sex Ratio Per RT Laki laki Perempuan I. Kecamatan Batui ,85 1. Desa Kayowa ,32 2. Desa Nonong ,76 II. Kecamatan Batui Selatan ,63 1. Desa Masing ,33 Sumber: Kecamatan Batui dan Kecamatan Batui Selatan Dalam Angka 2010 RT : Rumah Tangga c. Komposisi Penduduk Menurut Umur Dari angka pertumbuhan antar kelompok umur akan dapat diketahui struktur penduduk dalam suatu wilayah tertentu. Penyebaran penduduk menurut kelompok umur disajikan pada Tabel Dilihat dari rasio beban tanggungan, Kecamatan Batui mempunyai rasio 34,43 berarti bahwa setiap 100 orang usia produktif harus menanggung sekitar 34 orang berusia tidak produktif. Demikian juga di Kecamatan Batui Selatan mempunyai rasio sebesar 44,64 berarti bahwa setiap 100 orang usia produktif harus menanggung sekitar 45 orang berusia tidak produktif. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah penduduk Kecamatan Batui dan Batui Selatan yang berusia produktif jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan penduduk yang berusia tidak produktif. Tabel Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Rasio Beban Tanggungan No. Kecamatan 0 14 Tahun Tahun 65+ Tahun Rasio Beban Jumlah % Jumlah % Jumlah % Tanggungan 1 Batui , , ,81 34,43 2 Batui Selatan , , ,80 44,64 Sumber: Diolah dari Kecamatan Dalam Angka 2010 III 26

91 Rona Lingkungan Hidup d. Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Komposisi penduduk di kecamatan wilayah studi berdasarkan tingkat pendidikan disajikan pada Tabel Persentase tingkat pendidikan penduduk tamat SD adalah yang terbesar, sedangkan penduduk yang tidak atau belum sekolah dan tidak tamat SD sebanyak 23,51% dan yang tamat akademi dan perguruan tinggi baru sekitar 1,83%. Tabel Penduduk Usia 5 Tahun Keatas Menurut Pendidikan yang Ditamatkan di Kecamatan Batui Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%) 1. Tidak/belum sekolah 49 0,24 2. Tidak Tamat SD ,27 3. Tamat SD ,96 4. Tamat SLTP ,24 5. Tamat SMU ,46 6. Tamat Akademi 237 1,16 7. Tamat Perguruan Tinggi 157 0,77 Jumlah Sumber: AMDAL Pengembangan Gas Matindok PPGM, 2008 e. Kesempatan kerja Selama kurun waktu jumlah pencari kerja di Kabupaten Banggai mengalami peningkatan (Tabel 3.23). Tabel Banyaknya Pencari Kerja yang Terdaftar Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun di Kabupaten Banggai Tingkat Pendidikan LK PR JML LK PR JML LK PR JML SD SLTP SLTA Diploma Sarjana Jumlah Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka 2010 Penyediaan lapangan pekerjaan masih sangat terbatas (Tabel 3.24). Hal ini pada akhirnya akan terus meningkatkan jumlah pengangguran yang ada. Jumlah pencari kerja dengan tingkat pendidikan yang paling dominan adalah lulusan SLTA dengan kecenderungan ini relatif sama dari tahun ke tahun. Tabel Banyaknya Pencari Kerja, Penempatan dan Permintaan Menurut Jenis Kelamin Tahun Di Kabupaten Banggai Uraian Laki Perempuan Jumlah Laki Perempuan Jumlah Laki Perempuan Jumlah Pencari kerja Penempatan Permintaan Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka 2005 Penempatan tenaga kerja selama tahun 2005 mengalami peningkatan sekitar 24,45% dibandingkan tahun 2004 dengan persentase 41,56% laki laki dan 58,44% perempuan. III 27

92 Rona Lingkungan Hidup Meskipun penempatan tenaga kerja mengalami peningkatan selama tahun 2005, namun penempatan yang ada relatif masih kecil yakni sebesar 10,47% dibandingkan dengan jumlah pencari kerja yang ada. Hal ini terkait dengan kesempatan kerja yang juga relatif sangat terbatas. Kenyataan tersebut didukung oleh sekitar 85% responden yang menyatakan bahwa di wilayahnya banyak pengangguran karena sulitnya mencari pekerjaan. Berdasarkan hal tersebut maka kesempatan kerja yang ada di wilayah studi termasuk dalam kriteria buruk Sosial Ekonomi a. Perekonomian Wilayah Perkembangan ekonomi Kabupaten Banggai secara umum cukup membaik dimana pertumbuhannya meningkat dengan cukup meyakinkan pada lima tahun terakhir ini. PDRB tahun 2009 berdasarkan harga berlaku sebesar Rp , sedangkan berdasarkan harga konstan (2000) mencapai Rp ,. Berdasarkan perkembangan distribusi PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan terdapat tiga sektor ekonomi yang mempunyai peran terbesar dalam pembentukan PDRB. Kabupaten Banggai, berdasarkan peranan masing masing menunjukkan sektor pertanian merupakan sektor dominan dalam pembentukan PDRB Kabupaten Banggai dengan peranan sebesar 51,81 persen, sedangkan sektor jasa berada pada urutan kedua dengan peranan sebesar 11,16 persen. Untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran berada pada urutan ketiga dengan peranan sebesar 9,28 persen. Sektor lainnya yang cukup dominan seperti sektor industri, bangunan, dan keuangan, persewaan dan jasa perusahaan masing masing mempunyai peranan 6,73 persen, 6,43 persen dan 5,08 persen terhadap total PDRB Kabupaten Banggai. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banggai tahun 2009 mencapai 8,73 persen lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya. Sektor yang mengalami pertumbuhan yang paling tinggi dibandingkan tahun sebelumnya adalah sektor penggalian yang mencapai pertumbuhan 96,29 persen, kenaikannya lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan pertumbuhan pada sektor penggalian disebabkan meningkatnya produksi penggalian yang terjadi sehingga nilai tambah bruto pada sektor penggalian meningkat. Adapun sektor lainnya seperti sektor pertanian mencapai pertumbuhan 7,11 persen. Sektor bangunan mencapai pertumbuhan 8,21 persen. Sektor industri pengolahan mencapai pertumbuhan 7,17 persen. Sektor perdagangan, hotel dan restoran mencapai pertumbuhan 8,59 persen. Sektor angkutan mencapai pertumbuhan 8,95 persen, sedangkan sektor listrik dan air bersih 10,24 persen, sektor keuangan 11,09 persen dan sektor jasa jasa pertumbuhannya meningkat sebesar 6,36 persen. Perkembangan PDRB Perkapita tahun 2009 atas dasar harga berlaku mencapai Rp , sedangkan berdasarkan harga konstan (2000) mencapai Rp ,. b. Mata pencaharian dan Tingkat Pendapatan Mata pencaharian penduduk di desa lokasi studi bertumpu pada sektor pertanian (tanaman pangan, perkebunan), sehingga pekerjaan penduduk didominasi oleh buruh petani dan buruh tani, pedagang dan lainnya (Tabel 3.25). III 28

93 Rona Lingkungan Hidup Tabel Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Batui Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%) 1. Pertanian ,74 2. Pertambangan/penggalian Industri kerajinan 105 0,90 4. Listrik, gas dan air 6 0,05 5. Konstruksi 98 0,84 6. Perdagangan 293 2,52 7. Angkutan 109 0,94 8. Jasa Pegawai ABRI/POLRI Swasta 0 0 Jumlah Sumber: AMDAL Pengembangan Gas Matindok PPGM, 2008 Hasil survei mata pencaharian responden di lokasi studi dapat dilihat pada Tabel dan Gambar Tabel Mata Pencaharian Responden di Lokasi Studi Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%) 1. Pertanian (sawah) 17 54,84 2. Perkebunan 5 16,13 3. Nelayan 1 3,23 4. Pegawai Swasta 2 6,45 5. Lainnya 6 19,35 Jumlah Sumber: hasil survei/wawancara tim PPLH IPB, 2011 A B Gambar Mata Pencaharian di Sektor Perkebunan Kelapa (A) dan Sektor Perikanan Tangkap di Laut (B) Penduduk yang berusaha di bidang pertanian, sebagai buruh tani mempunyai pendapatan Rp , hingga Rp , per minggu. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan umumnya bermukim di pinggir pantai dan rata rata melaut hanya 4 sampai 5 hari per minggu. Pendapatan mereka berkisar antara Rp , hingga Rp ,. Selengkapnya pendapatan responden baik dari mata pencaharian utama maupun sambilan dapat dilihat pada Tabel dan Tabel III 29

94 Rona Lingkungan Hidup Untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya sehari hari, sebagian besar masyarakat tidak mengandalkan pada mata pencaharian utama. Hal ini berarti masyarakat mempunyai pekerjaan sampingan. Sebagai contoh disamping berusaha sebagai nelayan, kadang kadang juga bekerja sebagai buruh tani, di samping bekerja sebagai petani juga berusaha dibidang perdagangan (warung). Hal tersebut mencerminkan bahwa masyarakat di lokasi studi mempunyai pola nafkah ganda. Dari hasil wawancara mendalam, di lokasi studi tidak pernah sampai terjadi rawan pangan (kelaparan). Tabel Tingkat Pendapatan Utama Responden di Lokasi Studi Pendapatan (Rp/bulan) Jumlah Persentase (%) 1. Rp ,81 2. Rp Rp ,81 3. Rp Rp ,13 4. Rp Rp , ,45 Jumlah Sumber: hasil survei/wawancara tim PPLH IPB, 2011 Tabel Tingkat Pendapatan Sambilan Responden di Lokasi Studi Pendapatan (Rp/bulan) Jumlah Persentase (%) 1. Rp ,33 2. Rp Rp ,3 3. Rp Rp ,67 4. Rp Rp , Jumlah Sumber: hasil survei/wawancara tim PPLH IPB, Sosial Budaya a. Nilai dan Norma Budaya Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat serangkaian konsep yang ada dalam alam pikiran dari sebagian besar warga masyarakat, mengenai apa yang dianggap penting dan bernilai dalam hidup. Sistem nilai dan norma budaya telah dimiliki individu sejak kecil dalam mentalitasnya. Kondisi ini terjadi pula di masyarakat sekitar lokasi kegiatan yang penduduknya berlatar belakang berbagai budaya akibat banyaknya pendatang yang masuk di wilayah ini. Suku asli di Kabupaten Banggai yaitu Suku Saluan, Suku Toili, Suku Banggai dan Suku Balantak, sedangkan suku pendatang yang ada di wilayah ini antara lain adalah Suku Bugis. b. Proses Sosial Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat keinginan untuk berinteraksi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Hubungan yang bersifat dinamis tersebut tertata dalam bentuk tindakan tindakan yang berdasarkan nilai nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Wujud dari interaksi tersebut dapat berupa kerjasama apabila tindakan tindakan yang dilakukan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. III 30

95 Rona Lingkungan Hidup Interaksi sosial yang terwujud dalam bentuk kerjasama diantaranya adalah gotongroyong. Jenis kegiatan bersama yang paling banyak dilakukan oleh responden adalah kegiatan keagamaan diantaranya dengan mengikuti pengajian rutin, ceramah keagamaan dan pemahaman kitab suci. Kegiatan bersama lainnya yang cukup menonjol adalah kegiatan ormas, arisan dan saling tukar informasi atau berita. Selain kerja sama warga masyarakat dalam berbagai aktivitas sehari hari, begitu pula yang terjadi sebaliknya yaitu adanya konflik yang umumnya relatif kecil. Kalaupun ada konflik umumnya terkait dengan masalah pemuda/remaja, masalah keluarga masalah tanah dan perselisihan antar kampung atau suku. Namun berbagai konflik yang ada tersebut pada umumnya dapat diselesaikan dengan baik. Sifat masyarakat di wilayah studi juga cenderung terbuka ditandai dengan bentuk penerimaan masyarakat yang ramah terhadap pendatang baru. Hal ini terkait dengan berbagai aktivitas di sekitar lokasi kegiatan yang berimplikasi dengan adanya sejumlah pendatang dari luar daerah. Masyarakat umumnya berpendapat bahwa banyak pendatang di daerah mereka, bahkan warga pendatang (Bugis) ada menjadi Aparat Desa, seperti di Desa Masing dan Desa Kayowa Transportasi Darat Dari kajian Amdal dapat diinformasikan bahwa tingkat kerusakan jalan dan jembatan jalan sangat dipengaruhi oleh tingkat pembebanan lalu lintas. Mengingat kelas jembatan mengikuti kelas jalan, sehingga beban lalu lintas yang lewat perlu mendapatkan perhatian, khususnya lalu lintas angkutan material yang membawa pipa pipa baja. Kondisi jembatan yang ada pada umumnya masih baik (relatif baru), sehingga dikategorikan memiliki skala kualitas lingkungan masih baik. Untuk jaringan jalan yang ada, sangat bervariasi pada masing masing penggal/ruas jalan. Kondisi masing masing ruas jalan adalah: Kategori baik, yaitu ruas jalan dari Luwuk Kintom Batui Kategori sedang (sudah mulai menunjukkan kerusakan yang parah): ruas Batui Toili Toili Barat Kondisi arus lalulintas yang perlu dicermati adalah kondisi lalulintas harian di wilayah studi. Kajian AMDAL terdahulu menunjukkan bahwa jenis kendaraan yang melewati ruas jalan terdiri dari (Tabel 3.29) : LV (Light Vehicle) : Kendaraan ringan (Mobil penumpang pribadi, angkot, pick up) HV (Heavy Vehicle) : Kendaraan berat (bus besar, truk besar) MHV (Medium Heavy Vehicle) : Kendaraan sedang (bus sedang, truk sedang) MC (Motor Cycle) : Sepeda motor Tabel Volume Arus Lalulintas Kendaraan Kintom Batui Jenis Kendaraan Waktu HV MHV LV Jumlah SM BB TB BS TS AU MP III 31

96 Rona Lingkungan Hidup Jenis Kendaraan Waktu HV MHV LV Jumlah SM BB TB BS TS AU MP BB:Bus besar; BS:Bus sedang; TB:Truk Besar; S:Truk sedang; AU:Angkutan Umum; MP:Mobil Pribadi; SM:Sepeda Motor Sumber: AMDAL Pengembangan Gas Matindok PPGM, 2008 Hasil pengamatan sesaat selama 30 menit kondisi lalu lintas di Simpang Kini Kini yang merupakan simpang jalan menuju lokasi kegiatan disajikan pada Tabel dan kondisinya disampaikan pada Gambar Tabel Jenis dan Frekuensi Kendaraan yang Melewati Simpang Kini Kini No. Jenis Kendaraan Arah ke Luwuk Arah ke Toili 1 Mobil pribadi Truk sedang Tangki BBM 1 4 Truk besar 1 5 Pick up terbuka Angkutan umum Sepeda motor Sepeda 1 9 Traktor 1 Sumber: hasil survei/pengamatan tim PPLH IPB, 2011 Gambar Moda Tranportasi di Simpang Kini Kini Sikap dan Persepsi Masyarakat Sikap dan persepsi masyarakat merupakan bentuk respon individu atau kelompok dalam memberi makna dan nilai terhadap sesuatu. Sehubungan dengan keberadaan Pertamina EP dan adanya rencana kegiatan. Sebagian besar masyarakat (96,77 %) sudah tahu tentang keberadaan Pertamina EP. Pendapat responden tentang keberadaan Pertamina EP selama ini banyak positifnya dengan alasan dapat membuka jalan (meningkatkan aksesibilitas), ada anggota keluarga yang bekerja. Berkaitan dengan rencana kegiatan yang akan dilakukan Pertamina EP, semua responden menyatakan tidak tahu. Dengan adanya rencana kegiatan mereka berharap antara lain perlu adanya sosialisasi, pengelolaan lingkungan bila ada dampak negatif (Tabel dan Tabel 3.32). III 32

97 Rona Lingkungan Hidup Tabel Sikap dan Persepsi Responden Terhadap Keberadaan Pertamina EP Persentase (%) No. Pengetahuan dan Sikap Responden Terhadap Rencana Proyek Frekuensi 1. Pengetahuan terhadap rencana proyek: Tahu rencana proyek 30 96,77 Tidak tahu rencana proyek 1 3,23 Jumlah Sumber informasi tentang rencana proyek: Tahu sendiri 6 20 Pemrakarsa, saat sosialisasi 6 20 Pengumanan, brosur 2 6,67 Saudara, Teman 10 33,33 Aparat Pemerintah 6 20 Jumlah ,00 3. Pendapatan Responden tentang keberadaan Pertamina selama ini: Banyak positifnya Banyak negatifnya Tidak tahu ,60 0 Jumlah 31 19,40 Tabel Sikap dan Persepsi Responden Tentang Rencana Kegiatan No. Pengetahuan dan Sikap Responden Terhadap Rencana Proyek Frekuensi 1. Pengetahuan terhadap rencana proyek: Tahu rencana proyek 0 0 Tidak tahu rencana proyek 31 Jumlah Harapan atau hal yang seharusnya dilakukan Pertamina sehubungan dengan rencana kegiatan. Melakukan sosialisasi Terbuka dalam memberikan informasi tenaga kerja yang dibutuhkan Terbuka bila ada kejadian yang tidak diharapkan Mengelola permasalahan lingkungan (dampak negatif) dengan baik dan bertanggung jawab Terbuka dalam memberikan ganti rugi yang layak Memperbaiki keamanan/lingkungan Lainnya (antara lain tidak mengganggu aktivitas pertanian, nelayan, melakukan pemberdayaan masyarakat) Persentase (%) 18,38 18,38 15,40 16,91 14, ,24 4 2,94 Jumlah Persepsi yang diperoleh dari diskusi mendalam dengan tokoh masyarakat dapat diuraikan sebagai berikut : Selama ini tidak ada klaim dari masyarakat terhadap kegiatan Pertamina EP. Masyarakat pada dasarnya sudah tidak asing lagi dengan adanya Pertamina EP, yakni adanya aktivitas pemboran, adanya sumur gas, dan adanya rambu rambu larangan, Sehubungan dengan adanya rencana pengembangan, masyarakat menyatakan tidak keberatan, karena mereka berharap kegiatan Pertamina EP segera dilakukan, sehingga dapat menyerap tenaga kerja, meningkatkan perekonomian lokal dan melaksanakan program CSR. III 33

98 Rona Lingkungan Hidup Komunikasi dan koordinasi antara Pertamina EP dengan Pemerintah Desa/Kecamatan selama ini berjalan dengan baik. Apabila dilakukan pembebasan lahan, sebaiknya Pertamina EP menerapkan harga yang sama untuk setiap penduduk di setiap desa. Bila adanya perbedaan harga, maka hal ini akan berakibat adanya konflik. Di samping itu, cara mekanisme pembebasan termasuk pembayarannya dilakukan langsung oleh Pertamina EP yang dimediasi pemerintah dan jangan melalui pihak ketiga (calo). Kekhawatiran masyarakat terutama adalah pencemaran terhadap sungai Kayowa, mengingat selama ini sungai tersebut digunakan oleh penduduk untuk mandi, air minum, mencuci kendaraan, hewan ternak, irigasi pertanian dan tempat menangkap ikan ikan sungai (seperti tawes dan udang sungai) Komponen Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sumberdaya Kesehatan Pembangunan dibidang kesehatan bertujuan agar semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. Tujuan tersebut bisa dicapai bila sarana kesehatan telah merata sampai ditingkat kecamatan dan desa, disamping unsur tenaga medis/para medis serta obat obatan telah mencukupi pula. Di Kabupaten Banggai, meskipun hanya Kecamatan Luwuk yang mempunyai rumah sakit dan rumah sakit bersalin, namun di kecamatan lain telah terdapat puskesmas, puskesmas pembantu dan posyandu sebagai tempat untuk melayani kesehatan masyarakat, seperti terlihat pada Tabel 3.33 s.d Tabel Tabel Nama Rumah Sakit dan Klinik Menurut Status di Kabupaten Banggai No. Nama rumah sakit dan klinik Alamat Status Jumlah Tempat Tidur 1 Rumah Sakit Umum Jl. Imam Bonjol No. 14 Pemerintah Daerah Luwuk Luwuk Tipe C Rumah Sakit Bersalin Jl. RA Kartini No. 25 Irenne Luwuk swasta 13 3 Klinik Bersalin Kartini Jl. RA Kartini Luwuk Swasta 4 Klinik Polres Banggai Jl. Sungai Batui Soho Milik POLRI 5 Klinik Kodim 1308 LB Jl. Samratulangi Bungin Milik TNI Sumber : Kabupaten Banggai Dalam Angka 2010 Tabel Banyaknya Fasilitas Kesehatan Menurut Kecamatan di Kabupaten Banggai No Kecamatan Rumah Puskesmas Puskesmas Puskesmas Sakit pembantu Keliling Pos yandu 1 Toili Toili Barat Batui Bunta Nuhon Kintom Luwuk Luwuk Timur Pagimana Bualemo Lamala III 34

99 Rona Lingkungan Hidup No Kecamatan Rumah Puskesmas Puskesmas Puskesmas Sakit pembantu Keliling Pos yandu 12 Masama Balantak Jumlah Sumber : Kabupaten Banggai Dalam Angka 2010 Tabel Banyaknya Tenaga Kesehatan di Kabupaten Banggai No Uraian dr. Umum dr. Speialis dr. Gigi Apoteker Asisten Apoteker Bidan Akper Perawat SPPH/AKL Sanitasi Giji Perawat Gigi SMAK Sumber : Kabupaten Banggai Dalam Angka 2010 III 35

100 Rona Lingkungan Hidup Tabel Banyaknya Penderita Menurut Jenis Penyakit di Kabupaten Banggai Uraian 2005 Prevalensi 2006 Prevalensi 2007 Prevalensi 2008 Prevalensi 2009 Prevalensi Saluran Pernapasan Malaria tanpa Pemeriksaan lab Penyakit Kulit dan jaringan Bawah Kulit Bronchitis Influensa Diare Tukak lambung Anemia , Conjungtivitas TBC Paru Klinis/Suspek TBC Tekanan Darah Tinggi Penyakit Kulit karena Jamur Penyakit pada Pembuluh Darah Scabies Asma Karioes Gigi Penyakit Gusi dan Periodental Penyakit Lain/Keadaan lain Pneumonia Monalisis Sromatis Penyakit pada Telinga Sumber : Kabupaten Banggai Dalam Angka 2010 III 36

PT. PERTAMINA EP - PPGM KATA PENGANTAR

PT. PERTAMINA EP - PPGM KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia menyebutkan bahwa segala bentuk rencana usaha dan/atau kegiatan yang memberikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan diharuskan

Lebih terperinci

Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PT. PERTAMINA EP merencanakan akan mengembangkan lapangan gas yang terletak di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Untuk merealisasikan kegiatan tersebut,

Lebih terperinci

BBM dalam negeri. Proyek ini diharapkan akan beroperasi pada tahun 2009.

BBM dalam negeri. Proyek ini diharapkan akan beroperasi pada tahun 2009. Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dengan ditemukannya lapangan gas baru, PT. PERTAMINA EP merencanakan akan mengembangkan lapangan gas yang terletak di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Akhirnya diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran proses penyusunan laporan ini.

KATA PENGANTAR. Akhirnya diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran proses penyusunan laporan ini. KATA PENGANTAR Penekanan tentang pentingnya pembangunan berwawasan lingkungan tercantum dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup dan peraturan pelaksanaannya dituangkan

Lebih terperinci

Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PT PERTAMINA EP - PPGM Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PT. PERTAMINA EP merencanakan akan mengembangkan lapangan gas yang terletak di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Untuk merealisasikan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Penyusunan ANDAL, RKL dan RPL kegiatan ini mengacu Peraturan Menteri Negara Lingkungan

KATA PENGANTAR. Penyusunan ANDAL, RKL dan RPL kegiatan ini mengacu Peraturan Menteri Negara Lingkungan KATA PENGANTAR Penekanan tentang pentingnya pembangunan berwawasan lingkungan tercantum dalam Undang-Undang No. 23 tahun1997 mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup dan peraturan pelaksanaannya dituangkan

Lebih terperinci

PT. PERTAMINA EP - PPGM KATA PENGANTAR

PT. PERTAMINA EP - PPGM KATA PENGANTAR PT. PERTAMINA EP - PPGM KATA PENGANTAR Peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia menyebutkan bahwa segala bentuk rencana usaha dan/atau kegiatan yang memberikan dampak besar dan penting terhadap

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Pengelolaan Lingkungan Berdasarkan ketentuan umum dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang dimaksud dengan pengelolaan hidup adalah upaya

Lebih terperinci

H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP - 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP 1. Pengendalian Dampak Lingkungan 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 1. Menetapkan kebijakan mengenai pengelolaan Limbah

Lebih terperinci

- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP - 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG PEMERINTAH 1. Pengendalian Dampak Lingkungan 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 1. Menetapkan

Lebih terperinci

H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP - 216 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP 1. Pengendalian Dampak Lingkungan 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 1. Menetapkan kebijakan mengenai pengelolaan Limbah

Lebih terperinci

RKL Proyek Pengembangan Gas Matindok Hulu -2

RKL Proyek Pengembangan Gas Matindok Hulu -2 Lampiran 1a. Matriks Rencana Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hulu (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) Tujuan Rencana Institusi 1. KUALITAS UDARA Penurunan kualitas

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tersebut merupakan kebutuhan yang esensial bagi keberlangsungan hidup

BAB 1 PENDAHULUAN. tersebut merupakan kebutuhan yang esensial bagi keberlangsungan hidup BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui. Sumber daya alam tersebut merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN, UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN

Lebih terperinci

Lokasi. Jangka Waktu/ Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan

Lokasi. Jangka Waktu/ Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan PERTAMINA EP -PPGM Tabel 8.1. Matriks Rencana Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hulu (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) Tujuan Hidup Rencana Frekuensi Institusi

Lebih terperinci

Bab-2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP

Bab-2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Bab-2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP 2.1. BAGIAN HULU 2.1.1. Kualitas Udara A. Tahap Konstruksi Kualitas udara (SO 2, CO, dan debu ) Menurunnya kualitas udara. Emisi gas buang dan debu dari kegiatan

Lebih terperinci

A M D A L (ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN)

A M D A L (ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN) A M D A L (ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN) PENGERTIAN, MANFAAT DAN PROSES Dr. Elida Novita, S.TP, M.T Lab. Teknik Pengendalian dan Konservasi Lingkungan Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

Dasar Hukum yang Digunakan dalam Penyusunan Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Dasar Hukum yang Digunakan dalam Penyusunan Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Dasar Hukum yang Digunakan dalam Penyusunan Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Beberapa peraturan yang berhubungan dengan penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Lebih terperinci

DAFTAR PERATURAN Versi 31 Agustus 2012

DAFTAR PERATURAN Versi 31 Agustus 2012 I. UNDANG-UNDANG DAFTAR PERATURAN Versi 31 Agustus 2012 1. Undang-undang Republik Indonesia No.8 Tahun 1981 Tentang Kitab Hukum Undang-undang Acara Pidana (KUHP) 2. Undang-undang Republik Indonesia No.5

Lebih terperinci

C. BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN

C. BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN C. BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN 1 2 3 1. Pengendalian Dampak 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 2. Analisis Mengenai Dampak (AMDAL) 3. Pengelolaan Kualitas

Lebih terperinci

Bab-2 RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

Bab-2 RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN Bab-2 RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN 2.1. IDENTITAS PEMRAKARSA DAN PENYUSUN ANDAL 2.1.1. Pemrakarsa A. Nama Perusahaan Nama Perusahaan : PT. PERTAMINA EP - Proyek Pengembangan Gas Matindok Alamat Kantor

Lebih terperinci

BARANG TAMBANG INDONESIA II. Tujuan Pembelajaran

BARANG TAMBANG INDONESIA II. Tujuan Pembelajaran K-13 Geografi K e l a s XI BARANG TAMBANG INDONESIA II Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami kegiatan pertambangan. 2. Memahami

Lebih terperinci

BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 46 TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 46 TAHUN 2008 TENTANG BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 46 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT DI LINGKUNGAN KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 DAFTAR ISI A. SUMBER DAYA ALAM Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 Tabel SD-3 Luas Kawasan Lindung berdasarkan RTRW dan

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS SERTA PANAS BUMI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso KATA PENGANTAR Sebagai upaya mewujudkan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif, efisien dan sistematis guna menunjang pembangunan daerah dan mendorong perkembangan wilayah

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001 Tentang : Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Menimbang : MENTERI NEGARA

Lebih terperinci

H. URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

H. URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP LAMPIRAN VIII PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR : Tahun 2010 TANGGAL : Juli 2010 H. URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URUSAN 1. Pengendalian Dampak 1. Pengelolaan

Lebih terperinci

DAFTAR PERATURAN PERUNDANGAN LINGKUNGAN HIDUP

DAFTAR PERATURAN PERUNDANGAN LINGKUNGAN HIDUP DAFTAR PERATURAN PERUNDANGAN LINGKUNGAN HIDUP #5 tgl. 21 Aug 2003 Arie Pujiwati PT. BENEFITA UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup ANALISIS

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Bogor, 08 Desember 2015 Walikota Bogor, Dr. Bima Arya Sugiarto

KATA PENGANTAR. Bogor, 08 Desember 2015 Walikota Bogor, Dr. Bima Arya Sugiarto WALIKOTA BOGOR KATA PENGANTAR Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan perlu didukung data dan informasi lingkungan hidup yang akurat, lengkap dan berkesinambungan. Informasi

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2011-2031 I. UMUM 1. Faktor yang melatarbelakangi disusunnya Rencana Tata Ruang

Lebih terperinci

SIH Standar Industri Hijau

SIH Standar Industri Hijau SIH Standar Industri INDUSTRI SEMEN PORTLAND Daftar isi Daftar isi... 1 Prakata... 2 1 Ruang Lingkup... 3 2 Acuan Normatif... 3 3 Definisi... 3 4 Simbol dan Singkatan Istilah... 4 5 Persyaratan Teknis...

Lebih terperinci

DOKUMEN AMDAL : KA ANDAL DAN ANDAL (REVIEW)

DOKUMEN AMDAL : KA ANDAL DAN ANDAL (REVIEW) DOKUMEN AMDAL : KA ANDAL DAN ANDAL (REVIEW) DOKUMEN AMDAL Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) Rencana

Lebih terperinci

Bab-4 RUANG LINGKUP STUDI

Bab-4 RUANG LINGKUP STUDI Bab-4 RUANG LINGKUP STUDI 4.1. DAMPAK PENTING YANG DITELAAH Pada dasarnya dampak penting yang ditelaah dalam dokumen ANDAL ini adalah sama dengan dampak-dampak hasil pelingkungan dampak hipotetis dan prioritas

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 129 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU EMISI USAHA DAN ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 129 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU EMISI USAHA DAN ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI S A L I N A N KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 129 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU EMISI USAHA DAN ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP; Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

BUPATI BOMBANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOMBANA NOMOR 2 TAHUN 2011

BUPATI BOMBANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOMBANA NOMOR 2 TAHUN 2011 BUPATI BOMBANA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOMBANA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PERIZINAN, PERSETUJUAN DAN REKOMENDASI KEGIATAN USAHA MINYAK DAN GAS BUMI DI DAERAH KABUPATEN BOMBANA

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya; Lampiran III : Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor : 21 Tahun 2012 Tanggal : 20 Desember 2012 Tentang : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BULUKUMBA TAHUN 2012 2032 KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara A. Dasar Pemikiran Sejak satu dasawarsa terakhir masyarakat semakin

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang : a. bahwa air tanah mempunyai

Lebih terperinci

PIL (Penyajian Informasi Lingkungan)

PIL (Penyajian Informasi Lingkungan) PIL (Penyajian Informasi Lingkungan) PIL adalah suatu telaah secara garis besar tentang rencana kegiatan yang akan dilakukan atau diusulkan yang kemungkinan menimbulkan dampak lingkungan dari kegiatan

Lebih terperinci

Lokasi. Jangka Waktu/ Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan

Lokasi. Jangka Waktu/ Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan Lampiran 1a. Matriks Rencana Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hulu (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) Tujuan Hidup Rencana Frekuensi Institusi 1. KUALITAS

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

2016, No Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahu

2016, No Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahu BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 1130, 2016 KEMEN-ESDM. Kilang Minyak. Skala Kecil. Pembangunan. Pelaksanaan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2016

Lebih terperinci

RANCANGAN GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH

RANCANGAN GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH RANCANGAN GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang

Lebih terperinci

ABSTRAKSI DOKUMEN AMDAL

ABSTRAKSI DOKUMEN AMDAL ABSTRAKSI DOKUMEN AMDAL PEMRAKARSA NAMA DOKUMEN PT. ASIATIC PERSADA Kegiatan Perkebunan Kelapa Sawit dan Pabrik Pengolahannya NO. PERSETUJUAN & TANGGAL Komisi Penilai AMDAL Propinsi Jambi Nomor:274/2003,

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1429, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Dana Alokasi Khusus. Pemanfaatan. Petunjuk Teknis. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09 TAHUN 2013

Lebih terperinci

9 BAB I 10 PENDAHULUAN. minyak, yang dimiliki oleh berbagai perusahaan minyak baik itu milik pemerintah

9 BAB I 10 PENDAHULUAN. minyak, yang dimiliki oleh berbagai perusahaan minyak baik itu milik pemerintah 9 BAB I 10 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak lokasi pengolahan minyak, yang dimiliki oleh berbagai perusahaan minyak baik itu milik pemerintah maupun

Lebih terperinci

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR: 3 0.? TJLHUN 200o

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR: 3 0.? TJLHUN 200o BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR: 3 0.? TJLHUN 200o TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PURWOREJO BUPATI PURWOREJO, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

3.4.2. Status Gizi Masyarakat

3.4.2. Status Gizi Masyarakat Rona Lingkungan Hidup 3.4.2. Status Gizi Masyarakat Status Gizi merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat dalam upaya pencapaian Indonesia sehat 2010. Status gizi masyarakat

Lebih terperinci

BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA

BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... iii Daftar Tabel... vi Daftar Gambar... ix Daftar Grafik... xi BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA A. LAHAN DAN HUTAN... Bab I 1 A.1. SUMBER

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sumber daya alam yang bersifat mengalir (flowing resources), sehingga

I. PENDAHULUAN. sumber daya alam yang bersifat mengalir (flowing resources), sehingga I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sungai menjadi salah satu pemasok air terbesar untuk kebutuhan mahluk hidup yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Sungai adalah sumber daya alam yang bersifat

Lebih terperinci

(Pendugaan Dampak, Pegelolaan Dampak dan Pemantauan) Dosen: Dr. Tien Aminatun

(Pendugaan Dampak, Pegelolaan Dampak dan Pemantauan) Dosen: Dr. Tien Aminatun (Pendugaan Dampak, Pegelolaan Dampak dan Pemantauan) Dosen: Dr. Tien Aminatun AMDAL mrp alat utk merencanakan tindakan preventif thd kerusakan lingk yg akan ditimbulkan oleh suatu aktivitas pembangunan

Lebih terperinci

BUKU DATA STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SURABAYA 2012 DAFTAR TABEL

BUKU DATA STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SURABAYA 2012 DAFTAR TABEL DAFTAR TABEL Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-1A. Perubahan Luas Wilayah Menurut Penggunaan lahan Utama Tahun 2009 2011... 2 Tabel SD-1B. Topografi Kota Surabaya...

Lebih terperinci

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MEMTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1451 K/10/MEM/2000 TENTANG

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MEMTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1451 K/10/MEM/2000 TENTANG MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MEMTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1451 K/10/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN DI BIDANG

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam

I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan minyak bumi dan gas alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam strategis tidak terbarukan,

Lebih terperinci

Jangka Waktu/ Lokasi. Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan. Kompleks kilang LNG dan pelabuhan khusus

Jangka Waktu/ Lokasi. Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan. Kompleks kilang LNG dan pelabuhan khusus Lampiran 1b. Matriks Rencana Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hilir (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) 1. KUALITAS UDARA Kualitas udara (SO 2, CO,dan debu)

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL)

PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) Lampiran II Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 08 Tahun 2006 Tanggal : 30 Agustus 2006 PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) A. PENJELASAN UMUM 1. Pengertian Yang dimaksud

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 129 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU EMISI USAHA DAN ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 129 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU EMISI USAHA DAN ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI S A L I N A N KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 129 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU EMISI USAHA DAN ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP; Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 92 IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 4.1. Kota Bekasi dalam Kebijakan Tata Makro Analisis situasional daerah penelitian diperlukan untuk mengkaji perkembangan kebijakan tata ruang kota yang terjadi

Lebih terperinci

<Lampiran> KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1451 K/10/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN

<Lampiran> KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1451 K/10/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1451 K/10/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN DI BIDANG PENGELOLAAN AIR BAWAH TANAH MENTERI ENERGI DAN

Lebih terperinci

Kerangka Acuan Kerja. Penyusunan AMDAL Pelabuhan Penyeberangan Desa Ketam Putih

Kerangka Acuan Kerja. Penyusunan AMDAL Pelabuhan Penyeberangan Desa Ketam Putih Kerangka Acuan Kerja Penyusunan AMDAL Pelabuhan Penyeberangan Desa Ketam Putih I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

OPTIMASI NILAI GAS ALAM INDONESIA

OPTIMASI NILAI GAS ALAM INDONESIA OPTIMASI NILAI GAS ALAM INDONESIA Prof. Indra Bastian, MBA, Ph.D, CA, CMA, Mediator PSE-UGM Yogyakarta,25 Agustus 2014 PRODUK GAS 1. Gas alam kondensat 2. Sulfur 3. Etana 4. Gas alam cair (NGL): propana,

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS SERTA PANAS BUMI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA PENCEMARAN Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau

Lebih terperinci

*14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

*14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Copyright (C) 2000 BPHN UU 7/2004, SUMBER DAYA AIR *14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG REKLAMASI DAN PASCATAMBANG PADA KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN TANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

TUGAS ESSAY EKONOMI ENERGI TM-4021 POTENSI INDUSTRI CBM DI INDONESIA OLEH : PUTRI MERIYEN BUDI S

TUGAS ESSAY EKONOMI ENERGI TM-4021 POTENSI INDUSTRI CBM DI INDONESIA OLEH : PUTRI MERIYEN BUDI S TUGAS ESSAY EKONOMI ENERGI TM-4021 POTENSI INDUSTRI CBM DI INDONESIA OLEH NAMA : PUTRI MERIYEN BUDI S NIM : 12013048 JURUSAN : TEKNIK GEOLOGI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2015 POTENSI INDUSTRI CBM DI INDONESIA

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENGELOLAAN AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN HULU MINYAK DAN GAS SERTA PANAS BUMI DENGAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Baku Mutu Air Limbah. Migas. Panas Bumi.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Baku Mutu Air Limbah. Migas. Panas Bumi. No.582, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Baku Mutu Air Limbah. Migas. Panas Bumi. PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG

Lebih terperinci

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II Bab II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, setiap satuan kerja perangkat Daerah, SKPD harus menyusun Rencana

Lebih terperinci

`BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH

`BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH `BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH URUSAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP (Urusan Bidang Lingkungan Hidup dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah (BAPEDAL) Aceh. 2. Realisasi Pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah lingkungan dapat dipastikan akan menimbulkan gangguan terhadap

BAB I PENDAHULUAN. masalah lingkungan dapat dipastikan akan menimbulkan gangguan terhadap BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan yang memanfaatkan sumber daya alam namun mengabaikan masalah lingkungan dapat dipastikan akan menimbulkan gangguan terhadap lingkungan dan komponennya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri minyak dan gas bumi (migas) di tanah air memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Hal ini dapat dilihat dari struktur perekonomian fiskal

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima

BAB I PENDAHULUAN. Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Bima BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sanitasi merupakan salah satu pelayanan dasar yang kurang mendapatkan perhatian dan belum menjadi prioritas pembangunan di daerah. Dari berbagai kajian terungkap bahwa

Lebih terperinci

Jangka Waktu/ Lokasi. Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan. Kompleks kilang LNG dan pelabuhan khusus

Jangka Waktu/ Lokasi. Institusi Pemantauan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan. Kompleks kilang LNG dan pelabuhan khusus Tabel 8.2. Matriks Rencana Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok (PPGM) Bagian Hilir (Tahap: Prakonstruksi, Konstruksi, Operasi dan Pasca Operasi) Jenis Parameter Indikator 1. KUALITAS UDARA Kualitas

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG URUSAN PEMERINTAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP YANG DAPAT DIDEKONSENTRASIKAN

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG URUSAN PEMERINTAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP YANG DAPAT DIDEKONSENTRASIKAN SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG URUSAN PEMERINTAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP YANG DAPAT DIDEKONSENTRASIKAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengelolaan Lingkungan Hidup Dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang disempurnakan dan diganti dengan Undang Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

TERMINAL JATIJAJAR KOTA DEPOK

TERMINAL JATIJAJAR KOTA DEPOK Jl. Tole Iskandar Komplek Ruko Sukmajaya No. 17 Telp. 021-77823891 Fax. 021-77823891 T O R Term Of Reference (T O R) KEGIATAN PENYUSUNAN DOKUMEN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (AMDAL) TERMINAL

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG,

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG, PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemanfaatan sumber daya alam

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP DAN SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN

Lebih terperinci

PPGM merupakan proyek yang penting bagi industri minyak dan gas bumi di Indonesia serta

PPGM merupakan proyek yang penting bagi industri minyak dan gas bumi di Indonesia serta Bab-1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PT. PERTAMINA EP merencanakan akan mengembangkan lapangan gas yang terletak di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Untuk merealisasikan kegiatan tersebut,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Gas alam sebagai salah sumber daya alam yang mempunyai manfaat. sangat banyak dalam menunjang berbagai sektor kehidupan manusia.

I. PENDAHULUAN. Gas alam sebagai salah sumber daya alam yang mempunyai manfaat. sangat banyak dalam menunjang berbagai sektor kehidupan manusia. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gas alam sebagai salah sumber daya alam yang mempunyai manfaat sangat banyak dalam menunjang berbagai sektor kehidupan manusia. Banyaknya manfaat dari sumber daya alam

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP DAN SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR SUBSTANSI DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR 1. 2.

DAFTAR ISI TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR SUBSTANSI DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR 1. 2. DAFTAR ISI Halaman: Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar LAMPIRAN I LAMPIRAN II LAMPIRAN III LAMPIRAN IV...... TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR 1. Umum 2. Lampiran 1a: Wilayah

Lebih terperinci

2 menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Rawa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 t

2 menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Rawa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 t BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.797, 2015 KEMEN PU-PR. Rawa. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

2017, No Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4435) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah No

2017, No Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4435) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah No No.116, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Kontrak Bagi Hasil Gross Split. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 08 TAHUN 2017 TENTANG KONTRAK

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dalam kerangka pembangunan nasional, pembangunan daerah merupakan bagian yang terintegrasi. Pembangunan daerah sangat menentukan keberhasilan pembangunan nasional secara

Lebih terperinci

Bab-4 PELAKSANA STUDI

Bab-4 PELAKSANA STUDI Bab-4 PELAKSANA STUDI 4.1. IDENTITAS PEMRAKARSA DAN PENYUSUN AMDAL 4.1.1. Pemrakarsa A. Nama Perusahaan Nama Perusahaan: PT. PERTAMINA EP - Proyek Pengembangan Gas Matindok Alamat Kantor : Gedung Pertamina,

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan PT Sejahtera Alam Energy adalah salah satu perusahaan di bidang pengembangan energi panas bumi yang memiliki wilayah kerja panas bumi di Baturraden,

Lebih terperinci

2016, No Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nom

2016, No Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nom No. 316, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Gas Bumi. Alokasi, Pemanfaatan dan Harga. Tata Cara. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggali dan mengolah sumber daya alam dengan sebaik-baiknya yang meliputi

BAB I PENDAHULUAN. menggali dan mengolah sumber daya alam dengan sebaik-baiknya yang meliputi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan pembangunan pada hakekatnya adalah kegiatan manusia dalam menggali dan mengolah sumber daya alam dengan sebaik-baiknya yang meliputi air, udara, tanah

Lebih terperinci

PERANAN MIGAS DALAM MENDUKUNG KETAHANAN ENERGI

PERANAN MIGAS DALAM MENDUKUNG KETAHANAN ENERGI PERANAN MIGAS DALAM MENDUKUNG KETAHANAN ENERGI Oleh : A. Edy Hermantoro Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas disampaikan pada : DISKUSI EVALUASI BLUE PRINT ENERGI NASIONAL PETROGAS DAYS 2010 Jakarta, 11

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Kata Pengantar. Daftar Isi. Daftar Tabel. Daftar Gambar

DAFTAR ISI. Kata Pengantar. Daftar Isi. Daftar Tabel. Daftar Gambar DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Daftar i ii iii vii Bab I Pendahuluan A. Kondisi Umum Daerah I- 1 B. Pemanfaatan Laporan Status LH Daerah I-10 C. Isu Prioritas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon

Lebih terperinci