BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
|
|
|
- Sonny Sudjarwadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi Kabupaten Lebak memiliki luas sebesar Ha (3.044,72 Km 2 ) dan memiliki batas administrasi sebagai berikut : Sebelah Utara : Kabupaten Serang dan Tangerang Sebelah Selatan : Samudera Indonesia Sebelah Barat : Kabupaten Pandeglang Sebelah Timur : Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi Secara administratif, pada tahun 2008 Kabupaten Lebak terdiri dari 28 kecamatan, 340 desa dan 5 kelurahan dengan luas rincian sebagai berikut : Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kab. Lebak Tahun 2008 No. Kecamatan Luas Wilayah (Ha) No. Kecamatan Luas Wilayah (Ha) 1 Malingping 9.217,00 15 Cipanas 8.788,70 2 Wanasalam ,00 16 Sajira ,00 3 Panggarangan ,00 17 Cimarga ,00 4 Bayah ,00 18 Cikulur 6.606,00 5 Cilograng ,00 19 Warunggunung 4.953,00 6 Cibeber ,00 20 Cibadak 4.134,00 7 Cijaku 9.134,00 21 Rangkasbitung 4.986,50 8 Banjarsari ,00 22 Maja 5.987,00 9 Cileles ,00 23 Curugbitung 7.255,00 10 Gunungkencana ,00 24 Cihara ,00 11 Bojongmanik 7.178,10 25 Cigemblong 5.831,00 12 Leuwidamar ,00 26 Cirinten 7.754,90 13 Muncang 8.498,00 27 Lebakgedong 5.004,30 14 Sobang ,00 28 Kalanganyar 2.555,50 Sumber : Peta Administrasi Kabupaten Lebak - Bappeda Kabupaten Lebak dan Bakosurtanal, 2007 Visualisasi wilayah administrasi dapat dilihat dalam peta wilayah Kabupaten Lebak sebagaimana gambar di bawah ini. II - 1
2 Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Lebak Sumber : Peta Administrasi Kabupaten Lebak - Bappeda Kabupaten Lebak dan Bakosurtanal, 2007 Secara geografis, Kabupaten Lebak berada pada posisi astronomis 6º18-7º00 Lintang Selatan dan 105º25-106º30 Bujur Timur, dengan Fisiografi lahan yang ada di wilayah Kabupaten Lebak yaitu lahan datar dan landai Ha, lahan bergelombang dan lahan berbukit Ha dan lahan pegunungan/curam Ha. Kabupaten Lebak memiliki kondisi topografi beragam. Untuk wilayah sepanjang Pantai Selatan memiliki ketinggian meter di atas permukaan laut (dpl), wilayah Lebak Tengah meter dpl dan wilayah Lebak Timur dengan puncaknya yaitu Gunung Sanggabuana dan Gunung Halimun meter dpl. Temperatur di sepanjang pantai dan perbukitan berkisar antara 20 0 C C, II - 2
3 sedangkan suhu di pegunungan dengan ketinggian di atas 400 m dpl antara 18 0 C C. Ketinggian dari permukaan laut setiap Ibu Kota Kecamatan di Kabupaten Lebak sangat beragam, yang tertinggi adalah Kecamatan Muncang dan Sobang (260 meter), yang terendah Kecamatan Bayah dan Cihara (3 meter), dengan Panjang garis pantai di Kabupaten Lebak 91,42 km. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.5 di bawah ini. No. Kecamatan Tabel 2.2 Kelompok Ketinggian Menurut Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Ketinggian dari Permukaan Laut (m) > Malingping Wanasalam Panggarangan Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Banjarsari Cileles Gunungkencana Bojongmanik Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Maja Curugbitung Cihara Cigemblong Cirinten Lebakgedong Kalanganyar Sumber : BPS Kab. Lebak, 2008 II - 3
4 Berdasarkan hidrologi, wilayah Kabupaten Lebak bersama anak-anak sungainya membentuk pola Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu (1) DAS Ciujung yang meliputi Sungai Ciujung, Sungai Cilaki, Sungai Ciberang, dan Sungai Cisimeut, (2) DAS Ciliman dan Cimadur yang meliputi Sungai Ciliman dengan anak sungainya, Sungai Cimadur, Sungai Cibareno, Sungai Cisiih, Sungai Cihara, Sungai Cipager, dan Sungai Cibaliung. Dalam upaya pengembangan wilayah, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lebak telah mengatur pola pemanfaatan ruang, yang meliputi : 1. Kawasan budidaya di Kabupaten Lebak mencakup luasan Ha yang terdiri dari : Kawasan budidaya pertanian (luas ha), yang meliputi pertanian lahan basah ( ha) dan pertanian lahan kering ( ha). Kawasan budidaya non pertanian (luas Ha), yang meliputi kawasan kawasan permukiman ( ha), kawasan industri (3.040 ha), kawasan pariwisata (4.050 ha). 2. Kawasan lindung dengan luas ha, meliputi : 1) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, pengembangan kawasan dikaitkan dengan fungsi hidrologis, mencakup lahan seluas ha (22,32 % dari luas total Kabupaten Lebak), terdiri dari : Kawasan hutan lindung (luas ha), berfungsi untuk mencegah terjadinya erosi, bencana banjir, sedimentasi, dan menjaga fungsi hidrologis tanah untuk menjamin ketersediaan unsur hara tanah, air tanah, dan air permukaan. Kawasan hutan lindung tersebar di Kecamatan Cipanas, Kecamatan Muncang, Kecamatan Sobang, Kecamatan Cijaku, Kecamatan Panggarangan, Kecamatan Cibeber, dan Kecamatan Bayah. Kawasan resapan air (luas ha), berfungsi untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. Kawasan resapan air adalah daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi yang berguna sebagai sumber air. Sebaran kawasan resapan air terdapat di Kecamatan Cipanas, Kecamatan Muncang, Kecamatan Sobang, Kecamatan Bojongmanik, Kecamatan Gunungkencana, Kecamatan Cijaku, II - 4
5 Kecamatan Panggarangan, Kecamatan Cilograng, Kecamatan Cibeber, dan Kecamatan Bayah. 2) Kawasan perlindungan setempat, kawasan lindung yang merupakan kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Lebak seluas Ha (3,7% dari luas total Kabupaten Lebak), terdiri dari : a. Sempadan pantai, adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Adapun sebaran sempadan pantai terdapat di Kecamatan Wanasalam, Malingping, Panggarangan, Cihara, Cibeber dan Kecamatan Bayah dengan panjang garis pantai sekitar 91,42 Km. b. Sempadan sungai, adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat Tabel 2.6 di bawah ini. c. Kawasan sekitar mata air, adalah kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air. Perlindungan terhadap kawasan sekitar mata air dilakukan untuk melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitamya, sedangkan kriteria kawasan lindung untuk kawasan mata air adalah sekurang-kurangnya dengan jarijari 200 meter di sekitar mata air. Arahan pengelolaan kawasan lindung sekitar mata air ini adalah sebagai berikut: Persawahan atau pertanian dengan jenis tanaman tertentu, dan perikanan masih diperkenankan keberadaanya pada kawasan ini; Tindakan konservasi yang dilakukan pada kawasan ini lebih bersifat vegetatif; II - 5
6 Kawasan sekitar mata air yang digunakan oleh PDAM dapat diberikan hak pakai. Tabel 2.3 Sebaran Sempadan Sungai No Nama Sungai Luas Kawasan Lindung (Ha) 1 Ciujung Ciberang Cisimeut Cidurian Cibeureum Cicinta 60 7 Ciliman Cibaliung Cibinuangeun Cilangkahan Cihara Cisiih Cimancek Cipager Cimadur Cidikt Cibareno Cisawarna Cipamungbulan 80 Jumlah Sumber: Dinas Kehutanan Kabupaten Lebak, ) Kawasan suaka alam dan cagar budaya, terdiri dari : Taman nasional (luas cakupan sebesar ha), adalah kawasan pelestarian alam yang di dalamnya terdapat jenis-jenis tumbuhan, satwa atau ekosistem yang khas, yang dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata dan rekreasi. Perlindungan terhadap taman nasional dilakukan untuk menjamin berlangsungnya fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, untuk pengembangan pendidikan, rekreasi dan pariwisata, serta peningkatan kualitas lingkungan sekitarnya dan perlindungan dari pencemaran. Taman nasional yang terdapat di Kabupaten Lebak adalah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, yang berada di wilayah II - 6
7 Kecamatan Cipanas, Lebakgedong, Sobang, Muncang dan Cibeber dengan luas ha (5,71 % dari luas total Kabupaten Lebak). Kawasan cagar budaya, adalah cagar budaya Masyarakat Baduy dengan luas sebesar ha atau 1,79% dari luas total Kabupaten Lebak. Kawasan cagar budaya adalah kawasan yang merupakan lokasi atau bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan geologi alami yang khas. Perlindungan terhadap kawasan cagar budaya dilakukan untuk melindungi kekayaan budaya bangsa berupa peninggalanpeninggalan sejarah dari ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia. Kriteria kawasan lindung untuk kawasan cagar budaya adalah tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai budaya situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Kawasan Ilmu Pengetahuan, diperuntukkan bagi kegiatan yang melindungi atau melestarikan budaya bangsa dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kawasan yang diperuntukan untuk kawasan Ilmu pengetahuan terdapat di sekitar wilayah pertambangan bersyarat. Sesuai dengan lokasinya diharapkan kawasan ilmu pengetahuan yang akan dikembangkan adalah Ilmu Pengetahuan berbasis pertambangan. Sebagai ilustrasi, salah satu jenis sebaran rencana pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Lebak, dapat dilihat pada gambar 2.2. berikut ini : II - 7
8 Gambar 2.2 Peta Rencana Kawasan Lindung Kabupaten Lebak BATAS WILAYAH BATAS KECAMATAN JALAN NASIONAL. JALAN PROPINSI JALAN KABUPATEN JALAN KERETA API GARIS LAUT KAWASAN RESAPAN AIR KAWASAN SEMPADAN MATA AIR KAWASAN SEMPADAN MATA AIR PANAS KAWASAN HUTAN LINDUNG JALAN SUNGAI KAWASAN SEMPADAN PANTAI KAWASAN BADUY KAWASAN RAWAN BENCANA KAWASAN ZONA MILITER Sumber: Revisi RTRW Kabupaten Lebak Tahun Luas kawasan Lindung atau kawasan yang mempunyai fungsi lindung di Kabupaten Lebak mencapai 31,93%. Luasan tersebut sangat proporsional untuk suatu wilayah dalam menjaga daya dukung lingkungan. Kondisi tersebut sesuai juga dengan amanat Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dimana suatu wilayah diharapkan mempunyai persentase luasan kawasan lindung sebesar 30%. Namun demikian, perlu kita sadari bahwa sampai saat ini pengelolaan kawasan lindung secara menyeluruh belum dapat dilaksanakan secara optimal, dikarenakan beberapa hal antara lain belum tersedianya database kawasan lindung secara komprehensif dan detail sehingga diperlukan inventarisasi dan pemetaan. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka mengantisipasi konflik kepentingan lahan, memelihara dan menjaga secara kualitas dan kuantitas kawasan lindung serta memberikan II - 8
9 kepastian status luas lahan dan batas yang jelas. Selain itu, kawasan lindung (di luar kawasan hutan) mempunyai nilai ekonomi sehingga mendorong masyarakat untuk mengeksploitasi (termasuk aktifitas pertanian) terlebih bagi yang tidak memiliki lahan. Grafik 2.1 Prosentase Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya 17,66% 20,97% 7,06% 3,48% Kawasan perlindungan setempat Kawasan Suaka alam & cagar budaya 50,41% 0,43% Kawasan Rawan Becana Pertanian Sumber : Bappeda Kabupaten Lebak Bila merujuk pada alokasi penggunaan lahan di atas, maka Kabupaten Lebak telah memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mensyaratkan bagi suatu wilayah untuk memiliki persentase kawasan lindung setidaknya 30% sehingga diharapkan daya dukung lingkungan akan terjaga. Grafik 2.1 juga menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi primemover bagi pengembangan wilayah, dibuktikan melalui pengalokasian penggunaan lahan yang mencapai 50% dari total luas kabupaten. Hal ini cukup beralasan, mengingat potensi pertanian yang ada di Kabupaten Lebak tersebar hampir di setiap kecamatan. Sektor non pertanian yang cukup menonjol di Kabupaten Lebak adalah sektor industri, pertambangan, dan pariwisata. Kawasan industri diarahkan pengembangannya di Kecamatan Rangkasbitung dan Maja yang memiliki potensi untuk tumbuh berkembangnya aglomerasi industri. Adapun kawasan pertambangan masih mengandalkan pada potensi penambangan emas di Kecamatan Cibeber, serta pertambangan batu bara dan bahan galian golongan A maupun golongan B di Kecamatan Bojongmanik, Banjarsari, Panggarangan dan Bayah. Sementara potensi II - 9
10 pariwisata yang diandalkan adalah pariwisata alam pantai, terutama di Kecamatan Malingping, Panggarangan, dan Bayah, serta potensi pariwisata budaya yang dapat ditemui pada masyarakat adat Cisungsang dan Citorek, serta masyarakat Baduy. Potensi wisata budaya lain yang cukup menjanjikan adalah beberapa peninggalan bersejarah seperti situs Kosala dan Cibedug. Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah, dapat diindentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam, yaitu 1) zonasi kerentanan gerakan tanah, maka kawasan rawan bencana alam di Kabupaten Lebak diidentifikasi seluas ha (0,95 % dari luas total Kabupaten Lebak). Adapun sebaran kawasan rawan bencana alam terdapat di Kecamatan Cipanas, Kecamatan Bayah, Kecamatan Bojongmanik, dan Kecamatan Leuwidamar. Pada kawasan dengan kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi, sebagaimana yang banyak terdapat di Kabupaten Lebak masih dimungkinkan adanya kantung-kantung daerah layak huni akan tetapi alangkah lebih baik bila kawasan seperti ini mendapat penelitian geologi teknik yang lebih rinci apabila akan dimanfaatkan; 2) Kawasan Rawan Banjir, Kawasan rawan bencana banjir sedapat mungkin tidak dipergunakan untuk permukiman, demikian pula kegiatan lain yang dapat merusak atau mempengaruhi kelancaran sistem drainase. Berdasarkan fakta di lapangan menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Kabupaten Lebak rawan terhadap bencana banjir, terutama di wilayah-wilayah sekitar bantaran sungai dan wilayah pantai. Jumlah penduduk Kabupaten Lebak pada tahun 2009 mencapai angka jiwa dengan sex ratio sebesar 104,65. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 tercatat bahwa penduduk Kabupaten Lebak berjumlah jiwa dengan rincian laki-laki dan perempuan. Mencermati perkembangan jumlah penduduk dalam sebelas tahun terakhir yang membentuk pola kuadratis (lihat Gambar 2.3) dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 1,84%, jumlah penduduk pada tahun tahun 2011 diperkirakan berjumlah jiwa dan akan mencapai jiwa pada tahun II - 10
11 Gambar 2.3 Jumlah Penduduk Kabupaten Lebak Tahun Sumber : Lebak Dalam Angka Tahun Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010, distribusi penduduk Kabupaten Lebak masih belum merata. Kecamatan Rangkasbitung masih menjadi tujuan utama penduduk untuk tinggal dan berusaha (9,69%), berikutnya Kecamatan Malingping (5,11%) dari total penduduk kabupaten. Gambaran ini menunjukkan adanya daya tarik yang lebih kuat di pusat-pusat wilayah pertumbuhan, khususnya di bagian utara dan selatan kabupaten. Selengkapnya mengenai distribusi penduduk untuk masing-masing kecamatan pada tahun 2010 dapat dilihat pada gambar 2.5 berikut : II - 11
12 Gambar 2.4 Jumlah Penduduk Kabupaten Lebak Dirinci Menurut Kecamatan Tahun 2010 RANGKASBITUNG MALINGPING CIMARGA CIBADAK BANJARSARI CIBEBER WARUNGGUNUNG WANASALAM MAJA LEUWIDAMAR CILELES CIKULUR SAJIRA CIPANAS BAYAH PANGGARANGAN GUNUNGKENCANA KALANGANYAR CILOGRANG MUNCANG CURUGBITUNG CIHARA SOBANG CIJAKU CIRINTEN LEBAKGEDONG BOJONGMANIK CIGEMBLONG Sumber : Lebak Dalam Angka Tahun 2010 Jika dilihat dari kepadatan penduduk, Kecamatan Rangkasbitung memiliki kepadatan penduduk jauh lebih besar dibanding kecamatan lain, secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut : II - 12
13 Tabel 2.4 Kepadatan Penduduk Kabupaten Lebak Dirinci Menurut Kecamatan (jiwa/km 2 ) Tahun No Kecamatan 2009 *) 2010 **) 2011 ***) 2012 ***) 1 Malingping Wanasalam Panggarangan Cihara Bayah Cilograng Cibeber Cijaku Cigemblong Banjarsari Cileles Gunungkencana Bojongmanik Cirinten Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas Lebakgedong Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Kalanganyar Maja Curugbitung JUMLAH Sumber : *) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, 2009 **) Lebak Dalam Angka, BPS, 2010 ***) Jumlah perkiraan penduduk Kabupaten Lebak merupakan wilayah dengan dominasi aktivitas pertanian, dengan luas lahan pertanian (50% dari total luas wilayah), selain itu didukung pula oleh komposisi penduduk yang mayoritas bekerja di sektor pertanian. Terbukti bahwa II - 13
14 hingga tahun 2010, penduduk yang bekerja di sektor ini mencapai 53,68%. Sementara sektor perdagangan, hotel, dan restoran dijadikan tumpuan harapan hidup oleh penduduk (16,08% dari total tenaga kerja) sebagaimana terlihat pada gambar berikut ini : Gambar 2.5 Penduduk Usia 10 Tahun Ke atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun ,31% 0,54% 16,08% 9,44% pertanian pertambangan & penggalian industri pengolahan listrik, gas & air minum 53,68% bangunan/konstruksi perdagangan, hotel & restoran 4,52% 0,28% 5,51% 2,64% angkutan & komunikasi bank & lembaga keuangan jasa-jasa Sumber : Lebak Dalam Angka Tahun Aspek Kesejahteraan Masyarakat Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Kabupaten Lebak merupakan daerah yang memiliki potensi dalam pengembangan Agroindustri dan Agronomi karena sebagian besar mata pencahariaan masyarakat berada pada sektor pertanian. Dukungan sumberdaya alam yang berlimpah serta kondisi iklim yang memiliki curah hujan merata merupakan keunggulan komparatif dalam penguatan sektor pertanian sebagai sektor basis dalam perekonomian daerah. Namun lemahnya kualitas sumber daya manusia dan rendahnya kemampuan fiskal daerah serta belum tersebarnya pengetahuan teknologi tepat guna, membuat laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lebak cenderung mengalami perlambatan secara komprehensif. II - 14
15 Berikut adalah capaian indikator ekonomi makro di Kabupaten Lebak Tahun 2008 berdasarkan produktivitas masing-masing Kecamatan yang akan ditampilkan dalam Tabel 2.5 berikut. Tabel 2.5 Capaian Indikator Ekonomi Makro per Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 No. KECAMATAN PDRB (Rp) LPE (%) 1. Rangkasbitung ,79 2. Malingping ,51 3. Banjarsari ,55 4. Wanasalam ,49 5. Cibeber ,60 6. Cibadak ,67 7. Cileles ,86 8. Cipanas ,60 9. Cimarga , Warunggunung , Bayah , Kalanganyar Leuwidamar , Sajira , Cikulur , Maja , Cilograng , Panggarangan , Gunungkencana , Curugbitung , Cijaku , Muncang , Cigemblong Cihara Sobang , Cirinten Lebakgedong Bojongmanik ,81 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak II - 15
16 Capaian kinerja perekonomian daerah berdasarkan kewilayahan di atas merupakan ukuran kinerja ekonomi makro yang dicapai oleh Pemerintah Kabupaten Lebak secara agregatif. Berdasarkan kontribusi sektoralnya akan digambarkan oleh Tabel 2.6 berikut : II - 16
17 Tabel 2.6 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Lebak No Sektor (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1. Pertanian , , , , ,88 2. Pertambangan & penggalian , , , , ,27 3. Industri Pengolahan , , , , ,57 4. Listrik, gas & air bersih , , , , ,41 5. Konstruksi , , , , ,27 6. Perdagangan, hotel & restoran , , , , ,11 7. Pengangkutan & komunikasi , , , , ,08 8. Keuangan, sewa & jasa Perusahaan , , , , ,51 9. Jasa-Jasa , , , , ,90 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak 2009 PDRB Kinerja ekonomi makro yang baik dapat terukur melalui laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh suatu daerah. Berdasarkan kontribusinya, sektor pertanian merupakan kontributor terbesar dalam output daerah dan sektor listrik, gas dan air bersih adalah kontributor terkecil dalam perekonomian daerah. Hal ini terjadi karena Kabupaten Lebak merupakan wilayah yang didominasi oleh sektor pertanian namun dalam penyedia sumberdaya energi masih terbatas akibat keterbatasan fiskal serta kondisi pengetahuan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya dan energi. II - 17
18 Tabel 2.7 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Lebak No Sektor (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1. Pertanian , , , , ,29 2. Pertambangan & penggalian , , , , ,34 3. Industri Pengolahan , , , , ,55 4. Listrik, gas & air bersih , , , , ,57 5. Konstruksi , , , , ,19 6. Perdagangan, hotel & restoran , , , , ,16 7. Pengangkutan & komunikasi , , , , ,56 8. Keuangan, sewa & jasa Perusahaan , , , , ,51 9. Jasa-Jasa , , , , ,84 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak 2009 PDRB II - 18
19 Tabel 2.8 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Kabupaten Lebak No Sektor Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk % % % % % % % % % % 1. Pertanian 38,91 39,41 38,39 39,27 36,80 38,16 36,37 37,99 35,29 37,88 2. Pertambangan & penggalian 1,32 1,20 1,36 1,24 1,35 1,22 1,43 1,28 1,34 1,27 3. Industri Pengolahan 9,63 9,53 9,45 9,63 9,61 9,80 9,77 9,75 9,55 9,57 4. Listrik, gas & air bersih 0,52 0,35 0,55 0,37 0,60 0,42 0,59 0,41 0,57 0,41 5. Konstruksi 3,74 3,82 3,87 3,89 4,00 4,01 4,21 4,34 4,19 4,27 6. Perdagangan, hotel & restoran 22,37 22,95 22,71 22,91 22,79 22,94 23,20 23,01 24,16 23,11 7. Pengangkutan & komunikasi 7,19 5,52 8,17 5,65 9,30 6,00 9,07 6,04 9,56 6,08 8. Keuangan, sewa & jasa Perusahaan 4,82 4,79 4,67 4,69 4,65 4,67 4,65 4,62 4,51 4,51 9. Jasa-Jasa 11,50 12,43 10,82 12,35 10,90 12,77 10,71 12,57 10,84 12,90 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak 2009 PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Kinerja ekonomi makro di Kabupaten Lebak mengalami transformasi secara struktural. Kontribusi sektor pertanian yang tinggi, tidak dibarengi dengan peningkatan laju pertumnbuhan ekonomi yang positif karena kondisi inflasi, ketidakstabilan iklim, konvensi lahan serta benefit yang minim bagi para petani akibat rendahnya peranan lembaga keuangan yang berpihak kepada petani. II - 19
20 Tabel 2.9 Pertumbuhan dan Kontribusi Sektor dan PDRB atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun Kabupaten Lebak Pertumbuhan No Sektor Hb Hk % % 1. Pertanian 9,52 3,12 2. Pertambangan & penggalian 13,59 5,86 3. Industri pengolahan 12,39 4,24 4. Listrik, gas & air bersih 16,19 8,58 5. Konstruksi 14,07 5,94 6. Perdagangan, hotel & restoran 13,97 4,31 7. Pengangkutan & komunikasi 19,52 6,43 8. Keuangan, sewa & jasa perusahaan 10,06 2,24 9. Jasa-jasa 10,67 4,55 PDRB 12,00 3,98 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak Berdasarkan kondisi perekonomian masing-masing wilayah di Kabupaten Lebak, terdapat 15 Kecamatan dari 28 Kecamatan di Kabupaten Lebak yang memiliki kemampuan ekonomi di bawah standar capaian perekonomian Kabupaten. Hal ini terjadi dikarenakan rendahnya kemampuan fiskal daerah, minimnya tingkat infrastruktur, inflasi, rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan berbasis skill serta dukungan yang sangat rendah dari lembaga keuangan yang seharusnya mampu mendorong percepatan investasi dalam menunjang kewirausahaan di Kabupaten Lebak. II - 20
21 Tabel 2.10 Perkembangan PDRB Kecamatan-Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku PDRB No Kecamatan Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk 1. Rangkasbitung Malingping Banjarsari Wanasalam Cibeber Cibadak Cileles Cipanas Cimarga Warunggunung Bayah Kalanganyar Leuwidamar Sajira Cikulur Maja Cilograng Panggarangan Gunungkencana Curugbitung Cijaku Muncang Cigemblong Cihara Sobang Cirinten Lebakgedong II - 21
22 PDRB No Kecamatan Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk 28. Bojongmanik Standar Kabupaten Tabel 2.11 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kabupaten Lebak No Sektor (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1. Pertanian , , , , ,88 2. Pertambangan & penggalian , , , , ,27 3. Industri Pengolahan , , , , ,57 4. Listrik, gas & air bersih , , , , ,41 5. Konstruksi , , , , ,27 6. Perdagangan, hotel & restoran , , , , ,11 7. Pengangkutan & komunikasi , , , , ,08 8. Keuangan, sewa & jasa Perusahaan , , , , ,51 9. Jasa-Jasa , , , , ,90 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak 2009 PDRB II - 22
23 Proyeksi PDRB Kabupaten Lebak menggunakan asumsi inflasi rata-rata per-tahun sebesar 4,01% dengan laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per-tahun 4,29%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.11 dan 2.12 di bawah ini. Tabel 2.12 Proyeksi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Lebak Tahun (Juta Rupiah) No. Lapangan Usaha 2009* 2010** 2011*** 2012*** 2013*** 2014*** 1 Pertanian , , , , , ,19 2 Pertambangan dan Penggalian , , , , , ,69 3 Industri Pengolahan , , , , , ,03 4 Listrik, Gas dan Air Bersih , , , , , ,24 5 Bangunan dan Kontruksi , , , , , ,09 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran , , , , , ,77 7 Pengangkutan dan Komunikasi , , , , , ,78 8 Keuangan, Persewaan dan jasa Perusahaan , , , , , ,81 9 Jasa-jasa , , , , , ,16 *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara ***) Angka Proyeksi Sumber : BPS Kab. Lebak Jumlah , , , , , ,77 Proyeksi PDRB di Kabupaten Lebak dalam kurun waktu diharapkan mengalami peningkatan yang signifikan sebagai bukti optimisme perekonomian daerah dan upaya pemerintah dalam melakukan perbaikan perekonomian pasca krisis global. Dalam struktur perekonomian daerah, II - 23
24 pemerintah Kabupaten Lebak masih memiliki keyakinan bahwa sector pertanian sebagai leading sector yang dapat memberikan konstribusi dominan dibandingkan dengan sektor lainnya. Hal ini dijadikan asumsi dasar mengingat sektor pertanian didukung oleh kondisi geografis dan sumber daya yang potensial. Tabel 2.13 Proyeksi PDRB Atas Dasar Harga Konstan di Kabupaten Lebak Tahun (Juta Rupiah) No. Lapangan Usaha 2009* 2010** 2011*** 2012*** 2013*** 2014*** 1 Pertanian , , , , , ,26 2 Pertambangan dan Penggalian , , , , , ,66 3 Industri Pengolahan , , , , , ,91 4 Listrik, Gas dan Air Bersih , , , , ,81 5 Bangunan dan Kontruksi , , , , , ,47 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran , , , , , ,20 7 Pengangkutan dan Komunikasi , , , , , ,83 8 Keuangan, Persewaan dan jasa Perusahaan , , , , , ,96 9 Jasa-jasa , , , , , ,52 *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara ***) Angka Proyeksi Sumber : BPS Kab. Lebak Jumlah , , , , , ,90 II - 24
25 Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Lebak Tahun berada pada kondisi yang fluktuatif akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh krisis global pada pertengahan tahun Akan tetapi, Pemerintah Kabupaten Lebak masih mampu mempertahankan perekonomian di Kabupaten Lebak secara positif. Secara lebih lengkap perkembangan LPE Kabupaten Lebak periode Tahun dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2.14 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Lebak Tahun (%) No. Lapangan Usaha Pertanian 3,79 3,37 0,25 4,41 3,77 2 Pertambangan dan Penggalian 7,42 7,43 1,13 10,60 2,72 3 Industri Pengolahan 4,85 4,81 5,00 4,33 2,23 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 10,17 10,90 15,27 3,93 2,62 5 Bangunan dan Kontruksi 1,73 5,62 6,27 13,55 2,51 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 4,96 3,54 3,31 5,21 4,54 7 Pengangkutan dan Komunikasi 6,16 6,17 9,54 5,50 4,78 8 Keuangan, Persewaan dan jasa Perusahaan 1,55 1,63 2,80 3,61 7,60 9 Jasa-jasa 2,98 3,09 6,70 3,22 6,79 LPE Kabupaten 4,06 3,74 3,15 4,90 4,06 Sumber : PDRB Kabupaten Lebak (BPS Kab. Lebak) Laju pertumbuhan pada tahun 2008 paling tinggi dari lapangan usaha sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 7,60%, sedangkan yang terendah dari lapangan usaha sektor industri pengolahan sebesar 2,23%. II - 25
26 Tabel 2.15 Proyeksi Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Lebak Tahun (%) No. Lapangan Usaha 2009* 2010** 2011*** 2012*** 2013*** 2014*** 1 Pertanian 4,36 4,07 3,64 4,02 5,28 5,67 2 Pertambangan dan Penggalian 12,77 0,83 7,64 5,53 4,18 4,13 3 Industri Pengolahan 1,57 3,11 3,86 2,84 3,59 3,35 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 3,98 3,99 4,11 4,90 5,66 6,22 5 Bangunan dan Kontruksi 2,99 3,17 5,87 4,84 5,62 6,25 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 5,06 5,18 6,05 6,51 6,83 7,41 7 Pengangkutan dan Komunikasi 3,69 4,19 6,33 6,81 6,45 5,94 Keuangan, Persewaan dan jasa 8 Perusahaan 3,16 3,20 2,81 3,06 3,59 4,22 9 Jasa-jasa 3,51 4,36 5,42 5,83 5,52 6,28 LPE Kabupaten 4,10 4,14 4,22 4,28 4,33 4,64 Sumber : BPS Kab. Lebak * : Angka Perbaikan ** : Angka Sementara *** : Angka Proyeksi Proyeksi Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Lebak Tahun ditentukan melalui asumsi dasar produktivitas perekonomian daerah. Transformasi struktur perekonomian di Kabupaten Lebak dalam kurun waktu didominasi oleh sektor tersier kemudian disusul sektor primer dan sektor sekunder. Hal ini terjadi sebagai akibat perpindahan tenaga kerja dari sektor primer ke sektor tersier secara natural. Secara garis besar pertumbuhan PDRB Kabupaten Lebak tahun menunjukan pertumbuhan positif, PDRB perkapita penduduk Lebak pada tahun 2008 mencapai angka 3,01 juta (ADHK) dan 5,54 juta (ADHB), dimana angka ini terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan peningkatan kesejahteraan penduduk, yang idealnya peningkatan PDRB perkapita selalu di atas nilai inflasi. Adapun nilai PDRB perkapita selama kurun waktu 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut. II - 26
27 Grafik 2.2 PDRB Per Kapita Kabupaten Lebak Tahun Sumber : PDRB Kabupaten Lebak (BPS Kab. Lebak) * : Angka sementara ** : Angka sangat sementara * 2008** PDRB per kapita adh Berlaku PDRB per kapita adh Konstan Sumber : PDRB Kabupaten Lebak (BPS Kab. Lebak) Adapun proyeksi PDRB perkapita untuk tahun perencanaan , baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan dapat dilihat pada tabel Tabel 2.16 Proyeksi PDRB Per Kapita Kabupaten Lebak Tahun No Uraian PDRB per kapita adh Berlaku PDRB per Kapita adh Konstan Sumber : PDRB Kabupaten Lebak Tahun (BPS Kab. Lebak) Perubahan struktur perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari distribusi persentase Nilai Tambah Bruto (NTB) sektoral terhadap PDRB atas dasar harga berlaku. Dalam kurun waktu struktur perekonomian Kabupaten Lebak masih didominasi oleh sektor pertanian dengan kontribusinya yang berkisar 37%- 39%, sedangkan peranan terkecil dipegang oleh sektor listrik, gas dan air bersih II - 27
28 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan dan Kontruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan jasa Perusahaan Jasa-jasa dengan kontribusinya yang hanya berkisar 0,35%-0,42%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 2.3. Grafik 2.3 Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Lebak Atas Dasar Harga Konstan Tahun (%) Sumber : PDRB Kabupaten Lebak (BPS Kab. Lebak) Dari grafik di atas terlihat bahwa struktur perokonomian Kabupaten Lebak pada kurun waktu tidak banyak mengalami pergeseran, masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu dimulai dari sektor pertanian; perdagangan, hotel dan restoran; serta jasa-jasa. Dari ketiga sektor utama tersebut, sektor pertanian terus mengalami penurunan kontribusi terhadap total PDRB yang mengindikasikan bahwa di Kabupaten Lebak perlahan namun pasti telah terjadi pergeseran struktur ekonomi, dimana peran sektor primer mulai diambil oleh sektor tersier. Hal ini dibuktikan oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; serta jasa-jasa yang mengalami trend II - 28
29 kenaikan kontribusi terhadap total PDRB dalam lima tahun belakangan sebagaimana terlihat pada tabel 2.17 berikut. Tabel 2.17 Proyeksi Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Lebak Atas Dasar Harga Konstan Tahun (%) No. Lapangan Usaha 2009* 2010** 2011*** 2012*** 2013*** 2014*** 1 Pertanian 37,98 37,91 38,48 38,06 38,11 38,07 2 Pertambangan dan Penggalian 1,37 1,30 1,33 1,32 1,33 1,32 3 Industri Pengolahan 9,34 9,24 9,39 9,38 9,34 9,38 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,41 0,41 0,37 0,40 0,40 0,40 5 Bangunan dan Kontruksi 4,23 4,18 4,10 4,20 4,18 4,19 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 23,32 23,53 22,66 23,16 23,17 23,16 7 Pengangkutan dan Komunikasi 6,05 6,17 5,99 6,07 6,07 6,07 Keuangan, Persewaan dan jasa 8 Perusahaan 4,47 4,42 4,34 4,43 4,43 4,43 9 Jasa-jasa 12,83 12,84 13,34 12,98 12,98 12,98 Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber : PDRB Kabupaten Lebak Tahun (BPS Kab. Lebak) * : Angka Perbaikan ** : Angka Sementara *** : Angka Proyeksi Dari tabel di atas terlihat bahwa struktur perokonomian Kabupaten Lebak dalam lima tahun kedepan oleh tiga sektor utama yaitu dimulai dari sektor pertanian; perdagangan, hotel dan restoran; serta jasa-jasa. Tingkat inflasi di suatu daerah pada suatu tahun dapat dihitung dengan metode Indeks Harga Konsumen (IHK) dan dapat juga dilihat dari besarnya perubahan Indeks Harga Implisit PDRB tahun berjalan dari tahun sebelumnya. Angka inflasi secara umum menggambarkan besarnya peningkatan hargaharga barang/jasa di suatu daerah tertentu pada waktu tertentu, sehingga tingkat inflasi dipakai sebagai tolak ukur dalam melihat stabilitas perekonomian di suatu daerah. Tingkat inflasi yang tinggi (mencapai dua digit) relatif mencerminkan stabilitas ekonomi yang kurang baik. Untuk melihat besarnya inflasi di Kabupaten Lebak selama periode dapat dilihat pada grafik berikut : II - 29
30 Persen Persen Grafik 2.4 Tingkat Inflasi Kabupaten Lebak Tahun (%) ,61 5,55 3,93 4, , Sumber : PDRB Kabupaten Lebak (BPS Kab. Lebak) Tingkat Inflasi di Kabupaten Lebak pada Tahun dengan mengacu pada besanya perubahan Indeks Implisit PDRB Tahun berjalan dari tahun sebelumnya mencapai angka rata-rata sebesar 7,72%. Tingkat inflasi yang terjadi pada Tahun 2004 adalah sebesar 5,24% merupakan tingkat inflasi yang paling rendah dibandingkan dengan Tahun Proyeksi tersebut dapat dilihat pada grafik 2.5. Grafikl 2.5 Proyeksi Tingkat Inflasi Kabupaten Lebak 6 5, ,61 3,93 4,5 4,02 3 2, Sumber : PDRB Kabupaten Lebak Tahun (BPS Kab. Lebak) * : Angka Perbaikan ** : Angka Sementara *** : Angka Proyeksi II - 30
31 Fokus Kesejahteraan Sosial Pembangunan daerah bidang kesejahteraan sosial berkaitan dengan kualitas manusia dan masyarakat Kabupaten Lebak. Kondisi tersebut tercermin pada pendidikan, kesehatan, tingkat kemiskinan, kepemilikan tanah, kesempatan kerja, dan tingkat kriminalitas. Pembangunan bidang pendidikan telah dilaksanakan dengan menitikberatkan pada upaya penuntasan program Wajib Belajar 9 tahun melalui pendidikan formal maupun non formal, serta rintisan Wajib Belajar 12 tahun dengan angka partisipasi di jenjang pendidikan dasar yang sudah optimal. Angka Melek Huruf (AMH) adalah persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Dengan AMH daerah dapat mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf, terutama di daerah pedesaan dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD. Selain itu dengan AMH menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media serta menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis, yang pada akhirnya mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah. Di Kabupaten Lebak perkembangan angka melek huruf relatif konstan. Hal ini terlihat dari tahun perkembangan AMH sebesar 94,10%. Angka Melek Huruf (AMH) pada tahun 2006 adalah sebesar 94,10% atau meningkat sebesar 0,20% dibandingkan tahun 2004 yang hanya sebesar 93,90%. Terlihat dari tabel 2.17 dari tahun 2006 sampai dengan 2009 persentase pencapaian AMH tidak mengalami peningkatan, hal ini disebabkan adanya suku terasing Baduy dengan jumlah penduduk pada tahun 2009 sebanyak jiwa yang masih memegang teguh adat kebudayaannya. Dengan berbagai upaya yang dilakukan AMH pada tahun 2010 mengalami peningkatan meskipun sangat kecil, yaitu 1,75%. II - 31
32 Tabel 2.18 Perkembangan Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lamanya Sekolah Di Kabupaten Lebak Tahun No. Uraian Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Melek Huruf 93,90% 94,10% 94,10% 94,10% 94,10% 94,10% 95,85% 3. Rata-rata Lama Sekolah 6,1 Th 6,2 Th 6,2 Th 6,2 Th 6,3 Th 6,2 Th 6,3 Th Sumber Data : Dinas Pendidikan Kab. Lebak Rata-rata Lama Sekolah (RLS) mencapai 6,3 tahun pada tahun Jika dikonversikan pada tingkat kelulusan, maka rata-rata tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Lebak adalah tidak tamat SLTP atau baru mencapai kelas 1 SLTP. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan pencapaian RLS maksimal 15 Tahun, masih memerlukan rentang waktu yang cukup lama dan biaya yang besar. Untuk pencapaian Angka Partisipasi Murni pada tahun 2009, tingkat SD mencapai 95,17%, tingkat SLTP 68,79.0% dan tingkat SLTA mencapai 22,61%. Sedangkan pencapaian Angka Partisipasi Kasar tingkat SD mencapai 109,09%, tingkat SLTP 93,71% dan tingkat SLTA mencapai 30,69%. Pencapaian Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) pada setiap jenjang pendidikan mengalami peningkatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. II - 32
33 No. Tingkat Pendidikan Tabel 2.19 Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM) Di Kabupaten Lebak Tahun APK APM APK APM APK APM APK APM APK APM APK APM APK APM 1. SD/MI 95,20 82, ,52 108,76 93, ,09 95,17 112,62 97,96 2. SMP/MTs 52,42 48,57 63,71 54,42 70,84 57,92 83,49 63, ,19 93,71 68,79 96,59 66,56 3. SMA/SMK/MA 21,26 16,18 22, ,00 17,33 27,63 19,45 30,63 20,51 30,69 22,61 38,15 33,37 Sumber Data : Dinas Pendidikan Kab. Lebak II - 33
34 Berkaitan dengan pendidikan yang ditamatkan pada tahun 2009, jumlah penduduk yang tidak tamat SD mencapai 16,79%, tamat SD 10,55%, tamat SLTP 6,57%, tamat SLTA 5,72%, dan yang memiliki ijazah akademi/universitas sebanyak 1,38%. Peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan pengembangan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat terus dilakukan. Angka usia harapan hidup masyarakat Kabupaten Lebak pada tahun 2008 mencapai 63,20 atau meningkat dibandingkan tahun 2004 yang hanya mencapai 62,40. Namun demikian, pencapaian indikator kesehatan di Kabupaten Lebak masih berada di bawah rata-rata nasional. Pada tahun 2008 angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Lebak sebesar 42,27/1.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB nasional sebesar 34/1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan pada tahun 2008 sebesar 246/ kelahiran hidup, sedangkan AKI nasional sebesar 228/ kelahiran hidup. Kondisi di atas dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain masih tingginya kasus penderita gizi buruk balita pada tahun 2009, yaitu sebanyak dan gizi kurang sebanyak dari jumlah balita yang ditimbang. Dalam rangka penyelamatan Ibu dan Anak telah dilaksanakan pengembangan pelayanan kegawat daruratan kebidanan dan Bayi Baru Lahir melalui pengembangan Puskemas yang mampu melaksanakan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergency Dasar (PONED) masing-masing 14 Puskesmas dengan tempat perawatan dari 40 puskesmas. Dengan demikian, untuk mencapai derajat kesehatan yang diharapkan, upaya yang diperlukan antara lain peningkatan akses pelayanan kesehatan, yaitu peningkatan kualitas ketenagaan, peningkatan fasilitas kesehatan serta peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat. Berkenaan dengan jumlah penduduk miskin, rumah tangga miskin di Kabupaten Lebak pada tahun 2009 mencapai jumlah rumah tangga atau sebesar 52,72% dari jumlah rumah tangga seluruhnya yaitu sebanyak rumah tangga. Berdasarkan kepemilikan lahan, 21,14% (64.356,66 Ha) sudah dimiliki oleh masyarakat di Kabupaten Lebak dengan luas lahan bersertifikat ,14 Ha atau 99,98% dari luas luas lahan yang dimiliki. Jumlah penduduk yang bekerja di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 telah mencapai orang dari jumlah penduduk yang berusia 10 tahun ke atas. Untuk itu, peningkatan kompetensi, produktivitas dan daya saing tenaga kerja II - 34
35 terus dilakukan sebagai upaya penanggulangan pengangguran di Kabupaten Lebak. Selain bidang-bidang kesejahteraan sebagaimana disebutkan sebelumnya, tingkat kriminalitas berpengaruh pula terhadap pembangunan daerah. Pada tahun 2008 sampai dengan 2009 tindikan kriminal yang paling menonjol di Kabupaten Lebak yaitu pencurian dengan pemberatan yang dilanjutkan dengan pencurian ranmor. Pada tahun 2008 kasus pencurian dengan pemberatan sebanyak 80 kasus dengan jumlah penyelesaian tindak pidana sebanyak 56 kasus, sedangkan untuk tahun 2009 kasus pencurian dengan pemberatan sebanyak 90 kasus dengan jumlah penyelesaian kasus tindak pidana sebanyak 64 kasus. Kondisi ini tidak lepas dari kondisi perekonomian masyarakat yang mengalami fluktuasi sehingga menimbulkan peningkatan pengangguran, yang mendorong tumbuhnya tindak pidana. Walaupun demikian secara umum penanganan tindak pidana kriminalitas di Kabupaten Lebak masih dalam konstelasi terkendali oleh aparat penegak hukum kepolisian daerah dibantu oleh masyarakat Fokus Seni Budaya dan Olahraga Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak sangat memperhatikan pembinaan dan pemasyarakatan oleh raga dengan memberikan pembinaan pada atlet-atlet yang ternaung dalam pengurus cabang KONI Kabupaten Lebak. Kondisi jumlah pengurus cabang tahun 2009 sebanyak 11 pengcab dengan jumlah atlet 500 orang Aspek Pelayanan Umum Fokus Layanan Urusan Wajib Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu gerbang penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan membuka peluang individu maupun masyarakat untuk mengembangkan diri dan mewujudkannya. Dalam konteks ini, pendidikan adalah sarana untuk memperoleh pengetahuan (knowledge). Pendidikan merupakan hak dasar setiap penduduk dan pemenuhan atas hak ini menjadi kewajiban pemerintah. Layanan pendidikan dasar yang dilaksanakan meliputi pendidikan dasar dan pendidikan menengah. II - 35
36 Kabupaten Lebak dengan jumlah penduduk yang sedemikian besar dan struktur umur yang kebanyakan berusia muda, relatif memiliki tanggungjawab besar untuk mengantarkan penduduk muda untuk memperoleh pendidikan yang layak. Selain masalah jumlah penduduk, persebarannya juga menjadi faktor penentu perkembangan pendidikan di Kabupaten Lebak. Pembangunan bidang pendidikan mampu meningkatkan angka partisipasi sekolah mencakup angka partisipasi murni dan angka partisipasi kasar. Terkait dengan tingkat partisipasi sekolah ini, diperoleh data tentang jumlah anak tidak sekolah pada setiap jenjang pendidikan yang merupakan sasaran penting bagi program pembangunan pendidikan di Kabupaten Lebak, yaitu menuntaskan wajib belajar 9 tahun. Pelayanan pendidikan juga dapat dilihat dari ketersediaan sekolah dan guru. Pada tahun 2006, rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah untuk pendidikan dasar adalah sebesar 0, atau tersedia 67,94 sekolah per penduduk usia sekolah, sedangkan rasio guru dengan murid sebesar 0, atau tersedia 430,28 guru per murid. Untuk pendidikan menengah, rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah sebesar 0, , rasio guru dengan murid sebesar 0, Kondisi ini menunjukan bahwa pelayanan pendidikan berupa penyediaan sekolah dan guru masih relatif rendah sehingga perlu ditingkatkan. Selain itu, meskipun telah terjadi berbagai peningkatan yang cukup berarti, pembangunan pendidikan belum sepenuhnya mampu memberi pelayanan merata, berkualitas dan terjangkau. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa biaya pendidikan masih relatif mahal dan pendidikan belum sepenuhnya mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sehingga belum dinilai sebagai bentuk investasi. Mutu pendidikan berhasil atau tidaknya di suatu daerah tergantung pada capain angka putus sekolah dan angka kelulusan. Di Kabupaten Lebak capaian Angka putus sekolah pada tahun 2009 untuk jenjang pendidikan SD sebesar 0,46%, SLTP sebesar 0,97%, dan SLTA sebesar 0,68%. Sedangkan untuk Angka Kelulusan angka capaian pada tahun 2009 untuk jenjang pendidikan SD sebesar 94,14%, STLP sebesar 77,69%, dan SLTA sebesar 82,03%. II - 36
37 Kesehatan Upaya Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan, Peningkatan Sumber Daya Kesehatan, Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Pembiayaan Kesehatan terus dilakukan, namun pencapaian beberapa indikator kesehatan masih berada dibawah rata-rata nasional. Pada tahun 2008, Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Lebak sebesar 42,27/1.000 KH, sedangkan AKB Nasional sebesar 34/1.000 KH (Target Nasional AKB 24/1000 KH pada tahun 2014 dan target MDGs AKB 23/1000 KH pada tahun 2015). Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 adalah 2461/ KH, Sedangkan AKI Nasional sebesar 228/ ( Target Nasional AKI 118/ KH pada tahun 2014 dan target MDGs AKI 102 / KH pada tahun 2015). Data tahun 2009 menunjukan jumlah kematian ibu maternal di Kabupaten Lebak mencapai 22 ibu dari kelahiran hidup, dan jumlah kematian bayi 156 bayi dari KH. Kondisi ini dipengaruhi dengan masih tingginya kasus gizi buruk yaitu balita (4,10%), gizi kurang balita (8,45%) dari balita yang di timbang, dengan demikian angka tersebut masih dibawah Angka Target Nasional prevalensi gizi-kurang pada anak balita menjadi 15% pada tahun 2014 dan target MDGs 18,8 pada tahun Faktor faktor yang menyebabkan rendahnya pencapaian indikator kesehatan (tingginya angka/jumlah kematian dan kesakitan) adalah masih kurangnya kemampuan beberapa untuk memenuhi aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan rujukan, melaksanakan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan kejadian luar biasa serta melaksanakan upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Dalam pencapaian SPM bidang kesehatan hal penting yang harus dipenuhi adalah ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar antara lain jumlah Puskesmas pada tahun 2009 berjumlah 40 dengan rasio puskesmas per penduduk 3,30 (Standar 1 per penduduk atau 4 per penduduk) idealnya Kabupaten Lebak memiliki 48 Puskesmas, tetapi kurangnya jumlah Puskesmas dapat ditutupi dengan ada dan tersebarnya Puskesmas Pembantu sebanyak 73, Poskesdes 39, Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 88, serta Praktek dokter dan bidan sebanyak 276 (Sumber Dinas Kesehatan tahun 2010). Dalam rangka penyelamatan ibu dan anak telah dilaksanakan pengembangan pelayanan kegawat daruratan kebidanan dan bayi baru lahir melalui puskesmas yang mampu melaksanakan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergency Dasar II - 37
38 (PONED). Pada Tahun 2009 Jumlah Puskesmas PONED adalah 14 buah (Standar Puskesmas PONED adalah 1/ penduduk) berarti Kabupaten Lebak membutuhkan sekitar 24 Puskesmas mampu PONED. Sedangkan kondisi tenaga kesehatan di Kabupaten Lebak pada tahun 2009 adalah, jumlah dokter di Puskesmas adalah 111 orang (Standar 1 PKM 2 Dokter). Sedangkan tenaga bidan di Puskesmas yang ada 395 bidan selain itu didukung pula oleh tenaga paramedis sebanyak 421. Lingkungan dan perilaku yang mempunyai pengaruh besar terhadap derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Lebak kondisinya juga masih sangat memprihatinkan bila dilihat dari kepala keluarga dengan akses air minum layak yang baru mencapai 45,46%. Dari aspek perilaku PHBS kondisi masyarakat Kabupaten Lebak masih sangat memprihatinkan dengan masih rendahnya persentase Rumah Tangga Sehat (berphbs). Berdasarkan kondisi diatas untuk mencapai derajat kesehatan yang diharapkan, upaya yang diperlukan antara lain adalah pertama peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan secara paripurna (preventif, promotif, kuratif dan rehabilitative) melalui peningkatan kualitas dan kelas RSUD serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya serta fasilitas pelayanan kesehatan dasar swasta lainnya, peningkatan Puskesmas mampu PONED, peningkatan Jumlah Mutu dan Penyebaran tenaga kesehatan, peningkatan pembiayaan kesehatan dan pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) Jawa Barat, peningkatan kemandirian untuk berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada masyarakat, memperkuat sistem kewaspadaan dini dan surveillance epidemiologi penyakit menular dan tidak menular, serta mengembangkan sistem regulasi untuk menjamin kualitas fasilitas pelayanan kesehatan, sarana kesehatan dan tenaga kesehatan serta menjamin terciptanya lingkungan sehat. Pencapaian immunisasi dari 12 jenis imunisasi (antigen) dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 secara umum menunjukan angka flutuatif terkecuali pada imunisasi DPT-HB1 dan Polio 1 yang menunjukan trend meningkat dari tahun ketahunnya dan sebagian besar pencapaian imunisasi belum mencapai masingmasing target yang ditetapkan dan hanya 1 jenis imunisasi polio 4 mencapai target yang ditetapkan pada tahu Pencapaian terkecil adalah HB 0-7 hari (19%) dan terbesar imunisasi polio 1 (95,2%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. II - 38
39 Tabel 2.20 Capaian Imunisasi di Kabupaten Lebak Tahun No. Jenis Imunisasi Cakupan Persentase Target (%) (Antigen) HB 0-7 Hari BCG DPT - HB DPT - HB DPT - HB Polio Polio Polio Polio Campak TT TT Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Lebak, 2008 Pekerjaan Umum Jalan Kondisi sarana dan prasarana jalan di Kabupaten Lebak adalah sebagai berikut : Panjang Jalan Propinsi di Kabupaten Lebak adalah 302,87 Km, dengan jenis permukaan hotmix 218,87 Km dan permukaan lapen 84,00 Km dengan kondisi baik 151,82 Km, kondisi sedang 8,95 Km, kondisi rusak ringan 75,00 Km dan kondisi rusak berat 67,10 Km. Apabila ditinjau dari kelas jalan, maka terdapat 4,4 Km jalan kelas II dan 298,47 Km jalan kelas III. Panjang Jalan Kabupaten adalah 856,21 Km, terdiri dari ruas-ruas jalan dalam Kota Rangkasbitung sepanjang 57,87 Km dan ruas-ruas jalan luar kota sepanjang 798,34 Km dengan jenis permukaan hotmix 542,61 Km, lapen 40,25 Km, batu 179,55 Km dan tanah 93,80 Km dengan kondisi jalan baik 477,61 Km (55,78%), kondisi sedang 124,75 Km (14,57%), kondisi rusak 134,00 Km (15,65%) dan rusak berat 119,85 Km (14%). Panjang jalan desa di Kabupaten Lebak adalah 5.647,2 Km terdiri dari jalan tanah sepanjang 2.571,85 Km dan jalan desa dengan kontruksi beraspal 3.075,35 Km, dengan kondisi baik 75,50 Km (2,45%), kondisi sedang 812,40 Km (26,42%) dan kondisi rusak 2.187,45 Km (71,13%). II - 39
40 No. Tabel 2.21 Jumlah Ruas Jalan, Panjang dan Kondisi Jalan Kabupaten Di Kabupaten Lebak Tahun Tahun Panjang Ruas Jalan (KM) Baik Sedang Kondisi (KM) Rusak Ringan Rusak Berat ,80 464,30 246,00 54,90 62, ,60 285,00 169,40 87,45 332, ,20 285,00 168,60 87,55 351, ,00 396,80 175,70 228,70 1, ,21 477,61 124,75 134,00 119,85 Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak No. Tabel 2.22 Jumlah Ruas Jalan, Panjang dan Kondisi Jalan Propinsi Di Kabupaten Lebak Tahun Tahun Panjang Ruas Jalan (KM) Baik Sedang Kondisi (KM) Rusak Ringan Rusak Berat ,61 61,39 45,34 0, ,74 61,39 45,34 0, ,61 61,39 45,34 0, ,71 177,26 0,00 51,63 52, ,65 29,03 94,47 15,42 128,73 Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak No. Tabel 2.23 Jumlah Ruas Jalan, Panjang dan Kondisi Jalan Nasional di Kabupaten Lebak Tahun Tahun Panjang Ruas Jalan (KM) Baik Sedang Kondisi (KM) Rusak Ringan Rusak Berat ,34 78,33 35,37 16, ,34 78,33 35,37 16, ,34 78,33 35,37 16, ,00 128,00 0,00 12, NR NR NR NR NR Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak Selain jalan nasional, Propinsi dan Kabupaten, Pemerintah Daerah juga telah melakukan terobosan yang sangat signifikan dengan pencanangan dan penanganan Jalan Poros Desa melalui Program Hotmik Masuk Desa (HMD). II - 40
41 Program tersebut mulai dilaksanakan pada tahun 2007 dan akan terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dengan tetap menentukan prioritas ruas jalan poros desa yang akan dibangun atau ditingkatkan berdasarkan criteria yang telah kita tetapkan. Adapun jumlah penanganan jumlah poros desa yang sudah ditangani dari tahun 2007 sampai dengan 2009 sepanjang 488,84 Km yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Lebak. Tabel 2.24 Jumlah Penanganan Jalan Poros Desa (HMD) di Kabupaten Lebak Tahun No. Tahun Jumlah Penanganan (Km) Keterangan ,37 Tersebar di seluruh Kecamatan ,04 Tersebar di seluruh Kecamatan ,43 Tersebar di seluruh Kecamatan Jumlah 488,84 Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak Sebagaimana kita ketahui bersama, jalan poros desa di Kabupaten Lebak berdasarkan dari usulan yang diajukan oleh para Kepala Desa mencapai sekitar 5000 Km. Oleh karena itu, program ini senantiasa harus terus dilaksanakan untuk menyediakan aksesibilitas di perdesaan yang mempunyai daya ungkit yang tinggi untuk mendorong kegiatan ekonomi produktif dan kegiatan social lainnya. Sumber Daya Air / Irigasi Kabupaten Lebak merupakan daerah penyangga stok pangan padi sawah di Propinsi Banten, mengingat kawasan Banten Utara yang meliputi Daerah Serang, Cilegon dan Tangerang yang sudah beralih fungsi penggunaan lahan pertaniannya menjadi lahan permukiman dan industri. Oleh karenanya pengembangan pertanian padi sawah diarahkan ke Kabupaten Lebak dan Pandeglang sebagai wilayah pengembangan budidaya pertanian tanaman pangan dan hortikultura, konservasi lahan kritis sebagai fungsi kawasan tangkapan air baku sungai dan situ yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber air baku Irigasi. Jaringan irigasi yang telah dibangun dan dikembangkan sejak PELITA I sampai dengan Tahun 2008 berdasarkan data Dinas Sumber Daya Air Kabupaten Lebak adalah seluas Ha yang meliputi : II - 41
42 1) Irigasi Pemerintah sebanyak 358 Unit ( Ha) yang terdiri dari : a. Irigasi Teknis 17 Unit, luas areal potensial Ha (21,31%) b. Irigasi Semi Teknis 45 Unit, luas areal optensial Ha (17,64%) c. Irigasi Sederhana 247 unit, luas areal potensial Ha (40,14%) 2) Irigasi Pedesaan 123 Unit, luas areal potensial Ha (20.91%) Dari total luas areal potensial tersebut di atas ( Ha), jaringan Irigasi yang berfungsi pada tahun 2003 adalah seluas Ha. Adapun penanganan pembangunan baik pembangunan baru maupun rehabilitasi dari tahun 2004 sampai dengan 2008 sebanyak 243 Daerah Irigasi dengan luas areal Ha sehingga total luas potensial sampai dengan tahun 2008 adalah Ha. Sedangkan potensi sawah tadah hujan baik yang bisa dikembangkan dan yang tidak bias dikembangkan adalah seluas Ha dengan rincian : a. Sawah yang bisa dikembangkan seluas Ha b. Sawah yang tidak bisa dikembangkan seluas Ha Tempat Ibadah Ketersediaan tempat ibadah merupakah salah satu dari pelayanan sarana dan prasarana umum yang disediakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Tempat ibadah yang tersedia dibandingkan dengan jumlah penduduk di Kabupaten Lebak masih dirasakan kurang, hal ini dapat dilihat dari rasio tempat ibadah per satuan penduduk di Kabupaten Lebak hanya sebesar 3,85. Perumahan Prasarana dan Sarana Utilitas permukiman dan perumahan di Kabupaten Lebak pada umumnya meliputi : penyediaan sarana air bersih, penanganan jalan lingkungan, dan pembangunan serta rehabilitasi gedung-gedung pemerintahan dan bangunan lainnya. Penyediaan sarana dan prasarana air bersih di Kabupaten Lebak dilaksanakan oleh tiga institusi, yaitu PDAM, Dinas Cipta Karya dan Dinas Kesehatan. Penyediaan sarana tersebut selalu terus dianggarkan setiap tahunnya karena hal ini ditujukan untuk terus meningkatkan cakupan air bersih yang sampai dengan tahun ini baru mencapai 45,46% (perkotaan dan perdesaaan). Untuk lebih rincinya berikut kami gambarkan cakupan air bersih setiap kecamatan di Kabupaten Lebak sampai dengan tahun II - 42
43 Tabel 2.25 Cakupan Air Bersih per Kecamatan Di Kabupaten Lebak Tahun 2008 No Kecamatan Jumlah KK KK Terlayani persentase 1 Rangkasbitung 20,864 14, % 2 Kalanganyar 7,236 3, % 3 Cibadak 12,559 10, % 4 Warunggunung 11,555 4, % 5 Cikulur 10,941 6, % 6 Sajira 9,433 6, % 7 Cipanas 11,314 6, % 8 Lebak Gedong 4,172 1, % 9 M A J A 11,316 6, % 10 Curugbitung 7,601 4, % 11 Muncang 6,980 2, % 12 Sobang 7,452 2, % 13 Cimarga 12,622 4, % 14 Leuwidamar 12,489 4, % 15 Cileles 12,776 1, % 16 Gunung Kencana 7,449 2, % 17 Cijaku 6,669 3, % 18 Cigemblong 5,284 1, % 19 Banjarsari 13,029 5, % 20 Malingping 18,604 9, % 21 Wanasalam 9,798 5, % 22 Bojongmanik 4, % 23 Cirinten 5,173 1, % 24 Panggarangan 9,215 6, % 25 Cihara 7,608 2, % 26 Bayah 10,315 2, % 27 Cilograng 5,720 1, % 28 Cibeber 14,981 5, % Jumlah 277, , % Sumber : Kompilasi Dinas Kesehatan dan Dinas Cipta Karya, 2008 Penyediaan air bersih oleh Pemerintah Daerah dipenuhi melalui pembangunan sarana MCK, sumur bor, sipas gravitasi dan sarana air bersih lainnya. Rumah tangga pengguna listrik di Kabupaten Lebak pada tahun 2009 sebanyak (69%) kepala keluarga dari jumlah total kepala keluarga. II - 43
44 Penataan Ruang Sumber daya kewilayahan harus dikelola secara bijaksana untuk mewujudkan pemerataan pertumbuhan wilayah dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, ketersediaan rencana tata ruang yang aplikatif dan partisipatif memegang peranan penting dalam pemanfaatan ruang termasuk sebagai instrumen dalam perijinan dan pengembangan investasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang- Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai penganti Undang- Undang Nomor 24 tahun 1992 dan peraturan perundangan lainnya. Dalam melaksanakan amanat undang-undang dimaksud Kabupaten Lebak dengan luas wilayah ha atau 3044,72 KM² yang terdiri dari 28 kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan, telah melaksanakan penyusunan Rencana Tata Rang Wilayah Kabupaten yang dijabarkan kedalam rencana tata ruang kecamatan serta kawasan strategis. Sampai dengan tahun 2008 kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang sebanyak 10 kecamatan. Kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang yaitu Kecamatan Rangkasbitung, Warunggunung, Maja, Cimarga, Sajira, Malingping, Panggarangan, Bayah, Cibeber dan Cilograng. Sedangkan kecamatan yang belum memilki rencana tata ruang adalah Kecamatan Cibadak, Kalanganyar, Cikulur, Cipanas, Curugbitung, Lebakgedong, Bojongmanik, Muncang, Sobang, Leuwidamar, Gunungkencana, Cileles, Banjarsari, Wanasalam, Cijaku, Cigemblong, Cihara, dan Cirinten. Berdasarkan intensitas dan frekuensi yang terjadi saat ini, di Kabupaten Lebak bagian Utara mempunyai intensitas kegiatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian Tengah maupun Selatan. Oleh karena itu dengan didasari pertimbangan intensitas kegiatan, Kabupaten Lebak didalam pengembangan struktur pemanfaatan ruangannya terbagi dalam 2 (dua) Wilayah Pengembangan yaitu Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang. Kedua wilayah ini bila ditinjau berdasarkan karakteristiknya terdiri dari 7 (tujuh) wilayah pengembangan. Pengembangan sistem perwilayahan sebagaimana tergambar pada tabel II - 44
45 Perwilayahan Pembangunan WP Utara WP Timur WP Barat WP Selatan Tabel 2.26 Sistem Perwilayahan Kabupaten Lebak Kecamatan Pusat Pertumbuhan Hirarki Fungsi Kawasan Rangkasbitung Kota Rangkasbitung I Pusat pemerintahan Kabupaten Maja Kota Maja I Terminal regional Caibadak Kota Cibadak II Pusat permukiman perkotaan Kalanganyar III Pusat pelayanan & jasa regional Warunggunung III Pusat pendidikan Cikulur III Pusat industri kecil Cimarga III Pusat perdagangan Curugbitung III Sajira III Cipanas Kota Cipanas II Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian Leuwidamar Kota Leuwidamar II Industri kecil/home industri Muncang III Pengembangan permukiman kota terbatas Sobang III Pengembangan permukiman perdesaan tersebar Lebak Gedong III Pusat pengembangan pariwisata Cirinten III Konservasi hutan Bojongmanik III Gunung Kencana Cileles Banjarsari Kota Gunung Kencana II III III Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian Industri kecil/home industri Pengembangan permukiman perdesaan Malingping Kota Malingping I Pusat pelayanan sosial ekonomi sub regional Bayah Kota Bayah I Sub terminal regional Panggarangan Kota Panggarangan II Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian Cijaku III Industri kecil Wanasalam III Pariwisata Cibeber III Pusat pendaratan dan pelelangan ikan Cilograng III Pengolahan hasil laut Cigemblong III Pertambangan bersyarat Cihara III Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun II - 45
46 Sedangkan rencana pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Lebak dibagi menjadi 2 (dua) fungsi kawasan utama yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya (pertanian dan non pertanian), dimana luas dari masing-masing kawasan adalah Ha (kawasan lindung) dan Ha (kawasan budidaya). Lihat tabel 2.96 dan 2.97 mengenai rencana pemanfaatan ruang Kabupaten Lebak. Tabel 2.27 Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Lebak Rencana Pemanfaatan Ruang Luas (Ha) Persentase (Terhadap luas total Kab. Lebak Kawasan Lindung: ,98 - Kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya ,32 - Kawasan perlindungan setempat ,70 - Kawasan suaka alam dan cagar budaya ,51 - Kawasan rawan bencana ,45 Kawasan Budidaya: ,01 - Pertanian ,67 - Non pertanian ,34 Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun Tabel 2.28 Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya Kabupaten Lebak Rencana Pemanfaatan Ruang Luas (Ha) Persentase (Terhadap luas total Kab. Lebak Kawasan Pertanian: ,66 - Pertanian lahan basah (Padi sawah, perikanan darat ,08 - Pertanian lahan kering (Tanaman pangan lahan kering, tanaman keras tahunan dan peternakan) ,58 Kawasan Non Pertanian: ,34 - Kawasan permukiman ,08 - Kawasan industri ,70 - Kawasan pariwisata ,36 Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun Sumber daya kewilayahan harus dikelola secara bijaksana untuk mewujudkan pemerataan pertumbuhan wilayah dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, ketersediaan rencana tata ruang yang aplikatif dan partisipatif memegang peranan penting dalam pemanfaatan ruang termasuk sebagai instrumen dalam perijinan dan pengembangan investasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang- Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai penganti Undang- Undang Nomor 24 tahun 1992 dan peraturan perundangan lainnya. II - 46
47 Dalam melaksanakan amanat undang-undang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kabupaten Lebak dengan luas wilayah ha atau 3044,72 KM² yang terdiri dari 28 kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan, telah melaksanakan revisi penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten. Selanjutnya secara berkelanjutan, RTRW Kabupaten Lebak terus dilengkapi dengan rencana tata ruang turunannya seperti Rencana Detail dan Rencana Umum Tata Ruang Kecamatan. Hal ini perlu dilakukan untuk terus melaksanakan kegiatan penataan ruang yang efektif, efisien, berwawasan lingkungan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Sampai dengan tahun 2008 kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang sebanyak 12 kecamatan atau 39,28 %. Berikut status Kecamatam-kecamatan yang sudah dan belum ada RUTR-nya : Tabel 2.29 Daftar Status Rencana Umum Tata Ruang Kecamatan di Wilayah Kabupaten Lebak No. Kecamatan Status Dokumen RUTR 1 Rangkasbitung Sudah diperdakan 2 Cipanas Sudah, belum di-perda-kan 3 Muncang Sudah, belum di-perda-kan 4 Banjarsari Sudah, belum di-perda-kan 5 Warunggunung Sudah, belum di-perda-kan 6 Sajira Sudah, belum di-perda-kan 7 Maja Sudah, belum di-perda-kan 8 Bayah Sudah, belum di-perda-kan 9 Cimarga Sudah, belum di-perda-kan 10 Panggarangan Sudah, belum di-perda-kan 11 Cilograng Sudah, belum di-perda-kan 12 Malingping Sudah, belum di-perda-kan 13 Cibeber Sudah, belum di-perda-kan 14 Cibadak Belum ada dokumen 15 Cikulur Belum ada dokumen 16 Leuwidamar Belum ada dokumen 17 Curugbitung Belum ada dokumen 18 Bojongmanik Belum ada dokumen 19 Sobang Belum ada dokumen 20 Gunungkencana Belum ada dokumen 21 Cimarga Belum ada dokumen 22 Kalang Anyar Belum ada dokumen 23 Cileles Belum ada dokumen 24 Lebakgedong Belum ada dokumen 25 Cigemblong Belum ada dokumen 26 Cijaku Belum ada dokumen 27 Cihara Belum ada dokumen 28 Wanasalam Belum ada dokumen II - 47
48 Sebelum berbicara jauh mengenai perencanaan tata ruang kabupaten Lebak, kita perlu mengenali terlebih dahulu Isu-isu strategis penyelenggaraan penataan ruang di Kabupaten Lebak. Adapun isu-isu tersebut diantaranya : 1. Wilayah kabupaten yang sangat luas dengan ketinggian bervariasi meliputi dataran rendah, pegunungan dan pantai ; 2. Penyebaran penduduk yang tidak merata dengan pertumbuhan yang relatif sedang; 3. Potensi sumber daya alam terutama pertambangan dan pariwisata yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal ; 4. Prasarana wilayah yang masih kurang sehingga menyebabkan masih banyaknya desa tertinggal ; 5. Pengembangan prasarana wilayah : transportasi dan bendungan ; Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lebak, RTRW Kabupaten Lebak mempunyai tujuan mewujudkan ruang wilayah Kabupaten Lebak yang memenuhi kebutuhan pembangunan dengan senantiasa berwawasan lingkungan, efisien dalam alokasi, bersinergi dan dapat dijadikan acuan dalam penyusunan program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, perlu menetapkan strategi dan kebijakan penataan ruang di Kabupaten Lebak. Strategi perencanaan tata ruang Kabupaten Lebak mengacu pada arahan struktur ruang wilayah nasional, provinsi Banten, pengaruh kawasan pantura Provinsi Banten dan Rencana Strategis Kabupaten Lebak. Arahan pemanfaatan ruang tersebut dituangkan kedalam perencanaan struktur dan pola ruang wilayah. Menurut arahan RTRW Nasional dan Provinsi Banten, Kabupaten Lebak bersama-sama dengan Kabupaten Pandeglang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) pada Wilayah Kerja Pembangunan 3 (WKP 3) yang mendukung Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Bojonegara-Merak-Cilegon (BMC) sebagai Kota Pelabuhan Nasional di Kota Cilegon. Adapun Perencanaan Pengembangan wilayah Kabupaten Lebak berdasarkan arahan tersebut diarahkan pada : 1. Sektor unggulan yang menujang wilayah ini adalah pertanian, pertambangan dan pariwisata. 2. Pusat-pusat utama di Kabupaten Lebak adalah Kota Rangkasbitung sebagai PKL dan Kota Maja sebagai pusat kegiatan sosial ekonomi. II - 48
49 3. DAS Ciujung dan Ciberang sebagai elemen pendukung konservasi air bersih (menetapkan Kabupaten Lebak sebagai Kawasan Hijau) 4. Sistem jaringan transportasi utama adalah jaringan jalan raya (kolektor primer) Rangkasbitung Serang, Maja Cikande, Labuan Malingping Bayah dan Rangkasbitung/Maja Cipanas Jasinga. Selanjutnya berdasarkan nilai-nilai strategis yang dimiliki Provinsi Banten di wilayah Pantura (Cilegon, Serang Tangerang) dan kedekatan dengan Jakarta sebagai ibukota negara, Kabupaten Lebak diarahkan pada : 1. Peran Kawasan Pantura terhadap perkembangan Kabupaten Lebak, berdampak pada minat investasi swasta di Kecamatan Maja untuk mengembangkan dan membangun perumahan dan permukiman pada area sekitar ± Ha. 2. Dukungan sistem transportasi jaringan jalan raya yang cukup baik antara Rangkasbitung dan Serang, serta antara Kecamatan Maja dan Cikande di Kawasan Pantura. 3. Prasarana dan sarana lingkungan perkotaan di Kota Rangkasbitung dan Maja yang cukup memadai, maka kedua kota tersebut cenderung menjadi pusatpusat utama di Kabupaten Lebak yang berorientasi di Kawasan Pantura. A. Rencana Struktur Ruang Untuk mendukung arah pengembangan wilayah Kabupaten Lebak tersebut di atas, Pemerintah Kabupaten Lebak menerapkan konsep pengembangan tata ruangnya dengan menyusun perencanaan struktur dan pola ruang. Pengembangan suatu wilayah tentunya harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan spasial serta strategi pengembangan yang cukup baik. Hal ini dimaksudkan agar perkembangan yang terjadi kemudian tidak menimbulkan masalah terhadap ruang yang ada. Oleh karena itu dengan didasari oleh pertimbangan-pertimbangan di atas maka diharapkan bahwa perkembangan yang terjadi di wilayah Kabupaten Lebak dapat memberikan pelayanan yang seefektif mungkin ke seluruh bagian wilayah, sehingga tingkat kesenjangan dapat dikurangi melalui rangsangan penjalaran perkembangan wilayah secara merata. Berdasarkan intensitas dan frekwensi kegiatan yang terjadi saat ini serta kelengkapan infrastruktur wilayah, Kabupaten Lebak didalam pengembangan struktur ruangnya terbagi kedalam 2 (dua) Wilayah Pengembangan yaitu Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang. II - 49
50 Wilayah Pengembangan Utama Wilayah Pengembangan Utama memiliki aglomerasi kegiatan perkotaan dengan peran sebagai pusat dan pendorong pertumbuhan wilayah lainnya, hal ini disebabkan karena kegiatan perekonomian yang ada di wilayah ini terkait dengan sistem perekonomian regional dan memiliki basic ekonomi (keunggulan komperatif) untuk membangkitkan perekonomian daerah tersebut beserta daerah sekitarnya. Wilayah ini memiliki fungsi sebagai penggerak utama roda perekonomian Kabupaten Lebak, dimana dengan fungsi tersebut diharapkan akan dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan wilayah sekitarnya (trickle down effect). Selain itu dengan melihat faktor lokasi dan kelengkapan sarana maupun prasarananya telah menjadikan wilayah ini sebagai pusat koleksi dan distribusi bagi wilayah belakangnya serta menjadikan pintu gerbang interaksi bagi daerah lainnya. Wilayah Pengembangan Utama di Kabupaten Lebak terdiri dari 4 Wilayah Pengembangan sebagai berikut: 1. Wilayah Pengembangan Utama Rangkasbitung, yang meliputi Kecamatan Rangkasbitung, Kecamatan Kalanganyar dan Kecamatan Cibadak, dengan pusat pengembangan terletak di Kota Rangkasbitung. 2. Wilayah Pengembangan Utama Maja, meliputi Kecamatan Maja, Kecamatan Curugbitung dan Kecamatan Sajira dengan pusat pengembangan terletak di Kota Maja 3. Wilayah Pengembangan Utama Malingping, meliputi Kecamatan Malingping, dan Kecamatan Wanasalam, Kecamatan Cijaku dengan pusat pengembangan terletak di Kota Malingping. 4. Wilayah Pengembangan Utama Bayah, meliputi Kecamatan Bayah, Kecamatan Cibeber dan Kecamatan Cilograng dengan pusat pengembangan terletak di Kota Bayah. II - 50
51 Gambar 2.6 Peta Rencana Struktur Ruang di Kabupaten Lebak yang dibagi kedalam Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang Wilayah Pengembangan Penunjang Wilayah Pengembangan Penunjang berperan sebagai daerah yang mendukung pertumbuhan wilayah utama, wilayah ini terletak di sebelah Tengah dan Selatan dari Kabupaten Lebak dengan dominasi kegiatan ekonomi sebagai pusat produksi pertanian, peternakan, perikanan, hutan dan pertambangan. Wilayah Pengembangan Penunjang di Kabupaten Lebak terdiri dari 5 (lima) Wilayah Pengembangan sebagai berikut: 1. Wilayah Pengembangan Penunjang Cimarga, yang meliputi Kecamatan Cimarga, Kecamatan Warunggunung dan Kecamatan Cikulur dengan pusat pengembangan berada di Kecamatan Cimarga 2. Wilayah Pengembangan Penunjang Cipanas, meliputi Kecamatan Cipanas, Kecamatan Sobang, Kecamatan Lebak Gedong dan Kecamatan Muncang dengan pusat pengembangan berada di Kota Cipanas. 3. Wilayah Pengembangan Penunjang Leuwidamar, meliputi Kecamatan Leuwidamar, Kecamatan Cirinten dan Kecamatan Bojongmanik dengan pusat pengembangan terletak di Kota Leuwidamar. 4. Wilayah Pengembangan Penunjang Gunung Kencana, meliputi Kecamatan Gunung Kencana, Kecamatan Banjarsari dan Kecamatan Cileles II - 51
52 dengan pusat pengembangan terletak di pusat Kecamatan Gunung Kencana. 5. Wilayah Pengembangan Penunjang Panggarangan, meliputi Kecamatan Panggarangan, Kecamatan Cigemblong dan Kecamatan Cihara dengan pusat pengembangan terletak di pusat Kecamatan Panggarangan. Selain membagi wilayah Kabupaten Lebak kedalam Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang, Perencanaan struktur pemanfaatan ruang mengembangkan juga sistem permukiman yang dibagi kedalam : a. Sistem Permukiman Perdesaan Pusat permukiman perdesaan merupakan pusat terkonsentrasinya penduduk dengan kelengkapan fasilitas yang cukup memadai pada suatu daerah, biasanya pusat permukiman perdesaan cenderung berada di pusat-pusat kecamatan atau pada desa-desa pusat pertumbuhan dengan dominasi kegiatan di bidang pertanian. Pusat permukiman di Kabupaten Lebak ini diarahkan di Desa Candi, Kopi, Mekarjaya, Kebon Cau, Jampang, Simpang, Gardu Batok, Kadubitung, Bujal, Sajira, Ciparasi, Ciusul, Cirotan, Cibareno, Sawarna, Sobong, Gardu, Sareweh, Pasar Kupa, Cikaret, Suka Hujan, Lebaksiuh, Kerta dan Desa Pasir Binuangan. b. Sistem Permukiman Perkotaan Sistem Permukiman Perkotaan merupakan suatu pusat permukiman yang diarahkan sebagai pusat pelayanan ekonomi, pemerintahan dan jasa untuk memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri maupun wilayah sekitarnya. Wilayahwilayah yang mempunyai karakteristik tersebut di atas adalah Ibukota Rangkasbitung, Ibukota Kecataman Maja, Ibukota Kecataman Malingping dan Ibukota Kecamatan Bayah. B. Rencana Pola Ruang Secara umum rencana pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Lebak dibagi menjadi 2 fungsi kawasan utama yaitu kawasan lindung dan kawasan budi daya (pertanian dan non pertanian), dimana luas dari masing-masing kawasan adalah ha (31,93 %) dan ha (68,07). Lihat tabel 2.72 dan tabel 2.73 mengenai Rencana Pemanfaatan Ruang di Kabupaten Lebak. II - 52
53 Berdasarkan pada kondisi-kondisi tersebut di atas, Pola ruang di wilayah Kabupaten Lebak dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Besarnya potensi kawasan lindung dan kawasan tangkapan air dari beberapa hulu sungai yang merupakan potensi sumberdaya air untuk Kabupaten Lebak dan daerah sekitarya. 2. Perkembangan kawasan-kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan yang memerlukan keterpaduan dan keserasian hubungan antara fungsi kota dan desa. 3. Tersebarnya daerah rawan bencana dan cukup luasnya daerah kritis. 4. Pemanfaatan dan pengembangan potensi sumber daya alam seperti pertanian, pertambangan, pariwisata dan sumber daya yang lainnya. Oleh karena itu, kebijakan pengembangan pemanfaatan ruang di Kabupaten Lebak yang dituangkan ke dalam strategi pengembangan pola ruang adalah sebagai berikut : Strategi Penetapan Kawasan Lindung Untuk menjamin kelestarian dan keseimbangan pengelolaan sumber daya alam, maka strategi penetapan kawasan lindung di Kabupaten Lebak adalah sebagai berikut : a. Mempertahankan kawasan lindung yang ada. b. Menetapkan kawasan lindung di Kabupaten Lebak yang terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat kawasan suaka alam dan cagar budaya, serta kawasan, rawan bencana. c. Pengelolaan kawasan lindung untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup. d. Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan lindung melalui kegiatan pemantauan, pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang dikawasan lindung. II - 53
54 Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya Strategi pengembangan kawasan Budidaya di Kabupaten Lebak adalah sebagai berikut: a. Tiap-tiap kawasan diarahkan bagi suatu kegiatan budaya yang sesuai dengan daya dukung kawasan dan daya tampung kawasan. b. Pengembangan kawasan budidaya di Kabupaten Lebak diarahkan untuk mengakomodasi kegiatan produksi lahan basah, lahan kering, permukiman, industri, pertambangan dan pariwisata. c. Penetapan skala prioritas dalam kegiatan penataan ruang kawasan budidaya, sehingga lebih terarah dan fleksibel sesuai dengan tuntutan perkembangan. d. Pengendalian pemanfaatan ruang pada suatu kawasan antar kawasan sehingga tidak terjadi konflik kepentingan pengembangan pada suatu kawasan. Strategi Pengembangan Prasarana Wilayah Strategi pengembangan pengembangan prasarana Wilayah Kabupaten Lebak adalah meningkatkan dan mempertahankan fungsi prasarana Wilayah dalam menunjang pengembangan wilayah, khususnya dalam menunjang pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lebak. Strategi ini dilakukan untuk membentuk pemanfaatan ruang Kabupaten lebak yang terdiri dari : a. Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Transportasi sebagai berikut : Prasarana transportasi yang akan dikembangkan di Kabupaten Lebak adalah Perhubungan darat yang terdiri dari jalan raya dan kereta api serta perhubungan laut yang terdiri dari perhubungan laut khususnya bagi kebutuhan pengembangan perikanan laut. Pengembangan jaringan jalan raya yang menghubungkan wilayah utara dan selatan. Pengembangan angkutan kereta api untuk angkutan masal dan angkutan barang. Mengembangkan pelabuhan ikan. b. Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Pengairan sebagai berikut : Mengembangkan sistem pengairan yang terdapat di Kabupaten Lebak untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan non pertanian melalui pemanfaatan air permukaan maupun air tanah yang tersebar di Kabupaten Lebak. II - 54
55 c. Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Energi sebagai berikut : Mengembangkan potensi energi yang ada untuk memenuhi kebutuhan wilayah utara dan selatan, serta pengembangan energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi wilayah tengah. d. Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Telekomunikasi sebagai berikut : Mengembangkan dan mengarahkan Sistem telekomunikasi yang ada dalam menunjang pengembangan hubungan antara wilayah utara dengan wilayah selatan, serta dalam mendukung upaya pengembangan pariwisata. Sinergitas dan Sinkronisasi Program Kewilayahan dan Program Sektoral Dengan pertimbangan kebijakan pola tata ruang dan struktur ruang serta memperhatikan permasalahan ketimpangan pembangunan antar wilayah di atas, maka perlu ada sinergitas antara program-program kewilayahan dengan programprogram prioritas pembangunan yang bersifat sektoral. Sinergitas kedua program tersebut dapat dilaksanakan pada wilayah sasaran sebagai berikut : a. Desa/ Kecamatan Pusat Pertumbuhan Desa Pusat Pertumbuhan adalah desa yang menjadi simpul jasa dan simpul distribusi dari desa-desa di sekitarnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Pusat Pertumbuhan diharapkan dapat menjadi pemicu dan pemacu pertumbuhan ekonomi wilayah sekitarnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Pusat Pertumbuhan harus merupakan kegiatan pengembangan ekonomi daerah yang berbasis pada potensi lokal serta mempertimbangkan keterkaitan dengan perkembangan wilayah sekitarnya. b. Desa Budaya Lebak Desa Budaya Lebak adalah desa khas yang ditata untuk kepentingan pelestarian budaya. Kekhasan tersebut bisa berupa kampung adat atau rumah adat. Pelaksanaan pembangunan daerah harus senantiasa memperhatikan aspek budaya yang merupakan bagian dari modal sosial yang dapat dikembangkan menjadi sebuah potensi pembangunan. Salah satu upaya pelestarian budaya khas Lebak adalah dengan memfokuskan pembangunan di desa-desa budaya Lebak. Beberapa Desa Budaya di Lebak antara lain Desa Kanekes dengan Wisata Baduynya, Desa atau lebih populer Kasepuhan Citorek, Cisungsang dan Cibedug yang terletak di Kecamatan Cibeber. II - 55
56 c. Desa Tertinggal Desa Tertinggal adalah desa yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan desa lain dalam suatu wilayah tertentu. Ketertinggalan suatu wilayah tentu harus segera dikurangi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Tertinggal ini dititikberatkan pada pemenuhan sarana dan prasarana dasar permukiman serta pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat seperti akses terhadap pendidikan dasar dan kesehatan dasar. Berdasarkan identifikasi Desa Tertinggal oleh BPS dan Bappeda Kabupaten Lebak pada tahun 2005 terdapat 148 Desa Tertinggal yang secara bertahap setiap tahunnya sampai dengan tahun 2008 terus dilakukan pengurangan melalaui berbagai program percepatan daerah tertinggal. Mengingat keterbatasan sumberdaya yang ada maka pembangunan desa tertinggal akan difokuskan pada 10 desa tertinggal setiap tahunnya. d. Kota Pusat Pertumbuhan di WPU dan WPP Kota Pusat Pertumbuhan atau Pusat Kegiatan Lokal (PKL) adalah kota sebagai pusat jasa, pusat pengolahan, dan simpul transportasi yang berskala regional. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lebak, rencana pengembangan sistem kota-kota di Lebak yang berkaitan dengan penataan distribusi Pusat Kegiatan Lokal (PKL) untuk mendukung keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar wilayah adalah meliputi : Wilayah Pengembangan Utama (WPU) Rangkasbitung, Maja, Malingping dan Bayah Wilayah Pengembangan Penunjang (WPP) Cimarga, Cipanas, Leuwidamar, Gunung Kencana dan Panggarangan. Kegiatan pembangunan yang dilakukan di Kota Pusat Pertumbuhan dititikberatkan peningkatan pusat pelayanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur ibukota kecamatan. e. Daerah Rawan Bencana Kawasan rawan bencana di Kabupaten Lebak dikategorikan ke dalam 2 kawasan, yaitu kawasan potensi rawan bencana gerakan tanah dan kawasan potensi rawan bencana banjir. Berdasarkan zonasi kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi, maka potensi kawasan rawan bencana alam di Kabupaten II - 56
57 Lebak seluas ha (0,95 % dari luas total Kabupaten Lebak). Rencana sebaran kawasan rawan bencana alam terdapat di Kecamatan Cipanas, Kecamatan Bayah, Kecamatan Bojongmanik, dan Kecamatan Leuwidamar. Pada daerah-daerah berkerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi masih mungkin terdapatnya daerah lanyak huni, sedangkan pada daerah-daerah berkerentanan gerakan tanah rendah masih memungkinkan terjadinya gerakan tanah dalam ukuran kecil. Untuk daerah-daerah berkerentanan gerakan tanah diperlukan penelitian geologi teknik yang lebih rinci apabila akan dilakukan pemanfaatan ruang di daerah ini. Sedangkan Kawasan rawan bencana banjir sedapat mungkin tidak dipergunakan untuk permukiman, demikian pula kegiatan lain yang dapat merusak atau mempengaruhi kelancaran sistem drainase. Perhubungan Penyediaan sarana dan prasarana transportasi merupakan infrastruktur dasar bagi pelaksanaan kegiatan masyarakat di segala bidang, baik ekonomi, sosial maupun pertahanan dan keamanan pada suatu wilayah. Sistem transportasi yang baik akan membantu laju pertumbuhan ekonomi wilayah, sehingga penyelenggaraan sistem transportasi tidak dapat dilepaskan dari rencana pengembangan ekonomi wilayah. Pengembangan Sistem Transportasi di Kabupaten Lebak ditekankan pada pengembangan sistem transportasi darat. Sistem transportasi darat mencakup sarana dan prasarana jaringan jalan, terminal, angkutan umum dan kereta api. Kondisi terminal-terminal yang ada di Kabupaten Lebak sampai dengan tahun 2008 dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Terminal Kadu Agung (Mandala) a. Luas Areal : M2 b. Luas Bangunan : 150 M2 (bertingkat) c. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 23 Trayek yang terdiri dari 2 trayek angkutan kota, 10 trayek angkutan desa, 11 trayek AKDP dan AKAP. d. Permasalahan : - Keadaan implasmen agak rusak - Kondisi gedung kantor agak rusak - Kesadaran para pengemudi/pengusaha terhadap kewajibankewajibannya masih sangat rendah II - 57
58 - Keberadaan para pengurus jalur mengganggu kinerja terminal Kaduagung/Mandala - Jumlah kendaraan yang beroperasi baik angkot, angdes,akap maupun AKDP tidak sesuai dengan jumlah kendaraan yang terdaftar, rata-rata kendaraan yang operasi hanya 60%. 2. Terminal Curug a. Luas Areal : M2 b. Luas Bangunan : 109,725 M2 (bertingkat) c. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 23 Trayek. 3. Terminal Aweh a. Luas Areal : M2 b. Luas Bangunan : 276 M2 (bertingkat) c. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 8 Trayek yang terdiri dari 1 trayek angkutan kota, 7 trayek angkutan desa. d. Permasalahan : - Rendahnya bangkitan penumpang dari arah Ciboleger dan sekitarnya - Masyarakat pengguna jasa angkutan orang dari arah Ciboleger dan sekitarnya menuju ke Rangkasbitung tidak berkenan untuk berganti kendaraan di Terminal Aweh karena merasa terbebani dengan penambahan ongkos untuk berganti kendaraan 4. Terminal Malingping a. Luas Areal : M2 b. Luas Bangunan : 100 M2 (bertingkat) c. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 7 Trayek semuanya trayek angkutan desa. d. Permasalahan : - Rendahnya bangkitan penumpang dari arah Malingping dan sekitarnya ked an dari arah Bayah karena keberadaan terminal jauh dari pusat kota dan pasar sehingga menyebabkan kurangnya penghasilan para sopir angkutan. II - 58
59 5. Terminal Bayah a. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 6 Trayek semuanya trayek angkutan desa. b. Permasalahan : - Sebagian penumpang memilih menunggu kendaraan di jalan dibandingkan dengan menunggu di terminal karena untuk mempercepat waktu tempuh ke tujuan. - Banyak kendaraan yang tidak beroperasi karena mengalami kerusakan dan mahalnya suku cadang - Kurangnya jumlah angkutan yang menyebabkan rendahnya penghasilan para sopir angkutan 6. Terminal Binuangeun a. Luas areal M2 yang kondsinya rusak berat b. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 2 Trayek yang terdiri dari AKAP dan Angkot. c. Permasalahan : - Rendahnya bangkitan penumpang - Kondisi terminal rusak berat Pertanahan Berdasarkan kepemilikan lahan, pada tahun 2010 sebesar 21,14% (64.356,66 Ha) sudah dimiliki oleh masyarakat di Kabupaten Lebak dengan luas lahan bersertifikat ,14 Ha atau 99,98% dari luas luas lahan yang dimiliki. Kependudukan dan Catatan Sipil Penyediaan dokumen kependudukan dilaksanakan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat akan dokumen kependudukan, sehingga semua penduduka Kabupaten Lebak diharapkan memiliki dokumen kependudukan yang lengkap sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang RI No. 23 Tahun Namun demikian, berdasarkan data permohonan pembuatan dokumen kependudukan hingga Desember 2008, tercatat penduduk yang telah memiliki Kartu Tanda Penduduk atau 57,30% dari penduduk yang wajib II - 59
60 memiliki Kartu Tanda Penduduk. Demikian pula halnya dengan akte kelahiran, yang tercatat memiliki akte kelahiran sekitar jiwa atau 33,98%. Sementara itu dari hasil pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan biodata penduduk melalui validasi data kependudukan pada Buku Induk Penduduk (BIP) dan pengisian form F-1.01 bagi penduduk WNI yang belum terdaftar dalam BIP, database kependudukan (melalui sistem SIAK) telah berhasil merekam penduduk Kabupaten Lebak sebanyak jiwa. Untuk pelayanan pendaftaran kependudukan dan catatan sipil dapat dilihat pada tabel berikut ini. No Tabel 2.30 Pelayanan Pendaftaran Penduduk dan Catatan Sipil di Kabupaten Lebak Tahun Jenis Pelayanan Tahun Kartu Keluarga (KK) Kartu Tanda Penduduk (KTP) Akta-akta Pencatatan Sipil Buku Register Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Lebak Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Pada era otonomi daerah untuk bidang Keluarga Berencana, setiap kabupaten/kota bekerjasama untuk menyelenggarakan pelayanan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera sesuai standar pelayanan minimal. Jenis pelayanan yang harus dikembangkan diantaranya : 1. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR); 2. Penyelenggaraan Pelayanan Keluarga Berencana (KB)/Kesehatan Reproduksi (KR) yang beruntun dan berkesinambungan. 3. Pengembangan kualitas keluarga meliputi : a. Pembinaan Keluarga Berencana (BKB) b. Pembinaan Keluarga Remaja (BKR) c. Pembinaan Keluarga Lansia (BKL) Kondisi penyelenggaraan pelayanan sebagaimana uraian di atas dapat dilihat pada tabel berikut ini. II - 60
61 Tabel 2.31 Banyak Akseptor KB menurut Alat Kontrasepsi yang digunakan di Kabupaten Lebak Tahun No. Tahun IUD MOP MOW Susuk Suntik Pil Kondom Jumlah Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Lebak Dari tabel di atas diketahui bahwa akseptor KB yang terbanyak menggunakan alat kontrasepsi suntik dan tren setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada umumnya dari tahun jumlah pengguna akseptor KB di Kabupaten Lebak setiap tahunnya mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat Kabupaten Lebak menjadi peserta Keluarga Berencana (KB) atau akseptor naik sebesar 86,71%. Tabel 2.32 Jumlah Sarana Pelayanan Keluarga Berencana di Kabupaten Lebak Tahun No. Tahun KKB Induk KKB Pembantu PKBRS Puskesmas Jumlah Sumber : BPS Kab. Lebak Jumlah sarana pelayanan Keluarga Berencana selama kurun waktu secara berkesinambungan relatif konstan. Hanya sarana pelayanan untuk KKB Induk dan KKB Pembantu secara statistik mengalami fluktuasi. II - 61
62 Tabel 2.33 Jumlah Petugas Lapangan Keluarga Berencana Di Kabupaten Lebak Tahun No. Tahun PPLKB PLKB Penyuluh KB Jumlah Sumber : BPS Kab. Lebak Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa PLKB dan Penyuluh KB mengalami penurunan. Hal ini disebabkan petugas lapangan tersebut ada yang pensiun dan mutasi kepegawaian. Di Kabupaten Lebak pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja terbentuk pada tahun 2007 sebanyak 5 kelompok terdiri dari 1 PIK-KRR Tingkat Kabupaten dan 4 PIK-KRR Tingkat Kecamatan. Seiring dengan semakin berkembangnya jumlah penduduk pada tahun 2008 jumlah PIK-KRR bertambah menjadi 18 kelompok terdiri dari 1 PIK-KRR Tingkat Kabupaten dan 17 PIK-KRR Tingkat Kecamatan. Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Jumlah posyandu dan kader posyandu di Kabupaten Lebak relatif stabil setiap tahunnya, seperti terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.34 Jumlah Pos Yandu, Kader dan Kader Aktif Di Kabupaten Lebak Tahun Kader No. Tahun Posyandu Jumlah Kader Kader Aktif Sumber : BPS Kab. Lebak II - 62
63 No. Tabel 2.35 Jumlah Data Kelompok Kegiatan Ketahanan Keluarga di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Kecamatan Kelompok Kegiatan BKB BKR BKL 1. Rangkasbitung Kalanganyar Cibadak Warunggunung Cikulur Leuwidamar Cimarga Bojongmanik Cirinten Muncang Sobang Gunungkencana Cileles Banjarsari Malingping Wanasalam Cigemblong Cijaku Sajira Lebakgedong Cipanas Maja Curugbitung Panggarangan Cihara Bayah Cibeber Cilograng Jumlah Sumber : BP2KBMPD Kab. Lebak, Tahun 2008 II - 63
64 Sosial Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan kesejahteraan sosial meliputi proses globalisasi dan industrialisasi serta krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan. Dampak yang dirasakannya diantaranya semakin berkembang dan meluasnya bobot, jumlah dan kompleksitas berbagai permasalahan sosial. Penanganan permasalah sosial perlu didukung oleh sarana sosial. Jumlah panti di Kabupaten Lebak pada tahun 2004 berjumlah 70 panti, pada tahun 2005 berjumlah 73 panti, pada tahun 2006 berjumlah 93 panti, pada tahun 2007 berjumlah 116 panti dan pada tahun 2008 berjumlah 129 panti. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.35 di bawah ini. Tabel 2.36 Jumlah Panti Berdasarkan Penanganan Kasus di Kabupaten Lebak Tahun No. Tahun Jenis Penanganan Cacat Asuh Jompo Sumber : Yayasan non panti di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 berjumlah 134 yayasan dengan anak asuh. Selain itu, keadaan permasalahan sosial dapat diamati dari data tabel Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di bawah ini. No. Tahun Tabel 2.37 Jumlah Penduduk Penderita Cacat Fisik Di Kabupaten Lebak Tahun Tuna Rungu - Wicara Tuna Daksa Tuna Netra Tuna Ganda Bibir Sumbing Jumlah Sumber : BPS Kab. Lebak II - 64
65 Tabel 2.38 Jumlah Penduduk Penderita Cacat Mental Di Kabupaten Lebak Tahun No. Tahun Penderita Cacat Mental: Laki-laki Perempuan Jumlah Sumber : BPS Kab. Lebak Ketenagakerjaan Permasalahan ketenagakerjaan sampai saat ini senantiasa menjadi salah satu isu utama pembangunan, baik pada skala nasional, regional maupun lokal. Diperkirakan permasalahan ketenagakerjaan ini masih akan diwarnai oleh masalah-masalah yang bersifat konvensional dan kontemporer seperti masalah angkatan kerja, pengangguran dan pemutusan hubungan kerja. No. Tahun Petani Tabel 2.39 Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian di Kabupaten Lebak Tahun Buruh Tani Buruh Nelayan PNS Industri Nelayan/ Perikanan Perdagangan Lainnya NR NR NR NR NR NR NR NR NR NR NR Jumlah Sumber : BPS Kab. Lebak Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan, kecuali pada tahun 2008 tidak mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2007, hanya mengalami perubahan komposisi antara Tenaga Kerja Indonesia perempuan dan laki-lakinya. Tenaga Kerja Indonesia lebih didominasi oleh tenaga kerja perempuan dibandingkan dengan tenaga kerja laki-lakinya, hal ini dapat terlihat dari tabel berikut : II - 65
66 No. Tabel 2.40 Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Lebak Tahun Tahun Laki-laki TKI Perempuan Jumlah NR NR NR Sumber : BPS Kab. Lebak, 2008 Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Koperasi sebagai soko guru ekonomi memiliki peran strategis dalam mengembangkan struktur perekonomian daerah guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Kondisi Koperasi di Kabupaten pada akhir tahun 2008 secara kuantitatif terdiri dari 24 jenis koperasi dengan jumlah 834 koperasi yang memiliki anggota sebanyak anggota. Untuk tahun 2008 jumlah Koperasi yang dilihat dari jenis klasifikasi terdiri dari Klasifikasi A sebanyak 75 Koperasi, Klasifikasi B sebanyak 84 Koperasi, Klasifikasi C sebanyak 175 Koperasi, dan Klasifikasi D sebanyak 500 Koperasi. Sementara itu dari segi aktifitas yang dilakukan oleh Koperasi ternyata dari data yang ada hanya 570 Koperasi yang aktif. Sementara itu berdasarkan hasil Sensus Ekonomi Tahun 2006 yang dilaksanakan oleh BPS diketahui jumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kabupaten Lebak berjumlah unit usaha yang bergerak pada 13 jenis usaha. Rincian jenis dan jumlah usaha sebagai berikut : a. Pertambangan/Penggalian : unit usaha; b. Industri Pengolahan : unit usaha; c. Listrik, Gas dan Air : 53 unit usaha; d. Konstruksi : 461 unit usaha; e. Perdagangan Besar dan Eceran : unit usaha; f. Penyediaan Akomodasi (Makanan dan Minuman) : unit usaha; g. Transportasi, Pergudangan, Komunikasi : unit usaha; h. Perantara Keuangan : 285 unit usaha; i. Real Estate, Usaha Persewaan Jasa Perusahaan : unit usaha; j. Jasa Pendidikan : unit usaha; k. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial : 624 unit usaha; II - 66
67 l. Jasa Kemasyarakatan (Sosial Budaya) : unit usaha; m. Jasa Perorangan Melayani Rumah Tangga : 221 unit usaha. Tabel 2.41 Perkembangan Koperasi di Kabupaten Lebak Tahun No. Tahun Klasifikasi: Anggota Jumlah Aktif Tidak Aktif Koperasi Sumber: Dinas Koperasi dan UKM Kab. Lebak, 2008 Tabel 2.42 Koperasi di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Kecamatan Aktif Tidak Aktif Jumlah Rangkasbitung Cibadak Kalanganyar Cimarga Warunggunung Maja Curug Bitung Sajira Lebak Gedong 1-1 Cipanas Leuwidamar Muncang Sobang Bojongmanik 7-7 Cirinten Cikulur Cileles Gunung Kencana Banjarsari Cijaku Cigemblong Malingping Wanasalam Cihara Panggarangan Bayah Cibeber Cilograng J u m l a h Sumber : Dinas Koperasi dan UKM Kab. Lebak, 2008 II - 67
68 Penanaman Modal Jumlah investasi swasta di Kabupaten Lebak yang berskala kecil/menengah/besar selama empat tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan yang bergerak pada bidang industri, pertanian, perkebunan, pertambangan pariwisata dan perdagangan, yang terdiri dari : 1). Perusahaan PMDN pada tahun 2004 sebanyak 1 perusahaan dan tahun 2008 menjadi 5 perusahaan, 2). Perusahaan PMA pada tahun 2004 sebanyak 2 perusahaan dan tahun 2008 menjadi 19 perusahaan, 3). Perusahaan Non Fasilitas pada tahun 2004 sebanyak 34 perusahaan dan tahun 2008 menjadi perusahaan. Perkembangan investasi selama 4 (empat) tahun sebagai berikut : II - 68
69 Tabel 2.43 Perkembangan Investasi di Kab. Lebak Tahun No. Jenis Investasi Tahun Jumlah 1. PMDN Rp Rp. - Rp Rp Rp. - Rp PMA US$ US$ US$ US$ US$ US$ Rp. - Rp. - Rp. - Rp. - Rp Rp Non Fasilitas Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp Rp US$ US$ US$ US$ US$ US$ Sumber : KPPT Kabupaten Lebak, 2008 II - 69
70 Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Situasi politik di Kabupaten Lebak merupakan resonansi dari konsolidasi demokrasi di Indonesia. Indonesia menempuh jalur transisi demokrasi, kegiatan masyarakat sipil semakin meningkat. Iklilm baru reformasi politik, telah mendorong pertumbuhan organisasi kemasyarakatan baru, yayasan-yayasan, perkumpulanperkumpulan warga dan sebagainya. Perkembangan proses demokratisasi sejak tahun 1997 hingga selesainya proses Pemilu tahun 2004 yang lalu telah memberikan peluang untuk mengakhiri masa transisi demokrasi menuju arah proses konsolidasi demokrasi. Berkenaan dengan Pemilu, keberhasilan penting yang telah diraih adalah telah dilaksanakannya pemilihan umum langsung anggota DPR, DPD dan DPRD, serta pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung, aman dan demokratis pada tahun Hal ini merupakan modal awal yang penting untuk lebih berkembangnya demokrasi pada masa selanjutnya. Dengan demikian demokrasi selama ini ditandai pula dengan terumuskannya format hubungan antara pusat-daerah yang baru berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2004 sebagaiman diubah terakhir dengan UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang pada intinya lebih mendorong kemandirian daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan mengatur mengenai hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah propinsi, kabupaten dan kota, atau propinsi dengan kabupaten dan kota. Pertumbuhan kekuatan masyarakat sipil (civil society) di Kabupaten Lebak jika dikelola dengan benar akan menjadi komponen strategis dalam rangka : 1. Memobilisasi dan menyatukan kepentingan, perhatian dan kebutuhan masyarakat atau bagian-bagiannya, dan untuk menyampaikannya kepada para pemegang kekuasaan atau wakil-wakil partai politik. 2. Membantu pemantauan dan pengendalian lembaga-lembaga publik serta pelaksanaan undang-undang, peraturan-peraturan, dan 3. Memediasi antar kepentingan-kepentingan sosial, agama dan budaya yang bertentangan, pendidikan, penelitian, dan kegiatan-kegiatan rekonsiliasi bisa membantu mengurangi konflik dan menemukan resolusi-resolusi konflik. Masyarakat sipil di Kabupaten Lebak, merupakan modal dasar bagi upaya pencapaian mekanisme check and balance, distribusi kekuasaan secara sehat dan II - 70
71 fair, serta adanya struktur dan budaya politik yang adil dan berorientasi kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, tantangan terberat dalam kurun waktu 5 sampai 20 tahun mendatang dalam pembangunan politik adalah menjaga proses konsolidasi demokrasi secara berkelanjutan. Konsolidasi demokrasi akan berjalan baik apabila didukung oleh kelembagaan demokrasi yang kokoh. Sampai dengan saat ini, proses demokrasi dalam kehidupan sosial dan politik dapat dikatakan telah berjalan pada jalur dan arah yang benar yang ditunjukkan dengan tingginya partisipasi masyarakat dan peran partai politik dalam proses Pemilu (pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dan Legislatif). Dalam waktu 5 (lima) tahun kedepan, pelaksana serta peningkatan kualitas demokrasi yang sudah berjalan baik, akan terus dikembangkan. Gambaran tentang berjalannya proses demokrasi di Kabupaten Lebak dapat terlihat pada berikut ini. Tabel 2.44 Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Lebak Menurut Fraksi Hasil Pemilu Tahun 2004 No Fraksi Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah 1. Partai Golkar PDI Perjuangan P P P Keadilan Sejahtera Kebangkitan Bangsa Lebak Membangun 6-6 J u m l ah No. 1. Tabel 2.45 Jumlah Pemilihan Umum Kabupaten Lebak Tahun 2006 dan 2008 Jenis Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Tidak Menggunakan Hak Menggunakan Hak Pilih Pilih Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Bupati dan Wakil Bupati Sumber : KPU Kab. Lebak, Tahun 2006 dan 2008 II - 71
72 Tabel 2.46 Jumlah Hasil Perhitungan Suara Pemilihan Umum Kabupaten Lebak Tahun 2006 dan 2008 No. Kecamatan Suara Sah Suara Tidak Sah 1. Gubernur dan Wakil Gubernur Bupati dan Wakil Bupati Sumber : KPU Kab. Lebak, Tahun 2006 dan 2008 Tabel 2.47 Jumlah Daftar Terpilih Anggota DPRD Kabupaten Lebak Pemilu Tahun 2009 No. Daerah Pemilihan Jumlah Calon Terpilih Suara Sah 1. Lebak Lebak Lebak Lebak Lebak Lebak Jumlah Sumber : KPU Kab. Lebak, Tahun 2009 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Perangkat Daerah adalah organisasi atau lembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Pada Daerah Provinsi, Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah, Dinas Daerah, dan Lembaga Teknis Daerah. Pada Daerah Kabupaten/Kota, Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan, dan Kelurahan. Perangkat Daerah dibentuk oleh masing-masing Daerah berdasarkan pertimbangan karakteristik, potensi, dan kebutuhan Daerah. Organisasi Perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah setempat dengan berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. Di Kabupaten Lebak kelembagaan perangkat daerah sebanyak 51 satuan kerja yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 14 Tahun Dengan diterbitkannya Peraturan II - 72
73 Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007, Kabupaten Lebak mengembangkan tata kelembagaan pemerintahan daerahnya menjadi 61 satuan kerja yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 11 Tahun Guna meningkatkan potensi daerah, Kabupaten Lebak melakukan kerjasama dengan daerah otonom lainnya serta dengan dunia usaha sejumlah 2 kegiatan kerja sama, yaitu : 1. Kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah di bidang Tata Pemerintahan dan Pembangunan Daerah dan menghasilkan Keputusan Bersama Bupati Sragen Provinsi Jawa Tengah dengan Bupati Lebak Provinsi Banten Nomor : 570/04/03/2005 dan Nomor : 130.1/Kep- 65/Bapp/ Kerjasama pembangunan Pasar Kota Rangkasbitung dengan PT. Bukit Kiara Lestari dan menghasilkan Perjanjian Kerjasama Nomor : 180/Perj-02/2006 dan Nomor : 010/PK/BKL/April-2006 yang kemudian diubah dengan Addendum dan Perubahan Perjanjian Kerjasama Nomor : 180/Perj-08/2007 dan Nomor : 010A/PK/BKL/Juli Sejak Juni 2006 telah beroperasi unit Pelayanan Perijinan Terpadu sebagai salah satu bentuk kepedulian Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak terhadap penyederhanaan pelayanan perijinan kepada masyarakat, sehingga pelayanan yang diberikan menjadi jauh lebih cepat, tepat dan mudah. Adapun perijinan yang dikeluarkan oleh unit KPPT diantaranya : 1. IPPT (Ijin Peruntukan Penggunaan Tanah); 2. IMB (Ijin Mendirikan Bangunan); 3. SITU/SIGA (Surat Ijin Tempat Usaha/Surat Ijin Gangguan); 4. SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan); 5. TDP (Tanda Daftar Perusahaan); 6. TDG (Tanda Daftar Gudang); 7. TDI/IUI (Tanda Daftar Industri/Ijin Usaha Industri); 8. Ijin Pertambangan Umum; 9. Ijin Penyelenggaraan Reklame; 10. SIUJK (Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi); 11. Ijin Pengusahaan Sarang Burung Walet; 12. Ijin Penebangan Kayu; 13. SIUK (Surat Ijin Usaha Kepariwisataan); 14. Perijinan Pelayanan Kesehatan. II - 73
74 Perijinan sebagaimana disebutkan di atas, penandatanganannya dilaksanakan oleh Kepala KPPT Kabupaten Lebak atas nama Bupati Lebak, namun untuk perijinan tertentu Kepala KPPT harus terlebih dahulu meminta persetujuan Bupati Lebak melalui Nota Dinas. Adapun perijinan yang dikecualikan tersebut meliputi : 1. Perijinan untuk pendirian Hotel; 2. Perijinan untuk pendirian Rumah Sakit; 3. Perijinan untuk pemasangan reklame konstruksi besar; 4. Perijinan untuk pendirian Rice Milling Unit (RMU); 5. Perijinan untuk pendirian SPBU/Pompa Bensin; 6. Perijinan untuk penerbitan Ijin Usaha Industri yang mempunyai nilai investasi Rp. 1 Milyar ke atas; 7. Perijinan untuk usaha Pertambangan Umum 5 Hektar ke atas; 8. Perijinan untuk mendirikan bangunan dengan 500 m 2 ke atas dan atau bangunan dengan nilai bangunan Rp. 500 juta ke atas; 9. Perijinan untuk Peruntukan Penggunaan Tanah m 2 ke atas; 10. Perijinan yang belum memiliki dasar aturan perundang-undangan yang berlaku. Perkembangan pencapaian target retribusi perijinan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.48 Pencapaian Target Retribusi Perijinan KPPT Tahun Tahun No. Jenis Perijinan Ijin Penebangan Kayu dan Bambu , , , Ijin Pengusahaan Sarang Burung Walet Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) , , , , , ,- 4. Tanda Daftar Perusahaan (TDP) , , , Tanda Daftar Industri (TDI) / Ijin Usaha Industri (IUI) Surat Ijin Tempat Usaha (SITU) / Surat Ijin Gangguan (SIGA) , , , , , ,- 7. Tanda Daftar Gudang (TDG) , , ,- 8. Ijin Pelayanan Kesehatan , , ,- II - 74
75 No. Jenis Perijinan Tahun Ijin Penggunaan Tanah (IPPT) , , ,- 10. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) , , , Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) Ijin Pertambangan Umum (Iuran Pertambangan Umum Percadangan Wil. Pertambangan Umum) , , , , , ,- Sumber : KPPT Kab. Lebak Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia; sedangkan Kelurahan adalah wilayah kerja lurah sebagai Perangkat Daerah dalam wilayah kerja kecamatan. Jumlah Desa dan Kelurahan di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 sebanyak 340 desa dan 5 Kelurahan yang tersebar di 28 Kecamatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.49 di bawah ini. Tabel 2.49 Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 No. Kecamatan Desa Kelurahan 1 Malingping 14-2 Wanasalam 13-3 Panggarangan 11-4 Bayah 11-5 Cilograng 10-6 Cibeber 22-7 Cijaku 10-8 Banjarsari 20-9 Cileles Gunungkencana Bojongmanik 9-12 Leuwidamar Muncang Sobang Cipanas 14 - II - 75
76 No. Kecamatan Desa Kelurahan 16 Sajira Cimarga Cikulur Warunggunung Cibadak Rangkasbitung Maja Curugbitung Cihara 9-25 Cigemblong 9-26 Cirinten Lebakgedong 6-28 Kalanganyar 7 - Jumlah Sumber : BPS Kab. Lebak, 2008 Perlu diketahui, bahwa pada tahun 2006 jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Lebak sebanyak 315 desa dan 5 kelurahan. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan volume kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa, maka dikeluarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 1 Tahun 2008 mengenai pemekaran 25 desa di Kabupaten Lebak yang pada akhirnya jumlah desa/kelurahan berjumlah 340 desa dan 5 Kelurahan. Guna meningkatkan kinerja pemerintahan desa, perlu ditunjang dengan sarana kantor desa yang memadai. Untuk lebih jelasnya kondisi kantor desa dapat dilihat pada tabel 2.50 berikut ini : No. Tabel 2.50 Kondisi Kantor Desa/Kelurahan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Kecamatan Jumlah Desa Kondisi Bangunan Kantor Desa Baik Sedang Rusak 1. Rangkasbitung Kalanganyar Cibadak Warunggunung Cikulur Maja Sajira Belum Punya 8. Curugbitung II - 76
77 No. Kecamatan Jumlah Desa Kondisi Bangunan Kantor Desa Baik Sedang Rusak 9. Cipanas Lebakgedong Belum Punya 11. Cimarga Leuwidamar Muncang Sobang Bojongmanik Cirinten Gunungkencana Cileles Banjarsari Cijaku Cigemblong Malingping Wanasalam Panggarangan Cihara Bayah Cilograng Cibeber JUMLAH Sumber : BP2KBMPD Kab. Lebak, 2008 Status tanah yang dimiliki oleh kantor desa/kelurahan sebagian besar berstatus tanah desa yaitu sebesar 66,25%, sebagian lagi berstatus tanah pribadi sebesar 4,37% dan hibah sebesar 1,56%. Ketahanan Pangan Menurut Undangundang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Ketahanan Pangan, menjelaskan bahwa ketahanan pangan merupakan Kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Dalam mengukur ketahanan pangan suatu wilayah melalui metode perhitungan Food Security Vernurable Atlas (FSVA) ditinjau dari aspek ketersediaan pangan berdasarkan produksi suatu wilayah; aksesibilitas masyarakat terhadap pangan; dan pemanfaatan pangan oleh masyarakat. Untuk menetapkan daerah rawan pangan ditentukan berdasarkan nilai indeks. Semakin besar nilai indeks maka daerah II - 77
78 tersebut semakin rawan pangan, atau termasuk prioritas utama dalam pembangunan. Indeks ketersediaan pangan dihitung dengan menggunakan data produksi pangan berupa serelia (padi-padian) dan umbi-umbian (umbi jalar dan umbi kayu) selama tiga tahun terakhir. Hal ini dikarenakan kebutuhan kalori umumnya berasal dari serelia dan umbi-umbian tersebut. Berdasarkan perhitungan indeks tersebut, diketahui bahwa secara umum Kabupaten Lebak merupakan daerah yang cukup pangan. Secara lebih lengkap, data indeks ketersediaan pangan tersaji pada tabel 2.51 berikut ini : Tabel 2.51 Indeks Ketersediaan Pangan Kabupaten Lebak ( ) NO KECAMATAN KONDISI PANGAN INDEKS 1 Malingping Surplus Tinggi 0,139 2 Wanasalam Surplus Tinggi - 3 Panggarangan Surplus Tinggi 0,135 4 Cihara Surplus Tinggi 0,258 5 Bayah Surplus Tinggi 0,189 6 Cilograng Surplus Tinggi 0,039 7 Cibeber Surplus Tinggi 0,133 8 Cijaku Surplus Tinggi 0,080 9 Cigemblong Surplus Tinggi 0, Banjarsari Surplus Sedang 0, Cileles Surplus Tinggi 0, Gunungkencana Surplus Sedang 0, Bojongmanik Surplus Tinggi 0, Cirinten Surplus Tinggi 0, Leuwidamar Surplus Rendah 0, Muncang Surplus Sedang 0, Sobang Surplus Tinggi 0, Cipanas Surplus Tinggi 0, Lebak Gedong Surplus Tinggi 0, Sajira Surplus Tinggi 0, Cimarga Surplus Sedang 0, Cikulur Surplus Sedang 0, Warunggunung Surplus Sedang 0, Cibadak Surplus Sedang 0, Rangkasbitung Defisit Rendah 0, Kalanganyar Defisit Rendah 1, Maja Surplus Sedang 0, Curug bitung Surplus Sedang 0,478 Sumber : II - 78
79 Berdasarkan tabel di atas, terdapat 3 (tiga) kecamatan yang perlu mendapatkan perhatian yaitu Kecamatan Rangkasbitung, Kalanganyar, dan Leuwidamar. Berdasarkan ketersediaan pangannya, Kecamatan Rangkasbitung dan Kalanganyar merupakan wilayah yang defisit pangan. Hal ini karena kedua kecamatan tersebut merupakan wilayah transisi perkotaan yang memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Selain itu, masalah alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman menyebabkan rasio antara ketersediaan dan konsumsi menjadi defisit. Kondisi rasio konsumsi yang defisit ini juga terjadi di Kecamatan Leuwidamar. Penyebab utama rendahnya ketersediaan pangan di wilayah ini karena lahan pertanian yang tidak cukup luas. Sehingga produksi pangan tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Kondisi ketersediaan pangan di Kabupaten Lebak didukung oleh lebih dari 50% kecamatan yang memiliki kondisi surplus tinggi diantaranya adalah Kecamatan Malingping, Wanasalam, Penggarangan, Cihara, Bayah, Cilograng, Cibeber, Cijaku, Cigemblong, Cileles, Bojongmanik, Cirinten, Sobang, Cipanas, Lebakgedong, dan Sajira. Berdasarkan pendekatan indeks pangan dan penghidupan atau aksesibilitas masyarakat terhadap pangan, sebagian wilayah Kabupaten Lebak termasuk dalam kategori prioritas 1 sampai prioritas 3. Beberapa kecamatan yang termasuk prioritas pertama dan harus segera ditangani adalah Kecamatan Cihara, Cirinten dan Cigemblong. Hal ini menunjukan ketidakmampuan masyarakat untuk memiliki kualitas hidup yang baik akibat banyaknya jumlah keluarga miskin dan rendahnya layanan infrastruktur wilayah. Kondisi infrastruktur (jalan dan penerangan) yang belum memadai di wilayah mengakibatkan terisolasinya masyarakat dari jangkauan pelayanan sosial dan ekonomi sehingga peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terbatas. Hal inilah yang mengakibatkan tingginya angka kemiskinan di wilayah tersebut. Jumlah keluarga miskin menjadi indikator utama kondisi keterbatasan pangan dan penghidupan. Berdasarkan indeks pangan dan penghidupan, beberapa kecamatan dengan kondisi yang lebih baik layanan infrastruktur dan rata-rata tingkat kesejahteraan masyarakatnya adalah Kecamatan Malingping, Cileles, Rangkasbitung dan Panggarangan. Kecamatan tersebut tergolong ke dalam prioritas 5 dan prioritas 6, dapat dilihat pada tabel berikut ini. II - 79
80 NO KECAMATAN Tabel 2.52 Indeks Pangan dan Penghidupan Tahun 2010 KK MISKIN (%) JALAN TIDAK MEMADAI (%) KK TANPA AKSES LISTRIK (%) INDEKS PANGAN DAN PENGHIDU- PAN KATEGORI 1 Malingping 24,79 54,21 34,75 0,31 Prioritas 5 2 Wanasalam 39,50 77,42 64,23 0,64 Prioritas 2 3 Panggarangan 43,71 5,24 53,18 0,30 Prioritas 5 4 Cihara 60,22 72,00 68,25 0,76 Prioritas 1 5 Bayah 36,01 65,01 33,62 0,41 Prioritas 4 6 Cilograng 45,04 7,64 64,82 0,38 Prioritas 4 7 Cibeber 48,28 60,86 59,43 0,60 Prioritas 2 8 Cijaku 58,26 21,20 57,22 0,48 Prioritas 3 9 Cigemblong 41,35 58,25 87,17 0,68 Prioritas 1 10 Banjarsari 47,26 60,00 53,21 0,56 Prioritas 3 11 Cileles 34,88-32,36 0,12 Prioritas 6 12 Gunungkencana 44,20 46,71 28,74 0,36 Prioritas 4 13 Bojongmanik 52,52 42,60 53,66 0,52 Prioritas 3 14 Cirinten 79,83 44,26 70,32 0,77 Prioritas 1 15 Leuwidamar 79,56-58,07 0,52 Prioritas 3 16 Muncang 61,67 30,68 40,38 0,46 Prioritas 3 17 Sobang 65,66-58,83 0,44 Prioritas 4 18 Cipanas 59,07 29,81 33,63 0,40 Prioritas 4 19 Lebak Gedong 55,59-64,59 0,41 Prioritas 4 20 Sajira 61,84 67,39 27,48 0,55 Prioritas 3 21 Cimarga 57,46 46,36 49,27 0,54 Prioritas 3 22 Cikulur 46,89 42,21 43,64 0,43 Prioritas 4 23 Warunggunung 61,18-49,42 0,37 Prioritas 4 24 Cibadak 53,67 32,62 27,65 0,35 Prioritas 4 25 Rangkasbitung 55,35 30,95 21,32 0,32 Prioritas 5 26 Kalanganyar 65,14 43,60 47,92 0,57 Prioritas 2 27 Maja 60,74 40,81 20,28 0,39 Prioritas 4 28 Curug bitung 69,45-47,75 0,41 Prioritas 4 Sumber : Selanjutnya berdasarkan indeks pemanfaatan pangan, terdapat hanya 2 (dua) kecamatan yang dapat dikategorikan prioritas 6, sedangkan yang masuk dalam kategori 1 adalah 3 (tiga) kecamatan. Secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 2.53 di bawah ini : II - 80
81 NO KECAMATAN Tabel 2.53 Indeks Pemanfaatan Pangan Tahun 2010 BERAT BADAN BALITA DIBAWAH STANDAR (%) PEREM PUAN BUTA AKSAR A (%) KK TANPA AKSES AIR BERSIH (%) RUMAH TANGGA YANG TINGGAL LEBIH DARI 5 KM (%) INDEKS PEMANF AATAN PANGAN KATEGORI 1 Malingping 5,58 0,17 46,30-0,18 Prioritas 6 2 Wanasalam 7,56 0,05 63,77 17,78 0,37 Prioritas 4 3 Panggarangan 11,81 0,43 53,93 16,73 0,47 Prioritas 3 4 Cihara 5,12 0,00 72,94 33,75 0,45 Prioritas 3 5 Bayah 13,55 0,04 46,33-0,30 Prioritas 5 6 Cilograng 12,25 0,00 57,25 12,16 0,39 Prioritas 4 7 Cibeber 2,50 0,18 45,85 39,38 0,31 Prioritas 5 8 Cijaku 12,56 1,24 47,65 24,73 0,65 Prioritas 1 9 Cigemblong 9,18 0,00 76,42 35,19 0,55 Prioritas 2 10 Banjarsari 6,13 0,27 62,27 3,65 0,31 Prioritas 5 11 Cileles 6,95 0,02 43,70 27,32 0,29 Prioritas 5 12 Gunungkencana 6,26 0,00 49,38 28,97 0,31 Prioritas 5 13 Bojongmanik 9,44 0,03 72,93 17,42 0,45 Prioritas 3 14 Cirinten 12,46 0,00 73,40 24,41 0,54 Prioritas 2 15 Leuwidamar 12,77 0,02 63,17 50,87 0,62 Prioritas 2 16 Muncang 14,58 0,35 66,06 32,58 0,54 Prioritas 2 17 Sobang 7,14 0,23 74,12 16,44 0,39 Prioritas 4 18 Cipanas 9,39 0,06 32,89 3,03 0,28 Prioritas 5 19 Lebak Gedong 16,01 0,26 47,07 32,07 0,69 Prioritas 1 20 Sajira 15,42 0,02 52,09-0,33 Prioritas 5 21 Cimarga 13,68 0,69 53,38 34,40 0,66 Prioritas 1 22 Cikulur 11,38 0,00 41,94 23,54 0,36 Prioritas 4 23 Warunggunung 13,09 0,47 63,16 1,52 0,39 Prioritas 4 24 Cibadak 10,60 0,57 30,48-0,26 Prioritas 5 25 Rangkasbitung 9,96 0,16 34,24-0,34 Prioritas 5 26 Kalanganyar 12,64 0,00 39,50-0,26 Prioritas 6 27 Maja 5,45 0,56 42,95 24,98 0,39 Prioritas 4 28 Curug bitung 7,01 0,01 68,39 15,28 0,39 Prioritas 4 Sumber : Berdasarkan tabel di atas, wilayah yang termasuk kategori prioritas 1 adalah Kecamatan Lebakgedong, Kecamatan Cimarga dan Kecamatan Cijaku. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur indeks pemanfaatan pangan adalah kondisi gizi buruk balita, kondisi perempuan buta aksara, aksesibilitas terhadap air bersih dan akesibilitas terhadap fasilitas kesehatan. Indikator utama yang menyebabkan kurangnya pemanfaatan pangan di ketiga kecamatan tersebut adalah tingginya persentase balita dengan berat badan di bawah standar dan tingginya persentase perempuan buta huruf. Kedua indikator tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. II - 81
82 Pendidikan perempuan dalam hal ini ibu rumah tangga sangat mempengaruhi pola hidup keluarganya. Berat badan dibawah standar pada balita umumnya disebabkan oleh asupan makanan yang kurang pada balita; pola makan yang tidak teratur; terbatasnya pengetahuan orang tua terhadap kandungan gizi makanan; serta sanitasi lingkungan yang tidak sehat. Selain kedua indikator tersebut, faktor kemiskinan juga dapat mempengaruhi konsumsi pangan secara umum. Masyarakat miskin memiliki keterbatasan terhadap pemanfaatan pangan dengan cukup, yang disebabkan rendahnya daya beli. Menurut indeks komposit, data menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Lebak masih menjadi prioritas 1 sampai prioritas 3 yang rawan pangan. Kecamatan Cihara, Cigemblong, Cirinten, Leuwidamar, Lebakgedong, dan Cimarga termasuk kategori prioritas 1. Secara umum tidak ada indikator yang mempengaruhi secara dominan, dimana setiap kecamatan yang termasuk prioritas 1 berbeda kondisinya. Namun yang perlu dicermati lebih lanjut adalah bahwa kecamatan yang termasuk dalam prioritas 1 merupakan wilayah yang surplus pangan. Keadaan ini menggambarkan bahwa masyarakat yang ada di Kecamatan tersebut mengalami kendala dalam akses penyediaan pangan dan pemanfaatan pangan. Khusus untuk Kecamatan Cirinten dan Leuwidamar merupakan wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi, masing-masing 79,83% dan 79,56%. Kemiskinan pada kecamatan tersebut disebabkan aksesibilitas jalan yang tidak memadai; terbatasnya instalasi listrik; dan rendahnya sarana air bersih. Dampak yang ditimbulkan oleh kemiskinan yang telah terjadi diantaranya tingginya persentase berat badan balita dibawah standar dibandingkan daerah lainnya. Hal ini dimungkinkan jika hasil produksi pangan tidak untuk pemenuhan pangan masyarakat tersebut, akan tetapi dijual ke luar. II - 82
83 Tabel 2.54 Indeks Komposit Rawan Pangan NO KECAMATAN INDEKS KOMPOSIT KATEGORI 1 Malingping 0,22 Prioritas 6 2 Wanasalam 0,43 Prioritas 3 3 Panggarangan 0,36 Prioritas 4 4 Cihara 0,54 Prioritas 1 5 Bayah 0,33 Prioritas 5 6 Cilograng 0,34 Prioritas 5 7 Cibeber 0,40 Prioritas 4 8 Cijaku 0,51 Prioritas 2 9 Cigemblong 0,56 Prioritas 1 10 Banjarsari 0,41 Prioritas 3 11 Cileles 0,22 Prioritas 6 12 Gunungkencana 0,34 Prioritas 5 13 Bojongmanik 0,44 Prioritas 3 14 Cirinten 0,59 Prioritas 1 15 Leuwidamar 0,59 Prioritas 1 16 Muncang 0,50 Prioritas 2 17 Sobang 0,40 Prioritas 4 18 Cipanas 0,30 Prioritas 5 19 Lebak Gedong 0,52 Prioritas 1 20 Sajira 0,40 Prioritas 3 21 Cimarga 0,60 Prioritas 1 22 Cikulur 0,39 Prioritas 4 23 Warunggunung 0,37 Prioritas 4 24 Cibadak 0,33 Prioritas 5 25 Rangkasbitung 0,41 Prioritas 3 26 Kalanganyar 0,47 Prioritas 2 27 Maja 0,41 Prioritas 3 28 Curug bitung 0,41 Prioritas 3 Sumber : Untuk mendukung penyediaan bahan pangan tersebut, pemerintah daerah melakukan berbagai upaya seperti peningkatan produksi pangan dan perluasan areal pertanian. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Membangun masyarakat dan desa salah satunya melalui pemberdayaan masyarakat dan desa. Pemberdayaan masyarakat dan desa dilaksanakan melalui pengembangan kemampuan masyarakat, perubahan perilaku masyarakat, dan pengorganisasian masyarakat. Gerakan PKK yang merupakan organisasi kemasyarakatan sebagai mitra kerja pemerintah dalam memberdayakan dan II - 83
84 meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui keluarga. Jumlah kelompok binaan PKK di Kabupaten Lebak adalah sebanyak 28 kelompok dengan jumlah anggota PKK sebanyak 630. Pelayanan pemberdayaan masyarakat dan desa juga dapat ditinjau dari jumlah organisasi non pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berjumlah 36 LSM dan Organisasi Masyarakat sebanyak 202 pada tahun Kondisi animo masyarakat untuk membentuk organisasi masyarakat menunjukan bahwa masyarakat masih memiliki semangat berpartisipasi yang cukup tinggi dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pemerintahan. Komunikasi dan Informatika Pengembangan sarana dan prasarana telekomunikasi di Kabupaten Lebak dilaksanakan oleh PT.Telkom Kandatel Rangkasbitung dengan wilayah cakupan pelayanan untuk Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Sarana telekomunikasi di Kabupaten Lebak berdasarkan data tahun 2006 telah mampu mencapai kapasitas SST dengan kapasitas yang telah dimanfaatkan sebanyak SST (45,40%) dan telah mampu menjangkau semua kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak. Selain itu untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lebih luas, telah disediakan pula telepon umum dan warung telekomunikasi sebanyak 425 buah. Kabupaten Lebak juga dilayani oleh jasa Pos dan Giro melalui PT. Pos Indonesia sebanyak 50 unit dengan klasifikasi 1 unit Kantor Pos Cabang Rangkasbitung, 9 unit Kantor Pos Kecamatan dan 40 unit Kantor Pos Desa. Selain itu sarana telekomunikasi yang dapat diakses oleh masyarakat yaitu melalui penyediaan layanan cellular oleh beberapa provider yang mengembangkan investasinya di Kabupaten Lebak. Hal ini dapat diketahui dengan terbangunnya Tower Cellular yang tersebar di 28 kecamatan sebanyak 139 Tower yang telah memiliki ijin pada akhir tahun II - 84
85 Fokus Layanan Urusan Pilihan Pertanian Pertanian merupakan sektor yang memberikan konstribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Dilihat dari struktur perekonomian kabupaten Lebak, persentase nilai dari sektor ini sebesar %, yang sebagian besarnya disumbang oleh subsektor bahan makanan terdiri atas komoditas padi, palawija dan hortikultura. Pada tahun 2008 jumlah produksi padi di Kabupaten Lebak sebesar Ton yang terbagi atas padi sawah sebanyak Ton dan padi gogo sebanyak Ton. Total produksi padi sebanyak ton tersebut atau setara dengan beras sebanyak ,96 ton cukup memenuhi kebutuhan pangan untuk jiwa penduduk selama 20 bulan, dengan asumsi produksi beras tidak dijual keluar daerah. Produksi padi di Kabupaten Lebak dapat dilihat pada Tabel 2.55 dibawah ini. No. Tabel 2.55 Produksi Padi Tahun Komoditi (Ton) Tahun Padi Sawah Padi Gogo JUMLAH Sumber : Dinas Pertanian Kab. Lebak, 2008 Sedangkan untuk komoditas palawija, yang terdiri dari jagung kedelai kacang tanah, kacang hijau dan ubi kayu serta ubi jalar, produksi yang tertinggi ada pada ubi kayu dengan total produksi sebanyak Ton. Jagung merupakan komoditas palawija dengan hasil produksi terbesar kedua dengan total produksi sebesar Ton. Pada tabel 2.56 di bawah ini dapat diketahu produksi palawija di Kabupaten Lebak dari tahun 2005 sampai dengan tahun II - 85
86 Tabel 2.56 Produksi Palawija Tahun No. Komoditi (Ton) Tahun Jagung Kedelai 153, Kacang Tanah Kacang Hijau 319, Ubi Kayu Ubi Jalar JUMLAH , Sumber : Dinas Pertanian Kab. Lebak, 2008 Untuk komoditas hortikultura, tiga hasil produksi tertinggi ada pada tanaman pisang sebesar ,8 Ton, disusul oleh rambutan sebesar 5.276,765 Ton dan durian sebesar 3.319,596 Ton. Berikut adalah tabel produksi hortikultura. Tabel 2.57 Produksi Hortikultura Tahun 2008 No Komoditas Produksi (Ton) 1 Alpukat 74,83 2 Belimbing 193,48 3 Duku/Kokosan 699,26 4 Durian 3.319,60 5 Mangga 2.528,00 6 Manggis 519,26 7 Rambutan 5.279,77 8 Nangka 1.210,28 9 Pepaya 795,13 10 Sawo 123,59 11 Sirsak 393,67 12 Sukun 596,17 13 Melinjo 1.253,69 14 Petai 677,21 15 Jeruk Siam 96,24 16 Nenas 416,28 17 Salak 317,68 18 Pisang ,84 19 Jambu Biji 219,74 20 Jambu Air 81,91 21 Cabe Besar 2.260,00 22 cabe Rawit 2.080,00 23 Kacang Panjang 7.380,00 II - 86
87 No Komoditas Produksi (Ton) 24 Terung 1.833,00 25 Mentimun 6.825,00 26 Bawang Daun 137,20 27 Kentang 110,00 28 Kembang Kol 40,00 29 Petsai/Sawi 113,00 30 Kacang Merah 33,00 31 Tomat 296,80 32 Buncis 230,00 33 Kangkung 7,93 34 Bayam 3,83 TOTAL PRODUKSI ,37 Sumber : Dinas Pertanian Kab. Lebak, 2008 Tanaman buah-buahan yang dikembangkan di Kabupaten Lebak pada umumnya disesuaikan dengan kondisi tanah setempat terutama agroekologi. Hal ini diharapkan agar pertumbuhan tanaman buah-buahan tersebut dapat lebih optimal sehingga diharapkan dapat menghasilkan produksi yang maksimal. Berikut adalah pengembangan tanaman buah-buahan terutama Jeruk, Rambutan, Durian, Mangga dan Manggis di wilayah pengembangan sesuai hasil penelitian dari Institut Pertanian Bogor. Tabel 2.58 Wilayah Potensial untuk Pengembangan Beberapa Komoditas Hortikultura No Komoditas Wilayah Pengembangan 1. Jeruk Rangkasbitung, Warunggunung dan Cibadak 2. Rambutan Maja, Curugbitung, Sajira dan Cibadak 3. Durian Cirinten, Bojongmanik, Leuwidamar, Muncang, Gunung Kencana dan Sobang. 4. Mangga Malingping, Bayah, Cihara dan Panggarangan 5. Manggis Cipanas dan Lebakgedong Sumber : Pemerintah daerah bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor, 2002 Tercapainya hasil produksi pertanian baik komoditas padi, palawija maupun hortikultura didukung oleh berbagai faktor, antara lain berfungsinya penyuluhan pertanian, terbangunnya kelembagaan petani berupa kelompok tani dan tersedianya sarana dan prasarana pertanian. Penyuluh pertanian berfungsi menyampaikan teknologi budidaya dalam rangka meningkatkan hasil produksi. Penerapan teknologi dilakukan beberapa II - 87
88 tahap dengan cara menambah pengetahuan kepada petani, selain itu juga merubah sikap dan keterampilan petani. Sampai dengan tahun 2008 perbandingan penyuluh dengan desa binaan adalah 1 : 3, artinya setiap 1 orang penyuluh harus membina 3 desa yang jangkauannya cukup luas. Perbandingan ideal antara penyuluh dan desa adalah 1 : 1. Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk menambah SDM penyuluh pertanian dimasa mendatang. Tabel 2.59 Penyuluh Pertanian Tahun 2008 No Kecamatan Jumlah Desa/Kelurahan Jumlah PPL 1 Rangkasbitung Kalanganyar Cibadak Warunggunung Cikulur Maja Curugbitung Sajira Cipanas Lebakgedong Cimarga Leuwidamar Bojongmanik Cirinten Muncang Sobang Cileles Gunungkencana Banjarsari Malingping Wanasalam Cijaku Cigemblong Panggarangan Cihara Bayah Cilograng Cibeber 22 8 JUMLAH Sumber: Dinas Pertanian Kab. Lebak, 2008 Data jumlah kelompok tani yang ada di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 adalah berjumlah kelompok dengan rincian kelompok pemula sebanyak 760 kelompok, Lanjut 416 kelompok, Madya 95 kelompok dan Utama 6 kelompok. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam pembangunan pertanian selain faktor yang sudah disebut diatas adalah Sarana alsintan. Sarana alsintan yang dikelola oleh Dinas Pertanian sampai dengan tahun 2008 yaitu Mini Traktor roda 4 II - 88
89 sebanyak 4 unit, dua unit dalam keadaan rusak; Hand Traktor sebanyak 355 unit; Pompa air 128 unit; Power thressher 45 unit; Drayer 27 unit; RMU 145 unit dan Corn Seller 7 unit. Tabel 2.60 Jumlah dan Jenis Alsintan Jenis Alat Mesin Pertanian (Alsintan) No. Kecamatan Traktor Roda 4 (unit) Hand Traktor (unit) Pompa Air (unit) Power Thresher (unit) Drayer (unit) RMU (unit) Corn Seller (unit) 1 Rangkasbitung Cibadak Warunggunung Cikulur Maja Curugbitung 2* Sajira Cipanas Muncang Sobang Leuwidamar Cimarga Bojongmanik Cileles Gunungkencana Banjarsari Malingping Wanasalam Cijaku Panggarangan Bayah Cilograng Cibeber Kalanganyar Lebak Gedong Cihara Cigemblong Cirinten Dikelola oleh dinas Jumlah Ket :*) dalam keadaan rusak Sumber: Dinas Pertanian Kab. Lebak, 2008 Kehutanan Hutan dapat diartikan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Wilayah Kabupaten Lebak sebagian merupakan bagian hulu dari beberapa DAS/Sub DAS prioritas yang keberadaannya sangat berpengaruh terhadap daerah II - 89
90 hilirnya seperti Kabupaten Pandeglang,Kabupaten Serang dan Tangerang, terutama untuk menopang sektor industri. Adapun DAS dan Sub DAS yang terletak di Kabupaten Lebak adalah DAS Ciujung, Cidurian, Ciliman, Cibaliung, Cihara, Cisiih, Cibareno, Cimadur dan Ciberang. Luas kawasan Hutan di Kabupaten Lebak adalah Ha atau 31,55 % dari luas wilayah Kabupaten Lebak. Adapun luas lahan kritis yang masih harus ditangani seluas ,88 ha. Jumlah mata air yang terdapat di Kabupaten Lebak sebanyak buah yang sebagian besar berada pada bagian hulu sungai sehingga untuk mengantisipasi kerusakan hutan dan lingkungan perlu ada rehabilitasi dan konservasi mata air tersebut. Berikut adalah tabel mengenai jumlah mata air yang ada di Kabupaten Lebak. Tabel 2.61 Jumlah Mata Air di Kabupaten Lebak No Kecamatan LAMANYA MENGALIR Jumlah 12 Bln 9 Bln 6 Bln 3 Bln Mata Air (buah) (buah) (buah) (buah) 1 Rangkasbitung Cibadak Warunggunung Cikulur Cileles Gunungkencana Banjarsari Malingping Cijaku Bayah Cibeber Panggarangan Cipanas Muncang Leuwidamar Bojongmanik Cimarga Maja Sajira Jumlah Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Lebak, 2008 Komoditas kehutanan yang memiliki prospek pasar yang baik adalah Bambu. Luas tanaman bambu pada tahun 2008 tercatat sebesar 2.046,00 ha atau setara dengan rumpun/ batang. Sedangkan produksinya sebesar btg/tahun. Sentra areal bambu terutama terdapat di kecamatan Cimarga, Sajira dan Cikulur. II - 90
91 Dalam Pembangunan Kehutanan terdapat program aneka usaha kehutanan yaitu suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya hutan untuk mendapatkan hasil atau komoditas non kayu. Komoditas yang dikembangkan di Kabupaten Lebak untuk program aneka usaha kehutanan ini adalah lebah madu dan jamur kayu. Adapun jumlah produksi madu dan jamur kayu dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2.62 Jumlah Produksi Hasil Hutan Non Kayu Kabupaten Lebak Tahun 2008 No Komoditas Budidaya/Stup Produksi/Kg 1 Madu Jamur Kayu Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Lebak, 2008 Untuk bidang perkebunan, luas areal perkebunan yang ada di wilayah Kabupaten Lebak adalah ,10 Ha atau % dari luas Kabupaten Lebak, terdiri dari : 1. Perkebunan Rakyat = ,55 Ha 2. Perkebunan Besar Negara = 8.879,50 Ha 3. Perkebunan Besar Swasta = 6.786,05 Ha Komoditas perkebunan yang diusahakan di Kabupaten Lebak sebanyak 15 jenis tanaman, diantaranya 10 komoditas unggulan utama yaitu : kelapa dalam, karet, kelapa sawit, kakao, cengkeh, kopi, aren, lada, pandan dan jarak pagar. Produksi untuk masing-masing komoditas dapat dilihat di tabel berikut. No Tabel 2.63 Jumlah Areal, Produksi dan Produktivitas Hasil Perkebunan Kabupaten Lebak Tahun 2008 Komoditas TBM TM TR/TTM Produksi Produktivitas (Ha) (Ha) (Ha) (Ton) (%) 1 KARET 1.967, , , ,20 0,42 2 KELAPA DALAM 4.516, ,10 521, ,30 0,87 3 KAKAO 1.029, ,90 553, ,36 1,19 4 KELAPA HIBRIDA 5,50 172,25 284,65 44,00 0,26 5 KELAPA SAWIT 30, ,50 133,50 27,11 0,01 6 CENGKEH 437, ,60 537,50 725,70 0,16 7 KOPI 170, ,50 90,75 494,20 0,35 II - 91
92 No Komoditas TBM TM TR/TTM Produksi Produktivitas (Ha) (Ha) (Ha) (Ton) (%) 8 AREN 908, ,15 134, ,80 1,30 9 LADA 146,40 196,50 29,20 21,40 0,11 10 PANDAN 101,00 230,50 53,50 83,40 0,36 11 PANILI 11,00 32,50 14,00 2,70 0,08 12 KAPOK 16,20 130,70 25,00 14,20 0,11 13 JAMBU METE - 2,70 0,30 2,40 0,89 14 T E H 8,00 22,50 6,50 4,70 0,21 15 JARAK PAGAR 286,75 230,50-123,60 0,54 Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Lebak, 2008 Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Lebak merupakan wilayah yang memiliki kandungan dan jenis bahan tambang yang sangat besar, potensi ini akan meningkatkan pendapatan asli daerah dan memberikan lapangan pekerjaan penduduk sekitar bila di eksploitasi secara baik. Pemenuhan bahan bakar untuk masyarakat Kabupaten Lebak dilayani melalui 9 unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Pembangunan di Kabupaten Lebak tidak terlepas dari dukungan sarana dan prasarana energi listrik dalam upaya mendorong pertumbuhan perekonomiaan dan pembangunan lainnya. Energi listrik ini dipergunakan untuk keperluan domestik dan industri. Berdasarkan data yang diolah dari PT. PLN Cabang Rangkasbitung, rasio elektrifikasi di kabupaten Lebak baru mencapai 54,58%. Hal ini menggambarkan bahwa setengah dari penduduk Kabupaten Lebak belum tersentuh oleh tenaga listrik. Berdasarkan table di bawah, rasio elektrifikasi yang tertinggi adalah Kecamatan Maja dan rangkasbitung, sementara yang terendah terdapat di kecamatan Cigemblong dan kecamatan-kecamatan lain yang relative terisolir. No Kecamatan Tabel 2.64 Rasio Elektrifikasi per Kecamatan Di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Kebutuhan (Kk) Terlayani (Kk) Terlayani (%) 1 Maja 11,679 9, % 2 Rangkasbitung 28,459 22, % 3 Sajira 11,628 8, % 4 Cibadak 12,587 9, % 5 Gunungkencana 7,798 5, % 6 Cileles 10,840 7, % II - 92
93 No Kecamatan Kebutuhan (Kk) Terlayani (Kk) Terlayani (%) 7 Bayah 10,315 6, % 8 Cipanas 11,257 7, % 9 Malingping 14,669 9, % 10 Muncang 7,269 4, % 11 Cikulur 11,545 6, % 12 Curugbitung 7,281 3, % 13 Kalanganyar 6,718 3, % 14 Cimarga 14,246 7, % 15 Warunggunung 12,410 6, % 16 Panggarangan 9,065 4, % 17 Banjarsari 17,332 8, % 18 Bojongmanik 5,624 2, % 19 Cijaku 6,891 2, % 20 Leuwidamar 12,846 5, % 21 Sobang % 22 Cibeber 15,505 6, % 23 Wanasalam 13,857 4, % 24 Lebakgedong 4,699 1, % 25 Cilograng 8,516 2, % 26 Cihara 7,414 2, % 27 Cirinten 6,074 1, % 28 Cigemblong 6, % Jumlah 300, , % Sedangkan untuk Penerangan Jalan Umum (PJU) yang sudah terpasang dan masuk kontrak dengan pihak PT. PLN sebanyak 2092 titik, dengan mekanisme pengelolaan yang terpadu bersama Pemerintah Daerah. Peningkatan rasio elektrifikasi perdesaan masih terus diupayakan baik melalui dana APBD Kabupaten maupun bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Provinsi, sedangkan peningkatan rasio elektrifikasi rumah tangga terus diupayakan baik melalui pembangunan jaringan listrik yang bersumber dari PLN, maupun penyediaan sumber-sumber energi alternatif seperti Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) mikro hidro, surya, dan angin. Diterapkannya kebijakan konversi bahan bakar dari minyak tanah ke gas pada tahun 2007 telah memunculkan berbagai permasalahan di tingkat masyarakat dan dunia usaha di dalam memenuhi kebutuhan energinya. II - 93
94 Pariwisata Pariwisata merupakan salah satu sektor yang terus dikembangkan di kabupaten Lebak. Hal ini wajar mengingat keindahan alam, baik pantai maupun tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak cukup banyak dan menarik. Penataan obyek wisata terus dilakukan guna meningkatkan kenyamanan pengunjung yang datang untuk menikmati keindahan alam di Kabupaten Lebak. Beberapa obyek wisata beserta lokasinya, dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2.65 Obyek Wisata di Kabupaten Lebak NO NAMA WISATA LOKASI 1 Curug Indihiyang Warunggunung 2 Arung Jeram Lebakgedong 3 Goa Sangkir Bojongmanik 4 Budaya Kaolotan Baduy Leuwidamar 5 Pemandian Air Panas Cipanas 6 Pantai Karang Taraje Bayah 7 Pantai Bagedur Malingping 8 Pantai Binuangeun Wanasalam 9 Pantai Cibobos Panggarangan 10 Pantai Pulau Manuk Bayah 11 Pantai Sawarna Bayah 12 Pantai Ciantir Bayah 13 Budaya Kaolotan/Seren Taun Cibeber 14 Situs Cibedug Cikotok 15 Air Panas Senanghati Malingping 16 Situs Palayangan Cimarga 17 Kawah Cipanas Sobang 18 Curug Kanteh Cilograng 19 Pantai Cihara Cihara 20 Pantai Talanca Malingping 21 Pantai Cimandiri Panggarangan 22 Pantai Tanjung Panto Wanasalam 23 Pantai Karang Tengah Wanasalam Sumber : Profile Potensi Investasi Kabupaten Lebak, 2008 Keindahan alam di Kabupaten Lebak cukup menarik bagi wisatawan baik dari nusantara maupun manca negara untuk mengunjungi obyek wisata yang ada. Pada Tahun 2008, wisatawan manca negara yang berkunjung ke obyek wisata di Kabupaten Lebak sebanyak 141 orang dan wisatawan nusantara sebanyak orang. II - 94
95 Tabel 2.66 Perkembangan Wisatawan Nusantara yang berkunjung ke Obyek Wisata di Kabupaten Lebak Pemandian Karang P. Tahun Baduy Binuangeun Bagedur Cibobos Air Panas Taraje Manuk Cipanas Sumber : Disporabudpar Kabupaten Lebak Tahun 2008 Tabel 2.67 Perkembangan Wisatawan Mancanegara yang berkunjung ke Obyek Wisata di Kabupaten Lebak Tahun Baduy Binuangeun Bagedur Karang Taraje Cibobos P. Manuk Pemandian Air Panas Cipanas Sumber : Disporabudpar Kabupaten Lebak Tahun 2008 Kelautan dan Perikanan Potensi perikanan di Kabupaten Lebak terdiri atas Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya. Perikanan tangkap terbagi atas perikanan tangkap laut dan perairan umum. Untuk perikanan budidaya dikelompokan menjadi Budidaya air tawar dan budidaya air payau. Sumberdaya manusia yang bergerak pada sektor perikanan pada tahun 2008 terdiri dari Nelayan orang, Pembudidaya orang dan Pengolah ikan 373 orang. Adapun sarana dan prasarana pendukung perikanan berupa alat tangkap sebanyak unit, Kapal Perahu sebanyak 709 unit, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebanyak 10 buah dan PPI sebanyak 1 buah. II - 95
96 Tabel 2.68 Jumlah Armada Penangkapan Ikan Menurut Tempat Pelelangan Ikan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 No Nama TPI Perahu Layar Motor Tempel Kapal Motor Jumlah 1 Binuangeun Tanjung Panto Sukahujan Cipunaga Panyaungan Situregen Bayah Pulo Manuk Sawarna Cibareno Jumlah Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lebak, 2008 Pada Tahun 2008 produksi jenis ikan tangkap laut sebagian besar jenis ikan Cakalang dan Tongkol dengan masing-masing produksi sebesar kg dan Kg. Untuk ikan tangkap diperairan umum produksi terbesar pada jenis ikan tawes sebanyak Kg. Sedangkan produksi budidaya ikan pada tahun 2008 produksi terbesar pada jenis ikan mas sebanyak Kg. Tabel 2.69 Jumlah Areal Budidaya Ikan Tahun 2008 No Tempat Budidaya Jumlah 1 Perairan Umum - Sungai 887 Km - Danau 275 Ha - Rawa 36 Ha 2 Tambak 32 Ha 3 Kolam 646,2 Ha 4 Kolam Air Deras 6 Unit 4 Sawah 3.261,73 Ha 5 Keramba 776 Unit 6 Jaring Apung 12 Unit Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lebak, 2008 II - 96
97 Tabel 2.70 Produksi Perikanan Tahun No Bidang Usaha Tahun (Ton) PENANGKAPAN IKAN - Laut 5.112, , , , ,72 - Perairan Umum 27,70 111,80 168,60 171,20 79,69 Jumlah I 5.140, , , , ,41 BUDIDAYA AIR TAWAR - Kolam 669,90 833, , , ,82 - Sawah 1.556, , , , ,44 - Keramba 24,10 22,90 37,40 49,70 49,25 - Jaring Apung 0 6,20 20,10 26,10 24,25 Jumlah II 2.250, , , , ,76 BUDIDAYA AIR PAYAU - Tambak 36,70 80,40 156,90 167,70 102,15 Jumlah III 36,70 80,40 156,90 167,70 102,15 Jumlah Total 7.427, , , , ,32 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lebak, 2008 Peternakan Sektor peternakan di Kabupaten Lebak terus mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Beberapa Jenis ternak yang dikembangkan oleh masyarakat Kabupaten Lebak antara lain Sapi, Kerbau, Kambing, Domba, Ayam Buras, Ayam Ras Pedaging dan Itik. Populasi ternak Ayam ras pedaging pada tahun mengalami rata-rata pertumbuhan tertinggi dibandingkan jenis ternak lainnya yaitu sebesar 15 %. No Tabel 2.71 Populasi Ternak di Kabupaten Lebak Tahun Jenis Ternak (ekor) Sapi Kerbau Kambing Domba Ayam Buras Ayam Ras Pedaging Itik Sumber: Dinas Peternakan Kab. Lebak, 2008 II - 97
98 Pada tahun 2008 produksi ayam ras pedaging sebanyak Kg, atau 55% dari total produksi daging Kabupaten Lebak. Produksi tertinggi kedua adalah ayam buras yaitu sebesar kg. Untuk produksi telur, pada tahun mengalami rata-rata pertumbuhan sebesar 5,7%. Telur ayam buras memberikan konstribusi terbesar pada tahun 2008 yaitu sebanyak Kg. Berikut adalah tabel produksi daging dan produksi telur dari tahun 2004 sampai tahun Tabel 2.72 Produksi Daging Tahun No Komoditas Sapi Kerbau Kambing Domba Ayam Buras Ayam Ras Pedaging Ayam Ras Petelur Itik Total Daging Sumber: Dinas Peternakan Kab. Lebak, 2008 Tabel 2.73 Produksi Telur Tahun No Komoditas Ayam Buras Itik Total Telur Sumber: Dinas Peternakan Kab. Lebak, 2008 Dilihat dari produksi tahun 2008 konsumsi perkapita daging dan telur oleh penduduk Kabupaten Lebak masih dibawah standar nasional. Jumlah konsumsi daging perkapita Kabupaten Lebak baru sebesar 5,03 Kg/Kapita/Tahun, sedangkan standar nasional adalah 7,2 Kg/kapita/tahun. Sedangkan untuk konsumsi telur sebesar 2,83 Kg/Kapita/Tahun, sedangkan standar nasional konsumsi telur 4,5 Kg/Kapita/tahun. II - 98
99 Tabel 2.74 Jumlah Konsumsi Daging dan Telur Per Kapita Penduduk No Komoditas Daging 4,08 4,52 4,67 4,84 5,03 2. Telur 2,38 2,51 2,61 2,77 2,83 Sumber : Dinas Peternakan Kab. Lebak, 2008 Usaha untuk meningkatan produksi daging dan telur terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Lebak, antara lain dengan melengkapi sarana dan prasarana peternakan di Kabupaten Lebak. Sampai tahun 2008 fasilitas layanan peternakan memiliki laboratorium kesehatan hewan, Puskeswan, UPTD ternak sapi, Rumah potong hewan, Tempat pemotongan hewan dan Poultry Shop. Tabel 2.75 Ketersediaan Fasilitas Layanan Peternakan Kabupaten Lebak No Jenis Fasilitas Jumlah Lokasi 1 Laboratorium Keswan 1 Cibadak 2 Puskeswan 1 Cikulur 3 UPTD Ternak Sapi 1 Cibadak 4 RPH 1 Rangkasbitung 5 TPH 2 Malingping dan Cipanas 6 Poultry Shop 3 Rangkasbitung, Cibadak Sumber : Dinas Peternakan Kab. Lebak, 2008 Perindustrian Potensi industri di Kabupaten Lebak secara keseluruhan pada tahun 2008 sebanyak unit usaha, yang terdiri dari industri kecil sebanyak unit usaha dan industri menengah/besar sebanyak 19 unit usaha. Jumlah tenaga kerja yang terserap dalam kegiatan industri tersebut sebanyak orang dengan total nilai investasi sebesar Rp ,- Dari potensi industri kecil sebagaimana tersebut di atas, maka yang merupakan komoditas unggulan atau yang menjadi andalan pada umumnya sebanyak 10 industri kecil. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.76 di bawah ini : II - 99
100 No. Tabel 2.76 Sentra Industri Kecil di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Industri Jumlah Unit Usaha 1. Gula Merah Aren Bata/Genteng Tenun Baduy 90 Leuwidamar 4. Tempurung Kelapa 40 Leuwidamar 5. Pandai Besi 60 Lokasi / Kecamatan Muncang, Leuwidamar, Bojongmanik, Sajira, Cijaku, Panggarangan, Malingping, Cibeber, Gunung Kencana, Bayah dan Cipanas Cimarga, Rangkasbitung, Sajira, Malingping dan Warunggunung Bojongmanik, Cibeber dan Rangkasbitung 6. Konveksi 10 Rangkasbitung dan Cimarga 7. Anyaman Pandan Anyaman Bambu Emping Melinjo Sale/Keripik Pisang Bayah Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Tahun 2008 Cikulur, Cileles, Banjarsari, Cijaku, Malingping dan Bojongmanik Sajira, Cibeber, Rangkasbitung dan Cibadak Warunggunung, Cikulur dan Gunungkencana Permasalahan yang kerap dihadapi oleh para pengusaha/pengrajin industri kecil antara lain adalah keterbatasan pengetahuan/keterampilan dalam teknik produksi dan manajemen usaha. Potensi sumber daya alam di Kabupaten Lebak belum dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai akibat keterbatasan teknologi dan modal usaha serta jaringan pemasaran yang belum meluas. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lebak, telah dialokasikan rencana kawasan industri non polutan seluas Ha yang berlokasi di Desa Nameng, Sukamanah, Cimangeunteung dan Citeras, Kecamatan Rangkasbitung. Pada akhir tahun 2004 kawasan tersebut telah dapat dimanfaatkan seluas 72 Ha. II - 100
101 2.4. Aspek Daya Saing Daerah Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Kemampuan ekonomi daerah dalam kaitannya dengan daya saing daerah adalah bahwa kapasitas ekonomi daerah harus memiliki daya tarik (attractiveness) bagi pelaku ekonomi yang telah berada dan akan masuk ke suatu daerah untuk menciptakan multiflier effect bagi peningkatan daya saing daerah. Kemampuan ekonomi daerah memicu daya saing daerah dalam beberapa tolok ukur, sebagai berikut : Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (Angka konsumsi RT per kapita) Indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dimaksudkan untuk mengetahui tingkat konsumsi rumah tangga yang menjelaskan seberapa atraktif tingkat pengeluaran rumah tangga. Semakin besar rasio atau angka konsumsi RT semakin atraktif bagi peningkatan kemampuan ekonomi daerah. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dapat diketahui dengan menghitung angka konsumsi RT per kapita, yaitu rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita. Angka ini dihitung berdasarkan pengeluaran penduduk untuk makanan dan bukan makanan per jumlah penduduk. Makanan mencakup seluruh jenis makanan termasuk makanan jadi, minuman, tembakau, dan sirih. Bukan makanan mencakup perumahan, sandang, biaya kesehatan, sekolah, dan sebagainya. Nilai konsumsi pengeluaran makanan dan Non-makanan per kapita. Produktivitas total daerah Produktivitas total daerah dihitung untuk mengetahui tingkat produktivitas tiap sektor per angkatan kerja yang menunjukan seberapa produktif tiap angkatan kerja dalam mendorong ekonomi daerah per sektor. Produktivitas Total Daerah dapat diketahui dengan menghitung produktivitas daerah per sektor (9 sektor) yang merupakan jumlah PDRB dari setiap sektor dibagi dengan jumlah angkatan kerja dalam sektor yang bersangkutan. PDRB dihitung berdasarkan 9 (sembilan) sektor. Sektor dengan produktivitas tertinggi di Kabupaten Lebak pada tahun 2009 adalah sektor Keuangan,Sewa dan Jasa Perusahaan sebesar Rp.126,66 Juta. Sektor ini terus mengalami peningkatan pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 132,45 Juta. Sektor berikutnya dengan produktivitas tertinggi pada tahun 2010 II - 101
102 adalah sektor Listrik, Gas dan Air Bersih sebesar Rp. 32,14 juta Industri Pengolahan sebesar Rp.26,4 juta. dan sektor Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah sangat ditunjang oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Kondisi sarana prasarana yang merupakan faktor pendorong percepatan pertumbuhan di Kabupaten Lebak saat ini antara lain transportasi, jalan, terminal dan angkutan umum, perkeretaapian, irigasi, telekomunikasi, dan ketenagalistrikan. Dengan demikian apabila faktor pendorong tidak dikelola dengan baik, maka ketidaknyamanan yang sering kali dikeluhkan oleh masyarakat mulai waswas jika berada di pusat keramaian, bahkan ketika berada di dalam angkutan umum karena berbagai bentuk kejahatan. Hal ini akibat dari kesemrawutan angkutan umum. Perubahan fungsi trotoar untuk pejalan kaki berubah menjadi tempat untuk menjajakan dagangan. Pada tahun 2005, Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia telah menetapkan Kabupaten Lebak sebagai salah satu daerah tertinggal dari 199 Kabupaten tertinggal yang ada di Indonesia. Dalam rangka menganalisa sejauh mana ketertinggalan daerah Kabupaten Lebak, Pemerintah Daerah melalui Bappeda bekerjasama dengan BPS Kabupaten lebak melaksanakan Identifikasi Desa Tertinggal. Kriteria yang digunakan dalam menentukan desa tertinggal difokuskan terhadap ketersediaan dan pelayanan infrastruktur perdesaan yang meliputi aksesibilitas jalan, sarana air bersih, jaringan listrik berikut Saluran sambungan Rumah (SSR), sarana kesehatan dan pendidikan. Hasil survey yang dilaksanakan pada tahun 2005 menggambarkan bahwa jumlah desa tertinggal di Kabupaten Lebak mencapai 148 Desa. Selanjutnya, hasil Identifikasi Desa Tertinggal tersebut senantiasa selalu dijadikan pedoman oleh pemerintah Kabupaten Lebak dalam rangka upaya percepatan pembangunan desa tertinggal selama 4 tahun terakhir ( ). Upaya-upaya percepatan pembangunan tersebut diantaranya melalui Program Hotmik Masuk Desa, pembangunan sarana dan prasarana air bersih, Listrik Masuk Desa, penuntasan pembangunan dan rehabilitasi gedung SD, penambahan puskesmas, puskesmas pembantu serta polindes dan pos yandu. Program-program tersebut dipadukan dalam konsep pembangunan kewilayahan dengan harapan II - 102
103 agar pembangunan desa tertinggal tersebut dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Untuk mengetahui sejauh mana program-program percepatan pembangunan desa tertinggal dapat mengurangi atau menangani ketertinggalan desa di wilayah Kabupaten Lebak, terutama selama kurun waktu 4 tahun terakhir ( ), Pemerintah Kabupaten Lebak pada tahun 2009 ini sedang melakukan verifikasi Desa Tertinggal yang dimaksudkan. Adapun kondisi desa tertinggal berdasarkan kelengkapan dan tingkat pelayanan infrastruktur dapat digambarkan pada table berikut : II - 103
104 Kecamatan No Desa Tabel 2.77 Data Verifikasi Kondisi Desa Tertinggal Berdasarkan Beberapa Infrastruktur Desa Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani W I L A Y A H U T A R A 1 Taman Jaya 5,250 2, % % % 2 Cigoong Selatan 8,700 2, % % % 3 Cikulur 3,050 2, % % % 4 Cigoong Utara 9,500 2, % % % Cikulur 5 Sukaharja 3,650 2, % % % Cimarga Warunggunung 6 Curug Panjang 7,100 2, % % % 7 Muara Dua* 10,000 2, % % % 8 Anggalan 4,000 1, % % % 9 Muncang Kopong 16,200 5, % % % JUMLAH 67,450 21,641 7,655 4,345 7,655 4, Karya Jaya 5,500 2, % % % 11 Margatirta 18, % % % 12 Sangiang Jaya 11,260 3, % % % 13 Jayasari 6,350 1, % % % 14 Inten Jaya 10,200 1, % % % 15 Mekar Jaya** 8,800 2, % % % 16 Tambak 5, % % % 17 Gunung Anten 5, % % % JUMLAH 71,010 10,800 5,414 1,268 5, Banjarsari 3,600 5, % % % 19 Sukaraja 20,200 4, % % % JUMLAH 23,800 9, , II - 104
105 Kecamatan No Desa Curugbitung Cibadak Maja Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 20 Mayak 14,200 2, % % % 21 Cilayang 7,000 1, % % % 22 Ciburuy 10,100 1, % % % 23 Cidadap* 10,000 1, % % % 24 Candi 4, % % % JUMLAH 46,000 5, ,820 2, Malabar 11,730 5, % % % 26 A s e m 3,780 2, % % % 27 Pasar Keong 2,350 1, % % % JUMLAH 6,130 3, ,868 1, Tanjung Sari 4,550 2, % % % 29 Padasuka** 7,665 3, % % % 30 Pasir Kembang 3, % % % 31 Curug Badak 10, % % % 32 Cilangkap 6,000 2, % % % 33 Binong 12, % % % JUMLAH 27,737 5, ,130 2,681 JUMLAH WILAYAH UTARA 242,127 56, ,811 12,838 II - 105
106 Kecamatan No Desa Cigemblong Cijaku Bayah Cibeber Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani W I L A Y A H S E L A T A N 34 Mugijaya 11,500 1, % % Peucangpari 9,000 2, % % Cikadongdong 11,000 1, % % Cigemblong** 21,400 3, % % Cibungur 5,000 3, % % Cikaret 23, % % Cikate 32, % % JUMLAH 101,900 9, , Ciapus 12,000 3, % % Cibeureum 6,250 1, % % Cipalabuh 33,400 1, % % Kandangsapi 15,900 2, % % JUMLAH 67,550 7, ,397 1, Cimancak 16,500 2, % % Sawarna 7,450 1, % % Cisuren 19,000 1, % % Cidikit 25,750 4, % % JUMLAH 68,700 8, ,499 1, Kujangsari 9,400 1, % % Sinargalih 28,700 5, % % Ciparay (Citorek Utara) 4,350 1, % Warungbanten 7,178 3, % % Mekar sari 8,500 1, % % Citorek 40, % Cikadu 12,550 1, % % II - 106
107 Kecamatan No Desa Wanasalam Cilograng Panggarangan Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 56 Ciusul 5, % 57 Situmulya 8, % % Cihambali 10,250 1, % % Hegarmanah 22, % % Neglasari 7,100 2, % % Cisungsang 11,900 3, % % Sukamulya 15, % % Kujang Jaya 10, % % JUMLAH 192,528 18, ,682 2, Parungpanjang 17,250 2, % % Parungsari 20,500 1, % % Cilangkap 5,800 1, % % Cisarap 11, % % Ketapang 6,300 2, % % Sukatani 5,500 1, % % Cikeusik 6,500 1, % % Cipedang* 16,100 1, % % JUMLAH 72,250 7, ,170 3, Lebaktipar 16,300 2, % % Cikamunding 18,000 1, % % Girimukti 24,000 1, % % Pasirbungur 13,000 3, % % Cijengkol 12,400 1, % % JUMLAH 67,400 7, , Gunung Gede 76,000 4, % % Jatake 13,200 2, % % Sogong 20,700 2, % % II - 107
108 Kecamatan No Desa Cihara Malingping Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 80 Cimandiri 10,150 5, % % Sindang ratu** 32, % % JUMLAH 152,550 13, ,049 4, Cihara 21,300 2, % % Ciparahu* 27, % % Mekar sari 52,000 1, % % Lebak Peundeuy 11, % % Karangkamulyan 22,000 2, % #DIV/0! Citepuseun 42,700 1, % % JUMLAH 177,000 6, ,309 1, Sumber waras 13,800 1, % % Kersaratu 15,250 2, % % Sukaraja 8,900 1, % % Pagelaran 8,500 1, % % Senanghati 11, % % JUMLAH 44,600 4, ,478 2,475 JUMLAH WILAYAH SELATAN 944,478 81, ,498 18,845 Cileles Gunungkencana W I L A Y A H B A R A T 93 Margamulya 12,040 7, % % Daroyon 8,200 5, % % Parungkujang 18,000 1, % % Mekarjaya* 4,720 1, % % Pasindangan 17,350 2, % % JUMLAH 60,310 16, , Kramat Jaya 16,500 7, % % Gunungkendeng 31,500 3, % % II - 108
109 Kecamatan No Desa Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 100 Cimanyangray 30,840 2, % % Sukanegara** 12,750 1, % % Cicaringin 17,500 1, % % Cisampang 14,200 1, % % Bojong Koneng* 14,350 1, % % Bulakan 19,000 1, % % JUMLAH 156,640 17, ,761 1,144 Banjarsari 106 Jalupang girang 11,450 1, % % JUMLAH 11,450 1, JUMLAH WILAYAH BARAT 228,400 34, ,699 1,794 Cirinten Lebak Gedong Sobang W I L A Y A H T I M U R 107 Cirinten** 16, % % Parakanlima 21,900 2, % % Cempaka 10,580 2, % #DIV/0! 110 Badur 11,700 3, % % Nangerang 15,300 2, % % Datarcae 3,800 2, % % Karangnunggal 13,300 1, % % JUMLAH 93,080 12, , Lebak Situ 6,500 5, % % Lebak Sangka 13,500 2, % % Banjarsari 12,000 2, % % Lebak Gedong 10,500 2, % % JUMLAH 42,500 12, ,609 1, Cirompang 8,600 1, % % Sindanglaya 36,100 2, % % II - 109
110 Kecamatan No Desa Cipanas Bojongmanik Leuwidamar Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 120 Sukajaya 3,500 1, % % Sukamaju 12,344 5, % % Hariang** 10,500 9, % % Cilebang 3,700 2, % % Sobang 7,600 2, % % Maja Sari 12,447 4, % % Citujah 4,000 2, % % JUMLAH 98,791 31, ,931 1, Giriharja* 6,500 2, % % Bintang Sari 8,000 1, % % Jayapura 5,800 1, % % Girilaya 4,450 2, % % Pasirhaur 18,150 1, % % JUMLAH 42,900 7, ,009 1, Cimayang 14,250 2, % % Kadudamas 18,760 1, % % Harjawana 9,650 2, % % Mekarmanik 5,597 1, % % Parakanbesi 15,300 1, % % Kadurahayu** 14, % % Keboncau 2, % % JUMLAH 80,632 7, , Margawangi 15,700 1, % % Kanekes 3, % % Sangkanwangi 17,800 1, % % Cisimeut 27,200 2, % % Jalupangmulya** 28,700 1, % % II - 110
111 Kecamatan No Desa Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 144 Bojongmenteng 14,000 1, % % Nayagati 11,800 2, % % JUMLAH 102,500 7, ,929 2,175 Sajira 146 Maraya 30,500 2, % % Muncang JUMLAH 30,500 2, Pasir Nangka 35,000 2, % % Karangcombong** 16,300 1, % % 512 JUMLAH 16,300 1, , JUMLAH WILAYAH TIMUR 549,703 93, ,228 10,546 JUMLAH TOTAL 1,964, , ,236 44,023 Sumber : Bappeda Kab. Lebak, 2009 II - 111
112 Fokus iklim Berinvestasi Pada tahun 2008, Kabupaten Lebak telah memililki Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT) sebagai upaya meningkatkan layanan publik. Kantor tersebut berfungsi untuk mengendalikan pemberian ijin yang menjadi kewenangan pemerintah Kabupaten Lebak melalui layanan satu atap. Diantara ijin yang proses administrasinya diserahkan pada KPPT berasal dari Dinas Kesehatan, Dinas Cipta Karya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Disporabudpar, Dishutbun, Distamben DPPKD, dan Bappeda. Sampai dengan tahun 2010, KPPT telah memproses ijin. Laju pertumbuhan investasi yang ditanamkan di Kabupaten Lebak melalui Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), pada periode tahun , memperlihatkan kecenderungan fluktuatif. Kondisi ini memberikan sinyalemen bahwa iklim investasi di Kabupaten Lebak cukup memberikan peluang bagi para penanam modal untuk menanamkan investasinya di Kabupaten Lebak. Tabel 2.78 Realisasi Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri Kabupaten Lebak Tahun NO JENIS INVESTASI TAHUN PMDN - 520,000,000,000 15,000,000,000-25,000,000, ,000,000 2 PMA US$ 184,100,000 US$ 1,390,000 US$ 9,250,000 US$ 172,100,000 US$ 8,400,000 9,550, ,400,000,000 3,625,001,200-3 NON FASILITAS 34,400,220, ,633,295, ,663,000, ,138,892, ,575,172, ,414,149,926 JUMLAH 34,400,220, ,633,295, ,663,000, ,538,892, ,200,173, ,965,149,926 US$ 184,100,000 US$ 1,390,000 US$ 9,250,000 US$ 172,100,000 US$ 8,400,000 US$ 9,550,000 Peranan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), dan koperasi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi masih perlu ditumbuhkembangkan. Hal tersebut disebabkan kurangnya efektifitas fungsi dan peranan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam pembangunan serta rentannya UMKM terhadap perubahan harga bahan bakar. Masih tingginya kredit konsumsi dibandingkan dengan kredit investasi juga menghambat kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga kurang menopang aktivitas sektor riil. Selain itu, dibutuhkan II - 112
113 pengembangan UMKM dan koperasi yang mampu mengembangkan agroindustri dan bisnis kelautan guna menunjang daya beli dan ketahanan pangan Fokus Sumber Daya Manusia Di Kabupaten Lebak struktur umur penduduk usia produktif (15-64 tahun) 63.21% jumlah ini lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk di bawah usia 15 tahun dan penduduk usia di atas 64 tahun, yaitu masing-masing sebesar 33.10% dan 3.69%. Dengan demikian, angka ketergantungan yang menggambarkan jumlah penduduk usia non produktif yang harus ditanggung oleh jumlah penduduk usia produktif, sebesar 442,982 orang atau 36.79%. Pada saat ini, peluang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui bidang pendidikan sangat terbuka. Hal ini ditopang oleh dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah melalui APBN-APBD yang akan berupaya menyediakan anggaran untuk pendidikan sebesar 20 persen. Dalam kaitan ini, pemerintah menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia serta mempunyai andil besar terhadap kemajuan sosial ekonomi satu bangsa. SDM yang berkualitas merupakan salah satu faktor penting bagi kemajuan bangsa. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat semakin tinggi kualitas SDM di wilayah tersebut. Peluang untuk mendapatkan lapangan pekerjaan atau menciptakan peluang usaha lebih besar bagi mereka yang berpendidikan tinggi dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan rendah. II - 113
BAB V GAMBARAN UMUM. Secara visualisasi wilayah administrasi dapat dilihat dalam peta wilayah Kabupaten Lebak sebagaimana gambar di bawah ini
69 BAB V GAMBARAN UMUM 5.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah Kabupaten Lebak terletak antara 6º18-7º00 Lintang Selatan dan 105º25-106º30 Bujur Timur, dengan luas wilayah 304.472 Ha (3.044,72 Km²) yang terdiri
Penataan Ruang Kabupaten Lebak
Penataan Ruang Kabupaten Lebak Sumber daya kewilayahan harus dikelola secara bijaksana untuk mewujudkan pemerataan pertumbuhan wilayah dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan
BAB II KONDISI OBJEKTIF MASYARAKAT DI LEBAK
BAB II KONDISI OBJEKTIF MASYARAKAT DI LEBAK A. Letak Geografis dan Luas Wilayah Kabupaten Lebak 1. Kondisi Geografis Secara geografi Kabupaten Lebak, terletak pada posisi 105º25' -106º30' Bujur Timur dan
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4
4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR
44 Keterbatasan Kajian Penelitian PKL di suatu perkotaan sangat kompleks karena melibatkan banyak stakeholder, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Dengan demikian, penelitian ini memiliki beberapa
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
31 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambaran Geografis Wilayah Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak pada 507 50-701 1 Lintang Selatan dan 10501 11-10607 12 Bujur Timur, dengan luas wilayah
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur
IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lebak merupakan salah satu kabupaten yang terletak di
51 IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Gambaran Umum Kabupaten Lebak 4.1.1 Letak Geografis Kabupaten Lebak merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Banten. Kabupaten Lebak beribukota di Rangkasbitung
BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi
BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk
KESIAPAN PELAYANAN KESEHATAN ARUS MUDIK IDUL FITRI 1436 H / 2015
KESIAPAN PELAYANAN KESEHATAN ARUS MUDIK IDUL FITRI 1436 H / 2015 DINAS KESEHATAN KABUPATEN LEBAK JL. MULTATULI NO. 5 RANGKASBITUNG TLP. 0252-201312 FAX. 0252-201024 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN LEBAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN LEBAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LEBAK, Menimbang : a. bahwa untuk menyesuaikan program
IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -
IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya bagi
PEMERINTAH KABUPATEN LEBAK RENCANA KERJA DAERAH TAHUN 2016 PEMBANGUNAN
PEMERINTAH KABUPATEN LEBAK RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) TAHUN 2016 BADAN PERENCANAANPEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN LEBAK 2015 LAMPIRAN PERATURAN BUPATI LEBAK NOMOR : 8 TAHUN 2015 TENTANG : TENTANG
Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI
Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... 3 1.3 Hubungan Antar Dokumen Perencanaan... 5 1.4 Sistematika
Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung
Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 32 TAHUN 1990 (32/1990) Tanggal : 25 JULI 1990 (JAKARTA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
BAB II KERANGKA EKONOMI DAERAH
Nilai (Rp) BAB II KERANGKA EKONOMI DAERAH Penyusunan kerangka ekonomi daerah dalam RKPD ditujukan untuk memberikan gambaran kondisi perekonomian daerah Kabupaten Lebak pada tahun 2006, perkiraan kondisi
BAB IV GAMBARAN UMUM
BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Jawa, letaknya diapit oleh dua provinsi besar
KAJIAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Kondisi Geografis
43 KAJIAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Kondisi Geografis Provinsi Banten dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Banten. Wilayah Provinsi Banten berasal dari sebagian
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum Dasar hukum penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2016, adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang
KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar
BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah
BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2015 I - 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 69 mengamanatkan Kepala Daerah untuk menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban
IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur
57 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta Provinsi DKI Jakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 7 meter diatas permukaan laut dan terletak antara
BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah
5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan
BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT. 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT
BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri dari pulau-pulau yang memiliki penduduk yang beraneka ragam, dengan latar
VISI PAPUA TAHUN
ISU-ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN PROVINSI PAPUA TAHUN 2013-2018 ototus Oleh : DR.Drs. MUHAMMAD MUSAAD, M.Si KEPALA BAPPEDA PROVINSI PAPUA Jayapura, 11 Maret 2014 VISI PAPUA TAHUN 2013-2018 PAPUA BANGKIT PRINSIP
BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT
BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT 1.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) beserta Komponennya Angka Partisipasi Kasar (APK) SLTP meningkat di tahun 2013 sebesar 1.30 persen dibandingkan pada tahun
IV. KONDISI UMUM WILAYAH
29 IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis dan Administrasi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 50-7 50 LS dan 104 48-104 48 BT dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan
BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR
20 BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 3.1. SITUASI GEOGRAFIS Secara geografis, Kota Bogor berada pada posisi diantara 106 derajat 43 30 BT-106 derajat 51 00 BT dan 30 30 LS-6 derajat 41 00 LS, atau kurang
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015 Oleh: BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KABUPATEN MALANG Malang, 30 Mei 2014 Pendahuluan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004
BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT
BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT 2.1. Gambaran Umum 2.1.1. Letak Geografis Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumba, salah satu
Tabel 2.6 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Aceh Tamiang
2.1. ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 2.1.1. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 2.2.1.1. Pertumbuhan PDRB Perekonomian Kabupaten Aceh Tamiang beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup
KATA PENGANTAR. Lebak, Maret 2015 BUPATI LEBAK. Hj. ITI OCTAVIA JAYABAYA, SE, MM
iv KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya sehingga Pemerintah Kabupaten Lebak dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten
DOKUMEN PELAKSANAAN PERUBAHAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN LEBAK TAHUN ANGGARAN 2016 DPPA - SKPD 2.
DOKUMEN PELAKSANAAN PERUBAHAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN LEBAK TAHUN ANGGARAN 06 Formulir DPPA - SKPD. Urusan Pemerintahan Organisasi :.0. - PERTANIAN :.0.0. - DINAS PERTANIAN
DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun
DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR GRAFIK... xiii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-5
KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA
31 KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA Administrasi Secara administratif pemerintahan Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan dengan ibukota kabupaten terletak di Kecamatan
PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN
PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lebak Tahun 2014-2034 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia dan rahmat-nya
Daftar Tabel Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD ) Kab. Jeneponto Tahun 2016
Daftar Tabel Tabel 2.1 Luas Wialayah menurut Kecamatan di Kabupaten Jeneponto... II-2 Tabel 2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Jeneponto berdasarkan BPS... II-5 Tabel 2.3 Daerah Aliran
BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Geografis Kabupaten Bandung terletak di Provinsi Jawa Barat, dengan ibu kota Soreang. Secara geografis, Kabupaten Bandung berada pada 6 41 7 19 Lintang
BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH
BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH A. Kondisi Geografi dan Iklim Kota Madiun Gambar 4.1. Peta Wilayah Kota Madiun Kota Madiun berada di antara 7 o -8 o Lintang Selatan dan 111 o -112 o Bujur Timur. Kota Madiun
BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi
BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Kalimantan Timur terletak pada 113 0 44-119 0 00 BT dan 4 0 24 LU-2 0 25 LS. Kalimantan Timur merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum
BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Jawa Barat Akhir Tahun Anggaran 2011 disusun berdasarkan ketentuan sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013
BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten Subang
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA PALU DT - TAHUN
DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Luas Wilayah Kota Palu Menurut Kecamatan Tahun 2015.. II-2 Tabel 2.2 Banyaknya Kelurahan Menurut Kecamatan, Ibu Kota Kecamatan Dan Jarak Ibu Kota Kecamatan Dengan Ibu Kota Palu Tahun
Daftar Tabel. Halaman
Daftar Tabel Halaman Tabel 3.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kab. Sumedang Tahun 2008... 34 Tabel 3.2 Kelompok Ketinggian Menurut Kecamatan di Kabupaten Sumedang Tahun 2008... 36 Tabel 3.3 Curah Hujan
IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak
IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI 4.1 Keadaan Umum Provinsi Jambi secara resmi dibentuk pada tahun 1958 berdasarkan Undang-Undang No. 61 tahun 1958. Secara geografis Provinsi Jambi terletak antara 0º 45
V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Seluma Kabupaten Seluma merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3
BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007
BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007 4.1. Gambaran Umum awa Barat adalah provinsi dengan wilayah yang sangat luas dengan jumlah penduduk sangat besar yakni sekitar 40 Juta orang. Dengan posisi
LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG I BAB
LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG 2009-203 I BAB I LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG 2009-203 A. DASAR HUKUM Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Akhir Masa Jabatan Bupati dimaksudkan
Buku Putih Sanitasi Kabupaten Lebak 2013
BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH 2.1 Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik 2.1.1 Kondisi Geografis Secara geografi Kabupaten Lebak, terletak pada posisi 105º25' -106º30' Bujur Timur dan 6º18' - 7º00'
2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah
2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda berdiri pada tanggal 7 Desember 1956, dengan dasar hukum Undang-Undang
BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN
BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Sejarah Kota Bekasi Berdasarkan Undang-Undang No 14 Tahun 1950, terbentuk Kabupaten Bekasi. Kabupaten bekasi mempunyai 4 kawedanan, 13 kecamatan, dan 95 desa.
Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI
Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR GRAFIK DAFTAR ISI i
4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR
4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Analisis struktur perekonomian kota Depok sebelum dan sesudah otonomi daerah UNIVERSITAS SEBELAS MARET Oleh: HARRY KISWANTO NIM F0104064 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian
BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia
BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Geografis Daerah Kota Bengkulu merupakan ibukota dari Provinsi Bengkulu dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah
IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN
92 IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 4.1. Kota Bekasi dalam Kebijakan Tata Makro Analisis situasional daerah penelitian diperlukan untuk mengkaji perkembangan kebijakan tata ruang kota yang terjadi
BAB IV GAMBARAN UMUM
51 BAB IV GAMBARAN UMUM A. Keadaan Geografis 1. Keadaan Alam Wilayah Kabupaten Bantul terletak antara 07 o 44 04 08 o 00 27 Lintang Selatan dan 110 o 12 34 110 o 31 08 Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten
Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan....
DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Gambar Daftar Grafik i ii vii viii Bab I Pendahuluan. 1.1. Dasar Hukum..... 1.2. Profil Wilayah Kabupaten Sijunjung... 1.2.1 Kondisi Fisik
V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5. 1. Letak Geografis Kota Depok Kota Depok secara geografis terletak diantara 106 0 43 00 BT - 106 0 55 30 BT dan 6 0 19 00-6 0 28 00. Kota Depok berbatasan langsung dengan
IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim
IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim Provinsi Banten secara geografis terletak pada batas astronomis 105 o 1 11-106 o 7 12 BT dan 5 o 7 50-7 o 1 1 LS, mempunyai posisi strategis pada lintas
IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis terletak antara 116-117
RANCANGAN RENCANA PELAKSANAAN RPJMD TAHUN KE-4
RANCANGAN RENCANA PELAKSANAAN RPJMD TAHUN KE-4 RPJMD KOTA LUBUKLINGGAU 2008-2013 VISI Terwujudnya Kota Lubuklinggau Sebagai Pusat Perdagangan, Industri, Jasa dan Pendidikan Melalui Kebersamaan Menuju Masyarakat
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.. Luas Wilayah Kota Tasikmalaya berada di wilayah Priangan Timur Provinsi Jawa Barat, letaknya cukup stratgis berada diantara kabupaten Ciamis dan kabupaten Garut.
BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM
BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintahan Daerah telah diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut
BAB IV GAMBARAN UMUM
BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Administrasi Kabupaten Majalengka GAMBAR 4.1. Peta Kabupaten Majalengka Kota angin dikenal sebagai julukan dari Kabupaten Majalengka, secara geografis terletak
STATISTIK DAERAH KABUPATEN LEBAK 2015
Katalog BPS : 1101002.3602 STATISTIK DAERAH KABUPATEN LEBAK 2015 BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN LEBAK STATISTIK DAERAH KABUPATEN LEBAK 2015 BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN LEBAK STATISTIK DAERAH KABUPATEN
KONDISI UMUM WILAYAH STUDI
16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49
KATA PENGANTAR TIM PENYUSUN BAPPEDA KOTA BATU
KATA PENGANTAR Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Batu tahun 2015 merupakan pemfokusan rencana pembangunan yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Batu pada tahun 2015. Pemfokusan berpedoman
GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Kondisi Wilayah Letak Geografis dan Wilayah Administrasi Wilayah Joglosemar terdiri dari kota Kota Yogyakarta, Kota Surakarta dan Kota Semarang. Secara geografis ketiga
BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD merupakan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Administrasi Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6º56'49'' - 7 º45'00'' Lintang Selatan dan 107º25'8'' - 108º7'30'' Bujur Timur
BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR
BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR Bab ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama akan menjelaskan mengenai gambaran umum Kabupaten Kuningan dan bagian
KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
39 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Letak Geografis dan Administrasi Kabupaten Deli Serdang merupakan bagian dari wilayah Propinsi Sumatera Utara dan secara geografis Kabupaten ini terletak pada 2º 57-3º
DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii
DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen... I-7 1.4.
19 Oktober Ema Umilia
19 Oktober 2011 Oleh Ema Umilia Ketentuan teknis dalam perencanaan kawasan lindung dalam perencanaan wilayah Keputusan Presiden No. 32 Th Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Kawasan Lindung
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN Bab sebelumnya telah memaparkan konsep pembangunan wilayah berkelanjutan dan indikator-indikatornya sebagai landasan teoritis sekaligus instrumen dalam
Gambar 4.1 Peta Provinsi Jawa Tengah
36 BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TENGAH 4.1 Kondisi Geografis Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di tengah Pulau Jawa. Secara geografis, Provinsi Jawa Tengah terletak
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 Nomor Katalog : 9302001.9416 Ukuran Buku : 14,80 cm x 21,00 cm Jumlah Halaman
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Situasi Wilayah Letak Geografi Secara geografis Kabupaten Tapin terletak antara 2 o 11 40 LS 3 o 11 50 LS dan 114 o 4 27 BT 115 o 3 20 BT. Dengan tinggi dari permukaan laut
BAB IV GAMBARAN UMUM KOTA SUKABUMI. Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada
4.1. Profil Wilayah BAB IV GAMBARAN UMUM KOTA SUKABUMI Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 49 29 Lintang Selatan dan 6 0 50 44
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah
35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari
DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17
DAFTAR TABEL Taks Halaman Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17 Tabel 2.2 Posisi dan Tinggi Wilayah Diatas Permukaan Laut (DPL) Menurut Kecamatan di Kabupaten Mamasa... 26 Tabel
PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017
GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, yang bertanda tangan di bawah
BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006
BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006 4.1. Gambaran Umum inerja perekonomian Jawa Barat pada tahun ini nampaknya relatif semakin membaik, hal ini terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi Jawa
KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016
KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2016 LAMPIRAN PERJANJIAN KINERJA KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2016 No Sasaran Strategis Indikator Kinerja
BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara
BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kondisi Fisik Daerah Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara 7.33-8.12 Lintang Selatan dan antara 110.00-110.50 Bujur
BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH
BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Tabel IX-1 Indikator Kinerja Daerah Menurut Sasaran Strategis SASARAN INDIKATOR KINERJA Misi satu : Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang melalui peningkatkan
Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau
Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau 2013-2018 Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau i Kata Pengantar Kepala Bappeda Kabupaten Pulang Pisau iii Daftar Isi v Daftar Tabel vii Daftar Bagan
Series Data Umum Kota Semarang Data Umum Kota Semarang Tahun
Data Umum Kota Semarang Tahun 2007-2010 I. Data Geografis a. Letak Geografis Kota Semarang Kota Semarang merupakan kota strategis yang beradadi tengah-tengah Pulau Jawa yang terletak antara garis 6 0 50
DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN... 1
1 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Hukum...... 2 1.3. Hubungan Antar Dokumen... 5 1.4. Sistematika Dokumen RKPD... 5 1.5. Maksud dan Tujuan... Hal BAB II EVALUASI HASIL
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pada umumnya pembangunan ekonomi selalu diartikan sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada umumnya pembangunan ekonomi selalu diartikan sebagai proses kenaikan pendapatan perkapita penduduk dalam suatu daerah karena hal tersebut merupakan kejadian
DEMOGRAFI KOTA TASIKMALAYA
1. Gambaran Umum Demografi DEMOGRAFI KOTA TASIKMALAYA Kondisi demografi mempunyai peranan penting terhadap perkembangan dan pertumbuhan suatu wilayah karena faktor demografi ikut mempengaruhi pemerintah
BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan
BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR 4. 1 Kondisi Geografis Provinsi Jawa Timur membentang antara 111 0 BT - 114 4 BT dan 7 12 LS - 8 48 LS, dengan ibukota yang terletak di Kota Surabaya. Bagian utara
