V. STRATEGI, KEBIJAKAN DAN PROGRAM
|
|
|
- Teguh Kusuma
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 V. STRATEGI, KEBIJAKAN DAN PROGRAM A. Strategi Seperti diuraikan pada bab sebelumnya, bahwa pengembangan agribisnis jeruk pada lima tahun mendatang diarahkan untuk: (1) mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri, (2) memenuhi kebutuhan bahan baku industri, (3) substitusi impor, dan (4) mengisi peluang pasar ekspor yang tahapan pencapaiannya dirangkum pada Gambar 9. Strategi yang ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut meliputi (1) peningkatan kompetensi SDM, (2) peningkatan koordinasi dalam penyusunan kebijakan dan pembangunan agribisnis jeruk, (3) penguatan kelembagaan petani dan pelaku agribisnis jeruk, (4) peningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana mendukungan pembangunan dan pengembangan agribisnis jeruk, (5) percepatan proses perakitan teknologi spesifik lokasi, diseminasi dan alih inovasi teknologi anjuran, dan (6) peningkatan promosi dan proteksi produk jeruk nasional. Upaya pengembangan wilayah baru harus dilandasi oleh informasi kesesuaian lahan untuk setiap jenis jeruk yang akan dikembangkan. Prasarana yang diperlukan kemudian dibangun secara bertahap agar usahataninya dapat lebih efisien. Bibit yang digunakan harus menggunakan bibit berlabel bebas penyakit dan jika diperlukan dalam jumlah banyak sebaiknya dipersiapkan sendiri melalui alur Blok Pondasi Blok Pengguna dan Mata Tempel (BPMT) penangkar bibit, yang telah dibakukan secara nasional. Penanaman baru sebaiknya tidak menggunakan jenis jeruk siem lagi, sedangkan untuk substitusi impor dapat digunakan jeruk keprok varietas SoE, Garut, Berasitepu atau keprok lainnya. Gambar 9. Roadmap pengembangan jeruk tahun Sumber : Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura 24 25
2 Kebun jeruk yang baru dibangun atau yang sudah ada terutama kebun-kebun jeruk berskala kecil akan dibina agar dalam pengelolaannya mengacu pada standar prosedur operasional (SPO), sedangkan kebun skala besar diharapkan sudah bisa membuat dan menerapkan SPO di kebun mandirinya. Dalam sosialisasi penerapan SPO akan diawali di beberapa daerah sentra produksi terpilih sekaligus sebagai model pengembangan di wilayah sentra produksi lainnya. Pemberdayaan kelembagaan petani perlu mendapatkan perhatian semestinya karena dapat mempercepat proses alih teknologi anjuran spesifik lokasi secara utuh dan meningkatkan posisi tawar menawar petani dalam segi pemasaran. Sasaran dari pembinaan tersebut diatas adalah telah berubahnya daerah sentra produksi menjadi sentra agribisnis yang tangguh termasuk penanganan pascapanennya seperti pembangunan bangsal atau pabrik olahan. B. Kebijakan Kebijakan yang langsung terkait dengan pembangunan dan pengembangan agribisnis jeruk di beberapa sentra produksi meliputi: 1. Kebijakan peningkatan kompetensi SDM. Pengembangan agribisnis yang tangguh menuntut dukungan petugas yang mempunyai kompetensi tinggi di bidangnya masing-masing, memiliki integritas moral yang tinggi, kemampuan intelektual yang memadai, ketajaman dan naluri bisnis yang baik. Petani sebagai salah satu pelaku utama agribisnis jeruk harus mempunyai ketrampilan teknis dan kemampuan untuk mengakses inovasi teknologi yang terus berkembang sehingga mampu menghasilkan produk yang bermutu sesuai dengan permintaan pasar yang sangat dinamis. 2. Kebijakan peningkatan koordinasi dalam penyusunan kebijakan dan pembangunan agribisnis jeruk diarahkan untuk meningkatkan keterbukaan dalam perumusan program manajemen pengelolaannya; meningkatkan kemampuan evaluasi, pengawasan dan pengendalian pelaksanaan program; dan penyelarasan pelaksanaan program antar sektor dan wilayah. 3. Kebijakan penguatan kelembagaan petani dan pelaku agribisnis jeruk diarahkan untuk menyusun kebijakan revitalisasi pelaksanaan penyuluhan pertanian, pengawalan penerapan teknologi anjuran, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan, menyelenggarakan pendidikan agribisnis jeruk bagi petani, dan memperkuat kelembagaan petani. 4. Kebijakan peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana mendukung pembangunan dan pengembangan agribisnis jeruk ditujukan untuk mempercepat pengembangan sarana dan prasarana usatani jeruk; pengembangan lembaga keuangan di daerah sentra produksi; pengembangan sarana pengolahan dan pemasaran. 5. Kebijakan percepatan proses perakitan teknologi spesifik lokasi, diseminasi dan alih inovasi teknologi anjuran dapat dimanfaatkan untuk merespon baik permasalahan dan kebutuhan inovasi teknologi spesifik lokasi; mendukung pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal; mengembangkan produk berdaya saing tinggi; mempercepat proses dan perluasan jaringan diseminasi dan penjaringan umpan balik inovasi teknologi agribisnis jeruk. 6. Kebijakan peningkatan promosi dan proteksi jeruk diarahkan untuk menyusun kebijakan subsidi tepat sasaran dalam sarana produksi, harga produk, dan bunga kredit untuk modal usahatani jeruk; meningkatkan ekspor dan membatasi impor; menetapkan tarif impor dan pengaturan impor; meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani jeruk; meningkatkan mutu dan standardisasi produk melalui penerapan teknologi produksi, pasca panen dan pengolahan hasil; dan meningkatkan efisiensi pemasaran yang adil dan berpihak kepada petani. C. Program Berdasarkan kondisi agribisnis jeruk saat ini dan yang ingin diwujudkan masa mendatang terutama pada tahun 2010, maka program revitalisasi agribisnis jeruk meliputi beberapa kegiatan utama, yaitu: 26 27
3 1. Pengakurasian data agribisnis jeruk Data yang tersedia di BPS sekarang hanya menginformasikan misalnya untuk luas panen jeruk secara global dalam artian bahwa luas areal jeruk yang berbuah pada saat pengamatan, tidak memberikan gambaran tentang jumlah tanaman yang belum berproduksi atau luas areal pertanaman jeruk berjenis secara keseluruhan. Selain itu, data produksi yang ada juga tidak mencerminkan perbedaan produksi jenis jeruk tetapi untuk semua jeruk. Ke depan, harus ada pemilahan data untuk masing masing jenis jeruk seperti jeruk Siam, keprok, manis, pemelo, jeruk nipis dan jeruk lainnya yang masing-masing memiliki luas produkstivitas yang berbeda. Data yang ada sekarang belum memadai untuk diolah sebagai dasar suatu perencanaan jangka panjang. Metodologi pencatatan data harus bisa dijamin akurasinya termasuk kecepatan kompilasi data data di pusat data. 2. Revitalisasi industri benih jeruk Pengalaman di lapang menunjukkan, bahwa pengembangan jeruk di daerah sentra produksi belum sepenuhnya menggunakan bibit jeruk bebas penyakit. Sistem produksi dan distribusi bibit jeruk bebas penyakit yang telah dibakukan secara nasional belum menjadi acuan utama dalam penyediaan bibit untuk keperluan pengembangan. Posisi petugas BPSB saat ini menjadi tidak mandiri lagi karena sebagai Unit Pelaksana Tugas dari Dinas Pertanian sehingga peran pengawasannya tidak independen. Perlu ada dukungan Peraturan Daerah tentang optimalisasi penyelenggaraan dan distribusi bibit jeruk ini. Sampai tahun 2010 dibutuhkan sekitar 15 juta bibit jeruk bebas penyakit dari beberapa varietas/spesies jeruk. Pengelolaan Blok Fondasi dan BPMT di BBI Hortikultura yang memiliki lebih dari 90% Blok Fondasi yang ada di Indonesia dinilai belum optimal sehingga dikeluhkan oleh petani sulit mendapatkan bibit jeruk bebas penyakit. Pada kegiatan pembibitan ini, sebenarnya kita bisa mengatur jenis varietas apa yang akan dikembangkan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi dan Kabupaten harus mempunyai komitmen untuk hanya menggunakan bibit jeruk bebas penyakit dalam pelaksanaan program pengembangan agribisnisnya. Untuk memenuhi 28 kebutuhan bibit jeruk bebas penyakit yang sampai tahun 2010 perlu pencadangan sekitar 15 juta bibit, maka peran swasta sangat diharapkan dalam upaya revitalisasi industri benih ini. 3. Revitalisasi sentra produksi jeruk Ke depan, sentra produksi jeruk yang ada sekarang secara bertahap dibina untuk menjadi sentra agribisnis jeruk yang dicirikan oleh: (a) luas skala usaha yang ekonomis, (b) kelembagaan petani yang tangguh, (c) melaksanakan konsolidasi pengelolaan kebun sehingga seluruh atau sebagian besar kelompok tani (sebagai unit terkecil pembinaan) yang ada menerapkan teknologi berdasarkan GAP (Norma Budidaya Hortikultura Yang Baik) melalui penerapan SPO yang spesifik lokasi, (d) memiliki rumah pengemasan ('packing house') yang meliputi kegiatan pembersihan, pelapisan lilin, dan sortasi ('grading') dan (e) membangun pusat konsultasi atau klinik agribisnis (agroklinik jeruk) yang berbasis teknologi informasi di sentra agribisnis jeruk mempunyai peran yang strategis terutama dalam mengakses inovasi teknologi yang terus berkembang. Pola pengembangan kebun jeruk berskala kecil menjadi sasaran binaan utamanya. 4. Penumbuhan sentra agribisnis baru Perluasan sentra produksi/agribisnis baru merupakan bukaan baru di wilayah yang secara agroklimat sesuai untuk pengembangan jeruk (berdasarkan peta kesesuaian lahan untuk jeruk) pola kebun jeruk skala kecil dan besar. Pengembangan jenis jeruk Siam sudah harus mulai dibatasi, karena hampir % jenis jeruk yang ada di Indonesia didominasi oleh jeruk Siam yang bukan merupakan varietas jeruk untuk diolah dan memiliki penetrasi pasar yang kurang kuat dibandingkan dengan jeruk keprok, lemon, pamelo atau lainnya. Ketersediaan informasi tentang prospek jeruk non Siam perlu dipromosikan kepada calon investor atau pengusaha jeruk lainnya. Untuk substitusi impor akan dikembangkan tiga jeruk keprok yaitu SoE di NTT, jeruk garut di Jawa Barat dan jeruk Berasitepu di Sumatera Utara. Dalam hal penggantian varietas dari tanaman yang sudah ada melalui 'top working', bisa dilakukan juga oleh petani pada pola pengembangan kebun jeruk kecil. 29
4 5. Pembangunan pabrik pengolahan Booming buah jeruk Siam diperkirakan akan terjadi pada 2-3 tahun mendatang karena tanaman belum berproduksi yang ada sekarang akan mulai berproduksi sekaligus menimbulkan masalah surplus buah yang diikuti turunnya harga buah jeruk terutama akan terjadi di sentra produksi utama jeruk Siam, yaitu di Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan (dan Barat). Pembangunan pabrik olahan jeruk baik berskala rumah tangga maupun industri perlu dilakukan untuk menampung kelebihan produksi buah jeruk baik dari kebun skala besar maupun kecil. sentra produksi jeruk. Pelatihan, pembinaan dan pengawalan penerapan teknologi oleh Balai/Lolit dan BPTP propinsi beserta dengan Dinas Pertanian TPH setempat perlu terus dikoordinasikan dengan baik. Kehadiran agroklinik jeruk yang dikelola secara profesional terbukti dapat mendekatkan sumber informasi inovasi teknologi spesifik lokasi dengan petani dan pelaku agribisnis jeruk lainnya. 6. Pembentukan jaringan informasi agribisnis jeruk Hingga kini belum ada jaringan informasi khusus tentang perjerukan nasional yang bisa memberikan informasi lengkap yang diperlukan bagi pelaku atau calon pelaku agribisnis jeruk. Informasi tentang periode panen yang berubah setiap tahun karena musim, prediksi produksi dan proporsi kelas/ grade buah yang akan dihasilkan, harga dan infromasi penting lainnya perlu dihimpun dari seluruh sentra agribisnis (utama) secara periodik dan kemudian setelah secepatnya diolah bisa diakses oleh seluruh pelaku agribisnis dan masyarakat jeruk di Indonesia. 7. Revitalisasi penyuluhan dan pembinaan petani Karena alasan struktur organisasi, PPL di daerah sentra produksi tidak berfungsi secara optimal. PPL yang ada biasanya polivalen dan tidak mempunyai spesialisasi khusus tentang budidaya jeruk sehingga merasa kurang percaya diri bila berhadapan dengan petani maju. Di setiap kecamatan di daerah sentra produksi harus ada minimal satu orang PPL khusus jeruk yang selalu berkoordinasi dengan Petugas Pengamat Hama setempat yang sebaiknya juga mengkhususkan diri untuk jeruk, mengingat sebagian besar masalah teknis di lapang berhubungan dengan penyakit jeruk. Informasi inovasi teknologi hasil penelitian tentang jeruk harus dimiliki oleh para petugas lapang di 30 31
5 VI. KEBUTUHAN INVESTASI Berdasarkan program-program pengembangan agribisnis jeruk sebelumnya, maka terdapat beberapa kegiatan investasi prospektif terkait pengembangan agribisnis jeruk ini. Kegiatan atau kebutuhan investasi ini dapat mencakup: A. Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pengembangan kawasan sentra produksi buah jeruk yang dilakukan melalui pengembangan kebun jeruk skala besar di 10 provinsi dan skala kecil di 20 provinsi. Seperti diketahui, bahwa jenis jeruk yang dominan di Indonesia (70-80 %) merupakan jeruk siam, lainnya adalah jenis keprok, pamelo, dan nipis. Biaya investasi per hektar relatif sama antar jenis tanaman jeruk. Seperti terlihat pada Tabel Lampiran 2, bahwa kebutuhan investasi awal (0-4 tahun) dalam pengembangan usahatani jeruk per hektarnya sebesar Rp 59,037 juta, yaitu untuk biaya sewa lahan (Rp 10,0 juta), biaya tenaga kerja sebelum produksi (Rp 23,250 juta) dan biaya bahan dan alat (Rp 25,787 juta). 1. Kebun jeruk skala besar Pembangunan kebun jeruk skala besar atau perkebunan dilakukan oleh swasta/perusahaan dengan luasan lebih dari 100 hektar, merupakan hamparan. Luas Pengembangan, adalah 2275 hektar yang tersebar di 10 provinsi (Lampiran 3). Kebutuhan investasi pengembangan usaha kebun ini untuk biaya : lahan usahatani, tenaga kerja, sarana produksi termasuk bahan peralatan, dan biaya lainnya dengan memperhitungkan tingkat suku bunga bank sebesar 10 % pertahun, diperlukan investasi sebesar : a. Tahun 2005 sebesar Rp 17,416 Milyar; b. Tahun 2010 sebesar Rp 33,77 Milyar; dan c. Total Investasi sebesar Rp 136,4 Milyar (Lampiran 4). Di lokasi-lokasi kebun jeruk yang diusahakan dalam skala besar perlu difasilitasi dengan berbagai kemudahan dalam hal sarana transportasi, pengairan usahatani, sarana produksi (pupuk/ pestisida), 32 industri pengolahan hasil hingga fasilitas komunikasi. Pembangunan kebun skala besar dilaksanakan dengan konsep GAP (Panduan Budidaya Buah yang Benar) yaitu dengan mengaplikasikan teknologi maju yang tersedia dan memanfaatkan sumberdaya alam secara berkelanjutan untuk memproduksi jeruk yang sehat dan aman untuk dikonsumsi serta bermutu dan dapat menjaga kesehatan manusia, secara ekonomi layak dan secara sosial dapat diterima). Produksi jeruk dari kebun skala besar terutama diarahkan untuk kebutuhan pasar dalam negeri terutama pasar supermarket dan pasar khusus. 2. Kebun jeruk skala kecil Pengembangan kebun jeruk skala kecil merupakan investasi kebun jeruk pada petani/masyarakat dengan luasan masing-masing kurang dari 1 hektar sampai 10 hektar. Pada sistem kebun skala kecil ini dilakukan penerapan kelembagaan GAP yaitu dengan cara petani berkelompok dengan mengangkat seorang manajer. Kelompok tani merupakan kelompok tani komoditas jeruk sehamparan atau sewilayah. Kelompok-kelompok tani secara bersamaan mengelola kebun berdasarkan SPO yang dipandu oleh seorang manajer. Arah pengembangan kebun jeruk skala kecil selama dapat mencapai hektar yang tersebar di 20 provinsi (Lampiran 5). Dalam pengembangan usaha kebun jeruk berskala kecil ini diperlukan investasi tidak kurang dari Rp 59,037 juta/hektar, yaitu untuk biaya lahan usahatani, tenaga kerja, sarana produksi (pupuk, pestisida dan lainnya), biaya lainnya dan memperhitungkan tingkat suku bunga bank sebesar 14% pertahun. Dengan mengasumsikan biaya investasi relatif sama dalam setiap hektarnya maka untuk pengembangan usaha kebun jeruk skala kecil ini dibutuhkan investasi sebesar : a. Tahun 2005: Rp 223,16 Milyar, b. Tahun 2010: Rp 329,77 Milyar; dan c. Total Investasi : Rp 3,34 Trilyun (Lampiran 6) Produksi dari kebun jeruk skala kecil ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri dengan kualitas sesuai permintaan pasar dan industri rumah tangga. 33
6 B. Investasi Dalam Pengembangan Industri Benih Investasi dalam hal perbenihan diharapkan dilakukan oleh swasta. Keberadaan industri benih swasta ini diperlukan untuk melengkapi kebutuhan benih jeruk nasional yang selama ini dirasakan masih kurang dan kualitasnya juga perlu lebih ditingkatkan. Keberadaan industri benih ini bagi komoditas jeruk agar mampu memproduksi benih sesuai tujuh tepat (jenis, varietas, mutu, jumlah, lokasi, waktu, dan harga yang memadai). Investasi yang dibutuhkan untuk industri perbenihan komoditas jeruk ini adalah sebesar Rp 27,75 Milyar (untuk kebutuhan lahan, bangunan rumah kasa, media tumbuh, tenaga kerja dan lainnya). Industri benih ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan benih jeruk sebanyak 15 juta pohon hingga tahun C. Investasi Unit Pengolahan Hasil Investasi unit pengolahan hasil akan dikembangkan dalam skala besar industri dan skala rumah tangga/ UKM. Komoditas jeruk tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar, tapi juga dalam bentuk olahan (misalnya juice/sari buah, tepung instan dan jelly buah), sehingga nilai tambah komoditas dapat diperoleh oleh produsen dalam negeri. Untuk pengembangan skala besar industri pengolahan, diperkirakan hingga tahun 2010 akan menyerap bahan baku buah jeruk sebesar ton, dan investasi yang diperlukan untuk pengolahan industri ini akan mencapai Rp 3,08 Triliun (Lampiran 7). Menurut BPS (2002), bahwa industri pengolahan jeruk yang menggunakan bahan baku sebesar itu, akan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak tenaga kerja. Investasi pengolahan ini dilakukan oleh swasta dan produk yang dihasilkannya secara dominan untuk diekspor. Pendirian perusahaan ini dapat dilakukan di sentra produksi jeruk dominan seperti di Provinsi Sumut, Kalbar dan Sulsel. Untuk pengembangan skala kecil/rt industri pengolahan, diperkirakan hingga tahun 2006 akan menyerap bahan baku buah jeruk sebesar 72 ton, dan investasi yang diperlukan untuk pengolahan industri ini akan mencapai Rp 271,84 juta (Lampiran 8). Menurut BPS (2002), bahwa industri pengolahan jeruk yang menggunakan bahan baku sebesar itu, akan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 264 tenaga kerja. Investasi pengolahan ini dilakukan oleh rumah tangga/ukm dan produk yang dihasilkannya secara dominan untuk konsumsi domestik. Pendirian industri kecil ini dapat dilakukan oleh rumah tangga disentra produksi jeruk yang tersebar di 58 Kabupaten. D. Investasi Terkait Pusat Agroklinik Untuk melengkapi pengembangan sentra produksi jeruk nasional, maka kiranya perlu dilengkapi dengan pusat agroklinik disentra-sentra perkebunan jeruk rakyat. Pendirian agroklinik ini dapat dilakukan secara bertahap di 58 Kabupaten sentra produksi, dari tahun 2006 hingga Tujuan pendirian pusat agroklinik ini adalah untuk mendekatkan layanan sumber inovasi teknologi jeruk kepada petani dan pelaku agribisnis lainnya. Diperkirakan investasi yang dibutuhkan untuk setiap pendirian sebesar Rp 60 juta/pusat agroklinik yang meliputi: (a) biaya lahan dan bangunan Rp 20 juta; (b) biaya bahan dan alat Rp 30 juta; (c) biaya pelatihan awal Rp 10 juta. Sehingga secara bertahap investasi yang dikeluarkan hingga tahun 2010 akan mencapai Rp 3,82 Milyar (Lampiran 9). E. Investasi Pembangunan Packing House Investasi Pembangunan Packing House yang dapat dilakukan oleh perorangan atau kelompok tani atau swasta sehingga tersedianya sarana ini dapat menjadi wahana untuk meningkatkan kualitas jeruk yang dihasilkan petani. Investasi untuk pembangunan packing house diperkirakan mencapai Rp 50 juta/unit, dengan rincian sebagai berikut: 1. Bahan dan Bangunan : Rp 20 juta 2. Peralatan dan Bahan : Rp 15 juta 3. Tenaga Kerja hingga beroperasi : Rp 10 juta 4. Lain-lain : Rp 5 juta Total Investasi : Rp 50 juta 34 35
7 Total investasi packing house jika dibangun di setiap sentra produksi (per kabupaten) hingga tahun 2010 akan mencapai Rp 3,18 Milyar (Lampiran 10). F. Investasi Alsin Pemeras Jeruk Seperti disajikan pada Lampiran 11, bahwa keberadaan alsin pemeras jeruk di Indonesia masih belum ada. Padahal dengan potensi produksi yang ada, dibutuhkan sekitar unit di tahun 2005 dan kebutuhannya mencapai unit hingga tahun Investasi ini dapat dilakukan oleh swasta daerah di lokasi-lokasi sentra produksi. Investasi total yang dibutuhkan untuk 30 provinsi hingga tahun 2010 sekitar Rp 1,052 triliun, dan di tahun 2005 saja sekitar Rp 35,521 milyar. Kebutuhan investasi per unit pemeras jeruk sekitar Rp 15 juta/unit. VII. DUKUNGAN KEBIJAKAN INVESTASI Dukungan kebijakan investasi oleh pemerintah sangat diperlukan dalam memberikan iklim yang lebih kondusif bagi pengembangan agribisnis jeruk di Indonesia yang harus terintegrasi dengan pemerintah daerah maupun antar departemen terkait seperti perindustrian, perdagangan, dan lainnya sebagai A. Kebijakan mendukung pembatasan impor buah jeruk melalui persyaratan yang lebih ketat. B. Kebijakan mengharuskan pasar-pasar swalayan untuk memberikan kesempatan tanpa diskriminasi mendisplay buah jeruk dalam negeri yang bermutu minimal 50% dari ketersediaan. C. Kebijakan memberikan keringan pajak bagi investor selama tanaman jeruk belum berproduksi dan adanya jaminan bebas pungutan tidak resmi mulai dari pengurusan perijinan hingga proses pengelolaan kebunnya. D. Kebijakan dalam tarif transportasi terutama angkutan penerbangan yang dinilai sangat mahal dan tidak mendukung kegiatan ekspor, E. Kebijakan kemudahan mengakses sumber permodalan dengan persyaratan bunga yang lunak, F. Kebijakan memberikan jaminan keamanan berinvestasi di lokasi usaha G. Kebijakan peningkatan pengawasan lalu lintas materi perbanyakan tanaman antar wilayah maupun pulau
Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS JERUK. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005
Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS JERUK Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan ridho
PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS JERUK. Edisi Kedua
PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS JERUK Edisi Kedua Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2007 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan
Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Jeruk. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Jeruk I. PENDAHULUAN
I. PENDAHULUAN Jeruk merupakan komoditas buah yang cukup menguntungkan untuk diusahakan saat ini dan mendatang, dapat mulai dipanen pada tahun ke 4 dengan B/C 1,46-2,74, NPV Rp.6.675.812, dan IRR 39,4-55%.
Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Jeruk I. PENDAHULUAN
I. PENDAHULUAN Jeruk merupakan komoditas buah yang cukup menguntungkan untuk diusahakan saat ini dan mendatang, dapat mulai dipanen pada tahun ke 4 dengan B/C 1,46 2,74, NPV; Rp. 6.675.812; dan IRR 39,4-55%.
ARAH KEBIJAKAN PERSUSUAN
ARAH KEBIJAKAN PERSUSUAN Agar pangsa pasar susu yang dihasilkan peternak domestik dapat ditingkatkan maka masalah-masalah di atas perlu ditanggulangi dengan baik. Revolusi putih harus dilaksanakan sejak
BAB I PENDAHULUAN. dan di mata dunia internasional memiliki prospek bisnis hortikultura yang sangat
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara agraris yang beriklim tropis dan di mata dunia internasional memiliki prospek bisnis hortikultura yang sangat cerah. Hortikultura
Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS KEDELAI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005
Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS KEDELAI Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Pertanian merupakan salah
V. STRATEGI, KEBIJAKAN DAN PROGRAM
18 V. STRATEGI, KEBIJAKAN DAN PROGRAM A. Strategi Pengembangan agribisnis bawang merah pada lima tahun mendatang diarahkan untuk: (1) mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri, (2) memenuhi kebutuhan bahan
I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian
I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Peran strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui pembentukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan dapat diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu wilayah untuk mengembangkan kualitas hidup masyarakatnya, dan pembangunan merupakan suatu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara agraris, dimana sektor pertanian dalam tatanan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara agraris, dimana sektor pertanian dalam tatanan pembangunan nasional memegang peranan penting dalam menyediakan pangan bagi seluruh
BAB I PENDAHULUAN. Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang memberikan energi dan zat gizi yang tinggi. Beras sebagai komoditas pangan pokok dikonsumsi
PENGANTAR. Ir. Suprapti
PENGANTAR Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dengan tersusunnya Rencana Strategis Direktorat Alat dan Mesin Pertanian Periode 2015 2019 sebagai penjabaran lebih lanjut Rencana Strategis
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: Upaya Peningkatan Produksi Komoditas Pertanian Strategis
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: Upaya Peningkatan Produksi Komoditas Pertanian Strategis 1 Pendahuluan (1) Permintaan terhadap berbagai komoditas pangan akan terus meningkat: Inovasi teknologi dan penerapan
V. KEBIJAKAN, STRATEGI, DAN PROGRAM
V. KEBIJAKAN, STRATEGI, DAN PROGRAM Hingga tahun 2010, berdasarkan ketersediaan teknologi produksi yang telah ada (varietas unggul dan budidaya), upaya mempertahankan laju peningkatan produksi sebesar
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN 1. Pendahuluan Sektor pertanian merupakan tumpuan ekonomi dan penggerak utama ekonomi nasional dan sebagian besar daerah, melalui perannya dalam pembentukan
PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 76/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PENETAPAN PRODUK UNGGULAN HORTIKULTURA
PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 76/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PENETAPAN PRODUK UNGGULAN HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa
Krisis ekonomi yang melanda lndonesia sejak pertengahan bulan. Sektor pertanian di lndonesia dalam masa krisis ekonomi tumbuh positif,
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda lndonesia sejak pertengahan bulan Juli 1997 mempunyai dampak yang besar terhadap perekonomian negara. Sektor pertanian di lndonesia dalam
VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN. 1. Baik pada daerah dataran rendah maupun dataran tinggi, rendahnya
VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN 7.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab terdahulu, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Baik pada daerah dataran rendah maupun
BAB IV RUJUKAN RENCANA STRATEGIS HORTIKULTURA
BAB IV RUJUKAN RENCANA STRATEGIS HORTIKULTURA 2015-2019 Dalam penyusunan Rencana strategis hortikultura 2015 2019, beberapa dokumen yang digunakan sebagai rujukan yaitu Undang-Undang Hortikultura Nomor
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Peranan pertanian antara lain adalah : (1) sektor pertanian masih menyumbang sekitar
I. PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembangunan pertanian di Indonesia adalah
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan pertanian di Indonesia adalah pengembangan hortikultura untuk meningkatkan pendapatan petani kecil. Petani kecil yang dimaksud dalam pengembangan
C. Program. Berdasarkan klaim khasiat, jumlah serapan oleh industri obat tradisional, jumlah petani dan tenaga
C. Program PERKREDITAN PERMODALAN FISKAL DAN PERDAGANGAN KEBIJAKAN KETERSEDIAAN TEKNOLOGI PERBAIKAN JALAN DESA KEGIATAN PENDUKUNG PERBAIKAN TATA AIR INFRA STRUKTUR (13.917 ha) Intensifikasi (9900 ha) Non
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 KAKAO Penyebaran Kakao Nasional Jawa, 104.241 ha Maluku, Papua, 118.449 ha Luas Areal (HA) NTT,NTB,Bali, 79.302 ha Kalimantan, 44.951 ha Maluku,
BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhannya meningkat, sementara sektor lain mengalami pertumbuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan pertanian di Indonesia harus tetap menjadi prioritas utama dari keseluruhan pembangunan ekonomi yang dilakukan pemerintah. Hal ini mengingat bahwa sektor
PROPOSAL POTENSI, Tim Peneliti:
PROPOSAL PENELITIAN TA. 2015 POTENSI, KENDALA DAN PELUANG PENINGKATAN PRODUKSI PADI PADA LAHAN BUKAN SAWAH Tim Peneliti: Bambang Irawan PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN
I. PENDAHULUAN. Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dengan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai
BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan terigu dicukupi dari impor gandum. Hal tersebut akan berdampak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan pola konsumsi makanan pada masyarakat memberikan dampak positif bagi upaya penganekaragaman pangan. Perkembangan makanan olahan yang berbasis tepung semakin
Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS PISANG
Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS PISANG Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan ridho
1. Pengembangan Komoditas Unggulan 2. Pengembangan Kawasan dan Sentra Produksi 3. Pengembangan Mutu Produk 4. Pengembangan Perbenihan
KEBIJAKSANAAN UMUM 1. Pengembangan Komoditas Unggulan 2. Pengembangan Kawasan dan Sentra Produksi 3. Pengembangan Mutu Produk 4. Pengembangan Perbenihan 5. Pengembangan Perlindungan Hortikultura 6. Pengembangan
I. PENDAHULUAN. Arah kebijakan pembangunan pertanian yang dituangkan dalam rencana
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Arah kebijakan pembangunan pertanian yang dituangkan dalam rencana strategis tahun 2010-2014 adalah terwujudnya pertanian industrial unggul berkelanjutan yang berbasis
SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 46 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA
BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 46 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MADIUN, Menimbang
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN
94 Masterplan Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan dan Hortikultura STRATEGI DAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA JAWA TIMUR Master Plan Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN HORTIKULTURA 2016
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN HORTIKULTURA 2016 Disampaikan pada acara : Pramusrenbangtannas Tahun 2016 Auditorium Kementerian Pertanian Ragunan - Tanggal, 12 Mei 201 KEBIJAKAN OPERASIONAL DIREKTORATJENDERALHORTIKULTURA
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN 3.1 Telaahan Terhadap Kebijakan Nasional Berdasarkan Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2010 2014 (Edisi Revisi Tahun 2011), Kementerian Pertanian mencanangkan
PENGUATAN KELEMBAGAAN PENANGKAR BENIH UNTUK MENDUKUNG KEMANDIRIAN BENIH PADI DAN KEDELAI
Policy Brief PENGUATAN KELEMBAGAAN PENANGKAR BENIH UNTUK MENDUKUNG KEMANDIRIAN BENIH PADI DAN KEDELAI Pendahuluan 1. Produksi benih tanaman pangan saat ini, termasuk benih padi dan benih kedelai, merupakan
I. PENDAHULUAN. berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gula merupakan salah satu komoditas yang mempunyai posisi strategis dalam perekonomian Indonesia. Pada tahun 2000 sampai tahun 2005 industri gula berbasis tebu merupakan
IX. KESIMPULAN DAN SARAN
IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa: 1. Penawaran output jagung baik di Jawa Timur maupun di Jawa Barat bersifat elastis
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PETERNAKAN
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PETERNAKAN H. ISKANDAR ANDI NUHUNG Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian ABSTRAK Sesuai
PENGANTAR AGRIBISNIS
PENGANTAR AGRIBISNIS PENGANTAR AGRIBISNIS I. PEMAHAMAN TENTANG AGRIBISNIS 1. EVOLUSI PERTANIAN MENUJU AGRIBISNIS Berburu dan Meramu budidaya pertanian (farming) ekstensif untuk memenuhi kebutuhan rumah
PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian
PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Pembangunan pertanian subsektor perkebunan mempunyai arti penting dan strategis terutama di negara yang sedang berkembang, yang selalu berupaya: (1) memanfaatkan kekayaan
I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting. dalam pembangunan ekonomi, baik untuk jangka panjang maupun jangka
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi, baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek, khususnya untuk pemulihan ekonomi.
1.1. VISI DAN MISI DINAS PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN KOTA PRABUMULIH. pedoman dan tolak ukur kinerja dalam pelaksanaan setiap program dan
BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 1.1. VISI DAN MISI DINAS PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN KOTA PRABUMULIH Visi merupakan pandangan ideal yang menjadi tujuan dan cita-cita sebuah organisasi.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas daratan dan lautan yang sangat luas sehingga sebagian besar mata pencaharian penduduk berada di sektor pertanian. Sektor
I. PENDAHULUAN. sektor yang mempunyai peranan yang cukup strategis dalam perekonomian
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor
Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS PADI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005
Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS PADI Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan ridho
BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN Visi dan Misi Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Tasikmalaya
BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1. Visi dan Misi Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Tasikmalaya A. Visi Perumusan visi dan misi jangka menengah Dinas Pertanian,
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Bagi negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, pembangunan pertanian pada abad ke-21 selain bertujuan untuk mengembangkan sistem pertanian yang berkelanjutan
1 PENDAHULUAN. Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan pertanian memiliki peran strategis dalam menunjang perekonomian Indonesia. Sektor pertanian berperan sebagai penyedia bahan pangan, pakan ternak, sumber bahan baku
KATA PENGANTAR. Petunjuk teknis ini disusun untuk menjadi salah satu acuan bagi seluruh pihak yang akan melaksanakan kegiatan tersebut.
KATA PENGANTAR Kekayaan sumber-sumber pangan lokal di Indonesia sangat beragam diantaranya yang berasal dari tanaman biji-bijian seperti gandum, sorgum, hotong dan jewawut bila dikembangkan dapat menjadi
VIII. REKOMENDASI KEBIJAKAN
VIII. REKOMENDASI KEBIJAKAN 8.1. Rekomendasi Kebijakan Umum Rekomendasi kebijakan dalam rangka memperkuat pembangunan perdesaan di Kabupaten Bogor adalah: 1. Pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat, adalah
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia karena merupakan tumpuan hidup sebagian besar penduduk Indonesia. Lebih dari setengah angkatan kerja
I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Tanaman hortikultura merupakan salah satu tanaman yang menunjang pemenuhan gizi masyarakat sebagai sumber vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat (Sugiarti, 2003).
I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian merupakan suatu tindakan untuk mengubah kondisi
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan suatu tindakan untuk mengubah kondisi pertanian dari kondisi yang kurang menguntungkan menjadi kondisi yang lebih menguntungkan (long
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BPS. 2012
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dibutuhkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2008) 1 komoditi
RANCANGAN RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA KABUPATEN GARUT TAHUN PEMERINTAH KABUPATEN GARUT
RANCANGAN RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA KABUPATEN GARUT TAHUN 2019-2019 PEMERINTAH KABUPATEN GARUT DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA Jl. PEMBANGUNAN NO. 183 GARUT
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi nasional abad ke- 21, masih akan tetap berbasis pertanian
PENETAPAN KINERJA ( PK ) TAHUN 2013 (REVISI) DINAS PERTANIAN PROVINSI JAWA TIMUR
PENETAPAN KINERJA ( PK ) TAHUN 2013 (REVISI) DINAS PERTANIAN PROVINSI JAWA TIMUR PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013 PENETAPAN KINERJA TAHUN 2013 DINAS PERTANIAN PROVINSI JAWA TIMUR LAMPIRAN - 3
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1. Visi dan Misi Penetapan visi sebagai bagian dari perencanaan strategi, merupakan satu langkah penting dalam perjalanan suatu organisasi karena
V. PERKEMBANGAN PRODUKSI, USAHATANI DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PENGEMBANGAN JAGUNG
V. PERKEMBANGAN PRODUKSI, USAHATANI DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PENGEMBANGAN JAGUNG 5.1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jagung di Jawa Timur dan Jawa Barat 5.1.1. Jawa Timur Provinsi Jawa Timur
Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan
Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan Anton J. Supit Dewan Jagung Nasional Pendahuluan Kemajuan teknologi dalam budidaya jagung semakin
PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Sawah irigasi sebagai basis usahatani merupakan lahan yang sangat potensial serta menguntungkan untuk kegiatan usaha tani. Dalam satu tahun setidaknya sawah irigasi dapat
DIREKTORAT JENDERAL HORTIKULTURA
DIREKTORAT JENDERAL HORTIKULTURA MANUAL IKSP DIREKTORAT JENDERAL HORTIKULTURA (2016) Nama IKSP Jumlah Produksi Aneka Cabai (Ton) Direktur Jenderal Hortikultura Jumlah produksi aneka cabai besar, cabai
PETUNJUK TEKNIS A. Latar Belakang
Direktorat Buah dan Florikultura BAB I PENDAHULUAN PETUNJUK TEKNIS A. Latar Belakang KEGIATAN PENINGKATAN PRODUKSI BUAH Produk buah merupakan salah satu komoditas hortikultura DAN FLORIKULTURA TAHUN 2017
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai iklim tropis, berpeluang besar bagi pengembangan budidaya tanaman buah-buahan, terutama buah-buahan tropika.
REVITALISASI PERTANIAN
REVITALISASI PERTANIAN Pendahuluan 1. Revitalisasi pertanian dan pedesaan, merupakan salah satu strategi yang dipilih oleh Kabinet Indonesia Bersatu dalam upayanya mewujudkan pembangunan masyarakat Indonesia,
Lingkup program/kegiatan KKP untuk meningkatkan ketahanan pangan rumahtangga berbasis sumberdaya lokal
Lingkup program/kegiatan KKP untuk meningkatkan ketahanan pangan rumahtangga berbasis sumberdaya lokal Yayuk FB Pembekalan KKP Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB 14 Mei 2011 CONTOH : Hasil identifikasi
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TAHUN 2013
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TAHUN 2013 DIREKTORAT TANAMAN SEMUSIM DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 0 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penerapan sistem akuntabilitas kinerja instansi
INDIKATOR KINERJA MINAPOLITAN, INDUSTRIALISASI KP DAN BLUE ECONOMY SUNOTO, MES, PHD PENASEHAT MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN BATAM, 22 SEPTEMBER 2014
INDIKATOR KINERJA MINAPOLITAN, INDUSTRIALISASI KP DAN BLUE ECONOMY SUNOTO, MES, PHD PENASEHAT MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN BATAM, 22 SEPTEMBER 2014 INTEGRASI MINAPOLITAN, INDUSTRIALISASI, DAN BLUE ECONOMY
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peran penting dalam pembangunan nasional, karena sektor ini menyerap sumber daya manusia yang paling besar dan merupakan
Pi sang termasuk komoditas hortikultura yang penting dan sudah sejak. lama menjadi mata dagangan yang memliki reputasi internasional.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pi sang termasuk komoditas hortikultura yang penting dan sudah sejak lama menjadi mata dagangan yang memliki reputasi internasional. Pisang selain mudah didapat karena
Pembangunan pertanian merupakan bagian penting dan tidak. terpisahkan dari pembangunan ekonomi dan pembangunan nasional. Hasil
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dari pembangunan ekonomi dan pembangunan nasional. Hasil kajian pembangunan ekonomi di berbagai negara
Bagian Ketujuh Bidang Pengembangan Usaha Pasal 20 (1) Bidang Pengembangan Usaha mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan
Bagian Ketujuh Bidang Pengembangan Usaha Pasal 20 (1) Bidang Pengembangan Usaha mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pengkajian bahan kebijakan teknis dan fasilitasi pengembangan usaha peternakan. pada
PERMASALAHAN PENGEMBANGAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR. Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur
PROSIDING LOKAKARYA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS TEMBAKAU MALANG, 6 NOVEMBER 2001 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN ISBN : 979-954857-3-X PERMASALAHAN PENGEMBANGAN TEMBAKAU DI JAWA TIMUR Dinas Perkebunan
I. PENDAHULUAN. Komoditas hortikultura yang terdiri dari tanaman buah-buahan dan sayuran,
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengembangan sub-sektor pertanian tanaman pangan, merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian dan telah terbukti memberikan peranan penting bagi pembangunan nasional,
LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2006 PROSPEK PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF (BIOFUEL)
LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2006 PROSPEK PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF (BIOFUEL) Oleh : Prajogo U. Hadi Adimesra Djulin Amar K. Zakaria Jefferson Situmorang Valeriana Darwis PUSAT ANALISIS SOSIAL
PEMETAAN DAYA SAING PERTANIAN INDONESIA. Saktyanu K. Dermoredjo
1 PEMETAAN DAYA SAING PERTANIAN INDONESIA Saktyanu K. Dermoredjo Pendahuluan 1. Dinamika perkembangan ekonomi global akhir-akhir ini memberikan sinyal terhadap pentingnya peningkatan daya saing. Seiring
BUPATI TANAH LAUT PERATURAN BUPATI TANAH LAUT NOMOR 40 TAHUN 2014 T E N T A N G
SALINAN BUPATI TANAH LAUT PERATURAN BUPATI TANAH LAUT NOMOR 40 TAHUN 2014 T E N T A N G TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN TANAH LAUT BUPATI TANAH LAUT, Menimbang
I PENDAHULUAN. tersebut antara lain menyediakan pangan bagi seluruh penduduk, menyumbang
I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sektor pertanian memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. Peranan tersebut antara lain menyediakan pangan bagi seluruh penduduk, menyumbang devisa,
BAB I PENDAHULUAN. dalam pembangunan nasional, khususnya yang berhubungan dengan pengelolaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi pusat perhatian dalam pembangunan nasional, khususnya yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN 2012-2014 Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Jakarta, 1 Februari 2012 Daftar Isi I. LATAR BELAKANG II. ISU STRATEGIS DI SEKTOR INDUSTRI III.
I. PENDAHULUAN. dari penangkapan ikan di laut. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya tersebut di
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selama ini pasokan ikan dunia termasuk Indonesia sebagian besar berasal dari penangkapan ikan di laut. Akan tetapi, pemanfaatan sumberdaya tersebut di sejumlah negara
KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL
KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL Gamal Nasir Direktorat Jenderal Perkebunan PENDAHULUAN Kelapa memiliki peran strategis bagi penduduk Indonesia, karena selain
BAB I PENDAHULUAN. Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia di samping kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia di samping kebutuhan sandang dan papan. Pangan sebagai kebutuhan pokok bagi kehidupan umat manusia merupakan penyedia
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TA DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN TA. 2013 DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 RKT PSP TA. 2012 KATA PENGANTAR Untuk
PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KEDELAI. Edisi Kedua. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian AGRO INOVASI
PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KEDELAI Edisi Kedua Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2007 AGRO INOVASI MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN
BAB V GAMBARAN UMUM PRODUK PERTANIAN
BAB V GAMBARAN UMUM PRODUK PERTANIAN 5.1 Komoditas Perkebunan Komoditi perkebunan merupakan salah satu dari tanaman pertanian yang menyumbang besar pada pendapatan nasional karena nilai ekspor yang tinggi
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
18 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan bagian dari pembangunan ekonomi Nasional yang bertumpu pada upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur seperti
II. GAMBARAN PELAYANAN DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
II. GAMBARAN PELAYANAN DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN A. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi A.1. Kedudukan 1. Dinas Pertanian dan Peternakananian merupakan unsur pelaksana otonomi daerah di bidang Pertanian
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING KOMODITAS PERTANIAN
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING KOMODITAS PERTANIAN Kementerian Pertanian Seminar Nasional Agribisnis, Universitas Galuh Ciamis, 1 April 2017 Pendahuluan Isi Paparan Kinerja dan permasalahan Posisi
ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA
ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA 1. Pengembangan kawasan agribisnis hortikultura. 2. Penerapan budidaya pertanian yang baik / Good Agriculture Practices
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai mata pencaharian dari mayoritas penduduknya. Dengan demikian, sebagian besar penduduknya
I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara agraris memiliki hasil pertanian yang sangat berlimpah. Pertanian merupakan sektor ekonomi yang memiliki posisi penting di Indonesia. Data Product
PENDAHULUAN. Latar Belakang. Petani rumput laut yang kompeten merupakan petani yang mampu dan menguasai
PENDAHULUAN Latar Belakang Petani rumput laut yang kompeten merupakan petani yang mampu dan menguasai aspek teknik budidaya rumput laut dan aspek manajerial usaha tani rumput laut. teknik manajemen usahatani.
JERUK SIAM PONTIANAK DAN KEPROK TERIGAS UNTUK MENINGKATKAN. E.M.Rachmat S., Titik Purbiati, John David H, Tomy Purba dan Melia Puspitasari
TEKNOLOGI PEMETIKAN, PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN JERUK SIAM PONTIANAK DAN KEPROK TERIGAS UNTUK MENINGKATKAN UMUR DAYA SIMPAN >15 HARI O l e h : E.M.Rachmat S., Titik Purbiati, John David H, Tomy Purba dan
I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006 Badan Pusat
TUGAS POKOK DAN FUNGSI SATUAN KERJA DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
TUGAS POKOK DAN FUNGSI SATUAN KERJA DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH 1 Kedudukan Satuan Kerja Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, ditetapkan berdasarkan
