Agar Luh tak Sekedar Peluh

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Agar Luh tak Sekedar Peluh"

Transkripsi

1 Suara Millenium Development Goals (MDGs) Edisi No.1 Januari-Maret 2011 Agar Luh tak Sekedar Peluh

2 apa kabar? Kabar dari Redaksi MDGs sebagai sebuah cita-cita besar tentu harus diterjemahkan dalam langkah-langkah kecil untuk mencapainya. Adalah menjadi keharusan bagi setiap komponen masyarakat untuk mendialogkan berbagai informasi yang mendorong pencapaian cita-cita mulia itu. Menjadi komitmen kami untuk menghadirkan ruang tersebut pada lembar-lembar halaman di media ini. Adapun pada edisi pertama ini, kami mengangkat topik mengenai Keputusan Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Bali yang merubah posisi perempuan dalam masalah hak waris serta berbagai masalah lainnya. Kami meyakini, keputusan itu adalah sebuah langkah strategis untuk memajukan posisi kaum perempuan di Bali. Dalam konteks MDGs,kami percaya bahwa penguatan posisi itu akan mempercepat upaya-upaya pencapaian tujuan MDGs. Untuk memperdalam pemahaman mengenai soal MDGs, pada setiap edisinya kami akan membuka sebuah forum tanya jawab yang akan diasuh oleh LSM Bali Sruti. Pada rubrik tersebut, pembaca dapat menanyakan seputar pengertian MDGs serta penerapannya di lapangan. Kami juga berusaha merekam berbagai aktivitas yang relevan dengan program MDGs baik di tingkat lokal maupun nasional. Harapannya tentu saja agar informasi tersebut menjadi inspirasi serta catatan untuk melangkah lebih baik di masa depan. Pada setiap edisi, kami juga akan berusaha menampilkan tokoh perempuan berprestasi sebagai pendorong untuk partisipasi yang lebih besar dari kalangan perempuan dalampencapaian MDGs. Di sisi lain, kami juga memberi kesempayan kepada teman-teman sastrawan untuk menampilkan karya yang relevan dengan topik MDGs. Hal itu sebagai sebuah cara untuk melakukan pencatatan dan penafsiran dengan cara yang berbeda. Hal 3 Hal 4 Hal 12 Hal 22 Hal 28 Hal 30 Hal 36 Hal 40 Hal 43 Hal 48 Apa Kabar? Forum MDGs Indeks Berita Laporan Utama: Agar Luh tak Hanya Peluh (Keputusan MUDP Bali soal Hak Waris Perempuan) Opini: - I Ketut Sudantra: Pembaruan Hukum Adat dan Angin Segar bagi Perempuan - Gek Ela Kumala Parwita: Sangkar Diskriminasi Dibalik Hukum Adat Dialog Interaktif di RRI tentang MDGs Profil Album Resensi Buku Opini: Sita van Bemmelen/Luh Anggreni: Sudahkah Hukum Berempati? Cerpen: Perempuan yang Kawin dengan Keris Suara Millenium Development Goals (MDGs) Pemimpin Umum Luh Riniti Rahayu Sekretariat Suharyati Koordinator Redaksi Fiqi Hasan Redaktur Khusus Made Sukaja, Luh Anggreni Pembantu Umum Sri Sulandari Desain FX [email protected] Alamat Jl. Pulau Serangan I No. 2 Denpasar, Bali Telp/fax: , Hp: [email protected] Website: Luh Riniti Rahayu Kembalinya Majalah Bali Sruti Majalah Bali Sruti yang merupakan suara nurani perempuan, terbit bulan Januari Seiring perjalanan waktu, majalah yang dibidani para pegiat LSM Bali Sruti, tidak mampu lagi terbit karena permasalahan klasik, masalah dana. Namun permasalahan perempuan tidaklah pernah berhenti, semakin hari permasalahan perempuan semakin terkuak. Pemberdayaan perempuan terus dilakukan para pegiat melalui berbagai cara. Ide-ide pemberdayaan melalui media massa seperti media elektronik dan media cetakpun terus dikuatkan. Di Penghujung tahun 2010 Bali Sruti bekerja sama dengan Kemitraan untuk memperkuat Kepemimpinan Perempuan dalam rangka pencapaian Milenium Development Goals (MDGs). Akhirnya bara api yang sempat meredup itu memerah lagi, kontak-kontak kembali terjalin dan disepakati untuk menerbitkan kembali majalah Bali Sruti. Hanya formatnya berubah, ukuran majalah diperkecil, direncanakan terbit per triwulan dengan tema setiap edisi akan menyangkut persoalan-persoalan MDGs di Bali. MDGs merupakan penjabaran resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa Nomor 55/2 Milenium Declaration yang disepakati 8 September tahun 2000 oleh para pemimpin dunia dari 189 negara, termasuk Presiden Abdurrahman Wahid dari Indonesia. Fokus utama dalam MDGs adalah pembangunan manusia, target MDGs adalah menurunkan besaran angka kemiskinan hingga setengahnya pada tahun Rapat redaksi segera digelar, disepakati untuk edisi perdana hidupnya kembali majalah Bali Sruti adalah mengangkat permasalahan MDGs yang ketiga dari delapan point tujuan pembangunan milenium, yaitu Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Menyangkut kesetaraan hak-hak laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Bali maka, kesepakatan Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Bali tentang hak-hak waris perempuan Bali sangat relevan untuk diangkat dan disosialisasikan. Pesamuan Agung MUDP telah berlangsung pada tanggal 15 Oktober 2010, bersukur para anggota MUDP kini terdiri dari laki-laki dan perempuan, meskipun dalam pengambil keputusan adat di tingkat Desa Pekraman hanya laki-laki yang berhak. Kini para anggota laki-laki MUDP juga terdiri dari para tokohtokoh Bali dan ilmuan yang paham akan kesetaraan gender. Selama 2 minggu ini tim inti redaksi yakni Riniti, Rofiqi, Titik, Anggreni dan Sri Sulandari mempersiapkan segala sesuatunya. Hunting materipun segera bergerak cepat, kontak penulis, wawancara, persiapan artistikpun segera digarap. Terima kasih kepada para nara sumber yang telah bersedia diwawancarai, dan para penulis yang memberikan kontribusi tulisannya. Dan akhirnya dengan segala kerendahan hati, kami menyapa Anda dengan meng hadirkan kembali media majalah Bali Sruti. 2 Februari - April 2011 Februari - April

3 Forum MDGs Forum MDGs Forum MDGs Millenium Development Goals (MDGs) sudah sering diucapkan oleh banyak tokoh melalui berbagai media. Namun banyak pihak yang sejatinya belum mengetahui secara persis seluk beluk serta implikasi dari komitmen itu. Apalagi mengenai langkah-langkah riil yang harus dilakukan. Karena itu, majalah Bali Sruti pada setiap edisinya membuka forum tanya jawab yang memberi kesempatan kepada para pembaca untuk menyampaikan pertanyaan. Forum ini diasuh oleh LSM Bali Sruti, Pertanyaan bisa disampaikan melalui ke yahoo.com atau melalui kontak ibu Titik Pada edisi pertama ini, kami memuat paparan mengenai MDGs. Millenium Development Goals (MDGs) Komitmen Mengakhiri Kemiskinan Dunia Komitmen MDGs sudah diluncurkan pada bulan September 2000 pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat yang dihadiri oleh 189 kepala negara dan kepala pemerintahan. Para kepala pemerintahan dan kepala negara negara anggota PBB yang sebagian besar diwakili oleh kepala pemerintahan tersebut kemudian sepakat untuk menandatangani Deklarasi Milenium atau kemudian dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals). Dalam KTT tersebut seluruh perwakilan negara yang hadir sepakat untuk menurunkan proporsi penduduk yang pendapatannya kurang dari US$ 1 per hari menjadi setengahnya antara periode , menemukan solusi untuk: mengatasi kelaparan, masalah gizi buruk dan penyakit, mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menjamin pendidikan dasar bagi setiap orang dan mendukung prinsip-prinsip Agenda 21 mengenai pembangunan berkelanjutan serta dukungan langsung dari negara-negara maju kepada negara-negara Fokus utama dalam MDG adalah pembangunan manusia, dengan meletakkan dasar pada konsensus dan kemitraan global untuk pembangunan. berkembang dalam bentuk bantuan, perdagangan, pembebasan utang dan investasi. Fokus utama dalam MDGs adalah pembangunan manusia, dengan meletakkan dasar pada konsensus dan kemitraan global untuk pembangunan. Diharapkan, negara-negara yang lebih kaya dapat mendukung negara-negara miskin dan berkembang dalam melaksanakan tugas pembangu nan mereka. Tujuan Pembanguan Millenium ini terdiri dari 8 (delapan) goals yaitu: 1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan 2. Memenuhi pendidikan dasar untuk semua 3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 4. Menurunkan angka kematian balita 5. Meningkatkan kualitas kesehatan ibu melahirkan 6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lain 7. Menjamin kelestarian fungsi lingkungan hidup 8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan Setiap tujuan memiliki satu atau beberapa target beserta indikatornya. MDGs ini menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus utama pembangunan, memiliki tenggat waktu dan kemajuan yang terukur. Selain itu MDGs didasarkan pada konsensus dan kemitraan global, sambil menekankan tanggung jawab negara berkembang untuk melaksanakan pekerjaan rumah mereka, sedangkan negara maju berkewajiban mendukung upaya tersebut. Disepakati bahwa kedelapan goals tersebut akan tercapai pada tahun balebengong.net kampanye: Kalangan aktivis LSM di Bali juga bersemangat menyuarakan pentingnya MDGs. Seperti kegiatan Stand Up for MDGs yang juga dihadiri Sekda Provinsi Bali Nyoman Yasa. 4 Februari - April 2011 Februari - April

4 Forum MDGs zul t eduardo stop kemiskinan: Musuh bersama masyarakat dunia yang telah disepakati adalah kemiskinan. MDGs di Indonesia Dengan menandatangani Deklarasi Milenium, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menempatkan MDG menjadi referensi penting dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Hal ini ditun jukkan dengan menggunakan MDG sebagai bahan acuan dalam pembangunan, mulai dari tahap perencanaan seperti yang dinyatakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sampai tahap implementasi. MDG bahkan telah menjadi dasar perumusan Strategi Penanggulangan Kemiskinan di tingkat nasional dan daerah. Meski demikian, tampaknya Sekitar 1 juta balita yang rentan terhadap penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian. pencapaian tersebut masih jauh dari harapan. Hingga pertengahan dekade Millenium, BPS (Maret 2006) mencatat bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 39 juta orang (17,75%) dari total penduduk sebesar 220 juta orang. Sedangkan Laporan Perkembangan MDGs Indonesia, 2005, menunjukkan bahwa sasih ada 28% balita di seluruh Indonesia yang belum memperoleh akses terhadap imunisasi. Ini artinya, ada sekitar 1 juta balita yang rentan terhadap penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian. Sementara itu Sensus Kesehatan tahun menunjukkan bahwa 48,7 % masalah akses pelayanan kesehatan disebabkan karena kendala biaya, jarak dan transportasi. Ketidaksetaraan jender dalam pendidikan dan lapangan kerja pun masih Setelah era otonomi daerah, daerah mendapatkan kewenangan untuk mengelola termasuk program dan kebijakan bagi daerahnya. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa hampir semua tantangan MDGs berlangsung di tingkat lokal misalnya berkaitan dengan program penanggulangan berlangsung. Perempuan masih merupakan minoritas dalam angkatan kerja di sektor non pertanian di Indonesia yakni hanya sebesar 28% (Laporan Perkembangan MDG Indonesia, 2005). Dari segi pendidikan, hingga tahun 2003 ada sekitar 57,2% gedung SD/MI dan sekitar 27,3% gedung SMP/MTs mengalami rusak ringan dan rusak berat. Alokasi anggaran pemerintah bagi pendidikan baru mencapai 1,3% untuk kurun waktu Sebaliknya, Malaysia, Thailand dan Filipina telah mengalokasikan sebesar 7,9%, 5,0% kemiskinan dengan pendekatan komprehensif untuk mencegah pemiskinan lebih lanjut. Dalam konteks MDGs, pendekatan proyek dan 3,2% (RPJM ). Kemitraan global dalam goal kedelapan pun sejauh ini masih perlu mendapatkan dorongan lebih jauh. Perusahaan-perusahaan swasta yang memiliki konsep favorit Company Social Responsibility (CSR) dalam pelaksanaannya ternyata masih menerapkan prinsip sukarela sehingga kemungkinan untuk berkompromi dengan keuntungan seringkali mengalahkan konsep CSR itu sendiri. Padahal kemitraan merupakan salah satu prasyarat dalam mencapai tujuan kesatu hingga ketujuh. Tantangan di Tingkat Lokal Karenanya proses dan target pencapaian MDGs memang amat tergantung bagaimana daerah memaknai mandat yang diberikan dalam MDGs. Forum MDGs tidak pernah bisa menyebabkan seluruh masyarakat terjangkau padahal semua program pencapaian MDGs perlu mencapai seluruh Indonesia. Hal ini dikarenakan juga pemenuhan tujuan MDGs memprioritaskan wilayah-wilayah yang masih tertinggal, daerah terpencil di pegunungan, pulau-pulau kecil, daerah perbatasan, dll. Dengan demikian, penanggulangan intensif harus difokuskan pada wilayah-wialyah khusus seperti kantong-kantong kemiskinan, daerah rawan bencana, pasca konflik, kantong-kantong malaria, TBC dan HIV/AIDS, wilayah dengan angka kematian balita / ibu melahirkan yang tinggi, dsb. Karenanya proses dan 6 Februari - April 2011 Februari - April

5 Forum MDGs Forum MDGs target pencapaian MDGs memang amat tergantung bagaimana daerah memaknai mandat yang diberikan dalam MDGs. Keberhasilan pencapaian MDGS amat tergantung pada daerah-daerah yang bersangkutan. Target & indikator MDGs dapat disesuaikan menurut konteks kondisi & tantangan daerah, misalnya : a) Sasaran bukan hanya menurunkan separuh, tetapi sebanyak mungkin; b) Target waktu bisa lebih cepat, atau sesuai masa bakti pemerintah daerah; c) Indikator tambahan yang aplikatif bagi daerah. Penguatan Peran Masyarakat di Daerah Tentu saja hal ini juga tidak terlepas dari data yang tersedia. Mencermati bahwa salah satu kelemahan pencapaian MDGs adalah data maka daerah perlu meningkatkan penggalangan data lebih akurat pada tiap program yang telah berjalan maupun yang khusus dikembangkan bagi pencapaian MDGs. Selain itu perlu melakukan revitalisasi institusi pelayanan dasar yang sudah menurun dan mengoptimalkan yang sudah baik Pada sisi lain, komitmen MDGs seharusnya dituangkan dalam rencana aksi dengan alokasi anggaran yang pro-poor, berbasis kinerja dan berkelanjutan. Tertuju pada program pemecahan masalah secara terpadu (bukan hanya proyek-proyek sektoral) propoor tidak berarti menekan pertumbuhan, pro-poor budget tidak selalu berarti peningkatan anggaran pengeluaran publik, tapi diprioritaskan bagi program pemberdayaan masyarakat miskin. Investasi publik bagi infrastruktur dasar seperti listrik, transportasi darat/laut/sungai, dll dirancang khusus untuk menghilangkan kesenjangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan pencapaian MDGs mensyaratkan sinergitas kerja antara pemerintah dan masyarakat sipil. Namun demikian, kerjasama tersebut dapat terjalin dengan baik apabila keduanya ada dalam posisi yang sama-sama setara dan berdaya. Pemberdayaan masyarakat diperlukan agar mampu mendorong perubahan/perbaikan kebijakan/program pembangunan dan memastikan adanya rencana pencapaian MDGs, terutama di tingkat lokal. Pemberdayaan pemerintah (lokal) penting supaya dapat melahirkan program dan kebijakan yang kondusif untuk pencapaian MDGs. Sayangnya pada titik tertentu, kapasitas pemerintah terutama lokal dan masyarakat sipil masih harus diperkuat. Oleh karena itu fokus pemberdayaan adalah peningkatan kapasitas masyarakat sipil utk memantau kebijakan / program serta kinerja pemerintahan & komitmen pemihakan pada si miskin (pro-poor) para politisi daerah. Dan kapasitas pemerintah daerah diperkuat untuk menyediakan data yang komprehensif serta program dan kebijakan yang kondusif. MDGs bisa menjadi rumusan sasaran & kerangka kerja pemberdayaan dan partisipasi masyarakat, maupun daftar check-list kebijakan / program yang masuk ke masyarakat Sumber rujukan: Witoelar, Erna, Pencapaian MDGs melalui Tata Pemerintahan yang Baik, makalah, TUJUAN kemiski- Tujuan 1: Menanggulangi nan dan kelaparan Tujuan 2: Mencapai pendidikan dasar bagi semua Tujuan 3: Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan TARGET Target 1: Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah 1 dollar per hari menjadi setengahnya antara Target 2: Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun Target 3: Menjamin semua anak perempuan dan lakilaki di area menyelesaikan jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun indikator - Proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional - Proporsi penduduk dengan tingkat pendapatan kurang dari $1 per hari - Kontribusi kuartil pertama penduduk berpendapatan terendah terhadap konsumsi nasional - Prevalensi balita kurang gizi - Proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimum (2.100 kkal/kapita/hari) - Angka partisipasi murni di SD - Angka partisipasi murni di SMP - Proporsi murid yang berhasil mencapai kelas 5 - Proporsi murid di kelas 1 yang berhasil menamatkan SD - Proporsi murid di kelas 1 yang berhasil menyelesaikan sembilan tahun pendidikan dasar - Angka melek huruf usia tahun - Rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki di tingkat pendidikan dasar, lanjutan dan tinggi yang diukur melalui angka partisipasi murni anak perempuan terhadap anak laki-laki - Rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki usia tahun yang diukur melalui angka melek huruf perempuan/laki-laki - Kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor pertanian 8 Februari - April 2011 Februari - April

6 Forum MDGs Forum MDGs TUJUAN TARGET indikator TUJUAN TARGET indikator Tujuan 4: Menurunkan angka kematian anak Tujuan 5: Meningkatkan ibu kesehatan Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain Target 5: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua-pertiganya antara tahun 1990 dan Target 6: Menurunkan angka kematian ibu antara tahun 1990 dan 2015 sebesar tiga-perempatnya. Target 7: Mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun Target 8: Mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunnya jumlah kasus malaria dan penyakit lainnya pada tahun Proporsi kursi DPR yang diduduki perempuan - Angka kematian balita - Angka kematian bayi - Presentase anak di bawah 1 tahun yang diimunisasi campak - Angka kematian ibu - Proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih - Angka pemakaian kontrasepsi - Prevalensi HIV di kalangan ibu hamil yang berusia antara tahun - Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi - Penggunaan kondom pada contraceptive prevalence rate - Presentase anak muda usia tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV & AIDS - Prevalensi malaria dan angka kematiannya - Presentase penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria - Presentase penduduk yang mendapat penanganan malaria secara efektif - Prevalensi TBC dan angka kematian penderita TBC dengan sebab apapun selama pengobatan OAT - Angka penemuan penderita tuberkulosis BTA positif baru - Angka kesembuhan penderita tuberkulosis Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Tujuan 8: Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan Target 9: Memadukan prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang. Target 10: Penurunan sebesar separuh, proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada Target 11: Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumum pada tahun Target 12: Pengembangan sistem perdagangan di daerah yang terbuka, berbasis aturan, dapat diprediksi serta tidak diskriminatif (termasuk membangun komitmen untuk menerapkan tata pemerintahan yang baik). Target 18: Bekerja sama dengan pihak swasta untuk memastikan pesebaran keuntungan teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi. - Proporsi luas lahan yang tertutup hutan - Rasio luas kawasan lindung terhadap luas daratan - Energi yang dipakai (setara barel minyak) per PDB (juta rupiah) - Emisi CO 2 perkapita - Jumlah konsumsi zat perusak ozon - Proporsi penduduk berdasarkan bahan bakar untuk memasak - Proporsi penduduk yang menggunakan kayu bakar dan arang untuk memasak - Proporsi penduduk dengan akses terhadap air minum yang terlindungi dan berkelanjutan - Proporsi penduduk dengan akses terhadap sanitasi yang layak. - Proporsi rumah tangga dengan status rumah milik atau sewa - Kemudahan dan kejelasan dalam memperoleh izin usaha bagi siapa saja - Perlindungan terhadap wirausaha mikro dan kecil (termasuk yang bersifat informal) - Terdapat kerjasama dengan swasta di bidang teknologi informasi dan komunikasi yang manfaatnya dapat dirasakan oleh penduduk secara luas. 10 Februari - April 2011 Februari - April

7 Laporan Utama Agar Luh tak Sekedar Peluh Majelis Utama Desa Pekraman Bali (MUDP) memberikan hak waris kepada kaum perempuan. Sebuah kemajuan setelah 110 tahun. Penggalan puisi dari karya Oka Rusmini itu menjadi pegangan bagi Ni Luh Terik Dianti, salah-satu peserta Pelatihan Kesadaran Gender bagi Perempuan Muda di Denpasar, akhir 2010 lalu. Sebagai anak perempuan pertama di keluarga sederhana dengan dua saudara laki-laki, dia harus selalu mengalah, Anak lakilaki selalu dianggap lebih istimewa karena menjadi pewaris keluarga. Mereka mendapat prioritas untuk pendidikan yang lebih baik meskipun dalam pekerjaan sehari-hari justru anak perempuan yang lebih banyak membantu. Anak laki-laki adalah anak yang dipersiapkan untuk tanggungjawab yang lebih besar dalam peran Laporan Utama Tapi Ni Luh tak mengeluh. Seringkali ia ingin memprotes keadaan itu namun akhirnya hanya disimpannya dalam hati. di masyarakat dan hanya kepadanyalah orang tua akan menggantungkan hidup. Meski terlihat mereka menjadi lebih manja dibanding anak perempuan. Tapi Ni Luh tak mengeluh. Seringkali ia ingin memprotes keadaan itu namun akhirnya hanya disim- upacara: Perempuan Bali berperan besar dalam pelaksanaan upacara zul t eduardo 12 Februari - April 2011 Februari - April rofiki hasan

8 Laporan Utama Laporan Utama pannya dalam hati. Pilihan pun ditegaskannya untuk bekerja mencari nafkah sendiri untuk membiayai sekolahnya hingga di Perguruan Tinggi dan membuat orang tuanya bangga. Seringkali tubuh ringkih nya memprotes dan ia pun jatuh sakit. Namun se mangat yang kuat mengalahkan semua rintangan itu. Baru setelah ia berhasil meraih gelar sarjana, keluarga menjadikannnya sebagai teladan bagi adikadik prianya. Saya tak menyimpan rasa benci, saya hanya ingin membuktikan bisa berprestasi dan menjadi contoh bagi adikadik, tulisnya. Kisah-kisah semacam Anggreni rofiki hasan itu gampang ditemukan dalam pergaulan sehari-hari. Posisi pria dalam hukum adat Bali memang jauh lebih berkuasa dengan garis Purusa yang diberikan kepadanya. Purusa yang dilekatkan kepada pria Bali berakar pada aturan yang ditetapkan pada masa kolonial.tepatnya melalui Lavering Adat Bali yang dikeluarkan pemerintah kolonial Belanda pada 13 Oktober Status Purusa berarti kemampuan untuk mengurus dan meneruskan Swadharma (tanggung jawab) keluarga. Yakni, dalam masalah parahyangan (hubungan dengan Tuhan), pawongan (hubungan sosial) dan palemahan Wayan P Windia rofiki hasan (pengaturan lingkungan). Kaum perempuan dianggap tidak memiliki kemampuan untuk memikul tanggungjawab itu. Konsekuensinya, mereka tak diberi swadikara (hak waris) sedikit pun. Ekses dari konsep itu melebar kemana-mana. Ketika perempuan masuk dalam sebuah keluarga melalui perkawinan, posisinya menjadi sangat lemah. Apalagi kalau tidak memiliki pekerjaaan dan penghasilan sendiri, kata aktivis perempuan Luh Anggreni. Itu sebabnya, rata-rata perempuan Bali adalah pekerja keras dan bahkan mau mengerjakan pekerjaan fisik yang di tempat lain dikerjakan oleh para pria. Di sisi lain, kasus-kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) kerap terjadi. Anak laki-laki pun mendapat keistimewaan untuk mengakses pendidikan yang lebih tinggi. Yang paling berat adalah ketika terjadi perceraian. Pihak perempuan sama sekali tidak mendapat pem- Khusus mengenai masalah perceraian, MUDP memutuskan bahwa, harta gunakaya harus dibagi secara merata antara laki-laki dan perempuan. 14 Februari - April 2011 Februari - April zul t eduardo

9 bagian dari harta gunakaya alias harta dari usaha bersama. Hak asuh atas anakanak umumnya jatuh ke tangan suami, apalagi bila anaknya adalah laki-laki. Anggreni yang menjadi pengacara di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali sudah menangani puluhan kasus semacam itu. Hakim selalu berpegang pada konsep Purusa itu, ujarnya. Bila pengadilan memutuskan hak asuh diberikan kepada ibunya, sang suami umumnya kemudian menolak bertanggungjawab membiayai anaknya. Setelah lebih dari 110 tahun berlaku, sebuah perubahan besar telah terjadi. Tepatnya ketika Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) yang menghimpun Desa Adat di seluruh Bali menggelar Pasamuhan Agung III pada 15 Oktober Dalam keputusan dengan Nomor 01/KEP/PSM-3/MDP Bali/ X/2010 disepakati adanya hak waris bagi perempuan. Karena situasi sudah berubah dan perempuan pun bisa meneruskan swadharma keluarga, kata Ketua Nayaka (Dewan Penasehat) MUDP Wayan P Windia. Sebelum harta keluarga diwariskan kepada anakanak, harta itu dipilah menjadi dua. Pertama, harta pusaka yang diwariskan turun temurun sebagai harta bersama yang tidak bisa dibagi karena merupakan sarana memelihara warisan immaterial. Penguasaannya bukan kepemilikannya diserahkan kepada anak ke purusa. Kedua, harta gunakaya atau harta hasil usaha orang tua yang bisa dibagi dengan proporsi ategenasuwun (sepikul-segendongan) atau 1 : 2 antara anak perempuan dan lakilaki. Namun harta yang dibagi itu sebelumnya harus dikurangi dulu oleh harta duwe tengah (harta bersama) sebesar sepertiga dari gunakaya untuk kepentingan bersama keluarga. Warisan itu berhak didapatkan oleh semua anak termasuk perempuan yang sudah menikah dan mengikuti suaminya. Demikian pula dengan anak laki-laki yang melangsungkan perkawinan nyentana atau diangkat oleh keluarga lain. Satu-satunya yang kehilangan hak adalah anak yang berpindah agama atau disebut ninggal kedaton penuh. Sebab mereka tidak mungkin melanjutkan swadharma orang tua secara agama Hindu, kata Windia yang juga adalah Guru Besar Hukum Adat Fakultas Hukum Universitas Udayana. Keputusan itu diharapkan akan meningkatkan kebersamaan dalam memikul kewajiban adat istiadat serta agama Hindu. Keputusan penting lainnya adalah diakuinya jenis perkawinan pada gelahang. Yakni, perkawinan yang tidak menghilangkan garis keturunan pihak pria maupun wanita. Status purusa Warisan itu berhak didapatkan oleh semua anak termasuk perempuan yang sudah menikah dan mengikuti suaminya. atau garis keturunan anakanak ditentukan berdasarkan kesepakatan orang tua. Menurut Windia, jenis perkawinan ini adalah untuk mengantisipasi kecenderungan keluarga-keluarga di Bali yang kini memilih hanya memiliki satu atau dua orang anak saja. Bila mengikuti perkawinan biasa atau nyentana bisa berakibat putusnya garis keturunan salah-satu keluarga. Khusus mengenai masalah perceraian, MUDP memutuskan bahwa, harta gunakaya harus dibagi secara merata antara laki-laki dan perempuan. Adapun mengenai hak asuh anak, pihak perempuan bisa mendapatkannya tanpa berarti memutus status purusa. Jadi tetap ada kewajiban untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga besar si anak, ujar Windia. Di pihak lain, keluarga purusa diwajibkan untuk tetap memberi jaminan hidup bagi anak itu. Keputusan MUDP itu selanjutnya akan disosialisasikan melalui Majelis Madya Desa Pekraman (MMDP) di tingkat Kabupaten yang akan meneruskannya sampai ke Desa-desa Adat di wilayahnya. Bila terjadi sengketa, keputusan itu yang akan menjadi acuan. Pihak MUDP Bali juga akan menyampaikannya ke instansi penegakan hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan agar menjadi acuan dalam mengatasi masalah terkait dengan adat. Ini kita dorong akan menjadi hukum positif yang berlaku di Bali, ujarnya. Perubahan itu jelas merupakan pengakuan terhadap eksistensi perempuan yang sudah sejak lama memiliki peran besar. Dalam berbagai upacara adat pun, mereka sangat penting, ujar Anggreni. Adalah perempuan yang menyiapkan berbagai sesaji dan keperluan upacara lannya serta membawanya ke Pura. Hanya kemudian saat upacara, kaum prialah yang berdiri di muka. Bagi dia, konsep purusapradana mestinya diletakkan dalam keseimbangan antara peran dan hak laki-laki serta perempuan. Hal itu yang diperjuangkan para aktivis perempuan di Bali dalam 10 tahun terakhir. Setelah menunggu cukup lama, momentum perubahan terasa tepat karena justru dimulai dari lembaga adat yang merupakan jantung kehidupan warga Bali. Keputusan pun diambil tanpa perdebatan yang terlalu alot. Sebab sebelumnya sudah didahului dengan proses panjang untuk berdiskusi dan saling memahami. Selalu kita tekankan, kita semua lahir dan dibesarkan oleh seorang perempuan, tegas nya. Pendekatan ini rupanya cukup manjur. Apalagi kemudian diakui, dalam penga laman sehari-hari terlihat anak perempuan lebih dekat hubungan emosionalnya dengan orang tua dibanding anak laki-laki. Satu-satunya yang polemik keras adalah konsep perkawinan pada gelahang yang ditolak oleh perwakilan dari MMDP Karangasem. Sebab, dianggap bisa mengacaukan garis keturunan dan aturan tentang hak waris. Karena tak ditemukan titik temu, akhirnya disepakati untuk memberikan pengakuan terhadap adanya perkawinan semacam itu sambil melihat masalah yang timbul. Sebab, Bagi dia, konsep purusa-pradana mestinya diletakkan dalam keseimbangan antara peran dan hak laki-laki serta perempuan. kenyataannya sejumlah keluarga memang telah mempraktekkannya. Bagi Ketut Widi, 34, (bukan nama sebenarnyared), keputusan MUDP itu memberi harapan untuk kembali berkumpul dengan kedua anaknya. Pada akhir Desember lalu, Pengadilan Negeri Denpasar mengabulkan permohonannya untuk bercerai dengan suaminya yang jarang pulang ke rumah dan tak bertanggungjawab. Namun hakim juga memutuskan, hak asuh anak jatuh ke tangan pihak suami dengan alasan purusa. Padahal selama ini, anak-anak itu berkumpul dengan dirinya. Akan saya ajukan banding dengan melampirkan keputusan ini, ujarnya. Tim Bali Sruti 16 Februari - April 2011 Februari - April

10 Laporan Utama Keputusan Majelis Utama Desa Pakraman Bali (MUDP) Bali Nomor 01/KEP/PSM-3/MDP Bali/X/2010, tanggal 15 Oktober 2010, tentang Hasilhasil Pasamuhan Agung III Majelis Utana Desa Pakraman (MUDP) Bali. Diselenggarakan 15 Oktober 2010 di Gedung Wiswasabha, Kantor Gubernur Prov. Bali. perempuan: Perempuan Bali penggerak perekonomian rakyat. A. Kedudukan Wanita Bali dalam Keluarga dan Pewarisan Sistem kekeluargaan patrilineal (purusa) yang dianut oleh orang Bali-Hindu menyebabkan hanya keturunan berstatus kapurusa yang dianggap dapat mengurus dan meneruskan swadharma (tanggung jawab) keluarga, baik dalam hubungan dengan parahyangan (keyakinan Hindu), pawongan (umat Hindu), maupun palemahan (pelestarian lingkungan alam sesuai dengan keyakinan Hindu). Konsekuensinya, hanya keturunan yang berstatus kapurusa sajalah yang memiliki swadikara (hak) terhadap harta warisan, sementara keturunan yang berstatus pradana (perempuan), tidak mungkin dapat meneruskan swadharma, sehingga disamakan dengan orang yang meninggalkan tanggung jawab keluarga (ninggal kadaton), dan oleh karena itu, dianggap tidak berhak atas harta warisan dalam keluarga. zul t eduardo Dalam perkembangannya, kenyataan dalam masyarakat menunjukkan bahwa ada orang ninggal kadaton tetapi dalam batas tertentu masih memungkinkan melaksanakan swadharma sebagai umat Hindu (ninggal kadaton terbatas), dan ada pula kenyataan orang ninggal kadaton yang sama sekali tidak memungkinkan lagi bagi mereka melaksanakan swadharma sebagai umat Hindu (ninggal kadaton Mereka yang dikategorikan ninggal kadaton penuh, tidak berhak sama sekali atas harta warisan Laporan Utama penuh). Mereka yang dikategorikan ninggal kadaton penuh, tidak berhak sama sekali atas harta warisan, sedangkan mereka yang ninggal kadaton terbatas masih dimungkinkan mendapatkan harta warisan didasarkan atas asas ategen asuwun (dua berbanding satu). Mereka yang tergolong ninggal kadaton terbatas adalah sebagai berikut. a. Perempuan yang melangsungkan perkawinan biasa. b. Laki-laki yang melangsungkan perkawinan nyentana/nyeburin. c. Telah diangkat anak (kaperas sentana) oleh keluarga lain sesuai dengan agama Hindu dan hukum adat Bali. d. Menyerahkan diri (makidihang raga) kepada keluarga lain atas kemauan sendiri. Berdasarkan fakta-fakta di atas, maka Pasamuhan Agung III Majelis Utama Desa Pakraman Bali memutuskan mengenai kedudukan suami istri dan anak terhadap harta pusaka dan harta gunakaya sebagai berikut. 1. Suami dan istrinya serta saudara laki-laki suami dan istrinya, mempunyai kedudukan yang sama dalam usaha untuk menjamin bahwa harta pusaka dapat diteruskan kepada anak dan cucunya untuk memelihara atau melestarikan warisan immateriil. 2. Selama dalam perkawinan, suami dan istrinya mempunyai kedudukan yang sama terhadap harta gunakaya-nya (harta yang diperoleh selama dalam status perkawinan). 3. Anak kandung (laki-laki atau perempuan) serta anak angkat (lakilaki atau perempuan) yang belum kawin, pada dasarnya mempunyai kedudukan yang sama terhadap harta gunakaya orangtuanya. 4. Anak kandung (laki-laki atau perempuan) serta anak angkat (lakilaki atau perempuan) berhak atas harta gunakaya orangtuanya, sesudah dikurangi sepertiga sebagai duwe tengah (harta bersama), yang dikuasai (bukan dimiliki) oleh anak yang nguwubang (melanjutkan swadharma atau tanggung jawab) orangtuanya. 5. Anak yang berstatus kapurusa berhak atas satu bagian dari harta warisan, sedangkan yang berstatus pradana/ninggal kadaton terbatas berhak atas sebagian atau setengah dari harta warisan yang diterima oleh seorang anak yang berstatus kapurusa. 6. Dalam hal pembagian warisan, anak yang masih dalam kandungan mempunyai hak yang sama dengan anak yang sudah lahir, sepanjang dia dilahirkan hidup. 7. Anak yang ninggal kadaton penuh tidak berhak atas harta warisan, tetapi dapat diberikan bekal (jiwa dana) oleh orangtuanya dari harta gunakaya tanpa merugikan ahli waris. 18 Februari - April 2011 Februari - April

11 Laporan Utama Laporan Utama B. Pelaksanaan Perkawinan dan Perceraian Hukum adat Bali mengenal dua bentuk perkawinan, yaitu perkawinan biasa (wanita menjadi keluarga suami) dan perkawinan nyentana/nyeburin (suami berstatus pradana dan menjadi keluarga istri). Dalam perkembangan selanjutnya, adakalanya pasangan calon pengantin dan keluarganya tidak dapat memilih salah satu di antara bentuk perkawinan tersebut, karena masing-masing merupakan anak tunggal, sehingga muncul bentuk perkawinan baru yang disebut perkawinan pada gelahang. Hal ini menjadi persoalan tersendiri dalam masyarakat Bali sehingga perlu segera disikapi. Selain perkembangan mengenai bentuk perkawinan, perkawinan beda wangsa yang secara hukum tidak lagi dianggap sebagai larangan perkawinan sejak tahun 1951 berdasarkan Keputusan DPRD Bali Nomor 11/Tahun 1951 tanggal 12 Juli 1951, ternyata masih menyisakan persoalan tersendiri dalam masyarakat, yakni masih dilangsungkannya upacara patiwangi dalam perkawinan yang lazim disebut nyerod. Hal ini perlu pula disikapi karena hal itu bertentangan dengan hak asasi manusia dan menimbulkan dampak ketidaksetaraan kedudukan perempuan dalam keluarga, baik selama perkawinan maupun sesudah perceraian. Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, perkawinan dan perceraian bagi umat Hindu di Bali dapat dikatakan sah apabila dilaksanakan menurut hukum adat Bali (disaksikan prajuru banjar atau desa pakraman) dan agama Hindu. Sesuai Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan, perkawinan bagi umat Hindu di Bali dapat dikatakan sah apabila dilaksanakan menurut hukum adat Bali, agama Hindu, Kerja keras: Perempuan Bali terkenal dengan etos kerja kerasnya. zul t eduardo sedangkan perceraian baru dapat dikatakan sah apabila dilaksanakan di pengadilan negeri sesuai ketentuan Undang-Undang Perkawinan. Apabila diperhatikan uraian di atas, tampak jelas bahwa Undang-Undang Perkawinan tidak memberikan penghargaan yang seimbang kepada hukum adat Bali dan agama Hindu, dalam hubungan dengan pelaksanaan perkawinan dan perceraian bagi umat Hindu. Ketentuan hukum adat Bali dan ajaran Hindu mendapat tempat yang sepantasnya dalam pelaksanaan perkawinan, tetapi tidak demikian halnya dalam perceraian. Terbukti, perceraian dikatakan sah setelah ada putusan pengadilan, tanpa menyebut peran hukum adat Bali (prajuru desa pakraman) dan ajaran agama Hindu. Akibatnya, ada sementara warga yang telah cerai secara sah berdasarkan putusan pengadilan, tetapi tidak diketahui oleh sebagian besar krama desa (warga) dan tidak segera dapat diketahui oleh prajuru desa pakraman. Kenyataan ini membawa konsekuensi kurang baik terhadap keberadaan hukum adat Bali dan menyulitkan prajuru desa dalam menentukan swadharma atau tanggung jawab krama desa bersangkutan. Berdasarkan fakta-fakta di atas maka Pasamuhan Agung III Majelis Utama Desa Pakraman Bali memutuskan sebagai berikut. 1. Upacara patiwangi tidak dilaksanakan lagi terkait dengan pelaksanaan upacara perkawinan. 2. Bagi calon pengantin yang karena keadaannya tidak memungkinkan melangsungkan perkawinan biasa atau nyeburin (nyentana), dimungkinkan melangsungkan perkawinan pada gelahang atas dasar kesepakatan pihakpihak yang berkepentingan. 3. Agar proses perceraian sejalan dengan proses perkawinan, maka perceraian patut dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut. a. Pasangan suami istri yang akan melangsungkan perceraian, harus menyampaikan kehendaknya itu kepada prajuru banjar atau desa pakraman. Prajuru wajib memberikan nasihat untuk mencegah terjadinya perceraian. b. Apabila terjadi perceraian maka terlebih dahulu harus diselesaikan melalui proses adat, kemudian dilan jutkan dengan mengajukannya ke pengadilan negeri untuk memper oleh keputusan. c. Menyampaikan salinan (copy) putusan perceraian atau akte perceraian kepada prajuru banjar atau desa pakraman. Pada saat yang bersamaan, prajuru banjar atau desa pakraman menyarankan kepada warga yang telah bercerai supaya melaksanakan upacara perceraian sesuai dengan agama Hindu. d. Prajuru mengumumkan (nyobyahang) dalam paruman banjar atau desa pakraman, bahwa pasangan suami istri bersangkutan telah bercerai secara sah, menurut hukum nasional dan hukum adat Bali, sekalian menjelaskan swadharma mantan pasangan suami istri tersebut di banjar atau desa pakraman, setelah perceraian. 4. Akibat hukum perceraian adalah sebagai berikut. a. Setelah perceraian, pihak yang berstatus pradana (istri dalam perkawinan biasa atau suami dalam perkawinan nyeburin) kembali ke rumah asalnya dengan status mulih daa atau mulih taruna, sehingga kembali melaksanakan swadharma berikut swadikara-nya di lingkungan keluarga asal. b. Masing-masing pihak berhak atas pembagian harta gunakaya (harta bersama dalam perkawinan) dengan prinsip pedum pada (dibagi sama rata). c. Setelah perceraian, anak yang dilahirkan dapat diasuh oleh ibunya, tanpa memutuskan hubungan hukum dan hubungan pasidikaran anak tersebut dengan keluarga purusa, dan oleh karena itu anak tersebut mendapat jaminan hidup dari pihak purusa. 20 Februari - April 2011 Februari - April

12 opini Pembaruan Hukum Adat Bali Mengenai Pewarisan Angin Segar Bagi Perempuan Memang, hukum adat Bali yang bersistem kekeluargaan kapurusa (patrilineal) menempatkan anak laki-laki sebagai ahli waris dalam keluarga, sementara perempuan hanya mempunyai hak untuk menikmati harta peninggalan orang tua atau harta peninggalan suami. Penempatan anak lakilaki sebagai ahli waris terkait erat dengan pandangan bahwa laki-laki Bali mempunyai tanggungjawab yang besar dalam keluarga, sementara tanggungjawab anak perempuan terhadap keluarga berakhir dengan Oleh: I Ketut Sudantra *) Selama ini norma-norma hukum adat Bali mengenai pewarisan sangat kental dengan dominasi budaya patriarki sehingga dianggap kurang menguntungkan bagi perempuan. Seperti diketahui, sudah menjadi pengetahuan umum dalam masyarakat, bahwa perempuan bukanlah ahli waris, baik atas harta peninggalan orang tuanya maupun harta peninggalan almarhum suaminya. kawinnya anak tersebut yang selanjutnya akan masuk dan menunaikan tanggungjawabnya secara total di lingkungan keluarga suami. Itu sebabnya, harapan yang sangat besar digantung kan kepada anak lakilaki, mulai dari harapan sebagai penerus generasi, memelihara dan memberi nafkah ketika orang tuanya sudah tidak mampu; melaksanakan upacara agama, seperti menyelenggarakan upacara kematian, penguburan atau pembakaran jenazah (ngaben) anggota keluarganya yang meninggal serta menyemayamkan dan dok pribadi memuja roh leluhur mereka di tempat persembahyangan keluarga (sanggah/merajan); menggantikan kedudukan bapaknya dalam masyarakat melaksanakan kewajiban (swadharma) sebagai anggota kesatuan masyarakat hukum adat, seperti krama banjar/desa pakraman) atau krama dadia ketika anak tersebut sudah kawin. Bahkan, tanggung jawab anak laki-laki tidak berhenti pada kewajibankewajiban di dunia nyata (alam sekala), tetapi juga merambah ke alam niskala (dunia gaib), di mana kaum laki-laki (melalui cucu laki-laki) diharapkan akan mengantarkan roh leluhur keluarga tersebut ke alam sorga, seperti sering diungkapkan dalam kepercayaan Bali yang menyatakan i cucu nyupat i kaki. Sebagai penghargaan atas tanggung jawab yang besar itulah kemudian anak laki-laki diberikan hak (swadikara) sebagai ahli waris, sedangkan anggota keluarga yang meninggalkan tanggung jawabnya dalam keluarga baik karena perkawinan, diangkat anak, pindah agama, disebut ninggal kedaton (meninggalkan tanggung jawab) sehingga digugurkan haknya atas harta warisan. Angin Segar Bagi Perempuan Sistem kekeluargaan kapurusa yang diterapkan selama ini dalam masyarakat Bali memang telah memberi perlakuan berbeda antara anak laki-laki dan perempuan di bidang pewarisan. Beberapa kalangan berpendapat bahwa perlakuan berbeda itu wajar karena esensi pewarisan dalam hukum adat Bali adalah keseimbangan antara hak (swadikara) dan kewajiban (swadharma). Dalam hal ada kenyataan bahwa salah satu pihak (laki-laki) tetap melaksanakan kewajibannya dalam keluarga dan ada pihak lain (perempuan) meninggalkan kewajibannya, maka logis bila hak mereka masing-masing terhadap harta orang tuanya juga menjadi berbeda. Belakangan ini, berkembang pemikiran bahwa swadharma seorang anak (perempuan) kepada orang tuanya tidak selalu putus walaupun anak tersebut telah kawin. Bahkan tidak jarang, rasa tanggung jawab anak perempuan yang sudah kawin terhadap orang tuanya tetap berlangsung, ia tetap memperhatikan kehidupan orang tuanya, memberikan nafkah, dan merawat orang tuanya dikala orang tuanya sakit atau sudah tua renta. Bahkan kadang-kadang rasa tanggung jawab anak perempuan lebih besar dari rasa tanggungjawab anak laki-laki. Dalam kondisi demikian, apakah anak perempuan tetap dianggap ninggal kedaton sehingga kehilangan haknya atas harta warisan orang tuanya? Berdasarkan fakta bahwa anak yang telah kawin masih dapat melaksanakan 22 Februari - April 2011 Februari - April opini Peserta seminar telah menyarankan: supaya hukum waris Bali dimodernisir sehingga hak perempuan sama dengan hak laki-laki dengan tidak mengabaikan norma-norma agama kewajibannya terhadap orang tuanya (ninggal kedaton terbatas), maka berkembang pemikiran yang mengarah kepada adanya persamaan hak antara lakilaki dan perempuan dalam bidang pewarisan. Pemikiran tersebut sesungguhnya sudah mulai berkembang sejak lama. Paling tidak, gagasan itu telah disuarakan di dunia akademis pada tahun 1971 ketika di Denpasar diselenggarakan Seminar Hukum Adat Waris atas prakarsa Lembaga Pembinan Hukum Nasional. Dalam seminar yang diselenggarakan selama dua hari, 5-6 Maret 1971, itu dibahas beberapa makalah yang membahas persoalan hukum waris, khususnya hukum waris yang berlaku di Bali. Pada hasil seminar, khususnya pada bagian rekomendasi, peserta seminar telah menyarankan: supaya hukum waris Bali dimodernisir sehingga hak perempuan sama dengan hak laki-laki dengan tidak mengabaikan norma-norma agama.

13 opini Gagasan tersebut cukup lama tidak muncul lagi sebagai wacana publik, walaupun para aktivis perempuan di Bali tidak pernah berhenti memperjuangkannya. Perjuangan para aktivis perempuan di Bali bagi persamaan hak antara lakilaki dan perempuan dalam bidang pewarisan mulai mendapat perhatian serius lagi ketika Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali mengadakan lokakarya dalam rangka menyongsong Pesamuan Agung yang ke-3. Lokakarya diadakan di Ruang Pertemuan Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dihadiri tokoh-tokoh adat dan para aktivis perempuan, membahas kertas kerja tunggal yang saya sampaikan berjudul: Beberapa Pemikiran Kearah Pembaruan Hukum Adat Bali Untuk Perempuan Dan Anak. Saya ingat betul bagaimana dinamisnya pemikiran-pemikiran yang berkembang dalam lokakarya tersebut. Ketika saya mengajukan usul yang moderat bahwa orang tua atau saudara (dalam hal orang tua sudah meninggal) berhak memberikan bekal harta kepada anak yang ninggal kedaton, yaitu harta yang berupa harta pegunakaya (harta bersama yang diperoleh selama perkawinan berlangsung), dengan catatan pemberian tersebut tidak boleh merugikan ahli waris yang ada, langsung disambut dengan usul yang lebih tegas oleh para aktivis perempuan yang hadir. Mereka mengusulkan, bukan orang tua berhak memberikan, melainkan anak yang telah kawin berhak atas harta pegunakaya orang tuanya. Usulan tersebut akhirnya menjadi kesimpulan hasil lokakarya yang kemudian di bawa ke Pesamuan Agung Majelis Utama Desa Pakraman. Pada akhirnya, Pesamuan Agung Ke-3 mengakomodasi perkembangan pemikiran yang dihasilkan oleh lokakarya tersebut, khususnya yang berkaitan dengan hak waris anak perempuan. Seperti diketahui, Pesamuan Agung Ke-3 Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali yang diselenggarakan di Denpasar pada 15 Oktober 2010 telah melahirkan beberapa keputusan yang membawa angin segar bagi perempuan dan anak. Barangkali timbul pertanyaan, apakah keputusan-keputusan Pesamuan Agung tersebut akan serta merta menjadi pola kelakuan yang ajeg dalam masyarakat sehingga berlaku sebagai hukum adat dalam kenyataan? Tentu kita harus bersabar untuk sampai pada tahap perkembangan tersebut. Keputusan-keputusan Pesamuan Agung MUDP tersebut tentu saja akan menjadi pedoman dalam revitalisasi hukum adat Bali melalui penyuratan awig-awig desa pakraman, karena salah satu fungsi MUDP adalah melakukan pembinanan terhadap awig-awig desa pakraman. Dengan begitu, akan terjadi sosialisasi dan internalisasi di kalangan masyarakat hukum adat Bali mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam Keputusan MUDP tersebut. Lebih dari itu, keputusan Pesamuan Agung MUDP tersebut akan memudahkan bagi hakim untuk melakukan penemuan hukum adat dalam tugasnya menggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat, ketika hakim di Pengadilan-pengadilan yang ada di Bali mengadili kasus-kasus pewarisan. *) Penulis adalah dosen Hukum Adat pada Fakultas Hukum Universitas Udayana. Saat ini, penulis juga menjadi Pengurus Harian (Prajuru) pada Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali disamping sebagai Sekretaris Pusat Studi Wanita dan Perlindungan Anak Universitas Udayana. Diskriminasi Dibalik Hukum Adat Terlahir menjadi perempuan adalah karunia yang begitu besar dari Tuhan. Tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan mempunyai peran yang begitu penting dalam menjalankan kehidupan. Tugas sebagai seorang ibu yang mengandung, menyusui serta melahirkan menjadikan perempuan adalah makhluk yang istimewa dan perlu diberikan penghormatan khusus. Dari rahim seorang perempuanlah lahir benih-benih baru yang akan melanjutkan kehidupan ini nantinya. Begitu besar peranan seorang perempuan seharusnya membuat kedudukan perempuan lebih dihormati dan dihargai. Namun disisi lain masih banyak ditemuai kasus-kasus yang berhubungan dengan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Pendiskriminasian terhadap perempuan terjadi meluas diseluruh daerah di Nusantara. Diskrimina- Penulis: Gek Ela Kumala Parwita si perempuan disadari atau tidak juga sudah terjadi di Bali. Sebagai pulau Dewata, Bali mempunyai begitu banyak kebudayaan dan adat yang dipegang kukuh oleh masyarakatnya. Adat Bali yang dimaksud meliputi nilai, norma dan perilaku dalam masyarakat Bali. Adat inilah yang membuat beberapa orang Bali mempunyai pikiran kolot tentang adanya anak perempuan di tengah-tengah keluarga mereka. Beberapa keluarga di Bali khususnya yang beragama Hindu melakukan berbagai macam cara untuk bisa mempunyai anak lakilaki. Biasanya meski mereka telah mempunyai anak perempuan, orang-orang Bali cendrung merasa tidak mempunyai anak. Ini dikarenakan anak perempuan dipandang tidak akan bisa meneruskan purusa dan garis keturunan keluarga. Adanya fenomena seperti inilah yang membuat beberapa keluarga Hindu di Bali sering merasa sedih, putus asa dan seperti tidak mempunyai harapan untuk masa depan jika tidak mempunyai anak laki-laki. Dari permasalahan ini terlihat masyarakat Bali menyepelekan kehadiran anak perempuan karena menganut sistem kekerabatan patrilinial yaitu sistem kekerabatan yang menarik keturunan dari garis lakilaki. Dalam sistem kekerabatan patrilinial ini sangat jelas menempatkan kaum laki-laki pada kedudukan yang lebih tinggi. Dari sinilah muncul diskriminasi gender yang terselubung dalam hukum adat di Bali. Anak laki-laki di Bali berkedudukan sebagai ahli waris, sebagai pelanjut nama keluarga, sebagai penerus keturunan, sebagai anggota masyarakat adat dan juga mempunyai peranan dalam pengambilan keputusan keluarga maupun masyarakat luas. Peng agungan terhadap 24 Februari - April 2011 Februari - April opini

14 opini opini anak laki-laki menyebabkan anak perempuan dianggap sebagi nomor dua dan tidak mendapat perhatian lebih. Bahkan di beberapa wilayah di Bali ada orang tua yang sengaja tidak memberikan pendidikan yang layak untuk anak perempuannya karena mempunyai pikiran nantinya anak perempuan itu tidak bisa memberikan apa-apa karena akan dibawa keluarga dari pihak suaminya. Sekalipun orang tua mempunyai dana untuk membiayai pendidikan anaknya pasti yang lebih diutamakan adalah menyekolahkan anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Oleh karena itu banyak anak perempuan di Bali yang tidak me ngenyam pendidikan secara layak. Mereka cendrung dibiarkan dirumah untuk membantu pekerjaan rumah atau dibiarkan bekerja mencari uang tambahan untuk membantu ekonomi keluarga. Hal inilah yang merupakan contoh kecil namun merupakan masalah besar yang harus segera dicari jalan keluarnya. Dari segi hukum sebenarnya pemerintah telah menciptakan kesetaraan antara perempuan dan lakilaki di Bali. Salah satu contohnya dapat dilihat dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 4766K/Pdt/1998 tertanggal 16 November 1999 yang menyatakan bahwa anak perempuan di Bali berhak atas harta peninggalan dari pewaris. Namun seperti tidak mempedulikannya, beberapa masyarakat Bali masih saja menggunakan dalih hukum adat untuk mengingkari hukum yang berlaku di negara ini. Hukum adat Bali secara fungsional telah menggeser keberadaan hukum nasional yang akibatnya menciptakan suatu sangkar diskriminasi bagi perempuan Bali. Diskriminasi ini dapat membuat seorang anak perempuan menjadi merasa kehadirannya tidak dianggap dan diperlukan ditengah keluarga. Keadaan seperti ini nantinya bisa menjadikan psikologis anak tersebut menjadi terganggu. Adanya ketidakadilan struktural serta sobordinasi ini menyebabkan secara tidak langsung masyarakat Bali telah melakukan diskriminasi psikologis terhadap anak perempuan. Memang adanya pengkotak-kotakan gender ini dilakukan tidak secara nyata, namun hal ini sebenarnya berlangsung terus menerus dan telah menjadi bagian dari rahasia umum di Bali. Adanya diskriminasi dibalik hukum adat Bali harus segera diselesaikan. Jangan sampai nantinya timbul masalah baru yang diakibatkan adanya diskriminasi terselubung di balik adat yang sudah tertanam di Bali. Pada keadaan seperti inilah orang tua-orang tua di Bali harus lebih bersikap netral agar nantinya tidak menyinggung perasaan si anak perempuan. Mereka harus siap dan rela jika Diskriminasi ini dapat membuat seorang anak perempuan menjadi merasa kehadirannya tidak dianggap dan diperlukan ditengah keluarga. nantinya diberikan karunia seorang anak perempuan. Sikap ini setidaknya juga dilakukan mengingat anak adalah titipan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang harus dijaga apapun bentuk dan keadaanya. Selain itu dalam beberapa kitab suci agama Hindu disebutkan kita harus menghormati keberadaan perempuan sama halnya dengan menghormati keberadaan lakilaki. Misalnya saja dalam Kitab Suci Manawa Dharmacastra Bab.III. sloka 58 dan 59 serta Manawa Darmacastra IX, : Bagi setiap keluarga yang tidak menghormati kaum perempuan, niscaya keluarga itu akan hancur lebur berantakan. Rumah di mana perempuannya tidak dihormati sewajarnya, mengungkapkan kutukan, keluarga itu akan hancur seluruhnya, seolah-olah dihancurkan oleh kekuatan gaib 59: Oleh karena itu orang yang ingin sejahtera, harus selalu menghormati perempuan, kitab suci mewajibkan semua orang menghormati perempuan. 96: Tidak ada perbedaan putra laki-laki dengan putra perempuan yang diangkat statusnya, baik yang berhubungan dengan masalah duniawi ataupun masalah kewajiban suci. Karena bagi ayah dan ibu mereka keduanya lahir dari badan yang sama. Sementara untuk masalah purusa dan melanjutkan keturunan, seharusnya masyarakat Bali bisa mencarikan solusi baik-baik tanpa adanya diskriminasi. Sebenarnya pada masyarakat patrilinial di Bali dikenal lembaga sentana rajeg di mana anak perempuan dirubah statusnya melalui perkawinan nyeburin (nyentana) sehingga menjadi sama statusnya dengan status anak laki-laki. Anak perempuan yang dirubah statusnya dengan perkawinan nyeburin, status dan kedudukannya sama dengan anak laki-laki tetapi terbatas hanya dalam kaitan dengan harta kekayaan orang tuannya saja sedangkan dalam hal yang lainnya yakni sebagai kepala keluarga, anggota masyarakat adat tetap dilakukan oleh laki-laki yang kawin nyeburin dan perempuan yang keceburin melakukan kewajibannya sebagai perempuan pada umumnya. Memang susah jika melihat permasalahan diskriminasi perempuan di Bali. Adanya pembelokan terhadap kepatuhan hukum adat menjadikan muncul diskriminasi kepada kaum perempuan. Begitu beratnya diskriminasi yang ada dibalik hukum adat ini membuat perempuan sulit melakukan perlawanan. Kekakuan masyarakat Bali terhadap adat yang berkembang menjadikan anak perempuan yang lahir di Bali menjadi pasrah tanpa mampu berbuat apa-apa. Adat dan budaya adalah sesuatu yang dibuat manusia dan tidak mengandung kebenaran mutlak. Memang adat diperlukan untuk menjaga tradisi yang ada tapi untuk menjaga kesetaraan struktural dimasyarakat diperlukan suatu keadilan tanpa memandang atau melecehkan seseorang hanya karena ia perempuan atau laki-laki. Permasalahan kecil yang berdampak begitu besar ini harus dicarikan solusi dan jalan keluarnya. Oleh karena itu persoalan mengenai diskriminasi ini jangan dijadikan sekedar wacana Adanya pembelokan terhadap kepatuhan hukum adat menjadikan muncul diskriminasi kepada kaum perempuan. saja. Harusnya ada kejelasan yang berhubungan dengan hukum adat di Bali sehingga nantinya tidak ada dampak negatif yang terjadi bagi anak-anak perempuan yang lahir di Bali. Adat yang merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat Bali (Hindu) seharusnya menjadi aturan yang memberikan kemudahan bagi masyarakatnya dan bukan malah mempersulit atau menimbulkan masalah baru. Ini tantangan bersama masyarakat Bali ke depannya! Penulis adalah siswa SMA 3 Denpasar. Tulisan ini memenangkan Lomba Essay Nasional Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, Nopember 2010 dan dimuat pada buku Ktika Asa Masih Ada 26 Februari - April 2011 Februari - April

15 interaktif interaktif Forum Diskusi di RRI MDGs dan Penguatan Perempuan Untuk membahas berbagai langkah dan kemajuan dalam pencapaian MDGs, LSM Bali Sruti secara rutin menggelar Dialog Interaktif di Radio Republik Indonesia (RRI) Denpasar. Dialog ini berlangsung setiap hari Sabtu, minggu kedua setiap bulannya pada pk Wita. Berikut kami sajikan kembali transkruip dari acara tersebut. Pengantar moderator (Luh Putu Anggreni) Pada pertemuan kali ini, kami akan menghadirkan Ibu Luh Arjani, Ketua Pusat Studi Wanita Universitas Udayana. Adapun topik yang dibahas adalah Kesetaraan Gender yang merpakan salah-satu dari tujuan MDGs. Narasumber (Luh Arjani) Sekedar mengingatkan, MDGs adalah singkatan dari Milenium Development Goal s, atau prioritas pembangunan utama yg akan dilakukan. Sesuai dgn kesepakatan dalam konferensi PBB di tahun Ada 8 goal yg akan diunggulkan diselesaikan permasalahannya di thn Adapun 8 goal itu yaitu : 1. Kemiskinan (pengentasan kemiskinan) 2. Pendidikan (pendidikan utk semua/ PUS 3. Mendorong kesetaraan bagi perempuan/gender, tema ini menjadi focus bagi PSW juga Bali Sruti. 4. Menurunkan angka kematian bayi 5. Menurunkan angka kematian ibu 6. Penanganan HIV/AID 7. Pelestarian lingkungan hidup 8. Membangun jaringan global Indonesia ikut juga dlm menyetujui MDGs, target hrs tercapai di Terkait dgn fokus ke 3 program MDGs, targetnya adalah pencapaian IPG (indeks pembangunan gender) setinggi-tingginya. Kondisi kesetaraan gender di Bali tentu terkait dengan budaya Bali. Karena itulah hasil Pesamuan MUDP itu merupakan bagian dari tercapainya target MDG s, yaitu tentang hak waris bagi perempuan Bali. Seperti diketahui, bahwa budaya Bali menganut paham patrilinial, yang mengakibatkan perempuan Bali, sebagian besar tidak dapat memiliki hak waris secara adat. Memang di beberapa daerah, dimung kinkan perempuan dalam perkawinan berkedudukan sebagai purusa, tapi tidak berlaku di seluruh daerah Bali. Diharapkan juga dgn adanya kesepakatan MUDP juga, keluarga Bali yg fanatik dengan idiologi patriarkhi yg menempatkan nilai anak laki-laki lebih utama, dapat berubah. Karena konsep seperti itu berimplikasi kepada kesempatan menempuh pendidikan bagi anak perempuan yg lebih rendah daripada anak laki-laki. Karena itu diharapkan perempuan Bali akan mendapat kesempatan pendidikan yg sama dengan laki-laki, sehingga akan mendorong kesetaraan gender. Terkait dengan itu, untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam keluarga Bali, dapat diberikan hak yg sama bagi anak laki2 & perempuan. Yaitu terutama dalam hak waris. Pertanyaan pendengar ; Ibu Titin : terkait dengan budaya Bali yg menganut patrilinial, hasil kesepakatan MUDP memberi angin segar bagi perempuan, tapi diperlukan sosialisasi yg luas. dialog: Para pengasuh dialog publik MDGs di RRI Denpasar. Apa yg akan dilaksanakan jika ada perempuan yg menjadi korban? Sebenarnya apa isi keputusan itu? Jawab : Perempuan berhak mendapat warisan yang berasal dari harta gunakaya orang tuanya. Ini merupakan revolusi sosial pada budaya bali yang perlu diperbaiki, karena merupakan buatan manusia, memang seharusnya hukum adat bisa diperbaiki jika nilai-nilai itu sudah kurang pas dgn kondisi dan 2 jaman yang sudah berubah. Tentu diperlukan sosialisasi dan advokasi bagi perempuan yang mengalami masalah. Bapak Maya : Harta warisan yang mana yg dimaksud untuk bisa diperoleh bagi perempuan Bali? Jawab : Harta hasil pernikahan atau gono gini, akan diberikan kepada semua anak tanpa melihat jenis kelamin secara sama rata (hal tersebut sudah mulai umum dilakukan saat ini karena secara hukum juga dimungkinkan pelaksanaannya seperti itu). Praktek seperti ini, akan membuat posisi perempuan lebih baik dimata keluarga suami, sehingga lebih dihormati dan dihargai di keluarga laki-laki. Diharapkan dengan kondisi seperti itu, dapat mengurangi terjadinya kasus2 KDRT bagi perempuan. Juga akhirnya mendukung tercapainya MDGs jika keputusan MUDP ini benar2 dilaksanakan tidak hanya tertulis saja, karena itu butuh disosialisasikan secara luas. Pada kenyataannya, sesuai penelitian yang dilakukan Pusat Studi Wanita (PSW) sejak 3 tahun lalu, ditemukan kondisi, bahwa dalam rapat-rapat banjar mulai melibatkan perempuan, suara dan pendapat perempuan mulai didengarkan dan diberikan hak untuk berpendapat untuk menentukan keputusan-keputusan banjar. Tapi yang perlu digarisbawahi, kesetaraan gender bukanlah bermaksud membalik peran dalam rumah tangga. Namun ada komitmen untuk kesetaraan dalam peran dalam rumah tangga. 28 Februari - April 2011 Februari - April dok bali sruti

16 profil profil Luh Putu Haryani Prestasi Berawal dari Keluarga Birokrasi adalah sebuah mesin raksasa dengan berbagai jenjang kepangkatan serta fungsi yang terintegrasi. Kesempatan untuk mendakinya itu hanya dimiliki oleh sejumlah kecil pegawai saja. Lebih sedikit lagi oleh kaum perempuan karena masalahmasalah internal yang dihadapinya. Dari yang sedikit itu, Luh Putu Haryani termasuk yang beruntung. Ia kini menduduki jabatan Ketua Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Perempuan cantik kelahiran Luwus, Tabanan, 9 April 1961 ini memulai karirnya pada tahun 1986 ketika diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jadi sekarang sudah hampir 20 tahun, ujarnya. Ia pertama kali ditempatkan di Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) dan saat itu Dewa Beratha (mantan Gubernur Bali) sebagai Ketua BKPMD. Seiring waktu, pengalaman saya berkembang. Saya pernah ditarik ke Biro Bina Sosial dengan jabatan Kepala Bagian Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Bidang Tehnis Fungsional di Balai Diklat, Kepala Sub Dinas Kesenian Dinas Kebudayaan dan Kepala Biro Kesra sebelum ditugaskan sebagai Kepala BP3A. Bagi Haryani, posisinya sebagai ibu rumah tangga sama sekali tidak pernah fungsi dan kewenangannya. Bukan karena tugas yang enak kemudian diberikan kepada perempuan. Kalau ada pertemuan diluar kota dan memang pegawai perempuan yang harus jalan ya itulah yang dia perintahkan. Ibu Nanik- begitu dia akrab dipanggil- mengakui jumlah perempuan yang bisa memiliki kepangkatan cukup tinggi di birokrasi masih sedikit. Hal itu karedok humas pemprov menjadi hambatan. Saya sejak kecil dididik untuk mandiri dan tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan, ungkapnya. Seperti soal setir mobil, semua anakanak harus bisa. Dalam keluarganya, juga ada pelajaran untuk kebebasan dan keberanian berpendapat dalam segala hal dengan prinsip saling menghormati. Adapun di lingkungan birokrasi, ia memang merasakan adanya intrik-intrik karena laki-laki merasa tersaingi dan ada juga perasaan kalah. Karena itu kemudian ada juga tanggapan miring terhadap prestasinya. Tapi hal itu ditepisnya dengan keyakinan bahwa semua posisi yang diperolehnya adalah karena berpijak pada kemampuan dan kerja kerasnya. Saya pegang pernyataan suami bahwa semakin tinggi karir ini nanti akan banyak persoalan yang dihembuskan mulai soal tidak mampu yang bisa saya lawan dengan kerja keras, soal suap yang bisa ditepis dengan menjaga integritas dan transparan- aktif: Sebagai birokrat perempuan, Luh Putu Hariani (tengah) juga aktif dalam aktifitas bersama kalangan aktifis perempuan. si. Kalau itu tak mempan, saya pasti akan diisukan selingkuh atau dipengaruhi partai politik. Semua sudah pernah saya alami, paparnya. Awalnya, berbagai intrik itu membuatnya sakit hati. Kok tega sekali, padahal saya bekerja keras dengan tulus sesal dia. Tapi lama kelamaan dia terlatih untuk menghadapinya dengan tenang dan menerimanya sebagai sebuah resiko pekerjaan. Saya ambil hikmahnya, kalau di awal karir saya tak mendapat pengalaman itu, mungkin sekarang saya akan lemah dan gampang jatuh. Sekarang tak pernah saya pikirkan, kapan kerjanya kalau saya pikirkan itu, tegasnya. Di lingkungan kerja, ia menerapkan prinsip kesetaraan dan tidak ada pembedaan berdasarkan gender. Semuanya berdasarkan dok humas pemprov 30 Februari - April 2011 Februari - April

17 profil na prosentase laki-laki di birokrasi memang lebih banyak. Dari perempuan sendiri ada hambatan dimana banyak yang tidak terlalu ingin berkarir karena konsekuensinya kalau dipindah-pindah malas. Apalagi yang suaminya cukup mapan, katanya.hal itu dinilanya sebagai bias Patriarkhi dimana perempuan BIODATA Nama : Luh Putu Haryani, SE.MM Panggilan : Nanik TTL : Luwus, 9 April 1961 Jabatan : Ketua Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Bali Pendidikan : - S1 Ekonomi Perusahaan Fakultas Ekonomi UNUD - S2 Magister Manajemen UNUD Pendidikan Penjenjangan : Dikat Pimpinan I Tahun 2008 Suami : Prof.Dr.W.G Supartha SE.SU selalu mengalah dan lebih mengutamakan keluarga. Saya sendiri merasa beruntung karena suami seorang dosen yang tidak merasa kalah kalau jenjang kepangkatan istri lebih tinggi, ujarnya. Di luar birokrasi, dia menilai, peran perempuan sudah jauh lebih maju. Terutama di Partai Politik dan lembaga legistatif. Kesan bahwa dunia politik itu keras dan bukan tempat kaum perempuan pelan-pelan terkikis. Di bidang lain juga begitu, sudah banyak pengusaha dan profesional perempuan yang merubah stereotype tentang perempuan. Tapi dia berharap perubahan itu berbasis pada keluarga kecil yang harus sudah diterapkan perlakuan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Beri kesempatan yang sama untuk belajar, me nyampaikan pendapat dan berbagi peran. Demikian pula di lingkungan banjar, ujarnya. Tim Sebuah momentum yang jarang terjadi berlangsung, Selasa (25/1). Yakni saat Bali Sruti bersama Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI), Forum Mitra Kasih, dan sejumlah LSM Perempuan lainnya mendatangi Kantor DPD Partai Demokrat Bali. Rombongan yang terdiri dari para aktivis perempuan itu bukan karena ingin berdemonstrasi. Tapi sekedar berdialog menjelang penyusuna pengurus PD setelah dilakukan Musyawarah Daerah partai itu. Berikut adalah dialog para aktivis dengan dengan Ketua Terpilih DPD Partai Demokrat Bali Made Mudarta Made Mudarta : Terima kasih sudah bersedia hadir di kantor kami. Saat ini kami sedang melakukan penjaringan pengurus DPD Partai Demokrat Periode Sebagai Partai Modern kami selalu membuat mekanisme yang terbuka dengan sistim fit and propper test, kemudian ada kontrak kerja dan semua harus menandatangani dialog dok bali sruti aspirasi: Aktivis perempuan memberikan aspirasi kepada Ketua DPD Partai Demokrat Bali. Partai Harus Wadahi Kaum Perempuan Pakta Integritas. Selanjutnya kami persilahkan dari KPPI untuk menyampaikan hal-hal yang ingin dibicarakan. Nyoman Masni : Saat ini saya menjabat sebagai Ketua KPPI dan disini kami hadir bersama sejumlah teman yang merupakan tokohtokoh organisasi perempuan yang independen. Ada ibu Luh Riniti Rahayu dari Bali Sruti yang menjadi insiator pertemuan, Luh Anggreni dari Forum Mitra Kasih, Putu Suwartini dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, dll. Secara umum misi kami adalah untuk mendorong partisipasi perempuan yang lebih besar di dunia politik karena saat ini masih sangat minim dan kami merasa itu kurang baik bagi kita semua, bukan hanya bagi perempuan. Karena itu dalam kaitannya dengan pembentukan kepengurusan Partai Demokrat, kami berharap adanya kesempatan bagi kaum perempuan untuk masuk dalam struktur di segala lini, tentunya dengan melihat kualitas yang ada. Memang tidak 32 Februari - April 2011 Februari - April

18 dialog dialog rofiki hasan dialog: Aktifis perempuan yang ikut dalam pertemuan dengan Partai Demokrat. Nyoman Masni (KPPI), Ida Ayu Widnyani (KPUD), Siti Safurah (BBS), Putu Suartini (KPAID), Luh Riniti (Bali Sruti), Titik Suhariyati (Bali Sruti), Luh Putu Anggreni (Forum Mitra Kasih), Dayu Pradnyani (BBS). harus 30% sesuai amanat UU, tapi kemungkinan harus dibuka selebar-lebanya. Pada akhirnya nanti, kami juga akan membantu memberikan dorongan kepada kaum perempuan yang berkiprah termasuk dengan memberikan pelatihan-pelatihan apabila memang diperlukan. Hal yang sama akan kami suarakan kepada partaipartai yang lain. Luh Riniti Rahayu : Kami ucapkan selamat sebelumnya, apalagi ini sesuai dengan moto Demokrat untuk memilih pemimpin muda. Adapun aspirasi kami agar perempuan masuk ke kepengurusan partai itu juga untuk mengantisipasi Pemilu 2014 agar nantinya tidak terkesan partai politik hanya merekrut perempuan beberapa saat menjelang pencalegan. Itu kurang baik karena perem puan sendiri menjadi kurang siap dan mereka belum ada pengetahuan maupun pengalaman untuk terjun ke politik. Sampai saat ini keterwakilan perempuan masih terlalu rendah dimana hanya 28 orang di seluruh lembaga legistatif di Bali atau 7,5 %. Akibatnya, meskipun mereka berkualitas, suara mereka jarang terdengar. Ini pun masih jauh dari amanah UU yang mendorong keterwakilan hingga 30 %. Namun kami realistis saja, di pemilu 2014 nanti minimal bisa naik sampai 10 %. Ini bukan tuntutan. Tapi mohon dipahami bahwa laki-laki dan perempuan kan bersama-sama membangun rumah tangga, nah ibaratnya masyarakatnya itu kan terdiri dari laki-laki dan perempuan juga. Jadi mestinya bersama-samalah berada di rumah rakyat untuk kepentingan bersama. Kami yakin sebagai partai besar, demokrat bisa memahami keinginan ini. Kami harapkan ke depannya juga ada proporsi yang seimbang sampai di tingkat kabupaten dan kecamatan. Made Mudarta : Terima kasih atas aspirasi tadi. Kami sampaikan juga bahwa Demokrat ini juga adalah Partai Perempuan, Ibu lihat yang sekarang dari 4 anggota DPRD Bali yang perempuan, 2 adalah Demokrat dan kami berusaha juga agar di Kabupaten lebih banyak. Untuk kepengurusan kami di DPD, kamai berkomitmen bahwa dari 111 personil DPD, paling tidak 33 adalah dari kaum perempuan atau minimal 30 %. Posisi perempuan ini sangat strategis baik untuk kepentingan eskternal maupun internal. Saya sendiri percaya Surga di bawah telapak kaki ibu, kalau situasi panas ada perempuan biasanya lebih sejuk dan semua mau menahan diri. Jadi kami memiliki komitmen yang jelas sehingga suatu saat nanti tidak perlu ada lagi Departemen Pemberdayaan Perempuan. Titik : Kami berharap juga agar jangan sampai perempuan hanya ditempatkan di posisi terbawah. Hanya sekedar untuk memenuhi kuota 30 % tapi benar-benar sesuai dengan kemampuannya dan loyalitasnya. Made Mudarta : Kami memastikan hal itu dan perempuan berhak untuk menduduki posisi manapun. Kami sesuaikan juga dengan tugas dan fungsi, misalnya untuk Tanggap darurat yang perlu gerak cepat ya prioritasnya kaum laki-laki, kecuali kalau ada perempuan yang bersedia dan mampu. Putu Suwartini : Mohon disesuaikan pula agar mekanisme yang kecil tidak sampai menghambat peran perempuan. Misalnya, soal rapat. Kalau bisa siang kenapa harus di malam hari yang situasinya kurang baik bagi perempuan. Putu Anggreni : Mohon diungkapkan pula agenda politik ke depan yang berkaitan dengan peran perempuan? Made Mudarta : Kalau soal rapat, kami aturannya jelas. Harus mulai pukul 2 siang dan tidak boleh belama-lama kalau tidak jelas urusannya. Soal agenda, untuk perempuan kami punya lembaga Perempuan Demokrat yang merupakan jejaring nasional untuk kaderisasi di kalangan perempuan. Tentu langkah kongkrit untuk peningkatan Caleg perempuan itu akan kami programkan, misalnya soal nomor urut yang sering jadi masalah. Nah, nanti kalau setelah diurutkan berdasarkan matrik potensi ternyata ada kader pria yang nilainya tinggi dan kemungkinan terpilih besar, maka bisa saja kader perempuan yang kita taruh di angka kecil untuk meyakinkan pemilih akan kualitasnya. Luh Riniti : Soal matrik itu, biasanya perempuan itu akan kalah dalam soal pengalaman, karena memang selama ini terjunnya ke politik belakangan. Jadi mohon untuk dipertimbangkan juga, tidak begitu saja dibandingkan sama dengan kaum laki-laki. Ini juga bentuk Affirmative Action. Made Mudarta : Kita pastikan komitmen itu. Kami pun akan jauh-jauh hari meyiapkan Caleg. Jadi pada pertengahan 2012 sudah akan mulai ada seleksi. Ini penting karena, pada 2014, pemilih pemula itu akan 40 % sehingga perlu strategi yang baru. Berkaitan dengan penyusunan pengurus, kami mempersilahkan kalau ada dari ibu-ibu yang akan bergabung atau merekomendasikan perempuan calon pengurus. Luh Riniti : Kami ini dari kelompok independen dan masih akan diluar untuk jadi kompor. Tapi kami akan membantu sosialisasi ke jaringan-jaringan. Kami juga akan memantau sejauh mana komitmen itu akan dilaksanakan oleh Partai ini, juga oleh Partai-Partai yang lain. 34 Februari - April 2011 Februari - April

19 album Peringatan Hari HAM Untuk memperingati hari HAM sedunia, LSM Mitra Kasih bersama kalangan aktivis perempuan menggelar sejumlah kegiatan. Diantaranya adalah Dialog Publik mengenai isu HAM dan Kekerasan pada Perempuan dan Anak pada 16 Desember Pada dialog tersebut, anggota Komisi I DPRD Bali, Ni Made Sumiati berjanji akan mengusulkan Perda Inisiatif Dewan terkait perlindungan terhadap perempuan dan anak. Diperlukan langkah nyata agar perlindu ngan tidak sebatas wacana, tegasnya. Ketua DPRD Bali AA Ngurah Oka Ratmadi pun berjanji untuk memberikan dukungan. Selain, acara dialog, pada 14 Desember, para aktivis perempuan juga me ngunjungi Restoratif Justice rofiki hasan ham: Tokoh-tokoh perempuan tampil dalam peringatan hari HAM. tahanan anak-anak dan perempuan di LP Kerobokan. Kunjungan itu diharapkan memberi semangat dan inspirasi, agar mereka yang pernah terlibat tindak pidana tidak berputus asa akan nasibnya. Tim Alternatif bagi Bocah Terpidana Kurangnya jumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak memaksa atau 57 % narapidana anak harus berkumpul dengan narapidana dewasa. Akibatnya, napi anak rentan dieksploitasi dan terpengaruh kondisi kejiwaannya. Alasan itu pula yang mendorong Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPA) Bali menggelar Lokakarya Restoratif Justice di Hotel Shanti Denpasar, Kamis (23/12). Dalam acara itu, Ketua LPAI Bali Nyoman Masni meminta, agar SKB Restoratif Justice lebih cepat diterapkan. Anakanak adalah masa depan bangsa, jangan sampai mereka rusak karena kesalahan kita dalam menangani mereka, ujarnya. Selama tahun 2010, LPAI BALI mencatat, terdapat 118 anak di Bali yang terlibat kasus hukum. Sebanyak 45 anak adalah sebagai pelaku dan 73 anak sebagai korban. Sebanyak 41 anak yang menjadi pelaku telah diadvokasi oleh LPAI dan mendapat penempatan di Lapas Anak atau di RSPA serta mendapat bantuan bersyarat agar dapat melanjutkan sekolahnya. Restoratif Justice adalah pendekatan dalam penanganan masalah hukum denga n mempertimbangkan masa depan pelaku maupun korban dalam sebuah kasus pelanggaran hukum. Pendekatan ini layak diterapkan kepada anak-anak karena mereka harus tetap mendapat kesempatan untuk memperbaiki dirinya di masa depan. Dasar hukum penerapannya adalah ratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keppres Nomor 36 Tahun 1990.Tim 36 Februari - April 2011 Februari - April album rofiki hasan pecandu: Pecandu minta diperlakukan manusiawi dan diberi kesempatan menjalani rehab. Dana Rehab untuk Pecandu Narkoba Menjadi pecandu narkoba ternyata menyakitkan. 90 % diantaranya, bahkan ingin mendapat kesempatan untuk menyembuhkan dirinya. Namun beratnya biaya rehab sering menjadi penghambat. Untuk itu para mantan pecandu narkotika di Bali, Senin (23/1) mendatangi DPRD Bali. Mereka yang tergabung dalam Ikatan Korban Narkotika (IKON) Bali meminta penyaluran dana APBD Bali untuk membantu melakukan rehabilitasi serta mendirikan panti rehab. Kami ini juga anak bangsa yang sah. Meskipun pernah melakukan kesalahan, kami berharap bisa memperbaiki diri di masa depan, kata Koordinator IKON Made Petradi. Sebab, menjadi pecandu itu sakit, kesepian dan tak bisa melakukan apa-apa kalau tidak mendapat obat, ujarnya. Namun untuk dapat menyembuhkan diri adalah hal yang tidak mudah karena mahalnya biaya perawatan. Kebutuhan akan panti rehab menjadi lebih mendesak setelah Pengadilan Negeri (PN) saat ini mulai menetapkan vonis rehab bagi pecandu yang tertangkap polisi. Sebab, untuk rehabilitasi itu, pecandu harus membiayai dirinya sendiri. Biaya untuk rehab sendiri berkisar antara Rp 1 juta hingga 3 juta tergantung fasilitas serta jenis obat yang diberikan. Sementara kesembuhan minimal setelah 3 bulan perawatan. Adapun IKON yang memiliki sekitar 120 anggota menghimpun mantan pecandu serta pecandu yang sedang berusaha me nyembuhkan dirinya. Untuk pengurus harus benar-benar yang sudah sembuh, kata Petradi. Mereka membantu mengurus mereka sampai mendapat tempat rehat yang tepat. Menanggapi desakan itu Wakil Ketua Komisi IV DPRD Bali Komang Kariyasa menyebut, kemungkinan mengalokasikan dana itu cukup terbuka. Kami melihat ada semangat untuk sembuh dari kecanduan dan harus didorong oleh semua pihak, ujarnya. Alternatif lainnya adalah dengan menggunakan dana Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) yang memberikan pengobatan gratis bagi penduduk Bali yang mengalami masalah kesehatan. Tim

20 album rofiki hasan Kawasan Bebas Rokok Terganjal Komitmen untuk meningkatkan kualitas kesehatan melalui Kawasan Bebas Rokok (KWR) belum bisa sepenuhnya diterapkan di Bali. Meski telah diajukan oleh Dinas Kesehatan sejak 7 bulan lalu, Perda tentang KWR masih terganjal di Biro Hukum Pemprov Bali. Padahal DPRD Bali berharap, Perda itu segera diajukan. Alasannya, mereka masih bingung, apakah Perda ini kewenangan Provinsi atau Kabupaten, kata Anggota Komisi IV DPRD Bali Utami Dwi Suryadi di selasela pertemuan Jaringan Forum Nasional Aliansi Total Ban, Sabtu (22/1). Kondisi itu jelas sangat disayangkan. Sebab, Perda KWR akan dapat menekan kebiasaan untuk merokok sembarangan. Utamanya juga adalah agar generasi muda menghindari kebiasaan merokok yang tidak baik bagi kesehatan mereka dan juga mengganggu orang lain yang tak merokok. Secara nasional, kondisi bahaya merokok itu makin menjadi keprihatinan. Gara-gara ditemukannya sejumlah anak berusia dibawah 11 bulan yang sudah mengisap rokok, Indonesia kini dijuluki Negeri Baby Smooker oleh kalangan aktivis anti rokok internasional. Koordinator Forum Nasional Aliansi Total Ban Arist Merdeka Sirait menegaskan, masih banyak orang tua yang kurang peduli akan bahaya merokok. Tahun lalu ada 12 kasus baby smokers yang kita temukan, ujarnya dalam pertemuan dengan jaringan forum itu di Denpasar, Sabtu (22/1). Sebelumnya, Indonesia sudah dijuluki sebagai negara Kid Smookers karena banyaknya anak-anak berusia 5-15 yang sudah terbiasa merokok. Jumlahnya mencapai 24,5 persen dari total populasi anak laki laki dan 2,3 persen pada anak perempuan Kebiasaan itu terbentuk terutama karena promosi iklan rokok yang sangat gencar menyasar usia tersebut. Perusahaan rokok membutuhkan mereka, karena perokok dari golongan dewasa cenderung bertahan pada satu merk saja. Tim Menteri Pemeberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar menolak usulan melakukan moratorium atau penghentian sementara pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Alasannya, keberangkatan warga negara untuk mencari kerja adalah bagian dari Hak Asazi Manusia. Lagipula kalau keinginan sangat tinggi dan peluangnya memang terbuka, moratorium justru akan mendorong peningkatan TKI illegal, katanya dalam dialog dengan pelajar serta aktivis organisasi perempuan di Denpasar, Senin ( 3/1). Dia menyebut fakta bahwa jumlah TKI saat ini sudah mencapai sekitar 4 juta orang. Dari jumlah itu, TKI yang terlibat kasus hanya orang saja setiap tahunnya. Mari kita lihat juga mereka yang sukses agar bisa seimbang memberi penilaian, tegasnya. Kasus-kasus umumnya terjadi karena kurangnya persiapan TKI sebelum dikirim atau pun karena kesalahan dalam prosedur pengiriman. Bagi dia, langkah yang terbaik adalah dengan memaksimalkan perlindungan bagi TKI melalui revisi UU Nomor 39 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI. UU itu, menurutnya, masih terlalu dominan pada sisi Penempatan dan sangat lemah pada sisi perlindungan. Dia mencontohkan, kondisi TKI di negaranegara Timur Tengah yang rata-rata adalah perempuan. Mereka dipekerjakan dengan alamat yang tercatat album Moratorium TKI Belum Saatnya di Konsulat RI hanya berupa nomor Kotak Pos majikannya. Akibatnya, bila terjadi suatu kasus akan sangat sulit dipantau dan diketahui. Sekarang harus dipastikan bahwa alamat lengkap mereka diketahui dan mereka harus memiliki alat komunikasi, tegasnya. Pemerintah, menurutnya, juga akan mendorong pengiriman tenaga kerja yang memiliki ketrampilan dibandingkan tenaga kasar. Karena itu peran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diharapkan akan makin dominan mewarnai sistim pendidikan Indonesia. Selain itu, pemerintah telah mengucurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bisa digunakan untuk modal bekerja di luar negeri. Selama ini dicurigai banyaknya TKI yang berangkat dengan meminjam uang pada rentenir. Sementara itu Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Mantra menegaskan, pemberian ketrampilan serta modal kepada kaum perempuyan adalah cara yang effektif agar nmereka dapat bekerja di lingku ngannya sendiri. Tapi lebih penting lagi adalah sikap kreatif menghadapi masalah dan tantangan, ujarnya. Posisi perempuan di ruang publik, menurutnya, sudah tidak lagi diragukan apalagi dalam sisi industri kratif yang membutuhkan kepekaan dann ketekunan. Tim 38 Februari - April 2011 Februari - April

21 resensi buku Menelisik Sejarah Kontemporer Bali Judul : Bali Benteng Terbuka, Penulis : Henk Schulte Nordholt Penerbit : Pustaka Larasan, Denpasar dan KITLV Jakarta Cetakan : Juni 2010 Tebal : 120 Halaman Mulai diputarnya film Eat, Pray, Love yang dibintangi oleh Julia Robert membuat Bali dikenal de ngan julukan baru sebagai The Island of Love. Sebutan ini seperti melanjutkan tradisi untuk mengimajinasikan Bali sebagai sebuah daerah yang aman, damai dan sejahtera dengan keindahan alam yang mempesona. Sebuah gambaran tentang Bali yang sudah dipromosikan sebelumnya dalam brosur-brosur pariwisata dengan istilah The Island of Paradise. Namun di bawah selapis tipis kulit ari pariwisata itu Bali senyatanya adalah daerah yang terus bergelut dengan berbagai persoalan. Konflik dan harmonisasi menandai pergulatan warga Bali dalam merespon perkembangan politik nasional maupun interaksi dengan kekuatan ekonomi dan budaya global. Reformasi 1998 membuat dinamika itu menjadi semakin kasat mata dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru setelah kekalahan Partai Golkar dan dominasi kekuatan militer. Buku yang disarikan dari penelitian Henk Schulte Nordholt mengenai dampak desentralisasi dan otonomi daerah ini menya jikan g a m b a r a n yang utuh mengenai masa transisi itu. Peneliti dari Koninklijk Instituut voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) Leiden merangkai fakta-fakta yang menunjukkan bahwa pergolakan di Bali tak kalah kerasnya dengan daerah-daerah lain. Perumusan identitas bersama dalam wacana Ajeg Bali pada akhirnya harus Perumusan identitas bersama dalam wacana Ajeg Bali pada akhirnya harus berhadapan dengan realitas politik nasional yang mewariskan sentralisasi kekuasaan di tangan partai politik. berhadapan dengan realitas politik nasional yang mewariskan sentralisasi kekuasaan di tangan partai politik. Identitas itu pun harus berhadapan de ngan diaspora kekuatan sosial, ekonomi dan budaya lokal yang seringkali tidak sejalan dengan tafsir utama atas wacana itu. *** Nordholt membuka bukunya dengan tulisan tentang perayaan Ulang Tahun Bali Post ke 55 pada 16 Agustus 2003 dimana koran tertua dan terbesar di Bali itu menya jikan liputan khusus mengenai seminar Menuju Strategi Ajeg Bali. Sebuah seminar yang berusaha merumus kan Bali sebagai daerah yang memiliki keunikan secara sosial, ekonomi dan budaya. Keunikan yang harus dipertahankan di tengah keprihatinan atas dampak pariwisata seperti kerusakan lingkungan, serbuan pendatang luar, kriminalitas, bisnis narkoba dan sikap materialistis yang meng ancam Bali. Ajeg Bali menjadi semacam rencana induk baru yang menghormati keseimbangan dalam hubungan manusia dengan para Dewa, dengan manusia dan lingkungannya. Tersirat di dalamnya adalah upaya revitalisasi spiritual dan penguatan rasa percaya diri kultural seraya menekankan pentingnya pengetahuan lokal dan peran lembaga adat. Namun Nordholt mencatat, seminar yang dihadiri oleh kalangan cendekiawan, praktisi pariwisata dan pemimpin lokal lainnya itu hanya sedikit sekali menyajikan solusi praktis. Terutama solusi untuk dua masalah yang sangat nyata, yakni perpecahan administratif lokal akibat kebijakan desentralisasi yang bertumpu di kabupaten/kota. Masalah lainnya adalah, bagaimana menangkal pengaruh luar dan pendatang yang tak diinginkan sementara Bali membutuhkan pengunjung asing, investor dan tenaga kerja murah untuk menjaga ekonominya. Bab-bab selanjutnya memberikan gambaran yang detail menge nai dilema-dilema itu. Nordholt menelusuri akar masalahnya resensi buku sejak tahun 70-an saat pertama kalinya pariwisata Bali dirancang. Gagasan yang ada saat itu adalah, bagaimana mengundang sebanyak mungkin turis seraya menjaga agar kebudayaan Bali berada dalam jarak yang aman. Strategi yang ditempuh adalah de ngan memusatkan pariwisata massal di kawasan Nusa Dua, Badung. Dalam perkembangannya, Gubenur Bali kemudian membuat kawasan-kawasan wisata untuk merespon protes atas ketidakseimbangan ekonomi Gagasan yang ada saat itu adalah, bagaimana mengundang sebanyak mungkin turis seraya menjaga agar kebudayaan Bali berada dalam jarak yang aman. serta mening katnya minat untuk berinvestasi. Pada akhirnya, perkembangan yang membuat Bali bukan lagi suatu daerah agraris itu mengundang protes berbagai pihak khususnya setelah dinilai melampaui batas-batas adat dan spiritual. Seperti yang terjadi pada protes atas pemba ngunan Bali Nirwana Resort (BNR) di Tabanan yang dianggap terlalu berdekatan dengan Pura Tanah Lot. Meskipun kemudian dapat diredam, protes atas proyek yang didanai oleh Grup Bakrie itu pada 1993 menjadi penanda dimana pariwisata dianggap mulai meresahkan Bali. Kemakmuran Bali sebagai daerah wisata juga menghadirkan dampak yang lain seperti membanjirnya pendatang lokal pasca kerusuhan Mei 1998 serta ancaman terorisme di tengah rapuhnya keamanan Bali. Ancaman teroris kemudian terbukti oleh adanya serangan bom pada 12 Oktober Di ranah politik lokal, buku ini menguraikan akar dukungan kepada Megawati sebagai ekspresi sentimen anti Orde Baru yang korup. Ketika Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pecah pada 1996, 40 Februari - April 2011 Februari - April

22 resensi buku opini Nodholt pun membongkar aneka kepentingan dibalik Ajeg Bali sehingga motivasi untuk mempromosikannya bisa dianggap tak lagi murni. Bali menyambut Mega dengan berbagai aksi dukungan. Puncak nya adalah ketika Mega menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa PDI yang melahirkan PDI Perjuangan. Puluhan ribu orang membanjiri lokasi untuk menunjukkan dukungannya. Munas itulah yang mengantar PDIP memenangi Pemilu Nasional dan di Bali berhasil mengu asai 80 % suara. Menariknya, ketika terjadi kerusuhan masal pasca kegagalan Mega untuk menduduki kursi Presiden pada Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1999, Nordholt mencatatnya bukan sebagai ekspresi spontan rakyat (hal 20). Dia me ngutip sumber sumber yang menyatakan adanya truk-truk tak teridentifikasi yang datang dari Jawa di Bali Utara. Di Denpasar, kerusuhan dimainkan oleh orang-orang tak dikenal. Kemenangan mutlak PDIP sendiri a tidak memberikan jaminan atas kestabilan politik dan arah masa depan Bali. Nordholt mencatat, para birokrat Golkar berhasil mempertahankan posisinya. Sementara itu di tingkat Kabupaten, muncul wirausahawan politik yang berhasil memecah suara PDIP seperti di Kabupaten Jembrana dan Buleleng. PDIP juga tidak mampu menjadi kekuatan yang effektif dengan agenda yang jelas dan bahkan terus dibayangi konflik internal. Puncaknya adalah pada pemilihan Gubernur tahun 2003 dimana pada tingkat lokal menginginkan tokoh Puri Satria Cokorda Ratmadi sebagai calon mereka. Dukungan ini bertabrakan dengan keinginan Megawati untuk tetap mempertahankan Dewa Made Beratha. Pemilihan pun kemudian berlangsung dengan kemenangan Beratha tetapi isu suap hingga milyaran rupiah melanda partai itu. Sementara itu Bali Post kemudian memanfatakan slogan Ajeg Bali untuk mengambil peran sebagai rekonsiliator. *** Buku ini menarik untuk dibaca karena penjelasannya yang gamblang dengan menggunakan kacamata desentralisasi dan demokratisasi dalam perspektif lokal. Jalinan kejadian bahkan berani mengungkap hal-hal yang sensitif dan tak pernah dikuak di media massa. Sebutlah, kaitan antara PDIP dengan kelompok preman di Denpasar dan Karangasem guna mengefektifkan jalannya pemerintahan. Kekerasan juga menjadi bahasa yang kerap digunakan khususnya pada saat menjelang Pemilu. Nodholt pun membongkar aneka kepentingan dibalik Ajeg Bali sehingga motivasi untuk mempromosikannya bisa dianggap tak lagi murni. Pada akhirnya, seperti dilambangkan oleh sampul buku ini yang menggantungkan botol Coca-Cola di sebuah pintu berukir tradisional Bali, pulau ini adalah sebuah daerah yang mau tak mau harus berinteraksi dengan berbagai petanda nasional dan global. Nordholt mengkritik para cendekiawan dan kelas menengah Bali yang terlalu menekankan keotentikan dan cenderung hegemonik. Padahal perekonomian yang terbuka sama sekali tidak cocok dengan identitas yang tertutup itu. Tim Substansi, Penegak Dan Budaya Hukum Sudahkah Hukum Berempati? Kalau ingin menempuh jalan hukum, siapapun akan berhadapan dengan tiga unsur yang ikut menentukan nasibnya di pengadilan dan di kemudian hari. Pertama, isinya undang-undang (substansi hukum). Undang-undang nasional dan juga hukum adat meng atur perkawinan dan juga perceraian. Kedua, aparat penegak hukum: polisi, jaksa, hakim dan pengacara. Dan tentunya ada orang yang terlibat langsung dan tidak langsung dalam kasus perceraian: suami-istri yang bersangkutan, keluarga masing-masing dan masyarakat sekitarnya. Masingmasing mempunyai gambaran mengenai apa yang adil dan apa yang tidak bila terjadi perceraian. Norma mengenai keadilan yang dianut masyarakat juga disebut budaya hukum. Antara Hukum Nasional dan Adat Undang-undang yang mengatur perceraian adalah UU Perkawinan No.1 tahun Di situ dijelaskan sejumlah alasan perceraian yang bisa diterima hakim. Hak masing-masing pasangan atas separoh harta bersama dan hak asuh anak juga diatur. Khususnya untuk kasus-kasus KDRT ada UU Penghapusan KDRT, No.23 Tahun Kalau kejadian KDRT bisa dibuktikan, maka itu bisa dipakai sebagai alasan perceraian dan hakim akan mengabulkan permohonan. Dua undang-undang sudah cukup melindungi hak perempuan. Hanya, masih ada beberapa kendala. Misalnya, para perempuan yang dapat memanfaatkan kedua UU tersebut, harus mempunyai akte perkawinan. Sedangkan, masih sangat banyak perempuan Bali begitu pula laki-laki - yang belum memilikinya. Bagi mereka undang-undang ini hanya bisa diberlakukan bila ingin cerai apabila akte perkawinan diurus sebelumnya. Seandainya, salah satu pihak tidak bersedia, maka proses perceraian menjadi sulit. Perlu diketahui, klian adat tidak berwenang me ngeluarkan surat putusan cerai. Persoalan ini menunjukkan adanya kemajemukan hukum di Indonesia. Di samping hukum nasional, Negara mengakui hukum adat setempat. Susahnya, hukum nasional dan hukum adat tidak selalu sinkron. Contohnya, hukum nasional dan hukum adat Bali bertentangan soal hak 42 Februari - April 2011 Februari - April

23 opini opini perempuan atas harta gono-gini dan hak asuh anak. Hukum nasional menjamin hak perempuan, sedangkan hukum adat tidak. Hakim di pengadilan negeri diamanatkan untuk menegakkan hukum. Tetapi hukum yang mana? Peraturan hukum juga menentukan bahwa permohonan atas keputusan perceraian dan permohonan tentang harta gonogini harus diajukan secara terpisah. Ini menyebabkan proses memperoleh hak ini cenderung lama. Hakim Yang Kurang Peka Bila perempuan berupaya mencari keadilan dalam perceraian, keadilan itu ada di tangan hakim. Hakim tentunya harus melihat latar belakang masalah yang timbul dalam perkawinan dan mengambil keputusan yang terbaik bagi semua pihak bersangkutan. Ada di antaranya yang sungguhsungguh mencoba untuk menegakkan hukum sesuai dengan undang-undang nasional, berpihak pada perempuan yang tidak bersalah atas kehancuran perkawinannya dan berupaya agar perempuan itu dapat hak gono-gini dan hak asuh anak demi keadilan. Tetapi ada juga yang serta-merta mengacu pada hukum adat dalam putusannya. Seringkali, begitu muncul perebutan hak asuh anak, para hakim terpaku pada apa yang diminta oleh para pengacara pihak suami: sesuai hukum adat purusa, sang anak harus diasuh oleh bapaknya. Tidak jarang hak asuh juga diberikan pada pihak bapak dengan pertimbangan dialah yang mampu untuk membiayai anak. Dengan demikian, masa depan istri, yang perkawinannya sudah dihancurkan oleh sang suami (misalnya karena kekerasan, selingkuh, penelantaran), kemudian dihancurkan lebih dalam lagi oleh hakim. Sungguh menyedihkan, tidak adil dan belum tentu yang terbaik bagi anak. Si ibu setelah perceraiannya biasanya tidak habis pikir nasib anak nya yang tinggal dengan bapaknya yang terbukti tidak layak sebagai suami dan ayah. Ada juga jenis kasus lain yang cenderung memperlihatkan ketidakadilan bagi perempuan. Ada hakim yang begitu mudah memutuskan perceraian atas permintaan suami. Misalnya, hakim terima saja bila suami mengatakan istrinya sudah pergi dan tidak tahu dimana keberadaannya, sehingga keputusan dapat diambil tanpa menghadirkan istri. Padahal, sang suami sebenarnya tidak punya alasan yang sah untuk bercerai dan hanya ingin secepatnya mengawini selingkuhannya secara sah. Tentunya kebanyakan hakim masih bersih. Tetapi kadang-kadang keadilan bisa dibeli. Seorang klien perempuan LBH, namanya Dewi, yang ingin mendapatkan hak asuh untuk anaknya mengaku dia ikut main uang. Karena dia tahu suaminya juga melakukannya. Bukan hukum yang bisa dibeli, tetapi ada hakim yang bisa. Karena kaum laki-laki rata-rata lebih banyak duit, maka merekalah yang lebih sering bisa menang. Ada Pengacara Mata Duitan dan Berpihak Selain hakim, pengacara juga ikut berperan dalam mencapai sebuah keputusan. Ibarat namanya pengacara, mereka diharapkan membela kepentingan kliennya. Untuk itu ada pengacara yang minta fee yang tinggi demi sebuah kemenangan. Kesepakatannya dengan klien juga bisa berupa persen dari harta yang direbutkan. Khususnya kalau pasangan memiliki harta yang banyak, ini bisa mendorong pengacara untuk bekerja ekstra keras memenangkan pihak kliennya. Karena seringkali harta dipegang pihak lelaki, maka klien perempuan perlu pengacara yang pintar agar dapat hak atas harta gono gini. Khususnya pengacara yang mata duitan juga bisa mengeksploitasi lahan yang tercipta oleh keinginan kedua bela pihak untuk mendapatkan anak. Seperti disinggung di atas, ada yang memperjuangkan hak asuh untuk pihak suami atas nama hak purushanya, tanpa mempertimbangkan apakah anak lebih pantas sama ibunya atau kepentingan anak itu sendiri. Masyarakat Memojokkan Masyarakat Bali pada umumnya masih menempatkan laki-laki pada posisi yang lebih tinggi daripada perempuan. Karena laki-laki sebagai ahli waris, laki-laki sebagai penerus nama keluarga. Laki-laki juga mempunyai peran lebih besar dalam pengambilan keputusan dalam keluarga dan masyarakat. Kondisi demikian mewarnai norma yang dianut masyarakat seputar perceraian. Perempuan tidak pantas minta cerai, tidak diakui hak atas harta bersama, begitu pula hak atas anaknya. Kalau dia tidak bersalah, keluarga dan masyarakat kadang-kadang masih mau terima bila dia minta cerai dan dapat haknya. Tetapi kalau salah, pantaslah dia tidak dapat apapun. Bahkan seringkali seorang ibu tidak diizinkan bertemu dengan anaknya setelah perceraian. Kemungkinan besar ini menimbulkan stres berat pada anaknya yang tetap cinta sama ibunya. Mari Kita Mulai.. Perempuan yang ingin bercerai sungguh berhadapan dengan banyak tantangan dan resiko. Peraturan hukum belum mendukung sepenuhnya hak perempuan, para penegak hukum belum semua mau peka, dan masyarakat masih menomorduakan haknya. Lagipula, banyak perempuan belum melek hukum dan tidak kuat ekonominya. Sehingga mudah dikalahkan haknya bila tidak ada pembelaan yang baik. Tetapi yang paling utama, perempuan takut berpisah dengan anak. Sebaiknya bagi pasangan Hindu yang bercerai, keputusan hakim tetap berpatokan pada prinsip apa yang terbaik bagi anak, sesuai dengan UU Perlindungan Anak No 23 Tahun Dan mari masyarakat kita mulai mengaku hak asuh anak seorang ibu, khususnya apabila suaminya memang terbukti tidak layak sebagai suami dan ayah. Anak paling dirugikan biar terjadi perceraian. Mari kita mulai sungguhsungguh menjamin kepentingannya agar tetap dekat sama kedua orang tuanya. (Anggreni/Sita) 44 Februari - April 2011 Februari - April

24 puisi Bunga, Luka dan Kematian Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulang tahunku semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan aku tahu ia menyesali perbuatannya Karena hari ini ia mengirim aku bunga Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan ulang tahun perkawinan kami atau hari istimewa kami semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku Aku bangun dan rasa sakit sekujur tubuhku aku tahu ia menyesali perbuatannya Karena ia mengirim bunga padaku hari ini Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan hari ibu atau hari istimewa lain semalam ia memukuli aku lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu aku takut pdanya tapi aku takut meninggalkannya aku tidak punya uang Lalu bagaimana aku bisa menhidupi anak-anakku Namun aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam Karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga Ada bunga untukku hari ini Hari ini adalah hari istimewa, inilah hari pemakamanku Ia menganiayaku sampai mati tadi malam Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan u/ meninggalkannya aku tidak mendapat bunga lagi hari ini Pujian Bagi Tanganmu Oleh: Warih Wisatsana Tanganmu seperti senja hilang cahaya tanganmu seperti dua bayang bersilang di petang yang lengang Setiap kali kata punya goa dan jejak rahasia Tanganmu menuliskannya, menulisnya sambil mengenang aku Laki-laki sia-sia yang datang padamu di usianya yang hampa Tanganmu seperti gerimis yang ingin menghapus tangis yang ingin mengusap pilu langit biru Tanganmu seperti mata si mati di pagi hari yang menembus hutan bayang yang menggemakan gaung murung di dinding-dinding, di puing-puing kota masa tua ibumu Aku laki-laki yang membaca semua sajakmu, mendatangimu mengigaukan tangan yang lebih lembut dari maut mengigaukan tangan yang lebih lengang dari petang Aku laki-laki yang sesat di baris pertama, tak percaya sungguh tak percaya, kenapa di akhir kata seseorang terbawa rasa hampa; kenapa cerita tentang sorga tak membuatnya bahagia tak menjadikannya suka cita seperti ketika kecil dulu terlena seharian di sisi ibu Tanganmu buah-buah kenari yang berjatuhan sepanjang hari tanganmu senyap batu beradu di dasar kolam yang menunggu Tanganmu,tanganku, tangan waktukah yang lunglai hilang lambai puisi Aku dan maut datang dengan wangi bunga yang sama Maut dan aku berbagi derita rahasia kecupan pertama; tapi bukan dalam sajakmu. 46 Februari - April 2011 Februari - April

25 cerpen Perempuan yang Mengawini Keris Berdebar-debar aku menantikan hari yang membahagiakan itu. Hari yang akan menyelamatkan martabat keluargaku dari cemooh dan sindiran orang-orang sedesa. Cemooh dan sindiran yang seringkali menyakitkan hati orang tuaku, meski belakangan mereka tidak menghiraukannya lagi. Atau lebih tepatnya menyimpannya diam-diam dalam lubuk hati paling dalam sebagai suatu nasib yang mesti dijalani. Karena aku perempuan, sungguh berat rasanya menjadi anak tunggal yang harus menanggung sendiri kecemasan orang tua. Duh, seandainya aku memiliki seorang adik, kalau bisa mesti adik lelaki. Tapi Hyang Widhi berkehendak lain, karena suatu alasan medis ibuku tidak bisa lagi melahirkan. Maka jadilah aku pewaris tunggal segala kekayaan keluargaku: sehektar tanah sawah di desaku di Tabanan, sebuah rumah cukup mewah di Denpasar, dua mobil sedan terbaru, sebuah hotel melati di Kuta. Mungkin ini pula yang membuat beberapa teman perempuanku seringkali iri padaku. Mereka sering menyebutku perempuan beruntung! Sudah cantik, kaya, berpendidikan tinggi, wanita karier dan terkenal lagi! begitulah rata-rata komentar mereka. Pendek kata, di mata mereka, aku perempuan yang sempurna! Tapi sayang, mereka tidak pernah paham, apa yang sedang bergejolak dalam batinku akhir-akhir ini. Aku selalu gagal menjalin percintaan. Kisah cintaku selalu berakhir tragis justru pada saat menjelang pernikahan. Sebenarnya tidak sulit bagiku untuk mendapatkan lelaki yang setara denganku. Seperti ucap beberapa temanku, aku cantik, kaya, Cerpen: Wayan Sunarta berpendidikan tinggi, dikenal luas. Lelaki mana yang tidak bertekuk lutut di hadapanku? Tapi, seperti jamaknya laki-laki, mereka mirip penjual obat keliling. Mereka, mantan-mantan pacarku yang kebanyakan eksekutif muda itu, juga suka mengobral janji-janji cinta penuh bungabunga harapan. Janji-janji pernikahan yang kuidam-idamkan selalu mereka bisikkan di kupingku sembari mereka mencumbuiku di kamar-kamar hotel mewah yang kami sewa. Namun, setelah mengetahui keadaanku yang sebenarnya, mereka Karena aku perempuan, sungguh berat rasanya menjadi anak tunggal yang harus menanggung sendiri kecemasan orang tua. segera mundur teratur. Pada mulanya jelas aku kecewa dengan sikap laki-laki seperti itu. Sampai aku pernah berpikiran bahwa lelaki yang mendekatiku atau yang hendak memacariku hanya kedok untuk mengeruk keuntungan dariku: menikmati tubuhku sekaligus mencicipi kekayaan orang tuaku. Tapi lama kelamaan aku berusaha maklum mengapa setiap lelaki yang pernah menjadi kekasihku akan mundur teratur ketika aku membicarakan masalah pernikahan secara serius. Dan ini pula yang menjadi kecemasan orang tuaku dan yang membebani perasaanku. Sebagai anak yang mencoba berbakti, aku pun memaklumi harapan dan kecemasan orang tuaku. Tentu mereka ingin segera momong cucu yang akan meneruskan keturunannya kelak. Lagi pula kini usiaku ham- pir kepala tiga, namun belum juga menemukan pasangan hidup, atau lebih tepatnya belum menemukan lelaki yang mau kuajak menikah. Cemooh dan sindiran bahwa aku dianggap tidak laku seringkali mampir di telinga orang tuaku yang membuat mereka terus mendesakku untuk segera menikah. Namun, seperti yang telah kuungkapkan, mencari pacar jauh lebih mudah bagiku ketimbang mencari seorang calon suami. Sungguh susah mencari lelaki yang sudi nyentana di keluargaku. Tahukah kamu, kebanyakan lelaki cerpen Bali sangat menghindari jenis perkawinan yang disebut nyentana itu. Sedangkan bagi perem puan Bali yang tidak memiliki saudara lelaki, justru nyentana merupakan perkawinan yang sangat diharapkan. Bagaimanapun juga, di Bali, kelahiran anak lelaki merupakan suatu berkah tak terkira yang harus dirayakan. Anak lelaki adalah penerus garis keturunan suatu keluarga. Maka keluarga yang tidak memiliki anak lelaki, terpaksa mengawinkan anak perempuannya dengan tradisi nyentana. Maka aku pun mengemban amanat berat dari orang tuaku untuk mencari lelaki yang mau diajak nyentana. Boleh kukatakan berat karena memang susah mencari calon suami yang sudi nyentana. Ini menyangkut harga diri dan kehormatan keluarga si lelaki. Sebab lelaki yang memilih untuk nyentana akan tinggal dan menjadi milik keluarga mempelai perempuan. Secara spiritual status lelaki akan berubah menjadi perempuan dan pihak keluarga si lelaki tidak lagi berhak terhadap anaknya. Pendek kata, dalam tradisi nyentana, lelaki dipinang oleh perempuan. Pada banyak kasus yang pernah kudengar, keluarga besar si lelaki biasanya akan menentang keras keinginan anaknya untuk nyentana. Bagi sebagian masyarakat Bali, pernikahan ini dianggap suatu yang memalukan dan penuh dengan cemooh dan sindiran. Si lelaki biasanya akan disindir hanya ingin mengeruk kekayaan orang tua si perempuan, ingin menadah warisan dengan mudah. Bahkan sering pula terjadi kasus si lelaki dilecehkan dan menjadi bulan-bulanan dalam keluarga si perempuan. Menghindari kejadian-kejadian seperti itulah yang menyebabkan lelaki enggan nyentana meski ia Hal itu pula yang membuatku cukup maklum kenapa para mantan pacarku mundur teratur ketika kuajak menikah. mencintai perempuan pujaannya itu. Hal itu pula yang membuatku cukup maklum kenapa para mantan pacarku mundur teratur ketika kuajak menikah. Inilah persoalan yang menderaku akhir-akhir ini. Pernah aku mencoba melupakan persoalan pernikahan dengan menyibukkan diri mengu rus hotel melati yang kukelola. Tapi nyaris setiap malam ketika aku tidak mampu memejamkan mata, bayang-bayang pernikahan muncul menghantui pikiranku. Hingga tiba pada suatu hari, aku berkenalan dengan seorang lelaki dalam suatu pesta peresmian galeri lukisan di Ubud. Aku merasakan debar yang lain ketika mata kami saling bersitatap. Aku kira lelaki itu pun merasakan hal yang serupa. Lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang pelukis. Pada pesta itu kami banyak bicara tentang seni lukis, suatu bidang yang belum kupahami, tapi sungguh menarik perhatianku. Pelukis yang lumayan ganteng dengan rambut setengah gondrong itu berasal dari Ubud. Ia tiga tahun lebih tua dariku dan menurut pengakuannya belum berkeluarga. Perkenalan kami terus berjalin le- 48 Februari - April 2011 Februari - April

26 cerpen cerpen wat sms dan telpon-telpon mesra. Entah menga pa aku bisa tertarik dan jatuh hati dengan lelaki itu. Mungkin gaya bicaranya yang terdengar matang dan dewasa, atau sikapnya yang begitu lembut dan mesra terhadapku. Beberapa kali ia berkunjung ke kantorku dan lebih sering lagi mengajakku melihat-lihat pameran lukisan. Ia juga suka mengundangku ke studionya yang sederhana di Ubud. Aku pun telah diperkenalkan sebagai pacar pada keluarganya yang ramah. Begitu pun sebaliknya, aku perkenalkan ia pada keluargaku yang menyambutnya dengan hangat pula. Suatu kali pelukis itu mengutarakan isi hatinya untuk mengajakku menikah. Dari mimiknya yang serius aku merasa ia sungguh -sungguh dengan keinginannya itu. Aku merasa pelukis itulah pelabuhan dan harapan terakhirku untuk mencari lelaki yang bersedia nyentana. Sebelumnya aku telah menceritakan keadaanku, juga harapan orang tuaku. Di luar dugaanku, ia bersedia nyentana, dan orang tuanya pun tidak keberatan. Aku girang alang kepalang mendengar itu semua. Aku memeluk dan menciumnya. Aku merasa bunga-bunga serentak mekar dan semerbak mewangi dalam taman hatiku. Aku pun segera menceritakan kabar gembira itu pada orang tuaku. Mereka sangat suka cita dan terharu mendengarnya. Mereka segera mencari hari baik untuk melangsungkan pernikahan kami. Undangan dicetak mewah dan telah disebar ke sanak saudara, kenalan, kolega bisnis, pejabat lokal, tetangga, kerabat desa. Pesta pernikahan akan dirayakan secara meriah di rumah keluargaku yang berhalaman luas. *** Berdebar-debar aku menunggu hari yang menobatkan aku menjadi mempelai itu. Besok pagi upacara perkawinan kami akan digelar secara adat Bali. Malam harinya aku tidak bisa memejamkan mata. Besok pihak keluargaku akan meminang lelaki pujaanku. Dari jendela kamarku, aku mengintip kesibukan para kerabat mempersiapkan upacara untuk esok pagi. Wajah-wajah mereka nampak sumringah. Kursi pelaminan telah pula dihias dengan kain prada dan bunga warna-warni, terlihat indah dan megah. Aku bangun sebelum ayam sempat berkokok menyambut pagi. Juru rias pilihan telah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Hampir dua jam aku dirias. Pagi ini aku bagai putri dari Kahyangan yang akan menyambut pangeran impiannya. Sekitar jam sembilan, para undangan mulai berdatangan. Keluargaku menjamu mereka dengan berbagai jenis hidangan pembuka yang lezat-lezat dan mengundang selera. Terlihat wajah-wajah mereka dihiasi senyum dan tawa ceria. Aku duduk dengan anggun di pelaminan, menunggu kedatangan mempelai lelaki. Pendeta yang akan memimpin upacara telah datang dan menunggu dengan sabar. Rencananya, setelah upacara adat selesai, akan disambung dengan pesta resepsi pernikahan sampai malam. Ayah dan ibuku terlihat sibuk menyambut para undangan. Tapi beberapa saat kemudian, Ayah dipanggil oleh seorang kerabat kami. Aku melihat mereka bercakap-cakap dengan wajah serius. Sebentar kemudian wajah ayahku berubah pucat dan tegang. Wajah bahagia ayahku seketika sirna. Aku belum paham apa yang sedang terjadi. Tapi aku juga melihat ketegangan dan keganjilan yang serupa pada wajah para kerabat dekat. Mereka menatapku dengan sorot mata yang memancarkan rasa iba. Aku penasaran dengan perubahan suasana yang mendadak itu. Aku bangkit dari pelaminan dan menghampiri Ayah yang langsung menggiringku ke dalam kamar. Di luar, undangan semakin banyak berdatangan. Sekilas kulihat mereka saling bertegur sapa dan berbincang-bincang penuh tawa canda. Tentu mereka juga merasakan kebahagiaan karena pada akhirnya aku menikah. Ada apa, Ayah? Mengapa nampak murung? aku langsung menumpahkan rasa penasaranku pada Ayah. Betul-betul malang nasibmu, putriku Ayah tidak kuasa meneruskan katakatanya. Aku semakin penasaran. Suara gamelan Semarpegulingan mengalun lamat-lamat, begitu syahdu dan romantis. Apa yang terjadi, Ayah? aku merasakan ketegangan menjalari syaraf-syaraf halus pada wajahku. Perasaanku campur aduk. Aku teringat si pelukis kekasihku, calon suamiku, pangeran pujaanku. Ayah menatapku dengan trenyuh. Nampak kepedihan mengambang pada mata tuanya. Putriku, perkawinanmu harus tetap berlangsung, meski Ayah menanggung malu di hadapan para undangan, Ayah terdiam, wajahnya nampak tegang, kamu akan Ayah kawinkan dengan keris Keris!? Saya akan kawin dengan keris!? Maksud Ayah bagaimana? Aku tidak kuasa menyembunyikan kekagetanku. Aku bingung. Mengapa aku harus kawin dengan sebilah keris? Ayah menunduk. Nampak Ayah juga kebingungan mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan masalah pernikahanku yang mendadak menjadi rumit dan menyedihkan ini. Ya, kamu akan kawin dengan sebilah keris, putriku! Keris itu sebagai simbol, pengganti calon suamimu yang ingkar janji. Ia minggat dari rumahnya. Keluarganya pun tidak tahu keberadaannya. Mendadak mataku berkunang-kunang mendengar penjelasan Ayah. Aku tidak sanggup berkata-kata lagi. Tapi aku berusaha untuk tabah dan menguasai diri. Musnah sudah impianku. Aku tidak habis mengerti, mengapa lelaki itu mengingkari janjinya? Rasa cintaku perlahan menjelma kebencian pada lelaki itu. Dan kenyataan pahit ini harus kujalani bersama keluargaku. Bagaimanapun juga, upacara perkawinan sudah tidak bisa dibatalkan. Kini, di hadapan para undangan dan kerabat yang saling berbisik, di tengah gema genta dan mantra pendeta yang terasa sumbang, aku melangsungkan upacara perkawinan dengan sebilah keris. Menjelang siang upacara usai, tapi hatiku masih terasa perih disayat-sayat keris hitam yang dingin itu.*** 50 Februari - April 2011 Februari - April

27 8 Tujuan Millenium Development Goals (MDGs) di Indonesia Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan Ekstrim Dengan usaha yang lebih keras, Indonesia akan dapat mengurangi kemiskinan dan kelaparan hingga setengahnya pada 2015 Mencapai Pendidikan Dasar untuk semua Semua anak Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, akan dapat menyelesaikan pendidikan dasar Mendukung Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Perempuan Indonesia telah mencapai banyak kemajuan dalam mengatasi persoalan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan Mengurangi Tingkat Kematian Anak Program Nasional Anak Indonesia menjadikan issue kematian bayi dan balita sebagai salah satu bagian terpenting Meningkatkan Kesehatan Ibu Yang sangat diperlukan oleh ibu adalah peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas untuk ibu dan anak Memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya Kesadaran dan pengetahuan yang benarmengenai HIV dan AIDS juga masih merupakan persoalan besar di Indonesia Memastikan Kelestarian Lingkungan Mengintegritasikan prinsip pembangunan berkelanjutan kedalam kebijakan dan program pemerintah Indonesia Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan Mengembangkan Kemitraan lebih lanjut yang terbuka, berdasarkan aturan, prediksi, non-diskriminatif perdagangan dan sistem keuangan

MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS (MDGs) Diterjemahkan dari: Population and Development Strategies Series Number 10, UNFPA, 2003

MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS (MDGs) Diterjemahkan dari: Population and Development Strategies Series Number 10, UNFPA, 2003 MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS (MDGs) Diterjemahkan dari: Population and Development Strategies Series Number 10, UNFPA, 2003 MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS (TUJUAN PEMBANGUNAN MILENIUM) 1. Menanggulangi Kemiskinan

Lebih terperinci

(1) menghapuskan kemiskinan dan kelaparan; (2) mewujudkan pendidikan dasar untuk semua orang; (3) mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan

(1) menghapuskan kemiskinan dan kelaparan; (2) mewujudkan pendidikan dasar untuk semua orang; (3) mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan Dr. Hefrizal Handra Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang 2014 Deklarasi MDGs merupakan tantangan bagi negara miskin dan negara berkembang untuk mempraktekkan good governance dan komitmen penghapusan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes.

KATA PENGANTAR. dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes. KATA PENGANTAR Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan September 2000, sebanyak 189 negara anggota PBB termasuk Indonesia sepakat untuk mengadopsi Deklarasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kekerabatan patrilinial yang menyebabkan sistem pertalian kewangsaan

BAB I PENDAHULUAN. kekerabatan patrilinial yang menyebabkan sistem pertalian kewangsaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat Bali memiliki sistem pewarisan yang berakar pada sistem kekerabatan patrilinial yang menyebabkan sistem pertalian kewangsaan lebih dititikberatkan

Lebih terperinci

Ikhtisar Pencapaian MDGs Provinsi Kepulauan Riau Menurut Jumlah Indikator

Ikhtisar Pencapaian MDGs Provinsi Kepulauan Riau Menurut Jumlah Indikator Page 1 Ikhtisar Pencapaian MDGs Provinsi Kepulauan Riau Menurut Jumlah Uraian Jumlah Jumlah Akan Perlu Perhatian Khusus Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan 12 9 1 2 Mencapai Pendidikan Dasar Untuk Semua

Lebih terperinci

KEDUDUKAN AHLI WARIS PEREMPUAN BALI DALAM PERSPEKTIF HUKUM WARIS DI INDONESIA

KEDUDUKAN AHLI WARIS PEREMPUAN BALI DALAM PERSPEKTIF HUKUM WARIS DI INDONESIA KEDUDUKAN AHLI WARIS PEREMPUAN BALI DALAM PERSPEKTIF HUKUM WARIS DI INDONESIA Oleh I Gede Putra Manu Harum A.A. Gede Agung Dharma Kusuma Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRAC

Lebih terperinci

3.2 Pencapaian Millenium Development Goals Berdasarkan Data Sektor Tingkat Kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar Tahun

3.2 Pencapaian Millenium Development Goals Berdasarkan Data Sektor Tingkat Kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar Tahun 3.2 Pencapaian Millenium Development Goals Berdasarkan Data Sektor Tingkat di Mandar 2007-2009 Indikator 2 3 4 5 6 7 8 9 0 2 3 4 5 6 7 8 9 20 Tujuan Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Menurunkan Proporsi

Lebih terperinci

DIPONEGORO LAW JOURNAL Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Website :

DIPONEGORO LAW JOURNAL Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Website : PERKEMBANGAN KEDUDUKAN SUAMI MENJADI AHLI WARIS DALAM PERKAWINAN NYEBURIN MENURUT HUKUM WARIS ADAT BALI SETELAH KEPUTUSAN PESAMUHAN AGUNG III MAJELIS UTAMA DESA PAKRAMAN (MUDP) BALI NOMOR 01/KEP/PSM-3/MDP

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mana masyarakat itu berada serta pergaulan masyarakatnya. 2 Kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. mana masyarakat itu berada serta pergaulan masyarakatnya. 2 Kehidupan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan adalah salah satu tahap penting dalam kehidupan manusia. Perkawinan dapat merubah status kehidupan manusia dari belum dewasa menjadi dewasa atau anak muda

Lebih terperinci

Penilaian Pencapaian MDGs di Provinsi DIY Oleh Dyna Herlina Suwarto, SE, SIP

Penilaian Pencapaian MDGs di Provinsi DIY Oleh Dyna Herlina Suwarto, SE, SIP Penilaian Pencapaian MDGs di Provinsi DIY Oleh Dyna Herlina Suwarto, SE, SIP Sejak tahun 2000, Indonesia telah meratifikasi Millenium Development Goals (MDGs) di bawah naungan Persatuan Bangsa- Bangsa.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki beragam adat dan budaya daerah yang masih terjaga kelestariannya. Bali adalah salah satu provinsi yang kental adat dan budayanya.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tingkat kesejahteraan masyarakat secara rata-rata di suatu daerah

I. PENDAHULUAN. Tingkat kesejahteraan masyarakat secara rata-rata di suatu daerah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingkat kesejahteraan masyarakat secara rata-rata di suatu daerah dicerminkan oleh besar kecilnya angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dan PDRB Per Kapita. Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh semua lapisan masyarakat yang memenuhi syarat kuantitas dan kualitasnya.

BAB I PENDAHULUAN. oleh semua lapisan masyarakat yang memenuhi syarat kuantitas dan kualitasnya. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Air sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia seharusnya dapat di akses oleh semua lapisan masyarakat yang memenuhi syarat kuantitas dan kualitasnya. Tapi

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA DAN STRATEGI PERCEPATAN PENCAPAIAN INDIKATOR-INDIKATOR MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS DI KABUPATEN JEMBER

LAPORAN AKHIR EVALUASI KINERJA DAN STRATEGI PERCEPATAN PENCAPAIAN INDIKATOR-INDIKATOR MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS DI KABUPATEN JEMBER LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH EVALUASI KINERJA DAN STRATEGI PERCEPATAN PENCAPAIAN INDIKATOR-INDIKATOR MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS DI KABUPATEN JEMBER Kerjasama Penelitian : BADAN

Lebih terperinci

Paparan Kepala Bappeda Provinsi Kalimantan Tengah

Paparan Kepala Bappeda Provinsi Kalimantan Tengah Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jl. Diponegoro No. 60 Telepon (0536) 3221715, 3221645, Fax (0536) 3222217 PALANGKA RAYA 73111 Paparan Kepala Bappeda Provinsi

Lebih terperinci

& KELEBIHAN KOPERASI dalam Melindungi Petani & Usahawan Kecil Pedesaan

& KELEBIHAN KOPERASI dalam Melindungi Petani & Usahawan Kecil Pedesaan PENGENTASAN KEMISKINAN & KELEBIHAN KOPERASI dalam Melindungi Petani & Usahawan Kecil Pedesaan Pengantar oleh: Rajiv I.D. Mehta Director Pengembangan ICA Asia Pacific 1 Latar Belakang Perekonomian dunia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Anak merupakan dambaan setiap orang, yang kehadirannya sangat dinanti-natikan

BAB 1 PENDAHULUAN. Anak merupakan dambaan setiap orang, yang kehadirannya sangat dinanti-natikan 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak merupakan dambaan setiap orang, yang kehadirannya sangat dinanti-natikan dan tumbuh kembangnya sangat diperhatikan. Tak heran banyak sekali orang yang menunggu-nunggu

Lebih terperinci

BAB IV PENUTUP. 4.1 Kesimpulan

BAB IV PENUTUP. 4.1 Kesimpulan BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari Analisa Data Secara Integratif Untuk Menghasilkan Database Kecamatan dan Atlas adalah sebagai berikut: 1. Gambaran umum sejauh mana pencapain dari 7

Lebih terperinci

Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional STRATEGI NASIONAL PENANGGULANGAN KEMISKINAN, RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2004 2009,

Lebih terperinci

Latar Belakang. Tujuan setiap warga negara terhadap kehidupannya adalah

Latar Belakang. Tujuan setiap warga negara terhadap kehidupannya adalah STRATEGI DAN INOVASI PENCAPAIAN MDGs 2015 DI INDONESIA Oleh Dr. Afrina Sari. M.Si Dosen Universitas Islam 45 Bekasi Email: [email protected] ABSTRACT Indonesia telah berhasil mengurangi kemiskinan

Lebih terperinci

BAB IV P E N U T U P

BAB IV P E N U T U P BAB IV P E N U T U P 4.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari Analisa Data Secara Integratif Untuk Menghasilkan Database Kecamatan dan Atlas adalah sebagai berikut: 1. Gambaran umum sejauh mana pencapain

Lebih terperinci

Sulit menciptakan keadilan dan kesetaraan gender jika negara terus menerus memproduksi kebijakan yang bias gender. Genderisasi kebijakan publik telah

Sulit menciptakan keadilan dan kesetaraan gender jika negara terus menerus memproduksi kebijakan yang bias gender. Genderisasi kebijakan publik telah KATA PENGANTAR Pengarusutamaan Gender telah menjadi garis kebijakan pemerintah sejak keluarnya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000. Instruksi tersebut menggariskan: seluruh departemen maupun lembaga

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemiskinan merupakan salah satu masalah dalam proses pembangunan ekonomi. Permasalahan kemiskinan dialami oleh setiap negara, baik negara maju maupun negara berkembang.

Lebih terperinci

BRIEFING NOTE RELFEKSI PENCAPAIAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOAL (MDG) DI INDONESIA

BRIEFING NOTE RELFEKSI PENCAPAIAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOAL (MDG) DI INDONESIA BRIEFING NOTE RELFEKSI PENCAPAIAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOAL (MDG) DI INDONESIA (Disampaikan dalam Diplomat Briefing, Jakarta 11 Maret 2013) Kata Pengantar Refleksi tentang Pencapaian MDG ini merupakan

Lebih terperinci

SERIAL PEDOMAN TEKNIS

SERIAL PEDOMAN TEKNIS SERIAL PEDOMAN TEKNIS PEDOMAN PEMBERIAN INSENTIF BAGI DAERAH UNTUK MENDUKUNG PERCEPATAN PENCAPAIAN TUJUAN MDGs DI PROVINSI KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL / BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

Lebih terperinci

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER SALINAN BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN, Menimbang Mengingat :

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PERBAIKAN GIZI

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PERBAIKAN GIZI PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PERBAIKAN GIZI I. PENJELASAN UMUM Kesepakatan global yang dituangkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) yang terdiri

Lebih terperinci

Target 2A : Menjamin pada 2015 semua anak-anak, laki-laki maupun perempuan dimanapun dapat menyelesaikan pendidikan dasar

Target 2A : Menjamin pada 2015 semua anak-anak, laki-laki maupun perempuan dimanapun dapat menyelesaikan pendidikan dasar Target 2A : Menjamin pada 2015 semua anak-anak, laki-laki maupun perempuan dimanapun dapat menyelesaikan pendidikan dasar 2.1 2.2 2.3 Target MDGs Status Sumber 2015 Angka Partisipasi 90,0202 95,74 100%

Lebih terperinci

MDGs. Kebijakan Nasional Penanggulangan Kemiskinan. dalam. Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional September 2007

MDGs. Kebijakan Nasional Penanggulangan Kemiskinan. dalam. Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional September 2007 MDGs dalam Kebijakan Nasional Penanggulangan Kemiskinan Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional September 2007 1 Cakupan Paparan I. MDGs sebagai suatu Kerangka untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sasaran Pembangunan Millennium (Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah delapan tujuan yang diupayakan untuk dicapai pada tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidup Bangsa Indonesia. Penjelasan umum Undang-undang Nomor

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidup Bangsa Indonesia. Penjelasan umum Undang-undang Nomor BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan 1. Latar Belakang Anak merupakan generasi penerus keluarga. Anak juga merupakan aset bangsa yang sangat berharga; sumber daya manusia yang berperan penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). Maka kesehatan adalah dasar

BAB I PENDAHULUAN. Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). Maka kesehatan adalah dasar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah kebutuhan utama dan mendasar bagi kehidupan manusia. Kesehatan merupakan kondisi sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk

BAB I PENDAHULUAN. yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Millenium Development Goals (MDG s) atau tujuan pembangunan millenium adalah upaya untuk memenuhi hak-hak dasar kebutuhan manusia melalui komitmen bersama 189 negara

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. RAD MDGs Jawa Tengah

DAFTAR ISI. RAD MDGs Jawa Tengah DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... ii Daftar Tabel dan Gambar... xii Daftar Singkatan... xvi Bab I Pendahuluan... 1 1.1. Kondisi Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Jawa Tengah... 3 Tujuan 1. Menanggulangi

Lebih terperinci

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. 1. Atas undangan Organisasi Kesehatan Dunia, kami, Kepala Pemerintahan, Menteri dan perwakilan pemerintah datang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan oleh program pembangunan nasional ( Propenas ) yakni di

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan oleh program pembangunan nasional ( Propenas ) yakni di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu proses prioritas pembangunan nasional sebagaimana dimanfaatkan oleh program pembangunan nasional ( Propenas ) 2005-2009 yakni di bidang sumber daya

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJP) atau Corporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan sesuai kemampuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia diterjemahkan sebagai Tujuan Pembangunan Milenium yang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia diterjemahkan sebagai Tujuan Pembangunan Milenium yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Millenium Development Goals atau disingkat MDG s dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Tujuan Pembangunan Milenium yang merupakan paradigma pembangunan global

Lebih terperinci

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERDAYAAN DAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

MAKALAH KONSEP SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kebijakan Kesehatan Nasional

MAKALAH KONSEP SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kebijakan Kesehatan Nasional MAKALAH KONSEP SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kebijakan Kesehatan Nasional Dosen Pembimbing : H. Toto Subiakto, S.Kp, M.Kep Disusun Oleh: 1. Yolanda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pembangunan Kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia didalam perjalanannya di dunia mengalami tiga peristiwa

BAB I PENDAHULUAN. Manusia didalam perjalanannya di dunia mengalami tiga peristiwa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia didalam perjalanannya di dunia mengalami tiga peristiwa penting, yaitu lahir, menikah dan meninggal dunia yang kemudian akan menimbulkan akibat hukum tertentu.

Lebih terperinci

Dari MDGs Menuju SDGs: Pembelajaran dan Tantangan Implementasi

Dari MDGs Menuju SDGs: Pembelajaran dan Tantangan Implementasi Dari MDGs Menuju SDGs: Pembelajaran dan Tantangan Implementasi Oleh: Nugrahana Fitria Ruhyana, SP., ME. (Perencana Muda - Bappeda Kab. Sumedang) I. Latar Belakang Pada akhir tahun 2015 seiring berakhirnya

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 8 TAHUN 2002 TENTANG LEMBAGA PERKREDITAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 56 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS TAHUN : 2013 NOMOR : 22 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 22 TAHUN 2013 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS TAHUN : 2013 NOMOR : 22 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 22 TAHUN 2013 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS TAHUN : 2013 NOMOR : 22 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 22 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif. Ringkasan Eksekutif. Akhiri KEMISKINAN pada Generasi Saat Ini

Ringkasan Eksekutif. Ringkasan Eksekutif. Akhiri KEMISKINAN pada Generasi Saat Ini Ringkasan Eksekutif Akhiri KEMISKINAN pada Generasi Saat Ini Visi Save the Children untuk Kerangka Kerja Pasca 2015 Mengatasi kemiskinan bukanlah tugas sosial, melainkan tindakan keadilan. Sebagaimana

Lebih terperinci

STUDI EMPIRIS CAPAIAN MDGS DI PROVINSI RIAU

STUDI EMPIRIS CAPAIAN MDGS DI PROVINSI RIAU STUDI EMPIRIS CAPAIAN MDGS DI PROVINSI RIAU Riski Robi Juhardi, Wahyu Hamidi dan Syapsan Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Riau ABSTRAK Millenium Development Goals (MDGs) merupakan paradigma

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sudah enam puluh sembilan tahun Indonesia merdeka, telah banyak tindakantindakan

I. PENDAHULUAN. Sudah enam puluh sembilan tahun Indonesia merdeka, telah banyak tindakantindakan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sudah enam puluh sembilan tahun Indonesia merdeka, telah banyak tindakantindakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam usaha menyejahterakan rakyat Indonesia.

Lebih terperinci

1 DESEMBER HARI AIDS SE-DUNIA Stop AIDS: Akses untuk Semua! Mardiya. Kondisi tersebut jauh meningkat dibanding tahun 1994 lalu yang menurut WHO baru

1 DESEMBER HARI AIDS SE-DUNIA Stop AIDS: Akses untuk Semua! Mardiya. Kondisi tersebut jauh meningkat dibanding tahun 1994 lalu yang menurut WHO baru Artikel 1 DESEMBER HARI AIDS SE-DUNIA Stop AIDS: Akses untuk Semua! Mardiya Tidak dapat dipungkiri, epidemi HIV/AIDS telah berkembang begitu pesat di seluruh dunia termasuk Indonesia. Kasus ini paling

Lebih terperinci

HAK WARIS ANAK PEREMPUAN TERHADAP HARTA PENINGGALAN (STUDI KASUS PUTUSAN MA RI NO. 4766/Pdt/1998) 1 Oleh: Edo Hendrako 2

HAK WARIS ANAK PEREMPUAN TERHADAP HARTA PENINGGALAN (STUDI KASUS PUTUSAN MA RI NO. 4766/Pdt/1998) 1 Oleh: Edo Hendrako 2 HAK WARIS ANAK PEREMPUAN TERHADAP HARTA PENINGGALAN (STUDI KASUS PUTUSAN MA RI NO. 4766/Pdt/1998) 1 Oleh: Edo Hendrako 2 ABSTRAK Hukum waris di Indonesia masih bersifat majemuk, hal itu terjadi karena

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR : 10 TAHUN 2005 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR : 10 TAHUN 2005 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR : 10 TAHUN 2005 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

Menilai Pekerjaan Layak di Indonesia

Menilai Pekerjaan Layak di Indonesia Menilai Pekerjaan Layak di Indonesia Sekilas tentang Profil Nasional untuk Pekerjaan Layak Apa itu Pekerjaan Layak? Agenda Pekerjaan Layak, yang dikembangkan Organisasi (ILO) semakin luas diakui sebagai

Lebih terperinci

Pengalaman MDGS: PROSES INTEGRASI DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN

Pengalaman MDGS: PROSES INTEGRASI DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN Pengalaman MDGS: PROSES INTEGRASI DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN MDGs dirumuskan pada tahun 2000, Instruksi Presiden 10 tahun kemudian (Inpres No.3 tahun 2010 tentang Pencapaian Tujuan MDGs) Lesson Learnt:

Lebih terperinci

QANUN KABUPATEN BIREUEN NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK TERLANTAR

QANUN KABUPATEN BIREUEN NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK TERLANTAR QANUN KABUPATEN BIREUEN NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK TERLANTAR BISMILLAHIRRAHMANIRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah perang dunia ke-2 tanggal 10 Desember

I. PENDAHULUAN. Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah perang dunia ke-2 tanggal 10 Desember I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah perang dunia ke-2 tanggal 10 Desember 1984 mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang mennunjukan komitmennya untuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Komunikasi manusia banyak dipengaruhi oleh budaya yang diyakini yaitu

BAB 1 PENDAHULUAN. Komunikasi manusia banyak dipengaruhi oleh budaya yang diyakini yaitu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi manusia banyak dipengaruhi oleh budaya yang diyakini yaitu budaya yang melekat pada diri seseorang karena telah diperkenalkan sejak lahir. Dengan kata lain,

Lebih terperinci

Penyebab dan Akar Masalah

Penyebab dan Akar Masalah Membedah Angka Kematian Ibu: Penyebab dan Akar Masalah Tingginya Angka Kematian Ibu Konferensi INFID, 26-27 November 2013 Institut KAPAL Perempuan Jl. Kalibata Timur Raya No.5 Jakarta Selatan Telp/Fax:

Lebih terperinci

LOMBA KARYA TULIS ILMIAH MAHASISWA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA TAHUN 2017

LOMBA KARYA TULIS ILMIAH MAHASISWA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA TAHUN 2017 LOMBA KARYA TULIS ILMIAH MAHASISWA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA TAHUN 2017 A. Dasar Pemikiran Tanggal 10 Juli 2017, Pemerintah Indonesia telah mengundangkan Peraturan Presiden

Lebih terperinci

LATAR BELAKANG DAN KONDISI UMUM

LATAR BELAKANG DAN KONDISI UMUM 1. Latar Belakang dan Kondisi Umum 2. Dasar Hukum 3. Proses Penyusunan RAD 4. Capaian RAD MDGS Provinsi Sumatera Barat Tahun 2011 2015 5. Permasalahan Pelaksanaan Aksi MDGS 6. Penghargaan yang Diperoleh

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2012

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2012 1 PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI PROVINSI SULAWESI SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

BAB III PERNIKAHAN ANAK DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BAB III PERNIKAHAN ANAK DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL BAB III PERNIKAHAN ANAK DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL Pernikahan anak menjadi salah satu persoalan sosial di Kabupaten Gunungkidul. Meskipun praktik pernikahan anak di Kabupaten Gunungkidul kian menurun di

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan Penulisan Sumber Data... 3

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan Penulisan Sumber Data... 3 DAFTAR ISI SAMBUTAN BUPATI POLEWALI MANDAR....... i DAFTAR ISI............ iii DAFTAR TABEL............ vi DAFTAR GRAFIK............ ix DAFTAR GAMBAR............ xiii DAFTAR SINGKATAN............ xiv PETA

Lebih terperinci

BUPATI SERANG PROVINSI BANTEN

BUPATI SERANG PROVINSI BANTEN SALINAN Menimbang BUPATI SERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG, : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

AKIBAT HUKUM DARI PERKAWINAN NYEBURIN MENURUT HUKUM ADAT BALI

AKIBAT HUKUM DARI PERKAWINAN NYEBURIN MENURUT HUKUM ADAT BALI SKRIPSI AKIBAT HUKUM DARI PERKAWINAN NYEBURIN MENURUT HUKUM ADAT BALI THE LEGAL CONSEQUENCES OF NYEBURIN MARRIAGE ACCORDING ON BALINESE ADAT LAW Putu Agus Hendra Sudiartawan NIM. 100710101191 KEMENTERIAN

Lebih terperinci

MEWASPADAI DATA STATISTIK PADA PENCAPAIAN SASARAN MDGS. Fatia Fatimah Tati Rajati Andriyansah. UPBJJ-UT Padang

MEWASPADAI DATA STATISTIK PADA PENCAPAIAN SASARAN MDGS. Fatia Fatimah Tati Rajati Andriyansah. UPBJJ-UT Padang MEWASPADAI DATA STATISTIK PADA PENCAPAIAN SASARAN MDGS Fatia Fatimah ([email protected]) Tati Rajati Andriyansah UPBJJ-UT Padang Abstrak Pencapaian sasaran Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015 khususnya

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara melindungi

Lebih terperinci

Dr.dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, AAK

Dr.dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, AAK Dr.dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, AAK Millennium Development Goals (MDGs) Komitmen Negara terhadap rakyat Indonesia dan global Komitmen Indonesia kepada masyarakat Suatu kesepakatan dan kemitraan global

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I. Latar Belakang Penelitian. Pada dasarnya setiap manusia ingin melangsungkan pernikahan

BAB I PENDAHULUAN. I. Latar Belakang Penelitian. Pada dasarnya setiap manusia ingin melangsungkan pernikahan BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Penelitian Pada dasarnya setiap manusia ingin melangsungkan pernikahan serta memiliki keturunan, dimana keturunan merupakan salah satu tujuan seseorang melangsungkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2017 TENTANG PELAKSANAAN PENGASUHAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2017 TENTANG PELAKSANAAN PENGASUHAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2017 TENTANG PELAKSANAAN PENGASUHAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat - 1 - Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PELINDUNGAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA,

Lebih terperinci

KUALITAS & AKSESIBILITAS PDDKN BLM MERATA ANGKA PENGANGGURAN MASIH TINGGI

KUALITAS & AKSESIBILITAS PDDKN BLM MERATA ANGKA PENGANGGURAN MASIH TINGGI KUALITAS & AKSESIBILITAS PDDKN BLM MERATA ANGKA PENGANGGURAN MASIH TINGGI Budaya PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT Infrastruktur dan Lingkungan Hidup KESEHATAN PENDIDIKAN KETAHANAN PANGAN, IKLIM INVESTASI

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN BAGIAN 2. PERKEMBANGAN PENCAPAIAN 25 TUJUAN 1: TUJUAN 2: TUJUAN 3: TUJUAN 4: TUJUAN 5: TUJUAN 6: TUJUAN 7: Menanggulagi Kemiskinan dan Kelaparan Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Mendorong Kesetaraan

Lebih terperinci

Asesmen Gender Indonesia

Asesmen Gender Indonesia Asesmen Gender Indonesia (Indonesia Country Gender Assessment) Southeast Asia Regional Department Regional and Sustainable Development Department Asian Development Bank Manila, Philippines July 2006 2

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahu-membahu untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam hidupnya.

BAB I PENDAHULUAN. bahu-membahu untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam hidupnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Dalam kehidupannya manusia memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk bertahan

Lebih terperinci

TUJUAN 3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

TUJUAN 3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan TUJUAN 3 Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan 43 Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perusahaan merupakan suatu kesatuan usaha yang menghasilkan barang dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perusahaan merupakan suatu kesatuan usaha yang menghasilkan barang dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perusahaan merupakan suatu kesatuan usaha yang menghasilkan barang dan jasa. Dalam setiap aktivitasnya, komunikasi adalah suatu instrumen yang penting dalam

Lebih terperinci

Strategi Pemecahan Masalah pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagai berikut :

Strategi Pemecahan Masalah pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagai berikut : 4. Sistem Informasi pelaporan dari fasilitas pelayanan kesehatan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota Provinsi yang belum tepat waktu Strategi Pemecahan Masalah pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagai

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1604, 2014 BNPB. Penanggulangan. Bencana. Gender. Pengarusutamaan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1604, 2014 BNPB. Penanggulangan. Bencana. Gender. Pengarusutamaan. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1604, 2014 BNPB. Penanggulangan. Bencana. Gender. Pengarusutamaan. PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PENGARUSUTAMAAN

Lebih terperinci

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

MENYUSUN INDIKATOR YANG BERPERSPEKTIF GENDER

MENYUSUN INDIKATOR YANG BERPERSPEKTIF GENDER MENYUSUN INDIKATOR YANG BERPERSPEKTIF GENDER Dian Kartikasari, Seminar Nasional, Perempuan dan SDG, Koalisi Perempuan Indonesia, Jakarta, 20 Januari 2016 SDG SDG (Sustainable Development Goals/Tujuan Pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam terdiri dari puncak-puncak kebudayaan daerah dan setiap kebudayaan daerah mempunyai ciri-ciri khas masing-masing. Walaupun

Lebih terperinci

WALIKOTA DENPASAR PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN

WALIKOTA DENPASAR PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN WALIKOTA DENPASAR PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DENPASAR, Menimbang : a. bahwa Kota

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN KINERJA BAB II PERENCANAAN KINERJA A. Perencanaan Dokumen perencanaan tahunan daerah yang digunakan sebagai acuan perencanaan pembangunan dan penyusunan anggaran Tahun 2014, adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumah tangga. Melalui perkawinan dua insan yang berbeda disatukan, dengan

BAB I PENDAHULUAN. rumah tangga. Melalui perkawinan dua insan yang berbeda disatukan, dengan 1 BAB I PENDAHULUAN Perkawinan adalah ikatan yang suci antara pria dan wanita dalam suatu rumah tangga. Melalui perkawinan dua insan yang berbeda disatukan, dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Lebih terperinci

PENCAPAIAN TARGET MDGs DALAM RPJMN

PENCAPAIAN TARGET MDGs DALAM RPJMN PENCAPAIAN TARGET MDGs DALAM RPJMN 2010-2014 NINA SARDJUNANI Deputi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang SDM dan Kebudayaan Disampaikan dalam Rakornas

Lebih terperinci

(Sakernas), Proyeksi Penduduk Indonesia, hasil Sensus Penduduk (SP), Pendataan Potensi Desa/Kelurahan, Survei Industri Mikro dan Kecil serta sumber

(Sakernas), Proyeksi Penduduk Indonesia, hasil Sensus Penduduk (SP), Pendataan Potensi Desa/Kelurahan, Survei Industri Mikro dan Kecil serta sumber I. Pendahuluan Salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs) dari delapan tujuan yang telah dideklarasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2000 adalah mendorong kesetaraan gender dan

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENATAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENATAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PENATAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

MATRIKS BUKU I RKP TAHUN 2011

MATRIKS BUKU I RKP TAHUN 2011 MATRIKS BUKU I RKP TAHUN 2011 PRIORITAS 3 Tema Prioritas Penanggung Jawab Bekerjasama dengan PROGRAM AKSI BIDANG KESEHATAN Penitikberatan pembangunan bidang kesehatan melalui pendekatan preventif, tidak

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberdayaan masyarakat

Lebih terperinci

MENGGAPAI TARGET MDGs DALAM PROGRAM KB NASIONAL. Oleh : Drs. Andang Muryanta

MENGGAPAI TARGET MDGs DALAM PROGRAM KB NASIONAL. Oleh : Drs. Andang Muryanta MENGGAPAI TARGET MDGs DALAM PROGRAM KB NASIONAL Oleh : Drs. Andang Muryanta PENDAHULUAN Banyak negara diberbagai belahan dunia telah berkomitmen secara serius dalam menggapai target MDGs (Millenium Development

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DISTRIBUSI II UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI

BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI TAHUN 2009 NOMOR 27 PERATURAN WALIKOTA SUKABUMI Tanggal : 29 Desember 2009 Nomor : 27 Tahun 2009 Tentang : PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBENTUKAN DAN BUKU ADMINISTRASI RUKUN WARGA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bentuk-bentuk adat istiadat dan tradisi ini meliputi upacara perkawinan, upacara

BAB I PENDAHULUAN. Bentuk-bentuk adat istiadat dan tradisi ini meliputi upacara perkawinan, upacara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Bali memiliki bentuk-bentuk kebudayaan yang cukup beraneka ragam, kebiasaan masyarakat daerah tertentu yang unik, yang kesemuanya itu memiliki daya tarik tersendiri

Lebih terperinci